-->

Si Walet Hitam (Ouw-yan-cu) Jilid 06

Jilid 06

Sementara itu, fajar telah berganti pagi dan dengan hati tidak karuan dan pikiran ruwet, Lo Sin berjalan sambil menundukkan kepala. Ia berjalan perlahan dan tiba-tiba ia menahan tindakan kakinya. Ia teringat akan sesuatu dan wajahnya yang tampan itu berseri menyinarkan harapan baru.

Mengapa ia begitu bodoh dan tidak ingat akan hal ini? Ia harus mempergunakan sulingnya!

Semenjak kuda Pek-liong-ma masih muda, binatang itu senang sekali mendengar suara sulingnya, bahkan ia mempunyai semacam lagu yang khusus untuk kuda Pek-liong-ma! Dan setiap kali, ia menyuling dan memainkan lagu Pek-liong-ma itu, kudanya pasti akan datang menyusulnya, di manapun ia berada. Pernah ia dan kedua orang tuanya mencoba dan mengikat kuda itu erat-erat di kandang, lalu ia pergi ke tempat yang cukup jauh lalu menyuling lagu Pek-liong-ma dan kuda itu dengan nekad lalu memberontak, memutuskan tali ikatan dan mengejar ke tempatnya.

Teringat akan hal ini, Lo Sin lalu berdiri di atas sebuah batu besar dan mencabut keluar sulingnya. Ia menenteramkan hatinya dan mengatur pernapasannya agar pikirannya yang ruwet menjadi tenang, karena apabila pikirannya ruwet, ia takkan dapat meniup suling dengan baik.

Kemudian ia menempelkan ujung suling itu pada bibirnya dan ditiupnya perlahan suling itu. Maka terdengarlah bunyi suling yang merdu di pagi hari itu. Burung-burung pagi yang tadinya ramai berkicau di pohon-pohon dekat tempat Lo Sin berdiri, tiba-tiba berhenti bernyanyi seakan-akan mereka ikut menikmati bunyi suling yang ditiup Lo Sin.

Pemuda ini memang pandai sekali bersuling hingga suara sulingnya terdengar melengking nyaring dan terdengar sampai jauh. Ia merasa yakin bahwa suara sulingnya pasti terdengar sampai di dalam benteng di mana Pek-liong-ma berada.

Ia menyuling terus memainkan lagu Pek-liong-ma yang sengaja dimainkan untuk menarik perhatian kudanya. Ia dapat membayangkan bahwa sebagaimana biasanya, kudanya itu tentu akan mengamuk, memutuskan tali pengikatnya dan sebentar lagi berlari mendatangi ke tempat ini, maka wajah Lo Sin berseri girang dan meniup sulingnya makin kuat.

Akan tetapi, sudah habis lagu itu ditiupnya, belum juga ia mendengar kaki kudanya berlari datang. Ia mulai gelisah dan kecewa, dan pada saat ia mengharap-harapkan kedatangan kudanya Pek-liong-ma, tiba-tiba terdengar kaki orang berjalan ke arahnya dari kanan.

Lo Sin mengerling dan tiba-tiba suara sulingnya berhenti. Suara sulingnya yang diharapkan akan datangnya Pek-liong-ma itu, ternyata telah mendatangkan mahluk lain yang sama sekali tak pernah diduganya akan ia lihat di situ. Yang datang ini bukan lain ialah Lee Ing.

Lo Sin berdiri seperti patung, kedua tangan masih memegang suling dan ujung suling masih berada di dekat mulutnya. Ia menengok ke kanan dan tak berani bergerak, seakan-akan takut kalau pandangan ini akan lenyap jika ia menggerakkan tubuhnya. Ia melihat Lee Ing dengan cantik dan gagah sekali datang ke arahnya dengan tindakan kaki tetap dan lenggang menggiurkan.

Alangkah gagahnya gadis ini, alangkah manisnya, alangkah cantik jelita. Tangan kiri Lee Ing berada di gagang pedang yang tergantung di pinggang dan biarpun wajah dara ini nampak agak pucat dan kurang tidur namun kecantikannya tidak berkurang, bahkan nampak sewajarnya. Gadis itu datang menghampiri dengan mata menatap wajah Lo Sin yang bengong bagaikan patung batu itu.

“Kau.     kau……?” akhirnya Lo Sin hanya dapat menegur, tak lebih dari pada itu.

Sedangkan Lee Ing ketika melihat betapa pandang mata pemuda itu memancarkan cahaya aneh seperti dulu ketika mula-mula bertemu di bawah hujan badai, merasa sebal sekali. Ia telah dapat merasakan pandang mata itu dan kembali ia menjadi marah, karena sebagai seorang yang telah beristeri, Lo Sin tidak berhak memandang dia dengan pandang mata seperti itu. Lee Ing lalu menundukkan muka, tak berani menentang pandang mata Lo Sin, lalu katanya sambil cemberut, “Musuh berada di dekat, dan kau enak-enakan meniup suling. Bukankah kau sedang mencari bangsat rendah Lui Tik Kong?”

Mendengar disebutnya nama ini, Lo Sin merasa betapa kepalanya seakan-akan disiram air dingin. Lenyaplah lelah dan lesunya, dan tiba-tiba terlupa sama sekali olehnya akan peristiwa yang menimpa kudanya.

Segera seluruh urat di tubuhnya menegang dan ia siap untuk menerkam Tik Kong. Inilah sifat yang diwarisinya dari ibunya.

“Mana     ? Mana penjahat hina dina itu?” tanyanya dengan mata tajam hingga Lee Ing memandang

kagum. Sama benar mata pemuda ini dengan mata Ang Lian Lihiap kalau ia sedang marah.

Dengan singkat Lee Ing lalu menuturkan betapa ia mengejar-ngejar Tik Kong sampai di tempat ini dan betapa Lui Tik Kong bersembunyi dan berlindung di dalam benteng itu.

“Apa??” Lo Sin memandang heran dan terkejut. “Di benteng itu??”

Lee Ing merasa heran melihat sikap Lo Sin ini. “Apakah kau takut menghadapi perwira raksasa yang lihai itu? Memang di sana banyak terdapat orang-orang pandai!” katanya menyindir.

Lo Sin menggeleng-geleng kepalanya. “Untuk menangkap bangsat she Lui itu, jangankan baru ada benteng yang melindunginya, biar ia lari ke neraka sekalipun, aku tidak takut untuk mengejarnya.”

“Kau.     kau agaknya sangat benci kepadanya,” kata Lee Ing.

“Apakah kau juga tidak benci padanya?” jawab Lo Sin. “Dia seorang rendah dan jahat, dia telah menganiaya Kong peh-peh. Ini masih belum hebat, akan tetapi, dia…… dia berani sekali hendak menipu ayahmu dan hendak…… mengawini kau!” kata-kata ini terdengar penuh kemarahan.

“Kalau begitu, hayo kita pergi! Mau tunggu apalagi?” kata gadis itu dan Lo Sin lalu selipkan suling di punggungnya dan keduanya lalu berjalan cepat menuju ke benteng.

“Dengar...... Nyo-siocia (nona Nyo)……!”

“Jangan sebut aku siocia. Bukankah kau ini putera Lo-siokhu (paman Lo)?” tegur Lee Ing hingga Lo Sin menjadi ma kin gugup.

“Baiklah, Ing-moi. Biar selanjutnya aku menyebutmu Ing-moi saja. Kau juga tahu bahwa bangsat she Lui itu takut sekali kepadaku maka apabila aku ikut masuk ke dalam benteng tentu ia akan menyembunyikan dirinya dan tidak berani muncul. Kalau ia tidak mau muncul, bagaimana kita bisa mencarinya di dalam benteng yang besar dan yang didiami ratusan tentara itu? Lebih baik kau masuk seorang diri dulu dan aku diam-diam mengikutimu. Kalau dia sudah keluar, barulah aku turun tangan. Setujukah kau?” Lee Ing merasa setuju dan menganggap akal ini amat cerdik. Gadis ini dengan gagahnya lalu menghunus pedang dan menerjang pintu benteng sambil berseru keras.

“Bangsat Tik Kong pengecut besar! Apakah kau benar-benar tidak berani keluar dan sembunyi seperti seekor tikus busuk?”

Beberapa orang penjaga lalu mengurungnya, akan tetapi sambil memutar pedangnya, Lee Ing membuat mereka ini mundur dengan jerih dan gadis ini dengan cepat dan berani sekali melompat masuk ke dalam benteng.

“Bangsat perempuan tak tahu diri! Kau benar-benar datang mencari mampus!” teriak Tik Kong yang telah melompat keluar dengan pedang di tangan.

Sesungguhnya ia maklum bahwa kepandaian pedang gadis ini lihai sekali, namun karena ia berada di dalam benteng di mana terdapat banyak sekali kawan-kawannya, ia tidak merasa takut dan menyerang dengan gagahnya.

Can Kok In juga sudah keluar bersama Lie Cit Un dan mereka juga membawa pedang. Perwira raksasa itu menggeleng-gelengkan kepalanya yang besar.

“Sungguh seorang gadis yang keras hati dan berkepala batu! Alangkah beraninya ia memasuki benteng ini!”

Ia selalu melarang anak buahnya yang hendak mengeroyok Lee Ing dan hanya berdiri sambil menonton pertempuran yang terjadi antara Lee Ing dan Tik Kong. Akan tetapi, dalam kemarahannya, Lee Ing berkelahi dengan nekad dan ia mengerahkan seluruh kepandaiannya hingga baru bertempur kurang lebih tigapuluh jurus saja, Tik Kong sudah terdesak hebat dan ujung pedang Lee Ing menyambar-nyambar mengarah jiwanya.

“Ganas, ganas!” seru Can Kok In yang melompat maju dan menangkis dengan pedangnya yang panjang dan berat.

