-->

Pedang Naga Kemala Jilid 20

Jilid 20

Siu Coan tersenyum.

“Benarkah itu? Walaupun mungkin tidak ada banyak madat, namun dari See-thian sudah berdatangan madat yang diselundupkan. Dan tentang perang, sejak dahulu kita sudah mengenal perang. Bukankah perang saudara dan perebutan kekuasaan selalu terjadi sejak jaman Sam Kok? Dan siapa pula yang kini berkuasa di tanah air kita ini? Harap ji-wi suka berpikir secara mendalam dan jangan menyalahkan pendeta dan Agama Kristen yang tidak bersalah apa- apa.”

Dua orang itu memang hendak membubarkan agama yang dibawa orang bule dan menanamkan permusuhan terhadap orang bule. Mereka adalah pejuanng-pejuang golongan yang anti orang kulit putih, maka kini mendengar rencana mereka itu dibantai dan dihalangi oleh Siu Coan yang agaknya membela pendeta itu, mereka menjadi marah.

“Kalau begitu, engkau adalah seorang pengkhianat besar!” bentak si baju kuning sambil melompat ke depan dan diikuti oleh temannya yang berbaju biru.

Siu Coan melompat turun dari mimbar menghadapi mereka.

“Ji-wi keliru kalau melakukan kekerasan di sini. Gereja adalah tempat orang beribadat, tempat orang berbakti kepada Thian, bukan tempat bertentangan dan berkelahi.”

“Pengkhianat!” bentak mereka, dan keduanya sudah menerjang maju dan mengirim pukulan ke arah Siu Coan.

Pukulan-pukulan itu cukup dahsyat dan Siu Coan menyambut dengan tenang saja. Dia menggerakkan kedua tangannya, dibuka jari tangannya dan didorongkan ke depan menyambut.

“Dess!”

Dua orang itu terjengkang dan dan mulut mereka mengalir sedikit darah, tanda bahwa mereka telah menderita luka dalam yang biarpun tidak parah namun membuat mereka tidak berani maju lagi.

“Siapakah kau?” bentak si baju biru, terkejut heran dan juga penasaran. “Namaku Ong Siu Coan,” jawab Siu Coan sederhana.

Dua orang itu sejenak memandang kepadanya dengan penuh perhatian, kemudian mereka keluar dan gereja tanpa banyak cakap lagi. Siu Coan lalu berpamit dan Pendeta Allan yang menyatakan terima kasihnya berkali-kali. Tak lama kemudian terdengar lagi suara nyanyian dan dalam gereja itu, penuh semangat dan keharuan.

Jasa Siu Coan dalam gereja itu tentu saja disebarluaskan oleh Pendeta Allan dan tentu saja diketahui oleh Admiral Elliot. Hal ini menambah kejayaan Siu Coan yang semakin dipercaya.

Pada suatu malam, selagi Siu Coan tidur nyenyak setelah tadi ditemani oleh pelayan wanita yang paling disayangnya dan kini pelayan itu sudah disuruhnya tidur di kamarnya sendiri, pemuda ini terbangun dengan kaget. Pendengarannya yang terlatih dan amat peka mendengar sesuatu yang tidak wajar di atas genteng kamarnya. Sebagai seorang ahli silat yang sudah matang ilmunya, biarpun dalam keadaan pulas kelelahan, Siu Coan terbangun hanya karena suara sedikit saja, dan terutama karena ada semacam indriya keenam yang membisikkan bahwa ada hal yang tidak wajar.

Dengan tenang namun cepat sekali, Siu Coan sudah meloncat turun dan mengenakan sepatunya, juga bajunya karena tadi dia tidur tanpa baju saking panasnya hawa udara malam itu. Lalu terdengar suara di atas genteng itu.

“Demi Iblis, anak ini sungguh bernasib luar biasa baiknya!”

Mendengar suara itu, Siu Coan merasa seperti pernah mengenalnya, maka diapun cepat membuka daun jendela dan sekali tubuhnya mencelat, dia telah melayang keluar dari jendela dan naik ke atas genteng kamarnya. Dan siapakah yang dilihatnya di bawah sinar bulan yang suram itu? Bukan lain seorang kakek tua yang berkepala botak berperut gendut, yang berdiri tegak memandang kepadanya, dan kakek itu adalah seorang kakek yang luar biasa sekali, karena bajunya terbuka nampak dada dan perutnya yang amat besar. Tangan kirinya membawa sebuah ciu-ouw (tempat arak) dan di pinggangnya tergantung sebuah mangkok dengan tali.

“Suhu!”

Siu Coan terkejut sekali ketika mengenal Thian-tok, dan cepat dia menjatuhkan diri berlutut di atas genteng. Tidak seperti biasanya, kakek ini mengerutkan alisnya dan wajahnya tidaklah segembira seperti biasanya, melainkan masih nampak kaget dan terheran-beran.

“Mari kita masuk dan bicara di dalam…” katanya.

“Silahkan suhu,” kata Siu Coan yang mendahului gurunya melayang turun, memasuki kamar melalui jendela lalu membuka pintu kamarnya. Gurunya melangkah masuk melalui kamar itu dan mereka duduk di dalam kamar.

Siu Coan menepuk tangan dan muncullah belasan orang perajurit yang menjadi pengawalnya di depan pintunya. Mereka ini tentu saja terbelalak heran melihat munculnya seorang kakek gendut begitu saja tanpa mereka ketahui masuknya.

“Jangan ganggu aku malam ini. Kalau ada pertanyaan dari Admiral, katakan bahwa aku kedatangan tamu yaitu guruku. Sudah… kalian jaga di depan, jangan mendekati kamar ini.”

Para perajurit itu memberi hormat dan mereka memandang kagum ke arah si kakek gendut. Mereka semua tahu akan kelihaian Siu Coan. Kalau kakek gendut itu gurunya, wah… tentu lebih lihai bukan main. Setelah mereka pergi, Siu Coan yang tahu akan kesukaan gurunya, berkata.

“Apakah suhu ingin makan minum dulu sebelum bicara?” Kini kakek itu dapat tersenyum seperti biasa.

“Boleh, boleh. Asal ada arak baik dan masakan lezat.”

Siu Coan lalu menarik sebuah tali sutera di dekat pembaringannya. Itulah tanda bagi para pelayan wanita yang tidur di kamar sebelah bahwa dia membutuhkan mereka. Tak lama kemudian, berhamburanlah tujuh orang gadis cantik dengan pakaian yang setengah telanjang dan rambut yang kusut masai karena mereka tadi sudah pergi tidur, dan agaknya merekapun sedang mengharap-harapkan dipanggil oleh majikan mereka yang muda dan tampan itu. Maka merekapun datang seperti berlumba! Karuan saja Thian-tok terbelalak memandangi mereka, dan tujuh orang gadis itupun terkejut setengah mati melihat bahwa majikan mereka ternyata duduk menghadapi meja bersama seorang kakek yang gendut sekali!

Mereka menjadi malu-malu dan berusaha menutupi pakaian dan membereskan rambutnya. Akan tetapi, mana mungkin membereskan pakaian yang seperti itu? Pakaian mereka itu adalah pakaian tidur yang memang diharuskan oleh Siu Coan untuk mereka pakai setiap malam. Terbuat dan kain tipis berwarna muda yang tembus pandang dan di bawah pakaian itu tidak ada pakaian apa-apa lagi. Juga potongannya sederhana sekali, hanya dibelitkan pada pundak saja.

“Heh-heh-heh, sungguh engkau hidup enak sekali di sini, Siu Coan! Ini semua selirmu?”

Siu Coan tersenyum.

“Mereka adalah pelayan-pelayanku, suhu. Akan tetapi kalau suhu menyukai mereka, suhu boleh memilihnya.”

“Ha-ha-ha-ha, sungguh enak sekali hidupmu. Biarlah nanti saja, sekarang mari kita makan minum lalu bicara.”

Siu Coan memerintahkan tujuh orang wanita cantik itu untuk menyediakan makanan dan arak, dan sebentar saja semua hidangan itu telah dipersiapkan di dalam kamar itu. Diam-diam Thian-tok merasa kagum. Memang cepat sekali muridnya ini memperoleh kemajuan dan hidupnya sungguh senang, akan tetapi dibandingkan dengan apa yang baru saja dilihatnya di atas genteng tadi, ini masih belum apa-apa!

Dilayani oleh wanita-wanita yang cantik dan muda dan berbau harum itu, Thian-tok makan minum sepuasnya. Setelah semua bekas makanan dibersihkan, Siu Coan mengajak suhunya untuk bercakap-cakap di sebuah ruangan dimana tidak akan ada orang lain yang dapat mengintai atau mendengarkan percakapan mereka.

“Kunjungan suhu yang tiba-tiba ini amat mengejutkan hati teecu. Tentu ada keperluan penting sekali, suhu.”

“Tentu saja. Kalau tidak penting, untuk apa aku susah payah datang ke sini? Siu Coan, aku datang untuk membunuhmu!”

Kalau ada kilat menyambar kepalanya di saat itu, belum tentu Siu Coan akan sekaget seperti ketika mendengar omongan gurunya. Mukanya menjadi pucat sekali dan dia sudah meloncat berdiri, siap untuk melarikan diri atau memanggil para pengawal untuk membela diri. Biarpun yang akan membunuhnya itu gurunya sendiri, dia tidak akan sudi menyerah begitu saja.

“Akan tetapi kenapa, suhu?” Kakek itu tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha, jangan khawatir. Aku tidak jadi membunuhmu sekarang, pikiranku sudah berubah agi.”

Siu Coan bernapas lega, akan tetapi mukanya masih pucat. Celaka, kakek ini sungguh membikin hatinya kecut sekali, nyawanya seperti dipakai mainan saja! Biarpun dia itu gurunya, kalau sekiranya membahayakan dirinya, dia tidak akan segan-segan untuk membunuhnya!

“Suhu, sungguh teecu merasa heran bukan main. Apakah dosaku terhadap suhu maka suhu bersusah payah datang hendak membunuhku?”

