--> -->

Naga Sakti Sungai Kuning Jilid 04

Jilid 04

“Manusia-manusia buas seperti iblis!” Liu Bhok Ki membentak.

“Kalian menjadi kejam dan jahat oleh dorongan nafsu ingin memperoleh darah anak naga! Tidakkah kalian melihat betapa anak ini menderita dan keracunan hebat?”

Tiba-tiba terdengar suara ketawa merdu, yaitu suara ketawa ban-tok Mo-li.

“Hi-hi-hik, Liu Bhok Ki ! jangan berlagak menjadi pendekar budiman! Engkau sendiripun memperebutkan anak naga dan tentu engkau menginginkan pula darah anak itu!”

Semua orang terkejut. Baru sekarang mereka tahu bahwa orang tinggi besar yang melindungi Han Beng itu adalah pendekar Liu Bhok Ki yang namanaya pernah mengemparkan dunia persilatan puluhan tahun yang lalu!

Liu Bhok Ki juga mengenal wanita cantik itu. teringat dia akan mendiang isterinya. Memang terdapat banyak persamaan baik bentuk tubuh maupun wajah antara isterinya dan wanita itu bukan lain adalah enci dari isterinya.

“Phang Bi Cu,” katanya halus dan menyebut nama wanita itu karena dia tidak mau menyebutkan julukannya yang mengerikan itu.

“Aku sama sekali tidak menginginkan darah anak ini, melainkan hendak melindunginya karena dikeroyok oleh jagoan-jagoan dunia persilatan yang tidak tahu malu!”

“Bohong!” kata ban-to Mo-li sambil melirik kepada semua tokoh yang mengepung tempat itu. “Siapa tidak tahu bahwa tadi engkau telah pula menelan mustika naga?”

Liu Bhok Ki terkejut. Tak disangkanya bahwa wanita ini sungguh cerdik dan dapat mengetahui hal iyu.

“Benar, akan tetapi aku hanya ingin melindungi anak ini karena dialah yang tadi memberikan anak naga itu kepadaku.”

Mendengar ini, para tokoh kang-ouw sudah menrjang lagi dan disambut oleh Liu Bhok Ki. Kini pendekar inilah yang dikeroyok, akan tetapi dia memang hebat bukan main, ilmu silatnya tinggi dan tenaga sin-kangnya sukar dilawan sehingga banyak diantara para apengeroyok itu roboh oleh pukulan atau tendangan kakinya.

Seorang tosu yang sudah tua, usianya kurang lebih tujuh puluh tahun, bertubuh pendek kate dan jubahnya berwarna kuning, di punggungnya terdapat sebuah pedang yanag panjang, meloncat kea rah Giok Cu dan cepat sekali tangannya menyambar tubuh anak itu dan dibawanya lari! Melihat ini, Ban-tok Mo-li berseru marah.

“Tosu keparat, kembalikan bocah itu kepadaku!” dengan gerakan tubuhnya yang ringan bagaikan seekor burung wallet, Ban-tok Mo-li sudah berlari mengejar. Ia melihat Han Beng masih lumpuh sedangkan Liu Bhok Ki dikeroyok banyk orang. 

Untuk sementara waktu tidak akan ada yang mampu melarikan Han Beng, maka lenih dulu ia harus merampas anak itu lebih dajulu ia harus merampaskan anak perempuan itu. ia tidak akan membiarkan siapapun melarikan dua oran anak itu yang akan dibawanya semua.

Tosu yang melarikan Giok Cu itu pun memiliki ilmu lari cepat yang cukup hebat. Dia adalah Tung-hai Cin-jin, seorang tosu perantau yang namanya terkenal sekali di daerah pentai  timur. Ilmu silatnya tinggi, terutama sekali ilmu pedang samurainya yang panjang, dan ilmu tendangan yang disebut Tendngan terbang.

Sebagai seorang tokoh kang-ouw, tentu saja Tung-hai Cin- jin juga ingin mendapatkan anak naga. Dia membutuhkan mustika dan darah naga karena menurut dongeng, satu diantara khasiat darah naga dan mustika naga itu adalah memperpanjang usia! Dia sudah berusia tujuh puluh tahun dan merasa betapa usia tua menggerogoti tubuhnya dan kkuatannya. Karena itu, dia ingin sekali mempermuda dirinya dan memperpanjang usianya!

Memang kalau dilihat kenyataan ini amatlah aneh. Semua manusia merasakan betapa kehidupan ini bergelimang, kekecewaab, penyesalan, duka, rasa takut, permusuhan, apalagi kalau usia tua sudah mencengkeram diri, maka banyak penderitaan dialami, terutama sekali penderitaan jasmani yang sudah mulaia lemah dan berpenyakitan. Akan tetapi anehnya, semua orang ingin berusia panjang!

Dua orang itu terlalu tangguh untuknya. Maka, begitu melihat Ban-tok Mo-li turun tangan, juga Liu Bhok Ki melindungi anak laki-laki, dia melihat betapa perhatian orang semua ditujukan kepada anak laki-laki dan seakan melupakan anak perempuan yang hampir roboh karena lemas itu. maka, dia pun berpikir bahwa kalau tidak bisa mendapatkan keduanya, memperoleh anak perempuan itu pun sudah cukup berharga.

Dia lalu mempergunakan Gin-kang nya, melompat, menyambar tubuh Giok Cu dan melarikan anak perempuan itu. dia merasa betapa ketika dia menyentuh tubuh anak itu, terasa amat panas dan hawa panas yang luar biasa menyerangnya. Namun, dia cukup pandai dan memiliki sin-kang yang kuat untuk melindungi dirinya dari serangan hawa panas itu. dia berhasil memondong lalu mengempit tubuh anak perempuan itu dan dibawanya lari secepat terbang. Akan tetapi, belum ada lima ratus meter dia lari, tiba-tiba berkelebat bayangan yang cepat sekali melewatinya dan ada angina menyambar kearah kepalanya.

Tung-hai Cin-jin mengelak kesamping dan ketika dia memandang, ternyata ban-tok Mo-li telah berada dihadapannya!

Peristiwa sejak perebutan anak naga di permukaan sungai tadi sudah berjalan dengan cepatnya dan tanpa terasa, kini malam telah mulai terusir kegelapaannya dan terganti cuaca pagi yang remang-remang. Namun Tung-hai Cin-jin mengenal baik siapa wanita di depannya maka tanpa banyak cakap lagi dia lalu mencabut pedang samurainya dan melintangkan pedang panjang itu didepan dada.

“Tosu tua bangka tak tahu diri! Apakah engkau lebih mementingkan anak perempuan itu daripada nyawamu? Hayo berikan anak itu atau terpaksa kuambil nyawamu lebih dulu!” bentak ban-tok Mo-li dengan siakap garang.

“Sian-cai , Ban-tok Mo-li, pinto (saya) amat 

membutuhkan anak ini, disana masih ada anak laki-laki itu yang akan lebih berguna bagimu daripada anak ini.dengan siakap garang.

“Sian-cai , Ban-tok Mo-li, pinto (saya) amat 

membutuhkan anak ini, disana masih ada anak laki-laki itu yang akan lebih berguna bagimu daripada anak ini. Berilah kesempatan kepada pinto, Phang-toanio (Nyonya besar Phang), dan pin-to tidak akan melupakan budimu ini.”

“Persetan denganmu!” bentak ban-tok Mo-li. “Serahkan anak itu!”

Tung-hai Cin-jin menggeleng kepalanya. “Tidak, Toanio, pin-to membutuhkannya!” “Keparat, mampuslah!” Ban-tok Mo-li sudah menggerakkan tangannya dan tahu-tahu ada sinar kilat menyambar kearah leher tosu itu. kiranya wanita cantik itu telah mencabut pedang dan sambil terus melakukan serangan kilat. 

Demikian cepatnya gerakan wanita ini sehingga mengejutkan hati Tung-hai Cin-jin! Cepat dia memutar pedang samurai di tangan kanannya dengan pengerahan tenaga. Pedang itu besar dan berat dia menangkis dengan sekuatnya dengan maksud membuat pedang wanita itu terpental dan terlepas.

Akan tetapi, ban-to Mo-li adalah seorang datuk sesat yang selain amat lihai ilmu silatnya, juga cerdik bukan main. Ia tidak mau mengadu tenaga dengana lawan kakek pendek ini, apalagi pedang di tangan lawan itu berat dan besar. Biarpun ia tidak takut kalau sin-kangnya kalah kuat, setidaknya ia kuatir kalau-kalau pedangnya akan rusak.

