-->

Naga Sakti Sungai Kuning Jilid 10

Jilid 10

Gadis itu sejak tadi diam saja, akan tetapi sinar matanya seperti hendak membakar wajah orang. Tiba-tiba, tangan kirinya bertolak pinggang, tangan kanannya menuding ke arah tiga buah bungkusan yang berserakan di atas tanah, lalu dia berkata kepada pengemis perut gendut dengan suara memerintah.

"Ambil !!"

Pengemis gendut itu terbelalak, memandang ke arah bungkusan- bungkusan itu lalu kepada Si Nona yang bersikap galak. Tentu saja dia tidak sudi melaksanakan perintah yang dianggapnya menghina itu. Dia adalah seorang di 

antara tokoh Ang-kin Kai-pang yang terkenal, ditakuti dan biarpun dia berpakaian pengemis, namun sabuk yang terlilit dipingangnya berwarna merah cerah, bukan merah muda sehingga tingkatnya lebih tinggi daripada para anggauta lainnya. Dia biasa memerintah, bukan diperintah, kecuali tentu saja oleh para pimpinan Kai-pang yang lebih tinggi kedudukannya, atau atasannya "Ambil, kataku! Apakah engkau tuli?" bentak gadis itu dengan suara semakin lantang. 

Pengemis ke dua yang bertubuh tinggi kurus dan agak bongkok segera menjawab dengan suara memprotes.

"Nona, mengapa Nona hendak membela pengemis asing ini? Siapa tahu dia ini seorang mata-mata, atau seorang jahat yang hendak mengacaukan kotaraja dengan menyamar sebagai pengemis.Hanya pengemis Ang-kin Kai-pang yang boleh dipercaya!"

"Aku tidak membela siapa-siapa hanya menentang kalian yang kurang ajar. Obat itu adalah milikku, akan kuberikan kepada siapapun juga, kalian peduli apa? Bukan milik nenek moyangmu! engkau sudah berani memukulnya hingga tiga bungkusan itu terjatuh, ke atas tanah. Sekarang kuperintahkan kalian untuk mengambilnya kembali dan menyerahkan kepadaku, ataukah aku harus memaksa kalian?"

Diam-diam Han Beng terkejut dan dia siap siaga. Nona ini memang amat baik dan gagah, akan tetapi juga sembrono sekali. Dia dapat melihat bahwa tiga orang pengemis Ang-kin Kai-pang ini sedikit banyak tentu pandai ilmu silat dan sudah terbiasa memaksakan kehendak mereka dengan kekerasan. Dan gadis itu berani menentang mereka!

Si Perut Gendut menjadi merah mukanya. Namun agaknya dia masih menjaga gengsi, tidak ingin ribut dengan seorang gadis cantik, maka dia masih menganggap bahwa gadis itu tentu belum mengenal siapa mereka.

"Nona, dengar dan lihat baik-baik. Kami adalah tokoh-tokoh Ang-kin Kai-pang," Dia menepuk pinggangnya memperlihatkan sabuk merah cerah yang menjadi tanda anggauta dan tingkat, "dan kami datang untuk menyelamatkan Nona dari tipuan pengemis busuk ini. Semua pengemis di kota  raja adalah anggauta kami, Nona, dan orang ini adalah penyelundup dari luar kota."

"Tidak peduli!" Gadis itu membentak "Biar kalian pengemis dari neraka pun tidak berhak melarang aku menolong siapa saja. Hayo cepat ambil bungkusan-bungkusan obat itu!"

Si Perut Gendut kini menjadi marah. Dia merasa ditantang oleh seorang gadis muda! "Hem, bagaimana kalau kami tidak mau, Nona?"

Gadis itu tersenyum dingin. "Terpaksa aku akan memaksa kalian untuk melakukannya!"

Tiga orang pengemis itu saling pandang, lalu tertawa. Si Tinggi Kurus bertanya, "Ha-ha-ha, bagaimana caranya Nona?"

"Caranya begini!" Tiba-tiba tubuh gadis itu menerjang ke depan dan sebelum Si Tinggi Kurus itu sempat mengelak atau menangkis, dua kali ujung sepatunya menendang lutut dan tangannya mendorong. Tak dapat dihindarkan lagi tubuh Si Kurus itu terjengkang, pantatnya yang tipis terbanting ke atas tanah, sehingga dia meringis kesakitan Debu mengepul dan gadis itu berkata, "Nah, ambillah bungkusan itu!"

Dua orang temannya menjadi terkejut bukan main. Sungguh mereka tidak menyangka akan ada orang berani menjatuhkan seorang di antara mereka dan yang berani melakukan hal itu justeru seorang gadis muda!

Pengemis ke tiga yang mukanya hitam karena suatu penyakit sehingga kulit muka itu tebal dan keras kasar, menerjang ke depan dan kedua tangannya mencengkeram untuk menangkap kedua pundak gadis itu. Namun, dengan gerakan lincah sekali, gadis itu menggeserkan kaki memiringkan tubuhnya. Dengan kecepatan luar biasa, sambil memiringkan tubuh, pada saat tubuh pengemis itu lewat dan  luput menerkamnya, lututnya diangkat dengan tiba-tiba, tepat menyambut perut lawan.

"Ngekkk!" perut itu dimakan lutut membuat Si Pengemis membungkuk memegangi perut. Gadis itu melihat sasaran lunak ketika tubuh itu membungkuk, yaitu tengkuk yang telanjang, maka tangan kirinya cepat membacok ke arah tengkuk.

"Kekkk!" tubuh orang itu pun terjungkal!

"Nona, engkau keterlaluan, berarti menentang kami!" bentak Si Perut Gendut.

"Kalian yang kurang ajar dan patut diberi pelajaran agar tidak mengganggu orang lain!"

Sementara itu, Han Beng memandang dengan hati lega dan kagum. Kiranya nona itu lihai! Gerakannya begitu cepat dan otomatis, juga pandai mengatur gerakan menggunakan tenaga secara tepat sekali.

Akan tetapi kini Si Gendut sudah mengangkat tongkatnya, sebatang tongkat hitam terbuat dari bambu yang ujungnya dipasangi besi runcing! Dan dengan senjata ini, dia menyerang gadis itu! Han Beng terkejut dan dia sudah siap siaga untuk melindungi gadis itu. Akan tetapi segera dia tahu bahwa gadis itu tidak memerlukan perlindungannya karena dengan amat sigapnya, gadis sudah mengelak dengan mudah. Dan kini, dua orang pengemis lainnya sudah la menggunakan tongkat mereka untuk mengeroyok. Tiga batang tongkat dengan ujung besi runcing menyambar-nyambar kearah Si Gadis yang dengan lincahnya mengelak ke sana- sini bagaikan seekor burung walet saja. Kini gadis itu dengan cepat mcnyambar sebatang kayu pengganjal pintu toko yang panjangnya sekitar dua meteran yang besarnya sekepalan tangan. Dengan senjata sederhana serupa toya ini, gadis itu  menghadapi tiga batang tongkat lawan dan kini ia bersilat dengan indah dan cepatnya. Han Beng terbelalak kagum karena dia mengenal ilmu silat yang dasarnya tak salah lagi tentu ilmu dari Siauw-lim-pai!

Karena toko obat itu terletak di jalan raya dekat pasar, maka perkelahian depan toko itu menarik perhatian orang dan sebentar saja tempat itu telah dilingkari banyak orang yang menonton, mereka itu agaknya tadi mengira bahwa ada serombongan pemain silat atau pedagang obat mengadakan pertunjukan di situ. Akan tetapi ketika mereka mengenal tiga orang anggauta Ang-ki Kai-pang, mereka menjadi terkejut. Ada rasa girang di dalam hati mereka bahwa kini ada orang berani menentang tiga tokoh Perkumpulan Jembel itu, dan orang itu bahkan hanya seorang gadis muda!

Karena takut kalau tiga bungkusan obat itu terinjak mereka yang sedang berkelahi, maka Han Beng sudah memungutinya. Kalau saja dia tidak mengkhawatirkan akan keselamatan gadis itu tentu dia sudah pergi, tidak ingin terlibat dalam perkelahian. Akan tetapi di harus menjaga keselamatan gadis yang telah menolongnya itu.

