-->

Pedang Naga Kemala Jilid 08

Jilid 08

Kui Eng tersenyum mengejek.

“Ayah panggil saja yang paling pandai dan ayah lihat saja nanti.”

Demikianlah, untuk membuktikan sendiri kepandaian puterinya, beberapa hari kemudian taman yang luas di belakang gedung Ciu Wan-gwe itu berobah menjadi tempat pesta. Yang diundangnya adalah para pembesar yang menjadi kenalannya, juga ahli-ahli silat yang kenamaan di Tung-kang, bahkan dari Kanton, pula, tidak lupa dia mengundang Gan Ki Bin dan Lok Hun, dua orang jagoan yang pernah membantunya duabelas tahun yang lalu. Kedua orang itu kini tinggal di Kanton dan bekerja sebagai pengawal-pengawal dalam rumah seorang pembesar Kanton.

Juga hartawan itu mengundang Ma-ciangkun, komandan Ma Cek Lung yang menjadi perwira pasukan keamanan di Kanton. Masih banyak lagi guru- guru silat dan kepala-kepala pengawal yang terkenal mempunyai kepandaian tinggi dari Kanton diundangnya. Tidak lupa, untuk mencari muka, Ciu Wan- gwe juga mengundang Wang Taijin, kepala daerah Kanton, seorang pejabat baru di Kanton yang dikirim dari kota raja! Kepala daerah baru ini dikenal sebagai seorang pejabat yang keras, utusan kaisar sendiri, dan kepala daerah ini kabarnya adalah seorang pejabat yang jujur, tidak sudi menerima sogokan dan terutama sekali yang menggelisahkan hati banyak hartawan adalah bahwa Wang Taijin terkenal anti madat!

Juga wakilnya yang terkenal sebagai orang yang mudah didekati oleh para hartawan, seorang pejabat lama yang bernama Lai Tek atau terkenal dengan sebutan Lai Taijin, yang bukan hanya sahabat baik Ciu Wan-gwe akan tetapi juga seorang pecandu madat yang tidak ketulungan lagi, diundang. Pernah Ciu Wan-gwe dipanggil oleh kepala daerah yang baru itu dan diperingatkan tentang kegiatannya berdagang candu gelap. Dan Lai Taijin itulah yang menolongnya, dan melihat muka wakilnya, kepala daerah itu mengampuninya. Tidak kurang dari limapuluh orang yang rata-rata memiliki kepandaian silat tinggi dan menjadi jagoan-jagoan terkenal di kanton dan sekitarnya, hadir di dalam taman yang dirias indah itu. Ciu Wan-gwe terkenal sebagai seorang kaya raya yang royal, maka tentu saja mereka dengan gembira memenuhi undangan hartawan itu, apalagi karena disebutkan bahwa pesta itu untuk merayakan puteri hartawan itu yang selesai belajar ilmu silat! Mereka sudah membayangkan bahwa mereka akan melihat seorang gadis jelita bermain silat, dan walaupun para jagoan itu memandang rendah, setidaknya mereka akan melihat seorang gadis cantik menari-nari dengan senjata yang tentu akan

menarik sekali, apalagi kalau hidangannya serba lezat dan mewah!

Semua hartawan dan bangsawan datang bersama pengawal, sedikitnya dua orang kepala pengawal yang boleh diandalkan. Para pembesar datang bersama pasukan pengawal, akan tetapi pasukan itu dijamu di tempat lain, dan yang menemani para pembesar itu hanya kepala pengawal saja. Wan Taijin tidak ketinggalan dikawal oleh kepala pengawalnya yang gagah perkasa. Juga Gan Ki Bin dan Lok Hun, dua orang bekas kepala pengawal Ciu Wan-gwe, yang sudah mengenal Kui Eng ketika anak itu masih kecil, datang dalam pakaian mereka yang mentereng.

Kui Eng keluar dalam pakaian serba merah muda, dengan ikat pinggang berwarna biru dan rambutnya digelung ke atas, diikat dengan sutera kuning. Ia nampak manis sekali, sehingga semua mata para tamu yang terdiri dari pria semua itu seperti hendak melahapnya.

“Kami merayakan tamat belajarnya puteri kami, dan maafkanlah puteri kami yang hendak memperlihatkan hasil ilmu yang selama ini dipelajarinya. Karena cuwi yang hadir adalah ahli-ahli silat kenamaan, maka diharap agar sudi memberi petunjuk kalau permainan puteri kami masih dangkal,” kata Ciu Wan-gwe.

Dan ketika Kui Eng naik ke atas panggung, ia disambut dengan tepuk tepuk tangan memuji, tentu saja memuji kecantikannya. Akan tetapi, hampir semua tamu berasal dari Tung-kang, tidak ada yang berani memandang rendah. Semua orang di Tung-kang sudah tahu bahwa gadis cantik ini adalah murid seorang kakek sakti yang demikian pandainya sehingga berhasil menghadapi ujian senjata api dari Ciu Wan-gwe! Biarpun mereka sendiri belum pernah membuktikan kelihaian Kui Eng, namun mereka dapat menduga bahwa tentu gadis itu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Sudah banyak para pelayan dan pengawal keluarga Ciu membocorkan berita bahwa gadis itu benar-benar lihai sekali, seringkali bersama gurunya yang aneh bermain-main dengan ular- ular besar dan ular-ular beracun!

Setelah menjura ke empat penjuru dengan sikap gagah dan senyum manis sekali tak pernah meninggalkan bibirnya, Kui Eng lalu mulai bersilat. Tentu saja ia tidak mau mempertontonkan jurus-jurus simpanannya, melainkan hanya bersilat dengan landasan ilmu ginkang yang hebat, sehingga tubuhnya berkelebatan dengan amat cepatnya di atas papan panggung.

Kedua kakinya tidak mengeluarkan suara, dan panggung itu sedikitpun tidak terguncang biarpun ia bermain silat dengan berloncatan cepat. Bagi para penonton yang belum tinggi ilmu silatnya, mereka akan tersenyum mengejek karena mengira bahwa gadis itu tidak memiliki tenaga sakti sehingga gerakannya kosong dan ringan. Sebaliknya, mereka yang lebih ahli, diam-diam terkejut dan kagum karena mengenal pertunjukan ilmu meringankan tubuh yang hebat!

Setelah Kui Eng menghentikan permainan silatnya, semua orang bertepuk tangan gemuruh, bahkan ada yang bersuit-suit, yaitu dari para muda yang lebih mengagumi kecantikan dan keindahan gerak tubuh Kui Eng dari pada ilmu silatnya sendiri. Kui Eng menjura ke empat penjuru, lalu dengan nyaring ia berkata, suaranya lantang dan sama sekali tidak canggung atau malu-malu. Ia memang seorang gadis yang tabah, gagah dan juga galak, kegalakan yang lebih terdorong oleh kemanjaan dari pada oleh watak yang jahat.

“Cu-wi yang mulia. Ilmu silat hanya nampak indah saja kalau dimainkan sendirian, akan tetapi tidak ada artinya dan tidak kelihatan kelihaiannya kalau tidak dimainkan dalam suatu pertandingan antara dua orang. Maka, saya menantang kepada cu-wi yang memiliki kepandaian untuk mengadakan pertandingan silat persahabatan, untuk saling berkenalan dan saling memberi petunjuk dalam ilmu silat. Dengan demikian, barulah yang menonton dapat menikmatinya. Tidak tahu apakah di antara cu-wi ada yang berani untuk maju melayani saya barang sepuluh jurus?”

Di dalam ucapan ini terkandung kesombongan dan pandangan rendah terhadap para tamu, dan hal ini memang disengaja oleh Kui Eng untuk memanaskan hati mereka agar ada yang berani menyambut tantangannya.

“Oho, biarlah aku yang mencoba kelihaian nona Ciu!” terdengar suara nyaring dan sesosok tubuh tinggi besar sudah meloncat naik ke atas panggung. Panggung itu tergetar dan bergoyang-goyang ketika kedua kakinya hinggap di atas papan panggung. Laki- laki ini berusia tigapuluh tahun lebih, tinggi besar dengan muka merah, agaknya terlalu banyak minum arak. Akan tetapi semua orang dari Kanton mengenal siapa dia. Seorang guru silat muda yang memiliki tenaga gajah! Dan orang yang masih belum berkeluarga ini, ketika melihat Kui Eng, diam-diam sudah tergila-gila, maka melihat kesempatan untuk memamerkan ilmunya dan kesempatan bertanding, beradu tangan, berdekatan dengan nona cantik itu, terus saja dia menyambutnya. Untuk mendatangkan kesan dan untuk pamer, begitu kedua kakinya menginjak papan panggung, terus saja guru silat itu bersilat.

Gerakannya mantap dan pukulannya mendatangkan angin, bahkan panggung itu terus bergoyang-goyang seperti akan ambruk. Memang kelihatan hebat dan gagah sekali dia, terdengar bunyi otot dan tulang berkerotokan dan angin menyambar-nyambar kalau dia menendang.

“Nona Ciu, ilmu silatmu sungguh hebat sekali. Tidak tahu apakah ilmu silatku tadi cukup baik untuk melayani ilmu silatmu?”

Kui Eng mamandang tajam dan alisnya berkerut ketika ia melihat sinar mata laki-laki itu mengandung kekurangajaran. Ia balas menjura dan suaranya lantang terdengar semua orang yang berada di situ.

“Ilmu silatmu menunjukkan tenaga besar, cukup baik untuk manakut- nakuti orang, akan tetapi aku sangsi apakah cukup tangguh untuk bertahan selama lima jurus melawan ilmu silatku!”

Tentu saja semua orang terkejut, bahkan para ahli sekalipun terkejut. Biarpun guru silat muda itu lebih mengandalkan tenaga besar, namun dia memiliki ilmu silat yang tidak boleh dibilang lemah. Mana mungkin mengalahkannya dalam lima jurus saja? Gadis itu terlalu membual atau memang sombong. Ciu Wangwe sendiri berobah wajahnya, merasa khawatir karena puterinya bicara terlalu besar. Bagaimana kalau puterinya kalah? Berarti sekali keluar namanya terbanting keras dan hanya mendatangkan malu dan menjadi buah tertawaan saja.

