--> -->

Pedang Naga Kemala Jilid 10

Jilid 10

Dari dalam kereta, Sheila mengintai melalui jendela kereta dan wajah gadis ini agak pucat. Peristiwa berdarah yang terjadi di kota Kanton itu sungguh mengguncang batinnya dan menusuk perasaannya yang lembut. Ia tidak suka akan kekerasan dan kini terjadi kekerasan dimana-mana. Ia mendengar tentang perkelahian-perkelahian, dimana banyak orang kulit putih menjadi korban pembantaian, akan tetapi lebih banyak lagi penyerbu-penyerbu yang tewas disambar peluru senjata-senjata api orang kulit putih.

Permusuhan yang terjadi tiba-tiba ini, kebencian yang memancar dari pandang mata para penduduk, membuat ia terkejut dan ketakutan. Tak disangkanya akan menjadi begini buruk hubungan antara bangsanya dan pribumi. Dan di lubuk hatinya ia menyalahkan semua ini kepada bangsanya sendiri. Pembakaran madat yang amat banyak itu, yang menjadi awal kekacauan ini, keributan dan perkelahian, semua ini menjadi akibat dari pada sebab, dan sebabnya terletak pada bangsanya sendiri. Kalau bangsanya tidak memperdagangkan madat, kalau bangsanya tidak hanya memikirkan keuntungan, dan berhubungan dengan bangsa pribumi sebagai sahabat- sahabat sejati yang bekerja sama atas dasar saling menguntungkan, pasti tidak akan terjadi kekacauan dan pembunuhan-pembunuhan itu.

Dari balik tirai jendela kereta, Sheila melihat asap dimana-mana, tanda bahwa ada rumah-rumah yang terbakar. Dan banyak orang lalu lalang, pengungsi-pengungsi yang membawa buntalan, menggendong atau menggandeng anak, wajah-wajah yang ketakutan, kebingungan.

Tiba-tiba terdengar letusan-letusan senjata api dan Sheila melihat banyak pria membawa senjata tombak, pedang atau golok, bergerak cepat berkelebatan di luar kereta!

“Cepp...!”

Sebatang anak panah menancap di dekat jendela kereta. Sheila cepat menarik dirinya ke dalam kereta.

“Sheila, cepat tutup jendela itu dan berlindung. Jaga ibumu! Kereta kita diserang penjahat!” Terdengar bentakan ayahnya.

“Ohhh... Tuhan, lindungi kami...!” Ibunya menjerit lirih dan menangis. “Ibu, tenanglah...!” Sheila merangkul ibunya.

Akan tetapi ia sendiri kehilangan ketenangannya ketika suara tembakan semakin gencardan teriakan-teriakan para pengepung, mereka yang kena tembak atau terkena anak panah.

Karena ingin sekali mengetahui keadaan mereka, Sheila mengintai lagi. Kereta mereka masih berjalan, akan tetapi tiba-tiba kereta terguncang- guncang dan akhirnya berhenti dan miring karena roda sebelah kiri terperosok ke dalam selokan! Alangkah kagetnya melihat bahwa kini yang mengawal mereka tinggal lima orang lagi yang masih sibuk menembakkan senapan ke kanan kiri, dan ia menahan jeritnya ketika melihat ayahnya terhuyung dan menghampiri kereta dengan dada tertancap anak panah. Ayahnya hampir roboh, bersandar kereta.

Sheila maklum akan bahaya yang mengancam mereka. Ibunya sudah hampir pingsan melihat suaminya berlumuran darah, maka Sheila lalu setengah menyeretnya keluar dari kereta.

Anak panah masih menyambar-nyambar ganas. Kiranya terjadi pertempuran antara pistol senapan melawan anak panah dari para penyerbu yang kini menyerang dengan anak panah sambil bersembunyi di balik pintu- pintu gerbang, pohon-pohon dan semak-semak. Lima orang pengawal itu melawan mati-matian setelah beberapa orang kawan mereka tadi roboh oleh anak panah. Dan kini karena kereta terperosok, mereka melawan sambil berlindung pada kereta.

“Dor-dor-dorrr...!”

Kembali Opsir Hellway menembak secara beruntun dan dua orang penyerbu terpekik dan terjungkal.

“Sheila, cepat...!” Teriaknya.

Ibu Sheila menjerit dan tidak mau meninggalkan suaminya, akan tetapi Sheila memaksa ibunya dan menarik tangan ibunya.

“Sheila... aughhh...!”

Opsir Hellway tidak dapat melanjutkan katakatanya karena dia sudah terpelanting roboh karena kehabisan banyak darah.

Nyonya Hellway menjerit dan berlari kembali menghampiri suaminya setelah berhasil melepaskan rangkulan puterinya. Ia menubruk suaminya dan pada saat itu, sebatang anak panah menyambar dan menembus leher nyonya itu. Ia mengeluarkan suara aneh dan terkulai di atas mayat suaminya.

“Mama...! Papa...!” Sheila menjerit. “Nona Sheila, larilah ke pantai...!”

Seorang pengawal berseru ketika melihat gadis itu hendak kembali ke kereta melihat ayah bundanya roboh. Mendengar ini, Sheila maklum bahwa kembali ke kereta berarti bunuh diri. Biarpun hatinya merasa berat sekali untuk meninggalkan orang tuanya yang tewas, namun ia tahu bahwa saat itu yang terpenting adalah melarikan diri sampai ke kapal dengan selamat, maka sambil menahan tangisnya yang mengguguk, ia lari meninggalkan tempat itu. Pantai tidak jauh lagi, dan banyak orang berbondong lari ke jurusan itu.

Akan tetapi, belum jauh ia lari meninggalkan kereta keluarganya yang rebah miring ditepi jalan, tiba-tiba saja muncul tiga orang laki-laki yang tinggi besar, tiga orang yang memegang golok dan yang memandangnya dengan menyeringai. Seorang di antara mereka, yang mukanya bopeng segera tertawa bergelak.

Dengan tubuh gemetar gadis itu berkata.

“Ahh... harap jangan ganggu aku. Biarkan aku pergi...”

Seorang di antara mereka yang matanya kemerahan mengelebatkan goloknya yang berkilauan saking tajamnya itu ke depan Sheila, sehingga gadis itu terbelalak dan mukanya pucat, melangkah mundur.

“Kita bunuh saja noni ini, biar kusayat-sayat kulitnya, kupotong sedikit demi sedikit!”

“Aih, sayang kalau dibunuh begitu saja. Lihat begitu montok kelinci ini!” kata orang ketiga.

“Benar, tidak boleh dibunuh begitu saja. Terlalu enak baginya. Kita permainkan dulu sepuasnya. Heh-heh, sejak kemarin kita kelelahan berkelahi, biar hari ini kita bersenang-senang dan mengaso,” kata si muka bopeng yang agaknya menjadi pemimpin mereka.

Tiba-tiba saja si muka bopeng menerjang ke depan dan tangan kirinya tahu-tahu sudah mencengkeram lengan tangan kanan Sheila. Gadis ini terkejut dan meronta, berusaha melepaskan tangannya, akan tetapi cengkeraman itu kuat sekali sehingga rontaannya hanya membikin pergelangan tangannya terasa nyeri.

“Lepaskan aku, ahh, lepaskan aku...!”

Gadis itu menjerit-jerit, akan tetapi sambil tertawa-tawa, tiga orang itu kini menangkap kedua tangannya dan si muka buruk menyeretnya ke dalam sebuah bekas rumah orang kulit putih yang sudah hancur dan sebagian sudah terbakar habis.

Setelah tiba di ruangan dalam yang penuh dengan bekas-bekas porak poranda, Sheila yang maklum bahwa dirinya terancam malapetaka hebat, meronta-ronta sekuat tenaga. Karena tidak menyangka-nyangka, Sheila dapat melepaskan diri dan lari. Akan tetapi, baru saja dara itu lari sampai di samping bekas gedung itu, si muka bopeng sudah berhasil menubruknya dari belakang sehingga gadis itupun terguling di atas rumput. Akan tetapi ia menyepak- nyepak dan meronta-ronta. Dalam pergulatan ini, gaunnya terobek sehingga nampak pahanya yang berkulit putih. Melihat ini, si muka bopeng menjadi semakin liar.

“Pegang tangan dan kakinya, biar aku dulu baru kalian nanti!”

Katanya terengah-engah, karena Sheila memang bertenaga besar dan gadis ini melawan sekuat tenaga dan mati-matian. Akan tetapi kini, dua orang pria memegangi kaki dan tangannya sehingga ia tidak mampu lagi meronta, hanya menggerak-gerakkan pinggul dan kepalanya saja sambil menjerit-jerit. Si muka bopeng terkekeh dan menubruk.

“Dessss...!”

Sebuah tendangan yang amat keras dari samping mengenai pangkal paha si muka bopeng dan tubuhnya terlempar dan terguling-guling. Dua orang kawannya terkejut dan marahlah mereka ketika melihat bahwa yang menendang kawan mereka itu adalah seorang laki-laki yang berpakaian sederhana dan memakai topi bambu sederhana dan lebar. Laki-laki ini tubuhnya sedang saja, akan tetapi nampak kokoh kuat. Bajunya terbuka di bagian dada, memperlihatkan dada bidang yang ditumbuhi bulu halus. Dari pakaian yang ketat dan ringkas itu, membayang otot-otot lengan dan kakinya. Seorang pria yang nampak kuat sekali, berwajah sederhana namun gagah dan sinar matanya tajam dan jernih penuh kejujuran dan keterbukaan, juga keberanian.

Si muka bopeng juga sudah bangkit berdiri, mukanya merah, matanya melotot dan dia menyambar goloknya yang tadi diletakkan di atas tanag ketika akan memperkosa Sheila.

