-->

Sepasang Pendekar Kembar Jilid 3

Jilid III

MENDENGAR kata-kata yang diucapkan dengan suara nyaring itu, terdengar suara ketawa di sana-sini karena orang-orang yang telah kenal kepada Ouwyang-hengte tahu bahwa hwesio itu salah lihat dan menyangka bahwa yang kini berdiri di depannya masih pemuda yang tadi.

"He, hwesio, bukalah matamu lebar-lebar dan lihat baik- baik, aku berada di sini." Ouwyang Bu berteriak dari bawah. Hwesio itu cepat memandang ke bawah jdan kedua matanya terbelalak lebar karena heran. Ia lalu menghadapi Ouwyang Bun sambil menjura.

"Pemuda gagah harap perkenalkan nama. Pinceng (aku) sendiri bernama Bi Kok Hosiang."

"Siauwte Ouwyang Bun mohon pengajaran dari kau orang tua," jawab pemuda itu.

"Jangan kau merendah, adikmu tadi kepandaiannya tinggi, kau tentu lebih hebat lagi. Bagaimana kalau kita main-main dengan senjata sebentar?"

"Terserah kepadamu, siauwte hanya melayani saja."

Bi Kok Hosiang lalu mengambil seuntai tasbeh yang tadi dikalungkan di lehernya. Sambil berseru "Ahh." ia kebutkan tasbeh-nya yang terlepas sambungannya dan kini menjadi senjata panjang seperti rantai. Ternyata tasbeh ini memang sengaja dibuat dari baja kuat dan digunakan sebagai senjata ampuh.

Melihat hwesio itu mengeluarkan senjata   aneh, Ouwyang Bun juga mencabut pedangnya dan siap menanti datangnya serangan.

"Lihat senjata.” Bi Kok Hosiang berseru dan senjata tasbehnya meluncur cepat ke arah leher Ouwyang Bun. Pemuda itu cepat menangkis dan balas menyerang. Sebentar saja kedua opang itu saling serang dengan hebat sekali hingga semua penonton menahan napas saking tegangnya. Memang kepandaian kedua pihak berimbang dan hwesio itu biarpun tubuhnya gemuk, tapi gerakan- gerakannya gesit dan cepat psekali. Akan tetapi, Ouwyang Bun tidak kalah gesit. Ia putar pedangnya dan mulai memainkan ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat (Ilmu Pedang Garuda Sakti) hingga tubuhnya   tertutup   sinar   pedang dan ia menyambar-nyambar dengan sinar pedangnya bagaikan seekor garuda melayang dan menyambar-nyambar korbannya.

Sekali lagi Gui-ciangkun dikejutkan oleh kehebatan anak muda yang dipandang rendah itu dan diam-diam ia menghela napas karena terus terang ia mengakui bahwa ilmu kepandaian Ouwyang Bun masih jauh berada di atasnya. Perwira muda yang kasar dan sombong ini menjadi insyaf bahwa kepandaiannya sebenarnya masih dangkal sekali.

Cin Lie Eng tidak heran melihat kehebatan kedua saudara kembar itu karena gadis ini pernah menyaksikan kepandaian mereka ketika dikeroyok oleh   para pemberontak di pinggir sungai. Tapi ia merasa kagum juga melihat permainan pedang Ouwyang Bun dan tahu bahwa dengan permainan pedang sehebat itu, Ouwyang Bun tak kalah oleh hwesio yang juga sangat hebat itu.

Sebaliknya Cin Cun Ong berpikir lain. Panglima tua ini merasa gembira sekali karena selain kedua saudara Ouwyang yang kosen, ia juga kedatangan tiga orang tua yang cukup hebat hingga mereka ini kesemuanya merupakan pembantu-pembantu yang sangat berharga baginya. Kini melihat jalannya pertempuran antara Ouwyang Bun dan Bi Kok Hosiang, timbul kekhawatirannya, la maklum bahwa hwesio itu tentu merasa malu kalau sampai dikalahkan maka melawan mati- matian dan nekat, sebaliknya Ouwyang Bun yang masih muda tentu saja berdarah panas dan tidak akan mau mengalah begitu saja. Ini berarti bahwa banyak kemungkinan seorang di antara mereka tentu akan terluka atau binasa, dan kalau hal ini terjadi, tentu akan timbul permusuhan di antara Ouwyang-hengte dan ketiga orang tua itu. Maka orang tua ini lalu segera bertindak. Ia gerakkan tubuhnya dan tahu-tahu ia telah melayang ke atas panggung.

Semua penonton terkejut melihat jenderal besar itu turun tangan dan berada ni atas panggung begitu tiba-tiba. Cin- ciangkun lalu menggunakan kipas yang sejak tadi dipegang untuk mengipasi tubuhnya. Kipas yang terbuat dari bambu itu dikebutkan ke tengah-tengah di antara kedua orang yang sedang bertempur itusam-bil berseru keras sekali,

"Tahan.."

Bi Kok Hosiang dan Ouwyang Bun terkejut bukan main karena kebutan kipas itu mendatangkan tenaga besar hingga kedua senjata mereka tertolak mundur hingga keduanya juga cepat-cepat mundur.

Ouwyang Bun lalu memberi hormat kepada susioknya, sedangkan Bi Kok Hosiang juga memberi hormat karena ia merasa kagum akan kelihaian panglima tua ini.

"Toyu, kepandaianmu cukup tinggi. Aku amat merasa girang sekali kalau kau sudi membantu kami."

Hwesio gendut itu tersenyum girang dan menjura kepada Cin-ciangkun. Ia suka kepada panglima tua yang dapat menghargai tenaganya walaupun tadi ia tak dapat dikatakan menang atas kepandaian anak muda yang menjadi lawannya itu. "Ouwyang Bun, kau duduklah di sana dengan adikmu." Orang tua ini menuding ke arah deretan tempat duduk di dekat kursinya sendiri hingga Ouwyang Bun menghaturkan terima kasih. Mendengar bahwa anak muda itu menyebut "susiok" kepada panglima itu, Bi Kok Hosiang terkejut dan berkata,

"Tidak kusangka sicu adalah murid keponakan Cin-tai- ciangkun, pantas saja demikian hebat." katanya sambil memberi hormat yang dibalas Ouwyang Bun dengan merendah. Kemudian pemuda itu   mengajak   adiknya pindah tempat duduk di dekat Cin Lie Eng dan disambut dengan gembira oleh gadis yang sudah menyediakan kursi untuk mereka berdua itu.

Selain Bi Kok Hosiang, juga Lee Un si Kerbau Belang diterima oleh Cin-ciangkun hingga si baju biru itu berterima kasih sekali, walau terang bahwa ia sudah dikalahkan, tapi tetap diterima oleh panglima itu. Setelah kedua orang itu menduduki kursi yang disediakan, tiba-tiba dari bawah melayang naik ke atas panggung si penghisap huncwe tadi.

"Ha-ha-ha. Cin-ciangkun, orang-orangmu sungguh gagah dan kau sendiri benar-benar ulung. Kedua kawanku memang tepat bekerja di bawah perintahmu. Aku sendiri....

kalau memang ada orang-orang yang lebih pandai di sini, pasti dengan suka rela membantu." sambil berkata begini ia sedot huncwenya kuat-kuat dan dari mulutnya ia tiupkan asap huncwenya yang berwarna putih kebiru-biruan, dan heran. Asap itu bergulung-gulung tidak mau buyar dan terbentuklah bundaran menyerupai tengkorak. Semua orang merasa heran melihat ini dan sebagian besar menganggap bahwa si kurus ini sedang main sulap maka di sana-sini terdengar seruan memuji.

Tapi Cin Cun Ong terkejut melihat demonstrasi tenaga dalam ini dan ia lalu menjura sambil berkata, "Tidak kusangka aku berhadapan dengan si Huncwe Maut. Sungguh satu keberuntungan besar sekali hari ini kami mendapat kunjungan orang gagah yang telah tersohor dan terkenal kehebatannya. Lebih beruntung lagi jika sicu (tuan yang gagah) suka membantu usaha kami menumpas para pengkhianat dan pemberontak."

"Ucapanmu betul, ciangkun, karena memang aku telah datang ke sini, mau apalagi kalau tidak ikut membantu pekerjaanmu? Tapi, kawan-kawanku telah diuji,   dan akupun perlu diuji, ciangkun."

"Ha-ha, siapa yang belum pernah mendengar nama Huncwe Maut? Tak perlu diuji, kami telah tahu kehebatanmu." kata Cin Cun Ong.

