-->

Pedang Naga Kemala Jilid 11

Jilid 11

“Suheng...!”

Akan tetapi yang ditegur terus lari, menolehpun tidak sehingga Seng Bu merasa heran, akan tetapi dia mengira bahwa tentu suhengnya itu tidak mendengar seruannya dan diapun melanjutkan larinya menghampiri Sheila. Dia mengerutkan alisnya dengan hati khawatir ketika melihat Sheila masih berdiri di situ dan wajah gadis itu nampak masih merah, dan wajah itupun membayangkan ketegangan hati.

“Sheila, apakah yang telah terjadi? Bukankah suheng tadi dari sini?”

Sheila memandang wajah Seng Bu, lalu menarik napas panjang dan mengangguk. “Benar, dia baru saja meninggalkan aku dengan marah agaknya.”

“Eh? Kenapakah? Apa yang telah terjadi antara kalian sehingga suheng menjadi marah kepadamu?”

Sheila mengaku terus terang.

“Dia kecewa karena cintanya kutolak.”

Seng Bu terbelalak dan menatap wajah Sheila penuh selidik. Wajah gadis itu segar dan manis sekali karena tadi sambil mencuci pakaian, gadis itu mandi dan menggosok kulit mukanya dengan batu halus seperti yang dilakukan oleh wanita-wanita lain. Apalagi kini gadis itu merasa tegang, kedua pipinya menjadi merah sekali dan sepasang mata yang indah lebar itu bersinar-sinar seperti sepasang bintang pagi.

“Apa... apa maksudmu?”

Sama sekali Seng Bu tidak mengira bahwa suhengnya juga mencinta gadis kulit putih ini, maka tentu saja pengakuan Sheila tadi mengejutkan hatinya.

Sheila tersenyum untuk menenangkan hatinya sendiri, juga hati Seng Bu, lalu berkata dengan halus.

“Seng Bu, tadi suhengmu itu mengatakan bahwa dia cinta padaku dan bahwa dia ingin aku menjadi calon isterinya.”

Biarpun pemberitahuan pertama tadi sudah dimengertinya, namun penjelasan ini tetap saja amat mengherankan dan mengejutkan hati Seng Bu. Suhengnya? Kelihatan sama sekali tidak memperlihatkan perasaan itu terhadap Sheila, dan suhengnya tahu benar bahwa dia mencinta Sheila.

“Dan... dan kau...?”

“Tentu saja aku menolaknya dan dia kelihatan kecewa, lalu pergi meninggalkan aku.”

“Akan tetapi... kenapa, Sheila? Kenapa kau... kau menolaknya? Suheng adalah seorang pendekar yang gagah perkasa, dan dia mempunyai cita-cita yang besar untuk menjadi seorang pemimpin besar.”

Tentu saja Seng Bu sudah tahu benar akan cita-cita suhengnya yang selalu didengung-dengungkan itu.

“Kenapa? Karena aku tidak cinta padanya.” “Mengapa engkau tidak cinta padanya, Sheila?”

Seng Bu bertanya, di dalam suaranya terkandung nada mendesak yang aneh dan kini pemuda itu menatap wajah Sheila dengan tajam penuh selidik.

“Ouhhh... Seng Bu, alangkah kejam hatimu mengajukan pertanyaan seperti itu. Seng Bu, perlukah kita berpura-pura lagi? Perlukah selama ini kita saling menyembunyikan perasaan? Engkau tentu tahu mengapa aku tidak bisa mencinta orang lain. Engkau tentu tahu bahwa aku hanya mencinta seorang pria saja di dunia ini, dan aku tahu pula bahwa dia mencintaku sepenuh hatinya. Akan tetapi... pria itu masih berpura-pura lagi, bertanya mengapa aku tidak mencinta pria lain! Betapa kejamnya engkau ”

Dan Sheila lalu terisak menangis. Hati Seng Bu diliputi keharuan dan melihat Sheila menangis, suatu dorongan kuat membuat dia melangkah maju dan di lain saat, entah siapa yang memulai gerakan itu, tahu-tahu Sheila telah berada dalam dekapannya. Gadis itu merebahkan mukanya di dada yang bidang itu dan merasa aman sentausa penuh kedamaian. Kedua matanya menitikkan air mata dan kedua lengannya memeluk leher, sedangkan kedua lengan Seng Bu melingkari tubuhnya dalam rangkulan ketat, seolah-olah pemuda itu khawatir kalau-kalau tubuh yang dirangkulnya itu akan terlepas.

“Maafkan aku, Sheila. Aku tahu bahwa engkau cinta padaku dan bahwa akupun cinta padamu, bahwa tanpa kata sekalipun kita sudah yakin akan cinta kita masing-masing. Akan tetapi aku… aku selalu khawatir akan kehilangan engkau, Sheila. Aku… aku merasa betapa aku ini kesasar, bodoh dan miskin, merasa tidak layak berada di sampingmu, karena itu… tadi aku meragu...”

“Ah, sudahlah Seng Bu. Aku hanya mencinta engkau seorang, sejak pertama kita saling jumpa dan aku takkan mau berpisah lagi dari sisimu...”

“Dan aku... aku hanya memiliki engkau seorang...”

Mereka saling dekap, dan Sheila yang memulai lebih dahulu ketika mereka saling mencium, karena Seng Bu takkan berani mendahuluinya, apalagi dia seorang pemuda yang sama sekali belum pernah berdekatan dan berhubungan dengan seorang wanita. Pada saat itu, mereka merasa merasa semakin yakin akan cinta kasih masing-masing, perasaan cinta yang terasa sampai jauh sekali di dasar hati masing-masing, kemesraan yang membuat semua bulu di tubuh mereka meremang.

Suara cekikikan para wanita yang tadi mencuci pakaian bersama Sheila, menyadarkan dua orang muda itu dari keadaan yang asyik masyuk itu. Mereka cepat saling melepaskan rangkulan dan keduanya menjadi jengah kemalu- maluan, wajah mereka kemerahan dan mereka membiarkan para wanita itu lewat tanpa dapat mengeluarkan kata-kata.

“Ada orang melihat kita, Sheila, ini berarti bahwa kita harus cepat-cepat menikah agar tidak menjadi pergunjingan orang. Maukah engkau menikah denganku?”

Sheila mencium pipi dan dagu pemuda itu dengan hidungnya, kelembutan yang membuat Seng Bu hampir menitikkan air mata saling saking bangga, haru dan bahagianya.

“Engkau masih bertanya lagi? Setiap saat aku bersedia, Seng Bu, setiap saat. Sudah sejak lama aku merasa bahwa aku adalah milikmu, seluruhnya, aku telah menyandarkan seluruh kehidupanku kepadamu.”

Sambil menggandeng tangan Sheila, Seng Bu lalu menemui kawan-kawan seperjuangannya dan mengumumkan bahwa dia hendak melangsungkan pernikahannya dengan Sheila di dalam hutan itu juga. Semua kawan seperjuangannya yang merasa kagum kepada Seng Bu akan kegagahannya, bersorak gembira, dan mereka lalu bergotong royong membuat persiapan untuk pesta sekedarnya menyambut pernikahan itu. Diam-diam Ong Siu Coan tentu saja merasa iri hati dan marah sekali, akan tetapi pada lahirnya, dia juga menyambut dengan gembira ketika Seng Bu minta pendapatnya dan doa restunya.

Demikianlah, pernikahan antara Seng Bu dan Sheila terjadi di dalam hutan itu, dirayakan oleh para pejuang. Suasana cukup meriah dan gembira malam itu walaupun tidak ada pesta besar seperti kalau pernikahan dirayakan di kota dalam suasana damai dan tenteram. Malam itu dengan penerangan api unggun dan beberapa belas lampu minyak, para pejuang merayakan pesta pernikahan itu. Seng Bu mengenakan pakaian bersih, dan Sheila mengenakan pakaian pengantin yang dipinjamkan dari seorang wanita. Ia nampak cantik jelita dalam pakaian mempelai yang baginya lucu itu, dan sepasang mempelai dipertemukan oleh para wanita dan diberi selamat oleh para pejuang.

Malam itu pesta sederhana dirayakan para pejuang sampai menjelang tengah malam. Tiba-tiba terdengar suara tambur dan terompet, dan semua pejuang terkejut setengah mati ketika tiba-tiba nampak banyak sekali pasukan pemerintah menyerbu. Kiranya hutan itu sudah dikepung oleh pasukan pemerintah yang jumlahnya ratusan orang! Tentu saja suasana menjadi panik. Para pejuang cepat memadamkan api unggun, juga lampu-lampu dan dalam keadaan remang-remang, hanya diterangi cahaya bulan sepotong, para pejuang melakukan perlawanan mati-matian.

Dalam keadaan kacau itu, tentu saja Seng Bu juga terkejut dan cepat dia siap siaga membantu teman-teman.

“Sheila, engkau bersembunyi di pondok kita, aku akan membantu kawan- kawan mengusir pasukan pemerintah,” kata Seng Bu setelah tadi menggandeng tangan isterinya dan membawanya ke pondok yang disediakan

untuk mereka oleh kawan-kawan mereka.

Sheila yang bermuka pucat dan ketakutan itu mengangguk, akan tetapi masih memegangi tangan suaminya.

“Jangan lama-lama… cepat ambil aku kembali…”

Seng Bu mencium isterinya lalu melompat ke luar, siap dengan penuh semangat membantu teman-temannya menghadapi pasukan pemerintah yang datang menyerbu. Dia tidak tahu bagaimana pasukan pemerintah dapat mengetahui tempat persembunyian para pejuang itu dan menyerbu di malam itu, kebetulan ketika pernikahannya sedang dirayakan.

Akan tetapi belum jauh dia berlari, tiba-tiba tubuhnya menjadi kaku saking kagetnya. Dia mendengar jeritan Sheila! Bagaikan dikejar setan, Seng Bu lalu membalikkan tubuh dan berlari cepat kembali ke pondok. Dapat dibayangkan betapa rasa kaget, heran dan juga marahnya ketika dia melihat suhengnya meloncat keluar dari pondok sambil memondong tubuh Sheila.

“Suheng!!”

Bentaknya marah sekali dan segera dia melompat menghadang.

“Eh, sute. Aku datang untuk menyelamatkan Sheila!” kata Siu Coan gugup dan diapun melepaskan tubuh Sheila yang dipondongnya secara paksa tadi.

Sheila lalu lari merangkul suaminya, menahan tangisnya. “Aku... aku tidak mau dia larikan, dan dia memaksaku...!”

