-->

Naga Sakti Sungai Kuning Jilid 09

Jilid 09

Kita lupa bahwa kita, manusia ini, pribadi-pribadi ini, bukanlah binatang! Kita bukanlah tubuh ini! Kita bukan pula pikiran ini, bukan perasaan panca indera ini, bahkan bukan kesadaran ini! Semua ini, tubuh, pikiran, perasaan, kesadaran ini hanya merupakan hal-hal yang sementara saja, yang akhirnya akan hancur lenyap begitu "rumah" ini menjadi tua atau rusak dan tidak tepakai lagi! Seperti juga rumah membutuhkan perlengkapan, perapian, penerangan dan sebagainya, tubuh juga membutuhkan perlengkapan, seperti 

pikiran, perasaan, kesadaran. Kalau tubuh ini tertidur, atau pingsan, maka semua itu pun berhenti berfungsi. Pikiran, perasaan, kesadaran, kesemuanya itu pun berhenti bekerja. Seperti tubuh, mereka itu pun nya alat! Jelaslah bahwa kita ini bukan mereka! Namun, sudah menjadi kebiasaan kita tidak waspada akan kenyataan ini. Kita terlalu 

terikat kepada darah daging (tubuh) kita ini, terlalu mencandu kepada panca-indera, hati akan kenikmatan dan keenakan,  terlalu bergantung kepada pikiran sehingga kita lupa akan keadaan kita yang sesungguhnya! Kalau semua ikatan itu sudah dapa kita hancurkan, kalau si-aku sudah berhenti merajalela sehingga hidup kita bukan sepenuhnya merupakan penghambaan kepada nafsu-nafsu belaka, hanya mengejar kenikmatan, kesenangan dan keenakan saja, barulah mungkin terdapat suatu keadaan yang sama sekali berbeda. Berhentinya pikiran mendatangkan keheningan dan di dalam keheningan inilah mungkin sekali kita akan memasuki dimensi lain dari kehidupan inil menyentuh lingkaran cahaya Illahi yang tak pernah sedetikpun meninggaik kita. Tanpa adanya cengkeraman pikiran perasaan dan kesadaran panca indera maka si-aku pun runtuh dan tanpa adanya si-aku yang penuh keinginan ini, maka kita akan mengenal apa arti cinta kasih. Bukan cinta kasih antara aku dan engkau yang saling mengharapkan imbalan demi kesenangan diri pribadi, bukan cinta kasih jual belidi pasar, tak pernah mengharapkan imbalan, tak pernah berpamrih. Membiarkan diri penuh dengan cinta kasih ini, berarti membiarkan diri dipenuhi cahaya Illahi, membiarkan diri bersatu dengan Tuhan!

Kini sinar bulan mulai memasuki ruangan itu melalui jendela yang dibiarkan terbuka di sebelah timur. Sinar bulan yang mula-mula menyinari dinding lalu merayap ke meja sembahyang, dan perlahan-lahan akan tetapi pasti sinar bulan yang lembut dari bulan purnama itu mulai merangkak ke arah pembaringan di mana dua orang remaja itu masih rebah telentang.

Lui Seng Cu kini bangkit berdiri, mencuci kedua tangannya, lalu mengambil kain putih yang sudah dipersiapkan di bawah meja sembahyang. Setelah memberi sembah tiga belas kali ke arah patung Thian-te Kwi-ong, dia lalu membawa dua potong kain sutera panjang itu ke arah pembaringan. Dua orang remaja itu masih telentang, yang pria wajahnya pucat dan ketakutan, yang wanita masih menangis tanpa suara. Lalu dia mengenakan pakaian itu kepada mereka sekedar menutupi ketelanjangan mereka dengan menyelimutkan sutera putih itu  dan membelitkan ke tubuh mereka. Kemudian, dia mengambil pula sebatang pisau belati dari bawah meja, meletakkan pisau itu ke atas meja sembahyang. Pisau itu amat tajam, agaknya diasa sampai mengkilap dan Giok Cu merasa betapa bulu tengkuknya berdiri. Seperti yang diduganya, tentu dua orang korban itu akan dibunuh!

"Toanio, bersiaplah untuk menghaturkan korban kepada Ong-ya! Sinar bulan sudah mendekati mereka, beberapa saat lagi sinar bulan akan menyentuh dada mereka dan itulah saatnya untuk. ”

"Tidaaaaaakkk! Mereka tidak boleh dibunuh!" Tiba-tiba Giok Cu berteriak dan tubuhnya sudah meloncat ke arah pembaringan itu, maksudnya tentu saja hendak membebaskan mereka!

“Jangan melanggar kedaulatan Ong-ya!" Lui Seng Cu membentak dan dia pun menyambut dengan dorongan kedua tangannya. Akibatnya, tubuh Giok Cu terlempar dan terjengkang, jatuh ke belakang dan bergulingan. Hebat sekali dorongan Lui Seng Cu tadi, akan tetapi karena dia tahu bahwa gadis itu adalah murid tersayang dari Ban-tok Mo-li, maka dorongannya hanya mengandung angin yang kuat dan yang telah membuat gadis itu terjengkang dan bergulingan, akan tetapi tidak melukainya! Semua orang terkejut, mengira bahwa tentu Ban-tok Mo-li akan marah sekali melihat muridnya yang terkasih itu dirobohkan orang. Akan tetapi, wanita itu bersikap tenang saja, bahkan mengerutkan alisnya. Ketika ia melihat muridnya bangkit. berdiri dan sama sekali tidak terluka, ia pun berkata dengan sikap marah.

"Giok Cu, apa yang kaulakukan ini? Hayo keluar kau!"

Giok Cu berdiri dengan mata terbelalak memandang ke arah pembaringan itu, ia marah sekali dan juga ingin sekali membebaskan dua orang remaja itu. Akan tetapi ia tahu bahwa tenaganya tidak cukup untuk menentang Lui Sen Cu,  apalagi gurunya sendiri mengusirnya keluar. Dengan gemas dan membantin kaki kirinya beberapa kali, Giok Cu lalu membalikkan tubuhnya dengan cepat, dan sekali meloncat ia sudah lenyap dari ruangan itu, berlari keluar.

Ketika Giok Cu tiba di luar, ia melangkah pergi di bawah sinar bulan purnama. Tiba-tiba ia mendengar jerit dua kali. Ia berhenti melangkah dan memejamkan mata. Akan tetapi tetap saja ia dapat membayangkan betapa pisau belati itu menancap di dada dua orang korban yang mungkin dibebaskan dulu dari totokan ketika hendak ditusuk dadanya, la menggunakan kedua tangan menutupi telinganya, lalu ia berlari menuj ke luar kota, ke pantai lautan!

Ia tidak melihat betapa apa yang dibayangkan itu masih jauh daripada kenyataan yang amat mengerikan sekali bagi orang awam. Setelah sinar bulan tiba di atas dada kedua orang muda itu Ban-tok Mo-li yang sudah siap dengan pisau belati di tangan, lalu membebaskan totokan mereka, akan tetapi secepat kliat pisaunya menyambar ke arah dada, sedemikian cepatnya sehingga kelihatannya seperti dua batang pisau bekerja dalam waktu yang sama. Dua orang remaja itu hanya mengeluarkan jeritan masing-masing satu kali menggelepar dan tewas seketika karena jantungnya telah ditarik keluar oleh Ban-lok Mo-li seperti diharuskan dalam upacara itu! Bagi orang lain, perbuatan seperti ini tentu saja amat mengerikan. Akan tetap bagi seorang datuk sesat seperti Ban-tok Mo-li, pekerjaan itu biasa saja! Dalam waktu beberapa detik saja, tangan kirinya sudah mengambil jantung manusia yang masih bergerak-gerak, dan meletakkan dua buah jantung itu ke atas baki perak yang lebar yang dipegang oleh Lui Seng Cu. Dua buah jantung itu masih bergerak-gerak seperti hidup, akan tetapi hanya sebentar saja dan Ban-tok Mo-li sudah membersihkan tangannya dari darah menggunakan kain sutera yang menyelimuti tubuh dua orang remaja itu! Sikapnya tenang saja, bahkan mulutnya tersenyum. Dan mereka yang hadir itu adalah tokoh-tokoh sesat yang berhati kejam. Melihat  pertunjukkan itu, mereka tidak merasa ngeri, hanya tegang dan kagum!

