--> -->

Naga Beracun Jilid 14

Jilid 14 

Pangeran...........aihhh, pangeran..., kenapa paduka berkata demikian

Hamba diharuskan membunuh paduka dengan racun

Lebih baik hamba yang mati!

 Pangeran Li Si Bin memandang dengan mulut te rsenyum dan wajah berseri, pandang matanya le mbut dan mes ra

Bi Lan, engkau mempertaruhkan nyawamu untuk keselamatan Lan Lan karena engkau mencintanya, lalu engkau le bih baik mati daripada membunuhku untuk menyelamatkan Lan Lan

Apakah ini berarti bahwa engkaupun cinta padaku?

Dalam kebingungan dan kegelisahannya, Bi Lan te rsipu

Pangeran, mana hamba...berani...?

Ia te rgagap dan pada saat itu Pangeran Li Si Bin sudah membungkuk, merangkul pundaknya dan menariknya bangkit berdiri, lalu pangeran itu mendekap wajahnya dalam rangkulan

Bi Lan menyerah saja dan sejenak ia menangis di dada pangeran itu

Pangeran Li Si Bin membiarkannya sejenak, lalu dituntunnya Bi Lan dan disuruhnya duduk di kursi berhadapan dengan dia

Duduklah, dan te nangkan hatimu

Sejak berte mu, akupun sudah amat kagum kepadamu, dan sejak engkau menyelamatkan aku dari racun yang disuguhkan bekas thai-kam itu, aku sudah jatuh cinta padamu, Bi Lan

Nah, setelah kita mengetahui perasaan hati masing-masing, mari kita bicara te ntang Lan Lan dan ancaman si penculik

Jangan khawatir, aku mempunyai akal untuk menyelamatkan puterimu itu.

Pangeran Li Si Bin mengajak Bi Lan memasuki kamar yang aman, tidak akan te rdengar orang lain percakapan mereka dan di te mpat ini mereka berbicara dengan serius

Bi Lan mendengarkan siasat yang diatur oleh pangeran itu

Pangeran Li Si Bin adalah seorang panglima, seorang ahli siasat yang pandai, maka menghadapi ancaman surat itupun dia bersikap tenang dan dingin, dan menemukan cara untuk menanggulangi dan mengatasinya

Hati Bi Lan le ga bukan main setelah ia keluar dari istana pada sore hari itu

Bukan saja ia telah mendapatkan ketenangan karena siasat yang diatur oleh pute ra mahkota, akan tetapi juga ada sinar kebahagiaan di pancaran matanya, karena pengakuan pute ra mahkota yang juga mencintanya! Suasana di istana tercekam kegelisahan

Betapa tidak

Putra mahkota, juga panglima besar, Pangeran Li Si Bin, jatuh sakit parah.! Sambil berbisik-bisik semua penghuni istana membicarakannya

Terpetik berita dari tabib yang menangani perawatan putera mahkota bahwa pangeran itu telah keracunan hebat dan sukar disembuhkan

Bahkan Kaisar dan permais uri, juga para selir menjadi gelisah

Hanya tiga orang saja yang tahu bahwa putera mahkota hanya pura-pura sakit! Memang, dia pucat sekali dan nampak sakit berat, akan tetapi semua itu akibat obat yang diberikan tabib kepadanya

Hanya Pangeran Li Si Bin, Bi Lan, dan sang tabib kepercayaan sajalah, yang tahu bahwa putera mahkota sebenarnya tidak menderita penyakit apapun juga

Dia sehat-sehat saja

Akan tetapi selain mereka bertiga, semua orang percaya bahwa pute ra mahkota sakit berat, keracunan dan bahkan agaknya tidak dapat disembuhkan lagi! Pada malam hari ke tiga, ketika Pangeran Li Si Bin rebah seperti orang pingsan, dengan muka pucat sekali, ditunggui tabib yang tidak memperkenankan orang lain mendekat, masuklah seorang thai-kam yang berlutut di ambang pintu itu

Tabib Song yang tua dan te rkenal pandai itu mengerutkan alisnya dan memandang thai-kam itu

Hemm, mau apa engkau masuk ke sini

Jangan mengganggu sang pangeran!

Maafkan hamba, Tabib Mulia,

kata thai-kam (orang kebiri) itu dengan suara gemetar, 

Hamba diutus oleh Permaisuri untuk menengok keadaan Putera Mahkota.

Keadaannya gawat dan jangan diganggu!

kata pula tabib itu dan di ambang pintu, para pengawal sudah siap dengan tombak dan pedang mereka untuk mengusir thai-kam itu kalau menerima perintah dari tabib

Dalam keadaan seperti itu, kaisar sendiri yang memberi kekuasaan sepenuhnya kepada tabib untuk menjaga dan merawat pute ra mahkota, dan siapapun harus tunduk kepada sang tabib

Maafkan hamba........akan tetapi Sang Permaisuri mengutus hamba untuk melihat keadaan Pangeran dan menanyakan bagaimana keadaannya, apakah masih ada harapan........ampun, hamba hanya utusan........

Dan thai-kam itu merangkak mendekat

Tabib yang sudah menjalankan siasat seperti yang diatur oleh pute ra mahkota sendiri membiarkan thai-kam itu mendekat dan membiarkan thai-kam itu mengangkat muka memandang kepada sang pangeran yang rebah te rlentang seperti mayat

Hemm, kalau begitu laporkan kepada Hong houw (Permais uri) bahwa keadaan Pute ra Mahkota amat gawat

Lihat saja, wajahnya semakin pucat dan kebiruan, itu tanda bahwa racunnya masih bekerja dan biarpun aku sudah berusaha memberi obat penawar, tetap saja hawa beracun itu tidak dapat diusir semua

Ludahnya berwarna hitam dan matanya merah, napasnya te rengah

Laporkan kepada Sang Permaisuri bahwa agaknya pute ra mahkota tidak dapat te rtolong lagi, mungkin tinggal satu dua hari lagi........

Thai kam itu menahan tangisnya, lalu mengundurkan diri dari kamar itu

Dia te risak ketika keluar dan mele wati penjaga yang mengawal di luar pintu kamar, sehingga semua orang menganggap dia seorang thai-kam yang setia dan mencitai pute ra mahkota sehingga tidak dapat menahan kesedihannya ketika menjenguk dan melihat keadaan sang pangeran yang sedang sakit payah itu

Mulai malam itu, tiada seorangpun diperbolehkan memasuki kamar itu yang selalu ditutup, dengan alasan bahwa keadaan penyakit sang pangeran s udah terlalu gawat, sehingga sama sekali tidak boleh diganggu

Hanya tabib itu saja yang diperbolehkan menjaga di dalam kamar, sedangkan di luar kamar, penjagaan pengawal diperketat

Sementara itu, Bi Lan setiap hari menangis di istana Pangeran Li Siu Ti

Pangeran Tua inipun hanya pada hari pertama pute ra mahkota jatuh sakit saja diperbolehkan menengok

Siauw Can beberapa kali datang untuk menghibur Bi Lan dan bertanya mengapa wanita itu demikian berduka

De ngan singkat Bi Lan berkata, 

Bagaimana aku tidak akan berduka

Lan Lan diculik penjahat, dan kini Putera Mahkota yang kuharapkan dapat membantuku mencari Lan Lan, jatuh sakit.........

Bi Lan menangis sambil menundukkan mukanya dan ia tidak melihat betapa Siauw Can te rsenyum puas

Masih ada aku di sini, Lan-moi

Akulah yang akan membantumu mencari Lan Lan sampai dapat.

Kalau benar begitu, pergilah dan cari Lan Lan, bukan bicara saja di sini

Pergi dan jangan ganggu aku.

Siauw Can meninggalkannya dan Bi Lan cepat menghentikan tangisnya

Ia hanya menangis kalau ada orang lain melihatnya, karena tangisnya ini hanya merupakan pelaksanaan siasat yang diatur oleh pute ra mahkota

Sekarang sudah hari ke tiga dan ia harus siap-siaga karena orang yang menculik Lan Lan te ntu akan mengembalikan Lan Lan setelah mendengar bahwa sang pangeran menderita sakit keracunan hebat

Tidak sukar baginya untuk menangis, karena bagaimanapun juga ia memang bersedih karena Lan Lan diculik

Dan sekarnag ia sudah siap siaga untuk  menangkap penculik itu kalau Lan Lan dikembalikan

Akan tetapi, sampai malam tiba, tidak ada berita dari penculik itu

Bi Lan sudah hampir putus asa ketika tiba-tiba ia mendengar suara Lan Lan memanggilnya dari arah belakang, dari taman

I bu.......! Ibu........!

Lan Lan..........!!

