-->

Pedang Naga Kemala Jilid 15

Jilid 15

Diana senang sekali mendengar ini.

“Lian Hong, yang manakah paman Lauw Sek?”

Lian Hong menuding ke arah Lauw Sek, sedangkan semua orang tersenyum lebar mendengar suara Diana. Kiranya gadis aneh ini dapat pula bicara dalam bahasa mereka, dan hal ini sungguh menggembirakan hati mereka, apalagi mendengar betapa logat bicara gadis kulit putih itu aneh dan lucu walaupun mudah dimengerti.

Kini Diana menghampiri Lauw Sek. Tadinya ia hendak menyodorkan tangan untuk mengajak orang itu berjabat tangan, akan tetapi ia teringat akan kebiasaan bangsa ini, maka iapun mengangkat kedua tangan depan dada sambil menjura dan berkata.

“Paman Lauw Sek, saya akan girang sekali kalau paman menerima saya.”

Melihat sikap ini dan mendengar ucapan itu, semua orang makin gembira dan merasa suka kepada gadis ini. Lauw Sek merasa agak rikuh melihat tubuh yang hampir telanjang itu, dan dia memperkenalkan isteri dan anaknya.

“Nona, pakaianmu robek-robek, apakah memang begitu pakaianmu ataukah memang robek? Kalau robek, harus cepat ganti agar tidak jatuh sakit.” kata isteri Lauw Sek, dan mendengar ini, Diana sudah merasa suka sekali kepada nyonya yang bersikap keibuan itu.

“Sahabatku ini melakukan perjalanan yang berbahaya, hampir dimakan harimau dan pakaiannya compang-camping ketika ia dilarikan kudanya. Nah, siapa yang mau berbaik hati untuk memberinya pengganti pakaian?”

Para wanita di situ, terutama yang muda-muda, segera berebut lari pulang untuk mengambil satu stel pakaian mereka. Akan tetapi, sebagian besar dari mereka bertubuh kecil, terlalu kecil dibandingkan dengan bentuk tubuh Diana. Dan akhirnya, Diana menerima satu stel pakaian dari seorang gadis yang paling tinggi besar di antara mereka. Ketika ia berganti pakaian dalam sebuah pondok dan keluar lagi, semua orang tertawa gembira karena merasa lucu.

Memang Diana nampak lucu sekali dalam pakaian itu. Baju itu melekat di tubuhnya dengan ketat sehingga tidak mampu menyembunyikan tonjolan dadanya dan kerampingan pinggangnya, sedangkan celana itu hanya sampai di betisnya saja, di bawah lutut! Untung ia memakai sepatu yang panjang sampai ke lutut sehingga semua bagian kakinya tertutup.

Lian Hong menemani Diana sampai satu minggu di rumah keluarga Lauw Sek itu, membimbing Diana agar mengenal semua orang dan keadaan di situ. Dan terjadilah perubahan hidup yang selamanya tak pernah diimpikan oleh Diana. Baru pakaiannya saja sudah amat berbeda dan yang dipakainya kini membuat ia merasa santai dan juga leluasa bergerak, walaupun amat sederhana dan tidak dapat dibilang indah, apalagi mewah. Baru dua hari setelah ia berada di situ, ia sudah dapat menyesuaikan diri, dan dalam hal ini, Lian Hong sungguh kagum kepada gadis ini. Seorang gadis kaya raya yang tadinya hidup mewah, kini tidak segan-segan untuk turun ke sawah dan bekerja apa saja, bahkan mencangkulpun ia pelajari.

Seminggu kemudian, pagi-pagi sekali Lian Hong sudah melihat Diana berada di luar rumah keluarga Lauw Sek yang cukup lebar akan tetapi amat sederhana itu. Diana memakai pakaiannya yang ketat dan jigrang (terlalu pendek) sambil memegang sebatang cangkul, siap untuk bekerja di sawah, membantu Lauw Sek. Lauw Sek sendiri juga sudah siap ke sawah, memakai capingnya yang butut. Isterinya juga siap karena pagi itu akan mulai menanam kacang. Si kecil Lauw Tong, putera mereka juga sudah siap.

“Wah, gadis petani kita yang rajin sudah siap!” kata Lian Hong sambil memegang lengan Diana.

“Diana, kau sungguh nampak cantik dan segar sekali pagi ini!”

Diana tersenyum, gembira. Memang, selama beberapa hari ini, ia membantu pekerjaan di sawah. Memang pertama kali telapak tangannya lecet- lecet dan seluruh tubuhnya, terutama pinggangnya, terasa pegal dan lelah sekali. Malamnya, isteri Lauw Sek memaraminya, dan memijatinya sehingga ia merasa nyaman sekali. Setelah bekerja selama seminggu, ia sudah mulai terbiasa, tidak begitu lelah lagi dan pagi hari itu, pagi-pagi sekali ia sudah bangun, tidak mau ketinggalan oleh anggauta keluarga Lauw.

Memang terjadi perubahan besar dalam kehidupan Diana, perubahan lahir batin. Setelah hidup di dusun, bersama keluarga petani miskin, ia bukan hanya dapat mendengar dari cerita orang, melainkan dapat melihat bahkan merasakan sendiri kehidupan yang serba bebas. Ia mulai mengenal dan merasakan arti hidup sebagaimana adanya, jauh lebih aseli dari pada kehidupan di kota. Apalagi kehidupan bangsanya yang sudah tidak aseli lagi, sudah terselubung segala-galanya, demi gengsi, demi kehormatan, demi pujian, sehingga hampir seluruh tindakan merupakan suatu kepalsuan. Di dusun ini, merasa bebas dan polos, tidak perlu menyembunyikan sesuatu. Di sini ia dapat mengenal perjuangan manusia untuk memenuhi tuntutan atau kebutuhan jasmaninya, bekerja di ladang dan melihat hasil jerih payah itu bersemi dan tumbuh. Di sini ia dapat menikmati kekayaan alam, keindahan alam seperti yang terbentang luas di depannya, bukannya meneropong dari balik jendela bertirai sutera. Dengan cangkul di tangan, ia seakan-akan bercanda dengan tanah, dengan lumpur, dan merasakan kenikmatan semua ini. Bahkan ia mulai mengenal apa artinya lapar dan haus, belajar menahannya, dan dapat menikmati kalau tiba waktunya makan atau minum. Dulu, biarpun belum lapar, kalau waktu ‘dinner’ sudah tiba misalnya, ia harus pergi menghadapi meja makan bersama keluarga pamannya, dengan pakaian yang khas dan pantas, mendapatkan pelayanan manis dan penuh hormat dan aturan-aturan dari para pelayan. Makanpun harus sesuai dengan aturan-aturan tertentu, cara menggunakan garpu dan pisau, cara mengunyah makanan, cara membersihkan bibir dengan kain, dan sebagainya lagi. Semua ini membuat semua hidangan yang serba mahal kadang-kadang menjadi amat hambar rasanya.

Sebaliknya, betapa enaknya makan di pematang sawah! Perut sudah amat lapar, badan amat lelah, tenggorokan amat haus. Lalu datang nasi dengan sayuran murah, datang air teh hangat-hangat atau sejuk dingin. Amboi... bukan main lezat rasanya, melebihi segala macam makanan termahal yang pernah dimakannya!

Dan malamnya! Badan lelah perut kenyang, biar tidur menggeletak di atas dipan bambu yang berteriak-teriak marah kalau tertindih tubuhnya, rasanya begitu nikmat. Sekali rebahpun pulas dan baru terbangun pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali ketika ayam jantan berkokok, dengan tubuh terasa segar seperti baru hidup kembali.

Maka, pagi hari itupun ia lupa bahwa temannya akan pergi hari itu. Sudah tiba saat kepergian Lian Hong seperti yang sudah dijanjikan sebelumnya. Maka, ketika Diana ditegur oleh Lian Hong dan ia melihat Lian Hong sudah berdandan dan berganti baju bersih, dengan rambutnya yang hitam mengkilap itu dikepang dua dan diikat dengan saputangan sutera merah yang menjadi pita, ia bertanya.

“Eih, Lian Hong. Masa ke sawah sebersih itu?”

Dan tiba-tiba saja Diana teringat dan ia mengerutkan alisnya. “Ah, hari inikah engkau akan melanjutkan perjalananmu?”

Di dalam suaranya ada sedikit kekecewaan.

Lian Hong merangkulnya dan mencium kedua pipi Diana. Ia kini mampu melakukan ini menirukan Diana, dan dalam perbuatan ini ia merasakan suatu kemesraan dan keakraban yang mengharukan hatinya.

“Diana, engkau senang di sini, bukan? Teruskanlah. Nikmati kehidupan sederhana di sini. Aku melanjutkan perjalanan, menghadap suhu dan ingat, aku pasti akan datang ke sini menjengukmu dan siapa tahu, kelak kita akan dapat melakukan perjalanan bersama. Kau boleh belajar hidup dan juga mempelajari sedikit ilmu silat untuk membela diri dari paman Lauw Sek.”