Akan tetapi suhunya tidak menjawab, melainkan menatap wajah muridnya itu dengan tajam penuh selidik, lalu bertanya.

“Siu Coan, apakah engkau telah merampas Giok-liong-kiam dari tangan Koan Jit?”

Siu Coan terkejut dan menggeleng kepala.

“Tidak, suhu… sama sekali belum. Bahkan aku belum sempat bertemu dengan dia. Kedudukannya kuat sekali di dalam pasukan inggeris.”

“Dan apakah engkau menyimpan sebuah pusaka lain yang ampuh?” “Pusaka? Pusaka apa, suhu? Aku tidak mempunyai pusaka apapun.” Gurunya memandangnya penuh selidik.

“Sungguh tidak punya? Mau kau bersumpah bahwa engkau tidak menyimpan pusaka ampuh di dalam kamar ini?”

‘Tidak, suhu. Sunguh mati. Untuk apa aku berdusta kepada suhu?” “Wah, kalau begitu, kiong-hi (selamat)…”

Dan tiba-tiba kakek gendut itu bangkit berdiri dan memberi hormat kepada muridnya seperti biasa orang memberi ucapan selamat. Tentu saja Siu Coan terkejut bukan main dan dia cepat berlutut.

“Suhu, tidak berani teecu menerima penghormatan suhu. Ada apakah maka suhu bersikap seaneh ini?”

Kakek itu menarik napas panjang. “Bangkit dan duduklah.”

Setelah mereka duduk berhadapan kembali, Thian - tok berkata.

“Siu Coan, ketahuilah bahwa engkau telah ditakdirkan untuk menjadi calon orang besar, bahkan aku tidak akan heran kalau kelak engkau dapat menjadi seorang raja besar!”

Ingin Siu Coan tertawa geli. Walaupun cita-cita itu memang ada dalam batinnya, akan tetapi tanpa hujan tanpa angin, gurunya dapat mengatakan demikian, bukankah ucapan itu hanya ngawur dan terlalu muluk saja? Akan tetapi dia tidak berani memperlihatkan kegelian hatinya.

“Terima kasih atas doa restu suhu, akan tetapi bagaimana suhu dapat menduga demikian?”

“Ketahuilah, bahwa tadi aku memang datang dengan maksud untuk membunuhmu. Siapa tidak dongkol mendengar bahwa engkau telah menghambakan diri pada orang bule? Aku mengutusmu bersama Gan Seng Bu untuk menyelidiki Koan Jit dan merampas kembali Giok-liong-kiam. Eh, si Gan Seng Bu itu malah kawin dengan seorang perempuan bule, dan kabarnya dia telah tewas di tangan Koan Jit. Dia masih boleh dimaafkan, mungkin dia tewas dalam usahanya merampas Giok-liong-kiam. Akan tetapi engkau! Engkau malah enak-enak di sini menjadi antek orang bule dan sama sekali tidak berusaha untuk merampas Giok-liong-kiam. Hati siapa tidak akan merasa panas dan marah?”

Kembali Siu Coan terkejut sekali. Nyaris dia terbunuh oleh suhunya malam ini kalau saja tidak telah terjadi sesuatu yang aneh, yang dia sendiri tidak tahu apa, karena tiba-tiba saja suhunya membatalkan niatnya membunuh itu.

“Akan tetapi suhu, harap jangan salah paham. Aku sama sekali bukan menghambakan diri begitu saja kepada orang kulit putih. Kedudukan Koan Jit yang menjadi komandan pasukan Harimau Terbang di pasukan kulit putih, satu-satunya jalan untuk dapat menyelidiki dan mendekatinya adalah kalau aku juga menjadi seorang yang dipercaya. Dan aku berhasil dipercaya oleh Admiral Elliot. Semua ini merupakan usahaku mendekati Koan Jit. Selain itu, aku juga hendak menyusun kekuatan untuk cita-citaku, suhu.” “Cita-cita yang mana?”

“Suhu, aku ingin sekali menyusun kekuatan, membentuk sebuah barisan besar untuk kelak dapat kupergunakan untuk menumbangkan kekuasaan pemerintah penjajah Mancu, dan kalau Tuhan menghendaki, kalau sampai berhasil, aku ingin menjadi kaisar.”

“Ha-ha-ha… cocok sekali! Aku yakin engkau akan berhasil!”

Tiba-tiba gurunya berkata dengan gembira bukan main. Kembali Siu Coan merasa heran dan kaget.

“Bagaimana suhu dapat berkata demikian?”

“Dengarkan kelanjutan ceritaku tadi. Aku datang malam ini untuk membunuhmu. Setelah aku berhasil berada di atas genteng kamarmu, tiba-tiba saja aku melihat suatu cahaya mencorong yang datang dari atas langit dan cahaya itu meluncur turun memasuki kamarmu!”

“Aihhh! Apakah itu, suhu?”

“Aku tadinya juga tidak tahu. Akan tetapi cahaya itu memasuki kamarmu lewat genteng begitu saja, menerobos genteng tanpa suara. Tadinya aku mengira bahwa itu tentulah pusaka ampuh, dan aku mengira Giok-liong-kiam sudah berada di sini. Pusaka ampuh kadang-kadang juga mempunyai cahaya mencorong seperti itu. Karena adanya cahaya itu, dan aku mengira engkau mempunyai Giok-liong-kiam atau pusaka lain, maka aku membatalkan niatku membunuhmu dan karena terkejut, aku membuat gerakan sehingga mengejutkanmu.”

Kembali Siu Coan bergidik. Kalau tidak ada peristiwa itu sehingga suhunya terkejut dan membuat gerakan, tentu dia tidak akan tahu dan tentu dia sudah mati tanpa sempat bangun kembali.

“Suhu, aku tidak mempunyai Giok-liong-kiam atau pusaka lain. Lalu apakah arti adanya cahaya mencorong itu?”

“Ha-ha-ha, aku tahu sekarang. Itu adalah wahyu!” “Wahyu?”

Selamanya, Siu Coan belum pernah mendengar kata itu. “Apakah itu, suhu?”

“Menurut dongeng dari See-thian (India), dan juga dongeng dari para kaisar jaman dahulu, siapa yang akan menjadi kaisar, tentu memperoleh wahyu. Wahyu itu adalah semacam berkah atau tanda dari Thian yang sudah menemukan bahwa seseorang akan menjadi raja. Ada kalanya wahyu itu tidak nampak, ada kalanya nampak. Wahyu yang jatuh kepada dirimu malam ini juga tidak akan nampak oleh siapapun kalau saja tidak kebetulan aku datang di sini untuk membunuhmu.”

“Dan menurut suhu, wahyu itu jatuh kepadaku, dan hal itu membuktikan bahwa kelak aku akan menjadi raja?”

“Aku yakin akan hal itu, muridku. Karena itu, mulai sekarang aku ingin membantumu. Aku yakin engkau akan berhasil.”

Tentu saja hati Siu Coan girang bukan main mendengar keputusan yang diambil suhunya ini. Suhunya, biarpun sudah amat tua, akan tetapi lihai bukan main. Dan kalau dia dibantu suhunya, agaknya cita-citanya akan lebih cepat terkabul. Dan untuk menyenangkan hati suhunya, mudah saja. Dia tahu bahwa suhunya ini mata keranjang, suka akan wanita-wanita muda yang mulus dan cantik, suka pula akan arak yang baik dan masakan lezat, suka akan kehidupan mewah. Dan dalam kedudukannya yang sekarang, sebagai pengawal pribadi admiral, sebagai orang terpercaya yang dicukupi semua kebutuhannya, mudah baginya untuk menyediakan semua kegemaran suhunya itu. Dia memberikan sebuah kamar untuk suhunya, kamar yang dihiasnya dengan indah. Bahkan untuk tempat tidur suhunya, dia memberikan tempat tidur hadiah Admiral Elliot, yaitu tempat tidur yang memakai tilam kulit harimau besar yang masih lengkap dengan kepalanya. Dan di antara belasan orang pelayan wanita yang cantik-cantik itu, dia memilih empat orang pelayan yang sengaja diberikan kepada suhunya, bukan hanya untuk melayaninya makan, mandi dan sebagainya, akan tetapi juga melayaninya di tempat tidur.

Mulailah Thian-tok, seorang di antara Empat Racun Dunia, menikmati kehidupan yang amat mewah dan berlebihan. Si Racun Langit ini hidup seperti anak kecil saja. Kalau ingin mandi, tinggal tunggu saja. Empat orang pelayan atau selirnya itu akan menanggalkan seluruh pakaiannya dan akan memandikannya di bak mandi besar, menyabun dan memberinya minyak wangi, lalu memakaikan pakaian sutera yang tetap saja tidak mampu menutupi perut dan dadanya.

Kakek ini memang pantang ditutupi dada dan perutnya. Kalau sudah makan malam yang amat lezat dan kebanyakan minum arak, dia lalu akan rebah terlentang seperti seekor babi kekenyangan di atas pembaringannya yang bertilam bulu Harimau. Empat orang selirnya akan merubungnya, ada yang memijati, ada yang menumbuk-numbuk dengan kepalan tangan, ada yang membelai sampai akhirnya dia tidur sambil mendekap mereka berempat di dalam jubahnya yang lebar. Thian-tok lupa segala dan berenang di dalam lautan kesenangan dan kemewahan yang berlebihan.

Kesenangan hidup merupakan berkah bagi setiap orang manusia yang terlahir di dunia ini. Semua setelah diberikan kepada manusia. Pada mata sudah terdapat selera pandangan yang mengenakkan hati, demikian pula pada semua panca indriya. Dalam kita sudah diberi selera untuk menikmati apa yang terasa enak oleh mulut kita. Segala yang nampak enak itu, termasuk pula sex yang juga merupakan berkah bagi setiap orang manusia dan sudah menjadi hak setiap orang manusia untuk menikmatinya, sudah terbawa sejak kita lahir. Menikmati itu disebut kesenangan. Dan memang semua  itu sudah benar dan sudah menjadi hak kita utuk menikmati kesenangan yang datang kepada kita. Akan tetapi, berkah ini segera dapat berubah menjadi suatu bahaya yang amat besar, yang akan mungkin melahirkan malapetaka dan sengsara seperti sebuah kutukan! Yaitu pengejaran. Pengejaran akan yang enak-enak itulah yang merupakan bahaya paling besar di dalam kehidupan kita. Kenikmatan hidup memang sudah wajar dan menjadi hak kita untuk dapat menikmatinya.

