-->

Nona Berbunga Hijau Jilid 5

Jilid 5

12. Barisan Ngo-heng-tin Pendeta Lama

Baru tiga empat jam ia melarikan keledainya, ia mendengar suara teriakan-teriakan dari belakang dan dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika ia melihat enam orang hwesio itu berlari-lari cepat sekali melakukan pengejaran.

“Bunuh dia! Dialah isteri Wang Sin si pemberontak. Bunuh saja anaknya!” demikian teriakan Ga Lung Hwesio dan jarak antara dia dan para pengejarnya makin dekat.

Ong Hui adalah puteri seorang pendekar. Dia tidak takut mati, juga tidak jerih menghadapi lawan betapa kuatpun. Apabila lawan yang sudah membunuh ayahnya. Hanya ia mengkhawatirkan nasib puteranya yang baru berusia empat bulan itu.

Terpaksa Ong Hui mencambuk keledainya dan membalapkan binatang itu.

Usahanya sia-sia belaka. Para pengejarnya sudah datang dekat sekali. Empat buah kaki keledai itu tidak dapat berlari lebih cepat dari pada enam orang hwesio yang berilmu tinggi.

“Perempuan busuk, kau hendak lari ke mana?” bentak Ga Lung Hwesio.

Tahu bahwa ia tidak akan dapat lolos, timbullah kegagahan Ong Hui. Nyonya muda ini melompat turun, menghunus pedangnya. Dengan anak dipondongan tangan kiri dan pedangnya di tangan kanan, ia menanti dengan sikap gagah. Mukanya pucat akan tetapi sepasang matanya memancarkan sinar berapi.

“Keledai-keledai gundul keji! Majulah, hari ini nyonya besarmu akan mengadu nyawa dengan kalian!” bentaknya nyaring.

Ga Lung Hwesio tertawa bergelak. Seorang sutenya lalu menerjang maju sambil memutar toyanya. Toya baja itu berat dan diayun dengan tenaga besar. Dalam sekali sambar saja pedang Ong Hui tentu akan dipukul patah atau jatuh. Karena tidak dapat mengelak, nyonya muda itu terpaksa mengerahkan tenaga dan mengangkat pedang menangkis.

“Traaaaanngg. !!”

Aneh bin ajaib! Bukan pedang di tangan Ong Hui yang patah atau terpental, sebaliknya nyonya muda ini tidak merasakan kehebatan tenaga lawan dan malah si hwesio yang memekik kaget, toyanya terlepas dari tangannya dan telapak tangannya berdarah karena kulitnya terbeset.

Semua hwesio melengak terheran-heran. Hwesio itupun penasaran dan dengan tangan kosong ia menubruk maju, mengerahkan tenaga dan menggunakan ilmu Kim-na-jiu untuk merampas pedang orang dengan tangan kiri sedangkan tangan kanan mengancam ke arah bocah digendongan Ong Hui.

“Celaka!” jerit nyonya itu yang tidak kuasa melindungi puterinya. Akan tetapi kembali terjadi keanehan yang langka. Sebelum kedua tangan hwesio itu mengenai sasaran, tiba-tiba kedua lututnya lemas dan ia jatuh berlutut di depan Ong Hui.

Ia hendak menggerakkan tubuh atasnya, akan tetapi kembali kedua pundaknya terasa lemas seperti tertotok dan mau tak mau ia membungkukkan tubuh, benar-benar kini berlutut dan menyembah.

Ga Lung Hwesio melangkah maju dan menepuk punggung sutenya itu sambil mengurut tulang belakang. Baru sutenya itu dapat bangun berdiri dan melompat ke belakang dengan mata terbelalak heran dan takut. Sementara itu, hwesio kedua melompat maju lagi, diikuti dua orang hwesio lain dan segera Ong Hui diserang oleh tiga orang hwesio kosen itu dari tiga jurusan.

Ong Hui sendiri masih terheran-heran melihat hwesio yang menyerangnya tadi tiba- tiba roboh. Ia menduga tentu ada orang sakti membantunya, akan tetapi dari mana, siapa dan bagaimana? Ia tidak ada waktu lagi untuk menyelidiki melihat tiga orang hwesio menyerangnya dengan hebat.

Ia cepat memutar pedangnya melindungi diri dan anaknya. Kembali terdengar suara nyaring tiga kali ketika pedangnya menangkis, terlempar tiga batang toya dan seperti juga tadi, tiga batang toya itu terlempar dan di lain saat angin besar dari arah belakang Ong Hui yang membuat tiga orang hwesio itu terjengkang roboh dan babak bundas(luka-luka). Empat orang sute Ga Lung Hwesio itu telah mendapat hajaran tidak berani maju lagi.

Ga Lung Hwesio berseru keras. “Perempuan rendah! Ilmu siluman apa yang kau keluarkan?” Ia menyangka bahwa robohnya empat orang sutenya itu adalah karena Ong Hui mempergunakan ilmu siluman, karena kalau menggunakan ilmu silat saja tidak mungkin wanita muda ini dapat merobohkan empat orang sutenya. Ia lalu membaca mantera berkemak-kemik lalu membentak dengan disertai tenaga dalamnya yang amat hebat. “Berlututlah engkau!”

Ilmu yang dikeluarkan oleh Ga Lung Hwesio ini adalah ilmu “mentaklukkan semangat”. Lweekang yang disertai ilmu hitam ini memang luar biasa dan semacam tenaga luar biasa memaksanya dari dalam untuk segera menjatuhkan diri berlutut di depan Ga Lung Hwesio yang bertubuh pendek gemuk dan mengangkat tongkat bambu kuning itu ke atas dengan sikap agung.

Tiba-tiba nyonya muda merasa ada hawa hangat meresap ditubuhnya dan seketika itu lenyaplah semua perasaan yang hendak memaksa ia berlutut. Sebaliknya Ga Lung Hwesio menggigil kedua kakinya. Ia mengerahkan tenaga dan membentak lebih keras. “Berlutut!”

Celaka baginya. Makin kerasnya ia mengerahkan tenaga menyuruh orang berlutut, makin keras tak tertahan lagi ia menguasai kedua kakinya dan mendadak ia menjatuhkan diri berlutut di depan Ong Hui sambil mengangguk-anggukan kepalanya yang gundul.

Ia merasa terkejut dan heran sekali. Mengapa ilmunya itu malah menguasai dirinya sendiri? Dia mencoba untuk menahan diri, namun tidak berhasil. Terdengar suara ketawa perlahan dibelakangnya dan tongkat di tangan Thu Bi Tan mencongkel pantatnya membuat tubuhnya melayang ke atas dan dapat berdiri lagi.

Marahlah Ga Lung Hwesio. “Iblis betina, mampuslah!” Tongkat bambu kuning di tangannya menyambar. Ong Hui melompat mundur karena merasa betapa hebatnya serangan ini.

Tiba-tiba Ga Lung Hwesio menghentikan serangannya dan terhuyung mundur karena semacam hawa pukulan datang dari belakang nyonya muda itu menyambar dadanya. Ia sudah mengerahkan lweekang dengan muka pucat saking kagetnya.

Sementara itu sabil tertawa bergelak, Thu Bi Tan melompat jauh, tahu-tahu tiba di dekat sebuah batu besar yang berada di belakang Ong Hui. Tongkatnya diayun menghantam batu sambil berseru. “Siluman, keluarlah kau!”

Terdengar suara keras dan batu itu pecah berhamburan. Demikian hebatnya pukulan Thu Bi Tan yang menandakan bahwa ilmu kepandaian dan tenaganya bukan main hebatnya. Selenyapnya debu batu yang terpukul hancur, muncullah dari balik batu itu seorang kakek tinggi kurus yang rambut, jenggotnya panjang putih, sikapnya agung lagi tenang.

Di sampingnya berdiri seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun. Bocah ini bermuka tampan dan bermata tajam. Melihat Ong Hui didesak Ga Lung Hwesio, bocah itu berlari-larian dengan beberapa loncatan saja ia sudah tiba di dekat Ong Hui.

“Bibi, larilah lekas dengan keledai, jangan layani orang-orang jahat ini!”

Sambil berkata demikian, ia menghadang di depan Ong Hui untuk mencegah Ga Lung Hwesio mendesak terus. Ong Hui ragu-ragu akan tetapi mengingat akan keselamatan anaknya, lalu melompat ke atas keledainya dan membalapkan keledai itu sambil berseru. “Terima kasih atas pertolongan Locianpwe!” Melihat Ong Hui hendak melarikan diri, tanpa memperdulikan bocah yang menghadang di depannya, Ga Lung Hwesio membentak sambil mengejar. “Perempuan hina, kau hendak lari ke mana?”

Akan tetapi bocah itu dengan gerakan yang amat ringan sudah melompat di depannya, mementangkan kedua tangan dan berseru.

“Orang jahat, mau apa kau mengejar?”

Baru sekarang Ga Lung Hwesio memperhatikan bocah ini. Usianya paling banyak tujuh tahun, pakaiannya sederhana dari kain kasar. Tidak ada apa-apa yang istimewa pada bocah ini kecuali sinar matanya yang tajam dan sepasang alisnya yang hitam panjang.

“Setan cilik, minggirlah!” Tongkatnya menyambar untuk menghantam bocah itu ke samping. Akan tetapi dengan amat mudah bocah itu mengelak dan tongkatnya mengenai tempat kosong.

Ga Lung Hwesio terkejut dan marah. Kalau saja ia tidak ingin mengejar Ong Hui, tentu ia mengirim serangan lagi. Melihat bocah itu sudah mengelak ke samping, ia lalu melompat dan mengejar terus.

Alangkah heran, kaget dan marahnya ketika tiba-tiba ia melihat bocah itu sudah berada di depannya lagi menghadang dan mencegah ia mengejar terus.

“Anak setan, apa kau ingin mampus?” bentaknya.

“Hidup bukan kau yang menghidupkan, matipun mana bisa kau yang mematikan?” jawab bocah itu sambil tersenyum simpul. Ga Lung Hwesio tertegun sejenak. Ucapan seperti itu benar-benar tidak pantas keluar dari mulut seorang bocah berumur tujuh tahun.

Akan tetapi kemarahannya masih kalah oleh keinginannya mengejar Ong Hui, maka tanpa memperdulikan bocah itu, ia menggerakkan kaki melompati bocah di depannya. Tentu saja bagi orang sepandai dia, melompati atas kepala bocah itu adalah mudah sekali.

Akan tetapi kali ini ia kecele. Bocah itupun melompat ke atas dan ketika kedua tangannya di ayun, dua batu menyambar ke arah jalan darah di kedua pundak hwesio itu.

Ga Lung Hwesio kaget dan marah sekali, akan tetapi mana ia memandang mata seorang bocah? Tangan kirinya digerakkan menyampok dua butir batu dan tubuhnya terus bergerak maju dengan tangan kanan mencengkeram dada bocah itu untuk menangkap dan melemparkan bocah itu ke samping agar ia dapat terus mengejar Ong Hui.

“Hayaaaa, hwesio palsu lihai sekali!” Dengan lucu bocah itu membanting diri ke belakang, berpoksai tiga kali dan turun ke atas tanah, masih menghadapi hwesio itu dan menghadang. Ga Lung Hwesio adalah seorang hwesio yang kedudukannya tinggi sekali di Tibet. Di ibukota Lasha, jangankan penduduk biasa, bahkan tuan tanah dan pembesar menaruh hormat kepadanya. Sekarang ia digoda dan dipermainkan seorang bocah tentu saja amarahnya naik ke ubun-ubunnya dan ia menggertak giginya.

