-->

Pemberontakan Taipeng Jilid 12

Jilid 12

#Ha-ha, sungguh aku orang yang kasar dan tidak memakai aturan. Meminang orang di tengah jalan! Mari kita pulang, Sheila! Han Le! Mari kita pulang!# Betapa indahnya kata#pulang# itu bagi Sheila di saat itu. Betapa ia selama meninggalkan Bukit Awan Merah merasa amat rindu kepada rumah tempat tinggal mereka itu, rindu akan #pulang.#

Sheila mendapatkan banyak waktu untuk merenungkan pinangan Bu Beng Kwi. Harus diakuinya bahwa ia benar-benar mencinta Bu Beng Kwi, dan iapun melihat kenyataan bahwa orang yang bernama Koan Jit itu telah benar-benar berubah. Bukan baru sekarang berubah, bukan berubah karena kini bertemu dengannya dan jatuh cinta.

Bukan berubah karena ingin mengambilnya sebagai isteri. melainkan sudah lama sekali Koan Jit telah berubah menjadi seorang manusia lain yang telah mengubah jalan hidupnya. Sebelum bertemu dengannya, jauh sebelum itu, Koan Jit telah menjadi seorang pendekar budiman yang mengorbankan nyawa demi menolong para pimpinan pejuang yang tertawan.

Dunia menganggapnya sudah tewas dan karena Koan Jit selalu merasa menyesal akan dirinya, akan dosanya, dia sendiri membiarkan dunia menganggap Koan Jit telah mati. Dia bahkan lalu meniadakan Koan Jit, memakai topeng buruk dan menjadi Bu Beng Kwi. Hal ini telah dilakukan jauh sebelum berjumpa dengannya. Kemudian, setelah bertemu dengannya dan saling mencinta, barulah Bu Beng Kwi membuka topengnya. Hal ini menunjukkan bahwa Koan Jit adalah seorang manusia yang kini telah berubah sama sekali, memiliki kejujuran. Kalau tidak begitu, tentu dia akan diam saja, tidak mau membuka rahasianya yang ditutupnya terhadap dunia umum. Akan tetapi tidak, dia tidak mau menipu Sheila. Dia memperlihatkan diri sebagai musuh besar yang dibencinya, dengan mempertaruhkan kebahagiaan dirinya, kehilangan cintanya!

Mempertimbangkan semua ini, dan bertanya kepada batin sendiri, Sheila mendapatkan jawaban. Ia mencinta Bu Beng Kwi atau Koan Jit yang sekarang ini. dan ia pun merasa yakin bahwa mendiang suaminya juga tidak akan dapat membenci bekas toa-suheng ini, yang telah berubah menjadi seorang manusia yang berhati mulia. Maka diterimalah pinangan itu! Mereka menikah secara sederhana sekali, hanya disaksikan beberapa orang penduduk dusun yang berdekatan. Para penduduk merasa terheran-heran melihat seorang wanita kulit putih yang demikian cantiknya mau menjadi isteri seorang laki-laki tua yang berwajah seperti setan! Namun mereka tidak berani berkata apa-apa. Yang paling bergembira adalah Han Le.

Dengan sepenuh hati, Bu Beng Kwi minta kepada Sheila agar keadaan dirinya sebagai Koan Jit dirahasiakan lebih dulu dari Han Le.

#Jangan mengganggu ketenangan perasaannya,# demikian dia berkata.

#Biarkan dia hidup tenang dan menganggap aku sebagai gurunya dan ayahnya, agar dia belajar dengan baik. Kelak, kalau dia sudah tamat belajar dan sesudah dewasa, aku sendiri yang akan membuka rahasia ini. Aku tidak akan mengelak dari tanggung jawab, Sheila. Aku hanya menjaga agar jangan sampai terguncang perasaannya dan hal itu akan mengganggu dia belajar.# Sheila merasa semakin kagum dan hormat kepada bekas musuh besar yang kini menjadi suaminya itu. Ternyata di balik topeng buruk itu ia menemukan seorang laki-laki yang jantan, yang lembut, yang penuh cinta kasih, bijaksana dan berhati mulia. Dan ia tidak merasa enyesal dengan keputusannya menerima pria ini sebagai suaminya. Ia merasa yakin benar bahwa demi kebahagaian puteranya, ia telah mengambil langkah yang benar. Ia tahu bahwa di bawah asuhan Bu Beng Kwi, puteranya akan menjadi seorang laki-laki yang berjiwa pendekar dan menjadi seorang manusia yang berguna bagi dunia.

Keadaan negara menjadi semakin kalut. Pemerintah Mancu menjadi semakin lemah dengan adanya pemberontkan Tai Peng. Hanya berkat kegigihan menteri-menteri dan panglima-panglima setia saja maka gerakan Tai Peng terhenti, akan tetapi daerah yang luas di sebelah selatan Sungai Yang-ce telah dikuasai #Kerajaan Sorga#, yaitu kerajaan yang didirikan oleh pemberontak Tai Peng di bawah pimpinan Ong Siu Coan itu. Selain rongrongan dari pemberontak Tai Peng, juga pemerintah Mancu selalu dirongrong oleh pasukan orang kulit putih. Kekalahan pemerintah Mancu dalam perang candu membuat orang-orang kulit putih menjadi semakin berani.

Mereka makin melebarkan sayap untuk mengeduk keuntungan sebesarnya dari negeri yang luas,

Rakyatnya yang banyak akan tetapi yang lemah karena adanya perang saudara yang terus menerus di sebelah dalam. Dari menyebaran candu, orang kulit putih mengeduk keuntungan yang luar biasa besarnya, dengan mengorbankan rakyat yang menjadi pecandu-pecandu yang tidak ketolongan lagi. Juga orang kulit putih mengeduk keuntungan besar dari pembelian rempah-rempah, teh, sutera dan barang- barang lain dari pedalaman. Bahkan adanya pemberontakan Tai Peng yang menimbulkan perang saudara besar itupun menjadi sumber penghasilan dan keuntungan bagi orang kulit putih, dengan jalan menjual senjata ke kanan kiri. Pemberontakan Tai Peng yang melemahkan pemerintah Ceng (Mancu), juga menimbulkan pemberontakan daerah-daerah lain yang tentu saja merasa tertarik dan mempergunakan kesempatan selagi pemerintahan menjadi lemah,

Mereka memberontak terhadap pemerintah Mancu. Suku bangsa Nien-fei memberontak dalam tahun 1853, juga disusul suku Miauw di Kwei-couw Barat yang memberontak dalam tahun 1854. Payahlah pemerintah menghadapi pemberontakan-pemberontakan ini. Mereka harus membagi-bagi pasukan untuk memadamkan pemberontakan di sana- sini dan karena kekuatan mereka terpecah, mereka menjadi semakin lemah dan sukar untuk dapat memadamkan pemberontakan- pemberontakan itu. Dalam keadaan yang semakin lemah itu, pihak orang kulit putih menjadi semakin berani. Pada suatu hari dalam tahun 1856, terjadilah peristiwa yang akan mengobarkan perang baru antara pemerintah Mancu dengan pasukan kulit putih. Banyak candu diselundupkan ke dalam daerah yang masih dikuasai oleh pemerintah Mancu,

Karena daerah selatan tidak aman bagi penyelundupan candu. Pemerintah baru dari Tai Peng melarang keras perdagangan candu dan sukarlah menyelundupkan candu di daerah yang dikuasai Kerajaan Sorga itu. Pada suatu pagi, sebuah kapal berlabuh di pantai timur. Kapal itu memakai bendera Inggris dan bernama Kapal Arrow (Anak Panah). Sebetulnya kapal itu milik kongsi pelayaran Cina, segolongan orang yang rela menjadi kaki tangan orang asing demi memperoleh keuntungan besar. Anak buah kapal Arrow itu, kesemuanya orang pribumi, tidak tahu bahwa gerak-gerik kapal mereka itu diamati dengan seksama oleh para penjaga pantai. Ketika kapal itu sudah berlabuh dan berhenti, sepasukan penjaga pantai menyerbu naik kapal. Anak buah kapal tidak berani mengadakan perlawanan dan ketika kapal diperiksa, ternyata membawa barang selundupan, candu dan senapan!

