-->

Pusaka Gua Siluman Jilid 09

Jilid 09

Siok Ho tidak menjawab, melainkan mengangkat bambu pancingnya untuk memperlihatkan ujung tali pancing kepada Lee Ing. Kalau tadi Lee Ing tersenyum, sekarang mata gadis ini terbelalak lebar dan ia menjadi terheran-heran. Ternyata bahwa pada ujung tali pancing itu hanya terdapat sebuah pancing yang aneh sekali. Pancing yang bentuknya lurus runcing seperti sebatang jarum saja. Juga di situ tidak dipajangi umpan apa-apa seperti biasanya orang mengail. Mana di dunia ini ada orang memancing dengan sebatang jarum tanpa umpan pula? Biarpun bukan ahli memancing, Lee Ing juga tahu kalau orang memancing ikan itu menggunakan pancing yang ada kaitannya dan memakai umpan pula.

Tak tertahan pula meledak suara ketawa Lee Ing, suara ketawa yang tidak disembunyikan atau ditutup-tutupi seperti biasanya gadis kota tertawa. Nampak deretan giginya yang putih bersih dan mengkilat seperti mutiara, bahkan kelihatan lidahnya yang kecil merah bergerak-gerak. Gadis ini memang sejak kecil hidup dengan kong-kongnya di utara, di mana tidak banyak peraturan kesopanan mengikat kebebasan seorang wanita. Siok Ho menengok dan kini dia yang bingung dan heran, tidak tahu! apa sebabnya gadis jelita itu tertawa sedemikian gelinya.

"Eh, eh, kenapa kau tertawa-tawa seperti orang digelitik perutnya?" tanyanya mendongkol.

Lee Ing dapat menekan dan meredakan gelinya, lalu dengan mulut masih tersenyum dan mata basah air mata ketika ketawa. ia bertanya, "Kau tadi bilang she Oei, akan tetapi lebih pantas kalau kau she Kiang. Apakah kau masih keturunan dari Kiang Cu Ge (tokoh besar dalam dongeng Hong-sin-pong)?" Di dalam dongeng Hong-sin pong, yaitu ketika jaman Kaisar Tiu Ong, Kiang Cu Ge adalah tokoh besar yang memancing datangnya raja muda baru dengan perlambangnya memancing ikan dengan pancing lurus seperti jarum, persis seperti yang dipergunakan oleh Siok Ho sekarang ini.

Kini Siok Ho yang memandang kagum. "Eh nona, kiranya kau seorang yang paham akan sejarah. Sungguh mengagumkan!"

Lee Ing tersenyum. "Aku hanya mendengar dongeng dari kakekku. Dengan pancing macam itu, bagaimana kau bisa mendapatkan ikan?"

"Kau tunggu saja," jawab Siok Ho yang kembali mengalihkan perhatiannya ke air. Tiba-tiba ia mengangkat bambu pancingnya sampai jarum itu terangkat dari permukaan air, lalu dengan gerakan hebat sekali bambu itu digerakkan ke bawah. Tali pancing yang membawa pancing bergerak pula dan pancing lurus seperti jarum itu meluncur ke bawah menembus permukaan air. Nampak air berombak dan bambu di tangan Siok Ho itu bergerak-gerak seperti ada yang menarik-narik di ujung tali pancing.

"Ikan lee yang besar juga   !" teriak Siok Ho girang. Ia menarik bambunya secara tiba-tiba ke atas

dan. seekor ikan lee yang gemuk menggelepar-gelepar di atas tanah dekat Lee Ing.

Sekarang tahulah Lee Ing bahwa pemuda yang memancing ikan ini ternyata memiliki kepandaian silat dan bahwa ia bukan memancing, melainkan mencari ikan dengan cara "menombak" ikan besar dengan sebatang jarum yang diikat seperti pancing. Diam-diam ia merasa geli akan kebodohan sendiri, juga geli melihat Siok Ho "mendemonstrasikan" kepandaian yang bagi dia sendiri tentu saja tidak berarti apa-apa itu. Kalau hanya begitu saja, itu permainan anak kecil baginya. Akan tetapi untuk tidak membikin pemuda itu berkurang kegembiraannya, iapun memuji, "Ah, ternyata kau seorang yang lihai!"

Seperti telah kita ketahui, Oei Siok Ho adalah seorang anak murid Kun-lun-pai yang amat tinggi kepandaiannya dan di dunia kang-ouw dia mendapat julukan Ang-sin-jiu (Si Tangan Merah). Biarpun masih muda, dia sudah banyak pengalamannya, apa lagi ia sering diberi nasihat oleh sucouw-nya agar jangan memandang rendah orang lain. Maka sekarang bertemu dengan seorang gadis muda seperti Lee Ing yang membawa pedang dililitkan di pinggang, ia dapat menduga bahwa Lee Ing tentu juga seorang kang-ouw.

"Aah, kepandaian memancing ikan seperti ini saja, masa patut dipuji?" katanya merendah. "Lihat, ikan itu gemuk dan segar. Perutku sudah lapar sekali. Mau kau makan bersamaku?"

Perut Lee Ing juga sudah amat lapar. Melihat sikap pemuda yang ramah dan jujur ini, lenyap keinginan hendak memberi hajaran. Dia tersenyum dan mengangguk. "Boleh, asal kau bisa memasaknya." Dengan kata-kata ini Lee Ing hendak menggoda Siok Ho, karena ia mendahului pemuda itu agar Siok Ho jangan minta dia memasakkan ikan. Akan tetapi, di luar dugaannya, pemuda itu menjawab sambil tertawa,

"Tunggu saja. Sekali kau merasai masakanku, kau akan minta tambah lagi." Dengan cekatan, jari-jari tangan pemuda itu memotong dan membersihkan ikan, mempergunakan sebatang pisau kecil yang memang sudah ia sediakan, kemudian ia mengeluarkan bungkusannya yang ternyata berisi garam, merica, dan lain-lain bumbu. Dibuatnya api dan tak lama kemudian tercium bau sedap sekali dari panggang daging ikan, membuat perut Lee Ing menjadi makin lapar memberontak. Benar-benar pandai pemuda itu memanggang ikan, cekatan dan bumbunya sedap.

"Kau tentu orang selatan," kata Lee Ing.

Siok Ho mengangkat alis. "Bagaimana kau bisa menduga begitu?" ia balas bertanya tanpa menjawab.

"Karena kau pandai memasak. Hanya di bagian selatan saja laki-laki pandai masak, sedangkan wanitanya tidak bisa masak. Laki-laki di bagian selatan mau menang sendiri saja. Bersekolah, memasak, bermalas-malasan. Sedangkan kaum wanitanya di suruh bekerja berat mati-matian di sawah dan melakukan semua pekerjaan kasar. Benar-benar seperti terbalik keadaan di sana."

Siok Ho tersenyum. "Sebaliknya, di bagian agak ke utara wanitanya hanya disuruh mengeram di dalam kamar, bersolek dan hidup seperti boneka cantik yang hanya untuk perhiasan atau permainan belaka."

"Jadi kau lebih membenarkan laki laki di selatan yang memperkuda wanita?" tanya Lee Ing mengerutkan kening dan pandang matanya mengandung penasaran.

Siok Ho menggeleng kepala. "Tidak begitu. dan akupun bukan orang selatan Aku hanya menceritakan keadaan orang utara sebagai perbandingan. Menurut aku kedua duanya keliru. Memang wanita tidak selayaknya seperti wanita yang menjadi boneka di dalam katnar, mengikat kakinya sampai tak pandai berjalan, bersolek setiap saat untuk menyenangkan hati laki laki.

Wanita harus pula bekerja, akan tetapi tentu saja tidak seperti wanita selatan yang harus membanting tulang di sawah sedangkan kaum laki laki hanya bersolek, bersekolah dan memasak. Pendeknya, laki-laki dan wanita harus saling bantu, bekeria sama dengan seadil-adilnya sesuai dengan tenaga dan kemampuan masing-masing. Tidak boleh saling menindas, tidak boleh saling mendewakan.

Lee Ing girang sekali mendengar ini "Akur! Aku benci melihat laki-laki yang menindas wanita, akan kupukul kepalanya kalau aku melihat suami memperkuda isterinva" katanya bernafsu dan giiang karena mengetahui isi hati Siok Ho. Akan tetapi tiba-tiba mukanya menjadi merah dan ia merasa penasaran sekali mengapa tak pernah pemuda ini menanyakan namanya. Biasanya, setiap pemuda yang bertemu dengan gadis cantik, segera hendak mengetahui nama, mengetahui alamat, dan mengetahui segalanya. Alangkah jauh bedanya Siok Ho ini dengan pemuda-pemuda Iain. Akan tetapi Siok Ho seakan-akan tidak mengetahui isi hati Lee Ing. Ikan sudah matang dan ia menurunkannya dari atas api. disodorkannya kepada L ee Ing.

"Ambillah, masih hangat-hangat dan enak dimakan selagi masih panas." kalanya.

Karena pikirannya masih termenung, Lee Ing menerima dan merobek daging ikan itu segumpal besar, tidak teringat sama sekali bahwa ikan itu dagingnya masih panas sekali dan tak mungkin kuat terpegang oleh sembarang orang. Dengan perbuatannya ini, tanpa disadari ia telah memperlihatkan kepandaiannya. Hanya seorang dengan Iweekang tinggi saja dapat menahan panas seperti itu. Dan ia sama sekali tidak tahu bahwa hal ini memang disengaja oleh Siok Ho yang ingin menguji sampai di mana tingkat kepandaian gadis lincah di depannya ini.

"Aha. kiranya kaupun seorang gadis yang memiliki kepandaian," kata Siok Ho sambil makan daging ikan bagiannya.

Lee Ing memandang heran. "Apa sebabnya kau menduga begitu?" "Daging ikan begini panas seakan-akan dingin saja bagimu."

Lee Ing sadar dan diam-diam ia memuji kecerdikan Siok Ho. Heem. pikirnya, kau sengaja hendak mengujiku, tunggulah saja, akan tiba saatnya aku yang menguji kepandaianmu. la hanya tersenyum dan melanjutkan makan daging ikan yang benar-benar lezat itu. la makin suka kepada pemuda yang ramah, berkepandaian lumayan serta pandai memasak ini.

Kita tinggalkan dulu dua orang muda yang sedang duduk menikmati panggang daging ikan lee itu dan mari kita menyelidiki keadaan Oei Siok Ho. Sebenarnya siapakah pemuda ganteng ini? Di bagian depan sudah pernah kita temui pemuda ganteng ini sebagai Ang sin-jiu, pemuda berbudi mulia yang lelah menolong nyawa Siok Bun ketika pemuda ini terluka oleh Hek-tok-ciang dari Auwyang Tek Di bagian itu sudah dituturkan bahwa Oei Siok Ho adalah anak murid Kun-lun-pai yang menerima warisan ilmu dari couwsu Kun-lun-pai, yaitu Swau Thai CouWsu Apa yang telah terjadi di Kun-iun pai? Mari kita mundur empat tahun.

