Pedang Naga Kemala Jilid 26

Jilid 26

“Dukkk!”

Dan akibat dari penggunaan tenaga yang hanya setengahnya itu, tubuh Song Kim terdorong dan terlempar ke belakang, menabrak semak-semak di belakangya! Barulah dia kaget setengah mati dan maklum bahwa ternyata gadis kaya raya itu memiliki tenaga sinkang yang hebat. Cepat dia berteriak kepada para pengawal karena kini dia dapat menduga bahwa tiga orang tamunya ini adalah musuh-musuh yang melakukan penyelidikan dengan menyamar! Dan diapun kini sudah teringat bahwa wajah pelayan itu seperti pernah dilihatnya.

Ketika dia memandang dan bertemu pandang dengan mata Ci Kong, jantungnya berdebar keras dan kini teringatlah dia! Pemuda itu yang pernah menolong Kiki! Ah... betapa bodohnya dia karena tergila-gila kecantikan gadis kaya raya yang mengaku sebagai Liem-siocia itu, dia seperti telah menjadi buta dan tidak menaruh curiga kepada mereka.

Lee Song Kim bersuit keras dan segera pasukannya datang mengepung, juga di antara para tamu terdapat para pembantunya dan rekannya yang pandai ilmu silat, sehingga sebentar saja, Ci Kong, Lian Hong dan Kui Eng sudah dikepung. Dan kini, melihat gerak-gerik Liem-kongcu, Song Kim dapat melihat pula bahwa pemuda yang mengaku sebagai pemuda hartawan itu adalah seorang wanita! Pantas begitu tampan dan halusnya! Apalagi ketika dia melihat Lian Hong sudah mengeluarkan sebatang kipas, diapun dapat menduga bahwa gadis itu tentulah murid San-tok!

Kui Eng juga sudah mencabut sebatang pedang yang tadinya disembunyikan di balik bajunya yang mewah dan lebar panjang. Hanya Ci Kong yang tidak biasa mempergunakan senjata, kini bersiap siaga dengan kedua tangan kosong saja.

“Tangkap mata-mata, hidup atau mati!” bentak Lee Song Kim sambil mencabut pedangnya. Tiga orang muda itu lalu dikeroyok dan mereka pun mengamuk. Begitu mereka bergerak, enam orang perajurit pengawal roboh! Tentu saja Song Kim merasa kaget sekali dan dia makin yakin bahwa tiga orang ini adalah orang- orang yang lihai, mungkin diutus oleh Empat Racun Dunia untuk melakukan penyelidikan. Dan mengingat betapa dia sudah menceritakan rahasia dan rencana pemerintah terhadap Empat Racun Dunia, dia menjadi semakin gelisah.

“Kepung, jangan biarkan mereka lolos!” katanya, dan diapun menerjang ke arah Ci Kong. Murid Siauw-lim-pai itu mengelak.

“Jahanam busuk seperti engkau ini harus dilenyapkan dan dunia!” bentak Ci Kong.

Kini Song Kim tidak merasa ragu lagi. Inilah pemuda yang sudah dua kali menolong dan membantu Kiki menghadapinya pertama kali di pantai, dan kedua kalinya di hutan ketika dia menyerang Kiki di depan Ceng Hiang itu. Maka marahlah dia dan pedangnya diputar dengan cepat, diapun menyerang secara bertubi-tubi ke arah Ci Kong yang harus mempergunakan kelincahan tubuhnya untuk mengelak dan balas menyerang.

Akan tetapi, betapapun lihainya tiga orang pendekar muda itu, kini kepungan menjadi semakin ketat karena datangnya sejumlah pasukan pembantu. Mereka bertiga kini dikepung oleh rekan-rekan Song Kim yang merupakan jagoan-jagoan kota raja yang memiliki kepandaian yang cukup tinggi, sehingga tidak semudah ketika merobohkan para perajurit tadi bagi tiga orang pendekar itu. Mereka maklum bahwa kalau dilanjutkan, keadaan mereka tentu akan terancam bahaya. Mereka berada di kota raja, dan kalau terus menerus datang balatentara berupa pasukan-pasukan, dan jagoan-jagoan kota raja, mereka akan terancam malapetaka.

“Mari kita pergi!” teriak Ci Kong kepada dua orang gadis itu.

Akan tetapi bicara mudah, tetapi melaksanakannya yang sukar, karena kepungan para jagoan itu ketat sebali. Apalagi di luar kepungan para jagoan itu masih terdapat kepungan pasukan yang berlapis-lapis!

Tiba-tiba terjadi keributan di luar kepungan, dan kepungan para pasukan itu menjadi kacau-balau dan membuyar. Kiranya ada orang yang mengamuk di sebelah luar kepungan dan membuyarkan kepungan ini. Melihat betapa kepungan itu terbuka, Ci Kong, Lian Hong dan Kui Eng tidak mau menyia- nyiakannya. Itulah jalan keluar, dan mereka lalu menggerakkan kaki tangan membuat para pengeroyok mundur, dan mereka lalu meloncat dan menerobos kepungan yang sudah terbuka dan membuyar itu.

“Kejar! Tangkap mereka!” bentak Song Kim sambil mengejar.

Rekan-rekannya juga ikut mengejar, demikian pula para perajurit. Keadaan menjadi kacau-balau. Para rerajurit lari ke sana-sini, bersimpang siur karena mereka tentu saja tidak dapat mengejar tiga orang muda yang berloncatan dengan cepatnya itu dan tidak tahu harus mengejar kemana. Yang dapat mengejar dan tidak tertinggal terlalu jauh hanyalah Lee Song Kim dan beberapa orang rekannya saja.

Melihat betapa Lee Song Kim dan beberapa orang jagoan kota raja terus mengejar, Ci Kong segera berkata kepada dua orang gadis itu.

“Kita harus berpencar, mengambil jalan masing-masing, dan kita laporkan semua hasil penyelidikan kita kepada suhu masing-masing.”

Dua orang gadis itu setuju, dan Lian Hong berkata.

“Biar aku mengambil jalan utara, enci Eng mengambil jalan timur, dan Ci Kong melalui pintu selatan. Selamat berpisah!”

Lian Hong lalu memutar tubuhnya utara, Kui Eng juga lari ke timur, dan Ci Kong membalik ke arah selatan. Melihat betapa tiga orang itu berpencar, Song Kim menjadi bingung. Akan tetapi dasar mata keranjang, dia berpikir bahwa yang terpenting adalah menawan Kui Eng, maka diapun terus melakukan pengejaran terhadap Kui Eng tanpa memperdulikan yang lain. Para rekannya juga terpencar, ada yang mengejar ke utara, ada yang ke selatan. Akan tetapi mereka itu merasa jerih terhadap orang yang mereka kejar, sehingga ketika Lian Hong dan Ci Kong berhasil keluar dari pintu gerbang, mereka tidak melanjutkan pengejaran mereka.

Demikian pula dengan Song Kim. Tak disangkanya bahwa Kui Eng dapat berlari cepat sekali, meloncati pagar tembok yang amat tinggi dan keluar dari kota raja. Dia merasa jerih karena khawatir kalau-kalau di luar tembok kota raja, gadis itu mempunyai kawan-kawan yang lihai, sedangkan dia hanya seorang diri saja. Maka dengan uring-uringan, dia kembali ke kota raja untuk mempersiapkan pasukan besar, dan dengan pasukan ini dia akan melakukan pengejaran dan pencarian.

Kui Eng berlari secepatnya dan malam yang gelap membantunya. Setelah tiba di luar kota Tang-san, di tepi Kanal Besar yang menyambung aliran Sungai Huang-ho dan Yangce-kiang di selatan, sampai ke Tang-san dekat kota raja, malam sudah menjadi pagi. Ia merasa lega bahwa tidak nampak seorangpun pengejar lagi dan iapun berhenti di tepi sungai kanal itu untuk beristirahat.

Matahari naik semakin tinggi di timur dan Kui Eng lalu bangkit dari istirahatnya, bermaksud untuk meIanjutkan perjalanan. Karena tidak merasa perlu menyamar lagi, ia menanggalkan pakaian mewah yang hanya merupakan pakaian sebelah luar saja, sedangkan di dalam adalah pakaiannya yang biasa dan iapun melepaskan sanggulnya dan mengikat rambutnya dengan pita. Kini ia berubah menjadi seorang gadis kang-ouw yang suka melakukan perjalanan jauh seorang diri, berpakaian ringkas. Pakaian gadis kaya itu ia lemparkan ke dalam air sungai, dan perhiasan-perhiasan emas permata yang tadinya dipakainya, ia simpan ke dalam saku bajunya.

“Kau perempuan genit menjemukan!” Tiba-tiba terdengar ada orang membentak.

Kui Eng terkejut sekali, akan tetapi juga terheran-heran karena yang membentak itu adalah seorang wanita. Ketika ia membalikkan tubuhnya, ternyata di depannya telah berdiri seorang gadis yang sebaya dengannya, cantik manis dan gagah, akan tetapi sinar matanya menunjukkan bahwa gadis itu galak dan sedang marah. Tentu saja Kui Eng yang juga memiliki watak galak dan keras hati itu, menjadi merah mukanya, ketika datang-datang, gadis yang tak dikenalnya itu memakinya.

“Eh, eh, apakah engkau ini orang gila?” Ia membalas. “Datang-datang memaki orang!”

Gadis itu bukan lain adalah Kiki! Malam tadi ia berada di antara kerumunan penonton di luar pagar taman bunga Lee Song Kim. Melihat bekas suhengnya, orang yang hampir saja memperkosanya, ia sudah marah sekali. Akan tetapi ia tidak bodoh dan tidak mau dengan nekat menyerang di tempat itu. Dan hatinya semakin mendongkol melihat sikap gadis cantik berpakaian mewah itu yang jelas memikat Song Kim dengan gerak-geriknya, dan juga melihat betapa gadis itu bersikap demikian akrab dan manis terhadap Ci Kong! Kenapa Ci Kong mau bersahabat dengan gadis yang sudah lirak-lirik dan senyum-senyum terhadap Lee Song Kim itu?

