--> -->

Pedang Naga Kemala Jilid 25

Jilid 25

Hampir saja Ci Kong marah, akan tetapi karena pada saat itu, banyak mata sedang mem perhatikan mereka, terpaksa dia membungkuk dalam dan berkata penuh gaya dan nada menghormat.

“Baiklah, siocia (nona)!”

Diam-diam Ci Kong mendongkol sekali. Dia tidak suka disebut Akong, walaupun memang namanya Ci Kong. Dia ingin agar menggunakan nama lain, akan tetapi Kui Eng agaknya selalu lupa dan memanggilnya Akong, hal yang dia tahu tentu disengaja oleh gadis yang nakal itu, akan tetapi tentu saja dia tidak berani marah, pertama karena penyamarannya dan kedua karena dia memang tidak berani berbuat seperti itu terhadap seorang gadis.

Lian Hong maklum bahwa kembali Kui Eng menggoda Ci Kong, maka sambil tersenyum iapun berkata.

“Tidak perlu kau mencari kamar, Akong. Biarlah kami yang mencarinya dan kau ikut saja dengan kami. Kalau aku tidak salah ingat, di tikungan jalan depan itu terdapat sebuah rumah penginapan yang namanya Kim-ke Li-koan (Penginapan Ayam Emas), entah masih ada di sana atau tidak.”

Karena tadi Kui Eng sudah menyebut nama Ci Kong dengan Akong, terpaksa Lian Hong juga menggunakan nama ini agar jangan menarik perhatian orang.

“Baik, kongcu,” kata pula Ci Kong dengan sikap hormat.

Kakak beradik itu berjalan perlahan-lahan diikuti oleh pelayan mereka yang mendorong kereta, diikuti pandang mata banyak orang yang merasa kagum. Benar saja, di sebelah kiri tikungan jalan itu, terdapat sebuah rumah penginapan yang cukup besar, bahkan satu di antara penginapan-penginapan terbesar di kota raja. Di depannya, selain terdapat tulisan Kim-ke li-koan yang besar, juga terdapat sebuah patung ayam yang dicat emas.

Melihat datangnya pemuda dan pemudi yang berpakaian mewah dan berwajah elok itu, para pelayan segera menyambutnya. Bahkan pengurus rumah penginapan itu sendiri keluar dan menyambut.

“Selamat datang, kongcu dan siocia yang terhormat!” seru pengurus rumah penginapan sambil tersenyum ramah.

“Apakah ji-wi mencari kamar? Kami menyediakan kamar kelas satu untuk ji-wi”

“Terima kasih,” kata Lian Hong.

“Kami membutuhkari dua kamar untuk aku dan adikku, dan sebuah kamar untuk pembantu kami.”

Lian Hong menunjuk ke arah Ci Kong yang kembali menghapus keringatnya dengan saputangan, usaha untuk menutupi sebagian mukanya dan juga untuk mencegah agar peluhnya tidak sampai membikin luntur warna kecoklatan yang dipoleskan pada muka dan lehernya.

“Baik, kongcu. Disini ada kamar-kamar untuk para pelayan, di belakang!” “Tidak… kami ingin agar untuk pelayan kami disediakan kamar yang dekat

dengan kamarku, agar kalau sewaktu-waktu kami membutuhkan tenaganya, kami akan dapat menghubunginya dengan mudah,” kata pula Lian Hong, dan diam-diam Ci Kong mengerling ke arah Kui Eng, girang bahwa Lian Hong mendahului Kui Eng yang tentu akan menggunakan kesempatan itu untuk menggodanya lagi.

“Aih, engkau diberi kamar tamu, Akong. Hati-hati, kalau mau tidur harus mencuci kaki dan badanmu dulu, jangan sampai mengotorkan kamar tamu dan membikin malu kepada kami saja.”

Kui Eng masih sempat juga melontarkan godaan, dan biarpun hatinya mendongkol, Ci Kong mengangguk.

“Baik, siocia.”

Mereka lalu memperoleh tiga kamar yang berdekatan. Akan tetapi, walaupun memperoleh kamar yang sama sesuai dengan permintaan Lian Hong, tetap saja pelayanan yang diberikan oleh para pelayan terhadap Ci Kong, berbeda dengan pelayanan terhadap kakak beradik itu. Teh yang disuguhkan ke kamar mereka juga berbeda, teh untuk Ci Kong adalah teh nomor dua seperti yang biasa dibuat suguhan di kamar para pelayan. Juga untuk keperluan kakak beradik itu, pelayan-pelayan membawakan air panas untuk cuci muka, sedangkan Ci Kong disuruh ambil sendiri ke dapur.

Diam-diam Ci Kong mendongkol juga. Bayaran untuk kamar-kamar itu sama, akan tetapi pelayanannya berbeda. Semua itu karena kedudukan, pikirnya. Makin tinggi kedudukan seseorang, makin dihormat.

Penghormatan antara manusia merupakan penghormatan semu dan palsu belaka. Bukan manusianya yang dihormat, melainkan kedudukannya, kepandaiannya, kekayaannya. Bahkan lebih tepat lagi, yang dihormat adalah pakaiannya, karena pakaianlah yang menunjukkan keadaan seseorang. Buktinya, dia dan kedua orang gadis itu berkedudukan sama. Akan tetapi karena dia menyamar sebagai pengawal atau pelayan, sedangkan dua orang gadis itu menyamar sebagai orang-orang kaya, maka pelayanan dan penghormatanpun otomatis berbeda! Tidaklah mengherankan apabila manusia melihat bahwa penghormatan ditujukan kepada kedudukan, saling memperebutkan kedudukan ini!

Setelah malam tiba, rumah penginapan itu cukup ramai dan hampir semua kamar terisi. Tiga pasang mata yang tajam dari tiga orang pendekar itu dapat melihat bahwa di rumah penginapan itupun terdapat beberapa orang mata- mata yang mengamati setiap orang tamu. Mereka sendiripun tidak terluput dan pengamatan, akan tetapi karena mereka bersikap wajar dan royal ketika mereka memesan makanan malam, para pengamat itu mundur dengan sendirinya.

Di antara para tamu terdapat lima orang laki-laki yang melihat sekelebatan saja, tiga orang pendekar itu dapat menduga bahwa mereka bukanlah orang sembarangan, dan sikap mereka yang pendiam itu cukup mencurigakan. Juga mereka tahu bahwa para mata-mata itupun agaknya menaruh curiga terhadap lima orang itu.

“Hati-hati, kurasa akan terjadi sesuatu di sini,” Ci Kong sempat berbisik kepada dua orang temannya.

Kui Eng dan Lian Hong mengangguk maklum karena merekapun dapat merasakan hal itu. Dan peristiwa yang mereka duga-duga akan timbul itu memang terjadi malam itu.

Secara tiba-tiba, sepasukan tentara yang jumlahnya kurang lebih dua puluh orang, mengurung rumah penginapan itu dan pemimpinnya seorang komandan muda yang gagah, diikuti oleh beberapa orang tentara, masuk dan pintu depan. “Semua tamu berkumpul di ruangan tengah, kamar-kamar ditinggalkan kosong! Kami pasukan keamanan melakukan pembersihan!” bentak panglima

muda yang gagah itu.

Semua tamu menjadi panik, akan tetapi mereka segera meninggalkan kamar masing-masing. Pengurus penginapan dan para pelayan juga segera memberi tahu kepada semua tamu yang sudah menutup pintu kamar agar meninggalkan kamar dan berkumpul di ruangan tengah, meninggalkan kamar mereka karena ada pembersihan.

Lian Hong dan Kui Eng sudah mendengar keributan itu dan merekapun cepat membereskan penyamaran mereka dan keluar dan dalam kamar. Kiranya Ci Kong sudah keluar lebih dahulu, dan Ci Kong kelihatan ketakutan, sikap yang tepat sekali, karena hampir semua orang juga kelihatan ketakutan sehingga kalau dia, sebagai seorang pelayan, bersikap tenang, tentu hal ini malah akan menarik perhatian dan mendatangkan kecurigaan. Melihat dua orang kawannya keluar dan kamar, dan di situ terdapat para tamu yang hilir-mudik penuh kepanikan, Ci Kong mendekati mereka.

“Celaka, kongcu siocia… eh, ada apa ribut-ribut ini, kukira ada kebakaran… akan tetapi tidak melihat api.”

“Ihh, Akong… engkau memang tolol!”

Kui Eng memperoleh kesempatan untuk menggodanya.

“Apa kau tidak mendengar pengumuman tadi? Ada pembersihan, bukan kebakaran!”

“Pembersihan? Apakah kamar-kamar akan dibersihkan? Kenapa kita harus keluar dan berkumpul di ruangan?” Ci Kong memegang lengan seorang petayan yang sibuk mengatur agar para tamunya berkumpul di ruangan.

“Eh, toako, apa sih artinya pembersihan ini?”

Pelayan itu hendak menghardik, akan tetapi melihat kongcu dan siocia yang berpakaian indah itu berada di situ, dia tidak jadi marah.

“Pasukan keamanan hendak memeriksa semua tamu dan kamar-kamarnya, mencari orang-orang jahat,” jawabnya singkat dan diapun sudah pergi lagi.

“Sudahlah, Akong, mari kita berkumpul di ruangan dan jangan panik,” kata Lian Hong.

“Nanti dulu, saya mau mengumpulkan barang-barang kita dulu,” Ci Kong lalu berlari memasuki kamarnya dan keluar lagi membawa buntalan-buntalan besar yang siang tadi dibawanya dengan kereta dorong.