Telah dituturkan di dalam jilid yang terdahulu betapa Kai Song Cinjin, tokoh nomor satu dari barisan kaki tangan Menteri Auwyang Peng, menjadi marah sekali kepada Kun-lun-pai karena dalam pertempurannya melawan Souw Teng Wi, biarpun ia berhasil membuat jari tangan Souw Teng Wi- patah dua buah dan menawan Souw Teng Wi, namun gigitannya pada jari tangan Souw Teng Wi juga membuat bibirnya pecah-pecah dan giginya rontok.

Hal ini mendatangkan malu besar kepadanya, dan ia menimpakan kemarahannya kepada Kun-lun- pai, partai dari Souw Teng Wi. Membasmi musuh harus sampai ke akar-akarnya, pikir kakek ini. Tentu Souw Teng Wi mendapat dukungan guru-gurunya di Kun-lun-pai, maka sebelum Kun-lun-pai bergerak, lebih baik ia mendahului mereka menyerang ke Kun-lun-san.

Dalam gerakan penyerbuan ke Kun-lun-pai ini ia disertai oleh Ma thouw Koai-lung Kui Ek dan di tengah jalan rombongannya diperkuat pula oleh Toat-beng-pian Mo Hun, manusia yang seperti iblis pemakan otak manusia itu. Juga rombongan itu sendiri merupakan pasukan kota raja pilihan yang terdiri dari pengawal-pengawal Menteri Auwyang Peng yang rata-rata memiliki ilmu silat tinggi.

Pada waktu itu, kun-lun-pai merupakan partai persilatan yang amat terkenal. Akan tetapi sayangnya, partai ini tidak mempunyai banyak anak murid. Hal ini adalah karena yang menjadi guru besarnya, yaitu Swan Thai Couwsu yang sudah berusia seratus tahun, melarang para muridnya untuk menerima sembarangan orang menjadi anak murid Kun-lun-pai- Bukan tidak ada sebabnya Swan Thai Couwsu berlaku keras dalam menerima murid. Sudah beberapa kali kalau ada anak murid melakukan penyelewengan maka nama baik partai yang terseret ke dalam lumpur dan Swan Thai Couwsu tidak menghendaki hal ini terjadi atas partainya.

Maka biarpun Kun-lun-pai merupakan partai persilatan ternama dan besar, kedudukannya pada waktu itu tidak begitu kuat. Yang tinggal di kelenteng besar hanya Swan Thai Couwsu. dua orang sutenya (adik seperguruan), lima orang murid yang kesemuanya sudah berusia lima puluh tahun, bersama sebelas orang saja anak murid Kun-lun-pai. Masih ada belasan orang lagi anak murid, akan tetapi mereka ini sudah turun gunung dan hidup berpencaran. Jadi yang memperkuat Kun-lun-pai pada waktu itu hanya sembilanbelas orang anggauta Kun-lun-pai dan beberapa orang kacung pelayan.

Kacung-kacung ini terdiri dari anak-anak yatim piatu yang di pungut oleh partai Kun-lun-pai, disuruh bekerja sebagai pelayan dan ada kemungkinan mereka ini kelak diambil murid karena yang dijadikan kacung rata-rata adalah anak-anak yang memiliki bakat baik. Tosu-tosu Kun-lun-pai bukan orang- orang penganggur. Tidak saja anak-anak murid yang masih muda, bahkan lima orang murid yang sudah tua itupun masih sering pergi ke lereng gunung mencari daun-daun obat atau mencari kayu- kayu kering. Ada pula yang membantu anak-anak murid bertani untuk mengisi bahan makanan mereka sehari-hari.

Oleh karena anak-anak murid Kun-lun-pai setiap hari turun dari puncak, maka kedatangan rombongan Kai Song Cinjin segera terlihat oleh mereka. Melihat kedatangan rombongan yang terdiri dari dua puluh orang lebih, dipimpin oleh tiga orang kakek yang kelihatannya aneh dan luar biasa, anak-anak murid Kun-lun-pai cepat-cepat naik ke puncak memberi laporan kepada Ngo-tai-su, yaitu lima guru besar di puncak. Lima guru besar ini adalah murid-murid Swan Thai Couwsu dan dua orang sutenya. Memang dalam mengurus semua hal, lima orang murid inilah yang mengatur.

Sedangkan Swan Thai Couwsu, jarang sekali keluar. Sungguhpun tidak setua Swan Thai Couwsu, dua orang tosu inipun usianya sudah tujuh puluh tahun lebih. Ngo-taislu atau lima guru besar ini bernama Giok Cin Tosu, Giok Kong Tosu, Thian Po Tosu, Thian Kong Tosu, dan Kim Sim Cu, rata-rata sudah berusia lima puluh tahun kecuali Kim Sim Cu yang baru berusia empat puluh tahun. Biarpun yang termuda di antara lima orang itu. namun Kim Sim Cu mempunyai kepandaian yang paling tinggi karena dialah murid tunggal Swan Thai Couwsu, sedangkan yang empat orang adalah murid-murid Swan Thian dan Swan Le Couwsu.

Ketika Kai Song Cinjin dan rombongannya tiba di depan kuil besar, ia disambut oleh lima orang tosu yang memimpin belasan orang-orang muda yang kelihatannya gagah-gagah, la tahu bahwa inilah tosu-tosu Kun-lun-pai, maka sambil tertawa bergelak ia membuka mulut besar,

"Mana Swan Thai si tua bangka? Apakah dia sudah mampus maka tidak keluar sendiri menyambut kedatanganku?"

Melihat pemimpin rombongan itu seorang hwe-sio tinggi besar bermuka menyeramkan yang datang-datang membuka mulut besar dan mengeluarkan kata-kata kasar, tentu saja para tosu Kun- lun-pai menjadi marah. Siapa yang tidak menjadi marah mendengar ketua dan guru besar yang amat mereka hormati itu dimaki-maki orang?

"Siancai.. dari mana datangnya orang jahat berkedok hwesio? Ataukah kau ini memang seorang hwesio yang mabok keduniawian?" kata Giok Cin Tosu.

Kalau dia dimaki hwesio jahat, kiranya Tok-ong Kai Song Cinjin takkan marah. Akan tetapi ketika Giok Cin Tosu memaki dia seorang hwesio mabok keduniawian, ia menjadi marah sekali. Makian ini tepat menusuk perasaannya, karena memang sebagai seorang hwesio kelas tinggi dia telah mengabdi kepada menteri durna karena ia mabok keduniawian! Tidak ada makian yang lebih menyakitkan hati dari pada pernyataan yang tepat dengan keadaannya. Tanpa mengeluarkan kata-kata lagi Kai Song Cmjin melangkah tiga tindak dan kedua tangannya bergerak-gerak ke depan dan sekaligus ia mengirim empat kali pukulan Hek-tok-ciang yang luar biasa lihainya!

Biarpun Giok Cin Tosu sudah memiliki kepandaian yang cukup lihai namun kalau dibandingkan dengan Tok-ong Kai Song Cinjin, ia masih kalah jauh sekali. Jangan lagi dia, biarpun suhunya. Swan Le Couwsu belum tentu sanggup menerima pukulan Hek-tok-ciang yang dilakukan empat kali beruntun dari jarak dekat ini Giok Cin Tosu mencoba untuk menangkis.

Akan tetapi ia hanya dapat menghindarkan pukulan pertama. ke dua dan ke tiga. Pukulan ke empat tak dapat ia elakkan lagi karena kedudukannya sudah kacau oleh tiga pukulan tadi. Dengan tepat sekali dadanya terkena pukulan Hek-tok-ciang. la mengeluarkan pekik mengerikan, tubuhnya terdorong ke belakang dan Giok Cin Tosu roboh telentang dengan nyawa putus dan dadanya memperlihatkan bekas tapak lima jari tangan hitam. Dapat dibayangkan betapa terkejut dan marahnya tosu-tosu yang lain. Serentak mereka maju dan mencabut pedang masing-masing. Kun- lun-pai memang terkenal dengan ilmu pedangnya.

"Hwesio jahanam!" bentak Giok Kong Tosu marah sambil menudingkan pedangnya. "Siapakah kau dan mengapa datang-datang kau membunuh orang?"

Kai Song Cinjin tertawa bergelak. "Tosu-tosu bau tak perlu kalian mengenal siapa pinceng. Lebih baik suruh Swan Thai Couwsu keluar atau pinceng akan masuk dan menyeretnya keluar."

"Untuk menghadapi manusia jahat macam kau tak perlu couwsu harus turun tangan. Kau kira kami takut padamu?" bentak Thian Kong Tosu sambil bergerak maju, la berlaku hati-hati kareha maklum bahwa hwesio asing ini memiliki ilmu pukulan beracun yang amal berbahaya. Akan tetapi Kai Song Cinjin mana mau melayani segala tosu yang tidak sebanding dengan tingkatnya? Juga Kui Ek tidak membiarkan semua jasa diborong oleh Kai Song Cinjin. la tertawa terkekeh-kekeh sambil melangkah maju, tongkat burung di tangannya siap sedia.

"Tosu siapa namamu dan apa pangkatmu di sini? Ketahuilah, aku Ma-Thouw Koai-tung Kui Ek dan aku mewakili Tok-ong untuk membasmi tosu-tosu cilik sebelum yang gede muncul."

Kagetlah para anak murid Kun-lun-pai mendengar disebutnya nama orang buruk rupa ini. Nama Ma- thouw Koai-tung bukanlah nama yang tidak terkenal. Akan tetapi nama Tok-ong malah tidak mendatangkan kesan apa-apa, karena Tok-ong Kai Song Cinjin memang seorang tokoh dari Tibet dan jarang dikenal. Hanya tokoh-tokoh besar saja yang sudah mendengar namanya. Melihat bahwa orang-orang ini datang sengaja hendak mencari permusuhan, Giok Kong Tosu menggerakkan pedang di depan dada dan berkata keren,

"Pinto Giok Kong Tosu dan Swan Thai Couwsu adalah supekku. Kalian ini rombongan dari mana dan apa alasannya kalian datang hendak membikin ribut Kun-lun-pai?"

"Heh-heh heh, segala tosu cilik tak perlu banyak bicara. Hanya Swan Thai Couwsu saja yang boleh bicara tentang itu. Kau dan orang-orangmu ini mundur saja, lekas panggil losu-tosu gede keluar kalau kalian tidak ingin mampus."

Tentu saja Giok Kong Tosu menjadi marah sekali. Ngo-taisu sudah mempunyai kedudukan istimewa di Kun-lun-pai dan mereka berwenang untuk membereskan segala urusan. Sekarang, seorang di antara mereka sudah tewas, bagaimana mereka, mau menghabiskan urusan begitu saja? Apa lagi Giok Kong Tosu sudah kehilangan suhengnya, marahnya tak dapat ditahan lagi.

"Sudah lama pinto mendengar tentang kebusukan hati Ma-thouw Koai-tung. Sekarang bertemu muka, ternyata berita itu betul adanya. Kalau pinto berhasil melenyapkan orang seperti engkau, berarti pinto membersihkan kotoran dari dunia ini."

"Tosu babi, kau harus mampus!" Kui Ek marah bukan main, tongkat burungnya berkelebat menyambar.

