Pedang Naga Kemala Jilid 12

Jilid 12

Siu Coan berdiri dan memandang mayat itu, menarik napas panjang dan berkata.

“Coa-pangcu sungguh keras hati, memilih bunuh diri dari pada menderita kekalahan. Sayang, sayang...!”

Barulah para anggauta Thian-tepang maklum bahwa wakil ketua itu telah membunuh diri karena merasa akan menderita kekalahan. Mereka menjadi semakin kagum terhadap pemuda itu, dan mereka juga semakin tegang, ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh ketua mereka terhadap Siu Coan.

Ma Ki Sun bangkit dari kursinya, menanggalkan jubahnya yang lebar, lalu memerintahkan murid-muridnya untuk menyingkirkan mayat sutenya.

“Urus jenazahnya baik-baik,” katanya dengan suara datar.

Setelah mayat itu diangkut, dia lalu melangkah perlahan menghampiri Siu Coan yang masih berdiri di tengah ruangan itu. Di lantai masih ada darah dan melihat ini, sakit juga rasa hati Ma Ki Sun, teringat betapa sutenya sejak muda membantunya dan sutenya adalah seorang pendekar yang gagah perkasa, seorang patriot yang gagah berani. Akan tetapi tak disangkanya, sutenya tewas di tangan seorang pemuda yang sama sekali tidak ada nama, walaupun harus diakuinya bahwa kepandaian pemuda itu benar-benar amat hebat.

Sejenak mereka saling pandang, pandang mata ketua itu penuh selidik, pandang mata Siu Coan menanti dengan sikap waspada.

“Orang muda, sebetulnya apakah yang kaucari di sini?” tanyanya dengan suara lirih dan tegas.

Siu Coan menjura dengan horrnat.

“Harap pangcu maafkan kalau peristiwa berekor seperti ini. Adalah Coa- pangcu yang memaksaku…”

“Aku mengerti, orang muda. Akan tetapi, apakah sebenarnya kehendakmu?”

Melihat mata yang hanya satu itu memandangnya penuh selidik, seolah- olah dapat menembus dan menjenguk isi hatinya, diam-diam Siu Coan bergidik dan dia cepat-cepat menjawab dengan suara lantang agar terdengar oleh semua orang.

“Pangcu, aku hanya ingin agar Thian-te-pang menjadi sebuah perkumpulan patriot yang kuat dan kelak akan berhasil menggulingkan kerajaan penjajah Mancu. Aku ingin menghimpun seluruh kekuatan para pejuang untuk bersatu dan menghalau penjajah dari tanah air.”

“Hemm, jadi engkau ingin menjadi ketua Thian-te-pang?”

“Bukan hanya Thian-te-pang, melainkan aku ingin memimpin seluruh pasukan pejuang yang menentang pemerintah penjajah, ingin mendirikan sebuah kekuatan baru yang meliputi segenap rakyat jelata untuk bangkit melawan penjajah!”

Ucapan ini keluar dari lubuk hati Siu Coan, terdengar penuh semangat sehingga membakar semangat para anggauta Thian-te-pang yang menyebabkan perasaan suka dan kagum mereka terhadap Siu Coan meningkat. Sikap Siu Coan ini agaknya mulai meyakinkan hati Ma Ki Sun pula. Dia bukan seorang yang ambisius dan diapun mengerti bahwa karena usianya sudah makin menua, sudah wajarlah   kalau Thian-te-pang   dipegang   oleh

tenaga muda dan mungkin saja akan menjadi semakin kuat dan maju. “Baiklah, Ong-sicu. Akan tetapi karena saat ini aku yang menjadi pangcu,

kalau engkau ingin mengambil alih kursi pimpinan, engkau harus dapat pula mengalahkan aku.”

Siu Coan merasa tidak enak dan khawatir kalau-kalau para anggauta Thian- te-pang yang dia tahu sudah mulai suka kepadanya, akan berobah sikap kalau dia sampai mencelakai ketua Thian-te-pang yang juga menjadi guru mereka ini. Kalau tadi para anggauta Thian-te-pang tidak marah melihat tewasnya Coa Bhok adalah karena mereka melihat Coa Bhok seperti membunuh diri, dan melihat adanya ketua Thian-te-pang di situ yang akan mengambil keputusan. Tentu saja Coa Shok tadi bukan membunuh diri, melainkan dibunuhnya sedemikian rupa sehingga nampaknya seperti bunuh diri. Ketika dia memperoleh kesempatan, dengan kecepatan kilat dia menotok tengkuk kakek itu sehingga tubuhnya kaku dan pada detik berikutnya, dia menusukkan pedang yang masih dipegang tangan kanan kakek itu ke dalam dada kakek itu sendiri!

“Pangcu, aku tidak ingin berkelahi!”

“Akupun bukan menantangmu berkelahi seperti yang dilakukan sute tadi, melainkan sebagai peraturan belaka. Siapa yang hendak menjadi ketua Thian- te-pang selagi ketuanya yang lama masih ada dan belum mengundurkan diri, maka calon ketua baru itu harus mampu mengalahkan ketua lama. Nah, aku sudah siap, majulah orang muda!”

Tidak seperti sutenya, kini Ma Ki Sun tidak mempergunakan senjata, walaupun dia juga seorang ahli pedang. Kakek ini, melihat perkelahian tadi saja, sudah maklum bahwa diapun bukan lawan pemuda ini! Walaupun dia menggunakan pedang, akhirnya dia akan kalah juga. Dengan maju tanpa pedang, dia akan dapat melihat apa sesungguhnya kehendak pemuda ini dan bagaimana sikapnya. Apakah pemuda ini tetap akan membunuhnya? Kalau demikian, dia masih ada kesempatan untuk memperingatkan para muridnya dan membuka kedok Siu Coan yang tadi membunuh Coa Bhok.

Karena maklum akan lihainya pemuda itu, Ma Ki Sun tidak bersikap sungkan-sungkan lagi, dan diapun membuka serangan, disambut  dengan tenang oleh Siu Coan. Terjadilah perkelahian tangan kosong yang seru, lebih seru dari pada tadi karena kini Ma Ki Sun bersilat dengan hati-hati dan diam- diam dia mengeluarkan semua kepandaiannya dan mengerahkan tenaga sinkangnya. Akan tetapi, Siu Coan yang ingin memberi muka kepada kakek ini, demi berhasilnya apa yang dicita-citakan, menandinginya dengan seimbang. Kalau dia menghendaki, pemuda ini tentu akan mampu merobohkannya, karena sesungguhnya, ilmu yang dikuasai pemuda ini masih setingkat lebih tinggi dari pada ketua Thian-te-pang. Namun, Siu Coan tidak mau merobohkan lawannya dan selalu menangkis, mengelak dan membalas serangan sekedarnya saja.

Ma Ki Sun bukan seorang bodoh. Dia adalah seorang ahli silat tinggi yang sudah banyak pengalaman pula. Dia tahu bahwa memang lawannya banyak mengalah. Apalagi ketika pada suatu saat dia menyerang, tiba-tiba saja tubuhnya menjadi lemas karena ditotok, akan tetapi sebelum dia roboh, pemuda itu sudah membebaskan kembali totokannya. Semua ini terjadi sedemikian cepatnya sehingga hanya diketahui dan dirasakan oleh Ma Ki Sun sendiri saja. Diam-diam dia merasa semakin kagum. Pemuda ini benar-benar hebat. Kalau memang benar pemuda itu mempunyai watak baik, seorang pendekar sejati, maka diapun ikut bergembira bahwa pihak pejuang memperoleh seorang tenaga muda yang demikian baiknya. Akan tetapi dia bergidik membayangkan bahwa pemuda itu termasuk golongan sesat yang akan menyelewengkan perjuangan.

“Dukk!”

Dua lengan bertemu dan Siu Coan menambah sedikit tenaganya, sehingga pertemuan tenaga melalui lengan itu membuat ketua Thian-te-pang terhuyung ke belakang dengan napas terengah-engah dan muka pucat penuh keringat.

“Ong-sicu, engkau memang hebat dan pantas menjadi ketua Thian-te- pang!” kata kakek itu.

Tentu saja Siu Coan gembira bukan main dan dia sudah cepat memberi hormat kepada kakek itu, lalu berkata lantang, ditujukan kepada semua anggauta Thian-te-pang.

“Aku bukan datang untuk merampas kedudukan ketua! Aku datang untuk membantu Thian-te-pang menjadi sebuah perkumpulan yang besar, mengembalikan kehormatan Thian-te-pang, memperoleh kembali Giok-liong- kiam dan memperbesar perkumpulan ini menjadi kekuatan yang kelak akan menjadi pelopor bagi semua patriot untuk mengenyahkan penjajah dari tanah air!”

Para anggauta Thian-te-pang bersorak gembira. Juga Ma Ki Sun merasa gembira sekali. Memang sutenya tewas di tangan pemuda ini. Akan tetapi sesungguhnya, dia melihat sendiri tadi, bahwa pemuda ini sama sekali tidak berniat membunuh sutenya sebelum sutenya dengan nekat menghendaki adu nyawa. Kiranya pemuda ini hanya ingin diterima menjadi seorang anggauta kehormatan saja yang tentu akan membantu kemajuan Thian-te-pang, sedangkan kedudukan ketua masih diberikan kepadanya!

Demikianlah, mulai hari itu, Thian-te-pang menerima Ong Siu Coan sebagai seorang pemimpin tanpa kedudukan! Karena maklum bahwa pemuda ini lihai bukan main, semua mata para anggauta ditujukan kepadanya dan pemuda inipun dengan cerdiknya lalu merobah cara berlatih silat, memberi petunjuk beberapa pukulan yang lihai sehingga mereka semua semakin tunduk kepadanya. Akan tetapi, pertama-tama yang dilakukannya adalah mengerahkan mereka itu untuk menyelidiki dimana adanya Koan Jit. Tentu saja dengan dalih bahwa Thian-te-pang harus mendapatkan kembali pusakanya itu agar nama dan kehormatannya dapat terangkat lagi. Padahal, jauh di sudut hatinya tersimpan keinginan untuk menguasai sendiri pusaka itu apabila sudah dapat dirampasnya dari Koan Jit.

Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kecewa rasa hati Siu Coan ketika para anggauta thian-te-pang itu tidak pernah berhasil dalam mencari dan menemukan jejak Koan Jit. Orang yang menjadi suhengnya itu ternyata benar- benar amat licin. Seolah-olah menghilang ditelan bumi saja.

