-->

Naga Sakti Sungai Kuning Jilid 15

Jilid 15

Kakek itu tersenyum. "Dunia menghadapi masa suram dan memang amat dibutuhkan orang-orang muda seperti engkau, Si Han Beng. Baiklah, dalam usia pinto yang sudah tua ini, pinto akan mencoba untuk menambah bimbingan sedapatnya kepadamu. Mari, engkau ikutlah aku ke Thai-san."

Dengan girang Han Beng lalu memberi hormat delapan kali sebagai tanda pengangkatan guru dan malam itu juga guru dan murid ini melanjutkan perjalanan menuju ke Thai-san.

oooOOooo

Pemuda itu menangis sambil berlutut di depan kakek raksasa hitam yang duduk bersila di depannya, dalam sebuah gua. Pemuda itu berusia kurang lebih dua puluh lima tahun. Tubuhnya sedang dadanya bidang dan wajahnya yang putih itu nampak tampan dan lembut. Rambutnya disisir rapi, dan pakaian yang seperti seorang pelajar itu pun terbuat dari sutera halus, rapi dan mewah, seperti seorang pelajar dari kota putera seorang hartawan atau seorang bangsawan. Melihat rambutnya yang rapi, pakaian yang bersih, sepatu yang mengkilap, dapat dilihat bahwa dia seorang pemuda yang pesolek. Sikap lemah lembut, dan hidungnya yang besar mancung, bibirnya yang merah penuh gairah, matanya yang dapat memandang dengan sayu, sungguh pemuda ini memiliki daya tarik yang amat kuat bagi wanita pada umumnya.

"Suhu.......... ah, Suhu kenapa suhu begitu begitu 

tega menyuruh teecu pergi dari sini? Semua perintah Suhu telah teecu lakukan. Latihan-latihan yang teramat berat, mempertaruhkan nyawa sudah teecu laksanakan dengan baik, akan yang terakhir, Suhu menyuiuh teecu bertapa seperti mayat di dalam kuburan, diantara makam orang mati, sampai sebulan lamanya. Teecu merasa seram dan takut setengah mati, akan tetapi sudah teecu lakukan juga semua itu 

untuk mentaati perintah Suhu. Dan sekarang. sekarang  Suhu menyuruh teecu pergi " Pemuda itu menangis. 

Sungguh mengherankan sekali. Pemuda itu demikian gagah perkasa, akan tetapi kini dapat menangis seperti seorang anak kecil. Begitu cengengnya!

"Hong San, hentikan tangismu itu!" kata Kakek Raksasa yang bersila di depannya. 

"Engkau tahu, semua yang kaulakukan itu bukan hanya untuk mentaati perintahku, melainkan demi kepentinganmu sendiri! Selama ini engkau kugembleng sampai habis semua ilmuku kuberikan kepadamu, bahkan kubuka rahasia menghimpun tenaga rahasia dengan jalan bertapa, semua itu untukmu! Kini engkau miliki tingkat kepandaian yang tidak kalah olehku!"

Mendengar ini, seketika pemuda itu menghentikan tangisnya dan dia memandang kepada gurunya sambil tersenyum! Dan senyumnya sungguh manis sekali! Kalau ada yang melihatnya, tentu orang itu akan tcrtegun. Baru saja menangis begitu sedihnya, kini suddh dapat tersenyum manis!

”Benarkah Suhu? Benarkah., bahwa tingkat kepandaian teecu kini tidak kalah oleh Suhu?'' katanya dengan sikap manja seperti anak kecil.Akan tetapi harus diakui bahwa kini wajahnya tampan sekali, berseri-seri, mulutnya tersenyum dan bibir merah itu Penuh gairah, sepasang matanya indah cemerlang.

Kakek itu berusia enam puluh tahun. Tinggi besar seperti raksasa. Tubuh yang kokoh kuat itu berkulit hitam, rambutyabrewok di mukanya yang tebal dan awut-awutan, masih hitam, mukanya seperti singa persegi empat, dan matanya mencorong. Kakek ini bukan lain adalah Cu-beng Sai-kong! Setelah dikalahkan oleh Pek I Tojin dan anak buahnya dibasmi, kakek ini merasa kecewa, penasaran dan sakit hati sekali, akan tetapi, dia pun harus mengakui bahwa dia tidak akan mampu mengalahkan Pek I Tojin. Maka untuk  menghilang rasa malunya, dia melarikan diri dan bersembunyi di dalam sebuah gua di Penungan Himalaya. Di tempat ini, dia bertemu dengan muridnya yang memang di suruh berlatih seorang diri di tempat sunyi itu.

Pemuda itu bernama Can Hong San. sendiri tidak tahu siapa ayah ibunya karena semenjak dia dapat mengingat tentang dirinya, dia sudah menjadi murid Cui-beng Sai-kong. Gurunya itu hanya dikenalnya sebagai seorang kakek sakti yang berjuluk Cui-beng Sai-kong, tanpa dia ketahui siapa namanya yang sesungguhnya. Tadinya, dia dan gurunya tinggal di gua besar itu dan dia gembleng dengan berbagai ilmu. Guruya demikian sayang kepadanya sehingga bukan saja dia digembleng dengan ilmu silat, bahkan ketika dia berumur sepuluh tahun, dia diajak pergi ke sebuah dusun di kaki pegunungan, gurunya menyuruh dia mempelajari kesusastraan dari seorang sastrawan yang mengasingkan diri. Sastrawan ini berbangsa peranakan Han dan Tibet, lama lebih dari lima tahun Hong belajar membaca dan menulis, juga kesusastraan Han dipelajarinya. Bukan saja, juga suhunya memanggil seorang ahli lukis dan main suling, sehingga muridnya itu mempelajari pula dua macam kesenian ini.

Untuk keperluan muridnya, Cui-beg Sai-kong mendatangkan banyak orang pandai yang mengajar muridnya. Sejak kecil pun muridnya itu disuruh menggunakan pakaian serba indah, pakaian pelajar dan sastrawan dan diajar pula berdandan diri sehingga selalu kelihatan gagah dan tampan seperti seorang putera bangsawan!

"Engkau berdarah bangsawan, Hong San." hanya itulah keterangan yang, lalu diberikan kepada muridnya kalau murid itu bertanya siapa orang tua. Ucapan ini mendatangkan kesan mendalam sehingga setelah dewasa, Hong San merasa bahwa dia seorang pemuda bangsawan, maka dia pun selalu ingin menyesuaikan diri dengan derajatnya dan lagaknya dia atur sehingga dia pantas menjadi seorang putera bangsawan seper¬ti yang dia kenal dari bacaan kitab-kitab kesusastraan. Demikianlah, setelah Hong San berusia dua puluh tiga tahun, dia telah menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah, memiliki banyak ilmu kepandaian, baik bu (silat) maupun bun (sastra). Akan tetapi, kehidupan di dusun itu, ketika dia belajar kesusastraan, mengakibatkan dia mengenal pergaulan masyarakat luas. Dan karena gurunya selalu memanjakannya memberi uang berlebihan, emas dan perak tak pernah kosong dari sakunya, maka banyak orang-orang muda yang suka berkawan dengan Hong San. Dan dari hubungan ini, Hong San mulai mengenal bermacam kesenangan, di antaranya kesenangan hubungan dengan wanita. Mulai usia belasan tahun saja dia telah diajak oleh teman-temannya untuk mendatangi wanita-wanita pelacur dan kesenangan ini kemudian menjadi kelemahan bagi Hong San. Dia, setelah dewasa, selain tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah, juga menjadi seorang laki-laki pesolek dan cabul yang senang menghambakan kepada nafsu berahi secara berlebih-lebihan! Dia menjadi seorang mata ranjang yang tidak ketulungan lagi. setiap melihat wanita cantik yang agak lebih dari wanita biasa, berahinya timbul dan dia belum merasa puas kalau belum menundukkan wanita itu dan menyeretnya ke dalam pelukannya, jarang ada wanita yang mampu menolaknya. Dia seorang pemuda yang tampan gagah perkasa, jantan, dan pandai sajak, pandai bernyanyi, pandai pula meniup suling, ahli merayu dan yang terakhir, royal dan banyak uang!

