--> -->

Pedang Naga Kemala Jilid 03

Jilid 03

Melihat ini, wanita itu berteriak.

“Eh, pengecut, hendak lari kemana engkau?”

Tubuhnya bergerak hendak mengejar, akan tetapi karena tiga orang harimau itu menyerangnya dengan amat ganas, iapun tidak mudah melepaskan diri begitu saja.

“Tikus-tikus tolol, kau mau ditipu lutung itu yang melarikan pusaka, sedangkan kalian dijadikan korban?”

Wanita itu membentak. Bentakan ini agaknya menyadarkan tiga orang Lam-hai Ngo-houw itu. Biarpun mereka mendendam kepada wanita ini untuk kematian dua orang saudara mereka, namun pada hakekatnya mereka adalah orang-orang yang berwatak jahat dan amat senang akan harta, maka merekapun seperti disadarkan akan kelicikan Tai-lek Hekwan dan mereka mengendurkan kurungan mereka.

Kesempatan ini dipergunakan oleh si wanita baju merah untuk meloncat, lolos dari kepungan dan mengejar Lutung Hitam. Tiga orang Lam-hai Ngo- houw itupun cepat melakukan pengejaran, mengejar Hek-wan akan tetapi juga mengejar wanita itu.

Tai-lek Hek-wan sudah mengerahkan ilmunya berlari cepat, akan tetapi betapa kaget hatinya ketika tahu-tahu ada bayangan merah berkelebat dan wanita itu sudah menghadang di depannya dengan senyum mengejek. Marahlah Lutung Hitam ini, marah dan juga putus asa, maka dengan nekat diapun menubruk ke depan menyerang wanita yang menghadangnya.

Seperti juga tadi, kecepatan gerakan Lutung Hitam itu tidak ada artinya bagi si wanita baju merah yang ternyata memiliki gerakan lebih cepat lagi. Wanita itu sudah mengelak ke kiri dan tiba-tiba kakinya mencuat dalam sebuah tendangan mengarah perut Hek-wan. Lutung Hitam itu terkejut dan hanya dengan bergulingan menjatuhkan dirinya, dia dapat menyelamatkan perutnya dari ciuman sepatu yang akan membahayakan keselamatannya itu. Akan tetapi pada saat itu, tiga orang Lam-hai Ngo-houw sudah tiba pula di situ, dan dengan marah si kumis tebal menubruk ke arah tubuh Hek-wan yang bergulingan untuk merampas buntalan di punggungnya.

“Dukk!!”

Hek-wan menangkis dan keduanya terpental.

“Sobat, kenapa berbalik menyerangku ? Mari kita keroyok wanita iblis itu. “Pengecut, tak perlu merayu!” bentak si kumis tebal yang terus saja

menyerang lagi dengan marahnya.

Sementara itu, dua orang adiknya sudah mengeroyok si baju merah yang melayani mereka sambil tersenyum simpul karena girang hati wanita itu sudah berhasil membakar hati si kumis tebal. Baginya sesungguhnya sama saja. Andaikata dikeroyok sekalipun, ia yakin akan dapat merobohkan mereka semua. Apalagi sekarang si kumis tebal yang marah dan merupakan orang pertama paling lihai dari Lam-hai Ngo-houw telah menumpahkan kemarahannya kepada Tai-lek Hek-wan, sehingga ia hanya menghadapi dua orang lawan, tentu dianggapnya amat ringan.

Ternyata kekuatan antara si kumis tebal dan Tai- lek Hek-wan seimbang dan selisihnya hanya sedikit saja. Kalau perkelahian itu dilanjutkan, akhirnya si kumis tebal tentu akan kalah. Sudah tiga kali dia terkena pukulan dan tendangan dari Lutung Hitam, akan tetapi ternyata orang pertama dari Lam- hai Ngo-houw itu kuat sekali tubuhnya dan belum juga roboh.

Sementara itu, dengan mudahnya wanita baju merah itu telah merobohkan dua orang pengeroyoknya dengan totokan-totokan yang membuat kedua lawan itu roboh dengan mata mendelik dan napas putus. Kini wanita baju merah itu berdiri sambil tersenyum lebar, geli dan juga gembira.

Melihat robohnya dua orang lagi, wajah Tai-lek Hek-wan berobah pucat.

Sambil menangkis sebuah pukulan dari si kumis tebal, dia menghardik.

“Tolol! Dua orang adikmu sudah roboh pula, tinggal kita berdua yang terancam maut dan engkau masih menyerangku seperti orang gila?”

Si kumis tebal menoleh dan barulah dia terkejut bukan main. Tadi dia mencurahkan seluruh perhatiannya untuk menyerang Hek-wan sehingga dia tidak memperhatikan dua orang adiknya, dan kini dia melihat betapa dua orang adiknya telah menggeletak tak bernyawa lagi, sedangkan wanita baju merah itu berdiri sambil tersenyum-senyum mengejek. Dapat dibayangkan betapa sedih dan marah hatinya. Empat orang adik-adiknya telah tewas semua di tangan wanita cantik ini.

“Aurrggghhh...!”

Gerengan seperti seekor harimau keluar dari dalam dadanya, dan biarpun suara harimau keluar dari dalam dadanya dan biarpun sudah terkena pukulan dan tendangan Hek-wan, si kumis tebal ini mengerahkan seluruh tenaganya, menubruk ke arah wanita baju merah. Melihat ini, Hek-wan lalu membalikkan tubuhnya dan... lari tunggang langgang sekuat tenaga! “Hemm…!!”

Wanita baju merah itu melompat ke kiri dan tangannya menyambar ke samping.

“Plakk!”

Tubuh si kumis tebal terpelanting dan roboh berkelojotan karena pelipisnya berlubang terkena tusukan dua jari tangan wanita itu. Tanpa menengok lagi kepada korbannya yang ia yakin tentu akan tewas, wanita itu sudah berloncatan dengan amat cepatnya mengejar Tai-lek Hek-wan!

Si Lutung Hitam menjadi panik dan wajahnya sudah pucat sekali ketika untuk kedua kalinya wanita baju merah itu sudah menghadang di depannya sambil tersenyum manis, senyum yang baginya tidak manis lagi melainkan menyeramkan! Dia bukan orang nekat seperti Lam-hai-houw. Sebaliknya, si gendut ini cerdik bukan main. Kecerdikannya sudah nampak ketika dia membiarkan Sin-touw dan Phek Kiat saling bunuh sehingga dia mampu memperoleh Giok-liong-kiam dan madat yang amat banyak tanpa mengeluarkan sedikitpun tenaga. Juga dia sudah mampu menggerakkan hati Lam-hai Ngohouw sehingga lima orang itu mau bersekutu dengan dia. Sekarang, melihat betapa Lam-hai Ngo-houw sudah tewas semua, diapun tidak begitu bodoh untuk menjadi nekat. Betapapun besar harganya Giok-liong-kiam, tentu saja masih tidak melebihi nyawanya sendiri. Apa artinya Giok-liong-kiam kalau dia sudah tidak bernyawa seperti kelima orang Lam-hai Ngo-houw itu?

Tanpa malu-malu lagi, Tai-lek Hek-wan lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki wanita baju merah itu, berkali-kali menyentuh tanah dengan dahinya dan kedua tangannya segera menurunkan buntalan Giok-liong-kiam.

“Ampun... harap lihiap (pendekar wanita) sudi mengampunkan nyawa saya...... saya mengaku kalah dan dengan rela menyerahkan Giok-liong-kiam kepada lihiap...”

Wanita cantik itu tersenyum mengejek, geli melihat betapa perut yang gendut itu menghalangi Hek-wan untuk dapat memberi hormat dengan baik. Perutnya mengganjal ketika orang itu berlutut menyembah-nyembah. Sikap Tai-lek Hek-wan yang ia tahu selain cukup lihai juga amat cerdik itu, yang kini menyembah-nyembahnya dengan begitu merendahkan diri, dianggap cukup berharga untuk menebus nyawa orang itu.

“Hemm… baiklah, monyet. Aku mau mengampuni nyawamu. Coba buka peti itu dan perlihatkan aku Giok-liong-kiam.”

Wanita itu memang cerdik. Tadi ia sudah melihat Giok-liong-kiam dan tidak meragukan lagi keasliannya. Akan tetapi untuk beberapa saat lamanya pusaka itu telah dapat dirampas kembali oleh Hek-wan, maka ia tidak ingin tertipu dan hendak melihat lebih dahulu apakah benar itu barang yang aseli. Ia sudah cukup mengenal kelicikan orang seperti Tai-lek Hek-wan ini dan bisa saja penjahat itu memberinya peti yang isinya barang beracun yang akan menyerangnya kalau dibukanya.

Akan tetapi, Hek-wan tidak sempat melakukan hal itu dan memang bukan tidak mungkin hal itu dilakukannya, bahkan lebih hebat dari itu kalau saja dia berkesempatan. Kini tidak ada lain jalan baginya kecuali menyerahkan pusaka itu sebagai penukar nyawanya. Dibukanya buntalan dan dibukanya peti hitam itu. Dengan peti terbuka sehingga nampak isinya, dia menyerahkan benda itu dengan kedua tangannya. Wanita cantik itu menjadi girang, melihat bahwa isi peti memang Giok-liong-kiam yang tulen. Akan tetapi pada saat ia hendak menerimanya, tiba-tiba ada angin menyambar dan sinar putih menyambar ke arah peti di tangan Tai-lek Hek-wan. Sinar itu ternyata sebatang tali yang menyambar cepat, seperti ular hidup hendak merampas peti, dibarengi bunyi meledak nyaring.

Melihat ini, wanita baju merah itu terkejut dan marah. Tangannya dikibaskan ke bawah menangkis sambaran tali dan kakinya menendang tubuh Tai-lek Hek-wan sehingga si gendut ini terguling-guling bersama peti yang masih dipegangnya. Memang wanita itu ingin menyingkirkan Hek-wan agar peti itu tidak sampai terampas orang, kemudian ia membalik dan berhadapan dengan orang yang telah menggunakan tali hendak merampas peti itu.

Ternyata orang itu adalah seorang laki-laki berusia tigapuluh tahun lebih, bermuka pucat dan tanpan, pakaiannya pesolek dan dia tersenyum masam ketika talinya membalik terkena tangkisan si wanita baju merah. Sambil menggulung talinya, kini dia berdiri saling pandang dengan si wanita baju merah dan dia tertawa.

“Ha-ha-ha… seorang tokoh Ang-hong-pai yang lihai juga!”