Permainan toya gadis itu memang hebat, dan Siauw-lim-pai memang terkenal sekali dengan permainan toya ini. Hal ini tidak mengherankan karena Siauw-lim-pai merupakan perkumpulan yang dipimpin oleh para pendeta biara Siauw-

lim-si, di mana para muridnya adalah para hwesio. Senjata yang paling tepat bagi seorang hwesio untuk membela diri kalau diserang musuh adalah toya yang dapat dipergunakan pula sebagai sebatang tongkat atau untuk memukul barang bawaan.

Han Beng memandang kagum. Gadis Itu memang lihai dan begitu toyanya diputar dengan amat cepatnya, tiga orang pengemis itu terdesak dan mundur. Tiba-tiba gadis itu mengeluarkan bentakan melengking panjang dan ujung toyanya tergetar keras, membuat gerakan melengkung dan  begitu gulungan sinar toya berkelebat, dua orang pengeroyok roboh. Yang seorang lagi, Si Muka Hitam, terkejut dan dengan nekat menghantamkan tongkatnya ke arah tengkuk gadis itu dari belakang. Namun, tanpa kesukaran sedikit pun, gadis itu membalikkan toyanya ke belakang, menangkis tongkat, tubuhnya membuat gerakan memutar dan di lain saat toyanya sudah menyodok ke arah dada orang itu sehingga dia pun jatuh terjengkang!

Tiga orang pengemis Ang-kin Kai-pang itu terengah-engah, Si Gendut Perut itu kepalanya benjol besar, Si Tinggi Kurus meringis karena kaki kanannya terkena sambaran toya sehingga tulang keringnya terasa seolah remuk, dan Si muka Hitam dadanya sesak. Gadis itu menghentikan gerakannya, berdiri dengan tangan kiri bertolak pinggang dan tang kanan memegangi toya yang didirikan; sikapnya gagah, matanya mencorong, tiga orang pengemis itu tahu diri. Mereka bangkit dan tanpa banyak cakap lagi berjalan pergi terhuyung-huyung. Semua orang memuji kehebatan gadis itu, akan tetapi mereka yang mengenal kekuasaan Ang-kin Kai-pang merasa khawatir akan keselamatan gadis pemilik toko obat. Para penonton itu pun bubar dan dan Han Beng menjura dengan penuh hormat kepada Si Gadis perkasa.

"Sungguh saya bersukur sekali bahwa Nona telah menolong saya dan guru saya. Terima kasih, Nona."

"Ah, tidak mengapalah, Saudara. Engkau dan gurumu adalah pengembara dan gurumu sakit, sudah sepatutnya kalau aku memberi obat kepadamu. Dan mengenal tiga orang tadi, mereka sendiri yang mencari penyakit dan memang perlu dihajar."

Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dandua orang laki-laki menghentikan kuda mereka di depan toko itu. Han Beng melihat seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun, berpakaian sastrawan, dan seorang laki-laki berusia  empat puluh tahun lebih berpakaian ringkas dan bersikap gagah.

Ketika dua orang laki-laki itu berlompatan turun dari atas kuda mereka, gadis itu cepat menghampiri laki-laki yang berpakaian sastrawan.

"Ayah! Engkau baru pulang?"

Akan tetapi ayahnya memandangnya lengan wajah heran, sama sekali tidak gembira, bahkan suaranya terdengar marah ketika dia bertanya, "Hui Im, apa yang kudengar ketika memasuki kota tadi? Engkau membela seorang pengemis asing dan berkelahi dengan tiga orang anggauta Ang-kin Kai- pang?"

Gadis itu menghadapi ayahnya dengan sikap tenang, tegas dan bertanggung jawab. "Benar, Ayah. Dan dia inilah Saudara yang telah kutolong itu katanya menunjuk kepada Han Beng masih berdiri dengan hati tidak enak. Majikan toko obat itu bernama Kun Tiong atau di kota raja terkenal dengan nama Souw Sian-seng, seorang ahli obat atau seorang tabib yang seringkali menerima undangan untuk mengobati orang sakit, akan tetapi juga membuka toko obat yang diurusi puterinya. Puterinya itu anak tunggal bernama Souw Hui Im. Ibu gadis ini, telah lama meninggal dunia.

Souw KunTiong atau Souw Sian memandang sejenak kepada Han Beng lalu dia membalik menghadapi puterinya lagi, menuntut, "Apa yang telah terjadi? Dalam suaranya masih terkandung rasa tidak senang. Dia menganggap puterinya mencari gara-gara saja, karena dia tahu benar siapa itu Ang-kin Kai-pang perkumpulan yang amat berpergaruh di kota raja, bahkan mempunyai hubungan baik dengan para pembesar yang kuasa. "Sesungguhnya aku tidak bersalah.Ayah,” kata Hui Im yang dapat melihat bahwa ayahnya marah. "Mula-mula Saudara ini datang dan minta pertolongan , agar diberi obat untuk gurunya yang sedang sakit panas demam dan batuk, karena kulihat dia seorang pengembara yang sedang dirundung malang, maka aku memberinya obat yang dimintanya. Tiba-tiba muncul tiga orang pengemis Ang-Kai-pang itu yang bersikap sombong dan melarang aku memberikan obat kepada Saudara ini. Tentu saja aku marah, Ayah. Mereka tidak berhak melarangku memberikan obat milikku sendiri kepada siapapun juga. Mereka malah menghina saudara ini, mengusirnya dan melarangku menyerahkan obat. Maka terjadilah perkelahian itu dan mereka melarikan diri."

Dengan alis masih berkerut, Souw Han-seng menghadapi Han Beng. Sejenak dia mengamati pemuda yang bertubuh tinggi besar dan berwajah gagah itu, lalu karena penyesalannya bahwa puterinya menanam permusuhan dengan Ang-kin Kai-pang gara-gara pemuda ini, dia pun berkata dengan suara penuh sesalan dan kemarahan.

"Orang muda, tidak malukah engkau Engkau masih muda belia, bertubuh sehat dan kuat, akan tetapi ada orang-orang menghinamu, engkau diam saja tidak membela diri sendiri, bahkan mengandalkan seorang wanita untuk membelamu! Tidak malukah engkau menjadi seorang pengecut?"

"Ayah !" Hui Im berseru.

"Diam kau!" bentak ayahnya yang masih menghadapi Han Beng, melanjutkan kata-katanya. "Orang muda, gara-gara " engkau, anakku menanam bibit permusuhan dengan Ang-kin Kai-pang, berarti kami menghadapi kesulitan besar. Karena engkau menjadi gara-gara, maka engkau perlu dihajar agar semua orang tahu bahwa aku, Souw Kun Tiong, sebetulnya tidak mau mencampuri urusan antara pengemis. Biarlah engkau berhadapan sendiri dengan Ang-kin Kai-pang? Nah,  bersiaplah, orang muda, aku akan menghajarmu seperti tadi anakku menghajar orang-orang Ang-kin Kai-pang!"

Han Beng terbelalak, kebingungan, tentu saja dia tidak ingin berkelahi dengan orang lain, apalagi orang ini adalah ayah kandung dari gadis yang telah menolongnya tadi. Akan tetapi dia pun mengerti apa yang dimaksudkan orang tua ini. Dia hendak menghajarnya di depan umum sehingga kalau Ang-kin Kai-pang mendengar akan hal ini, mereka akan menganggap bahwa keluarga Souw sebetulnya tidak membela Han Benig, melainkan terjadi kesalahpahaman saja antara Nona Souw dan tiga orang murid atau anggauta Ang-kin Kai- pang.

Han Beng menjura kepada Souw Sian-Seng. "Tuan, harap maafkan saya. Sesungguhnya saya datang ke toko ini tidak ada maksud lain kecuali minta bantuan agar diberi obat untuk guruku yang sedang sakit. Saya sama sekali tidak mencari keributan atau perkelahian. Kalau memang Tuan tidak rela memberi obat ini untuk guruku, biarlah saya kembalikan saja."

