-->

Naga Beracun Jilid 07

Jilid 07 

Cin Cin

jangan membikin aku marah

Engkau memang anak yang tidak mengenal budi

Selama tiga tahun aku memperlakukan engkau seperti anak sendiri

Entah berapa banyaknya biaya yang kukeluarkan untuk keperluanmu

Dan sekarang, sebagai ibu yang baik, aku te lah mencarikan te mpat yang terhormat dan baik untukmu

Bahkan ibu kandungmu sendiri belum tentu akan mampu mencarikan tempat yang demikian mulia untukmu

Dan engkau berani menolak?

Terserah pendapatmu, Cia Ma

Pendeknya, aku tidak mau diserahkan kepada pembesar itu atau kepada siapapun

Kalau engkau sudah tidak mau aku tinggal di sini, biarlah aku pergi mencari ibuku.

Cin Cin bersikeras

Cia Ma kini tidak berpura-pura lagi, tidak bersikap manis dan lembut seperti biasa

Ia marahmarah dan percecokan itu segera te rdengar oleh Coa Tai-Jin yang segera memerintahkan pengawalnya untuk bersiap-siap meninggalkan te mpat pelesir itu

Dia merasa malu kalau selagi dia berada di situ te rjadi percekcokan

Pengawalnya segera mendatangi Cia Ma, menegurnya karena keributan itu

Tidak perlu ribut-ribut

Besok harus kauantarkan anak perempuan itu ke Lok-yang, ke gedung Coa Tai-Jin

Beliau tidak ingin mendengar ribut-ribut

Awas, kalau sampai gagal, engkau akan dihukum berat!

Menggigil tubuh Cia Ma mendengar ancaman itu dan iapun mengangguk-angguk seperti ayam makan jagung

Rombongan pembesar itu segera meninggalkan rumah pelesir Ang-hwa dan setelah rombongan pergi, Cia Ma mengeluarkan semua rasa hatinya yang panas dan penuh kemarahan te rhadap Cin Cin

Ia mengurung gadis cilik itu di dalam kamarnya dan menyuruh tukang-tukang pukulnya untuk menjaga agar anak itu jangan sampai melarikan diri

Kemudian, ia membuat persiapan,  menyewa sebuah kereta dan mempersiapkan pasukan pengawal yang te rdiri dari sepuluh orang, dengan Hek-gu (Kerbau Hitam) dan Pe k-gu (Kerbau Putih) sebagai pemimpin

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Hek-gu dan Pek-gu memaksa Cin Cin yang sudah didandani sebagai seorang puteri naik ke dalam kereta

Anak itu meronta dan melawan, akan tetapi dua orang tukang pukul itu meringkusnya dan memondongnya ke dalam kereta

Karena khawatir anak itu memberontak terus, He k-gu lalu tinggal di dalam kereta, sedangkan Pek-gu yang memimpin pasukan te rdiri dari sepuluh orang tukang pukul itu

Kereta lalu dijalankan, meninggalkan Cia Ma yang sambil senyum-senyum menghitung lagi uang yang ia te rima dari Coa Tai-Jin

-ooo0dw0ooo- 

Lepaskan aku! Aku tidak sudi diberikan pembesar itu!

Cin Cin mencoba untuk meloncat keluar dari dalam kereta, akan tetapi Hek-gu menangkap kedua le ngannya

Anak itu merontaronta, akan te tapi apa dayanya seorang anak perempuan berusia delapan tahun menghadapi seorang tukang pukul yang kuat seperti Hek-gu

Kedua lengan itu dipegang oleh tangan kiri dan tidak mampu meronta lagi, apa lagi melepaskan diri

Heran, setelah te rdidik selama tiga tahun engkau kelihatan seperti seorang gadis cilik yang le mah lembut dan pandai menari, te rnyata pada dasarnya masih liar,

kata Hek-gu dan karena tidak ingin selama dalam perjalanan harus menjaga anak itu dan meringkusnya te rus menerus, dia lalu mengeluarkan sabuk sutera dan mengikat kedua lengan anak itu dengan sabuk sutera

Nah, engkau tidak akan dapat meronta lagi sekarang,

katanya setelah mengikat pula kedua kaki Cin Cin dan mendorong anak itu terduduk di sudut bangku kereta

Dia sendiri lalu mele ndut di sudut lain, merasa aman karena gadis cilik itu kini tidak dapat membuat ulah lagi

