Pedang Naga Kemala Jilid 30

Jilid 30

Dia menuju ke bar dimana tersedia bermacam minuman.

“Jangan minuman keras untukku, cukup air jeruk atau air buah lainnya kalau ada, atau air teh.”

Peter menahan senyumnya. Sungguh berubah sekali gadis ini akan tetapi harus diakuinya bahwa Diana semakin cantik, semakin matang dan tubuhnya kini menggairahkan. Dia menuangkan air jeruk ke dalam gelas, dan bir untuk dirinya sendiri, lalu menghampiri Diana, menyerahkan gelas terisi air jeruk. Diana menerima dan meminumnya sedikit, lalu meletakkan gelas itu di atas meja.

“Nah, sekarang ceritakanlah tentang pamanku.”

“Pamanmu telah dipindahkan ke Shanghai tiga bulan yang lalu. Di sana direncanakan untuk dibangun benteng yang lebih kuat dan pada di sini, dan karena hubungan dengan kota raja lebih dekat, maka pamanmu ditugaskan di sana. Jangan khawatir, besok akan ku atur agar engkau dapat berlayar ke Shanghai, dan kalau perlu aku sendiri yang akan menemanimu ke sana. Akan tetapi, selama ini engkau kemana sajakah, Diana? Pamanmu dan seluruh keluarganya merasa cemas bukan main. Mengapa engkau tidak mau kembali ke sini dan apa saja yang telah kau alami selama ini?”

Diana merasa tidak puas mendengar berita yang demikian singkat tentang pamannya, dan iapun diam-diam bersikap waspada dan tidak percaya kepada Peter Dull ini. Maka, ketika tadi ia menerima segelas air jeruk, minuman itu hanya dicicipinya sedikit, dan ia yang kini memiliki perasaan yang peka, dapat merasakan kelainan pada minuman itu. Ia curiga bahwa minuman itu dicampuri obat, pembius atau obat tidur, maka ia tidak berani minum banyak sebelum yakin benar bahwa minuman itu bersih. Betapapun juga, ia merencanakan hubungan baik antara pasukan kulit putih dan para pejuang, maka ia tidak seharusnya memulai dengan sikap permusuhan dengan Peter yang merupakan orang penting pula dalam pasukan kulit putih.

“Engkau tahu bahwa aku suka menyelidiki benda-benda kuno dan tradisi- tradisi yang bersangkutan dengan sejarah. Di dusun-dusun dan gunung- gunung, aku menemukan banyak hal yang menarik, sehingga aku betah tinggal di sana.”

“Hemmm…”

Peter Dull tersenyum sinis penuh ejekan.

“Apakah bukan karena engkau tertarik kepada mereka, bersekutu dan bergaul dengan segala macam bandit, pencuri, perampok, bajak, pembunuh dan pengacau-pengacau hina itu. Aku banyak mendengar tentang petualanganmu, Diana.”

Kedua telinga Diana menjadi merah, akan tetapi ia menahan kesabarannya. “Para penyelidikmu bodoh-bodoh dan keliru mengambil kesimpulan, Peter. Mereka itu, sahabat-sahabatku itu, sama sekali bukan penjahat. Mereka adalah pendekar-pendekar tulen, satria-satria sejati dan patriot-patriot yang perkasa! Justeru untuk menjelaskan semua itulah, maka aku pulang, Peter. Dan engkaupun perlu mendengar agar terbuka matamu dan sadar bahwa selama

ini, sikap yang diambil oleh pasukan kita adalah keliru sama sekali.” Peter Dull memandang dengan alis berkerut sinar mata penuh selidik. “Apa maksudmu?”

“Mereka itu adalah pejuang-pejuang yang menentang penjajah Mancu, yang berjuang untuk membebaskan tanah air mereka dari cengkeraman penjajah Mancu. Bangsa kita datang ke negeri ini untuk berdagang, bukan? Nah, mengapa mencampuri urusan perjuangan, bahkan membantu pemerintah penjajah dan menentang perjuangan para pendekar yang hendak membebaskan bangsa dan tanah airnya dari cengkeraman penjajah? Sikap ini membuat rakyat menjadi benci dan timbul anti kulit putih, dan hal itu kurasa amat merugikan bangsa kita sendiri.”

“Wah-wah, agaknya engkau kini menjadi pembela para pemberontak itu, Diana!”

“Pembela yang benar, Peter. Dan itu adalah tugas setiap orang manusia, bukan? Aku pulang ini untuk membuka mata kalian. Hentikan permusuhan terhadap para pejuang, bahkan kalau mungkin, bantulah perjuangan mereka. Kalau perjuangan mereka berhasil, tentu hubungan perdagangan antara kita dan rakyat akan menjadi semakin akrab dan menguntungkan.”

“Jadi engkau pulang untuk membujuk pamanmu agar bersekongkol dengan pemberontak dan memusuhi pemerintah yang syah?”

“Engkau memandang persoalannya dari sudut yang lain, demi keuntungan pemerintah penjajah! Memang pemerintah yang syah, akan tetapi benarkah itu kalau orang Mancu memegang pemerintahan di negeri ini? Rakyat yang berjuang untuk membebaskan tanah airnya dari cengkeraman penjajah bukanlah pemberontak jahat!”

“Ah, sudahlah, Diana. Bukan tugas kita untuk bicara tentang politik, ada jenderal-jenderal yang pekerjaannya mengurus hal-hal demikian. Mari, minumlah air jeruk itu, kemudian beristirahatlah. Oya, engkau tentu belum makan malam, bukan? Biar kusuruh sediakan makan malam untuk kita.”

Peter mengalihkan percakapan. Diana merasa penasaran, akan tetapi diam- diam otaknya bekerja. Ia harus yakin benar bagaimana sebenarnya sikap Peter terhadap dirinya. Ia harus yakin tentang minuman ini, tentang segalanya.

“Oya…. kau tadi bilang ada gaun untuk pengganti pakaianku? Coba tolong ambilkan hendak kulihat, kalau cocok, boleh juga berganti pakaian.”

Berkata demikian, Diana mengangkat gelasnya dan menempelkan gelas itu di bibirnya. Peter memandang dengan wajah berseri, bangkit berdiri.

“Baik, akan kuambilkan. Nah, begitu sebaiknya sikapmu, Diana. Minumlah, kalau kurang akan kuambilkan lagi.”

Dan diapun melangkah ke arah kamar. Secepat kilat, Diana menuangkan seluruh isi gelasnya ke dalam pot bunga yang berdiri di sudut. Gerakannya cepat sekali dan tidak mengeluarkan suara sehingga Peter tidak mendengar sesuatu. Tak lama kemudian, Peter kembali lagi membawa sebuah gaun berwarna merah muda, juga sepasang sepatu. Dia memang menyimpan banyak pakaian wanita untuk persediaan, karena sering dia membawa wanita cantik ke dalam benteng untuk menghiburnya dan dia suka sekali memberi hadiah pakaian-pakaian indah kepada wanita yang dibawanya.

Diana memperhatikan Peter dari sudut matanya dan ia melihat betapa wajah Peter berubah girang ketika pria itu memandang ke arah gelas minuman yang telah kosong.

“Sudah kau minum habis? Ah, engkau tentu haus sekali. Kuambilkan lagi, ya?”

“Tidak usah, Peter, sudah cukup. Enak dan segar sekali air jeruk itu.” “Sebentar lagi engkau tentu akan merasa lebih segar!” “Apa maksudmu?”

“Tidak apa-apa… nah, inilah gaun itu. Bagus dan tentu cocok sekali wama merah muda ini untuk kulitmu yang putih mulus itu. Nah, bergantilah di dalam kamarku itu, Diana.”

Diana bangkit berdiri dan tiba-tiba ia terhuyung, tangan kirinya meraba dahi dan tangan kanannya memegangi ujung meja.

“Ohhh.... kepalaku pening...” rintihnya.

“Hai, berhati-hatilah... engkau tentu lelah sekali. Nah, beristirahatlah di dalam kamar, Diana. Mari kupapah engkau…”

Peter lalu menggandeng tangan Diana dan merangkul pundaknya. Karena rangkulan ini wajar saja, Dianapun tidak menolak dan masih melanjutkan sandiwaranya, pura-pura pening dan mengantuk, meniru lagak orang yang mengantuk dan lemas. Sengaja ia bersandar pada pundak Peter, memberatkan tubuhnya sehingga terasa oleh Peter bahwa ia benar-benar lemas dan mengantuk. Setelah mereka memasuki kamar, Peter memapahnya ke arah tempat tidur.

“Duduklah, Diana... dan mari kugantikan pakaianmu. Pakaianmu ini kurang longgar, tidak enak untuk dipakai tidur.”

Peter kini setelah melihat Diana duduk di atas pembaringan dengan tubuh lemas, mulai beraksi. Tangannya dengan penuh gairah hendak membuka kancing baju Diana. Gadis ini masih berpura-pura tidak sadar, akan tetapi ia menggunakan tangan menolak tangan Peter yang meraba-raba ke dada dan hendak membuka kancing bajunya itu.

“Peter, jangan…” katanya dengan suara lemah.

