--> -->

Pedang Naga Kemala Jilid 14

Jilid 14

“Caramu menolongku cerdik bukan main, adik Hong. Tentu engkau yang mengeluarkan suara tantangan mirip suara pria itu, bukan?”

“Benar, aku melihat cara dia merobohkanmu dengan saputangan merah itu dan tahu bahwa dia berbahaya sekali. Maka aku lalu mempergunakan siasat memancing harimau keluar dari sarangnya. Begitu dia tertarik oleh suara tantanganku, dan saking marahnya dia langsung keluar sehingga tidak melihat aku yang bersembunyi di luar ruangan bawah tanah itu, aku lalu membebaskanmu. Aku yakin, kalau kau bebas, kita berdua pasti akan mampu mengalahkannya.”

“Engkau harus berhati-hati terhadap lawan seperti itu, enci. Enci Kui Eng, bagaimana engkau tahu bahwa aku lebih muda darimu? Begitu bicara, engkau menyebut adik kepadaku. Siapa tahu aku lebih tua.”

“Berapa usiamu sekarang?”

“Aku sudah delapanbelas tahun.”

“Dan aku sudah sembilanbelas. Kaulihat, bukankah aku yang lebih tua?” “Enci Kui Eng, ada satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu dan mudah-

mudahan kaudapat membantuku dalam hal ini.”

“Ah, aku  akan  senang  sekali  kalau  dapat  membantumu,  adik  Hong.

Tanyakanlah, apa yang ingin kauketahui itu?”

“Alamat dua orang bekas pembantu ayahmu. Gan Kin Bin dan Lok Hun.”

Wajah Kui Eng menyuram karena pertanyaan ini mengingatkan akan semua perbuatan ayahnya yang jahat dan kotor.

“Hemm, dua ekor anjing penjilat itu sudah lama tidak lagi membantu ayah. Mereka kini tinggal di Kanton, dan kabarnya menjadi pengawal pembesar di sana.”

“Terima kasih, besok aku akan mencari mereka di Kanton.”

“Aku ikut, aku akan membantumu menghadapi dua ekor anjing penjilat itu, adik Hong.”

Akan tetapi Lian Hong menggeleng kepala.

“Ini adalah urusan pribadi, enci, tidak usah engkau mencampuri.”

Ketika Kui Eng hendak membantah, Lian Hong membuka buntalan pakaiannya.

“Sudahlah, kaupakai pakaian ini untuk mengganti pakaianmu yang sudah hancur itu.”

Dan ia menyerahkan satu stel pakaian luar dalam kepada Kui Eng, dan ia sendiri pergi mencari kayu dan daun untuk membuat api unggun karena selain malam agak dingin, juga di tempat itu terdapat banyak nyamuk.

Mereka duduk menghadapi api unggun, saling pandang di bawah sinar api unggun yang terang kemerahan. Melihat Kui Eng memakai pakaiannya, ada perasaan akrab dalam hati Lian Hong terhadap gadis itu, sebaliknya Kui Eng juga merasa akrab terhadap Lian Hong setelah mengenakan pakaian kawan baru itu. Mereka saling pandang sejenak, kemudian terdengar Lian Hong menarik napas panjang.

“Betapa anehnya hidup ini. Lihat diri kita berdua ini. Kita datang dari dua keluarga yang jauh berbeda...”

“Ya, aku dari keluarga kaya raya yang jahat, engkau dari keluarga miskin yang menjadi korban kejahatan keluargaku,” sambung Kui Eng dengan suara penuh sesal.

“Sudahlah, enci Eng. Luka tidak perlu digosok dan digosok lagi sampai berdarah kembali. Maksudku bukan demikian. Kita datang dari keluarga yang jauh berlainan, akan tetapi lihat. Kita berdua kehilangan keluarga, kehilangan segala-galanya, dan kini duduk menghadapi api unggun dalam keadaan yang sama. Tidak mempunyai apa-apa. Tidak mempunyai masa depan yang cerah. Belum tahu harus kemana dan bagaimana macamnya jalan hidup kita yang terbentang di depan.”

“Ya... ya, kita berdua ini adalah korban-korban. Siapakah yang bersalah?” “Kukira tidak demikian. Andaikata orang kulit putih tidak memasukkan

candu, akhirnya para pecandu akan mencari sendiri dengan segala caranya. Yang salah adalah pemerintah, yang lemah dan para pembesarnya hanya mementingkan diri sendiri saja, sama sekali tidak memperdulikan keadaan rakyat.”

Kui Eng mengangguk-angguk.

“Akupun sudah mengambil keputusan untuk membantu para pendekar yang hendak mengusir pemerintah penjajah Mancu!”

“Ssttt, ucapan itu kalau terdengar pemerintah sama saja dengan keputusan mati untuk kita. Akan tetapi akupun diam-diam menaruh rasa kagum terhadap mereka dan kalau terdapat kesempatan, akupun tentu akan membantu.”

Malam itu mereka bercakap-cakap secara akrab dan karena mereka khawatir kalau-kalau Koan Jit datang lagi, mereka tidak berani tidur berdua. Mereka berjaga dengan bergilir, akan tetapi malam itu tidak terjadi sesuatu. Agaknya Koan Jit merasa tidak ada harapan lagi untuk mengalahkan dua orang gadis perkasa itu.

Pada keesokan harinya pagi-pagi sekali, Lian Hong dan Kui Eng saling berpisah sebagai dua orang sahabat yang baik sekali.

Derap kaki dua ekor kuda besar yang berlari congklang itu, diseling suara ketawa seorang laki-laki dan wanita di atas kuda, memecah kesunyian lembah Sungai Mutiara itu. Mendengar suara ketawa tanpa melihat rupanya, orang hanya akan dapat membedakan antara suara pria dan wanita saja.

Suara ketawa tidak memisahkan manusia di seluruh dunia ini, seperti bahasa. Bangsa apapun juga memiliki suara ketawa yang sama. Seperti juga tangis. Tawa dan tangis merupakan suara suci yang keluar dari hati, suara aseli bawaan manusia, tidak seperti bahasa yang muncul sebagai hasil buatan manusia.

Setelah melihat orang-orang yang menunggang kuda itu, barulah kita tahu bahwa merekaitu adalah dua orang kulit putih. Seorang pria dan seorang wanita. Dari pakaian mereka, dari warna kulit dan rambut dan mata, kemudian dari suara percakapan mereka, mudah diketahui bahwa mereka adalah dua orang Inggeris.

Memang suatu hal yang amat mengherankan melihat mereka berada di luar kota, begitu jauh dari kota. Biasanya, orang-orang kulit putih hanya berani berkeliaran di dalam kota saja. Kalau mereka terpaksa memiliki urusan dan keperluan ke luar kota, mereka tentu pergi dengan pengawalan ketat. Akan tetapi dua orang ini menunggang kuda tanpa pengawal dan kelihatan mereka itu demikian gembira dan sama sekali tidak takut. Padahal, di waktu itu, banyak terdapat perkumpulan-perkumpulan ahli silat yang bersikap anti kulit putih.

Akan tetapi mereka berdua ini bukan orang-orang biasa. Perempuan kulit putih yang usianya sembilan belas tahun itu adalah Diana, seorang keponakan terkasih dari Kapten Charles Elliot. Sebagai keponakan kapten yang mengepalai semua orang kulit putih di Kanton, yang dianggap sebagai anak sendiri, tentu saja Diana dihormati semua orang kulit putih. Dara ini pemberani, lincah jenaka, dan mengetahui banyak tentang pergolakan di tempat dimana ia bekerja sebagai sekretaris pamannya sendiri.

Diana sangat cantik jelita, dengan rambut kuning keemasan, ikal mayang dan lebat sekali, seolah-olah kepalanya dihias benang-benang sutera kemerahan dan bentuk tubuhnya amatlah indah. Apalagi karena pakaiannya ketat, bentuk tubuh itu menonjol sekali. Gaunnya panjang sampai ke mata kaki, dengan lengan gaun sampai di bawah siku. Wajahnya berbentuk bulat telur, dengan mata biru laut, bulu mata lentik panjang, alis yang agak kehitaman melengkung panjang, hidungnya mancung dan mulutnya selalu tersenyum dengan bibir yang selalu merah basah dan kadangkadang nampak kilatan gigi putih seperti mutiara berjajar. Perhiasan yang menempel di tubuhnya hanyalah gelang emas di kedua tangan dan sepasang anting-anting. Kedua kakinya memakai sepatu panjang sampai ke bawah lutut.

Adapun pria yang menunggang kuda di sampingnya, juga bukan orang sembarangan. Dia adalah seorang berpangkat letnan, namanya Peter Dull dan di kalangan pasukan Inggeris yang berada di Kanton, Peter Dull ini terkenal sebagai seorang jagoan dalam perang. Seorang laki-laki berusia tigapuluh tahun, masih bujangan, dan seorang ahli tinju, ahli tembak dan terkenal tampan dan dikagumi semua wanita, baik yang sudah bersuami ataupun belum, di kalangan orang kulit putih di kota itu.

Letnan Peter Dull ini berwajah jagoan, dengan sepasang mata tajam, alis tebal, hidung mancung dan mulut yang seperti selalu tersenyum sinis. Dagunya terhias jenggot pendek terpelihara rapi. Rambutnya berwarna coklat, demikian pula jenggotnya. Dia memakai pakaian pasukan, dengan topi letnan, sepatunya juga tinggi sampai ke lutut, dan sehelai mantel merah yang lebar berkibar di belakang tubuhnya. Di pinggangnya tergantung sebuah pistol yang membuat dia nampak keren dan gagah sekali. Di pinggang kiri tergantung sebatang pedang. Letnan Peter Dull ini selain mahir menggunakan pistol, juga merupakan seorang ahli pedang yang kenamaan di dalam pasukannya.

“Heii, Diana! Sudah, sampai di sini saja. Kita harus kembali!” Terdengar letnan itu berteriak.

Diana menoleh dan tertawa.

“Hi-hi, engkau takut berjumpa dengan gerombolan?” Seruan itu menyinggung harga diri letnan itu.

“Aku? Takut? Aku mengkhawatirkan kamu, Diana!” katanya dan diapun membalapkan kudanya.

