-->

Pendekar Bunga Merah Jilid 9 (Tamat)

Jilid 9 (Tamat)

Beberapa hari kemudian, ketika Sin Lee dan Giok Lan sedang duduk mengobrol di ruangan dalam, seorang murid melaporkan bahwa ada dua orang tamu mohon berjumpa dengan ketua Beng-kauw.

“Apakah mereka itu sudah mulai berdatangan, suheng?”

“Entahlah, akan tetapi kau temui saja dan bersikaplah tenang. Aku akan membantumu dari belakang, tanpa menonjolkan diri karena aku bukanlah orang Beng-kauw.”

“Baik, suheng,” kata Souw Giok Lan dan setelah merapikan pakaian dan rambutnya, sesuai dengan kedudukannya sebagai ketua Beng-kauw, dara ini lalu melangkah keluar, diikuti beberapa orang murid Beng-kauw, Giok Lan dapat nampak berwibawa sekali kalau ia serius.

Ketika tiba di ruangan tamu di mana dua orang tamu itu dipersilahkan duduk, Giok Lan melihat seorang laki-laki setengah tua bersama seorang gadis cantik manis yang nampak agak kurus, dan mukanya agak pucat. Kedua matanya seperti mata yang banyak menangis.

Dua orang tamu itu cepat bangkit dan memberi hormat ketika melihat Giok Lan memasuki ruangan tamu, “Maafkan, kami ingin sekali bertemu dengan ketua Beng-kauw,” kata laki-laki setengah tua itu.

Giok Lan tersenyum. Banyak sudah tamu dari luar salah sangka, sama sekali tidak mengira bahwa ialah ketua Beng-kauw! “Akulah ketuanya, ji-wi datang dari mana?”

“Ah, maafkan kami. Kami tidak mengira bahwa ketua Beng-kauw yang demikian terkenal adalah seorang gadis muda sekali. Maaf, pangcu, saya adalah Gan Kong, seorang guru silat di Syanghai, dan ini adalah anak saya bernama Gan Lian Si.”

“Hemm, begitu jauh dari Syanghai ji-wi datang berkunjung, ada keperluan apakah?”

“Begini, pangcu. Kami berdua bertemu seseorang yang tadinya membujuk kami untuk menyerang Beng- kauw. Kami tidak mau dan kami bahkan menjadi musuhnya. Karena itu kami ingin membantu Beng-kauw menghadapi orang yang jahat itu.”

“Siapa dia, Gan-kauwsu?”

“Namanya Bhe Tun Hok, dan ilmu silatnya amat tinggi, pangcu. Akan tetapi kami siap menghadapinya dan mengadu nyawa dengan jahanam itu.”

“Terima kasih banyak atas kesanggupan ji-wi untuk membantu kami,” kata Giok Lan, “akan tetapi kalau memang ada orang jahat hendak memusuhi kami, kami sanggup untuk menghadapinya sendiri. Kami tidak ingin melibatkan orang luar untuk urusan yang menyangkut Beng-kauw, Gan-kauwsu.”

“Kami mengerti,” kata Gan Lian Si, “akan tetapi kami juga mempunyai permusuhan sedalam lautan dengan orang itu. Karena itu, kami akan membantu melawannya, kalau perlu dengan taruhan nyawa.”

“Mengenai urusan pribadi ji-wi dengan orang itu, kamipun tidak berani mencampuri, Gan-kauwsu dan engkau, enci. Akan tetapi dapat saja kita hadapi bersama dengan persoalan kita masing-masing.”

“Engkau masih muda akan tetapi bijaksana sekali, pangcu. Kalau begitu, kami permisi akan mencari tempat bermalam di sekitar sini, nanti kalau orang itu sudah muncul, kami datang lagi.”

“Gan-kauwsu dan enci, karena ji-wi sudah datang dan menjadi tamu kami, maka kalau ingin menginap, silahkan, kami mempunyai kamar-kamar tamu.” Ia lalu memerintahkan anak buahnya untuk mengantar kedua orang tamu itu ke bagian belakang di mana terdapat pondok-pondok kecil yang memang dipersiapkan untuk menjadi tempat menginap para tamu. Tentu saja Sin Lee bukan diperlakukan sebagai tamu dan mendapatkan sebuah kamar tersendiri di bangunan induk tempat tinggal ketua. Pada sore hari itu, ketika Gan Kong dan puterinya sedang duduk di dalam pondok itu, muncul Sin Lee di ambang pintu. Kedua orang itu terkejut. Lebih-lebih Gan Lian Si. Ketika melihat Sin Lee, matanya terbelalak dan sambil terisak menangis ia menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki Sin Lee.

“Taihiap... maafkan... maafkan aku...” ia meratap.

Gan Kong juga merangkap tangan ke depan dadanya. “Pendekar Bunga Merah, aku juga mintakan maaf atas kebodohan Lian Si yang sudah begitu tidak mengenal budi, tidak menghiraukan nasihatmu sehingga tertimpa malapetaka.”

“Aih, bangunlah, Si-moi, dan tidak ada yang perlu dimaafkan, paman Gan Kong. Aku kebetulan berada di sini, karena ketahuilah bahwa ketua Beng-kauw ini adalah sumoiku sendiri. Aku sudah mendengar pembicaraanmu dengan ia, dan sesungguhnya apakah yang terjadi dengan Lian Si? Dan apakah yang bernama Bhe Tun Hok itu pemuda yang bersuling perak dan berkipas itu?”

Lian Si tidak menjawab, hanya menangis saja. Ayahnya yang memberi penjelasan, setelah berulang kali menghela napas, “Benar, taihiap. Bhe Tun Hok manusia jahanam itu membuat Lian Si menjadi mabok sehingga ia tidak mendengar nasihar taihiap bahkan mengusir taihiap dan akibatnya ia... ah, jahana, keparat itu telah menodainya kemudian tidak mau bertanggung jawab bahkan membujuk kami untuk membantunya menyerang Beng-kauw. Karena kami tidak berdaya melawannya, kami lalu mengambil keputusan untuk memberitahu Beng-kauw, dan kalau mungkin membantuBeng-kauw sekuat tenaga untuk membalas dendam kami kepadanya.”

“Keparat busuk!” Sin Lee mengepal tinju. “Manusia macam itu harus dilenyapkan dari muka bumi! Jangan khawatir, paman, aku akan membantu kalian kalau dia berani datang ke sini.”

“Dia amat lihai, taihiap, dan di sana masih ada lagi gurunya. Tentu gurunya itu lebih lihai lagi.”

“Orang macam apa gurunya itu dan siapa namanya?” tanya Sin Lee, teringat bahwa memang ilmu silat pemuda ganteng itu sudah lihai maka gurunya tentulah lebih tangguh lagi.

“Entah siapa namanya, taihiap. Akan tetapi dia seorang kakek tinggi besar berkepala gundul, memakai jubah seperti pendeta, berwarna merah.”

“Apakah dia membawa tongkat naga?”

“Benar, aku melihat ada tongkat naga di perahu itu,” kata Lian Si, yang sudah dapat meredakan tangisnya. “Bouw Sang Cinjin!” kata Sin Lee terkejut.

“Siapa dia, taihiap?”

“Seorang musuh lama, paman, akan tetapi jangan khawatir. Aku dan sumoi dapat mengatasi mereka berdua.”

Sin Lee lalu berpamit dan bertemu dengan sumoinya. “Dari mana, suheng?”

“Dari pondok yang ditinggali Gan-kauwsu dan puterinya.” “Ah, dan engkau sudah mengenal mereka?”

“Sudah.” Dia lalu menceritakan tentang pertemuannya dahulu dengan ayah dan anak itu, bahkan menceritakan betapa dia akan dijodohkan dengan Lian Si akan tetapi dia menolak.

“Aihh, suheng! Kenapa menolak? Kulihat gadis itu cantik manis dan juga tentu ilmu silatnya lihai karena ayahnya seorang guru silat!”