Wanita cantik baju merah itu cemberut dan memandang dengan sinar mata marah. Siapa takkan marah melihat daging sudah di mulut kini terancam lepas? Ia menudingkan telunjuknya ke arah muka yang putih itu.

“Hemm, agaknya Pek-bin Tiat-ciang yang muncul. Apakah sekarang tangan besimu sudah berkarat maka engkau mempergunakan tali untuk mencoba menjadi pencuri?”

Wanita itu mengejek. Si muka putih itupun tertawa lagi.

“Ha-ha-ha… siapa yang menjadi pencuri? Monyet gendut inikah, atau engkau, ataukah aku?”

Tai-lek Hek-wan masih berdiri sambil mendekap buntalan berisi peti panjang Giok-liong-kiam itu, mukanya pucat dan dia merasa betapa kedua kakinya menggigil. Sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa dia berhadapan dengan dua orang yang memiliki nama besar yang amat terkenal di seluruh Negara. Kiranya wanita itu adalah seorang tokoh perkumpulan Ang- hong-pai (Perkumpulan Tawon Merah) yang ditakuti dunia kangouw seperti orang menakuti gerombolan setan.

Sedangkan nama Pek-bin Tiat-ciang (Tangan Besi Bermuka Putih) juga tidak kalah terkenalnya, sebagai seorang petualang yang ringan tangan dan mudah saja membunuh orang. Entah sudah berapa banyaknya orang, baik dari golongan sesat maupun kaum pendekar, yang tewas di tangan jagoan ini. Kedua orang ini termasuk tokoh-tokoh sesat yang lihai sekali. Matilah aku, karena dia maklum bahwa kepandaiannya jauh sekali berada di bawah kedua orang ini. Akan tetapi pikirannya yang cerdik itu diputar mencari akal. Bagaimanapun juga, wanita baju merah itu tadi memperlihatkan sikap lunak dan mau mengampuninya, sedangkan laki-laki muka putih tampan menyeramkan ini belum tentu mau membiarkan dia hidup.

Sementara itu, wanita tokoh Ang-hong-pai itu sudah menerjang dengan ganasnya, menggunakan pukulan-pukulan yang dilakukan dengan jari-jari tangan terbuka, totokan-totokan yang mengarah jalan darah yang mematikan. “Heiiittt...!” bentaknya nyaring ketika kedua tangannya menyambar

dengan kecepatan kilat. “Wah, ganas...!”

Laki-laki muka putih itupun menggeser kaki dan menangkis dengan cepat pula.

“Plak! Plakk!” Laki-laki itu terkejut karena biarpun dia sendiri berjuluk Tiat-ciang (Tangan besi), akan tetapi ketika lengannya bertemu dengan tangan wanita itu, dia merasa seolah-olah bertemu dengan daging lunak tak bertulang. Tahulah dia bahwa wanita lihai itu dalam menghadapi kekerasan tangannya telah mempergunakan ilmu Bian-kun atau tangan yang berobah menjadi kapas, mempergunakan sin-kang (tenaga sakti) untuk melawan yang keras dengan yang lunak.

Menghadapi tangan yang lunak itu, Pek-bin Tiat-ciang merasa seolah-olah tangannya seperti besi memukul kapas di udara, sama sekali tidak berbekas. Maka diapun bersilat dengan hati-hati sekali, maklum bahwa wanita itu sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Sambil membentak marah, diapun lalu mengerahkan tenaga saktinya, tidak lagi berani main-main atau senyum- senyum, melainkan menyerang dengan amat kuat. Angin pukulan bertiup dahsyat ketika Tiat-ciang melakukan serangannya. Akan tetapi wanita itu dengan gerakan indah dapat mengelaksambil mengibaskan tangan menangkis dari samping.

“Rasakan kau!” bentak Tiat-ciang sambil mengeraskan tangannya yang tertangkis, karena sekali ini dia mengerahkan seluruh tenaganya yang membuat tangan itu seolah-olah berobah menjadi baja.

“Dukkk...!”

Wanita itu menyeringai menahan jeritnya karena tangannya terasa nyeri bukan main. Rasa nyeri seperti menusuk jantungnya, seolah-olah tulang-tulang tangannya menjadi remuk. Karena rasa nyeri ini, tubuhnya agak terhuyung dan kesempatan ini dipergunakan oleh Tiat-ciang untuk menubruk dengan kedua tangan terpentang. Akan tetapi betapa kaget rasa hatinya ketika tiba-tiba dari samping ada angin pukulan menyambar, dan ternyata Tai-lek Hek-wan yang menyerangnya! Hek-wan yang cerdik tidak lama mengambil keputusan dan dia sudah maju membantu tokoh Ang-hong-pai. Dia merasa lebih aman kalau tokoh wanita itu yang menang, maka diapun membantu ketika melihat wanita itu terdesak.

“Plakkk!”

Tangkisan Tiat-ciang membuat tubuh Hek-wan terlempar dan diapun bergulingan sampai jauh. Baru dia berhenti ketika tubuhnya tertahan oleh sesuatu. Kiranya yang menahannya itu adalah mayat si kumis tebal, orang pertama Lam-hai Ngo-houw dan tanpa disengaja dia melihat buntalan madat. Teringatlah dia betapa banyaknya madat itu dan betapa benda itu juga merupakan harta yang amat besar. Mengapa tadi dia lupa sama sekali tentang buntalan madat ini? Cepat dia mengambil buntalan itu dan mengalungkannya ke leher.

Ketika menengok, dia melihat betapa wanita itu kini mulai mendesak si muka putih! Dan melihat betapa kedua orang itu berkelahi dengan mati-matian, timbul pula niatnya yang terdorong ketamakan dan kecerdikan. Diam-diam diapun melarikan diri, kini membawa dua buntalan itu, buntalan madat dan buntalan Giok-liong-kiam!

“Keparat, kau hendak lari kemana?”

Tiba-tiba terdengar bentakan suara tokoh Ang-hong-pai itu. Hek-wan terkejut dan menengok. Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika dia melihat wanita baju merah dan laki-laki muka putih itu telah berloncatan mengejarnya. Kiranya mereka itu, biarpun sedang berkelahi, tidak pernah melepaskan perhatian mereka terhadap benda yang diperebutkan, yaitu Giok-liong-kiam! Tadi, ketika Hek-wan membantu tokoh Ang-hong-pai menyerang Pek-bin Tiat- ciang, Si Tangan Besi itu terpaksa menghentikan serangannya terhadap lawannya yang tangguh dan menangkis serangan Hek-wan. Akan tetapi pada saat itu, si wanita yang memiliki gerakan amat cepatnya telah meloncat ke atas, seperti terbang ia turun menerjang dengan amat hebatnya, tangannya menyerang dengan totokan-totokan berbahaya. Tentu saja Pek-bin Tiat-ciang cepat mengelak dan menangkis, akan tetapi sebuah tendangan kaki wanita itu yang dilakukan dari belakang, seperti seekor tawon menyengat, telah mengenai pangkal pahanya, membuat Tiat-ciang terhuyung dan selanjutnya wanita itu menyerangnya dengan bertubi-tubi, membuatnya nampak terdesak.

Pada saat itulah Hek-wan melarikan diri. Dua orang yang sedang berkelahi itu tentu saja tidak dapat membiarkan hal ini terjadi. Mereka berkelahi justeru untuk memperebutkan Giok-liong-kiam yang berada di tangan Hek-wan. Kalau Hekwan berhasil melarikan diri membawa Giok-liong-kiam, perlu apa mereka saling serang lagi? Demikianlah, bagaikan berlumba, keduanya kini melakukan pengejaran.

Dapat dibayangkan betapa cemas rasa hati Hek-wan melihat betapa dua orang itu kini mengejarnya! Baru melawan seorang di antara mereka saja dia tidak akan mampu menang, apalagi kini dikejar oleh mereka berdua! Akan tetapi dia tidak kekurangan akal. Otaknya bekerja dan tahulah dia bahwa satu- satunya cara untuk menyelamatkan diri dan menahan pengejaran mereka adalah memancing mereka dengan Giok-liong-kiam. Maka diapun lalu berseru keras.

“Lihiap, ini Giok-liong-kiam itu, terimalah!”

Dan diapun melemparkan buntalan peti panjang berisi Giok-liong-kiam itu ke arah dua orang yang mengejar di belakangnya.

Akalnya berhasil dengan baik. Melihat benda yang amat diinginkan itu kini dilemparkan, dua orang itu tentu saja lalu berlumba untuk lebih dahulu memperolehnya. Benda itu oleh Hek-wan dilemparkan ke arah tokoh Ang-hong- pai, maka wanita itulah yang lebih dulu menyambar peti.

“Brakkk...!”

Si Tangan Besi menghantamkan tangannya ke arah peti dan peti itupun pecah, isinya yaitu pedang naga kemala itu terlempar dari dalam peti dan jatuh ke atas tanah! Keduanya kini berebutan, berlumba untuk menubruk, dan akibatnya mereka saling bertumbukan. Tentu saja keduanya marah dan tahu bahwa sebelum merobohkan lawan, tak mungkin mereka bisa mendapatkan pedang pusaka itu, maka kini mereka membiarkan pedang itu menggeletak di atas tanah dan keduanya sudah saling terjang lagi dalam perkelahian mati- matian yang lebih sengit dari pada tadi.

Dengan hati girang, Tai-lek Hek-wan melanjutkan larinya, membawa buntalan madat. Lumayan, pikirnya, tidak terlalu mengecewakanlah memperoleh modal kekayaan berupa tiga puluh kati madat ini walaupun gagal mendapatkan Giok-liong-kiam, pikirnya, yakin bahwa dua orang itu tentu lebih mementingkan Giok-liong-kiam yang diperebutkannya dari pada mengejar dia yang melarikan madat. Dan dugaannya ini memang betul. Dua orang pandai itu sama sekali tidak memperdulikannya lagi karena kini mereka sudah saling serang mati-matian untuk memperebutkan pedang pusaka yang menggeletak di atas tanah.

Ketika dengan hati girang sekali Tai-lek Hek-wan yang melarikan diri itu hampir tiba di tepi hutan, mendadak ada angin dari kiri yang menerjangnya. Hek-wan terkejut dan cepat mengelak, namun percuma saja karena tiba-tiba saja ada tenaga raksasa yang membuatnya terpelanting. Dia berusaha bangkit, akan tetapi mendadak muncul seorang laki-laki raksasa bermuka hitam yang tertawa-tawa dan kaki orang tinggi besar ini menyambar, Hek-wan melompat sambil menangkis dengan lengannya ketika kaki yang besar itu menendang ke arah tubuhnya.