Cepat ia mengelebatkan pedangnya menghindarkan pertemuan dengan samurai lawan dan tangan kirinya sudah menggerakkan kipas. Kipas itu menutup dan gagangnya menotonk kearah pundak kanan Tung-hai Cin-jin. 

Kakek kate ini terkejut bukan main, namun dia masih dapat melempar tubuh kebelakang dan berjungkir balik sampai lima kali membuat salto. Gerakannya cepat dan indah sehingga Ban-tok Mo-li kagum juga. Kakek yang sudah amat tua itu ternyata masih gesit bukan main.

Sementara itu, ketika dibawa jungkir balik, Giok Cu yang sudah lemas dan hampir pingsan itu, tiba-tiba menjadi sadar kembali.

Begitu sadar dan melihat dirinya dikempit oleh seorang kakek kate dan wanita cantik itu menyerang penawannya, iapun berpendapat bahwa lebih baik terjatuh ke tangan wanita  cantik itu daripada ke tangan kakek pendek yang tua dan bau pakaiannya apak itu. maka, ia pun lalu memukul dengan tangan kanannya dan kepalanya berada di belakang, dengan sekuatnya anak perempuan ini memukul kearah punggung Tung-hai Cin-jin.

“Dukkk… !”

“Aduhhh………. Ahhh, panas !” kakek pendek itu 

terpaksa melepaskan kembali kempitannya dan dia terpelanting, lalu cepat berguling sambil memutar pedang melindungi tubuhnya. Ketika dia melihat bahwa Ban-tok Mo-li tidak mengejarnya, kakek it uterus berguling menjauh, kemudian meloncat bangun dan melarikan dir dengan muka kecewa sekali.

Dia gagal memperoleh obat awet muda, bahkan sebaliknya menerima pukulan dai punggungnya yang walaupun tidak mendatangkan luka parah, namun hawa panas itu mengacaukan jalan darah di punggungnya dan mungkin akan membuat dia menderita penyakit encok yang berat di punggung!

Ban-to Mo-li menghampiri Giok Cu yang tadi terlempar ketika kakek itu melepaskannya dan memandang anak perempuan itu penuh perhatian. Seorang anak perempuan yang amat cantik, pikirnya. Bentuk hidungnya, mulutnya, terutama sepasang matanya amat indah dan kelak menjadi seorang wanita yang cantik sekali.

“Hemmm, siapakah namamu?” tanyanya mendekati.

Giok Cu sudah bangkit berdiri, dan biarpun tubuhnya lemas dan kepalanya masih pening, namun aneh, setelah ia melakukan pukulan tadi, kini keadaannya mendingan. Ia tidak tahu bahwa kalau ia mempergunakan tenaganya, maka hawa  panas yang ditimbulkan oleh darah ular tadi sebagaian akan keluar sehingga dirinya tidak begitu tertekan.

Dengan tabah ia memandang wanita itu dan Giok Cu juga merasa suka karena wanita itu memang cantik sekali dan pakaiannya indah, juga mulutnya tersenyum manis.

“Namaku Bu Giok Cu,” jawabnya singkat.

“Giok Cu (batu kemala)? Wah, namamu indah. Giok Cu, kenapa kau tadi memukul kakek itu?”

“Karena aku tidak suka padanya, bajunya berbau apak dan dia tentu tidak akan bersikap baik kepadaku.”

“Hemmmm, apakah engkau tidak tahu bahwa aku pun akan membawamu?” ia berhenti sebentar melihat sepasang mata yang memandangnya dengan terbuka lebar tanpa sedikitpun perasaan takut terbayang di dalamnya itu.

Seorang anak yang baik sekali, pikirnya. Kelak tentu menjadi seorang gadis yang selain cantik jelita, juga pemberani. Akan tetapi darah naga ditubuhnya itu! ia amat membutuhkannya.

“Apakah engkau memilih aku daripada dia?”

Giok Cu mengangguk. 

“Aku memilih engkau. Engkau cantik dan ramah.” “Baiklah, kalau begitu mari ikut aku. Aku akan mengajak 

pula anak laki-laki itu.”

“Han Beng? Ah, sungguh hatiku senang sekali kalau begitu, bibi. Kau tolonglah dia!” Dan Giok Cu sedikit pun tidak membantah, bahkan ikut berlari disamping wanita itu yang menggandeng tangannya.  Melihat betapa anak perempuan itu dapat berlari ringan dan cepat, Ban-tok Mo-li merasa heran dan ia mempercepat larinya. Aneh sekali! Giok Cu dapat mengimbangi larinya tanpa banyak kesukaran! Dan tanpa diketahui oleh Giok Cu, ketika ia berlari, berarti ia mempergunakan tenaga dan hawa panas di tubuhnya itu pun menerobos keluar an membuat keadaan tubuhnya menjadi lebih baik lagi!

Diam-diam wanita iblis itu kagum dan girang. Ia tahu bahwa anak ini tidak pernah mempelajari ilmu berlari cepat, akan tetapi secara tiba-tiba saja menguasai tenaga yang amat hebat. Tentu berkat darah anak naga, pikirnya!

Mereka tiba ditempat tadi, dimana Liu Bhok Ki masih dikeroyok banyak orang. Pria perkasa itu mengamuk dan biarpun para tokoh kang-ouw mulai mengeroyoknya dengan senjata di tangan, Liu Bhok Ki melawan hanya untuk menjaga diri dan melindungi Han Beng saja. Dengan sabuknya, dia menghalau semua senjata, merobohkan beberapa orang tanpa bermaksud membunuh mereka.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa merdu.

“Hi-hi-hik, kalian ini semua adalah orang-orang kang-ouw yang tolol! Lihat baik-baik, anak laki-laki itu telah terluka oleh kuku tanganku! Dia sudah keracunan dan siapa pun yang mendapatkan dia, hanya akan melihat dia mati dengana daging dan darah yang membusuk! Darahnya tidak ada gunanya lagi bagi siapapun juga. Hanya aku yang dapat mengobatinya. Untuk pa kalian masih memperebutkan dia?”

Mendengar ini, semua orang tertegun dan menahan senjata mereka. Kalau benar apa yang dikatakan wanita iblis itu, maka memang tidak ada gunanya memiliki bocah itu, dan mereka tadi pun sudah melihat Han Beng ditampar oleh wanita iblis itu. Juga Liu Bhok Ki menjadi tertegun, lalu dia menghampiri Han Beng.  Dilihatnya betapa ada bekas tapak tangan menghitam di leher anak itu, dan ada guratan kuku yang lebih hitam lagi, wanita iblis itu tidak berbohong! Akan tetapi, dia merasa semakin kasihan kepada Han Beng dan bermaksud untuk menolongnya, dan untuk berusaha mencarikan obatnya kalau benar anak itu terancam racun maut. Maka, dia lalu mengangkat tubuh Han Beng keatas punggungnya. Bocah itu membuka mata dan Liu Bhok Ki Berbisik kepadanya.

“Jangan takut, rangkul leherku kuat-kuat dan aku akan melindungimu dari mereka.”

Han beng memang sudah menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Liu Bhok Ki semenjak dia melihat pria gagah perkasa ini diatas perahu. Tadi dia melihat betapa kakek itu membelanya mati-matian maka dia pun menurut saja dan dia merangkul pundak dan leher kakek itu. liu Bhok Ki sambil memutar sabuknya hendak melarikan Han Beng, akan tetapi para tokoh kang-ouw tidak membiarkan dia lolos begitu saja. 

Mereka ini menghadang dan mengepung sehingga kembali terjadi perkelahian sambil menggendong tubuh han Beng. Bocah ini tidak tinggal diam. Biarpun dia digendong, kedua tangannya tidak mau tinggal diam dan setiap kali ada lawan yang dekat, dia berusaha memukul dengan kedua tangannya yang masih mengeluarkan hawa panas!

Tiba-tiba terdengar suara orang tertawa bergelak. “Ha-ha-ha! Sungguh lucu sekali! Aku tidak lagi dapat 

membedakan mana pendekar dan orang kang-ouw, dan mana 

anjing-anjing kelaparan yang memperebutkan tulang! Dan agaknya orang-orang dunia persilatan sudah kehilangan kegagahan mereka, karena nafsu yang menyala-nyala lupa akan kegagahan sehingga main keroyok seperti ini! Sungguh tidak tahu malu dan aku tidak boleh membiarkan begitu saja!” Lenyaplah suara ini digantikan munculnya seorang laki-laki tua yang pakaiannya penuh tambalan, bertubuh tinggi kurus seperti orang kurang makan, namun wajahnya selalu gembira dan tangananya memegang sebatang tongkat butut.