"Tapi aku belum tahu kehebatanmu, dan ini penting kuketahui, karena bukankah kau akan menjadi pemimpinku yang kutaati perintahnya?"

Cin Cun Orig berpikir. Orang ini memang hebat dan tenaga lweekangnya cukup tinggi. Tapi kalau aku tidak memperlihatkan kehebatanku, tentu ia kelak akan banyak membandel, juga derajatku akan turun dalam pandangan mata semua anak buahku. Maka ia lalu berkata sambil tertawa,

"Sicu hendak memberi pelajaran kepada semua anak buahku? Baik, baik silahkan."

Si tinggi kurus itu lalu menancapkan huncwenya di dalam mulut, dan ia mulai menggerak-gerakkan kedua lengannya. Ketika ia adu-adukan kedua tangan, maka terdengar suara seakan-akan dua batang kayu diadu hingga Ouwyang-hengte dan Lie Eng terkejut sekali, karena mereka pernah mendengar adanya satu ilmu yang disebut Tiat-bhok-ciang (Tangan Kayu Besi) yang sangat hebat dan berbahaya. Kini mereka dapat menduga bahwa si kurus ini tentu memiliki ilmu itu dan diam-diam mereka merasa khawatir. Tapi Cin Cun Ong hanya memandang dengan tersenyum, bahkan berkata, "Berlakulah murah kepadaku, sicu." dan kemudian ia memasang kuda-kuda.

"Kau menyeranglah dulu, ciangkun," kata Huncwe Maut dengan suara tidak jelas karena bibirnya terganjal huncwe.

"Kau tamu aku tuan rumah, jangan berlaku sungkan, sicu," jawab Cin Cun Ong.

Maka bergeraklah si Huncwe Maut dengan serangan tangan kanan. Sungguh mengherankan sekali, serangannya itu dilakukan perlahan sekali dengan gerakan yang lambat, memukul ke arah pundak lawan. Cin Cun Ong tidak berkelit, tapi sengaja menerima pukulan itu dengan tangannya pula. Ini adalah gerakan percobaan untuk mengukur tenaga masing-masing dan kesudahannya membuat si Huncwe Maut heran dan kagum. Ketika tangannya bertemu dengan tangan panglima tua itu, ia merasa bagaikan memukul kapas yang empuk dan lemas sekali hingga buru-buru ia tarik kembali tangannya yang tadinya digunakan dengan tenaga Tiat-bhok-ciang sepenuhnya. Ternyata dengan menggunakan lweekangnya yang tinggi Cin-ciangkun telah dapat   memunahkan serangan lawan hingga tenaga Tiat-bhok-ciang itu tak berdaya sama sekali.

Maka si tinggi kurus tak berani main-main lagi. Ia berlaku waspada dan mengeluarkan ilmu silatnya yang tertinggi. Tapi ternyata Cin Cun Ong tak percuma mendapat nama besar sebagai seorang panglima yang kosen dan tak terkalahkan. Selain memiliki tenaga besar dan kepandaian tinggi, juga Cin Cun Ong mempunyai pengalaman bertempur   puluhan   tahun.   Entah   sudah berapa   banyak    lawan-lawan    lihai dan musuh-musuh hebat pernah dihadapinya, maka selain pandai iapun tenang dan tabah, serta sudah hafal akan ilmu-ilmu silat dari berbagai cabang. Kini menghadapi si Huncwe Maut, ia dapat membuat lawannya tak berdaya dan semua serangan dapat dipatahkan dengan mudah saja.

Karena merasa takkan mungkin menang jika bertempur dengan tangan kosong, maka si Huncwe Maut lalu berkata sambil memegang huncwenya, "Maaf, marilah kita main- main sebentar dengan senjata."

"Silakan, sicu." Cin Cun Ong maklum bahwa lawannya ini tentu istimewa sekali kepandaiannya dalam hal mempergunakan huncwe dan melihat ujung huncwe yang kecil setengah runcing itu maklumlah ia bahwa si tinggi kurus ini tentulah seorang ahli totok yang lihai. Tapi karena sudah dapat mengukur kepandaian lawannya, ia sengaja hendak melayaninya dengan tangan kosong untuk membuktikan keunggulan dan kelihaiannya.

Melihat panglima tua itu tidak mengeluarkan senjata, si tinggi kurus lalu berkata, "Ciangkun, mana senjatamu? Lekas keluarkan biar kurasakan pukulannya."

"Aku adalah tuan rumah, mana aku berani menghina tamuku dengan sambutan senjata tajam. Sicu, jangan kau sungkan-sungkan, pergunakanlah huncwemu, kebetulan sekali aku ingin sekali belajar kenal dengan huncwe maut yang telah terkenal. Biarlah aku bertahan dengan kedua tanganku."

Si Huncwe Maut marah dan penasaran sekali karena merasa dipandang rendah, tapi karena maklum bahwa panglima tua she Cin ini tak boleh dibuat gegabah, ia tak banyak bicara lagi lalu berseru,

"Awas senjata." Berbeda dengan ilmu silatnya tadi yang dilakukan dengan ayal-ayalan dan lambat karena mengandalkan kehebatan Tiat-bhok-ciang di lengan tangannya, kini gerakan si kurus itu berubah cepat sekali. Huncwenya berkelebatan ke sana ke mari dan ujungnya selalu menuju jalan darah Cin Cun Ong dengan   totokan-totokan berbahaya dan cepat sekali. Sementara itu, karena api di dalam huncwe itu belum padam, maka a-sap tembakau yang berbau keras itu keluar ikut menyambar muka orang membuat lawan yang kurang hati-hati tentu akan merasa bingung dan mabok.

Diam-diam Cin Cun Ong kagum melihat permainan si kurus ini dan tak terasa pula ia berseru, "Bagus, memang hebat sekali si Huncwe Maut." Ia berlaku hati-hati sekali dan segera mengeluarkan ilmu silatnya Ngo-heng-lian- hoan-kun-hoat. Ilmu silat ini tadi telah dimainkan oleh Ouwyang Bun tapi setelah kini dimainkan oleh Cin Cun Ong, maka lebih hebat dan luar biasa lagi. Gerakan-gerakan orang tua ini demikian cepat hingga seakan-akan ia berubah menjadi lima orang yang menjaga dan menyerang dari lima penjuru. Memang ilmu silat ini berdasarkan Ngo-heng dan gerakannya dari lima jurusan, juga perubahan kaki lima macam hingga tampaknya ia bersilat sambil berputaran, tapi selalu dapat mengelit atau memukul huncwe lawannya, bahkan dapat balas menyerang dengan hebat sekali.

Ouwyang Bun dan Ouwyang Bu yang mengenal baik ilmu silat ini merasa sangat kagum Mereka tak menyangka bahwa ilmu silat Ngo-heng itu dapat dimainkan sedemikian hebatnya, karena suhu mereka sendiri Pat-jiu Lo-mo (Iblis Tua Tangan Delapan) tidak dapat memainkan sehebat itu.

Yang langsung merasai kehebatan ilmu silat Ngo-heng dari Cin Curi Ong adalah si Huncwe Maut  sendiri. Ia merasa betapa dari lima penjuru yang mengelilinginya di mana tampak bayangan lawannya menyambar angin pukulan yang membuat huncwenya terasa ringan sekali dan tak bertenaga. Ke mana saja ia menyerang, huncwenya selalu bertemu dengan tenaga besar yang membuat senjatanya terpental kembali hingga gerakannya menjadi kacau-balau. Sebentar saja ia merasa pening dan matanya menjadi kabur, maka dengan kewalahan ia lalu berteriak,

"Sudah, sudah, ciangkun. Aku menyerah kalah." maka berhentilah panglima tua yang gagah perkasa itu, lalu berdiri di depannya sambil tersenyum.

"Sicu, kau dan dua kawanmu memang cocok untuk menjadi pembantu kami," tapi tiba-tiba sikapnya berobah ketika ia berkata dengan suara keras dan tetap.

"Sekarang kau mengakulah terus terang mengapa kalian datang hendak membantuku. Tentu ada sesuatu yang menyakiti hatimu hingga kalian mengambil   keputusan untuk membantu kami memusuhi para pemberontak."