“Kau benar-benar bosan hidup!” bentaknya dan tiba-tiba ia harus mengelak karena ada debu berhamburan di depan mukanya, debu dari tanah dan pasir yang tengah disambitkan oleh bocah itu kepadanya. Celakanya, setelah mengelak lagi-lagi ada hujan batu kecil dan pasir dicampur debu mengebul menyerang muka. Untuk sambitan ini tentu saja Ga Lung Hwesio tidak takut, akan tetapi kalau sampai mukanya terkena hujan debu, tentu mata hidung, mulut, dan telinganya terancam bahaya kemasukkan debu kotor.

Saking marahnya, Ga Lung Hwesio lupa akan kedudukannya sebagai seorang tokoh besar dan ia mulai mengamuk, menyerang bocah itu dengan tongkatnya bukan hanya serangan gertakan lagi, melainkan serangan maut dengan maksud membunuh. Akan tetapi ternyata bocah itu lincah sekali gerakan-gerakannya.

Bagaikan seekor burung walet saja layaknya ia “terbang” di antara sambaran tongkat sambil mulutnya tiada hentinya berseru. “Hwesio palsu! Hwesio jahat!” dan sebagainya, membuat Ga Lung Hwesio menjadi makin marah dan lupalah ia akan Ong Hui yang sekarang sudah kabur jauh sampai tidak kelihatan lagi.

Sementara itu, Thu Bi Tan Hwesio yang tadi sudah dapat menduga bahwa Ong Hui dibantu orang pandai yang bersembunyi di belakang batu, telah memukul hancur batu besar itu sehingga kelihatan bocah itu bersama seorang kakek tinggi kurus berjenggot panjang dan putih. Sudah banyak Thu Bi Tan mengenal orang-orang kang-ouw di daerah Kun-lun, akan tetapi kakek tua ini belum pernah dilihatnya. Namun sebagai seorang tokoh utama di Tibet, ia tidak mau berlaku sembrono. Ia mengawasi kakek itu lalu berkata.

“To-yu siapakah dan pernah apa dengan perempuan Kun-lun-pai yang kami kejar?” Pertanyaan yang dikeluarkan dengan bahasa Han yang kaku ini adalah pertanyaan yang biasa dipergunakan orang berkedudukan tinggi, singkat akan tetapi sudah mencakup semua persoalan antara mereka.

Kalau tosu tua itu mengaku masih ada hubungan, maka otomatis tosu inipun musuh- musuh para hwesio Lama. Kalau bukan apa-apa, berarti tosu itu melanggar peraturan kang-ouw, mencampuri urusan orang lain.

Kakek itu tersenyum ramah, “Hwesio, wanita muda itu dan anak kecil yang digendongnya adalah saudaraku, juga kau dan kawan-kawanmu adalah saudaraku.”

Thu Bi Tan Hwesio melengak mendengar jawaban yang aneh ini. Selagi ia hendak membentak minta penjelasan, kakek itu lalu mengucapkan kata-kata bersyair,

“Di empat penjuru samudra semua adalah saudara!” Kemudian ia memandang Thu Bi Tan Hwesio dan melanjutkan kata-katanya. “Sebagai saudara aku berkewajiban untuk membantu yang lemah, mengingatkan yang sesat, wajib menolong yang lemah tertindas, memberantas yang menindas.”

Thu Bi Tan Hwesio juga seorang tokoh agama maka ia mengerti akan maksud kata- kata ini. Dia tertawa menyindir lalu berkata keras, “Tosu sombong! Sekali bertemu bagaimana kau tahu mana yang benar mana yang keliru? Apa kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa? Pinceng adalah Thu Bi Tan, seorang di antara Su Thai Losu di Lasha. Apa kau sengaja mengandalkan kepandaian dan berani menentang Su Thai Losu?”

Nama Su Thai Losu di Tibet dan daerah Kun-lun terkenal sekali dan selama ini tidak pernah ada orang berani menentangnya. Dengan memperkenalkan diri, Thu Bi Tan ingin menggebah pergi tosu ini supaya jangan banyak rewel lagi agar dia dan para keponakan muridnya dapat melanjutkan pengejaran terhadap Ong Hui.

Akan tetapi dengan masih tenang-tenang saja, kakek itu menjawab, “Tidak ada persoalan berani atau tidak dan siapa menentang siapa tidak, yang ada hanya menolong yang lemah dan memberantas yang menindas.”

Marahlah Thu Bi Tan. Tongkat kecil panjang ia keluarkan dan tangannya gemetar menahan nafsu. “Kakek tua, beritahukan namamu sebelum pinceng turun tangan.”

“Apa artinya nama? Diberitahukan juga kau tidak akan mengenalku. Aku tidak terkenal seperti Su Thai Losu. Thu Bi Tan, aku tidak ingin berkelahi. Lebih baik kau dan lima orang kawanmu dengan damai kembali ke Lasha, biarkan perempuan lemah dan anaknya itu pergi dengan aman.”

“Tosu siluman, enak saja kau bicara. Keluarkan senjatamu!”

Kini sikap kakek tua itu keren sekali dan ia pandang Thu Bi Tan Hwesio seperti seorang guru memandang muridnya. “Senjata hanyalah alat penyambung tangan dan dipergunakan untuk melindungi diri, bukan untuk menindas sesamanya. Kalau ada bahaya mengancam diri, barulah senjata dikeluarkan.”

Ucapan ini biarpun dapat diartikan menegur Thu Bi Tan Hwesio yang menggunakan kepandaian dan senjata untuk menindas orang lain akan tetapi juga bersikap mengejek, menyatakan bahwa menghadapi Thu Bi Tan tanpa senjatapun kakek itu merasa tidak berbahaya.

“Kakek tua bangka, siapapun adanya engkau, hari ini pasti tubuhmu hancur seperti batu itu!” bentak Thu Bi Tan yang menjadi makin marah karena sikap kakek itu yang ia anggap amat sombong dan tidak memandang sebelah matapun kepadanya. Ia dapat menduga, bahwa kalau seorang bisa bersikap demikian tenang dan sombong tak kenal takut, sudah tentu memiliki kepandaian tinggi, maka paling perlu menghantamnya sehingga tewas agar tidak rewel-rewel lagi.

Dengan gerakan perlahan ia menghantam. Tongkatnya kelihatannya bergerak lambat ke arah dada kakek itu, akan tetapi sebetulnya apa yang kelihatan ini adalah sebaliknya dari pada kenyataannya. Seorang ahli lweekeh seperti dia ini, memang di dalam serangannya terkandung unsur “kosong berisi” atau “lemah kuat”, kelihatan lemah dan perlahan akan tetapi sebetulnya luar biasa kuatnya. Dengan kekuatannya seperti inilah maka tongkat kayu bisa menghancurkan batu, dan pukulan yang kelihatan perlahan dapat merusak bagian dalam tanpa merusak bagian luar.

Kakek itu sama sekali tidak menangkis atau mengelak, hanya berdiri diam acuh tak acuh, seakan-akan tidak tahu bahwa dirinya sedang diserang, bahkan diancam serangan maut yang sekali kena akan mengakibatkan kematiannya. Thu Bi Tan bukan seorang biasa, dia tokoh besar dan tentu saja dia tidak sudi membunuh seorang lemah yang tidak melawan sama sekali.

Melihat kakek ini tidak mengelak dan tidak menangkis, hatinya terguncang dan otomatis ia menarik kembali tenaganya sehingga tongkat itu kini bergerak cepat sekali akan tetapi tidak mengandung tenaga lweekang sehingga apabila mengenai dada kakek itu hanya akan membuat kakek itu terguling roboh tanpa menderita luka hebat.

“Werrrr. !” Tongkat menyambar cepat sampai tidak kelihatan bayangannya. Kakek

tetap tidak bergerak tapi alangkah herannya hati Thu Bi Tan ketika tongkatnya itu

mengenai angin, sama sekali tidak menyentuh tubuh orang tua itu.

Padahal menurut penglihatannya, kakek itu sama sekali tidak mengelak dan sekarangpun masih berdiri di tempat yang tadi tanpa mengubah kedudukan kaki, masih tersenyum ramah memandangnya.

“Setankah dia. ??” ia berpikir dengan penasaran lalu menghantam lagi, kali ini

lebih cepat dan lebih keras daripada tadi, masih belum mengisi gerakannya dengan tenaga lweekang. Sekali lagi luput serangan itu tanpa lawannya berpindah tempat.

Karena Thu Bi Tan sekarang menyerang sambil memasang mata ia melihat betapa serangannya tadi digagalkan oleh gerakan kakek itu dengan amat cepat dan halus, yaitu menyedot bagian tubuh yang yang terserang sehingga legok dan tongkat itu tidak menyentuh kulit. Ia kaget sekali.

Sedemikian tingginya lweekang kakek ini sehingga semua bagian tubuhnya seakan- akan bermata? Ia menjadi penasaran karena terang-terangan kakek itu tidak memandang sebelah mata kepadanya sehingga menghadapi dua serangannya seperti seorang guru menghadapi serangan murid.

“Bagus! Coba tahan serangan ini!” bentaknya dan kini tongkatnya diputar tiga kali di atas kepala, lalu langsung dipakai membabat tubuh lawannya bagian tengah. Tak mungkin dapat mengelak tanpa memindahkan kaki, pikirnya. Akan tetapi sekali lagi pukulannya mengenai angin dan tiba-tiba tubuh kakek itu lenyap dari depan matanya. Setelah tongkatnya menyambar lewat, tubuh kakek itu kelihatan lagi, masih berdiri tersenyum seperti tadi.

Thu Bi Tan kaget setengah mati. Ia dapat menduga bahwa tanpa mengubah kedudukan kaki, kakek tua ini telah membuang diri ke belakang tanpa menggeser kaki sehingga tubuhnya telentang di atas tanah, akan tetapi hanya sebentar saja karena begitu tongkat lewat, ia sudah menarik kembali tubuhnya dan berdiri tegak. Inilah perbuatan yang benar-benar hebat dan sukar dilakukan biarpun oleh seorang ahli yang amat ulung.

“Mengalah hanya bertingkat tiga,” kata kakek tua itu masih tersenyum, “pertama berdasarkan kesabaran, ke dua berdasarkan anggapan bahwa orang telah mendesak karena terburu nafsu, dan ke tiga berdasarkan anggapan bahwa orang melakukan karena kebodohannya.

Kalau sudah mencapai tingkat ke empat, berarti orang itu memang berwatak jahat dan suka mencelakakan sesamanya. Hwesio, sekali lagi kuperingatkan kau dan kawan- kawanmu, pergilah dengan damai.”

Pada saat itu bocah berusia tujuh tahun tadi masih digempur hebat oleh Ga Lung Hwesio. Hwesio ini sudah marah sekali, mencak-mencak dan memaki-maki karena sampai puluhan jurus belum juga ia berhasil merobohkan bocah itu, belum berhasil tongkatnya mengenai tubuh si bocah. Benar-benar hal ini merupakan hal yang amat menakjubkan sampai empat orang sutenya berdiri melongo saking herannya.

Bocah itu lebih gesit daripada seekor monyet dan biarpun tubuhnya kadang-kadang terbawa oleh hawa pukulan Ga Lung Hwesio yang mengandung tenaga lweekang, namun tetap saja selalu dapat menghindarkan diri. Yang aneh adalah gerakan kaki bocah itu yang diatur sedemikian sempurna merupakan langkah-langkah kedudukan bintang di langit.