“Sumoi, banyak sudah yang ingin menjodohkan aku, akan tetapi semua kutolak karena bagi aku, perjodohan hanya dapat terjadi apa bila kedua insan saling mencinta.” “Dan adakah seorang dara yang sudah saling mencinta denganmu, suheng?” “Memang ada, sumoi, sejak dulu malah.”

“Ahh...!” Tiba-tiba wajah Giok Lan menjadi pucat sekali, lalu berubah merah. “Boleh aku tahu siapa gadis yang berbahagia itu, suheng? Aku ingin sekali mengenalnya.”

“Orangnya pemalu sekali, sumoi, bahkan ia tidak pernah mengaku cinta padaku.” “Dan engkau, suheng? Engkau sudah mengaku cinta padanya?”

“Belum, kami sama-sama malu atau sama-sama tidak tahu bahwa kami saling mencinta.” “Ihh, aneh sekali kalian, suheng.”

“Memang aneh, akan tetapi kembali kepada Lian Si, ia sungguh bernasib malang. Kasihan sekali gadis itu.” “Karena kautolak cintanya?”

“Bukan, karena ia menjadi korban kekejian seorang pria.” “Kaumaksudkan Bhe Tun Hok?”

“Hm, mereka tentu sudah menceritakan semua kepadamu. Akan tetapi ada satu hal yang tidak pernah engkau sangka sama sekali, sumoi.”

“Apa itu?”

“Bhe Tun Hok itu adalah murid Bouw Sang Cinjin!” “Ahhh...!! Kalau begitu gadis itu...”

“Ya, ia menjadi korban kekejian Bhe Tun Hok, dibikin mabok dan dinodai.” “Keparat jahat! Muridnya juga sejahat gurunya!”

“Mungkin lebih jahat lagi. Sekali ini, kita harus membasmi mereka agar lain kali tidak berbuat kejahatan lagi kepada orang-orang yang tidak berdosa.”

Hening sejenak, kemudian terdengar Giok Lan berkata, “Suheng...” “Ya, sumoi?”

“Mengenai dara yang saling mencinta denganmu tadi...” “Ya...?”

“Aku ingin sekali berkenalan dengannya.” “Engkau sudah mengenalnya, sumoi.”

“Eh, sudah mengenalnya? Siapakah ia, suheng?”

“Sumoi, kita menghadapi urusan besar. Lebih baik jangan membicarakan soal dara itu, dan kita bersiap- siap menghadapi kedatangan orang-orang kang-ouw. Nanti saja setelah selesai persoalan penting yang kita hadapi, akan kuperkenalkan dara itu kepadamu.”

“Sungguh, suheng?” tanya dara itu dan dalam suaranya terkandung kegetiran, akan tetapi Sin Lee tersenyum saja membiarkan.

Beberapa hari kemudian, rombongan besar itu datang berkunjung. Mereka itu agaknya telah mengadakan pertemuan di luar hutan, karena ketika mendaki tebing menuju ke Beng-kauw, mereka sudah bersatu dan merupakan rombongan besar terdiri dari kurang lebih lima puluh orang. Di antara mereka terdapat rombongan dari Siauw-lim-pai, dari Bu-tong-pai, Go-bi-pai, Kun-lun-pai dan bahkan Kong-thong-pai juga datang bersama ketuanya. Di samping partai-partai persilatan besar itu datang pula banyak perkumpulan, perguruan dan perorangan yang jumlahnya semua lima puluh orang lebih. Di antara mereka itu terdapat orang-orang yang tergolong kaum sesat, akan tetapi agaknya dalam hal ini mereka bersatu padu untuk menghukum kepada Beng-kauw.

Para murid Beng-kauw sudah tahu bahwa rombongan besar orang mendaki bukit menuju ke Beng-kauw dan mereka sudah mengadakan persiapan. Souw Giok Lan sendiri diapit oleh Kam Tiong yang berewokan dan Thio Kun yang bermuka merah, tokoh-tokoh Beng-kauw lainnya, berpakaian lengkap sebagai ketua Beng-kauw, dengan pedangnya di punggung, nampak tenang dan gagah berwibawa, menanti kedatangan mereka di pekarangan luar yang luas. Pekarangan Beng-kauw ini mampu menampung ratusan orang.

Setelah semua orang itu berdiri berkelompok-kelompok di hadapannya, Giok Lan mengangkat kedua tangan depan dada dan memberi hormat kepada semua orang. Kemudian dengan suara nyaring dara ini berkata, “Kami para pimpinan Beng-kauw dan segenap muridnya menghaturkan selamat datang kepada cu-wi (anda sekalian) atas kedatangan cu-wo yang tidak tersangka-sangka dan tidak terundang ini. Siapakah yang akan menjadi wakil pembicara menerangkan kepada kami, apa sesungguhnya maksud kunjungan cu-wi yang banyak ini?”

Di antara mereka, yang tertua adalah tokoh Kun-lun-pai, yaitu Im Yang Tojin. Usianya sudah tujuh puluh tahun lebih, maka tadi semua orang sudah memilih dia untuk menjadi wakil pembicara, atau setidaknya menjadi pembicara pertama.

“Siancai, ucapan pangcu dari Beng-kauw-pang memang jelas dan terbuka. Baiklah, pinto Im Yang Tojin dari Kun-lun-pai yang telah dipilih untuk menjelaskan kepada pangcu maksud kedatangan kami semua. Kami semua datang menuntut kepada pangcu untuk bertanggung jawab terhadap semua peristiwa yang dilakukan oleh anak buah pangcu. Di seluruh dunia kang-ouw telah tersiar berita bahwa orang-orang Beng- kauw melakukan lagi segala macam kejahatan, perampokan, pembunuhan dan penghinaan terhadap para wanita. Kami, seluruh orang gagah dunia persilatan tentu saja tidak dapat membiarkan saja sebuah partai merajalela dengan segala macam bentuk kejahatannya.”

“Benar, hancurkan Beng-kauw yang terkutuk!” “Basmi orang-orang yang tersesat itu!”

“Para pemimpinnya harus bertanggung jawab atas kejahatan anak buahnya!”

Banyak suara yang berteriak dari tengah rombongan besar itu sehingga sukar diketahui siapa yang telah berteriak-teriak itu.

Souw Giok Lan bersikap tenang, dan setelah teriakan-teriakan itu berhenti baru ia bicara dengan suaranya yang nyaring, “Masih ada lagikah yang hendak bicara? Harap satu-satu dan jangan berbarengan. Nah, silahkan kalau masih ada yang ingin bicara!”

“Siancai, maafkan kami kalau ada pengacauan, pangcu. Harap diketahui bahwa rombongan kami ini dari berbagai kelompok sehingga agak sukar untuk mengatur. Akan tetapi tugas yang diberikan kepad pinto untuk bicara sudah selesai dan kami semua menanti jawaban tegas dari pangcu!” kata Im Yang Tojin.

“Cuwi yang terhormat. Harap dengarkan baik-baik. Kami tidak menyangkal dan juga tidak mengakui. Tidak menyangkal karena kami tidak melihat sendiri bukti penyelewengan. Tuduhan tanpa bukti adalah fitnah dan cuwi tentu mengetahui semua itu. Kami hanya menuntut, kalau memang cuwi menganggap bahwa anak buah Beng-kauw melakukan segala macam kejahatan itu, tunjukkanlah buktinya! Hayo, silahkan siapa yang dapat menunjukkan buktinya?”

Ramai semua orang itu saling bercakap sendiri, kemudian terdengar suara yang lembut namun terdengar lantang mengatasi semua suara, pertanda bahwa orang yang bersuara itu memiliki khikang yang amat kuat. “Beng-kauw pangcu, pinceng dari Siauw-lim-pai mengajukan bukti. Tiga orang murid kami telah dibunuh oleh orang-orang Beng-kauw dan yang menjadi saksi adalah murid ke empat yang berhasil lolos dengan luka berat. Omitohud, kami adalah orang-orang beribadat, tidak mungkin kami mau berbohong!” Yang bicara adalah seorang hwesio gendut, tokoh Siauw-lim-pai. Sambutannya berupa suara gaduh orang-orang yang hadir di situ karena mereka semua percaya kepada hwesio Siauw-lim-pai itu dan mereka mulai marah.

