-->

Rajawali Lembah Huai Jilid 13 (Tamat)

Jilid 13 (Tamat)

Cu Goan Ciang dan Shu Ta lalu mengatur rencana siasat mereka untuk menyerbu kota Nan- king! Hampir semalam suntuk mereka bicara dan mengatur siasat. Kemudian Shu Ta tidur di tenda suhengnya.

Pada keesokan harinya, barulah dia mendapat kesempatan untuk menemui Mimi seperti yang telah direncanakan bersama suhengnya semalam. Dia akan berterus terang kepada Mimi, tentang segalanya, tentang dirinya! Memang terdapat bahaya besar baginya, bahaya bahwa gadis itu akan marah dan membencinya, akan tetapi dia harus bersikap jujur dalam cintanya. Hanya ada dua pilihan baginya. Mencinta dan dicinta dengan sejujurnya, atau kehilangan gadis yang dicintanya, yang akan berubah membencinya. Sebagai seorang jantan dia harus berani menghadapi segala akibatnya, baik maupun buruk, menyenangkan maupun menyusahkan.

Shu Ta keluar dari tenda setelah mandi dan dengan perasaan tegang namun tubuh terasa segar dia pergi ke lapangan rumput, karena Cu Goan Ciang mengatakan bahwa sepagi itu biasanya Bouw Siocia bersama Tang Hui Yen sedang berlatih silat di sana.

Ketika dia tiba di lapangan rumput itu, benar saja dia melihat dua orang gadis sedang berlatih silat tangan kosong. Yang seorang adalah Mimi yang nampak sehat, cantik jelita dan berseri wajahnya, sedangkan lawannya adalah seorang gadis yang satu dua tahun lebih tua dari Mimi, gadis yang tinggi ramping, manis sekali dengan sinar mata tajam dan mulut yang manis terhias senyum dia melihat bahwa gerakan gadis yang menjadi lawan Mimi itu amat tangkas sehingga ia mampu menandingi Mimi dan latihan itu berlangsung seru dan cepat. Dan dia melihat pula seorang kakek yang bajunya berkembang penuh tambalan, rambutnya sudah putih semua dan dibiarkan riap-riapan. Dia pernah mendengar tokoh seperti itu dan dapat menduga bahwa tentu kakek ini yang berjuluk Pek Mau Lokai (Pengemis Tua Rambut Putih) yang menjadi guru kedua dari suhengnya. Dan kakek itu memang sedang memberi petunjuk kepada Mimi dengan seruan-seruannya. Shu Ta melangkah maju sampai dekat dan kedua orang gadis itu melompat mundur, menghentikan latihan mereka dan memandang kepada Shu Ta. Begitu melihat siapa pemuda yang berdiri di situ, sepasang mata Mimi terbelalak dan ia kelihatan terkejut bukan main.

“Kau...? Kau... di sini...??” Akan tetapi cepat ia sudah melompat dan berdiri di depan Shu Ta seperti melindungi dan ia sudah mencabut pedangnya, memandang kepada Pek Mau Lokai dan Tang Hui Yen.

“Enci Yen, lo-cian-pwe, kalau kalian mengganggunya, terpaksa aku melupakan persahabatan kita dan akan melawan mati-matian!”

Pek Mau Lokai dan Tang Hui Yen yang sudah mendengar akan kehadiran Panglima Shu Ta di situ, yang semalam melakukan perundingan rahasia dengan para pimpinan perkumpulan

Beng-pai, tertawa, bahkan Pek Mau Lokai tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha, sikapmu itu saja sudah membuka rahasia hatimu, Bouw Siocia. Ha-ha-ha!” Pek Mau Lokai lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu.

“Adik Mimi, jangan khawatir, kami tidak akan berani mengganggu Shu-Ciangkun. Aku pergi dulu agar kalian dapat bicara dengan leluasa.” Setelah berkata demikian, Yen Yen juga pergi meninggalkan mereka.

Kalau tadi Mimi terkejut melihat munculnya Shu Ta secara tiba-tiba, kini ia semakin terheran- heran melihat sikap Pek Mau Lokai dan Tang Hui Yen. Sementara itu Shu Ta merasa jantungnya berdebar ketika melihat sikap Mimi yang tadi melindunginya seperti seekor singa betina melindungi anaknya dari ancaman bahaya.

Kini mereka saling pandang. “Shu-Ciangkun, bagaimana engkau dapat berada di sini?” kata Mimi, suaranya berbisik karena ia tidak ingin pembicaraan mereka di dengar orang lain dan iapun memandang ke sekeliling dengan sikap khawatir sekali.

“Aku memang sengaja datang untuk mencarimu, nona.”

“Tapi... kita berada di tengah-tengah musuh! Tempat ini adalah pusat pasukan pemberontak yang dipimpin Beng-cu Cu Goan Ciang! Cepat engkau pergi dari sini sebelum terlambat...”

“Tenanglah, nona, dan mari kita bicara dengan sabar. Ada yang perlu kuberitahukan kepadamu dan kuharap engkau tidak akan terlalu terkejut mendengarnya. Mari kita duduk di sana.” Dia menunjuk ke arah sebuah bangku panjang tak jauh dari lapangan rumput itu.

Biarpun tempat itu terkepung tenda-tenda yang amat banyak, namun tidak nampak ada orang memperhatikan mereka dan Shu Ta mengerti bahwa hal ini memang sudah diatur oleh suhengnya. Mereka lalu duduk berdampingan dan Mimi masih nampak gelisah dan bingung.

“Ciangkun, apa artinya semua ini? Tidak tahukah engkau bahwa aku menjadi seorang tawanan di sini? Bagaimana engkau dapat masuk ke sini tanpa terganggu? Kalau mereka tahu engkau seorang panglima di Nan-king, tentu...”

“Tenanglah, nona. Sebelum aku menjelaskan semuanya, lebih dulu aku ingin mengetahui keadaanmu. Bagaimana keadaanmu di sini? Apakah engkau diperlakukan buruk oleh mereka?” Dua pasang mata bertemu dan melihat pandang mata penuh kesungguhan dan penuh selidik dari panglima itu, Mimi menggeleng kepala.

“Tidak, Ciangkun. Mereka memperlakukan aku dengan baik sekali, aku dianggap sebagai seorang tamu agung, bahkan mereka bersikap manis dan bersahabat, terutama Pek Mau Lokai yang mengajarkan jurus-jurus silat yang ampuh dan juga enci Tang Hui Yen amat baik kepadaku. Akan tetapi kau...”

“Nanti dulu, nona. Aku girang mendengar engkau diperlakukan dengan baik, dan sekarang, katakanlah sejujurnya, bagaimana pendapatmu tentang Beng-cu dan para pemimpin pasukan pejuang yang bernama Beng-pai ini?”

Gadis itu termenung. Semenjak ia berada di tengah-tengah para pemberontak, ia memang merasa terheran-heran dan kagum. Para pimpinan pemberontak itu, terutama sekali Cu Goan Ciang, Pek Mau Lokai, Tang Hui Yen dan para pembantu mereka, adalah orang-orang gagah perkasa yang lebih pantas dinamakan pendekar dari pada pemberontak! Yang amat mengesankan hatinya adalah ketika lima orang anggota melakukan pelanggaran, memperkosa dua orang gadis dusun di kaki bukit dan mereka ditangkap lalu dihukum mati oleh Beng-cu Cu Goan Ciang! Hal ini mengingatkan ia akan tingkah laku banyak prajurit kerajaan yang suka berbuat semena-mena, suka mengganggu rakyat, mengganggu wanita, dan mereka itu dibiarkan saja oleh komandan mereka. Ternyata mereka yang disebut pemberontak ini lebih berdisiplin, lebih tertib dan taat. Ia kagum sekali dan mulai merasa betah di situ, apa lagi setelah ia akrab dengan Hui Yen.

“Bagaimana, ya?” Ia termangu. “Para pimpinan pemberontak ini bersikap sebagai pendekar yang mengagumkan, Ciangkun, akan tetapi bagaimanapun juga mereka adalah pemberontak yang ingin memberontak terhadap pemerintah.”

