--> -->

Patung Dewi Kwan Im Jilid 02

Jilid 02

Baru tahulah Souw Cin Ok bahwa Siauw Ma pemuda yang berani dan jujur itu ikut mengejar ke atas. Diam-diam ia khawatirkan keselamatan pemuda itu, karena pada saat itu ia sendiri sedang bingung memikirkan nasib cucunya, ia menjawab singkat.

“Aku tidak bertemu dengan Siauw Ma. Kalian tunggu sajalah di sini, kalau ia masih hidup tentu ia akan kembali. Tapi jangan sekali-kali kalian naik menyusul ke atas.”

Kemudian tanpa banyak kata lagi Souw Cin Ok lari pergi tinggalkan Bukit Harimau Salju yang menjulang tinggi dan di mana ia berkali-kali mendapat kenyataan betapa ilmu kepandaiannya sebenarnya masih rendah sekali. Ia percepat langkahnya untuk secepat mungkin menjumpai gurunya dan melaporkan segala kemalangannya dan minta pertolongan suhunya itu untuk merampas kembali cucunya!

<>

Lian Eng semenjak diculik oleh kera salju dan dibawa ke dalam gua itu dan dihadapkan kepada Beng Beng Hoatsu telah tahu bahwa dirinya berada dalam tangan orang aneh dan luar biasa yang kepandaiannya jauh lebih tinggi dari kakeknya. Walaupun ia sendiri tidak dapat bicara, tapi dari semua percakapan yang terjadi antara kakeknya dan pertapa gemuk itu, tahulah ia bahwa kakeknya tidak berdaya dan bahwa terpaksa ia harus tinggal dalam gua itu.

Sebenarnya ada juga rasa takut dan sedih di dalam hati Lian Eng ditinggal oleh kakeknya dan hidup seorang diri di antara orang- orang dan binatang-binatang aneh itu, tapi sebagai seorang gadis yang waspada dan cerdik sekali, ia tahu bahwa jika ia menjadi murid Beng Beng Hoatsu, maka kepandaiannya akan menjadi tinggi dan bahkan lebih tinggi dari kepandaian kakeknya sendiri yang sebelum ini sangat ia kagumi!

Maka di balik rasa takut dan sedih, ada juga rasa gembira dalam hatinya yang tabah. Karena itu ia gunakan kecerdikannya dan tidak perlihatkan wajah murung, bahkan sebaliknya ia selalu tersenyum kepada Beng Beng Hoatsu, kepada pelayan aneh, dan bahkan kepada dua ekor makhluk putih yang menjadi penghuni gua itu juga dan membantu pekerjaan pelayan.

Setelah kakeknya pergi, Beng Beng Hoatsu serahkan Lian Eng kepada pelayannya dan kepada kedua monyet putih besar yang ternyata mempunyai nama juga, yakni yang jantan disebut Wan Eng sedangkan yang betina bernama Wan Nio! Sedangkan pelayan itu setelah mendapat perintah dari Beng Beng Hoatsu, segera bawa Lian Eng keluar gua dan di tempat terbuka ia mulai melatih gadis cilik itu dasar-dasar dari Ilmu Silat Sin-liong-kun- hwat yang luar biasa! Ilmu silat ini adalah ciptaan Beng Beng Hoatsu, semacam ilmu silat gabungan, yang diambilkan dasarnya dari gerakan Im dan Yang sedangkan gerak kakinya menurutkan dasar peraturan Pat- kwa. Beng Beng Hoatsu ketika mencipta Ilmu Silat Sin-liong atau Naga Dewa, juga mencipta Ilmu Silat Pedang Sin-liong-kiam-sut yang luar biasa lihainya hingga boleh dibilang pada zaman itu sukar dicari tandingannya.

Pelayan aneh itu dulu memang pelayan Beng Beng Hoatsu, yakni ketika pertapa aneh itu masih muda dan memangku jabatan ti-hu. Pelayan itu sangat setia dan adatnya baik dan jujur. Maka ketika Beng Beng Hoatsu telah menjadi pertapa, ia teringat akan pelayannya itu dan mencarinya.

Dengan senang hati pelayan itu ikut padanya ke atas bukit dan menjadi pelayannya yang setia lagi. Di samping menjadi pelayan, juga ia belajar silat dari Beng Beng Hoatsu yang mengajarnya secara sambil lalu saja, namun kepandaiannya sudah demikian hebat dan lihai. Ini adalah karena biarpun sambil lalu, namun Beng Beng Hoatsu telah memberi dasar-dasar dari ilmu silatnya yang luar biasa.

Juga kedua orang utan salju itu, Wan Eng dan Wan Nio, setelah ditaklukkan oleh pelayan itu dibawa ke dalam gua, ternyata mendapat didikan istimewa hingga mereka yang memangnya cerdik sekali, dapat mengerti kata-kata manusia dan dapat berpikir secara manusia pula.

Kedua binatang itu juga mendapat bimbingan ilmu silat dari Beng Beng Hoatsu yang suka kepada mereka, hingga kedua binatang tersebut memiliki ilmu silat tinggi yang tidak mudah dimiliki oleh sembarang manusia!

Kini melihat Lian Eng, gadis kecil yang cantik manis tapi gagu itu, pelayan dan kedua binatang itu timbul rasa kasihan dan suka. Terutama Wan Eng dan Wan Nio, mereka anggap gadis itu seakan-akan bangsanya sendiri yang tidak dapat bicara seperti manusia biasa!

Begitu mendapat ketika dan kesempatan, mereka segera mendekati Lian Eng dan ajak gadis itu bercakap-cakap dengan gerak jari tengah. Lian Eng memang seorang anak yang luar biasa cerdiknya, pula karena gagunya, ia mempunyai perasaan yang tajam dan halus, maka sebentar saja ia dapat membaca gerak jari tangan kedua monyet itu dengan baik, bahkan dapat menyatakan pikirannya dengan gerak yang serupa!

Tentu saja ke dua binatang itu menjadi girang sekali dan Wan Eng lalu peluk tubuh Lian Eng dan angkat ia ke atas lalu lempar gadis ke udara! Ketika tubuh gadis kecil itu turun, maka ia diterima oleh sambutan kedua tangan Wan Nio yang melemparnya ke atas lagi.

Demikianlah, gadis kecil itu dipakai sebagai barang permainan oleh kedua binatang yang menyatakan rasa sayangnya dengan cara mereka sendiri itu. Tapi Lian Eng hanya tertawa riang sungguhpun suara ketawanya tidak mengeluarkan suara keras, hanya terdengar bagaikan suara monyet kecil.

Mendapat latihan dasar Ilmu Silat Sin-liong yang luar biasa itu, Lian Eng sangat memperhatikan. Baginya latihan itu walaupun sulit, tapi tidak terlalu sukar dikerjakan, karena ia sudah mendapat latihan dasar-dasar Ilmu Silat Tat-mo-kun-hwat dari kakeknya, semacam ilmu silat yang tidak boleh dipandang ringan. Namun, bentuk dan macam pasangan kuda-kuda dan gerak kaki ilmu silat baru ini sungguh-sungguh hebat dan jauh lebih sulit dari pada ilmu silat yang pernah dipelajarinya.

Mendapat kawan seperti kedua binatang yang baik itu, Lian Eng terhibur juga, sungguhpun ia tidak begitu senang kepada pelayan yang selalu hormat dan pendiam itu. Lebih-lebih ia tidak senang kepada Beng Beng Hoatsu yang jarang kelihatan dan jika keluar selalu membuat ia merasa takut.

Selama beberapa hari, baru satu kali Beng Beng Hoatsu keluar dan melihat latihannya, tapi pendeta gemuk itu hanya keluarkan sepatah kata mencela.

“Tak baik, tak baik…… pelajari lagi yang betul!” Lalu pendeta itu tinggalkan dia dan masuk ke dalam gua lagi.

Tentu saja Lian Eng merasa gemas sekali dan ia makin tidak suka kepada pendeta gemuk yang aneh itu.

Setelah tinggal di situ lebih satu bulan, Beng Beng Hoatsu memanggilnya, dan dengan wajah sungguh-sungguh pertapa itu berkata.

“Lian Eng, biarpun kau baru belajar, sebulan dan belum belajar langsung dariku sendiri, namun kau sudah menurut jalan yang benar. Ketahuilah, ilmu silat yang kaupelajari ini tidak mudah dipelajari begitu saja tanpa ketekunan.

“Sekarang, sebelum kau belajar lebih jauh, aku hendak membawamu menemui seorang musuhku. Kau ikut saja dan jangan berbuat apa-apa, harus taat kepada semua perintahku. Kalau tidak, kau akan kulempar ke dalam jurang!”

Lian Eng hanya mengangguk. Maka berangkatlah Beng Beng Hoatsu keluar dari gua dengan Lian Eng dalam gandengan tangannya.

Setelah keluar dari gua, Beng Beng Hoatsu lalu mengulur jari tangannya dan menekan pundak Lian Eng. Gadis kecil itu hanya merasa sedikit kesemutan pada pundaknya, tapi selanjutnya tubuhnya tak merasa apa-apa lagi, seakan-akan ia sedang mimpi! Pendeta itu lalu mengangkatnya dan memanggulnya di pundak, la]u lari keras turun dari puncak bagaikan terbang saja!

Biarpun tubuhnya tak dapat bergerak, namun Lian Eng masih bisa menggerakkan biji matanya, maka ia melihat betapa pohon-pohon dan salju di bawahnya beterbangan cepat. Ia tidak merasa takut ataupun dingin, karena tubuhnya telah tertotok dan agaknya gurunya itu sengaja membuat ia demikian agar jangan terkena serangan angin atau dingin.