Tentu saja anak buah kapal ditangkap dan kapal itu ditahan di pelabuhan, dan barang selundupan disita. Peristiwa seperti ini sebetulnya biasa saja dan sudah wajar. Kapal ditahan dan anak buahnya ditangkap, barang-barang selundupan disita karena memang perbuatan itu melanggar. Akan tetapi, orang-orang asing kulit putih yang memang selalu menanti kesempatan itu, mempergunakan peristiwa ini sebagai alasan mereka untuk bergerak! Orang Inggris menganggap bahwa penangkapan ini merupakan penghinaan pemerintah Mancu terhadap mereka karena kapal itu berbendera Inggris.Alasan ini cukup bagi mereka untuk#menghukum# pemerintah Mancu! Tentu saja hal ini terjadi karena keadaan pemerintah Mancu yang mulai lemah. Pasukan Inggris mengadakan persekutuan dengan orang- orang asing lainnya, yaitu terutama sekali perancis, Rusia, dan Amerika.

Mereka berempat menggabungkan pasukan mereka dan menyerbu Kan-ton. Kota ini berhasil direbut dan diduduki. Perang yang baru muncul semenjak Perang Madat ini tentu saja menggegerkan Kerajaan Mancu yang sudah dirongrong banyak pemberontakan. Para pejuang rakyat menjadi gelisah dan bingung, merasa serba salah. Mereka itu adalah kaum patriot yang hendak membebaskan rakyat dari cengkeraman penjajah Mancu dan berusaha menggulingkannya, akan tetapi tentu saja mereka sama sekali tidak ingin melihat tanah air mereka terjatuh ke dalam cengkeraman bangsa lain yang lebih asing lagi, yaitu orang-orang kulit putih.

Perang yang dikobarkan oleh orang kulit putih ini membuat semua perhatian dicurahkan kepada mereka karena memang kekuatan orang kulit putih yang bersenjata lengkap itu sukar dilawan. Tai Peng tidak diperhatikan lagi.

Kalau saja pihak Tai Peng pada suatu saat itu bergerak, mempergunakan kesempatan itu untuk menyerbu ke utara, tentu dengan mudah Tai Peng akan mampu menguasai seluruh daratan Cina. Akan tetapi, agaknya Ong Siu Coan sudah keenakan menjadi raja di selatan sehingga dia seolah-olah tidak perduli akan gerakan yang dilakukan oleh orang-orang kulit putih itu. Padahal, sepatutnya dia melihat bahaya besar berkembangnya kekuasaan kulit putih ini yang akan mencengkeram tanah air dan bangsanya. Betapa banyaknya sudah tercatat dalam sejarah tentang perjuangan yang dipimpin oleh orang-orang yang menamakan dirinya pahlawan bangsa, patriot dan pejuang. Selagi mereka ini memimpin perjuangan, merebut kekuasaan, mereka mempergunakan slogan-slogan yang muluk untuk membangkitkan semangat rakyat jelata yang menjadi kekuatan mereka.

Segala sepak terjang mereka selalu demi rakyat, demi negara, demi bangsa dan sebagainya. Dan rakyat terbius oleh kata-kata muluk, terbakar semangat mereka oleh slogan-slogan sehingga rakyat dengan sepenuh hati, tanpa pamrih, bergerak mendukung dan terjun membantu gerakan yang dinamakan perjuangan itu. Itu awalnya. Bagaimana akhirnya? Bagaimana kalau perjuangan itu akhirnya berhasil? Yang pasti, para pimpinan rakyat itu setelah perjuangan berhasil, saling memperebutkan kedudukan! Mereka menjadi penguasa- penguasa baru dan hidup bergelimang dalam kemuliaan, kehormatan dan kemewahan. Bagaimana dengan slogan- slogan yang mereka pergunakan untuk membangkitkan rakyat? Yang mengatakan bahwa perjuangan itu dilakukan demi rakyat, menolong rakyat dari penindasan, medatangkan kemakmuran kepada rakyat?

Begitulah! Slogan tinggal slogan dan rakyat tetap dilupakan. Penindasan tetap ada, walaupun kini berganti bentuk dan berganti orang yang menjadi penindasnya. Ong Siu Coan menjadi satu di antara pemimpin-pemimpin semacam itu. Mula-mula memang perjuangannya didengung-dengungkan sebagai perjuangan untuk rakyat. Akan tetapi setelah dia berhasil menjadi raja? Rakyat tetap saja sengsara. Yang makmur jelas dia yang menjadi raja dan teman-temannya, kaki tangannya yang merupakan sekelompok penguasa baru, menggantikan yang telah mereka kalahkan dengan bantuan darah dan keringat rakyat dalam prjuangan. Masih untunglah bagi pemerintah Mancu bahwa pada waktu itu, kekuatan pasukan Inggris terpecah karena adanya pemberontakan kaum Sepoy di India, negara besar yang mulai dicengkeram penjajah Inggris.

Karena ini, maka pasukan Inggris tidak dapat menyerbu dengan kekuatan penuh sehingga terhenti setelah menduduki Kanton dan daerahnya ke barat dan utara. Padahal waktu itu, keadaan pmerintah Mancu sudah lemah sekali. Di utara dan barat terdapat pemberontakan kaum Nien-fei dan suku Bangsa Miauw, dari selatan ada pemberontakan Tai Peng, dan dari timur, dari arah laut, terdapat ancaman orang kulit putih! Kelemahan pemerintah Mancu bukan hanya karena timbulnya banyak pemberontakan, akan tetapi terutama sekali bersumber dari keadaan di dalam istana sendiri. Kaisar yang sejak muda hanya menjadi seorang pengejar kesenangan itu tidak ada perhatian sama sekali atau acuh saja terhadap keadaan negara. Dia seperti telah buta oleh kesenangan, dan tubuhnya menjadi semakin lemah.

Bahkan dia tidak tahu betapa diam-diam selirnya tercinta, Yehonala yang kini telah menjadi permaisuri kedua, bermain gila dengan thaikam (orang kebiri) Li Lian Ying, merupakan perhubungan jina yang tidak wajar. Kaisar tidak tahu akan hal itu, tidak tahu pula bahwa kerajaannya mengalami ancaman akan runtuh. Dia hanya terus mengejar kesenangan biarpun tubuhnya sudah menjadi semakin lemah, dan dia harus mempergunakan banyak obat kuat untuk membangkitkan kembali kegairahannya, tidak tahu bahwa hal ini semakin merusaknya lahir batin. Didalam keadaan negara kacau seperti ini, biasanya menurut sejarah negara di seluruh dunia, selalu ada saja orang gagah sejati yang tampil menjadi pemimpin rakyat. Demikian pula, dalam keadaan kacau itu, muncul dua orang pendekar muda yang berkepandaian tinggi,

Memimpin rakyat petani yang sudah kehilangan segala-galanya karena dusun mereka dilanda perang, membentuk pasukan-pasukan dan melatih pasukan ini dengan ilmu berperang dan bekelahi sehingga mereka berdua berhasil membentuk pasukan rakyat yang makin lama menjadi semakin kuat. Apalagi ketika para pendekar merasa cocok dan suka melihat gerakan ini lalu mendukung dan menggabungkan diri, pasukan rakyat yang dipimpin dua orang tu menjadi semakin kuat. Siapakah mereka itu?

Mereka bukan lain adalah Ceng kok Han dan Li Hong Cang, dua orang murid Bu Beng Kwi yang sudah kita kenal! Akan tetapi, pasukan mereka belum bergerak karena mereka, dibantu oleh para pendekar, sedang membangun dan memperkuat pasukan mereka, dan menggembleng para anak buah pasukan.

Mereka baru akan bergerak kalau sudah memiliki pasukan besar yang kuat dan boleh diandalkan. Sementara itu, di Kerajaan Sorga yang dipimpin oleh Ong Siu Coan, juga terjadi kemunduran. Ong Siu Coan yang kini sudah menjadi seorang raja yang hidupnya mulia dan penuh kemewahan, agaknya menjadi semakin gila saja dengan pikiran-pikirannya yang aneh. Dia diganggu oleh pikirannya sendiri, yang menghubungkan isi Alkitab dengan dirinya sendiri. Dia semakin acuh, bahkan dia seperti tidak perduli lagi melihat betapa permaisurinya, Tang Ki, kini terlibat dalam hubungan gelap bersama Lee Song Kim yang menjadi orang kepercayaannya.

Satu di antara nafsu yang amat kuat dan besar kekuasaannya terhadap diri manusia adalah nafsu berahi. Tang Ki tadinya merupakan seorang isteri yang mencinta dan setia dari Ong Siu Coan,

Yang sama sekali tidak pernah mempunyai sedikitpun pikiran untuk menyeleweng dan suka menyerahkan dirinya kepada pria lain. Akan tetapi, bagaimanapun juga ia hanyalah seorang wanita biasa saja. Setelah memperoleh kedudukan sebagai raja, tercapainya ambisi dan cita-citanya, Ong Siu Coan mulai kurang memperhatikan isterinya. Apalagi karena Tang Ki tidak dapat memberinya keturunan, kemesraannya terhadap Kiki atau Tang Ki berkurang bahkan hubungan di antara mereka menjadi agak renggang. Dalam keadaan haus akan rayuan dan belaian pria inilah muncul Lee Song Kim, seorang laki-laki yang berpengalaman dan pandai sekali merayu wanita, juga tampan dan gagah. Biarpun dahulu pernah Kiki membenci suhengnya ini, namun pertemuannya kembali dengan suhengnya itu membawa perubahan.