Begitu dia muncul, dia mengobat-abaitkan tongkat bututnya, menghantam sana-sini dan orang-orang yang mengeroyok Liu Bhok Ki menjadi kacau balau! 

Tongkat butut ini lihai bukan main. Ke mana pun menyambar, sukar dielakkan atau ditangkis karena gerakannya memukul dan biarpun ditangkap, tongkat itu dapat menyelinap, luput dari tangkisan lawan namun tetap saja mengenai sasaran. Terdengar suara bak-bik-buk karena ada saja punggung, pinggul atau kaki orang yang kena gebuk!

Melihat munculnya kakek berpakaian pengemis ini, Liu Bhok Ki menjadi senang.

“Sin-Ciang kai-ong, terima kasih atas bantuanmu!” katanya sambil memutar sabuknya semakin cepat untuk mencari jalan keluar.

“Ha-ha-ha-ha-ha, Sin-tiauw (Rajawali Sakti), begitu muncul engkau menggegerkan dunia persilatan! Engkau tahu, tidak ada pohon tak berbunga, tidak ada perbuatan tanpa pamrih! Ha-ha-ha!”

Sambil menangkisi senjata para pengeroyok dengan sabuknya, Liu Bhok Ki mengerutkan alisnya. Betapa bodohnya dia mengira bahwa Raja Pengemis ini mau membantunya tanpa pamrih!

“Apa kehendakmu, Kai-ong?” “Aku mengagumi bocah itu. Berjanjilah untuk membiarkan dia menjadi muridku selama lima tahun setelah dia menjadi muridmu lima tahun!”

Liu Bhok Ki mengenal baik Raja Pengemis itu. seorang gagah perkasa yang amat terkenal karena dia berhasil merajai semua perkumpulan pengemis dan dapat mencegah para apengemis menjadi penjahat-penjahat, sebaliknya memberi bimbingan kepada para jembel sehingga banyak diantara mereka itu yang dapat kembali ke masyarakat sebagai orang- orang berguna. Bahkan semenjak dia menjadi Kai-ong (Raja pengemis), bermunculanlah pengemis-pengemis yang lihai dan berjiwa pendekar!

Orang seperti Sin-ciang Kai-ong (Raja Pengemis Tangan Sakti) ini tidak mungkin akan berbohong dan tidak akan sudi membunuh anak ini untuk diambil darahnya! Dan tidak aneh kalau Sin-Ciang Kai-ong ingin mengambil anak ini menjadi murid karena tertarik melihat sepak terjang Han Beng tadi.

“Baiklah, aku berjanji!” kata Liu Bhok Ki,

“Ha-ha-ha, janji seorang Liu Bhok Ki takkan berubah walaupun langit runtuh dan bumi kiamat! Nah, bawalah pergi anak itu, biar aku yang menghadapi mereka ini!”

Melihat majunya Sin-Ciang Kai-ong yang membantu Liu Bhok Ki, orang kang-ouw menjadi jerih dan mereka pun tidak mempunyai harapan lagi untuk merampas han Beng, apalagi mendengar ucapan ban-tok Mo-li bahw darah anak itu telah keracunan hebat oleh kuku tangan iblis betina itu. mereka mundur, bahkan sebagian besar lalu pergi, ada pula yang merawat teman yang terluka dalam pertempuran tadi.

Akan tetapi ban-tok Mo-li Phang Bi Cu masih merasa penasaran. Sambil memondong Giok Cu, ia melompat dan hendak mengejar Liu Bhok Ki. “Hendak lari kemana kau? Serahkan dulu bocah itu kepadaku!” bentaknya, dan begitu kipasnya mengebut, ada belasan batang jarum hitam beracun menyambar kea rah Liu Bhok Kid an Sin-ciang kai-ong.

Liu Bhok Ki cepat memutar sabuknya dan melompat ke samping, sedangkan Sin-Ciang kai-ong terkekeh dan tongkat bututnya memukul kesana-sini meruntuhkan semua jarum hitam.

“Heh-heh-heh, ban-tok Mo-li kini semakin cantik akan tetapi juga semakin beracun dan kejam! Heh-heh, orang lain hanya berambut pada kepala dan beberapa tempat lagi di luar tubuh, akan tetapi agaknya engkau lain, di dalam hatimu juga berbulu, berambut. Engkau membunuhi orang seperti membunuh semut saja.”

“Jembel busuk, engkau pun akan kubunuh!” bentak ban-to Mo-li Phang Bi Cu marah.

Ia mengenal raja pengemis ini yang selalu bersikap ugal- ugalan dan memandang rendah orang lain walaupun juga amat lihai, maka kini ia menyerang dengan hebat, mengerahkan seluruh tenaganya. Pedangnya menyambar dasyat dan ketika Sin-ciang kai-ong meloncat jauh kebelakang, dari kipasnya menyambar sinar hitam dengan cepat sekali.

Sin-ciang Kai-ong memutar tongkat butut dan mengelak, akan tetapi tiba-tiba ia mengeluh dan tubuhnya terguling, jatuh miring di atas tanah! Agaknya ada satu dua batang jarum beracun yang mengenai tubuhnya dank arena jarum beracun itu mengandung racun yang berbahaya, maka dia pun tak mampu bangkit kembali.

“Huh!” Ban-tok Mo-li mendengus dan mencibir. Kiranya hanya sekian saja kelihaian orang yang disebut Raja  Pengemis itu. sambil memondong tubuh Giok Cu yang kini juga berada di punggungnya digendong seperti halnya han Beng digendong Liu Bhok Ki, wanita ini mengerahkan tenaga dan lari mengejar, karena Liu Bhok Ki sudah melarikan diri sambil mengendong han Beng.

Ketika Ban-tok Mo-li meloncati tubuh kai-ong, tiba-tiba ia mengeluarkan seruan kaget dan hampir saja ia jatuh terguling karena tiba-tiba sebatang tongkat butut telah menjegal kakinya dan ketika ia meloncat untuk menghindar, ujung tongkat itu menotok kearah kedua kututnya, dan yang ke tiga kalinya menotot lebih keatas lagi di antara kedua pahanya!

Tentu saja iblis betina itu mengeluarkan suara kaget dan nyeri, namun ia memang lihai bukan main. Tubuhnya yang meloncat lebih tinggi lagi, lalu menukik dan kepalanya ke bawah, pedangnya diputar untuk menyerang Sin-Ciang Kai- ong yang ternyata tadi hanya pura-pura jatuh saja!

Raja pengemis itu bergulingan dan meloncat berdiri sambil menyeringai lebar, lagaknya mengejek sekalai, bahkan dia menjulur lidahnya kepada Ban-tok Mo-li seperti ejekan diantara kanak-kanak.

“Ha-ha, ban-to Mo-li. Kaukira aku begitu mudah jatuh oleh jarum-jarummu yang kotor itu?” dia mengebutkan bajunya dan beberapa batanag jarum runtuh keatas tanah.

“Sayang, lain kali kirimilah aku jarum-jarum yang bersih untuk menjahit dan menambal pakaianku, Mo-li.” 

Sin-ciang Kai-ong sengaja mengejek dan menggoda untuk memancing kemarahan Ban-to Mo-li dan dia berhasil mengalihkan perhatian iblis betina itu sehingga tidak dapat mengejar Liu Bhok Ki yang sudah berlari jauh. Wanita itu marah sekali. “Sin-ciang Kai-ong! Selama ini, diantara kita tidak ada urusan dan kita tidak saling mengganggu. Akan tetapi sekarang, agaknya engkau mencari mampus!” Berkata demikian, ban-to Mo-li Phang Bi Cu menggerakkan pedang dan kipasnya, melakukan serangan dengan dasyat. Kebutan kipasnya mengandung angina dan pedangnya membentuk gulungan sinar yang mengeluarkan bau amis dan harum aneh karena mengandung racun yang amat jahat.

“Heiiiiiiiit ……!” Dengan gerakana lucu Sin_ciang kai-ong mengelak sambil menggerakkan tongkat bututnya.

“Tok-takkk-trangggg !” Berulang kali tongkat butut itu, 

dengan gerakan yang aneh dan lucu, dapat menangkis kipas dan pedang. Gerakan kai-ong memang aneh sekali, dan kadang-kadang kelihatan kaku dan tidak teraatur, namun setiap kali tubuhnya terancam pedang atau gagang kipas, selalu tongkat itu sudah datang menolongnya dan menangkis senjata lawan dengan amat kuatnya mengandung tenaga yang dasyat sehingga Ban-tok Mo-li merasa betapa tangannya tergetar hebat ban-to Mo-li terkejut.