Tik Kong melompat mudur dengan wajah pucat sedangkan Lee Ing yang melihat betapa perwira tinggi besar itu kembali membantu Tik Kong, lalu mengertak gigi dan melawan dengan nekad. Akan tetapi, kepandaian dan tenaga Can Kok In benar-benar mengagumkan.

Dengan tangkisan yang tepat dan yang dilakukan dengan keras, ia berhasil membuat pedang Lee Ing terlepas dari pegangan. Akan tetapi, perwira raksasa ini hanya tertawa besar dan tidak mau menyerang Lee Ing.

Pada saat itu, dari atas tembok benteng melayang turun bayangan hitam yang berseru. “Can-ciangkun tak baik menghina orang!”

Can Kok In cepat memandang dan ia terkejut sekali melihat bahwa yang datang ini adalah Lo Sin si Walet Hitam yang kemarin datang mengacau hendak merampas kuda.

“Ouw-yan-cu! Apakah kau datang lagi hendak merampas kuda orang?” bentaknya. Lo Sin tertawa geli. “Perwira she Can! Kau hanya besar tubuhmu saja, akan tetapi pikiranmu sempit sekali. Kuda itu adalah kudaku sendiri yang harus kuambil kembali, dan kedatanganku tidak saja hendak memberi hajaran kepada maling kuda yang kaulindungi, akan tetapi juga menawan bangsat rendah Lui Tik Kong yang ternyata kaulindungi pula.”

Sementara itu, melihat kedatangan Lo Sin, Lui Tik Kong menjadi pucat dan hendak melarikan diri, akan tetapi tiba-tiba Lee Ing yang biarpun telah bertangan kosong, melompat dengan cepat sambil menyerangnya dan membentak.

“Bangsat pembunuh hina dina! Jangan kau mencoba hendak lari!”

Terpaksa Lui Tik Kong mengelak dan membalas menyerang dengan pedangnya. Ia dapat menetapkan hatinya oleh karena di saat itu terdapat banyak kawannya yang tentu akan menghalangi Lo Sin menyerangnya, maka ia lalu mainkan pedangnya dengan tetap.

Sedangkan Can Kok In ketika melihat betapa Lee Ing menghadapi Tik Kong dengan tangan kosong saja, merasa lega dan ia tidak perlu menguatirkan keadaan Tik Kong. Ia yakin bahwa menghadapi gadis yang bertangan kosong itu, Tik Kong takkan kalah.

Akan tetapi, tetap saja Tik Kong merasa gugup dan takut. Ia juga kuatir kalau-kalau Lee Ing membongkar rahasianya, dan ia maklum bahwa biarpun seorang perwira, namun Can Kok In adalah seorang jujur dan raksasa muda itu amat mengagumi Kong Sin Ek.

Kalau sampai Can-ciangkun tahu bahwa ia telah menyiksa dan membunuh si Dewa Arak itu, tentu keadaannya akan menjadi berbahaya sekali karena bantuan raksasa itu takkan dapat diharapkan. Maka ia lalu membentak.

“Lee Ing, gadis liar! Tidak baik kita mengacaukan benteng. Kalau kau memang gagah, mari kita bertempur mati-matian di luar benteng!”

“Tik Kong bangsat rendah! Kaukira aku jerih kepadamu? Keluarlah dan kau akan kubinasakan di luar benteng!”

Tik Kong melompat keluar dari pintu gerbang, diikuti oleh Lee Ing dan setelah tiba di luar, Tik Kong terus berlari menjauhi benteng itu.

“He, pengecut, hendak lari ke mana?” seru Lee Ing yang mengejar terus.

Sementar itu, Lo Sin lalu berkata kepada Can Kok In. “Can-ciangkun, sekarang harap kau suka mengembalikan kudaku. Sekarang aku ingat bahwa ketika kuda itu terjatuh, ia mendapat luka di lehernya dan kurasa luka itu sampai sekarang masih ada, tertutup oleh bulunya. Silakan periksa kalau kau tidak percaya.”

Can Kok In memang seorang jujur, maka ia lalu menyuruh orang mengeluarkan kuda itu dan ketika ia sendiri memeriksa kulit leher kuda dan menyingkap bulu-bulu yang halus dan gemuk itu, ternyata benar bahwa di situ terdapat bekas luka. Perwira raksasa ini memandang kepada si Raja Kuda Terbang dengan muka penuh pertanyaan, akan tetapi Lie Cit Un tersenyum mengejek sambil menggerak-gerakkan pedangnya.

“Ouw-yan-cu hanya ngawur saja dan mengatakan hal yang kebetulan atau ia memang sudah tahu sebelumnya hingga mengeluarkan bukti palsu! Sudah jelas bahwa kuda ini kudaku, maka semua desakannya berarti menghinaku! Aku tantang Ouw-yan-cu untuk menentukan hak milik atas kuda ini dengan bertanding pedang!”

“Maling kuda! Tanpa ditantang akupun ingin sekali mengajar adat kepadamu!” bentak Lo Sin sambil mencabut pedangnya.

“Bagus! Lihat pedang!” Lie Cut Un berseru dan menyerang dengan cepat. Ia menggunakan ilmu pedang Pek-ho-kiam-hwat (Ilmu Pedang Burung Ho Putih) dari cabang persilatan Thai-san-pai, gerakannya cukup kuat dan cepat.

Akan tetapi Lo Sin yang merasa marah sekali kepada maling kuda yang curang ini, segera berseru nyaring sekali dan tubuhnya melompat, maka pedangnya terputar cepat menangkis pedang lawan lalu pemuda ini mengeluarkan ilmu pedang Hwie-sian-liong-kiam-sut yang hebat!

Lie Cit Un menjadi berkunang-kunang matanya ketika melihat betapa sinar pedang lawannya berkelebatan dan tubuh pemuda itu lenyap dari depannya. Ia mencoba untuk memutar pedangnya dengan gerak tipu Dalam Hujan Membuka Payung, sebuah gerakan mempertahankan diri dari serangan lihai hingga pedangnya terputar merupakan payung yang menjadi perisai dan yang melindungi tubuhnya. Akan tetapi ia tidak kenal akan kelihaian ilmu pedang Hwie-sian-liong-kiam-sut apabila ia mengira bahwa ia akan mudah saja menghadapi ilmu pedang dengan gerakan Dalam Hujan Membuka Payung.

Tiba-tiba pedangnya yang diputar cepat itu berhenti gerakannya seakan-akan menempel pada sesuatu yang kuat sekali dan ternyata bahwa pedangnya telah menempel dengan pedang di tangan Lo Sin, dan betapapun ia membetot dan menarik pedangnya tak dapat terlepas.

Saat itu tangan kiri Lo Sin meluncur ke depan dan dua jari tangan pemuda itu dengan cepatnya menotok jalan darah twi-hai-hiat hingga tubuhnya menjadi kaku dan ia berdiri tak dapat bergerak bagaikan patung dengan pedang masih di tangannya.

“Ha, ha, maling kuda yang jahat. Apakah sekarang kau masih mau merampas kudaku?”

“Lihai sekali!” tiba-tiba Can Kok In berseru keras dan perwira raksasa ini melompat maju dan dengan tangan kiri ia menepuk pundak Lie Cit Un dan dengan tangan kanannya ia menampar ke arah Lo Sin.

Si Walet Hitam melihat datangnya tamparan yang amat kerasnya itu, sengaja tidak berkelit dan bahkan iapun memukulkan tangan kirinya dengan kepalan terbuka untuk menyambut datangnya tamparan tangan Kok In. Dua telapak tangan bertemu hebat sekali dan akibatnya adalah Lie Cit Un yang menderita celaka. Ternyata bahwa Can Kok In yang memiliki tenaga gwakang (tenaga luar) luar biasa besarnya itu, tadinya memandang rendah dan mengira bahwa biarpun ilmu pedangnya membuat ia kagum, akan tetapi tenaga pemuda itu tentu tidak berapa hebat, maka ia membagi tenaganya menjadi dua. Yang sebagian kecil ia gunakan melalui tangan kiri untuk membebaskan Lie Cit Un dari pengaruh totokan Lo Sin, sedangkan sebagian pula yang terbesar ia gunakan untuk menampar Lo Sin.

Akan tetapi, ketika Lo Sin yang mengerahkan tenaga dalamnya menerima pukulan ini dengan tangan hingga dua tenaga raksasa ini bertemu dengan hebat. Can Kok In merasa terkejut dan tenaga pukulannya membalik.

Untuk menjaga agar ia jangan mendapat luka di dalam, perwira raksasa ini menyalurkan tenaga yang kembali itu melalui tangan kirinya masih terpentang dan akibatnya terdengar suara “krek!!” dan patahlah tulang pundak Lie Cit Un karena tekanan tangan kiri Kok In yang berat dan keras.

Si Raja Kuda Terbang yang telah terbebas dari totokan, akan tetapi bahkan menderita tulang patah ini, menjerit kesakitan dan jatuh sambil memegang-megang pundaknya yang sakit sekali.

Can Kok In terkejut dan heran. Tak pernah di sangkanya bahwa Ouw-yan-cu selihai itu hingga tidak saja dapat menghadapi tamparannya, bahkan dapat pula mengembalikan tenaga pukulan itu hingga tanpa disengaja ia telah melukai si Raja Kuda Terbang. Mukanya menjadi merah dan sepasang matanya mengeluarkan cahaya penasaran. Ia lalu mencabut pedangnya yang panjang dan besar, dan membentak.

“Ouw-yan-cu! Kau benar-benar lihai sekali. Biarlah aku mencoba sampai di mana ketajaman pedangmu.”

Akan tetapi Lo Sin yang merasa bahwa ia telah terlalu lama berada di dalam benteng, sedangkan si pencuri telah mendapat bagiannya dan kudanya telah kembali, dan ia ingin sekali melihat bagaimana keadaan Lee Ing dan Tik Kong, maka ia lalu menjura dan berkata.

