-->

Naga Sakti Sungai Kuning Jilid 23

Jilid 23

Han Beng yang sejak tadi memang diam saja dan masih berlutut, kini bangkit berdiri. "Suhu, teecu sudah mencoba untuk meyakinkan hati Giok Cu bahwa Suhu sama sekali tidak membunuh orang tuanya, dan teecu juga sudah menduga bahwa yang membunuh mereka adalah Ban-tok Mo-li sendiri. Akan tetapi Giok Cu masih belum puas. Untuk meyakinkan hatinya, maka ia ingin mendengar sendiri keterangan dari Suhu. Karena itulah maka ia datang bersama teecu menghadap Suhu."

"Akan tetapi, ia menjadi murid Ban-tok Mo-Ii, bagaimana dapat dipercaya? Ban-Tok Mo-li amat jahat, dan orang yang menjadi muridnya. "

"Akan tetapi, Suhu! Giok Cu akhir-akhir ini telah menjadi murid Hek-bin Hwesio selama lima tahun!" Han Beng membela.

Sepasang mata Liu Bhok Ki kembali terbelalak ketika ia mendengar ucapan muridnya itu dan dia memandang gadis itu dengan sinar mata penuh kagum. Kalau gadis ini sudah menjadi murid hwesio yang sakti itu, maka lain persoalannya!

"Ah, kiranya begitu? Nona, kalau begitu, tentu engkau sudah cukup dewasa dan bijaksana untuk menilai dan menduga siapa sebenarnya pembunuh Ayah Ibumu. Apakah engkau masih meragukan aku dan masih ada sangkaan bahwa aku yang telah membunuh Ayah Ibumu yang tidak kukenal, kubunuh begitu saja tanpa alasan sama sekali? Andaikata aku mempunyai kepentingan harus membunuh Ibumu pun, aku tidak akan mempergunaka racun, Nona. Kiranya pukulanku masih cukup ampuh untuk membunuh orang kalau hal itu kukehendaki." Giok Cu menarik napas panjang. "Maafkan saya, Lo-cian- pwe. Tentu Lo-cian pwe dapat mempertimbangkan bagaimana perasaan saya yang melihat Ayah Ibu tewas di depan mata saya karena di bunuh dan diracuni orang. Setelah mendengar keterangan dan pendapat Han Beng memang saya mulai menyangsikan pemberitahuan Subo Ban-tok Mo-li yang dahulu tentu saja saya percaya sepenuhnya. Sejak kecil, saya mengandung dendam yang mendalam terhadap Lo-cian-pwe yang saya anggap sebagai pembunuh orang tua saya. Akan tetapi, saya merasa belum puas kalau tidak bertemu sendiri dengan Lo-cian-pwe."

"Hemmm, aku dapat mengerti, Nona. Dan bagaimana pendapatmu sekarang! Apakah engkau masih juga belum yakin bahwa aku bukan pembunuh orang tuamu?"

Giok Cu agak tersipu, akan tetapi ia memang seorang gadis yang tabah dan memiliki watak yang lincah maka ia pun tersenyum. "Sekarang saya baru yakin bahwa bukan Lo-cian- pwe yang membunuh Ayah Ibuku. Dari sini saya akan menemui Subo Ban-tok Mo-li dan akan menuntut agar ia berterus terang tentang kematian Ayah dan Ibu saya."

Liu Bhok Ki tertawa, hatinya merasa lega sekali. "Tidak ada orang lain yang membunuh orang tuamu dengan racun yang jahat, Nona "

"Lo-cian-pwe, harap jangan membuat saya merasa sungkan dengan sebutan nona. Lo-cian-pwe adalah guru Han Beng ia, sudah menjadi sahabat baik saya sejak kami masih kecil, maka harap Lo-cian-pwe menyebut nama saya saja tanpa nona. Nama saya Bu Giok Cu."

Sepasang mata Liu Bhok Ki berseru dan dia mulai suka kepada gadis yang Sikapnya lincah dan terbuka ini. "Baiklah Giok Cu. Aku bukan orang yang suka melempar fitnah dan menuduh yang bukan-bukan. Akan tetapi, agaknya engkau belum mengenal benar watak dari Ban-tok Mo li walaupun  wanita itu per nah menjadi gurumu. Aku percaya bahwa Ban- tok Mo-li sajalah yang akan dapat melakukan kekejaman seperti itu, membunuh orang tuamu yang sama sekal tidak dikenalnya dan tidak bersalah apapun. Dan kurasa ia membunuh mereka bukan tanpa alasan, la melihat bahwa engkau telah menghisap darah anak naga, maka ia ingin mengambilmu sebagai murid. Dan agaknya ia ingin memutuskan seluruh ikatanmu dengan keluargamu, dan untuk itu, ia tidak segan membunuh orang tuamu sehingga engkau menjadi sebatangkara dan tentu saja amat tergantung kepadanya."

Giok Cu mengangguk-angguk. "Agaknya pendapat Lo-cian- pwe itu memang benar. Dan terus terang saja, sekarang Ini hubungan antara kami sudah putus sebagai guru dan murid, bahkan ia menganggap saya sebagai musuh. Hampir saja beberapa tahun yang lalu saya sudah mati di tangannya kalau saja tidak muncul Suhu Hek-bin Hwesio yang menyelamatkan saya dan kemudian mengambil saya sebagai murid."

"Bagus sekali kalau begitu, Giok Cu. Ketahuilah bahwa orang yang dibenci dan dimusuhi Ban-tok Mo-li adalah orang yang baik. Dan aku percaya bahwa engkau seorang gadis yang baik, apalagi engkau telah menjadi murid Hek-bin Hwesio."

Pada saat itu, muncullah Kwa Bi Lan dari dapur. Han Beng memandang dengan heran. Tak disangkanya bahwa di tempat tinggal suhunya terdapat seorang gadis yang tidak dikenalnya. Seorang gadis yang cantik manis, dengan wajah bulat dan kulit putih mulus, sepasang matanya tajam berwibawa dan hidungnya mancung. Namun, gadis itu nampak kaget melihat bahwa di situ terdapat dua orang tamu, seorang pemuda dan seorang gadis yang tidak dikenalnya dan ia pun hanya berdiri dengan muka ditundukkan dan tidak mengeluarkan kata apa pun, bahkan kelihatan canggung dan ragu. "Suhu, siapakah Nona ini?" Han Beng yang bertanya kepada gurunya.

Liu Bhok Ki tertawa. "Ha-ha-ha, aku sampai lupa, Han Beng, atau memang belum sempat bicara tentang dirinya. Gadis ini adalah Kwa Bi Lan dan ia Sumoimu (Adik Seperguruanmu), Han Beng Lalu dia berkata kepada Bi Lan, "Bi Lan inilah Si Han Beng, muridku dan Suhengmu seperti yang pernah kuceritakan kepadamu."

"Suheng !" kata Bi Lan lirih dengan muka 

kemerahan sambil mengangkat kedua tangan di depan dada sebagai penghormatan.

"Sumoi!" kata Han Beng dengan girang, lalu membalas penghormatan itu lantas berkata kepada suhunya. "Ah, kiranya Suhu mempunyai seorang murid baru? Teecu merasa girang sekali!"

"Hanya kebetulan saja aku bertemu dengan Bi Lan ketika dia dikeroyok banyak penjahat. Aku membantunya dan ia pun menjadi muridku. Ketahuilah, Han Beng, bahwa Sumoimu ini hidup sebatangkara dan ia tadinya dalam perjalanan mencari Pamannya, yaitu Lie Koan Tek. Engkau pernah mendengar nama itu, bukan?"

"Tentu saja! Bukankah dia itu pendekar Siauw-lim-pai yang terkenal gagah perkasa itu, Suhu? Ah, Sumoi, kiranya engkau keponakan pendekar terkenal itu? Mari perkenalkan, Sumoi. Ini adalah Bu Giok Cu, seorang sahabatku sejak kecil, dan ia adalah murid Hek Bin Hwesio.” 

Bi Lan kagum mendengar ini. "Enci Giok Cu, sungguh mengagumkan sekali bahwa engkau adalah murid dari Lo- cian-pwe Hek Bin Hwcsio. Dia adalah Paman Guru dari para pimpinan Siauw-lim-pai dan masih terhitung Susiok couw  (Paman Kakek Guru) dariku. Kalau begitu, engkau masih terhitung Bibi Guruku sendiri!"