Ia sudah banyak mendengar tentang kelihaian Raja Pengemis ini, akan tetapi baru sekarang ia mengadu kepandaian. Kai-ong adalah seorang ahli permaianan tongkat yang beraneka macam. Yang dimainkan ini mungkin yang dinamakan Ilmu Tongkat Setan Arak (Ciu-kwi Tung-hoat), kelihatan seperti orang mabuk mengobat-abit tongkat secara ngawur, akan tetapi hebatnya, kemana pun pedang dan kipas Ban-to Mo-li menyambar, selalu kedua senjata itu bertemu dengan ujung tongkat yang menangkis dengan kuatnya.

Dan serangan balasan dari ujung tongkat yang lain menyambar secara tidak terduga-dua sehingga beberapa kali Mo-li terkejut dan terpaksa harus meloncat tinggi ke belakang untuk menghindarkan diri.

Setelah mereka bertanding selama belasan jurus, tahulah ban-to Mo-li bahwa tingkat kepandaian lawannya ini memang  tinggi dan tidak boleh dibuat main-main. Ia baru mengerti mengapa orang ini dapat menjadi Raja Pengemis dan kekuasaannya diakui oleh semua kai-pang (perkumpulan pengemis) di empat penjuru dunia! Setidaknya, tingkat Raja Pengemis ini tidak berada dibawahnya, dan dalam keadaan menggendong Giok Cu, sungguh tidak mudah bagi ban-to Mo- li untuk mengalahkan Sin_ciang kai-ong.

“Ha-ha-ha, Ban-to Mo-li, kiranya selain makin cantik, engkau pun semakin lihai saja! Akan tetapi, bocah di punggungmu itu mengganggu gerakanmu. Bagaimana kalau bocah itu kau titipkan dulu kepadaku? Biarlah aku yang mengendong dan melawanmu. Kalau begitu baru seru. Dan aku pun tidak menolak kalau menjadi guru anak perempuan itu!”

Diejek demikian, ban Tok Mo-li menjadi semakin marah, akan tetapi ia juga merasa kuatir. Kalau sampai si jembel ini benar-benar hendak merampas Giok Cu, repot juga ini! Apalagi kalau Bhok Ki muncul dan membantu jembel itu, ia akan celaka. Maka, ia pun menuding pedangnya kepada jembel tua itu dan membentak.

“Sin-ciang kai-ong, hari ini aku tidak sempat melayanimu, biarlah lain hari aku ingin menguji sampai dimana kepandaianmu. Hendak kulihat apakau engkau mempunyai tiga buah kepala!”

“Ha-ha-ha!” Sin-ciang kai-ong meraba-raba muka dan kepalanya dengan gaya lucu mempermainkan.

“Sebuah kepala saja sudah repot mengurus cuci muka, rambut, kumis, jenggot dan menggosok gigi, apalagi tiga buah kepala. Wah repotnya! Tapi kau tentu senang mempunyai kekasih dengan tiga buah kepala, Mo-li. Tentu dia pandai merayu dan bercinta, heh-heh!” “Keparat!” Wanita itu memaki dan kedua tangannya bergerak cepat. Berhamburanlah jarum dan paku kearah tubuh Sin-ciang kai-ong, puluhan batang banyaknya! Tentu saja Sin- ciang Kai-ong tidak berani main-main lagi menghadapi serangan senjata rahasia dari seorang Ban-to Mo-li.

Repotlah dia memutar tongkat bututnya dan berloncatan ke sana-sini untuk menghindarkan diri dari serangan senjata- senjata rahasia kecil yang amat berbahaya karena kesemuanya mengandung racun yang mematikan itu. dan ketika dia berhenti bergerak lalu mengangkat muka memandang, ternyata wanita itu telah lenyap! 

Sin-ciang Kai-ong menghentikan senyumnya dan dia menarik napas panjang.

“Huiiiii! Sungguh berbahaya sekali wanita itu !” Diapun 

segera meninggalkan tempat itu yang kini menjadi sunyi kembali karena para tokoh kang-ouw sudah sejak tadi pergi meninggalkan tempat itu setelah mereka melihat munculnya orang-orang sakti seperti Ban-to Mo-li, Liu Bhok Ki, dan Sin- ciang Kai-ong.

Mereka maklum bahwa tidak ada harapan lagi bagi mereka untuk membawa pulang seorang di antara dua orang anak yang minum darah anak naga itu, apalagi setelah mengetahui bahwa anak laki-laki itu telah terluka oleh pukulan beracun Ban-tok Mo-li sehingga darahnya pun tentu telah beracaun.

Tempat di tepi pantai Sungai Kuning itu kembali sunyi seperti sebelum terganggu oleh kehadiran banyak tokoh kang- ouw tadi. Dan matahari sudah naik tinggi.

oooOOooo

Gedung itu besar dan Indah, juga dalamnya mewah dengan perabot rumah yang serba mahal. Akan tetapi rumah di luar  kota Ceng-touw itu jauh dari tetangga dan mempunyai kebun yang luas di sekelilingnya. 

Rumah terpencil dan bukan hanya terpencil, akan tetapi juga dijauhi oleh semua orang yang tinggal di sekitar kota Ceng-touw di Propinsi Shan-tung.

Rumah itu terkenal oleh semua penduduk sebagai rumah Phang Toa-nio (Nyonya Besar Phang) yang tinggal bersama puterinya yang dikenal dengan sebutan Phang Siocia (Nona Phang) bersama belasan orang pelayan wanita. 

Yang membuat orang segan dan menjauhi rumah itu adalah karena keluarga Phang yang hanya terdiri dari ibu dan anak serta belasan orang pelayan wanita itu terkenal sebagai keluarga yang memiliki ilmu kepandaian silat tinggi, bahkan mereka itu ringan tangan, sedikit-sedikit memukul orang, bahkan kalau ada yang berani melawan, tentu akan tewas dalam keadaan mengerikan.

Bagi orang kang-ouw, keluarga itu, terutama ibunya, lebih dikenal lagi dengan perasaan takut karena nyonya rumah itu bukan lain adalah Phang Bi Cu yang berjuluk Ban-tok Mo-li.

Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu adalah seorang janda yang mempunyai seorang saja anak, seorang anak perempuan yang diberi nama Sim Lan Ci. Memang Ban-to Mo-li seorang yang amat aneh. Sejak menjadi pengantin baru, dua tahun saja ia sudah tidak cocok dengan suaminya. Dan ia mempunyai seorang kekasih baru seorang pemuda she Sim. 

Ketika suaminya menyeleweng dengan wanita lain suami itu dibunuhnya! Dan ketika hubungannya dengan pemuda she Sim itu berlarut sampai beberapa tahun dan ia kemudian mengandung karena perhubungan mereka, ia pun membunuh pemuda she Sim itu! Ketika anaknya terlahir perempuan ia meberinya nama Lan Cid an memakai she (nama keluarga ) Sim! Memang seorang wanita yang aneh dan juga kejam sepeti iblis! Seperti kita ketahui, Phang Bi Cu adalah kakak perempuan dari Phang Hui Cu yang telah meninggal dunia, dahulu isteri dari Liu Bhok Ki.

Ban-to Mo-li Phang Bi cu mengembleng puterinya sehingga Sim lan Ci memiliki kepandaian yang tinggi walaupun belum dapat menyamai tingkat ibunya. 

Phang Bi Cu mendengar bahwa adik kandungnya, yaitu Ohang Hui Cu dibunuh oleh suaminya sendiri, akan tetapi ia tidak mempedulikan hal ini. Ia sendiri juga membunuh suaminya, juga kekasihnya, maka perbuatan Liu Bhok Ki yang membunuh isterinya, yaitu adik kandungnya, dianggapnya hal yang lumrah dan ia tidak mau mencampurinya. Akan tetapi tidak demikian dengan Sim Lan Ci. Dari ibunya, ia mendengar akan nasib bibinya yang tewas di tangn Liu Bhok Ki itu. maka, Sim Lan Ci lalu meninggalkan rumah ibunya dan pergi mencari Liu Bhok Ki yang berjuluk Sin-tiauw (Rajawali Sakti) di Kui- san.