Si Huncwe Maut menghela nafas. "Memang tak salah kalau orang berkata bahwa Cin-ciangkun adalah seorang panglima nomor satu di dunia ini. Kau tidak saja kosen dan lihai, ciangkun, tapi juga matamu awas sekali. Biarlah aku mengaku terus terang padamu. Kami bertiga memang telah bermusuhan dengan beberapa orang kang-ouw yang kini menggabungkan diri dengan pemberontak. Kami telah bertemu dengan mereka tapi kami kalah. Karena tidak ada jalan lain untuk membalas dendam, kami mengambil keputusan untuk menggabungkan diri dengan ciangkun di sini untuk membantu membasmi mereka dan komplot- komplot mereka."

Cin Cun Ong menganggok-angguk dan si Huncwe Maut memperkenalkan diri. Ternyata ia bernama Khu Ci Lok. Kemudian Cin-ciangkun mengadakan perjamuan untuk menghormati perwira-perwira baru itu dan semua perwira ikut berpesta gembira-. Para anggauta tentara bubaran dan mereka merasa puas sekali karena pertunjukan-pertunjukan malam ini sungguh-sungguh hebat dan lain daripada yang lain. Bahkan Cin-ciangkun sendiri sampai maju dan turun tangan.

0o-dw-o0

Ternyata Cin Lie Eng sangat suka bergaul dengan Ouwyang-hengte hingga tiap hari mereka bertiga tampak selalu bersama-sama. Hal ini tidak menjadikan keberatan bagi ayahnya karena bagi panglima ini memang lebih suka melihat puterinya bergaul dengan kedua keponakan kembar itu yang tampaknya lebih sopan daripada bergaul dengan anak buahnya yang kasar-kasar. Mereka bertiga sering berlatih bersama-sama karena memang tidak berbeda. Sering pula mereka pergi berburu binatang bersama-sama.

Hubungan yang akrab ini membuat sakit hati Gui Li Sun, panglima muda yang tinggi  besar itu. Hati panglima ini merasa cemburu sekali, tapi apa yang dapat ia lakukan? Kedua anak muda itu hebat sekali dan memiliki kepandaian tinggi, pula Ouwyang-hengte    ternyata memperlihatkan sikap yang baik terhadapnya. Buktinya kedua pemuda yang terang-terang  telah mengalahkannya dan  lebih tinggi kepandaiannya, tidak mau merebut kedudukannya, bahkan kedua pemuda itu mengajukan permohonan kepada Cin- ciangkun untuk tetap saja dengan pakaian biasa dan tidak diharuskan memakai pakaian tentara, walaupun mereka bersedia  membantu    dalam pertempuran.  Demikianpun ketiga orang tua aneh itu. Hingga di dalam markas besar itu, yang tidak mengenakan pakaian tentara ada enam orang, yakni Lie Eng sendiri, Ouwyang-hengte, dan ketiga orang tua itu. Biarpun Lie Eng suka bergaul dengan Ouwyang-hengte, namun ia berlaku seperti adik perempuan hingga hubungan mereka erat dan tidak canggung-canggung.

Pada suatu hari mereka pergi berburu bertiga. Seperti janji Lie Eng dulu ketika mereka bertemu pada pertama kalinya, kedua saudara kembar itu akan mendapat kuda yang bagus-bagus dan besar. Mereka bertiga berburu sambil naik kuda dan di sepanjang jalan mereka bercakap-cakap gembira.

"Kalau aku sedang berburu begini, seakan-akan di sekelilingku tidak ada perang, tidak ada pertempuran- pertempuran, yang ada   hanya   kesenangan   belaka. Aah........ alangkah senangnya kalau keadaan damai dan tenteram hingga orang boleh hidup sesukanya tanpa rasa takut."

Ouwyang-hengte tersenyum mendengar kata-kata nona ini yang sebetulnya kurang tepat keluar dari mulut seorang puteri panglima besar. Tapi memang Lie Eng mempunyai watak yang jujur dan terbuka.

"Seringkali aku merasa heran dan menyesal mengapa kita harus bertempur dan membasmi bangsa sendiri, seakan-akan keluarga besar   saling   bunuh-membunuh," gadis itu berkata lagi.

Ouwyang Bu yang melarikan kuda di sebelah kirinya menjawab,

"Biarpun bangsa sendiri, mereka itu pemberontak, pengkhianat dan perampok-perampok jahat. Dan orang- orang jahat harus dibasmi habis agar negara tidak menjadi kacau dan rakyat tidak hidup ketakutan." Nona itu menghela nafas, tapi bibirnya yang indah bentuknya itu tersenyum manis ketika ia memandang kepada Ouwyang Bu. "Kau betul," demikian katanya.

Mendengar percakapan antara adiknya dan gadis itu, Ouwyang Bun yang melarikan kuda di sebelah kanan nona itu, mendapat pikiran yang membingungkan hatinya. Benar-benarkah pemberontak-pemberontak itu perampok- perampok jahat? Selama ia turun dari gunung, baru sekali ia bertemu muka dengan anggauta pemberontak, yakni Lui Kok Pauw dan kawan-kawannya yang   dulu mengeroyoknya di pinggir sungai. Mereka itu memang pemberontak-pemberontak seperti yang   mereka   akui sendiri, tapi apakah mereka itu perampok? Hal ini belum ia, ketahui benar karena belum ada buktinya.

Tiba-tiba Lie Eng yang melihat dia termenung di atas kudanya menegur,

"Eh, twa-suheng, kau sedang memikirkan apa?"

Ouwyang Bun terkejut dan menoleh lalu menjawab, "Aku sedang memikirkan apakah pemberontak itu sama

dengan pengkhianat."

Lie Eng dan Ouwyang Bu memandang heran. Ouwyang Bu sendiri tidak tahu akan perbedaannya dan tak dapat menjawab, tapi Lie Eng segera menjawab dengan suara tetap,

"Tentu saja sama. Pemberontak-pemberontak itu menyerang dan memusuhi pemerintah sendiri, merampok bangsa sendiri, maka mereka dapat juga disebut pengkhianat."

Tapi Ouwyang Bun tidak puas mendengar jawaban gadis itu. Tiba-tiba kuda yang mereka tunggangi pada meringkik ketakutan dan mengangkat kaki depan mereka ke atas sambil mendengus-dengus. Dan terdengarlah aum harimau yang menggetarkan hati.

"Bagus, agaknya nasib kita baik hari ini," kata Lie Eng yang berhati tabah itu. Cepat ketiganya meloncat turun dari kuda, mengikatkan kendali kuda mereka pada sebatang pohon dan lalu mereka meloncat ke atas pohon untuk mengintai. Kuda-kuda itu mereka gunakan sebagai umpan untuk memancing binatang buas itu. Kasihan kuda-kuda itu yang meringkik-ringkik ketakutan dan berusaha memberontak untuk melepaskan tali dan kabur.

Tak lama kemudian, seekor harimau jantan yang besar dan buas keluar dari semak-semak. Matanya yang lebar memandang liar dan tajam ke arah tiga ekor kuda yang meronta-ronta. Karena bau manusia yang berada di atas pohon tak dapat tercium olehnya, maka ia sama sekali tidak tahu bahwa tiga pasang mata mengintainya dari atas dengan perasaan gembira dan tegang.

Sekali lagi harimau itu mengaum dan mendekam, siap untuk meloncat menubruk korbannya, yakni seekor di antara tiga kuda itu. Ia enjot kaki belakangnya dan tiba-tiba tubuhnya mencelat ke atas. Lie Eng dan dua saudara kembar telah siap untuk meloncat turun sambil menyambit- kan piauw mereka, tapi mereka tahan gerakan mereka dengan kaget karena pada saat itu dari belakang sebatang pohon besar meloncat keluar tubuh seorang kanak-kanak berusia paling banyak empatbelas. Anak ini memegang sebatang tongkat panjang yang dipegangnya seperti orang pegang toya. Ia meloncat tepat di depan harimau yang sedang melompat dan menggunakan tongkatnya menyodok perut harimau yang sedang melayang itu. Tapi harimau itu cukup gesit dan cerdik. Melihat datangnya serangan tongkat ke arah perutnya, ia gunakan kaki depan mencakar tongkat itu sambil membuang diri ke samping.

Kini binatang yang besar dan buas itu berdiri di atas tanah menggereng-gereng, menghadapi anak kecil itu. Tapi anak itu dengan wajah tenang dan tabah segera siap dalam bhesi (kuda-kuda) yang teguh sambil menyilangkan tongkat di depan dada. Sikapnya yang gagah berani itu membuat Lie Eng dan Ouwyang-hengte kagum sekali, tapi mereka siap untuk membantu anak itu bila sampai terdesak oleh harimau.

