-->

Pusaka Gua Siluman Jilid 15

Jilid 15

Dengan gaya dibuat-buat Ciong Sek menuangkan arak dari guci ke dalam cawan Han Sin dan Lee Ing, lalu berdiri menjura dan mengangkat cawannya sendiri setelah ia dengan sikap hormat memberikan cawan-cawan yang diisinya tadi kepada Han Sin dan Lee Ing.

"Ji-wi yang sudah menolong nyawa siauwte dari bahaya maut, harap sudi menerima penghormatan siauwte dengan secawan arak ini!" Matanya menatap wajah Lee Ing dengan penuh kekaguman dan senyumnya senyum memikat, akan tetapi biarpun wajah pemuda ini tampan juga, dalam pandang mata Lee Ing yang membencinya nampak seperti muka monyet cengar-cengir.

"Sudah terlalu banyak aku minum," katanya mencela dan hendak menolak akan tetapi melihat Han Sin tanpa ragu-ragu minum araknya, iapun lalu meneguknya habis. Arak yang disuguhkan oleh tuan rumah memang enak, manis dan harum.

"Akupun tidak mau ketinggalan. Ji-wi yang mulia harap sudi minum secawan arak penghormatanku!" kata Giam Loan sambil tersenyum- senyum, lalu cepat-cepat ia menuangkan arak dari sebuah guci putih ke dalam cawan Lee Ing dengan cepat, kemudian iapun menuangkan arak ke dalam cawan di depan Han Sin. la mengambil cawan-cawan itu dan menyodorkan kepada Lee Ing dan Han Sin. matanya basah memandang Han Sin dan bibirnya yang merah itu tersenyum memikat.

Ingin Lee Ing menampar cawan itu, akan tetapi sebagai tamu tentu saja ia dapat menahan hatinya, hanya menolak dan berkata,

"Sudah cukup, aku tidak mau minum lagi. Sekarang kau yang menawarkan arak, nanti tentu suamimu lagi! Apa orang kira kami ini gentong arak yang bisa begitu saja diisi arak sampai sepenuhnya?" kata Lee Ing setengah marah setengah berkelakar, dan tidak mau menerima cawan yang disodorkan oleh Giam Loan.

"Lihiap apakah tidak sudi menerima penghormatan sebagai tanda terima kasih dari seorang yang telah lihiap tolong nyawanya?" Kata-kata ini dikeluarkan oleh Giam Loan dengan suara sedih dan mata nyonya muda ini telah pula menitikkan air mata. Namun Lee Ing tetap tidak mau menerima.

"Nona Souw, tak baik menolak penghormatan orang. Lagi pula, tambah satu dua cawan saja sih apa artinya? Hitung-hitung kita ikut merayakan keluarga Ciong yang hari ini terbebas dari kematian berkat kebaikan hati Bu-locianpwe." kata Han Sin yang sudah menerima cawannya.

Lee Ing mengerutkan kening, lalu menyambar cawan itu dari tangan Giam Loan dan berkata kepada Han Sin, "Biarlah aku sekali lagi menurut, akan tetapi setelah minum-minum arak sampai mabok kita harus segera melanjutkan perjalanan meninggalkan tempat ini. Kalau kau tidak mau kau boleh tinggal selamanya di sini, aku akan pergi sendiri!"

Han Sin terkejut. Tidak mengira bahwa gadis itu akan marah sekali seperti itu. Ia -tidak tahu betapa hati Lee Ing sudah panas melihat lagak Giam Loan yang genit dan melirik-lirik Han Sin sambil tersenyum tak tahu malu.

"Cici. mengapa memaksa nona ini minum Pek-in-ciu? Kalau dia tidak mau, sudahlah jangan dipaksa!" tiba-tiba terdengar Ciong Swi Kiat berkata.

"Tutup mulutmu!" Giam Loan membentak.

"Swi Kiat, jangan mencampuri urusan orang tua!" Ciong Thai juga menegur puteranya.

"Pek-in-ciu? Arak apakah ini?" tanya Lee Ing sambil bergantian memandang wajah tiga orang di depannya. Lee Ing memang belum pernah mendengar tentang arak Pek-in-ciu (Arak Awan Putih). Hatinya yang penuh kecurigaan merasa tidak enak, menyangka arak itu dicampuri racun. Cepat tangan kirinya mencabut sebuah peniti perak dan dicelupkannya ke dalam cawan. Akan tetapi peniti itu tidak berubah hitam, tanda bahwa di dalam arak tidak ada racunnya, juga arak itu baunya harum biasa saja.

Ciong Thai tertawa. "Harap lihiap jangan curiga. Disebut Pek-in-ciu oleh karena kesempurnaan arak istimewa ini terdapat dari hawa awan putih. Membuatnya adalah menjemur arak ini di waktu udara terang dan awan putih memenuhi angkasa raya. Arak ini baik sekali dan sudah puluhan tahun usianya! Mari kita minum!"

Han Sin sudah mengangkat cawannya ke mulut, dan Lee Ing menjadi merah mukanya karena ia merasa malu juga sudah memperlihatkan keraguan dan kecurigaan. Diapun sudah mengangkat cawannya. akan tetapi tiba-tiba ia menunda lagi dan menoleh karena mendengar suara di jurusan jendela. "Tahan, jangan diminum arak itu!" terdengar suara dari luar jendela dan muncullah kepala    Bu kam

Ki dari balik jendela. Wajah kakek itu nampak sungguh sungguh dan marah. "Arak Pek-in-ciu akan membikin kalian mabok. Dasar orang-orang muda hijau mana bisa menghadapi bangsat-bangsat seperti keluarga Ciong?"

"Bu-locianpwe... arak ini tidak apa-apa " kata Han Sin karena dia sendiri tadi melihat Lee Ing telah

memeriksa arak itu.

"Bodoh, coba suruh Ciong Thai dan bininya minum arak iiu. Hayo!"

Akan tetapi di luar dugaan, ketika melihat munculnya orang tua ini. Ciong Thai, Giam Loan, dan Ciong Sek sudah menuangkan bungkusan obat yang dibawa Han Sin tadi ke dalam cawan arak mereka lalu meminumnya sekali teguk. Melihat ini, Lee Ing hendak menghalangi, kalau betul mereka hendak meracuninya tak pantas mereka diberi obat, pikirnya.

"Biarkan saja mereka minum obat!" Bu Kam Ki mencegah melihat Lee Ing bergerak. Setelah minum obat, Ciong Thai tersenyum menghadapi Bu Kam Ki.

"Bu-lohiap benar-benar hendak membusukkan nama kami. Arak Pek-in-ciu memang arak keras dan mungkin sekali jiwi taihiap ini akan mabuk meminumnya. Akan tetapi apa salahnya itu? Mereka tidak akan binasa!"

Lee Ing sudah menaruh lagi cawan araknya ke atas meja. Juga Han Sin mulai curiga, karena kalau hanya memberi hormat untuk pernyataan terima kasih, mengapa harus menggunakan arak yang dapat memabokkan orang? la lalu teringat akan sinar mata Ciong Sek yang penuh gairah dan kecabulan kalau pemuda itu memandang kepada Lee Ing, dan diam-diam Han Sin mengeluarkan keringat dingin. Benar-benarkah dia telah dikhianati oleh orang-orang yang telah ditolong nyawanya ini? Betulkah ucapan Bu Kam Ki bahwa tiga orang ini bukanlah manusia-manusia yang patut ditolong dan dijadikan sekutu? Sementara itu, mendengar omongan Ciong Thai, Bu Kam Ki tertawa bergelak. Tubuhnya bergerak dan dengan ringannya ia telah melompat ke dalam ruangan itu.

"Ha-ha-ha, orang she Ciong! Puteramu yang kau sia-siakan ini jauh lebih berharga dari pada kau, maka dia tadi mencegah binimu menyuguhkan Pek in-ciu. Memang betul arak ini hanya memabokkan, akan tetapi apa kau kira aku tidak pernah mendengar bagaimana kalian menggunakannya? Berapa banyaknya gadis-gadis tak berdosa yang menjadi korban arakmu ini di tangan adikmu Ciong Sek? Dan berapa banyak pula pemuda-pemuda vang jatuh oleh binimu karena arak ini? Hemmm. Ciong Thai. kau ini mengaku gagah akan tetapi tak lain hanya seekor kura-kura yang bodoh, membiarkan adik dan bini rnencoreng arang di mukamu, melumuri kotoran pada namamu. Dengan menyuguhkan arak kepada dua orang muda ini, kalian hanya hendak menghormati? Ha-ha-ha, anak kecil seperti anakmu inipun sudah dapat mengerti maksud-maksud jahat adik dan binimu!"

Lee Ing marah bukan main. Ia menyambar cawan itu dan sekali tangannya, bergerak, isinya telah muncrat menyerang muka tiga orang keluarga Ciong. Hanya Ciong Thai yang dapal mengelak, sedangkan Giam Loan dan Ciong Sek yang tadi merasa terkejut dan takut, merasa muka mereka ditusuk-tusuk jarum ketika tetesan-tetesan arak itu nengenai kulit muka. Mereka bertiga terkejut dan seperti mendapat komando. mereka melompat dan melarikan diri dari pintu belakang. Menghadapi seorang Bu Kam Ki atau seorang Souw Lee Ing saja mereka takkan menang. apa lagi kalau kakek dan gadis ini maju bersama! Lee Ing hendak mengejar, akan tetapi Bu Kam Ki mencegah. "Tak perlu dikejar, nona. Merekapun akan mampus dalam tiga han lagi oleh pukulanku kemarin dulu. Obat yang dibawa dan diminum mereka tadi hanya bubuk gandum vang tidak ada artinya. Aku sudah dapat menduga bahwa mereka akan berlaku khianat maka aku sengaja diam-diam datang pula ke sini."

"Jadi tadipun kau orang tua vang memberi petunjuk jalan dengan nyala api?" tanya Lee Ing sambil tersenyum.

"Kau cerdik, lebih cerdik dari pada Liem-sicu ini." Kakek itu tertawa bergelak.

"Bu-locianpwe, saya melakukan kewajiban dengan sungguh hati, datang menghadap locianpwe dengan penuh kejujuran hati, mengapa locianpwe menipu saya dengan memberikan obal palsu?" Han Sin memprotes dengan kening berkerut. Pemuda ini wataknya gagah dan jujur, tentu saja tidak suka akan segala perbuatan yang tidak terus terang dan segala macam tipu-tipuan.

