-->

Patung Dewi Kwan Im Jilid 01

Jilid 01

Pegunungan Thang-la mempunyai daerah yang panjangnya ribuan lie dan lebarnya ratusan lie, mempunyai puncak-puncak bukit yang tak terhitung banyaknya. Daerah Tibet memang terkenal sebagai daerah yang kaya akan gunung-gunung

tinggi dan yang sudah diakui mempunyai banyak puncak yang tertinggi di dunia.

Selain Pegunungan Thang-la, masih banyak daerah-daerah pegunungan seperti Kun-lun, Thai-san, dan lain-lain. Tempat- tempat yang sangat tinggi dan sukar dicapai oleh manusia ini dianggap sebagai tempat-tempat keramat kediaman para dewa dan pertapa suci.

Pegunungan Thang-la terletak di sebelah timur Tibet dan di sebelah selatan Kun-lun-san. Dari pegunungan ini banyak terlahir mata air sungai-sungai besar seperti Mekong, Sungai Sai-ween dan lain-lain, juga Sungai Dretsyu yang menjadi permulaan Sungai Yang-tze yang terkenal di Tiongkok.

Di daerah ini memang terjadi perubahan-perubahan iklim yang sangat bertentangan dan menyolok perbedaannya. Pada musim salju maka hawa yang diliputi salju demikian dinginnya hingga air ludah yang diludahkan dari mulut telah beku sebelum tiba di tanah dan jatuhnya mengeluarkan suara seperti batu dijatuhkan! Kadang-kadang hawa dingin bahkan sampai menggigit putus daun telinga orang yang tak terlindung baju tebal. Sebaliknya pada musim panas tempat-tempat yang agak rendah berubah menjadi neraka yang panas sekali, kecuali pada puncak-puncak bukit yang tertinggi, di mana selamanya tertutup salju, baik musim salju maupun musim panas. Hanya bedanya, pada waktu musim panas, maka salju tebal yang menutup puncak menipis.

Selain hawa yang sukar ditahan oleh manusia itu, di daerah Pegunungan Thang-la banyak terdapat binatang-binatang buas. Hutan-hutan di pegunungan yang belum pernah terinjak kaki manusia itu penuh dengan binatang-binatang liar, sedangkan di atas puncak dikabarkan orang banyak terdapat binatang-binatang aneh.

Menurut kata beberapa orang terdapat biruang-biruang salju yang berbulu abu-abu dan harimau salju yang berbulu putih dan sangat ganas. Juga dengan takut-takut dan ngeri beberapa orang di antara mereka tuturkan akan adanya manusia salju, yakni manusia liar yang merupakan setengah manusia setengah monyet besar dan yang berbulu putih pula.

Keadaan yang berbahaya inilah yang membuat tempat itu agak terasing dan orang hanya berani tinggal di kaki-kaki gunung dan hidup mereka sebagian besar menjadi pemburu.

Di antara sekian banyak puncak, yang tertinggi dan terkenal paling banyak binatang buasnya ialah Puncak Harimau Salju. Dari namanya saja orang dapat menduga bahwa di situ banyak terdapat binatang-binatang buas yang aneh. Maka mendengar namanya saja para pemburu sudah menjadi gentar dan tidak berani mendekati bukit itu.

<>

Pada suatu pagi dari dalam sebuah hutan di kaki Gunung Harimau Salju terdengar suara nyanyian bersama yang gembira dan gagah. Nyanyian itu diiringi suara ketukan kayu untuk menjaga irama lagu.

Ternyata mereka adalah serombongan pemburu muda yang bergembira merayakan hasil buruan yang lumayan juga. Mereka terdiri dari tujuh orang muda dan pada saat itu mereka duduk mengelilingi api unggun di atas mana terpanggang daging rusa muda yang masih utuh.

Bau sedap daging panggang itu membuat mereka merasa lapar sekali dan menambah kegembiraan mereka. Sambil menanti matangnya daging itu mereka bernyanyi gembira dan dua orang ketuk-ketuk gagang tombak membuat irama.

“Siauw Ma, hayo nyanyikan sebuah lagu agar daging ini lekas matang!”

“Benar, hayo nyanyi untuk kami, Siauw Ma. Nyanyi Pemburu Di Bukit Salju.”

Orang yang dipanggil Siauw Ma atau Kuda Kecil itu adalah seorang muda yang cakap. Seperti kawan-kawannya, ia memakai pakaian dari kulit yang menutup seluruh tubuhnya. Biarpun musim salju sudah lewat, namun pada pagi hari di tempat itu masih sangat dingin.

Mendengar desakan kawan-kawannya, Siauw Ma segera berdiri dan sambil mengangkat dadanya yang tegap dan bidang ia bernyanyi tunggal. Suaranya nyaring dan jernih, menggema di dalam hutan, menembus di antara daun-daun pohon yang hijau mencari jalan lepas ke angkasa.

Berbaju kulit hasil buruan,

Di tangan tombak peminum darah! Menghitung langkah mengukur jarak Mengintai, merunduk menyelinap, berlari!

Dada berdebar, tombak menggetar Mata bersinar mengintai korban.

Biruang diterjang, harimau diterkam!

Takut? Tak kenal!

Maju terus, tabah tak gentar,

Pemburu di bukit salju yang gagah berani! “Bagus, bagus! Ulangi sekali lagi, Siauw Ma!” “Ya, ulangi…… ulangi……!”

Maka mengema sekali lagi suara nyanyian yang gagah dan indah itu, mencerminkan jiwa pemburu yang tak kenal takut. Maka dagingpun matanglah dan mereka makan dengan lahap dan nikmatnya. Demikianlah sifat pemburu sejati. Kerja keras, semangat menyala, tak kenal takut, dan enak makan nyenyak tidur. Tapi pada waktu berburu dan sedang mengikuti jejak calon kurbannya, ada kalanya seorang pemburu harus berjalan terus turun naik jurang dan keluar masuk hutan sampai dua hari!

Setelah daging rusa yang utuh itu habis dan lenyap ke dalam perut ke tujuh orang itu, mereka melanjutkan percakapan dengan gembira. Empat orang di antara mereka sudah meringkuk di atas tanah dan terdengar dengkur mereka yang keras. Tiga orang termasuk Siauw Ma, masih duduk di dekat api, seorang di antaranya mengisap pipa tembakau.

“Kalian masih ragu-ragu? Aah, mudah-mudahan saja kalian jangan bertemu dengan dia itu,” terdengar si pengisap pipa berkata.

Ia adalah yang tertua di antara kawan-kawannya, berusia kurang lebih empatpuluh tahun, tapi tubuhnya masih kokoh kuat dan sepasang matanya bersinar-sinar. Kumisnya pendek tapi gemuk dan kaku beracungan ke kanan kiri

“Bagaimana kau dapat berjumpa dengan dia, lopeh?” tanya Siauw Ma.

Yang ditanya mengisap pipanya beberapa sedotan 1alu keluarkan asap putih bergulung-gulung ke atas dari mulut dan lubang hidungnya, sambil kedap kedipkan mata dengan nikmat. Ia telah berpengalaman dan tahu pula menahan cerita karena dengan demikian akan makin tertariklah pendengarnya. Kemudian setelah menengok ke kanan kiri seakan-akan takut akan sesuatu, ia bercerita.

“Beberapa tahun yang lalu, kau masih belum diperkenankan ikut dengan kami, Siauw Ma, aku berburu dengan empat orang kawan. Karena kawan-kawanku dan aku di masa itu masih muda dan kuat, juga tak kenal arti takut, tepat seperti yang telah kaunyanyikan tadi, Siauw Ma, maka kami berlima mengambil keputusan untuk mendaki Bukit Harimau Salju ini.

“Kami tahu bahwa bukit ini belum pernah dinaiki orang dan bahwa semua pemburu takut menaikinya, tapi seperti kukatakan tadi, kami tak kenal arti takut. Demikianlah, kami berlima lalu naik dari sebelah barat.”

“Bagaimana jalannya, lopeh? Sukarkah? Apakah kau harus gunakan tambang atau cukup dengan tongkat dan kaitan saja? tanya Siauw Ma.

“Dengarkan saja, Siauw Ma. Kau selamanya tidak sabar mendengar cerita orang. Nanti juga kuterangkan tanpa kausela ceritaku.”

“Lopeh benar, Siauw Ma. Dia kan pandai bercerita, dengarkan saja. Teruskanlah, lopeh, dan maafkan Siauw Ma,” kata kawan yang seorang lagi yang memakai topi bulu domba.

Si pengisap pipa melanjutkan ceritanya.

“Memang tidak mudah mendaki Bukit Harimau Salju, terutama dari sini yaitu dari jurusan selatan, agaknya tak mungkin dilalui jalan ke atas yang terhalang banyak jurang dalam. Jangan tanya lagi tentang hutan-hutan yang penuh binatang berbahaya.

