--> -->

Pedang Naga Kemala Jilid 29

Jilid 29

Bahkan kinipun, di samping desakan Tigabelas Golok Besar, juga terdapat beberapa orang perajurit dan perwira kulit putih yang siap dengan pistol mereka, untuk berjaga-jaga kalau kalau lima orang yang terdesak itu dapat membobol kepungan. Sukarlah bagi mereka untuk meloloskan diri, dan agaknya satu-satunya jalan hanya mundur sampai akhirnya mereka tertawan dan menjadi satu dengan para pimpinan pejuang yang sudah menjadi tawanan.

“Biar aku mengadu nyawa dengan keparat itu!”

Kiki hendak menerjang ke depan, akan tetapi Siu Coan menyambar lengan gadis itu.

“Apa kau sudah gila? Tidak perlu membunuh diri dan mati konyol selagi masih ada jalan untuk hidup!” kata Siu Coan.

Sejenak mereka saling pandang, dan ada sinar mata aneh di dalam mata pandang Siu Coan yang membuat Kiki menundukkan muka dengan jantung berdebar.

“Mari kita mundur,” kata Ci Kong yang melihat kebenaran pencegahan Siu Coan.

Dalam keadaan seperti itu, maju berarti mati konyol dan mundur paling- paling tertawan. Tertawan belum berarti mati, dan dalam keadaan tertawan, masih ada harapan untuk dapat meloloskan diri.

Tiba-tiba terdengar suara ledakan keras berturut-turut tiga kali yang datangnya dari belakang mereka. Lantai terowongan itu sampai tergetar dan bukan hanya lima orang muda itu yang merasa terkejut, bahkan Lee Song Kim dan teman-temannya, juga para perajurit, terkejut bukan main.

“Apa yang terjadi di sana?” teriak Song Kim dengan bingung.

“Di sebelah dalam itu adalah ruangan penjara, bagaimana di sini bisa terdengar ledakan dahsyat tiga kali itu? Apa artinya ini?”

Pada saat itu, dari dalam terowongan berkelebat bayangan putih yang ternyata bukan lain adalah Koan Jit! Melihat orang ini muncul dari dalam terowongan di belakang mereka, lima orang muda ini terkejut dan terheran- heran. Koan Jit muncul dengan pakaian robek dan di tangannya terdapat dua buah alat peledak bersumbu yang belum dinyalakan sumbunya. Sejenak Koan Jit memandangi mereka, terutama kepada sutenya.

“Ah... sudah kukatakan, aku yang akan membebaskan mereka dan kalian tidak percaya kepadaku, sekarang aku harus membebaskan kalian. Larilah, aku akan menahan mereka,” katanya, dan diapun melangkah maju ke depan mulut terowongan.

Empat orang dan tiga belas Golok Besar menyambutnya, akan tetapi dengan gerakan aneh, Koan Jit menghadapi empat batang golok itu, dan tiba- tiba saja kedua kakinya bergerak, dan empat orang itu roboh tak mampu berkutik lagi karena ujung kaki Koan Jit telah menendang bagian tubuh yang lemah. Seorang opsir yang berada di dekat mulut terowongan menusukkan pedangnya, akan tetapi Koan Jit menendang dan sungguh hebat gerakan ini, karena pedang itu tiba-tiba terlepas dari pegangan opsir itu dan menusuk dada si opsir kuiit putih yang terbelalak karena lebih merasa terkejut dan terheran dari pada rasa sakit. Dia terhuyung dan bersandar pada dinding, tangan kanan mendekap dada yang tertusuk pedangnya sendiri sampai hampir tembus.

“Siapkan regu tembaaak!” Song Kim berteriak.

Ketika melihat munculnya orang ini, Song Kim merasa terkejut bukan main. Dia tahu akan kehebatan ilmu kepandaian Koan Jit, maka diapun tidak mau mengambil resiko, apalagi melihat betapa empat orang di antara Tiga Belas Golok Besar telah roboh dan opsir kulit putih itupun terluka parah.

Seregu perajurit campuran sudah siap dengan senapan mereka, moncong senapan ditodongkan ke arah Koan Jit. Akan tetapi, Koan Jit berdiri tegak, lalu dengan tenang menyulut sumbu dua buah bom peledak itu. Dia menoleh lagi kepada lima orang muda yang masih berdiri bengong dan berdesakan di belakangnya.

“Kalian masih belum pergi? Larilah ke dalam dan bantu mereka membebaskan diri…”

Lima orang itu menjadi bengong dan ragu-ragu. Mereka adalah pendekar pendekar perkasa, pejuang-pejuang yang gigih dan pantang mundur. Kini, melihat Koan Jit berdiri seorang diri menghadapi lawan, bagaimana mungkin mereka dapat pergi meninggalkan Koan Jit menentang musuh dan menantang maut seorang diri begitu saja? Betapa pengecut sikap mereka kalau mereka membiarkan Koan Jit mati sedangkan mereka melarikan diri!

Karena bimbang, lima orang muda itu memandang dengan mata terbelalak. Koan Jit berdiri tegak, dengan sikap tenang dan gagah, tangan kanan memegang sebuah peluru atau bom bersumbu, diangkat ke atas dan ditempelkan pada langit-langit terowongan, sedangkan tangan kirinya memegang sebuah peluru lain yang sumbunya juga sudah bernyala.

“Tembaakkk!”

Perintah Song Kim sambil mundur-mundur panik melihat peluru-peluru bersumbu itu, juga para perajurit menjadi panik dan ketakutan. Terdengarlah ledakan-ledakan ketika senapan-senapan itu memuntahkan peluru-pelurunya. Jelas nampak beberapa peluru itu menyengat tubuh Koan Jit yang tidak mampu mengelak lagi di tempat sempit itu, dan agaknya memang dia tidak mau mengelak lagi. Nampak bajunya penuh tanda lubang ketika peluru-peluru itu menem bus kulit tubuhnya. “Kalian cepat lariiii ”

Tiba-tiba Koan Jit berseru, suaranya parau, dan pada saat itu dia melontarkan peluru bersumbu yang berada di tangan kirinya.

“Awaaassss!!”

Siu Coan tiba-tiba menubruk empat orang temannya dan menyeret mereka untuk lari ke dalam terowongan lalu menjatuhkan diri bertiarap agak jauh dari mulut terowongan. Baru saja tubuh mereka menyentuh lantai, terdengar suara ledakan keras sekali beruntun dua kali, bergemuruh suaranya memekakkan telinga sampai agak lama, sehingga mereka berlima itu tidak berani mengangkat muka.

Kemudian sunyi! Tidak terdengar apa-apa lagi, kecuali rontoknya batu-batu kecil dan tanah di sekeliling mereka. Tidak ada suara manusia, tidak ada suara berisik.

Lima orang itu bangun dan merangkak, terbatuk-batuk karena tempat itu penuh dengan asap dan debu, kemudian mereka bangkit dan setengah merangkul menghampiri mulut terowongan. Tidak ada mulut terowongan lagi, karena kini terowongan itu tertutup sama sekali. Kiranya terowongan itu, di bagian depan, telah runtuh sama sekali, menutupi mulut terowongan.

“Suheng...” terdengar Siu Coan memanggil, sambil meraba-raba di antara tumpukan tanah dan batu.

Tentu saja tidak terdengar jawaban dan empat orang temannya kini juga mendekatinya. Mereka meraba-raba di tempat yang menjadi remang-remang gelap itu, dan akhirnya Siu Coan terdengar mengeluh.

“Suheng, ahhhh  Suheng!”

Siu Coan terdengar menangis! Ci Kong dan tiga orang gadis itu menjadi terkejut dan heran, mereka mendekati, dan ketika mereka melihat pemuda gagah itu menangis sambil memegangi sebuah sepatu, mengertilah mereka. Kiranya yang tertinggal dari Koan Jit hanyalah sebuah sepatu! Agaknya tubuhnya hancur lebur oleh ledakan tadi atau tertimbun.

Terdengar Kiki juga menangis perlahan. Gadis ini hanya nampak di luarnya saja galak dan keras, namun sebenarnya hatinya lembut sekali sehingga ia merasa amat terharu melihat Sia Coan menangisi sebuah sepatu.

Kematian Koan Jit memang amat mengesankan hati lima orang gagah itu. Kematian seorang patriot, seorang gagah perkasa yang rela mengurbankan nyawa demi menyelamatkan orang-orang lain. Biarpun Koan Jit pernah menjadi seorang tokoh sesat yang luar blasa kejamnya dan jahatnya, namun pada saat akhir-akhir hidupnya, dia adalah seorang gagah perkasa yang patut dikagumi. “Cepat, mari kita membantu para tawanan,” kata Ci Kong yang teringat

akan hal yang lebih penting.

Mengingat akan ini, Siu Coan menyimpan sebelah sepatu itu di dalam saku bajunya dan merekapun melanjutkan perjalanan, setengah meraba-raba di dalam terowongan itu, terus menuju ke belakang. Tak lama kemudian, mereka melihat cahaya menerangi terowongan itu dari belakang, dan mereka mendengar pula suara orang. Ketika mereka tiba di bagian belakang, ternyata penjara.

Mengertilah mereka bahwa tadi Koan Jit datang dari tempat itu, membongkar penjara bawah tanah dengan menggunakan bahan peledak yang amat kuat sehingga tempat itu terbongkar dan berlubang. Sungguh perbuatan yang amat berani dan cerdik! Ketika Empat Racun Dunia melihat murid-murid mereka, tentu saja mereka terheran-heran dan juga girang. “Kiki, bagaimana kalian dapat muncul dari dalam sana? Tadi kami mendengar ledakan-ledakan yang keras!” kata Hai-tok kepada puterinya.

“Hai-tok, bicara bisa dilakukan nanti. Mari cepat keluar dan pergi, apa kau ingin tertawan kembali?”

San-tok mencela rekannya dan mereka semuapun cepat-cepat melarikan diri dari tempat itu melalui lubang besar yang menembus lereng bukit. Ucapan San-tok ini memang benar. Tak lama kemudian, tempat itu telah didatangi ratusan orang perajurit, akan tetapi ketika mereka memasuki lubang besar memeriksa ruangan penjara bawah tahanan, semua tahanan telah lenyap.

