-->

Pedang Naga Kemala Jilid 27

Jilid 27

Tiga kakek itu menganguk-ngangguk.

“Rencanamu bagus sekali, Siauw-bin-hud. Dan maafkan persangkaan kami tadi…” kata San-tok.

Tiga orang kakek itu lalu berloncatan dan menyelinap diantara batu-batu, lalu membuat sergapan ke kanan dimana berkumpul pasukan pemerintah Ceng yang ratusan orang banyaknya. Sebaliknya, Siauw-bin-hud ditemani oleh Lian Hong, menyelinap ke kiri dan mereka berdua juga melakukan penyergapan kepada pasukan asing. Terjadilah kekacauan di kedua pihak.

Biarpun Siauw-bin-hud dan Lian Hong hanya merobohkan para serdadu itu tanpa membunuh mereka, tidak seperti amukan tiga orang datuk sesat yang menyebar maut, namun para perajurit asing menjadi panik dan ketakutan ketika tiba-tiba saja teman-teman mereka roboh bergelimpangan tanpa mereka ketahui sebabnya.

Siaw-bin-hud dan Lian Hong bergerak dengan amat cepat dari balik batu- batu besar. Selagi keadaan di kedua pihak amat kacau karena amukan lima orang itu, dan ruangan menjadi semakin gelap oleh asap senapan, dari kanan menyelinap sesosok tubuh yang berpakaian seperti seorang perajurit pasukan Ceng. Akan tetapi gerakannya cepat bukan main ketika dia menyusup-nyusup itu. Keadaan demikian kacau sehingga tidak ada yang melihat gerakan sosok tubuh ini, apalagi ketika orang itu kadang-kadang melepaskan sebuah benda yang mengeluarkan asap yang menyakitkan mata. Orang itu terus menyelinap, dan dengan loncatan ringan dia menyeberang dan tiba di atas batu persegi yang diduduki arca. Dia menyelinap di dalam lubang di antara kaki arca dari mana keluar cahaya matahari, dan lenyaplah tubuhnya masuk ke bawah arca!

Sementara itu, pertempuran masih terus berlangsung dengan hebatnya. Pihak pasukan asing mengira bahwa yang merobohkan banyak perajurit secara aneh dan bersembunyi itu tentulah orang-orang pandai yang berpihak kepada pasukan Ceng, sebaliknya pasukan Ceng yang diamuk oleh tiga orang kakek sakti itupun menduga bahwa orang-orang pandai itu tentu berpihak kepada pasukan asing. Hai ini membuat kedua pihak merasa jerih. Terlalu banyak pasukan yang berada di depan sudah roboh. Apalagi pasukan tentara Ceng yang melihat betapa perajurit-perajurit mereka roboh dan tewas dalam keadaan yang mengerikan.

Sementara itu, tak seorangpun melihat betapa sosok tubuh yang tadi menyelinap masuk ke bawah arca, kini sudah keluar lagi sambil membawa buntalan yang coba ditutupnya dengan baju perajuritnya. Dan diapun dengan kecepatan luar biasa sudah menyelinap lagi di antara batu-batu dan menghilang ke arah kanan, dimana terdapat banyak sekali pasukan pemerintah Ceng. Peristiwa itu terjadi dengan amat cepatnya, tertutup oleh asap yang tebal, dan tidak ada orang melihatnya karena semua orang terlibat dalam pertempuran.

Serbuan yang dilakukan oleh lima orang itu membuat pasukan kedua pihak kocar-kacir dan akibatnya merekapun terpaksa keluar dari dalam ruangan itu sambil membawa teman-teman yang terluka dan meninggalkan teman-teman yang telah tewas.

Setelah kedua pihak mundur dan keluar dan ruangan yang semakin penuh dengan asap itu, Siauw-bin-hud lalu mengajak empat orang itu meloncat ke atas batu persegi. Mereka berlima lalu mendekati peti, dan Siauw-bin-hud dibantu oleh San-tok, membuka tutup peti.

“Omitohud!”

“Celaka !” teriak San-tok ketika dia melihat bahwa peti itu telah kosong!

Di dasar peti terdapat lubang yang agaknya baru saja dibuat orang! Dan yang tertinggal di dalam peti hanyalah sehelai kertas yang sudah tua sekali dengan tulisan huruf-huruf yang sudah kabur.

Dengan suara jelas, Siauw-bin-hud membaca tulisan itu. Kiranya tulisan kuno itu menyatakan bahwa sebanyak tiga perempat bagian harta karun itu telah dipergunakan untuk menyelamatkan banyak sekali orang ketika terjadi bencana kelaparan selama beberapa tahun di daerah barat, yang terjadi ratusan tahun yang lalu. Surat itu ditandatangani oleh orang yang menamakan dirinya Ceng Sim (Hati Bersih).

“Diambil untuk menyelamatkan rakyat sebanyak tiga perempat, lalu mana sisanya yang sepermempat lagi?” Hai-tok berseru dengan marah.

“Lihat! Lubang di dasar peti ini baru saja dibuat orang!” kata Siwuw-bin- hud yang segera melakukan pemeriksaan.

“Hemm, dia tentu mengambil jalan melalui lubang di antara kaki arca ini. Ah, tentu ketika terjadi keributan tadi, dia telah melakukannya. Sungguh cerdik bukan main. Seperempat bagian itu masih banyak sekali kukira. Lihat, menurut surat-surat peninggalan ini, tiga perempat bagian saja dapat dipergunakan menyelamatkan orang-orang sebanyak berjuta-juta penduduk dari dua propinsi yang dilanda bencana kelaparan karena serangan belalang. Siapa yang berani mengambilnya?”

Tiga oyang kakek itu saling pandang.

“Hemm... kalau kami tidak melihat sendiri engkau membantu kami menghalau pasukan, tentu kami akan menuduhmu main-main, Siauw-bin-hud.” kata Tee-tok.

“Tidak perlu tuduh-menuduh dalam hal ini,” kata Lian Hong.

“Kalau locianpwe Siauw-bin-hud hendak mengambil sendiri harta pusaka itu, tentu tidak perlu berpura-pura dan sudah lama membawanya pergi bersama petinya, dan tidak meninggalkan bekas-bekasnya. Tentu ada orang lain yang memanfaatkan keadaan ribut-ribut tadi untuk melarikan isi peti secara cerdik sekali.”

Tiga orang kakek itu mengangguk dan Siauw-bin-hud menarik napas panjang.

“Omitohud! Agaknya memang Tuhan belum menghendaki jatuhnya pemerintah penjajah Mancu, sehingga usaha kita mencari dana menjadi gagal di saat terakhir. Dan tempat ini menjadi kotor oleh pertempuran tadi. Lihat!” kata Siauw-bin hud dengan muka penuh penyesalan.

Dia menuding ke arah mayat yang bergelimpangan, ada puluhan banyaknya, baik yang tewas oleh amukan tiga orang kakek itu maupun yang tewas oleh peluru dan anak panah.

“Mari kita keluar. Tempat ini harus diruntuhkan agar menjadi kuburan mereka.”

Biarpun hal mereka merasa kesal dan kecewa karena harta pusaka itu ternyata sudah diambil orang, yang tiga perempat bagian sudah dipergunakan orang ratusan tahun yang lalu untuk menolong rakyat dari bencana kelaparan, dan yang seperempat, sisanya, baru saja dicurii orang yang lihai, namun tiga orang kakek itu terpaksa mengikuti Siauw-bin-hud ke luar dari tempat itu mengambil jalan rahasia, sebuah terowongan kecil yang nampak setelah sebuah pintu rahasia di dinding batu itu terbuka.

Mereka memasuki terowongan dan akhirnya keluar dari sebuah guha di belakang kuil. Kakek pendeta itu lalu menarik sebuah rantai besar, dan segera terdengar suara gemuruh di dalam bukit itu, tanda bahwa tempat dimana terdapat arca raksasa tadi telah runtuh dan menimbun semua yang berada di dalamnya, termasuk mayat-mayat yang bergelimpangan.

Pasukan Ceng dan pasukan asing yang melihat betapa pintu-pintu ke arah terowongan menjadi tertutup oleh batu-batu yang menggelinding keluar dari dalam ruangan, terkejut dan cepat menjauhi tempat itu. Mereka kembali ke tempat masing-masing dengan tangan hampa, bahkan kehilangan banyak anggauta, terutama sekali pihak pasukan Ceng karena banyak anak buah mereka tewas oleh amukan tiga orang kakek sakti.

Setelah tiba di atas, San-tok, Lian Hong, Tee-tok dan Hai-tok lalu berpamit kepada Siauw-bin-Hud.

“Usaha kita gagal, terpaksa kami akan bergerak menentang penjajah dengan kekuatan seadanya!” kata San-tok.

“Omitohud… pinceng juga menyesal sekali. Apalagi karena agaknya akan sukar untuk mencari siapa pencuri harta karun itu. Betapapun juga, pinceng akan menasihatkan para murid Siauw-lim-pai untuk menunjang gerakan kalian menentang pemerintah penjajah. Kalau seluruh rakyat dapat digerakkan, pinceng percaya bahwa pemerintah penjajah akan dapat digulingkan dan diusir dari tanah air. Pinceng yang sudah tua dan tidak mau bertempur lagi, hanya akan membantu dengan doa-doa pinceng.”

Merekapun pergi dan saling berpisah. San-tok pergi bersama muridnya, Tee-tok dan Hai-tok juga pergi dengan saling berjanji akan mengadakan kontak satu sama lain, dan terutama akan melakukan gerakan di selatan di daerah Kanton, dan di utara di daerah Propinsi Hok-kian.

Semenjak terjadinya peristiwa perebutan harta karun di ruangan dalam perut bukit di belakang kuil Siauw-lim-pai yang kemudian lenyap dicuri orang tanpa ada yang mengetahui, maka pemberontakan terjadi dimana-mana. San- ok, Tee-tok dan Hai-tok, makin meramaikan pemberontakan. Juga murid-murid mereka tidak mau ketinggalan, menggerakkan orang-orang segolongan yang menentang pemerintah penjajah.