“Memang begitulah, nona. Mereka adalah pendekar-pendekar, dan mungkin kita menyebut mereka pemberontak, pemerintah menganggap mereka pemberontak, akan tetapi rakyat jelata menganggap mereka itu pejuan-pejuang, pahlawan dan patriot yang hendak membebaskan tanah air dan rakyat dari penjajah Mongol.

“Ciangkun...!!” Mimi terbelalak dan memandang pemuda itu dengan wajah pucat.

“Aku tahu benar bahwa engkau seorang gadis yang berbudi dan gagah perkasa, nona. Karena itu, aku berani berterus terang kepadamu. Bagaimana kita dapat mengatakan para pimpinan pejuang ini sebagai orang-orang jahat? Mereka melihat kesengsaraan rakyat, melihat betapa bangsa mereka terjajah oleh bangsa Mongol, dan mereka kini bertekad untuk membebaskan bangsa dari penjajahan. Bukahkah hal itu sudah sewajarnya, sepantasnya dan mereka itu tidak dapat dibilang jahat, bahkan sebaliknya, mereka itu pendekar-pendekar sejati?”

“Tapi... tapi engkau sendiri... engkau menjadi seorang panglima muda, wakil Yauw- Ciangkun, panglima Nan-king! Bagaimana engkau dapat masuk ke sini dan... apa maksudmu dengan menemui aku dan menceritakan ini semua kepadaku?”

“Inilah saatnya aku membuat pengakuan, nona. Aku adalah seorang di antara mereka, bahkan Beng-cu Cu Goan Ciang adalah suhengku. Aku sengaja menyusup ke Nan-king menjadi panglima untuk mempelajari keadaan kekuatan pasukan di Nan-king...”

Kembali gadis itu terbelalak, bangkit berdiri dan telunjuknya menuding ke arah muka pemuda itu. “Jadi kau... kau... pemberontak?”

Shu Ta tersenyum. “Ingat, nona, bukan pemberontak, melainkan pejuang, seperti para pimpinan Beng-pai di sini.”

“Kalau begitu kau... kau telah menipu kami, menipu aku...”

“Tidak, nona. Memang tugasku menyelundup ke Nan-king untuk membantu suheng Cu Goan Ciang, akan tetapi ini merupakan urusan perjuangan, bukan urusan pribadi dan aku tidak pernah menipumu.”

“Tapi... engkau anggota pemberontak dan aku tawanan kalian. Lalu, apa yang akan kaulakukan dengan datang ke sini? Menghukum aku, gadis penjajah Mongol, penindas rakyat?” Mimi kelihatan marah sekali.

“Nona, harap jangan salah sangka. Kami mempunyai pandangan lain terhadap dirimu. Kalau kami menganggap nona seorang yang jahat, tentu nona tidak akan diperlakukan dengan baik seperti yang kauakui sendiri tadi. Dan aku datang untuk menyaksikan sendiri bahwa nona diperlakukan dengan baik.

“Akan tetapi kenapa? Bukankah engkau pemberontak dan aku puteri Menteri Bayan, bukankah aku ini musuhmu yang pantas kaubunuh?” “Tidak, nona. Aku mau mengorbankan apa saja, bahkan nyawaku, demi perjuangan membebaskan bangsa dari cengkeraman penjajah, akan tetapi aku tidak mau mengorbankan engkau, aku tidak rela melihat engkau diganggu siapapun. Bahkan suhengku sendiri, mungkin akan kujadikan musuh kalau dia mengganggumu!”

Pandang mata gadis itu menjadi bingung, ada marah, ada terkejut, heran dan bimbang. “Tapi... tapi kenapa? Engkau sungguh aneh... sungguh aku tidak mengerti. Engkau pemberontak, memusuhi pemerintah, memusuhi bangsa Mongol, akan tetapi engkau membelaku, kenapa?”

“Nona, ketahuilah bahwa yang kami musuhi adalah penjajah, bangsa apapun adanya penjajah itu pasti akan dimusuhi rakyat yang dijajah. Bukan bangsa Mongol, bukan bangsanya yang kami tentang, melainkan penjajahannya. Dan kalau aku membelamu lebih dari segalanya adalah karena aku... aku cinta padamu, nona Mimi.”

“Ahhh...!” Mimi menjatuhkan diri di atas bangku, bingung dan kedua pipinya berubah merah. Diam-diam ia memang amat mengagumi Shu Ta, dan akan mudahlah baginya untuk jatuh cinta kepada panglima muda itu. Akan tetapi sekarang, ternyata panglima muda itu adalah seorang pemimpin pemberontak!

“Maafkan aku, nona. Bukan sepantasnya dan tidak pada saatnya yang tepat aku mengaku cinta padamu, akan tetapi aku ingin engkau mengetahui isi hatiku padamu, dalam kesempatan ini. Siapa tahu, kesempatan ini yang terakhir kalinya kita saling jumpa...”

“Ciangkun... ah, engkau bukan panglima lagi, tidak semestinya aku menyebutmu Ciangkun. Shu Ta, setelah ternyata kita berhadapan sebagai musuh, lalu apa yang kauhendak lakukan terhadap diriku?”

Bukan main pedihnya hati Shu Ta mendengar pertanyaan itu, akan tetapi dia menguatkan hatinya. “Nona Mimi, untuk sementara ini engkau tetap menjadi tamu agung di sini. Pasukan kami akan menyerbu Nan-king dan kalau kami sudah berhasil menduduki Nan-king, barulah nona kami beri kebebasan. Nona boleh pergi ke manapun nona kehendaki.” Ucapannya terdengar penuh kesedihan.

“Dan engkau akan membunuhi kakakku, keluargaku, dan semua pejabat di Nan-king?”

“Nona, aku pribadi tidak akan membunuh siapapun, tidak akan membenci siapapun. Yang kami musuhi adalah penjajah, bukan perorangan dan kalau aku tewas, atau siapapun, yang membela penjajah tewas, hal itu adalah sebagai korban perang belaka, bukan permusuhan pribadi. Nah, selamat tinggal, nona, aku harus melaksanakan tugasku, mudah-mudahan kita dapat saling bertemu lagi dalam keadaan selamat dan dalam suasana yang lebih menyenangkan.” Shu Ta memberi hormat dan membalikkan tubuh hendak pergi.

“Shu Ta...!”

Shu Ta berhenti dan membalikkan tubuh mendengar panggilan gadis itu. Mimi telah berdiri di depannya, wajahnya pucat akan tetapi gadis itu tidak menangis, bahkan berdir dengan sikap tegak dan gagah. “Sebelum engkau pergi, kau jawablah pertanyaanku dulu.”

“Tanyalah, nona.” “Coba kaujawab, apa hubungan diriku dengan penjajahan? Salahkah kalau aku terlahir di dunia sebagai puteri ayahku? Sebelum aku lahir, ayah telah menjadi menteri kerajaan Mongol! Salahkah kalau aku dilahirkan sebagai gadis Mongol? Aku tidak minta dilahirkan sebagai sekarang ini! Nah, jawablah!”

Tentu saja Shu Ta tertegun, sukar untuk menjawab, lalu dia menguatkan hatinya untuk menjawab, “Tidak ada yang menyalahkanmu, nona. Aku dijadikan seperti aku dan engkau dijadikan seperti engkau, kita tidak bersalah karena ini merupakan takdir, kehendak Tuhan. Salah tidaknya kita ini ditentukan oleh tindakan kita, bukan oleh kelahiran kita.”

“Hemm, kalau begitu, apakah engkau akan membenarkan tindakanku kalau aku mengkhianati bangsaku, mengkhianati ayahku sendiri dengan menentang kerajaan Mongol di mana ayahku menjadi menteri? Hayo jawab, apakah engkau menganggap benar kalau aku menjadi pengkhianat bangsaku?”