Mereka tertawa-tawa sambil membalapkan kuda, dan akhirnya, di sebuah tikungan, mereka berpisah karena secara tiba-tiba Diana membelokkan kudanya ke kiri sedangkan kuda yang ditunggangi Peter Dull sudah mendahuluinya dan terus membalap ke depan. Letnan itu baru tahu kalau Diana membelokkan kudanya karena tidak lagi mendengar derap kaki kuda kawannya itu.

“Heiii! Diana, kau kemana...?”

“Ha-ha, Peter. Sekarang engkau kalah. Kalau bisa, kejarlah aku!” terdengar teriakan Diana jauh di depan ketika Peter memutar kembali kudanya.

“Diana...!” teriaknya, akan tetapi Diana dan kudanya sudah lenyap tertutup debu dan ketika Peter mulai mengejar, gadis itu bahkan sudah jauh sekali dan tidak nampak lagi karena memasuki hutan kebat.

“Diana, tunggu...”

Hati perwira itu mulai khawatir. Mengapa Diana mengambil jalan liar, memasuki hutan? Itu berbahaya sekali, dan ia mulai merasa menyesal mengapa tadi membiarkan saja gadis itu mengajaknya pergi sejauh ini. Dia tergila-gila kepada Diana, bukan hanya karena gadis itu memang cantik jelita dan menggairahkan, akan tetapi terutama sekali karena Diana jinak-jinak merpati. Nampaknya mudah didekati dan mudah ditundukkan, akan tetapi setelah dekat tinggal mengulur tangan, gadis itu selalu menghindar dan menjauh! Padahal, wanita mana saja kalau dia menghendaki, akan menyambutnya dengan hati dan kedua lengan terbuka, bahkan dengan pakaian terbuka. Dia terkenal sebagai seorang penakluk wanita yang tidak bandingnya. Akan tetapi, betapapun dia telah berusaha, dia tidak berhasil menaklukkan Diana. Apa lagi menaklukkan, mencium satu kalipun dia tidak pernah berhasil!

Dan seorang keponakan Kapten Charles Elliot, tentu saja tidak boleh dibuat main-main dan sama sekali tidak mungkin didapatkan melalui kekerasan! Pada pagi hari itu, seperti biasa Diana kelihatan begitu ramah dan baik, begitu akrab seolah-olah sudah siap untuk menerima cintanya. Karena itulah dia tidak membantah ketika Diana mengajaknya ke tempat sejauh itu, dengan harapan di tempat sunyi itu akhirnya Diana akan menyerahkan diri, setidaknya untuk dibelai dan diciuminya. Sudah terbayang dia tadi betapa akan nikmat dan senangnya kalau dia berhasil meraih gadis ini sebagai pacar barunya. Seorang gadis tulen, seorang perawan, ini dia yakin benar karena belum pernah Diana mempunyai seorang kawan pria yang akrab, seakrab dia.

Akan tetapi, kembali Diana memperlihatkan watak berandalnya. Secara tiba-tiba saja kudanya dibelokkan ke dalam hutan lebat dan hal ini amat berbahaya sekali. Akan tetapi, kegagahannya ditantang dan dia tentu saja bertanggung jawab atas keselamatan gadis itu.

Celakanya, Diana adalah seorang gadis yang mahir sekali menunggang kuda, dan tadi ketika berangkat, dara itu sengaja meminjam kuda kesayangan pamannya sendiri. Kuda hitam yang ditunggangi Diana dapat berlari cepat seperti setan, dan Diana juga seorang penunggang yang mahir, maka kini, setelah gadis itu membalap, dan sudah jauh lebih dulu meninggalkannya, Peter tidak dapat menyusul.

Dapat dibayangkan betapa besar kegelisahan hati letnan yang gagah ini ketika dia tidak lagi melihat bayangan Diana dengan kudanya. Apalagi ketika dia kehilangan jejak kaki kuda yang ditunggangi Diana karena kini tanah tertutup batu-batu yang tidak meninggalkan bekas jejak kaki yang dapat dilihat begitu saja. Terpaksa dia harus meloncat turun dari atas kudanya dan meneliti dari dekat. Setelah bertemu jejak kaki kuda, baru dia melanjutkan pengejaran dan pencariannya. Tentu saja hal ini memakan waktu.

Ketika ia tiba di tempat terbuka, dimana terdapat batu-batu besar dan pohon-pohon raksasa, kembali dia bingung dan terpaksa meloncat turun dari kuda. Pada saat itu, dia merasa seperti dipandang orang dan cepat dia bangkit memutar tubuhnya. Benar saja, tidak jauh dari tempat dia berdiri, di atas sebuah batu gunung, berdiri seorang laki-laki berpakaian serba hitam. Laki-laki itu berusia empatpuluh tahun lebih, pakaiannya serba hitam, badannya tinggi kurus dan mukanya juga agak kehitaman, dengan sepasang mata mencorong kehijauan seperti mata kucing. Kepalanya ditutup topi batok, dengan kuncir rambut yang tebal panjang berjuntai ke depan dadanya. Laki-laki ini memandang dengan senyum sinis penuh ejekan.

Melihat laki-laki ini, Letnan Peter Dull yang sudah pandai bicara dengan bahasa daerah, segera bertanya.

“Hei, apa kamu melihat seorang nona menunggang kuda lewat di sini?”

Semenjak kunjungannya pertama kali di negara yang penduduknya bukan kulit putih, orang kulit putih selalu memandang rendah kepada pribumi yang dianggap sebagai bangsa yang masih terbelakang, bodoh dan rendah derajatnya. Oleh karena itu, sikap seorang kulit putih terhadap kulit berwarna memang selalu angkuh dan tinggi hati. Apalagi seorang perwira seperti Letnan Peter Dull ini, sikapnya terhadap pribumi memang congkak, terutama semenjak pecahnya Perang Madat.

Laki-laki yang nampaknya hanya seorang petani atau seorang penghuni gunung biasa itu, masih memandang dengan senyum sinis, dan mata yang mencorong hijau itu makin berkilat ketika mendengar pertanyaan itu. Akan tetapi akhirnya dia menjawab juga, menjawab dengan pertanyaan.

“Kalau aku melihatnya bagaimana, kalau tidak bagaimana?”

Peter mengerutkan alisnya dengan marah. Jawaban seperti ini sungguh sama sekali tak pernah disangkanya. Orang ini terlalu kurang ajar, pikirnya. Akan tetapi karena dia membutuhkan keterangannya tentang diri Diana, dia menahan sabar dan maju menghampiri batu gunung itu, meninggalkan kudanya yang asyik makan rumput.

Tiba-tiba orang itu tertawa dan tubuhnya melompat turun dari atas batu itu, berdiri di depan Peter dalam jarak hanya dua meter saja. Sepasang matanya mencorong hijau dan dia menjawab dengan suara lantang.

“Kalau aku melihatnya, aku tidak akan memberi tahu kepadamu, kalau aku tidak melihatnya, engkaulah yang pergi ke neraka!”

“Bangsat kurang ajar, kamu bosan hidup, ya?”

Dan saking kesal dan marahnya, Peter lalu menerjang ke depan dengan kedua tangan terkepal. Sudah beberapa lama letnan ini menghimpun pribumi yang dianggap kuat, untuk bersekutu dengan pasukannya dan terhadap para pembantunya yang rata-rata ahli ilmu silat itupun dia bersikap tegas dan selalu dipatuhi. Maka kini, melihat sikap orang yang dipandang rendah begini angkuh terhadap dirinya, Peter kehilangan kesabaran. Begitu dia menerjang maju, kedua kepalannya sudah diayun dengan tenaga sepenuhnya, dari kiri kanan menyambar ke arah dagu dan dada orang berpakaian hitam itu. Pukulan kombinasi ini amat cepat dan biasanya, jarang ada lawan yang mampu menghindarkan diri. Kecepatan dan kekuatannya sudah terkenal sehingga di dalam pasukannya dia dijuluki ‘The Iron Fist’ (Si Kepalan Besi)!

“Wuuutt... wuuuuttt...!”

Peter terkejut. Pukulannya sama sekali tidak mengenai sasaran! Padahal, orang di depannya itu tidak meloncat terlalu jauh, hanya menggerakkan sedikit saja tubuhnya dan dua pukulannya yang diayun dari belakang kanan kiri itu mengenai tempat kosong! Akan tetapi dia menerjang terus, kedua kepalan tangannya menyambar-nyambar dengan berbagai bentuk serangan, dari samping, langsung dari depan, dari bawah menghantam dagu. Sampai belasan kali pukulannya mengenai tempat kosong, dan ketika tangan kanannya mengirim sebuah pukulan langsung, orang berpakaian hitam itu menggerakkan lengan kirinya menangkis. Tangkisan pertama sejak Peter menghujankan pukulan tadi. Dengan tangan kiri yang dimiringkan, orang itu menangkis dan tepat mengenai pergelangan tangan kanan Peter.

“Dukkk...!”

Peter terhoyong ke belakang dan dia harus menggigit bibirnya untuk menahan teriakannya. Lengan kanannya yang tertangkis itu tergetar hebat dan tulang lengan yang tertangkis tangan miring itu seperti ditangkis dengan linggis besi saja rasanya. Kiut-miut rasanya, nyeri bukan main, sampai menyusup ke tulang sumsum. Dia merasa heran dan penasaran sekali. Semua pembantunya, orang-orang pribumi yang katanya pandai silat, sudah dicobanya. Memang di antara mereka ada yang cekatan, akan tetapi tidak begitu hebat dan belum pernah ada yang mampu menangkis pukulannya seperti orang ini, sekali tangkis membuat ia hampir menjerit kesakitan! Dia tidak tahu bahwa orang-orang yang ditarik menjadi sekutunya itu hanyalah ahli-ahli silat kampungan saja yang menjual kepandaian yang tidak seberapa itu untuk mencari uang mudah. Dan dia tidak tahu sama sekali bahwa kini dia berhadapan dengan seorang ahli dalam arti kata yang paling dalam. Seorang ahli silat kelas satu!

“Keparat kamu!” bentaknya dan diapun menerjang lagi dengan mata mendelik.