Wajah guru silat muda itu menjadi semakin merah, akan tetapi sekali ini bukan merah karena hawa arak, melainkan karena penasaran dan marah. Gadis cantik ini ternyata telah membikin malu padanya di depan umum. Tunggu saja, manis, pikirnya gemas. Dalam pertandingan ini, aku akan membalas padamu, cukup dengan sekali raba dadamu saja sudah dapat membalas. Kemarahan ini saja sudah menunjukkan bahwa guru silat muda itu kurang luas pandangannya dan kurang matang ilmunya. Bagi orang yang sudah matang, melihat sikap gadis itu yang berani memandang rendah saja tentu sudah menjadi waspada, curiga dan berhati-hati sekali. Sebaliknya, guru silat yang terlalu membanggakan kepandaian sendiri ini dikuasai emosi dan bernafsu sekali untuk membalas dendam.

“Nona Ciu, benarkah bahwa engkau akan mampu mengalahkan aku dalam lima jurus? Hati-hati, kaki tangan tidak bermata, aku khawatir kalau-kalau nona akan terluka kalau kita harus mengadu ilmu silat.”

“Kau ini mau adu silat ataukah adu suara? Majulah dan jangan omong saja!” Kembali ucapan Kui Eng disambut suara ketawa dan tiba-tiba guru silat itu mengeluarkan suara seperti harimau menggereng dan tubuhnya sudah menubruk ke depan. Kedua lengannya dipentang lebar, dari kanan kiri mengurung dan hendak menerkam, seperti seekor biruang besar hendak menerkam kelenci. Mata para tamu kini memandang penuh perhatian dan dengan hati tegang, karena mereka maklum bahwa guru silat muda itu agaknya sudah marah sekali dan menyerang dengan sungguh-sungguh, walaupun serangannya bukan merupakan tendangan atau pukulan, melainkan

tubrukan untuk menerkam dan memeluk gadis itu!

Akan tetapi, dengan gerakan yang amat lincah, tahu-tahu tubuh gadis itu sudah menyelinap ke bawah kiri dan tubrukan itu luput. Guru silat itu tadi sudah melihat bayangan tubuh itu menyelinap ke kiri, tubrukannya dirobah menjadi terkaman ke samping dan kini dua lengannya itu menerkam dari atas dan bawah, kedua kakinya siap menyusulkan tendangan andaikata nona itu mengelak lagi. Akan tetapi sekali ini Kui Eng tidak mengelak, bahkan menghadapi serangan itu sambil membalikkan tubuhnya dan dua pasang kaki tangan itu bergerak cepat, seperti ada empat ekor ular menotok ke depan dan tiba-tiba saja guru silat muda itu mengeluarkan teriakan aneh dan tubuhnyapun roboh berlutut di depan Kui Eng!

Tentu saja semua orang menjadi heran dan terkejut sekali. Dalam dua kali serangan saja, guru silat itu telah roboh berlutut dan mereka tidak melihat bagaimana caranya sampai guru silat itu roboh. Guru silat itu sendiri menjadi pucat wajahnya. Tadi, ketika dia menerkam, tiba-tiba saja kedua siku dan lututnya terpukul, dan seketika kedua lengan dan kakinya menjadi lumpuh sehingga dia tidak mampu berdiri lagi dan terpaksa jatuh berlutut. Bagaimanapun juga, kini tahulah dia bahwa gadis itu memang sungguh seorang yang memiliki kesaktian dan sama sekali bukan lawannya.

“Maafkan saya, nona... saya... mengaku kalah...!” katanya lirih dan ketakutan karena dia belum mampu menggerakkan kaki tangannya.

“Hemm, belajarlah silat dengan baik, bukan memamerkan tenaga gajah,” kata Kui Eng.

Dan seperti orang menyuruh pergi, tangannya bergerak cepat sekali menyentuh ke pundak, dan ujung sepatunya menyentuh pinggang. Seketika tubuh yang lumpuh itu dapat bangkit lagi, dan dengan muka yang kini berobah merah sekali, guru silat itu memberi hormat kepada Kui Eng lalu melompat turun dan kembali ke tempat duduknya tanpa banyak cakap lagi.

Tepuk tangan riuh menyambut kemenangan ini, akan tetapi beberapa orang mengerutkan alisnya. Benarkah guru silat itu kalah sedemikian mudahnya? Ataukah guru silat itu memang sengaja ‘dibeli’ untuk berperan sebagai orang yang dikalahkan? Ciu Wangwe adalah seorang yang kaya raya, mampu membayar apa saja dan guru silat itu merupakan orang baru di Kanton, siapa tahu dia memang sengaja bermain sandiwara agar dikalahkan dalam dua gebrakan saja!

Akan tetapi, mereka yang memiliki kepandaian lebih tinggi berpendapat lain. Mereka melihat bahwa selain guru silat itu memang tidak begitu pandai, ternyata bahwa gadis hartawan ini benar-benar lihai sehingga mereka memandang kagum, dan ketika Kui Eng mempersilahkan jagoan lain untuk naik, tidak ada seorangpun berani menyambutnya.

Yang paling gembira adalah Ciu Wan-gwe. Ternyata puterinya mampu membuktikan omongannya. Guru silat yang hebat tadi dirobohkan hanya dalam waktu sebentar saja! Makin percayalah dia bahwa kakek sakti itu memang benar telah mewariskan kepandaiannya kepada Kui Eng.

“Cu-wi yang mulia! Benarkah tidak ada lagi jagoan yang mau memberi petunjuk kepadaku? Ah, dan aku mendengar bahwa Kanton adalah gudangnya jago silat yang tinggi ilmunya. Apakah cu-wi ingin mengecewakan hatiku?”

Kui Eng berkata karena memang ia kecewa sekali. Ia ingin memamerkan kepandaiannya dan juga mendatangkan kesan agar keluarganya ditakuti orang dan hati ayahnya menjadi tenteram. Kiranya di antara para jagoan itu, yang maju hanyalah seorang guru silat mentah !

Wang Taijin, kepala daerah Kanton, merasa tersinggung mendengar ucapan gadis itu. Seorang gadis yang sombong, pikirnya. Memang di sudut hatinya, Wang Taijin merasa tidak suka kepada hartawan ini, karena dia mendengar bahwa orang she Ciu ini merupakan pedagang dan penyelundup candu terbesar di Kanton dan Tung-kang, seorang yang bersekongkol dengan orang-orang kulit putih. Juga dia mendengar bahwa hartawan ini seolah-olah sudah menguasai semua pembesar di Kanton dengan suapan-suapannya. Kalau saja tidak dibujuk oleh Lai Taijin, tentu dia sudah menyuruh orang- orangnya menuntut hartawan ini di pengadilan atau setidaknya melakukan penyitaan atas candu-candu simpanannya.

Kini, melihat sikap anak hartawan Ciu itu, yang seolah-olah menantang dan menghina orang-orang gagah di Kanton, dia mendongkol sekali. Dengan isyarat tangan dan mata, diapun lalu menyuruh kepala pengawal yang menemaninya untuk maju dan menandingi gadis yang dianggapnya amat sombong itu.

Kepala pengawal ini adalah pengawal bawaan Wang Taijin dari kota raja, seorang laki-laki berusia limapuluh tahun yang tubuhnya jangkung, matanya tajam dan kumis jenggotnya panjang terpelihara rapi. Dalam mengawal Wang Taijin, dia selalu berpakaian preman. Orangnya pendiam dan sikapnya halus. Melihat betapa majikannya memberi isyarat agar dia maju, pengawal yang jangkung ini mengangguk, akan tetapi alisnya berkerut. Dia adalah seorang kepala pengawal daerah Kanton, seorang yang memiliki kedudukan tinggi dan kini dia disuruh maju melayani dan melawan seorang gadis yang usianya belum duapuluh tahun!

Memang, diapun tadi melihat bahwa gadis itu bukan orang sembarangan, akan tetapi maju melawan seorang gadis semuda itu saja sudah menurunkan martabatnya. Akan tetapi, karena yang memerintah adalah majikannya, tanpa banyak cakap diapun bangkit berdiri dan sekali menggerakkan tubuhnya, dia sudah melayang naik ke atas panggung. Kedua kakinya tidak mengeluarkan suara apapun ketika hinggap di atas panggung, berhadapan dengan Kui Eng dan menjura dengan hormat. Diam-diam Kui Eng terkejut. Ini baru orang pandai, pikirnya, aku harus berhati-hati menghadapinya.

“Nona Ciu, maafkan kalau saya orang yang tua memenuhi undangan nona untuk bermain-main sebentar menghibur para tamu dan menggembirakan suasana. Harap nona suka mengalah kepada saya.”

Kui Eng makin berhati-hati. Orang ini pandai merendahkan diri, akan tetapi sinar matanya begitu tajam. Tentu lawan yang berbahaya, pikirnya.

“Ah, paman terlalu sungkan. Kuharap pamanlah yang suka mengalah terhadap orang muda yang belum berpengalaman.” katanya sambil balas menjura.

“Saya sudah siap, harap nona suka mulai,” kata kepala pengawal Wang Taijin itu.

“Paman adalah tamu, silahkan mulai.”

Akan tetapi, kepala pengawal itu tentu saja rikuh sekali kalau harus menyerang lebih dulu. Dia adalah seorang tua yang menang segala-galanya, mana mungkin harus menyerang dulu? Maka diapun diam saja, hanya berdiri tegak, sama sekali tidak berlagak dengan kuda-kuda kokoh seperti yang dilakukan guru silat muda tadi. Melihat orang ragu-ragu, Kui Eng tersenyum dan ia semakin hati-hati.

“Baiklah kalau begitu, lihat seranganku, paman!”

Kui Eng menyerang dengan biasa saja, dengan pukulan ke arah dada orang. Melihat cara gadis itu menyerang, si kepala pengawal semakin memandang rendah. Kiranya gadis itu hanya memiliki kecepatan saja dan tidak memiliki kepandaian yang berarti, demikian pikirnya. Maka diapun cepat menangkis dengan mengerahkan sedikit tenaga saja, dengan harapan sedikit tenaga itu sudah cukup untuk memberi peringatan kepada gadis yang dianggapnya sombong itu.

“Dukk...!”