Bi Lan meloncat keluar dari kamarnya dan seperti te rbang memasuki taman

Benar saja, ia menemukan Lan Lan di te ngah taman, dalam keadaan sehat.! Ia menyambar tubuh Lan Lan, dipondongnya dan didekapnya, diciuminya dan kembali Bi Lan tak dapat menahan banjirnya air mata, air mata kebahagiaan

Ia sendiri merasa heran mengapa setelah ia jatuh cinta, begini mudah ia menangis! Ia membawa Lan Lan ke kamarnya, menutup pintu kamar dan dengan lembut dan penuh rasa sayang, ia menanyai Lan Lan kemana saja ia pergi selama tiga hari itu

Lan Lan adalah s eorang anak yang usianya baru tiga tahun, masih belum dapat memberi keterangan dengan je las

Ia hanya mengatakan bahwa ia ditempatkan dalam sebuah kamar, diberi banyak barang-barang mainan, dilayani oleh seorang laki laki yang baik hati

Bi Lan te ntu saja tidak dapat mengharapkan keterangan jelas siapa penculik anak itu, dan te ntu anak itu ditotok ketika diculik dan dikembalikan sehingga tidak tahu apa-apa

De ngan hati-hati Bi Lan menjaga Lan Lan malam itu di kamarnya dan pada keesokan harinya, pagi pagi ia sudah memondong Lan Lan keluar dari istana Pangeran Tua, menuju ke istana kaisar.! Karena ia dikenal baik sebagai guru silat yang melatih para dayang di istana, dengan mudah ia diperbolehkan masuk dan langsung saja Bi Lan menju ke kamar di mana Putera Mahkota 

dirawat

oleh tabib

Dan dapat dibayangkan betapa gembiranya hati Pangeran Li Si Bin ketika melihat Bi Lan datang sambil memondong Lan Lan yang dalam keadaan sehat dan selamat! Dan berakhirlah 

penyakit

putera mahkota itu pada hari itu juga

Seluruh penghuni istana menjadi gembira bukan main

Demikian pula kaisar ketika mendengari bahwa pute ranya te lah sembuh sama sekali

Yang mendapatkan jas a besar adalah Tabib Song tentu saja

Dia dianggap berjas a telah dapat mengobati dan menyembuhkan putera mahkota! Pada hari itu juga

Bi Lan ditahan di istana atas kehe ndak pute ra mahkota

De ngan alasan bahwa Bi Lan diangkat menjadi pengawal pribadi Putera Mahkota, maka wanita itu bersama puterinya tidak perlu lagi kembali ke istana Pangera Tua, bahkan barang-barangnya lalu diminta agar diantar ke istana! Bukan itu s aja

Bahkan tak lama kemudian Putera Mahkota secara berte rang mengangkat Bi Lan menjadi selirnya, merangkap pengawal pribadi! Karena ibunya menjadi selir pangeran, tentu saja dengan sendirinya Lan Lan juga menjadi seorang 

puteri

! -ooo0dw0ooo- 

Tabib Song keparat itu!

Pangeran Li Siu Ti mondar-mandir di dalam kamarnya, kadang mengepal tinju dan wajahnya.muram

Hatinya kecewa bukan main mendengar bahwa Putera Mahkota telah sembuh dari sakitnya

Bagaimana mungkin.

Padahal, menurut keterangan thai kam Ciu, keadaan pangeran Li Si Bin sudah parah sekali, sudah sekarat

Bagaimana tiba-tiba dapat menjadi sembuh?

Poa Kiu dan Siauw Can yang berada di kamar itu, saling pandang dan mereka berdua juga merasa kecewa dan heran

Mereka sudah mengembalikan Lan Lan kepada Bi Lan karena mereka sudah merasa yakin bahwa pute ra mahkota pasti akan mati

Mereka menganggap bahwa Bi Lan te rpaksa harus mentaati bunyi surat, yaitu meracuni Pangeran Li Si Bin untuk menyelamatkan nyawa Lan Lan

Mereka sudah percaya sepenuhnya bahwa usaha itu berhasil dan kini tahu-tahu pangeran itu sembuh, dan Bi Lan ditarik ke istana menjadi pengawal pribadi.! 

Jangan-jangan adik misanmu itu yang berkhianat,

kata Pangeran Tua kepada Siauw Can atau Can Hong San

Buktinya

Pute ra Mahkota tidak te was dan setelah Lan Lan dikembalikan, ia segera membawa Lan Lan ke istana dan diangkat menjadi pengawal pribadi.

Saya kira tidak demikian, pangeran.

kata Hong San

Banyak saksinya bahwa pute ra mahkota benar-benar keracunan, bahkan banyak yang melihat dia sakit payah, hampir mati

Tentu tabib sial itu telah menemukan obat penawar yang amat mujarab

Tentang diangkatnya Bi Lan menjadi pengawal pribadi, hal itupun tidak aneh

Pangeran Li Si Bin agaknya suka kepada Bi Lan dan sudah lama Bi Lan te lah diberi tugas untuk melatih para dayang.

Keterangan Siauw Can memang benar, pangeran

Kalau s aja tabib Song tidak menemukan obat yang ampuh, te ntu usaha itu berhasil baik dan te ntu sekarang pute ra mahkota telah tewas

Bagaimanapun juga, Siauw Can telah membuat jas a dan dapat dikatakan bahwa tugasnya mengusahakan kematian Pangeran Li Si Bin telah dilaksanakan dengan baik.

Pangeran Tua Li Siu Ti mengangguk-angguk dan mengelus jenggotnya

Dia tahu apa maksud ucapan kedua orang pembantu utamanya itu

Tentu mengenai hubungan pembantu muda yang tampan dan pandai ini dengan puterinya, Ai Yin

Aku mengerti, dan akupun tidak akan menyalahi janji

Agaknya engkau dengan Ai Yln sudah saling mencinta, Siauw Can

Baiklah, engkau akan kujodohkan dengan Ai Yin dan pertunangannya akan segera diumumkan setelah engkau berhasil dengan sebuah tugas lagi yang amat penting, akan tetapi tidak begitu sukar bagimu.

Di dalam hatinya, Can Hong San merasa gembira sekali, akan tetapi juga mendongkol, te rcapai cita-citanya menjadi mantu seorang pangeran yang memiliki kekuasaan besar! Akan tetapi kembali dia diserahi tugas, itulah yang membuat dia mendongkol

Harap paduka katakan saja, apa tugas itu.Akan saya laksanakan dengan baik, pangeran.

Engkau harus cepat menyingkirkan thai-kam Ciu

Dia harus mati secepatnya!

Akan tetapi, kenapa, pangeran

Bukankah ia telah berhasil diselundupkan dan amat berguna bagi paduka sebagai mata-mata di sana?

tanya Poa Kiu terkejut, karena dia yang mengusulkan diselundupkannya thai-kam itu ke istana

Saya mengerti maksud paduka.

kata Hong San, sambil menoleh kepada Poa Kiu dengan senyum memandang rendah

Paman Poa, lupakah paman bahwa kita menyuruh thai-kam Ciu untuk menyelidiki keadaan Pangeran Li Si Bin pada hari ketiga

Dia berhasil melihat keadaan pute ra mahkota, dan siapa tahu, perbuatannya itu akan dilaporkan oleh Tabib Song dan Putera Mahkota akan merasa curiga kepadanya

Padahal, dialah satu-tunya orang yang mengetahui rahasia kita dan dapat membocorkannya.

Akan tetapi, tidak mungkin dia mengkhianati kita,

kata pula Poa Kiu

Siauw Can benar,

kata Pangeran Tua

Poa Kiu, lupakah engkau akan kamar siksaan dimana setiap orang, betapapun kuat dan setianya, akan mengakui segala perbuatannya kalau dia disiksa

Kurasa thai-kam Ciu tidak terkecuali

Kalau dia dicurigai, lalu ditangkap dan disiksa, pasti dia tidak tahan dan akan mengaku, membongkar semua rahasia kita.

Wajah Poa Kiu menjadi pucat

Kalau begitu........

kalau begitu...........

Jangan khawatir , Paman Poa

Aku akan menghabis inya sekarang juga

Serahkan saja urusan ini kepadaku, pasti beres!

Senanglah hati Pangeran Tua Li Siu Ti, 

Jangan sekarang, Siauw Can

Kita harus menunggu sampai keadaan menjadi tenang

Tunggu tiga empat hari, setelah semua te nang baru engkau turun tangan melenyapkan thai-kam Ciu

Dan setelan tugas itu berhasil, pertunanganmu dengan Ai Yin akan kurayakan.

Bukan main senangnya hati Can Hong San

Dia segera menemui Li Ai Yin dan pada malam itu dia berhasil mengajak Ai Yin bicara berdua saja di dalam taman

Yin-moi,

sejak Ai Yin menyambut cintanya Hong San selalu menyebutnya Yin moi (dinda Yin) dan hanya menyebut nona kalau berada di depan keluarga pangeran tua itu

Mulai hari ini, kita telah bertunangan!

Dia lalu menceritakan janji ayah gadis itu

Ai Yin tersenyum senang dan membiarkan ke dua tangannya dipegang oleh pemuda yang dikaguminya itu

Kenapa te rjadi perubahan yang tiba tiba ini, Can ko

Bukankah ayah masih prihatin dengan peris tiwa di is tana, dimana kakanda pangeran mahkota hampir saja te was keracunan

Dan Lan Lan juga menjadi korban penculikan, untung sudah dikembalikan

Kemudian, kepergian enci Bi Lan yang demikian tiba-tiba, pindah ke istana

Semua ini membuat aku bingung

Akan te tapi ayah malah hendak membuat pesta pertunangan.