Sekali ini Lee Song Kim merasa kecewa dan marah bukan main. Akan tetapi diapun harus mengakui kegagalannya, padahal semua telah diaturnya sedemikian rapinya bersama Peter Dull yang kini naik pangkat menjadi Kapten. Segala jerih payahnya yang berpura-pura membantu para pejuang, ternyata mengalami kegagalan setelah keberhasilan total berada di ambang pintu. Kalau saja dia berhasil menawan lima orang muda itu, maka berarti bahwa semua tenaga pimpinan para pemberontak yang paling tangguh telah berhasil ditawan, dan tentu pemberontakan-pemberontakan itu akan lebih mudah untuk dihancurkan.

Akan tetapi kini kenyataannya malah sebaliknya. Semua tawanan telah berhasil meloloskan diri dan semua ini akibat campur tangan Koan Jit, orang yang tadinya pernah menjadi orang kepercayaan pasukan kulit putih.

Kegagalan ini menimbulkan salah paham, saling mencurigai bahkan percekcokan antara Lee Song Kim dan Kapten Peter Dull.

“Lihat apa yang terjadi!”

Lee Song Kim antara lain berkata marah kepada sekutunya itu.

“Semua gagal karena ulah si jahanam Koan Jit, orang yang pernah menjadi kepercayaanmu, kapten! Kalau dia tidak pernah menjadi kaki tanganmu, tentu dia tidak akan pandai bermain-main dengan alat peledak dan tidak dapat mengetahui rahasia lorong dalam tanah penjara Hang-couw!”

Peter Dull memandang marah kepada panglima pasukan Ceng itu.

“Lee-ciangkun, harap kau tahan sedikit kata-katamu! Memang benar Koan Jit pernah menjadi pembantuku. Akan tetapi ketika itu, diapun sudah banyak jasanya dalam menghadapi para pemberontak. Dan kalau diingat, bagaimanapun juga dia adalah bangsamu! Pengkhianat itu adalah bangsamu, jadi tanggung jawabmu lebih besar dari pada tanggung jawabku!”

Percekcokan itu mengakibatkan kerenggangan hubungan dan kerja sama antara pasukan pemerintah Ceng dan pasukan orang kulit putih. Hal ini menguntungkan para pejuang, karena kalau dua kekuatan itu bersatu, memang berbahaya bagi para pejuang. Dan semenjak para pimpinan pejuang bebas dan penjara itu, kini mereka menjadi semakin bersemangat dan pemberontakan terjadi dimana-mana, memusingkan pemerintah penjajah Mancu, bahkan juga memusingkan orang-orang kulit putih yang selalu merasa terancam.

Semenjak peristiwa kerja sama membebaskan para tawanan itu, Siu Coan seringkali menghubungi Kiki dan ayahnya, sehingga di antara mereka terdapat hubungan yang akrab. Sering kali seorang diri, Siu Coan mengarungi lautan dan pergi mengunjungi Pulau Naga, tempat tinggal baru dari Hai-tok. Karena pemuda itu pandai membawa diri, dan royal sekali dengan hadiah-hadiah, maka dia dikenal baik oleh para bajak laut anak buah Hai-tok.

Semenjak kerja sama di antara lima orang muda perkasa itu, Siu Coan sudah merasa amat tertarik kepada Kiki. Gadis itu lincah jenaka, nakal manja, akan tetapi memiliki watak lembut sehingga ketika Siu Coan menangisi kematian suhengnya, gadis itupun ikut pula menangis. Biarpun Kiki sejak kecil hidup sebagai puteri Hai-tok yang kaya raya, namun ia selalu berpakaian ringkas sederhana, dan tidak jahat seperti Hai-tok walaupun kadang-kadang ia dapat bersikap keras hati. Akan tetapi bentuk tubuhnya padat menggiurkan dan wajahnya amat manis, terutama sekali tahi lalat di pipinya menjadi penambah kemanisan wajahnya.

Siu Coan segera mengerti bahwa dia telah jatuh hati kepada gadis ini, benar-benar jatuh cinta, bukan sekedar tertarik oleh kecantikan seorang gadis. Setiap gerak-gerik gadis itu menyentuh perasaannya, membuat dia merasa terharu dan juga sayang.

Di lain pihak, Kiki yang pernah merasa tertarik dan kagum kepada Ci Kong, kinipun mulai tertarik karena perhatian Siu Coan yang berlebihan terhadap dirinya. Setiap kali datang, Siu Coan tentu membawa oleh-oleh yang aneh- aneh. Buah-buahan segar dan selaian, makanan aneh-aneh dari orang kulit putih, juga alat-alat kecantikan dan perhiasan yang serba mahal dan langka. Ia tahu akan kegagahan Siu Coan dan biarpun Siu Coan, seperti juga ia yang menjadi puteri seorang di antara Empat Racun Dunia, adalah murid Thian-tok yang terkenal paling jahat di antara Empat Racun Dunia, namun dia mengenal Siu Coan sebagai seorang pemuda gagah perkasa, seorang pejuang yang berani dan juga bukan seorang penjahat. Tubuh Siu Coan yang tinggi besar, dengan bentuk muka yang jantan dan gagah, kecerdikan dan kelihaiannya, cukup untuk menarik hati Kiki yang pada waktu itu masih bebas.

Hai-tok Tang Kok Bu tentu saja dapat menduga akan isi hati Siu Coan, akan tetapi diapun rupa-rupanya tidak menaruh keberatan akan hubungan puterinya dan Siu Coan. Hai-tok tadinya mengidamkan agar puterinya menjadi isteri Lee Song Kim, akan tetapi kemudian ternyata bahwa muridnya itu adalah seorang pengkhianat besar yang amat dibencinya. Sebaliknya, Siu Coan adalah murid Thian-tok yang telah membuktikan kegagahan dan juga jiwa patriotnya, dan di samping itu, Siu Coan pandai membawa diri, seringkali membawa oleh-oleh arak yang langka, makanan-makanan yang aneh-aneh sehingga hati orang tua inipun merasa tertarik dan suka.

Kini bukan merupakan hal aneh lagi kalau Siu Coan datang berkunjung dan bersama Kiki dia berjalan-jalan di sepanjang pantai yang sunyi dan indah penuh dengan pasir putih di Pulau Naga. Semua anak buah Hai-tok tahu belaka bahwa pemuda itu adalah seorang pemuda yang pandai dan gagah perkasa, menjadi sahabat baik nona mereka.

Pada suatu senja yang amat indah, Kiki dan Siu Coan duduk berdua saja di tepi pantai sebelah barat. Tempat itu sunyi dan senja itu seperti senja-senja biasanya di tempat itu, amatlah indahnya. Matahari tenggelam di barat, meninggalkan kebakaran di langit. Sukar melukiskan keindahan matahari tenggelam di senja hari. Sinar kemerahan yang amat indah membakar langit, dan awan-awan nampak seperti mahluk-mahiuk ajaib yang hidup dengan bentuk yang menakjubkan dengan warna yang luar biasa pula. Puncak awan- awan itu seperti diselaput perak dan latar belakang biru keunguan di antara lautan merah. Bentuk-bentuk awan itu seperti mahluk-mahluk yang memenuhi semua khayal, seperti binatang purba, atau seperti raksasa dan iblis yang menyeramkan namun mempesona. Ada pula sekelompok awan putih yang kalau dipandang dengan mata khayal menggambarkan keadaan sebuah kerajaan khayal, dengan bangunan-bangunan yang ajaib, keadaan sebuah alam lain. Dan kesemuanya itu demikian diam, demikian hening, penuh damai, tenteram dan dalam pada itu, demikian yang lebih hebat lagi, keadaan senja yang indah itu, tidak pernah sama setiap harinya. Tetap indah, tetap mempesona, dan tidak membosankan karena tidak pernah sama, tidak ada pengulangan.

Berbahagialah orang yang dapat menikmati keindahan alam dimana saja, kapan saja, dalam keadaan bagaimanapun juga. Hal ini mungkin dirasakan setiap manusia yang pikirannya tidak dibebani oleh segala macam keinginan sehingga ketika mata terbuka dan memandang dengan waspada, semua gambaran diterima dengan batin yang bersih dan kosong. Batin yang selalu sibuk dan kacau oleh segala macam keinginan si aku, tak mungkin dapat menikmati apa yang ada. Dan menikmati apa yang ada ini merupakan kesenian hidup yang paling berharga.

Pada waktu itu, Siu Coan mulai mempropagandakan agama barunya. Agama Kristen yang dipeluknya dan diterimanya itu hanya dipelajarinya setengah matang, bahkan dengan penafsiran-penafsiran yang sembarangan, bercampur aduk dengan tradisi dan ketahayulan lama. Siu Coan hanya mengambil bagian-bagian yang mengenakkan hatinya saja dalam Agama Kristen. Dia hanya mempropagandakan janji-janji muluk dan pahala-pahala yang ditawarkan, seperti pengampunan dosa dan sorga bagi mereka yang percaya. Karena inilah, banyak pula orang yang tertarik dan mulai menjadi pengikutnya.

Kita selalu condong untuk mencari enak saja, dalam segala perkara, dalam segala macam persoalan, bahkan di dalam keagamaan sekalipun! Pikiran kita sudah terbiasa sejak kecil, oleh pendidikan, oleh lingkungan, oleh masyarakat dan cara hidup masyarakat kita, untuk selalu mempergunakan perhitungan untung-rugi dalam segala macam hal. Dalam hubungan antara manusia, dalam agama sekalipun, bahkan dalam hubungan antara negara dan bangsa, kita selalu mendasarinya dengan perhitungan untung-rugi yang menguntungkan adalah sahabat kita, yang merugikan adalah musuh kita. Karena kebiasaan menghadapi segala sesuatu dengan untung-rugi inilah maka di dalam agama sekalipun, kita memasukinya dengan perhitungan. Diampuni dosanya dan kelak mendapatkan sorga merupakan janji muluk yang diberikan oleh hampir semua agama, dan hal ni memang amat menarik hati orang.

Siapakah yang tidak ingin diampuni dosanya, bebas dari siksa kelak dan memperoleh sarga yang digambarkan sebagai keadaan, yang amat enak? Apalagi kalau syarat memperolehnya hanyalah kepercayaan. Alangkah mudahnya. Hanya percaya, habis perkara, dan pahala-pahala itupun datanglah! Benarkah semudah itu untuk percaya?

Kita tidak menyadari rupanya bahwa ‘percaya di mulut’ jauh sekali bedanya dengan ‘percaya di hati’. Dan kebanyakan dari kita condong untuk percaya di mulut saja. Setiap orang mengatakan bahwa dia pencaya kepada Tuhan! Benarkah itu?  Benarkah kita percaya kepada Tuhan  dari lubuk hati kita, ataukah pengakuan itu hanya sebatas bibir dan lidah saja?