Kini Ban-tok Mo-li, dipimpin oleh Lui Seng Cu, bersembahyang didepan meja sembahyang di mana dua buah jantung itu dihidangkan. Banyak dupa dibakar dan mereka menyembah sambil berlutut. Kemudian, Lui Seng Cu mengambil sebuah guci terisi anggur. Mulut guci itu lebar dan dia memasukkan dijantung manusia itu ke dalam guci. Di kocoknya anggur dalam guci bersama dua buah jantung itu, kemudian dia menuangkan anggur itu ke dalam sebuah cawan, lalu disiramkan dari atas patung, sehingga patung itu menjadi basah oleh anggur. Tiga kali patung itu disiram anggur bercampur jantung manusia itu. Kemudian, Lui Seng Cu menuangkan anggur ke dalam cawan dan menyerahkan kepada Ban-tok Mo-li yang segera meminumnya! Setelah itu, mulailah mereka pesta minum anggur yang bercampur jantung manusia yang masih segar! Dan agaknya, mereka semua minum tanpa jijik sedikit pun, bahkan merasa seolah-olah mereka minum obat kuat yang ampuh!

Belasan orang pelayan Ban-tok Mo-li sudah cepat menyingkirkan dua mayat yang masih hangat itu, membawanya jauh ke belakang, ke dalam kebun yang luas di mana siang tadi mereka telah menggali sebuah lubang besar, melempar dua mayat itu ke dalam lubang dan menguruk lubang dengan tanah tanpa banyak peraturan lagi! Dua mayat manusia itu dikubur seperti orang mengubur bangkai binatang saja!

Adakah yang lebih kejam daripada manusia? Manusia, kalau sudah dilanda rasa takut, kalau sudah dikuasai nafsu mengejar sesuatu, menjadi jauh lebih kejam daripada binatang yang bagaimana buas sekalipun! Binatang, betapapun liar dan buasnya, tidak mempunyai pikiran jahat. Kebuasan dan keliaran mereka hanya naluri untuk melindungi dirinya. Kalau ada binatang buas membunuh binatang lain, hal itu dilakukan tanpa benci, melainkan karena dia harus melakukannya untuk  mempertahankan hidupnya, mengisi perutnya, atau membela dirinya. Akan tetapi manusia membunuh demi menyenangkan dirinya, atau demi mencapai sesuatu yang dianggap akan mendatangkan kesenangan bagi dirinya.

Upacara selesai akan tetapi pesta itu masih belum selesai! Mereka minum-minum dan terdengar gelak tawa, bahkan ada pula di antara para tamu yang menarik pinggang seorang pelayan wanita. Ada wanita yang mengelak dan menolak, dan tamu itu pun tidak berani memaksa, karena mereka menghormati dan segan kepada Ban-tok Mo-li. Akan tetapi ada pula pelayan wanita yang mau melayani sehingga mereka itu bercumbu rayu begitu saja, di depan orang banyak di depan Ban-tok Mo-li sendiri yang hanya tertawa. Akun tetapi kalau sampai ada tamu yang berani memaksa seorang pelayannya tentu tamu itu akan sukar keluar dari situ dalam keadaan hidup! Memang aneh sekali cara hidup para Datuk sesat ini. Agaknya, mereka sudah tidak mengenal hukum dan peraturan lagi, baik hukum agama, hukum tradisi, hukum masyarakat maupun hukum negara. Yang ada hanyalah tindakan semau-gua, seenak perutnya sendiri, apa yang disukai itulah yang dilakukan, dan satu-satunya hukum adalah hukum rimba. Yang kuat dia menang, yang menang dia kuasa, yang kuasa dia benar! Tidak ada susila lagi. Tidak ada akhlak lagi, tidak ada rikuh lagi, yang ada hanya demi senang, senang, senang!

oooOOooo

Giok Cu menjatuhkan diri di atas pasir pantai dan ia menangis! Menangis tersedu-sedu, bahkan sampai sesenggukan. Agaknya seluruh rasa penasaran yang selama ini tertimbun di dalam batinnya, melihat hal-hal yang bertolak belakang dengan suara hatinya terjadi di depannya tanpa ia dapat menentangnya, juga semua perasaan duka yang dirasakannya semenjak ia kematian ayah ibunya perasaan dendam karena kematian ayah ibunya adalah perbuatan Sin- tiauw Li Bhok Ki, dan semua hal yang buruk buruk dan yang  terpendam di dalam hatinya kini terungkap keluar sehingga ia menangis sampai mengguguk! 

Selama lima tahun ini, ia seolah-olah digembleng untuk memiliki watak yang tahan uji? Namun, ternyata kini ia dapat menangis seperti itu, tanda dari kelemahan hati. Hatinya seperti diremas-remas, melihat dua orang remaja dibunuh begitu saja tanpa dosa, dan ia tidak mampu menolong mereka! Apa gunanya selama lima tahun ia mempelajari ilmu silat, ilmu kesaktian kalau kini ia tidak berdaya sama sekali menghadapi seorang Lui Seng Cu yang demikian jahat dan kejam?

Giok Cu menangis tanpa merasa khawatir dilihat atau didengar orang. Siapa yang akan datang di pantai yang amat sunyi di malam hari itu? Dan siapa dapat mendengar suara tangisnya yang ditelan suara ombak yang menggelegar? Tangis merupakan suatu penyaluran rasa duka. Duka yang tadinya membeku di dalam batinnya, seolah-olah mencair dan sedikit demi sedikit mengalir keluar dari dalam hatinya, hanyut melalui air mata.

Setelah menangis selama satu jam, ikhirnya tidak ada lagi air mata yang keluar, dan Giok Cu merasa betapa dadanya lega dan ringan sekali. Pikirannya pun lelah dan kosong, dan akhirnya, dendang suara air lautan ditambah semilirnya angin, sinar bulan yang sejuk, membuat ia tidak dapat lagi menahan kantuknya dan bagaikan orang yang kehilangan kesadaran, tahu-tahu ia telah jatuh pulas, telentang di atas pasir pantai. Langit amat bersih dan bulan purnama seperti tersenyum kepada dara itu, bintang-bintang yang agak suram juga melambaikan cahayanya kepada dara itu.

Suasana yang amat indah di pantai itu tidak meramalkan keindahan dan kedamaian. Sebaliknya malah. Di balik keheningan malam itu, bersembunyi bahaya yang amat mengerikan bagi diri Giok Cu. Ketika ia lari meninggalkai tempat pesta itu, diam-diam ada dua orang pemuda yang juga pergi meninggalkan pesta. Hal ini tidak kentara karena  memang pesta sudah mulai kacau dan orang-orang bergerak ke sana-sini dengan bebas, bahkan ada yang menarik seorang pelayan wanita yang mau melayani ke tempat gelap tanpa dipedulikan yang lain. Dua orang muda itu bukan lain adalah Ji Ban To dan Gak Su dua orang pcmuaa yang sejak tadi sudah dibakar nafsu berahi, pertama kali ketika melihat Giok Cu di pantai bersama Siangkoan Tek, kemudian melihat gadis yang dijadikan korban. Melihat peristiwa keributan di pesta, di mana Giok Cu hendak melepaskan dua orang korban kemudian dirobohkan Lui Seng Cu dan dimarahi gurunya, kemudian melihat betapa gadis itu lari meninggalkan ruangan pesta, dua orang pemuda ini pun diam-diam keluar dan mencari Giok Cu.

Ketika Giok Cu yang kelelahan itu tertidur di atas pasir, telentang dalam keadaan pulas, dua sosok bayangan orang menghampirinya dengan hati-hati sekali. Kaki mereka melangkah perlahan-lahan, sedikit pun tidak menimbulkan suara sehingga gadis remaja yang sedang pulas itu sama sekali tidak mendengar apa-apa dan masih enak saja tidur nyenyak dengan napas lembut dan panjang.