“Kudengar di hutan yang tampak kehitam-hitaman dari sini itu penuh dengan ular berbisa. Jangankan kita, sedangkan harimaupun tak berani masuk ke sana. Tapi di antara ke empat jurusan, dari baratlah yang agak mudah.

“Aku katakan mudah sebagai perbandingan dengan jurusan timur, utara, atau selatan yang tak mungkin dilalui itu. Tapi kalau dibandingkan dengan semua jalan pendakian di gunung lain, ah jalan dari barat itu jauh lebih berbahaya dan sukar! Mula-mula kami memasuki hutan di mana terdapat banyak binatang buas.

“Tapi itu masih belum hebat, yang berbahaya sekali ialah rawa- rawa yang atasnya ditumbuhi rumput sehingga tampaknya seperti tanah biasa. Tapi kalau kau salah injak, di bawah rumput itu adalah air campur tanah endut yang dalam sekali!

“Seorang kawan kami yang jalan di depan tiba-tiba saja lenyap dan amblas ke bawah sampai ke leher sebelum ia tahu apa yang terjadi! Untung aku segera melempar tambang kepadanya dan kami berempat berhasil membetotnya keluar dari tanah lumpur yang tak terkira dalamnya itu.

“Sekali kaki masuk ke dalam lumpur itu, jangan kaukira mudah untuk menariknya kembali. Makin keras kau berusaha menariknya, akan makin dalamlah kau tenggelam.” Siauw Ma dan kawannya si topi bulu mendengarkan dengan penuh perhatian. Mendengar keadaan-keadaan yang mengerikan dan berbahaya itu mereka tak merasa gentar, bahkan agaknya tertarik sekali!

“Akhirnya setelah dapat loloskan diri dari berbagai bahaya, kami keluar juga dari hutan itu. Di depan kami terbentang bukit-bukit karang yang tajam dan keras hingga habislah sepatu dan kaos kaki kami!

“Setelah dapat melalui barisan batu karang itu, maka kaki kami sampai luka-luka dan berdarah. Terpaksa kami berhenti untuk merawat luka-luka itu dan makan bekal kami. Kemudian barulah kami melanjutkan perjalanan. Tapi ternyata makin tinggi kami mendaki, makin sukarlah perjalanan.

“Ada jalanan yang terputus oleh sebuah jurang yang tak terkira dalamnya dan mulut jurang itu kurang lebih sepuluh tombak hingga tak mungkin diloncati begitu saja. Kami hampir putus asa, tapi tiba-tiba seorang kawan kami mendapat akal.

“Dengan bergantian kami lempar batu yang diikat dengan ujung tambang ke seberang, dengan harapan mudah-mudahan tambang itu akan menjangkau sesuatu yang kuat untuk menahan tubuh kami. Berpuluh kali kami mencoba, tapi sia-sia, batu itu membawa tambang ke seberang tapi tidak menyangkut apa-apa hingga terpaksa kami tarik kembali. Akhirnya berhasil juga usaha kami. “Batu yang kami lempar dapat melampaui segundukan batu karang dan batu itu menggelinding sedemikian rupa hingga tambang dapat membelit karang. Kami berlima menarik tambang itu sekuatnya untuk mencoba kekuatannya.

“Setelah yakin bahwa tambang itu membelit kuat pada karang di seberang, kami ikatkan ujung yang tertinggal pada sebuah batu karang besar. Maka jadilah sebuah jembatan istimewa yang menghubungkan ke dua seberang.

Kalau orang tidak berhati tabah dan bersemangat besar, tak mungkin berani menyeberang dengan jalan bergantungan pada jembatan tambang itu. Tapi seperti kukatakan tadi, kami berlima masih muda-muda, kuat lagi tabah hingga selamatlah kami sampai di seberang. Kami tinggalkan tambang itu untuk perjalanan pulang nanti.”

Siauw Ma mendengarkan dengan muka berseri. “Aduh senangnya kalau aku dapat ikut mengalaminya.”

Si pengisap pipa memandangnya dengan senang. “Kau seperti aku ketika muda dulu, Siauw Ma.”

“Teruskan, lopeh,” mendesak si topi bulu.

“Kemudian perjalanan harus dilakukan sambil merangkak.” “Sambil merangkak?” kedua anak muda itu bertanya heran. Si pengisap pipa mengangguk-angguk. “Ya, harus merangkak karena untuk jalan kaki sangat berbahaya. Jalan merupakan permukaan batu karang yang tertutup salju hingga menjadi licin sekali, sedangkan mulut jurang ternganga di kanan kiri. Kurang lebih tiga lie kami harus merangkak seperti itu, tapi akhirnya kami tiba di sebuah tempat yang membuat kami berdiri diam terbelalak memandang ke depan tanpa dapat mengeluarkan suara.”

“Apa yang kaulihat, lopeh?” tanya Siauw Ma tertarik sekali.

“Ajaib! Betul-betul satu keajaiban yang sukar dipercaya. Ketika kami berdiri di sana, di depan kami tampak lereng bukit yang hijau dan di sana-sini terbentang luas lembah yang penuh dengan pohon-pohon hijau.

“Beberapa lapangan yang merupakan taman penuh bunga beraneka warna membuat pemandangan yang indah sekali. Tapi biarpun keindahan di situ menyaingi surga, agaknya kami takkan demikian tercengang heran kalau kami tidak melihat peristiwa yang mentakjubkan.”

“Kau melihat apa, lopeh?”

“Di dalam taman bunga terdekat, kami melihat dua makhluk aneh sedang berdiri dengan menggerak-gerakkan tangan. Makhluk itu bentuknya menyerupai manusia, tapi seluruh tubuhnya berbulu putih dan tidak berpakaian sama sekali!”

“Manusia salju?” tanya Siauw Ma. “Mungkin, karena sampai sekarangpun kami tak dapat menetapkan dengan pasti. Ketika kami masih berdiri terheran, kedua makhluk itu lalu bergerak cepat dan ternyata mereka saling serang dengan gerak kaki dan tangan seperti orang bermain silat! Kami tertarik sekali dan maju mendekat.

“Tapi setelah kami berada dekat mereka, tiba-tiba saja mereka berhenti bersilat dan menerjang kami! Kami tidak takut karena kami berlima bukanlah orang-orang lemah yang tidak mengerti silat.

“Kami layani mereka dengan kepalan dan tombak. Tapi mereka itu hebat sekali. Dengan sekali gebrakan saja senjata kami dapat terampas semua dan kedua makhluk itu menuding-nuding ke arah bawah gunung dengan, bersuara cecowetan seperti monyet.

“Kami mengerti bahwa mereka mengusir kami. Ternyata mereka itu tidak jahat karena buktinya tidak membunuh sedangkan kalau mereka mau, mudah saja mereka dapat membunuh kami mengingat akan kepandaian mereka yang luar biasa itu.

“Kami lalu cepat-cepat kembali. Tapi tanpa senjata di tangan kami tak berdaya dan perjalanan dilakukan dengah lebih sengsara.

Bahaya yang mengancam lebih besar dari pada di waktu berangkat, terutama karena kami telah lelah sekali. Dan di dalam perjalanan pulang ini tiga orang kawan kami tewas ketika kami diserang segerombolan anjing liar. Hanya aku dan seorang kawanku dapat mencapai kaki gunung dengan selamat. Setelah si pengisap pipa berhenti bercerita, keadaan menjadi sunyi karena kedua pendengarnya pun berdiam diri, tak kuasa berkata-kata setelah mendengar pangalaman hebat dan aneh itu.

Tiba-tiba Siauw Ma bangkit berdiri dan berkata tegas, “Lopeh, aku akan ulangi pendakianmu itu!”

“Kau? Seorang diri?”

“Kalau ada yang berani ikut, aku akan merasa lebih senang. Tapi kalau tidak ada yang berani, biarlah aku sendiri pergi.”

Si pengisap pipa memandangnya kagum tapi ia berkata dengan khawatir,

“Siauw Ma, perjalanan itu betul-betul berbahaya dan aku tidak tahu apakah ada perubahan yang terjadi pada jalan-jalan itu selama bertahun-tahun ini. Pula, manusia salju itu betul-betul lihai. Tenaga mereka besar sekali dan kepandaian silat mereka tinggi luar biasa!”

Siauw Ma menghampiri sebatang pohon yang besarnya sepelukan tangan kanan. Tiba-tiba ia gerakkan tangan meninju pohon itu. Tinjunya tiba di batang pohon dengan keras sekali hingga tergetar seakan-akan tertumbuk oleh dorongan seekor kerbau mengamuk.

“Sekeras itukah tinju mereka, lopeh?” kata Siauw Ma, kemudian pemuda itu memeluk batang pohon dan gunakan tenaganya menjebol. Dengan keluarkan suara keras akar-akar pohon itu terlepas dari tanah dan terangkat naik! Siauw Ma lemparkan batang pohon itu sampai tiga tombak jauhnya dan ketika jatuh mengeluarkan suara keras hingga empat kawannya yang sedang tidur mendengkur menjadi terkejut dan bangun semua!

“Sekuat itukah mereka, lopeh?” kata Siauw Ma lagi.

