--> -->

Naga Beracun Jilid 15

Jilid 15 

Me mang indah dan cantik sekali, nona kecil

Seperti engkau........

Kui Eng menengok dan alisnya berkerut

Ia masih belum tahu bahwa ucapan itu mengandung kekurang-ajaran, akan te tapi ia tidak suka le ngannya disentuh jari-jari tangan yang panjang itu

Kalau dalam keadaan biasa, tentu ia sudah mendamprat orang itu, akan te tapi ia teringat akan pesan ayahnya dan iapun menarik lengannya yang te rpegang

Aku tidak bicara denganmu,

katanya ketus dan iapun menjauhkan diri beberapa langkah

Si muka kuda menyeringai

Aih, galaknya, akan te tapi bertambah manis

Jangan marah, anak manis.

Kini tangan itu bergerak mengusap ke arah dagu dan pipi Kui Eng

Tentu saja Kui Eng marah sekali, akan tetapi ia masih menahan sabar

Ia miringkan kepalanya sehingga hanya dagunya saja tersentuh dan ia melangkah mundur lagi

Jangan sentuh aku.!

katanya, masih menahan sabar

Si muka kuda itu mengira bahwa Kui Eng ketakutan, maka iapun menjulurkan  kedua tangannya lagi

Jangan takut, sayang, aku tidak akan menyakitimu

Marilah ikut dengan kami.

Dan tiba-tiba saja si muka kuda itu sudah menangkap le ngan kiri Kui Eng

Anak yang tidak menyangka-nyangka ini, dan pula tidak ingin menggunakan kekerasan, tiba-tiba sudah ditarik dan berada dalam pondongan si muka kuda.! Kui Eng memiliki dasar watak yang keras, galak dan tak mengenal takut

Kalau sejak tadi ia hanya bersabar saja hal itu adalah karena ia mengingat pesan ayahnya

Akan tetapi, kesabarannya te rbatas sekali

Begitu merasa dirinya dipondong dan pemondongnya menggerakkan kaki hendak lari, ia menjadi marah bukan main! 

Heii, jangan larikan adikku!

Thian Ki berte riak, akan te tapi diapun ragu untuk turun tangan, mengingat pesan ayahnya

Jahanam kau.! Anjing kau.!

Kui Eng memaki dan tangan kirinya menjambak rambut si muka kuda, tangan kanannya menampar

Plakk! Aduuuhh........!

Si muka kuda merasa kepalanya seperti dihantam palu godam sehingga pondongannya te rlepas

Kui Eng sudah meloncat turun

Si Muka kuda marah bukan main

Pipi kirinya bengkak oleh tamparan tadi dan dia kini menghampiri Kui Eng dengan mata berapi

Juga kawannya yang tinggi besar bermuka bopeng menghampiri dari lain jurusan

Bocah setan binal!

si muka kuda menubruk

Akan te tapi sekarang Kui Eng sudah naik pitam

De ngan gesit ia mengelak, menggeser tubuh ke kiri dan begitu si muka kuda menerkam luput, kakinya menendang dua kali beruntun dengan cepat sekali dan tubuh si muka kuda te rlempar ke dalam air kolam! 

Byuuuuuurr....!

Si tinggi besar terbelalak, lalu menerkam dengan marah

Kui Eng mengelak lagi

Akan tetapi si tinggi besar ini rupanya menyadari bahwa anak perempuan remaja itu bukan anak biasa, melainkan memiliki gerakan silat yang cepat, iapun membalik dan kakinya yang besar dan panjang itu mencuat, melakukan te ndangan

Sungguh keji sekali, seorang laki-laki tinggi besar seperti itu menendang seorang anak perempuan berusia sebelas tahun

Kalau tendangan itu mengenai sasaran, tentu tubuh Kui Eng akan terlempar jauh dan mungkin akan te was seketika

Namun, sejak kecil Kui Eng te lah menerima gemblengan seorang sakti seperti ayahnya sendiri, juga ia dilatih oleh ibunya yang lihai pula

Tendangan yang amat kuat dan cepat itu dengan mudah dapat ia elakkan, kemudian ia membalik dan kakinya menendang belakang lutut kanan lawan

Plakk?

dan tanpa dapat dicegah lagi, si tinggi besar yang belakang lututnya dite ndang itu te rpaksa jatuh berlutut dengan kaki kanannya

Pada saat itu, kaki kanan Kui Eng menggantikan kaki kiri, menyambar dan te pat mengenai pelipis kiri si tinggi besar bermuka bopeng

Plaak........!

si tinggi besar mengeluh dan tubuhnya te rpelanting

Kui Eng tidak berhenti sampai di situ saja

Ia mengejar dan kembali kakinya menendang, dua kali te ndangan dan tubuh si tinggi besar juga terlempar ke dalam kolam menyusul te mannya! Pada saat itu, Cian Bu dan Sim Lan Ci sudah tiba pula di situ, demikian pula mereka yang sedang berada di dalam taman, datang berlarilarian ketika mendengar ada perkelahian di dekat kolam ikan

Cian Bu sudah menangkap tangan pute rinya dan ditariknya dari situ, diajak pergi diikuti oleh Sim Lan Ci dan Thian Ki

Mereka berempat tidak berkata sesuatu, dan semua orang yang tiba di tepi kolam, memandang ke arah dua orang yang masih berada di dalam kolam itu

Kemudian orang jadi geger ketika dua orang itu tidak keluar dari dalam kolam dan ketika diperiksa, te rnyata mereka telah te was.! Ada luka sebesar kuku ibu jari tangan di dahi mereka dan darah mengucur dari luka itu

Agaknya mereka tewas seketika! Tidak ada seorangpun di antara mereka tahu apa yang te lah terjadi

Yang tadi berada di dekat situ hanya melihat betapa dua orang yang tewas di kolam itu tadi menyerang seorang anak perempuan yang kini telah le nyap entah ke mana

Mereka yang tadi kebetulan dekat melihat betapa anak perempuan itu hanya mengelak ke sana sini kemudian menendang-nendang dan dua orang itu te rlempar ke dalam kolam

Akan tetapi, mustahil kalau te ndangan anak perempuan itu dapat menimbulkan luka di dahi yang menewaskan kedua orang yang nampaknya kuat dan jagoan itu

Cian Bu dan keluarganya tiba kembali di rumah penginapan dan mereka berempat berkumpul di kamar yang dite mpati Sim Lan Ci dan Kui Eng

Setelah tiba di dalam kamar itu, barulah mereka saling pandang dan Thian Ki yang sejak tadi menahan-nahan perasaannya, segera berkata kepada ayahnya sambil menatap tajam wajah orang tua itu

Ayah, kenapa ayah membunuh mereka?

Mendengar ini, Kui Eng te rkejut dan anak perempuan itupun memutar tubuh memandang ayahnya

Benarkah ayah te lah membunuh mereka

Bagus! Mereka memang layak dibunuh

Mereka dua orang yang jahat sekali.!

Wajah anak perempuan itu kelihatan girang bukan main

Kui Eng, jangan sekejam itu.! Thian Ki menegur adiknya

Mereka itu memang jahat karena hendak mengganggumu, akan te tapi kalau kita bunuh mereka bukankah itu lebih jahat lagi namanya?

Thian Ki, engkau melihatnya?

Cian Bu bertanya dan pandang matanya kagum

Tak disangkanya sama sekali bahwa anak itu akan melihat perbuatannya tadi, padahal dia hampir yakin bahwa yang tahu hanyalah dia dan isterinya saja

Tempat itu gelap dan gerakannya amat cepat, juga benda yang dipergunakan untuk membunuh itu terlalu kecil untuk dapat dilihat orang ketika meluncur cepat ke arah dua orang di kolam itu

Akan te tapi Thian Ki mengetahuinya! Ini saja membuktikan bahwa anaknya yang juga muridnya ini memang berbakat sekali dan telah memiliki ketajaman pandang mata yang melebihi ahli silat biasa

Bahkan Kui Eng saja yang tingkat kepandaiannya tidak berbeda jauh dibandingkan Thian Ki, tidak dapat melihatnya

Aku hanya melihat berkelebatnya dua sinar hitam kecil ke arah mereka, dan melihat mereka te was, akan tetapi aku tidak tahu siapa yang membunuh mereka dengan sambitan itu, tidak tahu pula benda apa yang membunuh mereka

Akan tetapi setelah aku melihat baju ayah, tahulah aku bahwa ayah yang te lah membunuh mereka

Ada dua buah kancing baju ayah yang hilang.

Cian Bu menunduk dan melihat kancing bajunya, demikian pula isterinya dan Kui Eng

Aih, kiranya ayah membunuh mereka dengan dua buah kancing baju ayah

He mm, sayang kancingnya, ayah

Penjahat seperti mereka lebih pantas dibunuh memakai batu saja!

kata Kui Eng

Akan tetapi, demikian besarkah dosa mereka sehingga mereka itu harus dibunuh?