Giok Cu tersenyum dan muncul kelincahan dan keramahannya, la merangkul Bi Lan. "Ihhh, Adik Bi Lan. Engkau hanya satu dua tahun lebih muda dariku kukira, maka tidak sepantasnya kalau aku menjadi Bibi Gurumu. Biarlah kita menjadi enci adik saja. Engkau sebatangkara, bukan? Sama dengan aku, maka kita seperti enci adik. Dan sebagai Suheng dari Han Beng, engkau tentu lihai bukan main dan aku sama sekali tidak patut menjadi Bibi Gurumu."

Bi Lan yang pendiam menjadi gembira sekali bertemu dengan Giok Cu yang ramah dan lincah, dan keduanya sudah akrab sekali. Melihat ini, Liu Bhok Ki tersenyum. "Giok Cu, engkau masuklah ke dalam dan bantulah Bi Lan di dapur. Aku ingin bercakap-cakap dengan Han Beng dan mendengarkan segala pengalamannya semenjak kami saling berpisah." 

Giok Cu juga tidak malu-malu lagi dan kedua orang gadis itu bergandeng tangan masuk ke dalam rumah. Liu Bhok Ki mengajak Han Beng untuk bercakap-cakap di ruangan luar dan dia pun minta kepada pemuda itu untuk menceritakan semua pengalamannya.

Dengan singkat Han Beng menceritakan semua pengalamannya semenjak dia neninggalkan suhunya, menjadi murid Sin-ciang Kai-ong, kemudian menjadi nurid Pek I Tojin dan betapa dia kemudian dikenal sebagai Huang-ho Sin-long (Naga Sakti Sungai Kuning). Tentu saja Liu Bhok Ki merasa gembira dan kagum bukan main, terutama mendengar bahwa muridnya itu telah menjadi murid Pek I Tojin yang sakti! Juga gembira mendengar betapa muridnya telah membantu pemerintah membasmi gerombolan penjahat yang mengadu domba antara para hwesio dan para tosu. Ketika Han Beng menceritakan bahwa dia mengangkat saudara dengan Coa Siang Lee Liu Bhok Ki gembira bukan main. "Bagus, bagus, Han Beng. Berita yang paling membahagiakan hatiku. Engkau akan menebus, walaupun sedikit dosaku terhadap Ayah Coa Siang Lee dan Bibi Sim Lan Ci. Ah, aku girang sekali. Dan pesanku kepadamu, Han Beng, kelak jangan engkau melupakan anak mereka yang bernama Thian Ki itu. Dialah yang telah menyadarkan aku dari cengkeraman dendam! Kelak kau wakililah untuk mendidiknya, Han Beng, menjadikan dia seorang pendekar yang budiman.

Han Beng menarik napas panjang. "Suhu Kakak Coa Siang Lee dan isterinya sudah bersumpah dan mengambil keputusan bahwa mereka tidak akan memberi pelajaran ilmu silat kepada Thian Ki. Mereka telah mengalami betapa pahitnya kehidupan para ahli silat yang selalu dimusuhi orang. Mereka hendak menjadikan Thian Ki seorang biasa saja agar tidak memiliki banyak musuh kelak dan dapat hidup tenteram dan berbahagia, tidak seperti ayah ibunya."

Liu Bhok Ki juga menarik napas panjang. "Hemmm, itu adalah perkiraan mereka. Apakah kalau orang tidak dapat membela diri lalu tidak ada yang datang mengganggu? Bahkan yang lemah akan selalu ditindas oleh yang kuat. Akan tetapi, tentu saja tidak baik menentang kehendak mereka. Mereka yang berhak menentukan bagaimana harus mendidik putera mereka. Akan tetapi, jangan lupakan keponakanmu itu dan andaikata engkau kelak tidak diperbolehan menjadi gurunya, engkau amatilah ia untuk membalas budi anak itu kepadaku, Han Beng."

Hati pemuda itu merasa terharu. Memang, gurunya ini baru sadar setelah melihat Thian Ki yang berlutut di depannya. Seolah-olah anak itu yang menyadarkannya. Padahal, yang menyadarkan manusia hanya Tuhan, dan kekuasaan Tuhan dapat menyusup kemanapun juga, dapat pula menyusup ke dalam diri Thian Ki yang dipergunakan oleh Tuhan untuk menyadarkan Liu Bhok Ki dari mabuk dendam.

"Teecu berjanji akan mentaati pesan Suhu." Wajah pendekar tua itu berseri karena dia merasa yakin bahwa muridnya ini kelak akan memegang janjinya. Kemudian dengan hati-hati dia bertanya. "Han Beng, sejauh manakah hubunganmu dengan Giok Cu?"

Terkejut hati Han Beng mendengar pertanyaan itu. Dia memandang wajah gurunya dengan penuh selidik, akan tetapi segera menjawab karena melihati sikap gurunya itu bersungguh-sungguh. "Suhu, apakah yang Suhu maksudkan? Sejak kecil teecu telah berkenalan dan menjadi sahabat Giok Cu, bahkan keluarga kami menjadi sahabat, senasib sependeritaan karena melarikan diri mengungsi dari jangkauan tangan para petugas yang memaksa orang menjadi pekerja paksa. Tentu saja kami bersahabat baik, Suhu."

"Yang kumaksudkan, sampai sejauh manakah keakrabanmu dengan Giok Cu?" Wajah Han Beng menjadi kemerahan.

Teecu tetap tidak mengerti, Suhu. Hubungan kami wajar saja, sebagai dua orang sahabat yang sama-sama kehilangan orang tua dalam perjalanan bersama. Bahkan sama-sama bergulat dengan ular, eh, anak naga itu, lalu bersama pula menjadi rebutan orang-orang kang-ouw. Anehkah kalau kami menjadi sahabat amat akrab, Suhu?"

Pendekar tua itu mengangguk-angguk. Muridnya ini berwatak polos dan jujur, dan biarpun usianya sudah cukup dewasa, sudah dua puluh empat tahun, namun agaknya masih hijau dalam urusan pergaulan dengan wanita sehingga tidak dapat menangkap maksud pertanyaannya tadi. Dia tidak mau mendesak, tidak ingin menyinggung perasaan muridnya dan mengotori perasaan murni antara dua orang sahabat itu.

"Sekarang akan kutanyakan hal lain, Han Beng. Apakah selama ini engkau telah menemukan calon jodohmu? Apakah engkau sudah menjatuhkan hatimu kepada seorang gadis yang kaupilih sebagai calon isterimu?" Ditanya demikian, Han Beng terbelalak, tersipu dan menjadi bingung. "Teecu .......... teecu ............ tidak mengerti    

eh, maksud teecu, teecu belum berpikir sama sekali tentang perjodohan, Suhu."

"Jadi belum ada pilihan?" Suhunya mendesak dan terpaksa Han Beng men geleng kepala walaupun di dasar hatinya dia tahu benar bahwa hatinya telah memilih seorang gadis, bahwa dia mencinta seorang gadis. Dahulu, pernah dia merasa tertarik kepada Souw Hui Im, akan tetapi setelah mendengar Hui Im telah bertunangan dengan pemuda lain, dia pun “mundur teratur" dan mengalah, meninggalkan Hui Im bersama tunangannya walaupun dia maklum pula bahwa Hui Im mencintanya. Kemudian dia bertemu dengan Giok Cu seketika dia jatuh cinta. Akan tetapi, bagaimana dia berani menyatakan rasa hatinya ini kepada suhunya? Giok Cu sendiri belum tahu akan rahasia hatinya itu. Maka, mendengar desakan itu, dia pun menggeleng tanpa menjawab.

"Bagus sekali! Aduh, betapa lega dan senangnya rasa hatiku mendengar bahwa engkau belum mempunyai pilihan, muridku. Dengar baik-baik, Han Beng. Engkau tahu betapa aku sayang sekali kepadamu, dan bahwa engkau selain sebagai muridku, juga kuanggap sebagai anakku sendiri karena engkau sudah tidak mempunyai orang tua atau sanak keluarga." 

Han Beng merasa terharu. "Terima kasih banyak atas segala budi kebaikan Suhu," katanya.

"Karena itulah, Han Beng, aku amat memperhatikan keadaan dirimu. Engkau kini sudah berusia dua puluh empat tahun. Dan sebagai guru, juga pengganti orang tuamu, aku ingin sekali melihat engkau hidup berbahagia, berumah tangga dengan baik, memiliki seorang isteri yang pilihan dan mempunyai anak-anak yang sehat. Dan Thian agaknya menaruh kasihan kepadaku, maka Dia mengirimkan eorang calon mantu itu kepadaku. Han Beng, aku ingin agar engkau  suka berjodoh dengan Kwa Bi Lan, Sumoimu tadi. Bagaimana pendapatmu, Han Beng? Bukankah ia seorang gadis yang memenuhi syarat sebagai seorang isteri yang baik, la cukup cantik, bakatnya dalam ilmu silat baik sekali, murid Siauw-lim- pai dan selama ia hidup di sini aku melihat bahwa ia seorang anak yang rajin dari pandai, mengatur rumah tangga, juga wataknya pendiam dan sopan berbudi bahasa baik."