Si pengisap pipa mengangguk-angguk dengan kagum. “Kau kuat sekali, Siauw Ma.”

“Dapatkah kiranya aku melawan manusia salju, lopeh?” pemuda itu bertanya gembira dan bangga.

Yang ditanya menyedot pipanya dan memandangnya dengan ragu dan sangsi. “Mungkin dapat, tapi coba perlihatkan kemajuan ilmu silatmu. Ketahuilah, ilmu silat mereka itu lihai sekali, Siauw Ma.”

Siauw Ma segera buka baju kulitnya hingga ia hanya mengenakan baju dalam yang pendek dan ringkas. Tampak jelas tubuhnya yang padat berisi dan bagus bentuknya itu.

Kini semua kawannya telah duduk memandangnya dengan senang. Memang Siauw Ma adalah seorang pemuda yang terkenal pandai bernyanyi dan pandai bersilat pula, biarpun usianya baru enambelas tahun.

Ia adalah anak yatim yang telah di tinggal mati ayahnya ketika masih kecil. Tapi ibunya adalah seorang wanita yang bijaksana dan pandai mendidik putera tunggalnya itu. Juga karena ayah Siauw Ma dulu adalah ketua rombongan pemburu yang terkenal.gagah dan disegani, maka ,jandanya juga mendapat penghormatan dari para pemburu.

Demikianpun Siauw Ma, karena kedudukan ibunya dan karena kemungilannya, menjadi kesayangan para pemburu yang mendidiknya dalam keolaragaan dan cara-cara menjadi pemburu yang gagah.

Pernah seorang guru silat yang merantau bertemu dengan rombongan pemburu itu dan guru silat itu tertarik dan suka sekali kepada rombongan pemburu yang gagah berani itu. Ia bermalam di situ dan dapat melihat Siauw Ma yang masih kecil.

Melihat keadaan anak itu, ia sangat kagum dan ia tahu bahwa anak itu mempunyai bakat yang baik sekali untuk menjadi seorang gagah. Maka dengan suka rela ia tinggal setahun dalam kampung pemburu itu dan mendidik Siauw Ma dalam ilmu silat.

Ternyata guru silat itu adalah seorang ahli silat cabang Siauw-lim, maka tentu saja ilmu silat yang diajarkan juga hebat. Demikianlah, maka setelah menjadi dewasa, selain memiliki tenaga yang besar, juga dalam hal ilmu silat, boleh dibilang Siauw Ma lebih lihai dari pada semua kawannya.

Setelah membuka baju luarnya, Siauw Ma lalu bersilat. Tubuhnya bergerak cepat. Gerak dan langkah kakinya tetap dan kuat serta pukulan-pukulan tangannya mendatangkan angin karena kerasnya. Betul-betul ia gagah dan ke enam kawannya bertepuk tangan memuji. Tapi pada saat Siauw Ma tengah bersilat dan mengirim tendangan berantai yang hebat, tiba-tiba terdengar suara memuji tapi berbareng mencela.

“Bagus ilmu silatmu, sayang sekali kurang matang dan tendangan itu dilakukan salah!”

Siauw Ma masih muda dan darahnya masih panas. Mendengar celaan ini, ia hentikan gerakannya dan cepat menengok ke arah suara.

Ternyata di bawah sebatang pohon berdiri seorang tua yang bertubuh kekar dan berjenggot panjang. Kakek itu berpakaian sebagai petani, tapi di punggungnya tampak gagang pedang.

Di sebelah kirinya berdiri seorang anak perempuan yang berusia paling banyak duabelas tahun. Anak itu kurus dan pucat, jelas tampak tanda-tanda kelelahan dan kesengsaraan, tapi bibirnya tertutup rapat dan sepasang matanya mengeluarkan sinar hingga di wajahnya yang cantik itu terbayang si¬kap keras dan ketetapan hati yang luar biasa.

Siauw Ma adalah scorang pemburu yang belum pernah menjelajah dunia dan pengalamannya masih dangkal sekali. Melihat bahwa orang yang berani mencela permainan silatnya hanya seorang petani tua, biarpun membawa-bawa pedang, ia merasa penasaran dan mendongkol sekali! “Eh, pencangkul tanah kering! Kenapa kau berani katakan ilmu silatku kurang matang, dan apa yang salah dengan tendanganku tadi?” tegurnya dengan mata melotot.

Kakek itu memandangnya dengan mata berseri dan mulut tersenyum. “Kau baru belajar paling banyak setahun, mana ilmu silatmu bisa matang? Dan tendanganmu tadi, mungkin untuk menendang biruang atau harimau dapat berhasil baik, tapi kalau untuk menendang orang yang mengerti sedikit saja ilmu silat, tentu takkan berhasil!”

“Begitukah? Dan dapatkah kaubuktikan omonganmu ini, orang tua?”

“Kau mau bukti?” Kemudian kakek itu memandang anak perempuan di sebelahnya dan berkata. “Eh, Lian Eng, kau sudah lihat tendangan tadi?”

Gadis kecil itu mengangguk.

“Orang mau minta bukti bahwa tendangan itu tak berguna, kau bisa buktikan, bukan?”

Gadis itu sekali lagi mengangguk.

Siauw Ma merasa gemas sekali, nyata orang telah memandang rendah. Masa ia akan diadu dengan gadis cilik kurus lemah itu!

Sementara itu, kawan-kawannya yang tadinya hendak mencegah Siauw Ma berlaku kasar, segera menunda maksudnya melihat betapa kakek itu menghina Siauw Ma. Juga si pengisap pipa yang telah berdiri dan hendak menyambut kakek itu secara ramah dan baik-baik, tunda maksud baiknya karena ia juga merasa penasaran.

Siauw Ma, kebanggaan pemburu, anak muda yang gagah perkasa itu hendak diadu dengan gadis cilik ini?

Ah, ia harus mencegahnya! Mungkin dalam kemarahannya, Siauw Ma sampai salah tangan membunuhnya dan ia harus cegah hal ini. Seorang pemuda gagah tidak seharusnya membunuh seorang gadis kecil yang lemah tak berdaya, biar dalam pertempuran adil sekalipun!

“Siauw Ma, jangan layani hinaan orang,” tegurnya kepada pemuda itu, lalu si pengisap pipa menghadapi kakek itu.

“Orang tua gagah, kalau benar kepandaian Siauw Ma ada salahnya, harap kau orang tua suka memberi petunjuk padanya, janganlah menghina dia dengan menyuruh ia memukul gadis kecil ini, Siauw Ma bukanlah seorang pengecut.”

Petani tua itu usap-usap jenggotnya dan mukanya berseri melihat sikap dan mendengar ucapan si pengisap pipa yang menunjukkan sifat laki-laki dan kejujuran itu.

“Siapa bilang dia pengecut? Anak muda ini minta bukti bahwa tendangannya itu tiada guna, dan aku menyuruh cucuku ini memberi bukti padanya. Apa salahnya?”

“Kau gegabah sekali, orang tua. Tendangan Siauw Ma sangat kuat dan cukup keras untuk merobohkan seekor kerbau dengan dua tiga kali tendang saja. Masa kau hendak suruh cucu perempuanmu yang kecil dan lemah ini untuk mengujinya? Apakah itu tidak berbahaya?” Si pengisap pipa membantah lagi.

“Sobat baik, kalau berbahaya masa aku menjerumuskan cucuku sendiri? Kami tidak hendak menghina pemuda ini, karena kalau ia satu kali saja dapat berhasil menendang cucu perempuanku, barulah ia boleh membanggakan ilmu tendangnya dan barulah ia terhitung seorang muda berkepandaian tinggi!”

“Apa susahnya menendang dia?” Siauw Ma berteriak marah. “Mari, mari, kau yang kurus dan pucat ini, ke sinilah. Hati-hatilah kau menghindari tendanganku dan jangan menangis kalau kena tendang!”

Gadis kecil itu tersenyum dan loncat ke tengah lapang lalu gunakan jari telunjuknya untuk menuding-nuding hidung sendiri sambil leletkan lidah kepada Siauw Ma dengan sikap yang sangat mengejek dan mempermainkan. Melihat kelucuan gadis kecil itu, semua orang tertawa hingga Siauw Ma menjadi makin marah.

Ia pasang kuda-kuda lalu berseru keras. “Awas tendangan!” kaki kirinya diayun ke arah lutut gadis itu.

Biarpun hatinya panas dan marah, namun jiwa jantannya masih tidak mengizinkannya untuk mencelakakan gadis itu maka ia menendang dengan tenaga dua bagian saja, tapi cukup cepat hingga ia merasa pasti bahwa tendangan perlahan ini akan cukup membuktikan kelihaiannya. Siapa kira dengan hanya kisarkan sedikit kaki kanannya, Lian Eng telah dapat kelit tendangannya dengan mudah sekali. Kembali gadis itu leletkan lidah padanya.