N anti kalau sudah dekat kota raja, dia harus mele paskan ikatan kakai-tangan Cin Cin

Tentu saja tidak berani dia menghadapkan gadis cilik itu dengan kaki tangan te rbelenggu kepada Coa Tai-Jin

Setelah tiba di tepi selatan Sungai Huang-ho, perjalanan dilanjutkan dengan penyeberangan sungai itu, menggunakan perahu besar

Cin Cin masih dibelenggu dan belenggu kedua tangannya baru dilepas kalau ia dipersilakan untuk makan dan minum

Akan te tapi, anak itu selalu menolak, tidak mau makan atau minum walaupun kini ia diam saja, tidak memberontak lagi

Anak ini maklum bahwa memberontak tidak ada artinya

Ia harus mencari jalan untuk melarikan diri, mencari lowongan kesempatan setiap saat

Di seberang utara, orang-orang yang disuruh oleh Cia Ma telah siap dengan sebuah kereta lain yang akan membawa Cin Cin dan pengawalnya ke kota raja

Ketika malam tiba, rombongan itu bermalam di sebuah rumah penginapan di kota kecil seperti direncanakan

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka berangkat lagi

Perjalanan itu cukup jauh, memakan waktu tiga hari tiga malam

Pada hari ke tiga, kereta berjalan cepat memasuki sebuah hutan di le reng bukit

Cin Cin nampak te rtidur di sudut bangku kereta

Kaki tangannya te tap terbelenggu

He k-gu kini diganti oleh Pek-gu yang duduk di kereta, sedangkan Hekgu menunggang kuda seperti pengawal lainnya

Pek-gu yang merasa amat lelah, setelah kini mendapat kesempatan duduk di dalam kereta, apalagi melihat Cin Cin yang dijaganya nampak pulas , diapun merasa mengantuk sekali dan melenggut di sudut bangku yang lain

Dia sama sekali tidak tahu betapa bulu mata anak perempuan itu mulai bergerak-gerak dan sepasang mata yang bening itu mengintai dari balik pelupuk mata yang direnggangkan! Karena Cin Cin tidak lagi memperlihatkan sikap memberontak, dan nampak le lah sekali karena selama tiga hari ia hanya makan dua tiga kali saja, maka baik Hek-gu maupun Pek-gu menjadi le ngah

Mereka menganggap bahwa kini gadis cilik itu telah menyerah dan menerima nasib

Pula apa yang dapat dilakukan anak itu

Melarikan diri jelas tidak mungkin! Karena kelengahan ini, maka ikatan kedua kaki dan tangannya tidak sekuat dulu

De ngan te kun dan sabar, Cin Cin berusaha membuka ikatan kedua kakinya dengan cara membungkuk dan menggunakan kedua tangannya

Ia berhasil

Ikatannya terlepas

Untuk melepaskan ikatan kedua pergelangan tangan, tidak mungkin karena jari-jarinya tidak dapat mencapai simpul di pergelangan tangannya

Yang penting kedua kakiku bebas, pikir anak itu

Ia harus melarikan diri sebelum kereta tiba di te mpat ramai

Apa lagi setelah memasuki kotaraja, tidak mungkin sama sekali melarikan diri

Sekaranglah saatnya, pikirnya

Kereta berada di jalan sunyi di tengah hutan dan kedua kakinya sudah bebas

Ia melihat betapa Pekgu tidur nyenyak, terbukti dari dengkurnya

Cin Cin mengintai dari balik tirai kereta

Hek-gu bersama empat orang pengawal menunggang kuda berada di depan kereta, sedangkan empat orang penjaga lain menunggang kuda di belakang kereta

Kereta itu sendiri ditarik oleh dua ekor kuda, dikendalikan oleh seorang kusir

Sekaranglah saatnya, pikir anak itu

Sekarang atau te rlambat! Ia menanti sampai kereta itu melambat karena harus mendaki sebuah jalan tanjakan di antara semak belukar dan pohon-pohon cemara

De ngan cekatan Cin Cin lalu meloncat keluar dari kereta, dan karena kereta itu sedang berjalan lambat, ia dapat meloncat dengan mudah di sebelah kiri kereta

Sebagai seorang anak yang dahulu pernah mempelajari dasar ilmu silat, loncatan itu tidak membuat Cin Cin terjatuh

Ia dapat mengatur keseimbangan tubuhnya, dan begitu kedua kakinya menyentuh tanah, ia lalu lari menyusup ke balik semak belukar! 