Dengan tubuh diganduli buntalan-buntalan itu, sehingga jalannya juga montang-manting, dia mengikuti dua orang majikannya pergi ke ruangan besar dimana telah berkumpul semua tamu yang jumlahnya kurang lebih tigapuluh orang itu. Semua tamu memandang ke arah Kui Eng, karena kehadiran gadis yang demikian cantiknya memang merupakan hal yang merupakan hiburan besar bagi mereka yang sedang panik ketakutan.

Ruangan itu dikepung oleh beberapa orang anak buah pasukan yang memegang golok di tangan kanan, dengan sikap galak mereka memandangi orang-orang itu. Setelah semua tamu berkumpul, masuklah ke ruangan itu komandan yang memimpin pasukan keamanan, dan diam-diam Ci Kong terkejut bukan main. Cepat dia berbisik di dekat Lian Hong dan Kui Eng.

“Lee Song Kim… murid Hai-tok…”

Lian Hong dan Kui Eng mengerutkan alisnya. Mereka sudah mendengar dari Ci Kong siapa adanya Lee Song Kim ini. Seorang murid dan Hai-tok, murid tersayang, akan tetapi kemudian murid ini telah murtad, menjadi kaki tangan pemerintah Ceng, bahkan penggerebekan di guha-guha tepi pantai ketika Hai- tok mengadakan pesta itupun merupakan hasil pengkhianatan pemuda ini.

Lian Hong dan Kui Eng memperhatikan dan kebetulan pada saat itu, Song Kim yang sedang menyapu orang-orang yang dikumpulkan itu dengan pandang matanya, melihat Kui Eng dan wajahnya yang tampan nampak berseri, sinar matanya menjadi tajam. Hal ini jelas menunjukkan bahwa dia tertarik sekali. Memang, siapa orangnya yang tidak akan tertarik kepada gadis yang cantik jelita itu? Apa lagi Lee Song Kim, pemuda yang berwatak kejam, cabul dan mata keranjang itu! Maka, kini dia melangkah menghampiri dan dapat dibayangkan betapa tegang rasa hati Ci Kong ketika melihat komandan muda itu kini memandang kepadanya, lalu ke arah buntalan-buntalan yang bergantungan di pundaknya.

Tentu saja Ci Kong merasa khawatir kalau-kalau Song Kim mengenalnya. Memang baru dua kali dia bertemu dengan Song Kim. Yang pertama ketika dia menyelamatkan Kiki di pantai yang akan diperkosa pemuda laknat itu. Akan tetapi walaupun mereka sudah berkelahi, ketika itu cuaca remang-remang dan Song Kim tentu tidak melihatnya dengan jelas.

Pertemuan yang kedua kalinya juga hanya singkat saja. Agaknya Song Kim mengenalnya dan karena takut rahasianya di pantai dahulu itu dibuka, maka pemuda laknat itupun lalu melarikan diri. Kini, dia menyamar sebagai pelayan, dengan alis yang sudah dirubah bentuknya, dengan muka dan leher yang menjadi kecoklatan dan pakaian yang seperti seorang pelayan. Tak mungkin Song Kim mengenalnya. Akan tetapi melihat betapa komandan itu memandang kepadanya penuh perhatian, berdebar juga rasa jantung dalam dada Ci Kong!

Karena berada di dekat Kui Eng, Song Kim hendak berlagak dan memperlihatkan kekuasaannya.

“Hei kau!” bentaknya sambil menuding ke arah Ci Kong.

“Apa yang kaubawa itu? Kenapa tidak ditinggal di kamar saja?” Dengan tubuh gemetar Ci Kong berkata.

“Maaf maafkan saya, tuan besar. Saya saya mendengar ada orang-orang jahat, maka saya khawatir barang-barang ini hilang.”

Sudah menjadi kebiasaan para anak buah Song Kim kalau melakukan pembersihan, mereka itu benar-benar melakukan ‘pembersihan’ terhadap berang-barang berharga dan rumah yang sedang digeledah. Song Kim tahu akan hal ini, maka merasa diejek oleh ucapan laki-laki yang berpakaian pelayan itu.

“Apa kau bilang? Siapa penjahat?”

Melihat betapa komandan muda itu marah-marah, Kui Eng yang sudah dapat menangkap pandang mata komandan itu tadi kepadanya, cepat melangkah maju.

“Maaf, ciangkun. Barang-barang itu adalah milik kami, dan dia adalah pelayan kami. Akong, taruh saja barang-barang itu di atas lantai.”

Suara merdu ini membuat Song Kim memutar tubuhnya dan wajahnya berseri kembali. Tak disangkanya bahwa pelayan itu adalah pelayan wanita cantik ini. Pada saat itu, Lian Hong juga melangkah maju memberi hormat.

“Maaf, ciangkun. Memang benar bahwa barang-barang itu milik adik saya dan saya, hanya bekal pakaian. Dia adalah pelayan kami, karena tidak tahu, tadi dia membawa barang-barang itu ke sini.”

Makin girang hati Song Kim mendengar hal itu. Wanita cantik itu adalah adik pemuda tampan ini. Mereka nampak kaya raya dengan pakaian mewah, pikirnya. Diapun balas menjura dan berkata.

“Ahh, tidak mengapa kalau begitu. Sebaliknya, maafkan kami kalau kami telah mengganggu. Kami hanya melaksanakan tugas, melakukan pembersihan karena di kota raja terdapat banyak orang-orang jahat yang menyelundup masuk.”

“Ihhh, mengerikan!”

Kui Eng berlagak dan dengan sikap manja memegang lengan kakaknya. “Kalau begitu, kita cepat-cepat pulang saja…”

“Harap jangan takut, nona… kalau ada saya di sini, nona akan aman.

Percayalah, saya akan menjaga keselamatan nona.”

“Aih, ciangkun sungguh baik hati sekali. Terima kasih, ciangkun,” kata Kui Eng dengan sikap manis, diiringi kerling tajam dan senyum dikulum. Tentu saja Lee Song Kim menjadi semakin tertarik. Kalau menurutkan dorongan hatinya, ingin dia di saat itu juga merangkul dan menciumi muka yang cantik jelita itu.

Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut dan belasan orang perajurit mendorong-dorong lima orang laki-laki memasuki ruangan itu.

“Lee-ciangkun, mereka ini hendak melarikan diri dari rumah penginapan!” seorang perajurit melapor.

“Apa? Kalian ini tentu mata-mata jahat! Hayo mengaku, kalian siapa dan mau apa berada di sini, mengapa pula hendak melarikan diri ketika datang pembersihan! Awas, kalau kalian tidak mau mengaku, kalian akan disiksa!” teriak Lee Song Kim, semakin angkuh saja karena dia sedang berlagak di depan wanita cantik. Semua orang mengira bahwa lima orang laki-laki itu tentu akan menjadi ketakutan dan minta ampun. Akan tetapi ternyata kenyataan sama tekali tidak demikian. Lima orang itu bahkan saling pandang, saling memberi isyarat dan tiba-tiba saja mereka maju menyerang Lee Song Kim. Perwira muda itu cepat mengelak dan menangkis, dan para tamu menjadi panik sekali. Ketika para perajurit hendak turun tangan, terdengar Song Kim berseru.

“Kalian jangan membantu, biarkan aku sendiri menghadapi lima ekor tikus ini! Dan para tamu semua jangan ribut, lihat… kusuguhkan tontonan yang menarik!”

Lee

Song Kim tentu saja bukan orang bodoh, dan ketika lima orang tadi bergerak menyerangnya, dia sudah dapat mengukur kemampuan mereka. Mereka berlima itu hanyalah orang-orang yang mengandalkan tenaga besar saja, namun tidak memiliki ilmu silat yang berarti. Karena dia yakin akan mampu mengalahkan mereka, maka diapun ingin sekali memperlihatkan kepandaiannya untuk berlagak di depan para tamu penginapan, terutama sekali di depan Kui Eng yang telah menarik perhatiannya.

Lima orang itupun nampaknya sudah nekat. Tempat itu sudah dikurung oleh pasukan yang bersenjata lengkap. Mereka tidak akan mampu melarikan lagi. Andaikata dapat membobol keluar kepungan, merekapun akan sulit untuk dapat keluar dan kota raja. Maka, kini mereka hendak nekat dan mengamuk, sebelum mereka roboh, mereka akan membunuh perajurit pemerintah sebanyaknya dan terutama sekali perwira muda ini.

Melihat betapa perwira muda itu melarang para perajurit mengeroyok, dan kini perajurit itu berdiri tegak dengan sikap sombong di tengah-tengah ruangan, lima orang itu lalu mengepungnya dan bergerak mengitarinya, mencari-cari lowongan untuk dapat menyerang si perwira yang sombong.

Song Kim hanya berdiri dan bertolak pinggang, tersenyum-senyum menghadap ke arah Kui Eng. Dan Kui Eng juga dengan cerdik sekali memasang sikap yang penuh kagum memandang kepada perwira itu. Tadi Lian Hong berbisik kepadanya bahwa mungkin sekali mereka bisa mendapatkan rahasia dan perwira muda itu. Maka, melihat betapa perwira itu tertarik kepadanya, Kui Eng sengaja hendak menjatuhkannya agar mereka dapat berkenalan dan terdapat kemungkinan mengorek keterangan dan perwira itu.

“Heiiittt!”