Perang kecil-kecilan terjadi. pemberontakan berkobar-kobar dimana-mana. Pasukan pemerintah Ceng menjadi sibuk sekali karena dimana-mana mereka menemui perlawanan dan tentangan. Bahkan pasukan kulit putih juga menjadi semakin terdesak karena sudah seringkali markas mereka diserbu pada malam hari yang gelap dan sunyi, apalagi kalau sedang hujan. Juga patroli-patroli mereka harus diperkuat karena seringnya pasukan kecil mereka disergap di dalam perjalanan di waktu malam.

Keadaan menjadi semakin kacau. Biarpun pemberontakan-pemberontakan kecil itu berdalih membela rakyat dan tanah air, namun akibat dari kekacauan- kekacauan yang timbul karena pemberontakan-pemberontakan itu, yang paling menderita adalah rakyat kecil!

Pemerintah semakin mudah curiga sehingga banyak rakyat tidak berdosa menjadi korban keganasan pasukan pemerintah yang membabi buta. Juga pihak pemberontak selalu mencurigai rakyat yang tidak berpihak kepada mereka, menuduh rakyat yang tidak memihak mereka sebagai mata-mata pemerintah penjajah, dan para pemberontak yang menamakan diri pejuang- pejuang itu tidak segan-segan untuk menyiksa atau bahkan membunuh mereka yang dituduh menjadi mata-mata.

Tak dapat disangkal lagi dan sudah terbukti berulang kali dalam sejarah di bagian manapun di dunia ini, setiap terjadi perang, apapun dalih perang itu, sudah pasti yang menjadi korban utama adalah rakyat jelata! Dan setiap terjadi perang, maka kekerasan merajalela, manusia-manusia menjadi mata gelap dan kehilangan perikemanusiaan mereka. Yang ada hanyalah bunuh membunuh, dibunuh atau membunuh!

Hukum tidak dihiraukan lagi. Keadilan dan kebenaran terinjak-injak. Yang ada hanyalah memperebutkan kemenangan dengan cara bagaimanapun juga. Perang merupakan peristiwa terkutuk dan menjadi puncak dari pada pelepasan nafsu keganasan manusia. Dengan amat cerdik dan liciknya, setan-setan perang membangkitkan semangat rakyat demi tanah air, demi bangsa, bahkan ada kalanya setan-setan perang mempergunakan bujukan demi agama, demi kebenaran dan demi keadilan!

Betapa menyedihkan! Manusia saling membenci, saling bunuh demi agama yang sama sekali tidak membenarkan pembunuhan dan kebencian. Manusia saling membunuh demi kebenaran, padahal membunuh itu sudah menyimpang dari kebenaran. Semua ini menyedihkan, namun terjadi berulang kali sampai saat ini!

Semangat rakyat didorong menuju ke pemberontakan oleh ulah orang- orang kulit putih. Karena mereka, dengan persetujuan pemerintah Ceng yang lemah, kini semakin berkuasa dan merajalela di kota-kota besar dan bandar- bandar besar. Pemerintah Ceng nampak semakin lemah saja menghadapi orang-orang kulit putih. Rakyat menjadi semakin tertekan dan kemarahan menimbulkan pemberontakan dimana-mana. PEDANG NAGA KEMALA

( GIOK LIONG KIAM )

Oleh : Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Pada suatu sore di pelabuhan Kanton.

Seperti biasa, puluhan orang, hampir seratus orang kuli yang masih muda- muda dan bertubuh tegap dan kuat, bekerja di pelabuhan, mengangkut barang- barang milik orang-orang kulit putih. Ada yang menurunkan peti-peti dari kapal, ada pula yang mengangkat barang-barang rempah-rempah dan lain-lain ke atas kapal yang lain.

Memang orang kulit putih memperoleh keuntungan besar dalam penjelajahan mereka ke daratan Cina. Mereka mendatangkan barang-barang dari luar negeri, mengangkut rempah-rempah dan sutera-sutera halus dari daratan dengan keuntungan yang berlipat ganda.

Akan tetapi tidak seperti biasanya, kuli-kuli angkut itu nampak gelisah dan marah. Pagi tadi, ada dua orang di antara mereka yang ditahan dan dipukuli oleh serdadu kulit putih. Mereka itu ditangkap karena mencuri segulung kain sutera. Mereka ditangkap, mengaktu sambil menangis bahwa mereka melakukan hal itu karena terpaksa, karena keponakan mereka sakit keras dan membutuhkan uang untuk pembeli obat. Dua orang itu adalah kakak beradik.

Para kuli gelisah karena sampai sore, dua orang itu belum dibebaskan dan menurut kabar, mereka itu dipukuli dan disiksa setengah mati. Akhirnya, mereka tidak tahan lagi, dan pada saat serdadu bule membunyikan bel tanda bahwa pekerjaan berakhir, mereka semua beramai-ramai menghadap ke kantor, menuntut agar dua orang yang ditahan itu dibebaskan.

“Mereka memang bersalah, akan tetapi mereka sudah menerima hukuman. Mereka boleh saja dikeluarkan, akan tetapi tidak perlu ditahan terus,” demikian tuntutan mereka.

Melihat kerumunan puluhan orang kuli itu di depan kantor, komandan jaga, seorang perwira muda kulit putih menjadi marah dan juga khawatir kalau-kalau mereka melakukan pemberontakan.

“Pergi kalian! Urusan dua orang tahanan itu adalah urusan kami, kalian tidak boleh mencampuri. Pergi atau kami akan menggunakan kekerasan!” bentak perwira itu.

Para kuli menjadi semakin penasaran. Mereka malah mogok, duduk di depan kantor dan mengacung-acungkan tinju.

“Kami tidak akan pergi sebelum dua orang kawan kami dibebaskan!”

Mereka mulai berteriak-teriak dan hal ini membuat perwira itu menjadi panik. Dia segera menghubungi markas dan sekitar lima puluh orang bekas anak buah Harimau Terbang yang kini berada di bawah pimpirian Peter Dull, dikirim ke tempat kerusuhan itu. Peter Dull sendiri tidak muncul karena peristiwa itu dianggapnya remeh dan cukup untuk diselesaikan oleh sersan bule itu dan anak buahnya saja.

Ketika pasukan Harimau Terbang datang ke tempat itu, para kuli masih mogok duduk di depan kantor. Sersan bule lalu memerintahkan mereka pergi lagi.

“Pergi kalian, kalau tidak, terpaksa kami akan bertindak!” Lima orang di antara mereka yang menjadi pimpinan, bangkit dan mengacungkan tangan terkepal ke atas.

“Kami tidak akan pergi tanpa dua orang kawan kami yang tertahan!”

“Tangkap lima orang itu!” perintah sang sersan, dan beberapa orang anggauta pasukan Harimau Terbang dengan sikap bengis lalu melangkah maju hendak menangkap lima orang itu.

Akan tetapi, para kuli yang jumlahnya hampir seratus orang itu serentak bangkit melindungi lima orang kawan mereka. Melihat ini, sersan itu menjadi marah. Dia mencabut pistolnya dan berteriak.

“Hajar anjing-anjing pemberontak itu! Pukuli mereka sampai babak belur!” Mendengar perintah ini, pasukan Harimau Terbang yang sikapnya seperti anjing-anjing pemburu yang diperintah majikan mereka, langsung saja menyerbu, dan karena mereka adalah orang-orang yang sudah dilatih ilmu silat dan sudah biasa berkelahi, maka biarpun kawanan kuli angkut itu bertubuh kuat dan nekat, tentu saja para kuli ini bukan lawan para pasukan Harimau

Terbang.

Terjadilah perkelahian yang berat sebelah karena kuli-kuli angkut itu menderita pukulan-pukulan sampai mereka jatuh bangun. Sersan itu sendiri mengacung-acungkan pistolnya, siap membidik kalau dirinya diserang atau kalau sampai pasukankannya kalah.

Hampir seratus orang kuli itu tentu akan luka-luka semua kalau saja pada saat itu tidak muncul seorang gadis yang mengamuk bagaikan seekor naga menyambar-nyambar! Setiap kali tangannya menampar, kakinya menendang, tentu roboh seorang perajurit Harimau Terbang! Sepak terjangnya menggiriskan sekali! Padahal, ia adalah seorang gadis yang cantik manis, dengan sepasang mata yang amat tajam dan usianya belum ada dua puluh tahun. Ia adalah Ciu Kui Eng, gadis yatim piatu murid Tee-tok yang gagah perkasa itu.

Ketika tadi Kui Eng kebetulan lewat dan melihat perkelahian itu, ia segera tahu bahwa para kuli angkut sedang disiksa oleh pasukan orang-orang yang menjadi anjing penjilat orang kulit putih. Ia marah sekali dan tanpa banyak cakap lagi, ia segera terjun ke dalam perkelahian dan mengamuk, merobohkan orang-orang berpakaian seragam bertopi kulit harimau itu. Biarpun di antara anak buah pasukan itu yang pandai sudah mencoba untuk mengeroyok dan melawan Kui Eng dengan ilmu silat mereka, namun mereka itu masih jauh untuk dapat menandingi Kui Eng, sehingga dalam beberapa gebrakan saja, mereka itu satu demi satu dirobohkan oleh gadis perkasa itu!

Melihat betapa dalam waktu singkat, gadis yang mengamuk seperti kerbau gua itu sudah merobohkan belasan orang anak buah Harimau Terbang, sersan kulit putih itu terkejut bukan main. Tak disangkanya ada seorang gadis sedemikian hebatnya. Karena khawatir kalau-kalau pasukannya kalah semua, dia lalu membentak keras.

“Hai, tahan dan angkat tangan, kalau tidak, kutembak kau, gadis liar!”

Dimaki gadis liar, Kui Eng menjadi marah. Biarpun opsir itu membidikkan pistol kepadanya, ia tidak takut. Dengan gerakan ginkang yang amat ringan, tubuhnya sudah meluncur ke depan, menghampiri opsir itu. Si sersan terkejut, ingin menembak, akan tetapi gerakan gadis itu terlalu cepat dan tubuh gadis itu meluncur seperti terbang, tahu-tahu sudah menubruk ke arah kakinya. Opsir itu menendang, akan tetapi tidak cukup cepat dan tahu-tahu tubuhnya terjengkang dan pistolnya dirampas orang! Karena dia terbanting keras ke belakang, kepalanya menghantam tanah agak keras dan diapun terkulai, pingsan karena gegar otak!