“Ah, jangan malu-malu, Diana. Bukankah engkau sudah biasa melakukan hal ini dengan anjing-anjing pemberontak itu? Malam ini akupun harus menikmatimu sebelum besok kau bertemu dengan pamanmu. Marilah!”

“Peter, ahhh… jangan...”

Diana lalu bangkit berdiri, mendorong kedua tangan Peter yang kurang ajar, dan dengan masih terhuyung menjauh dari pembaringan, matanya yang mengantuk dicobanya untuk dilebar-lebarkan memandang wajah Peter. Ia harus yakin bahwa Peter benar-benar menaruhkan obat ke dalam minuman tadi sebelum ia turun tangan memberi hajaran.

“Hayolah, Diana. Sudah bertahun-tahun aku menaruh berahi padamu, akan tetapi engkau malah lari kepada anjing-anjing itu. Hayo, mari kita bersenang- senang, karena aku tidak suka kalau harus memaksamu. Mari, sebelum engkau pulas, karena tidak enak kalau engkau tidur seperti mayat.”

Diana sudah hampir yakin mendengar kata-kata itu, akan tetapi ia masih berpura-pura.

“Apa? Tidur seperti mayat?”

Ketika Peter maju untuk menyambar lengannya, ia menangkis dengan pengerahan tenaga sambil mendorong. Peter tidak menyangka akan gerakan ini, maka pundaknya terdorong keras dan diapun terhuyung dan menabrak meja.

“Ahh, engkau melawan dengan kekerasan! Percuma, Diana. Sebentar lagi engkau akan jatuh lemas, dan aku akan mempermainkan engkau seperti juga engkau mempermainkan hatiku. Engkau akan menjadi milikku semalam ini, baru hatiku puas!”

Diana masih terhuyung. “Kau… kau menaruh apa dalam minumanku tadi...?”

“Ha-ha-ha, engkau œrdik juga, ya? Tiga butir pel obat tidur, cukup membuatmu tidur seperti mayat selama satu malam penuh, ha-ha-ha!”

Peter menubruk dengan penuh nafsu, akan tetapi kini Diana yang sudah mendapatkan keterangan yang diharapkan, menyambutnya dengan tamparan keras.

“Plakkk!!”

Demikian kerasnya tamparan itu sehingga tubuh Peter terpelanting dibarengi pekiknya kesakitan. Dia jatuh dan bangkit lagi sambil meraba pipinya yang membengkak, meludahkan darah karena duabuah giginya copot.

“Perempuan keparat! Berani engkau memukulku?”

Saking marahnya, dia lupa bahwa amat aneh bagi seorang wanita yang sudah dipengaruhi obat tidur dapat menampar sekuat itu. Kini dia menubruk dengan kedua tangan siap mencabik-cabik pakaian Diana. Akan tetapi, dia menubruk tempat kosong.

“Plakkk…!”

Tamparan yang lebih keras lagi jatuh ke pipinya, kini yang sebelah kiri. Kembali dia terpelanting roboh dan pipi kirinya membengkak lebih besar dan lebih menghitam. Kini agaknya Peter baru teringat bahwa tidak mungkin orang terbius dapat memukul seperti itu. Dia merangkak bangkit dan berdiri memandang dengan mata terbelalak. Dia melihat Diana berdiri sambil tersenyum simpul, senyum yang penuh ejekan, sama sekali tidak kelihatan mengantuk atau lemas lagi. Mengertilah dia bahwa dia yang dipermainkan.

“Kau… kau tidak minum air jeruk itu!” bentaknya.

Diana tertawa dan hidungnya kembang-kempis, karena ia sungguh marah dan ingin mengejek orang itu.

“Peter, kau kira aku belum mengenal manusia macam apa adanya engkau? Sejak dulu engkau tidak berubah. Palsu, curang dan pengecut! Aku dapat menduga akan akal busukmu, dan sekarang aku ingin memberi hajaran keras kepada binatang bertubuh manusia macam kamu!”

Diana sudah marah sekali sehingga ia tidak perduli akan tugasnya untuk menjalin hubungan baik antara bangsanya dan kaum pejuang. Ia tidak ingat lagi akan politik, karena ia menghadapi seorang manusia yang jahat dan patut dihajar. Mendengar ucapan itu, tentu saja Peter merasa malu dan hal ini membuat kemarahannya memuncak.

“Bagus! Kiranya kedatanganmu memang sudah kau rencanakan untuk membikin kacau! Engkau mata-mata pemberontak busuk, pengkhianat bangsa!”

“Tutup mulutmu yang kotor!” Diana membentak marah.

Akan tetapi Peter sudah menerjang ke depan untuk menangkap lengan gadis itu, karena dia masih belum sadar bahwa Diana kini bukan dara yang dulu lagi, bukan gadis lemah, maka dia merasa yakin akan dapat menangkap gadis itu dan membuatnya tidak berdaya. Betapapun juga, dia tentu lebih kuat, pikirinya.

Namun, tangkapan kedua tangannya luput dan ketika dia mendesak dengan tubrukan seperti seekor beruang menubruk lawan, kembali Diana dapat mengelak dengan amat mudahnya. Bahkan demikian cepat gerakan Diana, sehingga tahu-tahu ia sudah berada di samping kiri Peter dan ketika kakinya menendang, Peter tidak mampu menangkis atau mengelak lagi.

“Bukk!” Ujung kaki kiri Diana dengan cepat dan kuatnya mencium lambung Peter. “Hekkhh!”

Peter mengeluh dan meringis, karena perutnya mendadak terasa mulas sehingga dia melipat tubuhnya, membungkuk ke depan sambil menekan perut dengan kedua tangan.

Diana mengangkat kaki kanannya dan lututnya mengarah dagu lawan yang menunduk rendah.

“Desss!” “Ouhhh...!”

Kembali Peter berteriak dan tubuhnya kini terbuka karena kepalanya seperti dilempar ke atas saking kuatnya hantaman lutut yang mengenai dagu tadi. Karena tubuhnya hampir terjengkang dan kedua tangannya terangkat, tubuhnya bagian depan terbuka lebar. Diana kini menggerakkan tangan kirinya, memukul dengan tangan terkepal ke arah ulu hatinya.

“Dukkk!” “Ukkkhhh…”

Dan tubuh Peter terjengkang dan terbanting ke atas lantai. Belum knocked out (terpukul pingsan), baru knocked down (terpukul jatuh). Akan tetapi nyeri pada lambung, dagu dan dadanya membuat dia terengah-engah dengan napas sesak. Sejenak dia bangkit duduk dan memandang ke arah Diana dengan kepala nanar, pandang mata berkunang karena dia melibat bintang-bintang bertaburan dan berjatuhan ke bawah alu menari-nari di depan matanya.

Setelah bintang-bintang itu lenyap, dia memandang wajah Diana dengan mata terbelalak. Baru sadarlah dia bahwa Diana telah menguasai ilmu silat. Bangkitlat kemarahannya kembali, marah saking malunya. Dia menggoyang- goyang kepalanya seperti hendak mengusir kepeningan dan bangkit berdiri, matanya memandang ke kanan dimana terdapat pedangnya yang tergantung di dinding.

“Perempuan setan! Engkau malah belajar silat dari para pemberontak itu, ya?” Dan Peter pun meloncat, lalu mencabut pedangnya.

Kalau ia menghendaki, Diana dapat saja menghalanginya atau merobohkannya kembali sebelum dia sempat bangkit berdiri, akan tetapi gadis itu tidak mau berbuat demikian. Dara perkasa ini tidak takut lawannya bersenjata pedang, asal jangan mempergunakan pistol. Dan ia tidak melihat pistol di pinggang Peter. Kalau ia melihatnya tentu suda h dirampasnya senjata api itu. Tidak nampak pula ada senjata api di kamar itu, maka hatinya pun tenang karena ia merasa yakin bahwa ia akan dapat menundukkan Peter, tanpa atau dengan pedang sekalipun.

Dengan pedang di tangan, Peter kini menghampiri Diana, sikapnya bengis mengancam, di kedua ujung bibirnya masih ada darah dan muka yang biasanya tampan itu kini nampak buruk penuh kebengisan, menyeringai kejam, di sepasang matanya terbayang nafsu membunuh!

“Terkutuk! Kubunuh kau…kubunuh kau...!”

Peter mengancam dengan suara terputus-putus karena napasnya terengah- engah saking marah dan nyerinya.

“Hemmm…. sekarang nampaklah keaslianmu, Peter Dull! Memuakkan sekali!”

Diana mengejek. Memang ia merasa muak. Kalau dibandingkan dengan sikap para pendekar seperti Ci Kong, sungguh jauh bedanya, seperti naga dengan cacing. “Mampus kau!”

Peter menerjang dengan pedangnya, membacok sekuat tenaga dengan pedangnya, lupa bahwa yang diserangnya dengan maksud membunuh itu adalah seorang wanita, keponakan dari Kapten Charles Elliot pula! Akan tetapi, tanpa banyak kesulitan, Diana mengelak dan pedang itu hanya mengenai angin belaka.

Peter bukan seorang lemah. Dia adalah seorang ahli tinju, juga ahli pedang. Begitu pedangnya luput dari sasaran, secepat kilat pergelangan tangannya membuat pedang membalik, kini menusuk ke arah dada. Kalau pedang itu sampai mengenai sasaran, tentu bagian lunak di antara payudara Diana akan tertembus dan pedang akan menembus jantung dan paru-paru!