Diana balas merangkul dan menciumi Lian Hong.

“Baiklah, Lian Hong. Aku akan menantimu dengan sabar, karena akupun mulai suka akan kehidupan di sini. Paman dan bibi amat baik hati, juga adik Tong ini lucu dan menyenangkan. Bahkan semua tetangga di sini baik-baik, rukun dan saling menolong.”

“Tentu saja. Aku berjanji.”

Mereka saling berpisah, dan Lian Hong meninggalkan dusun itu diantar oleh hampir semua penduduknya sampai ke pagar dusun. Diana merasa kehilangan, akan tetapi tidak kesepian karena ia merasa mempunyai keluarga besar, bukan sekedar sahabat, di dalam dusun itu.

Bahkan ia merasa menemukan dunianya yang disukainya. Ketika ia masih sekolah, ia banyak mempelajari kehidupan jaman dahulu yang masih terbelakang, maka kini, setelah ia sendiri hidup di dusun yang masih amat sederhana, ia menemukan banyak hal yang memiliki persamaan dengan apa yang pernah dibacanya sehingga ia merasa seolah-olah memasuki sebuah dongeng yang pernah menarik hatinya. Apalagi ketika Lauw Sek mulai mengajarkan ilmu silat, ia mempelajarinya dengan tekun, juga memperdalam pengetahuannya tentang bahasa dan kebudayaan pribumi. Diana menemukan kelanjutan sekolah yang takkan bisa ditemukan di kota-kota besar dan ia merasa gembira sekali.

Orang-orang kulit putih yang berada di Kanton menjadi geger ketika mendengar bahwa Diana keponakan Kapten Charles Elliot hilang di dalam hutan ketika berkuda bersama Letnan Peter Dull. Tentu saja yang merasa paling gelisah adalah Kapten Charles Elliot. Letnan Peter Dull sendiri mendapat teguran keras, bahkan menerima tugas untuk mencari nona itu sampai dapat.

Maka Koan Jit yang sudah diterima sebagai pimpinan oleh para jagoan yang dikumpulkan Peter Dull karena mereka semua sudah mengenal nama Hek- eng-mo, lalu memerintahkan para jagoan yang terhimpun dalam suatu pasukan istimewa untuk berpencaran dan mencari berita di antara kaum sesat untuk mencari jejak Diana. Sedangkan Peter Dull lalu memimpin sendiri pasukannya untuk melakukan pencarian ke dusun-dusun dan kampung-kampung sehingga daerah di sekitar itu menjadi gempar karena sikap pasukan kulit putih dan raksasa India itu merajalela di dusun-dusun dengan kasar.

Juga rakyat mulai tidak suka melihat sikap pasukan kulit putih itu. Kaum buruh di pelabuhan yang banyak jumlahnya karena orang-orang kulit putih membutuhkan buruh-buruh kasar untuk mengangkut barang-barang turun naik kapal, juga memperlihatkan sikap membantah dan tidak taat.

Pada suatu hari, pagi-pagi saja sudah terjadi keributan di pelabuhan, ketika para kuli angkut barang sibuk menurunkan barang dari sebuah kapal dan mengangkut barang ke kapal yang lain. Seorang kuli muda yang bertubuh kokoh kekar, ketika sedang mengangkut sebuah peti, terpeleset pada anak tangga yang basah dan petinya terlepas, menimpa kaki seorang mandor kulit putih yang bertubuh gendut. Biarpun kaki itu sudah terlindung sepatu kulit, akan tetapi karena peti itu berat, maka tentu saja kaki itu terasa nyeri bukan main. Mandor itu berteriak kesakitan, lalu menyumpah-nyumpah dan menghajar kuli itu dengan pukulan-pukulan kanan kiri membuat kuli itu roboh sampai beberapa kali. Tiap kali dia hendak bangkit, sepatu kiri yang tidak tertimpa peti tadi menyambar dan menendang kepalanya, dagunya, dadanya, membuat dia terjerembab kembali.

Kuli-kuli lain hanya memandang tanpa bergerak, seolah-olah semua kuli yang tadi sibuk bekerja itu tiba-tiba saja berubah menjadi patung. Ada yang mukanya membayangkan kengerian, ketakutan, akan tetapi ada beberapa puluh orang kuli yang memandang dengan alis berkerut. Mereka ini adalah sekelompok kuli yang memang mempunyai perasaan tidak suka dan hampir anti kepada orang-orang kulit putih. Mereka itu bekerja sebagai kuli karena memang penghasilannya jauh lebih besar dari pada kalau menjadi petani atau nelayan, akan tetapi juga karena mereka ingin mengintai apa yang dilakukan oleh bangsa yang tidak disukainya. Jumlah mereka ada hampir tigapuluh orang, dan kebetulan sekali yang menjadi pemimpin mereka adalah pemuda yang kini dijadikan bulan-bulan kemarahan mandor itu!

Tentu saja suasana menjadi tegang. Setiap orang anggauta kelompok itu berhenti bekerja dan memandang dengan urat syaraf tegang dan siap siaga. Akan tetapi, karena pemimpin mereka, pemuda yang bertubuh kokoh itu dipukuli dan ditendangi tanpa melawan, merekapun hanya merasa penasaran saja dan tidak bergerak. Beberapa orang mador melerai dan menyabarkan kawan mereka.

Akan tetapi, mandor gendut yang mukanya merah seperti orang mabok itu sudah marah sekali. “Tidak bisa! Tidak bisa kubiarkan saja dia meremukkan kakiku! Tangan yang melakukannya harus kupotong!”

Dan dia mencabut sebatang pisau belati, kemudian, tanpa dapat dicegah oleh kawan-kawannya, dia menubruk ke depan, pisaunya menyambar ke arah tangan kuli muda itu.

Tiba-tiba kuli muda yang tadinya hanya mandah saja dihujani pukulan dan tendangan sehingga mukanya matang biru dan benjol-benjol, kini melihat luncuran pisau belati berkilat yang mengancam tangannya, cepat menarik tangannya. Hal ini membikin marah si mandor gendut, dan sambil memaki- maki dia menyerangkan pisaunya lagi, sekali ini malah ke arah perut kuli itu.

Marahlah orang yang diserang. Serangan itu mengarah maut, maka dia harus mempertahankan dan membela diri. Dengan sigap dia mengelak ke samping, lalu kakinya meluncur ke depan, tepat menendang selangkang mandor gendut itu.

“Aughhh… aduhhh…”

Si mandor gendut mengaduh-aduh dan berloncatan sambil menggunakan kedua tangan mendekap selangkangnya yang kena tendang. Kiut miut rasanya, nyeri itu menusuk-nusuk dari selangkang sampai jantung.

Pada waktu itu, Kapten Charles Elliot yang ditemani oleh Peter Dull yang dikawal oleh Koan Jit bersama beberapa orang jagoan, berada pula di pelabuhan. Kapten Charles Elliot ingin melihat sendiri pembongkaran peti-peti candu agar dapat diturunkan dengan selamat. Walaupun antara pemerintah Ceng dan Pemerintah Inggeris telah terdapat persetujuan dan perdamaian, dimana disebutkan bahwa pemerintah Ceng memperbolehkan orang-orang kulit putih melakukan perdagangan dan berdiam di Kanton, namun perdagangan candu secara terang-terangan tetap dilarang.

Namun, karena benda ini amat menguntungkan, maka secara sembunyi- sembunyi, dengan peti-peti yang bercampur dengan barang-barang lain, dan dengan tanda-tanda bahwa peti-peti itu berisi barang lain, candu tetap dapat diselundupkan dan didaratkan dalam jumlah besar.

Hari itu, perusahaan Inggeris yang bergabung dalam East Indian Company mendaratkan sejumlah besar candu dalam peti-peti yang tulisan dan gambarnya menunjukkan bahwa peti-peti itu terisi barang dagangan.

Ketika para penjaga keamanan melihat mandor itu mengaduh-aduh, mereka menjadi marah. Beberapa orang penjaga kulit putih lalu menghampiri dengan pistol di tangan. Akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan Letnan Peter Dull.

“Tahan! Mundur semua dan jangan tangkap kuli itu!”

Semua orang memandang heran dan tentu saja tidak ada yang berani membantah perintah letnan ini. Peter berbisik kepada Kapten Charles Elliot yang menjadi atasannya.

“Ini kesempatan baik untuk menguji kepandaian para pembantu kita.” Mendengar ini, Charles Eliot mengangguk dan melirik kepada Koan Jit.

Bagaimanapun Peter memuji-muji orang ini, kapten itu masih belum yakin benar, bahkan menaruh curiga terhadap laki-laki yang matanya seperti mata kucing itu. Pada saat itu, di samping kuli muda tadi sudah berdiri empat orang lain yang merupakan tokoh-tokoh dalam kelompok mereka, dan bersama si pemuda, mereka pernah dikenal sebagai ahli-ahli silat yang cukup terkenal. Mereka berdiri tegak, akan tetapi sikap mereka jelas menantang. Empat orang itu adalah teman-teman si pemuda yang memimpin kelompok mereka dan mereka maju ketika tadi melihat betapa pemimpin mereka akan ditangkap. Dan melihat lima orang yang merupakan tokoh-tokoh utama dari kelompok mereka sudah maju, dua puluh lebih anggauta kelompok itupun sudah siap siaga untuk bertempur!