Ketika terjadi keributan, Kiki hanya melihat betapa Ci Kong menyerang laki- laki bermuka tikus itu dan kemudian timbul perkelahian di dalam taman. Ia mengira bahwa tentu penyamaran Ci Kong ketahuan. Ia menjadi bingung. Untuk meloncat dan membantu di dalam, amat berbahaya, akan tetapi tentu saja ia tidak dapat membiarkan Ci Kong dikepung dan dikeroyok begitu saja tanpa membantu.

Maka, melihat kepungan yang ketat, ia lalu mengamuk di sebelah luar kepungan, menyerang para perajurit pengawal yang mengepung sehingga bagian itu buyar dan terbuka, kemudian ia sendiri cepat melarikan diri karena berada terlalu lama di situ dapat membahayakan diriinya sendiri. Ia berlari cepat dan menyelinap di antara rumah-rumah penduduk. Kemudian, dengan gerakannya yang lincah, iapun lari keluar dan pintu gerbang sebelah timur.

Kiki tidak tahu bahwa Kui Eng juga melarikan diri melalui pintu sebelah timur, maka ketika agak jauh dari pintu gerbang itu, ia melihat Kui Eng berlarian, diam-diam ia membayangi dan jauh. Ia merasa heran dan terkejut melihat betapa gadis yang berpakaian mewah dan bersikap genit itu dapat berlari secepat itu. Rasa penasaran membuat ia membayangi terus.

Dan pada pagi hari itu, melihat Kui Eng membuang pakaiannya dan berganti pakaian, Kiki muncul dan begitu muncul ia lalu memaki gadis itu karena masih teringat olehnya betapa gadis yang kelihatannya suka kepada Song Kim dan membalas rayuannya itu, juga agaknya mempergunakan kecantikannya untuk merayu Ci Kong.

Kiki adalah seorang gadis yang berdarah panas, seperti juga Kui Eng.

Ketika mendengar Kui Eng memakinya gila, iapun marah sekali!

“Engkaulah yang gila, engkau gila laki-laki!” bentaknya, dan Kiki sudah mencabut pedangnya.

Kui Eng terkejut melihat gadis yang galak itu mencabut pedang, terkejut dan juga merasa penasaran sekali. Gadis ini sungguh amat menghinanya, mengatakan ia gila laki-laki! Kalau bukan gadis yang miring otaknya, tentu seorang gadis yang menjadi mata-mata dari pemerintah dan sengaja mencari perkara atau… ah, kini ia dapat menduganya. Agaknya gadis ini adalah pacar dan Lee Song Kim yang merasa cemburu melihat ia bergaul dengan akrab bersana perwira muda itu!

“Persetan! Kaukira aku takut melihat pedangmu yang seperti pisau dapur itu?” bentaknya.

“Makanlah pisau dapur ini!”

Kiki balas membentak dan ia pun menyerang dengan dahsayat sekali. Pedangnya mengeluarkan mendengung, berubah menjadi kilatan sinar yang menyilaukan mata, menyambar ke arah leher Kui Eng.

“Ihhh…!”

Kui Eng terkejut bukan main, dan cepat ia melempar tubuh ke belakang dan berjungkir balik beberapa kali untuk menyelamatkan diri, tidak disangkanya sama sekali bahwa gadis galak itu memiliki ilmu pedang yang demikian hebat dan berbahayanya. Maka iapun cepat mencabut pedangnya sendiri. Kiki tersenyum mengejek.

“Engkau jerih menghadapi pisau dapurku?”

“Tak perlu banyak cerewet, agaknya engkau sudah bosan hidup! Lihat pedangku!”

Kui Eng membentak marah dan iapun cepat memainkan Ilmu Tongkat Ciu- beng Hek-pang dengan pedangnya. Ilmu tongkat yang dimainkan dengan pedang itu menjadi aneh sekali, dan Kiki yang diserang secara bertubi-tubi dengan gaya yang aneh namun amat berbahaya itu, juga terkejut. Iapun sama sekali tidak pernah menyangka bahwa gadis yang pandai berlari cepat itu, ternyata juga amat lihai ilmu pedangnya, lihai dan aneh pula.

Kiki adalah seorang gadis yang amat cerdik. Begitu berkelahi selama belasan jurus saja, tahulah ia bahwa lawannya ini benar-benar amat lihai dan memiliki tingkat kepandaian yang tidak berada di bawah tingkatnya sendiri! Sayang bahwa ia belum sempat melatih ilmu barunya Hui-thian Yan-cu, dan agaknya kalau ia menandingi lawan ini dengan ilmu-ilmu dari ayahnya, biarpun belum tentu ia kalah, namun takkan mudah ia memperoleh kemenangan. Gadis lawannya ini memiliki ilmu pedang yang aneh dan cepat, juga memiliki tenaga sinkang yang sama sekali tak boleh dipandang ringan.

Kiki lalu menggunakan akal, dan ketika Kui Eng menyerang dengan tusukan cepat sehingga pedangnya menjadi sinar menyambar, ia sengaja meloncat ke kanan agak jauh sehingga ia terpeleset dan jatuh ke bawah! Akan tetapi ia jatuh berdiri di dalam air di tepi sungai kanal itu. Air hanya menjilat sampai ke lututnya. Melihat Kui Eng menjenguk dan atas, ia tersenyum mengejek.

“Perempuan genit, beranikah engkau turun kesini dan melawanku di sini!” tantangnya.

Kui Eng merasa mendapat angin. Ia telah berhasil membuat lawannya terjatuh ke bawah, dan biarpun lawan itu belum terluka, sedikitnya hal itu menunjukkan bahwa ia berhasil mendesaknya. Mendengar tantangan itu, tentu saja ia menjadi marah.

“Kenapa tidak berani? Sampai ke api nerakapun untuk melawanmu, aku tidak akan takut!” bentaknya sambil meloncat turun dan memutar pedangnya.

Kiki menyambut sambil tersenyum.

“Bersiaplah untuk minta ampun setelah kau kubenamkan ke dalam air!”

Sambil berkata demikian, ia terus saja menyerang dan ternyata gerakannya luar biasa gesitnya, padahal mereka berkelahi dengan tubuh terendam air sampai setinggi lutut.

Kui Eng cepat menangkis dan diam-diam gadis ini terkejut sekali. Kenapa setelah berada di air, lawannya menjadi semakin ganas dan gesit? Ia sama sekali tidak tahu bahwa lawannya adalah puteri Hai-tok (Racun Lautan) yang sejak kecil sudah biasa berkecimpung di dalam air! Gadis ini memang mempunyai ilmu di dalam air yang istimewa! Ia Iebih berbahaya kalau berada di air dari pada di darat!

Karena gerakan kakinya terganggu oleh air, tidak seperti Kiki yang enak saja berloncatan di air, Kui Eng segera terdesak hebat. Juga air yang berombak itu membuat Kui Eng menjadi gugup.

“Heh-heh… sebentar lagi engkau akan kupaksa bertiarap di dalam air!” Kiki mengancam dan mengejek.

Pada saat yang gawat bagi Kui Eng itu, tiba-tiba muncul Ci Kong di tepi sungai kanal.

“Heiiii... tahan dulu. Hentikanlah perkelahian itu, kalian adalah teman- teman sendiri !” teriak Ci Kong sambil mengangkat kedua lengannya ke atas

dan lari menghampiri dua orang gadis yang berkelahi mati-matian itu.

Melihat munculnya Ci Kong, dua orang gadis itu menahan pedang mereka dan menoleh, memandang kepada Ci Kong dengan alis berkerut.

“Huh! Teman sendiri?Aku tidak merasa mempunyai teman seperti ini!” Kata Kiki marah.

“Akupun tidak mempunyai teman yang miring otaknya ini!!” Kui Eng balas memaki.

“Sabarlah, tenanglah. Dan kalian naiklah ke sini, nanti aku yang akan memberi keterangan yang jelas!”

Dua gadis itu berloncatan naik, akan tetapi masih memegang pedang masing-masing, karena kalau keterangan Ci Kong tidak memuaskan, mereka akan melanjutkan perkelahian yang belum ada ketentuannya siapa menang siapa kalah itu.

Ci Kong memandang kepada mereka dan tersenyum. Tentu saja dia mengenal watak kedua orang gadis ini. Watak yang galak dan lincah, ganas kalau sudah marah, namun keduanya memiliki kegagahan seperti pendekar wanita, walaupun keduanya adalah puteri dan murid datuk-datuk sesat!

“Kenapa kau senyum-senyum, Ci Kong!”

Kui Ehg membentak, masih marah sekali karena tadi hampir saja ia celaka karena dipancing dengan perkelahian di air.

“Awas, Ci Kong, kalau engkau berat sebelah, aku takkan sudi mendengar penjelasanmu, dan kau boleh membantunya untuk mengeroyokku, aku tidak takut!

“Huh! Siapa akan mengeroyok? Kaukira aku takut kepadamu?” Kui Eng membentak marah.

“Aihh tenanglah, dan dinginkan dulu kepala kalian. Hati boleh panas akan tetapi kepala harus dingin. Sekarang aku akan bertanya lebih dulu kepadamu, Kui Eng. Kenapa engkau sampai berkelahi dengannya?”

“Ia yang mulai! Aku melarikan diri sampai ke sini dan beristirahat. Eh... ia tahu-tahu muncul dan memaki-makiku. Siapa tidak menjadi marah! Bahkan ia menantangku, tentu saja kulayani!” kata Kui Eng dengan suara lantang penuh kemarahan.