"Hemmm, puteriku telah memberi obat itu, tidak akan kami tarik kembali akan tetapi untuk membuktikan bahwa kami tidak berpihak dalam urusanmu dengan Ang-kin Kai-pang,” aku harus menghajarmu!" Souw Sian-seng maklum bahwa di tempat ramai itu tentu terdapat banyak mata-mata Ang-kin Kai- pang yang dapat mendengarkan semua ucapannya dan dapat menyaksikan pula dia menghajar pemuda itu agar melaporkan hal itu kepada pimpinan Ang-kir Kai-pang. Dia sudah melangkah maju, siap untuk menghajar Han Beng.

"Suheng, tahan dulu… !" tiba tiba orang yang tadi datang 

bersama Souw Sian-seng, melompat maju dan memeggangi lengan tabib itu. Orang berusia empat puluh tahun lebih ini bernama Hui Siong dan dia adalah seorang di antara murid- murid Siauw-lim-pai yang berhasil melarikan diri ketika Kuil Siauw-Lim-si dibakar oleh pasukan pemerintah. Dalam pelariannya, dengan aman dia bersembunyi dan mondok di  rumah tabib itu yang juga merupakan murid Siauw-lim-pai akan tetapi merupakan 'murid luar" yang tidak tinggal di kuil. Di sini dia hidup aman karena tentu saja para perwira pasukan pemerintah tidak menyangka bahwa orang Siauw-lim-pai ada yang berani tinggal di kota raja!

Melihat sutenya menahan dia yang hendak menghajar pengemis muda itu, Souw Sian-seng merasa heran dan memandang sutenya dengan alis berkerut, Gui Siong mendekatkan mulutnya ketelinga suhengnya dan membisikkan, "Dia adalah Naga Sakti seperti yang pernah kuceritakan padamu, Suheng." Tentu saja Souw Sian-seng terkejut bukan main dan hanya berdiri seperti patung mengamati Han Beng yang tidak mengenal apa yang dibicarakan kedua orang itu. Dia rasanya pernah melihat orang yang datang bersama ayah kantung gadis itu, seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih yang bertubuh kurus, wajahnya tampan, rambut penuh uban dan matanya lebar sekali itu.

Cui Siong kini memberi hormat kepada Han Beng. "Tai- hiap, apakah Tai-hap lupa kepadaku?"

Han Beng terkejut disebut tai-hiap (pendekar besar).Dia mengerutkan alisnya. "Maaf, saya tidak mengenal Dan 

perkenankan saya mengantarkan obat ini kepada guruku… "

"Bukankah Tai-hiap yang bernama Han Beng?" Cui Siong melanjutkan cepat-cepat dan lirih agar tidak terdengar orang lain. Han Beng kembali terkejut.

"Tai-hiap tentu belum lupa, lima tahun yang lalu, di dusun Ki-nyan-tung Bukankah kita pernah bekerja sama membela rakyat dusun itu dari tekanan Hek-i-wi…… ?"

"Ohhh… !" kini Han Beng teringat. Kiranya orang ini 

adalah satu di antara lima orang murid Siauw lim-pai yang  mengamuk dan membela penduduk dusun itu "Kiranya Tuan adalah… "

"Namaku Gui Siong, Tai-hiap. Dan kalau boleh saya bertanya, siapakah yang sakit?"

"Guruku, dia Sin-ciang Kai-ong……"

"Ahhh! Jadi beliau itu menjadi guru Tai-hiap? Suheng, dengarkah Suheng sekarang? Kita harus berkunjung dan memberi hormat kepada Lo-cian-pwe itu, dan mengundang mereka ke sini untuk beristirahat dan berobat, sambil bercakap-cakap!"

Kini Souw Sian-seng baru yakin dan ia pun cepat memberi hormat kepada Han Beng. "Maafkan kami, Tai-hiap. sudah lama mendengar nama besar Tai-hiap dan Lo-cian-pwe Sian- ciang Kai-ong. Marilah kami antar Tai-hiap menemui guru Tai- hiap."

Han Beng mengangguk, merasa tidak enak berada lebih lama di tempat itu. Dia lalu menghadapi Souw Hui Im dan menjura, "Sekali lagi, terima kasih, Nona." Dan pergilah dia bersama dua orang itu menuju ke pintu gerbang kota raja sebelah barat. Hui Im sejak tadi bengong saja seperti telah berubah menjadi patung! Bahkan ketika Han Beng bicara kepadanya, ia hanya dapat memandang kepada pemuda itu seperti seorang yang melihat munculnya dewa di siang hari! Tentu saja ia pun seperti ayahnya pernah mendengar cerita susiok-nya Gui Siong tentang munculnya seorang pendekar muda yang dijuluki Sin-Liong (Naga Sakti) bernama Si Han Beng yang kabarnya memiliki ilmu kepandaian setinggi gunung, juga ia pernah mendengar akan nama Sin-ciang Kai- ong yang namanya menjulang setinggi langit. Dan pada itu kini, ia telah memberi sedekah obat kepada Sin-liong itu, untuk mengobati gurunya yang ternyata adalah Sin-ciang Kai-ong! Seperti seorang anak kecil, ia pun berlompatan masuk kedalam tokonya, wajahnya riang gembira namun kadang- kadang jantungnya berdebar dan mukanya berubah merah ketika teringat kepada wajah Han Beng!

oooOOOooo

Sin-ciang Kai-ong memang jatuh sakit. Tubuhnya seperti menjadi medan perang antara panas dan dingin. Kadang- kadang dia merasa tubuhnya panas seperti dibakar, kadang- kadang dingin seperti akan membeku, dan kalau sudah datang batuknya, maka batuknya itu susul menyusul dan terus menerus membuat dadanya terasa sesak!

Akhirnya terpaksa dia dan muridnya yang tiba di kota raja, menghentikan perantauan mereka dan Sin-ciang Kai-ong tinggal di sebuah kuil tua yang tidak terpakai lagi, di sebuah bukit di sebelah barat kota raja. Siang hari itu, terdengar dia terbatuk-batuk sehingga dia tidak tahu bahwa muridnya dan dua orang laki-laki memasuki kuil tua itu.

"Suhu...!" kata Han Beng sambil berlulut di depan suhunya yang rebah miring menghadapi dinding.

"Ah, kau sudah datang, Han Beng……… ukh-ukh-uhh!" "Suhu, teecu datang bersama dua orang yang ingin 

menghadap Suhu." Sin-ciang Kai-ong bangkit dan memutar tubuhnya, melihat dua orang yang lah duduk bersila di situ dengan sikap hormat. Souw Sian-seng dan Gui Siong segera memberi hormat kepada pengemis tua itu.

"Lo-cian-pwe, saya Souw Kun Tiong orang murid luar Siauw-lim-pai."

"Saya sutenya, Lo-cian-pwe, bernama Gui Siong dan saya pernah berjumpa dengan Lo-cian-pwe ketika bersama-sama membela penduduk Ki-nyan-tung. Saya seorang murid Siauw- lim-pai." Sin-ciang Kai-ong, biarpun kelihatan bahwa dia sedang menderita sakit wajahnya pucat dan mukanya penuh keringat, nampak gembira ketika mendengar pengakuan mereka itu.

"Ah, kiranya orang-orang gagah dari Siauw-lim-pai yang datang! Selamat datang, selamat datang! Hei Han Beng bagaimana engkau sampai dapat bertemu mereka dan membawa mereka ke tempat kita yang kotor ini?"

Han Beng lalu menceritakan tentang peristiwa ketika dia minta obat kepada puteri Souw Sian-seng tadi selanjutnya pertemuannya dengan So Sian-seng dan Gui Siong. 

Mendengar ini, Sin-ciang Kai-ong mengerutkan alisnya.

"Ah, bagaimana mungkin itu? Ang-kin Kai-pang adalah perkumpulan pengemis di kota raja yang dipimpin oleh Koai- tung Sin-kai, bukan?" Pertanyaan ini bukan oleh kakek jembel itu kepada Han Beng dan dua orang murid Siauw-lim-pai.