“Anak muda, jangan sungkan-sungkan. Tendanglah sekuatmu, kutanggung bukan dia yang akan kena tendang, tapi kau sendirilah yang akan terjungkal!” kakek petani itu berkata.

Siauw Ma makin marah, tapi ia masih tekan perasaannya dan mengirim tendangan beruntun tiga kali dengan tenaga setengah karena ia yakin kali ini pasti berhasil. Tapi kembali ia kecele karena gadis kecil itu dapat loncat ke sana-sini dan hindarkan tendangan berantai itu dengan mudah saja dan sedikitpun tidak kelihatan gugup.

Setelah berhasil meluputkan diri dari tendangan, Lian Eng gunakan telunjuknya untuk tekan-tekan hidungnya yang mancung hingga hidung itu melesek dan pesek dan lidahnya dileletkan lagi!

Tentu saja Siauw Ma menjadi marah sekali. Muka menjadi merah karena malu dan marah sedangkan dadanya serasa hendak meledak. Ia maju dan kini kerahkan semua tenaga di kaki kiri dan kirim tendangan geledek sambil berseru.

“Awas tendangan maut!”

Lian Eng dengan senyum masih di bibir berkelit ke samping dan pada saat kaki Siauw Ma menyambar di sampingnya, ia ulur tangannya yang kecil dan putih lalu dorong kaki itu ke atas terus didorong lagi ke belakang hingga tidak ampun lagi tubuh Siauw Ma melayang ke belakang beberapa kaki dan jatuh terjungkal dan bergulingan!

Lian Eng berdiri sambil tepuk-tepuk tangannya. Para pemburu berdiri tercengang dan kagum. Tak disangka sadikit juga bahwa Siauw Ma yang mereka banggakan itu dipermainkan demikian rupa oleh seorang gadis kecil lemah dan pucat.

Sebagai orang-orang jujur para pemburu itu bertepuk tangan memuji kepandaian gadis cilik itu. Hal ini membuat hati Siauw Ma makin gemas dan mendongkol, apa lagi ketika dilihatnya gadis kecil itu tersenyum dengan manisnya dan mulutnya cengar-cengir sambil telunjuknya menuding-nuding ke arah Siauw Ma seakan sedang mentertawakan sesuatu yang lucu!

Dengan marah yang meluap-luap Siauw Ma meloncat maju dan angkat tangan hendak menyerang, tapi entah mengapa, tiba-tiba ia berhenti dan tidak lanjutkan serangannya. Ia lihat anak itu demikian mungil dan manis, juga tubuhnya demikian lemah tampaknya, maka hatinya tidak tega untuk menyerang. Ia lalu menghadapi empek tua itu sambil berkata marah.

“Hei, pencangkul tanah tua! Kalau kau benar-benar seorang laki- laki, janganlah kau bersembunyi di balik cucumu! Kau majulah sendiri untuk buktikan bahwa ilmu kepandaianku rendah dan salah. Majulah dan mari kita coba-coba sebagai laki-laki sejati.”

Siauw Ma marah sekali dan tubuhnya sampai menggigil karena menahan nafsu marahnya. Kakek itu tertawa bergelak-gelak, mukanya berseri gembira dan ia memandang kepada Siauw Ma dengan kagum. Ia suka sekali sikap jantan dari pemuda itu biarpun pemuda itu ia anggap sombong dan sembrono.

“Aku Souw Cin Ok selama menjadi orang belum pernah membohong!” katanya dengan suara keras, tetapi senyumnya masih belum meninggalkan wajahnya. “Memang betul seperti yang kukatakan tadi ilmu silatmu masih mentah dan jauh dari pada sempurna. Kalau kau mau bukti, sekarang begini saja.

“Coba kau dan kawan-kawanmu maju mengeroyokku. Kalau aku sampai kena terpukul atau tertendang satu kali saja, aku menyerah kalah dan kata-kataku tadi akan kutarik kembali dengan pernyataan maaf. Nah, mulailah kalian bertujuh menyerangku!”

Para pemburu itu adalah orang-orang gagah yang setiap hari menghadapi bahaya di dalam hutan dan yang sering bertempur dengan binatang buas hingga hati mereka menjadi tabah dan berwatak keras tidak mau kalah.

Kini mendengar tantangan seorang kakek, mereka merasa heran sekali. Akan tetapi, si pengisap pipa yang sudah banyak pengalaman dan dari gerak-gerik anak perempuan itu telah maklum bahwa kakek ini tentu memiliki kepandaian tinggi, tidak ragu-ragu lagi dan berkata kepada kawan-kawannya. “Ada orang gagah hendak memberi petunjuk, mengapa sangsi dan ragu-ragu? Hayo, majulah dan mari kita lihat sampai di mana kelihaiannya!”

Lalu dengan pipanya yang panjang ia menyerang. Ternyata pipa itu dapat digunakan sebagai senjata yang ampuh karena dipakai menotok jalan darah.

Siauw Ma dan kawan-kawannya lalu maju berbareng mengeroyok. Biarpun mereka itu bergerak dengan kasar dan sungguh-sungguh, namun sedikitpun tiada terkandung dalam hati mereka untuk mencelakakan orang tua itu, maksud mereka hanya ingin merobohkannya untuk mendapat kemenangan.

Dengan demikian sikap mereka itu tiada ubahnya seperti anak- anak yang sedang bermain-main dan haus akan kemenangan. Demikianpun Siauw Ma. Karena ia tadi dicela ilmu tendangannya, kini ia khusus gunakan ilmu tendangan untuk mencoba merobohkan orang tua itu.

Terhadap orang tua itu yang juga seorang laki-laki, Siauw Ma tidak bersikap ragu-ragu lagi dan ia kerahkan semua tenaga serta keluarkan seluruh kepandaiannya.

Sebetulnya tendangan berantai yang dilakukannya adalah pecahan dari ilmu tendangan Soan-hong-twi atau Tendangan Kitiran Angin, hanya yang belum diyakinkan sempurna jadi hilang daya kekuatan dan kelihatannya. Para pemburu lain menggunakan kepalan tangan untuk menyerang, jadi di antara ke tujuh pengeroyok itu, hanya si pengisap saja yang menggunakan senjata pipa, tapi itupun hanya untuk memperlihatkan kemahirannya menotok belaka, sedangkan semua serangannyapun bukan dilakukan untuk mematikan lawan.

Tapi pada saat mereka maju berbareng, mereka terkejut dan pandangan mata mereka menjadi kabur karena tiba-tiba tubuh kakek petani tua itu berkelebat dan lenyap. Ketika mereka sedang bingung, terdengar suara tertawa kakek itu yang ternyata telah berdiri sambil tolak pinggang di tempat kira-kira tiga tombak jauhnya!

Ketujuh orang pemburu itu lari mengejar dan beramai-ramai menyerang lagi, tapi kini kakek tua yang mengaku bernama Souw Cin Ok itu memperlihatkan ketangkasannya. Ternyata ilmu gin- kangnya sangat tinggi karena di antara sambaran tangan ke tujuh orang lawannya, ia dapat berkelit ke sana ke mari dengan lincah bagaikan burung terbang dengan enaknya menghindari semua pukulan, dorongan, dan tendangan.

Gerakannya demikian cepat hingga kedua tangannya di mata ke tujuh lawannya seolah-olah menjadi berpuluh yang dapat bergerak dan menangkis semua pukulan! Lama-kelamaan ke tujuh orang pemburu itu, terutama Siauw Ma yang menyerang paling hebat, merasa pusing dan pandangan mata mereka berkunang-kunang.

Pada saat itu tiba-tiba terdengar jeritan Lian Eng. Jerit ini demikian ganjil karena suaranya seakan-akan tertahan dan beda dengan suara atau jerit lain anak perempuan. Semua orang berhenti bergerak dan cepat menengok ke arah di mana Lian Eng tadi berdiri. Juga Souw Cin Ok cepat membalik dan memandang.

Alangkah terkejut mereka ketika melihat seekor makhluk berbulu putih yang aneh sekali. Makhluk itu tubuhnya seperti manusia, tapi bulunya putih dan lebih tinggi sedikit setengah kaki dari pada manusia biasa.

Sepasang matanya mengeluarkan cahaya kilat dan hidung serta mulutnya tertutup bulunya yang panjang. Kedua lengan tangannya yang panjang memeluk Lian Eng dan memanggul gadis kecil itu di pundaknya.

Lian Eng mengeluarkan suara ha-ha-hu-hu dan jari-jari tangannya bergerak-gerak ke arah Souw Cin Ok.

Pada saat itu barulah semua pemburu dapat menduga bahwa gadis itu sebenarnya adalah seorang gagu! Ketika si pengisap pipa melihat makhluk yang aneh itu, tubuhnya menggigil dan wajahnya berubah pucat. Tak terasa pipa yang terpegang di tangannya terlepas dan jatuh ke atas tanah.

“Dia….. dia……. manusia salju…..” bisiknya gagap. Kawan- kawannya terkejut dan memandang ketakutan.