“Can-ciangkun, tenagamu hebat sekali. Biarlah lain kali saja kita bermain-main lagi!” Ia lalu melompat ke atas kudanya dan melarikan kuda itu keluar dari pintu benteng.

Para anggauta tentara hendak mengejar, akan tetapi Can Kok In membentak.

“Jangan bergerak, biar aku sendiri yang mengejar!” Iapun lalu melompat ke atas seekor kuda yang besar dan mengejar keluar.

Lui Tik Kong yang melarikan diri sengaja memancing Lee Ing ke sebuah tempat sunyi di mana terdapat batu-batu karang dan banyak rumput. Setelah berada jauh dari benteng itu, tiba-tiba Lui Tik Kong memutar tubuh dan menyerang.

“Lee Ing perempuan tak tahu diri! Kau menghina suamimu sendiri!”

Marahlah wajah Lee Ing. Ia berkelit ke kiri sambil memaki. “Bangsat rendah bermulut kotor! Siapa sudi menjadi isterimu? Kita belum melangsungkan perkawinan, maka janganlah mulutmu yang sebentar lagi akan kuhancurkan itu menyebut-nyebut tentang suami isteri. Cis, anjing tak tahu malu!” Kebetulan sekali mereka berkelahi tempat di mana kedua orang pelayan si Raja Kuda Terbang berada. Mereka ini sedang mencari rumput gemuk atas perintah majikan mereka untuk diberikan kepada kuda putih hasil curian itu! Melihat dua orang bertempur mati-matian, mereka berdiri diam tak berani bergerak bagaikan patung dan hanya memandang dengan hati berdebar.

Lui Tik Kong menyerang dengan penuh kegemasan dan mainkan pedangnya dengan cepat sekali, akan tetapi Lee Ing biarpun bertangan kosong, berkat gin-kangnya yang sempurna dapat mengelak dengan cepat dan membalas dengan serangan-serangannya. Ia mempergunakan kedua tangannya untuk membalas dengan totokan-totokan maut, bahkan kakinya juga selalu mencari kesempatan untuk mengirim tendangan maut kepada pemuda yang amat dibencinya ini.

Mereka bertempur mati-matian sampai limapuluh jurus lebih dan tiba-tiba Lee Ing teringat akan ilmunya Gin-san-ciang atau Pukulan Bubuk Perak yang lihai. Melihat bahwa dengan tangan kosong ia sukar sekali mendesak Tik Kong, tiba-tiba ketika Tik Kong menusuk dengan gemas dan ia berjongkok hingga ujung pedang lewat di atas kepalanya, dari bawah Lee Ing memukul dengan kedua tangan ke arah dada pemuda itu! Biarpun kedua tangannya tidak menyentuh dada lawan, namun tenaga Gin- san-ciang yang hebat itu telah menghantam dada Tik Kong dengan tepat!

Lui Tik Kong memekik ngeri dan tubuhnya terpental hingga kepalanya terbentur batu dan ia roboh pingsan sambil mengeluarkan darah dari mulutnya!

Dengan gemas dan girang, Lee Ing memungut pedangnya yang tadi dipakai oleh Tik Kong untuk menyerangnya, dan dengan pedang di tangan ia melangkah maju untuk mengirim tusukan maut! Akan tetapi, pada saat itu terdengar suara kaki kuda dan terdengar seruan Lo Sin.

“Ing-moi, tahan!”

Lo Sin cepat melompat turun dan menghampiri gadis itu yang memandangnya heran. Mengapa pemuda ini mencegahnya membunuh pemuda jahat itu?

“Ing-moi, aku hendak membawa bangsat ini ke Pek-ma-san, agar ia suka membuka pengakuan di depan makam Kong-pehpeh!” kata Lo Sin sambil memeriksa luka Tik Kong akibat pukulan Gin-san- ciang dari Lee Ing.

Lo Sin menggeleng-geleng kepala dan berkata.

“Hebat sekali pukulanmu, Ing-moi. Kalau kau sudah melatih pukulan Gin-san-ciang itu dengan matang, kau akan menjadi lihai sekali!”

Keadaan Tik Kong memang payah. Untung baginya bahwa Lee Ing memang belum matang betul latihannya dalam ilmu pukulan ini hingga ia hanya menderita luka dalam yang hebat akan tetapi yang tidak membahayakan keselamatan jiwanya.

Pada saat itu, terdengar suara kaki kuda dan nampak Can Kok In si perwira raksasa itu mendatangi dan melompat turun dari kudanya. “Ouw-yan-cu! Kau telah menyerang dan melukai seorang perwira kerajaan. Sudah menjadi kewajibanku untuk menangkapmu karena kau telah memberontak!” Sambil berkata demiklan, Kok In mencabut pedangnya.

“Can-ciangkun! Aku kenal namamu sebagai seorang perwira yang gagah perkasa dan jujur. Kau tahu bahwa aku dan adikku ini terhadap Lui Tik Kong, terdapat permusuhan yang besar sekali. Aku tidak menyerang dan menangkap seorang perwira kerajaan, akan tetapi aku menangkap seorang penjahat besar bernama Lui Tik Kong. Lihat!”

Kedua tangan Lo Sin bergerak cepat sekali dan tahu-tahu topi perwira dan tanda pangkat di dada baju Lui Tik Kong telah dicabut dan dirobek-robek, lalu dilempar ke atas tanah. “Nah, bukankah dia sekarang Lui Tik Kong penjahat biasa saja dan bukan seorang perwira?”

Can Kok In memutar-mutar sepasang matanya yang bundar dan bulat, kemudian ia mengangguk- angguk. “Aku memang tidak suka mencampuri urusan pribadi orang lain. Akan tetapi, aku masih ingin sekali mengadu ilmu kepandaian dengan putera Ang Lian Lihiap yang tersohor!”

“Kalau kita berdua masih sama-sama hidup, lain kali aku pasti akan mencarimu untuk bermain-main sebentar, Can-ciangkun. Akan tetapi sekarang ini aku dan saudaraku ini mempunyai urusan besar yang penting sekali. Maafkan kami!” setelah berkata demikian, Lo Sin lalu menangkap leher Tik Kong, menaikkan tubuh yang sudah lemas itu ke punggung Pek-Iiong-ma, lalu ia mengajak Lee Ing pergi dari tempat itu.

Can Kok In hanya menggelengkan kepala saja sambil memandang sampai bayangan Lo Sin dan Lee Ing lenyap di sebuah tikungan, kemudian ketika melihat dua orang pelayan si Raja Kuda Terbang yang masih berdiri seperti patung, ia melompat ke depan mereka dengan pedang di tangan.

“Hayo katakan sebetulnya! Kalau kalian membohong, pedangku takkan mengenal ampun! Sebetulnya, kuda putih itu milik siapakah?”

Dengan tubuh gemetar kedua pelayan itu lalu berterus terang, menceritakan bahwa kuda itu benar- benar kepunyaan Lo Sin yang dicuri oleh majikan mereka dari rumah penginapan.

Setelah mendengar ini, Kok In dorong kedua orang pelayan itu sampai terguling-guling, lalu melompat ke atas kudanya dan cepat kembali ke dalam benteng. Dan pada saat itu juga ia mengusir keluar Lie Cit Un dari bentengnya!

Sekarang kita ikuti perjalanan Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong yang mengikuti Mei Ling untuk melihat keadaan Kong Liang yang terluka oleh tendangan Bong Cu Sianjin yang lihai.

Dengan hati penuh kekhawatiran, Ang Lian Lihiap dan suaminya lalu mengajak Song Mei Ling untuk mempercepat perjalanan mereka dengan gadis cantik itu membawa mereka ke sebuah kelenteng yang terletak di luar kota Bun-ciang.

Song Kong Liang rebah di atas balai-balai dan mendapat perawatan kepala hwesio di kuil itu. Ketika melihat kedatangan Lian Hwa dan Cin Han, Kong Liang mencoba untuk bangun dan memberi hormat, akan tetapi Lian Hwa dan suaminya buru-buru mencegahnya dan mereka duduk di dekat pembaringan pemuda itu.

Wajah yang tampan itu nampak pucat sekali, akan tetapi setelah suami isteri pendekar itu memeriksa luka pada dadanya, mereka merasa lega, oleh karena biarpun tendangan itu amat hebat hingga mematahkan sebuah tulang rusuk, namun berkat keuletan dan kekuatan tubuh Kong Liang, maka pemuda ini terhindar dari bahaya maut. Apalagi ia cepat mendapat pertolongan pengobatan dan perawatan dari kepala hwesio yang mengerti tentang ilmu pengobatan, maka sekarang ia telah hampir sembuh, hanya tinggal menanti tersambungnya tulang rusuk yang patah.

“Jangan khawatir, Kong Liang,” kata Ang Lian Lihiap. “Kita pasti akan membalaskan lukamu ini dan memberi hajaran kepada Bong Cu yang ternyata belum mau merobah adatnya yang buruk.”

“Dia lihai sekali, suci,” kata Kong Liang. “Biarpun ia telah buntung kedua lengannya, akan tetapi tendangannya hebat sekali dan sukar dilawan.”

Lian Hwa dan Cin Han tentu saja dapat memaklumi hal ini oleh karena sebelum terbuntung kedua lengannya, memang kepandaian Bong Cu amat hebat dan lihai, bahkan lebih tinggi tingkatnya daripada kepandaian Song Cu Ling nenek kedua anak kembar itu. Dan dulu ketika Cin Han turun tangan dibantu oleh Lian Hwa dan Tiang Pek, barulah mereka bertiga dapat mendesak Bong Cu! Maka kini tidak mengherankan apabila pertapa buntung itu masih dapat mempergunakan kedua kakinya untuk merobohkan Kong Liang!