Akan tetapi, kalau kita mengejarnya, didorong oleh si-aku yang ingin mengulang dan mengulang lagi, maka kita lalu menjadi hamba nafsu.

Kesenangan lalu menjadi cita-cita yang selalu kita kejar, menjadi tujuan pokok dalam kehidupan kita. Dan kalau sudah demikian halnya, maka terjadilah penyelewengan-penyelewengan dalam kehidupan ini. Demi mengejar kesenangan yang menjadi sasaran tujuan, maka kadang-kadang kita menggunakan segala cara.

Sex merupakan anugerah kenikmatan hidup, akan tetapi begitu dikejar- kejar, lalu timbullah perjinahan, perkosaan, pelacuran dan sebagainya. Harta benda merupakan anugerah kenikmatan hidup, namun pengejaran terhadap harta menimbulkan korupsi, pencurian, penipuan dan sebagainya lagi.

Oleh karena itu, seorang bijaksana tidak akan mengejar kesenangan dalam bentuk apapun juga. Hal ini sama sekali bukan berarti bahwa seorang bijaksana HARUS MENINGGALKAN atau MENJAUHI KESENANGAN. Sama sekali tidak demikian. Bukan menolak karena memang sudah menjadi haknya untuk menikmati kesenangan, melainkan TIDAK MENGEJAR!

Menikmati apa yang ada, itu berarti tidak mengejar sesuatu. Pengejaran selalu menimbulkan kekecewaan dan perasaan tidak puas terhadap apa yang ada, karena pengejaran ini dapat diselimuti dengan kata-kata halus seperti cita-cita, tujuan, harapan, ambisi dan sebagainya lagi. Dan kalau kita mau membuka mata dengan penuh kewaspadaan, mengamati segala yang menimpa diri kita TANPA MENILAI SEBAGAI BAlK MAUPUN BURUK, akan ternyatalah oleh kita bahwa di dalam segala sesuatu itu terkandung keindahan yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata lagi!

Di dalam apa saja! Dalam sakit, dalam kelaparan, dalam malapetaka, dalam kematian! Terdapat keajaiban dan kekuasaan yang menggerakkan seluruh isi alam mayapada ini. Dan kita ini hanya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari itu semua. Sekali kita memisahkan diri dan semua itu karena dorongan sang aku yang ingin senang sendiri, maka berarti kita telah memasuki neraka selagi masih hidup.

Siu Coan dan Hai-tok adalah orang orang yang selalu tidak pernah puas dengan keadaan yang ada. Bagi umum yang biasanya memiliki pendapat yang salah kaprah, sikap demikian itu benar. Orang tidak boleh merasa puas dengan hidupnya, orang harus selalu mencari kemajuan, demikian nasihat nenek moyang kita sejak jaman kuno dahulu. Dalam arti kata, orang harus selalu mengejar sesuatu, bercita-cita, bertujuan, berambisi, mencari sesuatu yang dianggap sebagai kemajuan! Orang harus mencani kemajuan!

KEMAJUAN! Apakah ini? Menurut umum, kemajuan adalah keadaan yang lebih baik dari pada keadaan kita sekarang. Dengan demikian, kita harus SELALU MENCARI kemajuan. Karena kemajuan itu tidak mungkin ada batasnya, bukan? Dengan demikian, kita akan mencari terus sampai mati, mencari YANG LEBIH. Dan ini dianjurkan oleh setiap pemerintah, setiap guru, setiap orang tua.

Kita lupa bahwa mencari yang lebih baik itu, berarti tidak puas dengan keadaan yang ada saat ini! Dan kalau kita sudah membiarkan diri dijangkiti penyakit mencari ini, maka selama hidup kita tidak akan dapat bahagia, tidak mungkin dapat menikmati kehidupan ini. Karena yang dapat dinikmati adalah ‘SAAT INI’, hanya saat inilah yang dapat kita nikmati! Bukan esok atau lusa!

Sekali kita terseret oleh arus mencari kemajuan, sampai matipun kita akan mencari kemajuan terus, tanpa dapat menikmati kehidupan saat kita hidup. Menikmati hidup adalah saat ini, sekarang ini, detik demi detik, bukan esok atau lusa yang hanya berupa khayalan belaka.

Apakah kalau tidak mencari kemajuan, bukan bearti bahwa kita menjadi mandeg, menjadi statis, menjadi apatis (acuh)? Sama sekali tidak! Tanpa mencari kemajuan, tanpa mengejar sesuatu yang menjadi tujuan atau cita-cita, maka yang ada hanyalah perbuatan yang dilakukan dengan dasar kebutuhan hidup. Tanpa adanya si-aku yang mengejar sesuatu, maka di dalam setiap pekerjaan kita akan merasakan suara kenikmatan dan kesenangan besar, karena tanpa adanya aku yang bercita-cita mengejar kemajuan, di dalam pekerjaan itu terdapat cinta kasih terhadap pekerjaan itu. Dan pekerjaan yang dilakukan dengan cinta kasih ini tentu saja membawa perbaikan-perbaikan.

Akan tetapi Siu Coan tidak puas dengan apa yang telah dicapainya. Dia ingin mencapai sesuatu yang lebih tinggi. Apa lagi setelah gurunya berada di situ dan gurunya mengatakan bahwa dia memperoleh ‘wahyu’, maka keinginannya untuk mengejar cita-citanya menjadi semakin kuat.

“Engkau harus dapat merampas kembali Giok-liong-kiam, Siu Coan. Tanpa itu, bagaimana engkau akan dapat berhasil menghimpun balatentara yang besar dan kuat? Balatentara yang besar dan kuat membutuhkan biaya yang tidak sedikit, dan untuk itu, Giok-liong-kiam harus dapat kita rampas!

“Mengapa Giok-Hong-kiam, suhu? Bukankah pusaka itu hanya sebuah pedang yang melambangkan keadaan seseorang yang menjadi jagoan nomor satu di dunia? Kukira itu hanya bualan dari San-tok belaka. Untuk apa? Aku tidak ingin menjadi jagoan nomor satu. Dan kalaupun pusaka itu merupakan benda berharga, berapa bisa kita dapatkan kalau dijualnya?”

“Ha-ha-ha-ha, engkau tahu satu tidak tahu dua. Engkau tidak tahu mengapa dahulu dengan susah payah aku merampas Giok-liong-kiam, dan tidak segan-segan menggunakan nama Siauw-bin-hud. Pedang itu mengandung rahasia penyimpanan harta karun yang tak ternilai harganya, saking banyaknya!”

Ong Siu Coan hanya baru mendengar berita angin saja tentang hal itu dan diapun tidak percaya, yaitu ketika diadakan pertemuan di dalam pesta hari ulang tahun Hai-tok.

“Ah, benarkah hal itu, suhu?”

“Bukan bualan… melainkan yang sesungguhnya demikianlah, muridku. Giok-liong-kiam itu mengandung rahasia penyimpanan harta karun yang luat biasa besarnya, cukup untuk membiayai balatentara yang besar.”

“Tapi… tapi bukankah pusaka itu sudah lama berada di tangan suhu?

Dengan demikian, tentu harta karun itu sudah berada di tangan suhu!”

Siu Coan memandang suhunya dengan sinar mata penuh perhatian dan penuh selidik. Hatinya tertarik sekali mendengar tentang harta karun, karena bagaimanapun juga, gurunya benar. Untuk dapat menghimpun tenaga balatentara yang besar, dia harus memiliki biaya yang amat banyak pula.

Akan tetapi kakek itu menggeleng kepala, membuat hati Siu Coan yang tadinya penuh harapan menjadi lemas kembali.

“Sayang sekali, sudah berbulan-bulan aku melakukan penyelidikan, akan tetapi belum juga dapat kutemukan rahasia itu. Sialan benar! Sudah kuselidiki dengan teliti, sudah kurendam dalam air sampai berbulan-bulan, namun tetap tidak dapat kutemukan rahasianya. Sialan! Dan sebelum aku berhasil, benda itu telah dicuri oleh Koan Jit.”

Siu Coan mengerutkan alisnya.

“Aihh, pantas kalau begitu… mengapa si Koan Jit itu mau merendahkan diri dan menjadi pembantu orang-orang bule. Andaikata dia bisa mendapatkan harta itu, tak mungkin dia mau merendahkan diri seperti itu. Aku berani bertaruh bahwa diapun kini kebingungan, tidak tahu bagaimana harus mendapatkan rahasia pedang Giok-Liong-Kiam itu… dan tidak dapat menemukan petunjuknya.”

“Kupikir demikianlah. Dan hal itu baik sekali, memberi kesempatan yang cukup bagi kita untuk mencoba merampasnya.”

“Merampasnya?”

“Kenapa tidak? Sekaranglah kesempatan kita yang paling baik. Aku sudah kau perkenalkan kepada Admiral dan diapun percaya kepadaku. Kita sudah memperoleh kepercayaan. Kita mempunyai kesempatan untuk menyerbu ke markasnya di Kanton dan merampas pedang itu.” “Ah, mana begitu mudah suhu? Tentu dia menyembunyikan pedang itu.” “Kita masuk dan menyelidiki. Mustahil kita berdua tidak akan dapat

menemukan benda yang dia sembunyikan di suatu tempat.”

“Akan tetapi, dia adalah komandan dari pasukan Harimau Terbang, dan di sana terjaga dengan ketat dan kuat!”

“Kau takut?”