Ketika dua lengan bertemu, kepala pengawal itu terkejut bukan main. Lengan gadis itu lunak hangat, seperti tidak bertenaga, akan tetapi membuat lengannya tergetar hebat seperti diguncang! Maka, diapun cepat membalas dengan serangan kilat ke arah pundak kiri Kui Eng yang ditanparnya, dan sekali ini, tanparannya dilakukan dengan pengerahan tenaga sinkang.

Ketika tadi bertemu lengan, Kui Eng tersenyum mengejek. Kiranya hanya sekian saja tenaga orang jangkung ini, pikirnya. Maka, begitu melihat lawan menampar pundaknya, suatu serangan yang dilakukan dengan sungkan- sungkan, dara inipun menangkis dengan mengerahkan sebagian sinkangnya. Tidak sekuatnya, melainkan sedikit saja, karena iapun tidak ingin mencelakai orang ini yang bersikap baik, tidak seperti guru silat tadi.

“Paman, siaplah menghadapi seranganku!” teriaknya, dan iapun kini menyerang dengan sungguh-sungguh, kedua tangannya membentuk kepala ular yang mematuk-matuk dan gerakannya itu didasari tenaga sinkang yang amat kuat.

Kepala pengawal itu terkejut bukan main. Dia melihat betapa kedua tangan lawannya seperti berobah menjadi banyak, sukar sekali diikuti dengan pandang mata. Dia berusaha sekuatnya untuk menangkis dengan kedua lengannya, akan tetapi gerakan gadis itu terlalu cepat, ilmu silatnya terlalu aneh. Kui Eng belum mengenal kehebatan ilmunya sendiri karena ia belum pernah berkelahi dengan orang lain dan ia tadi salah kira, menganggap bahwa lawannya itu tangguh sekali. Kini, serangkaian serangannya tidak dapat dihindarkan lagi mengenai sasaran dan pundak kanan lawan itu terkena patukan tangan kirinya dengan keras sekali.

“Krekkk...!”

Kepala pengawal itu mengeluh dan roboh terkulai dalam keadaan pingsan! Patukan tangan kiri Kui Eng itu bukan saja mematahkan tulang pundaknya, akan tetapi juga menembus lebih dalam lagi, menggetarkan isi dada dan membuatnya roboh pingsan! Kui Eng terkejut bukan main.

“Ohh... maaf, paman...!” katanya, akan tetapi dara itu berdiri bingung karena melihat bahwa lawannya itu telah pingsan.

Tak disangkanya sedemikian mudahnya ia merobohkan lawan yang disangkanya amat tangguh itu. Memang tangguh lawan itu, akan tetapi ia tidak dapat membayangkan bahwa kepandaiannya jauh lebih tinggi dan ia jauh lebih tangguh lagi.

Peristiwa ini tentu saja mendatangkan perasaan makin tidak senang di hati Wang Taijin. Dia tadi menyuruh kepala pengawalnya untuk memberi pengajaran kepada gadis Ciu yangsombong itu, akan tetapi siapa kira bahwa dalam beberapa gebrakan saja, jagoannya tidak hanya kalah, bahkan pingsan dan agaknya menderita luka parah! Dengan alis berkerut, kepala daerah Kanton ini melihat betapa jagoannya diusung turun dari atas panggung di bawah tepuk tangan para tamu yang memuji tuan rumah. Kini semua orang memandang kagum, karena secara berturut-turut, dua orang jagoan telah dirobohkan dalam waktu cepat sekali oleh gadis cantik itu.

“Aha, benar hebat nona Ciu Kui Eng!” tiba-tiba terdengar suara parau, dan seorang laki-laki tinggi besar berperut gendut sudah meloncat naik ke atas panggung.

Melihat laki-laki berusia limapuluh tahun lebih dan berpakaian sebagai seorang perwira tinggi ini, Kui Eng cepat memberi hormat dengan ramah, merendah. Tentu saja ia mengenal Ma Cek Lung, komandan pasukan keamanan di Kanton yang sudah lama menjadi sahabat baik ayahnya, dan yang dikenalnya sejak ia masih kecil. Memang pada akhir-akhir ini Ma-ciangkun jarang datang berkunjung ke Tung-kang, akan tetapi hubungan antara perwira itu dan ayahnya masih tetap baik. “Nona Ciu, akupun ingin main-main sebentar dengan engkau yang amat lihai!”

“Ah, Ma-ciangkun harap engkau jangan main-main. Mana aku berani melawanmu?”

Ma Cek Lung ini memang mempunyai watak mata keranjang. Kecantikan Kui Eng yang sejak kecil dikenalnya itu telah membuat penyakitnya kumat, yaitu berlagak setiap kali bertemu wanita cantik. Apalagi sikap Kui Eng yang seolah-olah merasa sungkan kepadanya, yang dianggapnya sebagai sikap takut melawannya! Maka diapun tertawa bergelak sambil membusungkan dadanya dan akibatnya yang busung adalah perutnya. Dia sendiri menganggap sikapnya gagah, akan tetapi sebenarnya bagi orang lain hanya melihat perwira itu berkakakan dengan perut besar menonjol ke depan dan terguncang- guncang.

“Ha-ha-ha, nona Ciu, ilmu silatmu begitu lihai, jangan merendahkan diri. Melihat betapa sekarang engkau telah memperoleh kemajuan hebat, aku ingin sekali mencoba-coba. Mari, jangan bersikap sungkan, bukankah kita hanya mengadakan permainan bersama seperti latihan saja?”

Dia tertawa-tawa dengan sikap sombong sekali, seolah-olah sia seorang guru besar yang hendak memberi petunjuk dan latihan kepada seorang murid.

“Baiklah, Ma-ciangkun,” kata Kui Eng.

“Ma-ciangkun, harap jangan bersikap keras kepada puteriku!” tiba-tiba terdengar CiuWan-gwe berteriak kepada perwira yang menjadi sahabat baiknya itu.

Perwira Ma itu menoleh ke arah tuan rumah dan tertawa lebar.

“Heh-heh, jangan khawatir, aku akan bersikap lunak sekali terhadap puterimu!”

Dengan lagak yang gagah, Ma Cek Lung lalu memasang kuda-kuda di depan gadis itu sambil berkata.

“Nona Ciu, mari kita mulai. Kausambutlah seranganku yang pertama.”

Dengan sikap gagah dan pengerahan tenaga yang kuat, Ma Cek Lung membuka serangannya dengan pukulan tangan kanan ke arah pundak gadis itu. Memang perwira ini memiliki tenaga besar dan juga ilmu silatnya sudah termasuk lumayan. Akan tetapi dasar perwira mata keranjang yang sudah tergila-gila melihat wajah cantik dan bentuk tubuh yang menggairahkan dari Kui Eng, pukulannya itu berobah menjadi colekan ke arah bawah pundak, jadi ke arah dada gadis itu! Tentu saja Kui Eng menjadi terkejut bukan main. Tak disangkanya bahwa perwira itu akan menyerang seperti itu.

“Heh-heh!”

Ma Cek Lung sudah menyusulkan serangan tangan kirinya yang kembali melakukan colekan ke arah perut bawah! Ini sudah keterlaluan sekali, dan Kui Eng menjadi marah bukan main. Jelaslah bahwa perwira yang menjadi sahabat ayahnya ini hendak kurang ajar, apalagi melihat mulutnya menyeringai genit lalu terdengar desisnya berbisik, ‘Kau manis sekali...!’ dan susulan tangan kanannya yang kembali mencolek ke arah dada.

“Keparat!”

Kui Eng mendesis di antara giginya, dan dengan cepatnya, tubuhnya mengelak dan kedua tangannya bergerak cepat seperti dua ekor kepala ular mematuk. Ma Cek Lung tidak tahu apa yang terjadi, akan tetapi tiba-tiba saja tubuhnya menjadi kaku dan tidak dapat digerakkan lagi. Seperti sebuah arca batu, perwira Ma itu berdiri dengan tubuh agak merendah, tangan kanan dengan jari-jari seperti akan mencengkeram dan tangan kiri mencengkeram ke bawah, yaitu posisinya ketika hendak mencolek bawah perut dan dada tadi! Melihat betapa perwira tinggi besar itu kini diam seperti arca dalam keadaan kaku, semua orang terkejut! Para ahli maklum bahwa perwira itu telah menjadi korban totokan jalan darah yang amat hebat. Dan perwira itu tertotok dalam waktu baru dua tiga jurus saja! Sungguh sukar dipercaya ini, karena semua orang tahu bahwa Ma Ciangkun adalah seorang perwira tinggi, kepala pasukan keamanan Kanton yang tentu saja memiliki ilmu silat tinggi!

Kui Eng juga sadar bahwa ia tadi terlalu menurutkan hati yang marah karena sikap ceriwis dan kurang ajar dari komandan itu, maka kini melihat betapa perwira itu kaku oleh totokannya, iapun sadar bahwa tidak baik membikin malu perwira tinggi yang menjadi sahabat ayahnya ini. Maka iapun cepat menggerakkan kedua tangannya membebaskan totokan itu.

“Ma-ciangkun, maafkan aku...!” katanya lirih.

Ma Cek Lung dapat bergerak kembali. Mukanya menjadi merah sekali dan dia menjadi marah bukan main. Dia, kepala pasukan keamanan Kanton, yang biasanya ditakuti orang, kini dihina oleh seorang gadis muda di depan begitu banyak orang bahkan di depan para pembesar. Dia memang mata keranjang, akan tetapi kini dia dikuasai kemarahan yang memuncak sehingga dia lupa segala.

“Singgg...!”

Perwira ini sudah mencabut pedangnya dan mengancam dengan mengamangkan pedangnya di atas kepala.

“Bocah sombong, berani kau menghinaku?”

Dan tanpa banyak cakap lagi, perwira yang marah ini sudah menyerang Kui Eng dengan pedangnya. Hebat sekali serangan itu dan semua orang terbelalak karena merasa khawatir dan tegang, sama sekali tidak mengira bahwa pi-bu persahabatan itu berobah menjadi kemarahan sang perwira yang kini menggunakan pedang menyerang dengan sungguh-sungguh. Ciu Wan-gwe sendiri memandang dengan muka pucat, tidak tahu harus berbuat apa menghadapi peristiwa itu dan tentu saja dia khawatir sekali akan keselamatan puterinya.

Pedang itu menyambar dahsyat ke arah leher Kui Eng. Agaknya, di dalam kemarahannya karena merasa terhina, Ma-ciangkun hendak memancung leher Kui Eng! Akan tetapi, pedang itu hanya mengenai angin saja, karena dengan cepat sekali Kui Eng telah mengelak dengan langkah ke belakang.