Tujuh orang jagoan yang mengawal Peter dan Charles Elliot yang maklum bahwa mereka diharapkan untuk menumpas pengacau itu tanpa mempergunakan senjata api, karena hal itu akan memancing keributan antara orang kulit putih dengan pemerintah daerah, lalu maju menghampiri lima orang itu.

Peter mengedipkan matanya kepada Charles Elliot. Kapten ini maklum. Memang, dia dan pembantunya sudah mengambil keputusan untuk mempergunakan kebijaksanaan dalam menghadapi pribumi yang anti kulit putih, yakin dengan cara mengadu domba antara mereka dengan jagoan- jagoan bayaran mereka. Tentu saja pasukan mereka akan mampu membereskan perusuh-perusuh itu, akan tetapi kalau senjata api dipergunakan, tentu pihak pemerintah akan mencampuri dan perdamaian akan terganggu lagi. Hal ini hanya memancing keributan dan keresahan. Biarkan orang-orang itu saling hantam, dan sedapat mungkin Charles Elliot akan membasmi mereka yang anti kulit putih dengan menggunakan tenaga-tenaga bayaran dari orang pribumi.

Tujuh orang jagoan itu tanpa banyak cakap lagi lalu menerjang lima orang yang sudah siap untuk membela diri. Terjadilah perkelahian seru antara seru antara lima orang perusuh itu dengan tujuh orang jagoan. Akan tetapi, Peter mengerutkan alisnya melihat betapa tujuh orang jagoannya itu jelas kalah kuat. Mereka dihajar habis-habisan, jatuh bangun dan sama sekali tidak mampu menandingi lima orang yang ternyata pandai ilmu silat itu, jauh lebih pandai dibandingkan tujuh orang jagoannya yang hanya menang lagak saja. Charles Elliot juga marah dan kecewa.

“Suruh para pengawal kita maju!” katanya ke pada Peter. “Nanti dulu, Kapten!” Peter membantah.

“Inilah kesempatan untuk menguji kelihaian pembantu baru ini.”

Karena dia bicara dalam bahasanya sendiri, Koan Jit tidak dapat menangkap artinya, namun dia mengerti ketika dua orang itu bicara sambil memandang kepadanya.

“Tuan Letnan, biar aku yang akan menghajar mereka!” katanya.

Peter mengangguk, dan dengan langkah lebar Koan Jit lalu maju ke dalam arena perkelahian yang ditonton banyak sekali orang itu, baik dari pihak para kuli maupun dari pihak orang kulit putih yang menjadi mandor dan lain-lain.

“Mundurlah kalian!” bentak Koan Jit kepada tujuh orang jagoan yang ternyata tidak mampu menandingi lima orang itu.

Dengan lagak yang masih gagah-gagahan, walaupun muka mereka bengkak-bengkak dan ada pula yang terpincang-pincang, tujuh orang itu mundur dan menonton dengan dada terangkat dan tangan terkepal, seolah- olah mereka itu terpaksa mundur karena perintah atasan. Hanya mereka sendiri yang tahu betapa lega hati mereka, karena kalau tidak disuruh mundur, akhirnya mereka akan roboh semua. Lima orang kuli itu ternyata amat lihai, terutama sekali pemuda yang tadi menendang selangkang mandor gendut.

Kini semua mata ditujukan kepada Koan Jit. Tubuhnya yang tinggi kurus dengan muka hitam dan pakaian serba hitam itu tidak terlalu mengesankan memang, akan tetapi lima orang itu merasa ngeri ketika mereka bertemu pandang dengan sepasang mata yang mencorong kehijauan seperti mata kucing itu.

Tiba-tiba terdengar suara Peter Dull berteriak.

“Koan Jit, jangan bunuh mereka, akan tetapi beri hajaran agar mereka kapok!”

Koan Jit mengerutkan alisnya. Kalau menurut keinginannya, lebih mudah membunuh mereka. Akan tetapi diapun sedang mencari muka agar diperhatikan oleh Kapten Charles Elliot, karena dia tahu bahwa kapten inilah yang berkuasa di antara pasukan kulit putih, bukan Peter Dull.

Koan Jit memasuki benteng pasukan kulit putih sebagai sekutu atau pembantu bukan sekedar iseng. Dia sudah memiliki perhitungan masak-masak. Dia melihat kekuatan yang amat besar di dalam pasukan itu, dengan senjata- senjata apinya besar kecil yang amat sukar dilawan dengan ilmu silat saja. Maka, selain mencari tempat yang aman untuk berlindung, juga dia dapat mempergunakan kekuatan pasukan kulit putih untuk mencapai kedudukan, baik sebagi pimpinan kaum sesat, juga kedudukan tinggi di dalam pasukan itu sendiri.

Dia sengaja membiarkan Peter Dull dan pasukannya mencari-cari Diana, pura-pura membantu namun tidak sungguh-sungguh membantu. Dia ingin melihat Peter Dull gagal dalam usahanya, dan kelak setelah keluarga Charles Elliot benar-benar kebingungan, barulah dia akan tampil sebagai bintang penolong! Tentu jasanya akan besar sekali. Kedudukan Peter Dull sebagai tangan kanan kapten itu harus diraihnya. Dia memiliki cita-cita yang lebih besar lagi. Bahkan pernah dia bermimpi betapa bersama pasukan kulit putih, dia menyerbu dan merampas tahta Kerajaan Mancu dan karena jasa-jasanya, maka orang-orang kulit putih mengangkat dia sebagai kaisar baru!

Karena itu, mendengar perintah yang dikeluarkan oleh mulut Peter Dull tadi, Koan Jit menoleh kepada Kapten Charles Elliot. Dia tahu bahwa kapten itu belum percaya benar kepadanya, baik kelihaiannya maupun kesetiaannya. Dengan pandang matanya, dia bertanya dan menanti keputusan kapten itu sebagai orang atasan yang paling berkuasa. Agaknya kapten inipun maklum bahwa orang tinggi kurus ini mengharapkan pendapatnya, maka diapun mengangkat tangan berkata.

“Hajar saja mereka semua, jangan membunuh… karena hal itu akan menimbulkan keributan.”

“Kalian berlima berlututlah dan menerima hukuman cambuk dengan suka rela, atau aku akan menghajarmu lebih parah lagi,” kata Koan Jit, sengaja berkata demikian untuk memperlihatkan kebesarannya.

Tentu saja lima orang yang anti kulit putih itu tidak sudi menyerah, dan mereka semua memandang Koan Jit yang dianggap sebagai antek dan kaki tangan kulit putih itu penuh kebencian.

“Cuhhh!”

Pemimpin kelompok yang masih muda dan bertubuh kokoh itu meludah ke arah Koan Jit, lalu dia berkata kepada teman-temannya.

“Biar aku sendiri yang mematahkan kakitangan anjing penjilat iblis-iblis putih ini!” Dan diapun menerjang dengan dahsyatnya, mengirim pukulan ke arah kepala Koan Jit.

Koan Jit miringkan kepalanya sehingga pukulan itu lewat. Akan tetapi kuli muda itu memukul lagi dengan tangan kiri, menonjok dada. Sekali ini, Koan Jit tidak mengelak, juga tidak menangkis. “Dukkk!!”

Pukulan itu kuat sekali datangnya dan tepat mengenai dada Koan Jit. Akan tetapi tubuh yang jangkung kurus itu sama sekali tidak tergoyahkan, dan sebaliknya, si pemukul yang merasa tangannya seolah-olah bertemu dengan dinding baja dan nyeri sekali, seperti remuk-remuk semua tulangnya. Dan pada saat itu, Koan Jit mengayun tangannya menampar.

Menyaksikan kehebatan ini, Kapten Charles Elliot sendiri terkejut dan kagum bukan main, akan tetapi juga khawatir.

“Jangan membunuh...!”

“Harap Kapten jangan khawatir. Koan Jit akan mentaati perintah dan orang-orang itu tidak dibunuh, hanya dipukul pingsan saja,” kata Peter Dull dengan suara mengandung kebanggaan, karena bagaimanapun juga, dialah yang telah menemukan Koan Jit dan berhasil membujuknya menjadi sekutu.