Akan tetapi, kembali dengan gerakan ringan sekali, Diana miringkan tubuhnya dan tusukan itupun luput. Peter menjadi semakin penasaran dan pedangnya kini menyambar-nyambar menusuk, membacok, membabat, menusuk lagi bertubi-tubi. Namun, semua serangannya dapat dielakkan dengan mudah oleh Diana yang mempergunakan gerak langkah Bintang Sakti seperti yang dipelajarinya dari San-tok. Karena serangannya selalu gagal, Peter menjadi semakin berang.

“Perempuan iblis... sekali ini mampus kau!” bentaknya, dan pedangnya menusuk ke arah perut Diana, tangan kirinya menyusul dengan cengkeraman ke arah muka gadis itu!

Serangan ini hebat sekali, dilakukan dengan tenaga sepenuhnya dan cepat bukan main. Diana sudah siap menyambut serangan itu. Tubuhnya miring sehingga pedang menusuk lewat di dekat ambung, tangan kirinya cepat maju mengetuk siku Peter dan tangan kanannya menangkap pergelangan tangan yang mencengkeram mukanya sambil mengelak.

“Plakk!”

Siku itu tertekuk dan seketika Peter merasa tangan kirinya lumpuh, pedangnya terlepas.

Pada saat itu, Diana melanjutkan tangan kirinya memukul ke arah pundak Peter dan tangan kanannya yang menangkap pergelangan tangan kiri itu menarik dengan sentakan kuat.

“Krekk!”

Pukulan tangan miring itu berhasil mematahkan tulang pundak Peter, dan ketika Diana melepaskan tendangan yang mengenai perut Peter yang agak gendut, tubuh itu terjengkang dan terbanting keras! Diana berdiri saja bertolak pinggang, memandang sambil tersenyum simpul. Hatinya merasa gembira sekali, bahwa ia telah dapat memberi hajaran kepada orang yang pernah menyakiti hatinya ini. Hajaran untuk membalas bagi dirinya sendiri, juga bagi banyak pejuang yang telah menjadi korban keganasan Peter dan kaki tangannya.

Peter merintih-rintih. Pundak kanannya yang patah tulangnya terasa nyeri sekali kalau tubuhnya digerakkan. Dia memaksa diri bangkit duduk, dan tangan kirinya melepaskan kancing bajunya. Diana mengira bahwa Peter melepas kancing baju agar rasa nyeri di pundaknya berkurang karena bajunya menjadi longgar. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika dengan cepat, tangan kiri Peter merogoh ke dalam, dan kini keluar sambil mengacungkan sebuah pistol.

Diana hendak meloncat ke depan dan menyerang, akan tetapi dengan sigapnya, Peter sudah menodongkan moncong pistol itu, lalu perlahan-lahan bangkit. “Angkat tangan!”

Melihat Diana meragu, Peter membentak lagi.

“Angkat tangan atau... akan kuhancurkan kepalamu dengan peluru pistolku. Angkat tangan!”

Diana maklum bahwa sekali ini ia tidak berdaya. Kalau ia nekat menyerang, tentu ia tidak akan mungkin dapat mendahului cepatnya sambaran peluru dari jarak yang hanya empat meter itu. Ia tidak mau mati konyol, maka iapun mengangkat kedua tangannya atas sambil tersenyum mengejek.

“Lihat kegagahan tuan Peter Dull, menodong seorang wanita dengan pistol walaupun dia mampu menggunakan kaki tangannya dan pedangnya.”

“Tutup mulutmu… dan jangan kira aku tidak akan berani menembakkan pistolku ini untuk merobek-tobek tubuhmu!”

“Ingat, tuan. Aku adalah keponakan Kapten Charless Elliot!” Diana mengejek, sedikitpun tidak nampak gentar.

“Huhh… keponakan yang sudah menyeleweng, sudah berubah menjadi pengkhianat. Ingat, engkau datang sebagai mata-mata pemberontak! Lihat saja pakaianmu, kalau kutembak mampus engkau sebagai mata-mata pemberontak, siapa yang akan meriyalahkan aku!”

“Nah, tuan Peter Dull yang gagah perkasa…. kalau begitu, tembaklah aku.

Kau kira aku takut mati?”

Diana menantang, akan tetapi ia tidak berani menyerang, karena ia maklum bahwa hal itu berarti mati konyol.

“Tidak begitu mudah, Diana. Engkau harus melayaniku, mau atau tidak.

Hayo cepat kaubuka pakaianmu itu. Cepat kataku!”

Moncong pistol itu mengancam dan kini Peter Dull sudah berdiri dan melangkah maju. Diana mengukur jarak. Terlalu berbahaya untuk turun tangan, pikirnya. Sebaiknya mengacau perhatian Peter, dan mendekatinya sedapat mungkin. Ia tersenyum mengejek, akan tetapi jari-jari tangannya bergerak ke arah kancing bajunya, matanya tak pernah berkedip menatap wajah Peter.

Dengan sengaja, Diana melepas kancing bajunya satu-satu dengan perlahan-lahan, sedikit demi sedikit membiarkan tubuhnya terbuka dan penutupnya seperti seorang penari telanjang sedang bergaya. Hal ini memang disengaja dan merupakan siasatnya. Memang ia berhasil, karena sepasang mata Peter semakin lama semakin melotot dan kemerahan melihat tubuh yang putih mulus itu sedikit demi sedikit nampak.

Setelah Diana mennanggalkan bajunya sehingga nampak seluruh tubuh bagian atas, berkali-kali Peter menelan ludah dan dia tidak sadar betapa tadi, ketika membuka bajunya, sedikit demi sedikit kaki Diana mendekat sehingga jarak antara mereka tinggal dua meter lagi.

Mulai menggigil tubuh Peter dirangsang gairah berahi. Melihat betapa Diana menghentikan gerakannya melepaskan pakaian, dengan suara parau Peter berkata.

“Teruskan... teruskan, Diana, tanggalkan semua pakaianmu. Celana itu!”

Napasnya terengah-engah. Diana tersenyum, membayangkan kemenangan terakhir. Kedua tangannya, dengan jari-jari yang panjang, dengan lembut menyentuh ikat pinggangnya lalu perlahan-lahan melepaskan ikat pinggang itu, ikat pinggang yang mengikat celana suteranya, kakinya bergeser sedikit demi sedikit, dan setelah jarak antara mereka tinggal satu meter lebih, tangan Diana bergerak, ujung ikat pinggang menyambar arah pergelangan tangan Peter yang memegang pistol. “Prattt!!”

Ujung ikat pinggang itu menyengat seperti unjung cambuk baja dan pistol itu terlepas dari tangan Peter, jatuh ke atas lantai dan disepak oleh kaki Diana sampai terlempar jauh.

“Dessss!”

Saking marahnya, Diana menendang dengan pengerahan tenaga, dan tubuh Peter terlempar menabrak dinding.

“Brukkkk!”

Seperti pecah rasa kepala Peter ketika kepalanya tertumbuk pada dinding, dan dunia seperti dilanda gempa yang hebat. Dia mengerang kesakitan dan memejamkan matanya. Akan tetapi ketika peningnya hilang dan dia membuka mata melihat Diana masih berdiri dan mulai mengenakan lagi pakaiannya, tiba- tiba dia meloncat berdiri, dan ketika tangan kirinya meraih ke balik bajunya, kembali tangan kirinya telah memegang sebuah pistol kecil!

“Darr...!”

Diana terkejut bukan main. Pundaknya terasa panas karena pangkal lengannya di tembus peluru! Nyeri, pedih dan panas rasanya. Tak disangkanya bahwa Peter masih memiliki sebuah pistol lain yang kecil akan tetapi cukup berbahaya.

“Perempuan keparat!”

Peter memaki, menggunakan punggung tangan kanannya yang lumpuh mengusap darah dan mulutnya, matanya liar seperti mata binatang buas.

“Peluru itu hanya peringatan saja. Peluru kedua akan menembus dadamu atau kepalaanmu. Pekerjaanmu belum selesai. Hayo lepaskan celanamu!”

Peter kini amat marah dan benci kepada Diana, mengambil keputusan untuk menghina wanita itu sepuas hatinya sebelum membunuhnya. Ya, dia akan membunuhnya, membalas dendam atas semua luka dan penghinaan yang dialaminya sekarang.

Diana maklum bahwa Peter tidak akan mengampuninya. Ia dapat menduga bahwa akhirnya Peter akan membunuhnya dengan pistol itu. Ia merasa menyesal mengapa ia memandang rendah kepada Peter yang ternyata cerdik bukan main. Kalau ia tahu bahwa Peter masih mempunyai sebuah simpanan pistol lain, tentu akan dibunuhnya orang itu tadi. Kini, sukarlah mengharapkan kesempatan untuk dapat merobohkan Peter lagi, karena tentu dia sudah siap siaga dan waspada.

“Manusia hina, jangan mengira bahwa aku akan sudi menuruti kemauanmu. Kalau engkau hendak membunuhku… bunuh saja. Siapa sudi membuka pakaian untukmu?”