“Tidak, suhu. Aku tidak takut… akan tetapi, kita berdua mana mungkin dapat menghadapi pasukan yang ratusan orang jumlahnya itu? Aku mempunyai akal, suhu… dan kalau siasatku dijalankan, kurasa lebih besar harapannya untuk berhasil merampas pedang pusaka Giok-liong-kiam itu.”

“Ha- ha-ha-ha… engkau memang selalu banyak akal dan pandai sekali!

Akal bagaimana itu yang hendak kaujalankan?”

“Begini suhu. Biarpun Koan Jit sudah menguasai pedang pusaka itu, akan tetapi melihat betapa dia masih saja berada di antara pasukan bule, hal itu menunjukkan bahwa diapun, seperti suhu, belum mampu memecahkan rahasia penyimpanan harta karun. Dia berada di dalam markas bule dan membentuk Pasukan Harimau Terbang, tentu hanya agar kedudukannya kuat dan tidak ada orang yang akan mampu merampas pedang pusaka itu. Nah, untuk dapat merampas pedang itu, kita harus mempergunakan siasat memancing harimau keluar dari sarangnya sambil membawa anaknya.”

“Eh, siasat macam apa itu? Kalau siasat memancing harimau keluar dari sarang… aku sudah tahu, akan tetapi memancing harimau keluar dari sarang sambil membawa annknya? Bagaimana itu?”

“Begini, kalau seekor harimau merasa terancam keselamatan anaknya, tentu dia akan melarikan diri keluar sarang dan menyelamatkan anaknya, membawa anaknya keluar dari dalam sarang yang terancam…”

“Ha-ha-ha-ha…!”

Perut gendut telanjang itu bergoyang-goyang ketika Thian-tok tertawa bergelak- gelak.

“Bagus, bagus! Memang, dengan demikian maka kita tidak perlu repot- repot mencari dimana dia menyimpan pusakanya itu. Coba teruskan, bagaimana siasatmu itu?”

“Untuk menghadapi ratusan orang Harimau Terbang, kita harus menggunakan sejumlah pasukan pula.”

“Kau hendak menggunakan pasukan bule di sini? Mana mungkin?” “Tidak, suhu. Ketika aku keluar dan Thian-te-pai, masih banyak anak buah yang setia kepadaku, dan mereka itu menantiku. Setiap waktu kalau aku

membutuhkan mereka, maka mereka itu semua akan membantuku. Aku sudah mempersiapkan mereka untuk kelak kalau aku sudah kuat, membentuk sebuah pasukan besar. Kalau hanya mengumpulkan dua tiga ratus orang saja, tidak sukar bagiku?”

“Hemm, bagus sekali. Lalu bagaimana?”

“Untuk tidak mencurigakan Koan Jit dan untuk memancing agar dia tidak ragu-ragu membawa keluar Giok-liong-kiam dari tempat persembunyiannya, sebaiknya kalau kita berdua memasuki markasnya secara menggelap, lalu bersembunyi dan melakukan pengintaian atas dirinya. Kemudian, biar pasukan istimewa yang sudah kupersiapkan itu melakukan penyerbuan kepada markas Harimau Terbang itu. Kalau dilakukan di waktu malam, tentu akan berhasil. Kepanikan di sana tentu akan memaksa Koan Jit berusaha untuk menyelamatkan dan menyingkirkan Giok-liong-kiam. Bagaimana pendapat suhu dengan siasat itu?

“Ha- ha-ha-ha, tadinya kukira bahwa hanya Koan Jit muridku yang paling hebat. Tidak tahunya engkau, malah melebihi dia, Siu Coan. Ah, aku tidak menyesal melihat wahyu itu dan mengambil keputusan untuk membantumu, muridku. Siasat itu bagus sekali dan cepat kerjakan. Aku sudah tidak sabar lagi untuk menanti lebih lama lagi. Aku ingin merampas Giok-liong-kiam dari tangan Koan Jit, juga ingin merampas nyawanya sekali!”

Siu Coan segera mempersiapkan rencananya. Dia menghubungi bekas anak buahnya, dan ternyata memang banyak sekali anak buah Thian-te-pang yang masih setia kepadanya, terutama mereka yang sudah memeluk Agama Kristen baru yang dipropagandakan oleh Siu Coan. Tidak kurang dari duaratus lima puluh orang dapat dia kumpulkan dengan rahasia, dan mereka itu rata-rata memiliki ilmu silat yang lumayan. Rencana diatur masak-masak, dan setelah dipilih malam yang baik, Siu Coan dan Thian-tok lalu menyelundup ke dalam markas Harimau Terbang. Hal ini tidak begitu sukar dilakukan karena mereka berdua memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.

Menjelang tengah malam, dua bayangan berkelebat di dalam markas Harimau Terbang yang sama sekali tidak pernah menyangka bahwa di dalam markas itu ada dua orang lihai yang menyelundup, juga sama sekali tidak tahu bahwa markas mereka yang tidak berapa besar itu telah dikepung oleh hampir tiga ratus orang anak buah Siu Coan.

Siu Coan dan Thian-tok sendiri sudah mengetahui letak kamar Koan Jit. akan tetapi mereka tidak berani sembrono memperlihatkan diri, hanya mengintai saja dari tempat gelap untuk nanti melihat reaksi dari gerakan Koan Jit kalau penyerbuan dimulai. Setelah saat yang ditentukan tiba, guru dan murid itu berpencar dan tak lama kemudian nampak api bernyala besar sekali di ujung barat dan di sebelah timur depan. Tentu saja Siu Coan dan gurunya yang membakar gudang ransum dari gardu itu setelah menyiram tempat itu dengan minyak yang mereka ambil dari lampu-lampu gantung. Nyala api itulah yang menjadi tanda bagi pasukan anak buah Siu Coan untuk menyerang.

“Kebakaran! Kebakaran!”

Orang-orang di dalam markas itu berteriak-teriak dan suasana menjadi panik ketika mereka lari berserabutan untuk membantu memadamkan api. Ada yang masih setengah telanjang karena terbangun dari tidur.

Koan Jit sendiri meloncat dan keluar kamar setelah mengenakan sepatu dan pakaiannya. Akan tetapi pada saat itu, orang-orang berteriak karena datang luncuran anak- anak panah dari empat penjuru memasuki markas itu.

“Api… api harus dipadamkan dulu!”

Suasana menjadi semakin ribut, apalagi ketika kini pasukan anak buah Siu Coan datang menyerbu. Pintu markas jebol dan banyak pula anak buah Siu Coan yang berlompatan dari atas tembok. Terjadilah pertempuran mati-matian di malam buta itu. Melihat ini, tentu saja Koan Jit menjadi terkejut bukan main, ia tahu bahwa yang menyerbu tentulah para pejuang. Kalau bukan, siapa lagi yang berani menyerbu markas Harimau Terbang? Dia segera teringat akan pusaka-pusakanya. Musuh menyerang dengan panah-panah berapi, dan ada sebagian bangunan yang sudah menjadi lautan api di samping gudang dan gardu yang kebakaran tadi.

Tepat seperti yang sudah diduga oleh Siu Coan, Koan Jit tentu saja sayang kepada pusaka-pusakanya, terutama Giok-Liong-Kiam. Dan tepat pula seperti yang telah diduga oleh Siu Coan, selama ini Koan Jit dengan sia-sia mencoba untuk mencari tahu akan rahasia Giok-Liong-Kiam, mencari rahasia harta karun yang kabarnya disimpan di dalam pedang pusaka itu.

Siu Coan dan Thian-tok sudah waspada. Sejak tadi mereka memang sudah mengintai dan mengamati gerak-gerik Koan Jit. Ketika melihat Koan Jit tidak cepat mengatur barisannya atau memimpin pemadaman api melainkan lari ke arah belakang markas, keduanya lalu cepat menyelinap dan membayangi. Ternyata Koan Jit memasuki sebuah gudang bahan bangunan yang agaknya sudah tidak terpakai dan pintunya yang tebal itu digembok.

Koan Jit yang memegang kuncinya, dan dia kini membuka pintu gudang itu, lalu menyelinap masuk. Siu Coan dan Thian-tok sudah siap siaga. Tak lama kemudian, Koan Jit meloncat ke luar dan di punggungnya sudah nampak bungkusan yang cukup besar. Tiba-tiba saja, Siu Coan menyerangnya dengan dahsyat sekali, menghantam ke arah dadanya dengan pukulan maut yang amat kuat.

Koan Jit terkejut, maklum bahwa pukulan yang ditujukan kepadanya dengan mendadak itu amat berbahaya. Diapun tidak mempunyai lain jalan kecuali menangkis pukulan yang sudah menyambar dekat itu.

“Desss!!”

Akibatnya, tubuh Siu Coan hampir terjengkang, akan tetapi Koan Jit juga merasa betapa tubuhnya terguncang hebat, dan pada saat itu, tiba-tiba saja bungkusan di punggungnya itu terlepas.

“Hehh…!” Dia membalik sambil mengirim tendangan, akan tetapi orang yang merampas buntalannya itu dapat mengelak sambil tertawa bergelak.

Koan Jit memandang dengan mata terbelalak dan mukanya pucat, karena perampas buntalannya itu bukan lain adalah Thian-tok, gurunya! Dan penyerangnya tadi adalah Siu Coan, sutenya!

“Kalian manusia-manusia curang!” bentaknya marah sekali. “Ha-ha-ha-ha… kau masih bisa bicara tentang curang?”

Thian-tok berkata sambil membuka buntalan itu dan melongok isinya. Dia melihat Giok-Liong-Kiam bersama beberapa batang pedang dan juga hiasan dan batu giok dan emas permata lainnya.

“Ha-ha-ha, terima kasih… engkau meminjam Giok-liong-kiam dan mengembalikan berikut bunganya, ha-ha-ha…!”

“Kembalikan itu!”

Koan Jit menyerang dengan ganasnya, menubruk dan menghantam ke arah gurunya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya mencengkeram ke arah buntalan.

“Desss!”