“Ciangkun, ingatlah...!”

Kui Eng berkata, kaget dan juga penasaran melihat betapa perwira itu kini menyerang dengan senjata pedang, dengan sungguh-sungguh lagi, bukan sekedar pi-bu persahabatan lagi. Akan tetapi, luputnya serangan pertama ini seperti minyak disiramkan pada api, membuat kemarahan Ma Cek Lung makin berkobar. Pedangnya mengeluarkan suara berdesing ketika diputarnya dan dia sudah menyerang kalang kabut. Pedangnya berobah menjadi sinar bergulung- gulung dan menyambar-nyambar ke arah tubuh Kui Eng. Gadis ini terus mengelak, dengan kecepatan yang luar biasa dan sekali lagi ia mengingatkan Ma Cek Lung.

Dalam keadaan marah seperti itu, tentu saja Ma Cek Lung tidak mau menghentikan serangannya sebelum berhasil. Pedangnya menyambar semakin ganas seolah-olah perwira itu menghadapi dan menyerang seorang musuh besar yang harus dibunuhnya! Menghadapi serangan seperti ini, Kui Eng yang mempunyai watak galak dan keras itu menjadi penasaran dan marah sekali. “Plak...! Tranggg...!”

Pedang itu terlempar ke atas papan panggung dan tubuh perwira itupun terpelanting dengan keras. Semua orang ternganga dan terbelalak memandang ke atas panggung. Sekali ini, tidak ada seorangpun berani bertepuk tangan atas kemenangan Kui Eng, walaupun mereka terkejut, kaget dan juga kagum bukan main. Kini tidak ada yang menyangsikan lagi akan kehebatan ilmu kepandaian Ciu Kui Eng.

Ma Cek Lung tidak terluka parah, karena Kui Eng yang masih ingat bahwa ia berhadapan dengan seorang komandan, hanya menotok pergelangan tangan yang memegang pedang sehingga pedang itu terlepas, kemudian sebuah tendangan ke arah lutut kaki membuat perwira itu terpelanting. Akan tetapi karena pantatnya terbanting keras ke atas papan, rasa nyeri membuat dia meringis ketika bangkit dan mengambil pedangnya. Dia mengeluarkan suara makian yang diguman saja, matanya mendelik ke arah Kui Eng. Kemudian dia bangkit berdiri dan memandang ke arah Ciu Wangwe dengan mata melotot.

“Ciangkun, harap maafkan kelancangan anakku...”

Suaranya penuh permohonan. Akan tetapi Ma Cek Lung hanya mendelik, kemudian tiba-tiba membalikkan tubuhnya dan meloncat turun dari atas panggung, kemudian dengan langkah lebar tanpa pamit dia keluar dari situ untuk meninggalkan rumah keluarga Ciu dan langsung keluar. Wang-taijin yang tadi sudah merasa tidak suka karena kepala pengawalnya terluka, apalagi ketika mendengar bahwa tulang pundak pengawalnya itu patah-patah, melihat perginya Ma Cek Lung, dia juga bangun berdiri dan pergi dari situ tanpa pamit! Ciu Wan-gwe cepat menghampiri dan memberi hormat, mencoba untuk menahan sang pembesar. Akan tetapi Wang-taijin hanya mendengus, kemudian pergi dan langsung kembali ke Kanton. Para tamu juga merasa tidak enak, dan seorang demi seorang lalu berpamit meninggalkan tempat itu walaupun hidangan belum sempat disuguhkan semua. Hanya tinggal Lai-taijin

yang masih berada di situ karena ditahan-tahan oleh Ciu Wan-gwe.

“Harap taijin sudi memaafkan kami dan tolonglah keluarga kami dari kemarahan Wang-taijin dan Ma-ciangkun. Saya tidak akan melupakan budi kebaikan taijin.”

Berkali-kali Ciu Lok Tai memohon kepada wakil kepala daerah Kanton itu yang mengangguk-angguk sambil tersenyum-senyum, apalagi ketika hartawan itu menyerahkan sebuah kantong terisi potongan-potongan emas!

“Ah, tak perlu sungkan-sungkan, saudara Ciu,” katanya meringis malu- malu kucing.

“Akan kuusahakan agar kemarahan mereka mereda. Mereka tadi tentu hanya dikuasai oleh perasaan marah saja. Jangan khawatir. Biar aku pulang dulu dan eh... anu... persediaanku tinggal sedikit...”

Ciu Lok Tai tersenyum lega.

“Ah, jangan khawatir, taijin, akan saya kirim besok. Akan saya pilihkan yang murni dan paling baik.”

“Terima kasih, terima kasih...”

Sambil tersenyum ramah, pembesar itu lalu meninggalkan rumah keluarga Ciu dengan keretanya yang sudah menanti di luar.

Ciu Lok Tai lalu memanggil Gan Ki Bin dan Lok Hun, dua orang tamu bekas jagoan-jagoannya yang masih berada di situ. Dua orang ini juga merasa khawatir sekali dan segera mengikuti Ciu Wan-gwe bersama puterinya yang masuk ke dalam ruangan belakang. Setelah tiba di situ, Ciu Wan-gwe menegur puterinya.

Kui Eng mengerutkan alisnya, tidak senang disalahkan oleh ayahnya. “Ayah, apakah aku harus membiarkan saja orang menghinaku dan kurang

ajar kepadaku? Jangankan baru para pembesar Kanton, biar dia dari istana sekalipun, kalau kurang ajar tentu akan kuhajar dia!”

“Ssttt, tahan tuh mulutmu!”

Ayahnya membentak, akan tetapi tidak melayani anaknya yang sudah pergi meninggalkan ruangan itu dengan marah. Dia tahu akan kekerasan hati puterinya dan melihat betapa lihainya anak itu sekarang, diapun tidak mau membikin ribut. Bagaimanapun juga, setelah Tee-tok pergi, dia harus mengandalkan kepandaian puterinya itu untuk keselamatan dirinya dan keluarganya.

“Harap kalian suka bermalam di sini, dan besok tolong kirimkan candu yang pilihan kepada Lai-taijin. Hatiku masih tegang dan khawatir, harap kalian temani aku malam ini.”

Pada sore hari itu, seorang pemuda memasuki sebuah rumah makan di kota Tung-kang. Pemuda ini berpakaian sederhana sekali, membawa sebuah buntalan pakaian, tubuhnya sedang tegap, dadanya bidang dan wajahnya yang tampan membayangkan kesabaran dan kebijaksanaan. Pakaiannya seperti pakaian seorang petani, akan tetapi melihat gerak-geriknya, dia seperti bukan petani dusun, dan cara dia menerima sambutan pelayan dan duduk di kursinya menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang sopan. Pemuda ini memang bukan orang sembarangan walaupun nampak sederhana sekali, karena dia adalah Tan Ci Kong!

Baru saja Ci Kong memasuki kota Tung-kang, tempat kelahirannya, dan begitu memasuki pintu gerbang kota itu, hatinya dicekam rasa haru. Dia langsung mengunjungi makam ayahnya. Akan tetapi dia tidak menangis ketika bersembahyang di depan kuburan ayahnya yang sederhana. Juga dia tidak berjanji apa-apa, karena bimbingan yang bijaksana dari manusia sakti Siauw- bin-hud membuat batin Ci Kong bersih dari pada benci dan dendam. Dia tahu bahwa ayahnya tewas dalam tahanan karena berani menentang pemerintah, dan dia masih ingat betapa ayahnya disiksa oleh seorang perwira gendut di rumah hartawan Ciu di kota Tung-kang. Akan tetapi dia tidak menaruh hati dendam. Berulang kali Siauw-bin-hud memberi wejangan kepadanya, meyakinkan hatinya bahwa dendam dan benci adalah penyakit yang meracuni badan dan batin sendiri.

Sebagai seorang pendekar, tentu saja dia boleh bertindak memper-gunakan kepandaiannya untuk menentang yang jahat dan membela yang benar, akan tetapi semua tindakan itu sama sekali salah kalau dilandasi kebencian dan dendam.

Setelah duduk bersila sampai berjam-jam lamanya di depan kuburan ayahnya, dan tahu-tahu siang telah berganti senja, diapun meninggalkan makam itu, dan karena perutnya terasa lapar, dia lalu memasuki sebuah rumah makan di ujung jalan. Tidak ada seorangpun di kota itu yang mengenalnya. Dia dahulu baru berusia tujuh tahun ketika pergi meninggalkan kota itu, dan kini dia telah berusia hampir duapuluh tahun. Tentu saja tidak ada yang tahu bahwa pemuda sederhana ini adalah putera tunggal Tan Siucai atau Tan Seng yang namanya dikenal oleh seluruh penduduk Tung-kang, bahkan terkenal pula sampai ke Kan-ton sebagai seorang sasterawan miskin yang gagah berani dan patriotik. Terutama sekali kaum patriot dan orang-orang gagah, amat menghormati nama Tan Siucai itu.

Restoran itu tidak begitu ramai. Ketika Ci Kong masuk dan duduk di sudut, di situ hanya ada empat orang yang sedang makan minum di meja tengah, akan tetapi ketika mereka menyebut-nyebut nama Ciu Wan-gwe mengingatkan dia akan hartawan yang pernah memukuli ayahnya bersama seorang perwira gendut, dan nama Ciu Wan-gwe memang dikenal di seluruh penduduk Tung- kang, termasuk dia sendiri. Sambil diam-diam makan pesanan nasi dan sayur, tanpa menoleh, Ci Kong memasang telinga mendengarkan.

“Luar biasa sekali puteri Ciu Wan-gwe itu. Betapa mudahnya ia mengalahkan pria-pria yang lihai itu!”

“Benar, ia memang cantik jelita, lihai dan kaya raya. Akan tetapi aku berani tanggung ia tidak akan mudah memperoleh jodohnya.”

“Eh, kenapa kau bilang begitu, A-kao?”

“Bayangkan saja. Siapa berani sembarangan melamar anak orang yang paling kaya di Tung-kang? Pula, kepandaiannya demikian hebat, salah-salah yang menjadi suaminya bisa dibunuhnya!”

“Lho! Kenapa begitu?”