“Nanti dulu, nona. Andai kata, engkau menjadi aku, lalu membantu penjajah untuk ikut menindas bangsa pribumi, itu baru pengkhianatan namanua. Akan tetapi, engkau tahu bahwa bangsa Mongol melakukan penjajahan, tindakan yang amat tidak baik. Kalau engkau tidak membantu penjajahan, bukan berarti engkau mengkhianati bangsamu. Andai kata ayah kita melakukan perbuatan jahat, mencuri misalnya, apakah kita juga harus ikut mencuri san akan dianggap pengkhianat kalau tidak ikut mencuri? Kuharap keterangan ini jelas bagimu.

Terserah kepadamu, nona. Kalau kami sudah menduduki Nan-king, kami pasti akan membebaskanmu, dan terserah apakah nona akan membantu pemerintah untuk menentang kami.”

“Hemm, aku memang sudah tidak senang melihat penjajahan dilakukan bangsaku, akan tetapi apakah aku harus membantu kalian menentang bangsa dan ayahku sendiri?”

“Memang engkau berada dalam kedudukan yang serba salah, nona. Engkau berada di pihak yang salah akan tetapi engkau menyadari kesalahan itu. Kalau ayah kita menjadi pencuri dan kita menyadari perbuatan itu tidak benar, kita tidak perlu ikut-ikutan mencuri. Akan tetapi juga amat berlawanan dengan nurani kalau kita ikut menangkap ayah kita sendiri. Yang paling tepat adalah menasihati ayah kita agar jangan lagi mencuri atau kalau hal itu tidak mungkih, yah... kalau... aku, aku akan tinggal diam saja.”

Mimi menundukkan mukanya. “Aku akan merenungkan jawaban-jawabanmu tadi, Shu Ta. Selamat berpisah.”

Shu Ta merasa lega sekali. Bagaimanapun juga, dia telah menyatakan cintanya, dan dia telah memberi pengarahan kepada gadis itu. Dia tidak akan menyalahkan Mimi andai kata kelak Mimi membantu pemerintah dan memusuhi para pejuang. Itu adalah haknya. Tentu saja dia mengharapkan tidak akan terjadi hal itu.

Jantung Shu Ta berdebar keras penuh ketegangan ketika dia kembali ke Nan-king bersama empat orang pembantunya menghadap Yauw-Ciangkun dan di situ hadir pula Menteri Bayan! Ternyata baru kemarin Menteri Bayan dan dua ratus orang prajuritnya tiba di Nan-king dan di marah bukan main mendengar dari puteranya, Bouw Ku Cin bahwa puterinya, Mimi diculik oleh seorang tokoh sesat bernama Tay-lek Kwi-ong! Dia memerintahkan untuk segera menyebar penyelidik mencari puterinya yang terculik, akan tetapi Yauw-Ciangkun segera memberitahukan bahwa pembantunya yang paling dapat diandalkan, yaitu Panglima Muda Shu Ta, sedang melakukan penyelidikan sendiri. Terpaksa Menteri Bayan menahan hatinya yang gelisah dan menanti kembalinya panglima itu.

Begitu Panglima Shu Ta menghadap, Menteri Bayan segera membentaknya dengan marah. “Di mana puteriku? Bagaimana sih kerjanya pasukan keamanan di Nan-king sehingga puteriku sampai diculik orang? Akan kuhukum semua perwira keamanan kalau sampai puteriku tidak dapat ditemukan!”

Shu Ta lalu berkata, “Harap paduka menenangkan hati, Taijin. Kami berlima sudah melakukan penyelidikan dan ternyata Bouw Siocia menjadi tawanan dari pasukan Beng-pai yang dipimpin oleh Cu Goan Ciang.”

“Brakkk!!” Menteri Bayan menggebrak meja di depannya, matanya mendelik marah-marah. “Si jahanam Cu Goan Ciang, pemberontak keparat itu! Yauw-Ciangkun, kerahkan seluruh pasukan. Kita serbu sekarang juga sarang gerombolan pemberontak itu! Kerahkan saja sepasukan pilihan. Tidak akan sukar menghancurkan gerombolan liar itu.”

“Maaf, Taijin,” kata Shu Ta. “Saya kira paduka terlalu meremehkan keadaan gerombolan pemberontak itu. Kami berlima sudah melakukan penyelidikan dengan seksama. Sarang mereka teramat kuat sehingga tidak mungkin bagi kami untuk dapat menyusup masuk dan menyelamatkan Bouw Siocia. Hanya kami berhasil membekuk seorang anggota gerombolan dan mendengar darinya bahwa Bouw Siocia dalam keadaan selamat dan sehat, dan dijadikan sandera penting maka diperlakukan sebagai tamu. Dan hendaknya paduka ketahui bahwa kekuatan gerombolan itu sekarang teramat besar. Tidak kurang dari empat puluh ribu orang jumlah anggota mereka, semua terlatih sebagai prajurit.”

“Ahhh...!!” Yauw-Ciangkun dan Menteri Bayan berseru kaget. Sama sekali tidak pernah mereka mengira bahwa kekuatan para pemberontak sedemikian besarnya. “Begitu banyakkah mereka?” tanya Yauw-Ciangkun. “Akan tetapi hal itu saya kira tidak perlu dikhawatirkan.

Kalau Yauw-Ciangkun mengerahkan semua pasukan untuk menumpas mereka, saya yakin hal itu tidaklah begitu sukar. Selain jumlah pasukan kita berimbang, bahkan bisa lebih banyak, jutaan laskar rakyat itu tentu tidak terlatih dan begitu diserbu mereka tentu akan lari cerai- berai. Saya akan memimpin pasukan khusus saya untuk menjaga kota selama Ciangkun melaksanakan pembasmian itu.”

“Aku setuju akan usul Shu-Ciangkun itu. Aku sendiri akan ikut memimpin pasukan karena ini menyangkut pula keselamatan puteriku!”

Yauw-Ciangkun mengerutkan alisnya. “Ada satu hal yang membuat saya ragu dan risau, Yang Mulia.”

“Apa lagi yang harus diragukan? Kita harus membasmi habis gerombolan pemberontak itu, kalau dibiarkan mereka menghimpun pasukan sampai berjumlah besar sekali, akan membahayakan negara.”

“Yang saya risaukan adalah puteri Yang Mulia masih berada di tangan mereka. Bagaimana kalau mereka mempergunakan Bouw Siocia sebagai sandera dan mengancam akan membunuhnya kalau kita melakukan penyerbuan?” “Ahhh...” Mendengar ini, wajah Menteri Bayan berubah dan diapun termenung. Dia amat menyayangi puterinya itu dan membayangkan puterinya akan disiksa dan dibunuh sebagai sandera kalau pasukan pemerintah menyerbu, dia menjadi ngeri dan gelisah. “Lalu, bagaimana baiknya...?”

Yauw-Ciangkun juga merasa bingung. “Agaknya mereka itu sengaja menculik Bouw Siocia dengan maksud menawannya sebagai sandera untuk menjamin agar pasukan kita tidak menyerang mereka,” katanya.

“Apa yang dikatakan Yauw-Ciangkun memang benar. Saya kira, satu-satunya jalan adalah membebaskan Bouw Siocia dari sana!” kata Shu Ta.

“Akan tetapi, bukankah engkau mengatakan sendiri bahwa kekuatan mereka amat besar dan kedudukan mereka seperti benteng. Bagaimana mungkin membebaskan Bouw Siocia begitu saja!” Yauw-Ciangkun mencela.

“Saya sendiri yang akan membebaskannya!” kata Shu Ta dengan sikap gagah.

“Akan tetapi, pekerjaan itu berbahaya sekali!” kata Yauw-Ciangkun yang mengkhawatirkan keselamatan pembantunya.

“Demi keselamatan Bouw Siocia, saya bersedia mempertaruhkan nyawa!” kata pula Shu Ta dengan sikap gagah dan memang ketika mengucapkan kata-kata ini, dia bersungguh-sungguh.

