-->

Pedang Naga Kemala Jilid 01

Jilid 01

”Teng-ko, sejak tadi engkau menghisap madat sampai rumah ini baunya seperti kebakaran. Darimana engkau memperoleh uang untuk membeli madat begitu banyak? Kemarinpun engkau sudah menghisap madat seharian, dan sekarang lagi. Dan aku melihat bungkusan berisi madat. Suamiku, bagaimana engkau bisa mendapatkan madat begitu banyak, sedangkan barang- barang kita sudah habis kaujual?”

Wanita itu masih muda, paling banyak tigapuluh tahun usianya. Biarpun pakaiannya bersahaja, wajahnya mem- bayangkan kemiskinan, rambutnya kusut dan tubuhnya agak kurus, namun ia termasuk wanita yang cantik manis raut wajahnya, dan tubuhnya yang agak kurus itu padat semampai.

Seorang wanita dengan daya tarik yang

masih kuat. Akan tetapi kini wajahnya muram dan sinar matanya heran dan marah ketika ia menegur suaminya yang enak-enak duduk bersila sambil menghisap madat dari cangklong bambu yang besar itu. Disulutnya tembakau campur madat yang diselipkan di tempat tembakau yang nampaknya seperti cabang yang menonjol keluar di tengah pipa bambu, lalu disedotnya. Terdengar suara menderodot disertai suara gluk-gluk. Asap tembakau madat itu melalui air, terus masuk ke mulut, langsung menembus tenggorokan memenuhi paru-paru, dihisap oleh darah di tubuh yang tak berbaju itu.

Matanya terpejam dan dia seolah-olah tidak mendengar teguran istrinya, bahkan agaknya dia sudah lupa sama sekali akan dunia di sekitarnya, terbuai oleh pandangan khayal indah yang muncul karena pikiran dan syarafnya sudah dikuasai oleh racun madat.

Pria itu bertubuh kurus, akan tetapi masih nampak bekasnya bahwa dahulunya dia tentu bertubuh tegap. Masih nampak otot menonjol di balik kulit yang hampir tak berdaging lagi itu, dadanya bidang akan tetapi kini kedua pundaknya menurun. Wajahnya juga tidak boleh disebut buruk. Tidak, pria ini tadinya tentu seorang laki-laki yang bertubuh tegap dan gagah. Bahkan melihat keadaan buku-buku jarinya, pergelangan tangannya, nampak tulang- tulang menonjol dan kulit yang menebal, tanda dia banyak melakukan latihan ilmu silat yang mengandalkan tenaga gwa-kang (tenaga luar).

“Teng-ko, jawablah aku!”

Chin Hwa, istrinya, berteriak dengan hati kesal dan iapun memegang pundak suaminya yang telanjang itu dan mengguncangnya beberapa kali.

Tubuh yang sedang dibuai asap madat itu terguncang dan kedua matanya dibuka perlahan, seperti mata orang yang hampir tidak kuat menahan kantuk. Hanya sedetik saja dia membuka mata memandang kepada istrinya dengan sinar mata tidak mengenal, lalu dipejamkannya lagi matanya. Akan tetapi kedua tangannya dengan cekatan dan otomatis sudah memilin-milin tembakau campur madat lagi untuk dipasang di tempat tembakau.

Teng-ko! Dengarkan aku dan jawablah atau... akan kubuang pipamu ini!” Chin Hwa berteriak dan mengguncang pundak suaminya semakin kuat.

Sekali ini Siauw Teng membuka matanya, dilebarkan seperti orang tidur yang terganggu dan terkejut.

“Aih, engkau? Ada apakah? Mengapa kau ganggu aku yang sedang menikmati madat?”

“Suamiku…” Cin Hwa menahan kesabarannya.

“Kenapa engkau sekarang menjadi begini? Aku bertanya kepadamu, dari mana engkau memperoleh uang, kenapa tidak engkau beli lagi perabot-perabot rumah kita yang sudah kau habiskan? Kenapa tidak kau beli pakaian untuk kita, untuk anak kita? Dan beras?”

Laki-laki itu dengan muka penuh kesabaran tersenyum, akan tetapi kedua tangannya kini sibuk mengisi lagi pipanya dengan tembakau madat.

Sepasang mata wanita itu terbelalak dan mukanya menjadi agak pucat, matanya memandang wajah suaminya penuh selidik.

“Ciu... Ciu Lok Tai, pedagang madat itu? Mengapa dia memberi madat kepadamu... hayo ceritakan, apa maunya...!”

Wanita itu teringat betapa hartawan itu pernah datang ke rumah mereka, bercakap-cakap dengan suaminya, akan tetapi matanya yang berminyak itu selalu ditujukan kepadanya secara kurang ajar sekali. Dan kini hartawan itu, yang ia dengar dari para tetangganya merupakan seorang laki-laki mata keranjang yang suka mengganggu anak istri orang dengan mempergunakan hartanya, telah memberi madat demikian banyaknya kepada suaminya. Suami itu memandang dengan sikap heran.

“Mengapa tidak? Engkau akan berada di rumah gedung mewah itu selama satu minggu, membantu istrinya membereskan rumah, karena katanya dia mantu. Karena engkau pandai menjahit, maka engkau dimintai bantuan, dan aku setuju. Siapa tidak akan membantu seorang sahabat baik seperti dia?”

“Tapi aku tidak sudi! Aku tidak mau!”

Tiba-tiba saja, pria yang tadinya seperti lesu dan lemah itu membuka matanya dan sepasang mata itu memandang marah. Seketika lenyaplah kantuknya dan di dalam sinar mata itu terkandung ketajaman dan wibawa yang membuat Cin Hwa menunduk. Kini ia merasa seperti berhadapan dengan suaminya yang dulu sebelum menjadi hamba madat, dan memang suaminya ini selalu dapat menguasainya dengan sikapnya yang tegas.

“Engkau istriku, bukan? Dan engkau hendak menjerumuskan aku sebagai seorang laki-laki yang menjilat ludah sendiri, yang melanggar janji sendiri? Lihat, madat itu sudah kuhisap selama dua hari. Tak mungkin kukembalikan dalam jumlah yang sama, dan aku sudah berjanji. Pula, apa salahnya membantu keluarga Ciu yang mempunyai kerja itu? Apa salahnya?”

“Akan tetapi... akan tetapi... pandang matanya kurang ajar...?”

“Ha-ha… dia tidak akan berani berbuat kurang ajar kepadamu. Dia tahu siapa aku dan aku percaya kepadamu, istriku. Aku cinta padamu dan engkau cinta padaku. Pula, siapa yang dikhawatirkan? Engkau disana akan membantu istrinya. Tentang pandang mata, heh-heh… mata pria mana yang tidak akan berminyak memandang engkau yang cantik manis?”

Laki-laki itu tertawa bergelak dan melanjutkan pekerjaannya mengisap madat. Cin Hwa tidak membantah lagi, akan tetapi ia masih mencoba.

“Suamiku, ingatlah, bagaimana aku dapat meninggalkan anak kita, Lian Hong, yang baru berusia lima tahun itu? Siapa akan merawatnya?”

“Apa engkau tidak percaya lagi kepadaku?”

Cin Hwa tidak dapat membantah lagi, ingin dengan hatinya yang panas dan gelisah ia meneriakkan ketidak percayaannya. Akan tetapi suaminya adalah seorang suami yang selama ini amat baik, amat mencintanya dan selama sepuluh tahun ini ia tidak dapat mencela suaminya. Akan tetapi, semenjak suaminya menghisap madat, lima tahun yang lalu, terjadilah perobahan perlahan-lahan. Memang mula-mula suaminya masih bekerja dan masih memperhatikannya. Akan tetapi, makin lama suaminya semakin tidak menaruh perhatian kepadanya. Dan hal itu terjadi semenjak anak satu-satunya mereka, Siauw Lian Hong, lahir.

Chin Hwa semakin terkejut, akan tetapi sebelum ia mampu menjawab, terdengar suara orang di luar rumah. Daun pintu terketuk dan masuklah dua orang sambil tersenyum menyeringai. Mereka adalah dua orang laki-laki yang usianya sekitar empat puluhan, yang seorang gendut dan seorang lagi tinggi tegap. Si tinggi tegap ini membawa sebuah bungkusan besar yang diletakkannya di atas meja.

“Selamat siang, Siauw Kauw-su! Aha, kulihat engkau sedang menikmati madat. Hemmm… alangkah sedap baunya!”

Si gendut berkata sambil menyedot-nyedot hawa yang pengap dalam ruangan itu, dan matanya yang sipit melirik ke arah nyonya rumah yang memandang dengan muka pucat.