Tiba-tiba seorang di antara lima orang laki-laki gagah yang berada di belakang tubuh Song Kim, menyerang dengari tubrukan. Kedua tangannya mencengkeram ke arah leher, agaknya hendak mencekik dan belakang. Seperti aba-aba saja, teriakan itu disusuloleh gerakan empat orang temannya yang juga sudah menyerang dari berbagai jurusan, ada yang mencengkeram, ada yang menghantam kepala ada pula yang menendang.

Namun, Song Kim bersikap tenang saja. Tubuhnya bergerak, kedua kakinya melangkah ke sana-sini dengan amat gesitnya, dan serangan lima orang itu semua tidak mengenai sasaran. Lima orang itu merasa penasaran dan mereka melanjutkan serangan bertubi-tubi. Namun, dengan ginkang yang istimewa, Lee Song Kim mengatur langkah-langkahnya dan semua serangan itupun gagal. Jangankan mengenai tubuhnya, menyentuh ujung jubahnyapun tidak.

Para perajurit tertawa-tawa melihat betapa komandan mereka mempermainkan lima orang itu. Mereka semua sudah maklum akan kelihaian Lee Song Kim, dan kini mereka tahu bahwa komandan mereka itu sengaja mempermainkan lawan-lawannya dan memperlihatkan kebolehannya.

“Ha-ha, kalian kiranya hanya lima ekor tikus yang tiada gunanya! Kalian tentu mata-mata dan pemberontak, bukan?” sambil mengelak ke sana-sini, Song Kim berkata dengan suara lantang.

Akan tetapi lima orang itu tidak menjawab, melainkan menyerang terus dengan penuh kegarangan. Mereka makium bahwa mereka tentu akan mati semua, akan tetapi semangat mereka tidaklah mengendur dan walaupun mereka tahu bahwa perwira muda ini ternyata lihai bukan main, mereka tidak menjadi jerih dan tidak sudi untuk mengaku atau menyerah.

Sementara itu, Ci Kong memandang dengan jantung berdebar. Beberapa kali dia mengepal tinjunya. Liang Hong melihat ini dan diam-diam mengedipkan matanya mencegah agar pemuda itu tidak melakukan sesuatu. Ia sendiripun khawatir melihat lima orang itu, akan tetapi lima orang itu sungguh tak tahu diri. Dengan kepandaian seperti itu, mereka berani menjadi mata-mata memasuki kota raja! Kalau ia dan kawan-kawannya turun tangan menolong lima orang itu, berarti tugas mereka akan gagal dan mereka belum tentu dapat menyelamatkan lima orang itu keluar dari kota raja. Bahkan keadaan mereka bertiga sendiri akan terancam!

Ci Kong mengerti akan hal ini, dan biarpun hatinya merasa penasaran sekali melihat lima orang pejuang itu dipermainkan, namun dia hanya mengepal tinju dan mengertak gigi.

“Kalian tikus-tikus bandel. Rasakan ini!”

Dan kini tiba-tiba Lee Song Kim menggerakkan tangan balas menampar. “Plakk!”

Seorang di antara para pengeroyok itu terplanting roboh tak mampu bangkit kembali. Tulang rahangnya patah-patah dan kini mukanya menggembung dan dia berkelojotan setengah pingsan. Dengan kecepatan yang luar biasa, Song Kim lalu berkelebatan membagi pukulan dan sekejap mata saja, empat orang pengeroyok lainnya juga roboh dan tidak mampu bangkit kembali.

Lee Song Kim tersenyum, menepuk-nepuk kedua tangan dan pakaiannya seperti orang membersihkan debu, mengerling ke arah Kui Eng.

“Nah, lihatlah, nona. Kalau ada penjahat-penjahat mengganggu nona, akan kurobohkan seperti itu.”

Lalu dengan suara galak, dia memerintahkan perajuritnya urituk menyeret lima orang itu dan memaksa mereka agar mengaku siapa mereka dan apa tujuan mereka menyelundup ke kota raja. Lee Song Kim lalu memerintahkan anak buahnya untuk melakukan pemeriksaan terhadap semua tamu, juga kamar-kamar mereka.

“Kamar kongcu dan siocia ini bersama pengawalnya tidak usah diperiksa, mereka adalah orang baik-baik,” tambahnya.

Kini Kui Eng menyembunyikan ketegangan hatinya dan iapun tersenyum kepada Lee Song Kim setelah tubuh lima orang itu digusur pergi.

“Aihh, ciangkun sungguh gagah perkasa!”

Ia memuji dan tentu saja Song Kim girang bukan main mendengar pujian ini, yang baginya merupakan tanda bahwa agaknya dia tidak bertepuk tangan sebelah karena nona inipun kagum kepadanya! Hal ini tidak mengherankan hatinya, karena sudah terbiasa bagi Song Kim bahwa setiap orang wanita akan kagum melihat ketampanan dan kegagahannya!

“Aihh, hal itu tidak ada artinya, nona. Mereka hanya tikus-tikus kecil tidak ada artinya. Biar ada limapuluh orang seperti mereka, aku akan mampu mengalahkan mereka semua. Kalau boleh aku berkenalan dengan kalian, siapakah nama nona dan siapa pula nama kakak nona, dimana ji-wi tinggal?”

Kini Kui Eng memasang aksi malu-malu kucing. “Ihh… ciangkun tanya saja kepada kakakku ini.”

Kui Eng memang nakal. Sebetulnya, ia tidak suka bercakap-cakap dengan Song Kim dan kini ia sengaja mengoperkan tugas itu kepada Lian Hong! Terpaksa Lian Hong yang memberi keterangan.

“Nama saya Bi Seng dan adik saya ini bernama Bi Hwa, kami she Liem dan tinggal di Thian-cin, akan tetapi kedua orang tua kami sudah pindah dan kembali ke kampung kami, di luar kola Thian-cin. Orang tua kami dikenal sebagai Liem Wan-gwe di Thian-cin.”

Tentu saja semua itu hanya nama-nama khayal belaka. Lian Hong sengaja mempergunakan she Liem, she yang dipunyai banyak orang, dan di Thian-cin atau di kola manapun, sudah pasti terdapat Liem Wan-gwe (hartawan Liem), bukan hanya seorang saja.

“Ah, kiranya Liem-kongcu dan Liem siocia adalah orang-orang muda hartawan yang sedang pesiar ke kota raja, begitukah?” tanya Song Kim ramah.

Dua orang itu mengangguk membenarkan.

“Saya bernama Lee Song Kim dan menjadi seorang komandan pasukan keamanan di kota raja.”

Kini para perajurit setelah selesai melakukan pemeriksaan, tentu saja dengan mengantongi barang-barang berharga seperti biasanya, sudah- berkumpul di situ dan membuat laporan kepada Lee Song Kim bahwa semuanya beres, tidak ada yang mencurigakan di antara para tamu kecuali lima orang yang sudah ditangkap tadi. Song Kim menghadapi kakak beradik itu.

“Sungguh sayang bahwa terpaksa saya harus pergi menyelesaikan tugas. Sebetulnya masih ingin sekali saya bercakap-cakap dengan ji-wi yang ramah. Bagaimana kalau saya mengundang ji-wi untuk datang berkunjung ke rumah saya? Saya ingin mengundang ji-wi makan siang pada hari esok, dan saya sangat mengharapkan ji-wi tidak akan keberatan.”

“Aih, ciangkun sungguh baik sekali…” kata Kui Eng dengan suara merdu. “Kami hanya akan mengganggu waktu yang berharga dari ciangkun saja,”

kata Lian Hong, dengan sikap wajar orang yang sungkan.

“Tidak, sama sekali tidak, Liem-kongcu. Ji-wi tidak akan mengganggu, bahkan akan menyenangkan hati saya.”

“Akan tetapi… tentu akan mengganggu Lee Hu-jin (Nyonya Lee),” kata pula Lian Hong.

Lee Song Kim tertawa. Ketawa yang diatur agat kelihatan tampan dan sopan.

“Ha-ha-ha! Hu-jin mana yang akan terganggu? Saya masih belum mempunyai isteri, seperti juga Liem-kongcu dan Liem-siocia…”

Berkata demikian, Song Kim memandang wajah gadis itu dengan penuh tantangan, dan Kui Eng dengan cerdik dapat mengubah kemarahan menjadi sikap malu-malu dan iapun menundukkan mukanya yang menjadi merah. Bukan merah malu sebenarnya, melainkan merah karena marah.

“Baiklah kalau begitu, Lee-ciangkun. Besok siang menjelang tengah hari, kami akan berkunjung ke rumah ciangkun. Akan tetapi… dimanakah gedung tempat tinggal ciangkun?” tanya Lian Hong.

“Tidak jauh dan istana!” kata Song Kim bangga. “Di sebelah timur pintu gerbang utara. Kalau jiwi sampai di pintu gerbang istana sebelah utara dan bertanya kepada siapa saja dimana rumah komandan she Lee ini, tentu semua orang akan dapat menunjukkannya.”

Mereka berpisah setelah sekali lagi Song Kim minta agar besok siang mereka benar-benar datang berkunjung. Setelah pasukan itu pergi, barulah semua tamu kembali ke kamar masing-masing dan barulah mereka yang merasa kehilangan barang-barang berharga itu berseru kaget. Akan tetapi, siapakah yang berani membuat ribut karena kehilangan itu? Sudah jelas bahwa pasukan yang memasuki dan menggeledah kamar mereka, hanya anak buah pasukan itu. Jelas bahwa pasukan itulah yang mencuri barang-barang berharga mereka. Ribut-ribut soal barang, jangan-jangan malah akan menyeret tubuh mereka masuk penjara. Karena itu, mereka yang kehilangan diam saja dan hanya mengeluh dan menangis.