"Orang muda, hatimu terlalu baik, karenanya kadang-kadang lemah. Terhadap orang orang macam mereka, bagaimana kau suka memberi obat? Kecuali kalau mereka mau memenuhi syaratku. Sekarang, tinggal kau yang memenuhi janjimu untuk datang ke rumahku dan memenuhi permintaanku."

"Yang locianpwe maksudkan, datang ke rumah locianpwe?" "Tentu, apa kau sudah melupakan janjimu?"

Han Sin diam saja, melirik ke arah Lee Ing. Bagi dia sendiri, tentu saja ia tidak menaruh keberatan untuk mengunjungi rumah kakek itu, apa lagi dia memang sudah berjanji hendak mengunjunginya. Akan tetapi mengajak Lee Ing sekali lagi keluyuran melalui hutan di tengah malam, benar-benar membuat hatinya tidak enak sekali.

"Kakek tua, kau cerewet benar, bawel seperti nenek-nenek!" Lee Ing mencela, hatinya mendongkol. "Masa sudah malam lagi gelap kau menyuruh kami melalui hutan belukar itu? Biarpun rumahmu tidak berapa jauh, setidaknya pada tengah malam baru akan sampai di sana. Kalau kau ada perlu dengan Liem-twako, katakan saja di sini apa sih salahnya?"

"Kau ini masih ada hubungan apakah dengan orang muda ini maka turut-turut mencampuri urusan?" Kakek Bu itu membentak tak senang.

Ditegur begini, muka Lee Ing menjadi merah dan ia gelagapan, tak tahu bagaimana harus menjawab. Memang kalau dipikir-pikir, ia sih tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Liem Han Sin kecuali sebagai teman seperjalanan! Melihat keadaan gadis ini serba salah dan gelagapan, Han Sin cepat menjawab pertanyaan ini.

"Bu-locianpwe, nona Souw hanyalah teman baik dan penolongku, tidak ada hubungan apa-apa. Akan tetapi karena nona Souw sudah banyak menolongku, tidak berani aku membikin dia repot lagi. Maka yang diusulkannya tadi memang betul, harap locianpwe suka menyampaikan di sini saja apa yang dapat saya lakukan untuk locianpwe."

Bu Kam Ki adalah seorang tokoh kang-ouw yang berwatak aneh, juga ia terlalu perduli akan aturan- aturan yang mengikat kebebasan seseorang. Oleh karena itu, iapun tidak ragu-ragu dan tidak sungkan-sungkan lagi untuk menyampaikan niatnya dengan kata-kata. "Liem Han Sin, kau murid Im-Yang Thian-Cu dan anggauta Tiong-gi pai, benar amat cocok dengan keluargaku. Oleh karena itu, mengingat akan pengutaraanmu tadi bahwa kau belum beristeri dan belum bertunangan, maka aku mengambil keputusan untuk menarik kau sebagai jodoh anak perempuanku. Bu Lee Siang."

Saking kaget dan bingungnya mendengar usul yang sama sekali tidak disangkanya ini, Han Sin sampai berdiri bengong tak dapat menjawab, hanya memandang bengong kepada kakek itu.

Tiba-tiba Lee Ing tertawa cekikikan, menutupi mulutnya dengan tangan akan tetapi tetap saja suara ketawanya membanjir keluar tak dapat dicegah lagi. Han Sin menoleh dan kini memandang kepada Lee Ing, tidak bengong lagi melainkan penuh permohonan tolong dalam pandang matanya. Juga Pek- kong-sin-ciang Bu Kam Ki menoleh dan memandang kepada gadis itu, akan tetapi dengan pandang mata marah.

"Hi-hi-hi, sudah kuduga... sudah kuduga...!" kata Lee Ing menahan ketawanya sambil memandang pemuda itu.

"Apa yang kau duga? Apa yang kau ketawai?" Bu Kam Ki membentak marah kepada Lee Ing.

Sejak tadi Lee Ing selalu bersikap dan bicara kasar kepadanya, akan tetapi sebagai seorang tokoh besar dunia kang-ouw, ia sudah biasa dengan sikap yang aneh-aneh, maka ia tidak mengambil perduli. Akan tetapi sekarang, ia berada dalam keadaan sungguh-sungguh dan ia merasa tidak senang kalau ada orang mentertawainya. Kalau Bu Kam Ki tidak mengerti mengapa gadis itu tertawa. adalah Han Sin yang sekarang teringat akan kata-kata yang keluar dari mulut gadis itu di dalam hutan, dalam gelap-gulita tadi tentang gadis dan janda kembang!

Memang benar gadis ini telah dapat menduga bahwa Bu Kam Ki tentu akan minta dia menerima pinangannya menjadi jodoh anaknya, gadis yang belum menikah akan tetapi sudah janda kembang itu karena ditinggal mati oleh tunangannya. Bagaimana Lee Ing bisa tahu? Benar-benar ajaib sekali gadis pujaannya, gadis yang sekaligus merampas hatinya, yang tiada keduanya di dunia ini. Kawin dengan puteri Bu Kam Ki? Tidak, biarpun dengan seorang bidadari dari kahyangan sekali, ia tak mau menikah setelah dalam hidupnya ia bertemu dengan seorang dara seperti Lee Ing! Bukankah tadi di dalam gelap ia telah bersumpah akan bersetia sampai mati kepada Lee Ing? Bagai mana dia bisa menikah dengan orang lain?

"Maaf, Bu-lecianpwe. Bukannya saya tidak menghargai budi kecintaan dan kepercayaan locianpwe kepada saya, akan tetapi tentang perjodohan..."

Angin malam yang menerobos masuk dari jendela membuat lilin-lilin di dalam ruangan itu bergerak- gerak apinya sehingga wajah Bu Kam Ki sukar dilihat, tertutup bayangan yang bergerak-gerak. Akan tetapi mendengar suaranya mudah diduga bahwa ia marah sekali. Tadi ia sudah marah karena merasa ditertawai oleh Lee Ing, sebelum ia mendapat jawaban dari Lee Ing tentang apa yang diketawainya. sekarang Han Sin secara terang-terangan menolak mentah-mentah pinangannya!

"Ingat janjimu, orang muda.."

"Saya masih ingat baik-baik locianpwe. Saya bersedia memenuhi permintaan locianpwe untuk urusan yang dapat saya lakukan, bukankah demikian? Dan perkara perjodohan, betul-betul saya tidak sanggup melakukan. Kalau urusan lain yang locianpwe minta, biar kerja keras dan jalan jauh kiranya masih akan dapat saya lakukan." "Jangan plintat-plintut bicara di hadapanku, tahu? Bukankah tadi kau bilang bahwa kau belum punya isteri atau tunangan, berarti kau masih bebas? Sekarang, aku hendak menjodohkan kau dengan anakku, apa halangannya maka kau menolak? Hayo katakan apakah anakku kurang cantik? Kurang pandai?" Benar-benar kakek itu sudah marah.

Mendengar ucapan ini, kembali Lee Ing tertawa kecil. Sekali lagi naik darah dalam kepala Bu Kam Ki. Kalau gadis itu tertawa di saat lain, masih tidak mengapa, akan tetapi pada saat itu benar-benar suara ketawa ini merupakan minyak bakar dalam api menyala.

"Kau ketawa lagi ada apakah, monyet betina?"

"Lutung tua. ketawa atau menangis tidak dikenakan pajak, siapa melarang? Kau yang ditolak pinanganmu boleh menangis sepuasmu, aku yang melihat kelucuan ini boleh ketawa sesukaku, kau mau apa? Orang lain yang menolak pinanganmu kok kau marah-marah kepadaku, apa kau sudah sinting?"

"Bocah sinting! Apa kau tidak tahu bicara dengan siapa, berani kurang ajar seperti itu?" Bu Kam Ki melangkah maju, kedua lengannya sudah gemetar karena ia menahan-nahan nafsunya hendak memukul. Kalau tidak ingat bahwa Lee Ing hanya seorang gadis muda yang sebaya dengan anaknya, tentu tadi-tadi ia sudah menjatuhkan tangan besi.

"Tua bangka!" Suara Lee Ing sekarang juga terdengar sungguh-sungguh dan ketus sekali. "Aku bicara dengan Pek-kong-sin-ciang Bu Kam Ki, seorang tua bangka yang mengaku-aku sebagai bekas pahlawan, bekas patriot bangsa pembela rakyat yang gagah perkasa dan budiman, akan tetapi ternyata setelah tua menjadi seorang yang tak tahu malu, mengandalkan kepandaian untuk menindas orang lain dan tidak saja menjatuhkan tangan maut kepada keluarga Ciong yang belum diketahui kesalahannya, akan tetapi juga memaksa seorang pemuda menjadi mantunya. Cih, tak tahu malu betul!"

Kemarahan hati Bu Kam Ki tak dapat ditahannya lagi. Kalau yang memakinya itu seorang yang sederajat atau setingkat, kiranya ia yang biasanya berwatak jujur tentu akan mempertimbangkan ucapan itu. Akan tetapi yang menegur dan memakinya sekarang hanya seorang gadis muda, ini penghinaan sebesar-besarnya!

"Bocah tak tahu aturan, kau agaknya sudah bosan hidup!" Bu Kam Ki melompat maju hendak menyerang.

"Jangan, Bu locianpwe.....!" Han Sin juga melompat, menghadang dan mencegah kakek itu turun tangan.

"Mengapa pula kau menahanku? Dia apamu?" "Bu....bukan apa apa, dia... dia penolongku."

"Kalau begitu minggir! Dia boleh menolongmu, akan tetapi telah menghinaku!" Secepat kilat Bu Kam Ki menerobos ke samping tubuh Han Sin, menerjang Lee Ing. Akan tetapi gadis itu sudah melompat mundur mencari tempat lega karena tempatnya tadi di dekat meja, sempit sekali.

"Jangan, locianpwe...!" Han Sin mencegah lagi. "Kau akan kalah...!" Pemuda ini yang sudah menyaksikan kepandaian Lee Ing, tidak merasa ragu-ragu lagi bahwa gadis sakti ini tentu akan menang kalau sampai terjadi pertempuran, sungguhpun ia juga sudah dapat menduga akan kelihaian kakek ini. Kata-kata terakhir ini begitu saja terloncat dari mulutnya seperti ketika Lee Ing hendak bertanding melawan Ciong Thai. Di dalam hatinya sudah terdapat kepercayaan penuh bahwa gadis pujaannya ini memiliki kesaktian seperti Kwan Im Posat dan karenanya tidak terkalahkan!