Sementara itu, setelah menggereng-gereng, harimau itu meloncat lagi menubruk dengan lompatan tinggi. Tapi anak itu sungguh tabah dan cerdik karena sementara tubuh harimau masih di atas, ia bahkan lari mendekat hingga berada di bawah perut harimau lalu menusuk lambung binatang itu dengan tongkatnya lagi.

Kali ini tusukannya tepat dan keras hingga harimau itu terpental dan jatuh dengan keempat kakinya di atas. Anak itu cepat menambahi dua kali tusukan pada perut harimau yang sedang telentang itu. Tapi harimau itu kuat sekali dan dengan cepat meloncat membalik. Kali ini ia menubruk dari depan lurus ke muka, tidak meloncat tinggi. Keadaan anak itu berbahaya, dan tiga orang yang berada di atas sudah siap membantu. Tapi anak itu cepat sekali meloncat ke pinggir dan pada saat harimau itu lewat cepat di sampingnya, ia memukul dengan tongkatnya yang tepat mengenai pantat binatang itu. Agaknya pukulan kali ini mengenai tempat yang lunak hingga binatang itu meraung kesakitan lalu lari secepatnya menghilang ke dalam semak belukar.

"Bagus, Ahim. Kali ini kau dapat mengusirnya. Lain kali kau harus dapat membunuhnya." tiba-tiba terdengar suara orang dan tiba-tiba di situ muncul dua orang muda dan seorang kakek. Dua anak muda itu cakap sekali wajahnya, pipinya kemerah-merahan dan bibirnya merah segar hingga patut kiranya kalau menjadi anak perempuan. Kakek itu berpakaian petani sederhana, tapi gerak-geriknya menunjukkan bahwa ia adalah seorang ahli lweekeh yang memiliki kepandaian tinggi.

"Engkong, binatang tadi buas sekali. Kulihat mukanya seakan-akan mengilar sekali dan ingin segera merasai daging dan darahku. Matanya buas dan mulutnya meringis. Kong-kong, ganas manakah harimau itu dibandingkan dengan panglima she Cin?"

Kakek itu tertawa besar mendengar pertanyaan ini, sementara itu ketiga anak muda yang berada di pohon mendengarkan dengan penuh perhatian sedang Lie Eng memandang tajam mendengar ayahnya di sebut-sebut. "Ahim, kau ini aneh, binatang buas dibandingkan dengan manusia," kata seorang di antara kedua pemuda itu, dan setelah ia mengeluarkan kata-kata, barulah Lie Eng dan Ouwyang-hengte maklum bahwa mereka itu benar-benar dua orang gadis yang berpakaian laki-laki. Suara gadis yang bicara tadi sangat nyaring dan merdu dan ke tawanya manis sekali.

"Enci Cui Sian jangan berkata begitu, bukankah panglima she Cin itu kudengar ganas dan kejam sekali dan tak pernah memberi ampun kepada kawan-kawan pejuang yang tertawan? Kong-kong, jawablah pertanyaanku tadi."

"Ahim, kalau kau tanya mana yang lebih buas, kurasa dua-duanya sama buas dan sama kejam."

"Mana yang lebih jahat, kong-kong?" tanya Ahim lagi. "Tidak ada yang jahat, cucuku," jawaban ini tidak saja

membuat anak itu keheranan, tapi juga kedua dara yang berpakaian laki-laki itu memandang heran.

Empek tua itu maklum akan keheranan mereka maka lalu melanjutkan kata-katanya, "Harimau itu disebut kejam karena suka makan manusia, sedangkan Cin-ciang-kun disebut kejam suka membunuh kawan-kawan kita. Tapi harimau itu hanya menurut perintah, yakni perintah perutnya yang lapar dan membutuhkan isi. Sedangkan Cin- ciangkun melakukan pembasmian dan pembunuhan besar- besaran juga hanya melakukan tugas kewajibannya belaka, untuk mentaati perintah kaisar."

"Kalau begitu, yang jahat adalah perut harimau dan kaisar itu, kong-kong?" tanya Ahim yang ternyata cerdik sekali.

Kembali kakek itu tertawa. "Perut harimau tidak jahat, karena kalau tidak diisi daging mentah, akan menderita kelaparan. Kaisar juga tidak jahat, tapi bodoh dan lalim, tidak memperdulikan nasib rakyatnya hingga rakyat hidup sengsara tertindas dan kelaparan tidak diketahuinya, tahunya hanya pelesir dan bersenang-senang belaka."

"Kaisar macam ini harus dibasmi dan diganti, kong- kong." kata Ahim bersemangat.

"Hush, Ahim, kau bicara seperti di sini tidak ada orang lain saja." kakek itu berkata lagi.

"Siapa lagi selain kita berempat yang berada di sini, kong-kong?"

"Kau lupa kepada pemilik ketiga ekor kuda itu?" kata empek tua sambil menunjuk ke arah tiga ekor kuda yang ditambatkan di batang pohon. Lalu kakek itu memandang ke atas pohon dan berkata,

"Sam-wi silakan turun."

Ouwyang-hengte dan Lie Eng merasa terkejut dan malu karena orang telah mengetahui tempat persembunyian mereka. Lie Eng yang merasa marah mendengar percakapan mereka tadi, lalu memperlihatkan kepandaiannya. Ia meloncat turun dengan gerakan Koai- liong-hoan-sin (Siluman Naga Berjumpalitan) dan tubuhnya melayang dan berpoksai (bersalto) di udara hingga terpelanting ke arah di mana kudanya berdiri dan dengan ringan sekali ia turunkan dirinya di punggung kuda.

"Bagus, bagus." Ahim bertepuk-tepuk tangan dan suaranya memuji.

Sementara itu, Ouwyang Bun dan Ouwyang Bu juga meloncat turun dari atas pohon. Ouwyang Bu yang juga merasa tak senang kepada orang-orang yang ternyata adalah anggauta-anggauta pemberontak, hanya mengerling sekilas kepada empat orang asing itu. Tapi Ouwyang Bun tersenyum kepada Ahim dan kepada kakek itu ia menjura lalu menyusul adiknya yang telah pergi ke kudanya.

"Mari kita tangkap mereka dan serahkan kepada susiok." kata Ouwyang Bu kepada kakaknya, tapi Lie Eng berkata cepat.

"Jangan". Kalau mereka tidak mengganggu kita, untuk apa kita mencari musuh?"

"Tapi bukankah mereka pemberontak?" bantah Ouwyang Bu.

"Bu-te, kurasa benar kata-kata sumoi. Tak perlu mencari musuh, lagi pula kulihat empek tua itu bukan orang sembarangan."

Sementara itu, empek itu tertawa dan berkata,

"Nona, kepandaianmu hebat sekali dan kedua suhengmu juga tidak tercela. Kalau kau pulang, sampaikanlah salamku kepada ayahmu, bilang saja salam dari orang tua she Ciu.”

Ketiga anak muda itu terkejut sekali karena tak mereka sangka sama sekali bahwa dari percakapan mereka yang dilakukan perlahan itu, si kakek telah dapat mengetahui siapa mereka. Padahal jarak yang memisahkan mereka cukup jauh.

Karena kakek dan kawan-kawannya itu tidak mengganggu, maka Lie Eng lalu memacu kudanya diikuti oleh Ouwyang-hengte pulang ke markas besar panglima Cin.

Mereka langsung menghadap Cin Cun Ong dan Lie Eng melaporkan kepada ayahnya tentang kakek yang berada di pedalaman itu.

"Orang tua she Ciu? Bagaimana rupanya? Bertubuh tinggi kurus pakaian petani, bertopi lebar dan matanya tajam serta mulutnya selalu tertawa? Ah,... tak salah lagi, tentu Ciu Pek In. Kalau Naga Sakti ini pun telah menggabung menjadi pemberontak, kita harus segera mencari bala bantuan orang-orang pandai."

Melihat betapa ayahnya agak gentar mendengar nama orang tua itu, Lie Eng lalu bertanya kepada ayahnya,

"Sebenarnya kakek itu siapakah?"

Ayahnya menghela napas. "Dia' adalah seorang dari jago-jago nomor satu di dunia pada masa ini. Ia dijuluki Sin-liong atau Naga Sakti, sesuai dengan keahliannya, memainkan Ilmu Pedang Naga Sakti atau Sin-liong Kiam- sut. Ia tidak saja sangat terkenal sebagai seorang cianpwe (cabang atas) yang disegani, tapi juga pengaruhnya besar sekali, dan jika ia sampai merendahkan diri dengan menggabung pada pemberontak, maka tentu banyak orang- orang gagah yang akan meniru dan memihaknya."