Beberapa hari kemudian luka di dada Kong Liang telah sembuh sama sekali dan mereka berempat lalu beramai-ramai naik ke Hoa-mo-san untuk mencari Bong Cu Sianjin dan memenuhi tantangannya! Sebenarnya, Cin Han dan Lian Hwa terlalu sembrono dan gegabah berani naik ke bukit ini, karena betapapun juga, harus diketahui bahwa di puncak bukit itu selain ada Bong Cu Sianjin yang lihai, dan ada pula anak murid Bong Cu Sianjin dan anak murid Lan Bwee Niang-niang, juga si pertapa wanita yang amat tinggi ilmu kepandaiannya ini masih berada di situ pula!

Dulu pernah mereka mengalami sendiri betapa hebatnya ilmu kepandaian Lan Bwee Niang-niang dan apabila tidak keburu datang Beng San Siansu maka tentu di pihak mereka tidak ada yang sanggup menghadapi pertapa wanita ini. Akan tetapi, Ang Lian Lihiap memang terkenal tabah dan pemberani sekali. Melihat betapa Kong Liang terluka, hati nyonya ini telah menjadi demikian marahnya hingga ia tidak mengadakan perhitungan lagi dan mendesak kepada suaminya untuk naik ke Hoa-mo-san!

Cin Han juga mengerti akan kelihaian lawan yang berada di puncak Hoa-mo-san, akan tetapi pendekar pedang inipun tidak merasa jerih, oleh karena setelah kini ia memiliki ilmu Hwie-sian-liong-kiam-sut, gabungan ilmu pedangnya dan ilmu pedang Lian Hwa dan kini keduanya pergi bersama, apalagi yang harus ditakuti?

Kalau saja pada waktu itu Bong Cu Sianjin kebetulan berada di puncak bukit, pasti akan terjadi pertempuran yang dahsyat dan hebat sekali. Akan tetapi, kebetulan sekali Bong Cu Sianjin dan Hek Li Suthai serta Bi Mo-li baru kemarin turun gunung untuk mencari tahu tentang musuh-musuh mereka, karena Bong Cu merasa penasaran mendengar betapa berkali-kali Hek Li Suthai mengalami kekalahan dari Ang Lian Lihiap dan Hwee-thian Kim-hong, bahkan telah dikalahkan pula oleh si Walet Hitam putera Ang Lian Lihiap, kemudian kalah juga menghadapi Pat-chiu Koai-hiap Oei Gan yang sebetulnya tidak mempunyai permusuhan apa-apa dengan dia.

Ketika Cin Han dan isterinya beserta sepasang muda-mudi kembar itu tiba di kuil Teratai Putih di puncak bukit Hoa-mo-san, kuil itu nampak sunyi. Di depan kuil ini nampak seorang pemuda berusia kurang lebih sebaya dengan Kong Liang, pemuda bertubuh tinggi besar berkulit kehitam-hitaman dan pakaiannya seperti seorang petani sederhana.

Memang ia seorang petani tulen, terbukti dari kecakapannya mengayun cangkul yang pada saat itu dikerjakannya untuk mencangkul tanah di depan kuil. Agaknya pemuda petani itu hendak menanam sayur dan sedang bekerja dengan penuh perhatian hingga ia tidak melihat kedatangan empat orang tamu itu.

Ketika Cin Han dan kawan-kawannya sudah datang dekat, barulah ia mendengar suara mereka dan ia segera menunda pekerjaannya dan menengok. Pada wajahnya yang gagah dan tampan itu nampak sepasang matanya yang memandang heran dan sekali lihat saja Cin Han dapat mengetahui bahwa ia berhadapan dengan seorang yang berhati polos dan jujur. Ia lalu menjura kepada petani muda itu sambil bertanya.

“Saudara yang baik, dapatkah kau memberitahu kepada kami di mana adanya Lan Bwee Niang-niang dan Bong Cu Sianjin?”

Wajah petani muda itu tiba-tiba berubah dan terang bahwa ia merasa terkejut dan heran. Sepasang matanya yang bersinar terang itu memandang ke arah tamu-tamu itu seorang demi seorang dan secara sopan ia segera mengalihkan pandang matanya ketika ia menatap wajah Mei Ling, hingga diam-diam Lian Hwa merasa suka kepada petani muda yang tahu akan kesopanan ini.

Petani muda ini membalas memberi hormat ketika ia menjawab, “Maaf, siauwte yang muda berlaku lancang menjadi wakil tuan rumah, karena sesungguhnya selain pekerjaan mencangkul dan menanam sayur siauwte tidak tahu apa-apa. Cuwi (saudara sekalian) ini siapakah dan ada kepentingan apa hendak bertemu dengan Niang-niang dan Bong Cu Suhu?”

Cin Han dan kawan-kawannya tercengang mendengar ucapan ini karena ucapan yang penuh kesopanan dan teratur ini menandakan bahwa petani ini bukanlah petani biasa, dan mereka menyangka bahwa pemuda petani ini tentulah murid dari Lan Bwee niang-niang atau Bong Cu Sianjin. Akan tetapi, oleh karena petani muda itu bicara dengan sopan, Cin Han juga menjawab dengan halus pula.

“Tolong beritahu kepada Lan Bwee Niang-niang dan Bong Cu Sianjin bahwa kami berempat, Ang Lian Lihiap, Hwee-thian Kim-hong, dan kedua saudara Song datang hendak bertemu memenuhi tantangan Bong Cu Sianjin yang diucapkan bebeberapa hari yang lalu. Dan saudara ini siapakah?”

Bukan main terkejutnya pemuda itu yang bukan lain adalah Yap Bun Gai, murid dari Bong Cu Sianjin. Ia segera menjura dengan hormat sekali kepada mereka berempat, terutama kepada Cin Han dan Lian Hwa, “Maaf, maaf, siauwte yang rendah berlaku kurang hormat. Tidak tahunya kami kedatangan pendekar-pendekar ternama yang berilmu tinggi. Siauwte yang bodoh bernama Yap Bun Gai, dan Bong Cu Sianjin adalah guruku.” Ci Han dan Lian Hwa merasa heran sekali, karena tak pernah disangkanya bahwa Bong Cu Sianjin mempunyai seorang murid yang begini sopan-santun sikapnya yang mempunyai sepasang mata demikian jujur. Akan tetapi, ketika mendengar bahwa petani muda ini murid Bong Cu Sianjin yang telah melukai kakaknya, Mei Ling tak dapat menahan sabar lagi dan ia melompat maju dan mengirim tamparan pada muka petani muda itu.

Plok!! Tamparan ini tepat mengenai pipi Bun Gai dan karena Mei Ling menampar dengan mempergunakan tenaga lweekang, maka apabila yang kena tangan itu bukan orang yang memiliki kepandaian, tentu tulang rahangnya akan terlepas dan giginya akan copot semua.

Akan tetapi, ketika ditampar pipinya, kulit muka Bun Gai hanya menjadi merah saja dan pemuda ini sedikitpun tidak mengeluh atau memperlihatkan rasa sakit, sungguhpun tamparan itu telah membuat ia merasa perih dan pedas pada pipinya. Hal ini dapat menyatakan betapa tingginya ilmu kepandaian Bun Gai.

Cin Han dan Lian Hwa juga maklum akan hal ini dan hendak mencegah Mei Ling berlaku lancang, akan tetapi, gadis ini ketika melihat betapa tamparannya diterima dengan tersenyum saja oleh Bun Gai, menjadi marah sekali dan kali ini ia mengirim pukulan hebat ke arah ulu hati pemuda tani ini.

“Maaf, aku yang bodoh menjaga diri!” kata Bun Gai dan cepat ia mengelak dari serangan Mei Ling yang berbahaya itu.

Cin Han hendak memisah mereka, akan tetapi tiba-tiba Lian Hwa memegang tangan suaminya dan berbisik. “Biarlah kita lihat sampai di mana kelihaian murid Bong Cu ini!”

Ternyata bahwa ilmu silat Bun Gai benar-benar lihai. Tubuhnya biarpun tidak segesit Mei Ling yang memiliki ginkang sempurna, namun ia ternyata tenang sekali dan dapat menjaga diri dengan amat baiknya. Pertahanannya kokoh kuat dan tenaga lweekangnya cukup tinggi hingga biarpun Mei Ling telah mengeluarkan seluruh kepandaian dan tenaganya, ia tidak dapat mendesak lawannya!

Yang paling mengherankan dan membuat Cin Han dan Lian Hwa melongo karena tidak mengerti adalah sikap pemuda tani murid Bong Cu itu. Bun Gai ternyata sama sekali tidak mau membalas serangan-serangan Mei Ling yang datang bertubi-tubi itu dan hanya menjaga diri dengan kuatnya! Alangkah bedanya sifat pemuda ini dengan suhunya yang kejam.

Tadinya Kong Liang hendak membantu adik perempuannya, akan tetapi ketika melihat betapa pemuda tani itu sama sekali tidak mau membalas dan tidak mau menyerang Mei Ling, terpaksa ia urungkan niatnya karena merasa malu. Terlalu sekali kalau iapun harus turun tangan mengeroyok seorang lawan yang sama sekali tidak mau membalas!

Mei Ling merasa penasaran, malu, dan gemas sekali karena mendapat kenyataan bahwa ia sama sekali tidak berdaya terhadap pertahanan pemuda tani yang kelihatan bodoh itu! Ia malu karena iapun tahu betapa pemuda itu tidak mau membalasnya, dan bahkan kalau menangkis selalu mempergunakan ilmu lweekang hingga lengan tangan pemuda itu menjadi lunak seakan-akan pemuda itu merasa khawatir alau akan mendatangkan rasa sakit pada lengannya yang berkulit halus dan putih bersih itu! Dalam kemarahannya, ia lalu mencabut pedangnya yang berkilau saking tajamnya!

“Mei Ling!” Cin Han menegur akan tetapi lagi-lagi tangan isterinya menyentuh tangannya dan ketika ia menengok, ia heran sekali melihat betapa isterinya memandang dengan wajah berseri dan bibir tersenyum!