“Kami dari Go-bi-paai juga hendal bersaksi!” terdengar seorang berusia empat puluh tahun lebih dan kelihatan gagah perkasa. “Dua orang murid wanita kami telah dikeroyok oleh orang-orang Beng-kauw, ditawan dan diperhina dan mereka berdua baru dilepas setelah luka parah dan hampir tewas!”

Kini banyak orang mulai berteriak-teriak. “Basmi Beng-kauw...!”

“Hancurkan orang-orang terkutuk itu!”

Namun Souw Giok Lan dan seratus lebih anak buah Beng-kauw yang berdiri di belakangnya tetap tenang. Para anak buah itu memang telah dipesan bahwa mereka sama sekali tidak boleh berkata kasar atau bertindak sendiri-sendiri sebelum ada perintah. Kam Tiong yang berewok sudah merah mukanya dan Thio Kun melotot, akan tetapi merekapun tidak berani bergerak.

“Apakah masih ada lagi? Silahkan maju dan memberi kesaksian dan bukti!” kata Souw Giok Lan, walaupun hatinya juga merasa tegang dengan adanya kesaksian-kesaksian itu.

“Aku memberi kesaksian!” terdengar suara wanita dan muncullah seorang wanita cantik. Semua orang memandang kagum pada wanita ini yang usianya sekitar dua puluh lima tahun, cantik berpakaian mewah dan di punggungnya tergantung sepasang pedang. “Aku, Lai Kim Li, berani bersumpah demi nenek moyangku bahwa aku pernah diserang beberapa orang Beng-kauw yang hendak berbuat kurang ajar kepadaku. Setelah aku melawan, barulah lima orang Beng-kauw itu melarikan diri. Dasar mereka itu jahat dan pengecut!”

Kembali sambutan riuh rendah dan agaknya semua orang dapat percaya karena wanita itu cukup cantik untuk membuat orang-orang berani berbuat kurang ajar.

“Apakah masih ada lagi?” tanya Souw Giok Lan. Sejak tadi ia mendengarkan suara suhengnya yang menggunakan khikang sehingga suaranya dapat terdengar olehnya. Suhengnya yang membisikkan agar ia menganjurkan orang-orang memberi kesaksian, pada hal menurut pendapatnya, semua kesaksian itu bahkan memberatkan Beng-kauw. Kenapa suhengnya terus menyuruh ia menantang agar banyak orang memberi kesaksian yang memberatkan Beng-kauw.

“Siancai, aku yang akan memberi kesaksian terakhir kalau sudah tak ada lagi yang memberi kesaksian!” Suara ini besar dan parau dan muncullah seorang kakek tinggi besar yang mengenakan pakaian tosu akan tetapi kepalanya gundul.

“Bouw Sang Cinjin!” teriak Souw Giok Lan. “Engkau...? Hendak memberi kesaksian? Kesaksian apa yang kaubawa ke sini?” tantang Giok Lan marah.

“Ha-ha-ha, cuwi lihat sendiri betapa sombongnya anak perempuan yang masih ingusan ini. Dahulu Beng- kauw pinto yang pimpin dan semuanya beres, tidak pernah terjadi keributan. Akan tetapi bocah ini, dengan alasan bahwa ia keturunan tokoh Beng-kauw yang sudah dikeluarkan karena berkhianat terhadap Beng- kauw, menuntut agar ia yang diangkat menjadi ketua. Cuwi tahu siapa ia? Ia adalah Souw Giok Lan, puteri dari mendiang Souw Kian, pengkhianat Beng-kauw yang sudah diusir dari sini. Pinto mengalah dan apa jadinya sekarang? Ialah yang memimpin Beng-kauw ke arah kesesatan, sesuai dengan watak mendiang ayahnya.”

“Bouw Sang Cinjin, engkau...”

“Sstt, sumoi, tenanglah, sekarang aku akan keluar.” Terdengar olehnya suara suhengnya dan benar saja, sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu Sin Lee telah berada di situ, kembang merahnya masih segar di dada.

“Pendekar Bunga Merah...!” Banyak mulut berseru.

Sin Lee mengangkat kedua tangan memberi hormat kepada semua orang. “Cuwi telah mengenalku, itu baik sekali dan aku rasa cuwi cukup percaya bahwa aku tidak akan berbohong. Maukah cuwi mendengar kata-kataku mengenai persoalan Beng-kauw ini?”

“Mau...! Mau...!” terdengar suara banyak orang. Siapa yang tak mengenal Pendekar Bunga Merah? Pendekar ini dikeanl di seluruh negeri karena diumumkan oleh Kaisar bahwa semua pejabat harus menerima Pendekar Bunga Merah dengan segala penghormatan!

“Nah, cuwi dengarlah baik-baik. Ketahuilah bahwa ketua Beng-kauw yang sekarang ini, yang bernama Souw Giok Lan, adalah sumoiku sendiri! Akulah orangnya yang akan paling dulu menentangnya kalau sumoi melakukan penyelewengan dari pada jalan kebenaran! Aku yang bertanggung jawab bahwa sumoi bukan penjahat dan sejak Beng-kauw dibimbingnya, Beng-kauw selalu mengutamakan kebenaran. Aku yang menanggung!”

“Akan tetapi semua kesaksian tadi menyatakan lain!” kata Bouw Sang Cinjin dengan suara yang mengandung kemenangan.

“Kami mendukung pernyataan Pendekar Bunga Merah. Kami juga percaya sepenuhnya bahwa Beng-kauw di bawah pimpinan Souw-pangcu tidak melakukan penyelewengan!” tiba-tiba terdengar suara yang mantap dari Beng Sian Tosu, ketua Bu-tong-pai.

“Siancai, kamipun mendukung kebenaran ucapan Pendekar Bunga Merah!” terdengar pula Kam Sun Tojin, ketua Kong-thong-pai berseru nyaring.

Semua orang menjadi tertegun dan meragu. Kalau Pendekar Bunga Merah, ketua Bu-tong-pai dan ketua Kong-thong-pai berkata demikian, bagaimana mungkin masih dapat diragukan lagi?

“Akan tetapi dukungan itu tidak disertai bukti kenyataan dan kesaksian-kesaksian tadi sudah terbukti. Apakah ada di antara cuwi yang menyangsikan kebenaran dari keterangan wakil Siauw-lim-pai dan wakil Go-bi-pai? Juga keterangan dari nona Lai Kim Li? Aku sendiri, Bhe Tun Hok, juga memberi kesaksian. Pernah dua orang gadis murid Beng-kauw mengajak aku bermain cinta!”

Kembali terjadi suara riuh rendah di antara mereka.

“Ha-ha-ha, Pendekar Bunga Merah masih mau membela adik seperguruannya? Tentu kami tidak dapat menyalahkan kalau seseorang membantu adik seperguruannya, apa lagi adik seperguruan yang cantik jelita!” kata Bouw Sang Cinjin.

Kalau Souw Giok Lan merasa khawatir dan tersudut, sebaliknya Sin Lee tenang saja dan sama sekali tidak merasa tersudut. “Marilah kita bahas bersama kesaksian-kesaksian itu. Suhu dari Siauw-lim-pai, kesaksian losuhu itu mengenai tiga murid Siauw-lim-pai yang dibunuh dan seorang dilukai berat, harap memberi penjelasan kapan kiranya peristiwa itu terjadi?”

“Omitohud, kami tidak berani berbohong. Terjadinya kurang lebih satu setengan tahun yang lalu!”

