-->

Si Teratai Merah (Ang-lian Li-hiap) Jilid 04

Jilid 04

Karena memang sudah merasa marah dan ingin membasmi iblis-iblis ini, terpaksa Ang Lian Lihiap mencabut pedang Sian-liong-kiamnya. Pada saat itu ujung tombak bercagak kembali menyambar mengeluarkan angin dingin. Lian Hwa membentak, “Pergilah!” pedangnya disabetkan ke bawah dan “trang!” ujung tombak bercagak itu patah.

Si pemegang tombak kaget sekali dan meloncat pergi sejauh tiga tombak dan berbareng dengan itu golok penjahat pertama menyabet leher Lian Hwa. Gadis itu berkelit ke kiri dan ujung pedangnya bagaikan mulut naga meluncur dari bawah lengan dengan memutar pergelangan tangan.

“Cap!” pedang itu menembus dada orang dari sebelah kanan. Tanpa dapat menjerit lagi “iblis” itu roboh di atas genteng dan menggelinding ke bawah, jatuh di atas tanah dengan suara berdebuk keras.

Penjahat yang bersenjata tombak melihat itu mengangkat kaki lebar-lebar dan lari. Lian Hwa hendak mengejar, tapi karena malam gelap dan ia tidak mengenal jalan di situ, terpaksa membatalkan maksudnya dan meloncat turun.

Mendengar suasana ribut-ribut dan pertempuran di atas genteng itu, semua orang pergi bersembunyi tak berani bernapas keras-keras. Setelah Lian Hwa menghampiri mereka dan memberi penjelasan, barulah mereka keluar sambil memasang obor. Mayat adalah seorang laki-laki yang bermuka kejam.

“Nah, saudara-saudara sekalian,” kata Lian Hwa, “Ternyata iblis-iblis yang yang mengganggu kampung ini untuk berbulan-bulan itu ternyata tak lain hanyalah manusia biasa juga. Manusia jahat dan kukira banyak pula kawan-kawannya. Sayang sekali seorang kawannya yang bersenjata tombak tadi telah dapat melarikan diri.”

Pada saat itu A Sam si pemilik penginapan berkaok-kaok, “Cung Ji! Cung Ji……! Eh, ke mana perginya orang itu?” Ternyata ia mencari-cari pelayannya yang berwajah sedih dan penakut itu. Setelah dicari- cari tidak juga ketemu.

Lian Hwa segera berkata.

“Paman A Sam, tak perlu lagi Cung Ji dicari. Ia adalah penjahat yang bersenjatakan tombak dan telah kuusir pergi.”

A Sam terkejut dan semua orang heran. Pantas saja iblis-iblis itu tahu saja apa yang terjadi di kampung. Tak tahunya si Cung Ji adalah seorang di antara mereka atau mata-mata iblis itu.

Mereka beramai-ramai menghaturkan terima kasih kepada pemuda penolong mereka itu dan menanyakan namanya. Tapi Lian Hwa menjawab, “Siauwte hanya kebetulan saja lewat di sini, tak perlu perbuatan tak berarti ini diingat-ingat lagi. Aku tak mau bekerja setengah matang, kalau tidak kubasmi semua iblis itu tentu mereka akan datang mengganggu lagi setelah di sini tidak ada yang menjaga. Biarlah besok pagi kucari sarang mereka.”

Semua orang pergi tidur dengan agak tenteram malam itu.

Pada keesokan harinya, setelah memaksa bayar sewa kamar yang hendak ditolak oleh A Sam, Lian Hwa menggendong pauw-hoknya dan pergi menuju ke Bukit Iblis Hitam yang tak jauh dari kampung itu letaknya. Setelah ia sampai di sebuah hutan, di batang pohon Siong besar di pintu hutan itu terdapat huruf-huruf yang diukir di batang pohon dan berbunyi bigini.

“Yang lewat di sini harus membayar uang tanda hormat sebanyak sepuluh tail perak” Tertanda

Ngo Hek Mo.

Lian Hwa tertawa keras hingga suaranya bergema di dalam hutan itu. Ia mengeluarkan pedangnya dari bungkusan dan menggunakan senjata itu untuk menggurat-gurat pohon itu. Sebentar kemudian di atas tulisan tersebut terdapat tulisan yang berupa syair.

Mengandalkan kedok dan tombak cagak Ngo-hek-mo (Lima Iblis Hitam) menjual lagak, Jangankan hanya Ngo-hek-mo,

Biar Cap-ang-mo (Sepuluh Iblis Merah) sekalipun, Bertemu dengan Teratai Merah takkan mendapat ampun.

Kemudian ia mengikatkan pedangnya di pinggang dan berjalan terus memasuki hutan dengan tenang. Tiba-tiba ada angin menderu dari samping. Ia mengulur tangan kirinya dan sebuah anak panah terjepit di antara kedua jarinya.

“Ha, ha! Tidak hanya jahat tapi iblis-iblis inipun licik dan pengecut sekali,” ia berkata keras menyindir.

“Ah, Cung Ji pelayan rendah, kau sudah tukar tombakmu?” Lian Hwa mengejek. “Mengapa lima ekor iblis hanya tinggal empat saja?”

“Bangsat cilik, berhenti kamu!” suara bentakan itu disusul dengan meloncatnya empat orang dari belakang gerombolan dan mencegatnya. Seorang di antaranya Lian Hwa kenal sebagai Cung Ji si pelayan yang kini memegang sebuah tombak baru. Mereka berempat ini sekarang tidak bertopeng lagi, rata-rata bertubuh tinggi besar dan jahat.

Seorang diantara empat perampok itu maju dan menjura, “Orang gagah dari manakah yang tanpa sebab mengganggu kami? Apakah tidak kenal aturan di kalangan rimba hijau?”

Ang Lian Lihiap tertawa menghina lalu menjawab dengan bersyair : Lima Iblis Hitam bicara tentang aturan,

Membikin aku tertawa tak tertahan,

Tindas yang lemah, peras orang kampung, Adalah pekerjaan kamu iblis gunung!

Melihat kejahatan-kejahatanmu semua, Apakah aku Teratai Merah harus diam saja?

Hai iblis-iblis hitam,

Rabalah mukamu dan tanya diri!

Ke mana perginya seorang kawanmu malam tadi? Ia telah terpanggang di neraka,

Dan kalian akan mengikutinya segera.”

“Perempuan busuk jangan jual lagak!” teriak mereka dengan sangat murka, lalu berbareng mereka mengurung Lian Hwa. Sebatang tombak cagak dan tiga buah golok berkelebatan menyilaukan mata bergerak-gerak mengurung Lian Hwa.

Lian Hwa maklum bahwa empat musuhnya ini memiliki kepandaian tinggi maka ia segera mencabut pedangnya, sambil memutar Sian-liong-kiamnya itu ia tertawa mengejek.

“Awas, pokiamnya!” Cung Ji memperingatkan saudara-saudaranya.

Mereka berempat, berlaku sangat hati-hati dan tidak membiarkan senjata mereka beradu dengan pedang Lian Hwa. Namun gerakan Lian Hwa gesit sekali. Ia gunakan ilmu silat pedang Ngo-sian Kiam- hoat (Ilmu Pedang Lima Dewa) yang mengandalkan gerakan lincah dan ginkang yang sempurna, maka biarpun sudah sangat hati-hati, tiba-tiba sebatang golok terbabat putus!

Kesempatan ini digunakan oleh Lian Hwa untuk menyambarkan kakinya yang tepat mengenai perut lawan. Karena Ang Lian Lihiap menggunakan tenaga lweekang yang tinggi, maka lawan yang tertendang itu terlempar tiga tombak lebih dan jatuh dengan mata mendelik, berkelojotan lalu mampus! Tiga orang kawannya menjadi keder juga melihat kehebatan lawan mereka, tapi mereka menyerang makin hebat.

Pada suatu saat, dua batang golok menyambar berbareng, satu dari, depan dan satu dari kiri, kedua- duanya menuju ke dadanya dan pada saat itu juga tombak cagak Cung Ji menusuk ke arah lehernya! Lian Hwa menundukkan kepala menghindari tusukan tombak, melangkah mundur melepaskan diri dari sabetan golok dari depan dan ketika golok dari kiri hampir mengenai pundaknya, ia angkat kaki menendang ke arah golok itu.

“Trang!” dan golok itu tertendang lepas dari pegangan.

Sebelum pemiliknya dapat menghindarkan diri, Lian Hwa meloncat maju, Pedang Naga Dewanya meluncur dan penjahat itu mengangkat kedua tangan ke atas, tubuhnya terjengkang ke belakang dan kepalanya terpisah dari tubuh! Darah mulai menyembur membasahi rumput di sekitar tempat pertempuran itu.

Makin kecil hati pengeroyoknya yang tinggal dua orang lagi itu. Tapi Lian Hwa tidak memberi waktu. Ia merangsek hebat dan pedangnya menyambar laksana naga menyambar-nyambar. Sesaat kemudian untuk kedua kalinya tombak cagak patah jadi dua dan ujung pedang terus menusuk dada pemegang golok!

Cung Ji melihat gelagat jelek segera meloncat jauh sambil berteriak, “Kalau kau memang gagah tunggulah sebentar jangan lari, aku akan panggil suhuku (guru).”

Lian Hwa tertawa menyindir, “Jangan kata gurumu, biar sukongmu (kakek guru) sekalipun akan kujadikan siluman tak berkepala!” Tapi mana ia sudi menunggu di situ? Juga belum tentu berandal itu bicara sungguh-sungguh mungkin hanya mencari alasan untuk kabur. Maka setelah membersihkan pedangnya di tubuh korbannya, Lian Hwa berjalan tujuannya ke kampung kelahirannya.

