Pedang Naga Kemala Jilid 28

Jilid 28

Pada hari yang dijanjikan, para pemimpin pejuang menyebar anak buah untuk menyelidiki keadaan hutan di sebelah selatan kota Hang-couw. Sejak sore hari, anak buah pejuang menyelinap dan melakukan penyelidikan. Namun, hutan itu sunyi saja, tidak nampak seorangpun perajurit pemerintah atau kulit putih yang bersembunyi atau pengepung tempat itu. Hati mereka menjadi lega. Tidak kurang dari tujuh orang pemimpin kelompok-kelompok pejuang telah berdatangan ke tempat itu dengan mempergunakan ilmu kepandaian mereka sehingga hutan itu kini seperti didatangi iblis-iblis yang berkelebatan cepat. Tokoh-tokoh besar seperti Hai-tok, San-tok dan Tee-tok tidak nampak, juga murid-murid mereka. Mereka itu sedang bertugas di lain tempat. Hanya Hai- tok yang diam-diam membayangi dan mengamati hutan itu, siap untuk membekuk batang leher muridnya kalau benar Song kini melakukan siasat

memasang perangkap untuk para pimpinan patriot.

Setelah malam berkurang gelap karena bulan mulai muncul, bulan sabit yang ditemani bintang-bintang, muncul pulalah Lee Song Kim di tempat itu. Melihat betapa pemuda ini datang seorang diri, tujuh orang pimpinan kelompok pejuang itupun melompat keluar dari tempat sembunyi mereka dan Song Kim telah dikepung oleh mereka. Tentu saja tujuh orang ini mengenal baik perwira muda perkasa yang biasanya menjadi musuh besar mereka itu.

“Ah, cu-wi telah datang? Sungguh baik sekali, karena aku tidak mempunyai cukup waktu. Akan tetapi aku membawa berita yang amat mengejutkan dan juga amat penting bagi cu-wi (anda sekalian).”

Seorang di antara tujuh pemimpin itu, yang memakai sebuah topi caping lebar dan berpakaian seperti petani, melangkah maju. Dia adalah seorang pemimpin pejuang yang terdiri dari keluarga petani. Dia seorang kang-ouw berjuluk Kang-jiu-eng (PendekarBertangan Baja), ilmu silatnya tinggi, murid Butong-pai dan terkenal gagah perkasa. Pendekar yang usianya empat puluh tahun ini lalu menjura.

“Lee-taihiap, kami semua telah mendengar akan perbuatan taihiap membebaskan para tahanan di penjara Hang-couw. Untuk itu kami semua mengucapkan banyak terima kasih, dan kami merasa gembira bahwa taihiap telah berbalik pikir dan membantu kami, berpihak kepada para pejuang dan menentang penjajah dan pasukan asing. Akan tetapi terus terang saja, di antara kamipun masih ada yang meragukan iktikad baik dari taihiap, kami tidak tahu apakah taihiap benar-benar akan membantu para pejuang.”

Song Kim mengangkat kedua tangan ke atas dan memotong.

“Cukuplah, saudaraku yang baik. Aku bertindak menurut naluriku, dan aku tidak perduli dipercaya ataukah tidak, karena akupun tidak mengharapkan imbalan. Biarlah aku berjuang dengan caraku sendiri. Sekarang, dengarkanlah berita penting yang kubawa, dan bersiap-siaplah agar kalian tidak sampai dilanda malapetaka. Pasukan gabungan antara pemerintah dan orang kulit putih telah membuat rencana besar. Mereka telah menemukan sarang para pejuang di empat tempat, dan mereka akan melakukan penyerbuan serentak di empat tempat itu, dengan mengerahkan kekuatan yang besar, masing-masing tempat akan diserbu oleh seribu orang tentara gabungan. Waktu penyerbuan adalah tanggal tujuh tengah malam, dan kalau hal ini sampai terjadi, empat sarang itu tentu akan hancur dan seluruh penghuninya akan dibasmi habis.”

Tentu saja keterangan ini penting bukan main. Bahkan Kang-jiu-eng sendiri memandang dengan mata terbelalak dan wajah berubah.

“Lee-taihap, empat tempat markas kami manakah yang telah diketahui dan akan diserbu?”

“Pertama adalah sarang yang berada di lereng bukit kembar di selatan Nan- king, kemudian sarang kedua adalah yang berada di tepi muara Sungai Han- Sui, yang ketiga adalah sarang yang berada di perkampungan Cou-san, dan keempat yang berada di kuil tua di hutan sebelah timur Nan-king.”

Terdengar seruan-seruan kaget, karena di antara tujuh orang pemimpin kelompok pejuang itu terdapat empat orang pimpinan dan tempat-tempat yang disebutkan itu. Bahkan Kang-jiu-eng sendiri adalah pemimpin dari kelompok yang bersembunyi di tepi muara Sungai Han-Sui!

Song Kim tidak mempedulikan mereka kini sibuk bicara sendiri, bahkan anak buah pejuang kini sudah bermunculan, memenuhi tempat itu.

“Aku tidak mempunyai banyak waktu. Kepergianku ini tidak dapat terlalu lama. Kalau mereka kehilangan aku, tentu akan menimbulkan curiga. Benita yang penting telah kusampaikan. Terserah kalau cu-wi ragu-ragu kepadaku, tidak percaya dan tidak mau bersiap-siap. Akan tetapi kalau penyerbuan itu benar terjadi, jangan salahkan aku. Nah. sampai lain kali. Kalau cuwi merasa perlu menghubungi aku, pakai saja tukang sayur sebagai perantara. Selamat berpisah!”

Lee Song Kim lalu berkelebat dan sekali meloncat, diapun lenyap dari depan semua orang yang merasa kagum dan jerih melihat kelihaian perwira muda yang kini berpihak kepada mereka itu.

Song Kim yang berloncatan dengan cepatnya meninggalkan hutan itu, ketika tiba di luar hutan, tiba-tiba terkejut karena seorang kakek tinggi besar tahu-tahu telah berada di depannya, menghadang sambil bertolak pinggang. Kakek ini bukan lain adalah Hai-tok, gurunya! Dengan mata mencorong marah, Hai-tok mengertak.

“Hemm... murid durhaka, sekarang engkau hendak berkata apalagi!” Melihat gurunya, Song Kim cepat menjatuhkan dirinya berlutut. “Suhu... teecu telah bersalah dan bersedia menebus kesalahan teecu.”

“Engkau tidak hanya mengkhianati guru sendiri dan bangsa sendiri. Engkau telah menjadi anjing penjilat sepatu penjajah Mancu dan bahkan orang-orang kulit putih! Apa kaukira aku dapat membiarkan engkau hidup setelah melakukan perbuatan terkutuk itu!”

“Ampun suhu. Teecu memang telah terbujuk dan silau oleh kedudukan. Akan tetapi teecu telah insyaf dan sadar, dan kini teecu sedang berusaha menebus semua kesalahan teecu dengan membantu perjuangan.”

Diam-diam Hai-tok merasa girang dan juga bangga terhadap muridnya ini. Tentu saja dia tadi sudah mendengarkan semua yang dibicarakan Song Kim ketika bertemu dengan para pimpinan pejuang.

“Aku sudah tahu akan hal itu, kalau tidak, apa kaukira sekarang engkau masih dapat bicara? Nah, akan kulihat apakah laporanmu tadi benar. Kalau engkau berkhianat, masih belum terlambat bagiku mencarimu dan menghukummu dengan kedua tanganku sendiri!”

“Teecu bersedia menerima hukuman mati dari suhu kalau teecu berkhianat,” kata Song Kim dengan suara tegas.

Dan hati kakek itu menjadi semakin girang. Tidak percuma dia menyayang murid ini dan mewariskan hampir semua ilmu kepandaiannya.

“Nah… sekali ini kuberi kebebasan padamu. Pergilah!” “Suhu memang selalu baik kepada teecu. Terima kasih, suhu.”

Berkata demikian, Song Kim lalu meloncat dan lenyap dari depan suhunya yang mengikutinya dengan pandang mata penuh rasa bangga.

Tentu saja para pimpinan pejuang segera bubaran dan cepat kembali ke tempat masing-masing. Terutama sekali empat orang yang mendengar bahwa sarang mereka akan diobrak-abrik oleh pasukan gabungan yang terdiri dari seribu orang. Bayangkan saja, seribu orang perajunit musuh, dan banyak di antara mereka yang memegang senjata api! Tentu mereka akan hancur binasa dan sukar sekali untuk dapat meloloskan diri. Tentu saja sebelum hari tanggal tujuh itu tiba, para pejuang telah meninggalkan sarang masing-masing, mengosongkan merkas itu dan bersembunyi di tempat lain. Akan tetapi dengan hati penuh ketegangan, para pimpinan pejuang itu mengutus beberapa orang anak buah untuk melakukan pengintaian dari tempat aman, untuk melihat apakah benar pada tanggal itu akan terjadi penyergapan seperti yang diceritakan oleh Lee Song Kim kepada mereka.

Hari tanggal tujuh pun tibalah, dan terlihat ketegangan memuncak di dalam hati para pejuang! Dan menjelang tengah malam, dengan hati ngeri mereka melihat bahwa apa yang diceritakan oleh Song Kim itu benar terjadi semua! Di setiap tempat dari empat markas mereka itu, datang seribu orang perajurit gabungan yang lengkap dengan senjata api menyerbu, dan ketika mereka mendapat kenyataan bahwa markas-markas itu telah kosong, mereka menjadi marah dan membakar segala yang terdapat di situ. Dapat dibayangkan oleh para pejuang apa yang akan menjadi nasib mereka, sekiranya mereka tidak tahu lebih dahulu dan berada dalam keadaan tidur pulas selagi penyergapan itu terjadi. Tentu mereka akan dibantai dan sama sekali tidak diberi kesempatan untuk meloloskan diri!

