Rajawali Lembah Huai Jilid 10

Jilid 10

Bukit Bambu Kunig merupakan sebuah di antara bukit-bukit yang terdapat di lembah sungai Yang-ce. Bukit ini rimbun dengan hutan bambu kuning, dan sejak lama bukit ini dianggap sebagai tempat berbahaya bagi para penduduk daerah itu. Selain bukit yang penuh hutan bambu itu tidak memungkinkan tumbuhnya pohon-pohon dan tumbuh-tumbuhan lain yang menghasilkan, juga tempat itu sering dijadikan sarang gerombolan penjahat yang kejam. Oleh karena itu, para penghuni dusun di sekitar daerah itu merasa lebih aman untuk menjauhinya.

Pada waktu ini, di lereng bukit itu memang terdapat sarang gerombolan perampok yang ditakuti. Gerombolan yang anggotanya tidak kurang dari lima puluh orang ini dipimpin oleh dua orang kakak beradik yang dijuluki Yang-ce Siang-houw (Sepasang Harimau Yang-ce), karena mereka berdua itu ganas seperti harimau. Anak buah mereka juga terkenal kejam dan jahat, juga rata-rata memiliki tubuh yang kekar dan watak yang buas di samping ilmu silat yang lumayan. Pekerjaan mereka adalah merampok, atau membajak perahu para pedagang di sepanjang sungai, memaksakan kehendak mereka kepada para penduduk dusun. Pendeknya, mereka itu merampok, membunuh, memperkosa dan memaksakan segala kehendak mereka. Agaknya tidak ada kejahatan yang mereka pantang melakukannya. Baru beberapa bulan gerombolan ini bersarang di lereng bukit itu, dipimpin oleh Yang-ce Siang-houw yang sebelumnya hanya melakukan kejahatan berdua saja tanpa anak buah.

Lewat tengah hari, pada hari itu, suasana di sarang gerombolan yang biasanya lengang itu, nampak meriah. Biarpun tidak terdapat pesta seperti yang biasa dilakukan rakyat, namun gerombolan itu sebetulnya sedang merayakan pesta pernikahan! Pernikahan dari dua orang pimpinan mereka. Kakak beradik Yang-ce Siang-houw itu, setelah kini menjadi pimpinan gerombolan, mengambil keputusan untuk membangun keluarga. Mereka yang usianya hampir lima puluh tahun, menjatuhkan pilihan masing-masing kepada dua orang gadis dusun yang mereka culik dan mereka paksa menjadi isteri. Tentu saja tidak ada pesta perayaan yang dihadiri oleh keluarga dua orang gadis itu atau oleh penduduk dusun asal mereka. Pesta itu hanya merupakan pesta mabok-mabokan oleh para anggota gerombolan perampok. Para wanita yang menemani mereka makan minum adalah para wanita yang tiada beda nasibnya dengan dua orang gadis yang dipaksa menjadi pengantin di hari itu, ialah wanita-wanita yang diculik dan dilarikan dari suami mereka atau dari orang tua mereka.

Karena lima puluh lebih anak buah gerombolan yang selalu yakin bahwa tidak ada seprangpun dari luar yang berani naik ke lereng itu, apa lagi memasuki daerah sarang mereka, maka mereka menjadi lengah. Mereka tidak tahu bahwa ada tiga puluh orang lebih bersembunyi di balik semak-semak, di belakang rumpun bambu. Bahkan mereka tidak tahu bahwa dua jam kemudian, pasukan pemerintah yang jumlahnya tiga ratus orang juga mendaki bukit iru dan mengepung sarang mereka. Pasukan ini dipimpin oleh Panglima Shu Ta sendiri, bahkan ditemani oleh Yauw-Ciangkun karena komandan atau panglima tertinggi di Nan-king ini merasa penasran dngan lolosnya dua orang tawanan, selain itu juga dengan cerdik sekali Shu Ta berhasil membujuknya untuk ikut dalam gerakan penumpasan terhadap sarang pemberontak itu!

Shu Ta memang seorang yang amat cerdik dan setelah menjadi panglima dan mempelajari ilmu-ilmu perang dari kitab-kitab yang tersedia, dia menjadi semakin cerdik, seperti yang telah diduga oleh Goan Ciang dan semua siasatnya dilaksanakan dengan patuh oleh Goan Ciang, semua siasatnya telah diatur dengan cermat pada saat dia kebingungan melihat suhengnya tertwan. Kebetulan sekali pada waktu itu, baru saja dia mendengar laporan para penyelidiknya tentang gerombolan perampok yang bersarang di Bukit Bambu Kuning.

Keterangan tentang sarang gerombolan itulah yang menimbulkan gagasan untuk mempergunakannya sebagai suatu cara untuk menghilangkan kecurigaan terhadap dirinya setelah Goan Ciang dan Hui Yen dapat dibebaskan olehnya. Tanpa adanya gerakan penumpasan tehadap Hwa I Kaipang, tentu atasannya, Yauw-Ciangkun, akan merasa kecewa dan marah sekali, dan mungkin akan mencurigainya. Maka, dia mengatur siasar dan telah mempersiapkannya sebelum dia membebaskan dua orang tawanan itu secara cerdik sekali, dengan menyamar sebagai seorang berkedok hitam. Kini siasatnya itu dilaksanakan dalam kerja sama antara dia dan suhengnya dan dia merasa yakin bahwa saat dia memimpin pasukannya naik ke lereng Bukit Bambu Kuning, suhengnya dan kawan-kawan suhengnya tentu sudah siap siaga pula.

Dapat dibayangkan betapa kacau dan paniknya para anggota gerombolan perampok itu ketika tiba-tiba saja sarang mereka telah dikepung ratusan orang prajurit dan serbuan datang dari segenap penjuru! Mereka adalah orang-orang yang biasa dengan kekerasan, maka setelah panik sejenak, mereka segera menyambar senjata dan melawan mati-matian. Juga dua orang kakak beradik yang sedang menjadi pengantin itu mengamuk dengan golok besar merke.

Ketika terjadi perempurarn itulah, orang-orang yang berpakaian baju kembang bermunculan di mana-mana dan mereka membantu para perampok, menyambut serangan para prajurit pasukan pemerintah. Tentu saja pertempuran menjadi semakin seru. Panglima Shu Ta yang berdiri di tempat yang agak tinggi bersama Panglima Yauw, gembira sekali melihat munculnya banyak orang berbaju kembang, dan diapun segera berkata kepada atasannya. “Nah, itulah mereka, para anggota Hwa I Kaipang! Tawanan perempuan itu tidak berbohong dalam pengakuannya semalam dan kita tidak terlambat. Para pemberontak itu belum sempat pergi dari sini.”

Yauw-Ciangkun mengangguk-angguk dengan hati puas. Sementara itu, Goan Ciang dan Hui Yen ikut mengamuk, merobohkan banyak prajurit. Akan tetapi diam-diam mereka memberi isarat kepada anak buah meeka untuk mulai menyelinap dan melarikan diri, dan merekapun menggunakan kesempatan untuk meninggalkan baju kembang mereka pada tubuh mayat- mayat anak buah gerombolan. Ada di antara para anggota Hwa I Kaipang yang terluka, dan mereka ini diseret dan diangkut oleh kawan-kawan mereka untuk melarikan diri. Bahkan ada tiga orang yang tewas ditinggalkan begitu saja, berikut baju kembang mereka! Kematian mereka itu tidak sia-sia, selain mereka sudah berhasil membunuh banyak prajurit, juga mereka dapat menolong Shu Ta, menjadi bukti bahwa tempat itu benar-benar menjadi sarang pemberontak baju kembang!

Serbuan pasukan itu berhasil baik. Tidak kurang dari tiga puluh orang gerombolan “pemberontak” dibasmi, terluka parah atau tewas. Di antara yang tewas itu, lebih dari setengahnya mengenakan jubah kembang dan di antara mereka yang tewas terdapat pula kakak beradik Yang-ce Siang-houw. Kedua orang panglima Shu dan Yauw pulang dengan pasukan mereka, membawa kemenangan dan kembali Shu-Ciangkun dipuji-puji oleh pemerintah Mongol sebagai seorang panglima muda yang baru akan tetapi telah membuat jasa besar.

Akan tetapi, semua ini tidak membuat Shu Ta menjadi kehilangaan kewasppadaan. Di menerima pujian itu dengan rendah hati dan juga sama sekali tidak mendatangkan kelengahan sehingga dia tahu bahwa di dalam kemenangan siasatnya itu, masih terdapat bahaya besar yang datangnya dari para pimpinan Hek I Kaipang! Hal ini diketahuinya ketika beberapa hari kemudian, Yauw-Ciangkun menyatakan keheranannya dengan sikap dan suara yang mengandung kecurigaan.

“Sungguh aku tidak dapat mengerti sampai sekarang, Ciangkun. Ke mana perginya si kedok hitam itu? Siapakah dia? Bagaimana dia dapat memasuki benteng dan sekarang dia berada di mana? Menurut laporanmu, setelah diadakan penggeledahan, tidak ditemukan si kedok hitam atau bahkan jejaknya. Apakah dia dapat menghilang? Sungguh hal ini menimbulkan penasaran. Pendeknya kalau dia belum dapat ditemukan, hatiku selalu akan merasa gelisah memikirkan bahwa seorang di antara kita yang berada di dalam benteng adalah seorang mata- mata musuh yang lihai dan berbahaya.”

Diam-diam Shu Ta terkejut bukan main. “Akan tetapi, Yauw-Ciangkun, saya dan para pembantu saya sudah melakukan penyelidikan dan besar kemungkinan si kedok hitam yang dipergunakan kedua orang buronan itu. Agaknya mustahil kalau dia masih dapat bersembunyi di dalam benteng.”

“Hemm, siapa tahu dia adalah seotang di antara para prajurit atau perwira sendiri, atau mungkin... ha-ha, ini menurut pendapat para tokoh yang lihai dari Hek I Kaipang, mungkin juga bisa aku atau engkau sendiri!”

Shu Ta tertawa bergelak, “Aih, kalau benar ada yang berpendapat seperti itu, mungkin dia itu gila, Yauw-Ciangkun!”

“Gila atau tidak, mereka adalah orang-orang pandai yang kita harapkan dapat membantu kita untuk menaruh orang yang mau bekerja sama dengan kita menjadi Beng-cu yang akan dilakukan pemilihan beberapa bulan lagi.”

“Siapakah mereka itu, Yauw-Ciangkun? Setahu saya di Hek I Kaipang hanya ada Coa-pangcu (ketua Coa) dan puterinya yang cerdik dan lihai, yaitu nona Coa Leng Si. Apakah mereka yang mengatakan demikian?”

“Bukan, bukan mereka, melainkan tiga orang lain yang kini sudah berkumpul di sana dan siap membantu kita. Yang pertama adalah guru dari nona Coa Leng Si, dia seorang bekas hwesio yang amat lihai, namanya Bouw In Hwesio dan... eh, kenapa? Kenalkah engkau kepada Bouw In Hwesio?”