"Sampai di mana ketinggian tingkat kepandaiannya, ayah? Bagaimana kalau dengan Khu-lo-enghiong?"

katanya sambil memandang muka Khu Ci Lok si Huncwe Maut yang juga berada di situ, karena kebetulan pada saat itu Cin Cun Ong sedang bercakap-cakap dengan si Huncwe Maut dan dua kawannya.

Mendengar pertanyaan gadis itu, Khu Ci Lok melepaskan huncwe dari mulutnya dan ia berkata dengan wajah bersungguh-sungguh, tidak seperti biasanya suka membanyol.

"Nona, kau tidak tahu tentang orang tua itu. Aku sendiri belum mengenalnya, tapi dari namanya saja aku sudah dapat mengukur sampai di mana ketinggian ilmu silatnya. Jangan bandingkan dia dengan aku, ah, aku masih jauh berada di bawah tingkatnya." Lie Eng terkejut. Si Huncwe Maut ini sudah memiliki kepandaian yang sangat tinggi dan bahkan lebih tinggi daripada kedua suhengnya atau dia sendiri.

"Kalau begitu, apakah dapat disejajarkan dengan kepandaian ayah?"

Kini Cin Cun Ong berkata, "Biarpun aku belum pernah mengukur tenaganya, tapi kiraku dia tidak akan mudah mengalahkanku, biarpun menurut kabar, ilmu pedangnya belum pernah dikalahkan orang. Tapi bagaimanapun juga, datangnya orang tua ini tentu tidak sendiri dan akan disusul oleh yang lain-lain, maka kita harus siap sedia. Khu-sicu, harap kau dan Lee-sicu besok pagi-pagi pergi ke kota raja untuk memanggil beberapa orang pembantu yang pandai, dan Bi Kok suhu harap suka menyampaikan sebuah surat undangan kepada tiga orang kawan baikku di See-bun."

"Siapakah kawan-kawan baik itu, ciangkun?" tanya si hwesio gemuk.

"Mereka adalah See-bun Sam-lo-mo atau Tiga Iblis Tua Dari See-bun. Kalau mereka dapat diundang ke sini, maka segala Sin-liong dan komplot-komplotnya takkan mungkin membikin aku gentar."

Maka dibuatlah surat-surat untuk dibawa ke See-bun dan ke kota raja. Semua lalu mengundurkan diri. Sedang Ouwyang Bun dan adiknya duduk di dalam kamar mereka sendiri.

"Agaknya tak lama lagi tentu akan terjadi perang hebat antara kita dengan pihak pemberontak," kata   Ouwyang Bun.

"Memang hal itulah yang kuharap-harapkan selama ini. Hatiku merasa tak senang disuruh menganggur saja tanpa ada pertempuran hingga seakan-akan kita hanya menumpang makan dan tidur. Bagi para tentara keadaan itu menyenangkan saja karena mereka selalu ada yang dikerjakan, berlatih, berbaris dan lain-lain. Tapi bagi kita?" Ouwyang Bu dengan bersungut-sungut menyatakan ketidakpuasannya.

Ouwyang Bun termenung sejenak lalu berkata, "Bagiku kalau bisa jangan sampai ada perang."

Adiknya memandang heran dan dengan pandang mata menyelidik. Kakaknya membalas pandangan matanya dan tersenyum. "Jangan salah sangka, aku bukannya takut, sungguhpun harus kuakui bahwa pihak pemberontak bukanlah orang-orang lemah. Dengarlah, Bu-te, melihat tampang kakek dan orang-orang tadi, aku menjadi ragu- ragu dan sangsi. Apakah orang tua gagah dan bersikap halus itu bisa menjadi penjahat? Dan pula, apakah anak kecil yang tabah dan berbakat seperti Ahim tadi juga dapat disebut penjahat yang harus dibasmi?"

"Bun-ko, biarpun mereka bukan penjahat, tapi karena mereka menggabungkan diri dengan pemberontak, maka mereka adalah pengkhianat yang berbahaya dan harus dibasmi. Coba kau ingat kata-kata anak. kecil tadi yang menganggap susiok dan kaisar sebagai binatang buas."

Ouwyang Bun   tak   menjawab,, hanya menghela napas dan termenung.

Pada saat itu, dari arah belakang rumah, mereka mendengar suara Gui-ciang-kun bercakap-cakap dengan keras. Mereka tertarik sekali dan mendekati jendela belakang agar dapat menangkap kata-kata yang mereka ucapkan.

"Memang para anjing pemberontak makin berani saja. Tadi kulihat beberapa o-rang berkeliaran di bawah tembok sebelah luar. Seakan-akan mereka itu menantang-nantang dan sama sekali tak pandang sebelah mata kepada kita. Sungguh celaka, dan tai-ciangkun (panglima besar) hanya bersabar saja. Apa gunanya mempunyai pembantu- pembantu   seperti   lima    orang itu? Tiap hari kerjanya hanya makan tidur saja. Kalau aku jadi mereka, setidaknya, tentu keluar dan menyelidiki keadaan para pemberontak. Dengan pakaian preman mereka akan lebih mudah melakukan pekerjaan penyelidik. Tapi dasar jiwa pemalas dan tak tahu malu. Piara anjing masih ada gunanya."

Hampir saja Ouwyang Bu meloncat keluar dan menerjang orang she Gui yang diam-diam memaki-maki mereka itu. Pemuda yang keras hati ini merasa malu dan marah sekali. Tapi Ouwyang Bun cepat mencegahnya dan berkata,

"Adikku, sabarlah. Tak perlu kita bertindak terhadap orang rendah seperti dia itu Kalau kita mengadakan keributan, ma ka tentu kita akan mendapat teguran dari susiok. Dan lagi, kalau dipikir-pikir memang tidak ada salahnya kata-kata Gui-ciangkun tadi. Telah   hampir sepekan kita berada di sini dan kebetulan sekali susiok menjalankan siasat bertahan dan menanti aksi gerakan lawan hingga kita terpaksa menganggur saja Bagaimana pikiranmu ka lau kita keluar dan melakukan penyelidikan? Siapa tahu kalau diam-diam mereka i-tu sedang mengatur siasat, bukankah kemarin susiok pernah mengatakan bahwa ia merasa lebih cemas melihat musuh diam-diam saja dan tidak melakukan penyerangan?"

Setelah diam sesaat, akhirnya Ouwyang Bu menyatakan setuju dengan buah pikiran kakaknya ini. Dengan diam- diam mereka bersiap untuk melakukan penyelidikan keluar tembok besar malam nanti.

0od-wo0 Setelah siang berganti malam yang gelap, kedua saudara itu mengenakan pakaian malam yang berwarna gelap, lalu keluar dari kamar. Tapi mereka menjadi bingung karena ternyata tembok besar itu penuh oleh barisan penjaga. Memang, Cin-ciangkun menaruh penjaga-penjaga di sepanjang tembok besar sampai lebih dari lima li panjangnya.

Biarpun semua penjaga telah tahu siapa mereka, tapi tanpa surat perintah dari Cin-ciangkun, mereka akan dicurigai kalau keluar dari tembok besar. Pada saat mereka merasa bingung, tiba-tiba berkelebat bayangan hitam dan suara yang merdu nyaring menegur mereka.

"Ji-wi suheng (kedua kakak seperguruan) hendak ke manakah?"

Ouwyang-hengte terkejut karena yang menegur mereka itu tidak lain ialah Cin Lie Eng yang juga sutfah berpakaian malam serba gelap.

"Eh, sumoi malam-malam hendak ke mana?" tanya Ouwyang Bun.

Di bawah sinar bulan yang bercahaya terang, dara cantik itu tersenyum manis dan matanya bermain lincah. "Ditanya belum menjawab sudah balas bertanya. Agaknya ada apa- apa yang dirahasiakan kepadaku."

Ouwyang Bun tak dapat menjawab, ta-pi Ouwyang Bu dengan tabah berkata dengan tertawa, "Sumoi, memang ada rahasia, tapi bukan rahasia jahat."

"Kalau rahasia jahat, apakah kalian ma sih hidup di asrama ini? Suheng, ketahuilah, sumoimu ini diam-diam sudah tahu maksud kalian. Bukankah kalian hendak pergi menyelidik di tempat musuh?" Terkejutlah kedua saudara itu, tapi Lie Eng hanya tertawa manis.

"Akupun tak enak tinggal menganggur, maka aku sengaja menyusulmu. Mari kita menyelidiki bertiga."