Akan tetapi, seorang gadis remaja seperti Giok Cu itu memiliki kepekaan yang melebihi orang-orang dewasa atau orang-orang tua. Bahaya besar yang mengancam dirinya itu seolah-olah menggerakkan sesuatu di dalam tubuhnya yang menyembunyikan tanda bahaya sehingga tiba-tiba saja Giok Cu seperti orang tergugah dan terkejut, membuka matanya. Namun, terlambat sudah. Sebuah totokan membuat tubuhnya menjadi lemas dan tenaganya hilang. Ia hanya mampu terbelalak saja ketika mengenal dua buah wajah di bawah sinar bulan purnama. Wajah Ji Ban To dan Gak Su, dua orang murid majikan Pegunung Liong-san yang menjadi tamu subonya Dan dua buah wajah itu kini dalam penglihatan Giok Cu amat menakutkan. Di buah mulut itu menyeringai lebar di nafsu mereka mendengus panas, mata mereka juga beringas seperti mata bintang buas kelaparan! Giok Cu yang belum berpengalaman itu tidak dapat menduga apa yang mereka kehendaki, namun naluri kewanitaannya mengisaratkan  ancaman bahaya besar bagi dirinya, membuat ia mengerahkan seluruh kekuatan dalam tubuhnya untuk membebaskan diri. Namun percuma saja. Totokan yang di lakukan oleh Ji Ban To itu membuat kaki tangannya seperti lumpuh. Tingkat kepandaian dan tenaga dari dua orang pemuda itu tidak banyak selisihnya dengan tingkat kepandaiannya sendiri. Andaikata ia tidak dicurangi, ditotok selagi tidur, tentu ia mampu melawan dua orang ini dan ia tidak gentar walaupun dikeroyok dua.

"Jahanam kalian!" Ia hanya mampu memaki dan bahkan suaranya pun kekurangan tenaga. "Apa yang kalian lakukan ini? Bebaskan aku!"

Pemuda kurus kering yang bermuka pucat itu, Ji Ban To, mendekatkan mulutnya, menyeringai dan hidungnya hampir menyentuh pipi Giok Cu sehingga gadis remaja ini sedapat mungkin memutar lehernya menjauhkan mukanya dan dengan jijik ia merasa betapa napas pemuda itu meniup kelehernya.

"Apa yang kami lakukan? Heh-heh, Giok Cu yang manis, engkau tentu mengerti sendiri. Jangan hanya memperhatikan Siangkoan Tek seorang. Kami pun dua orang pemuda yang gagah perkasa, murid seorang datuk, penguasa Pegunungan Liong-san."

"Benar sekali kata Suheng!" kata Gak Su dan muka yang tampan akan tetapi bopeng itu pun mendekat dan tangannya mulai merenggut lepas pakaian yang menutupi tubuh Giok Cu. "Mari kita bertiga bersenang-senang di pantai ini, di atas pasir, di bawah sinar bulan purnama. Alangkah indahnya, alangkah asyik dan nikmatnya!"

Kini jantung dalam dada Giok Cl berdegup penuh rasa ngeri dan ketakutan. Baru sekali ini ia benar-benar merasa takut membayangkan apa yang akan terjadi dengan dirinya. Dua orang itu seperti berlumba merenggut lepas semua pakaiannya! Ia meronta, memberontak, memekik, menjerit,  akan tetapi hanya dalam batin saja karena kaki tangannya tetap tidak mampu digerakkan dan suaranya hanya keluar dengan lemah saja.

"Kalian jahanam busuk! Anjing keparat.Lepaskan aku… ! 

Jangan ……., jangan ganggu aku… !" Akan tetapi, mulutnya 

sudah ditutup dengan ciuman mereka berganti-ganti. Giok Cu merasa muak dan jijik mau muntah rasanya. Akan tetapi rasa takut mengatasi semua rasa jijik ini matanya terbelalak, jiwanya meronta, tahu bahwa ia sama sekali tidak berdaya dan sebentar lagi tentu ia akan diperkosa, Membayangkan ini, ia hampir pingsan Tidak, ia tidak boleh pingsan. Ia tidak boleh membiarkan mereka memperkosanya! Ia harus mencari akal. Dua orang pemuda itu seperti dua ekor ikan menperebutkan makanan, menciumi muka dan mulut Giok Cu dan tangan mereka meraba dan membelai.

"Ji Ban To dan Gak Su, nanti dulu… nanti dulu, dengarkan 

omonganku…… “ Giok Cu berkata sedapat mungkin diantara ciuman-ciuman mereka yang semakin panas. Ia pun mulai merasa ngeri mengingat akan tanda tahi lalat merah kecil di bawah siku lengan kirinya. Bukankah subonya pernah memberitahu kepadanya bahwa kalau keperawanannya hilang tanda itu akan lenyap dan dalam waktu sebulan ia akan mati? Ia akan diperkosa kehilangan kehormatannya secara hina sekali, kemudian ia akan mati!

"Nanti dulu, dengarkan aku… " kata-katanya membujuk.

Dua orang pemuda itu sambil menyeringai menghentikan ciuman dan rabaan mereka. "Hem, Manis, engkau sungguh cantik dan panas! Engkau mau bicara apa, sayang?"

Giok Cu tersenyum, senyum yang manis sekali! Dua orang pemuda itu terpesona dan merasa girang.Gadis itu tersenyum kepada mereka! Agaknya, ciuman dan belaian mereka tadi membuat gadis itu pun mulai menikmati permainan cinta mereka. "Kalian ini sungguh dua orang laki laki yang bodoh sekali. Bagaimana kita dapat menikmati permainan cinta kalau aku tertotok seperti ini? Kalian sama saja bermain cinta dengan sesosok mayat dan aku……. aku merasa tidak leluasa dan tidak dapat menikmati cinta kalian dalam keadaan tidak mampu bergerak begini. Kalau kalian membebaskan totokan ini, tentu kita akan dapat bermain cinta lebih asyik lagi……."

Dua orang pemuda itu saling pandang dan tertawa gembira. "Ha-ha-ha, ia benar sekali, Suheng! Kita bebaskan totokannya dan kita bergiliran "

Akan tetapi, biarpun sudah diamuk nafsunya sendiri, Ji Ban To ternyata, lebih cerdik daripada sutenya. "Nanti dulu, Sute. Kita harus yakin benar bahwa ia tidak menipu kita. Ikat dulu kaki dua lengannya dengan ikat pinggangnya itu." Mereka lalu menelikung kedua tangan Giok Cu ke belakang, lalu mengikat kedua pergelangan tangannya dengan kuat-kuat, menggunakan ikat pinggang Giok Cu sendiri yang tadi mereka renggut lepas. Biarpun mendongkol sekali, Giok Cu menyembunyikan rasa dongkol itu dari mukanya. Ketika dua orang itu membebaskan totokan dari tubuhnya dan ia merasakan darahnya mengalir kembali dengan normal, Giok Cu tidak tergesa-gesa bergerak, membiarkan jalan darahnya pulih kembali dan ia pun mandah saja ketika mereka kembali mulai membelai dan menciuminya.

Akan tetapi begitu jalan darahnya sudah pulih kembali, diam-diam ia mengerahkan tenaganya, digerakkannya dengan tiba-tiba kepalanya menghantam muka Ji Ban To, melompat berdiri dan kakinya menendang dada Gak Su. Dua orang pemuda yang sedang dimabuk nafsu mereka sendiri itu seperti orang terlena, menjadi lengah dan tak mampu menghindarkan diri dari serangan tiba-tiba itu.

"Duk! Desssss " Ji Ban To berteriak kesakitan karena hidungnya bocor, mengucurkan darah ketika dihantam kepala Giok Cu, sedangkan Gak Su terbanting dan terjengkang keras,  dadanya terasa sesak dan napasnya terengah-engah. Juga dia mengaduh-aduh.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Giok Cu untuk meloncat dan melarikan diri. Yang masih menempel di tubuhnya yang telanjang bulat itu hanya tinggal sepasang sepatunya saja!

Hanya sejenak saja dua orang pemuda itu tertegun dan kesakitan. Melihat gadis itu melarikan diri, mereka pun la berloncatan dan cepat melakukan pengejaran. Biarpun Giok Cu memiliki kegesitan dan keringanan tubuh, akan tetapi ia berlari dengan kedua lengan terikat di belakang. Tentu saja hal ini membuat ia tidak leluasa lari dan kecepatannya berlari berkurang banyak. Maka tak lama kemudian, dua orang pemuda itu mampu menyusulnya dan mereka menubruk dari belakang sambil meloncat.Tubuh Giok Cu terbanting keatas pasir dan ditindih oleh mereka berdua! Giok Cu meronta-ronta, menendang, menggigit dan meludah sehingga dua orang pemuda itu harus menjambaknya, memegangi kedua kakinya, bahkan menamparinya. Akhirnya mereka dapat mengikat kedua pergetangan kaki Giok Cu dengan ikat pinggang Ji Ban To dan gadis itu untuk kedua kalinya tak mampu menggerakkan tangan dan kakinya. Kalau karena tertotok, kini karena kaki tangannya terbelenggu. Akan tetapi kini ia masih mampu membalikkan tubuhnya menelungkup, memutar leher dan memandang kepada dua orang muda yang terengah- engah kelelahan itu dengan mata melotot penuh kebencian.