Setibanya di kamar Lian Hong, Kui Eng mengepal tinju.

“Bedebah keparat! Ihh, betapa ingin aku menampar mulutnya sampai remuk!”

“Tenanglah, enci Eng. Siapa orangnya tidak muak melihat mukanya, akan tetapi kita harus pandai bersandiwara. Aku yakin bahwa engkau akan dapat mengorek rahasia penting dan orang she Lee itu…” kata Lian Hong.

“Hemm, enak saja engkau berkata demikian, Hong-moi, karena akulah yang menjadi perempuan dan menjadi incarannya. Bagaimana kalau sampai dia bersikap keterlaluan dan kurang ajar?”

“Kita hajar dan bunuh saja si keparat itu!”

Tiba-tiba Ci Kong juga memasuki kamar Lian Hong berseru. Dia sudah sejak tadi menahan-nahan kedongkolan hatinya terhadap Lee Song Kim. Apalagi ketika dia mengingat betapa lima orang tadi, para pejuang, tentu akau tewas di bawah siksaan orang-orang komandan itu.

“Ci Kong, harap engkau bersabar pula. Memang tugas kita ini sukar sekali. Aku sendiripun lebih senang kalau melakukan tugas dimana kita hanya mempergunakan kaki tangan untuk melawan musuh. Akan tetapi tugas kita sekali ini adalah menggunakan otak, bersiasat dan harus cerdik, dan dapat menahan emosi. Kalau tidak, kita akan gagal sama sekali. Jangan kau khawatir, enci Eng. Kalau dia hendak kurang ajar, engkau tentu dapat mencegahnya dengan sikapmu. Kalau dia bertindak kasar, hendak menggunakan kekerasan, selain engkau tidak takut kepadanya, di dekatmu ada aku dan Ci Kong.”

“Hemm, kuharap saja dia bertindak kasar terhadap Kui Eng, agar aku dapat menghancurkan kepalanya!” kata pula Ci Kong.

Pemuda ini biasanya pendiam dan sabar, akan tetapi peran yang dipegangnya selama ini membuat dia seringkali kehilangan kesabaran!

Pada keesokan harinya, menjelang tengah hari, dengan menumpang sebuah kereta sewaan, Lian Hong dan Kui Eng dikawal oleh Ci Kong, datang berkunjung ke rumah gedung Lee Song Kim. Tidak sukar menemukan rumah gedung mungil ini.

Ternyata Lee Song Kim, dalam waktu singkat saja telah dapat merebut kedudukan yang baik, mendapat kepercayaan besar dari panglima pasukan keamanan, bahkan dia pernah diperkenalkan kepada kaisar sendiri oleh panglima itu dan menenima pujian kaisar.

Untuk kesempatan ini, Kui Eng mengenakan pakaian yang amat indah. Sutera biru muda itu, dengan hiasan sulaman emas dan merah, sungguh membuat ia nampak cantik bukan main. Rambutnya digelung tinggi, dan sisanya diikat dengan pita, dikepang dua, dan ia memakai minyak wangi. Juga Lian Hong mengenakan pakaian baru, bahkan Ci Kong juga mengenakan baju yang baru sehingga walaupun bajunya itu masih menunjukkan bahwa dia hanya seorang pelayan, namun dia cukup bersih, bahkan tampan! Akan tetapi dia tidak lupa untuk menambah warna kecokiatan pada mukanya, lehernya dan kedua tangannya yang tidak tertutup pakaian.

Karena kusir kereta sewaan tahu bahwa dia membawa penumpang yang menjadi tamu-tamu dan Lee ciangkun, maka dengan gembira dia memasuki kereta itu melalui pintu gerbang. Para perajurit yang berjaga di luar pintu, sudah diberitahu oleh Song Kim sehingga mereka menyambut kereta itu dan mempersilahkannya masuk tanpa melakukan pemeriksaan lagi.

Lee Song Kim sendiri yang keluar menyambut dari dalam gedungnya, dan melihat pemuda itu, hampir saja Ci Kong tertawa. Pemuda yang kemarin menjadi komandan dengan pakaian perwira yang gagah, berubah menjadi seorang pemuda pesolek! Wajahnya yang tampan nampak bersih sekali seperti dibedaki, alisnya jelas ditambahi penghitam alis, dan bibirnya juga memiliki warna merah yang tidak wajar!

Benar-benar seorang muda yang pesolek! Topinya adalah topi yang biasa dipakai oleh kongcu-kongcu bangsawan, dan yang lucu adalah jubahnya. Jubah itu berwarna merah, berkembang dan bertuliskan huruf REZEKI, seperti yang biasa dipakai oleh bangsawan-bangsawan kaya raya dan berkedudukan tinggi, atau seperti pakaian seorang pengantin pria!

“Wah, sungguh saya merasa berbahagia sekali menerima kunjungan ji-wi. Sungguh ji-wi merupakan dua orang muda yang tepat memegang janji. Silahkan masuk, nona, silahkan, kongcu. Mari kita langsung saja ke ruangan makan, karena saya telah mempersiapkan hidangan untuk memberi selamat kepada ji-wi. Mari…. silahkan!

Dengan amat ramahnya, Lee Song Kim mengajak dua orang tamunya masuk ke dalam. Tanpa mengeluarkan suara apapun, Ci Kong mengikuti dua orang temannya, dengan sikap membungkuk-bungkuk seperti layaknya sikap seorang pelayan yang sungkan-sungkan dan malu-malu. Melihat betapa pelayan itu ikut masuk, Song Kim mengerutkan alisnya, akan tetapi dengan sikap ramah dia berkata kepada Lian Hong.

“Liem-kongcu, sebaiknya pelayanmu itu biar menanti di luar, nanti kusuruh pelayan-pelayanku untuk menjamunya.”

“Maaf, Lee-ciangkun. Kalau boleh, biarlah dia ikut untuk melayani kami. Dia pelayan kami sejak kecil, sehingga kami menganggapnya seperti keluarga sendiri saja, dan kami akan merasa kaku tanpa dia yang melayani. Dia harus selalu dekat kami agar mudah kalau sewaktu-waktu kami membutuhkan sesuatu.” Lian Hong berkata dengan balus.

Song Kim memandang ke arah Kui Eng, dan gadis inipun mengangguk. “Benar, ciangkun. Kalau tidak ada Akong yang melayani, kami akan merasa

kaku.”

Mendengar ucapan Kui Eng itu, terpaksa Song Kim membiarkan Ci Kong ikut masuk ke dalam gedungnya. Mereka langsung diajak memasuki ruangan makan dimana telah tersedia meja bundar yang besar, dan ruangan itu sudah terhias dengan indah, penuh dengan bunga-bunga dan kertas berwarna, seolah-olah tuan rumah memang mengadakan pesta saja.

Yang menarik perhatian tiga orang pendekar muda itu adalah bahwa rumah itu benar-benar kosong, tidak ada anggauta keluarga Lee Song Kim, kecuali para pelayan yang terdiri dari pria-pria muda dan gadis-gadis muda, tampan dan cantik mereka itu.

Song Kim mempersilahkan Lian Hong dan Kui Eng untuk duduk berhadapan dengannya di meja bundar, sedangkan Ci Kong yang tahu diri hanya berdiri di pinggiran, tidak berani mendekati meja, dan menonton saja betapa dua orang temannya itu mulai dijamu dengan hidangan-hidangan yang serba mahal dan lezat, dan diapun hanya melayani dengan menuangkan arak untuk kongcu dan siocianya, lalu mundur lagi. Tentu saja beberapa kali dia harus menelan ludah sendiri melihat betapa dua orang itu makan dengan enaknya, bahkan Kui Eng yang nakal itu beberapa kali memuji-muji kelezatan makanan, terutama sekali bakmi dan bakso yang dihidangkan. Padahal mi bakso merupakan makanan kegemaran Ci Kong!

Song Kim gembira bukan main mendengar pujian Kui Eng, dan dia menjamu kedua orang tamunya itu dengan sikap ramah. Setelah selesai makan, Lee Song Kim lalu mengajak dua orang tamunya itu menuju ke taman bunga di belakang Ruangannya.

“Di dalam panas sekali, mari kita menceri angin di taman bungaku yang sedang penuh bunga, hawanya sejuk dan segar,” katanya.

Memang taman bunga itu indah, penuh dengan bunga-bunga beraneka warna dan taman itu terawat. Lian Hong memberi isyarat kepada Kui Eng dengan sentuhan tangan, lalu dara ini sengaja berkata sambil menuding ke arah belakang taman.

“Aihh, di sana ada sekumpulan bunga seruni yang paling kusuka. Lee- ciangkun, bolehkah saya melihat-lihat ke sana?”

Mendengar ini, Song Kim girang sekali. Pada saat itu, Kui Eng sudah duduk di atas sebuah bangku menikmati keindahan serumpun bunga mawar di depannya.

“O… tentu saja boleh, silahkan, Liem-kongcu! Silahkan!”

“Marilah, Akong, kautemani aku melihat-lihat bunga seruni di sana!” kata Lian Hong sambil lalu, kemudian bersama Ci Kong meninggalkan Kui Eng berdua saja dengan tuan rumah.

Memang ia sengaja melakukan ini untuk memberi kesempatan kepada Kui Eng bercakap-cakap berdua saja dengan tuan rumah, sehingga Kui Eng akan dapat berusaha mengorek keterangan dan perwira muda itu.