Thian-tok menangkis dan guru ini terkejut bukan main. Dia terpelanting dan hampir roboh. Untung pada saat itu, Siu Coan sudah menyerang lagi sehingga Koan Jit tidak mampu mendesak gurunya, dan kini Koan Jit berkelahi dengan mati-matian melawan Siu Coan.

Sementara itu, para anak buah Siu Coan sudah mulai menyerbu ke dalam dan terjadilah pertempuran yang kacau balau karena benteng itu hanya diterangi oleh sinar api yang membakar bangunan-bangunan. Dan tiba-tiba saja terdengar bunyi terompet, tambur dan ledakan-ledakan senapan. Beberapa orang anak buah Siu Coan roboh terjungkal.

Melihat betapa pasukan bule sudah datang dan tentu saja mereka itu membantu pasukan Harimau Terbang, Siu Coan maklum bahwa keadaan mereka amat berbahaya. Juga Thian-tok maklum akan bahaya. Tadipun ketika mengadu tenaga dengan murid pertamanya, dia hampir roboh dan hal ini saja membuktikan bahwa betapapun lihainya, usianya yang sudah amat tua mengurangi banyak tenaganya.

“Siu Coan, mari kita pergi!”

Berkata demikian, kekek ini mengeluarkan suara auman yang amat hebat. Koan Jit yang hendak mengejar, seketika lemas dan tenaga sinkangnya banyak berkurang karena dia harus mengerahkan tenaga itu untuk menjaga jantungnya yang tiba-tiba saja terguncang hebat. Gurunya ini memang hebat sekali Ilmu Sin-houw Ho-kangnya, dan kesempatan itu dipergunakan oleh Siu Coan untuk menghantamnya.

“Dukk!!”

Koan Jit menggunakan Ilmu Kim-siong-ko (Ilmu Baju Besi), semacam iImu kekebalan, akan tetapi biarpun dia tidak terluka, tetap saja dia terlempar dan ketika dia meloncat kembali, guru dan murid itu telah lenyap menghilang ke dalam kegelapan malam.

Siu Coan segera memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk mundur. Dan melihat munculnya pasukan bule yang menggunakan lampu senter yang besar dan terang, juga senapan-senapan yang ampuh, anak buah Siu Coan mengundurkan diri dan meninggalkan korban yang tidak kurang dari limapuluh orang banyaknya, walaupun di pihak pasukan Harimau Terbang juga sedikitnya ada tigapuluh orang yang tewas dan beberapa puluh orang yang luka-luka!

Perang, macam apapun juga adanya perang itu, memang kejam dan juga menyedihkan sekali. Lihat saja pertempuran antara anak buah Siu Coan dan pasukan Harimau Terbang, anak buah Koan Jit. Mereka itu berbunuh-bunuhan, sampai puluhan orang banyaknya, bahkan hampir seratus orang yang menjadi korban. Untuk apa? Pasukan Harimau Terbang adalah pasukan bayaran dan hal ini dapat kita maklumi. Mereka memang bekerja untuk perang, walau betapa keji dan kejampun sifat pekerjaan itu. Mereka akan membunuh siapa saja karena hal itu adalah pekerjaan mereka, dan untuk itu mereka digaji setiap bulan. Akan tetapi, biarpun mereka berperang karena itu memang menjadi pekerjaannya yang dibayar, mereka itu sebetulnya berperang dan mengorbankan nyawa hanya demi kepentingan seorang Koan Jit saja! Andaikata tidak ada Koan Jit dan Giok liong-kiam, belum tentu puluhan orang Harimau Terbang itu tewas pada malam hari itu!

Dan puluhan orang anak buah Siu Coan itu! Mereka juga tewas dan mati konyol! Untuk apa? Tentu saja merekapun memiliki alasan yang kuat, yang mendorong mereka untuk nekat dan mati-matian berbunuh-bunuhan dengan pihak musuh. Mungkin ada yang berdalih agama seperti yang dipropa gandakan oleh Siu Coan. Memang Siu Coan suka mempergunakan agama untuk mencapai tujuannya. Mungkin perang di malam hari itu dianggap sebagai perang suci atau perang salib seperti yang dipropagandakan oleh Siu Coan, memerangi orang-orang yang jahat.

Atau mungkin, juga Siu Coan mempergunakan propaganda kepatriotan. Mereka itu dianjurkan untuk memerangi Harimau Terbang karena itu adalah perbuatan yang patriotik! Membela bangsa, negara dan tanah air, dan orang- orang yang menghambakan diri kepada bangsa bule! Dan tentu saja ada pula di antara mereka yang berperang karena ambisi, karena mengharapkan kemenangan dan menerima imbalan jasa dari Siu Coan.

Apapun alasannya, apapun propaganda yang diajukan orrang-orang yang berkepentingan untuk mendorong rakyat untuk berperang, untuk berbunuh bunuhan, adalah keji? Dan celakanya, ini merupakan kenyataan pahit sekali yang terpaksa harus kita telan, mereka yang mempropagandakan perang itu dengan dalih agama, potitik, bangsa, negara, tanah air, bendera, atau apa saja, mereka yang menjadi pendorong-pendorong perang ini sendiri, tidak pernah ikut berperang!

Mereka hanya berkaok-kaok senyaring mungkin untuk mendorong rakyat seperti orang yang menghasut segerombolan serigala, dan apabila keadaan membahayakan bagi diri mereka, apabila sudah tidak ada lagi harapan menang bagi mereka, maka beberapa gelintir manusia ini, paling dulu melarikan diri sambil tidak lupa membawa barang berharga, menyelamatkan diri tanpa memperdulikan lagi kepada mereka yang tadinya berperang karena mereka hasut, dan tidak perduli lagi kepada mereka yang sudah mengorbankan nyawa, harta dan keluarga!

Terkutuklah mereka itu! Dan ini bukan dongeng, bukan pula fitnah, melainkan dapat kita lihat setiap waktu, dapat kita pelajari dari sejarah, bahkan peda saat Anda membaca ini, masih terjadi di segala pelosok dunia ini!

Menyedihkan, bukan? Kalau begitu, mengapa kita begini bodoh? Karena sesungguhnva, kitalah yang bodoh! Kitalah yang membiarkan diri kita menjadi kerbau kerbau yang dicocok hidungnya dan dituntun ke ‘rumah jagal’. Bagaimana kalau kita semua, seluruh rakyat di dunia ini, tidak lagi mau mengangkat senjata. Tidak mau berbunuh-bunuhan? Kalau ada para pembesar, para kepala negara, dan kepala atau komandan balatentara, ingin perang, biarlah mereka sendiri yang maju. Jenderal lawan jenderal, kepala negara lawan kepala negara, menteri lawan menteri. Dan kita, rakyat sedunia, menjadi penonton saja seperti kalau kita nonton pertandingan tinju. Lucu dan menyenangkan sekali, bukan?

Serangan di malam hari itu tidak hanya melenyapkan Giok-liong-kiam dan beberapa benda pusaka dari tangan Koan Jit, akan tetapi bahkan juga melenyapkan Koan-Jit dalam benteng! Pasukan Harimau Terbang lalu dibubarkan oleh pasukan lnggeris karena komandannya hilang atau menghilang. Sebaliknya, Admiral Elliot juga kehilangan Ong Siu Coan yang pergi tanpa pamit sambil membawa sedikitnya dua puluh buah senapan dan pistol yang dicurinya bersama gurunya.

Dan mulai saat itu, Ong Siu Coan, dibantu Thian-tok, mulai mengumpulkan para anak buahnya, bekas anak buah Thian-te-pang yang setia kepadanya, banyak pula menerima pemuda-pemuda dari luar, dan dia mulai membentuk sebuah perkumpulan yang diberi nama Pai Sang-ti Hui (Perkumpulan Pemuja Tuhan). Perkumpulan ini bentuknya seperti perkumpulan Agama Kristen, dan karena melihat bahwa yang menjadi pemimpin adalah Ong Siu Coan dan semua anggautanya mengaku sebagai orang Kristen, juga karena Pai Sang-ti Hui ini nampaknya tidak memusuhi orang-orang kulit putih, maka hubungan antara perkumpulan ini dengan orang kulit putih nampak baik.

Pai Sang-ti Hui ini hanya bergerak memusuhi pemerintah Ceng saja. Akan tetapi, karena Ong Siu Coan adalah orang yang sejak kecilnya digembleng ilmu silat dan Agama Buddha, Taoism, dan juga Khong-hu-cu, maka Agama Kristen yang dipimpinnya itu sudah banyak menyeleweng dan aselinya, bahkan berbau mistik! Juga tidak mengharamkan atau melarang perbuatan yang sifatnya penggunaan kekerasan, karena memang semua anggautanya diajar ilmu silat dan ilmu perang.  

Seperti telah disangka semula, pasukan Ceng yang marah karena kegagalan mereka membasmi para pemberontak di dalam guha tepi pantai lautan dimana diadakan pesta hari ulang tahun Hai-tok, mereka lalu mengerahkan perahu-perahu dipenuhi pasukan dan berlayarlah mereka menuju ke Pulau Layar, tempat tinggal Hai-tok dan keluarganya. Diserbulah pulau itu, akan tetapi ketika mereka tiba di pulau itu, Hai- tok dan keluarganya telah lama meninggalkan pulau. Karena itu, para tentara Mancu menjadi marah dan mereka menghancurkan segala yang berada di pulau itu setelah merampasi semua benda berharga, bahkan lalu membakar semua bangunan yang berada di pulau.

Tak seorangpun anak buah Hai-tok yang tinggal di situ dan tidak jatuh korban. Dengan kecewa, akan tetapi mengangkut barang-barang perabot rumah tangga yang lumayan karena Hai-tok yang menjadi majikan pulau itu merupakan seorang kaya, pasukan Ceng itu pulang ke daratan membawa barang-barang rampasan mereka.