“Eh, eh, bukan aku yang pintar melainkan kau yang goblok tidak dapat mengenaiku. Kenapa marah?” balas bocah itu tertawa-tawa ketika Ga Lung Hwesio mulai memaki- maki.

Ga Lung Hwesio segera sadar. Dia seorang ahli silat tinggi dan sekarang tahulah ia bahwa kegagalannya itu sebagian besar karena kesalahannya sendiri. Dia terlalu bernafsu dan menganggap lawannya hanya seorang bocah.

Padahal sekarang kenyataannya bahwa biarpun masih cilik, bocah ini sudah mengetahui dasar-dasar ilmu silat tinggi dan memiliki kedudukan kaki yang amat teratur. Biarpun menghadapi bocah, ia harus menggunakan taktik pertempuran, bukan membabi buta seperti tadi. Ia mulai mengurangi serangannya dan maju dengan tongkat dan tangan kiri, menyerang dengan mantap dan kuat.

“Suhu, susah teecu kalau begini ” bocah itu melompat ke kiri menghindarkan

sambaran tongkat dan membuang diri ke belakang ketika pundaknya hampir kena dicengkeram oleh Ga Lung Hwesio.

Pada saat itu kakek tua tadi menoleh dan dengan sabar kakek itu menjemput sebatang ranting yang menggeletak di dekat kakinya. Dilontarkan ranting itu ke arah bocah tadi sambil berseru, “Sun-ji, sambutlah!”

Bocah itu biarpun sudah menjauhkan diri ke belakang, begitu melihat sambaran ranting ke arahnya, cepat mengulur tangan menangkap ujung ranting. Hebat tenaga sambaran ranting ini karena begitu terpegang, bocah itu terbang terbawa oleh ranting melayang-layang lalu membelok dan kembali kepada si kakek. “Duduk di punggungku!” kata kakek itu dan bocah tadi dengan gembira lalu menjambret pundak si tua dan duduk nongkrong di punggung, kepalanya dengan wajah yang berseri mengintai dari balik pundak ke depan. Benar-benar dia seperti seekor monyet kecil yang nakal. Hidungnya dicungar-cungirkan kepada Thu Bi Tan dengan lagak mengejek sekali.

“Hwesio tua, apa kau sudah makan?” tanyanya tiba-tiba.

Thu Bi Tan yang sedang terheran-heran dan kagum menyaksikan kepandaian kakek yang luar biasa ketika “mengambil” muridnya tadi, mendengar pertanyaan tiba-tiba ini, tanpa disadarinya lagi menjawab.

“Apa..... belum      belum makan.”

Bocah itu memperlihatkan muka menaruh kasihan, lalu menyodorkan sepotong kue kering dari sakunya. “Nah, kau makanlah.” Tapi tiba-tiba ia menarik kembali kuenya dan berkata cepat-cepat. “Eh, maaf aku lupa. Kue ini mengandung minyak babi. Nih, sayang hanya tinggal tiga helai dan sudah agak kering.”

Ia menyodorkan ranting yang masih dipegangnya. Di ujung ranting itu terdapat tiga helai daun yang sudah hampir kering.

Thu Bi Tan menjadi merah mukanya. Bocah itu secara memutar telah memakinya. Para hwesio memang biasanya tidak makan daging dan selalu makan sayur-sayuran, maka selalu dimaki keledai. Sekarang bocah itu menawarkan daun, sama saja dengan memaki keledai. Akan tetapi karena ia maklum bahwa lawannya amat lihai, ia segera membentak lima orang murid keponakannya. “Kurung dengan Ngo-heng-tin!”

Ga Lung Hwesio dan sute-sutenya tadipun melongo menyaksikan kepandaian kakek yang mereka anggap mengeluarkan ilmu siluman itu. Sekarang mendengar bentakan Thu Bi Tan, mereka cepat melompat maju sambil memegang toya masing-masing. Dengan teratur lima orang ini lalu mengurung dan di lain saat sudah membentuk barisan Ngo-heng-tin.

Maju seorang saja mereka ini mungkin tidak berarti bagi lawan, akan tetapi sekali maju bersama dalam bentuk barisan yang disebut Ngo-heng-tin, biarpun lawan memiliki kepandaian tinggi, tidak mudah mengalahkan mereka.

Dengan terbentuknya barisan ini, tidak saja tenaga mereka tergabung menjadi satu sehingga lima kali lebih kuat, juga mereka seperti seorang sakti yang mempunyai lima macam kedudukan, lima macam tenaga, dan lima macam keampuhan. Disamping Ngo-heng-tin ini, di situ masih ada lagi Thu Bi Tan yang sudah merupakan seorang lawan sakti yang tidak boleh dipandang ringan.

Tapi kakek tua itu kelihatannya masih tenang saja, malah berkata kepada bocah di gendongannya. “Yalu Sun, berlatih kau, lawanlah enam orang hwesio ini.”

Bocah itu nampak gembira. “Baik, suhu. Hei, liok-wi losuhu, majulah!” Sambil berkata demikian ia menggerak-gerakkan ranting di tangannya. Thu Bi Tan tercengang. Orang terlalu memandang rendah kepadanya karena dia yang berkedudukan tinggi sudi melawan seorang bocah? “Binasakan saja kakek dan bocah ini, mereka terlampau memandang rendah dan menghina kita!” serunya kepada lima orang murid keponakannya.

Ngo-heng-tin bergerak mengitari kakek itu yang berdiri tegak sambil menggendong bocah itu. “Perhatikan gerakan mereka, rasakan bagaimana aku mengambil kedudukan dan buka mata telinga dengarkan jurus-jurus yang kau mainkan,” dengan suara tenang sekali kakek itu memberitahukan kepada bocah di gendongannya.

“Baik, suhu,” jawab bocah itu dengan gembira dan wajah berseri.

Barisan Ngo-heng-tin bergerak-gerak makin lama makin cepat mengitari tubuh kakek itu. Tiba-tiba Ga Lung Hwesio yang menjadi pemimpin Tin (barisan) ini berseru dalam bahasa Tibet memberi perintah kepada sute-sutenya. Dua orang yang ketika itu kedudukannya di depan dan di belakang si kakek, serentak mengayun toya melakukan serangan, yang di depan menghantam kepala dan yang di belakang menyerampang kaki. Serangan atas bawah ini cepat, kuat dan berbahaya sekali.

“Pek-in-ci-tiam (Awan Putih Keluarkan Kilat)” seru kakek itu sambil melompat ke atas sehingga serampangan toya dari belakang yang mengarah kakinya mengenai angin, sedangkan bocah itu yang mendapat petunjuk gurunya lalu menggunakan ranting kayu seperti pedang digerakkan ke atas menangkis datangnya toya ke arah kepalanya.

Melihat bocah itu menangkis toyanya menggunakan ranting kecil, hwesio yang menyerangnya menjadi girang dan cepat mengempos semangatnya. Ia tidak ragu-ragu lagi bahwa toyanya tentu akan mematahkan ranting terus menghancurkan kepala orang, karena mana ada seorang bocah kecil dapat menangkis tongkatnya dengan ranting?”

13. Cucu Sungai Yalu-cangpo

Akan tetapi kesudahannya membuat ia berteriak kesakitan dan melompat mundur dengan kaget karena telapak tangannya sakit-sakit ketika toyanya tertangkis oleh ranting itu. Tentu saja bocah ini menjadi lihai karena secara diam-diam kakek yang menggendongnya menyalurkan hawa sinkang ke dalam tubuh bocah itu dan disalurkan ke arah tangan yang memegang ranting........

Ternyata kakek itu hanya “meminjam” tangan muridnya untuk menangkis pukulan tadi. Ga Lung Hwesio melihat kegagalan serangan pertama lalu berteriak lagi memberi aba-aba. Mendengar aba-aba ini empat orang hwesio serentak memutar toya dan barisan ini menyerang kalang kabut dan secara bertubi-tubi. Dari lima jurusan datanglah hujan toya ke arah kakek dan muridnya ini.

“Hui-po-lui-hong (Air Tumpah Terbang, Bianglala Melengkung), Im-mo-sam-bu (Payung Awan Tiga Kali Menari). Hui-in-toan-san (Awan Terbang Memutus Gunung)!” Kakek itu berloncatan ke sana ke mari pula sambil memberi perintah muridnya. Dengan penuh ketekunan dan perhatian, bocah itu secara otomatis mainkan rantingnya menurut petunjuk suhunya dan. semua serangan toya dapat ditangkis

dan dipunahkan oleh jurus-jurus yang ia mainkan itu.

Ga Lung Hwesio mendesak terus bersama empat orang kawannya. Gerakan kakek itu halus seperti tidak bergerak, tetapi selalu dapat mengisi tempat kosong dan ranting di tangan si bocah itupun selalu dapat mengusir bahaya yang datang mengancam. Lima puluh jurus lebih tin ini mengurung tanpa dapat melukai guru dan murid itu karena penjagaan ranting amat kuat.

Tiba-tiba kakek itu berkata. “Yalu Sun, sekarang kita membalas. Awas! Sian-jin- hoan-eng (Dewa Menukar Bayangan)! Sian-jin-sia-ciok (Dewa Memanah batu)! Ka- tin-liok-liong (Menunggangi Enam Ekor Naga)!”

Hebat sekali ranting di tangan bocah itu. Selain ranting membuat gerakan menyerang, barisan itu kalang kabut dan kacau balau. Ga Lung Hwesio masih berseru ke sana sini untuk menjaga agar barisan tidak kacau, namun tetap saja serangan-serangan bocah yang digendong oleh si kakek membuat mereka terdesak hebat.

Melihat ini, Thu Bi Tan yang tadinya merasa terheran-heran kini menjadi marah bukan main. Sambil mengeluarkan seruan keras ia menerjang maju dan menyerang dengan tongkatnya. Bocah itu terkejut sekali karena seruan yang merupakan pekik dahsyat ini membuat tubuhnya bergoyang-goyang dan kedua tangannya tergetar.

Itulah pekik yang dikerahkan dengan lweekang tinggi dan dia sendiri yang belum memiliki tenaga lweekang cukup kuat terpengaruh oleh pekik ini.

Gurunya mengulur tangan dan menepuk punggungnya sehingga pengaruh itu lenyap kembali akan tetapi ranting yang dipegangnya sudah berpindah ke tangan gurunya. Kini kakek itu sendiri yang menggerakkan ranting menangkis serangan tongkat Thu Bi Tan.

Terdengar suara keras, ranting patah akan tetapi tongkat itupun terlepas dari tangan Thu Bi Tan. Kakek tua itu tertawa nyaring lalu berkata. “Yalu Sun, sudah cukup berlatih, mari kita pergi!”

Tubuhnya berkelebat dan tahu-tahu kakek itu sudah melompat jauh sekali, seperti terbang saja. Tiga empat lompatan lagi dan kakek itu lenyap bayangannya, meninggalkan enam orang hwesio yang berdiri bengong.

“Sudahlah...... sudahlah. !” Thu Bi Tan Hwesio membanting-banting kaki sambil

menghela napas berulang-ulang. “Benar kata mendiang suhu bahwa di timur banyak sekali orang Han yang sakti. Tidak perlu kita mengejar bocah murid Kun-lun-pai itu.