“Ehhh...!”

Tai-lek Hek-wan meloncat bangun dan memandang marah ketika dia melihat betapa buntalan madat itu kini berada di tangan seorang laki-laki berusia limapuluh tahun yang bertubuh tinggi besar. Laki-laki itu mengenakan pakaian kasar, sikapnya kasar dan wajahnya yang penuh berewok itu menakutkan. Matanya lebar dan mulutnya menyeringai girang ketika dia membuka buntalan dan melihat isi buntalan.

“Ha-ha-ha, kiranya engkau pemadatan besar! Pantas saja begini lemah, tertiup angin saja roboh. Itulah kalau terlalu banyak menghisap madat, hua-ha- ha!” Dia tertawa bergelak, perutnya bergoyang-goyang karena ketika tertawa, dia menengadah dan mengangkat kedua lengannya ke atas.

Tai-lek Hek-wan melihat kesempatan yang amat baik ini dan diapun meloncat ke depan dan menendang ke arah perut yang bergoyang-goyang itu sekuat tenaganya.

“Klekk...!”

Tendangannya tepat mengenai perut, akan tetapi bukan orang itu yang roboh, bahkan tubuhnya sendiri terjengkang dan dia terbanting untuk ke tiga kalinya, dan tanpa malu-malu lagi dia mengaduh-aduh sambil memegang kaki kanannya karena tulang-tulang kakinya itu seperti remuk rasanya. Dia tadi seperti menendang sebuah gentong besi saja, keras dan amat kuat sehingga kakinya sendiri yang mengeluarkan bunyi seolah-olah semua tulangnya patah. Akan tetapi karena marah dan kecewa melihat hasil rampasannya kini di tangan orang, dia memaksa diri meloncat bangun lagi.

“Kembalikan barangku...!”

Hampir dia menangis ketika mengeluarkan tuntutan ini. Akan tetapi orang tinggi besar itu masih terus tertawa.

“Ha-ha-ha, engkau tentu penyelundup candu, engkau meracuni banyak orang. Orang seperti engkau ini harus dihukum berat, akan tetapi aku tidak mempunyai banyak waktu untuk mengurusmu. Engkau tidak mengaku dosa malah hendak minta kembali racun ini? Sungguh tak tahu diri!”

Hek-wan mengerutkan alisnya dan memandang orang itu penuh perhatian. Orang ini berpakaian kasar, terlalu kasar, maka sepantasnya orang ini melakukan penyamaran. Sikapnya begitu angkuh dan pandang matanya berwibawa, pantasnya seorang pembesar militer. Apakah seorang perwira yang menyamar? Dia mendengar bahwa di antara orang-orang yang sibuk menyelidiki dan mencari Giok-liong-kiam terdapat pula jagoan-jagoan dari istana. Apakah orang ini juga seorang di antara mereka? Diam-diam dia bergidik dan menjadi ragu-ragu.

“Nanti dulu!”

Tiba-tiba raksasa itu membentak.

“Aku bilang tidak mempunyai waktu untuk mengurusmu bukan berarti melepaskanmu begitu saja. Orang macam engkau ini terlalu berbahaya dibiarkan terlepas begitu saja. Hayo ke sini kau!”

Tai-lek Hek-wan membalik dan menghadapi orang itu dengan sinar mata marah.

“Barangku sudah kau rampas, mau apalagi memanggil aku?” katanya ketus.

Raksasa itu menuding ke arah sepatunya yang besar dan kotor.

“Aku sudah melakukan perjalanan jauh dan tidak mengajak para pengawalku untuk membersihkan sepatuku yang kotor. Hayo kau bersihkan sepatuku, baru aku akan membiarkanmu pergi.”

Wajah Lutung Hitam itu berobah semakin hitam. Dia bukan sembarang orang dan banyak orang yang takut dan taat kepadanya. Kini orang menghina sampai di luar batas!

“Ha-ha, orang macam engkau ini masih bisa bicara tentang kehormatan dan penghinaan? Hidupmu sudah di dalam lumpur kehinaan. Aku hanya ingin menukar nyawamu yang rendah itu dengan pekerjaan membersihkan sepatu dan kau banyak cakap lagi? Hayo bersihkan sepatuku, atau aku mewakili pemerintah melaksanakan hukuman mampus kepadamu. Pilih saja!”

Kini yakinlah hati Hek-wan bahwa dia berhadapan dengan seorang petugas pemerintah yang menyamar. Dan jelas pula bahwa orang ini memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dan dia tidak akan mampu mengalahkannya. Di situ tidak terdapat orang lain, mengapa harus meributkan tentang kehormatan.

“Baiklah...!”

Katanya dan diapun berlutut di depan orang itu, menggunakan ujung lengan bajunya untuk membersihkan kedua sepatu yang penuh debu itu. Kalau saja ada orang yang melihat peristiwa ini. Betapa akan malunya dan akan hancur nama besarnya. Dia terkenal sebagai orang yang paling ditakuti di seluruh daerah Nan-leng, dan kini dia membersihkan sepatu orang, berlutut di depan orang itu. Kemarahannya tak dapat ditahannya lagi dan otaknya yang cerdik itu bekerja. Orang yang menghinanya berdiri begitu dekat, tidak ada yang akan dapat menghalanginya lagi. Diam-diam dia mengerahkan tenaganya dan tiba-tiba saja dia menghantam ke arah pusar orang itu, dari jarak yang amat dekat.

“Krakk... aughhhh...!”

Tubuh Tai-lek Hek-wan terkulai dan dia roboh tewas dengan belakang kepala remuk karena sebelum pukulannya mengenai sasaran, si tinggi besar itu telah lebih dahulu menghantam tengkuknya! Sekali ini Tai-lek Hek-wan yang biasanya cerdik itu salah perhitungan. Dia terlalu memandang rendah lawannya. Padahal begitu dia mengerahkan tenaga, si raksasa itu telah mengetahuinya sehingga dapat mendahuluinya, menghantam tengkuknya dari atas, sehingga bukan saja pukulan itu melumpuhkan semua gerakannya, juga membuat nyawanya melayang!

Dengan sikap jijik, kakek bertubuh raksasa itu lalu menendang mayat Hek- wan sampai terlempar jauh, kemudian diapun membuang buntalan madat itu ke dalam jurang tak jauh dari situ sambil mengomel.

“Candu ini harus dimusnahkan di seluruh dunia, membuat manusia menjadi boneka, menjadi mayat-mayat hidup, berbahaya sekali...”

Tiba-tiba dia berhenti bergerak dan sejenak diam tak bergerak, samar- samar dia mendengar suara orang berkelahi dan tak lama kemudian, raksasa ini sudah berlari dengan langkah lebar menuju ke tempat orang yang sedang berkelahi itu. Raksasa ini memang bukan orang sembarangan, dan seperti dugaan Tai-lek Hek-wan, dia adalah seorang jagoan istana!

Kaisar mengirim beberapa orang jagoan untuk melakukan penyelidikan dan kalau mungkin merampas pusaka Giok-liong-kiam yang demikian menghebohkan dunia persilatan. Bagi kaisar, seluruh pusaka yang terdapat di negeri itu adalah hak dan milik istana! Karena itu, Giok-liong-kiam yang diperebutkan itupun adalah hak istana. Dan raksasa ini adalah seorang diantara para jagoan istana, namanya Tang Kui, dan jabatannya adalah komandan pasukan pengawal di luar istana. Karena namanya terkenal di kalangan para pengawal sebagai seorang komandan yang pandai, tegas dan memiliki ilmu silat yang tinggi dan tenaga yang besar, maka dia terpilih sebagai seorang di antara para jagoan yang ditugaskan mencari dan merebut pusaka Giok-liong-kiam.

Sebentar saja Tang Kui telah tiba di tempat dimana tokoh Ang-hong-pai itu masih berkelahi dengan hebatnya melawan Pekbin Tiat-ciang. Dari jauh saja Tang Kui yang banyak mempelajari keadaan kang-ouw dan mengenal banyak tokoh kang-ouw, mengenal siapa mereka yang sedang berkelahi itu. Dia mengenal Theng Ci, murid kepala Ang-hong-pai yang lihai itu, dan dia mengenal pula Pek-bin Tiat-ciang, pria pesolek tanpan bermuka putih yang merupakan tokoh di antara kaum sesat itu. Maka diapun cepat menyelinap di antara pohon-pohon dan mendekat.

Pada saat itu, perkelahian antara kedua orang ini sudah mencapai puncaknya. Pek-bin Tiat-ciang sudah mengeluarkan senjatanya, yaitu pecut panjang yang biasanya menjadi pengikat pinggangnya. Pecut panjang putih itu kini membentuk lingkaran-lingkaran dan menyerang si wanita cantik dari pelbagai jurusan. Akan tetapi, Theng Ci adalah murid kepala Ang-hong-pai, tentu saja ilmu kepandaiannya sudah tinggi dan terutama sekali gerakannya yang amat ringan itu membuat ia selalu dapat berloncatan ke sana-sini menghindarkan diri dari totokan ujung pecut. Nampaknya pemandangan yang amat indah dari perkelahian ini. Pecut putih itu menjadi sinar bergulung- gulung, dan pakaian Theng Ci yang merah juga membuat gerakannya yang cepat membentuk bayangan merah. Dari jauh nampak warna merah dan putih yang berselang-selang amat indahnya.

Jangan dikira bahwa Theng Ci yang bertangan kosong itu terdesak. Sama sekali tidak, karena wanita cantik ini kadang-kadang membalas serangan lawannya dengan sambitan jarum-jarum halusnya. Bukan sembarang jarum, melainkan jarum halus yang mengandung racun! Ang-hong-pai adalah perkumpulan para wanita yang lihai dan juga suka mempergunakan racun- racun binatang yang ampuh, terutama sekali racun-racun lebah, sesuai dengan nama perkumpulanitu, ialah Ang-hong-pai (Perkumpulan Lebah Merah). Karena jarum-jarum ini amat berbahaya, maka Pek-bin Tiat-ciang bersikap waspada dan gerakan pecutnya itu sebagian besar dipergunakan untuk melindungi tubuhnya dari ancaman jarum halus.

