-->

Si Teratai Merah (Ang-lian Li-hiap) Jilid 05

Jilid 05

Lian Hwa meloncat berdiri dan membalikkan tubuhnya. Di bawah sinar bintang yang hanya suram saja, ia melihat seorang laki-laki muda berdiri di depannya sambil bertolak pinggang, dan memandangnya dengan marah.

“Eh, eh, engkau seorang wanita? Maaf, li-enghiong, tapi apakah, keperluan li-enghiong datang ke sini di malam buta sehingga kami mendapat kehormatan kunjunganmu? Kalau ada perlu silakan turun dan masuk.”

Melihat dirinya kepergok orang, Lian Hwa menjadi marah dan malu. Marah karena sikap orang yang lemah-lembut seakan-akan mau mengejeknya dan memandang ia seperti anak kecil yang nakal, dan malu karena ia yang sedang mengintai tidak tahu bahwa di belakangnya ada lain orang yang melihat perbuatannya.

Maka ia segera mengunus pedangnya dan membentak, “jangan banyak mulut! Setelah kauketahui kedatanganku, maka tak perlu pula aku sembunyi-sembunyi. Kedatanganku hendak membunuh Gan Keng Hiap!”

Terkejut orang itu mendengar pengakuannya. Iapun marah dan mencabut keluar pedangnya dari punggungnya. “Gampang saja kau bicara! Apakah hanya kau seorang yang mempunyai pedang?”

Lian Hwa menggerakkan pedangnya, tapi tiba-tiba orang itu berteriak.

“Tunggu dulu!” dan ia meloncat ke tempat yang agak terang dan tidak tertutup bayangan pohon dan wuwungan. Walaupun heran, Lian Hwa mengejarnya. Mereka saling memandang dan...... “Twako.    !” panggilan ini keluar dari bibir Lian Hwa dengan suara penuh kesayangan. Benarkah Cin

Han yang berdiri di depannya memegang pedang ini?

Sebaliknya Cin Han memandangnya dengan mulut ternganga dan mata terbelalak. Matanya berputar- putar dari atas ke bawah meneliti seluruh badan gadis itu, lalu berhenti di rambut Lian Hwa, menatap bunga teratai emas,

“Jadi kau…… kau…… Ang Lian Lihiap?”

Ang Lian Lihiap mengangguk, “Dan kau, twako…… ah, mengerti aku, dulu yang menolongku di kelenteng itu adalah kau sendiri. Sungguh sandiwara yang bagus!”

Cin Han menghela napas. “Sudahlah, jangan bicarakan itu pula. Kini yang terpenting ialah pertanyaanku ini, yaitu mengapa kau datang ke sini? Untuk bertemu dengan Gan Keng Hiap dan membunuhnya? Kenapakah kau hendak membunuh Gan Keng Hiap? Ada permusuhan apa antara kau dan dia?”

“Kau jangan ikut-ikut, twako ini urusanku sendiri.”

“Tidak bisa begitu, lihiap. Ketahuilah bahwa Gan Keng Hiap yang hendak kaubunuh itu adalah pamanku dan juga guruku mengajar ilmu surat. Apakah aku harus diam saja melihat ia hendak dibunuh orang?” Ia tak berani menyebut “adik” lagi.

Lian Hwa menjadi marah. “Hm, bagus orang she Lo! Aku tadinya hanya akan membunuh Gan Keng Hiap saja, tapi bukan salahku kalau aku melawan siapa saja yang hendak menghalangi niatku. Ketahuilah olehmu, Gan Keng Hiap itu adalah musuh guruku dan aku datang untuk membalaskan sakit hatinya!”

Kembali Cin Han terkejut. “Kalau begitu, kau adalah murid dari Sian-liong Koai-jin Ong Lun? Dengarlah lihiap, urusan di antara gurumu dan Gan-siokhu (paman Gan) adalah……”

“Aku tidak perduli!” potong Lian Hwa. “Aku harus mentaati pesan suhuku dan kau jangan menghalangi!” Setelah berkata begitu Lian Hwa menggerakkan tubuhnya hendak meloncat turun.

Cepat tubuh Cin Han berkelebat pula menghadang di depannya.

“Perlahan dulu, lihiap. Kau tidak boleh bertindak sewenang-wenang. Aku tidak membiarkan kau membunuh orang seperti membunuh seekor ayam saja!”

“Orang she Lo, kau keterlaluan!” katanya dengan gemas, karena hatinya sangat menyesal mengapa pemuda yang dibuat kenangan ini ternyata membela musuhnya. Ia lalu menyerang dengan tusukan pedangnya.

“Hm, hm, dua orang sasterawan mengadu pedang, sungguh lucu,” kata Cin Han sambil menangkis serangan itu dengan pedangnya juga. “Trang!” dua mata pedang saling gempur dan kedua-duanya loncat mundur untuk memeriksa pedang masing-masing karena merasa tenaga hebat membuat tangan mereka gemetar. Tapi kedua pedang itu ternyata tidak apa-apa. Tahulah mereka bahwa pedang lawan adalah pedang mustika yang kuat dan tajam.

Lian Hwa menyerang kembali dengan menggunakan ilmu pedang Sian-liong-kiam-hoat yang lihai, mula-mula ia menyerang dengan tipu Sian-liong-chut-tong (Naga Sakti Keluar dari Gua). Ia tidak menyerang secara sungguh-sungguh, karena sedikitpun tidak ada maksudnya hendak melukai pemuda itu, hanya akan memperlihatkan kelihaiannya saja untuk menundukkan “anak sekolahan” ini!

Tidak sangka sama sekali bahwa Cin Han dapat menangkis dan balas menyerang dengan sama lihainya! Pedang pemuda itu berkelebat cepat dan sinar pedangnya bergulung-gulung menyilaukan!

Kaget sekali hati Lian Hwa. Ia sama sekali tak pernah mimpi bahwa Cin Han ternyata adalah seorang ahli pedang yang tinggi ilmu pedangnya. Maka ia lalu mengerahkan semua kepandaiannya dan mengeluarkan tipu-tipu silat Sian-liong-kiam-hoat yang paling berbahaya.

Tapi semua itu sia-sia. Gerakan-gerakan ilmu pedang Cin Han, yang aneh, sedikit mirip ilmu dari cabang Kun-lun dan ada juga miripnya dengan ilmu pedang Go-bi itu, menjaga tubuhnya dengan sangat rapatnya, bahkan dapat balas menyerang dengan tak kalah hebatnya! Mereka berdua lenyap dalam gulungan sinar pedang bagaikan dua naga sakti tengah bertempur mati-matian mendatangkan debu dan awan berhamburan!

Lian Hwa merasa gemas sekali. Belum pernah selama ia keluar dari perguruan ia berjumpa seorang yang begini mahir kiam-hoatnya. Duaratus jurus lebih telah berlalu dan hebat sekali jalannya pertandingan itu, tapi belum juga nampak siapa yang lebih unggul di antara mereka.

“Lihiap, adik…… Lian…… sudahlah, apa perlunya kita bertempur terus? Bukankah kita bersahabat?” kata Cin Han sambil menangkis dan menahan pedang Lian Hwa.

“Jangan banyak cakap! Ini hari kalau bukan kau, tentu aku yang mati di ujung pedang!” bentak Lian Hwa yang sudah menjadi gemas, suaranya parau karena ia menahan-nahan tangisnya!

“Ah, kau keterlaluan, lihiap.”

Setelah berkata begini, Cin Han memperhebat gerakan pedangnya. Ia mengeluarkan seluruh kepandaiannya dan pada suatu ketika ia mendapat kesempatan karena Lian Hwa yang merasa hatinya jengkel dan menyesal membuat gerakan agak lambat. Tangan kiri Cin Han meluncur seperti seekor ular menotok pergelangan tangan Lian Hwa yang memegang pedang, sehingga Sian-liong-kiam jatuh berkerontangan di atas genteng! Lian Hwa menjadi sedih dan malu, ia terduduk di atas genteng dan mendekap mukanya dengan kedua tangan sambil menangis tersedu-sedu.

Cin Han memungut pedang gadis itu dan menghampirinya sambil menyerahkan pedang, “Maafkan aku lihiap, telah kesalahan tangan. Inilah pedangmu.” Lian Hwa mengangkat muka dan sepasang matanya yang merah dan berlinang air mata memandangnya dengan benci. Kemudian ia merebut pedang itu dan mengayun pedangnya ke arah leher sendiri!

“Moi-moi (adik)!!” Cin Han berteriak khawatir dan untungnya pedang itu dapat dirampasnya, tapi telah melukai pundak Lian Hwa. Gadis itu terhuyung-huyung dan kalau tidak dengan cepat Cin Han memeluknya pasti ia akan jatuh ke bawah genteng. Ia jatuh pingsan dalam pelukan Cin Han.

Pemuda itu kaget dan bingung. Ia mengira Lian Hwa terluka parah di pundaknya, padahal gadis itu pingsan karena hatinya sakit, sedih, menyesal dan malu. Tanpa sungkan-sungkan lagi, Cin Han memondong tubuh Lian Hwa dan membawanya meloncat turun.

Ketika sadar dari pingsannya, Lin Hwa dapatkan dirinya tengah berbaring di atas sebuah tempat tidur dan di dekatnya duduk dua orang. Yang seorang adalah Gan Keng Hiap, seorang tua sasterawan yang hendak dibunuhnya tadi, dan seorang pula adalah seorang wanita tua yang masih tampak bekas kecantikannya yang luar biasa.

Melihat gadis itu sudah sadar dan segera bangun duduk, Gan Keng Hiap tersenyum, “Tenanglah nona!”

Tapi Lian Hwa masih penasaran, ia melihat ke kanan kiri tapi tidak melihat Cin Han, maka dengan suara keras ia berkata, “Sesudah aku ditangkap, maka jangan banyak bicara lagi, bunuhlah aku!” Kemudian ia menangis lagi.