“Aku hanya ingin menolong dan menyelamatkannya, keadaan gawat sekali.” Kembali Siu Coan berkata.

Seng Bu mengerutkan alisnya. Marah dia melihat betapa tadi dengan paksa tubuh isterinya dipondong oleh suhengnya. Biarpun dengan alasan menolong dan ingin menyelamatkan, akan tetapi tidak pantas kalau suhengnya memaksa orang yang mau ditolong. Tentu ada sesuatu yang tidak pantas.

“Suheng!” bentaknya.

“Tidak pantas kau maksa isteriku!”

Siu Coan yang tertangkap basah itu menjadi malu dan kini dia menjadi marah.

“Eh, sute, apa maksudmu? Aku datang untuk menyelamatkan isterimu dan engkau marah-marah? Engkau sungguh kurang ajar!”

Siu Coan menyeringai girang. Ada alasan dan kesempatan baginya untuk membunuh sutenya dan merampas Sheila yang membuatnya tergila-gila! Sesungguhnya, dia tidak begitu tergila-gila kepada Sheila karena pada hakekatnya, Siu Coan lebih gila kedudukan dan cita-cita dari pada wanita. Akan tetapi, melihat Sheila menolaknya dan memilih Seng Bu, dia merasa iri dan iri inilah yang mendorongnya menjadi nekat untuk membunuh sutenya dan merampas Sheila.

Tiba-tiba terdengar suara ledakan keras. “Darrr...!” Tubuh Siu Coan terhuyung dan tangan kirinya menekan pundak kanan yang berdarah. Seng Bu terkejut dan menengok. Kiranya Sheila telah menembakkan pistol kecil. Pistol ini memang tak pernah terpisah dari badan gadis itu, selalu disembunyikan dalam lipatan bajunya dan kini, melihat suaminya terdesak, iapun dengan nekat lalu mengeluarkan pistolnya dan menembak ke arah Siu Coan. Gadis ini memang pernah dilatih menggunakan pistol oleh ayahnya, dan pistol itupun pemberian ayahnya, maka ia dapat menembak dengan cepat.

Gerakan Siu Coan yang berusaha mengelak secara refleks ketika letusan terdengar membuat peluru yang ditujukan ke arah dada itu hanya mengenai ujung pangkal lengan. Akan tetapi cukup membuat kulit terkupas dan daging menonjol di ujung pundak juga tertembus peluru, nyerinya bukan kepalang karena luka itu seperti terbakar oleh besi panas.

Dan pada saat itu, belasan orang anggauta pasukan pemerintah datang menyerbu! Seng Bu yang melihat suhengnya masih lemah terhuyung, terancam tusukan tombak seorang perajurit, melompat ke depan dan sekali tendang, perajurit itu roboh dan suhengnya terbebas dari ancaman maut. Melihat ini, Siu Coan tersenyum.

“Orang berhati lemah...” katanya.

Dan karena pada saat itu lebih banyak lagi datang pasukan yang menyerbu, terpaksa diapun membela diri dengan sebelah tangannya saja, yaitu tangan kiri karena tangan kanannya tidak dapat digerakkan karena nyeri. Seng Bu lalu menyambar sebatang pedang lawan setelah dia kembali merobohkan lawan berpedang itu, dan memutar pedangnya sambil berseru.

“Sheila, ke sinilah kau! Suheng, larilah, aku melindungimu!” “Dar-darr...!!”

Kembali Sheila meletuskan pistolnya dua kali. Seorang pengeroyok roboh dan yang lain mundur karena jerih terhadap senjata api.

“Suheng, mari kita lari. Kau lebih dulu. Aku dan Sheila melindungimu dari belakang!”

“Suheng, kita berpisah di sini dan maafkan kami, maafkanlah segala yang telah terjadi.”

Setelah berkata demikian, Seng Bu yang memondong isterinya lalu meloncat dan berlari cepat menuju ke barat. Siu Coan berdiri bengong, lalu menarik napas panjang. Bagaimanapun juga, biar Sheila telah melukainya dengan pistol, hal yang sama sekali tak pernah disangkanya, namun Sheila dan Seng Bu tadi telah melindunginya mati-matian pula! Sudahlah, pikirnya, ia bukan jodohku. Menurut pelajaran agama barunya, memaafkan orang lain adalah perbuatan mulia, bahkan terdapat pelajaran yang menganjurkan agar kalau kita dipukul pipi kiri kita, kita harus menyerahkan pipi kanan kita!

Siu Coan tersenyum seorang diri. Biarlah dia memaafkan Seng Bu dan Sheila, bahkan menurut pelajaran agamanya, dia harus mencinta musuh- musuhnya, maka biarlah dia melepaskan mereka dengan hati mencinta. Dan Siu Coan tersenyum, merasa betapa hatinya mekar, penuh dengan kebanggaan, penuh dengan harapan untuk menerima pahala karena dia telah berbuat jasa.

Betapa banyaknya di antara kita memiliki kebanggaan dan harapan seperti yang dimiliki Siu Coan itu. Semua agama mengajarkan agar kita hidup sebagai manusia yang baik, karena hanya hidup baik ini yang menjadikan kita bermanfaat bagi dunia, bagi manusia. Akan tetapi kita mau hidup baik karena di balik itu terdapat harapan dan pamrih agar kita memperoleh pahala, memperoleh hadiah, baik hadiah itu dinamakan Sorga atau Nirwana, ataukah kesempurnaan atau segala macam kata kata yang muluk lagi.

Karena adanya ancaman hukum bagi yang berbuat jahat, dan janji pahala bagi yang berbuat baik, maka kita condong untuk berbuat baik. Memang inilah tujuannya, akan tetapi, hal ini pula yang membuat kita menjadi manusia- manusia palsu, menjadi munafik, menjadi srigala-srigala berkedok domba, yang berbuat baik dan menjauhi perbuatan jahat HANYA karena kita ingin memperoleh pahala dan ingin dijauhkan dari pada hukuman. Kebaikan yang dilakukan dengan sengaja ini tentu berpamrih, dan pamrih membuat kita menjadi munafik, membuat perbuatan kita adalah palsu, karena perbuatan itu bukan perbuatan baik, melainkan suatu cara bagi kita untuk memperoleh pahala, cara untuk menghindarkan hukuman!

‘Cintailah musuh-musuhmu’ adalah serangkaian kata-kata yang amat indah dan suci kalau kita dapat menangkap maknanya. Kalau tidak, tentu akan menimbulkan keraguan, karena di situ terdapat dua kata yang berlawanan, yaitu ‘cinta’ dan ‘musuh’. Biasanya, cinta berkaitan dengan sahabat, dan yang berkaitan dengan musuh adalah benci. Maka, cintailah musuhmu seakan-akan mengandung makna yang berlawanan atau saling bertolak belakang. Akan tetapi sesungguhnya pelajaran ini mengandung makna yang sekaligus menghapuskan benci dari dalam hati berdasarkan kasih. Bukan berarti suatu waktu kita mencintai musuh kita dan di lain waktu kita siling berbunuhan dengan musuh itu! Ini sama sekali tak masuk akal dan omong kosong. Akan tetapi, kita dapat mencintai orang yang memusuhi kita!

Mungkin banyak orang memusuhi kita, membenci kita, tidak senang kepada kita, karena mungkin iri hati, dengki, salah paham dan sebagainya lagi. Biarlah mereka itu membenci kita, akan tetapi orang yang memiliki sinar kasih dalam batinnya, tidak akan membalas kebencian itu, tidak membalas permusuhan itu, melainkan menghadapi mereka yang memusuhi kita dengan cinta kasih antara manusia! Tidaklah ini indah, besar dan mulia sekali? Kita dapat melihat cinta kasih seperti itu, cinta kasih Tuhan melalui sinar matahari, melalui harumnya bunga, melalui tanah, air, hawa, udara. Biar ada manusia yang mengutuk dan membenci alam dan semua kekuasaan Tuhan, namun tetap saja semua itu diberikan dengan rela, kepada siapa saja tanpa pilih kasih, kepada mereka yang membenci sekalipun. Orang yang sejahat-jahatnya sekalipun, yang segala tindakannya berlawanan dengan kebaikan, akan tetap memperoleh hawa udara, memperoleh sinar matahari, dapat menikmati keharuman bunga, sama seperti orang yang paling baik, paling saleh sekalipun. Akan tetapi, seperti Ong Siu Coan, kita selalu ingin untung, lahir maupun batin, oleh karena itu berbondong-bondong orang lari ke agama dengan dasar ingin untung itulah. Ingin memperoleh hiburan batin karena pahitnya kehidupan, ingin memperoleh jaminan keadaan yang enak menyenangkan setelah mati kelak, ingin memperoleh berkah sebanyaknya. Lenyapkanlah janji- janji pahala dan hadiah ini dari agama, dan para munafik itu tentu akan mundur meninggalkannya dan yang tinggal hanyalah mereka yang benar-benar sadar dan waspada akan segala kekotoran yang memenuhi batin sendiri, karena hanya mereka inilah yang akan dapat berobah. Orang yang sadar akan kekotoran diri sendiri sajalah yang akan dapat berobah menjadi bersih, tanpa ada usaha membersihkan, karena usaha membersihkan ini akan menumpuk

pamrih dan menciptakan kemunafikan.

Semua agama tentu mengajarkan kebaikan, akan tetapi bagi kehidupan manusia, yang penting adalah manusianya, bukan agamanya. Semua manusia di dunia ini mengaku beragama atau mempunyai pegangan sesuatu yang menggariskan jalan hidup yang harus ditempuhnya. Semenjak ribuan tahun, semua pelajaran kerohanian ini tersebar di antara seluruh manusia di dunia. Akan tetapi, bagaimana hasilnya? Manusia tetap saja hidup dalam lembah kesengsaraan, hidup dalam neraka dunia yang penuh dengan kebencian, iri hati, dengki, kemurkaan, permusuhan sehingga cinta kasih makin muram kehilangan sinarnya karena tertutup oleh segala macam hawa nafsu angkara yang merupakan debu-debu kotor hitam tebal itu.

Permusuhan terjadi bukan hanya antara perorangan, bukan hanya antara suku dan antara kelompok, bahkan meluas menjadi antara bangsa, antara negara sehingga timbullah perang yang amat kejam, pembunuhan dan pembantaian semena-mena yang lebih biadab dari pada perbuatan golongan yang dianggap masih liar dan buas sekalipun! Jelaslah di sini bahwa manusianya yang menentukan, bukan agamanya. Dan jelaslah bahwa yang dapat merobah manusia adalah diri sendiri masing-masing, dengan pengenalan diri sendiri sehingga nampak segala kekotoran yang membutakan mata hati, yang menulikan telinga hati.