Hanya sebentar saja Tang Kui si komandan yang menyamar itu menonton perkelahian dan diam-diam dia juga kagum karena maklum bahwa baginya, dua orang itu masing-masing merupakan seorang lawan yang tangguh. Akan tetapi pandang matanya segera tertarik oleh mengkilapnya sebuah benda yang menggeletak tak jauh dari sesosok mayat berkumis lebat. Benda itu adalah sebatang pedang kecil terbuat dari kayu giok berukirkan naga. Giok-liong- kiam!

Hatinya berdebar amat kerasnya karena biarpun selamanya dia belum pernah melihat sendiri bagaimana macamnya Giok-liong-kiam, namun dia sudah mendapatkan keterangan jelas mengenai benda pusaka itu sebelum dia menerima tugas mencarinya. Hampir Tang Kui tak percaya. Giok-liong-kiam berada di situ pula, dan kini mengertilah dia mengapa dua orang tokoh sesat itu berkelahi. Tentu mereka berdua itu sedang memperebutkan Giok-liong- kiam. Memang sudah beberapa hari lamanya dia menaruh curiga terhadap Then Ci, wanita tokoh Ang-hong-pai itu. Diam-diam dia membayangi Theng Ci dari jauh. Tidak disangkanya dia melihat Theng Ci berkelahi dengan Pek-bin Tiat-ciang dan di situ terdapat Giok-liong-kiam!

Setelah membuat perhitungan dengan pandang matanya, tiba-tiba Tang Kui meloncat keluar dari tempat persembunyiannya dan diapun lari ke arah pedang pusaka itu dan disambarnya benda itu. Seketika Theng Ci dan Tiat- ciang berteriak kaget melihat munculnya orang yang menyambar Giok-liong- kiam sehingga mereka berdua secara otomatis menghentikan perkelahian.

Tang Kui sudah meloncat jauh dan melarikan diri. Tentu saja dua orang itu menjadi marah sekali dan mereka melakukan pengejaran secepatnya. Tang Kui lari ke selatan, ke bagian hutan yang lebih dalam. Agaknya sukar bagi dua orang yang sudah kelelahan karena sejak tadi berkelahi itu untuk dapat menyusul Tang Kui. Dan mereka sudah hampir kehilangan jejak raksasa itu, ketika tiba-tiba mereka melihat ada seorang yang tinggi kurus tiba-tiba muncul dan menyerang Tang Kui. Serangan dilakukan secara tiba-tiba, dan biarpun Tang Kui berhasil menangkis, akan tetapi posisi kakinya membuat dia terpelanting, dan hal ini saja menunjukkan betapa lihainya penyerang yang bertubuh jangkung itu. Si jangkung itu menyusulkan tendangan, bukan menendang bagian tubuh yang berbahaya, melainkan menendang tangan Tang Kui yang memegang Giok-liong-kiam.

“Dukkk!”

Tendangan itu mengenai tepat pergelangan tangan itu karena Tang Kui sedang terpelanting, dan pedang pusaka itupun terlempar jauh ke kiri!

“Wuuuuttt...!”

Tiba-tiba muncul pula seorang laki-laki yang berpakaian serba putih dan dengan sigapnya laki-laki itu meloncat dan menyambar Giok-liong-kiam dengan tangan kirinya, lalu berdiri mengamati pusaka itu dengan penuh kagum.

“Hemm, inilah Giok-liong-kiam...” guman laki-laki berpakaian putih.

Dia seorang laki-laki bertubuh sedang, berusia kurang lebih empat puluh tahun, pakaiannya sederhana serba putih, dan melihat orang yang telah merampas Giok-liong-kiam, Tang Kui segera mengenalnya. Orang itu adalah Kam Hong Tek, seorang pendekar yang namanya terkenal juga di daerah selatan.

“Kembalikan Giok-liong-kiam kami kepadaku!”

Tiba-tiba laki-laki bertubuh tinggi kurus itu berseru dan dengan beberapa langkah dia mendekati Kam Hong Tek. Pendekar Kam ini mengangkat muka memandang. Laki- laki tinggi kurus itu berusia empat puluh tahun lebih, selain tubuhnya yang tinggi kurus itu merupakan hal yang tidak wajar, juga bajunya disulam di bagian dada dengan gambar bundar yang menggambarkan Im- Yang.

Melihat gambar ini, Kam Hong Tek dapat menduga bahwa dia berhadapan dengan orang Thian-te-pai. Agaknya orang tinggi kurus itupun mengenal Kam Hong Tek dari pakaiannya dan sikapnya, maka dia menjura dengan hormat.

“Kalau saya tidak salah, saya berhadapan dengan pendekar Kam Hong Tek dari pegunungan selatan. Benarkah?” Pendekar Kam Hong mengangguk.

“Dan saudara tentulah seorang tokoh Thian-te-pai, bukan?”

“Benar, saya hanya seorang murid saja, menerima perintah ketua kami untuk mencari pusaka kami yang hilang dicuri orang. Nama saya Lui Siok Ek, harap saudara sudi memandang nama perkumpulan kami dan suka mengembalikan pusaka perkumpulan kami.”

“Semua pusaka di tanah air ini adalah hak milik Sri Baginda kaisar!”

Tiba-tiba Tang Kui berseru dan dengan langkah lebar dia mendekat pula. “Aku Tang Kui adalah komandan pasukan pengawal yang bertugas

mencari dan membawa Giok-liong-kiam ke istana. Serahkan itu kepadaku!” “Kembalikan pusaka itu kepadaku!”

Dan muncullah Theng Ci yang diikuti pula oleh Pek-bin Tiat-ciang. Akan tetapi dua orang inipun terheran-heran melihat bahwa di situ terdapat tiga orang, dan pedang pusaka itu tidak lagi dipegang oleh si raksasa, melainkan oleh seorang berpakaian putih-putih yang mereka kenal sebagai pendekar Kam Hong Tek yang tidak asing lagi namanya!

Kam Hong Tek tertawa.

“Ha-ha-ha, sekarang menjadi ramai! Kulihat nona adalah seorang anggauta Ang-hong-pai, dan saudara ini tentulah Pek-bin Tiat-ciang yang terkenal. Ada murid Thian-tepai dan ada pula utusan istana. Kita semua tahu bahwa semua orang di dunia persilatan memperebutkan Giok-liong-kiam. Akan tetapi, kitapun tahu akan adanya nasib dan tanpa kusengaja, Giok-liong-kiam melayang ke arah diriku dan berhasil kutangkap. Bukankah ini namanya nasib dan memang pusaka ini berjodoh dengan diriku? Harap cu-wi (anda sekalian) dapat memaklumi hal ini dan tidak menentang nasib!”

“Nasib tahi anjing!” Pek-bin Tiat-ciang membentak marah. “Pusaka itu adalah milikku. Kembalikan!”

Dan si muka putih ini dengan marah lalu menerjang pendekar Kam Hong Tek. Melihat serangan yang ganas dan berbahaya itu, Kam Hong Tek cepat meloncat ke samping dan mengibaskan tangan kanannya menangkis, sedangkan pusaka itu dipegangnya dengan erat-erat di tangan kiri.

“Dukk...!”

Keduanya terdorong mundur dan hal ini saja membuat mereka maklum bahwa tenaga mereka berimbang. Akan tetapi Lui Siok Ek, murid Thiante-pai itu, tanpa banyak cakap lagi sudah menerjang pula ke depan dan gerakannya demikian aneh dan cepat, sehingga tahu-tahu tangan kirinya sudah dapat menangkap ujung Giok-liong-kiam pada saat Kam Hong Tek miringkan tubuhnya karena kembali Pek-bin Tiat-ciang menyerangnya.

Kam Hong Tek terkejut dan mencoba untuk menarik pedang batu kemala itu, namun murid Lui Siok Ek itu mempertahankannya. Terjadilah betot- membetot, tarik-menarik, dan pada saat itu, Theng Ci wanita baju merah itu mengirim tendangan kilat yang ditujukan ke arah pergelangan tangan Kam Hong Tek. Pada saat yang sama pula, seperti sudah direncanakan saja, Pek-bin Tiat-ciang juga mengirim tendangan, ditujukan ke arah pergelangan tangan murid Thian-te-pai. Dua tendangan kilat itu amat kuat dan berbahaya dan mereka yang sedang bersitegang memperebutkan pedang pusaka itu maklum akan hal ini, dan terpaksa mereka lalu melepaskan pegangan dan melontarkan pedang pusaka itu ke atas, kemudian tangan mereka membalik dan menangkis tendangan.

Pedang pusaka Giok-liong-kiam itu dilontarkan oleh gabungan dua tenaga, terlempar jauh dan tinggi ke udara. Lima orang yang sedang memperebutkan pedang pusaka itu memandang ke atas dan mereka sudah siap untuk meloncat dan berlumba memperoleh pusaka itu lebih dahulu, walaupun masing-masing maklum bahwa empat orang yang lain pasti akan menghalanginya atau akan merampasnya kembali.

Setiap jalur urat syaraf di tubuh lima orang itu sudah menegang dan masing-masing sudah siap untuk meloncat ke atas ketika benda yang berkilauan hijau itu melayang turun dari atas. Akan tetapi, ketika benda itu sudah meluncur turun sampai kira-kira lima tombak dan semua orang sudah siap meloncat, tiba-tiba saja benda itu menyeleweng ke arah barat dan lenyap diantara daun-daun pohon, menimbulkan suara berkerosakan ketika benda itu menerjang daun-daunpohon yang lebat. Tentu saja semua orang menjadi terkejut dan heran, akan tetapi juga penuh kekhawatiran karena benda itu tiba- tiba saja lenyap. Seperti dikomando saja, lima orang itu lalu berloncatan dan lari ke arah pohon besar di sebelah barat itu.

Dan merekapun berdiri tertegun ketika melihat seorang kakek berjubah pendeta, bertubuh gendut sekali sehingga kelihatannya bulat. Kepalanya yang nampak kecil karena tubuh yang gendut itu juga bulat, dan kakek itu nampak lucu karena kepalanya gundul licin tanpa penutup kepala. Dia duduk bersila di atas batu hitam, sama sekali tidak bergerak, dan kedua matanya terpejam, kedua tangan dirangkap di depan dada. Jubah kuningnya sudah kumal dan warnanya hampir keputihan, kedua kakinya yang bersilang itu memakai sepatu kain yang bawahnya dilapis besi. Sukar menaksir usia kakek ini karena kepalanya gundul dan mukanya kelimis, bisa saja dia baru limapuluh tahun, akan tetapi juga mungkin usianya sudah tujuhpuluh tahun lebih. Alisnya yang tebal dan masih hitam itu menambah bingung bagi penaksir usianya.