Siauw Teng sudah biasa disebut Siauw Kauw-su (Guru Silat Siauw), dan mendengar ucapan itu,tanpa menghentikan sedotannya, dia membuka mata memandang. Setelah dia menyedot habis semua asap dari pipa, kedua matanya dipejamkan dan dia menahan napas sekuatnya, untuk menahan asap itu selama mungkin di dalam dadanya. Baru setelah dia tidak kuat bertahan lagi, dia menghembuskan napas perlahan-lahan dan hanya sedikit sisa asap yang keluar dari mulut dan hidungnya. Sebagian besar sudah menempel pada dinding-dinding paru-parunya.

“Eehhhhh...!” Keluhnya penuh nikmat dan diapun membuka matanya lagi dan tersenyum kepada dua orang itu.

“Apakah kalian diutus oleh Ciu Wan-gwe?” tanyanya.

Si gendut itu mengangguk-angguk dan mengangkat kedua tangan di depan dada. Mulutnya menyeringai dan matanya menjadi semakin sipit, mukanya mirip seekor babi.

“Benar... eh, betul, Siauw Kau-su, kami diutus Ciu Wan-gwe untuk... eh, menjemput toanio... eh, membantu nyonya besar kami.”

Siauw Teng menoleh kepada istrinya yang memandang kepadanya penuh kegelisahan dan keraguan.

“Istriku, berangkatlah engkau bersama mereka ke rumah Ciu Wan-gwe, dan lakukanlah pekerjaanmu sebaik mungkin.”

“Tapi... tapi, Teng-ko...!” Istrinya membantah. Siauw Teng mengerutkan alisnya.

“Berangkatlah!” bentaknya, lalu kepada dua orang itu dia berkata. “Silahkan, bawa dan antar istriku kepada keluarga Ciu.” Dan diapun sudah mulai menghisap madat lagi. “Toanio, tidak baik bersikap begitu.”

Kini si tinggi besar melangkah maju dengan sikap mengancam.

“Tidak... bagaimana nanti anakku? Kami tidak mempunyai beras, aku harus mencarikan dulu untuk ditinggalkan, untuk makanan anakku…”

“Ha-ha-ha!” Si tinggi besar tertawa dan membuka buntalan yang dibawanya.

“lihat, semua telah tersedia!”

Dan benar saja, buntalan itu berisi bahan makanan, lebih dari cukup untuk dimakan suami istri dan anaknya selama satu minggu. Kiranya mereka ini sudah mempersiapkan segalanya.

“Tapi... anakku... Lian Hong...!”

Ia hendak lari menghampiri suaminya, akan tetapi lengan kanannya ditangkap oleh si laki-laki tinggi besar dan nyonya itu terkejut. Jari-jari tangan si tinggi besar itu mencengkeram kuat sekali sehingga ia meringis kesakitan dan tidak mampu meronta lagi.

“Ibu... ibu...!”

Tiba-tiba dari dalam muncul seorang anak perempuan berusia lima tahun. Anak itu terbelalak heran dan takut melihat kegaduhan itu, apalagi melihat ibunya demikian pucat mukanya dan nampak bingung.

“Ibu, ada apakah dan... siapakah kedua paman ini?”

Anak itu adalah Siauw Lian Hong, anak tunggal keluarga itu.

“Lian Hong... mintalah kepada ayahmu agar aku tidak perlu ikut kedua orang paman ini...”

“Ibu... ada apakah...?”

“Ayah... ayah... ibuku itu...”

Anak itu mengguncang-guncang lutut kiri ayahnya. Akan tetapi Siauw Teng tidak memperdulikan anaknya, atau mungkin juga tidak mendengarnya, masih enak-enakan membiarkan dirinya melayang-layang bersama asap madat.

Sementara itu, dua orang utusan Ciu Wan-gwe sudah tidak sabar lagi. Si tinggi besar memegang lengan nyonya itu dan menariknya, sedangkan si gendut sambil senyum-senyum mendorong kedua pundaknya dari belakang. Nyonya itu menoleh ke arah suaminya dengan air mata berlinang, mengepal kedua tangannya.

“Teng-ko...! Engkau suami pengecut, ayah yang berhati kejam! Laki-laki tak bertanggung jawab!”

Ia sendiri merasa heran mendengar suaranya yang mencaci maki suaminya. Selama menjadi istri Siauw Teng, baru sekarang ia berani memaki karena hatinya diliputi kegelisahan dan kemarahan. Akan tetapi dua orang utusan itu sudah menariknya keluar dari rumah. Si kecil menjadi bingung dan ketakutan melihat ibunya diseret dua orang itu.

“Ayah...! Ayaaah...!” Ia merengek. “Diam kau! Duduk!”

Tiba-tiba Siauw Teng membentak tanpa membuka matanya, dan anak itu terkejut, lalu terduduk di atas lantai, mengangkat muka memandang kepada ayahnya dengan mata terbelalak berlinang air mata.

Tidak lama kemudian Siauw Teng berhenti menghisap madat. Ketika dia membuka mata dan melihat putrinya yang kecil masih duduk di atas lantai mengangkat muka, memandang kepadanya dengan sepasang matanya yang dibuka lebar-lebar tanpa berkedip, dia terkejut dan baru teringat betapa tadi dia membentak putrinya dan anak itu masih duduk sampai saat itu. Diapun cepat turun dari atas balai-balai dan merasa menyesal atas sikapnya terhadap putrinya tadi.

Hatinya gembira sekali rasanya, hal yang selalu dirasakannya setelah dia menghisap madat sepuasnya. Pikiran menjadi tenang dan ringan, tubuh rasanya seperti melayang di udara, segala sesuatu yang dilihatnya nampak indah, cerah berseri-seri, dan telinganya juga mendengar bunyi-bunyi yang menjadi merdu dan indah. Dunia di sekelilingnya nampak indah bukan main setelah badannya puas menerima racun madat. Tidak ada sedikitpun keresahan mengganggu pikirannya yang menjadi kosong dan bebas! Diangkatnya tubuh anaknya tinggi-tinggi dengan kedua tangannya yang menyangga di bawah ketiak anak itu.

“Ayah, ibu tadi dibawa kemana?”

Siauw Teng membawa anaknya duduk di atas balai-balai, tersenyum membelai rambut anaknya yang dibagi menjadi dua sanggul kecil di kanan kiri kepalanya.

“Lian Hong, jangan khawatir. Ibumu hanya pergi bekerja membantu kesibukan keluarga Ciu yang akan menikahkan putrinya. Akan ada pesta besar disana, dan nanti kita datang ke pesta itu. Wah, ramai sekali, selain makanan yang enak-enak, juga kita akan menonton pertunjukan tari-tarian.”

“Aku ikut, ayah!”

Anak itu menjadi gembira kini, tidak khawatir lagi setelah melihat ayahnya bersikap biasa. Hatinya muak dan tidak suka mencium bau merangsang dan aneh dari tubuh dan mulut ayahnya, bau madat, akan tetapi ia tidak berani menegur karena anak ini sudah cukup tahu bahwa kesukaan ayahnya adalah menghisap madat, kesukaan yang seringkali ia lihat menjadi sebab pertengkaran antara ayah dan ibunya.

“Tentu saja engkau ikut! Aku, ibumu dan engkau. Kita akan mengenakan pakaian-pakaian baru dan...”

“Mana pakaian barunya, ayah?” Anaknya memotong.

Siauw Teng teringat, lalu merangkul anaknya sambil tertawa.

“Jangan khawatir, Ciu Wan-gwe yang baik hati akan memberi kepada kita.”

Diapun mencium lagi putrinya, dan sekali ini Lian Hong tidak dapat menahan rasa tidak sukanya akan bau madat itu.

“Ayah menghisap madat lagi,” pancingnya. “Heh-heh, benar, dan ayah gembira sekali.” “Baunya tidak enak!”

“Biarkan aku mencobanya, ayah… mencoba menghisap madat.”

Anak ini tahu benar bahwa ia dilarang keras meniru ayahnya, baik oleh ayahnya maupun oleh ibunya. Kini ia sengaja memancing untuk menyatakan rasa tidak sukanya melihat ayahnya menghisap madat.

“Akan tetapi mengapa ayah boleh dan aku tidak?”

Anak itu mendesak dengan suara mengandung penuh teguran dan penasaran. Tanpa disadarinya, Siauw Teng merasa betapa perasaan hatinya tertusuk. Dia bukan seorang bodoh. Dan dia dahulu terkenal sebagai seorang gagah yang selalu menentang kejahatan dan ketidakadilan. Kini menghadapi pertanyaan-pertanyaan putrinya yang baru berusia lima tahun, tiba-tiba saja ia melihat betapa pada hakekatnya dia tahu akan berbahaya dan buruknya menghisap madat, sehingga walaupun dia sendiri menikmatinya dan ketagihan, namun dengan amat keras dia melarang anaknya menyentuh madat!