Thian Ki bertanya lagi, penuh rasa penasaran

Selama tujuh tahun ini, dia tahu benar bahwa ayahnya adalah seorang gagah perkasa dan tidak pernah membunuh orang lain

Akan te tapi kenapa sekarang begitu ringan tangan membunuh dua orang yang walaupun bersalah, namun kesalahannya belum cukup hebat untuk dihukum mati

 

Thian Ki, masihkah engkau belum mengerti

Ayahmu te rpaksa membunuh mereka agar mereka tidak akan menyiarkan berita te ntang keluarga kita,

kata Sim Lan Ci

Tapi......tapi mengapa.....

Thian Ki, engkau tadi melihat sendiri betapa adikmu te lah mengalahkan dua orang itu melempar mereka ke kolam

Hal ini merupakan peristiwa luar biasa bagi mereka dan mereka tentu akan menyiarkan berita tentang Kui Eng kepada mum dan hal ini tentu akan menarik perhatian orang

Orang-orang akan te rtarik dan ingin tahu siapa anak perempuan yang mampu mengalahkan dua orang jagoan itu dan siapa pula orang tuanya, gurunya

Dan kalau sudah begitu, perjalanan kita tidak akan menyenangkan lagi, bahkan penuh bahaya dan kehidupan kita tidak dapat tenang lagi.

Ah, lagi-lagi akulah yang bersalah!

Kui Eng berkata dengan alis berkerut

Kalau saja aku tidak melempar mereka ke dalam kolam! Ayah sudah memesan agar aku bersabar dan mengalah, akan tetapi bagaimana aku dapat mengalah kalau mereka hendak menculikku?

Sim Lan Ci merangkul pute rinya 

Engkau tidak bersalah, Kui Eng

Perlawananmu tadi memang sudah tepat

Kesabaran te ntu ada batasnya

Memang agaknya sudah seharusnya begini

Thian Ki, ayahmu membunuh mereka bukan karena perbuatan mereka tadi, melainkan untuk menyelamatkan keluarga kita dari ancaman bahaya

Kuharap engkau dapat mengerti.

Thian Ki menundukkan mukanya

Aku  mengerti, ibu

Ayah, maafkan aku.

Akan te tapi di dalam hatinya, te tap saja anak ini merasa penas aran dan tidak senang karena dianggapnya perbuatan ayahnya itu te rlalu kejam, mudah saja membunuh orang walaupun dengan dalih demi keselamatan keluarga mereka

Bahaya itu kan belum datang mengancam

Ayahnya amat tidak menghargai nyawa ocang lain! Betapapun juga, te pat seperti dikatakan Cian Bu

Setelah dua orang itu tewas tanpa ada orang lain mengetahui sebabnya, perjalanan mereka tidak mendapat gangguan lagi

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Cian Bu dan keluarganya sudah meninggalkan kota Wuhan, melanjutkan perjalanan menuju ke dusun Mo-kim-cung yang merupakan sebuah dusun kecil di kaki Bukit Ular

Sim Lan Ci segera mengajak keluarganya menuju ke rumahnya yang tujuh tahun yang lalu ia tinggalkan dalam pengawasan seorang pembantu wanita yang sudah lama bekerja pada mereka

Tentu saja ia juga memesan kepada ibunya, yaitu Lo Nikouw di kuil Thian-ho-tang di luar dusun agar mengamat-amati rumahnya selama ia dan suaminya pergi

Ketika pada senja hari itu mereka tiba depan rumah Lan Ci, mereka melihat sebuah rumah yang kotor tidak te rawat, jendela dan daun pintunya te rtutup rapat-rapat, bahkan gelangan daun pintu dirantai dari luar, tanda bahwa rumah itu kosong

Lan Ci te rmangu-mangu melihat betapa pekarangan yang dahulu dirawatnya baik-baik dan penuh bunga itu kini menjadi kotor dan buruk

Juga rumah itu kotor dan banyak genteng yang pecah dan te mboknya sudah penuh jamur kehijauan

Seperti rumah hantu!

Thian Ki juga berdiri te rmangu di depan rumah itu

Terbayanglah dalam ingatannya ketika tujuh tahun yang lalu dia hidup di tempat ini

Masih te ringat semua keadaan di luar dan di dalam rumah

Betapa senangnya dia dahulu memanjat pohon di samping rumah itu atau berlari-larian dan bermain dengan teman-teman sedusun

Dia pernah jatuh di sebelah kanan rumah itu, di selokan kecil yang dibuat ayahnya untuk mengalirkan air ke taman bunga

Dan sekarang, keadaan di pekarangan dan taman itu amat menyedihkan

Juga rumah itu nampak demikian tua dan kotor

Semua ini membuat dia teringat kepada ayahnya

Ayahnya demikian le mbut dan baik dan tak te rasa ke dua mata Thian Ki menjadi basah

Sim Lan Ci sudah menghampiri rumah tetangga te rdekat

Suami isteri petani tua itu menyambutnya di depan pintu dan mereka segera mengenal Sim Lan Ci yang bersama suaminya memang amat dikenal di dusun itu sebagai orangorang yang suka menolong

Dari tetangganya ini Lan Ci mendengar betapa pembantu yang diserahi tugas menjaga rumah telah pulang ke dusunnya sendiri karena te rlalu lama majikannya tidak pulang

Rumah beserta isinya oleh pelayan itu diserahkan kepada Lo Nikouw yang menutup rumah itu

Apakah Lo Nikouw masih tinggal di kuil Thianho-tang?

tanya Lan Ci dengan hati terharu

Suami isteri itu mengangguk

Sim Lan Ci lalu mengucapkan te rima kasih dan bersama keluarganya ia lalu pergi ke luar dusun, ke kuil Thian-ho-tang itu

Senja telah lewat dan cuaca sudah remang ketika mereka tiba di luar kuil Thian-ho-tang

Kuil ini kecil saja, berdiri terpencil di te mpat yang sunyi

Akan tetapi dari luar nampak bahwa kuil itu sudah dipasangi lampu-lampu dan bahkan meja sembahyang di ruangan depan juga dipasangi lilin

Namun suasana di kuil itu nampak sunyi sekali seolah tidak ada penghuninya

Agaknya ibu masih juga tinggal menyendiri di kuil ini, pikir Sim Lan Ci dan iapun berjalan paling depan ketika mereka memasuki kuil

Berhenti!

Tiba-tiba terdengar suara lembut dari dalam kuil

Suara itu le mbut namun berwibawa dan Lan Ci menahan langkahnya, diikuti oleh suaminya dan dua orang anak mereka

Mereka berhenti di ruangan depan, di depan meja sembahyang

Siapakah tamu yang memasuki kuil ini

Beritahukan dulu nama kalian dan apa perlunya datang berkunjung.

Suara itu kembali te rdengar lembut berwibawa dan biarpun singkat, tidak terdengar galak

I bu, aku Lan Ci, anakmu datang berkunjung,

kata Sim Lan Ci dan betapapun keras hati wanita ini, tetap saja ia terharu dan suaranya agak gemetar

Hening sejenak di dalam kuil

Kemudian suara itu terdengar lagi, masih lembut berwibawa

Omitohud......semoga hamba dibebaskan daripada keterikatan! Pin-ni (aku) tidak mempunyai anak

Anak tunggal pin-ni sudah bertahun-tahun meninggalkan pin-ni tanpa kabar, pin-ni menganggap ia sudah mati.......

Nenek...........!

Thian Ki berseru

Omitohud......kau......kau........Thian Ki cucuku!?

Dari dalam muncullah seorang nenek

Ia sudah tua, sedikitnya tujuhpuluh lima tahun usianya, dan mukanya sudah te rhias keriput, terutama di kanan kiri kedua matanya dan di s ekitar mulutnya

Akan te tapi tubuhnya masih te gak dan gesit, sinar matanya masih tajam, pakaiannya bersih dan tangan kanannya memegang sebuah kebutan, tangan kiri memegang seuntai tas beh

Sepasang mata itu ditujukan ke arah Thian Ki, lalu ia menyelipkan kebutan di pinggang, mengantungi tas behnya dan mengembangkan kedua lengannya

Thian Ki cucuku............!

Nenek..........!

Thian Ki lari menghampiri dan nenek itu merangkulnya

Biarpun usianya baru duabelas tahun, tubuh Thian Ki sudah hampir sama dengan neneknya

Dan Nikouw yang kepalanya gundul licin itu menangis, lalu berulang-ulang menyebut nama Sang Buddha

Cucuku.......ah

Thian Ki, betapa rinduku kepadamu

Omitohud......

semoga diampuni kelemahanku ini.....