Han Beng terpukau dan berdiam diri, tak bergerak seperti telah berubah menjadi patung. Dia terkejut bukan main, lebih kaget daripada kalau diserang dengan pedang secara tiba- tiba. Dia tidak mampu menjawab, bahkan tidak mampu berpikir karena pikirannya sudah berputar putar tidak karuan, mengikuti gerak jantungnya yang berdebar karena terguncang oleh kata-kata suhunya tadi.

Liu Bhok Ki dapat memaklumi keadaan muridnya dan dia tertawa. "Ha-ha-ha, jangan engkau tertegun seperti itu, Han Beng. Engkau seorang laki-laki, apa anehnya kalau tiba saatnya engkau harus beristeri? Pikirlah baik-baik. Kala engkau sudah beristeri, dengan seorang isteri sebaik Bi Lan, hidupmu akan tenteram. Berumah tangga, berkeluarga, dan engkau bekerja untuk menghidupi keluargamu. Tidak menjadi seorang pengelana yang tidak menentu hidupnya, tidak menentu pekerjaan dan tempat tinggalnya. Dan aku sudah tua, muridku. Aku ingin pula mondok di rumah tanggamu, mengasuh Cucu-cucuku kelak, ha-ba-ha!"

Han Beng merasa tersudut. Apa yang harus dia katakan? Dia tahu bahwa gurunya ini memiliki watak yang jujur akan tetapi keras bukan main. Kalau dia begitu saja menjawab bahwa dia tidak setuju dan menolak usul gurunya, tentu dia akan menyakiti hati gurunya yang dihormati dan disayangnya itu. Akan tetapi dia pun tentu saja tidak mungkin dapat menerima ikatan jodoh semudah itu! Dia belum mengenal Bi Lan, belum tahu akan watak atau isi hati gadis itu. Dia dan Bi Lan bukanlah dua ekor ayam atau anjing atau sapi yang dapat dikawinkan begitu saja. Bagaimana mungkin dia dapat hidup  di samping seorang wanita selama hidupnya, kalau dia tidak mencinta wanita itu dan sebaliknya wanita itu tidak mencintanya? Dan di sana masih ada Giok Cu? Bagaimana mungkin dia meninggalkan Giok Cu dan menikah denngan gadis lain? Dia harus lebih dulu mengetahui isi hati Giok Cu, dan mengetahui pula isi hati Bi Lan. Bahkan yang terpenting adalah isi hati Giok Cu, karena bagaimanapun perasaan Bi Lan terhadap dirinya, tidak begitu penting baginya. Dia tidak mencinta Bi Lan bahkan berkenalan pun baru saja. Yan penting, kalau memang Giok Cu mencintanya, tidak mungkin dia menikah dengan Bi Lan atau gadis lain mana pun Kecuali kalau Giok Cu tidak mencintainya, mungkin baru dia dapat memenuhi permintaan gurunya, semata-mata demi membalas budi kebaikan gurunya itu.

"Hei, Han Beng, kenapa engkau dian saja? Jawablah!"

Seruan Liu Bhok Ki ini menyadarkan Han Beng dan dengan gagap dia menjawab, Bagaimana teecu harus menjawab Suhu? Urusan ini terlalu tiba-tiba dan teecu sendiri 

bingung. Teecu membutuhkan waktu untuk memikirkan usul Suhu ini."

Pendekar tua itu mengangguk dan tersenyum. "Baiklah, engkau memang terlalu berhati-hati. Kuberi waktu padamu. Berapa lama engkau hendak memikirkan persoalan ini dan memberi jawaban pasti kepadaku?"

Han Beng yang lebih dulu ingin menyelami perasaan hati Giok Cu terhadap di rinya, lalu berkata, "Suhu, teecu sudah berjanji kepada Giok Cu untuk menghadap Suhu dan bertanya tentang kematian orang tuanya. Kemudian dari sini, kami akan mendatangi Ban-tok Mo-li untuk menuntut pertanggungan jawab dari wanita iblis itu. Nah, setelah teecu menemaninya bertemu dengan Ban-tok Mo-li, barulah teecu akan kembali ke sini dan memberi jawaban yang pasti kepada suhu." Liu Bhok Ki adalah seorang pendekar besar. Dia menghargai kehormatan lebih besar daripada nyawa. Kalau dia sudah mengeluarkan janji, sampai matipun harus dia hadapi untuk memenuhi janji itu. Maka, mendengar bahwa muridnya sudah berjanji kepada Giok Cu untuk menemaninya menghadap Ban-tok Mo-li dia pun mengangguk-angguk, dan tidak mau dia melarang. Apalagi dia tahu bahwa gadis bernama Giok Cu adalah seorang teman sejak kecil dari Han Beng maka sudah sewajarnya kalau Han Beng membantunya mencari pembunuh ayah ibu gadis itu.

"Baiklah, Han Beng. Engkau boleh menemani Giok Cu menemui Ban-tok Mo-li sambil berpikir-pikir tentang keinginanku menjodohkan engkau dengar Bi Lan. Setelah selesai urusan dengan Ban-tok Mo-li itu, engkau segera kembalilah kesini dan kita membuat persiapan untuk perayaan pernikahanmu."

Han Beng mengangkat muka memandang kepada gurunya. "Akan tetapi, Suhu. Bagaimana mungkin Suhu sudah dapat demikian memastikan? Padahal, baru saja teecu bertemu dengan Sumoi. Belun tentu Sumoi okan menyetujui ikatan itu!”

Liu Bhok Ki tersenyum. "Aku yakin ia tidak akan menolak, la seorang gadis yang baik dan penurut. Aku akan mencari pamannya, Lie Koan Tek, yang merupakan wali tunggalnya dan akan kubicarakan tentang urusan perjodohan kalian itu dengan pendekar Siauw-lim-pai itu."

Han Beng tidak menjawab lagi, akan tetapi hatinya merasa tidak enak bahkan khawatir sekali.

ooOOoo

Kaisar Yang Ti (604 - 618) merupakan kaisar ke dua dari wangsa Sui, setelah menggantikan mendiang Kaisar Yang Cien yang merupakan kaisar pertama dari dinasti Sui. Kaisar  Yang Cien memulai dengan penggalian terusan-terusan yang menghubungkan Sungai Huang-ho dan Sungai Yang-ce. Dan setelah dia meninggal dalam tahun 604, penggantinya, yaitu Kaisar Yang Ti yang sekarang melanjutkan pekerjaan itu, bahkan memperluasnya sehingga terusan itu digali sampai ke Hang-couw.

Kaisar Yang Ti bukan hanya giat melakukan penggalian terusan yang besar artinya bagi lalu-lintas perdagangan, namun dia juga terkenal giat dengan gerakan balatentaranya untuk menundukkan negara-negara tetangga. Juga dia amat aktip dalam gerakan politik untuk memperkuat kedudukannya dan memperluas kekuasaan kerajaannya. Bahkan saja Tongkin dan Annam di bagian selatan dia serbu, bahkan di utara dia pun melakukan gerakan.

Pada waktu itu, daerah utara didiami bermacam suku bangsa yang oleh bangsa Han dianggap sebagai bangsa "liar". Di antara mereka adalah bang Toba, Turki dan Mongol. Mereka semua adalah bangsa Nomad yang berpindah-pindah untuk mencari daerah subur untuk memelihara ternak, dan daerah di mana terdapat banyak binatang untuk diburu. Dan seringkali terjadi perselisihan dan pertempuran antara suku- suku bangsa itu karena mereka memperebutkan daerah yang subur.

Keadaan mereka yang hidup saling bermusuhan itulah yang dimanfaatkan oleh Kaisar Yang Ti. Dia mengirim orang- orangnya yang pandai untuk memperuncing pertentangan antara suku-suku bangsa itu, mendukung yang satu membasmi yang lain. Dengan cara demikian, kedudukan suku-suku bangsa itu menjadi lemah dan setelah itu barulah 

bala tentara dinasti Sui menyerbu akhirnya daerah utara dapat dikuasainya tanpa menemukan perlawanan yang berarti karena suku-suku bangsa itu sudah menjadi lemah karena saling gempur sendiri. Untuk memuaskan ambisinya yang besar, Yang Ti belum merasa cukup dengan menaklukkan daerah utara barat itu. Dia masih mencoba untuk menguasai  Timur laut, yang sekarang termasuk daerah Mancuria dan Korea. Namun, berkali-kali pasukannya mengalami kegagalan.