Sebentar saja Beng Beng Hoatsu telah turun dari bukit itu dan beberapa kali ia naik turun bukit, melalui jurang-jurang dan lembah-lembah yang curam. Setelah berlari secepat kilat lama sekali hingga mata Lian Eng tertutup sendiri karena lelah, akhirnya Beng Beng Hoatsu terbang ke atas puncak bukit yang sangat tinggi di mana salju menebal sampai beberapa kaki dari tanah.

Keadaan di situ sangat dinginnya dan sedikitpun tidak terdapat pohon yang masih ada daunnya. Pohon-pohon yang ada hanya cabang-cabangnya saja yang kini terbungkus salju tebal.

Ini adalah puncak bukit tertinggi di Pegunungan Thang-la, dan disebut Bukit Dewi Api! Sungguh sebutan yang ganjil sekali, karena di tempat yang begitu dingin tak tepatlah terdapat kata- kata api! Jangankan api, sedangkan matahari saja cahayanya tak dapat menembus kabut yang tebal dan dingin dan jarang sekali matahari dapat muntahkan cahaya di bagian ini!

Beng Beng Hoatsu berhenti di tempat yang tertinggi di mana terdapat sebuah gua yang sangat tinggi. Gua ini dari batu karang berwarna putih kekuning-kuningan yang bersinar bagaikan mengandung bahan emas murni.

Pertapa itu menurunkan Lian Eng dari gendongan sambil menotok pundak gadis kecil itu hingga Lian Eng dapat bergerak lagi seperti biasa. Setelah tidak terpengaruh totokan lagi, gadis itu merasa sangat dingin hingga kedua kakinya menggigil.

“Makanlah dua butir obat ini,” kata Beng Beng Hoatsu sambil memberi dua butir obat berwarna merah.

Lian Eng menerima obat itu dan menelannya. Obat itu berbau harum dan rasanya masam. Setelah obat itu memasuki perutnya, maka datanglah rasa hangat di sekujur tubuhnya hingga sebentar saja rasa dingin yang tadi menyerangnya telah lenyap. Setelah merasa badannya enak, Lian Eng memperhatikan tempat itu.

Mereka telah berdiri di depan sebuah gua yang tinggi dan berpintu batu yang besarnya dua kali lebih besar dari pada pintu gua Bukit Harimau Salju. Batu inipun berwarna putih kekuningan dan di atasnya terukir huruf-huruf yang berbunyi,

“Istana Dewi Api”

Beng Beng Hoatsu setelah memberi obat pemanas hawa kepada Lian Eng, lalu berdongak dan memanggil dengan suara yang luar biasa nyaringnya hingga Lian Eng merasa telinganya sakit.

“Huo Mo-li!! Keluarlah kau, aku telah datang!!!”

Suara ini bergema ke bawah gunung dan kumandangnya saling sahut dari segenap penjuru. Setelah menanti sebentar tapi tidak juga terdengar jawaban dari dalam, Beng Beng Hoatsu ulangi teriakannya, kini lebih keras hingga Lian Eng terpaksa gunakan kedua tangannya untuk menutup lubang telinganya.

“Huo Mo-li!!! Keluarlah, jangan sembunyi seperti perawan kampung!!”

Tiba-tiba dari dalam gua terdengar suara ketawa yang merdu sekali, tapi nyaringnya tidak kalah dengan suara teriakan Beng Beng Hoatsu tadi, lalu disusul suara seorang wanita berkata. “Beng Beng! Kau selalu masih ugal-ugalan! Aku sedang sibuk, kau masuklah saja!”

Beng Beng Hoatsu berdongak dan tertawa bergelak-gelak, lalu berkata kepada diri sendiri.

“Ah, ah……. ia masih tinggi hati. Tidak mau rendahkan diri menyambutku. Baik……, aku masuk saja.”

Setelah berkata demikian, Beng Beng Hoatsu maju mendekati pintu gua yang besar itu dan gunakan sebelah tangannya mendorong. Terdengar suara bergeret keras dan Lian Eng rasakan betapa tanah yang diinjaknya bergerak karena batu berat itu menggelinding ke samping gua.

Setelah pintu gua itu terbuka, dari dalam gua bersinar keluar cahaya merah terang dan Lian Eng merasa hawa panas menyerbu keluar.

Tapi Beng Beng Hoatsu bahkan melangkah maju ke tengah- tengah pintu gua hingga tubuhnya terlanggar oleh cahaya merah itu dan pertapa gemuk itu tertawa girang sambil berkata berkali- kali.

“Hm, enak…... enak….. alangkah nikmatnya…… Huo Mo-li, kau bikin aku mengiri tiada habisnya!”

Kemudian Beng Beng Hoatsu pegang lengan tangan Lian Eng dan membawa gadis cilik itu memasuki gua. Gua itu terang sekali karena cahaya merah yang menyorot keluar. Kalau hawa di luar sangat dingin hingga membikin beku segala yang cair, keadaan di dalam sebaliknya.

Di sini hawa panas hangat dan tidak tampak sedikitpun salju. Ruang gua itu lebar sekali dan di atas tampak batu-batu karang tajam bergantungan bagaikan ujung pedang dan tombak, dan dari tiap ujung yang runcing itu menitik turun air yang berkeliauan bagaikan butiran-butiran mutu manikam!

Titik-titik air itu jatuh ke bawah dan tempatnya segera diganti dengan titik lain. Indah sekali pemandangan di situ hingga Lian Eng merasa seakan-akan berada dalam dunia mimpi.

Dari sebelah dalam terdengar suara halus, “Silahkan, silahkan, masuk saja!”

Dan Lian Eng merasa betapa pegangan tangan gurunya makin erat ketika mereka berjalan maju ke ruang sebelah dalam.

Makin dalam, keadaan di situ makin indah. Di kanan kiri tampak batu-batu karang yang warnanya bermacam-macam. Ada yang hijau, biru, putih, kuning dan kesemuanya itu tersorot oleh cahaya merah yang menerobos dari dalam hingga mengeluarkan cahaya aneka warna yang indah sekali. Juga hawa makin hangat dan panas.

Ruang terakhir adalah sebuah ruang paling lebar dan paling indah, juga di situ terang sekali. Ukiran-ukiran dinding di sini luar biasa karena lukisan-lukisan itu diukir merupakan orang-orang dengan berbagai kedudukan kaki tangan yang tampak ganjil seperti orang menari tapi bukan menari.

Ukiran-ukiran itu nampak kuno sekali dan orang-orang yang diukir di situ seperti bukan orang pribumi. Lian Eng sama sekali tidak mengerti, hanya tahu bahwa di situ indah dan menyenangkan sekali.

Di satu sudut tampak seorang laki-laki muda tengah menggunakan kain warna kuning menggosok-gosok ukir-ukiran itu. Agaknya ia seorang pelayan yang kerjanya menggosok dan membersihkan semua lukisan dinding di situ, semua bersih dan mengkilap!

Tapi ketika Lian Eng melihat muka orang muda itu, tiba-tiba ia pegang-pegang tangan gurunya sambil menunjuk. Beng Beng Hoatsu pandang muridnya dengan heran karena ia melihat mata gadis itu terbelalak heran tapi bibirnya yang manis tersenyum lucu. Agaknya gadis itu kenal kepada orang muda itu.

“Eh, Lian Eng, kenalkah kau padanya?” tanyanya.

Lian Eng mengangguk-angguk dan dengan gerakan-gerakan tangan ia menceritakan bahwa pemuda itu dengan dia pernah pibu atau mengadu kepandaian. Tapi Beng Beng Hoatsu yang tidak biasa bicara dengan bahasa gerak menjadi bingung dan tidak mengerti, tapi ia tidak perhatikan pemuda itu lebih jauh.

Pemuda itu ketika mendengar suara Beng Beng Hoatsu, lalu berpaling dan iapun terkejut ketika melihat Lian Eng tapi mukanya menjadi berseri-seri menandakan bahwa pertemuan dengan gadis itu membuat dia merasa girang sekali.

Pemuda itu bukan lain ialah Siauw Ma, pemuda pemburu yang gagah berani dan yang sebulan yang lalu telah mengejar kera putih yang menculik Lian Eng di kaki bukit Harimau Salju!

<>

Bagaimana Siauw Ma bisa sampai ke situ dan tiba-tiba menjadi tukang gosok dinding gua yang aneh dan indah ini? Marilah kita berhenti dulu dan menengok ke belakang untuk melihat pengalaman Siauw Ma semenjak berpisah dari kawan-kawannya karena ia lari dengan nekat naik ke Bukit Harimau Salju untuk mengejar dan menolong Lian Eng, gadis yang pernah menjungkir- balikkannya itu!

Ketika dulu melihat Lian Eng dibawa lari oleh manusia salju dan dikejar oleh Souw Cin Ok, entah mengapa hati Siauw Ma tiba-tiba menjadi cemas dan marah sekali hingga ia tidak pikir panjang lagi dan dengan tekad bulat ia lari mengejar ke atas dengan maksud membantu Souw Cin Ok dan menolong Lian Eng.

Mungkin hal ini digerakkan oleh hatinya yang merasa terharu ketika ternyata padanya bahwa gadis kecil itu adalah seorang gagu. Ia kagum berbareng iba melihat gadis yang tinggi ilmu silatnya itu.