Namun Giok Kong Tosu cukup cekatan dan dapat mengelak sambil membalas dengan serangan pedangnya. Ilmu pedang Giok Kong Tosu cukup kuat dan cepat. Namun menghadapi Ma-thouw Koai- tung Kui Ek, ia masih kalah jauh. Permainan tongkat dari Kui Ek selain aneh dan cepat, juga mengandung tenaga yang jauh lebih besar dari pada tenaga Giok Kong Tosu. Kalau mau dibuat perbandingan, kiranya guru Giok Kong Tosu baru seimbang kepandaiannya dengan Kui Ek!

Pertempuran inipun tidak lama. Dalam jurus ke dua puluh. Giok Kong Tosu terlempar ke samping dengan kepala remuk terkena pukulan tongkat burung yang lihai itu. Para tosu menjadi marah. Sudah terang bahwa rombongan ini datang untuk menyebar maut, bukan semata-mata hendak menguji kepandaian seperti halnya partai-partai lain kalau datang hendak menantang pibu. Kim Sim Cu mengeluarkan suitan nyaring untuk memberi tanda ke tempat suhunya bersamadhi. Dia sendiri bergerak maju dengan tangan kiri mencengkeram ke arah kepala Kui Ek dan tangan kanan mencabut pedangnya.

"Jahanam keji, rasakan pembalasanku!" bentaknya.

Seperti sudah di ceritakan tadi, di antara lima orang tokoh Kun-lun-pai ini, Kim Sim Cu biarpun paling muda, namun tingkat kepandaiannya paling tinggi, la adalah murid dari Swan Thai Couwsu dan memang ia memiliki bakat besar. Belasan lahun ia merantau di dunia kang-ouw dan mendapat nama besar. Selain tinggi ilmunya, juga dia amat mulia, suka sekali menolong orang sehingga ia mendapat nama, baru Kim Sim Cu (Si Hati Emas). Para tokoh Kun-lun-pai merasa bangga akan sepak terjangnya, maka ia diperbolehkan menggunakan nama Kim Sim Cu dan namanya yang dulu, yaitu Thian Kim Tosu, dilupakan.

Kui Ek memandang ringan terhadap cengkeraman ini, apa lagi ia melihat bahwa yang menyerangnya hanya seorang tosu muda. Dengan tenang ia membarengi untuk menangkap tangan yang mencengkeram ini. Akan tetapi, alangkah kagetnya ketika tangan yang hendak ditangkapnya itu, begitu teraba oleh tangannya terus melejit ke depan dan sambungan sikunya kena dicengkeram.

"Cialat (celaka)!" teriaknya. Akan tetapi Kui Ek adalah seorang tokoh besar. Kalau bukan dia. tentu sudah putus sambungan tulang sikunya dan mungkin nyawanya juga terancam. Kemudian secepatnya ia memutar tubuh sambil mengerahkan tenaga Iweekang ke arah sikunya yang dicengkeram.

"Breettt!" Sungguhpun Kui Ek dapat menyelamatkan sikunya, tidak urung ia mengalami kekagetan besar karena bajunya di bagian siku putus dan kulit lengannya sedikit lecet-lecet, la melompat mundur untuk mengatur kembali kedudukannya yang agak kacau oleh serangan hebat tadi.

Akan tetapi sementara itu, sambil tertawa-tawa aneh, Toat-beng-pian Mo Hun sudah menghadang di depan Kim Sim Cu. Pian kelabangnya mengeluarkan suara menjetar dan menyambar ke arah leher tosu muda itu! Kim Sim Cu kaget sekali melihat gerakan luar biasa ini dan mencium bau amis yang memuakkan dari sambaran pian itu. Cepat ia menundukkan kepalanya dan menangkis pian dengan pedangnya sambil melompat merobah kuda-kudanya. Tepat sekali gerakannya ini, karena kalau ia tidak melompat pergi dan merobah kuda-kudanya, tentu ia akan menjadi korban kelihaian pian kelabang itu. Begitu tertangkis pedang, ujung pian masih meluncur ke arah lawan!

Sementara itu, Kui Ek yang sudah hilang kagetnya kini melihat bahwa kepandaian Kim Sim Cu, biarpun ilmu pedangnya cepat dan lihai, sesungguhnya masih tidak sukar untuk dikalahkan. Ia melompat maju pula dan menantang, "Tosu bau mana lagi yang sudah bosan hidup? Majulah!"

Thian Po Tosu dan Thian Kong Tosu yang menjadi sakit hati sekali melihat tewasnya dua orang suheng mereka, berbareng melompat maju dengan pedang terhunus. Mereka sejenak ragu-ragu karena betapapun juga mereka adalah orang-orang gagah yang segan melakukan pengeroyokan dalam pibu. "Ho-ho, kalian boleh maju berbareng. Kalau perlu boleh tambah dua lagi." Kui Ek mengejek dari langsung tongkatnya menyambar dahsyat. Thian Po Tosu dan Thian Kong Tosu terpaksa melawan dan mengeroyok, tidak saja karena lawan sudah menantang mereka berdua, juga kalau dipikir-pikir keadaan di waktu itu bukan merupakan pertandingan-pertandingan pibu yang harus terlalu banyak memakai aturan. Fihak lawan datang untuk mengacau dan membunuh, tentu saja mereka harus melawan mati-matian.

Pertempuran berjalan seru dan mati-matian, akan tetapi hanya pertempuran antara Kui Ek melawan dua orang murid Swan Thian Couwsu itu yang ramai sekali. Dua orang tosu itu karena maklum akan ketangguhan lawan, lalu bekerja sama dan mainkan Ilmu Pedang Lian-sian Siang-kiam. Ilmu pedang ini sebetulnya adalah ilmu pedang pasangan, yaitu seorang dengan dua batang pedang. Akan tetapi oleh Swan Thian Couwsu telah diciptakan menjadi ilmu pedang tunggal dan hebatnya, dua, tiga atau empat orang anak murid Kun-lun-pai kalau mainkan ilmu pedang ini dapat saling mengisi dan bantu- membantu seolah-olah semua pedang itu hanya dimainkan oleh seorang saja.

Dengan Liang-sian Siang-kiam, dua orang tosu itu dapat mengimbangi kehebatan tongkat burung dari Kui Ek. Boleh jadi kalau seorang lawan seorang, tosu Kun-lun-pai itu seakan-akan berhadapan dengan gurunya, akan tetapi kalau maju berdua, kekuatan mereka menjadi berlipat dan tidak saja mereka dapat menolak serbuan tongkat di tangan Kui Ek, bahkan mereka dapat pula membalas dengan serangan-serangan mematikan.

Akan tetapi, Kim Sim Cu payah sekali menghadapi pian kelabang dari Mo Hun. Biarpun Kim Sim Cu memiliki ilmu pedang yang lebih matang dari pada tosu-tosu lain, namun bertemu dengan Mo Hun ia kalah segala-galanya. Senjata pian di tangan Mo Hun benar-benar hebat dan sudah sepatutnya kalau Mo Hun mendapat julukan Toat-beng-pian (Pian Pencabut Nyawa). Hanya dengan pengerahan tenaga dan kepandaian seluruhnya Kim Sim Cu dapat bertahan sampai tiga puluh jurus lebih. Namun pedangnya sudah makin sempit sinarnya, makin terbatas gerakannya karena ia kini hanya dapat menangkis saja tanpa mampu membalas. Mo Hun mulai timbul kesombongannya dan tertawa-tawa mengejek sambil menyerang lebih hebat lagi.

"Heh-heh, serahkan saja kepalamu, heh-heh-heh..."

Pada saat Kim Sim Cu menangkis sambaran pian ke arah kepalanya, tiba-tiba tangan kiri Mo Hun yang berkuku panjang itu menyelonong ke depan hendak mencengkeram perutnya. Kim Sim Cu kaget sekali, tahu-tahu tangan itu sudah amat dekat dengan perutnya. Untuk menghindarkan diri tak ada waktu lagi. Tosu muda ini mengambil keputusan kilat. Dari pada mati konyol lebih baik menyeret lawan ke lubang kubur bersama, pikirnya. Ia tidak perduli lagi akan tangan kiri lawan yang mencengkeram ke arah perutnya, sebaliknya ia malah membarengi untuk membacokkan pedangnya ke arah kepala lawan untuk mengadu nyawa, mati bersama!

Akan tetapi, sungguh di luar dugaannya, tangan kiri yang tadinya mencengkeram ke arah perutnya itu kini diangkat naik dan mencengkeram ke arah pedangnya, dan pada saat yang bersamaan, pian kelabang telah menyambar pula ke leher! Inilah hebat! Benar benar serangan pancingan yang lihai sekali dari Mo Hun, sama sekali tidak dapat diduga lebih dulu oleh Kitn Sini Cu yang sudah berpengalaman. Kim Sim Cu tak dapat berbuat lain kecuali cepat-cepat merobohkan diri ke kanan sambil menarik kembali pedangnya, karena dalam saat seperti itu tak mungkin ia dapat melakukan serangan balasan lagi.

Sayang sekali, betapapun cepatnya ia merobohkan diri, pian kelabang lebih cepat datangnya dan biarpun lehernya dapat diselamatkan, namun pundak kirinya terbabat pian. Terdengar suara mengerikan dibarengi suara ketawa Mo Hun dan pundak Kim Sim Cu sebelah kiri terbabat putus berikut lengannya.

"Suhu, celaka.." Kim Sim Cu mengeluh, namun tosu muda yang gagah ini masih dapat melompat jauh sekali, lalu berlari cepat untuk memberi laporan kepada suhunya. Akan tetapi ia melihat berkelebatnya dua bayangan orang dari depan dan ia roboh di depan kaki dua orang itu yang ternyata adalah Swan Thian Couwsu dan Swan Le Couwsu.

"Ji-wi susiok.. Kun-lun-pai... terancam...... bahaya...." Setelah mengeluarkan kata-kata terakhir ini, Kim Sim Cu menghembuskan nafas terakhir di depan kaki kedua orang pamannya.

Swan Le Couwsu dan Swan Thian Couwsu berkelebat cepat ke tempat pertempuran, namun terlambat sudah. Thian Po Iomi dan Thian Kong Tosu yang tadi mengeroyok Kui Ek, sekarang juga sudah menggeletak tak bernyawa lagi di atas tanah, menjadi korban senjata Kui Ek dan Mo Hun yang sudah datang membantu kawannya sehingga pertempuran itu dapat cepat diselesaikan.

Anak-anak murid Kun-lun-pai yang muda-muda, yang tadinya merasa ngeri dan tidak berdaya melihat ngo-taisu mereka tewas semua, kini mulai maju mendekat lagi dengan semangat baru ketika mereka melihat Ji-couwsu dan Sam-couwsu sudah datang.

Dapat dibayangkan betapa sakit hati dua orang tosu tua ini melihat lima orang murid mereka menggeletak tak bernyawa di depan kaki rombongan yang dipimpin oleh tiga orang aneh yang kini menanti kedatangan mereka dengan senyum-senyum mengejek. Melihat hadirnya Kui Ek dan Mo Hun di antara rombongan musuh, dua orang tosu ini diam-diam menjadi marah sekali. Pantas saja terjadi keributan, tak tahunya ada dua orang iblis ini.

"Siancai.. siancai.... kiranya Ma-thouw Koai-tung dan Toat-beng-pian yang datang meng-, ganggu ketenteraman Kun-lun-san. Sebetulnya apakah maksud kalian datang-datang menyebar maut membunuhi murid-murid pinto?" tanya Swan Le Couwsu dengan suara tenang akan tetapi mengandung pengaruh besar.