Kembali dunia kaum pejuang menjadi gempar! Dan kini, mereka semua memuji-muji Lee Song Kim. Tidak ada lagi yang meragukan kesetiaannya terhadap perjuangan. Bukankah pemuda itu telah menyelamatkan ribuan nyawa para pejuang? Dan kini para pimpinan pejuang, yang jumlahnya belasan orang, mengadakan pertemuan rahasia dipimpin oleh Si Pendekar Tangan Baja. “Tenaga Lee-taihiap amat kita perlukan,” demikian antara lain Kang-jiu-

eng berkata.

“Dengan adanya dia yang dipercaya oleh pemerintah penjajah dan pasukan asing, kita akan dapat mengetahui semua gerak-gerik mereka. Tiba saatnya bagi kita untuk menyatukan kekuatan dan mengadakan pukulan balasan yang tepat. Kalau kita sudah mengetahui rahasia kekuatan dan kedudukan mereka, tentu akan mudah bagi kita untuk menghantam mereka dengan hasil baik. Dan semua keterangan itu, kiranya hanya dapat kita peroleh dari Lee-taihiap.”

“Benar, kita harus cepat menghubung Lee-taihiap,” kata seorang di antara mereka.

“Dan kita sudah tahu bagaimana caranya untuk dapat menghubungi Lee- taihiap. Nanti kalau sudah ada kontak dan ada penentuan harinya untuk mengadakan pertemuan dengan Lee-taihiap, cuwi akan kuberi kabar lagi.”

Demikianlah, tukang sayur Lo Kian segera dihubungi dan benar saja, dari tukang sayur ini, Kang-jiu-eng dapat mengadakan pertemuan rahasia dengan Song Kim. Perwira muda itu menyambut baik undangan para pimpinan pejuang. Dan pada suatu malam, diadakanlah pertemuan antara Song Kim dan belasan orang pimpinan pejuang. Akan tetapi, dalam pertemuan ini, Song Kim mengerutkan alisnya dan nampak kecewa karena dia tidak melihat adanya tokoh-tokoh besar pimpinan para pejuang.

“Aku ingin membicarakan urusan yang amat penting, menggambarkan keadaan pasukan pemerintah dan pasukan asing. Karena itu, rapat yang amat penting ini seharusnya dihadiri oleh seluruh pimpinan pejuang, terutama sekali para locianpwe. Kenapa para locianpwe tidak hadir di sini? Padahal, selain suhu Hai-tok yang dibantu puterinya, yaitu sumoi Tang Ki, masih terdapat tokoh-tokoh seperti locianpwe San-tok, locianpwe Tee-tok, bahkan locianpwe Slauw-bin-hud bersama murid-murid mereka yang aktif dalam perjuangan. Kenapa mereka tidak muncul? Apakah mereka masih belum percaya kepadaku?”

“Bukan begitu, taihiap. Akan tetapi selain para locianpwe itu sukar sekali ditemui dan mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing, juga para murid mereka melakukan perjuangan dengan menyendiri, mengandalkan kepandaian mereka yang tinggi. Karena itu, hanya kami saja yang hadir, para pimpinan dan pasukan-pasukan pejuang yang merupakan sebagian besar dari seluruh pejuang yang ada.”

Song Kim menggeleng kepala dengan kecewa.

“Sayang, tak mungkin aku dapat membuka semua rahasia tanpa hadirnya mereka. Sekali dibuka, rahasia dan kekuatan pihak pemerintah, kita harus melakukan penyergapan total dan serentak. Dan hal ini merupakan perang yang tidak kepalang tanggung. Kalau menang, kita berhasil menumbangkan penjajah dan mengusir pasukan asing. Akan tetapi salah perhitungan sedikit saja, akan membahayakan kedudukan kita sendiri. Oleh karena itu, perlu kehadiran para locianpwe, baru aku mau mengadakan perundingan.”

Ucapan Song Kim itu dapat diterima oleh para pimpinan pejuang. “Memang benar apa yang dikatakan oleh Lee-taihiap, dan kalau kita mau

berusaha, tentu para locianpwe itu dapat kita undang untuk menghadiri rapat yang amat penting ini. Bukankah dalam pertemuan yang lalu, locianpwe Hai- tok Tang Kok Bu juga berkenan datang? Mengapa yang lain tidak dapat hadir kalau memang kita cari dan kita undang?”

“Nah, kalau begitu, biarlah diadakan pertemuan lain kali saja dan agar dapat mengundang para locianpwe, kalau mungkin bersama murid-murid mereka. Tempatnyapun harus dirobah. Ada sebuah tempat yang amat baik untuk pertemuan besar itu, tempatnya sunyi dan sebaiknya diadakan pada pagi hari. Pagi-pagi sekali pada saat matahari mulai memancarkan sinarnya, pada saat ayam-ayam jantan mutai berkokok.”

“Dimanakah tempat itu, Lee-taihiap?”

“Di lembah Sungai Han-sui, di kaki Bukit Naga. Bukankah di sana terdapat sebuah padang rumput yang dikelilingi anak bukit? Tempat itu baik sekali kalau kita berkumpul di sana, tidak akan nampak oleh orang luar. Dan tempat itu sunyi sekali, tak pernah dikunjungi orang. Selain itu, juga luas sehingga kalau terjadi apa-apa, kita akan dapat bubar dan berpencar ke segala penjuru.”

Semua orang mengangguk-angguk setuju. Memang tempat itu pernah mereka jadikan tempat untuk berlatih baris dan ilmu silat.

“Akan tetapi kapankah waktunya, taihiap?”

“Sebaiknya, agar kita mempunyai waktu untuk mengundang para locianpwe, nanti dua minggu kemudian.”

Mereka lalu berunding dan setelah waktu dan tempat ditentukan, mereka lalu bubaran dengan perasaan puas. Para pimpinan pejuang itu lalu bekerja keras untuk menghubungi tokoh-tokoh besar yang mereka kenal. Siauw-bin- hud tak mungkin dapat dihubungi karena tokoh ini tidak mau lagi mencari urusan dunia dan telah mengasingkan diri entah kemana. Juga pendekar yang dianggap wakilnya, yaitu Tan Ci Kong, sukar untuk dihubungi karena pendekar ini melakukan gerakan sendiri setelah berhasil mengelabuhi Song Kim dengan penyamarannya bersama Lian Hong dan Kui Eng. Dia berpencar dan terpisah dari dua orang gadis itu dan melanjutkan bantuannya terhadap para patriot dengan cara bekerja sendiri. Bahkan para pendekar muda itu tidak berhasil dihubungi para pimpinan pejuang, akan tetapi mereka masih merasa beruntung karena berhasil menghubungi Hai-tok, Tee-tok, dan San-tok. Tiga orang kakek itu telah menyatakan kesanggupan mereka untuk menghadiri rapat pertemuan dengan Lee Song Kim untuk mengatur dan merencanakan penyerbuan total yang besar-besaran.

Dan malam yang telah direncanakan semenjak tengah malam, di tempat yang ditentukan itu bermunculan tokoh-tokoh yang kesemuanya memiliki ilmu kepandaian silat yang tinggi. Mereka itu bermunculan seperti setan-setan saja, dengan gerakan yang amat cepat sehingga secara tiba-tiba saja mereka nampak seorang demi seorang. Mereka berkumpul di lapangan rumput yang luas itu, lapangan rumput yang kelilingi anak bukit dan tanggul air Sungai Han- sui. Tempat itu memang sunyi melengang dan merupakan tempat yang amat baik, karena kedatangan musuh sudah akan dapat dilihat dan jarak jauh.

Hai-tok, Tee-tok dan San-tok bermunculan tanpa membawa murid mereka, karena pada waktu itu, kebetulan murid-murid mereka sedang tidak ada di tempat. Kalau ada murid-murid mereka, tentu mereka akan mewakilkan kepada munid-murid mereka. Akan tetapi karena tidak ada wakil, dan mengingat pentingnya pertemuan itu, mereka datang sendiri, dan setelah terdengar bunyi ayam jantan berkokok untuk pertama kalinya, seluruh pimpinan para pejuang telah berkumpul di tempat itu. Jumlah mereka ada dua puluh tiga orang, terdiri dari tokoh-tokoh kang-ouw yang berilmu tinggi.

“Hai-tok, mana setan cilik yang menjadi muridmu itu? Kenapa dia belum juga muncul?” tiba-tiba terdengar suara Tee-tok bertanya, biarpun tubuhnya pendek kecil akan tetapi suaranya lantang terdengar oleh semua orang yang kini menoleh dan memandang kepada Hai-tok untuk mendengarkan jawabannya, karena karena merekapun ingin sekali mengetahui mengapa Lee Song Kim belum juga nampak muncul di tempat yang sudah dijanjikan itu.

“Mana aku tahu? Sudah lama dia tidak menjadi munidku, bahkan pernah hampir menjadi musuh besarku. Kalau dia sekarang menunjukkan jasa yang besar, barulah dia patut menjadi muridku.”

“Ha-ha-ha-ha! Hai-tok memang selamanya licik! Kalau murid itu baik, cepat diakuinya sebagai murid, kalau sebaliknya, berbalik menjadi musuhnya. Jangan-jangan sekali ini dia tidak muncul dan kita berada dalam perangkap. Hai-tok, kalau terjadi demikian, maka sekali ini jelas kau kalah licik dibandingkan muridmu sendiri, ha-ha!” San-tok berkata lantang.

Hai-tok mengerutkan alisnya dan memandang kepada Racun Gunung itu dengan mata mendelik.

Jagalah sedikit mulutmu, San-tok! Sebelum engkau melihat buktinya, jangan dulu menjatuhkan fitnah. Bukankah sudah dua kali Song Kim membuktikan bahwa dia setia dan membela kawan-kawan kita?”

Pada saat itu, terdengarlah suara ayam jantan berkokok bersahut-sahutan dan jauh, dan semua orang saling pandang karena belum juga nampak munculnya orang yang mereka tunggu-tunggu, yaitu Lee Song Kim. Tiba-tiba tiga orang kakek sakti itu memutar tubuh memandang ke arah anak bukit yang menjadi tanggul sungai. Semua orang ikut memandang dan nampaklah sesosok tubuh manusia. Mula-mula nampak kecil saja akan etapi dengan cepat menjadi besar. Cahaya matahari pagi sudah mengusir kegelapan malam dan dengan kecepatan luar biasa, tubuh manusia itu kini menuruni anak bukit. Semua orang tadinya menduga bahwa tentulah Lee Song Kim, orang yang mereka tunggu-tunggu itulah yang datang.