Akan tetapi orang itu agaknya memang hendak mempermainkannya. Tubrukan dengan pukulan-pukulan ganda itu dielakkan secara tiba-tiba setelah kepalan tangan Peter hampir menyentuh dada. Hal ini membuat tubuh Peter terdorong ke depan dan tiba-tiba saja, belakang lutut Peter didorong ujung sepatu orang itu dan tak dapat dipertahankan lagi, tubuh Peter terdorong dan dia jatuh berlutut!

Baru sekarang Peter menduga bahwa orang ini tidak dapat dipersamakan dengan orang-orang yang telah menjadi sekutunya. Orang ini agaknya memiliki ilmu silat yang hebat. Pernah dia mendengar akan pendekar-pendekar yang katanya sedemikian tinggi ilmu silatnya sehingga seperti iblis saja, bahkan ada kabar desas-desus tentang adanya pendekar-pendekar yang mampu mengelak dari sambaran peluru pistol atau bedil. Tentu saja dia tidak percaya dan menganggap semua itu kabar bohong dan nonsens belaka. Kini, melihat betapa serangan-serangan tangan kosongnya tidak mampu menandingi kegesitan lawan ini, tiba-tiba dia mencabut pedangnya! Dia melihat reaksi orang itu. Akan tetapi sungguh luar biasa. Orang itu tidak nampak takut, bahkan berdiri tegak dan bertolak pinggang, seolah-olah menanti datangnya serangan pedang dari Peter!

Peter berhati-hati. Diapun bukan orang bodoh. Sama sekali bukan. Peter seorang yang amat cerdik, dan kecerdikkannya itulah yang membuat dia mengumpulkan ahli-ahli silat untuk membantunya. Kini dia mulai tertarik. Dia akan menguji orang ini. Siapa tahu orang ini benar-benar pandai dan kalau ada orang yang dengan tangan kosong mampu mengalahkan dia dan pedangnya, orang itu berharga dan berguna sekali!

“Kamu berani melawan pedangku? Nah, terimalah ini!” bentaknya dan Peter mulai menyerang dengan pedangnya.

Gerakannya cepat sekali dan dia memegang pedang dengan tangan kanannya yang dijulurkan ke depan sehingga pedang itu disambung lengan menjadi panjang. Tubuhnya membuat gerakan-gerakan cepat ke depan, tangan kiri diangkat tinggi di atas kepala untuk keseimbangan, dan pedang di tangannya itu mengeluarkan bunyi berdesing saking cepat dan kuatnya dia menggerakkan pedang itu.

Pedang membuat gerakan menusuk ke arah leher lawan berbaju hitam. Ketika orang itu mengelak sambil menggeser kaki sehingga tubuhnya miring dan pedang itu meluncur lewat, tiba-tiba Peter menggerakkan pergelangan tangannya dan pedang itu menyambar dari samping dengan amat cepat, kini menyambar ke arah leher juga. Akan tetapi, gerak cepat Peter masih kalah oleh kecepatan orang itu, karena kembali bacokan kearah leher itu luput! Demikian cepatnya orang itu bergerak sehingga Peter tidak tahu bagaimana cara orang itu mengelak, tahu-tahu orang itu sudah tidak lagi berada di tempat sasaran dan serangannya luput!

Tidak kurang dari duapuluh kali serangan dilakukan oleh Peter, namun semua serangan itu dapat dielakkan secara mudah saja oleh orang berpakaian hitam itu. Kemudian, ketika Peter melanjutkan serangannya, dengan kaget dan heran dia melihat betapa orang itu tidak mengelak lagi melainkan menangkis pedangnya dengan kedua tangan yang bergerak cepat.

“Tak-tak-tinggg...!”

Bukan main kagetnya hati Peter, kedua tangan telanjang orang itu mampu menangkis pedangnya seperti sepasang tangan baja saja! Bukan saja tidak terluka sama sekali, bahkan ketika kedua tangan menangkis pedang, dia merasa lengannya tergetar hebat dan hampir saja pedangnya terpental lepas. Dia merasa semakin penasaran, akan tetapi juga kagum bukan main. Jelas bahwa dalam hal pukulan tangan kosong, dia kalah jauh oleh orang ini dan sekarang, mungkinkah pedangnya dikalahkan oleh dua tangan kosong saja? Dia menyerang lagi dan tiba-tiba saja, entah dengan gerakan bagaimana, tahu- tahu pergelangan tangannya disentuh jari orang itu dan tanpa dapat dielakkannya lagi, karena tiba-tiba tangan kanannya menjadi lumpuh, pedang itu telah berpindah tangan! Orang berpakaian hitam itu mengeluarkan suara ketawa aneh, lalu kedua tangannya menekuk pedang itu!

“Krekkk!”

Pedang itu patah menjadi tiga potong lalu dibuang dengan sikap mengejek keatas tanah.

Melihat ini, wajah Peter berobah. Bukan main orang ini, pikirnya. Selain kagum, dia juga merasa marah dan terhina. Dengan cekatan, dia lalu lari ke arah kudanya dan sekali meloncat, dia telah berada di punggung kuda dan tangan kanannya sudah mencabut pistolnya. Dia adalah seorang ahli tembak dari atas kuda. Dia merasa lebih yakin dan tenang kalau memainkan pistol dari atas kuda, dari pada di atas tanah. Kini dia mengambil keputusan untuk memilih satu antara dua. Membunuh orang ini karena berbahaya, atau mengujinya dan kalau mungkin menariknya menjadi pembantu. Akan tetapi, karena pedangnya dipatahkan, dia akan menguji sampai akhir, yaitu kini hendak mengujinya dengan menggunakan pistol. Ingin dia melihat apakah orang ini benar-benar mampu menghindarkan diri dari bidikan pistolnya, seperti yang dikabarkan sebagai dongeng tentang para pendekar sakti.

Dia mengangkat pistol, membidik ke arah orang itu, siap menembakkan pistolnya. Akan tetapi, begitu pistolnya meledak, orang itu lenyap. Yang nampak hanya bayangan hitam berkelebat cepat sekali dan tahu-tahu orang itu telah berdiri di atas sebuah batu besar! Peter cepat memutar kudanya dan menembak ke arah orang di atas batu itu, akan tetapi kembali tembakannya luput karena orang itu sudah meloncat ke atas, seperti seekor burung saja cepatnya, dan telah turun kembali jauh di sebelah belakangnya!

Peter terbelalak. Benar saja orang ini mampu mengelak dari serangan pistolnya. Sampai dua kali tembakannya, yang dibidikkan dengan cermat tadi, sama sekali tidak mengenai sasarannya. Orang seperti ini amatlah berguna baginya, dan sayang kalau dibunuh. Lebih baik ditarik menjadi kawan dari pada menjadi lawan, dan kalau orang ini menolaknya, masih belum terlambat baginya untuk membunuhnya dengan peluru-peluru pistolnya yang masih siap di dalam senjata api itu.

“Tahan...!”

Teriaknya dan dari atas kudanya dia menghadapi orang berpakaian serba hitam itu, pistolnya tidak lagi dibidikkan, melainkan dipegang dengan laras menunduk. Peter cepat memutar kudanya dan menembak ke arah orang di atas batu itu, akan tetapi kembali tembakannya luput karena orang itu sudah meloncat ke atas, seperti seekor burung saja cepatnya, dan telah turun kembali jauh di sebelah belakangnya!

Orang berpakaian hitam itu tersenyum sinis. “Hemm, hanya begitu saja lihainya senjata apimu?”

Ejekan ini tidak memarahkan Peter karena dia mempunyai tujuan lain dengan orang ini.

“Nanti dulu, aku ingin berdamai dan bicara denganmu. Aku adalah Letnan Peter Dull, amat terkenal dalam pasukan kami. Siapakah namamu?”

Dengan suara dingin orang itu menjawab.

“Namaku Koan Jit, akan tetapi orang lebih mengenalku dengan sebutan Hek-eng-mo!”

“Hek-eng-mo (Bayangan Iblis Hitam)? Sungguh sebutan yang hebat dan cocok sekali. Kami amat membutuhkan orang-orang seperti kamu ini, Koan Jit. Kalau kamu suka ikut dengan kami, suka membantu kami untuk menghadapi para perusuh dan penjahat, kamu akan diberi pangkat, memimpin para jagoan yang membantu kami, dan kamu akan diberi hadiah besar, tempat tinggal yang mewah, dan kamu akan menjadi kaya raya dan terpandang. Ketahuilah bahwa aku adalah seorang perwira dari pasukan yang telah mengalahkan pasukan- pasukan pemerintah, kami adalah pasukan pemenang, maka tidak keliru kalau seorang dengan kepandaian seperti kamu ini menjadi pembantu kami.”

Koan Jit mendengarkan ucapan ini dan menundukkan muka dengan alis berkerut. Otaknya bekerja dengan cepat dan cermat. Seperti kita ketahui, Koan Jit gagal membujuk atau memaksa Kui Eng menjadi sekutunya, bahkan dia hampir celaka karena dihadapi Kui Eng yang dibantu Lian Hong, dua orang gadis yang kalau bergabung menjadi satu dapat merupakan lawan yang amat berbahaya baginya.

Koan Jit bukan termasuk orang yang suka dengan orang kulit putih. Walaupun dia tidak berjiwa patriot, bahkan tidak perduli akan semua urusan pemerintah atau orang lain, yang dipikirkan hanyalah kepentingan dia sendiri saja. Kini dia menghadapi penawaran yang dianggapnya menarik dari seorang Letnan pasukan kulit putih. Dia mempertimbangkan untung ruginya. Tentu saja dia tidak begitu tertarik tentang harta karena kalau dia mau apa sukarnya mencari harta? Tinggal memasuki rumah orang-orang kaya dan mengambil sesuka hatinya! Tidak, dia tidak tertarik oleh harta.