"Benar sekali, Lo-cian-pwe. Koai Tung Sin-kai adalah ketua dari "Ang-kin Kai-pang," kata Souw Sian-seng. 

"Nahhh! Aku sudah mengenal baik orang itu! Dan dia bukan orang jahat sama sekali, bahkan dia menjunjung tinggi- kebenaran dan bahkan menentang kaitan dan penindasan. Bagaimana seorang anak muridnya dapat bersikap seperti itu?"

"Memang benar sekali apa yang Lo-cian-pwe katakan. Memang dahulu Ang-kin Kai-pang terkenal sebagai perkumpulan yang baik. Biarpun anggauta-anggotanya mengemis, akan tetapi tidak pernah melakukan kejahatan, bahkan suka membantu kalau rakyat diperas dan ditekan oleh mereka yang berkuasa. Akan tapi akhir-akhir ini, sudah kurang lebih setahun lamanya, anggauta Ang-kin Kai-pang berubah. Banyak anggauta baru dan mereka ini bersikap tidak lagi  sebagai pengemis, melainkan lebih mirip penodong, perampok dan tukang-tukang pukul. Tak ada yang berani menentang karena selain di antara mereka terdapat banyak orang lihai, juga mereka dekat dengan para pembesar yang berpangkat tinggi."

Kemudian, Souw Sian-seng membujuk Sin-ciang Kai-ong untuk beristirahat saja di rumahnya agar lebih terawat dan dekat dengan ahli dan obat-obatannya. Setelah Gui Siong ikut membujuk, akhirnya Sin-ciang Kai-ong menerima undangan ini dan pergilah mereka berempat ke rumah Souw Sian-seng. Rumahnya menjadi satu dengan toko obatnya, di bagian belakang dan cukup luas.

Bukan main girangnya rasa hati Hui Im ketika menerima dua orang tamunya itu. Sinar matanya yang bening itu kadang- kadang menyambar ke arah Han Beng, sinar matanya yang tajam bersinar akan tetapi kalau bertemu pandang, ia pun menunduk dan sikapnya malu-malu. Han Beng sendiri kagum bukan main kepada gadis itu, kagum dan juga suka karena gadis cantik itu selain gagah perkasa, lihai dan pemberani, juga berhati lembut dan suka menolong. 

Souw Sian-seng yang duda itu menjamu Sin-ciang Kai-ong dan muridnya dengan hati gembira. Dia telah memeriksa keadaan tubuh kakek jembel itu dan dengan lega mendapatkan bahwa penyakitnya tidaklah berbahaya, penyakit biasa yang suka mengganggu orang lanjut usia. Dengan istirahat dan pengobatan yang cepat, dalam waktu beberapa hari saja kakek itu akan pulih kembali kesehatannya, apalagi dia memiliki tubuh yang amat kuat.

Akan tetapi, selagi pihak tuan rumah menjamu Han Beng dan gurunya, tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk di luar toko yang sudah ditutup pada sore hari itu. Seorang pelayan berlari memasuki ruangan makan dengan muka pucat dan melapor kepada Souw Sian-seng dengan suara gagap. "Celaka, Loya orang-orang Ang-Kin Kai-pang dan 

sepasukan perajurit keamanan…… berada di depan rumah……!"

Mendengar ini, Souw Kun Tiong cepat keluar, diikuti oleh Souw Hui Im juga Gui Siong. Han Beng dan gurunya saling pandang, kemudian Sin-ciang Kai-ong yang sudah mendengar keterangan muridnya tentang peristiwa dengan Ang-kin Kai- pang itu menyatakan kekhawatirannya.

"Aih, kalau sampai keluarga Souw tertimpa malapetaka yang disebabkan oleh kita, sungguh membuat hatiku merasa tidak enak sekali. Kita harus turun bertanggung jawab, Han Beng. Mari kita keluar!"

Ketika guru dan murid ini keluar, ternyata bagian depan rumah itu telah dikepung oleh belasan orang yang berpakaian pengemis sabuk merah, juga ada dua puluh orang lebih perajurit keamanan yang dipimpin seorang perwira. Mereka mendengar perdebatan antara Souw Sian-seng dan para pimpinan pengemis juga terdengar suara perwira itu membentak-bentak.

"Orang she Souw! Engkau berani menyembunyikan mata- mata pembcrontak! Hayo keluarkan orang itu dan berikan kepada kami, dan kalian sekeluarga juga harus ikut ke benteng untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kalian!" 

Souw Sian-seng membantah dengan suara lantang. "Ciangkun, harap tidak mendengarkan fitnah keji. Selama bertahun-tahun, kami keluarga Souw tinggal dengan aman dan damai di sini, tidak pernah membuat kekacauan dan siapakah yang tidak mengenal kami sebagai ahli ngobatan yang sudah banyak menolong orang sakit? Bahkan di antara para perwira dalam benteng sudah banyak yang Kami sembuhkan… " "Bohong, Ciangkun! Dia adalah serang murid Siauw-lim- pai!" tiba-tiba seorang di antara para pimpinan pengemis itu berseru. Kagetlah Souw Sian-eng. Dia tahu bahwa keadaannya menjadi semakin gawat kalau orang-orang itu sudah tahu bahwa dia seorang murid Siauw-lim-pai, apalagi mengingat bahwa sutenya yang berada di sebelahnya itu adalah seorang murid Siauw-lim-pai yang lolos dari kuil Siauw- lim-pai yang dibakar.

"Memang kuakui bahwa ilmu silatku bersumber dari ilmu silat Siauw-lim-pai akan tetapi ilmu silat mana yang tidak bersumber dari sana? Aku, bukan murid……."

"Ciangkun, orang kurus bermata lebar itu seorang di antara murid Siau lim-pai yang memberontak! Aku ingat benar! Dia seorang di antara lima murid Siauw-lim-pai yang mengamuk di Ki-nyan-tung!"

Kini Gui Siong yang terkejut. Dia adalah seorang buruan, dan dia tidak takut akan bahaya yang mengancam dirinya, hanya dia menyesal sekali bahwa kini suhengnya yang hidup aman di kota raja ini akan menanggung akibat dari persembunyiannya di situ!

Pada saat itu, Han Beng dan Sin-ciang Kai-ong muncul. Melihat mereka! perajurit yang tadi berteriak segera mengenal mereka. "Nah, itu dia yang membantu para murid Siauw-lim- pai! Pengemis tua itu yang menendang roboh padaku, dan pemuda tinggi besar itu ikut mengamuk!"

Kini tidak ada jalan lain lagi untuk menyangkal. Souw Sian- seng memang sudah siap siaga menghadapi segala kemungkinan semenjak Gui Siong berada tempat tinggalnya. Kini, dia sudah meloncat ke depan sambil mencabut pedangnya, langsung saja menyerang pengemis yang tadi membocorkan rahasianya sebagai murid Siauw-lim-pai. Pengemis itu menangkis dengan tongkatnya, akan tetapi tongkat itu patah dan pedang di tangan Souw Sian-seng sudah  melukai pundaknya sehingga dia jatuh terguling dan berteriak kesakitan. Segera ada banyak sekali tongkat yang mengeroyok tabib itu. Melihat suhengnya sudah mengamuk, Gui Siong yang merasa betapa kehadirannya yang menyebabkan keributan itu, segera mencabut pula pedangnya dan mengamuk.

"Ayah, mari kita hajar anjing-anjing jahat ini!" Hui Im juga membentak dan dia pun sudah melompat ke depan, mengenakan pedang yang sudah dipersiapkannya untuk membantu ayah dan susioknya. Memang sementara keributan pagi tadi dengan orang-orang Ang-kin Kai-pang, keluarga ini sudah mempersiapkan pedang agar setiap saat dapat membela diri.

Melihat betapa pihak tuan rumah sudah terjun ke dalam perkelahian dan dikeroyok banyak orang yang rata-rata lihai, Han Beng menoleh kepada gurunya.