Ia sedang haus cinta kasih dan kemesraan seorang pria sebagai pengganti suaminya yang bersikap acuh dan Lee Song Kim yang ahli tentu saja dapat memenuhi kebutuhan ini. Bahkan ternyata bahwa suhengnya itu dapat memberinya kesenangan dan kepuasan yang jauh melampaui apa yang didapatkannya dari Ong Siu Coan. Song Kim melimpahkan rayuan dan kemesraan pada wanita yang sedang kering kehausan itu. Anehkah kalau Kiki lalu melekat kepadanya? Semenjak dahulu, wanita adalah mahluk yang selalu mendambakan sanjungan, pujian dan cinta kasih pria. Karena itulah maka pada umumnya wanita amat lemah terhadap pujian dan rayuan, dua hal yang memang amat didambakannya. Apalagi kalau yang merayu itu pria yang berkenan di hati mereka. Akan mudah saja jatuh dan lupa diri kalau menghadapi rayuan seorang pria yang menarik dan pandai.

Tahun 1859. Biarpun tadinya terhalang oleh pemberontakan di India yang membuat pasukan kulit putih terhambat penyerbuan mereka dan hanya dapat menduduki Kanton dan sekitarnya, namun kurang dari dua tahun kemudian, yaitu pada tahun 1858, setelah berhasil memadamkan pemberontakan di India, pasukan Inggris yang bergabung dengan pasukan kulit putih Perancis, Rusia dan Amerika, untuk kedua kalinya melakukan penyerbuan kembali. Dengan tenaga sepenuhnya, tentara kulit putih gabungan itu menyerbu lewat teluk Po-hai, menyerbu dan menduduki Tien-cin setelah terjadi perang selama berbulan-bulan. Dan kini mereka bersiap-siap menyerbu ke Peking! Tentu saja keadaan menjadi geger dan kacau. Pemerintah Mancu sudah bersiap-siap mempertahankan Peking dari serbuan pasukan kulit putih.

Pada suatu hari, di sebuah kuil Agama To di luar kota Pao-ting, diadakan pertemuan antara para pendekar yang merasa perlu untuk berunding dan bergerak menyaksikan kekacauan yang timbul karena penyerbuan pasukan kulit putih itu. Nampak di antara mereka pendekar Tan Ci Kong dan isterinya, Siauw Lian Hong. Suami isteri pendekar itu kini tidak muda lagi. Ci Kong sudah berusia empat puluh empat tahun sedangkan isterinya, Lian Hong sudah berusia empat puluh satu tahun. hadir pula suami isteri thio Ki dan ciu Kui Eng yang usianya sebaya dengan suami isteri pendekar pertama.

Tidak kurang dari dua puluh orang pendekar yang berdatangan di kuil itu, atas prakaesa dan undangan Tan Ci Kong yang merasa delisah menyaksikan keadaan yang kacau akibat penyerbuan pasukan kulit putih. Para tosu yang berada di kuil itu adalah sahabat Ci Kong, dan merekapun prihatin akan keadaan negara, maka mereka membantu dan memperbolehkan kuil mereka dijadikan tempat pertemuan para pendekar itu. Berkumpullah para pendekar itu di ruangan belakang kuil, di tempat yang tersembunyi dan tidak akan terlihat atau terdengar oleh mereka yang datang berkunjung ke kuil untuk bersembahyang. Pertemuan itu dipimpin oleh Ci Kong.

Setelah mereka semua saling memberi hormat dan mengambil tempat duduk mengelilingi meja, Tan Ci Kong lalu bangkit berdiri.

#Selamat datang, Cuwi Enghiong (para pendekar sekalian), selamat bertemu kembali. Cuwi (kalian) tentu dapat menduga mengapa kita harus berkumpul lagi di sini. Semua orang gelisah melihat perkembangan di negara kita. Pasukan kulit putih yang amat kuat menyerbu dan mengancam Peking, sedangkan pemberontak Tai Peng tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menyerbu pula ke utara. Bagaimana pendapat cuwi dan apa yang harus kita lakukan?# Para pendekar itu menjadi gaduh, saling bicara sendiri dan Ci Kong terpaksa minta agar mereka tenang.

#Apabila di antara cuwi ada yang mempunyai usul, harap suka bicara seorang demi seorang agar dapat kita pertimbangkan bersama.# Seorang di antara mereka yang berpakaian tamal-tambalan, seorang tokoh dari perkumpulan Tiat-pi Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Lengan besi) yang muncul selama beberapa tahun ini sebagai tokoh jembel yang berjiwa pendekar dan patriot, bangkit berdiri dan bicara dengan suaranya yang parau.

#Dahulu kita membantu gerakan Tai Peng, kemudian kita bersama meninggalkannya karena Tai Peng menyeleweng. Apalagi sekarang. Orang she Lee itu telah mengangkat diri menjadi Thian-he Te-it Bu-hiap dan menghimpun orang-orang golongan sesat untuk membantu Tai Peng. Jelas kita tidak dapat membantu Tai Peng lagi, bahkan harus menentangnya.# Semua orang mengangguk dan menyatakan setuju.

#Memang benar demikian, dan kita yang selalu memikirkan kepentingan rakyat jelata yang tertindas, sekarang menjadi serba salah. Jelas tidak dapat membantu Tai Peng, juga tidak mungkin membantu orang kulit putih, dan sejak dahulu kita bercita-cita mengusir penjajah Mancu. Apa yang harus kita lakukan sekarang?# Kini Thio Ki yang telah menjadi ketua Kang-sim-pang, bangkit berdiri.

#Dengan penyerbuan orang kulit putih, keadaan menjadi kacau dan rakyat pula yang mengalami pnderitaan. Bagaimanapun juga, orang kulit putih dapat menjadi penjajah yang lebih kejam daripada orang Mancu. Oleh karena itu, untuk sementara kita harus menentang orang kulit putih. #

#Kalau begitu apakah kita harus membantu pemerintah penjajah Mancu?# tanya seorang yang bertubuh tinggi besar bermuka merah. Dia adalah seorang murid Kun- lun-pai yang lihai.

#Tidak ada pilihan lain dan kita mau tidak mau harus menyetujui pendapat Thio pangcu dari Kang-sim-pang itu.# Ci Kong membenarkan. #Tak mungkin dalam keadaan sekarang kita menentang keduanya. menghadapi dua orang lawan, bahkan tiga orang dengan Tai Peng, kita harus bersikap cerdik. Lebih dulu menghalau lawan yang paling berbahaya, dalam hal ini orang kulit putih dan Tai Peng. Kalau keduanya sudah tidak ada, kiranya tidak sukar merobohkan kekuasaan penjajah Mancu yang sudah semakin lemah itu.# Ciu Kui Eng yang juga terkenal di antara para pendekar sebagai seorang pendekar wanita yang pernah memimpin perjuangan, bangkit dan dengan suara lantang ia berkata,

#Kita boleh saja membantu pemerintah Mancu untuk menyelamatkan rakyat dari serbuan orang kulit putih, akan tetapi jelas bahwa kita tidak akan menjadi kaki tangan Mancu! Apakah cuwi belum mendengar akan munculnya pemimpin rakyat yang baru, yang kini telah menghimpun pasukan yang cukup kuat dan didukung oleh banyak pendekar?# Ci Kong mengangguk-angguk.

#Kami juga sudah mendengar, akan tetapi belum jelas benar.#

#Aku sudah bertemu dengan mereka dan harus kuakui bahwa dua orang pemimpin itu agaknya akan menjadi pemimpin besar yang gagah perkasa dan tanpa pamrih. Pasukan mereka kini sudah berjumlah puluhan ribu orang, dari para petani dan pengungsi, juga dibantu oleh golongan pendekar. Mereka adalah dua orang pendekar yang muncul begitu saja, entah dari perguruan mana, akan tetapi aku tahu bahwa mereka lihai sekali. Usia mereka sekitar tiga puluh tahun, yang seorang bernama Ceng Kok Han dan yang kedua bernama Li Hong Cang. Mereka telah berhasil menghimpun kekuatan dan sudah mulai merongrong pemerintah Tai Peng di selatan dan

bentrokan-bentrokan sering terjadi yang merugikan pihak Tai Peng.#

Semua pendekar mendengarkan dengan kagum. Merekapun mendengar akan munculnya dua orang yang memimpin pasukan rakyat baru, akan tetapi para pendekar itu tadinya tidak mengambil perhatian karena pada waktu itu memang banyak sekali orang yang mengangkat diri menjadi#bengcu# (pemimpin rakyat) dan menggerakkan rakyat jelata untuk menjadi anak buahnya, akan tetpi sebagian besar di antara mereka hanyalah orang-orang petualang yang bermaksud memperalat kekuatan rakyat demi kepentingan diri sendiri. banyak di antara para kelompok itu kemudian bahkan hanya menjadi perampok-perampok. Kini mendengar cerita Ciu Kui Eng yang mereka sudah kenal baik sebagai seorang pendekar wanita yang berjiwa pahlawan.mereka merasa kagum dan tertarik.