Demikianlah halnya dengan Ong Siu Coan. Pemuda ini memiliki cita-cita yang muluk, dan makin besar cita-cita seseorang, makin besar pulalah ‘aku’- nya, dan makin besar pamrihnya sehingga semua perbuatannya ditujukan dengan pamrih untuk memperoleh keuntungan bagi diri sendiri sebesar- besarnya. Perbuatan itu mungkin di mata umum bisa disebut perbuatan buruk atau perbuatan baik, akan tetapi apapun macam perbuatan itu, selalu di belakangnya terkandung pamrih untuk kepentingan diri pribadi.

Tidak ada seorangpun mengetahui bahwa penyerbuan pasukan pemerintah di malam hari itupun adalah hasil perbuatan Ong Siu Coan! Dialah yang diam-diam mengirim berita tempat persembunyian para pejuang itu kepada pihak pasukan pemerintah! Dia rela berkhianat untuk kepentingan diri sendiri, untuk melampiaskan iri hatinya terhadap Seng Bu, kemarahannya terhadap Sheila, dan untuk membuka kesempatan agar dia dapat merampas Sheila dengan dalih menyelamatkanya, dan kalau mungkin membunuh sutenya sendiri. Tentu saja pihak pasukan pemerintah tidak tahu bahwa yang mengirim berita itu adalah Ong Siu Coan. Dan memang bukan maksud Siu Coan untuk membantu pasukan pemerintah. Sama sekali tidak! Dia membenci pemerintah Mancu, dan dia bercita-cita untuk membasmi pemerintah penjajah itu. Kalau dia dapat berbuat khianat pada malam hari itu adalah karena ada pamrih terhadap Seng Bu dan Sheila.

Karena serbuan itu, beberapa orang pejuang tewas dan selebihnya cerai berai dan kacau balau, kocar kacir. Dan Siu Coan melarikan diri ke selatan, dan beberapa hari kemudian dia sudah bergabung kembali dengan orang-orang Thian-te-pang, dan dia memperoleh perawatan dengan baik. Untung tidak ada yang tahu tentang peristiwa antara dia dan Seng Bu, dan mereka mengira bahwa tembakan yang mengenai ujung pundak Siu Coan itu dilakukan oleh seorang opsir pasukan pemerintah.

Peristiwa pembakaran madat di Kanton itu tidak berhenti sampai di situ saja. Pembakaran madat yang lebih dari satu juta kilogram banyaknya itu juga mulai menyalakan api perang yang kemudian terkenal dengan sebutan Perang Madat selama tiga tahun (tahun 1839-1842). Peristiwa pembakaran madat disusul pembunuhan terhadap orang kulit putih yang sesungguhnya dilakukan oleh golongan-golongan yang anti kulit putih, bukan oleh pemerintah Mancu, dianggap oleh pemerintah Inggris sebagai suatu penghinaan terhadap bangsanya. Apalagi ada laporan dari Kapten Charles Elliot yang didesak oleh para pedagang untuk minta bantuan pasukan, maka pemerintah Inggris lalu mengirim armada ke timur. Kapal-kapal perang dengan pasukan-pasukan yang cukup kuat dikirim dan Kanton diserang dari lautan, dihujani peluru meriam.

Pasukan-pasukan Inggris berusaha untuk mendarat, akan tetapi usaha mereka itu selalu menemui perlawanan yang amat kuat. Dalam hal ini, tanpa persekutuan yang syah, pemerintah penjajah Mancu menerima bantuan yang amat besar dari rakyat, dari perkumpulan-perkumpulan para patriot yang tidak suka melihat bangsa kulit putih hendak menguasai tanah air. Para pendekar segera bangkit dan untuk sementara menghentikan kegiatan mereka memusuhi pemerintah Mancu karena mereka kini menganggap bahwa ancaman pasukan asing itu lebih berbahaya.

Terjadilah perang dimana-mana, perang antara senjata api melawan anak panah dan senjata-senjata tajam. Pasukan Inggris tidak pernah berhasil mendarat karena perlawanan yang amat kuat.

Panglima Lim Ce Shu memimpin pasukannya dan melakukan perlawanan mati-matian, dan penyerbuan pasukan Inggris itu akhirnya hanyalah kandas di pantai-pantai saja, dimana akibat-akibat perang terjadi. Perampokan- perampokan, pembunuhan-pembunuhan dan perkosaan-perkosaan terjadilah di pantai-pantai terhadap penduduk yang berada di sekitar pantai. Namun, pasukan-pasukan kulit putih itu akhirnya harus mengakui bahwa kekuatan kekuatan pihak musuh di daratan terlalu sukar untuk dapat ditembus.

Setelah peperangan yang kacau ini berlangsung hampir tiga tahun lamanya, Ingggris hanya berhasil menduduki Pulau Hong-kong yang letaknya di depan kota Kanton. Pulau ini dijadikan pangkalan oleh armada Inggris, namun semua penyerangan mereka di daerah pantai timur daratan Tiongkok selalu mengalami kegagalan.

Kalau pasukan Inggris yang dipukul mundur melarikan diri ke kapal-kapal perang mereka, maka perang masih juga terjadi di darat, yaitu pasukan- pasukan para patriot yang anti pemerintah penjajah lalu berbalik dan menyerang pasukan pemerintah sendiri! Memang mereka ini sejak dahulu ingin menjatuhkan kekuasaan Mancu, dan mereka ikut menghalau orang kulit putih bukan untuk membantu pemerintah, melainkan khawatir kalau-kalau bangsa kulit putih akan menguasai tanah air mereka. Tentu saja pukulan-pukulan bertubi dari orang kulit putih yang datang dari luar, dan pukulan-pukulan para pemberontak dalam negeri membuat pasukan pemerintah Mancu menjadi lemah. Hal ini diketahui dengan baik oleh para mata-mata yang disebar oleh Inggris. Akhirnya dalam tahun 1842, Inggris dengan cerdik lalu menyelundupkan kapal-kapalnya melalui Sungai Yang-ce-kiang, berlayar mudik.

Pemerintah Mancu di Peking terkejut bukan main. Dengan dikuasainya sungai besar itu oleh orang kulit putih, maka hubungan antara Lembah Yang- ce-kiang dan Peking tertutup dan terancam. Keselamatan keluarga kaisar di Peking dapat terancam kalau begitu. Istana menjadi gentar dan panik, dan melalui menteri-menteri yang memang condong untuk berbaik dengan orang- orang kulit putih yang mendatangkan banyak keuntungan kepada mereka melalui madat, akhirnya pemerintah Mancu membujuk Inggris menghentikan perang! Tentu saja hal ini sama dengan pernyataan tunduk dan kalah!

Sebagai pihak pemenang yang ditakuti, Inggris mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya! Kemenangan dalam tahun 1842 ini membuat mereka dapat memaksa kaisar untuk melakukan hal-hal yang membikin panas hati dan perut para patriot.

Pertama-tama, untuk menyenangkan hati orang-orang kulit putih itu, kaisar memecat Panglima Lim Ce Shu dan membuangnya! Kemudian, Hong-kong diserahkan kepada Inggris begitu saja! Pelabuhan-pelabuhan di Tiongkok Selatan, termasuk Kanton, dibuka lebar-lebar dan diperbolehkan menerima pedagang-pedagang kulit putih untuk masuk dan berdagang di situ dengan bebas, juga diperbolehkan untuk bertempat tinggal di situ sebagai pedagang- pedagang yang dihormati.

Bahkan orang-orang kulit putih lainnya, seperti orang-orang Portugal dan orang-orang Perancis, ikut-ikutan membonceng kemenangan Inggris ini dan ikut-ikutan menuntut agar merekapun diperbolehkan membuka perdagangan di pelabuhan-pelabuhan itu. Sebagai negara yang kalah perang, pemerintah Mancu yang sudah tidak berdaya itu terpaksa menuruti tuntutan-tuntutan itu. Makin banyaklah perjanjian-perjanjian ‘perdamaian’ dibuat, yang sesungguhnya merupakan perjanjian yang menguntungkan orang-orang kulit putih dan terpaksa disetujui oleh pemerintah Mancu. Yang merasa tidak puas dan marah adalah para pendekar yang mewakili rakyat untuk mempertahankan tanah air dari kekuasaan asing. Pemerintah Mancu adalah pemerintah asing yang menjajah. Pemerintah itu belum juga dapat dihalau, dan sekarang sudah bertambah lagi dengan bercokolnya orang-orang asing kulit putih yang menjajah melalui perdagangan!

Perang madat memang berakibat luas sekali. Perang madat ini menunjukkan bahwa kekuatan pemerintah Mancu yang sudah hampir duaratus tahun menjajah Tiongkok itu mulai kehilangan sinarnya, mulai lemah dan nampak awal-awal keruntuhannya. Dan perang itupun membuka pintu bagi orang asing kulit putih untuk memperluas cengkeraman mereka terhadap negara itu melalui perdagangan yang dipaksakan oleh senjata api. Dan hal ini lambat laun akan menjadi penjajahan-penjajahan.

Kekuasaan Kerajaan Mancu digerogoti, daerah-daerah kekuasaannya mulai dikuasai oleh orang-orang asing itu. Seperti dapat tercatat dalam catatan sejarah, Bangsa Perancis saja kelak dalam tahun 1862 akan menguasai Kamboja, kemudian duapuluh tahun kemudian menguasai An-nam (Vietnam) setelah lebih dulu menguasai Cochin China pada tahun 1863. Juga Portugal kemudian menguasai Macao. Inggrispun bukan hanya puas dengan memiliki Hong-kong, melainkan meluaskan kekuasaannya sampai akhirnya menduduki Birma yang tadinya mengakui kekuasaan pemerintah Ceng di jaman Kaisar Kian Liong.

Sejarah yang membuktikan bahwa pemerintah yang tidak disukai oleh rakyatnya, akan kehilangan kekuatannya. Betapapun kuatnya bala tentara yang dimiliki sebuah pemerintahan, namun tanpa dukungan rakyat, kekuatan itu akan rapuh. Sebaliknya, kalau pemerintah didukung rakyat, tidak akan mudah bagi kekuatan luar untuk merobohkannya. Hal ini adalah karena ajang yang dijadikan arena pertempuran adalah tempat dan milik rakyat, dan bantuan-bantuan rakyat inilah yang paling menentukan. Pihak lawan akan selalu dirongrong dan akan menjadi lemah kalau rakyat setempat setia kepada pemerintah yang disukainya, dan tidak akan dapat menguasai tempat yang telah direbutnya itu sepenuhnya. Sebaliknya pasukan-pasukan pemerintah yang didukung oleh rakyat, dimanapun akan memperoleh bantuan-bantuan sehingga kedudukan mereka menjadi kuat.