Tapi karena ilmu kepandaiannya masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan Souw Cin Ok atau manusia salju itu, maka ia tertinggal jauh. Namun Siauw Ma bukanlah anak muda yang mudah putus asa atau mudah takut.

Ia terus saja lari ke atas ke mana saja kakinya membawa ia maju, karena mereka yang dikejarnya sudah tak tampak bayangannya sedikitpun dan ia tahu harus menuju ke mana. Ia tidak tahu bahwa ia telah sesat jalan dan bukannya menuju ke puncak Bukit Harimau Salju, tapi menuju ke bukit lain yang penuh dengan beruang salju!

Ia mulai terserang dingin hingga ia berjalan sambil menggigil kedinginan. Tapi ia masih tetap keras kepada dan terus melangkah maju.

Memang setelah sampai di tempat itu, ia tidak dapat memilih lagi. Jalan pulang agaknya lebih jauh dari pada jalan ke puncak.

Akhirnya setelah cuaca hampir gelap dan hawa dingin makin menghebat, Siauw Ma tidak kuat lagi dan terpaksa menjatuhkan diri duduk di atas salju. Ia mencoba menggerakkan kakinya, tapi kakinya telah menjadi beku dan terbenam ke dalam salju sampai di lutut.

Dan pada saat ia sudah tak berdaya sama sekali itu, barulah ia teringat akan ibunya dan teringat akan kawan-kawannya. Barulah timbul rasa menyesal dalam hatinya. Bukan menyesal karena ia berusaha menolong Lian Eng yang terculik manusia salju, tapi menyesal karena ketidak mampuan sendiri. Ia merasa bahwa ia pasti akan mati kedinginan di situ, maka terbayanglah di depan matanya betapa ibunya menangis. Ibunya yang kini terpaksa harus hidup seorang diri! Dua titik air mata meloncat keluar dan membeku di bulu matanya!

Pada saat yang sangat berbahaya bagi Siauw Ma itu tiba-tiba terdengar suara gerengan hebat dari sebelah belakang. Siauw Ma masih kuasa menggerakkan kepala berpaling dan alangkah terkejutnya ketika melihat seekor beruang salju yang besarnya seperti kerbau, berdiri di atas dua kaki belakangnya dengan matanya yang sipit bergerak liar dan dari mulutnya yang bercaling kuning tajam itu keluar air liur yang jatuh membeku di atas dada yang penuh buluh putih itu.

Siauw Ma tak kuasa menggerakkan tubuhnya. Kakinya terbenam dalam salju, tubuhnya setengah beku, apa yang dapat ia lakukan?

Beruang itu kini menurunkan kaki depannya dan sambil merangkak ia mendekati Siauw Ma. Pemuda itu terpaksa meramkan mata ketika moncong beruang itu menghembus mukanya.

Ia merasa hawa panas keluar dari mulut beruang dan mencairkan dua butir air mata yang telah membeku di bulu matanya. Ia merasa betapa lidah yang merah itu dengan tajam menyapu- nyapu mukanya dan Siauw Ma hanya meramkan mata, menanti datangnya maut setiap saat jika beruang itu menanamkan caling- calingnya ke tubuhnya. Tapi pada saat itu terdengar geraman keras yang merupakan pekik mengerikan di dekat telinga. Siauw Ma membuka matanya dan melihat beruang itu bergulingan di atas tanah beberapa kali lalu rebah tak bergerak dan mati!

Dari leher binatang itu mengalir darah tapi hanya sebentar karena luka di leher itu sebentar saja tertutup oleh darah yang telah keluar dan membeku di luar.

Siauw Ma melihat sesosok bayangan tubuh bergerak cepat mendatangi dan sebelum ia jelas betul melihat orang itu, tahu- tahu ia merasa tubuhnya telah terbetot keluar dari salju dan iganya terasa ditotok orang. Ia merasa hawa panas bagaikan dialirkan oleh jari yang menotoknya hingga di dalam tubuhnya mengalir hawa panas yang mengusir lenyap semua kebekuan tubuhnya.

Tapi sebelum ia sempat bertanya atau bergerak, tiba-tiba orang yang belum dilihatnya itu pegang leher bajunya sebelah belakang dan ia merasa dirinya diseret di atas salju! Orang yang menyeretnya itu lari cepat sekali bagaikan terbang.

Kedua kaki Siauw Ma tergantung di atas salju dan ia diseret cepat sekali seakan-akan ia sendiri melayang sambil mundur! Entah berapa lama ia ditarik sedemikian itu karena Siauw Ma tidak berani sembarangan bergerak, tapi berdiam diri bagaikan patung, takut kalau-kalau tubuhnya dilepas oleh yang menyeretnya.

Ia merasa ngeri sekali ketika orang yang menyeretnya itu membawa ia melalui sebuah jalan salju yang lebarnya paling banyak satu kaki sedangkan di kanan kirinya terdapat jurang salju yang luar biasa curamnya.

Suram-suram di dalam gelap ia melihat betapa di bawah jurang itu tampak batu-batu karang yang tajam bagaikan mata tombak menanti kejatuhannya untuk dipanggang seperti sate! Maka Siauw Ma tak kuat lagi membuka mata lebih lama. Ia meramkah mata dan serahkan nasibnya kepada orang yang menyeretnya.

Setelah diseret beberapa lama, tiba-tiba Siauw Ma merasa orang yang menariknya tidak lari lagi dan ia dilempar begitu saja di atas salju! Cepat ia buka matanya dan melihat bahwa mereka telah berada di depan sebuah gua yang tinggi.

Di dalam gelap ia melihat bayangan hitam seorang wanita yang potongan tubuhnya ramping sekali. Wanita itu gunakan tangan membuka atau mendorong batu yang menutup gua itu, lalu bertindak masuk sambil berkata kepadanya.

“Hayo kau masuk!” Suaranya terdengar ketus dan galak, tapi sungguh merdu dan nyaring.

Siauw Ma berdiri perlahan dan dengan taat ia masuk ke dalam gua yang ternyata terang sekali di bagian dalamnya. Namun wanita itu cepat gunakan tangan menutup batu tadi depan gua lagi.

Kini Siauw Ma melihat bahwa orang yang menolong dan menyeretnya adalah seorang wanita yang luar biasa cantiknya, seolah-olah bidadari yang baru turun dari kahyangan! Tapi sepasang mata bintang yang sangat indah itu mengeluarkan cahaya dingin yang membuat Siauw Ma diam-diam merasa berdebar dan menggigil ketakutan.

“Kau siapakah?”

Wanita itu bertanya dan air mukanya yang berkulit putih halus kemerah-merahan itu sedikitpun tidak bergerak atau membayangkan perasaan hatinya seperti manusia biasa. Muka itu lebih mirip dengan sebuah kedok yang manis tapi menyeramkan.

Dengan gagap Siauw Ma menjawab, “Saya...... saya Siauw

Ma. Di manakah kita? Apakah aku sudah sudah mati?”

Siauw Ma memang anggap dirinya mimpi atau sudah mati karena ia tak percaya dapat tertolong semudah itu dan ada seorang wanita dapat menyeretnya sambil lari seperti terbang di antara jurang yang berbahaya itu. Atau….. tiba-tiba hatinya berdebar takut…… mungkinkah wanita ini siluman?

Siauw Ma semenjak kecil hidup di dalam kampung dekat hutan dan sering kali mendengar dongeng-dongeng tentang siluman hingga sedikit banyak ada perasaan tahyul dalam hatinya.

“Siapa siapakah nona?”

Wanita itu tidak menjawab, bahkan bertanya lagi, seakan-akan ia tidak biasa menjawab pertanyaan dan hanya bisa memerintah dan bertanya. “Apa yang kaukerjakan maka naik ke gunung beruang itu? Kau mencari apa? Mencari siapa?”

Maka dengan singkat Siauw Ma menuturkan tentang perjumpaannya dengan Souw Cin Ok dan betapa Lian Eng gadis kecil gagu itu telah diculik oleh manusia salju dan dikejar oleh Souw Cin Ok dan betapa ia sendiri karena merasa kasihan kepada gadis itu lalu mengejar hingga sampai di situ.

“Hm, rupanya Beng Beng si tua bangka itu kembali hendak main gila. Bagaimanakah keadaan gadis gagu itu? Coba ceritakan keadaannya.”

“Saya tidak tahu banyak. Yang saya tahu bahwa dia manis dan kurus pucat, tapi kepandaiannya….. eh…… aku pernah jatuh dalam tangannya. Usianya paling banyak duabelas tahun dan Souw Cin Ok adalah kakeknya. Gadis itu gagu, tak dapat bicara, tapi ketika terculik oleh manusia salju, agaknya ia tidak takut.”

Wanita itu menggigit bibir dengan giginya yang putih berkilau bagaikan mutiara hingga ia tampak cantik sekali! Belum pernah seumur hidupnya Siauw Ma melihat wajah sejelita itu.

“Dan kau ikut mengejar untuk menolongnya? Kau bisa apa terhadap manusia salju itu sedangkan Souw Cin Ok sendiri tidak berdaya terhadapnya?”

Siauw Ma tak dapat menjawab hanya tundukkan mukanya.

“Hm, kau agaknya mempunyai hati juga. Bagus, tak percuma aku menolongmu. Tapi, sekarang kau harus berjanji padaku bahwa kau takkan berkata kepada siapa juga tentang aku dan tentang tempat ini!”

Suaranya mengandung ancaman demikian keras hingga Siauw Ma menjadi terkejut dan takut-takut.

“Tidak, tidak, aku takkan berkata kepada siapa juga.”