Kemudian ia te ringat dan mengangkat muka, memandang kepada Sim Lan Ci yang berdiri tak jauh di depannya

Sejenak pandang mata nenek itu mengamati Lan Ci, kemudian te rdengar suaranya yang lembut namun kering dan tegas

Betapa kejamnya engkau! Engkau memisahkan Thian Ki dari pin-ni., pergi tanpa memberi kabar lama sekali sampai bertahun-tahun

Engkau menyiksa hati pin-ni

Begitukah cara seorang anak membalas budi orang tua.!

I bu, ibu tidak tahu apa yang te lah terjadi menimpa diri kami

Ibu sendiri amat te ga, membuat Thian Ki menjadi seorang tok-tong

Ibu telah merusak hidupnya, dan ibu masih dapat mencela aku kejam.?

Omitohud.....siapa bilang aku kejam

Pin-ni menggemble ngnya menjadi tok-tong agar kelak tidak ada orang yang berani mengganggunya, agar dia dapat menjadi orang gagah yang tak te rkalahkan kelak, agar dia merajai di dunia persilatan dan mengangkat nama besar orangorang yang menurunkannya

Neneknya pernah menjadi Ban-tok Mo-li, sudah sepantasnya kalau dia menjadi tok-tong.

Tapi, ibu

Biar pun tidak disengaja, dalam usianya yang baru lima enam tahun dia sudah membunuh banyak orang dengan racun yang berada di tubuhnya!

te riak Lan Ci yang kini menjadi marah karena teringat akan keadaan pute ranya

Lihat, dia sampai tidak berani sembarangan menyentuh orang lain, takut kalau sampai membunuhnya

Bukankah ini berarti ibu menyiksanya!?

 

Omitohud, semua itu salahmu sendiri, Lan Ci

Kenapa engkau memisahkannya dari pin-ni

Pin-ni belum selesai dengan cucuku ini

Akan pin-ni bimbing dia dan latih dia sehingga racun di tubuhnya hanya akan menjadi senjata kalau diperlukan.

Bagus sekali kalau begitu

Sudah kukatakan bahwa hanya yang membuat dia menjadi tok-tong sajalah yang akan mampu membimbing dia menguasai dirinya.

kata Cian Bu dengan girang mendengar ucapan nenek itu

Lo Nikouw mengangkat muka memandang kepada Cian Bu

Sepasang matanya mencorong ketika ia mengamati pria itu penuh selidik, lalu ia bertanya

Siapa orang ini?

Thian Ki yang menjawab cepat

Nenek, dia adalah guruku, juga a yahku!.

Kini pandang mata nenek itu terbelalak dan ketika ia menoleh ke arah puterinya yang tadi merasa canggung untuk menjawab

Ayahmu......

Apa artinya ini?

Kini Lan Ci sudah dapat menenangkan hatinya dan iapun menghampiri ibunya dan berkata dengan suara tenang

Ibu, dengarlah baik-baik

Ketika kami pergi ke Ta-bun-cung tujuh tahun yang lalu dan berada di markas Hek-houw-pang, di sana terjadi penyerbuan.........musuh-musuh Hekhouw-pang

Tentu saja kami membela dan dalam perte mpuran itu, Coa Siang Lee tewas, di samping ketua He k houw-pang dan banyak tokohnya

Pihak musuh amat kuatnya

Aku sendiri bersama Thian Ki te rtawan musuh dan tentu kami berdua akan celaka atau setidaknya akan menderita kesengsaraan kalau saja kami tidak ditolong oleh...........dia yang kemudian menjadi suamiku! Dia sendiri......seluruh keluarganya, is terinya, semua juga tewas di tangan pasukan pemerintah,   dia sendirian, dan aku........kemudian kami menikah.

Lo Nikouw mengerutkan alisnya

Yang membuat ia tidak suka bukan karena pute rinya menikah dengan laki-laki tinggi besar bermuka merah ini

Baginya, tidak perduli ia siapa yang menjadi suami Lan Ci

Akan tetapi ia tidak senang mendengar bahwa Thian Ki menjadi murid pria ini! 

Tidak perduli dia menjadi suamimu, akan tetapi bagaimana dia berani lancang menjadi guru Thian Ki

Harus pin-ni lihat dulu apakah pantas dia menjadi guru cucuku!

Berkata demikian nenek itu melepaskan Thian Ki dan sekali kakinya bergerak, seperti memakai sepatu roda saja dengan ringan ia telah bergeser ke depan Cian Bu dan tangannya sudah mencabut kebutannya

Sambutlah ini.!

Tangannya bergerak, te rdengar suaara angin menyambar bersiut dan nampak sinar putih bergulung-gulung ketika kebutan berbulu putih itu menyambar ke arah tubuh Cian Bu dan ujungnya telah mematuk-matuk, merupakan totokan totokan yang amat cepat dan kuat sehingga berbahaya sekali bagi yang diserang

Sim Lan Ci te rkejut bukan main, akan te tapi ia percaya sepenuhnya kepada suaminya

Dia tahu bahwa tingkat kepandaian suaminya tidak kalah dibandingkan ibunya, dan ia sudah menceritakan kepada suaminya tentang keadaan ibunya, tentang ilmu-ilmu yang mengandung racun berbahaya sehingga suaminya tentu akan berhati-hati dan mampu menjaga diri

Dan ia percaya pula bahwa suaminya te ntu tidak akan mencelakai ibunya

Sementara itu, Thian Ki dan Kui Eng hanya menonton

Akan tetapi, kalau Thian Ki hanya bingung melihat ayahnya dan neneknya bertanding, Kui Eng berdiri dengan muka berubah pucat dan bukan dua orang yang bertanding itu yang dipandang, melainkan pandang matanya bergantian menatap wajah Sim Lan Ci dan Thian Ki

Ketika ibu kandungnya te was di tangan pasukan yang mengeroyok, ia masih te rlalu kecil untuk mengingatnya

Yang diingatnya adalah bahwa ibunya adalah Sim Lan Ci, ayahnya adalah Cian Bu dan Thian Ki adalah kakaknya

Itu saja

Akan te tapi percakapan tadi membuat ia pusing tujuh keliling! Agaknya ayahnya berte mu dengan ibunya setelah ibunya menjadi janda dan telah mempunyai anak, yaitu Thian Ki

Dan se perti yang didengarnya tadi, ayahnya juga kematian isterinya

Lalu ia sendiri siapa

Anak siapa

Ia anak bawaan ibunya ataukah bawaan ayahnya

Membayangkan bahwa ia hanya anak tiri dari satu di antara kedua orang itu, ingin ia menjerit-jerit dan wajahnya menjadi pucat

Sambaran kebutan ke arah jalan darah di tubuh Cian Bu dapat dielakkan dengan loncatan belakang

Akan te tapi agaknya nenek itu masih belum puas, ia meloncat ke depan, menyerang lagi dan kini le bih hebat serangannya

Suara kebutannya sampai mencicit mengerikan ketika bulu-bulu kebutan itu meluncur dengan cepat sekali

Cian Bu maklum bahwa nenek itu hanya menguji

Akan tetapi ujian yang dilakukan seorang bekas datuk sesat seperti Ban-tok Mo-li ini bukan sembarangan ujian

Kalau dia tidak hati-hati, bisa saja ujian itu berakhir dengan kematiannya

Dia dapat menduga pula bahwa ujung bulu-bulu kebutan itu tentulah mengandung racun

Maka, untuk mengakhiri ujian itu, dia harus memperlihatkan kepandaiannya

Diam diam dia mengerahkan sin-kang dan membuat te lapak tangannya panas seperti api membara dan ketika kebutan menyambar le wat karena dia mengelak, dia cepat menangkap ujung kebutan itu dengan tangan

Plakk!

Ujung kebutan dapat ditangkap

Lo Nikouw menarik kebutannya dan Cian Bu mempertahankan

Sejenak tarik-menarik

Lo Nikouw te rsenyum karena mengira bahwa lawannya te ntu akan keracunan ketika telapak tangannya mencengkeram dan menggenggam bulubulu kebutannya

Akan te tapi ia te rbelalak karena ujung kebutan itu mengeluarkan asap dan iapun hampir te rjengkang karena bulu kebutannya tibatiba putus dan ujungnya hangus seperti terbakar dalam genggaman tangan lawan

Cian bu membersihkan telapak tangannya yang penuh abu hitam, lalu mengangkat kedua tangan di depan dada

Ilmu kepandaian lo-cian-pwe Ban-tok Mo-li memang hebat sekali

Saya mengaku kalah.

Kalau Cian Bu bersikap hormat dan mengalah, hal ini semata-mata karena cintanya kepada Lan Ci, karena dia berhadapan dengan ibu kandung isterinya te rcinta itu

Andaikata tidak demikian, te ntu dia akan bersikap bahkan bertindak lain

Dahulu dia merupakan seorang pangeran yang angkuh dan tinggi hati! Wajah Lo Nikouw berubah kemerahan, akan tapi hatinya mulai suka melihat pria yang lihai itu merendahkan diri dan bersikap hormat kepadanya

Ini merupakan seorang mantu yang hebat, pikirnya, dan sungguh tidak mengecewakan mempunyai seorang mantu yang tingkat kepandaiannya tidak kalah olehnya.! Jauh lebih hebat dari pada Coa Siang Lee yang dipandangnya rendah

Omitohud.......siapakah engkau sebenarnya?