Ci Kong kini menghadapi Kiki.

“Dan bagaimana dengan engkau, Kiki? Benarkah apa yang dikatakan Kui Eng tadi? Dan mengapa pula engkau datang-datang memaki-maki padanya dan menantang berkelahi?”

Kiki cemberut.

“Semalam aku melihat gadis ini memikat hati Lee Song Kim. Tentu ia pacarnya! Ketika engkau membuat ribut di taman itu dan terkepung, aku mengacau dari luar sehingga kepungan membuyar dan engkau dapat melarikan diri. Aku sudah berada di luar kota raja ketika aku melihat gadis ini berlari-larian. Aku yakin ia melakukan pengejaran terhadap dirimu, gadis ini tentu pacar Lee Song Kim. Maka aku lalu memaki dan menantangnya!”

Kiki tentu saja tidak mau menceritakan bahwa sikap Kui Eng terhadap Ci Kong dalam taman itu yang akrab, dan memberikan sayur dan daging dalam mangkuk yang membuat ia merasa cemburu dan marah!

Mendengar keterangan dua orang gadis itu, Ci Kong tertawa.

“Ha-ha, kiranya hanya karena salah paham saja, dan salah sangka ini timbul darimu, Kiki. Ketahuilah bahwa ia ini adalah Kui Eng, murid tunggal dari Tee-tok locianpwe! Dan Kui Eng, ia adalah Tang Ki, puteri tunggal dari locianpwe Hai-tok. Ayah dan guru kalian bekerja sama sebagai sahabat dalam satu perjuangan, dan kalian saling hantam sendiri. Bagaimana ini? Kiki, engkau salah sangka dan sepatutnya kalau engkau mengaku salah dan mina maaf.”

Akan tetapi Kiki mengerutkan alisnya, biarpun ia terkejut juga mendengar bahwa lawannya itu adalah murid tunggal Tee-tok!

“Akan tetapi, ia… ia kulihat begitu akrab dengan Song Kim, musuh kita!” “Tentu saja! Ketahuilah bahwa kami bertiga, aku, Kui Eng, dan Lian Hong,

bertugas melakukan penyelidikan ke kota raja. Kui Eng ini menyamar sebagai seorang gadis kaya raya, Lian Hong menyamar sebagai kakaknya, dan aku sendiri menyamar sebagai pelayan mereka. Kami bertemu dengan Song Kim dan melihat dia tertarik kepada Kui Eng, maka kami pergunakan kelemahannya untuk mengorek rahasia pemerintah. Dan kami berhasil, sampai-sampai bekas suhengmu yang laknat itu benar-benair jatuh cinta kepada Kui Eng dan melamarnya! Kami bertiga memberontak dan melarikan diri berkat bantuanmu dari luar yang tidak kami ketahui. Sikap Kui Eng terhadap Song Kim itu adalah sandiwara.”

“Ohhh…!”

Kiki sadar akan kekeliruannya dan memandang kepada Kui Eng yang juga memandang kepadanya, dan keduanya tersenyum.

“Ayah dan guru kalian sedang bekerja sama demi penjuangan menghadapi pemerintah penjajah, akan tetapi kalian di sini saling hantam, berkelahi mati- matian. Padahal, dalam keadaan seperti ini, kita harus menggalang persatuan. Kalau kita berkelahi sendiri karena urusan sepele, tentu akan melemahkan kekuatan kita. Apalagi di antara kalian hanya terjadi salah paham saja, bahkan andaikata ada urusan yang sungguh-sungguh sekalipun, kepentingan pribadi harus dikesampingkan dulu demi perjuangan dan persatuan.”

“Kalau begitu, aku yang bersalah kepadamu, enci Ciu Kui Eng. Aku minta Maaf…” kata Kiki dengan jujur.

Kui Eng merangkulnya.

“Sudahlah, adik Kiki. Itu hanya merupakan kesalahpahaman saja, dan tidak aneh kalau engkau benci kepadaku karena mengira bahwa aku adalah kaki tangan Lee Song Kim.”

“Nah, begitu baru benar…” kata Ci Kong dengan hati lega.

Kalau dua orang gadis ini sampai bermusuhan, tentu akibatnya hebat, bukan hanya mereka yang tersangkut, bahkan mungkin ayah dan guru mereka akan terlibat. Dia teringat akan sikapnya seperti orang yang cemburu ketika masih menyamar sebagai pengawal, maka diapun berkata kepada Kui Eng dalam kesempatan itu.

“Kui Eng, pengalaman kita menyamar itu amat berat terasa olehku. Melihat betapa Song Kim yang pernah berlaku keji terhadap Kiki, mengingat akan kekejamannya dan kejahatannya, dan dia mendekatimu, sungguh membuat aku kadang-dang hampir tak dapat menahan kemarahan hatiku. Maka, kuharap engkau tidak marah dan berkecil hati kalau pada walau itu aku kadang-kadang seperti orang marah-marah, Kui Eng.”

Kui Eng tersenyum.

“Dan kau maafkan aku yang selalu menggodamu sebagai seorang pelayan kami.”

Kiki yang mendengarkan percakapan itu, diam-diam merasa lega, karena ia tahu bahwa keakraban yang diperlihatkan Kui Eng ketika memberikan makanan itu hanyalah kenakalan gadis itu saja yang hendak menggoda Ci Kong. Iapun merasa heran sekali terhadap dirinya sendiri. Kenapa ia merasa tidak enak dan iri melihat Ci Kong akrab dengan gadis lain? Apakah yang telah terjadi di dalam hatinya terhadap pemuda ini?

“Sekarang, sebaiknya  kita  mengambil  jalan  masing-masing.  Kui  Eng, engkau tentu akan secepat mungkin menyusul gurumu untuk mengabarkan apa yang telah kita alami, dan kurasa Lian Hong juga demikian. Dan engkau, Kiki, sebenarnya engkau hendak kemanakah?”

“Aku baru saja pulang ke Pulau Naga, dan ternyata pulau itu telah diserbu oleh pasukan pemerintah, ayah sudah pergi entah kemana.”

“Kami tahu akan penyerbuan itu, kami mendengar dari Lee Song Kim yang membuka semua rahasia pemerintah kepada Kui Eng” kata Ci Kong.

“Dan ayahmu bersama guru Lian Hong, San-tok locianpwe, dan guru Kui Erig, Tee-tok Iocianpwe, sedang pergi untuk mencari harta karun.”

“Ah, kalau ayahku pergi bersama guru enci Eng, biarlah aku ikut bersama enci Eng saja untuk meriyusul ayah.” kata Kiki.

Kui Eng menyambutnya dengan gembira.

“Memang sebaiknya demikian sehingga kalau para orang tua itu membutuhkan bantuan, kami dapat segera membantu,” kata Kui Eng.

“Baiklah, aku sendiri akan kembali ke Siauw-lim-si, melapor kepada para suhu dan menanti sampai kakek guru Siauw-bin-hud keluar dari ruangan pertapaannya.”

Mereka lalu berpisah, Kui Eng pergi bersama Kiki, dan Ci Kong pergi seorang diri. Pemuda ini masih tersenyum-senyum kalau membayangkan betapa dua orang gadis itu yang sekarang menjadi sahabat akrab, tadi saling serang mati-matian. Diam-diam diapun memuji kecerdikan Kiki yang memancing Kui Eng berkelahi di air. Kalau dilanjutkan perkelahian ini, banyak kemungkinan Kui Eng akan kalah, karena dia tahu bahwa Kiki adalah seorang yang ahli bermain di air.

Dan dalam perjalanan seorang diri ini, Ci Kong membanding-bandingkan para gadis yang pernah dikenalnya dan yang kesemuanya menarik hatinya. Mulai Lian Hong, lalu Kui Eng, Kiki, dan Ceng Hiang. Mereka semua memiliki kepribadian yang amat menarik dan memiliki ciri khas masing-masing yang mengagumkan. Lian Hong seorang gadis sederhana, pendiam namun cerdik dan gagah. Matanya yang lebar itu merupakan suatu keindahan tersendiri yang khas. Kui Eng amat manis, dengan mata yang tajam, sikap yang manja dan galak, akan tetapi gagah perkasa dan mulutnya yang merupakan keindahan dengan memiliki daya tarik yang luar biasa. Lincah dan garang, namun gagah. Kiki nakal dan manja, juga lucu dan galak, akan tetapi di balik kegalakannya itu, hatinya lembut sekali. Tahi lalat di pipinya membuat dia nampak semakin jelita. Kemudian Ceng Hiang. Betapa cantik jelitanya puteri pangeran itu! Paling cantik di antara mereka semua. Begitu anggun, cantik dan agung. Lebih lagi, ia murid keturunan keluarga Pulau Es. Sungguh mengagumkan sekali. Dan keempatnya adalah gadis-gadis perkasa yang berjiwa pendekar, bahkan juga menentang kelaliman. Mereka bagaikan batu-batu kemala yang sudah tergosok dan kemilauan, mempunyai daya tarik yang khas, dan masing-masing merupakan seorang gadis yang istimewa sehingga akan sukarlah kiranya kalau dia disuruh memilih siapa di aritara mereka yang paling menarik hatinya.

“Uuhh, engkau ini siapa berani menilai-nilai anak gadis orang…”

Ci Kong tersadar dan mencela diri sendiri. Belum tentu ada di antara mereka yang sudi padamu! Ia teringat akan keadaan diri sendiri yang sebatang kara, miskin dan tempat tinggalpun tidak punya. Dalam keadaan seperti itu, bagaimana dia berani memikirkan diri seorang gadis? Tak tahu diri, makinya kepada diri sendiri, dan diapun melanjutkan perjalanan dengan lesu. “Tidak salah lagi, inilah gambar kuil Siauw-lim-si!” kata Tee-tok setelah Sam-tok memperlihatkan gambar pela itu.