"Suheng, cepat kerjai gadis liar ini, biar tahu rasa! Aku akan berjaga kalau ada orang datang dan menunggu giliranku!" kata Gak Su yang mendendam kepada Giok Cu karena dadanya tadi tertendang cukup keras dan masih terasa nyeri sampai sekarang.

Ji Ban To yang sudah melepaskan ikat pinggangnya untuk membelenggu kaki Giok Cu, mendekati gadis itu dengan wajah menyeringai buas. Akan tetapi sebelum tangannya  mampu menyentuh Giok Cu tiba-tiba terdengar suara halus, "Kalian mencari mampus!"

Dua orang muda itu terkejut dan cepat menengok. Wajah mereka seketika berubah pucat dan mata mereka terbelalak ketika mereka mengenal siap wanita yang menegur mereka itu. Ban-tok Mo-li! Wanita iblis ini tadi setelah muridnya lari keluar, diam-diam merasa kecewa dan tidak enak. Ia merasa sayang kepada muridnya itu, seorang murid yang baik dan berbakat. Heran ia mengapa muridnya begitu berkeras hendak menolong dua orang korban itu padahal dua orang korban itu amat diperlukan sebagai "tebusan" ia masuk menjadi anggauta pemuja Thian-te Kw ong! Biarpun tadi ia merasa marah, setelah muridnya pergi, ia pun merasa menyesal dan ingin ia memanggil muridnya kembali untuk diajak berpesta, ia sedang bergembira karena diterima menjadi anggauta baru penyembah Thia te-kauw, maka ia tidak ingin ada gangguan berupa kekecewaan dan penyesalan terhadap muridnya yang disayangnya itu. Ketika dilihatnya tidak nampak bayangan Giok Cu di luar ruangan itu, ia pun lalu meninggalkan ruangan itu untuk mencarinya.

Ketika ia tidak dapat menemukan Giok Cu di dalam kamarnya, ia dapat menduga kemana perginya muridnya itu. Muridnya itu suka sekali bermain-main di Pantai lautan dan mungkin sekarang, dalam keadaan marah dan kecewa, Giok Cu juga pergi ke sana. Apalagi di pantai itu amat indah kalau terang bulan dan dapat menyejukkan dan menenangkan hatti. Dengan cepat Ban-tok Mo-li lalu mempergunakan ilmunya berlari cepat menuju ke pantai.

Mula-mula ia menemukan pakaian muridnya berserakan di pantai. Pakaian luar dan pakaian dalam! Dalam keadaan robek-robek. Akan tetapi muridnya tidak ada! Tentu bertelanjang bulat, la pun mengambil pakaian itu dan menyelipkannya di ikat pinggang. Kemudian berrlari lagi dan melihat bahwa tidak jauh dari situ nampak bayangan dua orang atas pasir. Cepat ia menghampiri dan dapat  dibayangkan betapa hatinya seperti dibakar ketika ia melihat muridnya dalam keadaan telanjang bulat menelungkup di atas pasir dengan kaki tangan terikat, dan dua orang pemuda yang bukan lain adalah Ji Ban To dan Cak Su berada di dekat muridnya. Tidak sukar diduga, apa yang akan dilakukan dua orang pemuda itu, maka ia pun lalu menegur mereka.

Melihat bahwa iblis betina itu muncul, dua orang pemuda itu sejenak seperti berubah menjadi patung. Kemudian, maklum betapa lihai dan galaknya wanita itu, keduanya lalu meloncat dan seperti dikomando, mereka melarikan diri!

Ban-tok Mo-h adalah seorang datuk sesat yang ditakuti banyak orang, ia sendiri tidak takut kepada siapapun juga, dan ia terkenal memiliki keberanian dan kekejaman yang luar biasa, tak pernah mau mengampuni musuh-musuhnya atau orang yang menyakiti hatinya. Melihat betapa muridnya hampir saja diperkosa dua orang pemuda itu, mengalami penghinaan, ia tidak lagi mempedulikan bahwa dua orang pemuda itu adalah tamu-tamunya, murid dari Ouw Kok Sian, seorang di antara tamu-tamunya yang terhormat. Dengan beberapa loncatan saja, ia sudah dapat menyusul mereka. Bagaikan seekor harimau menerkam seekor domba dari belakang, kedua tangannya mencengkeram dan mencekik leher Gak Su dari belakang, Jari-jari kedua tangannya yang berkuku panjang dan runcing itu mencekik dan menembus kulit dan daging leher.

Cak Su mengeluarkan suara aneh, kedua tangannya berusaha melepaskan cengkeraman, akan tetapi kedua tangannya itu lalu merentang kaku, matanya melotot, mukanya berubah hitam dan ketika cekikan dilepaskan, dia pun terkulai dan roboh tanpa nyawa lagi dengan muka hitam dan mata melotot lidah terjulur keluar. Sejak Gak Su dicekik dari belakang,

Ji Ban To sudah merasa tubuhnya menggigil dan kakinya seperti lumpuh.Dia menjatuhkan diri ke atas tanah dan  berlutut, menyembah-nyembah meminta ampun sambil memandang kepada sutenya yang mengalami nasib mengerikan itu!

"Ampun, Lo-cian-pwe… ampunkan saya……!" ratapnya 

ketika dia melihat sutenya roboh dan tewas, dan wanita; yang menakutkan itu berdiri sambil bertolak pinggang di depannya. Wajah yang cantik itu tersenyum manis, akan tetapi matanya yang mencorong itu membuat hati Di Ban To menjadi semaki ketakutan. Dia melihat maut membayang pada mata itu dan walaupun ingin dia melarikan diri, namun tubuhnya mengigil dan kedua kakinya lumpuh, membuat dia hanya dapat mendekam di depan wanita itu.

“Ji Ban To, apa yang kaulakuka bersama Sutemu terhadap muridku itu?"

"Saya……… saya ……… tidak melakukan apa-apa, hanya…   

hanya… " Dia begitu ketakutan sehingga untuk bicara amat 

sukar.

"Kalian telah memperkosanya?" bentak Ban-tok Mo-li.

Muncul sedikit harapan dalam hati Ji ban To ketika mendengar pertanyaan ini. Agaknya itulah yang menyebabkan kemarahan Ban-tok Mo-li, mengira bahwa muridnya telah mereka perkosa! Dan kenyataannya, dia belum memperkosanya!

"Tidak… ! Tidak sama sekali, Lo-Cian-pwe! Saya 

……belum… eh, tidak memperkosanya, sama sekali tidak!"

"Hemmm, lalu kenapa engkau menelanjanginya dan mengikat kaki tangannya?"

"Eh…….. ohhh yang menelanjangi dan membelenggu, 

hanya Sute…….. itu , lo-cian-pwe!" jelas nampak sifat  pengecut dari pemuda itu yang begitu menghadapi ancaman lalu hendak menimpakan semua kesalahan kepada sutenya yang telah tewas.

Ban-tok Mo-li kembali tersenyum. Wanita yang sudah kenyang akan pengalaman di dunia ini tentu saja tidak mudah dibohongi begitu saja. "Bagus, dia yang menelanjangi dan membelenggu, dan engkau yang akan memperkosanya?"

"Tidak, tidak… !"

"Lalu apa yang kaulakukan? Hanya menonton?"

Ji Ban To tahu bahwa hal ini tidak mungkin. Dia harus mengakui kesalahan, akan tetapi kesalahan yang paling kecil. "Saya……….. saya tadi hanya meciuminya beberapa kali, 

Lo-cian-pwe."

"Hemmm, menciumnya beberapa kali, ya? Agaknya engkau suka sekali menciumi perempuan. Nah, bangkitlah!"

Dengan tubuh menggigil, Ji Ban tidak berani membantah dan dia pun berdiri.Sejenak Ban-tok Mo-li mengamati pemuda ini dari kepala sampai ke kaki Seorang pemuda yang cukup tampan walaupun agak kurus dan mukanya pucat.