Sim Lan Ci yang merasa girang melihat suaminya mampu membuat ibunya tunduk, mendahului suaminya dengan suara bangga, 

I bu, namanya Cian Bu, dahulu dia bernama Pangeran Cian Bu Ong!

Nenek itu membelalakkan matanya

Omitohud,.........kiranya Pangeran Cian Bu Ong yang te rkenal itu! Ah, pin-ni sudah sejak dahulu mendengar nama besar pangeran!

Cian Bu membungkuk

Harap ibu jangan terlalu memuji

Sekarang saya bukan pangeran lagi, melainkan orang biasa yang bernama Cian Bu.

Mendengar bekas pangeran itu menyebutnya ibu tanpa ragu-ragu lagi, hati nenek ini menjadi semakin senang dan bangga

Seorang pangeran, biarpun hanya bekas, menyebutnya ibu! 

Hemm, kiranya suamimu se orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, Lan Ci,

katanya dan suaranya te rhadap pute rinya kini lembut ramah

Baik sekali kalau Thian Ki menjadi muridnya

Akan tetapi sudah ada dia sebagai gurunya kenapa kalian bawa lagi Thian Ki kepada pin-ni?

I bu, kami amat khawatir terhadap keadaan Thian Ki

Kalau dia mengerahkan sedikit saja te naga, maka tubuhnya mengandung racun yang mematikan

Kalau hal ini dibiarkan, bisa suatu saat tanpa disengaja dia akan membunuh aku, adiknya atau siapa saja,

kata Lan Ci

Kami tidak tahu bagaimana harus mengajarnya agar dia dapat menguasai dan mengendalikan hawa beracun itu, apa lagi melenyapkannya

Saya sendiri tidak berani coba-coba, takut kalau-kalau keliru bahkan membahayakan nyawanya sendiri.! Oleh karena itu, tidak ada lain jalan bagi kami kecuali membawanya ke sini,

kata Cian Bu

Nenek itu tersenyum le bar.

Omitohud, akhirnya cucuku dikembalikan juga kepada pin-ni

Baik, pin-ni akan membimbingnya agar dia dapat menguasai dirinya, dapat mengendalikan hawa beracun itu, dengan syarat bahwa dia harus ditinggalkan sendiri di sini bersama pin-ni untuk waktu satu sampai dua tahun! Tinggalkan dia di sini, setelah selesai pelajarannya, kelak pin-ni akan mengantarkan dia pulang ke rumah kalian.

Suami isteri itu s aling pandang, kemudian Cian Bu bertanya kepada Thian Ki

Thian Ki,  bagaimana pendapatmu

Maukah engkau kami tinggalkan di sini seperti yang dikehendaki nenekmu?

Thian Ki mengangguk

Tentu saja aku mau, ayah

Aku ingin te rbebas dari siksaan ini.

Nenek, akupun ingin dijadikan tok-li (perempuan beracun)! Jadikan aku anak beracun seperti toako!

Tiba-tiba Kui Eng berlari mendekati nenek itu dan memegang tangannya

Lo Nikouw memandang anak perempuan itu

Hemm, inikah anakmu dengan suamimu yang sekarang, Lan Ci?

Lalu ia mengerutkan alisnya

Tapi, kalian baru menikah tujuh tahun dan anak ini sedikitnya berusia sepuluh tahun.

Nek, usiaku sudah sebelas tahun

Aku pasti bukan ana k mereka, entah anak siapa aku ini,

kata Kui Eng dan tiba-tiba saja ia menangis seperti air yang membanjir karena tanggulnya bobol

Kui Eng

jangan bicara tidak karuan.!

bentak Cian Bu

Engkau masih kecil ketika ibu kandungmu te rbunuh, dan sejak itu engkau menjadi anak ibumu yang sekarang

Apakah ibumu ini kurang menyayangmu?

Kui Eng menoleh ke arah ibunya dan melihat betapa Sim Lan Ci memandangnya dengan sinar mata sedih, iapun lari menghampiri dan merangkul ibunya

Ibu dan anak itu saling berangkulan karena terasa benar dalam hati mereka betapa mereka sejak dahulu saling mencinta

Omitohud......, dua orang dengan anak masing masing telah menjadi satu keluarga yang rukun dan saling menyayang

Pin-ni ikut merasa girang

Dan seperti yang pin-ni katakan tadi tinggalkan Thian Ki di sini dan kalau sudah selesai pelajarannya, pin-ni akan antarkan dia pulang.

Aku ikut kakak Thian Ki!

Kui Eng merengek kepada ibunya

Tidak, Kui Eng

Kalau engkau tinggal pula di sini, lalu bagaimana ayah dan ibumu.

Tentu akan   amat kesepian di rumah.

Aku ingin ikut toako!

anak perempuan itu membantah

Kui Eng, engkau bukan anak kecil lagi! Engkau telah menjadi seorang gadis cilik dan pelajaranmu belum selesai

Masih banyak yang harus kaupelajari dariku

Pula, tidak baik seorang gadis hidup menyendiri jauh orang tua,

kata ayahnya

Ayah, aku tidak menyendiri, akan tetapi bersama kakakku! Apa salahnya?

Hemm, engkau sudah hampir dewasa, tentu engkau tahu bahwa biarpun kalian saling menyayang sebagai kakak dan adik, akan tetapi tidak ada hubungan darah di antara kalian

Bagamana akan kata orang kalau tahu akan hal itu

Engkau harus pulang bersama kami

Kakakmu tinggal di sini untuk mempelajari ilmu mengendalikan racun, berarti sama dengan berobat agar dia dapat hidup normal.

Diingatkan demikian, Kui Eng memandang pada Thian Ki dan sekarang pandangannya berubah.! Thian Ki bukan kakaknya! Bahkan kakak tiripun bukan, berlainan ayah berlainan ibu

Orang lain! 

Eng-moi (adik Eng), kau pulanglah bersama ayah dan ibu

Kelak akupun akan pulang setelah latihanku di sini selesai,

kata Thian Ki membantu ayah ibunya membujuk

Kui Eng cemberut dan tidak menangis lagi

Ia membanting kakinya ketika bangkit berdiri

Baiklah, baiklah! Engkau tidak senang kalau aku ikut denganmu, ya

Aku memang bukan adikmu, bukan apa-apa.........

Kui Eng, bagaimanapun ju ga, Thian Ki adalah suhengmu!

ayahnya memperingatkan

Setelah dibujuk-bujuk dan dihibur-hibur barulah Kui Eng mengalah

Keluarga itu tinggal di kuil Thian-hotang selama tiga hari dan kesempatan itu dipergunakan oleh Lan Ci untuk menjual rumah dan tanahnya, mengangkut prabot rumah yang dikehendaki ibunya ke kuil itu

Ketika suami isteri itu dan Kui Eng hendak pergi meninggalkan kuil dan pulang, Lan Ci dan Cian Bu meninggalkan uang yang cukup untuk keperluan Lo Nikouw dan Thian Ki yang akan tinggal di situ selama kurang le bih dua tahun

Kemudian mereka bertiga berangkat pergi, diantar oleh Lo Nikouw dan Thian Ki sampai di kaki bukit

-ooo0dw0ooo- Dari pute rinya, Lo Nikouw sudah mendengar semua tentang pengalaman pute rinya dan cucunya semenjak meninggalkan dusun Mo-kin-cung

Ia juga sudah mendengar betapa cucunya membunuh beberapa orang tanpa disengaja, karena racun di tubuhnya bekerja ketika orang-orang itu menyerangnya

Setelah tiba di rumah, ia memeriksa tubuh cucunya, bukan saja memeriksa jalan darah, menggigit sedikit rambut kepalanya, juga mengeluarkan sedikit darah dengan tusukan jarum

Setelah memeriksa, ia mengangguk-angguk

Bagus, engkau telah benar-benar menjadi seorang tok-tong

Ayah ibumu memberi juluk Tokliong (Naga Beracun), memang tepat sekali

Kalau engkau kelak memiliki kepandaian tinggi, engkau menjadi gagah perkasa seperti seekor naga, dan engkau menjadi semakin hebat karena naga itu beracun.! Akan te rkabul idaman hatiku, terkabul pula cita-cita ayahmu Cian Bu yang gagah perkasa itu, karena engkau akan menjadi seorang gagah yang tidak terkalahkan!

Akan tetapi aku tidak ingin membunuh orang, nek.! Lebih baik bersihkan saja tubuhku dari racun itu

Singkirkan semua hawa beracun karena aku tidak suka menjadi tok-tong, tidak suka jadi naga beracun.