Kini, duapuluh lebih orang kuli yang menjadi kawan-kawan lima orang itu sudah menyerbu dan mengeroyok Koan Jit, bahkan di antara mereka ada yang membawa senjata sepotong besi dan lain-lain alat pengangkut yang terdapat di tempat itu. Dan terjadilah perkelahian yang makin mengagumkan hati Kapten Charles Elliot dan juga mengagumkan hati semua mandor dan orang kulit putih yang berada di situ. Seorang diri saja, Koan Jit melayani pengeroyokan demikian banyaknya orang-orang yang buas karena kemarahan dan dia bergerak seenaknya saja. Akan tetapi, kemanapun juga tangannya melayang, tentu seorang pengeroyok terlempar dan kesakitan, pingsan atau merangkak-rangkak tak dapat bangkit kembali karena mengalami patah tulang. Dan dalam waktu yang amat singkat, hampir tigapuluh orang perusuh itu kini semua menggeletak malang melintang, tubuh mereka berserakan, ada yang pingsan dan ada yang merintih-rintih karena patah tulang dan kesakitan. “Orang ini berbahaya sekali...” kata kapten itu kepada pembantunya, akan tetapi Peter Dull tersenyum kegirangan karena makin yakinlah hatinya bahwa Koan Jit benar-benar merupakan tenaga bantuan yang amat berharga bagi

kesatuannya.

Peristiwa ini membawa perubahan semakin besar kepada Koan Jit. Kini Kapten Charles Elliot sendiri yakin akan kehebatan orang ini, dan karena jasanya, juga disesuaikan dengan kemampuannya, kini Koan Jit diangkat menjadi komandan pasukan pribumi yang dibentuk tidak lama kemudian. Pasukan ini terdiri dari jagoan-jagoan yang berhasil dikumpulkan Peter Dull dan kemudian diperkembangkan oleh Koan Jit.

Koan Jit menaklukkan tokoh-tokoh sesat dan memaksa mereka itu masuk menjadi anggauta pasukannya. Pasukan yang terdiri dari pribumi ini mempunyai bendera sendiri, akan tetapi berada di bawah armada Inggeris dan mendapatkan tempat di perbentengan yang dibangun di tepi pantai.

Koan Jit amat disegani, dan menduduki tempat penting, karena sebagai komandan pasukan itu, dia dianggap seorang perwira tinggi yang kedudukannya hampir setingkat dengan Peter Dull. Bukan Kapten Charles Elliot lagi yang membawahinya, melainkan komandan armada yang pangkatnya jauh lebih tinggi dari pada kapten itu!

Pasukan yang dipimpin Koan Jit kini terdiri dari tigaratus orang lebih dan diberi nama Pasukan Harimau Terbang! Semua anggauta pasukan ini mengenakan topi yang terbuat dari kulit harimau! Karena rata-rata memiliki ilmu silat lumayan dan gerakan mereka cepat, maka diberi nama Harimau Terbang. Sementara itu, Kapten Charles Elliot merasa semakin gelisah karena usaha Peter Dull untuk mencari keponakannya belum berhasil, padahal lenyapnya Diana sudah berjalan selama hampir tiga bulan! Dia merasa khawatir sekali kalau-kalau keponakannya itu melakukan penyelewengan seperti yang dilakukan Sheila, puteri mendiang Hellway yang lenyap itu kabarnya telah menjadi isteri seorang di antara para pemberontak! Hal ini merupakan sebuah tanparan yang amat hebat bagi orang-orang kulit putih. Dan dia merasa khawatir sekali kalau-kalau Diana juga mengalami nasib buruk seperti yang dialami Sheila. Dia yang akan menderita aib kalau sampai terjadi hal yang amat memalukan itu.

“Peter, mengapa sampai kini engkau belum juga berhasil menemukan Diana? Ah, apa yang terjadi dengan anak yang malang itu? Apakah engkau tidak mengerahkan seluruh tenaga untuk mencarinya? Ingat, Peter, engkaulah yang bertanggung jawab karena Diana lenyap ketika berjalan-jalan denganmu!”

Peter Dull menarik napas panjang. Hal ini selalu mengganggunya, bahkan membuat gelisah tak dapat tidur setiap malam.

“Kapten, saya mencinta Diana. Sayalah di samping Kapten yang merupakan orang yang merasa paling kehilangan dan gelisah. Rasanya... saya kira Kapten sudah mengenal watak Diana yang keras. Diana yang memaksa saya melakukan perjalanan sejauh itu, bahkan ia juga membalapkan kudanya sampai tak dapat saya susul. Hal ini sudah saya ceritakan berkalikali...!”

“Aku tidak perduli semua itu! Yang penting, Diana harus dapat kita temukan kembali! Harus!! Dan siapa lagi kalau bukan engkau yang dapat kuharapkan dan kupercaya untuk melakukan tugas itu sampai berhasil?”

“Selama ini saya tidak pernah berhenti berusaha menyebar orang-orang kita, bahkan juga pasukan Harimau Terbang sudah membantu, akan tetapi hasilnya kosong. Dengan sedih saya terpaksa berterus terang dengan dugaan saya bahwa Diana terjatuh ke tangan para pemberontak yang anti kepada kita, sehingga mereka itu merahasiakan dimana adanya Diana.”

“Kita harus dapat menemukan Diana!” Kapten itu marah sekali dan juga gelisah.

“Panggil Koan Jit ke sini!”

Koan Jit dipanggil menghadap dan diam-diam orang ini merasa gembira sekali. Inilah saat yang dinanti-nantinya. Ketika Kapten itu menyatakan keinginannya agar Koan Jit turun tangan dan membantu sungguh-sungguh agar Diana dapat ditemukan kembali, sengaja Koan Jit menoleh kepada Peter Dull dan berkata.

“Harap Kapten suka memaafkan saya. Selama ini, saya hanya melakukan perintah-perintah Letnan Peter Dull dalam usaha mencari keponakan tuan.”

“Cukup! Sekarang engkau menerima perintah langsung dariku, dan kau boleh melakukan pencarian dengan caramu sendiri!” kata Kapten itu tak sabar. “Baiklah, Kapten. Mulai hari ini, saya akan berusaha mati-matian untuk menemukan keponakan tuan, dan akan saya kerahkan anak buah saya dengan menyamar sebagai rakyat biasa. Saya yakin bahwa dalam waktu singkat tentu

akan dapat diperoleh kabar tentang keponakan tuan itu.”

Dia berhenti sebentar dan berkata kepada Letnan Peter Dull.

“Apakah Letnan sudah menyampaikan permintaan saya kepada Kapten?” “Permintaanmu itu sedang kupertimbangkan dan tidak ada sangkut

pautnya dengan usaha mencari Diana!” “Apa permintaanmu itu, Koan Jit?”

Mendengar pertanyaan itu, Koan Jit tersenyum.

“Saya ingin sekali melihat kemajuan kekuasaan pasukan Inggeris dan satu- satunya hal yang menjadi penghalang besar adalah kelompok-kelompok yang anti kepada bangsa kulit putih. Saya ingin mengundang semua tokoh persilatan, terutama dari golongan hitam untuk kita ajak bersama menghadapi pemerintah Mancu. Kalau mereka semua sudah berpihak kepada kita, tentu golongan yang anti kepada kita itu akan mundur. Dan saya minta agar pasukan Inggeris membantu saya dalam hal ini, yaitu setelah mereka datang berkumpul, kita basmi mereka yang tidak mau bersekutu. Dan agar pasukan membantu saya supaya dapat menjadi beng-cu di antara mereka.”

Bagi Kapten Charles Elliot, semua usul Koan Jit itu dianggap hanya ambisi seorang yang ingin menjadi pemimpin para jagoan. Dia sedang pusing memikirkan Diana, maka permintaan itu dianggap sepele saja.

“Tentang usul-usulmu, akan kubicarakan dengan Admiral Elliot, dan aku yakin dia akan setuju karena usahamu itu untuk memperkuat kedudukan kami pula.”

Bukan main girang hati Koan Jit mendengar ini. Admiral Eliot adalah komandan tertinggi dari armada Inggeris yang datang dan memberi hajaran kepada pemerintah Mancu karena membakar candu sehingga timbul perang candu. Pasukan Harimau Terbang memang juga direstui oleh Admiral, akan tetapi dia, sebagai komandan pasukan itu yang dianggap kecil, mana mungkin bertemu dan bicara dengan Admiral Elliot yang kedudukannya demikian tinggi, sebagai wakil dari Kerajaan Inggeris?

Akan tetapi, melalui kapten ini yang masih keponakan dari admiral itu, tentu usul-usulnya akan dapat disampaikan langsung dan kalau sampai dia dapat menjadi beng-cu, kalau sampai dia dapat memperoleh kedudukan tinggi di dalam pasukan Inggeris dan menguasai dunia hitam, tentu akan mudah mencapai puncak cita-citanya, yaitu merebut tahta Kerajaan Ceng!

Memang sebetulnya, mencari Diana sampai dapat, baik orangnya kalau masih hidup atau keterangan tentang dirinya kalau sudah mati, tidak terlalu sukar bagi Koan Jit kalau memang hal itu dikehendakinya. Sekarang, setelah dia mendapatkan tugas langsung dari Kapten Charles Elliot, Koan Jit lalu mengerahkan anak buahnya, menyuruh mereka menanggalkan pakaian seragam, mengenakan pakaian biasa dan membagi-bagi kelompok pergi mencari keterangan tentang seorang gadis kulit putih yang mungkin tinggal di daerah padalaman.