Kui Ek dan Mo Hun saling pandang lalu tertawa besar, "Heh-heh-heh, benar saja sekarang muncul tosu-tosu gede setelah yang cilik-cilik mampus. Swan Le Couwsu, kedatangan kami berdua ini mengantar Tok-ong untuk menjumpai suheng kalian, Swan Thai Couwsu, untuk menuntut tua bangka itu yang menyimpan dan mendidik pemberontak."

Swan Le Couwsu mengerutkan keningnya. Dengan mengeluarkan kata-kata pemberontak, tahulah ia bahwa dua orang yang terkenal di dunia kang-ouw sebagai orang-orang jahat ini sekarang telah menjadi kaki tangan pemerintah Beng-tiauw. Biarpun tinggal di puncak gunung, Swan Le Couwsu cukup maklum bahwa pemerintah Beng-tiauw praktis dikuasai oleh durna-durna jahat dan bahwa kaisar sendiri yang dahulu benar-benar seorang patriot rakyat bernama Cu Coan Ciang, sekarang setelah menjadi kaisar tak berdaya sama sekali, terpengaruh seluruhnya oleh para menteri durna.

Berpikir sebentar saja Swan Le Couwsu dan Swan Thian Couwsu dapat menduga mengapa rombongan kaki tangan durna ini datang mengacau di Kun-lun-pai. Tentu ada hubungannya dengan Souw Teng Wi, anak murid Kun-lun-pai yang terkenal sebagai seorang pejuang rakyat yang pantang mundur, dahulu menjadi kawan seperjuangan Cu Goan Ciang akan tetapi sekarang dimusuhi oleh karena hasutan para menteri durna.

"Suheng sedang siulian dan selama bertahun-tahun ini beliau tidak mau berurusan dengan dunia. Beliau sudah terlalu tua dan tidak mungkin diminta keluar. Kalau ada urusan, cukup dirundingkan dengan pinto berdua," jawab Swan Le Couwsu. Melihat murid-murid menggeletak tak bernyawa namun masih bicara setenang itu benar-benar membuktikan bahwa tosu ini sudah mencapai tingkat tinggi dalam ilmu kebatinan.

Tiba-tiba Tok-ong Kai Song Cinjin tertawa bergelak, lalu berkata keras dan nyaring sekali karena maksudnya agar supaya suaranya dapat terdengar oleh Swan Thai Couwsu yang tidak mau keluar,

"Ha-ha-ha, Kun-lun-pai yang dibangun dengan susah payah, sekarang menghadapi kehancuran karena perbuatan anak muridnya yang menjadi pemberontak dan penghianat! Kalau Swan Thai Couwsu mau keluar dan menghadap kaisar dan minta maaf, itu masih baik dan ada harapan. Akan tetapi kalau terhadap Kaisar Beng-tiauw masih menjual lagak dan keangkuhan, berarti benar-benar Kun-lun-pai akan lenyap dari muka bumi!"

Swan Le Couwsu memandang Kai Song Cinjin dan berkata marah, "Mendengar suaramu, kau adalah seorang hoanceng (pendeta asing), bagaimana kau bisa bicara tentang memberontak atau menghianat? Kalau benar kaisar sendiri yang memanggil suheng, mana lengki (bendera utusan kaisar) dan firmannya?"

Tok-ong Kai Song Cinjin menjadi gelagapan. Memang dia bukan utusan kaisar, melainkan utusan Menteri Auwyang Peng, pula memang Kai Song Cinjin tidak mengerti tentang peraturan ini.

"Pinceng adalan orang kepercayaan pertama dari Menteri Auwyang, perlu apa pakai lengki segala? Tosu tua bangka, tak usah banyak cerewet. Lekas panggil Swan Thai Couwsu mu keluar sebelum pinceng kehabisan kesabaran dan turun tangan membunuh kalian dan rnenyeret keluar Swan Thai si tua bangka."

Sesabar-sabarnya Swan Le Couwsu. dia seorang manusia biasa, tidak kuat ia mendengar kata-kata yang amat menghina ini.

"Hwesio palsu, kotor sekali mulutmu!" ia membentak dan melompat maju.

Tiba-tiba dari samping Kui Ek melayangkan tinjunya mendorong Swan Le Couwsu sambil memaki, "Tosu bau, menggelindinglah!"

Pukulan Kui Ek amat hebat dan jarang ada orang sanggup menerimanya. Akan tetapi ia keliru kalau mengira bahwa ia akan dapat membuat tosu itu roboh hanya dengan sekali pukul. Swan Le Couwsu sudah disebut couwsu atau guru besar di Kun-lun-pai, tentu saja memiliki kepandaian yang tinggi dan luas. Melihat berkelebatnya Kui Ek dan merasa angin pukulan mendorongnya dari pinggir, Swan Le Couwsu mengebutkan lengan bajunya ke arah pergelangan tangan Kui Ek.

"Plakkl" Kui Ek mengeluh kesakitan dan cepat melompat mundur, memegangi tangan kanannya yang menjadi sakit dan kesemutan. Baiknya tadi ia masih keburu mengerahkan Iweekang dan menarik mundur tangannya, kalau tidak, ujung lengan baju tosu tua itu yang melakukan totokan tentu akan memuluskan urat nadinya! Saking marah dan malunya, Kui Ek lalu mengerahkan tongkatnya dan menyerang tanpa mengeluarkan suara lagi. Tongkat di tangan Kui Fk benar-benar aneh bentuknya. Kepala tongkat itu berukirkan seekor burung yang patuknya meruncing ke atas. Selain aneh, juga amat lihai gerakannya. Swan Le Couwsu juga tidak berlaku sungkan lagi.

Ia mencabut pedangnya yang mengeluarkan cahaya kehijauan. Inilah Cheng-hong-kiam (Pedang Hong Hijau), sebuah di antara pedang pusaka Kun-lun-pai. Ketika ia menangkis sambaran tongkat, terdengar suara keras dan bunga api berhamburan akan tetapi dua senjata yang bertemu itu tidak rusak, tanda bahwa keduanya adalah senjata-senjata yang ampuh dan kuat. Sementara itu, Mohun juga tidak mau tinggal diam. Ia memutar pian kelabang di tangannya, langsung ia menyerang Swan Thian Couwsu yang juga sudah mencabut pedangnya. Terjadilah pertarungan yang seru dan seimbang antara dua orang tokoh besar ini.

Anak-anak murid Kun-lun pai yang melihat couwsu mereka sudah bertempur, tidak mau tinggal diam pula. Dengan pedang di tangan mereka maju, semua mainkan Ilmu Pedang Liang-sian-siang-kiam sehingga dapat saling membantu dan menjadi barisan yang kuat sekali! Mereka disambut oleh pasukan pengawal dan terjadilah perang kecil yang cukup hebat. Suara senjata beradu tercampur pekik dan maki memenuhi udara puncak Kun-lun-pai yang biasanya sejuk dan bersih itu.

Mula-mula Tok-ong Kai Song Cinjin hanya berdiri menonton saja. Ia terlalu angkuh untuk turun tangan apa bila lawan tidak setingkat dengan dirinya, kecuali kalau anak buahnya terdesak. Ia melihat betapa para pengawal yang rata-rata berkepandaian tinggi itu bertempur ramai dengan para anak murid Kun-lun-pai. Akan tetapi ketika ia melirik ke arah Kui Ek dan Mo Hun, ia tersenyum mengejek. Kui Ek dan Mo Hun nampak terdesak. Di dalam hatinya Tok-ong Kai Song Cinjin tidak suka kepada Kui Ek dan Mo Hun, akan tetapi ia yang tidak suka adalah pribadinya. Mereka itu kawan- kawannya, atau lebih tepat anak buahnya dan ia masih amat membutuhkan bantuan mereka.

Dua orang locianpwe dari Kun-lun-pai itu memang benar-benar hebat ilmu pedangnya. Sayang mereka sudah amat tua, tubuh mereka sudah tidak sekuat dulu lagi. Kalau Kui Ek dan Mo Hun melawan mereka dua puluh tahun yang lalu, jangan harap akan dapat menahan serangan pedang mereka. Sekarangpun biar menang kuat tenaga, tetap saja Kui Ek dan Mo Hun terdesak dan tertindas oleh kurungan sinar pedang. Melihat betapa dua orang anak buahnya itu terdesak, Tok-ong Kai Song Cinjin berseru,

"Kui Ek, kau bantu anak-anak membereskan mereka! Serahkan saja dua orang tua bangka ini kepada pinceng dan Mo-sicu!" Dengan cepat Kai Song Cinjin menyerbu ke dalam pertempuran sambil memutar senjatanya yang istimewa, yaitu tasbehnya. Sekali ia ayun tasbehnya, Swan Le Couwsu kena terdesak mundur. Melihat kesempatan ini, Kui Ek cepat melompat keluar dan sambil terkekeh- kekeh ia mengamuk menyebar maut dengan tongkatnya di antara anak-anak murid Kun-lun.

Kai Song Cinjin sengaja menahan Mo Hun untuk membantunya karena ia dapat memperhitungkan bahwa tenaga Kui Ek seorang saja akan mampu menghancurkan pertahanan para anak murid Kun- lun, sedangkan kalau ia seorang diri menghadapi dua orang kakek itu, kiranya biarpun ia dapat rnenang akan memakan waktu lama. Ia lihat tadi Mo Hun dengan piannya yang lemas dapat mempertahankan diri lebih baik dari pada Kui Ek, maka ia menyuruh Kui Ek yang keluar.

Swan Le Couwsu yang diserbu oleh Kai Song Cinjin segera mengerahkan seluruh kepandaiannya, pedang Cheng-hong-kiam diputar cepat sekali sampai tubuhnya lenyap dalam gulungan sinar hijau. Akan tetapi ketika gulungan sinar pedangnya kena terjang tasbeh, menjadi buyar dan segera Swan Le Couwsu terdesak hebat. Kai Song Cinjin tidak mau membuang banyak waktu. Hwesio Tibet ini terlalu mengandalkan kepandaiannya. Kalau ia sudah mau terjun dalam pertempuran, harus ia dapat cepat-cepat merobohkan dan membinasakan lawan. Maka selain tasbehnya yang mendesak juga tangan kirinya terus-menerus melakukan pukulan Hek-tok-

ciang.

Memang tingkat kepandaian Swan Le Couwsu masih kalah kalau dibandingkan dengan Tok-ong Kai Song Cinjin. Biarpun dengan ilmu pedangnya yang luar biasa ia selalu dapat menangkis tasbeh, namun pukulan Hek-tok-ciang membuat ia sibuk sekali. Benar beberapa kali Swan Le Couwsu masih sanggup melakukan dorongan untuk menolak hawa pukulan Hek-tok-ciang itu dengan ilmu pukulan Iweekang dari Kun-Iun-pai yang disebut Pek-hwa-ciang (Tangan Sakti Bunga Putih), namun ia kalah tenaga dan tasbeh itu amat menindihnya sehingga pada saat ia agak terlambat gerakannya, sebuah pukulan Hek-tok-ciang yang amat keras datangnya telah mendorong dadanya.