Kui Eng tidak membuang pistol itu, melainkan menyelipkan di pinggangnya dan iapun terus mengamuk. Orang-orang Harimau Terbang menjadi jerih dan mereka sudah berteriak-teriak agar ada yang melapor ke markas minta bala bantuan. Kui Eng cukup cerdik. Ia tahu bahwa kalau bala bantuan datang, tentu ia dan para kuli itu akan celaka.

“Cepat, kita lari!” teriaknya.

Kuli-kuli angkut itupun tahu diri. Mereka bergembira sekali karena memperoleh bantuan seorang gadis perkasa, dan mereka tadi juga melakukan perlawanan dengan semangat gigih sehingga banyak di antara mereka yang merasa puas sudah dapat menendangi anak buah pasukan Harimau Terbang. Kini mendengar teriakan Kui Eng, mereka lalu melarikan dirisambil membawa teman-teman yang terluka, setelah tidak lupa menyerbu ke kantor dan membebaskan dua orang teman yang ditahan dan yang telah disiksa menderita luka-luka itu.

Melihat mereka berlarian, Kui Eng merasa khawatir. Melarikan diri bersama demikian banyaknya orang tidaklah mudah dan tentu keadaan mereka akan diketahui lawan.

“Kemana kita lari?” teriaknya.

“Mari, lihiap, ikuti kami!” teriak seorang di antara lima orang yang tadi bertindak sebagai pimpinan.

Mereka berlari terus melalui lorong-lorong dan kampung-kampung tempat tinggal penduduk yang miskin. Akhirnya, mereka memasuki sebuah rumah seperti gudang yang panjang dan tua. Ruangan yang panjang itu mereka masuki dan ternyata ada sebuah tangga turun menuju ke dalam ruangan bawah tanah yang juga panjang dan agak pengap.

Setelah mereka semua memasuki ruangan bawah tanah ini, pintu tembusan itu tertutup secara rahasia dan mereka itu yang berjumlah hampir seratus orang lalu minta agar Kui Eng suka memimpin mereka.

Kui Eng berdiri di atas mimbar yang terbuat dan peti-peti ditumpuk dan lima otang pimpinan itu lalu berkata dengan suara keras.

“Mari kita mulai sekarang memberontak terhadap orang kulit putih!” “Berontaaaakkk...!!”

Semua orang mengacungkan kepalan tangan ke atas. Seorang di antara lima pimpinan, yang tinggi besar dan bersikap kasar, tiba-tiba berseru.

“Saudara-saudara, bagaimana kalau kita mengangkat lihiap ini menjadi pimpinan kami?Akur atau tidak?”

“Akuuuurrr!”

Semua orang bersorak dan mengepal tinju ke atas, memandang kepada Kui Eng dengan sinar mata kagum dan penuh harapan.

Kui Eng menjadi terkejut dan serba salah. Memang ia sendiri juga ditugaskan oleh suhunya untuk membantu pemberontakan, terutama pemberontakan terhadap pemerintah penjajah Mancu. Akan tetapi mana mungkin ia, seorang gadis, menjadi pemimpin sekelompok laki-laki yang bertubuh kuat dan bersikap kasar ini? Betapapun juga, ia tahu bahwa mereka ini dapat menjadi anak buah yang patuh dan nekat, dan kalau ia menolaknya, tentu akan melumpuhkan semangat mereka yang sedang berkobar.

“Nanti dulu, kawan-kawan…” kata Kui Eng sambil mengangkat kedua tangan ke atas. Suasana segera menjadi sirap dan hening, semua orang mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Pertama-tama, aku ingin bertanya, mengapa kalian hendak memberontak? Bukankah selama ini kalian menjadi kuli-kuli angkut di kapal-kapal asing itu. Kenapa kalian secara mendadak lalu timbul keinginan untuk berontak?”

Si tinggi besar bermata lebar itu yang menjawab.

“Lihiap, bolehkah saya mewakili semua kawan memberi jawaban?”

Melihat betapa semua orang mengangguk tanda setuju, Kui Eng berkata sambil memandang kepada orang tinggi besar itu.

“Boleh, katakanlah.”

“Begini, lihiap. Kami semua sejak dahulu, memang merupakan pekerja- pekerja kasar karena kami tidak mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan halus. Kalau tidak terjadi sesuatu, agaknya kamipun tidak akan memberontak. Akan tetapi, akhir-akhir ini kami seringkali diperlakukan amat tidak adil dan semena- mena oleh orang-orang kulit putih dan antek-anteknya, terutama para anggauta pasukan Harimau Terbang itu. Dahulu, sebelum terjadi Perang Madat, kami masih dapat mengharapkan perlindungan dari alat-alat pemerintah. Akan tetapi sekarang, alat-alat pemerintah nampak tunduk pula terhadap orang-orang kulit putih. Kami tidak mempunyai pelindung lagi. Maka, kami mengambil keputusan untuk membentuk kesatuan dan pemberontak. Akan tetapi kami membutuhkan pimpinan, dan melihat betapa lihiap memiliki kepandaian tinggi, dan sudah menolong kami, maka kami ingin sekali mengangkat lihiap menjadi pemimpin kami.”

“Akurrr…!” “Setuju…!”

“Hidup lihiap…!”

Melihat orang-orang itu kesemuanya laki-laki muda dan gagah, memandang kepadanya dengan kegembiraan meluap, bahkan ada di antara mereka yang melahapnya dengan pandang mata, diam-diam Kui Eng merasa ngeri dan bergidik. Betapa mungkin dia akan hidup sebagai pemimpin di antara begini banyak pria yang setiap hari akan mengerumuni dan memandangnya dengan kekaguman yang kadang-kadang disertai nafsu dan gairah?

“Kawan-kawan, tenanglah dahulu,” katanya.

Setelah semua orang tenang, ia melanjutkan, kata-katanya jelas dan tetap. “Aku tahu akan semangat kalian sedang terbakar, dan memang kita semua tidak suka melihat tanah air terjajah Bangsa Mancu, dan melihat orang-orang kulit putih semakin merajalela! Sudah sepatutnya kalau kita semua bangkit untuk membela bangsa dan tanah air. Akan tetapi, aku sudah terbiasa bergerak bebas di luar suatu perkumpulan. Bukan aku tidak mau membantu kalian, akan tetapi aku tidak mempunyai kecakapan untuk menjadi pemimpin. Akan tetapi, aku akan mengajarkan ilmu silat, beberapa jurus yang tangguh dan penting

untuk kalian. Bagaimana?”

Riuh rendah sambutan mereka, ada yang setuju, ada yang tetap hendak mengangkat gadis cantik dan lihai itu sebagai pemimpin. Kembali Kui Eng mengangkat tangan ke atas minta mereka tenang.

“Karena tidak mungkin mengajarkan ilmu silat yang tangguh dalam waktu singkat kepada kalian semua, maka aku akan mengajarkan kepada lima orang pemimpin kalian ini saja, kemudian merekalah yang akan mengajarkan kembali kepada kalian. Menyesal sekali aku tidak dapat menjadi pemimpin kalian, karena aku sendiri masih terikat oleh tugas-tugas dari guruku.” Orang-orang itu akhirnya tidak berani mendesak lagi dan hanya berteriak menanyakan nama gadis itu.

“Namaku Kui Eng.” kata Kui Eng sambil tersenyum, tidak berani memperkenalkan shenya.

Siapa tahu mereka itu sudah pernah mendengar atau mengenal tentang ayahnya yang pernah dimusuhi banyak orang karena mengedarkan madat! Dengan nama itu, semua orang mengira bahwa ia she Kui bernama Eng.

“Hidup Kui-lihiap!”

Terdengar teriakan berulang-ulang, dan Kui Eng membiarkan saja mereka salah duga terhadap namanya, ia lalu berunding dengan lima orang pimpinan para kuli yang memberontak itu. Dan mulai hari itu, setiap hari untuk beberapa jam lamanya, Kui Eng datang ke tempat rahasia itu dan melatih lima orang itu dengan beberapa jurus ilmu silat yang tangguh. Ia memilih jurus-jurus yang praktis saja, yang akan menghasilkan kemenangan dalam perkelahian singkat melawan para perajurit musuh, baik perajurit pasukan Ceng maupun perajurit anak buah pasukan Harimau Terbang.

Karena kini kelompok bekas kuli angkut itu memiliki andalan, maka mereka dapat masuk bekerja kembali dengan muka berseri dan dada terangkat. Orang- orang kulit putih masih membutuhkan tenaga mereka, dan tidak mungkin dapat mengganggu mereka semua. Barang-barang itu perlu diangkat dari dan ke kapal. Maka para kuli itu, di samping kuli-kuli baru, masih diterima bekerja, walaupun pihak orang kulit putih mengadakan pengawasan dengan amat ketatnya.

Tentu saja dua orang yang pernah ditahan dan lima orang yang menjadi pimpinan, tidak berani memperlihatkan diri lagi. Dan kini, para kuli angkut itu bukan hanya bekerja untuk mencari uang, melainkan juga mencani kesempatan untuk melakukan pencurian, di samping diam-diam bekerja sebagai mata-mata untuk mengamati gerak-gerik orang kulit putih.

Dalam catatan sejarah kelak, orang-orang yang bekerja sebagai kuli angkut inilah yang banyak membantu para pejuang daiam menentang orang-orang kulit putih.

Setelah memberi latihan selama beberapa bulan, akhirnya Kui Eng meninggalkan para kuli angkut itu. Akan tetapi walaupun ia tidak menjadi pimpinan mereka, nama Kui Eng atau Kui-lihiap takkan pernah terlupa oleh mereka, sebagai seorang pendekar wanita perkasa yang mereka kagumi.

Orang yang berjalan seorang diri menuruni lereng gunung itu bertubuh jangkung kurus, akan tetapi tidak kelihatan kecil karena memang dia bertulang besar. Mukanya kehitaman dan matanya amat tajam seperti mata kucing. Pakaiannya juga serba hitam dan langkahnya tegap penuh wibawa, bahkan cara dia mengangkat mukanya yang kehitaman itu terbayang suatu kesombongan. Akan tetapi, sepasang mata yang tajam itu kini dihias alis yang selalu berkerut, dan sinar mata yang tajam itu agak muram, mulutnya membayangkan kegelisahan dan kedukaan.

