--> -->

Naga Beracun Jilid 10

Jilid 10 

Aku pernah menyewa kamar ini selama seminggu

Tidurkanlah anakmu, di sini tenang.

kata Hong San

De ngan hati lega dan berterima kasih Bi Lan lalu memasuki kamar itu, menidurkan Lan Lan di atas pembaringan dan melepaskan buntalannya, meletakkannya di atas meja

Setelah menyalakan sebatang lilin lagi untuk menambah penerangan di kamar itu, iapun keluar dari dalam kamar

Baik, kongcu, aku akan berusaha mendapatkan   apa yang kaucari itu

Nah, aku akan pergi sekarang juga

Nyonya, beristirahatlah, saya hendak pergi dulu mencarikan kuda dan kereta yang dipesan kongcu.

Petani itu menjura ke arah Bi Lan, lalu keluar dari pondok, menutupkan daun pintunya dengan hati-hati dari luar

Bi Lan kini duduk menghadapi meja bersama Hong San setelah pemuda itu mempersilakannya duduk

Mereka saling berpandangan, dan keduanya kagum

Di bawah sinar lampu yang remang-remang mereka saling mengagumi wajah masing-masing

Hong San melihat betapa wajah yang bulat itu berkulit putih mulus, juga leher dan tangan itu

Putih mulus yang wajar

Hidung yang mancung kecil itu mungil dan mata itu bagaikan sepasang bintang, gemerlapan tajam

Di lain pihak, Bi Lan juga kagum

Pemuda yang usianya sekitar duapuluh tujuh tahun itu memang tampan dan gagah

Pakaiannya seperti seorang sastrawan, sederhna namun bersih

Caping lebar yang tadi dipergunakannya, kini te rgantung di dinding

Wajah itu jantan

Hidungnya mancung dan besar, matanya tajam agak terlalu hitam, dan bibirnya kemerahan seperti bibir wanita, akan te tapi lebih besar dan penuh gairah

Kulitnya agak coklat dan wajah itu membayangkan ketampanan orang dari daerah barat

Hal ini tidak aneh karena Can Hong San memang berdarah Nepal

Ibu kandungnya seorang puteri Nepal! 

Nah, sekarang kuharap engkau suka memperkenalkan dirimu, nyonya, te ntu saja kalau engkau percaya kepadaku.

Bi Lan menarik napas panjang

Tentu saja aku percaya kepadamu, tai-hiap.

!

Nanti dulu, nyonya!

Hong San menghentikan dengan mengangkat tangan kanan ke atas

Harap engkau tidak menyebut aku tai-hiap, sungguh hanya membuat aku merasa malu dan canggung!

Lalu ia menatap tajam wajah yang manis itu

Maukah engkau menyebut aku toako (kakak) saja

Namaku Hong San dan aku sama sekali tidak suka disebut tai-hiap (pendekar besar), apa lagi oleh seorang wanita perkasa seperti nyonya.

Bi Lan te rsenyum

Hemm, engkau melarangku menyebutmu tai-hiap, akan tetapi engkau sendiri menyebut aku nyonya! Seharusnya aku menyebut tuan kepadamu, akan te tapi engkau ingin aku menyebut toako

Kalau aku menyebut kakak, apa sebutan seorang kakak terhadap adiknya?

Hong San tertawa gembira

Biarpun tidak banyak bicara, te rnyata wanita ini dapat diajak berkelakar

Baiklah, aku akan menyebutmu moi-moi (adik perempuan)

Aneh, seorang kakak tidak tahu nama adiknya!

Toako, namaku Bi Lan, Kwa Bi Lan.

Hemmm, nama yang indah sekali!

Kiranya selain gagah perkasa, engkau juga seorang perayu, toako

Namaku biasa saja engkau katakan indah.

Maaf, Lan-moi

Aku bukan bermaksud merayu, hanya........ah, sudahlah, aku hanya berkelakar, lanjutkan bicaramu.

Bicara apa lagi

Sudah kuperkenalkan namaku

Aku Kwa Bi Lan dan ana kku itu, namanya Lan Lan.

Dan siapa nama suamimu

Di mana te mpat tinggalmu dan kenapa engkau melakukan perjalanan berdua saja dengan anakmu yang masih kecil

Darimana dan hendak ke manakah engkau pergi, Lan-moi?

Bi Lan melirik ke arah wajah pemuda itu, te rsenyum sedih

Orang ini demikian memperhatikan dirinya dan pertanyaannya datang seperti banjir saja

Toako, engkau ingin tnhu segalanya, akan tetapi engkau tidak mau menceritakan segalanya te ntang dirimu sendiri

Engkau hanya memperkenalkan namamu, dan akupun sudah membalas dengan memperkenalkan nama kami

Kalau ingin mendengar tentang keadaan dan keluargaku, tidakkah sepatutnya kalau seorang laki-laki lebih dahulu menceritakan tentang dirinya?

Ha-ha-ha, engkau tidak mau kalah, itu tandanya engkau belum percaya benar kepadaku

Baiklah, akan kuceritakan semua tentang diriku, akan tetapi tidak ada yang menarik tentang diriku

Aku berusia duapuluh tujuh tahun, aku hidup sebatangkara, belum pernah menikah, yatim piatu dan tidak mempunyai keluarga seorangpun

Aku tidak mempunyai te mpat tinggal yang te tap

Seorang kelana yang tidak mempunyai apa-apa

Guruku adalah ayahku sendiri yang sudah meninggal dunia, bernama Can Siok

Selama ini aku hanya mengembara, kemana saja hati dan kaki ini membawaku

Nah, hanya inilah cerita te ntang diriku, Lan-moi

Sama sekali tidak menarik, bukan?

Bi Lan mendengarkan dengan heran

Seorang pemuda yang begini tampan gagah, berilmu tinggi, usianya sudah sangat dewasa, kenapa hidup seorang diri saja dan tidak menikah

Tentu seorang pendekar petualang ynng selalu ingin hidup bebas.! 

Eh

Kenapa engkau diam saja, Lan-moi

Aku sudah siap mendengarkan cerita tentang dirimu!

Bi Lan menghela napas panjang

Kalau engkau mengatakan bahwa riwayatmu tidak menarik, sebaliknya riwayatku le bih buruk lagi, malah hanya menyedihkan saja.

Yang sudah lalu hanya menjadi kenangan, Lanmoi, tidak ada gunan ya disedihkan lagi

Nah, ceritakanlah, aku ingin sekali mendengar agar perkenalan antara kita menjadi lebih akrab.

Akupun hidup berdua saja dengan anakku Lan Lan

Sekarang inipun aku masih belum mempunyai te mpat tinggal yang te tap.

Bi Lan berhenti seolah-olah cerita tentang dirinya habis sekian saja

Tapi, suamimu.........?

Hong San mendesak

Dan siapa pula gurumu, orang tuamu?

Kedua orang tuaku sudah lama meninggal dunia

Dan suamiku, dia juga guruku sendiri, dia sudah meninggal dunia.........

Mendengar suara yang mengandung duka itu, Hong San menarik napas panjang dan diam-diam dia menekan perasaan girangnya mendengar bahwa wanita ini adalah seorang janda! 

Aih, maafkan pertanyaanku tadi, Lan-moi

Siapa kira, semuda ini engkau telah ditinggal mati suami dan hidup berdua saja dengan seorang pute ri

Kalau boleh aku bertanya, siapakah nama mendiang suamimu

Kalau dia menjadi gurumu, te ntu dia lihai sekali.

Nama mendiang suami dan juga guruku adalah Liu Bhok Ki...........

Hong San terbelalak dan dia demikian te rkejut sehingga bangkit berdiri dari kursinya

Dia......

Kau maksudkan Sin-tiauw (Si Rajawali Sakti) Liu Bhok Ki?

Melihat kekagetan pemuda itu, Bi Lan tidak merasa heran

Nama besar mendiang suaminya memang amat te rkenal di dunia persilatan

Iapun mengangguk bangga

Aihhhh, pantas kalau begitu,

kata Hong San sambil duduk kembali dan memandang kagum

Pantas kalau engkau memiliki ilmu silat yang lihai

Kiranya murid dan juga is te ri Si Rajawali Sakti

Akan te tapi, maaf Lan-moi

Kulihat tadi dalam gerakan silatmu ada dasar ilmu silat Siauwlim-pai.

Penglihatanmu tajam sekali, toako dan ini membuktikan bahwa ilmu kepandaianmu sudah sangat tinggi

Memang, sebelum aku menjadi murid suamiku, a ku pernah mempelajari ilmu silat Siau-lim-pai.