Nyonya tua itu menghampiri dan mengelus-elus rambutnya. “Kau murid dari Ong Lun taihiap? tanyanya dengan suara halus.

Lian Hwa mengangkat mukanya dan memandang muka nyonya yang manis budi dan berwajah menunjukkan keagungan itu, kemudian ia menoleh ke arah Gan Keng Hiap. Juga orang tua ini berwajah simpatik dan terang bukan orang jahat. Tapi mengapa gurunya bermusuh dengan mereka?

“Nona, kalau kau masih saja penasaran dan hendak membunuh aku orang tua tak berguna ini, nah, inilah pedangmu. Tikamlah aku, jangan khawatir, aku seorang lemah tak mengerti ilmu silat, tak mungkin aku dapat melawan,” kata Gan Keng Hiap sambil memberikan Sian-liong-kiam yang tadi terletak di atas meja. Tapi Lian Hwa tidak mau menerima pedang itu dan menundukkan kepalanya.

“Nona, dari keponakanku aku dengar bahwa kau adalah Ang Lian Lihiap yang datang hendak membalaskan sakit hati suhumu ialah Ong Lun taihiap. Mungkin kau belum diceritakan oleh gurumu sebab-sebab mengapa ia sakit hati kepadaku. Semua ini adalah karena dia!” ia menunjuk ke arah nyonya itu yang kini mengalirkan air mata dengan sedih.

Lian Hwa heran dan memandang nyonya itu dengan bingung.

“Mungkin kau tidak akan percaya kalau aku sendiri yang menceritakan riwayat ini padamu, maka biarlah dia yang bercerita,” katanya pula. Nyonya tua itu menghela napas dan menghapus air matanya. “Dengarlah, nak. Memang benar bahwa Ong Lun taihiap sakit hati karena aku. Duduknya hal begini.” Ia lalu bercerita dan Lian Hwa mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Dulu ketika aku masih gadis, pernah aku diculik oleh seorang kepala rampok dan di tengah jalan aku ditolong oleh Ong Lun taihiap. Ia ketika itu merupakan seorang pemuda yang gagah perkasa dan namanya dihormati oleh semua orang. Karena perbuatannya yang gagah dan sikapnya yang sopan santun itu, aku merasa berterima kasih dan mengaguminya sepenuh hatiku.

“Tapi nasib rupanya hendak mempermainkan kami. Belakangan ternyata bahwa ia cinta padaku, dan rasa simpati dan kekagumanku terhadapnya itu diterima dengan salah sangka. Ia mengira bahwa akupun cinta padanya. Melihat sikapnya yang bersungguh-sungguh itu, aku tidak tega untuk menyangkal bahwa aku sebenarnya tidak ada perasaan cinta kepadanya seperti cintanya padaku itu, karena aku sudah bertunangan pada waktu itu, ialah dengan Gan Keng Hiap yang itu waktu masih menjadi siucai (mahasiswa).

“Setelah mengantarkan pulang dengan selamat, seringkali Ong Lun taihiap berkunjung dengan diam- diam dan mengadakan pertemuan dengan aku. Tapi kami adalah orang yang menjunjung tinggi nama kami maka tidak terjadi apa-apa antara dia dan aku. Kemudian telah diputuskan hari kawinku dengan Gan Keng Hiap, maka aku sebagai seorang anak u-hauw (berbakti) dan memandang tinggi pribudi, menurut saja karena akupun mendengar bahwa Gan Keng Hiap adalah seorang pemuda baik-baik terpelajar, dan berbudi.

“Terpaksa pada malam itu ketika Ong Lun taihiap datang mengunjungiku, aku tetapkan hatiku untuk memberi tahu tentangg perkawinanku yang sebentar lagi akan dilangsungkan itu. Celakanya sebelum aku membuka mulut, Ong Lun taihiap dengan terus terang menyatakan cintanya padaku! Maka dapat kaubayangkan betapa sakit dan sedih hatinya ketika mendengar bahwa aku tak dapat menerima cintanya itu karena aku sudah bertunangan dan bahkan hendak kawin! Ong Lun taihiap jatuh pingsan!

“Demikian besar cintanya padaku, bahkan setelah sadar dari pingsannya ia hendak bunuh diri di situ. Tapi aku menubruknya dan membujuk serta meughiburnya. Akhirnya ia minta aku pergi minggat bersama. Tentu saja ajakan tidak baik ini kutolak. Ia menjadi marah dan mengancam hendak membunuh Gan Keng Hiap. Aku menjawab bahwa jika dia membunuh calon suamiku, akupun hendak bunuh diri. Maka pergilah dia dengan hati sakit dan sedih.

“Semenjak itu kami tidak mendengar akan halnya lagi. Agaknya ia telah insaf dan melupakan urusan itu, siapa nyana bahwa sampai saat ini, setelah kami semua menjadi tua, dia masih saja, menaruh dendam dan menyuruh kau datang untuk membunuh suamiku. Maka katakanlah padanya nona, jika ia hendak membalas sakit hati, suruhlah dia datang ke sini. Kami berdua suami isteri rela mati di bawah tangannya!” kata-kata terakhir ini diucapkan dengan air mata bercucuran.

Lian Hwa menjadi terharu dan menangis pula. “Suhu…… suhu sudah mati……”

“Apa? Ah...... Ong Lun, Ong Lun, sampai matipun kau masih saja  mendendam……” Nyonya Gan menangis makin sedih dan suaminya hanya menghela napas. “Nah, lihiap. Sekarang kau sudah mendengar semua, maka kalau masih mau membunuh padaku, silakan!” ia menantang dengan suara tenang.

Lian Hwa menjadi malu. “Kalau begini halnya, memang suhu yang terburu nafsu dan terlalu kow-kati (egoistis). Maafkan aku lopek, dan selamat tinggal. Aku kelak akan mohon ampun di depan arwah suhu bahwa muridnya tak dapat mentaati perintahnya.” Ia lalu mengambil pedangnya dan setelah menjura kepada kedua suami isteri itu ia bertindak keluar dari kamar.

Tak disangkanya bahwa di ruangan depan, Cin Han sedang duduk seorang diri dengan muka sedih. Ketika melihat ia keluar, pemuda itu berdiri memandangnya. Tapi Lian Hwa membuang muka dan pura-pura tidak melihatnya terus berjalan keluar.

“Nanti dulu, lihiap, dengarlah dulu bicaraku.”

“Kau mau apa?” tanya Lian Hwa ketus, tapi ia berhenti juga sambil menghadapinya tanpa memandang muka orang.

Cin Han mengangkat kedua tangannya memberi hormat. “Tadi aku telah berlaku salah terhadap Ang Lian Lihiap, wanita gagah perkasa dan budiman. Dengan jalan ini terimalah hormatku dan aku mohon maaf.”

Kata-kata ini diterima salah oleh Lian Hwa dan dianggapnya menyindir.

“Apa itu Ang Lian Lihiap? Kini tidak ada lagi Ang Lian Lihiap! Ia telah dikalahkan olehmu. Apa kau masih belum puas mengalahkannya dan kini hendak memperolok-oloknya lagi? Nah, lihat. Ang Lian Lihiap sudah hancur, aku tak sudi memakai nama itu lagi!”

Sambil berkata begitu ia mencabut teratai emas bermata merah yang indah itu dari rambutnya dan membanting itu ke atas tanah. Perhiasan itu terbanting berloncat-loncatan beberapa kali dan menggelinding ke dekat kaki Cin Han.

Cin Han hanya dapat memandang dengan mata terbelalak dan mulut ternganga, tapi Lian Hwa tidak memperdulikan lagi. Sambil memegang gagang pedangnya yang tergantung di pinggang, ia membalikkan tubuh dan berjalan dengan lenggang lemas dan lemah keluar rumah itu. Cin Han mengejarnya, tapi melihat pemuda itu mengejar, Lian Hwa meloncat ke depan dan lari dengan pesatnya.

“Ang Lian Lihiap……! Ang Lian Lihiap……!” suara Cin Han mengejarnya, tapi dengan menggigit bibir Lian Hwa lari makin keras. Ketika sayup-sayup sampai panggilan Cin Han berobah menjadi “Moi- moi……! Moi-moi……!” tak terasa pula air matanya jatuh bercucuran, tapi ia masih memaksa kakinya untuk lari makin cepat.

?Y?

Untuk mengenal pemuda tampan dan gagah perkasa ini, yang telah membuat Ang Lian Lihiap lari menangis, mari kita tinjau sejenak riwayat Cin Han yang menarik. Sungai Yang-ce yang terkenal di daratan Tiongkok bermata air di Pegunungan Kun-lun, terletak di Propinsi Cing-hai. Desa Liong-thou-men berada di perbatasan Propinsi Cing-hai dan Si-kang. Desa ini walaupun berada di tanah pegunungan dan jauh dari kota, namun cukup ramai karena Sungai Yang-ce mengalir didekatnya, sehingga memudahkan penduduk kampung mengadakan perhubungan dengan kota-kota jauh dengan jalan air.

Di desa Liong-thou-men tinggal kurang lebih seratus keluarga yang meliputi limaratus jiwa lebih. Kepala desa di situ terkenal adil dan mencinta rakyat hingga desa kecil itu selalu aman dan rukun. Semua orang menyebut kepala desa Lo-chungcu, nama lengkapnya Lo Sun Bi. Lo Sun Bi dan isterinya yang telah berusia empatpuluh lebih hanya mempunyai seorang anak yang diberi nama Lo Cin Han, maka tak heran bila kedua suami isteri itu sangat mencinta anak tunggal mereka.

Ketika Cin Han masih berada dalam kandungan, ibunya pernah bermimpi melihat seekor burung hong terbang di angkasa, hilir-mudik beberapa kali sambil menggerak-gerakkan kepala ke bawah. Maka setelah lahir, di samping nama aselinya, Cin Han disebut oleh ibunya Kim Hong atau Burung Hong Emas, ialah nama sebutan atau alias.