Karena, kalau orang percaya kepada Tuhan, setiap saat dia akan merasa adanya Tuhan, dan karena itu, diapun tidak akan pernah menyeleweng semenitpun. Akan tetapi biasanya, kita hanya ingat dan percaya kepada Tuhan kalau kita membutuhkan pengampunan-Nya, membutuhkan pertolongan-Nya, dan kita sama sekali melupakannya kalau kita tidak membutuhkan itu. Karena itu, kata ‘percaya’ tidaklah semudah yang kita kira. Siu Coan membawa pula propaganda agamanya ke Pulau Naga. Demikian pandai dia bicara, sehingga orang seperti Hai-tok sendiripun mulai terpengaruh dan tertarik! Juga Kiki merasa tertarik sekali kalau Siu Coan bicara tentang agamanya. Akan tetapi pada senja hari yang indah itu, Siu Coan bicara tentang hal lain. Dia bicara tentang cita-citanya, juga tentang rencananya kepada Kiki!

“Percayalah, Kiki, akan tiba saatnya aku berhasil memenuhi cita-cita yang telah ku pupuk sejak dahulu, yaitu memiliki sebuah pasukan yang amat kuat, untuk menjadi bala tentara yang akan menyerbu dan menghancurkan kerajaan penjajah. Untuk itu, segala kemampuanku telah ku kerahkan, dan kini aku diam-diam telah menghimpun banyak sekali orang yang suatu saat akan dengan suka rela masuk menjadi anggauta. Akulah orangnya yang kelak akan mampu meruntuhkan kekuasaan penjajah, Kiki… dan untuk tugas yang amat besar ini, aku membutuhkan dorongan dan bantuan batin yang amat kubutuhkan, yaitu dirimu.”

Kiki tersenyum dan memandang dengan mata terbelalak, ia merasa heran sekali mendengar kalimat terakhir itu. Ketika ia tersenyum, wajahnya nampak amat manis oleh Siu Coan. Memang Kiki amat manis, apalagi tahi lalat kecil di pipinya itu membuat wajahnya selalu nampak manis dalam keadaan apapun.

“Ong-toako, apakah maksudmu dengan diriku?”

“Untuk mencapai cita-cita besar itu, aku hanya didampingi seorang yang merupakan dorongan batin yang amat kuat bagiku, yaitu sorang wanita yang ku cinta dan ku harapkan untuk mendampingiku selamanya. Dan wanita itu adalah engkau, Ki-moi. Engkaulah gadis yang ku cinta, dan aku tahu bahwa engkaulah jodohku, engkaulah yang patut menjadi calon isteriku. Tentu saja kalau engkau bersedia menerima uluran tanganku.”

Wajah yang manis itu seketika menjadi merah sekali. Kiki bukan seorang gadis pemalu dan sejak kecil ia biasa hidup bebas dan tanpa terikat oleh banyak peraturan dan pantangan. Namun, sebagai seorang gadis, naluri wanitanya tentu saja bekerja seketika pada pria yang menyatakan cinta secara langsung begitu, dan iapun merasa salah tingkah dan canggung karena malu. Sejenak ia hanya menundukkan mukanya yang berubah merah sekali, mulutnya setengah tersenyum dan pikirannya masih melayang jauh.

Pernah ia tertarik kepada Ci Kong, pemuda yang amat dikaguminya. Akan mudah baginya untuk jatuh cinta kepada Ci Kong. Namun ia mengerti bahwa pemuda yang menjadi murid Siauw-bin-hud itu agaknya takkan mau merendahkan diri untuk berpacaran dengannya, puteri Hai-tok, seorang di antara Empat Racun Dunia! Dan iapun dapan menduga bahwa ada apa-apa antara Ci Kong dan Lian Hong, melihat betapa erat dan akrabnya hubungan antara pemuda dan gadis itu. Dan kini, tahu-tahu Siu Coan menyatakan cintanya, dan hal ini membuatnya tertegun dan termangu walaupun ia tidak merasa heran atau kaget karena sudah lama ia dapat menduga bahwa pemuda jangkung ini tentu ‘ada hati’ kepadanya, melihat dari sikapnya selama ini.

“Bagaimana, Ki-moi… adakah harapan bagiku? Dapatkah engkau menerima cintaku, dan maukah engkau menyambut uluran tanganku untuk bersamaku mencapai dan menikmati cita-citaku?”

Suara Siu Coan yang mendesaknya ini mengejutkan Kiki yang sedang melamun dan menariknya kembali ke dunia nyata. Ia menoleh dan menatap wajah pemuda itu penuh perhatian, seolah hendak menjenguk isi hati Siu Coan. Seorang pemuda yang cukup baik, pikirnya, bahkan amat baik dan jarang ada pria seperti Siu Coan. Wajahnya cukup ganteng, tubuhnya tinggi tegap dan ilmu silatnya juga memiliki tingkat yang tinggi. Selain lihai ilmu silatnya, juga ia tahu bahwa pemuda ini berjiwa pahlawan yang gagah perkasa, pula amat cerdiknya, dan melihat betapa Siu Cuan dapat berlaku amat royal, agaknya pemuda ini memiliki banyak simpanan harta. Akan tetapi ia masih merasa ragu- ragu. Bagaimana kalau kemudian cinta pemuda ini palsu? Ia menghendaki seorang pria yang mencintanya selama hidupnya, dan bagaimana ia dapat yakin akan cinta Siu Coan? Kemudian ia berkata dengan suara lirih namun tegas.

“Ong-toako, terima kasih atas kejujuranmu, dan aku merasa girang dan bangga bahwa aku menjadi gadis pilihanmu. Akan tetapi, dalam urusan perjodohan, aku ingin kepastian bahwa kita memang saling berjodoh dan untuk itu membutuhkan waktu bagi kita berdua untuk menyelidiki. Selain itu masih ada satu hal yang amat mengganggu hatiku sebelum masalah ini dapat kubereskan, aku tidak akan bicara tentang cinta dan jodoh, toako.”

Biarpun gadis itu belum menerima dengan sepenuhnya, namun jelas bahwa Kiki tidak menolak. Hal ini saja sudah menggirangkan hati Siu Coan.

“Ki-moi, apakah masalah itu? Katakan dan aku tentu akan membantumu mengatasinya.”

Gadis itu menarik nafas panjang.

“Bukan lain adalah si jahanam Lee Song Kim itu.” “Suhengmu itu?”

“Dulu suhengku, akan tetapi sekarang musuh besarku, musuh besar kita semua! Sselama hidupku, baru satu kali aku dihina laki-laki, dan orang itu adalah Lee Song Kim! Kalau tidak ada Tan Ci Kong yang menolongku, entah apa yang terjadi ketika aku sudah tidak berdaya dalam tangan jahanam itu!”

Kiki lalu menceritakan dengan singkat pengalamannya ketika ia tertawan oleh Lee Song Kim dan nyaris diperkosa di pantai, akan tetapi terbebas dari bencana itu oleh pertolongan Ci Kong.

“Hemm, jahanam itu memang jahat sekali…” kata Siu Coan setelah mendengar cerita Kiki.

“Bukan itu saja, dia bahkan hampir mencelakakan ayahku dan gurumu, dan para pimpinan pejuang. Karena itu di dalam hatiku, aku sudah bersumpah bahwa aku harus membunuhnya. Sebelum jahanam itu tebunuh olehku, aku tidak akan berpikir tentang perjodohan!”

“Jangan khawatir, Ki-moi. Aku yang akan membantumu sampai jahanam itu mampus di tangan kita!” kata Siu Coan penuh semangat.

“KaIau begitu, mari kita berangkat sekarang juga untuk mencarinya!” kata Kiki dengan suara gembira dan penuh semangat.

“Kita minta perkenan dan ayah dulu.”

Tanpa menanti jawaban pemuda itu, Kiki bangkit dan melangkah pergi ke arah rumah keluarganya di tengah pulau. Siu Coan mengikutinya, dan tak lama kemudian mereka berduapun sudah menghadap Hai-tok.

“Ayah, sekarang juga aku mau meninggalkan pulau, ke kota raja mencari dan membunuh jahanam Lee Song Kim dan Ong-toako ini hendak membantuku sampai usahaku ini berhasil.”

Hai-tok bangkit dan tempat duduknya, tubuhnya yang tinggi besar itu nampak kokoh kuat dan diapun mengelus jenggotnya. Berkali-kali dia menarik napas panjang dan menggeleng kepala, lalu terdengar dia berkata seperti kepada diri seridiri. “Aihhhh, sejak kecil dia ku gembleng, bahkan kemudian ku harapkan agar dia menjadi suamimu, menjadi mantuku. Siapa kira nasib menghendaki lain, kini engkau malah hendak pergi mencari dan membunuhnya, dibantu oleh Siu Coan.”

“Tapi, ayah, dia menjadi pengkhianat yang mengekor kepada penjajah, bahkan hampir juga mencelakai para pimpinan pejuang dengan pengkhianatannya.”

“Hemm, itulah yang menjengkelkan hatiku. Engkau boleh pergi dan bunuhlah dia, dan engkau Ong Siu Coan, coba jawab, kenapa engkau hendak membantu anakku untuk mencari dan membunuh Song Kim?”

Siu Coan adalah seorang yang amat cerdik. Biarpun diserang pertanyaan tiba-tiba itu, dia tidak menjadi gugup, bahkan dia dapat berpikir panjang secara cerdik sekali.

“Locianpwe, maafkan saya. Sesungguhnya, tak pernah terlintas dalam pikiran saya untuk mencampuri urusan antara locianpwe dan murid locianpwe Lee Song Kim itu. Locianpwe seorang yang berhak menentukan apa yang harus dilakukan terhadap dirinya. Akan tetapi, mendengar bahwa Ki-moi hendak pergi mencarinya, saya menawarkan diri untuk membantu, karena saya khawatir kalau-kalau Ki-moi akan gagal bahkan terancam bahaya. Saya akan melindungi dan membantunya sampai tugasnya berhasil baik.”

“Hemm, mengapa engkau mau membantu dan melindungi Kiki?” Kembali Siu Coan memperlihatkan ketenangannya.

“Locianpwe, sesungguhnya saya telah jatuh cinta kepada puteri locianpwe,” katanya merendah.