Tiba-tiba dia berhenti melangkah dan tubuhnya menyelinap dengan cepatnya, lenyap di balik semak-semak. Akan tetapi, seorang gendut pendek yang muncul dari belakang sebatang pohon besar tertawa.

“Ha-ha-ha, sobat berpakaian hitam. Tak perlu kau bersembunyi, aku sudah tahu bahwa engkau berada di baiik semak-semak itu. Keluarlah dan lebih baik engkau membagi hasil dengan aku, atau aku akan menangkapmu, ha-ha!” Orang jangkung berpakaian hitam itu keluar dan balik semak-semak. Mereka saling berhadapan. Dan kini orang pendek gendut itu kelihatan terkejut melihat muka yang kehitaman dengan sepasang mata yang amat tajam itu.

“Kau kau siapa dan mengapa bersembunyi? Kau tentu seorang kang-ouw, bukan?”

Si gendut ini tadi hanya main-main, akan tetapi sekarang dia nampak jerih melihat sepasang mata itu. Mulut itu berkeriput dan sepasang mata yang tajam itu memancarkan sinar yang kejam.

“Tolol, ulahmu sendiri yang akan mengakhiri hidupmu. Aku sudah menghindarkan pertemuan, akan tetapi engkau memaksa aku keluar. Nah, mampuslah!”

Si tinggi kurus itu menggerakkan tubuhnya. Si pendek gendut terkejut dan mencabut golok sambil mengelak. Akan tetapi sia-sia belaka. Terdengar suara keras ketika gooknya terlempar dan tubuhnya terkulai, dan diapun sudah tewas karena pelipisnya, terkena tamparan tangan orang berpakaian serba hitam itu. Orang itu sejenak memandang tubuh korbannya  yang  sudah  menjadi mayat, menggeleng-gelengkan kepala dan menarik napas panjang, lalu meloncat dan lari secepatnya meninggalkan mayat itu. Sebentar saja dia sudah tiba di tempat yang amat jauh dari situ, baru dia berjalan lagi seenaknya. Ketika di depan nampak sebuah dusun, diapun memutar tubuhnya dan mengambil

jalan menghindar pertemuan dengan dusun di depan.

Orang berpakaian serba hitam itu adalah Koan Jit! Seperti telah diceritakan di bagian depan, Koan Jit terpaksa melarikan diri dari markas pasukan Harimau Terbang yang diserbu oleh gurunya sendiri, yaitu Thian-tok bersama sutenya, Ong Siu Coan yang mengerahkan bekas anak buahnya dari Thian-te-pai yang setia kepadanya.

Setelah mendengar berita bahwa Giok-liong-kiam yang berada di tangannya itu palsu, dia tersenyum masam dan hatinya menjadi semakin kecewa. Pusakanya itu, bersama pusaka simpanannya lainnya, terampas oleh Thian-tok dalam penyerbuan itu, dia tidak punya apa-apa lagi. Kemudian dia menyebar berita desas-desus itu bahwa pusaka Giok-liong-kiam yang kini terampas oleh gurunya itu adalah pusaka palsu! Dia teringat akan keadaan di tempat rahasia dimana dia menyimpan pusaka-pusakanya ketika dia dipancing pergi oleh San-tok. Tentu kakek itu yang telah menukar pusakanya!

Hatinya merasa penasaran sekali dan diapun menyebar berita bahwa pusaka Giok-liong-kiam kini berada di tangan Empat Racun Dunia, dan bahwa mereka itu hendak mencari harta karun dan pusaka itu untuk mereka pergunakan memberontak! Dengan penyebaran berita ini, dunia pun menjadi ramai, bahkan kini pihak pemerintah secara sungguh-sungguh mulai menyebar orang-orang pandai untuk merampas pusaka itu.

Demikian pula orang-orang kulit putih. Akan tetapi, balas dendam yang dilakukannya ini tetap saja tidak memuaskan hatinya. Dia gelisah sekali, gelisah karena duka dan kecewa, juga karena dia merasa kesepian, merasa sendirian. Dia merasa gagal dalam segala hal! Kedudukannya yang sudah baik di pasukan orang kulit putih telah terlepas dan tak mungkin dia kembali kepada orang kulit putih. Sudah terdapat suatu perasaan tidak enak, bahkan bermusuh sejak dia membunuh sutenya sendiri, Gan Seng Bu. Dia tentu sedang dicari oleh pasukan orang kulit putih, dan kalau sampai tertangkap, tentu hukuman yang berat, mungkin hukuman mati tembak menantinya. Dia telah meninggalkan markas dalam keadaan kacau dan hancur. Membantu pemerintah Ceng? Tentu dia akan ditangkap pula. Pengabdiannya kepada orang kulit putih membuat dia dianggap sebagai pengkhianat, mungkin sebagai pemberontak pula. Tidak mungkin dia tidak dapat membantu orang-orang Mancu, tidak mungkin dapat membantu pemerintah Ceng.

Membantu para pemberontak? Juga tidak mungkin sama sekali. Selama ini dia malah membantai banyak pemberontak dengan pasukan Harimau Terbangnya. Bahkan Empat Racun Dunia memusuhinya. Juga semua orang kang-ouw memusuhinya, baik dan golongan sesat maupun golongan pendekar. Dia menjadi orang yang terasing. Dia selalu merasa diamati orang, kemanapun dia pergi. Merasa terancam dan dimanapun dia berada, dia merasa tidak aman. Karena itu, dia selalu gelisah dan menyembunyikan diri, menghindarkan pertemuannya dengan siapapun.

Koan Jit merasa hidupnya terhimpit. Dimana-mana dia dimusuhi orang, dan segala hal yang dipegangnya ternyata telah gagal. Beberapa kali dia didorong oleh keinginan bunuh diri saja, namun dia tidak memiliki keberanian cukup besar untuk mengakhiri hidupnya, karena dia membayangkan betapa ngeninya dirinya akan menempuh keadaan yang tidak dikenalnya, keadaan sesudah mati yang kabur dan menakutkan. Dia merasa amat tersiksa. Hidup gelisah matipun takut.

Bukit itu menanik perhatiannya. Penuh dengan hutan-hutan yang subur dan dia melihat banyak tanaman-tanaman yang dapat dipergunakan sebagai obat hidup di daerah itu. Tempatnya sunyi dan sejak tadi dia tidak pernah melihat adanya orang di situ. Tempat yang baik sekali, pikirnya. Pemandangan alamnya juga indah, hawanya sejuk. Tiba-tiba timbul pikirannya untuk tinggal di bukit itu. Diapun mulai mencari-cari tempat yang kiranya cocok untuk menjadi tempat tinggalnya, sementara atau seterusnya.

Di sebuah dinding karang yang curam, dia melihat ada sebuah guha besar yang tertutup batu besar. Dia heran melihat batu itu. Melihat tanda-tandanya, agaknya batu itu belum lama tergeser menutup guha. Dan celah-celah di tepi guha, dapat dilihat bahwa guha itu besar dan dapat menjadi tempat tinggal yang enak. Akan tetapi batu besar itu menutupinya.

Koan Jit lalu menggulung lengan bajunya, dan dengan mengerahkan tenaganya, dia mendorong batu besar itu. Memang hebat sekali tenaga Koan Jit. Batu itu perlahan-lahan tergeser ke pinggir dan nampaklah lubang guha itu, memang merupakan sebuah guha yang lebar dan amat dalam sehingga dari luar nampak gelap. Dia merasa girang sekali. Seperti telah diduganya tadi, guha itu luas dan enak untuk ditinggali. Dan batu besar itu dapat dipergunakan sebagai pintu sehingga tempat tinggalnya akan tertutup dan tidak dapat diganggu orang luar. Akan tetapi dia harus memeriksa dulu keadaan guha.

Setelah matanya terbiasa oleh keadaan dalam guha yang remang-remang, diapun masuk. Sebuah terowongan di ujung kanan guha itu diikutinya dan tibalah dia di sebuah ruangan dalam bukit itu, ruangan yang lebar dan enak karena sinar matahari dapat masuk dari atas dari celah-celah batu karang yang pecah. Hawa yang sejukpun masuk dan celah-celah itu. Dan dia terkejut.

Di ruangan itu terdapat seorang kakek yang bertubuh gendut, sedang duduk bersila. Mula-mula dia mengira sebuah arca, akan tetapi dia terkejut karena melihat bahwa kakek itu seperti gurunya, seperti Thian-tok! Ketika dia menghampiri dan memandang dengan teliti, ternyata kakek itu bukan gurunya, melainkan seorang hwesio gendut yang mirip gurunya, seorang kakek hwesio yang sudah amat tua.

“Omitohud, selamat datang, orang yang gagah perkasa. Apakah engkau juga sedang mencari tempat yang baik untuk menjernihkan batin?”

Suara itu demikian lemah lembut, demikian ramah dan mengandung getaran suara yang selama hidupnya belum pernah didengar dan dirasakan Koan Jit. Getaran itu menyentuh hatinya, getaran yang penuh kontak perasaan, penuh kasih sayang, seolah-olah dia mendengar suara ayahnya atau ibunya sendiri. Dia sudah hampir lupa akan suara orang-orang yang mengasihi, karena sejak kecil dia sudah terpisah dan ayah bundanya, dan semenjak kecil dia hidup di lingkungan orang-orang yang selalu mempergunakan kekerasan, dimana tidak pernah bergema suara yang mengandung kasih sayang. Oleh karena itu, mendengar suara ini, dia tertegun.

Akan tetapi, dia segera teringat bahwa di tempat ini terdapat orang yang akan mengenalnya, kemudian akan mengkhianatinya. Semua orang merupakan musuh baginya, merupakan ancaman bagi keselamatan dirinya. Maka, kemarahan dan kebencian menyelubungi hatinya, mengusir perasaan haru yang tergerak dalam hatinya mendengar kelembutan suara penuh kasih sayang tadi.