Setelah berada di bagian belakang kebun, di kumpulan bunga seruni yang sedang mekar semerbak itu, Ci Kong mengomel.

“Lian Hong, apakah tidak berbahaya meninggalkan Kui Eng berdua saja dengan laki-laki hidung belang itu?”

“Ssttt, jangan begitu, Ci Kong. Dia akan mampu berbuat apa terhadap Kui Eng? Jangan lupa, Kui Eng memiliki ilmu kepandaian yang setingkat dengan kita, dan kurasa ia akan mampu mengendalikan Lee Song Kim kalau laki-laki itu akan melakukan hal yang tidak pantas. Pula, kita berada di sini, tidak begitu jauh, bukan? Biarlah Kui Eng memperoleh kesempatan untuk menguras keterangan darinya.”

Ci Kong diam saja, hanya alisnya berkerut. Dia tahu benar siapa adanya perwira muda itu. Seorang laki-laki yang amat keji, bahkan sumoinya sendiri, Kiki, hampir saja menjadi korban kekejiannya dan diperkosanya. Mengingat akan hal itu, dia benci sekali terhadap Song Kim, dan kalau menurutkan dorongan hatinya, ingin dia pada saat itu juga menyerang Song Kim dan membunuhnya! Sementara itu, Kui Eng yang mengerti bahwa dua orang kawannya itu sengaja membiarkan ia berdua dengan tuan rumah agar ia dapat mencoba untuk mengorek rahasia, segera berkata.

“Aihh, begini indah taman bungamu, ciangkun. Duduk di sini, aku merasa seolah-olah dunia ini begini indah dan aman tenteram. Akan tetapi kalau aku teringat akan peristiwa malam tadi, aku merasa ngeri. Lee-ciangkun, sebenarnya apakah yang telah terjadi maka engkau dan pasukanmu harus melakukan pembersihan seperti itu?”

Sejak tadi Song Kim memandang gadis itu dengan penuh kagum. Seorang gadis yang amat cantik jelita. Dan kaya raya pula! Kalau dia dapat mempersunting gadis ini, alangkah akan senang hatinya. Bukan saja mendapatkan seorang isteri yang cantik manis, akan tetapi kaya raya pula!

“Ah, keadaan sekarang amat kacau, nona. Di luar tempat ini banyak berkeliaran orang jahat dan mata-mata pemberontak.”

“Pemberontak? Aih, aku sudah banyak mendengar tentang itu, ciangkun. Dari ayahku, aku banyak mendengar tentang Perang Madat di selatan, dan tentang orang-orang kulit putih, tentang pemberontakan-pemberontakan yang timbul. Bahkan sebelum aku berangkat, aku mendengar ayah mendongeng tentang sebuah pusaka yang diperebutkan, harta pusaka yang amat besar nilainya, dan kabarnya harta pusaka itu terjatuh ke tangan orang-orang sakti yang kabarnya akan dipergunakan untuk pemberontakan. Benarkah itu?”

Diam-diam Song Kim terkejut mendengar ini, akan tetapi ketika dia melihat wajah yang polos itu, dia tidak jadi curiga dan diapun maklum bahwa berita tentang Giok-liong-kiam yang terjatuh ke tangan Empat Racun Dunia sudah tersebar luas. Dia sendiripun sedang berusaha mati-matian, dengan menyebar mata-mata dan kaki tangannya, untuk mengamati para tokoh itu. Pemerintah sudah bertekad untuk merampas harta pusaka yang tersimpan rahasianya dalam pedang pusaka Giok-liong-kiam. Dan gadis ini tentu hanya mendengar hal itu seperti dongeng saja.

“Memang benar! Ada harta karun yang amat besar nilainya, kini terancam akan terjatuh ke tangan orang-orang jahat yang hendak mengadakan pemberontakan.”

“Ihhh! betapa mengerikan kalau sampai mereka berhasil, menguasai harta itu dan mengadakan pemberontakari, tentu keadaan negara akan menjadi kacau. Dan mungkin ketuargaku harus mengungsi ke kota raja. Aku akan minta kepada ayah untuk mengungsi ke kota raja. Akan tetapi kami tidak mempunyai rumah disini.”

“Jangan khawatir, nona. Aku yang akan menampung keluargamu kalau keluargamu benar-benar ingin mengungsi ke kota raja…” katanya dengan senyum dan pandang mata memikat.

“Tapi, ciangkun. Kalau pemerintah sudah tahu akan hal itu, kenapa pemerintah tidak turun tangan? Kenapa tidak mengirim pasukan dan merampas saja harta pusaka itu agar jangan terjatuh ke tangan para pemberontak?”

Dengan cerdik, Kui Eng memancing dengan sikap bodoh dan tidak mengenal persoalan.

“Ah, engkau tidak mengerti, nona. Persoalannya tidaklah sesederhana itu. Kalau pusaka itu berada di tangan penjahat-penjahat biasa, tentu akan mudah. Akan tetapi keadaannya tidaklah demikian.”

“Lee-ciangkun, engkau membikin aku menjadi bingung. Maukah engkau bercerita untuk melengkapi dongeng dari ayah? Siapa sih yang menguasai harta pusaka itu, dan kenapa kau bilang bahwa tidak mudah untuk merampas agar harta itu tidak dipergunakan memberontak?”

Song Kim tersenyum.

“Sebetulnya ini rahasia yang tidak boleh kuberitahukan orang lain.”

“Aih, kalau ciangkun menganggap aku orang lain, bukan sahabat baik, tak usah diceritakan…” kata Kui Eng sambil cemberut.

Song Kim semakin tertarik. Kalau cemberut, gadis ini menjadi semakin manis saja. Memang Kui Eng memiliki kelebihan di sekitar mulutnya. Mulut itu manis sekali, sehingga dalam keadaan bagaimanapun, cemberut atau tersenyum, tetap saja nampak manis.

“Kukatakan tadi, kepada orang lain tidak boleh kuceritakan, kalau kepadamu sih tidak apa-apa, nona. Akan tetapi sebelum aku bercerita, engkau harus berjanji dulu.”

“Baik, aku berjanji tidak akan menceritakannya kepada orang lain!”

“Ha-ha, bukan itu, nona. Akan tetapi berjanjilah bahwa besok malam, engkau dan kakakmu akan datang menghadiri pesta yang akan kuadakan di dalam taman ini. Yang akan hadir hanyalah rekan-rekan dan tokoh-tokoh di kota raja. Maukah engkau berjanji akan hadir?”

Biar disuruh berjanji apapun, tentu Kui Eng akan menyanggupi, karena ia ingin sekali mendengar rahasia yang sudah berada di ujung bibir tuan rumah ini.

“Baiklah, kalau tiada halangan sesuatu, aku dan koko akan hadir besok malam.”

“Nah, sekarang akan kuceritakan kepadamu, dan biarlah aku duduk di dekatmu agar suara bisikanku dapat kaudengar, nona. Hal ini tidak boleh didengar orang lain.”

Tanpa menanti persetujuan Kui Eng, pemuda itu lalu duduk di dekat Kui Eng, di atas bangku! Kui Eng terkejut. Dalam keadaan biasa, ia tentu akan marah sekali. Akan tetapi ia hanya menggeser tubuhnya agak minggir agar jangan terlalu dekat dengan tubuh pemuda itu yang bau harum semerbak karena terlalu banyak memakai minyak wangi.

“Nona Liem, pusaka yang diperebutkan itu merupakan sebuah pedang pusaka yang disebut Giok-liong-kiam. Dahulu pedang itu diperebutkan karena dianggap sebagai lambang kegagahan, dan siapa yang memiliki pedang itu dianggap sebagai jagoan nomor satu di dunia persilatan. Akan tetapi kemudian, orang mendapat kabar bahwa pedang itu menyembunyikan rahasia tempat penyimpanan harta karun yang amat besar! Perebutan menjadi lain lagi sifatnya. Pemerintah juga mendengar bahwa harta karun itu akan dipergunakan oleh orang-orang jahat untuk membiayai pemberontakan. Oleh karena itu, pemerintah sudah melakukan penyelidikan dan tahu bahwa pedang itu terjatuh ke tangan Empat Racun Dunia, yaitu tokoh tokoh dunia persilatan.”

Diam-diam Kui Eng merasa geli mendengar ini. Kalau saja pemuda perwira ini tahu bahwa ia adalah murid Tee-tok dan Lian Hong murid San-tok, bahkan Ci Kong yang menjadi pelayan itu adalah murid Siauw-lim-pai, tentu Song Kim akan dapat mati berdiri saking kagetnya. Semua yang diceritakan itu tentu saja diketahuinya dengan baik.

“Kalau sudah diketahui, kenapa pemerintah tidak mempergunakan pasukan saja untuk menangkap mereka dan merampas pedang itu?”

Ia berkata untuk memperlihatkan bahwa ia mendengarkan dengan penuh perhatian. Song Kim tersenyum lebar.

“Wah, tidak semudah itu, nona. Engkau tahu siapa adanya Empat Racun Dunia itu. Mereka adalah orang-orang yang sakti seperti iblis, dan tidak mudah menangkap mereka. Pemerintah sudah turun tangan, mencoba untuk menyerbu tempat tinggal dua orang di antara mereka, namun hanya mampu membuat sarang mereka kocar-kacir, akan tetapi tidak mampu menangkap mereka.”

“Ihh…!” Kui Eng pura-pura kaget.