Shu Ta sudah dapat menenangkan hatinya kembali. Untung bahwa selama menjadi murid Lauw In Hwesio ketua kuil Siauw-lim-si di lembah Huai, dia belum pernah bertemu dengan supeknya yang bernama Bouw In Hwesio itu, hanya mendengar namanya saja dan keterangan dari suhunya, bahwa supeknya itu lebih lihai dari pada suhunya. Dan sekarang, supeknya itu telah menjadi guru dari Coa Leng Si, gadis lihai puteri ketua Hek I Kaipang!

“Nama Bouw In Hwesio dari Siauw-lim-pai telah banyak dikenal di dunia persilatan, Yauw- Ciangkun.

Siapa yang tidak pernah mendengarnya? Pantas saja nona Coa Leng Si disohorkan lihai sekali, tidak tahunya ia adalah murid hwesio yang sakti itu.”

“Sekarang bukan lagi menjadi hwesio, melainkan seorang biasa bernama Bouw In dan dia telah berkeluarga, menikah dengan seorang janda cantik adapun dua orang yang lain adalah suhu dan subo dari Hek I Kai-pangcu sendiri, dan engkau tahu siapa mereka? Mereka adalah Huang-ho Siang Lomo, sepasang kakek nenek suami isteri yang sudah lama mengundurkan diri dari dunia kang-ouw akan tetapi sekarang siap membantu murid mereka.”

“Ciangkun tadi mengatakan bahwa mereka itu yang bependapat bahwa si kedok hitam adalah seorang di antara penghuni benteng kita?” Shu Ta mendesak.

Atasannya mengangguk, “Mereka adalah orang-orang berpengalaman, Shu-Ciangkun, dan pendapat mereka itu berdasarkan pengalaman. Kurasa ada baiknya kita memperhatikan pandapat itu, siapa tahu benar-benar seorang di antara anak buah kita adalah seorang mata- mata musuh. Sungguh berbahaya sekali kalau benar begitu.”

“Jangan khawatir, Yauw-Ciangkun. Saya berjanji akan membongkar rahasia si kedok hitam itu. Saya akan mengerahkan seluruh pembantu untuk mencari dan menangkapnya hidup ataupun mati!” kata Shu Ta dengan sikap yang penuh semangat.

Gembira hati Panglima Yauw mendengar ini. “Bagus, Shu-Ciangkun. Baik dia orang dalam benteng, atau orang luar, dia harus ditangkap karena dia telah merugikan kita.”

“Saya berjanji, Ciangkun!” Dengan mengenakan pakaian biasa, Shu Ta berjalan-jalan di dalam kota. Kepada para pembantunya, dia mengatakan bahwa dia sendiri akan turun tangan ikut melakukan penyelidikan ke dalam kota agar dapat menangkap si kedok hitam. Dia tiba di dekap pasar di mana terdapat banyak pengemis yang minta sedekah. Di antara para pengemis itu, dia melihat ada beberapa orang anak buahnya yang menyamar, akan tetapi sebagian besar adalah pengemis asli. Ketika dia membagi-bagikan uang receh kepada mereka, dia melihat seorang pengemis yang kaki kirinya buntung. Dia segera mengenal pengemia ini, karena sudah lama pengemis ini menjadi penghubungnya kalau dia hendak menyampaikan pesan kepada para pemberontak. Pengemis ini adalah seorang anggota pejuang yang biarpun kakinya sudah buntung sebelah, namun masih bergelora semangatnya. Justeru karena kakinya buntung ketika dia ikut bertempur melawan pasukan pemerintah, maka dendamnya terhadap pemerintah Mongol makin menjadi. Dan karena dia buntung, diapun tidak dicurigai dan dia dapat menyamar sebagai pengemis tanpa ada yang mencurigainya. Melihat si kaki buntung yang dikenalnya dengan nama A Sam ini, Shu Ta yang masih membagi-bagi uang receh, juga memberikan sedekah kepada pengemis buntung yang bertopang pada tongkatnya itu.

“Berikan kepada ketua Hwa I Kaipang,” bisik Shu Ta sambil memberi sedekah. A Sam menerima dan membungkuk menghaturkan terima kasih, lalu pergi bersama para pengemis lain. Tidak ada orang lain mendengar bisikan Shu Ta tadi, juga tidak ada yang melihat bahwa yang diberikan oleh panglima itu kepada A Sam, bukan uang receh seperti yang diberikannya kepada pengemis lain, melainkan sehelai kertas yang dilipat-lipat sekecil uang receh.

Setelah terpincang-pincang pergi dari pasar dan keluar dari pintu gerbang kota tanpa ada yang mencurigainya, dan tiba di tempat sunyi, A Sam mempercepat langkahnya dan biarpun kakinya tinggal yang kanan saja, namun dibantu tongkatnya, dia dapat berjalan cepat sekali.

Malam harinya, A Sam sudah berhadapan dengan Goan Ciang dan Hui Yen di tempat persembunyian para anggota Hwa I Kaipang dan A Sam menyerahkan surat itu kepada Goan Ciang yang telah dikenalnya dengan baik. Tentu saja Goan Ciang gembira seklai ketika A Sam mengatakan bahwa surat itu diterimanya langsung dari tangan Panglima Shu Ta pribadi. Para pejuang di sekitar daerah Nan-king sudah tahu akan rahasia Panglima Shu Ta yang diam- diam selalu membantu para pejuang sehingga tidak sampai tertangkap.

Begitu membaca surat itu, Goan Ciang dan Hui Yen segera berunding. Surat itu singkat saja bunyinya, tanpa menyebut nama, dan tulisannya juga dibuat-buat sehingga sehingga buruk seperti coretan kanak-kanak yang sedang belajar menulis.

“Saya harus menangkap Si Kedok Hitam, hidup atau mati, dapatkah membantu?”

Surat itu singkat saja dan andai kata ditemukan Yauw-Ciangkun sekalipun, tidak mungkin panglima itu akan mempercayai bahwa itu tulisan pembantu utamanya. Tanpa nama, dan juga tulisannya begitu buruk, tulisan seperti itu tentu saja tidak cukup kuat untuk menjadi bukti bahwa Shu-Ciangkun yang menulisnya. Biarpun surat itu singkat saja, namun Goan Ciang maklum bahwa tentu sutenya terancam bahaya maka sampai mengirim surat seperti itu kepadanya.

“Bagaimana menurut pendapatmu, Yen-moi?” tanya Goan Ciang kepada Hui Yen setelah mereka berdua membaca surat itu lalu berunding di ruangan dalam.

Hui Yen mengerutkan alisnya, menggigit-gigit bibir bawah, suatu kebiasaan dirinya kalau ia sedang berpikir keras. Gadis ini memang terkenal cerdik sekali. Itulah sebabnya maka kakeknya, Pek Mau Lokai Tang Ku It, mempercayainya dan menyerahkan tongkat pimpinan Hwa I Kaipang kepada cucu itu.

“Jelas bahwa Shu-Ciangkun amat membutuhkan bantuan kita, dan itu tandanya bahwa di sana dia menghadapi masalah yang amat gawat. Dia diharuskan menangkap si kedok hitam, kalimat ini dapat diartikan bahwa kalau dia tidak dapat menangkap si kedok hitam, hidup atau mati, maka tentu dia akan menghadapi kesulitan. Kesulitan apa kiranya? Ini yang harus kita selidiki.”

Goan Ciang mengangguk-angguk. “Peristiwa malam itu, ketika kita berdua berhasil meloloskan diri karena bantuan si kedok hitam, tentu menimbulkan kecurigaan dan mungkin saja Shu-Ciangkun dicurigai! Ini berbahaya sekali dan satu-satunya jalan untuk dapat menyelamatkannya dari kecurigaan itu hanyalah apa bila si kedok hitam dapat ditangkap, hidup ataupun mati.”

“Atau setidaknya, dia akan bebas dari kecurigaan kalau si kedok hitam muncul di kota Nan- king, di luar benteng. Akan tetapi, si kedok hitam adalah Shu-Ciangkun sendiri, bagaimana mungkin...”

“Ah, engkau benar, Yen-moi! Si kedok hitam harus memperlihatkan diri kembali, di luar benteng dan dengna demikian, maka sute akan terbebas dari kecurigaan dan sangkaan. Kita dapat membantunya, atau setidaknya, aku dapat membantunya dengan muncul sebagai si kedok hitam dan membuat kekacauan di dalma kota!”

“Bagus sekali! Memang itu satu-satunya cara untuk membersihkan nama Shu-Ciangkun, toako. Akan tetapi, jangan hanya engkau seorang. Hal itu berbahaya dan sebaiknya akupun menyamar sebagai si kedok hitam, dan kita menyuruh beberapa orang kawan kita yang memiliki kepandaian yang boleh diandalkan agar tidak sampai tertawan. Kita hanya membuat kekacauan di sana sini, yang penting agar tersiar berita bahwa si kedok hitam muncul di luar benteng. Kalau sudah begitu, tentu tidak akan ada yang berani menyangka bahwa Shu- Ciangkun adalah si kedok hitam.”

Goan Ciang mengangguk-angguk dan kagum akan kecerdikan gadis itu. “Baik sekali, kita mulai kerjakan malam ini juga.”

“Aku akan mempersiapkan penyamaran itu, toako.”

Demikianlah, mulai malam hari itu, kota Nan-king digemparkan berita tentang munculnya si kedok hitam di mana-mana! Ada si kedok hitam yang menyerang seorang perwira itu. Ada pula si kedok hitam yang memasuki rumah seorang pejabat kaya dan mencuri barang-barang berharga. Dalam waktu semalam saja, ada lima orang berkedok hitam nampak di mana-mana.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Yauw-Ciangkun menemui Shu-Ciangkun dan wajahnya nampak serius sekali. “Engkau sudah mendengar tentang si kedok hitam, Ciangkun?” tanya Yauw-Ciangkun.

Shu Ta mengangguk. “Tentu saja, Yauw-Ciangkun. Bahkan semalam saya dan pasukan, mencari-cari, namun kami selalu tidak dapat menemukan jejaknya. Agaknya dia memang lihai bukan main.” Shu Ta dengan cerdik tidak mau menyinggung tentang kenyataan bahwa si kedok hitam ternyata orang luar yang kini membuat kekacauan di luar benteng sehingga kecurigaan bahwa si kedok hitam yang dulu membantu lolosnya dua orang tawanan tidak berdasar lagi.

Yauw-Ciangkun menghela napas pangjang. “Ternyata engkau benar, Shu-Ciangkun. Si kedok hitam itu memang lihai, akan tetapi melihat betapa munculnya malam tadi di banyak tempat, maka aku menduga bahwa si kedok hiatam itu bukan hanya satu orang saja. Mungkin sekarang muncul sebuah perkumpulan rahasia yang semua anggotanya mengenakan kedok hitam.”

“Mungkin saja, Ciangkun, akan tetapi saya akan mengerahkan pasukan untuk membasmi mereka. Saya yakin bahwa dengan penjagaan ketat dan dengan pengejaran yang sungguh- sungguh, kita dapat membersihkan Nan-king dari bayangan si kedok hitam.”