Dan seperti kita ketahui di bagian pertama dari kisah ini, Sim Lan Ci bukan hanya gagal membunuh bekas suami bibinya itu, bahkan ia sendiri diberi obat perangsang sehingga melakukan hubungan badan dengan Coa Siang Lee. Karena mereka saling tertarik dan saling jatuh cinta, maka peristiwa yang terjadi diluar kesadaran mereka karena keduanya diberi oabat perangsang oleh Liu Bhok Ki ketika mereka berdua tertawan dan pingsan, keduanya segera mengambil jalan terbaik, yaitu akan menjadi suami isteri.

Demikianlah, Sim lan Cid an Coa Siang Lee lalu pergi menghadap ibu kandung dan kakek pemuda itu di Hek-houw- pang.

Ketua Hek-houw-pang, yaitu Coa Song yang telah berusia enam puluh lima tahun, hanya menarik napas panjang ketika  cucunya tidak berhasil membunuh musuh besar itu, bahkan Liu Bhok Ki telah menewaskan para murid Hek-houw-pang.

Ketika dia mendengar betapa cucunya itu bersama gadis Sim Lan Ci bahkan tertawan oleh Liu Bhok Ki akan tetapi tidak dibunuh melainkan diberi obat perangsang ketika pingsan sehingga keduanya melakukan hubungan badan dan kini mereka menghadap untuk minta izin agar mereka berdua menikah, Coa Song menarik napas panjang dan ibu kandung Coa Siang Lee menangis.

“Hemmm, sungguh keparat jahanam Liu Bhok Ki itu! Dia tidak membunuhmu akan tetapi melakukan penghinaan dan melemparkan aib yang lebih hebat daripada maut! Hemmm, apa boleh buat, memang tidak ada jalan lain untuk membersihkan nama keluarga dari aib itu kecuali menikah dengan gadis ini. Pernikahan yang terpaksa! Hemmm, siapakah sebetulnya gadis ini dan mengapa pula ia bermusuhan dengan Liu Bhok Ki sehingga tertawan pula?”

“Namanya Sim lan Ci, Kong-kong, dan ia pun mencari Liu Bhok Ki untuk membalas dendam atas kematian bibinya, yaitu mendiang Phang Hui Cu.”

“Ah, isteri Liu Bhok Ki yang menjadi gara-gara itu!” Coa Song mengerutkan alisnya dan memandang tajam penuh perhatian kepada Sim Lan Ci. Seorang gadis yang canti menarik, dengan pakaian serba hitam yang membuat kulit muka, leher dan tangannya nampak putih mulus.

“Benar, kong-kong. Lan Ci adalah keponakannya, ia adalah putrid tunggal dari enci mendiang Phang Hui Cu yang bernama Phang Bi Cu dan tinggal di Ceng-touw ”

“Apa? Kau maksudkan Phang Bi Cu dari Ceng-touw yang berjuluk Ban-tok Mo-li ??” Coa Song bertanya dengan suara 

kaget, setengah berteriak. “Nona, benarkah engakau puteri Ban-tok Mo-li?” Kini Coa Song bertanya dengan sikap tenang kepada Lan Ci. Gadis itu dengan sikap tenang membalas pandang mata kakek itu dan mengangguk.

“Benar, saya adalah puteri tunggal dari ibu yang berjuluk Ban-to Mo-li.”

Wajah Coa Song berubah agak pucat dan matanya terbelalak, kemudian dia berkata kepada cucunya, “Siang Lee apakah engkau tidak tahu siapa adanya ban-tok Mo-li? Ia adalah seorang datuk sesat yang amat jahat, kejam seperti iblis! Tidak mungkin keluarg kita menerima ia sebagai anggota keluarga!”

Siang Lee mengerutkan alisnya.

“Kong-kong, aku tidak menikah dengan Ban-to Mo-li, melainkan dengan puterinya!”

“Apa bedanya? Bagaimana mungkin kami harus berbesan dengan Ban-tok Mo-li? Apa akan kata orang di dunia persilatan kalau Hek-houw-pang yang selama ini menegakkan nama baiknya tiba-tiba berbesan dengan seorang datuk sesat seperti ban-to Mo-li?’

“Akan tetapi, Kong-kong. Lan Ci bukan seorang gadis jahat, dan kami sudah saling mencinta. Selain itu, kami berdua telah terkena aib, dan jalan satu-satunya adalah menjadi suami isteri.”

“Siang Lee, engkau masih muda dan tidak mengerti urusan! Ketahuilah bahwa kalau pernikahan itu kau lakukn berarti engkau menghindari Lumpur dengan masuk ke pencomberan! Aib yang telah kau derita karena perbuatan si Jahanam Liu Bhok Ki, tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan aib  yang menimpa kalau kita berbesan dengan Ban-tok Mo-li! Seluruh Hek-houw-pang akan terseret.

“Kong-kong, bagaimanapun juga aku akan menikah dengan Sim lan Ci!” pemuda itu berseru dengan penasaran. Ibunya mulai menangis dan membujuk agar mentaati kakeknya.

“Tidak bisa, Ibu! Ini menyangkut kehidupan dan kebahagiaan sendiri. Perjodohan adalah urusan pribadi yang tidak boleh dicampuri oleh siapapun juga. Kong-kong, aku tetap akan menikah dengan Sim Lan Ci.”

“Kalau begitu, kami tidak akan turut campur, aku dan ibumu tidak akan merestui dan pernikahan itu tidak kami anggap!” bentak kakek Coa Song marah sekali.

Tiba-tiba Sim Lan Ci bangkit berdiri dan berkata kepada Siang Lee.

“Aku akan pergi! Aku pun tidak ingin sekali menjadi mantu Hek-houw-pang!” berkata demikian, gadis itu lalu melangkah keluar dengan alis berkerut.

“Lan Ci …….! Moi-moi, tunggu !” teriak Siang Lee.

“Siang lee, kalau engkau nekat, kami tidak mengakuimu lagi sebagai keturunan kami dan anggota Hek-houw-pang!” teriak pula kekek Coa Song dengan marah sekali.

Perlahan-lahan Siang Lee bangkit berdiri.

“Apa boleh buat, kong-kong, ibu, aku harus menuruti suara hatiku. Bukan hanya karena aku sudah mencinta Lan Ci, juga karena kami bernasib sama, berduanya tertimpa aib. Aku harus membersihkan aib dari namanya, seperti hanya ia akan membersihkan namaku kalau-kalau menjadi isteriku. Selamat tinggal Kong-kong dan ibu, dan maafkan aku!” Setelah berkata demikian, Siang lee meloncat keluar mengejar Sim Lan Ci. Ibunya berteriak memanggil dan menangis, namun pemuda itu tidak mau kembali, maklum bahwa kakeknya adalah seorang yang keras hati dan tidak akan mau mengubah keputusannya.

Tentu saja Lan Ci merasa girang sekali melihat Siang Lee menyusulnya, dan sambil bergandeng tangan kedua orang muda itu lalu pergi menuju ke Ceng-touw untuk menghadap ibu kandung gadis itu, ialah Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu. Mereka sudah saling mencinta dan sudah mengambil keputusan nekat untuk tetap bersatu, apa pun yang akan terjadi. Karena itu, dalam perjalanan yang cukup jauh ini pun mereka sudah hidup sebagai suami isteri saja sehingga cinta kasih mereka menjadi semakin kuat.

Ban-tok Mo-li menerima dua orang muda itu dengan mata berkilat dan alis berkerut. Ia memang selamanya bukan merupakan seorang ibu yang penuh kasih saying kepada puterinya, hasil perhubungan gelapa dengan pria lain ketika ia masih mempunyai seorang suami. Memang ia mengembleng Lan Ci dengan ilmu-ilmu silat yang tinggi, akan tetapi hal itu bukan terjadi karena ia ingin saying kepada Lan Ci, melinkan karena ia ingin mendapatkan seorang pembantu yang tangguh. 

Bagi wanita ini, Lan Ci hanya seorang gadis saja, yang boleh diharapkan akan membantunya dengan setia. Bahkan kadang-kadang timbul rasa iri dalam hatinya melihat betapa Lan Ci makin besar menjadi semakin cantik. Ia kuatir kalau Lan Ci akan mengalahkannya dalam hal kecantikan sehingga sinar kecantikannya akan meredup! Kadang-kadang timbul rasa benci dan iri dalam hatinya terhadap Lan Ci, gadis yang dulu dikandung dan dilahirkannya sendiri!