#Kalau begitu, kiranya tidak keliru kalau kita mengumpulkan teman-teman sehaluan untuk membantu gerkan Ceng Kok Han dan Li Hong Cang itu.# kata Ci Kong. Semua orang merasa setuju, akan tetapi Tiat-pi Kai-pang tadi segera berkata,

#Akan tetapi bagaimana kita dapat begitu saja membantu pasukan baru itu sebelum mengetahui benar tujuan dari gerakan mereka?#

#Aku dapat menerangkan itu, karena aku sudah bicara panjang lebar dengan kedua orang itu. Mereka tidak hanya pandai sekali ilmu silat, akan tetapi juga memiliki pemikiran yang mendalam dan pandangan yang luas,# kata Ciu Kui Eng.

#Mereka menjelaskan bahwa sebagai langkah pertama, pasukan mereka akan membantu pemerintah menenteramkan keadaan, menentang Tai Peng dan membantu untuk memadamkan pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di utara dan barat. Baru setelah keadaan tidak kacau lagi, ketika pemerintah penjajah sedang beristirahat dari perang yang melelahkan, selagi mereka lengah, maka pasukan kita akan menyerbu dan menggulingkan kekuasaan Mancu untuk selamanya!#

#Kalau begitu kita berarti akan membantu pemerintah penjajah Mancu!# teriak tokoh Tiat-pi Kai-pang itu.

#Hanya nampaknya saja begitu dan hanya untuk sementara saja.# Ci Kong berkata. #Itulah satu-satunya jalan. Membantu pemerintah penjajah untuk menenteramkan keadaan, juga membantu menghadapi orang kulit putih. Setelah itu, tibalah saatnya yang tepat, selagi penjajah lengah, kita bergerak dan menjatuhkan mereka. Bukan berarti kita untuk selamanya menjadi kaki tangan mereka. Ini hanya merupakan siasat belaka. Kalau tidak demikian, bagaimana mungkin kita dapat berhasil kalau sekaligus kita harus menghadapi dan menentang Tai Peng, orang kulit putih, pemerintah Mancu, dan para pemberontak lain itu? Kita tidak akan kuat dan sebelum maju jauh, kita sudah akan tergencet dan dihancurkan oleh musuh yang terlalu banyak dan terlalu kuat.# Akhirnya semua orang meyatakan persetujuan mereka setelah mengerti benar akansiasat yang akan dijalankan oleh pasukan rakyat yang dipimpin oleh Ceng Kok Han dan Li Hong Cang, dua orang kakak beradik seperguruan itu.

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara gaduh di luar. Semua orang bangkit berdiri dan bersiap-siaga, memandang ke luar pintu masuk ke ruangan belakang itu. Tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu di situ berdiri seorang pemuda yang mengempit tubuh seorang laki-laki setengah tua, kemudian pemuda itu melemparkan tubuh orang yang dikempitnya ke atas lantai. Orang itu mengeluh akan tetapi tidak mampu bergerak, tanda bahwa jalan darahnya tertotok sehingga untuk sementara dia menjadi lumpuh, tak mampu menggerakkan kaki tangannya. Semua orang memandang kepada pemuda itu dengan pandang mata penuh selidik dan kedurigaan.

Seorang pemuda yang tampan dan gagah, berusia paling banyak delapan belas tahun, dengan wajah berbentuk bulat putih bersih, alisnya tebal menghitam dan sepasang mata mencorong namun lembut, pakaiannya sederhana akan tetapi bersih.

#Bun Hong, apa yang kau lakukan ini? Siapa dia?# tiba-tiba Siauw Lian Hong bertanya kepada pemuda itu.

#Ibu, dia ini seorang mata-mata, entah mata-mata Tai Peng atau pemerintah atau kulit putih, akan tetapi dia mata-mata!# jawab pemuda itu tenang. Tan Ci Kong yang juga sudah bangkit, memperkenalkan pemuda itu kepada semua orang.

#Cuwi, harap diketahui bahwa pemuda ini adalah anak tunggal kami bernama Tan Bun Hong. Harap cuwi maafkan penampilannya dan suka duduk kembali. Nah, Bun Hong, sekarang ceritakan apa yang terjadi dan siapa orang ini.#

Tan Bun Hong mengangkat kedua tangan dan memberi hormat kepada semua orang yang hadir, barulah dia bercerita kepada ayah ibunya. Memang pemuda ini ikut orang tuanya turun gunung dan mengadakan pertemuan di dalam kuil luar kota Pao-ting. Baru pertama kali itulah dia turun gunung setelah kedua orang tuanya menganggap bahwa ilmu kepandaiannya sudah cukup untuk dapat dipakai membela diri karena Bun Hong mewarisi ilmu-ilmu silat tinggi ayah dan ibunya. Bahkan ketika tiba di kuil, Ci Kong yang hendak menggembleng puteranya itu, memberinya tugas yang cukup penting, yaitu agar pemuda itu mengamati dari luar kuil kalau-kalau ada musuh tersembunyi yang hendak mencelakakan para tokoh kang-ouw yang sedang mengadakan pertemuan di dalam kuil. Maksud Ci Kong, kalau tidak terjadi sesuatu, setelah pertemuan itu selesai, barulah dia akan memperkenalkan puteranya kepada mereka.

Ketika Bun Hong melakukan pengintaian dan pengamatan di kuar kuil, dengan penuh perhatian dia mengamati orang- orang yang berdatangan ke kuil itu untuk bersembahyang. Tidak banyak orang yang bersembahyang. Sejak pagi tadi, hanya ada belasan saja yang datang dan pergi lagi. Dia melihat serombongan keluarga membawa alat-alat sembahyang memasuki kuil, diterima oleh tosu penjaga di pintu depan. Keluarga ini terdiri dari seorang ayah, ibu, nenek dan seorang anak laki- laki berusia enam tahun yang pucat dan nampak baru sembuh dari sakit. Dari percakapan antara keluarga itu dengan tosu penjaga kuil dia tahu bahwa keluarga itu datang membayar kaul, dan menghaturkan terima kasih kepada kuil karena putera mereka yang tadinya sakit keras kini telah sembuh kembali. Ada beberapa orang lagi memasuki kuil dan di antara mereka, yang menarik perhatian adalah seorang anak perempuan, seorang gadis remaja yang usianya paling banyak enam belas tahun.

Bun Hong memandang penuh perhatian, bukan bercuriga melainkan tertarik karena belum pernah dia melihat seorang gadis remaja yang demikian menarik seperti gadis itu. seorang gadis yang jelita dan manis, wajahnya berbentuk bulat telur dengan dagu merincing yang manis sekali karena di sudut bawah dagu itu terdapat sebuah tahi lalat merah yang kecil. Mulutnya indah dan selalu nampak tersenyum, membuat wajah itu nampak cerah selalu, dan terutama sekali sepasang mata yang bening dan taham itu juga selalu bergembira. Pakaiannya ringkas dan rapi. karena tidak ada lagi lain orang kecuali keluarga tadi, tiga orang laki-laki yang datang tidak berbareng, dan gadis remaja itu, Bun Hong yang merasa tertarik, keluar dari tempat dia mengintai dan memasuki kuil itu seperti seorang pelancong. Dia melihat gadis itu bicara dengan seorang laki-laki tinggi kurus yang berusia empat puluhan tahun dan bersikap sopan.

#Apakah nona hendak bersembahyang?# terdengar laki-laki itu bertanya. Gadis remaja itu tersenyum dan nampak kilatan giginya yang putih dan rapi seperti mutiara dijajarkan.

#Ah, tidak, aku hanya melihat-lihat saja. Aku seorang pelancong.#

#Aih, engkau seorang pelancong, nona? Kalau begitu engkau belum mengenal kuil ini, sebuah kuil yang amat keramat dan manjur sekali! Sudah banyak orang yang tertolong diobati penyakitnya, diperbesar rejekinya, memperoleh kemujuran, naik pangkat, bahkan ringan jodoh! Kenapa nona tidak mencoba-coba bersembahyang?