Juga oleh ibunya, seorang wanita terpelajar dari Tiongkok Timur, semenjak lahirnya, Cia Han sering dibuatkan pakaian yang disulam gambar burung hong emas. Mungkin karena melihat gambar burung indah itu di pakaiannya, anak itu selalu minta pakaian yang bersulamkan gambar burung Hong.

Penduduk desa Liong-thou-men hidup bahagia, biarpun keadaan mereka tak dapat disebut mewah dan penghidupan mereka hanya sederhana. Agaknya kerukunan desa yang membuat mereka merasa hidup berbahagia. Pernah terjadi, beberapa gerombolan perampok mengganggu desa itu, tapi berkat ketangkasan Lo-chungcu dan berkat kerja sama yang sangat baik di antara semua penduduk, semua perampok dapat diusir dan dihancurkan. Tapi benar, sebagaimana kata orang-orang tua dahulu kala, kebahagiaan dunia tidak kekal. Demikian pula dirasakan oleh penduduk desa Liong-thou-men.

Ketika musim chun yang indah telah lewat, tiba-tiba pada suatu sore penduduk desa itu dikejutkan oleh datangnya angin yang datang bertiup membawa suara gemuruh hebat dan banyak pohon besar ditumbangkan olehnya. Juga sebagian besar rumah penduduk desa yang rusak dan tumbang pula menimpa penghuninya, maka tak sedikit penduduk desa menderita luka-luka karenanya.

Dan semenjak datang angin jahat itu, malapetaka datang pula, mungkin terbawa angin yang datang dari utara itu. Malapetaka ini merupakan sebuah penyakit menular yang mengerikan. Orang yang terserang penyakit ini, pagi sakit sore mati, dan sore sakit pagi mati. Orang-orang bingung dan segala macam usaha desa dikerahkan, seperti bersembahyang di kelenteng dan pinggir sungai, namun hasilnya sia-sia.

Dalam dua hari saja semenjak angin jahat itu datang, lebih dari duapuluh orang tewas akibat penyakit itu. Hujan air mata membanjiri desa dan keluh-kesah serta ratap tangis mereka yang ditinggalkan mati riuh menggema di angkasa merupakan jerit penasaran dan permintaan tolong.

Dalam keadaan hebat itu semua penduduk desa teringat akan seorang pertapa yang tinggal dalam sebuah gua di puncak bukit Kong-hwa-san, bukit yang kelihatan dari desa itu karena hanya terpisah paling banyak duapuluh lie. Sungguhpun pertapa tua itu tak pernah mau bicara dan bergaul dengan orang, namun pernah orang aneh itu menyembuhkan A-hok penebang kayu ketika dia ini terjatuh dari atas pohon.

Pada hari pertama penyakit itu mengambil korban, Lo-chungcu sendiri dengan beberapa orang tua mendaki bukit Kong-hwa-san untuk memohon pertolongan pertapa itu.

Tapi alangkah kecewa mereka ketika ternyata bahwa gua itu kosong. Dan pada hari kedua, Lo- chungcu dan isterinya menjadi korban pula semenjak siang mereka tak dapat turun dari pembaringan.

Tubuh mereka panas, mulut mereka bicara tak keruan seakan-akan kemasukan roh jahat. Cin Han menangis sedih melihat keadaan ayah ibunya, tapi apakah yang dapat dilakukan oleh seorang anak umur enam tahun?

Tak seorangpun di antara penduduk desa itu berani memasuki kamar Lo Sun Bi, karena menurut kepercayaan mereka, penyakit itu merupakan roh-roh jahat yang memasuki tubuh orang-orang yang dipilih menjadi korban dan siapa berani datang dekat, tentu akan terpilih.

Kepercayaan mereka ini bukannya tak berdasar karena memang telah beberapa kali terbukti bahwa siapa yang mendekati seorang yang sedang sakit maka dia tentu akan menjadi korban berikutnya. Maka, tidak heran bahwa orang-orang itu, betapapun besar cinta dan hormat mereka kepada kepala desa yang sedang sakit itu, hanya berani datang dan duduk di luar kamar saja.

Semua keperluan si sakit dilayani oleh Cin Han! Bahkan, beberapa orang sudah berani meramalkan bahwa jika Lo-chungcu dan isterinya mati, tentu Cin Han menjadi korban berikutnya!

Biarpun baru menderita sakit setengah hari lamanya, keadaan dua suami isteri itu payah. Pada malam harinya, napas mereka tinggal kempas-kempis dan mata mereka sudah tak dapat dibuka untuk memandang anak mereka yang duduk di situ menangis sedih, sebentar lari ke pembaringan ayah, sebentar lari ke pembaringan ibu, dan tiada hentinya mulut kecil itu memanggil-manggil,

“Ayah…… ibu…… ayah…… ibu…… bangunlah……” Dan sepasang mata kecil yang biasanya bersinar riang gembira itu, kini redup-redup memandang ayah ibunya bergantian dengan kelopak mata merah dan kering karena sudah habis air matanya ditangiskan sejak siang tadi.

Kemudian anak itu mengambil keputusan nekat. Ia tahu pula bahwa kemarin ayahnya pergi ke bukit Kong-hwa-san mencari pertapa yang pandai mengobati orang, dan ia tahu pula di mana letak Kong- hwa-san karena memang bukit itu tak asing bagi penduduk di situ dan pada siang hari dapat terlihat jelas. Maka setelah sekali lagi memanggil-manggil ayah ibunya, ia berkata perlahan,

“Ayah..... ibu….. Aku pergi cari obat…..” Dan ia lari keluar.

Di luar rumah semua orang telah pulang karena pada malam hari mereka tidak berani berada di situ, walaupun hanya di luar kamar! Melihat keadaan sunyi, Cin Han terus lari keluar. Untung baginya, pada malam hari itu bulan bersinar terang hingga remang-remang terilhat olehnya Bukit Kong-hwa- san menjulang didepannya bagaikan hantu besar berdiri bertolak pinggang. Ia berlari terus...... Dapat dibayangkan betapa sengsara dan sukarnya bagi seorang anak berusia enam tahun untuk mendaki bukit yang belum pernah didatangi. Tapi ternyata anak itu memiliki semangat yang tak kunjung padam dalam membela orang tuanya. Ia tak perdulikan hawa dingin yang menyusup tulang, batu-batu tajam yang menembus sepatunya dan tangkai-tangkai pohon rendah melambai merobek bajunya.

Setelah berjalan terhuyung-huyung beberapa jam lamanya, ia sampai di lereng bukit dan berhenti di atas sebuah batu lebar dengan terengah-engah. Ia berhenti karena terpaksa oleh kakinya yang mogok. Cin Han mulai bingung karena baru insaflah ia bahwa sebenarnya ia tidak tahu sebenarnya di mana letak gua itu. Tak disangkanya sama sekali bahwa bukit itu demikian besar dan luas. Disangkanya imut saja dan mudah mencari gua di situ, karena dari desanya memang kelihatan kecil.

Ia berdiri bingung, kepalanya mulai pusing dan kedua kakinya gemetar. Ia mencoba untuk menggerakkan kakinya, tapi hampir saja ia jatuh terguling, karena sesungguhnya kaki itu seakan-akan lumpuh saking lelahnya. Di depannya terbentang jurang dalam sekali dan di bawah sekali air Sungai Yang-ce berlenggang-lenggok seperti ular putih.

Kebetulan bulan sedang terbebas dari gangguan awan, maka pemandangan sungguh mentakjubkan dan indah sekali. Melihat ke bawah, Cin Han menjadi makin pusing. tiba-tiba ia membelalakkan kedua matanya. Lalu menggunakan kedua tangan menggosok-gosoknya. Tak salahkah ia? Ah, benar! Memang ayah dan ibunya yang berada di sebuah perahu di bawah itu. Ayah dan ibunya sedang mendayung perahu di sungai bawah itu. Lihat, mereka melambai-lambaikan tangan padanya.

“Ayah……! Ibu……! Aku ikut     !!” dan Cin Han lari ke depan, jurang itu kelihatan dangkal dan sungai

itu dekat.

Tapi, pada saat kaki kirinya telah terjeblos ke dalam jurang, lengannya terpegang oleh sebuah tangan yang kuat. Cin Han sudah menggerakkan tubuh meloncat ke depan, maka kini tubuhnya tergantung di atas jurang. Ia memberontak dan menggerak-gerakkan kaki tangannya seperti seekor kelinci terpegang kedua telinganya. Mulutnya menjerit-jerit,

“Lepaskan aku……! lepaskan,…..! Aku mau ikut ayah dan ibu, lepaskan.    !”

Tiba-tiba tubuhnya tersentak ke atas dan tahu-tahu ia telah berada di dalam pondongan seorang tua berjenggot panjang. Sepasang mata yang bening dan tajam memandangnya penuh sinar iba hati. Tapi Cin Han tetap memberontak dan meronta-ronta. Kakek itu menggunakan jari tangannya menekan- nekan belakang leher Cin Han sehingga anak itu merasa seakan-akan kepalanya disiram air dingin dan menjadi sadar kembali.

“Tenang, anak, kau kenapakah? Apa yang menyusahkan hatimu?”

Cin Han seorang anak cerdik. Sekali pandang saja tahulah ia bahwa kakek itu seorang yang baik hati. Dan teringat ia akan cerita orang-orang desa yang pernah melihat pertapa di atas bukit. Inilah orangnya!

Cepat-cepat ia menggerakkan tubuh minta turun dari pondongan dan tanpa, memperdulikan tanah basah ia berlutut sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Totiang yang baik…… tolonglah ayah ibuku…… tolonglah……!”

Kakek itu seorang tosu, pendeta penganut agama Tao, tersenyum sabar lalu membangunkan Cin Han. “Pinto sudah ke sana, orang tuamu sudah beristirahat. Kau, anak baik, ikutlah pinto saja!”

Cin Han mengangkat kepala memandang wajah yang dikelilingi rambut dan jenggot putih itu. “Totiang, apakah ayah ibuku sudah sembuh dari sakitnya?”