“Dan besok pagi-pagi kau harus turun gunung dan pergi dari sini.”

“Nona, kau berkepandaian tinggi. Apakah kau tidak mau menolong Lian Eng? Mungkin ia mendapat bencana. Kasihan gadis kecil itu,” suara Siauw Ma penuh permohonan.

“Aku tidak suka usilan seperti kau. Nah, kau tidurlah di pojok sana.”

Ia menunjuk ke sebuah pojok di mana terdapat sebuah batu besar berbentuk bangku panjang. Kemudian wanita aneh itu lalu meloncat ke dalam dan lenyap dari pandangan mata.

Siauw Ma mana bisa tidur setelah mengalami peristiwa aneh itu. Ia hanya duduk di atas bangku itu sambil termenung.

Tiba-tiba ia tertarik kepada lukisan-lukisan atau ukiran-ukiran di dinding. Tersorot cahaya merah, maka lukisan itu tampak indah sekali dan kelihatan demikian aneh dan ganjil hingga Siauw Ma menjadi tertarik dan bangun dari bangku batunya. Ia berdiri di bawah ukiran itu dan memandang penuh perhatian untuk melihat apakah sebenarnya lukisan itu. Tapi agaknya ukiran di situ banyak tertutup debu putih hingga tidak jelas.

Karena sangat tertarik, Siauw Ma lalu angkat bangku batu itu. Ternyata bangku itu beratnya ratusan kati hingga ia, harus gunakan seluruh tenaganya untuk mengangkat dan membawanya ke dekat dinding yang penuh dengan ukiran itu. Ia lepaskan baju luarnya karena hawa di situ cukup hangat lalu dengan bajunya ia bersihkan ukiran-ukiran itu dengan berdiri di atas bangku.

Setelah debu yang menutupi ukiran itu lenyap, maka tampaklah bahwa ukiran-ukiran itu adalah lukisan manusia yang sedang menari atau bersilat. Ia makin tertarik dan meneruskan menggosok lain bagian.

Siauw Ma memang cerdik biarpun ia berwatak agak kasar. Dengan cepat ia dapat menduga bahwa lukisan-lukisan atau ukiran-ukiran itu adalah lukisan orang sedang bersilat, dan bahwa itu adalah ilmu silat yang luar biasa sekali.

Ternyata gambar orang itu banyak sekali dan tiap gambar mempunyai gerakan yang menyambung gambar sebelahnya hingga setelah menggosok bersih beberapa ukiran orang, ia dapat merangkai gerakan itu. Ia turun dari bangku dan meniru gerakan-gerakan seperti yang tertunjuk pada ukiran dan dapatkan kenyataan bahwa gerakan itu adalah semacam tipu pukulan yang aneh. Untuk melengkapkan semacam gerakan maka dilakukan oleh sedikitnya limabelas orang dalam gambar yang gerakannya sambung menyambung. Ternyata olehnya bahwa pukulan yang dimainkan oleh lukisan-lukisan orang itu sangat banyak cabang atau jurusan dan berubah-ubah menyesatkan.

Siauw Ma makin girang dan semalam penuh ia tidak hentinya menggosok-gosok ukiran baru sambil mempelajarinya. Ia tidak merasa bahwa hari telah pagi.

Ketika ia sedang menggerak-gerakkan tangan menuruti gerakan pukulan gambar yang baru saja digosoknya, tiba-tiba ia merasa ada angin menyambar dari belakang. Dengan otomatis ia lanjutkan gerakan yang telah dipelajari dari malam tadi dan tubuhnya dapat berkelit sedemikian rupa.

“Eh, pencuri kecil! Kau sedang apa di sini?” tegur suara yang telah dikenalnya malam tadi, karena ia tahu bahwa yang menegurnya itu tentu wanita cantik yang menolongnya.

Ketika ia putar tubuh, benar saja di depannya telah berdiri seorang wanita yang luar biasa cantiknya. Malam tadi ia tidak dapat melihat tegas, tapi sekarang nyata sekali kecantikan wanita itu yang berusia kurang lebih duapuluh tahun, tubuhnya berisi dan potongannya ramping tinggi, wajahnya mengeluarkan sinar sedemikian segar bagaikan setangkai bunga sedang mekar- mekarnya, tapi wajah yang sangat jelita itu seakan-akan mati tidak memperlihatkan perasaan apa-apa! Siauw Ma cukup mengerti bahwa wanita ini bukanlah seorang sembarangan dan memiliki kepandaian yang luar biasa tingginya, maka ia tidak berani main-main, lalu menjura dan menjawab dengan suara perlahan.

“Nona, maafkan saya. Saya tidak mencuri apa-apa, hanya karena melihat ukiran-ukiran yang demikian indahnya penuh tertutup debu, maka saya berusaha membersihkannya.”

“Dengan maksud apa kaubersihkan ukiran-ukiran itu?” pertanyaan ini keras dan ketus.

“Maksudku hanya membalas budimu, nona.” “Apa maksudmu! Jangan kau main-main!”

“Siapa berani main-main dengan nona yang budiman dan gagah perkasa? Saya telah kautolong dari bahaya maut, berarti jiwaku telah berada dalam tanganmu, nona.

“Kini melihat keadaan dalam tempat tinggalmu demikian kotor, hatiku tidak tega dan ingin membersihkannya. Bukankah kalau bersih bagus dipandang?”

“Tapi mengapa kau tiru-tiru gerakan orang dalam lukisan ini?”

Mendengar pertanyaan ini, terkejutlah Siauw Ma. Ia dapat menduga bahwa wanita aneh ini tentu telah ketahui rahasianya, bahwa ia mempelajari pukulan-pukulan aneh yang terlukis di dinding itu. Maka dengan nekat karena tiada jalan lain, tiba-tiba ia menjatuhkan diri berlutut di depan wanita itu dan memohon. “Ampunkan saya, nona. Saya…… saya ingin sekali memiliki kepandaian silat yang agak berarti karena saya merasa betapa rendahnya ilmu yang saya miliki sekarang. Dan….. gerakan- gerakan dalam lukisan di dinding ini seakan-akan merupakan tipu- tipu silat yang hebat, maka perkenankanlah aku membersihkan semua dinding ini.”

“Hm, kau hendak mencuri ilmu silat yang kuciptakan?”

Siauw Ma makin terkejut. Jadi ukiran-ukiran itu adalah perbuatan wanita ini? Ah, tak mungkin. Tiba-tiba timbul pikiran dalam kepalanya. Ia angguk-anggukkan kepalanya hingga membentur lantai.

“Nona, kalau begitu…… siauwte mohon diterima menjadi murid.”

“Apa? Kau gila! Siapa sudi mempunyai murid seperti engkau! Pendeknya jangan banyak rewel, hayo angkat kaki dan pergi kau dari sini!”

Siauw Ma menjadi bingung, tapi hatinya yang keras dan pantang mundur membuatnya tak kenal takut dan ia mendesak lagi.

“Nona, kalau aku tak cukup berharga menjadi muridmu, maka biarlah aku kauperkenankan membersihkan seluruh dinding yang ada di sini. Hitung-hitung sebagai balas budimu, nona. Setelah semua dinding bersih, barulah siauwte hendak pergi tinggalkan tempat ini. Siauwte takkan mengganggu kepada nona sedikitpun.” “Kau memang gila! Dinding di dalam gua ini luas sekali dan agaknya berbulan-bulan kau baru akan dapat selesaikan jika kau hendak menggosok semua ukiran!

“Tapi, melihat ketekunan dan keteguhan hatimu, biarlah aku beri waktu padamu tiga bulan. Jika dalam tiga bulan ini kau berhasil menggosok bersih semua ukiran, kau akan kuberi petunjuk bagaimana untuk meniru gerakan-gerakan semua lukisan. Tapi jika dalam tiga bulan kau belum selesaikan semua itu, jangan mengeluh jika aku lempar kau ke dalam jurang!”

Mana Siauw Ma berani membantah? Ia tidak pikir panjang lagi, lalu mengangguk-anggukkan kepala: “Baik, nona…… baik, nona.”

Wanita itu lalu buka batu penutup gua dan keluar.

Siauw Ma lalu mulai menggosok-gosok lagi, lupa kantuk lupa lelah. Ia menggosok dengan giatnya dan kini ia tidak berani lagi turun dari bangku untuk meniru-niru gerakan ukiran itu karena takut kalau-kalau ia tidak dapat selesaikan tugasnya.

Tapi diam-diam ia ingat semua lukisan itu dalam hati untuk dipelajari kelak. Sehari itu ia terus menggosok tanpa makan apa- apa hingga pada sore harinya ia merasa lelah dan lapar, namun ia tidak berani herhenti dari pekerjaannya. Ia telah mengambil keputusan untuk terus bekerja, biarpun ia akan mati dalam melakukan pekerjaannya itu.

Hatinya memang keras dan kemauannya membaja, maka ketekunannya membuat ia kuat bertahan sampai hari menjadi malam lagi. Tak terasa ia telah bekerja sehari semalam tanpa berhenti dan tanpa makan! Tidak sembarang orang dapat bertahan sampai sehari semalam bekerja keras tanpa istirahat atau makan, kalau ia tidak mempunyai semangat yang bernyala- nyala dan ketetapan hati yang keras.

Maka ketika wanita itu pada tengah malam memasuki gua, ia heran juga melihat Siauw Ma masih bekerja dan sehari semalam itu telah berhasil bersihkan dinding sampai seluas kurang lebih sepuluh kaki persegi! Wanita itu di tangan kirinya membawa seekor burung besar yang macamnya seperti ayam hutan dan ia lempar burung itu di dekat Siauw Ma sambil berkata.