Heii! Anak itu lari.! Kejar.....!

te riak para pengawal yang berada di bekang kereta

Teriakan itu mengejutkan Hek-gu yang berada di depan kereta

Pek-gu yang tadinya tertidur, kini te rbangun dan kagetlah dia ketika tidak melihat anak perempuan itu di depannya

Diapun meloncat keluar dan bersama para pengawal, diapun melakukan pengejaran

Karena anak itu mengambil jalan di antara semak dan pohon, sepuluh orang pengawal itupun berloncatan turun dari atas kuda mereka dan melakukan pengejaran sambil berte riak-te riak

Mereka tentu saja memandang rendah kepada anak perempuan itu, dan menganggap hal itu seperti main-main saja

Mereka mengejar sambil berte riak dan te rtawa-tawa, seperti sekawanan anjing serigala mengejar seekor domba! Memang amat sukar bagi Cin Cia untuk dapat meloloskan diri dari kejaran sepuluh orang tukang pukul itu

Dalam keadaan bias a sekalipun, ia pasti akan dapat tersusul dan ditangkap kembali

Apa lagi kini ia lari dengan kedua tangan masih te rikat di depan tubuh sehingga hal ini tentu saja mengurangi kecepatan larinya, karena gerakannya menjadi canggung

Beberapa kali ia te rjerembab, akan te tapi dengan nekat anak perempuan ini bangkit lagi dan lari sekuat tenaga

Belum ada setengah mil Cin Cin melarikan diri, Pek-gu yang marah sekali karena anak perempuan itu melarikan diri ketika dia menjaganya di dalam kereta, telah dapat menangkap pundaknya dari belakang

Cin Cin membalik dan memukulkan tangannya ke arah orang yang menangkapnya

Akan tetapi, sekali menggerakkan tangan, Pek-gu telah menangkap pergelangan kedua tangan itu

Anak setan, kalau tidak ingat pesan Cia Ma, engkau sudah kupukul!

bentak Pek-gu marah dan diapun memanggul tubuh Cin Cin di atas pundaknya, pengawal lain mentertawakan Pek-gu, akan tetapi Hek-gu menegur kawannya

Apa kau ingin kehilangan kepalamu

Menjaga sampai tidak tahu anak itu lari.

Kujamin sekarang ia tidak akan dapat lari lagi dariku, sampai kita tiba di kota raja.

kata Pek-gu mendongkol bukan main kepada Cin Cin

Lepaskan aku! Kalian anjing-anjing busuk

Lepaskan aku atau bunuh saja aku.!

Cin Cin berte riak-te riak, akan tetapi ia tidak dapat meronta lagi, kecuali menggeliat-geliat di atas pondongan pundak Pek-gu

Sepuluh orang itu sambil tertawa-tawa berjalan kembali ke arah jalan di mana kereta itu masih menunggu

Tiba-tiba te rdengar suara merdu tanpa kelihatan orangnya, suara seorang wanita

Anjing-anjing busuk, apakah kalian tuli

Ia minta dile paskan, apakah kalian tidak mendengarnya?

Sepuluh orang itu te ntu saja te rkejut dan juga heran

Mereka memandang ke kanan kiri dan tidak melihat seorangpun

Di antara mereka sudah menjadi takut dan merasa seram karena menyangka bahwa yang bicara itu te ntu setan penunggu hutan! Akan te tapi, Hek-gu dan Pek-gu adalah dua orang jagoan yang tidak mengenal takut

Mereka sudah mencabut golok masing-masing dan Hek-gu membentak, 

Siapakah yang bicara tadi

Keluar perlihatkan dirimu kalau e ngkau memang manusia dan bukan setan!

 Tiba-tiba te rdengar suara ketawa lirih yang merdu dan nampak berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang wanita yang cantik dan bertubuh ramping

Sukar menaksir usia wanita ini, nampaknya tidak le bih dari tigapuluh tahun

Rambutnya digelung seperti rambut pute ri bangsawan

Pakaiannya dari sutera putih yang halus dan bersih

Sebatang pedang te rgantung di punggung, dan pinggang yang ramping itu dililit sehelai cambuk hitam yang seperti ular

Ia te rsenyum le bar, nampak deretan giginya berkilat putih, namun sepasang matanya mencorong dan mengandung keganasan yang mengerikan! 