Akan tetapi, kini setelah dia menjadi pemilik Giok-liong-kiam, semua orang kang-ouw mencarinya dan dia seolah-olah menjadi buruan orang-orang saktidi dunia kang-ouw. Hal ini amatlah berbahaya. Baru mengingat bahwa gurunya dan dua orang sutenya yang memiliki ilmu kepandaian tinggi pula itu tentu mencarinya, sudah membuat dia merasa jerih. Apalagi diingat bahwa tiga orang dari Empat Racun Dunia, yaitu Tee-tok, San-tok dan Hai-tok bersama murid-murid merekapun mencarinya, dan mereka amat lihai. Belum lagi orang- orang Siauw-lim-pai yang ingin mencuci bersih nama baik Siauw-bin-hud yang dicemarkan oleh perbuatan Thian-tok. Pendeknya, sebagai pemilik Giok-liong- kiam, hidupnya tidak aman lagi.

Dan kini terbukalah kesempatan yang amat baik baginya untuk dapat hidup aman. Kalau dia menjadi pembantu pasukan kulit putih, tentu saja dia hidup aman, hidup terhormat dan menduduki pangkat dan yang terpenting baginya, untuk sementara selagi urusan Giok-liong-kiam masih sedang hangat- hangatnya, dia dapat berlindung pada kekuatan pasukan kulit putih yang menjadi sekutunya.

Koan Jit kini mengangkat mukanya memandang, dan Peter merasa betapa tengkuknya menjadi dingin. Orang ini memiliki sinar mata yang mencorong seperti iblis, pikirnya.

“Baik, aku suka menerima usulmu. Akan tetapi agar kauketahui sebelumnya bahwa aku tidak suka menjadi anak buah yang hanya melakukan perintah, aku ingin menjadi pemimpin!”

Peter Dull tertawa.

“Ha-ha-ha, aku mengerti maksudmu. Engkau ingin bebas dan mengepalai pasukan, bukankah demikian? Jangan khawatir. Engkau menjadi pembantuku yang utama, Koan Jit. Hanya aku yang akan memberi perintah kepadamu. Akan tetapi engkau akan kuangkat menjadi komandan pasukan yang terdiri dari jagoan-jagoan yang sudah berhasil kami kumpulkan. Jumlah mereka hampir seratus orang. Nah, engkau menjadi pemimpin mereka, menjadi komandan yang membantu tugas-tugasku menjaga keamanan. Bagaimana?”

Koan Jit mengangguk dan diam-diam Peter Dull merasa girang bukan main. Tak disangkanya dia menemukan seorang pembantu yang demikian lihai. Makin kuat sajalah kedudukannya, dengan seorang pembantu seperti Hek-eng- mo Koan Jit ini! Akan tetapi kegirangannya segera lenyap ketika ia teringat kembali kepada Diana. Begitu teringat, dia terkejut sekali dan wajahnya berobah agak pucat.

“Celaka! Dimana Diana...??” Dia memandang wajah Koan Jit. “Koan Jit, katakan dimana gadis itu?”

“Gadis yang mana?”

“Apakah engkau tidak melihat seorang gadis berambut pirang naik kuda membalap lewat sini?”

Koan Jit menggeleng kepalanya.

“Aku baru saja datang dan melihatmu, tidak melihat adanya gadis menunggang kuda. Siapakah gadis itu?”

"Gadis itu adalah Diana, puteri komandanku, komandan kita. Hayo kaubantu aku mencarinya, Koan Jit!”

Peter lalu membedal kudanya, dan kembali dia kagum bukan main melihat bayangan hitam berkelebat dan ternyata Koan Jit bukan hanya dapat mengimbangi kecepatan kudanya, bahkan dapat mendahuluinya! Bahkan pembantu barunya itu memberi isyarat agar dia mengikutinya. Agaknya sambil berlari, Koan Jit dapat menemukan dan mengikuti jejak kaki kuda yang membawa Diana.

Mereka memasuki sebuah hutan besar dan makin lama hutan itu semakin lebat sehingga diam-diam Peter merasa khawatir dan juga jerih. Bagaimanapun juga, dia belum yakin benar akan kesetiaan orang yang baru saja diangkat menjadi pembantunya itu. Maka, diam-diam diapun selalu mempersiapkan pistolnya.

Tiba-tiba Koan Jit memberi isyarat agar Peter berhenti. Dari depan terdengar bunyi derap kaki kuda. Hati Peter berdebar tegang dan girang, mengharapkan bahwa itulah kuda bersama Diana yang datang kembali. Tak lama kemudian muncullah kuda hitam besar itu... tanpa Diana!

“Itu kudanya! Tapi dimana Diana...?” teriaknya penuh kegelisahan.

Koan Jit sudah menangkap kembali kuda itu yang terseret dan kuda itupun berhenti, terengah-engah dan mendengus-dengus seperti yang merasa ketakutan.

“Celaka... tentu terjadi sesuatu dengan Diana!”

“Kuda ini ketakutan, dan biasanya kuda sebesar ini hanya takut kepada sebangsa harimau yang berkeliaran di tempat ini.Tentu ia ketakutan bertemu dengan seekor harimau kumbang.”

“Apa...? Dan Diana...? Celaka, ia tentu menjadi mangsa harimau kumbang!” Koan Jit menggeleng kepalanya.

“Apakah gadis itu pandai menunggang kuda?”

“Ia seorang ahli. Aku sendiri belum tentu menang.”

“Kalau begitu, ia tidak akan jatuh dari atas pelana kuda kalau kuda ini hanya ketakutan saja. Di atas punggung kuda tidak terdapat tanda-tanda bercak darah, jadi gadis itu tidak diterkam harimau ketika ia menunggang kuda ini. Mungkin kuda ini meronta dan bisa jadi gadis itu terjatuh dan ditinggalkan kuda yang ketakutan. Mari kita cari,” kata Koan Jit yang meloncat ke atas kuda hitam yang kini sudah dapat dijinakkan kembali.

Peter Dull merasa kagum dan girang. Kiranya pembantu ini memang orang yang selain lihai ilmu silatnya, juga cerdik sekali dan memang dapat berdikari, dapat bekerja sendiri tanpa menanti perintah. Buktinya, dalam hal mencari jejak Diana, orang ini segera telah mengambil alih pimpinan dan dia sendiri malah menjadi pengikut!

Mereka terus menyusup ke dalam hutan dan kembali Koan Jit berhenti, bahkan meloncat turun dari kudanya. Peter juga ikut meloncat turun dan menghampiri Koan Jit yang sudah berlutut di dekat seekor harimau kumbang besar yang sudah mati. Bangkai itu menggeletak dengan mulut, hidung dan telinga mengeluarkan darah, dan agaknya belum lama sekali binatang itu mati karena darah itu belum kering benar.

Akan tetapi kembali Koan Jit menggeleng kepalanya. Dia sudah melakukan penyelidikan dengan cermat, mengamati keadaan bangkai harimau dan keadaan sekeliling.

“Ia tidak diterkam harimau ini. Lihat, pada taring dan kuku harimau ini tidak terdapat darah atau robekan kulit daging. Hal ini berarti bahwa harimau ini tidak sempat menerkam orang, dan darah ini hanya darahnya sendiri yang keluar dari mulut, hidung, telinga dan matanya. Dan di sekitar tempat inipun tidak nampak tanda darah. Nona Diana itu tidak diterkam harimau di tempat ini.”

“Kalau begitu, kemana ia pergi? Dan harimau ini… bagaimana bisa mati di tempat ini?”

Peter sudah tidak malu-malu lagi untuk menyerahkan penyelidikan tentang Diana kepada pembantunya yang baru ini, karena dia benar-benar gelisah dan tidak dapat menduga apa yang telah terjadi.

“Harimau ini tewas karena pukulan tangan kosong. Mati tanpa luka di luar tubuhnya, berarti bahwa binatang ini tewas di tangan seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Dan besar kemungkinan nona Diana dibawa pergi oleh orang yang membunuh harimau itu.”

“Kemana?” tanya Peter terkejut.

“Harus kita selidiki lebih dulu. Jejak seorang berilmu tidak mudah diikuti, karena langkah-langkahnya tidak menimbulkan bekas. Kita harus teliti dan sabar mencari dan mengikuti sampai kita dapat menemukan mereka.”

Akan tetapi hati Peter sudah terlampau gelisah. Kalau orang yang membawa pergi Diana itu dapat membunuh seekor harimau kumbang besar dengan pukulan tangan, betapa berbahayanya orang itu! Mencari orang itu hanya berdua dengan Koan Jit, selain amat berbahaya, juga akan sedikit kemungkinannya berhasil.

“Tidak… kita harus kembali ke Kanton. Aku akan mengerahkan pasukan untuk mencarinya.”

Koan Jit tersenyum dingin. Tentu saja urusan hilangnya seorang gadis kulit putih tidak ada hubungannya dengan dia dan dianggap urusan kecil saja.

“Kalau begitu, mereka sudah akan pergi jauh.”

“Dengan pasukan, aku akan dapat menyusul dan menemukan Diana, dimanapun juga ia berada dan aku akan menghukum orang itu!” bantah Peter. “Sekarang mari kita kembali ke Kanton agar dapat cepat mempersiapkan

pasukan dan melapor kepada Kapten Charles Elliot, paman gadis itu.”

Kemanakah perginya Diana? Apa yang telah terjadi dengan gadis kulit putih berambut pirang yang cantik jelita itu? Dugaan-dugaan yang dilakukan Koan Jit memang tepat sekali.

Ketika Diana diajak melancong oleh Peter Dull pada hari yang cerah itu, ia tidak dapat menolak. Sudah terlampau sering ia menolak ajakan Peter. Ia tidak suka berkencan dengan Peter yang terkenal sebagai penggoda dan perayu wanita itu. Ia tentu saja kenal baik dengan Peter yang menjadi tangan kanan pamannya, yaitu Kapten Charles Elliot. Dan agaknya pamannya juga condong menyetujui kalau sampai ia menerima uluran tangan Peter Dull yang masih bujangan, dan ahli waris keluarga yang kaya raya di India itu. Akan tetapi, Diana tidak suka melihat sikap Peter yang demikian sombong, yang seolah-olah memandang rendah dan meremehkan kaum wanita yang dianggap barang permainan belaka, yang boleh dibuang dan diganti dengan yang baru setiap waktu dia sudah merasa bosan. Ia sudah mendengar betapa banyaknya wanita yang bertekuk lutut, kemudian disia-siakan oleh Peter, menderita patah hati dan aib.