Ban-tok Mo-li mendengarkan cerita Lan Tentang kegagalannya membalas Sakit hati kepada Liu Bhok Ki, tentang tertawannya gadis itu dan kemudian bahkan oleh  perbuatan Liu Bhok Ki, gadis itu melakukan hubungan badan dengan Coa Siang Lee yang juga tertawan oleh Liu Bhok Ki. Ia mendengar pula bahwa Coa Siang Lee adalah putera mendiang Coa Kun Tian, putera ketua Hek-houw-pang yang menjadi kekasih gelap Phang Hui Cu sehingga mengakibatkan mereka terbunuh oleh Liu Bhok Ki. Marahlah Ban-tok Mo-li walaupun mulutnya masih tersenyum dingin.

“Bagus! Sungguh tidak tahu malu engkau Lan Ci! Engkau tidak ada bedanya dengan Phang Hui Cu, bibimu itu!” Tak tahu malu! Hui Cu berpacaran dengan Coa Kun Tian, seharusnya mereka berdualah yang dapat membunuh Liu Bhok Ki yang menjadi penghalang. Akan tetapi tidak, mereka malah terbunuh oleh Liu Bhok Ki.

Menyebalkan!

Dan sekarang riwayatnya berulang. Engkau menyerahkan diri pada pemuda ini dan kalian tidak mampu membunuh Liu Bhok Ki malah dipermainkan dan dihina. 

Huh, tak tahu malu! 

“Engkau boleh menjadi isteri pemuda ini kalau dia mampu ngalahkan aku!” berkata demikian, tiba-tiba tubuh Ban-to Mo-li sudah melayang kearah Siang Lee dan tapa banyak cakap lagi ia sudah menyerang pemuda yang tadinya duduk bersila diatas lantai disebelah Lan Ci itu.

Jari tangan wanita itu menotok kearah ubun-ubun kepalanya. Serangan maut yang amat keji! Dia pun cepat melempar tubuh ke belakang lalu berguling keluar dari ruangan itu, tiba di luar ruangan yang lebih luas.

Namun, Ban-to Mo-li agaknya bertekad untuk membunuhnya karena wanita itu sudah meloncat mengejar dan menghujankan serangan kilat dari jurus-jurus ilmu silat  Ban-to Hwa-kun yang ampuh, silat tangan kosong yang amat indah seperti tarian saja. Akan tetapi, sesuai dengan namanya, indah seperti bunga namun berbahaya mengandung racun, dibalik keindahan gerakan ilmu silat ini terkandung ancaman maut. Setiap totokan, tamparan, pukulan atau guratan kuku saja mengandung racun yang amat berbahaya.

Untung bagi Siang Lee bahwa ketika dia melakukan perjalanan dengan Lan Ci, di sepanjang perjalanan kekasihnya itu memberi keterangan dengan jelas tentang ilmu- ilmu ini, juga tentang bahayanya kuku jari tangan Ban-tok Mo- li. Maka, mendapat serangan bertubi-tubi yang amat hebat itu, Siang Lee tidak mau mengadu tangan, hanya mengelak saja ke sana-sini mengandalkan kelincahan gerakan tubuhnya.

Dan kalau terpaksa menangkis, dia selalu menangkis dari pergelangan tangan ke atas, melihat betapa beberapa serangannya yang bertubi tidak berhasil dan pemuda itu agaknya tahu akan rahasia tangannya yang berbahaya, Ban- tok Mo-li menjadi makin marah. Ia sama sekali bukan hendak menguji kepandaian Siang Lee, melainkan untuk membunuhnya! Maka, melihat betapa pemuda itu cukup gesit dan lincah sehingga dapat menghindarkan serangannya yang bertubi-tubi, hal ini dianggap menghinanya dan merendahkannya, maka ia pun mengeluarkan bentakan nyaring dan tahu-tahu ia sudah mencabut pedang dan kipasnya!

Dengan geram ia menerjang dan Siang lee terkejut bukan main. Serangan pedang itu memang hebat, lebih berbahaya lagi karena disusul serangan kipas yang melakukan tiga totokan maut bertubi-tubi. Terpaksa dia membuang tubuhnya ke belakang, berjungkir balik dan terhuyung karena didesak terus.

Selagi dia terhuyung, pedang Ban-to Mo-li menyambar kea rah lehernya, dan agaknya sukar bagi Siang Lee untuk  meloloskan diri dari serangan yang dilakukan sepat sekali selagi tubuhnya terhuyung itu.

“Trangggg… !” sebatang pedang menangkis pedang di 

tangan Ban-to Mo-li dan nampak bunga api berpijar. Kiranya Lan Ci yang menangkis peang ibunya itu dengan pedangnya sendiri.

“Ibu, Coa Siang Lee telah menjadi suamiku dalam arti yang sebenarnya! Bahkan dalam perjalanan kami ke sini, kami telah menjadi suami isteri yang selalu tidur sekamar! Kalau ibu membunuh suamiku dan aku sebagai isterinya tentu saja tidak rela!”

Lan Ci berdiri tegak dengan pedang di tangan, agaknya ia siap untuk melawan ibunya sendiri demi membela orang yang dicintainya. Siang Lee juga melompat di samping Lan Cid an biarpun dia belum mengeluarkan senjata namun jelas bahwa sikapnya juga siap untuk membantu kekasihnya yang sudah dianggap isterinya.

“Kau …….. kau ” Ban-to Mo-li menjadi agak pucat 

mukanya. Ia menghadapi persoalan yang sulit. Haruskah ia membunuh anak sendiri? Andaikata hal ini ia lakukan, ia harus menghadapi mereka berdua dan agaknya, mereka itu amat tangguh. Bagaimna kalau sampai ia tidak mampu menangkan mereka?

“Kau pergilah! Kalian pergi dari sini dan selamanya aku 

tidak mau melihat muka kalian lagi! Sekali melihat, pasti akan kubunuh kalian!” bentaknya marah sambil menudingkan pedangnya kea rah pintu pekarangan depan.

Sim Lan Ci mengenal betul watak ibunya, maka mendengar ucapan ibunya itu, hatinya girang bukan main. Baru saja ia dan kekasihnya terhindar dari ancaman maut yang mengerikan. Ia  pun lalu menarik pemuda itu untuk melarikan diri sambil berkata, “Terima kasih, ibu!”

“Aku bukan ibumu lagi!” bentak Ban-to Mo-li dan ketika dua orang muda itu pergi, diam-diam Ban-to Mo-li menghapus dua butir air mata yang membasahi pelupuk matanya. Ia mengeluarkan air mata bukankarena sedih ditinggal pergi puterinya, melainkan karena kecewa dan menyesal bahwa puterinya berani membangkang terhadap perintahnya. Ia kehilangan seorang murid dan pembantu yang boleh diandalkan.

Demikianlah keadaan Ban-to Mo-li dan seperti telah kita ketahui, iblis betina ini hadir pula di tepi sungai Huang-ho untuk ikut memperebutkan anak naga yang menurut perhitungan akan muncul di permukaan sungai kuning di daerah pusaran maut itu. kemudian, perebutan dua orang anak kecil yang menghisp darah anak naga itu. Ban-tok Mo-li berhasil membawa Giok Cu, seorang di antara dua orang anak yang diperebutkan itu dan membawanya pulang ke Ceng- touw.

“Bibi, aku ingin bertemu ayah dan ibuku!” kata Giok Cu ketika Ban-to Mo-li membawanya pergi dari tepi sungai itu. mendengar ini, Ban-tok Mo-li yang tadinya menggendong anak itu, lalu memenurunkannya, memandang dengan alis berkerut dan mata berkilat marah.

“Jangan banyak lagak, Giok Cu! Engkau harus ikut dengan aku.”

Akan tetapi Giok Cu menentang pandangan mata wanita iblis itu tanpa rasa takut sedikitpun lalu menjawab :

“Aku memang suka ikut denganmu, bibi, akan tetapi aku harus berpamitan dulu darih dan ibuku!” Sejenak kedua orang itu saling pandang, sama-sama keras hati, dan akhirnya Ban-to Mo-li tersenyum. Anak ini memiliki kekerasan hati yang tidak kalah olehnya, dan sudah pasti lebih keras hati dan lebih berani dibandingkan Sim Lan Ci, puter yang telah diusir dan tidak diakuinya lagi itu! timbul rasa saying dihatinya, peasaan saying yang belum pernah dirasakan sebelumnya, baik terhadap anak kandungnya sekalipun.

“Siapakah orang tuamu dan di mana mereka?” Tiba-tiba ia bertanya, senyumnya dingin dan akan mendirikan bulu roma orang-orang kang-ouw gagah mana pun kalau melihatnya karena senyum seperti itu mengandung kekejian yang luar biasa.