Dan Diana pun kini bahkan mengenakan kembali bajunya dengan sikap yang santai dan tenang. Melihat sikap Diana, Peter juga maklum bahwa dia tidak mungkin memaksa Diana. Tak mungkin memperkosa wanita yang seperti harimau betina itu, dan tidak ada cara baginya untuk menangkap dan membelenggunya. Pula, tubuh dan hatinya sudah sakit sekali, melenyapkan semua nafsu berahinya yang tadi berkobar. Dia lalu mengacungkan pistolnya membidik ke arah kepala Diana.

“Diana Mitchel! bersiaplah untuk mampus!”

Tangannya yang teguh itu memegang pistol dengan kuat, jari-jarinya mencengkeram erat dan jari telunjuknya siap menarik pelatuk.

Diana maklum bahwa tidak ada harapan untuk meloloskan diri, maka iapun berdiri tegak sambil memandang kepada Peter dengan sinar mata tajam menusuk, bibirnya masih tersenyum mengejek, siap menghadapi kematian dengan tabah dan gagah seperti yang ia lihat pada diri semua pendekar yang dikaguminya.

“Darrr!”

Tubuh itu melonjak dan terpelanting jatuh, menggelepar sebentar lalu terdiam.

Diana menoleh, dan seperti dalam mimpi melihat munculnya seorang sersan muda dari ambang pintu, memegang sebuah pistol yang masih mengepulkan asap. Sejenak mereka berpandangan. Lalu Diana berlari maju menghampiri sambil mengembangkan kedua lengannya.

“Johnny? Johnny… kau kaukah ini...?” “Diana…!”

Mereka saling tubruk, saling rangkul, berciuman, dan Diana terisak-isak menangis. Hampir ia tidak percaya. Baru saja ia lolos dan maut, dan penolongnya, orang yang mendahului Peter dan menembaknya adalah Johnny, kekasihnya yang terpaksa ditinggalkannya karena orang tuanya tidak menyetujui perjodohan antara ia dan pemuda itu.

“Diana, aku masuk tentara untuk menyusulmu dan aku.... tidak tahan melihat tingkahnya terhadap dirimu... kau pergilah, Diana. Cepat pergilah… biar aku yang bertanggung jawab atas kematiannya!”

Tanpa melepaskan rangkulannya, Diana berkata diantara isaknya.

“Tidak! Aku tidak ingin melihat engkau berkorban. Engkau tentu akan dihukum, mungkin selama hidup, mungkin hukuman mati. Tidak, mari kita pergi berdua.”

Diana cepat melepaskan rangkulannya dan mengambil pistol yang terlepas dari tangan Peter yang kini menggeletak tak bernyawa itu.

“Kita bersenjata, mari kita pergi, Johnny...”

“Kau ingin melihat aku mengkhianati bangsa kita sendiri, Diana? Mana mungkin?”

“Tidak… kita lari untuk menyelamatkan diri, bukan untuk berkhianat. Kelak kuceritakan semua tentang perjalananku, Johnny, dan engkau akan mengetahui segalanya tentang perjuangan rakyat di sini ”

Akan tetapi Johnny kelihatan masih ragu-ragu dan berat untuk melarikan diri. Dia tentu akan dituduh pengkhianat dan pemberontak.

“Tenanglah, Diana. Mari kita hadapi semua ini berdua, kita ceritakan apa yang sebenarnya terjadi, betapa Peter telah menghinamu dan betapa dengan terpaksa aku harus menembaknya untuk menyelamatkan dirimu yang sudah berada di ambang maut itu.”

“Tapi, kau tentu akan dihukum…”

Pada saat itu, nampak bayangan berkelebat yang turun dan atas atap, dan di situ berdirilah seorang kakek.

“Suhu…!”

Diana berseru kaget dan masih menangis.

“Diana, inikah kekasihmu yang pemah kauceritakan kepadaku itu?” “Benar, suhu. Dialah Johnny, kekasihku… dan dia pula yang tadi

menyelamatkan nyawaku, akan tetapi kini kita berada dalam kesukaran, suhu. Kita tentu akan ditangkap dan dihukum!”

“Diana, siapakah orang tua ini?” tanya Johnny, bingung dan terkejut melihat betapa ada orang muncul begitu saja, melayang dari atas seperti setan. Kakek itu sudah tua sekali, tentu lebih dan tujuh puluh tuhun usianya, bertubuh kurus dan pakaiannya, biarpun bersih, penuh tambalan soperti pakalan pengemis, memegang sebuah kipas yang digoyang-goyangkan mengenai tubuhnya sambil tersenyum-senyum.

“Jhonny, kakek ini seorang sakti, guruku yang berjuluk San-tok.” Diana memperkenalkan.

“Dengar kalian baik-baik. Akulah yang akan mengakui pembunuhan terhadap komandan ini, dan kalian pura-pura lari ketakutan dari ruangan ini. Sudah, Diana… jangan membantah, ini perintahku. Larilah atau aku akan bersungguh-sungguh menghajar kalian!”

Dengan cepat Diana menterjemahkan kata-kata kakek itu kepada kekasihnya yang menjadi terheran-heran. Akan tetapi kakek itu kini sudah maju dan melakukan tendangan dua kali dengan kakinya. Diana dapat mengelak, tetapi Johnny terkena tendangan dan tubuhnya jatuh terguling-guling! Dia semakin terkejut, akan tetapi Diana sudah menyambar lengannya dan ditaniknya pemuda itu untuk melarikan diri.

“Mari kita lari…!” katanya, maklum akan keanehan watak gurunya yang mungkin akan benar-benar mengamuk dan menghajar mereka berdua.

Mereka berlari keluar dan dalam ruangan itu, hampir bertabrakan dengan para penjaga yang sudah beriarian datang karena mereka tadi mendengar tembakan-tembakan. Melihat betapa Sersan Johnny dan Diana bergandengan tangan dan berlarian seperti orang ketakutan, mereka terheran-heran.

“Apa yang terjadi?” tanya mereka.

“Kapten terbunuh!” kata Johny masih gugup dan bingung karena perubahan yang terjadi dengan tiba-tiba dan tak disangka-sangka itu.

Para penjaga terkejut bukan main, dan mereka beriari-larian memasuki ruangan itu dengan senjata api di tangan. Dan mereka melihat seorang kakek aneh berdiri di dalam ruangan, memegang pistol dan tiba-tiba kakek itu menembak ke sana-sini dengan pistol itu. Mereka terkejut dan cepat berlindung dan siap untuk balas menembak. Akan tetapi, kakek itu menembak terus membabi buta sampai semua peluru habis dari dalam pistol itu, lalu terdengar dia tertawa-tawa.

Ketika para penjaga menyerbu ke dalam dengan pistol di tangan, ternyata ruangan itu sudah sunyi. Peter Dull masih menggeletak tak bernyawa lagi, dan kakek yang tadi mengamuk dengan pistol itu sudah lenyap tanpa meninggalkan jejak. Hanya atap dan genteng di atas ruangan itu terbuka lebar, sehingga semua orang dapat menduga bahwa kakek aneh itu tentu melarikan diri melalui atap.

Tentu saja peristiwa itu menggemparkan. Dan Diana bersama Johnny yang tentu saja dihujani pertanyaan itu, hanya mengatakan bahwa selagi mereka bercakap-cakap dengan Peter Dull, tiba-tiba muncul kakek itu yang diserang oleh Peter dengan pistol. Akan tetapi kakek itu mampu merampas pistol dan menembak Peter, bahkan mereka berdua tentu akan tewas kalau tidak keburu melarikan diri.

Dapat dibayangkan betapa girangnya hati Diana ketika mendapat kenyataan bahwa pamannya, Kapten Charles Elliot, masih berada di Kanton, dan ia hanya dibohongi saja oleh Peter yang memiliki niat buruk terhadap dininya. Ia lalu pergi menghadap pamannya bersama Jhonny, dan mereka disambut dengan gembira. Keluarga Elliot tadinya mengira bahwa Diana telah meninggal dunia, maka kemunculannya tentu saja amat menggirangkan hati mereka. Diana menceritakan semua pengalamannya tentang perlakuan Peter yang tidak patut, dan pengalamannya hidup di antara para pendekar memperjuangkan kemerdekaan tanah airnya. Ia mengulang kembali pendapatnya seperti yang pernah ia nyatakan kepada Peter tentang kekeliruan sikap balatentara kulit putih terhadap para pejuang.

“Para pejuang itu adalah pendekar-pendekar gagah perkasa, paman,” demikian antara lain Diana berkata kepada pamannya.

“Mereka memperjuangkan kemerdekaan dan memusuhi pemerintah penjajah Bangsa Mancu. Mereka tidak memusuhi kita, hanya tentu saja mereka menentang cara perdagangan kita yang memasukkan candu sehingga merusak kesehatan lahir batin rakyat. Kenapa kita harus membantu pemerintah penjajah sehingga menimbulkan kebencian di hati rakyat terhadap kita? Kalau kita ingin berdagang sehingga kelak mendatangkan hasil baik, kurasa jalan satu-satunya adalah bersahabat dengan rakyat, karena aku yakin, pada suatu waktu, pemerintah penjajah akan terguling.”