Langkah kedua yang diambil oleh Siu Coan adalah mulai menyebarkan agama baru yang dipeluknya, yaitu Agama Kristen yang mulai menarik hatinya. Akan tetapi, dasar wataknya sombong, baru saja berkenalan dengan agama baru itu, dia sudah merasa menjadi ahli, bahkan merasa bahwa pengertiannya yang baru secuwil tentang kitab suci agama itu, sudah menandingi pengertian para pendeta agama itu sendiri. Dia merasa seolah-olah dia menjadi seorang petugas suci, seorang pendeta yang menyebarkan ajaran agama itu demi kepentingan manusia. Padahal, ayat-ayat suci yang harus dipelajari dan harus ditafsirkan secara benar dan tepat itu, dia tafsirkan sendiri menurut kemauan sendiri, disesuaikan dengan keinginan hatinya.

Sikap Siu Coan yang tidak menentang bangsa kulit putih, bahkan kini dia secara terang-terangan hendak menyebarluaskan agama yang oleh para patriot dianggap sebagai agama bangsa kulit putih yang jahat, yang telah menyebar racun madat, mendatangkan kecurigaan dan kekecewaan. Agama baru Kristen itu oleh para patriot juga dianggap sebagai pelajaran yang mengandung racun. Hal ini tidaklah aneh. Pertama adalah karena pada waktu itu, kenyataan bahwa orang kulit putih menyelundupkan madat yang meracuni rakyat, membuat semua orang terutama yang berjiwa patriot, membenci orang kulit putih dan tidak percaya kepada mereka. Hal ini mengakibatkan kecurigaan sehingga apapun yang dimasukkan oleh orang kulit putih, juga agama mereka, merupakan sesuatu yang beracun, enak memang, akan tetapi merusak badan dan batin! Kedua adalah karena pada waktu itu, agama oleh para pedagang kulit putih itu memang dijadikan senjata untuk menaklukkan orang-orang pribumi, melunakkan sikap mereka, memperoleh kepercayaan mereka. Dapat dibuktikan menurut catatan sejarah betapa semua negeri yang akhirnya menjadi jajahan kaum kulit putih, sebelum mengenal bedil orang kulit putih, lebih dahulu mengenal agama mereka. Sudah menjadi kenyataan pula bahwa masuknya kompeni atau serdadu orang-orang barat itu selalu dipelopori

dengan masuknya para pendeta sebagai pembuka jalan.

Di dunia ini terdapat banyak sekali agama atau pelajaran kebatinan yang tujuannya sebenarnya hanya satu, yakni: menuntun manusia agar hidup dengan bersih, dalam arti kata tidak saling mengganggu, bahkan saling menolong, memperbesar nyala api cinta kasih antara manusia dan melenyapkan kebencian, iri hati, permusuhan dan sebagainya. Tidak ada satupun di antara agama-agama itu yang mempunyai tujuan buruk! Namun, baiknya agama tidak menjamin baiknya manusia. Bahkan manusia sendirilah yang menentukan apakah agama yang dianutnya itu benar-benar menjadi obor dan petunjuk kebersihan hidup ataukah sebaliknya. Manusia yang menentukan karena manusia adalah kehidupan ini. Agama adalah agama, tidak baik tidak buruk, suatu pelajaran hidup, makanan rohani juga obat batin. Baik buruknya tergantung si pemakai, ialah manusia. Penggunaan yang benar dari manusia dapat membuat agama sebagai penyedar batin yang menyeleweng, sebagai obor penyuluh bagi batin yang menderita, penuntun bagi manusia yang makin menjauhkan diri dari pada Alam dan pencipta-Nya. Akan tetapi sebaliknya, penggunaan yang keliru dari manusia dapat saja membuat agama menjadi penimbul kemunafikan, menjadi bahan bentrokan antara agama, menjadi pembangkit kesombongan dan ketinggian hati karena merasa diri paling bersih, paling benar dan paling suci. Hal ini bukan sekedar dongeng, melainkan kenyataan yang dapat kita lihat setiap hari di sekeliling kita, bahkan di dalam batin kita sendiri.

Memang tidak mungkin dapat menangkap pemuda itu pada saat dia melakukan kejahatan, tidak mungkin menangkap basah karena pemuda itu amat lihai. Akan tetapi, mereka menjadi semakin curiga. Terutama sekali Ma Ki Sun. Diam-diam kakek ini lalu mengadakan hubungan dengan para pendekar, dan dapat dibayangkan betapa kaget rasa hatinya ketika ada pendekar yang mengenal Siu Coan sebagai murid dari datuk iblis Thian-tok!

Diam-diam Ma  Pangcu mengumpulkan murid-murid utamanya dan mengundang tokoh-tokoh persilatan, di antaranya dua orang hwesio Siauw- lim-si dan dua orang tosu Kun-lun-pai. Mereka lalu mengadakan pertemuan di sebuah kuil Siauw-lim-si di belakang Bukit Kijang Putih, tanpa setahu Siu Coan. “Ong Siu Coan memang memiliki ilmu silat yang amat lihai dan lagaknya seolah-olah dia benar-benar hendak menghimpun kekuatan untuk meruntuhkan kekuatan penjajah. Akan tetapi sepak terjangnya sungguh berlawanan dengan lagaknya. Banyak hal pada dirinya yang amat meragukan dan mengkhawatirkan, karena itu kami mengundang para suhu dan totiang

untuk membantu kami memecahkan persoalan ini.”

“Bicaralah, pangcu. Kamipun sudah banyak mendengar tentang orang she Ong itu,” kata Giok Cin Cu, seorang tokoh Kun-lun-pai yang berpakaian tosu.

“Pertama sekali yang perlu diketahui adalah kenyataan bahwa Ong Siu Coan adalah murid datuk sesat Thian-tok, seorang di antara Empat Racun Dunia, yang pernah menyamar sebagai Siauw-bin-hud dan merampas pusaka kami Giok-liong-kiam. Bahkan sekarangpun yang melarikan pusaka itu adalah murid pertamanya yang bernama Koan Jit, hal ini kita semua sudah mendengarnya.”

“Omitohud…!” seorang di antara tokoh Siauw-lim-pai berseru kaget. “Jadi, anak murid Thian-tok sekarang menjadi pemimpin Thian-te-pang?

Sungguh berbahaya!”

“Kedua, dia tidak memusuhi orang kulit putih, bahkan condong untuk bersahabat dengan orang kulit putih. Sutenya, murid ketiga dari Thian-tok, kabarnya bahkan telah menikah dengan seorang gadis kulit putih. Ini merupakan bukti bahwa dia sama sekali tidak memusuhi orang kulit putih yang jelas merupakan ancaman bagi keselamatan bangsa.”

Mereka yang mendengar keterangan ini mengangguk-angguk maklum. Tidak ada seorangpun di antara para patriot itu yang setuju dengan membanjirnya orang kulit putih di kota-kota yang telah dibuka oleh keputusan Kaisar Tao Kuang yang ketakutan terhadap penyerbuan orang kulit putih itu.

“Ada hal lain yang amat berbahaya,” kata pula Ma Ki Sun, sekali ini sengaja hendak membakar hati para hwesio Siauw-lim-pai dan para tosu Kun-lun-pai.

“Ong Siu Coan kini melakukan kegiatan menyebarkan agama baru dari orang kulit putih, bahkan dia berani menghina agama-agama kita, mengatakan bahwa Agama Buddha dan Agama To merupakan agama tersesat.” “Siancai...!” seru para tosu Kun-lun-pai.

“Omitohud...!” para hwesio Siauw-lim-pai juga berseru marah. Demikianlah, para tokoh itu lalu mengambil keputusan untuk menentang

Ong Siu Coan dan mengenyahkan pemuda itu dari Thian-te-pang agar perkumpulan ini tidak dibawa menyeleweng ke jalan sesat. Siasat diatur dan waktu telah ditentukan.

Dengan dalih merayakan ulang tahun perkumpulan mereka, Ma Ki Sun berhasil membujuk Siu Coan untuk menyetujui diadakannya perayaan sederhana sambil mengundang para tokoh persilatan yang menjadi sahabat Thian-te-pang. Siu Coan sama sekali tidak tahu bahwa ketika perayaan itu tiba saatnya, Ma Ki Sun sudah membuat persiapan yang amat matang. Para muridnya telah diberitahu, dan murid-murid itupun mempengaruhi para anggauta sehingga sebagian besar para anggauta Thian-te-pang sudah maklum bahwa pemuda yang lihai itu sama sekali tidak cocok untuk menjadi pemimpin perkumpulan mereka. Selain itu, juga para tokoh persilatan yang hadir sebagai tamu, semua adalah sahabat-sahabat Ma Ki Sun yang sudah siap turun tangan membantu kalau keadaan memaksa.

Di tengah-tengah perayaan itulah, Ma Ki Sun bangkit berdiri dan mengumumkan kepada semua anggauta bahwa mulai hari itu, Thian-te-pang harus kembali ke jalan benar.

“Sudah beberapa bulan lamanya perkumpulan kita ini sudah melakukan penyelewengan-penyelewengan dan hal ini harus dihentikan. Hal semua ini terjadi setelah Ong-sicu memimpin kita, oleh karena itu, mengingat bahwa Ong-sicu bukan merupakan anggauta Thian-te-pang, mulai hari ini kami semua minta kepada Ong-sicu untuk mengundurkan diri dan jangan mencampuri urusan Thian-te-pang kami.”

Tentu saja hal ini sama sekali tidak pernah diduga oleh Siu Coan. Wajah pemuda ini menjadi merah dan sepasang matanya mengeluarkan sinar berapi ketika dia memandang kepada ketua Thian-te-pang itu. Diapun bangkit berdiri dan dengan sikap tenang dia berkata.

“Apakah ini berarti bahwa Ma-pangcu menantangku untuk mengadu kepandaian?”

“Sama sekali bukan begitu,” jawab Ma Ki Sun.

“Kami semua tahu bahwa sicu memiliki kepandaian tinggi. Akan tetapi sicu bukan anggauta kami, dan kalau sicu hendak memaksakan kehendak menjadi pimpinan kami, hal itu berarti bahwa sicu sebagai orang luar hendak memaksa diri menguasai kami. Kalau benar demikian, terpaksa kami seluruh anggauta Thian-te-pang akan bangkit dan menentang sicu sebagai orang luar yang hendak mengacau perkumpulan kami!”

Siu Coan marah sekali dan dia melayangkan pandangannya kepada mereka yang hadir. Kaget juga hatinya ketika melihat betapa semua anggauta Thian- tepang berkumpul di situ dan kebanyakan dari mereka telah bangkit dan siap menentangnya dengan pandang mata Bermusuhan! Bahkan dia melihat pula para hwesio dan tosu yang hadir dari perkumpulan-perkumpulan persilatan besar, sudah siap pula membela tuan rumah.