Tiba-tiba Hai-tok Tang Kok Bu tertawa bergelak. Senang hatinya mendengar jawaban Siu Coan tadi. Jawaban pertama tadi berarti bahwa pemuda ini cukup menghormatinya dan tidak barani memusuhi Song Kim tanpa seijinnya. Dan jawaban kedua menunjukkan kejujuran yang disukainya.

“Ong Siu Coan, engkau tahu siapa Kiki, engkau tahu pula siapa aku. Ia adalah anakku yang tunggal. Engkau berani jatuh cinta kepadanya. Apa sih yang kauandalkan? Apa yang dapat kau persembahkan kepadanya dan kepadaku?”

Siu Coan tahu bahwa kakek ini memiliki banyak harta, maka memamerkan harta kepadanya tidak akan ada artinya, juga memamerkan kepandaian tidak ada gunanya karena Hai-tok adalah seorang yang sakti.

“Locianpwe, saya mempunyai cita-cita untuk membentuk perkumpulan besar yang akan memiliki balatentara yang kuat. Sekarangpun, saya sudah mulai memupuk perkumpulan Pai Sang Ti-hwe untuk menjadi sebuah perkumpulan yang amat kuat. Kalau saya sudah berhasil membangun balatentara yang kuat, saya akan menyerbu dan meruntuhkan kekuasaan penjajah, dan saya akan menjadi pemimpinnya. Dan itulah yang dapat saya persembahkan kepada locianpwe dan Ki-moi, tentu saja kalau saya berhasil berkat bantuan Ki-moi, juga locianpwe.”

Kakek itu kembali mengangguk-angguk. Diam-diam dia kagum akan kecerdikan yang terkandung dalam jawaban pemuda itu.

“Baiklah, Siu Coan. Engkau bentuklah balatentara besar itu, dan kalau sudan ada buktinya, engkau boleh menikah dengan Kiki, tentu saja kalau Kiki mau menerimamu. Bagaimana, Kiki… maukah engkau menerima Siu Coan sebagai suamimu kalau dia sudah berhasil menghimpun balatentara yang besar…” Kini Kiki menghadapi ayahnya dengan tabah, tidak malu-malu lagi.

“Kalau kami berhasil membunuh Song Kim, kemudian kalau Ong-toako sudah berhasil menghimpun balatentara besar seperti yang diceritakannya, saya akan menerima pinangannya dan menjadi isterinya, ayah.”

“Ha-ha… engkau sudah mendengar sendiri, Siu Coan. Nah, kalian berangkatlah sekarang juga, dan jangan kembali sebelum membawa kabar bahwa jahanam itu sudah mampus di tangan kalian!”

Bukan main girang rasa hati Siu Coan mendengar kata-kata kakek itu. Kalau Kiki sudah setuju dan ayahnya sudah menyetujui pula, jelaslah bahwa Kiki akan menjadi isterinya, hal yang selama ini menjadi buah mimpi dalam tidurnya. Mereka berdua lalu berangkat berperahu meninggalkan Pulau Naga.

Seperti juga para pendekar muda lainnya, Ciu Kui Eng merasa gembira bukan main karena telah berhasil membebaskan para tawanan, dan ia sendiripun dapat terbebas dari ancaman bahaya maut di lorong bawah tanah itu berkat bantuan dan pengorbanan Koan Jit yang amat mengharukan hatinya itu. Dia juga melarikan diri keluar dari lorong bawah tanah melalui lubang yang dibuat oleh bahan peledak yang diledakkan oleh Koan Jit, dan karena khawatir akan pengejaran musuh, iapun seperti yang lain-lain melarikan dengan terpencar.

Setelah keluar dari kota, Kui Eng melakukan perjalanan secepatnya menuju ke Kanton, dan di kota ini, ia menyelinap ke dalam ruangan rahasia yang menjadi tempat pertemuan anak buahnya, yaitu para kuli pelabuhan yang pernah mengangkatnya menjadi pimpinan para kuli yang menjadi pejuang- pejuang tanah air.

Peranan yang dipegang oleh para kuli pelabuhan ini penting sekali. Mereka nampaknya saja bekerja untuk orang-orang kulit putih di pelabuhan, mengangkuti barang-barang yang naik turun kapat. Akan tetapi, diam-diam mereka dapat bertugas sebagai mata-mata pejuang, dan di samping ini, merekapun mempergunakan kesempatan untuk mencuri barang-barang orang kulit putih, terutama sekali senjata api dan peluru-pelurunya. Bantuan para kuli ini terhadap peerjuangan amat besar dan diakui oleh para pejuang.

Ketika Kui Eng pergi meninggalkan Kanton, ia menyerahkan pimpinan para kuli kepada seorang yang belum lama bekerja, namun sudah diakui oleh para temannya sebagai seorang pemuda yang cerdik dan lihai. Kui Eng mengenal pemuda ini sebagai seorang di antara anak buahnya, walaupun ia belum pernah melihat bagaimana lihainya pemuda ini.

Nama pemuda itu adalah Thio Ki, seorang pemuda bertubuh tegap dan bersikap gagah, namun pendiam. Dari sepasang matanya yang amat tajam itu saja dapat diduga bahwa dia cerdik dan gagah perkasa, juga amat pemberani. Para kuli tentu saja sudah mendengar akan peristiwa di kota raja, tentang pengkhianatan murid pejuang yang telah menangkap para pimpinan pejuang, kemudian betapa para pimpinan pejuang itu dapat dibebaskan oleh para pendekar muda.

Maka, ketika Kui Eng datang, para kuli itu berkumpul dan menyambutnya dengan penuh kegembiraan. Mereka agaknya sudah mendengar pula, bahwa Kui Eng adalah seorang di antara para pendekar muda yang telah membebaskan para tawanan penting itu, maka para kuli menyambut kedatangan Kui Eng dengan pesta dan juga dengan perasaan bangga.

Ada sesuatu pada diri Thio Ki yang membuat Kui Eng menaruh perhatian kepada pemuda itu. Dalam menyambut kedatangannya, Thio Ki memperlihatkan sikap yang berbeda dengan kawan-kawan lain. Karena ia duduk semeja dengan Thio Ki dan beberapa orang yang dianggap sebagai orang-orang yang penting di antara kelompok pejuang yang menyamar sebagai kuli-kuli pelabuhan ini, Kui Eng melihat betapa Thio Ki memandang kepadanya dengan sepasang basah air mata! Semua anak buah kelompok itu memang memandang kepadanya dengan sinar mata penuh kagum dan juga gembira dan bangga, akan tetapi tidak ada yang matanya menjadi basah oleh keharuan seperti yang ia lihat pada diri Thio Ki ini! Karena pemuda itu berusaha keras untuk menyembunyikan perasaannya dan mengusap air mata dengan punggung tangannya sebelum air mata itu tumpah keluar, maka tidak ada orang lain kecuali Kui Eng yang melihat hal ini.

Diam-diam Kui Eng merasa heran sekali, apalagi ketika beberapa kali bertemu pandang dengan Thio Ki dan melihat pancar sinar mata penuh kasih sayang ditujukan kepadanya! Diam-diam Kui Eng terkejut. Usianya sudah sembilan belas tahun, sudah cukup dewasa bagi seorang wanita untuk dapat mengenal pria melalui pandang matanya. Ia sudah terbiasa oleh pandang mata pria yang memancarkan sinar kagum atau suka, dan ia dapat membedakan antara pandang mata kagum dan tertarik dari pria, dan pandang mata yang aneh seperti yang ditujukan oleh Thio Ki kepadanya. Belum pernah ada pria memandang kepadanya seperti itu. Demikian mendalam dan menyentuh perasaannya, menimbulkan rasa haru.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali para anggauta kelompok kuli itu sudah pergi bekerja ke pelabuhan. Akan tetapi Thio Ki tidak pergi dan mengatakan kepada teman-temannya bahwa hari itu dia mangkir karena terasa badannya kurang sehat.

Dengan demikian, yang tinggal di tempat rahasia pertemuan mereka itu hanya Kui Eng dan Thio Ki berdua. Setelah mereka semua pergi dan meninggalkan Thio Ki, Kui Eng menghampiri pemuda itu dan bertanya.

“Thio-toako, kenapa engkau tidak pergi bekerja seperti teman-teman yang lain?”

Thio Ki memandang wajah gadis ini sejenak lalu menjawab, suaranya tegas walaupun lirih.

“Ciu-lihiap, aku sengaja tidak pergi bekerja karena ingin bicara berdua saja denganmu.”

Sekali ini Kui Eng terkejut. Ia mendengar sendiri tadi ketika pemuda ini mengatakan kepada teman-temannya bahwa dia tidak enak badan, akan tetapi sekarang kepadanya membuat pengakuan yang demikian jujur. Terlalu jujur sehingga terdengar berani dan lancang sekali. Akan tetapi ia tidak menjadi marah. Ia menyukai kejujuran, hanya tidak mengerti mengapa pemuda ini tadi berbohong kepada teman-temannya.

“Thio-toako, ada urusan apakah maka engkau sengaja tidak bekerja, berbohong kepada ternan-teman, hanya untuk bicara berdua dengan aku? Apa yang akan kaubicarakan?” tanya Kui Eng sambil duduk di atas sebuah kursi dan menatap tajam wajah pemuda itu, alisnya berkerut dengan sikap menegur.

Thio Ki berdiri di depan Kui Eng, sikapnya seperti seorang anak kecil yang dimarahi ibunya.

“Maaf, lihiap. Aku berbohong kepada teman-teman karena merasa malu untuk membuat pengakuan kepada mereka. Aku aku hanya ingin bicara berdua dengan lihiap, ingin mendengar tentang pengalaman-pengalaman lihiap dengan lebih jelas ketika lihiap bersama para pendekar lain membebaskan para locianpwe yang tertawan.”

Kui Eng menahan ketawanya. Pemuda ini sugguh seperti anak kecil saja! Kiranya dia demikian tertarik dengan cerita tentang pengalamannya yang semalam ia ceritakan kepada teman-teman secara singkat. Agaknya pemuda ini ingin mendengar lebih banyak dan lebih jelas lagi.