Orang tua itu mengangguk-angguk. “Sudah baik….. sudah baik……! Kau mau menjadi. muridku?”

Bukan main besar rasa hati Cin Han mendengar akan keadaan orang tuanya. Pasti pendeta ini yang mengobati orang tuanya. Maka segera ia menjatuhkan diri berlutut lagi dan menyebut, “Suhu!”

Gwat Liang Tojin tertawa senang. Ia lalu mengangkat dan memondong tubuh anak itu dan lari bagaikan terbang ke atas bukit. Cin Han merasakan angin dingin menyambar-nyambar dan mengiris- iris mukanya, maka hatinya menjadi ngeri. Ia menyembunyikan mukanya di balik baju orang tua itu.

Gwat Liang Tojin sebenarnya adalah seorang tokoh Kun-lun-pai yang di masa mudanya telah membuat nama besar. Setelah berusia lanjut, ia lebih banyak mencurahkan perhatiannya tentang ilmu batin dan mempelajari ilmu Tao yang tiada batasnya. Di samping bertapa membersihkan batin, ia akan merangkai ilmu silat dan ilmu pedang yang ia petik sebagian besar dari cabang Kun-lun, dan sebagian dari cabang Go-bi yang pernah pula ia pelajari, ia mengambil sari pelajaran kedua cabang itu dan menggabungkannya sambil memperbaiki sana-sini.

Di hutan-hutan Gunung Kong-hwa-san terdapat semacam burung kecil yang sangat gesit dan berani. Banyak burung-burung besar tidak berani menyerangnya.

Hal ini menarik hati Gwat Lian Tojin. Dengan penuh perhatian ia pelajari gerakan-gerakan burung kecil warna hijau itu dan gerakan-gerakan yang gesit lincah itu mengilhaminya untuk mencipta gerakan ilmu silat.

Ternyata gerakan-gerakan ini banyak miripnya dengan gerakan ilmu silat Kun-lun, maka dengan ketenangan jiwa serta keheningan pikirannya, dapatlah ia mempersatukan gerakan-gerakan itu sehingga terciptalah ilmu silat pedang yang sangat lihai dan diberinya nama ilmu pedang Kong-hwa- kiam-sut. Juga dari gerakan-gerakan burung itu, ia dapat memperbaiki ginkang atau ilmu meringankan tubuh yang memang telah tinggi tingkatnya.

Gwat Liang Tojin tidak mempunyai murid selainnya Cin Han. Tidak heran bahwa ia menurunkan seluruh kepandaiannya kepada murid tersayang itu. Dan Cin Han memang seorang berbakat, hingga dalam waktu kurang lebih sepuluh tahun setelah menerima gemblengan dari suhunya, ia sudah dapat mewarisi semua pelajaran Tojin yang berilmu tinggi itu.

Selama sepuluh tahun, Gwat Liang Tojin melarang muridnya turun gunung bahkan melarang ia pergi ke desanya yang hanya terpisah dekat dari situ. Cin Han sangat taat serta belum pernah melanggar larangan suhunya, maka pendeta itu makin sayang saja kepadanya. Pada suatu hari, pagi-pagi sekali Gwat Liang Tojin memanggil Cin Han menghadap.

“Muridku, kurasa sekarang sudah tidak ada apa-apa lagi yang kuajarkan kepadamu. Semua pengetahuan dan kepandaianku telah kaumiliki. Dan kurasa tidak perlu pula ada rahasia yang harus kusembunyikan karena kau kini telah dewasa.” Ia berhenti sebentar dan menghela napas.

“Mohon diberi petunjuk-petunjuk, suhu,” kata Cin Han sambil memandang penuh hormat.

“Cin Han, tetapkan hatimu dan bersiaplah menerima pukulan pertama. Sebenarnya, ayah ibumu sudah lama meninggal dunia.”

Cin Han meloncat berdiri, memandang suhunya dengan mata terbelalak. Kalau ada kilat menyambarnya pada saat itu, takkan sekaget itu agaknya.

“Ayah…… ibu…… sudah mati     ? Bila……? Bagaimana……? Mengapa suhu tidak memberi tahu padaku

sebelumnya……?” Pertanyaannya mengandung penasaran besar. “Tenang, muridku!”

Kata-kata yang berpengaruh ini membuat Cin Han sadar akan keadaan dirinya. Ia lalu duduk kembali dan mengatur napasnya, menggunakan tenaga batinnya untuk menenteramkan pikiran dan menekan dadanya yang bergelora dan napasnya yang terengah-engah. Akhirnya dapat juga ia menguasai dirinya.

“Maaf, suhu, tapi sudilah suhu menerangkan duduknya perkara agar hati teecu yang gelap mendapat sinar terang……!”

“Begini, muridku. Dahulu ketika kau berjumpa dengan pinto di dekat jurang itu, pinto baru saja kembali dari desa Liong-thou-men. Tapi pinto tidak keburu menolong jiwa orang tuamu. Sakitnya terlampau berat dan agaknya memang sudah takdir Yang Maha Kuasa. Pinto hanya dapat membagi- bagi obat kepada penduduk yang masih hidup untuk menjaga diri dari serangan penyakit menular itu. Pada waktu kita berjumpa, kulihat kau masih demikian kecil dan jiwamu dalam tekanan. Berbahaya kalau kuberi tahu tentang kematian orang tuamu pada waktu itu. Pula, apa gunanya? Kau masih kecil dan masih panjang harapan, sedangkan orang tuamu yang sudah meninggal tak perlu diganggu lagi. Pinto dengan bantuan tetangga-tetangga desa sudah mengatur jenasah ayah ibumu dengan baik.”

Cin Han berlutut sambil menangis. Gurunya mendiamkannya saja, hanya memandang sambil menghela napas. Ia maklum bahwa pada saat seperti itu, lebih baik kalau anak muda itu dapat menangis. Setelah agak reda gelora kesedihan hatinya, Cin Han berkata,

“Suhu, sungguh teecu berhutang budi besar kepada suhu. Tidak berarti kiranya jika teecu hanya menghaturkan terima kasih, maka untuk membalas kebaikan suhu, teecu bersedia untuk melayani suhu seumur hidup.”

Gwat Liang Tojin tersenyum lebar, “Cin Han muridku. Lupakah kau kepada ajaranku bahwa perbuatan yang benar-benar sempurna adalah perbuatan yang dilakukan tanpa mengharap jasa? Pinto melakukan semua itu bukanlah karena pinto mengharap pembalasan budi darimu kelak. Tidak, muridku. Pinto akan merasa bahagia sekali jika kau bisa menjadi seorang manusia yang benar-benar berguna bagi orang lain, seorang yang dapat mengerahkan tenaga serta kepandaianmu untuk membantu orang lain, menjadi hamba keadilan, menentang yang jahat membela yang lemah tertindas. Sanggupkah kau?”

“Teecu akan melakukan semua yang telah teecu pelajari dan dengar dari suhu. Semua nasihat suhu akan teecu ingat selama hidup.”

“Nah, bagus. Cin Han.”

Gwat Liang Tojin menghela napas lagi, tapi kini helaan napas lega dan senang. Ia lalu menyuruh muridnya memasuki gua sebelah kiri untuk mengambil sebuah peti kayu hitam. Peti itu segera diambil oleh Cin Han dan diletakkan di hadapan gurunya.

Gwat Liang Tojin menggunakan kunci membuka peti dan mengeluarkan sebatang pedang bersarung warna biru, sebungkus surat dan sebungkus kain. Pertama-tama Gwat Liang Tojin membuka bungkusan kain. Cin Han melihat bahwa kain itu adalah sehelai kain sutera putih yang bersulamkan burung Hong merah di bagian dada, karena setelah dibuka ternyata sutera putih itu merupakan pakaian dalam.

“Cin Han, ini adalah peninggalan ibumu. Beliau sengaja menyulam ini dan menyimpannya untukmu setelah dewasa. Kebetulan sekali, bukan? Seakan-akan ibumu telah tahu bahwa sewaktu-waktu pasti akan meninggalkan kau.”

Cin Han menggigit bibirnya untuk menahan gelora hatinya yang diguncangkan rasa haru besar.

Gwat Liang Tojin membuka bungkusan kedua, ialah sesampul surat yang kertasnya sudah kekuning- kuningan. “Dan ini adalah surat ayahmu,” katanya, “surat ini hendaknya kaubawa dan berikan kepada seorang terpelajar bernama Gan Keng Hiap yang tinggal di kota Tiong-bie-kwan. Tuan Gan ini adalah adik angkat ayahmu dan menurut kehendak ayahmu kau harus berguru dan belajar ilmu surat kepadanya. Ayahmu dalam penderitaan sakit hebat masih sempat memikirkan kepentinganmu, sungguh seorang ayah bijaksana, muridku, maka kau tak boleh tidak harus mentaati permintaannya ini.”

Sekali lagi Cin Han mempertahankan hatinya agar tidak tergoncang terlalu hebat.

“Dan sekarang, aku akan memberi pukulan kedua, muridku. Yakni, hari ini juga, kau harus turun gunung dan mulai menjalankan tugasmu, pertama-tama mengunjungi makam orang tua, lalu mengantarkan surat kepada tuan Gan dan belajar kesusasteraan seperti yang dikehendaki ayahmu.”

“Setelah itu, teecu harus kembali ke sini suhu?”

Gurunya tertawa. “Untuk apa? Kau mau jadi tua di atas gunung ini? Tidak, Cin Han masih banyak waktu kita akan berjumpa pula, tapi tak perlu kau tinggal lagi di sini. Boleh datang mengunjungiku sewaktu-waktu.” Cin Han merasa sedih harus meninggalkan gurunya, tapi sebagaimana biasanya, ia tak berani membantah.

“Dan ini boleh kau bawa, kuhadiahkan padamu. Pedang ini adalah sebuah pedang pusaka yang ampuh dan tajam. Sayangnya pedang ini tidak bernama, mungkin dulu milik seorang gagah yang ingin menyembunyikan namanya. Ukiran nama pedang sudah dihapus. Maka pedang ini kuberi nama Kong- hwa-kiam, sesuai dengan tempat di mana aku menemukannya, ialah di dalam gua ini. Tunggu, akan kuberi gambar di atas sarungnya.”