"J i Ban To aku ingin merasakan bagaimana engkau menciumi muridku tadi Hayo kau cium aku!"

Wajah yang pucat itu menjadi semakin pucat. "Mana saya…….. berani ?”

"Kau berani membantahku? Apak engkau ingin mampus seperti Sutemu tadi?"

"Tidak, tidak… !" "Kalau begitu kau ciumi aku seperti engkau menciumi muridku tadi. Hayo cepat!"

Ji Ban To ketakutan setengah mati. Dengan tubuh menggigil, terpaksa dia memberanikan diri merangkul pundak wanita cantik itu dan mendekap mukanya, lalu mencium mulut yang tersenyum menggairahkan itu. Dasar dia pemuda yang sudah menjadi hamba nafsu. Biarpun tadinya ketakutan, begitu dia mencium dan merasa betapa mulut wanita cantik yang diciumnya itu membalas dengan mesra, dia pun mencium penuh nafsu. Akan tetapi ketika dia hendak melepaskan ciumannya untuk bernapas, mulutnya melekat pada mulut itu dan merah mulutnya terasa seperti dibakar, rasa panas yang terus menyerang dirinya melalui mulut, masuk ke kerongkongan dan ke dada. Ciuman beracun! Dua lengannya yang tadi memeluk, kini meregang, matanya terbelalak dan suara aneh keluar dari kerongkongannya. Ketika Ban-tok Mo li melepaskan ciumannya, tubuh pemuda itu terkulai dan seluruh bibirnya nampak membiru! Akan tetapi, kematian agaknya tidak datang tiba-tiba seperti yang dialami Cak Su dan hal ini agaknya memang disengaja oleh Ban-tok Mo-li. Melihat pemuda itu menggeliat-geliat Ban-tok Mo-li menggerakkan tangan menotok ke arah tengkuknya dan pemuda itu pun tak bergerak lagi karena telah tertotok. Ban- tok Mo-li berkelebat lenyap dari tempat itu.

"Subooo !" Giok Cu memanggil ketika melihat bayangan 

subonya, akan tetapi subonya tidak menjawab. Ia mecoba untuk melepaskan belenggu kaki tangannya, namun ikatan itu kuat sekali dan tubuhnya juga amat lelah.

Giok Cu tak lama menunggu. Nampak dua bayangan berkelebat dan ternyata mereka adalah subonya bersama Ouw Kok Sian, tamu tinggi besar, majikan dari Pegunungan Liong-san, guru dari dua orang pemuda yang tadi hampir memperkosanya. Mereka berhenti di dekatnya dan terdengar subonya berkata, "Nah, kau lihat sendiri keadaan muridku. Merekalah yang melakukannya!" Suara gurunya terdengar kaku dan marah.

"Keparat! Di mana mereka yang memalukan itu?"

"Mereka lari dan kukejar. Mari kita lihat, di sana mereka!"

Keduanya berkelebat lenyap dan sebentar saja, Ban-tok Mo-li dan Ouw Kok Sian telah berdiri di dekat tubuh Gak Su yang lagi sudah tidak bernyawa dan tubuh Ji Ban To yang tidak bergerak, akan tetapi masih hidup. Melihat gurunya, Ji Ban To mengeluh dan merintih. Melihat gurunya datang bersama Ban-tok Mo-li, tahulah dia bahwa gurunya tidak akan membelanya. "Suhu………, ampunkan teecu. " katanya 

memelas.

Dengan alis berkerut dan pandang mata marah, Ouw Kok Sian membentak, 

"Benarkah engkau dan Sutemu yang melakukan penghinaan terhadap murid Ban-tok Mo-li?"

"Suhu, kami berdua………tergila-gila olehnya…… akan tetapi… Giok Cu menolak dan memukuli kami, terpaksa kami 

mengikatnya……. tapi teecu… Teecu tidak memperkosanya, 

hanya menciumnya " kata Ji Ban To dengan suara yang 

tidak jelas karena mulutnya membengkak dan menghitam. "Ampunkan teecu, Suhu……"

Ouw Kok Sian menarik napas panjang. Bagaimanapun juga, Ji Ban To adalah muridnya, murid pertama. Dia menoleh kepada Ban-tok Mo-li. engkau telah membunuh muridku Gak Su sebaga hukuman. Apakah engkau tidak dapat mengampuni muridku yang satu ini? Dia pun telah mendapatkan hukuman, apakah itu belum memuaskan hatimu?" "Ouw Kok Sian, engkau dan dua orang muridmu adalah tamu-tamu yang ku sambut dengan hormat dan dengan baik- baik. Akan tetapi dua orang muridmu telah menghina muridku. Aku telah membunuh seorang muridmu dan melukai muridmu yang ini, bagaimana pendapatmu? Apakah engkau tidak terima dan hendak menuntut balas?" Dalam ucapan itu terkandung kemarahan dan tantangan.

Ouw Kok Sian menarik napas panjang. "Aku sudah tahu akan kelihaianmu, Ban-tok Mo-li, akan tetapi bukan berarti aku takut padamu kalau kukatakan bahwa aku tidak ingin menuntut balas, aku mengerti sepenuhnya akan kemarahanmu dan aku mengakui kesalahan murid-muridku, maka aku mintakan maaf untuk mereka, dan kalau mungkin, ampunkanlah muridku Ji Ban To ini."

Wajah yang tadinya nampak marah itu melunak. Kalau gurunya sudah mengikut kesalahannya, maka itu pun cukuplah. Pula, rasa penasaran karena hinaan yang menimpa muridnya itu telah ditebus dengan nyawa seorang murid, dan murid yang lain juga akan mampus kalau ia tidak mengampuninya.

"Baiklah, melihat mukamu, biar aku mengampuni muridmu ini, Ouw Kok Sian. berikan obat ini kepadanya, minumkan dan sebagian untuk mengobati mulutnya, dan kau dapat mengusir hawa beracun dengan sin-kangmu." la mengelua kan sebungkus obat bubuk kuning dari saku bajunya, menyerahkan bungkusan obat itu kepada Ouw Kok Sian. Si Tinggi Besar ini menerimanya tanpa malu-malu lagi. Dia pun seorang tokoh dunia kang-ouw yang berpengalaman. Kalau hanya mengobati luka-luka biasa saja atau luka beracun yang tidak terlalu hebat, dia masih sanggup. Akan tetapi dunia ini, siapa mampu mengobati luka beracun akibat pukulan Ban-tok Mo-li? 

Ban-tok Mo-li lalu meninggalkan tamunya yang mulai mengobati Ji BanTo lalu ia lari menghampiri muridnya,  membuka ikatan kaki tangannya, dan membantu muridnya mengenakan pakaian Kemudian mereka berdua pun pulang dandi dalam perjalanan itu, Ban-tok M li mengomeli muridnya.

"Sikapmu di ruangan sembahyang tadi sungguh tidak menyenangkan hatiku, Giok Cu. Engkau bahkan nyaris membikin malu hatiku, sungguh aku kecewa sekali padamu."

"Maaf, Subo. Akan tetapi hatiku tidak tahan melihat dua orang yang tidak berdosa itu akan dibunuh begitu saja!"

"Hemmm, engkau tahu bahwa mereka tu dijadikan korban.Gurumu ini beraba untuk mendapatkan berkah usia panjang, tentu saja dengan jalan menyerahkan korban. Kalau yang dijadikan syarat itu korban berupa binatang apa pun, tentu akan kupenuhi. Syaratnya ialah sepasang manusia, maka harus la dipenuhi. Engkau seperti anak kecil saja. Dan kulihat, perbuatanmu itu ternyata dikutuk oleh Thian-te Kwi- ong sendiri. Buktinya, begitu engkau mengacaukan upacara penyerahan korban, engkau hampir tertimpa malapetaka di pantai itu tadi. Kalau aku tidak kebetulan sedang mencarimu, apakah engkau akan dapat menyelamatkan diri? Engkau tentu sudah menjadi korban perkosaan dan sebulan kemudian engkau mati tersiksa!" 

Giok Cu mengepal tinju. Akan tetapi ia menjawab lirih. "Terima kasih, Subo. Tentu mereka telah Subo bunuh, bukan?" 

"Yang seorang telah kubunuh karena dia melarikan diri. Seorang lagi yang bernama Ji Ban To tidak kubunuh, hanya kuberi hajaran keras karena memandang muka gurunya dan dia sudah meminta ampun."