Dia menatap wajah neneknya dan melanjutkan, 

Aku tidak suka menjadi seorang jahat, nek

Apakah nenek yang te lah menjadi pendeta ini menghendaki aku kelak menjadi seorang pembunuh yang jahat?

Omitohud......te ntu s aja tidak, Thian Ki

Dahulu di waktu muda, memang pin-ni seorang pembunuh yang tiada duanya lagi, heh-heh

Pin-ni dijuluki Ban-tok Mo-li dan tidak ada seorangpun tokoh kangouw yang tidak mengenal nama pin-ni! Akan tetapi, pin-ni juga sudah merasakan akibatnya

Perbuatan jahat, lambat atau cepat, pasti akan menghasilkan buahnya yang te ramat pahit

Pin-ni telah menyadari semua itu, pin-ni telah bertobat dan mohon ampun dari Yang Maha Pengampun

Kalau pin-ni sengaja membuat tubuhmu menjadi beracun, hal itu pin-ni lakukan bukan dengan maksud agar engkau menjadi jahat, melainkan agar engkau menjadi seorang pendekar yang tak te rkalahkan

Di dunia ini terdapat banyak sekali orang jahat yang pandai dan amat berbahaya, Thian Ki.

Aih, nenekku yang baik

Hampir aku tidak percaya bahwa engkau dahulu adalah seorang datuk sesat yang berjuluk Ban-tok Mo-li! Jahat sekalikah engkau ketika muda, ne k?

Omitohud, semoga Tuhan mengampuniku

Bukan jahat lagi, cucuku

Lebih daripada yang jahat

Tidak ada kejahatan yang tidak pernah kulakukan! Thian Ki menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya

Tentu saja sukar baginya membayangkan neneknya yang kini demikian penuh kelembutan dan keramahan, pernah menjadi seorang iblis betina yang kejam

Bukankah ayah dan ibunya dahulu juga mendidiknya menjadi orang yang baik dan menjauhi kekerasan

Baru setelah ibunya menikah dengan ayah tirinya yang sekarang ini dia mengenal ilmu silat di bawah gemblengan ayah tirinya

Nek, kalau nenek dahulu menjadi tokoh sesat, kalau begitu.......tentu musuh nenek terdiri dari para pendekar dan tokoh persilatan yang baik

Begitukah?

Omitohud........tentu saja.......

tentu saja begitu

Kalau pin-ni dulu jahat, tentu saja musuh-musuh pin-ni adalah tokoh tokoh yang baik

Itu sudah sewajarnya, bukan

Akan te tapi pin-ni dulu, tidak mengenal apa itu baik atau buruk

Pendeknya siapa saja yang tidak sependapat dengan pin-ni, te ntu menjadi musuh pin-ni tidak perduli dia itu pendekar budiman ataukah perampok jahat! Musuh pin-ni sudah tak te rhitung banyaknya

Terima kasih Tuhan bahwa pin-ni sekarang telah menjadi nikouw, sehingga tidak ada bekas musuh yang masih ingat dan mengenal pin-ni, sudahlah

Thian Ki

Pendeknya, engkau tidak boleh menjadi orang jahat

Engkau harus menjadi seorang pendekar yang tak te rkalahkan, menjadi jagoan nomor satu yang selain menjunjung tinggi nama keluarga, juga dengan perbuatan gagah dan benar akan dapat sedikitnya mengurangi kekotoran yang menempel pada nama nenekmu ini

N ah, sekarang engkau harus bekerja keras, berlatih untuk dapat menguasai hawa beracun yang berada di dalam tubuhmu.

Akan tetapi, nek

Kalau mungkin, aku ingin sekali agar aku tidak lagi menjadi tok-tong, agar darahku tidak beracun, agar hawa beracun yang berada dalam tubuhku le nyap, karena aku tidak ingin orang lain menjadi korban karena racun yang berada dalam tubuhku.

Nenek itu menghela napas panjang dan menggelengkan kepala

Omitohud, dengan susah payah pin-ni membuat engkau menjadi tok-tong dengan maksud agar engkau menjadi jagoan nomor satu di dunia, menjadi seorang pendekar tak te rkalahkan, dan engkau minta agar engkau pulih kembali menjadi anak biasa

Tidak mungkin, Thian Ki, kecuali kalau ada sedikitnya sepuluh orang yang menyedot racun itu dari tubuhmu

Akan tetapi itu berarti bahwa engkau akan mengorbankan nyawa sepuluh orang.

Aku tidak mau kalau begitu, nek! Lebih baik racun itu membunuhku dari pada harus membunuh sepuluh orang!

Akupun tidak menghendaki demikian, cucuku

Oleh karena itu, aku akan mengajarkan cara agar engkau menguasai racun itu di tubuhmu, sehingga engkau dapat membuat racun itu mengendap dan tidak membahayakan orang lain

Setelah engkau dapat menguasainya, racun itu baru bekerja setelah engkau mengerahkan tenagamu

Akan tetapi engkau tidak boleh menikah, Thian Ki, karena setiap kali engkau menikah, isterimu itu akan mati keracunan dan merupakan orang pertama yang akan menyedot racun dari tubuhmu.

Nek, apakah tidak ada jalan lain untuk membebaskan aku dari racun ini?

Hanya dengan bantuan orang yang sakti, cucuku

Yang memiliki sin-kang yang sudah sempurna bahkan yang le bih kuat daripada ayah tirimu yang tangguh itu

Dan di dunia ini, orang seperti yang kumaksudkan itu jarang dapat dijumpai

Seingatku hanya ada dua orang saja yang mungkin sekali dapat membantumu

Mereka adalah Pek I Tojin, tosu pertapa dari Thaisan dan ke dua adalah Hek Bin Hwesio, hwesio perantau di pegunungan Himalaya

Akan te tapi, siapa yang dapat mencari dua orang sakti seperti itu

Mereka seperti dewa dan andaikata dapat jumpa sekalipun, belum te ntu mereka mau mencampuri urusan dunia.

Wah, susah benar kalau begitu mencari mereka, nek

Akan tetapi kelak aku akan mencari mereka

Apakah mereka tidak mempunyai murid-murid   yang sekiranya telah mewarisi ilmu-ilmu mereka, nek?

Setahuku, murid paling baik dan te rkenal dari Pek I Tojin adalah Huangho Sin-liong (Naga Sakti Sungai Kuning) Si Han Beng

sedangkan murid te rbaik dari He k Bin Hwesio adalah isteri pendekar itu, yang bernama Bu Giok Cu

Nama suami isteri ini terkenal sekali, terutama di sepanjang le mbah sungai Huang-ho

Dan mereka tinggal pula di te pi sungai Huang-ho, di sebuah dusun yang disebut Hong-cun

Akan tetapi, pin-ni tidak yakin apakah mereka berdua itu akan dapat menolongmu, atau akan mau melakukannya

Pin-ni kira hanya Pek I Tojin atau Hek Bin Hwesio saja yang akan mampu melakukannya.

Diam-diam Thian Ki mencatat nama orang-orang yang disebut oleh neneknya

Mulai hari itu diapun berlatih dengan te kun di bawah bimbingan neneknya, berlatih untuk menguasai hawa beracun yang menguasai tubuhnya

Setelah berlatih yang sebagian besar adalah latihan samadhi dan pernapasan, barulah Thian Ki mengerti mengapa neneknya minta dia tinggal satu dua tahun di situ

Ternyata latihan menguasai hawa beracun itu tidaklah mudah.! Dan salah sedikit saja akan membahayakan dirinya sendiri

Racun di tubuhnya itu akan dapat mendatangkan akibat sampingan yang hebat, seperti rusaknya jantungnya atau bahkan rusaknya is i kepalanya

Dia dapat menjadi gila, lemah atau bahkan tewas

Hawa beracun yang berada di tubuhnya, bahkan yang sudah mengalir di darahnya, yang membuat rambut dan kukunya, bahkan ludahnya, mengandung racun yang dapat mematikan orang lain, bagaikan ular berbisa yang liar dan yang tidak dapat keluar dari tubuhnya

Karena neneknya tidak mampu mengeluarkan racun itu, maka ular liar itu harus dapat ditundukkan dan dijinakkan, sehingga biarpun berada di dalam tubuhnya, namun dia dapat mengatur agar kalau tidak diperlukan, ular liar berupa racun itu dapat 

tidur

di dalam pusarnya

Thian Ki yang ingin membuat dirinya tidak 

berbahaya

seperti yang sudah, berlatih dengan te kun sekali, sehingga le wat satu setengah tahun dia sudah berhasil dan mampu menguasai hawa beracun di dalam tubuhnya

Hawa beracun itu sudah jinak dan berdiam di pusarnya

Dalam keadaan hawa itu tertidur, dia dapat melakukan apa saja tanpa mengusik hawa beracun itu, kecuali te ntu saja menggunakan sin-kang

Kalau dia mengerahkan te naga dalam, maka otomatis hawa beracun tidur itu akan bangkit dan menerobos keluar melalui gerakannya yang mengandung te naga dalam, te ntu saja akibatnya akan  membahayakan nyawa lawan

Kalau dia mengerahkan tenaga sin-kang untuk menggugah hawa beracun itu, maka hawa beracun itu akan menyebar di seluruh tubuhnya dan jangankan pukulannya, baru rambut, kuku, dan ludahnya saja mengandung racun yang cukup untuk membunuh orang

Sekali gores dengan kukunya saja, kalau kulit orang terluka dan berdarah, maka racun dari kukunya akan membunuh orang itu

Sudah cukup, cucuku,

nenek itu terkekeh gembira

Omitohud......betapa senangnya hatiku

Engkau memang berbakat sekali, Thian Ki

Belum dua tahun engkau telah mampu menguasai hawa beracun di tubuhmu

Engkau sekarang baru te pat berjuluk Tok-liong (Naga Beracun)

Besok kuantar engkau pulang, aku ingin mengunjungi ibumu dan mantuku yang gagah perkasa.