“Bagus!” kata Sin Lee gembira. “Dan totiang dari Go-bi-pai, kapankah murid-murid wanita Go-bi-pai itu diserang orang-orang Beng-kauw dan diperhina?”

Orang berusia empat puluh tahunan itu lalu berkata dengan lantang. “Peristiwa itu terjadi setahun lebih yang lalu, dan kesaksian kami dapat diperkuat dengan sumpah!”

“Cuwi semua mendengar sendiri, bukan? Peristiwa yang dialami murid-murid Siauw-lim-pai dan murid- murid Go-bi-pai itu terjadi lebih dari setahun yang lalu. Pada hal, sumoiku ini menjadi ketua Beng-kauw belum ada satu tahun! Jelaslah bahwa peristiwa itu terjadinya ketika Beng-kauw masih dipegang oleh ketua lama sebelum dipegang sumoi dan siapa ketua lama itu? Bukan lain adalah dia itu, Bouw Sang Cinjin!” Pendekar Bunga Merah menudingkan telunjuknya kepada kakek tinggi besar itu yang seketika berubah pucat wajahnya.

“Dan kesaksian ketiga dilakukan oleh nona Lai Kim Li! Tahukah cuwi siapa nona Lai Kim Li? Ia adalah murid dari Bouw Sang Cinjin sehingga kesaksiannya itu jelas palsu, untuk melakukan fitnah terhadap Beng-kauw. Masih ada seorang lagi, yaitu kesaksian Bhe Tun Hok. Dia itupun murid dari Bouw Sang Cinjin. Tentu saja diapun bersaksi palsu. Semuanya sudah jelas, bukan? Mengapa Bouw Sang Cinjin melakukan fitnah ini? Karena dendam! Kami, yaitu aku sendiri dan sumoiku, memang telah menendangnya keluar dari Beng-kauw karena dia menyelewengkan Beng-kauw ke arah kesesatan, dar saksinya adalah seluruh anggota Beng-kauw! Saudara-saudara anggota Beng-kauw, benarkah demikian?” “Benarrr...!” bergemuruh suara itu karena serentak keluar dari murid yang seratus orang lebih itu.

Kini semua orang kang-ouw tidak meragukan lagi dan semua mata berbalik memandang kepada Bouw Sang Cinjin. Melihat sikap semua tokoh ini, Bouw Sang Cinjin menjadi pucat dan dia tertawa mengejek, “Aha, kiranya Pendekar Bunga Merah hanya mengandalkan banyak orang untuk menyudutkan dan mengeroyok aku!”

“Cuwi, harap jangan ikut-ikutan bertindak. Di sini, di bawah matahari yang terang, disaksikan oleh cuwi yang terhormat, aku menantang diadakan pertandingan untuk menentukan siapa benar siapa salah. Bouw Sang Cinjin, dalam kesempatan untuk mempertahankan kehormatan diri dan nyawamu dengan pertandingan satu lawan satu. Kalau engkau memiliki jagoan, kamipun mempunyai jago untuk mewakili kami!”

Bouw Sang Cinjin sudah merasa tersudut dan tidak mungkin dia dapat melarikan diri dari tokoh dunia persilatan yang demikian banyaknya dan di antara mereka terdapat banyak orang pandai. Dia memandang kepada Bhe Tun Hok dan memberi isyarat kepada murid ini untuk maju mempertahankan kehormatan mereka.

“Aku mewakili suhu maju. Nah, siapa di antara kalian yang memiliki keberanian untuk menandingiku?”

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring, “Bhe Tun Hok, jahanam keparat, aku atau engkau yang harus mati di sini!” Dan wanita yang meloncat cepat dan menggunakan pedangnya menyerang Tun Hok itu bukan lain adalah Gan Lian Si. Memang saat ini yang dinanti-nanti oleh Lian Si untuk membalaskan dendamnya terhadap pemuda itu, maka begitu Tun Hok muncul, iapun segera maju dan sebelum ayahnya atau orang lain melarang, ia sudah melakukan penyerangan dengan sengit.

“Trang-tranggg...!” Dua kali pedang Lian Si bertemu suling perak yang menangkisnya dan terdengar Tun Hok tertawa mengejek. “Engkau hanya mengantar nyawa!” katanya dan diapun membalas serangan gadis itu dengan sengit pula, menggerakkan suling dan mengipas dengan kipasnya.

Terjadilah pertarungan mati-matian. Semua orang di pihak Beng-kauw dan para pendukungnya menjadi panik, terutama sekali Gan Kong dan juga Sin Lee. Mereka tahu bahwa Lian Si bukanlah tandingan Bhe Tun Hok, akan tetapi merekapun tahu bahwa tidak mungkin Lian Si disuruh mundur karena gadis itu menaruh dendam setinggi langit sedalam lautan terhadap pemuda itu. Kalau mereka maju menghalang, tentu disangka mereka melakukan pengeroyokan.

Sin Lee mendapatkan akal. Dia berseru, “Bhe Tun Hok, kalau engkau tidak membunuh Lian Si, akupun akan mengampuni nyawamu. Akan tetapi kalau engkau membunuhya, demi Tuhan, akupun akan membunuhmu!”

Tun Hok bukan seorang bodoh. Dia sudah tahu sampai di mana kehebatan Pendekar Bunga Merah. Diam- diam dia merasa girang sekali karena tadinya seperti juga gurunya, dia sudah putus asa untuk dapat lolos dari situ dengan selamat. Kini, ucapan Sin Lee seolah menjadi jaminan untuk keselamatannya. Tidak sukar baginya mengalahkan Lian Si tanpa membunuhnya karena tingkat kepandaiannya memang jauh lebih tinggi. Maka, dia lalu memutar sulingnya dengan cepat diseling kibasan kipasnya dan belum juga dua puluh jurus mereka bertanding, dia sudah dapat memukul lengan kiri Lian Si sehingga lengan kiri itu patah tulang lengannya. Akan tetapi, biarpun lengan kirinya patah, Lian Si masih terus menyerang dengan pedangnya. Dengan gemas Tun Hok lalu mengelak sambil merendahkan tubuhnya dan tiba-tiba saja suling peraknya menghantam paha gadis itu.

“Krekkk...!” Paha kanan gadis itu patah tulangnya dan Lian Si tidak mampu bangkit lagi. Akan tetapi gadis ini sama sekali tidak mengeluh, dan terdengar ucapannya kepada ayahnya, “Ayah, selamat tinggal, balaskan sakit hatiku!” Dan iapun menggerakkan pedangnya menggorok leher sendiri! Tewaslah Lian Si seketika.

“Jahanam...!” Gan Kong hendak meloncat akan tetapi tangannya dipegang Sin Lee. Pemuda ini mencegahnya meloncat.

“Tenang, paman. Urus saja adik Lian Si, biar aku yang menghadapinya.” Sin Lee lalu melompat ke depan menghadapi Bhe Tun Hok. Dia menudingkan telunjuknya dan berkata marah, “Bhe Tun Hok, engkau iblis berwajah manusia yang kejam sekali. Engkau telah merusak kehidupan Lian Si dan bahkan kini engkau menyiksanya, engkau penyebab kematiannya!”

“Pendekar Bunga Merah, apakah ucapanmu tidak dapat dipercaya lagi? Engkau melihat sendiri, disaksikan pula oleh semua yang hadir bahwa aku mengalahkan Lian Si tanpa membunuhnya. Kalau ia membunuh diri, bagaimana hal itu dapat dipersalahkan kepadaku?”

“Aku tidak melanggar janji dan aku juga tidak akan membunuhmu, akan tetapi aku menantangmu untuk bertanding!”

“Bagus, keluarkan pedangmu, apa kaukira aku takut kepada Pendekar Bunga Merah? Ha-ha-ha!” Dengan congkaknya Bhe Tun Hok tertawa. Dia berbesar hati karena bukankah Pendekar Bunga Merah sudah berjanji tidak akan membunuhnya? Pada hal dia boleh membunuh lawannya. Dengan perjanjian ini saja dia sudah memperoleh keuntungan banyak sekali. Maka, dia kini yang mendahului menyerang dengan suling perak dan kipasnya.