“Ah, begitukah? Duduklah, toako, dan kita bercakap-cakap,” kata Kui Eng. Dengan wajah lega dan girang, Thio Ki lalu menyeret kursi dan duduk berhadapan dengan gadis itu. Kui Eng lalu mengulang ceritanya, akan tetapi sekali ini ia bercerita dengan lebih terperinci. Diceritakannya tentang pengkhianatan Lee Song Kim, dan tentang kegagahan Koan Jit yang menjadi penyelamat dari semua tahanan dan pembebas mereka. Diceritakannya pula jalannya pertempuran dan bahaya besar yang mengancam para pendekar

ketika terjebak, tersudut dan dihujani peluru senapan.

Dengan sepasang mata mengeluarkan sinar gembira dan tegang, Thio Ki mendengarkan semua cerita itu, mengagumi kegagahan Koan Jit dan ikut cemas ketika mendengarkan cerita tentang bahaya maut yang mengancam para pendekar, terutama diri Kui Eng sendiri.

Setelah Kui Eng selesai bercerita, Thio Ki berulang kali menarik napas panjang, lalu memandang wajah Kui Eng sambil berkata.

“Sungguh berbahaya sekali apa yang baru saja lihiap alami. Ah… kuharap saja lain kali, kalau lihiap hendak melakukan pekerjaan yang demikian sulit dan berbahaya, lihiap suka memberi tahu kepadaku dan aku akan ikut serta, akan membantu lihiap sekuat tenaga.”

Sikap dan ucapan pemuda itu sedemikian seriusnya sehingga Kui Eng yang tadinya merasa geli itu menahan senyumnya. Pemuda ini bukan kakanak- kanakan, melainkan bicara dengan serius, dan teringatlah ia ketika ia datang kemarin, melihat betapa Thio Ki menahan tangisnya. Tergugah kembali keinginan tahunya dan sekaranglah saatnya ia dapat bertanya kepada pemuda ini, selagi mereka berdua saja.

“Thio-toako, kemarin ketika aku pulang dan baru datang, aku melihat sikapmu seperti orang menangis. Kenapakah?”

Bertanya demikian, Kui Eng menatap tajam wajah pemuda itu penuh selidik. Mata Kui Eng memang terkenal tajam sehingga ketika ia menatap dengan penuh perhatian, Thio Ki merasa seolah-olah sinar mata itu menembus dan menjenguk isi hatinya. Akan tetapi, dia balas memandang dan dengan suara yang tegas dan jujur diapun menjawab.

“Aku merasa begitu berbahagia melihat lihiap pulang dalam keadaan selamat. Sungguh aku merasa khawatir sekali akan keselamatanmu, lihiap. Kalau sampai terjadi sesuatu yang mengakibatkan lihiap cedera berat atau tewas, ahh… aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan dan bagaimana pula dengan kehidupanku ini. Karena itu, aku minta dengan sangat agar lain kali lihiap suka mengajakku. Aku akan membantu dan membelamu dengan taruhan nyawaku, lihiap.”

Kini Kui Eng terbelalak memandang pemuda itu, bahkan saking heran dan kagetnya mendengar ucapan penuh perasaan itu, iapun bangkit berdiri.

“Thio-toako, apa  maksudmu?  Apa  artinya  semua  pengakuanmu  itu?

Kenapa engkau demikian memperhatikan diriku?”

Thio Ki memandang wajah gadis itu tanpa berkedip, dan agaknya memang dia sudah mengambil keputusan untuk bicara terus terang kepada pendekar ini tanpa sungkan atau takut lagi, siap menghadapi segala resiko pengakuanya. “Ciu Kui Eng lihiap, masih belum dapatkah engkau mengerti bahwa aku amat mencintaimu? Aku rela berkorban nyawa demi untuk membela dan melindungimu. Aku cinta padamu, lihiap. Nah, aku sudah membuat pengakuan. Kalau lihiap merasa tersinggung dan marah, silahkan menjatuhkan

hukuman apapun kepadaku.”

Kui Eng memandang bengong, tidak tahu perasaan apa yang mencekam hatinya di saat itu. Ia sama sekali tidak marah, bahkan ada rasa kagum, ada rasa gembiia, akan tetapi juga kecewa di dalam hatinya. Kagum melihat keberanian dan kejujuran pemuda ini menyatakan cintanya kepadanya, kagum karena Thio Ki hanya seorang kuli pelabuhan! Hanya seorang kuli pelabuhan dan pejuang biasa saja, bukan pendekar sakti, telah berani mengaku cinta. Hal ini membutuhkan keberanian besar dan ia menjadi kagum oleh keberanian dan kejujuran itu. Dan iapan merasa gembira bahwa di dunia ini ada yang mencintainya sedemikian rupa sehingga siap dan rela berkorban nyawa untuk membela dan melindunginya. Akan tetapi iapun kecewa mengapa bukan pria idamannya yang membuat pengakuan cinta itu! Kalau saja yang mengaku cinta kepadanya itu Ci Kong, bukan Thio Ki, alangkah akan bahagia rasa hatinya.

Sejenak mereka saling pandang, sinar mata Thio Ki mengandung penuh harapan, sebaliknya sinar mata Kui Eng mengandung penuh penyesalan. Ia merasa menyesal mengapa ia harus menolak cinta kasih seorang pemuda yang demikian mencintainya seperti Thio Ki, walaupun pemuda ini hanya seorang kuli pelabuhan! Kalau saja iapun hanya seorang wanita biasa, kalau saja di sana tidak ada Ci Kong. Ah, betapa akan bahagia rasa hatinya menerima cinta kasih seorang pemuda seperti Thio Ki ini.

“Lihiap, aku tidak akan minta maaf, karena aku tidak merasa bersalah dengan pengakuan cintaku terhadap dirimu. Oleh karena itu, kalau lihiap merasa tersinggung dan hendak menghukumku, silahkan.”

Kui Eng menggeleng kepala.

“Jangan salah sangka, toako. Aku tidak marah dan tidak merasa tersinggung, bahkan aku merasa berterima kasih sekali. Kita adalah sahabat dan rekan seperjuangan, maka memang sebaiknya kalau bersikap jujur seperti yang telah kau perlihatkan. Aku hanya merasa menyesal karena terpaksa aku tidak dapat menyambut perasaan hatimu yang murni itu, karena aku… aku telah jatuh cinta kepada seorang pria lain. Nah, baru kepadamulah aku membuat pengakuan ini, untuk mengimbangi kejujuranmu. Aku… aku telah jatuh cinta kepada Tan Ci Kong, tidak tahu apakah perasaan hatiku ini mendapat sambutannya ataukah aku hanya bertepuk sebelah tangan.”

Kui Eng menarik napas panjang dan menundukkan mukanya, tidak tega melihat wajah Thio Ki yang tentu akan menua terpukul sekali mendengar penolakannya yang terus terang.

Dan memang Thio Ki merasa terpukul, akan tetapi hal ini diterimanya dengan jantan. Hanya wajahnya saja yang berubah agak pucat dan pandang matanya agak sayu, karena jawaban itu memang merupakan pukulan batin yang cukup berat baginya. Namun, bibirnya tersenyum pahit dan diapun menarik napas panjang sampai tiga kali untuk menenangkan hatinya.

Sampai lama mereka berdiam diri, Thio Ki seperti Orang termenung, Kui Eng tetap menundukkan mukanya. Akhimya Thio Ki merasa tenang kembali.

“Terima kasih, lihiap. Keterusteranganmu sungguh banyak menolongku. Aku semakin kagum kepadamu. Engkau adalah seorang wanita yang sukar dicari keduanya di dunia ini, dan memang pilihan hatimu itu tepat sekali. Aku sudah mendengar siapa adanya pendekar muda Tan Ci Kong, murid Siauw-lim- pai yang namanya menggemparkan itu. Dan aku hanya dapat berdoa semoga lihiap akan dapat hidup bahagia bersamanya. Maafkan segala yang telah kulakukan dan kuucapkan, dan anggap saja aku tidak pernah mengatakan apa- apa, sehingga kita tetap menjadi sahabat dan rekan. Nah, aku mohon pamit, akan menyusul kawan-kawan bekerja.”

Tanpa menanti jawaban, Thio Ki lalu meninggalkan gadis itu. Sepeninggal pemuda itu, Kui Eng duduk termenung. Hatinya merasa bimbang. Ia sudah membuat pengakuan kepada orang lain akan cintanya terhadap Ci Kong, padahal kepada Ci Kong sendiripun ia belum pernah bicara tentang cinta! Dan iapun tidak tahu apakah Ci Kong akan membalas cintanya ataukah tidak! Bagaimana kalau Ci Kong tidak mencintanya? Nampaknya Ci Kong demikian akrab dengan Lian Hong, juga dengan Diana! Dan ia merasa kagum dan kasihan kepada Thio Ki, yang menerima pukulan batin secara demikian gagah. Kerelaan dan ketulusan hati pemuda ini sungguh berkesan di dalam sanubarinya. Sayang bahwa Thio Ki hanya seorang kuli pelabuhan biasa, seorang pekerja kasar dan pejuang biasa saja!

Tiba-tiba ia mendengar langkah kaki memasuki ruangan rahasia tempat para pejuang berkumpul dan berunding itu. Kui Eng mengangkat muka dan mengerutkan alisnya. Kenapa Thio Ki datang kembali? Sungguh bodoh kalau pemuda itu datang kembali, hanya akan memperburuk keadaan dan tidak mengenakkan perasaan saja! Kenapa sikap yang amat bijaksana itu kini berubah menjadi suatu kecanggungan dan kebodohan?

Timbul kemarahan dalam hati Kui Eng, dan ia sudah siap menegur kalau pemuda itu muncul di ambang pintu. Akan tetapi, ketika orang yang langkahnya terdengar tadi muncul di ambang pintu ruangan itu, semua kemarahan lenyap dari pikiran Kui Eng, terganti oleh rasa kaget dan heran. Ia sudah meloncat bangkit berdiri dan menatap laki-laki berusia lima puluh tahun lebih yang kini berdiri di ambang pintu. Ia mendengar langkah-langkah kaki lain datang ke tempat itu dan segera ia bersikap waspada.

Wajah laki-laki itu tidak asing baginya. Seorang laki- laki yang tinggi besar tubuhnya, perutnya gendut, mukanya licin dan sepasang matanya sipit sekali. Dan kini bermunculan belasan orang di belakang laki-laki itu, dan iapun terkejut karena belasan orang itu berpakaian seperti perwira-perwira bala tentara kerajaan!

“Hahaha, sudah kukira, tentu di sini tempat rahasia para pemberontak itu. Dan kiranya pemimpin perempuan yang disohorkan orang itu adalah engkau. Selamat bertemu kembali, nona Ciu Kui Eng!”