"Jangan, sumoi. Perjalanan ini berbahaya, kalau sampai terjadi sesuatu padamu, kami akan mendapat marah dari susiok," kata Ouwyang Bu.

"Aku bukan anak kecil, pula, dengan adanya kalian berdua, apa yang harus kutakutkan?"

Terpaksa Ouwyang-hengte membawa gadis yang berani itu. Dengan adanya Cin Lie Eng, mudah saja bagi mereka untuk melewati penjaga di atas tembok. Mereka percaya penuh kepada gadis puteri Cin-ciangkun itu dan dengan mudah mereka melewati tembok besar dan turun melalui tali yang dilepas ke bawah.

Kemudian ternyata bahwa adanya gadis itu menguntungkan mereka karena Lie Eng telah tahu di mana tempat yang digunakan sebagai markas oleh pihak musuh. Bulan bercahaya terang hingga mereka dapat melakukan perjalanan dengan mudah. Lie Eng membawa kedua saudara itu menyusur sepanjang tembok menuju ke barat, lalu membelok ke utara menuju ke sebuah hutan yang lebat.

"Ji-wi suheng, berhati-hatilah. Aku tidak suka melihat keadaan yang terlalu sunyi di sini," kata Lie Eng setelah mereka tiba di dalam hutan yang sunyi itu.

Belum sempat  Ouwyang-hengte menjawab, tiba-tiba terdengar suara ranting ter-pijak kaki di sekeliling mereka dan tahu-tahu mereka telah dikurung oleh orang-orang yang bersenjata tajam. Orang-orang yang mengurung mereka itu terdiri dari bermacam-macam orang. Ada yang masih muda sekali, ada   pula yang   sudah kakek-kakek. Ada yang berpakaian pendeta, hwesio, dan sastrawan. Tapi sebagian besar dari mereka berpakaian petani sederhana.

Ouwyang-hengte dan Lie Eng cepat mencabut pedang mereka dan siap mengamuk tapi tiba-tiba terdengar suara orang berkata,

"Sam-wi, tahan dulu. Apakah maksud dan kehendak kalian maka malam ini datang ke tempat kami rakyat miskin?"

Suara ini mereka kenal dan ternyata dari luar kurungan masuklah kakek tua yang siang tadi mereka jumpa di dalam hutan sebelah dalam tembok besar. Lie Eng dan, Ouwyang- hengte merasa heran sekali bagaimana orang tua itu dapat melewati tembok besar yang terjaga kuat itu.

Mendengar teguran kakek itu, dengan suara gagah Lie Eng menjawab, "Kami ingin menyaksikan sendiri apakah kalian masih hidup, karena mengapa kalian tidak bergerak menyerang benteng pertahanan kami. Apakah kalian sudah kehabisan tenaga dan tidak berani bertempur lagi? Ketahuilah, para tentara kami telah gatal-gatal tangan untuk menghadapi kalian."

Kakek itu tertawa. "Ha-ha-ha, ayah harimau anakpun harimau. Gagah dan berani. Nona Cin, jangan khawatir. Kawan-kawan kami bukannya takut bertempur, tapi sesungguhnya lawan dan musuh kami bukanlah ayahmu dan anak buahnya. Ayahmu adalah perajurit yang baik dan amat berguna bagi negara dan rakyat. Yang kami musuhi ialah raja lalim, para pembesar durjana, dan para pembesar penindas rakyat jelata. Mereka inilah yang hendak kami basmi."

Mendengar kata-kata ini Ouwyang Bun merasa makin tertarik, maka ia lalu maju dan menjura kepada orang tua itu. "Siauwte tadi mendengar bahwa locian-pwe adalah Sin- liong Ciu Pek In yang terkenal di kalangan kang-ouw, betulkah itu?" :

Orang tua itu tertawa. "Tentu Cin-ciangkun yang memberitahukan padamu, bukan? Aha, ia masih ingat padaku. Memang betul aku Ciu Pek In."

"Siauwte mendengar bahwa locianpwe mengutamakan kegagahan dan keadilan serta membela pihak yang benar. Tapi mengapa locianpwe menggabungkan diri dengan para pemberontak yang selain mengacau negara juga menyusahkan rakyat? Apakah ini laku seorang gagah yang mengutamakan kebaikan dan yang pantas disebut ho-han (orang budiman)?"

Ucapan Ouwyang Bun yang panjang ini memang ia sengaja. Ia bukan tidak tahu bahwa kata-katanya ini berbahaya, tapi karena terdorong oleh rasa penasarannya, ia tidak perdulikan lagi bahaya yang mungkin timbul karena perkataannya.

Sementara itu, semua orang yang mengurung terdengar berseru marah mendengar betapa anak muda ini berani sekali menghina kakek yang mereka hormati itu. Mereka siap untuk maju menerjang, tapi Ciu Pek In mengangkat tangan memberi tanda dan berkata,

"Anak muda, kau bagaikan seekor burung yang baru belajar terbang dan tidak tahu keadaan dunia luas. Tahumu hanya bahwa setiap orang yang memberontak a-dalah jahat dan salah. Tapi aku tidak menyalahkan engkau karena kau kebetulan sekali  menjadi murid   si Iblis Tua Tangan Delapan yang justeru menjadi sute dari Cin-ciangkun. Ya..ya, aku tahu, anak, aku tahu kau dan adikmu ini siapa dan mengapa ikut membantu Cin-ciangkun. Kalian Ouwyang-hengte kena diperalat dan mengotorkan tangan tanpa kalian sadari. Sayang, sayang, sungguh sayang."

"Suheng, mari kita beri mereka pelajaran." kata Lie Eng yang merasa marah sekali mendengar ucapan Ciu Pek In.

"Beda lagi halnya dengan Cin-siocia ini," kata kakek itu lagi tanpa memperdulikan kemarahan Lie Eng. "Ia adalah puteri Cin-ciangkun dan sudah seharusnya menurut jejak kaki ayahnya."

"Orang tua, kami datang ke sini bukan hendak mendengarkan obrolan kosong. Beritahukan apa maksud kalian mengurung kami, jangan kira kami bertiga takut." tiba-tiba Ouwyang Bu membentak sambil melangkah maju dengan dada terangkat.

"Suhu, jangan kasih hati kepada orang kasar ini." tiba- tiba seorang gadis yang berpakaian laki-laki meloncat maju dari belakang kakek itu. Ia adalah seorang gadis yang baru berusia kurang lebih tujuh-belas tahun, wajahnya manis dan sepasang matanya bersinar tajam dan berani. Ia menatap wajah Ouwyang Bu dengan marah sekali.

"Kau anak kecil mau apa?" Ouwyang Bu membalas membentak sambil tersenyum mengejek. Gadis itu marah sekali, sambil membanting-bantingkan kakinya ia berkata kepada Ciu Pek In.

"Suhu, biarkan teecu memberi pelajaran kepadanya."

Tiba-tiba kakek itu nampak gembira. Ia memberi tanda kepada semua orang untuk mundur dan memperlebar kurungan.

Lalu katanya kepada gadis muridnya itu, "Siauw Leng, kau selalu menganggap dirimu paling pandai. Kaukira anak muda ini makanan lunak? Ha, kau salah sangka. Tapi biarlah kau mencobanya." Kemudian ia berpaling kepada Ouwyang Bu dan berkata,

"Anak muda, muridku yang bodoh ini hendak minta sedikit pelajaran darimu, harap kau tidak mengecewakannya."

Ouwyang Bu tidak suka melihat gadis yang dianggapnya memandang rendah padanya itu, tapi ia juga tidak senang bertempur melawan seorang anak perempuan. Ia merasa tidak ada harganya dan memalukan, tapi melihat sinar mata gadis itu ditujukan padanya dengan menghina, ia lalu melangkah setindak lagi ke depan dan berkata,

"Boleh, boleh. Kau hendak bertanding dengan tangan kosong atau senjata?"

Gadis muda yang berpakaian laki-laki dan bernama Siauw Leng itu tersenyum, dan tampaklah sebaris gigi yang putih dan rapi. "Kau bersikap seperti orang yang mau menang saja," katanya, "kulihat kau membawa-bawa pedang, mari kita bermain pedang." Ia lalu menghunus senjatanya yang ternyata adalah sebatang pedang yang berkilauan terkena cahaya bulan

Biarpun merasa gemas, mereka masih ingat akan sopan santun orang berpibu (beradu kepandaian) dan mereka bukanlah sedang berhadapan sebagai musuh hendak bertempur, oleh karena itu terlebih dulu mereka saling memberi hormat dengan menjura.