Hebat ...! Murid Siauw-lim-pai yang kemudian menjadi murid Si Rajawali Sakti! Aku girang sekali dapat berte mu dan berkenalan denganmu, Lanmoi! Lalu kemana engkau hendak pergi?

Sampai lama Bi Lan berdiam diri

Ia sendiri tidak dapat menjawab karena memang ia tidak tahu kemana ia akan pergi! Ia telah menculik Lan Lan dan ia tidak berani kembali ke rumah suaminya di Kim-hong-san, karena tentu Si Han Beng dan Bu Giok Cu akan mencari anak mereka dan mengejarnya kesana! Dan ia pasti tidak akan mampu mempertahankan kalau mereka itu merampas Lan Lan

Ilmu kepandaian mereka terlampau tinggi baginya

Melawan Bu Giok Cu saja ia tidak akan menang, apalagi melawan Si Han Beng dan lebihle bih menghadapi mereka berdua! Dan ia sudah jatuh cinta kepada anak itu yang kini menyebut ibu kepadanya

Ia tidak mempunyai suatu tempat untuk pergi, maka pertanyaaan Hong San membuat ia bingung, tidak tahu bagaimana harus menjawab

Kemudian ia te ringat kepada pamannya Lie Koan Tek

Daripada tidak dapat menjawab, dia lalu berkata

Aku masih mempunyai seorang paman, saudara dari mendiang ibuku

Aku akan mencari pamanku itu, toako.

Siapakah pamanmu itu?

Dia seorang tokoh Siauw-lim-pai namanya Lie Koan Tek.

Lie Koan Tek.......?

Hong San te rbelalak

Terbayanglah kini ketika dia berte mpur melawan Lie Koan Tek, dikeroyok oleh Poa Liu Hwa isteri mendiang Kam Seng Hin ketua Hek-houw-pang, kemudian muncul seorang gadis perkasa dan...........Hong San te rbelalak

Ahhhhh........!!

Dia meloncat dari tempat duduknya, bangkit berdiri dan memandang kepada Bi Lan dengan kaget

Inilah gadis yang dulu membantu Lie Koan Tek dan Poa Liu Hwa! 

Ada apakah, toako

Engkau kelihatan te rkejut sekali.

Hong Sen cepat mengerahkan te naga untuk menenangkan hatinya dan wajahnya yang tadi   berubah agak pucat itu menjadi merah kembali

Dia bukan terkejut mendengar nama Lie Koan Tek, melainkan terkejut ketika teringat bahwa gadis inilah yang dulu pernah membantu Lio Koan Tek mengeroyoknya

Tak dapat dia membayangkan bagaimana akan sikap wanita ini kalau mengenalnya! 

Aku memang te rkejut mendengar nama pamanmu

Tentu saja aku mengenal nama itu

Yang mengejutkan adalah karena engkau hendak mencarinya

Padahal menurut pendengaranku, pamanmu adalah seorang pelarian dan buruan pemerintah! Kabarnya dia telah melarikan diri dari penjara, bahkan membantu gerakan pemberontak

Bagaimana engkau akan mencari pamanmu yang sedang diburu pemerintah?

Bi Lan menarik napas panjang

Tentu saja ia tahu akan hal itu dan kalau tadi ia mengatakan hendak mencari pamannya, hal itu dilakukan hanya agar dapat menjawab pertanyaan Hong San saja

Aku tahu akan hal itu, toako

Akan tetapi......aku tidak tahu lain tempat lagi yang dapat kuharapkan menjadi tempat tinggalku

Aku akan berkelana saja.......

katanya sedih

Hong San tersenyum

Dia sudah mampu menguasai dirinya lagi

Jelas bahwa Bi Lan tidak ingat kepadanya

Pertemuan antara mereka hanya te rjadi sebentar saja, dan itupun dalam perte mpuran, sehingga wanita ini tidak mengenal dan tidak mengingatnya sama sekali

Betapapun juga, dia harus berhati-hati dan ada sesuatu yang tidak nyaman rasanya di hati setelah dia mengetahui siapa wanita ini

Kalau sampai Bi Lan mengenalnya.! 

Lan-moi, kalau engkau hidup seorang diri, kiranya tiada salahnya menjadi seorang pengelana seperti aku ini

Akan tetapi ingat, engkau mempunyai seorang pute ri yang masih kecil

Tidak mungkin akan mengajaknya berkelana tanpa tujuan

Tidak baik bagi pendidikan puterimu.

Aku mengerti, toako

Akan tetapi apa dayaku

Aku tidak tahu ke mana harus pergi.

He ning sejenak

Hong San tidak mau tergesagesa

Dia harus mengakui bahwa setelah kini wanita itu duduk di depannya, dekat dan di bawah sinar lampu sehingga dia dapat mengamati wajah itu dengan jelas

Setelah wanita itu bicara, apalagi setelah mendengar bahwa wanita itu s eorang janda muda yang hidup sebatangkara, hatinya semakin te rtarik dan dia tahu bahwa sekali ini dia jatuh cinta! Belum pernah perasaan seperti ini menguasai hatinya

Bias anya terhadap wanita cantik, hanya berahinya yang timbul

Akan te tapi sekali ini lain

Dia ingin memiliki Bi Lan seluruhnya dan sepenuhnya, untuk selamanya

Dia ingin menyenangkan hati wanita ini, membahagiakannya, dan dia ingin berdampingan selamanya! Dia ingin membuat wajah yang manis ini selalu tersenyum dan cerah berseri

Akan tetapi dia harus berhati-hati

Kalau janda ini sampai dapat menje nguk dan mengetahui latar belakang kehidupannya! Dia ngeri membayangkan akibatnya

Tiba-tiba dia seperti dipaksa ole h sesuatu mengangkat mukanya menatap wanita itu

Dan te rnyata wanita itupun sedang memandang kepadanya

Agaknya pandang mata wanita itulah yang tadi menyentuh perasaannya dan membuatnya mengangkat muka memandang

Dua pasang mata bertaut sejenak, lalu Bi Lan menundukkan mukanya

Lan-moi, apakah engkau percaya kepadaku?

tiba-tiba Hong San bertanya

Eh

Kenapa, toako

Tentu saja aku percaya padamu

Engkau adalah penolongku.

'Kita baru saja bertemu, engkau belum mengenal benar siapa diriku, dan orang macam apa adanya aku

Mungkin saja aku ini seorang penipu, seorang penjahat.....

Aih, jangan mengada-ada, toako

Aku yakin bahwa engkau seorang yang baik budi, gagah perkasa, dan.........

Belum te ntu, Lan-moi

Di dunia ini, di mana ada manusia sempurna tanpa salah

Akupun, sebagai manusia biasa, pernah melakukan kesalahan, pernah tersesat dan berdosa........

Sudahlah, toako

Apa sebetulnya yang hendak kaukatakan maka engkau bertanya apakah aku percaya kepadamu

Aku percaya.! N ah, lalu apa?

Hong San menelan ludah

Baru sekarang dia merasa begini gugup dan te gang! 

Begini, Lan-moi.

Biarpun kita baru saja saling berte mu secara kebetulan dan saling berkenalan, namun rasanya bagiku engkau seorang sahabat lama dan kita saling percaya

Engkau dan puterimu hidup sebatangkara, dan akupun demikian

Maukah engkau kalau aku mencarikan sebuah tempat tinggal untuk engkau dan anakmu di mana e ngkau akan hidup dengan tenang dan tenteram?

Sejenak Bi Lan hanya memandang wajah pemuda itu

Sungguh luar biasa kalau ada kenalan baru hendak menolongnya seperti itu.! Ia merasa te rharu, akan tetapi juga heran

Can-toako, kita baru saja berkenalan dan engkau sudah bersikap begini baik kepada kami

Seorang anggota keluarga sendiri belum tentu sebaik engkau! Kenapa engkau begini baik kepada kami dan ingin mencarikan te mpat tinggal untuk kami

Ke napa, toako?