"Hemmm, mana mungkin mengampuni perbuatan mereka yang amat keji tadi. Biar kelak aku aku sendiri yang akan  membunuhnya!" kata Giok Cu dengan suara mengandung kemarahan.

"Tidak ada untungnya menanam permusuhan dengan para murid Ouw Kok Sian. Apalagi dia tadi telah kuberi hajaran dan dalam keadaan setengah mati akan tetapi kutinggalkan obat penyembuhnya kepada gurunya. Lebih baik melupakan saja urusan itu, bukan engkau belum diperkosanya?"

"Tapi aku malu, Subo, aku merasa dihina bukan main. Biarlah kelak akan kucari jalan agar dia bermusuhan dengan aku sehingga ada alasan bagiku untuk membunuhnya!"

Ban-tok Mo-li yang mendengar hanya tersenyum saja, senyum acuh karena ia sendiri seorang yang tak pernah menghargai nyawa orang lain. Semenjak peristiwa malam itu, Giok Cu berlatih silat semakin tekun karena ia ingin agar memperoleh kemajuan pesat dan mengalahkan orang-orang seperti Siangkoan Tek dan Ji Ban To yang sudah diangapnya sebagai musuh besarnya itu. Dan hanya ilmu-ilmu silat dari Ban-tok Mo-li saja yang dipelajarinya dengan tekun, termasuk ilmu-ilmu pukulan beracun, Adapun mengenai cara hidup gurunya itu, sama sekali ia tidak merasa cocok, bahkan kadang-kadang ia muak melihat hal-hal yang dianggapnya memalukan yang dilakukan gurunya, seperti menculik orang- orang muda, memaksanya menuruti kehendaknya memuaskan nafsu-nafsunya, bergaul erat dengan tokoh-tokoh sesat dan lain kejahatan lagi. Ia selalu menolak kalau diajak atau disuruh melakukan kejahatan oleh teman-teman gurunya. Agaknya Ban-tok Mo-li sendiri mengenal watak muridnya, maka ia pun tidak pernah memberi tugas kepada muridnya itu untuk melakukan hal yang berlawanan dengan watak muridnya itu.

Watak Giok Cu yang keras, tak mengenal takut, gagah bahkan liar dan ganas terhadap musuhnya, membuat Ban-tok Mo-li merasa kagum. Apalagi karena dari suaranya, pandang  matanya dan sikapnya jelas bahwa murid itu juga mempunyai perasaan sayang kepadanya!

Kadang-kadang memang amat mengherankan kalau kita menemui seorang yang hidup sebagai seorang penjahat besar, yang sudah terbiasa melakuku segala macam kekejaman, dapat mempunyai perasaan sayang yang amat besar terhadap seseorang. Perasaan sayang yang amat mengharukan karena sungguh bertolak belakang dengan wataknya. Seorang perampok besar yang biasanya membunuh orang lain dengan mata tanpa berkedip, dapat saja memiliki kasih sayang yang amat besar terhadap isterinya atau anaknya atau orang lain sehingga untuk orang itu dia mau berkorban apa pun juga, terhadap orang itu dia bersikap amat lembut dan mengalah. Ini membuktikan bahwa didalam diri setiap manusia itu terdapat dua sifat, yaitu sifat baik dan sifat buruk. Diri manusia merupakan sumber daripada kebaikan dan keburukan yang bermunculan silih berganti dan seperti berlumba menguasai batin manusia yang melahirkan perbuatan-perbuatan baik maupun buruk. Padahal, sesungguhnya dasar dari semua ciptaan Tuhan adalah sempurna, karena Tuhan adalah Maha Sempurna, tidak ada seorang pun bayi yang jahat! Pandang mata dan senyum tawa seorang bayi, bahkan tangisnya, adalah suci. Baru setelah pengertian pikiran menguasainya, akal budi dan pikiran ini yang memberi pupuk kepada si-akunya dan mulailah muncul sifat-sifat yang buruk itu. Hanya seorang manusia yang mengenal benar semua sifat jahatnya ini, yang secara seketika membersihkan diri dari semua sifat yang buruk, dia seolah-olah membersihkan kaca-kaca jendela yang kotor berdebu dan yang menghalangi masuknya sinar matahari, dan barulah dia menjadi pulih kembali seperti seorang bayi, bersih, wajar dan suci. Selama tindakan pembersihan diri ini tidak dilakukan secara seketika, maka segala usaha lain takkan ada gunanya. Menutup-nutupi kekotoran tidak akan mendatangkan kejernihan, satu-satunya jalan hanyalah membuang kotoran- kotoran itu seketika. oooOOOooo

Pengemis atau orang yang berpakaian seperti pengemis penuh tambal-tambalan itu masih muda, kurang lebih dua puluh tahun usianya. Kalau melihat keadaan tubuhnya, sungguh tidak pantas dia mengenakan pakaian pengemis, atau pakaian yang butut penuh tambalan itu. Tubuhnya tinggi besar, wajahnya tampan dan gagah, sikapnya juga sopan, kepalanya selalu menunduk dan pendiam, langkahnya sopan dan gagah, tidak nanpak sikap rendah diri, matanya tajam cerdik, wajahnya cerah

Akan tetapi kenyataannya ketika berhenti di depan sebuah toko obat pemuda ini mengemis! Biarpun sikap dan kata- katanya tidak seperti pengemis sembarangan yang memelas, namun tetap saja dia mohon pertolongan orang. Kepada pemilik toko obat di kota raja itu, sebuah toko obat yang besar, dia memberi hormat dan berkata dengan sikap yang hormat tanpa malu-malu.

"Harap Lo-ya (Tuan Tua) suka memaafkan saya kalau saya mengganggu. Saya mohon pertolongan Lo-ya untuk memberi 

sedekah berupa obat untuk orang yang sudah lanjut usia, obat panas dan batuk. Mohon kebaikan budi Lo-ya untuk menolong saya."

Pemilik toko obat yang usianya sudah  ada enam puluh tahun, berperut gendut sekali seperti sebagian besar orang kaya di kota raja, memandang dengan alis berkerut. Pengemis ini tentu pengemis baru atau asing, pikirnya karena belum pernah dia melihat sebelumnya. Timbul rasa tidak sukanya melihat tubuh pengemis yang demikian sehat dan gagah, jauh lebih gagah daripada putera-puteranya.

"Hemmrn, sungguh engkau ini orang pemuda yang tidak tahu malu sama sekali Dia berkata sambil mengelus jenggotnya. "Engkau masih begini muda, kenapa tidak mau bekerja dan menjadi pengemis ? Hayo pergi, aku tidak mau menolong orang malas! Pergi atau kupanggilkan penjaga keamanan agar engkau ditangkap!"

Pengemis muda itu menahan senyumnya. Sedikitpun dia tidak menjadi merah muka atau marah. Agaknya, cemooh dan makian seperti itu sudah terlalu sering dia terima sehingga dia sudah merasa kebal. Dia membungkuk lalu pergi seenaknya.

Pengemis muda itu adalah Si Han Beng! Seperti kita ketahui, lima tahun yang lalu dia bertemu dengan gurun yang ke dua, yaitu Sin-ciang Kai-ong Si Raja Pengemis Bertangan Sakti dan menjadi muridnya. Karena gurunya ini hidup berkelana sebagai seorang pengemis maka Han Beng juga harus menyesuaikan diri dengan keadaan gurunya berpakaian sebagai pengemis, bahkan juga minta-minta untuk makan mereka sehari-hari. Pernah Han Beng mengajukan rasa pesaran dalam hatinya mengapa gurunya hidup sebagai pengemis.

"Suhu adalah seorang di antara tokoh-lokoh sakti yang memiliki ilmu kepandaian tinggi di jaman ini. Kalau Suhu kehendakinya, dengan kepandaian itu, suhu dapat memperoleh kedudukan tinggi dalam pemerintahan, atau dapat menjadi usahawan yang berhasil, bahkan kalau Suhu memerlukan harta benda, apa sukarnya? Akan tetapi mengapa Suhu bahkan menjadi seorang pengemis? Maaf,  suuhu, bukankah masyarakat umum memandang pengemis itu sebagai orang yang yang rendah, hina dan pemalas?"

Sin-ciang Kai-ong sama sekali tidak marah, bahkan tertawa bergelak mendengar pertanyaan muridnya itu, "Uwah, ha-ha- ha! Han Beng, muridku yang baik, apakah engkau sungguh- sungguh tidak melihat betapa mulianya pengemis dan betapa besar jasa-jasanya, asalkan dia.menjadi pengemis seperti kita ini, bukan karena malas?"