Baru saja berjalan kurang lebih tiga lie, ia mendengar suara kaki kuda bergemuruh mengejar dari belakang. Ia tahu bahwa itu pasti berandal dan kawan-kawannya yang datang mengejarnya, maka ia membalikkan badan, berdiri tenang sambil tersenyum dan bersiap sedia. Buntalannya ia turunkan di bawah sebatang pohon besar dan pedangnya siap tergantung di pinggang.

Yang datang itu ternyata adalah seorang hwesio (pendeta) berbaju kuning dengan rambut terurai di atas pundak kiri kanan. Tubuhnya tinggi kurus dan kedua matanya bersinar. Kakinya telanjang dan ia berlari di depan dengan cepat, sedangkan di belakangnya tampak lima ekor kuda yang lari cepat, tapi tetap tak dapat mendahului hwesio itu.

Si hwesio itu mengempit sebatang toya kuningan yang berujung runcing. Lian Hwa mengerti bahwa hwesio itu tentu pandai ilmu totokan dan bahwa toya runcing tapi tumpul itu adalah senjata untuk menotok jalan darah lawan.

Ketika mereka telah datang dekat, Lian Hwa melihat bahwa Cung Ji berada pula di situ.

“Omitohud! Tak nyana sedikitpun bahwa musuh yang membunuh mati empat orang muridku hanyalah seorang anak kecil. Sungguh gagah, sungguh gagah! Mohon tanya, siapakah nama congsu (orang gagah)?”

“Aku orang she Han, orang menyebut aku si Teratai Merah,” jawab Lian Hwa tenang.

“Hm, Han congsu, pinceng (saya) tidak tahu mengapa kau memusuhi lima orang murid-muridku, bahkan telah membunuh empat orang di antara mereka. Tapi hal itu tak perlu disebut lagi, sekarang pinceng telah datang maka kau harus berani memikul tanggung jawabnya.”

“Terima kasih kalau lo-suhu hendak memberi pelajaran padaku, tapi apakah lo-suhu hendak maju berbareng dengan lima siauw-mo (iblis kecil) ini?” tanya Lian Hwa sambil menunjuk lima orang di atas kuda itu.

“Ha, ha, ha! Benar saja seperti kata muridku, kau ini orang muda sungguh sombong sekali. Seperti seekor katak dalam sumur. Nah, bersiaplah, Han congsu dan jangan kuatir. Pinceng takkan mengijinkan dilakukan keroyokan.”

Melihat lagak hwesio itu tidak sejahat murid-muridnya, Han Lian Hwa pun merobah sikapnya.

“Biarlah aku yang muda memberi kehormatan kepadamu untuk menyerang dulu, Lo-suhu,” katanya sambil memasang bhesi (kuda-kuda).

Melihat “pemuda” itu pasang bhesi dengan mengangkat kaki kanan dan menempelkan ujung kaki itu di lutut kaki kiri, sedangkan kedua lengannya terangkat dengan tangan di depan dada seakan-akan memberi hormat, pendeta itu berteriak, “Bagus!” dan kakinya bergeser maju sambil mengayunkan tangan kanannya menyampok ke arah pundak Lian Hwa. Biarpun tangan yang menyampok itu masih jauh, namun angin sambarannya telah terasa oleh Lian Hwa, hingga diam-diam ia terkejut dan maklum bahwa lawannya kali ini benar-benar bukan sembarangan orang. Ia segera menurunkan kaki kanan yang terangkat digeserkan ke sebelah belakang hingga tubuhnya membungkuk menghindari sampokan. Tapi hwesio itu menyusul dengan serangannya kedua, ia menggunakan kaki kanan menyapu dan ketika Lian Hwa meloncat ke atas untuk menghindarkan serampangan kaki lawannya, ia menggunakan tipu Hek-houw-to-sim (Macan Hitam Menyambar Hati) memukul ke arah dada Lian Hwa.

Melihat datangnya serangan bertubi-tubi ini maka Lian Hwa tidak berani berlaku sembrono lagi. Dengan mengayunkan tubuhnya ia dapat berkelit ke samping dan dari situ mengirim serangannya pertama dengan jotosan tangan kiri.

Si hwesio mundurkan kakinya dan baru saja ia berhasil mengelak pukulan itu, kepalan tangan kanan Lian Hwa telah datang pula dengan tipu Go-yang-pok-sit (Kambing Kelaparan Menubruk Makanan). Serangan ini datangnya dengan tangan terbuka dan telapak tangan Lian Hwa yang halus menyodok ke arah ulu hati lawan.

Hwesio itupun terkejut melihat gerakan Lian Hwa yang gesit dan dapat menggunakan serangan yang susul-menyusul pula. Ia tidak berkelit terhadap serangan kedua ini, tapi segera mengulurkan lengan kanannya pula, serta menerima datangnya pukulan Lian Hwa.

Dua telapak tangan, satu kecil halus yang kedua besar keras beradu. Terdengar suara “plok” dan kedua-duanya merasa adanya tenaga hebat datang dari lengan lawan. Lian Hwa terhuyung mundur dua tindak dan hwesio itupun terhuyung mundur hampir jatuh. Ternyata tenaga dalam Lian Hwa masih menang sedikit.

Hwesio itu merasa penasaran sekali, lalu menggunakan ilmu silat Bie-ciong-kun (Kepalan Menyesatkan) menyerang dengan hebat. Lian Hwa berlaku hati-hati sekali dan merasa bahwa ilmu silat lawannya itu memang benar-benar hebat, terpaksa ia keluarkan ilmu simpanannya yang diwariskan oleh gurunya, ialah ilmu silat Sian-liong-kun (Naga Dewa). Tubuhnya tiba-tiba melesat ke sana ke mari bagaikan bayangan seekor naga yang bermain-main di awan.

Tubuh kedua orang itu kini hanya tampak bayangannya saja, membuat lima orang berkuda yang menonton jalannya pertandingan menjadi kagum dan pandangan mereka kabur.

Setelah bertanding lebih seratus jurus, akhirnya hwesio itu mulai terdesak. Ia lebih banyak menangkis daripada menyerang, karena ia mulai merasa pusing. Sungguhpun kepandaiannya tak kalah jauh dengan “pemuda” itu, tapi gerakan-gerakan Lian Hwa yang aneh dan tak tersangka-sangka datangnya ditambah dengan ginkang atau ilmu ringankan tubuhnya yang luar biasa, si hwesio lama-lama menjadi lelah juga.

Pada suatu saat Lian Hwa melesat ke samping kanan lawannya dan kakinya menendang, ketika dapat dikelit kaki kedua menyusul dengan tendangan yang lebih hebat. Dengan repot hwesio itu berkelit lagi, tapi tiba-tiba kepalan kanan Lian Hwa meluncur dan sudah dekat sekali dengan pundaknya. Hwesio itu sangat terkejut, untuk berkelit tiada waktu lagi baginya, maka terpaksa ia mengerahkan seluruh tenaga dalamnya ke arah pundak itu dan menanti datangnya pukulan.

“Buk!” dan Lian Hwa yang tertolak tenaga dalamnya itu mundur sampai tiga tindak. Tapi si hwesio jatuh terpelanting, biarpun dengan segera ia bangun kembali.

“Hebat,” katanya sambil tertawa meringis.

Lian Hwa maklum bahwa hwesio itu menderita luka di dalam tubuh. Ia merasa kasihan, tapi sebelum dapat berkata sesuatu, hwesio itu sudah menyambar toyanya dari tangan Cung Ji dan berkata padanya.

“Orang muda sungguh harus kupuji kepandaianmu. Pinceng mengaku kalah dalam ilmu pukulan. Tapi pinceng ingin sekali mencoba ketajaman pedangmu!”

“Haruskah kita teruskan, lo-suhu?” tanya Lian Hwa, ia tidak mau mengatakan bahwa hwesio itu telah luka, khawatir membuat malu.

“Ya, jangan membikin pinceng penasaran. Biarlah pinceng merasakan juga kelihaian Kiam-hoat (ilmu pedang) Congsu.”

Lian Hwa menghela napas. Ia kasihan melihat hwesio tua itu, teringat ia akan suhengnya, tapi bagaimana juga hwesio ini telah melakukan kesalahan besar sekali dengan mempunyai murid-murid perampok itu. Dengan sebat Lian Hwa menghunus pedangnya yang mengeluarkan sinar kehijau- hijauan dan menyilaukan mata.

Tiba-tiba hwesio itu tampak pucat. “Po-kiammu (pedang pusaka) itu bukankah Sian-liong-kiam?” tanyanya dengan suara gemetar.

Lian Hwa menjadi terkejut dan heran mendengar bahwa lawannya mengenal pedangnya. Terpaksa ia mengangguk membenarkan.

Hwesio itu melempar senjatanya dan menghela napas.

“Omitohud! Mataku telah lamur, tidak tahu membedakan kawan atau lawan. Karena Sian-liong-kiam berada di tanganmu, pasti congsu masih ada hubungan dengan Sian-liong Koai-jin Ong Lun, bukan?”

Han Lian Hwa makin merasa heran. “Siauwte (saya) adalah murid tunggal dari Sian-liong Koai-jin Ong Lun.”

Tiba-tiba hwesio itu tertawa berkakakan dan menjura dengan hormatnya.