“Ayah sudah tua dan engkau masih kanak-kanak. Anak kecil tentu saja tidak boleh menghisap madat.” Dia menjawab juga.

“Tapi ibu, kenapa ia tidak menghisap madat?”

“Ibumu? Ah, ia tidak suka. Engkau bisa membantu ayah memasak nasi, bukan?”

Setelah puas menghisap madat, kembalilah watak baik Siauw Teng, dan sehari itu dia mengasuh putrinya dengan penuh kasih sayang. Dan malam itu, setelah Lian Hong tidur pulas, barulah Siauw Teng menghisap madat lagi.

Malam itu dingin sekali. Hujan turun rintik-rintik. Dalam cuaca di luar buruk seperti itu dan hawa yang amat dingin, membuat Siauw Teng semakin keenakan menghisap madat.

Setelah puas, dia duduk termangu-mangu di atas dipan, matanya meram- melek penuh kenikmatan dan tubuhnya kadang-kadang bergoyang-goyang. Dia merasa seperti terbang di alam yang amat indahnya. Mulutnya tersenyum penuh kepuasan. Di dalam rumah sudah tidak ada apa-apanya yang berharga, perlu apa dikunci?

Api dua batang lilin di sudut ruangan itu bergoyang-goyang tertiup angin yang menyerbu masuk ketika daun pintu terbuka. Dan bersama angin dan air hujan, masuk pulalah sesosok tubuh dibarengi suara isak tertahan.

Siauw Teng terbelalak memandang istrinya yang masuk secara luar biasa itu. Rambut istrinya awut-awutan, muka dan rambutnya basah oleh air hujan, pakaiannya robek-robek dan kusut, bahkan bagian lehernya terobek sehingga nampak kulit dada bagian atas yang putih mulus. Di ujung mulut ada bekas darah dan nampak pipinya membiru, juga mata kirinya. Tentu saja Siauw Teng terkejut sekali.

“Cin Hwa... apa yang telah terjadi??” tanyanya sambil memandang dengan mata terbelalak, terlalu kaget sehingga dia tetap duduk diatas dipan itu.

Sepasang mata itu menjadi jalang. Sepasang mata yang kemerahan, dan air mata bercucuran mengalir ke atas sepasang pipi yang sudah basah oleh air hujan, wanita itu mengangkat lengannya, telunjuk kanannya ditudingkan ke arah muka suaminya.

“Engkau... engkau menjual diriku? Kautukarkan diriku, kehormatanku, dengan madat? Engkau menjual diriku untuk dapat menghisap madat?”

Siauw Teng terkejut sekali dan menjadi bingung. “Istriku, apa maksudmu?”

Melihat suaminya masih bertanya, Cin Hwa menyangka dia berpura-pura sehingga kemarahan dan kedukaannya memuncak.

“Mana anakku? Mana...?” “Ia sudah tidur di kamar...”

Cin Hwa lari memasuki kamar. Hanya untuk melihat putrinya sajalah ia lari pulang. Siauw Teng masih duduk terbelalak, tidak mengerti apa yang telah terjadi, tidak menduga sesuatu sehingga kata-kata dan sikap istrinya itu amat mengejutkan hatinya.

Tiba-tiba terdengar suara berdebukan di dalam kamar seperti orang jatuh, disusul jerit anaknya.

“Ibuuuu...! Ibuuuu...!”

Dia terbelalak sejenak melihat istrinya terlentang di atas lantai berlumuran darah. Sebatang golok menancap di dada istrinya, dan Lian Hong menangis ketakutan di atas tempat tidur kayu. Anak itu terbangun ketika dirangkul dan diciumi ibunya yang menangis, kemudian menjadi ketakutan melihat ibunya menusuk dada sendiri dengan golok.

“Chin Hwa...!!”

Siauw Teng menjerit dan menubruk. Sepintas lalu dia melihat dan tahulah dia bahwa golok itu terlalu dalam menusuk dada istrinya sehingga dia tidak berani mencabutnya. Golok itu goloknya, dan kini senjatanya itu yang setia dalam menghadapi para penjahat, kini menancap di dada istrinya sendiri.

“Istriku! Mengapa kaulakukan ini? Mengapa?” Dia memangku tubuh itu, mengguncangnya dan wanita itu membuka matanya yang masih berlinang air mata.

“Mereka telah memperkosaku... Ciu Wan-gwe… kemudian pembantu- pembantunya.”

“Apa...!!!” teriak Siauw Teng mengejutkan Cin Hwa dan juga putrinya.

Barulah nyonya ini percaya bahwa agaknya suaminya memang tidak tahu akan hal itu. Akan tetapi ia sudah lemah dan kemarahan yang sejak tadi memenuhi batinnya kini menguasainya lagi.

“Kau... kau telah menjual diriku dengan madat itu... demikian kata mereka... aku... aku berhasil melarikan diri, tapi... tapi apa artinya hidup bagiku yang telah ternoda.... kau... kau… laki-laki tak bertanggung ja…wab” tubuh itu terkulai, kehilangan tenaga dan nyawa.

“Cin Hwa...!”

Siauw Teng mendekap tubuh istrinya. Setelah dia yakin bahwa istrinya sudah tewas, tiba-tiba dia menjadi beringas. Kedua matanya merah melotot, basah dengan air mata. Dicabutnya golok yang menancap di dada istrinya dan hanya sedikit darah yang keluar dari tubuh yang baru saja ditinggalkan nyawanya itu.

“Jahanam Ciu Lok Tai! Kau... kau menipuku...!”

Dan dengan sigapnya, Siauw Teng meloncat keluar dari kamar, terus berlarian keluar menerobos kegelapan malam dan hujan. Dia tidak mendengar lagi suara putrinya yang berteriak-teriak ketakutan memanggil-manggil dia dan istrinya.

Malam itu gelap dan sunyi. Semua penghuni dusun Tung-kang di luar kota Kanton sudah menutup semua daun pintu dan jendela karena semenjak sore hujan turun terus, membuat hawa menjadi amat dingin dan cuaca amat gelap di luar rumah. Hanya beberapa orang penjaja makanan yang masih nampak berjalan memikul barang dagangannya di tepi jalan raya meneriakkan dagangannya untuk menarik perhatian para penghuni rumah-rumah tertutup itu. Dan makanan yang panas-panas banyak dibutuhkan orang yang membeli.

Akan tetapi, di malam gelap itu, bayangan Siauw Teng berkelebat ketika dia berlari menuju ke rumah gedung milik hartawan Ciu. Ciu Wan-gwe adalah orang yang terkaya di dusun Tung-kang, memiliki dua buah toko di Kanton, juga di Kanton dia memiliki rumah besar. Rumah yang berada di Tung-kang adalah rumah istri mudanya yang nomor dua. Rumah besar itu nampak sudah dikapur bersih karena memang keluarga itu mengadakan persiapan pernikahan putri dari Ciu Lok Tai dan istri mudanya.

Dengan golok yang masih hangat oleh darah istrinya di tangan, Siauw Teng berlari menuju ke gedung itu, dan ketika tiba di pintu gerbang itu terbuka secara kasar. Akan tetapi tiba-tiba nampak lima orang berlompatan dan mereka itu ternyata pengawal-pengawal yang memegang senjata seperti tombak dan golok, agaknya mereka sudah siap menanti di tempat itu. Kemudian muncullah si gendut yang tadi pagi datang menjemput Cin Hwa, yaitu seorang diantara dua utusan Cin Wan-gwe. Orang gendut ini muncul dengan memakai payung hitam untuk melindungi dirinya dari hujan rintik-rintik. Penerangan yang terdapat di pintu gerbang itu, dua buah lentera minyak, cukup untuk membuat wajah seperti babi itu nampak jelas dan wajah itu menyeringai ketika pemiliknya menghadapi Siauw Teng dengan sikap congkak.

“Siauw Kauw-su, ada keperluan apakah malam-malam begini engkau datang ke sini?”

“Aku mau bertemu dan bicara dengan jahanam she Ciu! Panggil dia keluar, atau aku akan menyerbu ke dalam dan menyeretnya keluar!” Bentak Siauw Teng.

“Hemm, pemadatan, engkau sungguh tak tahu diri!” Si gendut mengejek dengan sikap merendahkan sekali.

“Apa kau bilang?”

Siauw Teng melangkah maju, akan tetapi lima orang pengawal sudah menghadang di depannya. Dia berhenti, tidak ingin memusuhi orang-orang lain kecuali mereka yang telah menghina istrinya.

“Nah, katakan saja kepadaku apa keperluanmu?” kata pula si gendut.