“Terima kasih, Shu-Ciangkun!” kata Menteri Bayan dengan girang. “Akan tetapi bagaimana mungkin engkau dapat membebaskan Mimi? Kalau sampai engkau gagal dan tertawan pula, keadaan kita menjadi semakin rugi.”

“Harap, paduka tenang, Yang Mulia. Sesungguhnya, diam-diam saya sudah menyelundupkan beberapa orang pembantu saya untuk menyusup sebagai laskar rakyat sukarela. Dengan bantuan mereka, saya kira akan dapat membebaskan Bouw Siocia.”

“Bagus! Kalau begitu, laksanakan, akan tetapi jaga jangan sampai engkau sendiri tertawan, Shu-Ciangkun,” kata Yauw-Ciangkun.

“Sebaiknya, Yauw-Ciangkun tetap memimpin pasukan besar untuk mengepung perbukitan itu sementara saya berusaha membebaskan Bouw Siocia. Jangan menyerang dulu sebelum ada tanda dari saya. Kalau saya sudah berhasil membebaskannya, saya akan memberi tanda dengan anak panah api sebanyak tiga kali.”

Yauw-Ciangkun dan Menteri Bayan setuju. Mereka menyusun rencana siasat dan pada hari itu juga, Yauw-Ciangkun mengumpulkan semua perwira dan memerintahkan agar seluruh pasukan dipersiapkan untuk menyerbu perbukitan di Lembah Sungai Huai yang menjadi sarang gerombolan perampokan ini. Shu Ta sendiri secara rahasia telah mengumpulkan para pembantunya dan mengatur siasat sesuai dengan rencana yang telah diaturnya bersama Cu Goan Ciang. Pasukan di bawah pimpinannya yang berjumlah seribu lima ratus orang, terdiri dari orang-orang Han bercampur suku lain, akan tetapi tidak ada seorangpun prajurit bangsa Mongol, dipersiapkan untuk menjaga benteng kota Nan-king selama pasukan besar dipimpin Yauw-Ciangkun mengadakan pembersihan terhadap gerombolan pemberontak di lembah Huai.

Shu Ta sendiri mendahului pergi dengan pakaian samaran untuk melaksanakan tugas yang dianggap amat penting dan berat oleh semua orang, yaitu mencoba untuk membebaskan Bouw Siocia sebelum pasukan pemerintah menyerbu sarang pemberontak.

Tentu saja bagi Shu Ta sendiri, tugas itu sama sekali tidak berbahaya. Seperti biasa, dia mengirim penghubung terlebih dahulu sehingga ketika dia tiba di tepi sungai Huai, dia telah dijemput oleh seorang pendayung perahu dan segera perahu didayung ke tengah sungai sehingga Shu Ta yakin bahwa tidak ada yang membayanginya. Tentu saja Cu Goan Ciang terkejut melihat sutenya datang berkunjung, karena hal ini tidak ada dalam rencana mereka.

Akan tetapi ketika dia mendengar penjelasan Shu Ta tentang niatnya untuk lebih dulu membawa Bouw Siocia ke Nan-king agar menambah kepercayaan Menteri Bayan, diapun mengerti.

“Baiklah kalau begitu, bawa ia pergi dan besok pagi-pagi kau beri tanda anak panah api itu agar mereka menyerang. Kami sudah siap menjebak mereka dan memancing mereka melakukan pengejaran melalui lorong tebing bukit itu,” katanya.

Shu Ta malam itu juga menemui Bouw Mimi yang tercengang melihat munculnya panglima itu. “Mau apa lagi engkau datang menemuiku?” tanya Mimi dengan pandang mata sayu dan wajah muram. “Engkau membuat aku bingung dan merasa berdosa.”

Shu Ta tidak menyalahkan gadis itu. Dia dapat menyelami perasaan hatinya. Bagiamanapun juga, Mimi adalah puteri seorang menteri bangsa Mongol. Biarpun gadis itu berwatak pendekar dan dapat mengerti mengapa bangsa pribumi yang dijajah itu kini memberontak dan memperjuangkan kemerdekaan, namun sebagai seorang gadis Mongol, tentu saja ia merasa berdosa kepada orang tuanya dan berkhianat terhadap bangsanya.

“Maafkan kami, nona. Demi perjuangan, terpaksa sekali Beng-cu menjadikan engkau tawanan. Nona tempat ini akan menjadi medan pertempuran, oleh karena itu, aku sengaja datang untuk menjemputmu malam ini juga. Kita harus cepat meninggalkan tempat ini, malam ini juga.”

“Kalau aku tidak mau?”

“Tempat ini akan menjadi medan pertempuran, engkau dapat terbunuh.” “Aku tidak takut!”

“Akan tetapi, nona. Ini perintah Beng-cu. Dari pada engkau dibawa pergi sebagai tawanan, bukankah lebih baik pergi bersamaku? Engkau tahu, di antara para anggota pasukan Beng-pai terdapat banyak orang kang-ouw, dan dalam keadaan pertempuran, tentu para pimpinan tidak akan dapat melindungimu kalau ada di antara orang kang-ouw itu yang mengganggumu.

Bagaimanapun juga, mereka itu menganggap engkau musuh karena engkau puteri menteri kerajaan Mongol.”

“Lalu, engkau hendak membawaku pergi ke mana?” tanya Mimi, masih ketus. “Aku hendak membawamu kembali ke Nan-king, nona.”

Gadis itu terbelalak. “Gilakah engkau? Setelah tiba di sana, aku menceritakan semua kepada Yauw-Ciangkun dan engkau akan ditangkap sebagai seorang pengkhianat dan pemberontak!”

Shu Ta tersenyum dan menggerakkan pundaknya seperti orang yang acuh.

“Kalau memang sudah begitu jadinya, itu sudah nasibku. Marilah, nona jangan sampai kita terlambat.”

Karena mendengar akan diajak kembali ke Nan-king, tentu saja Mimi tidak merasa keberatan. Ia merasa heran bagaimana pemuda ini demikian mudahnya mengajak ia pergi, dan iapun heran mengapa Yen Yen dan yang lain-lain tidak nampak. Bahkan Shu Ta tidak mendapatkan halangan apapun ketika mengajak ia keluar dari perkampungan pemberontak yang kelihatan sunyi itu. Pintu gerbangpun tidak nampak ada penjaga seolah tempat itu telah ditinggalkan tanpa ia mengetahuinya.

Karena malam itu gelap atau penglihatan hanya remang-remang saja karena penerangan yang ada hanya dari bintang-bintang di langit, maka Shu Ta dan Mimi dengan hati-hati sekali menuruni bukit itu. Karena itu, jauh lewat tengah malam, menjelang pagi, mereka baru sampai di kaki bukit dengan selamat. Shu Ta mengajak gadis itu menuju ke tepi sungai Huai dan di situ telah tersedia sebuah perahu kecil.

“Kita melanjutkan perjalanan dengan perahu ini, nona. Akan tetapi sebelumnya, saya harus melaksanakan tugas lebih dulu.” Mimi yang kelelahan hanya memandang dan ia semakin terheran-heran melihat pemuda itu mengeluarkan gendewa kecil dan tiga batang anak panah api. Tiga kali berturut-turut Shu Ta melepaskan anak panah api ke udara. Nampak anak panah api meluncur tinggi ke atas sampai tiga kali dan akan nampak jelas dari tempat jauh seperti bintang beralih tempat.

“Apa artinya itu? Atau, sebagai tawanan, aku tidak boleh bertanya?”

“Tentu saja engkau boleh mengetahuinya, nona. Tiga batang anak panah api itu merupakan isarat bagi pasukan yang dipimpin Yauw-Ciangkun untuk menyerbu sarang gerombolan pemberontak seperti yang telah kami rencanakan.”

Sepasang mata itu terbelalak. “Ehhh? Apa pula artinya ini, Ciangkun? Sebetulnya engkau berpihak manakah? Tadinya kusangka engkau mengkhianati pemerintah dan berpihak kepada pemberontak, sekarang engkau seperti mengkhianati teman-temanmu seperjuangan dan berpihak kepada pemerintah. Mana yang benar?”