Dengan hati penuh penasaran enam orang hwesio itu lalu kembali ke barat. Enam orang murid kepala itu tidak membantah karena hati mereka juga sudah gentar menghadapi kakek tua dan bocah yang aneh sekali itu.

Demikianlah, dengan selamat Ong Hui membawa anak perempuannya ke puncak Kun-lun untuk mengungsi ke Kun-lun-pai dan melaporkan malapetaka yang menimpa ayah dan supeknya kepada To Gi Couwsu ketua Kun-lun-pai. Ia sama sekali tidak tahu. siapa kakek dan bocah yang telah menolongnya dari tangan enam orang hwesio dari Lasha itu.

Sambil menangis ia melaporkan keadaannya kepada para tokoh Kun-lun-pai. Karena kejadian itu merupakan pukulan hebat bagi Kun-lun-pai, yaitu tewasnya Cin Kek Tosu yang menjadi murid keponakan To Gi Couwsu sendiri, maka para murid Kun- lun-pai memberanikan diri melaporkan hal ini kepada To Gi Couwsu yang sudah mengasingkan diri di dalam kamarnya.

Tosu tua itu menarik napas panjang, “Siancai. para hwesio di Tibet benar-benar

masih tidak dapat mengekang nafsu duniawi, Cin Kek tewas dalam kebenaran, biarlah tak usah dipikirkan lagi.”

Ketika ia mendengar penuturan Ong Hui tentang kakek dan bocah yang menolongnya, wajah kakek ini berseri. “Ah, kiranya twa-suheng (kakak seperguruan tertua) masih hidup dan masih suka main-main. Heran sekali mengapa dalam usia tua dia masih ada kesempatan menerima murid?”

Kakek ini memandang bayi dalam pondongan Ong Hui, kembali ia menghela napas panjang. “Bocah ini telah mengalami penasaran, sebelum lahir ditinggalkan ayah, sesudah lahir dikejar-kejar maut. Twa-suheng telah mengambil murid dihari tua, kenapa aku tidak meniru? Biarlah bocah ini kelak mewarisi ilmu di Kun-lun.”

Kedukaan hati Ong Hui membuat tubuhnya tidak kuat menahan derita. Suaminya terpisah darinya, ayahnya terbunuh dan hal ini membuat ia begitu berduka sampai tak kuat ia menahan. Baru saja Bi Hong berusia satu tahun, nyonya muda ini meninggal dunia di Kun-lun-san.

Bi Hong dirawat oleh para tosu dan menjadi kesayangan semua tosu di situ. Malah To Gi Couwsu sendiri amat menaruh kasihan dan menyayanginya sehingga guru besar ini kemudian berkenan menurunkan kepandaiannya, melatih dan memberi pimpinan kepada Bi Hong.

Demikianlah, enam belas tahun kemudian, Bi Hong telah menjadi seorang nona yang berjiwa sederhana, berwatak riang jenaka, dan mewarisi ilmu kepandaian tinggi dari Kun-lun-pai.

******

Kita kembali ke puncak Kun-lun-san di mana Bi Hong baru saja diuji ilmu kepandaiannya oleh para tosu. Kemudian gadis itu menangis karena teringat akan musuh-musuh besarnya, hwesio-hwesio di Lasha yang telah membunuh kongkongnya dan supekcouwnya, malah yang sudah membuat ibunya sampai mati dalam usia muda karena berduka. Mendengar gadis itu keras sekali kehendaknya hendak turun gunung dan mencari musuh besar menuntut balas. To Gi Couwsu menghela napas.

“Balas membalas, bunuh membunuh, ahh. dunia suram-muram penuh hawa

kebencian. Bi Hong, kau bicara tentang membalas dendam, tahukah engkau siapa yang telah membunuh kong-kongmu dan yang menyerbu ke tempat tinggal supek- couw mu?” “Menurut keterangan yang teecu kumpulkan dari para suheng yang mendengar cerita mendiang ibu, yang menyerbu adalah Thu Bi Tan Hwesio bersama Ga Lung Hwesio dan empat orang hwesio lain dari Lasha.”

“Jadi kau hendak mencari enam orang hwesio itu.

“Betul suhu. Setidaknya teecu harus dapat membalas dendam kepada Thu Bi Tan Hwesio dan Ga Lung Hwesio, karena mereka itu yang memimpin penyerbuan?”

“Bi Hong, tahukah kau siapa ayahmu?”

Ditanya begini, muka gadis itu berubah. Dia menggigit bibir menahan gelora hatinya lalu mengangguk menjawab, “Teecu mendengar dari para suheng bahwa dahulu ibu pernah menyatakan siapa adanya ayah teecu. Ayah adalah suheng ibu sendiri, murid supek-couw bernama Wang Sin.”

“Anak, kau tidak tahu banyak. Ketahuilah urusan permusuhan dengan hwesio Tibet sebetulnya adalah urusan ayahmu. Ibumu hanya terbawa-bawa dan karena ayah ibumu sudah membunuh beberapa orang hwesio Tibet, maka hwesio-hwesio dari Lasha itu membunuh kong-kong dan supek-couwmu.

Pinto tidak keberatan kau membalas dendam kong-kongmu, akan tetapi agar tidak terjadi urusan permusuhan sampai terlalu mendalam, dan untuk mengetahui duduk perkaranya urusan yang berbelit-belit ini, sebelum membalas lebih dulu kau carilah ayahmu itu. Segala sepak terjang harus didasarkan atas keadilan, tidak boleh membabi buta menurutkan nafsu membenci dan dendam.”

Bi Hong mengangkat mukanya. “Suhu, ke manakah teecu harus mencari ayah? Yang teecu ketahui hanya berita tidak jelas bahwa. bahwa ayah sudah meninggalkan

ibu. ” suaranya berubah perlahan, wajahnya nampak berduka dan penasaran. Sejak

kecil, sejak mendengar bahwa ayahnya meninggalkan ibunya, diam-diam anak ini membenci atau setidaknya tidak suka kepada ayahnya.

“Ayahmu seorang Tibet, ke mana lagi mencari dia kalau tidak ke barat? Dahulu ayahmu tinggal di desa Loka, kau bisa mencarinya di sana atau di sekitarnya.”

Bi Hong girang. Ia memberi hormat lalu berkata, “Kalau begitu, harap suhu mengijinkan teecu pergi sekarang juga.”

Tosu tua itu mengangguk-angguk. “Pergilah Bi Hong, Hanya pesanku, hati-hatilah kau. Hwesio di Lasha adalah orang-orang sakti dan tidak boleh dipandang ringan.”

“Teecu akan memperhatikan semua nasehat suhu.” Setelah memberi hormat lagi kepada suhu dan suhengnya, nona ini lalu pergi ke kamarnya untuk membawa perbekalan.

Para tosu di Kun-lun diliputi suasana sunyi. Semua tosu di situ menyayangi gadis itu dan mereka tahu bahwa sepergi gadis itu dari puncak, tempat itu akan menjadi sunyi bagi mereka. To Gi Couwsu sendiri merasa kehilangan ini. Semenjak Bi Hong masih kecil, dia melatih anak itu dan menyayanginya seperti cucu sendiri. Tosu ini maklum bahwa kepergian gadis itu akan menempuh bahaya yang tidak kecil dan masih diragukan apakah dia yang sudah amat tua akan dapat bertemu kembali dengan Bi Hong.

“Lee Kek, jangan tegakan hatimu. Kau kawanilah sumoimu itu pergi mencari ayahnya ke barat!”

Bukan main girangnya hati Lee Kek Tosu murid kepala Kun-lun-pai itu. Ia cepat berlutut dan berkata, “Suhu, teecu akan menjaga sumoi dengan segenap jiwa raga teecu.” Ia lalu mengundurkan diri menyusul sumoinya.

Tak lama kemudian, dua orang itu, seorang tosu tua dan seorang gadis muda belia turun dari puncak diikuti pandang mata puluhan orang tosu. Beberapa kali Bi Hong menengok dan melambaikan tangan. Semua tosu di situ, suheng-suhengnya, baginya seperti paman-paman sendiri, maka iapun merasa terharu harus meninggalkan puncak yang sudah dialami selama belasan tahun itu.

******

Kiranya tidak sukar untuk diduga siapa adanya kakek tua aneh dan bocah nakal yang telah menolong Ong Hui belasan tahun yang lalu itu. Bocah itu bukan lain adalah Wang Tui yang sudah berganti nama menjadi Yalu Sun. Seperti telah dituturkan di bagian depan, Wang Tui, bayi cucu nenek lumpuh yang kehilangan kedua orang tuanya karena kekejaman tuan tanah di Loka, akhirnya dibawa lari oleh Ci Ying.

Akan tetapi bayi itu berpisah dari Ci Ying dan hanyut terbawa perahu. Tentu akan habis riwayat bayi itu kalau saja ia tidak ditolong oleh seorang kakek sakti yang kemudian menjadi gurunya. Kakek itu sebetulnya adalah seorang tokoh Kun-lun-pai yang sudah mengasingkan diri puluhan tahun lamanya. Ia malah masih pernah kakak seperguruan dari To Gi Couwsu, pada saat itu merupakan orang terutama di Kun-lun memiliki kepandaian yang luar biasa sekali.

Orang-orang sudah tidak mengenalnya lagi dan dia hanya disebut Pek-kong Kiam- sian (Dewa Pedang Sinar Putih). Adapun Wang Tui, bocah itu, tentu saja tidak diketahui namanya dan oleh Pek-kong Kiam-sian diberi nama Yalu Sun (cucu sungai Yalu-cangpo), sesuai dengan keadaannya, ditemukan di atas perahu yang berada di sungai Yalu-cangpo.

Selama dua puluh tahun lebih, Pek-kong Kiam-sian yang dahulunya bernama Tok Tek Cinjin, menurunkan ilmu kepandaiannya kepada muridnya ini, yang ternyata amat cerdik dan berbakat. Bakatnya ini sudah dibuktikan ketika dalam usia tujuh tahun dia sudah dapat menghadapi Ga Lung Hwesio mengandalkan kelincahan tubuhnya.

Dengan amat tekun Wang Tui atau Yalu Sun, (lebih baik kita menyebutnya Yalu Sun karena bocah itu sendiri tidak tahu bahwa ia bernama Wang Tui) belajar ilmu dan akhirnya ia berhasil mewarisi ilmu kepandaian suhunya. Melihat muridnya telah tamat dan tidak ada apa-apa lagi yang dapat ia ajarkan, Pek-kong Kiam-sian lalu berpisah dari muridnya. “Muridku, ada saat berkumpul harus ada saat berpisah. Kau sudah tamat belajar, kepandaianmu sudah tak kalah olehku hanya tinggal mematangkan dalam latihan saja. Sekarang tugasku selesai, kau boleh pergi kemana sesukamu.”

Yalu Sun berlutut dan menangis. “Suhu, mohon kasihan. Teecu tidak sanggup meninggalkan suhu. Biarlah teecu merawat suhu yang sudah tua, teecu tidak tega meninggalkan suhu seorang diri dalam usia tua.”

“Anak bodoh, berapa lama kau hendak mengeram dirimu di sampingku? Kalau umurku masih panjang, apakah kau hendak mengawaniku sampai kau menjadi seorang tua pula? Usiamu kini sudah dua puluh dua tahun, sudah lebih dari dewasa untuk hidup sendiri mencari pengalaman.”