Meramalkan nasib di Kuil Ban-hok-si (Kuil Selaksa Rejeki) inipun baik sekali!# kata orang itu dengan ramah.

#Kalau nona belum biasa, aku mau memberi petunjuk kepadamu.# Gadis remaja itu tetap tersenyum menatap wajah laki-laki itu.

#Terima kasih, paman. Eh, kenapa paman begini baik kepadaku? Apakah paman termasuk orang yang menjadi pengurus kuil ini?#

#Tidak, tidak, pengurusnya adalah para tosu itu. Aku juga seorang tamu yang ingin bersembahyang. Akan tetapi ketika melihat nona masuk seorang diri ke dalam kuil, hatiku tertarik dan mengira nona tentu berada dalam kesukaran. Ketahuilah, terus terang saja, nona, engkau mirip sekali dengan keponakanku, anak enciku yang tinggal jauh di utara. Aku sudah amat rindu kepada keponakanku itu, sudah bertahun- tahun tidak jumpa dan melihat engkau begini mirip dengannya, kalau sekiranya bisa, aku akan suka sekali menolongmu dalam suatu hal. #

#Ah, begitukah? Terima kasih, engkau sungguh baik, paman. Akan tetapi, aku tidak mau bersembahyang, aku hanya mau melihat-lihat, Kalau paman mempunyai keperluan bersembahyang, silakan.#

#Kalau begitu, maafkan aku,# orang itu lalu menjura dan meninggalkan gadis itu, masuk ke dalam kuil.

Sejenak Bun Hong mengamati dari jauh dan mendengar percakapan itu, timbul curiga dalam hatinya terhadap laki-laki tadi. Seorang laki-laki berani menegur dan mengajak bercakap-cakap seorang gadis remaja yang tidak dikenalnya, bahkan menawarkan jasa-jasa baiknya, sungguh patut dicurigai karena biasanya, sikap baik itu tentu mengandung pamrih! Dan diapun melihat gadis itu menyelinap masuk ke dalam kuil dengan gerakan cepat. Hal ini mengejutkan Bun Hong. Gerakan seperti itu cepatnya bukan gerakan orang biasa, pikirnya dan diapun cepat meloncat dan menyelinap masuk ke dalam pintu gerbang kuil. Ketika tiba di dalam, ternyata beranda depan kuil itu luas sekali dan begitu memasuki pintu gerbang, hidungnya disambut bau dupa yang memenuhi tempat sembahyang di sebelah dalam dari beranda itu.

Dia celingukan ke sana-sini dan merasa heran. Baik laki-laki tinggi kurus tadi maupun si gadis remaja, tidak nampak bayangannya. Betapa cepat gerakan mereka, terutama gadis itu. Baru saja menyelinap masuk dan diapun sudah mengejar secepatnya, Bagaimana mungkin gadis itu sudah lenyap? Kecurigaannya makin menjadi-jadi, Akan tetapi agaknya di beranda itu tidak pernah terjadi sesuatu yang menarik perhatian orang. Buktinya, beberapa orang yang sedang melakukan sembahyang di situ nampak tenang-tenang saja, demikian pula beberapa orang tosu yang melayani tamu dan yang melaksanakan pekerjaan mereka. Tidak nampak seorangpun di antara mereka itu seperti pernah melihat kejadian yang tidak wajar. Lalu, kemana menghilangnya gadis remaja tadi, dan orang tinggi kurus tadi? Bun Hong melakukan penyelidikan dengan cepat dan diapun dapat melihat adanya sebuah pintu kecil di samping beranda, agak jauh dan tertutup oleh tanaman

bunga-bunga yang lebat daunnya. Kalau orang menyelinap melalui pintu itu, dengan gerakan secepat yang dilakukan oleh gadis remaja tadi, tentu tidak akan nampak oleh orang lain. Ke sanakah gerangan mereka tadi? Jantungnya berdebar penuh keregangan. Di belakang itu, di dalam ruangan belakang, ayah dan ibunya sedang mengadakan pertemuan dengan para pendekar lain untuk membicarakan urusan negara. Jangan-jangan dua orang yang mencurigakan tadi menyelinap masuk untuk memata- matai pertemuan itu! Sangat boleh jadi si tinggi kurus tadiseorang mata-mata, entah mata-mata Tai Peng, mata-mata orang kulit putih, atau mata-mata pemerintah Mancu. Akantetapi gadis remaja tadi? Tidak mungkin juga mata-mata!

Akan tetapi, kenapa gerakannya demikian cepat dan ke mana ia sekarang pergi? Agaknya seorang mata-mata pula, akan tetapi berbeda dengan si tinggi kurus! Dengan gerakan cepat, mempergunakan ilmunya, Bun Hong menyelinap ke samping beranda dan melihat betapa pintu pagar taman yang tidak berapa tinggi, diapun lalu meloncat ke atas pintu itu dan melihat betapa di balik pintu itu benar merupakan sebuah taman yang luas, diapun meloncat lagi turun ke sebelah dalam. Dengan berindap-indap diapun mencari-cari. Tempat itu sunyi. Sebelah kiri menuju ke taman dan kebun sayur, dan sebelah kanan menuju ke ruangan terbuka dari bagian tengah kuil. Bun Hong meloncat ke dalam ruangan ini dan menyelinap di antara pot-pot bunga, menuju ke dalam melalui sebuah pintu yang sudah terbuka daunnya.

Setelah melalui dua ruangan, tiba-tiba dia berhenti dan bersembunyi di balik tiang. Dia melihat si tinggi kurus tadi keluar dari sebuah tikungan dan menyeret seorang tosu tua yang agaknya sudah lemas tubuhnya, entah pingsan ataukah tertotok jalan darahnya. Dengan cepat si kurus itu menyeret tubuh tosu itu ke balik meja di sudut, mengikat kaki tangannya dengan pakaian tosu itu sendiri dan mengikat pula mulutnya, lalu meninggalkan tosu itu menggeletak di balik meja itu, tersembunyi dan tidak mudah nampak dari luar. Kini Bun Hong tidak ragu-ragu lagi. Jelas bahwa orang itu adalah seorang mata-mata, atau penjahat dan setidak- tidaknya tentu orang yang tidak mempuyai iktikad baik terhadap para tosu atau para pendekar yang tengah mengadakan pertemuan di ruangan belakang kuil itu.

#Berhenti, siapa engkau?# Bun Hong membentak sambil meloncat keluar, dan tubuhnya sudah berdiri di depan laki-laki tinggi kurus itu. Orang itu terkejut bukan main, sama sekali tidak mengira bahwa perbuatannya diketahui orang. Lebih lagi kagetnya melihat bahwa yang muncul bukan sorang di antara para tosu kuil itu, melainkan pemuda remaja tampan. Dia memandang rendah dan tersenyum mengejek.

#Bocah setan, mampuslah!# bentaknya dan dia menyerang dengan kecepatan kilat, jari tangan kirinya menotok ke arah jalan darah di pundak sedangkan tangan kanan mencengkeram ke arah lambung. Serangan-serangan itu hebat bukan main dan amat berbahaya. Namun, pada waktu itu, Bun Hong telah mewarisi ilmu kepandaian ayah bundaya dan dia memang seorang pemuda yang berbakat baik sekali, memiliki gerakan yang tenang namun cepat. Dengan mudah dia mengelak dengan melangkah mudur, dan cepat tubuhnya memutar ke kanan lalu mengirim serangan balasan, yaitu tendangan ke arah lutut lawan dan tangannya menyusul dengan cengkeraman ke arah pundak.

#Ehhh......?# Orang itu nampaknya terkejut melihat betapa pemuda yang dipandang rendah itu bukan saja dapat menghindarkan diri dari serangannya, bahkan dapat membalas dengan cepat sekali sehingga hampir saja lutut kakinya terkena tendangan.

Dia meloncat ke belakang, lalu menyerang lagi, kini karena tahu bahwa lawannya lihai, dia mengerahkan tenaga dan kecepatannya untuk melumpuhkan pemuda yang telah memergokinya itu. Namun dia kecele. Pemuda itu mampu menangkis dan membalas dan mereka terlibat dalam perkelahian yang seru. makin kaget dan gentarlah hati si tinggi kurus dan dia mulai mencari kesempatan untuk melarikan diri. Akan tetapi betapa kagetnya melihat pemuda itu sama sekali tidak memberi kesempatan kepadanya dan dia kehilangan jalan untuk lari karena terus terdesak oleh pemuda itu. Akhirnya, memang karena kalah tingkatnya dan bingung, jari tangan pemuda itu berhasil menotok pundaknya dan diapun roboh terkulai dalam keadaan lumpuh kaki tangannya. Pada saat itu ada bayangan biru berkelebat dan terdengar bentakan halus.