“Maaf, maaf, aku yang tua tak mengenal Gunung Thai-san! Tidak heran ilmu kepandaian congsu demikian hebat. Kini pinceng tidak malu mengaku kalah. Kalau di tangan murid tunggal Ong locianpwe (orang tua she Ong yang gagah perkasa) bahkan merupakan suatu kehormatan bagiku.”

Lian Hwa menjura. “Lo-suhu siapakah? Bagaimana kenal dengan suhuku?” “Pinceng adalah Tui Hong Hwesio bergelar It-kak-liong (Naga Tanduk Satu). Dulu pinceng pernah menjagoi di kalangan sungai telaga (bajak air) dan rimba hijau (perampok darat), jarang menemukan tandingan. Tapi akhirnya pinceng sampai dua kali dijatuhkan oleh Ong locianpwe dengan Sian-liong- kiamnya. Sejak itu pinceng telah bersumpah tak mau melawan Sian-liong-kiam lagi. Tidak disangka, ini hari pinceng sekali lagi dijatuhkan olehmu, untung pinceng keburu mengenal Sian-liong-kiam sebelum pinceng untuk ketiga kalinya dijatuhkan oleh pedang pusaka ini!”

Han Lian Hwa menyatakan kegembiraannya bertemu dengan seorang yang pernah kenal gurunya, tapi dengan secara terus terang ia mencela It-kak-liong karena murid-muridnya.

It-kak-liong menghela napas dan berkata.

“Han-enghiong, memang dalam hal ini pinceng kurang teliti. Tadinya kelima orang murid-murid itu hidup sebagai anggauta rimba hijau yang mentaati peraturan-peraturan kalangan itu. Merampok pembesar-pembesar penindas rakyat yang lewat, mengambil harta orang-orang kaya yang pelit, tak lupa pula untuk membagi pendapatan mereka kepada penduduk yang miskin. Tapi belakangan ini keadaan negeri begini macam. Orang-orang hartawan dan pembesar negeri makin kuat dan mereka ini mempunyai pengawal dan penjaga-penjaga diri yang kosen. Orang-orang gagah di empat penjuru terpaksa merendahkan diri menjadi kaki tangan mereka karena keadaan yang sukar.

“Mencari makan di luar sungguh payah, hingga kelima muridku yang mempunyai banyak anak buah terpaksa minta sumbangan ke kampung. Lain jalan mereka tidak ada untuk dapat mencari makan guna diri sendiri dan kawan-kawannya. Pinceng sebenarnyapun kurang setuju, tapi apa daya pinceng?”

“Hal itu salah sekali, lo-suhu. Orang gagah lebih baik mengorbankan diri sendiri daripada mengorbankan atau mengganggu rakyat yang memang sudah melarat. Apa artinya menjadi orang gagah kalau takut segala tukang pukul, anjing penjilat orang-orang kaya dan pembesar bangsat, sebaliknya malahan mengganggu anak negeri yang miskin? Siauwte sama sekali tidak setuju. Harap lo- suhu insaf akan hal ini dan memberi jalan kepada mereka agar mereka dapat menghentikan perbuatan buruk itu dan bekerja dengan cara halal.”

Tui Hong Hwesio berjanji akan menurut nasihat “pemuda” itu dan mereka lalu berpisah. Lian Hwa melanjutkan perjalanannya ke arah kampung Ban-hok-cun.

?Y?

Pada keesokan harinya tibalah Lian Hwa di kota Cin-ciu. Ia mencari kamar di penginapan “Ho Tee” yang besar. Karena pada waktu itu kebetulan jatuh pada bulan delapan tanggal limabelas, maka penduduk kota Cin-ciu sedang merayakan hari Tiong Ciu dengan meriah.

Malam hari itu Lian Hwa juga tidak sudi tinggal meringkuk dalam kamarnya pada saat yang demikian ramainya. Bulan bundar besar lagi gilang gemilang, hawa malam sejuk segar dan penduduk kota semua keluar rumah untuk pergi ke pusat keramaian yang diadakan di tengah kota, maka Lian Hwa mengikuti aliran manusia menuju ke tempat yang mereka tuju. Han Lian Hwa merasa agak heran mengapa orang-orang kota dapat hidup demikian mewah dan gembira, sedangkan penduduk kampung banyak yang miskin menderita. Di tempat keramaian itu terdapat beberapa restoran-restoran yang mengeluarkan asap masakan berbau harum. Lian Hwa memasuki sebuah restoran dan memilih tempat duduk di sudut. Yang sedang makan di situ hanya beberapa orang saja.

Di meja sebelah kanan Lian Hwa duduk seorang pemuda sendirian.

“Lauw-ko (bung), cepatan sedikit masaknya, perutku sudah sangat lapar,” terdengar pemuda itu berkata perlahan kepada pelayan.

Lian Hwa yang mendengar itu menjadi geli dan menengok ke arahnya. Kebetulan sekali pemuda itupun sedang memandangnya, hingga mereka saling pandang. Entah bagaimana, pada saat itu Lian Hwa ingat akan pesan suhengnya bahwa seorang gadis tidak layaknya memandang laki-laki yang belum dikenalnya, maka pada saat itu ia merasa mukanya panas karena malu dan segera ia buang muka. Ia sama sekali lupa bahwa pada saat itu ia bukanlah seorang gadis, tapi berpakaian sebagai pemuda juga hingga tiada salahnya untuk memandang lain pemuda.

Untuk menutup rasa malu yang menyerang dirinya, Lian Hwa memanggil pelayan dan pesan mie, daging dan arak.

Tiba-tiba pemuda itu berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Lian Hwa. Ia menjura dengan hormat sekali lalu berkata, “Saudara, kebetulan sekali pesananmu sama benar dengan pesananku. Saudara, tukang-tukang masak di kota ini semuanya malas dan lambat, pesanan dilayani lama sekali. Tapi kalau kita satukan pesanan kita, maka kurasa akan lebih cepat. Mie dan daging bisa dimasak sekaligus. Karena itu jika saudara tidak keberatan, siauwte yang kurang ajar mengundang saudara untuk duduk di tempatku.” Kata-kata ini diucapkan dengan sopan dan sikap yang halus sambil tersenyum-senyum.

Tapi Lian Hwa hampir saja bangun berdiri dan menamparnya. Hm, inilah macamnya lelaki kurang ajar seperti yang diceritakan suhengnya, demikian ia pikir. Sembarangan saja menegur seorang gadis bahkan mengajak makan bersama. Tapi tiba-tiba ia ingat pakaiannya dan marahnya berkurang. Apa salahnya, ia kan laki-laki juga pada saat ini. Maka iapun segera berdiri dan menjura.

“Kau baik sekali. Tapi, kurasa kurang sopan kalau yang tua menjamu yang muda, lebih baik siauwte yang mengundangmu untuk duduk di sini, makan sama-sama sambil mengobrol. Bagaimana pendapatmu?” kata Lian Hwa.

“Ha, ha, kau baik sekali, saudara! Tapi kau agak keterlaluan, masa aku kau anggap tua?” Ia meraba- raba mukanya. Benar-benar sudah amat tuakah aku?” Sambil berkata demikian ia menarik muka yang lucu.

Lian Hwa hampir tak dapat menahan suara ketawanya, tapi ia tahan-tahan karena kalau tertawa keras mungkin suara wanitanya akan ketahuan orang. Ia memandang pemuda itu dengan gembira. Wajah pemuda itu sama sekali tak dapat disebut tua, karena kulit mukanya lemas dan putih bersih, sepasang matanya bersinar bagaikan bintang pagi dijaga oleh sepasang alis yang hitam memanjang dan berbentuk golok. Sungguh wajah yang tampan dan tubuhnya sedang, agak tinggi. “Bukan maksudku mengatakan bahwa kau sudah tua sekali kawan, tapi bahwa kau lebih tua daripada aku adalah satu hal nyata yang tak dapat dibantah!” kata Lian Hwa.

“Betulkah? Ah, belum tentu! Berapa usiamu, saudara? Aku baru duapuluh tahun.” “Dan aku baru enambelas!” jawab Lian Hwa cepat-cepat.

“Kalau begitu memang betul aku lebih tua. Hai! Apa-apaan ini kita belum juga saling kenal tapi sudah saling mengetahui umur masing-masing! Eh, saudara muda, apakah kau merasa juga apa yang kurasakan?”

Lian Hwa menjadi gugup, dan dengan wajah merah ia menggeleng kepala.

“Aku merasa seakan-akan kita sudah saling kenal lama sekali. Seakan-akan kau ini bukan wajah baru, tapi kawanku yang baik. Apa kau tidak merasa begitu?”

Kali ini Lian Hwa mengangguk.

“Nah, kalau begitu, perkenalkan saudara muda, ini sahabat lamamu bernama Lo Cin Han dari Kwan- tung. Dan kau bernama siapa kawan?”

Lian Hwa merasa lucu sekali dengan perkenalan yang ganjil ini, tapi dalam memperkenalkan diri ia berkata gugup,

“Aku bernama Han….. Lian dari…… Kie-ciu, Ciat-kang!”

“Kalau begitu, aku akan menyebutmu adik Lian dan kau boleh panggil aku. ”

“Twako (kakak tertua).” “Mengapa twako?”

“Habis, aku tidak mempunyai kakak maupun saudara lain, jadi baiklah kau kuanggap kakakku yang tertua.”

“Eh, eh, kalau begitu kita menjadi saudara?” tanya Cin Han. “Terserah…… kalau…… kau mau!”

“Baiklah adik Lian. Aku suka kejujuranmu.”

Sementara itu hidangan datang dan mereka makan bersama dengan gembira. Ternyata mereka merasa saling cocok dan dalam pertemuan pertama ini timbul satu rasa simpati besar di antara mereka.