Sin Lee menangkis dan balas menyerang. Karena sedih melihat nasib Lian Si, Sin Lee marah dan dia mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya, sehingga dalam waktu belasan jurus saja Tun Hok sudah terdesak hebat. Namun pemuda pakaian putih ini tidak gentar karena maklum bahwa lawan tidak akan membunuhnya.

Yang mengkhawatirkan pertandingan itu adalah Bouw Sang Cinjin. Dia tahu betapa lihainya Pendekar Bunga Merah dan kalau dia membantu muridnya, tentu semua pendekar yang berada di situ menyalahkannya dan bahkan mungkin akan maju mengeroyoknya. Maka, dia dan juga Lai Kim Li memandang dengan wajah khawatir.

Kekhawatiran mereka memang terbukti. Kurang dari tiga puluh jurus, Sin Lee sudah membuat lawannya hanya mampu menangkis saja dan tidak dapat balas menyerang lagi. Sin Lee mencari kesempatan baik dan ketika pedangnya berkelebat, tersambarlah lengan kanan Tun Hok sehingga lengan itu putus pada sikunya dan sulingnya terlempar jauh. Tun Hok menjerit dan pada saat berikutnya, kembali pedang Sin Lee menyambar dan kini kaki kiri Tun Hok yang putus sebatas lutut dan robohlah Bhe Tun Hok.

Pemuda ini merintih dan berguling-gulingan karena sakit, “Tun Hok, akupun tidak membunuhmu,” kata Sin Lee dengan suara dingin.

“Bunuhlah saja aku...” Tun Hok masih hendak menggunakan akal agar Sin Lee dianggap melanggar janji. “Aku tidak akan membunuhmu seperti telah kujanjikan!” kata Sin Lee.

Pada saat itu, Gan Kong meloncat ke depan. “Orang lain tidak akan membunuhmu, akan tetapi aku akan membunuhmu untuk membalaskan sakit hati anakku!” Pedangnya menyambar leher Bhe Tun Hok yang sudah tidak berdaya itu dan putuslah lehernya.

Terdengar suara melengking dan Lai Kim Li sudah meloncat dan menyerang Gan Kong dengan pedangnya. Melihat suheng dan juga kekasihnya tewas dalam keadaan seperti itu, ia menjadi sedih dan marah sekali.

“Trangg...!” Bunga api berpijar ketika pedang di tangan Lai Kim Li yang menyerang Gan Kong itu ditangkis oleh pedang Souw Giok Lan.

“Lai Kim Li, engkau membuat kesaksian palsu untuk membantu gurumu melakukan fitnah kepada Beng- kauw. Akulah lawanmu kalau engkau berani!” kata Souw Giok Lan dengan sikapnya yang gagah.

Seperti juga gurunya, yang ditakuti oleh Lai Kim Li hanyalah Sin Lee. Maka mendengar tantangan ketua Beng-kauw itu ia balas membentak, “Engkau ketua Beng-kauw yang tidak becus menipu semua orang untuk mempertahankan kedudukanmu. Baik, aku terima tantanganmu karena memang aku bermaksud membunuhmu dengan kedua tanganku sendiri!”

Melihat pemimpin mereka maju sendiri melawan musuh, para anggota Beng-kauw menjadi tegang, akan tetapi mereka mematuhi perintah ketua mereka bahwa tanpa perintah, mereka tidak boleh bertindak sendiri-sendiri, maka mereka hanya menjadi penonton yang bagaimanapun juga mengkhawatirkan keselamatan ketua mereka. “Sumoi, awas ilmu sihir dan senjata beracunnya!” Sin Lee berseru kepada sumoinya. Dia tahu bahwa sumoinya tidak akan kalah, akan tetapi perlu sumoinya waspada terhadap sihir dan senjata beracun wanita itu. Dia sendiri pernah menjadi korban racun pembiusnya yang berbahaya.

Mulailah dua orang wanita itu bertanding. Pertandingan ini jauh lebih menarik dari pada tadi. Keduanya wanita cantik, dan mereka memiliki ilmu kepandaian yang setingkat. Untung bagi Giok Lan bahwa ia pernah mempelajari ilmu-ilmu silat Beng-kauw dari ayahnya, ilmu silat yang banyak mengandung tipu daya, maka menghadapi ilmu silat yang sesat dari Kim Li, ia tidak menjadi gugup.

Biarpun Giok Lan hanya mempergunakan sebatang pedang melawan sepasang pedang lawannya, namun ia sama sekali tidak terdesak. Tangan kirinya juga dapat menyerang dengan pukulan, tamparan dan totokan maut. Saling serang terjadi selama lima puluh jurus dan belum juga ada yang terkena serangan.

Tiba-tiba Kim Li mengeluarkan suara melengking dan ia tertawa. Semua orang terkejut karena di antara mereka yang tidak memiliki sinkang kuat, jadi ikut-ikutan tertawa. Apa lagi terhadap Giok Lan yang diserang langsung. Namun, Giok Lan sudah siap siaga. Ia menulikan telinga dan mengerahkan sinakang dan suara tawa itu sama sekali tidak terdengar olehnya dan seranganya semakin gencar.

Ketika pedang Giok Lan mendesak dan mengancam leher dengan gerakan berpusing, tiba-tiba Kim Li menjatuhkan diri dan bergulingan. Pada saat bergulingan ini tangannya melemparkan jarum-jarum beracun ke arah Giok Lan. Giok Lan sudah menduga ini karena cara bergulingan itu tidak wajar, maka ia dapat memukul runtuh semua jarum hitam yang mengandung racun itu.

Kini barulah Kim Li merasa panik. Diam-diam ia memaki Sin Lee yang sudah memperingatkan sumoinya sehingga kini Giok Lan siap benar-benar, tidak dapat dipengaruhinya sihir dan juga tidak dapat diserang secara menggelap dengan senjata rahasianya.

Tiba-tiba Kim Li meloncat tinggi seperti terbang. Melihat ini, Giok Lan juga melompat ke atas dan di udara mereka beradu pedang. Pedang di tangan Giok Lan terjepit dua pedang dan terdengar bunyi keras. Ternyata pedang di tangan Giok Lan patah dan sebatang pedang dari Kim Li juga patah! Giok Lan terkejut. Kini ia tidak bersenjata lagi dan lawannya masih memiliki sebatang pedang. Ia langsung melayang ke arah pohon yang tumbuh di pekarangan itu dan tak lama kemudian ia melompat turun, sudah membawa sebatang cabang pohon yang dipatahkannya. Kayu cabang pohon itu sebesar lengannya dan panjangnya sama dengan tubuhnya.

“He-he-he-heh, ketua Beng-kauw melarikan diri. Mengakulah saja engkau kalah dariku!” ejek Kim Li.

“Perempuan cabul, aku tidak kalah hanya mengambil senjata ini. Senjata ini kunamakan tongkat penggebut kuntianak dan dengan tongkat ini aku akan membunuhmu!” jawab Giok Lan.

Biarpun pedangnya tinggal satu, Kim Li berbesar hati. Ia memandang rendah senjata di tangan lawannya itu. Apa artinya kayu dahan pohon itu? Sekali bacok dengan pedangnya tentu akan patah-patah!

Ia sama sekali tidak tahu bahwa dengan bersenjata tongkat panjang, Giok Lan bahkan menjadi lebih lihai. Senjata itu adalah senjata andalan gurunya, yaitu tongkat setinggi kepala dan seperti halnya Sin Lee, tentu saja Giok Lan sudah mempelajari ilmu tongkat dari gurunya, Ciu-sian Lo-kai. Maka, ketika Kim Li menerjang dengan pedang tunggalnya, iapun memutar tongkatnya, tidak membiarkan tongkatnya terbacok langsung dan kini kedua ujung tongkat itu bergantian menyerang dengan ujungnya tergetar membentuk bayangan tujuh ujung tongkat.