Di samping ambisinya yang besar sehingga dia seringkali memimpin pasukannya sendiri untuk memperluas kekuasaan dan wilayahnya, dan melanjutkan penggalian terusan, juga Kaisar Yang Ti terkenal sebagai seorang kaisar yang mata keranjang. Selir dan dayangnya tak terhitung banyaknya. Dan dia begitu mata keranjang sehingga dia memaksa dua orang selir ayahnya, ketika ayahnya masih hidup, untuk menjadi kekasihnya. Bahkan setelah ayahnya meninggal dunia, dia menarik dua orang selirnya yang masih muda itu menjadi selirnya sendiri. Hal ini tentu saja membuat beberapa orang menteri yang setia mengerutkan alisnya. Bagaimanapun juga, selir-selir itu adalah isteri mendiang ayahnya, jadi termasuk ibu tirinya! Menurut catatan yang kemudian ditinggalkan dan diketahui umum setelah Kerajaan Sui jatuh, Kaisar Yang Ti termasuk mempunyai permaisuri, dua orang wakil permaisuri, enam selir utama dan tujuh puluh dua selir muda. Di samping itu masih ada tiga ribu orang perawan-perawan istana yang menjadi dayang dan juga setiap orang dari para gadis ini dapat saja setiap waktu diharuskan melayani kaisar yang tidak pernah merasa puas itu!

Semua pembesar tinggi di istana tahu belaka bahwa Kaisar Yang Ti merupakan seorang laki-laki yang menjadi hamba nafsu berahinya dan selalu dia memenuhi dorongan nafsunya dengan cara yang menyolok dan kadang tidak tahu malu. Ketika dia mengadakan pembukaan dan pelayaran pertama merayakan selesainya penggalian terusan yang menghubungkan Sungai Huang-ho dan Yang-ce, atau menghubungkan daerah utara dan selatan, dia menggunakan perahu di terusan yang lebarnya sekitar tiga puluh kaki itu. Perahunya besar dan mewah, dan dia memerintahkan beberapa ratus orang perawan istana atau dayang-dayang muda yang cantik manis untuk menarik perahunya hilir mudik di tepi terusan itu. Ratusan orang gadis remaja yang cantik itu sambil bernyanyi-nyanyi dan tertawa-tawa, menarik tali yang  dihias kembang-kembang, diiringi suling dan yang-kim. Dari perahunya, Kaisar Yang Ti menikmati penglihatan yang amat indah menggairahkan itu. Pakaian para dayang yang beraneka warna, dari sutera yang halus, membayangkan bentuk-bentuk tubuh para gadis remaja yang bagaikan kembang sedang mulai mekar. Bayangan para dayang itu terpantul di dalam air dalam keadaan terbalik. Mendengarkan suara mereka bernyanyi dan tertawa merdu, melihat gerakan tubuh mereka yang lemah gemulai, goyangan pinggang dan pinggul, cukup mendorong gairah dalam hati kaisar itu dan nafsu berahinya berkobar. Untuk melayani hasratnya, di perahu yang besar itu telah siap para selirnya sehingga Sang Kaisar, di balik tirai perahu, dapat melampiaskan nafsunya sepuas hati sambil mendengarkan nyanyian dan tertawaan para dayang remaja.

Apalagi kalau sedang di dalam istana, bahkan di waktu melakukan perjalanan daratpun, Sang Kaisar yang menjadi budak nafsu-nafsunya itu tidak pernah lupa mengajak beberapa orang selir terkasih. Keretanya sengaja dibangun secara istimewa, besar dan panjang, bukan hanya cukup untuk dia duduk dilayani lima enam orang selir, bahkan tempat duduk itu dapat pula dijadikan tempat tidur! Tirai kereta itu dihiasi permata mutu manikam dan keleningan kecil-kecil yang mengeluarkan bunyi musik, suara ini dapat menyembunyikan suara-suara lain yang keluar dari kerongkongan sang Kaisar dan para selirnya.

Dalam keroyalannya yang luar biasa, yang jauh melampaui kemewahan para kaisar dahulu, Kaisar Yang Ti mengutus seorang ahli bangunan terbesar di aman itu, yaitu Siang Seng, untuk membangun sebuah istana yang amat indah di Lok- yang. Bangunan istana yang luar biasa besarnya dan megahnya dan dikerjakan siang malam selama satu setengah tahun oleh tidak kurang dari lima puluh ribu orang tukang yang pandai! Sungguh merupakan suatu pekerjaan berat juga suatu kemewahan dan keroyalan yang luar biasa. Istana induk yang amat megah dan mewah itu dikelilingi tiga puluh enam istana  yang lebih kecil, dibangun di antara hutan bunga beraneka ragam dan warna!

Istana induk menjulang tinggi, berkilauan ditimpa sinar matahari, seperti sebuah menara raksasa dari emas. Di beranda yang mengelilingi setiap loteng setiap hari kalau kaisar berada di situ ratusan orang gadis dayang bermain musik, menari dan bernyanyi sambil berbisik-bisik, bersendau gurau dan hujan senyum manis dan kerling memikat, dan pakaian mereka yang tipis hampir tembus pandang itu membayangkan tubuh mereka yang mulai matang.

Kamar Sang Kaisar sendiri memang dibangun sebagai tempat untuk pelesir untuk bersenang-senang mengumbar nafsu bersama para selir dan dayang. Ruangan kamar itu amat luas, terlalu luas untuk sebuah kamar tidur, sebuah ruagan yang dapat menampung seratus meja. Tempat ini merupakan harem Sang Kaisar, di mana para selir yang terpilih untuk menghiburnya hari itu, sedikitnya tiga puluh orang, dengan pakaian minim hampir telanjang, berkeliaran, bermain-main, bersendau-gurau atau hanya rebahan di atas lantai yang ditilami kasur dengan bulu-bulu harimau dan permadani dari barat. Ruangan itu penuh dengan cermin yang dipasang di sekelilingnya, pada dinding. Dari lubang-lubang di dinding mengepul lembut asap dupa harum dari bermacam bunga, sehingga mereka yang berada di dalam ruangan itu merasa seolah-olah mereka berada di dalam sebuah taman yang penuh bunga mekar. Lampu-lampu gantung beraneka warna, dengan lilin di dalamnya, menambah semarak dan romantis ruangan itu.

Begitu Sang Kaisar memasuki ruangan itu, delapan orang pengawal thaikam (orang kebiri) menyambutnya sambil berlutut dan mereka dengan hormat membantunya menanggalkan pakaian kebesaran, menggantikannya dengan pakaian yang longgar dari sutera dan kulit harimau. Para thaikam itu lalu keluar dan berjaga di luar ruangan. Kaisar sendiri disambut oleh salam halus "Ban-swe" (Panjang Usia)  oleh mulut para wanita muda yang cantik itu. Tangan-tangan kecil lembut dan halus putih mulus segera menyuguhkan anggur gin-seng, buah-buahan, manisan atau daging panggang, apa saja yang dikehendaki Sang Kaisar sudah tersedia di tempat itu.

Bahkan di dalam sejarah, kaisar terkenal pula sebagai seorang yang menyuruh para ahli di jaman itu menciptakan segala macam alat untuk memuaskan nafsunya yang tak kunjung padam, segala macam perabot atau alat yang ditujuk untuk mendatangkan kesenangan yang lebih. Barulah Sang Kaisar ini agak menjadi jinak dan tidak seliar sebelumnya setelah ia mendapatkan seorang selir baru Han Cun Ji. Selir inilah yang dapat merebut hatinya, dan semenjak ada selir ini, Kaisar Yang Ti tidak begitu haus lagi, seolah-olah segala rasa lapar dan hausnya telah terpuaskan oleh Sang Selir yang terkasih ini.