Sebagai seorang ahli Iweekeh, Swan Le Couwsu dapat mengerahkan Iweekang di dada untuk menerima pukulan ini. Akan tetapi bukan hanya tenaga pukulannya yang lihai, terutama sekali hawa beracun dari Hek-tok-ciang yang sukar dilawan. Swan Le Couwsu merasa dadanya terbakar, tenaganya habis, pedangnya masih dipegang erat-erat namun tubuhnya terhuyung dan ia tak dapat menangkis lagi ketika tasbeh di tangan Kai Song Cinjin mampir di kepalanya. Swan Le Couwsu guru besar ke dua dari Kun-lun-pai, roboh tak berkutik lagi dan napasnya telah putus. Namun Kai Song Cinjin masih harus mengerahkan tenaga untuk membetot pedang dari tangan Swan Le Couwsu yang sudah tak bernyawa lagi itu.

Tiba-tiba Kai Song Cinjin mendengar Mo Hun berseru kesakitan. Cepat ia menengok dan ternyata Swan Thian Couwsu yang melihat suhengnya tewas, menjadi marah dan memperhebat gerakan pedangnya. Mo Hun berusaha melibat pedang yang gerakannya luar biasa itu dengan ujung piannya. Akan tetapi begitu ujung pedang terlibat, Swan Thian Couwsu memutar pedangnya sekuat tenaga. Mo Hun tak dapat mempertahankan lagi dan piannya ikut terputar. Dalam kagetnya ia hendak melepaskan libatan piannya, namun tak dapat karena pedang di tangan Swan Thian Couwsu seakan- akan mengeluarkan tenaga menyedot yang kuat sekali.

Telah payah Mo Hun mempertahankan piannya supaya jangan terlepas dari tangan dan telapak tangannya sudah terasa panas dan sakit-sakit sampai ia mengeluarkan seruan untuk menarik perhatian Kai Song Cinjin. Memang, orang seperti Toat-beng-pian Mo Hun tingkatnya tentu merasa malu untuk minta tolong dalam pertandingan. Merupakan pantangan besar karena hal itu akan menjatuhkan namanya. Oleh karena itu ia menggunakan siasat, mengeluarkan seruan kesakitan untuk menarik perhatian Kai Song Cinjin.

Siasatnya berhasil baik. Kai Song Cinjin yang sedang mengamat-amati pedang rampasannya itu, mendengar seruannya menengok. Melihat betapa keadaan Mo Hun terancam bahaya, ia cepat melompat maju dan sekali tasbehnya melayang, pedang Swan Thian Couwsu berhenti gerakannya memutar, bahkan kini terlibat oleh tasbeh tak mampu bergerak atau terlepas lagi!

"Mo-sicu, kau boleh habiskan tua bangka ini," kata Kai Song Cinjin sambil tertawa bergelak.

Mo Hun menjadi girang sekali. Cepat ia menarik piannya dan sekali menggerakkan pian itu, senjata mengerikan ini menyambar ke arah leher Swan Thian Couwsu! Biasanya, leher siapapun juga yang terkena sambaran pian ini, pasti akan putus seperti rambut terbabat arit. Entah sudah berapa puluh atau ratus buah kepala yang copot oleh pian ini. "Cratt!" Tanpa mengeluarkan keluhan lagi, Swan Thian Couwsu roboh, akan tetapi pian itu hanya melukai lehernya dan menewaskannya saja, tidak mampu membuat lehernya putus!

"Lihai betul tosu kura kura ini!" Mo Hun terpaksa memuji karena selama ia menjadi tukang penggal leher orang dengan piannya, baru kali ini ia melihat senjatanya itu gagal membabat leher. Akan letapi tidak lama ia berdiri menganggur karena melihat betapa Kui Ek mengamuk, Mo Hun tertawa bergelak, memutar pian di atas kepala sambil berseru,

"Tua bangka she Kui, jangan kau habiskan sendiri! Aku perlu kepala orang muda yang segar!" Sambil berlari-lari ia menerjunkan diri dalam pertempuran mati-matian itu.

Celakalah nasib para anak murid Kun-lun-pai. Tadi ketika menghadapi pasukan pengawal, dengan Ilmu Pedang Lian-sian Siang-kiam mereka masih mampu melakukan perlawanan hebat bahkan berhasil merobohkan seorang dua orang lawan. Akan tetapi semenjak Kui Ek menerjunkan diri dan menga-

muk dengan tongkatnya, kedudukan anak-anak murid Kun-lun-pai menjadi kacaubalau. Sebentar saja sudah ada empat orang anak murid Kun-lun-pai tewas oleh tongkat kakek yang amat ganas ini.

Apa lagi sekarang Toat-beng-pian Mo Hun juga menyerbu masuk ke dalam gelanggang pertempuran. Dalam hal keganasan, Mo Hun jauh lebih ganas dari pada Kui Ek. Berkali-kali piannya menyambar mengeluarkan bunyi berdetar dan dibarengi suara ketawanya yang seperti burung kukuk beluk itu, menggelindinglah beberapa buah kepala anak murid Kun-lun-pai! Banjir darah terjadi di lereng yang bersih itu. Anak-anak murid Kun-Iun-pai mati berserakan dalam perjuangan mempertahankan partai mereka.

Setelah anak-anak murid yang melakukan perlawanan habis, menyerbulah rombongan ini ke dalam pekarangan kuil. Anak-anak murid yang sudah tak dapat melawan lagi lari cerai-berai. Tiba-tiba Mo Hun berteriak girang ketika melihat seorang bocah berusia kurang lebih empat belas tahun ikut pula melarikan diri. .

"Kepala bagus! Bocah tampan, ke sinilah kau!"

Bocah itu adalah seorang kacung di Kun-lun-san. Dia dibawa oleh Kim Sim Cu ke Kun-lun-san ketika masih berusia sepuluh tahun dan selama itu ia memperlihatkan watak yang rajin dan penurut. Juga otaknya cerdik sekali sehingga ia disuka oleh semua tosu. Dia seorang anak yang tampan sekali, berkulit muka putih halus dan gerak-geriknyapun lemah lembut. Kim Sim Cu melatihnya sendiri bahkan juga memberi pelajaran membaca menulis. Ternyata bahwa dalam ilmu kesusasteraan bocah ini lebih berbakat lagi. Dia bukan lain adalah Oei Siok Ho.

Biarpun usianya baru empat belas tahun, karena mendapat pimpinan yang serius dari Kim Sim Cu, Siok Mo sudah memiliki kepandaian lumayan dan dasar-dasar ilmu silat Kun-lun-pai sudah ia miliki. Oleh karena itu, berbeda dengan kacung-kacung lain yang pergi melarikan diri bersembunyi ketika terjadi pertempuran hebat tadi, Siok Ho sebaliknya malah membawa pedang dan ikut bertempur dengan anak-anak murid lain. Setelah semua guru besar roboh tewas, dan para anak murid juga tewas dan sisanya melarikan diri, dia terpaksa juga melarikan diri.

Akan tetapi kalau orang-orang lain melarikan diri turun gunung, sebaliknya Siok Ho lari ke arah kuil untuk menemui Swan Thai Couwsu. Guru besar yang menjadi ketua Kun-lun-pai ini amat sayang kepada Siok Ho yang menjadi kacung pelayannya. Selain Siok Ho, orang lain tidak diperbolehkan memasuki kamarnya tanpa dipanggil.

Toat-beng-pian Mo Hun yang sudah haus otak manusia, melihat bocah yang amat tampan ini sekaligus tertarik untuk memiliki kepala itu dan makan otaknya, maka tanpa memperdulikan apa-apa lagi ia memanjangkan langkah mengejar Siok Ho.

Siok Ho tadi sudah melihat keganasan Mo Hun, tentu saja ia menjadi ngeri dan mepercepat larinya. Namun mana bisa ia melawan Mo Hun dalam ilmu lari cepat? Sebentar saja Mo Hun sudah berada di belakangnya. Pian kelabang mengeluarkan suara berdetar dan menyambar ke arah leher yang berkulit putih halus dari Siok Ho dan...

"Plakk...! Aduuhh.....!" Toat-beng-pian Mo Hun roboh bergulingan karena kesakitan. Pundaknya termakan oleh piannya sendiri sampai terluka mengeluarkan darah dan tulang pundaknya ada yang patah! Apa yang telah terjadi, ia sendiri tidak tahu. Tadi ketika piannya sudah hampir mengenai leher Siok Ho, tiba-tiba nampak berkelebat sinar putih dan tahu-tahu piannya membalik memukul pundaknya sendiri. Ketika Mo Hun mengangkat muka, ia melihat seorang tosu yang tua sekali berada di situ, mengelus-elus kepala Siok Ho yang menjatuhkan diri berlutut di depan kakek tua renta itu.

"Siok Ho, minggirlah kau," kata kakek itu dengan suara perlahan. Setelah pemuda cilik itu mengundurkan diri di belakang, kakek yang bukan lain adalah Swan Thai Couwsu ini maju, memandang kepada Kai Song Cinjin dan kawan-kawannya yang sudah tiba di depannya.

"Siancai, siancai... sungguh tidak nyana sekali Cu Goan Ciang setelah berhasil menjadi raja, mempergunakan iblis-iblis sebagai kaki tangannya. Tok-ong Kai Song Cinjin, kau sudah baik-baik menyebar Agama Buddha di Tibet, mengapa tahu-tahu berada di Tiong-goan dan menumpuk dosa?"

Tok-ong Kai Song Cinjin yang bermata tajam melihat bahwa Swan Thai Couwsu benar-benar-sudah tua sekali, bahkan berdiripun harus ditunjang tongkat dan kelihatan kakinya sudah buyutan (seperti menggigil). Dulu memang ia jerih mendengar nama besar Swan Thai Couwsu, akan tetapi sekarang melihat betapa tokoh besar Kun-Iun-pai itu sudah tua sekali dan lemah, ia tertawa bergelak-gelak.

"Ha-ha-ha, Swah Thai Tosu, kau benar sudah pikun saking tuamu. Sejak tadi kau bersembunyi tak berani keluar, membiarkan anak muridmu terbasmi habis. Sekarang, untuk seorang kacung saja kau keluar dari tempat sembunyi. Ha-ha-ha, sungguh pinceng tidak tahu harus menganggap kau bodoh atau pengecut."

Swan Thai Couwsu memandang ke atas udara, menarik napas panjang dan berkata seperti berdoa, "Pikiran seorang bijaksana adalah bebas merdeka.

Namun sesuai dengan kehendak rakyat jelata. Terhadap yang baik maupun yang jahat juga Kuperlakukan dengan baik tiada beda. Karena kebajikan adalah kebaikan belaka. Terhadap yang jujur maupun yang tidak kuperlakukan dengan jujur tiada beda Karena kebajikan adalah kesetiaan belaka." Jawaban berupa sajak ini sebetulnya adalah sebagian dari pada pelajaran dalam Agama To, yaitu sajak dalam kitab To Tek Keng pelajaran Nabi Lo Cu.