Akan tetapi mereka kini memandang ragu karena nampaklah bahwa orang itu memiliki tubuh yang gemuk dengan perut gendut dan kepala kelihatan gundul dari jauh.

“Eh, mau apa iblis itu datang ke sini?”

Hai-tok menggumam ketika dia mengenal bahwa orang yang datang dengan cepatnya ini adaiah Thian-tok!

“Hemmm, biar kutantang dia mengadu ilmu di tempat yang baik ini” kata Tee-tok yang marah karena Thian-tok adalah seorang di antara Empat Racun Dunia yang sama sekali tidak mau tahu tentang perjuangan, bahkan kabarnya mengikuti murid-muridnya yang menghambakan dirinya kepada orang kulit putih hal yang amat dibencinya oleh para patriot.

“Ho-ho, diapun masih hutang beberapa gebukan dariku!” sambung San-tok yang juga tidak suka kepada Thian-tok.

Akan tetapi orang yang dijadikan bahan percakapari tiga orang tokoh sakti itu, setelah tiba di depan mereka, memperlihatkan sikap dan wajah yang serius sekali, bahkan nampak agak gugup.

“Celaka... celaka!” katanya sambil memandang kepada mereka semua, lalu menghadapi Hai-tok, dia memaki.

“Hai-tok, muridmu itu boleh jadi cerdik dan pandai sekali, akan tetapi ini keterlaluan, menyeret para pimpinan pejuang ke dalam perangkap maut!”

“Apa maksudmu!” bentak Hai-tok, sedangkan yang lain juga terbelalak memandang kakek, berperut gendut yang bertelanjang dada ini.

“Maut telah berada di depan mata, kalian masih belum tahu! Tempat ini telah dikepurig ribuan orang perajurit dan kalian tidak mungkin dapat lolos lagi!” kata Thian-tok.

Semua orang terkejut, akan tetapi tiga rekan Thian-tok itu masih tidak percaya. Thian-tok ini terkenal cerdik dan licik, siapa tahu dia inilah yang berbobohong. Akan tetapi tiba-tiba terdengar tambur dan terompet. Semua orang terkejut dan memandang ke sekeliling, dan nampaklah orang-orang berpakaian seragam bermunculan di atas bukit-bukit yang mengelilingi tempat itu. Barisan anak panah, barisan senapan, bahkan di delapan penjuru muncul meriam yang menodongkan moncongnya ka arah mereka.

“Celaka, kita terjebak!”

Lima orang pejuang yang menjadi panik akan tetapi juga marah karena mereka telah dikhianati dan terjebak, segera meloncat dan bermaksud untuk melawan dan menerobos keluar.

Jangan...!”

Thian-tok masih berseru kepada mereka, akan tetapi dalam keadaan panik dan marah seperti itu, lima orang itu sama sekali tidak mau perduli dan mereka sudah berlompatan naik ke bukit untuk menerjang pasukan yang mengepung tempat itu dan yang berjajar di puncak bukit-bukit kecil itu.

Akan tetapi, sebelum lima orang itu sempat menggerakkan senjata tajam di tangan mereka, tiba-tiba terdengar bunyi letusan meledak-ledak dan ratusan butir peluru beterbangan menyambar. Lima orang pemimpin pejuang itu roboh terjengkang, dan mayat-mayat mereka terguling-guling jatuh agi ke bawah bukit. Tubuh mereka berlumuran darah dan luka-luka yang banyak sekali.

Para pemimpin pejuang lainnya hanya memandang dengan pandang mata terbelalak, penuh kemarahan akan tetapi merekapun maklum bahwa memang tidak ada gunanya melawan musuh yang demikian banyaknya, apalagi mereka dikepung barisan anak panah dan senjata api. Sebelum mereka sempat menyerang, tentu tubuh mereka menjadi sasaran peluru dan anak panah.

Pada saat itu, muncullah Letnan Peter Dull bersama seorang panglima pasukan pemerintah Mancu. Mereka muncul di bawah pengawalan pasukan kulit putih yang membawa bedil yang sudah dipasangi bayonet, juga di dekat mereka terdapat dua buah meriam besar.

“Pemberontak-pemberontak! Kalian sudah terkepung, dan kalau kalian mau menyerah tanpa perlawanan, kamipun tidak akan membunuh kalian, melainkan menangkap kalian dan membawa kalian ke Nan-king! Menyerahlah atau kami akan memerintahkan meriam-meriam dan senapan-senapan dan anak-anak panah menyerang kalian!”

“Kami tidak akan melawan dan menyerah!” terdengar Thian-tok berseru keras sambil memandang kepada tiga orang rekannya yang juga tidak dapat melihat jalan yang lain yang lebih baiik kecuali menyerah untuk sementara waktu ini.

Panglima Ceng itu lalu mengeluarkan aba-aba dan belasan orang perajurit Ceng yang membawa borgol lalu menuruni anak bukit. Mereka lalu memborgol kedua tangan para pimpinan pejuang itu di belakang punggung masing- masing. Borgol baja itu amat kuat, sengaja dibuat untuk para pemimpin pejuang yang terkenal lihai itu.

Setelah semua tawanan diborgol kedua tangannya di belakang, sang panglima lalu memerintahkan mereka semua memasuki empat buah kereta yang sudah dipersiapkan pula di situ. Kereta kereta besar yang terbuat dan pada baja, dengan jeruji-jeruji baja yang amat kuat, masing-masing ditarik oleh empat ekor kuda.

Terpaksa para tokoh pejuang itu di bawah todongan senapan, berjalan dan beriringan memasuki kereta. Tinggal sebelas orang saja yang menyerah, karena yang lima orang telah tewas tadi dan mayat-mayat mereka kemudian diseret dan dilempar ke dalam kereta lain oleh para perajurit. Empat buah kereta itupun lalu bergerak, dikepung oleh para perajurit yang merasa lega dan gembira sekali karena orang-orang yang amat lihai itu menyerah tanpa perlawanan.

Hai-tok, dengan mata merah, memandang ke sekeliling mencari-cari, akan tetapi dia tidak melihat bayangan Lee Song Kim. Diam-diam dia mengepal tinju. Awas kau, kalau aku berhasil lolos, tugasku yang pertama kali adalah mencarimu dan menghancurkan kepalamu, demikian bisik hatinya.

Akan tetapi sikap San-tok lain lagi. Dia masih tersenyum-senyum dan mengejek Thian-tok.

“Eh, apa-apaan engkau ikut ditawan bersama kami? Bukankah engkau pernah menjilati sepatu orang bule? Ataukah engkau juga seperti iblis cilik itu, kini pura-pura saja menjadi tawanan bersama kami?”

“Orang gunung tolol!” Thian-tok juga terkekeh.

“Sejak semua usahaku sia-sia belaka, tak berhasil mendapatkan Giok-liong- kiam, tak berhasil pula mengangkat kedudukan muridku, juga tidak berhasil membunuh Koan Jit jahanam murtad, aku tahu bahwa aku telah berdosa terhadap tanah air dan bangsa. Nah, sekarang ada kesempatan bagiku untuk menebus dosa, tapi dasar aku sial, aku terlambat memberi tahu kalian. Aku gagal menolong kalian, bahkan aku sendiri terperosok ke dalam. Sudahlah, gembira juga dapat bersama kalian bertiga menghadapi bahaya maut, ha-ha- ha!”

San-tok tertawa geli. Melihat ini, Thian-tok mengerutkan alisnya. “Berani kau mentertawai aku?” bentaknya.

“Aku menertawakan diriku sendiri, mentertawakan diri kita berdua. Kita semua, termasuk Siauw-bin-hud dan seluruh orang kang-iuw, setengah mati memperebutkan Giok-liong-kiam. Dan harus diakui bahwa akhirnya akulah yang berhasil. Akan tetapi, kemudian apa jadinya? Setelah peti harta karun kutemukan, ternyata isinya kosong!

“Ehh? Engkau bersungguh-sungguh?”

Sambil tertawa-tawa. San-tok menceritakan semua yang telah dialaminya di dalam guha itu, betapa setelah menemukan peti, ternyata isinya telah kosong. Semua tokoh ikut mendengarkan dan merasa terheran-heran. Dan merekapun mendengar pula akan kelicikan Lee Song Kim yang membiarkan para tokoh sakti menemukan harta karun, baru dia akan muncul bersama pasukannya untuk merampasnya. Akan tetapi ketika itu, pasukan pemerintah belum mengadakan persekutuan dengan pasukan asing, maka hampir saja terjadi bentrok sendiri di antara mereka untuk memperebutkan peti yang ternyata kosong.”

“Aih, kalau begitu siapa gerangan yang telah mendahului kalian? Aku jelas tidak!” kata Thian-tok.

“Kita semua telah didahului oleh tokoh-tokoh ratusan tahun yang lalu, yang mempergunakan tiga perempat bagian dari harta itu untuk menolong rakyat dari bahaya kelaparan. Akan tetapi sisanya yang seperempat entah lenyap kemana,” kata San-tok.

Para tokoh lain sibuk merenungi diri mereka yang kini menjadi tawanan, seperti tikus-tikus memasuki lubang jebakan dan mereka heran melihat sikap empat orang tokoh Empat Racun Dunia itu yang kelihatan tenang-tenang dan enak-enakan saja.

Tentu saja para pembesar tinggi di kota raja girang bukan main mendengar bahwa berkat siasat cerdik yang dilakukan oleh Lee Song Kim, akhirnya semua pemimpin para pejuang dapat ditangkap tanpa perlawanan berarti! Lee Song Kim diterima oleh kaisar sendiri dan menerima pangkat panglima.