Souw Cin Ok melihat cucunya dipanggul oleh makhluk itu dan agaknya hendak dibawa lari, segera berseru panjang dan keras dan tahu-tahu tubuhnya telah meloncat melayang ke arah makhluk itu. “Lepaskan cucuku!” bentaknya lalu menyerang dengan kepalan keras ke arah kepala makhluk itu dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya bergerak hendak merampas cucunya.

Tapi alangkah heran dan terkejutnya ketika makhluk itu ternyata gesit sekali, karena dengan loncat ke samping ia hindarkan pukulan Cin Ok, sedangkan tangan kanannya bergerak menangkis cengkeraman tangan kiri kakek itu! Ketika lengan tangan mereka beradu, Souw Cin Ok merasa betapa tenaga makhluk itu tidak di sebelah bawah tenaganya sendiri.

Souw Cin Ok bersilat dengan hati-hati karena ia tahu bahwa yang berada di depannya dan hendak menculik cucunya bukanlah sembarang binatang. makhluk itu ternyata bergerak menurut gerakan ilmu silat yang sempurna sekali! Baik lwee-kang maupun gin-kangnya, makhluk itu sungguh-sungguh luar biasa hingga diam-diam Souw Cin Ok keluarkan keringat dingin.

Ia perhebat serangannya dan dengan jurus-jurus dari ilmu silat Tat-mo-kun-hwat yang lihai dengan dibarengi dengan tiam-hwat ia mencoba serang jalan darah di tubuh makhluk itu tapi lagi-lagi ia tercengang karena makhluk itu agaknya paham juga akan ilmu silat Tat-mo-kun-hwat dan dapat menangkis atau berkelit dengan menggunakan tipu-tipu dan gerakan ilmu silat itu juga!

Souw Cin Ok makin bingung, karena selain harus kerahkan tenaga dan kepandaian, ia juga harus berhati-hati jangan sampai kena pukul cucunya sendiri yang masih digendong oleh makhluk itu. Tiba-tiba makhluk itu mengeluarkan suara nyaring dan keras, lalu tubuhnya melesat ke depan. Gerakan ini luar biasa cepatnya, tapi Souw Cin Ok cepat loncat mengejar.

Makhluk itu terus lari sambil berloncatan cepat sekali menuju ke atas bukit! Souw Cin Ok terus mengejar tapi ketinggalan.

“Mereka menuju ke Bukit Harimau Salju!'' si pengisap pipa berseru keras.

Tiba-tiba Siauw Ma loncat maju, “Aku akan susul mereka!”

“Jangan, Siauw Ma! Kembalilah kau, berbahaya di sana, Siauw Ma…….! Kembalilah!”

Tapi pemuda itu sudah lari jauh dan tak perdulikan teriakan si pengisap pipa.

Kini semua pemburu berteriak-teriak memanggil nama Siauw Ma dan mereka ikut lari mengejar. Tapi sebentar saja Siauw Ma telah lenyap di antara gerombolan pohon yang lebat hingga kawan- kawannya yang tadinya mengejar menjadi ragu-ragu dan kembali karena memang hutan di atas bukit itu merupakan hutan berbahaya dan belum pernah mereka memasukinya.

“Ah, anak itu memang terlalu keras hatinya! Ia bisa berbuat apa terhadap manusia salju yang hebat itu? Sedangkan Souw Cin Ok lo-enghiong yang sedemikian lihainyapun tidak berdaya terhadap manusia salju itu. Apa pula Siauw Ma yang terhadap gadis cilik itu saja sudah kalah!” Demikianlah, dengan bingung dan cemas ke enam pemburu itu kembali ke kampung mereka dan menceritakan halnya Siauw Ma kepada ibu anak muda itu. Ibunya menangis keras dan bingung juga karena ia tidak tahu bagaimana nasib putera tunggalnya itu. Tapi para pemburu menghiburnya dengan memastikan bahwa Siauw Ma yang cerdik dan berhati baik itu tentu takkan mengalami bencana.

Sampai berhari-hari para pemburu itu tiada hentinya mempercakapkan hal Souw Cin Ok yang lihai, gadis kecil yang luar biasa dan gagu itu, lalu membicarakan Siauw Ma dengan hati makin khawatir.

<>

Souw Cin Ok yang mengejar makhluk aneh yang menculik cucunya itu gunakan ilmu lari Hui-hen-sui yang telah dipelajari berpuluh tahun dan sudah hampir sampai di puncak kesempurnaan, namun ia masih tak mampu mengejar makhluk itu. Setelah sampai dalam sebuah hutan yang gelap, makhluk itu telah lenyap dari pandangan mata hingga hatinya menjadi bingung sekali.

Namun ia tidak putus asa dan terus saja lari ke arah puncak bukit, karena ia yakin bahwa di atas puncak itulah sarang makhluk aneh itu. Ia telah ambil keputusan untuk bertempur mati-matian untuk membela cucunya.

Ketika ia sudah mendekati puncak bukit dan hutan makin liar, tiba- tiba, dari belakang sebuah pohon menyambar keluar bayangan yang besar dan berat menerkamnya! Biarpun sedang lari dengan pikiran bingung, namun Souw Cin Ok yang telah berpengalaman itu tidak kurang waspada.

Ia loncat ke samping sambil berkelit. Ternyata yang menyerangnya adalah seekor biruang yang lain, beruang ini bulunya berwarna putih, hanya moncongnya berwarna hitam dan ujungnya yang merupakan bibir berupa merah darah.

Beruang itu karena tubrukannya meleset, berdiri di atas kaki belakangnya sambil memandang kepada Souw Cin Ok dengan menyeringai memperlihatkan gigi dan calingnya yang hebat dan mengeluarkan suara geraman yang menggetarkan daun-daun pohon.

Tiba-tiba beruang yang telah puas memandang lawannya yang kecil tapi gesit itu mengeluarkan gerengan dan menubruk secepatnya. Kedua kaki depannya dengan kuku keluar merupakan cakar yang menyeramkan bergerak ke arah dada dan leher Souw Cin Ok.

Tapi kakek tua itu cepat loncat ke kanan dan berbareng mengirim tendangan dengan kaki kirinya ke arah perut beruang itu. Heran sekali, beruang yang bertubuh besar dan berat itu ternyata dapat bergerak hebat dan gesit. Sekali ia mengegos saja tendangan Souw Cin Ok yang lihai itu dapat dikelitnya!

Timbul gemas dan marah dalam hati Souw Cin Ok. Hari ini benar- benar ia sedang bernasib malang! Baru saja bertemu dengan seekor makhluk aneh yang menculik cucunya, kini diserang oleh seekor beruang yang luar biasa pula!

Ia lalu gunakan kegesitannya untuk mendahului gerakan binatang itu yang bagaimanapun juga masih kalah jauh olehnya. Sebelum beruang itu dapat memutar tubuh, Souw Cin Ok sudah mendahului loncat ke sebelah kirinya dan kirim tonjokan ke arah lambung.

“Buk!” Dan beruang itu terpental setombak lebih sambil menggereng kesakitan.

Tapi di luar dugaan Souw Cin Ok binatang itu cepat bangun lagi dan tampak masih segar dan gesit seakan-akan pukulannya tadi tidak melukainya. Pada hal pukulan yang digunakan olehnya tadi adalah pukulan Cian-kin-lat atau Tenaga Pukulan Seribu Kati!

Jangankan terpukul tepat pada lambungnya, baru keserempet saja kalau lawannya seorang manusia yang tidak sangat tinggi ilmu lwee-kangnya pasti akan roboh binasa atau setidak-tidaknya mendapat luka dalam yang berat! Tapi binatang itu begitu jatuh lantas bangun lagi seperti juga pukulannya tadi tak berarti apa- apa dan hanya berhasil membikin terpental belaka!

Souw Cin Ok penasaran dan marah sekali. Sambil berseru keras ia mencabut po-kiamnya yang tertempel di punggung karena ia merasa takkan dapat memperoleh kemenangan tanpa menggunakan pedangnya. Beruang itu agaknya tahu akan kelihaian po-kiamnya karena kini ia bercuitan dan gerakannya lambat, seakan-akan sudah siap hendak lari kabur. Tapi Souw Cin Ok tidak mau memberi hati kepadanya. Ia serang beruang itu dengan hebat dan ganas.

Setelah beberapa bacokan dan tusukannya dapat dikelit atau ditangkis, akhirnya ia berhasil juga menusuk tenggorokan beruang itu hingga tembus dan binatang besar itu menggeletak dan mati seketika itu juga.

Dengan terengah-engah Souw Cin Ok duduk mengaso dan membersihkan pedangnya dari darah beruang. Ia memandang ke arah puncak dan bergidik. Ternyata Puncak Harimau Salju itu tertutup salju putih dan keadaannya penuh rahasia, seakan-akan diliputi sesuatu yang menyeramkan dan tak mudah diterka apakah yang terkandung oleh puncak itu.

Dengan tabah Souw Cin Ok lalu melanjutkan perjalanannya. Kini ia melalui jalan yang tertutup salju tipis yang makin ke atas makin tebal. Hawa bukan main dinginnya.