Suara orang inipun amat dikenalnya, akan tetapi tetap saja Kui Eng tidak dapat mengingat lagi siapa adanya orang ini. Ia memandang dengan alis berkerut, lalu membentak.

“Siapakah engkau?”

“Ha-ha-ha, sudah lupa kiranya kepada sahabat lama! Agaknya setelah menjadi pemberontak, engkau hanya mengenal orang-orang jahat dan pemberontak-pemberontak hina saja, nona. Aku adalah komandan Ma, pernah menjadi sahabat keluargamu.”

Ah kenapa ia sampai lupa? Tentu saja. Ma Cek Lung, komandan pasukan keamanan kota Kanton! Dan tanpa bertanya, iapun tahu bahwa ia berada dalam bahaya. Tentu Ma-ciangkun ini datang bersama rekan-rekannya untuk melakukan penyerbuan dan pembersihan terhadap para pejuang. Untung bahwa semua anak buahnya telah pergi meninggalkan tempat itu, sehingga tidak ada bukti bahwa para kuli pelabuhan itu adalah pejuang-pejuang. Juga untung sekali bahwa Thio Ki baru saja pergi dari situ. Ia tidak takut atau khawatir menghadapi belasan orang perwira itu. Iapun merasa tidak perlu untuk berbantahan dengan Ma Cek Lung, maka dengan sikap acuh, ia llu mengambil kursi yang tadi ia duduki, dengan kedua tangan ia mematah- matahkan kursi, mengambil sebatang kakinya yang panjang, lalu dengan senjata tongkat kaki kursi di tangan, iapun membentak.

“Kalian datang mencari mampus!”

Dan tongkat di tangannya itu sudah menyambar ke depan. Akan tetapi agaknya Ma Cek Lung sudah mengenal kelihaian orang, setidaknya dia sudah mendengar bahwa puteri bekas sahabatnya yang kini menjadi pemberontak ini memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi. Maka dia sudah meloncat ke belakang, dan belasan orang perwira itu sudah berlompatan masuk ke dalam ruangan yang luas itu, memegang golok besar dan mengepungnya !

Melihat cara tiga belas orang ini, diam-diam Kui Eng terkejut. Kiranya tiga belas anak buah Mi Cek Lung ini bukan orang biasa, pikirnya… dan iapun teringat akan nama Chap-sha toa-to-tin (Barisan Tigabelas Golok Besar) dari kota raja yang kabarnya amat berbahaya dengan permainan golok besar mereka! Agaknya Ma Cek Lung, dalam usahanya melakukan pembersihan, kini dibantu oleh jagoan-jagoan dari kota raja ini.

Dugaannya memang tidak keliru. Tiga belas orang berpakaian perwira yang mengepungnya itu adalah Chap-sha toa-to-tin yang namanya terkenal sekali di kota raja. Kini tiga belas orang yang memiliki ilmu golok dari Bu-tong- pai itu telah mengepung, dan mereka bergerak mengitari Kui Eng dengan pasangan kuda-kuda yang berubah.

Kui Eng yang terkepung di tengah-tengah, berdiri tegak dengan potongan kayu di tangan, tubuhnya sama sekali tidak bergerak, kedua matanya saja melirik ke kanan kiri, kedua telinganya juga dikerahkan untuk mengikuti gerakan mereka yang berada di belakang tubuhnya yang tak dapat diikuti gerakannya dengan pandang mata. Ia sedang memperhitungkan bagaimana untuk meloloskan diri dari kepungan. Nampak jelas bahwa niatnya meloloskan diri sudah tercium musuh, karena barisan tiga belas orang itu, terutama memberi tekanan dan kekuatan ke arah pintu.

“Hemm, nona Ciu Kui Eng. Mengingat akan hubungan baik antara orang tuamu dan aku, mengingat bahwa dahulu aku telah mengenalmu ketika engkau masih kanak-kanak, kunasihatkan agar engkau menyerah saja. Percuma engkau Chap-sha toa-to-tin, karena tubuhmu tentu akan tersayat-sayat menjadi empat belas potong. Sayang sekali kalau begitu, bukan? Engkau masih muda dan cantik jelita. Menyerahlah… dan kalau engkau berjanji mau membantu pemerintah dan menunjukkan dimana adanya para pemberontak lainnya, aku dapat menolongmu agar engkau diampuni.”

Kui Eng memandang marah ke arah orang gendut itu. Ingin ia menggunakan tongkatnya membunuh orang itu, akan tetapi hal itu tidak mungkin dapat dilakukan karena pengepungan tiga belas orang itu amat ketat. Golok besar di tangan mereka berkilauan saking tajamnya dan tangan-tangan yang memegang golok itupun mantap dan kokoh kuat.

“Bawa saja ocehanmu sebagai bekal ke neraka!” bentaknya, dan tiba-tiba Kui Eng menyerang ke kanan, ke arah pengepung yang berada di sebelah kanannya.

Tongkat pendek itu, bekas kaki kursi, berkelebat menjadi gulungan sinar yang amat cepat menerjang, dan dengan bertubi-tubi sudah menotok ke arah jalan darah seorang pengepung, lalu dilanjutkan dengan sambaran ke arah mata orang lain, dan tusukan ke arah lambung orang ketiga.

Terdengar suara berkerontangan nyaring dan nampak sinar golok berkelebatan menyilaukan mata ketika banyak golok melakukan penangkisan secara serentak, sehingga tiga kali serangan bertubi dari Kui Eng itu semua dapat tertangkis!

Kui Eng terkejut, kiranya bukan kosong saja nama besar Chap-sha toa-to- tin. Setiap kali tongkatnya menyerang, tongkat bertemu dengan sedikitnya empat batang golok besar, dan tentu saja tenaga empat orang itu cukup untuk mengimbangi, bahkan menekan tenaganya sendiri!

Tiba-tiba terdengar aba-aba, dan ada angin menyambar-nyambar dari arah belakangnya. Kui Eng cepat menggerakkan tubuhnya, memutar sambil menangkis dan aba-aba itupun dikeluarkan terus oleh seorang di antara para pengepungnya, diikuti oleh tiga belas orang itu yang bergerak secara teratur sekali, melakukan serangan kepadanya secara bertubi-tubi.

Kui Eng menjadi semakin sibuk dan terpaksa mengerahkan tenaga dan memainkan Cui-beng Hek-pang, yaitu ilmu Tongkat Hitam Pengejar Nyawa. Namun, melihat betapa banyaknya orang yang mengeroyok dan mengepungnya, sekali ini ia tidak mampu memainkan ilmu tongkat di bagian yang menyerang, melainkan menggunakan tongkatnya sebagai perisai untuk melindungi seluruh tubuh dari sambaran golok yang tiada hentinya itu. Untung bahwa ia memiliki ginkang atau ilmu meringankah tubuh yang istimewa. Kegesitan dan keringanan tubuhnya membantu banyak. Ia dapat berloncatan ke sana-sini bukan hanya sekedar mengelak, melainkan dengan perubahan kedudukan itu, ia mampu mengacaukan pengepungan.

Namun, ternyata bahwa Cap-sha Toa-to-tin benar hebat sekali. Mereka memiliki gerakan yang aneh dan rapi, merupakan benteng yang amat kuat sehingga sukar sekali dibobol. Biarpun kegesitan tubuh Kui Eng dan kelihaian permainan tongkat gadis itu membuat mereka sukar sekali untuk dapat merobohkan Kui Eng, namun agaknya akan amat sukar pula bagi gadis perkasa itu untuk meloloskan diri.

Sementara itu, dari luar kepungan, Ma Cek Lung tertawa-tawa dan tetap membujuk agar gadis itu menyerah saja. Perwira gendut ini memang mengharapkan Kui Eng menyerah dan menakluk, karena dia melihat dua keuntungan baginya kalau gadis itu menyerah. Pertama, gadis itu manis bukan main dan dapat dia membayangkan betapa akan senangnya kalau gadis itu mau menjadi kekasihnya sebagai jaminan keselamatannya, dan kedua, dia akan memperoleh tenaga bantuan yang amat kuat. Kalau gadis itu mau membantunya, tentu akan mudah baginya mengetahui tempat persembunyian para pemberontak dan dia akan memperoeh pahala besar kalau berhasil menangkapi mereka.

Akan tetapi tentu saja Kui Eng tidak sudi menyerah. Gadis ini maklum bahwa ia menghadapi pengeroyokan barisan golok yang amat kuat, namun ia bertekad untuk melawan sampai akhir! Tongkatnya berkelebatan membentuk sinar bergulung-gulung, dan tubuhnya menyelinap di antara gulungan sinar golok yang datang seperti hujan. Bagaimanapun juga, ia berada di pihak yang terdesak dan terancam bahaya, tidak mendapatkan kesempatan lagi untuk balas menyerang. Tiga belas orang bergolok melakukan penyerangan seperti gelombang dari laut yang datang dan pergi tanpa henti-hentinya.

“Ha-ha-ha, nona Ciu Kui Eng yang manis, lebih baik engkau menyerah sebelum kuliltmu yang halus itu tersayat golok. Sayang, bukan? Katakanlah engkau menyerah dan aku akan memberi aba-aba agar pengeroyokmu mundur dan... ahhh…”

Tiba-tiba ada bayangan didahului sinar yang menyilaukan mata, dan tubuh komandan Ma Cek Lung yang sedang tertawa-tawa dan membujuk Kui Eng itupun terpelanting dengan mandi darah karena lehernya hampir putus dibabat sebatang pedang di tangan pria muda yang baru muncul. Pria ini kini terjun ke dalam ruangan dimana Kui Eng dikepung, dan pedangnya membuat gerakan amat kuat mengeluarkan suara mengaung dan membentuk sinar bergulung- gulung! Karena datangnya penyerang dari luar kepungan, ditujukan kepada para pengepung, tentu saja kepungan Tiga Belas Golok Besar itu menjadi buyar dan kacau.

Akan tetapi, agaknya barisan ini memang sudah matang dan siap menghadapi segala macam kemungkinan. Terdengar aba-aba dari pemimpin mereka, dan tiba-tiba saja barisan itu terbelah menjadi dua bagian, tujuh orang tetap mengepung dan mengeroyok Kui Eng, sedangkan yang enam mengepung pria itu.

“Aha, kiranya sisa orang-orang Kang-sing-pang yang datang menghantar nyawanya!” bentak pimpinan barisan itu kepada pendatang baru.