“Omitohud, kalau Thian-te-pang dikacau orang luar, pinceng sekalian sebagai sahabat-sahabatnya tidak akan tinggal diam!” kata seorang hwesio Siauw-limpai.

“Benar, pinto bersama saudara semua juga akan membela Thian-te-pang dari gangguan orang luar!” kata seorang tosu tinggi kurus yang bermuka kuning.

Siu Coan bukan orang bodoh. Dia tidak gentar menghadapi semua orang Thian-te-pang. Akan tetapi diapun tahu bahwa tak mungkin dia akan menang menghadapi pengeroyokan mereka semua, apalagi diingat bahwa di antara para tamu terdapat tokoh-tokoh Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai yang lihai. Juga, kalau dia menggunakan kekerasan, tentu dia akan kehilangan rasa suka mereka, padahal dia masih mengharapkan bantuan orang-orang Thian-te- pang, setidaknya para anggauta yang suka kepadanya dan yang bahkan sudah menerima agama baru yang disiarkannya. Dalam waktu beberapa puluh detik saja, pemuda yang cerdik ini sudah dapat memutar otaknya dan diapun tetap bersikap tenang, bahkan dia lalu menjura ke arah Ma Ki Sun dan suaranya terdengar lantang, lembut dan tenang.

“Ma-pangcu, sejak dahulupun aku tidak ingin mengganggu Thian-te-pang, melainkan hendak memajukan perkumpulan ini. Akan tetapi kalau Ma-pangcu dan para anggauta Thian-te-pang tidak menghendaki bantuanku, tidak mengapalah. Aku akan mundur sekarang juga. Akan tetapi, tentu Ma-pangcu dan semua anggauta tidak akan menganggap aku sebagai musuh, melainkan sebagai seorang sahabat, bukan?”

Ma Ki Sun sendiri tercengang. Tak disangkanya bahwa pemuda itu akan demikian mudahnya mengalah! Tadinya dia bahkan mengharapkan pemuda itu akan menjadi marah dan akan memberontak dan melawan agar dia dapat mengeroyoknya bersama para anggauta dan para tamu yang lihai agar dia dapat membasmi pemuda yang lihai dan berbahaya ini. Akan tetapi siapa kira, pemuda itu bersikap demikian mengalah dan lunak, sehingga tentu saja tidak ada alasan baginya untuk mengeroyoknya! Terpaksa dia balas menjura kepada pemuda itu.

“Tentu saja Ong-sicu tetap menjadi sahabat kami, karena bagaimanapun juga, maksud sicu memimpin perkumpulan kami adalah baik walaupun sepak terjang sicu tidak cocok dengan pendirian kami.”

Dia masih mengharapkan agar pemuda itu membantah sehingga ada bahan untuk saling bertentangan. Akan tetapi, pemuda itu tersenyum, menjura dan duduk lagi sambil mengucapkan terima kasih. Melihat sikap pernuda ini, tentu saja para tamupun tidak ada yang dapat mencela, bahkan ada di antara mereka yang diam-diam memuji sikap pemuda itu yang dianggap tahu diri dan tidak mencari keributan.

Karena sikap pemuda ini, maka tidak terjadi peristiwa di dalam pesta, dan semenjak hari itu, Siu Coan meninggalkan Thian te-pang dengan aman, sama sekali tidak mau memancing keributan. Memang pemuda ini pandai bukan main.

Dengan sikapnya ini, maka kelak akan banyak di antara para anggauta Thian-te-pang yang mau masuk menjadi anggauta perkumpulan baru yang didirikannya, diberinya nama Fhi-sang-ti-hui (Perkumpulan Pemuja Tuhan), sebagai suatu perkumpulan yang memeluk Agama Kristen, akan tetapi yang di dalamnya mengandung cita-cita untuk meruntuhkan kekuasaan Mancu yang menguasai tanah air.

Pulau yang tidak begitu jauh dari daratan besar itu disebut Pulau Layar, karena dari jauh bentuknya seperti layar sebuah perahu besar dan berwarna hitam. Letaknya di lautan kuning, kurang lebih hanya tiga li dari daratan. Para nelayan mengenal pulau ini sebagai pulau kecil milik seorang hartawan she Tang, akan tetapi tidak ada nelayan berani mencoba mendekati pulau itu, karena hartawan itu terkenal memiliki banyak anak buah yang galak dan kejam, juga mereka itu terkenal sebagai orang-orang yang pandai ilmu silat, terutama sekali ilmu dalam air. Karena daerah ini jarang didatangi para nelayan, maka perairan di dekat pulau mengandung banyak ikan.

Ada tiga orang nelayan muda yang terlalu berani, mencari ikan dekat pulau itu. Tiba-tiba sebuah perahu kecil hitam meluncur dekat, dan dua orang muda yang tampan menegur para nelayan itu. Melihat bahwa yang mengganggu mereka hanya dua orang pemuda yang kelihatan tampan dan bertubuh kecil, tiga orang nelayan muda yang kuat-kuat itu tidak takut, bahkan membantah sehingga terjadi percekcokan. Tiba-tiba dua orang pemuda tampan dalam perahu hitam itu berloncatan ke dalam air, menyelam dan tak lama kemudian, perahu nelayan itupun terbalik dan tentu saja tiga orang nelayannya ikut tercebur! Mereka diseret ke bawah permukaan air dan akhirnya dua orang di antara mereka tewas, yang seorang berhasil menyelamatkan diri membawa cerita menyeramkan tentang pulau itu dan para penghuninya yang galak dan kejam.

Pulau layar ini memang dihuni oleh seorang hartawan yang kaya raya bernama Tang Kok Bu atau yang lebih terkenal lagi di dunia persilatan sebagai seorang datuk sesat berjuluk Hai-tok (Racun Lautan), seorang di antara Empat Racun Dunia yang terkenal itu. Hai-tok Tang Kok Bu di waktu dahulu adalah seorang datuk sesat yang menguasai lautan, menjadi raja di antara para bajak laut. Pekerjaan ini mendatangkan hasil bajakan yang amat besar dan setelah usianya semakin tua, Hai-tok menghentikan kegiatannya dan hidup di Pulau Layar sebagai seorang hartawan yang kaya raya.

Hai-tok sudah kehilangan isterinya semenjak puterinya masih kecil, anak tunggal ini bernama Tang Ki dan setelah kematian isterinya, Hai-tok hidup secara yang tidak wajar. Dia menerima murid-murid yang terdiri dari pria-pria yang tampan, pemuda-pemuda remaja yang ganteng dan mulailah kehidupannya sebagai seorang homo, seorang kakek yang suka bermesraan dengan pemuda-pemuda tampan.

Hanya seorang di antara muridnya yang tak pernah diganggunya walaupun murid ini tampan juga, yaitu murid pertamanya yang sejak kecil bersama puterinya telah dilatihnya. Karena sejak kecil menjadi muridnya, maka Lee Song Kim, demikian nama murid itu, selain memiliki ilmu yang lihai, juga dianggap seperti anak sendiri sehingga Hai-tok tidak pernah mengganggunya.

Murid-murid lain diambil murid setelah menjadi pemuda remaja dan mereka ini tidak memperoleh latihan ilmu silat yang terlalu tinggi, melainkan lebih banyak bertugas sebagai pelayan-pelayan dan juga penghibur- penghibur. Tidak kurang dari tigapuluh orang murid yang tampan-tampan yang menjadi pelayan, dan anak buah ini dan selain puteri tunggalnya, Tang Ki, tidak ada seorangpun wanita lain yang tinggal di pulau itu!

Pada pagi hari itu, Hai-tok Tang Kok Bu sudah berada di luar gedungnya yang indah, di halaman luar gedungnya dan nampak dia marah-marah. Suaranya lantang ketika dia memarahi belasan orang pemuda ganteng yang berlutut di atas tanah, di depan kakinya.

“Kalian ini memang manusia-manusia tolol yang tiada guna!” bentaknya berkali-kali, dan belasan orang anak buah atau juga muridnya itu berlutut dengan muka pucat dan tubuh gemetar.

“Masa   mencari    satu    orang    saja,    sampai    berbulan-bulan    pergi menghabiskan banyak biaya, belum juga berhasil!”

Memang menakutkan kalau Hai-tok sedang marah-marah. Kakek yang usianya sudah kurang lebih tujuhpuluh tahun ini bertubuh tinggi besar dengan muka merah, pakaiannya mewah dan seperti pakaian hartawan kota saja. Sepasang matanya yang besar itu melotot dan mukanya yang merah itu menambah kebuasannya. Dia marah-marah karena belasan orang murid pilihan ini gagal setelah berbulan-bulan meninggalkan pulau dan berpencaran untuk mencari jejak seorang yang bernama Koan Jit, murid pertama Thian-tok yang melarikan pusaka Giok-liongkiam.

Pagi hari itu, mereka pulang ke Pulau Layar dan membawa laporan bahwa mereka gagal menemukan orang yang mereka cari-cari.

“Percuma saja kalian kuberi makan enak, kuberi pakaian indah-indah, kuberi kehidupan yang mewah dan mulia di sini, bahkan menjadi murid- muridku! Kini diberi satu macam tugas saja tidak becus melaksanakan dengan baik. Mau bicara apa kalian?”

Seorang di antara mereka, yang tertua, berusia kurang lebih duapuluh empat tahun, agaknya memberanikan diri mewakili saudara-saudaranya dan berkata.

“Mohon suhu sudi mengampuni teecu sekalian, karena sesungguhnya teecu sekalian telah mati-matian mencari jejak Koan Jit itu. Akan tetapi, suasana di selatan amat kacau dan teecu menduga dia berada di daerah selatan yang tadinya kacau dilanda perang madat, suhu. Dalam keadaan kacau balau dengan banyaknya pejuang, teecu menemukan kesukaran, bahkan kalau bertanya-tanya, kadang-kadang teecu dicurigai orang, disangka mata-mata orang kulit putih.”

“Huh, alasan kosong! Sialan benar kalian!”

Kakek tinggi besar itu tetap marah-marah, dan pada saat itu terdengar seruan nyaring.

“Ayah sendiri yang bersalah, mengapa menyalahkan mereka?”

Hai-tok menoleh dan memandang marah kepada puterinya. Akan tetapi, kemarahan terhadap puterinya selalu dikekangnya. Mana mungkin dia marah kepada anak tunggalnya yang amat disayangnya itu?