Cui-beng Sai-kong tentu saja mengetahui akan kesukaan muridnya itu. Akan tetapi, dia sendiri seorang datuk ssesat dan kesenangan seperti itu dianggapnya lumrah, bahkan dia merasa senang dan bangga mendengar betapa muridnya menjadi rebutan para perawan dusun dan kota. Kesenangan seperti itu dianggapnya "menyehatkan" dan membuktikan bahwa Hong San benar-benar seorang 'laki-laki jantan! Dia tidak melarang atau menegur, bahkan tanpa malu-malu lagi dia mengajarkan semacam ilmu untuk menundukkan hati wanita! Dalam bidang itu pun bagi Cui-beng Sai-kong terdapat ilmunya! Tentu saja Hong San menjadi semakin gila! Dua tahun yang lalu, yaitu ketika Hong San berusia dua puluh tiga tahun, gurunya pergi meninggalkannya dan meninggalkan setumpuk latihan untuknya, latihan aneh-aneh untuk menghimpun kekuatan dan kesaktian. Hong San yang memiliki kemauan keras dan keinginan uuk menjadi jagoan tanpa tanding, mlaksanakan semua petunjuk suhunya dan berlatih dengan amat tekunnya. Latihan yangmendekati ilmu hitam, yang amnt menyeramkan, seperti bertapa dalam tanah seperti mayat, di tanah kuburan, juga dilaksanakan sampai berhasil. Maka ketika suhunya akhirnya muncul kembali, dua tahun kemudian, dia sudah menjadi seorang yang benar-benar lihai bukan main.

Akan tetapi, begitu datang, uhu itu memanggilnya dan mengatakan bahwa sudah tiba saatnya bagi Hong San untuk meninggalkan tempat pertapa meninggalkan gurunya! Pemuda yang wataknya aneh, mudah sekali bergembira akan tetapi juga mudah menangis, menandakan bahwa batinnya sesungguhn amat lemah dan tidak berdaya dipermainkan oleh nafsu-nafsunya, mula-mula menangis akan tetapi ketika mendeng dari suhunya bahwa tingkat kepandaia nya sudah menyamai suhunya, dia tersenyum gembira dan bangga!

"Hong San, sekarang dengarlah baik-baik, aku akan bercerita kepadamu." kata Kakek Tinggi Besar berkulit hitam itu Hong San yang kini sudah duduk bersila, berhadapan dengan gurunya, mengangguk dan mendengarkan penuh perhatian. Dia memang selama ini menjadi murid yang amat taat dan baik sekali. Kakek raksasa hitam itu lalu bercerita. Kurang lebih dua puluh enam tahun yang lalu, serombongan bangsawan Nepal bertamasya di dekat perbatasan Nepal dan Tibet. Perwira bersama isteri dan puterinya, berburu binatang sambil berpesiar di daerah pegunungan yang kaya akan binatang buruan itu. Tentu saja perwira itu tidak takut karena ada pasukan pengawal yang dua losin banyaknya menjaga keselamatan dia dan anak isterinya. Akan tetapi, pada malam harinya, ketika rombongan itu berhenti dan membuat perkemahan di luar hutan, membuat api unggun dan dijaga oleh pasukan pengawal, tiba-tiba mereka diserang oleh segerombolan perampok yang melepaskan panah api. Tentu saja para pengawal menjadi panik. Terjadilah pertempuran di malam gelap, diterangi oleh sinar api unggun dan api yang membakar perkemahan. Dalam kekacauan itu, para pengawal yang dipimpin oleh perwira itu mengadakan perlawanan mati-matian dan akhirnya gerombolan perampok itu dapat dihalau dan mereka melarikan diri dalam hutan. Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kagetnya perwira itu ketika mendapat kenyataan bahwa dalam keributan itu, anak perempuannya sedang dewasa telah lenyap! Dia mengerahkan pasukan pengawalnya untuk mencari, akan tetapi sia-sia saja karena hutan itu amat luasnya. Isterinya juga tidak dapat mengatakan ke mana adanya anak gadisnya. Dalam keributan itu isteri perwira ketakutan dan bersembunyi saja di dalam tenda. Sebaliknya, gadis itu ingin membantu ayahnya, membawa pedang dan keluar dari tenda. Lalu lenyap tanpa meninggalkan jejak.

Kiranya gadis itu dilarikan oleh pala perampok! Dan ternyata bahwa gerombolan perampok itu menyerang rombongan perwira Nepal bukan untuk merampok harta benda, melainkan memang untuk menculik gadis itu. Sudah sejak memasuki hutan, rombongan itu di ikuti oleh sepasang mata kepala perampok yang tergila-gila melihat kecantikan gadis Nepal itu. Gadis itu meronta dan melawan mati-matian, namun apa dayanya menghadapi para perampok yang bertubuh raksasa ? Akhirnya ia menerima nasib dan menjadi isteri kepala perampok dengan terpaksa.

"Wah, gadis itu memang cantik manis bukan main. Belum pernah selama hidupnya kepala perampok itu bertemu dengan gadis seperti itu. Bagaikan setangkai mawar indah    

penuh kelembutan, penuh kehangatan, penuh keharuman memikat, akan tetapi juga banyak durinya, bebas, liar dan mempesona. ” Cui-beng Sai-kong mengakhiri ceritanya  dengan puji-pujian kepada gadis yang diculik kepala perampok itu.

Hong San yang sejak tadi mendengarkan penuh perhatian, merasa kecewa, kiranya suhunya hanya menceritakan sebuah dongeng sederhana! Tentang seorang gadis Nepal yang diculik kepala rampok dan dipaksa menjadi isterinya! Akan tetapi dia seorang murid yang baik, tidak mau mengecewakan hati gurunya dan dia berlagak amat tertarik oleh cerita itu.

"Aduh, betapa senangnya kepala rampok itu, Suhu! Gadis cantik jelita memang tentu saja jauh lebih "berharga daripada segala macam harta. Lalu bagaimana, Suhu? Apakah gadis itu akhirnya mau menjadi seorang isteri yang membalas cinta suaminya?"

Cui-beng Sai-kong tertawa bergelak sehingga tubuhnya yang tinggi besar terguncang, mukanya yang seperti singa nampak menyeramkan sekali.

"Ha-ha-ha-ha, aku Cui-beng Sai-kong memang bukan seorang laki-laki yang haus wanita, akan tetapi sekali aku jatuh cinta dan menundukkan seorang wanita tentu bertekuk lutut dan menyerah sebulatnya, Ha-ha!"

Pemuda itu tertarik sekali sekarang, bukan pura-pura. "Wah, kiranya Suhu sendirikah kepala perampok itu?"

Cui-beng Sai-kong tersenyum lebar "Dua puluh enam tahun yang lalu masih muda, seorang laki-laki yang gagah dan menarik walaupun ilmu kepandaianku belum berapa tinggi. Puteri bangsawan Nepal itu menyerah, menjadi istriku. Aku benar-benar jatuh cinta padanya, ia pun agaknya dapat membalas cintaku, akan tetapi. " Dan tiba-tiba saja kakek 

raksasa bermuka singa itu menangis menggerung-gerung seperti orang gila! Hong San hanya memandang saja dan tidak menegur, akan tetapi dia merasa semakin tertarik. "Apakah yang telah terjadi, Suhu? Dimana Subo sekarang?" tanyanya walaupun dia sudah dapat menduga bahwa tentu subonya (ibu gurunya) itu agaknya sudah meninggal dunia sehingga kini terkenang akan isteri tercinta itu gurunya menangis. Kalau masih hidup tentu dia pernah bertemu dengan wanita itu.

Seperti juga ketika mulai, secara tiba-tiba saja Cui-beng Sai-kong menghentikan tangisnya dan kini sepasang mata yang lebar dan besar itu melototinya memandang kepada muridnya dengan sinar mata penuh kemarahan mencorong dari sepasang mata yang kemerahan itu

"la sudah mati! Ahhh, ia sudah mati ketika melahirkan engkau, keparat! Karena itu aku harus membunuhmu untuk menebus dosamu yang menyebabkan kematian orang yang kukasihi!" Dan tiba-tiba saja Cui-beng Sai-kong menyerang dengan terkaman seperti seekor singa yang marah!