Mendengar ini, mana Bu Kain Ki mau percaya? Ia mengeluarkan suara ketawa dingin, lalu menerjang terus sambil memukul dengan Pek-kong-siu-ciang. Diterangi cahaya api lilin, pukulan itu mendatangkan sinar putih yang menyilaukan ketika tangan itu meluncur seperti kilat menyambar ke arah tubuh Lee Ing. Biarpun mewarisi kepandaian sangat tinggi. Lee Ing hanya seorang gadis muda yang belum banyak pengalaman. Apa lagi dia masih muda, darahnya masih panas dan keberaniannya berlebih-lebihan sampai ia kurang berhati-hati.

Biarpun dari nama julukan kakek ini ia dapat menduga bahwa lawannya adalah ahli dalam ilmu Iweekang dan memiliki ilmu pukulan yang berbahaya, namun menghadapi pukulan Pek-kong-sin- ciang ini ia tidak menjadi gentar sama sekali, malah iapun menggerakkan tangan kanan mendorong ke arah pukulan lawannya itu, sedangkan tangan kirinya dibengkokkan dengan aneh ke atas seperti bukan gerakan ilmu silat. Padahal menurut ilmu silat yang ia pelajari dari Gua Siluman, gerakan ini adalah gerakan serangan yang amat lihai, disebut Si Gila Memuja Bulan!

"Werrr! Werrr!" Dua macam hawa pukulan dari dua orang itu menyambar dan saling bertemu dengan kekuatan yang dahsyat sekali. Pek-kong-sin-ciang Bu Kam Ki melongo setelah ia dapat mengerahkan tenaga dalamnya untuk menahan keseimbangan tubuhnya yang menjadi terguncang oleh pertemuan tenaga yang hebat Sebagai seorang kang ouw yang ulung dan sudah banyak sekali pengalamannya, tentu saja sudah pernah ia bertemu dengan lawan tangguh, akan tetapi selama hidupnya baru sekali inilah ia bertemu dengan seorang gadis muda sebaya anaknya yang tidak saja dapat menahan pukulan jarak jauhnya Pek-kong-sin-ciang. malah dapat membuat kedudukan kakinya terguncang! Dan yang terutama sekali membuat ia melongo adalah melihat gerakan pukulan gadis itu yang amat aneh dan lucu, selama hidupnya belum pernah ia menyaksikannya. Inilah yang hebat dan membuatnya tercengang, oleh karena Bu Kam Ki adalah seorang tokoh di dunia persilatan serba bisa. Semenjak mudanya kakek ini tiada hentinya mempelajari ilmu silat maka boleh dibilang segala macam ilmu silat dan cabang yang manapun juga ia mahir, atau sedikitnya tentu ia dapat mengenalnya. Akan tetapi ilmu pukulan yang diperlihatkan gadis tadi, dengan tangan kiri membengkok aneh ke atas, benar benar belum pernah ia melihatnya.

"Hemmm, kau boleh juga. Siapa namamu?"

"Namaku souw Lee Ing, kau kakek tua tanya-tanya nama ada apa sih?"

"Hush, kurang ajar kau! Apa kau kira dengan sedikit kepandaianmu kau bisa membikin aku takut? Lihat serangan!"

Kembali Bu Kam Ki menyerang, karena penasaran kini ia melakukan pukulan-pukulan berat, berganti-ganti dari jarak jauh dan dekat sehingga angin menyambar-nyambar dan terputar-putar ke arah gadis itu. Setidaknya jauh lebih lihai dari pada tokoh-tokoh seperti Mo Hun atau Kui Ek kalau tak boleh dibilang setingkat dengan kepandaian Tok-ong Kai Song Cinjin. Pukulan Pek-kong-sin-ciang benar-benar mengandung angin pukulan yang dahsyat.

Kalau di fihak Lee Ing kagum, di fihak Bu Kam Ki tak dapat dilukiskan lagi kekagetannya ketika melihat gadis itupun membuat beberapa gerakan aneh, terhuyung-huyung dan meloncat ke sana ke mari sambil menggerakkan kedua tangannya dengan kacau-balau. Akan tetapi dari sepasang lengan gadis itu menyambar hawa pukulan yang demikian hebat sehingga semua pukulan, baik dari jarak jauh maupun jarak dekat, terpental kembali! Lima pukulannya yang dilepas secara bertubi-tubi seperti menubruk benteng baja dan terpental kembali Inilah hebat! Orang yang dapat menghadapi pukulan-pukulannya tadi seperti yang dilakukan oleh gadis ini, demikian mudah dan sederhana, kiranya jumlahnya dapat dihitung dengan jari tangan.

"Lihai juga! Bocah, kau murid siapakah?" tanya Bu Kam Ki dengan muka berobah merah karena pertanyaannya ini merupakan pengakuan bahwa ia tidak dapat mengenal permainan silat gadis itu.

Sambil bertolak pinggang Lee Ing menjawab, "Kakek ompong! Mau tahu guruku? Namanya Bu Beng (Tiada Nama), bertahta di Yu-beng-te-hu (Istana Akhirat) di kota Kui-bun-koan (Kota Iblis). Puas?"

Wajah Bu Kam Ki makin menjadi pucat saking marahnya. Jelas gadis ini mempermainkannya dan terlalu memandang rendah kepadanya. Tentu saja ia tidak tahu bahwa biarpun secara main-main, gadis itu telah membuat pengakuan, karena gurunya memang bernama Bu-Beng Sin-Kun dan tempat tinggalnya di dalam Gua Siluman.

"Yau-hu (siluman betina)! Kau benar-benar tidak memandang mata kepada Pek-kong-sin-ciang Bu Kam Ki. Kau jaga baik-baik pukulanku ini!" Setelah berkata demikian, kakek itu menggerak-gerakkan kedua tangannya, diputar-putar di depan dada sampai semua pergelangan lengan mengeluarkan bunyi "kretek... kretek!" dan kulit lengannya nampak putih berminyak.

Setelah itu  ia lalu membanting  kedua kakinya di atas lantai sambil berseru  "aaahhhh!"  dan.....

sepasang kakinya itu amblas ke dalam lantai sampai dua dim lebih. Kemudian ia memandang tajam ke depan, siap melakukan pukulannya. Inilah ilmu pukulan yang disebut Pek-in-ki-san (Awan Putih Naik Gunung) yang merupakan inti dari Ilmu Silat Pek-kong-sin-ciang ciptaannya sendiri. Pek-in-ki- san ini merupakan serangan yang terdiri dari dua pukulan, pertama menghantam bagian bawah tubuh lawan sedemikian rupa sehingga jalan satu-satunya bagian lawan untuk menghindarkan diri hanya melompat ke atas. Kemudian pukulan susulan, yaitu bagian "ki-san" atau naik gunung dilakukan dengan memukul ke arah lawan yang sedang meloncat. Dalam keadaah meloncat tentu saja kedudukan lawan tidak kuat, sedangkan dua pukulan ini dilakukan dengan tenaga Pek-kong-sin- ciang maka dapat dibayangkan betapa dahsyat dan berbahayanya.

Namun reaksi yang diperlihatkan oleh Lee Ing di luar dugaan dan tidak kalah anehnya. Melihat orang mengerahkan tenaga Iweekang sepenuhnya sampai lantai tempat kaki berpijak menjadi amblas ke bawah. Lee Ing mengeluarkan suara ketawa aneh sekali dan.. gadis itu mendadak menjatuhkan diri, duduk di atas lantai dengan kedua kaki dilonjorkan ke depan, kemudian kedua tangannya ia sodorkan dalam sikap menyembah.

Kelihatannya memang aneh dan menggelikan, akan tetapi inilah gerakan yang disebut Si Gila Menyembah Matahari, suatu pecahan dari Ilmu Silat Si Gila Merindu peninggalan Bu-Beng Sin-Kun. Dalam gerakan ini terkandung tenaga Iweekang yang dahsyat dan gaib.

Pek-kong-sin-ciang Bu Kam Ki ketika melakukan pukulan pertama tertumbuk kepada tenaga tak terlihat yang meniup dari gerakan dua tangan gadis yang menyembah itu sampai terpental kedua kepalan tangannya yang melakukan gerakan mendorong. Ia kaget setengah mati bercampur rasa heran, akan tetapi melihat gadis itu kini berjungkir balik dengan kepala di bawah dan kaki di atas, kembali ia melakukan pukulan sebagai lanjutan pukulan pertama. Kali ini pukulannya dilakukan agak ke atas, sedianya untuk memukul lawan yang melakukan pembelaan diri secara melompat.

Akan tetapi oleh karena pembelaan diri Lee Ing tadi lain dari pada yang lain, malah sekarang gadis itu berjungkir-balik, tentu saja pukulan ini menuju ke arah kedua kaki gadis itu yang menjulang ke atas seperti dua batang rebung (bambu muda). Pukulan ini hebatnya bukan kepalang tidak kalah oleh yang pertama dan kaki orang lain pasti akan patah-patah atau remuk terkena hawa pukulan ini. Lee Ing menggerak-gerakkan kedua kakinya seperti orang menendang bola, atau seperti anak bayi bermain-main dengan kaki. Akan tetapi inipun bukan gerakan biasa karena dari kedua kakinya menyambar tendangan yang hebat. Sekali lagi Bu Kam Ki terkejut dan pukulannya terpental, bahkan tubuhnya sampai doyong ke belakang hampir terpental! la cepat melompat dan kiranya lantai yang tadi amblas sekarang makin dalam lubangnya sampai kakinya tadi amblas sebatas lutut.

Terdengar Lee Ing tertawa aneh sekali lagi dan gadis inipun melompat dan berdiri seperti biasa. Bekas kedua tangannya menabok lantai tadi juga kelihatan berlubang kurang lebih satu dim dalamnya. Ternyata hebat juga pengaruh pukulan Bu Kam Ki, akan tetapi kalau dilihat betapa lubang yang dibuat oleh kedua kaki kakek itu jauh lebih dalam, dapat dinilai bahwa dalam mengadu tenaga lweekang yang sakti tadi, ternyata gadis itu masih menang setingkat.

"Kau siluman wanita! Katakan dulu siapa gurumu, dari partai mana kau sebelum aku melanjutkan mengadu nyawa denganmu! Aku tidak akan malu-malu lagi untuk mengeluarkan seluruh kepandaianku melihat bahwa kau adalah seorang lawan setingkat."

Sejak tadi Han Sin berdiri bengong melihat pertandingan yang dalam pandangannya amat aneh itu, akan tetapi yang ia tahu merupakan pergulatan mati-matian maka dapat dibayangkan betapa gelisah hatinya. Ingin ia mencegah pertandingan ini, kalau bisa ia akan menolong Lee Ing dan kalau perlu mengorbankan nyawanya untuk nona yang dicintainya ini, akan tetapi tentu saja ia merasa berat kalau syarat pertolongan itu dia harus menikah dengan gadis lain!