"Suhu, apa yang harus teecu lakukan?" Selama ini suhunya itu selalu menekankan bahwa dia harus hidup sebagai seorang pendekar yang menentang para penindas dan penjahat, akan tetapi suhunya juga berpesan agar dia tidak memusuhi pemerintah karena kalau dicap pemberontak maka akan sukarlah mencari tempat yang aman bagi kehidupannya.

Sin-ciang Kai-ong menarik napas panjang. "Wah, agaknya Ang-kin Kai-ong yang telah bersekutu dengan pasukan keamanan dan kalau pembesar sudah bersekutu dengan orang-orang yang jahat dan menyeleweng, sungguh tidak tahu lagi aku apa yang harus kita akukan. Akan tetapi, jelas bahwa keluarga Souw terancam maka kita harus menolong dan Menyelamatkan mereka."

Pernyataan suhunya ini amat ditunggu-tunggu oleh Han Beng, maka tanpa banyak cakap lagi dia pun lalu terjun kedalam gelanggang perkelahian, dengan tamparan dan tendangannya dia merobohkan tiga orang pengeroyok yang  membikin repot Hui Im. Selanjutnya ia melindungi gadis itu dari pengeroyokan. Sin-ciang Kai-ong masih ragu-ragu. Dia sudah tua dan sedang tidak sehat, menggunakan tenaga untuk berkelahi dapat membahayakan nyawanya sendiri. Pula, dia pun tahu bahwa kedaan amatlah berbahaya. Mereka itu relawan pasukan pemerintah, berarti pemberontak, dan perkelahian itu terjadi di kota raja! Dalam waktu singkat saja tentu akan bermunculan ratusan atau mungkin ribuan pasukan keamanan. Dan di kota raja menjadi gudang dari para perwira tinggi yang memiliki kepandaian tinggi! Akan tetapi, keraguannya lenyap ketika dia melihat betapa tubuh Souw Sian-seng dan Cui Siong sudah berlumuran darah oleh luka- luka yang mereka derita. Walaupun kedua suheng dan sute ini mengamuk, namun para pengeroyok mereka itu pun rata-rata memiliki ilmu silat yang lumayan, dan dikeroyok demikian banyaknya, akhirnya mereka pasti luka-luka.

"Han Beng! Nona! Kalian tolong Souw enghiong dan Cui- enghiong melarikan diri, biar aku yang menahan mereka Tiba- tiba kakek ini terjun ke dalam pertempuran dan dengan gerakan kedua lengan bajunya yang tambal-tambalan dia menyapu roboh beberapa orang. Gerakan kakek ini memang hebat bukan main. Kedua lengan bajunya yang lebar itu mengeluarkan angin yang bagaikan badai. Baru terkena anginnya saja, orang-orang yang berada dekat dengannya terpelanting roboh, apalagi yang sampai tercium ujung lengan baju. Tenaga sakti yang keluar dari kedua lengannya amat dahsyat.

Juga amukan Han Beng yang bertangan kosong itu hampir sama dengan suhunya, kalau tidak malah lebih hebat lagi. Pemuda ini selama lima tahun telah warisi ilmu kepandaian Sin-ciang Kay-ong setelah dia mewarisi ilmu kepandaian Sin- tiauw Liu Bhok Ki. Tamparan dan tendangannya pasti merobohkan seorang lawan, walaupun mereka itu sudah mencoba untuk mengelak dan menang¬kisnya. Tangkisan senjata tajam tidak dipedulikan oleh Han Beng. Senjata yang bertemu dengan lengan atau kakinya terpentai diikuti  robohnya pemilik senjata itu. Mendengar seruan gurunya, Han Beng juga maklum. Kalau dilanjutkan, tentu akan datang bala bantuan yang amat banyak karena mereka berada di kota raja. Kalau sampai lambat melarikan diri, dapat berbahaya sekali.

"Nona, mari kita larikan Ayahmu dan paman Gurumu!" katanya. Hui Im yang tadinya repot menghadapi pengeroyokan banyak orang, kemudian keadaannya menjadi ringan setelah pemuda perkasa itu mengamuk di sebelahnya dan melindunginya, mengangguk karena ia pun melihat betapa ayahnya dan susioknya telah menderita luka-luka berdarah. Keduanya lalu cepat mengamuk mendekap dua orang yang luka-luka itu. Ketika Han Beng tiba di situ, dia melihat keadaan Souw Sian-seng sudah payah dan terhuyung-huyung. Maka dia pun cepat menangkap tubuh orang tua itu, memanggulnya, dan mempergunakan pedangnya untuk melindungi diri mereka, juga melindungi Hui Im yang sudah menggandeng tangan susioknya diajak lari. Jalan untuk lari sudah terbuka karena Sin-ciang Kai-ong sudah mengamuk lebih dahulu membuka jalan. Larilah mereka, Han Beng memondong tubuh Souw Sian-sen dan Hui Im menggandeng dan menarik susioknya yang juga sudah terhuyung huyung.

Sin-ciang Kai -ong menghalangi setiap orang yang hendak melakukan pengejaran. Dengan kedua lengan bajunya dia merobohkan lebih dari dua puluh orang, dan sisanya, yaitu perwira pasukan dan beberapa orang pimpinan Ang kin Kai.- pang masih mengepung dan mengeroyoknya. Tiba-tiba dia mengeluarkan teriakan yang dahsyat, seperti harimau mengancam, dan belasan orang yang mengeroyok itu terkejut, merasa kaki mereka seperti mendadak lumpuh dan mereka tidak mampu mempertahankan diri ketika kedua lengan baju itu menyambar nyambar. Mereka berpelantingan dan kesempatan ini dipergunakan oleh Sin ciang Kai -ong untuk meloncat jauh dan pergi menyusul muridnya dan yang lain lainnya. Dia tahu ke mana Han Beng membawa mereka. Tentu ke hutan lebat di mana terdapat kuburan kuno yang pernah menjadi tempat tinggal selama dua hari di luar kota raja. Benar saja dugaannya.Han Beng, Hui Im, Souw Sian-seng dan Gui Siong memang berada di tempat itu. Akan tetapi ketika Sin-ciang Kai-ong tiba di situ, mendapatkan bahwa dua orang yang terluka parah itu telah meninggal dunia dan Hui Im memeluki jenazah ayahnya sambil menangis sedangkan Han Beng duduk bersila termangu-mangu.Kakek ini menarik napas panjang berulang-ulang lalu ikut bersila di dekat Han Beng menghadapi dua jenazah yang rebah tentang. Melihat Sin- ciang Kai-ong, Hui Im merintih dan berlutut di depan kakek itu.

"Lo-cian-pwe…….. Ayah dan Susiok tewas………!" Ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena tangisnya sudah meledak-ledak, membuatnya sesenggukan.

"Tenanglah,Nona. Nyawa manusia berada di dalam tangan Tuhan, maka setiap kematian memang sudah dikehenki oleh Tuhan. Kita hanya dapat merima kenyataan ini, Nona."

"Nona, semua ini adalah karena kesalahanku!" kata Han Beng penuh semangat. 

"Akulah yang bersalah, kalau aku tidak minta bantuan, mengemis obat kepada Nona, tentu tidak akan terjadi semua ini… " Han Beng merasa menyesal bukan main.

"Tidak, Tai-hiap.Engkau tidak bersalah. Bahkan engkau telah membantu kami sehingga engkau dimusuhi oleh pasukan keamanan."

"Sudahlah, tidak perlu mencari kambing hitam dalam suatu peristiwa, yang penting kini kita harus cepat menyempurnakan dua jenazah ini dan mengurus mereka baik-baik. Kebetulan di sini adalah daerah pemakaman kuno. Kalau tidak cepat-cepat dan kita terlambat mereka tentu akan melakukan pengejaran sehingga kita tidak sempat lagi untuk mengurus jenazah- jenazah ini. Kita bicara nanti setelah pemakaman." Mereka bertiga lalu menggali dua buah lubang tak jauh dari makam kuno itu untuk mengubur jenazah Souw Kun Tiong dan Gui Siong. Sambil bekerja menggali tanah kemudian mengubur jenazah ayahnya dan susioknya, tiada hentinya Hui Im menangis, walaupun dara ini sudah menahan diri untuk bersikap tenang. Air matanya tak pernah berhenti mengalir.