“Jahanam keparat!” bentaknya marah sambil mengelebatkan goloknya. “Siapakah anjing yang tak tahu diri, berani sekali menentang kami Tung-

hai Sam-liong (Tiga Naga Laut Timur)?” Pemuda itu adalah Gan Seng Bu. Mendengar julukan yang amat muluk dan besar itu, dia menahan senyum. Sebagai seorang yang selama ini aktip dalam pergerakan menentang pemerintah penjajah, tentu saja dia mengenal tokoh- tokoh di sekitar Kanton. Dan tidak ada golongan pendekar atau tokoh sesat sekalipun di daerah ini yang memiliki julukan seperti itu. Hal ini hanya menunjukkan bahwa tiga orang ini hanyalah bajingan-bajingan kecil yang suka memakai nama-nama besar, akan tetapi tetap saja nama itu tidak terkenal karena tindakan-tindakan mereka hanyalah kejahatan-kejahatan kecil dan rendah saja, sehingga nama julukan itupun tidak dihiraukan orang.

Banyak sekali terdapat penjahat-penjahat kecil seperti ini, segala tukang copet, maling dan rampok kecil saja menggunakan nama-nama julukan yang setinggi langit. Akan tetapi kegelian hatinya melihat lagak mereka dan mendengar julukan mereka tidak mengusir rasa muak dan marah dari dalam lubuk hati Seng Bu. Dia memang murid seorang datuk sesat yang teramat jahat seperti Thia-tok itu, akan tetapi di dalam dadanya terkandung api kegagahan yang membuat dia muak melihat tiga orang pria yang kuat hendak memperkosa seorang gadis, walaupun gadis kulit putih sekalipun. Bagi orang-orang yang berjiwa gagah, tidak ada kejahatan yang lebih hina dan rendah dari pada kejahatan pria memperkosa atau menghina wanita dengan kekerasan.

“Kalian berjuluk naga akan tetapi perbuatan kalian lebih hina dari pada tiga ekor cacing busuk!” Seng Bu memaki.

Belum habis kata-katanya, si bopeng sudah menyerang dengan goloknya, menggerakkan golok itu yang menyambar dahsyat ke arah leher Seng Bu, disusul oleh dua orang kawannya yang juga sudah menggerakkan golok menyerang pemuda itu. Melihat ini, Sheila terkejut dan merasa ngeri. Gadis ini tadi cepat bangkit duduk setelah tiga orang yang hendak memperkosanya itu melepaskannya dan ia kini berdiri di sudut dengan wajah pucat. Melihat betapa tiga orang laki-laki jahat itu kini menggerakkan golok yang tajam menyerang pemuda gagah yang menolongnya, Sheila tak dapat menahan dirinya berseru nyaring.

“Jangan bunuh dia! Ah, jangan…!”

Akan tetapi teriakannya segera terhenti dan memandang terbelalak. Ia hampir tidak dapat percaya akan pandangannya sendiri. Pemuda yang menolongnya itu diserang oleh tiga orang lawannya, dengan golok tajam dan tiga batang golok itu menyambar-nyambar ganas. Agaknya sudah tidak mungkin lagi pemuda itu akan dapat menyelamatkan diri dari serangan tiga orang pengeroyoknya.

Akan tetapi, secara aneh sekali Sheila melihat betapa pemuda itu, kini topi bambunya terlepas dari kepala dan tergantung dengan tali ke punggungnya, berloncatan seperti seekor burung saja, menyelinap di antara sinar golok, dan begitu pemuda itu menggerakkan kaki tangannya, terdengar teriakan-teriakan keras dan tiga orang penjahat itu tahu-tahu sudah terlempar ke kanan kiri dan terbanting roboh tak mampu bangkit kembali! Entah mati entah hidup, akan tetapi jelas bahwa mereka bertiga itu diam tak bergerak-gerak walaupun tidak nampak ada luka di tubuh mereka. Pemuda gagah perkasa itu menyambar sebatang golok yang terlepas dari tangan pemiliknya.

Sheila tidak mengenal pemuda itu dan tidak tahu orang macam apa adanya pemuda itu. Melihat betapa pemuda itu merobohkan tiga orang pengeroyoknya dan kini memegang golok, hatinya menjadi ngeri dan tanpa banyak cakap lagi, ia lalu menggerakkan kakinya dan lari pontang-panting. Robeknya gaun bagian depan sebatas paha itu malah menguntungkan baginya, karena ia dapat berlari kencang dengan langkah lebar. Karena kebingungan dan ketakutan, Sheila malah lari kembali ke arah kereta. Melihat tubuh ayah ibunya yang masih menggeletak di dekat kereta, Sheila menjerit dan lupalah ia akan rasa takutnya. Ia lalu lari menghampiri mayat-mayat itu dan menubruk mayat ibunya, menangis mengguguk.

“Ibu... bawalah aku... bawalah aku...!” Tangisnya.

Tiba-tiba sebuah tangan yang amat kuat menangkap pergelangan lengan kanannya, dan Sheila seketika menghentikan tangisnya. Tubuhnya tiba-tiba ditarik ke atas dan ia terpaksa bangkit berdiri. Dengan air mata berlinang dan muka pucat sekali, ia menatap wajah orang yang menariknya. Tasa takutnya berkurang ketika ia melihat bahwa yang menariknya bangun dan kini memegang lengan kirinya itu bukan lain adalah pemuda yang tadi merobohkan tiga orang jahat itu.

Sheila terbelalak menatap wajah pria itu, wajah yang gagah sekali akan tetapi yang pada saat itu diliputi kekerasan, kejantanan yang mengagumkan akan tetapi juga mengerikan. Apalagi melihat tangan pria ini memegang sebatang golok yang demikian tajam dan runcing.

“Le... lepaskan aku...” kata Sheila lirih dan memelas.

Pria itu mengendurkan pegangannya, agaknya rasa halus dan lunak dan hangat dari lengan yang dipegangnya itu mengejutkan dan membuatnya risi. Akan tetapi dia tidak melepaskan pegangannya.

“Tidak...! Tidak... aku ingin bersama ayah ibuku...!” Ia menengok kembali ke arah dua buah mayat di dekat kereta.

“Nona, jangan bodoh. Mereka itu sudah tewas dan engkau masih hidup.

Mari kita pergi dari sini, cepat...!”

Seng Bu lalu menarik lengan gadis itu. Sheila meronta dan mempertahankan, akan tetapi ia merasa betapa tenaga pemuda itu luar biasa kuatnya. Ia tetap mogok sehingga tubuhnya terseret sampai berada di sisi lain dari kereta yang miring itu, dan kini mayat ayah ibunya yang berada di balik kereta tidak nampak lagi. Seng Bu berhenti menyeret dan membalik sambil menghardik gadis itu.

“Apakah engkau ingin mati tinggal di sini?”

Dibentak secara kasar begitu, Sheila menjadi tersinggung dan timbul kemarahannya. Ia menentang pandang mata pemuda itu dengan sepasang matanya yang jeli akan tetapi yang pada saat itu basah dengan air mata. Sejenak mereka saling tatap dan terpaksa Seng Bu menundukkan pandang matanya, tidak tahan melawan lebih lama. Jantungnya berdebar tegang. Sudah sering dia melihat wanita kulit putih, walaupun dari jarak jauh. Baru sekarang dia berdekatan, bahkan memegang lengannya yang halus lunak dan hangat. Dari dekat, nampak jelas sekali rambut itu.

Rambut yang seperti benang emas, yang pernah membuat dia bergidik ketika melihat untuk pertama kalinya. Tak pernah dia dapat membayangkan bagaimana rambut kepala tidak hitam atau putih beruban, melainkan kuning emas! Dan mata itu. Begitu lebar dan indah, dengan manik mata bukan hitam putih, melainkan biru dan kelihatan dalam seperti lautan biru! Dan kulit yang putih sekali itu, tiada cacat sedikitpun, tidak seperti kulit orang-orang kulit putih yang pernah dia lihat penuh totol-totol merah. Gadis ini cantik bukan main. Buah dada yang hanya separuh tertutup gaun tipis itu nampak begitu padat, membusung dan nampak keras dan penuh. Dia tidak berani memandang lebih lama lagi dan menunduk.

“Nona, engkau akan mati kalau tinggal lebih lama di sini...” akhirnya dia berkata.

“Aku tidak takut mati. Lepaskan dan biarkan aku mati di sini!” jawab Sheila dengan tegas walaupun ia tidak meronta lagi.

Seng Bu menjadi marah dan jengkel. Keadaan amat gawat dan berbahaya. Dia termasuk kelompok seperti Thian-te-pang yang tidak memusuhi orang kulit putih, karena pada waktu itu, orang kulit putih dianggap malah berjasa dengan menentang pemerintah Mancu. Yang dimusuhi oleh kelompoknya hanyalah pemerintah penjajah dan dalam hal ini, dia sendiri hanya terbawa-bawa dan ikut-ikutan dengan suhengnya saja yang menjadi tokoh penting dalam Thian- te-pang sekarang.

Akan tetapi, pada waktu itu pergolakan terjadi di Kanton dan golongan anti orang kulit putih amat banyak dan amat kuat. Mereka adalah pendekar- pendekar yang timbul kemarahannya karena orang kulit putih menyebar madat, lalu ada pula golongan-golongan penjahat yang menyelundup atau menyusup ke dalam perjuangan para pendekar ini, mereka ini menyusup untuk dapat merampok rumah-rumah orang kulit putih yang kaya, dengan dalih memusuhi mereka seperti para pendekar.