Sambil menanti keputusan pengadilan di kota raja, untuk sementara para tawanan itu ditahan di kota Nan-king, di tempat rahasia yang amat kuat. Tahanan itu berada di bawah tanah, melalui lorong-lorong yang penuh rahasia dan dijaga dengan ketatnya oleh pasukan gabungan. Jangankan orang-orang biasa, biar pasukan yang besar sekalipun takkan mudah untuk dapat membebaskan para tawanan itu.

Dan dunia para pejuang menjadi semakin gempar. Para pimpinan mereka telah tertawan, menjadi korban siasat busuk dari pengkhianatan Lee Song Kim. Tentu saja hal ini membuat gerakan para pejuang seperti lumpuh seketika. Gangguan-gangguan keamanan kini hanya terjadi secara kecil-kecilan dan tidak ada artinya lagi. Para pejuang kehilangan semangat.

Kemana perginya murid-murid dan Empat racun Dunia? Apakah mereka tidak mendengar akan malapetaka yang menimpa guru-guru mereka? Tentu saja mereka mendengarnya karena berita tentang peristiwa itu segera tersebar dengan luas. Para pendekar muda itu terkejut bukan main dan mereka segera mengadakan pertemuan di sebuah tempat rahasia di Nan-king untuk membicarakan urusan itu. Mereka semua telah berkumpul. Ci Kong, Siu Coan, Kui Eng, Lian Hong, dan Kiki, telah mengadakan pertemuan di dalam sebuah kuil tua yang rusak dan tidak terpakai lagi di lereng bukit luar kota Nan-king.

Berhari-hari mereka berlima itu berusaha untuk membebaskan tawanan, namun usaha mereka selalu gagal. Dengan susah payah, akhirnya mereka dapat juga mengetahui dimana adanya tempat tahanan itu, akan tetapi untuk dapat memasuki tempat tahanan itu saja sudah amat sulit, apalagi untuk membebaskan mereka! Baru muncul saja, mereka telah berhadapan dengan moncong-moncong bedil dan pistol, dan disambut oleh ratusan orang perajurit. Sampai beberapa kali mereka mencoba dan berbagai jurusan, namun akhirnya selalu mereka harus melarikan diri kalau tidak ingin menjadi korban peluru bedil dan pistol.

Tempat tahanan itu, menurut penyelidikan mereka, berada di ruangan bawah tanah di belakang kebun dan rumah penjara di Nan-king. Dan di belakang itu adalah sebuah bukit, berarti bahwa tempat tahanan itu berada di bawah bukit. Jalan masuk satu satunya hanyalah melalui pintu penjara itu, karena pintu masuk terowongan itu berada di dalam halaman penjara sebelah belakang. Dan di tempat inilah berkumpul lebih dari seratus orang perajurit gabungan, setiap saat siap dengan senjata api dan pengeroyokan mereka.

Semenjak sore, setelah kembali mempelajari keadaan di penjara itu, lima orang pendekar muda itu sudah melakukan pengintaian dan penyelidikan terhadap gerak-gerik para penjaga. Mereka memang mengambil keputusan untuk bagaimana juga membebaskan para pemimpin pejuang, terutama sekali Empat Racun Dunia yang memiliki pengaruh besar terhadap para pejuang. Mereka bukan saja hendak menolong guru mereka masing-masing, akan tetapi, seperti juga Ci Kong yang gurunya tidak ditahan, mereka bertindak demi perjuangan.

Setelah tengah malam lewat, mereka menganggap tiba saatnya untuk melakukan percobaan lagi. Yang keempat kalinya, karena sudah tiga kali mereka gagal, bahkan Siu Coan menderita luka sedikit di pangkal lengan kirinya, kena serempet peluru. Pada saat itu, mereka menganggap bahwa para pengawal dan penjaga itu tentu telah mulai mengarituk. Mereka telah memperhitungkan bahwa menurut penyelidikan mereka, baru dua jam lagi penjagaan akan diganti dan saat itulah mereka sedang lelah-lelahnya dan ngantuk-ngantuknya.

Lima orang itu menyerbu dari lima jurusan, berloncatan dan atas tembok penjara yang tinggi. Tentu saja para penjaga menjadi terkejut dan cepat kentungan dipukul.

“Merdea kembali lagi, lima ekor setan cilik itu. Bunuh mereka!” teriak komandan jaga. Dan tiba-tiba saja mereka itu lari bersembunyi!

Selagi lima pemuda perkasa itu terkejut melihat ini, karena biasanya mereka segera dikeroyok, tiba-tiba saja terdengar ledakan-ledakan dari kanan kiri dan depan, dan tahulah mereka bahwa para penjaga itu memang sudah siap sagia! Kini mereka tidak melakukan pengeroyokan lagi, melainkan membersihkan tempat itu dari para penjaga sehingga hanya mereka berlimalah yang tinggal menjadi sasaran tembakan-tembakan.

“Awas... mundur!” bentak Ci Kong dan mereka sudah bergulingan ke atas tanah sehingga semua tembakan itu tidak mengenai sasaran, kemudian terpaksa mereka berlompatan kembali ke atas tembok penjara dan meloncat ke luar lalu melarikan diri! Mereka berlima menanti datangnya fajar dengan gelisah. Tak dapat tidur di dalam kuil tua itu betapa pun lelah tubuh mereka.

Kegagalan kali ini adalah kegagalan total. Tiga kali yang terdahulu, biarpun gagal, mereka berhasil mengacaukan keadaan, bahkan merobohkan banyak pengawal. Akan tetapi sekali ini, begitu-muncul mereka terpaksa harus melarikan diri lagi! Sampai pagi mereka membicarakan urusan itu, mencari-cari akal bagaimana cara agar dapat menolong guru-guru mereka.

“Bagaimanapun juga, kita harus membebaskan mereka! Aku harus menyelamatkan suhu, dan kalau perlu aku akan mengerahkan para pejuang dan pembantuku, yaitu mereka yang bekerja di pelabuhan!” kata Kui Eng penuh semangat.

“Akupun harus menyelamatkan ayah, biarpun untuk itu harus mempertaruhkan nyawa!” kata pula Tang Ki atau Kiki puteri Hai-tok Tang Kok Bu.

“Benar... aku harus membebaskan suhu pula,” kata Lian Hong. Ong Siu Coan mengangguk-angguk.

“Memang mereka perlu diselamatkan. Aku tidak terlalu mementingkan suhu yang juga ikut tertangkap karena suhu selama ini tidak pernah mencampuni urusan perjuangan. Akan tetapi aku lebih mementingkan para pimpinan pejuang, karena tenaga dan pikiran mereka amat diperlukan.”

Ci Kong juga mengangguk-angguk.

“Memang mereka  harus  dibebaskan,  akan  tetapi  bagaimana  caranya?

Sudah empat kali kita berusaha, selalu gagal.”

“Kita harus mencoba lagi sekuat tenaga dan kalau perlu mencari bala bantuan!” Kui Eng berkata.

“Aku pun dapat mengumpulkan ribuan orang teman untuk melakukan penyerbuan ke penjara kalau mungkin,” kata pula Siu Coan, dan dia tidak membual ketika mengeluarkan ucapan itu.

Pemuda ini memang telah mengumpulkan bekas-bekas anggauta Thian-te- pang yang masih setia kepadanya, dan membentuk sebuah perkumpulan baru yang dia ben nama Pai Sangti Hwee (Perkumpulan Pemuja Tuhan), dimana dia memasukkan Agama Kristen menurut penafsirannya sendiri. Kalau dia sekali ini berkumpul dengan para murid Empat Racun Dunia adalah karena dia ingin bekerja sama dengan mereka, menarik perhatian dan simpati mereka agar kelak dia dapat memperoleh bantuan untuk gerakannya itu.

“Aih, berbahaya kalau begitu!” kata Lian Hong.

“Kalau terlalu banyak yang melakukan penyerbuan, selain penjagaan akan semakin diperketat, juga ada bahayanya para tawanan itu dibunuh sebelum penyerbuan berhasil membebaskan mereka.”

“Akan tetapi, bagaimanapun juga, kita harus mengerahkan seluruh daya upaya kita untuk membebaskan mereka!” Kiki kembali berkata dengan tidak sabar melihat betapa teman-temannya bersikap terlalu hati-hati.

Tiba-tiba saja terdengar suara dari luar kuil. Suara itu dibawa masuk oleh angin, terdengar sayup-sayup akan tetapi jelas sekali.

“Tindakan yang sembrono untuk membebaskan tawanan hanya akan mendatangkan kerugian bagi perjuangan.”

Lima orang muda perkasa itu terkejut sekali. Tak mereka sangka akan ada orang yang datang ke tempat itu dan melihat betapa orang itu bicara tentang tawanan, dapat diduga bahwa orang itu tentu sejak tadi telah mendengarkan percakapan mereka. Bagaikan berlumba, mereka lalu meloncat keluar dan ketika mereka tiba di ruangan depan, mereka melihat seorang laki-laki berpakaian serba putih dan memakai topi caping lebar telah berdiri di tengah ruangan yang butut itu.

Laki-laki itu bertubuh tinggi kurus, pakaiannya terbuat dan kain kasar putih bersih dan terawat baik walaupun potongannya sederhana sekali. Sepatunya penuh debu tanda bahwa dia datang dari tempat jauh, dan topi capingnya itu menyembunyikan mukanya. Dia berdiri tegak seperti patung dengan muka ditundukkan.

“Siapa engkau?” Siu Coan bertanya.

Muka orang itu tertutup topi caping, dan juga dia berdiri di bagian yang masih gelap oleh bayangan karena matahari belum memancarkan sinar sepenuhnya.

“Apa artinya kata-katamu tadi?” Ci Kong juga menegur karena dia tertarik oleh ucapan orang itu tadi.