“Masa kau tidak tahu, A-piu! Ayahnya masih gila perempuan, tentu memikirkan diri sendiri, mana mau memikirkan jodoh anaknya?”

“Kabarnya banyak korban gadis-gadis dan istri-istri muda di tangan Ciu Wan-gwe,” terdengar suara lirih akan tetapi masih dapat ditangkap oleh telinga Ci Kong.

“Bahkan enci adik Phoa yang menjadi kembang di kampung belakang pasar itupun kini menjadi miliknya.”

“Memang benar, baru beberapa hari yang lalu. Habis, ayahnya menjadi setan candu sih, maka anak-anaknya ditukar dengan candu.”

“Menjijikkan benar! Kaki tangan Ciu Wan-gwe itu selalu mengincar keluarga yang ada wanita-wanita cantiknya, lalu kepala keluarga dilolohi candu sampai menjadi ketagihan, dan kalau sudah begitu, anak atau bininya sendiri akan dijual untuk memperoleh candu.”

“Banyak orang bunuh diri setelah dipaksa melayani hartawan itu, yang oleh suaminya ditukar dengan candu.”

“Ssttt, sudahlah. Untuk apa membicarakan hal itu? Kalau terdengar anaknya, hiiiih, sekali tangan yang kecil mungil itu bergerak, nyawa kita akan melayang!”

Mendengar percakapan ini, timbul kemarahan dalam hati Ci Kong. Kiranya hartawan Ciu itu masih saja mengedarkan candu yang dulu amat ditentang ayahnya. Dan di sepanjang perjalanan bersama susiok-couwnya, diapun mendengar betapa candu makin mencengkeram kehidupan rakyat jelata. Ayahnya juga tewas akibat menentang candu yang merusak rakyat. Diam-diam dia mengepal tinju. Aku harus memperingatkan Ciu Wan-gwe itu, pikirnya. Bukan untuk membalas dendam ayahnya. Sama sekali tidak. Hanya untuk memperingatkan hartawan itu agar jangan mengedarkan candu di antara rakyat jelata, dan membuka mata hartawan itu betapa buruk akibatnya bagi rakyat. Kalau hartawan itu tidak mengindahkan peringatannya, baru dia akan turun tangan menghajarnya agar jera dan menurut.

Akan tetapi, Ci Kong tidak mau bertindak sembrono. Sebelum melaksanakan niatnya, malam itu dia melakukan penyelidikan, bertanya-tanya pada penduduk di perkampungan. Dan apa yang didengarnya dari keterangan orang-orang kampung bahkan melampaui apa yang didengarnya di restoran itu. Ciu Wan-gwe memang menjadi semacam raja kecil di Tung-kang, mengandalkan hartanya, mengandalkan jagoan-jagoan dan tukang pukulnya, dan mengandalkan pengaruhnya terhadap semua pembesar setempat, bahkan para pembesar di kanton. Hampir semua penduduk membencinya, tentu saja kecuali mereka yang memperoleh keuntungan dari hartawan ini.

Dan makin sedih hati Ci Kong mendengar dan melihat kenyataan bahwa sebagian besar penduduk Tungkang telah tercengkeram candu! Dan tempat pemadatan tersebar di seluruh kota. Bahkan ketika dia berjalan-jalan, bau madat terbakar menyambut hidungnya dimana-mana, bau yang memuakkan sekali. Banyak pula dilihatnya orang-orang yang kurus kering, dengan pandang mata sayu, dengan senyum aneh di bibir, berjalan seperti mayat hidup tanpa semangat. Mereka itulah pecandu-pecandu yang sudah berat keadaannya, karena racun candu sudah memenuhi tubuh sampai ke darahnya.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ci Kong sudah keluar dari rumah penginapan dimana dia bermalam. Buntalan pakaiannya dia tinggalkan di kamar penginapan itu, dan dia lalu berjalan kaki menuju ke rumah gedung megah milik Ciu Wan-gwe. Pernah satu kali dia memasuki gedung itu, duabelas tahun yang lalu, ketika dia mohon ampun untuk ayahnya yang disiksa di situ. Dia mengepal tinju dan menekan hatinya.

“Tidak, bukan untuk itu aku datang ke sana!” bantahnya sendiri.

Ketika dia tiba di depan pintu gerbang gedung itu, ternyata pintu gerbang itu telah terbuka. Dengan tabah dia lalu masuk begitu saja karena tidak nampak ada orang. Dia akan berterus terang minta bertemu dengan Ciu Lok Tai dan langsung saja memberi peringatan kepada hartawan itu untuk menyadarkannya.

“Heii! Siapa kamu dan mau apa kamu masuk ke sini?”

Tiba-tiba terdengar teguran suara yang bengis. Ci Kong mengangkat muka dan melihat dua orang laki-laki baru saja keluar dari dalam gedung. Seorang yang bertubuh tinggi besar, di pinggangnya tergantung sebatang pedang, sikapnya angkuh dan galak. Orang kedua bertubuh gendut, menyeringai dengan penuh ejekan, dan di pinggang orang ini tergantung sebatang payung sehingga nampak lucu sekali.

Mereka ini berusia kurang lebih limapuluh tiga tahun dan melihat pakaian mereka yang rapi, dengan topi batok hitam, mudah diduga bahwa mereka tentu orang-orang yang memiliki kedudukan. Yang gendut itu membawa sebuah peti kecil yang berukir indah, dan yang menegurnya adalah si tinggi besar yang galak.

Ci Kong tidak tahu bahwa dua orang ini adalah jagoan-jagoan yang pernah bekerja sebagai pengawal-pengawal Ciu Wangwe dan yang kini  sudah menjadi pengawal di kota Kanton. Mereka adalah Gan Ki Bin, yang tinggi besar, dan Lok Hun, yaitu yang berperut gendut.

Dengan sikap tenang, Ci Kong menjura kepada dua orang itu dan menjawab dengan suara tenang pula.

“Maaf, karena tidak ada orang, maka saya masuk ke dalam pintu gerbang. Saya datang untuk bertemu dengan Ciu Lok Tai, harap jiwi suka membantu saya dan memberi tahu kepada Ciu Wan-gwe.”

“Kau datang mau pinjam uang?” tanya Lok Hun yang gendut perutnya. Tentu saja Ci Kong merasa marah, akan tetapi dia tetap tenang. Sebagai murid Siauw-bin-hud, tidak mudah kemarahan menguasai batin pemuda ini. Dia menggeleng kepalanya tanpa menjawab.

“Kalau tidak mau hutang, apakah mengemis?” kini Gan Ki Bin yang membentak setelah mengamati pakaian pemuda itu.

“Seorang petani saja mau apa minta bertemu dengan Ciu Wan-gwe, kalau bukan mau hutang atau mengemis?”

Pertanyaan ini lebih menyakitkan hati lagi, akan tetapi sungguh luar biasa pemuda itu. Dia tetap tenang dan sama sekali tidak kelihatan marah. Akan tetapi, seperti juga tadi, dia menggeleng kepala.

“Bocah dusun! Kalau bukan hutang atau mengemis, habis mau apa orang macam engkau ini berani pagi-pagi datang mengganggu Ciu Wan-gwe? Agaknya engkau mempunyai niat busuk. Mau mencuri, ya?”

“Urusan saya tidak ada sankut pautnya dengan ji-wi. Harap tolong panggilkan Ciu Wan-gwe, biar saya bicara sendiri dengan dia.”

“Aku tidak sudi memanggilkan!” bentak Gan Ki Bin.

“Dan aku tidak memperbolehkan kau masuk!” bentak Lok Hun.

Keduanya siap untuk memukul pemuda dusun yang berani mengganggu sepagi itu. Mereka baru saja keluar dari dalam gedung Ciu Wan-gwe sambil membawa peti berisi candu murni untuk diserahkan kepada Lai-taijin, wakil kepala daerah Kanton.

Karena pintu gerbang itu terbuka lebar-lebar, maka keributan yang terjadi itu menarik perhatian orang-orang yang lewat, dan sebentar saja sudah banyak orang berdiri di luar pintu dan nonton keributan itu. Di antara mereka terdapat seorang pemuda yang bertubuh tinggi besar dan berpakaian seperti seorang ahli silat. Pemuda ini berusia kurang lebih duapuluh tahun, tubuhnya tinggi besar, sepasang matanya mencorong penuh wibawa dan dia tersenyum- senyum melihat keributan yang terjadi di sebelah dalam pintu gerbang itu.

Pemuda itu bukan lain adalah Ong Siu Coan! Seperti kita ketahui, Ong Siu Coan diijinkan turun gunung oleh Thian-tok dan bersama sutenya, Gan Seng Bu, dia turun gunung dan melakukan perjalanan berpisah. Dia hendak mencari Koan Jit, suhengnya yang melarikan Giok-liong-kiam. Akan tetapi di sepanjang perjalanan, Ong Siu Coan mendengar tentang pemberontakan yang terjadi dimana-mana. Juga dia banyak mendengar tentang orang-orang kulit putih yang menyelundupkan candu dan meracuni rakyat dengan benda itu.

Sejak kecil dia terlahir di antara orang-orang yang berjiwa patriot, yang menentang pemerintah Mancu yang dianggap sebagai penjajah. Maka, melihat kelakuan orang-orang kulit putih itu, dia menjadi marah sekali. Apalagi melihat betapa madat telah mendatangkan kesengsaraan yang amat hebat bagi rakyat jelata. Dia yang sejak kecil bercita-cita menjadi patriot, merasa tidak senang dan terutama hal ini ditujukan kepada pemerintah Mancu yang dianggapnya bersekongkol dengan orang-orang kulit putih untuk meracuni dan merusak rakyat demi untuk keuntungan mereka sendiri.

Ketika dia tiba di kota Tung-kang, dia melakukan penyelidikan dan mendengar bahwa Ciu Wan-gwe menjadi orang terpenting dan terkaya, orang yang menjadi pedagang candu dan suka berhubungan dengan para pejabat dan orang-orang kulit putih. Dia menjadi tertarik dan ingin menyelidiki. Kebetulan sekali, pada pagi hari itu, dia melihat ribut-ribut ketika lewat di depan gedung Ciu Wan-gwe, dan ketika dia menyelinap di antara rombongan orang yang berkerumun di luar pintu gerbang, dia melihat pula keributan yang terjadi di antara seorang pemuda gagah dengan dua orang yang agaknya merupakan petugas-petugas keamanan di gedung itu. Maka dengan hati tertarik sekali, dia mengikuti peristiwa keributan itu, dimana si pemuda gagah ingin bertemu dengan Ciu Wan-gwe dan disambut dengan ucapan-ucapan bernada menghina oleh dua orang petugas itu.