Aih, jadi engkau sudah tahu?

tanya Hong San gembira

Gadis itu mengangguk dan mengerling manja

Tentu saja

Kaukira ayah akan merahasiakan

Dia sudah memberitahukan dan menanyakan kepadaku, minta persetujuanku untuk ditunangkan denganmu.

Dan bagaimana jawabanmu, Yin-moi?

Wajah itu berseri, kedua pipinya berubah merah dan senyumnya genit manja, tangannya mencubit le ngan Hong San

Kaukira bagaimana jawabanku?

Ha, te ntu jawabanmu begini............!

Hong San lalu maju merangkul dan mencium pute ri pangeran itu

Ai Yin tertawa manja dan malu, akan te tapi karena ia sudah mendengar sendiri betapa ayahnya menyetujui pemuda ini menjadi calon suaminya, iapun tidak menolak

Akan te tapi ketika Hong San berbuat te rlalu berani, iapun mendorong muka pemuda itu

Hemm, apa yang kau lakukan ini.!

Can Hong San adalah putera mendiang Cui beng Sai-kong dan biarpun tidak sekuat mendiang ayahnya, dia telah menguasai ilmu sihir

Melihat betapa gadis bangsawan itu menolaknya, diapun merasa penasaran

Kalau saja dia tidak ditolak Bi Lan, te ntu diapun tidak bermaksud untuk menggauli Li Ai Yin sebelum mereka menjadi suami isteri, karena dia ingin menjadi mantu pangeran secara te rhormat

Akan tetapi, dia telah dikecewakan Bi Lan, maka gejolak nafsunya hendak dia puaskan dengan gadis bangsawan yang oleh ayahnya te lah diserahkan kepadanya itu

Dia memegang kedua pundak gadis itu dengan lembut, menatap wajahnya dengan tajam dan suaranya mengandung getaran kuat

Li Ai Yin, pandanglah aku baik-baik! Lihatlah betapa besar kasihku kepadamu dan engkau akan menyerah, tunduk  dan menuruti semua kemauanku

Aku cinta padamu, Ai Yin dan engkaupun cinta padaku...............

Ai Yin terbelalak, kemudian iapun menjadi le mas dan iapun berte kuk lutut dan tidak te rdapat perlawanan sedikitpun lagi dalam hatinya

Ia menurut saja segala kehendak Hong San yang te rus merayunya, menurut dan menyerah saja ketika ia digandeng dan dituntun memasuki kamarnya

-ooo0dw0ooo- Empat hari kemudian

Masih dalam rangka siasat Pangeran Li Si Bin, keadaan di is tana seolah-olah telah tenang kembali

Tidak ada bekas ketegangan sebagai akibat sakitnya pute ra mahkota yang kabarnya keracunan he bat itu

Sang pangeran melarang siapa saja bicara tentang hal itu, dan Bi Lan juga tidak memperlihatkan kecurigaan apapun

Wanita itu secara resmi diangkat menjadi pengawal pribadi putera mahkota sehingga tidak ada seorangpun yang menduga hal yang bukan-bukan kalau melihat wanita cantik dan perkasa ini berduaan saja dengan pute ra mahkota, bercakap-cakap dengan akrab sekali

Tadinya memang pute ra mahkota hanya menginginkan Bi Lan menjadi pengawal pribadinya, akan te tapi karena masing-masing mengetahui akan isi hatinya, tahu bahwa mereka saling mengagumi dan saling mencinta, maka tidaklah mengherankan kalau kemudian putera mahkota akan mengangkat Bi Lan menjadi seorang selir terkasih

Bi Lan tahu diri

Ia hanya seorang wanita biasa, bahkan seorang janda yang sudah yatim piatu

Dibandingkan dengan pute ra mahkota, ia bagaikan seekor burung gagak bersanding dengan burung Hong

Oleh karena itu, dengan hati penuh penyerahan, penuh pengabdian dan cinta kasih, ia menyerahkan diri dengan segala kerendahan hatinya, rela untuk dijadikan selir merangkap pengawal pribadi

Karena tugasnya sebagai pengawal inilah, ia jauh lebih dekat dan le bih sering berdekatan dengan pute ra mahkota dibandingkan selir lainnya, kemudian

Dan iapun sudah merasa berbahagia sekali kalau berada di dekat pria yang dijunjungnya dan dicintanya itu

Menjadi kelanjutan siasat mereka kalau Bi Lan bersikap seolah sudah melupakan peris tiwa penculikan pute rinya dan jatuh sakitnya pute ra mahkota

Akan te tapi sesungguhnya, ia tidak pernah lengah sebentarpun

I a selalu waspada dan memperhatikan setiap orang yang berada di dalam istana, memperhatikan setiap kejadian yang sekecil apapun, dan diam-diam mencurigai setiap orang.! Ketekunan dan ketelitiannya itu akhirnya berhasil

Pada suatu malam, secara sembunyi Bi lan meronda ke bagian belakang daerah keputren

Ia sudah diceritakan oleh pute ra mahkota tentang sikap thai-kam Ciu yang dahulu diutus permaisuri untuk menengoknya ketika dia sakit atau lebih te pat berpura-pura sakit

Malam ini, Bi Lan sengaja mencari thai-kam itu untuk menyelidiki keadaan dirinya

Sore tadi ia melihat thai-kam itu seperti orang gelisah, wajahnya pucat, rambut dan pakaiannya kusut dan ketika berjumpa dengannya, orang itu menunduk, pura-pura tidak melihat dan tampak gugup

Ketika ia menyelinap mendekati tempat tinggal para thai-kam, tiba-tiba ia melihat thai-kam Ciu membuka pintu dan keluar menuju ke taman dengan sikap hati-hati sekali

Bi Lan membayangi dari jauh agar jangan sampai terlihat

Karena inilah, maka ketika memasuki taman, ia kehilangan bayangan thai-kam Ciu

Selagi ia kebingungan, mencari-cari kemana perginya orang yang dicurigainya itu, tiba-tiba ia mendengar suara orang mengaduh-aduh dan suara sambaran senjata tajam berdesing

Cepat Bi Lan melompat dan lari ke arah suara itu dan ia masih sempat melihat seseorang diserang orang lain dengan sebatang pedang

Orang yang diserang itu agaknya sudah te rluka, akan tetapi masih berusaha mengelak dan berloncatan ke s ana-sini, akan tetapi ketika Bi Lan muncul, penyerang itu berhasil menusukkan pedangnya lagi dan orang itupun roboh

Heiii, tahan senjata!.

bentak Bi Lan dan si penyerang itu agaknya te rkejut, menarik kembali pedangnya dan meloncat jauh, lenyap dalam kegelapan malam

Sinar lampu pene rangan taman itu agak jauh dan sinarnya hanya remang-remang saja mencapai tempat itu, namun cukup bagi Bi Lan untuk melihat bahwa korban itu berpakaian sebagai seorang thai-kam dan ketika ia berjongkok untuk memeriksanya, ia terkejut ketika mengenalnya sebagai thai-kam Ciu yang dicurigai oleh pute ra mahkota! Orang itu sudah payah, luka tusukan pedang membuat tubuhnya berle potan darah dan napasnya tinggal satu-satu

Ia harus bertindak cepat sebelum terlambat

Ditotoknya beberapa bagian tubuh orang itu dan iapun bertanya

Cepat katakan siapa pembunuhmu dan apa hubungannya dengan penculik anakku dan musuh putera mahkota!

Karena totokan-totokan itu, thai-kam Ciu dapat mengerahkan tenaga te rakhir dan dengan suara penuh penyesalan dan rasa penas aran, diapun berkata, 

Semua diatur oleh Pangeran Tua.......dibantu Poa Kiu dan Siauw Can........

kemudian bibirnya hanya bergerak-gerak tanpa mengeluarkan suara dan tak lama kemudian diapun te rkulai, te was

Akan tetapi keterangan itu sudah cukup bagi Bi Lan

Keterangan yang membuat kedua kakinya gemetar dan tubuhnya le mas, yang membuat ia sampai lama tidak mampu bangkit berdiri, te rmangu-mangu

Pangeran Tua Li Siu Ti

Dan Siauw Can..........

Kini mengertilah ia, walaupun ia masih te rkejut karena sama sekali tidak pernah mengira bahwa semua peris tiwa itu diatur oleh orang-orang yang selama ini dianggapnya baik dan dipercaya sepenuhnya

Yang membuat hatinya sakit seperti ditusuk adalah Siauw Can.