Seorang gadis berusia kurang lebih delapanbelas tahun muncul. Gadis ini memang puteri atau anak tunggal Hai-tok, akan tetapi dalam hal berpakaian, ia tidak seperti ayahnya yang selalu berpakaian mewah. Tidak, gadis ini sama sekali tidak mengenakan pakaian mewah, bahkan mukanya tidak dirias terlalu menyolok. Pakaiannya ringkas walaupun terbuat dari bahan yang bagus. Sepasang matanya bersinar-sinar penuh kenakalan, wajahnya selalu berseri dan mulut itu selalu tersenyum. Manis bukan main karena di tepi mulutnya terdapat sebuah tahi lalat hitam kecil yang menjadi pemanis. Dengan sikap manja, gadis yang bernama Tang Ki itu mendekat dan menghampiri ayahnya, lalu menggandeng tangan kakek itu.

“Sudahlah, ayah. Kalau ayah sering marah-marah, ayah akan jatuh sakit lagi. Bukankah sebulan yang lalu, karena sering marah-marah, ayah pernah jatuh sakit parah?”

Sikapnya manja akan tetapi juga kelihatan sayangnya terhadap orang tua

itu.

“Huh, Kiki, bagaimana engkau malah menyalahkan ayahmu? Mereka ini

yang tolol, tidak becus! Engkau tidak tahu betapa pentingnya Giok-liong-kiam itu bagiku!” “Tentu saja salah ayah sendiri. Mereka ini orang-orang macam apa maka ayah beri tugas sedemikian beratnya? Sejak dulupun aku sudah mengatakan bahwa biarlah aku saja yang melakukan penyelidikan terhadap Koan Jit. Harap ayah ingat. Koan Jit adalah murid pertama Thian-tok. Mereka ini akan mampu berbuat apakah terhadap dirinya?”

“Benar apa yang dikatakan sumoi, suhu!”

Tiba-tiba muncul pula seorang pemuda dari dalam gedung megah itu. Pemuda ini usianya kurang lebih duapuluh tahun. Wajahnya tampan dan pakaiannya mewah seperti gurunya, bahkan pesolek karena rambutnya disisir halus, mukanya seperti ada bekas bedak lamat-lamat. Di punggungnya tergantung sebatang pedang yang sarungnya indah terukir dan diberi ronce- ronce merah di gagangnya, di pinggang depan terselip sepasang pisau belati. Kuncirnya yang tebal hitam itu jelas bekas diminyaki licin, dan berbau harum. Pakaiannya seperti orang pelajar, akan tetapi karena dia membawa pedang dan pisau belati, jelas bahwa dia seorang yang tidak lemah. Inilah dia Lee Song Kim, murid utama Hai-tok yang sejak kecil digemblengnya dan mewarisi banyak ilmunya dan dianggap sebagai putera sendiri.

Karena itu, biarpun tidak semanja Tang Ki atau yang biasa disebut Kiki, pemuda ini berani mencampuri percakapan antara ayah yang sedang marah dan puterinya itu. Kalau murid lain, seorang di antara pemuda-pemuda tampan yang menjadi anak buah pula, sampai bagaimanapun tidak akan berani selancang itu karena salah-salah mereka akan dipukul mampus!

“Si Koan Jit itu tentu lihai sekali. Kalau sumoi dan teecu yang berangkat, tentu kami berdua akan mampu menemukannya dan sekalian merampas Giok- liong-kiam untuk suhu!” kata pula pemuda itu setelah dengan gerakan cepat dia tiba di dekat Hai-tok dan Kiki.

“Kurasa tidak perlu kalian berdua yang pergi, salah seorang saja,” kata Hai-

tok.

“Tapi, suhu, kalau kami pergi berdua, teecu dapat membantu sumoi dan

sekalian melindunginya. Harap suhu ingat bahwa murid pertama Thian-tok itu tentu lihai bukan main, dan berbahayalah kalau sumoi pergi seorang diri saja...” “Suheng, jangan lancang kau! Aku tidak minta bantuanmu, juga tidak

butuh perlindunganmu!”

Kiki merajuk dan bersungut sambil melirik marah ke arah pemuda itu. Lee Song Kim tersenyum senang. Sejak kecil mereka berangkat bersama, berada di satu tempat dan berlatih silat bersama-sama, sehingga di waktu kecil mereka berdua itu merasa saling suka seperti kakak beradik saja. Akan tetapi setelah mereka dewasa, Lee Song Kim merasakan ada perobahan dalam hatinya. Dia kagum dan terpikat oleh kecantikan dan kemanisan wajah sumoinya, dan timbul gairahnya melihat betapa sumoinya itu kini berobah menjadi seorang gadis yang makin hari makin nampak molek dan memikat hati. Apalagi setelah dia mulai berkenalan dengan wanita ketika dia meninggalkan pulau dan bermain-main dengan para nelayan dan para penghuni di dusun-dusun dekat pantai. Dia membanding-bandingkan sumoinya dengan wanita-wanita dusun pantai dan dengan para pelacur yang dikenalnya, dan nampaklah oleh matanya bahwa sumoinya itu jauh lebih menarik dan menang dalam segala hal!

Mulailah dia tergila-gila dan diam-diam dia merindukan sang sumoi dan mengharapkan kelak sumoinya itu akan menjadi isterinya. Dengan demikian, bukan saja dia akan mendapatkan seorang isteri yang cantik jelita, juga gagah perkasa dan boleh diandalkan, melainkan juga dapat mewarisi harta peninggalan yang amat banyak dari gurunya kalau guru yang menjadi ayah mertua itu meninggal kelak!

“Aih, sumoi, aku bermaksud baik. Koan Jit adalah murid pertama Thian-tok, tentu lihai dan berbahaya sekali. Baru kalau kita maju berdua, banyak harapan akan dapat membekuk dia dan merampas pusakanya. Tidakkah benar demikian, suhu? Apakah suhu akan merelakan dan tega melihat sumoi pergi sendirian dan kelak berhadapan dengan Koan Jit lalu mengalami celaka? Kalau ada teecu di sampingnya, teecu akan membelanya dengan taruhan nyawa!”

“Phuahh! Lagaknya!” Kiki kembali menegur.

“Jangan kaupandang rendah aku, suheng! Kaukira aku ini anak kecil yang perlu kaujaga? Hemm, lihat saja. Akulah yang berhasil merampas Giok-liong- kiam!”

“Kiki, kukira pendapat suhengmu ada benarnya. Terlalu berbahaya kalau engkau pergi seorang diri. Memang kepandaianmu sudah cukup untuk menjaga diri, akan tetapi menghadapi murid utama Thian-tok, engkau harus hati-hati. Kalau kalian maju berdua, aku tanggung kalian takkan kalah. Kepandaian Thian-tok dan aku seimbang. Hanya mungkin engkau kalah pengalaman dan kalah latihan, mengingat bahwa murid Thian-tok yang pertama itu sudah jauh lebih tua.”

“Ah, aku tidak suka pergi berdua!” kata Kiki merajuk.

“Kalau begitu, biarkan teecu yang pergi, suhu, dari pada membiarkan sumoi terancam bahaya.”

Sang guru mengangguk-angguk dan melihat ini, Kiki cemberut lalu pergi ke dalam kamarnya. Percakapan dengan puteri dan muridnya itu membuat hati Hai-tok terhibur sehingga kemarahannya mereda dan hal ini menyelamatkan para murid yang baru pulang itu dari kemarahan dan hukuman selanjutnya.

Setelah memperoleh ijin dari gurunya, Song Kim lalu membuat persiapan untuk berangkat besok pagi-pagi meninggalkan Pulau Layar. Dia mengumpulkan belasan orang murid yang baru pulang pagi tadi dan mendengar keterangan mereka tentang hasil penyelidikan mereka. Menurut penuturan mereka, jejak Koan Jit menuju ke selatan dan lenyap di antara kekacauan yang terjadi karena perang madat di selatan. Keterangan ini membuat Song Kim mengambil keputusan untuk melakukan penyelidikan ke selatan pula.

Malam itu sunyi di pulau itu. Hai-tok telah tidur nyenyak ditemani dua orang murid atau anak buah yang baru pulang pagi tadi. Sesosok bayangan berkelebat dengan cepat sekali keluar dari gedung itu melalui sebuah jendela kamar. Itulah bayangan Kiki yang sudah berpakaian ringkas, menggendong sebuah buntalan berisi pakaian. Dengan gerakan yang amat lincah, gadis itu memandang ke kanan kiri yang sudah sunyi. Ia tahu bahwa di depan gedung, seperti biasa, terdapat beberapa orang murid yang melakukan penjagaan secara bergilir. Maka iapun lalu meloncat dan berlari cepat ke arah belakang gedung keluarganya, melompati pagar tembok di belakang kemudian, di bawah sinar bulan, ia terus lari memutar menuju ke pantai dimana perahu- perahu milik mereka berada.

Kiki tahu bahwa di tempat ini juga terdapat beberapa orang murid berjaga, menjaga perahu-perahu mereka kalau-kalau ada orang luar yang mendarat di pulau mereka. Ia tahu dengan pasti dimana mereka berjaga. Ia ingin pergi dengan diam-diam karena kalau sampai ketahuan ayahnya, tentu ayahnya akan menahannya. Ayahnya terlalu sayang kepadanya sehingga tidak akan membiarkan ia pergi seorang diri saja. Kalau ia sudah dapat keluar dari pulau, maka amanlah, ayahnyapun tidak akan dapat menyusulnya karena ia boleh mengambil jalan kemanapun tanpa meningalkan jejak di atas air.

Sekali ini, Kiki tidak ingin mencoba untuk pergi dengan perahu tanpa setahu para penjaga. Hal ini akan sukar sekali dan sebelum ia berlayar jauh, tentu para penjaga sudah melihatnya. Maka, lalu dengan cepat iapun menyembunyikan buntalan pakaiannya, kemudian dengan santai ia menghampiri tempat jaga. Ada tiga orang murid berjaga di situ.

Tiga orang murid ini tercengang melihat betapa malam-malam gadis itu datang ke tempat penjagaan mereka. Hampir semua murid atau anak buah di pulau itu tentu saja diam-diam merindukan gadis yang cantik jelita dan yang merupakan satu-satunya wanita di pulau itu, akan tetapi tentu saja mereka tidak berani bersikap sembarangan, tahu akan kelihaian Kiki. Dan Kiki yang amat manja itu, melihat bahwa para pemuda itu datang ke pulau sudah pemuda remaja dan hanya menerima latihan silat sekedarnya saja dari ayahnya, tidak mau disamakan dengan mereka dan tidak sudi disebut suci, melainkan mengharuskan mereka menyebutnya siocia (nona)! Keangkuhan karena manja dari Kiki ini diikuti pula oleh Song Kim yang minta disebut kongcu (tuan muda) oleh para anak buah. Tingkah dua orang muda ini diketahui oleh Hai-tok, akan tetapi didiamkan saja karena kakek inipun melihat perbedaan tingkat dan derajat antara dua orang muda itu dengan anak buahnya.