Melihat peristiwa itu, segera timbul kecondongan di hati Siu Coan untuk membantu pemuda gagah itu, akan tetapi dia hanya nonton sambil tersenyum, karena dia dapat menduga bahwa pemuda yang nampak tenang dan berani itu tentu bukan orang sembarangan. Bukan orang sembarangan kalau sudah berani menentang Ciu Wan-gwe yang amat ditakuti oleh penduduk kota itu. Maka diapun hanya menyelinap ke depan saja untuk dapat nonton lebih jelas. Sementara itu, melihat sikap dua orang yang kasar dan menghinanya, Ci Kong mengerutkan alisnya, akan tetapi dia tetap tenang dan   sama sekali

tidak memperlihatkan rasa tidak senangnya.

“Bukankah ji-wi hanya merupakan orang-orangnya Ciu Wan-gwe saja? Kenapa ji-wi bersikap begini kasar? Aku ingin berjumpa dan bicara dengan Ciu Wan-gwe sendiri, tidak ada sangkut pautnya dengan ji-wi. Kalau ji-wi tak mau memanggilkan juga tidak mengapa, aku bisa masuk dan mencarinya sendiri.”

“Apa? Kau berani memaksa masuk?” bentak Gan Ki Bin yang bertubuh tinggi besar.

“Apa kau sudah kepingin mampus?”

“Hayaaaa, bocah petani busuk ini perlu apa dilayani?” Lok Hun menyeringai.

“Pukul saja biar dia tahu rasa. Anjing kalau tidak cepat dipukul tentu akan menggonggong terus, pukul dia biar dia lari sambil mengempit buntutnya, ha- ha-ha…!”

Gan Ki Bin yang memang wataknya berangasan, mendengar kata-kata kawannya itu, mengayun tangan kirinya yang besar dan berat, menampar ke arah muka Ci Kong sambil berkata.

“Pergilah, kau menjemukan kami!”

Tamparan itu kuat sekali dan kalau mengenai pipi orang tentu akan membuat pipi itu bengkak, bahkan mungkin giginya akan rontok. Memang Gan Ki Bin ini memiliki tenaga yang besar, sesuai dengan tubuhnya yang tinggi besar, dan karena dia memiliki ilmu silat lumayan, maka gerakannya itu selain kuat, juga amat cepat.

“Wuuuttt...!”

Akan tetapi pukulan itu lewat di samping muka Ci Kong, karena pemuda ini dengan sedikit miringkan kepala saja sudah dapat mengelak. Karena tanparannya luput, Gan Ki Bin menjadi marah sekali. Dia tahu bahwa di luar pintu gerbang banyak orang nonton, dan memang dia dan kawannya sengaja membiarkan orang-orang itu nonton agar mereka melihat betapa dia dan kawannya menghajar pemuda lancang ini. Akan tetapi, tamparannya luput dan hal ini dianggap memalukan dirinya.

“Bocah kampungan, berani engkau melawanku!”

Bentak Gan Ki Bin dengan berang. Demikianlah watak orang yang mengandalkan kekuasaan untuk menekan yang bawah. Orang dupukul mengelak dianggap melawan. Maunya sih orang-orang macam Gan Ki Bin dan Lok Hun ini, kalau memukul orang lain supaya orang itu menerima saja, jangan sekali-kali mengelak atau membakang!

Karena tanparannya luput, Gan Ki Bin menjadi semakin marah dan kini tangan kanannya yang dikepal besar dan kuat itu menonjok. Jotosan yang amat keras meluncur ke arah dagu Ci Kong, yang kalau tepat mengenai sasaran dapat membuat orang seketika roboh pingsan dengan tulang rahang retak atau patah-patah!

“Wuuuttt...!”

Untuk kedua kalinya, pukulan itu luput karena dapat dielakkan dengan amat mudahnya oleh Ci Kong. Hal ini membuat Gan Ki Bin menjadi semakin marah.

“Hemm, engkau manusia yang tidak patut dikasihani lagi!” bentaknya dan majulah dia dengan berangnya, menghujankan serangan pukulan dan tendangan.

Mengalah ada batasnya, demikian pikiran Ci Kong, dan melihat sebuah pukulan keras menuju ke arah dadanya, dia menyambutnya dengan sentilan jari telunjuk.

“Tukk...!”

Telunjuk itu menyentil ke arah kepalan tangan, dan tiba-tiba orang tinggi besar itu memekik kesakitan.

“Aduh-duh-duhh...!”

Dengan tangan kirinya, dia memegang dan menggosok-gosok kepalan tangan kanan yang kena disentil jari telunjuk pemuda itu karena terasa nyeri bukan main, rasa nyeri yang menjalar melalui lengan itu dan seperti menusuk- nusuk jantung.

“Aku tidak ingin ribut dengan ji-wi, melainkan hendak bertemu dengan Ciu Wan-gwe.”

Ci Kong masih mencoba mengendurkan mereka dengan kata-kata. Akan tetapi kini Lok Hun yang gendut itupun sudah menjadi marah sekali melihat betapa kawannya tidak berhasil malah kesakitan, dan melihat betapa wajah orang-orang yang berada di luar pintu gerbang berseri dan senyum-senyum bermunculan di antara mereka!

“Anjing ini tidak boleh diberi ampun!”

Bentaknya, dan tangan kanannya sudah melolos senjata payungnya yang aneh! Juga Gan Ki Bin sudah mencabut pedangnya! Kini dua orang itu menghadapi Ci Kong dengan senjata di tangan dan sikap mereka mengancam sekali! Melihat betapa keributan itu kini memuncak dan dua orang yang mereka kenal amat galak dan kejam itu kini mencabut senjata, semua penonton merasa khawatir akan keselamatan pemuda itu.

Hanya Siu Coan yang masih nonton sambil tersenyum, karena dia mengenal orang pandai dan yakin bahwa biarpun bersenjata, dua orang galak itu tidak akan mampu manandingi pemuda tenang itu. Yang menarik perhatian Siu Coan adalah peti kecil yang dikempit di tangan kiri si gendut. Dia dapat menduga bahwa peti kecil itu tentu berisi benda yang amat berharga dan timbul niatnya untuk memiliki peti kecil itu. Dia mulai sekarang harus mengumpulkan harta kekayaan karena dia maklum bahwa perjuangan yang dicita-citakannya melawan penjajah membutuhkan banyak tenaga pasukan, dan untuk itu diperlukan sekali harta untuk pembiayaannya.

“Hemm, kalian mencari penyakit sendiri,” kata Ci Kong.

Kini maklum bahwa sikap lembut dan damai tidak mungkin dapat mempengaruhi dua orang galak ini. Diapun bersiap untuk menghajar dua orang ini agar jera, agar lain kali tidak lagi bersikap sewenang-wenang menghina orang lain.

Dua orang pengawal itu tadinya mengharapkan pemuda itu ketakutan agar mereka dapat menghinanya untuk menebus kekalahan tadi. Akan tetapi melihat sikap Ci Kong malah menantang, keduanya segera menggerakkan senjata dengan niat membunuh! Gan Kin Bin sudah menggerakkan pedangnya membacok ke arah kepala Ci Kong, sedangkan dari sebelah kiri, Lok Hun menggerakkan senjata payungnya yang menyembunyikan pedang sebagai gagang itu untuk menusuk perut pemuda itu! Serangan maut yang dilakukan hampir berbareng.

Akan tetapi, betapapun lihainya, tentu saja dua orang kasar ini sama sekali bukan tandingan pemuda yang sudah digembleng oleh Siauw-bin-hud sampai matang itu. Biarpun diserang dengan pedang dan payung pedang, Ci Kong tidak menjadi gentar atau gugup. Sikapnya masih tenang saja, akan tetapi ketika kedua senjata itu sudah dekat menyambar tubuhnya, tiba-tiba tubuhnya berkelebat dan lenyap dari depan kedua orang pengeroyoknya. Dia telah mempergunakan ginkang yang amat hebat, dan tahu-tahu dua orang pengeroyok yang kehilangan lawan itu, sebelum mereka sempat menarik kembali senjata mereka, mengeluarkan pekik kaget dan disusul suara berkerontangan karena senjata mereka terlepas dari tangan yang tiba-tiba saja menjadi lemas kehilangan tenaga ketika Ci Kong menampar pundak kanan mereka.

Ci Kong yang memang ingin memberi hajaran kepada dua orang kasar itu, melanjutkan dengan tamparan pada leher Gan Ki Bin yang kembali mengeluarkan pekik kesakitan dan tubuhnya terpelanting ke atas lantai. Lok Hun juga terkejut, akan tetapi tahu-tahu lututnya telah ditendang dan diapun roboh menelungkup, peti kecil yang dikempitnya tadi terjatuh. Dia teringat akan benda itu dan dengan nekat dia lalu menubruk petinya. Gan Ki Bin sudah bangkit lagi, menubruk, dan dia disambut dengan sebuah tanparan yang membuat dia roboh kembali dengan kepala menghantam tihang.

“Brukkk...!” "Brukkk

Dan tubuh si tinggi besar ini terkulai dalam keadaan pingsan. Melihat ini, Lok Hun hendak melarikan diri ke dalam, untuk mencari bantuan sambil mengempit peti kecilnya, akan tetapi tiba-tiba gerakannya terhenti karena punggung bajunya telah dicengkeram oleh tangan kanan Ci Kong. Sekali disentakkan, tubuh gendut itupun terpelanting dengan punggung baju masih dicengkeram dan peti kecil itupun terlepas untuk kedua kalinya. Sekali ini, tutupnya terbuka dan sebagian isinya yaitu candu murni, tercecer.

“Haiiit…!”

Tiba-tiba semua orang menjadi kaget, termasuk Ci Kong, karena seperti seekor burung saja, dari luar pintu gerbang melayang tubuh seorang gadis cantik. Dari luar pintu gerbang, tubuh itu melayang seperti terbang melampaui kepala para penonton di depan pintu, dan kini tubuh itu langsung menerjang Ci Kong dengan bentakan nyaring dan halus tadi. Ci Kong masih mencengkeram punggung baju Lok Hun dengan tangan kanan, dan melihat serangan yang demikian aneh dan cepat, diapun menyambut dengan tonjokan tangan kirinya.