Barulah Kim Li terkejut dan ia tidak berani memandang rendah lagi. Ia melawan dengan sekuat tenaga. Namun kelihaiannya adalah sepasang pedang. Dengan hilangnya sebatang pedangnya, maka ketangguhannya menurun banyak, sedangkan lawan bahkan lebih tangguh dengan tongkatnya itu. Pada suatu saat, ketika pedang itu membacok, Giok Lan menangkis dari samping, lalu tongkatnya membalik dan menyambar kepala lawan dari belakang.

“Takkk!!” Kepala itu dihantam tongkat, terkena bagian belakangnya dan kepalanya menjadi retak, jaringan otaknya menjadi berantakan dan tubuh Kim Li terkulai lalu roboh dan tewas seketika tanpa mengeluarkan darah dari lukanya, hanya dari hidung, mulut dan telinganya saja keluar darah.

Kemenangan ketua Beng-kauw ini tentu saja disambut dengan gegap gempita oleh seratus lebih anak buah Beng-kauw. Pada saat itu terdengar suara tawa tiga orang dan semua orang terkejut dan menengok, bahkan banyak yang ikut tertawa tanpa dapat mereka tahan lagi. Sin Lee yang mengenal mereka juga terkejut, akan tetapi dia segera menjadi gembira karena teringat bahwa keluarga gila itu telah menganggap dia sebagai anggota keluarga pula.

“Heii, orang-orang Beng-kauw, kalau memang kalian tidak banci, hayo maju dan lawan kami keluarga Song!” teriak Song Kian Ok dengan suaranya yang parau.

“Orang-orang Beng-kauw pengecut, sekarang kita boleh bertanding di atas bumi!” teriak pula Nyonya Song.

“Heii, mana itu si tinggi besar yang berkedok. Suruh keluar akan kuhancurkan kepalanya!” ancam Song Ceng sambil mengacung-acungkan tinjunya.

Dua losin anak buah Beng-kauw yang mengatur penjagaan agar jangan terjadi kekacauan maju menyambut mereka untuk membujuk mereka agar jangan membuat kacau. Akan tetapi dua losin orang itu disambut tamparan dan tendangan yang membuat mereka berantakan. Melihat ini, Souw Giok Lan terkejut bukan main. Dua losin itu adalah murid terbaik, namun dalam segebrakan saja mereka jatuh bangun oleh tiga orang aneh itu. Ia lalu maju memberi hormat dan menegur, “Sam-wi datang marah-marah ada urusan apakah dengan Beng-kauw?”

Keluarga itu agak tertegun ketika ditegur seorang gadis cantik. “Jangan ikut-ikut, nona. Kami mau menghajar Beng-kauw karena Beng-kauw telah menghina dan menantang kami!” kata Song Kian Ok.

“Kami keluarga Song tidak mau diam saja ditantang Beng-kauw!”

Pada saat itu terdengan seruan beberapa orang, “Keluarga Song Gila!”

“Orang-orang Beng-kauw yang gila! Hayo kalian maju semua, kami tidak takut!” kata Aceng.

Tiba-tiba Sin Lee maju dan berkata, “Mundurlah, sumoi, biar aku yang melayani mereka.” Kemudian dia menghadapi tiga orang keluarga gila itu dan memberi hormat, “Ayah, ibu, dan kak Ceng, bagaimana kabarnya? Kalian baik-baik saja, bukan?”

“Haii, Sin Lee, kebetulan engkau berada di sini. Hayo bantu kami menghajar orang-orang Beng-kauw yang kurang ajar itu!” kata Song Kian Ok.

“Ayah yang baik, apa yang telah dilakukan orang Beng-kauw kepadamu?”

“Apa yang telah dilakukan? Wah, menghina sekali, mereka menggulingkan perahu, menceburkan kami bertiga di telaga. Bukankah itu kurang ajar dan menghina sekali?”

“Ayah, bagaimana ayah bisa tahu bahwa orang itu adalah orang Beng-kauw?” “Tentu saja tahu. Dia mengaku orang Beng-kauw!”

“Kalau begitu coba tunjuk orangnya, ayah. Aku pasti menghajarnya!”

“Tunjuk? Tidak perlu tunjuk. Seluruh orang Beng-kauw akan kami hajar, dan engkau sebagai anakku harus membantuku dan menghajarnya. Hayo mulai!”

“Nanti dulu, ayah. Jangan terburu nafsu agar jangan menyerang orang yang tidak bersalah.”

“Song Kian Ok, semua orang Beng-kauw jahat, hayo serang saja!” Tiba-tiba Bouw Sang Cinjin berseru. Kakek ini marah dan sedih sekali melihat kedua orang muridnya telah tewas.

“Sin Lee, kau anakku, apa hendak menghalangi kami menghajar Beng-kauw? Kalau begitu kami akan menghajarmu pula!”

“Sin Lee, apakah engkau akan menjadi anak durhaka?” teriak Nyonya Song.

“Sin Lee, aku tidak akan mengakuimu sebagai adik kalau kau tidak mau membantu.” “Ayah, ibu dan kakak Ceng, ini semua hanya salah paham. Beng-kauw tidak bersalah.” Sin Lee mencoba untuk meredakan kemarahan mereka.

“Wuuttt...!!” Song Kian Ok menampar dengan kuat sekali, akan tetapi dapat dielakkan oleh Sin Lee. Nyonya Song juga sudah maju hendak menyerang, demikian pula Aceng.

Pada saat itu, terdengar suara nyaring, “Song Kian Ok, engkau dan anak isterimu berani bermain gila di sini? Lihat siapa aku!” Semua orang memandang, demikian pula keluarga gila itu. Begitu Song Kian Ok, Nyonya Song, dan Song Ceng melihat kakek yang kurus tanpa sepatu, pakaiannya compang camping, rambutnya riap-riapan kelabu, jenggot dan kumisnya berjuntai namun terpelihara rapi, memegang sebatang tongkat setinggi kepala, mereka bertiga terbelalak, lalu menjatuhkan diri berlutut.

“Ampunkan kami, locianpwe...!” kata Song Kian Ok.

“Kami tidak berani main gila, Lo-kai...!” kata pula Nyonya Song. “Kakek jembel, ampunkan saya...!” kata pula Aceng.

“Suhu...!” kata Sin Lee dan Giok Lan hampir berbareng dan mereka berdua menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu yang segera menyuruh mereka bangkit. “Sin Lee, Giok Lan, lanjutkan urusan kalian. Biar aku yang mengurus keluarga Song ini. Heii, Song Kian Ok bertiga, kalau kalian tidak lekas pergi dari sini dan masih berani mengganggu orang, jangan salahkan aku kalau aku bersikap keras kepada kalian! Hayo cepat pergi!”

“Baik, baik...!” Suami isteri dan anaknya itu lalu melarikan diri pergi dari situ dengan ketakutan.

“Ha-ha-ha, mereka itu adalah orang baik-baik, sayang ilmu yang kuberikan kepada Song Kian Ok dipelajari secara keliru sehingga membuat mereka gila. Sin Lee sekarang lanjutkan usahamu membersihkan nama Beng-kauw, aku akan menonton saja.” Kakek itu tanpa memperdulikan orang lain lalu duduk di pinggiran, bersila di atas tanah dan seperti seorang anak kecil hendak menonton pertunjukan yang hebat. Kalau dipandang sepintas lalu sikapnya itu mirip dengan sikap keluarga Song yang gila itu.