"Bu lo-enghiong, nona Souw adalah puteri tunggal Souw Teng Wi Taihiap! Harap maafkan dan sudahi pertempuran ini!" akhirnya ia berteriak dengan hati gelisah sekali. Bu Kam Ki nampak kaget sekali mendengar ini seperti disengat kalajengking. Matanya terbelalak lebar kemudian tertawa terbahak- bahak.

"Ha-ha-ha-ha! Titian Maha Adil! Souw Teng Wi mempunyai puteri seperti ini, benar-benar ini kurnia Thian. Memang seorang pahlawan besar seperti dia patut sekali di anugerahi puteri segagah ini. Ha- ha-ha, nona muda, kalau belum bertempur belum saling mengenal, ini memang kebiasaan orang- orang gagah. Kenyataan bahwa kau memang bersalah dalam hal ini. Ayahmu seorang pahlawan bangsa yang tiada keduanya. Dan kau seorang gadis muda yang tiada keduanya pula di dunia ini. Kepandaianmu benar-benar hebat dan mengagumkan. Sudahlah, aku si tua bangka memang terlalu memikirkan kepentingan sendiri, terlalu ingin melihat anakku mendapat jodoh seorang pemuda gagah. Lamunan kosong belaka, tidak melihat kebodohan dan keburukan rupa anak sendiri. Sudah, Liem-sicu, maafkan saja aku orang tua yang sudah pikun. Soal perjodohan kucabut kembali, namun aku tetap kelak dapat kau harapkan bantuanku dalam perjuangan membantu Tiong-gi-pai, tentu saja kalau aku masih hidup pada waktu itu." Setelah berkata demikian, sekali berkelebat Bu Kam Ki menghilang keluar dari rumah, lenyap ditelan gelap malam.

Lee Ing menarik napas panjang, "Hebat    Bu-lohiap itu kepandaiannya tinggi dan lihai sekali. belum

tentu kalah oleh Tok-ong Kai Song Cinjin."

"Menurut suhu, Pek-kong-sin-ciang memang merupakan seorang di antara tokoh besar yang sekarang sudah jarang sekali muncul. Malah suhu pernah berkata bahwa sekarang setelah Tok-ong memperlihatkan diri, ada harapan tokoh yang lain juga memperlihatkan diri. Masih ada dua orang tokoh lain yang tingkatnya kelas satu akan tetapi suhu sendiri belum pernah berjumpa, yang satu bernama Tok-pi Sin kai (Pengemis Sakti Tangan Satu) dan seorang lagi berjuluk Im-kau Hek-mo (Iblis Hitam dari Akhirat)! Mereka ini kata suhu adalah orang orang aneh yang sukar sekali diajak urusan." Lee Ing tertarik sekali "Hemm, tak kusangka di dunia begitu banyak orang sakti." "Betapapun saktinya, tiada yangm dapat mcelawanmu, nona Souw"

"Bisa saja kau memuji. Aku ini apa, sih? Eh, Liem twako, kau tadi mengapa menolak? Bukankah enak sekali ditarik mantu, gadisnya cantik dan lihai, mertuanya sakti. Mau pilih yang bagaimana lagi?"

Han Sin menghela nafas dan berkata sungguh-sungguh, "Kau tahu, nona, jangankan baru puteri Bu lohiap, biar bidadari dari kahyangan sekalipun aku tetap akan menolak. Hati, cinta kasih. bahkan

jiwa ragaku sudah bukan milikku lagi, sudah kuserahkan untuk bersetia sampai mati Lupakah kau

akan sumpah dan janjiku di dalam hutan gelap tadi?"

Lee Ing meniup dengan mulutnya dan semua lilin di ruangan itu padam, keadaan menjadi gelap sekali, gelap gulita tidak kelihatan apa-apa. "Hayo kita pergi, jangan mengacau yang bukan-bukan. Kita lanjutkan perjalanan, aku tidak senang di tempat ini."

"Malam-malam begini?"

"Biar malam! Sekarang sudah lewat tengah malam, sebentar lagi juga datang pagi yang terang." "Baiklah, hanya aku khawatir kita akan kehilangan jalan lagi."

"Lebih baik aku bermalam di hutan dari pada di rumah ini. Hayo!"

Keluarlah dua muda-mudi itu dari rumah keluarga Ciong dan hal ini mudah dilakukan karena di luar rumah dipasangi lampu gantung. Hati Han Sin makin melekat kepada gadis yang luar biasa itu, akan tetapi makin dipikir makin sedihlah dia karena tidak ada harapan. Gadis ini demikian lihai dan sakti, dia mana ada harga menjadi sisihannya? Paling-paling menjadi pengagumnya selama hidup. Akan tetapi, mendapat kesempatan bersama menghadapi segala pengalaman berhaya, sudah merupakan hal yang amat membahagiakan hatinya.

Menjelang pagi mereka masih berada di dalam hutan. Lembah Sungai Yang-ce di wilayah ini ternyata banyak hutannya, hutan yang besar dan liar. Pagi itu hawanya dingin sekali menusuk tulang, namun bagi muda-mudi seperti Han Sin dan Lee Ing yang memiliki kepandaian tinggi, tentu saja serangan hawa dingin ini bukan apa-apa. Dengan gembira mereka berjalan terus melalui sebuah lorong kecil yang jarang sekali dilalui manusia.

"Ada orang menggantung diri di sana!" tiba-tiba Han Sin berseru sambil menuding ke kiri. Lee Ing menoleh dan benar saja, di sebelah kiri kelihatan seorang gadis menggantung lehernya sendiri dengan sehelai ikat pinggang sutera yang diikatkan pada dahan pohon besar yang tinggi.

"Hemmmm, seperti pernah kulihat mukanya," kata Lee Ing sambil mengikuti Han Sin yang sudah melangkah maju ke jurusan itu.

"Benar, dia Bu Lee Siang!" Kaget hati Han Sin. Benar saja gadis yang mengambil keputusan pendek itu adalah Lee Siang, puteri Bu Kam Ki.

"Dia masih hidup, mari kita tolong!" kata Han Sin.

Lee Ing mengerutkan keningnya. "Dia sudah mengambil keputusan sendiri, ditolong juga apa artinya? Kecuali kalau kau menikah dengan dia dan selalu berada di sampingnya, baru dia tidak ada kesempatan menggantung diri. Kalau tidak, sekarang ditolong besok bisa menggantung leher sendiri lagi."

Akan tetapi Han Sin yang besar perikemanusiaannya itu tidak memperdulikan kata-kata Lee Ing dan cepat melompat ke atas, memutuskan ikat pinggang yang mengikat leher Lee Siang, kemudian tanpa sungkan-sungkan lagi ia memondong tubuh gadis itu ke bawah dan membaringkannya di atas rumput. Pada kulit leher yang putih bersih itu nampak tanda merah bergurat bekas ikatan tali sutera. Baiknya belum lama gadis ini menggantung diri, sebentar saja napasnya sudah mulai berjalan lagi. Akan tetapi ketika Han Sin menengok, ternyata Lee Ing sudah pergi darin situ! Lee Siang membuka matanya perlahan, nampak terheran lalu menoleh ke kanan kiri. Ketika ia melihat Han Sin berjongkok di dekatnya, ia kaget sekali.

"Di....di mana aku.   ?" tanyanya lemah.

"Engkau masih hidup, nona. Harap tenang dan sabar, segala hal dapat diurus beres, mengapa mesti mengambil jalan gelap?"

Akan tetapi Lee Siang melompat kaget mendengar ini. "Jadi kau.. kau yang menolongku? Setelah apa yang kau lakukan kepadaku.. setelah kau menghinaku, menghancurkan hatiku, mendatangkan malu besar sampai aku tak sanggup hidup lagi, sekarang kau masih hendak merintangi aku mengambil jalan gelap? Aku mampus kau perduli apa?" Nona itu kelihatan marah sekali.

Han Sin gelagapan disSrang dengan kata-kata ini. "Eh-heii. nanti dulu, nona. Apakah kesalahanku? Aku menghina bagaimana dan mengapa membikin malu? Apa kau tidak keliru?"

"Orang berhati kejam! Kau masih berpura-pura lagi? Kau menolak pinangan ayah, berarti kau, menolak aku! Tanpa alasan pula! Dan ayah tidak berdaya memaksamu karena... karena siluman wanita itu. ! Untuk apa aku hidup setelah menerima penghinaanmu ini tanpa dapat membalas?"

"Ah, kau keliru, nona. Aku sama sekali tidak menolak karena aku benci kepadamu atau kupandang rendah. Sama sekali bukan tidak ada alasan.:

"Kau belum beristeri belum bertunangan, namun kau menolak!"

"Betul, akan tetapi jiwa ragaku sudah ada yang punya! Sungguhpun orang ini belum tentu mencintaiku, namun selama hidupku aku hanya mencinta seorang wanita saja."

Bu Lee Siang nampak tercengang. "Eh, kenapa kau tidak memberi tahu ayah secara terus terang untuk mencegah ayah menggunakan paksaan yang memalukan? Apakah..... apakah wanita itu siluman betina yang datang bersamamu?"

Han Sin hanya mengangguk. Tiba-tiba Lee Siang mengeluarkan suara aneh, setengah tertawa setengah menangis, lalu pergi dari situ. "Kalau begitu kau tidak menghinaku, aku tak perlu mati. Bukan kau saja laki-laki di dunia ini!"

Han Sin menarik napas panjang. Untung gadis itu dapat sadar dan membatalkan niatnya yang buruk, la menoleh ke sana ke mari tetapi tetap saja tidak nampak Lee Ing. Memang ada baiknya Lee Ing tidak berada di situ, pikirnya karena kalau tadi ada Lee Ing, kiranya tak semudah itu ia mengaku di depan puteri Bu Kam Ki bahwa ia hanya meminta Lee Ing seorang.

"Nona Souw   !" teriaknya memanggil. Tiada jawaban. "Adik Lee Ing..!" ia memanggil lagi.

Tetap sunyi, tiada jawaban gadis itu, hanya kicau burung hutan yang menjawabnya. Apa boleh buat, ia berjalan terus melanjutkan perjalanannya tadi, keluar dari hutan. Setelah keluar dari hutan itu, ia melihat Lee Ing, berdiri menghadapi matahari pagi sambil bersilang tangan seperti sedang mandi cahaya matahari. Gadis itu berdiri tegak dan membelakangi Han Sin.

"Nona Souw !*’ Han Sin berseru girang.

"Kusangka kau sudah pergi jauh dari sini."