Tiga orang yang tadi dirobohkannya adalah penjahat-penjahat pula. Dia dan golongannya sama sekali bukan pembela orang kulit putih, hanya tidak memusuhi mereka pada saat itu. Kalau tadi dia menyelamatkan gadis kulit putih ini hanya terdorong oleh perasaannya, oleh sifat kegagahannya yang tidak mau membiarkan tiga orang laki-laki memperkosa seorang gadis yang tidak berdaya. Dan kini, setelah bersusah payah menolong, dan hendak menyelamatkan gadis itu dari tempat berbahaya itu, si gadis menolak dan memilih mati!

“Apakah engkau menghendaki hal itu terjadi atas dirimu?”

Ucapan itu seperti sengatan yang menyakitkan. Wajah gadis itu berobah pucat dan ia sudah menengok ke kanan kiri dengan sikap ketakutan.

“Jangan...! Tolonglah aku...”

“Kalau begitu, mari kita pergi. Kita harus cepat pergi dari sini, lebih cepat lebih baik.”

Baru sekarang Sheila teringat akan pesan ayahnya. Ia harus cepat pergi ke Kapal. Peristiwa yang amat mengguncangkan batinnya tadi sempat membuat ia lupa lagi akan niatnya melarikan diri.

“Ouhhh... tolonglah saya, tolong antarkan saya ke kapal. Saya harus segera pergi kesana, menyelamatkan diri...!” katanya dan menuding ke arah pantai yang masih agak jauhdari tempat itu.

Seng Bu menengok ke timur. Tentu saja, menggunakan kepandaiannya, dia akan dapat menerobos dan membawa nona ini sampai ke pantai, ke kapal. Akan tetapi ada dua hal yang membuat dia mengambil keputusan untuk tidak melakukan hal ini. Pertama, andaikata dia berhasil melarikan nona ini sampai ke kapal, dia sendiri tentu akan dicurigai dan tidak merupakan hal yang mustahil kalau dia langsung saja ditembak dan dibunuh oleh orang kulit putih. Dan kedua, entah bagaimana, dia tidak ingin melihat gadis itu pergi meninggalkan dia!

Seng Bu menggelengkan kepala.

“Tidak mungkin, nona. Lihat, ada kebakaran-kebakaran di sana.

Mereka telah menghadang di jalan dan mereka bahkan akan menyerang kapal-kapal itu. Kalau nona ke sana, sebelum sampai di kapal tentu akan tertawan.”

Dia tidak berbohong, karena kalau Sheila pergi sendirian ke pantai, tentu dara itu akan terhadang dan tertangkap. Tentu saja kalau dia yang membawanya, dengan mengandalkan kepandaiannya, banyak kemungkinan gadis itu akan selamat sampai di pantai!

Sheila menjadi bingung. Dengan matanya yang lebar dan basah, ia lalu memandang wajah pemuda itu.

“Habis... lalu aku harus pergi kemana?”

“Mari ikut bersamaku, nona. Aku akan menyelamatkanmu. Percayalah, aku akan melindungimu dengan taruhan nyawaku, nona.”

Sepasang mata yang basah itu terbelalak, penuh keheranan, penuh terima kasih dan keharuan. Kata-kata pemuda itu, apalagi yang terakhir, menimbulkan kesan mendalam di hati Sheila dan wajah itu nampak demikian simpatik, demikian mengagumkan sehingga terasa ada kedamaian dan keamanan yang menenangkan di hatinya.

“Baiklah, aku tidak tahu harus kemana. Aku tidak punya siapa-siapa lagi.” “Mari, nona,” kata Seng Bu yang melihat bayangan banyak orang datang dari sebelah selatan. Dia menggandeng tangan Sheila, tidak lagi memegang

pergelangan lengannya dan menarik gadis itu, diajaknya lari ke barat.

Akan tetapi, baru kurang lebih satu mil mereka berjalan, tiba-tiba Sheila terpekik dan memandang ke depan dengan mata terbelalak. Di depan mereka nampak serombongan orang laki-laki yang jumlahnya duapuluh orang lebih, semua memegang senjata dan nampak mereka itu menyeramkan sekali, dengan senjata di tangan, dengan pakaian kusut, mata beringas, dan sikap membayangkan kekerasan. Dan bukan hanya Sheila yang terkejut, akan tetapi Seng Bu juga kaget sekali. Dia mengenal mereka itu sebagai golongan anti kulit putih! Celaka, pikirnya, tak mungkin menyembunyikan kenyataan bahwa gadis yang berjalan di sampingnya adalah seorang gadis kulit putih, dan tentu mereka takkan tinggal diam!

“Maaf, terpaksa aku memperlakukanmu sebagai tawananku!”

Seng Bu berbisik dan kini dia sudah menyambak rambut kuning emas yang panjang itu dan menyeretnya.

“Auuwww...!”

Sheila menjerit kaget dan ketakutan, tidak mengerti mengapa kini penolongnya bersikap demikian terhadap dirinya.

“Iblis putih betina!” Terdengar seruan-seruan mereka.

Mereka adalah orang-orang yang membenci orang kulit putih dan menyebut orang kulit putih itu ‘iblis putih’. Ramailah duapuluhlima orang itu kini mengurung Seng Bu yang menyeret rambut Sheila. Melihat pemuda ini menyeret rambut Sheila, mereka berteriak-teriak dan tertawa-tawa.

“Hei, kawan!” teriak pemimpin mereka, seorang laki-laki yang berusia limapuluh tahunlebih, berperut gendut dan memegang sebatang ruyung besar. “Dari mana kau memperoleh iblis putih betina ini dan kenapa tidak

langsung saja dibunuh?” Seng Bu tersenyum.

“Aku telah membunuh seluruh keluarganya, dan dia kubawa untuk kusiksa di depan makam ayahku yang tewas karena madat. Baru akan kubunuh dia di depan makam ayah agar disiram dengan darahnya!”

Mendengar ucapan Seng Bu, terdengar suara ketawa dan orang-orang itu memuji Seng Bu.

“Bagus, memang iblis-iblis putih patut disembelih semua diatas makam korban madat. Selamat, kawan, semoga kebaktianmu itu diterima oleh arwah orang tuamu,” kata si gendut yang lalu memberi isyarat kepada kawan- kawannya untuk melanjutkan perjalanan.

“Hayo cepat!”

Seng Bu menghardik Sheila dan mendorongnya sehingga gadis itu terhuyung dan jatuh bangun, ditertawai oleh rombongan orang itu. Akan tetapi tiba-tiba seorang di antara rombongan itu berseru.

“Haiii! Ia adalah puteri Opsir Hellway!”

Seng Bu tidak memperdulikan seruan itu karena dia sendiripun tidak tahu siapa adanya gadis ini, akan tetapi tiba-tiba si gendut berteriak keras.

“Hai, kawan. Berhenti dulu!”

Dengan sikap tenang, sambil memegang lengan Sheila, Seng Bu berhenti dan membalikkan tubuhnya. Si gendut itu dengan langkah lebar menghampirinya, diikuti seorang laki-laki bermata juling.

“Benarkah katamu, A-kong?” tanya si gendut kepada si mata juling.

Si mata juling mendekat dan sepasang matanya yang juling meneliti Sheila.

Gadis inipun merasa seperti pernah melihat laki-laki bermata juling ini.

“Tidak salah lagi! Ketika aku mengunjungi keponakanku yang bekerja sebagai pelayan di rumahnya, aku pernah melihat gadis ini!” kata si juling, dan sekarang Sheila teringat bahwa memang si juling ini pernah mengunjungi seorang di antara para pelayannya yang oleh pelayan itu diperkenalkan sebagai seorang pamannya dari dusun.

Si gendut kini menghadapi Seng Bu.

“Kawan, gadis ini adalah puteri Opsir Hellway.”

“Kalau begitu, mengapa? Aku tidak tahu siapa, akan tetapi siapapun gadis ini, ia harus menjadi korban di makam ayahku!” kata Seng Bu dengan sikap tenang.

“Tidak, kawan. Ia puteri opsir, merupakan tangkapan penting. Ia harus kami bawa sebagai tawanan penting. Pemimpin kami akan girang sekali mendapatkan tawanan opsir itu. Opsir itu di samping Kapten Elliot merupakan musuh-musuh besar, dan puterinya tentu merupakan tawanan penting sekali!” “Tidak bisa. Akulah yang menangkapnya dan ia adalah tawananku!” kata

Seng Bu.

Si gendut mengerutkan alisnya.

“Kawan, kami adalah para pejuang, dan dalam perjuangan, urusan pribadi harus dikesampingkan. Berikan gadis ini kepada kami dan jasamu akan kami catat, kami laporkan kepada atasan kami!”

“Aku tidak perduli. Gadis ini menjadi tawananku dan siapapun tidak boleh merampasnya!”

“Kau mau menjadi pengkhianat?” Bentak si gendut.

“Aku bukan anak buahmu, aku tidak mengkhianati siapa-siapa.”

“Tidak perlu banyak cakap, rampas saja gadis itu!” terdengar teriakan- teriakan.

Seng Bu maklum akan gawatnya keadaan, maka cepat ia menotok jalan darah di pundak Sheila yang membuat gadis itu seketika menjadi lemas dan tidak mampu bergerak, kemudian dengan tangan kirinya, Seng Bu memondong tubuh yang lemas itu di atas pundak kirinya. Sejenak jari-jarinya menyentuh kulit daging yang  lunak dan halus, akan tetapi semua perasaan aneh ini ditekannya dan diapun meloncat ke depan.

Orang-orang itu berteriak-teriak dan beberapa orang sudah menghadang. Akan tetapi Seng Bu menerjang mereka dan empat orang terpelanting ke kanan kiri ketika kaki tangannya bergerak.