“Adik Lian, bolehkah aku bertanya, ke mana adik hendak pergi? Apakah hendak ikut ujian?” Lian Hwa menggelengkan kepala. “Aku yang begini bodoh mana mungkin melakukan sesuatu ujian? Bisaku hanya menulis beberapa coretan huruf saja, itupun masih banyak kelirunya. Dan engkau sendiri, twako, tentunya sudah pernah lulus ujian bukan?”

“Lulus ujian sih belum, tapi aku pernah belajar ilmu surat bertahun-tahun. Hanya memang kepalaku yang kurang isi, masa sampai kini masih bodoh juga. Apakah kau hendak pulang ke Kie-ciu?”

Lian Hwa mengangguk.

“Kalau begitu kebetulan sekali, akupun hendak ke sana. Kita bisa pergi bersama-sama,” kata Cin Han girang sekali.

“Tidak……” hampir saja Lian Hwa berkata “tidak mungkin” tapi masih ditahannya. “Tidak…… apa, adik Lian?”

“Maksudku…… tidak baik kalau mengganggumu, twako. Jalan bersama mungkin kau akan terganggu olehku.”

“Mengganggu? Apanya yang terganggu? Kau aneh sekali. Tidak, aku bahkan akan merasa gembira selalu karena dekat seorang kawan yang cocok.”

Mendengar pernyataan ini mau tak mau wajah Lian Hwa memerah.

Pada saat itu masuklah beberapa orang muda ke dalam restoran itu. Mereka berpakaian indah dan mewah. Seorang yang berjalan di depan rupa-rupanya menjadi kepalanya, karena sikapnya sombong sekali. Mereka adalah empat orang muda pengawal di kota itu. Di pinggang masing-masing tergantung golok dan di dada terpancang tanda pangkat.

Seorang pelayan segera menyambut mereka dan membahasakan mereka “siauw-ya” (tuan muda). Mereka lalu memesan masakan-masakan istimewa dan mahal, lalu mengobrol ke barat ke timur. Suara mereka makin riuh dan keras ketika menceritakan tentang pengalaman-pengalaman mereka menangkap penjahat dan menyiksa pesakitan. Seakan-akan mereka adalah jagoan-jagoan besar.

Lo Cin Han mengeluarkan suara ejekan di hidung. “Gentong nasi sombong. Lagaknya seperti thai- ciangkun (panglima besar) saja.”

“Kau kenapa, twako?” tanya Lian Hwa.

Cin Han tersenyum, “Aku paling tidak suka melihat orang membawa-bawa golok atau senjata tajam lainnya. Lebih-lebih kalau yang membawanya berlagak sombong seperti mereka ini.”

“Mengapa tidak suka, twako? Apakah kau takut golok?”

“Takut sih tidak. Aku tak pernah mengganggu orang, kenapa mesti takut golok? Hanya aku tidak suka saja, pendeknya yang bersifat kasar-kasar seperti golongan kaum persilatan itu aku sama sekali tidak suka. Apa lagi kalau mereka menamakan diri sebagai anggauta golongan liok-lim atau kang-ouw. Ah, mereka itu rata-rata kasar kejam dan biasanya hanya mencari permusuhan belaka. Aku benar-benar tidak suka.”

Lian Hwa heran melihat pemuda itu tampak merah mukanya dan seakan-akan sangat benci. Maka iapun menjawab perlahan, “Aku sendiripun tidak suka akan kekerasan, twako.”

“Nah, apa kataku? Kita kaum sasterawan tak perlu dekat-dekat dengan para ahli pembunuh seperti itu. Lebih baik bicara tentang sastera daripada tentang silat. Bukankah kau juga berpikir begitu, adik Lian?”

Gadis itu terpaksa mengangguk. Ia heran mengapa ia menurut dan setuju saja kata-kata pemuda itu. Padahal, bicara sejujurnya, ia jauh lebih suka ilmu silat daripada ilmu surat, biarpun ia suka sekali akan syair-syair. Pemuda ini seorang mahasiswa yang bertubuh lemah dan menganggapnya termasuk golongannya, maka dia setuju agar tak mengecewakannya.

“Twako, kau begitu benci kepada ahli silat, barangkali…… kalau seandainya akupun seorang ahli silat, tentu kau takkan suka kenal padaku, bukan?” tanya Lian Hwa dengan hati kecewa.

Cin Han memandang dengan tajam lalu menjawab tersenyum, “Sebaliknya, adik Lian, bukankah kaupun takkan mau dekat aku jika seandainya aku seperti orang-orang dengan golok di pinggang itu?”

Terpaksa Lian Hwa tak dapat berbuat lain daripada mengangguk.

“Adikku, kita jangan membicarakan hal ini lagi, kita toh bukan golongan orang-orang kasar.”

Pada saat itu kepala pengawal-pengawal itu yang berbaju merah dan sejak tadi memandang Cin Han dengan tajam, tiba-tiba berdiri dan menghampiri pemuda itu. Tindakannya terhuyung-huyung, mukanya merah tanda bahwa ia setengah mabok. Dengan menyeringai ia berkata, “Orang muda, kenapa kau sejak tadi menengok-nengok memandang ke arah kami saja?”

Cin Han memandangnya dengan tajam lalu berkata tenang, “Apakah ada larangan atau aturan yang melarang orang di sini menggunakan matanya?”

Kepala pengawal itu tertawa bekakakan lalu menggunakan tangannya menepuk meja, hingga arak dalam mangkok Lian Hwa muncrat membasahi pakaian gadis itu.

“Larangan? Ada sobat, dan akulah yang melarang kau menggunakan matamu melihat kami!”

“Eh, eh, tuan. Jangan kau tidak mengenal aturan! Apa kaukira aku takut kaugertak? Biarpun kau pegawal negeri, tapi aku tidak berbuat sesuatu yang salah.”

“Ha, ha! Belum apa-apa sudah begini ketakutan, kau tikus kecil! Hati-hatilah dengan mata dan mulutmu, nanti kutampar mulut dan matamu. Lihat, dengan kertas dan alat tulismu kau akan dapat berbuat apa!” Lian Hwa sangat marah, tapi ia masih menahan sabar. Ia kagum melihat Cin Han walaupun orang lemah tapi bernyali besar.

“Tentu saja aku tak dapat melawan kau orang kasar,” balas Cin Han dengan masih tenang. “Tapi ingat, aku pandai menulis dan aku dapat mengarang dengan baik surat pengaduan tentang perbuatanmu itu kepada pembesar lebih tinggi.”

Orang itu nampak ragu-ragu, tapi kemudian berkata, “Baik, baik coba kita lihat saja. Nah, rasakan tamparanku!” tapi sebelum ia mengayun tangannya, tiba-tiba tiga orang kawannya berdiri dan memberi hormat kepada seorang berpakaian mewah, orang setengah tua yang masuk restoran itu diikuti oleh beberapa orang pengiring.

“Toa-loya datang!” terdengar kata-kata mereka.

Kepala pengawal yang hendak menampar muka Cin Han itu tiba-tiba membalikkan tubuh dan menyambut orang itu dengan muka berseri-seri sikap menjilat, mempersilakan orang itu mengambil tempat.

Kesempatan digunakan oleh Lian Hwa untuk menarik tangan kawannya meninggalkan tempat itu setelah membayar uang makanan. Ia tidak suka memperlihatkan kepandaiannya membela kawan itu, karena kuatir Cin Han akan mengetahui bahwa iapun tergolong “orang kasar” sehingga kemudian tidak sudi bergaul pula dengannya,

Cin Han mengomel panjang pendek dan memaki orang-orang kasar itu, tapi Lian Hwa menghiburnya. Karena merasa suka kepada kawan baru ini, Cin Han lalu mengambil keputusan untuk pindah ke hotel dimana Lian Hwa bermalam. Tapi dengan alasan bahwa ia tidak biasa tidur berdua, terpaksa Cin Han mengambil lain kamar yang berdekatan dengan Lian Hwa. Setengah malam mereka berdua mengobrol dengan gembira, bahkan Cin Han dalam kegembiraannya memamerkan kepandaiannya menulis dan bersyair yang membuat Lian Hwa sangat kagum.

Pada keesokan harinya pagi-pagi sekali mereka berangkat menuju ke Kie-ciu, dan atas usul Cin Han yang memiliki seekor kuda, Lian Hwa membeli pula seekor kuda bulu putih, lalu mereka berangkat dengan menunggang kuda.

Sehari mereka berkuda, hanya berhenti sebentar di waktu tengah hari untuk makan roti kering yang mereka bawa. Pada waktu hari telah hampir gelap, mereka masih berada di dalam sebuah hutan.

“Kampung Liok-wan-chun berada di depan kira-kira sepuluh lie lagi, marilah kita percepat kuda kita,” kata Cin Han.

Tapi tiba-tiba udara yang sejak tadi telah gelap dengan mendung kini makin gelap lagi dan angin meniup keras disusul oleh turunnya air hujan. Mereka bingung sekali, tapi tiba-tiba Lian Hwa melihat sebuah kelenteng tua di pinggir jalan yang mereka lalui.

“Twako, mari kita meneduh di sana,” katanya.

“Lebih baik kita jalan terus, adik Lian, sebentar lagi sampai.” “Tidak twako. Kalau kehujanan, aku takut masuk angin!”

Padahal ia kuatir kalau-kalau kawannya itu yang jatuh sakit karena ia tahu bahwa seorang pelajar yang tak kenal ilmu silat tentu bertubuh lemah. Berbareng ia itu merasa heran lagi melihat diri sendiri. Mengapa ia begitu memperhatikan Cin Han?