“Selamat malam, siocia!” tegur mereka ketika melihat munculnya Kiki. Dengan sikap wajar Kiki mengangguk lalu berkata.

“Malam ini aku ingin berjaga di pantai. Kalian berjagalah di depan gedung, memperkuat penjagaan disana atau kalau kalian lelah, kalian boleh tidur.”

“Tapi, siocia...”

Mereka meragu karena peraturan guru mereka amat keras tentang penjagaan ini. Siapa yang memperoleh giliran jaga, sama sekali tidak boleh meninggalkan tempat penjagaan.

“Tidak ada tapi! Aku yang memerintahkan, siapa yang akan melarang aku ingin bergadang dan berjaga di sini malam ini, apakah kalian akan menghalangi aku?”

Dibentak seperti itu, tentu saja tiga orang itu menjadi pucat dan tergesa- gesa mereka lalu meninggalkan tempat penjagaan di pantai dan berlari-larian ke tengah pulau. Setelah mereka pergi, dan ia maklum bahwa mereka tidak akan berani mengganggu ayahnya malam ini dengan laporan, Kiki cepat mengambil buntalannya dan segera meloncat ke dalam sebuah perahu kecil hitam setelah melepaskan tali pengikat perahu itu. Tak lama kemudian, perahunyapun meluncur ke tengah lautan setelah didayungnya, dan kemudian layar dikembangkan dan menangkap angin. Sama sekali Kiki tidak tahu bahwa pada saat itu, sesosok tubuh manusia bergantung pada dasar perahunya, dan wajah orang itu tersenyum menyeringai penuh kepuasan. Orang itu bukan lain adalah Song Kim!

Kiranya pemuda yang cerdik ini telah dapat menduga akan rasa penasaran di hati sumoinya dan pergaulannya sejak kecil dengan sumoinya membuat dia dapat mengenal watak keras sumoinya. Dia dapat menduga bahwa sumoinya mungkin sekali akan mendahuluinya pergi meninggalkan pulau untuk mencari Koan Jit. Karena itu, diam-diam dia bersembunyi di dekat pantai tanpa setahu para penjaga. Setelah dia melihat berkelebatnya bayangan sumoinya dari jauh, dia makin yakin akan tepatnya persangkaannya. Maka diapun cepat masuk ke dalam air. Sebagai murid Hai-tok, tentu saja pemuda ini memiliki kepandaian yang luar biasa di dalam air. Dia dapat bersembunyi di dalam air sampai lama, menggunakan sebatang alang-alang untuk pernapasan. Dia melihat sumoinya meloncat ke dalam sebuah perahu, diam-diam dia berenang di bawah permukaan air dan mengikuti perahu itu sampai meluncur dibawa kekuatan angin yang ditangkap layar dan dia memegangi dasar perahu itu, bergantung dan ikut terbawa oleh perahu.

Tiba-tiba udara yang tadinya terang oleh sinar bulan, kini menjadi gelap. Agaknya ada awan mendung tebal menutupi sinar bulan. Cuaca di atas permukaan laut menjadi gelap sama sekali.

“Sialan!”

Kiki mengomel sambil memandang ke atas dimana awan yang tebal dan amat lebar bergantung di angkasa menutupi sinar bulan. Akan tetapi ia adalah anak laut dan sudah biasa berlayar, maka ia dapat mengarahkan perahunya tepat ke barat walaupun bulan tertutup awan.

Cuaca menjadi semakin gelap. Karena Kiki mengenal daerah lautan di situ, iapun tahu bahwa ia harus berhati-hati karena di daerah ini terdapat beberapa tonjolan batu karang yang berbahaya. Karena itu, maka iapun duduk mengemudikan perahu dengan hati-hati dan mencurahkan seluruh perhatiannya. Perahu mulai oleng dan ombak mulai datang. Air laut memercik ke tubuh perahu mengeluarkan bunyi seperti dendang yang amat terkenal bagi telinga Kiki.

Karena perhatiannya dipusatkan pada kemudi, dan karena suara gaduh air yang menutupi suara lain, ia sama sekali tidak tahu bahwa di luar perahu, ada bayangan hitam bergerak merayap perlahan-lahan memanjat perahunya dan kini bayangan itu tiba di belakangnya. Seperti ada sesuatu yang memperingatkannya, ia menoleh akan tetapi terlambat, karena pada saat itu, dua buah lengan kuat sudah merangkulnya dari belakang dan jari tangan yang terlatih baik sudah menotok jalan darahnya.

Seketika tubuh Kiki menjadi lemas. Biarpun ia masih dapat melihat dan mendengar dengan baik dalam keadaan sadar, namun ia tidak dapat melihat siapa orang yang telah menotoknya. Bahkan bayangan orang itupun hampir tidak nampak, demikian gelapnya cuaca. Akan tetapi yang membuat gadis ini terkejut setengah mati, bahkan menjadi ngeri ketakutan adalah ketika tiba-tiba orang itu menindihnya, mendekapnya dan menciuminya dengan buas dan penuh nafsu berahi! Hanya terdengar suara ‘ah-ah-uh-uh’ dari mulut orang itu dan terus menciumi seluruh tubuh dan mukanya, bahkan menggigit bibirnya dengan gemas.

Kiki adalah seorang gadis yang belum pernah berdekatan dengan pria seperti ini, dan biarpun ia sudah banyak membaca dan juga naluri kewanitaannya yang memperingatkan, namun selamanya belum pernah ia merasakan hal seperti itu. Ia ingin menjerit, ingin meronta, ingin membunuh orang itu. Biarpun ia tidak tahu siapa, akan tetapi ia tahu bahwa orang ini tentu seorang laki-laki. Karena tidak berdaya, Kiki menjadi ketakutan dan hampir pingsan karena ia sudah dapat setengah menduga bahwa laki-laki ini tentu akan memperkosanya dengan buas!

Akan tetapi, tiba-tiba perahu itu oleng keras dan mereka berdua terguling- guling, hampir terlempar keluar dari dalam perahu. Pria itu mengeluarkan suara menggerutu, akan tetapi agaknya dia memang tidak ingin dikenal maka tidak mengeluarkan kata-kata, lalu meloncat berdiri, melepaskan tubuh Kiki yang tadi ditindih dan dipeluknya. Perahu tetap oleng ke kanan kiri.

Kiki yang rebah miring itu terkejut juga. Badai telah tiba dengan mendadak dan menyerang perahu! Bisa berbahaya di daerah yang banyak batu karangnya ini! Laki-laki itu agaknya maklum pula. Dengan kuat dia mengemudikan perahu, melawan ombak yang semakin membesar. Tiba-tiba tubuh Kiki bergulingan ketika perahu miring. Tentu saja Kiki merasa ngeri sekali karena kalau tubuhnya terlempar keluar, tidak ada harapan lagi baginya untuk hidup. Kalau saja tidak tertotok, dengan ilmunya bermain di air mungkin ia akan dapat menyelamatkan diri. Akan tetapi totokan itu demikian lihainya sehingga ia tidak mampu bergerak sama sekali!

Bukan saja niatnya tadi gagal sama sekali, juga kini dia bahkan harus berusaha keras untuk melawan badai, menyelamatkan perahu dan juga sumoinya, juga dirinya sendiri! Sialan! Kalau saja dia tidak menotok sumoinya, kalau saja dia tidak melakukan usahanya memperkosa tadi, tentu kini dengan mudah dia membebaskan totokannya atas diri Kiki, dan mereka berdua akan dapat meloloskan diri dengan lebih mudah. Tidak seperti sekarang, dia terpaksa mengikat tubuh Kiki agar jangan ditelan air dan harus berjuang amat keras seorang diri agar perahu itu tidak karam. Betapapun juga, dia masih mengandung harapan agar dia dapat segera menyelamatkan perahu dan sumoinya dari badai, kemudian karena cuaca masih amat gelap, di tempat aman dia masih akan dapat melanjutkan maksud hatinya yang tadi. Mengingat akan kemungkinan itu, dia menelan ludah dan mengemudikan perahu dengan amat hati-hati.

Lee Song Kim adalah seorang anak yatim piatu, anak seorang bajak laut yang amat kejam dan jahat. Ketika dia berumur empat tahun, ayahnya yang juga merupakan seorang pemberani, bentrok dengan Hai-tok dan inilah kesalahan besar ayahnya dalam kehidupannya. Dia terbunuh oleh Hai-tok, dan isterinya yang masih muda dan cukup cantik tidak terlepas pula dari penghinaan Hai-tok terhadap orang yang berani menghinanya. Dia menangkap dan memperkosa isteri bajak itu, bahkan setelah beberapa hari kemudian, dia memberikan wanita itu kepada anak buah bajak laut yang berpesta pora terhadap diri wanita itu sampai tewas.

Akan tetapi anak tunggalnya, yaitu Song Kim, menarik perhatian Hai-tok. Dengan matanya yang tajam datuk sesat ini melihat adanya bakat yang amat baik pada diri anak itu. Maka dia mengampuni anak itu dan mengambilnya sebagai murid. Song Kim yang sama sekali tidak mengetahui asal usulnya, menjadi murid yang terkasih, bahkan diperlakukan sebagai putera sendiri oleh Hai-tok. Ketika itu, ibu Kiki masih hidup dan Kiki sendiri baru berusia kurang lebih tiga tahun.

Karena hidup di dalam lingkungan orang-orang yang suka bertindak kasar dan kejam, melakukan segala macam kemaksiatan, dan mungkin juga karena memang pembawaan dan darahnya, maka semua itu mudah sekali menular pada batin Song Kim. Dia amat cerdik, amat kejam dan jahat, akan tetapi semua itu disembunyikan di balik tampangnya yang menarik, sikapnya yang amat ramah dan jenaka. Dan dia memang sungguh tergila-gila kepada Kiki, dia mencinta Kiki karena sejak kecil bergaul dengan Kiki dan merasa cocok dengan watak gadis itu yang jenaka periang dan gagah berani.

Kalau sekarang dia begitu tega untuk memperkosa gadis itu adalah justeru terdorong rasa cintanya, menurut batin dan kelicikannya sendiri. Dia berpendapat bahwa sekali dia berhasil memperkosa gadis itu, tanpa diketahui oleh gadis itu sendiri, berarti dia telah memiliki kekuasaan atas diri Kiki. Kalau kelak sampai gagal, dia akan dapat mempergunakan rahasia ini untuk memaksa Kiki! Dengan adanya rahasia yang diketahuinya sendiri itu, bahwa Kiki telah diperkosanya, kelak dia akan dapat memaksa gadis itu untuk menjadi isterinya dan tidak mungkin menjadi isteri orang lain.