Menghadapi sepasang mata yang bersinar tajam, yang memandangnya penuh selidik ini, Hong San tidak tahan menentang terlalu lama

Dia khawatir kalau sinar mata itu akan mampu menje nguk dan melihat latar belakang kehidupannya yang lalu! Dia lalu menunduk, menghela napas panjang beberapa kali sebelum menjawab dengun sukar

Kenapa aku ingin menolongmu

Ah kenapa, ya

Mungkin karena aku merasa kasihan sekali kepadamu dan kepada pute rimu, Lan-moi

Sejak kita saling jumpa ketika engkau dikeroyok perampok itu sudah timbul perasaan yang luar biasa dalam hatiku

Aku tidak berani mengatakan.......eh, cinta, itu akan terlalu lancang karena kita baru saja berkenalan

Akan tetapi, aku merasa kasihan dan ingin menolongmu,  membantumu, membahagiakan engkau dan anakmu, Lan-moi

Maafkan kelancanganku ini......

Sejenak Bi Lan berdiam diri, menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali

Ia meneliti perasaan sendiri, merasa kagum kepada laki-laki ini, kagum dan berte rima kasih

Akan tetapi lakilaki ini menyinggung soal cinta dan untuk itu, ia harus menjenguk lebih dalam dan ini membutuhkan waktu untuk dapat menentukan

Toako, tidak perlu meminta maaf

Orang-orang seperti kita memang sebaiknya kalau berte rus te rang secara jujur,

katanya

Terima kasih, Lan-moi

Memang sebaiknya begitu, aku tadi hanya takut kalau sampai menyinggung perasaanmu

Aku tidak berani mengatakan cinta karena selama ini aku belum pernah jatuh cinta kepada seorang wanitapun

Banyak wanita yang menarik, akan te tapi belum pernah aku merasakan jatuh cinta

Akan tetapi yang je las, aku merasa kasihan dan sayang kepadamu

Terimalah uluran tanganku untuk membantumu, Lan-moi

Tentu saja, kalau engkau percaya kepadaku

Kalau e ngkau tidak percaya dan menyangka ada maksud te rtentu yang buruk dalam hatiku terhadap dirimu, tentu aku tidak akan berani memaksamu.

Kalaupun ada keraguan di hati Bi Lan, maka keraguan itu tentu akan lenyap setelah mendengar ucapan pemuda itu yang demikian 

jujur

dan meyakinkan

Bagaimana aku berani menolak niat baikmu, toako

Apa lagi engkau tadi sudah menyuruh pemilik rumah ini mencarikan kuda dan kereta

Aku berte rima kasih dan menerima uluran tanganmu, akan tetapi dengan satu syarat, yaitu bahwa kalau kelak aku merasa tidak cocok dengan te mpat itu atau denganmu, aku akan membawa anakku pergi mengambil jalanku sendiri, dan harap engkau tidak menuduh aku tidak mengenal budi.

Hong San tertawa dengan gembira, wajahnya berseri

Tentu saja, Lan-moi

Tentu saja engkau bebas untuk menentukan langkahmu sendiri

Aku sudah merasa cukup bangga dan puas bahwa kau dapat mempercayaiku!

Pemilik rumah itu datang memberi laporan bahwa ada seorang penduduk dusun yang mau menjual kudanya, adapun keretanya dapat dibeli di kota Peng-lu

Karena pembelian mendadak dan te rgesa-gesa, tentu saja Hong San harus membayar hampir dua kali lipat harga umum

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali sebuah kereta meninggalkan dusun itu, dikusiri oleh Hong San

Bi Lan dan Lan Lan duduk di dalam kereta yang dilarikan dengan cepat

Mereka menuju ke kota raja! -ooo0dw0ooo- 

Akan tetapi, kenapa ke kota raja

Apakah engkau mempunyai keluarga di sana, toako

Ataukah sahabat?

Bi Lan bertanya ketika malam itu mereka berhenti di sebuah dusun di luar kota raja Tiang-an

Di kota raja yang ramai kita dapat dengan mudah mencari rumah tinggal yang baik, Lan-moi

Juga daerah paling aman sekarang ini adalah di kota raja

Selain itu, di kota besar ini kita akan dapat mencari penghasilan dengan mudah

Aku sendiri dapat berdagang, atau juga mencoba untuk mendapatkan kedudukan.

Bi Lan diam saja

Ia tidak dapat banyak memilih dan menyerahkan saja pada pemuda ini

Sikap yang selalu sopan dan ramah dari pemuda ini memang membuat ia percaya sepenuhnya

Akan tetapi ia masih ragu-ragu apakah ia dapat membalas kasih sayang pemuda itu kepadanya

Ada sesuatu yang membuatnya ragu

Pemuda ini seperti menyimpan suatu rahasia, dan kadang sikapnya aneh dan tidak wajar

Juga, sepasang mata yang te rlalu hitam dari pemuda itu kadangkadang membuatnya merasa ngeri

Kadang-kadang ia seperti melihat sinar yang aneh, penuh kekejaman

Kadang sinar yang dingin dan acuh, akan tetapi segera berubah lagi menjadi ramah, memancar dari sepasang mata itu

Lan-moi, sebelum kita memasuki kota raja, ada sesuatu yang perlu kau tahui dan aku memerlukan bantuanmu.

Setelah mereka agak lama berdiam diri Hong San bicara dengan suara halus dan lirih, seolah dia tidak ingin ada orang lain mendengar ucapannya

Bi Lan mengerutkan alisnya dan mengangkat muka, memandang kepada pemuda itu

Sinar mata pemuda itu nampak mengandung kecerdikan, akan tetapi juga kekhawatiran

Ada apakah, toako

Katakanlah, dan tentu s aja aku siap membantumu.

Ketahuilah, Lan-moi, bahwa kerajaan Tang yang sekarang ini, yang baru tiga empat tahun berdiri, dahulunya merupakan pemberontak-pemberontak te rhadap Kerajaan Sui.

Tentu saja,

kata Bi Lan

Setiap kerajaan atau pemerintahan baru yang merebut pemerintahan lama tadinya adalah pemberontak.

Nah, ketika Panglima Li Si Bin memimpin pasukan pemberontak, aku pernah membantu pasukan Kerajaan Sui untuk menentang pemberontak

Akan tetapi pasukan pemerintah gagal dan kalah

Kaisar Yang Ti melarikan diri dan akupun meninggalkan pasukan pemerintah.

Bi Lan tidak merasa heran

Dalam suasana perang saudara seperti itu, banyak orang te rlibat, dan diapun tahu bahwa banyak pendekar yang dahulu membantu Kerajaan Sui untuk melawan pemberontak yang kemudian memperole h kemenangan dan kini menjadi Kerajaan Tang yang baru.

Lalu mengapa, toako

Hal itu adalah wajar saja.

Akan tetapi, namaku telah dikenal oleh mereka, Lan-moi

Karena kini mereka yang berkuasa, maka te ntu akan ditangkap sebagai sisa pengikut kaisar lama, kalau mereka mengetahui bahwa aku berada di kota raja.

 Bi Lan mengerutkan alisnya

Kalau sudah begitu, kenapa engkau malah mengajakku ke kota raja, toako?

Kurasa Panglima Li Si Bin dan ayahnya yang kini menjadi Kaisar Tang Kao Cu, hanya mengenal namaku saja, tidak pernah melihat orangnya

Kalau aku berganti nama, kiraku tidak akan ada yang tahu bahwa aku dahulu membantu kerajaan Sui untuk menentang mereka

Karena itu, aku mengharapkan bantuanmu Lan-moi, agar engkau memaklumi pergantian namaku

Aku akan menggunakan nama Siauw Can saja sehingga engkau masih tetap menyebutku Can-toako.

Bi Lan te rsenyum

Baik, toako

Nama baru itu sebetulnya tidak baru

Siauw Can berarti Can Muda, jadi engkau masih tetap mempergunakan nama keturunmu, hanya nama kecil Hong San s aja yang tidak kaupergunakan.

Engkau benar, Lan-moi

Akan tetapi dengan menggunakan nama Siauw Can, orang akan menganggap bahwa nama keturunanku adalah Siauw, dan nama kecilku Can

De ngan demikian, akan aman, bukan?