Pemuda itu merasa sangat terkejut. Pertama karena mendengar bahwa dia adalah putera wanita bangsawan Nepal yang menjadi isteri suhunya itu, berarti adalah putera suhunya, dan kedua karena tiba-tiba orang yang selama ini dianggap guru dan ternyata ayah kandungnya itu telah menyerangnya dengan amat dahsyat! Cepat dia melempar tubuh ke belakang dan tubuhnya berjung balik membuat salto sampai lima kali barulah dia berhasil melepaskan diri serangkaian serangan yang dilakukan gurunya dengan dahsyat. Serangan kakek raksasa itu merupakan serangan maut yang mengarah nyawanya! Dengan muka agak pucat dan mata mencorong marah Hong San berseru. 

"Suhu, apakah Suhu sudah gila?" 

Akan tetapi, jawaban kakek itu adalah serangan yang lebih hebat lagi! Tubuhnya meliuk-liuk, kedua tangannya membentuk cakar naga, matanya seperti bernyala dan mulutnya yang terbuka itu mengeluarkan suara mendesis  panjang dan ada uap tipis keluar dari mulutnya, yang mengandung hawa panas! Kemudian, dia mengeluarkan suara parau seperti suara burung gagak dan tubuhnya condong kedepan, kedua tangan yang membentuk cakar itu bergerak- gerak seperti menggaruk-garuk atau mencakar ke depan.

Hong San mengerutkan alisnya. Itulah Koai-liong-kun (Silat Naga Setan), yang merupakan ilmu silat tangan kosong yang paling dahsyat dari gurunya! dia maklum bahwa dia tidak akan mungkin dapat menyelamatkan diri kalau menggunakan ilmu silat lain, maka dia meniru gerakan gurunya, tubuhnya meliuk- liuk dan kedua tangannya membenntuk cakar naga, mulutnya mendesir mengeluarkan hawa panas. Dia pun mu bersiap dengan ilmu Koai-liong-kun pula

"Keparat? Pembunuh isteriku tercinta. Sudah lama kutunggu saat ini. Kau harus mampus di tanganku!" bentak Cui-be Sai-kong dengan suara menggeledek.

Hong San tersenyum mengejek, matanya berkilat. "Hemmm, coba saja kalau kau mampu!" Diam-diam dia pun merasa penasaran bukan main. Orang ini adalah gurunya, bahkan mengaku sebagai ayah kandung, akan tetapi kini bersikeras hendak membunuhnya! Karena merasa disudutkan, dihimpit dan direndahkan bangkit kemarahan dalam hati pemuda yang wataknya juga amat aneh ini. tahu betapa lihainya orang yang selama ini dianggap gurunya, dan dia harus me ngerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannnya untuk melawan. Dia harus dapat membunuhnya lebih dulu sebelum dibunuh!

Cui-beng Sai-kong sudah menerjang lagi, dahsyat bagaikan seekor naga mengamuk. Akan tetapi sekali ini Hong San tidak hanya menghindar, melainkan mengelak lalu langsung membalas dan di lain saat, guru dan murid itu telah saling serang dengan hebatnya. Karena ilmu silat yang mereka pergunakan dalam pertandingan ini sama, maka dipandang sepintas lalu mereka itu seperti sedang berlatih saja. Akan  tetapi,sesungguh tidak demikian karena keduanya mengerahkan seluruh tenaga mereka dan perkelahian itu. Setiap jurus yang digerakkan mempunyai tujuan membunuh! Dari mulut mereka kini menyembur uap putih kemerahan yang amat panas, dan cengkeraman mereka semakin dahsyat, tendangan yang berupa jurus naga menyabetkan ekor itu pun kalau mengenai tubuh lawan tentu akan berakibat hebat!

Beberapa batang pohon yang tumbuh di kanan kiri gua itu seperti dilanda angin badai, dan karena mereka berkelahi di depan gua, maka suara angin pukulan mereka memasuki gua dan menimbulkan gema suara mengaung yang mengerikan.Tanah dan debu beterbangan di bawah kaki mereka.

Bagaimanapun juga, tentu saja ilmu yang dimiliki Cui-beng Sai-kong lebih matang dibandingkan Hong San, maka setelah lewat puluhan jurus, pemuda itu terdesak dan lebih banyak mengelak dan menangkis daripada menyerang. Namun pemuda ini mewarisi seluruh ilmu gurunya dan karena dia memang berbakat baik, maka dia telah mengusai ilmu-ilmu itu. Dan untuk menebus kekalahannya dalam pengalaman, pemuda ini lebih menang dalam hal napas tenaga. Gurunya sudah mulai berkerinngat dan napasnya memburu, sedangkan dia sendiri masih segar bugar! Hal ini agaknya disadari pula oleh Cui-beng Si kong, maka agar jangan sampai akhirnya kalah, dia mengeluarkan suara melengking panjang dan nampak sinar berkilauan ketika dia mencabut pedangnya!

Melihat ini, Hong San berseru, "Bagus, mari kita mengadu nyawa!" sambil membentak, dia pun mencabut pedangnya.

"Cring-tranggggg. !" Bunga api berpijar dan suara 

nyaring bergema kedalam gua ketika beberapa kali pedang- pedang itu saling bertemu. Kini mereka saling serang dengan pedang dan beberapa kali pedang mereka saling bertemu dengan amat kuatnya. Namun, setiap kali pedang bertemu, nampak tubuh Cui-beng Sai-kong tergetar!' "Wuuuuuttttt .........singgggg. !" Hong San terkejut 

bukan main. Serangan gurunya tadi amat dahsyatnya sehingga nyaris lehernya terbabat putus! Untung dia masih sempat merendahkan tubuhnya sehingga hanya segumpal rambut saja yang terbabat dan rambut itu pun berhamburan. Pedang di tangan Cui-beng-kong itu masih meluncur terus kebelakangnya. "Crokkkkk!!" Batang pohon di bela¬ng pemuda itu terbabat dan tumbang! Demikian hebatnya sambaran pedang ditangan kakek raksasa itu. 

"Singgggg. !" Hong San tidak mau membuang 

kesempatan itu dan pedangnya sudah meluncur ke depan, menusuk ke bawah pangkal lengan mengarah dada kanan gurunya.

"Tranggggg. !" Cui-beng Sai-kong masih mampu 

menangkis, akan tetapi tangkisan pedang itu yang agak lambat membuat dia terhuyung ke belakang. Hong San terus mendesak dan terjadilah lanjutan perkelahian yang lebih seru lagi. Dan karena ilmu pedang mereka pun sama, maka perkelahian seperti latihan saja, walaupun setiap pedang menyambar, selalu merupakan serangan maut. Namun bagi Hong San pertandingan itu sama sekali bukan merupakan latihan, karena dia tahu bahwa kakek yang selama ini dianggap guru itu benar-benar berusaha keras hendak membunuhnya. Dia pun mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk melawan dan juga berusaha untuk merobohkan gurunya, kalau perlu membunuhnya!

Pertandingan berlangsung seru setelah lewat seratus jurus, mulai gerakan Cui-beng Sai-kong mengendur bukan hanya dia kehabisan tenaga, akan tetapi juga napasnya terengah-engah. Tubuhnya sudah basah oleh keringat dan gerakan kaki maupun tangannya sudah tidak mantap lagi. Melihat ini, Hong San bukan mengalah, bahkan dia mempercepat dan memperkuat serangan-serangan-sehingga kakek itu benar- benar terdesak hebat! "Cringgg.............. tanggggg. Ceppp!" Dua kali 

sepasang pedang itu bertemu de¬gan amat kerasnya dan pedang di tangan kakek itu terpental, disusul masuknya pedang di tangan Hong San yang menusuk ke depan dan memasuki dada gurunya, hampir menembus punggung. Peristiwa ini hampir tidak nampak saking cepatnya gerakan pedang dan juga kakek itu nampak hanya berdiri mematung, pedangnya masih berada di tangan kanan sedangkan tangan kiri mendekap dada, matanya mendelik me¬mandang ke arah Hong San, dan tiba-tiba saja dia tertawa bergelak!