“Kau makanlah dulu! Aku tidak mau kalau ada orang mati kelaparan di dalam guaku!” Kemudian wanita itu menunjuk ke dalam dan berkata,

“Kalau kau sudah menggosok dinding sampai pada tirai bambu yang menutup kamarku, kau harus pindah ke dinding lain yang belum tergosok. Jangan kau sekali-kali berani membuka tirai bambu itu, karena perbuatan itu berarti kematian bagimu!”

Setelah berkata demikian dengan suara yang merdu tapi menyeramkan, ia tinggalkan Siauw Ma.

Pemuda itu berdiri bingung sambil memandang bangkai burung besar yang menggeletak di atas lantai. Bagaimana ia harus makan daging burung itu? Di situ tidak ada api untuk membakarnya, tidak ada sepotongpun kayu untuk dijadikan bahan bakar, apakah ia harus makan daging burung itu begitu saja tanpa dimasak dulu? Siauw Ma lalu cepat membersihkan bulu burung itu.

Ternyata kulit dan daging burung itu berwarna putih kemerahan dan tampaknya enak sekali. Namun ia masih ragu-ragu dan merasa muak untuk makan daging mentah.

Alangkah nikmat dan lezatnya kalau daging yang gemuk itu dimasak! Memikirkan ini, tak terasa air liur di mulutnya membuat ia merasa makin lapar.

Dengan perlahan ia cabut paha burung itu dan dengan meramkan mata ia gigit dagingnya! Tapi setelah daging itu beradu dengan giginya, ia buka mata lebar-lebar karena heran dan girang.

Daging itu ternyata enak sekali dan sedikitpun tidak berbau amis. Rasanya seperti daging yang telah dimasak saja! Mimpikah ia? Atau karena laparnya yang hebat itu maka ia merasa daging itu enak seakan-akan sudah dimasak?

Ia tidak tahu bahwa burung itu memang mempunyai daging yang tidak amis dan rasanya gurih seakan-akan daging yang telah masak. Dengan bernapsu ia gerogoti semua daging dari tulang- tulang burung itu dan sebentar saja habislah semua daging burung yang besar seperti seekor angsa itu!

Setelah perutnya kenyang Siauw Ma merasa senang dan ia lanjutkan pekerjaannya menggosok dinding. Tapi baru saja mulai menggosok, ia merasa lelah sekali dan ia rebahkan tubuhnya di atas balai-balai batu. Sebentar saja terdengar suara dengkurnya yang keras karena ia tertidur pulas sekali.

Menjelang tengah hari, tiba-tiba Siauw Ma terjaga dari tidurnya ketika ia mendengar suara nyanyian yang nyaring dan merdu dan ketika ia buka matanya ternyata sinar merah dalam gua itu makin besar dan hebat. Ia sangka bahwa matahari tentu telah menyinarkan cahayanya yang menembus gua itu dan tidak ambil perduli lebih lanjut.

Kini perhatiannya tercurah kepada lukisan-lukisan terukir pada dinding yang telah ia bersihkan. Lukisan-lukisan itu tampak jelas dan ia masih ingat akan janji wanita cantik kemarin.

Kalau ia dapat selesaikan semua penggosokan dinding itu dalam tiga bulan, maka ia akan diberi petunjuk untuk main silat seperti yang terlukis pada ukiran! Cepat Siauw Ma loncat bangun dan mulai menggosok-gosok lagi secepat dan sekuat mungkin!

Siauw Ma bekerja rajin dan keras. Ia tak kenal lelah dan tak pernah berhenti, kecuali kalau perutnya menagih dan ia makan daging burung yang enak itu yang tiap dua hari sekali dibawakan oleh wanita cantik itu, atau ia baru berhenti kalau matanya sudah tak kuat menahan kantuknya lagi.

<>

Demikianlah maka sebulan kemudian, ketika Beng Beng Hoatsu ajak Lian Eng mengunjungi Huo Mo-li dan masuk ke dalam guanya, mereka melihat Siauw Ma sedang menggosok dinding! Siauw Ma melihat kedatangan Lian Eng secara tiba-tiba bersama seorang gemuk pendek yang berwajah aneh dan pakaiannya pun aneh pula, menjadi girang sekali. Ia girang melihat bahwa gadis cilik itu ternyata selamat. Maka tanpa terasa ia angkat dan melambaikan tangannya yang dibalas oleh gadis itu sambil tersenyum manis.

Karena ingin tahu apa yang hendak dilakukan oleh orang gemuk itu dan Lian Eng, dengan tak terasa lagi Siauw Ma turun dari bangkunya dan jalan mengikuti mereka menuju ke ruang di dalam gua yang paling dalam.

Tiba-tiba mereka membelok dan berdiri di depan sebuah tirai bambu warna hijau yang menutup sebuah pintu. Siauw Ma teringat akan ancaman wanita aneh kepadanya bahwa sekali-kali tidak boleh membuka tirai bambu, dan kalau ancaman itu dilanggar, ia akan dibunuh! Diam-diam Siauw Ma merasa ngeri dan takut.

Pertapa gemuk itu agaknya tidak berani membuka tirai itu, karena ia berdiri di luar dan berkata dengan halus.

“Huo Mo-li, benar-benarkah kau tidak mau menyambut aku?”

Setelah hening sesaat dan gema suara Beng Beng Hoatsu telah lenyap, suara wanita aneh itu terdengar dari balik tirai.

“Tunggulah sebentar, aku sedang mandi!”

“Kebetulan sekali! Huo Mo-li, sudah lama aku ingin melihat kau mandi!” Siauw Ma mendongkol sekali mendengar kata-kata pendeta ini yang dianggapnya cabul dan kurang ajar, juga Lian Eng dengan wajah merah tundukkan kepala dan menyesal akan sikap kata- kata suhunya yang melewati batas kesopanan itu.

Tapi dari belakang tirai bambu, terdengar suara tertawa nyaring yang disusul jawaban.

“Begitukah? Akupun sudah mendengar bahwa kau seoranglah yang paling tidak percaya akan kesaktianku dan memandang rendah kepadaku!”

“Jangan jumawa, Huo Mo-li. Beng Beng Hoatsu sepuluh tahun yang lalu bukanlah Beng Beng Hoatsu yang sekarang berada di luar kamarmu.”

Terdengar suara sindiran dari Huo Mo-li, “Hmm, siapa yang tidak tahu bahwa kau menjadi kepala besar karena kepandaianmu Sin- liong-kiam-sut? Tapi aku tidak gentar.”

Beng Beng Hoatsu menjadi tidak sabar. “Kalau begitu, keluarlah kau dan mari kita penuhi janji kita sepuluh tahun yang lalu!” ia menantang.

“Kau ternyata masih tidak sabaran dan penakut seperti dulu juga. Kau datang membawa seorang gadis kecil, tentu maksudmu untuk melindungi jiwa monyetmu! Tapi sebelum aku keluar, kau lihatlah dulu kesaktianku yang kau ragukan.”

Pada saat itu terdengar suara ledakan kecil dan tirai bambu itu dengan perlahan tergulung sendiri ke atas! Perlahan-lahan dari dalam kamar yang terbuka itu memancar keluar sinar merah terang yang menyilaukan mata hingga terpaksa Siauw Ma dan Lian Eng gunakan tangan menutupi matanya.

Ternyata bahwa cahaya yang menerangi dalam gua sebenarnya keluar dari kamar ini dan cahaya itu masih tertahan oleh mata karena terhalang tirai bambu itu. Kini setelah tirai bambu terbuka, maka keadaan demikian terang seakan-akan matahari tergantung hanya beberapa tombak di atas gua itu!

Ketika Siauw Ma dan Lian Eng beranikan diri memandang melalui celah-celah jari tangan, hampir saja mereka berteriak karena kaget dan takut. Pemandangan yang mereka lihat di dalam kamar itu betul-betul mengherankan dan membuat mereka merasa seakan-akan bukan berada di dunia, tapi lebih pantas di dalam neraka!

Ternyata bahwa kamar itu terhias indah sekali, tapi di sudut kamar yang lebar itu terdapat lubang besar di lantai yang lebarnya tidak kurang dari tiga tombak. Lubang itu adalah sebuah kawah di bawah tanah dan dari kawah inilah keluar api merah yang menyala-nyala dan lidah api menjilat-jilat ke atas!

Dan apakah yang tampak? Di atas kawah itu tampak melintang sebatang tongkat atau gala panjang yang entah terbuat dari pada apa, karena gala itu ternyata kuat sekali dan tidak termakan api.

Dan yang paling hebat, Huo Mo-li si wanita cantik jelita itu berdiri di atas gala itu hingga lidah api yang kuning kemerah-merahan menjilat dan menyelubungi seluruh tubuhnya dari jari kaki sampai ke ujung rambutnya yang terurai sampai ke pinggang! Ia mengenakan pakaian longgar warna putih mengkilap bagaikan terbuat dari pada benang perak dan rupanya pakaian itupun tahan api!

Huo Mo-li menghadapi mereka sambil angkat dada dan dengan bangga sekali ia tersenyum manis dan memandang Beng Beng Hoatsu dengan mata bercahaya!

Beng Beng Hoatsu dapat menindas perasaan herannya, dan ia dongakkan kepala sambil tertawa bergelak-gelak.