Sin Lee kini berkata kepada Bouw Sang Cinjin. “Bouw Sang Cinjin, kedokmu sudah terlepas kini. Semua orang tahu belaka bahwa engkaulah yang berdiri di belakang semua fitnah yang memburukkan Beng-kauw ini. Beng-kauw memang menyeleweng, akan tetapi hal itu terjadi ketika engkau yang menjadi ketuanya. Sejak Beng-kauw dipimpin sumoi, Beng-kauw selalu mengambil jalan lurus. Murid-muridmu yang jahat itu telah tewas. Bagaimana sikapmu sekarang? Engkau tidak akan lolos dari hukuman!”

Bouw Sang Cinjin memang sudah putus ada karena kini semua tokoh kang-ouw berbalik memandang kepadanya dengan marah. Laripun tidak ada gunanya, tentu semua orang akan mengejarnya karena orang-orang Siauw-lim-pai dan Go-bi-pai tahu siapa yang membunuh dan mengganggu murid-murid mereka. Dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Ah, dasar nasibnya yang sial. Di negerinya sendiri, di Tibet, dia dikejar-kejar para pendeta Lama karena dianggap pengkhianat dan sesat, kini di Tiong-goan diapun gagal memperoleh kedudukan bahkan dimusuhi semua tokoh dunia persilatan. Dia harus melawan dengan gagah mempertahankan kehormatannya.

“Pendekar Bunga Merah, engkau telah menggagalkan segalanya, jelas aku tidak dapat hidup bersamamu di dunia ini. Seorang di antara kita harus menebus dengan nyawa. Akan tetapi, siapa berani menanggung bahwa engkau tidak akan melakukan pengeroyokan?”

“Bouw Sang Cinjin, jangan tekebur. Para locianpwe di sini adalah pemuka-pemuka dari partai besar. Merekalah yang menjadi saksi. Mereka akan menyaksikan siapa di antara kita akan menang. Kalau aku roboh di tanganmu, aku tanggung bahwa Beng-kauw tidak akan mengeroyok dan mengejarmu, dan akan membiarkan engkau pergi tanpa diganggu. Akan tetapi kalau engkau yang kalah dan tewas, jangan mati penasaran karena kita telah bertanding secara jantan.”

“Bagus, aku percaya omongan Pendekar Bunga Merah. Mari kita mulai dan biarlah semua orang menjadi saksi!” kata Bouw Sang Cinjin dan tongkat naganya sudah digerakkan melintang di depan dadanya.

Melihat ini, Sin Lee menghampiri gurunya yang masih duduk bersila. Dia berlutut. “Suhu, bolehkah teecu meminjam tongkat suhu?” “Heh-heh-heh, tongkat butut ini? Boleh, boleh, akan tetapi awaslah semburan yang keluar dari mulut kepala naga itu, heh-heh!” Sin Lee dengan girang mengambil tongkat gurunya, tongkat hitam yang panjangnya sekepala, dan sekali melompat dia sudah berada di depan Bouw Sang Cinjin.

“Bouw Sang Cinjin, aku sudah siap!” Baru saja Sin Lee berhenti bicara, tongkat naga itu sudah menyambarnya dengan serangan dahsyat sekali. Agaknya Bouw Sang Cinjin begitu menyerang sudah mengeluarkan jurus ampuh dengan mengerahkan seluruh tenaganya. Sin Lee melompat ke samping dan menangkis dengan tongkat suhunya. Dahulu, di waktu mengikuti suhunya, dia sering menggunakan tongkat suhunya ini untuk berlatih, maka menggerakkan tongkat itu terasa enak baginya. Dan diapun tahu bahwa tongkat itu bukan sembarang tongkat, melainkan terbuat dari kayu yang langka, yang sudah mengeras bagaikan baja dan dapat menyerap tenaga sinkang lawan melalui pertemuan senjata.

“Dukk!” Kedua tongkat bertemu dan tongkat di tangan Bouw Sang Cinjin membalik.

“Srrrr...!” Dari mulut kepala naga yang berada di tongkat kakek itu menyembur keluar sinar hitam. Sin Lee memang selalu waspada karena dia tahu bahwa kakek seperti itu tentu mempunyai banyak tipu muslihat dan senjata rahasia. Apa lagi tadi suhunya sudah memberi tahu kepadanya, maka begitu sinar hitam menyambar, dia sudah mampu menghindar dengan lompatan cepat, lalu berjungkir balik dan tongkatnya kini balas menyerang tidak kalah dahsyatnya.

Terjadilah serang-menyerang yang amat seru. Keduanya mahir sekali memainkan tongkat dan gerakan mereka juga gesit, akan tetapi jelas bahwa Sin Lee memiliki keringanan tubuh yang lebih baik sehingga dialah yang nampak gencar melakukan serangan.

Beberapa kali Bouw Sang Cinjin menyeling serangan tongkatnya dengan semburan jarum beracun dari kepala naga, atau mengeluarkan bentakan-bentakan yang mengandung kekuatan sihir. Namun, semua itu tidak mempengaruhi Sin Lee sama sekali. Bahkan setelah lewat lima puluh jurus, dua kali Sin Lee mampu memukul paha kakek itu dengan tongkatnya. Biarpun paha yang terpukul itu dilindungi kekebalan, tetap saja terasa nyeri dan mulai menimbulkan perasaan jerih di hati kakek itu. Pendekar Bunga Merah memang terlalu lihai untuknya.

Namun, tidaklah mudah bagi Sin Lee untuk dapat menang secara cepat. Bahkan setelah seratus jurus, kakek itu mampu membalas dan tongkatnya nyaris menyambar kepalanya. Sin Lee menangkis dan tongkat naga itu meleset dan masih mengenai pangkal lengan kirinya yang menimbulkan rasa nyeri. Sin Lee merasa penasaran dan diapun mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya, mendesak kakek itu yang kini mulai kelelahan. Usia juga memegang peran penting dalam pertandingan ini. Kakek itu mulai lemah dan lambat gerakannya. Sekali lagi tongkat Sin Lee menghantam pinggangnya dan kakek itu terhuyung.

Maklum bahwa kalau dilanjutkan dia akan roboh, kakek itu lalu melemparkan benda bulat ke depan. Sin Lee melompat jauh menghindar, dan bola itu meledak mengeluarkan asap tebal.

Akan tetapi ketika Bouw Sang Cinjin berusaha lari dalam lindungan asap tebal, dia mendapatkan dirinya sudah dihadang dan dikepung para tokoh kang-ouw yang sudah memegang senjata masing-masing. Wajahnya berubah pucat dan putus asa. Tak mungkin dia lari lagi dan dia tidak mau kalau sampai tewas di tangan mereka. Tewas di tangan mereka berarti kalah dan nama besarnya akan merosot turun biarpun dia sudah tewas. Karena itu, dia lalu menggerakkan tongkat naganya memukul kepalanya dan Bouw Sang Cinjin roboh dan tewas seketika.

Setelah tidak ada lagi orang yang menyangsikan kebersihan Beng-kauw, Souw Giok Lan lalu memberi hormat kepada semua orang dan berseru dengan suara lantang, “Cuwi yang terhormat, kami berterima kasih sekali atas kunjungan cuwi, karena dengan demikian cuwi menjadi saksi bahwa semua berita itu didesas-desuskan oleh Bouw Sang Cinjin dan anak buahnya, dan bahwa semua itu fitnah belaka untuk memburukkan nama Beng-kauw. Dalam keadaan begini kami tidak dapat menyambut sebagaimana mestinya, harap dimaafkan dan kami menghaturkan selamat jalan kepada cuwi sekalian.”

Ucapan pangcu dari Beng-kauw itu sudah cukup jelas. Semua orang berpamit dan semua orang memandang Beng-kauw sebagai perkumpulan yang bersih. Ketika semua orang pergi dan Ciu-sian Lo-kai Ong Su juga hendak pergi, Sin Lee dan Giok Lan memegangi kedua tangan kakek itu dan menahannya.

“Suhu, mohon suhu suka singgah dulu dan jangan tergesa pergi. Kami masih rindu kepada suhu,” kata mereka dan akhirnya Ciu-sian Lo-kai terpaksa mau juga singgah di Beng-kauw.