Lee Ing memutar tubuhnya dan Han Sin melihat sepasang mata yang kemerahan, agaknya karena terlalu lama menghadapi matahari pagi, pikirnya.

"Bagaimana dengan Bu Lee Siang?" tanya Lee Ing dengan suara perlahan, berbeda dari biasanya. Agak tergetar dan terharu.

"Anak bodoh itu sudah pulang," jawab Han Sin biasa.

Tiba-tiba Lee Ing nampak marah. "Sombong! Kenapa kau menyebut dia anak bodoh?" Akan tetapi sebelum Han Sin menjawab, dia sudah berkata lagi cepat-cepat, "Hayo kita melanjutkan perjalanan. Bukankah kau hendak ke Peking sekarang? Ataukah masih harus berputar-putar di sini?"

"Aku baru mendapat janji satu orang, yaitu Bu-lohiap, tentu ini belum berarti tugasku selesai. Aku harus terus ke barat lebih dulu sampai di Gunung Tai-Iiang-san, baru aku akan ke utara." Di dalam hatinya Han Sin ingin mengajak nona itu, akan tetapi tentu saja bibirnya tidak berani mengucapkannya.

"Hemmmmm.       " Lee Ing berpikir-pikir, "sebetulnya aku harus cepat-cepat ke utara mencari ayah.

Akan tetapi, bertemu dengan orang-orang sakti itupun menarik hati sekali. Setelah sampai di sini, baik aku ikut sampai ke Tai-liang'-san."

Girang hati Han Sin. "Bagus sekali, nona Souw. Aku harap saja kita akan dapat bertemu dengan seorang di antara dua tokoh yang kusebutkan tadi karena kata suhu mereka itu dahulu melenyapkan diri di wilayah Tai-Iiang-san."

Berangkatlah kedua orang ini ke barat, melalui jalan yang amat sukar dan liar. Namun berkat kepandaian mereka yang tinggi, tentu saja perjalanan sukar itu mereka lakukan dengan mudah dan cepat. Hanya Han Sin yang payah, harus selalu mengerahkan seluruh kepandaian untuk dapat mengimbangi kecepatan gerakan Lee Ing yang nampaknya berjalan biasa namun ringan dan cepat sekali majunya.

Mereka makin erat hubungannya. Lee Ing adalah seorang gadis jenaka yang selalu bergembira, namun agak aneh wataknya dan kadang-kadang seperti orang sinting! Ini adalah pengaruh yang ia dapat dari Gua Siluman. Di lain fihak, Han Sin adalah seorang pemuda yang sifatnya sederhana, ramah-tamah, jujur dan selalu berpikiran baik dan sopan. Mereka cocok sekali. Yang membuat Han Sin merasa agak kecewa dan juga heran adalah pengetahuan Lee Ing tentang ilmu silat. Kalau Han Sin mengajaknya bicara tentang ilmu silat, keterangan gadis yang berilmu tinggi itu amat kacau dan malah seperti ngawur kalau tidak boleh dikata bahwa tingkat pengetahuannya seperti tingkat seorang yang memiliki kepandaian ilmu silat tidak berapa tinggi. Hal ini memang demikian, karena kepandaian silat dari Lee Ing adalah berkat pendidikan kong- kongnya, Haminto Losu, yang biarpun lihai namun dibandingkan dengan Han Sin masih terhitung rendah. Adapun ilmu kesaktian yang kini dimiliki gadis itu adalah ilmu silat yang aneh, yang ia warisi dari manusia aneh pula sehingga dasar-dasarnya sudah jauh berlainan dengan ilmu silat-ilmu silat dari partai-partai seperti Kun-lun, Bu-tong, Go-bi, dan lain-lain yang mempunyai dasar yang sama, atau setidaknya hampir sealiran.

Yang berbeda hanya ilmu silat-ilmu silat dari golongan sia-pai atau

penganut-penganut Mo-kauw yang merobah ilmu silat menjadi setengah ilmu sihir, merobah-ilmu seni penjagaan diri menjadi ilmu setan alat pembunuh!

Akan tetapi, ilmu silat yang dimiliki Lee Ing ini berbeda dari kedua-duanya! Dikata seni penjagaan diri yang biasanya selain keteguhan juga diperlihatkan keindahan gerak tubuh, sama sekali bukan karena gerakan-gerakan yang diperlihatkan Lee Ing sama sekali tidak indah, kacau balau dan lucu seperti seorang gila menari-nari. Dikatakan ilmu setan alat pembunuh dari Mo-kauw juga bukan, karena pukulan-pukulannya bersih tidak memperlihatkan segi-segi curang dan tidak mengandung hawa beracun.

Hati Han Sin sudah seratus prosen tunduk, ia mencinta Lee Ing sepenuh hati dan perasaannya. Ini bukan rahasia lagi, malah biarpun ia selalu bersikap sopan dan tidak berani sembarangan menyatakan cinta, namun gerak-gerik dan sikap serta pandang matanya membuat Lee Ing siang- siang sudah tahu apa gerangan yang terjadi di dalam hati pemuda tampan itu.

Bagaimana dengan Lee Ing sendiri? Sukar dijawab, malah Lee Ing sendiri juga tidak tahu. Ia tertarik dan suka kepada Oei Siok Ho, pemuda yáng amat ganteng dan memikat hatinya. Hatinya berbisik bahwa ia mencinta Siok Ho. Ia suka sekali kepada Han Sin, ini tidak dapat disangkal pula, akan tetapi di sana ada Siok Ho yang lebih dulu sudah merebut hatinya dan cintanya. Andaikata tidak ada Siok Ho, mungkin sekali hatinya akan condong kepada Han Sin.

Tiga pekan telah lewat semenjak Han Sin dan Lee Ing melanjutkan perjalanan mereka ke barat. Sikap dua orang muda ini satu kepada yang lain sudah tidak asing lagi, malah kini Lee Ing selalu menyebut pemuda itu Sin-ko (kakak Sin) sedangkan Han Sin menyebut pemudi itu Ing-moi (adik Ing). Tentu saja sebutan ini adalah usul Lee Ing karena kalau tidak, Han sin masih selalu ragu-ragu dan tidak berani Untuk berlancang menyebut Ing-moi.

Biarpun di dalam sebutan ini tidak ada artinya apa-apa namun Han Sin sudah menjadi amat girang dan berbesar hati. Memang tolol sekali orang yang sudah terpengaruh oleh cinta. Diberi senyum sedikit, dikerling sekilas, sudah bukan main besar hatinya! Mudah merasa bahagia, mudah pula merasa berduka, inilah sifat orang bercinta kasih.

Pada suatu malam bulan purnama, dua orang muda-mudi ini melanjutkan perjalanan mereka yang kini sudah jauh meninggalkan tanah datar lembah sungai dan sudah mulai memasuki daerah tinggi berbukit. Malam itu memang indah. Bulan penuh tidak ada angin, terang sejuk dan pemandangan amat indahnya. Usul Lee Ing pula untuk melanjutkan perjalanan di waktu malam. Han Sin sudah biasa sekarang dengan watak gadis yang kadang-kadang aneh ini. la tidak banyak membantah, hanya menyatakan setuju dan melanjutkan perjalanan, tidak bermalam di dusun yang mereka lalui.

"Malam indah seperti ini aku tidak mau dikurung dalam rumah apek di bawah atap penuh tikus," kata Lee Ing. "Kalau kita lelah mengantuk, biar kita bermalam saja di atas rumput bawah pohon sambil menikmati cahaya bulan untuk memperkuat Im-kang dalam tubuh. Kepandaian Han Sin belum mencapai tingkat begitu tinggi sehingga dari cahaya bulan ia dapat memperkuat Im-kang. Hanya orang-orang yang sudah tinggi saja tingkat lweekangnya akan dapat melatih diri dan memperkuat Yang-kang dengan sinar matahari dan memperkuat lm-kang dengan cahaya bulan.

"Lihat, di sana itu ada asap, dan baunya sedap sampai ke sini.!" tiba-tiba Lee Ing berkata sambil menudingkan telunjuknya yang kecil runcing itu ke arah puncak sebuah bukit kecil.

"Heran," kata Han Sin setelah menoleh. "Terang di sana tidak ada dusunnya, tidak ada rumah orang. Bagaimana bisa ada asap dupa? Tentu dupa yang dibakar oleh pertapa."

"Mari kita melihat ke sana." ajak Lee Ing.

"Untuk apa kita mengganggu pertapa yang sedang menikmati cahaya bulan sambil membakar dupa dan berdoa? Itu dosa namanya, mengganggu pendeta yang mensucikan diri."

Lee Ing tersenyum dan Han Sin tertegun, kesima kagum. Sering kali ia melihat gadis itu tersenyum, bahkan setiap gadis itu tersenyum ia selalu memperhatikan, akan tetapi belum pernah ia melihat Lee Ing tersenyum di bawah sinar bulan purnama. Memang hebat sekali senyum gadis di bawah sinar bulan purnama, mempunyai pengaruh dan wibawa yang ajaib sekali. Han Sin menjadi terpesona dan berdiri bengong seperti orang terkena hikmah.

"He, kau kenapa, Sin-ko. ?" tanya Lee ing sambil menepuk pundaknya.

Baru Han Sin sadar kembali dengan kaget lalu menjawab gugup-gagap. "Aku, aku... tidak apa-apa...

hanya melihat engkau. "

"Lain kali kalau memandang orang jangan seperti itu, mengerikan sekali." Gadis itu mengomel, "Kau tadi bilang yang di atas itu pendeta suci? Aku tidak percaya. Andaikata betul pendeta, dia tak bisa dibilang suci karena masih mempunyai keinginan besar untuk bersenang hati. Buktinya, hendak menikmati cahaya bulan dan harumnya dupa, dan semua itu dinikmatinya sendiri!"

"Lho, mengapa perbuatan itu kau jadikan ukuran bahwa dia tidak suci?" tanya Han Sin tak mengerti.

"Sudahlah, jangan-jangan kita nanti cekcok tentang pendeta suci atau tidak Jangan merusak suasana seindah ini dengan perdebatan," kata Lee Ing yang segera membelok dan mulai mendaki bukit kecil itu. Terpaksa Han Sin mengikuti dari belakang. Memang dua orang muda-mudi ini seringkali berdebat mengukuhi kebenaran pendirian sendiri-sendiri. Han Sin orangnya jujur, tentu saja ia tidak suka pura-pura yang dianggapnya keliru. Akan tetapi kerap kali ia dibikin bingung dan tak mengerti oleh pendapat-pendapat Lee Ing yang aneh dan sukar dimengerti.