Seng Bu hanya menggerakkan golok untuk menangkis senjata-senjata yang diarahkan kepadanya, terutama sekali untuk menjaga agar tubuh yang dipondongnya tidak sampai terkena bacokan atau tusukan. Begitu goloknya menangkis sambil mengerahkan tenaganya, dia membuat beberapa buah senjata lawan beterbangan. Tentu saja orang-orang itu merasa terkejut bukan main. Tak mereka sangka bahwa pemuda itu demikian lihainya. Hal ini menimbulkan kecurigaan mereka, dan mereka lalu mengepung. Si gendut yang memegang ruyung besar itu lalu menubruk, menggerakkan ruyungnya menghantam ke arah tubuh Sheila yang dipanggul di atas pundak kiri Seng Bu.

“Wuuuutttt... tranggg!!”

Golok Seng Bu menangkis dan si gendut hampir terpelanting. Dia mengeluarkan seruan kaget. Si gendut yang memimpin kelompok orang itu terkenal dengan julukan Gajah Sakti. Dari julukannya ini saja dapat diduga bahwa dia tentu memiliki tenaga yang kuat seperti gajah. Oleh karena itu, dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika ruyungnya yang besar dan berat itu tadi ditangkis oleh Seng Bu, tubuhnya terpelanting dan hampir saja terlempar!

Sampai beberapa lamanya Seng Bu berlari kencang. Baru setelah dia merasa yakin bahwa tidak ada orang yang mengejarnya lagi, dia berhenti dan dengan hati-hati dia menurunkan tubuh Sheila sambil membebaskan totokannya. Kembali jari-jari tangannya menyentuh kulit daging yang lunak halus dan hangat ketika dia menurunkan tubuh itu, dan hidungnya mencium bau keringat wanita bercampur dengan minyak harum yang keluar dari tubuh dan rambut Sheila. Jantungnya berdebar kencang, akan tetapi Seng Bu dapat menekan batinnya sehingga jantungnya berdenyut normal kembali.

Kini Sheila berdiri memandang dengan bengong dan sepasang matanya menatap wajah Seng Bu penuh selidik. Ia sedang menimbang-nimbang, sedang menduga-duga, dengan siapa ia berhadapan, orang macam apa adanya pemuda ini, dan baik ataukah buruk niat yang terkandung di hati dalam dada yang bidang itu. Dan diapun kagum bukan main karena kini ia merasa yakin bahwa pemuda ini adalah seorang pendekar ahli silat seperti yang pernah dibacanya dan didengarnya dari dongeng para pelayannya.

“Kau... kembali telah menolong dan menyelamatkan aku dari tangan gerombolan itu.”

“Karena itulah kukatakan tadi bahwa engkau harus cepat pergi. Terlalu berbahaya di daerah ini dan banyak sekali rombongan seperti mereka itu.”

“Siapakah gerombolan itu?”

“Mereka bukan gerombolan jahat, sama sekali bukan seperti tiga orang bajingan yang menangkapmu pertama kali itu. Tidak, mereka tadi adalah sepasukan patriot, orang-orang gagah yang memusuhi orang kulit putih.”

Baru dia teringat bahwa yang diajak bicara adalah seorang gadis kulit putih.

“Maaf, aku tidak dapat menyalakan mereka...”

Dan dengan berani Seng Bu menentang pandang mata itu. Sheila menarik napas panjang, lalu berkata lirih.

“Tidak, akupun tidak dapat menyalakan mereka!” Ucapan ini mengejutkan dan mengherankan hati Seng Bu, dan dialah yang kini memandang wajah gadis itu penuh selidik.

“Apa? Benarkah itu? Mereka memusuhi bangsamu, bahkan membunuh bangsamu, juga orang tuamu terbunuh oleh mereka dan kau tidak menyalahkan mereka? Apa maksudmu?”

Kembali Sheila menarik napas panjang.

“Bangsaku bersalah, aku sudah sejak lama tidak setuju dengan perdagangan candu mereka. Benda itu berbahaya, meracuni rakyat. Aku melihat akibat-akibat mengerikan dari madat itu. Jadi kalau sekarang bangsamu marah dan memusuhi bangsaku, bagaimana aku dapat menyalakan mereka? Andaikata aku menjadi mereka, akupun akan berbuat demikian!”

Seng Bu terbelalak, matanya memandang kagum.

“Dan engkau... engkau tentu seorang pendekar yang pandai ilmu silat.” Seng Bu semakin heran.

“Eh, bagaimana engkau bisa tahu tentang pendekar silat?”

“Aku banyak membaca tentang pendekar dan banyak mendengar dari para pelayanku. ”

Seng Bu mengangguk-angguk.

“Kiranya nona seorang terpelajar. Ah, baru teringat aku bahwa nona, biarpun seorang asing kulit putih, akan tetapi pandai sekali berbahasa daerah dan kata-katamu sopan halus seperti orang terpelajar.”

“Sejak berusia empat tahun, aku tinggal di sini, tentu saja aku pandai bahasa sini. Benarkah engkau menolongku dengan maksud baik, ingin menyelamatkan aku? Tidak akan kaubawa untuk ”

Wajah gadis itu memandang jijik. “Untuk apa, Nona?”

“Untuk kaubunuh di makam ayahmu agar darahku membasahi makam ayahmu ?” Ia bergidik ngeri.

Seng Bu menggeleng kepala.

“Tidak, tadi hanya kupakai agar mereka mau membiarkan aku membawamu pergi. Siapa kira ada yang mengenalmu. Jadi kau anak opsir?”

Sheila mengangguk.

“Ayah dan ibu telah tewas...” dan tiba-tiba ia menangis lagi, menangis terisak-isak karena teringat akan mayat ayah ibunya yang menggeletak di dekat kereta.

“Sudahlah, nona. Mereka sudah tewas, ditangisi sampai bagaimanapun tidak ada gunanya. Yang sudah mati tidak perlu dipikirkan lagi, yang penting memikirkan yang masih hidup dan engkau masih hidup, nona.”

Seng Bu bukan orang yang pandai mengatur kata-kata, maka ucapan yang keluar dari lubuk hatinya ini walaupun mempunyai maksud yang amat baik, namun tidak dimengerti oleh Sheila dan gadis itu menjadi makin mengguguk karena seolah-olah diingatkan oleh pemuda itu, bahwa hanya ialah seorang yang masih hidup seorang diri saja di dunia yang penuh bahaya ini, di sebuah negeri asing yang kejam terhadap dirinya.

Melihat seorang gadis menangis demikian sedihnya, hal yang baru pertama kali ini dialami oleh Seng Bu, hati pemuda ini diliputi keharuan dan rasa kasihan yang mendalam dan suara tangis itu demikian memilukan hatinya sehingga tanpa disadarinya lagi kedua matanya menjadi basah!

“Aku... aku memang masih hidup... akan tetapi apa artinya? Aku.   aku tidak

punya siapa-siapa lagi, aku hidup sebatangkara di sini  ” kata Sheila di antara tangisnya.

“Dan…mereka mati karena... madat...?”

Suaranya mengandung penuh kekhawatiran, dan teringatlah ia akan kata- kata ancaman yang dipergunakan oleh pemuda itu kepada gerombolan yang tadi hendak menawannya.

Seng Bu menggeleng kepala.

“Sama sekali tidak. Mereka tewas... karena kekacauan yang timbul oleh pemberontakan. Aku melihat... mereka terbunuh tanpa dapat berbuat apa apa...”

Seng Bu menghentikan kata-katanya dan kesedihan memenuhi hatinya karena percakapan itu mengingatkan dia akan keadaan dirinya sendiri, akan kematian ayah bundanya dan akan semua kesengsaraan yang pernah dialaminya, dan baru sekali ini dia bicarakan dengan orang lain. Tanpa terasa olehnya, kedua matanya menjadi basah, bahkan ada dua butir air mata mengalir turun di atas pipinya.

Melihat betapa pemuda yang demikian gagah perkasa itu menitikkan air mata, Sheila menjadi terharu sekali. Gadis ini kini tidak merasa begitu berduka lagi, melainkan terharu dan kasihan kepada Seng Bu. Kini air mata yang jatuh menitik dari kedua matanya berbeda lagi dengan air matanya yang tadi, seperti juga air mata yang jatuh dari mata Seng Bu berbeda dengan air mata yang membasahi kedua matanya sebelum dia terkenang akan keadaan dirinya sendiri.

Tangis merupakan suatu peristiwa amat penting dari kehidupan, bahkan air mata tidak terpisahkan dari kehidupan seorang manusia. Kebohongan besarlah kalau seorang mengatakan bahwa dia tidak pernah menangis! Setidaknya, tentu dia pernah menangis dalam hatinya. Dan tentu dia banyak menangis pula di waktu masih kecil, setiap hari menangis entah berapa kali. Bahkan menurut penyelidikan para cendekiawan, tangis merupakan suatu keharusan bagi manusia karena tangis merupakan obat yang amat mujarab, merupakan suatu pelepasan segala ganjalan, pelampiasan segala kekecewaan dan kemarahan. Tanpa tangis, mungkin usia manusia menjadi lebih pendek dari pada kepanjangan usia pada umumnya seperti sekarang ini.

Tangis bukan hanya menjadi tanda kedukaan hatinya, bahkan kegembiraan yang besar, manusia menitikkan air mata seperti orang menangis. Kegembiraan besar mendatangkan keharuan yang membuat orang menangis pula. Agaknya hanya dalam suara tangis sajalah, terdapat suatu kesungguhan, suatu kewajaran, walaupun tentu saja ada tangis yang dibuat-buat. Betapapun juga, tangis tidaklah sepalsu tawa.