Dengan berkuda, Diana merasa aman. Sejak kecil ia suka naik kuda dan apa yang akan dapat dilakukan Peter terhadap dirinya kalau ia berada di atas kuda? Bukan berarti bahwa ia takut terhadap Peter. Peter tidak akan mampu mengganggunya, karena Peter tentu takut kepada pamannya, Kapten Charles Elliot. Akan tetapi, ia melihat betapa Peter memang amat pandai merayu, pandai membujuk sehingga kadang-kadang Diana merasa khawatir kalau- kalau ia sendiri akan terpeleset. Ia merasa ngeri membayangkan hal ini terjadi pada dirinya.

Ketika mereka memasuki hutan, Diana sebenarnya sudah muak karena di sepanjang perjalanan, seperti biasa Peter mulai lagi dengan rayuan-rayuan mautnya, memuji-mujinya setinggi langit, menyatakan betapa ia menderita penyakit rindu terhadap dirinya yang amat hebat dan yang mungkin akan mendatangkan maut kepadanya. Lalu membayangkan betapa akan bahagianya kalau mereka dapat menjadi satu, menggambarkan keadaan yang indah-indah dan muluk-muluk. Diana merasa muak mendengarkan ini semua, maka iapun mengajak berlumba untuk menghentikan bujuk rayu itu. Bahkan, mengandalkan kepandaiannya menunggang kuda, ia sengaja menyimpang dari perjalanan, membelok dengan tiba-tiba dan meninggalkan Peter.

Akan tetapi, ketika kudanya sudah jauh meninggalkan Peter dan memasuki hutan, tiba-tiba kuda hitamnya itu meringkik keras, lalu kabur! Ia terkejut dan berusaha untuk menguasai kuda hitamnya, namun binatang yang nampak ketakutan itu membedal terus seperti gila! Terpaksa Diana hanya mendekam di atas kudanya, menjepit perut kuda sehingga ia tidak sampai terlempar dari atas pelana. Akan tetapi, kuda itu memasuki bagian yang penuh belukar, sehingga tubuh Diana dicambuki ranting-ranting dan tumbuh-tumbuhan menjalar yang malang-melintang ketika kuda itu menerjang tempat itu. Diana menjerit-jerit kecil ketika gaunnya tersangkut dan terobek, bahkan kulitnya mulai lecet-lecet terkait duri.

Kuda itu berlari terus, masih ketakutan seperti dikejar setan, keluar dari hutan lebat itu dan memasuki daerah yang penuh batu-batu sebesar bukit kecil dan pohon-pohon raksasa. Dan tiba-tiba saja, berkelebat bayangan hitam dan kuda itu kembali meringkik, tubuhnya gemetar dan Diana juga mengeluarkan pekik tertahan karena di depan mereka telah berdiri seekor harimau hitam yang matanya mencorong hijau menyeramkan! Harimau kumbang itu besar sekali dan mengeluarkan gerengan-gerengan sambil memperlihatkan taring- taringnya yang runcing.

Diana hampir pingsan saking takut dan kagetnya dan pada saat itu, kuda hitam melakukan gerakan mengangkat kedua kaki depannya ke atas, lalu meloncat ke samping dan melarikan diri, meninggalkan Diana yang terbanting jatuh. Kalau saja Diana dalam keadaan biasa, gadis yang ahli menunggang kuda ini tentu tidak akan terlempar dari pelana. Akan tetapi pada saat itu, melihat seekor harimau besar menghadang, ia sudah terkejut ketakutan dan hampir pingsan, dan dalam keadaan lemas itu, kuda hitam mengangkat kaki depan ke atas lalu meloncat ke samping. Tentu saja Diana tidak lagi mampu mempertahankan dirinya dan ia terlempar jatuh.

Dapat dibayangkan betapa ngeri dan takut rasa hati gadis itu melihat kudanya melarikan diri, dan kini ia terbelalak memandang ke arah harimau kumbang yang masih berdiri memandang dengan matanya yang hijau mencorong itu. Anehnya, ketika Diana bangkit berlutut, harimau itu lalu mendekam pula dan sama sekali tidak bergerak ketika Diana merangkak menjauhi harimau itu sambil menengok. Kaki tangan yang dipakai merangkak itu menggigil dan beberapa kali Diana terpeleset jatuh. Kemudian ia bangkit berdiri dan tiba-tiba harimau itu menggereng. Tadi, ketika Diana merangkak, harimau itu hanya memandang, agaknya merasa lucu melihat mahluk yang merangkak demikian lambannya, akan tetapi ketika Diana bangkit, harimau itu agaknya maklum bahwa calon mangsanya akan melarikan diri. Diapun bangkit dan mengambil sikap siap menubruk.

Diana merasa seolah-olah kedua kakinya lumpuh. Ia tidak mampu lagi melangkah, saking takutnya. Bibirnya gemetar tidak mampu mengeluarkan suara dan sepasang matanya terbelalak, seperti terpesona oleh sihir yang keluar dari pandang mata harimau itu.

Harimau itu kembali menggereng, kini gerengannya kuat sekali dan tiba- tiba tubuhnya meloncat tinggi dengan keempat kakinya membentuk cakar siap mencengkeram mangsanya. Diana masih terbelalak dan ia hanya dapat pasrah menanti kematian yang mengerikan, maka ia segera memejamkan matanya.

Akan tetapi, ia tidak merasakan tubuhnya diterkam, bahkan mendengar harimau itu mengeluarkan gerengan lagi. Cepat ia membuka mata dan kembali matanya terbelalak. Hampir ia tidak dapat percaya akan pandang matanya sendiri, karena yang terjadi di depannya itu sungguh sukar untuk dapat dipercaya.

Kiranya ketika harimau kumbang itu menubruk, tiba-tiba saja, entah dari mana datangnya, tahu-tahu di situ sudah muncul seorang gadis manis berpakaian sederhana menghadang terkaman harimau. Ketika tubuh harimau itu datang menerkam dengan dahsyatnya, gadis itu cepat menangkap kaki depan harimau, lalu menggeser kaki kanan ke belakang, tubuhnya direndahkan dan dengan meminjam tenaga terkaman itu, ia membanting tubuh harimau itu ke kanan.

“Brukkk...!”

Dengan kepala lebih dulu, tubuh harimau itu menghantam batang pohon! “Hyaaaaattt!! Hyaaaattt!!”

Dua kali sepasang tangan kecil itu menyambar, yang kanan lebih dulu disusul yang kiri. Dua kali hamtaman dengan telapak tangan yang dilakukan dengan pengerahan tenaga sinkang sambil mengeluarkan bentakan nyaring itu tepat mengenai kepala di belakang telinga kiri kanan harimau itu.

“Tukkk! Tukkk!”

Menerima pukulan yang amat dahsyat ini, harimau itu terkulai, keempat kakinya berkelojotan, dari mulut, hidung, telinga dan matanya mengalir darah, dan tak lama kemudian binatang itupun mati.

Dengan sepasang mata masih terbelalak, Diana memandang ke arah gadis itu, kemudian ke arah harimau, lalu ia menggosok-gosok kedua matanya dengan punggung tangan, memandang lagi. Sukar dipercaya! Memang, ia sudah mendengar banyak dongeng dari mulut para pelayan tentang para pendekar yang amat gagah perkasa, bahkan pernah nonton wayang dengan cerita Bu Siong Phak Houw (Pendekar Bu Siong Membunuh Harimau), dimana diceritakan betapa pendekar itu membunuh seekor harimau hanya dengan pukulan tangan saja. Akan tetapi seorang wanita? Seorang gadis yang kelihatannya begitu muda?

“Ya Tuhan...!”

Berkali-kali bibirnya bergerak dan akhirnya terdengar keluhan ini. Gadis itupun memandang kepadanya dengan takjub. Agaknya gadis itu kagum melihat matanya kebiruan, warna rambutnya yang kuning emas, tubuhnya yang tinggi semampai dengan tonjolan-tonjolan yang demikian matang. Apalagi kini gaun yang menutup tubuh Diana sudah tidak utuh lagi, sudah cabik-cabik tidak keruan sehingga sebagian paha kanan dan perutnya nampak kulitnya putih mulus kemerahan.

Gadis itu lalu melangkah maju menghampiri, agaknya bimbang dan tidak tahu harus bicara apa, karena ia tahu bahwa gadis berambut pirang ini tentu seorang wanita kulit putih, seorang asing yang belum tentu dapat mengerti kalau diajaknya bicara.

“Terima kasih... terima kasih...” kata Diana mendahului dan ia mengulurkan tangan kepada gadis itu.

Gadis itu menjura dan mengangkat tangannya ke depan dada, sama sekali tidak menyambut uluran tangan Diana, karena agaknya ia tidak mengerti bahwa uluran tangan itu mengajak bersalaman. Sambil menjura gadis itu menjawab.

“Tidak perlu sungkan. Siapapun melihat engkau terancam bahaya, tentu akan turun tangan menolongmu.”

“Terima kasih, kau... kau baik sekali... kau kuat… hemm... lihai!”

Gadis itu tersenyum manis. Seorang gadis yang manis, bermata lebar dan biarpun pakaiannya sederhana seperti pakaian petani, nampak jelas bentuk tubuhnya yang ramping dan berisi. “Kita harus cepat pergi dari sini, jangan sampai teman-temannya datang, bisa berbahaya. Kau datang dari mana?”

Ia menggeleng kepalanya.

“Aku tidak tahu... kudaku kabur.”

Gadis itu maklum bahwa gadis asing ini tak tahu jalan pulang. Paling penting menyelamatkannya dan pergi dari tempat berbahaya ini, pikirnya. Kalau sampai ada rombongan harimau kumbang datang, lebih dari dua ekor saja ia sudah akan payah menghadapi keroyokan mereka.

“Mari, kita pergi. Di sana ada dusun,” ajaknya sambil menunjuk ke arah belakang.

Diana mengangguk, lalu ia mengikuti gadis itu. Melihat betapa Diana nampak kepayahan, juga kulit tubuhnya lecet-lecet, gadis itu memandang dan merasa kasihan.

“Mari, ikut dengan aku!”