Makin dekat dengan puncak bukit itu. makin keras baunya asap dupa menusuk hidung. Lee Ing mempercepat pendakiannya dan Han Sin terpaksa juga mengikutinya terus. Akhirnya sampai juga mereka di puncak dan terlihat oleh mereka tiga orang laki-laki setengah tua duduk bersila di atas tanah mengitari sebuah batu yang dipergunakan seperti meja, sedangkan di dekat mereka mengebul asap dupa itu yang ternyata amat keras dan harum baunya. Seorang di antara mereka adalah seorang setengah tua yang bertopi batok (topinya berbentuk batok), seorang lagi tosu setengah tua yang memegang pedang dan orang ke tiga adalah seorang gemuk dengan muka bundar seperti muka kodok, memegang sebatang pedang bengkak-bengkok seperti tubuh ular.

"Dia Pek-kong-sin-kau Siok Beng Hui   !" Han Sin berbisik sambil menudingkan jan telunjuknya. "Yang bertopi batok itu?" bisik Lee Ing kembali. Mereka berdua mengintai dari balik pohon dan mereka bersembunyi di balik pohon berhimpitan dan tanpa disengaja pundak Lee Ing mendesak dada Han Sin sedangkan rambutnya melambai mengusap hidung pemuda itu, membuat Han Sin untuk sejenak hampir kehilangan kesadarannya!

"Dialah pembantu dan utusan raja muda di utara," kata Han Sin, suaranya agak gemetar karena hatinya masih dak-dik-duk dapat mencium rambut gadis itu tanpa disengaja. "Heran mengapa dia berada di sini?"

Tentu saja Lee Ing sudah mengenal nama Siok Beng Hui. Bukankah orang tua ini ayah pemuda Siok Bun, merah pipi Lee Ing. Pemuda bertopi batok yang tampan itu juga amat baik kepadanya. Ada tiga orang yang ketiganya baik sekali, pertama Siok Ho, ke dua Han Sin, dan ke tiga Siok Bun! Tiga orang yang duduk seperti patung tak bergerak itu kini mulai bicara. Yang bicara adalah si tosu yang memegang pedang, suaranya tegas dan penuh desakan, ditujukan kepada Siok Beng Hui,

"Siok Beng Hui, kita bertiga bertemu dan bicara secara laki-laki, disaksikan oleh cahaya bulan. Harum dupa sudah menjernihkan pikiran kita, maka pinto harap saja kau akan dapat mempertimbangkan permintaan kami secara mendalam."

"Sudah kupertimbangkan baik-baik, Gak Seng Cu. Dan jawabanku tetap tidak! Keselamatan Souw- taihiap menyangkut keadaan negara dan jangan dibandingkan dengan hubungan keluarga atau sahabat, bahkan dibandingkan dengan keselamatan nyawa lebih penting lagi."

"Siok Beng Hui, kauil ternyata masih keras kepala seperti di waktu muda, tidak dapat berpikir panjang. Kau tentu tahu bahwa kami tidak akan mengganggu keselamatan Souw Teng Wi.

"Tetap saja aku tak dapat memenuhi permintaanmu, Gak Seng Cu, terserah kepadamu!" jawab pula Siok Beng Hui, suaranya juga tetap. Tosu itu menarik napas panjang, sedangkan kawannya, si muka kodok, hanya mesam-mesem lucu.

"Siok Beng Hui, guru-guru kita bertiga adalah tokoh-tokoh besar di dunia puluhan tahun yang lalu dan selama itu tidak pernah ada permusuhan, Siapa yang tidak kenal gurumu, Pek-kong-sin-ciang Bu Kam Ki? Siapa tidak mengenal guru Pek Ke Cui ini, Im-kan Hek-mo? Juga guruku tidak kalah terkenalnya, semua orang kang-ouw pernah mendengar nama Tok-pi Sin-kai! Mereka bertiga itu dahulu menjagoi dan tak pernah dikalahkan orang kecuali untuk satu kali! Bukan rahasia lagi bagi kita bertiga bahwa guru-guru kita itu dahulu, di waktu mereka masih muda belia dan kuat perkasa, mereka bertiga secara mengeroyok telah dikalahkan oleh seorang gila yang sudah tua bangka bernama Bu-beng Sin-kun! Ilmu silat Bu-beng Sin-kun tidak ada yang menyamai keanehannya dan kita semua sudah mendengar dari guru-guru kita. Sekarang tak dapat disangkal lagi bahwa Souw Teng Wi mempelajari ilmu silat Bu-beng Sin-kun! Kita masih berpikiran waras, tidak akan menganggap Souw Teng Wi sebagai musuh, akan tetapi pinto dan Pek Ke Cui ini berhak mengetahui di mana Souw Teng Wi mempelajari ilmu silat musuh lama itu."

"Kau sudah menceritakan semua itu, Gak Seng Cu, dan aku sudah mengerti betul apa yang kalian kehendaki. Selain hendak mengetahui di mana Souw-taihiap mempelajari ilmu itu, juga kalian ingin sekali dapat mewarisi ilmu yang dulu pernah mengalahkan guru-guru kita, bukan? Akan tetapi, menyesal sekali, Souw-taihiap adalah seorang pahlawan besar, dia banyak diincar oleh para penghianat maka tempat tinggalnya dirahasiakan. Bahkan kepada kalian sendiripun terpaksa aku tak dapat membuka rahasia." "Siok Beng Hui, kau terlalu! Guru-guru kita yang menjadi jagoan-jagoan kelas satu di dunia, saling tolong dan akur. Masa di antara kita harus melenyapkan tradisi baik itu? Apakah kami harus menggunakan kekerasan?"

Siok Beng Hui berdiri, sikapnya tenang namun tegas dan gagah. "Kalian ini orang-orang tak tahu diri yang lupa akan keadaan. Memiliki kepandaian tidak dipergunakan untuk membela rakyat memperbaiki keadaan negara, masih mencari kepandaian terus, untuk apa? Rakyat sedang prihatin, kalian tidak membantu malah memikirkan kesenangan diri sendiri."

"Orang she Siok, kepandaianmu seberapakah, bicaramu begitu sombong? Kau menghina kami sama dengan menghina guru kami karena mencari tempat tinggal Bu-beng Sin-kun bukan hanya kehendak kami, melainkan kehendak guru-guru kami!" kata si muka kodok yang bernama Pek Ke Cui itu.

"Aha, begitukah? Jadi guru-guru kalian yang menyuruh? Betapapun juga, aku tetap menolak, tidak saja karena kedudukanku, juga mengingat bahwa suhu sendiri tentu takkan membiarkan aku berlaku khianat terhadap seorang pahlawan seperti Souw-taihiap!"

"Pek Ke Cui, manusia ini sudah terlalu mabok akan pangkat. Kita tangkap dan seret ke depan suhu- suhu kita, beres!" kata Gak Seng Cu, tosu yang memegang pedang itu.

"Jangan kira aku takuti" bentak Siok Beng Hui yang mencabut keluar sepasang senjatanya, yaitu kaitan yang berwarna putih.

"Tosu bau dan siluman kodok benar-benar tak tahu diri!" tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan tahu-tahu Lee Ing sudah berdiri di hadapan mereka.

Jangankan Gak Seng Cu, Pek Ke Cui, dan Siok Beng Hui. bahkan Han Sin sendiri yang berdiri dekat sekali dengan Lee Ing, tidak melihat kapan gadis itu bergerak, sekali berkelebat tahu-tahu sudah pindah tempat. Tentu saja ketiga orang jago itu menjadi kaget dan terheran-heran sampai mereka melongo dan tidak melanjutkan pertempuran yang tadinya akan berlangsung. Akan tetapi Gak Seng Cu dan Pek Ke Cui marah sekali karena mereka maklum sepenuhnya bahwa makian tadi ditujukan kepada mereka.

"Dari mana munculnya bocah perempuan siluman?" bentak Gak Seng Cu marah. Akan tetapi Lee Ing tidak memperdulikan mereka, sebaliknya ia menghadapi Siok Beng Hui, mengangkat kedua tangan memberi hormat dan berkata,

"Siok-lopek (uwa Siok), terimalah hormatku. Kau seorang gagah yang amat mengagumkan. Kau betul sekali, jangan hiraukan dua ekor kadal ini!" Mau tak mau Siok Beng Hui tersenyum mendengar ucapan dan melihat sikap Lee Ing yang jenaka, namun tak dapat disangkal lagi cantik menarik dan penuh keberanian yang mengagumkan.

"Nona cilik, jangan kau main-main. Dua orang gagah ini tidak boleh kau permainkan begitu saja.

Mereka lihai sekali dan mundurlah kau, biar aku

menghadapi mereka untuk membereskan urusanku," kata Siok Beng Hui halus. Akan tetapi kini Lee Ing sudah menghadapi dua orang lawan Siok Beng Hui itu, lalu menudingkan jari telunjuknya yang kecil sambil memaki,

"Eh, kadal-kadal kelaparan, dengarkan baik-baik. Kau hendak memaksa Pek-kong-sin-kauw Siok Beng Hui untuk menjadi pengkhianat. Mana dia mau? Seorang pahlawan atau ksatria tidak macam kalian ini, kadal dan kodok busuk. Kalian mencari-cari pahlawan Souw Teng Wi mau apa sih? Tak usah jauh- jauh kalian mencari, ini puterinya, Souw Lee Ing kalian hadapi. Hayo, kalian mau apa? Apa kau kira manusia-manusia tiada guna macam kalian ini bisa menggertak ayah? Cih, tidak tahu diri benar!"

Gak Seng Cu dan Pek Ke Cui menjadi bengong, tidak saja tertegun menyaksikan gadis ini bersikap sedemikian rupa terhadap mereka yang selama hidup belum pernah dihina orang seperti ini, juga karena kaget mendengar pengakuan bahwa gadis ini adalah puteri Souw Teng Wi. Siok Beng Hui juga tak kurang-kurang kagetnya. Baru satu kali ia melihat puteri sahabatnya itu, yakni ketika Lee Ing diculik oleh Toat-beng-pian Mo Hun. Akan tetapi ketika itu belum jelas benar ia melihat Lee Ing maka sekarang ia menjadi pangling (lupa akan wajah seseorang yang dikenal).

"Kau puteri Souw-taihiap? Bagus! Minggirlah anak baik, biar aku menghadapi dua orang yang menyeleweng ini," kata Siok Beng Hui, gembira bahwa ternyata puteri pahlawan itu masih hidup. Hal ini tentu akan banyak membantu kemajuan pikiran Souw Teng Wi yang selama ini hidup tidak karuan jalan pikirannya, tetap seperti orang gila. Dan ia merasa girang sekali bahwa puteri Souw-taihiap ternyata cantik jelita dan pemberani, sungguhpun agak terlalu berlebihan dalam menghadapi Gak Seng Cu dan Pek Ke Cui, kalau ia teringat betapa puteranya, Siok Bun agaknya cinta kepada gadis ini. Sikap binal dan jenaka dari gadis ini mudah dirobah kelak, pikirnya.