Suara pertama dari manusia adalah tangis. Begitu terlahir, manusia dari bangsa apapun juga, mengeluarkan suara pertama itu, ialah menangis. Dan suara ini adalah suara kemanusiaan, suara suci karena dikeluarkan dari mulut manusia sebagai gerakan pertama kali, keluar tanpa dikehendaki, suara yang sama sekali tidak mengandung emosi, atau pamrih. Karena itu, suara yang wajar ini dikenal oleh seluruh manusia di dunia tanpa membedakan bangsa dan bahasa, menjadi satu-satunya suara yang amat dekat dengan manusia berbangsa apapun juga. Dari suara tangis, kita tidak akan mampu membedakan apakah tangis itu keluar dari mulut seorang berbangsa ini atau itu. Kelahiran manusia diiringi tangis, tangisnya sendiri. Kematiannyapun diiringi tangis, tangis mereka yang ditinggalkan. Kehidupan itu sendiri, antara lahir dan mati, penuh dengan selingan tangis! Sesungguhnya, tangis merupakan sesuatu yang tak terpisahkan dari hidup, dan tangis merupakan pertanda dari keadaan batin yang macam-macam pula. Tangis duka didasari oleh rasa iba diri, seperti yang dilakukan oleh Sheila dan Seng Bu ketika keduanya teringat akan keadaan diri mereka masing-masing. Ada pula tangis haru yang didasari oleh rasa iba terhadap orang lain. Ada tangis karena kegembiraan yang besar. Tangis karena kemarahan. Tangis merupakan pencerminan keadaan batin yang diusik emosi.

Demikian dekatnya tangis dengan kehidupan kita sehingga tangis inipun mudah sekali menular. Berada di antara banyak orang yang sedang menangis, sukarlah bagi kita menahan diri agar tidak ikut menitikkan air mata.

Gan Seng Bu adalah seorang pemuda yang gagah perkasa, yang sejak kecil sudah digembleng oleh keadaan yang pahit, oleh kesukaran, kemudian digembleng ilmu oleh seorang datuk sesat yang sakti. Semenjak menjadi murid Thian-tok, dia tidak lagi pernah menangis, seolah-olah hatinya telah membeku. Hanya karena memang pada dasarnya dia tidak suka akan kejahatan, dan memiliki watak gagah perkasa, maka dia tidak terseret oleh watak gurunya yang aneh, jahat dan amat kejam itu.

Akan tetapi, begitu bertemu dengan Sheila, terjadilah perobahan yang besar dan luar biasa, yang membuat Seng Bu sendiri menjadi bingung dan terkejut. Dalam waktu sehari, bahkan baru beberapa jam saja, setelah bertemu dengan Sheila, dia beberapa kali mengalami guncangan batin, jantungnya berdebar penuh ketegangan, penuh kekhawatiran, dan lebih hebat lagi, kini dia sampai dua kali menitikan air mata dalam keadaan yang berbeda!

Pertama, keharuan dan iba terhadap diri gadis itu membuat dia tidak dapat menahan air matanya, dan kini, setelah teringat akan keadaan diri sendiri, dia menitikkan air mata karena iba diri dan duka. Kedukaan, saling iba, dan persamaan nasib itu mendekatkan dua hati yang bertemu dalam keadaan yang demikian mengharukan dan menyedihkan. Mereka duduk di atas rumput, kini tidak bicara, hanya sinar mata mereka saling pandang dengan penuh getaran perasaan.

“Engkau sungguh patut dikasihani, nona.”

Akhirnya Seng Bu berkata untuk menghibur hati sendiri. Memang tidak ada cara yang paling mujarab untuk mengobati kesedihan diri sendiri dari pada mengalihkan perhatian kepada nasib lain orang, sehingga iba diri berobah menjadi iba kepada orang lain.

“Engkaulah yang patut dikasihani,” jawab Sheila.

Mereka saling merasa kasihan, dan mereka sama sekali tidak sadar bahwa rasa iba ini merupakan jembatan yang dekat sekali untuk menyeberang kepada cinta asmara.

“Tidak, nona. Aku adalah orang dari negeri ini, dan aku langsung terlibat, bahkan aku juga ikut aktip dalam pergolakan sehingga sudah sepantasnya kalau aku menjadi korban gelombang ini. Akan tetapi engkau, engkau seorang asing dan engkau sama sekali tidak tahu menahu tentang semua ini menjadi korban.. dan engkau….”

“Tidak! Pandanganmu itu keliru, sahabat yang gagah. Setiap orang tentu menjadi sebab dari pada akibat yang menimpa dirinya sendiri. Ayah bertugas di sini, dan ayah ikut pula mendorong kereta kejahatan yang berupa penyelundupan madat ke negeri ini. Itulah sebab terjadinya musibah hari ini. Dan apabila ada angin ribut melanda, angin tidak memilih pohon apa saja tentu akan dilandanya, daun apa saja, bunga apa saja mungkin rontok oleh amukan angin dan badai. Biar aku tinggal di negeriku sendiri, kalau disana terjadi badai seperti di sini, kalau terjadi pergolakan, mungkin saja aku tertimpa dan menjadi korban. Dalam hal ini, aku tidak menyalahkan siapa-siapa, melainkan kesalahan pihakku sendiri, orang tuaku dan bangsaku.”

Seng Bu tertegun. Demikian mendalam arti kata-kata gadis itu, demikian bijaksana sehingga sukar ditangkapnya secara jelas, namun samar-samar dia dapat mengerti. Memang gadis itu seorang yang bijaksana, luas pengetahuannya biarpun usianya masih muda, karena ia banyak membaca. Bacaan, kalau dilakukan dengan tekun, kalau dilakukan dengan pencurahan perhatian, merupakan sumber pengetahuan dan pengertian dan memupuk kebijaksanaan. Seorang bijaksana akan melihat bahwa segala akibat itu tentu bersebab, dan kalau diteliti, maka segala akibat yang menimpa diri sendiri sudah pasti sebabnya bersumber pada diri sendiri pula.

Kita sudah terbiasa sejak kecil untuk mencari kesalahan di luar diri sendiri, untuk mencari kambing hitam atau keranjang sampah. Hal ini sama sekali tidak ada manfaatnya, bahkan mengeruhkan pikiran, menimbulkan dendam dan permusuhan, kebencian kepada yang berada di luar diri. Mengapa kita tidak pernah mau menjenguk ke dalam diri sendiri untuk mencari sebab dari pada setiap akibat yang timbul dan yang menimpa diri kita sendiri? Bukankah hal ini timbul karena kita sudah membuat dan menciptakan sebuah gambaran tentang diri kita sendiri, sebuah gambaran yang menjadi raja ‘aku’? Aku yang paling baik, paling benar, dan paling patut dikasihani, menjadikan kita menjadi rendah diri atau tinggi hati, satu di antara dua. Keakuan yang membuat kita enggan untuk mencari kesalahan pada diri sendiri.

Kalau kita tertipu seseorang, kita condong untuk mencurahkan semua perhatian kepada si penipu, menyalahkannya, menuntutnya, membencinya, mendendam dan mencari jalan untuk membalasnya berikut bunganya. Mengapa kita tidak menghentikan pencurahan keluar itu dan mencari sebabnya dalam diri sendiri? Kalau kita melakukan hal itu, maka akan nampaklah oleh kita sebabnya yang terutama adalah pada diri kita, yaitu karena kita lengah, karena kita bodoh, karena kita lemah, maka kita sampai tertipu.

Pengamatan terhadap diri sendiri ini jauh lebih besar manfaatnya, dapat membuat kita sadar dan menganggap peristiwa itu sebagai suatu pengalaman berharga, sebagai pelajaran sehingga selanjutnya kita akan berhati-hati, akan waspada sehingga tidak sampai tertipu lagi. Pandangan keluar, sebaliknya, mendatangkan emosi, dendam dan kebencian, dan tidak akan menambah kewaspadaan kita sehingga kelak mungkin saja hal yang sama terulang lagi karena kelengahan kita sendiri.

Dalam menghadapi setiap peristiwa yang menimpa kita, demikian kata orang bijaksana, kita tidak menyalahkan Tuhan, tidak mengutuk Setan, melainkan mencari sebab-musababnya dalam diri kita sendiri!

“Nona, engkau tabah menghadapi semua penderitaan, membuat aku kagum sekali,” akhirnya Seng Bu menyatakan kekaguman hatinya.

“Aku bukan apa-apa kalau dibandingkan denganmu, sobat. Engkau gagah perkasa, engkau berbudi mulia, biarpun aku seorang asing sama sekali bagimu, bahkan dari bangsa asing yang telah banyak menimbulkan kesengsaraan kepada bangsamu, engkau masih mau menolongku, bahkan melindungiku dengan taruhan nyawa. Bolehkah aku mengenal namamu?”

“Namaku Gan Seng Bu, hidup sebatangkara saja di dunia ini.” “Gan Seng Bu? Nama yang gagah.” “Dan engkau siapakah, nona?” “Namaku Sheila.”

“Sheila...? Sheila...?”

Seng Bu tidak memberi komentar, akan tetapi beberapa kali bibirnya bergerak menyebut nama Sheila dengan lembut dan tidak kaku. Diam-diam Sheila merasa girang bahwa namanya Sheila, sebuah nama yang tidak akan sukar terucapkan oleh mulut pribumi yang sukar menyebut huruf ‘r’. Coba namanya Margaret atau lain nama yang menggunakan huruf itu, tentu akan sukar bagi Seng Bu untuk menyebutnya. Tidak, nama Sheila tidak sukar bagi lidah Seng Bu.

“Biarlah aku menyebutmu Seng Bu saja dan engkau menyebutku Sheila tanpa nona, bagaimana?”

Ketika Seng Bu mengangguk tersenyum, Sheila juga tersenyum dan pada saat itu keduanya sudah lupa sama sekali akan keharuan dan kesedihan mereka tadi. Memang, suka atau duka hanyalah permainan pikiran belaka yang menimbulkan emosi, kalau pikiran tidak lagi tertuju kepada hal itu, tentu tidak ada pula duka atau Suka !