"Kai Song Cinjin, anak murid Kun-lun-pai tewas sebagai ksatria-ksatria perkasa, tewas dalam pertempuran melawan kejahatan. Hidup atau mati bukan di tangan kita, mengapa pinto harus mencemarkan kehormatan anak murid yang membela kehormatan? Di dalam pertempuran, kalah menang mati hidup bukan merupakan soal yang perlu diributkan. Anak murid Kun-Iun-pai gugur karena membela nama partai, juga karena kalah tinggi kepandaiannya. Tidak lain pinto hanya bisa menarik napas panjang. Akan tetapi, melihat dia ini hendak membunuh seorang anak kecil, ini bukan pertempuran lagi namanya, melainkan usaha membunuh dan terpaksa pinto harus turun tangan."

"Swan Thai Tosu, kiranya begitu anggapanmu. Sudahlah semua itu, Kedatangan pinceng ini ada hubungannya dengan sepak terjang Souw Teng Wi murid Kun-lun-pai. Dia sudah berdosa terhadap kaisar, sudah berani menjadi pemberontak dan pengkhianat. Karena dia murid Kun-lun-pai, harus kau yang mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Atas perintah kaisar, pinceng dengan pasukan terpaksa mengadakan pembasmian ke Kun-lun-pai agar jangan terulang lagi pemberontakan seperti yang dilakukan Souw Teng Wi. Akan tetapi melihat kau sudah begitu tua, tak lama dalam beberapa hari lagi tentu mati, pinceng mau memberi ampun asal kau suka berlutut ke arah kota raja dan minta ampun."

Kalau Swan Thai Couwsu belum mencapai tingkat yang amat tinggi dalam ilmu batin, tentu ia akan menjadi marah sekali mendengar penghinaan ini. Akan tetapi dia hanya tersenyum sambil mengelus- elus jenggotnya. Siok Ho, bocah yang berada di belakangnya itu tiba-tiba berdiri dan menudingkan jari telunjuknya ke arah Kai Song Cinjin dan membentak, "Kakek gundul, kau benar-benar kurang ajar sekali! Kau kira sucouw akan sudi melakukan perbuatan menurut obrolan kosongmu itu? Jangankan sucouw, aku sendiri lebih baik mampus dari pada menurut kata-katamu yang kotor seperti najis!"

Semua orang marah, juga, heran menyaksikan bocah yang begitu berani memaki Kai Song Cinjin. Kakek gundul ini membelalakkan matanya, akan tetapi ia tidak berani sembarangan turun tangan karena bocah itu berada di belakang Swan Thai Couwsu.

"Hemm, kau tunggu sajalah. Sebentar lagi otakmu tentu akan dimakan oleh Mo Hun," katanya menyindir. Mo Hun girang sekali mendengar janji Kai Song Cinjin ini dan air liurnya sudah memenuhi mulutnya, sakit di pundaknya sudah tak dirasakannya lagi.

"Kai Song Cinjin, kau sudah mendengar ucapan bocah ini. Biarpun dia masih kecil, dia ini pelayanku yang kusayang, pantang bagiku membikin dia kehilangan muka. Terpaksa pinto tak dapat memenuhi permintaan tadi, malah pinto harap kau membawa anak buahmu pergi cepat-cepat dari sini sekarang juga agar pinto dapat mengurus semua jenazah ini."

Kui Ek yang wataknya sombong itu menjadi tidak sabar lagi. "Totiang, kenapa melayani tua bangka mau mampus seperti ini? Bunuh mampus saja supaya tidak banyak rewel!" Setelah berkata demikian, ia menggerakkan tongkatnya menubruk maju, diikuti oleh lima orang pengawal lain yang juga menjadi tidak sabar mengapa Tok-ong mau melayani seorang kakek yang berdiri saja sudah hampir tidak kuat.

"Siancai.. siancai...!" Swan Thai Couwsu berkata sambil mengangkat kedua tangan seperti hendak melindungi kepalanya dari pukulan-pukulan senjata tajam itu. Segera terdengar suara mengaduh dan berdebukan ketika Kui Ek dan lima orang kawannya itu terlempar dan terpukul oleh senjata- senjata mereka sendiri! Kui Ek yang kepandaiannya paling tinggi masih dapat mengelak sehingga hanya telinga kirinya yang terkena serempetan tongkatnya sendiri sampai mengeluarkan darah dan lecet-lecet. Yang celaka adalah para pengawal itu. Yang hendak menyerampang kaki Swan Thai Couwsu, goloknya membalik menyerampang kaki sendiri sampai terluka parah, demikian pula yang membacok kena bacok, yang menusuk kena tusuk.

Tentu saja para anggauta rombongan menjadi kaget dan gentar menghadapi kakek yang lihai seperti ahli sihir ini. Kui Ek dan Mo Hun sudah dikalahkan dengan mudah, apa lagi para pengawal. Semua orang kini memandang ke arah Kai Song Cinjin dan mengharapkan hwesio ini yang akan turun tangan.

Kai Song Cinjin menjadi serba salah. Melihat sepak terjang Swan Thai Couwsu tadi, jelas ternyata bahwa kakek itu biarpun sudah tua sekali masih amat lihai, belum tentu ia dapat mengalahkannya. Kalau tidak maju, ia merasa malu. Kalau maju resikonya terlalu besar. Menangkan kakek tua ini tidak akan mengangkat namanya, kalau kalah sebaliknya memalukan sekali. Akan tetapi tentu saja ia tidak bisa tinggal diam.

"Swan Thai Couwsu, kau tidak mau menurut juga tidak apa, karena hal itu sama saja. Kun-lun-pai sudah terbasmi habis, tinggal kau yang menanti mampus ini bisa apakah? Akan tetapi kalau tidak diberi hajaran, kau yang sudah tua ini akan menjadi tak tahu diri dan mengira tidak ada orang yang berani melawanmu. Kakek tua, beranikah kau menerima pukulanku sampai lima kali tanpa mengelak dan tanpa pergi dari tempat kau berdiri?" Kai Song Cinjin memang licik sekali.

Ia tahu bahwa kalau dia menantang, kakek yang menjadi tokoh besar Kun-lun-pai ini pasti tidak dapat menolaknya dan ia tahu bahwa kelihaian terutama dari kakek ini adalah ilmu pedangnya. Kalau kakek ini sudah memegang pedang, dia tidak tahu bagaimana dapat mengalahkannya. Maka pendeta Tibet yang curang ini segera menggunakan tipu muslihat, la menantang Swan Thai Couwsu untuk menerima pukulannya sampai lima kali.

Ilmu pukulannya Hek-tok-ciang amat kuat dan ia hendak mengajak tosu yang sudah tua sekali ini untuk mengadu tenaga! la tidak percaya bahwa tosu setua ini masih dapat menangkis Hek-tok-ciang, pukulannya yang belum pernah dapat ditangkis lawan itu. Tepat seperti dugaan Kai Song Cinjin, ketua Kun-lun-pai itu sambil menarik napas panjang dan memandang ke atas, kembali mengucapkan sajak dari kitab To Tek Keng :

"Kata-kata jujur tidak bagus Kata-kata bagus tidak iujur.

Orang baik tidak suka berbantahan Orang berbantahan tidak baik.

Orang yang tahu tidak sombong Orang yang sombong tidak tahu. Orang bijaksana tidak menyimpan Ia menyumbang sehabts-habisnya Tapi makin menjadi kaya

Ia memberi sehabis-habisnya

Tapi makin berlebihan Jalan yang ditempuh Langit Selalu menguntungkan tidak merugikan.

Jalan yang ditempuh orang bijaksana

Bekerja, memberi tanpa mengharapkan pahala."

Tok-ong Kai Song Cinjin menjadi tidak sabar lagi. "Eh, tosu tua, dengan sajakmu itu apa yang kau maksudkan? Berani tidak kau menerima tantanganku tadi?"

"Kai Song Cinjin, kau mengandalkan Hek-tok-ciang, siapa yang tidak tahu? Kalau sudah setua pinto ini, siapa yang perduli lagi tentang mati hidup? Kau berniat menamatkan hidup pinto dengan Hek- tok-ciang lima kali berturut-turut, silahkan!"

"Kau menerima tantanganku untuk menghadapi lima kali pukulanku tanpa mengelak?" tanya lagi Kai Song Cinjin dengan suara keras agar terdengar oleh semua orang dan agar nanti ia tidak dianggap curang. Swan Thai Couwsu hanya mengangguk dan masih berdiri bersandarkan tongkat bambunya.

"Kalau begitu kau bersiaplah, lihat pukulanku!" bentak Kai Song Cinjin yang sudah mengerahkan tenaga Iweekangnya dan dengan gerakan tiba-tiba ia memukul ke arah dada Swan Thai Couwsu.

Tosu tua itu bersikap tenang sekali. Tanpa merobah kuda-kuda kakinya, ia menggerakkan tongkatnya dari samping sambil miringkan tubuh. Ujung tongkatnya itu tidak ditusukkan, akan tetapi otomatis kalau Kai Song Cinjin meneruskan pukulannya, tentu pergelangan tangannya akan tertusuk ujung tongkat. Kalau orang lain yang memegang tongkat, tentu tongkat itu terkena hawa pukulan Hek-tok- ciang saja sudah akan remuk. Akan tetapi Kai Song Cinjin cukup maklum akan kelihaian tongkat itu, maka terpaksa ia menarik kembali tangan kanannya yang memukul.

Padahal biasanya, tanpa tangannya mengenai tubuh orang, hawa pukulan Hek-tok-ciang sudah cukup merobohkan lawan. Sekarang hawa pukulannya itu hanya menggerakkan pakaian tosu itu, sama sekali tidak mendatangkan akibat apa-apa seakan-akan tosu itu tidak merasainya.

Kai Song Cinjin tidak mau membuang banyak waktu. Begitu pukulan pertamanya digagalkan, kedua tangannya lalu melakukan pukulan-pukulan susulan secara bertubi-tubi. Pukulan ke dua dengan tangan kiri dipapaki oleh tongkat tosu itu. Kai Song Cinjin dengan berani melanjutkan pukulannya dan "krakk" tongkat itu bertemu dengan telapak tangannya menjadi remuk berkeping-keping, sebaliknya Kai Song Cinjin merasai lengan kirinya linu dan kesemutan.

Swan Thai Couwsu berseru, "Lihai sekali..." sambil melempar tongkat yang sudah tak dapat dipakai lagi itu, kini menghadapi serangan lawan yang masih tiga kali dengan tangan kosong. Biarpun pertemuan antara telapak tangan kiri dan ujung tongkat tadi mendatangkan rasa sakit, namun melihat tongkat itu hancur, Kai Song Cinjin tertawa bergelak.

"Ingat, Swan Thai Tosu, pukulan pinceng masih tiga kali lagi."

"Silahkan," jawab tosu tua itu dengan suara tenang sekali, la menggerak-gerakkan kedua tangannya dan Kai Song Cinjin menjadi kaget melihat betapa kedua tangan tosu itu sampai ke lengan menjadi merah sekali warnanya, la maklum bahwa kakek tua yang sudah mau mati ini tentu memiliki pukulan beracun pula, maka ia cepat-cepat menggerak-gerakkan kedua lengannya sampai kedua lengan itu menjadi hitam sekali, tanda bahwa kekuatan Hek-tok-ciang sedang bekerja dan sepenuhnya disalurkan ke dalam kedua tangannya.