Pemuda yang  dianggapnya se bagai seorang pendekar itu, bahkan yang pernah dikagumi dan dicintanya, telah menculik Lan Lan dan hendak memaksanya untuk membunuh pute ra mahkota! Ia dapat menduga bahwa te ntu Siauw Can diperalat oleh Pangeran Tua, akan tetapi kenapa pemuda yang katanya mencintanya itu mau melakukan perbuatan keji dengan menculik Lan Lan dan memaksanya membunuh pute ra mahkota, sungguh membuatnya penas aran bukan main

Ingin rasanya saat itu juga ia lari mencari Siauw Can atau Can Hong San untuk memaki dan menyerangnya

Akan tetapi ia teringat bahwa pemuda itu adalah seorang lawan yang amat tangguh, apalagi te ntu dia akan dibantu oleh anak buah Pangeran Tua

Tidak, urusan ini terlalu besar untuk ia tangani sendiri

Cepat ia meninggalkan taman dan malam itu juga ia mencari Pangeran Li Si Bin

Pangeran Li Si Bin tidak terkejut mendengar laporan Bi Lan

Memang pangeran ini pernah mempunyai kecurigaan te rhadap pamannya, Pangeran Tua, hanya karena belum ada bukti maka dia tidak dapat melakukan sesuatu

Kini tahulah dia akan rahasia itu dan pada malam itu juga dia memanggil para panglima yang membantunya dan pasukan khusus dikerahkan

Tanpa membuang waktu lagi Pangeran Li Si Bin sendiri, dibantu para panglimanya dan tidak ketinggalan Bi Lan sendiri, lalu menyerbu ke istana Pangeran Tua Li Siu Ti

Ge gerlah di kota raja

Terjadi pertempuran yang hanya pendek saja karena Pangeran Li Siu Ti sama sekali tidak mengira bahwa malam itu akan terjadi penyerbuan besar-besaran yang dilakukan oleh pasukan istimewa yang dipimpin sendiri oleh pute ra mahkota! Dan penyerbuan itupun sudah direstui kaisar yang malam itu juga mendengar laporan pute ranya

Mereka yang berani melakukan perlawanan segera dibabat roboh dan yang lain cepat melempar senjata dan menjatuhkan diri berlutut

Pangeran Li Siu Ti sekeluarga ditangkap

Akan te tapi, dengan hati yang le ga Bi Lan mendengar bahwa Ai Yin lolos dari penangkapan

Disamping kelegaan hatinya, juga ia merasa penas aran karena Can Hong San juga lolos

Kiranya pemuda inilah yang melarikan Ai Yin dan Bi Lan dapat menduga bahwa bayangan yang dilihatnya membunuh thai-kam Ciu tentulah Can Hong San

Pemuda itu tentu sudah merasa khawatir melihat perbuatannya ketahuan, sudah dapat menduga bahwa mungkin saja Bi Lan akan melapor dan thaikam Ciu membuka rahasia

Hong San te ntu sudah dapat menduga kemungkinan datangnya serbuan dari pute ra mahkota, maka begitu tiba di istana Pangeran Tua, dia segera mengajak Ai Yin pergi dan tidak lupa membawa barang-barang berharga dari is tana itu

Ketika Ai Yin mendesak dan minta keterangan kepadanya, Can Hong San tidak mau mengaku dan setengah memaksa gadis yang te lah ditunangkan dengannya itu meninggalkan istana secepatnya, bahkan malam itu juga mereka kabur   keluar dari pintu gerbang kotaraja, menunggang dua ekor kuda pilihan

Keluarga Pangeran Tua Li Siu Ti ditangkap dan dipenjara, kemudian setelah diadili, pangeran itu dijatuhi hukuman mati sedangkan keluarganya dihukum buang

Setelah terjadi peristiwa itu, Bi Lan makin disayang dan dipercaya oleh Pangeran Li Si Bin dan iapun menyerah dengan senang hati ketika pute ra mahkota itu mengangkatnya sebagai selir te rkasih dan te rpercaya

De ngan sendirinya Lan Lan yang kini diaku sebagai pute ri sang pangeran dengan nama menjadi Li Hong Lan, mendapat perlakuan sebagai seorang pute ri dan pendidikan dan perawatannya diserahkan kepada para ahli yang di is tana bertugas untuk mendidik para pute ri yang masih kecil

-ooo0dw0ooo- Anak laki-laki itu berusia kurang le bih duabelas tahun, namun tubuhnya tinggi tegap seperti orang dewasa saja

Juga wajahnya yang tampan itu nampak dewasa, dengan mata yang tajam mencorong penuh pengertian, mulut yang membayangkan keteguhan hati dan ketabahan

Kalau ada ahli silat melihatnya pada saat dia berlatih itu, tentu ahli silat itu akan terkagumkagum

Anak berusia duabelas tahun itu berlatih silat di atas bambu-bambu runcing yang ditanam di tanah setinggi satu meter

Kedua kakinya bertelanjang dan dengan kedua kaki bertelanjang itu dia bersilat di atas bambu-bambu yang runcing

Ge rakannya demikian gesit dan tangkas, kedua kakinya yang melangkah ke kanan kiri, depan belakang, bahkan kadang melompati sebatang bambu runcing dan hinggap di atas bambu runcing berikutnya, tak pernah meleset

Orang akan merasa ngeri karena sekali terpeleset, anak itu akan te rjatuh dan bambu-bambu runcing akan menyambut perut dan dadanya atau punggungnya

Dan mengingat betapa kedua kaki te lanjang itu berloncatan di atas bambu-bambu runcing, sungguh mengerikan dan sekaligus mengagumkan

Tak jauh dari situ, di bawah pohon yang tumbuh di belakang sebuah pondok baru, duduk seorang pria tua yang tinggi besar bermuka kemerahan dan je nggotnya panjang

Pria berusia sekitar lima puluh delapan tahun itu masih nampak gagah dan berwibawa

Dari wajah dan sikapnya mudah diduga bahwa dia bukan orang sembarangan

Dia mengelus jenggotnya dan mulutnya te rsenyum, kepalanya mengangguk-angguk melihat kelincahan anak laki-laki remaja yang berlatih silat itu

Dari gerakan-gerakannya saja, jelas nampak bahwa anak itu memang memiliki bakat yang bes ar sekali

Ge rakannya demikian lentur dan indah, tidak kaku dan setiap gerakan mengandung te naga yang tepat penggunaannya, tidak berlebihan juga tidak lemah

Pria tinggi bes ar itu adalah bekas Pangeran Cian Bu Ong! Selama beberapa tahun ini, semenjak Kerajaan Sui jatuh diganti Kerajaan Tang, kurang le bih sembilan tahun yang lalu, Cian Bu Ong berusaha untuk menegakkan kembali Kerajaan Sui yang te lah jatuh

Namun semua usahanya gagal, bahkan dia yang oleh Kerajaan Tang dianggap pemberontak, menjadi orang buruan

Hidupnya tidak aman, karena dia dikejar-kejar oleh pasukan Tang

Terutama sekali karena yang menjadi panglima adalah pute ra mahkota sendiri, yaitu Pangeran Li Si Bin yang amat cerdik dan pandai, Cian Bu Ong harus menjadi pelarian yang tidak dapat tinggal terlalu lama di suatu tempat

Setelah dia berte mu dengan Sim Lan Ci yang kemudian menjadi isterinya, barulah dia menghentikan usahanya untuk memberontak

Namun, bersama Sim Lan Ci dan putera janda itu, Coa Thian Ki, dan juga pute rinya sendiri, Cian Kui Eng, dia harus selalu berpindah-pindah tempat tinggal, khawatir kalau je jaknya ditemukan para penyelidik Ke rajaan Tang

Cian Bu Ong menganggap Thian Ki sebagai pute ranya sendiri

Dia amat mencinta Sim Lan Ci yang te lah menjadi isterinya dan dia sayang pula kepada Thian Ki karena dia tidak mempunyai anak laki-laki

Anaknya yang tunggal dengan isteri pertama yang te was oleh pasukan Tang adalah seorang perempuan, yaitu Cian Kui Eng yang kini berusia sebelas tahun

Cian Bu Ong menggemble ng kedua orang anak itu, bahkan dia lebih te kun mengajarkan ilmu-ilmunya kepada Thian Ki, karena selain anak ini memiliki bakat yang lebih besar dibandingkan Kui Eng, akan tetapi juga bekas pangeran itu memiliki cita-cita tinggi te rhadap Thia Ki

Dia mengharapkan anak tiri yang sudah dianggap anaknya sendiri itu kelak dapat menjadi orang besar, kalau mungkin di kalangan pemerintahan, kalau tidakpun menjadi tokoh besar di dunia persilatan, agar dapat mengangkat kembali namanya yang te lah jatuh bersama runtuhnya Kerajaan Sui

Baru setelah panglima besar dan pute ra mahkota, yaitu Pangeran Li Si Bin yang menjadi tokoh utama Kerajaan Tang menggantikan ayahnya dan menjadi kaisar (tahun 627) Cian Bu Ong dapat hidup te nang bersama is terinya dan kedua orang anaknya, di sebuah dusun kecil yang te rletak di te mpat yang amat indah pemandangan alamnya, yaitu di te pi Sungai Huang-ho, di kaki Kim San (Bukit Emas)