Setelah tiba di tempat yang tinggi di mana salju bertumpuk tebal dan keadaan alam di sekitarnya seakan-akan mati, tanpa tampak sesuatu yang bergerak dan tak terdengar sesuatu yang berbunyi, ia berdiri diam bagaikan patung. Jalan mana yang harus diambil?

Puncak di situ banyak sekali, lebih dari delapan buah, yang satu lebih tinggi dari yang lain. Ternyata bahwa Gunung Harimau Salju adalah besar dan luas, serta mempunyai banyak puncak. Tiba-tiba dari puncak terdekat terdengar suara auman harimau yang ganjil bunyinya. Suara itu demikian rendah menggetarkan hingga Souw Cin Ok yang berhati tabahpun merasa dadanya berdebar. Tapi ia sudah nekat dan telah mengambil keputusan lebih baik mati dari pada tidak berhasil menolong cucunya yang ia sayang.

Maka dengan hati tetap ia lalu lari di atas salju menuju ke puncak dari mana terdengar suara auman keras tadi. Dari tempatnya berdiri tadi, puncak itu tampak dekat dan tidak tinggi. Tapi setelah dijalani ternyata luar biasa jauhnya dan sangat tinggi hingga setelah matahari hampir menghilang di balik puncak tertinggi di barat, ia baru sampai di lereng puncak itu!

Souw Cin Ok merasa lelah sekali karena selain harus lari cepat, ia harus mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk membuat darahnya mengalir cepat hingga tubuhnya menjadi hangat dan dapat melawan serangan hawa dingin yang menyusup tulang.

Ketika ia sedang duduk di atas salju, tiba-tiba telinganya menangkap suara tindakan dari balik karang es. Ia cepat berdiri dan siap sedia menghadap segala kemungkinan.

Ternyata yang ke luar dari balik karang es itu adalah seekor harimau yang luar biasa besarnya. Harimau itu putih meletak, bulunya dan matanya mengeluarkan sinar kuning yang berkeredepan.

Lidahnya yang panjang dan merah terjulur keluar seakan-akan seekor anjing sedang kepanasan! Harimau itu berdiri diam tak bergerak, hanya dadanya turun naik karena pernapasannya dan ke dua matanya memandang ke arah Souw Cin Ok dengan heran dan tak acuh!

“Celaka!” Souw Cin Ok diam-diam mengeluh. Ia melihat harimau itu demikian besar dan tampaknya kuat sekali, jauh lebih kuat dari beruang yang sudah dibunuhnya tadi! Mengalahkan beruang tadi saja sudah sangat sukar baginya, apa pula harimau ini.

Aku harus mendahuluinya, pikirnya. Tanpa ragu-ragu lagi Souw Cin Ok mencabut pedangnya dan dengan cepat sekali ia loncat menerjang dan sabetkan pedangnya ke arah leher harimau itu!

Harimau salju itu tidak gugup, juga tidak berkelit, tapi ekornya yang panjang bergerak menyampok dan pedang Souw Cin Ok beradu dengan ekor itu yang tiba-tiba berubah menjadi keras seperti toya baja!

Souw Cin Ok rasakan tangannya tergetar dan bukan main heran serta kagetnya melihat betapa harimau itu bertempur dengan cara demikian luar biasa, bukan seperti harimau biasa yang mencakar dan mengigit, tapi menggunakan ekor sebagai toya dan gerakannya seakan-akan seorang ahli silat saja!

Ia menyerang lebih hebat, tapi ternyata binatang itu cerdik sekali. Gerakannya lincah dan ekornya yang panjang dan besar berputar cepat mengikuti gerakan pedangnya dan ekor itu dapat melindungi seluruh tubuhnya. Kemudian, setelah beberapa lama mempertahankan diri saja, tiba-tiba harimau itu menjadi marah dan balas menyerang. Dan bukan main hebatnya serangan balasan ini, karena binatang itu sekaligus gunakan cakar, ekor, dan giginya untuk menyerang Souw Cin Ok yang menjadi sibuk mempertahankan diri! Kini harimau itulah yang menjadi penyerang dan perlahan-lahan Souw Cin Ok mundur dengan napas terengah-engah karena sesungguhnya ia sudah lelah sekali dan kini harimau aneh itu menyerang dengan mempergunakan tenaga yang luar biasa besarnya!

Memang kalau dilihat lucu sekali. Ia, Souw Cin Ok yang sudah terkenal di kalangan kang-ouw sebagai seorang tokoh persilatan yang berilmu tinggi dan jarang tandingannya, kini terpaksa mundur dan terdesak melawan seekor harimau saja, terus diserang dengan hebat tanpa dapat membela sedikit juga.

Dan yang membuat Souw Cin Ok tak habis heran dan terkejutnya ialah bahwa seakan-akan harimau ini kenal akan tipu-tipu ilmu pedangnya! Agaknya harimau salju ini tahu ke mana pedangnya hendak bergerak, dan tahu pula perubahan gerakan pedangnya. Diam-diam ia mengeluh dan mulai menipislah harapannya untuk terlolos dari desakan binatang itu

Pada suatu saat ketika ia loncat ke samping menghindarkan kuku harimau yang mencakarnya, ia menusuk ke arah lambung harimau itu dengan gerakan Han-ya-pok-cui atau Goak Menyambar Air, sebuah tipu dari Ilmu Pedang Tat-mo-kam-hwat, tiba-tiba ekor harimau itu menyambar dari samping demikian kerasnya hingga pedang Souw Cin Ok terlepas dari pegangannya! “Matilah aku hari ini!” Kakek tua itu mengeluh dengan kaki lemas karena tenaganya telah habis.

Pada saat itu terdengar bentakan nyaring dan harimau yang sudah siap menubruk itu tiba-tiba terduduk di atas kedua kaki belakangnya dan ekornya digoyang-goyangkan tanda girang! Dari balik batu es yang merupakan karang itu muncullah seorang tua berpakaian seperti pelayan seorang pembesar.

Melihat pakaiannya yang rapi itu, Souw Cin Ok serasa dalam mimpi karena orang itu lebih tepat berdiri dalam sebuah gedung besar di kota melayani seorang pembesar. Tapi pelayan ini berdiri di sini, di bukit salju yang sunyi senyap dan liar penuh binatang buas yang luar biasa!

Pelayan tua itu menjura memberi hormat kepada Souw Cin Ok dan berkata dengan suara hormat.

“Maaf, Souw sianseng, kalau binatang peliharaan kami menganggumu! Majikanku mempersilahkan tuan Souw masuk ke istana. Silahkan ikut saya, tuan Souw.”

Suara dan lagaknya tiada ubahnya seorang pelayan tulen dari seorang pembesar tinggi di kota! Souw Cin Ok berdiri bengong dan bagaikan dalam mimpi ia ikuti pelayan itu.

Pelayan itu dengan perlahan jumput pedang Souw Cin Ok yang terpental tadi dan berikan pedang itu kepada Souw Cin Ok, kemudian sambil berkata kepada harimau salju tadi.

“Hayo kita pulang!” ia berjalan cepat di atas salju! Souw Cin Ok terpaksa gunakan ilmu lari cepat untuk mengejar pelayan itu yang ternyata biarpun kelihatan berjalan biasa saja, namun ia telah maju sangat pesatnya hingga harimau salju itu pun harus lari keras agar jangan tertinggal!

Melihat Souw Cin Ok ketinggalan, pelayan itu berpaling dan berhenti sambil tersenyum. Souw Cin Ok terlihat telah lelah sekali karena merasa betapa perlahan-lahan tubuhnya terasa dingin, tanda bahwa tenaga dalamnya hampir tak kuat menahan serangan hawa dingin. Maka ia berkata,

“Tuan Souw sangat lelah. Silahkan naik ke punggung Pek-houw saja. Hei, Pek-houw, mari sini!”

Harimau salju yang sudah lari di depan lalu putar tubuhnya dan kembali menghampiri pelayan itu sambil goyang-goyangkan ekornya.

“Hayo kau gendong tamu kita yang terhormat ini. Ia sudah lelah sekali!”

Mula-mula harimau itu memandang kepada Souw Cin Ok dengan mata curiga dan marah, tapi ketika sinar matanya bertemu dengan pandang mata Souw Cin Ok yang kini tidak marah dan benci padanya, ia segera menghampiri kakek tua itu dan setelah dekat lalu membalikkan tubuh dan berlutut!

“Naiklah ke punggungnya, tuan Souw!” Pelayan itu mempersilahkan. “Nanti dulu, lauw-te,” jawab Souw Cin Ok. “Sebetulnya siapakah kau dan siapa pula yang menyuruhmu mengundangku?”

Pelayan itu tersenyum. “Saya ialah pelayan, tak lebih tak kurang. Dan karena saya pelayan, maka tentu saya mempunyai majikan. Dan saya diperintah oleh majikan saya untuk menjemput tuan.