Tentu saja seorang pemuda seperti Song Kim tidak sadar sama sekali bahwa cinta kasih adalah perasaan yang amat halus dan suci, yang sama sekali tidak dipengaruhi oleh nafsu keinginan apapun. Yang diciptakan oleh nafsu- nafsu keinginan hanyalah pengejaran kesenangan belaka, baik melalui berahi, melalui cita-cita dan sebagainya.

Akan tetapi, nasib agaknya kurang membantu Song Kim pada malam hari itu. Badai amat besar dan buas, mempermainkan dia dan perahunya sampai berjam-jam lamanya. Dia sendiri kehilangan arah perahunya, dan hanya mengemudikan perahu dengan satu tujuan, yaitu agar perahunya tidak sampai karam. Itu saja! Dia tidak tahu bahwa perahu itu diombang-ambingkan ombak ganas dan diseret jauh ke selatan! Kegelapan cuaca membuat dia tidak tahu pula bahwa kini perahunya sebetulnya sudah berada dekat dengan daratan.

“Braaakkkk...!!”

Tiba-tiba perahunya membentur karang dan demikian kerasnya benturan itu sehingga hampir saja tubuh Song Kim terlempar keluar perahu! Dia dapat cepat meloncat dan kedua tangannya memeluk tihang layar sehingga tubuhnya tidak terlempar. Akan tetapi, perahunya pecah dan tihang layar itupun hampir roboh, kemudian perlahan-lahan perahu itu tenggelam! Tentu saja tidak akan tenggelam seluruhnya, hanya kemasukan air dan akhirnya tentu akan terbalik dan mengambang. Dia berpikir cepat. Dia harus menyelamatkan sumoinya, akan tetapi juga tidak boleh membuka mulut, tidak boleh membuka ikatan kaki tangan sumoinya. Dia memang cerdik. Pelukan pada tihang itu diperkuat dan dengan sekuat tenaga, dia menjebol tihang layar itu dan ketika tihang itu ambruk, dia sengaja merangkul tihang itu dan membawanya meloncat keluar perahu yang mulai miring!

“Byuurrr...!”

Air muncrat tinggi dan tubuhnya bersama tihang dimana tubuh Kiki masih terikat disambut ombak. Air itu hangat! Bukan main gembiranya hati Song Kim. Ini berarti daratan sudah tidak jauh lagi! Untung masih ada kelebihan tali untuk mengikat tubuh Kiki tadi, dan kini dia menarik tali ini, lalu berenang ke arah daratan yang dapat dikira-kirakannya melihat arah ombak. Tihang yang kini menjadi balok meluncur dengan tenang di belakangnya, dan tubuh Kiki terlentang di atas balok.

Sudah ada sinar remang-remang dan Song Kim melihat tubuh yang indah itu terlentang di atas tihang. Pakaian yang basah itu melekat pada tubuh Kiki, dan kembali gelora nafsu berahi melanda batin Song Kim. Dia harus bertindak cepat, pikirnya. Sebentar lagi kalau sudah ada sinar menerangi wajahnya, sumoinya akan dapat mengenalnya dan celakalah kalau begitu. Sumoinya tentu akan melapor kepada suhunya dan jangan harap dia akan dapat hidup lagi!

Karena terdorong oleh gairah nafsu, juga kegirangan bahwa niatnya akan tercapai, dia lalu menubruk tubuh di atas tihang itu dan kembali dia melanjutkan perbuatannya di atas perahu, memeluk dan menciumi muka Kiki yang basah kuyup itu. Kiki sudah terbebas dari totokan, namun tidak mampu melepaskan diri dari ikatan. Tali yang basah air laut itu demikian kuatnya, seperti masuk ke dalam daging kaki dan tangannya yang terikat, dan makin ia meronta, seperti semakin kuat saja. Iapun berusaha untuk mencoba melihat orang yang mendekap dan menciuminya, akan tetapi cuaca masih terlalu gelap untuk dapat mengenal orang itu walaupun kini dia dapat melihat bahwa bayangan ini tentu seorang laki-laki. Akan tetapi, perbuatan orang itu yang menciuminya dan meraba-raba tubuhnya membuat Kiki yang biasanya gagah berani itu tak dapat menahan lagi untuk menjerit sekuat tenaga. Dan karena totokan itu sudah pulih, maka jeritan minta tolong yang mengandung tenaga khikang amat kuat itu terdengar melengking tinggi dan tentu terdengar sampai jauh!

Song Kim terkejut bukan main. Akan tetapi dia menenangkan hatinya. Tak mungkin jeritan itu dapat terdengar orang lain. Mana ada orang di tepi laut yang demikian sunyinya? Apalagi waktunya masih demikian pagi, bahkan masih malam dan gelap. Akan tetapi untuk mencegah agar gadis itu tidak menjerit lagi, dia cepat menotok atau menekan jalan darah di leher Kiki dan gadis inipun tidak mampu lagi mengeluarkan suara.

“Siapakah itu dan apa yang terjadi? Mengapa ada suara wanita menjerit?” Song Kim terkejut sekali dan mengangkat muka. Nampaklah seorang laki- laki datang berlari menghampiri dengan sebuah obor di tangan. Kiranya laki- laki itu yang tadi bicara. Tidak aneh kalau suaranya dapat ditangkapnya, karena tentu angin yang membawa suara itu sampai dapat terdengar dari jauh. Hampir dia mengeluarkan suara makian. Niatnya sudah demikian dekat tercapai, ada saja datang gangguan. Apalagi obor itu sungguh berbahaya. Kalau dibawa dekat tentu akan menyinari mukanya dan Kiki akan dapat mengenalnya. Maka diapun cepat melompat dan lari menyambut orang yang datang membawa obor itu. Kebetulan sekali orang itu datang dari arah kaki Kiki

sehingga gadis ini dapat melihat pria yang membawa obor itu.

Seorang pria muda, karena sinar obor menimpa mukanya. Wajah yang gagah. Pakaiannya petani. Seorang petani muda! Hatinya penuh kekhawatiran. Apa yang akan dapat dilakukan seorang petani muda? Dan laki-laki yang menawannya itu agaknya bukan orang lemah, terbukti dari caranya menotoknya dan juga kegagahannya diperlihatkan ketika melawan badai di tengah lautan. Celaka, petani muda itu hanya datang mengantarkan nyawa, pikirnya.

Untung bahwa kedua kakinya berada di luar ikatan dan berada di kanan kiri tihang, tidak di atasnya, dan dara ini dapat menggerak-gerakkan kedua kaki itu karena yang terikat hanya sampai di lutut. Dengan pengerahan tenaga pada kedua kakinya, Kiki dapat menggerakkan kedua kaki yang sudah hilang sepatunya itu pada pasir di bawah dan menekan. Ia berhasil!

Tihang itu bergerak. Ia terus mempergunakan kedua kakinya sehingga akhirnya ia dapat membawa tihang layar itu kembali ke air dan begitu menyentuh air, tihang itupun hanyut dan mengambang! Lega hati Kiki. Dengan kedua kakinya, ia akan dapat mengatur kesimbangan tihang itu sehingga tubuhnya akan tetap terlentang di atas tihang, dan ia dapat menggunakan kedua kakinya untuk mendayung sedikit-sedikit pula untuk membuat tihang itu seperti perahu yang meluncur perlahan-lahan! Apa saja akan dilakukannya dan akan ditempuhnya asal ia dapat menghindarkan diri dari laki-laki biadab itu! Lebih baik diancam bahaya mati di lautan dari pada bahaya di tangan laki-laki itu.

Akan tetapi, Kiki belum mau mati kelaparan di atas tihang. Kalau tihang itu sampai hanyut ke tengah, sukarlah baginya untuk dapat mendayung ke pantai hanya dengan kedua kaki sebatas lutut. Maka diarahkan perahu istimewa itu ke sekumpulan batu karang, dan akhirnya tihang layar itu dapat berhenti melintang di balik batu-batu karang, tidak nampak dari daratan. Dan dari tempat ia rebah terlentang, kini ia dapat melihat bayangan hitam dua orang yang sedang berkelahi di pantai!

Dapat dibayangkan kemarahan hati Song Kim melihat munculnya laki-laki yang membawa obor. Dia menganggap bahwa orang itu menjadi penghalang besar, sengaja datang untuk menganggunya! Demikianlah ulah orang yang sedang dimabok nafsunya sendiri, yang sedang mengejar suatu kesenangan. Siapa saja yang menjadi penghalang akan diterjangnya, tidak perduli orang itu sengaja menghalang maupun tidak sengaja. Semua penghalang, baik ataupun buruk, salah ataukah tiada, harus dihancurkan! Dia berlari cepat menyambut dan begitu berhadapan, tanpa banyak cakap lagi diapun menerjang, mengirim pukulan-pukulan maut dengan dahsyat! Pukulan-pukulannya itu dilakukan dengan jurus-jurus maut, karena Song Kim tidak mau gagal, tidak mau kepalang tanggung. Lebih cepat membunuh orang ini lebih baik agar dia tidak sampai terlambat untuk melaksanakan hasrat hatinya terhadap Kiki.

“Heiii...!”

Orang itu berseru kaget bukan main dan membuat gerakan cepat. “Bressss...!!”

Kini Song Kim yang terkejut setengah mati. Orang itu dapat menangkis pukulan-pukulannya dan hanya obornya saja yang terlepas dan padam, akan tetapi jangankan membunuh orang itu, merobohkannyapun serangannya tadi tidak mampu. Sebaliknya, tangkisan orang itu terasa amat kuat olehnya sehingga tangannya yang tertangkis sampai tergetar hebat. Jelaslah bahwa orang pembawa obor ini bukan seorang petani biasa seperti nampak pada pakaiannya tadi, melainkan seorang yang memiliki kepandaian silat inggi dan tenaga sinkang yang cukup kuat!

Pemuda Pulau Layar ini sama sekali tidak tahu bahwa tidak menyangka bahwa dia berhadapan dengan orang yang jauh lebih melampaui dugaan- dugaannya, karena dia berhadapan dengan murid terkasih dari Siauw-bin-hud, tokoh sakti dari Siauw-lim-pai itu. Pemuda itu adalah Tan Ci Kong.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Tan Ci Kong pemuda gemblengan Siauw-bin-hud itu, menyelamatkan Ciu Kui Eng, puteri tunggal dari orang yang menyebabkan kehancuran keluarga ayahnya, dari ancaman maut ketika Kui Eng dikeroyok oleh pasukan pemerintah dan keluarga gadis ini terbasmi habis, rumahnya terbakar gara-gara madat yang menjadi penyebab keruntuhan keluarga ayahnya. Madat pula yang tadinya mendatangkan kemewahan dan kekayaan pada keluarga Ciu, dan madat juga yang akhirnya membinasakannya.