Kapten Charles elliot mendengarkan semua cerita Diana dengan penuh kegum. Keponakannya ini seorang gadis kulit putih, dapat hidup sampai hampir dua tahun di antara para pemberontak itu, tanpa terganggu, sungguh merupakan peristiwa yang ajaib. Dan dia kagum terhadap keponakannya. Diapun dapat menerima semua pendapat yang dikemukakan gadis itu.

“Bagaimanapun juga, Diana… urusan politik tidak ditentukan oleh kita. Tugasku hanya melaksanakan perintah atasan saja, politik dan sikap kita terhadap negara ini sudah ditentukan oleh pemerintah kita di Inggeris, setidaknya oleh perwakilan pemerintah kita di India. Bagaimana aku berani merobah politik itu.”

“Akan tetapi, paman memiliki kekuasaan disini, setidaknya paman dapat menjelaskan akan kekeliruan sikap itu kepada atasan paman.”

Kapten tua itu menggeleng kepala.

“Tugas bawahan hanyalah mentaati dan melaksanakan perintah atasan, bukannya membantah atau memberi saran, Diana. Politik adalah permainan orang-orang besar, bukan permainan militer seperti aku ini.”

Diana merasa penasaran sekali.

“Kalau begitu, biarlah aku sendiri yang akan membujuk para pembesar yang berwenang di sana?”

Beberapa hari kemudian, Diana bersama Johnny, setelah mendapat perkenan dari Kapten Charles Elliot, berangkat menuju ke Inggeris, dan Diana berjuang untuk sahabat-sahabatnya yang ditinggalkan, demi kepentingan perjuangan mereka.

Bukan tidak ada manfaatnya tindakan Diana ini, karena sedikit banyak semua pendapatnya mempengaruhi para pejabat yang berwenang, membuat mereka mengerti akan keadaan para pejuang dan dapat menentukan sikap demi keuntungan masa depan dan bangsa mereka yang melakukan perdagangan di timur laut.

Orang tua Diana juga tidak berkeberatan lagi akan pilihan hati Diana, maka Johnny pun diterima sebagai tunangan dan calon suami Diana.

Kegagalan Lee Song Kim membuat kedudukan pemuda ini mulai goyah. Biarpun kebebasan para tawanan itu tidak dapat disalahkan kepada Lee Song Kim, namun para pembesar Mancu mulai merasa curiga terhadap pemuda ini, dan menyalahkan dia mengapa para tawanan itu tidak cepat dibunuh saja sebelum berhasil melarikan diri.

Song Kim tidak dapat banyak membantah, karena untuk dapat menangkap para pimpinan pemberontak itu sekali lagi merupakan hal yang amat sukar, bahkan tidak mungkin sama sekali. Siasatnya yang lalu telah berhasil baik, membuat dia dipercaya oleh kaum pejuang sehingga dia dapat memancing para pimpinan itu untuk berkumpul lalu dikepung dan ditangkap. Akan tetapi, siapa kira, setelah mereka itu tertawan, mereka dapat lolos walaupun penjagaan amat kuatnya! Tak disangkanya bahwa Koan Jit, orang yang pernah menjadi kaki tangan orang kulit putih itulah yang akhirnya membebaskan para tawanan dengan mengorbankan dirinya.

Melihat keadaan dirinya yang mulai kehilangan kepercayaan di pihak para pembesar kota raja, Song Kim mencari akal untuk memulihkan kedudukannya. Diam-diam dia mulai bersekutu dengan dua orang tokoh penting dan Pek-lian- pai dan Pat-kwa-pai! Permainan Song Kim sekali ini amat berbahaya, akan tetapi dia berhati-hati sekali. Dengan cerdik dia mendekati dua orang tokoh perkumpulan yang menjadi musuh besar kerajaan, dengan maksud bahwa kalau sampai kedudukannya tak dapat dipertahankan lagi, dengan mudah dia mencari pengaruh di kalangan dua perkumpulan besar itu.

Song Kim memang memiliki ambisi besar untuk memperoleh kedudukan yang tinggi dan kekuasaan yang besar. Dan pada suatu hari, dia mengajukan pinangan atas diri Ceng-hiang kepada Pangeran Ceng Tiu Ong! Perbuatan yang teramat berani! Biarpun ia telah menjadi seorang panglima muda, akan tetapi dia seorang militer biasa saja, tidak berdarah bangsawan, bukan keturunan Mancu, dan dia berani mengajukan pinangan atas diri puteri seorang pangeran.

Song Kim bukan hanya tergila-gila kepada kecantikan Ceng Hiang, akan tetapi juga dia melihat keuntungan besar kalau saja dia dapat menjadi suami puteri tu. Sebagai mantu seorang pangeran, yang juga memiliki kedudukan tinggi sebagai pengurus perpustakaan istana, tentu saja derajatnya akan naik dan akan lebih mudah baginya untuk memperoleh kedudukan yang lebih penting dan tinggi.

Akani tetapi mudah saja diduga. Pinangan itu ditolak, bahkan Pangeran Ceng Tiu Ong yang sudah mendengar akan ulah Lee Song Kim dari puterinya, menolak dengan keras dan dengan jawaban yang ketus terhadap utusan Song Kim. Hal ini membuat Song marah dan merasa sakit hati.

Dan pada suatu hari, gegerlah di kalangan pembesar kota raja, karena Pangeran Ceng Tiu Ong ditangkap oleh pasukan keamanan dengan tuduhan bersekongkol dengan pemberontak! Tentu saja hal ini terjadi karena ulah Lee Song Kim yang melaporkan bahwa pangeran itu mempunyai hubungan dengan Hai-tok, seorang di antara pimpinan para pemberontak, bahkan puteri dan Hai- tok yang bernama Tang Ki pernah bersembunyi di dalam gedung keluarga Ceng.

Di dalam pemeriksaan, Pangeran Ceng Tiu Ong tidak menyangkal bahwa dia memang mengenal Kiki puteri Hai-tok, akan tetapi membantah keras bahwa dia bersekongkol dengan pomberontak.

“Kapal kami dibajak oleh puteri Hai-tok itu, dan saya tentu telah tewas dilempar ke laut kalau tidak diselamatkan oleh Kiki. Kemudian, gadis itu mengembalikan kitab-kitab kuno. Apakah saya harus menangkapnya setelah ia menyelamatkan saya dan mengembalikan kitab-kitab penting? Akan tetapi, hal itu bukan berarti bahwa saya lalu bersekongkol dengan pemberontak. Itu adalah fitnah belaka.” antara lain dia membantah.

Namun, pengakuannya bahwa dia mengenal baik puteri Hai-tok, bahkan gadis pemberontak itu pernah menjadi tamunya, tentu saja membuat hakim menjadi curiga dan menahan pangeran mi didalam penjara.

Tentu Saja Ceng Hiang menjadi khawatir dan berduka sekali. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Memang manjadi kenyataan bahwa keluarganya bersikap baik terhadap Kiki, dan menjadi kenyataan pula bahwa Kiki adalah seorang gadis bahkan tokoh pemberontak. Ayahnya memang tidak memusuhi pemberontak-pemberontak, karena ayahnya, seperti ia sendiri, tahu bahwa mereka itu sebenarnya adalah pejuang-pejuang, para patriot dan pendekar yang gagah perkasa.

Beberapa hari setelah Pangeran Ceng Tiu Ong ditangkap, pada suatu malam yang sunyi, Ceng Hiang mendengar gerakan orang di luar kamarnya. Ia cepat memadamkan lampu dan berkelebat melalui jendela, terus melayang ke atas genteng rumahnya. Ia melihat dua sosok bayangan orang bergerak cepat. Ketika dua bayangan orang itu tiba di bawah lampu yang tergantung di sudut, Ceng Hiang girang sekali.

“Tan-taihiap...!”

Ceng Hiang segera mengenal wajah Ci Kong, dan walaupun ia tidak mengenal siapa adanya wanita cantik dan gagah yang datang bersama Ci Kong. Ia percaya bahwa tentu wanita cantik itu sahabat Ci Kong dan merupakan seorang pendekar pula. Gadis yang datang bersama Ci Kong itu memang seorang pendekar wanita, karena ia adalah Siauw Lian Hong.

Berita tentang ditangkapnya Pangeran Ceng Tiu Ong tentu saja tersiar luas dan terdengar pula oleh Ci Kong. Pendekar itu maklum siapa adanya Pangeran Ceng Tiu Ong, seorang pangeran yang memiliki pendapat yang gagah dan adil, bahkan puterinya masih murid dari keturunan keluarga Pulau Es, merupakan ahli waris ilmu keluarga Pulau Es. Hal ini saja sudah menarik hatinya dan timbul keinginannya untuk menyelidiki apa yang sebenarnya telah terjadi. Dia sudah diperkenalkan oleh Kiki kepada Ceng Hiang, gadis yang pernah membuatnya termenung dan terkenang selama beberapa hari, karena dia terpesona oleh kecantikan dan kegagahan gadis bangsawan itu. Dan kini ayahnya telah ditangkap, kabarnya dituduh bersekongkol dengan para pejuang.

Tentu saja hatinya menjadi tertarik sekali dan timbullah keinginan hatinya untuk mengunjungi ramah gedung keluarga itu. Kerena dia memandang perlu kalau membawa teman yang boleh diandalkan, maka setelah menceritakan Ceng Hiang dan orang tuanya kepada Lian Hong, dia lalu mengajak gadis ini untuk berkunjung pada malam hari itu.