Setelah Pangeran Li Si Bin menjadi kaisar dan berjuluk Tang Tai Cung, kais ar ini lebih banyak memperhatikan urusan pemerintahan, tidak lagi memikirkan pemberontak-pemberontak buronan yang sudah kehilangan pasukan, seperti halnya Cian Bu Ong yang dianggap tidak berbahaya lagi

Di dusun Ke-cung itu, yang penduduknya hanya puluhan keluarga saja dan semua adalah petani dan nelayan sederhana, Cian Bu Ong mendirikan sebuah rumah besar dan hidup te nang dan tenteram bersama Sim Lan Ci dan kedua orang anak mereka, yaitu Thian Ki dan Kui Eng

Pada pagi hari itu, Thian Ki sudah berlatih silat di bawah pengawasan Cian Bu Ong, ayah tirinya, juga gurunya

Dulu, ketika dia masih hidup bersama ayah kandungnya, mendiang Coa Siang Lee, ayah dan ibunya selalu menekankan perasaan tidak suka akan ilmu silat dan penggunaan kekerasan sehingga biarpun dia menjadi anak suami isteri yang pandai ilmu silat, Thian Ki sendiri tidak pernah mempelajari ilmu silat

Akan tetapi, tanpa diketahui ayah ibunya, neneknya, yaitu Lo Nikouw yang dahulu terkenal dengan julukan Ban-tok Mo-li, telah menggemble ng  tubuhnya dengan ramuan racun, sehingga tanpa disadarinya sendiri, Thian Ki telah menjadi seorang tok-tong (anak beracun)

Di luar kehe ndaknya sendiri, dia telah melakukan hal-hal yang akan menggemparkan dunia kangouw kalau diketahui orang, yaitu dia te lah membunuh atau le bih te pat lagi menyebabkan kematian tokoh-tokoh kangouw yang amat lihai seperti Kui bwe Houw Gan Lui, si golok gergaji Thio Ki Lok, pegulat Turki Gulana

Mereka semua te was keracunan karena berani menyerang dan menyentuh tubuh Thian Ki yang sudah penuh dengan hawa beracun yang amat kuat itu! Semula, karena melihat tok-tong inilah maka Cian Bu Ong tertarik

Dia ingin memiliki anak beracun itu untuk membantu gerakannya dan usahanya menegakkan kembali Kerajaan Sui

Akan tetapi setelah dia menikah dengan ibu anak itu, dan melihat bahwa cita-citanya itu tidak akan mungkin te rlaksana karena Kerajaan Tang yang baru semakin kuat, dan untuk berjuang menumbangkan pemerintahan dia harus mempunyai pasukan yang besar sekali, hal yang tidak mungkin dimilikinya, maka diapun membuang cita-cita itu

Kini dia menggemble ng Thian Ki dengan cita-cita lain

Dia ingin anak tirinya yang juga muridnya itu kelak menjadi orang penting, berkedudukan tinggi atau menjadi seorang jagoan nomor satu di dunia kangouw, pendeknya dia ingin agar Thian Ki kelak dapat menjadi te rkenal dan karenanya akan mengangkat tinggi nama besar Pangeran Cian Bu Ong

Oleh karena itu, maka dia menggemble ng Thian Ki dengan amat te kunnya

Anak itu sendiri sekarang juga rajin berlatih dan suka sekali mempelajari ilmu silat

Hal ini merupakan perubahan yang amat besar

Selain ibunya, Sim Lan Ci sekarang tidak lagi melarangnya belajar silat, bahkan ibu inipun mengajarkan ilmu-ilmunya sendiri, juga karena pengalaman-pengalaman yang sudah-sudah merupakan pelajaran bagi Thian Ki, bahwa memiliki kekuatan dan kepandaian silat amat perlu baginya, untuk dapat membela diri dalam hidup ini

Terlalu banyak orang jahat berkeliaran di bumi ini dan amat sukarlah mengharapkan perlindungan dari orang lain

Dalam usia duabelas tahun, Thian Ki sudah mampu berlatih silat di atas bambu-bambu runcing

Hal ini sungguh mengagumkan sekali

Tanpa memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang tinggi, sungguh amat berbahaya latihan seperti itu

Namun, Thian Ki sudah dapat berloncatan dengan cekatan di atas bambu-bambu runcing itu

Tentu saja hal ini amat menggembirakan hati Pangeran Cian Bu Ong

Dia sendiri mengakui bahwa dalam usia semuda itu, dia tidak dapat mencapai tingkat seperti yang dimiliki Thian Ki sekarang ini

Dia merasa bangga dan girang sekali melihat kemajuan Thian Ki

Puterinya sendiri, Kui Eng

juga tekun dan cerdas, akan te tapi dibandingkan Thian Ki, anak itu kalah jauh

Apalagi kalau diingat bahwa tubuh Thian Ki beracun, dan keadaan ini saja sudah amat berbahaya bagi lawannya

Lawan yang amat lihai   sekalipun akan dapat te was sendiri kalau berani menyentuh tubuh tok-tong, si anak beracun itu

Cian Bu Ong yang bercita-cita tinggi itu bahkan telah memilihkan sebuah nama julukan bagi anak tiri dan muridnya, yaitu Tok-liong (Naga Beracun)! 

Thian Ki.

kata bekas pangeran itu berulang kali, 

Namamu yang biasa adalah Thian Ki, Cian Thian Ki,

dia memberi tekanan kepada nama keluarga Cian itu

Dia mengakui Thian Ki sebagai anak sendiri, maka dia menekankan kepada anak itu dan ibunya agar menggunakan she (nama keluarga) Cian! 

Akan tetapi, di dunia kangouw, tidak perlu engkau memperkenalkan diri sebagai Cian Thian Ki, melainkan Tok-liong-eng (Pendekar Naga Beracun), ha-ha ha.!

Karena ucapan itu berulang-ulang dikatakan gurunya yang juga ayahnya karena dia menyebut ayah kepada gurunya itu, maka sebutan Tok-liong (Naga Beracun) itu mendatangkan kesan di hati Thian Ki dan setelah beberapa tahun dia menganggap Tok-liong sebagai namanya yang ke dua

Apalagi ayah tiri dan ibunya sendiri sering menyebut Tok-liong kepadanya

Baru beberapa bulan Cian Bu Ong tinggal di dusun Ke-cung itu

Setelah mendengar bahwa Kaisar Tang Kao Cu diganti oleh Pangeran Li Si Bin yang kini menjadi Kaisar Tang Tai Cung, baru ia merasa aman dan tinggal di dusun le mbah sungai yang indah itu

Penduduk dusun menyambut keluarga ini dengan gembira

Mereka tidak mengenal siapa keluarga ini dan Cian Bu Ong sudah mengubah namanya menjadi Cian Bu saja

Penduduk hanya menduga bahwa Cian Bu adalah seorang hartawan atau pejabat yang te lah mengundurkan diri dan mencari tempat tinggal yang tenang di dusun itu

Karena keluarga baru ini selain kaya juga ringan tangaa membantu penduduk, maka keluarga ini disambut dengan baik dan Cian Bu dikenal sebagai hartawan Cian, bahkan beberapa bulan kemudian, melihat dia seorang yang kaya dan pandai, luas pengetahuannya dan suka menolong penduduk, puluhan keluarga penghuni dusun Ke-cung segera mengangkatnya menjadi ketua dusun

De mi keamanan, Cian Bu menerima pengangkatan itu, walaupun dalam hatinya dia te rsenyum pahit

Dia, pangeran adik kaisar te rakhir Kerajaan Sui yang bercita-cita menegakkan kembali Kerajaan Sui dimana dia yang akan menjadi kaisar barunya, kini hanya diangkat menjadi ketua dusun.! Inipun dusun yang kecil sekali dan pengangkatan itupun tidak res mi dari pemerintahan

Karena rumah dan pekarangan berikut sebuah kebun dan taman yang luas milik keluarga Cian itu dikelilingi pagar dinding yang tinggi, maka tak seorangpun pernah melihat kalau keluarga itu berlatih silat

Tiga orang pelayan keluarga ini adalah bekas anak buah yang setia dari bekas pangeran itu, dan mereka maklum bahwa mereka tidak boleh membuka rahasia majikan mereka kepada siapapun juga

Selagi Thian Ki berlatih, kini tidak lagi di atas bambu- bambu runcing melainkan di atas tanah di mana dia bersilat dengan amat cepat dan kuatnya, tiba-tiba seorang anak perempuan berusia sebelas tahun datang berlari-lari

Melihat Thian Ki masih bersilat dengan tangan kosong, dengan baju dilepas sehingga tubuh atasnya telanjang dan berkilauan karena keringat, anak perempuan itu mengeluarkan bentakan nyaring dan iapun melompat dengan sigapnya mendekati Thian Ki dan langsung saja menyerangnya dengan jari tangan menotok ke arah tubuh Thian Ki, menyerang jalan-jalan darah secara cepat sekali.! Thian Ki cepat mengelak ke sana sini, lalu meloncat jauh ke belakang

Ketika anak itu yang bukan lain adalah Cian Kui Eng, hendak mengejar dan mendesak, ayahnya membentak

Kui Eng, berhenti!