“Nona, bukankah pernah engkau mengatakan bahwa engkau tidak menyukai urusan permusuhan dan perang? Sudahlah, tidak perlu nona memusingkan urusanku. Beginilah kenyataan perjuangan itu. Mari kita lanjutkan perjalanan kita ke Nan-king dan di sana engkau akan mengetahui segalanya. Kalau engkau hendak melaporkan aku dan aku ditangkap, dihukum, akupun tidak akan menyalahkanmu.”

Mimi menatap wajah panglima muda itu dalam keremangan subuh. Dalam ucapan itu terkandung penyerahan yang menunjukkan perasaan pemuda itu kepadanya. “Ciangkun, andai kata engkau berpihak kepada pemerintah, tentu aku tidak dapat melaporkan apapun. Sebaliknya, andai kata engkau berpihak kepada para pejuang... agaknya sukar bagiku untuk melaporkanmu. Setelah aku berada di antara mereka selama beberapa hari ini, harus kuakui bahwa para pejuan itu tidak bersalah. Kalian memang berhak memperjuangkan kemerdekaan. Aku tidak tahu harus berbuat apa...”

Bukan main gembiranya rasa hati Shu Ta mendengar ini. “Nona Mimi, engkau memang seorang gadis yang bijaksana dan baik budi...”

Pada saat itu, Shu Ta dan Mimi terkejut melihat berkelebatnya lima bayangan orang dan di depan mereka telah muncul lima orang laki-laki yang usianya antara tiga puluh sampai empat puluh tahun. Tubuh mereka itu rata-rata tinggi besar dan nampak kuat, dan di pinggang mereka terdapat pedang, sikap mereka gagah, angkuh dan mengancam. Shu Ta menduga bahwa mereka tentulah orang-orang kang-ouw yang sudah menggabungkan diri dengan laskar rakyat pimpinan suhengnya, akan tetapi karena dia tidak mengenal mereka, dia tidak tahu siapa lima orang ini.

“Siapakah kalian, sobat? Dan ada keperluan apakah menghadang perjalanan kami?” tanya Shu Ta. Dia menyangka bahwa mereka tentu membawa pesan baru dari suhengnya untuk disampaikan kepadanya.

Seorang di antara mereka, yang tertua dan yang kepalanya botak, tersenyum mengejek. “Panglima Shu Ta, serahkan nona itu kepada kami!”

Shu Ta mengerutkan alisnya. “Hemm, apa artinya ini? Bukankah kalian anak buah Beng-cu Cu Goan Ciang?”

“Ha-ha-ha, sudahlah jangan banyak cakap. Kami tahu engkau mengkhianati pemerintah. Serahkan nona itu kepada kami atau engkau akan kami tangkap dan kami serahkan kepada Yauw-Ciangkun!” kata pula si botak. Mendengar ini, tahulah Shu Ta bahwa ada anak buah suhengnya yang berkhianat, maka tanpa banyak cakap lagi, dia sudah mencabut pedangnya dan menyerang lima orang itu. Mimi juga menggunakan pedangnya membantu Shu Ta melawan lima orang yang mengepung mereka. Ternyata lima orang itu cukup lihai dan dengan pengeroyokan mereka, Shu Ta dan Mimi mendapatkan lawan yang cukup tangguh.

Akan tetapi, terdengar bentakan nyaring dan muncul seorang bertubuh raksasa yang mukanya penuh brewok. Terkejutlah Mimi ketika mengenal orang itu yang bukan lain adalah Tay-lek Kwi-ong yang lihai!

“Ha-ha-ha-ha, sekali ini kami akan mendapat keuntungan besar, kawan-kawan. Tangkap mereka hidup-hidup, kita hadapkan pengkhianat ini kepada Yauw-Ciangkun dan memulangkan gadis ini kepada Menteri Bayan, tentu kita akan menerima hadiah besar, ha-ha- ha!”

Tay-lek Kwi-ong memutar golok besarnya dan melihat raksasa ini, dan melihat wajah Mimi yang ketakutan, Shu Ta memutar pedangnya dan menyerang raksasa itu. Akan tetapi, sambil tertawa Tay-lek Kwi-ong menangkis dengan golok besarnya sambil mengerahkan seluruh tenaga raksasanya.

“Tranggg...!!” Pedang di tangan Shu Ta terlepas dan pendekar ini terkejut bukan main. Karena tidak menyangka bahwa lawan memiliki tenaga sehebat itu, maka dia terkejut dan pedangnya terpukul lepas. Sambil tertawa, Tay-lek Kwi-ong menyimpan goloknya dan menubruk Shu Ta dengan sepasang lengannya yang panjang dikembangkan dan kedua tangannya seperti cakar beruang menerkam. Dengan gesit Shu Ta menghindarkan diri dengan bergulingan, kemudian ketika dia bangkit, dia melompat dan sebuah tendangannya mencuat cepat mengenai perut raksasa itu.

“Dukk!” Perut itu sedemikian keras dan kuatnya sehingga kaki Shu Ta yang menendang terpental dan diapun terhuyung. Tay-lek Kwi-ong tertawa bergelak.

Sementara itu, pengeroyokan lima orang itupun sudah berhasil membuat Mimi kehilangan pedangnya dan dengan nekat ia kini dikepung oleh lima orang yang berebut untuk menangkapnya hidup-hidup. Hanya karena enam orang itu berusaha menangkap mereka hidup-hidup, maka hal ini merupakan keuntungan bagi Shu Ta dan Mimi. Apa lagi bagi Mimi, jelas bahwa orang-orang yang ingin mendapatkan hadiah memulangkannya kepada ayahnya itu tidak berani melukainya atau kurang ajar kepadanya. Bagaikan seekor harimau betina iapun mengamuk dan berhasil menampar kepala seorang pengeroyok sehingga orang itu terpelanting. Akan tetapi, tetap saja ia terdesak, seperti juga Shu Ta yang sudah beberapa kali terkena hantaman tangan Tay-lek Kwi-ong yang membuatnya roboh. Akan tetapi Shu Ta nekat melawan terus.

Dalam keadaan yang amat gawat bagi Mimi dan Shu Ta, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan muncullah Bouw Ku Cin bersama tiga puluh orang prajuritnya. Melihat adiknya dan Shu Ta dikeroyok, Bouw Ku Cin marah sekali dan dia segera memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk mengeroyok Tay-lek Kwi-ong dan lima orang pembantunya. Shu Ta cepat meloncat dan menarik tangan Mimi dan di lain saat mereka telah menyelamatkan diri dari medan pertempuran. Bouw Ku Cin yang marah melihat adiknya tadi terancam bahaya, dan melihat bahwa yang menyerang itu adalah Tay-lek Kwi-ong yang amat dibencinya, segera memberi aba-aba kepada para prajuritnya untuk menyerang dengan anak panah.

“Tunggu... tahan...!” teriak Tay-lek Kwi-ong. “Dia hendak berkhianat...!” Dia menunjuk ke arah Shu Ta. Akan tetapi, Bouw Ku Cin yang sudah mengenal Tay-lek Kwi-ong yang jahat, yang telah menculik Mimi, segera memberi aba-aba.

“Tembak dia dengan panah! Bunuh dia...!”

Tay-lek Kwi-ong mencoba untuk membela diri dengan memutar goloknya demikian pula lima orang pembantunya. Akan tetapi karena panah itu dilepas dari jarak dekat dan amat banyak jumlahnya, akhirnya enam orang itupun roboh dengan tubuh penuh anak panah. Mereka tewas seketika.

“Mari kita cepat kembali ke kota!” kata Shu Ta dan mereka bertiga menunggang kuda, dikawal tiga puluh orang prajurit yang kesemuanya adalah prajurit anak buah Shu Ta, kembali ke Nan-king.