Akan tetapi mana Lee Ing mau mundur atau minggir? Dua orang ini sudah memandang rendah ayahnya hendak memaksa mengetahui tempat ayahnya untuk diculik kiranya, atau dipaksa menunjukkan tempat tinggal Bu-beng Sin-kun. Mana ia bisa diam saja? Mencari tempat Bu-beng sin- kun berarti mencari Gua Siluman dan memusuhi Bu-Beng Sin-kun sama halnya dengan memusuhi gurunya, dan karenanya juga memusuhi dia sendiri sebagai murid tunggal Bu beng sin-kun!

"Tidak, Siok-lopek. Mereka telah berani menghina ayah, biar aku yang memberi hajaran kepada mereka." Lee Ing mencabut pedangnya yang ia beri nama Li-lian-kiam untuk memperingati nama kekasih suhunya yang mati di dalam Gua Tengkorak Seperti main sulap saja ia melakukan ini karena tahu-tahu sebatang pedang tipis ringan telah berada di tangannya..

Bahkan tiga orang jago itu yang masing-masing memiliki kepandaian tinggi juga tidak dapat melihat dengan jelas bagaimana gadis itu mencabut pedangnya. Han Sin saja yang tahu karena gadis itu pernah memperlihatkan Li-lian-kiam yang selalu digulung sebagai sabuk di pinggang gadis itu. Tentu saja kalau diambil secara cepat membuat orang bingung karena tadinya tidak kelihatan. Melihat betapa Siok Beng Hui masih ragu-ragu untuk membiarkan gadis semuda itu menghadapi dua orang lihai sepert Gak Seng Cu dan Pek Ke Cui, Han Sin berseru,

"Siok lo-enghiong harap jangan khawatir. Kepandaian nona Souw boleh diandalkan!"

Beng Hui menengok dan sekarang ia melihat Liem Han Sin muncul dari balik pohon. Ia menjadi girang dan cepat mendekati pemuda itu, lalu bersama Han Sin memandang ke arah Lee Ing yang sudah menghadapi dua lawannya.

"Siok Beng Hui, tak malukah engkau, mengundurkan diri dan membiarkan seorang bocah perempuan mewakilimu merasakan kelihaian kami? Kalau kau takut penuhi saja permintaan kami dari pada harus lari bersembunyi di balik punggung wanita. Kami segan bertanding dengan bocah perempuan!" kata Gak Seng Cu, sedangkan Pek Ke Cui hanya menyeringai.

"Eh, tosu bau dan muka kodok, jangan banyak tingkah. Kalian sudah berani menghina ayah, mana tidak berani menghadapi tantangan puterinya? Ha-yo, aku menantang kalian mengadu kepandaian, kalau kalian takut, suruh guru-guru kalian kakek-kakek tak tahu diri yang mau mampus itu ke sini!" "Nona Souw, harap jangan bicara seperti itu!" Siok Beng Hui menegur, gelisah sekali mendengar nona itu lancang memaki-maki nama dua orang tokoh besar, guru dari Gak Seng Cu dan Pek Ke Cui. "Guru-guru mereka adalah tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw "

"Tak perduli. Mereka mencelakai ayah boleh maju kalau sudah bosan hidup!"

Sementara itu, Gak Seng Cu dan Pek Ke Cui tak dapat menahan marahnya lagi. Akan tetapi untuk maju berbareng, mereka merasa malu. Bahkan maju sendiri saja melawan seorang gadis muda sudah merupakan keganjilan memalukan. Akan tetapi sikap dan kata-kata gadis itu benar-benar menyakiti hati dan tak boleh didiamkan begitu saja.

"Bocah bermulut lancang. Lekas pergi dari sini jangan banyak ribut!" bentak Gak Seng Cu sambil mengarahkan pedangnya ke arah Lee Ing untuk

mengancam, sedangkan lengan baju tangan kirinya menyambar untuk mendorong roboh gadis itu dari samping.

Akan tetapi akibatnya aneh sekali. Pedang Gak Seng Cu itu dengan kerasnya memukul pedang di tangan Lee Ing dengan maksud membuat pedang gadis itu terlepas, akan tetapi begitu bertemu, dua pedang itu saling tempel tak dapat dipisahkan lagi. Gak Seng Cu merasa betapa semacam kekuatan penarik yang dahsyat keluar dari pedang lawan, membuat pedangnya melekat tak dapat dibetot kembali. Sedangkan tangan kirinya yang mendorong tadi, tiba-tiba terpental oleh semacam hawa pukulan aneh sampai menjadi kaku rasanya dan ujung lengan bajunya pecah dan sobek-sobek!

"He, muka kodok. Apa kau tidak berani? Hayo kau maju sekalian kalau memang gurumu yang bernama Iblis Hitam Neraka Jahanam itu berkepandaian."

Ditantang begini dan melihat betapa kawannya bengong saja dengan pedang masih menempel pada pedang gadis cilik itu, Pek Ke Cui menjadi tak sabar lagi. Disangkanya kawannya itu tidak bersungguh-sungguh.

"To-yu, mengapa kau sungkan-sungkan?" katanya dan pedangnya yang bentuknya seperti ular itu menyambar ke depan, sinarnya berkilauan terkena cahaya bulan, gerakannya cepat dan bertenaga.

Pedang ini tidak menyerang tubuh Lee Ing, melainkan menyambar ke arah pedang gadis itu pula untuk melepaskan pedang dari pegangan nona itu. Seperti Gak Seng Cu, si muka kodok ini sebetulnya sungkan untuk bertanding dengan Lee Ing. Mereka adalah tokoh-tokoh kang-ouw yang berkepandaian tinggi, masa disuruh bertanding melawan seorang nona muda? Dan karena mereka memang bukan orang-orang jahat, maka mereka tidak mau melukai Lee Ing dan hanya berusaha mengusir dan menakuti gadis muda itu saja supaya pergi dari situ jangan menganggu lagi.

"Tak!" Begitu pedang berbentuk ular itu bertemu dengan pedang Li-lian-kiam, kembali pedang itu menempel tak dapat terlepas lagi. Pek Ke Cui mengerahkan tenaga untuk membetotnya, juga Gak Seng Cu berusaha keras dan mengerahkan Iweekang namun tetap saja pedang mereka tak dapat terlepas dari pedang Lee Ing! Hal ini bukan hanya karena pedang gadis ini memang terbuat dari bahan yang mengandung besi semberani, melainkah terutama sekali oleh karena gadis itu memang sengaja menggunakan tenaga menyedot sehingga kekuatan semberani dari pedangnya menjadi berlipat ganda besarnya.

Hanya dua orang itu yang dapat mengalami betapa anehnya pertandingan ini, sedangkan Siok Beng Hui yang tidak mengalaminya, menjadi bengong dan tidak mengerti mengapa dua orang yang kepandaiannya setingkat dengan dia sendiri itu hanya berdiri dan berkutetan untuk membetot pedang Masing-masing.

Lee Ing juga bukan seorang gadis yang bodoh dan tak dapat membedakan orang. Melihat bagaimana dua orang lawannya tadi tidak mau melakukan serangan hebat ke arah tubuhnya saja sudah Membuktikan bahwa dua orang itu sebetulnya bukan orang-orang jahat yang kejam maka iapun tidak mau berlaku kejam. Selagi dua orang di kanan kirinya itu berusaha Melepaskan pedang masing- masing, Lee Ing mengerahkan tenaga pada pedangnya dan menarik. Tak dapat ditahan lagi dua orang itu tertarik maju dan pada saat itu Lee Ing berseru keras,

"Lepas!" dan... dua orang yang tiba-tiba pedangnya terlepas dari pedang Lee Ing itu tak dapat dicegah lagi terhuyung ke depan saling tabrak dengan kawan sendiri. Baiknya mereka berlaku cepat, dua tangan kiri didorongkan maju. Dada Gak Seng Cu terdorong oleh tangan kiri Pek Ke Cui sedangkan tangan kiri tosu itu mendorong kepala si muka kodok. Keduanya terjengkang ke belakang namun tidak sampai jatuh!

"Ilmu siluman..." Pek Ke Cui berkata perlahan -sambil mengelus-elus kepalanya yang terdorong oleh kawan sendiri tadi.

"Pek Ke Cui, lihat ilmunya yang aseli, agaknya dia belul anak Souw Teng Wi! Kebetulan sekali, kita tawan saja dia dan bawa kepada suhu!" kata Cak Seng Cu.

"Kau betul, toyu..." jawab kawannya dan pedang mereka berkelebat cepat sekali melakukan serangan dari dua jurusan.

Lee Ing tertawa gembira "Kalian mau menawan aku? Hemmm. diberi rasa sedikit masih belum kapok. Lihat pedang!"

Di lain saat dua orang itu menjadi bingung dan Siok Beng Hui yang tadinva khawatir menjadi kagum sekali. Gadis itu mainkan pedang seperti orang mabok, gerakannya tidak karuan dan lucu serta aneh sekali. Akan tetapi dua orang lawannya menjadi bingung dan tidak tahu bagaimana harus menyerang dan menjaga diri. Ke manapun juga mereka menyerang, pedang mereka selalu terpental kembali, sebaliknya setiap saat ujung pedang gadis itu mencari lowongan dan mengancam mereka dari semua jurusan! Benar-benar ilmu pedang yang aneh bukan main, sinarnya mengisi yang lowong membuyarkan yang penuh.

"Hebat sekali puteri Souw taihiap..." kata Siok Beng Hui perlahan. Han Sin memandang bangga. Dia sudah tahu bahwa Lee Ing, seperti biasa, tentu akan menang. Kepercayaannya terhadap gadis itu sudah penuh.

"lng-moi pasti menang..." katanya perlahan, tanpa melepaskan pandang matanya dari pertempuran. la tidak tahu betapa Siok Beng Hui menoleh kepadanya dengan kening berkerut, akan tetapi hanya sebentar karena jago tua inipun segera menonton jalannya penandingan lagi.

Pertandingan itu tidak memakan waktu lama. Belum sampai dua puluh lima jurus, tiba-tiba terdengar seruan Lee Ing, "Lepaskan pedang!!"