Setelah menolong Kui Eng dan berpisah dari gadis itu di luar kota Tung- kang setelah gadis itu yang tadinya salah paham tahu bahwa pemuda ini adalah murid Siauw-bin-hud dan telah menyelamatkannya, Ci Kong lalu berkelana. Dia menjumpai banyak peristiwa yang menyedihkan sewaktu terjadi perang madat. Dan di dalam pergolakan dan kekacauan yang terjadi selama tiga tahun itu, Ci Kong bersikap sebagai seorang pendekar sejati. Dia menentang siapa saja yang melakukan kekejaman dan kejahatan, membela yang lemah tertindas. Sesuai dengan ajaran kakek Siauw-bin-hud, pemuda ini tidak pernah mau melibatkan diri dalam perang, melainkan bertindak tegas sebagai seorang pendekar pembela keadilan berdasarkan perikemanusiaan, tidak mencampuri urusan politik dan negara.

Betapapun juga, dia tahu akan segala yang telah terjadi tentang penyerbuan pasukan kulit putih dan lemahnya kaisar. Diapun tahu bahwa akibat sikap kaisar yang lemah, kaum kulit putih menjadi semakin berani untuk memperlebar jaringan perdagangan mereka yang merusak rakyat, yaitu perdagangan candu. Hal ini tentu saja berlawanan dengan hati nuraninya, maka beberapa kali, seorang diri Ci Kong menggunakan kepandaian untuk mencuri sejumlah besar candu dan membakarnya di dalam hutan.

Dia membayangkan dengan hati ngeri betapa para nelayan yang pada malam hari itu kebetulan berada di tengah lautan tentu sedang berjuang mati- matian melawan amukan badai, bahkan dengan hati penuh iba dia membayangkan pula perahu yang dihadangnya itu, perahu yang kabarnya akan menyelundupkan candu dari kapal orang kulit putih. Ketika mendapat kenyataan bahwa tidak ada sebuahpun perahu yang mendarat malam itu, dia menduga bahwa tentu perahu penyelundup itu karam oleh badai, atau mungkin juga membatalkan pelayaran. Dia menanti sampai hampir pagi, berlindung di dalam sebuah guha di antara batu-batu besar dari hembusan angin badai yang keras, dan menerangi guha itu dengan sebuah obor.

Kemudian, tiba-tiba dia mendengar jerit seorang wanita. Terkejutlah hatinya ketika mendengar jerit yang datangnya dari pantai itu. Tentu ada perahu yang berhasil dihempaskan badai ke pantai, pikirnya. Dan tentu orang- orang itu membutuhkan pertolongan. Dia lalu membawa obor dan meloncat ke luar guha, berlari menuju pantai sambil berteriak menanya siapa yang berada di pantai dan mengapa ada suara wanita menjerit.

Karena pandang matanya silau oleh sinar obor yang dipegangnya sendiri, dan cuaca masih amat gelap, maka Ci Kong hanya remang-remang melihat seorang laki-laki meloncat bangun dan di bawah seperti ada wajah seorang wanita. Akan tetapi dia tidak sempat memperhatikan, karena tiba-tiba saja laki-laki itu menyerangnya dengan dahsyat. Dia terkejut bukan main. Serangan itu bukan serangan sembarangan saja, melainkan pukulan-pukulan yang amat dahsyat dan berbahaya.

Dari angin pukulannya saja, tahulah dia bahwa dia diserang oleh seorang yang berilmu tinggi. Maka diapun cepat bergerak melakukan elakan dan tangkisan. Demikian hebatnya serangan orang itu sehingga obornya terpental, terlempar dan padam. Akan tetapi dia berhasil menghindarkan serangan maut itu dengan tangkisan-tangkisan, dan mendapat kenyataan ketika lengannya bertemu dengan lengan penyerang itu bahwa penyerangnya memiliki dan menggunakan tenaga sinkang yang kuat dalam penyerangannya tadi.

Selain terkejut dan heran mendapat seorang lawan yang demikian tangguhnya di tempat sunyi ini, hal yang sama sekali tidak tersangka-sangka, Song Kim juga menjadi penasaran dan marah sekali.

“Keparat yang bosan hidup!” bentaknya, dan diapun sudah menyerang lagi, kini menggunakan sepasang belati yang selalu terselip di pinggangnya!

“Mampuslah...!” bentaknya. “Hemmm...!”

Ci Kong dapat merasakan sambaran senjata itu walaupun dia tidak dapat melihat lawannya mempergunakan senjata. Pendengarannya sudah terlatih dengan baik sekali sehingga dia mampu membedakan antara suara senjata- senjata dan tangan kosong.

Segera Ci Kong mengisi kedua tangannya dengan ilmu kekebalan yang diajarkan gurunya, yaitu Tiat-ciang (Tangan Besi), sehingga dengan kedua tangannya itu, dia mampu menangkis senjata tajam tanpa khawatir tangannya terluka. Karena lawannya agaknya hendak membunuhnya, diam-diam Ci Kong merasa heran bukan main. Sambil berloncatan ke sana-sini dan kadang-kadang kalau terdesak menangkis dengan tangannya, beberapa kali Ci Kong menyabarkannya.

“Tahan serangan! Mengapa engkau menyerangku, sobat? Di antara kita tidak ada permusuhan. Aku datang untuk menolong wanita yang menjerit tadi.”

Akan tetapi, ucapan-ucapannya ini agaknya mesih membuat penyerangnya menjadi semakin marah. Lawannya hanya mendengus dan memaki-maki, serangannya menjadi semakin berbahaya sehingga akhirnya Ci Kong dapat menduga bahwa tentu wanita tadi menjerit karena ulah kejahatan orang ini. Dia teringat akan wanita yang menjerit tadi dan sambil mengelak, dia meloncat ke arah pantai dimana tadi samar-samar dia melihat seorang wanita menggeletak disitu. Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kaget rasa hatinya ketika wanita itu lenyap dari situ.

“Eh, dimana wanita tadi...?”

Akan tetapi terpaksa dia harus cepat melempar tubuh ke belakang karena lawannya sudah menyerang lagi dengan hebatnya, menggunakan dua buah belatinya untuk menusuknya dari atas dan bawah. Serangan itu sedemikian hebatnya sehingga Ci Kong terpaksa harus melempar tubuh ke belakang lalu menggulingkan tubuhnya di atas pasir pantai. Ketika dia bangkit berdiri lagi dengan loncatan yang cepat, ternyata lawannya sudah lenyap dari situ.

Kiranya ketika melihat sumoinya lenyap, Song Kim tidak ada semangat lagi untuk membunuh orang yang dianggapnya menghalangi niat hatinya itu. Dia harus cepat melarikan diri, pikirnya. Ada beberapa hal yang memaksanya untuk segera melarikan diri dari situ, demi keselamatannya. Pertama, kini cuaca tidak lagi segelap tadi karena sinar matahari mulai muncul di balik permukaan air laut jauh di timur. Kedua, sumoinya telah lenyap dan mungkin sekali sumoinya berhasil melepaskan ikatan kaki tangannya. Ketiga, orang yang menjadi penghalang itu ternyata lihai bukan main sehingga kalau dia tidak mampu merobohkannya dalam waktu singkat, besar bahayanya dia akan kedahuluan sinar matahari dan kalau sumoinya mengenalinya, tentu akan celakalah dia. Maka, mempergunakan kesempatan selagi lawannya bergulingan menghindarkan serangannya yang terakhir tadi, kembali membuktikan kelihaian lawan itu, dia lalu meloncat dan melarikan diri. Biarpun niat hatinya gagal untuk menguasai dan memperkosa sumoinya, namun setidaknya sumoinya tidak akan pernah menyangka bahwa dialah pelakunya.

Juga Ci Kong mencari-cari kemana perginya wanita tadi. Dari tempat dimana dia melihat wanita tadi menggeletak, dia melakukan penyelidikan, akan tetapi tidak menemui jejak kaki di situ. Wanita itu lenyap begitu saja dan tiba-tiba hatinya terguncang. Jangan-jangan wanita itu terseret ombak dan dibawa ke tengah lautan? Dia memandang ke arah lautan. Ombak tidak begitu besar lagi, akan tetapi air masih belum tenang, tanda bahwa badai semalam telah mulai mereda dan yang nampak kini hanya bekas-bekasnya saja. Masih ada bekas ombak sampai ke tempat dia berdiri dan kini air sudah surut jauh sekali. Dia menuruni pantai dan memandang ke tengah lautan, mencari-cari.

Tiba-tiba Ci Kong terkejut melihat sesuatu mengambang di permukaan air, bergoyang-goyang dipermainkan ombak kecil-kecil yang mulai berkilauan tertimpa cahaya keemasan matahari pagi. Karena dia menghadap ke timur, maka cahaya matahari yang menimpa permukaan air itu nampak menyilaukan dan langsung menyerang pandang matanya. Dia menggosok-gosok kedua matanya karena khawatir salah lihat. Akan tetapi tidak! Benar ada seorang wanita di atas sebuah balok kayu mengambang di sana! Dan kini dia dapat melihat bahwa wanita itu terikat kaki tangannya pada balok itu! Mungkin sudah mati! Atau masih hidup? Dan teringatlah dia akan wajah wanita semalam, sekilas dilihatnya di bawah sinar obornya. Ah, jangan-jangan wanita itulah semalam, dan agaknya balok dimana ia terikat telah diseret ombak ke tengah!

“Celaka, kalau dia tidak cepat ditolong, tentu binasa!”

Ci Kong lalu berlari ke tengah dan menempuh ombak. Dia bukan ahli dalam air, akan tetapi cukup dapat berenang sehingga dia berani terus mendekati balok mengambang dimana terdapat seorang wanita yang terikat kaki tangannya itu. Makin dekat, makin jelaslah. Benar seorang wanita, seorang gadis muda yang pakaiannya basah kuyup dan kedua matanya terpejam. Mungkin sudah mati, atau mudah-mudahan hanya pingsan saja.

Kini dia tidak berjalan lagi di dasar lautan. Sudah mulai dalam dan terpaksa berenang melawan ombak kecil-kecil yang berlarian ke pantai. Terasa ringan tubuhnya pada mula-mula, akan tetapi makin lama makin berat. Sudah terlalu lama dia tidak pernah berenang, apalagi di lautan dan kegiatan ini ternyata memeras banyak tenaganya. Baju di pundak kanannya telah robek lebar akibat perkelahian tadi, dan air laut terasa hangat. Celakanya, balok itu agaknya juga bergerak terbawa ombak, makin ke tengah seperti menjauhinya, atau melarikan diri darinya.