Anak perempuan itu berhenti menyerang, menoleh kepada ayahnya dan iapun membantingbanting kaki dan merajuk

Aihhh, ayah, aku ingin berlatih dengan kakak Thian Ki, selalu tidak boleh.!

Anak berusia sebelas tahun itu berwajah manis dan bertubuh ramping

Matanya tajam dan galak, mulutnya yang cemberut itu menjadi pemanis yang utama dari wajahnya yang bulat telur

Rambutnya agak keriting, membuat rambut itu nampak tebal

Kui Eng, sudah berulang kali kukatakan kepadamu

Engkau tidak boleh berlatih dengan kakakmu

Itu berbahaya sekali!

kata Cian Bu Ong, atau yang nama barunya Cian Bu saja itu

Pada saat itu, Sim Lan Ci muncul dan mendengar percakapan itu, iapun lari menghampiri dan merangkul Kui Eng yang bersungut-s ungut

Kui Eng, engkau sudah seringkali kuberi tahu agar jangan berlatih dengan kakakmu

Engkau te ntu tahu bahwa kakakmu adalah seorang yang berbahaya, karena disebut Naga Beracun

Dia seorang tok-tong

Dalam usianya yang hampir empatpuluh tahun, Sim Lan Ci masih nampak cantik

Hal ini adalah karena selama menjadi isteri Cian Bu Ong, ia merasa hidupnya berbahagia walaupun ia ikut melarikan diri dan bersembunyi bersama suaminyi selama tujuh tahun ini

Cian Bu amat mencintanya juga ia mencinta Kui Eng seperti mencinta Thian Ki anak kandungnya

Suaminya seorang yang amat baik, bahkan jauh le bih sakti dari pada suaminya yang pertama, dan juga berwibawa dan jantan

I bu, kenapa sih toako disebut Tok-liong (Naga Beracun), dan apa sih artinya tok-tong?

Dia disebut tok-tong karena tubuhnya mengandung hawa beracun yang amat kuat, Kui Eng

Beradu tangan dengan dia, bahkan menyentuh tubuhnya pun kalau kebetulan hawa beracun itu bekerja, orang akan mati seketika.

Tapi.....kenapa toako bisa seperti .itu?

Suami isteri itu saling pandang

Sudah tiba saatnya mereka memberi tahu anak-anak mereka akan kejadian yang sebenarnya te ntang diri Thian Ki

Bahkan anak itu sendiri belum tahu dengan jelas

Melihat pandang mata isterinya, Cian Bu menghela napas panjang dan mengangguk, lalu dia duduk di atas bangku di taman itu

I bu, akupun ingin sekali mengetahui mengapa tubuhku jadi beracun

Ibu dan ayah tidak pernah mau menceritakan,

kata pula Thian Ki yang memakai kembali bajunya dan mendekati ibunya

Sejak berusia lima tahun, dia dipesan oleh ibunya agar berhati-hati kalau bermain-main dengan Kui Eng, agar dia tidak mengerahkan tenaga dan sekali-kali tidak boleh berlatih silat dengan adiknya itu

Biarpun perintah ibunya itu tentu saja membuat dia tidak dapat bergembira dan bermainmain sebebasnya dengan adiknya, namun dia selalu mentaati karena dia sendiri tahu bahwa dalam dirinya te rdapat rahasia aneh

Sudah dia melihat sendiri beberapa orang yang amat lihai ilmu silatnya tewas ketika menyerangnya, te was ketika digigitnya, bahkan te was ketika mencengkeramnya

Sim Lan Ci menarik napas panjang, lalu menggandeng tangan kedua anaknya, diajaknya duduk di bangku dekat suaminya

Kemudia ia mulai bercerita

Thian Ki dan Kui Eng, ingat baikbaik apa yang akan kuceritakan ini agar kelak tidak sampai terjadi sesuatu pada diri kalian

Thian Ki, engkau telah menjadi seorang tok-tong

Di dalam tubuhmu te rdapat racun yang amat hebat, seluruh darahmu mengandung racun, juga tubuhmu penuh dengan hawa beracun yang dapat membunuh siapa saja, bahkan orang-orang seperti aku dan ayahmu dapat saja terbunuh oleh racun di tubuhmu itu.

Wah, hebat kalau begitu! Ibu, kalau kakak Thian Ki mempunyai tubuh sehebat itu, kenapa aku tidak

Ibu dan ayah, jadikanlah aku seperti dia, aku ingin mempunyai tubuh beracun seperti itu agar dapat kubasmi semua orang jahat di dunia ini!

I h, Kui Eng, enak saja kau bicara!

Thian Ki menegur adiknya

Apa sih senangnya punya tubuh beracun

Lihat saja aku

Aku ingin bermainmain denganmu, berlatih silat denganmu tidak bisa! Kalau racun di tubuhku ini dapat le nyap, aku akan berbahagia sekali!

I bu, kenapa kakak Thian Ki menjadi Tok-tong

Bagaimana te rjadinya!

tanya pula Kui Eng, tidak perduli akan keluhan kakaknya

Semua ini gara-gara nenekmu, Lo Nikouw

...

Aih, nenek Lo N ikouw

Ibu dari ibu yang jarang ibu ceritakan itu

Bagaimana nenek bisa menjadi gara-gara keadaan toako ibu?

I buku, nenek kalian itu adalah seorang ahli racun yang tiada keduanya di empat penjuru sehingga ia dikenal sebagai Ban-tok Mo-li (Iblis Betina Selaksa Racun)..........

I hhhh! Julukannya mengerikan benar!

seru Kui Eng

Julukannya itu adalah ketika ia belum menjadi seorang nikouw, Kui Eng

Sekarang ia dikenal sebagai Lo Nikouw yang pekerjaannya hanya berdoa

Nenek kalian itulah yang diluar tahuku telah membuat Thian Ki menjadi tok-tong, dengan cara merendam tubuh Thian Ki ketika masih kecil ke dalam ramuan obat beracun

Aku mengetahui hal itu setelah terlambat.

Aih, kenapa nenek begitu jahat terhadap Thian Ki, Ibu?

Kui Eng berseru dengan penasaran

Hush, jangan berkata begitu, Kui Eng!

tiba-tiba Cian Bu yang se jak tadi hanya mendengarkan saja, berseru kepada pute rinya

Nenekmu melakukan hal itu justeru karena ia menyayang Thian Ki

Ia ingin membuat Thian Ki menjadi orang yang tak te rkalahkan, dan dalam hal ini, ia te lah banyak membantu dan usahanya itu berhasil

Kalau bukan seorang ahli yang amat pandai, bagaimana mungkin ia dapat membuat cucunya menjadi toktong

Orang lain yang tubuhnya mengandung racun seperti Thian Ki, takkan mampu bertahan hidup lagi

Ne nekmu itu memang hebat!

Akan tetapi aku tidak suka menjadi tok-tong! Aku tidak ingin menjadi orang  yang tak te rkalahkan!

teriak Thian Ki

Aih, toako

Kenapa engkau begitu bodoh

Sepantasnya engkau berte rima kasih kepada nenek

Kalau aku yang menjadi seperti engkau, wah, aku akan merasa bangga dan senang sekali

Akan kukalahkan seluruh jagoan di dunia ini! Ibu, bawa aku kepada nenek biar aku juga dijadikan seorang anak beracun.!

Hemm, kaukira mudah menjadikan seseorang beracun seperti itu

Hanya anak yang masih kecil dan berbakat saja yang akan mampu hidup menjadi anak beracun

Engkau sudah besar, Kui Eng, tidak mungkin menjadi anak beracun lagi

Baru Thian Ki saja menjadi tok-tong kami sudah bingung, masa engkau ingin menjadi anak beracun lagi!

kata Sim Lan Ci

Sementara itu, Cian Bu menghela napas panjang

Dia mencita-citakan Thian Ki kelak menjadi seorang jagoan nomor satu di dunia

Thian Ki telah menjadi tok-tong, berbakat baik dan te lah digemble ngnya dengan sungguh sungguh, akan tetapi ternyata anak itu tidak suka menjadi jagoan seperti yang dia idamkan

Kalau saja Thian Ki mempunyai semangat seperti yang diucapkan Kui Eng tadi! Thian Ki berwatak lemah, terlalu baik, tidak suka akan kekerasan, tidak ingin menjadi jagoan tak terkalahkan, padahal dia memiliki kemampuan untuk itu

Sebaliknya semangat Kui Eng berkobar-kobar

I bu, kenapa nenek memperlakukan aku seperti ini

Aku juga ingin berte mu dengan nenek, akan kuminta agar dia melenyapkan racun dari tubuhku!

kata Thian Ki

Tidak semudah itu, Thian Ki

Racun itu te lah menjadi satu dengan darahmu, biar nenekmu sendiri tidak akan dapat melenyapkannya

Hanya satu cara saja......