Pedangnya sendiri berubah menjadi sinar memanjang yang bergerak cepat sekali seperti cahaya kilat beterbangan dan tahu-tahu terdengar suar "traang-traangl" disusul terlemparnya pedang dari tangan Gak Seng Cu dan Pek Ke Cui. Dua orang jago tua ini berdiri pucat. Mereka maklum, sungguhpun dengan heran dan hampir tak dapat percaya, bahwa mereka bukanlah lawan gadis ini. Kekalahan mereka bukan karena kebetulan saja, melainkan kekalahan mutlak yang tak dapat dibantah lagi.

Andaikata mereka kalah oleh Siok Beng Hui, hal ini masih tidak mengapa karena memang kalau dibandingkan dengan Siok Beng Hui kepandaian mereka seimbang, menang kalah bukan hal aneh. Akan tetapi kalah oleh gadis semuda itu dengan secara begitu mudah lagi, benar-benar merupakan hal yang tak masuk di akal, karenanya benar-benar merendahkan sekali. Dengan perasaan malu yang hampir tak tertahankan lagi, membuat mukanya sebentar pucat sebentar merah, Gak Seng Cu memungut pedangnya dan berkata,

"Nona kecil benar-benar lihai, telah mewarisi ilmu tinggi. Pinto Gak Seng Cu mengaku kalah." la menjura lalu pergi diikuti oleh Pek Ke Cui yang juga sudah mengambil pedangnya dan tidak mengeluarkan perkataan apa-apa.

"Kalau masih penasaran, boleh mencari Souw Lee Ing jangan mencari ayah yang sudah tua!" Lee Ing mengejek.

Gadis ini sebetulnya sembarangan mengejek, memang sengaja menantang menggunakan nama sendiri karena tadi ia mendapat kenyataan bahwa kepandaian mereka memang tinggi. Andaikata ayahnya tak usah kalah terhadap mereka ini, akan tetapi kalau guru mereka yang datang, yang tingkahnya tentu sebanding dengan kepandaian Pek-kong-sin-ciang Bu Kam Ki, padahal ayahnya selain sudah tua, juga sudah cacad, sepasang matanya sudah buta, oleh karena inilah maka ia hendak mewakili ayahnya menghadapi mereka semua.

"Akan kami ingat nama itu...!" terdengar jawaban Gak Seng Cu dari tempat jauh. Ternyata mereka sudah hampir sampai di kaki buku. Demikian cepatnya ilmu lari mereka.

Siok Beng Hui menghela napas panjang sambil menghampiri Lee Ing. "Melihat gerakan mereka. dua orang tadi tak boleh dibilang mundur kepandaiannya. Akan tetapi dalam beberapa jurus saja kalah olehmu benar-benar membuat aku orang tua tak berguna, kagum sekali, nona Souw. Sungguh besar hatiku melihat bahwa Souw-taihiap mempunyai keturunan pandai seperti kau."

"Siok-lopek. di mana ayahku?" tanya Lee Ing cepat-cepat, la tahu bahwa jago tua she Siok mi tentu tahu di mana ayahnya berada. Siok Beng Hui nampak ragu, memandang ke kanan kiri, lalu berkata perlahan,

"Souw-taihiap berada di utara, kalau nona hendak mencarinya, pergilah ke Peking dan tanyakan kepada Bun-ji, dia akan membawa nona kepada Souw-taihiap."

"Bagus! Aku hendak menyusul ke sana!" Lee Ing menoleh kepada Han Sin, tersenyum dan berkata, "Sin-ko, terpaksa kita berpisah di sini. Aku tak dapat lagi menemani mencari jago-jago karena aku sudah tidak sabar lagi menanti, hendak buru-buru bertemu dengan ayah. Selamat berpisah, Sin-ko."

Setelah berkata demikian gadis itu memberi hormat kepada Siok Beng Hui dan Han Sin, kemudian sekali berkelebat ia lenyap, lari ke bawah bukit.

Han Sin kecewa sekali, akan tetapi apa yang dapat ia perbuat? la merasa seakan-akan semangatnya copot dan meninggalkan raganya, ikut terbang melayang di samping gadis itu. Tentu saja ia tidak berani sembarangan mencegah, apa lagi di situ ada Siok Beng Hui menjadi saksi, la hanya dapat mengangkat tangan kanannya melambai dengan hati perih dan muka pucat yang tidak kentara di bawah cahaya bulan itu. Siok Beng Hui sengaja tidak memberitahukan tempat persembunyian Souw Teng Wi kepada Lee Ing oleh karena sebetulnya ia masih ragu-ragu apakah benar gadis ini puteri Souw Teng Wi. Menurut cerita puteranya, puteri Souw Teng Wi yang bernama Souw Lee Ing tidak begitu tinggi ilmunya, mengapa sekarang tahu-tahu telah begini lihai? Maka ia sengaja menyuruh gadis itu menjumpai Siok Bun di kota raja utara, karena Siok Bun yang akan mengenalnya sebagai puteri Souw Teng Wi atau bukan. Kalau bukan dan ternyata palsu, tentu Siok Bun takkan mau menunjukkannya.

"Siok-Io-enghiong, bagaimana bisa sampai ke sini?" tanya Han Sin kepada Pek-kong-sin-kauw Siok Beng Hui yang baru sekarang ia ketahui adalah murid Bu Kam Ki.

"Hendak mencari suhu yang kabarnya berada di wilayah ini. Kau sendiri mengapa berada di sini? Aku sudah mendengar bahwa kawan-kawan Tiong-gi-pai mengungsi ke utara, malah ada beberapa orang sudah kujumpai, mengapa kau sendiri menyendiri di sini?"

"Aku justeru memenuhi tugas yang diserahkan kepadaku untuk menghubungi orang-orang gagah, minta bantuan mereka kelak untuk menjatuhkan boneka-boneka pemeras rakyat. Suhu lo-enghiong bukankah Pek-kong-sin-ciang Bu Kam Ki Locian-pwe?"

"Betul, kau tahu tempatnya?"

"Baru beberapa hari yang lalu aku pernah bertemu dengan beliau." Han Sin lalu bercerita tentang keluarga Ciong dan keluarga Bu Kam Ki. Tentu saja ia tidak mau bicara tentang maksud perjodohan yang menimbulkan heboh itu.

Girang sekali hati Siolk Beng Hui.

"Bagus, kalau begitu mari kau antar aku menemui suhu. Persiapan sudah dekat dan tadinya aku hendak minta bantuan kedua susiok, Tok-pi sin-kai dan Im-kan Hek-mo. Siapa kira mereka mempunyai pikiran yang bengkok, menyuruh murid mencari Souw-tai-hiap. Benar-benar menjengkelkan sekali! Fihak musuh sudah lama selalu berusaha mencari Souw-taihiap sekarang ditambah dua orang kakek itu, benar-benar sukar diurus. Baiknya ada nona Souw yang begitu lihai."

Karena maklum bahwa Siok Beng Hui adalah orang kepercayaan Raja Muda Yung Lo dan menjadi seorang yang dijunjung tinggi oleh Tiong-gi-pai, tentu saja Han Sin tidak berani menolak. Pula apa alasannya kalau menolak? Terpaksa ia berangkat dengan jago tua itu, ke timur kembali dan hatinya dak-dik-duk tidak enak kalau ia bayangkan bahwa ia harus bertemu muka lagi dengan Bu Kam Ki, terutama sekali dengan Bu Lee Siang!

Hatinya berat sekali karena baru tadi ia masih menikmati cahaya bulan purnama di samping Lee Ing sambil bersenda-gurau, sekarang ia harus berjalan di samping Siok Beng Hui, seorang setengah tua yang pendiam dan keren. Benar-benar perobahan mendadak yang tidak menyenangkan hati sekali.

Lee Ing melakukan perjalanan secepat mungkin, mengerahkan semua kepandaian untuk berlari cepat dan hanya mengaso apa bila sudah lelah benar untuk tidur atau makan. Biarpun hari sudah jauh malam, kalau fa belum lelah dan mengantuk benar, ia berjalan terus, la belum pernah melakukan perjalanan di daerah ini, akan tetapi maklum bahwa letak kota raja utara adalah di utara.

Akan tetapi, betapapun lihainya ilmu lari cepat Lee Ing, jarak yang ditempuhnya amat jauh. Ia berada di daerah Propinsi Hu-nan dan untuk mencapai tempat tujuannva, ia harus melalui empat propinsi besar lagi, yaitu Ho-pek, Ho-nan, dan Ho-pei. Ribuan mil ia harus tempuh dan banyak daerah yang masih liar dan sukar dilalui. Hanya berkat kepandaian yang tinggi saja ia dapat maju terus dengan cepat. Setelah melakukan perjalanan berpekan-pekan tanpa mengenal lelah saking rindunya hendak cepat- cepat bertemu dengan ayahnya, pada suatu pagi Lee Ing sudah tiba di tepi Sungai Huang-ho, sebelah utara kota Lok-yang. Ketika ia tadi pagi-pagi sekali berangkat dari Lok-yang, ia lebih dulu makan bubur di sebuah warung kecil. Pelayan warung itu menyatakan herannya bahwa sepagi itu ada seorang gadis membeli dan makan bubur.

"Kemarin juga pagi-pagi sekali ada serombongan orang makan bubur. Mereka itu orang-orang aneh, tetapi lihai. Nona lihat saja. Yang seorang dapat merayap tembok seperti cecak lalu mengecapkan tangannya di pian itu untuk main-main dengan kawan-kawannya yang jumlahnya lima orang. Orang- orang aneh akan tetapi mereka memberi hadiah secara royal sekali!"

Lee Ing tidak begitu memperhatikan dongeng pelayan ini, akan tetapi ketika matanya melirik ke arah pian yang ditunjuk, hampir saja ia berteriak, la melihat tanda tapak tangan hitam di atas pian itu. Itulah tanda Hek-tok-ciang!

"Hemm. siapakah badut yang main-main dengan cap buruk itu?" tanyanya memancing, pura-pura heran.

"Bukan badut, nona. Memang dia aneh, akan tetapi dia seorang kongcu (tuan muda) yang tampan dan berpakaian gagah sekali. Kawan-kawannya amat menghormatnya dan sikapnya seperti seorang berpangkat."

Lee Ing dapat menduga bahwa yang dimaksudkan itu tentulah Auwyang Tek. Siapa lagi selain Auwyang Tek atau Tok-ong Kai Song Cinjin yang memberi tanda Hek-tok-ciang? Hemm, pemuda itu sudah keluyuran sampai di sini, apa maksudnya? Dan tanda itu, apakah bukan sengaja dipasang supaya orang melihatnya? Tentu itulah tanda-tanda rahasia bagi crang-orang tertentu, ataukah untuk menakut-nakuti fihak lawan