Akan tetapi pria berpedang itu tidak menjawab, melainkan memutar pedangnya dan segera dia dikeroyok oleh enam orang yang mengepungnya. Terdengar suara berdenting-denting dan nampak bunga api berpijar ketika pedangnya berkali-kali bertemu dengan golok para pengeroyoknya.

Nampak oleh Kui Eng betapa para pemegang golok itu terkejut karena golok mereka terpental bertemu dengan pedang yang mengandung tenaga kuat. Juga ia melihat betapa gerakan penolongnya itu cepat dan amat kuat, ilmu pedang yang amat lihai. Semakin kagumlah hatinya, karena orang ini bukan lain adalah Thio Ki! Kuli pelabuhan itu ternyata kini menjadi seorang ahli pedang yang hebat, sehingga biarpun dikeroyok oleh enam orang, segera dia mampu mendesak mereka!

Kui Eng merasa terkejut, heran dan juga kagum, dan semua ini menambah besar semangatnya. Tongkat sederhana di tangannya berkelebatan dan terdengar teriakan kesakitan ketika ujung tongkatnya itu meremukkan tulang pundak kiri seorang pengeroyok! Akan tetapi pada saat itu, terdengar teriakan lain dan seorang di antara mereka yang mengeroyok Thio Ki juga terhuyung ke belakang dengan paha terluka lebar oleh ujang pedang pemuda itu!

Kui Eng menjadi semakin kagum. Kiranya pemuda ini lihai sekali, dan agaknya tidak mau kalah olehnya. Maka kegembiraannya bangkit, dan gadis ini setelah mengerling dan tersenyum ke arah Thio Ki, dan cepat menggerakkan tongkatnya. Di lain pihak, Thio Ki juga mempercepat gerakan pedangnya, dan kini keduanya seperti berlomba untuk bersicepat menjatuhkan lawan. Berturut- turut Kui Eng melukai dua orang, dan Thio Ki juga merobohkan dua orang. Melihat kehebatan pemuda yang baru datang ini, yang membuat keadaan menjadi berbalik dan amat berbahaya bagi mereka. Cap-sha toa-to-tin segera mengeluarkan seruan keras dan mereka cepat menyambar teman-teman yang terluka, lalu melarikan diri dari tempat itu.

Thio Ki hendak melakukan pengejaran, akan tetapi Kui Eng berseru. “Toako, jangan kejar. Mari kita cepat lari! Mereka tentu akan mendatangkan pasukan lebih besar.”

Pemuda itu sadar dan kagum akan ketenangan Kui Eng yang dalam keadaan bagaimanapun memperlihatkan kecerdikan seorang pemimpin. Mereka lalu berloncatan pula meninggalkan tempat itu, dan tak lama kemudian mereka telah keluar dari kota dan berada di pantai laut yang sunyi. Keduanya melepas lelah dan duduk di atas pasir yang putih bersih, menghadap ke lautan yang tenang dan biru.

“Thio-toako, engkau sungguh pandai menyembunyikan rahasia dirimu.”

Kui Eng berkata sambil memandang wajah pemuda itu yang kini nampak gagah. Thio Ki mengerutkan alisnya.

“Maaf, lihiap…”

“Sudahlah, jangan membikin aku menjadi malu dengan sebutan lihiap (pendekar wanita).”

“Akan tetapi, engkau memang seorang pendekar wanita...”

“Aihhh, Thio-toako, melihat gerakan pedangmu tadi, aku tidak akan mampu menandingimu! Kalau engkau menyebut aku lihiap, apakah aku harus menyebutmu taihiap (pendekar besar)?”

“Lalu, aku harus menyebutmu apa?”

“Sebut saja namaku, dan karena engkau lebih tua, boleh menyebut moi- moi.”

“Ah, mana aku berani?”

“Kenapa tidak, toako? Aku menyebutmu toako (kakak), apa salahnya engkau menyebut moi-moi (adik) kepadaku? Jangan engkau berpura-pura lagi. Engkau bukanlah kuli pelabuhan biasa, bukan pejuang biasa, dan tadi aku mendengar seorang di antara mereka menyebut nama Kang-sim-pang (Perkumpulan Hati Baja).”

Thio Ki menarik napas panjang.

“Baiklah, Ciu-moi (adik Ciu) dan terima kasih atas kebaikanmu.”

“Siapa yang patut berterima kasih? Engkau telah menolongku, toako, bahkan mungkin engkau tadi telah menyelamatkan nyawaku. Akulah yang sepatutnya berterima kasih kepadamu.”

“Sudahlah, Ciu-moi, di antara kita yang menjadi rekan seperjuangan, mana perlu berterima kasih? Sudah sepatutnya kalau kita saling membantu.”

“Engkau benar, aku kagum sekali kepadamu, toako. Selama ini engkau mampu menyembunyikan keadaan dirimu yang sebenarnya. Sebetulnya, siapakah engkau ini, dan apa hubunganmu dengan Kang-sim-pang?”

“Hubunganku dekat sekali dengan Kang-sim-pang, karena mendiang ayah adalah ketua perkumpulan kami itu.”

“Ahhh…”

“Engkau sudah tahu akan Kang-sim-pang, Ciu-moi?”

“Tentu saja! Sebuah perkumpulan orang-orang gagah yang menentang pemerintah penjajah pula, dan yang dalam beberapa bulan ini diserbu dan dihancurkan oleh pasukan pemerintah di daerah timur Propinsi Ce-Kiang, bukan?”

“Benar, dan Cap-sha Toa-to-tin itulah di antara mereka yang menyerbu. Seorang di antara anak buah kami telah dapat terbujuk oleh penjajah dan mengkhianati kami. Dalam penyerbuan itu, banyak saudara kami tewas termasuk ayah dan ibu. Aku mampu lolos dan menjadi orang buruan, lalu aku lari ke sini dan bergabung dalam kelompok kuli pelabuhan.” Kui Eng mengangguk-angguk dan memandang kagum.

“Kiranya engkau adalah putera pangcu dari Kang-sim-pang, dan engkau menyamar sebagai kuli pelabuhan, setiap hari bekerja kasar dan berat di pelabuhan sampai berbulan-bulan. Sungguh engkau hebat dan tahan uji, toako.”

Thio Ki menarik napas panjang.

“Karena engkau yang menjadi pimpinan, maka aku menjadi betah menyamar sebagai kuli pelabuhan. Ah, sudahlah tidak ada gunanya bicara soal itu. Sekarang yang penting setelah tempat kita diketahui musuh, sebaiknya aku cepat memberi kabar kepada kawan-kawan agar jangan sekali-kali datang ke tempat itu. Kalau sampai diketahui bahwa teman-teman kita yang menjadi kuli pelabuhan adalah anggauta perjuangan, tentu akan celaka kita semua.”

Kui Eng mengangguk, diam-diam merasa semakin menyesal. Karena ia telah jatuh cinta kepada Ci Kong, ia harus menolak cinta seorang pemuda yang demikian hebat seperti Thio Ki! Bukan seorang kuli pelabuhan biasa, bukan seorang pejuang biasa, melainkan seorang pendekar berilmu tinggi, putera ketua Kang-sim-pang yang terkenal.

Mereka lalu berpisah, dan Kui Eng menyerahkan kepada Thio Ki untuk mencari tempat pertemuan baru bagi kawan-kawan mereka, bahkan menyerahkan kepemimpinan sementara kepada Thio Ki, karena ia akan pergi mencari Ci Kong! Akan tetapi kepada Thio Ki, untuk mencegah agar jangan sampai pemuda itu tersinggung, ia tidak menyebut-nyebut nama Ci Kong, melainkan mengatakan bahwa ia ingin mencari gurunya, yaitu Tee-tok.

Berpisahlah kedua orang muda itu, meninggalkan kesan yang mendalam di hati Kui Eng.

“Sudah yakin benarkah engkau akan rencanamu ini, Diana? Bagaimana kalau sampai engkau gagal, dan terancam bahannya maut?” untuk terakhir kalinya, kakek berpakaian pengemis itu berkata dengan sikap meragu.

Semenjak mereka turun gunung menuju ke Kanton, Bu-beng San-kai atau San-tok, kakek itu, berkali-kali membujuk Diana agar jangan melanjutkan niatnya, namun gadis itu tetap nekat.

“Aku sudah yakin benar, suhu.” jawab Diana dengan suara tegas, seperti jawabannya pada setiap bujukan suhunya agar ia tidak melanjutkan rencananya itu.

“Dan andaikan ada bahaya mengancam, aku sekarang sudah dapat menjaga diri, bukan? Harap suhu tidak khawatir. Aku harus melakukan sesuatu untuk kawan-kawan tercinta, untuk perjuangan mereka yang mulia, dan untuk mencegah bangsaku menghalangi perjuangan itu, demi kebaikan bangsaku sendiri.”

Mereka kini telah tiba di luar kota Kanton. San-tok berkeras mengantar muridnya ke Kanton, karena bagaimanapun juga, hatinya tidak tega membiarkan murid yang dulu dibenci akan tetapi kini amat disayangnya itu pergi sendirian saja. Sebagai seorang gadis berkulit putih, tentu saja Diana akan menarik perhatian sepanjang jalan dan akan mengalami banyak sekali gangguan.

Rakyat sudah mulai menaruh perasaan benci terhadap orang kulit putih dan tentu saja mereka tidak akan mau percaya kalau mendengar bahwa Diana adalah seorang gadis kulit putih yang berpihak kepada para pejuang. Juga Diana, dengan kulitnya yang putih, rambutnya yang keemasan dan matanya yang biru, tidak mungkin menyamar, walaupun ia berpakaian seperti wanita biasa.

Dan memang di sepanjang perjalanan menuju ke Kanton, disana menimbulkan banyak keheranan, dan banyak pula gangguan. Namun, dengan adanya San-tok, tak seorangpun berani mengganggunya sampai akhirnya pada sore hari itu, mereka tiba di luar tembok kota Kanton.

Kepercayaan Diana kepada dirinya sendiri bukan tanpa alasan. Ia kini bukanlah Diana yang dulu. Ia bukan saja telah digembleng oleh San-tok dengan ilmu silat yang praktis, akan tetapi bahkan telah menenima pelajaran dan Hai- tok dan Tee-tok. Walaupun dari mereka itu hanya memperoleh beberapa jurus, namun merupakan jurus-jurus pilihan. Diana kini bukanlah gadis yang lemah lagi. Rencananya timbul ketika ia mendengar tentang permusuhan yang semakin menjadi antara para pejuang dan pasukan kulit pulih. Hal ini membuat ia prihatin sekali.