Lima orang itu memandang penuh perhatian, terutama sekali dengan sinar mata mereka mencari-cari apakah di situ terdapat pedang Giok-liong-kiam. Akan tetapi, kakek gundul yang gendut itu sedang bersemadhi, hanya pernapasannya saja yang membuat perut gendutnya bergerak perlahan turun naik. Jelas bahwa kakek itu tidak memegang Giok-liong-kiam, juga di dekatnya tidak nampak benda pusaka itu. Lima orang itu celingukan akan tetapi tidak nampak ada orang lain di sekitar tempat itu, dan pusaka itupun lenyap tanpa bekas. Siapa lagi kalau bukan kakek ini yang menyebabkan pusaka yang sedang melayang turun itu tiba-tiba menyeleweng dan lenyap. Bukankah ke arah sini tadi terbangnya pedang kemala itu?

Lima orang itu adalah orang-orang kang-ouw yang cukup maklum bahwa orang seperti kakek tua ini sama sekali tidak boleh dipandang ringan dan sangat boleh jadi sekali kakek ini adalah seorang datuk persilatan yang amat lihai, walaupun tak seorang di antara mereka merasa pernah mengenalnya. Tidak ada pula ciri-ciri yang mengingatkan mereka akan seorang datuk persilatan, baik dari para pendekar maupun kaum sesat. Karena itu, mereka tidak berani sembarangan mengganggu kakek itu.

Akan tetapi, karena mereka ingin sekali memiliki Giok-liong-kiam dan karena mereka melihat sendiri betapa pedang pusaka itu tadi melayang ke arah sini, tetap saja terdapat kecurigaan besar dalam hati mereka bahwa tentu kakek ini yang main-main tadi, mempergunakan semacam ilmu yang amat luar biasa. Yang membuat mereka ragu-ragu adalah karena mereka tidak melihat Giok-liong-kiam di situ. Entah kalau disembunyikan di balik jubah kuning yang longgar itu, demikian mereka menduga-duga, dan lima pasang mata menunjukkan pandangannya dengan penuh selidik ke arah jubah kuning yang menutupi tubuh si kakek gendut.

Lui Siok Ek yang merasa paling berhak atas pusaka itu, pusaka Thian-te- pai yang hilang dicuri orang setengah tahun yang lalu, memberanikan hatinya dan diapun melangkah maju. Akan tetapi begitu dia melangkah maju, empat orang lainnyapun ikut pula melangkah maju, sejengkalpun tidak membiarkan tokoh Thian-tepai itu lebih dekat dengan kakek itu dari mereka! Lui Siok Ek tidak perduli dan diapun menjura dengan sikap hormat kepada kakek gundul yang masih duduk bersila sambil memejamkan mata itu.

“Harap locianpwe (orang tua gagah) sudi memaafkan. Saya Lui Siok Ek... “ tiba-tiba saja tokoh Thian-te-pai itu menghentikan kata-katanya karena mendadak kakek itu membuka kedua matanya dan sepasang mata itu mengeluarkan cahaya begitu mencorong membuat dia tertegun.

“Ha-ha-ha…”

Tiba-tiba hwesio yang gendut itu tertawa bergelak-gelak dan seluruh tubuhnya berguncang. Suara ketawanya sambung-menyambung, dan semua orang yang berada di situ terkejut bukan main dan cepat-cepat mereka mengerahkan tenaga dalam untuk mempertahankan diri karena suara ketawa itu mengandung tenaga khikang yang membuat isi perut mereka terguncang pula !

Hwesio itu menghentikan suara ketawanya, sejenak memandang kepada mereka bergantian seolah-olah diapun merasa agak heran melihat betapa lima orang itu kuat menghadapi suara ketawanya. Lalu dia memandang pula kepada Lui Siok Ek dan berkata, suaranya parau.

“Engkau tentu seorang murid Thian-te-pai, ada keperluan apakah kalian mengganggu tidurku.”

Lui Siok Ek cepat menjura.

“Harap locianpwe sudi memaafkan saya. Saya kehilangan pusaka perkumpulan kami yang disebut Giok-liong-kiam, dan tadi pusaka itu melayang ke arah sini. Kalau locianpwe mengetahui, mohon dapat memberi petunjuk agar saya dapat membawanya kembali ke perkumpulan kami.”

“Ha-ha-ha-ha...”

Kembali kakek gendut itu tertawa, dan sekali ini suara ketawanya lebih hebat dari pada tadi. Agaknya dia telah menambah khikang dalam suara ketawanya. Dan lima orang itu merasa betapa kaki mereka gemetar dan isi perut mereka terguncang hebat ! Mau tidak mau mereka terpaksa segera menjatuhkan diri bersila dan mengerahkan sinkang untuk melindungi diri mereka, karena kalau dilanjutkan tanpa pertahanan sinkang, tentu mereka akan dapat menderita luka dalam oleh serangan suara itu!

Suara ketawa itu susul-menyusul bagaikan gelombang, semakin lama semakin hebat! Lima orang itu kini memejamkan kedua mata, memusatkan seluruh kekuatan sinkang mereka untuk menahan gelombang suara yang seolah-olah menembus telinga mereka dan menusuk-nusuk jantung mereka. Tubuh mereka tergetar hebat dan keringat sebesar kedele mulai membasahi muka dan leher mereka. Mereka terkejut dan gelisah sekali. Mereka seperti terperosok ke dalam jurang yang berbahaya. Untuk keluar tidak mungkin karena sudah terlanjur. Menghentikan sebentar saja pemusatan sinkang mereka, tentu mereka akan terluka. Melanjutkanpun sampai kapan? Mereka sudah hampir tidak kuat dan terpaksa mereka menahan napas untuk membantu kekuatan mereka. “Omitohud...! Manusia saling bermusuhan hanya untuk memperebutkan benda mati! Mana mungkin kehidupan ini menjadi aman tenteram dan penuh kedamaian kalau manusia saling hantam hanya untuk memperebutkan benda mati? Ha-ha-ha…”

Kini lima orang itu sudah siap untuk berjaga diri, akan tetapi suara ketawanya sekali ini tidak mengandung tenaga khikang yang menyerang. Akan tetapi, melihat wajah gundul yang tertawa-tawa dan menyeringai lebar itu, melihat jubah kuning dan kepala gundul yang menunjukkan bahwa kakek itu seorang hwesio, lima orang itu lalu teringat akan seorang tokoh Siauw-lim- pai yang namanya amat terkenal akan tetapi menurut kabar tidak pernah keluar dari dalam kamarnya dimana dia bersamadhi dan bertapa sampai belasan tahun lamanya! Hwesio tokoh Siauw-lim-pai itupun hanya dikenal julukannya saja, yaitu Siauw-bin-hud (Buddha Bermuka Tertawa)!

“Harap locianpwe sudi memaafkan kelancangan saya. Apakah saya yang bodoh berhadapan dengan locianpwe Siauw-bin-hud?”

Mendengar ini, empat orang lain memandang tajam penuh perhatian, akan tetapi juga merasa gentar karena mereka semua sudah mendengar bahwa pertapa yang disebut Siauw-bin-hud adalah seorang locianpwe yang tinggi ilmu kepandaiannya dan merupakan angkatan tua yang dihormati.

Kam Hong Tek terkejut, akan tetapi kekagetannya disusul oleh rasa kaget mereka semua ketika kakek itu melanjutkan.

“Dan nona tentulah yang bernama Theng Ci murid kepala Ang-hong-pai, bukan? Dan engkau yang tampan ini siapalagi kalau bukan Pek-bin Tiat-ciang? Dan engkau yang tinggi besar dan gagah ini, pinceng kira tentu seorang perwira pengawal istana yang menyamar. Bukankah engkau yang bernama Tang Kui?”

Tentu saja semua orang terkejut. Kakek ini selain memiliki khikang yang luar biasa kuatnya, ternyata memiliki pula pemandangan yang amat luas, sehingga begitu berjumpa sudah dapat mengenal mereka semua! Padahal, kakek ini dikabarkan selalu menyembunyikan diri dalam sebuah ruang pertapaan di kuil Siauw-lim-si! Apakah kakek ini memiliki kesaktian yang tidak lumrah manusia?

Tang Kui yang menjadi besar hatinya karena kakek itu mengenalnya sebagai seorang komandan pengawal istana, hendak mempergunakan kedudukannya dan kewibawaan kaisar untuk mencari keuntungan. Dia menjura dengan sikap gagah seorang perwira tinggi tulen kepada kakek itu.

“Locianpwe sungguh bijaksana dapat mengenal saya dalam penyamaran. Saya yakin locianpwe mempunyai kebijaksanaan pula untuk mengingat bahwa saya adalah seorang utusan sribaginda kaisar untuk mencari dan membawa pusaka Giok-liong-kiam ke istana.”

Kembali kakek itu tertawa.

“Ha-ha-ha, Tang-ciangkun. Apa hubungannya tugasmu dengan pinceng (aku)?”

“Maaf, locianpwe. Karena tadi saya melihat Giok-liong-kiam melayang ke arah tempat ini, saya mohon petunjuk locianpwe, apakah locianpwe tahu dimana adanya pusaka itu.”

“Kalian berlima siap untuk saling bunuh dalam memperebutkan Giok-liong- kiam! Kalau pinceng tidak tahu dimana adanya pusaka itu, tentu saja pinceng tidak dapat memberi tahu kalian. Sebaliknya kalau pinceng tahu dimana, pinceng juga tidak dapat memberi tahu kalian, karena kalian tentu akan saling bunuh. Lebih baik pinceng simpan sendiri saja. Sudahlah, pinceng sedang beristirahat dan tidak mau diganggu lagi. Kalian harap pergi dari sini!”

Setelah berkata demikian, kakek itu kembali memejamkan kedua matanya dan merangkapkan kedua tangan di depan dada seperti tadi, sedikitpun tidak bergerak lagi!

Lima orang itu hampir merasa yakin kini bahwa Giok-liong-kiam tentu berada di tangan kakek ini, mungkin disembunyikan di balik jubahnya yang lebar dan longgar. Akan tetapi, mereka tidak berani bertanya lagi, dan pula, apa yang dapat mereka lakukan terhadap kakek ini? Baru diserang oleh suara ketawa saja, mereka sudah muntah darah dan sampai sekarangpun dada mereka masih terasa nyeri. Kalau kini mereka mempergunakan kekerasan untuk memaksa kakek itu mengaku dan menyerahkan Giok-liong-kiam, sama saja dengan mati konyol atau bunuh diri.