Dan timbul kembali nafsunya untuk bertualang, untuk menundukkan daerah-daerah yang belum dikuasainya. Dalam hal ini pun dia kadang-kadang melampaui batas kekuatan pasukannya. Ketika dia memimpin pasukannya dan mati- matian berusaha untuk menundukkan daerah Shansi Utara, pasukannya terpecah belan oleh siasat pihak musuh dan hanya dengan pasukan pengawal yang tidak begitu besar jumlahnya, Kaisar Yang Ti terkepung oleh suku bangsa Turki. Nyaris keselamatan kaisar itu terancam hebat kalau saja pada saat itu tidak muncul seorang perwira yang bersama pasukannya dengan gagah berani menerjang dan membobolkan kepungan, berhasil menyelamatkan Kaisar Yang Ti dari ancaman maut. Perwira yang gagah perkasa ini adalah Li Si Bin, yang kelak merupakan seorang tokoh yang amat penting dalam sejarah karena perwira ini pula yang kelak menjatuhkan Kerajaan Sui dan bahkan kelak dia akan menjadi seorang kaisar yang terkenal di dalam jaman dinasti berikutnya yaitu dinasti Tang (618-907)! Demikianlah sedikit tentang keadaan kaisar yang berkuasa di jaman cerita ini terjadi. Ketika itu, istana megah dan mewah di Lok yang sedang dibangun dan hampir selesai karena pembangunan sudah berlangsung setahun.

ooOOoo

Pada suatu pagi, dua orang muda memasuki kota Lok- yang. Mereka bukan lain adalah Han Beng dan Giok Cu. Mereka telah meninggalkan Kim-hong-san setelah tinggal di rumah Liu Bhok Ki dan murid barunya, Kwa Bi Lan selama belasan hari lamanya. Ketika mereka berpamit untuk pergi mengunjungi Ban-tok Mo-li di Ceng-touw, Liu Bhok Ki menyetujuinya. Pendekar tua ini ingin agar muridnya, Han Beng, segera menyelesaikan tugas yang dijanjikan kepada Giok Cu, lalu pulang dan memberikan! jawaban pasti tentang usul ikatan perjodohan dengan Bi Lan. Dan pandangan mata yang berpengalaman dari Liu Bhok Ki melihat betapa ada perubahan sikap dalam diri gadis yang menjadi muridnya! itu setelah Han Beng dan Giok Cu pergi.! Muridnya itu, yang tadinya biarpun pendiam selalu bergembira, kini setelah Han Beng pergi, gadis itu nampak seringkah termenung, bahkan murung! Hal ini bagi Liu Bhok Ki merupakan suatu pertanda baik!

Beberapa kali, secara halus dia memancing pendapat Bi Lan tentang Han Beng. "Bagaimana pendapatmu tentang Si Han Beng, Suhengmu itu, Bi Lan?" tanyanya sambil lalu ketika mereka membicarakan dua orang muda yang baru saja meninggalkan tempat itu.

"Suheng Si Han Beng? Ah, dia seorang yang baik sekali, gagah perkasa dan ramah. Teecu mendapatkan petunjuk berharga ketika melatih Hui-tiauw Sin-kun di bagian yang paling sulit, Suhu."

Liu Bhok Ki mengangguk-angguk dan tersenyum. "Memang, dia kini telah menjadi seorang pendekar yang  gagah perkasa. Naga Sakti Sungai Kuning! Ha-ha, sungguh aku bangga mempunyai murid seperti dia. Kau tahu, sekarang kepandaiannya jauh melampaui tingkatku, dia dua kali lebih lihai daripada aku, ha-ha-ha "

Bi Lan semakin kagum. "Sungguh hebat. Teecu juga bangga mempunyai Suheng seperti dia, Suhu."

Liu Bhok Ki tidak mendesak terus atau memancing terus. Pertemuan antara dua orang muridnya itu baru satu kali terjadi, dan tidak enak kalau bertanya tentang perasaan hati gadis pendiam itu tentang Han Beng. Biarlah, dia akan menanti dengan sabar. Dia hampir yakin bahwa Bi Lan pasti menerima dengan hati terbuka kalau dijodohkan dengan Han Beng. Yang mengkhawatirkannya adalah kalau Han Beng yang menolak mengingat betapa akrabnya hubungan muridnya itu dengan Giok Cu.

Kita kembali kepada Han Beng dan Giok Cu. Mereka tiba di Lok-yang karena mereka tertarik mendengar bahwa di kota itu dibangun sebuah istana yang amat megah dan mewah, amat indah sehingga berita tentang pembangunan itu terdengar sampai jauh, menjadi bahan pergunjingan orang. Ada yang mengagumi ada pula yang mencela karena kaisar terlalu royal. Berita-berita yang mereka dengar di sepanjang perjalanan itu menarik perhatian mereka, terutama sekali Giok Cu.

"Kaisar macam apa yang kita miliki sekarang?" Gadis itu mengepal tinju. "Rakyat diperas dan dipaksa untuk bekerja sampai mati menggali terusan. Suhu Hek Bin Hwesio pernah menjelaskan kepadaku bahwa bagaimanapun juga, niat menggali terusan itu masih dapat dibenarkan karena kalau hal itu sudah dilaksanakan, maka rakyat pula yang akan banyak menerima keuntungan. Terusan itu dapat dimanfaatkan oleh rakyat, bukan saja untuk mengairi sawah ladang di daerah yang dilalui terusan, akan tetapi juga m ereka dapat mengangkut hasil ladang ke kota lain dengan lebih mudah dan murah. Biarlah, walau pelaksanaannya mengorbankan banyak  rakyat, terusan itu kelak akan berguna pula bagi rakyat. Akan tetapi istana yang besar dan indah? Apa gunanya untuk rakyat? Hanya untuk kesenangan kaisar dan keluarganya saja! Dan pembangunan itu menggunakan uang negara yang besar! Sungguh membikin hatiku penasaran dan aku harus melihat pembangunan itu dengan mata sendiri."

Han Beng dapat mengerti akan kemarahan di hati Giok Cu. Dia sendiri, kalau tidak digembleng oleh Pek I Tojin tentang kehidupan dan isinya, pasti akan merasa penasaran pula. Akibat pembangunan dan penggalian Terusan Besar gadis itu kehilangan ayah ibunya, seperti juga dia. Gadis itu masih bersabar dan menerima nasib. Nasihat Hek Bin Hwesio agaknya menyadarkannya bahwa kematian ayah ibunya sebagai akibat penggalian terusan itu dapat dianggap, sebagai pengorbanan karena kelak terusan itu akan dinikmati pula oleh rakyat banyak. Akan tetapi pembangunan istana yang megah dan mewah? Memang membuat orang merasa penasaran, setidaknya orang-orang yang masih menghargai keadilan di dunia ini. Betapa banyaknya rakyat jelata yang hidup di bawah garis kemiskinan, untuk makan esok hari pun masih belum ada ketentuan. Dan kaisar mereka membangun istana untuk pelesir. Padahal, biaya untuk membangun istana itu kalau dibagikan rakyat yang kelaparan, akan menolong puluhan ribu, bahkan mungkin ratusan ribu nyawa orang!

Pagi itu, Han Beng dan Giok Cu memasuki kota Lok-yang. "Giok Cu, akui pesan kepadamu dengan sungguh, agar engkau suka menahan kesabaran hatimu. Jangan menurutkan hati yang panas kalau melihat bangunan istana itu. Ingat kalau engkau menimbulkan keributan, hal itu sama sekali tidak akan menolong rakyat, tidak akan menghentikan pembangunan itu. Sebaliknya, engkau hanya akan menimbulkan kekacauan yang membahayakan kita sendiri."

"Aku tidak takut!" jawab gadis itu lantang. Han Beng tersenyum. Giok Cu sungguh merupakan seorang gadis yang tabah dan pemberani, terlalu pemberani malah. Teringatlah dia akan anak perempuan yang menjadi sahabatnya dahulu. Sejak kecil Giok Cu memang nakal, manja, lincah Jenaka dan pemberani. Betapa seorang anak perempuan berani melawan seekor ular anak naga! Untuk membantu dia yang telah digigit ular itu, Giok Cu juga menggigit ular dengan keberanian luar biasa! Dan kini, setelah menjadi seorang gadis yang dewasa, cantik jelita, dan memiliki ilmu silat tinggi, tentu saja keberaniannya semakin hebat!

"Aku percaya bahwa engkau tidak takut, Giok Cu. Aku pun tidak menghadapi ancaman bahaya. Akan tetapi untuk apa kita membiarkan diri dalambahaya kalau bukan untuk suatu tujuan yang memang perlu sekali kita lakukan. Dalam hal pembangunan istana ini kita tidak mempunyai kepentingan apa pun dan tidak akan dapat mencampuri sama sekali. Dan kita masih menghadapi tugas yang lebih penting, yaitu mencari Ban-tok Mo-li, maka tidak perlu terjun ke dalam bahaya untuk yang tidak ada sangkut pautnya dengan kita."

Biarpun ia berwatak keras dan berani namun Giok Cu setelah menjadi murid Hek Bin Hwesio, sudah dibiasakan menggunakan pikiran sehat. Ia dapat memahami ucapan Han Beng tadi dia pun mengangguk.

"Baiklah, Han Beng. Aku pun hanya ingin melihat seperti apa bangunan istana yang menjadi bahan percakapan semua orang itu. Setelah melihat kita akan melanjutkan perjalanan ke Ceng-touw."