Lian Hong sendiri sudah tertarik ketika mendengar bahwa puteri Pangeran Ceng itu adalah murid keluarga Pulau Es yang pernah didengarnya seperti dalam dongeng itu, dan berita bahwa pangeran itu ditangkap dengan tuduhan bersekongkol dengan para pejuang juga sudah menimbulkan perasaan suka setia kawan di dalam hatinya.

Lian Hong memandang kagum ketika melihat bahwa gadis bangsawan yang menjadi ahli waris ilmu silat keluarga Pulau Es itu ternyata demikian lihainya, sehingga sudah mengetahui akan kedatangan mereka, bahkan telah mengenal Ci Kong dari atas genteng.

“Ceng-siocia (nona Ceng), kami sengaja datang berkunjung padamu,” Ci Kong berkata. Bayangan langsing di atas genteng itu lalu melayang turun dan untuk ke dua kalinya Lian Hong memandang kagum, bukan hanya melihat keringanan tubuh itu, melainkan kini ia dapat melihat wajah yang luar biasa cantiknya. Kulit muka itu demikian halusnya, putih kemerahan dan lembut seperti wajah Kwan Im Pouwsat saja, dan gerak-geriknya demikian halus, pandang matanya demikian jernih dan berwibawa walaupun pada saat itu ada bayangan duka di matanya yang indah.

“Ceng-siocia, kami mendengar…”

“Silahkan masuk, Tan-taihiap… dan kita bicara di dalam,” Ceng Hiang memotong dengan sikap tenang namun suaranya berpengaruh.

Ci Kong mengangguk dan bersama Lian Hong, dia mengikuti gadis bangsawan itu memasuki ruangan belakang, dan dan situ terus menembus ke ruangan tengah dimana terdapat sebuah meja dan beberapa kursi mengelilinginya. Mereka mengambil tempat duduk di ruangan itu.

“Ceng-siocia, perkenalkan, ini adalah nona Siauw Lian Hong, seorang di antara tokoh muda pejuang. Hong-moi, ini adalah nona Ceng Hiang seperti yang sudah kuceritakari kepadamu.”

Dua orang gadis itu bangkit dan saling memberi hormat. Ceng Hiang memandang kagum kepada Lian Hong.

“Semuda ini sudah menjadi seorang pendekar dan pejuang yang gagah perkasa. Sungguh aku merasa iri hati kepadamu, adik Lian Hong. Aku tidak mungkin dapat sebebas engkau dalam menentukan langkah hidup, terkekang oleh keadaan.”

“Engkau terlalu memuji, Ceng-siocia. Sebaliknya, aku sudah mendengar bahwa engkau adalah seorang gadis bangsawan yang memiliki ilmu kepandaian luar biasa tingginya.”

“Adik lian Hong, harap engkau jangan bersikap sungkan, dan sebut saja enci kepadaku. Dan engkau juga, Tan-taihiap, jangan menyebut siocia. Sebut saja adik, bukankah kita ini adalah orang-orang dengan kegemaran yang sama? Aku akan menyebutmu toako.”

“Baiklah, Ceng-moi,” kata Ci Kong dengan hati girang bukan main, juga merasa bangga karena gadis bangsawan tinggi itu mau memandangnya sebagai orang dengan derajat yang sama.

“Dan harap sekarang suka kau ceritakan tentang peristawa yang menimpa keluargamu. Sebenarnya, apakah yang telah terjadi?”

“Ayah ditangkap karena fitnah orang, dituduh bersekutu dengan Hai-tok dan puterinya. Seperti engkau tahu, Tan-toako, Kiki pernah menjadi tamuku dan ia memang sahabat baikku. Akan tetapi hubungan antara ia dan kami sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan perjuanan menentang pemerintah. Tentu saja ayah tidak menyangkal bahwa kami mengenal Kiki, akan tetapi menolak tuduhan bahwa kami kami bersekongkol untuk memberontak.”

“Ketika Kiki datang sebagai tamu keluargamu, apakah ada orang luar yang mengetahuinya?” Ci Kong bertanya sambil berpikir keras.

“Tidak ada, dan Kiki tidak tinggal lama di sini. Tak seorangpun tahu bahwa ia adalah puteri Hai-tok yang pernah membajak kapal ayah.”

“Ah, tak salah lagi. Tentu ini perbuatan Lee Song Kim!” Ci Kong berseru. “Siapa lagi kalau bukan dia! Dialah yang mengetahui akan persahabatanmu

dengan Kiki!”

“Lee Song Kim lagi? Jahanam itu sungguh menjemukan!” Lian Hong juga berseru marah. Ceng Hiang mengangguk. “Dugaanmu memang tepat, toako. Akupun sudah menduga demikian dan melakukan penyelidikan. Memang benar dialah yang melapor kepada panglima pasukan keamanan setelah pinangannya terhadap diriku ditolak ayah dengan keras. Akan tetapi, apa yang harus kulakukan? Dia adalah seorang panglima, dan ayah sendiri telah mengaku bahwa kami mengenal Kiki walaupun tidak ada hubungan persekongkolan apa-apa. Hal itu saja cukup untuk mendatangkan kecurigaan dalam hati panglima itu sehingga ayah ditahan.”

“Apakah tidak ada usaha sama sekali darimu untuk menolong ayahmu?” tanya Lian Hong

“Sudah, dan jalan satu-satunya bagiku hanyalah minta bantuan seorang yang dekat dengan istana, minta pengampunan dari kaisar mengingat akan jasa-jasa ayahku. Mudah-mudahan saja usahanya itu berhasil, dan kalau kaisar sendiri yang mengampuni ayah, maka tentu dia akan dibebaskan, karena tidak ada bukti bahwa ayah berkhianat atau memberontak.”

“Apakah berita yang terakhir kita dengar tentang hubungan Song Kim dengan tosu-tosu Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai itu tidak ada gunanya untuk menolong ayah enci Ceng Hiang?” tiba-tiba Lian Hong bertanya.

Ci Kong menepuk meja.

“Benar! Cara yang baik sekali untuk mencairkan fitnah adalah membuktikan bahwa si pelempar fitnah itu sendirilah yang kotor! Song Kim menuduh Pangeran Ceng bersekongkol dengan pemberontak, kalau kemudian terbukti oleh yang berwajib bahwa dia sendiri yang bersekongkol dengan pemberontak, maka dengan sendirinya fitnahnya menjadi lemah. Kita harus dapat mengatur agar komandan pasukan keamanan sendiri yang melihat bukti persekongkolannya dengan Pat-kwa-pai dan Pek-lian-pai.”

Tentu saja Ceng Hiang menjadi girang. “Benarkah itu?”

Mereka bertiga lalu mengatur siasat. Ci Kong dan Lian Hong akan melakukan penyelidikan dan membayangi gerak-gerik Song Kim dan dua orang tosu dan Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai itu. Kemudian mereka akan cepat mengabarkan kepada Ceng Hiang, dan gadis bangsawan inilah yang akan menyampaikan berita itu kepada panglima pasukan keamanan agar Song Kim dapat tertangkap basah selagi mengadakan pertemuan dengan para pimpinan pemberontak yang sejak puluhan tahun menjadi musuh besar pemerintah itu. Akan tetapi, Pat-kwa-pai dan Pek-lian-pai mempunyai pergerakan yang sejalan dengan perjuangan kita, yaitu menentang pemerintah penjajah,” kata Lian Hong sambil memandang Ci Kong dengan pandang mata tajam.

“Kalau kini kita menentang mereka, bukankah hal itu berarti suatu pengkhianatan dari kita terhadap rekan-rekan seperjuangan?”

“Aih! Aku tidak ingin kalian menjadi pengkhianat demi menyelamatkan ayahku!” kata Geng Hiang sambil memandang cemas.

“Jangan khawatir Ceng-moi. Tidak ada pengkhianatan di sin.”

Ci Kong berkata cepat ketika melihat Ceng Hiang berkhawatir, lalu dia memandang Lian Hong.

“Sejak dahulu, tidak ada hubungan antara kita dengan Pek-lian-pai maupun Pat-kwa-pai. Bahkan kaum pendekar selalu menentang mereka karena mereka itu mengelabuhi rakyat dan melakukan bermacam kejahatan dengan kedok agama dan perjuangan. Memang benar mereka itu memusuhi pemerintah, akan tetapi permusuhan itu timbul bukan karena semangat kepatriotan mereka, melainkan karena pemerintah memusuhi mereka sebagai akibat dan kejahatan- kejahatan yang mereka lakukan. Tidak, Hong-moi, kita sama sekali bukanlah rekan-rekan Pek-lian-pai maupun Pat-kwa-pai! Pula, apa yang akan kita lakukan sama sekali bukan ditujukan untuk menentang atau merugikan perkumpulan-perkumpulan itu dalam permusuhan mereka dengan pemerintah, melainkan untuk menjebak dan menjatuhkan Lee Song Kim! Bukan kita tujukan untuk memusuhi mereka!”