“Lihat, bukankah gambar di kiri ini adalah tebing dimana terdapat guha- guha besar itu?”

“Benar, akupun teringat sekarang,” kata Hai-tok.

“Aku pernah ke sana melalui daerah di utara ini, yang dilukiskan penuh dengan hutan dan banyak terdapat jurang yang curam di situ!”

Sam-tok mengangguk-angguk.

“Cocok dengan dugaanku. Harta pusaka itu tersimpan di wilayah Siauw- lim-si, sungguh aneh sekali! Akan tetapi sungguh kebetulan, karena dengan demikian, tentu akan lebih mudah lagi untuk menemukannya, dengan bantuan Siauw-bin-hud.”

Dengan penuh harapan, tiga orang kakek sakti ini segera menuju ke Siauw- lim-si. Akan tetapi, kedatangan mereka itu disambut dengan alis berkerut oleh para pimpinan Siauw-lim-si. Thian He Hwesio, ketua Siauw-lim-si, maklum bahwa tiga orang diantara Empat Racun Dunia ini sekarang bersatu atau bekerja sama dengan paman gurunya, Siauw-bin-hud. Mereka kini menjadi pimpinan pemberontak yang melakukan perjuangan menentang pemerintah penjajah. Dia sendiri bersikap agak lunak walaupun di dalam hatinya, tentu saja hwesio ini tidak suka kepada tokoh-tokoh sesat itu. Akan tetapi tiga orang sutenya yang menjadi pembantu pembantunya, rata-rata bersikap keras dan secara berterang memperlihatkan sikap tidak senang kepada tiga orang kakek itu.

Melihat sikap liga orang sutenya, Thian He Hwesio diam saja tidak banyak cakap ketika menyambut tiga orang kakek itu. Mereka berempat itu menyambut di luar kuil di halaman depan yang luas. Ketika tiga orang kakek tadi muncul, para murid Siauw-lim-pai bergegas melapor ke dalam, dan empat orang pimpinan itupun segera keluar menyambut karena khawatir bahwa kedatangan para datuk sesat itu akan membuat keributan.

“Keperluan apakah yang mendorong sam-wi (kalian bertiga) untuk datang mengunjungi kuil kami yang butut ini?” demikian Thian He Hwesio menyambut mereka dengan ucapan dan sikap serius.

San-tok yang mewakili teman-temannya segera menjawab sambil tersenyum ramah.

“Kami bertiga datang untuk bertemu dengan Siauw-bin-hud, karena kami ingin membicarakan hal yang amat penting dengan dia mengenai urusan perjuangan.”

“Omitohud… kedatangan sam-wi sungguh tidak kebetulan sekali.”

Kata Thian He Hwesio dengan sikap biasa, walaupun seperti tiga orang pembantunya, dia juga merasa tidak enak melihat sikap tiga orang itu yang sama sekali tidak menghormati nama paman guru mereka, Siauw-bin-hud, seolah-olah kakek sakti dan Siauw-lim-pai itu seorang sahabat mereka saja!

“Susiok Siauw-bin-hud kini sedang bertapa dan sama sekali tidak boleh diganggu oleh siapapun juga atau urusan apapun juga.”

Tiga orang datuk sesat itu terkejut dan saling pandang, kemudian San-tok berkata.

“Akan tetapi kedatangan kami ini penting sekali, mengenai harta karun yang kami cari bersama Siauw-bin-hud untuk membiayai perjuangan! Kami sudah menemukan rahasia itu, dan kami ingin berunding dengan Siauw-bin- hud mengenai pengambilan harta karun itu!” Para pimpinan Siauw-lim-pai adalah hwesio-hwe-sio yang beribadat, yang selalu mencari jalan bersih. Oleh karena itu, tentu saja meteka tidak suka berdekatan, apalagi bekerja sama dengan golongan sesat, terutama sekali dengan datuk-datuk sesat seperti Empat Racun Dunia. Bahkan mereka menganggap sebagai tugas mereka untuk menentang dan kalau mungkin membasmi golongan sesat untuk menyelamatkan manusia dari ancaman mereka. Maka biarpun dengan dalih perjuangan, tetap saja mereka tidak setuju kalau harus bekerja sama dengan orang-otang macam Empat Racun Dunia.

“Kalian bertiga sudah mendengar apa yang dikatakan toa-suheng sebagai ketua Siauw-lim-pai” tiba-tiba Thian Khi Hwesio berkata dengan sinar mata tajam.

“Susiok sedang bertapa dan tidak boleh diganggu, dan kami harap sam-wi tidak memaksa. Kembalilah saja kalau susiok sudah keluar dari pertapaannya!” “Tapi, Siauw-bin-hud sendiri yang mengajak kami bekerja sama dalam perjuangan! Dan urusan harta karun ini penting sekali untuk perjuangan. Untuk urusan ini, sewaktu-waktu tentu Siauw-bin-hud akan menerima kami, dan

kalian, hwesio-hwesio Siauw-lim-si, tidak berhak melarang kami!” San-tok mendesak. Kini Thian Khi Hwesio melangkah ke depan. “Sudah kami katakan, kalian tidak boleh memaksa!”

“Aku ingin bicara dengan ketua Siauw-lim-pai!” San-tok menuding ke arah Thian He Hwesio.

“Hemm, pinceng yang bertugas mengenai urusan luar, dan suheng Thian Tek Hwesio ini yang menjadi kepala rumah tangga. Kami berdua yang berhak untuk berurusan dengan para tamu dari luar!” kata pula Thian Khi Hwesio, dan kini Thian Tek Hwesio yang pendek kecil juga sudah melangkah maju.

San-tok menjadi penasaran sekali.

“Hei… hwesio-hwesio lancang! Siauw-bin-hud sendiri sudah menerima kami sebagai teman-teman seperjuangan, akan tetapi mengapa kalian tidak dapat menerima kami sebagai sahabat?”

“Urusan Susiok Siauw-bin-hud dengan kalian adalah urusan pribadi susiok, sama sekali bukan utusan Siauw-lim-pai. Kalau susiok ada, maka sama sekali tidak berhak mencampuri!”

“Hemmm, sungguh tinggi hati!”

Kini Hai-tok juga ikut bicara, suaranya mengandung kemarahan.

“Hei, hwesio-hwesio Siauw-lim-pai! Biarpun golongan kami berbeda dengan golongan kalian, akan tetapi sudah kami sepakati dengan Siauw-bin- hud bahkan untuk urusan perjuangan, kita bekerja sama! Apakah kalian hwesio-hwesio Siauw-lim-pai tidak merestui perjuangan menentang pemerintah penjajah?”

“Urusan perjuangan kami adalah urusan kami sendiri, tidak ada sarigkut- pautnya dengan kalian,” jawab Thian Khi Hwesio angkuh.

“Kalian datang untuk berurusan dengan susiok Siauw-bin-hud, dan beliau sedang bertapa. Apalagi yang harus diributkan? Kalian kembali saja kalau

beliau sudah keluar, bukankah jawaban dan sambutan kami ini sudah tepat dan adil?”

“Wah-wah, agaknya kalian hwesio-hwesio Siauw-lim-pai ini tidak tahu akan pentingnya urusan. Dengarlah! Kami bersama Siauw-bin-hud sudah sepakat untuk bekerja sama dan mendapatkan harta karun yang menjadi rahasia Giok-liong-kiam. Harta karun itu akan kami pergunakan untuk biaya perjuangan. Dan sekarang, kami telah mengetahui rahasianya dan tempat harta karun itu berada di sekitar pegunungan ini! Nah, bukankah itu penting sekali untuk dilaporkan kepada Siauw-bin-hud?”

Diam-diam empat orang pimpinan Siauw-lim-pai itu terkejut mendengar ini. Harta karun dari Giok-liong-kiam yang diperebutkan oleh seluruh orang kang- ouw itu berada di sekitar pegunungan mereka? Akan tetapi, mereka tentu saja bukan orang-orang yang masih mengejar harta, apalagi kalau harta karun itu dicari untuk dipergunakan sebagai biaya perjuangan, mereka sama sekali tidak ingin menghalangi. Akan tetapi, karena yang hendak mencari adalah datuk- datuk sesat sedangkan Siauw-bin-hud masih bertapa, merekapun tidak rela membiarkan para datuk sesat itu untuk berkeliaran di daerah atau wilayah kekuasaaan Siauw-lim-pai.

“Betapapun penting, namun urusan itu adalah urusan susiok pribadi dan tidak ada sangkut-pautnya dengan Siauw-lim-pai. Oleh kareria itu, tetap saja kami minta agar sam-wi kembali saja kelak kalau su-siok sudah keluar dan berkenan menerima tamu” kata Thian Khi Hwesio dengan suara tegas, dan tiga orang hwesio tua yang lain mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju.

“San-tok, kenapa mesti ladeni hwesio-hwesio yang cerewet seperti nenek- nenek ini?” Tiba-tiba Tee-tok berseru kehabisan sabar.

“Kita tinggalkan saja mereka dan Siauw-bin-hud, dan mari kita cari sendiri harta itu, habis perkara!”

“Nanti dulu!” Thian Tek Hwesio yang bertubuh pendek kecil berseru. “Pegunungan ini termasuk wilayah kekuasaan kami, dan kalian tidak boleh

sembarangan saja melanggarnya dan membikin kacau tanpa seijin kami. Dan sebelum susiok keluar dari pertapaannya, kami tidak mengijinkan siapapun juga mengganggu ketenteraman wilayah kami!”

Hai-tok marah sekali.

“Eh, hwesio-hwesio cerewet! Sejak kapan kalian menguasai gunung? Yang menjadi milik kalian adalah bangunan kuil dan pekarangannya, bukan seluruh pegunungan ini!”