“Baiklah kalau begitu,” kata Cin Han.

Mereka segera melarikan kuda mereka ke arah kelenteng tua itu. Pintu kelenteng tertutup dan mereka mengetuknya perlahan. Ketika pintu terbuka, ternyata yang menyambut mereka adalah seorang nikouw (pendeta perempuan) yang memelihara rambut dan berbaju putih bersih. Nikouw itu masih muda, takkan lebih dari duapuluh tahun usianya dan wajahnya sangat manis. Ia sangat ramah sekali menyambut tamunya.

Cin Han mengangkat tangan dan menjura memberi hormat, “Maafkan, jika kami mengganggu. Karena kehujanan di jalan, maka perkenankanlah kiranya kami meneduh sebentar.”

“Oh, silakan masuk, jiwi siangkong,” suara nikouw itu sangat merdu dengan irama dibuat-buat. Lian Hwa merasa aneh dan bercuriga melihat lagak nikouw itu.

Setelah masuk sebentar, nikouw itu datang kembali dengan seorang nikouw lain yang umurnya kira- kira duapuluh dua tahun dan juga mempunyai wajah cantik menarik. Dengan lagak yang tak pantas dilakukan oleh orang-orang suci, kedua nikouw itu berkali-kali menjual senyum dan kerlingan mata sambil menuangkan arak hangat kepada kedua tamu mereka.

Cin Han merasa likat-likat dan malu-malu melihat sikap mereka. Untuk menghilangkan suasana tak enak itu ia bertanya tentang keadaan kelenteng itu. Nikouw yang tertua berkata dengan suara manis,

“Kelenteng ini adalah kelenteng Liok-ling-thong dan telah lama tidak terurus. Kami berdua kakak beradik Bwee Hiang dan Bwe Nio baru tiga bulan mendiami kelenteng ini,” menerangkan Bwee Hiang.

“Jiwi siangkong hendaknya bermalam di sini saja karena hari sudah malam dan gelap, serta hujan juga masih belum reda,” kata Bwee Nio sambil mengerling ke arah Lian Hwa.

“Kami tidak berani mengganggu jiwi,” kata Cin Han.

“Tidak mengganggu, sama sekali tidak,” sahut Bwee Hiang sambil sekali lagi menuang penuh arak hangat ke dalam cangkir pemuda itu dan Bwee Nio juga menurut contoh encinya menuangkan arak ke dalam cawan Lian Hwa yang telah kosong.

“Siapa yang mengganggu?” Bwee Nio menyambung kata-kata encinya sambil tertawa cekikikan dengan genit sekali. “Kami ada dua kamar, kamar enciku dan kamarku, siangkong boleh tidur di kamar enciku dan siauw-siangkong ini tidur di kamarku,” berkata demikian ini sambil memegang pundak Lian Hwa. Lian Hwa hampir saja berdiri memakinya, tapi Cin Han keburu berkedip mata. Cin Han tertawa, “Habis, jiwi hendak tidur di mana?”

Bwee Hiang tertawa genit. “Tempat tidur kami lebar, masih ada tempat bagi kami berdua.” “Di mana?” tanya Lian Hwa yang merasa tak enak juga mengganggu tempat orang.

“Di pembaringan itu juga. Apa salahnya kami menemani jiwi?”

Tidak tahan pula hati Lian Hwa. Ia berdiri dengan marah dan hendak memaki, tapi tiba-tiba ia merasa kepalanya pening sekali, semua barang yang terdapat di situ berputar-putar di depan matanya dan iapun melihat dengan samar-samar Cin Han berdiri dan roboh. Kemudian ia roboh pula tak ingat orang.

Ketika Lian Hwa sadar dari pingsannya dan membuka mata, ia mendapatkan dirinya berada di dalam sebuah kamar yang berbau harum. Kamar itu mewah sekali, jauh berbeda dengan keadaan di luar kelenteng yang kotor. Ia sedang rebah di atas sebuah pembaringan yang empuk dengan kain, sprei warna merah muda. Bantalnya berkembang.

Bwee Nio duduk pula di ranjang itu sambil tersenyum-senyum manis.

Lian Hwa merasa marah sekali dan memaki, “Perempuan rendah!” lalu hendak bangun berdiri tapi ternyata kedua kaki dan tangannya telah diikat dengan kuatnya. Pengikatnya terbuat daripada semacam kain yang lemas dan dapat mulur hingga percuma saja ia gerakkan kaki tangannya biarpun ia telah mengeluarkan tenaga dalamnya. Ia betul-betul tak berdaya.

“Siangkong jangan mencoba berontak. Saya tahu siangkong pandai silat karena dalam buntalan siangkong terdapat sebatang pedang pusaka! Kalau kawanmu itu betul-betul anak sekolah yang lemah, maka saya beruntung sekali mendapat siangkong. Saya sangat mencinta seorang laki-laki yang selain tampan juga gagah perkasa. Maka janganlah membuang waktu selagi masih muda.” Ia mendekatkan mukanya yang berbau harum ke arah muka Lian Hwa dan tertawa genit.

Lian Hwa mengerahkan tenaganya kembali untuk memberontak, tapi sia-sia saja, kain pengikat itu terlampau ulet dan kuat, maka ia menjadi putus asa dan menahan napas karena marah dan jengkel. Hampir saja ia menangis. Ia hanya memejamkan mata.

Tiba-tiba nikouw cabul itu menoleh ke arah jendela di mana berkelebat bayangan orang. Nikouw itu meniup padam pelita di dalam kamar, menyambar pedang Lian Hwa yang digantungkan di dinding, lalu meloncat keluar.

Lian Hwa membuka matanya tapi keadaan dalam kamar itu gelap gulita hingga ia tak dapat melihat apa-apa, kecuali jendela yang terbuka dan suram-suram cahaya bulan memasuki kamarnya. Ia mendengar suara orang berkelahi di atas genteng.

Telinganya yang terlatih dapat menangkap suara kaki dua orang yang sedang bertempur di atas genteng itu, dan diam-diam ia memuji mereka itu yang mempunyai kepandaian meringankan tubuh yang tinggi, karena sungguhpun mereka sedang berkelahi, namun tindakan kaki mereka itu ringan sekali hingga kalau ia tidak memasang telinga baik-baik tentu ia takkan mendengar sesuatu.

Tak lama kemudian dari atas genteng terdengar suara wanita menjerit, lalu keadaan menjadi sunyi. Tiba-tiba sosok bayangan secepat kilat meloncat memasuki jendela kamarnya.

Lian Hwa tak berdaya hanya dapat menyerahkan nasib kepada Tuhan. Terasa olehnya bagaimana sepasang tangan meraba-raba kakinya hingga ia merasa geli sekali. Sekejab kemudian tali pengikat kakinya putus dan demikianpun tali pengikat tangannya. Sebelum ia bisa berbuat sesuatu, bayangan yang menolongnya itu melompat secepat burung terbang keluar jendela.

Ketika ia memperhatikan, ternyata pedangnya telah berada di atas meja di kamar itu kembali. Ia menjadi girang berbareng gemas kepada dua nikouw cabul itu, dan timbul pula kekuatirannya akan keselamatan Cin Han. Ia memungut pedangnya lalu meloncat keluar dari jendela. Tak lama ia menemukan kamar di mana Cin Han dikeram. Ia menghampiri jendela dan membacoknya, membuka dengan pedangnya.

Ia melihat Cin Han telah duduk di pembaringan sambil memegangi kepalanya. Agaknya pemuda itu masih pening, nampak pula bekas-bekas tali ikatan terlepas di pembaringan itu.

Cin Han mendengar dan melihat ia masuk, tapi ketika melihatnya dengan terang barulah pemuda itu tersenyum.

“Eh, hiante (adik), dari mana kau peroleh pedang itu?” tanyanya heran dan kuatir melihat Lian Hwa memegang pedang.

“Mana perempuan cabul itu?” tanya Lian Hwa marah. “Akan kupenggal lehernya!”

Kemudian ia ingat bahwa ia hendak menyembunyikan kepandaian silatnya dari mata pemuda itu, maka segera disambungnya cepat-cepat, “Lo twako, sungguh celaka, kita telah tertipu oleh dua nikouw cabul tadi. Aku bangun-bangun sudah terikat. Baiknya ada orang yang menolongku. Kulihat pedang ini di atas meja, maka segera kuambil untuk mencari perempuan tadi. Hem, biarpun aku tak pandai menggunakan pedang, tapi kalau bertemu padanya pasti akan kubacok putus batang lehernya!”

Cin Han menggeleng-gelengkan kepalanya, “Aya, sungguh lihai sekali penolong itu. Akupun telah ditolongnya, tapi ia segera pergi kembali.”

“Siapakah orang itu, twako bagaimana roman mukanya?”

“Aku tidak tahu jelas, adik Lian, ia berlaku sangat cepat.” Kemudian Cin Han bangun berdiri. “Eh, eh, kau berani juga memegang pedang setajam itu!”

Lian Hwa agak bingung dan gugup. “Kalau terpaksa, apa boleh buat, twako. Kita kan laki-laki, bagaimana juga, malu kalau harus menyerah begitu saja kepada kedua perempuan cabul itu. Mari kita cari mereka!” Mereka berdua keluar mencari-cari dan alangkah kaget mereka, ketika melihat dua orang nikouw itu telah mati dipukul orang. Bwee Hiang mati di luar kamar Cin Han dan Bwee Nio jatuh dari atas genteng karena kepalanya pecah.