De mikianlah, pada keesokan harinya, pagi-pagi mereka meninggalkan dusun itu

Seperti biasa, Hong San atau sekarang kita sebut saja Siauw Can menjadi kusir

Bi Lan dan Lan Lan berada di dalam kereta

Sengaja Bi Lan membuka tirai pintu agar dia dan Lan Lan dapat melihat keadaan di sepanjang jalan

Makin mendekati pintu gerbang kota raja, semakin ramailah jalan raya itu

Agaknya para penduduk dusun banyak yang membawa barang dagangan mereka, hasil sawah ladang dan hasil sungai ke pasar di kota raja

Para petani yang memikul barang dagangan mereka atau yang mendorong dengan kereta, berbondong-bondong memasuki pintu gerbang selatan

Banyak pula wanita dusun yang membawa barang dagangan, ada yang memikul, ada yang membawa keranjang

Siauw Can menjalankan keretanya perlahanlahan

Jalan raya menuju ke kota raja itu cukup le bar, akan te tapi karena banyaknya orang yang lalu lalang berbondong-bondong, dia harus menjalankan keretanya dengan hati-hati

Tiba-tiba nampak betapa orang-orang itu mempercepat jalan mereka, bahkan nampak te rgesa-gesa dan wajah mereka membayangkan ketakutan

Melihat hal ini, Bi Lan berkata dari dalam kereta

Can-toako, apakah yang te rjadi

Orang-orang itu nampak ketakutan!

Siauw Can membawa keretanya ke te pi jalan dan berhenti

Akupun tidak tahu mengapa, Lan-moi

Biar kutanyakan kepada mereka.

Dari atas keretanya Siauw Can lalu bertanya kepada seorang petani yang memikul ketelanya

Paman, apakah yang te rjadi

Kenapa kalian kelihatan ketakutan?

Petani itu menengok, akan te tapi tidak menjawab, melainkan dengan telunjuk kirinya dia menuding ke arah depan dan melanjutkan perjalanannya dengan te rgesa-gesa

Siauw Can dan Bi Lan memandang ke arah yang ditunjuk

Mereka kini melihat serombongan orang, tujuh orang jumlahnya, berjalan melenggang sambil tertawa-tawa

Mereka itu bukan orang Han, karena pakaian mereka berbeda

Berjubah panjang dengan sepatu kulit yang tinggi, dan kepala merekapun te rtutup topi bulu

Mereka adalah orang-orang Turki! Di pinggang mereka tergantung golok melengkung

Rata-rata mereka berwajah tampan dengan kumis melintang, usia antara tigapuluh sampai empat puluh tahun

Seorang di antara mereka yang berusia empatpuluhan tahun, dengan codet atau bekas luka di pipi kanan, memegang sebatang cambuk hitam

Agaknya mereka inilah yang menimbulkan suasana ketakutan karena semua orang yang menuju ke kota raja dan berpapasan dengan tujuh orang ini, semua lalu minggir dan bahkan menyeberang untuk mengambil sisi lain agar jangan sampai berpapasan dekat dengan tujuh orang itu

Seorang petani yang membawa sepikul kentang, berhenti di dekat kereta

Dia sudah tua, usianya sudah enampuluh tahun lebih

Dia berhenti untuk menghapus keringatnya

Seluruh tubuh atas yang tidak berbaju itu penuh keringat, juga wajah petani itu nampak gelisah

Kesempatan ini dipergunakan oleh Siauw Can untuk turun dari atas kereta mendekati petani itu

Paman, kami bukan orang sini

Tolong beri tahu kenapa semua orang ketakutan melihat tujuh orang asing itu?

tanyanya

De ngan wajah ketakutan petani itu memandang kepada Siauw Can, kemudian menje nguk ke dalam kereta

Kalau begitu, sebaiknya kongcu cepat pergi dari sini, membawa kereta ini jauh-jauh

Mereka itu orang orang Turki yang sering membikin ribut, apalagi urusan wanita cantik!

Dengan tergesa-gesa diapun cepat memikul dagangannya, menyeberang dan melanjutkan perjalanannya

Tar-tar-tarrr......

te rdengar bunyi cambuk meledak-ledak, disusul jerit suara wanita

Siauw Can dan Bi Lan cepat mengangkat muka memandang

Kiranya si codet pemegang cambuk tadi telah menggerakkan cambuk secara luar biasa sekali

Cambuk itu menyambar-nyambar ke arah   seorang wanita dusun, masih muda, antara duapuluh lima tahun usianya, dengan wajah sederhana

Cambuk itu menyambar-nyambar tanpa melukai wanita itu, akan tetapi merobekrobek baju atasnya sehingga kini wanita itu menjerit-jerit dengan tubuh atas telanjang bulat! Tentu saja ia menggunakan kedua le ngan untuk memeluk dadanya, berlari ketakutan sambil menangis

Tujuh orang itu te rtawa bergelak melihat hal itu, seolah-olah melihat sesuatu yang lucu

Bedebah......!

Bi Lan menyumpah dengan muka berubah merah sekali

Kini mengertilah ia mengapa semua orang ketakutan melihat tujuh orang asing itu

Kiranya mereka adalah orang-orang yang suka bertindak sewenang-wenang tanpa ada yang berani menentang.! Iapun menduga bahwa wanita tadi memang hanya dihina saja, dibuat lelucon

Andaikata wanita itu cantik, tentu akan lain jadinya dan ngeri ia membayangkan apa yang pernah dilakukan tujuh orang ini te rhadap wanita dusun yang cantik

Bi Lan memaki sambil meloncat turun dari kereta

Suaranya terdengar oleh tujuh orang itu dan mereka menengok

Sejenak mereka itu te rtegun, tak mengira di te mpat itu akan melihat seorang wanita muda secantik itu turun dari kereta

Kemudian, mereka bicara dan te rtawatawa

Entah apa yang mereka bicarakan, Bi Lan tidak mengerti karena mereka mempergunakan Bahasa Turki

Sambil tertawa-tawa tujuh orang itu menghampiri Bi Lan yang memondong Lan Lan

Si codet, yang agaknya menjadi pemimpin rombongan orang Turki itu, kini menghadapi Bi Lan dan matanya yang bulat dan hitam itu seperti hendak menelan wanita di depannya bulat-bulat

Agaknya mereka juga melihat bahwa wanita cantik itu bukan keluarga pejabat karena selain kereta itu kereta biasa, juga tidak ada pengawal, dan kusirnya seorang pemuda berpakaian biasa

Kalau te rhadap keluarga pejabat, tentu mereka tidak akan berani bertindak sembarangan

Nona manis, dari mana dan hendak ke mana

Marilah kami menjadi pengantar dan pengawal nona!

katanya dengan logat yang aneh dan lucu

Heh-heh, nona boleh pilih di antara kami, siapa yang berkenan di hati nona

Pilih saja aku yang paling jantan di antara kami, ha-ha-hal

kata orang ke dua

Orang ini memang nampak jantan, dengan kumis yang indah dan jenggot yang terpelihara rapi, tumbuh dari bawah te linga dengan lebat sekali! 

Kalian ini orang-orang biadab! Kalian tadi menghina seorang wanita, dan sekarang berani mengganggu aku

Agaknya kalian memang sudah bosan hidup, ya

Anjing-anjing liar, pergilah sebelum aku menghajar kalian!

Bi Lan masih menahan kesabarannya karena Siauw Can berkedip kepadanya minta agar ia bersabar

Tentu saja ucapan Bi Lan membuat tujuh orang itu terbelalak

Belum pernah ada orang, apa lagi wanita, berani menghina mereka, memaki mereka seperti itu! Si codet memberi kesempatan kepada si brewok tadi dalam bahasa mereka, dan sambil menyeringai, memperlihatkan gigi yang putih berkilat si brewok melangkah maju mendekati Bi Lan

Wanita ini maklum bahwa te ntu tujuh orang itu akan membuat ribut, maka ia lalu menyerahkan Lan Lan kepada Siauw Can

Can toako, tolong kau pondong dulu Lan Lan, aku akan menghajar anjing-anjing keparat ini!

Melihat betapa wajah Bi Lan sudah menjadi merah s ekali dan sinar matanya mencorong, Siauw Can khawatir kalau-kalau Bi Lan melakukan pembunuhan sehingga akan menggegerkan kota raja

Dia menerima Lan Lan dan berkata, 

Jangan lupa diri sampai membunuh, Lan-moi.

Bi Lan te rse nyum

Biarpun ia marah sekali, akan te tapi iapun maklum bahwa melakukan pembunuhan di te mpat umum dekat kota raja te ntu akan mendatangkan keributan

I a tidak ingin menjadi pengacau dan dimusuhi petugas keamanan kota raja

Ia menggeleng

Jangan khawatir, toako.

Si brewok kini sudah makin mendekat

Nona manis, aku akan memaafkan kelancangan mulutmu tadi asal engkau mau menciumku.

Enak saja!

tiba-tiba si codet membentak

Ia harus mencium kita bertujuh bergantian, baru kita mau memaafkannya.!