Wanita cantik itu menghentikan kata-katanya, menyadari bahwa ia te lah terlanjur bicara

Thian Ki segera menyambar kesempatan itu

I bu, katakan

Apa caranya akan kute mpuh segala cara untuk membuat aku menjadi manusia biasa

Katakanlah, apa cara yang satu-satunya itu?

Karena sudah terlanjur bicara

Sim Lan Ci memandang suaminya, lalu berkata

Caranya hanya menularkan racun itu kepada orang lain

Sedikitnya kepada sepuluh orang dan mereka itu akan te was

Biarpun setiap orang hanya menerima sepersepuluh bagian saja, cukup untuk membuat ia tewas

N ah, setelah menewaskan belasan orang, barulah ada kemungkinan racun itu akan le nyap dari tubuhmu.

Mendengar ini, Thian Ki termenung dan wajahnya dibayangi kedukaan

Kalau begitu.....selama hidupku sampai mati.........aku tidak akan dapat melenyapkan racun keparat ini dari tubuhku.......

Ucapan ini saja menyatakan bahwa ia tidak suka membunuh orang, biar hal itu demi keselamatan diri sendiri

Melihat ini, Cian Bu lalu menghibur

Sebetulnya tidak perlu dilenyapkan, apa lagi kalau caranya demikian sulit

Asalkan Thian Ki dapat menguasai racun itu, dapat menekannya sehingga racun itu tidak bekerja, kecuali hanya kalau di perlukan saja, maka tentu dia akan hidup seperi orang biasa

Hanya pada saat tertentu saja dia dapat mengerahkan kekuatan racun itu

Sayang, sudah kucoba, namun aku belum menemukan caranya untuk mengajar dia dapat mengendalikan hawa beracun itu.

Mendengar ini, Thian Ki memandang ibunya 

I bu, dapatkah nenek mengajariku agar aku dapat menguasai racun ini

Biarpun tidak dapat le nyap, kalau aku dapat menguasainya seperti dikatakan ayah, sudah lumayan.......

Sim Lan Ci mengerutkan alis nya

Sudah tujuh tahun lebih ia meninggalkan ibunya yang berada di kuil Thian ho-tong di luar dusun Mo-kim-cung

Bahkan rumahnyapun ia tinggalkan

Sejak ia dan almarhum suaminya, Coa Siang Lee meninggalkan dusun Mo-kim cung berkunjung ke pusat He khouw-pang di dusun Ta-bun-cung, yaitu te mpat tinggal keluarga almarhum suaminya, ia tidak pernah lagi kembali ke Mo-kim cung

Terlalu banyak peris tiwa terjadi sejak ia dan suami pertamanya itu meninggalkan Mo-kim-cung

Di He k-houw-pang itulah te rjadinya malapetaka yang membuat suaminya tewas dan ia bersama Thian Ki ikut Cian Bu Ong dan kemudian bahkan menjadi isteri bekas pangeran itu yang kini bernama Cian Bu

Tujuh tahun le bih te lah le wat dari kini percakapan te ntang ibunya membuat ia teringat akan semua itu

Bagaimana, ibu?

Thian Ki mendesak ketika melihat ibunya te rmenung

Aku masih ingat, nenek adalah seorang nikouw yang ramah dan baik budi, selalu bersikap baik kepadaku

Beliau tentu akan suka menolongku, ibu.

Wanita itu menghela napas panjang

Tidak tahulah, Thian Ki

Aku memang pernah mempelajari ilmu-ilmu dari ibuku te ntang ilmuilmu pukulan beracun, akan te tapi aku tidak pernah diajari ilmu membuat seseorang menjadi tok-tong, juga tidak tahu menahu tentang cara menguasai hawa beracun dalam tubuh

Ilmu pukulan beracun memang han ya timbul hawa beracun itu kalau ilmu itu dipergunakan untuk berkelahi, kalau pengerahan tenaga sakti dilakukan dengan cara te rtentu disamping latihan yang menggunakan racun

Akan te tapi racun yang sudah menjadi satu dengan darah seperti yang kaualaml, biasanya hanya membuat orang itu mati

Engkau sebaliknya hidup dengan sehat dan kuat, dan racun itu bekerja di luar kehe ndakmu

Aku tidak tahu.........

Kalau begitu, kenapa tidak ke sana saja.

Kita semua pergi ke s ana mencari ibumu, minta agar ia suka mengajari Thian Ki menguasai racun di dalam dirinya, dan kita sekalian berpesiar ke timur

Anak-anak ini perlu mendapatkan pengalaman, juga aku ingin sekali melihat keadaan di sana sekarang ini

Tentu ramai sekali.

Sim Lan Ci te rkejut, akan tetapi juga wajahnya berseri gembira sekali

Benarkah.......

Tidak.........tidak akan ada halangannyakah?

Ia memandang suaminya dengan khawatir

Suaminya pernah menjadi seorang buruan pemerintah, kalau sekarang mereka menuju ke timur, bukankah itu sama saja dengan ular mencari pemukul

Cian Bu menggeleng kepala dan meraba je nggotnya yang dipotong pendek

Dia mengerti apa yang dimaksudkan is terinya, dan diapun te rsenyum yakin akan dirinya sendiri bahwa keadaannya sudah berubah sama sekali

Dahulu dia bertubuh tinggi besar dengan jenggot panjang dan pakaian bangsawan

Akan te tapi sekarang, biarpun dia masih tinggi besar, namun perutnya agak gendut, dan je nggotnya pendek

Juga dia mengenakan pakaian biasa, pakaian seorang petani kaya

Juga rambut di kepalanya dibiarkan tidak te rtutup, digelung ke atas, tidak pernah memakai penutup kepala yang biasa dipakai para bangsawan

Pula, sejak lama tidak pernah ada pasukan yang mencarinya, dan setelah Pangeran Li Si Bin menjadi kaisar, dia merasa lebih aman

Tidak akan ada halangan

Hari kita pergi mengunjungi ibumu dan mudah-mudahan saja ia akan dapat membimbing Thian Ki sehingga dia dapat menguasai hawa beracun di dalam tubuhnya.

Mendengar bahwa ayah ibunya akan mengajak ia dan kakaknya pesiar ke timur, ke kota-kota besar yang ramai, Kui Eng bersorak gembira

Anak perempuan berusia sebelas tahun itu kadangkadang masih amat kekanak-kanakan

Ia meloncat-loncat dan merangkul Thian Ki

Kita pesiar......! Horee, kita pesiar

Toako, alangkah senangnya dan ini semua jasamu!

Ia merangkul le her Thian Ki sehingga mukanya hampir melekat ke muka pemuda remaja itu

Biarpun sejak kecil sudah biasa dia bermain main dengan Kui Eng, akan te tapi kini dia menyadari bahwa Kui Eng sudah mulai besar, bukan anak kecil lagi dan dia tahu benar bahwa Kui Eng bukan apa-apa dengan dia, berbeda ayah berbeda ibu

Maka rangkulan yang demikian akrab dan mes ranya membuat Thian Ki menjadi tersipu dan mukanya kemerahan, akan te tapi dia tidak berani melarang adiknya

Eh, Kui Eng, engkau seperti anak kecil saja

Bagaimana bisa menjadi jasaku?

tanyanya

Kui Eng melepaskan rangkulannya

Tentu saja! Kalau engkau tidak menjadi tok-tong, kalau ayah dan ibu tidak menghendaki engkau dibimbing nenek, belum tentu kita pesiar ke timur.

Thian Ki tertawa

Ayah dan ibu merekapun te rtawa

Dan beberapa hari kemudian keluarga inipun meninggalkan dusun Ke-cung, menunggang empat ekor kuda menuju ke timur

Perjalanan pada masa itu amatlah sukar

Tidak mungkin menggunakan kereta yang besar karena harus melalui bukit-bukit, kadang harus menyeberangi sungai

Akan tetapi keluarga itu adalah orang-orang yang sudah te rbias a dengan kehidupan di alam te rbuka, pandai pula menunggang kuda dan berkat latihan ilmu silat membuat tubuh mereka kuat dan kebal te rhadap serangan angin, hawa dingin atau panas

Juga tidak mudah le lah

Perjalanan yang sukar itu bahkan membuat mereka bergembira sekali, te rutama Kui Eng yang selalu bercanda dan gadis cilik yang lincah ini membuat kakaknya, ayah dan ibunya,  selalu merasa gembira

Sebelum berangkat, dengan sungguh-sungguh Cian Bu memesan kepada isteri dan kedua orang anaknya agar tidak memperlihatkan bahwa mereka adalah keluarga yang pandai ilmu silat

Kalau orang-orang tahu bahwa kita adalah keluarga ahli silat, hal itu hanya akan mendatangkan kecurigaan dan perhatian saja, membuat perjalanan kita mengalami banyak gangguan dan menjadi tidak leluasa lagi.

demikian dia mengakhiri pesannya

Tapi, bagaimana kalau kita diganggu orang, ayah

Apakah kita harus diam saja, membiarkan kita diganggu

Bagaimana kalau ada perampok?