“Tentang hal majikanku, biarlah tuan melihat sendiri nanti, karena perintahnya supaya saya segera membawa tuan menghadap dan saya tidak berani buang¬buang waktu di jalan. Silahkan, tuan Souw, si Pek-houw telah siap!”

Terpaksa karena memang sangat lelah, Souw Cin Ok duduk di atas punggung harimau itu seperti naik kuda. Berlawanan dengan kelihatannya, punggung harimau itu hangat dan empuk sekali hingga enak benar duduk di atas punggungnya.

“Pegang lehernya, tuan Souw. Ia akan lari keras!”

Untung pelayan itu memberi peringatan, kalau tidak, mungkin sekali Souw Cin Ok akan terpelanting jatuh karena tiba-tiba saja harimau itu lari dan meloncat ke depan bagaikan terbang cepatnya! Ketika Souw Cin Ok memandang ke arah pelayan itu, ternyata si pelayan telah berada di samping harimau dan lari cepat sekali hingga pelayan dan binatang itu lari berendeng selalu!

Bukan main kagum hati Souw Cin Ok dan diam-diam ia mengaku kalah dalam hal ilmu lari cepat dengan binatang maupun dengan pelayan itu. Kalau baru pelayannya saja kepandaiannya sudah demikian hebat, apa pula majikannya! Demikianlah Souw Cin Ok berpikir sambil pegang leher harimau kuat-kuat agar tak sampai terpelanting jatuh.

Ternyata mereka lari menuju ke puncak sebelah selatan. Tak lama kemudian berhentilah mereka di depan sebuah gua yang berpintu batu besar warna hitam.

Souw Cin Ok heran dan kagum melihat pintu batu itu karena pintu itu terukir indah merupakan dua naga yang berebut mustika. Salju di situ tebal sekali dan hawapun dingin bukan main. Souw Cin Ok merasa betapa muka dan ujung jari tangannya bagaikan mati dan beku.

Pelayan itu menghampiri pintu batu dan dengan tangan kiri ia dorong pintu itu hingga menggeser ke samping, masuk ke dalam gua. Souw Cin Ok taksir bahwa pintu batu itu beratnya paling sedikit tentu seribu kati, tapi dengan mudah saja tangan kiri pelayan itu dapat mendorongnya ke samping!

Pertunjukan kekuatan ini kembali membuat ia diam-diam menghela napas kagum. Harimau itu mendahului mereka meloncat masuk ke dalam gua.

“Tuan Souw, silahkan masuk,” pelayan itu berkata hormat.

Setelah Souw Cin Ok masuk, pelayan itupun masuk ke dalam gua dan dari dalam ia geser pintu itu menutupi gua kembali. Tapi Souw Cin Ok merasa heran sekali karena biarpun ditutup dari luar, di dalam gua itu terang dan ia dapat melihat sekelilingnya dengan jelas. Pelayan itu membawanya melalui sebuah terowongan yang berlantai es tapi berdinding batu hitam.

Terowongan itu panjang, tapi di dalamnya tetap terang, entah dari mana datangnya sinar yang menerangi terowongan itu. Setelah berjalan melalui terowongan yang panjangnya tidak kurang dari dua lie itu, mereka tiba di tempat yang luas, tapi Souw Cin Ok tahu bawah tempat itu masih berada di bawah tanah atau merupakan tempat di dalam gua yang luar biasa besarnya.

Yang membuat ia heran adalah hawa di situ tetap segar dan keadaan terang sekali, tak berbeda dari keadaan di luar gua, sedangkan jika ia melihat ke atas, jelas bahwa di atas mereka adalah langit-langit dari batu karang berwarna hitam yang mengkilap! Tempat apakah begini aneh?

Dari tempat yang luas itu mereka memasuki sebuah pintu di sebelah kiri, pintu terbesar di antara banyak pintu-pintu di situ.

“Tuan Souw, silahkan masuk ke istana tai-jin!”

Biarpun merasa heran ada sebutan tai-jin yang artinya hampir sama dengan pembesar atau paduka yang mulia dalam tempat ajaib ini, Souw Cin Ok tidak berani membantah.

Ia mengulurkan tangan hendak membuka pintu itu, tapi tiba-tiba ia meloncat mundur. Hatinya berdebar karena dari pintu kanan keluarlah seekor makhluk tinggi besar berwarna putih. Inilah makhluk yang menculik Lian Eng tadi! Souw Cin Ok segera mencabut pedangnya dan siap hendak menyerang! Tapi pelayan itu dengan halus menangkap lengan tangannya mencegah. Souw Cin Ok merasa betapa telapak tangan pelayan itu lunak bagaikan kapas tapi mengandung tenaga dalam yang hebat.

“Tuan Souw, sabarlah! Adakah seorang tamu terhormat hendak mengacau rumah tangga tuan rumahnya?”

Souw Cin Ok menjadi malu dan mukanya berubah merah, tapi ia membela diri, “Dia…… dia itu telah menculik cucuku!”

Pelayan itu tersenyum. “Bukan dia yang berbuat itu, tuan Souw. Lihat yang betul. Dia ini betina, bukankah yang menculik cucumu itu jantan?”

Mendengar sebutan itu tahulah Souw Cin Ok bahwa yang disangka manusia salju itu bukan lain ialah sebangsa monyet atau orang hutan yang besar dan berbulu putih. Tapi bagaimana pelayan ini tahu bahwa cucunya telah terculik? Rahasia semua ini tentu terletak dalam tangan “majikan” istana ini!

Memikir demikian, Souw Cin Ok segera mendorong pintu itu dan masuk. Di dalamnya terdapat sebuah ruangan besar yang takkan pernah ia duga akan terdapat di tempat seperti itu.

Lantainya mengkilap, terbuat dari pada batu putih yang indah. Dinding-dinding yang berwarna putih pula terhias lukisan-lukisan indah dan di sana-sini tergantung twie-lian yang ditulisi syair-syair kuno yang terkenal. Di ujung ruangan sebelah dalam tampak duduk seorang yang berpakaian sebagai seorang ti-hu. Orang itu bertubuh gemuk pendek, pakaiannya berwarna kuning berkembang biru, kopiahnya berwarna hitam.

Pada saat itu dia sedang duduk di atas sebuah bangku tebal yang tampaknya bagaikan terbuat dari pada batu yang berwarna putih mengkilap mengeluarkan sinar. Walaupun hawa di situ dingin sekali, namun pembesar aneh itu duduk di atas batu putih itu dengan pakaian terbuka di bagian dada dan Souw Cin Ok melihat betapa dada itu basah karena peluh! Juga dari kepala dan leher orang itu tampak uap mengepul ke atas.

Di sebelah kiri orang itu duduk seekor makhluk dan ketika Souw Cin Ok memperhatikannya, ternyata ia adalah kera putih yang tadi menculik cucunya.

Dan betul saja, di sudut itu tampak Lian Eng sedang duduk dengan anteng sambil menggerogoti sebutir buah warna merah yang menyiarkan bau wangi dan sedap. Tampaknya Lian Eng sedang menikmati buah itu karena ia tidak tahu bahwa engkongnya masuk ke ruangan itu.

Souw Cin Ok merasa betapa dadanya berdebar keras, tapi ia tahan nafsu hatinya yang hendak lari memeluk cucunya. Ia tahu bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang berilmu tinggi, maka ia tidak berani berlaku kasar.

Dengan hormat sekali ia maju menghampiri dan berlutut di depan orang gemuk pendek itu sambil berkata. “Hamba Souw Cin Ok datang menghadap.” Ia tidak tahu harus menyebut apa kepada orang itu. Melihat wajahnya, orang itu tentu lebih tua darinya sendiri, sedikitnya tentu enampuluh tahun usianya.

Orang gemuk itu batuk-batuk dan berkata dengan keras, “Ha, bukankah kau Souw Cin Ok, kakek anak ini?”

Souw Cin Ok angkat muka memandang dan terkejutlah ia ketika pandang matanya bertemu dengan sepasang mata yang bagaikan sinar matahari membuat silau pandangan matanya! Ia tunduk kembali dan berkata, “Benar tai-jin!” Ia teringat bahwa pelayan tadi menyebut orang ini

Tiba-tiba kamar itu penuh dengan suara tertawa yang keluar dari mulut si gemuk itu.

“Jangan kau sebut aku tai-jin! Pelayanku boleh menyebut aku demikian, tapi kau tidak! Dengar baik-baik, aku adalah Beng Beng Hoatsu, karena dulu pernah menjadi ti-hu maka orang orang masih menyebutku tai-jin saja.

“Ha-ha-ha! Dan aku memang paling senang disebut tai-jin dan berpakaian seperti seorang ti-hu! Betapa tidak! Memang senang menjadi pembesar yang adil. Hai, Souw Cin Ok! Bukankah kau sedang mencarikan seorang guru yang pandai untuk mengajar cucumu ini?”