Lian Hwa pura-pura ketakutan. “Aya, ada pembunuhan di sini, twako. Mari kita lari meninggalkan tempat terkutuk ini.”

Cin Han menyatakan setuju dan mereka segera berangkat menunggang kuda meninggalkan tempat itu. Ketika melihat Lian Hwa memasukkan pedang Sian-liong-kiam di dalam buntalan, Cin Han bertanya, “Untuk apa pedang itu kausimpan?”

“Twako, kita telah ditolong orang. Mungkin pedang ini pedangnya, atau mungkin juga pedang nikouw itu. Tapi kulihat pedang ini bukan pedang sembarangan. Maka akan kubawa, karena aku mempunyai seorang kenalan yang suka mengumpulkan pedang-pedang baik. Pedang ini hendak kuberikan padanya.”

Mereka berjalan di malam gelap, tapi baiknya Cin Han telah beberapa kali melalui tempat itu hingga ia kenal jalan. Di sepanjang jalan mereka saling menceritakan pengalamannya.

“Twako, apakah kau tadi…… diganggu oleh Bwee Hiang perempuan celaka itu?” Pertanyaan ini diucapkan tanpa berani memandang wajah pemuda itu.

“Hm, tidak, mana aku sudi diganggu olehnya? Selagi aku tak berdaya, baiknya penolongku datang dan mengejar perempuan itu keluar kamar. Kemudian ia kembali lagi untuk melepaskan ikatanku.”

Mereka bermalam di Liok-wan-chun, sebuah kampung kecil tak jauh dari situ dan keesokan harinya mereka melanjutkan perjalanan ke kampung Ban-hok-chun.

Ketika tiba di kampung Ban-hok-chun, Lian Hwa merasakan dadanya berdebar-debar dan sangat terharu. Mengingat bahwa dahulu ia dilahirkan di kampung ini dan bahwa orang tuanya tewas di dalam kampung ini juga, tak tertahan pula Lian Hwa merasakan matanya pedas dan mengalirkan air mata.

“Kau kenapa, adik Lian?” tanya Cin Han.

Lian Hwa segera kucek-kucek kedua matanya dan menjawab, “Tidak apa-apa, twako, rupanya ada debu masuk ke mataku hingga terasa pedih dan mengeluarkan air mata.”

Lian Hwa mencari sebuah rumah penginapan, tapi Cin Han tidak bermalam di situ. Ia berkata, “Adik Lian, sampai di sini kita terpaksa harus berpisah. Aku ada urusan penting dan besok pagi harus sudah berada di kota Tiong-bie-kwan.”

Lian Hwa merasa kecewa. “Twako, apakah tidak bisa besok saja kau berangkat dan malam ini bermalam di sini?” ia memohon.

Cin Han menggelengkan kepalanya. “Tidak mungkin hiante, karena kalau aku berangkat besok, tidak mungkin aku bisa sampai di sana dalam sehari, sedangkan besok malam aku harus sudah berada di sana menghadiri pesta. Pula, sekarang masih siang dan aku bisa melanjutkan perjalanan sedikitnya empatpuluh lie. Nah, sampai berjumpa kembali, adik Lian yang baik. Aku yakin kita akan dapat bertemu kembali!”

Lian Hwa memandangnya sejenak dan menghela napas sambil berkata, “Selamat berpisah dan selamat jalan, twako. Mudah-mudahan kita akan segera berjumpa lagi.”

Cin Han menjura dan ketika Lian Hwa balas menjura Cin Han memegang lengan tangan sahabat itu erat-erat. “Sampai berjumpa!” katanya lalu naik kudanya yang terus dilarikan kencang diikuti oleh pandangan mata Lian Hwa.

?Y?

Kemudian gadis itu masuk ke dalam rumah penginapan, mendapat kamar dan duduk di dalam kamar termenung. Ia heran mengapa kini seakan-akan merasa kehilangan sesuatu setelah Cin Han pergi. Ia suka sekali kepada pemuda yang sopan santun dan halus gerak-geriknya itu. Alangkah bedanya dengan kebanyakan pemuda, terutama laki-laki yang bisa silat. Ia merasa malu sendiri mengingat kelemahan hatinya. Mengapa ia suka sekali kepada seorang pemuda yang baru saja dikenalnya.

“Ah, kalau aku tadi ikut dengan dia, alangkah senangnya,” demikian ia berpikir. Tiba-tiba ia terkejut dan marah kepada diri sendiri. Ikut Cin Han? Ah, sudah gilakah ia? Sedangkan di depan matanya menanti sebuah kewajiban besar yang harus dilaksanakan, mengapa ia memikirkan untuk ikut seorang pemuda? Memalukan benar! Tiba-tiba semangatnya bangkit kembali dan ia meninggalkan hotel itu untuk memulai penyelidikannya.

Karena kampung itu hanya sebuah kampung kecil saja, maka siapakah yang tidak kenal rumah keluarga Bong-wangwe (Hartawan Bong)? Bong Him Kian yang dulu disebut Bong Toaya atau Bong Wan-gwe. Ia telah kawin dengan seorang gadis keturunan bangsawan dan mempunyai dua orang putera yang kini telah berusia belasan tahun. Pengaruhnya makin besar saja dan kekayaannya makin menumpuk pula. Bahkan kini jagoan-jagoan yang menjadi kaki tangannya kabarnya banyak yang lihai.

Hwat Khong Hwesio, suheng Lian Hwa sengaja tidak mau memberi tahu sumoinya tentang nama- nama jagoan kaki tangan Bong-kongcu yang dulu membunuh ayahnya karena hwesio tua itu berpikiran luas. Ia tidak menghendaki bahwa kelak Lian Hwa menanam bibit permusuhan dengan para jagoan di kalangan kang-ouw maupun liok-lim, karena menurut pendapatnya, yang bersalah paling besar adalah Bong Him Kian seorang. Para kaki tangannya hanyalah menjalankan perintahnya, maka sudah sepatutnya kalau si orang she Bong itu saja yang dibinasakan untuk membalas sakit hati.

Walaupun Lian Hwa tidak mendapat keterangan dari suhengnya tentang nama-nama para jagoan yang membunuh ayahnya karena suhengnya mengatakan tidak tahu nama-namanya, namun dalam hatinya ia telah mengambil keputusan untuk membasmi semua kaki tangan musuhnya.

Maka setelah di dalam penyelidikannya selama dua hari itu ia mendengar bahwa Bong Wan-gwe mempunyai lima orang pengawal jempolan, hatinya makin menjadi panas. Hm, kalau aku belum bisa membasmi bajingan she Bong sekeluarga dan semua begundalnya itu, aku tidak mau sudah, pikirnya. Setelah mencari-cari dan bertanya-tanya, ia dapat juga menemukan kuburan kedua orang tuanya. Kedua kuburan itu sangat sederhana dan tidak terawat, maka ketika Lian Hwa datang ke situ pada saat kuburan itu kosong tiada seorangpun pengunjung, ia menangis sedih sambil memeluki kedua gundukan tanah itu dan bersumpah akan membawa kepala orang she Bong itu untuk bersembahyang di depan kuburan orang tuanya.

Kalau menurut dorongan hatinya, ingin sekali Lian Hwa pada siang itu juga pergi mendatangi rumah keluarga Bong. Tapi ia ingat akan pesan suhengnya dan pula ia tidak suka menimbulkan kekacauan di dalam kampung itu dan menakutkan semua penduduk.

Pada malam hari itu menjelang tengah malam, ketika semua penghuni gedung Bong Wan-gwe telah pulas, Lian Hwa berloncat-loncatan di atas genteng gedung itu. Seorang bujang tiba-tiba keluar dari sebuah kamar membawa baki terisi poci teh.

Bagaikan burung layang-layang Lian Hwa turun menyambar dan sebelum bujang itu dapat berteriak, Lian Hwa telah menempelkan ujung pedangnya di leher orang.

“Jangan ribut kalau tak mau pedangku ini membuat kepalamu terpisah dari tubuh. Hayo bilang, di mana kamar Bong Wan-gwe? Awas jangan bohong!”

Dengan gemetar dan ketakutan setengah mati orang itu berdiri menggigil. Baki yang dipegangnya terlepas dari tangan, tapi dengan cepat dan tangkas Lian Hwa menyambarnya hingga baki dan pocinya tidak jatuh membuat ribut.

Bujang itu lalu membuka mulut, tapi tidak ada suara dari mulutnya, tenggorokannya seakan-akan. terkancing karena takutnya. Maka dengan jari telunjuknya menuding ke arah sebuah kamar besar.

“Di situ kamar Bong Wang-we?” tanya Lian Hwa.

Orang itu hanya mengangguk berkali-kali. Lian Hwa lalu mengulurkan, jari tangannya dan menotok jalan darah orang itu yang segera roboh tak berdaya dan tak bersuara. Untuk beberapa lama ia akan tinggal lumpuh dan gagu.

Dengan gerakan ringan Lian Hwa meloncat ke arah jendela kamar yang dimaksudkan dan mengintai dari celah-celah pintu jendela. Di dalam kamar itu Bong Wan-gwe ternyata belum tidur. Ia tengah mengeluarkan beberapa buku catatan dan mulai menggunakan mouw-pitnya (pensil bulu) menulis dan mencatat-catat, orang tua yang berusia kurang lebih empatpuluh tahun dan yang wajahnya tepat seperti apa yang digambarkan oleh suhengnya dulu.