“Mereka telah menyerbu sarang gerombolan pemberontak!” kata Bouw Ku Cin ketika mendengar sorak-sorai dan canang dipukul, tanda bahwa pasukan pemerintah telah mulai menyerbu sarang gerombolan pemberontak setelah tadi melihat tanda panah api yang dilepas oleh Shu Ta. “Kita cepat pulang. Kota Nan-king kosong tidak ada yang memimpin,” kata Shu Ta dan merekapun membalapkan kuda menuju ke kota dan begitu memasuki pintu gerbang, Shu Ta memegang pimpinan dan menyuruh tutup semua pintu gerbang dan mempersiapkan semua pasukan ke atas benteng untuk menjaga kota dari serbuan musuh. Pada waktu itu, yang tinggal di Nan-king hanya kurang lebih tiga ribu orang pasukan, dan setengah dari jumlah ini merupakan pasukan yang berada di bawah pimpinan panglima Shu Ta, yaitu pasukan yang merupakan pasukan kepercayaan dan yang memihak para pejuang. Pasukan ini melakukan penjagaan bersama pasukan Mongol yang jumlahnya juga sekitar seribu lima ratus orang, dikepalai oleh para perwira Mongol. Hanya Mimi seorang yang tahu bahwa Shu Ta adalah seorang pejuang, walaupun perbuatan Shu Ta memberi tanda panah api kepada pasukan pemerintah tadi masih membingungkan hatinya.

Mimi tinggal di kamarnya dan menangis. Ia merasa bingung sekali. Harus diakuinya bahwa ia mencinta Shu Ta, dan bahwa ia tidak bisa membenci para pejuang yang dianggapnya sebagai orang-orang gagah yang berhak memperjuangkan kemerdekaan mereka. Akan tetapi, bagaimanapun juga ia adalah seorang wanita Mongol. Bagaimana mungkin hatinya dapat tenang melihat bangsanya dimusuhi, juga ayahnya sebagai menteri menjadi musuh pria yang dicintanya? Ia merasa tidak berdaya. Di sini terdapat kakaknya, dan kalau ia melaporkan kepada kakaknyapun, ia masih ragu akan apa yang dilakukan kakanya. Ia tahu bahwa kakaknyapun tidak suka dengan kenyataan bahwa bangsa Mongol menjajah bangsa Han, dan betapa banyak di antara para prajurit, baik bangsa Mongol maupun bangsa Han, yang menjadi anggota pasukan pemerintah, suka bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat jelata. Ia tidak dapat melaporkan kekasihnya, akan tetapi juga tidak enak membiarkan saja kekasihnya menjadi seorang pengkhianat dan pemberontak! Karena risau, iapun menangis di kamarnya.

Pasukan besar dari Nan-king itu dipimpin sendiri oleh Yauw-Ciangkun dan Menteri Bayan. Menteri Bayan memang bukan seorang panglima, akan tetapi mendengar betapa puterinya ditawan oleh pemberontak, dia menjadi marah sekali dan ingin menyaksikan sendiri penumpasan sarang gerombolan pemberontak itu oleh pasukan pemerintah.

Ketika pasukan pemerintah menjebol pintu perkampungan para pejuan, mereka terheran karena tidak melihat adanya perlawanan sama sekali. Melihat ini, Menteri Bayan yang menunggang kuda di samping Yauw-Ciangkun berseru, “Awas, mungkin ini suatu perangkap, Ciangkun!”

“Harap paduka tenang, biar kami mengutus anak buah melakukan penyelidikan ke dalam sarang ini,” kata Yauw-Ciangkun. Belasan ekor kuda yang ditunggangi pasukan penyelidik memasuki perkampungan itu. Semua pondok di situ kosong dan sunyi.

Tiba-tiba terdengar suara gaduh di bagian belakang perkampungan itu, suara ringkik kuda dan seruan orang.

“Ah, mereka melarikan diri melalui pintu belakang. Kejar!” Yauw-Ciangkun berseru marah dan pasukannya dikerahkan untuk menyerbu ke dalam perkampungan, merobohkan dan membakar pondok-pondok itu dan terus melakukan pengejaran ke belakang perkampungan yang menuju ke sebuah lereng bukit.

Kini sudah nampak pasukan gerombolan itu berlari-larian mendaki bukit yang penuh batu- batu dan nampak gundul karena tanah kapurnya tidak subur sama sekali. “Kejar terus! Basmi mereka!” teriak Yauw-Ciangkun dengan marah. Pasukannya melakukan pengejaran. Akan tetapi karena jalan pendakian itu tidak rata dan banyak batunya, pasukan berkuda itu mengalami kesulitan dan Yauw-Ciangkun memerintahkan agar pasukan berjalan kaki melakukan pengejaran. Gerombolan pemberontak yang berlarian itu, sudah menghilang di balik sebuah tebing tinggi dan kini pasukan pemerintah terus mengejar ke samping tebing, melalui jalan lorong yang diapit dua sisi tebing di kanan kiri. Dan tiba-tiba, setelah pasukan tiba di situ, dari atas tebing datang batu-batu yang digulingkan ke bawah, seperti hujan! Tentu saja pasukan pemerintah menjadi kocar-kacir. Teriakan-teriakan kepanikan membuat pasukan menjadi semakin panik dan banyak yang tertimpa batu.

Pada saat itu, dari arah belakang pasukan, terdengar sorak-sorai dan ratusan orang anggota pemberontak menyerang pasukan dari belakang!

“Cepat berbalik! Kita dijebak!” teriak Menteri Bayan. Pasukannya memutar haluan, dan terjadi pertempuran yang berat sebelah karena jumlah pasukan pemerintah jauh lebih banyak. Pasukan pejuang itu ternyata hanya menyerang serentak, setelah mendapat perlawanan yang jauh lebih kuat, merekapun lari cerai-berai ke segala jurusan, dikejar oleh pasukan pemerintah. Melihat ini, Yauw-Ciangkun segera memberi aba-aba agar pasukannya berkumpul dan jangan terpancing oleh pemberontak berpencaran karena hal itu akan melemahkan diri sendiri.

“Tai-jin, kalau menurut pendapat paduka, siasat apa yang dipergunakan gerombolan pemberontak itu? Mereka jelas sengaja memancing kita ke lorong tadi, kemudian menyerang dari belakang hanya untuk mengacaukan karena kekuatan mereka tidak besar, tidak seperti yang dilaporkan Shu-Ciangkun,” kata Yauw-Ciangkun berhati-hati minta pendapat atasannya karena Menteri Bayan hadir di situ.

“Hemm, agaknya mereka sedang menggunakan siasat memancing kita agar berpencaran. Sebaiknya kalau kita kembali saja ke kota dan mengirim penyelidik untuk mencari tahu ke mana pasukan gerombolan itu pindah, baru kita mengirim pasukan memukul dengan tiba-tiba sehingga mereka tidak sempat melarikan diri.”

Yauw-Ciangkun mengangguk-angguk. Memang diapun sudah merasa khawatir. Sambil menanti datangnya pagi, sebaiknya kalau pasukan dikumpulkan dan dihitung kerugian mereka yang tewas tertimpa batu, kemudian menggerakkan pasukan untuk kembali ke Nan-king atau membuat perkemahan di luar benteng kota Nan-king, siap untuk menyerbu lagi kalau sudah diketahui di mana gerombolan itu berada.

Kerugiannya cukup besar. Tidak kurang dari seratus orang tewas atau terluka tertimpa batu dan ketika diserang mendadak itu. Akan tetapi, baru saja pasukan terkumpul, terdengar sorak- sorai lagi dan kini datang gerombolan dari kanan kiri melakukan penyerangan mendadak dengan anak panah. Mereka itu bersembunyi di balik batang-batang pohon dan batu-batu besar sambil menghujankan anak panah.

Dengan marah sekali, Yauw-Ciangkun memerintahkan membalas serangan dengan barisan panahnya, kemudian memerintahkan pasukan penyerbu untuk menyerang gerombolan yang melakukan pertempuran secara gerilya itu. Pasukan yang dikerahkan ke kanan kiri hanya mendapat perlawanan kecil saja karena gerombolan itu melarikan diri lagi menyusup ke dalam hutan-hutan. Yauw-Ciangkun menjadi marah sekali. Dia mengepal tinju dan meneriakkan aba-aba kepada para perwira untuk memberi tanda agar pasukannya jangan terpancing melakukan pengejaran sendiri-sendiri.