Tentu saja Han Beng menjadi girang sekali. Makin lama dia merasa semakin kagum dan suka kepada gadis yang dulu menjadi sahabat baiknya di waktu kecil ini. Seorang gadis yang lincah Jenaka dan pandai bicara, akan tetapi juga bijaksana dan mau menerima pendapat orang lain! Biasanya, gadis yang lincah dan pandai seperti ini suka berwatak tinggi hati dan merasa pintar sendiri sehingga nampak  kebodohannya. Akan tetapi Giok Cu tidak. Ia dapat menerima pendapat orang lain dan menyetujuinya kalau dianggapnya pendapat itu patut dituruti karena memang tepat dan benar.

"Kalau begitu, kita tidak perlu bermalam di sini, bukan? Hari ini masih pagi, kita dapat melihat-lihat sehari ini dan siang nanti kita melanjutkan perjalanan menuju ke Ceng-touw. Bagaimana pendapatmu?" kata Han Beng.

Giok Cu mengangguk. "Kalau tidak terjadi sesuatu dan kalau tidak ada sesuatu yang menarik, memang tidak perlu kita bermalam di sini. Mari kita melihat bangunan istana itu!"

Dan keduanya tak lama kemudian sudah terpukau memandang bangunan istana itu dari luar pagar, dari tempat yang agak jauh karena selain para pekerja, mereka atau orang luar tidak diperkenankan memasuki pagar. Dari jauh pun sudah nampak bangunan yang hebat itu Istana induknya sudah jadi dan menjulang tinggi di atas pohon-pohon, sudah nampak megah walaupun belum dicat. Para pekerja yang seperti semut banyaknya, sepagi itu sudah bekerja, karena memang siang malam pembangunan itu dikerjakan tiada hentinya. Mereka kini sudah mulai dengan bangunan- bangunan lebih kecil yang mengelilingi bangunan induk, sudah jadi lebih dan dua puluh buah.

"Bukan main. !" kata Han Beng tertegun karena 

selama hidupnya belum pernah dia melihat bangunan sehebat itu. "Alangkah besar dan luasnya!"

"Hemmm, entah berapa banyak emas dan perak dikeluarkan untuk membiayai bangunan itu. Akan tetapi lihat, Han Beng, para pekerja itu bekerja dengan giat dan gembira. Jelas bahwa mereka bukanlah pekerja-pekerja paksa, bahkan mungkin mereka mendapatkan perlakuan baik dan gaji yang cukup besar," kata Giok Cu. Ternyata bukan hanya mereka saja yang berada di luar pagar dan melihat pembangunan istana itu. Ada pula belasan orang lain dan di antara mereka terdapat empat orang pemuda yang usianya antara dua puluh sampai dua puluh lima tahun. Mereka itu berpakaian seperti para pemuda kota, dengan lagak yang tinggi hati dan nakal. Sudah lajim bahwa lebih mudah bagi syaitan atau nafsu untuk menggoda hati orang apabila orang itu berkumpul dengan orang-orang lain yang sepaham. Seorang pemuda mungkin tidak akan begitu berani berlagak atau berbuat sesuatu yang tidak layak, tidak begitu nampak kenakalannya. Akan tetapi kalau pemuda itu berkumpul dengan pemuda-pemuda lain yang menjadi kawannya, maka dia pun akan menjadi berbeda daripada kalau dia seorang diri saja. Kalau dia seorang diri, walaupun nafsu mendorong dan membujuknya untuk melakukan hal-hal yang tidak patut, masih ada rasa takut, rasa malu dan sebagainya yang menghalangi dia melakukan tindakan yang didorong nafsu dan setan. Akan tetapi, kalau sudah berkelompok, maka rasa takut, malu atau yang lain itu pun menipis atau bahkan lenyap sama sekali! Menghadapi segerombolan orang muda, setan menjadi lebih leluasa menggoda hati.

Demikian pula dengan empat orang pemuda itu. Tadinya, mereka bersikap biasa,melihat pembangunan istana, mengagumi keindahan bentuk istana yang megah itu seperti para penonton lainnya. Akan tetapi begitu muncul seorang gadis cantik seperti Giok Cu, sikap mereka berubah sama sekali. Kini mereka tidak lagi nonton bangunan, melainkan nonton gadis cantik dan mulailah mereka menyeringai, tersenyum atau tertawa, saling berbisik sambil melirik ke arah Giok Cu. Godaan nafsu atau godaan setan memang seperti berkobarnya api, dari sedikit lalu makin lama makin membesar kalau tidak segera dipadamkan. Kalau tadinya mereka itu menyeringai dan berbisik-bisik, akhirnya bisikan mereka menjadi semakin keras sehingga terdengar orang lain, dan suara ketawa mereka pun makin keras. "Yang laki-laki memang banyak harapan diterima bekerja. Lihat bentuk badannya tinggi besar seperti kuli kasar. Tentu dia diterima sebagai kuli angkat-angkat batu dan kayu!" kata seorang di antara mereka sambil melirik ke arah Han Beng dan Giok Cu.

"Memang, potongan badannya seperti kuli kasar. Dia dibutuhkan untuk pembangunan ini. Akan tetapi perempuan itu, mana mungkin diterima walaupun ia hemmm, 

cantik dan manis seperti malu?" orang ke dua berkata sambil terkekeh. Teman-temannya juga tertawa.

"Kenapa tidak? Di manapun kalau perempuan, apalagi yang jelita seperti ia, pasti diterima dengan tangan terbuka 

..............."

“............. dan pakaian terbuka ” Ha-ha-ha!" Mereka 

tertawa-tawa kembali.Han Beng dan Giok Cu mendengar percakapan itu, akan tetapi karena percakapan itu tidak jelas menyinggung mereka maka keduanya pun diam saja, walaupun sepasang alis Giok Cu sudah berkerut karena ialah satu-satunya wanita situ, maka siapa lagi yang dibicarakan kalau bukan dirinya? Akan tetapi masih ingat akan pesan Han Beng tadi, maka ia pun pura-pura tidak mendengar saja.

"Akan tetapi seorang gadis, disuruh bekerja apa?" "Bekerja apa? Biar ia duduk atau berdiri saja di tempat 

pekerjaan, tanggung para pekerja semakin bersemangat dalam pekerjaan dan lupa untuk pulang, ha-ha-ha!"

"Dan malamnya tentu akan dijadi rebutan oleh para mandornya!"

"Ihhh, sayang sekali kalau hanya mendapatkan mandor. Lebih baik mendapatkan aku, setidaknya Ayahku mempunyai toko yang cukup besar!" "Menjadi milikku lebih tepat! Ayahku pegawai pemerintah!"

Ramailah empat orang itu berebutan, merasa bahwa masing-masing lebih pan¬tas memiliki wanita itu.

"Sudahlah, siapa tahu ia menginginkan menjadi seorang di antara dayang Kaisar? Kabarnya tempat ini kelak akan penuh dengan dayang dan selir Kaisar."

"Ssssst, lihat. Ia membawa pedang! jangan-jangan ia seorang wanita kang-ouw!"

"Ah, mana mungkin? Lihat, kulitnya begitu mulus, halus dan pinggangnya ramping. Ia wanita seratus prosen, lemah gemulai. Pedang itu tentu hanya untuk menakut-nakuti saja, ha-ha-ha!"

"Bunga yang indah biasanya tidak harum baunya!" "Siapa bilang! Bunga mawar itu indah dan harum. Coba 

kudekati, baunya harum atau tidak!"

Wajah Giok Cu semakin merah dan ia tentu akan mengajak Han Beng pergi dari situ karena takut kalau tidak tahan lagi, akan tetapi pada saat itu, pemuda bermuka bopeng karena penyakit cacar yang bicara paling akhir tadi sudah melangkah dan mendekatinya, mendekatkan muka dan hidungnya kembang kempis mencium-cium. Jarak antara muka itu dengan pundaknya hanya dua jengkal saja. Begitu beraninya pemuda itu!

"Aduh, harum ........., harum !" pemuda itu berseru 

dan tiga orang kawannya tertawa dan memuji "keberanian" kawam mereka yang muka bopeng dan agaknya menjadi pemimpin mereka itu.

"Wuuuttt .............. plakkk! Aduuuuuh. !” Tubuh pemuda muka bopeng itu terpelanting dan mulutnya bocor mengucurkah darah karena empat buah giginya copot ketika tangan Giok Cu menamparnya tadi. Gadis itu tidak dapat menahan kemarahannya lagi. Masih untung bagi pemuda itu bahwa Giok Cu tidak menggunakan tenaga sakti. Kalau ia mempergunakan tenaga saktinya, bisa remuk tulang rahang pemuda itu, atau kalau ia menggunakan tenaga beracun, pemudi muka bopeng itu tentu tewas seketika! Kini, hanya giginya empat buah copol dan bibirnya pecah-pecah berdarah. Dia melompat bangun dan menjadi marah bukan main.