“Pinceng tetap melarang!” bentak Thian Tek Hwesio, yang dibenarkan oleh Thian Kong Hwesio.

“Dan kami tetap akan mencari di sekitar sini!”

Hai-tok juga membentak dan kedua pihak sudah saling melotot. “Omitohud...! Harap kalian jangan bersikeras!” tiba-tiba Thian He Hwesio

berkata kepada tiga orang sutenya.

“Asalkan mereka itu tidak mengganggu ketenteraman kuil kita, kalau mereka mau mencari di pegunungan ini, apa salahnya?”

“Toa-suheng… kalau kita membiarkan saja datuk-datuk sesat berkeliaran di sini dan berbuat sesuka hati mereka, lalu apa akan kata dunia kang-ouw? Kita akan ditertawakan… dan dalam waktu singkat, semua golongan sesat akan datang berkeliaran di daerah kita tanpa minta perkenan kita terlebih dahulu.”

“Siancai, pinceng harap para sute akan menahan kesabaran diri,” kata pula Thian He Hwesio.

“Kita harus dapat membeda-bedakan orang. Bagaimanapun juga, kita mengetahui bahwa memang ada hubungan antara susiok dengan ketiga tamu ini. Asalkan mereka tidak mengganggu kuil dan tidak memasuki pagar tembok yang mengelilingi tempat kediaman kita, biarkanlah mereka mencari apa yang mereka namakan harta karun itu.”

Karena ketua Siauw-lim-pai sendiri yang berkata demikian, maka biarpun dengan muka muram dan tidak senang, Thian Tek Hwesio, Thian Kong Hwesio dan Thian Khi Hwesio tidak berani membantah lagi.

San-tok, Tee-tok dan Hai-tok juga tidak memperdulikan mereka lagi. Tanpa pamit, mereka yang juga merasa mendongkol karena tidak dapat berjumpa dengan Siauw-bin-hud, keluar dan pekarangan itu.

Pintu gerbang depan segera ditutup oleh para hwesio setelah mereka keluar, seolah-olah menjadi tanda bahwa setelah keluar, mereka sama sekali tidak diperkenankan untuk masuk lagi.

San-tok yang memimpin dua orang temannya, lalu mulai mencari-cari. Akan tetapi belum lama mereka berkeliaran di lereng pegunungan itu, tiba-tiba muncul tiga orang hwesio yang bukan lain adalah Thian Kong Hwesio, Thian Tek Hwesio dan Thian Khi Hwesio! Melihat tiga orang hwesio pembantu ketua Siauw-lim-pai yang tadi memperlihatkan sikap tidak setuju akan niat mereka untuk mencari harta pusaka di daerah itu, San-tok, Tee-tok dan Hai-tok memandang dengan marah.

“Mau apa agi kalian bertiga datang menemui kami?”

San-tok berkata dengan sikap marah, karena dia dapat menduga bahwa tiga orang hwesio ini tentu datang bukan dengan maksud baik terhadap mereka.

“Kami datang untuk menyatakan bahwa kami merasa penasaran dan tidak setuju melihat kalian berkeliaran disini melanggar wilayah kami,” kata Thian Khi Hwesio.

“Eh? Kalian mau apa? Bukankah tadi ketua Siauw-lim-pai telah memberi persetujuan kepada kami?” bentak San-tok.

“Kalian jelas melanggar wilayah kami, akan tetapi karena toa-suheng yang menjadi ketua Siauw-lim-pai sudah memberikan persetujuan, kamipun tidak akan mengingkarinya. Akan tetapi hendaknya kalian bertiga mengetahui bahwa kami di Siauw-lim-pai mempunyai peraturan-peraturan! Satu di antaranya adalah bahwa siapapun yang hendak memaksakan kehendaknya melanggar peraturan Siauw-lim-pai, harus dapat mengalahkan kami lebih dulu.”

“Keparat! Kalian menantang kami?” bentak San-tok.

“Bukan menantang. Akan tetapi, kita semua semenjak kecil berkecimpung dalam dunia persilatan. Namun kami lebih suka mempergunakan perundingan dan jalan damai. Akan tetapi kalau perundingan dan jalan damai itu tidak dapat tercapai, terpaksa kami mempergunakan ilmu silat untuk menentukan. Nah. Sekarangpun menghadapi kalian, kami menemui jalan buntu dan hanya ilmu silat yang akan menentukah siapa di antara kita yang harus mengalah.”

“Maksudmu bagaimana, Hwesio?” bentak San-tok yang mewakili dua orang temannya.

“Mengingat bahwa kalian datang bertiga, kami pun datang bertiga. Mari kita tentukan siapa yang lebih kuat di antara kita. Kalau kalian dapat mengalahkan kami... kami akan mengalah dan membiarkan kalian berkeliaran di wilayah kami tanpa kami ganggu. Akan tetapi kalau kami dapat mengalahkah kalian, kami harap kalian pergi dan sini dan jangan mengganggu kami lagi.”

Tiga orang datuk sesat itu memang memiliki watak aneh dan suka sekali berkelahi. Kini, menghadap tantangan tiga orang hwesio itu, timbul kegembiraan hati mereka untuk menguji. Mereka tahu bahwa sebagai pimpinan Siauw-lim-pai, tentu tiga orang itu memiliki ilmu silat yang lihai sekali. Akan tetapi mereka tidak takut, sebaliknya malah merasa gembira karena semakin tangguh pihak lawan, semakin menggembirakan.

“Baik… mari kita mulai saja!”

Hai-tok sudah membentak, dan kakek yang tinggi besar, mukanya merah dan bersikap gagah perkasa ini, sudah melangkah maju.

“Kita mau keroyokan tiga lawan tiga, ataukah satu lawan satu?”

Melihat Hai-tok yang bertubuh tinggi besar, Thian Kong Hwesio yang juga berperawakan tinggi besar sudah melangkah maju menghadapinya. “Tidak perlu…” katanya.

“Kita bertanding satu lawan satu, dan karena jumlah kita masing-masing bertiga, maka tentu akan ada ketentuan siapa kalah siapa menang.”

“Bagus!” kata Hai-tok.

“Yang menang dua kali berarti menang. Nah, majulah, kita buka pertandingan ini!”

Berkata demikian, Hai-tok sudah mengeluarkan tongkat emasnya, lalu berkata.

“Kita bertangan kosong ataukah menggunakan senjata?”

Sikap ini dinilai gagah oleh lawannya. Thian Kong Hwesio, sebagai seorang tokoh Siauw-lim-pai, adatah seorang ahli ilmu silat tangan kosong, maka diapun cepat menjawab.

“KaIian adalah orang-orang yang memiliki hubungan dengan susiok Siauw- bin-hud, dan kami menantang kalian bukan karena permusuhan, melainkan karena hendak menegakkan peraturan Siauw-lin-pai. Kita hanya mengadu ilmu, bukan mengadu nyawa, jadi sebaiknya tanpa senjata!”

“Ha-ha, dengan atau tanpa senjata, bagiku sama saja!” kata Hai-tok.

Dan sekali menggerakkan tongkatnya, tongkat itupun meluncur ke samping dan menancap sampai menembus sebatang pohon yang besarnya dua kali- manusia. Melihat tenaga sambitan yang hebat ini, diam-diam Thian Khi Hwesio merasa kagum dan tahulah bahwa lawannya adalah seorang yang memiliki tenaga kuat.

“Nanti dulu!” tiba-tiba Thian Tek Hwesio yang pendek kecil berkata.

Thian Tek Hwesio adalah orang terdekat dengan ketua Siauw-lim-pai dan sebagai kepala rumah tangga, tentu saja dia merupakan orang pertama yang bertanggung jawab terhadap pertandingan itu.

“Karena kita tidak saling bermusuhan, maka pertandingan ini harus dibatasi. Masing-masing tigapuluh jurus saja, dan selama tigapuluh jurus, masing-masing tentu tahu siapa yang lebih kuat, asalkan mau jujur.”

“Ha-ha-ha! Tigapuluh jurus sudah cukup bagiku,” kata Hai-tok.

Dua orang kakek bertubuh tinggi besar itu sudah saling berhadapan dan memasang kuda-kuda masing-masing. Empat orang kakek yang lain menjadi penonton dan juga mencurahkan perhatian, karena merekapun dapat menjadi penilai yang baik untuk melihat siapa di antara kedua orang itu yang akan muncul sebagai pemenang. Bagi mereka yang sudah memilih tingkat kepandaian tinggi, menang kalahnya seseorang dalam pertandingan dapat mereka nilai dengan melihat jalannya pertandingan, walaupun belum ada yang roboh.

“Lihat serangan!”

Hai-tok tanpa sungkan-sungkan lagi lalu membuka serangan, dan begitu menyerang, dia sudah memainkan ilmu silatnya yang paling diandalkan, yaitu Thai-lek Kim-kong-jiu! Hebat dan dahsyat sekali pukulannya ketika dia membuka serangan. Pukulan tangannya mendatangkan angin yang menyambar kuat, dan bahkan terdengar suara berdesing ketika tangan yang terbuka dan lebar itu meluncur ke arah dada lawan.

Thian Kong Hwesio maklum akan kehebatan lawan, maka diapun cepat mengelak dan balas menyerang. Terjadilah serang-menyerang dan keduanya ternyata mempergunakan tenaga sinkang yang amat kuat sehingga angin menyambar-nyambar dan suara pukulan berdesingan. Keduanya sama-sama bersikap hati-hati dan selalu mengelak sehingga lewat dua puluh jurus, belum juga ada di antara mereka yang mengadu tenaga! Gerakan mereka begitu mantap sehingga semua pukulan dapat dielakkan dengan geseran-geseran dan langkah-langkah kaki yang tegap dan tepat.