“Orang tua, aku sudah mengambil keputusan untuk membunuh setiap orang yang kujumpai. Tanpa kusengaja aku bertemu dengan engkau di sini, maka engkaupun akan kubunuh sekarang juga!” demikian katanya dengan bengis dan keren, sambil melangkah maju.

“Omitohud… orang muda yang gagah perkasa. Engkau kira engkau ini siapakah maka akan dapat membunuh yang hidup? Hidup dan mati bukanlah urusan pinceng, akan tetapi jangan engkau mengira bahwa engkau akan mampu membunuh kehidupan. Mungkin engkau akan dapat membunuh pinceng, akan tetapi yang mati hanyalah tubuh seorang hwesio tua yang tiada artinya. Dan siapa bilang bahwa kematian akan mengakhiri segala duka? Siapa bilang bahwa dengan membunuh pinceng atau orang lain, engkau akan terlepas dari pada himpitan yang menekan batinmu itu…”

Mendengar ucapan itu, Koan Jit mengerutkan alisnya. Seperti diingatkan dia betapa membunuh banyak orang yang dijumpainya selama ini, sama sekali tidak melenyapkan kegelisahannya, bahkan menambah. Akan tetapi, dia tidak dapat berbuat lain. Orang ini, seperti yang lain, harus dibunuhnya, kalau tidak, keselamatannya akan terancam.

“Hwesio tua… apapun pendapatmu, tetap saja engkau harus kubunuh. Itulah satu-satunya jalan bagiku! Tentu saja engkau boleh membela diri, karena melihat batu itu, aku percaya bahwa engkau seorang yang memiliki kepandaian. Nah, hanya engkau atau aku yang akan kalah dan mati. Bersiaplah!”

“Nanti dulu, orang muda. Sudah lama pinceng melepaskan nafsu membunuh, dan pinceng sudah merasa bosan untuk mempergunakan kepandaian dalam perkelahian yang tiada gunanya. Pinceng tidak akan melawan kalau engkau hendak membunuh pinceng, hanya pinceng tidak ingin ilmu baru yang pinceng ciptakan baru-baru ini akan lenyap begitu saja bersama pinceng. Oleh karena itu, sebelum engkau membunuhku, pinceng mempunyai sebuah permintaan, yaitu engkau terima dan warisilah ilmu baruku itu. Setelah itu, barulah pinceng akan dapat mati dengan tenang karena ilmu yang selama ini pinceng ciptakan dengan susah payah itu sudah diwarisi orang. Bagaimana?” Mendengar permintaan ini, Koan Jit mengerutkan alisnya. Dia memiliki banyak mnusuh. Menghadapi Thian-tok saja, dan tentu juga tokoh-tokoh Empat Racun Dunia, dia tidak akan menang. Dia perlu memiliki ilmu-ilmu yang sakti dan dahsyat. Dia menduga bahwa kakek ini tentu bukan orang sembarangan. Dia akan melihat seperti apa ilmu itu. Kalau memang merupakan ilmu kesaktian yang dahsyat, tiada salahnya kalau dia mewarisinya. Sebaliknya kalau ternyata ilmu yang dangkal dan tiada gunanya, masih belum terlambat untuk membunuh kakek itu.

“Baiklah, aku suka menerima warisan ilmumu itu. Setelah itu, baru aku akan membunuhmu.”

“Siancai… legalah hati pinceng. Ilmu silat baru ini pinceng beri nama Ilmu Silat Kebahagiaan, hanya terdiri dari dua belas jurus. Nah, kau lihat baik-baik. Pinceng hendak memainkan dua belas jurus Ilmu Silat Kebahagiaan itu.”

Diam-diam Koan Jt merasa geli dan memandang rendah. Ilmu silat yang namanya aneh begitu, apalagi hanya dua belas jurus, ada apanya sih yang hebat? Akan tetapi, dia memandang penuh perhatian ketika kakek itu bangkit. Kakek itu sungguh memiliki tubuh yang gemuk, perutnya gendut dan mukanya penuh dengan senyum ramah, mirip sekali dengan muka gurunya. Dan tiba-tiba saja, dia teringat, mukanya berubah pucat. Siauw-bin-hud! Kakek ini adalah kakek Siauw-bin-bud, tokoh Siauw-lim-pai yang luar biasa saktinya

itu. Gurunya sendiri, Thian-tok, tidak mampu menandingi kakek ini!

Kedua kakinya terasa dingin dan gemetar. Kakek ini adalah seorang yang memiliki  tingkat kepandaian jauh lebih tinggi darinya, dan dia telah mengancam untuk membunuhnya! Ah, sudah terlanjur, pikirnya. Biarlah, kalau aku kalah nanti, biar aku mati di tangannya. Tidak akan kecewa tewas di tangan seorang sakti seperti Siauw-bin-hud yang sudah terkenal di seluruh dunia persilatan! Dan diapun sudah mengamati ketika kakek itu mulai bersilat. Dan Koan Jit terpesona! Kakek itu bersilat dengan gaya yang lain dari pada ilmu-ilmu silat lain. Demikian lemas, demikian indah, demikian bersih, dan gerakan itu seperti orang kegirangan saja. Namun dia melihat betapa setiap jalan dari depan tertutup oleh gerakan-gerakan itu, dan gerakan-gerakan itu memungkinkan orang yang bersilat melakukan serangan balasan dari arah manapun juga. Ilmu silat ini seperti sebuah benteng baja yang mempunyai

banyak lubang-lubang untuk meluncurkan anak-anak panah!

Sebuah ilmu silat yang amat luar biasa, akan tetapi gerakan-gerakannya sedemikian anehnya sehingga dia yang biasanya sekali melihat saja sudah dapat menangkap sebagian besar dari gerakan silat, sekali ini menjadi bingung dan sukar mengingat bagaimana caranya bergerak seperti itu! Diam-diam dia yang memperhatikan maklum bahwa ilmu itu sungguh merupakan ilmu yang sakti. Biarpun tidak membayangkan kekerasan, namun hawa pukulan itu meluncur dan ketika mengenai dinding guha, mengaung dan menimbulkan bunyi gema yang susul-menyusul! Mengerikan! Dan diapun yakin bahwa semua ilmunya tidak akan mampu menandingi ilmu yang bernama Ilmu Silat Kebahagiaan itu.

Akhirnya Siauw-bin-hud, kakek hwesio itu, berhenti bersilat, berdiri tegak dan merangkap kedua tangan di depan dada, memejamkan mata dan mengucap ‘Omitohud’ berkali-kali, seolah-olah menghormati ilmu yang baru saja dimainkannya itu. Setelah itu, baru dia membuka mata memandang kepada Koan Jit yang masih berdiri terpesona.

“Nah, orang muda… apakah engkau sudah melihatnya dan mengertinya?” Koan Jit merasa mukanya menjadi panas saking malu. Dia merasa bodoh sekali. Sedikitpun dia tidak dapat ingat lagi gerakan-gerakan tadi.

Locianpwe,” katanya dengan sikap menghormat setelah dia dapat menduga siapa yang berada di depannya!

“Aku telah melihat semua gerakan itu, namun tidak mengerti dan tidak mampu mengingatnya. Gerakan-gerakan itu terlalu indah dan terlalu ruwet bagiku. Mohon petunjuk locianpwe.”

Kakek itu tertawa.

“Tidak aneh kalau begitu. Sebagai seorang hwesio, ilmu silat itu tercipta ketika pinceng merenungi pelajaran-pelajaran agama tentang kebahagiaan, dimana terdapat dua belas pasal. Nah, untuk dapat memainkan ilmu ini, teorinya terletak dalam kalimat-kalimat pelajaran itu, maka pelajaran itu harus dipahami benar, bukan hanya dihafalkan, bahkan pelajaran teori itu harus diresapi sehingga dapat dijiwai dan mendarah-daging. Apa artinya pelajaran teori kalau tidak diresapi sehingga mendarah daging? Selain itu, juga latar belakang pendidikan dan lingkungan seseorang menentukan berhasil atau tidaknya dia mempelajari ilmu baruku ini. Nah, orang muda… coba engkau memainkan ilmu silat yang sudah kau kuasai agar pinceng dapat menentukan bagaimana caramu untuk menerima dan mewarisi ilmuku yang baru ini sebaiknya.”

Koan Jit tadi merasa kagum dan dia ingin sekali memiliki Ilmu Silat Kebahagiaan itu. Maka mendengar ucapan Siauw-bin-hud, diapun lalu melangkah maju dan mulailah dia bersilat. Dia sudah menguasai ilmu-ilmu silat dari Thian-tok sebaik-baiknya. Tidak ada di antara kedua orang sutenya yang mampu menandinginya dalam ilmu silat perguruan mereka. Hanya Thian-tok sajalah yang kiranya dapat mengunggulinya dan itupun hanya sedikit selisihnya. Maka dia lalu memainkan jurus-jurus pilihan dan Ngo-heng Lian- hoan Kun-hoat. Baru dia bersilat sebanyak belasan jurus, Siauw-bin-hud sudah menghentikannya.

“Sudah cukup, orang muda. Omitohud… kiranya engkau adalah murid Thian-tok? Tidak salah lagi, tentu engkau yang bernama Koan Jit.”

“Tidak salah dugaan locianpwe, dan akupun dapat menduga bahwa locianpwe tentulah Siauw-bin-hud dari Siauw-lim-pai.”

“Ha-ha-ha-ha, susahnya menjadi orang yang dikenal! Sampai di dalam guha terpencil sekalipun, masih saja dikenal orang. Koan Jit, pinceng sudah melihat dasar-dasar ilmu silatmu, dan terus terang saja, kalau engkau hendak menguasai Ilmu Silat Kebahagiaan, engkau harus melatih teorinya sampai matang betul. Tanpa mengingat setiap kata dan kalimat-kalimat pelajaran itu, takkan mungkin engkau akan mampu memainkan ilmu silatku yang baru. Apakah engkau siap untuk mempelajarinya, ataukah engkau merasa tidak sanggup dan ingin segera membunuh pinceng?”