“Seng Bu, setelah engkau mengajakku sampai ke tempat ini, lalu selanjutnya bagaimanakah? Aku seharusnya pergi ke kapal dan menyelamatkan diri dengan orang-orang kulit putih lainnya. Akan tetapi jalan ke sana sudah terputus dan aku berada di sini. Bagaimana selanjutnya? Engkau tidak akan meninggalkan aku begini saja di sini, bukan?”

“Aih, tentu saja tidak, Sheila. Aku tidak akan berbuat kepalang tanggung. Aku sudah berani mengajakmu ke sini, aku harus dapat mempertanggung jawabkan dan selanjutnya aku akan melindungimu sampai... sampai engkau selamat benar.”

Makin yakinlah hati Sheila akan kegagahan Seng Bu, akan kesungguhan hatinya melindunginya dan hatinya mulai pasrah. Ia akan merasa aman kalau selalu berada di dekat pemuda ini, dalam keadaan bagaimanapun juga.

“Terima kasih, Seng Bu. Akan tetapi, kemana selanjutnya kita akan pergi?” Ia menatap wajah yang gagah itu.

“Apakah engkau mempunyai rumah?”

Seng Bu tersenyum dan semua bayangan kekerasan meninggalkan garis- garis wajahnya ketika dia tersenyum. Dia menggeleng kepalanya, dan Sheila melihat kuncir rambut yang hitam gemuk dan panjang itu bergoyang di depan dada pemuda itu. Rambut yang hitam mengkilap, gemuk panjang, bagus sekali. “Aku adalah seorang yang hidup sebatangkara, tidak memiliki apa-apa, Sheila. Juga tidak mempunyai rumah. Akan tetapi untuk sementara ini, aku tinggal bersama kawan-kawan lain di dalam sebuah hutan dimana dibangun

pondok darurat besar dimana kami tinggal bersama.” “Kawan-kawan?”

“Ya, kawan-kawan seperjuangan, orang-orang gagah yang mempunyai cita-cita yang serupa, yaitu mengenyahkan penjajah asing dari tanah air.”

“Ah, sekarang aku tahu!” Sheila berkata dengan sikap gembira.

“Aku sudah pernah baca dan mendengar tentang pendekar-pendekar patriot yang bercita-cita membebaskan tanah air dari cengkeraman pemerintah Mancu. Ada perkumpulan Tombak Merah, Pintu Besar, Thian-te-pang. Yang manakah perkumpulanmu?”

Seng Bu menggeleng kepalanya. “Aku bebas, tidak terikat perkumpulan yang manapun, Sheila. Akan tetapi ada kukenal mereka itu karena kami setujuan, dan yang kini berkumpul dan bersembunyi di dalam hutan itu, sebagian besar memang anggauta-anggauta Thian-te-pang, sebagian pula adalah pejuang-pejuang sukarela seperti aku, termasuk suhengku yang menjadi tokoh Thian-tepai yang terkenal pula.”

Sheila lalu diajak melanjutkan perjalanan oleh Seng Bu, memasuki sebuah hutan besar, dan di tengah-tengah hutan itu, Sheila dan Seng Bu disambut oleh puluhan orang. Mereka semua terheran-heran melihat munculnya Seng Bu bersama seorang gadis kulit putih yang cantik jelita. Mereka itu semua adalah orang-orang yang sejak kecil dididik memusuhi penjajah Mancu, dan merupakan pejuang-pejuang yang ingin meruntuhkan kekuasaan Mancu, tidak mempunyai rasa permusuhan terhadap bangsa kulit putih walaupun hal ini bukan berarti bahwa mereka menyukai orang kulit putih. Tidak, kebanyakan dari mereka tidak suka kepada orang kulit putih, terutama sekali dengan adanya penyebaran madat. Namun, mereka tidak memusuhi bangsa asing ini secara terbuka. Oleh karena itu, biarpun Sheila disambut dengan penuh keheranan, namun tidak ada yang memusuhi atau ingin mengganggunya.

Seng Bu lalu memperkenalkan Sheila sebagai seorang gadis yang kehilangan semua keluarganya yang tewas oleh mereka yang antibangsa kulit putih dan bahwa dia telah menyelamatkan gadis itu dari gangguan penjahat- penjahat yang hendak memperkosanya. Mendengar ini, orang-orang yang kebanyakan berjiwa pendekar itu ikut merasa simpati dan mereka menyambut kedatangan Sheila dengan sikap ramah, apalagi setelah mendengar dari mulut Sheila sendiri betapa gadis asing yang pandai bicara daerah ini mengagumi perjuangan mereka.

Sheila pandai bicara daerah, dan sikapnya juga ramah, wajahnya manis menarik, maka sebentar saja semua orang merasa suka dan kasihan kepadanya. Di dalam rombongan besar ini terdapat pula wanita-wanita, ada wanita yang menjadi anggauta keluarga para pejuang itu, ada pula wanita gagah yang memang menjadi anggauta pasukan. Mereka yang tidak suka akan kekerasan bekerja sebagai pelayan dapur umum. Karena adanya para wanita yang menerima Sheila sebagai seorang sahabat, maka gadis inipun merasa senang dan tidak terasing hidup di antara para pejuang itu.

Dan lucunya, para wanita di dalam rombongan itu, dan juga sebagian besar di antara mereka, diam-diam menganggap bahwa Sheila adalah pacar atau calon isteri Gan Seng Bu! Semua orang menganggap hal ini sebagai suatu yang lumrah, bahkan ketika mendengar desas-desus ini, baik Seng Bu maupun Sheila hanya senyum-senyum saja. Hanya ada satu orang yang menerima berita ini dengan alis berkerut, dengan hati yang tidak suka dan orang ini bukan lain adalah Ong Siu Coan!

Mula-mula Ong Siu Coan juga bukan merupakan anggauta Thiante-pang. Akan tetapi sejak kecil dia memang bercita-cita untuk menentang pemerintah Mancu dan berjuang untuk mengusir penjajah dari tanah air. Maka, begitu bertemu dengan perkumpulan seperti Thian-te-pang yang terdiri dari orang- orang yang memiliki cita-cita demikian pula, hatinya segera tertarik dan diapun menggabungkan diri. Dan Siu Coan merupakan seorang pejuang yang gagah perkasa, berilmu tinggi, sehingga sebentar saja namanya terkenal sekali di antara orang-orang Thian-te-pang, bahkan dia dianggap sebagai seorang tokoh Thian-te-pang walaupun dia tidak menjadi anggauta secara syah.

Dalam perkelahian dan penyerbuan terhadap pasukan pemerintah, Siu Coan selalu berada di depan dan dicontoh oleh lain-lainnya, bahkan menjadi pemimpin mereka. Ketika berjumpa dengan sutenya dalam keributan di sekitar Kanton, Siu Coan membujuk sutenya untuk bergabung. Seng Bu tidak memiliki cita-cita seperti suhengnya, namun dia berjiwa pendekar dan melihat bahwa Thian-te-pang terdiri dari orang-orang gagah yang juga membela kaum lemah, diapun tidak berkeberatan untuk menggabungkan diri.

Ketika melihat sutenya pulang ke hutan bersama seorang gadis kulit putih yang cantik, mula-mula Siu Coan hanya tersenyum saja dan menyambut dengan sikap biasa saja. Akan tetapi, aneh sekali, begitu mendengar bahwa gadis itu adalah pacar dan calon isteri Seng Bu, mulailah timbul perasaan tidak enak di dalam hatinya. Dia sendiri tidak tahu bahwa itu adalah permulaan perasaan iri! Mulailah dia memperhatikan Sheila dan makin diperhatikan, makin kagum dia, karena baru sekarang dia melihat bahwa Sheila adalah seorang gadis yang cantik sekali, dan memiliki bentuk tubuh yang amat menggairahkan!

Perlu diketahui bahwa Thian-tok yang menjadi guru dua orang pemuda itu adalah seorang datuk sesat yang berhati kejam sekali. Juga Thian-tok, seperti kebanyakan datuk sesat lalinnya, mempunyai watak mata keranjang dan suka menggoda wanita. Memang, setelah usianya tua sekali, yaitu setelah menjadi guru kedua orang muda itu, kegilaannya akan wanita tidaklah seperti dahulu di waktu muda. Dahulu Thian-tok terkenal sebagai pengganggu wanita, tidak perduli wanita itu isteri orang yang sudah mempunyai anak, ataukah gadis yang masih remaja, asal dia tertarik tentu akan diculiknya begitu saja. Ketika dia menjadi guru Siu Coan dan Seng Bu, hanya beberapa kali saja dia menculik wanita dan hal inipun diketahui oleh dua orang muridnya.

Diam-diam Seng Bu hanya merasa tidak senang, akan tetapi tidak berani menentang gurunya. Sebaliknya, Siu Coan diam-diam merasa senang dan bahkan mencoba untuk mengintai apa yang diperbuat oleh suhunya. Dan secara diam-diam pula, di luar tahu sutenya, beberapa kali Siu Coan juga mengikuti jejak gurunya, mengganggu wanita dengan paksa atau dengan halus.

Demikianlah, terdapat suatu watak buruk tersembunyi di balik lubuk hati Siu Coan yang kelihatannya bersikap sebagai seorang pejuang, seorang patriot dan pendekar yang gagah perkasa itu. Dan melihat Sheila, timbul pula gairahnya yang didorong oleh perasaan iri dan cemburu terhadap sutenya, apalagi melihat betapa Sheila selalu bersikap manis dan mesra terhadap Seng Bu. Mulailah dia mendekati gadis kulit putih itu, mula-mula hal ini dilakukan ketika Seng Bu sedang tidak ada, dan secara wajar seperti seorang sahabat.