“Sudahlah!” teriak Tang Kui yang sudah meloncat mundur dan pergi dari situ.

Empat orang tokoh lain juga pergi dan isi hati mereka sama semua. Bagaimanapun juga, mereka kini tahu dimana adanya Giok-liong-kiam, yaitu di tangan Siauw-bin-hud, tokoh Siauw-lim-pai yang aneh itu! Dan hal ini saja sudah dapat menghibur hati mereka karena mereka dapat melaporkan kepada atasan mereka, atau dapat menyusun kekuatan untuk kelak mencoba merampas pusaka yang sudah mereka ketahui berada dimana.

Akan tetapi, semenjak peristiwa itu terjadi, Giok-liong-kiam dianggap hilang oleh dunia kang-ouw, walaupun mereka tahu bahwa pedang itu berada di tangan Siauw-bin-hud dari Siauwlim-pai. Bahkan kaisar sendiri mendapat nasihat dari para penasihatnya agar tidak mempergunakan kekerasan terhadap Siauw-lim-si hanya karena urusan pedang yang memang tadinya bukan pusaka istana. Istana mengutus serombongan pembesar meminta keterangan kepada Siauw-lim-si tentang pedang Giok- liong-kiam, dan ketua kuil memberi jawaban dengan pasti bahwa Siauw-lim-pai tidak tahu sama sekali tentang Giok-liong-kiam, dan bahwa selama puluhan tahun ini, hwesio tua yang bernama Siauw-bin-hud tidak pernah meninggalkan ruangan dimana dia mengurung diri dan bertapa!

Tentu saja jawaban ini dianggap sebagai pengingkaran untuk tetap menguasai pedang pusaka itu, namun kaisar menghabiskan urusan itu sampai di situ. Negara sudah menghadapi terlalu banyak pemberontakan, dan urusan menghadapi orang-orang asing berkulit putih juga sudah mendatangkan banyak kepusingan, maka sungguh amat merugikan kalau pemerintah harus bersikap kasar dan memancing permusuhan baru dengan pihak Siauw-lim-pai. Biarpun tidak ada yang berani menuntut kepada Siauw-lim-pai, akan tetapi dari lima orang itu tersiarlah berita di seluruh dunia kang-ouw bahwa Giok- liong-kiam yang diperebutkan itu kini berada di tangan Siauw-bin-hud tokoh

Siauw-limpai.

Dan enam tahun lewat tanpa ada suatu peristiwa terjadi sehubungan dengan pedang pusaka Giok-liong-kiam. Orang di dunia persilatan seolah-olah sudah melupakan peristiwa perebutan Giok-liong-kiam itu. Dan memang perebutan pusaka itu hanya terjadi dan timbul setelah tersiar kabar bahwa pusaka itu dicuri orang dari Thian-te-pai. Ketika pusaka itu masih menjadi pusaka Thian-te-pai, tidak ada orang atau golongan yang begitu gatal tangan untuk mencoba merampasnya dari tangan Thian-tepai, sebuah perkumpulan yang amat kuat, apalagi karena Thian-te-pai adalah perkumpulan orang-orang gagah yang menentang pemerintah penjajah Mancu, dan karena itu dihormati oleh semua golongan. Kini, setelah pusaka itu berada di tangan Siauw-lim-pai, tentu saja orang menjadi semakin segan untuk mencoba merampasnya.

Akan tetapi, secara diam-diam tentu saja banyak orang yang masih menginginkan pusaka itu, hanya tidak berani menyatakan secara berterang. Bahkan ada pihak-pihak yang menyusun kekuatan dan bersikap hati-hati, tidak berani sembarangan turun tangan terhadap perkumpulan seperti Siauw-lim- pai sebelum merasa yakin akan kekuatan sendiri.

Selama enam tahun itu tidak pernah terjadi sesuatu di Siauw-lim-si, karena negara berada dalam kekacauan. Pemberontakan-pemberontakan kecil berkobar dimana-mana, dan makin banyaklah rakyat dikuasai asap madat. Bahkan madat mulai menyusup ke dalam gedung-gedung para pembesar sehingga banyaklah pembesar mulai kecanduan. Makin banyak madat dimasukkan ke Tiongkok, makin banyak pula kekayaan negara dikuras. Yang puas mengelus perut gendut karena memperoleh untung yang luar biasa banyaknya adalah orang-orang kulit putih, terutama Bangsa Inggeris, dan juga orang-orang India yang menyediakan madat itu.

Suatu pagi yang cerah. Kecerahan pagi itu terasa sekali nikmatnya di sebuah puncak bukit kecil. Cahaya keemasan lembut itu memandikan seluruh permukaan bukit, rata dan tidak pilih kasih. Cahaya yang indah itu menggugah bumi dari pada kelelapan malam gelap. Tanah menguap tipis, hangat dan sedap baunya, menghalau kabut pagi yang agaknya masih bermalasan untuk meninggalkan bumi yang sedap. Bunga-bunga yang sudah mekar menjadi berseri, masih basah oleh embun, menerima cahaya matahari dengan penuh kebahagiaan. Embun yang tadinya dingin menyelimuti kelopak-kelopak bunga, kini terasa menyegarkan dan indah bergantungan dikelopak daun, berkilauan dan tersenyum-senyum. Daun-daun juga bangkit menghijau, segar dan menyambut cahaya matahari pagi sebagai sesuatu yang baru, yang sama sekali terlepas dan tiada kaitannya dengan malam tadi, dengan siang kemarin. Rumput-rumput hijau juga berseri-seri, pucuk-pucuk rumput kekuningan bersemi dan seperti anak-anak yang tiada mengenal susah, bergembira menyambut dan memasuki hidup. Burung-burung berkicau bersuka ria, kegembiraan yang spontan dan tidak dibuat-buat, lincah berloncatan dari dahan ke dahan, saling tegur dengan salam manis kepada teman-temannya,

siap untuk bersama-sama menghadapi hari baru yang cerah.

Sukarlah menggambarkan keindahan pagi. Keindahan yang hanya dapat dinikmati dengan penghayatan, dengan rasa, bukan untuk digambarkan atau diceritakan. Keindahan dan kebahagiaan yang dapat dinikmati setiap orang manusia.

Sayang seribu sayang, jarang sekali ada orang dapat lagi menikmati keindahan yang membahagiakan itu. Pikiran kita terlalu sibuk dengan urusan lahiriah, mencari uang, menuntut ilmu, sosial, politik, agama, pengejaran kesenangan, pelarian dari kesusahan dan sebagainya. Cobalah sekali-kali, makin sering semakin baik, kita melepaskan diri dari semua itu, kita tinggalkan semua itu agar batin kita kosong sama sekali dari pada segala macam konflik dan masalah kehidupan, lalu kita masuki pagi yang baru ini, kita biarkan diri seperti sehelai rumput yang menikmati embun dan cahaya keemasan.

Pagi itu terasa amat sunyi di kuil Siauw-lim-si yang terletak di puncak bukit kecil itu. Sunyi yang mengamankan hati, sunyi penuh keriangan dan kebahagiaan yang bukan timbul karena senang akan sesuatu. Namun, sejak matahari belum nampak, baru sinarnya saja yang mendahuluinya, para hwesio di kuil itu sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Pekerjaan yang merupakan tugas sehari-hari, pekerjaan yang diulang-ulang sehingga tidak ada artinya lagi bagi si pekerja. Menyapu pekarangan, memikul air, menyalakan api di dapur, membersihkan meja sembahyang, ataupun membaca liam-keng atau doa sambil mengetuk-ngetuk kayu. Semua ini dilakukan seperti otomatis, tanpa gairah lagi, seperti kalau kita pergi ke kantor, ke sekolah, ke pasar atau sibuk di dapur. Dan tahu-tahu usia telah menjadi tua oleh pekerjaan yang telah menjadi gerakan kebiasaan tanpa isi ini.

Sudah menjadi kebiasaan para hwesio untuk bangun pagi-pagi sekali. Kebiasaan yang amat baik, karena hal ini menyehatkan badan dan pikiran. Kuil Siauw-lim-pai tidaklah sebesar ratusan tahun yang lalu. Bentrokan-bentrokan dengan pemerintah, terutama pemerintah Kerajaan Mancu yang berkuasa, selama ratusan tahun membuat Siauw-lim-pai terpecah belah dan mengalami kemunduran. Akan tetapi, biarpun demikian, tetap saja Siauw-lim-si merupakan satu di antara kuil-kuil terbesar di seluruh negeri. Dan Siauw-lim- pai, yaitu perkumpulan yang terdiri dari murid-murid Siauw-lim-si di bidang ilmu silat, tetap saja merupakan partai persilatan terbesar.

Haruslah diakui bahwa ilmu silat Siauw-lim-pai merupakan ilmu silat tertua, bahkan merupakan sumber dari hampir semua ilmu silat yang kemudian bertumbuhan dan bermunculan di dunia persilatan. Ilmu silat Siauw-lim-pai adalah ilmu silat murni, yang diciptakan oleh orang-orang suci, oleh para cerdik pandai yang berbatin bersih. Ilmu silat yang diperkembangkan untuk keuletan badan, kebesaran jiwa dan ketenangan batin, yang dirangkai dengan ilmu batin yang tinggi berdasarkan agama. Oleh karena aliran ini masih aseli maka cara berlatihnya juga amat berat. Bukan seperti ilmu-ilmu silat yang sengaja dipelajari dengan pamrih untuk berkelahi, mudah dipelajari dan mudah dipraktekkan untuk perkelahian, namun sama sekali tidak ada manfaatnya untuk kemajuan batin.

Tidak kurang dari limapuluh orang hwesio tinggal di kuil Siauw-lim-si yang besar dan luas itu. Kuil itu memang amat luas dan merupakan sebuah perkampungan kecil yang dikelilingi tembok tinggi. Dahulu, pernah di masa jayanya, kuil ini menampung penghuni sebanyak hampir dua ratus orang.

Yang menjadi ketua bernama Thian He Hwesio, seorang kakek tinggi kurus yang usianya enampuluh tahun lebih, dibantu oleh beberapa sute (adik seperguruan) yang bertugas sebagai kepala bagian. Sebagai ketua, Thian He Hwesio hanya menangani pelajaran agama, mengepalai upacara-upacara sembahyang dan menentukan peraturan-peraturan serta mengambil keputusan akan segala masalah yang timbul di antara mereka.