Dengan berkelompok antara lima sampai sepuluh orang, ratusan orang anggauta Harimau Terbang itu dalam pakaian preman mulai melakukan penyelidikan. Mereka menyusup-nyusup ke dalam hutan-hutan, naik turun bukit, menyusuri sepanjang sungai sampai mereka tiba di daerah-daerah terpencil.

Akhirnya, beberapa hari kemudian saja, sekelompok yang terdiri dari sepuluh orang dapat menemukan jejak, yaitu ketika mereka mendengar bahwa di suatu dusun terpencil, terdapat seorang wanita kulit putih yang hidup seperti penduduk dusun. Tentu saja mereka merasa girang sekali dan dengan cepat mereka mendatangi dusun itu.

Memang berita itu tidak bohong. Di dusun itulah hidup Diana! Selama lebih dari tiga bulan, Diana hidup sebagai seorang gadis dusun. Kini kulitnya yang biasanya putih mulus itu menjadi kemerahan dan wajahnya kini nampak berseri penuh gairah hidup. Ia sudah terbiasa dengan kehidupan miskin sederhana, bahkan mulai dapat menikmati kehidupan ini dan mulai mengerti akan makna kebahagiaan hidup. Berkat pendidikannya, ia bahkan mulai mengajarkan segala macam pengetahuan praktis kepada penduduk, tentang pemeliharaan kesehatan, tentang pengolahan tanah yang diketahuinya dari buku-buku, tentang kebersihan dan lain-lain. Di samping itu, iapun menerima pelajaran yang langsung didapatnya dari praktek. Bahkan ia sempat pula belajar ilmu silat dari Lauw Sek yang sudah menganggapnya sebagai anak atau keponakan sendiri.

Pada suatu hari, pagi-pagi sekali Diana sudah pergi ke sawah ladang bersama keluarga Lauw. Pagi itu mereka akan menuai padi yang sudah menguning tua. Juga para penduduk dusun itu, pagi-pagi sekali sudah meninggalkan rumah, pergi ke sawah.

Karena sawah mereka menghasilkan padi yang gemuk dan subur, semua orang bergembira dan bahkan ada yang bernyanyi-nyanyi dengan suara lantang ketika mereka menuai padi. Seorang di antara kaum wanita yang sedang menuai padi itu tiba-tiba minta agar Diana suka bernyanyi. Permintaan ini segera didukung oleh semua orang dan sambil tersenyum gembira, akhirnya Diana memenuhi permintaan mereka dan sambil menuai padi, iapun bernyanyi. Ia menyanyikan sebuah lagu Inggeris yang biarpun tidak dimengerti arti kata- katanya oleh mereka yang mendengarkan, namun karena suara Diana merdu dan lagu itu adalah lagu rakyat, mereka dapat juga menikmati lagu itu.

Akan tetapi, tiba-tiba semua orang terkejut dan Diana menghentikan nyanyiannya. Sekelompok orang muncul di tengah sawah dan mereka itu adalah sepuluh orang laki-laki yang kelihatan kasar dan bengis. Apalagi meihat betapa di punggung mereka terselip golok atau pedang, semua orang makin ketakutan.

Pada jaman itu, pemerintah melarang orang membawa senjata tajam. Oleh karena itu, yang berani membawa senjata tajam hanyalah dua golongan saja, para perampok dan pasukan pemerintah. Bahkan para pendekar sekalipun, untuk menghindarkan keributan, menyembunyikan senjata mereka, kalau mereka membawanya. Munculnya sepuluh orang pria yang membawa senjata tajam ini tentu menimbulkan panik dan para petani itu serentak menghentikan pekerjaan mereka dan berkumpul. Anak-anak dan wanita-wanita segera mendekati ayah dan suami mereka seperti anak-anak ayam melihat burung elang dan lari bersembunyi di bawah sayap induknya.

Sejenak mereka hanya saling pandang saja. Akan tetapi, sepuluh orang yang bukan lain adalah para anggauta Harimau Terbang itu, hanya memandang ke arah Diana dengan penuh perhatian, tanpa memperdulikan orang-orang lain. Lauw Sek yang berdiri di dekat Diana, lalu berbisik.

“Diana, bersembunyilah di belakangku.”

Diana yang tidak tahu mengapa semua orang nampak begitu terkejut bahkan seperti orang ketakutan, tidak mau bersembunyi, bahkan bertanya.

“Paman, siapakah mereka itu dan mengapa kalian semua kelihatan takut?” Sebelum Lauw Sek sempat menjawab, seorang di antara sepuluh orang itu, yang bertubuh tinggi besar dan kumisnya melintang menyeramkan, bertanya,

suaranya menggeledek nyaring sekali.

“Heii! Nona kulit putih, apakah engkau yang bernama Diana?”

Sebelum Diana menjawab, Lauw Sek yang lebih dulu menjawab dengan suara berteriak. “Bukan! Namanya bukan Diana!”

Diana menjadi semakin heran. Mengapa Lauw Sek membohong? Akan tetapi, ia sendiri tidak takut menghadapi sepuluh orang itu dan ia menganggap semua ini seperti lelucon saja, maka iapun berkata.

“Namaku Jane, bukan Diana!”

Akan tetapi si kumis melintang yang menjadi pimpinan kelompok itu agaknya tidak mau pulang dengan tangan kosong. Sambil tertawa bergelak dia berkata.

“Namamu Diana atau Jane atau siapapun juga, engkau harus ikut bersama kami ke Kanton!”

“Aku tidak mau!”

Diana membentak marah. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang boleh memaksanya pergi meninggalkan tempat dan kehidupan yang menarik hatinya itu.

Sembilan orang temannya juga ikut tertawa, membayangkan keadaan yang menyenangkan, yaitu memondong atau memanggul nona kulit putih yang cantik itu.

Si kumis melintang melotot dan membentak marah. “Petani busuk, siapa kau berani mencampuri urusan kami!”

“Nona ini adalah anak angkat kami!” Lauw Sek membentak pula. “Dan kami akan melawan siapa saja yang berani mengganggunya!”

Para petani lain juga maju, dengan cangkul dan segala alat pertanian lain mereka mengambil sikap melindungi Diana. Melihat in, diam-diam Diana merasa terharu sekali. Orang-orang dusun yang sederhana dan miskin ini ternyata adalah orang-orang yang memiliki budi yang luhur dan memiliki rasa setia kawan dan ketabahan besar.

“Ha-ha-ha, kalian mencari mampus!” kata si kumis melintang, lalu dia memerintahkan kepada anak buahnya.

“Hajar mereka itu dan biarkan aku yang akan menangkap nona ini!” “Tahan…!” Tiba-tiba Diana membentak marah.

“Apakah kalian ini utusan dari komandan Peter Dull!”

Mendengar disebutnya nama Peter Dull oleh Diana, si kumis melintang mengangkat tangan memberi isyarat agar teman-temannya jangan bergerak dulu. Dia memandang dengan tajam kepada Diana.

“Kami mengenal tuan Peter Dull.”

“Kalau begitu, pergilah dan jangan menganggu aku. Aku adalah keponakan Kapten Charles Elliot!”

“Ha! Kalau begitu benar engkau nona Diana?” kata si kumis melintang, girang bukan main.

“Benar, aku Diana dan kalau kalian bersikap kasar, kelak aku akan melaporkan kepada pamanku Kapten Charles Elliot!”

“Ha-ha-ha, nona Diana. Justeru beliau yang mengutus kami untuk membawa nona pulang ke Kanton.”

“Aku tidak mau!”

“Maaf, nona. Mau atau tidak, kami harus membawa nona ke Kanton.

Demikianlah perintah yang harus kami jalankan.” “Pergilah kalian orang-orang jahat!”

Lauw Sek membentak dan bersama kawan-kawannya, diapun menyerbu dan hendak menghalau sepuluh orang itu. Akan tetapi sepuluh orang itu melawan dan terjadilah perkelahian yang kacau balau di tengah sawah! Perkelahian yang tidak seimbang, karena para petani itu tentu saja lebih pandai mengayun cangkul menggarap tanah dari pada berkelahi, apalagi melawan sepuluh orang tukang berkelahi itu. Si kumis melintang sendiri lalu menubruk dan menangkap lengan Diana.

“Marilah, nona,” katanya sambil tertawa. “Bangsat, lepaskan!”

Diana merengut lengannya dan menendang. Kakinya besar dan kuat, dan dia masih memakai sepatunya yang lama, sepatu boot yang keras.

“Takkk!”

Ujung sepatu itu tepat mengenai tulang kering kaki si kumis melintang. “Aughhh… aduhh… aduhh… aduh!”