Gwat Liang Tojin ternyata pandai menggambar pula. Dengan mencontoh sulaman kain peninggalan ibu Cin Han, ia melukis gambar burung hong emas di sarung pedang. Seekor burung hong emas sedang terbang menembus awan putih di langit biru.

“Nih, Cin Han,” kata Gwat Lian Tojin kepada muridnya setelah ia selesai melukis, “Melihat lukisan ibumu ini, aku teringat akan sesuatu. Bukankah katamu dulu bahwa kau diberi nama alias Kim-hong dan ibumu dulu bermimpikan burung Hong emas terbang ketika sedang mengandungmu? Ah, ini baik sekali. Mulai sekarang, kau akan menempuh hidup baru dan bertemu dengan banyak orang kang- ouw. Maka sudah sepantasnya kau mempunyai nama julukan. Pakailah nama pilihan ibumu ini, nak. Yaitu Hwee-thian Kim-hong. Burung Hong Emas Terbang di angkasa raya. Bukankah nama ini indah didengar?”

Cin Han menghaturkan terima kasih atas pemberian pedang dan nama julukan. Ia lalu berkemas dan setelah menerima petunjuk-petunjuk penting dari suhunya tentang letaknya kota dan tempat yang harus ditujunya ia turun gunung. Kong-hwa-kiam tergantung di pinggang, sebungkus pakaian terikat di punggung, pakaian warna biru muda dan di sebelah dalam, baju sutera putih bersulam burung Hong tampak membayang indah.

Cin Han memasuki kampung tempat kelahirannya, tapi tak seorangpun di kampung itu kenal padanya. Langsung ia menuju ke makam orang tuanya dan bersembahyang sambil menangis sedih. Ia berduka sekali mengingat bahwa hidupnya kini sebatang kara setelah ia terpisah dari gurunya. Tapi ia teringat nasihat gurunya,

“Cin Han, kau seorang laki-laki, harus berpemandangan luas dan berpikiran panjang serta berhati tabah. Hidup bukanlah penderitaan asal saja kau tahu bagaimana harus menempuh dan menjalaninya. Jangan khawatir hal-hal yang belum terjadi dan jangan mundur ketakutan menghadapi gelombang hidup yang bagaimana dahsyatpun. Berlaku tenang dan sabar. Jauhi perkelahian, jangan mengandalkan tenaga sendiri lalu menghina dan memukul orang. Ingat, kepandaian yang kaupelajari sepuluh tahun lebih di sini bukan untuk modal permusuhan, tapi untuk alat pembela keadilan.”

Mengingat nasihat ini ia menjadi tabah. Ia meninggalkan makam orang tuanya dan mulai melakukan perantauan menuju ke kota Tiong-bie-kwan yang terletak di dataran Tiongkok sebelah timur laut. Ia mengambil jalan air, karena cara ini yang paling mudah dan cepat. Air Sungai Yang-ce yang makin jauh makin melebar itu mengalir dan membawa perahunya menuju ke daratan timur.

Banyak hal-hal hebat ia alami dalam perjalanan itu. Beberapa kali ia berkenalan dengan kekejaman bajak laut yang melakukan operasi di Sungai Yang-ce di tengah hutan, tapi berkat kepandaiannya yang tinggi semua perintang dapat dihancurkannya. Maka mulai terkenallah nama Hwee-thian Kim-hong dan mulai ditakuti oranglah Kong-hwa-kiam yang tajam. Sebentar saja para bajak sungai di sepanjang Sungai Yang-ce mengenal nama Hwee-thian Kim-hong dan beberapa kepala bajak yang kenamaan dan terkenal kosen merasa penasaran lalu sengaja datang mencegat untuk mencoba kepandaiannya.

Pada suatu pagi perahunya sampai di sebuah kampung bajak yang terkenal dan ditakuti oleh semua pelancong dan pedagang. Kampung itu disebut Kwan-lian-chung dan di situ terdapat dua anak sungai yang memuntahkan air dan menggabung menjadi satu dengan induk Sungai Yang-ce. Maka ramailah keadaan di situ karena kedua anak sungai itu terkenal mengandung ikan banyak sekali. Cin Han selalu bertukar perahu dari kampung ke kampung.

Bajak sungai yang berbareng menjadi kepala di kampung itu bernama Lie Thung dan bergelar Iblis Sungai Yang-ce. Ia adalah seorang yang kasar tapi jujur dan sombong, dan tidak mau kalah oleh siapapun juga.

Memang kesombongannya beralasan juga karena Lie Thung adalah murid tunggal dari Koai Bong Hwesio dan telah mewarisi ilmu silat dan tombak dari cabang Kui-thong-pai. Juga tenaganya besar sekali hingga dengan kepalan tangan kanan ia pernah memukul mampus seekor kerbau yang mengamuk! Selain itu, iapun pandai renang dan bermain dalam air seperti seekor ikan. Maka sudah pantaslah kalau ia diberi julukan Iblis Sungai Yang-ce.

Lie Thung sangat penasaran ketika mendengar betapa Sungai Yang-ce itu dibikin keruh dan kotor oleh nama Hwee-thian Kim-hong dengan dijatuhkannya beberapa kepala bajak di sepanjang sungai itu. Ia segera menyuruh beberapa anggauta penyelidiknya pergi ke atas dan mencari tahu hal pemuda pengacau itu. Alangkah girangnya ketika tak lama kemudian para penyelidiknya datang melaporkan bahwa pemuda yang dibenci itu tengah menuju ke Kwan-lian-cung!

Ketika perahu Lo Cin Han memasuki kampung Kwan-lian-chung, tiba-tiba dari depan tampak mendatangi lima buah perahu besar yang dipasang melintang. Di atas perahu paling depan berdiri seorang tinggi besar berbaju hitam. Cambang-bauknya hitam tebal dan matanya yang bulat dan besar memandang tajam. Wajah itu keren dan serem sekali, seakan-akan iblis sungai yang sedang murka.

Lie Thung dengan tombak pusakanya di tangan melihat sebuah perahu kecil mendatangi dengan perlahan. Awak perahu yang memegang galah tampak ketakutan dan mencoba bersembunyi di kamar perahu. Tapi seorang anak muda berpakaian biru muda dengan tenang berdiri di kepala perahu sambil bersedakap. Di pinggangnya tergantung pedang pendek.

Melihat pemuda berwajah cakap dengan tubuh kecil itu Lie Thung tidak memandang sebelah mata, namun karena sudah mendengar bahwa yang datang ini adalah Hwee-thian Kim-hong yang sudah berkali-kali menjatuhkan banyak pemimpin bajak, maka ia tidak berani melanggar aturan sungai telaga dan rimba hijau yang telah berlaku ratusan tahun. Maka ia segera mengangkat tangan memberi hormat sambil berkata nyaring.

“Enghiong dari manakah yang sedang lewat ini? Mohon petunjuk dan penjelasan.”

Baru kali ini Cin Han mendapat perlakuan yang agak hormat dari seorang kepala bajak, maka iapun segera balas memberi hormat dan menjawab, “Siauwte yang bodoh bernama Lo Cin Han dan mohon maaf jika perahu kecilku mengganggu kepada tai-ong dan harap memberi sedikit jalan untuk lewat.” Tiba-tiba Lie Thung tertawa bergelak-gelak. Tak dapat ia menahan tawanya setelah mendengar tutur sapa anak muda yang halus itu. Orang macam inikah yang telah menjatuhkan beberapa orang kawannya? Sukar untuk dipercaya!

“Eh, maaf anak muda. Bukankah aku hendak berlaku sewenang-wenang, tapi di sini telah berlaku semacam aturan yang tak boleh dilanggar oleh siapa juga yang lewat sungai ini.”

Cin Han mengerti bahwa sikap hormat kepala bajak ini hanya di luarnya saja, dan sekarang terlihatlah maksud aselinya, tapi ia masih dapat menekan perasaan dan bersabar diri.

“Tentu, tai-ong. Lain ladang lain belalang, lain tempat lain aturan, dan siauwte sebagai tamu yang datang pasti akan taat kepada semua peraturanmu. Sebutkanlah itu, dan siauwte akan mempertimbangkan.”

“Begini anak muda. Yang boleh lewat di sungai ini hanya ada tiga golongan yang memenuhi salah satu syarat-syarat seperti berikut: Pertama, mereka yang memiliki keterangan atau tanda dari seorang sahabat baik kami boleh lewat tak terganggu. Kedua, mereka yang suka memberi sumbangan seribu tail perak kepada kami dapat lewat pula diiringi terima kasih kami. Ketiga mereka yang dengan perahunya dapat menembus halangan lima perahu kami tanpa terguling dari perahunya dan selain itu dapat melayani tombakku sampai tigapuluh jurus boleh lewat di sini diiringi pengawal kami sampai seratus lie. Nah, sekarang terserah kepadamu untuk memenuhi satu daripada tiga syarat itu.”

Cin Han menengok kepada tukang perahu, seorang tua yang kini bersembunyi ketakutan di pinggir kamar perahu, dan tersenyum berkata,

“Lo Ciang sudah dengarkah kau?” Lalu ia berpaling menghadapi Lie Thung dan menjura. “Tai-ong, memang syarat-syaratmu itu cukup adil. Mana siauwte berani membantahnya? Baik, mari kita pertimbangkan bersama. Syarat pertama, terang siauwte tak dapat mengadakannya, karena siauwte hidup sebatang kara tak berhandai taulan, sahabat siauwte satu-satunya adalah Lo Ciang tukang perahu ini, tapi tentu saja ia tidak cukup merupakan jaminan bukan?”

Lie Thung tertawa, demikian juga kawan-kawannya di kelima perahu bajak. “Menyesal sekali, kami tidak kenal kepada orang tua ini.”