“Gerombolan pemberontak pengecut!” teriaknya.

Seperti jawaban atas makiannya ini, kembali datang serangan dari gerombolan itu, kini dari arah belakang dan mereka menghujankan panah berapi kepada pasukan pemerintah.

Diganggu sedemikian rupa, banyak perwira yang kehilangan sabar dengan marah mengerahkan pasukannya untuk mengejar dan menumpas para penyerang-penyerang. Mereka berhasil merobohkan belasan orang pemanah gelap, akan tetapi korban yang jatuh di pihak pasukan pemerintah lebih besar dan begitu ada pasukan yang memaksa diri mengejar para pemanah, dari kanan kiri kembali datang serangan dari mereka yang tadi melarikan diri ke dalam hutan-hutan.

Pasukan pemerintah itu benar-benar dibikin kacau dan tiba-tiba Menteri Bayan berteriak kepada Yauw-Ciangkun. “Ini tidak wajar! Mereka menggunakan siasat memancing harimau keluar sarang! Kita harus cepat kembali ke Nan-king karena di sana penjagaan kurang kuat. Siapa tahu gerombolan itu memusatkan kekuatan untuk menyerang Nan-king!”

Mendengar ini, Yauw-Ciangkun membunyikan tanda mengumpulkan seluruh pasukan dan tanpa melayani gangguan para gerombolan yang bergerilya, pasukan segera memutar haluan, kembali ke arah kota Nan-king. Sementara itu, matahari telah menampakkan dirinya.

Debu mengepul tinggi ketika pasukan yang sudah lelah karena semalam suntuk diganggu gerombolan itu melakukan perjalanan cepat menuju ke Nan-king.

Kekhawatiran Menteri Bayan memang tepat. Hanya beberapa ratus orang saja regu pejuang yang melakukan perang gerilya atau gangguan terhadap pasukan pemerintah dengan maksud membikin kacau dan menahan pasukan itu agar tetap mengejar mereka dan tinggal di daerah itu. Hal ini mereka lakukan sebagai siasat memancing harimau keluar sarang, dan memberi kesempatan kepada pasukan besar yang dipimpin sendiri oleh Cu Goan Ciang bergerak di malam hari itu menuju Nan-king!

Setelah tiba di depan pintu gerbang kota Nan-king, Cu Goan Ciang membagi pasukannya menjadi dua. Sebagian dia beri tugas untuk menyambut pasukan yang dipimpin Yauw- Ciangkun, dan sebagian lagi dia pimpin untuk menyerbu Nan-king.

Sementara itu, di dalam kota Nan-king, Panglima Shu Ta juga bertindak setelah melihat dari menara betapa pasukan Beng-pai sudah tiba di depan pintu gerbang. Para prajuritnya yang sudah dia beri tugas dan berjaga di pintu gerbang, segera membuka pintu gerbang. Melihat ini, tentu saja para prajurit Mongol terkejut dan mencoba untuk mencegah. Terjadilah perkelahian perebutan pintu gerbang, pihak Mongol mempertahankan agar jangan dibuka.

Akan tetapi karena Shu Ta memang sudah mempersiapkan pasukannya, pintu gerbang berhasil dibuka dan Cu Goan Ciang bersama pasukan Beng-pai menyerbu bagaikan air bah yang pecah bendungannya. Para panglima Mongol menjadi marah dan terjadi pertempuran. Akan tetapi karena Panglima Shu Ta membantu para penyerbu, tentu saja pasukan Mongol tidak dapat bertahan lama dan kota itu diduduki Cu Goan Ciang. Bouw Ku Cin dan Bouw Mimi, dengan pedang di tangan hendak melakukan perlawanan, akan tetapi Shu Ta cepat menghadang mereka. “Dengan sangat kuharap agar kalian tidak mencampuri perang ini. Bukankah kalian menyadari betapa rakyat jelata berhak untuk merebut kembali kemerdekaan mereka? Apakah kalian ternyata juga orang-orang yang suka menjajah bangsa lain dan hendak mempertahankan penjajahan Mongol?”

Pada saat itu, Cu Goan Ciang dan Tang Hui Yen berlompatan masuk ke ruangan itu dengan pedang di tangan. “Adik Mimi...!” kata Yen Yen mendekati dengan sikap ramah.

“Jangan mendekat!” bentak Mimi. “Engkau datang sebagai musuh kami. Bukankah kalian datang untuk menawan atau membunuh kami kakak beradik?”

“Tidak, Mimi, sama sekali tidak. Kami semua mengetahui bahwa engkau dan kakakmu adalah orang-orang berjiwa pendekar...” kata Yen Yen.

“Hemm, kalian tahu bahwa kami adalah putera dan puteri Menteri Bayan, musuh besar kalian,” kata Bouw Ku Cin. “Sekarang kalian telah menduduki Nan-king, tentu kami berdua akan menjadi tawanan kalian. Akan tetapi, lebih baik kami mati dari pada menjadi tawanan!”

“Akupun tidak sudi menjadi tawanan!” kata pula Mimi. Kakak beradik itu sudah memegang pedang dan siap untuk membela diri, sikap mereka gagah. Melihat ini, semua orang memandang kagum dan Yen Yen tersenyum.

“Saudara Ku Cin dan engkau, adik Mimi, harap kalian tidak bersikap begini dan salah mengerti. Kami adalah pejuang-pejuang yang memperjuangkan kemerdekaan rakyat. Yang kami musuhi bukan perorangan, melainkan penjajah. Biarpun kalian keturunan Mongol, kalau kalian tidak membantu penjajah, kalian bukan musuh kami. Bahkan selama ini kalian menjadi sahabat-sahabat kami. Oleh karena itu, kami sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk menawan kalian.”

“Akan tetapi, bukankah adikku Mimi baru-baru ini juga menjadi tawanan kalian?” bantah Ku Cin yang masih bersikap menentang.

Kini Cu Goan Ciang yang berkata, “Memang benar, akan tetapi kami menawan nona Mimi bukan karena memusuhinya, melainkan mempergunakan sebagai umpan siasat kami agar pasukan penjajah menyerang kami. Kami kira nona Mimi juga merasa bahwa ia bukan dijadikan tawanan melainkan menjadi tamu terhormat kami.”

Sikap Mimi sudah mulai lunak, tangan yang memegang pedang sudah turun dan pedang itu tergantung lemah. “Mereka memang tidak pernah memusuhiku, kak Ku Cin,” katanya kepada kakaknya.

“Hemm, lalu sekarang setelah kalian menduduki Nan-king, apa yang akan kalian lakukan kepada kami, Shu-Ciangkun?” katanya sambil menatap wajah Shu Ta.

Panglima ini menghela napas panjang dan memandang kakak beradik itu dengan alis berkerut, “Saudara Bouw Ku Cin, engkau boleh bebas memilih, hendak tinggal di sini atau keluar dari Nan-king, terserah. Kami akan tetap menganggapmu sebagai seorang sahabat. Adapun adik Mimi... kalau boleh aku pribadi mengharapkan... sukalah kiranya tetap tinggal di sini, engkau mengerti perasaanku dan apa yang kuharapkan, akan tetapi kalau engkau hendak memaksa diri pergi meninggalkanku, kamipun tidak akan menghalangi... kalian bebas memilih.” Biarpun Shu Ta tidak menjelaskan, semua orangpun tahu atau dapat menduga bahwa panglima yang cerdik ini telah jatuh cinta kepada puteri Menteri Bayan itu.

“Aku memang tidak memusuhi para pejuang, akan tetapi akupun tidak mau dianggap pengkhianat oleh bangsaku. Aku akan pergi dari Nan-king!” kata Bouw Ku Cin, lalu dia memandang kepada adiknya. “Mimi, kau...” Dia tidak melanjutkan karena tiba-tiba saja Mimi menangis. Bouw Ku Cin menghampiri adiknya dan merangkulnya membiarkan adiknya menangis di dadanya.