Dan mulai hari itu, Shu-Ciangkun memimpin pasukan untuk melakukan aksi pembersihan di dalam kota Nan-king. Rumah-rumah digeledah dan banyak disebar mata-mata. Dan memang akibatnya, kota Nan-king semalin aman dan kini tidak lagi ada bayangan si kedok hitam, seolah-olah gerombolan itu telah terbasmi atau setidaknya telah melarikan diri dan tidak berani lagi muncul di kota Nan-king.

Kembali Shu Ta dapat menyelamatkan diri dengan mulus berkat bantuan Cu Goan Ciang dan Tang Hui Yen! Dia semakin dipercaya, bahkan kini Hek I Kaipang sendiri percaya bahwa Shu-Ciangkun adalah seorang perwira yang setia kepada pemerintah!

Pada suatu haru, dua orang penunggang kuda memasuki kota Nan-king. Mereka menarik perhatian karena mereka adalah seorang pemuda dan seorang gadis yang elok, yang pria tampan dan yang wanita cantik jelita, keduanya masih muda dan kuda yang mereka tunggangi juga merupakan kuda pilihan. Tentu saja ada prajurit penyelidik yang mencurigai dan prajurit ini cepat melapor kepada atasan mereka. Atasan itu kebetulan adalah Panglima Khabuli, seorang di antara mereka yang tadinya mencurigai Shu Ta, akan tetapi karena tidak terdapat bukti apapun, bahkan Panglima Shu Ta itu berjasa besar dalam usaha membersihkan Nan- king dari pengacauan penjahat dan pemberontak, akhirnya Khabuli yang merasa iri kepada Shu Ta tidak dapat berbuat sesuatu.

Ketika Panglima Khabuli yang tadinya bertugas di Wu-han akan tetapi sering berkunjung ke Nan-king itu mendengar dari dua orang anak buahnya bahwa pagi hari itu ada dua orang muda yang mencurigakan memasuki Nan-king, diapun cepat keluar senriti untuk menyaksikan dan kalau perlu menangkap dua orang yang mencurigakan itu untuk mencari pahala. Dia bergegas keluar diikuti selosin orang anak buahnya, menuju ke jalan besar dan menghadang dua orang muda yang mencurigakan itu. Akan tetapi, begitu bertemu dengan dua orang muda ini, wajah Khabuli menjadi kemerahan dan di tempat itu juga dia menampar anak buahnya yang melapor.

“Plakk!!” Anak buah itu terkejut dan terpelanting. Ketika dia bangkit pipinya yang ditampar menjadi bengkak, akan tetapi dia terbelalak dan mengeri mengapa atasannya marah kepadanya ketika melihat betapa panglima Khabuli begitu bertemu dengan dua orang muda itu, saling tegur dan memberi dalam dengan ramah dan akrab. Kiranya dua orang itu adalah saudara-saudara misan dari atasannya itu, bahkan kemudian dua orang penyelidik itu mendengar bahwa dua orang muda yang mereka curigai itu adalah putera dan puteri Menteri Bayan! “Kakak Khabuli!” kata Bouw Mimi dengan alis berkerut ketika melihat betapa di depan mereka, kakak misannya itu menampar seorang anak buahnya sampai terpelanting. “Engkau ini kenapa sih, tanpa sebab memukul orang di depan kami? Apakah engkau hendak menakut- nakuti kami dengan kekejamanmu?”

Khabuli tertawa menyeringai. “Ha-ha-ha. Dia pantasnya dihukum lebih berat dicongkel keluar matanya yang seperti buta itu. Kau tahu, adik Mimi, dialah dan temannya itu yang tadi melapor kepadaku bahwa ada dua orang muda yang mencurigakan memasuki kota Nan-king. Dia mencurigai kalian! Tidakkah itu gila?”

Mendengar ini, kakak beradik itupun tertawa dan Bouw Ku Cin segera berkata,”Sudahlah, kakak Khabuli. Mereka berdua belum mengenal kami, maka mereka mereka curiga. Maafkan mereka.”

Dua orang penyelidik itu sudah menjatuhkan diri berlutut di depan kakak beradik itu mohon maaf dan sekaligus menghaturkan terima kasih. Peristiwa kecil ini menarik perhatian orang- orang di jalan itu dan melihat ini, Khabuli dengan mata melotot mengusir mereka yang berani mendekat dan menonton.

“Adik-adikku yang baik, angin apa yang meniupmu ke selatan ini? Kuharap paman Menteri dalam keadaan sehat-sehat saja,” kata Khabuli dan matanya yang berminyak itu seperti menggerayangi tubuh Mimi yang cantik jelita dan kini nampak semakin dewasa itu.

Mimi mengerutkan alisnya melihat pandang mata kakak misannya yang ia tahu adalah seorang laki-laki mata keranjang yang tidak tahu malu itu. “Kami datang dengan urusan dinas, tidak ada sangkut-pautnya dengan engkau!” katanya ketus.

Akan tetapi Bouw Kongcu merasa tidak enak dengan sikap adiknya itu, lalu dia cepat menyambung, “Sesungguhnya, kami melaksanakan tugas dari ayah untuk menemui Yauw- Ciangkun.”

Khabuli segera merasa tertarik. “Ah, apakah urusan si kedok hitam itu sudah terdengar pula oleh kota raja? Memang pemuda she Shu yang menjadi panglima itu patut dicurigai dan karena dia datang dahulu kalian yang membawanya, maka kalau ada apa-apa, kalian tidak terlepas dari tanggung jawab.”

“Eh, apa yang telah terjadi dengan saudar Shu Ta?” tanya Mimi dengan hati berdebar tegang.

Khabuli tersenyum menyeringai, “Banyak sekali yang terjadi, dan hampir saja teman kalian itu ditangkap sebagai seorang mata-mata pemberontak.”

“Ahh...!” Dua orang kakak beradik itu saling pandang dengan mata terbelalak. “Kakak Khabuli, apa yang telah terjadi?” tanya Bouw Kongcu, tentu saja terkejut dan khawatir karena dia tahu benar bahwa Shu Ta adalah seorang pejuang!

“Sudah kukatakan banyak yang telah terjadi. Akan tetapi agaknya kunjungan kalian ini tidak ada hubungannya dengan Shu-Ciangkun. Marilah kuantar kalain menemui Yauw-Ciangkun, di sana engkau aan mendengar sendiri nanti tentang sahabat kalian itu.” Karena ingin segera mendengar tentang Shu Ta, kakak beradik itu segera melanjutkan perajalanan menuju ke benternuntuk menemui Yauw-Ciangkun, juga Shu-Ciangkun, diiringi oleh Panglima Khabuli yang tersenyum-senyum bangga dapat menemani kedua orang adik misannya ini. Mereka adalah putera puteri Menteri Besar Bayan yang berkuasa, dan tentu akan disambut dengan hormat oleh Yauw-Ciangkun dan para panglima lainnya, dan kehadirannya akan mengingatkan para panglima itu bahwa dia adalah kakak misan mereka, bahwa dia adalah keponakan dan Menterti Bayan.

Ketika tiga orang itu memasuki kantor Yauw-Ciangkun, mereka tentu saja disambut dengan hormat oleh Yauw-Ciangkun dan para perwira yang sedang berada di situ. Nama besar Menteri Bayan cukup berpengaruh dan karena pemuda dan gadis itu putera dan puteri sang menteri, mereka disambut dengan penuh penghormatan.

Begitu bertemu dan saling memberi hormat lalu dipersilahkan duduk, Bouw Siocia yang sudah tidak sabar lagi segera bertanya, “Yauw-Ciangkun, di mana saudara Shu Ta yang dulu kami ajak ke sini dan kabanya telah menjadi panglima? Apa yang telah terjadi dengan dia?”

Yauw-Ciangkun tersenyum. “Dia baik-baik saja, Bouw Siocia. Tunggu sebentar akan saya suruh dia datang ke sini. Saya kita sekarang dia sedang mengawasi para perwira berlatih silat.” Yauw-Ciangkun lalu memerintahkan pengawalnya untuk mengundang Shu-Ciangkun.

“Paman Yatucin,” kata Bouw Kongcu yang sudah biasa menyebut Yauw-Ciangkun dengan sebutan paman dan nama aslinya, “sebetulnya apakah yang telah terjadi dengan saudara Shu Ta? Kami mendengar dari kakak Khabuli bahwa dia hampir saja ditangkap sebagai mata- mata! Bagaimana ini?”

Yauw-Ciangkun mengerutkan alisnya dan memendang kepada Khabuli. Dia memang mempunyai perasaan tidak suka kepada pemuda keponakan Menteri Bayan yang kadang- kadang bersikap congkak itu.

“Apa yang telah terjadi dengan Shu-Ciangkun? Banyak yang terjadi, akan tetapi dia telah berjasa besar. Kalau Khabuli-Ciangkun mengatakan bahwa dia hampir ditangkap sebagai mata-mata, hal itu hanya merupakan kesalah pahaman saja dan ternyata dia sama sekali bukan mata-mata.” Lalu dengan singkat Yauw-Ciangkun bercerita tentang semua peristiwa yang telah terjadi di dalam benteng dari lolosnya dua orang tawanan yang ditolong oleh si kedok hitam sampai munculnya si kedok hitam di kota Nan-king.

“Memang semula ada yang mencurigai Shu-Ciangkun, karena dialah yang menjadi komandan yang bertanggung hawab memeriksa kedua orang tawanan. Akan tetapi kemudian terbukti bahwa dia sama sekali tidak tersangkut dengan para pemberontak, bahkan dia telah berjasa melakukan pembersihan terhadap para pemberontak dan penjahat.” Yauw-Ciangkun mengakhiri keterangannya.

Kakak beradik itu saling pandang dan menghela napas lega. “Tentang jasa-jasanya, kami di kota raja sudah pula mendengarnya. Maka, ketika tadi kami mendengar dari kakak Khabuli, tentu saja kami menjadi terkejut sekali,” kata Bouw Mimi, kini melirik ke arah kakak misan itu dengan cemberut.

“Ahh, adik Mimi, akupun tadi hanya mengatakan bahwa Shu-Ciangkun hampir ditangkap sebagai mata-mata, bukan sudah ditangkap. Kemudian ternyata dia bukan mata-mata dan bahkan berjasa, tentu saja akupun ikut merasa gembira. Bagaimanapun juga, dia telah bekerja untuk pemerintahan kita, bukan?”

Kakak beradik itu tidak menanggapi, apa lagi pada saat it, Shu Ta muncul di pintu ruangan. Melihat kakak beradik yang menjadi sahabat-sahabatnya itu, tentu saja Shu Ta merasa girang sekali dan cepat dia memberi hormat secara militer. Kakak beradik itu memandang panglima muda itu dengan sinar mata penuh kagum. Memang Shu Ta yang bertubuh kekar itu nampak gagah bukan main, apa lagi kumis dan jenggot orang muda ini yang tumbuh lebat, terpelihara dengan baik, membuat dia nampak gagah berwibawa.

“Saudara Shu Ta, engkau kelihatan gagah sekali!” seru Mimi dengan suara lantang dan ia nampak gembira sekali. Sungguh seorang gadis luar biasa, pikir Shu Ta. Begitu jujur dan terbuka, begitu polos.