Han Beng maklum bahwa gurunya adalah seorang yang memiliki watak aneh, akan tetapi dia percaya penuh akan kesaktian dan kebijaksanaan kakek berpakaian jembel itu. Mendengar ucapan itu dia memandang heran.

"Mulia dan berjasa besar? Teecu sungguh tidak mengerti apa yang Suhu maksudkan."

"Dengarlah baik-baik, muridku." Wajah yang biasanya suka tertawa dan cerah itu kini memandang serius, dan suaranya yang biasanya suka berkelakar itu kini terdengar bersungguh- sungguh. "Aku adalah seorang kelana yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap, tidak lebih dari satu dua hari berada di suat tempat. Ini menyebabkan tidak mungkin aku bekerja mencari sesuap nasi Orang tentu takkan mau mempergunakan tenaga orang yang tinggalnya tidak tetap dan hanya untuk sehari dua hari saja. Bukan karena malas, melainkan terpaksa aku mengemis untuk mengisi perut mempertahankan hidup. Bukankah lebih baik mengemis daripada mencuri atau merampok? Sekarang mengapa kukatakan mulia? Karena pekerjaan ini merupakan latihan yang amat baiknya bagi kita, bagi engkau terutama, Han Beng. Dengan mengemis, engkau belajar untuk rendah hati! Latihan ini menghilangkan kesombongan diri, menghilangkan pandangan terlalu tinggi kepada diri yang hanya memperbesar perasaan si-aku yang serba hebat! Dan mengapa berjasa? Karena, hrngemis setidaknya membangkitkan rasa perikemanusiaan dalam hati orang baik, menyentuh perasaan  mereka untuk menaruh iba kepada sesama hidup yang sedang menderita kesusahan."

Demikianlah, semenjak memperoleh keterangan dari gurunya, Han Beng tidak merasa malu-malu atau ragu-ragu lagi untuk mengemis! Bahkan dia menganggap hal ini sebagai suatu latihan batin yang baik sekali. Dia kini dapat melihat sikap orang yang menghinanya, mencemoohkannya, tanpa perasaan marah atau sakit hati sedikit pun, bahkan diam-diam mentertawakan mereka, dan dari sikap mereka itu dia dapat mempelajari banyak watak manusia. Latihan ini amat baik untuk memupuk kesabaran, pandangan yang luas dan perasaan rendah hati yang mendalam.

Demikianlah, ketika dia diusir oleh majikan toko obat yang perutnya gendut, dia pergi tanpa merasa sakit hati. Hanya hatinya merasa agak gelisah. Dia tidak membohong ketika mengemis obat. Gurunya jatuh sakit! Gurunya terserang penyakit demam panas dan batuk! Heran juga dia bagaimana seorang sakti seperti gurunya dapat terserang penyakit. Hal ini mengingatkan dia akan kcnyataan bahwa betapapun tinggi kepandaian seseorang, namun badan manusia ini perlu dirawat sebaiknya, menjaga kesehat harus dilakukan dengan sungguh sungguh, kebersihan harus dijaga. Kepandaian silat membuat orang pandai melindungi dirinya terhadap serangan dari luar memperbesar tenaga dan kecepatan. Akan tetapi terhadap penyakit yang menyerang entah dari mana, yang tidak nampak seorang pesilat yang betapa pandai pun takkan mungkin dapat mengelak atau menangkis! Dan tubuh ini takkan bebas dari penyakit, usia tua dan kematian. Biarpun gurunya menerima datangnya penyakit itu dengan tenang dan sabar, namun Han Bcng merasa gelisah dan dia merasa iba kepada suhunya. Demikianlah kalau orang hidup sebatang- kara, tiada keluarga dan tiada rumah. Kalau sakit, tidak ada yang merawat, tidak ada yang mempedulikan.

Sudah sejak pagi sekali tadi dia mengemis obat, namun hasilnya selalu berupa penghinaan, makian dan cemoohan.  Ingin rasanya sekali ini dia melanggar pantangan suhunya. Betapa mudahnya meloncat naik ke atas genteng rumah atau toko obat itu, melalui genteng masuk ke dalam dan mencuri obat apa saja yang dia butuhkan! Takkan ada yang tahu. Andaikata ada yang tahu juga, dia dapat menyelamatkan diri dengan amat mudahnya!

Terjadi perang dalam batinnya antara yang mendorong dia untuk mencuri saja dan yang menentangnya. Pada saat itu, dia melihat sebuah toko obat lain lagi di depan. Tempat itu agak ramai, dekat dengan pasar dan dalam batinnya Han Beng mengambil keputusan bahwa kalau sekali lagi dia gagal mendapatk obat dengan jalan mengemis, dia akan mencuri saja! Untuk satu kali saja, karena dia amat membutuhkan obat. Toko obat di depan itu tidak sebesar toko obat yang baru saja mengusirnya, akan tetapi dia melangkah tanpa ragu ke depan pintu toko itu. Dia melihat bahwa penjaga toko itu seorang gadis berusia delapan belas tahunan, dibantu oleh orang pegawai pria yang usianya sudah setengah tua.

Gadis dan dua orang pegawainya itu memandang kepada Han Beng, dan terutama sekali kepada pakaiannya yang tambal-tambalan.Dua orang pegawai mengerutkan alisnya, jelas kelihatan tidak senang hati mereka. Seorang diantara mereka bahkan segera menegur.

"Engkau datang ke sini mau apa? sini menjual obat, bukan menjual makanan. Kalau engkau hendak minta-minta… "

"Kulihat tidak ada sabuk merah pinggangmu! Kami tidak dapat memberi sedekah kepadamu……"

"Paman!" tiba-tiba gadis itu menegur dengan suara yang keras kepada dua orang pegawainya. "Kalian tidak boleh sikap seperti itu!" Dua orang pegawai itu menundukkan muka dan kelihatan sungkan dan patuh kepada nona mereka. Kini gadis itu bangkit berdiri dan menghadapi Han Beng, hanya terhalang lemari tempat obat. Sejenak mereka saling pandang penuh  perhatian. Biarpun tidak secara langsung, Han Beng mengamati gadis itu.

Seorang gadis berusia delapan belas tahun, bertubuh ramping dan agak tinggi kalau dibandingkan dengan wanita pada umumnya, wajahnya manis dan anggun, dengan mata yang jernih dan mulut yang ramah. Gadis itu pun membayangkan keraguan dan keheranan dalam pandang matanya ketika ia mengamati Han Beng penuh selidik. Seorang pemuda yang begini gagah, juga tubuhnya terawat baik dan bersih, biarpun mengenakai. pakaian tambal- tambalan, agaknya tentu bukan seorang peminta-minta! la pun memperlihatkan senyumnya yang manis dan ramah sebelum bicara dengan suara halus.

"Harap Saudara memaafkan sikap dua orang pegawai kami. Maklumlah mereka seringkali diganggu oleh para peminta-minta sehingga sikap mereka agak kaku. Dapatkah kami membantu Saudara. Di sini kami mempunyai persediaan lengkap."

Ini merupakan pengalaman baru bagi Han Beng yang membuat wajahnya agak kemerahan! Dia biasanya diterima dengan pandang mata iba atau cemooh, akan tetapi baru sekali orang menghadapinya sebagai bukan jembel, sebagai seorang pembeli biasa! Menghadapi pengalaman baru ini, Han Beng agak tertegun dan betapa dia mengharapkan saat itu ada uang cukup di sakunya agar dia dapat benar-benar membeli obat yang di butuhkan. Apalagi pandang mata gadis itu demikian penuh kepercayaan, sedikit pun tidak ada bayangan mengejek atau menghina dalam pandang mata itu. Akan tetapi dia harus menyadari kenyataan dan dengan "menebalkan" muka, dia pun berkata, suaranya lembut. 

"Saya memang membutuhkan obat, Nona. Guruku sakit, terserang demam panas dan batuk, sudah dua minggu… " "Demam panas dan batuk? Ah, tentu ada obat untuk itu! Gurumu itu, apakah usianya?"

"Sekitar enam puluh lima tahun, Nona.”