“Aku hanya memperingatkan agar kalian tidak sampai terjebak musuh. Para pimpinan pejuang memang tertawan, akan tetapi mereka tentu akan dipergunakan sebagai umpan oleh musuh agar kalian datang untuk membebaskan mereka, dan pihak musuh akan berusaha untuk menangkap juga atau membunuh kalian. Karena itu, berhati-hatilah, jangan sampai kalian tertipu dan terjebak. Kalian adalah orang-orang muda yang diharapkan oleh para patriot dan oleh guru-guru kalian untuk mewakili mereka memimpin para pejuang. Kalau kalian hanya sibuk dengan usaha pembebasan tawanan, maka perjuangan akan terhenti dan bahkan menjadi kacau karena tidak ada pemimpinnya lagi.”

“Siapakah engkau yang hendak mencampuri urusan kami?”

Siu Coan membentak lagi dan mendekati. Orang berpakaian putih itu lalu mengangkat mukanya.

“Aihhh. !!”

Lima orang muda itu terkejut bukan main dan berlompatan ke belakang seperti hendak menghindarkan diri dari ular berbisa yang amat berbahaya. Tidak aneh kalau mereka terkejut setengah mati, karena orang berpakaian serba putìh yang memakai caping lebar itu bukan lain adalah Koan Jit.

“Kau!!”

Tiga orang gadis perkasa itupun berseru kaget.

“Dia tentu datang untuk memata-matai kita!” kata pula Kiki.

Dan teman-temannya juga menduga demikian. Mereka semua mengenal siapa adanya Koan Jit yang pernah menjadi tokoh penjilat dan pembantu pasukan kulit putih, dan terkenal sebagai penentang para pejuang. Tempat persembunyian mereka telah diketahui orang ini dan hal itu amatlah berbahaya.

“Keparat ini harus dibasmi!” bentak Kui Eng yang membenci Koan Jit karena pernah ia hampir menjadi korban kejahatan dan kekejaman orang ini.

Gadis ini sudah menerjang ke depan dan menyerang dengan pukulan kilat ke arah muka Koan Jit. Akan tetapi, dengan gerakan yang ringan sekali, Koan Jit mengelak sambil mundur dan berkata.

“Aku datang bukan dengan niat buruk, harap maafkan aku!”

Melihat betapa Kui Eng telah maju menyerang, Lian Hong dan Kiki juga tidak tinggal diam. Mereka menerjang ke depan dan mengeroyok Koan Jit, karena mereka tahu betapa lihainya orang ini.

Koan Jit cepat menggerakkan tubuhnya dan mengatur langkah, dan tiga orang gadis itu terkejut bukan main. Tubuh Koan Jit bagaikan sesosok bayangan saja yang tak mungkin dapat dirobohkan. Agaknya, kemanapun mereka menyerang, tubuh itu selalu mendahului tangan kaki mereka dan selalu serangan mereka tidak mengenai sasaran. Yang amat aneh, gerakan Koan Jit itu kadang-kadang luar biasa sekali, tidak seperti orang bersilat, melainkan seperti orang melakukan samadhi, bersembahyang dan sebagainya. Gerakan seorang pendeta yang melakukan ibadat! Dan berkali-kali mulut Koan Jit mengucapkan ‘Omitohud!’ disambung dengan suara membujuk agar ketiga orang gadis itu suka bersabar dan bahwa dia tidak menghendaki kekerasan dan perkelahian! Sungguh seorang Koan Jit yang aneh sekali.

“Haiiiittt!”

Kui Eng menyerang dengan cengkeraman, disusul oleh Lian Hong yang memukul ke arah dada, sedangkan Kiki tak mau kalah, sudah menghantam pula dengan jari telunjuk kanan ditekuk mengarah tengkuk.

Akan tetapi, Koan Jit membuat gerakan aneh untuk menghadapi tiga serangan yang amut berbahaya ini. Tiba-tiba dia memutar tubuh, meloncat ke atas dan turun dengan kaki kiri ditekuk berlutut, kaki kanan berjungkit di depan sehingga tubuhnya setengah berlutut dan kedua tangannya dìangkat ke depan dada seperti otang memberi hormat. Akan tetapi betapapun aneh gerakan ini, ternyata dia mampu menghindarkan serangan tiga orang gadis itu!

Siu Coan mengeluarkan seruan. Tentu saja dia mengenal hampir seluruh iImu silat Koan Jit karena Koan Jit adalah toa-suhengnya. Akan tetapi apa yang dimainkan Koan Jit sekarang ini benar-benar membuat dia bengong, karena dia belum pernah melihat ilmu silat seperti itu! Apalagi melihat wajah toa- suhengnya itu. Sungguh jauh sekali bedanya dengan dahulu.

Dahulu, Koan Jit selalu berpakaian serba hitam, mukanya hitam gelap dan sepasang matanya kehijauan mencorong seperti mata kucing. Kini, wajah Koan Jit kehilangan warna gelapnya, menjadi cerah dan bibirnya selalu mengarah senyum penuh kesabaran, matanya mengeluarkan sinar lembut dan seperti orang yang penuh pengertian dan mengalah. Anehnya, ketika mainkan ilmu silat aneh yang hanya dipergunakari untuk menghindarkan diri dari serangan tiga orang gadis itu, Koan Jit tersenyum dan wajahnya memancarkan sinar kebahagiaan.

Hal ini tidaklah aneh, karena Koan Jit yang maklum bahwa dia dikeroyok oleh tiga orang gadis yang amat lihai, sudah mengeluarkan ilmu yang dipelajarinya dan Siauw-bin-hud, yaitu Ilmu Silat Kebahagiaan. Dia menggerakkan tubuhnya sambil mengingat ujar-ujar dalam kitab Dharma Pada, sedikitpun tidak mempunyai niat untuk membalas dan sama sekali tidak marah. Dia menganggap tiga orang pengeroyoknya itu seperti tiga orang anak nakal yang tidak tahu apa yang mereka lakukan sehingga dia memandang penuh pengertian dan sama sekali tidak menjadi marah.

Sementara itu, melihat betapa tiga orang gadis yang lihai itu sampai sebegitu jauh belum juga mampu merobohkan Koan Jit, Ci Kong lalu melompat ke depan dan membentak sambil mengirim pukulan dengan tangan kanannya, keras dan cepat sekali datangnya mengarah lambung Koan Jit.

Pada saat itu, Koan Jit baru saja meloncat ke atas untuk menghindarkan tendangan Kaki Lian Hong, melihat datangnya pukulan Ci Kong yang amat berbahaya itu, dia lalu menggerakkan lengan kirinya menangkis. “Dukkk...!”

Tubuh Ci Kong terdorong mundur dan dia merasa betapa seluruh lengannya tergetar hebat. Kagetnya bukan kepalang karena dari pertemuan lengan itu saja dia tahu bahwa Koan Jit memiliki tenaga sinkang yang luat biasa kuatnya.

Siu Coan tadinya ragu-ragu, akan tetapi, melihat betapa empat orang itu tidak mampu mengalahkan Koan Jit yang selalu mengelak dan menangkis tanpa satu kalipun membalas, dia terpaksa meloncat maju dan ikut pula mengeroyok.

“Sute, kau juga?” seru Koan Jit dengan suara heran, akan tetapi diapun mengelak dan kini dia menghadapi pengeroyokan lima orang yang amat lihai!

Akan tetapi, diam-diam Koan Jit harus mengakui kehabatan ilmu baru yang diterimanya dari Siauw-bin-hud. Betapapun lihainya, kalau saja dia tidak memiliki Ilmu Silat Kebahagiaan itu, baru menghadapi pengeroyokan tiga orang gadis itu saja dia tentu akan kalah, apalagi menghadapi pengeroyokan mereka berlima!

Dan sebaliknya, lima orang pengeroyok itupun kagum bukan main. Sampai puluhan jurus lamanya, Koan Jit yang dikeroyok lima itu selalu mengelak dan andaikata ada pula beberapa kali pukulan menyerempet tubuhnya, maka pukulan itu meleset seperti mengenai tubuh seekor belut yang amat licin.

“Aihhh, kalian tidak percaya kepadaku…?” keluh Koan Jit, dan akhirnya tubuhnyapun mencelat dengan tiba-tiba jauh keluar dari ruangan depan kuil itu.

Lima orang pengeroyoknya tertegun. Tak mereka sangka bahwa tubuh itu akan dapat keluar begitu saja dari kepungan mereka.

“Biarkan aku bicara dengan dia!” kata Siu Coan, dan tiba-tiba diapun meloncat dan melakukan pengejaran.

Empat orang muda yang lain hanya memandang saja. Mereka tahu bahwa bagaimanapun juga, Koan Jit adalah murid Thian-tok dan toa-suheng dari Sui Coan, maka mereka berempat tidak ingin mencampuri urusan antara saudara seperguruan yang berlainan watak itu.

“Orang itu benar-benar memiliki kepandaian yang amat luar biasa,” kata Lian Hong penuh kagum.

“Sayang aku tidak sempat mempergunakan ilmuku yang baru. Ingin aku menguji keampuhan ilmuku dengan lawan seperti dia,” kata Kiki.

Gadis ini telah mewarisi sebuah ilmu yang hebat ciptaan Tat Mo Couwsu, yaitu Ilmu Hui-thian Yan-cu (Walet Terbang ke Langit), semacam ilmu silat yang mengandalkan ginkang yang amat tinggi, akan tetapi karena kesibukannya, ia belum sempat melatih ilmu ini dengan sempurna.

“Dia berbahaya sekali,” kata Kui Eng yang harus mengakui bahwa ilmu kepandaian penjahat itu nampaknya bahkan lebih hebat dan pada dahulu.

Dahulu, pernah Kui Eng dan Lian Hong mengeroyoknya, dan pengeroyokan mereka berdua saja sudah dapat mengimbangi kelihaian Koan Jit. Akan tetapi sekarang, biar dikeroyak oleh lima orang, penjahat itu tidak dapat dirobohkan, bahkan sempat pula melarikan diri.

“Akan tetapi, aku merasa ada keanehan pada dirinya,” kata Ci Kong sambil mengingat-ingat gerakan-gerakan aneh dan orang yang mereka keroyok tadi.