“Ah, Mimi, jangan sebut dia saudara lagi. Dia sekarang adalah seorang panglima. Betul tidak, Shu-Ciangkun?” kata Bouw Ku Cin dengan wajah berseri. Dia ikut merasa bangga bahwa Shu Ta yang dipercayanya itu ternyata memegang janji dan tidak menimbulkan kekacauan di Nan- king, bahkan berjasa menenteramkan kota itu.

“Bouw Kongcu, dan Bouw Siocia, aku masih tetap Shu Ta yang dahulu. Kuharap pakaian ini tidak akan menyilaukan dan mendatangkan perubahan pada diriku,” kata Shu Ta dengan sikap bersungguh-sungguh.

Yauw-Ciangkun mempersilahkan semua orang masuk dan duduk di ruangan yang biasa dipergunakan untuk mengadakan rapat penting, kemudian dia bertanya kepada kakak beradik itu. “Kongcu dan Siocia, jauh-jauh dari kota raja datang ke sini, apakah sekedar untuk pesiar, ataukah mempunyai urusan penting yang akan disampaikan kepadaku?”

“Paman Yatucin, kami diutus oleh ayah untuk membicarakan urusan penting dengan paman,” kata Bouw kongcu.

Yauw-Ciangkun memandang pemuda itu dengan wajah berseri. Menerima pesan dari Menteri Bayan merupakan suatu kehormatan besar yang tinggi nilainya, hanya kalah oleh kehormatan yang didapatkan kalau ada pesanan istimewa dari Kaisar! Dia mengerling ke kanan kiri, lalu bertanya. “Bouw Kongcu, pesan itu akan disampaikan secara pribadi dan empat mata sajakah, atau...”

“Ah, ini adalah urusan negara, paman. Tentu saja Shu-Ciangkun dan kakak Khabuli boleh ikut mendengarkan, bahkan dapat pula ikut memperbincangkan karena tugas negara merupakan tugas kita bersama, bukan?”

Mereka duduk menghadapi meja besar dan setelah seorang petugas atas perintah Yauw- Ciangkun mengeluarkan minuman dan makanan kecil, mereka mulai mengadakan percakapan dengan pintu tertutup.

“Paman Yatucin, pesan ayah yang harus kami sampaikan kepada paman ini merupakan hasil keputusan yang telah disidangkan di istana dan merupakan perintah Sribaginda Kaisar melalui ayah.”

Yauw-Ciangkun dengan tegak mengambil sikap hormat dan berkata tegas, “Saya siap melaksanakan perintah dengan penuh ketaataan dan kesetiaan!”

Setelah semua orang mendengarkan dengan penuh perhatian, Bouw Kongcu menceritakan pesan yang harus disampaikannya kepada Yauw-Ciangkun. Pergolakan di daerah selatan telah didengar oleh Kaisar dan setelah menerima laporan-laporan, kaisar lalu mengadakan pertemuan-pertemuan dengan para menteri, panglima dan penasihat untuk membicarakannya. Akhirnya diambil keputusan untuk menghadapi pergolakan itu dengan cara lain seperti yang biasa ditempuhnya.

“Pemberontakan-pemberontakan kecil itu terjadi di mana-mana, dilakukan oleh kelompok- kelompok kecil pemberontak dan dasar pemberontakan itu bermacam-macam. Ada yang didorong oleh ketidak puasan, ada yang didorong oleh ambisi untuk keuntungan pribadi, ada karena sakit hati terhadap sebagian pembesar yang menyalah gunakan kekuasaan dan bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat, dan sebagian kecil ada pula yang memang memiliki cita-cita membebaskan tanah air dan bangsa dari penjajahan, “ demikian antara lain Bouw Kongcu menyampaikan pesannya. Dia lalu melanjutkan apa yang menjadi inti pesan ayahnya itu, “Membasmi pemberontakan-pemberontakan itu secara kelompok-kelompok tidak akan banyak hasilnya. Karena gerombolan itu banyak sekali dan kalau yang satu dibasmi, akan muncul gerombolan yang lain. Dan makin lama, para pemberontak akan menjadi semakin ganas karena ditambah lagi oleh dendam yang disebabkan kematian rekan- rekan mereka. Oleh karena itu, harus dilakukan cara lain, yaitu membiarkan kelompok- kelompok itu tumbuh dan hidup, akan tetapi mengusahakan agar mereka menjadi kelompok yang tidak memusuhi pemerintah dengan jalan mendekati dan membaiki mereka, kalau perlu memberi sumbangan, juga agar pemerintah di Nan-king dapat mendekati dan menarik para tokoh kang-ouw untuk mendaptkan dukungan mereka.

“Ayah, dengan persetujuan Sribaginda, mengutus kami untuk menyampaikan semua ini kepada paman Yatucin, dan kami berdua juga ditugaskan untuk sementara tinggal di Nan-king membantu usaha paman. Kami berdua bukan orang peperangan, maka kami hanya mampu bekerja kalau usaha itu untuk mencapai perdamaian dan ketenteraman.”

Yauw-Ciangkun mengangguk-angguk, demikian pula Shu-Ciangkun. Bahkan Shu Ta diam- diam terkejut dan bingung. Kalau siasat pendekatan itu dilakukan, maka hal itu memang akan dapat melemahkan para pejuang! Apa lagi kalau pemerintah tidak menunjukkan permusuhan, tidak mengejar-ngejar, bahkan bersikap baik dan mengulurkan tangan, membantu dengan uang untuk memakmurkan kehidupan mereka. Dia tahu betapa ampuhnya pengaruh uang, dapat melumpuhkan semangat perjuangan! Bahkan dia tahu pula bahwa andai kata sejak dahulu pemerintah bersungguh-sungguh mengusahakan kemakmuran dan ketenteraman bagi rakyat jelata, mungkin tidak akan ada perasaan benci dalam hati rakyat terhadap penjajah.

Perlawanan yang timbul dari rakyat adalah akibat dari ada penindasan, penekanan dan kehilangan kemerdekaan.

“Saya girang sekali mendengar keputusan itu, Bouw Kongcu. Sesungguhnya, kamipun sudah menuju ke arah pendekatan, yaitu dengan cara merangkul kelompok yang tidak memusuhi kita bahkan yang suka membantu kita. Dan ada cara yang paling teppat untuk melaksanakan rencana itu, yaitu nanti apa bila dunia kang-ouw mengadakan pemilihan Beng-cu (pemimpin rakyat), kita usahakan agar yang diangkat menjadi Beng-cu seorang tang dapat diajak bekerja sama. Kalau sekarang kita mulai berusaha, mendekati tokoh-tokoh, mengirim hadiah, tentu kelak dalam pemilian, kita dapat mengarahkan agar yang dipilih adalah seorang yang tidak memiliki watak anti pemerintah.” Mereka lalu mengadakan perundingan. Terpaksa Shu Ta ikut pula memberi sumbangan pemikiran untuk mendukung tokoh yang tidak menentang pemerintah agar menjadi Beng-cu. Mereka lalu merundingkan siapa kiranya tokoh yang dapat mereka harapkan untuk membantu pemilihan Beng-cu yang pro pemerintah.

“Saya mempunyai seorang sahabat, tokoh kang-ouw yang sepenuhnya dapat dipercaya. Nama besarnya di dunia kang-ouw juga merupakan jaminan. Andai kata ia sendiri tidak dapat dijagokan, setidaknya ia dapat mempengaruhi yang lain untuk memilih calon yang kita setujui. Nama besarnya terkenal di sepanjang Jang-kiang,” kata Khabuli.

“Bagus, siapa tokoh itu, Khabuli-Ciangkun?” tanya Yauw-Ciangkun.

“Siapa lagi kalau bukan Jang-kiang Pang-cu (ketua Jang-kiang pang) yang terkenal di dunia kang-ouw sebagai Jang-kiang Sianli (Dewi Sungai Panjang), yang amat lihai.”

“Dan siapa kiranya yang dapat dijagokan di sini, paman Yatucin?” tanya Bouw Mimi.

“Kami telah mempunyai beberapa orang jagoan. Pertama adalah suami dari adik misan ketua Hek I Kaipang. Tokoh ini bekas hwesio yang bernama Bouw In, ilmu silatnya tinggi dan diapun bukan dari golongan sesat. Dia suka membantu karena selain dia merupakan ipar dari ketua Hek I Kaipang, juga dia guru puteri ketua itu. Selain bekas hwesio itu, juga ada sepasang suami isteri yang sudah kakek nenek namun mereka lihai dan dapat menjadi pendukung yang kuat. Mereka adalah suhu dan subo ketua Hek I Kaipang yang terkenal dengan julukan Huang-ho Siang Lomo.”

“Apakah di daerah Nan-king dan sepanjang sungai Yang-ce tidak terdapat lagi tokoh besar dunia kang-ouw, paman?” tanya Bouw Kongcu.

“Masih banyak, akan tetapi yang menonjol hanya yang telah disebut tadi. Ada seorang tokoh lagi yang sakti, yaitu Pek Mau Lokai. akan tetapi karena dia adalah pimpinan Hwa I Kaipang yang menentang pemerintah tentu saja kita tidak dapat mengharapkan dia. Bahkan kita perlu mencari jagoan untuk menantangnya kerena agaknya para pemberontak atau mereka yang menentang pemerintah akan mencalonkan dia sebagai Beng-cu,” kata Yauw-Ciangkun.

“Kalau begitu, harap paman atur saja agar jangan sampai ada tokoh yang anti pemerintah yang menjadi Beng-cu, karena kalau hal itu terjadi, perang akan semakin berkobar dan menghadapi pemberontakan para tokoh dunia kang-ouw cukup berbahaya. Yang perlu sekali diingat bahwa selain jangan sampai terjatuh ke tangan pemberontak, juga agar kedudukan Beng-cu jangan sampai terjatuh ke tangan seorang datuk sesat, karena kalau Beng-cunya seorang penjahat, itupun amat berbahaya sekali. mana mungkin kira dapat mempercayai seorang penjahat?” kata pula Bouw Kongcu.

“Tentu saja, Bouw Kongcu. Kami akan mengatur semua itu sebaiknya. Akan tetapi, apakah di daerah selatan ini saja yang perlu diamankan? Bagaimana dengan dunia kang-ouw jauh di utara, di barat dan di timur sepanjang pantai lautan?” tanya Yauw-Ciangkun.

“Semua telah diatur oleh pemerintah pusat, paman. Para panglima yang memimpin pasukan di timur, barat dan juga utara telah diberi tugas yang sama, yaitu menguasai dunia kang-ouw agar dunia persilatan berpihak kepada pemerintah sehingga tidak akan terjadi perang pemberontakan.”

Diam-diam Shu Ta memperhatikan dan mencatat semua yang didengarnya itu. Dia mengakui bahwa kalau semua pejabat pemerintah Mongol berwatak lembut dan mempergunakan sikap halus bersahabat seperti putera puteri Menteri Bayan ini, maka kedudukan pemerintah penjajah akan menjadi kuat dan akan sukarlah membangkitkan semangat para pendekar untuk menumbangkan pemerintah penjajah. Justeru sikap keras menindas dari penjajah yang membuat rakyat mendendam, membenci dan memberontak. Kalau Cu Goan Ciang, suhengnya itu, ingin berhasil, diapun harus mengubah siasat. Dalam keadaan seperti ini, sebaiknya kalau tidak langsung menyerang pasukan pemerintah, melainkan lebih dahulu menyusun kekuatan dan kalau mungkin menguasai dunia kang-ouw. Kalau Cu Goan Ciang dapat mempersatukan semua kelompok dan menguasai atau setidaknya mendapat dukungan dari para tokoh dunia persilatan, barulah dia memiliki kekuatan dan akan mampu menandingi penjajah.