Besar sekali kemungkinannya kedua orang inilah, yang pagi tadi menjemput Cin Hwa sebagai utusan Cin Wan-gwe, yang ikut memperkosa istrinya.

“Hemm, akuilah secara laki-laki kalau kalian bukan pengecut-pengecut hina. Apakah Ciu Wan-gwe dan kalian berdua yang telah memperkosa istriku tadi?”

Siauw Teng menahan gejolak hatinya yang mendorongnya untuk segera menyerbu dengan goloknya dan mengamuk. Akan tetapi dia ingin yakin lebih dahulu sebelum turun tangan.

“Siauw Kauw-su, istrimu hanya membayar hutang-hutangmu. Bukankah engkau sudah menerima banyak sekali madat dan barang-barang lain dari Ciu Wan-gwe, dan engkau sudah berjanji untuk menyerahkan istrimu untuk bekerja pada Ciu Wan-gwe selama satu minggu? Engkau berjanji bahwa istrimu akan melakukan semua pekerjaan yang diserahkan kepadanya? Apakah engkau hendak menjilat ludah sendiri dan mengingkari janji? Akan tetapi baru sehari, istrimu sudah melarikan diri. Ini saja sebenarnya sudah tidak pantas dan masih baik Ciu Wan-gwe tidak menuntutmu. Pulanglah dan pikirkan baik-baik.”

Kini si tinggi besar yang sudah tidak sabar menjawab.

“Kalau ia menyerahkan diri dengan baik-baik, tentu kami tidak akan memperkosanya!”

Si gendut memegang lengan kawannya yang kelepasan bicara, akan tetapi sudah terlanjur. Wajah Siauw Teng menjadi pucat saking marahnya.

“Keparat! Jadi benar kalian berdua dan hartawan Ciu yang memperkosa istriku?”

“Hanya membayar hutang,” kata si gendut, merasa sudah kepalang karena kawannya sudah mengaku tadi.

“Dan kami hanya memperoleh bagian saja dari Ciu Wan-gwe sebagai imbalan jasa. Istrimu seperti kuda binal, atau kucing galak... hemm, tapi cukup menyenangkan...”

Si gendut mengelus lehernya dan ternyata lehernya berdarah, ada guratan bekas cakaran kuku di situ. Agaknya ketika dia memperkosa Cin Hwa, wanita itu melawan dan berhasil mencakar lehernya.

Mendengar ucapan itu, Siauw Teng tidak mampu menahan kesabarannya lebih lama lagi. Bagaikan seekor harimau yang haus darah, dia mengeluarkan suara menggereng dan tubuhnya yang tidak berbaju menerjang ke depan, goloknya membentuk sinar terang ketika meluncur dalam serangannya.

“Mampuslah kalian anjing-anjing busuk!”

Akan tetapi, lima orang pengawal sudah menggerakkan senjata sehingga golok di tangan Siauw Teng tertangkis, bahkan ada tombak dan golok yang menyerangnya dari kanan kiri dan belakang. Ternyata, biarpun sejak lima tahun menjadi pemadatan, Siauw Teng masih menguasai ilmu silatnya dengan baik. Dia berloncatan kesana-sini, goloknya membentuk gulungan sinar dan terdengarlah suara berdenting bertubi-tubi ketika dia berhasil menangkis semua senjata lawan. Kemudian dia menyerbu lagi dan begitu cepatnya golok itu berkelebat sehingga dua orang pengawal roboh sambil mengaduh kesakitan.

“Eh, kiranya macan pemadatan ompong ini masih bisa mencakar juga!” kata si tinggi besar.

Dan diapun menerjang maju membantu para pengawal yang tinggal tiga orang itu. Si tinggi besar ini mempergunakan sebatang pedang dan ternyata sambaran pedangnya cepat sekali.

“Tranggg...!”

Siauw Teng terkejut. Hampir saja dia menjadi mangsa pedang itu dan pada saat terakhir dia dapat menangkis, akan tetapi dia merasa betapa lengannya kesemutan.

“Pemadatan busuk!”

Tiba-tiba si gendut memaki dan diapun menyerang maju dengan... payungnya! Kiranya si gendut ini lihai sekali dan senjatanya yang aneh itu merupakan pedang yang tersembunyi di dalam payung. Tahulah Siauw Teng bahwa dua orang utusan Ciu Wan-gwe itu adalah orang-orang yang pandai ilmu silat. Dia tidak gentar dan memutar goloknya dengan cepat, selalu mengarahkan senjatanya dengan maksud membunuh dua orang yang telah mencemarkan kehormatan istrinya ini. Memang hanya itulah tujuannya. Membalaskan penghinaan terhadap istrinya, kalau mungkin membunuh tiga orang itu dan tidak melibatkan orang lain.

Akan tetapi baru sekarang Siauw Teng sadar bahwa tubuhnya sudah dirusak oleh racun madat. Mungkin dia masih menguasai ilmu silatnya dengan baik, akan tetapi tenaganya menurun dengan hebatnya, dan terutama sekali pernapasannya amat mengganggunya. Paru-parunya sudah terlalu kotor oleh racun madat, sehingga belum lewat limapuluh jurus dia dikeroyok, napasnya sudah empas-empis hampir putus dan dia merasa betapa dadanya sakit kalau menarik napas. Dalam keadaan seperti itu tentu saja tenaganya makin berkurang, pandang matanya berkunang dan gerakannya menjadi lambat dan kacau.

“Crattt!”

Ujung pedang di tangan si tinggi besar membabat siku kanannya dan seketika lengan kanannya menjadi lumpuh. Urat di sikunya putus dan berbareng dengan muncratnya darah, goloknyapun terlepas dari pegangan tangannya. Dia masih berusaha mengelak, akan tetapi kurang cepat dan bertubi-tubi tubuhnya menerima hantaman-hantaman senjata lawan. Lambungnya tertusuk, punggungnya dihantam gagang payung dengan kerasnya, kedua pahanya juga luka-luka oleh sabetan pedang dan diapun terguling roboh mandi darah.

“Cukup, jangan bunuh! Kita tidak perlu mendatangkan keributan!”

Teriak si gendut mencegah teman-temannya melanjutkan pembantaian mereka terhadap Siauw Teng. Bekas guru silat ini merangkak, mencoba untuk melawan, akan tetapi baru sekali meloncat saja sudah jatu lagi. Dia mengangkat muka dan dengan muka beringas, penuh darah dan peluh, dia memandang kedua orang itu.

“Siapakah kalian berdua?” katanya dengan suara penuh kebencian. “Lok Hun. Nah, mau apalagi kau?”

Tertatih-tatih dia berjalan setengah lari, lengan kanannya lumpuh, tangan kirinya mendekap luka di lambungnya. Di sepanjang jalan yang dilalunya, ada bintik-bintik darah yang menetes keluar dari tubuhnya yang penuh luka.

Suara tangis putrinya masih terdengar di dalam rumahnya ketika dia tiba di situ. Akan tetapi suara tangis itu terlalu lirih untuk dapat menarik perhatian para tetangga. Malam gelap dan hujan, maka suara tangis kanak-kanak tentu saja tidak begitu dihiraukan oleh para tetangga yang menganggap anak itu sedang rewel atau tidak enak badan.

“Ayah...!”

Lian Hong berteriak ketika melihat ayahnya masuk terhuyung-huyung. Matanya terbelalak dan ia menjadi semakin ketakutan melihat keadaan ayahmya, saking takut dan ngerinya. Lian Hong hanya melihat saya ketika ayahnya terhuyung-huyung memasuki kamar dimana ibunya menggeletak pucat.

“Cin Hwa... istriku, aku berdosa padamu...”

Siauw Teng meratap ketika dia berdiri dan menundukkan muka memandang tubuh istrinya. Tak dapat ditahannya lagi, air matanya bercucuran dan jatuh menimpa leher istrinya yang berlepotan darah yang sudah mulai mengering kehitaman. Lalu dia mengepal tinju dan mukanya menjadi beringas ketika dia berteriak.

“Ciu Lok Tai, Gan Ki Bun, Lok Hun! Aku bersumpah untuk membalas penghinaan terhadap istriku, membalas kematian istriku kepada kalian bertiga!”

Kemudian dengan beringas dia menoleh, melihat pipa tembakau madat dan bungkusan madatnya.

“Keparat! Inilah yang menjadi gara-gara! Madat jahanam, perusak hidupku, pembunuh istriku!”

Dengan kemarahan meluap, dia menggunakan tangan kirinya untuk membanting pipa tembakau madatnya sampai pecah berantakan. Dia masih belum puas, dan dibakarnya pecahan bambu pipa itu pada api lilin, lalu dibakarnya pula semua sisa madat. Api berkobar dalam kamar itu. Akan tetapi, Siauw Teng kehabisan tenaga dan tiba-tiba pandang matanya menjadi gelap dan diapun roboh terpelanting di dekat istrinya.