"Perempuan rendah, berani engkau memukulku?" bentaknya dan dia pun menyerang dengan tubrukan seperti seekor biruang menubruk domba, dan tiga orang kawannya juga berebut maju untuk menangkap gadis yang sejak tadi telah membuat mereka tergila-gila. Mereka berempat masih lebih terpengaruh keinginan untuk merangkul gadis itu daripada untuk memukul.

Giok Cu menggerakkan kaki tangannya. Terdengar empat orang pemuda itu mengaduh. Pertama adalah Si Muka Bopeng yang menyerang lebih dulu, menerima tendangan pada perutnya.

"Ngekkk! Aughhhhh !" Dia muntah-muntah dan 

memegangi perutnya, tidak

dapat bangkit kembali, hanya berjongkok sambil muntah dan mengaduh karena perutnya seketika mulas. Agaknya usus buntunya kena tertendang ujung sepatu Giok Cu, nyeri bukan main, seperti ditusuk-tusuk jarum rasa perutnya.

Orang ke dua dari kiri disambut sambaran tangan kiri yang mengenai dadanya. "Plakkk! Hukkk. !" Pemuda itu pun 

terpelanting, dan tidak mampu bangkit, hanya duduk terbatuk- batuk seperti mendadak sakit asmanya kambuh terengah- engah terasa sesak dan nyeri dalam dada. Orang ke tiga dari kanan juga disambar tangan kanan mengenai lehernya dan dia pun terpelanting, lalu bergulingan dengan leher bengkok karena lehernya terasa nyeri seperti patah tulangnya. Bahkan suaranya mengaduh tidak jelas lagi!

Orang ke empat disambut tendangan pula sehingga terjengkang dan karen kepalanya dengan kerasnya membentur tanah, maka dia pun pingsan seketika mungkin gegar otak!

Gegerlah para penonton di situ. Da pada saat itu, terdengar bunyi roda kereta dan derap kaki kuda. Sebuah kereta berhenti di situ, dikawal oleh selosin pasukan pengawal. Semua orang minggir dan seorang laki-laki berusia lima puluh lima tahun yang sikapnya agung dan berwibawa, turun dari kereta. Dia melihat kearah empat pemuda yang masih belum dapat bangkit bahkan seorang masih pingsan dan yang tiga lagi mengaduh-aduh, memijat perut, ada yang mengurut-urut dada, ada yang lehernya bengkok. Kemudian dia memandang kepada gadis cantik jelita yang, berdiri tegak dengan kedua tangan bertolak pinggang, muka merah karena marah.

"Apa yang terjadi disini?" Pria berpakaian pembesar itu bertanya dan dia pun maju menghampiri tempat keributan itu. Giok Cu yang sudah marah, membalik dan menghadapi laki- laki itu. Disangkanya laki-laki itu tentu hendak membela empat orang pemuda itu maka ia pun berkata dengan nada menantang, Siapa saja yang menibela empat ekor tikus busuk ini akan kuhajar!”

Akan tetapi pembesar itu sama sekali tidak nampak takut, melainkan menentang pandangan mata Giok Cu dengan tajam penuh selidik. "Siapa yang membela siapa, Nona? Kami hanya bertanya apa yang telah terjadi disini? Mengapa terjadi perkelahian di sini?"

Sebelum gadis itu menjawab dengan ketus, tiba-tiba Han Beng berseru girang "Liu Tai-jin! Aih, Giok Cu, apakah engkau  tidak mengenalnya? Dia adalah Liu Tai-jin, utusan dari kota raja yang kita jumpai di kota Siong-an itu!"

Giok Cu segera teringat dan ia pun seperti Han Beng memberi hormat. "Liu Tai-jin, maafkan saya," katanya. Tentu saja ia teringat. Pernah bersama Can Hong San ia bahkan menghadang pembesar ini yang disangkanya jahat dan korup.

Pembesar itu memang Liu Tai-jin, pembesar kepercayaan kaisar dari kota raja yang suka diutus menjadi peneliti dan pemeriksa para petugas dan memberi hukuman kepada mereka yang korup dan nyeleweng. Dia pun segera ingat kepada Han Beng.

"Ah, kiranya Huang-ho Sin-liong yang berada di sini!" serunya dan dia pun cepat membalas penghormatan mereka. "Dan Nona ini adalah Li-hiap (Pendekar Wanita) yang gagah perkasa itu!"

Seorang di antara pemuda yang tadi pingsan, kini sudah siuman dan mereka berempat menjadi pucat dan mendekam dengan tubuh menggigil ketika mendengar ucapan pembesar itu bahwa pemuda dan gadis yang mereka ganggu tadi adalah dua orang pendekar yang gagah perkasa! Bahkan pemuda itu adalah Naga Sakti Sungai Kuning yang namanya menggetarkan seluruh lembah Sungai Huang-ho! Mereka ingin melarikan diri, akan tetapi kedua kaki mereka tidak dapat digerakkan karena menggigil. Bahkan dua orang di antara mereka, saking takutnya, tak dapat menahan lagi bocor di tempat sehingga celana mereka basah kuyup!

"Tai-hiap, Li-hiap, apa yang terjadi di sini?" pembesar itu bertanya sambil memandang kepada empat orang pemuda itu.

"Maafkan saya, Liu Tai-jin," kata Giok Cu. "Mereka itu bersikap kurang ajar karena saya seorang wanita, mulut  mereka kotor sekali dan sikap mereka tidak sopan sehingga terpaksa saya menghajar mereka!"

Pejabat tinggi itu dengan mata mencorong dan alis berkerut memandang kepada empat orang pemuda itu. Melihat keadaan mereka, dia pun tersenyum.

"Li-hiap, kami kira hajaran itu sudah cukup bagi mereka. Apakah perlu di tambah lagi?"

Mendengar ini, empat orang yang sudah ketakutan setengah mati, bukan hanya karena mendengar bahwa dua oran muda yang mereka ganggu adalah pendekar-pendekar sakti, juga mereka takut sekali kepada Liu Tai-jin yang terkenal sebagai seorang pejabat tinggi yang selain besar kekuasaannya, juga adil dan tegas, tidak mau disogok, segera menjatuhkan diri berlutut di depan Giok Cu.

"Li ........... hiap, ampunkan kami, ampunka kami " 

kata Si Muka Bopeng, dan tiga orang kawannya juga ikut pula mohon ampun.

Giok Cu menggangguk kepada Liu Tai-jin. Memang mereka itu kurang ajar, akan tetapi hajaran yang diberikan tadi sudah lebih dari cukup.

"Asal kalian berjanji mulai sekarang Tidak ugal-ugalan dan tidak akan mengganggu wanita lagi, aku tidak akan mematahkan semua tulang kaki tanganmu!"

Mendengar ini, empat orang itu menjadi semakin ketakutan dan seperti empat ekor ayam mematuk gabah, mereka mengangguk-angguk membenturkan dahi di tanah sambil berkata berulang-ulang, 

" ........... tidak berani lagi, tidak berani lagi. tidak berani 

lagi " "Nah, cukuplah. Berterima kasihlah kalian kepada Liu Tai- jin yang bijaksana, kalau tidak ada beliau, tentu aku tidak mau memberi ampun kepada kalian!"

Empat orang pemuda itu lalu berlutut menghadap Liu Tai-jin dan mengucapkan terima kasih berulang-ulang. Liu Tai-jin tersenyum, senang melihat sikap Giok Cu. Kalau ada beberapa orang pendekar seperti gadis ini di setiap kota, tentu akan aman keadaannya. "Sudah, kalian pergilah!" katanya dan empat orang itu lalu bangkit, terhuyung-huyung meninggalkan tempat itu. Orang-orang yang melihat peristiwa itu diam-diam merasa kagum kepada Giok Cu yang selain merupakan seorang pendekar wanita yang lihai, juga ternyata menjadi kenalan Liu Tai-jin yang disegani semua orang.

"Tai-hiap dan Li-hiap, bagaimana kalian dapat berada di sini? Apakah hanya kebetulan saja, ataukah memang sengaja datang untuk melihat pembangunan istana ini?"

"Dalam perjalanan, kami mendengar semua orang membicarakan pembanguna istana di Lok-yang ini, maka kami sengaja lewat di sini untuk menontonnya, kata Han Beng.

"Kalau begitu, mari masuk saja. Ji-wi (Kalian Berdua) dapat melihat keadaan di sebelah dalam istana. Mari naiklah ke dalam kereta kami."

Han Beng dan Giok Cu naik ke dalam kereta bersama pembesar itu dan para penonton memandang dengan kagum dan juga iri melihat betapa dua orang muda itu mendapat kesempatan yang amat langka itu, yaitu melihat keadaan istana itu dari dalam!