"Bagus, ha-ha-ha-ha, bagus sekali! Engkau telah dapat mengalahkan aku, ha-ha-ha! Engkau telah dapat membunuhku, berarti engkau telah mewarisi seluruh kepandaianku dan engkau telah siap untuk menjadi jagoan tak terkalahkan di dunia ha-ha-ha !"

Mendengar ucapan ini dan melihat kakek itu terhuyung, pedangnya terlempar lalu roboh terguling, barulah Hong sadar bahwa gurunya tadi memang sengaja mengujinya sampai akhir, den taruhan nyawa! Dia pun cepat berlutut dekat tubuh suhunya.

"Suhu ............., benarkah Suhu juga. Ayah kandungku 

sendiri?"

Darah itu mengalir melalui celah-celah antara jari tangan kiri yang mendekap luka di dada. Wajah singa itu tersenyum lebar. "Kenapa tidak benar? Dulu sekali namaku adalah Can Siok, maka engkau she Can. Ibumu adalah puteri bangsawan Nepal itu. Aku. ah, aku menderita bertahun-tahun karena 

kehilangan wanita yang kucinta. Segala perbuatan kulakukan untuk menghibur diri dan melupakannya. Akan tetapi gagal aku setiap malam bermimpi dan setiap siang terkenang. Hanya karena engkau lah aku hidup sampai sekarang. Engkau mirip sekali Ibumu, maka aku mengemblengmu sampai tamat. Dan ujian hari ini. berarti engkau lulus dan engkau yang 

mengantar aku menyusul Ibumu ha-ha-ha!" Kakek itu  tertawa

terus sampai akhirnya suara ketawanya makin lemah, lalu diam tak terdengar lagi juga tubuhnya terkulai lemas. Ke¬tika Hong San merabanya, tahulah dia hahwa gurunya, juga ayahnya, telah tewas! Dan tiba-tiba pemuda itu menangis menggerung-gerung memeluk mayat ayah kandungnya! Dia menangis bukan karena menyesalan, melainkan karena merasa sengsara, sebatang kara di dunia.

Akan tetapi tidak lama dia menangis. Di lain saat dia sudah bangkit berdiri, memandang mayat ayahnya yang telentang itu. Sepasang mata yang lebar Itu masih terbuka, mendelik, mulut itu agak ternganga dan bagian depan tubuh mayat itu berlepotan darah. Dan dia merasa bangga!

"Ha-ha-ha," dia tertawa, tidak senyaring ketawa ayahnya, melainkan suara Ketawa yang ditahan-tahan dan terdengar menyeramkan, "aku telah dapat mengalahkan Cui-beng Sal- kong! Guruku dan Ayahku sendiri telah tewas di ujung pedangku. Apalagi orang lain! Terma kasih, Suhu! Terima kasih, Ayah! Bukan hanya untuk ilmu-ilmu yang kupelajari darimu, juga karena engkau mati ditanganku! Lebih baik engkau mati agar aku tidak usah mengaku engkau yang buruk sebagai ayah kandungku!"

Setelah berkata demikian, Hong memasuki gua, mengemasi semua barangnya dan tak lama kemudian dia keluar menggendong buntalan pakaian, kantung emas simpanan ayahnya, meninggalkan gua, membiarkan mayat ayahnya menggeletak telentang di depan gua begitu saja! Sebuah caping lebar yang bercat merah memayungi kepalanya dan dengan lenggang seenaknya pun menuruni bukit itu.

Hong San memang memiliki watak yang aneh, mungkin watak ini dia war isi pula dari gurunya yang ternyata juga ayah kandungnya. Biarpun dia tahu bahwa gurunya adalah ayahnya sendiri, sedikit pun dia tidak merasa menyesal bahwa dia telah  menjadi sebab kematan ayahnya! Dia sama sekali tidak memedulikan mayat ayahnya itu, bahkan begitu turun dari bukit, dia memasuki buah kota dan pertama yang dicarinya adalah seorang pelacur langganannya. Dia bermalam di tempat pelesir itu sampai tiga malam dan dia bersenang- senang dengan pelacur itu. Setelah puas, baru dia meninggalkan tempat itu, untuk mulai dengan perantauannya karena dia bercita-cita untuk menaklukkan semua tokoh dunia persilatan dan mengangkat diri sendiri menjadi seorang tokoh besar, menggantikan gurunya atau juga ayahnya! Dia akan menyusuri sepanjang Su-gai Huang-ho (Kuning) untuk kemudian menuju ke kota raja!

ooOOOoo

Mereka bertiga nampak bahagia sekali. Anak laki-laki berusia tiga tahun itu berlari-larian mengejar kupu-kupu di antara bunga-bunga yang sedang mekar indah. Ayah ibunya duduk di atas bangku, nampak mesra dan saling mencinta.

"Lihat, betapa gembiranya Thian Ki kata Sang Isteri. Suaminya mengangguk-angguk.

"Kalau dia memiliki gemblengan silat sejak bayi, tentu dia akan mudah menangkap kupu-kupu itu. " kata suaminya.

"Dan meremasnya hancur? Ihhh, mengerikan! Untung kita sudah mengambil keputusan untuk menjadikan dia seorang manusia yang berbudi baik, yang tidak mengenal kekerasan, tidak suka berkelahi."

Suami itu menggenggam tangan isterinya yang membalas genggaman itu. Dari getaran tangan mereka, keduanya maklum akan isi hati masing-masing merasa setuju. Memang, mereka telah mengambil keputusan, bahkan keduanya telah bersumpah ketika anak itu masih berada di dalam kandungan bahwa mereka berdua akan menjaga agar anak mereka kelak  tidak menjadi seorang yang seperti mereka, yaitu orang yang pandai ilmu silat seperti mereka. Mereka bersumpah bahwa anak mereka akan menjadi seorang terpelajar yang halus dan Yang sama sekali tidak mengenal dunia persilatan, tidak mengenal kekerasaan! Maka, setelah anak itu terlahir, seorang anak laki-laki yang sehat, mereka berdua menjaga agar anak itu sama sekali tidak mengenal ilmu silat.

Memang aneh sekali kalau diingat akan keadaan suami isteri ini. Mereka masih muda. Usia mereka baru tiga puluh tahun lebih sedikit. Pria itu tampan, biasa mengenakan pakaian putih, nampak gagah dan sikapnya jelas menunjukkan bahwa dia seorang ahli silat yang pandai. Memang tidak salah. Dia adalah Coa Siang Lee, keturunan pemimpin perkumpulan Hek-houw-pang, perkumpulan orang gagah yang pandai silat dan sejak kecil Coa Siang Lee telah digembleng dengan ilmu silat. Adapun isterinya itu juga bukan orang sembarangan, bahkan memiliki ilmu silat yang lebih hebat daripada suaminya! Ia adalah Sim Lan Ci,seorang wanita cantik yang berpakaian serba hitam, la bukan lain ad lah puteri dari Ban- tok Mo-li, dan sesat itu yang berjuluk Iblis Betina.

Seperti kita ketahui di bagian depan kisah ini, Coa Siang Lee dan Sim Lan Ci menjadi suami isteri sebagai akibat dari perbuatan Sin-tiauw Liu Bhok Ki. Coa Sia Lee berusaha membalas dendam atas kematian Coa Kun Tian, ayah kandungnya dibunuh oleh Liu Bhok K i. Adapun Sim Lan Ci juga berusaha membalas dendam kepada Sin-tiauw Liu Bhok Ki atas kematian Phang Hui Cu, bibinya yang menjadi isteri Liu Bhok Ki kemudian dibunuh sendiri oleh pendekar itu karena isteri itu berjina dengan Coa Kun Tian. Akan tetapi, usaha mereka yang kebetulan bersama-sama tidak di rumah kediaman Liu Bhok Ki, juga sama sekali karena bukan Liu Bhok Ki yang terbunuh oleh mereka, sebaliknya mereka berdua yang roboh dan menjadi tawanan Sin-tiauw Liu Bhok Ki yang perkasa itu! Liu Bhok Ki tidak membunuh mereka. Pendekar aneh ini mempunyai cara yang aneh tersendiri untuk “menghukum" dua orang keturunan dari mendiang isteri dan  pacar isterinya itu, yaitu dia membius mereka, memberi minuman yang mengandung obat perangsang berahi dan membiarkan Coa Siang Lee dan Sim Lan Ci melakukan hubungan badan. Akan tetapi, kedua orang muda yang di bawah pengaruh obat perangsang itu setelah melakukan hubungan badan di luar kesadaran masing-masing, saling jatuh cinta dan mengambil keputusan untuk melanjutkan hubungan itu dengan menjadi suami isteri. Justeru inilah yang dikehendaki Liu Bhok Ki agar kelak dia memperoleh kesempatan membalas dendam, yaitu merusak hubungan suami isteri itu dan menghancurkan kebahagiaan mereka seperti yang telah menimpa dirinya.