"Baiklah, kautunggu sebentar, biar diambilkan obatnya. Paman Ji, tolong berikan obat untuk penyakit demam panas dan batuk yang diderita seorang tua. Oya, berapa bungkuskah yang Saudara kehendaki? Sebungkus untuk sekali masak dan diulang sampai dua kali,' Air dua mangkok tinggalkan setengah mangkok."

"Secukupnya sampai sembuh, Nona."

"Kukira tiga bungkus pun sudah cukup. Sediakan tiga bungkus, Paman Ji!" pembantunya itu segera mengumpulkan obat rempah-rempah dan menimbanginya, dipersiapkan di atas kertas pembungkus sebagai tiga helai.

"Maafkan saya, Nona. Saya memang membutuhkan obat untuk guruku yang sakit, akan tetapi …….. saya Maksud 

saya… , hendak mohon bantuan Nona untuk memberikan 

obat kepada saya. Saya tidak mempunyai uang untuk membelinya "

Gadis itu nampak tercengang. Kiranya benar juga dua orang pembantun tadi. Pemuda itu mengemis! Sungguh luar biasa. Sama sekali tidak pantas menjadi pengemis.

"Nah………… nahhh , betul tidak dugaan kami, Nona? Dia 

tentu hanya datang untuk mengemis! Sungguh tidak tahu malu, masih muda dan kuat lagi, dan bukan anggauta Ang-kin Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Sabuk Merah). Pergilah kau dari sini!"

"Sssttt, Paman Ji! Diam kau, biar aku yang mengurus persoalan ini!" bentak gadis itu. Kemudian ia menghadap Han  Beng dan suaranya halus ketika berkata, "Saudara, tahukah gurumu bahwa engkau pergi mencarikan obat untuknya dengan jalan minta-minta?"

"Tentu saja dia mengetahuinya." ,

Gadis itu membelalakkan matanya yang indah. "Dan dia tidak melarang muridnya melakukan hal yang merendahkan namanya itu?"

Han Beng tersenyum dan membayangkan betapa suhunya akan tertawa terpingkal-pingkal mendengar ini. Suhunya yang berjuluk Raja Pengemis, melarang muridnya mengemis? Alangkah lucunya pertanyaan gadis itu.

"Guruku sendiri juga suka mengemis mengapa dia harus melarang saya?"

Seorang pembantu gadis itu yang masih merasa penasaran lalu berkata "Mungkin gurunya seorang pengemis dan yang diajarkan adalah ilmu mengemis!"

Gadis itu menoleh dan melotot pada pembantunya, akan tetapi Han Beng yang sudah terbiasa dengan kata-kata seperti itu, cepat berkata, "Benar sekali memang guruku seorang pengemis dan yang diajarkan kepadaku adalah ilmu mengemis. Nona, maukah Nona menolongku, ataukah tidak? Kalau tidak saya akan mengemis ke toko lain………"

"Ah, boleh, boleh …… tentu saja akan kuberi, bukankah sudah dibungkuskan obat itu?" Gadis itu lalu mengambil tiga bungkus obat dan hendak diserahkan kepada Han Beng, akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.

"Tidak boleh! Tidak boleh memberi apa pun juga kepada pengemis busuk yang lancang ini!" Ketika semua orang menoleh, ternyata telah muncul tiga orang laki-laki usia empat puluh tahun dan lucunya, yang melarang orang memberi bantuan pada Han Beng yang dimaki sebagai seorang pengemis busuk itu adalah juga orang 

berpakaian pengemis pula! seperti juga Han Beng, tiga orang pendatang ini mengenakan pakaian tambal-tambalan, akan tetapi kainnya masih baru, agaknya memang sengaja dibuat tambal-tambalan dari kain-kain berwarna-warni dan berkembang. Di pinggang mereka terdapat sabuk merah. Ini menandakan bahwa mereka adalah tiga orang anggota Ang- kin Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Sabuk Merah) yang amat terkenal di kota raja. Seluruh pengemis kota raja adalah anggauta Ang-kin Kai-pang dan mereka semua mengenal sabuk merah sebagai tanda bahwa mereka adalah anggauta perkumpulan itu. Ang-kin Kai-pang menganggap bahkan merekalah yang berhak menguasai seluruh kota raja dan daerahnya, dan setiap orang pengemis bukan anggauta, baik dari dalam maupun luar kota, tidak diperbolehkan mengemis di kota raja daerahnya tanpa seijin mereka! Dan untuk menertibkan ini, jagoan-jagoan Ang-kin Kai-pang setiap hari mengada perondaan dan kini, yang muncul depan toko obat melarang pemilik toko obat memberi sedekah kepada Han Beng adalah tiga orang tukang pukul Ang-Kai-pang. Perkumpulan ini memang berpengaruh sekali dan ditakuti orang, mereka bukan saja menghimpun para penjahat untuk bergabung dan menjadi tukang-tukang pukul, akan tetapi bahkan mereka sanggup mendekati para pembesar dan dengan jalan memberi suapan-suapan besar-besaran perkumpulan ini menjadi "sahabat" para pembesar tinggi. Orang tentu akan merasa heran bagaimana perkumpulan pengemis mampu menyewa tukang-tukang pukul bahkan menyuap para pembesar? Hasil mereka itu besar bukan main! Setiap orang anggauta diwajibkan untuk menyerahkan sepuluh prosen dari hasil mereka mengemis kepada perkumpulan itu. Perkumpulan ini, dari ribuan bahkan puluhan ribu pengemis di kota raja dan daerahnya, tentu saja merupakan harta yang amat besar jum¬lahnya. Dan perkumpulan itu pun dipimpin oleh orang-orang yang pandai,  bahkan kabarnya yang duduk paling atas adalah seorang datuk sesat yang sakti! 

Han Beng yang sudah kegirangan mendapatkan obat yang dibutuhkannya, ketika siap menerima tiga bungkus obat itu dengan pandang mata bersukur, tentu saja mendongkol juga melihat sikap tiga orang ini. Mereka itu pun pengemis- pengemis, seperti dia, bagaimana kini mengganggu sesama "rekan"? Belum pernah dia menjumpai kekurangajaran seperti itu!

"Kawan-kawan," katanya tenang namun tegas. "Mengapa kalian datang-datang melarang orang memberi pertolongan kepadaku dan mengapa pula kalian memaki aku?"

Seorang di antara mereka, yang kepalanya besar dan hidungnya merah sekali, besar dan merah seperti jambu masak, menepuk-nepuk perutnya yang gendut. "Bocah lancang! Apakah matamu sudah buta dan engkau tidak melihatl sabuk merah ini? Kami adalah tokoh-tokoh Ang-kin Kai-pang, dan engkau pengemis busuk ini berani bertanya lagi mengapa kami melarang engkau pengemis di sini? Apakah engkau sudah mendapatikan ijin dari pimpinan kami?"

Han Beng tertawa, di dalam hatinya dia bahkan tertawa bergelak. Minta-minta saja harus mendapat ijin! Ijin mengemis! "Tidak, aku tidak pernah mendapatkan ijin, bahkan tidak pernah meminta ijin. Aku hanya lewat saja di kota raja ini, bukan untuk menetap dan melakukan, pekerjaan mengemis."

"Pengemis tetap maupun mengemis sementara harus mendapat ijin lebih dulu dari pimpinan kami Pendeknya, engkau harus cepat pergi dari sini!"

"Aku pergi...... aku pergi. !" kata Han Beng, tidak mau 

mencari keributan di tempat orang. "Nanti dulu, kau terimalah obat-obat untuk gurumu yang sakit," kata gadis itu. la menyerahkan obat itu sambil keluar dari tokonya, menghampiri Han Beng. Han Beng juga menjulurkan lengan untuk menerimanya. Akan tetapi, tiba-tiba pengemis perut gendut itu menggerakkan tangannya menampar ke arah bungkusan obat yang akan diserahterimakan itu.

"Plakkkkk" Bungkusan-bungkusan itu terlepas dari tangan Si Gadis dan terlempar ke atas tanah! Kini gadis itu membalikkan tubuh menghadapi Si Gendut, mukanya marah sekali, alisnya berkerut dan sepasang matanya mencorong. Pengemis gendut itu menyeringai, dan agaknya merasa gugup juga melihat betapa gadis itu kini menghadapi dengan penuh kemarahan.

"Nona, jangan memberikan apa-kepadanya. Kalau diberikan juga, tak urung kami akan merampas barang itu dari tangannya, bahkan dia akan kami pukul setengah mati."