Han Beng dan Giok Cu mengagumi istana yang luar biasa megahnya itu. Biarpun belum dicat, namun istana itu sudah nampak indah bukan main. Liu Tai-jin membawa mereka berkeliling dan menerangkan segalanya kepada mereka  sehingga dua orang muda itu semakin kagum dan juga merasa senang sekali mereka telah mendapatkan kesempatan yang demikian baiknya. Setelah melihat-lihat, Liu Tai-jin mengajak mereka memasuki sebuah ruangan yang dia pergunakan untuk tempat duduk apabila dia datang ke tempat itu. Mereka duduk berhadapan dan pelayan menghidangkan minuman dan makanan kecil. Liu Tai-jin lalu menyuruh semua pelayan dan pengawal untuk meninggalkan ruangan dan membiarkan mereka bertiga bercakap-cakap.

"Ji-wi (Kalian) tentu heran melihat aku bertugas di sini," pejabat tinggi itu berkata.

Han Beng dan Giok Cu memandang kepadanya dan Han Beng berkata, "Memang kami merasa agak heran. Bukankah Tai-jin biasanya bekerja sebagai pejabat yang mengontrol pekerjaan para petugas, dan memberantas penyelewengan yang dilakukan para pejabat di luar kota raja.

Liu Tai-jin menghela napas panjang, lalu mengangguk. "Memang benar. Itulah pekerjaanku dan aku senang dengan pekerjaan itu. Aku paling membenci pembesar yang melakukan korup, menindas rakyat dan mencuri uang negara, menumpuk harta kekayaan untuk diri sendiri dan tidak melaksanakan tugas dengan sebaiknya. Demi mencari harta, banyak pula pembesar yang bertindak sewenang-wenang, bahkan curang, membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar. Aku senang sekali bekerja memberantas segala penyelewengan itu walaupun pekerjaan itu amat berbahaya dan membuat aku dibenci dan dimusuhi banyak pejabat. Akan tetapi Sri baginda terlalu percaya kepadaku sehingga untuk pembangunan istana ini pun beliau memerintahkan aku untuk melakukan pengamatan di sini agar pekerjaan dilaksanakan sebaik mungkin, agar bahan-bahan bangunannya tidak dicuri, dikurangi mutunya dan tidak terjadi korupsi. Nah, begitulah. Terpaksa aku harus bekerja menjadi pengawas di tempat ini." "Kalau Tai-jin yang menangani, tentu pembangunan ini cepat selesai dengan baik," kata Giok Cu.

Liu Tai-jin tertawa, tahu bahwa pujian pendekar wanita itu bukan sekedar basa-basi belaka. "Pembangunan negara baru akan berhasil kalau semua petugas dan karyawannya bekerja dengan jujur dan setia, kalau semua pekerja, dari yang tinggi sampai yang paling rendah, tidak menjadi hamba nafsu rendah untuk menyenangkan diri sendiri dan melakukan korupsi. Semua tenaga harus bersatu untuk pembangunan, barulah pembangunan itu akan berhasil dengan baik.Tidak mungkin hanya tergantung pada satu orang saja. Tugasku di sini hanya mengawasi dan menjamin lancarnya pekerjaan dan bersihnya para pekerja. Akan tetapi, para tukang itulah yang menangani. Tanpa para tukang, bahkan tanpa para kuli kasar, pembangunan tidak akan selesai. Semua harus bersatu dan bekerja sama. Aih, maaf. Aku lupa bahwa Ji-wi bukan petugas negara. Apakah Ji-wi akan lama tinggal di Lok-yang?"

Giok Cu menggeleng kepala. "Tidak Tai-jin. Mungkin hari ini juga kami aka melanjutkan perjalanan."

"Ji-wi akan pergi ke manakah?"

"Kami bermaksud pergi ke Ceng touw "

Pembesar itu nampak terkejut mendengar ini, dan wajahnya berseri, pandang matanya penuh harap. "Ke Ceng touw. ? Ah, kalau saja aku tidak terikat oleh tugasku 

mengawasi pembangunan istana Lok-yang ini, tentu aku sudah pergi ke Ceng-touw. Ada perkembangan yang amat gawat di sana!"

"Perkembangan yang amat gawat Apakah itu, Tai-jin? Apa yang telah terjadi di sana?" Giok Cu bertanya. "Ji-wi dapat membantu kami dalam hal ini," kata pembesar itu. "Kalau -Ji wi pergi ke Ceng-touw, tolonglah selidik kebenaran berita yang kami dengar tentang sebuah perkumpulan agama baru yang kabarnya makin besar pengaruh dan kekuasaannya sehingga tidak saja perkumpulan itu menundukkan perkumpulan lain dan menguasai dunia 

kang-ouw, bahkan mereka mulai menanamkan pengaruh mereka kepada para pejabat setempat. Gerakan mereka di luar bukan urusanku, melainkan tugas para petugas keamanan untuk mengawasi mereka. Akan tetapi kalau mereka sudah menanamkan kuku mereka mencengkeram para pejabat, ini berbahaya sekali, dapat menyeret para pejabat ke dalam kesesatan dan harus dicegah."

"Liu Tai-jin, perkumpulan agama apakah itu?" tanya Giok Cu, jantungnya berdebar karena ia sudah dapat menduga. Perkumpulan agama apalagi kalau bukan Thian-te-kauw yang menyembah Thian-te Kwi-ong, perkumpulan yang dipimpin oleh Hok-houw Toa-to Lui Seng Cu dan Ban-tok Mo-li?

"Perkumpulan Thian-te-pang yang berdasarkan agama baru Thian-te-kauw dan berpusat di Ceng-touw."

Mendengar ini, Han Beng memandang tajam, akan tetapi dia pun diam saja, dan dia hanya menyerahkan kepada Giok Cu untuk membicarakan urusan itu. Dia tahu bahwa perkumpulan itu dipimpin oleh Ban-tok Mo-li guru pertama gadis itu, seperti yang pernah diceritakan Giok Cu kepadanya.

"Jangan khawatir, Tai-jin. Kami berdua akan menyelidiki dan kelak akan memberi laporan kepada Tai-jin." kata Giok Cu dengan sikap sungguh-sungguh.

Wajah pembesar itu makin berseri. "Ah, terima kasih, Lihiap. Legalah hatiku mendengar kesanggupan Ji-wi. Akan tetapi, harap Ji-wi berhati-hati, karena menurut keterangan yang kuperoleh, perkumpulan itu dipimpin oleh orang-orang yang amat lihai. Akan tetapi, rakyat menganggap perkumpulan  itu sebagai perkumpulan agama yang baik, mereka mempunyai sebuah kuil pula, dari banyak orang datang bersembahyang Dilihat dari luar, mereka itu seperti orang- orang beribadat dan hidup saleh akan tetapi di balik semua itu, mereka merupakan gerombolan orang sesat yang amat berbahaya. Kalau sampai mereka dapat mencengkeram dan mempengaruhi, para pejabat, maka mereka merupakan bahaya besar karena dapat menghasut agar para pejabat itu memberontak terhadap pemerintah."

Han Beng dan Giok Cu mengangguk-angguk. Mereka berjanji akan berhati-hati dan kelak akan memberi laporan. Kemudian, setelah menerima jamuan makan dari pembesar yang bijaksana itu, Han Beng dan Giok Cu melanjutkan perjalanan menuju Ceng-touw. Di tengah perjalanan, mereka membicarakan apa yang mereka dengar dari Liu Tai-jin tadi.

"Tak salah lagi, yang dimaksudkan Liu Taijin tentulah perkumpulan penyembah Thian-te Kwi-ong yang dipimpin oleh iblis busuk Lui Seng Cu dan dibantu oleh Ban-tok Mo-li," kata Giok Cu yang sejak meninggalkan guru pertama itu tidak pernah lagi menyebut su-bo (ibu guru) kepada Ban-tok Mo-li yang memang tidak dianggapnya sebagai guru lagi. Mana ada Guru hendak mencelakai bahkan hendak membunuh muridnya? Kalau dulu tidak ada Hek Bin Hwesio, tentu ia telah tewas di tangan Ban-Tok Mo-li dan Lui Seng Cu.

“Akan tetapi, maksud kita berkunjung kepadanya hanya untuk bertanya tentang kematian orang tuamu, Giok Cu. Kita tidak perlu mencampuri urusan perkumpulan mereka, hanya menyelidiki saja bagaimana sesungguhnya pengaruh mereka terhadap para pejabat untuk kelak kita laporkan kepada Liu Taijin,” Kata Han Beng.