Kemana perginya Hai-tok, keluarganya dan anak buahnya? Kakek yang cerdik ini sudah dapat menduga akan datangnya serbuan, maka sebelum serbuan datang, dia mengajak anak buahnya untuk meninggalkan Pulau Layar dan mereka bersembunyi di sebuah pulau yang lebih jauh dan terpencil lagi, pula pulau ini amat berbahaya karena di situ terdapat banyak sekali ular-ular berbisa.

Namun, Hai-tok adalah seorang sakti dan bersama anak buahnya, dia membasmi dan mengusir ular-ular ini dan tinggal di pulau yang bentuknya memanjang seperti tubuh ular, melingkar dan karena bentuknya itu, maka pulau ini disebut Pulau Naga. Memang bukan pulau yang terlalu subur, kalah baik dengan Pulau Layar, akan tetapi untuk tempat persembunyian, lebih menguntungkan karena pulau ini dilindungi ombak-ombak yang besar dan berbahaya sehingga sukarlah bagi musuh untuk menyerangnya. Dan pula, Hai- tok membawa pula harta bendanya, dan sebagai orang kaya raya, dia tidak begitu membutuhkan tanah subur. Semua keperluan makan mudah dibeli dan karena kini mereka kehilangan rumah dan perabot-perabot sehingga harus mengeluarkan banyak uang, maka Hai-tok dan anak buahnyapun kembali kepada pekerjaannya yang dahulu, yaitu menjadi bajak laut!

Pada suatu hari, di waktu lautan amat tenang dan matahari amat cerah, nampak sebuah perahu layar yang cukup besar dan penuh dengan anak buah. Perahu itu panjang dan bentuknya seperti seekor naga, bahkan kepalanya juga diukir dengan amat indahnya. merupakan kepala seekor naga yang selain indah juga nampak seperti hidup saja. Juga bendera besar hitam yang berkibar di ujung tiang layar itu disulam gambar seekor naga laut yang amat mengerikan, moncongnya terbuka lebar, matanya mencorong dan cakarnya siap untuk menerjang. Layarnya sendiripun digambar dengan garis-garis berwarna putih, hijau dan hitam, lorek-lorek seperti perut naga. Anak buahnya memakai pakaian seragam pula, gagah-gagah dan bersenjata lengkap. Layarnya berkembang sampai menggembung ditiup angin laut dan kapal itu meluncur cepat sekali.

Seorang yang bertubuh ramping berdiri sambil memandang jauh ke depan, tangan kirinya memegang sebatang tongkat putih yang runcing. Itulah tulang binatang laut yang amat kuat dan keras seperti baja dan mengerikan. Akan tetapi, orang yang jelas merupakan pimpinan dan anak buah di perahu naga itu ternyata adalah seorang wanita. Masih amat muda lagi, dan amat cantik jelita. Usianya tidak akan melebihi delapanbelas atau sembilanbelas tahun, namun sikapnya amat berwibawa.

Pakaiannya ringkas, dan bajunya yang berlengan panjang itu ditutup rompi yang terbuat dari kulit buaya laut yang melindungi tubuhnya dari pundak sampai ke lutut. Pingangnya yang kecil ramping memakai sabuk yang lebar berwarna kuning dan biarpun tubuhnya memakai rompi, namun pakaian rangkap itu tidak mampu menyembunyikan tonjolan dadanya yang menggembung keras dan padat. Rambutnya dibiarkan terurai, hanya kepalanya di atas telinga diikat dengan sehelai kain putih. Tidak ada hiasan menaburi dirinya, kecuali setangkai bunga dan emas yang menempel di ikat kepalanya, di atas telinga kiri. Itulah Kiki, puteri tunggal Hai-tok yang kini menjadi pemimpin bajak laut di atas perahu besarnya yang berbentuk naga laut!

Sejak beberapa bulan, ia malang-melintang di atas lautan, tak pernah melepaskan perahu-perahu atau kapal-kapal pemerintah Ceng terutama, walaupun ada pula perahu saudagar dirampas barang-barangnya. Kalau perahu-perahu saudagar, hanya dirampas barang-barangnya saja. Akan tetapi jangan harap perahu pemerintah Mancu akan diampuni. Bukan hanya dibajak, akan tetapi semua orangnya dibunuh dan juga kapalnya dibakar! Bahkan kadang-kadang, pemimpin bajak yang luar biasa beraninya ini berani menyerang kapal asing, kapal orang-orang kulit putih sehingga beberapa kali hampir saja perahunya celaka terkena serangan meriam-meriam orang kulit putih.

Para anak buah perahu layar besar Naga Laut inipun bukan orang-orang blasa, melainkan anak buah Hai-tok yang pilihan. Mereka itu rata-rata memiliki ilmu silat yang cukup tinggi, dan terutama sekali, setiap dari mereka itu pandai sekali berenang dan menyelam, mahir ilmu di dalam air seperti ikan-ikan saja, walaupun tentu saja kalau dibandingkan dengan Kiki, kepandaian mereka itu belum ada artinya. Biarpun baru beberapa bulan saja beroperasi sejak pindah ke Pulau Naga, karena banyaknya korban yang sudah jatuh ke tangan para bajak ini, maka terkenallah nama bajak laut Naga Laut ini, yang mudah dikenal dari bentuk perahunya dan bentuk benderanya. Para anak buahnya bersenjata lengkap, ada regu bertombak, regu berpedang, dan ada pula regu golok dan perisai. Jumlah mereka yang menjadi anak buah Kiki itu tidak kurang dari lima puluh orang, kesemuanya ahli-ahli silat dan ahli renang yang sudah biasa berkelahi seperti ikan-ikan hiu yang haus darah.

Tiba-tiba seorang anak buah perahu itu yang tadi memanjat tambang ke atas puncak layar, berseru.

“Ahoooiiii… perahu besar di depan, samping kanan!”

Mendengar ini, Kiki cepat menoleh ke sana. Memang belum nampak karena terhalang oleh alunan gelombang, akan tetapi ia cepat memerintahkan agar perahunya memutar haluan ke kanan. Tak lama kemudian, benar saja nampak sebuah perahu besar sekali, hampir dua kali lebih besar daripada perahunya sendiri, sedang berlayar ke arah barat, ke daratan. Dan dari keadaan serta bendera kapal itu, mudah diduga bahwa kapal atau perahu besar itu milik pemerintah.

Bukan main girangnya hati Kiki. Ia amat membenci pemerintah Mancu. Bukan hanya membenci karena Bangsa Mancu sudah menjajah sampai ratusan tahun, bukan pula hanya karena pemerintah Mancu bersikap lemah dan pengecut terhadap orang-orang barat, melainkan pertama karena pemerintah Ceng membakar Pulau Layar, dan kedua karena ia sudah mendengar bahwa suhengnya, Lee Song Kim, kini menjadi kaki tangan pemerintah penjajah. Bahkan ada kabar bahwa Lee Song Kim yang mengkhianati guru sendiri, dan dialah pelapor kepada pasukan Ceng ketika diadakan ulang tahun ayahnya sehingga pesta itu digempur dan diserang oleh pemerintah Ceng. Ia benci pemerintah Ceng. Ia benci suhengnya!

“Tambah kecepatan, dan potong jalan, jangan membiarkan perahu anjing- anjing Mancu itu mencapai daratan lebih dulu dan kita!” teriak Kiki dengan gembira dan seluruh urat di tubuhnya sudah menegang dalam gairahnya untuk segera turun tangan menyerang perahu musuh itu.

Kiki sama sekali tidak perduli melihat besarnya kapal, walaupun ia dapat menduga bahwa pasukan yang berada di kapal itu menurut ukuran kapal, tentu kurang lebih dua kali lebih besar dari pada jumlah pasukannya sendiri. Perahu Naga itu bentuknya memang dibuat istimewa sehingga dapat berlayar dengan luar biasa cepatnya. Mereka memotong jalan dari kiri dengan kecepatan yang membuat perahu itu meluncur seperti terbang. Mereka sudah mendekati perahu besar berbendera pangkat seorang pejabat tinggi. Dan tentu saja pasukan yang berada di perahu besar itu sudah melihat munculnya perahu itu, bahkan sudah mengenalnya sebagai perahu bajak.

Terdengar teriakan-teriakan menyambut Bajak Naga Laut, dan para perajurit dengan tombak di tangan siap berjajar di tepi perahu. Betapapun ganasnya bajak itu dikabarkan orang, para perajurit yang merasa lebih banyak itu tidak takut, apalagi mereka kini sedang mengawal seorang pembesar istana yang berpangkat Pangeran. Sang Pangeran yang sudah tua itu, di kamarnya mendengar akan adanya bajak laut dan dengan tenang dia mengatakan bahwa kalau bisa agar dihindarkan bentrokan, kecuali kalau tidak ada jalan lain.

Pangeran itu bernama Ceng Tiu Ong, seorang pangeran tua yang di kota raja terkenal sebagai seorang pejabat yang menjadi penasihat kaisar. Pangeran ini disegani orang karena adil dan berani, akan tetapi karena adil dan beraninya itu, diapun dibenci banyak pembesar yang korup, dan karena kaisar mengalami hasutan-hasutan mereka, Pangeran Ceng Tiu Ong ini agak disingkirkan atau dijauhi sehingga kedudukannya kini tidak penting lagi, hanya pengurus perpustakaan istana saja, karena dia memang seorang ahli sastera. Pangeran Ceng Tiu Ong ini seorang peranakan Mancu, ayahnya seorang pangeran Mancu dan ibunya dari selir, seorang perempuan hari dari utara.

Pada hari itu, dia bertugas mengambil kitab-kitab kuno dari sebuah kuil tua di Mukden, dan karena penjalanan darat selain jauh melelahkan juga berbahaya dengan adanya pemberontakan-pemberontakan, maka dari Mukden dia dikawal sampai ke tepi laut dan kini hendak kembali ke kota raja melalui lautan, dikawal oleh seratus orang perajurit. Selama dalam pelayaran siang malam, dia berada di dalam kamar kapal saja mempelajari kitab-kitab kuno yang amat banyak jumlahnya dan merupakan benda-benda kuno yang amat besar harganya dan nilainya itu. Ketika dia menerima kabar akan munculnya perahu Bajak Naga Laut, dia tenang-tenang saja dan masih melanjutkan, memeriksa buku, hanya memesan kepada anak buahnya agar jangan menyerang mereka, bahkan kalau mungkin menghindarkan bentrokan- bentrokan.