“Mengerikan sekali! Kalau begitu, apakah pemerintah harus diam saja membiarkan mereka mendapatkan harta karun dan mempergunakan harta itu untuk memberontak?”

Perwira itu menggeleng kepala dan tersenyum.

“Kami tidaklah sebodoh itu, nona. Kini kami sudah menyebar mata-mata dimana-mana, mengawasi gerak-gerik mereka. Bahkan kami akan membiarkan Empat Racun Dunia itu mencari dan menemukan harta pusaka itu lebih dahulu. Setelah ditemukan, barulah kami akan menyergap mereka dan merampas harta pusaka itu. Kalau kini kami merampas Giok-liong-kiam pun percuma saja, kami belum tentu akan bisa mendapatkan rahasia tersembunyi yang menunjukkan tempat penyimpanan harta karun itu.”

Diam-diam Kui Eng terkejut bukan main, akan tetapi juga girang. Kiranya pemerintah mempunyai siasat seperti itu! Ia harus cepat-cepat membenitahukan hal itu kepada gurunya. Akan tetapi, gurunya sudah pergi bersama San-tok dan Hai-tok! Mungkinkah orang-orangnya pemerintah akan dapat membayangi tiga orang kakek itu? Ia tidak percaya ada orang-orang mampu membayangi mereka tanpa mereka ketahui. Betapapun juga, berita ini amat penting.

“Nah, begitulah. Jangan kau khawatir, nona. Pemerintah tidak akan tinggal diam bersandiwara dan mengambil sikap malu, dan adalah menjadi tugas kewajibanku untuk merampas harta karun itu.”

“Aih, kiranya engkau memiliki kedudukan yang amat penting dan tugas yang amat berat, Lee-ciangkun. Kuharap saja engkau akan berhasil.”

Song Kim bangkit berdiri.

“Aku pasti akan berhasil berkat doamu, Liem-siocia! Engkau sungguh baik sekali mendoakan aku, dan untuk tanda terima kasihku, terimalah setangkai bunga mawar ini sebagai tanda persahabatan dan terima kasih!”

Lee Song Kim memetik setangkai bunga mawar merah dan memberikannya kepada Kui Eng! Gadis ini tentu saja merasa marah di dalam hatinya, karena pemberian setangkai bunga mawar dapat diartikan pernyataan cinta. Akan tetapi ia malu.

“Aihhh, mana aku berani menerimanya, ciangkun?” iapun nampak malu- malu.

Pada saat itu, Lian Hong dan Ci Kong sudah kembali dari belakang taman, dan melihat betapa Lee Song Kim merayu Kui Eng yang duduk kemalu-maluan, Ci Kong memandang dengan mata melotot. Dia teringat bahwa Song Kim adalah seorang penjahat cabul yang suka mempermainkan wanita, dan kini penjahat itu merayu Kui Eng. Ingin dia meloncat dan menerkam pemuda jai- hwa-cat itu. Song Kim memetik bunga mawar untuk diberikan kepada Kui Eng, dan perbuatannya memetik bunga mawar itu mengingatkan Ci Kong akan kelakuannya sebagai seorang jai-hwa-cat (pemetik bunga atau pemerkosa)!

Melihat betapa Ci Kong memandang dengan mata melotot, Lian Hong lalu menyentuh lengannya dan mengedipkan matanya, bermaksud menyabarkan pemuda itu. Lian Hong merasa betapa hatinya tidak enak. Ada rasa iri di dalam hatinya. Ia mengira bahwa Ci Kong cemburu dan ini menandakan bahwa Ci Kong mencinta Kui Eng! Karena tangannya ditarik-tarik dan ketika dia menoleh dia melihat Lian Hong mengedipkan mata dan tersenyum, Ci Kong teringat lagi akan peran yang dipegangnya, dan diapun bersikap biasa lagi, akan tetapi dia batuk-batuk.

Mendengar batuk-batuk ini, Kui Eng bangkit berdiri tanpa menerima bunga mawar itu, dan Song Kim juga memutar tubuhnya sambil tersenyum.

“Ah, apakah Liem-kongcu sudah menikmati bunga-bunga seruni itu?” tanyanya, sedikitpun tidak merasa malu walaupun dia tahu bahwa sikapnya terhadap Liem-siocia yang merayu tadi tentu ketahuan oleh pemuda itu dan pelayannya.

“Sudah cukup, Lee-ciangkun. Tamanmu memang indah sekali.”

“Liem-kongcu, adikmu tadi telah menyanggupi dan berjanji akan datang pada pesta yang akan kuadakan besok malam di taman ini!”

Lian Hong memandang kepada Kui Eng dan gadis inipun mengangguk. “Benar, koko. Lee-ciangkun mengundang kita dan aku sudah menyanggupi.

Tentu pesta itu akan meriah sekali.”

Lian Hong pura-pura menarik napas panjang.

“Ah, sebetulnya besok malam aku ingin mengajakmu nonton wayang. Akan tetapi karena kau sudah berjanji kepada Lee-ciangkun, baiklah, kita akan datang besok malam.”

Lian Hong lalu berpamit dan menghaturkan terima kasih kepada Song Kim dan berjanji besok malam akan hadir dalam pesta itu. Song Kim dengan gembira sekali mengantar mereka sampai ke luar gedung, beberapa kali matanya yang tajam itu menatap ke wajah Kui Eng, akan tetapi selalu menunduk dan pura-pura tidak melihat isyarat yang terpancar dari pandang mata itu. Setelah tiba di rumah penginapan, Ci Kong mengepal tinju.

“Bedebah! Engkau harus berhati-hati terhadap jai-hwa-cat itu, Kui Eng!” “Huh, memangnya kenapa?” Kui Eng mengejek.

“Apa kaukira aku akan mudah begitu saja jatuh terhadap bujuk rayu seekor buaya seperti dia? Akan tetapi, dia telah menceritakan sesuatu yang amat penting bagi kita!”

“Aih, benarkah engkau berhasil, enci Eng? Apa yang diceritakannya?”

Kui Eng lalu menceritakan tentang segala yang didengarnya dan Song Kim. Lian Hong terkejut bukan main mendengar bahwa pemerintah sengaja hendak membiarkan Empat Racun Dunia menemukan harta karun, baru akan disergap.

“Aih. kalau begitu… aku harus cepat-cepat memberitahukan suhu!” “Tenanglah,   Hong-moi.   Tadinya   ukupun   terkejut   dan   berpikir seperti

engkau. Akan tetapi, kukira tidak perlu tergesa-gesa. Andaikata benar dia mengirim mata-mata untuk menyelidiki dan mengamati semua gerak-gerik guru-guru kita, akan tetapi siapakah yang akan mampu membayangi gurumu, guruku, dan juga locianpwe Hai-tok? Aku tidak percaya akan ada yang mampu membayangi dan mengikuti mereka tanpa mereka ketahui. Sebaiknya kalau kita menanti sampai besok malam. Siapa tahu besok malam kita akan mendengar hal-hal penting lain lagi.”

Ci Kong mengangguk-angguk.

“Kui Eng benar. Memang perjalanan tiga orang locianpwe itu tak mungkin dapat dibayangi orang tanpa mereka tahu. Agaknya pemerintah belum tahu bahwa rahasia itu sudah berada di tangan ketiga locianpwe yang sekarang sedang mencarinya.”

“Akan tetapi engkau jangan seperti yang sudah-sudah, memperlihatkan muka marah terhadap Lee Song Kim!” kata Lian Hong.

“Habis, aku benci sekali melihat tampangnya!” kata Ci Kong sebal.

“Aih, kalau engkau bersikap seperti itu, apa artinya kita bertiga susah- susah melakukan penyamaran?” Kui Eng mencela.

“Kita harus dapat bersikap cerdik dan menahan emosi, Ci Kong. Kaukira bagianku ini ringan dan mudah? Huh, kau tidak tahu betapa muaknya aku duduk di dekatnya, dan hidungku penuh dengan bau wangi-wangi itu. Rasanya ingin muntah saja!”

Mendengar ini, Lian Hong tertawa dan Ci Kong juga tertawa.

“Baik, maafkanlah aku, Kui Eng. Biar aku mengaku bahwa dalam penyamaran ini, engkaulah yang paling berhasil, dan engkaulah yang paling berjasa.” Ci Kong menjura.

“Cih, siapa minta dipuji!” Kui Eng mendengus dengan sikap manja dan kembali Lian Hong tertawa.

Diam-diam Lian Hong menduga-duga, apakah di antara kedua orang muda ini terdapat jalinan cinta kasih di luar kesadaran mereka. Ia sendiri merasa kagum dan suka kepada Ci Kong. Akan tetapi cinta? Ia sendiri tidak tahu, karena ia tidak mengerti bagaimana sesungguhnya cinta itu.

Malam itu, di taman bunga di belakang gedung Lee Song Kim, sudah dihias dengan meriah. Lampu-lampu gantung dipasang di pohon-pohon dan di tiang- tiang sehingga suasana dalam taman itu cukup terang dan amat indah. Meja- meja diatur di antara rumpun-rumpun bunga, dan tamu yang jumlahnya kurang lebih duapuluh lima orang sudah menuju meja-meja yang diatur dengan nilai seni yang tinggi di antara bunga-bunga yang harum.

Song Kim memang sengaja menjamu para rekan dan pembantunya sambil mengumpulkan laporan mereka, dan tentu saja karena diapun ingin menyenangkan kakak beradik Liem yang baru dikenalnya itu. Ketika Lian Hong, Kui Eng dan Ci Kong muncul, dia sendiri yang menyambut tamu baru ini dan mengantar mereka ke sebuah meja yang memang sudah sejak sore tadi dia persiapkan untuk Kui Eng dan kakaknya. Bahkan untuk Ci Kong disediakan sebuah bangku yang ditaruh tidak terlalu jauh dari meja itu.