Si brewok tertawa

Nah, kau dengar sendiri, manis

Memang sudah untungmu hari ini, akan diciumi tujuh orang laki-laki jantan perkasa, ha ha ha! Nah, aku akan menciummu le bih dahulu!

Si brewok mengembangkan kedua le ngannya yang panjang, dan dari kanan kiri, kedua tangannya menyambar hendak merangkul tubuh Bi Lan

Wuuuuuttt.....!

Si brewok merangkul dan rangkulan itu hanya mengenai te mpat kosong karena Bi Lan dengan kecepatan luar biasa telah dapat mengelak

Si brewok membalik dan hendak menubruk lagi, akan te tapi Bi Lan mendahuluinya dengan loncatan ke depan dan kakinya menyambar

Ciumlah sepatuku ini........plokk!

Ujung sepatu kiri Bi Lan menendang tepat mengenal hidung yang panjang besar dan melengkung itu

Si brewok te rjengkang dan ketika dia bangkit kembali dia memegangi hidungnya yang bocor berdarah! Si brewok ini menjadi korban kelancangannya sendiri

Karena te rlalu  memandang rendah Bi Lan yang disangkanya seorang wanita lemah yang hanya galak saja, maka hidungnya hampir pecah oleh tendangan wanita perkasa itu

Tentu saja kawan-kawannya menjadi marah dan merekapun berte riak-te riak untuk berlomba untuk menangkap Bi Lan

Hanya si codet yang masih berdiri saja dengan pecut diputar-putar dan matanya mengamati kawan-kawannya yang berlomba untuk menangkap Bi Lan

Kalau wanita itu tertangkap, akan diikat dengan cambuknya dan dilarikan ke tempat tinggal mereka

Wanita itu harus dihukum karena te lah berani menghina bahkan melukai si brewok

Akan te tapi, ia te rbelalak dan baru menyadari bahwa Bi Lan bukan wanita biasa

Biarpun dikeroyok lima orang yang rata-rata bertubuh tinggi besar, dapat bergerak cepat dan berte naga besar pula, namun wanita itu memiliki gerakan seperti seekor burung walet saja cepatnya, berkelebatan di antara lima orang pengeroyoknya

Sambil mengelak mengandalkan kegesitan tubuhnya, Bi Lan yang marah kepada orang-orang kasar itu membagi-bagi tamparan dan te ndangan

Lima orang Turki itu sebetulnya bukanlah orang-orang le mah

Mereka adalah anggota pasukan Turki, pasukan pedang bengkok yang ganas dan kuat dalam perang

Namun, mereka terlalu memandang rendah Bi Lan, dan juga sekali ini mereka bertemu dengan seorang lawan ahli silat tingkat tinggi yang lihai sekali

Maka, dalam beberapa gebrakan saja merekapun te rkena tamparan atau tendangan, sehingga satu demi satu terpelanting

Tar-tar-tarrrr......!!

Si codet yang marah sekali melihat anak buahnya dikalahkan seorang wanita muda, menggerakkan cambuk panjangnya

Cambuk hitam itu terbuat dari kulit dan selain panjang, juga le mas dan kuat sekali

Cambuk ini tadi telah mencabik-cabik baju seorang wanita dusun tanpa melukai kulitnya

Hal itu menunjukkan bahwa si codet ini memang ahli dalam memainkan cambuk

Bi Lan bersikap te nang

Ketika ujung cambuk menyambar ke arah dadanya, ia menggeser kaki ke samping sehingga ujung cambuk itu luput

Si codet menjadi semakin beringas

Tangannya bergerak le bih kuat dan cepat

Cambuknya kini menyambarnyambar bagaikan seekor ular panjang yang hidup

Bi Lan tetap mengandalkan kelincahan gerakan tubuhnya untuk berloncatan ke sana sini mengelak sambil memperhatikan gerakan cambuk

Setelah ia melihat perubahan gerakan cambuk ketika menyusulkan serangan baru, dengan gerakan melengkung ke atas, ia lalu mengelak lagi dan pada saat cambuk itu melengkung ke atas untuk menyambung serangan yang luput, ia telah mendahului dan menggunakan tangan kanan menangkap ujung cambuk! Bi Lan mengerahkan te naga mempertahankan ketika si codet menarik cambuknya

De ngan kekuatan sin kang

ujung cambuk itu seperti melekat pada tangannya dan dengan perhitungan yang te pat, tiba-tiba Bi Lan melepaskan cambuknya

Wuuutttt......tarr.......! Aduhhh...!

Si codet berte riak kesakitan karena dagunya dicium ujung cambuknya sendiri dengan kuatnya sehingga   te rluka dan berdarah! Melihat ini, enam orang anak buahnya mencabut pedang bengkok mereka dan bersama si codet yang semakin marah mereka hendak mengeroyok Bi Lan dengan senjata di tangan

Serang, bunuh perempuan jahat ini!

Si codet memberi aba-aba dan ia sendiripun sudah memutar cambuknya dengan kemarahan meluapluap

Luka di dagunya tidak ada artinya dibandingk luka di hatinya, karena dia merasa te rhina dan malu sekali dikalahkan seorang wanita muda, di depan umum pula

Bi Lan sudah siap siaga

Akan tetapi ketika tujuh orang itu mulai bergerak, tiba-tiba nampak bayangan berkelebat, didahului sinar menyilaukan mata

Terdengar suara senjata beradu, berdeting dan enam batang pedang bengkok itupun terpental dan te rlepas dari tangan pemiliknya, sedangkan cambuk itupun te rle pas

Tujuh orang itu te rhuyung ke belakang sambil memegangi tangan kanan yang te rasa nyeri karena sambaran sinar suling di tangan Siauw Can! Pemuda ini tidak melukai mereka hanya menotok dengan ujung sulingnya, ke arah tangan kanan mereka sehingga mereka terpaksa melepaskan senjata mereka dan te rhuyung ke belakang dengan mata terbelalak kaget

Lebih-lebih rasa kaget dan heran mereka ketika melihat bahwa yang membuat senjata mereka terlepas tadi adalah si kusir kereta, pemuda tampan itu yang tangan kirinya memondong anak perempuan kecil sedangkan tangan kanannya memegang sebatang suling! Hanya dengan sulingnya, dan sambil memondong anak kecil, pemuda itu mampu membuat senjata mereka bertujuh terlepas! Hal ini saja sudah membayangkan betapa lihainya pemuda ini

Akan te tapi, tujuh orang Turki itu bukan hanya mengandalkan kekerasan dan kepandaian saja untuk memaksakan kemenangan, melainkan te rutama mengandalkan kedudukan mereka! Biarpun mereka maklum bahwa mereka tidak akan mampu menang kalau berkelahi melawan wanita muda dan pemuda kusir yang lihai ini, namun mereka masih berani membentak

Kalian berani melawan kami, para anggota Pasukan Pedang Bengkok?

te riak si codet

Pada saat itu, dari kelompok penonton yang memenuhi tempat itu, muncul seorang pria berusia limapuluhan tahun, berpakaian bangsawan

Pria ini sejak tadi ikut pula menonton dengan kagum dari atas kudanya dan kini dia meloncat turun, membiarkan kudanya dipegangi kendalinya oleh seorang pengawal dan diapun maju menghampiri tujuh orang itu

Kalian ini selalu mendatangkan keributan!

te gurnya

Ketika si codet dan kawan-kawannya melihat bangsawan itu, mereka memberi hormat dengan membungkukkan tubuh

Poa-taijin (pembesar Poa)......!

kata si codet sambil memberi hormat ditiru semua anak buahnya

Pembesar yang bermata s ipit itu berkata dengan suara mengandung teguran

Kalian sungguh ceroboh, berani sekali mengganggu tai-hiap dan li-hiap ini! Tahukah kalian

Mereka ini adalah sanak keluarga dari Pangeran Tua Li yang baru tiba dari dusun!

Tujuh orang Turki itu te rbelalak dan muka mereka berubah pucat

Si codet cepat memberi hormat kepada Siauw Can dan Bi Lan, kembali diikuti ole h keenam orang anak buahnya

Mohon ji-wi (kalian) sudi memaafkan kami yang tidak mengenal ji-wi maka bersikap kurang hormat.

Setelah berkata demikian, mereka bertujuh cepat memungut senjata mereka dan pergi dari situ dengan langkah lebar dan muka ditundukkan

Melihat pembesar itu kini memandang kepada mereka sambil tersenyum ramah Siauw Can cepat memberi hormat dan berkata, 

Maafkan kami, taijin, akan tetapi kami tidak mengerti..