“Nah, sekarang syarat kedua. Seandainya siauwte mempunyai bekal uang sedemikian banyak, tentu dengan kedua tangan terbuka akan kuberikan kepada tai-ong sebagai tanda persahabatan. Tapi apa hendak dikata, jangankan seribu tail, sedangkan seperlimanya saja siauwte tidak punya. Kalau saja bukan seribu tail, barang kali siauwte masih sanggup yaitu…… katakan saja…… kira-kira sepuluh tail……”

“Kamu menghina?” Lie Thung berseru marah. “Kami bukan pengemis!”

Cin Han mengangkat pundaknya “Menyesal sekali, tai-ong, bukan maksudku untuk menghina, tapi soalnya memang siauwte tidak punya perak sebanyak itu. Sekarang syarat ketiga. Karena kedua syarat di muka tadi tak mungkin kulakukan, terpaksa siauwte akan coba-coba mentaati syarat ketiga.” “Bagus! Memang sudah kusangka kau pasti akan menggunakan kekerasan, mengandalkan kepandaianmu. Tapi jangan kauanggap aku selemah kawan-kawan yang telah kaukalahkan. Nah, mulailah dengan syarat pertama. Kau harus dapat menerjang kelima perahu kami dan dapat menerobos melalui kami.”

Ia bersuit keras dan kelima perahunya bergerak merupakan barian memenuhi permukaan sungai dan mencegat perahu Cin Han yang kecil. Cin Han menyuruh tukang perahunya sembunyi dalam kamar perahu dan ia sendiri dengan tangan kanan memegang galah dan tangan kiri memegang dayung segera menggerakkan perahunya maju perlahan.

Tapi perahu-perahu bajak itupun bergerak cepat dan menghadang di depannya. Kemanapun juga dia bergerak, selalu tentu ada perahu bajak yang mencegatnya, hingga ia hanya dapat menggerakkan perahunya ke kanan kiri tak berdaya melalui hadangan itu.

Ia mencari akal dan menghentikan perahunya. Kemudian ia menggerakkan perahunya lagi, sekarang ia menggunakan galah dan dayung, mengerahkan semua tenaganya sehingga perahunya melaju ke sebelah kiri. Semua perahu bajakpun bergerak ke kiri dan mencegatnya, dan tiba-tiba cepat sekali Cin Han memutar haluan perahunya ke kanan. Maksudnya hendak menggunakan kecepatan dan kekuatan tenaganya untuk berlomba dan mendahului perahu-perahu bajak menerobos kepungan.

Tapi Lie Thung bukan orang bodoh. Ia sudah dapat menduga maksud lawan, maka ketika mengejar perahu Cin Han ke kiri tadi, yang ikut hanya tiga buah perahu, yang dua buah lagi masih menanti dan mencegat di sebelah kanan, hingga perahu Cin Han terkurung lagi. Cin Han memutar-mutar galah bambunya di depan perahu dan dengan demikian mencoba menghalau rintangan di depan perahu, tapi usahanya ini bahkan hampir membuat ia celaka.

Lie Thung melihat ia menggunakan galah membuka jalan, segera memberi tanda dan para bajak sungai segera memutar-mutar galah mereka dan menggunakan galah itu mendorong-dorong perahu Cin Han untuk membuat perahu itu terbalik.

Cin Han terkejut sekali dan terpaksa ia memutar kembali perahunya. Ia maklum bahwa jika para bajak itu menujukan serangan-serangan kepada perahunya, ia tentu akan kalah. Karena sekali perahunya terbalik, ia takkan berdaya lagi. Untuk menjaga perahunya dari serangan galah agak sukar, karena serangan itu dilakukan dari kanan kiri dan gerakannya di atas perahu tidak leluasa. Ia duduk di perahunya dan memutar otak. Tiba-tiba ia meloncat bangun dengan wajah girang. Lalu dengan cepat ia mendayung perahunya ke pinggir. Perahu-perahu bajak mengejar dengan bingung karena tak mengerti maksudnya.

Ternyata Cin Han berpikiran cerdik. Ia maklum bahwa air di pinggir sungai dangkal sekali yang takkan mengganggu perahunya yang kecil. Tapi perahu-perahu bajak yang besar dan berat itu tentu sukar untuk dijalankan di pinggir. Dengan demikian maka jika ada juga serangan datang, maka serangan itu hanya datang dari satu jurusan saja yang lebih mudah untuk dijaganya.

Benar sebagaimana perhitungannya, ketika perahunya sudah sampai di tepi, perahu-perahu bajak tidak bisa mengejar terus, mereka yang berada di atas perahu bajak hanya berteriak-teriak dan mengacung-acungkan senjata dengan marah. Cin Han tertawa geli dan dengan gembira ia mendayung perahunya menurut aliran air Sungai Yan-ce, tak memperdulikan teriakan-teriakan kaum bajak. Tapi kembali ia terkejut.

Ternyata Lie Thung tak mau menyerah kalah demikian saja. Kepala bajak yang cerdik ini segera memerintah perahu-perahunya untuk bergerak mengejar di tengah sungai. Dan Cin Han tahu akan maksudnya. Tidak semua pinggir sungai dangkal.

Jalan satu-satunya hanya membalap secepat mungkin untuk mendahului perahu-perahu itu. Maka berlombalah mereka. Setelah berlomba beberapa lama, Cin Han maklum bahwa ia takkan menang. Ombak yang diterbitkan oleh perahu-perahu di tengah itu lari ke pinggir dan menghambat kelajuan perahunya. Ia takkan menang kalau perahu-perahu bajak itu tidak ditahan majunya.

Memang Cin Han berhati tabah dan juga otaknya cerdas sekali. Diam-diam ia memesan kepada Lo Ciang untuk mendayung perahu secepat mungkin setelah ia beraksi nanti. Lalu ia menggerakkan perahunya mendekati perahu yang bergerak paling depan. Setelah perahu terpisah beberapa tombak jauhnya, Cin Han menggerakkan tubuhnya meloncat ke atas perahu bajak.

Dengan teriakan-teriakan riuh rendah bajak-bajak itu menyerangnya. Tapi Cin Han hanya berkelit dan berloncat-loncatan ke sana ke mari di atas perahu sehingga keadaan di atas perahu menjadi kacau. Dari perahu itu Cin Han meloncat lagi ke perahu lain sehingga sebentar saja anak buah kelima perahu itu memusatkan perhatian mereka kepada Cin Han yang sedang mengamuk dan mengacau.

Dengan demikian maka Lo Ciang dengan aman dan senang dapat mendayung perahunya melewati kepungan tanpa terlihat oleh seorang bajakpun.

Lie Thung melihat Cin Han mengacau, dengan marah meloncat ke perahu di mana Cin Han berada dan tombaknya siap di tangannya.

Tapi Cin Han tiba-tiba beseru keras, “Tai-ong, kau sudah kalah. Lihat itu perahuku sudah dapat keluar dari kepunganmu!”

Lie Thung terkejut dan semua bajak memandang. Baru sadar mereka bahwa perahu kecil yang dikejar-kejar itu telah lolos.

“Hm, kau cerdik, anak muda. Tapi aku belum kalah karena kau masih berada di sini, baru kau dapat disebut memenuhi syarat pertama.”

“Oh, begitukah?” mata Cin Han mengerling ke sekelilingnya, ternyata ia telah dikepung oleh puluhan bajak laut bersenjata lengkap. Tiba-tiba ia meloncat menerjang dan dua orang bajak yang mengangkat golok menghadangnya dapat dibikin terpelanting.

“Maaf dan selamat tinggal, Tai-ong!” kata Cin Han yang menyambar sebuah meja kayu. Dengan sekali tekan, meja itu pecah berantakan merupakan beberapa keping papan. Kemudian ia lari ke pinggir perahu, melemparkan sepotong papan ke air, diikuti oleh tubuhnya yang melayang ke bawah. Anak muda itu mempergunakan ilmu ginkangnya yang terlatih sempurna, ia menggunakan ujung kakinya menotol papan yang tadi dilemparkan dan kini terapung di atas air hingga tubuhnya kembali melayang ke atas.

Sebelum tubuhnya turun, ia melemparkan potongan papan kedua jauh di depan, diikuti tubuhnya berkelebat cepat, turunnya di atas papan kedua itu, lalu meloncat naik ke atas.

Demikian, dengan gerakan dan loncatan Capung Bermain di Air ia berhasil meloncat ke atas perahunya sendiri dengan selamat. Semua bajak melihat hal ini dengan mata terbelalak. Setelah Cin Han tiba di perahunya sendiri, terdengar sorakan kawanan bajak menyatakan kagumnya. Lo Ciang terheran-heran melihat penumpangnya sudah kembali ke perahu, tapi ia tak banyak cakap, hanya terus mendayung sekuat tenaga.

Tiba-tiba terdengar teriakan dari belakang. Cin Han dan Lo Ciang menengok, ternyata dari perahu- perahu bajak itu diturunkan sebuah sampan yang didayung oleh seorang dan sedang mengejar mereka. Ternyata pengejar itu bukan lain adalah Lie Thung sendiri.

Cin Han kagum juga melihat tenaga kepala bajak itu yang mendayung perahu kecil dengan cepat hingga sebentar saja sudah dekat dengan perahunya. Tapi Cin Han tak mau mengalah, iapun menggunakan tenaganya mendayung hingga perahunya melaju cepat. Betapapun juga, perahu bajak itu lebih cepat karena bentuknya yang runcing dan dayungnya yang lebih sempurna.

Mendadak Lie Thung berseru keras, “Awas panah!”

Cin Han kaget dan berpaling. Ternyata kepala bajak itu melepaskan anak panah yang berekor panjang sekali bagaikan ular menyambar. Anak panah itu tepat menancap di badan perahunya dan Cin Han merasa betapa perahunya agak tergoncang. Ketika ia memperhatikan, ternyata anak panah itu diikat dengan tambang yang kuat, hingga kini perahunya seakan-akan tertangkap oleh Lie Thung yang memegang tambang itu dengan, tertawa bergelak-gelak.