Gadis yang cantik jelita dengan pakaian mewah itu cepat mengembangkan kedua lengannya, yang kiri memukul ke arah dada dengan tangan terbuka, sedangkan tangan kanannya siap menotok atau menangkis.

Sekali ini Ci Kong terkejut. Gadis itu memiliki ginkang yang amat luar biasa, dan itu saja sudah membuktikan bahwa dia berhadapan dengan seorang gadis yang lihai bukan main. Dan dia terpesona oleh kecantikan yang menyolok itu. Dalam keadaan tubuh di udara, gadis itu kini malah mengancamnya dengan serangan tangan kiri ke arah dada, bukan sembarangan serangan, karena dari tangan kiri gadis itu keluar tenaga yang mendatangkan angin bercuitan! Terpaksa dia melemparkan tubuh Lok Hun ke kanan.

“Bresss...!”

Dengan kerasnya tubuh si gendut itu menabrak dinding dan diapun terkulai lemas, pingsan seperti temannya yang juga sudah setengah mampus itu.

“Dukkk!”

Dua tenaga sinkang yang sama kuatnya, yang disalurkan melalui tangan masing-masing, bertemu di udara. Dan akibatnya, tubuh dara itu terpental sampai jauh ke belakang dimana secara indah sekali ia berjungkir balik dan turun ke atas tanah dengan tegak. Ci Kong sendiri merasa betapa tangannya tergetar hebat oleh pertemuan tenaga tadi, dan mengertilah dia bahwa gadis itu benar-benar lihai bukan main. Di lain pihak, gadis itupun terkejut dan maklum bahwa pemuda yang mampu menghajar dua orang kepercayaan ayahnya sampai jatuh pingsan ini adalah seorang yang amat lihai, maka iapun mengamati dengan penuh perhatian.

“Keparat, berani kau mengacau rumah kami! Siapa kau?” bentak gadis itu yang ternyata adalah Ciu Kui Eng.

Sebagai murid datuk sakti Tee-tok yang sudah tamat belajar, tentu saja Ciu Kui Eng lihai sekali dan tingkat kepandaiannya tidak berada terlalu jauh di bawah tingkat Ci Kong.

Ci Kong juga merasa heran. Kiranya gadis cantik yang amat lihai ini masih keluarga Ciu Wan-gwe, dan tiba-tiba saja teringatlah dia akan peristiwa duabelas atau tigabelas tahun yang lalu. Ketika ayahnya pergi memenuhi panggilan Ciu Wan-gwe untuk membuatkan tulisan indah, dia menyusul dan melihat ayahnya dihajar oleh Ciu Wan-gwe dan seorang perwira. Ayahnya itu agaknya akan dibunuh dan mungkin dia sendiripun akan dibunuh oleh perwira itu, kalau saja tidak muncul seorang anak perempuan yang dengan beraninya menentang hartawan yang menjadi ayahnya itu untuk melepaskan ayahnya dan dia sendiri! Dan gadis cilik itu dahulu mencelanya karena dia berlutut mintakan ampun untuk ayahnya. Mengertilah dia bahwa agaknya inilah gadis cilik yang sudah menunjukkan sikap hebat dahulu itu, kini telah menjadi seorang dara yang selain cantik jelita, juga amat gagah perkasa. Maka, wajah Ci Kong menjadi merah dan diapun cepat menjura.

“Maaf, aku datang bukan untuk mengacau. Aku ingin bertemu dan bicara dengan Ciu Wan-gwe, akan tetapi dua orang ini selain melarangku, juga menghina bahkan menyerangku.”

Terdengar suara hiruk-pikuk, dan bermunculanlah pengawalpengawal dari depan dan belakang yang jumlahnya belasan orang. Mereka itu sudah mencabut senjata dan mengurung pendapa gedung itu. Melihat datangnya banyak pengawal, para penonton di depan pintu gerbang menjadi panik dan tadipun para pengawal sudah mendorong mereka ke kanan kiri ketika sebagian dari mereka datang dari luar. Para penonton itu menjauhkan diri, masih nonton akan tetapi dari jarak jauh.

“Bohong! Dia bohong, nona!” tiba-tiba terdengar si gendut Lok Hun berseru.

Si gendut ini hidungnya berdarah dan dahinya membenjol sebagai akibat menubruk dinding tadi dan kini dia sudah siuman. Dan begitu sadar tadi, dia mencari-cari peti kecil terisi madat murni. Akan tetapi peti kecil itu telah lenyap. Karena itu, dia cepat membantah ketika Ci Kong membela diri di depan nona majikannya.

“Dia datang tentu untuk merampas peti kecil berisi madat murni yang kami bawa itu!”

Kui Eng mengerutkan alisnya. Dia tiba-tiba memandang penuh perhatian kepada pemuda ini, seorang pemuda petani akan tetapi yang ternyata memiliki kepandaian amat tinggi. Dan anehnya, ia merasa seperti pernah mengenal pemuda ini, namun lupa lagi entah kapan dan dimana.

“Benarkah engkau datang hanya untuk mencuri sepeti kecil madat?” bentaknya kepada Ci Kong.

Ci Kong menggeleng kepala.

“Aku paling benci madat, untuk apa aku merampas madat?”

Sementara itu, Lok Hun yang kehilangan madat itu menjadi khawatir sekali, lalu dia keluar bertanya-tanya. Di antara penonton ada yang melihat bahwa peti kecil itu tadi dilarikan seorang pemuda yang sebaya dengan Ci Kong. Mendengar ini, Lok Hun berlari memasuki pintu gerbang dimana Ci Kong masih dihadapi Kui Eng dan dikurung oleh para pengawal.

“Nona, benar saja! Dia sengaja melawan kami, dan seorang temannya telah mengambil madat itu dan dilarikan. Keroyok dia! Tangkap dan paksa dia mengaku dimana candu itu disembunyikan temannya!”

Teriakan ini menggerakkan para pengawal yang segera mengeroyok Ci Kong. Mereka menggunakan golok dan pedang, dan bagaikan hujan senjata- senjata tajam itu menyambar-nyambar ke arah Ci Kong. Karena merasa tidak perlu lagi berdebat, Ci Kong mengamuk. Kaki tangannya bergerak seperti angin cepatnya dan sebentar saja, enam orang pengawal terlempar ke kanan kiri. Melihat ini, Kui Eng merasa kagum dan tertarik, maka iapun cepat maju sendiri, menyerang pernuda itu dengan kedua tangan kosong. Akan tetapi dua tangan kosongnya itu jauh lebih lihai daripada belasan golok dan pedang para pengawal. Kedua tangan bercuitan seperti melengking-lengking ketika menyambar dan tubuh dara itupun bergerak secepat burung wallet menyambar-nyambar. Ci Kong terpaksa harus mencurahkan seluruh perhatiannya menghadapi serangan-serangan gadis ini yang benar-benar amat berbahaya, sedangkan serangan para pengawal yang mengeroyoknya cukup dihalaunya kalau sudah dekat saja.

Terjadilah pengeroyokan yang seru, dimana Ci Kong yang berkelahi dengan Kui Eng itu dikeroyok dan dikurung dengan ketat. Bahkan kini datang sepasukan keamanan kota yang telah diberi tahu dan pemuda itu dikurung oleh musuh yang tidak kurang dari limapuluh orang jumlahnya. Andaikata di situ tidak ada Kui Eng, agaknya dengan mudah Ci Kong akan merobohkan seluruh pengeroyoknya. Akan tetapi, kelihatan Kui Eng membuat dia terdesak dan terhadap gadis puteri Ciu Wan-gwe ini Ci Kong tidak sampai hati untuk menggunakan tangan maut! Dia masih teringat bahwa bagaimanapun juga, dapat dikatakan bahwa gadis ini pernah menyelamatkan nyawanya dan nyawa ayahnya di gedung ini duabelas tahun yang lalu.

Sementara itu, Ong Siu Coan yang melarikan peti kecil, setelah tiba di sebuah parit yang sunyi, lalu membuka peti dan memeriksa isinya. Tadipun dia melihat peti itu terbuka dan isinya benda hitam-hitam yang tidak dikenalnya. Kini dia memeriksanya dan bukan main kecewanya ketika mendapat kenyataan bahwa peti itu tidak terisi benda berharga seperti yang diduganya, melainkan benda yang diduganya tentu candu yang dihebohkan itu. Dia pernah mendengar tentang madat, maka walaupun belum pernah melihat sendiri, dia dapat menduga dari baunya bahwa ini tentu madat. Dia sudah hendak membuang peti itu ketika nampak tumpukan tahi kering di parit itu. Dia tersenyum nakal, lalu sebagian dari candu itu dibuangnya di parit dan sebagai gantinya, dia menggunakan kayu untuk mengambil kotoran itu dan mencampurnya dengan sisa madat. Karena benda itu warnanya hitam, maka kotoran itupun dapat bercampur dan tidak kelihatan lagi. Peti kecil itu masih penuh madat, hanya bedanya, madatnya kini tidak murni lagi bahkan telah bercampur tahi kering!

Ketika Siu Coan kembali ke tempat tadi, dia terkejut melihat betapa pemuda perkasa itu telah dikurung oleh puluhan orang pengawal, dan perkelahian sengit dan seru masih terjadi antara pemuda itu dengan gadis cantik yang tadi datang menyerang.

Siu Coan meloncat ke depan, melemparkan peti kecil ke tempat semula dan tanpa diminta, diapun mengamuk. Tubuh para pengeroyok bergelimpangan seperti sekumpulan daun diamuk badai! Dan akibat amukannya memang hebat dan menggetarkan hati para pengeroyok. Berbeda dengan Ci Kong yang merobohkan para pengeroyok tanpa membunuh atau mendatangkan luka parah, semua orang yang roboh oleh hantaman Siu Coan ini tentu roboh untuk tidak bangun kembali karena mereka tewas oleh pukulan-pukulan maut yang disebar Siu Coan! Tentu saja para pengawal menjadi gentar dan kepungan itupun menjadi kocar-kacir.