Mulai hari itu, kakak beradik bangsawan dari kota raja itu tinggal di dalam benteng mendapatkan sebuah pondok yang mungil. Tentu saja mereka berdua segera menjadi akrab sekali dengan Shu Ta yang memang telah menjadi sahabat mereka, bahkan mereka yang memungkinkan Shu Ta menjadi seorang panglima.

Pada waktu itu, memang muncul banyak sekali kelompok atau gerombolan orang-orang yang berkedok perjuangan, mengganas di daerah pinggiran. Mereka itu mengaku sebagai kelompok pejuang, namun sesungguhnya mereka hanyalah gerombolan penjahat yang suka merampok, memperkosa, dan membunuh. Mereka menyerbu sebuah dusun atau kota, dan tentu saja mereka bentrok dengan pasukan yang bertugas di tempat itu, dan agaknya bentrok dengan petugas keamanan ini yang mereka pakai sebagai kebanggaan bahwa mereka ada pejuang- pejuang yang melawan penjajah. Pada hal, kalau dalam penyerbuan itu mereka menang, mereka lalu merampoki siapa saja di tempat itu, mengangkut semua harta benda milik penduduk, menculik wanita dan kalau ada yang melawan lalu membunuh!

Cu Goan Ciang dan Tang Hui Yen tentu saja tidak sudi melakukan perbuatan seperti itu. Mereka selalu mendapatkan nasihat dari Pek Mau Lokai Tang Ku It yang walaupun tidak langsung memimpin Hwa I Kaipang, namun selalu memberi nasihatnya.

Pada suatu malam, setelah Goan Ciang menjadi pembantu Hui Yen memimpin Hwa I Kaipang, Pek Mau Lokai memanggil dua orang muda itu menghadap Pek Mau Lokai untuk sementara tinggal di sebuah gua di lembah sungai Yang-ce di sebelah barat Nan-king dan oleh para anggota Hwa I Kaipang, gua itu dijadikan sebuah ruangan yang cukup enak untuk dijadikan tempat tinggal.

Ketika Goan Ciang dan Hui Yen menghadap, Pek Mau Lokai bertanya,”Apa yang kalian dengar tentang perkembangan di Nan-king? Aku tidak mendengar lagi adanya pengejaran terhadap para kelompok pejuang. Apakah semua ini berkat adanya sutemu yang menjadi panglima itu?”

Sejak dia berada bersama Hwa I Kaipang, Goan Ciang banyak mendapat petunjuk dalam ilmu silat dari Pek Mau Lokai, bahkan dia mengaku kakek itu sebagai gurunya walaupun dia masih menyebutnya pangcu (ketua) seperti yang dilakukan seluruh anggota Hek I Kaipang.

“Kami telah mendengar dari para penyelidik bahwa hal itu bukan hanya karena jasa sute, pangcu. Akan tetapi agaknya memang pemerintah penjajah kini mempergunakan siasat yang berbeda. Dan dugaan kami itu ternyata benar karena baru siang tadi kami menerima berita dari sute melalui si kaki buntung, A Sam. Berita itu mengabarkan bahwa kini putera dan puteri Menteri Bayan berada di Nan-king dan mereka berdua membawa pesan dari Menteri Bayan agar kini pemerintah daerah berikut pasukannya di Nan-king mendekati para tokoh kang-ouw, dan mereka mengubah siasat pembasmian menjadi pendekatan. Bahkan mereka akan berusaha agar kedudukan Beng-cu di daerah ini kelak akan terjatuh ke tangan tokoh yang suka bekerja sama dengan pemerintah.”

“Hemm, rencana yang bagus dan membahayakan kekuatan para pejuang. Memang Menteri Bayan selain memiliki ilmu kepandaian silat yang tinggi, juga dia amat cerdik. Kaisar Togan Timur ini merupakan kaisar yang lemah dan hanya mengejar kesenangan belaka. Dia dungu dan menjadi permainan para menteri durjana dan penjilat. Kalau tidak ada Menteri Bayan, sejak lama pemerintah penjajah itu jatuh karena kelemahan Kaisar Togan Timur. Kita harus waspada dan mulai sekarang, jangan menghamburkan tenaga dan mengorbankan anak buah menyerang pasukan pemerintah. Kita bahkan harus menghimpun tenaga, mendekati para tokoh dunia persilatan untuk mengimbangi usaha pemeritnah penjajah. Dan kalau ada kelompok yang melakukan kejahatan mengganggu rakyat jelata, kita harus membasmi mereka. Dengan cara demikian, kita akan mmperoleh dukungan rakyat jelata, setiap perjuangan tidak akan berhasil baik.”

“Kong-kong, bagaimana mengenai pemilihan Beng-cu yang akan dilakukan tiga bulan lagi di Bukit Merak itu? Kami semua mengharapkan agar kong-kong yang tampil sebagai calon agar kedudukan penting itu tidak sampai terampas oleh orang yang bekerja sama dengan penjajah,” kata Hui Yen.

Pek Mau Lokai menghela napas panjang. “Sebetulnya, aku sudah tidak mempunyai semangat lagi untuk menjadi Beng-cu. Beng-cu yang akan dipilih sekarang haruslah seorang yang memiliki semangat tinggi, kepandaian yang cukup tangguh, cerdik dan jujur, tidak mementingkan diri sendiri, dan terutama sekali haruslah masih muda. Dia mempunyai tugas yang amat berat, karena selain dia harus dapat mempersatukan semua tokoh di dunia persilatan, diapun harus mempunyai cita-cita tinggi dan tujuan terakhirnya adalah menghancurkan penjajah Mongol.”

“Akan tetapi, Pangcu. Siapakah orangnya selain pangcu yang pantas menjadi Beng-cu? Kalau kita salah pilih, bahkan kemudian hari akan merugikan kita semua.”kata Goan Ciang dan Yen Yen mengangguk menyetujui. Seluruh anggota Hwa I Kaipang tentu saja condong memilih Pek Mau Lokai menjadi Beng-cu. Bahkan kelompok lain yang sehaluan dengan mereka, yaitu yang merupakan pejuang sejati dan tidak melakukan kejahatan, bahkan menentang kejahatan terhadap rakyat, juga sudah menyarankan agar Pek Mau Lokai yang menjadi calon Beng-cu.

Kakek itu tersenyum dan mengelus jenggotnya yang putih sambil memandang kepada Cu Goan Ciang. “Goan Ciang, selama beberapa bulan ini, hampir semua ilmu andalanku telah kuajarkan kepadamu dan engkau telah memperoleh kemajuan pesat.”

Goan Ciang memberi hormat. “Terima kasih atas kemurahan hati Pangcu kepada saya.”

“Dalam beberapa bulan lagi, aku akan mengajarkan Hok-mo-tung dan semua ilmu simpananku dan tidak sampai setahun lagi. Aku sendiri sudah tidak akan mampu lagi menandingimu lagi, Goan Ciang. Nah, dengan demikian, berarti dalam hal ketangguan, aku akan kalah olehmu, apalagi aku sudah tua dan engkau masih muda. Selain itu, engkaupun cerdik, tabah dan pemberani. Juga engkau jujur, engkau tidak mementingkan diri sendiri, pendeknya, engkau memiliki segala syarat untuk menjadi seorang pemimpin besar.”

Pemuda itu mengangkat muka, memandang kakek itu dengan sinar mata tajam menyelidik. “Pangcu, apa yang pangcu maksudkan dengan itu?”

“Engkaulah yang akan kucalonkan sebagai Beng-cu Goan Ciang!”

Goan Ciang terbelalak. “Akan tetapi saya masih terlalu muda dan kurang pengalaman

untuk menjadi Beng-cu!”

“Ahh, justeru yang muda harus maju menggantikan yang tua. Dan tentang pengalaman, sejak kecil engkau sudah digembleng pengalaman hidup yang pahit getir dan itu sudah merupakan pelajaran yang baik sekali bagimu.”

“Aku setuju sepenuhnya, kong-kong!” kata Yen Yen dengan wajah berseri. “Memang tidak ada orang lain yang dapat menggantikan kong-kong selain Cu-toako!”

Kakek itu mengangguk-angguk dan berkata, “Sejak pertama kali aku bertemu denganmu di depan kuil itu, aku sudah mengambil keputusan dalam hatiku bahwa engkaulah orang yang pantas menjadi pemimpin. Setelah mengenalmu lebih lama di sini, hatiku semakin yakin maka aku mengajarkan ilmu-ilmu yang sepatutnya hanya kuwariskan kepada keturunanku, kepada keluarga kami.”

“Akan tetapi saya adalah orang luar,bukan keluarga pangcu,” kata Cu Goan Ciang, merasa bahwadi balik ucapan itu seperti terkandung maksud tertentu.

Kakek itu terkekeh. “Heh-heh-heh, engkau memang cerdik, Goan Ciang. Memang sesungguhnyalah, aku sudah menganggap engkau sebagai keluarga sendiri. Pertama-tama, melihat hubungan dan pergaulan di antara kalian, aku mempunyai sebuah usul, yaitu untuk menjodohkan kalian berdua. Goan Ciang, aku ingin engkau menjadi suami cucuku Tang Hui Yen. Bagaimana pendapat kalian?”

Wajah Yen Yen segera berubah merah sekali dan ia menahan senyumnya, lalu menunduk. “Ih, kong-kong…!”

Goan Ciang juga tersipu malu. Di dalam hatinya, pemuda ini memang harus mengakui bahwa Yen Yen seorang gadis yang amat baik, dan hanya sebanding dengan mendiang Kim Lee Siang, kekasihnya yang membunuh diri. Matinya Kim Lee Siang amat menyedihkan hatinya, akan tetapi setelah dia bertemu dan bergaul dengan Yen Yen, dia merasa seolah Lee Siang hidup kembali dan menggantikan kedudukan Lee Siang dalam hatinya. Akan tetapi, kalau dahulu dengan Lee Siang dia memang bermaksud untuk menjadi suami isteri, dengan Yen Yen ini dia hanya bergaul sebagai sahabat, tidak mencalonkan gadis itu sebagai isterinya.

Maka, usul yang tiba-tiba dan terbuka dari kakek itu sungguh mengejutkan hatinya dan membuat dia bingung, tidak tahu harus menjawab bagaimana.

“Ha-ha-ha, Yen Yen, tidak perlu engkau malu-malu dan tidak perlu engkau menyembunyikan. Aku mengenalmu dan tahu bahwa engkau mengagumi dan mencinta Goan Ciang. Engkau tentu setuju kalau menjadi calon isterinya, bukan? Katakanlah. Kalau engkau menjadi suami isteri, tentu saja Goan Ciang akan kuresmikan menjadi ketua Hwa I Kaipang dulu dan engkau yang menjadi pembantunya. Setelah menjadi ketua Hwa I Kaipang, barulah dia pantas untuk dicalonkan sebagai Beng-cu kelak dalam pemilihan besar itu. Nah, katakan, apakah engkau suka menjadi isteri Goan Ciang?”