#Engkau orang jahat!# Tahu-tahu gadis remaja yang berbaju biru, yang tadi menarik perhatian Bun Hong, telah datang dan menyambar ke arah Bun Hong dengan cepat sekali, menyerang dengan tamparan ke arah kepala Bun Hong dan tusukan jari tangan yang lain ke arah dada.

#Ehhh......?# Bun Hong mengelak. Aka tetapi, serangan pertama yang luput itu disusul oleh tonjokan tangan ke arah lambung Bun Hong, cepat dan keras bukan main serangan susulan ini sehingga tidak ada kesempatan lagi bagi Bun Hong untuk mengelak. Dia terpaksa menangkis sambil mengerahkan tenaganya.

#Dukkk......!# Dua lengan bertemu dan gadis itu mengeluarkan jerit tertahan karena lengannya terasa nyeri. Ia meloncat ke belakang dengan muka merah karena marah sedangkan Bun Hong sendiri juga harus mengakui betapa lengan yang kecil berkulit halus itu mengandung tenaga sinkang yang kuat. Akan tetapi, Bun Hong juga merasa penasaran dan kini timbul dugaannya bahwa gadis remaja yang lihai itu tentulah seorang mata-mata pula,

Agaknya sahabat dari orang yang telah dirobohkannya. Mungkin saja percakapan antara mereka di luar kuil tadi hanya sandiwara belaka, atau dalam percakapan tadi mengandung kata-kata rahasia yang hanya diketahui mereka berdua saja.

Pikiran ini membuat Bun Hong penasaran dan ketika gadis remaja itu menyerangnya lagi, dia mengerahkan tenaga menangkis dan balas menyerang dengan hebatnya sehingga gadis itu terkejut, terdorong ke belakang dan terpaksa gadis itu meloncat jauh ke belakang untuk menghindarkan diri dari serangan susulan.

Agaknya gadis inipun baru sekarang yakin akan kelihaian Bun Hong. Akan tetapi serangan susulan itu tidak datang karena Bun Hong sudah menyambar tubuh orang yang dirobohkannya tadi, mengempitnya dan membawanya meloncat dan lari ke belakang

#Demikianlah, ayah.# Bun Hong mengakhiri ceritanya yang didengarkan oleh ayah ibunya dan para pendekar.

#Aku membawa mata-mata ini ke sini, aku yakin dia memata-matai pertemuan ini.# Pada saat itu, terdengar bentakan halus dan nampak bayangan biru berkelebat masuk,

#Penjahat busuk, engkau hendak lari ke mana?# Dan muncullah gadis remaja yang tadi dan tanpa memperdulikan banyak orang yang berada di situ ia langsung saja menyerang Bun Hong. Melihat gadis remaja ini Bun Hong menjadi marah. Dia menangkis dan balas menyerang sehingga mereka berdua segera bekelahi dan saling serang dengan seru dan ternyata bahwa gadis itu memang lihai dan dapat bergerak cepat sekali. Tiba-tiba Ciu Kui Eng sudah meloncat dan menengahi kedua orang muda yang sedang berkelahi itu sambil membentak.

#Eng Hui, kiranya engkau gadis remaja itu!# Gadis itu terkejut ketika melihat ibunya tahu-tahu menahan serangannya.

#Ibu......!# Kemudian ia melihat Thio Ki hadir di antara semua orang gagah yang berada di situ. #Ayah......!# Suami isteri pendekar ini tentu saja merasa heran bukan main melihat puteri tunggal mereka. tadi mereka mendengar cerita putera dari sahabat mereka Tan Ci Kong dan Siauw Lian Hong tentang gadis remaja yang disangkanya sahabat mata- mata, sama sekali mereka tidak menyangka bahwa gadis itu ternyata adalah Thio Eng Hui, puteri mereka sendiri.

#Ayah! Ibu! Orang ini jahat sekali, membunuh orang tak berdosa!# teriak gadis itu.

#Nah, inilah gadis yang menjadi mata-mata itu!# Bun Hong yang balas berteriak dan keduanya sudah saling pandang dengan mata melotot lagi.

#Eng Hui, diam kau!# Ciu Kui Eng membentak puterinya, kemudian menghadapi para pendekar yang masih memandang bingung dan memperkenalkan.

#Cuwi, gadis ini adalah Thio Eng Hui, puteri tunggal kami. Agaknya terjadi kesalah pahaman di antara ia dan pemuda ini. Kita sudah mendengar cerita pemuda ini. Dan biarlah kini giliran anak kami yang bercerita. Eng Hui, hayo ceritakan mengapa engkau sampai datang ke sini dan tiba-tiba menyerang pemuda ini?# Eng Hui sejenak memandang Bun Hong, kemudian ke arah orang kurus yang masih rebah di atas lantai dengan muka pucat dan memandang dengan mata mengandung ketakutan.

#Ayah dan ibu, setelah kalian pergi, aku merasa tidak betah di rumah, maka aku memberi tahu kepada para murid di rumah untuk menjaga rumah dan aku sendiri pergi menyusul ayah dan ibu. Tadi, ketika aku tiba di depan kuil, aku bertemu dengan orang kurus itu yang mengajak bicara dan dia amat ramah dan baik. Karena aku hendak menyelidiki apakah ayah dan ibu benar berada di kuil ini, diam-diam aku menyelinap masuk. Ketika sedang mencari-cari di dalam, aku melihat betapa pemuda ini memukul roboh orang kurus yang ramah itu, maka akupun segera turun tangan membelanya. Pemuda itu membawa si kurus lari ke belakang dan aku mengejar sampai sini.# Mendengar penjelasan ini, semua pendekar tersenyum. Memang telah terjadi kesalah-pahaman di antara dua orang muda itu. Ciu Kui Eng sendiri tertawa dengan hati lega karena ternyata puterinya tidak melakukan hal-hal yang dapat menimbulkan keributan. Hanya kesalah-pahaman biasa saja. Siauw Lian Hong juga girang mendengar penuturan puteri sahabatnya itu, maka iapun lalu menghampiri puteranya.

#Bun Hong, ketahuilah bahwa gadis manis ini adalah puteri dari sahabat kami. Ayahnya adalah Thio Ki atau Thio-pangcu ketua Kang-sim-pang, sedangkan ibunya adalah Ciu Kui Eng yang sudah seringkali kaudengar namanya. Ternyata Thio Eng Hui ini menyangka engkau seorang penjahat maka menyerangmu.# Bun Hong memandang kepada Eng Hui dengan muka merah. Sementara itu Kui Eng juga berkata kepada puterinya.

#Pemuda itu Tan Bun Hong, putera dari Tan Ci Kong dan Siauw Lian Hong, dua orang sahabat kami yang paling baik dan yang sudah sering kaudengar namanya. Dia menangkap orang ini karena orang ini agaknya seorang mata-mata yang menyelundup dan kini kami akan memeriksanya.#

#Ah, begitukah?# Eng Hui juga menjadi merah mukanya dan tidak berani lagi memandang langsung kepada pemuda itu.

#Eng Hui, engkau yang bersalah dalam hal ini. Lekas minta maaf kepada kakakmu Tan Bun Hong. Bagaimanapun juga, engkau lebih muda dan engkau yang kurang teliti.#

#Nanti dulu, ibu,# kata Eng Hui penasaran.

#Orang kurus itu belum diperiksa dan belum ternyata bahwa dia memang bersalah, jadi masih belum terbukti bahwa dia yang benar dan aku yang bersalah. Kita tunggu sampai orang ini diperiksa.# lalu ia melirik ke arah Bun Hong.

#Kalau kemudian ternyata aku memang bersalah, biarlah aku akan minta maaf.# Bun Hong merasa tidak enak.

#Sudahlah, bibi. Sebaiknya urusan ini tidak diperpanjang karena kesalah-pahaman bukanlah suatu kesalahan, tidak perlu minta maaf. Ayah, sebaiknya orang ini segera diperiksa,# sambungnya kepada ayahnya. Tan Ci Kong mengangguk, lalu menghampiri orang yang rebah di lantai itu dan diapun berjongkok di dekatnya.

#Nah, sobat. lebih baik engkau mengaku sekarang, apa artinya perbuatanmu yang mencurigakan itu? Engkau menyelinap masuk ke dalam kuil seperti seorang pencuri, dan engkau bahkan telah menotok roboh seorang tosu. Siapa engkau dan apa maksud perbuatanmu yang mencurigakan itu?# Orang kurus itu kini sudah mulai dapat menggerakkan kaki tangannya dan dengan agak sukar dia bangkit duduk di atas lantai, sepasang matanya memandang ke kanan kiri dan melihat betapa dia berada di tengan kerumunan para pendekar dia merasa gentar sekali. Akan tetapi mendengar perkataan Ci Kong tadi, dia mendapatkan harapan dan segera berpegang kepada harapan itu.