Kita tinggalkan dulu keadaan pemerintah Ceng yang mulai lemah itu, dan marilah kita menengok peristiwa lain yang terjadi di sebuah puncak di Pegunungan Tapie-san.

Seorang gadis dan seorang kakek berjalan bersama-sama mendaki puncak itu. Mereka itu kelihatannya seperti seorang kakek pengemis bersama seorang gadis yang pakaiannya juga penuh tambalan, seperti orang biasa saja yang banyak berkeliaran pada waktu itu, orang-orang yang miskin dan setengah terlantar sebagai akibat perang dan pemberontakan yang terjadi dimana-mana. Banyak rakyat yang pada waktu itu terpaksa pergi mengungsi, meninggalkan kampung halaman, rumah dan semua harta miliknya. Kalau sudah merasa aman dan kembali, banyak yang sudah tidak dapat menemukan rumah mereka kembali, apalagi harta milik mereka. Sudah habis dirampok dan dibongkar orang. Karena itu, banyaklah orang-orang yang jatuh miskin dan terlantar, berkeliaran tanpa tempat tinggal seperti halnya kakek dan gadis itu.

Akan tetapi sesungguhnya kakek dan gadis ini bukan orang-orang terlantar, bukan gelandangan yang miskin dan tidak mempunyai tempat tinggal. Kakek itu usianya sudah tujuhpuluh tahun lebih, rambutnya yang awut-awutan itu cukup bersih. Kakek itu pakaiannya penuh tambalan, tangan kirinya memegang sebuah tongkat kayu butut dan sebuah kipas butut terselip di pinggangnya. Biarpun pakaiannya penuh tambalan, namun pakaian itu cukup bersih dan biarpun dia kelihatan miskin dan papa, namun dia selalu senyum-senyum sendiri, matanya yang sipit itu kadang-kadang berkedip-kedip lucu.

Gadis itupun tidak kalah menariknya. Seorang gadis berusia kurang lebih delapanbelas tahun, dengan wajah yang manis, sepasang matanya lebar dan jeli. Memang pakaiannya butut penuh tambalan biarpun bersih, dan sepasang rambut yang gemuk hitam dan panjang itu dikuncir dua secara sederhana, tidak mengenakan perhiasan secuilpun, akan tetapi gadis ini memiliki wajah manis dan kulit yang nampak pada muka, leher dan tangannya amat putih bersih dan halus mulus. Tubuhnya juga memiliki bentuk yang padat dan ramping menggairahkan, bagaikan setangkai bunga yang sedang mekar mengharum. Seperti juga kakek itu, gadis ini mempunyai sebuah kipas yang tersembul di kantong bajunya.

Siapakah mereka? Mereka adalah penghuni-penghuni puncak Naga Putih di Pegunungan Wuyi-san, dan kakek itu bukan lain adalah Bu-beng San-kai (Jembel Gunung Tanpa Nama) atau lebih terkenal lagi dengan julukan San-tok (Racun Gunung), seorang di antara Empat Racun yang pernah menjadi datuk- datuk paling sakti di antara para datuk kaum sesat! Dan gadis itu adalah muridnya, murid tunggalnya yang bernama Siauw Lian Hong!

Kita telah mengenal Lian Hong, puteri tunggal mendiang guru silat Siauw Teng di dusun Tung-kang dekat Kanton itu. Seperti telah diceritakan di bagian depan, dua tahun yang lalu Lian Hong ikut bersama gurunya mengunjungi Siauw-lim-si dimana Siauw-bin-hud menceritakan kepada para tamunya bahwa pusaka Giok-liong-kiam kini berada di tangan Hek-eng-mo Koan Jit, murid Thian-tok yang merampas pusaka itu dari tangan gurunya.

Ketika meninggalkan Siauw-lim-pai, San-tok lalu memberi kesempatan kepada muridnya untuk pergi merantau selama dua tahun, selain untuk mencari jejak orang bernama Koan Jit itu, juga untuk meluaskan pengalamandan memperdalam ilmu kepandaian yang selama ini dilatihnya. Kakek ini sudah percaya sepenuhnya kepada muridnya. Akan tetapi, belum juga lewat dua tahun, gadis itu telah kembali ke puncak Naga Putih di Pegunungan Wu-yi-san, menemui suhunya yang sedang tekun bersamadhi. Kakek itu tentu saja girang melihat muridnya yang amat disayangnya, dan lebih girang lagi hatinya melihat kenyataan bahwa muridnya itu juga mengenakan pakaian yang dihias tambalan! Hal ini saja menunjukkan bahwa murid itu berbakti dan setia kepadanya, melanjutkan ‘tradisi’ keturunan perguruan yang suka memakai pakaian tambalan!

Lian Hong memberi hormat sambil berlutut di depan kaki gurunya yang juga menjadi kakek angkatnya itu, dan kakek itu lalu bangkit dari pertapaannya. Dia mendengar laporan muridnya bahwa murid itu terpaksa menghentikan usahanya mencari jejak Hek-eng-mo Koan Jit yang menguasai pusaka Giok-liong-kiam, karena keadaan keruh oleh adanya perang madat. Kemudian gadis itu mengatakan bahwa karena sukar mencari jejak orang di waktu keadaan sekacau itu, dimana terjadi pertempuran-pertempuran kacau balau antara pasukan kulit putih yang menyerang dengan kapal-kapal besar, dan golongan yang anti pemerintah, juga golongan yang anti kulit putih, maka ia mengambil keputusan untuk menghentikan penyelidikannya dan pulang ke Puncak Naga Putih.

“Ah, Hong Hong, kenapa urusan perang saja membuat engkau mundur?” Santok mencela muridnya.

“Kalau kita tidak mencari pusaka itu, tentu yang lain akan dapat menemukan lebih dulu. Mungkin dalam keadaan kacau karena perang, pusaka itu tidak ada artinya, akan tetapi kelak kalau sudah tidak ada perang, orang- orang akan kembali memperhatikan pusaka itu. Pemilik pusaka itu sama dengan bukti bahwa dia adalah orang yang paling lihai di dunia persilatan, dan kalau engkau mampu merampasnya, maka namamu akan terangkat paling tinggi dan aku sebagai gurumu akan ikut merasa bangga.”

“Suhu, sebetulnya pusaka itu tidak terlalu menarik bagiku. Aku lebih tertarik untuk mencari musuh-musuh besarku, pembunuh ayah ibuku. Akan tetapi ketika aku pergi ke Tung-kang, ternyata si jahanam Ciu Lok Tai telah tewas bersama keluarganya ketika diserbu oleh pasukan pemerintah. Dan akupun belum berhasil mencari dua orang musuh lain, yaitu Gan Ki Bin dan Lok Hun yang sudah lama pindah dari Tung-kang dan tidak lagi menjadi pengawal- pengawal Ciu Wangwe.”

“Wah, jadi keluarga Ciu Wan-gwe telah terbasmi dan tewas semua oleh pasukan pemerintah? Sungguh aneh,” kata kakek itu.

“Bukankah dia mempunyai pengaruh besar di kalangan pejabat pemerintah?”

“Gara-gara pembasmian madat itu, suhu. Akan tetapi menurut keterangan, ada seorang puterinya yang dapat meloloskan diri, namanya Ciu Kui Eng dan kabarnya ia itu lihai sekali. Kelak aku akan mencarinya dan minta dia mempertanggungjawabkan dosa-dosa ayahnya kepadaku.”

“Jadi selama ini engkau sama sekali tidak memperoleh jejak Koan Jit murid Thian-tok itu?” San-tok mendesak karena kakek ini tertarik sekali untuk bisa mendapatkan pusaka Giok-liong-kiam.

“Beberapa kali aku menemukan jejaknya, akan tetapi selalu hanya memperoleh jalan buntu. Akan tetapi jejaknya yang kedapati di daerah Tapie- san membawaku ke sebuah tempat yang luar biasa, suhu. Aku tidak menemukan dia di sana, jejaknya hilang lagi akan tetapi aku menemukan sesuatu yang amat aneh dan mengerikan.”

“Apa itu?”

“Aku menemukan sebuah guha yang dalamnya terdapat sebuah sumber air yangm engeluarkan asap berbau aneh. Dan di situ nampak sesosok mayat terendam, akan tetapi mayat itu sama sekali tidak membusuk. Banyak pula tengkorak manusia kulihat di dalam guha itu. Ihh, mengerikan… dan aku segera pergi meninggalkan tempat itu.”

“Ehhh? Menarik sekali! Mari kita ke sana.” “Untuk apa, suhu?”

“Menarik sekali ceritamu. Tentu ada hal-hal yang penting di situ. Bawa aku ke sana, Hong Hong.”

Demikianlah, kedua orang guru dan murid itu lalu melakukan perjalanan dan pada pagi hari itu mereka sudah tiba di lereng puncak di Pegunungan Tapie-san seperti yang diceritakan oleh Lian Hong kepada gurunya. Setelah tiba di puncak, Lian Hong membawa suhunya ke guha itu.

Guha itu aneh sekali. Mulut guha lebar akan tetapi tidak berapa tinggi sehingga ketika memasuki guha, San-tok yang agak jangkung harus menunduk. Dan di sebelah dalam guha itu tumbuh sebatang pohon yang daunnya sudah rontok semua, tinggal cabang dan ranting yang sudah mengering. Melihat keadaan ini, mudah diduga bahwa guha ini dahulunya bukan guha dan terbentuk dengan runtuhnya batu-batu besar dari puncak menimbun tempat itu sehingga pohon itupun tertimbun batu dan kini berada di dalam sebuah guha. Begitu memasuki guha itu, yang nampak adalah sebatang pohon yang tinggal batang, cabang dan rantingnya, dan terciumlah bau yang aneh dan keras. Juga nampak asap mengepul, terasa hawa yang agak panas.

“Di sinilah tempatnya, suhu,” kata Lian Hong dan gadis ini sudah berlutut di tepi sebuah kolam kecil dimana terdapat air yang bergolak dan mengeluarkan asap yang berbau belerang.