“Maaf, maaf!” kata lagi Bun Gai yang terkejut juga melihat kenekatan Mei Ling dan ketika ia merogoh saku bajunya yang lebar, ia telah mengeluarkan sebuah kebutan. Ternyata pemuda ini mempelajari cara suhunya mempergunakan senjata yang istimewa, yakni sebuah kebutan.

Sebetulnya disamping kebutan ini, Bun Gai juga mempelajari permainan tasbeh dari suhunya yang lihai sekali, akan tetapi oleh karena ia entah bagaimana tidak tega untuk menyerang dan tidak senang untuk bermusuh dengan para tamunya yang didengarnya dari orang-orang berilmu tinggi yang amat tersohor, maka ia tidak mau mengeluarkan tasbeh itu dan hanya mempergunakan kebutan untuk menjaga diri.

Mei Ling cukup gagah untuk sudi menyerang orang yang bertangan kosong, maka ia tadi menanti sampai pemuda tani itu menarik keluar kebutannya, kemudian ia membentak. “Lihat pedang!” dan menikam dengan hebat.

Harus diketahui bahwa gadis ini mendapat latihan ginkang dari neneknya, yakni Song Cu Ling si Dewi Tanpa Bayangan dan mempunyai kepandaian ilmu pedang yang telah ditambah oleh pelajaran dan petunjuk dari Lian Hwa, maka ilmu pedangnya ini amat cepat dan gesit gerakannya! Akan tetapi, ketika Bun Gai mempermainkan kebutan yang mengeluarkan angin menyambar, baik Cin Han maupun Lian Hwa menjadi kagum sekali.

Mereka dapat menaksir bahwa ternyata Bong Cu Sianjin yang telah buntung tangannya itu telah menurunkan ilmu kepandaiannya kepada pemuda tani ini. Mudah mereka duga bahwa Mei Ling bukanlah lawan pemuda ini dan benar saja, setelah bertempur tigapuluh jurus lebih, pedang Mei Ling sama sekali tak berdaya dan bahkan beberapa kali pedang itu telah terlibat oleh ujung kebutan dan tak dapat dilepaskan!

Akan tetapi, tiap kali Mei Ling sudah merasa bingung dan gemas, Bun Gai sengaja melepaskan libatan kebutannya dan kembali Mei Ling menyerang dengan sia-sia, karena tak sebuahpun serangannya berhasil menyentuh ujung baju Bun Gai! Dan seperti juga tadi, Bun Gai sama sekali tidak mau membalas menyerang.

Hal ini membuat Mei Ling penasaran dan mendongkol sekali hingga hampir saja ia menangis!

“Kalau kau memang jantan, kau balaslah!” teriaknya sengit dan dengan isak hingga Lian Hwa dan Cin Han diam-diam geli. Orang sudah mengalah dan tidak mau membalas, akan tetapi gadis itu bahkan minta dibalas!

“Kita tidak bermusuh, mengapa aku harus membalas?” jawab Bun Gai sambil menyampok tusukan gadis itu dengan ujung kebutannya. “Pengecut! Balaslah…… balaslah kalau kau memang laki-laki!” teriak Mei Ling dan kini mengeluarkan dua butir air mata dari matanya. Ia merasa gemas dan sakit hati sekali karena merasa betapa pemuda tani itu mempermainkannya seperti seekor kucing mempermainkan tikus.

Entah mengapa, tiba-tiba Bun Gai mengendurkan gerakan kebutannya dan ketika pedang Mei Ling menusuk ke arah dadanya, pemuda ini hanya mengelak sedikit. Terdengar suara kain robek dan dari pundak pemuda ini mengalir darah! Ternyata bahwa kulit pundaknya telah kena tergores pedang!

Melihat ini, tiba-tiba Mei Ling terkejut sekali dan melompat mundur. Gadis yang tadinya merasa gemas sekali ini, tak pernah menyangka bahwa ia akan melukai lawannya dan tahu-tahu sebuah serangan yang demikian sembarangan saja telah dapat melukai pundak pemuda tani itu. Ia seakan- akan dapat menduga bahwa pemuda itu sengaja memberikan kulit pundaknya tergores pedang.

Bun Gai menjura kepada Mei Ling dan tersenyum sambil berkata. “Nona lihai sekali, aku Yap Bun Gai yang bodoh mengaku kalah.”

Cin Han dengan kagum sekali melangkah maju dan berkata. “Saudara Yap, kepandaianmu benar- benar hebat dan pantas sekali kau menjadi murid Bong Cu Sianjin yang lihai. Kami memang tidak mempunyai permusuhan sesuatu dengan kau, dan apabila memang ada oleh karena kau mempunyai hubungan dengan suhumu, namun sikapmu ini cukup untuk menghapus semua sikap bermusuh yang ada di dalam dada kami. Sekarang tolong kau beritahukan kepada suhumu tentang kedatangan kami.”

“Maaf, terpaksa siauwte tak dapat memberitahukan di mana adanya suhu karena suhu telah pergi turun gunung kemarin bersama dengan suci Hek Li Suthai dan muridnya, entah ke mana tidak memberitahukan kepada siauwte, sedangkan Niang niang yang cuwi cari itu sedang bersamadhi di dalam kuil.”

“Agaknya kau tidak mau mengganggu Lan Bwee Niang-niang. Baiklah biar aku sendiri yang memanggilnya keluar.” Setelah berkata demikian, Lian Hwa lalu mengerahkan tenaga khikang pada suaranya lalu memanggil ke arah kuil itu.

“Lan Bwee Niang-niang!! Aku Ang Lian Lihiap telah datang menghadap! Kalau Niang-niang suka menerima kami, silakan keluar!”

Yap Bun Gai terkejut sekali mendengar suara ini yang mengandung tenaga dalam demikian hebatnya. Untung bahwa pendekar wanita ini tadi tidak turun tangan, kalau turun tangan ia merasa tak sanggup melawannya.

Tiba-tiba berkesiur angin dari dalam kuil dan mendengar suara halus. “Siancai!” Dan tahu-tahu tubuh Lan Bwee Niang-niang telah berada di depan mereka dengan tasbeh di tangan kiri dan kebutan di tangan kanan. Semua orang memandang kagum dan Cin Han serta isterinya maklum bahwa ilmu kepandaian pertapa wanita tua ini hebat sekali.

Cin Han berkata sambil menjura, “Niang-niang, apakah semenjak kita berpisah, Niang-niang selalu dalam keadaan baik?” Pertapa wanita itu tertawa dengan suara ketawanya yang halus dan merdu. “Hwee-thian Kim-hong! Makin tua kau makin gagah dan isterimu juga masih cantik saja. Kau belum berubah dan masih tetap sopan santun seperti dulu, ha, ha!”

“Maaf, Niang-niang,” kata Lian Hwa. “Kami datang memenuhi undangan Bong Cu Sianjin pada beberapa hari yang lalu ketika ia melukai adikku ini dengan tendangannya.”

Lan Bwee Niang-niang memandang kepada Kong Liang, lalu berkata, “Undangan apakah yang kaumaksudkan, Ang Lian Lihiap?”

“Dia menantang kami.”

Lan Bwee Niang-niang menghela napas, “Memang Bong Cu masih berdarah panas. Pinni makin tua makin bernasib buruk hingga masih saja terbawa-bawa dan tersangkut oleh urusan permusuhan yang menjijikkan ini.”

“Hek Li Suthai juga sudah memberi penghormatan dan berkunjung di tempat kami!” kata Ang Lian Lihiap dengan suara tegas karena ia bermaksud bahwa dari pihak Lan Bwee Niang-niang masih ada sikap bermusuhan itu.

Kembali Lan Bwee Niang-niang menarik napas panjang.

“Ya, ya, memang aku tahu dan aku harus mempertanggungjawabkan segala sepak terjang mereka. Akan tetapi, Bong Cu yang mengundang kalian, kebetulan sedang turun gunung. Kalau kalian bertemu dengan dia atau dengan muridku di jalan dan terjadi pertempuran, aku orang tua yang sudah hampir mati tidak mau ambil perduli. Sebaliknya kalau kalian tetap hendak mengadakan pertandingan di atas puncak Hoa-mo-san ini, sekarang akulah yang mengundangmu dan datanglah di sini tiga bulan lagi pada saat bulan sedang purnama!”

Setelah berkata demikian, pendeta wanita yang tua sekali itu lalu menganggukkan kepala tanda memberi salam, lalu berjalan kembali memasuki kuil dengan perlahan.

Cin Han dan Lian Hwa saling memandang, kemudian mereka turun gunung setelah mengucapkan terima kasih kepada Bun Gai.

Pemuda tani ini berkata, “Siauwte juga merasa berduka sekali dengan adanya permusuhan- permusuhan yang tidak sehat ini. Mengapa orang harus bermusuhan? Apakah kita mempelajari sedikit ilmu kepandaian hanya untuk saling melukai dan saling membunuh?”

Sambil berkata demikian, ia melirik ke arah Mei Ling dengan pandangan mata yang jujur sehingga gadis itu menundukkan kepala dengan wajah merah.

Cin Han berkata, “Saudara Yap, kau memang baik sekali dan kamipun akan merasa gembira dan beruntung apabila suhumu memiliki kejujuran dan kemuliaan hati seperti kau! Dalam hal ini, agaknya kau harus menjadi guru dari Bong Cu!” Bun Gai tercengang dan ia memandang kepada empat orang itu sampai keempatnya lenyap di bawah gunung. Pemuda ini berdiri termenung dan bayangan Mei Ling yang manis serta gagah itu terbayang di depan matanya.

Entah mengapa, selama hidupnya baru kali ini ia tertarik dan suka sekali kepada seorang gadis! Ia berdiri termenung lama sekali, kemudian ia mengambil cangkulnya dan mencakul tanah demikian kerasnya seakan-akan ia merasa gemas terhadap sesuatu, sehingga air lumpur memercik ke atas dan mengotori pakaiannya namun tidak dihiraukannya sama sekali!