Anak perempuan yang berani, mengapa engkau menjadi tawanan anjing-anjing busuk ini?

te rdengar ia bertanya kepada Cin Cin dan semua pengawal itu mengenal suaranya yang tadi te rdengar sebelum orangnya nampak

Biarpun ia dipon dong dengan muka di punggung Pek-gu, Cin Cin dapat memutar le her dan melihat   wanita cantik itu

Sekali pandang saja ia dapat menduga bahwa wanita cantik itu tentulah seorang yang lihai, seperti ibu Thian Ki, Sim Lan Ci

Maka, timbullah harapan baginya untuk dapat te rtolong dari tangan para tukang pukul ini

Bibi yang baik, kau tolonglah aku

Aku akan dijual kepada seorang pembesar di kota raja oleh anjing-anjing buduk ini!

Wanita cantik itu bukanlah sembarang wanita

Kalau saja He k-gu dan Pek-gu tahu dengan siapa mereka berhadapan tentu mereka akan lari tunggang-langgang

Nama wanita itu, yaitu nama julukannya, sudah te rsohor di seluruh daerah timur, bahkan sampai ke kota raja

Akan tetapi, wanita ini memang jarang muncul di dunia ramai, tidak mau sembarangan memperkenalkan diri

Padahal ia merupakan seorang datuk sesat yang memiliki kepandaian yang tinggi

Biarpun nampaknya baru berusia tigapuluhan tahun, namun sesungguhnya usianya sudah limapuluh tahun

Ia terkenal dengan julukan Tung-hai Mo-li (I blis betina Laut Timur), dan namanya adalah Bhok Sui Lan

Namanya demikian tersohor di bagian timur, sehingga semua orang kangouw mengenal nama itu dan takut kepadanya

Oleh karena itu, ia hidup bagaikan seorang ratu di antara para tokoh kangouw, dan dari dunia sesat ia menerima sumbangan dan hadiah yang membuat hidupnya kecukupan sebagai orang wanita yang kaya raya

Mendengar ucapan Cin Cin, Tung-hai Mo-li mengerutkan alisnya, 

Hei, anjing muka putih, engkau sudah mendengar ucapan anak itu

Lepaskan ia sekarang juga!

Bibi yang gagah, orang ini bukan anjing muka putih, melainkan Pek-gu (Kerbau Putih).

kata Cin Cin yang timbul keberaniannya

Hemm, dia le bih pantas menjadi anjing daripada kerbau,

kata pula wanita cantik itu

Tentu saja Pek-gu marah sekali mendengar ejekan-ejekan itu

Akan te tapi karena yang mengejek dan memakinya adalah seorang wanita cantik, sejak tadi ia bengong dan te rkagum kagum

Kini ia melangkah maju dan berkata, 

Ha ha,manis

Lebih baik engkau menjadi isteriku, daripada engkau mencampuri urusan kami

Sayang kalau kulitmu yang putih mulus itu sampai te rluka ole h golokku.

Sepasang mata itu mencorong

Engkau.

bangkai anjing!

bentaknya dan tiba-tiba tubuhnya berkelebat ke depan

Melihat wanita itu menyerang dengan tangan kosong, Pek-gu memandang rendah

Akan tetapi karena dia tidak ingin Cin Cin dirampas orang, hal yang akan membuat dia dua kali kehilangan anak yang dijaganya, dia mengelebatkan goloknya untuk membabat tangan wanita berpakaian putih itu, te ntu saja hanya dengan gerakan ancaman

Akan te tapi, tiba-tiba saja tangan yang menggerakkan golok itu te rasa lumpuh, disambar jari tangan wanita itu dan di lain saat, entah secara bagaimana dia tidak tahu, karena gerakan wanita itu terlalu cepat baginya, tubuh Cin Cin sudah te rlepas dari atas pundaknya dan anak perempuan itu tahu-tahu telah berdiri di samping wanita baju putih itu! Kini Pek-gu marah sekali

Dia tidak perdull akan kecantikan wanita baju putih itu

Diputarnya goloknya di kepala dan diapun berteriak, 

Kernbalikan anak itu kepadaku!

Bangkai anjing!

Mo-1i (I blis betina) berseru le mbut dan ia bergerak maju memapak Pek-gu yang menyerang dengan bacokan golok

Tangan yang kecil halus itu diangkat menyambut golok dengan begitu saja ia menangkap golok yang nyambar kepalanya

Golok itu berhenti seperti te rsedot dan sebelum Pek-gu tahu apa yang terjadi, tangan kiri Mo-li sudah menampar dadanya

Plakk!