“Aku seperti mengenal langkah-langkah kaki seperti itu, dan sikapnya itu! Gerakan-gerakannya mengingatkan aku akan gerakan seorang pendeta suci yang beribadat, dan dia sama sekali tidak pernah membalas serangan kita. Aku yakin, ada perubahan aneh pada diri Koan Jit dan mudah-mudahan Siu Coan dapat mmengejarnya dan dapat memberi penjelasan pada kita.”

“Bagaimanapun juga, tempat ini sudah tidak aman bagi bagi kita, sudah diketahui orang. Kita harus mencari tempat yang lebih baik lagi,” kata Lian Hong.

“Setelah tempat ini diketahui orang dan percakapan kita tadi didengarkan orang, maka sebaiknya kalau kita mempercepat gerakan kita untuk mencoba lagi menyelamatkan dan membebaskan, para tawanan!” kata Kiki sambil mengepal tinju.

Ci Kong menarik napas panjang.

“Munculnya Koan Jit memang aneh dan membuat kacau rencana kita. Akan tetapi sebaiknya kita menanti kembalinya Ong Siu Coan untuk mendengar apa yang diketahuinya dari Koan Jit.”

Sementara itu, Siu Coan berlari secepatnya untuk melakukan pengejaran terhadap Koan Jit. Dia merasa terheran-heran disamping juga kagum sekali menyaksikan sepak terjang bekas toa-suhengnya itu. Jelas bahwa toa- suhengnya itu memiliki ilmu silat yang luar biasa anehnya, agaknya ilmu baru yang luar biasa, yang membuat suhengnya mampu menandingi pengeroyokan mereka berlima! Bukan main. Dia tahu bahwa seorang di antara Empat Racun Dunia sekalipun, tidak akan mungkin mampu menghadapi pengeroyokan mereka berlima. Akan tetapi hal itu tidaklah terlalu aneh karena memang dia tahu bahwa Koan Jit selain lihai juga cerdik sekali, dan mungkin telah menemukan ilmu yang aneh tadi, yang membuat dia terheran-heran adalah melihat sikap orang itu, terjadi perubahan lahir batin yang amat hebat.

Koan Jit memang telah berubah. Hal ini kita ketahui semenjak dia berjumpa dengan Siauw-bin-hud dan menerima Ilmu Silat Kebahagiaan yang langsung mempengaruhinya lahir batin. Lahirnya, memperoleh ilmu silat yang luar biasa sekali, dan batinnya juga mengalami perubahan karena dia kini menjadi insyaf dan sadar akan semua kesesatannya.

Ketika Koan Jit melarikan diri, meninggalkan lima orang muda yang tidak mau menerimanya dan bahkan salah sangka dan menyerangnya, dia tentu saja tahu bahwa seorang di antara mereka, yaitu bekas sutenya, Ong Siu Coan, melakukan pengejaran seorang diri. Dia sengaja lari menjauhi kuil itu menuju ke tepi sungai yang sunyi, dan setelah melihat tempat ini amat baik dan sunyi, dia lalu berdiri di tepi sungai menanti.

Siu Coan sampai di tempat itu dan melihat Koan Jit berdiri termenung di tepi sungai, berdiri tegak dengan muka yang tertutup Gaping itu menunduk, dia menjadi ragu-ragu dan jerih. Bagaimana kalau bekas suhengnya itu kumat dan menyerangnya? Tentu dia tidak akan mampu mempertahankan diri. Apalagi bukankah dia dan dulunya baru-baru ini telah mengobrak-abrik sarang Koan Jit dan anak buahnya, bahkan suhunya telah berhasil melarikan semua putaka yang dibawa Koan Jit? Bagaimana kalau Koan Jit mendendam atas serangan itu? Biarpun dia membelakangi bekas sutenya, namun pendengaran- nya yang tajam dapat menangkap gerak-gerik Siu Coan.

“Sute, ke sinilah dan jangan takut atau ragu. Aku memang ingin sekali bicara penting denganmu.”

Mendengar ini, wajah Sui Coan menjadi merah. Suhengnya telah mengetahui kedatangannya, bahkan tahu pula bahwa dia ragu-ragu dan agak takut. Diapun lalu melangkah menghampiri dan Koan Jit membalikkan badan. Mereka saling berpandangan dan kembali perasaan aneh menyelinap di hati Sui Coan. Suhengnya ini benar-benar berubah seperti telah menjadi seorang manusia lain.

“Suheng, aku mengejarmu karena hendak bertanya, apa sebenarnya keperluanmu mengunjungi kami di kuil tua itu?”

“Aku datang untuk mencarimu dan hanya kebetulan saja mendengar apa yang kalian percakapkan, maka aku memberi nasihat dan peringatan. Berbahaya sekali usaha membebaskan tawanan karena penjagaan amat ketat. Salah-salah tawanan tidak dapat dibebaskan dan kalian malah tertawan atau terbunuh.”

“Suheng, kau mencariku ada uruaan apakah?” Siu Coan bertanya dan bersikap waspada karena inilah yang ditakuti.

Jangan-jangan mencari karena menaruh dendam atas penyerangan anak buahnya yang dibantu suhunya itu. Koan Jit melihat sikap ini dan dia tersenyum lembut.

“Jangan khawatir, sute. Aku sudah melupakan masa laluku, dan apa yang kulakukan sekarang sama sekali tidak ada sangkut-pautnya lagi dengan masa laluku. Aku mencarimu untuk meminta penjelasanmu tentang harta pusaka Giok-liong-kiam.”

Wajah Siu Coan berubah dan matanya memandang tajam. “Apa maksdumu, suheng?”

“Sute… mungkin orang lain tidak ada yang menyangka, akan tetapi aku sudah mendengar akan dongeng tentang gagalnya Empat Racun Dunia menemukan harta karun karena peti itu sudah kosong dan isinya yang tinggal seperempat sudah lenyap dalam keributan ketika terjadi perebutan di dalam guha itu. Dan aku mendengar pula betapa engkau mendirikan Pai Sang-ti Hwe, menyebarkan banyak uang untuk menyebarkan agamamu yang baru. Aku tahu akan kecerdikanmu sute, dan dapat menghubungkan satu peristiwa dengan yang lainnya. Nah, aku hahnya mengharapkan kejujuranmu dan penjelasanmu. Apa maksudmu dengan pengangkangan atas harta pusaka itu untuk dirimu sendiri?”

Siu Coan memandang tajam.

“Apakah suheng bermaksud merampas harta pusaka itu?”

“Omitohud… dijauhkan Tuhan aku dari pikiran seperti itu. Sudah kukatakan bahwa aku telah meninggalkan masa laluku dan tidak akan kembali lagi ke jalan sesat. Aku hanya ingin tahu, karena kalau engkau berlaku curang terhadap para pejuang, terpaksa aku akan menentangmu.”

“Memang tak perlu kusangkal, suheng. Akan tetapi engkau tentu sudah dapat menduga akan cita-citaku. Aku akan mengembangkan Pai Sang-ti Hwe, bukan hanya sebagai sebuah perkumpulan agama, melainkan untuk menjadi batu loncatan agar aku dapat mempunyai pasukan yang kuat untuk menumbangkan pemerintah penjajah. Hanya itulah cita-citaku, karena itu, sebagian harta pusaka itu kuuangkan dan kupergunakan untuk memperbesar dan memperkuat perkumpulanku. Dan seperti yang kaulihat, akupun tidak tinggal diam melihat para pemimpin pejuang ditawan. Aku ingin mempersatukan semua pejuang agar menjadi suatu kesatuan yang amat kuat untuk menghadapi pemerintah penjajah dan orang-orang kulit putih.”

Siu Coan berhenti sebentar, lalu melihat betapa pandang mata suhengnya itu tidak berubah, dia berkata lagi.

“Suheng, kalau benar engkau kini membantu perjuangan, kuharap engkau merahasiakan ini dari orang lain. Kalau Empat Racun Dunia mengetahuinya, mungkin mereka akan berusaha merampasnya kembali dan cita-citaku yang tinggi akan mengalami kegagalan.”

“Omitohud, semoga cita-citamu yang baik itu berhasil. Aku tidak akan membocorkan rahasiamu sute.”

Siu Coan menjadi girang, juga semakin terheran-heran. Dia mendekat dan menyentuh pundaknya.

“Koan-suheng, terima kasih atas kebaikanmu. Akan tetapi aku sungguh merasa heran. Apakah yang telah terjadi pada dirimu, suheng? Bukan aku tidak merasa girang dengan perubahan ini, akan tetapi sungguh engkau telah mengalami perubahan yang luar biasa, seperti bumi dan langit kalau dibandingkan dengan keadaanmu dahulu. Apakah yang terjadi pada dirimu?”

Koan Jit tersenyum dan Siu Coan melihat betapa keseraman sudah lenyap sama sekali dan wajah suhengnya itu. Matanya memandang lembut!

“Sute... segala sesuatu pasti ada akhirnya. Aku telah tersesat sejak kecil, dan sudah sepatutnya kalau semua masa lalu itu berakhir! Kuharap saja engkau kelak tidak akan mabok kemenangan kalau engkau berhasil sehingga engkau lupa diri, dan tidak akan menaruh dendam kalau engkau gagal. Nah, sekarang cobalah engkau membujuk orang-orang muda itu agar tidak terburu nafsu membebaskan para tawanan. Aku sendiri sudah menyelidiki tempat itu dengan seksama, dan kalau kalian percaya kepadaku, serahkan sajalah pembebasan para tawanan itu kepadaku.”

Setelah berkata demikian, Koan Jit mengangguk sebagai tanda hormat, lalu membalik dan sekali tubuhnya melayang, dia telah melompati anak sungai yang cukup lebar itu dan tiba di seberang, terus berlari cepat dan menghilang. Untuk beberapa lamanya Siu Coan hanya berdiri bengong, bukan hanya melihat kehebatan ginkang orang itu, melainkan masih terheran-heran melihat sikapnya tadi. Akan tetapi dia teringat-akan teman-temannya dan segera kembali ke kuil.