Setelah berhasil menawan Tik Kong, Lo Sin bersama Lee Ing pergi meninggalkan perwira raksasa Can Kok In, lalu berhenti di sebuah jalan perempatan dan Lo Sin berkata kepada Lee Ing,

“Ing-moi, sekarang kita harus berpisah. Kau harus segera pulang dan menuturkan segala pengalamanmu kepada orang tuamu. Aku hendak mengantar bangsat ini ke Pek-ma-san agar ia mengakui semua perbuatannya di depan makam Kong-pehpeh. Setelah itu, jangan khawatir, aku tentu akan pergi menghadap Nyo-pekhu untuk memohon maaf dan aku akan menerima saja apabila Nyo-pekhu hendak memberi hukuman kepadaku.”

Akan tetapi Lee Ing memandangnya dengan matanya yang indah dan gadis ini menggeleng kepala.

“Ing-moi, jangan begitu. Kau pulanglah. Tidak kasihankah kau kepada ayah-ibumu? Mereka tentu merasa berkhawatir sekali karena kau pergi tanpa pamit. Lebih baik kau pulang sekarang juga agar mereka merasa tenteram dan girang.”

Kembali gadis itu menggeleng kepala, kali ini keras-keras dan sambil menggigit bibirnya. “Eh, kenapa Ing-moi?” tanya Lo Sin dengan heran sekali.

Pertanyaan yang diucapkan dengan suara halus dan mengandung penuh perhatian ini merupakan dorongan terakhir bagi Lee Ing sehingga gadis ini tidak kuat lagi menahan tangisnya! Ia berdiri dengan tubuh bergoncang-goncang dan kedua tangannya menutupi muka. Dari celah-celah jari tangannya, butiran-butiran air mata menitik turun.

Lo Sin terkejut sekali dan ia mendiamkan saja kudanya yang makan rumput sedangkan Tik Kong masih pingsan dan rebah melintang di atas punggung kuda bagaikan seikat kayu. Pemuda ini merasa kasihan sekali dan ia tidak dapat menahan hatinya melihat gadis ini menangis demikian sedihnya dan tak terasa lagi kedua tangannya lalu terulur ke depan dan memegang kedua pundak gadis itu dengan sentuhan mesra.

“Ing-moi...... jangan menangis, Ing-moi…… ak…… aku tidak tahan melihatmu     ”

Mendengar suara ini dan merasa betapa pundaknya terpegang dengan mesra, entah mengapa, Lee Ing merasa hatinya seperti diremas-remas dan tangisnya makin menghebat lagi. Ia menangis sampai tersedu-sedu dan tubuhnya menjadi lemas dan kakinya menggigil karena perasaan hatinya yang menggelora. Ia merasa berduka sekali walaupun pada saat itu ia sendiri tidak mengerti mengapa ia merasa demikian sengsara dalam hatinya! “Ing-moi...... diamlah, Ing-moi      tenangkanlah hatimu……” bisik Lo Sin dan ia mendekap kepala itu

ke dadanya!

Untuk beberapa lama Lee Ing tidak bergerak dan menangis di atas dada pemuda itu. Ia merasa amat senang, aman dan sentausa dalam dekapan pemuda itu seakan-akan seorang anak kecil dipeluk ibunya.

Tiba-tiba ia tersentak kaget dan merenggutkan kepalanya dari dada Lo Sin. Ia melangkah mundur dua tindak dan ketika melihat pandang mata Lo Sin yang mesra dan penuh perasaan itu, ia membelalakkan mata seperti seekor kelinci melihat ular! Bencinya timbul seketika terhadap pemuda ini.

“Kau…… kau…… orang kurang ajar. Laki-laki tidak sopan……!” Jari telunjuknya menuding ke arah muka Lo Sin dan jari itu gemetar.

Lo Sin terkejut sekali. “Ing-moi      mengapa kau begitu marah? Apakah salahku terhadapmu?”

“Kau…… kau…… laki-laki kurang ajar! Kau mempergunakan kelemahan hatiku untuk berbuat kurang ajar dan memelukku! Lo Sin, kau seorang suami yang tidak setia! Kau mengkhianati dan mencurangi isterimu!” Gadis ini lalu menutup mukanya dan menangis lagi.

Tentu saja Lo Sin menjadi bengong dan memandang ke arah gadis itu dengan khawatir. Gilakah gadis ini karena kesedihannya? Ia melangkah maju dan mendekati.

“Ing-moi, tenanglah dan sadarlah kau! Aku tidak mengerti apa arti kata-katamu tadi. Suami tidak setia? Mencurangi isteri? Apa apa maksudmu?”

“Penipu busuk! Kau masih mau bersandiwara di depanku?” gadis itu memandang dengan mata merah. “Bukankah kau sudah beristeri? Dan kau masih memandang padaku dengan mata seperti itu? Cih, tidak tahu malu!”

Lo Sin merasa seakan-akan ada pedang tajam ditodongkan ke dadanya. Tak terasa lagi ia melangkah mundur dua tindak. Matanya terbelalak menatap wajah Lee Ing.

“Ing-moi, apa maksudmu? Siapakah yang sudah beristeri? Dari siapa kau mendengar berita gila ini? Aku belum pernah beristri! Apa kau mengimpi?”

Kini Lee Ing yang merasa terheran sehingga ia lupa untuk menangis. “Apa? Kau belum beristeri? Dan…… dan surat orang tuamu dulu……?”

Kini tahulah Lo Sin bahwa tentu terjadi sesuatu yang tidak beres. Ia melangkah maju dan berkata dengan suara sungguh-sungguh. “Ing-moi, apakah yang kau baca dalam, surat orang tuaku?”

Setelah menelan ludah beberapa kali, gadis ini berkata, “Dulu orang tuamu mengirim surat kepada orang tuaku, malah A-kwi, pesuruh kami itu terbunuh oleh perampok akan tetapi surat orang tuamu itu berhasil ditemukan oleh Tik Kong…… dan. ” Tiba-tiba Lee Ing menjadi pucat sekali dan memandang dengan mata terbelalak, ke arah tubuh Tik Kong yang masih menggantung di punggung kuda. Kemudian, tiba-tiba gadis ini tertawa bergelak- gelak dengan keras sehingga Lo Sin harus menangkap tangannya dan membentak.

“Lee Ing! Diamlah! Kau seperti mayat tertawa!”

Lee Ing masih menahan geli hatinya dan dengan air mata masih bercucuran, ia mendekap mukanya lagi dan suara ketawanya masih terdengar.

“Aku tahu...... ha, ha, aku tahu sekarang…… ha, ha…… alangkah bodohnya kita…… ha-ha ”

“Ing-moi, sabarlah dan ceritakan padaku dengan tenang!!”

“Ah, Sin-ko…… kami sekeluarga ternyata telah menjadi korban pengkhianatan dan kejahatan bangsat rendah itu! Dulu kami menyuruh A-kwi untuk memberi surat kepada orang tuamu, kemudian A-kwi pulang sambil membawa surat orang tuamu sebagai balasan. Dan A-kwi terbunuh oleh perampok, yakni menurut cerita bangsat itu, dan surat orang tuamu itu dibawa oleh Tik Kong. Dan…… dan isi surat itu menyatakan bahwa kau…… kau telah beristeri.”

Lo Sin tiba-tiba melepaskan lengan Lee Ing dan ia membanting-banting kaki.

“Keparat busuk! Jahanam besar!! Kalau saja tidak hendak membawanya ke Pek-ma-san, sekarang juga kuhancurkan kepala jahanam ini! Dengarlah, Ing-moi! Kau belum mengetahui semuanya. Di dalam surat orang tuaku sama sekali tidak disebut bahwa aku telah beristeri, bahkan ayah ibuku telah mengajukan...... lamaran padamu! Dapat kaubayangkan betapa menyesal hati ayah dan ibu ketika surat lamaran itu tidak dibalas oleh orang tuamu, bahkan tahu-tahu datang surat undangan bahwa kau…… akan menikah! Memang jahat benar Lui Tik Kong ini, tentu dia yang telah membunuh A-kwi dan telah mengubah isi surat orang tuaku!”

Keduanya diam untuk beberapa lama, memikirkan kecurangan yang jahat dari perwira she Lui itu, yang telah berhasil membuat Nyo Tiang Pek tertipu. Akhirnya dengan wajah kemerah-merahan Lee Ing bertanya.

“Tidak…… tidak salahkah kata-katamu tadi?” “Kata-kata yang mana?”

“Bahwa…… bahwa keluarga Lo…… melamar aku……?” Ia menundukkan muka dan tidak berani menentang pandang mata Lo Sin yang memandangnya dengan tersenyum.

“Mengapa salah? Agaknya tidak ada kebahagiaan yang lebih besar bagi ayah, terutama bagi ibu, untuk berbesan dengan Nyo-pehpeh dan menjodohkan aku dengan kau!”

Lee Ing mengerling tajam tanpa berani memandang langsung. “Dan kau sendiri?” “Lebih-lebih aku! Ing-moi…… aku…… aku......” Lo Sin merasa betapa hatinya berdebar, mulutnya kering dan ia tak kuasa menggerakkan bibirnya lebih lanjut.

“Kau…… apakah, Sin-ko? Teruskan kata-katamu!”

“Aku suka kepadamu, Ing-moi,” akhirnya Lo Sin berbisik perlahan.

Lee Ing menundukkan kepala makin dalam hingga dagunya menempel di dada dan wajahnya makin merah sampai ke telinganya.

“Mungkinkah putera Ang Lian Lihiap yang gagah perkasa, putera pendekar besar yang terkenal pandai, suka kepada seorang bodoh, berkepandaian rendah dan bermuka buruk seperti aku?” bisiknya.

Lo Sin melangkah maju dan memegang kedua tangan gadis itu.