Mereka berdua maklum bahwa karena semua serangan masing-masing tidak pernah menemui sasaran, maka biarpun sudah hampir mencapai tigapuluh jurus, di antara mereka belum ada yang nampak mendesak atau terdesak. Maka, tepat pada jurus ke tiga puluh, keduanya sengaja hendak mengadu tenaga.

“Haiiiitttt…!”

Hai-tok Tang Kok Bu mengeluarkan suara melengking, dan kedua tangannya yang terbuka melakukan pukulan mendorong dengan pengerahan tenaga sinkang dari Thai lek Kim-kong-jiu! Thian Kong Hwesio juga ingin mengambil penentuan kalah menang, maka diapun mengeluarkan teriakan panjang.

“Hiaaatttt…!”

Dan kedua tangannya juga mendorong ke depan menyambut kedua tangan lawan.

“Bressss…!!”

Dua tenaga yang dahsyat melalui dua pasang tangan itu, bertemu di udara dan akibatnya, dua orang kakek tinggi besar itu terdorong mundur, masing- masing sampai lima langkah dan mereka berdua saling pandang dengan mata terbelalak dan muka sedikit pucat.

“Omitohud, engkau kuat sekali, Hai-tok!” kata Thian Kong Hwesio dan diapun menjatuhkan diri bersila dan memejamkan mata.

“Ahh, engkaupun tidak kalah kuat, Thian Kong Hwesio!”

Hai-tok berkata sejujurnya dan diapun harus cepat bersila untuk menghimpun hawa mumi agar jangan sampai menderita luka dalam yang parah akibat benturan tenaga raksasa tadi. Empat orang kakek yang lain dapat menilai bahwa dua orang kakek tinggi besar itu sama kuat dalam pertandingan tadi.

Thian Tek Hwesio lalu melangkah maju disambut oleh Tee-tok. Memang lucu pertandingan itu. Kalau tadi Thian Kong Hwesio yang tinggi besar ditandingi oleh Hai-tok yang juga bertubuh tinggi besar, maka kini Thian Tek Hwesio yang kecil pendek ditandingi pula oleh Tee-tok yang juga bertubuh kecil pendek!

“Wah, aku tidak bisa meninggalkan tongkat butut dan tasbehku seperti yang dilakukan Hai-tok tadi. Maka, hwesio yang baik, perkenankan aku tetap memegang tasbeh dan tongkatku ini,” kata Tee tok kepada Thian Tek Hwesio. “Silahkan. Bagi pinceng, sama saja bahayanya kaki tanganmu dan kedua senjatamu itu,” jawab hwesio kecil pendek itu yang sudah memasang kuda-

kuda.

“Bagus! Engkau jujur, hwesio! Sambutlah ini!” Tee-tok juga tanpa sungkan-sungkan lagi sudah menyerang dan tongkat butut hitam itu sudah lenyap berubah menjadi sinar hitam yang cepat sekali gerakannya, disusul sinar hitam tasbehnya yang mengirim serangan susulan! Hebat memang kecepatan gerakan dari Tee-tok ini. Akan tetapi, dia memperoleh lawan yang seimbang, karena Thian Tek Hwesio yang menjadi kepala rumah tangga kuil Siauw-lim-si itupun terkenal sekali karena ilmu ginkang (meringankan tubuh) yang istimewa. Dan tubuh mereka berkelebatan ketika mereka saling serang, sukar diikuti oleh pandang mata orang biasa. Hanya empat orang kakek teman mereka saja yang mampu mengikuti jalannya pertandingan itu.

Dua orang kakek pendek kecil itu memang memiliki kecepatan gerakan yang sama, dan mereka juga saling serang dengan seimbang. Tee-tok memainkah ilmu tongkatnya yang hebat, yaitu Cui-beng Hek-pang (Tongkat Hitam Pengejar Nyawa). Dan biarpun susah sekali baginya untuk dapat mendesak lawan, akan tetapi serangan berganda dengan tasbeh dan tongkatnya, pada jurus ke tiga puluh, membuat tongkatnya berhasil merobek ujung jubah yang dipakai Thian Tek Hwesio! Keduanya lalu melompat ke belakang dan Thian Tek Hwesio menjura sambil berkata.

“Pin-ceng mengaku kalah.”

Sebetulnya, kalau mereka berkelahi dengan sungguh-sungguh sebagai dua orang musuh, tidak akan mudah bagi Tee-tok untuk dapat mencapai kemenangan. Dan tongkatnya yang berhasil merobek jubah tadipun belum dapat dianggap sebagai kemenagan, karena robeknya baju tidak membahayakan diri pemakainya. Namun, Thian Tek Hwesio dengan jujur mengaku kalah, karena betapapun juga, dia belum dapat melakukan apa-apa sedangkan bajunya sudah robek. Hal ini dapat diartikan bahwa dia terdesak dan kalah cepat oleh gerakan tongkat, sehingga tidak mampu menghindarkan ujung bajunya dari sambaran tongkat.

Kini Thian Khi Hwesio melompat maju, dihadapi oleh San-tok yang tersenyum.

“Thian Khi Hwesio... engkau harus dapat mengalahkan aku, baru keadaan kita sama. Kalau tidak, berarti pihak kalian yang kalah, dan kalian harus memperbolehkan kami mencari harta itu di sekitar pegunungan ini tanpa gangguan orang-orang Siauw-lim-pai.”

“Hemm, majulah, San-tok… dan kita sama lihat saja!” kata hwesio itu sambil memasang kuda-kuda yang kokoh kuat.

San-tok juga mengeluarkan kipasnya, senjatanya yang paling istimewa dan diapun mengeluarkan bentakan lalu menyerang terlebih dahulu. Kipasnya menyambar dahsyat ke arah muka lawan, disusul totokan gagang kipas yang menghunjam ke bawah menuju dada. Akan tetapi, dengan gesit dan mantap, Thian Khi Hwesio dapat mengelak, lalu membalas serangan itu dengan jurus silat Harimau. Kedua tangannya mencakar-cakar dengan dahsyatnya, bahkan dikombinasikan dengan tendangan-tendangan maut.

San-tok harus memainkan kipasnya dengan cepat, dan diapun segera mainkan Pek-liong Kwi-san (Kipas Setan Naga Putih). Kipas itu menyambar- nyambar ganas, dan biarpun Thian Khi Hwesio mampu menangkis dan mengelak, namun dia tidak memperoleh banyak kesempatan untuk balas menyerang. Tiga kali serangan San-tok hanya dapat dibalasnya dengan sekali serangan saja, itupun tidak begitu berbahaya. Oleh karena itu, walau dia satu kalipun belum pernah terkena serangan San-tok yang bertubi-tubi datangnya, setelah lewat tiga puluh jurus, Thian Khi Hwesio melompat ke belakang dan berkata.

“Pinceng mengaku kalah!”

Melihat sikap tiga orang hwesio itu, San-tok dan dua orang temannya lalu menjura pula, dan San-tok berkata dengan suara lantang.

“Ilmu kepandaian sam-wi tidak banyak selisihnya dengan tingkat kami, akan tetapi yang amat mengagumkan hati kami adalah kejujuran yang sam-wi miliki. Kejujuran seperti itu merupakan suatu kegagahan tersendiri yang amat mengagumkan dan belum tentu kami miliki.”

Setelah tiga orang hwesio itu pergi, tiga orang kakek datuk sesat ini lalu mulai mempelajari lagi isi peta kuno yang dibawa oleh San-tok. Mereka mendaki sebuah puncak terdekat, dan dari tempat ini mereka dapat melihat keadaan kuil Siauw-lim-si dan daerah sekitarnya. San-tok mengeluarkan petanya dan mereka bertiga bersama-sama mempelajari isi peta.

“Lihat…” kata San-tok sambil mempelajari peta.

“Disini jelas ditunjukkan bahwa batu besar yang berada di depan kuil itu menjadi pusat pengukuran. Tanda panah dan tempat batu itu terletak, menunjuk ke kiri, berarti ke arah belakang kuil. Disini tertulis bahwa dari tanda panah ini, kita harus menempuh jarak lima ratus tombak. Berarti dari depan pintu gerbang, tempat batu itu terletak, kita harus menuju ke belakang sejauh kurang lebih setengah li. Dan melihat bahwa dalamnya kuil itu paling banyak seperempat li, jadi kita akan tiba di belakang kebun kuil itu, padahal di sana yang nampak hanya satu bukit batu!”

“Dan kita tidak mungkin melakukan penyelidikan ke sana, karena kita harus memasuki daerah kuil sebelah dalam tembok pagar. Dan mereka tentu sudah melakukan penjagaan ketat sehingga tak mungkin kita menyusup masuk.” kata Hai-tok dengan alis berkerut.

“Menurut petunjuk peta, jelas bahwa tempat rahasia itu berada di belakang kebun kuil itu, di daerah bukit batu. Mungkin tersembunyi di sebuah guha, atau setidaknya tentu berada di dalam bukit itu. Bagaimana kita dapat menyelidiki ke sana?” tanya pula Tee-tok.

“Tidak ada jalan lain. Satu-satunya cara, haruslah kita mencari jalan melalui tebing-tebing karang di belakang kuil!” kata San-tok.

“Wah, mana mungkin? Di sana hanya ada tebing-tebing karang yang curam, penuh dengan guha-guha yang berbahaya.” Tee-tok membantah.

“Justeru guha-guha itulah yang harus kita selidiki! Siapa tahu kita dapat membuat jalan tembusan dari guha-guha itu langsung saja ke selatan menuju ke arah yang ditunjuk peta ini, yaitu di belakang kebun kuil. Mari kita selidiki!” kata San-tok, dan merekapun lalu menuju ke sebelah utara atau sebelah belakang daerah bangunan kuil dan kebunnya.