Bambu pipa yang tadi dipegangnya dan masih berkobar, mengeluarkan bau yang memuakkan karena madatnya juga terbakar, terlepas dari tangannya dan jatuh menimpa dipan bambu yang tentu saja segera terbakar dengan amat mudahnya. Api menjalar cepat sekali dan rumah itupun mulai terbakar.

Setelah rumah keluarga Siauw itu terbakar cukup besar, barulah tetangga terdekat mengetahuinya. Lian Hong segera lari keluar dan berteriak-teriak. “Kebakaran! Kebakaran!”

Dusun itu menjadi gempar. Semua orang berteriak-teriak dan berlarian menuju ke rumah keluarga Siauw yang terbakar. Api sudah menjadi begitu besarnya, sehingga tidak ada yang berani masuk untuk memeriksa apakah di dalam rumah masih ada orangnya. Mereka hanya menggunakan air untuk disiramkan ke arah api, akan tetapi apa artinya air berember-ember itu terhadap api yang sudah membesar? Celakanya, hujan gerimis sudah berhenti sehingga tidak membantu.

Siauw Lian Hong, anak itu tadi jatuh pingsan karena bau madat dan ketika ia siuman kembali, api telah mengurungnya dan ia tidak dapat lari kemanapun juga. Ia ketakutan dan melihat tubuh ayah ibunya mulai dimakan api, iapun menjerit sekuat tenaga sehingga terdengar oleh semua orang yang berada di luar rumah terbakar itu. Mendengar jerit ini, semua orang saling pandang dengan muka pucat dan mata terbelalak.

“Celaka! Si kecil itu agaknya berada di dalam rumah sendirian!” “Tolong anak itu...!”

“Api sudah membakar pintunya!”

“Api terlalu besar! Siapa berani masuk untuk menolongnya?” “Tidak mungkin...!”

Tiba-tiba semua suara terhenti dan semua mata melongo memandang ke arah pintu.Terdengar suara keras dan pintu depan itupun ambrol, dan tiba-tiba saja sesosok bayangan meluncur masuk dengan cepat sekali. Akan tetapi banyak orang mengenal bayangan itu, setidaknya dari pakaian, topi dan kipas butut di tangan orang itu, karena sinar api memberi penerangan yang cukup.

“Kakek pembunuh lalat dengan kipasnya!”

Semua orang terheran-heran. Baru kurang lebih sepekan, pasar dusun itu kedatangan seorang kakek aneh. Seorang kakek kurus yang pakaiannya tambal-tambalan, topinya meruncing ke atas dan tangannya tiada hentinya menggerakkan sebuah kipasnya itu. Anak-anak suka menggodanya karena dia suka tersenyum-senyum seorang diri seperti orang yang geli mentertawakan sesuatu. Dan kini kakek yang dianggap gila itu, secara luar biasa sekali, telah meloncat ke dalam sebuah rumah yang sedang terbakar hebat setelah terdengar jeritan kanak-kanak dari dalam rumah.

Semua orang menahan napas, memandang ke arah pintu dengan penuh perhatian. Tiba-tiba dinding samping rumah itu ambrol dan kakek itu meloncat ke luar sambil memondong seorang anak perempuan. Semua orang berteriak lega, girang dan juga khawatir karena ada api berkobar mengikuti kakek itu. Kiranya ujung jubahnya yang terbakar. Akan tetapi, kakek itu berjingkrak dan kipasnya mengebut-ngebut. Padamlah api yang merupakan ekornya tadi. Semua orang bersorak, bertepuk dan tertawa girang karena merasa lucu dan lega. Akan tetapi tiba-tiba kakek itu meloncat dan lenyap dalam kegelapan malam!

Kini semua orang berusaha memadamkan api. Percuma. Rumah itu terbakar habis, dan ketika para penduduk memeriksa puing kebakaran, mereka terkejut sekali menemukan mayat guru silat Siauw dan istrinya yang sudah gosong sehingga sukar untuk dikenal lagi. Akan tetapi mereka dapat menduga bahwa tentulah dua mayat itu adalah mayat Siauw Teng dan istrinya. Siapa lagi kalau bukan mereka yang mati terbakar dalam rumah mereka?

Kembali gemparlah dusun itu. Semua orang bertanya-tanya kemana perginya kakek yang menolong Siauw Lian Hong. Dan mengapa pula rumah itu sampai terbakar habis, dan lebih aneh lagi, bagaimana suami istri Siauw itu sampai mati terbakar sedangkan anaknya masih sempat berteriak.

Timbul bermacam dugaan. Akan tetapi yang dianggap paling tepat oleh para penduduk dusun itu adalah perbuatan bunuh diri suami istri itu. Tentu mereka bunuh diri dengan membakar rumah sendiri, demikian celoteh mereka. Dugaan ini bukan tak berdasar.

Sebetulnya apakah yang telah terjadi di dalam rumah kebakaran itu setelah Lian Hong menjerit sekuatnya, dan kakek yang membawa kipas itu meluncur masuk ke dalam rumah yang sedang berkobar itu?

Lian Hong yang ketakutan setengah mati itu tiba-tiba melihat seorang kakek tua berada di dalam ruangan yang terbakar itu, dan kakek itu tahu-tahu sudah menyambar tubuhnya ke dalam pondongan. Kemudian kakek itu memandang kepada jenazah yang sedang terbakar.

“Itu ayah ibumu?” tanya kakek itu sambil menuding ke arah dua jenazah dengan kipasnya.

Lian Hong hanya mengangguk sambil menangis. Kakek itu lalu menggerakkan kipasnya ke kiri dan daun pintu kamar yang sedang terbakar itupun roboh. Ada kayu dari atas runtuh pula ke bawah menimpa mereka, akan tetapi dengan kebutan kipasnya, kayu yang terbakar itu tertangkis dan terpental.

Kemudian kakek itu meloncat melalui pintu yang roboh, mencari jalan keluar dan melihat betapa dinding disebelah barat masih belum terbakar, kakek itu lalu menerjang dinding dengan tendangan kakinya. Dinding itu jebol dan diapun membawa Lian Hong meloncat keluar, tidak tahu bahwa ujung jubah di belakangnya ikut terbakar sehingga tergopoh-gopoh dia memadamkannya dengan kebutan kipasnya setelah berada di luar. Melihat betapa semua orang bersorak dan memperhatikannya, kakek itu lalu meloncat jauh ke dalam kegelapan malam.

Lian Hong memejamkan kedua matanya dengan ngeri. Ia merasa betapa angin bertiup keras sekali dan betapa tubuhnya meluncur ke depan dengan amat cepatnya. Bayangan-bayangan pohon menghitam seperti raksasa mengancam itu nampak berlari-lari cepat di kanan kirinya ketika kakek itu membawanya lari di jalan besar yang diapit-apit jajaran pohon-pohon di tempat yang gelap dan sunyi itu. Ia merangkul leher kakek itu, takut terlepas dari pondongan dan jatuh. Akhirnya, saking lelahnya, lelah lahir bathin tertindih perasaan ngeri, takut, duka yang amat menghebat, Lian Hong tertidur pulas dalam pondongan kakek itu, tidak tahu sama sekali bahwa ia dilarikan sampai jauh sekali dari dusun Tung-kang, bahkan kakek itu baru berhenti setelah tiba di luar daerah Kan-ton, berhenti di bawah sebatang pohon besar di lereng bukit, di tepi sebuah sungai.

Kakek itu menggunakan sehelai kain bersih yang dicelup air sungai untuk membersihkan muka, leher, tangan dan kakinya, kemudian diapun mengusap muka Lian Hong yang kotor karena angus dan debu itu dengan kain basah.

Lian Hong sadar dan membuka matanya. Begitu membuka mata, anak perempuan itu menjerit. Kakek itu merangkul dan mendekap anak yang hendak lari itu, akan tetapi Lian Hong meronta-ronta dan setelah kakek itu mengusap belakang lehernya, barulah anak itu diam tak bergerak, akan tetapi memandang dengan sepasang mata terbelalak kepada kakek itu yang masih memangkunya. Lian Hong menggerakkan mulutnya. Bibirnya berkemak-kemik tak bersuara dan sepasang mata yang lebar itu memandang wajah si kakek tanpa kedip.

“Apa kau bilang, nak?” kakek itu mendesak sambil tersenyum memberanikan.