Diam-diam di lubuk hatinya, pangeran ini tidak menaruh kebencian, sebaliknya malah mengagumi para patriot yang berjuang untuk membebaskan tanah airnya dari penjajah Bangsa Mancu. Pangeran ini, biarpun peranakan Mancu, namun dari banyak membaca sejarah dan kitab-kitab kuno, tahu betapa busuknya penjajahan dah betapa menderitanya rakyat yang terjajah. Juga dia banyak membaca, bahkan berkenalan dengan para pendekar dan patriot walaupun dia tidak mau mengotori tangannya dengan mencampuri urusan pemberontakan, apa lagi persekongkolan.

Pada waktu melaksanakan tugas mengambil kitab-kitab dari kuil kuno di Mukden ini, dia pergi sendirian saja, tidak mengajak keluarganya. Akan tetapi dia tidak mengenal Kiki dan watak gadis yang seperti ikan hiu ganasnya itu. Kiki telah memerintahkan orang-orangnya untuk menurunkan perahu-perahu kecil dan setiap perahu ditumpangi lima orang anak buahnya, kemudian perahu-perahu kecil yang amat lincah itu didayung cepat-cepat membentuk formasi yang mengepung perahu besar yang hendak dibajak.

Sebelumnya ia telah mengatur siasat dan kini para anak buahnya, dengan menumpang delapan perahu, berjumlah empatpuluh orang, sudah berluncuran mengepung perahu besar. Para perajurit di geladak perahu besar itu sudah siap dengan tombak mereka dan berteriak-teriak memaki, karena mereka sama sekali tidak takut melihat jumlah bajak yang hanya setengah jumlah mereka itu. Akan tetapi Kiki mengeluarkan seruan nyaring disusul oleh tiupan tanduk yang mengeluarkan suara berdengung dalam dan sampai terdengar jauh, dan itulah tanda penyerangan bagi dua buah perahu kecil yang berada di depan kapal lawan. Sepuluh, orang anak buahnya berloncatan dan memanjat tali kapal itu, menyerang ke atas. Mula-mula ketika mendekati kapal, mereka berlindung di balik perisai untuk menghindarkan diri dari serangan anak panah, kemudian setelah memanjat mereka berlindung pada tubuh perahu lawan. Tentu saja para perajurit yang berada di atas dek berusaha untuk

mencegah mereka naik dengan penyerangan tombak-tombak mereka. “Sayap kiri maju!”

Kiki membentak sambil menudingkan telunjuk tangan kanannya ke arah bagian kiri dan tangan kirinya memegangi tombak tulang ikan yang menggiriskan itu. Pembantunya meniupkan aba-aba itu, dan sepuluh orang anak buah dan dua perahul lainnya mulai memanjat dan berloncatan ke atas, disusul pula oleh aba-aba yang dikeluarkan Kiki, sehingga kini empatpuluh orang anak bahnya secara bertubi-tubi telah mulai menyerang ke atas.

Serangan yang dulakukan dari empat penjuru itu sempat mengacaukan pertahanan para perajurit yang berlarian ke sana ke mari. Apalagi ketika Kiki kembali memberi aba-aba, dan sepuluh orang sisa anak buahnya, setelah perahu naga mendekat, lalu melayangkan anak panah berapi yang tentu saja membuat suasana di kapal menjadi semakin panik karena ada panah api yang mengenal layar dan membakar perahu itu!

Tang Ki atau Kiki memang hebat. Ia bukan saja mempelajari ilmu silat tinggi dan ilmu dalam air dari ayahnya, akan tetapi juga mempelajari siasat pertempuran dengan kapal, dan dalam kecerdikannya dan kelincahanya, ia malah tidak kalah oleh ayahnya sendiri.

Kini empatpuluh orang anak buahnya itu telah berhasil naik ke atas perahu lawan dan sudah terjadi pertempuran yang mati-matian. Iapun cepat menyuruh anak buahnya mendekatkan perahu dan dalam jarak duapuluh lima meter, ia sendiri yang memegang tombak itu yang ujungnya berkait dan dipasangi tali panjang, dan dilontarkannya tombak itu yang tepat mengenai tubuh kapal dan mengait! Dua perahu itu sudah bergandeng kini dan dengan cara yang demonstratip sekali, setelah anak buahnya menjaga agar tali itu tetap menegang, Kiki sambil membawa senjatanya lalu meloncat ke atas tambang menuju ke kapal musuh!

Melihat ini, semua anak buahnya kagum, dan pihak musuh terbelalak dan merasa jerih sekali. Apalagi setelah dengan teriakan peanjang yang melengking nyaring, Kiki meloncat ke atas geladak perahu musuh, dan begitu disambut oleh empat orang perajurit, sekali ia menggerakkan tombaknya derigan putaran cepat, empat orang perajurit itu mengaduh dan terjungkal tewas! Makin serulah kini perkelahian di atas geladak kapal musuh itu, antara empatpuluh anak buah bajak melawan seratus orang perajurit di atas perahu Ceng itu.

Akan tetapi amukan Kiki memang hebat. Senjata-senjata tajam yang menuju ke arah tubuhnya yang terbungkus kulit buaya laut itu dibiarkannya saja dan bacokan pedang atau golok, tusukan tombak, semua meleset ketika hinggap di kulit buaya yang melindungi tubuhnya yang ramping. Akan tetapi setiap tusukan atau pukulan tombak tulang ikan di tangannya itu pasti merobohkan lawan, karena senjata ini mengandung bisa yang ampuh!

Teriakan-teriakan dan guncangan-guncangan yang terjadi itu mengejutkan Pangeran Ceng Tiu Ong yang sedang tenggelam di dalam sebuah kitab kuno yang dipelajari isinya. Dia bukan ahli silat, akan tetapi dari kepandaiannya membaca huruf-huruf kuno sekali, tahulah dia bahwa kitab yang dibacanya itu merupakan sebuah kitab rahasia peninggalan pendeta Buddhis Tat Mo Couwsu yang entah bagaimana dapat terselip di dalam kumpulan kitab-kitab kuno di kuil Mukden itu! Hatinya merasa girang sekali. Biarpun dia sendiri lebih suka ‘bersilat’ dalam kitab-kitab kuno, akan tetapi puteri tunggalnya, yang pada waktu itu berusia sembilanbelas tahun, merupakan seorang ahli silat tingkat tinggi yang amat disegani orang di kota raja. Bahkan dengan adanya puterinya itulah, maka sampai sekarang dia selamat karena musuh-musuhnya tidak ada yang berani sembarangan turun tangan.

Hal ini tidak mengherankan, karena puterinya itu adalah seorang murid dari keturunan keluarga Pulau Es yang terkenal memiliki ilmu kepandaian silat yang amat tinggi!

“Wah, ini kitab untuk anakku. Tentu ia senang sekali kalau sudah kuterjemahkan untuknya,” pikirnya, dan pada saat itulah dia diganggu kegaduhan di atas dek.

Pangeran Ceng Tiu Ong menyimpan kembali kitab itu dan diapun melangkah ke luar dari dalam kamarnya. Dapat dibayangkan betapa kagetnya melihat pertempuran di atas dek itu, lebih kaget lagi melihat mayat-mayat bergelimpangan dan darah membanjiri dek kapalnya!

“Berhenti! Tahan senjata dan berhentilah berkelahi!” teriaknya.

Para perajurit yang sudah kehilangan seperempat jumlah pasukannya segera menahan senjata dan mundur.

Melihat munculnya seorang laki-laki yang meneriakkan agar pertempuran dihentikan, Kiki juga berseru agar orang orangnya mundur dan menahan senjata mereka. Biarpun di antara orang-orangnya ada yang tewas dan terluka, namun jumlahnya kurang dari sepuluh orang, berarti bahwa pihaknya sedang mendesak dan memperoleh kemenangan. Melihat laki-laki itu yang ditaati para perajurit, ia dapat menduga bahwa tentu itulah pemimpinnya, maka dengan langkah tegap dan gagah, iapun maju menghampiri dan menghadapi Pangeran Ceng Tiu Ong. Pangeran ini sejenak memandang dengan heran, kagum dan juga penasaran. Inikah pemimpin para bajak yang liar dan ganas ini? Sungguh sukar dipercaya.

“Siapakah engkau dan mengapa kalian menyerang perahu kami?” tanyanya, suaranya halus, akan tetapi Kiki merasakan kewibawaan pada diri kakek yang nampaknya halus dan sabar.

“Kami adalah bajak laut yang terkenal di sini… Bajak Naga Laut, dan akulah pemimpinnya. Apakah engkau pemimpin pasukan pemerintah Mancu ini? Kalau begitu, majulah dan lawanlah aku!” Berkata Demikian, Kiki melintangkan senjatanya yang istimewa itu.

Kakek itu tersenyum pahit dan memandang ke sekeliling, ke arah mayat mayat malang melintang itu dengan pandang mata sedih.

“Siancai… orang-orang berbunuh-bunuhan hanya untuk harta. Betapa rendah dan kotornya! Kalian bajak laut tentu ingin membajak kami dan mengambil barang-barang berharga kami, bukan? Nah, lakukanlah. Ambillah semua yang kalian kehendaki, asal seperti buku-buku tua itu jangan kalian ambil. Ambilah dan jangan melakukan pembunuhan-pembunuhan lagi.”

Kiki melongo. Belum pernah selama menjadi pemimpin bajak, ia bertemu dengan seorang pembesar seperti ini. Menyerahkan saja barangnya untuk diambil begitu saja. Betapa pengecutnya! Tentu ini seorang pengecut, seorang penakut yang mungkin sudah terkencing di celananya.

“Huh, tak tahu malu! Engkau takut mati?” bentaknya.