Dan balok itu tidak terus ke tengah, melainkan bergerak ke utara. Dikejarnya terus sambil berenang. Sungguh aneh, balok itu kini meluncur ke barat, lalu kembali ke selatan. Bagaimana balok itu dapat bergerak seperti itu? Sama sekali tidak seperti terbawa ombak, melainkan lebih mirip didorong sesuatu dari bawah! Jangan-jangan di bawah ada ikannya, ikan besar yang mendorong-dorong balok itu karena ingin makan tubuh gadis itu yang mungkin sudah menjadi mayat? Tubuh itu tidak bergerak-gerak, dan muka yang tengadah itu nampak pucat sekali. Muka yang amat cantik!

Pikiran ini menimbulkan kekhawatiran dan Ci Kong berenang semakin cepat. Napasnya mulai terengah-engah karena sudah berjam-jam dia melakukan pengejaran tanpa hasil. Akhirnya dia mogok, tengadah dan terengah-engah menghirup udara sebanyaknya. Dia maklum bahwa kalau dia terus mengejar, amat berbahaya baginya. Tenaganya dapat habis dan dia tentu akan tenggelam! Akan tetapi, kini balok itu bergerak-gerak menghampirinya! Besar lagi semangat Ci Kong. Begitu dekat balok itu, tinggal meraih saja ujungnya, akan tetapi ketika dia meluncur dan meraih, balok itupun menjauh lagi!

Ci Kong merasa gemas. Mungkinkah ini? Balok itu seperti mempermain- kannya. Dia melihat sehelai tali terseret di belakang balok dan tahulah dia bahwa tali itu adalah kelebihan tali pengikat kaki tangan gadis itu, cukup panjang. Diam-diam dia lalu mendekati tali itu, setelah dia pura-pura berhenti kehabisan napas lagi dan balok itu kembali mendekati. Dan tiba-tiba, sebelum balok itu sempat menghindar, dia sudah menyambar tali itu, dan menariknya!

“Ahhh...!”

Terdengar gadis itu mengeluarkan seruan lirih. Giranglah hati Ci Kong dan dia lupa akan keanehan balok yang pandai ‘berenang’ dan menghindar itu. Gadis itu masih hidup!

“Syukurlah engkau masih hidup, nona. Bertahanlah, biar aku akan menarikmu ke pantai!” katanya sambil terengah-engah.

Mulailah dia berenang menuju ke pantai sambil menarik tali itu. Mula-mula balok meluncur di belakangnya, akan tetapi semakin lama, terasa olehnya betapa balok itu menjadi semakin berat. Tentu tenaganya yang sudah mulai menjadi lemah. Akan tetapi, pantai telah nampak tidak terlalu jauh. Dia harus berhasil, biarpun harus menghabiskan tenaganya. Dan Ci Kong menguatkan hati dan kemauannya, mengerahkan tenaganya dan terus berenang sambil menarik-narik balok yang kadang-kadang seperti ‘mogok’ itu.

Dia sama sekali tidak tahu betapa kalau dia sedang tidak memandang, gadis di atas balok itu menoleh kepadanya dan mengejek, kadang-kadang tersenyum-tersenyum geli. Gadis itu, Kiki memang nakal sekali. Ia sengaja mempermainkan Ci Kong. Seperti kita ketahui, setelah melihat betapa penawannya berkelahi dengan orang yang datang membawa obor, Kiki terus menyembunyikan diri dengan baloknya di antara batu-batu karang. Hatinya masih diliputi kepanikan. Penawannya itu lihai sekali dan pembawa obor yang kelihatannya hanya seorang petani itu tentu akan segera roboh dan tewas. Dan kalau penawannya kembali mencarinya, dan dapat menemukannya, tentu ia akan celaka.

Akan tetapi, ia melihat betapa seorang di antara mereka tiba-tiba meloncat dan melarikan diri. Cuaca masih terlalu gelap dan ia berada di tempat yang cukup jauh sehingga ia tidak tahu siapa di antara dua orang itu yang melarikan diri. Maka iapun tetap menanti, dengan jantung berdebar tegang ketika ia mengintai dari tempat ia rebah terlentang, di balik batu-batu karang itu, betapa orang kedua yang masih berada di pantai itu kini mencari-cari dengan pandang matanya ke permukaan air laut. Ia masih belum tahu siapakah orang itu. Penawannyakah? Ataukah petani pembawa obor?

Baru setelah sinar matahari menimpa orang itu dan ia melihat bahwa orang itu mengenakan pakaian petani, ia tahu bahwa orang ini si pembawa obor, sedangkan yang melarikan diri tadi tentu orang yang telah menawannya. Hatinya menjadi girang dan juga terheran. Kalau pembawa obor, petani ini dapat membuat penawannya melarikan diri, tentu berarti orang ini juga juga lihai lihai sekali! Dan ia belum tahu siapa orang ini, entah orang baik-baik ataukah orang yang bahkan lebih jahat dari pada penawannya tadi?

Pikiran ini membuat Kiki menjadi gelisah lagi dan iapun takut kalau-kalau orang itu melihatnya dan berlompatan di atas batu-batu karang menghampirinya. Maka iapun cepat menggunakan kedua kakinya untuk mendorong batu karang dan meluncurkan tihang layar itu ke permukaan air laut bebas. Ia harus melarikan diri dari tempat ini, pikirnya.

Lalu ia melihat betapa petani itu mengejarnya sambil berenang. Dan melihat cara petani itu berenang, Kiki hampir tertawa. Kalau ia menghendaki, orang itu sampai mati takkan pernah dapat menangkapnya, walaupun ia hanya menggerakkan tihang layar itu dengan gerakan kedua kaki sebatas lutut saja. Maka iapun mempermainkan orang yang mengejarnya itu sambil diam-diam memperhatikan muka orang itu dari balik bulu matanya kalau mereka berada dalam jarak tidak terlalu jauh. Hampir ia tertawa keras ketika melihat betapa petani muda itu, yang kepandaiannya berenang hanya dangkal saja, terengah- engah kehabisan napas. Akan tetapi ketika kini sinar matahari sudah terang dan ia dapat melihat wajah petani muda itu dengan jelas, diam-diam ia tertarik. Petani muda itu ternyata memiliki wajah yang gagah, tubuh yang tegap. Nampak jelas membayangkan kekuatan dalam tubuh itu.

Karena melihat orang itu sudah kepayahan, Kiki menjadi semakin berani. Ia sengaja mendekatkan balok itu kalau si pemuda sudah tidak mengejar lagi karena kehabisan napas, akan tetapi menjauh lagi kalau dikejar. Seperti jinak- jinak merpati, dijauhi mendekat kalau hendak ditangkap terbang menghindar!

Maka, terkejutlah hati Kiki ketika tiba-tiba saja baloknya terhenti karena tali itu disambar tangan Ci Kong. Ia sama sekali tidak tahu bahwa ada tali agak panjang terseret tihang layar itu. Ketika Ci Kong menarik tali dan balok itu meluncur, tak dapat ditahannya lagi Kiki mengeluarkan seruan kaget, hanya terdengar lirih karena ditekannya. Kemudian ia mendengar suara pemuda itu yang bersyukur melihat ia masih hidup, menyuruh ia bertahan dan pemuda itu hendak menariknya ke pantai.

Suara ini demikian halus dan lembut, dan jelaslah bahwa pemuda itu tidak mempunyai niat buruk, melainkan benar-benar hendak menolongnya. Berkurang kekhawatirannya, namun ia tetap waspada dan pura-pura pingsan, tidak bergerak maupun membuka mata ketika balok itu ditarik oleh Ci Kong melalui tali yang dipegangnya. Akan tetapi dasar berwatak nakal, diam-diam kedua kakinya utak-utik, diputar-putar sehingga kedua kaki itu menjadi penahan ketika balok ditarik, maka tidaklah mengherankan kalau Ci Kong merasa adanya perlawanan yang membuat balok terasa semakin berat. Dia memaksa diri dan akhirnya kedua kakinya menyentuh dasar laut, tak jauh dari pantai. Dengan tenaga yang hampir habis, Ci Kong menyeret balok itu, berjalan terhuyung-huyung menuju pantai, seluruh tubuhnya terasa letih sekali. Tenaganya terasa hampir habis. Penggunaan tenaga di darat dan di air sungguh amat berbeda, terutama penggunaan pernapasan. Dan otot-otot di tubuh juga harus dibiasakan dengan suatu gerakan. Otot-otot yang biasa dipergunakan untuk latihan silat, biarpun seluruh tubuh bergerak, namun tidak ada gerakan silat yang seperti gerakan orang berenang yang harus mengulang terus-menerus gerakan kaki dan lengan secara tertentu. Otot-ototnya yang tidak biasa dengan gerakan ini tentu saja menjadi cepat lelah.
Mengapa udah nggak bisa download cersil di cerita silat indomandarin?

Untuk yang tanya mengenai download cersil memang udah nggak bisa hu🙏, admin ngehost filenya menggunakan google drive dan kena suspend oleh google, mungkin karena admin juga membagikan beberapa link novel barat yang berlisensi soalnya selain web cerita silat indomandarin ini admin juga dulu punya web download novel barat terjemahan yang di takedown oleh google dan akhirnya merembes ke google drive admin yang dimana itu ngehost file novel maupun cersil yang admin simpan.

Sebenarnya ada website lain yang menyediakan download cersil seperti kangzusi dan clifmanebookgratis tetapi link download cersilnya juga udah nggak bisa diakses.

Ada juga Dunia Kangouw milik om Edwin yang juga menyedikan cersil yang bisa didownload tapi beberapa bulan yang lalu webnya tiba- tiba hilang dari SERP :( padahal selain indozone admin juga sering baca cersil di dunia kangouw sebelum akhirnya admin membuat cerita silat indomandarin ini.

Lihat update cersil yang baru diupload bulan Agusuts 2022 :)

[01 Agustus 2022] Kelelawar Tanpa Sayap

List Donasi Bulan Agustus 2022 | [02/08/2022] A.N: BURHANUDDIN Rp. 150.000 | [08/08/2022] A.N: KUSNADI Rp. 150.000 ~~~ Terima Kasih atas Donasi para cianpwee semoga rezeki para cinapnwee semua dilipatgandakan oleh yang maha kuasa :) ~~~

Mau donasi lewat mana?

BCA - Nur Ichsan (7891-767-327)
Bagi para Cianpwee yang ingin berdonasi untuk pembiayaan operasional web ini dipersilahkan Klik tombol merah.

Posting Komentar

© Cerita silat IndoMandarin. All rights reserved. Developed by Jago Desain