Setelah mereka berhasil mengubur kedua jenazah itu, Hui Im berlutut depan makan ayahnya sambil menangis sesenggukan. Han Beng menghiburnya.

"Sudahlah, Nona. Saya kira tidak perlu lagi Nona menyiksa diri, karena Ayahmu dan Susiokmu sudah dipanggil kembali oleh Tuhan Yang Maha Kuasa."

Hui Im tetap saja menangis, hatinya seperti ditusuk-tusuk rasanya.

"Nona Souw, yang kautangisi itu Ayahmu ataukan dirimu sendiri?" tiba-tiba Sin-ciang Kai-ong bertanya, biarpun mulutnya tersenyum-senyum namun bicaranya bersungguh- sungguh. Han Beng sendiri kaget mendengar pertanyaan yang aneh dan dianggapnya menyinggung perasaan itu. Mendengar pertanyaan ini, Hui Im menghentikan tangisnya, memandang kepada kakek itu dengan mata merah agak membengkak.

"Bagaimana Lo-cian-pwe dapat ber¬tanya seperti itu? Tentu saja saya menangisi Ayah………"

"Benarkah itu? Coba amati diri sendiri dan pikirkan baik- baik, Nona. Bagaimana engkau dapat menangisi Ayahmu yang sudah meninggal dunia? Dia telah terbebas dari segala macam penderitaan hidup, sudah meninggalkan tubuh yang selalu menjadi permainan suka dan duka, mengapa pula engkau menangisinya? Bukankah engkau menangis karena mengingat akan keadaanmu sendiri yang ditinggal pergi  selamanya oleh Ayahmu yang kaucinta? Bukankah tangismu itu timbul dari perasaan iba kepada dirimu sendiri?"

Han Beng yang mendengarkan itu merasa heran. Selama lima tahun suhunya lebih banyak bersikap seperti orang yang kurang waras, selalu bergurau dan kadang-kadang amat nyaris Jarang sekali suhunya bersikap sungguh-sungguh seperti sekarang ini, dan hal ini menimbulkan kekhawatiran dari hatinya karena dianggapnya tidak wajar!

Sementara itu, Hui Im tadinya menjadi merah mukanya karena penasaran akan tetapi ketika ia mengingatkan dan mengamati diri sendiri, nampak lah olehnya betapa tepatnya ucapan kekek itu. Memang ia menangisi diri sendiri yang ditinggal ayahnya, sehinga kini ia hidup sebatangkara, dan melihat keadaan, tentu ia tidak akan dapat kembali lagi ke rumahnya yang akan disita oleh pasukan keamanan. Ia kehilangan segala-galanya! Satu-satu keluarganya adalah ayahnya. Ia kehilangan ayahnya, susioknya, dan seluruh harta bendanya, bahkan rumahnya. Ia menjadi yatim piatu yang sebatangkara, tidak memiliki lagi tempat tinggal dan harta benda.

"Tapi saya merasa kasihan kepada Ayah. Gara-gara perbuatan saya maka Ayah sampai menderita, dikeroyok sehingga tewas "

"Ketika Ayahmu dikeroyok dan menderita luka-luka, memang dia sengsara dan sepatutnya kalau engkau iba kepadanya. Akan tetapi sekarang? Ayahmu sudah tidak menderita apa-apa lagi, se¬tidaknya tubuhnya tidak lagi merasakan apa-apa, tidak menderita. Tentang jiwanya, siapa yang tahu? Kalau kita tidak tahu bagaimana keadaannya, bagaimana mungkin kita merasa kasihan? Siapa tahu dia sekarang berbahagia, mudah-mudahan saja begitu."

Hui Im yang mempergunakan pikiran untuk mempertimbangkan ucapan kakek itu, tanpa disadarinya  sendiri lah berhenti menangis! "Saya dapat mengerti apa yang Lo-cian-pwe maksudkan sekarang. Memang saya menangisi diri sendiri, akan tetapi apa salahnya Lo-cian-pwe? Baru saja saya kehilangan segalanya. Ayah dan Susiok tewas, saya tidak mungkin pulang ke rumah yang tentu disita pemerintah. Saya kehilangan segala-galanya, hidup yatim piatu dan sebatangkara tidak memiliki apa-apa. Siapakah orangnya yang tidak akan berduka?"

Tiba-tiba kakek itu tertawa. Han Beng mengerutkan alisnya. Wah, gurunya kini agaknya kambuh kembali, datang lagi penyakit lamanya, dan dia takut kalau-kalau gadis itu akan tersinggung. Hui Im tidak tersinggung melainkan heran memandang kepada kakek yang tertawa-tawa itu. Pandang matanya menegur dan bertanya mengapa kakek itu tertawa seperti itu melihat ia sedang dilanda kesengsaraan!

"Ha-ha-ha-ha, Nona yang baik hati, ke mana perginya kedukaanmu tadi? Engkau tidak menangis lagi, tidak ada lagi kedukaan membayang di wajahmu! Mengapa? Heh-heh, karena duka itu hanya permainan pikiranmu sendiri saja. Pikiranmu itu mengingat-ingat akan keadaanmu, semua kehilangan dan penderitaan, maka muncullah iba-diri dan engkau pun menangis, merasa sengsara, begitu pikiranmu beralih dan memperhatikan percakapan dengan aku, maka hilang pula kedukaan itu tanpa bekas! Nanti kalau kauingat lagi, engkau akan berduka lagi." 

Hui Im mengerutkan alisnya, melihat kebenaran yang tersembunyi dalam ucapan kakek itu. "Akan tetapi, Lo-cian-we, apakah tidak boleh saya berduka?"

"Bukan tidak boleh, hanya apakah gunanya berduka, Nona? Hidup penuh penderitaan kalau kita membiarkan pikiran berkuasa. Segala yang terjadi adalah suatu kewajaran. Ayahmu tewas, hartamu habis, semua itu wajar, karena semua itu terjadi atas kehendak Tuhan! Dan semua kehendak Tuhan terjadilah! Tidak ada kekuasaan apa pun yang akan mampu  mencegahnya. Dan Tuhan Maha Kasih Segala kehendakNya yang terjadi adalah adil dan baik, demi kebaikan kita! hanya kita tidak mengerti akan raba yang tersembunyidibalik semua peristiwa itu. Percayalah kepada Tuhan anak baik, dan serahkan segalanya kepada Tuhan. Apa yang nampak ini semua hanya seperti mimpi belaka, seperti gelembung- gelembung sabun yang setiap saat akan meletus dan lenyap. Semua tidak kekal, hanya sementara saja, maka jangan kaget kalau sewaktu-waktu semua ini akan lenyap meninggalkan kita. Bahkan tubuh ini pun tidak kekal, kita harus siap untuk sewaktu-waktu meningalkannya! Jadi, apa yang perlu disalahkan? Tidak ada! Ha-ha-ha, tidak ada yang patut disusahkan, kita bahkan harus selalu gembira, melihat tontonan yang amat menarik ini, tontonan kehidupan manusia."

Han Beng menundukkan mukan Alangkah bijaksananya gurunya itu, waIaupun sikapnya seperti orang sinting. Dia dapat mengerti akan semua ucapan tadi, dan dia merasa betapa kecilnya lirihnya, betapa lemah dan tidak berarti, bahkan tidak berdaya dalam kekuasaan Alam Semesta.

"Lo-cian-pwe, apakah kalau sudah k-gitu, kalau kita sudah percaya sepenuhnya kepada Tuhan, sudah pasrah segalanya kepada Tuhan, kita akan selamat? Apa perlunya kita berobat kalau sakit, menghindar kalau ada bahaya mengancam? Bukankah kita lalu menjadi diam saja dan memasrahkan segalanya kepada Tuhan?" Dalam pertanyaan ini terkandung rasa penasaran. Maklum, seorang pdis muda seperti Hui Im, tidak mudah menangkap inti dari semua ucapan kakek Itu yang mengandung makna dalam sekali.