“Ciu Lok Tai, Gan Ki Bin, Lok Hun...! Ciu Lok Tai, Gan Ki Bin, Lok Hun...!” hanya tiga nama itulah yang berulangkali keluar dari mulut anak perempuan itu, dan tiba-tiba pandang mata anak itu berobah penuh kebencian! Mendengar dan melihat ini, kakek itu terkejut.

“Siancai... batinmu tertekan hebat, nak.”

Setelah anak itu pulas, kakek berkipas itu lalu merebahkan Lian Hong dan dengan amat teliti dia mengurut beberapa bagian di kepala anak itu. Setelah selesai diapun berkata halus.

“Tidurlah, nak. Tidurlah dengan tenang. Engkau sungguh patut dikasihani.”

Dan kakek itu sendiripun lalu duduk bersila di dekat Lian Hong, memejamkan mata, entah tidur entah tidak, akan tetapi napasnya panjang dan halus seperti orang tidur, sedikitpun tidak bergerak.

Lebih dari tiga jam mereka tidak bergerak. Tiba-tiba Lian Hong terbangun dan mulutnya segera berseru.

“Ayah...! Ibu...!”

Dan iapun bangkit duduk. Kakek itupun sudah membuka matanya dan memandang penuh perhatian. Kakek itu mengangguk.

“Benar, anak baik…”

Anak itu seperti baru sadar. Mukanya pucat dan wajahnya terbelalak. “Ahhh... ayah... ibu...?”

Sinar matanya memandang penuh selidik kepada kakek itu menanti jawaban yang agaknya sudah diduganya. Mati...? Anak itu mewek-mewek akan tetapi tidak dapat menangis, dan sinar matanya sebentar menjadi layu sebentar lagi seperti berapi-api. Tahulah kakek itu bahwa Lian Hong kembali terhimpit bermacam perasaan.

“Benar, ayah ibumu telah mati, dan engkau ditinggal sendiri saja di dunia ini. Engkau seorang diri saja, ditinggal ayah ibumu, tidak ada siapa-siapa lagi di sampingmu!”

“Ayaaahhh...! Ibuuuu...!” Dan iapun menangis tersedu tangisnya makin mengguguk.

Kakek itu tersenyum, akan tetapi dia menggunakan punggung tangannya untuk mengusap dua butir air mata yang tiba-tiba saja berkumpul di pelupuk matanya. Dia berhasil memancing keluar tangis anak itu, hal yang amat diperlukan, karena kalau tidak, anak itu berada dalam keadaan amat berbahaya, bisa menjadi gila atau bahkan mati. Kini rasa iba diri dalam batin anak itu yang menang, membuat ia merasa sengsara, dan menangis merupakan obat mujarab untuk menghadapi pelbagai perasaan yang bergejolak di dalam hati. Dia hanya melihat dan biarpun anak itu menangis terisak-isak sampai hampir sukar bernapas, dia tersenyum gembira dan membiarkan anak itu menangis terus sepuasnya.

Akhirnya tangis Lian Hong mereda. Tinggal terisak-isak saja dan ia sudah dapat mendengarkan ketika kakek itu bicara perlahan-lahan kepadanya.

Lian Hong menggeleng kepalanya.

“Aku tidak punya siapa-siapalagi di dunia ini...” Suaranya masih mengandung isak yang ditahannya. “Bagus, engkau dapat menahan tangismu.” tiba-tiba kakek itu berkata sambil menyentuh pundak anak itu.

“Memang, tangis saja tidak dapat merobah keadaan. Jadi engkau benar- benar seorang diri saja di dunia ini? Tidak ada siapapun yang dapat kaudatangi, yang dapat menampungmu?”

Lian Hong memandang wajah kakek itu dan kembali menggeleng kepala. “Akupun hidup sebatangkara seperti engkau! Nah, kalau engkau mau ikut

aku, bukankah berarti aku mempunyai seorang cucu dan engkau mempunyai seorang kakek?”

Kakek itu tertawa sendiri, gembira dengan usulnya, gembira membayangkan betapa mendadak saja dia memperoleh seorang cucu tanpa mempunyai anak atau mantu!

“Kek, apakah engkau seorang sakti yang memiliki ilmu kepandaian silat tinggi?”

Kembali kakek itu melongo dan merasa bulu tengkuknya meremang. Anak ini luar biasa sekali!

“Eh, bocah aneh! Bagaimana engkau menduga seperti itu?” dia balas bertanya.

“Semua orang dusun sudah berkumpul di depan rumah kami yang terbakar. Andaikata ada yang berani, tentu yang masuk menolongku seorang laki-laki muda dan kuat. Akan tetapi tidak ada yang berani dan hanya engkau, seorang kakek tua yang dapat menolongku. Juga engkau dapat menghindarkan semua bahaya kebakaran, engkau mendobrak dinding. Ayahku sering bercerita tentang orang-orang sakti. Apakah engkau seorang sakti?”

“Jawab dulu, apakah engkau pandai ilmu silat, kek? Kalau engkau pandai dan mau mengajarku ilmu silat tinggi, baru aku mau ikut denganmu.”

“Kalau tidak?”

“Kalau tidak, aku tidak mau. Tidak ada yang dapat kuharap dari seorang kakek tua, juga aku akan menjadi bebanmu saja.”

“Habis, kau mau apa? Mana bisa kau hidup sendiri? Dari mana engkau dapat memperoleh makan?”

“Aku bisa bekerja, aku bisa mengemis...” kata anak itu dengan tabah. Kakek itu tertawa bergelak, hatinya senang bukan main.

“Bagus! Engkau anak baik. Jangan khawatir, aku akan mengajarkan ilmu padamu. Setidaknya ilmu mencari makanan, seperti ini. Lihat!”

Kakek itu menutup kipas bututnya, dan tiba-tiba dia menyambitkan kipas yang tertutup itu ke atas pohon. Terdengar suara mencicit satu kali, dan kipas itu jatuh lagi ke bawah pohon bersama seekor tupai putih yang telah mati karena lehernya tertusuk ujung gagang kipas.

Lian Hong terbelalak girang dan iapun segera menjatuhkan dirinya berlutut di depan kakek yang duduk bersila itu.

“Aku mau menjadi cucumu, kek!” Kakek itu merangkulnya.

“Bagus sekali. Siapakah namamu, anak baik?” “Namaku Siauw Lian Hong, kek.”

“Lian Hong, nama yang bagus. Dan aku tidak punya nama, akan tetapi orang-orang ada yang mengenalku sebagai Bu-beng San-kai (Pengemis Berkipas Tanpa Nama). Ha-ha…! Hong Hong, aku lebih suka menyebutmu Hong Hong, apakah kau pernah makan panggang daging tupai?”

“Belum, kek,” jawab Lian Hong, memandang bangkai tupai yang seperti tikus berekor besar itu dengan ragu dan jijik.

“Nah, sekarang engkau akan merasakannya. Enak sekali! Mari kuberi pelajaran pertama, yaitu menguliti tupai dan memanggang dagingnya!”

Karena sikap kakek itu selalu gembira, sebentar saja Lian Hong yang masih kecil itu dapat melupakan kedukaannya. Akan tetapi setiap kali duduk termenung seorang diri, bibirnya komat-kamit dan kakek itu dapat menduga apa yang diucapkan bibir kecil itu, karena pernah dia mendengar cucunya mengigau di waktu tidur.

“Ciu Lok Tai, Gan Ki Bin, Lok Hun...!”

Kematian Siauw Teng dan istrinya mungkin dianggap bunuh diri oleh para tetangga, dan urusan itupun segera mereka lupakan. Akan tetapi tidak demikian bagi Tan Siucai, seorang sasterawan miskin yang hidup berdua saja dengan putera tunggalnya di dusun Tung-kang.

Tan Siucai adalah sahabat baik mendiang Siauw Teng. Dia seorang sasterawan berusia sekitar lima puluh tahun yang hidup menduda setelah istrinya meninggal dunia, bersama puteranya yang berusia tujuh tahun. Sasterawan ini hidup sederhana. Penghasilannya hanyalah menuliskan surat- surat atau tulisan-tulisan indah untuk penduduk dusun itu yang membutuhkannya. Pekerjaannya setiap hari hanya menulis, kalau tidak ada pesanan orang, tentu dia menulis, membaca buku, itulah pekerjaannya setiap hari. Putera tunggalnya, Tan Ci Kong, sejak kecil diajar membaca dan menulis, sehingga dalam usia tujuh tahun, anak itu sudah pandai menulis indah, bahkan membaca kitab-kitab kuno.

Terdapat kecocokan antara dia dan mendiang Siauw Teng. Sasterawan ini menghargai kegagahan dan kejujuran Siauw Teng, sebaliknya bekas guru silat itupun kagum akan kepandaian sasterawan itu menulis indah dan membuat sajak. Apalagi di antara keduanya ada suatu ikatan batin, yaitu keduanya berjiwa patriot.