Tentu saja Thian Ki juga girang mendengar ini

Dia sudah merasa rindu kepada ibunya, kepada ayah tirinya dan terutama kepada Cian Kui Eng

Aku juga senang sekali, nek dan te rima kasih atas bimbinganmu

Aku senang sekali bahwa kini aku tidak takut lagi bergaul dengan sumoi, dan tidak takut pula untuk melayaninya berlatih silat.

Nikouw tua itu mengangguk-angguk dan merangkap kedua tangan di depan dada, menarik napas panjang dan matanya dipejamkan, mukanya dite ngeadahkan

Omitohud, semoga Sang Buddha akan memberi bimbingan kepada cucuku sehingga kelak dia akan dapat mencuci bersih nama neneknya.Thian Ki, ingat! Jangan sekali-kali engkau mempergunakan hawa beracun di  tubuhmu untuk perbuatan jahat! Biarpun tubuhmu beracun, namun hatimu haruslah bersih dari pada segala kejahatan.

Aku mengerti, nek.

Nenek dan cucunya ini berkemas, siap untuk berangkat besok pagi-pagi meninggalkan Mo-kincung menuju ke te mpat tinggal Cian Bu Ong atau sekarang sekarang kita kenal dengan nama baru, yaitu Cian Bu yang tinggal sebagai hartawan, dermawan dan kepala dusun Ke -cung di kaki Bukit Emas

Sore hari itu Thian Ki membantu neneknya membersihkan kuil

Nenek itu ingin agar kuil itu bersih sebelum ditinggalkan, karena selama beberapa hari kuil itu akan ditinggalkan dan tidak ada yang akan membersihkannya

Selagi mereka asyik membersihkan kuil, tiba-tiba mereka mendengar suara banyak orang di luar kuil

Omitohud, siapa yang berkunjung ke kuil soresore begini?

kata Lo Nikouw lirih

Ia hampir tidak pernah kedatangan tamu kecuali orang-orang dusun yang datang untuk minta obat atau minta berkah atau mau sembahyang

Akan tetapi, pada saat itu, terdengar teriakan dari luar yang amat mengejutkan hati Thian Ki

I blis betina, keluarlah untuk menerima hukuman.!

De ngan mata terbelalak Thian Ki memandang kepada neneknya

Nikouw tua itupun terkejut, namun sikapnya te nang saja, bahkan bibirnya te rsenyum

Omitohud, agaknya serapat-rapatnya bungkusan barang busuk, akhirnya akan te rcium juga baunya

Thian Ki, engkau tinggallah saja di sini dan jangan keluar, biar pin-ni yang menghadapi mereka

Ingat, apapun yang te rjadi, engkau harus pulang ke rumah orang tuamu

Mengerti?

De ngan jantung masih berdebar te gang Thian Ki mengangguk

Nenek itupun melangkah keluar dan sikapnya sungguh te nang, senyumnya tak pernah meninggalkan wajahnya yang nampak jauh le bih muda daripada usia sebenarnya

Nenek berusia enampuluh enam tahun itu nampak seperti berusia empat puluh tahun saja,dan kepalanya yang gundul itu nampak kulitnya putih bersih dan mengkilap

Dahulu, ketika ia masih muda dan bernama Phang Bi Cu berjuluk Ban-tok Mo-li (Iblis Betina Selaksa Racun), selain tubuhnya beracun dan ia memiliki banyak macam pukulan beracun, juga ia selalu membawa kipas dan kebutan yang menyembunyikan pedang

Akan te tapi sekarang, semenjak menjadi nikouw, ia tidak pernah lagi membawa senjata apapun

De ngan jantung berdebar tegang, Thian Ki cepat menyelinap ke depan dan dia mengintai dari balik je ndela depan

Dia melihat neneknya keluar dengan langkah tenang dan wajah berseri, dan dengan hati khawatir dia melihat bahwa di luar telah berdiri sepuluh orang laki-laki yang rata-rata nampak gagah dan marah

Mereka te rdiri dari orang-orang yang usianya empatpuluh tahun ke atas, ada yang berpakaian seperti seorang tosu ada pula hwes io dan ada yang berpakaian seperti orang dari dunia persilatan

Rata-rata mereka membawa senjata

Ketika Lo Nikouw keluar dan berte mu dengan sepuluh orang itu, mereka nampak terkejut dan juga meragu

Akan te tapi hwesio yang bermuka merah dan usianya kurang le bih limapuluh tahun, sudah melintangkan sebatang toya hitam di depan dada lalu memutar toya dan menancapkan toya di depan kakinya

Omitohud, biar engkau sudah menyamar sebagai nikouw sekalipun tidak ada gunanya

Bantok Mo-li

Kami akhirnya dapat menemukan te mpat persembunyianmu dan dapat menuntut balas atas kejahatanmu.!

Siancai.....! Ban-tok Mo-li sudah menumpuk dosa terlampau banyak

Biar menjadi nikouw sampai seribu kali, bagaimana mungkin dapat mencuci bersih dosa-dosanya?

kata tosu yang usianya juga sekitar limapuluh tahun

Ada dua orang hwes io dan dua orang tosu di situ, mereka ini sudah siap menyerang dan sinar mata mereka memandang penuh kebencian kepada Lo Nikouw

Adapun enam orang yang lain, yang berpakaian sebagai orang-orang kang-ouw, juga tidak kalah galaknya

Mereka te rbagi menjadi dua golongan, masing-masing tiga orang

Yang tiga orang berpakaian serba hijau, sedangkan tiga orang yang lain, yang mengenakan baju putih dengan celana bermacam warna, mempunyai gambar seekor naga melingkar di dada mereka

Ban-tok Mo-li, kami dari Pulau Hiu datang untuk mencabut nyawamu!

kata seorang dari mereka yang berpakaian hijau

Ban-tok Mo-li, le bih baik engkau menyerah kepada kami untuk kami seret ke hadapan majikan kami di Bukit Naga!

kata seorang di antara mereka yang memakai tanda gambar naga di dada

Menghadapi sepuluh orang yang kelihatan marah dan penuh kebencian itu, Lo Nikouw te rsenyum ramah dan sikapnya masih tetap te nang

Hal ini membuat Thian Ki yang mengintai dari dalam merasa heran

Kalau neneknya bekas seorang datuk yang amat jahat, bagaimana mungkin dapat bersikap se sabar dan setenang itu

Dia sendiri yang sejak kecil digembleng orang tuanya agar tidak suka akan kekerasan, kini hampir tidak dapat menahan kemarahannya melihat dan mendengar sikap sepuluh orang itu yang memaki-maki neneknya dan mengancam hendak membunuhnya

Omitohud, kalau kalian berenam haus darah, pin-ni masih dapat mengerti

Akan tetapi mengapa dua orang hwes io dan dua orang tosu juga dapat haus darah seperti kalian berempat?

tanyanya sambil memandang kepada empat orang pendeta itu

Ban-tok Mo-li, ketahuilah bahwa pin-to berdua adalah tokoh-tokoh dari Kun-lun-pai yang datang untuk membasmimu,

kata seorang tosu

Omitohud, biarpun kepalamu gundul dan engkau mengenakan jubah nikouw, tidak akan dapat mengelabui pin-ceng berdua

Pinceng adalah murid Siauw-lim-pai dari daerah selatan

Mendengar akan kejahatanmu, pin-ceng merasa berkewajiban untuk ikut membasmi.

Lo Nikouw tersenyum

Hemm, kalian berempat bukanlah pendeta-pendeta yang baik.! Kalian hanya budak-budak nafsu amarah dan dendam kebencian seperti yang lain, sehingga percuma saja kalian mengenakan jubah pendeta

Ketahuilah oleh kalian bersama bahwa Ban-tok Mo-li sudah tidak ada lagi, s udah mati

Pin-ni adalah Lo Nikouw.