Mendengar pertanyaan gadis itu, Sin-Ciang Kai-ong kembali tertawa.

"Ha-ha-ha, bukan begitu,Nona. Kita diciptakan sebagai mahluk hidup yang tergerak, kita wajib untuk berikhtiar, menjaga dan memelihara diri, namun dengan dasar iman  kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Kalau kita sakit, sudah menjadi kewajiban kita untuk berikhtiar mencari penyembuhannya dengan pengobatan, namun dasarnya harus iman penyerahan kepada Tuhan. Apa pun ya ngditentukan Tuhan, tidak perlu diterima dengan penasaran! Itulah iman! Dunia hanya permainan pikiran. Susah senang hanya timbul karena pikiran ini menimbang-nimbang, membanding-bandingkan memperhitungkan untung rugi yang semuanya bersumber kepada si-aku! padahal, siapakah si-aku ini? Siapakah aku ini? Pernahkah Nona mempertanyakan hal ini kepada diri sendiri! Han Beng, pernahkah engkau bertanya kepada diri sendiri siapakah dirimu dan siapakah engkau?"

Han Beng terbelalak memandang gurunya. Belum pernah dia bertanya seperti itu, dan mengapa pula harus bertanya? Apakah gurunya ini sudah kumat lagi sintingnya? Kenapa orang harus bertanya siapa dirinya? Siapakah aku ini?

Karena dia dan Hui Im tidak menjawab pertanyaan itu, Sin- ciang Kai ong yang agaknya juga tidak mengharapkan jawaban, lalu bernyanyi!

"Siapakah aku ini?

aku bukanlah tubuh yang rapuh ini aku bukanlah pikiran yang kacau ini

aku bukanlah perasaan yang berubah-ubah ini aku bukanlah akal budi yang curang ini

semua itu hanyalah alat bagiku

sangkar rumah tempat tinggalku sementara semua itu akan menjadi tua

lalu lemah tak berdaya

lalu mati, kembali pada debu hampa! 

Siapakah aku ini?

Sepercik api yang merindukan Matahari Setetes air yang merindukan samudera Setelah menyanyikan sajak itu, Sin-Ciang Kai-ong lalu tertawa terkekeh-kekeh seperti mendengar sesuatu yang amat lucu. Akan tetapi pada saat itu pendengaran Han Beng yang tajam dapat menangkap gerakan atau langkah kaki banyak orang dari jauh, juga suara mereka bicara.

Tadinya Han Beng dan gurunya menasehati agar Hui Im tinggal saja di tempat persembunyiannya, tidak ikut mereka yang berkunjung ke sarang Ang-kin Kai-pang. Akan tetapi gadis itu memaksa. "Aku kehilangan segala-galanya karena Ang-kin Kai-pang, oleh karena itu, baik dibantu oleh Ji-wi (Kalian) atau tidak, aku pasti akan menuntut balas dan menyerbu sarang Ang-km Kai pang dengan taruhan nyawa!"

Guru dan murid itu terpaksa membiarkan Hui Im ikut, walaupun hadirnya gadis itu menambah beban bagi mereka yang harus melindunginya. Ketika mereka melihat bahwa penjagaan di tempat, itu hanya dipusatkan di pintu depan, Sin- ciang Kai-ong berbisik kepada muridnya dan Hui Im bahwa mereka akan memasuki sarang itu dari tembok belakang. Pagar tembok itu cukup tinggi dan Hui Im memandang dengan ragu-ragu.

"Aku………. kukira aku tidak mampu melompatinya" 

katanya lirih kepada Han Beng.

"Mari kubantu, Nona. Peganglah tanganku erat-erat!" Han Beng berkata kemudian memberi isarat agar mereka meloncat berbareng. Dengan pengerahan tenaganya, mudah saja baginya untuk menambah tenaga loncatan Hui lm sehingga keduanya melayang ke atas pagaar tembok lalu turun ke sebelah dalam.Akan tetapi, begitu tiba di dalam pagar tembok, kakek jembel itu memberi isarat agar mereka tidak mengeluarkan suara. Ternyata rumah itu dijaga ketat sekali, bahkan dikepung penjaga. Tidak ada kesempatan sama sekali bagi mereka untuk menyelinap masuk tanpa diketahui dan kalau ketahuan tentu semua anggota Ang-kin Kai-pang akan melakukan pengeroyokan sehingga mereka tidak sempat  melakukan penyelidikan. Maka Sin-Ciang Kai-ong lalu memberi isarat kepada muridnya dan Hui Im untuk keluar lagi.

"Kita datang saja dari pintu," katanya.

"Tapi, Suhu. Mereka sudah mengenal kita, tentu mereka akan menyambut dengan pengeroyokan pula."

"Hemmm, andaikata dikeroyok pun kalau di luar kita lebih leluasa dan tidak ada bahaya alat-alat jebakan. Sukur kalau Koai-tung Sin-kai masih mengingat akan persahabatan antara kami dan mau keluar menemuiku."

Dengan jantung berdebar penuh ketegangan, akan tetapi sama sekali bukan karena takut, Han Beng dan Hui im mengikuti jejak jembel itu yang berjalan menuju ke pintu gerbang di mana terdapat banyak sekali anggauta Ang-kin Kai-pang. Ketika mereka bertiga tiba di depan pintu gerbang dan para pengemis itu melihat mereka, tentu saja para anggauta Ang-kin Kai-pang itu menjadi geger. Mereka segera mengenal tiga orang itu dan segera menghadapinya dengan senjata tajam seperti golok, pedang, tombak dan lain-lain. Sebagian pula memegang tongkat pengemis mereka dengan sikap mengancam. Akan tetapi, Sin-ciang Kai-ong menghadapi mereka sambil terkekeh-kekeh.

"Ha-ha-ha-ha, kalian jangan panik jangan ribut. Aku datang untuk menemui sahabat baikku, Koai-tung Sin-kai, untuk membicarakan kesalahpahaman antara kita tadi. Katakanlah kepadanya bahwa sahabat baiknya yang bernama Sin-ciang Kai-ong datang untuk bicara dengan dia!"

"Sin-ciang Kai-ong… ?" terdengar seruan-seruan di antara 

mereka dengan kaget.

Tentu saja nama ini tidak asing bagi meeka, dan mereka pun merasa jerih. Kiranya kakek jembel yang amat sakti dan yang membuat mereka tadi kocar-kacir adalah Sin-ciang Kai-ong  Raja Pengemis dari Propinsi Hok-kian itu! Pantas demikian lihainya, pikir mereka, kini menjadi ragu-ragu untuk lancang tangan.

"Hayo cepat kabarkan padanya, ataukah kalian mau main- main lagi dengan kami? Akan tetapi hati-hati, sekali ini aku tidak akan menggunakan tangan lunak terhadap kalian!" Dengan ancaman ini, Sin-ciang Kai-ong berhasil membuat mereka semua menjadi jerih beberapa orang lalu lari ke dalam membuat laporan.

Tak lama kemudian muncullah empat orang pengemis setengah tua yang sabuknya berwarna merah tua, tanda bahwa tingkatnya sudah tinggi. Meraka berempat itu menghadapi Sin-ciang Kai-ong dengan sikap hormat, lalu berkata, "Pangcu (Ketua) kami mempersilakan Sam-wi untuk masuk dan menghadap beliau!"

"Heh-heh-heh, sejak kapan Koai-tu Sin-kai disebut beliau seperti seorang bangsawan tinggi saja? Heh-heh-heh ingin aku melihat mukanya kalau mendengar pertanyaanku ini." Sambil terkekeh-kekeh kakek jembel itu jembel lalu mengajak Han Beng dan Hui Im untuk memasuki sarang Ang-kin Kai- pang. Tentu saja diam-diam Han Beng bersiap siaga menghadapi segala kemungkin karena siapa tahu, para pengemis hanya menjebak saja, seperti menggiring harimau ke dalam perangkap. Pemuda ini agak khawatir melihat suhunya. Suhunya itu sakit, panas dan batuk dan baru sempat makan obat satu kali saja di rumah keluarga Souw. Tentu kesehatannya belum pulih benar dan sekarang memasuki saraang harimau! 