#Benar taihiap, saya...... saya memang pencuri, saya masuk ke dalam kuil ini karena mendengar bahwa di dalam kuil terdapat banyak harta yang disimpan para tosu. Karena ketahuan seorang tosu, saya merobohkannya, akan tetapi. sial,

perbuatan saya diketahui oleh orang muda ini. #

#Cukup!# Ci Kong membentak, karena sebagai seorang pendekar yang sudah seringkali menghadapi mata-mata dan sudah banyak kali terjun dalam perjuangan, dia sudah berpengalaman sehingga tidak mudah dibohongi begitu saja.

#Mengaku saja terus terang bahwa engkau sudah tahu akan pertemuan kami ini dan datang untuk memata-matai kami. Hayo katakan, kau mata-mata pihak mana dan siapa yang mengutusmu, dan apa saja tugasmu?#

#Saya...... saya betul pencuri, akan tetapi belum mencuri apa-apa, harap taihiap suka memberi ampun dan membebaskan saya. #

#Ah, aku ingat sekarang!# Tiba-tiba seorang di antara para pendekar itu berseru dan dia bukan lain adalah tokoh Tiat-pi Kai-pang tadi.

#Bukankah engkau ini yang berjuluk Pek-ci Sin-to (Maling Sakti Tikus Putih) yang terkenal di kota Pao-ting? Tan-taihiap, dia ini jelas mata-mata pemerintah Mancu! Sudah lama aku mendengar betapa maling hina ini menghambakan diri kepada pemerintah Mancu dan menjadi mata-mata!# Tan Ci Kong mencengkeram rambut orang itu dan mengguncangnya.

#Nah, sekarang telah kelihatan belangmu! Hayo mengaku saja apa yang kaulakukan di sini!# Orang kurus itu kelihatan semakin ketakutan, apalagi ketika dia merasa betapa kuatnya cenkeraman tangan Tan Ci Kong. Para pendekar ini tentu akan memaksa dan kalau perlu menyiksanya agar dia mengaku, pikirnya. Tiba-tiba dia berusaha meronta dan memandang kepada seorang di antara pendekar itu sambil berseru,

#Toako, kenapa kau diam saja? Tolonglah aku...... aughhhh......# Semua orang, termasuk Ci Kong terkejut bukan main karena tiba-tiba saja seorang di antara para pendekar menggerakkan tangannya dan sebuah piauw (senjata rahasia runcing) telah menyambar dan menancap di ulu hati tawanan itu. Selagi semua orang terkejut, orang tinggi besar itu telah melompat dan keluar dari ruangan itu.

Semua orang yang terkejut dan bingung itu disadarkan oleh Bun Hong yang berteriak.

#Dia tentu pemimpinnya. Kejar......!# Semua orang baru sadar bahwa tentu si tinggi besar yang mereka kenal sebagai Ciang Koai, seorang pendekar yang dulu pernah berjuang bersama mereka membantu Tai Peng, kini menjadi kaki tangan pemerintah Mancu dan tentu dia membunuh pembantunya, si kurus itu, agar si kurus tidak membuka rahasia.

Maka, semua orang lalu berserabutan mengejar keluar kuil. Akan tetapi ketika semua orang tiba di luar kuil, ternyata kuil itu telah dikepung oleh sedikitnya seratus orang tentara kerajaan! Ternyata gerakan si kurus tadi memang sengaja dilakukan untuk memancing kalau-kalau ada penjaga pihak para pendekar di luar kuil itu tanpa diketahui para pendekar! Melihat hal ini, Ci Kong mengepal tinju. Baru saja para pendekar mengambil keputusan untuk bergabung dengan pasukan rakyat yang dipimpin oleh Ceng Kok Han dan Li Hong Cang, bukan untuk melawan pemerintah Mancu melinkan untuk menenteramkan keadaan dengan menghadapi Tai Peng dan para pemberontak lain, dan kini mereka malah dikepung oleh pasukan pemerintah!

#Kita berpencar dan lari mencari jalan masing-masing! Ingat akan keputusan rapat pertemuan kita!# teriaknya dan mereka lalu berpencaran. Ci Kong bersama Lian Hong dan putera mereka, Bun Hong, segera menyerbu ke arah kiri. Mereka disambut oleh tombak-tombak para perajurit, akan tetapi mereka mengamuk dan menerjang terus, merobohkan siapa saja yang menghalang jalan keluar mereka. Para pendekar yang lain juga menyerbu ke semua jurusa. Thio Ki juga disertai Kui Eng, dan puteri mereka Eng Hui, menerjang ke arah kanan dan mmerekapun mengamuk untuk membuka jalan keluar. terjadilah pertempuran yang sengit di luar kuil. Para tosu dan para tamu kuil itu menjadi ketakutan dan berjongkok di belakang meja-meja sembahyang untuk bersembunyi.

Biarpun jumlah para pendekar itu hanya kurang lebih dua puluh orang sedangkan para perajurit ada seratus orang, namun tidak mudah bagi pasukan itu untuk menangkap para pendekar yang rata-rata memiliki kepandaian silat yang tinggi itu. Setelah terjadi pertempuran yang tidak terlalu memakan waktu lama, sebagian besar dari para pendekar itu dapat lolos, hanya meninggalkan tiga orang yang tewas dan beberapa orang di antara mereka membawa lari luka, akan tetapi di pihak pasukan perajurit Mancu, tidak kurang dari lima puluh orang roboh dan terluka, bahkan ada beberapa orang yang tewas pula! Karena para pendekar itu melarikan diri berpencar, sukar bagi para perajurit yang sudah merasa jerih untuk melakukan pengejaran. Mereka hanya menyerbu kuil, menangkapi para tosu, bahkan para tamu yang datang hanya untuk bersembahyang, ikut pula ditangkap!

#Han Le, muridku dan juga anakku yang baik, duduklah di sini, aku ingin membicarakan sesuatu yang amat penting denganmu.#

Han Le tersenyum. semenjak gurunya ini menjadi suami ibunya, selalu gurunya menyebutnya murid dan anak, dan kasih sayang gurunya menjadi semakin jelas dilimpahkan kepadanya. Kini dia sudah berusia sembilan belas tahun dan selama ini dia menerima gemblengan yang tak mengenal lelah dari Bu Beng Kwi. Menurut keterangan suhunya, hampir semua ilmu silat yang dimiliki suhunya telah dia kuasai dengan baik. Dan dia amat sayang kepada suhunya, apalagi ketika dia mendapat kenyataan betapa terdapat cinta kasih yang besar antara gurunya atau ayah tirinya dan ibunya.. Dia melihat betapa ibunya hidup berbahagia sebagai isteri suhunya, nampak dari wajah ibunya yang selalu berseri cerah penuh kebahagiaan, bagaikan setangkai bunga yang terpelihara baik dan tak pernah haus dari siraman air yang menghidupkan dan menyegarkan.

Untuk ibunya itu saja dia sudah amat berterima kasih kepada suhunya dan diam- diam dia kagum kepada ibunya, yang demikian waspada dan bijaksana, tidak keliru memilih walaupun pada lahirnya, ibunya amat cantik dan suhunya amat buruk rupa. Dia yakin benar bahwa suhunya adalah seorang laki-laki sejati, seorang pendekar budiman yang sukar dicari keduanya. bahkan kini kedua orang suhengnyapun telah menjadi pemimpin-pemimpin rakyat yang gagah perkasa, pejuang-pejuang kenamaan dan patriot-patriot yang membela kepentingan rakyat. Diapun berniat untuk mengikuti jejak kedua orang suhengnya yang bercerita banyak tentang perjuangan ketka dua tahun yang lalu berkunjung ke tempat itu.

#Suhu, bagiku, suhu merupakan guru dan ayah yang amat baik dan setiap yang dibicarakan suhu selalu penting bagiku. Sekarang ada kepentingan apakah yang membuat suhu bersikap demikian sungguh-sugguh?# katanya sambil duduk di atas bangku depan suhunya, terhalang sebuah meja di mana terdapat minuman air teh yang tadi dihidangkan ibunya untuk orang tua itu. Bu Beng Kwi memandang kepada murid yang juga menjadi anak tirinya itu dengan sepasang mata yang mencorong penuh kasih sayang, juga penuh perhatian. Anak itu kini telah menjadi seorang dewasa, pikirnya puas, seorang laki-laki yang gagah perkasa. Dalam hal ilmu silat, murid ini sudah melampaui tingkat Ceng Kok Han dan Li Hong Cang, dua orang muridnya yang kini telah menjadi pejuang-pejuang kenamaan.