Memang tidak mudah mencapai tempat itu, yang merupakan tebing curam penuh dengan batu-batu besar dan guha-guha. Mereka segera melakukan periyelidikan. Guha-guha yang banyak terdapat di situ mereka masuki satu demi satu. Akan tetapi mereka tidak menemukan apa-apa. Sampai beberapa hari lamanya mereka melakukan penyelidikan tanpa hasil.

“Tidak ada lain jalan, kita harus membuat terowongan dari dalam guha yang sekiranya tepat menuju ke belakang kebun kuil. Kita harus mencari jalan menembus sampai ke belakang kuil itu,” kata San-tok.

Dua orang temannya setuju karena agaknya hanya itulah jalan satu- satunya. Mulailah tiga orang kakek itu bekerja keras, menggunakan kepandaian dan kekuatan mereka untuk membongkar batu-batu dan membuat jalan terowongan dari dalam sebuah guha menuju ke selatan, ke arah kuil! Mereka tidak tahu betapa dalam dan jauhnya mereka harus membongkar tanah dan batu, namun mereka bekerja tak mengenal lelah dan pantang mundur.

Pada suatu pagi, ketika tiga orang kakek itu mulai melanjutkan pekerjaan mereka yang berat, tiba-tiba berkelebat bayangan orang.

“Suhu!”

Tentu saja mereka terkejut, akan tetapi menjadi girang ketika mengenal gadis yang datang adalah Lian Hong, murid San-tok. Dua orang kakek yang lain juga merasa girang. Mereka percaya penuh kepada murid San-tok ini, karena pedang Giok-liong-kiam yang aseli, yang mengandung peta itupun adalah hasil usaha Lian Hong yang mencarinya.

“Di maria Kui Eng? Kenapa ia tidak datang bersamamu?” tanya Tee-tok.

Muridnya, Kui Eng, pergi bersama gadis ini dalam usaha mereka melakukan penyelidikan tentang keadaan di kota raja, ditemani oleh Ci Kong murid Siauw- bin-hud. Dan sekarang hanya Lian Hong seorang diri yang muncul dan menyusul ke tempat itu.

Dengan singkat Lian Hong menceritakan semua pengalamannya sampai mereka hampir celaka karena penyamaran mereka ketahuan.

“Kami terpaksa berpencar mengambil jalan masing-masing agar memecah kekuatan para pengejar.” Lian Hong menutup penuturannya.

“Dan karena aku tahu bahwa suhu bertiga tentu menuju ke sekitar daerah kuil Siauw-lim-si, maka aku segera menyusul ke sini.”

“Huh, gara-gara Siauw-bin-hud tidak mau keluar dan kekerasan kepala para pimpinan Siauw-lim-pai, terpaksa kami harus membuat jalan terowongan yang begini sulit,” kata San-tok.

“Menurut Ci Kong, memang locianpwe Siauw-bin-hud sedang bertapa. Akan tetapi, ada suatu hal penting yang kami dapatkan, suhu. Yaitu tentang usaha pemerintah Ceng yang diam-diam memasang mata-mata dimana-mana, menyebar orang-orang pandai untuk mengamati gerak-gerik kita semua. Bahkan mengambil siasat untuk membiarkan suhu bertiga mendapatkan harta karun itu, baru mereka akan turun tangan merampas. Karena itu, aku khawatir bahwa gerak-gerik suhu bertiga akan diintai musuh.”

Tiga orang kakek itu tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha, kaukira kami begitu bodoh untuk dapat membiarkan orang melakukan pengintaian terhadap kami?” kata San-tok.

“Jangan khawatir akan hal itu, Hong Hong. Sekarang kau bantulah kami dengan mencarikan alat-alat untuk membuat terowongan tembusan ini agar kami dapat bekerja lebih cepat.”

Lian Hong lalu pergi melaksanakan perintah gurunya. Dan dalam hal ini, tiga orang kakek dan Empat Racun Dunia itu memang lengah dan terlalu mengagulkan diri sendiri. Mereka merasa aman dan yakin bahwa tidak ada orang berani mengamati mereka! Mereka terlalu memandang rendah pihak lawan, sehingga mereka sama sekali tidak tahu bahwa jauh sebelum mereka tiba di Siauw-lim-si, tempat itu sudah berada dalam pengawasan dan pengamatan orang siang malam! Dengan sendirinya, semua gerak-gerik mereka semenjak mereka tiba di pegunungan itu, tidak lepas dan pengamatan orang.

Setelah Lian Hong memperoleh alat-alat seperti sekop, linggis dan lain-lain, dan gadis itu membantu tiga orang kakek, maka pekerjaan mereka dapat berjalan semakin lancar dan terowongan itu menjadi semakin dalam. Kurang lebih sebulan mereka bekerja dan akhirnya usaha merekapun berhasil!

Pada suatu siang, hantaman linggis mereka menjebolkan batu terakhir, dan merekapun tiba di tempat yang luas, ruangan bawah tanah yang amat luas! Tentu saja mereka menjadi girang bukan main. Dengan hati-hati, empat orang itu lalu merangkak memasuki lubang yang mereka buat itu ke dalam ruangan yang luas. Ternyata ruangan luas itupun merupakan sebuah terowongan yang lebar dan dalam.

Mereka, San-tok di depan, ditemani Lian Hong, sedangkan dua orang kakek yang lain mengikuti di belakang, terus maju dan setelah mereka mengikuti jalan berbelok-belok dan naik-turun menelusuri guha yang merupakan terowongan berliku-liku, sampailah mereka pada sebuah ruangan besar berlantai batu-batu raksasa yang menonjol di antara jurang-jurang terjal di dalam perut gunung yang gelap. Ada cahaya masuk melalui lorong-lorong yang nampaknya aneh dan amat besar, seperti berada di dalam bangunan raksasa saja. Beberapa garis sinar matahari yang menembus celah-celah dinding merupakan jendela-jendela raksasa yang menenerangi ruangan yang luas sekali itu.

Dengan amat hati-hati, San-tok berlompatan dari batu ke batu, mengerahkan ginkangnya, diikuti oleh Lian Hong, Tee-tok dan Hai-tok. Mereka harus berhati-hati sekali, karena sekali terpeleset dari batu raksasa yang mereka injak, tubuh mereka akan terjatuh ke dalam jurang yang entah berapa dalamnya karena tidak nampak. Ruangan luas itupun penuh dengan halimun yang agaknya masuk pula melalui jendela, membuat tempat itu menjadi menyeramkan sekali.

Mereka berjalan terus ke depan, dengan amat hati-hati, dan tiba-tiba saja batu-batu besar yang mereka lalui itu terhenti dan terputus. Di depan mereka terdapat jurang menganga mengerikan. Dari depan nampak segaris cahaya yang aneh dan tiba-tiba San-tok berseru keras.

“Hei, lihat... siapa itu?”

Semua orang memandang ke depan dengan mata terbelalak, karena penglihatan di depan mereka itu sungguh luar biasa sekali. Nampak sebuah arca dari batu yang amat besar, tinggi dan besarnya ada lima orang. Arca seorang kakek berkepala gundut akan tetapi mukanya penuh kumis dan brewok, berwibawa, dan nampak betapa arca itu adalah arca seorang kakek yang tentu berilmu tinggi. Anca itu duduk dengan kedua telapak kaki saling bertemu, dan kedua tangan di atas pangkuan. Dan di antara kedua tangan raksasa itu terdapat sebuah peti kuning. Yang amat mengherankan hati empat orang itu adalah ketika melihat seorang kakek gundul bertubuh gendut duduk bersila di belakang peti, di atas pangkuan arca, dan kakek itu bukan lain adalah Siauw-bin-hud yang agaknya bersamadhi dengan wajah seperti biasa, cerah oleh senyumnya.

Arca itu memang sangat luar biasa. Agaknya dibuat dari sebuah bukit batu karang, dipahat secara istimewa terus ke bawah, dan arca itu nampak duduk di atas batu karang yang persegi. Sulit dibayangkan bagaimana orang dapat membuat arca seperti itu! Antara batu batu yang diinjak oleh empat orang itu dan batu persegi yang diduduki arca, terdapat jurang yang amat dalam, dan jaraknya tidak kurang dari sepuluh meter.

Melihat betapa Siauw-bin-hud sudah berada di tempat itu dan di depannya terdapat sebuah peti, tiga orang kakek itu menjadi marah sekali. Tanpa memeriksa sekalipun, mereka dapat menduga bahwa peti itulah yang dimaksudkan oleh tanda peta pusaka Giok-liong-kiam. Peti itulah yang berisi harta pusaka, dan ternyata Siauw-bin-hud telah berada di situ. Kakek Siauw- lim-pai itu ternyata telah mengkhianati mereka, telah lebih dahulu menentukan tempat rahasia itu dan agaknya bermaksud memiliki harta itu untuk diri sendiri. “Hei, Siauw-bin-hud! Tidak kami sangka bahwa engkau telah mendahului kami, dan ternyata engkaupun sama saja dengan mereka yang memperebutkan harta, hendak memiliki sendiri harta pusaka itu. Engkau hwesio palsu, tidak

ada bedanya dengan Thian-tok!”

Teriak San-tok dengan marah, dan hilanglah kebiasaannya yang suka bergembira dan berkelakar itu. Dia marah sekali, seperti juga Hai-tok dan Tee- tok.

“Siauw-bin-hud! Bicaramu tentang perjuangan melawan penjajah, kiranya hanya bual kosong belaka! Kami yang dikenal sebagai datuk-datuk sesat, kiranya masih lebih bersih dari pada kamu yang berkepala gundul dan berjubah pendeta!” teriak Hai-tok sambil mengepal tinju.