Pembesar itu membuat gerakan dengan tangan menghentikan ucapan Siauw Can, lalu dia menoleh ke arah orang-orang yang masih berkerumun menonton di situ sambil membicarakan perkelahian tadi, memuji-muji Bi Lan dan Siauw Can

Hei, kalian menonton apa

Kami bukan tontonan, hayo pergi melanjutkan perjalanan dan pekerjaan kalian masing-masing!

Mendengar bentakan seorang pembesar yang berpakaian mewah, para penonton itu menjadi takut dan merekapun bubar

Keadaan menjadi sunyi kembali dan pembesar itu mendekati Siauw Can

Tai-hiap, kalau kami tidak mencampuri, kalian te ntu akan dikeroyok oleh ratusan orang anggota pasukan Turki itu

Akan tetapi di sini bukan te mpat kita bicara

Marilah ikut dengan kami menghadap Pangeran Tua

Kalian tentu akan mendapatkan kedudukan yang pantas kalau suka membantu beliau.

Siauw Can saling pandang dengan Bi Lan

Sungguh merupakan peristiwa yang amat kebetulan dan amat menguntungkan mereka

Tanpa dicari, pekerjaan datang sendiri, bahkan mereka akan dihadapkan kepada seorang pangeran! Dan Siauw Can sudah tahu siapa Pangeran Tua! Adik kaisar! Tentu mereka akan dapat memperoleh kedudukan yang amat baik! 

I ngat, demi keselamatan kalian! Kalau kalian menolak dan melihat bahwa kalian bukan orangorang Pangeran Tua, tentu orang-orang Turki itu tidak akan membiarkan kalian bebas dan kalian akan te rancam bahaya besar.

kata pembesar itu ketika melihat keraguan pada wajah si wanita cantik

Siauw Can cepat memberi hormat

Tai-jin, terus te rang saja kami berdua hendak pergi ke kota raja memang untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan kami.

Bagus! Kalau begitu cocok sekali

Kalian mencari pekerjaan dan Pangeran Tua memang sedang mencari orang-orang yang memiliki kepandaian silat tinggi seperti kalian

Marilah ikut dengan kami

Namaku Poa Kiu dan aku orang kepercayaan Pangeran Tua Li Siu Ti.

Tai-jin maksudkan adik dari Sri Baginda Kaisar?

tanya Siauw Can dengan girang

Siapa lagi kalau bukan beliau yang disebut Pangeran Tua

Nah, mari kalian ikuti rombonganku memasuki kota raja, pasti aman.

Poa Tai-jin yang bernama Poa Kiu itu lalu menunggang kudanya, diikuti oleh enam orang pengawal dan Siauw Can cepat mengikuti dari belakang dengan keretanya

Dari dalam kereta, Bi Lan bertanya kepada Siauw Can, 

Can-toako , siapa sih orang-orang asing itu

Kenapa mereka merajalela di kota raja dan kenapa pula Poa Tai-jin mendiamkan saja mereka, hanya menegur dan tidak mengambil tindakan?

Alh, kiranya engkau belum tahu duduknya persoalan, Lan-moi,

jawab Siauw Can lirih agar jangan terdengar orang lain

Pasukan Turki merupakan rekan dari pasukan yang digerakkan oleh Panglima atau Pangeran Mahkota Li Si Bin, sehingga berhasil menggulingkan Kerajaan Sui dan mendirikan Kerajaan Tang

Oleh karena itu, tentu saja orang-orang Turki itu menjadi besar kepala dan berani merajalela di sini

Mereka merasa telah berjas a pada pendirian Kerajaan Tang

Bahkan di antara tokoh-tokoh mereka banyak yang diangkat menjadi panglima dan pembesar-pembesar tinggi oleh Sribaginda Kaisar.

Tapi......mengapa begitu

Mengapa para pendiri Kerajaan Tang itu bersekutu dengan orang-orang Turki?

Hal itu tidaklah aneh

Ketahuilah bahwa pemimpin pemberontak yang menggulingkan Kerajaan Sui adalah Li Si Bin yang kini menjadi panglima besar dan pangeran mahkota

Dan dia adalah seorang peranakan Turki

Ayahnya, yang sekarang menjadi Kaisar Tang Kao Cu adalah seorang Han, akan tetapi ibunya adalah seorang wanita Turki, yang kini menduduki jabatan Permaisuri Muda

Nah sebagai seorang peranakan Turki, te ntu saja hubungannya dengan bangsa Turki amat baik dan dia memang membutuhkan bantuan pasukan Turki untuk memenangkan perjuangannya menggulingkan Kerajaan Sui

Setelah berhasil, tentu saja bangsa Turki itu mendapat angin dan berani merajalela di sini.

De ngan singkat, di sepanjang perjalanan ke kota raja

Siauw Can menceritakan keadaan keluarga kaisar yang diketahuinya dengan baik

Dia menceritakan betapa yang paling berkuasa di kota raja adalah Panglima atau Pute ra Mahkota Li Si Bin, yang sebetulnya merupakan orang yang menjadi pemimpin besar dalam menggulingkan Kerajaan Sui

Karena dia masih harus melakukan pene rtiban dan  pembersihan, maka dia mengangkat ayahnya menjadi kaisar pertama Kerajaan Tang, yaitu kaisar yang sekarang berjuluk Kaisar Tang Kao Cu

Adapun Putra Mahkota Li Si Bin sendiri menjadi Panglima besar dan dialah yang berhasil menundukkan semua pemberontak, melakukan penertiban di mana-mana

Setelah Li Si Bin berhasil, tentu saja otomatis keluarga Li mendapat anugerah, menjadi keluarga kaisar! Juga Li Si Bin tidak melupakan keluarga ibunya dari Turki dan banyak orang pandai dari Turki diberinya kedudukan untuk membantu lancarnya pemerintahan Tang yang baru

Di antara para keluarga Li, yang paling menonjol kedudukann ya adalah adik kandung kais ar sendiri, atau paman dari Li Si Bin yang bernama Li Siu Ti

Paman inipun sudah berjasa membantu perjuangannya, maka setelah mereka berhasil mendirikan Kerajaan Tang, Li Siu Ti menjadi Pangeran Tua yang menjadi penasihat kaisar, bahkan mengepalai para pangeran sebagai wakil kaisar

Demikianlah, Lan-moi

Sekarang kita diundang ke s ana! Kalau kita dapat bekerja kepada Pangeran Tua Li Siu Ti, berarti bintang kita sedang te rang! Dia merupakan orang yang paling berkuasa di istana, te ntu saja sesudah kaisar dan putera mahkota!

Bi Lan ikut merasa gembira

Iapun ingin mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya agar ia mendapatkan te mpat tinggal yang baik, serba bercukupan sehingga ia akan dapat mendidik Lan Lan dengan baik

Ia sudah hampir lupa bahwa Lan Lan adalah puteri Si Han Beng dan Bu Giok Cu

Ia merasa bahwa Lan Lan adalah anaknya sendiri dan segala yang ia lakukan adalah demi kepentingan Lan Lan yang amat disayangnya

-ooo0dw0ooo- Ge dung itu besar dan indah

Mungkin hanya kalah megahnya dengan istana kaisar saja

Hal ini saja membuktikan kebesaran penghuninya

Dan semua orang tahu belaka bahwa pemilik istana itu Pangeran Tua Li Siu Ti, adalah orang yang paling berkuasa sesudah kaisar dan putera mahkota atau panglima besar

Pangeran Li Siu Ti, biarpun disebut Pangeran Tua sebagai tanda bahwa dia bukan pute ra kaisar, melainkan adiknya, belumlah tua benar

Usianya sekitar empatpuluh lima tahun

Tubuhnya tinggi besar dan gagah, matanya membayangkan kecerdikan dan kadang-kadang mulutnya memiliki senyum yang penuh rahasia

Sejak dia kebagian kemuliaan menjadi Pangeran Tua dan diangkat menjadi penasihat kakaknya yang menjadi kaisar, Pangeran Li Siu Ti telah membuat banyak jasa

Dia memang cerdik dan nasihatnya kepada kaisar selalu te pat

Banyak membantu kelancaran jalannya roda pemerintahan dari Kerajaan Tang yang baru itu

Pangeran Li Siu Ti mempunyai seorang isteri dan lima orang selir

Akan tetapi, hanya dari selir ke dua saja dia mempunyai keturunan, yaitu seorang anak perempuan yang pada waktu itu teluh menjadi seorang gadis remaja berusia tujuhbelas tahun, bernama Li Ai Tin