“Ha-ha! Kau hendak lari ke mana, anak muda? Kau baru lulus dalam ujian pertama, yang kedua belum kaulaksanakan.”

Cin Han merasa kagum dan juga gemas. “Tai-ong, bukan maksudku hendak kabur karena takut padamu. Sebenarnya aku tidak suka mengadu tenaga dengan kau yang pasti akan memperbesar rasa permusuhan darimu saja. Sedangkan kita sama sekali tak pernah bermusuhan. Tapi, karena kau memaksa, apa boleh buat, mari kita mendarat.”

“Bagus, itu baru suara laki-laki,” kata Lie Thung yang lalu mengikatkan tambang itu ke perahunya dengan kuat didayungnya perahu ke pinggir, sehingga perahu Cin Han terbawa pula. Cin Han membiarkan saja perahunya ditarik seperti kerbau ditarik hidungnya.

Dengan tindakan lebar Cin Han ikut Lie Thung menuju ke markasnya, di mana telah menanti berpuluh-puluh orang bajak yang menyambut mereka dengan sorak ramai sebagai pujian kepada Lie Thung yang dianggap telah dapat menangkap Hwee-thian Kim-hong. Di tengah-tengah halaman yang lebar di mana mereka berkumpul, telah didirikan sebuah panggung segi empat yang tingginya kurang lebih satu tombak. Panggung ini memang khusus didirikan untuk tempat mengadu silat dan latihan. Lie Thung meloncat ke atas panggung dengan gerakan gesit dan ringan. Cin Han kagum melihat gerakan Katak Meloncat Keluar Empang yang cukup sempurna itu. Iapun tidak mau kalah dan mendemonstrasikan kegesitannya meloncat ke atas panggung dengan gerakan Naga Sakti Menembus Awan.

“Nah, Tai-ong, harap jangan membuang waktu lebih lama, karena perjalananku masih jauh. Dengan cara bagaimana aku harus memenuhi syarat kedua ini?”

“Aturan lama takkan kurobah, tidak ditambah tidak dikurangi,” jawab Lie Thung. “Asalkan kau dapat melayani permainan tombakku selama tigapuluh jurus, maka berarti kau menang.”

Cin Han tersenyum dan memandang tombak pusaka dari lawannya yang sudah siap di tangan. Tombak itu agak pendek daripada tombak biasa, ujungnya tidak runcing agak besar membulat dan mata tombak sampai ke tangkai seluruhnya terbuat daripada logam hitam kehijau-hijauan dan tampaknya berat.

“Aku sudah siap, nah mulailah dengan seranganmu, Tai-ong.”

“Bukan maksud peraturan itu untuk menghadapi tombakku dengan tangan kosong. Keluarkan senjatamu, anak muda.”

“Tak perlu, Tai-ong. Kita bukan hendak mengadu nyawa, tapi hanya untuk bermain-main saja, bukan? Asal aku dapat melayanimu tigapuluh jurus, beres, bukan? Nah, seranglah.”

“Hm, jangan menyesal kalau tombakku tak bermata.”

“Tombakmu boleh tak bermata, tapi aku mempunyai dua mata yang cukup awas kiraku.” Lie Thung berkata marah, “Kau cari mampus sendiri!”

Dengan gerakan hebat ia maju menusuk dengan tombaknya. Ujung tombak itu menyambar dan Cin Han melihat betapa ujung tombak itu meluncur dengan gerakan terputar ke arah dadanya.

“Jurus pertama!” ia berseru dan mengelakkan tusukan itu dengan cepat.

Lie Thung melihat tusukannya dikelit demikian mudah, meneruskan serangan tombaknya dengan memutar tangkai tombak dan menggunakan gagangnya menghantam ke arah kepala lawan dengan gerakan Raja Monyet Ayun Toya ialah menggerakkan ilmu silat toya yang lihai. Baiknya Cin Han mengenal gerakan ini, maka ia tidak mau berlaku gugup, dan berkelit sedikit sambil berlaku waspada.

Benar seperti dugaannya, pukulan itu hanya gertakan belaka, karena tiba-tiba tombak terputar lagi dan kini ujungnya yang tumpul dengan gerakan memutar dari kiri menyambar ke arah lambungnya. Serangan ini tak mudah dikelit, maka sambil berseru, “Aya!” Cin Han menggunakan tenaga ginkangnya menjejakkan kakinya ke tanah dan tubuhnya meloncat ke atas secepat kilat. Namun ujung tombak demikian cepat datangnya sehingga ia merasakan angin serangan tombak telah meniup ke arah kakinya! Ia tidak sempat berkelit lagi, maka dengan berani sekali ia menggunakan ujung kakinya menotol ke arah leher tombak dan meminjam tenaga serangan lawan ia meloncat ke atas dan berpok-sai (berjumpalitan) di udara. Kemudian, ketika tubuhnya menyambar turun dengan kaki di atas kepala di bawah, ia membuka lengannya lalu membikin gerakan menyerang dengan kedua lengan ke arah tubuh Lie Thung.

Kepala bajak menjadi terkejut melihat gerakan Cin Han yang aneh itu dan cepat-cepat ia menangkis dengan tombaknya. Tapi anak muda itu sebenarnya hanya menggertak saja agar lawannya tak sempat menyerang lagi, maka ketika Lie Thung membuat gerakan menangkis, ia segera meloncat turun agak jauh dan berkata sambil tertawa.

“Sudah berapa juruskah aku dapat melayanimu tadi, Tai-ong?”

Lie Thung tak menjawab, hanya berseru marah, “Lihat tombak!” Lalu ia maju sambil memainkan Ilmu Tombak Delapan Dewa yang sangat diandalkan, karena jarang ada orang yang dapat melawan ilmu tombak ini. Apalagi kalau lawannya itu bertangan kosong. Di dalam ilmu tombak ini terdapat gerakan- gerakan yang tak tersangka-sangka dan banyak sekali perobahannya, kedua ujung tombak menyerang berganti-ganti.

Namun dengan enak saja Cin Han dapat menghindarkan tiap serangan. Tubuhnya berkelebat kian ke mari, menyusup di antara ratusan bayangan ujung tombak bagaikan seekor kupu-kupu bermain-main di antara kembang-kembang mawar.

Para anggauta bajak dengan kagum melihat jalannya pertempuran, dan tak terasa mengeluarkan lidah karena kagum ketika mereka melihat betapa anak muda itu mempermainkan kepala bajak yang mereka segani. Tubuh pemuda itu tak tampak lagi, hanya bayangan biru berkelebatan cepat sekali.

Setelah menghitung bahwa serangan dari Lie Thung kepadanya sudah lebih dari tigapuluh jurus, maka Cin Han meloncat ke belakang dan berseru, “Tahan!!”

Lie Thung berdiri memandangnya dengan muka merah. “Apa apa?” tanyanya marah.

“Tai-ong, syaratmu tadi mengatakan bahwa aku harus melayanimu selama tigapuluh jurus. Tapi seranganmu tadi sudah lebih dari empatpuluh jurus, mengapa kau masih saja menyerang?”

Lie Thung tak menjawab hanya membentak, “Jangan banyak mulut! Terima serangan maut ini!” Dan ia maju pula mendesak dengan tombaknya.

Cin Han merasa penasaran sekali. Ternyata kepala bajak ini berwatak tak mau kalah dan harus diberi sedikit hajaran. Dengan seruan, “Baik kalau begitu!” ia mencabut Kong-hwa-kiam dan balas menyerang.

Sebetulnya ia masih cukup kuat untuk melawan dengan tangan kosong saja, tapi karena permainan tombak Lie Thung juga lihai, rasanya akan sukar baginya untuk menjatuhkannya cepat-cepat. Melihat permainan pedang lawannya demikian aneh dan cepat, Lie Thung merasa bingung dan sebentar saja ia terdesak mundur. Dengan nekat ia menusukkan tombaknya ke arah dada lawan dengan tipu Giok-tai-wie-yauw atau Ang-kin Kumala Melibat Pinggang. Jurus ini hebat sekali, tapi Cin Han dengan lincahnya meloncat ke samping dan dari samping membabatkan pedangnya ke arah tangan kanan lawan dan berbareng mengirim tendangan ke lambung yang tak terjaga.

Karena serangan balasan ini tak terduga dan cepat sekali, Lie Thung berseru kaget dan untuk menolong tangannya terpaksa melepaskan tombaknya dan untuk menghindarkan diri dari tendangan Cin Han, terpaksa pula menggunakan gerakan Keledai Berguling dan tubuhnya dijatuhkan terus bergulingan menjauhkan diri. Untung baginya Cin Han tidak mengejarnya, maka ia berdiri degan wajah merah.

“Sungguh nama Hwee-thian Kim-hong bukan nama kosong belaka. Aku mengaku kalah.”

Cin Han tergesa-gesa membalas dan memberi hormat. “Tai-ong sudah berlaku murah dan mengalah. Sekarang siauwte mohon diberi kebebasan dan melanjutkan perjalanan.”

Lie Thung mengerutkan alisnya. “Perjalanan dari sini ke timur tidak mudah. Kau tentu akan banyak mendapat gangguan, maka biarlah beberapa orangku mengantarmu sampai di tempat tujuan.”

“Ah, terima kasih atas kebaikanmu, tapi tak usah merepotkan, karena siauwte memang sengaja berpesiar menambah pengalaman. Adapun tentang gangguan, bagaimana nanti saja, kuserahkan nasib kepada Yang Maha Kuasa.”

Lie Thung kurang senang mendengar ucapan ini. Ia menganggap anak muda ini terlampau menyombongkan diri.

“Kalau begitu biarlah kaubawa kartu namaku, karena semua kawan di sepanjang Sungai Yang-ce sudah kenal padaku dan tentu mereka dengan memandang mukaku takkan mau mengganggumu lagi.”