“Suhu adalah satu-satunya orang di dunia ini yang teecu kenal, suhu adalah guruku juga pengganti orang tuaku. Bagaimana teecu tega untuk berpisah selagi suhu sudah amat tua?”

“Heh, apa kau masih banyak bantahan? Tidak terpisah sekarang, tentu akan datang saatnya berpisah. Mana ada manusia hidup kekal di dunia ini? Kau seorang manusia, tentu dahulu ada yang melahirkan kau, tentu ada ayah dan ibumu. Sudah menjadi kewajibanmu setelah kau sekarang memiliki kekuatan dan kepandaian, kau mencari ayah ibumu itu. Aku sendiri tidak tahu siapa mereka, akan tetapi karena kau mempunyai darah Tibet, tidak salah lagi orang tuamu tentulah tinggal di barat.

Berangkatlah ke Lasha dan di sana kau boleh mencari-cari keterangan tentang ayah bundamu itu. Pekerjaan ini tidaklah mudah, Sun-ji, karena aku sendiri tidak tahu siapa mereka itu dan siapakah kau ini sebenarnya. Nah, berangkatlah dan berhati-hatilah.

Aku sendiri hendak merantau, mencari tempat yang cocok untuk melewati hari tua dengan aman dan damai.”

Terbangun semangat Yalu Sun ketika gurunya bicara tentang orang tuanya. Memang semenjak kecil ia amat rindu untuk mengetahui dan mencari ayah bundanya yang sama sekali tidak dikenalnya, tidak diketahui pula namanya. Ia berlutut lagi untuk menghaturkan terima kasih atas pimpinan yang penuh cinta kasih selama dua puluh tahun lebih dari suhunya.

Akan tetapi sebelum ia mengucap sesuatu, berkelebat bayangan putih dan kakek itu sudah lenyap dari depannya. Hanya sebatang pedang terletak di depan Yalu Sun sebagai pengganti kakek itu. Yalu Sun menghela napas dan mengambil pedang itu.

“Suhu benar-benar mengharuskan aku turun gunung, pedang Pek-kong-kiam ditinggalkan untukku. Kalau aku tidak dapat mencari orang tuaku sampai berhasil bukankah sia-sia saja pengharapan suhu?”

Tak lama kemudian pemuda inipun meninggalkan puncak itu mulai dengan perjalanannya ke barat. Yalu Sun berusia dua puluh satu tahun atau dua puluh dua tahun, tubuhnya tegap, wajahnya berseri matanya kocak tanda wataknya periang. Pakaiannya sederhana sekali dan pedang Pek-kong-kiam tergantung di pinggang kiri. Dengan ilmu meringankan tubuh, ia berlari cepat sekali.

****** Sungguh merupakan hal yang amat kebetulan bahwa waktu Yalu Sun turun gunung, hanya sebulan yang lalu Bi Hong juga meninggalkan Kun-lun-pai menuju ke barat. Marilah kita mengikuti perjalanan Bi Hong yang juga melakukan perjalanan cepat dan hanya terpisah dua-tiga ratus lie saja dari Yalu Sun.

Dengan penuh semangat, gadis itu bersama twa-suhengnya, yaitu Lee Kek Tosu, melakukan perjalanan ke barat. Menurut keterangan yang mereka dapatkan di tengah perjalanan, dusaun Loka berada di lembah sungai Yalu-cangpo dan ke dusun inilah mereka menuju.

Pada suatu sore ketika mereka tiba di luar sebuah hutan kecil, mereka mendengar suara laki-laki yang amat nyaring memaki-maki dan suara ketawa perlahan. Lee Kek Tosu terkejut mendengar suara ketawa ini yang menunjukkan bahwa orangnya tentulah seorang ahli lweekang yang berkepandaian tinggi.

Agaknya orang sedang bertengkar di dalam hutan. Mari kita lihat, twa-suheng,” kata Bi Hong.

“Marilah, akan tetapi di tempat asing ini harap kau suka bersabar dan jangan mencampuri urusan orang lain,” tosu itu memperingatkan sumoinya.

Sambil beridap mereka menghampiri tempat itu dan bersembunyi di balik pohon- pohon. Ternyata bahwa suara ribut-ribut itu datang dari tengah hutan dan di situ mereka melihat seorang pemuda sedang berdiri berhadapan dengan dua orang hwesio Tibet.

Pemuda ini masih muda sekali, paling banyak berusia enam belas atau tujuh belas tahun, akan tetapi tubuhnya tegap dan kelihatan amat kuat, wajahnya membayangkan kegagahan dan dipunggungnya tampak sebatang pedang panjang. Pemuda ini sedang marah-marah dan sambil membanting kaki ia berseru.

“Hwesio-hwesio bau! Sudah kukatakan namuku Kalisang dan aku bertanya baik-baik kepada kalian tentang kota Lasha. Mengapa sebaliknya kalian tidak tahu malu bertanya-tanya tentang keluargaku? Minggirlah, aku Kalisang tidak sudi bicara lagi denganmu.”

Bi Hong yang mengintai dari balik pohon menjadi heran sekali. Pemuda tegap itu berpakaian seperti orang Han, akan tetapi air muka dan bahasanya membayangkan bahwa dia adalah seorang Tibet.

Seorang di antara dua orang hwesio itu, yang tua bertubuh gemuk dan memegang tongkat bambu kuning kecil panjang tertawa. Suara ketawanya perlahan akan tetapi menggetarkan dan inilah suara ketawa yang tadi mengejutkan hati Lee Kek Tosu.

“Ha-ha-ha, pemuda bernyali harimau. Biarpun kau berlagak seperti orang Han, semua orang dapat melihat bahwa kau seorang bocah Tibet. Sebagai orang Tibet, mengapa kau begini kurang ajar berani bersikap kasar terhadap seorang pendeta Lama? Bahkan srigala-srigala hitam yang berkeliaran di sini tidak berani berlaku kurang patut terhadap pinceng. Hayo lekas katakan kau anak siapa, murid siapa dan apa keperluanmu mencari kota Lasha?”Ucapan terakhir ini mengandung ancaman dan tekanan.

“Pendeta bau! Justeru aku tidak mau menghormat semua pendeta Lama yang jahat- jahat, habis kau mau apa? Orang tuaku tidak ada sangkut paut, gurukupun tidak, tak perlu kau kenal mereka. Kau mau tahu mengapa aku hendak ke Lasha? Dengarlah, aku hendak membasmi keledai-keledai gundul!”

Hwesio gemuk pendek itu marah sekali, kawannya mengeluarkan suara. “Iihhh. ”

dan meraba-raba kepalanya yang gundul. Bi Hong juga kaget dan twa-suhengnya berbisik, “Hemmmm, bocah ini lancang mulut dan nekad sekali.”

Akan tetapi Bi Hong memuji kagum. “Dia benar-benar bernyali harimau.”

“Bocah gila!” hwesio yang tadi meraba kepalanya membentak. “Setan cilik macammu ini berani mengeluarkan omongan seperti itu? Lihat, kedua tanganku cukup untuk membekuk lehermu, jangan sebut lagi para guru besar di Lasha itu? Jagalah!” Hwesio ini yang memegang sebuah tongkat kayu sebesar mulut mangkuk, benar-benar melemparkan tongkatnya ke tanah, lalu dengan kedua tangan kosong ia menubruk, tangan kiri menghantam kepala, tangan kanan mencengkeram dada pemuda tanggung itu.

Serangan ini hebat sekali dan dari bunyi angin pukulannya dapat diketahui bahwa hwesio yang mukanya putih ini memiliki kepandaian lumayan dan tenaganya besar. Akan tetapi lebih hebat sambutan anak muda itu. Pukulan ke arah kepalanya ia tangkis dengan tangan kanan, sedangkan cengkeraman ke arah pundak ia biarkan saja. Sambil mengerahkan tenaganya ia malah membalas dengan pukulan telapak tangan ke arah jidat hwesio itu.

“Plakkk. !!” Hwesio itu terkena tampar jidatnya, menjerit ngeri dan tangannya yang

sudah mencengkeram pundak pemuda itu terlepas, tubuhnya lemas dan ia roboh telentang di atas tanah, tak bernapas lagi. Di atas jidatnya terdapat tanda lima buah jari tangan hitam dan seluruh mukanya berubah hijau.

“Ganas sekali. !” Bi Hong bersru kaget.

Hwesio pendek gemuk itupun kaget melihat kawannya tewas seketika, lebih-lebih kagetnya melihat muka kawannya itu yang berubah kehijauan. Hampir berbareng, hwesio gemuk pendek ini dan Lee Kek Tosu berseru kaget. “Cheng-hoa-pai  !”

Hwesio gemuk pendek itu dengan seruan marah lalu menyerang si pemuda, menggunakan tongkat bambunya dan ternyata ia lihai bukan main. Pemuda itupun mencabut pedangnya, pedang yang mengeluarkan sinar ungu. Ilmu pedangnya juga dahsyat dan ganas dan di lain detik mereka sudah bertempur mati-matian.

“Twa-suheng, apakah itu Cheng-hoa-pai?” tanya Bi Hong terheran-heran sambil memandang ke arah pertempuran. Lee Kek Tosu menggelengkan kepalanya. “Tidak baik..... tidak baik. maka suhu

tidak pernah bercerita, juga pinto dan para sute tidak mau menceritakan kepadamu. Cheng-hoa-pai berpusat di Heng-toan-san, jadi masih tetangga kita.

Akan tetapi oleh karena sepak terjang mereka tidak cocok dengan kita, maka di antara kita dengan mereka tidak ada hubungan sesuatu. Ketuanya adalah Cheng Hoa Suthai, seorang pendeta wanita yang amat lihai.”

Tadinya Bi Hong menengok suhengnya, kini ia melirik lagi ke arah pemuda itu dan melihat bahwa pertempuran makin hebat di mana kedua pihak sama kuatnya. Ia makin heran. Pemuda itu baru belasan tahun, dan pendeta gundul yang melawannya amat lihai, akan tetapi kenyataannya pemuda itu dapat mempertahankan diri dengan amat baiknya.

“Suheng tadi menyebut Cheng-hoa-pai setelah melihat dia, apakah dia anggautanya?”

“Sukar dikatakan demikian. Menurut pendengaran dan setahuku, Cheng-hoa-pai adalah perkumpulan wanita, tidak pernah mempunyai anak murid pria. Akan tetapi pukulannya tadi, yang mematikan hwesio itu, tidak salah lagi, itulah pukulan Cheng- hoa-tok-jiu (Pukulkan Beracun Kembang Hijau) dari Cheng-hoa-pai.” Pendeta Kun- lun ini menggeleng-geleng kepala lalu menggerendeng. “Apakah Ceng Hoa Suthai telah mengambil murid seorang pria?”

Sementara itu, pertempuran di depan makin seru. Hwesio pendek itu tadinya masih tertawa-tawa dalam marahnya, akan tetapi sekarang tidak bisa ia ketawa lagi, tidak sempat. Ternyata bocah itu benar-benar lihai dan gerakan-gerakannya amat dahsyat dan ganas.

“Setan kecil, pernah apa kau dengan siluman betina Ci Ying?” bentak pendeta gundul itu sambil menahan pedang lawan dengan tongkatnya.

Mendadak pemuda itu marah sekali mendengar pertanyaan ini. “Tutup mulutmu yang kotor, hwesio keparat!”