Puteri ini berwajah cantik, apalagi karena ia pandai dan suka bersole k

Bentuk tubuhnya yang ramping padat juga menggairahkan, sehingga banyak pemuda di kalangan bangsawan te rgila-gila kepadanya

Ketika rombongan Poa Kiu yang mengantar Siauw Can dan Bi Lan memasuki pekarangan yang luas dari gedung tempat tinggal Pangeran Tua, kedua orang ini melihat bahwa te mpat itu terjaga oleh pasukan keamanan

Akan te tapi karena yang mengawal kereta adalah Poa Kiu yang dikenal oleh semua pengawal, maka kereta itu tidak ditahan dan dapat dijalankan sampai di bawah anak tangga beranda depan gedung itu

Siauw Can dan Bi Lan diam-diam memperhatikan keadaaan te mpat itu dan melihat bahwa di antara para anggota pasukan penjaga tidak nampak seorangpun bangsa Turki

Kepada kepala pengawal, Poa Kiu minta agar dikabarkan kepada Pangeran Tua bahwa dia mohon menghadap bersama dua orang tamu yang amat penting, guna dihadapkan kepada pangeran

Kepala pengawal tahu bahwa Poa Kiu adalah orang kepercayaan dan tangan kanan sang pangeran, maka tanpa banyak tanya lagi dia lalu langsung saja masuk ke dalam untuk memberi laporan kepada majikannya

Tak lama kemudian, kepala pengawal itu muncul kembali dan mempersilakan Poa Kiu dan dua orang tamu itu langsung saja memasuki ruangan tamu di bagian kanan bangunan

Kalau tadi Bi Lan dan Siauw Can mengagumi pekarangan depan yang mempunyai taman amat indahnya, dan beranda depan yang luas dan dihias arca-arca singa dan naga, kini mereka menjadi makin kagum ketika memasuki lorong menuju ke ruangan tamu, didahului oleh kepala pengawal dan Poa Tai-jin

Ge dung itu memang indah sekali

Pot-pot tanaman bunga yang te rukir indah, dengan tanaman bunga yang langka didapat

Guci-guci besar menghias sudut-sudut di sepanjang lorong, te mpat-tempat lampu yang beraneka bentuk dan warna

Pilar-pilar yang te rukir, tirai-tirai sutera, permadani dan pada dinding te rgantung lukisanlukisan dan tulisan huruf indah yang tak te rnilai harganya

Ketika mereka memasuki kamar tamu, Pangeran Tua Li Siu Ti sudah duduk di situ, di atas s ebuah kursi yang berwarna merah

Di kanan kiri dan belakangnya berdiri selosin pengawal pribadi

Kepala pengawal itu menjatuhkan diri berlutut dengan kaki kiri dan memberi hormat

Poa Kiu juga memberi hormat kepada atasannya dengan menjura dan membungkuk

Melihat ini, Siauw Can dan Bi Lan juga mengangkat kedua tangan di depan dada dan membungkuk untuk memberi hormat

De ngan tangannya

Pangeran Li Siu Ti menyuruh kepala pengawal mundur, kemudian dia memandang kepada pembantu utamanya

Poa Kiu, siapakah dua orang muda ini dan kenapa engkau membawa mereka menghadapku?

Dalam pertanyaan ini terkandung te guran karena agaknya sang pangeran kecewa

Tadi kepala pengawal melaporkan bahwa Poa Kiu mohon menghadap bersama dua orang penting.! Tidak tahunya hanya seorang pemuda sederhana dan seorang wanita muda yang memondong seorang anak perempuan! 

Ampun, pangeran,

kata Poa Kiu

Sekali ini saya membawa berita amat menggembirakan

Tanpa disengaja di tengah perjalanan, saya telah berte mu dengan dua orang pendekar ini yang tentu akan amat berguna bagi paduka

Mereka inilah orang-orang yang selama ini paduka cari, yang paduka butuh kan

Mereka berdua memiliki ilmu kepandain silat yang hebat.

Lalu Poa Kiu menceritakan kepada sang pangeran te ntang sepak te rjang Bi Lan dan Siauw Can ketika diganggu oleh tujuh orang Turki di jalan tadi

Sang pangeran mendengarkan dengan penuh perhatian, akan tetapi dia mengerutkan alis mengamati dua orang itu

Agaknya, sukar baginya untuk dapat mempercayai cerita itu

Dua orang muda itu sama sekali tidak mengesankan sebagai orang-orang berilmu tingggi, apalagi wanita itu, yang masih muda, cantik dan kelihatan lemah le mbut

Bagaimana mungkin dengan tangan kosong mampu mengalahkan tujuh orang Turki yang kuatkuat itu

Dan pemuda itu dengan sebatang suling saja mampu melucuti senjata tujuh orang Turki itu

Tak masuk akal! Akan te tapi pada saat itu, kepala pengawal datang menghadap dan melaporkan bahwa Raja Muda Baducin datang bertamu! Mendengar nama ini, wajah Pangeran Li Siu Ti berseri dan dia mengerling ke arah Poa Kiu

Bagus! Agaknya ini ada hubungannya dengnn dua orang muda ini

Poa Kiu engkau ajak mereka keluar dari sini, tunggu di ruangan sebelah

N anti kalau aku memberi is yarat memanggil, kalian masuklah ke sini.

Kemudian pangeran itu memerintahkan kepala pengawal untuk mempersilakan Raja Muda Baducin untuk memasuki ruangan tamu

Poa Kiu maklum akan apa yang dimaksudkan majikannya, maka diapun mengajak Siauw Can dan Bi Lan keluar melalui pintu s amping dan menunggu di ruangan sebelah

Tak lama kemudian, masuklah tiga orang ke dalam ruangan tamu itu

Yang menjadi tamu kehormatan adalah Raja Muda Baducin, seorang laki-laki bangsa Turki berusia limapuluhan tahun, bertubuh tinggi kurus

Matanya le bar dan tajam sekali, hidungnya seperti paruh kakaktua, kumis dan jenggotnya terpelihara rapi dan kulitnya coklat mengarah hitam

Pakaiannya mewah dan kepalanya tertutup sorban putih dari sutera, orang yang menemaninya selalu berada di belakangnya arah kanan kiri dan sekali pandang saja orang akan mengetahui bahwa mereka adalah dua orang saudara kembar

Wajah mereka, bentuk tubuh mereka, bahkan pakaian mereka, serupa dan sukarlah membedakan yang satu dengan yang lain

Usia mereka sekitar empat puluh tahun, pakaian mereka seperti pakaian perwira perang, dan di pinggang mereka tergantung pedang bengkok yang ujung dan gagangnya terhias emas permata

Kumis mereka melintang panjang, melengkung ke atas , dan jenggot mereka dipotong agak pendek,   membuat mereka tampak jantan dan kokoh kuat

Apalagi keduanya memang bertubuh tinggi besar seperti raksasa, sehingga baru berte mu saja, orang akan merasa gentar

Setelah saling bersalaman dan mempersilakan tamunya duduk; Raja Muda Baducin duduk di atas kursi dan dua orang kembar itu te tap saja berdiri di belakangnya, seperti juga selosin pengawal pribadi yang te tap berdiri di belakang Pangeran Li Siu Ti, Pangeran itu lalu berkata kepada kepala pengawal

Engkau boleh keluar dan sediakan minuman untuk pasukan pengawal Raja Muda!