Seperti diceritakan di bagian depan, Coa Siang Lee dan Sim Lan Ci yang telah bersepakat untuk menjadi suami Isteri, menghadap keluarga Coa Siang Lee. Namun, keluarga Coa yang menjadi , pimpinan Hek-houw-pang menjadi marah dan sama sekali tidak setuju kalau Siang Lee menjadi suami puteri Ban-Tok Mo-li! Sepasang orang muda itu lalu pergi menemui Ban-tok Mo-li, namun datuk sesat, iblis betina yang kejam dan aneh ini pun marah-marah, bahkan hampir membunuh Siang Lee, kemudian mengusir puterinya bersama pria yang dipilih puterinya itu.

Demikianlah, Coa Siang Lee dan Lan Ci lalu pergi. Mereka berdua tentu saja merasa menyesal sekali melihat sikap keluarga masing-masing dan mereka pergi ke daerah yang asing sama sekali di mana mereka hidup baru sebagai suami isteri yang saling mencinta, akan tetapi mereka menyembunyikan kepandaian dan hidup sebagai sepasang suami isteri petani biasa! Mereka bahkan mulai membenci ilmu silat. Bukan karena keluarga mereka itu tokoh-tokoh persilatan maka membenci perjodohan itu? Masing-masing mempertahankan nama dan saling bermusuhan!

Setelah sepuluh tahun menjadi suami isteri, barulah Sim Lan Ci mengandung. Mereka tentu saja merasa berbahagia sekali akan tetapi juga merasa khawatir kalau-kalau anak  mereka kelak akan penjadi korban kekerasaan kehidupan kaum persilatan. Maka mereka lalu bersumpah untuk tidak memperkenalkan anak mereka pada dunia persilatan, sama sekali tidak ingin anak mereka mempelajari ilmu silat! Kegembiraan mereka menjadi semakin besar ketika kandungan itu kemudian melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat sekali! 

Demikianlah, pada sore hari itu, setelah sehari tadi sibuk memimpin buruh tani menuai padi gandum mereka yang subur, suami isteri ini mengaso di miman sebelah kanan rumah mereka, melihat Thian Ki, putera mereka yang berusia tiga tahun itu berlari-larian mengejar kupu-kupu.

Biarpun suami isteri itu keturunan orang-orang pandai, bahkan mereka berdua telah memiliki ilmu silat yang tinggi, namun mereka berdua yang sudah kurang lebih dua belas tahun tidak pernah lagi berurusan dengan dunia kang-ouw, mereka menjadi lengah. Mereka sama sekali tidak tahu bahwa sejak tadi ada seorang laki-laki muda yang pakaiannya indah pesolek, mengenakan sebuah topi caping lebar yang sama sekali nyembunyikan wajahnya yang tampan beberapa kali lewat di depan rumah mereka. Wajah tampan itu selalu mengintai dari balik capingnya kalau lewat dari rumah itu, dan sepasang mata yang tajam mencorong mengintai ke arah Sim Lan Ci, ibu muda yang cantik dan miliki bentuk tubuh yang masih nampak padat menggairahkan itu. Memang Lan Ci memiliki wajah yang cantik jelita dan menarik sekali.

Laki-laki muda bercaping lebar itu bukan lain adalah Can Hong San. wajahnya yang tampan berseri dan biasanya dihias senyuman ketika akhirnya dia lewat lagi lalu meninggalkan tempat itu, tangan kanan dikepal dan dipukul-pukulkan perlahan pada telapak tangan kiri. Di dalam hatinya, dia sudah mengambil keputusan untuk mendapatkan, wanita yang amat menarik hatinya itu malam ini! Dia sedang mencari Lui Seng cu yang berjuluk Hek-houw Tao-to. Lui Seng Cu itu adalah murid mendiang gurunya atau ayah kandungnya, bahkan Lui  seng Cu merupakan murid yang ditugaskan untuk menyebarkan aliran baru yang dirintis gurunya, yaitu pemujaan Thian-Te Kwi-ong. Dari suhengnya inilah dia kan mencari tahu tentang kegiatan guruya atau ayahnya akhir- akhir ini. Dan dalam perjalanannya mencari jejak suhengnya itulah Hong San tiba di dusun itu dan kebetulan melihat Sim Lan Ci, ibu muda yang telah menggerakkan hatinya dan membangkitkan gairah berahinya.

Juga suami isteri yang sedang gembira melihat tingkah anak mereka yang mungil itu sama sekali tidak tahu bahwa ada pula sepasang mata yang sejak di mengintai mereka dari balik sebatang pohon, tak jauh dari situ pula. sepasang mata yang kadang-kadang lembut, kadang-kadang mencorong dahsyat, Mata dari seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluh lima tahun, bertubuh tinggi besar, berwajah tampan dan gagah. Itulah wajah pendekar muda yang mulai terkenal namanya dengan julukan Sin-Iiong, bahkan akhir-akhir ini menjadi Huang-ho Sin-liong (Naga Sakti Sungai Kuning) karena dia sering muncul sepanjang Sungai Huang-ho dan seringkali dia muncul, tentu ada saja penjahat yang terjungkal dan dihajar bahkan banyak gerombolan penjahat dibasminya. Sepak terjangnya sebagai seekor naga sakti saja. Dia adalah Si Han Beng. Seperti kita ketahui, setelah bersama Pek I Tojin dia membasmi gerombolan yang diketuai "bengcu" Cui beng Sai-kong, Han Beng lalu ikut Pek I Tojin ke Thai-san untuk menerima geimblengan kakek sakti itu. Selama kurang lebih setahun dia digembleng kakek itu dan karena dia memang telah memiliki ilmu-ilmu silat tinggi dari dua orang gurunya terdahulu, yaitu Liu Bhok Ki dan Sin-ciang Kai-ong, maka oleh kakek sakti itu dia hanya dilatih untuk memperdalam dan mematangkan ilmu-ilmunya, juga untuk mempelajari sin-kang yang lebih mendalam dan kuat. Setelah lewat setahun, dia turun gunung dan teringat akan pesan gurunya yang pertama, yaitu Sin-tiauw Liu Bhok Ki. Dia telah berjanji kepada gurunya itu mtuk membalaskan dendam gurunya kepada dua orang suami isteri yang bernama Coa Siang Lee dan Sim Lan Ci. Tidak mudah baginya untuk mencari jejak suami isteri itu, akan  tetapi akhirnya, setelah dia berkunjung ke perkumpulan Hek- houw-pang mencari keterangan, dengan mengaku sebagai seorang kenalan Coa Siang Lee, dia berhasil memperoleh keterangan di mana kiranya suami isteri itu berada. Ternyata bahwa diam-diam keluarga Coa selalu menyelidiki dan mengikuti keadaan kehidupan Coa Siang Lee.

Biarpun Coa Song, ketua Hek-houw-ang, kakek Coa Siang Lee, masih marah melihat cucunya itu menikah dengan puteri Ban-tok Mo-li, namun dia merasa girang bahwa menurut penyelidikan para anak buahnya, Coa Siang Lee tidak terseret keluarga isterinya menjadi penjahat, melainkan hidup dengan tenang dan damai di dusun, menjadi petani. Namun, dia masih belum menghubungi cucunya itu, walaupun diam-diam mencalonkan cucunya sebagai penggantinya kelak memimpin Hek-houw-pang.