Serombongan pemain musik berikut penyanyi-penyanyinya memeriahkan suasana dalam pesta kecil itu. Dan keramaian ini, tak dapat dicegah lagi mengundang kerumunan banyak penonton di luar pagar laman. Mereka adalah penduduk di sekitarnya yang ingin nonton keramaian, mendengarkan musik dan nyanyian. Penjaga-penjaga yang berjaga di luar taman mencegah mereka mendesak terlalu dekat pagar dan mengamati mereka agar jangan ada yang mengadakan kekacauan mengganggu pesta Lee-ciangkun.

“Aih, Liem-siocia sungguh pantas sekali memakai pakaian merah muda,” demikian sambutan Song Kim yang pandai merayu ketika dia mengantar kakak beradik ini ke sebuah meja yang dipersiapkan untuk mereka, agak di pinggir.

Karena para penonton di luar pagar itu berada di tempat gelap, maka wajah mereka tidak begitu nampak sehingga tidak akan mengganggu para tamu yang berada di dalam taman.

Suasana meriah sekali dengan adanya musik suling dan yang-kim yang mengikuti suara nyanyian merdu. Suara ini diseling dengan suara ketawa, suara beradunya cawan arak dan sumpit pada mangkok, dan suara orang bicara. Setelah menyalami para tamunya satu demi satu, bicara sambil bersendau-gurau dengan mereka, akhirnya Lee Song Kim duduk menemani Lian Hong dan Kui Eng.

“Aih, biarpun hanya kecil-kecilan, lelah juga mempunyai kerja pesta seperti ini, harus melayani dan menjumpai para tamu. Aku lebih senang duduk disini bersama ji-wi,” katanya sambil menarik napas panjang, agaknya merasa lega bahwa akhirnya dia dapat duduk di dekat Kui Eng.

“Pestamu ini biarpun kecil tapi meriah sekali, ciangkun. Hidangannya serba istimewa dan lezat.” Kui Eng memuji.

“Hemm, araknya sedap.” tambah Lian Hong.

“Ah, terima kasih atas pujian ji-wi. Sebetulnya, dalam kesempatan ini aku ingin bicara urusan penting sekali dengan Liem-kongcu dan Liem-siocia, akan tetapi, hemm… sukar sekali mengatakan isi hatiku.” Song Kim nampak meragu. “Ciangkun, di antara kita yang sudah menjadi sahabat baik, kenapa masih

ragu-ragu dan surigkan lagi?”

Kui Eng sengaja memancing dengan sikap berani.

“Kalau ciangkun hendak bicara, katakanlah, kami siap mendengarkan,” tambah Lian Hong sambil menduga-duga, persoalan penting apakah yang akan dibicarakan oleh tuan rumah itu.

Song Kim kembali ragu-ragu, akhirnya menarik napas panjang.

“Nanti dulu, biar aku mengajak paman Loa ke sini, dia adalah wakilku dalam segala hal penting. Harap ji-wi suka tunggu dulu, aku mau menghubungi paman Loa dan bicara dengan dia. Sebentar aku kembali dan memperkenalkan dia dengan ji-wi.”

Berkata demikian, Song Kim bangkit lagi, menjura dan meninggalkan meja itu, diikuti pandang mata tiga orang muda itu yang melihat betapa Song Kim berhenti-henti di meja-meja tamu karena ditegur oleh para tamu.

Ci Kong yang sejak ladi merasa tidak enak, kini bangkit dan menghampiri meja, berkata lirih sekali kepada Kui Eng.

“Hati-hatilah, jangan terlalu ramah kepadanya. Engkau seperti memberi hati kepadanya, dan aku khawatir, dia akan melakukan hal yang bukan-bukan terhadap dirimu.”

Melihat betapa Ci Kong kelihatan cemburu, Kui Eng tertawa dan menutupi mulutnya dengan gaya genit dibuat-buat. Lalu ia menuding ke arah mangkok di depannya.

“Nah, kaulihat, masakan yang satu ini lezat bukan main. Mau coba?”

Ia lalu mengambilkan potongan-potongan daging dan sayur, memasukkannya ke dalam sebuah mangkok kosong dan memberikannya kepada Ci Kong. Pemuda ini mendongkol sekali, akan tetapi karena tiba-tiba dia melihat betapa ada mata dari balik pagar, mata para penonton di luar mengamati mereka, diapun terpaksa menerima mangkok itu, duduk kembali ke atas bangkunya dan melanjutkan makan. Di depannya terdapat meja kecil biarpun hanya makan sendirian, diapun tadi menerima hidangan di atas meja itu. Memang lezat hidangan yang disuguhkan Kui Eng, berbeda dengan masakan yang berada di depannya. Kembali dia merasa mendongkol. Agaknya, hidangan untuknya adalah hidangan kelas dua saja, berbeda dengan hidangan untuk Kui Eng dan Lian hong yang kelas satu!

Sikap Kui Eng memberi makanan kepada Ci Kong tadi, ternyata memang diikuti oleh sepasang mata yang menjadi milik seorang gadis yang bersembunyi di antara para penonton di luar pagar. Sepasang mata yang tajam sekali, mata seorang gadis yang berpakaian serba hitam sehingga tidak begitu nampak di dalam kegelapan, apalagi di antara banyak penonton. Gadis ini berpakaian serba hitam dan ringkas, rambutnya awut-awutan sebagian menutupi mukanya. Agaknya disengaja untuk menyembunyikan mukanya ketika ia menyusup di antara penonton untuk ikut menonton pesta di taman itu.

Siapakah adanya gadis yang berada di luar pagar taman itu? Ia bukan lain adalah Tang Ki atau Kiki, puteri Hai-tok Tang Kok Bu!

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Kiki datang ke kota raja membawa kitab-kitab lama dan telah berhasil menyerahkan kitab-kitab itu kepada Pangeran Ceng, bahkan ia kemudian diangkat saudara oleh Ceng Hiang, puteri Pangeran Ceng. Setelah mempelajari sebuah kitab pelajaran silat peninggalan Tat Mo Couw-su yang sudah diterjemahkan oleh Pangeran Ceng, Kiki lalu pulang ke Pulau Naga untuk membuat laporan kepada ayahnya.

Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika Kiki melihat pulau itu sudah kosong dan ia bertemu dengan seorang bekas anak buahnya yang mengabarkan bahwa pulau itu sudah diserbu oleh pasukan pemerintah yang banyak jumlahnya sehingga terpaksa Hai-tok melarikan diri ke darat.

“Siapa lagi kalau bukan si laknat Song Kim yang melakukan ini!”

Kiki mengepal tinju dan dengan hati penuh kemarahan, ia kembali ke kota raja dengan niat untuk mencari Song Kim dan membalas dendam! Biarpun tadinya ia sudah dicegah oleh Ceng Hiang yang mengatakan bahwa seorang diri saja tak mungkin ia memusuhi Song Kim yang memiliki pasukan besar, namun kemarahannya membuat gadis ini nekat.

Demikianlah, ia melakukan penyelidikan ke rumah Lee Song Kim pada malam itu, dan kebetulan sekali pada malam hari itu, Lee Song Kim mengadakan pesta kecil di taman bunganya. Kiki menyusup di antara para penonton di luar pagar dan dapat dibayangkan betapa kaget dan herannya ketika ia mengenal Ci Kong berada pula di antara para tamu, akan tetapi pemuda itu mengenakan pakaian seperti seorang pelayan, melayani dua orang tamu, seorang gadis cantik dan seorang pemuda tampan.

Dengan heran, ia melihat pula Song Kim bercakap-cakap dengan gadis dan pemuda itu, dan Ci Kong hanya memandang dengan sikap seorang pelayan. Ia menduga bahwa tentu gadis cantik itu merupakan pacar Song Kim, karena sikap gadis itu demikian memikat dan sikap Song Kim demikian penuh bujuk rayu. Ketika Song Kim meninggalkan meja itu, dan ia melihat betapa gadis cantik dan yang pakaiannya jelas merupakan seorang gadis yang amat kaya raya itu mengambilkan makanan dalam mangkuk dan memberikannya kepada Ci Kong, dengan sikap yang genit, ia merasa benci sekali kepada gadis itu!

Biarpun ia tidak dapat mendengarkan percakapan mereka, namun di bawah sinar lampu, ia melihat betapa sikap gadis cantik itu genit sekali, dan sebaliknya Ci Kong nampak kesal dan menahan kemarahan. Huh, seorang gadis yang tidak mengenal malu sama sekali, pikir Kiki. Ia seorang gadis yang cukup berakal. Tidak mau ia menurutkan nafsu kemarahan lalu menyerbu ke tempat itu. Ia tahu betapa lihainya Song Kim, dan tentu tempat itu penuh dengan teman-teman Song Kim yang lihai. Dan melihat hadirnya Ci Kong di situ, iapun terheran-heran. Apakah pemuda Siauw-lim-pai itu kini telah terpikat dan menjadi sekutu Song Kim? Sungguh celaka kalau begitu. Akan tetapi, ia tidak percaya dan ia melihat bahwa pemuda itu menyamar sebagai seorang pelayan. Wajahnya menjadi demikian kehitaman, kulitnya berubah dan setelah ia memandang lebih teliti, ia melihat pula bahwa wajah pemuda itu agak berubah. Ia tadi, seketika mengenal Ci Kong dari sinar matanya. Jarang ada orang memiliki mata seperti itu, dan sekali pandang saja, ia mengenal mata itu dan tahu bahwa orang itu adalah Tan Ci Kong! Tentu pemuda itupun seperti ia, melakukan penyelidikan dan kini berhasil menyusup di antara tamu dengan jalan menyamar! Ah, kenapa ia tidak melakukah hal secerdik itu? Kalau ia menyamar lalu dapat berdekatan dengan Song Kim dan tiba-tiba menyerang, tentu ia akan berhasil membunuh manusia laknat itu!