“Ayahku bernama Bu Hok Gi, seorang pejabat lurah di dusun Liong-cung dan kami sekeluarga, ayah, ibu, aku dan beberapa pembantu, sedang melarikan diri mengungsi karena ayah tidak mau melaksanakan kerja rodi kepada penduduk dusun. Kami seperahu, bersama keluarga Si Han Beng seperahu pula. Keluarga Si juga melarikan diri dari kerja paksa dan kami berkenalan di jalan. Kini ayah dan ibuku berada di perahu. Aku berpisah dari mereka ketika pancingku mendapatkan ular itu.”

Ban-to Mo-li mengangguk-angguk. 

“Mari kuajak engkau mencari ayah dan ibumu!” katanya dan ia pun memondong Giok Cu lalu berlari secepat terbang menuju ke tepi sungai dimana semalam menjadi ramai oleh para tokoh kang-ouw yang berebutan anak naga.

Mula-mula Giok Cu terkejut dan ngeri juga ketika melihat dirinya dibawa lari seperti terbang, akan tetapi lama-lama ia merasa gembira. Tubuhnya sudah tidak begitu panas lagi dan tidak lagi disiksa oleh mual di perutnya. Memang tubuhnya kuat, dan darah ular itu biarpun amat kuat, tidak sampi membahayakan keselamatannya karena yang diminumnya tidaklah sebanyak yang dihisap han Beng.

Bagaimanapun juga, masih ada rasa pening di kepalanya namun tidak begitu dirasakannya karena kegembiraan hatinya hendak Bertemu kembali dengan ayah ibunya.

Ketika mereka tiba di pantai yang semalam, keadaan si situ sudah sunyi sekali. Hanya nampak beberapa buah perahu nelayan yang ditumpangi para nelayan yang masih nampak takut-takut karena semalam terjadi peristiwa hebat dimana terdapat banyak korban. 

Para nelayan itu menemukan mayat-mayat terapung hampir sepuluh orang banyaknya, belum dihitung mayat- mayat yang lenyap ditelan pusaran. Ada pula mayat beberapa orang menggeletak di pantai, agaknya mayat mereka tadinya terluka dan terjatuh ke air lalu berhasil berenang ke tepi akan tetapi tewas di tepi karena luka-luka yang diderita.

Setelah tidak berhasil mendapatkan orang tuanya di tepi sungai, Giok Cu minta kepada Ban-tok Mo-li agar mereka mencari di antara perahu-perahu nelayan di tengah sungai. Ban-to Mo-li menggunakan sebuah perahu dan mulai mencari. Tak lama kemudian, biarpun masih jauh jaraknya, Giok Cu menunjuk ke tengah sungai dan berseru.

“Itu mereka! Itu perahu ayah dan perahu keluarga Si!”

Ban-to Mo-li yang berpenglihatan tajam itu melihat ada dua buah perahu yang digandeng dengan tali, akan tetapi yang berada di sebuah perahu hanya tiga orang. Seorang memegang dayung dan yang dua orang nampak rebah di perahu. Sedangkan perahu kedua kosong. Cepat ia mendayung perahunya mendekat sampai menempel pada dua buah perahu itu. “Ayah ………! Ibu ” Giok Cu berseru memanggil ketika 

mengenal dua orang yang rebah di perahu itu adalah ayah ibunya.

“Nona datang ” teriak pelayan yang mendayung dengan 

girang sekali. Agaknya dia telah kelelahan mendayung terus berputar-putar mencari Giok Cu yang semalam terjatuh ke dalam air dan dibelit ular.

Bu Hok Gi dan isterinya bangkit duduk dan wajah mereka itu pucat seperti orang sakit. Namun, begitu melihat Giok Cu mereka berdua segera merangkulnya dan bertangisan. Diantara tangis mereka, Bu Hok Gi dan isterinya menceritakan kepada Giok Cu bahwa Si Kian dan isterinya menjadi korban, tewas oleh yang menyerang membabi buta.

“Kami sendiripun diserang, aku dan ibumu terluka, dan dua orang pembantu jatuh ke air. Hanya seorng pembantu selamat. Tadi pun muncul si Han Beng dan seorang kakek. Kami sudah ceritakan tentang tewasnya ayah ibunya, dan kakek itu, dia mengobati kami yang terluka.”

Tiba-tiba Ban-tok Mo-li berseri.

“Wah, celaka! Kalian telah terkena racun hebat. Tentu Liu Bhok Ki itu yang meracuni kalian, membunuh kalian dengan dalih mengobatinya!”

Tanpa diketahui mata orang lain saking cepatnya gerakan tangannya, Ban-to Mo-li telah menjentik dua batang jarum dengan jari tangannya dan dua batang jarum itu melesat dan masuk kedalam dada Bu Hok Gi dan isterinya.

“Lihat, muka mereka berubah menghitam !”

Bu Hok Gi dan isterinya mengeluarkan keluhan lirih dan mereka terkulai, rebah lagi diatas perahu. Tentu saja Giok Cu terkejut bukan main dan hendak menubruk ayah ibunya. “Ayah! Ibu ” Akan tetapi Ban-to Mo-li memegang 

lengannya.

“Jangan sentuh mereka! Kalau kau sentuh, engkau pun akan terkena racun hebat yang akan membunuhmu!”

Giok Cu terbelalak, hendak nekat menubruk, akan tetapi ditahan Ban-to Mo-li dan anak ini melihat betapa ayah dan ibunya berkelonjotan sebentar, muka dan tubuh mereka berubah menghitam dan akhirnya kejang-kejang tubuh mereka terhenti dan mereka tewas dalam keadaan mengerikan!

“Ayah …..! Ibuuuuu… !” Dan Giok Cu terkulai pingsan dalam 

pelukan Ban-tok Mo-li. Pembantu itu tentu saja menjadi terkejut dan bingung, hanya mampu menangis.

“Sudahlah, mereka sudah mati dan kita bawa mereka ke tepi untuk dikuburkan,” kata Ban-tok Mo-li

“Semalam di sini terjadi pertempuran antara orang-orang sakti. Racun-racun masih berkeliaran di tempat ini. Mungkin baru saja mereka merasakan pengaruh racun. Engkau pun, kalau tidak cepat pergi dari sini, bisa saja setiap saat terkena racun dan mati!”

Mendengar ini, orang itu cepat menggerakkan dayung dan dibantu oleh Ban-to Mo-li, mereka mendayung perahu itu ke tepi dan dengan wajah ketakutan pembantu keluarga Bu itu lalu menggali lubang besar dan mereka menguburan jenazah Bu Hok Gi dan isterinya. Giok Cu siuman dari pingsannya dan anak perempuan itu menangis sejadi-jadinya, berlutut di depan makam ayah dan ibunya.

Setelah selesai mengubur dua jenazah itu, Ban-tok Mo-li mengambil beberapa potong uang perak dan memberikan kepada pembantu keluarga Bu itu sambil berkata, “kulihat engkau pun terpengaruh hawa beracun. Cepat pergi dan cari  tabib untuk mengobati dirimu. Nih, ambil uang ini dan pergilah!”

Tangan Ban-to Mo-li yang menyerahkan beberapa potong uang itu bergerak dan kuku jarinya menggores telapak tangan orang itu.

Orang itu tidak merasakan apa-apa, menerima uang lalu berpamit meninggalkan tempat itu. giok Cu yang menangisi makam ayah ibunya, tidak mempedulikan kepergian pembantu itu. ia tidak tahu bahwa dalam waktu dua hari, pembantu itu pun akan tewas tanpa dapat diobati lagi karena dia telah terkena goresan kuku beracun dari jari tangan Ban-to Mo-li. Agaknya iblis betina ini ingin melenyapkan semua orang yang berhubungan dengan Giok Cu.

“Bibi, apakah yang telah terjadi dengan Ayah ibu? Siapa yang membunuh mereka?”

“Mulai sekarang, jangan sebut aku Bibi, melainkan Su-bo (ibu Guru). Bukankah engkau ingin menjadi muridku, mempelajari ilmu silat agar kelak dapat kau pergunakan untuk membalas kematian Ayah ibumu?”

Giok Cu seorang anak yang cerdik. Ayah ibunya telah tewas dan ia tidak mempunyai siapa-siapa lagi di dunia ini. Dan jelas bahwa ayah ibunya tewas tidak sewajarnya, melainkan ada yang membunuh mereka. Dan wanita di depannya ini, biarpun kejam, namun memiliki ilmu kepandaian tinggi, sehingga kalau ia akan mampu mencari pembunuh ayah ibunya dan membalaskan kematian mereka. Maka, mendengar ucapan wanita cantik itu, ia pun segera menjatuhkan diri berlutut.