“Apakah engkau dapat menyusulnya?”

Ci Kong bertanya, sedangkan tiga orang gadis itupun memandang kepada Siu Coan dengan penuh perhatian. Karena Siu Coan juga murid Thian-tok seorang di antara Empat Racun Dunia dan kini bergabung dengan mereka untuk bersama-sama membebaskan tawanan, maka Ci Kong dan tiga orang gadis itu telah menerimanya sebagai seorang teman seperjuangan. Siu-Coan mengangguk, duduk di atas lantai dan menarik napas panjang.

“Dia telah menjadi yang aneh luar biasa, telah terjadi perubahan yang amat hebat atas dirinya. Aku berhasil bercakap-cakap sebentar dengan dia dan menurut pengakuannya, dia sama sekali tidak ingin memusuhi kita, hanya ingin memberi nasihat agar kita berhati-hati dan jangan sembarangan menyerbu penjara. Dia sendiri sudah menyelidiki tempat itu, dan katanya dialah yang akan membebaskan para tahanan.”

“Siapa sudi percaya kepadanya? Dia orang jahat dan palsu, jangan-jangan dialah yang akan menjebak kita!” Kata Kui Eng yang tentu saja masih benci orang itu.

“Memang kita harus lebih berhati-hati terhadap orang seperti dia yang amat licik itu,” kata pula Lian Hong.

“Benar... dia seperti Lee Song Kim, palsu, curang dan pengkhianat. Semua ini gara-gara Song Kim. Hemm… aku ingin sekali mengadu kepandaian dan nyawa kalau bertemu dengan jahanam busuk itu!” Kui Eng berkata sambil mengepal tinju. “Siu Coan, apakah engkau dapat percaya kepada Koan Jit itu?”

Ci Kong bertanya sambil menatap tajam wajah murid Thian-tok yang kini menjadi teman seperjuangan mereka. Siu Coan merasa ragu-ragu. Dia sendiripun terus terang saja takkan pernah dapat percaya kepada Koan Jit, sehingga dia selalu akan merasa ragu-ragu dan khawatir kalau-kalau Koan Jit yang telah mengetahui akan rahasianya itu sekali waktu akan membocorkan rahasianya.

Memang dialah orangnya yang dahulu menyamar sebagai perajurit kerajaan Ceng dan diam-diam menyelinap ke balik arca besar dan mengambil sisa isi peti harta karun itu, membungkusnya dengan kain dan membawanya pergi dengan diam-diam. Harta itu besar sekali, dan akan dipergunakannya untuk menghimpun pasukan yang kuat guna mewujudkan cita-citanya menggulingkan pemerintah Mancu.

“Sukar bagiku untuk percaya, akan tetapi kukira nasihatnya agar kita berhati-hati itu ada benarnya juga” akhirnya dia menjawab hati-hati.

“Jangan-jangan dia adalah mata-mata musuh,” kembali Kui Eng berkata.

Gadis ini sekarang kalau bicara berwibawa dan memang dara ini sudah biasa mengemukakan pendapatnya yang selalu diturut oleh para pejuang dan kelompok pekerja-pekerja pelabuhan yang telah mengangkatnya menjadi pemimpin dan penasihat.

Karena itu, kurasa lebih baik kalau kita mempercepat gerakan kita, mendahului sebelum musuh membuat penjagaan yang semakin kuat lagi.”

Ci Kong mengangguk-angguk.

“Memang kurasa sebaiknya demikian. Nah, mari kita membuat rencana. Malam ini juga kita serbu lagi tempat itu. Akan tetapi kita harus mempergunakan siasat.”

“Siasat apa yang akan kita pakai untuk menghadapi kekuatan para penjaga dan pengawal?” tanya Siu Coan tertarik, karena murid atau cucu murid Siauw- bin-hud itu memang selain lihai ilmu silatnya, juga cerdik dan berpemandangan luas.

“Kurasa sebaiknya kalau kita berpencar.” kata Ci Kong sambil memandang kawan-kawannya bergantian.

“Kita berpencar dan memancing agar mereka meninggalkan tempat penjagaan mereka, atau setidaknya kekuatan mereka terpecah-pecah. Kalau sudah demikian, baru kita melihat kesempatan untuk menyelinap masuk. Tidak perlu semua, siapa yang melihat kesempatan baginya terbuka, dia harus cepat menyelinap masuk dan yang lain membantunya dengan terus mengacau dan mengalihkan perhatian para penjaga agar teman yang sudah masuk itu mendapat kesempatan untuk terus menuju ke tempat para tawanan dan membebaskan mereka. Sekali mereka bebas, tentu saja mereka dapat menyerbu keluar dan membantu kita. Akan tetapi, ini hanya pendapatku saja, kita bersama harus memperbincangkan dan bersama-sama mengatur dan merencanakan siasat yang akan kita pakai malam nanti.”

Lima orang muda itu lalu mengadakan perundingan. Mereka menggambarkan keadaan sudah mereka selidiki itu, Ci Kong membuatnya di atas lantai dan mereka lalu mempelalarinya dan mengatur siasat-siasat bersama. Pekerjaan ini hanya berhenti kalau mereka makan saja, dan akhirnya menjelang senja mereka telah menentukan siasat yang telah mereka atur bersama. Mereka membagi tugas masing-masing akan memasuki penjara itu dan lima jurusan. Siu Coan dan Ci Kong bertugas membakari bagian-bagian penjara itu dari kanan kiri, dan selanjutnya mendatangkan kekacauan dengan menyerangi para penjaga dari jurusan yang berpindah-pindah. Selagi keadaan panik oleh kebakaran, Lian Hong dan Kiki menyerbu dari belakang dan depan, menyerang para penjaga. Dua orang pemuda dan dua orang gadis itu di waktu menyerbu harus berteriak-teriak seolah-olah memberi tanda kepada kawan-kawan mereka yang banyak dan berada di belakang.

Hal ini untuk membuat keadaan para penjaga semakin panik. Dan yang ditugaskan untuk menyalinap ke dalam penjara adalah Kui Eng. Gadis ini memang mencalonkan dirinya, mengingat bahwa ia harus menolong gurunya, dan teman-temannya setuju, karena di antara mereka yang kesemuanya memiliki ilmu ginkang (meringankan tubuh) yang luar biasa, Kui Eng yang paling hebat. Dengan ginkangnya yang istimewa, akan lebih mudah menyelinap dengan gerakan cepat, juga kalau keadaan membahayakan, ia dapat pula melarikan diri dengan lebih cepat dari pada kawan-kawannya.

Malam itu keadaan di sekitar penjara kota Hang-couw sunyi seperti biasa. Bulan bersembunyi di balik awan dan kegelapan ini membantu lima orang muda yang sudah sejak tadi bersiap-siap untuk melaksanakan tugas mereka menyerbu penjara.

Ci Kong dan Siu Coan, secara berpencar, telah mengumpulkan minyak tanah dan kain-kain untuk alat pembakaran, juga mereka membekali diri dengan gendewa dan anak panah. Setelah lewat tengah malam dan keadaan amatlah sunyinya, tiba-tiba nampak api berkobar di sebelah timur dan barat penjara, kemudian nampak api meluncur ke atas, ke arah atap bangunan bangunan penjara. Tentu saja keadaan menjadi geger.

“Kebakaran! Kebakaran!” “Cepat padamkan api!”

“Ada yang sengaja melakukan pem bakaran!” “Mereka mempergunakan panah berapi!”

Para penjaga menjadi panik, berlarian ke sana sini dan berusaha memadamkan api yang mulai berkobar di sana -sini. Selagi orang-orang di dalam penjara menjadi panik dan berusaha memadamkan api, terdengar teriakan-teriakan para penjaga karena munculnya orang dari depan dan belakang yang mengamuk dan merobohkan banyak penjaga. Yang mengamuk itu adalah Lian Hong yang muncul dan belakang. Gadis ini mempergunakan senjatanya yang istimewa, yaitu sebatang kipas yang menyambar ke sana sini. Setiap kali kipasnya menyambar, seorang di antara penjaga yang mengepung dan mengeroyoknya tentu roboh.

Sambil mengamuk, Lian Hong berteriak-teriak memberi semangat kepada kawan-kawan yang seolah-olah berada di belakngnya.

“Hayo kawan-kawan, serbu...!”

Dari depan, seorang gadis lain juga mengamuk. Dia ini adalah Kiki yang mengamuk seperti seekor naga betina marah, tangan kakinya merupakan empat buah senjata ampuh dan setiap ada pengeroyok berani terlalu dekat, tentu roboh oleh tangan atau kakinya. Seperti juga Lian Hong, ia berteriak- teriak ke arah belakang.

Pengamukan dua orang gadis perkasa ini tentu saja membuat para penjaga menjadi semakin panik. Ada di antara mereka yang memegang senapan dan pistol, akan tetapi karena pasukan itu membuat para penjaga mengeroyok kalang-kabut, tentu saja yang memegang senjata api tidak berani mempergunakan senjata api mereka, takut kalau-kalau mengenai kawan sendiri.

Lian Hong yang mengamuk dengan kipasnya, setelah merobohkan belasan orang, melihat betapa para pengeroyoknya mundur dan bahkan melarikan diri, agaknya jerih menghadapi pengamukan Kiki atau ikut membantu memadamkan api. Melihat betapa ia ditinggal tinggal musuh, gadis ini melihat kesempatan amat baik! Kenapa ia tidak menyelinap masuk dan membantu Kui Eng, pikirnya. Iapun cepat menggunakan kegesitan tubuhnya untuk meloncat ke dalam, dan melihat betapa pintu menuju ke belakang terbuka dan di situ tidak nampak penjaga yang agaknya sudah menjadi panik, iapun cepat menyelinap masuk!

Kiki mengalami hal yang sama. Iapun merobohkan beberapa orang penjaga dan melihat betapa para penjaga lainnya menjadi gentar atau sibuk memadamkan api, dan ia ditinggal sendiri, iapun cepat menyelinap dan berhasil memasuki pintu belakang yang ditinggalkan penjaga.