“Hei, hwesio palsu Siauw-bin-hud, kalau engkau masih pura-pura tidur, kami terpaksa akan meloncat ke situ dan menghajar kepala gundulmu!” teriak Tee-tok sambil mengacung-acungkan tongkat bututnya.

Siauw-bin-hud membuka kedua matanya, dan mulutnya yang memang sudah tersenyum itu kini terbuka lebar, tersenyum cerah dan matanya memandang kepada empat orang itu bergantian.

“Omitohud!” serunya seperti orang terheran-heran. “Bagaimana kalian bisa tiba di sini? Sungguh mengherankan!”

“Hwesio palsu! Jangan pakai pura-pura heran lagi! Kami bersusah payah, sebulan lebih membongkar batu-batu karena ulah pimpinan Siauw-lim-si, dan kini setelah kami berhasil sampai di sini, ternyata harta pusaka itu telah berada dalam pelukanmu. Katakan saja bahwa engkau menantang kami!” teriak San- tok.

Tiga orang kakek itu sungguh merasa marah bukan main, mengira bahwa Siauw-bin-hud sengaja mempermainkan mereka.

“Siancai! Pinceng sungguh tidak mengerti mengapa sikap kalian bertiga begitu marah-marah kepada pinceng? Nona, engkau yang masih muda dan tidak berkepala batu seperti mereka, coba ceritakan mengapa tiga orang tua bangka ini marah-marah seperti kemasukan setan.”

Lian Hong lebih percaya kepada Siauw-bin-hud dari pada tiga orang kakek itu. Ia dapat menduga bahwa tentu terjadi kesalahpahaman di sini. Cepat ia menjura dan berkata dengan suara halus.

“Locianpwe, harap diketahui bahwa tiga orang locianpwe ini melakukan pencarian terhadap harta pusaka menurut petunjuk peta yang terdapat dalam Giok-liong-kiam aseli. Dan peta itu menunjukkan bahwa harta pusaka itu berada di sekitar tempat ini. Akan tetapi, ketika mereka datang ke kuil Siauw- lim-si hendak bertemu dengan locianpwe, para pimpinan Siauw-lim-si menolak, bahkan mengajak ketiga locianpwe ini mengadu ilmu. Kemudian, para pimpinan Slauw-lim-si hanya membolehkan kami mencari di luar tembok pagar pekarangan Siauw-lim-si. Terpaksa kami membongkar gunung melalui guha-guha di belakang kuil. Sebulan lebih kami bekerja mati-matian, dan hari ini berhasil menembus ke sini. Ternyata locianpwe sudah berada disini dan… dan… harta itu… peti itu…” Siauw-bin-hud tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha-ha! Kiranya begitu? Sudah puluhan tahun tempat ini menjadi tempat pinceng bertapa! Tempat ini dahulu dibuat oleh sucouw Tat Mo Couw- su, bahkan arca itu kabarnya adalah arca dirinya. Pinceng seringkali berdekatan dengan arca ini dan juga peti ini, akan tetapi pinceng selalu menganggap peti ini hanya pelengkap saja dari arca. Hati pinceng tidak pernah dikotori keinginan akan harta, maka tidak pernah memeriksa apakah peti ini ada isinya ataukah tidak. Jadi kiranya, peti inikah yang dimaksudkan harta karun dalam rahasia Giok-liong-kiam itu? Ha-ha-ha-ha… sungguh lucu, bertahun-tahun setiap hari berada di depan pinceng!”

Tiba-tiba terdengar suara letusan keras, disusul oleh letusan-letusan dan ledakan-ledakan yang mendatangkan suara bergema dan mengaung di tempat itu.

Siauw-bin-hud yang melihat betapa ada peluru beterbangan dan hampir mengenai kepalanya, ia pun terkejut sekali.

“Omitohud...! Tempat ini kemasukan orang-orang jahat!” serunya, dan tiba- tiba tubuhnya sudah melayang ke depan, dan dia berdiri di dekat tiga orang kakek dan Lian Hong.

Selagi mereka terheran dan terkejut, tiba-tiba dari arah yang berlawanan, yaitu dari kanan, nampak ratusan batang anak panah menyambar-nyambar ke arah kiri dari mana tadi datang peluru-peluru dan terdengar ledakan-ledakan.

“Pasukan pemerintah Ceng!” terdengar suara nyaring dan bergema di dalam ruangan bawah tanah itu.

“Kami yang lebih dulu menemukan harta karun!”

Suara itu datang dari kiri, dan ketika empat orang kakek dan Lian Hong memandang ke kiri, yang nampak hanyalah bayangan-bayangan orang bersembunyi di balik batu-batu dan nampak pula ujung senapan yang dipasangi bayonet. Beratus-ratus jumlahnya!

“Hei, kalian pasukan asing! Kami yang datang lebih dahulu dan harta pusaka itu adalah hak milik kami! Kalian orang-orang asing tidak berhak dan pergilah!” teriakan ini terdengar dari sebelah kanan.

Ketika lima orang itu memandang ke arah sana, di belakang batu-batu besar nampak ujung topi ratusan orang perajurit pemerintah Ceng yang bersenjata tombak, golok dan anak panah.

“Hemm, kita lihat saja siapa yang akan berhasil mendapatkan harta pusaka itu!”

Terdengar ledakan-ledakan senapan dari kiri yang dibalas dengan sama gencarnya oleh pihak tentara Ceng dengan anak panah mereka. Terjadilah pertempuran yang seru antara tembakan-tembakan senapan dan hujan anak panah dan kanan kiri.

Melihat ini, Siauw-bin-hud, San-tok, Tee-tok, Hai-tok dan Lian Hong, terpaksa harus berlari mencarii tempat perlindungan di balik batu-batu besar. Sambaran peluru-peluru dan anak panah itu terlalu gencar dan terlalu berbahaya bagi mereka sekalipun. Setelah berada di tempat perlindungan di balik batu-batu besar, Siauw-bin-hud berkata dengan suara sungguh-sungguh. “Omitohud, kiranya pasukan asing  dan  pasukan  Ceng  sudah  menyerbu pula tempat ini. Agaknya pemerintah Ceng menyerbu melalui kuil, dan pasukan asing menyerbu melalui jalan terowongan yang kalian buat! Dan mereka semua hendak merebut peti itu! Anehnya, pinceng sendiri sama sekali tidak pernah menduga bahwa peti yang dipangku arca itulah yang terisi harta karun itu. Akan tetapi, benarkah itu?”

“Kurasa benar, Siauw-bin-hud. Menurut petunjuk peta yang disimpan sebagai rahasia pedang Giok-liong-kiam, memang di sinilah tempatnya. Dan dimana lagi disimpannya harta pusaka itu kalau tidak di dalam peti yang dipangku oleh arca besar itu?” kata San-tok dengan yakin.

Ruangan itu kini penuh asap dan ledakan-ledakan senapan. Keaadaan menjadi gelap dan membuat mata terasa pedas, bahkan terdengar banyak di antara para pasukan kedua pihak batuk-batuk.

“Kita harus turun tangan,” bisik Siauw-bin-hud.

“Kalau tidak, pertempuran itu tentu akan berlaut-larut dan akhirnya harta itu akan terjatuh ke tangan satu di antara mereka. Pinceng tidak boleh menentang patukan Ceng, karena hal itu akan mengakibatkan dimusuhinya Siauw-lim-si yang memang sudah dianggap suka memberontak oleh pemerintah. Kini kita membagi tugas. Kalian bertiga, San-tok, Tee-tok dan Hai- tok, menerjang ke kanan, hajar pasukan pemerintah Ceng agar mereka itu mundur, sedangkan pinceng dan nona ini akan mendesak pasukan asing agar mundur keluar dan sini. Kalau kita lakukan secara berbareng, tentu kedua pihak menjadi kacau dan mudah-mudahan berhasil mendesak mereka mundur. Dan setelah mereka mundur, kita mengambil peti itu dan pergi dari sini melalui jalan rahasia yang pinceng kenal.”
Mengapa udah nggak bisa download cersil di cerita silat indomandarin?

Untuk yang tanya mengenai download cersil memang udah nggak bisa hu🙏, admin ngehost filenya menggunakan google drive dan kena suspend oleh google, mungkin karena admin juga membagikan beberapa link novel barat yang berlisensi soalnya selain web cerita silat indomandarin ini admin juga dulu punya web download novel barat terjemahan yang di takedown oleh google dan akhirnya merembes ke google drive admin yang dimana itu ngehost file novel maupun cersil yang admin simpan.

Sebenarnya ada website lain yang menyediakan download cersil seperti kangzusi dan clifmanebookgratis tetapi link download cersilnya juga udah nggak bisa diakses.

Ada juga Dunia Kangouw milik om Edwin yang juga menyedikan cersil yang bisa didownload tapi beberapa bulan yang lalu webnya tiba- tiba hilang dari SERP :( padahal selain indozone admin juga sering baca cersil di dunia kangouw sebelum akhirnya admin membuat cerita silat indomandarin ini.

Lihat update cersil yang baru diupload bulan Agusuts 2022 :)

[01 Agustus 2022] Kelelawar Tanpa Sayap

List Donasi Bulan Agustus 2022 | [02/08/2022] A.N: BURHANUDDIN Rp. 150.000 | [08/08/2022] A.N: KUSNADI Rp. 150.000 ~~~ Terima Kasih atas Donasi para cianpwee semoga rezeki para cinapnwee semua dilipatgandakan oleh yang maha kuasa :) ~~~

Mau donasi lewat mana?

BCA - Nur Ichsan (7891-767-327)
Bagi para Cianpwee yang ingin berdonasi untuk pembiayaan operasional web ini dipersilahkan Klik tombol merah.

Posting Komentar

© Cerita silat IndoMandarin. All rights reserved. Developed by Jago Desain