Di tepi kolam itu terdapat batu-batu besar dan nampak ada beberapa buah tengkorak manusia di situ. Akan tetapi yang amat mengerikan, di tengah- tengah kolam itu nampak seorang kakek tua renta yang rambut dan jenggotnya sudah putih semua. Kakek itu nampak terendam di dalam air sebatas dada, kelihatan seperti orang tidur saja, tubuhnya tak bergerak-gerak dan kedua matanya terpejam.

“Ah-ah-ah, sungguh menarik...!” kata San-tok yang berdiri di tepi kolam sambil meneliti keadaan kolam itu.

“Aneh akan tetapi tidak ada apa-apanya, suhu. Aku pernah datang ke sini dan melihat keadaan ini, aku lalu cepat pergi lagi. Ketika menyelidiki jejak Koan Jit, jejak itu membawaku ke sini, akan tetapi di sini aku kehilangan jejaknya. Tidak nampak seorangpun manusia di puncak ini sehingga aku tidak dapat mencari keterangan lagi tentang dia.”

“Mungkin ada rahasia tersembunyi di tempat ini. Mari kita selidiki,” kata kakek itu. Dan mulailah dia melakukan penyelidikan, meneliti dinding batu di sekitar tempat itu. Akan tetapi tidak ada sesuatu yang aneh. Semua dinding adalah batu-batu yang wajar saja dan makin jelaslah kini bahwa tempat itu, mata air panas dan pohon itu, tadinya merupakan tempat terbuka dan kemudian tertimbun oleh batubatu dari puncak yang agaknya longsor ke bawah. Akan tetapi peristiwa itu tentu telah terjadi lama sekali sehingga membentuk sebuah guha aneh ini. Lian Hong juga membantu suhunya melakukan penyelidikan. Sampai beberapa jam lamanya mereka mencari-cari tanpa hasil.

“Suhu, kalau ada rahasianya, agaknya terdapat dalam kolam air ini,” tiba- tiba Lian Hong berkata.

“Lihat, mayat kakek itu tidak membusuk, ini saja menunjukkan bahwa air sumber ini, yang bergolak seperti mendidih dan mengeluarkan asap berbau aneh, mengandung sesuatu yang luar biasa, yang membuat mayat itu tidak rusak.”

“Ha, engkau benar, Hong Hong. Tentu rahasianya terdapat di dalam sumber atau mata air itu. Orang itu agaknya sejak dahulu duduk di situ sampai mati, dan air panas yang mengandung belerang itu membuat mayatnya tidak rusak. Sudah beberapa kali aku melihat sumber air seperti ini yang keluar dari dalam perut bumi. Tidak ada yang aneh mengenai air seperti itu. Akan tetapi kolam ini seperti dibuat merendam tubuhnya. Lihat batu-batuan itu, bukankah batu-batu besar itu seperti sengaja diletakkan di situ untuk membentuk kolam? Dan air yang luber mengalir keluar melalui samping guha. Kalau batu-batu itu digempur dan dibongkar, tentu dasarnya akan nampak dan siapa tahu di situ letak rahasianya.”

Dibantu oleh muridnya, San-tok lalu membongkar batu-batu besar. Kepandaian dan tenaga sakti guru dan murid, memungkinkan mereka membongkar batu-batu besar dan akhirnya air yang berbau belerang itupun mengalir turun, karena batu-batu yang menjadi bendungan itu bobol. Air mengalir dengan cepatnya dan kini rendaman pada tubuh mayat itu semakin dangkal saja. Setelah air itu hanya tinggal sejengkal saja dalamnya dan hanya menutupi kaki yang bersila itu sampai sebatas perut, nampaklah coretan- coretan yang merupakan huruf-huruf yang agaknya ditulis dengan mempergunakan jari tangan saja!

“Aih, benar, tulisan-tulisan itulah yang amat penting dan agaknya tidak ditemukan oleh Koan Jit!” kata San-tok dengan girang.

Biarpun dia seorang datuk kaum sesat, namun San-tok di waktu mudanya pernah mempelajari ilmu kesusasteraan dengan tekun sehingga dia mampu membaca dan mengerti huruf-huruf yang agak kuno itu. Lian Hong sendiri yang sejak kecil ikut San-tok, hanya sempat mempelajari ilmu membaca sekedarnya saja maka tentu ia tidak mampu kalau harus membaca tulisan huruf-huruf kuno itu.

Dengan suara bisik-bisik yang hanya dapat didengar oleh Lian Hong, San- tok lalu membaca huruf-huruf itu satu demi satu sehingga dapat dirangkai menjadi kalimat-kalimat yang jelas.

Srigala-srigala hina pencari pusaka,

Satu demi satu mampus di tangan Kwi Ong-ya! Tetapi karena Thian-te-pai gerombolan hina, memaksa aku bersembunyi di sini dan bertapa! Giok-liong-kiam pusaka pembuka rahasia, penyimpan benda-benda pusaka berharga tak mungkin ditemukan siapapun juga tanpa bantuan Giok-liong-kiam kedua! Akulah pembuat Giok-liong-kiam kedua dari batu sumber menggantikan kemala!

Di dalam gagangnya tersimpan rahasia tempat simpanan Giok-liong-kiam pertama!

Setelah membaca semua kalimat itu, San-tok tiba-tiba tertawa bergelak. Lian Hong yang belum begitu mengerti akan arti tulisan itu, memandang heran dan bertanya.

“Suhu, mengapa suhu tertawa setelah membaca tulisan itu?”

“Ha-ha-ha, betapa lucunya! Agaknya si Kwi-ong (Raja Setan) ini selain lihai, juga amat cerdik dan licin, pandai berkelakar pula. Hong Hong, dari tulisannya ini, jelaslah bahwa si Koan Jit itu, murid pertama si gendut Thian-tok, hanya menguasai Giok-liong-kiam palsu. Ha-ha, yang dijadikan rebutan selama ini oleh semua tokoh kang-ouw, yang menimbulkan kekacauan dan keributan itu bukan Giok-liong-kiam aseli, melainkan tiruan yang dibuat oleh Kwi-ong ini. Ha-ha-ha!”

“Apakah yang suhu maksudkan dengan semua itu? Aku tidak mengerti...” Kakek itu masih tertawa bergelak, kemudian setelah ketawanya mereda,

baru dia menerangkan kepada muridnya.

“Dari tulisannya itu dapat kita ketahui semuanya, Hong Hong. Kakek luar biasa ini berjuluk Kwi-ong, julukan yang jumawa sekali. Agaknya dialah yang dahulu berhasil menguasai Giok-liong-kiam yang aseli. Tentu banyak tokoh persilatan yang berusaha merebut pusaka itu, akan tetapi dia berhasil membunuh mereka satu demi satu. Lihat saja tengkorak-tengkorak yang berserakan di sini, agaknya itulah musuh-musuhnya yang dibunuhnya karena hendak merampas Giok-liong-kiam.

Akan tetapi dari tulisannya dapat diduga bahwa dia merasa gentar menghadapi desakan Thian-te-pai yang agaknya pada waktu itu memiliki banyak orang pandai. Thian-te-pai memaksa dia bersembunyi dan bertapa, dan dia lalu memperoleh akal, menyembunyikan pusaka Giok-liong-kiam di suatu tempat rahasia, lalu dia membuat sebuah Giok-liong-kiam palsu. Ha-ha, dia membuatnya dari batu kali atau batu di sumber ini sebagai pengganti kemala. Dan agaknya pusaka palsu inilah yang akhirnya terjatuh juga ke tangan Thian- te-pang atau Thian-te-pai, dan menjadi pusaka simpanan perkumpulan itu sampai akhirnya dicuri orang dan menjadi perebutan, dan akhirnya dicuri dari tangan Thian-tok oleh muridnya sendiri.

Ha-ha, kalau diingat betapa kita semua ribut-ribut memperebutkan benda palsu! Akan tetapi, hanya Kwi-ong inilah yang tahu bahwa rahasia tempat penyimpanan Giok-liong-kiam yang aseli berada di dalam gagang Giok-liong- kiam yang palsu. Dan kini agaknya hanya kita yang mengetahuinya. Biarpun pusaka di tangan Koan Jit itu palsu, akan tetapi bagi kita masih tetap berharga, karena di dalam gagangnya terkandung rahasia penyimpanan yang aseli. Dan agaknya, pusaka Giok-liong-kiam itu diperebutkan orang bukan hanya karena pusaka itu berharga dan amat langka, melainkan pusaka itupun menyembunyikan rahasia penyimpanan benda-benda pusaka yang amat berharga. Mengertikah engkau kini, Hong Hong?”

Lian Hong mengangguk dan memandang kagum kepada mayat telanjang yang terendam air sampai ke perut.

“Bukan main. Kakek ini dahulunya tentu pandai sekali, suhu.” Gurunya mengangguk, akan tetapi kakek ini masih terus menyelidiki batu- batu di sekitar tempat mayat itu duduk bersila, dan akhirnya dia menemukan apa yang dicari. Yaitu coretan huruf-huruf kecil di sebuah batu yang merupakan catatan tentang Giok-liong-kiam! Agaknya di tempat inilah Kwi-ong membuat pusaka yang palsu, dan dia membuat catatan-catatan Giok-liong-kiam aseli agar pelmasuan itu dapat dibuat sebaik mungkin. Catatan itu menggambarkan macam Giok-liong-kiam, ukurannya dan sebagainya.

San-tok lalu mengeluarkan sebuah kipas, dan dengan teliti dia mencatat semua itu di atas kipasnya. Setelah selesai, dibantu oleh Lian Hong, kakek ini lalu kembali memasang batu-batu besar sebagai bendungan dan tak lama kemudian, air sumber yang terbendung itu membuat kolam yang merendam tubuh Kwi-ong berikut batu-batu disekelilingnya. Akan tetapi terlebih dahulu Santok yang cerdik itu melenyapkan tulisan-tulisan di permukaan batu dengan gempuran-gempuran, menggunakan batu lain sehingga permukaan batu itu hancur dan tulisannyapun lenyap.

“Hong Hong, engkau sudah melihat semua ini dan kini makin jelas pula betapa pentingnya kita dapat menguasai Giok-liong-kiam. Aku akan kembali ke Wuyi-san dimana aku akan mencoba akal yang pernah dipergunakan Kwi- ong, dan engkau pergilah menyelidiki dimana adanya Koan Jit. Akan tetapi jangan engkau turun tangan karena hal itu tentu amat berbahaya.”

“Suhu menyuruh aku menyelidiki, akan tetapi kalau sudah kuketahui tempatnya, aku tidak boleh turun tangan. Apa maksud suhu?”