Si kumis melintang berjingkrak-jingkrak kesakitan akan tetapi dia tidak melepaskan pegangannya. Terjadilah betot membetot. Akan tetapi, Diana memiliki perawakan tinggi dan lebih besar dibandingkan wanita pada umumnya, tentu saja ia kalah kuat. Juga latihan silat yang diterimanya dari Lauw Sek tidak ada artinya bagi si kumis melintang, maka akhirnya ia dapat diringkus dan dipanggul. Diana meronta-ronta.

“Lepaskan! Awas kau, akan kulaporkan kepada paman dan engkau akan ditembak mampus!”

Akan tetapi si kumis melintang yang sudah menerima perintah dari Koan Jit agar membawa pulang Diana, kalau perlu dengan paksa, tidak mau melepaskannya. Sementara itu, orang-orang yang tadi membelanya kini sudah kocar kacir, dihajar oleh kawanan anggauta pasukan Harimau Terbang itu. Mereka babak belur dan ada yang patah-patah tulangnya. Si kumis melintang memberi aba-aba dan mereka semua lalu pergi dari situ dan Diana masih terus dipanggul oleh si kumis melintang.

Diana meronta-ronta, menjerit-jerit dan memaki-maki. Akan tetapi, sepuluh orang itu adalah orang-orang kasar yang sudah biasa melakukan segala macam perbuatan busuk dan tidak patut, di antaranya suka sekali mengganggu wanita. Maka, ulah Diana itu membuat mereka semua menjadi marah karena dimaki-maki, dan mulailah mereka memperlihatkan sikap kurang ajar. Banyak tangan mulai mencolek-colek tubuh Diana yang masih dipanggul si kumis melintang. Tentu saja Diana merasa semakin marah akan tetapi juga merasa ngeri, karena kini ia takut kalau-kalau sepuluh orang itu akan berbuat yang tidak sopan terhadap dirinya lebih lanjut. Bagaimana kalau sampai ia diperkosa oleh mereka? Membayangkan ini, Diana tidak berani lagi meronta dan ia mulai menangis, ditertawakan oleh sepuluh orang itu yang terus membawa menuju ke Kanton. Menjelang senja, rombongan ini tiba di sebuah hutan.

“Wah, agaknya kita harus bermalam di dalam hutan ini,” kata si kumis melintang sambil menurunkan tubuh Diana ke atas tanah untuk menghapus keringatnya karena gadis ini terus meronta.

Diana rebah terlentang dan matanya terbelalak penuh ketakutan memandang kepada mereka.

“Kenapa tidak terus saja dan bermalam di dalam dusun? Kita bisa menggunakan rumah penduduk.”

“Dan kita perlu mencari teman-teman untuk melewatkan malam dingin, ha- ha!”

“Atau kita bagi-bagi saja sama rata perempuan bule ini. Akur?” “Akur! Akur!”

Mereka semua berseru gembira. Tentu saja mereka hanya menggoda Diana yang sudah menjadi pucat karena merasa ngeri dan ketakutan. Sikap ini membuat mereka menjadi semakin buas.

“Wah, siapa yang akan bersenang-senang lebih dulu?” “Tentu aku!” kata si kumis melintang.

“Dan setelah aku, agar adil, harus diundi di antara kalian.” “Akur! Mari kita undi.”

Disaksikan oleh Diana yang menjadi semakin ketakutan, si kumis melintang melakukan undian di antara sembilan orang temannya untuk menentukan siapa yang mendapat giliran sebagai nomor dua, nomor tiga dan seterusnya. Hampir pingsan Diana membayangkan dirinya dipermainkan sepuluh orang itu saking ngerinya.

“Jangan... ganggu aku...” Ia berkata lagi.

“Aku berjanji, kalau kalian berlaku baik kepadaku, kelak aku akan minta kepada pamanku agar memberi hadiah yang banyak kepada kalian, sebaliknya kalau kalian... kalian menggangguku, kalian tentu akan dihukum berat.”

“Heh-heh, nona manis, bukan engkau yang harus mengajukan syarat- syarat, melainkan kami. Dengar baik-baik. Mestinya engkau ini kami bunuh, akan tetapi kalau engkau mau melayani kami satu demi satu dengan manis, kemudian kelak memberi laporan yang baik kepada pamanmu, maka engkau tidak akan kami bunuh. Bagaimana? Ha-ha-ha!”

Dan semua orang tertawa bergelak.

Wajah Diana menjadi semakin pucat dan matanya terbelalak.

“Bunuh saja aku kalau begitu… bunuh saja aku, jangan ganggu aku...!” tangisnya.

“Aduh… sayang kalau dibunuh begitu saja. Sebelum dibunuh, bagaimana kalau engkau bersenang-senang dulu dengan kami semalam ini?”

“Berikan saja kepadaku kalau mau dibunuh.” “Untukku saja”

Kembali mereka tertawa-tawa bergelak. Orang-orang kasar ini memang tidak memikirkan bahwa mereka dapat celaka kalau gadis itu kelak mengadu kepada pamannya. Mereka adalah orang-orang yang sudah biasa melakukan perbuatan-perbuatan apa saja demi memuaskan nafsu dan kesenangan diri sendiri tanpa mengingat akan akibat-akibatnya. Yang mereka takuti adalah Koan Jit, bukan para komandan kulit putih. Andaikata Diana mengancam mereka untuk melaporkan kepada Koan Jit, agaknya mereka itu akan teringat dan menjadi jerih.

“Sekarang begini,” tiba-tiba si kumis melintang berkata.

“Kalau nona mau memberi ciuman yang mesra kepadaku, aku akan mempertimbangkan permintaanmu tadi. Bagaimana? Ha-ha-ha… hayo cium yang mesra, nona.”

Dan si kumis melintang itu membantu Diana bangkit duduk, kemudian dia mendekatkan mukanya yang dihias kumis melintang. Hampir muntah Diana ketika mukanya berdekatan seperti itu, tercium bau apak dan memuakkan. Ia memejamkan mata dan tentu saja tidak mau melakukan ciuman yang diminta. Ia hanya takut kalau si kumis itu yang akan menciumnya dengan paksa, maka ia memejamkan mata, dan menangis.

Pada saat itu, tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan terdengar bentakan seorang pria yang lantang.

“Kalian ini manusia ataukah binatang? Hayo lepaskan gadis itu!”

Si kumis melintang terkejut, melepaskan tubuh Diana yang jatuh rebah terlentang kembali. Seperti sepuluh orang itu yang sudah berloncatan bangun, Diana juga memandang ke arah seorang pemuda yang tiba-tiba muncul di situ. Cuaca masih cukup terang sehingga ia dapat melihat seorang pemuda yang gagah, yang muncul dan mengeluarkan bentakan tadi. Seorang pemuda yang bertubuh tegap, berpakaian sederhana seperti pakaian seorang petani, dengan rambut hitam panjang dikuncir tebal bergantung di belakang punggungnya. Wajahnya nampak tampan dan cerah, matanya bersinar tajam akan tetapi lembut. Timbul kekhawatiran di dalam hati Diana.

Pemuda itu biarpun tampan dan wajahnya membayangkan wibawa, namun melihat pakaiannya tidak ada bedanya dengan pemuda-pemuda dusun Lauw Sek, maka munculnya pemuda itu tentu hanya akan berupa bunuh diri saja. Mana mungkin pemuda ini akan mampu mencegah perbuatan sepuluh orang jahat itu?

Dapat dibayangkan betapa marah si kumis melintang dan sembilan orang kawannya melihat munculnya seorang pemuda petani yang berani menegur mereka, bahkan menyuruh mereka melepaskan Diana. Si kumis melintang melangkah maju sampai dekat sekali di depan pemuda itu dan memandang dengan mata melotot dan wajahnya beringas penuh ancaman.

“Bocah keparat… apakah kau sudah bosan hidup?”

Setelah berkata demikian, tanpa memberi kesempatan lagi kepada pemuda itu untuk bicara, si kumis melintang sudah mengayun kepalan kanannya menghantam ke arah pemuda itu.

Si kumis ini merupakan jagoan di antara teman-temannya dan pandai ilmu silat, juga memiliki tenaga besar yang kuat. Akan tetapi agaknya, bagi pemuda itu, dia bukan apa-apa. Pukulan ke arah dagu itu dielakkan dengan amat mudah, hanya miringkan kepala saja. Dan begitu pemuda  itu menggerakkan  tangan  kirinya,  tubuh si  kumis terpelanting  keras dan terbanting ke atas tanah. Dia berteriak dan meringis kesakitan, mencoba untuk bangkit, akan tetapi jatuh lagi karena agaknya ketika terbanting keras tadi, urat

kakinya terkilir.

Pemuda itu sekali meloncat sudah berada di dekat Diana, dan gadis itu sendiri tidak tahu apa yang dilakukan pemuda itu, akan tetapi tahu-tahu ikatan kaki tangannya terlepas!

Sembilan anggauta Harimau Terbang itu menjadi marah bukan main melihat betapa pemimpin mereka roboh. Mereka semua tahu bahwa pemuda itu tentu lihai, maka merekapun tanpa dikomando lagi sudah mencabut golok atau pedang masing-masing, dan seperti segerombolan srigala mereka menyerbu ke arah pemuda itu. Diana terbelalak dan kini hatinya penuh gelisah, mengkhawatirkan keselamatan pemuda itu.