“Aku sudah siap mempelajarinya,” kata Koan Jit dengan suara tegas. “Kalau begitu, dengarkan dan pelajari satu demi satu pelajaran agama

tentang kebahagiaan, baru kemudian sepasal demi sepasal, dicocokkan dengan ilmu silatnya sejurus demi sejurus. Hanya dengan cara demikian, engkau akan dapat melatih diri dan menguasai ilmu itu sebaik-baiknya.”

Kakek itu lalu mengajarkan ilmu yang diambil dari kitab suci Dharma Pada, yaitu kitab suci Agama Buddha, pasal lima belas yang mengajarkan tentang kebahagiaan. Setiap pasal lalu dia jelaskan hubungannya yang mendarah- daging dengan jurus gerakan silat yang bersangkutan. Memang rumit sekali, karena itu, Koan Jit harus menghafalkan pasal-pasal itu sampai dapat menjiwai isinya. Pelajaran itu ada dua belas pasal, dan bunyinya seperti demikian.

1. Kita hidup bahagia bila tak membenci seorangpun di tengah-tengah orang- orang yang membenci. Kita hidup bebas dari kebencian di antara orang- orang yang membenci.

2. Kita hidup bahagia bila bebas dari penyakit di antara orang-orang yang sakit. Kita hidup bebas dari penyakit di antara orang-orang yang sakit.

3. Kita hidup bahagia bila bebas dari keserakahan di antara orang-orang yang serakah. Kita hidup bebas dari keserakahan di antara orang-orang yang serakah.

4. Kita hidup bahagia, bila tidak terikat oleh kemilikan. Kita akan hidup bahagia laksana dewa-dewa yang memancarkan cahaya.

5. Kemenangan memabokkan si pembenci, yang kalah menderita kesedihan. Dia yang tak lagi memikirkan kemenangan dan kekalahan, senantiasa tenang dan bahagia.

6. Tiada api melebihi nafsu, tiada penyakit melebihi kebencian, tiada penderitaan melebihi cengkeraman badani, tiada kebahagiaan melebihi Nirwana.

7. Keserakahanlah penyakit yang paling berbahaya, mengejar keinginan penderitaan yang paling besar. Bagi yang mengerti akan kenyataan ini, Nirwana-lah kebahagiaan tertinggi.

8. Kesehatanlah anugerah terbesar, puas akan apa adanya-lah kekayaan terbesar. Keyakinan adalah hubungan terbaik, dan Nirwanalah kebahagiaan tertinggi.

9. Setelah menikmati kesucian dan ketenangan, terbebaslah dan belenggu takut dari dosa. Setelah demikian barulah dapat meneguk kebahagiaan hidup di dalam Dharma.

10. Memandang Para Bijaksana adalah baik, bergaul dengan mereka membahagiakan. Yang tidak bergaul dengan si dungu akan senantiasa berbahagia.

11. Yang bergaul dengan orang-orang dungu seperti bergaul dengan musuh, menyebabkan derita. Bergaul dengan orang bijaksana seperti sanak saudara menyebabkan kebahagiaan.

12. Karena itu, seperti bulan bergerak mengikuti garis peredarannya, hendaknya orang mengikuti para bijaksana yang berpemandangan luas, terdidik, sabar dan taat kepada peraturan Para Bijaksana sehingga patut untuk diikutinya.

Demikianlah bunyi lengkap ujar-ujar dalam kitab Dharma Pada tentang kebahagiaan. Memang hebat sekali Siauw-bin-hud yang menciptakan ilmu silat berdasarkan semua ujar-ujar itu.

Koan Jit adalah orang yang selama ini bergelimang dalam kejahatan, tidak pentah peduli lagi akan kesadaran atau kebajikan. Bagaikan sebuah lampu yang sudah tebal dan kotor oleh debu, maka sinarnya tak mampu menyorot keluar, tidak mampu mendatangkan penerangan dan selalu berada dalam kegelapan. Akan tetapi, latihan yang diberikan oleh Siauw-bin-hud, yang mengharuskan dia menghafal semua ujar-ujar itu sedemikian rupa sampai meresap dan dapat menjiwai, mendarah daging dalam kehidupannya, seolah- olah membersihkan debu dan lampu itu, dan diapun dapat melihat karena sinarnya menjadi terang.

Perlahan-lahan namun pasti, terjadi perubahan hebat dalam diri dan batin Koan Jit. Makin dia memperdalam Ilmu Silat Kebahagiaan itu, semakin hebat pula terjadi perubahan itu. Selama seratus hari dia berlatih, dan Koan Jit seperti orang yang baru lahir kembali, bedanya dengan Koan Jit sebelumnya, seperti bumi dan langit! Matanya yang biasanya tajam seperti mata kucing, penuh kebencian dan kekejaman, kini berubah menjadi tajam penuh kewaspadaan dan kelembutan. Sikapnya yang biasanya gelisah dan selalu ketakutan, kini berubah lembut dan ramah tersenyum.

Bukan hanya lahirnya yang berubah karena pencerminan keadaan batinnya, bahkan ilmu silatnya pun mengalami perubahan hebat. Dulu, gerakan-gerakannya dalam ilmu silat penuh dengan gerak-gerak tipu yang penuh kecurangan dan kekejaman, penuh dengan ancaman maut. Kini, gerakan-gerakannya yang masih sama cepatnya itu menjadi gerakan yang aneh dan terutama sekali Ilmu Silat Kebahagiaan itu dapat diresapinya sehingga merupakan ilmu yang dapat mengatasi dan menundukkan lawan dengan cepat tanpa melakukan pembunuhan.

Setelah seratus hari berlatih siang malam dengan sungguh-sungguh di bawah pimpinan Siauw-bin-hud, kakek ini tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha-ha! Omitohud… berkah Sang Buddha yang berlimpahan telah membuat engkau berhasil Koan Jit. Melihat gerakan-gerakanmu dalam berlatih tadi, engkau telah menguasai seluruh dua belas jurus Ilmu Silat Kebahagiaan, dan semoga engkau akan dilimpahi damai dan bahagia. Nah, engkau sudah lulus sekarang dan tepat seperti yang pinceng janjikan, setelah pinceng mewariskan ilmu baru ini kepadamu, pinceng siap untuk kau bunuh. Terimalah pedang ini dan lakukanlah niatmu membunuh pinceng!”

Kakek itu sambil tersenyum ramah lalu menyerahkan sebatang pedang terhunus kepada Koan Jit. Sejenak Koan Jit memandang nanar dan tertegun, seolah-olah tidak percaya akan apa yang didengarnya, dan seolah-olah dia sudah lupa dan kini terkejut karena diingatkan kembali bahwa dia pernah mempunyai keinginan membunuh kakek ini. Hawa panas karena haru naik dari dadanya dan seperti menyangkut dan mencekik tenggorokannya. Dia menerima pedang itu dari tangan Siauw-bin-hud tanpa berkata apapun, kemudian diapun mengayun pedang itu! Bukan untuk membunuh Siauw-bin- hud, melainkan untuk membacok dan membuntungi kedua kakinya sendiri.

“Siancai !”

Siauw-bin-hud menggerakkan tangannya dengan kecepatan yang sukar diikuti oleh pikiran lumrah.

“Trakkk!”

Pedang itu tertangkis dan terlepas dan pegangan Koan Jit. “Omitohud, Koan Jit… apa yang kaulakukan itu?”

Siauw-bin-hud berkata dengan suara membentak. Koan Jit menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Siauw-bin-hud, dan dia menangis menggerung- gerung seperti anak kecil sambil membentur-benturkan dahinya ke atas tanah. Selama hidupnya, baru sekali inilah dia mengalami hal seperti itu. Jiwanya seperti meratap, perasaannya meluap-luap, keharuannya membuat dia menangis sesenggukan seperti  seorang anak kecil. Dia tidak mampu mengeluarkan kata-kata, melainkan menggerung-gerung dan membentur- benturkan dahinya di atas tanah depan kaki Siauw-bin-hud, kakek yang pernah

mau dibunuhnya itu.

Siauw-bin-hud memandang dan tersenyum, hatinya merasa gembira dan bahagia bukan main, karena dia mengerti bahwa telah terjadi pergolakan dalam batin Koan Jit, bahwa telah terjadi penyesalan yang akan membuat orang itu bertaubat selama hidupnya, perubahan yang membuka mata batin Koan Jit sehingga dia dapat melihat betapa sesat dan jahatnya dia di waktu yang sudah-sudah. Dia membiarkan Koan Jit menangis, karena hanya tangislah yang merupakan obat terbaik dalam keadaan seperti itu. Tanpa tangis, manusia akan menderita makin banyak kesengsaraan dan penyakit lahir batin. Tangis dapat merupakan peluapan segala derita batin.

Setelah gejolak batin itu agak reda, dengan suara halus Siauw-bin-hud berkata.

“Koan Jit, hampir saja engkau melakukan hal yang bahkan lebih sesat dan jahat dari pada segala perbuatanmu yang sudah-sudah. Engkau hendak menyiksa diri sendiri? Bahkan membunuh diri sendiri, tiada gunanya untuk menebus segala kesalahan yang telah dilakukan di waktu yang sudah. Yang penting bukan hanya penyesalan dan pernyataan taubat. Yang terpenting adalah membuka mata penuh kewaspadaan dan kesadaran, sehingga mulai saat ini, engkau akan selalu dalam keadaan sadar dan akan melakukan hal-hal yang baik.”

“Saya mengerti, locianpwe… dan maafkanlah perbuatan saya tadi. Saya terdorong oleh rasa menyesal kepada diri sendiri bagaimana saya pernah mempunyai niat untuk membunuh locianpwe yang bijaksana dan budiman. Malu sekali kalau saya mengenang semua perbuatan saya yang lalu. Mulai sekarang, saya bersumpah akan mengakhiri sisa hidup saya untuk mengabdi kebenaran dan kebajikan.”

Kakek itu menarik napas panjang.