“Aku akan membuat Giok- liong-kiam palsu seperti yang pernah dilakukan Kwi-Ong. Aku sudah mencatat segala bentuk dan ukurannya. Sementara aku mencoba membuat yang palsu itu, engkau pergi mencarinya. Setelah engkau berhasil, cepat mengabarkan padaku. Kita harus dapat menukar pusaka di tangan Koan Jit dengan yang palsu.”

Lian Hong semakin tidak mengerti. Ia mengerutkan alisnya dan memandang wajah suhunya dengan heran.

“Suhu ini aneh sekali. Sudah mengerti bahwa pusaka di tangan Koan Jit itu palsu, mengapa kini suhu hendak menukarnya lagi dengan yang palsu buatan suhu? Kalau memang sudah kita ketahui tempatnya, kita rampas saja pusaka itu, kenapa susah-susah hendak menukarnya seolah-olah suhu takut kepada Koan Jit itu?”

Kakek kurus itu tertawa lebar.

“Ha-ha-ha, engkau belum mengerti, muridku yang baik. Aku tidak takut kepada Koan Jit, bahkan terhadap gurunya sekalipun aku tidak takut. Akan tetapi ketahuilah, semua orang di dunia persilatan berlumba untuk memperebutkan pusaka itu. Kini mereka semua tahu bahwa pusaka itu berada di tangan Koan Jit sehingga mereka semua tentu akan mencari Koan Jt. Kalau kita merampas pusaka itu begitu saja dari tangan Koan Jit, tentu perhatian semua tokoh persilatan berbalik kepada kita dan kehidupan kita tentu tidak akan tenteram lagi. Ingat saja halnya Kwi-ong, akhirnya mati di tempat ini tanpa menikmati pusaka yang dikuasainya. Maka, kita menukar pusaka itu dan biarkan semua orang mencari dan memusuhi Koan Jit, sedangkan kita diam- diam memiliki pusaka itu dan mencari rahasianya. Bagaimana kaupikir?”

Lian Hong memandang kagum kepada suhunya.

“Wah, ternyata suhu tidak kalah lihai dan cerdiknya dibandingkan dengan Kwi-ong!” Ia memuji dari dalam hatinya.

“Ha-ha-ha, baru  engkau  mengenal  suhumu,  ya?  Nah,  kita  sekarang berpisah di sini. Aku kembali ke Wuyi-san dan engkau pergilah dan mencari Koan Jit. Orang macam dia tentu suka akan daerah yang bergolak. Dan perang madat mendatangkan pergolakan di selatan. Maka, sebaiknya ke sanalah engkau mencari. Semua orang kang-ouw berkumpul di sana dan lebih mudah bagimu untuk mencari keterangan.”

Guru dan murid inipun saling berpisah. Untuk kedua kalinya, Lian Hong melakukan perjalanan seorang diri dalam usahanya mencari jejak Koan Jit yang amat licin bagai belut itu.

Thian-te-pai atau Thian-te-pang amat terkenal di jaman itu, karena perkumpulan ini merupakan satu di antara perkumpulan-perkumpulan yang gigih menentang pemerintah penjajah Mancu. Mereka terdiri dari orang-orang gagah segala aliran yang bergabung dalam satu wadah, sejak bertahun-tahun mengadakan penentangan, pengacauan dan perlawanan terhadap pasukan pemerintah Mancu, mengobarkan pemberontakan dimana-mana. Banyak sudah anggauta mereka yang tewas dalam pertempuran-pertempuran melawan pasukan pemerintah, namun mereka tidak pernah jera. Bahkan anggauta mereka semakin banyak saja, terdiri dari orang-orang gagah segala aliran dan suku. Selain itu, juga mereka mengadakan hubungan baik dengan perkumpulan-perkumpulan lain yang mempunyai tujuan sama, yaitu menentang pemerintah Ceng dan kalau mungkin menghalau penjajah Mancu dari tanah air.

Ketika terjadi perang madat yang berlangsung selama tiga tahun itu, orang- orang Thian-te-pang juga bergerak. Akan tetapi karena mereka menjadikan pemerintah Mancu sebagai sasaran utama, maka perang antara pemerintah melawan orang-orang kulit putih itu membuat mereka seolah-olah memperoleh bantuan dari orang-orang kulit putih. Karena itu, mereka sengaja tidak menyerang orang kulit putih, melainkan menghantam pemerintah yang sedang sibuk melawan musuh asing itu. Biarpun demikian, bukan berarti bahwa Thian- te-pang suka bersekongkol dengan orang-orang kulit putih. Maka, setelah perang dihentikan dan pemerintah Ceng yang dipimpin kaisar yang lemah itu tunduk kepada orang kulit putih, menyerahkan banyak kota dan perlakuan istimewa terhadap orang-orang kulit putih, diam-diam para pendekar, termasuk orang-orang Thian-te-pang, menjadi marah bukan main.

Pada waktu itu, Thian-te-pang diketuai oleh seorang kakek berusia enampuluh tahun Iebih yang bernama Ma Ki Sun, seorang ahli silat yang pandai, seorang gagah sejati yang sejak muda sudah bangkit menentang pemerintah penjajah. Dia diwakili oleh Coa Bhok, sutenya sendiri yang juga lihai ilmu silatnya. Mereka berdualah yang memirnpin Thian-te-pang.

Akan tetapi, selama beberapa tahun ini, Thian-te-pang seolah-olah kehilangan pamornya, seperti menyuram akibat lenyapnya pusaka Giok-liong- kiam dari tangan mereka. Pusaka ini tadinya dianggap semacam simbol kekuatan dan semangat Thian-te-pang, dan membuat mereka dihargai dan dikagumi di dunia kang-ouw. Akan tetapi setelah Giok-liong-kiam lenyap dicuri orang, pandangan dunia persilatan terhadap Thian-te-pang agak menurun. Mereka menganggap bahwa lenyapnya pusaka itu menunjukkan kelemahan Thian-te-pang yang tidak mampu menjaga pusaka sendiri sampai dapat dicuri orang. Tentu saja pihak Thian-te-pang sudah berusaha mati-matian untuk mencari pencurinya dan merampas kembali pusaka mereka sehingga ketika terjadi perebutan, murid pertama Thian-te-pang yang bernama Lui Siok Ek ikut pula memperebutkan. Bahkan ketika para tokoh mendatangi Siauw-bin-hud, wakil ketua Thian-te-pang yang bernama Coa Bhok juga hadir. Namun, semua usaha mereka sia-sia belaka. Giok-liong-kiam tetap tak dapat mereka temukan. Seperti telah kita ketahui, ketika terjadi perang madat, orang-orang Thian-

te-pang banyak yang berjuang di Kanton dan daerahnya, dan banyak pula menarik orang-orang gagah untuk bekerja sama dengan mereka. Di antara orang-orang gagah ini terdapat Ong Siu Coan yang telah berpisah dan sutenya, yaitu Gan Seng Bu yang pergi bersama isterinya, Sheila. Melihat adanya kesempatan baik untuk memenuhi cita-citanya melalui Thian-te-pang yang besar dan kuat, ketika pasukan itu kembali ke Bukit Kijang Putih di Propinsi Hunan. Siu Coan ikut pula bersama rombongan orang-orang Thian-te-pang. Para murid dan anggauta Thian-te-pang tentu saja menerirnanya dengan tangan terbuka, karena mereka semua sudah mengenal kelihaian pemuda ini.

Thian-te-pang mengadakan rapat, dipimpin oleh Ma Ki Sun dan sute atau wakilnya, Coa Bhok. Siu Coan yang diterima sebagai seorang sahabat dan tamu, juga diperkenalkan hadir. Yang hadir di dalam ruangan luas itu adalah para tokoh Thian-te-pang, murid-murid kepala dan komandan-komandan regu, tidak kurang dari limapuluh orang banyaknya, memenuhi ruangan yang biasanya menjadi tempat berlatih silat para anggauta dan murid Thian-te- pang. Ma Ki Sun dan Coa Bhok mempunyai murid-murid yang jumlahnya duapuluh orang lebih, dan para murid ini lalu melatih silat kepada para anggauta Thian-te-pang.

Siu Coan yang hadir sebagai tamu, mengamati keadaan di situ. Dilihatnya bahwa tempat yang menjadi markas besar Thian-te-pang ini merupakan sebuah perkampungan yang dilengkapi dengan tembok tinggi seperti benteng di Iererìg Bukit Kijang Putih itu. Tempat yang baik sekali dan kuat untuk pertahanan. Dan di dalamnya terdapat segala macam senjata, juga mempunyai anggauta yang tidak kurang dari tiga ratus orang banyaknya, tersebar dimana- mana. Pendeknya, sebuah perkumpulan yang cukup kuat. Dia memperhatikan Ma Ki Sun, ketua perkumpulan itu, dan wakilnya.

Ma Ki Sun sudah berusia sedikitnya enampuluh tiga tahun, bertubuh tinggi kurus dengan mata yang sebelah kiri buta dan tidak berbiji lagi. Dengan mata sebelah ini, dia pernah malang melintang sebagai seorang pendekar di selatan sehingga di dikenal dengan julukan It-gan Lam-eng (Pendekar Selatan Mata Satu). Seperti juga para anggauta Thian-te-pang, di baju ketua ini, di bagian dada, terdapat lukisan bulatan yang mengambarkan Im-yang, akan tetapi berbeda dengan para anggauta yang lukisannya disulam benang biasa, lukisan di baju sang ketua ini disulam dengan benang emas. Sikapnya penuh wibawa dan matanya yang tunggal itu melirik ke kanan kiri dengan tajam dan sinarnya mencorong. Orang kedua, yang menjadi wakil ketua dan juga sutenya, bernama Coa Bhok, nampak tinggi kurus pula, akan tetapi sikapnya angkuh, nampak dari tarikan mulutnya yang agak sinis dan dagu serta pandang matanya yang membayangkan kekerasan hati.

Di tempat itu sudah diatur meja sembahyang, lengkap dengan hidangan dan lilin-lilin yang dinyalakan. Kemudian, Coa Bhok sebagai wakil suhengnya, bangkit berdiri dari tempat duduknya dan terdengar suaranya yang lantang dan tegas.

Ma Ki Sun bangkit berdiri, tubuhnya lebih jangkung dari pada sutenya. Justeru matanya yang tinggal satu itulah yang mendatangkan wibawa besar, pikir Siu Coan sambil melihat dan mendengarkan penuh perhatian. “Anak-anak sekalian!” terdengar kakek mata satu itu berkata.