“Ing-moi,” bisiknya dengan suara gemetar karena penuh perasaan, “aku tidak perduli kau ini siapa dan puteri siapa, yang terpenting bagiku ialah kau sendiri, pribadimu yang menarik hatiku, semenjak aku melihatmu di dalam hujan badai itu sungguhpun aku belum tahu siapa adanya kau, aku…… aku telah yakin……”

“Teruskan, Sin-ko,” bisik Lee Ing tanpa berani mengangkat muka.

“Aku…… aku telah yakin bahwa kaulah orangnya, bahwa kau seoranglah dan bukan gadis lain, yang patut menjadi pujaanku……”

Mengalirlah air mata di kedua pipi dara itu, karena hatinya merasa terharu, girang, berduka, dan amat berbahagia. Tanpa terasa lagi, jari-jari tangannya membalas pegangan tangan Lo Sin hingga jari-jari tangan sepasang anak muda ini saling menekan dengan erat dan mesra.

Pada saat mereka saling memandang dengan mesra dan penuh rasa cinta kasih, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara bentakan keras,

“Bangsat muda kurang ajar! Kau mencemarkan nama orang tuamu!” Dan tiba-tiba Nyo Tiang Pek dengan mata liar karena marahnya dan pedang di tangan telah berdiri di dekat mereka. Kemesraan tadi telah membuat Lo Sin dan Lee Ing tidak tahu dan tidak mendengar akan kedatangan orang tua gagah ini!

“Ayah……!” seru Lee Ing dengan wajah pucat dan tubuh menggigil.

“Jangan menyebut ayah kepadaku, anak yang membikin cemar nama orang tua!” katanya dan dua butir air mata mengalir dari kedua mata si Garuda Kuku Emas ini.

Kemudian ia memandang kepada Lo Sin seakan-akan hendak menelan pemuda itu bulat-bulat lalu berseru. “Lo Sin, kau mengandalkan kepandaianmu dan kegagahan orang tuamu untuk menghina dan merendahkan aku! Kau telah melukai calon mantuku, merusak nama baikku dan kini kau menggoda puteriku! Bagus, hari ini kalau bukan kau tentu aku Nyo Tiang Pek yang mati di ujung pedang!” Setelah berkata begitu, ia menerkam maju, melakukan serangan kilat dengan pedangnya ke arah dada pemuda itu.

“Nyo-pehpeh, tahan dulu!” seru Lo Sin dengan terkejut sekali dan cepat mengelak. “Siapa sudi menjadi peh-pehmu?” seru Nyo Tiang Pek yang menyerang lagi lebih hebat.

“Nyo-pehpeh!” teriak Lo Sin dengan bingung sekali, akan tetapi ia cepat melompat jauh menghindarkan serangan yang hebat dan berbahaya itu. Akan tetapi, Nyo Tiang Pek dengan marah yang meluap-luap mengejar dan menyerangnya lagi.

“Ayah……!” Lee Ing berteriak ngeri sambil menangis.

Akan tetapi, Nyo Tiang Pek yang sudah seperti gila karena marahnya, mendengar teriakan puterinya ini, menjadi makin marah dan terus menyerang makin hebat.

Lo Sin sibuk juga menghadapi serangan ini dengan tangan kosong, dan untuk mencabut pedangnya, ia tidak berani, karena maklum bahwa hal ini bahkan akan menambah kebencian orang tua ini kepadanya. Sambil mengelak cepat ia lalu berseru.

“Nyo-pehpeh, dengarlah keteranganku!”

“Tutup mulut dan cabutlah pedangmu kalau kau memang gagah!” Si Garuda Kuku Emas mendesak terus.

“Ayah……! Aku…… aku cinta padanya     ” kata Lee Ing tanpa disadarinya dengan suara memilukan.

Nyo Tiang Pek tersentak kaget. Tangannya menjadi lemas dan ia berhenti menyerang, memandang kepada puterinya dengan wajah pucat.

“Apa......? Anak durhaka, anak put-hauw (tidak berbakti)! Kau memalukan orang tua! Kau…… kau tergila-gila kepada seorang yang sudah beristeri? Jahanam rendah...... ah, Tiang Pek. dosa apakah

yang telah kaulakukan dulu.    ?” Pendekar ini menundukkan kepala dengan wajah sedih sekali.

“Nyo-peh-peh, dengarlah...... aku...... belum     ”

”Diam kau, diam!! Jangan membuka mulutmu yang busuk dan penuh tipu muslihat! Pergilah kau!” Ia menuding kepada Lee Ing dan membentak marah. “Pergi kau dari padaku. Pergi!!”

“Ayah……!” Lee Ing menjerit lagi.

“Cukup……!” Pergi lekas, kalau tidak, akan terjadi ayah membunuh anaknya!” “Marilah, Ing-moi.” Lo Sin menghampiri gadis itu dan menarik tangannya. “Marilah kita pergi saja dulu. Tak ada jalan lain. ”

Sambil terisak-isak Lee Ing menurut saja tangannya ditarik pergi oleh Lo Sin. Nyo Tiang Pek berdiri tak bergerak, memandang ke bawah seperti patung. Tiba-tiba terdengar rintihan dan suara lemah, “Gak-hu (ayah mertua)……”

Pendekar tua ini menengok dan pada saat itu, Lui Tik Kong yang sudah siuman kembali lalu mencoba untuk bergerak, akan tetapi karena tubuhnya lemah sekali, ia bahkan terguling dari atas punggung kuda.

“Tik Kong !” seru Nyo Tiang Pek perlahan dan ia memburu kepada pemuda itu.

Sedangkan Pek-liong-ma ketika merasa betapa beban di punggungnya telah lenyap dan melihat Lo Sin pergi meninggalkan tempat itu, lalu meringkik dan tiba-tiba ia berlari mengejar ke arah majikannya yang telah pergi jauh.

Sementara itu, Lee Ing yang ditarik tangannya oleh Lo Sin, berkali-kali menoleh dan memandang ayahnya dengan muka pucat dan mata penuh air mata. Tiba-tiba ia membetot tangannya hendak berlari kembali kepada ayahnya, akan tetapi Lo Sin memegang lengannya erat-erat dan pemuda ini menghibur.

“Jangan kau ganggu dia, Ing-moi. Ayahmu sedang marah sekali dan kemarahan telah menggelapkan pikirannya. Biarkanlah dulu, kelak kalau ia telah sadar dan dapat melihat duduknya persoalan, tentu dia akan menyesal dan akan mencarimu.”

Karena sedihnya melihat betapa ayahnya tadi memaki-makinya, memandangnya dengan penuh kebencian, bahkan lalu mengusirnya, Lee Ing berseru perlahan dengan hati hancur dan roboh pingsan.

Lo Sin cepat memeluk dan memondong tubuhnya. Pada saat itu, Pek-liong-ma berlari mendatangi dan Lo Sin sambil memondong tubuh Lee Ing lalu melompat ke atas kudanya dan melarikan kuda itu secepatnya meninggalkan tempat itu.

Dengan hati marah sekali dan sakit hatinya kepada Lo Sin makin besar, Nyo Tiang Pek menolong Tik Kong, kemudian ia mempergunakan kepandaiannya untuk mengobati luka di dada Tik Kong. Oleh karena luka ini terjadi karena pukulan Gin-san-ciang yang dilakukan oleh Lee Ing, maka tentu saja Nyo Tiang Pek tahu cara pengobatannya.

Telah dua kali dengan sekarang ini Lui Tik Kong terkena pukulan Gin-san-ciang dari Lee Ing, akan tetapi kali ini amat hebat hingga biarpun telah diobati oleh Nyo Tiang Pek, pemuda ini tetap saja harus digendong ketika Nyo Tiang Pek membawanya pulang.

Nyo Tiang Pek membawa perwira muda itu kembali ke Bong-kee-san dan ia disambut oleh isterinya dengan khawatir. Ketika dengan marah sekali Nyo Tiang Pek menceritakan kepada isterinya betapa ia telah mendapatkan Lee Ing dan Lo Sin yang telah melukai Lui Tik Kong dan menceritakan pula betapa telah mengusir Lee Ing karena gadis itu dengan cara tidak tahu malu telah mengaku akan cintanya kepada si Walet Hitam.

Giok Lie menangis tersedu-sedu.

“Mengapa kau sekejam itu.    ?” tegurnya kepada suaminya. “Kau mengusir anak kita, ke mana aku

harus mencarinya     ?” ia menangis dengan sedih sekali.

“Biarlah, dia lebih cinta kepada bangsat rendah itu daripada kepada kita! Dia pergi melarikan diri dengan Lo Sin, pemuda liar itu! Kalau aku bertemu lagi dengan mereka, akan kubunuh kedua-duanya! Jahanam benar!!” Nyo Tiang Pek murka sekali dan kedua matanya menjadi merah.

Coa Giok Lie memandang kepada suaminya dan ketika melihat betapa dari ke dua mata suaminya itu turun menitik dua butir air mata dan melihat betapa dibalik kemarahan itu terbayang kedukaan yang maha hebat dan yang membuat mukanya menjadi nampak tua, tiba-tiba ia memeluk suaminya dan menjatuhkan mukanya di dada suami itu sambil menangis tersedu-sedu!

Nyo Tiang Pek mendekap kepala isterinya dan iapun menangis dan menyembunyikan mukanya di rambut isterinya.

“Nasib kita yang buruk, Giok Lie     ” bisiknya.

Giok Lie tidak menjawab, hanya menangis terisak-isak, akan tetapi di dalam lubuk hati nyonya ini, terdapat rasa girang dan puas yang aneh sekali, yang merupakan nyala lampu yang menerangi keadaan yang gelap. Perasaan ini timbul ketika ia mendengar bahwa anaknya mencinta Lo Sin, dan bahwa anaknya pergi bersama pemuda putera Lian Hwa itu!

Nyo Tiang Pek merawat luka Tik Kong dengan telaten. Ia merasa kasihan sekali melihat Lui Tik Kong yang bernasib malang. Ia menganggap pemuda ini telah disakitkan hatinya oleh Lee Ing, akan tetapi tak sepatahpun kata penyesalan pernah diucapkan oleh pemuda itu kepadanya.