Yen Yen adalah seorang gadis yang lincah dan jenaka, periang dan galak, dan sama sekali tidak pemalu. Akan tetapi, ditodong dengan pertanyaan tentang perjodohan, tentu saja ia merasa malu dan salah tingkah, tidak tahu harus bersikap bagaimana dan berkata apa, ia makin menundukkan mukanya. Selama hidupnya, belum pernah ia merasa semalu itu.

Mukanya terasa panas dan jantungnya berdebar keras, seluruh tubuhnya seperti gemetar rasanya. Kemudian, tiba-tiba ia teringat akan keadaan dirinya yang sebatang kara, tidak berayah tidak beribu lagi dan tak tertahankan pula, beberapa butir air mata menitik turun ke atas kedua pipinya. Bendungan perasaannya amat kuat karena ia seorang gadis yang tabah, maka hanya beberapa butir saja air mata yang membocor keluar.

“Kong-kong tahu bahwa aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi kecuali kong-kong seorang, maka tentang hal itu... aku hanya menurut saja apa yang kong-kong tentukan...”

“Ha-ha-ha, bagus, bagus! Nah, Yen Yen sudah setuju untuk menjadi jodohmu, Goan Ciang. Sekarang tinggal engkau. Kautahu bahwa kami adalah keluarga yang selalu bersikap terbuka, maka sebaiknya kalau engkaupun terbuka saja mengaku. Engkau setuju menjadi jodoh Yen Yen ataukah tidak? Andai kata tidak, katakan saja, tidak perlu sungkan dan pura-pura!”

Goan Ciang sungguh merasa tersudut. Dia tahu bahwa menghadapi kakek ini dan juga Yen Yen, dia tidak perlu bersikap sungkan dan ragu. Menerima atau menolak, sebaiknya berterus terang saja karena andai kata dia menolak sekalipun, kalau terus terang, tidak akan menimbulkan dendam atau pertentangan seperti kalau dia berpura-pura. Beberapa kali dia menghela napas panjang, lalu memandang kepada Yen Yen, kemudiang kepada kakek itu, Yen Yen masih menundukkan mukanya, akan tetapi kakek itu mengamati wajahnya penuh selidik.

“Pangcu, dan engkau juga, Yen-moi. Aku memang tidak perlu berpura-pura dan sebelumnya aku harap pangcu dan engkau suka memaafkan kalau ucapanku ini menyinggung perasaan. Terus terang saja, pangcu, saya amat kagum dan suka kepada Yen-moi. Ia seorang gadis yang pandai, bijaksana dan baik budi. Aku suka sekali kepadanya, akan tetapi aku belum berani mengatakan bahwa aku mencintainya dan mengharapkan ia menjadi jodoh saya. Bagaimana mungkin saya dapat berpikir sampai sejauh itu. Pangcu sudah mengetahui bahwa baru beberapa bulan saja saya kematian gadis yang saya cinta dan yang tadinya akan menjadi isteri saya. Bahkan kematian tunangan saya itupun belum terbalas sehingga rohnya masih penasaran, bagaimana saya berani mengalihkan cinta kepada seorang gadis lain, walaupun saya amat kagum dan suka kepada gadis itu? Karena itu, pangcu, saya minta waktu untuk menerima usul pangcu tentang perjodohanku dengan Yen-moi. Kalau sekarang aku menerima begitu saja, bukankah aku menjadi seorang laki-laki yang tidak setia dan mudah melupakan budi?”

Kakek itu mengangguk-angguk, dan Yen Yen juga mengangkat muka memandang kepada Goan Ciang dengan sinar mata mengandung iba.

“Ucapanmu menunjukkan bahwa engkau jujur dan juga setia, Goan Ciang. Memang permintaan itu pantas sekali dan akupun tidak dapat bersikap lain kecuali menyetujuinya. Biarlah urusan perjodohan ini ditunda keputusannya sampai engkau sudah siap.”

“Toako, aku akan membantumu membalaskan dendam kematian tunanganmu,” kata Hui Yen penuh semangat.

Mendengar ucapan kakek dan cucunya itu, hati Goan Ciang merasa lega dan senang. “Terima kasih, pangcu, terima kasih Yen-moi. Kalian memang orang-orang yang baik sekali. Semoga kelak aku tidak akan mengecewakan harapan kalian.”

Goan Ciang tidak dapat mengelak atau menolak lagi ketika dia diangkat menjadi ketua Hwa I Kaipang! Yen Yen menjadi wakilnya, dan kakek itu menjadi penasihat. Dan diapun mulai hari itu tekun melatih diri dengan ilmu Hok-mo-pang (tongkat penakluk iblis) dan ilmu lain yang diajarkan oleh kakek itu.

Diam-diam Yen Yen ingin sekali membantu Goan Ciang membalaskan dendam kematian tunangan Goan Ciang, menyebar anak buah untuk melakukan penyelidikan di mana adanya Panglima Khabuli yang menyebabkan kematian tunangan Goan Ciang seperti yang didengarnya dari kakeknya. Goan Ciang pernah bercerita kepada Pek Mau Lokai tentang kematian kekasihnya yang diperkosa Khabuli-Ciangkun, yaitu ketika dia terpaksa mau menjadi suami Jang-kiang Sianli Liu Bi karena hendak menyelamatkan nyawa Kim Lee Siang yang telah diracuni wanita iblis itu. Pada suatu hari, pagi-pagi sekali Yen Yen mencari Goan Ciang.

“Toako, ada kabar penting!” Gadis itu berkata. Melihat betapa Yen Yen sepagi itu telah terengah-engah seperti habis berlari jauh dan cepat, Goan Ciang tersenyum.

“Eh, apakah yang terjadi, Yen-moi? Kenapa engkau seperti orang yang dikejar setan saja?” “Bukan aku yang dikejar setan, akan tetapi kita harus menghajar setan pagi ini, toako!” “Eh? Apa maksudmu, Yen-moi?”

“Toako, kini tiba saatnya kita membunuh jahanam Khabuli itu untuk membalas dendam atas kematian tunanganmu.”

“Khabuli? Maksudmu, perwira yang menjadi komandan Wu-han itu? Yen-moi, engkau tahu bahwa kita telah mengubah cara perjuangan, tidak menggunakan kekerasan menyerbu benteng, melainkan menyusun kekuatan dan...”

“Aku mengerti, toako. Akan tetapi kebetulan sekali dia sedang keluar dari benteng. Dia akan meninggalkan benteng pagi ini untuk kembali ke Wu-han. Ini kesempatan kita, toako. Kita hadang dia di tengah perjalanan dan kita dapat membalas dendam tanpa mengacaukan kota. Menurut penyelidikanku, panglima Khabuli hanya dikawal dua belas orang prajurit pengawal. Semua sudah kuatur, toako. Sudah kupilih dua puluh orang pembantu kita yang akan menandingi dua belas orang pengawal itu, sedangkan Khabuli sendiri kuserahkan kepadamu! Nah, bukankah ini kesempatan baik sekali?”

“Tapi... kalau diketahui bahwa Hwa I Kaipang yang...” “Ah, sudah kupersiapkan kedok hitam untuk kita semua, toako!”

Goan Ciang kagum. Gadis ini memang cekatan dan cerdik bukan main. Dengan girang diapun pergi bersama Yen Yen dan dua puluh orang anak buah dan mereka semua mengenakan pakaian dan kedok hitam!

Panglima Khabuli menunggang seekor kuda hitam, dikawal oleh dua belas orang prajurit yang semuanya berkuda. Panglima yang congkak dan merasa kuat ini mengira bahwa dengan selosin pengawal pilihan itu saja sudah cukup baginya untuk melakukan perjalanan jauh tanpa takut diganggu orang, walaupun dia tahun bahwa para pemberontak tentu akan mengganggu kalau melihat dia melakukan perjalanan. Sudah terlalu banyak pemberontak yang dia basmi, dia siksa dan di bunuh. Siapa yang akan berani mengganggunya, seorang panglima, komandan kota Wu-han?

Hari itu terik sekali dan biarpun mereka melakukan perjalanan menyusuri sungai Yang-ce, tetap saja panas matahari siang itu amat menyengat. Oleh karena itu, ketika melihat sebuah tenda di tepi sungai di mana orang menjual minuman, Khabuli memberi isyarat kepada anak buahnya untuk berhenti mengaso sambil minum-minum di kedai minuman sederhana yang agaknya sengaja dibuka orang di tempat sunyi itu untuk menjual minuman dan makanan kecil kepada mereka yang kebetulan lewat di situ dan kehausan.

Penjual minuman arak dan air teh itu hanya dua orang laki-laki setengah tua. Mereka terbongkok-bongkok menyambut tamu-tamu itu dan tentu saja kedua orang itu menjadi repot bukan main harus melayani tiga belas orang kasar yang memesan minuman sambil membentak-bentak itu.

Baru saja tiga belas orang itu minum-minum, tiba-tiba nampak bayangan orang berkelebatan dan tahu-tahu kedai itu telah dikepung oleh dua puluh orang lebih yang membuat Khabuli dan para pengawalnya terkejut setengah mati. Dua puluh lebih pengepung itu semua berpakaian dan berkedok hitam!

Khabuli dan selosin orang pengawalnya tentu saja sudah mendengar akan peristiwa yang terjadi di perbentengan Nan-king itu, ketika seorang berkedok hitam telah membunuh banyak penjaga dan membebaskan dua orang tawanan dan kemudian betapa orang-orang berkedok hitam mengacau di kota Nan-king. Maka kini melihat dua puluh orang lebih yang berpakaian dan berkedok hitam, mereka terkejut dan segera berloncatan sambil mencabut senjata masing- masing.

“Serbu! Bunuh para pemberontak!” teriak Khabuli tanpa banyak tanya lagi, dan dia sendiri sudah mencabut pedangnya.

Segera terjadi pertempuran yang seru dan mati-matian, Khabuli sendiri diserang oleh seorang berkedok hitam yang bertubuh tinggi tegap dan yang bersenjatakan sebatang tongkat. Karena tidak mungkin mengharapkan bantuan selosin orang pengawalnya yang harus menghadapi serbuan dua puluh orang, Khabuli tanpa banyak cakap lagi sudah menyerang si kedok hitam yang sengaja menghadangnya itu.

“Pemberontak rendah, mampus kau!” bentaknya dengan suara yang mengandung kemarahan. Raksasa berkulit hitam yang tubuhnya kokoh kuat ini sudah mengayun pedangnya dan nampak sinar pedang berkelebat, terdengar bunyi mengaung saking kuatnya pedang itu diayunkan.

“Singgg...!” Ketika si kedok hitam yang bukan lain adalah Cu Goan Ciang mengelak, pedang itu berkelebat dan membuat gerakan memutar dengan cepat sekali, sudah menyerang secara membalik ke arah leher si kedok hitam.