Lian Hong memandang heran. Ci Kong demikian penuh semangat untuk menyelamatkan ayah Ceng Hiang, dan tiba-tiba terasa sesuatu yang tidak enak di dalam hatinya. Cara Ci Kong membela, cara pemuda itu memandang Ceng Hiang, sungguh belum pernah ia melihat Ci Kong memandang wajah seorang gadis seperti itu!

“Terserah, aku hanya mengingatkan,” katanya sambil menarik napas panjang dan hatinya merasa semakin tidak enak ketika tiba-tiba Ceng Hiang merangkulnya.

“Adik Lian Hong, maukah engkau membantuku? Lihat, aku sendiri puteri seorang pangeran, akan tetapi aku tidak pernah memusuhi para pejuang, bahkan ayahku juga bersimpati kepada mereka. Kini ayahku terkena musibah, kepada siapa lagi kalau bukan kepada para pendekar seperti kalian aku memalingkan muka mengharapkan uluran tangan dan bantuan.”

Lian Hong memandang wajah yang cantik sekali itu, dan melihat betapa kedua mata Ceng Hiang membasah. Iapun merasa kasihan dan mengangguk, sejenak melupakan perasaan tidak enak yang timbul karena cemburu tadi.

Setelah bercakap-cakap mengatur rencana siasat mereka, Lian Hong dan Ci Kong lalu berpamit. Mereka meninggalkan tempat itu setelah kembali Lian Hong melihat sinar mata aneh memancar dan kedua mata Ci Kong. Mereka pergi seperti ketika mereka datang, yaitu dengan diam-diam, melalui jalan gelap sehingga tidak ada seorangpun melihat kunjungan mereka kecuali Ceng Hiang.

Ketika para pengawal melaporkan akan kedatangan nona Ceng Hiang yang meminta dengan sangat agar dia suka menerimanya untuk membicarakan urusan penting, Ciong Goanswe (Jenderal Ciong) yang bernama Ciong Ti itu mengerutkan alisnya. Dialah panglima pasukan keamanan di kota raja, dan dia pula yang menangkap Pangeran Ceng Tiu Ong atas laporan Lee Song Kim bahwa pangeran itu bersekongkol dengan pemberontak.

Ciong Goanswe adalah seorang panglima yang berwatak keras, jujur dan berdisiplin. Dia mengenal baik Pangeran Ceng, akan tetapi biarpun dia mengenal pangeran itu sebagal seorang pejabat tinggi yang baik dan jujur, pula setia, terpaksa dia turun tangan melakukan penangkapan atas pelaporan Lee Song Kim, karena pada waktu itu, bersekongkol dengan pcmberontak merupakan dosa terbesar. Dia percaya pula bahwa pangeran itu tidak bermaksud memberontak dan hanya kebetulan mengenal seorang gadis pemberontak, akan tetapi hal ini saja cukup untuk memaksa dia melakukan penahanan, karena kalau tidak, tentu dia akan dituduh menerima sogokan atau ‘ada apa-apa’.

Penangkapan atas diri Pangeran Ceng Tiu Ong ini yang mencuat, banyak pembesar tinggi yang jujur dan setia merasa tidak senang dan penasaran, memang merupakan peristiwa yang tidak menyenangkan hatinya, akan tetapi terpaksa dia menahan pangeran itu demi patuhnya terhadap peraturan dan hukum.

Ciong Ti berusia kurang lebih lima puluh tahun, bertubuh tinggi kurus dan memiliki sepasang mata yang lebar dan tajam, juga berwibawa. Dia mengenal pula siapa adanya Ceng Hiang, puteri tunggal Pangeran Ceng Tiu Ong. Dia tahu bahwa gadis itu adalah pewaris ilmu silat keluarga Pulau Es, seorang gadis yang amat cantik, akan tetapi juga amat lihai ilmu silatnya. Karena itu, mendengar bahwa pada siang hari itu Ceng Hiang datang dan minta bicara dengannya, dia mengerutkan alisnya dan merasa tidak tenang. Apakah maunya gadis ini datang kepadanya? Sudah pasti mengenai penahanan ayahnya, pikirnya. Apakah hendak mempergunakan kekerasan?

Pikiran inilah yang membuat Ciong Goanswe diam-diam mempersiapkan pasukan pengawalnya berjaga-jaga di sekeliling ruangan dimana dia akan menerima puteri Pangeran Ceng. Setelah itu, barulah dia mengutus pengawalnya untuk menjemput gadis itu yang menanti di ruangan tunggu.

Ceng Hiang bukan seorang gadis bodoh. Biarpun ruang tunggu yang luas itu nampak sunyi dan di situ hanya duduk Jenderal Ciong seorang diri, ia dapat menduga bahwa di sekitar tempat itu tentu telah siap siaga puluhan orang perajurit pengawal pilihan yang akan menyerbu bagaikan sekawanan lebah atas isyarat sang jenderal.

“Nona Ceng, silahkan duduk!”

Kata Ciong Ti dengan sikap ramah namun tegas. Dia kagum melihat sikap nona yang amat cantik itu. Sedikitpun tidak nampak berduka atau khawatir, melainkan melangkah dengan tegap dan dengan sikap tenang.

“Terima kasih, ciangkun (komandan),” jawab Ceng Hiang, dan setelah memberi hormat, iapun duduk berhadapan dengan jenderal itu, terhalang meja besar.

“Nah, sekarang katakanlah, apa maksud kunjungan nona ini?”

“Saya datang untuk bicara dengan ciangkun mengenai penangkapan yang dilakukan kepada ayahku.”

Ciong Ti yang sudah menduga akan jawaban ini, menarik napas panjang dan menggerakkan tangannya.

“Ahh, penangkapan ayahmu adalah urusan negara, bukan urusan pribadiku, nona. Oleh karena itu, untuk membicarakannya harus di kantor, bukan disini tempatnya. Pula, yang menangani masalah panangkapan orang- orang yang dianggap memberontak adalah kejaksaan, bukan aku.”

“Akan tetapi, penangkapan itu dilakukan atas perintahmu, Ciong- ciangkun. Ada hal-hal penting yang perlu kau ketahui untuk menunjukkan betapa engkau telah memperoleh sebuah laporan yang sifatnya melempar fitnah dan...”

“Sudah, cukuplah, nona Ceng,” kata panglima itu sambil bangkit berdiri. “Aku tidak mau bicara tentang pekerjaan di sini, harap nona pulang saja

agar jangan sampai orang menyangka yang bukan-bukan.”

Akan tetapi Ceng Hiang tidak bangkit berdiri, masih duduk dengan sikap tenang. Semua ini sudah ia perhitungkan, karena iapun sudah mengenal watak panglima ini. Ia tersenyum.

“Ciong-ciangkun, aku datang bukan untuk melakukan penyuapan, juga bukan untuk membujuk maupun mengancam menggunakan kekerasan. Aku datang untuk bicara, dan bukan hanya demi kepentingan ayahku, melainkan juga demi kepentingan dan kedudukan ciangkun sendiri.”

Panglima itu memandang tajam, sepasang matanya yang lebar itu semakin melotot dan alisnya berkerut.

“Nona Ceng, apa maksudmiu?” “Kalau engkau tidak mau bicara dengan aku, terpaksa aku akan melapor kepada Sribaginda Kaisar sendiri, dan nanti atau besok tentu ciangkun akan ditangkap sebagai seorang pengkhianat.”

“Ehhh! Apa yang kau katakan ini, nona? Hati-hatilah menjaga ucapanmu! Engkau melempar fitnah keji dan untuk itu, engkau dapat kusuruh tangkap!”

Perwira itu mengancam marah.

“Engkau harus dapat menjelaskan maksud kata-katamu itu!”

“Tentu saja akan kujelaskan, dan untuk penjelasannya membutuhkan kata- kata, bukan? Duduklah, ciangkun, dan dengarkan aku bicara. Kalau bicaraku tidak benar, masih belum terlambat bagi ciangkun untuk mengusirku atau bahkan menangkapku sekalipun.”

Panglima itu berpikir sejenak. Memang tidak ada ruginya miendengarkan, karena gadis ini tadi sudah berjanji tidak akan menyuap, membujuk atau mengancam. Dan diapun mulai tertarik dan merasa penasaran sekali mendengar bahwa dia mungkin dapat ditangkap sebagai seorang pengkhianat. Gila!

“Baiklah, akan tatapi harap bicara yang benar dan jangan melempar fitnah!”

“Aku tidak biasa melempar fitnah, ciangkun, seperti yang dilakukan oleh si pelapor tentang diri ayah itu. Ayah tidak pernah mengenal Tang Ki. Akulah yang mengenalnya, dan perkenalan kamipun bukan perkenalan politik. Kami mengenal Tang Ki hanya karena ia seorang gadis yang pernah menyelamatkan nyawa ayah dari laut, dan karena Tang Ki mengembalikan kitab-kitab yang penting. Itu saja! Ciangkun mendengarkan fiitnah yang dilempar oleh Lee Song Kim, dan sama sekali tidak ada buktinya bahwa keluarga kami bersekutu dengan pemberontak. Sebaliknya, yang menjadi pemberontak adalah Lee Song Kim, dan kalau ciangkun mendengarkan semua laporannya yang mengadu domba, kalau ciangkun membelanya, berarti ciangkun membela pemberontak, dan tentu ciangkun akan ditangkap sebagai pengkhianat kalau aku melapor kepada Sribaginda Kaisar.”