Bangsanya datang sebagai pedagang, kenapa harus mencampuri urusan pribadi negara asing? Apa pula kalau rakyat asing di negeri itu memperjuangkan kebebasan mereka sendiri. Seharusnya orang kulit putih menjaga kebaikan hubungannya dengan rakyat, karena akhirnya dengan rakyatlah mereka akan berdagang. Maka ia lalu kemukakan pendapat dan rencananya kepada San-tok. Tentu saja kakek ini merasa girang, hanya masih khawatir kalau-kalau murid yang disayangnya itu akan menderita celaka. Dia sendiri makium bahwa tentu perjuangan akan lebih lancar dan berhasil kalau tidak ada orang kulit putih yang menjadi penghalang besar.

“Diana, sekali lagi kuperingatkan kepadamu bahwa rencanamu ini amat berbahaya bagi dirimu sendiri. Kalau engkau gagal, engkau mungkin akan dianggap pengkhianat oleh bangsamu, ditangkap dan dihukum sebagai seorang pengkhianat yang rendah. Ah, alangkah sedihnya hatiku kalau begitu, dan aku tidak akan berdaya untuk dapat menolongmu, munidku.”

Diana yang biasanya bersikap lugu dan tidak pernah mempergunakan peraturan-peraturan terhadap gurunya, sekali ini tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di depan kaki gurunya. Hatinya terharu sekali, karena baru sekarang ia merasa benar bahwa gurunya amat menyayanginya.

“Suhu, aku dapat membela diri, akan tetapi andaikata sampai aku gagal, dihukum atau dibunuh sekalipun, anggap saja bahwa aku gugur dalam membela perjuangan suhu dan kawan-kawan. Aku percaya bahwa pamanku Kapten Charles Elliot akan dapat mempertimbangkan semua pendapatku demi kebaikan bangsa kami sendiri.”

San-tok tersenyum, lalu menggunakan tangan kanannya menyentuh kepala yang rambutnya seperti benang emas itu.

“Baiklah, muridku. Aku percaya akan kesanggupanmu. Nah, sebelum gelap, engkau masuklah ke dalam kota. Aku hanya mengharapkan agar engkau dapat berhasil.”

Diana bangkit dan sejenak memegang tangan gurunya.

“Suhu, kalau sampai aku gagal, tolong sampaikan ucapan selamat tinggalku kepada Tan Ci Kong.”

Gurunya mengangguk, maklum akan isi hati muridnya. “Hemm... kau mencinta Ci Kong?”

Soal cinta merupakan hal yang tidak memalukan untuk dibicarakan bagi Diana. Ia menjawab lirih.

“Pernah aku mencinta seorang pria bangsaku, suhu, dan semenjak itu, semenjak kami dipisahkan, aku tidak pernah mencinta pria lain. Akan tetapi Ci Kong, ah... aku berhutang budi dan nyawa kepadanya. Aku suka padanya dan mungkin saja aku jatuh cinta padanya. Tapi dia. dia adalah satu-satunya pria

yang dicinta oleh Lian Hong! Suhu harus menjodohkan Lian Hong dengan Ci Kong. Sudahlah, suhu, aku menghaturkan banyak terima kasih atas segala kebaikan suhu yang telah dilimpahkan kepadaku. Selamat tinggal, suhu.”

“Pergilah, muridku,” kata San-tok.

Gadis itu lalu membalikkan tubuhnya, dan dengan langkah lebar menuju ke pintu gerbang kota Kanton. Sejak masuknya Diana ke dalam pintu gerbang, banyak menarik perhatian orang. Para penjaga sendiri memandang dengan mata terbelalak, akan tetapi karena gadis yang mengenakan pakaian petani dusun itu adalah seorang gadis kulit putih yang berambut kuning emas dan bermata biru, mereka tidak berani menegur.

Ketika Diana menuju ke gedung tempat tinggal pamannya, setibanya di sebuah tikungan, tiba-tiba ada yang memanggil namanya dengan teriakan nyaring, dan iapun cepat menoleh ke kiri.

“Diana! Benar engkaukah ini? Ah, seperti dalam mimpi saja rasanya!”

Diana memandang pria yang berpakaian kapten itu, pria yang gagah dan tampan sekali, yang amat dikenalnya karena pria itu adalah Peter Dull. Diana sudah lama sekali tidak pernah bicara dalam bahasanya sendiri, maka biarpun ia masih dapat mendengar dengan jelas dan mengerti semua kata-kata Peter Dull, ia sendiri merasa kaku untuk menjawab. Dengan hati-hati dan kaku, iapun menjawab.

“Benar, aku adalah Diana Mitchell. Dan engkau adalah tuan Peter Dull, bukan?”

Peter membelalakkan matanya, mengamati Diana dan kepala sampai ke kaki, mulutnya mengarahkan senyum karena merasa lucu sekali. Diana dalam pakaian petani dusun, dengan sepatu kain butut, dan bicaranya itu! Seperti baru belajar bahasa Inggeris saja! Akhirnya, meledaklah ketawanya.

“Ha-ha-ha, sungguh ajaib! Lucu dan aneh sekali! Satu tahun lebih engkau menghilang dan kini muncul seperti ini. Lucu! Akan tetapi harus ku akui bahwa engkau menjadi semakin sehat, cantik dan segar saja, Diana!”

Dengan kaku dan dingin, Diana mengangguk.

“Terima kasih dan selamat tinggal, tuan Peter, aku harus segera menemui paman Charles Elliot.”

“Diana, berhenti dulu!” Peter Dull berseru.

“Pamanmu tidak berada di Kanton lagi. Sudah lama dia pindah tugas ke Shanghai.”

Diana menahan langkahnya.

“Apa? Bukankah selama itu dia menjadi kepala perwakilan English East Indian Company di sini? Mengapa pindah dan sejak kapan?”

Peter tersenyum.

“Mari kita bicara di dalam benteng, Diana. Banyak hal penting terjadi yang perlu kauketahui. Kalau perlu, aku akan mengantarmu ke Shanghai dengan kapal. Mari, dan jangan sebut aku tuan. Bukankah sejak dulu kita ini bersahabat? Dan aku kuharap engkau suka memaafkan segala peristiwa yang lalu, Diana.”

Diana memandang tajam. Benarkah Peter Duli ini telah berubah, menyesali perbuatannya yang dahulu? Ia mempunyai urusan penting, tidak seharusnya melibatkan diri dalam urusan dendam yang hanya akan menjadi penghalang rencananya. Ia harus berbaik dengan pamannya dan dengan semua pejabat pasukan bangsanya.

“Baiklah, Peter. Sudah kulupakan semua yang terjadi di masa lalu.” “Bagus! Selamat datang, Diana… dan mari kita  masuk ke benteng,” kata

Peter mengulurkan tangan yang disambut oleh Diana.

Mereka lalu melangkah menuju ke benteng di dekat pantai. Hari telah gelap ketika mereka memasuki perbentengan dan lampu-lampu telah dinyalakan. Para perajurit yang bertugas jaga, terbelalak heran ketika melihat komandan mereka masuk bersama seorang gadis kulit putih yang pakaiannya aneh. Apa lagi ketika mereka mengenal bahwa gadis itu adalah Diana Mitchell, gadis yang sempat menggemparkan seluruh perajurit di Kanton itu dengan petualangannya. Mata para perajurit memandang terbelalak sampai Peter dan Diana memasuki ruangan besar di dalam.

“Uiii… akhinya ia jatuh ke tangan Kapten Peter juga, ha-ha!” kata seorang perajurit tua yang brewok.

Kini para perajurit yang baru, yang belum mengenal Diana, bertanya-tanya kepada para perajurit tua, dan ramailah keadaan di bagian luar itu karena mereka yang tahu akan persoalannya lalu bercerita kepada mereka yang tidak tahu. Seorang sersan muda yang agaknya juga belum mengenal Diana, bertanya kepada perajurit brewok.

“Siapa sih perempuan itu dan apa maksudmu ia jatuh ke tangan Kapten Peter.”

Prajurit brewok tertawa lagi.

“Aha, engkau belum tahu, Sersan. Sejak dulu, Kapten Peter tergila-gila kepada Diana Mitchell, gadis cantik itu, keponakan Kapten Charles Elliot. Kabarnya mereka cekcok dan gadis itu melarikan diri. Berbulan-bulan lamanya Kapten Peter mengerahkan pasukan untuk mencari dan membawanya kembali, namun tanpa hasil. Ia mulai dilupakan karena sudah menghilang selama satu tahun lebih, disangka sudah mati. Bahkan gadis itu dikabarkan bersekutu dengan para pemberontak! Akan tetapi siapa bahwa hari ini sang domba dengan jinaknya datang kembali sendiri ke kandang, siap untuk diterkam sang harimau yang sudah lama kelaparan, ha-ha-ha!”

Seraan itu ikut tertawa, demikian pula para perajurit lainnya.

“Aih, ingin sekali aku dapat mendengar apa yang mereka bicarakan dan apa yang terjadi di dalam.”

“Ha-ha, siapa berani melakukan itu? Kalau ketahuan, tentu akan dihukum cambuk oleh Kapten Peter sampai seluruh kulit di punggung cabik-cabik.”

Beberapa lamanya mereka bercakap-cakap dan bergurau tentang kembalinya Diana, akan tetapi setelah hal itu tidak menarik lagi, keadaan kembali menjadi sunyi dan yang berada di depan hanyalah mereka yang bertugas jaga.

Sementara itu, dengan sikap gembira dan ramah, Peter mengajak Diana duduk di ruangan dalam yang luas dan bersih, dan di situ tidak nampak adanya seorangpun perajurit.

“Silahkan duduk, Diana. Biar aku mengambilkan pakaian untukmu. Kau dapat berganti pakaian di kamar ini.”

“Terima kasih,   Peter. Tidak   usah,   aku   tidak   perlu   berganti   pakaian.

Pakaianku ini masih bersih.”

“Tapi kau, ah… mana engkau pantas memakai pakaian seperti itu? Aku mempunyai gaun yang masih baru dan. ” “Terima kasih, tidak usah repot-repot. Sudah setahun lebih setiap hari aku memakai pakaian seperti ini dan sudah terbiasa dan enak dipakai. Aku datang untuk bicara, Peter.”

“Okey, sesukamulah. Mau minum apa?”