Dibandingkan dengan Seng Bu, Siu Coan lebih pandai bicara, pandai membawa diri dan menyesuaikan diri dengan keadaan sekelilingnya. Juga dia lebih pandai dalam hal kesusasteraan, lebih luas pengetahuan umumnya, dan tentu saja jauh lebih pandai dibandingkan dengan Seng Bu mengenai tulisan dan bacaan, karena di waktu kecilnya Siu Coan pernah bersekolah, tidak seperti Seng Bu yang hanya anak keluarga pemburu yang kasar. Oleh karena itu, setelah Siu Coan melakukan pendekatan, tidak mengherankan kalau Sheila cepat tertarik sekali dan nampak bergaul akrab dengan Siu Coan.

Sheila kini menjadi semakin kagum saja setelah hidup di tengah-tengah para pendekar dan pejuang itu. Ia mengagumi kejujuran mereka, kegagahan mereka, dan betapa orang-orang ini hanya untuk menunjang sebuah cita-cita membebaskan tanah air dari cengkeraman penjajah, rela hidup demikian bersahaja, kehilangan keluarga, bahkan mempertaruhkan nyawa demi cita-cita mereka. Ia merasa kagum sekali.

Ketika Siu Coan mendekati, tentu saja ia sambut dengan ramah. Siu Coan adalah suheng dari Seng Bu, dan ternyata bahwa suheng dari sahabat baiknya ini adalah seorang yang demikian pandainya, tidak saja pandai ilmu silatnya, akan tetapi juga luas pengetahuannya dan enak diajak bicara. Bahkan tidak seperti Seng Bu yang agak pendiam dibandingkan dengan sang suheng ini.

Bukan hanya jasmani Sheila yang menarik perhatian Siu Coan. Ada suatu hal lain lagi yang amat menarik hatinya ketika dia mulai mendekati Sheila seringkali bercakap-cakap dengan gadis itu. Hal yang amat menarik hatinya ini adalah tentang Agama Kristen! Di dalam percakapan itu, mereka berdua menyinggung soal agama dan Sheila lalu bercerita tentang agamanya. Dan sungguh aneh sekali, Siu Coan tertarik bukan main. Mula-mula memang menjadi taktiknya saja untuk mendekati gadis itu, membicarakan soal agama gadis itu. Akan tetapi, makin lama dia semakin tertarik dan banyak bertanya tentang pelajaran dalam agama itu.

Dengan senang hati, Sheila menceritakan segalanya, bahkan gadis itu lalu memberi tahu kepada Siu Coan tentang Alkitab yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa daerah! Dan karena Siu Coan mendesak untuk dapat membaca kitab itu, Sheila memberi tahu bahwa ada beberapa orang di Kanton yang memiliki kitab terjemahan itu, yaitu mereka yang sudah masuk Agama Kristen. Semenjak waktu itu, mulailah Siu Coan tertarik kepada Agama Kristen dan diam-diam dia melakukan banyak hubungan dengan pemuka-pemuka Kristen di Kanton, yaitu bangsa sendiri yang sudah memeluk agama itu, dan dari

merekalah dia memperoleh kitab terjemahan.

Pada waktu itu, terjemahan Alkitab dalam Bahasa Tiongkok amatlah buruknya. Tanpa bimbingan seorang pendeta atau seorang ahli, tidak mudah menangkap arti terjemahan itu. Akan tetapi Siu Coan yang memiliki watak tinggi hati dan menganggap diri sendiri paling pintar, tidak membutuhkan bimbingan dan dia mempelajari sendiri kitab terjemahan itu. Dia sendiri yang membuat penafsirannya dan mulailah dia menganut agama baru yang dicampur adukkan dengan agama-agama lain yang pernah dipelajarinya.

Mulailah orang muda yang memang berwatak aneh, cerdik dan luar biasa ini membentuk sebuah agama baru yang aneh, pencampuran dari Agama Kristen dan agama-agama yang lebih dulu. Atau semacam Agama kristen yang berbahu pengaruh pelajaran Agama-agama Buddha, Tao, dan Khong-hu-cu! Masih dicampuri lagi dengan segala macam tradisi turun-temurun. Di dalam dada pemuda ini mulai dipengaruhi dua unsur yang amat kuat. Pertama adalah cita-cita menentang penjajah Mancu, kebencian yang mendalam terhadap penjajah Mancu, dan kedua adalah pembentukan Agama Kristen yang tanpa disadarinya telah menyimpang dari pada pelajaran yang sebenarnya itu.

Kebanyakan dari kita, terutama di dunia modern akhir-akhir ini, condong untuk menilai seseorang melalui agamanya, atau kebangsaannya, kesukuannya, kelompoknya, kedudukannya, pendidikannya, atau bahkan dari kekayaannya! Karena penilaian seperti itu, tentu saja lalu bermunculan konflik- konflik antar agama, antar suku, antar kelompok dan sebagainya. Masing- masing pihak tentu saja menilai pihak sendiri paling baik dan paling benar, sedangkan pihak lain yang paling salah dan paling buruk!

Padahal, seperti dapat kita lihat dari kenyataan, bukan dari teori, baik buruknya seseorang sama sekali tidak tergantung dari agamanya, kebudayaannya, dan sebagainya itu. Baik buruknya seseorang tergantung dari perbuatannya dan batinnya, karena perbuatan itu mencerminkan keadaan batin. Agama, kebangsaan, kedudukan dan sebagainya adalah pakaian yang dikenakan pada seseorang manusia. Betapapun indah dan bersihnya pakaian itu, kalau manusia yang memakainya kotor dan buruk, tentu saja akan tetap kotor dan buruk, dan bukan tidak mungkin bahwa pakaian yang bersih itu akan terbawa menjadi kotor. Agama hanyalah suatu pelajaran bagi manusia agar hidup menurut jalur yang benar dan baik, akan tetapi tentu saja bukan agamanya yang menentukan, melainkan manusianya sendiri karena dapat saja dia menyeleweng dari pada jalur itu.

Sayang bahwa banyak yang tidak melihat kenyataan ini. Kita terlalu mementingkan pakaian-pakaiannya sehingga melupakan manusia itu sendiri. Banyak pertikaian timbul di antara manusia karena pakaian itu, karena agama, karena suku, karena bangsa, karena kedudukan dan kekayaan, dan semua ini bersumber kepada keakuan yang ingin senang, ingin benar sendiri.

Demikian pula yang terjadi dengan Ong Siu Coan, dia bukan orang sembarangan. Sejarah membuktikan bahwa Ong Siu Coan (1814-1864) kelak menjadi seorang pemimpin besar dari kelompok pejuang yang pernah menggegerkan Tiongkok dengan gerakan yang terkenal dengan nama Tai- peng! Akan tetapi sungguh patut disesalkan, bahwa manusia Ong Siu Coan yang terbuai oleh cita-cita, terbuai oleh segala macam pelajaran yang diciptakannya sendiri sehingga dia menjadi tersesat.

Ong Siu Coan demikian tertarik kepada Sheila dan mulai bermimpi untuk menjadi seorang pemimpin rakyat seperti yang dicita-citakan, memimpin rakyat bangkit menentang penjajah dengan Sheila sebagai isteri di sampingnya, dan dia bersama Sheila akan menyebarkan agama barunya! Terdorong oleh perasaan ini, pada suatu pagi dia mencari Sheila. Gadis itu sedang mencuci pakaian bersama para wanita lain di anak sungai yang jernih airnya, di lereng bukit. Dengan amat ramah Siu Coan lalu membantu gadis itu mencuci pakaian. Tentu saja Sheila tidakmau menolak bantuan ini, akan tetapi sambil tertawa Siu Coan berkata.

“Sheila, apakah pakaianmu terlalu kotor maka engkau malu kalau aku membantumu mencucinya?”

Ucapan ini tentu saja membuat Sheila tidak dapat menolak lagi dan terpaksa memberikan beberapa baju luar yang sedang dicucinya, sedangkan ia mencuci pakaian dalamnya.

Tentu saja perbuatan Siu Coan ini memimpin suara ketawa tertahan dan senyum simpul para wanita yang sedang mencuci pakaian. Bagi mereka, mencuci pakaian adalah pekerjaan wanita dan kalau ada laki-laki yang ikut mencuci pakaian, apalagi pakaian wanita yang dicucinya, maka hal itu sungguh lucu dan juga tidak pantas! Hal ini agaknya disadari oleh Siu Coan, dan pemuda yang cerdik ini lalu mendapatkan kesempatan untuk mempropagandakan kepercayaan barunya.

“Kenapa kalian mentertawakan aku? Karena aku membantu cucian Sheila? Ah, tentu kalian berpikir bahwa mencuci pakaian tidak pantas bagi pria? Itu adalah pikiran yang kuno dan kotor yang harus dibuang. Di dalam pandangan Tuhan, derajat pria dan wanita sama saja. Kalau wanita boleh mencuci pakaian pria, kenapa pria tidak boleh mencuci pakaian wanita? Pria bukanlah manusia istimewa yang harus dibedakan dan lebih tinggi derajatnya dari pada wanita. Kalian harus mempelajari agama baruku, maka kalian akan dapat berpikiran maju seperti aku, dan derajat kalian akan sama dengan pria.”

Ucapan Siu Coan tentang derajat, tentang persamaan hak antara pria dan wanita itu pada waktu itu terdengar amat janggal dan lucu, maka ramailah orang-orang perempuan itu terkekeh mentertawakan. Akan tetapi Siu Coan hanya tersenyum saja dan memang pemuda ini pandai sekali membawa diri sehingga banyak wanita yang suka dan kagum kepadanya.

Setelah selesai mencuci pakaian, Siu Coan mengantarkan Sheila pulang membawa cuciannya. Kesempatan inilah dipergunakan Siu Coan untuk mengajaknya bicara berdua saja. Di tengah perjalanan, dia mengajak gadis itu berhenti.