Ia lalu menggandeng tangan Diana dan setengah menarik gadis berambut pirang itu, diajaknya lari menyusup-nyusup dengan cepat.

“Siapa namamu?”

Diana bertanya sambil ikut berlari-lari kecil di samping penolongnya. Tanpa berhenti berlari, gadis itu menjawab.

“Namamku Siauw Lian Hong, dan kau siapa?”

Tentu saja nama itu tidak ada artinya bagi Diana. Ia tidak tahu bahwa nama ini adalah nama seorang gadis perkasa, murid seorang sakti, datuk persilatan terkenal yang lebih mengerikan dengan julukan San-tok, Racun Gunung, seorang di antara Empat Racun Dunia.

Seperti kita ketahui, Lian Hong telah berpisah dari Kui Eng dan kini ia dalam perjalanan hendak melaporkan kepada gurunya tentang Koan Jit yang dijumpainya. Ketika ia melewati hutan itu dan mendengar suara harimau kumbang menggereng, ia terkejut. Gadis ini sudah banyak merantau dan mengenal keadaan binatang buas di hutan-hutan. Gerengan harimau kumbang itu memberi tahu kepadanya bahwa ada orang yang terancam oleh harimau yang lapar itu. Dan iapun berlari cepat dan pada waktu yang tepat berhasil menyelamatkan Diana!

“Namaku Diana... Diana Mitchell...”

Nama terakhir itu terlalu sukar bagi lidah Lian Hong. Baru diucapkan saja sudah tidak mampu menirukan. Yang teringat hanya Diana saja, karena nama ini mudah diingat, mudah pula diucapkan.

“Diana, kau cantik sekali. Mata dan rambutmu indah, seperti bintang dan emas!” Lian Hong memuji.

Diana tersenyum gembira. Biarpun ia baru saja terbebas dari bahaya maut yang mengerikan, namun bertemu dan berkenalan dengan seorang gadis seperti Lian Hong ini sungguh menyenangkan hatinya. Ia lalu merangkul pundak Lian Hong yang tingginya hanya sampai di bawah telinganya.

“Lian Hong, engkaulah yang cantik sekali. Cantik dan menarik, dan engkau sungguh gagah perkasa.”

Ucapannya itu dikeluarkan secara tersendat-sendat dan tidak lancar, karena ia harus memilih kata-kata dulu. Akan tetapi Lian Hong dapat mengerti dan ia tersenyum, keduanya tersenyum.

“Engkau yang gagah berani, Diana. Engkau seorang wanita berani sendirian saja di dalam hutan seperti itu. Dan ketika haimau itu mengancammu, engkau tidak berteriak minta tolong.” “Aku tidak sendirian, tadinya aku bersama seorang teman pria. Dan aku tidak berteriak karena... aku sudah kehilangan suara saking takutku. Hi-hik, aku nyaris terkencing di tempat saking takutku.”

Mendengar ucapan yang begitu jujur dan tanpa disembunyikan, mau tak mau Lian Hong tertawa dan Diana juga tertawa. Keduanya tertawa gembira dan diam-diam Lian Hong kagum. Gadis asing ini ketawa begitu bebas, dan juga termasuk seorang gadis yang tabah, karena baru saja terlepas dari bencana yang begitu mengerikan, akan tetapi sekarang sudah dapat tertawa- tawa! Tiba-tiba ia teringat.

“Teman priamu itu? Suamimukah dia?” Diana terbelalak.

“Suamiku? Ah, sama sekali bukan! Hanya teman biasa. Dia seorang Letnan pasukan keamanan, namanya Peter Dull. Kami berdua menunggang kuda, dan ketika tiba di tempat itu, aku tantang dia berlumba. Aku membalap dulu dan akhirnya kudaku ketakutan, agaknya mencium bau harimau dan diapun kabur. Ketika bertemu harimau, dia mengangkat kedua kaki depan tiba-tiba dan aku terlempar! Dan kau sendiri, apakah kau sudah bersuami?”

Ditanya begini saja, Lian Hong sudah merasa malu. Wanita ini bicara tentang suami seperti orang bicara tentang pakaian saja! Lian Hong menggeleng kepala. Diana tertawa.

“Wah, menjadi suamimu harus seorang laki-laki yang kuatnya melebihi harimau kumbang tadi. Kalau tidak, sekali tanpar kalau sedang bergurau bisa membuat dia mati!”

Kembali Lian Hong tertawa geli. Gadis kulit putih ini ternyata seorang yang berwatak gembira, jenaka dan suka bergurau walaupun kata-katanya terbatas. Akan tetapi, kata-kata yang sukar keluar dan kadang-kadang terdengar janggal dan tidak keruan susunannya itu, malah membuat ucapannya semakin lucu. Sepasang mata yang biru itu demikian hidup, penuh gairah dan senyumnya demikian cerah, penuh kegembiraan. Seorang gadis yang luar biasa, pikir Lian Hong kagum.

Di lain pihak, Diana merasa semakin kagum terhadap Lian Hong. Seorang gadis sederhana, dan melihat betapa gadis ini dengan tangan kosong mampu membunuh seekor harimau kumbang, tadinya ia mengira bahwa tentu gadis ini seorang yang bertenaga besar, kasar dan kejantanan. Akan tetapi setelah mereka bercakap-cakap, ia mendapat kenyataan bahwa Lian Hong seorang gadis yang sederhana namun cerdik, halus budi pekertinya, dan halus pula gerak-geriknya. Bahkan gadis itupun bersikap ramah dan sopan. Melihat kelembutan sikapnya, melihat tubuh yang sempurna lekuk lengkungnya, halus polos kulitnya, yang membayangkan kehalusan dan kehangatan, sungguh sukar dapat dipercaya bahwa di balik kelembutan itu terdapat kekuatan yang demikian hebatnya! Timbullah keinginannya untuk dapat menjadi seperti Lian Hong, atau setidaknya mempelajari dan mengetahui bagaimana caranya gadis selembut itu dapat memiliki kekuatan sehebat itu.

Setelah mereka tiba di tempat yang aman, keluar dari hutan itu, Lian Hong yang merasa kasihan melihat betapa Diana nampak kelelahan, mengajaknya untuk beristirahat di bawah sebatang pohon besar. Ia membuka buntalan pakaiannya, mengeluarkan bekal roti kering dan daging dendeng, lalu mengisi tempat airnya yang kosong dengan air sumber yang jernih dari puncak bukit.

“Kita beristirahat dan makan dulu. Makan seadanya saja, Diana.”

Akan tetapi, ‘makan seadanya’ ini merupakan makanan paling lezat yang pernah dirasakan oleh Diana. Roti kering dan daging dendeng itu, dibantu dengan air jernih yang segar sejuk, benar-benar terasa nikmat.

“Lian Hong… dimana rumahmu?”

Yang ditanya balas memandang dan menggeleng, lalu meneguk air jernih. “Aku tidak mempunyai rumah. Selama ini numpang di tempat pertapaan

guruku, di Pegunungan Wuyi-san.” “Keluargamu...? Orang tuamu?” Kembali Lian Hong menggeleng.

“Orang tuaku sudah meninggal dunia, aku tidak mempunyai seorangpun keluarga, kecuali guruku seorang.”

Lian Hong berhenti sebentar, lalu melanjutkan. “Aku sebatangkara.”

Diana merasa demikian terharu mendengar ini, sehingga ia merangkul Lian Hong, maksudnya untuk menghibur. Akan tetapi dengan halus Lian Hong melepaskan rangkulan itu, dan berkata.

“Dan engkau sendiri? Dimana rumahmu, Diana?”

“Orang tuaku di Inggris, mereka hidup sebagai petani. Aku ikut dan mondok di rumah pamanku, Kapten Charles Elliot di Kanton.”

Lian Hong mengangguk-angguk.

“Akan kuantar kau kembali ke Kanton…”

Akan tetapi Diana menggeleng kepala keras-keras. “Tidak, aku tidak mau pulang ke sana!”

“Eh... kenapa, Diana?”

Diana teringat akan kehidupannya di Kanton. Hidup di antara orang-orang besar, hidup mewah dan serba kecukupan, enak-enakan akan tetapi ia merasa seperti menjadi burung dalam kurungan. Memang selama ini ia tidak pernah merasa demikian, akan tetapi begitu bertemu dan berkenalan dengan Lian Hong, ia melihat diri Lian Hong seperti seekor burung yang beterbangan di antara pohon-pohon besar dengan bebasnya, sedangkan dirinya sendiri seperti seekor burung yang berada dalam sebuah sangkar, walaupun sangkar itu cukup besar dan terbuat dari emas! Dan kini timbul keinginan hatinya untuk merantau dan hidup bebas seperti Lian Hong! Apalagi kalau ia teringat akan sikap Peter Dull, dan kecondongan paman dan bibinya untuk menjodohkania dengan laki-laki itu, hatinya menjadi semakin tawar untuk kembali ke rumah pamannya di Kanton. Membandingkan kehidupan yang penuh kemunafikan, penuh kepura-puraan dan sopan santun yang tolol dan dibuat-buat, pakaian yang gedombrangan menurutkan mode dan yang membatasi gerakan- gerakannya, dengan kehidupan sederhana tapi bebas seperti Lian Hong, sungguh membuat ia melihat perbedaan-perbedaan yang amat menyolok.

“Aku... sementara ini tidak ingin pulang.” “Habis kau mau kemana, Diana?”

“Aku mau merantau. Aku mau ikut denganmu.”

Tiba-tiba ia merangkul leher Lian Hong dan mencium pipi gadis itu. Perbuatan Diana ini demikian tiba-tiba dan terbuka, membuat Lian Hong merasa terkejut dan mukanya berubah merah karena jengah.

“Lian Hong, sahabatku yang baik, tolonglah, perbolehkan aku pergi bersamamu. Aku ingin hidup seperti engkau, hidup bebas seperti seekor burung di udara!”

“Tapi, mana mungkin itu, Diana? Kehidupan seperti aku adalah kehidupan penuh kesukaran dan kekerasan, penuh bahaya?” “Aku berani menghadapi segala kesukaran itu, Lian Hong!” jawab Diana tegas.