"Awas pedang." tiba-tiba gadis itu setelah menjura berseru nyaring dan pedangnya berkelebat membuka serangan yang cukup cepat. Ouwyang Bu cepat menangkis dan menggunakan tenaga sepenuhnya dengan maksud membuat pedang lawannya terpental dan membuat gentar hati gadis itu. Tapi si gadis bergerak gesit dan pedang yang hendak disabet lawan itu cepat ditarik mundur lalu diteruskan dalam serangan kedua yang lebih berbahaya. Diam-diam Ouwyang Bu terkejut juga melihat kegesitan dara ini, maka ia tidak mau berlaku sembrono dan bersilat lebih hati-hati. Ia sengaja menanti serangan-serangan lebih dulu untuk mengukur kepandaian gadis itu dan melihat sampai di mana kehebatannya.

Sementara itu, Ouwyang Bun dan Lie Eng berdiri tenang-tenang saja setelah memasukkan kembali pedang ke dalam sarung pedang masing-masing. Mereka lalu menonton pertempuran itu dengan hati tertarik karena ternyata bahwa gadis muda itu memiliki ilmu pedang yang hebat sekali.

Hal inipun terasa benar oleh Ouwyang Bu. Ia tadinya mempertahankan diri dengan tenang untuk mengukur kepandaian gadis itu, tapi alangkah herannya ketika melihat betapa ilmu pedang gadis itu luar biasa hebatnya. Terpaksa ia mengeluarkan seluruh kepandaiannya karena tiba-tiba ia teringat bahwa gadis muda ini adalah murid dari Sin-liong Ciu Pek In, seorang ahli pedang dan teringatlah ia akan penuturan susioknya bahwa Ciu Pek In memiliki kepandaian tunggal yang istimewa, yakni Sin-liong Kiam- sut (Ilmu Pedang Naga Sakti). Kalau begitu kiam-sut gadis inipun tentu Sin-liong Kiam-sut.

Ouwyang Bu lalu mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk mengalahkan lawannya. Oleh karena itu, maka sebentar saja keduanya bertempur hebat dan seru sekali. Keduanya saling mengeluarkan ilmu pedang yang hebat dan cepat gerakannya hingga merupakan dua gulung sinar pedang saling melibat dan membelit.

Dari permainan pedang kedua anak muda ini ternyata bahwa ilmu pedang gadis itu masih setingkat lebih tinggi dari ilmu Ouwyang Bu. Akan tetapi pemuda itu lebih matang latihannya dan juga lebih besar tenaganya. Ketika pertempuran sedang hebat-hebatnya, tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan suara kakek itu terdengar.

"Sudah cukup, sudah cukup." Siauw Leng segera meloncat mundur sedangkan Ouwyang Bu tiba-tiba merasa betapa pedangnya tertolak oleh tenaga yang besar dan kuat hingga hampir terlepas dari pegangannya. Maka terpaksa iapun meloncat mundur. Pemisah itu, yakni Ciu Pek In, tertawa dan berkata kepada muridnya,

"Betul tidak kata-kataku tadi? Kau baru berlatih pedang tiga tahun, mana dapat melawan murid dari Pat-jiu Lo- mo?"

Ouwyang Bu makin kaget dan heran mendengar bahwa gadis itu baru saja berlatih pedang tiga tahun, sedangkan ia yang sudah berlatih lebih dari delapan tahun masih juga belum dapat mengalahkan gadis itu. Maka diam-diam ia merasa khawatir, karena kalau sampai terjadi pertempuran, maka pihaknya tentu takkan mungkin menang.

Pada saat itu, gadis yang seorang lagi, yang agaknya kakak perempuan.dari Siauw Leng, juga berpakaian laki- laki, maju dan berkata kepada kakek itu, "Suhu, aku juga ingin sekali mengukur tenaga tamu-tamu kita."

"Kau sudah lebih lama belajar daripada adikmu, masih juga berlaku seperti kanak-kanak?" suhunya berkata sambil tertawa. Sementara itu, Lie Eng merasa penasaran dan maju sambil berkata,

"Kalau kau gatal tangan, marilah mencoba kepandaianku." ia menantang.

"Sumoi, jangan sembrono."

Siauw Keng, gadis yang berpakaian laki-laki yang kedua itu, hanya tersenyum dan memandang suhunya, seakan- akan meminta izin. Tapi Ciu Pek In berkata kepada Lie Eng,

"Cin-siocia, kita sudahi saja segala permainan berbahaya ini. Kita bukanlah musuh. Kalian bertiga dengarlah dan boleh sampaikan kepada Cin-ciangkun. Kami sama sekali tidak ingin bermusuhan dengan dia, bukan berarti kami takut kepadanya, tapi kami anggap Cin-ciangkun bukanlah musuh kami."

"Kalau tidak bermaksud menyerang markas kami, untuk apa kalian berkumpul di luar tembok besar ini?" Lie Eng memotong dengan suara keras.

Tertawalah Ciu Pek In mendengar kata-kata nona itu.

"Ha-ha. Ayahmu telah kena kami tipu dengan siasat kami. Memang tadinya pemimpin kami, Thio Sian Tiong yang namanya tentu telah kau dengar, berkumpul di sini dengan semua anggauta. Maka kaisar lalu mengerahkan tenaga ayahmu dan barisannya untuk mencegat di tembok besar hingga lima li panjangnya. Tapi apa kau-kira orang dapat menjaga sepanjang tembok yang laksaan li panjangnya ini? Thio-enghiong telah memimpin barisannya menerobos melalui tembok besar dari sebelah barat dan yang sekarang berada di sini hanyalah beberapa kaum tani dan kawan-kawan yang datangnya menggabungkan diri terlambat. Pada waktu ini, barisan Thio-enghiong telah masuk ke pedalaman dan entah telah menyerbu sampai di mana. Ha-ha-ha..”

Pucatlah muka Lie Eng mendengar ini. Ayahnya telah kena tipu. Mereka semua telah menjaga beberapa lama di tempat itu dengan sia-sia belaka.

"Kalau memang kami mengambil sikap bermusuhan, apakah kalian kira akan dapat keluar dari tempat ini?" Ciu Pek In kembali tertawa. Lie Eng mendengar semua ini lalu cepat membalikkan tubuh dan lari pulang, diikuti oleh Ouwyang Bu.

"Sumoi...... Bu-te...... Tunggulah sebentar." Tapi kedua anak muda itu terus lari cepat tanpa menoleh lagi. Ouwyang Bun ragu-ragu hendak menyusul pula, tapi tiba- tiba Ciu Pek In berkata kepadanya,

"Ouwyang-hengte, dengarlah kata-kataku sebentar. Kau adalah seorang muda yang panjang pikirannya dan cerdik, apakah masih juga belum dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah? Masih tidak percayakah kau bahwa perjuangan para pemberontak ini suci dan mulia?"

Dan tiba-tiba Ouwyang Bun mengurungkan niatnya untuk mengejar adik dan su-moinya.

"Bagaimana siauwte tidak merasa ragu dan bimbang? Memang kalau melihat lo-cianpwe dan saudara-saudara yang berada di sini, siauwte merasa tak percaya bahwa cuwi sekalian tergolong orang-orang yang jahat, perampok dan mengacau rakyat seperti yang sering kudengar dikatakan orang. Akan tetapi sebaliknya, apakah orang-orang seperti suhu, susiok bahkan ayahku sendiri dapat keliru dan salah?"

Ciu Pek In tertawa sebelum menjawab. "Aku tidak pernah mempersalahkan susiok-mu. Cin-ciangkun adalah seorang perwira dan perajurit dan memegang teguh tugas kewajibannya sebagai seorang perajurit sejati. Juga suhumu tak dapat dipersalahkan, karena selain orang tua itu selalu berada di atas gunung hingga tak pernah melihat keadaan dunia ramai dan tidak tahu pula kelaliman raja dan para pembesar korup, juga karena ia percaya penuh kepada sute- nya, yakni Cin-ciangkun, yang dianggapnya sedang bertugas membasmi segala gerombolan perampok jahat. Adapun tentang orang tuamu, yah, aku tak dapat memberi sambutan apa-apa terhadap pandangan seorang hartawan besar seperti ayahmu itu."

Diam-dfem Ouwyang Bun merasa heran sekali terhadap orang tua yang agaknya mengerti segala apa tentang dirinya dan guru serta orang tuanya.