Ha-ha-ha

Ban-tok Mo-li, engkau seperti seekor harimau yang mengenakan bulu domba.! Kami sudah menyelidiki dan yakin bahwa engkau adalah Ban-tok Mo-li

Apakah engkau yang dahulu te rkenal jahat dan keji, sekarang te lah berubah menjadi seorang pengecut yang tidak berani mempertanggung-jawabkan semua perbuatannya?

Omitohud....

Lo Nikouw merangkap kedua le ngan di depan dada, memejamkan kedua matanya

Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu sudah lama mati

Pin-ni adalah Lo Nikouw dan kalau kematian pin-ni dapat meringankan dosa Ban tok Mo-li, pinni siap untuk berkorban,

setelah berkata demikian, Nikouw tua itu lalu duduk bersila di atas tanah pekarangan kuil itu dengan kedua tangan masih dirangkap di depan dada, tubuh te gak dan mata terpejam seperti sebuah arca

Sepuluh orang itu kini mengepung dan mereka sudah mencabut senjata masing-masing

Thian Ki yang mengintai di dalam, te rbelalak dan mukanya berubah pucat

Apa yang harus dia lakukan

Membela neneknya

Bukankah neneknya te lah menceritakan bahwa neneknya dahulu seorang yang te ramat jahat, yang te lah membunuh banyak orang tak berdosa, yang te lah melakukan kejahatan apapun saja

Dan kalau sepuluh orang itu datang membalas dendam atau menghukum   kejahatannya, perlukah neneknya dibela

Ibunya berulang kali mengatakan bahwa membela orang jahat sama saja dengan membela kejahatannya dan menjadi penjahat pula! Dan tanpa menggunakan hawa beracun di tubuhnya, diapun belum tentu akan mampu melawan dan menandingi orang itu

Menggunakan hawa beracun berarti membunuh mereka! Tidak, dia tidak mau menjadi pembunuh, apalagi sepuluh orang yang memusuhi neneknya itu tentu saja orang-orang dari golongan bersih yang menentang neneknya sebagai sumber kejahatan

Tidak, dia tidak boleh membela

Akan tetapi, neneknya seorang sakti, tidak mungkin dapat dibunuh begitu saja! Biarpun kelihatan duduk bersila dan memejamkan mata, dia tahu benar bahwa sekali neneknya bergerak, te ntu akan ada lawan yang roboh dan te was keracunan! De mikianlah pula pendapat sepuluh orang itu

Mereka adalah orang-orang kang-ouw yang sudah berpengalaman dan rata-rata memiliki ilmu kepandaian tinggi

Di antara mereka ada yang pernah mengenal Ban-tok Mo-li dan tahu benar akan kelihaian iblis betina itu, dan yang belum pernah bertemu juga sudah banyak mendengar akan kelihaian Iblis Betina Selaksa Racun ini

Maka, mereka tidak berani turun tangan dengan lancang

Hati-hati, kalau ia menyebar racun, kita dapat celaka semua.

kata seorang di antara mereka

Sampai lama, sepuluh orang itu hanya melangkah dengan hati-hati, mengelilingi Lo Nikouw yang masih duduk bersila tak bergerak sedikitpun

Wajahnya masih cerah dihias senyum dan ia nampak sabar dan te nang, sedikitpun tidak nampak bayangan rasa takut di wajahnya

Setelah belasan kali mengelilingi nikouw itu dan tidak ada reaksi apapun, timbul keberanian di hati seorang di antara anak buah Pulau Hiu

Dia seorang laki-laki berusia empatpuluh tahun yang bertubuh tinggi besar dan nampak kokoh kuat, di tangannya nampak sebatang tombak pengait yang biasa dipergunakan nelayan untuk menangkap ikan besar

Biar kucoba dulu dengan ini, baru kita semua turun tangan,

katanya sambil mengangkat tombaknya ke atas kepala

Semua orang memandang dan mengangguk, yang berada di bagian belakang Lo Nikouw segera lari ke samping agar tidak menjadi sasaran tombak berkait

Anak buah Pulau Hiu itu lalu mengerahkan tenaganya dan dari jarak tidak le bih dari enam meter dia melontarkan tombaknya ke arah dada Lo N ikouw.! Bias anya, kalau dia menombak ikan besar, jarak antara dia dan sasarannya sampai belasan meter, dan tombak itu gagangnya diikat dengan tali pula

Sekarang, jaraknya hanya enam meter dan tidak ada tali, maka dapat dibayangkan betapa hebatnya luncuran tombak yang dilontarkannya

Singgg........cappppp......!

Tombak itu menancap dan mene mbus dada Lo Nikouw.! 

Omitohud........!

Dari mulut Lo Nikouw keluar seruan le mah dan tubuhnya yang bersila te rjengkang, akan te tapi tidak te rus telentang karena tubuh itu te rtahan ujung tombak yang sompai menembus punggungnya! Melihat ini, sembilan orang yang lain tercengang, akan te tapi juga timbul keberanian di hati mereka dan sembilan macam senjata turun bagaikan hujan menimpa tubuh yang sudah sekarat itu

Dalam sekejap mata, tubuh Lo Nikouw yang sama sekali tidak melawan itu telah menjadi onggokan daging dan tulang yang berle potan darah.! Lehernya putus dan kepalanya menggelinding tak jauh dari onggokan daging itu

Lo Nikouw te was te rcincang tanpa melakukan perlawanan sedikitpun juga

Thian Ki terbelalak dan tak dapat bertahan lagi

Dia mengeluh dan te rkulai pingsan di belakang je ndela

Dia tidak tahu betapa sepuluh orang kangouw itu memasuki kuil, mencari-cari dan melihat dia te rkulai pingsan, mereka tidak mengganggunya

Juga kuil itu tidak dirusak

Agaknya mereka mencari kalau-kalau te rdapat te man atau anak buah Ban-tok Mo-li yang kini menjadi Lo Nikouw itu

Akan tetapi mereka tidak menemukan siapapun kecuali seorang anak lakilaki yang pingsan

Mereka lalu pergi dengan hati bertanya-tanya dan mulai merasa ragu dan menyesal

Benarkah yang mereka bunuh tadi Bantok Mo-li

Bagaimana kalau nikouw itu bukan Ban-tok Mo-li melainkan seorang pendeta wanita yang le mah dan suci

Meremang bulu tengkuk mereka kalau mereka membayangkan kemungkinan ini.! Senja telah lewat dan malam mulai tiba ketika Thian Ki siuman dari pingsannya

Begitu siuman, dia te ringat akan peristiwa tadi

Bukan mimpi, pikirnya dan dia tidak sedang tidur

Dia menggeletak di atas lantai di balik jendela.! Dia cepat melompat berdiri dan melihat keluar remangremang di luar, hampir gelap, akan tetapi ia masih dapat melihat onggokan daging dan kepala neneknya tak jauh dari situ! 

Nenek.......!

Dia berteriak dan melompat keluar dari je ndela, lari ke pekarangan

Nenek.......!

Dia berteriak lagi dan menubruk kepala itu, kepala neneknya yang matanya masih te rpejam dan mulutnya masih tersenyum! Dia mengambll kepala itu memegang dengan kedua tangan, dilihatnya baik-baik

Kepala neneknya! De ngan leher putus dan berlepotan darah

Neneknya.! 

Nenek.........!

Dia mendekap kepala itu dan menangis, membawa kepala itu ke depan onggokan daging bekas tubuh neneknya, mendekap kepala sambil berlutut dan menangis terisak-isak

Terbayang semua peristiwa tadi, betapa neneknya dihujani senjata, dicincang tanpa melawan sedikitpun

Dia tidak perduli akan dinginnya hawa malam yang mulai tiba bersama semilirnya angin dan munculnya bintang-bintang di langit

Dia berlutut sambil menangis dan setelah lebih dari sejam menangis sehingga air matanya kering, dia masih berlutut mendekap kepala neneknya dan te rmenung teringat akan kehidupan bersama neneknya selama satu setengah tahun ini

Dan te ringatlah dia akan pesan neneknya beberapa bulan yang lalu, seolah-olah neneknya sudah mendapat firasat ia akan meninggal dunia tak lama lagi

Cucuku yang pin-ni sayang, engkaulah satusatunya orang yang kucinta, Thian Ki

Dan kepadamulah pin-ni meninggalkan pesan ini

Kalau kelak pin-ni meninggal dunia, bakarlah jasma pinni menjadi abu, kemudian bagi menjadi empat abuku

Seperempat bagian kuburlah di dalam tanah, seperempat lagi hanyutkan ke lautan, seperempat lagi taburkan dari puncak bukit biar te rbawa angin, dan yang seperempat lagi le mparkan ke unggun besar biar ditelan api lagi sampai habis

Ketika itu, dia merasa heran dan bertanya mengapa neneknya meninggalkan pesan seperti itu dan apa maksudnya

Neneknya lalu menjelaskan maksud dan pesannya itu

Ia mengatakan bahwa tubuh manusia te rdiri dari empat unsur dan ia ingin tubuhnya dikembalikan ke asalnya, yaitu kepada api, air, angin dan tanah