Para sute-sutenya adalah Thian Kong Hwesio yang bertugas sebagai pelatih ilmu silat kepada para murid, Thian Tek Hwesio bertugas sebagai kepala rumah tangga, dan Thian Khi Hwesio bertugas mengatur semua urusan yang berhubungan dengan luar kuil. Mereka semua ini adalah hwesio-hwesio yang memiliki ilmu silat tinggi dan nama mereka disegani di seluruh dunia persilatan, bukan hanya karena kepandaian mereka, akan tetapi juga karena sepak terjang para murid Siauw-lim-pai yang gagah perkasa, dan juga karena para hwesio ini tidak pernah mau mencampuri urusan di luar linkungan mereka sendiri.

Di pagi yang cerah itu, semua hwesio melaksanakan tugas masing-masing seperti biasa. Hanya ada sedikit perobahan terjadi di dalam kuil itu dan setiap perobahan tentu disambut dengan penuh kegembiraan oleh mereka. Kebiasaan yang dilakukan setiap hari tanpa ada perobahan menimbulkan jemu. Akan tetapi sedikit perobahan itu hanya dianggap baru selama dua tiga hari saja, dan sesudah itupun tenggelam lagi dan hampir terlupa oleh mereka. Perobahan itu adalah keluarnya seorang kakek hwesio dari dalam ruangan pertapaannya, dimana dia tinggal selama hampir dua puluh tahun. Hwesio ini adalah seorang hwesio gendut yang dikenal sebagai Siauw-bin-hud!

Hwesio tua ini adalah paman guru dari Thian He Hwesio dan tiga orang sutenya yang menjadi pimpinan kuil. Merupakan satu-satunya hwesio yang masih hidup dari tingkatannya. Menurut perkiraan para ketua itu, tentu usia susiok (paman guru) mereka itu tidak kurang dari delapan puluh tahun. Dapat dibayangkan betapa heran rasa hati mereka ketika pada suatu pagi, seminggu yang lalu, paman mereka itu tahu-tahu sudah duduk bersila di ruangan belakang, dan kepada hwesio yang bertugas di situ minta agar disediakan air hangat untuk mencuci muka dan bubur untuk sarapan pagi. Mereka semua segera berkumpul dan memberi hormat kepada susiok mereka.

Kemudian Siauw-bin-hud ini memang mengejutkan sekali. Biasanya, para murid Siauw-lim-pai hanya tahu bahwa di sebuah ruangan tertutup terdapat seorang hwesio tua yang duduk bertapa. Ruangan ini terkunci dan tak seorangpun boleh memasukinya, kecuali petugas yang setiap hari meninggalkan makanan dan air minum ke dalam ruangan itu. Yang kelihatan hanya punggung kakek itu yang menghadap dinding.

Dan kini, setelah duapuluh tahun bertapa di dalam ruangan itu, Siauw-bin- hud keluar dari tempat pertapaannya, dan yang amat mengherankan, tubuhnya masih gendut bulat, padahal makannya hanya sekedarnya saja. Dan senyumnya yang ramah itu masih tak pernah meninggalkan mukanya yang bulat.

Tentu saja berita aneh ini bocor keluar dinding kuil dari mulut para hwesio yang sedang bertugas di luar dan bertemu dengan penduduk di luar kuil. Dan secara luar biasa sekali, berita tentang munculnya Siauw-bin-hud yang sudah dua puluh tahun bertapa itu dengan amat cepatnya tersiar ke dunia kang-ouw. Dan pada pagi hari itu, hanya sepekan kemudian, nampak beberapa orang datang menuju ke kuil Siauw-lim-si, mendaki bukit dari berbagai jurusan. Seperti sudah dijanjikan lebih dulu saja, pada waktu yang bersamaan, di pekarangan luar pintu gerbang kuil Siauw-lim-si kini berkumpul beberapa

orang yang terdiri dari beberapa rombongan.

Rombongan pertama adalah Nam San Losu, ketua kuil dekat puncak bukit mata air Si-kiang atau yang dikenal pula dengan nama Sungai Mutiara. Kakek tinggi besar muka hitam ini walaupun sudah berusia enampuluh enam tahun, masih dapat melakukan perjalanan cepat dan dapat mendaki bukit menuju ke puncak kuil Siauw-lim-si tanpa banyak kesukaran. Dia ditemani oleh seorang sutenya dan juga oleh seorang anak laki-laki berusia tiga belas tahun. Seorang anak laki-laki yang berpakaian sederhana seperti anak petani, wajahnya membayangkan kegagahan dan keberanian, tubuhnya tegap dan sikapnya gagah. Terutama sekali sepasang mata yang tajam itu, dengan hiasan alis yang tajam tebal, membuat anak ini walaupun sederhana dan seperti anak petani, namun nampak bukan anak sembarangan. Anak ini adalah Tan Ci Kong. Seperti kita ketahui, enam tahun yang lalu, Tan Ci Kong, putera tunggal mendiang Tan Seng atau Tan Siucai, oleh paman angkatnya, Sie Kian yang tinggal di Nan- ning, diantar kepada Nam San Losu dan diterima sebagai murid oleh ketua kuil itu. Dan seperti telah diceritakan di bagian depan, Nam San Losu adalah seorang tokoh Siauw-lim-pai yang menjadi ketua kuil Budha di bukit mata air Si-kiang itu.

Rombongan kedua adalah seorang kakek kurus berbaju tambal-tambalan seperti seorang pengemis, akan tetapi pakaiannya yang penuh tambalan itu bersih, juga mukanya yang penuh cambang bauk itu nampak bersih. Dengan matanya yang sipit dan mulutnya yang selalu senyum-senyum, kakek ini nampak lucu. Dia ditemani oleh seorang anak perempuan yang berusia sebelas tahun, seorang anak yang bermata lebar dan tajam penuh keberanian memandang ke sekelilingnya. Anak perem puan ini adalah Siauw Lian Hong dan kakek itu bukan lain adalah Bubeng San-kai, kakek yang telah menolongnya dari kebakaran dan yang kemudian menjadi kakeknya, juga gurunya, juga satu-satunya orang di dunia yang dekat dengan anak yatim piatu ini

Rombongan ketiga terdiri dari lima orang, dipimpin oleh seorang kakek berusia enampuluh tahun, yang tinggi kurus dan gagah perkasa akan tetapi agak angkuh sikapnya, bersama empat orang yang usianya beberapa tahun lebih muda darinya. Lima orang laki-laki ini semua bersikap gagah dan di dada mereka nampak lukisan gambar Im-Yang, yaitu bulatan yang terbagi dua dengan warna hitam dan putih sebagai tanda Im-Yang, dua sifat yang saling bertentangan, juga saling berkaitan, dua sifat yang menggerakkan, menciptakan dan mengadakan segala yang ada di dunia ini. Dari pakaiannya ini mudah diduga siapa mereka, yaitu tokoh-tokoh perkumpulan Thian-te-pai yang terkenal. Di antara mereka terdapat pula Lui Siok Ek, murid kepala Thian- te-pai yang pernah memperebutkan pusaka Giok-liong-kiam pada enam tahun yang lalu.

Rombongan keempat adalah tiga orang yang berpakaian perwira tinggi, di antara mereka nampak Tang Kui, raksasa yang pernah menyamar sebagai petani, dan yang pada enam tahun yang lalu pernah pula memperebutkan pusaka Giok-liong-kiam. Dua orang yang lain adalah dua perwira yang kedudukannya lebih tinggi dan ilmu silatnya jauh lebih lihai dari pada Tang Kui, terutama sekali kakek yang bertubuh kecil pendek itu, yang berjenggot panjang dan baju seragamnya agak kebesaran dan kedodoran. Kelihatannya lucu dan tidak ada apa-apanya, akan tetapi dialah Pouw Ciangkun, seorang komandan pengawal pribadi kaisar yang amat tangguh dan terkenal karena ilmu kepandaiannya yang tinggi.

Rombongan kelima terdiri dari seorang kakek tinggi besar bermuka merah yang pakaiannya mewah sekali, bersikap angkuh, yang diikuti oleh tujuh orang pemuda antara berusia duapuluh sampai duapuluh lima tahun. Tujuh orang pemuda ini rata-rata bermuka tampan, bahkan pesolek seperti wanita, dengan pakaian yang indah-indah. Biarpun kakek itu hanya seperti seorang hartawan besar, akan tetapi rombongan lain yang melihatnya nampak terkejut dan gelisah. Hal ini tidaklah mengherankan, karena kakek bermuka merah ini terkenal sekali sebagai seorang datuk kaum sesat yang amat ditakuti orang. Kakek ini pernah merajalela di dunia persilatan sebagai seorang tokoh sesat dan akhirnya setelah berhasil menjadi orang yang amat kaya raya, lalu mengundurkan diri dan kabarnya tinggal di sebuah pulau di Lautan Kuning, dinamakan Pulau Layar karena bentuknya dari jauh seperti layar sebuah perahu. Di pulau inilah dia tinggal sebagai seorang raja, bersama para pelayan dan pembantunya, juga murid-muridnya. Akan tetapi semenjak tinggal di pulau itu, Tang Kok Bu ini dijuluki orang Hai-tok (Racun Lautan), tidak pernah muncul di dunia kangouw walaupun kaum sesat masih menganggapnya sebagai seorang datuk mereka yang ditakuti.

Lima rombongan ini hanya saling pandang dengan heran karena tanpa berjanji, mereka pada pagi hari itu berkumpul di depan pintu gerbang Siauw- lim-si. Biarpun tidak saling bicara, mereka semua diam-diam dapat menduga bahwa kedatangan mereka itu mengandung maksud yang sama, yaitu tentu ada hubungannya dengan keluarnya Siauw-bin-hud dari tempat pertapaannya seperti yang menjadi berita hangat di dunia kang-ouw, dan ada hubungannya dengan Giok-liong-kiam!

Akan tetapi agaknya maksud kedatangan Nam San Losu, sutenya dan muridnya tidak sama dengan maksud kedatangan rombongan lain. Nam San Losu bersama sutenya dan Tan CiKong sudah berlutut di depan pintu gerbang dan kakek itu berseru dengan suara halus namun mengandung tenaga khikang sehingga menggema ke dalam pintu gerbang.

“Murid Nam San datang berkunjung untuk memberi hormat kepada para suhu!”

Mendengar seruan ini, tak lama kemudian beberapa orang hwesio membuka pintu gerbang. Tentu saja sebagai ahli-ahli silat pandai, para hwesio di dalam kuil sudah tahu akan kedatangan banyak orang di depan pintu gerbang itu. Dua orang hwesio menyambut Nam San Losu dengan sikap hormat.