Panglima itu terkejut sekali, juga penasaran.

“Nona Ceng, nona masih muda, harap jangan bicara sembarangan saja. Yang kau kemukakan tadi adalah fitnah keji. Apa buktinya bahwa Lee- ciangkun adalah seorang pemberontak?”

Ceng Hiang tersenyum.

“Kalau boleh aku bertanya, apa buktinya pula bahwa ayahku adalah seorang pemberontak, ciangkun? Aku bukan tukang fitnah, dan aku tentu saja dapat membuktikan kebenaran omonganku tadi. Ciangkun tahu mengapa Lee Song Kim melempar fitnah kepada ayahku? Ada dua hal yang mendorongnya melakukan hal yang curang dan keji itu. Pertama, untuk membalas dendam karena lamarannya terhadap diriku ditolak ayah, dan kedua, karena dia hendak mengadu domba antara para pejabat yang jujur dan setia seperti ciangkun dan ayah.”

Panglima itu menggerakkan tangan dengan tidak sabar.

“Ceritakan mana buktinya bahwa Lee-ciangkun adalah pemberontak.” “Ciangkun, kalau aku hanya bercerita, itu bukan bukti namanya. Aku akan

mengajak ciangkun menyaksikan sendiri! Malam nanti, kuajak ciangkun untuk menyaksikan betapa Lee Song Kim mengadakan pertemuan dengan tokoh- tokoh pemberontak yang akan membuat ciangkun terkejut sekali. Dan kuharap saja, setelah melihat bahwa pelapor dan pemfitnah ayah adalah seorang pemberontak, ciangkun akan berusaha untuk pembebasan ayah yang tidak berdosa.”

Panglima itu mengerutkan alisnya. “Tapi… tapi ”

“Ciangkun meragukan kejujuranku dan khawatir kalau aku akan mencelakakan ciangkun? Ingat, ciangkun, ayahku masih berada di dalam tahanan dan bebas tidaknya ayah tergantung dan perbuatanku. Mana aku berani mengkhianati ciangkun dan membiarkan ayahku celaka?”

Panglima itu mengangguk-angguk.

“Dan jangan ciangkun membawa pengawal, dan banyaknya orang tentu akan diketahui oleh Lee Song Kim, dan kalau dia bercuriga, tentu tidak akan dilangsungkan pertemuan rahasia itu. Akulah yang akan melindungi dan menjaga keselamatan ciangkun dengan taruhan nyawaku.”

Kembali Ciong Goanswe mengangguk-angguk.

“Baiklah, akan tetapi kalau semua keteranganmu ini bohong, keadaan ayahmu akan menjadi lebih buruk lagi, bahkan engkau sendiri akan kusuruh tangkap.”

“Baik, aku bersedia menebus dengan nyawaku kalau aku berbohong, ciangkun. Sampai malam nanti sekitar jam tujuh, aku akan datang menjemput ciangkun. Jangan kaget kalau nanti malam aku datang dengan rahasia, tidak terang-terangan seperti sekarang ini.”

Gadis itu lalu meninggalkan gedung tempat tinggal Ciong Goanswe yang masih duduk termenung setelah gadis itu pergi. Dia tidak dapat dibilang bersahabat baik dengan Lee Song Kim, bahkan diam-diam ada rasa curiga di dalam hatinya ketika para tawanan itu, para pimpinan penting dan pemberontakan, dapat lolos. Tadinya dia sudah mengusulkan agar hasil baik dan siasat yang dilakukan Lee Song Kim itu dimanfaatkan, yaitu para tawanan itu dijatuhi hukuman berat atau dihukum mati agar membikin takut para pemborontak. Akan tetapi Lee Song Kim minta agar pengadilannya ditangguhkan, karena menurut dia, tawanan itu tentu akan memancing datangnya para pimpinan lainnya sehingga merupakan perangkap yang amat baik.

Memang benar para pemberontak berdatangan, akan tetapi mereka tidak datang ditangkap, bahkan mereka membebaskan para tawanan penting itu! Ketika dia menerima pelaporan dari Lee Song Kim, hatinya sudah dipenuhi keraguan, namun sebagai komandan pasukan keamanan, dia harus bertindak. Dan kini muncul puteri pangeran itu yang membawa berita yang sama sekali tak pernah diduganya!

Kunjungan Ceng Hiang siang itu kepada Panglima Ciong Ti merupakan siasat yang sudah diaturnya bersama Ci Kong dan Lian Hong. Dua orang pendekar muda ini dengan penuh ketekunan melakukan penyelidikan dan membayangi Lee Song Kim, sehingga akhirnya mereka mendengar bahwa malam nanti Song Kim akan mengadakan pertemuan dengan tokoh tokoh Pek- lian-pai dan Pat-kwa-pai yang juga mereka bayangi dengan teliti. Berkat ilmu kepandaian mereka yang tinggi, dua orang pendekar muda ini dapat melakukan penyelidikan tanpa diketahui oleh mereka yang dibayangi.

Setelah yakin bahwa malam itu Song Kim akan mengadakan pertemuan di sebuah kuil Agama To yang hanya dipakai sebagai kedok saja oleh para tosu Pek-lian-pai, Ci Kong dan Lian Hong cepat memberi kabar kepada Ceng Hiang yang segera mendatangi Jenderal Ciong Ti. Malam hari itu, sesosok bayangan yang memakai mantel lebar, jalan mengendap-endap menuju ke kuil yang berdiri di luar kota raja sebelah utara. Sukar dikenal mukanya, karena orang itu selalu berjalan di tempat-tempat gelap dan menutupi mukanya dengan sebuah topi lebar. Yang nampak hanyalah bahwa dia seorang laki-laki memakai mantel hitam yang lebar. Orang tidak tahu apakah dia itu tua ataukah masih muda, dan bagaimana macam mukanya. Dia tidak segera memasuki kuil, melainkan lewat di depan kuil, kemudian kembali lagi dan lewat lagi. Setelah dia merasa yakin benar bahwa di sekitar kuil sunyi saja tidak nampak seorangpun, baru dia menengok ke kanan kiri, lalu menyelinap masuk ke dalam kuil itu dengan amat cepatnya.

Sebelum dia, ada dua orang tosu tua memasuki kuil dan karena sebagai tosu-tosu merupakan hal yang wajar saja memasuki kuil itu, mereka berdua itu tidak bersikap sebagai orang yang bermantel hitam.

Namun semua peristiwa ini nampak jelas oleh Ciong Goanswe yang sejak sore tadi telah bersembunyi di tempat aman, agak jauh dari kuil, bersama Ceng Hiang yang menjemputnya. Ketika dua orang tosu itu lewat, Ceng Hiang berbisik.

“Kenalkah ciangkun kepada dua orang tosu itu?”

Yang ditanya memandang tajam penuh perhatian, akan tetapi menggeleng kepala.

“Yang bertubuh tinggi besar dan berperut gendut itu adalah Ban Hwa Seng-jin, tokoh Pat-kwa-pai yang terkenal sekali. Sedangkan yang tinggi kurus berjenggot panjang itu adalah Ciok Im Cu, tokoh Pek-lian-pai. Mereka berdua itu lahai sekali, dan merupakan dua orang tokoh pemberontak yang mempunyai banyak anak buah dan amat berpengaruh di dalam dua perkumpulan itu.”
Mengapa udah nggak bisa download cersil di cerita silat indomandarin?

Untuk yang tanya mengenai download cersil memang udah nggak bisa hu🙏, admin ngehost filenya menggunakan google drive dan kena suspend oleh google, mungkin karena admin juga membagikan beberapa link novel barat yang berlisensi soalnya selain web cerita silat indomandarin ini admin juga dulu punya web download novel barat terjemahan yang di takedown oleh google dan akhirnya merembes ke google drive admin yang dimana itu ngehost file novel maupun cersil yang admin simpan.

Sebenarnya ada website lain yang menyediakan download cersil seperti kangzusi dan clifmanebookgratis tetapi link download cersilnya juga udah nggak bisa diakses.

Ada juga Dunia Kangouw milik om Edwin yang juga menyedikan cersil yang bisa didownload tapi beberapa bulan yang lalu webnya tiba- tiba hilang dari SERP :( padahal selain indozone admin juga sering baca cersil di dunia kangouw sebelum akhirnya admin membuat cerita silat indomandarin ini.

Lihat update cersil yang baru diupload bulan Agusuts 2022 :)

[01 Agustus 2022] Kelelawar Tanpa Sayap

List Donasi Bulan Agustus 2022 | [02/08/2022] A.N: BURHANUDDIN Rp. 150.000 | [08/08/2022] A.N: KUSNADI Rp. 150.000 ~~~ Terima Kasih atas Donasi para cianpwee semoga rezeki para cinapnwee semua dilipatgandakan oleh yang maha kuasa :) ~~~

Mau donasi lewat mana?

BCA - Nur Ichsan (7891-767-327)
Bagi para Cianpwee yang ingin berdonasi untuk pembiayaan operasional web ini dipersilahkan Klik tombol merah.

Posting Komentar

© Cerita silat IndoMandarin. All rights reserved. Developed by Jago Desain