Ketika mendengar bahwa ia berhadapan dengan Beng Beng Hoatsu, bukan main terkejut hati Souw Cin Ok. Pernah ia mendengar dari suhunya bahwa Beng Beng Hoatsu adalah seorang di antara orang-orang aneh dan gaib yang berilmu tinggi sekali di zaman itu!

Maka sikapnya makin hormat ketika ia menjawab, “Benar, locianpwe, maksud teecu ialah mencari suhu di puncak bukit Hong-lun-san di sebelah utara.”

“Hmm, aku tahu, aku tahu! Bukankah suhumu adalah Hwat Kong Tosu Si Tongkat Iblis! Ha-ha-ha! Kenapa harus jauh-jauh mencari dia? Aku tidak kalah lihai darinya.”

Ucapan tekebur ini membuat Souw Cin Ok merasa tak senang dan berbareng kaget karena ia menduga tentu orang aneh ini bermaksud buruk.

“Apa…… apa maksud locianpwe?” tanyanya perlahan.

Tiba-tiba Beng Beng Hoatsu memandang tajam dan suaranya menggema keras.

“Anak perempuan gagu ini harus tinggal di sini. Ia berbakat baik dan aku ingin ambil dia sebagai murid. Nah, sekarang kau pergilah dari sini!”

“Maaf, locianpwe, biarpun dengan sangat menyesal, terpaksa teecu tidak berani tinggalkan Lian Eng di sini.”

“Apa katamu? Kau berani menghalangi kehendakku?” Uap yang mengepul dari tubuh Beng Beng Hoatsu makin tebal dan ketika Souw Cin Ok memandang lebih teliti, ternyata yang diduduki orang aneh itu adalah sepotong es salju yang besar! Kini es itu mulai lumer di bawah tubuh yang gemuk pendek sedangkan dadanya yang terbuka makin basah karena peluhnya makin banyak keluar, tanda bahwa tubuh itu panas sekali!

“Jangan kurang ajar! Hayo pergi dari sini dan jangan kembali sebelum sepuluh tahun kemudian untuk menjemput cucumu!” Beng Beng Hoatsu gerak-gerak-kan ujung lengan bajunya yang lebar dan dari kebutan itu keluarlah tenaga yang besar sekali ke arah Souw Cin Ok yang membuatnya terjengkang ke belakang!

Souw Cin Ok berdiri cepat dan memandang dengan tajam dan tak kenal takut. “Baik, locianpwe! Teecu telah menerima kebaikanmu. Sebulan lagi kita bertemu.”

“Ha, ha! Kau mau panggil, gurumu? Baik, baik, sudah lama aku tidak bertemu dengan Hwat Kong.”

Souw Cin Ok melihat ke arah cucunya yang masih duduk di situ dengan bengong. Anak perempuan itupun memandangnya dan Souw Cin Ok merasa hatinya diremas-remas.

“Lian Eng, jaga diri baik-baik, ya!”

Gadis kecil itu hanya mengangguk-anggukkan kepala. Biarpun gagu, namun Lian Eng dapat mendengar dengan baik, karena sebenarnya yang tidak bekerja hanya alat pembunyi dalam tenggorokannya. Souw Cin Ok lalu selangkah keluar dari ruangan itu. Di luar pintu sudah menanti pelayan tadi.

“Tuan Souw, kau hendak ke mana?”

“Pergi dari sini tentunya, ke mana lagi?” jawabnya singkat.

“Pergi? Bisakah kau pergi dari sini pada saat seperti sekarang?”

Souw Cin Ok tidak mengerti maksudnya tapi karena hatinya jengkel, ia tidak memperdulikan pelayan itu, tapi terus lari keluar dengan cepat. Ketika tiba di belakang pintu besar itu, ia mencoba untuk mendorongnya ke samping. Tapi ternyata tenaganya belum cukup untuk melakukan hal ini.

Ia mengeruhkan tenaga lagi, tapi sia-sia. Tiba-tiba terdengar suara tawa tertahan di belakangnya. Ketika menengok, ia melihat bahwa pelayan tadi telah berdiri di belakangnya.

“Kau mau keluar juga, tuan Souw? Biarlah saya bukakan pintunya untukmu,” pelayan itu berkata dan dengan mudah saja ia dorong duun pintu itu ke samping.

Tapi ketika pintu sudah terbuka, Souw Cin Ok menjadi tercengang dan menahan tindakan kakinya. Di luar gua gelap gulita, hitam pekat tak tampak apa-apa. Hanya di langit tampak beberapa puluh bintang berkelap-kelip.

Baru sekarang Souw Cin Ok teringat bahwa saat itu malam telah lama tiba. Tak mungkin ia turun dari puncak itu dalam gelap, karana perjalanan sangat berbahaya. Terpaksa ia harus bermalam di gua itu.

Souw Cin Ok menghela napas.

“Bagaimana, tuan Souw? Bukankah lebih baik bermalam di sini saja? Majikanku telah pesan supaya saya menyediakan sebuah kamar untukmu.”

Souw Cin Ok mengangguk sunyi. Ia tak kuasa berkata-kata lagi, dan dengan lesu diikutinya pelayan itu masuk lagi ke dalam setelah menutup pintu gua.

Mereka kembali ke ruang lebar itu dan pelayan itu membuka sebuah pintu di kanan lalu mempersilahkan Souw Cin Ok masuk. Kamar itu kecil saja dan segi empat, tapi cukup menyenangkan dengan pembaringan kayu berada di ujung kamar

“Mengasolah, tuan Souw, dan besok pagi-pagi kau bisa melanjutkan perjalananmu.”

Habis berkata demikian, pelayan itu keluar dan menutup pintu kamar itu perlahan.

Souw Cin Ok telah penat sekali maka ia segera duduk di atas dipan kayu itu dan bersila memulihkan tenaganya. Hampir setengah malam ia duduk tak bergerak, mengheningkan cipta dan menghisap hawa baru untuk menyegarkan tubuhnya kembali. Setelah hawa hangat dan segar mengalir ke dalam tubuhnya, baru dia berbaring untuk tidur. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali pelayan telah membangunkannya.

“Tuan Souw, hari telah siang, bangunlah.”

Souw Cin Ok bangun dan ketika ia keluar dari kamar itu, pelayan yang aneh itu telah berdiri menanti di luar pintu dan berkata,

“Sekarang, kau baru bisa berangkat, tuan Souw. Marilah kuantar keluar.”

Setelah pintu batu dibuka dan berada di luar gua, Souw Cin Ok melihat betapa tempat itu adalah puncak yang tinggi dan tertutup salju. Matahari telah mengintip di ufuk timur.

“Bukankah Souw sianseng hendak ke Gunung Hong-lun-san?” Souw Cin Ok memandangnya heran, tapi ia anggukkan kepala. Pelayan itu menunjuk ke arah utara.

“Di sanalah letak gunung itu, tapi jangan kau turun dari bukit ini dari sebelah utara, karena berbahaya sekali. Di sana banyak sekali air beku yang tipis sekali dan banyak bahaya jika kau melalui daerah itu.

“Kalau kurang hati-hati kau bisa injak bagian yang tipis dan tenggelam ke dalam air yang luar biasa dinginnya hingga sebelum sempat keluar lagi kau sudah akan beku! Maka lebih baik kau turun dari selatan, yakni dari tempat kita naik kemarin. Setelah sampai di kaki bukit, barulah kau memutar dan menuju ke timur lalu membelok ke arah utara.”

Souw Cin Ok mengucapkan terima kasih, menjura kepada pelayan itu lalu lari turun gunung dengan cepat sekali. Ia masih ingat jalan yang kemarin maka kali ini dapat turun lebih cepat dan lancar.

Ketika ia sampai di tempat di mana ia bertempur melawan beruang kemarin, ternyata bangkai beruang itu masih berada di situ tapi di bagian paha binatang itu telah ada yang mengambil dagingnya! Ia tidak perhatikan hal ini lebih jauh, hanya cepat lari turun gunung.

Sesampainya di dalam hutan di bawah gunung di mana ia bertemu dengan Siauw Ma dan kawan-kawannya, ia melihat bahwa para pemburu yang kemarin masih berada di situ! Pemburu-pemburu itu melihat Souw Cin Ok, menjadi sangat girang dan berlari-lari menyambutnya.

“Eh, lo-enghiong, kau sudah kembali dengan selamat?” si pengisap pipa datang-datang menegur. “Bagaimana dengan cucumu? Dan apakah kau bertemu dengan Siauw Ma? Di mana dia kini berada?”

Tentu saja Souw Cin Ok tidak tahu bahwa Siauw Ma telah mengejarnya dan ikut naik gunung, maka ia tidak dapat menjawab, hanya balas bertanya. “Kalian sedang menunggu apa? Apakah sejak kemarin kalian tidak tinggalkan tempat ini?”

Dengan singkat si pengisap pipa lalu ceritakan bahwa Siauw Ma telah lari mengejar ke atas dan bahwa mereka telah memberitahukan kepada ibu pemuda itu yang minta kepada mereka untuk menanti di situ dan menunggu kedatangan atau kembalinya Siauw Ma.