“Pantas kau disebut Huo Mo-li atau Setan Api Wanita! Memang kalau kau sedang mandi di dalam api macam ini, kau pantas menjadi setan api! Nah, aku sudah lihat kesaktianmu, Huo Mo-li, tapi tetap aku hendak menagih utangmu sepuluh tahun yang lalu!”

Huo Mo-li gerakkan tubuhnya dan ia loncat dari gala itu, kini berdiri di depan mereka. Wajahnya nampak makin cantik dan kulitnya makin segar seakan-akan seorang yang baru saja mandi bersih.

Siauw Ma dan Lian Eng tak terasa turunkan kedua tangan dan memandang ke arah wanita itu dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Lebih-lebih Siauw Ma.

Sedikitpun tak disangkanya bahwa wanita yang menolongnya itu demikian lihai dan luar biasa hingga seakan-akan bukan manusia lagi!

Huo Mo-li memandang kepada Beng Beng dengan senyum menghina di bibirnya. Kemudian ia memandang kepada Lian Eng dan tiba-tiba senyum menghina di bibirnya berubah menjadi senyum manis yang ramah tamah dan matanya mengeluarkan cahaya lembut.

Ia membuat gerakan-gerakan dengan tangan dan jarinya dan Lian Eng memandang dengan heran karena ia dapat mengerti gerakan itu. Wanita itu dengan bahasa tangan telah berkata bahwa Lian Eng sangat manis dan bahwa wanita itu suka padanya!

Kemudian mata Huo Mo-li mengerling dan terlihatlah Siauw Ma di dalam kamarnya. Wajahnya menjadi merah dan matanya berkilat!

Tiba-tiba saja tangan kirinya bergerak ke arah Siauw Ma dan angin pukulan besar sekali menyambar dada pemuda itu dan membuatnya terpukul dan terlempar keluar kamar. Siauw Ma terbanting pada dinding di luar kamar dan rebah pingsan!

“Kurang ajar! Ia berani masuk ke kamarku,” Huo Mo-li berkata perlahan sambil tersenyum lagi.

“Kau kejam! Ia anak baik,” Beng Beng Hoatsu menegurnya lalu sekali bergerak saja ia sudah berada di luar kamar dan memeriksa dada Siauw Ma.

Ternyata angin pukulan tadi telah membuat dada pemuda itu menjadi hitam dan mendapat luka di dalam yang hebat juga! Beng Beng Hoatsu lalu rogoh saku bajunya dan keluarkan sebutir obat berwarna putih. Ia masukkan obat itu ke dalam mulut Siauw Ma dan beberapa kali ketok dan urut dada pemuda itu. Sebentar saja Siauw Ma siuman kembali dan muntahkan darah hitam dari mulutnya.

Huo Mo-li mendengar orang muntah, dengan marah loncat keluar. “Celaka! Dia sekarang bikin kotor tempatku lagi! Orang begini harus mati!”

“Tahan!” Beng Beng Hoatsu mencegah, “Jangan ganggu dia!”

Huo Mo-li memandang pertapa gemuk itu dengan heran. “Mengapa? Kau sekarang berubah sekali, Beng Beng! Apa hubungannya dia dengan kau?”

“Dia muridku!” Beng Beng menjawab dengan suara tetap.

“Eh, eh. Mulutmu benar-benar murah. Sejak kapan ia menjadi muridmu?”

“Sejak saat ini!”

Huo Mo-li pandang wajah Siauw Ma yang kini telah berdiri dengan tegak. Pemuda ini balas memandangnya dengan berani karena ia merasa penasaran dan tidak suka lagi kepada wanita yang kejam dan aneh ini. Ia anggap wanita ini benar-benar seorang iblis jahat.

Melihat sikap Siauw Ma ini, mata Huo Mo-li yang tajam dan keras agak melembut, lalu ia bertanya.

“Benar-benarkah kau suka menjadi muridnya? Murid Beng Beng ini?” Siauw Ma telah insyaf bahwa pertapa gemuk pendek itupun bukan orang sembarangan dan tentu seorang sakti pula tadi telah menolongnya, maka tanpa ragu-ragu lagi ia menjawab,

“Betul!” Lalu ia jatuhkan diri berlutut di depan Beng Beng dan menyebut, “Suhu!”

Beng Beng Hoatsu tertawa keras dan berkata kepada Huo Mo-li, “Nah, karena dia muridku, kau harus maafkan dia kalau bersalah.”

Huo Mo-li hanya buang muka dan tersenyum mengejek.

“Biarlah kita jangan ributkan perkara kecil ini. Kalau dia suka jadi muridmu, bawalah pergi. Tapi sekarang kau jawablah, apa kehendakmu datang ke sini?”

“Huo Mo-li. Lupakah kau? Hari ini adalah tepat sepuluh tahun semenjak kau rampas guaku ini. Maka aku datang menagih.”

“Jadi kau sudah merasa cukup kuat untuk mengusirku dari sini?” tanya iblis wanita yang cantik itu.

“Coba-cobalah!” jawab Beng Beng Hoatsu.

Huo Mo-li lalu gunakan tangan mengebut ke arah api di kawah dan lidah api ke atas dengan indahnya.

“Marilah keluar dan kita putuskan urusan ini di atas bumi.”

Wanita itu lalu bertindak keluar, diikuti oleh Beng Beng Hoatsu dan kedua muridnya. Di luar gua, Huo Mo-li berdiri menanti mereka dan dengan tolak pinggang ia memandang Beng Beng Hoatsu.

“Beng Beng Hoatsu, orang tua ingin mampus! Tak perlu aku bertanya lagi, kalau kau bisa menangkan aku, tentu gua itu kau minta dan aku kau usir dari situ, bukan?”

“Itu hanya pembalas budi yang telah kauberikan padaku sepuluh tahun yang lalu.”

“Ya, ya! Tak perlu kau sebut-sebut lagi hal itu! Yang perlu dirundingkan sekarang ialah, bagaimana kalau kau yang kalah lagi?”

“Ha, ha, ha! Huo Mo-li, jangan seperti anak kecil! Kalau aku kalah lagi di tanganmu, kaubunuh saja aku, habis perkara!”

“Ah kau orang tua memang benar-benar sudah bosan hidup! Yang dibicarakan hanya mati dan mati saja. Aku sendiri ingin hidup selaksa tahun lagi! Beginilah, kalau kau kalah lagi, maka murid perempuanmu itu harus ditinggal di sini untuk sepuluh tahun! Bagaimana?”

Beng Beng Hoatsu memandang kepada Lian Eng, kemudian ia menatap wajah Siauw Ma yang duduk di atas batu karang di dekat gadis kecil itu. Kemudian ia mengangguk-angguk,

“Baik, baik! Kalau aku kalah, kaubawalah Lian Eng, karena akupun sudah mempunyai murid baru. Untuk apa terlalu banyak murid? Bahkan, kalau kau yang kalah, kaupun boleh ambil Lian Eng dan tinggalkan tempat ini.” “Enak saja kau bicara. Siapa yang sudi tinggalkan tempat ini? Jangan kau mimpi!”

Beng Beng Hoatsu tertawa besar dan tiba-tiba saja tangan kanannya telah menggenggam sebilah pedang yang panjang dan tajam berkilauan. Siauw Ma kagum sekali melihat pedang itu dan ia heran karena tidak tahu dari mana pertapa gemuk yang kini menjadi suhunya itu mencabut pedang itu, tahu-tahu sudah berada di tangannya bagaikan ilmu sihir saja!

Huo Mo-li tertawa nyaring dan sebaris giginya yang putih bersih bagaikan mutiara itu tampak berkilauan.

“Kau hendak mengagulkan Sin-liong-kiam-sut? Baik, baik! Nah, coba kauhadapilah ilmu pukulanku yang baru.”

Beng Beng Hoatsu tahu baik akan kepandaian baru wanita itu, karena iapun tahu bahwa selama sepuluh tahun ini Huo Mo-li telah mencipta dan memperbaiki Ilmu silatnya Huo-mo-kun- hwatnya, yaitu Ilmu Silat Iblis Api yang luar biasa dahsyatnya. Selama sepuluh tahun itu Huo Mo-li telah dapat mencipta pukulan Huo-mo-kang yang jika digunakan dapat menghancurkan musuh karena keras dan panasnya. Bahkan angin pukulannya saja mengeluarkan hawa panas bagai lidah api menjilat dan dapat menghanguskan kulit tubuh lawan!

Tapi Beng Beng Hoatsu tidak gentar karena ia yakin bahwa Sin- liong-kun-hwat dan Sin-liong-kiam-sut yang telah dipelajari sempurna itu akan dapat menghadapi kehebatan si iblis api wanita. Dengan tenang tapi waspada Beng Beng Hoatsu berseru keras.

“Huo Mo-li, majulah!”

“Awas pukulan, Beng Beng!” jawab Huo Mo-li dan tubuhnya berkelebat cepat ke arah pertapa gemuk pendek itu dalam serangan maut yang berbahaya!

Tapi Beng Beng biarpun tampaknya gemuk sekali, ternyata gerakannya tidak kalah gesit dan ginkangnya tidak kalah tinggi. Tubuhnya juga berkelebat cepat hingga merupakan bayangan saja, sedangkan pedang di tangannya mulai menjalankan gerakan-gerakan Sin-liong-kiam-sut yakni Ilmu Pedang Naga Dewa hingga sinar pedang berkilauan mengurung bayangan- bayangan tubuhnya!