Dan agar pelaksanaannya mudah, maka ia minta jenazahnya agar dibakar menjadi abu sehingga akan mudah bagi Thian Ki mengembalikan abu itu kepada api, air, angin dan tanah

Teringat akan pesan neneknya itu, Thian Ki menghentikan renungannya dan diapun dengan penuh hormat dan hati-hati meletakkan kepala neneknya di atas onggokan daging

Dia masuk ke kuil, mengambil sehelai selimut neneknya, dan kembali ke pekarangan sambil membawa obor

Setelah menancapkan gagang obor di tanah sehingga pekarangan itu cukup te rang, dia lalu mengumpulkan onggo kan dating dan tulang bersama kepala itu ke atas selimut dan dibungkusnya baik-baik

Kemudian dia mengumpulkan kayu kering, ditumpuknya kayukayu kering itu menjadi tumpukan setinggi hampir   sama dengan tinggi tubuhnya, menyiramnya dengan minyak, kemudian mengambil sebuah kotak dari kuil, memasukkan buntalan daging dan kepala ke dalam kotak dan dibakarnyalah tumpukan kayu itu

Thian Ki berlutut menghadap api unggun membakar sis a jenazah neneknya

Kemudian dia duduk bersila, menanti sampai tumpukan kayu, peti dan isinya te rbakar habis

Pembakaran je nazah itu memakan waktu sampai setengah malam

Lewat tengah malam barulah api padam

Thian Ki tetap duk bersila di pekarangan itu, di dekat tumpukan abu, sampai pagi

Dia ingin mengumpulkan abu neneknya setelah malam le wat, karena pekerjaan itu harus dilakukan di waktu terang cuaca

Setelah matahari pagi muncul, barulah Thian Ki mengambil sehelai selimut lain, dan mulailah dia membongkar tumpukan abu

Mudah saja membedakan abu je nazah neneknya dengan abu kayu dan petinya, karena abu je nazah itu lembut, putih dan berat

Dikumpulkannya abu itu dan dibuntalnya dalam selimut dengan mata merah karena dia tidak dapat menahan keharuan hatinya

Nek, orang sedunia boleh menganggap nenek jahat, akan tetapi aku yakin bahwa nenek tidak jahat atau setidaknya nenek sudah menebus semua kesesatan nenek

Mereka itulah yang jahat, mereka yang menganggap diri mereka bersih dan baik, yang menjatuhkan hukuman kepada mereka yang dianggap jahat, tidak memperdulikan niat baik mereka yang ingin kembali ke jalan benar

Nek, engkau akan selalu kukenang sebagai seorang manusia baik, gagah perkasa dan menghadapi kematian dengan senyum pasrah kepada Tuhan.

Thian Ki tidak pernah dapat melupakan senyum di wajah kepala neneknya yang te rpis ah dari badannya itu

Senyum pasrah! Setelah semua abu je nazah terkumpul di selimut, diapun pergi meninggalkan kuil, membawa buntalan pakaian dan untaian terisi abu jenazah

Dia harus memenuhi pesan neneknya

Akan te tapi dia te ringat kepada ibunya

Bagaimanapun juga dia harus membawa abu je nazah itu kepada ibunya le bih dahulu

Kasihan ibunya yang tidak tahu akan nasib neneknya

Setelah mendapat perkenan ibunya, baru dia akan memenuhi pesan neneknya

De ngan hati penuh duka dia lalu berangkat meninggalkan tempat itu, menuju ke dusun Kecung

Tentu saja kedatangan Thian Ki yang membawa cerita menyedihkan te ntang kematian Lo Nikouw disambut tangis ole h Sim Lan Ci

Wanita ini mendekap buntalan abu je nazah dan menangis te rsedu-sedu

Bagaimanapun juga, Lo Nikouw adalah ibu kandungnya

Cian Bu yang amat mencinta isterinya

menepuk-nepuk pundak is terinya dan berkata dengan suaranya yang tenang dan dalam

Sudahlah, isteriku

Ibumu sudah meninggal dunia sebagai seorang pendeta tulen, penuh kesabaran, penuh kepasrahan

Engkau sepatutnya bangga karena ibumu, walaupun dahulu pernah menjadi datuk sesat, kini telah meninggal sebagai seorang yang tidak lagi diperhamba nafsunya

Kita sembahyangi saja dengan khidmat, mendoakan agar arwahnya dite rima dan ampuni Tuhan, sebelum abu itu dikembalikan ke asalnya seperti yang dipes annya kepada Thian Ki.

Mereka mengatur meja sembahyang, menaruh abu di atas meja, lalu mengadakan upacara sembahyang

Sementara itu Kui Eng mendekati Thian Ki dan minta kepada suhengnya ini untuk menceritakan kembali sejelasnya tentang kematian Lo N ikouw

Kini gadis cilik itu telah berusia hampir sebelas tahun, dan sikapnya te rhadap Thian Ki masih manis dan ramah seperti dahulu, hanya bedanya, ada sikap malu-malu bahkan kadang canggung kalau Thian Ki kebetulan menatap agak te rlalu lama

Thian Ki sendiri sudah berusia empatbelas tahun dan dia memang amat menyayang adiknya ini, yang sejak kecil dia tahu bukan adiknya sendiri, bukan pula adik tiri, melainkan orang lain atau kalau adikpun, adik seperguruan

Suheng, apakah engkau sudah berhasil melenyapkan racun dari tubuhmu

Apakah sekarang kukumu masih mengandung racun?

setelah mendengar cerita ulang tentang Lo N ikouw, Kui Eng bertanya mememandang ke arah tangan Thian Ki

Thian Ki te rsenyum dan tahu bahwa ibunya, juga ayah tirinya juga memperhatikan, agaknya menanti jawaban darinya

Tadi dia belum sempat bercerita tentang dirinya sendiri karena sibuk menceritakan peristiwa yang menimpa neneknya

Dia memandang kepada ibunya, ayah tirinya kemudian kepada sumoinya dan berkata sambil te rsenyum

Nenek telah menggemblengku setiap hari dan akhirnya aku dapat menguasai hawa beracun di tubuhku, sumoi

Akan te tapi, nenek tidak dapat mengusahakan le nyapnya hawa beracun dari tubuhku, apa lagi ia memang tidak menghendaki hal itu te rjadi.

Sepasang mata yang tajam dan je li itu te rbuka le bar, bibir yang merah dan berbentuk indah itu merekah dalam senyum setelah sejak tadi tak pernah senyum untuk ikut berkabung atas kematian Lo Nikouw

Aihh, kalau begitu, mulai sekarang kita dapat berlatih silat tanpa khawatir aku akan menjadi korban keracunan tubuhmu?

Thian Ki mengangguk sambil tersenyum

Kalau sekedar berlatih saja tidak mengapa, sumoi

Akan tetapi tidak boleh mempergunakan sin-kang karena kalau aku mengerahkan te naga dalam, hawa beracun itu dapat bekerja dan te ntu akan membahayakan dirimu.

Bagus, ha ha ha, bagus sekali!

Kata Cian Bu sambil tertawa gembira

Kalau mulai sekarang engkau memperdalam latihanmu sehingga engkau dapat menguasai semua ilmu simpananku, maka beberapa tahun lagi saja, tidak akan mudah mencari orang di dunia ini yang akan mampu mengalahkanmu, Thian Ki! Ha-ha, aku akan merasa bangga sekali.!

Akan te tapi Sim Lan Ci tidak kelihatan segembira suaminya

Alisnya berkerut dan ia berkata dengan suara yang terdengar menegur suaminya

Apakah dalam hidup ini, hanya nama besar saja yang terutama

Apakah Thian Ki selama hidupnya harus menjadi seorang manusia beracun, hanya mencari nama besar di dunia persilatan dan dia tidak berhak untuk membentuk rumah tangga, tidak berhak untuk menikah dan mendapat keturunan?

Suaminya tidak mampu menjawab, akan te tapi Kui Eng yang lincah itu cepat berseru 

Aihhh, kenapa tidak boleh, ibu

Apa salahnya kalau suheng menikah

Bukankah dia kini sudah mampu menguasai hawa beracun di tubuhnya?

Lan Ci menghela napas panjang

Ia tadi lupa bahwa di situ te rdapat pute ri tirinya

Akan tetapi mengingat bahwa Kui Eng sudah menje lang dewasa, iapun berkata dengan hati-hati

Kui Eng, kakakmu ini hanya mampu menguasai hawa beracun sehingga kalau dia tidak mempergunakan sin-kang, racun itu dapat mengendap dan tidak bekerja

Akan tetapi, dia sama sekali tidak boleh menikah sebelum hawa beracun itu bersih dari tubuhnya, karena kalau dia melakukan hal itu isterinya akan keracunan dan lambat laun akan mati keracunan.

-ooo0dw0ooo-