Kematian Siauw Teng amat menyedihkan hati sahabat itu, sehingga begitu mendengar akan musibah yang menimpa keluarga sahabatnya, siucai itu menghibur dirinya dengan minum arak sampai mabok dan tidak ingat apa- apalagi. Tan siucai sudah tahu bahwa sahabatnya adalah seorang pemadat. Sudah berkali-kali dia menasihatkan, akan tetapi Siauw Teng yang juga pada hakekatnya sudah tahu akan keburukan dan bahayanya menghisap madat, sudah tercengkeram dan tidak mungkin dapat melepaskannya lagi.

Akan tetapi Tan Siucai yang mengenal baik kegagahan temannya, tidak percaya bahwa temannya itu melakukan bunuh diri bersama istrinya. Juga dia merasa berduka sekali mendengar akan hilangnya Siauw Lian Hong, anak perempuan yang diam-diam diharapkannya kelak akan dapat dijodohkan dengan putera tunggalnya. Dia tidak percaya sahabatnya melakukan bunuh diri. Maka dia merasa penasaran, dan mulailah dia melakukan penyelidikan pada para tetangga sahabatnya itu. Dalam penyelidikannya ini, orang-orang yang menaruh rasa hormat kepada Tan Siucai menceritakan apa adanya. Seorang diantara mereka ada yang melihat ketika pada pagi hari sebelum terjadi musibah itu, istri Siauw Kauw-su kelihatan berjalan diantar oleh dua orang petugas Ciu Wan-gwe.

“Saya sempat bertanya dan ia menjawab bahwa ia akan pergi membantu dengan pekerjaan menjahit di rumah keluarga Ciu yang akan mengadakan pesta pernikahan.” demikian seorang tetangga wanita menceritakan. Cerita ini tentu saja tidak berarti bagi orang banyak, karena dianggap biasa. Akan tetapi tidak demikian dengan Tan Siucai, apalagi ketika dia mendengar bahwa sahabatnya itu pernah menerima pemberian banyak madat oleh Ciu Wan-gwe. Timbul kecurigaannya. Mengapa pedagang madat yang kaya itu memberi madat kepada sahabatnya yang dia tahu tidak akan mampu membeli banyak madat? Dan kenapa pula istri sahabatnya harus membantu di rumah keluarga kaya itu? Dia sudah mendengar desas desus akan sifat mata keranjang Ciu Wan-gwe, yang kabarnya sudah banyak mengganggu anak istri orang mengandalkan harta dan kekuasaannya.

Akan tetapi apakah yang dapat dilakukan seorang Tan Siucai, sasterawan lemah miskin itu terhadap seorang Ciu Wan-gwe yang kaya raya dan berpengaruh, bahkan menjadi sahabat dari para pembesar di kota Kanton?

Tiba saatnya pesta pernikahan puteri Ciu Wan-gwe. Seperti biasa, jika yang mempunyai kerja itu orang kaya, sumbangan dipilih yang paling berharga. Sebaliknya, kalau yang mempunyai kerja itu orang miskin, jarang ada yang mengirim sumbangan, kalaupun ada, maka sumbangan itupun tidak berharga. Hal ini jelas membuktikan bahwa dibalik pemberian sumbangan itu, walaupun tidak diakui oleh para penyumbangnya, tersembunyi pamrih, mengharapkan imbalan yang besar dan menguntungkan pula. Betapa tidak? Memang sudah membudaya bagi kehidupan manusia di dunia ini untuk menyembunyikan pamrih di dalam setiap perbuatannya!

Di anatara sumbangan-sumbangan dari tamu-tamu Ciu Wan-gwe, ada satu sumbangan berupa gulungan kertas, dan setelah dibuka ternyata berisi sebuah sajak yang berbunyi:

SELAMAT KEPADA SEPASANG MEMPELAI SEMOGA HIDUP PENUH BAHAGIA DAN DAMAI SEMOGA TIDAK RUSAK RUMAH TANGGA MEREKA OLEH MADAT SEPERTI SIAUW YANG SENGSARA!

Tentu saja hati hartawan Ciu terkejut bukan main ketika dia membaca sajak itu, dan cepat-cepat dia menyuruh orang-orangnya menyingkirkan sajak itu agar tidak terbaca oleh para tamu. Dia mengutus orang-orangnya untuk mendatangi pemberi sumbangan, dan tahulah dia bahwa pemberi sumbangan itu tidak dapat membaca, dan bahwa sajak itu dipesan dari Tan Siucai. Jadi Tan Siucailah orangnya yang bertanggung jawab.

Baru tiga hari kemudian setelah pesta pernikahan puterinya selesai, dia segera mengutus orang memanggil Tan Siucai. Pada hari itu, masih ada tamu di dalam rumahnya, di antaranya adalah seorang komandan militer dari Kanton yang bernama Ma Cek Lung, seorang komandan pasukan kenamaan kota Kanton.

Ma Cek Lung ini seorang laki-laki berusia empatpuluh tahun lebih, bertubuh tinggi besar dengan perut gendut dan tubuh yang kokoh kuat, wajah yang keras dan kejam menyeramkan.

Ciu Wan-gwe sedang menjamu komandan Ma ini ketika pelayan melaporkan bahwa Tan Siucai yang dipanggil sudah datang.

“Suruh dia menunggu di luar sampai kami selesai makan!” kata Ciu Wan- gwe dengan sikap congkak, dan pelayannya dengan senang hati melaksanakan perintah itu dengan sikap yang lebih congkak lagi.

Biasanya memang demikian. Untuk menyampaikan kekejaman atau kesombongan, bawahannya lebih hebat dari pada atasannya, makin ke bawah semakin menciut. Hukuman yang datang dari atas, makin ke bawah semakin berat dan menjadi bahan pemerasan atau perbuatan-perbuatan yang lebih kejam, sebaliknya sumbangan yang datang dari atas, makin ke bawah semakin berkurang sampai hampir habis. Pahit dan aneh tetapi nyata.

“Kamu diperintahkan untuk menunggu di sini dan tidak boleh pergi kemanapun sebelum majikan kami keluar menerimamu!”

Lalu sambil mengangkat hidung, pelayan itu pergi meninggalkan tamu itu di halaman depan!

Tan Siucai tersenyum pahit. Dia tidak merasa heran. Sudah banyak ia melihat kenyataan seperti itu. Dia adalah seorang tamu yang diundang, akan tetapi diperlakukan seperti seorang pengemis saja. Karena dalam undangan itu si pesuruh menyatakan bahwa Ciu Wan-gwe hendak memesan tulisan dan dia diharuskan membawa perabot menulis, maka kini dia menurunkan kotak berisi kertas dan alat-alat tulis. Lalu duduklah dia di atas peti itu di halaman gedung sambil menyeka keringat dengan ujung lengan bajunya yang lebar, baju potongan khas sasterawan. Dia sudah siap menghadapi segala hal. Ketika menerima panggilan Ciu Wangwe, dia dapat menduga bahwa kemungkinan besar panggilan ini ada hubungannya dengan tulisan yang dia lakukan untuk melampiaskan rasa penasaran di dalam hatinya itu. Karena menduga hal yang buruk, maka ketika puteranya, Ci Kong, mau ikut, dia melarangnya. Dia tidak ingin puteranya hadir menyaksikan kalau sampai terjadi keributan.

Ciu Wan-gwe yang bernama Ciu Lok Tai adalah seorang laki-laki berusia sekitar limapuluh tahun. Tubuhnya tidak besar, akan tetapi gemuk sehingga muka dan lehernya kelihatan seperti membengkak. Matanya lebar dan hartawan yang terkenal mata keranjang itu adalah seorang pesolek. Kumisnya yang kecil dipelihara rapi, mukanya putih bersih, tentu dicukur setiap hari dan bahkan ada bekas-bekas bedak, seperti muka seorang thai-kam (pembesar kebiri) saja. Dia mengenakan topi batok hitam dan kuncirnya kecil bergantungan di belakang kepala. Bajunya dari kain sutera yang mahal dan dia duduk dengan punggung yang agak membungkuk, mulutnya tersenyum mengejek, dan matanya yang lebar itu memandang kepada Tan Siucai penuh selidik.

Orang kedua yang bertubuh tinggi besar tidak dikenalnya, akan tetapi dia dapat menduga bahwa orang ini tentulah seorang perwira, kentara dari bajunya dan juga dari sikapnya walaupun pakaiannya tidak seragam penuh. Dan memang orang itu adalah Ma Cek Lung, komandan pasukan keamanan di Kanton yang galak. Melihat sikap komandan ini saja sudah mendatangkan rasa tidak suka dan juga khawatir di dalam hati Tan Siucai.