“Subo, harap kasihani kepada teecu. Siapakah yang telah membunuh ayah ibu?” “Siapa lagi kalau bukan Liu Bhok Ki? Engkau mendengar sendiri keterangan pembantu ayahmu itu. Liu Bhok Kid an anak laki-laki itu datang, dan Liu Bhok Ki katanya mengobati ayah ibumu. Nah, kesempatan itulah dipergunakannya untuk membuat ayah ibumu terkena pukulan maut sehingga mereka tewas tadi.”

“Tapi, mengapa, Subo? Mengapa dia membunuh Ayah Ibuku? Dan siapakah Liu Bhok Ki itu?”

“Hemmm, siapa dapat menyelami hati Liu Bhok Ki? Dia orang aneh, dan jahat sekali. Isterinya sendiri dibunuhnya dan kepala isterinya itu direndam arak dan setiap hari dia minum arak rendaman kepala isterinya itu! kau bayangkan saja betapa jahatnya dia! Mungkin dia tidak ingin orang tuamu melihat dia membawa pergi anak laki-laki yang menghisap darah naga itu.”

“Si han Beng ” kata Giok Cu.

“Hemmmmm, bahkan bukan aneh kalau yang membunh ayah ibu Si Han Beng adalah dia juga.”

Giok Cu mengerutkan alisnya.

“Ah, betapa jahatnya Liu Bhok Ki itu! Dia itu orang macam apa, Subo?” Lalu ia bangkit duduk.

“Subo, maukah subo Menolong teecu? Mari kita cari Liu Bhok Ki itu dan Subo bunuh dia untuk membalaskan sakit hati teecu.”

“Hemmm, enak saja kau bicara, Giok Cu. Ketahuilah, Liu Bhok Ki itu berjuluk Sin-tiauw dan dia amat sakti. Aku sendiri belum tentu akan mampu mengalahkannya. Akan tetapi kelak, kalau engkau sudah dewasa dan engkau mempelajari ilmu silat dengan tekun, mungkin engkau akan mampu  mengalahkannya. Eh, bukankah engkau juga menghisap darah anak naga?”

“Darah anak naga? Apa yang subo maksudkan?” Giok Cu bertanya heran, sama sekali tidak mengerti.

“Anak bodoh! Bukankah malam tadi engkau dibelit anak naga dan bersama Si Han Beng anak laki-laki itu kalian melawan anak naga dan menggigitnya, menghisap darahnya?”

Kini baru Giok Cu mengerti dan biarpun kepalanya masih pening, ia tertawa mendengar ini.

“Anak naga? Heh-heh, Subo ini aneh-aneh saja. Semalam ketika aku mengail ikan di perahu, umpanku disambar seekor ular dan aku terseret ke dalam air. Ular itu membelitku dan untung ada Han Beng menolongku. Dia anak baik sekali, subo. Ular itu lalu menyerang Han Beng, bahkan aku melihat betapa ular itu menggigit pundak Han Beng. Juga kulihat Han Beng membalas dan menggigit leher ular. Karena aku ingin membantu han Beng, aku pun lalu menggigit ekor ular itu!”

“Dan kau hisap dan minum darah anak naga itu?” “Subo, apakah ular itu benar-benar anak naga?”

“Ular atau anak naga, apakah engkau menghisap dan minum darahnya?”

Giok Cu tersenyum malu-malu.

“Ketika aku menggigit sekuat tenaga, aku merasakan darah itu, hangat, agak asin dan manis dan amis membuat aku ingin muntah. Akan tetapi karena ingin menolong han Beng, aku menggigit terus dan ya, aku menghisap dan menelan darahnya.” “Banyak?” Ban-tok Mo-li bertanya penuh gairah.

“Entah, Subo. Mungkin beberapa teguk, dan kuliht han Beng menggigit leher ular itu.”

“Hemmmm, tentu dia minum lebih banyak. Coba, kulihat tanganmu!” wanita itu memegang tangan Giok Cu, menggunakan kuku jari kelingking kiri, satu-satunya kuku yang putih bersih dan tidak mengandung racun, menorah kulit lengan bagian dalam. 

Darah menetes keluar dan Ban-to Mo-li cepat membawa lengan anak itu ke mulut, dihisapnya darah yang keluar. Dan ia pun kecewa. Sebagai seorang ahli, ia pun dapat merasakan bahwa darah anak ini memang telah kemasukan hawa mukjijat darah anak naga, akan tetapi sedikit sekali. Tidak ada artinya dan tidak ada manfaatny bagi orang lain, paling-paling darah anak perempuan ini hanya dapat menjadi obat penguat tubuh yang dapat ia peroleh dari akar bahar atau rempah-rempah yang lain. Akan tetapi bagi gadis itu sendiri, mungkin mendatangkan kekuatan yang lain.

“Giok Cu, coba kerahkan tenagamu dan pukul telapak tanganku ini.”

Giok Cu mentaati perintah gurunya. Dikepalnya tangan kanannya dan dipukulnya telapak tangan kiri wanita itu sekuat tenaga.

“Plakkkk… !” Ban-tok Mo-li terkejut. Bukan main, pikirnya. 

Anak perempuan ini, tanpa setahunya, karena khasiat darah anak naga, kini memiliki pukulan yang luar biasa, kuat dan panas!

Jago silat kebanyakan saja mungkin takkan kuat menahanpukulan tadi! Lengannya sendiri sampai tergetar. Dan ini dilakukan oleh Giok Cu tanpa disadarinya akan kekuatan yang tersembunyi di tubuhnya. Kalau anak itu sudah dapat mengendalikan tenaga mukjijat itu, tentu ia akan menjadi seorang yang amat tangguh! Dan anak ini akan menjadi muridnya! Biarpun ia tidak dapat mempergunakan darah di tubuh anak ini untuk kepentingannya sendiri, namun setidaknya ia akan mendapatkan seorang murid yang istimewa, pengganti puterinya dan ia pun mempunyai perasaan suka kepada Giok Cu.

Ban-tok Mo-li mengajal Giok Cu pulang ke Ceng-touw. Anak perempuan ini merasa kagum dan gembira sekali mendapat kenyataan bahwa gurunya tinggal di rumah yang besar dan mewah, dilayani oleh belasan orang pelayan wanita. Tak disangkanya bahwa gurunya ini ternyata amat kaya raya! Dan gurunya demikian saying kepadanya.

Semenjak itu, mulailah Giok Cu dilatih dasar-dasar ilmu silat oleh Ban-to Mo-li. Anak itu cerdas sekali, rajin dan juga lincah jenaka sehingga makin menyenangkan hati Ban-to Mo- li. Akan tetapi diam-diam Ban-to Mo-li merasa kuatir setiap kali ia teringat kepada puterinya.

Giok Cu begini cantik jelita, manis sekali dan wataknya demikian lincah jenaka, gembira. Anak perempuan seperti ini amat romantis dan satu-satunya hal yang mungkin jadi kelemahannya adalah kalau ia tergoda pleh seorang pria yang menawan hatinya. Jangan-janganakan terulang kembali peristiwa seperti dialami oleh Lan Cid an ia pun merasa kuatir sekali.

Dipanggilnya Giok Cu.

“Muridku yang baik, mulai sekarang engkau harus tekun, rajin dan mentaati semua perintahku.” “Tentu saja, Subo. Siapa lagi kalau bukan Subo yang kutaati. Aku tidak mempunyai orang lain kecuali Subo di dunia ini!” jawab Giok Cu gembira sambil memandang kepada gurunya dengan matanya yang indah, penuh kepercayaan. Ia samara-samar masih teringat betapa kejamnya guru yang cantik ini terhadap musuh-musuhnya, akan tetapi gurunya ini lihai sekali dan saying kepadanya.

“Nah, kini bersiaplah untuk menahan nyeri sedikit. Aku akan memberi suatu tanda kepadamu, demi kebaikanmu sendiri di kemudian hari. Luruskan lengankirimu!”

Tanpa rasa takut sedikit pun dan dengan pandang mata penuh kepercayaan kepada gurunya, Giok Cu meluruskan lengan kirinya. Ketika gurunya menyuruhnya, tanpa ragu ia pun menggulung lengan bajunya sehingga lengan kecil berkulit putih mulus itu nampak dari atas siku sampai ke tangan.