“Tapi... kau biasa hidup mewah. Lihat, pakaianmu yang indah sekali. Kau dari keluarga mewah dan kaya raya. Mana mungkin hidup seperti aku, tidak tentu tempat tinggalnya, kadang-kadang satu dua hari tidak makan, kadang- kadang harus melakukan perjalanan amat jauh dan sukar serta kepanasan, kehujanan, kadang-kadang harus tidur di bawah pohon, di dalam kuil-kuil tua.” “Aku tidak takut! Aku ingin  mengecap  kebebasan,  dan  untuk  kebebasan itu, walaupun hanya untuk beberapa waktu, aku mau menebusnya dengan

semua kekurangan dan penderitaan itu.”

Bagaimanapun ia merasa suka dan kasihan kepada gadis kulit putih itu dan ingin menyenangkan hatinya, namun Lian Hong tetap mengerutkan alisnya dan hatinya melarang ia menerima permintaan Diana. Membawa seorang seperti Diana ini pergi merantau merupakan perbuatan gila. Merantau pada waktu itu sama sekali bukan perjalanan wanita, apalagi wanita lemah. Dimana- mana menghadang bahaya besar. Dimana-mana tidak aman. Hanya para wanita kang-ouw saja, itupun yang benar-benar telah memiliki kepandaian tinggi sehingga mampu membela diri dengan baik, yang akan berani melakukan perjalanan merantau seorang diri. Dan Diana adalah seorang wanita lemah, sama sekali tidak mampu membela diri, walaupun ia memiliki ketabahan besar. Apalagi kalau diingat bahwa ia adalah seorang gadis asing kulit putih. Tentu saja bahaya mengancamnya dimana-mana!

“Diana, dengarlah baik-baik,” katanya halus sambil memegang pundak gadis tinggi semampai itu.

“Sungguh, aku akan senang sekali melakukan perjalanan bersamamu. Akan tetapi terpaksa aku menolak permintaanmu itu, Diana. Tidak mungkin aku mengajakmu menempuh bahaya-bahaya besar yang menghadang di tengah perjalanan. Resikonya terlampau besar, dan kalau sampai aku tidak dapat melindungimu dan terjadi apa-apa pada dirimu, aku yang akan merasa menyesal sekali. Maaf, Diana… aku sungguh terpaksa tidak dapat memenuhi permintaanmu itu. Aku hanya akan mengantarmu pulang ke Kanton agar engkau dapat kembali dan hidup aman dengan keluarga atau pamanmu di sana.”

Mendengar keterangan yang panjang lebar ini, wajah Diana nampak layu dan kosong. Kekecewaan membuat ia lemas dan tertunduk kembali setelah tadi dengan penuh semangat ia berdiri, dan kini ia memandang jauh dengan sinar mata kosong, mulut agak terbuka dan ada butiran air mata tergenang di pelupuk matanya. Melihat keadaan gadis ini, Lian Hong merasa terharu dan kasihan sekali.

Dengan suara terputus-putus karena ia harus mencari-cari kata-kata yang belum dihafalnya benar itu, ia berkata lirih.

“Hidup dengan aman?”

“Ya, engkau tentu akan disambut dengan gembira oleh mereka, dan engkau akan hidup berbahagia lagi di sana, Diana.”

Diana menggeleng kepala dan dua butir air mata menetes turun.

“Tidak, aku tidak pernah merasakan apa dan bagaimana yang dinamakan bahagia itu. Lian Hong, tahukah engkau apakah bahagia itu? Apakah engkau berbahagia?”

Lian Hong tertegun dan iapun lalu duduk di dekat Diana, termenung sejenak sebelum menjawab. Pertanyaan itu dirasakannya terlalu tiba-tiba datangnya sehingga membuat ia sendiri menjadi bingung. “Bahagia...?”

Akhirnya ia berkata seperti bertanya kepada diri sendiri, matanya merenung jauh.

“Aku hanya pernah mendengar kata itu dibicarakan orang. Aku sendiri tidak tahu apakah aku berbahagia, atau aku tidak ingat lagi apakah pernah merasakannya.”

“Tapi engkau hidup begini menyenangkan, begini bebas dan enak seperti burung berterbangan di angkasa, sesuka hatinya, tanpa ada yang menghalangi, tanpa ada ikatan-ikatan munafik, begini dekat dengan alam! Kau pasti bahagia!”

Lian Hong menarik napas panjang.

“Aku tidak tahu, Diana. Akan tetapi agaknya sudah sepatutnya kalau kita berusaha untuk mencapai kebahagiaan, dengan cara dan jalan masing-masing tentunya. Kebahagiaan orang tentu berbeda-beda, yang dapat mendatangkan kebahagiaan kepadaku, belum tentu demikian kepadamu dan sebaliknya. Aku memang hidup merantau dan bebas, akan tetapi aku tidak merasakan bahagia. Kurasa, kita harus mencarinya untuk menemukan kebahagiaan itu.”

Diana termenung, lalu berkata.

“Kekayaan dan kedudukan tidak mendatangkan kebahagiaan. Kalau kebebasan seperti engkau inipun tidak mendatangkan kebahagiaan, aku tidak tahu lagi dimana letak kebahagiaan. Pendeta kami pernah berkata bahwa kebahagiaan hanya dapat dicapai melalui Tuhan, melalui Agama. Dan sejak kecil aku sudah dididik dalam Agama, namun belum juga aku pernah merasakan kebahagiaan itu. Ada pula yang bilang bahwa kebahagiaan adalah Sorga, dan Sorga hanya baru dapat dicapai kalau kita sudah mati. Ah, aku tidak mau bahagia sesudah mati, aku ingin kebahagiaan selagi masih hidup ini!”

Dua orang gadis itu kini berdiam diri, seperti berubah menjadi patung, tenggelam kedalam renungannya sendiri, terpesona oleh kata ‘bahagia yang menjadi bahan percakapan mereka tadi.

Kebahagiaan adalah keadaan hati yang mampu menerima segala sesuatu seperti apa adanya, tidak terpengaruh oleh sesuatu. Kebahagiaan sudah ada setiap saat, hanya untuk dapat merasakannya, segala macam pengaruh harus meninggalkan batin kita, karena hanya batin yang bebas sajalah, bebas dalam arti kata seluasnya, bebas tidak terikat oleh kesenangan atau kesusahan, tidak terikat oleh apapun juga, yang akan mampu mengerti apa sesungguhnya yang dinamakan kebahagiaan itu.

Kebahagiaan adalah seperti sinar matahari yang selalu ada. Kalau tidak nampak, maka sudah pasti bahwa ada yang menghalangi atau menutupi sinar itu. Kalau penghalang atau penutupnya lenyap, sudah pasti cahaya itu akan bersinar dengan cerahnya. Dalam keadaan gelap karena cahaya itu teraling, percuma sajalah mencari-cari cahaya itu, karena tidak mungkin akan bertemu. Dan segala macam penghalang itu berada di dalam batin kita sendiri!

Orang yang selalu ingin mengejar kesenangan, dan orang yang selalu ingin menghindarkan kesusahan, takkan pernah dapat mengenal apa sebenarnya kebahagiaan. Bukan berarti bahwa kita tidak boleh menikmati kesenangan atau meninggalkan keduniawian lalu bertapa di puncak gunung. Menikmati kesenangan adalah hak kita sebagai manusia hidup, karena kita telah diberi panca indera sebagai alat untuk menikmati kesenangan dalam hidup ini. Namun, senang susah itu baru timbul apabila ada perbandingan dalam hati. Kalau kita menerima segala sesuatu sebagai apa adanya, sebagai suatu kewajaran, maka tidak ada lagi sebutan senang susah itu, tidak tercipta ombak-ombak senang susah yang saling bertentangan.

“Aku tidak mau pulang!”

Tiba-tiba Diana berkata, mengambil keputusan.

“Kalau engkau tidak mau mengajakku pergi merantau, aku akan pergi sendiri, Lian Hong. Aku tidak mau kembali ke Kanton sekarang. Belum mau pulang maksudku. Aku ingin merantau dulu sampai aku puas dapat merasakan bagaimana sesungguhnya kehidupan di dunia luar gedung itu, di luar sangkar itu. Aku ingin terbang bebas dulu sebelum kembali ke sangkar.”

Lian Hong memandang wajah gadis itu penuh selidik.

“Diana, kalau kau mau nekat pergi merantau, apa yang akan kaulakukan? Selain banyak bahaya menghadang, apa yang akan kaumakan dan pakai? Lihat, pakaianmu saja sudah hampir tak dapat dipakai lagi, sudah cabik-cabik. Dan engkau perlu makan setiap hari. Dan kemana engkau akan pergi? Engkau tidak mengenal jalan, engkau tidak tahu akan pergi kemana.”

“Aku tidak perduli, Lian Hong. Pendeknya, aku akan merantau dan tidak mau pulang dulu ke Kanton. Sudah lama aku mempunyai keinginan seperti ini, dan sekaranglah kesempatan terbaik, karena tidak ada orang yang dapat melarangku,” kata Diana dengan nekat.

Lian Hong menarik napas panjang. Gadis ini memang tabah dan berkemauan kuat. Ia tidak akan tega membiarkan Diana pergi jauh, tentu akan bertemu bahaya dan gadis kulit putih itu tidak akan mampu membela diri kalau ada bahaya mengancam. Mulai ia memperhatikan diri Diana karena ia tahu bahwa akhirnya ia yang akan menyerah dan akan memenuhi permintaan Diana. “Diana, apakah yang mendorongmu untuk pergi merantau, meninggalkan

semua kemewahan di gedung pamanmu itu?”

Diana mencabut sebatang rumput dan menggigit-gigit batang rumput itu, mengingat-ngingat.