“Omitohud! Pinceng merasa berbahagia sekali bahwa penerangan telah mengusir kegelapan dan hatimu, Koan Jit. Akan tetapi, pinceng menyembunyikan diri karena tidak tahan melihat keadaan dunia yang menjadi keruh oleh ulah manusia. Dimana-mana, manusia telah mengumbar hawa nafsu, menggunakan kekerasan untuk saling bunuh. Dan semua perbuatan itu disembunyikan dalam dalih yang muluk-muluk. Ah, kinipun berkecamuk perjuangan menentang pemerintah penjajah. Memang sudah menjadi hak bangsa kita untuk memberontak. Akan tetapi, untuk inipun terpaksa harus dipergunakan kekerasan, bunuh-membunuh. Betapa ngerinya dan pinceng tidak akan melihat itu semua. Ingat, Koan Jit…. engkau masih muda dan tentu saja engkau boleh mencampuri urusan perjuangan. Sebagai seorang warga negara, memang engkau berkewajiban untuk melindungi tanah air dan membela bangsamu. Akan tetapi semua itu harus kaulakukan dengan hati setia dan jujur, dan jangan sedikitpun juga bersumber kepada kepentingan diri pribadi. Mementingkan diri pribadi akan menodai dan mencemarkan semua perjuangan.”

“Locianpwe, setelah menerima petunjuk locianpwe selama ini, saya sudah dapat melihat dengan jelas, dan saya tidak mempunyai pamrih apapun, locianpwe. Keinginan pribadi saya sudah mati, dan biarlah saya anggap demikian sehingga kematian itu akan saya tandai dengan pakaian berkabung untuk selamanya.”

Siauw-bin-hud merasa gembira bukan main. Gembira karena tanpa disangka-sangkanya, dalam keadaan dalam pertapaan itu, Tuhan telah menuntun Koan Jit memasuki guha sehingga orang itu akhimya merasa memperoleh kesadaran. Diapun lalu mempergunakan kesempatan itu untuk memberi petuah dan nasihat-nasihat yang amat berharga kepada Koan Jit, agar bekal batin orang itu semakin penuh untuk dia pergunakan menghadapi kehidupan yang sudah menjadi keruh dan kotor oleh ulah manusia pada umumnya itu.

Manusia sudah sedemikian butanya, sehingga untuk memperebutkan kesenangan bagi dirinya sendiri yang meluas menjadi ketenangan keluarga, kelompok, suku dan bangsanya, mereka rela untuk saling berbunuhan. Dengan dalih mencari perdamaian, mereka rela membunuh. Perdamaian hendak dicapai manusia melalui perang! Ketenteraman hendak dicapai melalui huru- hara! Sungguh aneh, lucu akan tetapi menyedihkan, namun kalau kita mau membuka mata memandang, memang demikianlah keadaan dunia kita! Demikianlah jerit manusia yang dapat melihat semua itu, seperti yang sering dijeritkan oleh hati Siauw-bin-hud.

Terjadi perubahan besar dalam hubungan antara pemerintah Ceng dan pasukan-pasukan kulit putih. Pemberontakan-pemberontakan yang terjadi dimana-mana, yang bukan hanya memusuhi pemerintah Ceng akan tetapi juga merongrong pasukan kulit putih, membuat dua golongan ini segera melihat bahwa persatuan antara mereka amat menguntungkan mereka bersama. Bahkan penumpasan terhadap para pemberontak itu, kalau dilakukan dengan cara masing-masing, dapat memancing timbulnya pertentangan di antara mereka sendiri.

Hal ini terjadi pula di dalam ruangan bawah tanah di bukit sebelah belakang kuil Siauw-lim-si. Karena bekerja sendiri-sendiri dalam menghadapi para pemberontak, maka mereka nyaris bertempur sendiri, saling bermusuhan. Mereka maklum bahwa kalau hal ini terjadi, yang untung hanyalah para pemberontak. Kedua pihak akan menjadi lemah sendiri. Pasukan pemerintah Ceng lebih menguasai keadaan dan mengenal daerah, sedangkan pasukan orang kulit putih yang tidak begitu mengenal daerah, lebih kuat dalam persenjataan karena menguasai banyak senjata api.

Hal ini nampak oleh para pimpinan pasukan kedua pihak, dan mereka lalu mengadakan persekutuan atau persatuan untuk bersama-sama menghadapi pemberontak-pemberontak itu dan menumpasnya. Dan semenjak mereka mengadakan kerja sama, maka operasi-operasi yang mereka lakukan banyak membuahkan hasil. Sarang-sarang para pemberontak yang kecil-kecil, yang berkelompok tidak lebih dari puluhan orang, berhasil disergap dan banyak dilakukan pembunuhan dan penangkapan-penangkapan.

Setelah adanya kerja sama itu, dalam waktu satu bulan saja, tempat tahanan pemerintah Ceng telah penuh dengan para tawanan yang dianggap sebagai pemimpin-pemimpin pemberontakan, dan jumlah tahanan ini setiap hari meningkat.

Di dalam penjara kota Hang-couw yang menjadi kota pelabuhan dimana tentara kulit putih berpusat di samping di Syanghai, penuh dengan tahanan para pemberontak yang jumlahnya mencapai seratus orang lebih! Mereka adalah orang-orang yang dianggap cukup penting, walaupun bukan pemimpin- pemimpin besar, karena para pemimpin besar itu belum ada yang dapat ditawan. Menurut para komandan kedua pasukan yang bergabung itu, para pimpinan besar adalah pendekar-pendekar lihai, juga termasuk tokoh-tokoh Siauw-lim-pai, dan datuk-datuk seperti San-tok, Hai-tok, Tee-tok dan murid- murid mereka. Karena itu, ingin sekali mereka menangkap tokoh-tokoh besar ini, karena sekali tokoh-tokoh besar itu tertangkap, mereka yakin bahwa pemberontakanpun akan mudah dipadamkan. Maka, kedua pihak lalu mengatur siasat, mencari jalan agar dapat menangkap para pimpinan pemberontak.

Malam itu amat gelap dan suasana di penjara besar kota Hang-couw sudah sunyi, karena agaknya para tahanan sudah tidur pulas walaupun keadaan mereka amat sengsara. Kamar-kamar yang penuh dengan tawanan, tidur begitu saja di atas lantai yang dingin, juga berbau busuk. Lebih dari seratus orang tawanan berada di satu ruangan besar yang terbagi menjadi belasan kamar. Mereka ini semua adalah tawanan perang, anggauta-anggauta pemberontak yang tertangkap ketika diadakan pembersihan.

Akan tetapi para penjaga masih berjaga dengan penuh kewaspadaan. Tidak kurang dari dua puluh orang berjaga di situ. Mereka maklum bahwa teman-teman para tawanan yang masih berkeliaran di luar tentu akan berusaha membebaskan mereka yang tertawan. Oeh karena itu, para penjaga itu siang malam secara bergiliran melakukan penjagaan yang kuat. Dan karena kini pasukan-pasukan pemerintah Mancu telah bergabung dengan pasukan- pasukan orang kulit putih, di antara para penjaga itu terdapat dua orang perajurit kulit putih yang membawa bedil dan pistol.

Penjara itu dikurung tembok tinggi dan empat sudutnya terdapat tempat penjagaan yang selalu dijaga oleh masing-masing empat orang penjaga. Isi penjara itu seluruhnya tidak kurang dari empat ratus orang, akan tetapi tawanan para pemberontak disatukan di dalam ruangan yang dijaga ketat oleh dua puluh orang penjaga pilihan.

Malam semakin larut dan dingin. Para penjaga sudah melakukan perondaan ketika tanda waktu tengah malam dipukul, dan keadaan di seluruh penjara itu nampak aman dan tenteram saja. Para tahanan agaknya sudah tidur semua. Terdengar dengkur di sana sini. Ada pula terdengar keluhan-keluhan berat, dan tangis lirih tertahan. Demikianlah keadaan ruangan penjara itu setiap malamnya.

Tak seorangpun di antara enam belas orang penjaga yang bertugas jaga di empat penjuru penjara melihat betapa ada sesosok bayangan hitam berkelebat dengan kecepatan seperti seekor kucing saja, melompati pagar tembok yang kebetulan agak gelap karena cahaya lampu gantung terhalang mencapai bagian itu. Karena gerakan bayangan itu amat cepat, memang tidak mudah menangkap gerakannya. Apalagi dia tadi hanya nampak bergerak melayang dan meloncati pagar tembok saja, yang hanya makan waktu dua tiga detik. Kini dia menyelinap ke dalam gelap, akan tetapi sudah berada di sebelah dalam tombok penjara.

Ketika bayangan itu muncul di bawah sebuah lampu gantung, biarpun hanya sebentar, namun sinar lampu yang menimpa mukanya menunjukkan bahwa dia adalah seorang laki-laki yang masih muda dan berwajah tampan. Akan tetapi, dia cepat m enggunakan sehelai saputangan hitam untuk menutupi bagian bawah mukanya, sehingga yang nampak kini hanya sepasang matanya yang mencorong tajam karena kepalanya juga terbungkus kain hitam. Pakaiannya juga serba hitam sehingga ketika kembali dia berkelibat ke bagian yang tidak begitu terang, tubuhnya lenyap ditelan warna hitam.

Ketika itu, dua puluh orang penjaga yang bertugas juga di sebelah luar pintu besar ruangan tempat para tahanan pemberontak, masih asyik bermain catur dan kartu untuk melewatkan waktu malam. Mereka sama sekali tidak tahu dan tidak pernah menyangka bahwa tak jauh dari situ, di balik tiang yang besar, ada sesosok tubuh berpakaian serba hitam menyelinap dan mengintai ke arah mereka. Bayangan itu menggunakan pandang matanya yang tajam untuk menyelidiki keadaan.

Pintu ruangan itu hanya satu-satunya, pintu besar dari besi yang kuat dan nampak betapa daun pintu itu ditutup dan diperkuat dengan sebuah rantai baja yang besar dan digembok. Di sebelah dalam ruangan ini terbagi menjadi belasan kamar, yang tidak berdaun pintu dan tubuh para tawanan malang- melintang di dalam kamar-kamar itu, nampak dari luar karena pintu besar itu beruji.

Setelah membuat perhitungan dengan pandang matanya, bayangan itu menggerakkan tangan kanan mencabut sebatang pedang yang berkilauan saking tajamnya, juga tangan kirinya merenggut sebuah benda bulat. Dia membuat perhitungan dan mengukur jarak dengan pandangan matanya, kemudian tangan kirinya melontarkan benda bulat itu ke arah para penjaga, dan sengaja melemparkan benda itu ke dekat meja penjaga yang sedang bermain kartu, dimana terdapat pula dua orang perajurit kulit putih yang membawa bedil dan pistol.