"Ha-ha-ha, tak disangka bahwa ketua Kun-lun-pai juga mempelajari ilmu hitam," sindir Kai Song Cinjin melihat kedua tangan kakek itu menjadi merah sekali.

"Ilmu tidak ada yang hitam tidak ada yang putih, tergantung kepada cara dipergunakannya oleh si pemilik," jawab Swan Thai Couwsu tenang sambil merendahkan tubuh memasang kuda-kuda karena kini tongkatnya sudah tidak ada lagi.

"Lihat pukulan!" Kai Song Cinjin membentak dan sekaligus ia melakukan tiga kali pukulan mengandalkan kecepatan dan tenaga Iweekangnya yang luar biasa.

Pukulan pertama yang dilakukan dengan tangan kanan, ditangkis oleh Swan Thai Couwsu. Tangkisan ini perlahan saja namun Kai Song Cinjin merasa ada tenaga besar menolak pukulannya dari samping, la menyusul dengan pukulan ke dua, dengan tangan kiri sambil mengerahkan tenaga Hek-tok-ciang ke tangan kiri sebanyak tujuh bagian.

Tubuh Swan Thai Couwsu sampai mendoyong karena hebatnya hawa pukulan ini, namun tangan kanan kakek tua ini masih sempat memukul tangan kiri lawannya dari samping, membuat pukulan ke dua inipun tidak mengenai sasaran. Pukulan ke tiga atau pukulan terakhir datang, hebat bukan main, dilakukan dengan kedua tangan Kai Song Cinjin, sambil mengerahkan tenaga Hek-tok-ciang sepenuhnya memukul ke arah dada Swan Thai Couwsu dengan jari-jari terbuka.

Bukan main hebatnya pukulan ini dan di dunia ini kiranya orang yang dapat menghadapi pukulan macam ini dengan selamat dapat dihitung dengan jari tangan saja.! Angin pukulannya menderu dan anggauta rombongan dari kota raja sampai merasa panasnya hawa pukulan Hek-tok-ciang itu. Baru sekarang mereka menyaksikan pukulan hebat ini dilancarkan sepenuhnya, karena biasanya jarang sekali Kai Song Cinjin mengeluarkan ilmunya ini. mewakilkan pertunjukan Hek-tok-ciang kepada muridnya, Auwyang Tek yang terlalu sering mendemonstrasikan Hek-tok-ciang.

Akan tetapi tentu saja pukulan yang dilakukan oleh Kai Song Cinjin ini jauh lebih hebat. Pukulan ini sedemikian hebatnya hingga tidak mungkin kalau ditangkis begitu saja Swan Thai Couwsu dalam menangkis pukulan terdahulu tadi sudah maklum akan kehebatan Hek-tok-ciang yang memang luar biasa. Ia maklum bahwa pukulan terakhir ini tak mungkin ia tangkis begitu saja, maka cepat-cepat ia lalu mengulur kedua tangannya dan menerima pukulan lawan dengan pukulan pula! "Plakkk....!" Dua tangan yang dilonjorkan bertemu di udara, dua pasang telapak tangan saling bentur, demikian hebatnya sehingga hawa pukulan yang bertemu itu membuat orang-orang yang hadir di situ sempoyongan kehilangan keseimbangan badan karena hawa pukulan itu menyeleweng ke arah mereka!

"Plakk.   !" Dua tangan yang dilonjorkan bertemu di udara, dua pasang telapak tangan saling bentur.

Swan Thai Couwsu mundur tiga tindak, akan tetapi Kai Song Cinjin terhuyung-huyung ke belakang lalu muntahkan darah. Ia menjatuhkan badan duduk bersila sambil meramkan mata, mengatur pernapasannya untuk memulihkan tenaga dan mengobati keadaan dalam tubuh yang terguncang. Adapun Swan Thai Couwsu masih berdiri tegak, akan tetapi juga kelihatan mengatur pernapasannya. Tak lama kemudian Kai Song Cinjin membuka mata, bangkit berdiri dan berkata dengan senyum pahit.

"Swan Thai Tosu tua-tua masih lihai, benar-benar pinceng terpaksa harus menyudahkan urusan sampai di sini saja. Lain waktu kita bertemu pula."

Setelah berkata demikian ia lalu mengajak rombongannya untuk pergi turun gunung sambil membawa jenazah dan kawan-kawan yang terluka. Setelah lama para penyerbu pergi, Swan Thai Couwsu masih berdiri tegak, memandang ke arah jenazah anak-anak murid Kunjun-pai. Siok Ho muncul dari belakangnya, khawatir melihat couwsunya sejak tadi berdiri seperti patung. Ketika ia memutar dan memandang wajah couwsu itu, ia melihat air mata mengalir turun dari sepasang mata Swan Thai Couwsu.

Kakek tua itu ternyata tak dapat menahan terharunya hati menyaksikan anak-anak murid Kun-lun- pai sebagian besar musnah, ia menangis tanpa mengeluarkan suara, tanpa menggerakkan tubuh. Siok Ho merasa ada sesuatu naik ke tenggorokannya, dan ingin ia menjatuhkan diri berlutut di depan couwsunya sambil menangis, ikut berkabung atas kematian suhu-suhu dan suheng-suheng yang terkasih. Akan tetapi bocah ini Menggigit bibirnya dan malah berkata,

"Sucouw, teecu bersumpah kelak akan mencari orang-orang jahat itu dan niembikin perhitungan untuk mengangkat kembali Kun-lun-pai kita." Mendengar suara Siok Ho, agaknya baru Swan Thai Couwsu sadar dari keadaan melamun itu. Ia menengok dan tersenyum, lalu berkata,

"Penyelesaian kebencian yang dalam pasti akan meninggalkan bekas mendendam, bagaimana bisa dianggap memuaskan? Membalas dendam sama dengan mengikatkan diri kepada perputaran roda yang tiada habisnya " Kata-kata inipun merupakan pelajaran dalam Agama To.

Siok Ho yang tidak berani membantah lalu berkata, "Sucouw, harap sucouw beristirahat, biar teecu mencari para suheng yang pergi bersembunyi

dan mengurus jenazah-jenazah ini...." Siok Ho berusaha keras supaya jangan terisak. Ia juga amat berduka, mungkin melebihi kedukaan Swan Thai Couwsu, apa lagi kalau ia melihat jenazah Kim Sim Cu yang selama ini menjadi guru dan walinya. Swan Thai Couwsu menarik napas panjang.

"Kau betul, pinto harus beristirahat.. Siok Ho, tolong bantu pinto masuk. "

Siok Ho mendekat dan alangkah kagetnya melihat couwsunya itu sukar berjalan dan tangan yang menggelendot pada pundaknya nampak begitu lemah seperti Kehabisan tenaga. Tanpa bicara mereka memasuki kuil dan terus ke kamar Swan Thai Couwsu, di mana kakek itu menjatuhkan diri di atas lantai dan bersila seperti biasa.

"Siok Ho, kau boleh lekas mengatur dan merawat jenazah-jenazah itu bersama anak murid yang masih ada. Setelah itu, lekas-lekas kau kembali ke sini. Mulai hari ini, kau akan kulatih. dan kau akan mewarisi semua ilmuku sebelum aku meninggalkan dunia ini " Siok Ho kaget sekali, akan tetapi di samping kedukaan hatinya, ia juga merasa girang sekali. Memang ia seorang bocah yang haus akan pelajaran dan mendengar sucouwnya akan mewariskan ilmu-ilmu silat tinggi, ia menjadi girang. Demikianlah semenjak hari itu. Siok Ho menerima latihan-latihan dari Swan Thai Couwsu sendiri yang menurunkan semua ilmunya, maklum bahwa bocah ini boleh dipercaya dan bahwa ia takkan lama lagi hidup di dunia. Terutama sekali ia menurunkan Ang sin- ciang (Tangan Merah Sakti), ilmu pukulan yang amat hebat, karena dengan Ang-sin-ciang ini saja Siok Ho kelak dapat menghadapi Hek-tok-ciang. Sampai tiga tahun Siok Ho menerima pimpinan langsung dari Swan Thai Couwsu dan akhirnya Swan Thai Couwsu yang sudah amat tua dan dalam keadaan tubuh sudah lemah harus menghadapi Kai Song Cinjin itu meninggal dunia.

Siok Ho meninggalkan suheng-suhengnya dan turun gunung. Tentu saja cita-cita pertama dalam hatinya adalah mencari musuh-musuh Kun-lun-pai dan membalas dendam, biarpun berkali-kali Swan Thai Couwsu pernah melarangnya. Dan seperti telah dituturkan di bagian depan, ketika ia turun gunung melakukan perantauan, namanya menjadi cepat terkenal dan ia mendapat julukan Ang-sin- ciang (Tangan Merah Sakti). Juga telah dituturkan bagaimana ia betemu dengan Siok Bun dan menolong nyawa pemuda itu menyembuhkan lukanya akibat pukulan Hek-tok-ciang.

Sekarang mari kita kembali menengok keadaan Siok Ho yang secara kebetulan sekali bertemu di pinggir sungai dengan Lee Ing. gadis perkasa jelita yang sekaligus jatuh hati dan tertarik oleh gerak- gerik Siok Ho, pemuda gagah yang amat ganteng itu.

"Aneh dan lucu sekali, bukan?" kata Siok Ho tersenyum memandang gadis di depannya.

"Apa yang aneh? Apa yang lucu?" Lee Ing bertanya, menghentikan pekerjaannya mencuci tangan setelah habis makan daging ikan lee yang enak dan perutnya tidak begitu lapar lagi.

"Anehnya pertemuan kita tadi dan lucunya sekarang ini. Kita duduk sama-sama makan daging ikan, padahal kau dan aku tidak mengenal satu sama lain bahkan sampai sekarangpun aku tidak tahu siapa kau...?"

Merah muka Lee Ing. Pemuda ini biarpun peramah, kiranya pemalu sampai mau tahu nama saja caranya berputar-putar seperti angin puyuh!

"Untuk apa sih kau mau tahu aku siapa?" tanyanya dan sepasang mata gadis ini menatap tajam, penuh selidik. Aneh, muka Siok Ho yang tampan menjadi merah sekali. Benar-benar seorang pemuda pemalu, pikir Lee Ing.

"Mengapa tidak? Kau sudah mengetahui namaku, sudah sepatutnya aku mengenal namamu pula. Kau siapakah, adik?" Makin merah pipi Lee Ing. Biarpun pemalu, pemuda ini kadang-kadang memperlihatkan keberanian luar biasa, seperti sekarang ini belum apa-apa sudah berani menyebut "adik"!

"Namaku Lee Ing..."

"Aduh bagusnya nama itu! Menyesal sekali namaku tidak seindah itu. Dan she-mu, siapakah ...?"