Ketika ditanya tentang keluarga Song yang gila itu, Ciu-sian Lo-kai menghela napas panjang. “Song Kian Ok adalah seorang gagah bekas perwira kerajaan. Melihat keadaan istana yang dikuasai oleh para thaikam, dia tidak senang dan mengundurkan diri. Aku bertemu dengan dia dan merasa kasihan dan suka kepadanya, maka aku mengajarkan beberapa macam ilmu kepadanya yang kemudian diajarkan pula kepada anak isterinya. Akan tetapi dia menemukan sebuah kitab ilmu silat. Ketika aku melihatnya aku sudah memperingatkan agar dia jangan mempelajari kitab itu, karena ilmu dalam kitab itu adalah ilmu sesat dan kalau dipelajari secara keliru akan mendatangkan bahaya. Kami berpisah dan agaknya dia dan anak isterinya tetap mempelajari ilmu sesat itu secara keliru, sehingga mereka menjadi gila. Ketika di dunia kang-ouw aku mendengar akan adanya keluarga Song yang lihai dan gila, aku sudah menduga tentu merekalah orangnya. Akan tetapi aku senang mendengar mereka tidak pernah melakukan kejahatan. Kemudian aku mendengar pula tentang desas-desus yang memburukkan nama Beng-kauw. Aku tahu bahwa Beng-kauw dipimpin oleh Giok Lan, maka aku menjadi penasaran dan datang berkunjung. Tidak tahunya, keluarga Song yang gila itu agaknya telah dipengaruhi oleh Bouw Sang Cinjin untuk memusuhi Beng-kauw pula.”

Mereka, guru dan dua orang muridnya itu, saling menceritakan pengalaman masing-masing, akan tetapi ketika Giok Lan mohon agar gurunya yang sudah tua tinggal bersamanya di Beng-kauw, Ciu-sian Lo-kai menolak dan mengatakan bahwa masih senang berkeliaran ke pegunungan Himalaya. Pada keesokan harinya, diapun berangkat pergi tanpa dapat ditahan lagi oleh kedua orang muridnya.

“Suheng, aku sekarang menagih janjimu,” kata Giok Lan ketika mereka duduk berdua di ruangan belakang yang luas dengan taman-taman kecil buatan.

“Janji apakah, sumoi?”

“Engkau hendak memperkenalkan gadis itu kepadaku.” “Gadis yang mana?”

“Aihh, suheng, harap jangan pura-pura. Gadis yang kaubilang aku sudah mengenalnya, gadis yang saling mencinta denganmu itu. Aku ingin sekali mengenalnya, suheng.”

“Sudah kukatakan bahwa engkau telah mengenalnya dengan baik sekali.” “Akan tetapi siapa, suheng? Yang mana dan siapa namanya?”

“Sumoi, tanyalah kepada dirimu sendiri. Gadis manakah di dunia ini yang amat cinta kepadaku, dan juga amat kucinta?” Sin Lee memandang tajam. Giok Lan termenung, lalu menundukkan mukanya, menggeleng kepalanya dan berkata dengan ragu.

“Aku... aku sungguh tidak dapat menduga... gadis mana lagi yang mencintamu dengan sungguh-sungguh, suheng.”

“Akan tetapi engkau tentu tahu bahwa ada seorang gadis yang amat mencintaku, mencintaku dari dulu, sejak masih remaja, bukan?”

Mereka saling pandang. Dua pasang mata bertemu dan bertaut, kemudian Giok Lan kembali menundukkan mukanya. “Aku... aku tahu, tapi...”

“Nah, gadis itulah yang kumaksudkan. Aku mencintanya setengah mati dan gadis itupun mencintaku, akan tetapi kita berdua bodoh, saling merahasiakan cinta kasih kita, bahkan saling berpisah. Sumoi, Giok Lan, engkau tentu tahu siapa gadis itu, dan semoga bunga ini menjadi lambang cintaku kepadamu.” Sin Lee melepaskan kembang dari dadanya dan memasang di rambut kepala Giok Lan.

“Suheng...”

“Sumoi, aku cinta kepadamu seperti engkau cinta kepadaku. Tidak perlu kita ingkari ini, dan aku... aku ingin engkau menjadi isteriku.”

“Suheng...” Giok Lan menangis dan ia menemukan dada Sin Lee untuk tempat bersandar sambil menangis. Menangis karena bahagia.

“Giok Lan, aku menghendaki agar engkau menyerahkan pimpinan Beng-kauw ini kepada Kam Tiong dan Thio Kun, biarlah mereka yang memimpin Beng-kauw. Aku menghendaki agar engkau ikut bersamaku, menjadi isteriku... dan kita merayakan pernikahan kita dengan meriah. Aku ingin mengangkatmu menjadi seorang wanita yang dihormati dan dimuliakan orang, di sampingku, sebagai isteriku...”

“Lee-koko, apa... apa maksudmu...?”

“Engkau rela melepaskan kedudukanmu sebagai ketua Beng-kauw?”

“Tentu saja, akupun dulu terpaksa menjadi ketua Beng-kauw karena engkau yang membujuk aku. Sungguh repot sekali menjadi ketua, aku rela melepaskannya.”

“Dan engkau mau ikut aku sebagai isteriku?”

“Tentu saja mau, koko, akan tetapi ke mana kita...?” “Ke istana Kaisar.”

”Ahhh...!”

“Kita akan tinggal di istana, di kota raja, Lan-moi.” “Ohhh...!”

“Engkau akan menjadi isteri pangeran.”

“Ahhh...?? Aku... aku tidak mau, koko. Aku ingin menjadi isterimu. Kenapa kaukatakan menjadi isteri pangeran? Aku tidak sudi...!”

“Bagaimana kalau pangeran itu bernama Cu Sin Lee?”

“Ahhhh...?” Mata yang indah itu terbelalak. Bibir yang merah basah itu ternganga, sehingga Sin Lee tidak dapat menahan dirinya untuk tidak menciumnya dengan mesra.

Giok Lan meronta, melepaskan diri dari ciuman dan rangkulan itu. “Nanti dulu, koko. Apa artinya semua ini? Apakah engkau hendak mengatakan bahwa engkau... engkau ini seorang pangeran?”

“Benar sekali, Lan-moi, Kaisar Kian Cung adalah kakakku, seayah berlainan ibu.  Aku adalah putera mendiang Kaisar Ceng Tung.”

“Tapi... tapi... kenapa engkau tidak pernah mengatakannya kepadaku? Kepada suhu?”

“Belum waktunya ketika itu, Lan-moi.” Lalu dengan panjang lebar Sin Lee menceritakan tentang ayahnya, tentang ibunya, dan tentang pengalamannya dengan terus terang kepada kekasihnya.

Setelah mendengarkan semua itu, tiba-tiba Giok Lan menjatuhkan diri berlutut dan berseru, “Pangeran...!”

Sin Lee segera merangkulnya. “Hushh! Bagi orang lain mungkin aku pangeran akan tetapi bagimu, calon suamimu yang tercinta.” Dan dia merangkul Giok Lan yang kini balas merangkul penuh kerinduan hatinya kepada suheng yang sejak dulu amat dicintanya dan dirindukannya itu.

Demikianlah, Sin Lee mengajak Giok Lan pergi menghadap Kaisar Kian Cung yang menerima mereka dengan penuh kegembiraan. Tak lama kemudian, Kaisar Kian Cung sendiri yang mengatur pesta pernikahan antara Pangeran Cu Sin Lee dan Souw Giok Lan dan selanjutnya suami isteri ini hidup berbahagia di kota raja. Sin Lee mendapatkan kedudukan sebagai seorang penasihat kemiliteran.

Adapun Beng-kauw setelah ditinggalkan Giok Lan, dipimpin oleh Kam Tiong sebagai ketuanya dan Thio Kun sebagai wakil ketua….. >>>>> T A M A T <<<<<