Biarpun Huo Mo-li tidak bersenjata namun dari kedua lengan dan kepalan tangannya yang memukul atau menangkis keluarlah tenaga lwee-kang yang sedemikian sempurnanya hingga mengeluarkan hawa panas seakan-akan dari kedua lengan itu keluar api yang terbawa angin pukulan. Dengan Huo-mo-kang yang hebat ini ia berani menangkis setiap senjata tajam karena sebelum kulit lengannya beradu dengan senjata lawan, terlebih dulu angin gerakannya dapat menampar senjata itu dengan demikian kerasnya, hingga kalau bukan orang yang berkepandaian tinggi, angin pukulan ini saja sudah cukup untuk membuat senjata musuh terlempar dan terlepas dari pegangan! Sepuluh tahun yang lalu gua yang kini ditinggali oleh Huo Mo-li dan disebut Istana Dewi Api, adalah gua tempat Beng Beng Hoatsu bertapa. Gua itu diberi nama gua sumber api dan pertapa itu tinggal berpuluh tahun di situ dengan senangnya.

Tapi pada suatu hari datanglah Huo Mo-li, seorang tokoh wanita yang namanya tak kalah terkenalnya dengan Beng Beng Hoatsu sendiri dan yang telah kenal pula kepada pertapa itu. Huo Mo-li melihat gua itu, jadi ingin tinggal di situ dan ia minta Beng Beng Hoatsu suka mengalah dan menukarkan guanya dengan gua Huo Mo-li di Bukit Harimau Salju.

Tapi Beng Beng Hoatsu tidak mau menerima permintaan ini hingga mengadu kepandaian dengan taruhan gua itu. Setelah bertanding sehari semalam, akhirnya Beng Beng Hoatsu terpaksa mengakui kehebatan ilmu lwee-kang Huo Mo-li dan ia dikalahkan dengan mendapat luka dalam yang agak berat, biarpun Huo Mo- li sendiripun tak luput menderita luka dalam yang ringan.

Huo Mo-li lalu ambil tempat itu sebagai tempat kediamannya dan Beng Beng Hoatsu tinggal di gua Harimau Salju dengan janji sepuluh tahun kemudian mereka akan mencoba ilmu kepandaian lagi. Gua dan bukit itu oleh Huo Mo-li lalu diubah namanya menjadi Bukit dan Gua Dewi Api, sedangkan ia sendiri oleh tokoh- tokoh persilatan yang bertingkat tinggi disebut Huo Mo-li atau Setan Api Wanita!

Siauw Ma yang duduk dekat Lian Eng melihat pertempuran kedua orang lihai itu dengan kagum dan dada berdebar. Juga Lian Eng duduk bengong sambil memandang ke arah dua bayangan orang yang kini bergerak demikian cepatnya hingga merupakan dua gunduk sinar.

Kedua pemuda-pemudi ini dapat menerka bahwa gundukan sinar putih itu tentu Huo Mo-li dan gundukan sinar merah adalah Beng Beng Hoatsu karena Huo Mo-li mengenakan baju putih dan pakaian Beng Beng Hoatsu berwarna merah. Di antara dua gundukan sinar putih dan merah itu, kadang-kadang tampak sinar kehijau-hijauan yang bergerak panjang, melingkar-lingkar bagaikan seekor naga sakti. Itu adalah po-kiam atau pedang mustika di tangan Beng Beng Hoatsu!

Siauw Ma dan Lian Eng tak dapat melihat bagaimana jalan pertempuran itu, tapi Huo Mo-li dan Beng Beng Hoatsu yang sedang bertempur merasa kaget dan diam-diam memuji kehebatan masing-masing. Pernah sekali terjadi gerakan pedang Beng Beng Hoatsu demikian tiba-tiba perubahannya dan demikian cepat gerakannya hingga berhasil menusuk tangan Huo Mo-li bagian atas di dekat pundaknya.

Tapi alangkah terkejut pertapa gemuk itu ketika ujung pedangnya meleset dan tidak melukai lawannya! Padahal pedangnya adalah sebuah pedang mustika yang ampuh dan gerakannya tadi dilakukan dengan tenaga dalam sepenuhnya.

Tak mungkin ilmu kebal, biar yang bagaimana tinggi jugapun, dapat menahan serangannya tadi. Maka dapatlah ia menduga bahwa pakaian Huo Mo-li yang tadi tidak termakan api, adalah pakaian wasiat yang terbuat dari pada bahan mujijat hingga dapat menahan serangan po-kiam yang bagaimana ampuh dan tajampun! Diam-diam ia terkejut dan kagum sekali.

Sebaliknya pernah juga pukulan Huo-mo-kang dari tangan kanan Huo Mo-li menyerang ke arah dada Beng Beng Hoatsu dan baju pertapa itu telah terkena angin pukulan dan robek, agak hangus bagai terbakar, namun dada pertapa itu sendiri dapat terhindar dari bahaya pukulan karena gerakan Beng Beng Hoatsu yang bersilat dengan Ilmu silat Sin-liong atau Naga Dewa itu memang sungguh luar biasa dan tak terduga perubahannya.

Huo Mo-li menjadi terkejut sekali karena tak pernah ia menduga pukulannya yang paling hebat dan tak mungkin dihindarkan oleh musuh yang bagaimana tangguhpun, kini hanya dapat merobek baju Beng Beng saja! Maka kedua orang itu maju menyerang makin sengit, hingga kedua orang murid yang menonton perkelahian itu makin menjadi pusing karena pandangan mereka kabur.

“Suhu pasti menang!” tiba-tiba Siauw Ma berkata kepada Lian Eng karena masih belum lenyap marah dan penasarannya kepada Huo Mo-li.

Tapi tiba-tiba Lian Eng sebagai jawaban menggerakkan kedua tangannya, tangan kiri terangkat dengan jari-jari lempeng ke atas, sedang tangan kanan dirobohkan. Siauw Ma mengerti bahwa maksudnya ialah, bahwa Huo Mo-li yang akan menang, karena gundukan sinar dari pakaian Huo Mo-li berada di kiri. Siauw Ma heran sekali. Mengapa gadis gagap ini membela Huo Mo-li?

“Huo Mo-li jahat, aku dipukulnya. Beng Beng Hoatsu baik dan gagah,” katanya lagi memperkuat belaannya.

Lian Eng cemberut, lalu gerak-gerakkan tangannya. Mula-mula Siauw Ma tidak mengerti maksudnya hingga gadis itu dengan gemas dan mata melotot harus beberapa kali ulangi gerakannya itu. Akhirnya mengerti juga Siauw Ma bahwa Lian Eng hendak berkata demikian,

“Salahmu sendiri dipukul karena kau lancang memasuki kamarnya, Beng Beng Hoatsu orangnya galak dan soal kegagahan masih kalah dengan Huo Mo-li!”

Karena perbedaan paham ini, keduanya lalu duduk diam dan tidak mau saling pandang. Mulut keduanya cemberut tanda hati kesal. Ketika mereka memandang ke arah pertempuran, ternyata bahwa perkelahian masih berjalan seru.

Tiba-tiba kedua anak muda itu melihat segunduk sinar biru ikut bergerak di antara kedua sinar yang sedang bertempur itu dan pada saat itu terdengar suara nyaring.

“Kalian dua orang gila berhentilah dulu! Beng Beng orang tua malas, hayo kaukembalikan cucu perempuan Souw Cin Ok!”

Setelah terdengar suara ini, ke tiga gundukan sinar itu tiba-tiba berhenti bergerak dan di antara Huo Mo-li dan Beng Beng Hoatsu tampak berdiri seorang kakek tinggi kurus berbaju biru dan cambang bauknya putih berkibar tertiup angin karena panjangnya sampai ke perut! Di tangan kirinya terdapat sebatang tongkat kecil.

Pada saat itu tahu-tahu di belakang Siauw Ma dan Lian Eng telah berdiri Souw Cin Ok! Lian Eng segera menghampiri engkongnya dan menjatuhkan diri berlutut. Souw Cin Ok mengelus-elus rambut kepala cucunya dengan hati girang karena ternyata cucunya itu sehat selamat tak kurang suatu apa.

“Eh, eh, Hwat Kong Tosu si tua bangka! Kau datang juga dan berani mengganggu permainan kami mau apakah?” Beng Beng Hoatsu menegur dan kedua biji matanya terputar-putar aneh.

“Ha, ha, ha! Beng Beng si malas tak tahu diri. Kaulah yang keterlaluan! Kau mengganggu muridku Souw Cin Ok. Itu sih tidak apa karena aku bahkan merasa bersyukur kau suka memberi petunjuk kepada muridku.”

“Hm, kalau kau datang untuk membalaskan muridmu, kau orang tolol! Tapi kalau datangmu bukan untuk itu, habis ada apa lagikah?” tanya Beng Beng Hoatsu dengan mendongkol.

Tiba-tiba Huo Mo-li tertawa, suaranya nyaring dan merdu tapi menyeramkan bulu tengkuk Souw Cin Ok yang baru ini melihat wanita hebat itu.

“Sungguh lucu! Sungguh kebetulan sekali! Tiga tokoh besar dari Pegunungan Thang-la dengan tak tersangka-sangka bertemu di sini!” Hoat Kong Tosu menjura ke arah Huo Mo-li.

“Memang telah lama kita tidak saling berjumpa. Setelah puluhan tahun itu, ternyata Huo Mo-li makin cantik dan makin gila saja!”

Tentu saja Souw Cin Ok dan kedua anak, muda hanya dapat memandang bengong mendengar pembicaraan antara ketiga orang-orang tua yang main-main seperti tiga orang kanak-kanak saja. Tapi Souw Cin Ok terkejut sekali karena kini ia dapat menduga siapa adanya wanita itu.