Terdengar ledakan keras dan asap mengepul tebal memenuhi ruangan itu. Para perajurit yang berjaga mengeluarkan teriakan-teriakan kaget, beberapa orang di antara mereka terguling dan menutupi muka mereka karena serangan asap tebal. Di antara kebutan asap tebal itu, bayangan hitam tadi berkelebat dan cepat dia menggunakan pedangnya membacoki rantai yang mengikat pintu besar. Hanya beberapa kali bacokan saja, membuat rantai itu putus dan diapun cepat membuka daun pintu dan melompat masuk.

Para tahanan sudah terbangun karena terkejut. Mereka semua terbelalak melihat semua yang terjadi, dan hati mereka terguncang dengan penuh kegembiraan dan ketegangan. Tak salah lagi, mereka sedang ditolong orang yang pandai!

“Cepat, kalian lari keluar!” kata bayangan itu.

“Siapakah saudara?” tanya seorang di antara para tahanan.

Tanpa menjawab, bayangan itu membuka penutup mukanya sehingga sejenak mukanya tertimpa sinar lampu gantung.

“Kau… kau…”

Beberapa orang pemimpin pemberontak berseru kaget dan heran bukan main.

“Sssttt!”

Bayangan itu menutup kembali kain hitam di mukanya.

“Aku sengaja menyelundup ke dalam pasukan pemerintah. Keluarlah dan tunggu aku di luar kota sebelah selatan di luar hutan. Sudah kupersiapkan segalanya di sana.”

Kini para penjaga sudah datang menyerbu. Akan tetapi, bayangan itu mengamuk dengan pedangnya, menerjang keluar diikuti para tahanan yang juga melakukan perlawanan. Karena para tahanan itu berjumlah seratus orang lebih, dan penolong mereka itu amat lihai, tentu saja para penjaga tidak kuat bertahan. Apalagi dua orang perajurit kulit putih yang mereka andalkan, yang membawa bedil dan pistol, telah tidak berdaya dan setengah pingsan karena merekalah yang paling dekat dengan bom asap yang tadi meledak dekat sekali dengan mereka.

Jangankan mempergunakan senjata api dan ikut bertempur, untuk membuka mata saja mereka tidak sanggup. Karena ini, para penjaga lalu melarikan diri dan terdengarlah mereka memukul kentungan tanda bahaya. Karena markas pasukan gabungan pemerintah dan orang kulit putih berada tak jauh dari penjara, maka kini berbondong-bondong muncullah pasukan yang menyerbu ke penjara.

Akan tetapi, seratus lebih orang tahanan itu telah menyerbu keluar dan kini terjadilah pertempuran kecil di depan penjara dan nampak oleh para tawanan betapa penolong mereka mengamuk dengan hebatnya.

Betapapun juga, karena jumlah pasukan pemerintah lebih besar, akhirnya di antara para pelarian itu, ada pula yang tertangkap kembali. Hanya kurang lebih tigapuluh orang saja, yang berhasil lolos. Dan mereka ini, sesuai dengan pesan penolong mereka, lalu dengan berpencar keluar dari kota Hang-couw sebelah selatan. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali tiga puluh orang telah berkumpul di luar hutan yang masih gelap itu. Dan penolong merekapun muncul, masih berpakaian hitam-hitam akan tetapi tanpa mengenakan kain hitam penutup muka.

Melihat orang ini, tiga puluh tiga orang itu lalu menyambut dengan gembira. Seorang pemimpin pemberontak berseru dengan kagum.

“Sungguh tidak kami sangka! Lee-ciangkun selama ini dikenal sebagai seorang yang paling gigih menentang kami kaum pejuang, akan tetapi kenapa sekarang membalik dan menentang mereka, membantu para patriot?”

Laki-laki muda yang tampan, itu adalah Lee Song Kim, dan dia tersenyum. “Akupun seorang warga negara yang mencinta tanah air dan bangsa.” Dia menarik napas panjang.

“Memang dahulu aku pernah terbujuk oleh pemerintah, akan tetapi setelah melihat betapa pemerintah bersekutu dengan orang-orang asing, dan melihat betapa orang-orang gagah bergerak memberontak terhadap kekuasaan asing, timbul semangatku untuk membantu perjuangan. Apalagi mengingat bahwa suhuku, yaitu Hai-tok Tang Kok Bu, menjadi seorang di antara pimpinan pejuang. Akan tetapi, aku tetap menjadi opsir pemerintah. Hal ini akan memudahkan aku untuk bergerak serta sembunyi dan berkedok lalu mengadakan kontak dengan para pejuang. Sebagai seorang opsir tinggi, aku dapat mengetahui semua rencana dan rahasia yang akan dilakukan oleh gabungan pasukan pemerintah dan orang kulit putih. Harap sampaikan pesanku kepada para pimpinan kalian bahwa mulai saat ini aku, Lee Song Kim, berpihak kepada mereka, akan tetapi diam-diam masih memegang jabatanku agar dapat mengetahui gerakan musuh.”

Tentu saja para pemberontak atau yang menamakan diri mereka sendiri pejuang itu menjadi gembira. Apalagi ketika Lee Song Kim membawa mereka ke sebuah tempat persembunyian didalam hutan dimana telah disediakan lebih dari empat puluh ekor kuda untuk mereka! Benar-benar perbuatan Lee Song Kim sekali ini amat berjasa bagi perjuangan dan telah menjadi bukti yang cukup bahwa bekas penentang perjuangan itu kini benar-benar telah menjadi seorang di antara mereka.

“Lalu apa yang akan dilakukan oleh Lee-ciangkun selanjutnya untuk membantu perjuangan?” tanya seorang di antara mereka.

Song Kim tersenyum lagi, akan tetapi dia menggeleng kepala.

“Harap saudara-saudara jangan menyebut aku Lee-ciangkun kalau kita sedang mengadakan pertemuan seperti ini. Bukankah kita sama-sama pejuang?”

“Baiklah, Lee-taihap! Harap beri petunjuk, apa yang harus kami lakukan selanjutnya dan bagaimana taihap akan dapat menghubungi kami, atau kami menghubungi taihap.”

Song Kim tersenyum, girang dan bangga bahwa dia kini disebut taihiap (pendekar besar).

“Cu-wi (anda sekalian) tentu sudah maklum bahwa aku menjadi opsir tinggi yang kini ditempatkan di Nan-king. Karena itu, tidak amanlah kalau kita mengadakan pertemuan di dekat Nan-king. Sebaiknya, tempat inilah, di dalam hutan ini, yang menjadi tempat pertemuan antara kita. Kuharap kalian sampaikan kepada para pimpinan kalian, selain apa yang telah kulakukan, juga agar para pimpinan dapat menemui aku pada tanggal satu bulan depan di tempat ini, di waktu malam. Hari itu masih ada tiga minggu lagi, dan kukira dalam waktu itu, aku sudah akan memperoleh banyak keterangan yang penting tentang gerakan pasukan pemerintah. Andaikata ada keperluan mendesak untuk disampaikan kepadaku, hubungi saja tukang sayur bernama Lo Kian yang tinggal di kota Nan-king, di ujung barat dekat kuil. Dialah yang suka menyetorkan sayur mayur ke gedungku, dan dia dapat kalian percaya untuk menyampaikan apa saja kepadaku tanpa dicurigai orang lain.”

Semua orang bergembira karena mereka percaya bahwa perwira muda yang mereka tahu amat lihai itu biasanya ditakuti oleh para pejuang, kini benar- benar berpihak kepada mereka.

“Hidup Lee-taihap!”

Mereka berseru setelah mereka hendak berangkat, dan tak lama kemudian dengan berpencaran. Song Kim juga cepat menyelinap pergi dan lenyap diantara batang-batang pohon di hutan itu.

Tentu saja di dunia kang-ouw dan para pejuang dan patriot menjadi geger ketika mereka mendengar akan peristiwa yang terjadi di dalam penjara kota Hang-couw itu. Bermacam-macam tanggapan mereka terhadap peristiwa mengejutkan itu. Banyak pula di antara mereka yang menaruh curiga.

Berita ini sampai pula ke telinga Hai-tok. Mendengar tanggapan para pimpinan pejuang bahwa mungkin muridnya hanya mengatur siasat saja, hati Haitok menjadi panas.

“Kita lihat saja tanggal satu bulan depan nanti. Kalian datanglah ke hutan itu. Aku sendiri akan membayangi, dan kalau benar dia berkhianat dan mengatur jebakan, aku sendiri yang akan membunuhnya dengan kedua tanganku ini!”

Di dalam hatinya, kakek yang bertubuh tinggi besar ini merasa kecewa dan berduka. Dia amat mencinta Song Kim dan dianggapnya Song Kim murid yang teramat baik. Tentang kecabulan atau kejahatan kejahatan lain yang dilakukan muridnya, dia tidak perduli, karena baginya, hal itu dianggap sebagai petualangan saja dan sudah wajar dilakukan oleh muridnya. Akan tetapi ketika mendengar betapa muridnya itu menghambakan diri kepada pemerintah Ceng dan bahkan bersekongkol dengan orang-orang kulit putih, dia merasa malu dan marah bukan main. Diam-diam tadinya dia mengharapkan untuk dapat menjodohkan Kiki dengan muridnya itu. Akan tetapi Kiki malah pernah melapor kepadanya betapa Song Kim berusaha memperkosa Kiki.

Kini, Hai-tok mendengar betapa muridnya melakukan perbuatan yang amat membesarkan hatinya, yaitu membebaskan para tawanan di Hang-couw. Kalau benar-benar muridnya itu telah berbalik pikiran dan menentang penjajah dan orang asing, dia masih mengharapkan untuk meraih murid itu agar kelak menjadi jodoh Kiki. Maka, mendengar tanggapan yang mencurigai Song Kim, hatinya menjadi panas, juga khawatir karena siapa tahu muridnya itu benar- benar melakukan siasat untuk menghancurkan para pejuang.