Lian Hwa merasa dadanya seakan-akan hendak pecah dan panas seperti terbakar. Dengan sekali dorong, jendela itu terbuka dan daunnya roboh karena dipecahkan tenaga dorongan Lian Hwa.

Bong Wan-gwe terperanjat mendengar suara ribut itu dan ketika ia berpaling memandang jendela kamarnya, alangkah kaget dan takutnya melihat seorang wanita muda cantik jelita meloncat masuk sambil membawa sebatang pedang yang berkilauan karena tajamnya. Bong Wan-gwe hendak berteriak, tapi dengan sekali loncatan Lian Hwa melompati meja yang menghadang di antara mereka.

“Apakah kau Bong Him Kian?” tanyanya ketus.

Bong Wan-gwe mengangguk, “Ya, akulah orang she Bong itu.” Hatinya agak tenang melihat bahwa tamu malamnya itu hanya seorang gadis tanggung. Ia tidak jadi berteriak, bahkan dengan cepatnya menyambar sebatang pedang yang tergantung di dinding.

“Kau berani sekali masuk ke sini mau apa?” bentaknya.

Mata Lian Hwa yang jernih itu tiba-tiba bersinar penuh kemarahan.

“Ingatkah kau kepada Han Bun Lim dan nyonyanya yang kau bunuh sepuluh tahun yang Ialu?” “Han…… Han Bun Lim……?” jawab Bong Wan-gwe gugup.

“Ya, dan masih ingatkah kau kepada anak yang masih kecil dan hendak kau bunuh pula itu? Akulah anak itu, anjing keparat. Dan sekarang hadapilah kematianmu untuk menebus dosamu yang bertumpuk-tumpuk!”

Dengan kata-kata ini ia meloncat maju menusuk. Bong Him Kian yang telah belajar silat lama juga segera berkelit hingga pedang Lian Hwa menusuk tempat kosong. Tapi gadis yang sedang marah hebat itu memutar pergelangan lengannya hingga pedangnya kini terus membabat ke arah pinggang lawan.

Bong Him Kian menjadi gugup dan silau karena gerakan Lian Hwa yang cepat itu dan sinar Sian-liong- kiam yang berkilau-kilauan. Tapi ia percaya kepada pedangnya yang terkenal tajam, maka ia membacok ke arah pedang gadis itu untuk memotong atau setidak-tidaknya terpental karena ia memang bertenaga besar.

Tapi alangkah terkejutnya ketika ia merasa seakan-akan membacok air saja ketika pedang mereka beradu dan ketika ia lihat, ternyata pedangnya hanya tinggal sepotong. Bukan pedang lawan tapi pedangnya sendiri yang terpotong oleh pedang musuhnya. Mau tak mau Bong Wan-gwe menjadi keder ketakutan, maka segera ia berteriak, ”Tolong! Pembunuh, tolong!!”

“Pengecut!” teriak Lian Hwa sambil menusukkan Sian-liong-kiam ke arah ulu hati musuh besarnya. Cep! Ujung pedangnya menembus dada orang dan sebelum tubuh Bong Him Kian roboh setelah pedang dicabut, Lian Hwa telah mengayun pedangnya pula hingga kepala musuh yang dibencinya itu terpental dari leher. Sebelum kepala jatuh ke tanah, tangan kiri Lian Hwa telah terulur menjambak rambut kepala itu.

Kemudian ia mengambil mauw-pit musuhnya yang berada di atas meja, mencelupkan ke dalam darah musuhnya yang memenuhi lantai dan masih mengucur dari dada dan leher, lalu menulis di atas tembok yang putih. Pada saat itu terdengar bunyi ribut-ribut di luar kamar, karena teriakan Bong Wan-gwe tadi telah menarik perhatian para jagoannya yang tidur di kamar belakang. Mereka berlima membawa senjata masing-masing menyerbu ke situ.

Alangkah kaget mereka ketika melihat bahwa majikan mereka telah menggeletak di lantai dengan tak berkepala pula, sedangkan di dekat tembok berdiri seorang wanita muda dengan pedang di tangan kiri dan kepala majikan mereka digantung pada rambut dengan tangan kiri pula, sedangkan tangan kanan asyik menulis di atas tembok dengan tulisan darah!

Beramai-ramai mereka menerjang masuk, tapi karena kamar itu sempit penuh barang-barang, yang maju lebih dulu adalah Cun Tin si muka iblis yang bersenjatakan ruyung besi. Si muka iblis menggunakan ruyungnya yang berat menghantam kepala Lian Hwa yang sedang berdiri membelakanginya dan asyik menulis, seakan-akan tidak tahu bahwa di luar telah berdiri jagoan- jagoan Bong Wan-gwe dan bahkan seorang di antara mereka kini tengah mencoba untuk memukul pecah kepalanya!

Tapi Lian Hwa bukanlah murid si Manusia Aneh Ong Lun jika ia dapat dipecahkan kepalanya dengan begitu saja! Tanpa menengok sedikitpun dan dengan tangan kanan masih menulis terus, ketika senjata ruyung itu menyambar ke arah kepalanya, ia hanya menggeser sedikit kakinya dan tangan kirinya yang memegang pedang dan kepala berlumuran darah itu bergerak ke belakang.

“Trang!” Ruyung itu tersampok pedang dan si muka iblis memandang dengan mulut ternganga karena ruyungnya telah putus ujungnya. Sebelum ia dapat kembalikan semangatnya yang seakan-akan terbang karena kagetnya, Lian Hwa yang sementara itu telah selesai menulis segera membalikkan tubuh dan pedangnya telah pindah ke tangan kanan.

Cun Tin hendak lari keluar, tapi sinar pedang mengejarnya dan sebelum ia sampai ke pintu kamar, punggungnya telah tertusuk pedang. Ia mengeluarkan jeritan ngeri lalu roboh berkelojotan.

Lian Hwa memutar pedangnya dan meloncat keluar kamar. Ketika ia menurunkan kakinya di pekarangan luar, ia berdiri menanti musuh-musuhnya yang datang berlari-larian mengeroyok.

Hati dan perasaan Lian Hwa pada saat itu diliputi rasa marah dan terharu. Marah karena ingat bahwa jagoan-jagoan ini dulu telah membunuh ayahnya, dan terharu karena akhirnya ia berhasil juga membalaskan sakit hati orang tuanya dan kepala musuh besarnya kini telah berada di tangannya. Segera ia memainkan Sian-liong-kiam-hoat (Silat Pedang Naga Dewa ) yang hebat dan dalam beberapa jurus saja keempat lawannya semua telah roboh di atas tanah terbenam dalam darah mereka sendiri.

Pada saat itu Lian Hwa seakan-akan kemasukan iblis. Hatinya penuh dendam dan hawa nafsu, dengan mata beringas ia menengok ke kanan kiri mencari-cari. Maksudnya hendak membunuh seluruh isi rumah itu.

Tiba-tiba pintu sebuah kamar terbuka dan seorang anak laki-laki kira-kira berusia sebelas tahun lari keluar, di belakangnya terdengar suara wanita memanggil ketakutan, “Lian Keng! Lian Keng! Kembalilah kau!” Lian Hwa mengangkat pedangnya mengejar anak itu. Setelah dekat ia mengayunkan pedangnya. Tiba- tiba pedang itu ditahannya dan hatinya menjadi lemas, hawa marahnya buyar seakan-akan awan tertiup angin. Sayup-sayup sampai terdengar olehnya gema suara Cin Han yang berkata dengan suara halus ketika mereka masih bersama-sama beberapa hari yang lalu,

“Adik Lian, aku tidak suka kepada kebanyakan orang dari kaum persilatan, karena cara hidup mereka itu kejam sekali. Betapa banyak jiwa dikorbankan karena dendam dan sakit hati di antara golongan mereka. Tindakan yang gila dilakukan oleh mereka kalau sudah berdaya membalas sakit hati. Balas- membalas tiada habisnya. Bahkan di dalam kebiasaan mereka, wanita dan kanak-kanak juga dibinasakan hanya untuk mengumbar hawa marah dan perasaan dendam. Alangkah kejamnya. Aku tidak suka, tidak suka……”

Mengingat suara ini, lenyaplah kegusaran Lian Hwa. Ia telah membunuh orang yang paling berdosa, ialah Bong Him Kian dan telah membinasakan kelima kaki tangannya pula, maka boleh dikata sakit hati orang tuanya telah terbalas penuh. Apa gunanya membunuh semua keluarga Bong yang tidak tahu-menahu tentang sakit hati itu dan sama sekali tidak berdosa.

Dengan pikiran inilah maka Lian Hwa segera loncat memasuki kamar Bong Wan-gwe tadi, 1alu menggunakan sehelai kertas buku catatan Bong Him Kian untuk menghapus namanya di bawah syair yang ditulisnya tadi dan ditinggalkan sebuah huruf “Han” saja. Syair itu berbunyi demikian :

Ayah, ibu, seisi rumah terbunuh semua, Hingga aku menderita, sebatang kara,

Sakit hati dikandung sebelas tahun lamanya, Semua ini gara-gara Bong Him Kian si iblis durhaka,

Malam ini aku keturunan terakhir dan satu-satunya, Membalas sakit hati orang tua,

Teratai bersih di dalam telaga,

Kini menjadi merah oleh darah musuh orang tuanya,

Aku puas dapat berbakti kepada orang tua,

Roh ayah ibu puas, terbalaslah sakit hati mereka,

Bong Him Kian puas, karena telah dapat menebus dosa! “Han”

Lian Hwa lalu meloncat ke atas genteng membawa kepala musuhnya dan langsung menuju ke kuburan ayah ibunya. Ia meletakkan kepala itu di depan kuburan orang tuanya, lalu berlutut sambil menangis sedih.