“Aku tahu isi hatimu, Mimi. Engkau dan Panglima Shu Ta saling mencinta. Kalau memang kauhendaki, engkau boleh saja tinggal di sini bersamanya...”

“Kak Ku Cin, kau... kau tidak akan menganggap aku pengkhianat?” tanya Mimi terisak.

Ku Cin menggeleng kepala dan tersenyum. “Tidak, adikku. Aku tahu isi hatimu. Engkau tidak membantu penjajah, akan tetapi engkaupun tidak membantu pejuang memusuhi bangsa kita. Engkau berhak meraih kebahagiaanmu. Akan kuceritakan kepada ayah kita tentang anak perempuannya yang gagah, yang berani menempuh apa saja demi cintanya, dan tetap tidak mengkhianati bangsanya.”

“Kak Ku Cin, maafkan aku...” Mimi tersedu.

Dengan lembut Bouw Ku Cin melepaskan pelukannya dan Yen Yen segera menghampiri dan merangkul Mimi. “Adik Mimi, kami berbahagia sekali dengan keputusanmu.”

“Sekarang aku harus pergi, selamat tinggal, kawan-kawan. Semoga perjuangan kalian berhasil karena kalian memang benar!” kata Bouw Ku Cin. Cu Goan Ciang memberi perintah kepada selosin pembantunya untuk mengawal putera Mongol itu agar dapat keluar dari pintu gerbang dengan amat, dan memberinya seekor kuda yang tangkas.

Bouw Ku Cin membalapkan kudanya keluar dari pintu gerbang. Dari jauh dia melihat pertempuran yang berlangsung antara pasukan yang menghadang barisan pemerintah yang dipimpin Yauw-Ciangkun, di mana ayahnya sendiri berada. Akan tetapi, dia tidak ingin mencampuri dan di membalapkan kudanya ke utara, ke kota raja.

Terjadi pertempuran sengit di luar kota Nan-king ketika pasukan pemerintah yang kaget sekali melihat Nan-king sudah diduduki pasukan Beng-pai, berusaha untuk merebut kembali. Akan tetapi, pasukan Beng-pai yang sudah siap di luar kota menyambut pasukan pemerintah yang sudah kelelahan karena semalam suntuk diganggu perang gerilya dan melakukan perjalanan jauh. Apa lagi dari atas benteng kota, pasukan Beng-pai menghujankan anak panah ke arah pasukan musuh, sehingga pasukan pemerintah kocar-kacir dan akhirnya, setelah pertempuran selama setengah hari yang sangat melelahkan, pasukan itu terpaksa melarikan diri ke utara.

Bendera yang bertuliskan huruf besar BENG berkibar di kota Nan-king. Rakyat menyambut kemenangan Cu Goan Ciang ini dengan gembira. Kota Nan-king berpesta pora. Sumbangan para hartawan mengalir bagaikan banjir karena mereka dengan suka rela menyerahkan hartanya kepada pasukan rakyat yang membebaskan tanah air dan bangsa dari penjajahan, juga terutama sekali karena rakyat pada umumnya berterima kasih kepada Cu Goan Ciang karena pasukan pembebasan itu sama sekali tidak pernah mengganggu rakyat. Berkat ketertiban yang keras dari Cu Goan Ciang dan Shu Ta, tidak ada prajurit yang berani mengganggu rakyat dan di sinilah letaknya keberhasilan Cu Goan Ciang. Di mana-mana, rakyat menyambutnya dan dia tidak pernah kekurangan tenaga karena dengan sukarela kaum muda rakyat masuk menjadi prajurit. Bahkan dunia kang-ouw mendukung Cu Goan Ciang yang sudah diakui sebagai Beng-cu.

Peristiwa jatuhnya Nan-king ke tangan Cu Goan Ciang dan pasukan Beng-pai (Partai Terang) itu terjadi dalam tahun 1356. Cu Goan Ciang, dibantu Shu Ta yang menjadi panglima besarnya, tidak tergesa-gesa menyerang ke utara, di mana pemerintah Mongol yang mulai lemah masih mempertahankan kedaulatan mereka. Cu Goan Ciang menyusun kekuatan di selatan, menghimpun kekuatan rakyat, memperbaiki kehidupan di selatan, dan dia mengajak semua perkumpulan di dunia kang-ouw untuk bersatu. Semua perkumpulan yang berjuang menentang penjajah, diajak bekerja sama di bawah bendera Beng-pai, yang tidak mau dan yang melakukan perbuatan jahat mengganggu keamanan rakyat, ditundukkan dan ditumpas.

Dalam tahun itu juga, dia menikah dengan Tang Hui Yen atau Yen Yen, berbareng dengan pernikahan Shu Ta dengan Mimi. Biarpun Cu Goan Ciang dan Shu Ta tidak ingin merayakan pernikahan mereka secara besar-besaran, namun rakyat di kota Nan-king merayakan dengan gembira karena mereka semua mengagumi dan menghormati dua orang tokoh yang berhasil mengalahkan penjajah dan mengusirnya dari Nan-king itu.

Seperti tercatat di dalam sejarah, setelah dalam beberapa tahun seluruh daerah selatan dan timur dapat ditundukkan dan kekuasaan pasukan Beng-pai mencakup daerah yang luas dari Shantung sampai ke Canton, dan merasa bahwa keadaanya cukup kuat, Cu Goan Ciang menerima usul para pembantunya untuk mendirikan sebuah kerajaan baru sebagai tandingan kerajaan Goan, yaitu kerajaan Beng-tiauw. Dia sendiri lalu diangkat oleh semua pembantunya menjadi kaisar pertama kerajaan Beng dan berjuluk Kaisar Thai Cu.

Setelah kekuatan pasukannya mencapai puncaknya, dalam tahun 1368, pasukan besar kerajaan Beng ini, dipimpin oleh Jenderal Shu Ta yang menjadi panglima besar, mulai bergerak ke utara. Satu demi satu kota yang dipertahankan pasukan Mongol jatuh, dan akhirnya Kaisar Togan Timur, kaisar terakhir kerajaan Goan, melarikan diri ke Mongolia, sedangkan kota raja Peking dapat direbut dan dikuasai oleh pasukan Beng-tiauw.

Akan tetapi, Cu Goan Ciang atau Kaisar Thai Cu tetap mempertahankan Nan-king sebagai kota raja yang baru. Kekuasaan kerajaan Beng ini semakin berkembang saja. Berkat kegagahan dan kegigihan Panglima Besar Shu Ta yang memimpin pasukan Beng-tiauw, pasukan itu melakukan pengejaran ke utara, pada tahun 1372 pasukan itu menyeberangi gurun Gobi dan menyerang ibu kota Karakorum yang dahulu menjadi ibu kota lama dari Jenghis Khan pendiri kerajaan Goan. Kota Karakorum dibakar bahkan pasukan Beng melakukan pengejaran terus sampai melewati pegunungan Yablonoi di daerah Siberia!

Orang-orang Mongol yang masih tersisa dan tinggal di Yunan juga diusir ketika Yunan diserbu. Kekuasaan Beng-tiauw terus berkembang menjadi kerajaan besar dan kerajaan ini disambut dengan hangat dan penuh hormat oleh rakyat yang merasa mendapatkan kembali kehormatan mereka setelah selama hampir seratus tahun dijajah oleh bangsa Mongol.

Demikianlah, si Rajawali Lembah Huai, Cu Goan Ciang yang ketika kecilnya hanya seorang anak dusun yang amat miskin, yang pernah menjadi kacung di kuil, pernah menjadi penggembala ternah pernah pula menjadi gelandangan, berhasil menjadi Kaisar. Bukan hanya Kaisar, melainkan menjadi pembebas tanah air dan bangsanya dari penjajahan bangsa Mongol. Sampai di sini selesailah kisah ini dan semoga ada manfaatnya bagi para pembaca.

TAMAT