Dan senjata Kiki berkelebat, tahu-tahu ujung senjata yang runcing itu telah menempel di leher orang tua itu. Pangeran Ceng Tiu Ong merasa betapa benda itu amat dingin, namun berkedippun dia tidak!

“Nona, engkau masih muda… tidak pandai mengenal orang. Bagaimana aku yang sudah hidup puluhan tahun ini takut mati? Tidak, kalau engkau hendak membunuh, bunuhlah. Aku tidak takut mati. Aku hanya merasa kasihan kepadamu.”

Senjata itu turun lagi.

“Kasihan kepadaku? Maksudmu?”

“Engkau ini seorang gadis yang masih muda belia, akan tetapi melumuri kedua tanganmu dengan dosa, mengerahkan anak buahmu untuk membunuhi banyak orang, bahkan mengorbankan nyawa anak buahmu hanya untuk merampas harta. Nah, aku ingin mengindarkan engkau berbuat dosa lebih banyak. Kalau ingin harta, ambillah saja.”

Wah, kembali Kiki menjadi bengong. Orang ini memang sama sekali tidak takut dan hampir saja ia menduga bahwa orang ini agaknya memiliki kesaktian. Kalau tidak, bagaimana nyawanya sudah berada di ujung senjatanya masih bersikap demikian beraninya?

“Orang tua, siapakah engkau?”

“Aku Pangeran Ceng Tiu Ong dari kota raja,” jawab yang ditanya dengan nada suara datar, sama sekali tidak memperlihatkan kesombongan atau ingin memperoleh keuntungan dari namanya.

Mendengar ini, anak buah bajak berteriak-teriak. “Bunuh dia! Bunuh pangeran Mancu!”

“Hemm, kaudengar sendiri, pangeran. Kami bukan hanya bajak biasa. Kami bajak yang berjiwa pahlawan. Kami memusuhi pemerintah penjajah Mancu dan orang-orang kulit putih!”

“Ahhh!” Pangeran itu tekejut dan sepasang matanya kini memandang kagum kepada Kiki.

“Kiranya engkau seorang patriot wanita? Wah, kalau begitu, aku tidak dapat banyak bicara lagi. Terserah kepadamu… akan tetapi, pintaku, kalau aku mati, peti terisi buku di dalam kamarku itu harap jangan dibakar atau dibuang, akan tetapi kirimkan kepada seorang puteriku di kota raja. Kitab-kitab kuno itu penting sekali untuknya. Namanya Ceng Hiang.”

Pada saat-itu, para bajak laut sudah menerjang dan menyerang lagi pasukan itu, dan perkelahian sudah berlangsung lagi, lebih seru dari pada tadi. Kiki tidak menyerang kakek itu. Entah bagaimana, ia merasa sungkan untuk menyerang kakek itu dan ia lalu mengamuk di antara pasukan Mancu. Bukan main hebatnya sepak terjang Kiki, dan mayat-mayat para pasukan Mancu bergelimpangan. Karena mereka itu semakin terdesak, akhirnya sisa pasukan itu lari dan benloncatan keluar dari perahu mereka untuk berenang dan menyelamatkan diri.

Anak buah bajak bersorak-sorai karena merasa memperoleh kemenangan, sama sekali tidak perduli lagi bahwa banyak pula teman mereka yang tewas atau terluka. Akhirnya hanya tinggal kakek itu sendiri yang masih berdiri dengan muka membayangkan kengerian melihat pembantaian antara manusia itu. Dan para bajak itu lalu melempar-lemparkan mayat-mayat dan orang-orang yang terluka pihak lawan ke dalam lautan. Ada pula yang mulai merampoki barang-barang berharga di perahu itu.

“Kau pergilah!” kata seorang bajak dan tiba-tiba dia menyeret Pangeran Ceng Tiu Ong dan melemparkannya ke luar perahu.

“Byuurrr!”

Tubuh kakek itu terbanting ke air, dan pada saat itu, sinar bayangan orang yang kehijauan telah meloncat dan terjun ke air. Orang itu adalah Kiki! Entah apa yang mendorongnya, melihat kakek ini dilempar ke air, iapun lalu terjun dan sekali menyelam ia berhasil menarik kakek itu ke atas permukaan air. Ia lalu menaruh tubuh kakek yang lemas itu ke atas sebuah di antara perahu kecil bajak.

“Kami tidak akan membunuhmu, kaupergilah dengan baik-baik dari sini,” katanya.

Dua orang perajurit juga naik ke perahu itu dan mendayung perahu itu menjauhi perahu mereka yang dibajak, sedangkan Kiki cepat naik kembali ke atas perahu dengan pakaian basah kuyup.

Ketika ia melihat anak buahnya ada yang membawa sebuah peti hitam penuh kitab, ia menghardik.

“Berikan itu kepadaku! Itu bagianku!”

Anak buahnya terkejut dan memberikan peti hitam itu kepada Kiki. Setelah meneliti sejenak. Kiki mendapatkan bahwa peti itu memang berisi kitab-kitab kuno yang tulisannya tak dapat ia membacanya. Akan tetapi ia tidak membuang peti itu dan memerintahkan anak buahnya untuk membawa peti berisi kitab-kitab itu pulang ke Pulau Naga.

Setelah perahu besar itu dirampok habis, lalu perahu itu dibakar di bawah sorak-sorai para penjahat itu sampai akhirnya tenggelam. Para bajak banyak yang merasa kecewa. Perahu besar yang ditumpangi seorang pangeran itu ternyata tidak membawa banyak barang berharga.

“Pangeran pailit! Pangeran miskin! Hanya kutu buku!”

Mereka mengomel, akan tetapi diam-diam Kiki kagum sekali kepada kakek itu. Kalau seorang kakek macam ayahnya bersikap gagah berani dan tidak mengenal takut, hal itu tidaklah aneh karena ayahnya seorang pria yang berilmu tinggi. Akan tetapi kakek pangeran tadi hanya seorang kutu buku yang lemah. Akan tetapi, sikapnya demikian gagah berani, penuh wibawa menimbulkan kekaguman hatinya. Diapun merasa gembira dan lega hatinya bahwa ia telah menyelamatkah kakek pangeran itu dan kematian tenggelam di lautan. Kalau sampai kakek itu terbunuh, tentu kata-kata kakek itu akan selalu terngiang di hatinya dan akan selalu mendatangkan perasaan tidak enak.

Bahkan peti terisi kitab-kitab kuno itupun kini mulai mengganggu hatinya. Bukankah pangeran itu mengatakan bahwa kitab-kitab kuno itu amat penting bagi puterinya yang bernama Ceng Hiang? Kalau ia bisa mengirimkannya kepada gadis itu, alangkah akan lega dan senang hatinya!

Banyak ahli filsafat dan para bijaksana yang mengatakan bahwa pada dasarnya, semua orang itu mempunyai sifat atau watak yang baik. Bagaikan kertas putih yang masih kosong, maka sejak anak-anak, orang telah dibentuk oleh yang mengisi kertas putih. Namun, betapapun kotornya kertas itu dicorat- coret, pada dasamya masih ada putihnya dan kadang kadang sifat kebaikan dan kebersihan ini muncul.

Benar tidaknya pendapat para ahli filsafat ini terserah kepada penilaian kita sendiri. Yang jelas saja, semua orang ini, kita semua, condong untuk melakukan kebaikan kepada orang yang mendatangkan kesan baik kepada kita. Kebanyakan dari kita bersikap dan berbuat baik kepada orang yang menyenangkan kita, dan yang menyenangkan ini berarti yang menguntungkan, baik batiniah maupun lahiriah. Dengan demikian, maka segala kebaikan seperti itu adalah perbuatan munafik belaka, yang pada bakekatnya hanya untuk menyenangkan diri sendini saja melalui lain orang. Bukankah demiklan?

Untuk dapat melihat ini, kita harus berani menghancurkan lebih dulu bayangan tentang diri kita sendiri yang kita bentuk dan bangun sejak kecil, bayangan yang nampak demikian baiknya, bahkan yang terbaik dan terbersih, dan entah ‘ter’ apalagi. Barulah akan nampak betapa munafiknya kita, betapa kotornya batin kita selama ini. Dan hanya kita sendirilah yang mampu mengubahnya. Bagaimana caranya?

Tidak ada caranya, yang terpenting, kalau kita waspada dan melihat kekotoran menempel pada diri kita, apa yang akan kita lakukan? Kecerdasan akal budi tentu akan menggerakkan tangan untuk membersihkannya dan menghentikan segala kegiatan yang menimbulkan kekotoran itu.

Kiki membawa peti berisi kitab-kitab kuno itu ke Pulau Naga. Ayahnya, Hai- tok Tang Kok Bu yang sekarang tidak begitu kaya raya lagi, memandang dengan alis berkerut. Dia sendiri tidak mengenal huruf-huruf kuno itu, hanya mengenal beberapa buah saja yang kalau dirangkai tidak ada artinya.

“Kiki, apakah kau sudah gila? Buku-buku macam itu kaubawa, apakah hanya untuk dijadikan umpan rayap? Pula, aku mendengar engkau menyelamatkan seorang pangeran Mancu dari lautan. Apa-apaan pula ini? Kau malah hendak melindungi bangsawan musuh!”

“Ayah, yang kutolong itu adalah seorang laki-laki tua yang gagah perkasa! Dia seperti sasterawan yang lemah, akan tetapi kegagahannya tidak kalah oleh kita. Ketika senjataku menempel di lehernya, dia berkedippun tidak! Dan tidak pernah marah, bahkan menawarkan seluruh barangnya untuk diambil asal jangan ada perkelahian bunuh-membunuh. Dia menitip pesan agar kalau dia dibunuh, peti kitab kitab kuno ini diserahkan kepada puterinya di kota raja yang bernama Ceng Hiang. Aku tertarik dan kagum sekali kepada orang tua gagah itu, ayah… dan pada saat itu, aku hanya tahu dia seorang mengagumkan, bukan pangeran atau bangsawan apapun.”