“Kiranya Nam San suheng dan Nam Thi suheng yang datang berkunjung!” kata dua orang hwesio tua yang membuka pintu gerbang itu.

“Kami mendengar bahwa susiok Siauw-bin-hud telah keluar dari tempat pertapaannya, dan kami mohon dapat menghadap beliau,” kata pula Nam San Losu. Mendengar ini, dua orang hwesio penyambut itu lalu mempersilahkannya masuk. Pada saat itu muncullah seorang hwesio yang pendek kecil berusia enampuluh lima tahun lebih, dari dalam dan melihat hwesio yang pendek kecil dan kelihatan lemah ini, Nam San Losu cepat menjura dengan sikap hormat.

“Thian Tek suheng, terimalah hormat pinceng.”

Si pendek kecil itu membalas penghormatan tamu dari selatan itu.

“Ah, kiranya Nam San sute yang datang berkunjung. Silahkan, sute, toa suheng dan juga susiok berada di ruangan belakang.”

Setelah mempersilahkan tamu yang masih keluarga Siauw-lim-si sendiri itu masuk, Thian Tek Hwesio lalu keluar dan berdiri di ambang pintu gerbang menghadapi para rombongan lain. Nam San Losu diikuti oleh Nam Thi Hwesio, juga Ci Kong, lalu masuk ke dalam. Karena itu, hatinya girang sekali ketika gurunya mengajak dia untuk pergi mengunjungi Siauw-lim-si.

Ketika mereka memasuki kuil, para hwesio di kuil itu yang semua mengenal Nam San Losu dan Nam Thi Hwesio, menyambut mereka dengan ramah dan seorang di antara mereka mengantar tiga orang tamu itu ke ruangan belakang yang lebar.

Di dalam ruangan itu telah duduk seorang hwesio yang tua dan gendut sekali, demikian gendutnya sampai nampak bulat. Jubahnya kuning menutupi semua tubuh dan sepatunya dari kain, juga sudah agak butut seperti jubahnya. Yang menarik para hwesio ini adalah wajahnya yang selalu tersenyum itu sehingga wajah itu nampak demikian ramah dan mencerminkan watak yang halus dan budiman. Sinar matanya juga lembut dan sinar mata itu begitu penuh pengertian dan agaknya tidak ada apapun yang akan kakek ini merasa heran. Sukarlah mengira-ngirakan berapa usia kakek ini, karena walaupun sikapnya memperlihatkan usia yang sudah amat tua, namun wajahnya yang bulat itu tidak dihiasi keriput karena gendutnya. Di depan kakek gendut ini duduk bersila pula tiga orang hwesio, yaitu Thian He Hwesio, Thian Kong Hwesio dan Thian Khi Hwesio, tiga di antara empat orang pengurus atau ketua Siauw-lim- si di waktu itu karena orang ketiga, Thian Tek Hwesio, sedang keluar menyambut para tamu.

Begitu melihat hwesio gendut itu, diam-diam Nam San Losu dan Nam Thi Hwesio merasa kagum dan terheran-heran. Duapuluh tahun lebih yang lalu, mereka pernah bertemu dengan paman guru mereka ini. Dan sekarang, setelah duapuluh tahun lebih lewat, agaknya kakek gendut itu masih sama saja, sedikitpun tidak nampak perobahan! Setelah tiba di ruangan itu, Nam San Losu dan Nam Thi Hwesio segera menjatuhkan diri berlutut menghadap kakek gendut, diikuti pula dari belakang oleh Ci Kong.

“Susiok, terimalah hormat dari teecu,” kata Nam San Losu dengan sikap hormat.

“Susiok...!”

Nam Thi Hwesio juga memberi hormat dengan berlutut. Ci Kong hanya berlutut saja tanpa mengeluarkan suara, hatinya gentar dan juga kagum.

Hwesio gendut itu menoleh dan senyumnya melebar ketika dia melihat dua orang hwesio itu.

“Aha, bukankah kalian ini Nam San dan Nam Thi? Bagus sekali! Bagaimana khabarnya di selatan, baik-baik sajakah?”

Dua orang hwesio dari selatan itu menghaturkan terima kasih, kemudian barulah mereka memberi hormat kepada tiga orang suheng mereka sebagai tuan rumah. Thian He Hwesio membalas penghormatan itu.

“Sute, jauh-jauh sute datang dari selatan, apakah ada keperluan khusus untuk dibicarakan?”

“Suheng, pertama-tama karena sudah lama kami tidak berkunjung dan merasa rindu, maka kesempatan ini kami pergunakan untuk berkunjung ke Siauw-lim-si. Kedua kalinya, karena mendengar berita bahwa susiok telah keluar dari tempat pertapaan, maka kami ingin sekali menghadap dan mohon petunjuk. Dan ketiga kalinya, kamipun mendengar berita rebut-ribut tentang Giok-liong-kiam, maka kami ingin sekali mendengar bagaimana sebenarnya hal yang telah terjadi karena ini menyangkut nama Siauw-lim-pai.”

“Ahhh...!” Thian He Hwesio menarik napas panjang.

“Justeru urusan itulah yang kini sedang kita bicarakan. Sudah selama enam tahun kami di Siauw-lim-si selalu didatangi orang yang secara halus maupun kasar menyindirkan bahwa Giok-liong-kiam kita rampas dan kita sembunyikan. Karena pada waktu itu susiok masih bertapa, kami tidak berani menganggu. Dan sekarang, menurut susiok, beliau sama sekali tidak tahu akan pedang Giok-liong-kiam itu. Bukankah ini membuat orang merasa menyesal bukan main?”

“Ha-ha-ha-ha...!”

Kakek gendut itu tertawa bergelak sampai seluruh tubuhnya bergoyang- goyang. Diam-diam Ci Kong mengangkat mukanya memandang dengan heran. Kakek itu tertawa begitu polos, tidak dibuat-buat seperti orang yang merasa geli mendengarkan sesuatu yang lucu. Padahal, dia sendiri tidak melihat atau mendengar sesuatu yang lucu menggelikan. Apa sih yang ditertawakan oleh kakek gendut aneh itu, pikirnya heran. Akan tetapi lima orang hwesio tua yang berlutut di situ tidak merasa heran dan mereka hanya menanti saja dengan sabar sampai susiok mereka menghentikan ketawanya.

“Ha-ha-ha… Thian He, apakah sampai sekarang engkau masih juga berpikiran seperti kanak-kanak? Segala macam urusan yang terjadi di dunia ini, baik yang menyerempet diri kita maupun yang bukan, adalah peristiwa yang terjadi, suatu kenyataan yang tak dapat dibantah lagi, dan bagaimanapun juga, semua itu sumbernya terletak pada diri sendiri. Menyesal atau tidak menghadapinya, terserah kepada kita. Apakah hanya dengan penyesalan saja segala urusan dapat diselesaikan? Tidak, sebaliknya malah. Penyesalan mendatangkan kemarahan dan dendam, dan semua itu malah mengacaukan urusan karena mengeruhkan batin. Jelaslah bahwa ada orang yang memalsukan namaku untuk merampas pedang pusaka. Bukankah demikian persoalannya?”

“Benar, susiok. Enam tahun yang lalu, pedang pusaka Giok-liong-kiam yang tadinya disimpan oleh Thian-te-pai sebagai pedang pusaka, lenyap dicuri orang. Dunia kang-ouw menjadi gempar dan semua orang merasa berhak untuk mencari dan memiliki pedang yang sudah terlepas dari tangan Thian-te-pai itu dan terjadilah perebutan. Kemudian, berita terakhir mengatakan bahwa susiok yang telah merampas pedang itu. Nah, bukankah hal ini amat membuat hati penasaran, apalagi kalau susiok sendiri telah mengatakan bahwa susiok sama sekali tidak tahu tentang pedang itu, apalagi merampasnya? Orang memalsu nama susiok, mana hal itu dapat dikatakan bersumber pada diri kita sendiri?”

Thian He Hwesio, ketua Siauw-lim-si itu membantah sambil mengerutkan alisnya, bagaimanapun juga merasa tidak enak dikatakan masih kekanak- kanakan oleh susioknya di depan para sutenya.

“Ha-ha-ha, mari kita diam sejenak menjernihkan batin agar kita dapat menghadapi kenyataan dengan waspada dan tidak dipengaruhi oleh nafsu- nafsu yang mengeruhkan hati,” kata kakek gendut itu yang lalu memejamkan kedua matanya.

Lima orang hwesio itupun lalu bersila dan memejamkan mata, memangku kedua tangan. Ci Kong yang melihat ini maklum bahwa suhunya dan yang lain- lain sedang bersamadhi agar batin menjadi kosong. Dia duduk bersila dan memandang semua itu dengan heran. Tak lama kemudian, kakek gendut membuka matanya dan tertawa, membuat yang lain juga membuka mata.

“Kalian renungkan baik-baik. Andaikata di dunia ini tidak ada Siauw-bin- hud, andaikata Siauw-lim-pai bukan merupakan partai persilatan yang dianggap kuat, apakah ada orang yang mau jahil memalsu namaku dan Siauw- lim-pai? Nah, sumber semua peristiwa ini, didasari keadaanku dan keadaan Siauw-lim-pai, bukan? Jadi sumbernya berada dalam diri sendiri. Berbahagialah orang yang sama sekali tidak ada nama dan tidak dikenal, berbahagialah orang-orang yang berada di tempat paling bawah sehingga tidak nampak menonjol.”

“Omitohud, baru sekarang teecu dapat melihat kebenaran ucapan susiok. Memang, dengan penyesalan dan kemarahan, kita tidak akan dapat mengatasi masalah, bahkan mengeruhkan batin. Akan tetapi, maaf, susiok, apakah dengan berdiam diri saja masalahnya juga dapat teratasi? Semua orang kang- ouw tentu akan menuduh kita yang menyembunyikan pedang pusaka itu,” kata pula Thian He Hwesio. “Bahkan kini di luar telah datang banyak orang yang menurut dugaan teecu sudah pasti ada urusannya dengan Giok-liong-kiam,” sambung Thian Ki Hwesio yang lebih mengenal keadaan dunia luar kuil, karena dialah yang menjadi ketua yang bertugas menghadapi semua urusan di luar kuil.

“Menghadapi urusan dengan nafsu amatlah tidak benar, akan tetapi menghadapinya dengan acuh juga tidak dapat membereskan urusan. Kita harus menghadapi segala macam peristiwa dengan waspada dan dengan kewaspadaan akan timbul kebijaksanaan dalam bertindak. Omitohud...”