“Ayah ibu, janganlah penasaran lagi. Kepala bangsat Bong Him Kian telah anak bawa ke sini. Lihatlah…… dan kelima kawannya juga telah anak bunuh mampus…… Jangan penasaran, ayah......

ibu…… anak tak sanggup membunuh seluruh keluarga……!”

Ia menangis tersedu-sedu dan sebagai jawaban kata-katanya dan ratapannya itu, terdengar suara daun-daun tertiup angin berkeresekan dan suara kutu malam berlagu sedih. Sampai hampir pagi Lian Hwa berlutut di situ, kemudian ia meninggalkan kampung itu menunggang kudanya. Ia tidak berganti pakaian laki-laki karena ia pikir setelah kini tugasnya terpenuhi, maka tak perlu ia berlaku hati-hati.

Ia akan mengembara meluaskah pengalaman. Ia tidak mempunyai tujuan hendak pergi ke mana, karena iapun sudah tidak mempunyai handai taulan lagi, tak bersanak tak berkawan.

Kembali ia ingat kepada Cin Han, karena hanya pemuda itu seoranglah kawannya yang baik. Ia menghela napas dan membalapkan kudanya.

Pikirannya penuh dengan peristiwa yang terjadi malam tadi. Ia sengaja tidak mau berterang memberi tahukan namanya di dalam syair itu karena ia membenarkan pendapat Cin Han bahwa tiada gunanya balas membalas terus-terusan. Ia tidak berdosa kepada keluarga Bong Him Kian karena ia membunuhnya untuk membalas sakit hati orang tua.

Kini sakit hati itu himpas sudah dan tidak perlu ia memusuhi keluarga Bong itu. Namun bagaimana juga, ia masih memasukkan nama julukannya di dalam syair itu, ialah Teratai Merah.

Berhari-hari ia mengembara tak tentu arah tujuan. Kalau berhenti di sebuah kota yang dianggapnya indah, ia tinggal beberapa hari, lalu melanjutkan pula perjalanannya. Uangnya masih ada, karena suhengnya dulu memberi bekal cukup. Tapi soal uang ia tidak khawatir, karena kalau sampai kehabisan, ia dapat “pinjam” dari simpanan seorang hartawan. Ini sesuai dengan pesan suhengnya.

“Sumoi, kalau engkau sudah terpaksa sekali kehabisan bekal boleh kau ambil secukupnya dari simpanan seorang hartawan. Tapi awas jangan mengorbankan jiwa orang dalam hal itu. Pula, sebelumnya harus diselidiki lebih dulu keadaan hartawan itu. Kalau ia orang baik dan dermawan, jangan diganggu. Ingat ini, sumoi, untuk menjaga nama gurumu dan nama kita.”

?Y?

Pada suatu hari sampailah Lian Hwa di kota Ang-see-mui. Ia bermalam di hotel terbesar di kota itu. Dan di kota itulah secara sangat kebetulan ia mendapatkan nama Gan Keng Hiap dan alamatnya!

Pembaca barangkali belum lupa bahwa ketika Sian-kiam Koai-jin Ong Lun si Manusia Aneh Pedang Dewa akan menutup mata untuk selamanya, ia telah berpesan kepada murid tunggalnya untuk membalaskan penasarannya terhadap seorang bernama Gan Keng Hiap.

Selama ini Lian Hwa belum pernah melupakan pesan gurunya tapi karena ia tidak tahu ke mana harus mencari musuh gurunya itu, ia tidak berdaya. Pula, ketika itu ia sibuk mengurus dendam keluarganya sendiri.

Ketika ia diharuskan menuliskan nama di buku hotel, secara iseng-iseng ia membuka-buka halaman buku tamu itu dan dengan tak segaja matanya bertemu dengan nama seorang tamu yang membuat hatinya berdebar-debar. Nama itu ialah Gan Keng Hiap dengan alamat kota Tiong-bie-kwan! Hatinya berdebar berbareng girang. Ia masih ingat bahwa Lo Cin Han juga pergi ke Tiong-bie-kwan ketika berpisah dengan dia. Mungkin mereka dapat saling berjumpa di kota itu, karena siapa tahu bahwa pemuda itu masih di sana?

Tanpa membuang waktu lagi, Lian Hwa segera mencari keterangan di mana letak kota Tiong-bie- kwan. Ternyata jarak antara Ang-see-mui dan Tiong-biekwan hanya dua hari perjalanan berkuda. Hari itu juga Lian Hwa berangkat menuju ke Tiong-bie-kwan sambil membalapkan kudanya.

Hari telah hampir gelap ketika pada keesokan harinya ia sampai di kota itu. Ternyata kota Tiong-bie- kwan cukup ramai, lebih besar dan ramai jika dibandingkan dengan Ang-see-mui.

Lian Hwa sebenarnya tidak mengetahui permusuhan apakah yang ada antara gurunya dan Gan Keng Hiap, karena di waktu hidupnya Ong Lun hanya pernah menyatakan bahwa hidupnya telah dibikin sakit dan penasaran oleh Gan Keng Hiap dan bahwa ia sendiri tak berdaya menuntut balas, maka kini minta muridnya mewakilinya untuk membalaskan sakit hati itu.

Di dalam hatinya Lian Hwa ada juga keragu-raguan karena ia kini menghadapi satu tindakan yang tidak diketahui ujung pangkalnya dan asal mulanya, padahal suhengnya berkali-kali berpesan bahwa sesuatu tindakan harus dilakukan dengan teliti dan tidak boleh sembrono. Maka, jika ia kini pergi mencari dan tanpa minta keterangan lalu membunuh orang she Gan itu, bukankah itupun merupakan suatu tindakan yang sembrono sekali? Ah, tidak bisa, bantah suara hatinya. Ini adalah tugas yang diberikan oleh suhu, sedangkan aku sebagai murid tunggalnya harus melaksanakannya untuk membalas budinya yang begitu besar!

Dari keterangan penduduk di kota itu dengan mudah ia bisa menemukan rumah Gan Keng Hiap. Rumah itu besar juga, tapi sudah kuno dan tidak terawat. Ketika Lian Hwa berjalan lewat di depan rumah itu pada sore hari itu, pintu rumahnya tertutup saja dan keadaan dari dalam rumah sepi tak terdengar sesuatu seakan-akan rumah itu tiada penghuninya.

Sebenarnya setelah berjumpa dengan Cin Han, semangat Lian Hwa dalam hal bunuh-membunuh sudah turun banyak bahkan hampir lenyap. Ia sudah menetapkan dalam hati tidak akan sembarangan mencari perselisihan dan sembarangan membunuh kalau tidak terpaksa sekali dan kalau tidak untuk kebaikan.

Ia kini insaf mengapa suhengnya bersumpah tidak membunuh lagi, satu keputusan yang dulu ia anggap sebagai tanda kelemahan hati. Maka kali ini Lian Hwa ingin bekerja cepat. Setelah bertemu, ia akan membunuh Gan Keng Hiap itu seperti pesan gurunya, kemudian ia akan pergi dari situ. Lain orang ia takkan mengganggunya.

Malam hari itu dengan pakaian ringkas warna hijau dan ikat pinggang kuning, bunga teratai emas menghias rambutnya dan pedang Sian-liong-kiam tergantung di pinggang, Lian Hwa meloncat ke atas genteng dan berlari-larian meloncati wuwungan rumah orang menuju ke rumah musuh gurunya.

Ketika ia sampai di atas rumah Gan Keng Hiap, ia melihat di sekeliling rumah itu sunyi, tapi dari sebuah kamar masih tampak menyorot keluar api pelita. Ia segera meloncat ke arah kamar itu dan menggeser genteng mengintip ke dalam. Di dalam kamar itu ia melihat seorang tua berusia lebih kurang enampuluh tahun dengan jenggot panjang warna putih sedang duduk di kursi dan memegang alat tulis. Di depannya terbentang kertas putih lebar yang sedang ia tulis.

Ternyata ia sedang membuat lian (syair berpasangan) dengan tulisan yang sangat indahnya. Melihat tulisan itu Lian Hwa merasa sangat kagum. Wajah orang tua itu putih dan halus, pakaiannya menunjukkan bahwa ia seorang sasterawan tua dengan lengan baju yang lebar dan panjang. Di dekatnya terdapat sebatang tongkat bercagak yang disandarkan di pinggir meja.

Melihat tongkat itu Lian Hwa merasa terkejut dan sangsi pula untuk melakukan tugasnya. Tongkat itu menandakan bahwa orang tua di bawah itu adalah seorang penderita cacat yang hanya dapat berjalan dengan bantuan tongkatnya!

Pada saat itu si orang tua yang rupa-rupanya sedang membuat lian untuk seorang sahabat menuliskan namanya dibawah lian. Membaca nama yang berbunyi “Gan Keng Hiap” itu, Lian Hwa tidak ragu-ragu lagi bahwa orang tua itulah musuh gurunya, sungguhpun di dalam hati ia merasa aneh mengapa gurunya yang gagah perkasa itu mempunyai seorang musuh yang demikian lemah tampaknya dan seorang sasterawan yang cacat pula? Tapi ia tak mau perdulikan semua itu, ia mengertak gigi dan membuka genteng untuk menerobos ke dalam melalui genteng.

Tetapi pada saat itu terdengar bentakan perlahan dari belakangnya, “He perlahan dulu, kawan! Bukan laku seorang gagah mengintai-intai rumah orang. Apakah kehendakmu?”