Tamparan itu kelihatannya tidak keras, akan tetapi akibatnya hebat karena tubuh Pek-gu te rjengkang dan ia berkelojotan sebentar lalu te rdiam

Tewas dan baju di dadanya seperti te rbakar dan nampak bekas te lapak tangan di sana! Tentu saja Hek-gu te rkejut dan marah sekali, demikian pula kawan-kawannya

Sembilan orang itu, dengan senjata masing-masing, sudah maju mengeroyok Mo-li

Bagaikan seekor kupu-kupu menari-nari di antara bunga-bunga di taman, tubuh yang berpakaian putih itu berloncatan atau seperti beterbangan dan berturut-turut sembilan orang tukang pukul itu roboh tanpa mengeluarkan suara dan mereka tidak dapat bangun kembali karena setiap kali terkena pukulan, mereka roboh dan tewas! Semua itu terjadi dalam waktu yang amat singkat sehingga Cin Cin memandang dengan bengong

Kemudian, anak yang cerdik itu merasa yakin bahwa wanita berpakaian putih itu adalah seorang yang sakti, jauh le bih lihai dibandingkan bibi Sim Lan Ci yang pernah ia kagumi

Ia cepat menghampiri wanita itu dan menjatuhkan diri berlutut di depan dua kaki wanita itu

Bibi, selain menghaturkan te rima kasih atas pertolonganmu, aku juga mohon sudilah bibi menerimaku sebagai murid bibi.

Tanpa menanti jawaban, langsung saja Cin Cin memberi hormat sambil berlutut sebagaimana layaknya seorang murid memberi hormat kepada gurunya

Hemm

kenapa sebelum kuterima kau sebagai murid, engkau sudah menghormatiku sebagai gurumu?

Karena aku yakin subo ( ibu guru pasti akan menerimaku sebagai murid ).!

Mo-li mengerutkan alisnya

Eh, bagaimana e ngkau bisa yakin?

Subo telah bersusah payah menyelamatkan aku dari tangan anjing-anjing ini

Apa artinya pertolongan itu kalau subo tidak menerimaku sebagai murid

Semua jerih payah subo tadi akan sia-sia belaka

Karena itu, aku yakin bahwa subo te ntu menolongku untuk menerimaku sebagai murid.

Sepasang mata yang jeli itu te rbelalak, kemudian wajah cantik itu membayangkan senyum gembira

Tung-hai Mo-li adalah seorang wanita aneh, seorang datuk sesat

Maka, melihat watak anak perempuan yang tabah, lincah, pandai bicara dan ugal-ugalan ini, timbul rasa suka di hatinya

Ia memang tidak pernah mau menerima murid, dan begitu bertemu dengan Cin Cin, melihat betapa anak perempuan yang tidak berdaya itu berani memaki-maki segerombolan pengawal yang kasar dan jahat, hatinya te rtarik dan ia merasa suka sekali

Dan ucapan anak itu memang benar

Kalau tidak te rtarik dan tidak suka kepada ana k itu, untuk apa ia turun tangan menbunuh sepuluh orang pengawal tadi

Bias anya, ia tidak suka mencampuri urusan orang dan tidak perduli apakah ada kejahatan terjadi di depan hidungnya atau tidak, selama peristiwa itu tidak menyangkut dirinya! 

Siapakah engkau

Dan kenapa engkau menjadi tawanan mereka ini

Ceritakan semua, singkat saja

Aku ingin mengetahui riwayatmu.

Namaku Kam Cin, biasa disebut Cin Cin, usiaku sekarang delapan tahun

Tiga tahun yang lalu ayahku dibunuh penjahat, ibuku diculik penjahat, seluruh keluargaku dibasmi gerombolan penjahat

Seorang sute dari ayahku mendapat tugas untuk membawa aku pergi mengungsi, akan tetapi di kota Ji-goan, paman yang culas itu menjual aku kepada Cia Ma, pemilik rumah pelesir Ang-hwa

Di sana aku dipelihara dan dididik selama tiga tahun dan hari ini aku oleh Cia Ma dijual kepada seorang pembesar Coa di kota raja

Sepuluh orang ini mengawalku ke rumah pembes ar itu dan di te mpat ini, aku melihat kesempatan untuk melarikan diri.