Goan Ciang menggerakkan tongkat menangkis. “Tranggg...!” Bukan main kagetnya hati Khabuli. Pedangnya terpental dan ini membuktikan bahwa lawan memiliki tenaga yang amat kuat. Pada hal, jarang ada orang yang akan kuat menangkis dan menahan serangannya tadi.

“Siapa kau?” bentaknya marah. Sejak tadi, begitu melihat Khabuli, Goan Ciang sudah merasa marah sekali, teringata akan kekasihnya yang terpaksa membunuh diri karena telah dinodai oleh raksasa hitam ini. Akan tetapi, dengan kekuatan batinnya, dia menenangkan kembali hatinya karena maklum bahwa kemarahan akan membuat dia kehilangan kepekaan, padahal dia tahu betapa lihainya lawan ini. Kini mendengar bentakan yang nadanya bertanya itu, dia menggumam, lirih akan tetapi cukup jelas bagi lawannya.

“Arwah Kim Lee Siang menyuruh aku membunuhmu!” Dan kini tanpa menanti jawaban, Goan Ciang sudah menggerakkan tongkatnya menyerang dengan totokan kilat. Totokan kilat bertubi sebanyak tiga kali berturut-turut.

“Wuut-wuut-tranggg...!” Khabuli mengelak dua kali dan totokan terakhir tak dapat dielakkannya lagi maka diapun menangkis dengan pedangnya dan kembali keduanya terdorong ke belakang oleh kekuatan benturan kedua senjata. Kini wajah hitam Khabuli menjadi agak pucat karena jantungnya berdebar keras dan mulailah dia merasa gentar. Tentu saja dia tahu siapa Kim Lee Siang dan mengapa arwah gadis itu menyuruh orang membunuhnya. Teringat dia akan peristiwa di sarang Jang-kiang-pang itu, ketika dia menghadiri pesta pernikahan ketua Jang-kiang-pang dengan seorang pemuda yang namanya dia lupa lagi. Dalam pesta pernikahan ketua yang pernah menjadi kekasihnya, yaitu sumoi dari kekasihnya yang bernama Kim Lee Siang, seorang gadis yang cantik dan yang dalam keadaan terbius sehingga dengan mudah dia mampu menggaulinya dengan paksa. Kemudian dia mendengar bahwa gadis yang telah diperkosanya itu membunuh diri, dan mendengar pula bahwa ketua Jang-kiang-pang dibuntungi oleh suaminya sendiri yang kemudian dia dengar adalah seorang pemberontak yang menjadi buronan pemerintah! Dan kini, si kedok hitam ini mengaku disuruh arwah Kim Lee Siang untuk membunuhnya.

“Kau akan kukirim ke neraka menyusulnya!” bentaknya marah setelah dia menengok dan melihat betapa selosin pengawalnya sudah terdesak hebat oleh para penyerbu yang memakai kedok hitam. Dia menjadi nekat. Melarikan diri tidak mungkin. Minta bantuanpun tidak mungkin karena di tempat sunyi itu, siapa yang akan dapat membantunya? Andai kata rakyat melihatnyapun, mereka tidak akan mau membantu sepasukan tentara pemerintah yang sedang berkelahi. Dua orang pemilik kedai minuman tadipun sudah bersembunyi di balik meja mereka dengan tubuh menggigil, Khabuli menjadi nekat dan melawan mati-matian.

Khabuli adalah seorang panglima yang selain tinggi besar dan kuat, juga memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Dia ahli gulat Mongol, juga dia telah mempelajari berbagai ilmu silat dan sudah banyak pengalamannya dalam perkelahian dan pertempuran. Akan tetapi, sekali ini dia menghadapi Cu Goan Ciang yang bukan saja sudah lihai sekali dengan ilmu andalannya, yaitu Sin-tiauw ciang-hoat (Ilmu Silat Rajawali Sakti), akan tetapi juga selama berbulan-bulan menerima gemblengan yang sungguh-sungguh dari Pek Mau Lokai dan kini dia menguasai ilmu tongkat Hok-mo-tung yang gerakannya aneh dan berbahaya sekali bagi lawan!

Sementara itu, Yen Yen memimpin dua puluh orang anak buah Hwa I Kaipang yang semua mengenakan pakaian dan kedok hitam, mendesak selosin orang prajurit pengawal Mongol. Pertempuran yang berat sebelah terjadi dan akhirnya selosin orang itu dapat dirobohkan semua, walaupun di pihaknya menderita tiga orang luka-luka.

Yen Yen kini hanya menonton perkelahian antara Goan Ciang dan panglima Khabuli. Pemuda itu telah mulai mendesak Khabuli dengan sengit, sedangkan Khabuli yang melihat betapa semua pengawalnya telah roboh, mulai merasa gentar dan permainan pedangnya mulai ngawur. Dia tidak melihat jalan keluar, tidak dapat melarikan diri. Melihat betapa orang-orang yang berpakaian dan berkedok hitam itu mengurung tempat itu, sedangkan dia didesak oleh lawan, dia hanya dapat berlaku nekat dan mati-matian.

“Wuuutt... singg...!!” Pedangnya digerakkan membabi-buta, menyambar dahsyat ke arah kepala Goan Ciang. Gerakan serangan ini sudah ngawur, lebih didorong kenekatan dan kemarahan dari pada gerak jurus yang baik. Goan Ciang merendahkan tubuhnya, membiarkan pedang itu menyambar lewat di atas kepalanya dan tongkatnya bergeral cepat menusuk ke arah perut lawan. Biarpun tongkat itu hanya terbuat dari kayu, namun ditangan Goan Ciang yang mengerahkan sin-kang, senjata sederhana itu akan mampu menembus pakaian dan kulit daging dan dapat mematikan, Khabuli maklum akan hal ini, maka diapun melempar tubuh ke belakang dan berjungkir balik untuk menghindarkan tusukan, Goan Ciang mengejar, tongkatnya menyambar-nyambar.

“Tukkk!” Tongkat itu cepat sekali berhasil menotok pergelangan tangan kanan Khabuli yang tiba-tiba merasa tangan kanan itu lumpuh sehingga pedangnya terlepas. Ketika dia hendak mengambil pedang yang terjatuh, ujung tongkat menyambar-nyambar ganas sehingga dia terpaksa meloncat ke belakang.

“Pengecut, engkau menghadapi orang yang tidak bersenjata lagi!” bentaknya marah. Gertakannya untuk memanaskan hati lawan ini berhasil menyinggung harga diri dan kegagahan lawan karena mendengar ini, Goan Ciang lalu menancapkan tongkatnya di atas tanah dan menghadapi panglima Mongol itu dengan tangan kosong pula!

Akan tetapi ternyata hal ini sama sekali tidak menguntungkan Khabuli. Kalau tadi pedangnya masih dapat menandingi tongkat lawan dan dia masih dapat membela diri dengan gigih, kini dia terkejut bukan main karena begitu lawan memainkan Sin-tiauw ciang-hoat, Khabuli terdesak hebat dan dalam belasan jurus saja dia beberapa kali terhuyung.

Dengan nekat, melihat Goan Ciang memiliki gerakan yang seperti seekor burung menyambar- nyambar, dia hendak mengambil kemenangan dengan ilmu gulatnya. Ketika terbuka suatu kesempatan, begitu kedua lengan bertemu ketika dia menangkis tamparan lawan, secepat kilat pergelangan tangannya membalik dengan putaran kuat dan dia sudah berhasil menangkap lengan kanan Goan Ciang. Jari-jari tangannya yang panjang dan kuat itu mencengkeram dan menangkap lengan, memuntirnya dan jari-jari tangan kirinya berhasil pula menjambak rambut kepala Goan Ciang. Dengan satu tarikan saja dia akan dapat menjebol rambut itu atau memuntir patah sambungan tulang lengan lawan. Akan tetapi pada saat itu, secepat kilat tangan Goan Ciang, seperti seekor burung rajawali mematuk, telah menusuk ke arah ubun- ubun kepalanya yang tertutup topi panglima. “Takk...!!” Topi itu tidak ada gunanya melindungi kepala terhadap totokan jari tangan Goan Ciang. Mata Khabuli melotot, mulutnya terbuka dan terdengar suara aneh keluar dari kerongkongannya, cengkeraman kedua tangannya pada lengan dan rambut terlepas dan tubuhnya terjengkang dan tewaslah Khabuli dengan mata melotot dan mulut ternganga. Jari tangan Goan Ciang menembus topi dan panglima itu tewas dengan kepala berlubang!

Yen Yen bertepuk tangan, diikuti oleh teman-teman mereka. Tepuk tangan ini baru menyadarkan Goan Ciang yang berdiri memandangi mayat musuhnya dengan termenung karena dia teringat kepada kekasihnya yang telah tewas. Dalam hatinya dia berdoa agar Kim Lee Siang tidak merasa penasaran lagi.

“Mari kita cepat pergi!” katanya kepada Yen Yen. Mereka lalu meninggalkna tempat itu dengan cepat, membawa tiga orang teman yang terluka.

Tinggal dua orang pemilik kedai yang kini nampak ketakutan. Biarpun mereka sama sekali tidak mempunyai hubungan dengan orang-orang yang memakai kedok hitam tadi dan mereka tidak tersangkut urusan perkelahian yang menyebabkan tewasnya pasukan pemerintah, namun kedai mereka telah berubah menjadi tempat pembantaian di mana tiga belas orang pasukan pemerintah kini menjadi mayat, berserakan di kedai mereka! Mereka hanya dapat menangis dan masih menangis ketika pasukan pemerintah datang dari Nan-king mendengar berita tentang pertempuran itu. Dua orang pemilik kedai itu dengan menangis ketakutan, menceritakan apa yang telah terjadi. Untung bagi mereka bahwa yang memeriksa dan menanyai mereka adalah Shu-Ciangkun. Setelah mendengar penjelasan kedua orang pemilik kedai bahwa yang membunuh Khabuli dan selosin anak buahnya adalah dua puluh lebih orang-orang berpakaian hitam dan berkedok hitam pula, dua orang itupun dibebaskan.

Yauw-Ciangkun marah-marah, akan tetapi kepada siapa dia harus marah? Para penyerang itu berkedok hitam, sama seperti si kedok hitam yang pernah mengacau dalam benteng dan membebaskan dua orang tawanan!

“Shu-Ciangkun, engkau harus dapat membasmi gerombolan kedok hitam ini. Kalau tidak dapat terbasmi dalam waktu sebulan, aku akan menganggap bahwa engkau telah gagal membersihkan daerah ini dari gangguan para pemberontak. Aku yakin bahwa gerombolan kedok hitam itu pasti golongan pemberontak, bukan sekedar gerombolan penjahat biasa.”

Shu Ta memberi hormat. “Baik, Ciangkun. Saya akan melakukan pembersihan dan dalam waktu sebulan, saya berjanji bahwa gerombolan kedok hitam itu tidak akan ada lagi di daerah ini!”