Dan pedangnya menyerang lagi dengan hebat. Akan tetapi hwesio itu menang pengalaman. Agaknya sekarang ia tahu bagaimana harus menghadapi pedang si pemuda. Ia berlaku lambat dan menghadapi lawannya dengan mengerahkan tenaga “lembek”.

Seorang ahli lweekang dapat menguasai tenaganya dan dapat menggunakan tenaganya dalam bentuk keras maupun lembek. Tahu bahwa pemuda itu keras hati, bernafsu dan bertenaga besar, ia lalu menggunakan siasat, melawan dengan tenaga lembek.

Pemuda itu kaget sekali ketika mendadak pedangnya terbetot dan seperti mengenai tempat kosong apabila bertemu dengan tongkat lawan. Dalam kagetnya, ia segera didesak dan sebentar saja repotlah ia karena berada dalam keadaan terdesak.

“Twa-suheng, mari kita bantu dia.” “Bantu siapa?” tanya Lee Kek Tosu sambil memandang sumoinya. “Kedua-duanya kita tidak kenal, mengapa mesti mencampuri urusan orang lain?”

Merah wajah Bi Hong, lalu gadis ini tersenyum. “Twa-suheng, jangan salah sangka. Sekali-kali siauwmoi bukan hendak mencampuri urusan orang dan juga tidak hendak pilih kasih dan berat sebelah. Aku hendak turun tangan dengan alasanku yang kuat.”

“Alasan apa? Siapa yang hendak kau bantu?”

“Tentu saja membantu si pemuda itu. Dengan dia kita tidak pernah kenal, akan tetapi bukankah lawannya itu seorang pendeta Lama dari Tibet? Twa-suheng maklum bahwa yang membunuh kong-kong dan supek-couw adalah hwesio-hwesio dari Tibet. Semua hwesio Lasha jahat dan harus dibasmi. Karena itu biarpun tidak tahu urusannya, sudah terang yang jahat adalah si hwesio itu.”

Lee Kek Tosu menarik napas panjang dan menggeleng-geleng kepalanya. “Alangkah banyaknya penganut-penganut To yang menyeleweng. Apakah dengan adanya tosu- tosu yang menyeleweng, kaupun lalu menganggap bahwa semua tosu itu jahat? Tidak bisa demikian, sumoi. Memang banyak hwesio Tibet yang jahat, akan tetapi tidak mungkin kita menyama ratakan saja dan menganggap seluruh hwesio Tibet itu jahat- jahat belaka. Kita harus berhati-hati, dapat membedakan mana yang buruk dan mana yang baik. Kalau kita turun tangan secara sembrono lalu salah tangan membantu yang jahat mencelakakan yang baik dan benar, ke mana kita hendak menaruh muka sebagai murid-murid Kun-lun-pai?”

14. Pencaharian Sang Ayah.

Bi Hong terbelalak memandang suhengnya, baru ia sadar bahwa ia tadi memang terburu nafsu. Ia menepuk pipi sendiri sambil berkata. “Ah, bocah tolol, hampir saja kau menimbulkan onar!” Melihat lagak sumoinya, mau tak mau tosu itu tersenyum.

“Biarpun begitu, kalau didiamkan saja, seorang di antara mereka tentu akan tewas. Mari, kita pisahkan mereka, sumoi!”

Ajakan Lee Kek Tosu ini pada saat yang tepat karena pada waktu itu pemuda tegap itu sudah kena ditendang lututnya dan roboh terguling. Hwesio itu tertawa mengejek dan mengejar dengan tongkat diputar-putar, siap menjatuhkan pukulan maut.

Tiba-tiba hwesio gemuk pendek itu melihat sinar kuning emas yang panjang dan cepat menyambar tongkatnya. Tongkatnya terpental dan ia kaget sekali melihat bahwa penangkisnya adalah seorang gadis cantik yang memegang sebatang pedang.

Ia kaget dan kagum sekali akan gerakan pedang yang demikian cepatnya dan tahu bahwa yang datang adalah seorang lawan yang berat pula. Namun ia penasaran sekali karena datang-datang gadis itu menolong pemuda itu, maka ia lalu mengayun tongkat menyerang Bi Hong.

“Siancai. !” terdengar orang memuja dan tongkatnya kembali tertangkis pedang

lain. Tangan hwesio itu tergetar dan ia merasa telapak tangannya sakit sekali. Ia menjadi semakin kaget melihat penangkisnya seorang tosu tua yang memegang pedang di tangan.

Celaka, pikirnya, kalau gadis tadi memiliki kiam-hoat yang amat cepat dan lihai, adalah tosu ini memiliki lweekang yang luar biasa kuatnya. Ia menarik napas panjang, cepat membungkuk untuk memberi hormat akan tetapi sekalian ia menyambar mayat kawannya, lalu memutar tubuh dan berlari cepat.

“Pinceng Ga Lung Hwesio tidak bersedia untuk bertempur, lain kali bertemu kembali.” Dengan kata-kata ini, ia lalu melompat ke atas punggung seekor kuda yang ternyata dilepas begitu saja di dekat tempat itu, lalu membalapkan tunggangannya.

Baik Bi Hong maupun Lee Kek Tosu terkejut bukan main mendengar hwesio itu menyebut namanya Ga Lung Hwesio. Itulah orangnya, atau seorang di antaranya, yang dicari-cari oleh Bi Hong, musuh besar yang dulu sudah menyerbu tempat tinggal kong-kong dan ibunya. Akan tetapi mereka tidak berdaya mengejar karena hwesio itu sudah membalapkan kudanya dan sudah jauh sekali, tidak mungkin dikejar dengan lari cepat.

“Manusia-manusia sombong! Perlu apa kalian datang mengganggu aku?” tiba-tiba suara yang galak dan nyaring ini membuat dua orang kakak adik seperguruan itu memutar tubuh dan memandang kepada pemuda tegap yang kini sudah berdiri menghadapi mereka dengan dada terpentang. Pemuda itu benar-benar gagah sekali, akan tetapi mudah diduga bahwa dia keras hati dan keras kepala.

Bi Hong adalah seorang gadis yang lincah gembira, akan tetapi mendengar suara dan melihat sikap yang galak ini naiklah darahnya. Ia menghadapi pemuda itu dan berkata mengejek.

“Setan, kenapa tingkahmu begini? Kalau tidak twa-suheng dan aku datang mengganggu, apakah kau sekarang bukannya sudah menjadi setan tak berkepala? Huh, ditolong orang tidak mengerti, malah memaki orang sombong. Yang sombong engkau, bukan kami.”

Ditegur begitu, pemuda itu merah mukanya, akan tetapi matanya melotot berani kepada Bi Hong. “Siapa membutuhkan pertolonganmu?”

“Eh, eh, sudah terang kau jatuh dan hampir dibinasakan hwesio itu, masih bilang tidak butuh pertolonganmu!” kata Bi Hong penasaran.

Pemuda itu tersenyum mengejek. “Aku belum mati, mana bisa dihitung kalah? Kalau kalian tidak datang mengganggu, hwesio jahanam itu pasti sudah mampus di tanganku. Hemm, kalian benar-benar mengganggu. Sudahlah!” Pemuda itu memutar tubuh dan hendak pergi.

“Congsu (tuan gagah), tunggu dulu!” Lee Kek Tosu berseru dan mengejar. Setelah pemuda itu membalikkan tubuh menghadapinya, sambil menjura tosu tua ini bertanya. “Bolehkah pinto mengetahui congsu masih ada hubungan apa dengan Cheng Hoa Suthai dan kenapa congsu memusuhi Ga Lung Hwesio dari Lasha?” Mendengar pertanyaan ini, baru Bi Hong ingat bahwa pertanyaan kedua itu penting sekali. Dia sendiri turun gunung dengan maksud membalas dendam kepada Ga Lung Hwesio dan Thu Bi Tan Hwesio, mengapa sekarang bocah kepala batu ini juga memusuhi Ga Lung Hwesio?

Dengan matanya yang lebar dan bersinar tajam, bocah itu memandang Lee Kek Tosu lalu menjawab, suaranya nyaring dan mantap, tanda bahwa dia orang jujur, terbuka, keras hati dan tidak mau mengalah akan tetapi penuh dengan kegagahan dan keadilan.

“Cheng Hoa Suthai adalah sucouwku (nenek guru) dan aku tidak mengenal siapa itu Ga Lung Hwesio. Pendeknya, semua hwesio Tibet kepala gundul adalah musuh- musuhku yang harus kubunuh semua. Sudahlah, aku tidak ada waktu lagi, harus mengejar keledai gundul itu!” Setelah berkata demikian pemuda itu melompat jauh dan berlari cepat sekali melakukan pengejaran.

“Twa-suheng, pemuda itu agaknya juga mempunyai permusuhan yang sama dengan kita,“ kata Bi Hong. “Mari kita juga menuju ke Lasha. Jika kita dan dia bekerja sama, kedudukan kita lebih kuat.”

Lee Kek Tosu memandang sumoinya dengan sinar mata tajam menyelidik. “Sumoi, bukankah karena kau mengkhawatirkan bocah itu dan ingin membantunya menghadapi para pendeta Lasha yang lihai?”

Bi Hong menjadi merah mukanya. Karena berkumpul sejak kecil, ia maklum bahwa pandangan twa-suheng ini tajam luar biasa.

Iapun tidak bisa membohong terhadap twa-suheng ini, maka sambil mengangguk, ia menarik napas dan berkata, “Pemuda itu kasar dan keras hati, suheng. Akan tetapi entah mengapa, aku mendapat perasaan bahwa dia bukan orang sembarangan, ada sifat-sifat gagah pada dirinya, dan tentu ia mengandung sakit hati besar sekali terhadap para pendeta di Lasha. Akan tetapi karena dia kasar dan sembrono, pasti dia akan celaka. Kitapun bertujuan mencari musuh besar kong-kong, terutama Ga Lung Hwesio yang lari ke Lasha, apakah tidak baik kita sekalian menyusul dan membantu pemuda itu?”

Lee Kek Tosu mengangguk-angguk, lega hatinya karena sumoinya tertarik dan kagum melihat pemuda itu adalah sewajarnya, bukan terselip kekaguman wanita terhadap pria.

“Memang perasaanmu tidak jauh dengan perasaanku, sumoi, Pemuda itu itu bukan sembarangan, dia murid Cheng Hoa Suthai yang terkenal ganas, akan tetapi pemuda itu sendiri gagah dan jujur. Akan tetapi, di daerah Tibet ini sejak dulu penuh dengan soal-soal penasaran, banyak terjadi penindasan dan sakit hati. Kalau kau menuruti hati dan perasaan, jangan-jangan akan terjadi apa yang dikhawatirkan oleh suhu, yaitu permusuhan yang tiada habisnya antara Tibet dan Kun-lun. Persoalanmu dengan para pendeta di Lasha seperti kata suhu adalah urusan ayahmu, maka lebih baik kita mencari dulu ayahmu sebelum turun tangan. Kalau kita salah tangan, bukankah suhu akan marah sekali?” Bi Hong tidak dapat membantah. Memang ia tadi terlalu menurutkan nafsu, ingin lekas-lekas membalas musuh besarnya dan juga khawatir melihat pemuda tadi melakukan pengejaran seorang diri. Urusan sendiri belum beres, mengapa melibatkan diri dengan urusan orang lain? Ia mengangguk dan dua orang itu lalu melanjutkan perjalanan mereka, tidak ke Lasha, melainkan ke Loka, dusun di lembah sungai Yalu- cangpo.