Baik, Yang Mulia Pangeran!

kata kepala pengawal itu lalu keluar dari situ

Seperti biasa, kepala para orang Turki itu te ntu saja datang dengan sepasukan pengawal yang tadi menanti di luar, sedangkan yang masuk hanya dia bersama dua orang pengawal pribadi yang setia

Kalau saja orang melihat keadaan kedua 

orang besar

ini beberapa tahun yang lalu, te ntu apa yang dilihatnya sekarang ini mirip dengan pertunjukan panggung sandiwara saja

Baru beberapa tahun yang lalu, Pangeran Tua Li Siu Ti yang kini disebut yang mulia dan paduka yang mulia, hanyalah orang biasa saja, bahkan dari keluarga petani

Akan tetapi begitu sekarang keluarganya berhasil meraih tahta kerajaan, dia menjadi seorang bangsawan tinggi yang dimuliakan orang

Juga orang yang kini disebut Raja Muda Baducin, tadinya adalah seorang kepala gerombolan orang Turki yang te rmasuk golongan hitam atau sesat yang di negerinya dimusuhi sendiri oleh pemerintahnya

Baducin dapat bersekutu dengan Li Si Bin dan membantu gerakan perwira muda itu s ehingga berhasil menggulingkan Kerajaan Sui

Maka, sebagai balas jasa, setelah Li Si Bin berhasil, Baducin menerima anugerah, yaitu sebutan 

raja muda

dan kedudukan yang mulia! Dan kini dua orang yang berasal dari rakyat jelata ini, sekarang saling berhadapan seperti dua orang bangsawan tinggi, le ngkap dengan semua peralatan dan peraturannya

Setelah gadis -gadis pelayan yang cantik datang menyuguhkan makanan dan minuman kepada tamu kehormatan itu, dan mereka berdua makan minum dengan gembira sambil memberi hormat dengan minum arak, barulah Pangeran Li Siu Ti menanyakan maksud kunjungan raja muda itu

Kunjungan paduka Raja Muda Baducin merupakan suatu kehormatan besar bagi kami, akan tetapi kunjungan yang mendadak ini agaknya membawa urusan penting

Atau hanya merupakan kunjungan is eng belaka untuk melepas rindu?

tanya sang pangeran dengan ramah

Raja Muda Baducin te rtawa bergelak sambil mengelus jenggotnya yang rapi

Ha-ha-ha, tepat sekali apa yang diduga oleh Paduka Pangeran Tua

Orang yang se lalu sibuk seperti kami ini mana ada kesempatan untuk membuang waktu hanya untuk iseng

Sesungguhnya kunjungan kami ini untuk mohon keterangan dari paduka te ntang peristiwa yang amat tidak menyenangkan hati kami.

Hemm, peristiwa apakah itu

Harap paduka segera menceritakan kepada kami.

Begini, pangeran

Pagi tadi, tujuh orang anggota Pasukan Pedang Bengkok sedang mengadakan patroli di luar pintu gerbang kota raja

Mereka melihat sebuah kereta dan karena curiga mereka menghentikan kereta itu untuk melakukan pemeriksaan

Akan te tapi penumpang kereta itu, seorang pemuda dan seorang wanita muda, membantah dan terjadi percekcokan dan perkelahian

Akan tetapi, ketika anak buah kami hendak memberi hukuman kepada orang-orang yang menghina itu, muncul pembantu paduka, yaitu Poa Kiu

Dia mencegah anak buah kami bertindak dengan mengatakan bahwa dua orang itu adalah sanak keluarga paduka yang datang dari dusun

Dan tadi, mata-mata kami mengetahui bahwa dua orang itu memang datang ke gedung ini! Nah, setelah mendapatkan laporan itu, kami bergegas datang berkunjung untuk mohon penjelasan agar tidak sampai te rjadi kesalah pahaman di antara kita.

Pangeran Li Siu Ti mengangguk-angguk dan te rsenyum

Biarpun cerita yang didengarnya dari raja muda ini berbeda dengan yang didengarnya dari Poa Kiu, tentu saja dia lebih percaya kebenaran cerita pembantunya yang setia

Dan diapun maklum bahwa tentu orang-orang Turki itu tidak berte rus terang kepada pimpinan mereka bahwa mereka telah dikalahkan pemuda dan wanita muda itu! 

Me mang benar apa yang paduka dengar itu, karena memang mereka adalah masih sanak keluarga dengan kami, walaupun masih jauh

Mereka datang berkunjung untuk membantu pekerjaan kami

Menurut cerita mereka, memang te rjadi kesalah-pahaman dengan tujuh orang anak buah paduka

Akan te tapi, keributan itu tidak sampai berakibat jauh, tidak ada pihak yang te rluka parah atau tewas

Maka, kami harap paduka menghabis kan saja urusan di antara anak buah kita itu.

Raja Muda Baducin itu te rtawa, 

Ha-ha-ha, kalau memang mereka itu sanak keluarga paduka, te ntu saja kami yang mohon maaf atas kelancangan anak buah kami

Hanya yang membuat kami merasa penasaran

Kabarnya kedua orang muda itu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sekali sehingga anak buah kami menjadi permainan mereka.

Pangeran Li Siu Ti te rsenyum bangga

Me mang kedua orang sanak jauh itu merupakan dua orang pendekar yang memiliki ilmu kepandaian silat yang tinggi!

Bagus, kalau begitu, ingin sekali kami berte mu dan berkenalan dengan mereka, dan dapat melihat dengan mata kepala sendiri dua orang muda, seorang pemuda dan seorang gadis , yang telah mampu mengalahkan tujuh orang anak buah pasukan Pedang Bengkok! Kalau mereka berada di sini, dapatkah kami berte mu dengan mereka, pangeran?

Tentu saja boleh! Bahkan mereka berduapun berada di sini, akan tetapi untuk menghormati paduka, kami memerintahkan mereka menyingkir ke ruangan lain

Pangeran Li Siu Ti bertepuk tangan dan muncullah Poa Kiu diiringi Siauw Can dan Kwa Bi Lan yang memondong Lan Lan

Anak itu sedang makan kembang gula dengan asyiknya

Pangeran Tua segera memperkenalkan tamunya kepada dua orang muda itu, sedangkan Poa Kiu sudah menjura dengan sikap hormat

Tamu te rhormat kita ini adalah Raja Muda Baducin yang mengepalai semua pasukan Turki yang berada di sini, dan beliau ingin berkenalan dengan kalian berdua.

Bi Lan sendiri meragu, dan andaikata tidak ada Siauw Can di situ, belum tentu dia mau memberi hormat kepada orang itu

Biarpun raja muda, ia adalah seorang Turki dan tadi pagi orang-orang Turki bersikap amat kasar dan menghina kepadanya

Bagaimana ia dapat memberi hormat

Akan te tapi, Siauw Can mendahuluinya dan pemuda ini member hormat dengan menjura, yang diturut pula oleh Bi Lan

Sementara itu, melihat bahwa dua orang yang telah mengalahkan tujuh orang anak buahnya itu hanya seorang pemuda kerempeng dan seorang wanita muda cantik yang le mah le mbut, hati Raja Muda Baducin menjadi semakin penasaran

Aha, kiranya dua orang ini masih amat muda! Pantas saja lancang dan berani menghina tujuh orang anggota Pasukan Pedang Bengkok kami!

katanya

Mendengar ini, Siauw Can cepat menjawab

Paduka mendapat keterangan yang keliru

Kami berdua sama sekali tidak pernah menghina tujuh orang itu.

Ho-ho-ho, kalian mengalahkan tujuh orang anggota Pedang Bengkok di jalan raya, disaksikan banyak orang kalian telah melucuti senjata pedang mereka dan memandang rendah mereka, bukankah itu penghinaan besar namanya! Kalau tidak muncul Poa Tai-jin, tentu telah terjadi perkelahian mati-matian!

Maafkan kami,

kata pula Siauw Can mengalah

Ha-ha-ha, kalau kami tidak memaafkan, apa kami mau berkunjung ke sini

Kami justru kagum kepada kalian dan kami ingin menyaksikan sendiri sampai di mana kelihaian kalian berdua! Nah, di sini ada dua orang pengawalku

Kalau kalian berdua mampu mengalahkan dua orang pengawalku ini, aku akan memberi selamat kepada Pangeran Tua yang beruntung sekali mendapatkan pembantu-pembantu yang amat lihai!

Itu merupakan tantangan terbuka! Bi Lan sudah menjadi merah wajahnya, akan tetapi Siauw Can yang cerdik member hormat ke arah Pangeran Li Siu Ti yang sejak tadi hanya mendengarkan saja

Kami berdua telah bekerja di sini maka kami tidak dapat melakukan apapun tanpa perintah dari Paduka Pangeran Tua! Kami berdua menanti perintah!

 Pangeran Li Siu Ti tersenyum lebar

Inilah kesempatan baginya untuk menguji kedua orang itu

Akan tetapi Poa Kiu merasa khawatir

Tentu saja dia sudah mengenal siapa dua orang pengawal pribadi Raja Muda Baducin ini

Dua orang raksasa kembar itu merupakan orang-orang yang paling kuat dan paling lihai di antara semua orang Turki yang berada di kota raja

Nama mereka Gondulam dan Gondalu, dua orang saudara kembar yang selain bertenaga gajah juga pandai ilmu gulat, pandai silat bahkan memiliki kekuatan sihir! -ooo0dw0ooo-