Muridnya ini telah berusia sembilan belas tahun, tubuhnya tinggi besar, tingginya sama dengan dia, dengan dada yang bidang dan perawakan yang gagah sekali. Bangga dia mempunyai murid seperti Gan Han Le ini. Dan bukan saja Han Le pandai ilmu silat tinggi, bahkan oleh ibunya dia diajari ilmu mempergunakan senjata api, yaitu sebuah pistol. Isterinya itu, Sheila, adalah seorang wanita kulit putih yang pernah mempelajari cara menembak dan ia sendiri yang melatih puteranya itu menjadi seorang penembak mahir! Bu Beng Kwi berhasil mendapatkan sebuah pistol dan senjata inilah yang dipergunakan oleh Han Le untuk belajar menembak sehingga dia menjadi seorang penembak mahir yang amat jitu tembakannya. Dan pistol itu kini tersimpan oleh Han Le, kadang-kadang diselipkan di pinggang tertutup baju, dan dengan adanya senjata api ini, tentu saja Han Le menjadi seorang ahli silat yang amat hebat dan berbahaya bagi lawannya.

#Han Le, ada suatu rahasia besar yang selama ini kusembunyikan darimu, dan aku sengaja menanti sampai engkau menjadi dewasa baru rahasia itu kubuka dan kuberitahukan padamu. Akan tetapi sebelum hal itu kulakukan, lebih dulu aku ingin sekali mengetahui apa yang akan kaulakukan sekarang, setelah kunyatakan bahwa sudah habis waktunya engkau mempelajari ilmu dariku. Engkau telah dewasa, telah matang dan cukup kuat untuk membela diri, untuk menentukan langkah hidupmu nanti, Nah, apakah yang akan kaulakukan, anakku?#

#Suhu, aku ingin sekali pergi turun gunung dan ikut dalam perjuangan membela rakyat jelata agar segala yang pernah kupelajari dari suhu tidak akan tersia- sia.# jawabnya dengan tegas dan sungguh-sungguh.

#Apa yang mendorongmu untuk berjuang?#

#Suhu, aku...... tertarik untuk mengikuti jejak kedua suheng, dan. bahkan

mendiang ayah kandungku juga seorang pejuang, bukankah begitu? Jadi, sudah selayaknyalah kalau akupun menjadi seorang pejuang. Bukankah suhu akan menyetujuinya?# Bu Beng Kwi mengangguk-angguk,

#Tentu saja, tentu saja aku setuju. Akan tetapi, apakah tidak ada lain cita-cita lagi dalam hidupmu, hal yang amat ingin kaulakukan?# Bu Beng Kwi ingin mengetahui semua isi hati muridnya ini, karena sebelum dia membuka rahasia yang mungkin akan menghabisi hidupnya, dan dia sudah siap siaga menghadapi hal ini, dia ingin lebih dahulu memberi pengarahan kepada muridnya untuk melakukan apa yang diinginkannya. Han Le mengerutkan alisnya dan mengingat-ingat, lalu dia menggeleng kepala perlahan.

#Kiranya tidak ada lagi, suhu. Aku hanya mempunyai ibu dan suhu, dan kini ibu telah hidup berbahagia bersama suhu di sini. Dulu, di waktu aku belum mengetahuinya, ada cita-cita di hatiku untuk membalas kematian ayah! Akan tetapi setelah ibu memberi tahu bahwa yang membunuh ayah ternyata sudah tewas pula, padamlah cita-cita itu...... eh, kenapa suhu? Kenapa suhu memandangku seperti itu?# Han Le terkejut ketika melihat perubahan pada pandang mata suhunya.

Sepasang mata yang besar sebelah yang biasanya mencorong itu kini tiba-tiba saja seperti lampu kehabisan minyak, dan pandang mata suhunya itu aneh sekali.

#Han Le, tahukah engkau siapa nama ayahmu?# #Tentu saja! Ayah bernama Gan Seng Bu.#

#Tahukah engkau siapa pembunuh ayahmu, yang masih suheng dari ayahmu sendiri?# Han Le merasa heran, akan tetapi dia menjawab juga.

#Ibu pernah memberi tahu. Pembunuh ayah itu adalah suhengnya sendiri yang bernama Koan Jit, akan tetapi ada apakah. ?#

#Gan Han Le, apakah engkau ingin melihat bagaimana wajah Koan Jit, pembunuh ayah kandungmu itu?# Han Le tekejut sampai bangkit berdiri, memandang kepada suhunya dengan mata terbelalak penuh selidik, alisnya berkerut. Apakah gurunya hendak main-main dengan dia? Kalau bermain-main, keterlaluan sekali permainan ini!

#Suhu, apa artinya ini? Bukankah di sudah meninggal dunia?# Bu Beng Kwi menggeleng kepala, meraba mukanya dan berkata.

#Dia masih hidup, sayang sekali, dan kau boleh memandang wajahnya dengan baik- baik. Inilah orangnya!# Tangannya bergerak cepat dan tiba-tiba saja wajah buruk Bu Beng Kwi itu berobah sama sekali! Bukan lagi wajah seorang kakek yang mukanya pletat-pletot, matanya besar sebelah, hidungnya menyerong dan mulutnya mencong telinganya kecil. Sama sekali bukan, melainkan wajah seorang laki-laki yang dapat dibilang tampan, dengan muka penuh kerut-merut dan membayangkan kedukaan, kulit mukanya agak kehitaman dan sepasang matanya yang tajam itu kini diliputi kedukaan besar.

#Inilah wajah Koan Jit, pembunuh ayahmu itu!# Sampai beberapa amanya Han Le berdiri terbelalak,wajahnya berubah pucat sekali, tak mampu mengeluarkan kata- kata. kemudian dia berteriak,

#Suhu! Harap jangan main-main!# Bu Beng Kwi atau Koan Jit itu tersenyum sedih dan menggeleng kepalanya.

#Gan Han Le, aku tidak main-main. Aku adalah Koan Jit, pembunuh ayah kandungmu, dan aku sudah siap untuk menerima pembalasan dendam darimu, aku siap untuk menerima kematian di tanganmu. Nah, balaslah kematian ayahmu itu dan bunuhlah aku!# Dengan kakinya, Bu Beng Kwi menendang meja yang menghalangi mereka ke samping sehingga kini mereka berhadapan. Bu Beng Kwi masih duduk di atas kursinya dan Han Le sudah berdiri sejak tadi.

#Tapi...... tapi...... bagaimana ini? Apa artinya ini? Mengapa suhu melakukan semua itu? Mengapa? Ah, suhu...... aku tidak percaya! Jangan permainkan aku, jangan membikin bingung aku....... dan diapun menjatuhkan diri berlutut di depan kaki suhunya.

#Bangkitlah, Han Le, dan hadapi kenyataan. Engkau bukan mimpi dan aku tidak berbohong. Dahulu aku bernama Koan Jit dan aku pernah membunuh suteku yang bernama Gan Seng Bu. Kemudian, karena malu akan sepak terjangku sendiri aku mematikan nama Koan Jit dan aku berubah menjadi Bu Beng Kwi. Akhirnya aku berjumpa dengan ibumu, jatuh cinta dan...... engkau tahu sendiri. Aku sengaja menunggu sampai engkau dewasa, baru memberi tahu akan hal ini agar engkau dapat mengambil keputusan secara dewasa pula. Nah, aku sudah siap. Akulah Koan Jit pembunuh ayahmu dan engkau boleh melakukan apa saja!# Sambil mendengarkan keterangan suhunya, Han Le menangis dan tiba-tiba dia meloncat berdiri tegak, memandang wajah orang di depannya itu dengan muka beringas dan sepasang mata berkilat. Air matanya masih mengalir turun membasahi kedua pipinya ketika dia menudingkan telunjuknya ke arah muka Bu Beng Kwi.

#Kau......! Engkau telah membunuh ayahku, kemudian...... engkau menggunakan muslihat...... engkau pergunakan kelemahan hati ibuku dan engkau malah mengawininya! Engkau sungguh kejam, keji dan tidak berperikemanusiaan!......

Engkau bunuh ayahku dan menipu ibuku!# Han Le mengepal tinju dan napasnya tersengal-sengal saking marahnya.

#Dan engkau menipu aku, menjadikan aku muridmu...... kau kira dengan kebaikan- kebaikan berselubung itu kau sudah menebus dosamu terhadap ayahku? Kau keji, kau kejam#

(Lanjut ke Jilid 13)