Tik Kong hanya berkali-kali menghela napas dan kelihatan sedih. Bahkan Giok Lie juga tertipu oleh sikap Tik Kong ini dan nyonya inipun timbul perasaan iba di dalam hatinya kepada pemuda ini.

Setelah sembuh dari lukanya, Nyo Tiang Pek lalu memberi pelajaran silat kepada pemuda itu. Ia menganggap bahwa Tik Kong patut dikasihani dan oleh karena ilmu kepandaian pemuda itu masih belum sempurna hingga berkali-kali ia mengalami kekalahan dan penghinaan, maka Nyo Tiang Pek lalu menurunkan ilmu kepandaian pedang dan juga Gin-san-ciang kepada pemuda ini.

Tik Kong merasa girang sekali dan ia melatih diri dengan giat. Oleh karena ia memang telah mempunyai dasar kepandaian yang cukup, maka ia dapat menerima pelajaran itu dengan mudah dan cepat.

Sebulan kemudian, Lui Tik Kong berpamit karena ia hendak kembali dan mengurus tugasnya sebagai perwira penjaga dan ia menyatakan bahwa ia akan keluar dari pekerjaan itu untuk pergi mencari Lo Sin dan membalas dendamnya. “Baik, kau pergilah, Tik Kong!” kata Nyo Tiang Pek. “Dan mungkin sekali kau masih belum dapat melawan Lo Sin yang berkepandaian tinggi, akan tetapi jangan khawatir, orang yang benar tentu akan menang.”

Nyo Tiang Pek yang merasa kasihan dan terharu melihat keadaan pemuda ini, bahkan lalu memberikan pedangnya Ceng-lun-kiam yang tak pernah terpisah dari tubuhnya itu kepada Tik Kong. Tentu saja Lui Tik Kong merasa girang sekali dan ia pergi turun gunung dan setelah menyerahkan kembali tugasnya sebagai perwira kepada perwira lain, pemuda ini lalu pergi mulai dengan perantauannya untuk membalas dendam kepada Lo Sin.

Padahal sebenarnya ia merasa jerih sekali kepada si Walet Hitam dan ia bukan hendak membalas dendam dengan tangan sendiri, akan tetapi mau mencari kawan-kawan untuk bersekutu dan kemudian baru bersama-sama mencari dan mengeroyok Lo Sin si Walet Hitam yang gagah.

Pada suatu hari, Tik Kong tiba di dalam sebuah dusun yang ramai. Pemuda ini kini telah bebas dari tugas sebagai perwira, telah memiliki kepandaian tinggi karena pelajaran yang diterima dari Nyo Tiang Pek, bahkan kini memiliki pedang Ceng-lun-kiam yang ampuh, maka timbullah kembali nafsu jahatnya.

Ia merasai bahwa ia kini menjadi seorang gagah yang tidak takut kepada siapapun juga. Dan ia merupakan seekor burung alap-alap yang garang dan buas.

Ketika ia sedang lewat di depan sebuah rumah seorang hartawan itu, tiba-tiba ia melihat seorang gadis menjenguk dari jendela loteng rumah itu. Hatinya berdebar karena wajah gadis itu amat cantiknya. Gadis itu ketika melihat bahwa di bawah ada seorang pemuda tampan dan gagah sedang memandangnya, ia lalu cepat menarik kepalanya dari tirai jendela dengan wajah berubah merah.

Pemandangan ini sudah cukup untuk menggelorakan darah di dalam tubuh Lui Tik Kong dan menimbulkan pikiran jahat dalam kepalanya. Ia tidak jadi melanjutkan perjalanannya, bahkan lalu mencari rumah penginapan di dusun itu. Dan pada malam harinya, ketika suasana menjadi sunyi, ia lalu mempergunakan kepandaiannya melompat ke atas genteng dan menuju ke rumah hartawan di mana terdapat gadisnya yang cantik itu.

Ia sama sekali tak pernah menduga bahwa di dalam rumah gedung itu pada malam hari itu sedang menerima tiga orang tamu yang lihai yakni tiga orang tosu dari Kun-lun-san. Seorang diantara tosu ini adalah kakak daripada tuan rumah.

Maka, bukan main terkejutnya ketika baru saja ia mencari-cari di atas genteng, tiba-tiba dari bawah berkelebat bayangan yang gesit sekali dan tahu-tahu seorang tosu berdiri di depannya sambil membentak.

“Penjahat dari mana berani datang main gila?”

Dalam gugupnya, Tik Kong lalu mencabut Ceng-lun-kiam dan menyerang tosu itu. Karena keadaan pada malam hari itu gelap sekali, maka ia tidak dapat melihat muka orang dengan jelas, demikian pun tosu itu tidak tahu sedang menghadapi siapa. Melihat berkelebatnya pedang yang bersinar hijau itu, tosu ini menjadi terkejut dan cepat-cepat mencabut pedangnya dan menangkis. Akan tetapi begitu pedangnya bertemu dengan Ceng-lun-kiam, pedang itu menjadi patah.

Tik Kong memang berhati kejam sekali. Melihat hasil ketajaman pedangnya ini, ia lalu menusuk dengan serangan maut ke arah dada lawannya. Tosu itu terkejut dan mengelak sambil mengangkat kaki menendang. Tik Kong amat gesit dan dengan mudahnya ia dapat pula mengelak, lalu tiba-tiba ia berseru keras sambil mengayun tangan kirinya ke arah dada musuh.

Inilah pukulan Gin-san-ciang yang baru saja dipelajarinya. Namun, pukulan ini cukup lihai karena tubuh tosu dari Kun-lun-san itu terhuyung, setelah ia mengeluarkan seruan kaget. Dan pada saat tubuhnya terhuyung ke belakang, Tik Kong melangkah maju dan pedang Ceng-lun-kiam lalu menusuk tepat ke dada tosu itu hingga tembus! Si tosu berteriak mengerikan dan mencoba untuk mencengkeram tangan Tik Kong yang memegang pedang.

Tik Kong terkejut sekali karena ia tidak menyangka bahwa dalam keadaan dada tertembus pedang, tosu itu masih sempat menggunakan ilmu Houw-jiauw-kang (Cengkeraman Kuku Harimau). Terpaksa pemuda ini melepaskan pegangannya pada gagang pedang, untuk menghindarkan cengkeraman hebat itu dan tubuh tosu itu lalu jatuh menggelinding ke bawah genteng dengan pedang masih tertancap di dadanya.

Lui Tik Kong merasa menyesal sekali mengapa ia melepaskan pedangnya dan ia lalu cepat melompat turun untuk mengambil pedang itu dari tubuh tosu yang telah tewas itu. Akan tetapi, pada saat itu, dari dalam rumah berkelebat keluar dua orang tosu lain dengan pedang di tangan.

Tik Kong terkejut sekali karena melihat betapa gerakan dua orang tosu ini bahkan lebih hebat dan cepat dari pada gerakan tosu yang ia bunuh tadi, maka tanpa dipikir panjang lagi ia melarikan diri.

Ia mendengar seruan-seruan kaget dan menduga bahwa kedua orang tosu itu tentu mendapatkan kawan mereka yang mati, maka ia lalu melarikan diri lebih cepat lagi menuju ke rumah penginapannya, mengambil barang-barangnya dan malam itu juga ia pergi melarikan diri keluar dari dusun itu. Hatinya menyesal sekali karena baru beberapa hari saja pedang Ceng-lun-kiam pemberian Nyo Tiang Pek itu telah ia bikin hilang.

Sementara itu, kedua orang tosu setelah mencari-cari Tik Kong dengan sia-sia, lalu memeriksa keadaan saudara mereka yang tewas. Ketika melihat luka di dada bekas- pukulan Gin-san-ciang, dan terutama melihat pedang Ceng-lun-kiam, tosu-tosu terkejut sekali.

“Hei! Bukankah ini perbuatan Nyo Tiang Pek si Garuda Kuku Emas?” teriak Cu Bin Tosu, kakak tuan rumah. Kawannya, Cu Gi Tosu. Mengangguk-angguk sambil mengerutkan kening.

“Tak salah lagi,” katanya, “pukulan Gin-san-ciang dan pedang Ceng-lun-kiam ini adalah bukti-bukti nyata. Hanya aku merasa heran sekali mengapa Nyo Tiang Pek memusuhi kita orang-orang Kun-lun? Hal ini harus kita laporkan segera kepada su-couw!”

Dan pada keesokan harinya, kedua tosu dari Kun-lun-pai ini setelah mengurus jenazah kawannya, segera membawa pedang Ceng-lun-kiam kembali ke Kun-lun-san dan berita itu disambut oleh seluruh pendeta Kun-lun dengan marah! Mereka mengambil keputusan untuk membalas dendam ini kepada Nyo Tiang Pek!

Sementara itu, dengan menyesal sekali Lui Tik Kong melanjutkan perjalanannya. Ia mengunjungi sahabat-sahabatnya yang banyak terdapat di tiap kota besar dan ia bertanya-tanya dan mencari-cari Hek Li Suthai.

Memang Tik Kong mempunyai maksud hendak bersekutu dengan to-kouw yang lihai itu. Akhirnya, ia dapat mencari to-kouw itu dan bertemu dengan Hek Li Suthai dan Bi Mo-li yang menjadi girang sekali karena Setan Cantik ini memang merasa suka kepada Tik Kong, yang muda dan tampan.

Lui Tik Kong merasa berbesar hati oleh karena melihat bahwa Bong Cu Sianjin, pertapa buntung itupun berada bersama Hek Li Suthai. Ia telah mendengar tentang kelihaian kakek buntung ini dan dari Kong Sin Ek dulu seringkali ia mendengar tentang permusuhan yang ada antara kakek buntung ini dengan Ang Lian Lihiap dan kawan-kawannya.