Setelah memperoleh keterangan dari Hek-houw-pang, Han Beng lalu pergi berkunjung ke dusun itu dan menemukan suami isteri itu yang pada sore hari itu sedang bergembira bersama putera mereka di dalam taman.

Sejak tadi Han Beng melakukan pengintaian dan terjadilah keraguan di dalam hatinya. Mereka adalah sepasang suami isteri yang demikian berbahagia dengan putera mereka, hidup tenteram penuh damai di dusun kecil itu! suhunya memberi tugas kepadanya untuk menghancurkan kebahagiaan rumah tangga mereka! Bahkan suhunya memesan agar dia menghancurkan cinta kasih antara suamiisteri ini,dengan cara apapun, kalau perlu dia boleh merayu agar isteri atau bahkan memperkosanya! Gila, Suhunya memang sudah menjadi seperti gila oleh dendam! Suhunya, seorang pendekar sakti yang gagah perkasa, menjadi lemah dan gila oleh duka dan den¬dam. Bagaimana mungkin dia melakukan perbuatan yang demikian keji? Andaikata dia menemukan suami isteri ini sebagai orang-orang jahat, masih mudah baginya untuk membalaskan dendam suhunya, walaupun tentu saja bukan dengan cara yang dikehendaki suhunya. Dia dapat membasmi  suami isteri ini sebagai penjahat-penjahat yang layak dibasmi. Tapi, mereka berdua hidup be¬gini tenteram dan penuh damai, berbahagia dengan putera mereka. Akan tetapi, siapa tahu, pikirnya. Banyak penjahat yang dari luar nampaknya hidup damai dan tenteram. Pikiran terakhir ini membuat Han Beng mengambil keputusan untuk terus membayangi mereka, agar dia dapat yakin bagaimana sesungguhnya keadaan suami isteri yang agaknya amat dibenci suhunya itu. Dia menyelinap semakin dekat untuk mendengarkan prrcakapan antara mereka.

"Betapa indahnya hari ini,. " kata Sim Lan Ci sambil 

memegang tangan suaminya penuh kasih sayang.

Coa Siang Lee menggenggam tangan isterinya, lalu menengok ke arah barat "Memang indah sekali. Lihat langit di barat itu, berwarna-warni demikian indahnya, seolah di balik sanalah terdapat sorga seperti dalam dongeng itu."

"Sungguh berbahagia sekali hatiku. Memiliki engkau sebagai suami dan Thian Ki sebagai anak. ahhh, aku 

merasa sebagai orang yang paling kaya di dunia ini, paling berbahagia. !"

Coa Siang Lee tersenyum dan mengelus rambut kepala isterinya yang kini bersandar di dadanya. "Perasaan bahagia dalam hati selalu membuat segala suatu nampak indah, Ci- moi. Dan mudah-mudahan saja anak kita akan selalu dapat hidup berbahagia seperti ini, penuh damai, tenteram, dan tidak pernah mengenal permusuhan, kebencian dan kerasan seperti yang pernah kita alami dahulu."

"Engkau benar, Lee-ko. Aku pun akan pun menentang keras kalau Thian Ki dipernalkan dengan dunia kita dahulu. Engkau masih mending, karena engkau terlahir di dalam keluarga pendekar. Walaupun engkau juga bergelimang dengan linu silat dan kekerasan, namun setidaknya untuk menentang kejahatan, sebaliknya aku. "

"Sudahlah, kenangan masa lalu hanya akn mendatangkan sesal dan duka saja. yang penting, sekarang kita hidup sebagai petani-petani yang berbahagia, dan yang lebih penting lagi, kita akan mendidik putera kita menjadi seorang yang terpelajar, bijaksana, dan dia hanya akan mengenal cinta kasih, tidak mengenal kebencian, tidak mengenal silat dan tidak mengenal kekerasan dan bermusuhan."

Han Beng meninggalkan suami isteri itu, menjauhkan diri dengan hati semakin dipenuhi keraguan. Suami isteri itu kini telah menjadi sepasang suami isteri yang hidup berbahagia, juga memiliki pandangan hidup yang demikian baik! Mereka berdua bahkan ingin menghapus semua kenangan masa lalu, menjadi petani-petani sederhana, bahkan merencanakan untuk mendidik putera mereka menjadi orang yang jauh ilmu silat! Dan dia harus menghancurkan kebahagiaan dua orang itu? Bahkan tiga orang bersama putera mereka? Sungguh gila! Tidak, dia tidak akan melakukan hal yang keji itu. Akan tetapi bagaimana dengan janjinya terhadap gurunya? dia teringat akan sikap gurunya yang amat keji terhadap dua buah kepala manusia itu dan dia bergidik. Gurunya su guh gila karena dendam. Dan guru itu mengambilnya sebagai murid hanya agar dia suka membalaskan dendam kepada keturunan dua orang yang pernah menghancurkan kebahagiaan hidupnya, yaitu suami isteri yang sekarang berada di taman itu.

Keraguan yang membuat hati Han Beng merasa bimbang ini akhirnya membuat dia khawatir untuk mengintai terus, bayangan suhunya, yang telah demikian baik kepadanya, semua budi yang dilimpahkan suhunya kepadanya, sejak suhunya menyelamatkannya dari ancaman maut di Sungai Huang-ho, lalu betapa suhunya mendidik dan menggemblengnya dengan kesungguhan hati selama lima tahun dan suhunya tidak pernah minta belas jasa. Suhunya hanya membuat dia berjanji untuk memenuhi pesannya itu,  hanya satu saja permintaannya, yaitu membalas dendam kepada suami isteri Coa Siang Lee dan Sim Lan Ci, dan kini dia ragu-ragu, bahkan condong untuk tidak memenuhi pesan suhunya. Kalau dia berada di situ lebih lama lagi, dia kha¬watir kalau pikirannya akan berubah lagi. Tanpa diketahui suami isteri dan anak tereka, diapun meninggalkan tempat pengintaiannya.

Coa Siang Lee dan Sim Lan Ci membawa anak mereka memasuki rumah selelah senja melarut dan malam hampir tiba. Mereka hidup bertiga saja, tanpa Pembantu di dalam rumah mereka yang tidak berapa besar namun yang bersih dan rapi. Hanya ada dua buah kamar dalam rumah itu, kamar suami isteri dan kamar untuk anak mereka den pintu tembusan antara dua kamar. Mereka lalu makan malam dan setelah selesai makan malam, Sim Lan Ci membersikan meja makan dan mencuci mangkok, piring, sedangkan Coa Siang Lee mengajak Thian Ki bermain-main di ruang tengah. Sehabis makan malam tadi, mereka membersihkan mulut dan gigi, suatu kebiasaan yang dipakai oleh Sim Lan Ci sejak ia masih kecil. Ibu kandung Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu, biarpun usianya sudah setengah abad lebih, masih nampak cantik dengan gigi yang putih rapi karena ibunya juga mempunyai kebiasaan membersihkan mulut dan gigi setiap kali mau tidur dan kebiasaan menurun kepada Sim Lan Ci. Nyonya muda itu kini menularkan kebiasaan yang amat baik kepada suaminya dan juga kepada anaknya.

Malam itu hawa udara amat dinginnya. Biarpun bulan sedang purnama sehingga dunia diluar rumah amatlah indah dan romantisnya, namun jarang ada penghuni dusun yang mau keluar meninggalkan kamar mereka yang hangat karena diluar, hawa dingin menusuk tulang, bahkan mereka itu tidur sore-sore. Demikian pula dengan keluarga Coa Siang . Mereka berdua sudah berada di kamar putera mereka, dan keduanya meninabobok putera tersayang itu dengan nyanyian dan dongeng. Setelah Thian Ki akhirnya tidur pulas ayah ibunya menyelimutinya, meniggalkan kamar putera mereka itu dengan membiarkan sebuah pelita kecil bernyala di sudut kamar, lalu mereka sambil bergandengan tangan lalu memasuki kamar mereka sendiri yang bersambung dengan kamar putera mereka.