Akan tetapi Lee Ing tidak menjawab karena ia mendengar sesuatu. Juga Siok Ho cepat menengok dan siap menanti datangnya segala kemungkinan seperti biasanya seorang ahli silat yang selalu waspada. Dari balik batu karang tiba-tiba muncul tiga orang laki-laki tua yang dari pakaiannya jelas menunjukkan bahwa mereka adalah pengawal-pengawal istana di kota raja. "Ha, ini tentu anggauta-anggauta Tiong-gi-pai, Tangkap!" seru seorang di antara mereka sambil menubruk maju. Memang, kaki tangan Auwyang-taijin sering kali bertindak sewenang-wenang mengandalkan kedudukan mereka dan pengaruh Auwyang-taijin, terutama sekali mengandalkan pengaruh Auwyang Tek, karena mereka ini memang kaki tangan Auwyang Tek. Setiap kali melihat penduduk yang lemah, mereka selalu menggoda dan mengganggu. Apa lagi kalau melihat gadis cantik, tentu mereka berlumba untuk menawan dan menculiknya, diserahkan kepada Auwyang Tek untuk menerima hadiah.

Tiga orang inipun merupakan kaki tangan Auwyang Tek yang memiliki kepandaian lumayan. Mereka melihat Lee Ing yang jelita, tentu saja tidak mau melepaskan begitu saja. Segera menyerbu Siok Ho untuk merobohkan pemuda ini dan selanjutnya hendak menculik Lee Ing.

Akan tetapi kali ini mereka memang sedang sialan. Andaikata mereka bertemu dengan Lee Ing seorang diri saja mereka sudah sialan, apa lagi sekarang bertemu dengan Lee Ing yang berkawan Siok Ho, mereka benar-benar sedang sial dangkalan. Siok Ho yang belum selesai makan daging ikan, tidak bergerak dari tempat duduknya. Tangan kiri masih memegang ikan, tangan kanan menggerakkan pancingnya tiga kali.

"Aduh.... celaka.... mati aku.    !"

Tiga orang itu dengan tepat sekali terkena serangan pancing istimewa itu pada leher dan tempat- tempat berbahaya sehingga biarpun jarum keci itu tidak sampai menewaskan mereka? namun cukup membuat mereka kesakitan. Tubuh mereka menggelundung dan Lee Ing secara main-main melempar-lemparkan tulang ikan ke arah mereka. Terdengar bunyi tak-tok-tak-tok disusul teriakan- teriakan kesakitan dan tanpa dapat dicegah lagi tiga orang yang kini mendapat tambahan hadiah dari Lee Ing, yaitu kepala mereka tertancap oleh duri-duri ikan, terus menggelinding dan tercebur ke dalam sungai!

"Ha-ha-ha, kau sekarang bisa memancing ikan kaki dua!" kata Lee Ing kepada Siok Ho. Akan tetapi pemuda itu ternyata sudah melompat pergi, mengejar empat orang pengawal lain yang rupa- rupanya menjadi jerih melihat tiga orang kawan mereka roboh demikian mudah.

Lee Ing hendak ikut mengejar, akan tetapi tiba-tiba ia melihat berkelebatnya bayangan orang dari tempat jauh. Dua bayangan orang itu cepat sekali gerakannya, jauh lebih cepat dari pada gerakan para pengawal itu, maka tanpa banyak cakap lagi, Lee Ing lalu melompat dan mempergunakan ilmu lari cepat mengejar bayangan-bayangan itu yang lari ke lain jurusan.

Tak lama kemudian selagi ia celingukan mencari bayangan-bayangan itu yang memasuki sebuah dusun, ia mendengar jerit-jerit memilukan. Lee Ing berlari mengejar dan masih terdengar olehnya beberapa orang penduduk menutup pintu rumah masing-masing dan di jalan-jalan sunyi sekali seakan-akan semua penduduk sudah sejak tadi menyembunyikan diri.

Lee Ing memasuki sebuah rumah kuno dari mana tadi ia mendengar teriakan menyayat hati. Begitu ia menerjang pintu dan melompat masuk, Lee Ing berhenti dan memandang ke atas lantai dengan mata terbelalak. Di depan kakinya, di atas lantai, rebah tiga orang yang kelihatannya gagah-gagah dalam keadaan sudah menjadi mayat. Pada dada dan punggung mereka nampak tapak tangan menghitam dan muka mereka juga sudah mulai menghitam! "Bekas tangan Hek-tok-ciang.." Lee Ing berpikir dengan hati marah. "Benar-benar jahat komplotan yang dipimpin oleh Kai Song Cinjin ini.." Ia menengok ke arah dinding dan melihat tulisan di atas dinding.

BASMI SEMUA ANGGAUTA TIONG-GI-PAI

Tulisan itu dibuat dengan guratan jari tangan sampai membekas dalam-dalam di tembok, tanda bahwa penulisnya memiliki tenaga lweekang yang cukup tinggi. Membaca tulisan ini, sekali lagi Lee Ing memandang ke arah mayat tiga orang itu dan hatinya terharu. Teringat ia akan rombongan Tiong-gi-pai yang dipimpin oleh Kwee Cun Gan, orang gagah perkasa murid Kun-lun-pai yang dahulunya menjadi sahabat ayahnya, malah berusaha menolongnya dengan menukarkan Ilmu Pedang Lian-cu-sam-kiam kepada Bu Lek Hwesio. Teringat akan ini semua, hatinya menjadi mendongkol sekali melihat sekarang anggauta-anggauta Tiong-gi-pai dibunuh semuanya oleh pukulan Hek-tok-ciang.

Tanpa banyak cakap lagi Lee Ing lalu melesat keluar, naik ke atas genteng untuk mencari jejak musuh. Akan tetapi keadaan sunyi saja, bahkan ia tidak tahu lagi ke mana perginya Siok Ho yang tadi mengejar para pengawal.

"Tentu diapun pergi ke kota raja," pikirnya. Lee Ing lalu berlari cepat menuju ke Nan-king, dalam hatinya mengambil keputusan untuk mencari Tiong-gi-pai dan membantu perkumpulan patriot ini secara diam-diam dan mencari tahu perihal ayahnya.

Yang membuat ia merasa heran adalah bayangan Siok Ho yang selalu terbayang di depan matanya. Sukar ia mencoba untuk mengusir bayangan ini, terutama sekali senyum manis dan pandangan mata penuh kejujuran dari pemuda itu merupakan sesuatu yang menggoda hatinya dan mendatangkan kesan mesra yang selama hidup belum pernah dirasainya. Di luar kesadarannya, Lee Ing telah jatuh cinta kepada Oei Siok Ho, jago muda dari Kun-lun itu!

Dengan melakukan perjalanan cepat sekali Lee Ing segera memasuki Kota Raja Nan-king. Mudah saja baginya mendengar dari tukang-tukang warung arak tentang pertandingan pertandirgan yang sering terjadi antara orang-orang Tiong-gi-pai melawan kaki tangan Auwyang taijin. Juga ia mendengar tentang keganasan Auwyang Tek sebagai putera menteri dunia yang mengandalkan kepandaian silatnya dan kedudukan ayahnva. Ketika mendengar bahwa Auwyang Tek adalah murid terkasih dari Kai Song Cinjin, Lee Ing dapat menduga bahwa orang yang melakukan pembunuhan di luar kota raja terhadap tiga orang anggauta Tiong-gi-pai itu tentu Auwyang Tek adanya.

Dia telah melihat dua bayangan yang cepat gerakannya, tentu Auwyang Tek bersama seorang kawannya yang pandai pula, entah siapa. Ketika Lee Ing bertanya tanya tentang Tiong-gi-pai, tak seorangpun dapat memberi tahu kepadanya. Memang Tiong-gi-pai adalah perkumpulan rahasia yang tidak mempunyai tempat tertentu, pula, andaikata Tiong-gi-pai mempunyai tempat tertentu, pasti siang-siang sudah diserbu oleh kaki tangan Auwyang-taijin.

Selagi Lee Ing kebingungan ke mana harus mencari Tiong-gi pai atau ketuanya, Kwee Cun Gan, untuk menanyakan keadaan ayahnya, tiba-tiba di satu tikungan jalan di kota raja yang ramai itu ia melihat berkelebatnya bayangan yang amat dikenalnya, Oei Siok Ho! Pemuda tampan itu berjalan dengan tenang-tenang saja dan agaknya tidak melihat Lee Ing. Gadis ini cepat menyelinap bersembunyi dan diam-diam melakukan pengintaian. Hendak mengetahui apakah yang akan dilakukan oleh pemuda itu dan ingin ia melindungi pemuda itu secara diam-diam. Tiba-tiba Lee Ing tersenyum geli ketika melihat setangkai daun kebiruan menghias topi pemuda itu. "Benar-benar lucu," pikirnya. "Kalau hendak mempersolek diri, mengapa bukan kembang yang menghias topi, melainkan setangkai daun yang buruk pula bentuk maupun warnanya, juga sudah kering?"

Akan tetapi Lee Ing menahan ketawanya ketika ia melihat seorang laki-laki setengah tua yang tadinya duduk di tepi jalan bersandar tongkat dan berpakaian pengemis, sekarang berdiri terbongkok-bongkok dan tiba-tiba melangkah maju menghadang Siok Ho. Pandangan mata Lee Ing awas sekali, maka ternyata olehnya bahwa pengemis yang kelihatannya lemah berpenyakitan itu, ketika bergerak bukan main cepatnya, tanda bahwa dia sebetulnya seorang ahli silat yang pandai.

Lee Ing merasa heran sekali, akan tetapi perasaan ini segera terganti kekagetan ketika pengemis itu terhuyung huyung mau jatuh ke arah Siok Ho yang sedang enak-enak berjalan. Bagi mata orang biasa tentu dikira pengemis itu kelaparan atau kelelahan sampai tak kuat berdiri dan hendak jatuh menimpa orang di jalan, akan tetapi bagi Lee Ing, terang bahwa orang itu sengaja menubruk Siok Ho dan mengirim pukulan yang kuat sekali.

Tentu saja Siok Ho yang memiliki kepandaian tinggi, tahu pula bahwa dirinya bukan sembarangan ditubruk oleh seorang pengemis kelaparan, melainkan diserang deh seorang lawan yang lihai. Akan tetapi ia menjadi girang ketika melihat bahwa serangan iiu adalah gerak tipu Pek-wan-hoan-hwa (Lutung Putih Mencari Bunga), jurus dari ilmu silat Kun-lun-pai yang dimainkan dengan gerakan buruk sekali. Cepat Siok Ho miringkan tubuh, menangkap dua lengan orang itu sambil berseru,

"Lopek, hati-hatilah jangan jatuh!" Setelah berkata demikian, Siok Ho pura-pura membantu dan menolong orang itu berjalan. Banyak orang yang menyaksikan kejadian ini tentu mengira bahwa Siok Ho adalah seorang pemuda baik hati yang merasa kasihan kepada pengemis setengah tua itu dan berusaha menolongnya. Akan tetapi Lee Ing yang memperhatikan dengan pandangan lain, melihat betapa mereka berbisik-bisik dan menyelinap pergi di antara orang banyak yang tidak memperhatikan lagi kejadian itu.

Lee Ing terus mengikuti dan akhirnya, benar seperti dugaannya, ia melihat Siok Ho dan '’pengemis" itu sudah keluar dari kota raja dan berlari cepat ke jurusan utara, masuk ke dalam sebuah hutan yang sunyi. Dengan kepandaiannya yang luar biasa sekali Lee Ing dapat menyelinap dan mengikuti mereka tanpa diketahui oleh yang diikuti, bahkan dapat mengintai sambil bersembunyi ketika Siok Ho tiba di tengah hutan dan disambut oleh serombongan orang.