Akan tetapi dengan sikap ramah buatan, Ciu Wan-gwe menegur ramah. “Ah, kiranya Tan Siucai yang datang? Ma-ciangkun, inilah Tan Siucai,

sasterawan pembuat tulisan dan sajak paling pandai di Tung-kang, bahkan mungkin di seluruh Kanton.”

Dengan sikap acuh dan memandang rendah, kemudian menggumam. “Benarkah? Hemm, hal itu masih perlu dibuktikan dulu.”

Tan Siucai menjura.

“Ciu Wan-gwe terlampau memuji!” katanya merendah.

“Ah, siapa yang tidak tahu akan keahlianmu, Tan Siucai? Di dalam ruangan perpustakaanku terdapat banyak hasil karyamu.”

Pujian-pujian ini semakin tidak mengenakkan hati sasterawan itu. Pujian dari mulut seorang seperti Ciu Wan-gwe ini amat berbahaya, dan diapun dapat merasakan adanya sikap lain yang bertentangan dengan manisnya kata-kata ejekan itu. Maka diapun cepat bertanya.

“Ciu Wan-gwe memanggil saya, tidak tahu ada keperluan apakah?” “Suruh dia membuatkan sajak yang baik, ingin aku melihatnya!” Tiba-tiba komandan gendut itu berkata.

“Bagus sekali! Nah, engkau sudah mendengar sendiri, Tan Siucai. Ma- ciangkun minta agar engkau suka membuatkan sajak yang baik.”

Legalah hati Tan Siucai. Agaknya dia terlalu banyak prasangka dan hartawan ini bersama tamunya memang suka akan seni tulis dan sajak. Dia menurunkan petinya dan mempersiapkan alat-alat tulisnya. Seperti biasa, dia lebih suka menulis mempergunakan alatnya sendiri. Dia memasang bangku yang hanya merupakan papan di atas tiga kaki, dan dia sendiri duduk bersila di atas lantai. Dia mengeluarkan sehelai kertas kuning, dan setelah menggosok tinta bak dan mengoles-oleskan pena bulu, dia mengangkat muka memandang kepada komandan gendut itu.

“Tidak tahu sajak yang bersifat bagaimana yang ciangkun inginkan?” “Sajak yang gagah, yang pantas bagi seorang perwira seperti aku

tentunya!” kata komandan gendut itu sambil membusungkan dadanya, akan tetapi akibatnya hanya perutnya yang amat besar itu yang semakin maju.

“Baiklah, ciangkun.”

Sasterawan itu lalu memejamkan kedua matanya sambil duduk bersila, kulit di antara alisnya berkerut dan dia mulai mengerahkan kemampuannya mengkhayal. Dan diapun melihat kesempatan yang amat baik untuk meneriakkan jerit hatinya, bukan hanya karena kematian sahabatnya, akan tetapi juga karena melihat kenyataan bagaimana hebat madat telah mencengkeram bangsanya. Sekarang terbukalah jalan baginya untuk menuliskan jerit hatinya, juga untuk menyampaikan bahaya itu kepada pemerintah melalui seorang perwira tinggi! Dalam keadaan seperti itu, tidak pernah Tan Siucai teringat akan diri sendiri, tidak lagi dapat melihat adanya bahaya-bahaya dari hasil tulisannya. Mulailah dia menulis.

Tan Siucai memang seorang ahli. Setelah dia membuka mata, jari-jari tangan kanannya seperti kemasukan aliran tenaga luar biasa, menjadi peka sekali, dan kini jari-jari tangannya itu mulai mengoles-oleskan pena bulu dengan gerakan yang halus dan manis sekali di atas tinta bak, dan setelah mengukur jarak di atas kertasnya, diapun mulai membuat coret-coretan yang mengandung penuh gaya dan keindahan.

Madat!

Racun yang membinasakan bangsa sampai tinggal tulang belulang belaka!

Pendekar menjadi lemah, pembesar menjadi korup Dermawan menjadi kejam, sasterawan menjadi tumpul! Hanya si kaya semakin kaya

Madat sumber keuntungan mereka Basmi madat! Basmi racun dunia!!

Setelah selesai menulis dengan gerakan cepat dan indah, Tan Siucai merasa seolah-olah dadanya lapang dan lega, dan dengan wajah berseri-seri dia menyerahkan tulisan itu kepada Ma-ciangkun sambil berkata.

“Ciangkun, tulisan ini walaupun buruk akan tetapi menyuarakan hati nurani rakyat kecil. Harap ciangkun sudi menerimanya.”

“Kurang ajar!” bentaknya marah. “Sasterawan jembel busuk, engkau berani menghinaku?”

Dengan marah, Ciu Wan-gwe lalu menyambar sebuah kemocing (sapu bulu ayam) yang bergagang rotan, lalu dia menyerang sasterawan itu kalang kabut, memukuli kepala sasterawan itu kalang kabut, memukuli kepala sasterawan itu dengan gagang kemocing. Sudah biasa hartawan ini menghajar pelayan- pelayannya yang tidak menyenangkan hatinya dengan gagang kemocing.

Tan Siucai berusaha melindungi kepalanya dengan kedua lengan sehingga lengannya babak belur kena hantaman rotan.

“Ciu Wangwe, saya tidak menghina seseorang!” “Ciangkun… bukankah tulisannya itu menghina sekali?”

“Maaf, saya maksudkan pedagang madat pada umumnya, bukan pribadi dan saya hanya menggambarkan kenyataan...”

Siucai terhuyung ke belakang dan bangku alat tulisnya berantakan. “Dukk...!”

Sebuah tendangan membuat sasterawan itu roboh ketika kaki kiri yang besar dari Ma-ciangkun menyambar.

Tiba-tiba terdengar teriakan. “Ayaaaah...!”

Seorang anak laki-laki lari menerobos masuk dari luar halaman. Dia adalah seorang anak laki-laki yang berusia sekitar tujuh tahun, berpakaian sederhana dan bermata lebar.

“Ci Kong... pergilah... jangan ke sini...!”

Tan Siucai mengeluh dengan penuh kegelisahan melihat puteranya yang datang itu. Akan tetapi Ci Kong, anak itu, cepat lari naik ke ruangan depan dan menjatuhkan dirinya berlutut menghadap Ma-ciangkun dan Ciu Wan-gwe.

“Harap tai-jin sudi mengampuni ayahku...!”

Dengan lagak congkak, Ma-ciangkun kembali mengangkat kaki kiri menginjak punggung Tan Siucai, dan tangan kanannya yang besar itu menempel di kepala anak yang berlutut di depannya.

“Bocah setan, berani kau mencampuri? Sekali cengkeram, kepalamu akan dapat kuhancurkan!”

“Setan cilik! Ayahmu ini kurang ajar, sudah menghinaku, dia pantas dihukum, bahkan patut dibunuh!” bentak Ciu Wan-gwe marah, menudingkan telunjuk tangan kirinya ke arah Tan Siucai dan mengamankan gagang kemocing di tangan kanan.

“Ampun, tai-jin. Untuk kesalahan ayah, biarlah aku yang menebus dosanya.

Hukumlah aku, akan tetapi bebaskan ayah...” Ci Kong meratap.

Bukan main terharu rasa hati Tan Siucai.

“Anakku... aahhhh, engkau... jangan begitu... kau pergilah...” Akan tetapi Ci Kong bangkit dan berlutut lagi.

“Ampunkan ayahku, ampun...” ratapnya.

Anak ini memiliki keberanian luar biasa seperti ayahnya. Dia sendiri tidak takut mati, akan tetapi dia takut kehilangan ayahnya.

Pada saat itu, terdengar seruan nyaring. “Ayah...!”

Muncullah seorang anak perempuan dari dalam gedung Ciu Wangwe. Anak itu berusia sekitar enam tahun, berwajah manis sekali dengan sepasang mata yang tajam dan lebar. Pakaiannya indah dari sutera halus, rambutnya dikuncir dua yang bergantungan di kanan kiri. Anak itu berhenti berlari ketika melihat Tan Siucai masih rebah babak belur dan berlumuran darah. Ci Kong yang berlutut dan meratap mintakan ampun bagi ayahnya. Setelah tertegun sejenak, anak perempuan itu lalu lari menghampiri Ciu Wan-gwe dan memegang tangan orang tua itu.

“Ayah, apakah yang telah terjadi? Kenapa ayah marah-marah dan siapa mereka ini? Apa yang telah mereka lakukan maka ayah agaknya menghajar mereka?”

“Siapa yang tidak jengkel, anakku. Sasterawan jembel ini berani menghinaku dengan tulisannya.”

“Tulisan apakah, ayah? Boleh aku melihatnya?”