Memang mendiang Ong Hui tidak banyak bercerita kepada para tosu Kun-lun-pai. Bagaimana nyonya muda itu dapat bercerita mengeluarkan isi hatinya tentang suaminya yang dirampas wanita lain? Ia menderita seorang diri, sama sekali tidak mau menceritakan pengalamannya ketika berhadapan dengan Ci Ying yang merampas suaminya. Oleh karena itulah, puterinya tidak mendengar banyak dari para tosu di Kun-lun.

Bahkan To Gi Couwsu sendiri hanya tahu bahwa anak itu puteri Wang Sin murid Cin Kek Tosu dan bahwa Wang Sin berasal dari Loka. Ong Hui menceritakan ke mana perginya Wang Sin, hanya bilang bahwa suaminya itu meninggalkannya untuk menyelesaikan urusan dendam para budak di Tibet.

Maka ketika memasuki dusun Loka, Bi Hong dan Lee Kek Tosu sama sekali tidak tahu bahwa dusun ini sudah berubah banyak. Para hamba taninya sudah berganti lain orang, juga tuan tanahmya.

Akan tetapi melihat cara para budak bekerja di sawah, tidak dijaga tukang-tukang pukul, bekerja rajin sambil bernyanyi-nyanyi, Bi Hong dan Lee Kek Tosu mengerti bahwa keadaan para budak itu tidak boleh dibilang sengsara, dan kenyataan bahwa mereka suka bekerja dengan gembira tanpa dijaga tukang pukul, membuktikan bahwa jaminan hidup mereka tentu saudah mencukupi. Mereka berhenti bekerja dan memandang dengan heran dan kagum ketika melihat kedatangan seorang gadis Han yang cantik jelita bersama seorang tosu.

“Apakah di antara saudara ada yang tahu di mana tempat tinggal seorang bernama Wang Sin?” tanya Bi Hong dalam bahasa Tibet yang fasih. Memang gadis ini, juga Lee Kek Tosu, paham bahasa Tibet, bahkan Bi Hong sejak kecil sudah diberi pelajaran bahasa ini oleh To Gi Couwsu yang tahu bahwa ayah anak ini adalah seorang Tibet. Tidak mengherankan apabila bahasanya cukup baik.

Akan tetapi para budak itu tidak mengenal Wang Sin dan mereka menggeleng-geleng kepala setelah saling bertanya kalau-kalau ada yang mengenalnya. Tiba-tiba seorang kakek tua yang memegang cangkul membungkuk-bungkuk maju menghadapi Bi Hong. Wajah orang tua ini keriputan dan kulitnya coklat karena dimakan panas matahari. Matanya yang sipit hampir meram itu mengamat-amati Bi Hong, lalu ia bertanya.

“Nona masih ada hubungan apakah dengan orang yang bernama Wang Sin?” Suaranya mengandung curiga dan pandang matanya menyelidik. Bi Hong dapat menangkap suara curiga ini, maka ia tersenyum manis untuk melegakan hati orang.

“Lopek,” katanya manis budi, “Aku masih ada hubungan dekat dengan Wang Sin itu, apakah lopek kenal padanya dan di mana adanya dia sekarang?” Kakek itu menggeleng-geleng kepalanya lalu menarik napas panjang. “Dia pahlawan besar ..... pahlawan besar. ” setelah berkata demikian ia lalu kembali ke tempat

kerjanya sambil berkata kepada kawan-kawannya. “Kawan-kawan, hayo kita bekerja lagi, kita tidak bisa meninggalkan pekerjaan!”

Semua orang teringat akan pekerjaannya dan kembalilah mereka sibuk dengan pekerjaannya di sawah. Bi Hong girang sekali mendengar ucapan tadi, akan tetapi iapun heran mengapa kakek itu agaknya tidak suka banyak bercerita tentang Wang Sin, ayahnya. Sambil berkedip pada twa-suhengnya, ia lalu menghampiri kakek itu dan berbisik.

“Lopek kau curiga padaku, itu sudah sepatutnya. Akupun tahu bahwa dia itu seorang pahlawan besar. Ketahuilah, aku ini puterinya dan semenjak kecil aku tidak melihat ayahku itu. Aku hendak mencari dia, tolonglah kau memberi petunjuk.”

Kakek itu tampak kaget lalu memandang Bi Hong penuh perhatian. “Kau. kau tidak

sama dengan Ci Ying, apa betul kau anak Ci Ying?” “Bukan, lopek. Ibuku she Ong. ”

“Ah, nyonya muda Han itu?”

Bi Hong terkejut dan makin girang. Tentu orang tua ini dapat bercerita banyak, maka ia lalu menggandeng tangannya diajak keluar dari sawah. “Lopek tolonglah aku, ceritakanlah tentang ayah. Biarkau tinggalkan pekerjaanmu sebentar, aku yang bertanggung jawab kalau tuan tanah marah kepadamu.” Bi Hong menepuk-nepuk gagang pedangnya.

Kakek itu memandang kagum. “Kau gagah, seperti dia. ! Baiklah, dengar ceritaku.”

Ia lalu duduk di galengan sawah dan bercerita, didengarkan oleh Bi Hong dan Lee Kek Tosu yang duduk di depannya, di atas tanah lempung.

Berceritalah kakek itu tentang diri Wang Sin dan Ci Ying, bagaimana mereka menjadi korban tuan tanah sampai mereka itu lari minggat, bagaimana ayah dua orang muda itu tewas oleh kaki tangan tuan tanah.

Kemudian ia bercerita pula dengan gembira, betapa Wang Sin enam belas tahun yang lalu datang lagi dengan isterinya, seorang nyonya muda bangsa Han yang cantik dan gagah dan betapa suami isteri ini membasmi tuan tanah di Loka dan membebaskan semua budak yang tertindas.

Juga ia ceritakan bagaimana kemudian muncul Ci Ying yang sudah berubah menjadi seorang wanita gagah yang amat ganas dan mengerikan, dan kemudian betapa isteri Wang Sin itu diserang oleh Ci Ying lalu pergi meninggalkan suaminya.

Bi Hong mendengarkan cerita itu dengan amat terharu. Ia sampai mengucurkan air mata ketika mendengar penuturan tentang ayahnya di waktu muda dan menggertakkan giginya mendengar penindasan tuan tanah. Akan tetapi ia berdebar dan menjadi pucat ketika mendengar tentang pertemuan Ci Ying, tunangan ayahnya itu dengan ibunya sampai ibunya diserang kemudian ibunya pergi meninggalkan ayahnya dan gadis Tibet itu.

“Kemudian bagaimana, lopek yang baik?” tanyanya, suaranya gemetar dan wajahnya masih pucat.

Kakek itu sekarang percaya bahwa gadis ini benar-benar puteri Wang Sin dan nyonya Han itu, sekarang ia ingat bahwa wajah gadis ini memang sama dengan wajah nyonya Han yang menjadi isteri Wang Sin. Ia menghela napas dan melanjutkan penuturannya.

“Memang Ci Ying, gadis yang dulu riang jenaka itu telah berubah menjadi wanita ganas sekali. Ia membunuh-bunuhi kaki tangan tuan tanah dengan amat kejam.

Kemudian Wang Sin dan Ci Ying mengawal kami para budak untuk melarikan diri ke timur. Semua budak sudah pergi membawa bekal yang cukup untuk memulai hidup baru. Jasa mereka amat besar, selama hidup akan diingat oleh kami bangsa budak.

Sayang sekali dalam kehidupan Wang Sin muncul peristiwa yang amat sulit dan ruwet antara dia, isterinya orang Han itu, dan tunangannya. Aku sendiri setelah merantau sepuluh tahun lebih, tidak dapat menahan rinduku akan kampung halaman di Loka di mana aku dilahirkan dan dibesarkan, biarpun dalam keadaan menderita maka aku lalu kembali ke sini, bekerja lagi sebagai budak. Akan tetapi, keadaannya sekarang lain.

Para budak tidak tertindas seperti dulu. Kalau masih seperti dulu, mana aku sudi bekerja lagi seperti budak?”

Saking bingung dan terharunya mengingat akan nasib yang diderita oleh ibunya, sampai lama Bi Hong tidak dapat berkata-kata. Adalah Lee Kek Tosu yang berkata.

“Terima kasih banyak atas semua penuturanmu, loheng. Hanya sekarang kami mohon keterangan penting darimu. Apakah kau tahu, di mana sekarang kami dapat menjumpai Wang Sin?”

“Mana aku bisa tahu? Dia dan Ci Ying setelah mengantar kami sampai jauh, lalu pergi dan sampai sekarang tidak pernah muncul kembali. Akan tetapi, perbuatannya yang gagah dan mulia itu ternyata telah membuat para tuan tanah berubah dan kehidupan para budak sekarang tidak begitu buruk seperti dahulu. Sampai mati aku tak dapat melupakan Wang Sin dan Ci Ying!”

Karena tidak bisa mendapatkan keterangan yang lebih jelas tentang di mana adanya ayahnya, setelah berada di dusun tempat kelahiran ayahnya itu selama tiga hari, Bi Hong dikawani twa-suhengnya, lalu mulai dengan perjalanannya mencari Wang Sin. Banyak dusun mereka jelajahi dan ternyata nama Wang Sin dan Ci Ying terkenal sekali, dikenal oleh hampir semua budak di daerah itu.

Akan tetapi sungguh menyedihkan sekali, keadaan para budak yang baik nasibnya atau setidaknya yang tidak begitu tertindas lagi oleh tuan tanah dan begundal- begundalnya hanyalah di dusun Loka itulah. Di dusun-dusun lain, keadaan masih seperti dahulu ketika Wang Sin masih menjadi budak.

Sampai berbulan-bulan Bi Hong dan Lee Kek Tosu mencari Wang Sin di dusun- dusun sekitar Tibet, namun hasilnya sia-sia, bukan saja Wang Sin tidak dapat ditemukan, bahkan namanya hanya dikenal di kalangan budak sebagai dongeng seorang pahlawan budak. Memang, semenjak berabad-abad para budak ini hidup seperti hewan ternak, tidak ada yang memikirkan nasib mereka, jangankan membela. Maka pembelaan Wang Sin untuk membebaskan para budak di Loka merupakan hal yang mirip dengan dongengan bagi mereka itu.

“Suheng, kiranya sudah cukup kita mencari ayah di daerah ini. Ayah tidak ada di sini dan kurasa kalau ayah tidak pindah ke timur, tentu ayah berada di Lasha,” akhirnya Bi Hong berkata kepada suhengnya dengan hati kecewa.

“Tidak mungkin di Lasha. Di sana berkumpul musuh-musuh besar ayahmu, mana bisa ia tinggal di sana? Agaknya betul kalau dia sudah pindah jauh dari Tibet yang kini menjadi tempat berbahaya baginya karena semua pendeta tentu memusuhinya setelah dia membunuh pendeta-pendeta di Loka.”

“Suheng, pesanan suhu untuk mencari ayah lebih dulu sudah kita penuhi, sekarang setelah tidak berhasilmencari ayah, aku mau langsung saja pergi ke Lasha untuk mencari Ga Lung Hwesio dan Thu Bi Tan Hwesio.”

“Apa kau sudah pikir masak-masak akan hal ini, sumoi? Di Lasha berkumpul banyak pendeta-pendeta yang sakti.”

“Apa kau takut, suheng? Biarlah siauwmoi pergi sendiri dan twa-suheng kembali saja ke Kun-lun-pai memberi laporan kepada suhu.”