“Aku kagum padamu, Lian Hong. Biarlah kuceritakan semuanya. Ayahku adalah seorang petani di Inggeris, dan sejak kecil aku diberi pendidikan sekolah sampai tinggi. Di sekolah tinggi, aku belajar tentang penyelidikan barang-barang kuno. Aku berkenalan dengan seorang pemuda petani di dusun, dan kami saling jatuh cinta. Akan tetapi, orang tuaku yang menilai aku terlalu tinggi, menganggap bahwa pemuda itu tidak sepadan untuk menjadi calon suamiku. Karena itu, dengan dalih untuk mempraktekkan pelajaranku, dan kebetulan ada pasukan yang dikirim ke timur, aku oleh ayah dikirim ke sini dan dititipkan kepada pamanku, Kapten Charles Elliot. Di Kanton, aku hanya diberi tugas menilai barang-barang kuno dan memperbanyak kumpulan benda kuno paman. Dan agaknya paman condong untuk menjodohkan aku dengan pembantunya, yaitu Peter Dull yang menemaniku berkuda. Aku muak dengan itu semua. Aku tidak mau dibelenggu oleh peraturan dan oleh sopan santun, dan oleh ambisi orang-orang tua itu.”

Biarpun Diana bercerita dengan kalimat terpotong-potong dan kadang- kadang sukar mencari kata yang tepat, sehingga ceritanya itu menjadi panjang dan lama, Lian Hong dapat mengertinya juga dan gadis ini merasa heran sekali. Kiranya kehidupan seorang gadis kulit putih tidak banyak bedanya dengan gadis bangsanya. Dalam hal pernikahan, selalu orang-orang tua ingin berkuasa, bukan sekedar mencampuri, melainkan hendak memilihkan calon suami yang baik menurut penilaian mereka. “Baiklah, Diana. Aku akan membantumu. Akan tetapi aku tidak berani mengajakmu pergi ke tempat tinggal guruku. Ketahuilah bahwa guruku seorang yang sakti akan tetapi aneh sekali. Mungkin saja tiba-tiba dia bisa membunuhmu.”

“Ehhh...?”

Melihat kekagetan Diana, Lian Hong tersenyum sedih.

“Guruku seorang di antara empat datuk sesat yang terkenal dengan sebutan Empat Racun Dunia, dan guruku berjuluk Racun Gunung. Aku sedang mempunyai urusan yang penting bersama guruku, dan kini aku akan mengunjunginya, dan tak lama kemudian kami akan datang ke daerah ini lagi. Oleh karena itu, menurut pendapatku, kalau engkau ingin menyelami kehidupan rakyat kami, kalau engkau ingin hidup penuh kesulitan dan kemiskinan, biar kucarikan seorang keluarga petani yang baik dan yang mau menampungmu. Bagaimana?”

Bukan main girangnya rasa hati Diana. Ia melompat bangun lalu merangkul Lian Hong dengan lengannya yang panjang, kemudian menciumi kedua pipi Lian Hong sampai mengeluarkan bunyi ngak-ngok dan cap-cup. Tentu saja Lian Hong gelagapan. Belum pernah ia melihat, apalagi merasakan ciuman- ciuman sepanas itu.

“Terima kasih, Lian Hong. Tadipun aku hampir yakin bahwa engkau tentu akan menolongku. Engkau seorang yang luar biasa. Aku senang sekali tinggal di dusun bersama keluarga petani.”

“Untuk sementara saja, Diana. Kalau aku sudah selesai dengan tugasku yang dibebankan oleh suhu, aku akan datang menjengukmu dan kita bicarakan lagi kelak tentang dirimu.”

“Baik, dan terima kasih.”

“Kalau begitu, mari kita pergi. Sebentar lagi datang malam gelap dan sebelum hari gelap, aku ingin tiba di dalam dusun terpencil itu dimana aku mengenal keluarga petani yang amat baik.”

Pergilah dua orang gadis itu sambil saling bergandeng tangan menuruni lereng bukit itu, menuju ke sebuah dusun yang berada di lembah sungai dan jauh terpencil dari keramaian kota. Di dusun terpencil itu, tinggal seorang petani merangkap pandai besi yang sudah berusia hampir enampuluh tahun. Suami isteri ini dahulu mempunyai dua orang anak, yang pertama seorang gadis berusia tujuhbelas tahun, yang kedua seorang laki-laki berusia tujuh tahun. Akan tetapi pada suatu hari, dusun itu diganggu perampok.

Lauw Sek, petani itu pernah belajar silat selama beberapa tahun dan dia bertenaga kuat, maka dia melakukan perlawanan. Hal ini menimbulkan kemarahan para perampok. Kalau rumah-rumah lainnya hanya dirampok saja, akan tetapi keluarga Lauw ini diserang, dan Lauw Sek membela keluarganya mati-matian. Akan tetapi, jumlah perampok yang belasan orang itu terlalu kuat baginya. Ketika melihat anak gadisnya yang cukup manis, kepala perampok berusaha menggagahi gadis itu. Dalam saat yang kritis itu, muncullah Lian Hong. Dengan kepandaiannya, ia berhasil membasmi para perampok, membunuh mereka semua. Akan tetapi malang bagi gadis puteri Lauw Sek. Ketika tadi hendak diperkosa, ia melawan dan menerima pukulan-pukulan dari kepala perampok. Gadis itu dapat diselamatkan dari perkosaan, akan tetapi pukulan pada kepalanya membuat ia menderita luka parah di dalam kepala yang tak dapat ditolong lagi. Beberapa hari kemudian gadis itu meninggal dunia. Bagaimanapun juga, petani Lauw Sek merasa berhutang budi kepada Lian Hong. Kalau tidak ada pendekar wanita ini, tentu puterinya bukan hanya terbunuh, melainkan juga diperkosa dan dia sendiri tentu akan tewas pula, mungkin juga isteri dan puteranya. Maka dia sekeluarga berterima kasih sekali kepada Lian Hong, dan sejak hari itu, Lian Hong tentu menjadi sahabat dan juga nona penolong mereka. Setiap kali lewat di dusun ini, Lian Hong tentu singgah karena gadis ini maklum betapa sedihnya hati mereka kehilangan puteri mereka dan ia dianggap oleh mereka sebagai pengganti puteri mereka!

Sebelum senja tiba, cuaca masih terang walaupun matahari sudah condong jauh ke barat, Lian Hong tiba di dusun itu bersama Diana. Dusun yang hanya ditinggali paling banyak duapuluh keluarga itu mempunyai belasan orang anak-anak yang segera menyambut kedatangan Lian Hong sambil bersorak- sorak. Mereka semua mengenal ‘Enci Hong’. Semua memanggil enci karena biarpun ia dianggap penyelamat dusun itu, Lian Hong menolak ketika disebut lihiap (pendekar wanita) dan minta kepada orang-orang yang lebih tua untuk menyebut namanya saja dan anak-anak menyebutnya enci Hong.

“Enci Hong datang! Enci Hong datang!” teriak anak-anak itu, akan tetapi ketika mereka datang dekat, mereka terbelalak memandang kepada Diana.

Mereka belum pernah melihat seorang wanita kulit putih, maka kemunculan Diana benar-benar mengherankan dan amat mengejutkan, bahkan beberapa orang di antara mereka sudah lari terbirit-birit melihat ‘setan’ berambut kuning itu!

Tentu saja teriakan anak-anak itu menarik perhatian semua orang yang berada di dusun itu. Mereka semua, kecuali yang kebetulan bekerja di sawah ladang dan tidak melihat datangnya Lian Hong, keluar menyambut gadis yang mereka kagumi dan hormati, juga sayangi itu.

Melihat sikap para penduduk ini, rasa kagum dalam hati Diana terhadap Lian Hong semakin besar. Kini ia dapat menduga bahwa kawannya ini memang seorang pendekar wanita yang budiman. Tanpa diberitahu sekalipun, ia yakin bahwa tentu penduduk itu sudah berhutang budi kepada Lian Hong. Hal ini jelas nampak dalam sikap penyambutan mereka, dan melihat betapa anak-anak berlari menyambut, iapun dapat mengetahui bahwa memang Lian Hong seorang gadis yang baik budi. Hanya orang yang baik budi sajalah yang disukai anak-anak.

Para penghuni dusun itupun terbelalak dan ternganga ketika melihat Diana. Di antara mereka banyak yang masih percaya akan tahyul, maka melihat seorang gadis yang berkulit putih seperti tidak berdarah, berambut seperti benang sutera emas, bermata biru, dengan pakaian yang tidak keruan, compang-camping memperlihatkan kulit bagian tubuh secara tak tahu malu sama sekali, mereka menjadi ngeri dan ada yang mundur-mundur ketakutan. Mahluk seperti ini tentulah iblis, pikir mereka.

Melihat sikap mereka yang ketakutan itu, Lian Hong tersenyum dan cepat berkata.

“Harap kalian jangan takut dan sungkan. Ini adalah seorang sahabat baikku, namanya Diana, ia baik sekali.”

Mendengar nama yang aneh itu, semua orang yang sebagian sudah ketakutan, menjadi semakin ngeri. Nama Diana oleh lidah mereka hanya disebut Thiana dan ini berarti sebutan ‘Tuhan’ (Thian), maka mendengar nama ini tentu saja rasa ngeri dan takut mereka bertambah. Melihat ini, tiba-tiba seorang kakek yang bercaping melangkah maju. “Kalian jangan takut. Nona ini adalah seorang gadis kulit putih. Aku banyak melihatnya ketika aku pergi menjual daganganku ke Kanton.”

Yang bicara ini adalah Lauw Sek yang juga sudah datang bersama isterinya yang bertubuh gemuk berwajah manis bersama putera mereka yang berusia delapan tahun. Mendengar ucapan Lauw Sek, barulah semua orang percaya, karena Lauw Sek sering pergi ke kota untuk menjual barang dagangannya, hasil bengkel pandai besinya. Nyonya Lauw Sek lalu merangkul Lian Hong dengan penuh kasih sayang.

“Lian Hong, engkau baru datang?”

Semua wanita dan pria yang berada di situ menyalami Lian Hong dengan ramah dan hormat, kemudian mereka mendengarkan dengan penuh perhatian ketika Lian Hong memperkenalkan Diana.

“Sahabat Diana ini sudah merasa bosan tinggal di kota, dan kini ia mengambil keputusan untuk tinggal di dusun ini. Kuharap paman Lauw Sek sekeluarga mau menerimanya agar ia hidup bersama paman, dan biarlah ia menjadi anak angkat paman. Biarkan ia bekerja di sawah ladang seperti yang lain, makan dan pakaian seperti kalian semua, karena ia ingin merasakan kehidupan di sini.”