Namun Cin Han adalah seorang pemuda yang baru saja turun dari tempat penggemblengan. Tubuhnya kuat hatinya tabah, pula ia merasa rendah kalau harus menggunakan nama orang lain untuk menyelamatkan diri. Maka dengan halus ia menampik pula. Sungguhpun merasa penasaran, namun Lie Thung diam saja, hanya berkata, “Selamat jalan.”

Tapi Lo Ciang yang berada di situ dan mendengar akan usul baik yang ditolak Cin Han diam-diam mendekati Lie Thung dan mohon diberi sebuah kartu nama. “Biarpun kongcu ini tidak membutuhkan kartu nama, tapi aku yang tua dan lemah ini memerlukan sekali untuk dipakai sebagai jimat pelindung.”

Dan Lie Thung dengan tertawa memberinya sehelai.

Mereka berdua lalu melanjutkan perjalanan dengan perahu, perahu Lo Ciang yang terpanah itu segera diganti oleh Lie Thung dengan sebuah perahu kecil yang masih baru. Tentu saja Lo Ciang girang bukan kepalang dan berkali-kali menyatakan terima kasih sambil terheran-heran, “Selama hidup baru kali ini bertemu dengan kaum sungai telaga yang baik hati, bukannya merampok bahkan memberi hadiah.”

Kemudian ternyata bahwa kartu nama Lie Thung benar-benar merupakan bintang pelindung dan karena Lo Ciang selalu memperlihatkan kartu itu kepada setiap pengganggu, Cin Han menjadi terlepas dari gangguan bajak. Diam-diam ia mengakui kebenaran Lo Ciang yang sudah minta kartu nama itu. Kalau tidak ada kartu nama Lie Thung, tentu ia mengalami banyak pertempuran yang hanya akan memperlambat perjalanannya.

Demikianlah setelah berganti-ganti perahu dan berlayar hampir tiga bulan, akhirnya sampai juga ia di kota Tiong-bie-kwan. Dengan mudah ia dapat mencari Gan Keng Hiap dan menyerahkan surat peninggalan ayahnya.

Gan Keng Hiap dan isterinya merasa terharu sekali dan ikut menangis ketika mendengar akan kematian Lo Sun Bi dan isterinya. Kemudian ia berkata dengan suara ramah dan halus.

“Hiante, biarlah yang sudah pulang ke alam asal tak perlu disedihkan lagi. Kau tinggallah saja di sini, kami juga tidak punya anak, maka bolehlah kauanggap aku dan isteriku ini sebagai pengganti orang tuamu. Dan sebagaimana pesan ayahmu, kau rajin-rajinlah belajar ilmu surat di sini.”

Lo Cin Han merasa terharu sekali. Dalam pertemuan pertama saja ia sudah merasa suka sekali kepada orang tua dengan isterinya yang kedua-duanya ramah tamah dan halus tutur sapanya itu. Tanpa ragu- ragu lagi ia menjatuhkan diri berlutut dengan terharu.

Gak Keng Hiap adalah seorang sasterawan yang pandai dan isterinya juga puteri seorang bangsawan yang pandai akan ilmu surat dan kerajinan tangan. Mereka merupakan pasangan yang setimpal dan cocok sekali, hanya sayang sekali mereka tidak mempunyai keturunan.

Nyonya Gan Keng Hiap biarpun sudah berusia kurang lebih limapuluh tahun, namun wajahnya dan tubuhnya masih membayangkan bekas seorang wanita yang sangat cantik dan terpelajar. Cin Han merasa heran melihat bibinya ini sering termenung seakan-akan merasa khawatir dan sedih.

?Y?

Waktu berjalan sangat pesat dan tak terasa pula ia sudah tinggal di rumah pamannya setahun lebih. Dengan rajin ia belajar menulis dan membaca, tapi tak pernah alpa pula ia melatih ilmu silat seorang diri pada waktu-waktu tertentu.

Pada suatu senja ketika ia sedang berlatih ilmu silatnya, tiba-tiba terdengar suara orang memuji dengan girang, “Ah, bagus sekali kau tidak melupakan pelajaran silatmu.”

Cin Han cepat berpaling dan alangkah gembiranya setelah ia melihat siapa orangnya yang berbicara itu. Segera ia menjatuhkan diri berlutut dan berkata girang, “Suhu!”

Gwat Liang Tojin membangunkan muridnya dan memegang pundak muridnya yang tersayang itu sesaat lamanya. Kemudian ia mengelus-elus jenggotnya yang putih panjang sambil mengangguk-angguk dan memandang pakaian Cin Han. Pemuda itu diam-diam mengerling ke arah pakaiannya dan ia maklum bahwa pakaian itu menarik perhatian suhunya, karena sudah lama sejak ia ikut pamannya mempelajari ilmu surat, ia berpakaian sebagai seorang pelajar pula.

Lenyap sifat-sifat dan kegagahan seorang ahli silat dari pakaiannya yang menunjukkan keahliannya sebagai seorang sasterawan.

“Bagus, muridku. Bagus, memang inilah yang terbaik. Makin rapat kau sembunyikan kepandaian silatmu, makin baik. Ha, ha.”

“Suhu, teecu girang sekali suhu datang. Marilah kuantar menemui pamanku!”

Gwat Liang Tojin mengangkat tangan kanannya dan menggeleng-gelengkan kepala. “Tak usah, tak usah, aku tak mau membikin repot. Sebenarnya, kedatanganku ini kebetulan saja, Cin Han. Dalam perantauanku, aku kebetulan lewat tempat ini dan pula ada sesuatu yang agak penting juga.”

“Teecu sebenarnya sudah sangat rindu kepada suhu.”

“Ha, anak baik. Baru juga setahun lebih,” kata pendeta itu sedangkan di dalam hati ia girang sekali mendengar pernyataan muridnya itu dan diam-diam iapun mengakui betapa rindunya kepada murid yang sangat disayangnya itu. Tapi tiba-tiba wajahnya menunjukkan kesungguh-sungguhan.

“Muridku, dalam beberapa hari ini kau harus berhati-hati. Pamanmu mungkin dalam bahaya.” Cin Han terkejut. “Gan siok-hu dalam bahaya? Apa maksudmu, suhu?”

“Kedatanganku sebetulnya juga ada hubungannya dengan hal ini, dan baiklah jangan kau menanyakan sesuatu. Jika bahaya ini sudah lewat, kau tentu akan mendengar sendiri pokok persoalannya dari paman dan bibimu. Tapi jangan kau cemas, Han, aku takkan berada jauh dari sini dan akan selalu mengawasi dan menjaga.”

Cin Han tak berani mendesak, tapi bagaimanapun juga, hatinya sangat bingung penuh rasa khawatir. Tiba-tiba dari dalam rumah tampak orang menuju ke halaman belakang di mana mereka berada.

“Sampai jumpa lagi, muridku,” kata Gwat Liang Tojin dan sekali berkelebat lenyaplah tubuhnya di balik pagar. Diam-diam Cin Han mengagumi gerakan gurunya yang sungguhpun sudah lanjut usianya namun masih gesit dan cepat sekali.

Ternyata yang datang adalah pamannya, Gan Keng Hiap. Mereka bercakap-cakap seperti biasa, dan dengan suara yang seakan-akan tak disengaja, Cin Han membelokkan percakapan mereka dengan sebuah pertanyaan apakah pamannya itu mempunyai musuh di luaran.

“Musuh? Ah, dari mana kau mendapat pikiran aneh ini, anakku? Aku seorang lemah dan tak pernah berselisih dengan orang lain, pula aku tidak berani berkelahi. Siapa yang memusuhi orang seperti aku?” Semenjak saat itu Cin Han berlaku hati-hati sekali menjaga rumah pamannya, tapi malam hari itu tidak terjadi sesuatu. Pada malam hari kedua, pada kurang lebih jam sepuluh dan ia sedang duduk bersamadhi sambil berjaga, telinganya mendengar suara kaki menginjak genteng rumah.

Ia kaget sekali karena suara itu demikian perlahan yang menunjukkan betapa tingginya ilmu meringankan tubuh tamu malam itu. Dengan tenang Cin Han memadamkan lampu dan mencabut pedang Kong-hwa-kiam yang selama ini disembunyikan saja dalam bungkusan pakaiannya, kemudian ia meloncat keluar jendela terus mengayun tubuh ke atas genteng.

Sebelum ia dapat melihat di mana adanya tamu malam itu, tiba-tiba ia merasakan angin pukulan datang dari samping dibarengi bentakan perlahan.

“Jangan kau ikut-ikut dan merintangi maksudku, pergilah!”

Tapi Cin Han berlaku sebat. Dengan miringkan tubuh ia dapat mengelakkan sampokan tangan orang itu dan ia barengi meloncat ke belakang untuk memperhatikan lawannya. Ia kaget dan heran sekali. Yang berdiri di hadapannya adalah seorang laki-laki setengah tua yang beroman muka mengerikan.

Orang itu mukanya penuh cambang bauk dan rambutnya yang panjang terurai tak terurus sama sekali, sedangkan tubuhnya mengenakan baju dan celana pendek dari kulit harimau, kakinya tak bersepatu, ia lebih menyerupai orang hutan yang masih liar.

“Hei, siapakah kau dan apa maksudmu malam-malam datang mengganggu?”

“Ha, ha, anak muda. Kau dapat menangkis doronganku, terhitung orang pandai juga. Sayang usiamu yang muda, pergilah jangan merintangi maksudku. Kau jangan ikut-ikut, jangan turut campur.” Suara orang itu parau dan menyeramkan.

“Enak saja kau berbicara, kawan,” kata Cin Han dengan berani. “Aku termasuk penghuni rumah ini dan kau datang hendak mengganggu keamanan rumahku, dan kaukatakan aku tak boleh ikut campur? Mana ada aturan macam ini? Hayo mengaku saja, siapa kau dan apa maksudmu datang malam-malam ini? Kalau kau tidak mengaku, jangan mengatakan aku keterlaluan kalau pedangku tak mengenal ampun.”