Sementara itu, tak lama kemudian muncul lagi Song Kim, kini bersama seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih yang berpakaian seperti seorang sasterawan. Laki-laki ini bermuka sempit dan meruncing seperti muka tikus, dengan mata sipit, akan tetapi sikapnya demikian menarik dan merendahkan diri, menjilat-jilat seperti seekor anjing yang mencari muka pada majikannya. Song Kim tersenyum ketika memperkenalkan laki-laki itu.

“Inilah paman Loa, Liem-kongcu dan Liem-siocia. Dia adalah orang kepercayaanku dan suka kuutus untuk mengerjakan hal-hal yang teramat penting. Paman Loa, inilah Liem-siocia dan kakaknya Liem-kongcu.”

“Ah, kongcu dan siocia yang mulia, mata yang tua ini sungguh beruntung sekali dapat bertemu dan melihat wajah siocia yang cantik seperti bidadari dan kongcu yang tampan. Semoga ji-wi diberi berkah panjang umur dan banyak rejeki!” katanya sambil menjura dengan dalam sekali sampai dahinya hampir menyentuh tanah.

Biarpun merasa sebal, Lian Hong dan Kui Eng membalas penghormatan orang ini dan Ci Kong hampir saja tertawa saking geli hatinya.

“Aih, engkau terlalu memuji, paman Loa,” kata Lian Hong.

Akan tetapi mata yang sipit itu kini memandang wajah Ci Kong dan agaknya dia dapat melihat bahwa Ci Kong merasa geli hatinya.

“Dan dia ini, orang yang gagah ini siapakah?” tanyanya sambil menuding ke arah Ci Kong.

“Dia adalah Ci kong, pelayan kami,” kata Lian Hong dengan cepat.

“Hah, seorang pelayan? Pelayan ji-wi? Baik sekali! Sobat Akong, harap engkau dapat menikmati makan minum disini, dan kenallah aku sebagai Loa Lo-ya (tuan tua Loa), dan jangan khawatir, nanti kuberi bekal beberapa hadiah untukmu.”

Tentu saja Ci Kong merasa sebal sekali, akan tetapi dia tidak berarti memperlihatkan sikapnya, hanya mengangguk tanpa bicara. Walaupun sikap ini dianggap kurang hormat, tanpa ucapan terima kasih, namun orang she Loa itu agaknya tidak menjadi kecil hati. Dengan sikap ramah, dia lalu duduk di atas kursi berhadapan dengan mereka.

“Harap ji-wi maafkan kehadiran saya ini, akan tetapi sesungguhnya saya merasa amat kasihan kepada Lee-ciangkun yang minta kepada saya untuk bicara dengan ji-wi. Lee-ciangkun merasa sungkan untuk bicara sendiri, maka mengutus saya untuk mewakilinya bicara dengan ji-wi, terutama dengan Liem- siocia. Sebelumnya harap siocia sudi memaafkan saya. Tentu siocia cukup baik hati untuk dapat memaafkan seorang tua seperti saya ini kalau saya lancang bicara, bukan?”

Hati Kui Eng semakin sebal. Laki-laki ini amat cerewet, pantasnya bukan laki-laki, melainkah seorang nenek-nenek. Akan tetapi ia memaksa diri tersenyum.

“Tidak mengapa, paman. Bicaralah, dan kepentingan apakah yang hendak disampaikan Lee-ciangkun melalui paman?” Berkata demikian, Kui Eng memandang ke arah Lee Song Kim, dan perwira muda itu kelihatan malu-malu! Tentu saja sikap Lee Song Kim ini hanya aksi belaka, walaupun tak dapat disangkal bahwa dia merasa betapa jantungnya berdebar tegang. Bagaimanapun juga, harus diakui bahwa dia telah jatuh cinta kepada gadis hartawan ini, bukan sekedar timbul berahi melihatnya seperti biasanya kalau dia melihat gadis cantik.

“Begini, Liem-siocia. Dan Liem-kongcu, maafkan kalau saya lancang mengajak adikmu bicara.”

“Tidak mengapa… bicaralah, paman,” kata Lian Hong.

“Hemm… sebelumnya, saya ingin bertanya, apakah ji-wi ini merupakan kakak beradik berdua saja? Maksud saya, apakah tidak ada saudara yang lain?” “Kami hanya berdua saja,” kata Kui Eng, hatinya sebal akan tetapi juga geli

melihat sikap menjilat-jilat seperti itu.

“Dan berapakah usia Liem-siocia tahun ini? Shio apa?”

Kui Eng mengerutkan alisnya. Akan tetapi ia teringat bahwa ia sedang bermain sandiwara, maka iapun menjawab.

“Usiaku tahun ini sembilan belas tahun, shio Kelenci.”

“Wah, sembilan belas tahun, shio Kelenci! Sungguh tepat! Sama benar! Lee- cangkun juga berusia sembilan belas tahun, mungkin beberapa bulan lebih tua karena beliau shio Harimau.”

Kui Eng mengerutkan alisnya. Sejak tadi ia sudah merasa muak dan tidak senang kepada orang ini, akan tetapi ditahan-tahannya.

“Hemm, apakah sesungguhnya yang dim aksudkan dengan menanyakan usia segala itu?”

Orang she Loa itu agaknya tidak tahu bahwa gadis itu sudah marah, dan dengan mulut masih menyeringai, memperlihatkan gigi yang keropos dan hitam-hitam karena biasa menghisap tembakau dan madat, dia berkata.

“Maksud baik sekali, siocia. Maksud yang suci dari Lee-ciangkun. Maaf, kami yakin bahwa siocia tentu belum bertunangan dengan pria lain bukan?”

Kui Eng kini maklum kemana tujuan percakapan itu. Kiranya Lee Song Kim bermaksud untuk meminangnya. Hampir saja ia tertawa dan merasa betapa lucunya. Ia berperan sebagai gadis kaya dan sengaja memikat perwira itu agar membocorkan rahasia negara, tidak tahunya perwira itu benar-benar jatuh cinta kepadanya dan ingin meminangnya menjadi isterinya! Biarpun hatinya merasa semakin sebal, ia mengangguk untuk menjawab pertanyaan orang she Loa itu.

Orang she Loa itu makin memperlebar senyumnya sehingga semua gigi yang kehitaman itu nampak.

“Bagus sekali! Ciangkun kita inipun masih belum pernah menikah. Saya diberi tugas untuk mengajukan pinangan kepada orang tua Liem-siocia, akan tetapi sebelum itu, Lee ciangkun ingin sekali memperoleh keyakinan lebih dahulu bahwa siocia masih belium ada yang punya, dan bahwa siocia dan kongcu sudah menyetujui. Dan kau, sobat… harap kau suka membantu kami dan suka menceritakan hal yang baik-baik dari Lee-ciangkun kepada Liem wan-gwe sekeluarga di sana.”

Berkata demikian, orang she Loa ini sudah mengeluarkan tiga keping uang emas dan memberikannya kepada Ci Kong dengan sikap yang royal sekali.

Ci Kong sudah tidak mampu menahan kemarahannya. Penyamaran itu sudah melampaui batas kesabarannya karena dihadapkan dengan suasana yang amat menyinggung kehormatan dan perasaannya. “Makanlah sendiri!” bentaknya sambil menolak tangan yang menyerahkan uang ini dan tangan kirinya menyambit dengan sebuah mangkok.

“Prokk!”

Mangkok berisi sayur-sayuran itu melayang dan tepat menghantam mulut orang she Loa yang sedang terbuka. Demikian kerasnya sambitan itu sehingga mangkok itu memaksa masuk ke mulut, masuk separuhnya dan kuahnya muncrat memenuhi muka. Orang she Loa itu kebingungan, hanya mengeluarkan suara ‘ak-ak-uk-uk’, berusaha melepaskan mangkok dan mulutnya, dan darah mengucur keluar bersama kuah karena giginya telah patah semua, juga bibirnya hancur.

Kui Eng dan Lian Hong melihat hal ini, maklum bahwa penyamaran mereka bertiga tiada gunanya lagi. Kui Eng hendak melampiaskan rasa sebalnya kepada Song Kim yang juga terbelalak karena heran dan kagetnya melihat betapa pelayan tamu-tamunya itu tiba-tiba menyerang orang kepercayaannya seperti itu.

Maka tanpa banyak cakap lagi, Kui Eng juga sudah menubruk ke depan dan menyerang Song Kim dengan pukulan yang kuat sekali ke arah dada! Makin kagetlah rasa hati Song Kim karena dia melihat betapa kuatnya pukulan gadis yang menjatuhkan hatinya itu menuju dadanya. Dia cepat menangkis karena betapapun dia masih memandang rendah dan tidak percaya bahwa gadis itu dapat memiliki kepandaian tinggi, ketika menangkis dia hanya menggunakan setengah saja dan tenaganya.