Shu Ta dapat menduga siapa yang melakukan pembunuhan terhadap Khabuli dan anak buahnya. Siapa lagi yang membunuh perwira Mongol dan pasukannya dengan menggunakan kedok hitam kalau bukang suhengnya? Dan diapun mengerti apa maksud suhengnya. Tentu penggunaan kedok hitam itu untuk membebaskan dia dari kecurigaan! Diam-diam dia mengutus A Sam untuk menemui pimpinan Hwa I Kaipang dan minta agar semua kegiatan para pejuan dihentikan dan agar tidak lagi muncul kedok hitam di Nan-king. Dia sendiri memimpin pasukan dan melakukan penggeledahan di semua rumah penduduk di kota besar Nan-king dan sekitarnya, sengaja menangkap beberapa orang yang dicurigai untuk kemudian dibebaskan kembali karena tidak ada bukti bersalah. Akan tetapi hasilnya, biarpun tidak dapat menangkap seorang pemberontakpun, hanya menangkapi beberapa orang penjahat yang memang sudah lama dicari petugas keamanan, ternyata semenjak Shu-Ciangkun melakukan pembersihan, tidak pernah lagi muncul di Nan-king! Hal ini tentu saja membuat Shu Ta semakin dipercaya, dan pangkatnya dinaikkan sehingga kini dia menjadi wakil komandan pasukan di Nan-king, yaitu pembantu utama dari Yauw-Ciangkun!

Perubahan siasat yang diperintahkan Menteri Bayan kepada para pejabat daerah di Nan-king, dilaksanakan dengan baik. Semenjak Panglima Shu Ta yang kini menjadi wakil komandan Nan-king mengadakan pembersihan terhadap gerombolan kedok hitam, tidak pernah lagi terjadi keributan dan seolah-olah terdapat perdamaian tak tertulis antara para pemberontak dan pemerintah. Tidak ada lagi kekacauan dilakukan para pejuang, dan juga pasukan pemerintah tidak pernah lagi mengadakan pembersihan untuk membasmi pemberontak.

Kehidupan di Nan-king dan sekitarnya nampak tenteram dan tenang.

Untuk melaksanakan siasat mendekati dunia kang-ouw agar dapat membantu pemerintah, maka dilaksanakan pemilihan Beng-cu (pemimpin rakyat) atau juga pemimpin dunia kang- ouw. Undangan untuk pemilihan Beng-cu ini diadakan oleh Hwa I Kaipang dan Hek I Kaipang. Memang pandai sekali siasat yang dilakukan pemerintah, Hek I Kaipang mengirim utusan mencari Pek Mau Lokai dan tokoh tua Hwa I Kaipang ini diundang untuk mengadakan pertemuan dengan Coa Kun, ketua Hek I Kaipang. Dalam pertemuan ini, Coa Kun mengajak Pek Mau Lokai untuk menghentikan pertentangan antara kedua perkumpulan pengemis dan bersama-sama menyelenggarakan pemilihan Beng-cu. Pek Mau Lokai maklum bahwa kalau undangan terhadap para tokoh kang-ouw dilakukan atas namanya, maka tentu akan mendapat perhatian para tokoh kang-ouw, apa lagi masih ada nama Coa Kun, sebagai ketua Hek I Kaipang ikut pula mengundang.

Pek Mau Lokai dan Cu Goan Ciang serta Tang Hui Yen, maklum bahwa Hek I Kaipang dipergunakan pemerintah Mongol untuk menarik dunia kang-ouw agar mendukung pemerintah. Oleh karena itu, merekapun tidak tinggal diam dan anak buah Hwa I Kaipang telah disebar luas untuk menghubungi para tokoh kang-ouw dan mengingatkan mereka agar jangan sampai terjebak dan diperalat penjajah Mongol yang hendak menggunakan siasat lain untuk menguasai para pemberontak. Semua pihak dapat merasakan bahwa walaupun nampaknya saja terdapat ketenangan dan suasananya penuh damai antara pihak yang pro dan pihak yang anti pemerintah Mongol, agaknya kedua pihak mengadakan kerja sama untuk mengadakan pemilihan Beng-cu, namun dalam pemilihan itu pasti akan terjadi pergolakan dan pertentangan hebat. Diam-diam telah terjadi pengelompokan, yaitu kelompok yang pro dan diperalat pemerintah Mongol, kelompok yang anti penjajahan, dan kelompok yang acuh akan urusan politik melainkan berpamrih untuk keuntungan pribadi saja.

Harapan kedua pihak yang diam-diam bertentangan itu terpenuhi ketika pada hari yang ditentukan, di tempat yang telah dipersiapkan untuk mengadakan pemilihan Beng-cu itu dibanjiri pengunjung. Hampir seluruh kang-ouw di daerah Nan-king ke selatan menghadiri pemilihan itu. Bahkan banyak pula tokoh dari utara dan barat datang sebagai penonton, bukan sebagai pengikut pemilihan.

Adapun pihak Hwa I Kaipang diwakili oleh Pek Mau Lokai sendiri, kakek berusia enam puluh enam tahun yang rambutnya putih riap-riapan itu, kakek yang selalu tersenyum dan matanya yang sipit tajam sinarnya. Semua tokoh kang-ouw juga mengenal baik kakek jangkung kurus ini karena namanya sebagai pendiri dan pemimpin Hwa I Kaipang, sudah terkenal di sepanjang lembah Yang-ce. Bahkan para tokoh besar dunia persilatan juga segan melihat sebatang tongkat butut yang selalu menjadi temannya karena tongkat itu kabarnya tak pernah dikalahkan lawan! Di samping kanan kakek ini duduk seorang gadis yang berusia dua puluh satu tahun, cantik manis dengan tubuhnya yang tinggi ramping, rambutnya hitam tebal digelung ke atas, wajahnya bulat telur manis sekali, dengan sepasang mata indah dan jeli, dagunya runcing dan di sebelah kiri mulutnya membayang lesung pipit. Mulut yang manis itupun selalu tersenyum seperti mulut Pek Mau Lokai, dan memang gadis ini adalah cucu pendiri Hwa I Kaipang itu. Ia adalah Tang Hui Yen yang biasa disebut Yen Yen. Di sampingnya duduk Cu Goan Ciang dengan sikap gagah dan tenang. Para tokoh kang-ouw diam-diam memperhatikan pemuda tinggi tegap yang gagah dan anggunm berwibawa dan pembawaannya seperti seekor rajawali, demikian perkasa dan matanya mencorong tajam.

Semua orang sudah mendengar akan sepak terjang pemuda ini. Dia amat dikenal karena semua orang mendengar betapa pemuda ini berjiwa pahlawan yang menentang penjajahan dengan berani, dan mendengar pula bahwa Cu Goan Ciang menjadi orang buruan pemerintah, namun tak pernah dapat ditangkap karena dia amat cerdik dan pandai mengatur siasat.

Di belakang kursi ke tiga orang wakil Hwa I Kaipang ini duduk pula tiga orang ketua cabang Hwa I Kaipang, yaitu Lee Ti dari cabang barat, Pouw Sen dari cabang timur, dan Kauw Bok dari cabang selatan. Anak buah Hwa I Kaipang juga banyak yang hadir, akan tetapi mereka berbaur dengan para pendatang lainnya dan tidak mengenakan pakaian perkumpulan mereka. Pemilihan ini merupakan pemiihan pemimpin kang-ouw umum, bukan pemimpin perkumpulan, maka mereka tidak mewakili perkumpulan, melainkan sebagai orang-orang kang-ouw. Pula, para pimpinan Hwa I Kaipang memang melarang anak buah mereka mengenakan pakaian baju kembang karena pihak pemerintah sedang mengincar mereka dan kalau mereka mengenakan baju kembang, tentu akan mudah ditangkap.

Kedatangan dan kehadiran para tokoh perkumpulan besar ini tentu saja mempunyai arti penting.

Setelah semua orang berkumpul tidak ada lagi tamu yang datang, Coa Kun sebagai ketua Hek I Kaipang dan penyelenggara pertemuan itu bersama Hwa I Kaipang, berdiri di atas panggung dan memberi isarat dengan tangan agar semua orang tenang. Coa pangcu (ketua Coa) yang gagah dengan muka seperti harimau tiu mengucapkan terima kasih atas nama Hek I Kaipang.

“Cu-wi (saudara sekalian) tentu tahu bahwa sudah lama dunia persilatan tidak dipimpin seorang Beng-cu sehingga di antara kita tidak ada persatuan. Karena itu, kita semua menyadari bahwa amat perlu diadakan pemilihan seorang Beng-cu, agar kita semua selalu mendapat petunjuk agar kita bersama dapat menjaga ketenteraman dan kemakmuran dalam kehidupan rakyat. Karena itu, hari ini kita akan mengadakan pemilihan Beng-cu dan saudara sekalian dipersilahkan untuk mengajukan calon-calon yang akan kita pilih bersama. Tentu saja kita harus memilih yang terbaik, yaitu yang memiliki pengalaman paling banyak dan pengetahuan paling lengkap, juga yang memiliki ilmu kepandaian silat paling lihai. Orang seperti itu barulah pantas untuk memimpin kita.”

Ketika Pek Mau Lokai, sebagai wakil Hwa I Kaipang mendapat kesempatan menyambut dan ketika kakek yang rambutnya riap-riapan putih ini berdiri di panggung, dengan tongkat butut di tangan kanan, semua orang memandang kagum. Dilihat keadaan tubuhnya yang jangkung kurus, kakek ini nampaknya lemah saja, akan tetapi semua orang tahu bahwa dibalik keadaan itu terkandung kekuatan yang hebat dan terutama tongkat butut itu kabarnya belum pernah mengalami kekalahan. “Saudara sekalian. Apa yang diucapkan Hek I Kaipangcu tadi memang betul. Kita semua membutuhkan seorang Beng-cu yang bijaksana. Rakyat membutuhkan bimbingan agar hidupnya tidak tertindas dan sengsara, dan rakyat membutuhkan seorang pemimpin yang selain tangguh, juga yang bijaksana, tidak mementingkan diri sendiri dan yang mencinta rakyat jelata. Kami sebagai pihak yang ikut menyelenggarakan pemilihan ini, mengajukan seorang calon kami, yaitu ketua Hwa I Kaipang kami yang bernama Cu Goan Ciang!”

Mereka yang sudah mendengar nama Cu Goan Ciang, juga mereka yang menghormati Pek Mau Lokai dan percaya akan pilihannya, menyambut dengan tepuk tangan gemuruh.
Mengapa udah nggak bisa download cersil di cerita silat indomandarin?

Untuk yang tanya mengenai download cersil memang udah nggak bisa hu🙏, admin ngehost filenya menggunakan google drive dan kena suspend oleh google, mungkin karena admin juga membagikan beberapa link novel barat yang berlisensi soalnya selain web cerita silat indomandarin ini admin juga dulu punya web download novel barat terjemahan yang di takedown oleh google dan akhirnya merembes ke google drive admin yang dimana itu ngehost file novel maupun cersil yang admin simpan.

Lihat update cersil yang baru diupload 3 Bulan Terakhir

27 Oktober 2022] Kaki Tiga Menjangan

05 November 2022] Seruling Samber Nyawa (Bu Lim Su Cun)

Mau donasi lewat mana?

BCA - Nur Ichsan (7891-767-327)
Bagi para Cianpwee yang ingin berdonasi untuk pembiayaan operasional web ini dipersilahkan Klik tombol merah.

Posting Komentar

© Cerita silat IndoMandarin. All rights reserved. Developed by Jago Desain
]