Lee Kek Tosu mengerutkan keningnya. “Kau bicara apa ini, sumoi? Kau yang masih begini muda tidak gentar menghadapi musuh, apakah kau kira aku yang sudah tua takut mati? Tugasku membantu dan melindungimu, biar bertaruhkan nyawa sekalipun pinto harus mengawanimu ke Lasha.”

Bi Hong cepat-cepat menjura kepada suhengnya minta maaf, hatinya gembira. Memang dengan bantuan suhengnya ini, ia tidak takut biarpun mendengar di Lasha banyak terdapat orang-orang sakti. Sebagai seorang harimau betina yang muda mana ia takut melawan musuh? Maka ia segera mengajak suhengnya berangkat ke Lasha dengan penuh kegembiraan.

Berbeda dengan sumoinya, diam-diam Lee Kek Tosu berkhawatir karena tosu ini sudah cukup maklum bahwa tempat yang mereka tuju adalah pusat di mana berkumpul hwesio-hwesio Tibet yang berilmu tinggi. Ia tidak takut akan keselamatan diri sendiri, melainkan mengkhawatirkan keselamatan sumoinya yang masih begini muda.

Pada suatu hari mereka tiba di luar kota Lasha, di sebelah timur kota kurang lebih dua puluh lie dari kota Lasha. Karena hari itu amat panasnya, mereka menjadi lelah dan beristirahat di bawah pohon yang teduh, yang tumbuh di pinggir jalan. Bi Hong mengeluarkan makanan kering yang dibekalnya dan Lee Kek Tosu mengeluarkan tempat airnya untuk minum. Sudah hampir satu tahun dua kakak beradik seperguruan ini merantau di daerah Tibet dan perhubungan mereka sudah seperti kakak dan adik atau malah seperti keponakan dan paman. “Twa-suheng, kau banyak membuang waktu dan tenaga untuk kepentinganku. Benar- benar kau seorang suheng yang amat baik,” kata Bi Hong terharu melihat kakek yang sudah tua itu menenggak air.

Lee Kek Tosu tersenyum. “Sumoi, mengapa kau mengeluarkan kata-kata sungkan? Semenjak kau masih bayi, aku sudah berada di sampingmu, malah dahulu akulah yang menggendongmu dan menimang-nimangmu. Terhadap kau, aku adalah suheng menurut hubungan perguruan, akan tetapi di dalam hatiku kau tiada bedanya seperti anak, keponakan, atau cucuku sendiri.”

Bi Hong terharu, akan tetapi karena dia mempunyai watak gembira, ia tertawa. “Twa- suheng, mana kau pantas menjadi engkong (kakek). Eh, twa-suheng, apakah kau dahulu tidak mempunyai keluarga sama sekali?”

Ditanya begini, wajah kakek itu menjadi muram. “dahulu aku mempunyai seorang isteri, akan tetapi..... kami tidak cocok pikiran, kami cekcok lalu. lalu bercerai.

Semenjak itu aku masuk menjadi tosu.”

Bi Hong menyesal telah mengajukan pertanyaan itu yang berarti mengingatkan twa- suhengnya kepada pengalaman yang tidak bahagia itu. Ia tidak tahu bahwa sebetulnya dahulu ketika masih muda, isteri twa-suhengnya itu tidak setia dan melakukan perbuatan hina dengan seorang teman baik suhengnya itu sendiri.

Dalam kemarahannya, twa-suhengnya itu membunuh teman dan isterinya, kemudian merasa menyesal dan menjadi seorang tosu di Kun-lun-pai, menjadi murid kepala dari To Gi Couwsu. Ini pula sebabnya mengapa melihat nasib Ong Hui, seorang isteri yang amat setia akan tetapi ditinggalkan suaminya, Lee Kek Tosu merasa kasihan dan terharu sekali karena Ong Hui mempunyai watak baik dan nasib yang sebaliknya dari pada isterinya. Maka tidak mengherankan apabila ia menyayang puteri Ong Hui dan menganggap Bi Hong seperti anak sendiri.

Selagi Lee Kek Tosu dan Bi Hong bercakap-cakap sambil mengasoh di bawah pohon yang rindang, tiba-tiba dari jurusan timur mendatangi empat orang hwesio. Langkah kaki mereka yang ringan dan gerakan yang cepat dalam berlari menandakan empat orang hwesio itu adalah orang-orang yang memiliki ginkang tinggi dan berkepandaian.

“Hwesio-hwesio itu tentu hwesio dari Lasha dan hendak pergi ke kota itu,” kata Lee Kek Tosu. “Lebih baik kita jangan mencampuri urusan di sini, kita baik menyimpan tenaga untuk menghadapi musuh-musuh kita yang sebenarnya.”

Akan tetapi setelah hwesio-hwesio itu datang dekat Bi Hong mengeluarkan seruan marah. “Ihhh, bukankah dia si jahanam Ga Lung Hwesio!” Ia melompat sambil menghunus pedangnya. Lee Kek Tosu juga melihat bahwa seorang yang berlari di pinggir kiri adalah Ga Lung Hwesio, maka iapun ikut bersiap sedia. “Bagus,” katanya, “kita tak usah sukar-sukar mencari!”

Ga Lung Hwesio juga sudah melihat nona dan tosu itu. Ia menghentikan larinya dan berkata kepada kepada tiga orang kawannya itu. “Harap samwi suheng (kakak seperguruan bertiga) berhenti sebentar. Siluman betina dan tosu bau dari Kun-lun-pai ini agaknya hendak menghadang kita.”

Lee Kek Tosu memperhatikan tiga orang hwesio yang disebut suheng oleh Ga Lung Hwesio. Mereka ini adalah orang-orang Tibet asli, bertubuh tinggi besar berkulit hitam. Melihat sinar mata mereka, dapat diduga bahwa mereka adalah ahli-ahli lweekang yang tidak boleh dipandang ringan.

Sebelum Bi Hong mengeluarkan suara, Lee Kek Tosu yang tidak ingin menanam bibit permusuhan dengan orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan urusan mereka, cepat menjura kepada tiga orang hwesio hitam itu dan berkata.

“Pinto dan sumoi mempunyai permusuhan dengan dua orang hwesio Lasha, yaitu Ga Lung Hwesio dan Thu Bi Tan Hwesio. Dengan para losuhu yang lain, kami berdua tidak mempunyai urusan dan tidak ingin menimbulkan keributan.”

Ga Lung Hwesio mengeluarkan suara mengejek dan seorang di antara tiga orang hwesio tinggi besar itu menjawab, “Kami bertiga, Ge Khan, Ge Bun, dan Ge Thun adalah tiga orang murid Thu Bi Tan suhu. Entah urusan apa yang hendak toyu bereskan dengan suhu dan Ga Lung sute?”

Kagetnya hati Lee Kek Tosu bukan main mendengar bahwa tiga orang hwesio ini adalah murid-murid Thu Bi Tan Hwesio. Tidak bisa lain, ia harus menggempur mereka semua karena sebagai murid-murid Thu Bi Tan, tentu saja mereka akan membela guru mereka. Sementara itu Bi Hong sudah membentak Ga Lung Hwesio.

“Ga Lung Hwesio, bukankah kau bersama Thu Bi Tan Hwesio belasan tahun yang lalu telah menyerbu ke Kun-lun dan membinasakan Ong Bu Khai, Cin Kek Tosu, dan merusak tempat tinggalnya?”

Ga Lung Hwesio tertawa lagi. “Betul kata-katamu. Dua orang itu telah membiarkan murid-murid mereka melakukan pengacauan di Loka dan karenanya kami telah menghukum mereka. Apa hubungannya dengan kamu?”

Muka Bi Hong menjadi merah dan matanya berapi-api, “Hwesio keparat! Ketahuilah, bahwa aku Wang Bi Hong adalah cucu Ong Bu Khai. Ga Lung Hwesio, hutang nyawa bayar nyawa, bersiaplah kau untuk mati!”

“Ha-ha-ha, begitukah? Kiranya masih ada buntutnya peristiwa itu. Kau ini bocah kemaren sore, sombong amat hendak melawan Ga Lung Hwesio? Ha-ha-ha!”

“Hwesio tengik lihat pedang!” Cepat sekali pedang Bi Hong menyambar ke arah leher hwesio itu. Ga Lung Hwesio sudah pernah menyaksikan kelihaian dan kecepatan pedang Bi Hong ketika nona ini membantu Kalisang, maka ia tidak berani berlaku sembrono.

Biarpun mulutnya mentertawakan karena ia berada di dekat para suhengnya, namun di dalam hati ia tidak berani memandang rendah. Ia lalu mengelak dan menggerakkan toyanya. Di saat lain mereka sudah bertempur hebat sekali. Tiga orang hwesio itu bukanlah hwesio sembarangan. Tingkat mereka malah lebih tinggi dari tingkat Ga Lung Hwesio yang terhitung sutenya, karena mereka ini adalah tiga orang murid Thu Bi Tan Hwesio dan di Lasha mereka mempunyai kedudukan yang cukup tinggi. Oleh karena itu, mereka tentu saja tidak sudi melakukan pengeroyokan dan hanya melihat saja sute mereka bertanding dengan gadis itu.

Apalagi kalau mereka ingat bahwa sute mereka itu jauh lebih tua dari pada lawannya dan dalam hal ilmu silat, dilihat sekelebatan saja sute mereka takkan kalah.

Lee Kek Tosu juga maklum akan hal ini dan iapun tidak berani sembarangan turun tangan membantu sumoinya yang berarti mengeroyok Ga Lung Hwesio. Kalau ia terjun mengeroyok, maka tiga orang hwesio itupun mendapat alasan untuk turun tangan mengeroyok pula. Oleh karena itu, tosu yang cerdik ini lalu menjura kepada mereka sambil berkata.

“Karena Thu Bi Tan adalah suhu sam-wi, untuk menentukan siapa yang lebih unggul, pinto persilahkan di antara sam-wi maju mewakili suhu sam-wi. Pinto percaya penuh mengingat kedudukan kita, sam-wi tidak akan begitu rendah untuk melakukan pengeroyokan!”

Di antara tiga orang hwesio ini, kepandaian Ge Khan hwesio yang paling tinggi, juga dia yang paling tua dan paling berangasan. Mukanya menjadi makin hitam ketika mendengar ucapan itu.

“Tosu Kun-lun! Kau anggap pinceng ini siapakah maka mengeluarkan kata-kata demikian? Untuk menghadapi seorang tosu seperti kamu, pinceng seorang diri, sudah lebih dari cukup, untuk apa mencapaikan suhu? Sambutlah toyaku!”

Ge Khan Hwesio sudah menerjang maju dengan memutar toyanya yang mendatangkan angin bersiutan. Lee Kek Tosu bersikap waspada, cepat melompat mundur mencari tempat yang lega sambil menghunus pedangnya. Dua orang kakek jagoan ini lalu mulai bertempur.

Dua orang hwesio yang lain hanya menonton sambil menahan napas karena sudah dapat dilihat bahwa pertempuran-pertempuran itu, baik sute mereka Ga Lung Hwesio yang melawan nona itu, maupun Ge Khan Hwesio yang melawan tosu, adalah pertempuran mati-matian yang seimbang. Pedang nona itu cepat dan lihai, sedangkan pedang di tangan tosu itu mantap dan tenang, keduanya merupakan lawan yang amat berat.