Ci Kong menghabiskan bahan bakarnya, membakari apa saja yang dapat dibakarnya. Ketika para penjaga melihatnya dan mengeroyoknya, dia mengamuk, merobohkan dua orang dan berlari ke bagian lain untuk memancing perhatian mereka. Diapun dikepung dan dikeroyok banyak orang, namun Ci Kong tidak menjadi gentar. Bagaikan orang mencabuti rumput saja, dia menangkap-nangkapi para pengeroyoknya dan melemparkan mereka ke kanan kiri, matanya mencari-cari untuk melihat apakah Kui Eng sudah berhasil menyelinap ke dalam dan ke belakang.

Akan tetapi saatnya amat baik, pikirnya. Sambil berlari-larian ke sana sini menarik perhatian dan mengacaukan para penjaga, Ci Kong melihat betapa pintu yang menuju ke belakang ke arah penjara bawah tanah, terbuka dan ditinggalkan penjaga. Apakah Kui Eng sudah masuk, pikirnya. Ah, kesempatan baik terbuka dan diapun ingin sekali membantu Kui Eng. Terlalu berbahaya bagi gadis itu kalau masuk sendiri, pikirnya.

Dan selagi para penjaga sibuk memadamkan api dan kacau balau karena agaknya mengira bahwa markas mereka diserbu banyak musuh, tidak sukar baginya untuk menyelinap masuk. Diapun lalu meloncat dengan cepat menghilang dari depan para pengeroyoknya, dan selagi mereka kebingungan harus mencari kemana, diapun sudah menyelinap ke dalam pintu yang menembus ke belakang.

Alangkah heran dan kaget hati Ci Kong ketika dia masuk ke bagian belakang, dia tiba di sebuah ruangan dan di situ dia melihat Siu Coan, Kui Eng, Lian Hong, dan Kiki, sudah lebih dulu sampai. Empat orang itupun heran melihat munculnya Ci Kong, dan tahulah Ci Kong bahwa mereka semua memang memiliki pendapat dan maksud yang sama.

“Ah, kiranya kita berkumpul di sini. Baik sekali, karena kita dapat segera menyerbu ke dalam ruangan bawah tanah.”

Akan tetapi, empat orang remannya itu hanya memandang ke kanan kiri dengan muka berubah agak pucat. Ketika Ci Kong memandang, kiranya nampak moncong moncong senapan, menodong mereka dan lubang-lubang di diriding kanan dan kiri!

“Celaka!” serunya, tahu bahwa mereka telah terjebak ke dalam sebuah ruangan yang ditodong oleh pasukan senapan yang bersembunyi di balik diriding kanan kiri!

“Mari kita cepat keluar!” Akan tetapi pada saat itu, pintu tembusan dari luar itu telah penuh dengan orang. Kiranya puluhan perajurit dengan rapi telah berjajar di depan pintu dan seorang pria berpakaian panglima tertawa bergelak, diiringi suara ketawa belasan orang temannya yang masuk bersamanya.

Lima orang muda itu memandang dengan muka merah dan mata bersinar penuh kemarahan ketika mengenal bahwa yang masuk ini bukan lain adalah Lee Song Kim! Tahulah mereka bahwa mereka memang sengaja dijebak! Siasat mereka itu ternyata telah dihadapi dengan siasat yang lebih licik dan licin dari Lee Song Kim, sehingga mereka itu digiring menjadi satu di depan pintu terowongan yang menuju ke penjara.

“Ha-ha-ha, kalian seperti lima ekor harimau yang telah digiring masuk ke dalam kandang! Hanya ada dua pilihan, maju kalian mampus atau mundur dan masuk ke dalam kamar tahanan seperti para pemberontak lainnya!” kata Lee Song Kim dengan gembira dan suaranya mengandung kepuasan karena siasatnya memancing lima orang ini berhasil baik.

Kiki memandang kepada pemuda itu dengan mata mendelik. Kebenciannya memuncak terhadap pemuda itu yang dulu pernah akan memperkosanya, kemudian mengkhianati para tokoh dan ayahnya sendiri ketika ayahnya mengadakan pesta ulang tahun, bahkan mengkhianati para pimpinan pejuang sehingga sebagian besar dari mereka, termasuk Empat Racun Dunia, telah menjadi tawanan dan sekarang menjebak mereka berlima pula!

“Lee Song Kim jahanam keparat busuk! Engkaulah manusia tak tahu malu, pengkhianat dan pengecut paling besar di dunia!”

Song Kim tertawa.

“Ha-ha-ha, sumoiku Kiki yang manis. Engkau makin marah semakin cantik saja! Terima kasih engkau mengangkat aku menjadi penjahat paling besar di dunia, cocok untuk menjadi murid Hai-tok, bukan? Dan cocok untuk menjadi suamimu. Jangan khawatir, biarpun engkau ditawan, kelak engkau akan kujadikan isteriku, dan dua orang temanmu ini patut pula menjadi selir-selirku. Kalian bertiga memang jelita dan menggairahkan, ha-ha-ha!”

“Manusia hina!”

Kiki membentak dan iapun tidak peduli lagi akan todongan senapan, langsung menubruk ke depan dan menyerang Song Kim dengan ganasnya.

Song Kim tertawa dan cepat menangkis, bahkan bermaksud menangkap pergelangan tangan bekas sumoinya. Dia mengira bahwa Kiki masih seperi dulu dalam hal ilmu silat seimbang dengan dia, bahkan dia masih lebih kuat dalam hal tenaga sinkang. Dia sama sekali tidak tahu bahwa Kiki menyerangnya dengan pengerahan tenaga dan ilmu barunya, yaitu Hui-thian Yan-cu yang membuat tubuhnya seperti seekor burung saja, ringan cepat dan gesit. Maka, sebelum tangkisan tiba, Kiki sudah merubah gerakan tangannva dan tahu-tahu tangan itu sudah menampar ke arah leher Song Kim dengan cepat dan kuat bukan main. Song Kim terkejut, miringkan tubuhnya.

“Ptakk...!”

Tamparan itu tidak mengenai leher yang dapat mengakibatkan bahaya, melainkan meleset dan mengenai pundak, akan tetapi cukup keras membuat Song Kim terhuyung. Empat orang pembantunya maju menahan Kiki yang segera terdesak, karena empat orang itu selain lihai, memegang senjata golok yang diputar cepat membentuk empat gulungan sinar. Terpaksa Kiki mundur untuk menghindarkan diri dari bacokan-bacokan golok.

“Tembak!” terdengar aba-aba seorang perwira kulit putih. “Tahan dulu! Jangan tembak. Aku menghendaki mereka tertawan hidup- hidup!” teriak Song Kim dengan gemas, dan dia lalu mengerahkan para

perajurit untuk menyerang mereka dengan senjata tajam, bukan dengan senjata api.

Terjadilah pengeroyokan yang ketat. Lima orang muda itu dengan gigih membela diri, akan tetapi karena jumlah lawan banyak, juga para pembantu Song Kim ternyata cukup lihai dengan permainan golok mereka. Kiranya para pembantu Song Kim ini adalah jagoan-jagoan dan kota raja yang disohorkan dengan sebutan Cap-sha Toa-to (Tiga belas Golok Besar).

Karena tempat itu sempit dan para pengeroyok amat banyak, setelah merobohkan beberapa orang perajurit pengawal, lima orang muda itu terpaksa mundur terus dan tiba di mulut terowongan yang menembus ke tempat penjara. Mereka tahu bahwa sekali mereka masuk ke dalam lerowongan yang agaknya sempit itu, akan sukarlah bagi mereka untuk meloloskan diri.

Terowongan itu lebarnya hanya satu meter lebih, dan tingginya dua meter dan agaknya agak gelap. Menurut penyelidikan yang mereka peroleh, terowongan itu menuju ruangan-ruangan tahanan yang berada di bawah bukit, di belakang rumah penjara besar di luar. Akan tetapi mereka tak berdaya. Nekat menerobos kepungan, berarti mereka akan menghadapi bahaya barisan golok dan pasukan yang besar jumlahnya, dan andaikata mereka mampu membobol barisan ini, mereka masih akan melewati ruangan dimana terdapat pasukan senapan yang menodong dari kanan kin!
Mengapa udah nggak bisa download cersil di cerita silat indomandarin?

Untuk yang tanya mengenai download cersil memang udah nggak bisa hu🙏, admin ngehost filenya menggunakan google drive dan kena suspend oleh google, mungkin karena admin juga membagikan beberapa link novel barat yang berlisensi soalnya selain web cerita silat indomandarin ini admin juga dulu punya web download novel barat terjemahan yang di takedown oleh google dan akhirnya merembes ke google drive admin yang dimana itu ngehost file novel maupun cersil yang admin simpan.

Sebenarnya ada website lain yang menyediakan download cersil seperti kangzusi dan clifmanebookgratis tetapi link download cersilnya juga udah nggak bisa diakses.

Ada juga Dunia Kangouw milik om Edwin yang juga menyedikan cersil yang bisa didownload tapi beberapa bulan yang lalu webnya tiba- tiba hilang dari SERP :( padahal selain indozone admin juga sering baca cersil di dunia kangouw sebelum akhirnya admin membuat cerita silat indomandarin ini.

Lihat update cersil yang baru diupload bulan Agusuts 2022 :)

[01 Agustus 2022] Kelelawar Tanpa Sayap

List Donasi Bulan Agustus 2022 | [02/08/2022] A.N: BURHANUDDIN Rp. 150.000 | [08/08/2022] A.N: KUSNADI Rp. 150.000 ~~~ Terima Kasih atas Donasi para cianpwee semoga rezeki para cinapnwee semua dilipatgandakan oleh yang maha kuasa :) ~~~

Mau donasi lewat mana?

BCA - Nur Ichsan (7891-767-327)
Bagi para Cianpwee yang ingin berdonasi untuk pembiayaan operasional web ini dipersilahkan Klik tombol merah.

Posting Komentar

© Cerita silat IndoMandarin. All rights reserved. Developed by Jago Desain