"Anak muda, akupun tidak menyalahkan kau, karena kau masih hijau dan belum berpengalaman. Cobalah kau merantau dan lihatlah dunia dengan segala isinya ini sambil mempergunakan pertimbanganmu,   maka   kau   akan mengerti mengapa orang seperti kami sampai memberontak terhadap kaisar yang memegang pemerintahan pada masa ini."

Dengan hati bingung dan pikiran kacau, Ouwyang Bun akhirnya minta diri dan lari pulang ke markas Cin- ciangkun. Ternyata sumoinya yang sudah tidak tahan lagi pada malam itu juga pergi ke kamar ayahnya dan membangunkan orang tua ini lalu menceritakan pengalamannya.

Cin Cun Ong mendengar ini menjadi marah sekali dan ia berjalan hilir-mudik di dalam kamarnya sambil menggigit- gigit bibir dengan gemas.

"Kurang ajar. Pantas saja mereka tak pernah menyerang, tidak tahunya mengatur muslihat curang. Celaka, kita harus cepat-cepat mundur untuk menjaga serangan mereka di pedalaman."

Ketika Ouwyang Bun tiba di markas, ternyata panglima tua itu telah mengumpulkan semua perwira dan pemimpin pada malam hari itu juga.

"Besok pagi-pagi, di waktu fajar menyingsing, kita semua harus mundur dan berpencar menjadi lima. Sebagian harus tinggal di sini untuk tetap menjaga, kalau-kalau ada barisan pembantu pemberontak hendak lewat di sini. Aku sendiri pimpin barisan induk langsung menuju ke kota raja. Sisa barisan semua menuju ke barat dan bermarkas di kota See- bun, bersatu dengan kesatuan di bawah pimpinan Lu-ciang- kun. Jurusan barat itu harus diperkuat karena kuduga bahwa barisan pimpinan Thio Sian Tiong ini tentu hendak bergabung dengan sisa barisan Lie Cu Seng dari barat."

Setelah memberi instruksi secara cermat kepada semua perwira dan pemimpin regu, pertemuan lalu dibubarkan untuk memberi kesempatan kepada mereka bersiap dan berkemas. Cin Cun Ong lalu memanggil menghadap ketiga orang tua yang menjadi pembantunya itu, yakni Khu Ci Lok si Huncwe Maut dan kedua temannya.

"Sam-wi ketahui sendiri bahwa tugasku di sini gagal. Kalau memang sam-wi berniat membasmi kaum pemberontak, silakan menggabung dengan para pahlawan keraton yakni barisan Sayap Garuda atau Kuku Garuda. Dapat juga sam-wi bekerja sendiri, karena kini pemberontak telah masuk di pedalaman hingga di mana-mana mereka mungkin bergerak."

Kemudian panglima tua itu memberi bekal beberapa kantung emas dan perak kepada tiga orang itu sambil memberi petunjuk-petunjuk. Lalu ia panggil Ouwyang- hengte.

"Kalian berdua telah berjasa karena   dengan kenekatanmu keluar dari sini malam tadi dan telah membuka rahasia mereka. Kalian merasa bosan dan tidak senang karena di sini menganggur saja? Nah, di pedalaman akan terjadi banyak pertempuran dan kalian boleh membantu aku membasmi anggauta gerombolan itu sebanyak mungkin. Kita menuju ke kota raja." Ouwyang Bun berkata, "Susiok, kalau kiranya susiok mengijinkan, teecu ingin sekali meluaskan pengalaman dengan merantau, karena sejak turun gunung teecu terus langsung ke sini dan belum mendapat pengalaman. Maka, ijinkanlah teecu berdua menuju ke kota raja dengan jalan memutar dan biarlah teecu menjumpai susiok di kota raja dan menggabungkan diri di sana."

Cin Cun Ong tidak keberatan dan memberi pesan agar kedua murid keponakan itu berlaku hati-hati di sepanjang jalan.

Maka pada keesokan harinya berangkatlah semua orang memenuhi tugas masing-masing.

Berbeda dengan rombongan Cin-ciangkun yang menuju langsung ke selatan, Ouwyang-hengte memutar ke barat. Tapi ketika mereka melarikan kuda belum ada duapuluh li meninggalkan benteng itu, tiba-tiba dari belakang terdengar suara kaki kuda dilarikan dengan cepat dan ketika mereka menengok, ternyata yang mengejar mereka adalah Cin Lie Eng.

"Eh, sumoi, engkau menyusul kami?" terdengar Ouwyang Bu berseru girang sekali hingga kakaknya diam- diam memperhatikan adiknya ini, karena semenjak pergi tadi adiknya tampak tidak gembira, tapi kini tiba-tiba melihat sumoi itu lalu berobah menjadi girang sekali.

"Aku hendak ikut kalian merantau." jawab Lie Eng dengan muka merah karena tadi ia terlalu cepat melarikan kudanya.

"Sumoi, apakah hal ini sudah mendapat persetujuan ayahmu?" tanya Ouwyang Bun.

Lie Eng memandangnya dengan mata berseri. "Tentu saja, twa-suheng. Ayah juga menganggap ada baiknya aku mencari pengalaman, sekalian memata-matai keadaan dan gerakan lawan."

Ouwyang Bun tak dapat mengatakan ketidakcocokan hatinya terhadap sumoinya ini dan terpaksa menerimanya. Mereka bertiga lalu melanjutkan perjalanan dengan perlahan sambil mengobrol dan melihat-lihat pemandangan di sepanjang jalan.

Di sepanjang jalan, dengan diam-diam Ouwyang Bun memperhatikan keadaan rakyat dan keadaan kampung- kampung serta kota-kota. Sedikit demi sedikit terbukalah matanya terhadap kenyataan yang pahit dan menyakitkan hati. Memang, semenjak pertemuannya dengan Ciu Pek In, dalam hatinya timbul keraguan akan kesucian tugas yang sedang dijalankan oleh susioknya. Dalam pandangannya, Ciu Pek In tampak begitu gagah dan budiman, sedangkan kedua nona yang menjadi murid Ciu Pek In tampak begitu cantik dan gagah. Orang-orang macam itukah yang harus dibasmi?

Ia kini melihat betapa semua sawah ladang yang berada di bumi Tiongkok sebagian besar dimiliki oleh beberapa gelintir orang saja, pertama-tama oleh para pembesar negeri, dari lurah sampai yang berpangkat tinggi, kedua oleh para hartawan yang seakan-akan menjadi raja kecil di kampung-kampung.

0o-dw-o0

Pada suatu hari mereka bertiga masuk ke dalam sebuah kampung yang cukup besar dan ramai. Ketika tiba di sebuah jembatan, terpaksa mereka hentikan kuda mereka karena jembatan itu penuh dengan orang-orang. kampung yang sedang mengelilingi seorang laki-laki tua yang sedang menangis. Mereka memegangi kedua lengan orang tua itu dan membujuk-bujuk-nya. Ouwyang Bun segera meloncat turun dari kuda dan bertanya kepada seorang di antara mereka, ?

"Eh, laoko, apakah yang terjadi di sini?"

Orang itu menengok dan ketika melihat Ouwyang Bun dan kedua kawannya ber pakaian sebagai orang-orang gagah berpedang, segera memberi hormat dan berkata perlahan,

"Siapa lagi kalau bukan seorang daripada pembesar- pembesar busuk yang menyusahkan kehidupan kami? Sekarang yang menjadi korban adalah empek she Lim ini. Ia adalah penduduk kampung ini semenjak mudanya, hidup sebagai petani miskin. Tapi ia cukup beruntung karena anak perempuannya telah kawin dengan seorang pemuda tani yang pandai bekerja hingga penghidupan empek ini dan anaknya terjamin. Empek Lim demikian senang melihat keadaan anaknya yang telah kawin dengan baik-baik hingga ia ingin menyatakan terima kasihnya kepada Yang Mahakuasa maka diajaknya anak dan mantunya pergi ke kota Lam-ciu untuk bersembahyang di kelenteng. Tapi tiba- tiba datang malapetaka menimpanya. Di dalam kota, anak perempuannya terlihat oleh tikwan kota Lam-ciu yang terkenal mata keranjang, hingga pembesar itu mengucapkan kata-kata yang menghina dan memalukan anak perempuan empek Lim itu. Tentu saja anaknya menjadi marah dan melawannya. Tikwan itu lalu bertindak dan anak mantu empek Lim ditangkap dengan tuduhan yang telah men bosankan kami."

"Tuduhan apa?" Ouwyang Bun bertanya penasaran, sementara itu, Ouwyang Bu dan Lie Eng juga sudah mendekat dan mendengarkan.

0oo-d-w-oo0