Akan tetapi, begitu tiba di dalam kamar mereka, suami isteri itu terbelalak dan muka mereka berubah pucat karena mereka melihat bahwa di atas pembaringan mereka telah duduk seorang laki-laki muda yang mengenakan caping lebar! Pemuda itu menurunkan capingnya ke belakang dan kini dia memandang kepada suami isteri itu sambil terseny um. Wajah pemuda itu sungguh tampan ketika tersenyum, dia nampak semakin ganteng dan melihat pakaiannya, mudah diduga bahwa dia seorang sastrawan atau setidaknya seorang pelajar! Sebuah buntalan berada di atas meja.

"Siapa engkau?" Coa Siang Lee tanya dengan suara kaku dan alis berkerut. "Dan mau apa engkau datangi kamar kami?"

"Bagaimana engkau dapat masuk sini?" Sim Lan Ci juga bertanya. Wajah pemuda ini tadi mengerling ke kanan dan melihat betapa jendela dan pintu masih tertutup, lalu bagaimana orang muda ini dapat berada di dalam kamarnya tanpa ia dan suaminya mendengar, suara sedikit pun?

Pemuda itu tersenyum makin lebar sepasang matanya berbinar-binar penuh kegembiraan, mata yang sejak tadi ditujukan kepada Sim Lan Ci sedemikian rupa sehingga ibu muda ini merasa seolah sinar mata itu menggerayangi seluruh tubuhnya, membuatnya bergidik, akan tetapi juga marah.

"Manis, aku datang karena aku jatuh cinta padamu ketika melihat engkau di taman tadi." katanya dengan sikap biasa saja seolah-olah dia mengeluarkan ucapan yang wajar. Tentu saja seketika wajah suami isteri itu menjadi merah padam. Coa Siang Lee melangkah maju dan membentak, "Engkau ini seorang yang gila atau memang sengaja hendak mengganggu kami! ayo katakan siapa engkau dan apa maksudmu datang seperti ini?"

Kini sepasang mata itu ditujukan kepada Siang Lee yang menjadi terkejut melihat mata itu mencorong. "Aku tidak butuh denganmu!" kata pemuda itu degan sikap yang angkuh sekali. "Keluarlah engkau dari kamar ini, aku hanya ingin meminjam isterimu untuk malam ini!"

Coa Siang Lee terbelalak dan Lan Ci bahkan mengeluarkan jerit kecil. Kemarahan mereka tidaklah sebesar keheranan mereka mendengar ucapan seperti itu. Kiranya hanya orang yang berotak miring saja yang mampu bicara seperti itu, hendak meminjam isteri orang dan menyuruh suaminya keluar dari kamarnya sendiri! Akan tetapi, setelah keheranan itu lewat, kemarahan membawa wajah Siang Lee merah sekali dan matanya mengeluarkan sinar berapi. Selama dua belas tahun mereka tinggal di dalam dusun itu, tidak pernah satu kali mereka terlibat urusan kekerasan, dan mereka sama sekali tidak pernah mempergunakan ilmu silat mereka, bahkan untuk berkelahi maupun hanya sebagai latihan. Dan malam ini, muncul seorang pemuda yang demikian beraninya melakukan penghinaan secara luar biasa sekali. Sikap pemuda itu membuat mereka dua saling pandang dan merasa curiga.

"Sobat, katakan siapa engkau mengapa engkau sengaja datang untuk mengganggu kami yang tidak mengenalmu! Siapakah yang menyuruh engkau bersikap seperti ini terhadap kami?" Sim Lan Ci kini bicara dan sikapnya tidak lagi seperti seorang wanita biasa, melainkan ia sudah kembali bersikap seperti dulu, seorang wanita gemblengan yang sudah biasa menghadapi kekerasan.

Sikap ini membuat pemuda yang bukan lain adalah Can Hong San itu berdiri dan memandang heran. Mana mungkinn  ada seorang wanita dusun bersikap gagah ini? Akan tetapi, melihat wanita yang digilainya itu dapat bersikap segagah itu, dia menjadi semakin tertarik dan kembali dia tersenyum.

"Manis, engkaulah yang menyuruh aku datang malam ini. Sore tadi aku kebetulan lewat di luar taman dan melihat engkau demikian cantik jelita dan manis. hmmmmm, 

aku merasa seperti ditarik besi semberani dan di sinilah aku sekarang! Mari, Manis, mari kaulayanilah gairahku " 

Dia mengembangkan kedua lengan seperti hendak memeluk!

Suami isteri itu tidak dapat menahan kesabaran mereka lebih lama lagi. manusia gila! Engkau sungguh kurang ajar dan patut dihajar!" bentak Coa Siang Lee yang sudah mengirim tamparan keras kearah mulut pemuda itu.

Tamparan Coa Siang Lee bukan tamparan biasa, melainkan tamparan yang amat kuat karena biarpun selama belasan tahun pria ini tidak pernah berlatih, namun dia memiliki tenaga sin-kang yang kuat dan memang ilmunya sudah mendarah daging dalam dirinya.

Diam-diam Can Hong San terkejut bukan main. Tadinya dia mengira bahwa suami isteri itu hanyalah orang-orang dusun biasa. Sungguh tidak disangkanya bahwa "petani" itu mampu menamparnya dengan kekuatan sedahsyat itu! Tahulah dia bahwa dia menghadapi lawan lihai. Akan tetapi, dengan tenang saja dia sengaja mengangkat lengan untuk menangkis, tentu saja diam-diam mengerahkan pula tenaga sin-kangnya.

"Dukkk. !!" Akibat tangkisan ini, tubuh Coa Siang Lee 

terpelanting! Bukan main heran dan kagetnya Siang Lee. sungguh tak disangkanya bahwa orang yang amat kurang ajar dan mendekati gila ini memiliki tenaga yang sedemikian hebatnya! Maka, tanpa banyak cakap lagi karena dia kini maklum bahwa orang itu memang sengaja datang untuk mencari keributan, dia lalu maju menerjang dengan pukulan- pukulan dahsyat dari ilmu silat Hek-houw-pang. Kedua  tangannya membentuk cakar harimau dan gerakannya selain cepat, juga penuh tenaga dasyat, mencengkeram kesana-sini dibagian tubuh berbahaya dari lawan.

"Aha, kiranya engkau bukan petani dusun biasa, melainkan seorang ahli silat yang agaknya menyembunyikan diri di sini!" Hong San berseru heran, akan tetapi dia pun cepat menggerakkan tubuhnya dengan amat lincahnya, mengelak, menangkis dan membalas serangan lawan. Terjadilah perkelahian yang seru di dalam kamar itu. Namun, Siang Lee merasa semakin kaget khawatir karena dia mendapat kenyataan betapa lihainya pemuda bercaping lebar ini!

Sim Lan Ci juga melihat betapa suaminya tidak akan menang menghadapi lawan yang amat tangguh itu. Diam-diam ia menduga-duga siapa gerangan pemuda yang luar biasa lihainya itu! Tentu senngaja datang mencari mereka untuk membunuh! Tidak banyak terdapat orang selihai ini di dunia kang-ouw, pikirnya dan tidak mungkin hanya kebetulan saja datang di tempat itu, melihatnya tergila-gila kepadanya. Diam- diam nyonya ini lalu menuju ke sebuah almari mana ia masih menyimpan beberapa buah senjata rahasianya yang sudah belasan tahun tidak pernah dipergunakannya. Untung bahwa di dalam kantung itu masih terdapat empat batang Toat-beng tok-piauw (Piauw Beracun Pencabut Nyawa). Cepat ia mengambilnya dan menyambit-nyambitkan empat batang piauw itu dengan hati-hati agar jangan mengenai suaminya sambil berteriak nyaring. "Lee-ko, mundur! Jahanam busuk, makanlah piauw-ku!"

Terdengar suara bersiutan ketika empat batang piauw itu menyambar, dan Siang Lee sudah melompat ke belakang, empat batang senjata rahasia beracun itu menyambar dengan cepat sekali ke arah tubuh Hong San, namun betapa kagetnya hati nyonya muda itu ketika tiba-tiba saja tubuh pemuda bercaping lebar itu berkelebat lenyap dan tahu-tahu telah berada di belakangnya, menyentuh pinggulnya dengan jari tangan, mencubit pinggul itu. “Lhhh!" la membalik dan seperti se¬kor singa betina mengamuk ia pun me¬nyerang dengan ilmu silat Ban-tok-hwa- im yang amat dahsyat! Diam-diam Hong San semakin kagum dan terkejut. Kiranya wanita ini memiliki ilmu silat yang leih lihai daripada suaminya! Juga Siang Lee sudah maju menerjang dan Hong San dikeroyok suami isteri itu di dalam kamar yang tidak begitu luas.