Ngeri hatinya membayangkan tubuh pemuda yang telah menolongnya itu, di depan matanya, akan dicingcang sampai hancur. Bangkitlah semangatnya ketika ia melihat seorang lawan yang menyerang pertama kali, entah bagaimana caranya, telah dirobohkan pula oleh pemuda itu hanya dengan satu kali gerakan tangan. Bukan main kagum rasa hati Diana, dan iapun bangkit menyambar sepotong kayu kering patahan pohon, dan gadis inipun menghampiri mereka yang sudah roboh.

Agaknya setiap orang lawan yang menyerang pemuda itu, segebrakan saja sudah dirobohkan dan yang sudah roboh itu tidak mampu menyerang lagi, ada yang mengaduh-aduh memegangi kakinya, pundaknya dan lain-lain. Agaknya mereka itu mengalami tulang patah. Diana, dengan hati penuh kegemasan, mengayun potongan kayu di tangannya itu, mengamuk di antara lawan yang sudah tak mampu bangkit kembali. Pentungan itu diayun keras-keras dan menghantam tubuh-tubuh itu. Terdengar suara ‘bak-buk-bak-buk’ ketika gadis ini mengamuk. Ia termasuk wanita yang bertenaga kuat, dan pukulan tongkatnya yang menimpa pundak, atau dada, atau kepala tanpa pilih tempat cukup keras, membuat mereka yang sudah menderita patah tulang itu menjadi semakin kesakitan. Kalau tidak patah lagi tulang bagian lain, atau kepala menjadi bocor terpukul tongkat itu, sedikitnya tentu mereka merasa tubuh mereka memar-memar dan babak bundas.

Pemuda itu memang hebat bukan main. Sepuluh orang itu hanya terkena tamparan tangan satu kali saja dan mereka sudah roboh tak mampu melanjutkan perkelahian! Jelaslah bahwa kalau pemuda itu menghendaki, kalau dia mempergunakan tenaga yang lebih besar, sepuluh orang itu bukan hanya roboh menderita patah tulang, melainkan besar sekali kemungkinannya mereka takkan mampu bangun kembali untuk selamanya

Kini, melihat betapa Diana mengamuk dan menggebuki orang-orang yang sudah tak mampu melawan itu dengan kayu di tangannya, seperti orang menggebuki anjing saja, pemuda itu lalu meloncat dan dengan halus dia memegang lengan Diana.

“Sudahlah, nona, mereka sudah cukup mendapatkan hukuman,” katanya dengan sikap sopan dan halus, dan sentuhan tangannya pada lengan Diana itupun cepat dihentikan dan tangannya ditariknya kembali.

Diana melempar kayunya dan membalikkan tubuh, menghadapi pemuda perkasa itu. Sejenak ia hanya memandang dengan mata bersinar-sinar, penuh kekaguman, menjelajahi wajah yang tampan dan gagah itu. Ia seperti melihat seorang mahluk yang aneh dan amat indah mengagumkan. Demikian terpesona, ia sampai tidak mampu berkata-kata. Ia teringat akan sahabat baiknya, Siauw Lian Hong yang amat dikaguminya dan disayangnya. Besar sekali persamaan antara pemuda ini dan Lian Hong, sama anggun, sama tinggi ilmu kepandaiannya. Hanya bedanya, kalau Lian Hong seorang gadis cantik jelita, pemuda ini adalah seorang laki-laki yang tampan.

“Kau... kau penolongku... siapakah namamu?” akhirnya ia mampu juga mengeluarkan suara.

Melihat betapa sepasang mata yang indah dan aneh karena warnanya biru itu memandang kepadanya dengan sinar bercahaya penuh kekaguman, dan bibir itu gemetar ketika bicara, pemuda itu melangkah mundur dua tindak.

“Tak perlu diketahui, nona, tak perlu diingat lagi. Itu kawan-kawanmu telah datang.”

Pemuda itu menunjuk ke kiri dan Diana menengok. Dilihatnya Lauw Sek dan para penduduk dusun datang berlari-lari. Melihat Lauw Sek, Diana lari menyambut dan merangkul orang tua itu yang nampaknya luka-luka berdarah pada pipi dan pahanya.

“Paman Lauw...!”

Gadis itu menangis dalam rangkulan Lauw Sek. Semua penduduk dusun merubungnya dan menghiburnya.

Tiba-tiba Diana melepaskan pelukan orang tua itu dan menengok, mencari- cari dengan pandang matanya.

“Dimana dia...?”

“Siapa yang kau cari, diana?” “Dia... penolongku, dimana dia?” Lauw Sek menarik napas panjang.

“Pemuda itu luar biasa sekali. Tadi dia datang dan menemukan kami dalam keadaan babak belur dihajar gerombolan itu.”

“Eh, mana gerombolan itu...?” Diana memotong.

“Mereka sudah pergi saling bantu, dan keadaan mereka lebih parah dari pada kami,” kata seorang di antara mereka.

“Siapakah pemuda itu, paman?”

“Dia berkelebat dan lenyap. Kami melakukan pengejaran dan melihat engkau selamat,” kata seorang lain.

“Ahhh... dan dia tadi tidak mau mengaku siapa namanya. Ah, paman Lauw, sungguh aku menyesal sekali. Dia telah menyelamatkan aku, mungkin menyelamatkan nyawaku, dan tak seorangpun di antara kita mengenalnya.”

“Dia tentu seorang pendekar muda yang amat lihai.” “Seperti Lian Hong?”

Lauw Sek menghela napas.

“Aku tidak tahu apakah ada orang yang dapat dibandingkan dengan nona Siauw. Akan tetapi pemuda itu tentu lihai sekali kalau seorang diri dia mampu merobohkan sepuluh orang penjahat tadi.”

“Merobohkan? Wah, kalian tidak melihatnya tadi. Dia hampir tidak berkelahi sama sekali! Setiap kali menggerakkan tangan, seorang lawan roboh.”

Diana merasa menyesal sekali tidak sempat berkenalan dengan penolongnya, dan di dalam hatinya ia merasa kagum bukan main. Ia makin mengerti sekarang, bahwa di dalam negara yang rakyatnya kelihatan masih terbelakang dan bodoh ini, ternyata terdapat banyak orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali, orang-orang aneh yang setelah menyelamatkan nyawa seorang lalu pergi begitu saja tanpa memberi kesempatan namanya dikenal. Ia kagum sekali dan wajah pemuda itu terukir di dalam lubuk hatinya. Ia takkan dapat melupakan peristiwa itu, takkan dapat melupakan wajah yang tampan sederhana itu.

Lauw Sek dan para penghuni dusun itu lalu mengajak Diana pulang ke dusun mereka. Melihat betapa banyak orang dusun luka-luka karena membela dirinya, Diana merasa terharu sekali dan iapun membantu untuk merawat mereka yang luka-luka.

Koan Jit marah bukan main mendengar laporan anak buahnya, sepuluh orang yang kembali menderita luka-luka itu. Apalagi ketika dia mendengar bahwa mereka itu gagal membawa pulang Diana hanya karena dihalangi oleh seorang pemuda yang tidak mereka ketahui siapa. Si kumis melintang dengan muka pucat dan tubuh menggigil berlutut di depan Koan Jit.

“Harap tai-ciangkun sudi mengampunkan kami. Pemuda itu sungguh bukan manusia biasa. Kami sepuluh orang sudah berusaha sekuat tenaga, mempergunakan senjata-senjata kami melawan sampai akhirnya kami roboh tak mampu melawan lagi. Dia amat lihai sekali dan agaknya hanya paduka saja yang akan mampu mengalahkannya.”

Koan Jit mengepal tinju.

“Keparat! Masa untuk membawa pulang seorang perempuan kulit putih saja, harus aku sendiri yang maju?”

Koan Jit marah bukan main. Baru kemarin, rombongan lain juga datang dengan tubuh babak belur. Rombongan yang terdiri dari belasan orang itu mendengar adanya seorang gadis bule di sebuah perkampungan di lereng gunung. Mereka segera mendatangi wanita itu dan karena mereka belum pernah melihat bagaimana macamnya keponakan Kapten Charles Elliot, mereka yang biasa bersikap kasar ini hendak memaksa wanita itu untuk ikut dengan mereka ke Kanton. Akan tetapi, ternyata wanita bule sudah bersuami dan suaminya lalu mengamuk. Mereka dihajar babak belur karena suami wanita itu adalah seorang pendekar yang amat lihai, yaitu Gan Seng Bu, sute dari Koan Jit sendiri. Wanita itu adalah Sheila, puteri mendiang opsir Hellway. Tentu saja Koan Jit marah sekali mendengar bahwa yang menghajar anak buahnya ini bernama Gan Seng Bu, sutenya sendiri. Dia juga sudah mendengar tentang wanita Inggeris yang menikah dengan seorang pemberontak, akan tetapi baru sekarang dia mendengar bahwa pemberontak itu adalah Gan Seng

Bu, seorang di antara dua orang sutenya.