“Kita adalah pendekar-pendekar tanah air, patriot-patriot bangsa yang berjuang tanpa pamrih, hanya dengan satu tujuan, yaitu membebaskan tanah air dan bangsa dari cengkeraman penjajah! Akan tetapi, perjuangan kita tidak akan sia-sia. Bangsa kita akan terbebas dari belenggu penjajahan, dan kalau kita gugur, nama kita akan dipuja selamanya sebagai pahlawan. Karena itu, kita tidak boleh melupakan kawan-kawan seperjuangan yang gugur baru-baru ini, dan marilah kita sembahyangi mereka agar roh mereka mendapat tempat yang baik, dan nama mereka akan dipuja selamanya.”

Siu Coan tersenyum di dalam hatinya, senyum mengejek. Mungkin nama beberapa orang pentolan saja yang akan diingat selamanya, akan tetapi nama para perajurit biasa, siapa yang akan mengingatnya? Nama itupun akan terlupa. Perjuangan tanpa pamrih? Mana mungkin itu, cemooh hatinya. Menumbangkan penjajah hanya merupakan jalan saja, tidak hanya habis sampai di situ. Aku jelas tidak mau berjuang tanpa pamrih, dengan sia-sia.

Setelah semua orang selesai sembahyang dan meja sembahyang disingkirkan, dimulailah rapat itu. Mula-mula sang ketua membicarakan soal pusaka Giok-liong-kiam.

“Mendapatkan kembali pusaka itu merupakan kewajiban kita, akan tetapi tidak begitu mutlak perlu,” kata Ma Ki Sun.

“Yang penting adalah soal perjuangan. Seperti kita semua ketahui, pemerintah penjajah Mancu yang mulai bobrok itu telah secara tak tahu malu menakluk kepada orang-orang kulit putih dan menyerahkan kota-kota penting begitu saja kepada mereka. Penjilat-penjilat tak tahu malu itu sungguh terkutuk! Madat akan dimasukkan lagi dan bangsa kita akan dijejali barang beracun itu sampai akhirnya kita menjadi bangsa yang lemah dan pemadatan! Ini harus kita tentang! Kita harus mengerahkan tenaga untuk mengganggu dan menyerang mereka, sekarang kita mulai mendekati kota raja dan mengadakan kekacauan di daerah kota raja!”

Akan tetapi, para murid dan anggauta Thian-te-pang nampak saling pandang dan agaknya tidak semangat menyambut anjuran sang ketua ini. Hal ini adalah hasil dari permainan kasak-kusuk yang dilakukan Siu Coan selama ini di antara mereka. Dengan cerdik, dia tanpa mencela secara terang-terangan, mengatakan bahwa Thian-te-pang perlu memperoleh pimpinan baru yang perkasa dan pandai. Dan dia sengaja menyinggung betapa pusaka Giok-liong- kiam merupakan lambang kebesaran Thian-te-pang, dan hilangnya pusaka itu menunjukkan kemerosotan Thian-te-pang, maka perlu segera didapatkan kembali.

Dan sekarang, sang ketua bahkan meremehkan Giok-liong-kiam, dan mengajak mereka untuk mengganggu daerah kota raja yang amat berbahaya karena di daerah itu penjagaan pasukan kerajaan amatlah kuatnya. Melakukan pengacauan di daerah kota raja sama saja dengan membunuh diri! Karena itulah, mereka saling pandang dan tidak menyambut ucapan sang ketua itu dengan semangat seperti biasanya. Apalagi mereka masih lelah, baru saja pulang dari pertempuran-pertempuran yang melelahkan dimana mereka kehilangan banyak teman.

Melihat sikap para anak buah ini, Ma Ki Sun dan sutenya saling pandang.

Kemudian sutenya, Coa Bhok, berseru dengan suara lantang. “Apakah di antara kalian ada yang hendak mengajukan usul ?”

Tentu saja para murid dan para anggauta itu tidak berani menentang kehendak ketua mereka, maka merekapun kini hanya saling pandang dan akhirnya mereka memandang kepada Siu Coan. Pemuda ini tersenyum dan bangkit dari tempat duduknya.

“Pangcu, aku ingin mengajukan usul-usul!”

“Ong-sicu !” jawab Coa Bhok dengan alis berkerut.

“Ini adalah rapat para anggauta Thian-te-pang, sicu sebagai orang luar tidak berhak mencampuri. Maaf, kami tidak dapat menerima usul dari luar.”

Sedikit banyak Coa Bhok sudah mendengar tentang pemuda ini dari para muridnya. Seorang pemuda yang lihai, akan tetapi aneh. Tak seorangpun mengetahui asal-usulnya, dari perguruan mana, dan juga bahwa sute dari pemuda ini telah menikah dengan seorang wanita kulit putih. Orang seperti itu mana boleh dipercaya? Apalagi tadi pemuda itu melakukan sembahyang secara aneh dan melanggar adat kebiasaan.

Siu Coan tidak mundur oleh teguran ini.

“Maaf, aku terpaksa mencampuri karena melihat hal-hal yang baik dalarn Thian-te-pang. Aku menganggap Thian-te-pang sebagai saudara seperjuangan, dan aku tahu bahwa para anggauta ingin sekali mengajukan usul-usul namun mereka tidak berani. Kini aku akan maju sebagai wakil pembicara mereka. Saudara-saudara, bagaimana kalau aku menjadi wakil saudara, bagaimana kalau aku menjadi wakil pembicara kalian untuk menyampaikan segala ketidakpuasan yang menekan batin kalian? Setujukah?” Sudah banyak Siu Coan mempengaruhi para anggauta Thiantepai, apalagi mereka yang kagum menyaksikan sepak terjangnya, maka mereka ini serentak menyatakan setuju dan suara ini diikuti saja oleh para anggauta lain yang

agaknya sudah kehilangan pegangan itu.

“Setujuuuuu...!” Terdengar suara serentak mereka.

Ma Ki Sun dan Coa Bhok saling pandang dan akhirnya Ma Ki Sun mengangguk.

“Baiklah,” kata Coa Bhok denga suara kering dan ketus.

“Kalau memang para anggauta menghendaki, engkau boleh menyatakan usul-usulmu, Ong-sicu.”

“Terima kasih, akan tetapi sebelumnya aku minta agar pangcu berjanji bahwa sebelum aku selesai menyatakan usul-usulku, maka usul-usulku tidak boleh dipotong. Berjanjilah bahwa aku akan diperbolehkan menyatakan usul- usulku sampai aku habis bicara.”

Ma Ki Sun melambaikan tangannya dengan tidak sabar. “Baik, bicaralah, orang muda!”

Siu Coan berhenti sebentar untuk memberi kesempatan para anggauta menyatakan persetujuan mereka. Kemudian dia menyambung dengan cepat.

“Aku hanya menjadi juru pembicara para anggauta Thian-te-pang. Kami semua merasa tidak puas terhadap kebijaksanaan yang diambil oleh pimpinan. Pertama, setelah Giok-liong-kiam dicuri orang dan terlepas dan tangan kita, maka pamor Thian-te-pang menjadi suram. Karena itu, urusan mencari dan merampas kembali Giok-liong-kiam merupakan hal terpenting dan menyangkut kehormatan dan nama besar Thian-te-pang sendiri. Maka kami tidak setuju kalau dinomorduakan. Giok-liong-kiam harus didapatkan kembali lebih dulu!”

Siu Coan berhenti sebentar untuk memberi kesempatan para anggauta menyatakan persetujuan mereka. Kemudian dia menyambung dengan cepat.

“Kedua, melakukan pengacauan dan menyerang ke daerah kota raja pada saat ini adalah sama sekali tidak tepat. Pemerintah penjajah baru saja berbaik dengan orang-orang kulit putih sehingga kedudukan mereka kuat, sebaliknya kita baru saja bertempur dan kehilangan banyak tenaga. Kita harus menghimpun kekuatan lebih dulu, bergabung dengan golongan lain kalau perlu, dan setelah kita kuat benar, barulah kita bergerak. Akan tetapi, jangan jadikan Thian-te-pang sebagai kelompok pengacau-pengacau tak berarti saja. Kita bercita-cita, bukan hanya untuk menjadi sekedar pengacau, melainkan kalau mungkin kita akan gulingkan pemerintah penjajah Mancu!”

Kembali terdengar tepuk tangan dan seruan-seruan pujian dari para anggauta.

“Ketiga, kami sama sekali tidak setuju dengan ucapan ketua ketika diadakan upacara sembahyang tadi. Buat apa kita berjuang mati-matian, mengorbankan nyawa kalau sekedar mencari nama kosong belaka? Kita berjuang harus dengan cita-cita, dengan pamrih luhur! Thian-te-pang harus berjuang bukan hanya untuk dicap sebagai pahlawan kalau mati, melainkan untuk merampas tahta kerajaan dan kalau berhasil kelak, setiap orang anggauta Thian-te-pang, tidak terkecuali, harus mendapatkan kedudukan atau pangkat sesuai dengan jasa-jasa mereka! Dengan demikian, tidak akan percuma kalau sekarang kita berjuang dengan taruhan nyawa juga, sehingga kelak dapat memperoleh pahala untuk mengangkat nama dan derajat keluarga, juga menjamin kemakmuran bagi kehidupan mereka!”

Sekali ini, tepuk tangan dan sorak-sorai menyambut ucapan Siu Coan sehingga tidak dapat disangsikan lagi dukungan mereka terhadap Siu Coan. Ma Ki Sun dan Coa Bhok dengan muka pucat saling pandang dan keduanya merasa betapa ada bahaya besar mengancam mereka, setidaknya kedudukan mereka.

Akan tetapi sebelum mereka sempat bicara, kembali Siu Coan sudah mengangkat kedua tangan ke atas, dan terdengar suaranya melengking mengatasi semua suara bising. Dua orang pimpinan Thia-te-pang terkejut karena mereka maklum bahwa suara itu didukung oleh tenaga khikang yang amat kuat!

“Masih ada satu hal lagi yang teramat penting, lebih penting dari pada yang terdahulu. Kami berpendapat bahwa pimpinan Thian-te-pang sekarang ini sudah tidak becus, sudah terlalu tua dan tidak mungkin dapat memajukan Thian-te-pang, maka kami usulkan agar diganti oleh tenaga muda yang lebih bersemangat!”

Ma Ki Sun dan Coa Bhok kini saling pandang dengan muka pucat dan Coa Bhok sudah meloncat berdiri.