Barulah Hong San merasa kecelik terkejut. Dia maklum bahwa kalau menandingi suami isteri itu sa.tu demi sa tu dia masih sanggup untuk menang. Akan tetapi dikeroyok dua oleh suami isteri yang lihai ini, sungguh amat berbahaya baginya. Namun, dia bukan orang yang suka mengaku kalah. Apalagi, hasratnya menjadi semakin bernyala-nyala setelah kini dia melihat bahwa wanita yang membuatnya tergila-gila itu bukan sekedar cantik manis saja, melainkan juga amat lihai! Dia semakin tergila-gila dan mengambil keputusan bahwa harus memiliki wanita itu.

Coa Siang Lee dan Si m Lan Ci mengeroyok pemuda itu, kini menjadi yakin bahwa pemuda ini memang datang bukan sekedar tertarik oleh kecanti Lan Ci, melainkan tentu mempunyai tujuan yang sudah direncanakan untuk mencelakan mereka. Mereka merasa menyesal sekali mengapa selama ini mereka lengah sehingga bukan saja mereka tidak pernah berlatih silat sehingga tentu saja gerakan mereka tidaklah selincah dahulu, akan tetapi juga mereka telah menyimpan pedang mereka dan sudah lupa lagi dimana mereka menyimpan senjata mereka itu. Kalau mereka kini dapat me¬megang senjata pedang mereka, kiranya mereka akan dapat mengalahkan musuhnya dengan cepat.

Betapapun juga, suami isteri yang memang lihai itu mulai dapat mendesak Hong San. Mereka berkelahi mati-matian untuk mempertahankan kehormatan, sebaliknya, Hong San hanya main-main saja karena memang maksudnya bukan memusuhi suami isteri itu, melainkan "meminjam" sang isteri! Biarpun tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi dari mereka  namun dikeroyok dua oleh suami isteri yang nekat itu dia menjadi ke¬walahan juga.

"Ayah........, Ibu. !" Tiba-tiba terdengar suara anak 

kecil ini dan yang muncul di pintu tembusan adalah Thian Ki, anak laki-laki berusia tiga tahun itu. agaknya dia terbangun karena suara ribut-ribut.

"Thian Ki..........! Kembali ke kamarmu. !" Sim Lan Ci 

berseru kaget bukan main, namun terlambat. Melihat munculnya anak itu, Hong San yang cerdik seperti setan itu sudah menyanbut ke belakang dan tahu-tahu anak itu telah berada dalampondongannya. Anak itu menjerit-jerit, akan tetapi sekali Hong San menekan tengkuknya, anak itu terkulai lemas, tertotok dan tak mampu bergerak atau berteriak lagi.

Melihat anak mereka berada dalam cengkeram penjahat itu, suami isteri yang tadinya mengamuk itu, terpaksa menahan gerakan mereka dan memandang dengan mata terbelalak dan pucat.

"Kembalikan anakku. !" Sim Lan berseru, siap untuk 

menubruk maju.

"Heinttttt. tenanglah, manis. Apakah kalian 

menghendaki aku membanting anak ini di depan kaki kalian sampai remuk, baru kemudian kubunuh kalian?” Hong San mengancam dan mengarkat anak itu, siap untuk membantingnya.

"Jangan..........., jangan lakukan itu. Siang Lee berseru, 

wajahnya semak pucat. "Apakah yang" kaukehendaki benarnya? Siapakah engkau? Jangan membunuh anak kami yang tidak berdosa!

"Aku tidak akan membunuh anak mungil ini kalau kalian menurut kata-kataku. Akan tetapi, sedikit saja kalian membuat  gerakan mencurigakan atau tidak menurut perintahku, tentu aku akan membanting remuk anak mungil ini!"

"Jangan bunuh dia. , katakan yang harus kami 

lakukan!" kata Sim Lan Ci, juga merasa khawatir dan merasa tidak berdaya sama sekali setelah, puteranya ditawan.

"Bagus, Manis. Nah, perintahku pertama, kautotok jalan darah suami agar dia tidak mampu bergerak lagi kemudian ikat kaki tangannya di tiang sudut kamar itu."

Sepasang mata Sim Lan Ci terbelalak, alisnya berkerut dan tentu saja ia tidak setuju, akan tetapi tidak berani terang- terangan menolak. Melihat sikap ragu-ragu wanita itu, Hong San mengancam, “Cepat lakukan perintahku, atau kau lebih suka melihat anakmu ini kubanting?"

"Ci-moi, lakukanlah perintahnya." kataSiang Lee yang merasa tidak berdaya dan amat mengkhawatirkan keselamatan anaknya yang terjatuh ke tangan orang yang agaknya sinting itu.

Lan Ci menghampiri suaminya, pandang matanya sayu dan menderita sekali. “Maafkan aku. " bisiknya dan ia pun 

menotok jalan darah di pundak suaminya. Seketika tubuh itu lemas dan tentu roboh kalau tidak cepat ditangkap 'oleh Lan Ci yang memapahnya, menariknya ke tiang di sudut kamar. Dengan iti tidak karuan rasanya, Lan Ci terpaksa mengikat kaki tangan suaminya pada tiang itu, menghadap ke arah kamar karena ia ingin suaminya tetap waspada walaupun untuk sementara tidak mampu bergerak.

"Ha-ha, jangan mencoba menipu aku, Manis. Aku adalah seorang ahli totok jalan darah, tahu? Hayo totok lagi jalan darah thian hu-hiat agar dia tidak dapat lepas pula dari totokan, lalu ikat dia!" Lan Ci terkejut. Akalnya ketahuan dan hal ini hanya membuktikan betapa lihainya lawan itu. Memang tadi ia menotok lemas suaminya, hanya totokan hanya sementara saja, dan dalam beberapa menit suaminya akan pulih kembali. Terpaksa ia melaksanakan perintah dan sekarang keadaan suaminya benar-benar lemas dan tidak mampu bergerak untuk waktu sedikitnya dua jam! Karena merasa percuma untuk menipu, ia pun mengikat kaki tangan suaminya dengan sabuk sutera yang kuat.

"Sudah kulaksanakan perintahmu, karang bebaskan anakku!" kata Sim Ci.

Pemuda itu menyeringai dan bair pun dia tampan, namun pada saat itu bagi Lan Ci dia kelihatan seperti iblis yang menyeramkan. Sim Lan Ci sendiri adalah puteri Ban-tok Mo-li. Sudah biasa melihat kekejaman-kekejaman walau pun ia sendiri tidak berbakat untuk menjadi jahat. Namun karena sekarang ia yang menjadi korbannya, maka ia merasa begitu marahnya sehingga kalau saja bidak teringat akan keselamatan puteranya, ingin rasanya ia menyerang dan mengadu nyawa dengan pemuda itu.

"Heh-heh-heh, sudah kukatakan. Aku ldatang bukan untuk membunuh kalian. Manis. Kalau aku ingin membunuh kalian, apa sukarnya? Aku hanya tergila-gila kepadamu, Manis. Aku tidak akan membunuh kalian bertiga kalau engkau sikap manis padaku. Nah, sekarang perintahku ke dua. Tanggalkan semua pakaianmu!"

Sepasang mata itu terbelalak dan kedua pipi Lan Ci berubah merah lagi. Ada hawa keluar dari dadanya yang membuat ia ingin sekali menerjang laki-laki yang menghinanya itu. "Jahanam keparat! Engkau hendak menghinaku.   

memperkosaku di depan suamiku dan anakku? Keparat, iblis. !" "Ingat, aku banting anakmu kalau engkau bergerak menyerang!" Hong San berseru dan mengangkat tubuh Thian Ki "Aku tidak ingin memperkosamu, aku ingin engkau melayani aku dengan penuh kemesraan dan kasih sayang!"