Sebelum kemarahan itu reda, kini si kumis melintang bersama anak buahnya datang memberi laporan bahwa mereka sudah menemukan tempat tinggal Diana, akan tetapi mereka tidak berhasil membawa Diana pulang bahkan dihajar babak belur pula oleh seorang pemuda yang tidak terkenal. Tentu saja dia tidak dapat bertindak apa-apa terhadap Sheila, karena bukan wanita itu yang dicarinya.

“Antar aku ke tempat wanita itu!” hardiknya kepada si kumis melintang.

Lalu Koan Jit melaporkan kepada Kapten Charles Elliot bahwa dia sudah berhasil menemukan tempat tinggal Diana, dan dia akan berangkat sendiri menjemput, membawa sebuah kereta ditemani oleh si kumis melintang.

Koan jit adalah seorang yang berwatak tinggi hati dan seperti biasa orang yang berwatak tinggi hati, dia memandang rendah kepada siapapun juga, dan penuturan si kumis melintang bahwa Diana dilindungi seorang pemuda yang telah merobohkan sepuluh orang anak buahnya itu sama sekali tidak membuat dia menjadi gentar, bahkan menimbulkan rasa penasaran dan kemarahannya. Dia yakin akan dapat mengalahkan pemuda itu atau siapapun juga, maka dengan hati penuh geram, dia pergi bersama si kumis melintang untuk menghajar pemuda lancang itu dan turun tangan sendiri menjemput Diana.

Agaknya bintang peruntungan Koan Jit sedang gelap, dia sedang dilanda kesialan. Ketika keretanya tiba di dusun dimana Diana tinggal, dan bersama si kumis melintang dia meloncat turun, ditonton oleh para penduduk dusun, tiba- tiba nampak Diana muncul bersama seorang gadis lain dan seorang kakek kurus berbaju tambal-tambalan.

Koan Jit sama sekali tidak mengenal gadis dan kakek itu, akan tetapi mudah menduga bahwa gadis cantik berkulit putih bermata biru dan berambut kuning emas itu tentulah Diana yang dicarinya. Dia sama sekali tidak memandang kepada para penduduk di situ, dan dengan langkah lebar dia menghampiri gadis itu dan berbisik kepada si kumis melintang.

“Mana pelindungnya itu?”

“Tidak ada... tidak nampak...”

Si kumis melintang menjawab sambil menoleh ke kanan kiri dengan sikap takut-takut. Hati orang ini masih gentar kalau dia mengenang kelihaian pemuda yang pernah menolong Diana, dan legalah dia tidak melihat adanya pemuda itu di situ.

Sementara itu, Koan Jit yang ingin tugasnya cepat-cepat selesai, sudah menghadapi Diana dan berkata. “Nona Diana, silahkan naik ke kereta. Aku datang menjemput nona atas kehendak pamanmu Kapten Charles Elliot.”

Suaranya mengandung desakan yang kuat sehingga Diana merasa khawatir juga. Orang ini berada dengan si kumis melintang itu dan sikap orang yang berwibawa ini membuat ia gemetar.

“Tidak perlu dijemput, kalau aku ingin kembali ke Kanton, tentu akan kulakukan itu. Aku belum mau pulang, harap engkau suka menyampaikan pesanku kepada pamanku.”

“Nona Diana, aku telah dimintai tolong oleh pamanmu untuk membawamu pulang ke Kanton, baik engkau mau atau tidak. Kalau nona tidak mau, terpaksa akan kupaksa.”

Koan Jit tidak mengatakan bahwa dia diutus atau diperintah, melainkan berkata bahwa paman Diana itu minta tolong kepadanya. Hal ini saja menunjukkan ketinggian hatinya.

“Aku tidak mau pulang!”Diana berkata lagi, kini agak marah.

“Terpaksa aku memaksamu!” kata Koan Jit dan tiba-tiba tangannya sudah meluncur ke depan hendak menangkap pergelangan tangan Diana.

“Plakk!!!”

Tiba-tiba tangannya itu tertangkis dan dia merasa betapa telapak tangannya tergetar. Dia terkejut dan marah, dan ketika dia memandang wajah gadis yang telah menangkisnya itu, dia makin kaget karena dia seperti pernah melihat gadis ini.

“Koan Jit, dimana-mana engkau mempergunakan tenaga dan kepandaian untuk menghina dan memaksa orang. Apa kau sudah lupa kepadaku?”

“Ah, kau kiranya!” bentaknya dan kini dia teringat.

Gadis inilah yang dulu pernah membebaskan Ciu Kui Eng. Kemarahannya memuncak.

“Kau lagi yang menghalangiku? Sekarang akan kubunuh kau!”

Dan diapun menyerang dengan dahsyat. Kalau dulu dia kalah oleh gadis ini karena gadis ini mengeroyoknya bersama Kui Eng, murid Tee-tok yang cukup lihai itu.

“Wuuutttt...!”

Tanparan yang akan menghancurkan batu karang itu lewat di samping kepala gadis itu yang bukan lain adalah Siauw Lian Hong, membalas dengan totokan gagang kipasnya yang sudah dikeluarkannya dengan cepat. Gagang kipas itu melakukan totokan di dekat siku lengan Koan Jit yang tadi menyerang.

Murid pertama Thian-tok ini tentu saja maklum akan kehebatan serangan ini. Kalau terkena totokan itu, lengannya akan lumpuh dan hal itu berbahaya sekali, maka terpaksa dia menarik kembali lengannya, dan dari bawah kakinya menyambar. Semua gerakannya dilakukan dengan kecepatan kilat, maka penasaranlah dia ketika kembali gadis itu mampu menghindarkan diri dari tendangannya.

Sebelum dia dapat menyerang lagi, tiba-tiba ada angin yang amat kuat dari arah kiri. Dia terkejut dan memutar tubuh ke kiri, siap untuk menandingi lawan yang kuat ini, dan ternyata dia berhadapan dengan kakek berbaju tambal- tambalan tadi. Koan Jit makin terkejut dan diperhatikannya orang itu. Seorang kakek yang usianya tentu sudah tujuhpuluh tahun lebih, kurus dengan baju tambal-tambalan akan tetapi bersih, mukanya kusut dan mulutnya tersenyum terus! Yang membuat Koan Jit merasa kaget adalah ketika dia melihat sebuah kipas butut di tangan kiri kakek itu. “Ah, apakah aku berhadapan dengan San-tok?” Kakek itu memperlebar senyumnya.

“Ha-ha… murid pertama Thian-tok sungguh hebat dan mengagumkan, mungkin dapat mengangkat dirimu di dunia hitam. Sayang, begitu merendahkan diri menjadi anjing penjilat bangsa asing, dan lebih sayang lagi, kini berhadapan dengan kami sebagai lawan karena hendak menganggu seorang gadis sahabat baik muridku.”

Baru sadarlah kini Koan Jit bahwa gadis perkasa yang pernah menolong Kui Eng dan yang kini kembali menentangnya adalah murid San-tok. Pantas demikian lihai. Dan lebih celaka lagi, gadis itu adalah sahabat baik Diana. Akan tetapi, bagaimana mungkin dia harus mengalah dan mundur? Biarpun di situ ada murid Santok dan bahkan ada San-tok sendiri, dia tidak takut!

Sepasang mata kucing yang mencorong kehijauan itu menyipit dan mulut yang biasanya lebih banyak tertutup itu, kini membayangkan ejekan.

“San-tok, engkau sudah tua bangka tentu sudah tahu bahwa setiap orang harus mencari kesenangan dengan cara masing-masing. Dan menurut aku, caraku ini yang paling baik. Apakah sekarang orang yang bernama San-tok itu, seorang di antara Empat Racun Dunia, sudah menjadi seorang pendekar budiman yang hendak melindungi seorang gadis bule bermata biru? Ha-ha, alangkah lucunya…”

“Koan Jit, tutup mulutmu yang beracun!”

Lian Hong membentak dan melangkah maju menghadapi laki-laki itu.

“Di sini tidak ada persoalan pendekar atau bukan pendekar. Yang membela Diana adalah aku, Siauw Lian Hong, karena Diana adalah sahabatku. Kalau suhu tadi maju adalah karena dia hendak membela aku, muridnya. Akan tetapi, tanpa dibela suhu sekalipun, jangan kira aku takut melawanmu!”

Lian Hong sudah membentangkan kipasnya dengan sikap menentang. “Heh-heh-heh, Koan Jit. Kau mau bicara apalagi? Engkau memang murid

Thian-tok yang hebat, akan tetapi engkau mengkhianati gurumu sendiri. Engkau hanya seorang pencuri rendah yang pengecut. Hemm, aku akan dapat mengambil Giokliong-kiam itu darimu setiap saat kuhendaki, ha-ha…!”