“Sobat yang gagah, jangan takut aku membantumu!”

Siu Coan berseru dengan gembira ketika dia berhasil mendekati pemuda itu dan diapun menubruk ke depan menyerang Kui Eng. Gadis ini terkejut. Kiranya pemuda kedua yang baru datang ini tidak kalah lihai dibandingkan pemuda pertama. Ketika ia menangkis pukulan pemuda jangkung itu, lengannya terasa dingin sampai meresap ke tulang. Dara inipun maklum bahwa kepandaian dua orang pemuda ini sungguh hebat, dan kalau ia sendiri yang melawan mereka, akan sukar memperoleh kemenangan.

Melihat munculnya seorang pemuda bertubuh jangkung yang membantunya dan membunuh banyak pengawal, Ci Kong terkejut dan tidak senang. Pemuda yang datang ini memang gagah perkasa, akan tetapi hatinya terlalu kejam, menyebar maut seperti itu, pikirnya. Diapun diam saja tidak menjawab, hanya mengambil keputusan untuk segera pergi saja agar pemuda jangkung itu tidak membunuh orang lebih banyak lagi.

“Dar-darr...!!”

Siu Coan dan Ci Kong terkejut sekali, dan cepat mereka menggunakan ginkang untuk berloncatan mengelak ketika terdengar letusan-letusan itu. Mereka menengok dan kiranya dari dalam gedung itu keluar seorang laki-laki berusia enampuluh tahun lebih, berpakaian mewah dan di tangan kanan orang ini nampak sepucuk pistol yang masih mengeluarkan asap. Orang itu membidik-bidikkan pistolnya, mencari-cari dua orang pemuda itu yang dengan cerdik telah berloncatan di antara para pengawal sehingga sukarlah bagi orang itu untuk menembak lagi.

“Sobat, mari kita pergi. Tunggu apalagi?” teriaknya.

Ci Kong sudah mendengar pula dari susiok-couwnya tentang senjata api yang amat berbahaya itu. Dia tidak gentar menghadapi senjata itu, akan tetapi di situ terdapat gadis yang lihai itu dan banyak pengawal, kini ditambah lagi tuan rumah yang pandai mempergunakan senjata api. Maka diapun mengikuti Siu Coan yang sudah melompat pergi keluar dari halaman gedung Ciu Wan- gwe.

Setelah berada jauh dari kota Tung-kang, di kaki bukit yang sunyi, barulah mereka berhenti dan ternyata tidak ada yang mengejar mereka lagi. Siu Coan berhenti dan memandang kepada Ci Kong penuh perhatian. Tadi dia telah mempergunakan ilmu berlari cepat, akan tetapi pemuda yang nampaknya seperti seorang petani ini mampu mengimbangi kecepatan larinya. Hal itu membuat dia penasaran dan dia mengerahkan tenaganya sehingga tubuhnya bergerak cepat meluncur seperti terbang saja. Akan tetapi, pemuda itu tetap saja berada di sampingnya!

“Sobat, engkau sungguh lihai sekali. Akan tetapi kalau perkelahian itu dilanjutkan, salah-salah kita bisa menjadi makanan peluru panas. Senjata api itu amat berbahaya, apalagi di tangan orang yang tidak terlatih, tembakannya bisa ngawur sehingga kalau dielakkan malah terkena. Dan gadis itupun lihai bukan main!”

Ci Kong juga memandang pemuda tinggi besar itu dengan penuh perhatian. Jelas bahwa dia berhadapan dengan seorang pendekar yang tangguh, akan tetapi pendekar ini terlalu kejam dan mudah membunuh orang. Teringat betapa pemuda di depannya ini tadi telah membunuh banyak orang, mungkin sampai belasan orang, diam-diam dia bergidik dan tidak menyetujui perbuatan itu.

“Sobat yang gagah perkasa, kenapa engkau tadi membunuhi orang? Prajurit-prajurit itu hanya petugas, kenapa kau bunuhi mereka yang tidak bersalah itu?” tegurnya dengan suara penuh penyesalan.

Ong Siu Coan mengerutkan alisnya dan memandang dengan heran. “Kenapa tidak? Kalau bisa, aku bahkan akan membunuh semua orang tadi!

Makin banyak dapat membunuh pasukan pemerintah, lebih baik. Bukankah pasukan yang datang belakangan tadi adalah pasukan keamanan, antek-antek pemerintah penjajah? Aku ingin membasmi penjajah, aku ingin mengusir penjajah Mancu dari tanah air kita!”

Tiba-tiba saja pemuda tinggi besar itu mengepal tinju, matanya bersinar- sinar dan sikapnya penuh semangat. Ci Kong sudah banyak mendengar tentang para pendekar yang berjiwa patriot, yang ingin menentang dan mengusir penjajah Mancu dan dia menduga bahwa tentu di depannya ini seorang di antara para pendekar seperti itu.

Tiba-tiba Siu Coan memandang tajam kepadanya seperti teringat akan sesuatu, dan pemuda tinggi besar itu lalu memegang pergelangan tangannya. Ci Kong cepat mengerahkan tenaganya karena tangan yang mencengkeram itu kuat sekali. Bisa patah-patah tulang lengannya kalau dia tidak mengerahkan tenaga untuk melindungi lengannya.

“Kau...! Ah, kau murid hwesio gendut Siauw-bin-hud...!” tiba-tiba pemuda jangkung besar itu berseru nyaring.

Ci Kong juga teringat sekarang, akan tetapi dia bersikap tenang-tenang saja dan menjawab.

“Bukan murid beliau, melainkan cucu murid. Dan engkau adalah murid Thian-tok. Dan engkau telah membantuku tadi.”

Ci Kong mengingatkan, merasa aneh juga karena yang membantunya keluar dari kepungan pasukan tadi adalah murid Thian-tok, seorang datuk sesat, seorang iblis di antara Empat Racun Dunia yang sudah amat terkenal kejahatan mereka.

“Engkau bukan memusuhi pemerintah, melainkan memusuhi hartawan itu?

Kenapa? Siapa engkau?”

Ci Kong memandang ke arah lengannya yang dicengkeram, sikapnya tenang dan dengan lembut dia berkata.

“Bukan begini caranya orang bicara dengan sikap bersahabat,” katanya. Siu Coan melepaskan cengkeramannya dan tersenyum.

“Engkau memang hebat. Nah, mari kita bicara, sebelumnya lebih baik kita saling berkenalan. Namaku Ong Siu Coan, dan engkau tentu sudah dapat menduga bahwa aku membenci penjajah Mancu. Sekali waktu aku akan menyusun pasukan untuk menghantamnya dan mengusirnya dari tanah air. Sekarang katakan, siapa engkau dan apa yang kaulakukan tadi di gedung hartawan itu?”

“Namaku Tan Ci Kong, seorang pengembara yang tidak memiliki tempat tinggal yang tetap. Di Tung-kang aku mendengar tentang Ciu Lok Tai yang menjadi pedagang madat. Aku melihat kesengsaraan rakyat oleh madat yang terkutuk itu, maka aku ingin menegur dan memperingatkan Ciu Lok Tai agar dia menghentikan pengedaran madat yang meracuni rakyat jelata.”

“Ha, engkau seorang pendekar pembela rakyat?” Ci Kong menggeleng.

“Aku tidak berani memakai sebutan pendekar, akan tetapi aku akan selalu membela yang lemah tertindas, membela kebenaran dan menentang kejahatan, dimanapun aku berada. Untuk itulah bertahun-tahun aku mempelajari ilmu silat.”

Ong Siu Coan mengangguk-angguk, lalu tersenyum mengejek.

“Engkau hanya mengurus soal-soal kecil. Apa artinya tindakan orang-orang sepertimu ini yang disebut pendekar? Di negara ini, entah terdapat berapa puluh ribu hartawan pedagang candu seperti she Ciu itu. Bagaimana engkau akan dapat memperingatkan mereka semua? Pula, apakah kau yakin mereka akan mentaati dan mundur? Dan berapa puluh laksa lagi mereka yang sudah kecanduan madat. Apakah engkau akan mendatangi mereka satu demi satu untuk dibujuk agar jangan menghisap madat lagi, dan apakah mereka akan mau mentaatimu? Ah, sobat yang gagah, bukan begitu caranya kalau mau menolong rakyat.”

“Lalu bagaimana?”

“Marilah, bantu aku membentuk pasukan. Kita tentang pernerintah penjajah, karena pemerintah penjajah yang bersalah, penjajah Mancu yang mendatangkan orang orang kulit putih itu, yang mendatangkan candu. Kita basmi penjajah Mancu dan sekaligus membasmi orang-orang kulit putih, maka candu tidak akan masuk ke negara kita, dan rakyat akan terbebas dari pengaruh racun itu. Bukan dengan cara menentangnya satu demi satu!”

Ci Kong mendengarkan denga hati penuh kagum. Orang ini memiliki cita- cita yang amat besar dan muluk, dan bagaimanapun juga dia dapat melihat kebenaran ucapan itu, dapat menghormati cita-cita itu. Akan tetapi, urusan pemberontakan tidak menarik hatinya.

“Dalam hal ini, jalan hidup kita bersimpang, kawan. Aku belum pernah berpikir tentang perjuangan dan pemberontakan, akan tetapi aku hanya ingin mengulurkan tangan kepada mereka yang tertindas dan menentang si penindas dan mereka yang melakukan kejahatan. Akan tetapi, aku berjanji bahwa kalau ada kesempatan kita saling bertemu, aku tentu akan membantumu.”

Ong Siu Coan menarik napas panjang.

“Sayang, tenagamu amat berharga untuk suatu perjuangan. Akan tetapi, yang dipentingkan dalam perjuangan melawan penjajah adalah semangat, bukan sekedar ilmu berkelahi. Baiklah, dan apakah yang kaulakukan tadi di gedung hartawan itu?”

“Sudah kukatakan bahwa aku hanya akan memperingatkan hartawan itu agar jangan mengedarkan candu.”

“Hanya itu?” “Hanya itu…”

Kata Ci Kong sambil meraba-raba hati sendiri, apakah ada terbawa rasa dendam mengingat betapa ayahnya dahulu pernah dipukuli di rumah hartawan Ciu, akan tetapi dengan lega dia melihat kenyataan bahwa dendam itu tidak ada pada hatinya.

Ong Siu Coan tertawa.