“Ada apakah, Siu Coan? Engkau kelihatan ada sesuatu yang amat penting untuk dibicarakan denganku?” tanya Sheila.

“Memang tepat dugaanmu, Sheila. Aku ingin menyampaikan sesuatu yang amat penting, sesuatu yang amat suci… dan untuk itu, semalam aku telah menerima petunjuk sendiri dari Tuhan.”

“Ahhh, benarkah?”

Sheila sendiri kadang-kadang terkejut dengan pernyataan Siu Coan. Pernah pemuda itu menceritakan betapa semalam dia digoda setan dan setan itu diusirnya dengan kekuatan doa. Pernah pula suatu kali dia mengatakan bahwa semalam dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar, dia bertemu dengan Jesus!

“Aku tidak membohong, Sheila. Dan petunjuk itu mengatakan bahwa kelak aku akan menjadi raja...”

“Ehh...?”

“Bukan raja seperti kaisar penjajah sekarang, melainkan raja di antara rakyat untuk membebaskan rakyat dari penjajah, untuk menuntun rakyat ke jalan terang, untuk mengajak dan membawa rakyat ke kaki Tuhan...”

“Hemm, itu bagus sekali, Siu Coan.”

“Dan di sampingku ada engkau, Sheila. Engkaulah yang membantuku, bahkan engkau yang memperkuat imanku, mempertebal keberanianku dan memperteguh tekadku, menambah semangatku.”

“Aku, ah… itupun baik sekali,” kata Sheila yang mengira bahwa Siu Coan tentu hanya menceritakan mimpinya saja dan apa salahnya kalau ia juga dimasukkan ke dalam mimpi itu?

“Baik sekali, Sheila? Benarkah itu?”

Dan tiba-tiba Siu Coan memegang tangannya Sheila dengan lembut. Barulah Sheila gelagapan. Pegangan Siu Coan demikian kuatnya sehingga menakutkan hatinya. Juga naluri kewanitaannya merasakan hal tidak wajar. Apalagi ketika ia menyambut pandang mata pemuda itu, melihat betapa sepasang mata itu mengeluarkan sinar yang aneh, sinar mata seorang laki-laki yang penuh berahi! Sheila gemetar dan dengan hati-hati ia menarik tangannya terlepas dari genggaman tangan Siu Coan, dan hatinya merasa lega karena pemuda itu tidak menahannya.

“Tentu saja aku menganggapnya baik. Bukankah hal itu baik sekali? Dan pula, bukankah hal itu hanya mimpi saja, Siu Coan?”

“Bukan, bukan mimpi, Sheila! Melainkan petunjuk yang kulihat nyata sekali. Peristiwa yang akan terjadi kelak, akan tetapi yang sudah dapat kulihat dengan jelas sekarang ini. Sheila, karena itulah pagi-pagi ini aku menemuimu, dan aku ingin bertanya kepadamu. Maukah engkau berada di sampingku selalu? Maukah engkau membantuku, Sheila?” Pertanyaan itu diajukan dengan suara menggigil dan mengandung getaran aneh sehingga Sheila memandang dengan mata terbelalak. Sepasang mata yang biru laut itu memandang penuh selidik, lalu ia bertanya.

“Apa yang kaumaksudkan, Siu Coan? Bicaralah yang jelas dan terus terang!”

Siu Coan menghela napas panjang. Dia tidak merasa heran kalau ada orang tidak mengerti maksud hatinya, karena kadang-kadang suara hatinya ‘terlampau tinggi’ untuk orang lain dan harus dijelaskan.

“Baiklah, Sheila, dengan kata-kata biasa, aku hendak mengatakan bahwa aku cinta padamu… dan bahwa aku ingin sekali engkau dapat menjadi isteriku.”

Kini Sheila benar-benar terkejut. Hal itu sama sekali tak pernah disangkanya. Memang ia suka bergaul dengan pemuda ini, suka bercakap- cakap karena selain Siu Coan mempunyai sikap yang menarik dan menyenangkan, juga pemuda ini pandai sekali. Lebih-lebih karena Siu Coan menaruh perhatian demikian mendalamnya tentang Agama Kristen. Akan tetapi sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa Siu Coan menaruh hati kepadanya. Bukankah sudah jelas bagi Siu Coan dan bagi semua orang bahwa ia dan Seng Bu mempunyai pertalian hati yang mendalam? Bukankah merupakan hal yang jelas bahwa ia dan Seng Bu saling mencinta? Dan tiba- tiba saja gadis itu teringat betapa ia dan Seng Bu belum pernah mengatakan cinta itu satu sama lain, walaupun tentu saja mereka dapat saling merasakan tentang hal itu melalui sinar mata, melalui senyum dan getaran kata-kata.

“Ah, tidak, Siu Coan! Hal itu tidak mungkin!”

Siu Coan menerima tanparan pada jantungnya ini dengan tenang, hanya matanya saja yang mengeluarkan sinar mata aneh dan wajahnya tetap biasa, mulutnya tetap tersenyum.

“Sheila, mengapa engkau menolak? Aku cinta padamu dan mengharapkan engkau menjadi isteriku, kenapa engkau menolak?”

Siu Coan baru saja terjun ke dalam pemikiran yang dianggapnya bebas seperti pikiran barat, seperti pikiran pembawa Agama Kristen itu, yaitu orang- orang dari barat yang berkulit putih. Maka diapun penasaran kalau ada wanita menolak cintanya, karena dia masih memandang wanita seperti keadaan nenek moyangnya, lupa bahwa Sheila adalah seorang wanita barat yang sudah benar- benar bebas dalam hal memilih jodoh!

Betapapun juga, tidak enak bagi Sheila untuk mengatakan terus terang bahwa ia tidak mencinta Siu Coan, maka iapun hanya menggeleng kepalanya saja, lalu menundukkan muka karena ngeri melihat sinar mata pemuda itu berobah sedemikian aneh dan liar, seolah-olah dari situ terpancar ancaman yang amat hebat walaupun sikap pemuda itu masih tenang dan halus seperti biasa.

“Sheila, engkau menolakku karena engkau mencinta Seng Bu sute, bukan? Karena engkau dan dia sudah ada ikatan batin untuk kelak menjadi suami isteri?”

Pertanyaan yang tiba-tiba ini seperti todongan pistol pada dadanya dan amat mengejutkan, karena hal itu sesungguhnya merupakan rahasia hatinya dan belum pernah diutarakan, bahkan kepada Seng Bu sekalipun belum pernah ia menyatakan isi hatinya, walaupun ia tahu bahwa Seng Bu mencintanya, dan ia yakin pula bahwa pemuda gagah perkasa itupun dapat menduga akan isi hatinya. Kini ditanya seperti itu, Sheila tidak membantah dan untuk menghindarkan desakan selanjutnya dari pemuda itu, iapun mengangguk. “Benar, aku mencinta Seng Bu…” jawabnya lirih, karena diam-diam iapun

merasa kasihan kepada Siu Coan karena terpaksa cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.

Siu Coan menarik napas panjang, nampak kecewa sekali, akan tetapi sinar matanya masih berkilauan aneh.

“Sheila, sudah kaupikir masak-masakkah hal itu? Apakah engkau tidak keliru pilih? Ingat, sute adalah seorang kafir, tidak seagama denganmu, pengikut setan!”

Sheila mengerutkan alisnya. Memang, di antara bangsanya yang beragama Kristen, banyak yang menganggap bahwa orang-orang pribumi yang tidak beragama kristen sebagai orang-orang yang ingkar, orang-orang yang tidak beriman, bahkan dianggap orang-orang biadab. Akan tetapi ia sudah banyak bergaul dengan mereka ini, dengan pelayan-pelayan rumah keluarganya, dan sudah banyak menyelami dan mempelajari kebudayaan mereka, sehingga ia memperoleh kenyataan bahwa dalam hal kebudayaan, dalam hal ketata- susilaan dan peradaban, penduduk pribumi yang sederhana itu tidak kalah oleh orang-orang kulit putih. Bahkan filsafat hidup yang mereka anut amat tinggi.

“Siu Coan, harap engkau tidak berkata demikian. Biarpun Seng Bu bukan seorang yang beragama Kristen, namun dia adalah seorang pendekar yang gagah perkasa, seorang pria yang budiman, sopan dan terhormat. Engkau tentu mengenal watak dari sutemu sendiri. Dan aku cinta padanya, mencinta orangnya, bukan agamanya. Kelak, perlahan-lahan aku akan dapat menuntunnya agar dia dapat masuk agamaku.”

“Hemm, kaupikirkan dulu baik-baik, Sheila, agar kelak engkau tidak akan menyesal namun sudah terlambat. Terus terang saja, biarpun sute juga seorang pria yang gagah perkasa, namun dia sama sekali tidak sepadan menjadi jodohmu. Dia bodoh, pengetahuannya sempit, jalan pikirannya sederhana, tanpa cita-cita, dan engkau akan hidup melarat dengan dia. Nah, biarlah lain kali kalau engkau sudah memikirkan hal ini masak-masak, kita bicara lagi.”

Wajah gadis itu berobah merah dan matanya memancarkan sinar kemarahan mendengar pemuda kekasih hatinya dijelek-jelekkan oleh Siu Coan. “Siu Coan, tidak perlu kau memburuk-burukkan sutemu sendiri di depanku.

Aku mencintanya, dan cinta tidak memandang kemelaratan dan kebodohan. Tak perlu kupikirkan lagi, dan mengenai hubungan antara kita tidak perlu dibicarakan lagi!”

Siu Coan menggoyangkan kedua pundaknya lalu meninggalkan gadis itu dengan cepat, karena pada saat itu dia melihat berkelebatnya bayangan Seng Bu yang datang dari jauh. Ketika dia pergi dengan berlari cepat, agaknya baru saja meninggalkan Sheila, Seng Bu menegur ramah.