Mo-li mendengarkan dengan kagum dan ia melihat sabuk sutera yang masih mengikat kedua tangan gadis kecil itu

Kenapa baru sekarang engkau melarikan diri dan sampai tiga tahun tinggal rumah kotor itu?

tanyanya ragu

Begini, bibi, eh

subo

Ketika aku oleh paman jahanam itu dijual kepada Cia Ma, aku sudah memberontak dan melawan, bahkan aku sempat melarikan diri

Akan tetapi aku tertangkap kembali dan aku lalu menggunakan sias at untuk menurut dan tidak memberontak

De ngan demikian

selain mendapatkan perlakukan wajar, aku diajar pula membaca, menulis dan lain kesenian, dan aku memperoleh kebebasan

Aku selalu mencari kesempatan baik

Siapa kira, nenek gendut itu menjualku kepada pembesar itu

Maka, dalam perjalanan aku nekat mencoba untuk melarikan diri.

Mo-li mengangguk-angguk

Ia suka kepada anak ini, tertarik melihat sikapnya, akan tetapi ia tidak te rtarik mendengar riwayatnya, tidak ingin tahu siapa keluarga anak ini yang katanya dibasmi orang jahat

Baiklah, kalau engkau mau belajar dengan rajin, aku mau mengajarkan ilmuku kepadamu

Akan te tapi sekali saja engkau mengecewakan hatiku atau bermalas-malasan, engkau akan kubunuh!

Diam-diam bergidik juga hati Cin Cin mendengar ancaman ini, dan ia yang menjadi pute ri ketua perkumpulan orang gagah He k-houw-pang dan banyak mendengar te ntang orang-orang kangouw yang aneh, dapat menduga bahwa wanita cantik ini te ntu seorang tokoh sesat

Baik, subo

Aku akan selalu mentaati perintah subo.

Nah

majulah ke sini!

kata Mo-li dan begitu Cin Cin melangkah maju, tangannya bergerak

Cin Cin hanya merasa ada renggutan pada tali yang mengikat kedua tnngannya dan tali sabuk sutera itupun putus! Ia semakin kagum

Gurunya itu tidak kelihatan menyentuh sabuk sutera itu, akan tetapi sabuk itu putus

Mari kita pergi!

kata pula Mo-li dengan singkat

Nanti dulu, subo.

Ehh?

Mo-li memandang dengan alis berkerut, matanya mencorong

Kembali Cin Cin merasa ngeri

Ia harus berhati-hati menghadapi gurunya ini

Salah-salah sekali tangan gurunya bergerak,   belum ia tahu apa yang te rjadi, ia sudah menggeletak dan tewas seperti sepuluh orang itu! 

Subo, di sana masih ada kusir kereta

Apakah dia dibiarkan saja menjadi saksi semua ini?

Ia menuding ke arah jalan di mana nampak sebuah kereta

Pada saat itu, terdengar suara dari kereta itu

Heiii! Kenapa lama amat menangkap anak itu

Kalian cepat kembali ke sini agar dapat melanjutkan perjalanan!

Itulah suara kusir kereta

Mari kita ke s ana!

kata Mo-li sambil berlari ke arah jalan itu, diikuti ole h Cin Cin

Kusir kereta memandang heran ketika melihat anak perempuan itu datang bersama seorang wanita cantik dan tidak nampak seorangpun di antara pengawal yang melakukan pengejaran tadi

Ketika Mo-li tiba di depannya, kusir itu memandang heran dan kagum

Siapa engkau

Mana mereka dan apa yang terjadi ?

Baru saja dia menutup mulutnya, dia te rpelanting roboh dari atas kereta, terjungkal dan te was seketika

De ngan tenang Mo-li berpaling kepada Cin Cin

Apakah masih ada lagi di antara mereka?

Cin Cin menelan ludah

Kalau sepuluh orang tadi roboh dibunuh, ia tidak merasa ngeri bahkan bersyukur karena mereka merupakan ancaman baginya

Akan te tapi selama dalam perjalanan kusir kereta itu tidak pernah bersikap galak dan tingkah lakunya tidak seperti sepuluh orang tukang pukul itu

Melihat dia dibunuh seperti itu oleh gurunya, mau tidak mau ia merasa ngeri juga

Gurunya ini mengingatkan ia akan para penjahat yang mengamuk di He k-houw-pang

Sekejam mereka, kalau tidak lebih kejam lagi malah

Akan tetapi ia perlu mempelajari ilmu silat tinggi

Kelak ia harus mencari para pembunuh ayahnya, dan mencari penjahat yang menculik ibunya