Ia telah mendengar nama Huo Mo-li sebagai seorang iblis wanita yang lihai sekali. Kini melihat bahwa iblis itu hanya seorang wanita yang demikian cantiknya hingga tampak seperti seorang gadis berusia duapuluh tahun, ia memandang dengan kagum.

“Beng Beng, mengapa kaupaksa anak perempuan ini menjadi muridmu? Tidak becuskah kau mencari murid sendiri? Ia dibawa dari dunia ramai ke sini untuk menjadi muridku.”

Kembali terdengar ketawa nyaring dari Huo Mo-li. “Nah, nah! Memang Beng Beng hari ini sedang sial! Baru saja berkelahi dengan aku beberapa ratus jurus dan belum ada yang kalah atau menang, sekarang datang Hwat Kong mengajak berkelahi! He, Beng Beng! Dosamu sudah terlalu besar barangkali.”

Beng Beng Hoatsu sendiri tertawa dan matanya berputar-putar cepat. “Hwat Kong, aku dengar kau telah mencipta ilmu tongkat Ouw-coa-koai-tung-hwat yang lihai. Apakah kau mau ajar anak perempuan itu main tongkat? Ah, tidak pantas sekali!” Terdengar Huo Mo-li tertawa lagi, mengejek Hwat Kong.

“Biarpun hanya tongkat, tapi tidak kalah indahnya dengan Sin- liong-kiam-sut darimu!” Hwat Kong balas menyindir.

“Kalau begitu, mengapa tidak main-main barang seratus jurus? Yang lebih indah itu yang berhak menjadi guru, tapi harus berhadapan dengan aku dulu!”

“Tidak adil, tidak adil!” Beng Beng Hoatsu tertawa. “Kau setan perempuan mau enak sendiri saja. Baiknya kita maju bertiga berbareng dan siapa di antara bertiga yang paling indah ilmunya berhak mengajar!”

“Gila! Kau dua orang laki-laki tua bangka mau mengeroyok aku?” Huo Mo-li cemberut dan wajahnya tampak makin manis.

Hwat Kong yang lebih sabar dan panjang pikiran berkata,

“Sungguh memalukan! Masa kita yang disebut tiga setan dari Thang-la saling hantam sendiri hanya karena berebut murid? Baiklah dicari jalan yang lebih menyenangkan.”

Sebenarnya ketiga tokoh persilatan ini disebut Thang-la Sam-sian atau Tiga Dewa dari Thang-la. Mereka bertiga merupakan tokoh- tokoh tertinggi di kalangan persilatan dan nama mereka dikenal di antara para ahli silat kelas tinggi dan para locianpwe sebagai orang-orang aneh yang berilmu tinggi. Ahli-ahli silat golongan muda takkan kenal nama mereka karena sudah puluhan tahun mereka mengasingkan diri di atas Pegunungan Thang-la. Ketiga orang ini memang saling kenal puluhan tahun yang lalu sebelum mereka menjadi orang pertapaan, dan mereka boleh dibilang satu tingkat dalam hal ilmu kepandaian, hanya mereka mempunyai kehebatan masing-masing. Beng Beng Hoatsu terkenal dengan Sin-liong-kiam-sut, ilmu silat pedang yang sudah mencapai tingkat tinggi sekali.

Huo Mo-li hebat dengan ilmu silatnya Huo-mo-kang, yakni tenaga api yang lihai sekali dari kedua lengannya. Sedangkan Hwat Kong yang dulu terkenal sebagai ahli dari semua cabang persilatan, akhir-akhir ini mencipta ilmu silat tongkat yang disebut Ouw-coa- koai-tung-hwat atau Ilmu Tongkat Ular Hitam. Ilmu silat tongkat ini memang lihai sekali dan belum pernah terkalahkan.

Mendengar pendapat Hwat Kong, Beng Beng menghela napas dan berkata kepada Huo Mo-li,

“Memang kau dan aku adalah orang-orang bodoh dan pengetahuan kita hanya sampai di ujung jari saja. Memang tiada gunanya kita bertiga ribut untuk memperebutkan hal-hal remeh. Setelah kupikir-pikir, biarlah kau tinggal di gua apimu itu, karena sebenarnya akupun sudah biasa dan senang tinggal di gua es.

Setelah sepuluh tahun dibekukan di sana, agaknya aku takkan dapat tahan selalu dijilat api itu. Hanya mengenai Lian Eng, gadis kecil gagu itu, entah bagaimana baiknya untuk diatur, coba kaupecahkan persoalan ini dengan otakmu yang encer, Hwat Kong toyu!” Hwat Kong kempit tongkatnya memandang ke arah Lian Eng yang mendengarkan semua itu dengan mata berseri. Lalu tosu tinggi kurus itu raba-raba jenggotnya.

“Kita ini orang-orang tua, harus berlaku adil, jangan seperti orang- orang muda yang menuruti napsu sendiri belaka. Usulku begini, asal pengangkatan guru biarlah kuserahkan kepada anak yang bersangkutan sendiri. Biarlah gadis gagu itu memilih. Cin Ok, suruh cucumu ke sini!”

Dengan gerak tangan Souw Cin Ok menyuruh Lian Eng maju menghampiri tiga orang aneh itu. Lian Eng maju dengan tabah dan sedikitpun tidak memperlihatkan wajah takut.

“Bagaimana pendapat kalian dengan usulku?” tanya Hwat Kong. Beng Beng mengangguk-angguk dan Huo Mo-li tersenyum.

“Kau makin lemah lembut saja, terlampau dipengaruhi perasaan. Pantas saja tubuhmu makin kurus kering!” Huo Mo-li menegur Hwat Kong yang diganda tertawa saja.

“Bagaimana, akurkah!” tanyanya.

Huo Mo-li dan Beng Beng menyatakan setuju.

“Nah, dengarlah kau, anak gagu. Coba kaupilih sendiri, di antara kami bertiga orang-orang gila ini, siapa yang kaupilih untuk menjadi gurumu?” kata Hwat Kong kepada Lian Eng. Gadis itu tadinya hendak memilih Hwat Kong karena tahu bahwa orang tua itu adalah suhu dari engkongnya. Tapi karena sudah dua kali orang tua tinggi kurus itu menyebutnya “anak gagu”, ia menjadi tak senang, apalagi ketika dilihatnya betapa Huo Mo-li pernah memuji kecantikannya dan pernah menyatakan bahwa suka padanya, maka kini tak ragu-ragu lagi gadis kecil itu maju dan berlutut di depan Huo Mo-li sambil mengangguk-anggukkan kepalanya!

Hwat Kong Tosu tertawa bergelak-gelak dan memandang kepada Beng Beng Hoatsu.

“Dasar perempuan, bagaimanapun juga tentu memilih kaumnya sendiri! Ah, kitalah yang sial, tidak laku untuk mendapat murid baik, Beng Beng.”

Beng Beng menjawab, “Jangan berkata begitu, lihatlah di sana itu, bukankah dia juga murid yang cukup baik?” ia menunjuk Siauw Ma yang segera maju berlutut.

Hwat Kong menatap tajam ke arah pemuda itu dan menghela napas. “Hm, matamu juga tajam benar. Ah, kalau begitu, akulah yang sial. Cin Ok memang murid baik, tapi ia sudah tua untuk dapat mempelajari ilmu tongkatku!” Pertapa tinggi ini menghela napas kecewa.

Pada saat itu, dengan suara hampir berbareng ke tiga orang aneh itu berkata, “Ada orang datang!”

<> Baru saju mulut mereka berhenti berkata, tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan di depan mereka berdiri seorang paderi atau imam yang mengenakan jubah kuning dan di dadanya terdapat lukisan tiga bunga teratai. Juga rambut imam itu diikat menjadi satu di tengah-tengah, ujungnya digunting dan ikatan itu dihias dengan setangkai teratai perak.

Wajahnya angker dan sikapnya agung-agungan. Di pundaknya tampak gagang siang-kiam atau pedang pasangan.

“Siapakah di antara cu-wi yang menjadi ketua Pegunungan Thang-la?” Tiba-tiba saja imam asing itu bertanya dengan suara parau dan dialek barat.

Beng Beng Hoatsu berpaling kepada Hwat Kong Tosu.

“Hwat Kong, kau yang sudah banyak merantau, tahukah kau dari mana datangnya orang yang berpakaian seperti ini?”

Hwat Kong maju menghampiri iman itu dan berjalan mengelilinginya seperti seorang yang sedang menaksir-naksir sebuah benda asing. Juga Huo Mo-li maju dan melihat-lihat pakaian imam itu dari segala jurusan. Imam itu ikut berputar dan memandang dengan curiga.

Akhirnya Hwat Kong berhenti dan menjawab Beng Beng Hoatsu.

“Akupun baru kali ini melihatnya, tapi aku pernah mendengar tentang ia. Kalau tidak salah, di perbatasan padang rumput sebelah barat terdapat sebuah Kwan-im-bio, yakni Kelenteng Dewi Kwan-im yang sangat besar dan menjadi pusat dari pada perkumpulan pemuja patung Dewi Kwan-im yang disebut Kwan- im-pai. Melihat lukisan tiga tangkai teratai di atas dada imam ini, boleh jadi sekali dia ini seorang anggauta Kwan-im-pai.”

Imam itu melihat sikap ke tiga orang yang saling mempercakapkan dirinya seolah-olah sedang membicarakan sebuah benda aneh dan nyata sekali tidak memandang mata padanya, tentu saja menjadi marah sekali.