“Orang she Ong! Sikapmu sungguh keterlaluan dan tidak bersahabat!

Apakah engkau hendak mengajak murid-murid kami berkhianat?”

“Coa-pangcu harap sabar dulu. Aku sama sekali tidak mengajak mereka berkhianat, melainkan bicara sejujurnya saja. Pimpinan Thian-te-pang tidak becus mendapatkan kembali pusaka Giok-liong-kiam dan telah memperlihatkan kepemimpinan yang tidak baik. Maka, wajarlah kalau pimpinan sekarang yang sudah terlalu tua dan lemah mundur saja untuk diganti oleh yang muda dan kuat!”

Coa Bhok tersenyum mengejek.

“Orang she Ong. Mereka semua adalah murid-murid kami, siapakah di antara mereka yang dapat melebihi kekuatan kami?”

“Wah, banyak!” kata Ong Siu Coan.

“Di antaranya… aku sendiripun mampu melebihi kekuatan kalian.” “Keparat!”

Kini Coa Bhok meloncat ke depan menghadapi Siu Coan yang juga sudah meninggalkan kursinya dan berdiri di tengah-tengah ruangan itu. Keduanya kini saling berhadapan seperti dua ekor jago yang siap untuk saling serang.

“Jadi engkau menghendaki kedudukan ketua Thian-te-pang?”

“Kalau kalian yang sudah tua dan lemah tahu diri, aku akan sanggup memimpin Thian-te-pang jauh lebih baik dari pada kalian orang-orang tua yang sudah lemah!”

“Jahanam bermulut besar! Ingin kulihat apakah kepandaianmu juga sebesar mulutmu!” bentak Coa Bhok yang sudah tidak mampu menahan kemarahannya lagi.

Berkata demikian, wakil ketua Thia-te-pang ini sudah mencabut sebatang pedang. Dia marah sekali, akan tetapi sebagai seorang wakil ketua sebuah perkumpulan besar yang merasa dirinya telah menduduki tingkat tinggi, dia merasa tidak enak kalau harus menyerang seorang lawan yang begitu muda dengan senjata tanpa memberi kesempatan kepada lawan.

“Ong Siu Coan, keluarkanlah senjatamu!” tantangnya sambil melintangkan pedangnya di depan dada.

Akan tetapi Siu Coan tersenyum, suaranya lantang terdengar oleh semua orang ketika diabicara. Pada waktu itu, keributan itu sudah terdengar oleh orang-orang yang berada di luar ruangan sehingga kini lubang pintu dan jendela penuh dengan kepala-kepala tersembul memandang ke dalam, kepala para anggauta Thian-te-pang.

“Aku datang bukan untuk berkelahi, melainkan mengatakan hal-hal yang sebenarnya. Akan tetapi kalau Coa-pangcu yang bernafsu untuk menyerang dan membunuhku, silahkan. Aku sendiri sama sekali tidak takut menghadapi pedangmu dengan tangan kosong saja.”

“Orang she Ong! Kalau tidak engkau yang menggeletak mati di ujung pedangku, akulah yang harus mampus di tanganmu. Lihat senjata!”

Dan kakek itu sudah menerjang maju dan mengirim serangan dengan pedangnya secara kilat dan dahsyat sekali.

Betapapun cepatnya tusukan pedang yang menuju ke arah tenggorokan Siu Coan itu, namun Siu Coan lebih cepat lagi. Tubuhnya sudah mencelat ke kiri dan tusukan itu mengenai angin kosong. Sebagai seorang ahli pedang yang tangguh, begitu pedangnya luput mengenai sasaran, pergelangan tangannya bergerak dan pedang itu membuat gerakan memutar terus menyambar dengan bacokan yang lebih dahsyat lagi ke arah leher Siu Coan.

Pemuda itu merendahkan tubuh membiarkan pedang lewat dan cepat dia meloncat ke atas ketika pedang itu sudah datang lagi dari lain jurusan membabat kedua kakinya! Pedang itu terus bergerak cepat menghujankan serangan dan sebentar kemudian pedang itu sudah lenyap bentuknya dan berobah menjadi segulungan sinar putih yang menyambar-nyambar. Akan tetapi bentuk tubuh Siu Coan juga sudah lenyap. Hanya bayangan tubuhnya saja yang berloncatan ke sana-sini sehingga pedang yang bayangannya berobah banyak itu seolah-olah hanya menyerang bayangan kosong saja!

Semua mata yang nonton perkelahian itu hampir tak pernah dikejapkan. Semua orang memandang dengan hati tegang. Para murid dan anggauta Thian- te-pang maklum betapa lihainya wakil ketua itu bermain pedang, dan kini Siu Coan menghadapinya dengan tangan kosong saja! Mereka sudah membayangkan bahwa tak lama lagi tentu tubuh pemuda itu akan roboh mandi darah, tewas atau terluka berat. Akan tetapi, makin cepat pedang itu berkelebat, makin cepat pula tubuh Siu Coan bergerak menghindar, sehingga jangankan tubuh pemuda itu dilanggar pedang, bahkan ujung baju pemuda itupun tidak pernah tergores pedang sama sekali! Dan agaknya pemuda itu dapat menghindarkan diri dengan amat mudahnya, hal ini terbukti dari suara ketawanya yang kadang-kadang terdengar, bahkan terdengar pula suaranya penuh ejekan.

“Nah, bukankah kau sudah terlalu tua dan gerakanmu terlalu lemah dan lamban, Coa-pangcu?”

Mendengar suara ketawa dan ejekan ini, para penonton menjadi terheran- heran dan kagum bukan main. Dianggap oleh mereka bahwa agaknya tidak masuk akal kalau ada orang mampu menghadapi pedang Coa Bhok dengan tangan kosong, dan masih sempat tertawa-tawa bahkan mengeluarkan suara mengejek. Mereka tahu bahwa Siu Coan lihai, akan tetapi tidak pernah menduga bahwa pemuda itu memiliki kesaktian seperti itu! Juga ketua Thian- te-pang, Ma Ki Sun, terbelalak kaget. Kakek ini adalah suhengnya dari Coa Bhok dan lebih lihai daripada sutenya. Akan tetapi dia tidaklah seangkuh Coa Bhok yang terlalu percaya akan kepandaian sendiri sehingga suka memandang ringan orang lain. Melihat betapa selama lebih dari duapuluh jurus sutenya yang menggunakan pedang itu terus menerus menyerang pemuda itu tanpa berhasil sedikitpun juga, bahkan melihat pemuda itu benar-benar memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi tingkatnya dari pada sutenya. Dia merasa heran dan terkejut akan kenyataan ini, akan tetapi dia masih cukup waspada untuk berseru kepada sutenya.

“Sute, sudahlah, jangan berkelahi lagi!” katanya dengan maksud agar sutenya tidak menderita malu dan bahkan mungkin terancam bahaya.

Akan tetapi, Coa Bhok sudah memuncak kemarahannya. Kehebatan lawan dan ejekan lawan tadi sudah meracuni batinnya, dan dia merasa lebih baik mati dari pada harus menghentikan serangannya dan mengaku kalah!

“Biarlah, suheng. Dia atau aku yang mati!” teriaknya dan dia memperhebat serangannya.

Siu Coan bukan seorang bodoh. Tadinya sedikitpun tidak terlintas dalam benaknya untuk merobohkan lawannya dengan luka berat, apalagi membunuhnya. Dia tahu bahwa dua orang kakek ini, bagaimanapun juga, merupakan guru-guru dari para anggauta Thian-te-pang sehingga mereka itu masih akan mampu mempengaruhi para anggauta. Dia bermaksud untuk menanamkan kekuasaannya di Thian-te-pang tanpa mengganggu para pimpinannya, hanya menundukkan saja dan dia dapat mempergunakan kekuatan Thian-te-pang untuk mencapai tujuannya.

Akan tetapi, melihat sikap Coa Bhok, tahulah dia bahwa orang ini kalau dibiarkan hidup, akhirnya tentu akan menjadi orang yang selalu memusuhinya, baik berterang ataupun dengan menggelap. Cegahan ketua Thian-te-pang tadi meyakinkan hatinya bahwa dengan ketua itu dia masih boleh mengharapkan kerja sama, akan tetapi terhadap Coa Bhok yang keras hati ini harus diambil tindakan tegas, akan tetapi harus diatur sedemikian rupa agar para anggauta Thian-te-pang tidak akan menjadi sakit hati kepadanya.

Siu Coan membiarkan lawannya mengamuk terus. Dengan ilmu silat Ngo- heng Lian-hoan Kun-hoat yang amat hebat dari Thian-tok, dia mampu menghindarkan semua serangan itu. Dan kini kadang-kadang dia menangkis dengan tangannya, tangan yang sudah diisi dan dialiri tenaga ilmu kebal Kim- ciong-ko. Ilmu Kim-ciong-ko ini dapat membuat tubuhnya seperti dilindungi baju emas saja. Sebetulnya, melihat ilmu ini saja yang membuat kedua tangan pemuda itu mampu menangkis pedangnya tanpa lecet sedikitpun juga, sudah cukup bagi Coa Bhok untuk menyadari bahwa dia kalah jauh.

Namun kakek ini keras hati dan dia menganggap bahwa Siu Coan sudah melontarkan penghinaan terhadap dia dan suhengnya, maka dia tetap tidak mau mundur dan menyerang terus walaupun kini napasnya mulai empas- empis. Bersilat pedang memang lebih cepat melelahkan, karena membutuhkan tenaga tambahan untuk menggerakkan pedang. Walaupun pedangnya itu pedang tipis dan tidak sangat berat, akan tetapi kalau harus menyerang terus sejak tadi, tenaganya mulai berkurang juga.

Siu Coan cukup waspada. Dia melihat lowongan baik. Kalau hanya untuk merobohkan kakek itu saja, sejak tadipun dia akan mampu melakukannya. Akan tetapi merobohkan lawan seperti yang dikehendakinya, membutuhkan waktu karena dia harus mencari kesempatan baik dan gerak cepat yang luar biasa.

Tiba-tiba saja, tanpa dapat dilihat oleh semua orang kecuali ketua Thian- te-pang bagaimana terjadinya, kakek Coa Bhok mengeluarkan teriakan mengaduh dan tubuh kakek itu roboh miring dan tewas seketika dengan tubuh mandi darah, pedang yang gagangnya masih dipegangnya itu telah menusuk dadanya sendiri sampai tembus! Karena pedang itu tepat menembus jantung, maka kakek itupun tewas seketika. Semua orang terkejut dan terbelalak.