Empat orang pimpinan Ang-kin Kai-pang menjadi penunjuk jalan dan tiga yang tamu itu mengikuti mereka, memasuki sebuah ruangan besar di dalam bangunan. Ternyata isi bangunan itu mewah sekali sehingga berulang kali Sin-Ciag Kai-ong mengeluarkan suara pujian. "Wah, bukan main! Aku  ini memasuki rumah para pengemis ataukah memasuki istana raja?" 

Ruangan yang mereka masuki itu luas,dua puluh lima meter panjangnya lima belas meter lebarnya. Agaknya tempat ini dipergunakan untuk keperluan kalau banyak orang berkumpul, pesta, tempat atau juga berlatih silat. Di bagian pinggirnya terdapat sebuah meja panjang di mana nampak duduk lima belas orang, mengelilingi meja, dan di kepala meja duduk seorang kakek berjenggot panjang yang sikapnya berwibawa.

Begitu melihat kakek itu, Sin-ciang Kai-ong (Raja Pengemis Bertangan Sakti) segera menegur dengan suara gembira sekali, "Heiiiii! Sin-kai, sejak kapan engkau menjadi seorang raja yang kaya raya?"

Kakek itu berjuluk Koai-tung Sin-kai (Pengemis Sakti Bertongkat Setan) dan dia menyambut munculnya seorang "rekan" ini dengan sikap dingin saja tanpa bangkit berdiri, akan tetapi menjawab dengan cukup hormat, "Ah, kiranya Kai-ong yang muncul. Silakan duduk, silakan duduk!"

Han Beng yang berpenglihatan tajam itu melihat betapa sinar mata suhunya berkilat aneh mendengar sambutan itu, namun suhunya yang agaknya melihat atau mendengar sesuatu yang tidak wajar itu bersikap biasa saja, dengan bebas dan tanpa sungkan-sungkan dia pun duduk di atas sebuah kursi kosong dan memberi isarat kepada Han Beng dan Hui Im untuk mengambil tempat duduk pula. Empat orang pengawal tadi mengundurkan diri dan keluar dari ruangan luas itu. Biarpun dalam ruangan itu hanya terdapat belasan orang pimpinan Ang-kin Kai-pang yang dikepalai Koai-tung Sin-kai, namun tiga orang tamu ini maklum bahwa di luar ruangan itu sudah siap puluhan bahwa mungkin ratusan anggauta perkumpulan itu yang Kalau perlu setiap saat dapat diperintahkan menyerbu dan mengeroyok mereka. "Koai-tung, kami merasa menyesal sekali bahwa engkau dan muridmu telah menimbulkan keributan di kota raja. Kalau saja aku tidak ingat bahwa diantara kita masih ada hubungan persahabatan dan kita sama-sama menjadi pimpinan pengemis, tentu tadi kalian tidak kubiarkan masuk, dan sudah kusuruh tangkap!" 

Ditegur seperti itu, Kai-ong tertawa tergelak. "Ha-ha-ha-ha, akal maling memang begitu, sebelum tertangkap lebih dulu teriak maling agar tertutup kesalahannya. Sin-kai, justeru kedatanganku ini untuk minta keterangan darimu! Muridku ini minta obat kepada toko obat milik Nona Souw ini, untuk mengobati aku yang sedang sakit. Akan tetapi muncul tiga orang anak buahmu yang melarang. Nona Souw memberi kepada muridku. Karena Nona Souw merasa terhina, maka ia lalu melawan tiga orang anak buahmu itu melarikandiri. Kemudian aku dan muridku diundang oleh keluarga Souw, dan tiba-tiba saja para pembantumu muncul bersama pasukan keamanan kota raja melakukan penyerbuan! Sekarang aku datang untuk bertanya kepadamu Sin-kai, apa artinya semua ini? Kenapa sikap anak buahmu jauh sekali dibandingkan dahulu?” 

"Hemmm, tidak ada yang berubah pihak kami, Kai-ong. Engkaulah yang berubah karena engkau bersekutu dengan para pemberontak Siauw-lim-pai untuk melawan pasukan pemerintah! Sudah menjadi peraturan kami bahwa seluruh kotaraja dan wilayahnya merupakan wilayah kami, dan pengemis dari mana pun juga yang hendak mengemis disini harus mendapatkan persetujuan kami lebih dulu! Hal ini untuk mencegah terjadinya perebutan dan kesalahpahaman. Akan tetapi muridmu mengemis tanpa lebih dulu memberitahukan kepada kami, tentu saja dilarang oleh para anggauta kami."

"Aha, begitukah? Dan engkau bersekutu dengan pasukan pemerintah untuk menindas rakyat?" "Kai-ong!" Tiba-tiba Koai-tung Sin-kai bangkit berdiri dan belasan orang pembantunya juga bangkit berdiri, sikap mereka mengancam. "Lancang engkau bicara! Kami adalah golongan rakyat yang baik, bukan pemberontak, tentu saja berbaik dengan pemerintah. Kami tidak menindas rakyat, melainkan menentang para pemberontak. Aku masih menganggap engkau rekan, sama-sama pengemis, dan bahwa keributan itu kaulakukan tanpa sengaja dan karena tidak mengerti. Mengingat itu, berjanjilah bahwa engkau malam ini juga akan keluar dari kota raja dan tidak akan kembali lagi, dan aku akan membebaskan engkau dan muridmu."

Han Beng sudah merasa penasaran sekali, juga Hui Im yang memandang pada para pimpinan pengemis itu penuh kebencian mengingat bahwa merekalah yang menjadi penyebab hancurnya keluarganya dan kematian ayahnya. Akan tetapi, Kai-ong juga bangkit sambil tertawa bergelak.

"Bagus …….. , bagus ! Ini adalah wilayahmu dan engkau 

yang berkuasa, Sin-kai, maka biarlah aku mengalah dan akan pergi dari kota raja ini. Nah, sampai jumpa!" Pengemis tua ini lalu menbalikkan tubuhnya, memberi isarat kepada Han Beng dan Hui Im yang masih penasaran untuk mengikutinya keluar dari ruangan itu, langsung keluar dari dalam rumah besar itu. Setelah keluar dan ruangan baru nampak oleh mereka bahwa semua anggauta Kai-pang telah siap siaga dan jumlah mereka banyak kali, mungkin ada seratus orang! Melihat ini, Han Beng diam-diam memuji kecerdikan gurunya, karena kalau harus berkelahi di dalam, di mana pihak tuan rumah sudah siap siaga, mereka sendiri yang akan menderita kerugian.

Setelah keluar dari rumah itu, Kai-ong mengajak dua orang muda itu pergi ke tempat yang sunyi. Sekarang Han Beng memperoleh kesempatan untuk bertanya.

"Suhu, kenapa kita harus menuruti perintannya7" Gurunya tertawa. "Ha-ha, itu bukan perintah dari Koai-tung Sin-kai, Han Beng."

"Bukan dia? Bukankah yang berjenggot panjang tadi, yang bicara dengan suhu, adalah Koai-tung dan Suhu juga menyebutnya Sin-kai?"

"Justeru sebutan itulah yang meyakinkan hatiku bahwa dia bukan Koai-tung Sin-kai dan aku sudah bersahabat erat sekali sehingga sebutan-sebutan antara kita sudah amat bebas. Aku menyebutnya Lo-koai (Setan Tua), bukan Sin-kai dan tadi sengaja aku menyebutnya demikian untuk melihat sambutannya. dan dia menyebut aku Kai-ong (Raja jembel) padahal biasanya dia menyebutku Lo-kai (Jembel Tua). Nah, bukankah itu merupakan bukti kuat bahwa bukan sahabatku itu? Memang wajahnya mirip, jenggotnya juga mirip, akan tetapi aku yakin bukan dia! Sinar matanya juga berbeda. Orang dapat memulas dan mengubah muka untuk menyamar, akan tetapi tidak mungkin mengubah sinar-mata."