Kui Eng yang selalu membantah kalau  dianggapnya pesan siapa saja tidak te pat itu bertanya dan diam-diam Thian Ki menyetujui pertanyaan itu walaupun dia sendiri tidak akan berani menyangkal seperti itu

Cian Bu te rsenyum

Dia mengenal baik watak pute rinya itu, watak yang disukainya, cocok dengan dia

Tak pernah menyembunyikan sesuatu yang membuat hati penas aran

Ha-ha-ha, kalau te rjadi seperti yang kaukatakan itu, diamlah saja, bersabarlah, dan serahkan saja kepadaku untuk mengatasinya

Mengerti.

Me ngerti, ayah,

kata Kui Eng, akan tetapi alisnya berkerut

Eh, kenapa engkau masih saja cemberut, Kui Eng.

tanya ibunya

Habis, pesan ayah ini aneh sih! Bagaimana kita harus diam dan bersabar saja kalau ada orang jahat mengganggu

Kenapa sih kita harus berpurapura tak berdaya, penakut dan lemah.

Cian Bu menjadi bingung untuk menjawab, akan tetapi isterinya yang cerdik segera membantu suaminya

Kui Eng, ketahuilah bahwa ayah dan ibumu dahulu adalah ahli-ahli silat yang suka bertualang dan karenanya, kami telah merobohkan banyak lawan dan karena itu tentu saja banyak yang merasa dendam dan akan memusuhi kita

Dari pada banyak halangan di perjalanan yang hanya akan menyulitkan dan melelahkan, lebih baik tidak ada yang mengenal kita sehingga kita dapat berpesiar dengan gembira dan dapat cepat tiba di tempa tinggal nenekmu

Nah, mengertikah engkau?

 Kui Eng mengangguk-angguk dan alas an itu le bih dapat dite rimanya

I a hanya tidak suka kalau akan dianggap penakut menghadapi gangguan orang jahat

Akan tetapi kalau hanya untuk menjaga agar perjalanan mereka dapat lancar, maka ia pun dapat menerimanya.! Perjalanan dilakukan dengan gembira, tidak te rgesa-gesa, bahkan kalau mereka mele wati daerah yang indah, mereka berhenti untuk menikmat keindahan daerah itu

Juga kalau melewati kota yang ramai, mereka berhenti dan bermalam sampai dua tiga malam untuk memberi kesempatan kepada anak-anak mereka, terutama sekali Kui Eng, untuk bersenang senang

Kui Eng memang belum pernah melihat barangbarang yang dianggapnya amat indah menarik yang te rdapat di kota-kota besar

Tidak demikian dengan Thian Ki

Ketika meninggalkan rumah bersama ayah ibunya, dia sudah berusia lima tahun lebih dan dia sudah melalui banyak kota

Juga mengenai alas an yang disembunyikan Cian Bu dari Kui Eng, dia le bih tahu

Dia sudah tahu bahwa ayah tirinya adalah seorang bekas pangeran yang pernah dicari-cari pasukan pemerintah

Ayahnya yang berilmu tinggi tentu saja tidak takut menghadapi gangguan penjahat, namun khawatir kalau sampai dikenal oleh pasukan pemerintah karena hal itu pasti akan mendatangkan kesukaran bear, bahkan bahaya besar

Sikap mereka yang bersahaja, sebagai keluarga biasa yang sedang melakukan perjalanan, memang tidak menarik perhatian orang

Pakaian mereka sederhana dan tidak nampak memakai perhiasan mahal, juga tidak membawa banyak barang kecuali buntalan pakaian

Juga Sim Lan Ci biarpun masih cantik, namun ia sudah setengah tua, hampir empatpuluh tahun usianya, sedangkan Kui Eng juga masih te rlalu kecil untuk menarik perhatian laki-laki mata keranjang

Semua ini membuat perjalanan mereka menjadi aman, tidak pernah diganggu orang

Pada suatu sore, mereka memasuki kota Wu-han yang besar, kota terbesar yang pernah mereka lalui

Tempat yang mereka tuju adalah kuil Thianho-tang yang te rletak di luar dusun Mo-kim-cung, di le reng Coa-san (Bukit Ular)

Tempat itu tidak jauh lagi dari Wuhan, hanya perjalanan sehari lagi saja dengan kuda

Mereka memasuki kota Wuhan dan karena kuda mereka sudah lelah, mereka sendiripun perlu beristirahat dan hari sudah menjelang senja, Cian Bu lalu menyewa dua buah kamar untuk mereka

Sebuah kamar untuk dia dan Thian Ki, sebuah kamar lain untuk Kui Eng dan ibunya

Setelah mendapatkan kamar, mereka mandi dan berganti pakaian bersih

Kemudian Cian Bu mengajak keluarganya makan malam di sebuah rumah makan yang paling besar di kota itu

Rumah makan ini te lah ada sejak dia masih menjadi pangeran, hanya sekarang yang mengelola adalan anak dari pemilik dahulu yang sudah meninggal dunia

Ada di antara pelayan tua yang masih diingat oleh Cian, Bu

a kan tetapi tentu saja mereka itu tidak mengenalnya karena dahulu dia adalah seorang pangeran yang kalau datang berkereta, dengan pakaian mewah, diiringkan pengawal dan sekarang dia hanya seorang laki-laki yang membawa anak iste rinya makan di situ

Cian Bu masin ingat masakan apa yang istimewa dari rumah makan ini

Dia memesan masakanmasakan itu dan merekapun makan dengan gembira

Apalagi Kui Eng, anak ini gembira bukan main karena merasakan masakan-masakan yang luar biasa, baru dan lezat baginya

Sejak tadi, Cian Bu dan is terinya sudah melihat adanya dua orang laki-laki yang duduk di ruangan rumah makan itu, di sudut terpisah dua meja dari te mpat duduk mereka

Dua orang laki-laki ini te ntu akan luput dari perhatian mereka kalau saja dua orang itu tidak memperlihatkan sikap yang mencurigakan

Sejak tadi dua orang itu memperhatikan mereka, terutama sekali memperhatikan Kui Eng yang makan minum dengan gembira

Mereka adalah dua orang laki-laki yang berusia kurang le bih tigapuluh tahun

Yang seorang bertubuh tinggi kurus dengan muka meruncing seperti muka kuda, sedangkan orang ke dua bertubuh tinggi besar dengan muka bopeng bekas cacar, mereka memperhatikan Kui Eng lalu berbisik-bisik sambil terus melirik ke arah Kui Eng yang kebetulan duduknya menghadap mereka

Sebagai suami isteri yang sudah berpengalaman, sikap kedua orang itu amat mencurigakan

Mereka berdua tahu bahwa di dunia kangouw, di dalam dunia sesat terdapat orang-orang yang keji dan aneh, orang-orang yang mempunyai selera rendah yang amat mes um

Ada penjahat cabul yang suka menculik dan mempermainkan gadis-gadis cilik, adapula bahkan yang suka menculik pemudapemuda remaja! Memang jarang sekali manusia macam ini, akan tetapi kenyataannya memang ada dan suami isteri itu dalam petualangannya dahulu pernah bertemu dengan manusia seperti itu

Maka kini melihat sikap mereka ketika memandang ke arah Kui Eng, cukup membuat mereka waspada

Setelah selesai makan dan membayar harga makanan dan minuman, Cian Bu mengajak isterinya untuk berpesiar ke sebuah taman rakyat yang berada di pinggir kota

Taman itu cukup indah dan te rpelihara baik-baik

Di tengah taman itu terdapat pula sebuah danau kecil yang cukup untuk dipakai berperahu oleh anak-anak yang berkunjung ke te mpat itu

Malam ini suasana di situ cukup ramai karena selain lampu-lampu pene rangan berupa le nte ra beraneka warna yang menerangi tempat itu, te rdapat pula bulan yang hampir purnama

Kui Eng berte riak-teriak gembira ketika memasuki taman dan ia mendahului kakak dan orang tuanya, masuk lebih dulu sambil setengah berlari

Ayah dan ibunya hanya tersenyum saja, membiarkan pute ri mereka itu bergembira

Thian Ki mempercepat langkahnya untuk menemani adiknya, akan te tapi dia yang merasa sudah besar malu untuk berlari-lari seperti Kui Eng

Anak perempuan itu berteriak kegirangan menghampiri sebuah kolam ikan di mana terdapat bunga-bunga te ratai dan ikan-ikan emas

Ditimpa sinar bulan dan sinar le ntera yang dipasang di te pi kolam, memang bunga te ratai dan ikan-ikan itu nampak indah sekali

Wah, ikan-ikan beraneka warna

Lihat itu, ada yang putih, kuning, merah.......indah sekali!

Kui Eng berte riak-teriak, ia tidak tahu bahwa ada dua orang pria menghampirinya dan seorang di antara mereka, yang bertubuh tinggi kurus dengan muka seperti kuda menyentuh lengannya

-ooo0dw0ooo-