Tanpa ilmu yang tinggi, ia hanya akan menjadi beban penghinaan orang lain

Ia kelak juga harus mencari Lai Kun, untuk menghukumnya

Mo-li memilih dua ekor kuda te rbaik di antara kuda-kuda yang berada di situ, kemudian mengajak muridnya naik kuda dan pergi dari situ

Ia sama sekali tidak bicara, dan Cin Cin juga tidak bertanya apa-apa, hanya mengikuti gurunya

-ooo0dw0ooo- The Siong Ki baru berusia enam tahun, akan tetapi dia seorang anak yang cerdik dan pemberani

Dalam usia sekecil itu, dia telah kehilangan ayah ibunya

Bahkan dalam keadaan putus asa ditinggalkan orang tuanya, harapannya timbul ketika dia berte mu Poa Liu Hwa, is tri pangcu (ketua) He k-houw pang dan dia diangkat murid oleh Poa Liu Hwa

Akan tetapi, harapan itu hancur kembali ketika dia melihat betapa subo (ibu guru) itu bukan seorang wanita yang memiliki kepandaian tinggi

Bahkan menghadapi musuhnya menjadi tidak berdaya, dan hal ini mengecewakan hatinya

Apa lagi ketika muncul laki-laki tinggi besar bernama Lie Koan Tek itu, yang menurut keterangan dari pria muda tampan yang menyerang subonya, adalah pembunuh ayahnya, dia diam-diam segera meninggalkan te mpat subonya berkelahi

Dia harus pergi, mencari guru yang le bih tangguh dan dia tahu ke mana harus mencari guru yang sakti

Dia te ringat akan pendekar sakti Si Han Beng yang berjuluk Huangho Sin-liong (N aga Sakti Sungai Kuning), yang berte mpat tinggal di dusun Hong-cun di le mbah Huang-ho

Dia tahu bahwa Kam Cin atau Cin Cin, pute ri subonya itu sendiri diantar oleh paman gurunya, Lai Kun untuk mengungsi ke Hong-cun dan menjadi murid pendekar sakti itu

Dia akan menyusul ke sana dan dia akan mohon agar dite rima menjadi murid, bersama Cin Cin! Untuk menjamin keselamatannya dalam perjalanan, Siong Ki sengaja membiarkan pakaiannya compang-camping seperti seorang anak je mbel

Dengan demikian tidak ada orang yang suka mendekatinya apa lagi mengganggunya

Gangguan orang lain selalu hanya karena yang diganggu memiliki kelebihan, yaitu keindahan pakaian dan uang, ketampanan atau kecantikan wajah, kepandaian dan sebagainya yang menimbulkan iri hati dalam hati orang lain

Siapa yang akan mengganggu seorang anak jembel yang kotor, miskin, bodoh dan papa

Padahal, Siong Ki menyimpan perak cukup banyak, bahkan sedikit emas, untuk bekal

De ngan cara menghemat, juga tidak sampai ketahuan orang lain kalau dia membelanjakannya, dia dapat melakukan perjalan yang amat jauh itu dengan selamat

Beberapa bulan kemudian, tibalah ia di lembah Huang-ho dan dengan bertanya-tanya, akhirnya dapat juga ia memperoleh keterangan di mana adanya dusun Hong-cun, te mpat tinggal pendekar sakti Si Han Beng itu

Tentu saja ia cukup cerdik untuk tidak menyebut-nyebut nama pendekar itu, karena hal ini akan menimbulkan kecurigaan dan menarik perhatian orang

Tentu mengherankan kalau seorang anak pengemis bertanya-tanya tentang seorang pendekar sakti seperti Huang-ho Sin-liong Si Han Beng itu! Akhirnya, setelah melakukan perjalanan yang amat jauh dan lama karena dia mencari-cari dan bertanya-tanya sepanjang jalan, pada siang hari itu Siong Ki berhasil tiba di pekarangan depan rumah pendekar sakti Si Han Beng

Tentu saja setelah tiba di dusun Hong-cun, amat mudah bagi Siong Ki mencari rumah besar itu

Semua orang mengenal keluarga Si ini

Si Han Beng adalah seorang pendekar sakti, walaupun dia dan keluarganya hidup se derhana sebagai petani di dusun itu

Melihat keadaan keluarganya yang hidup sederhana, tentu tidak ada orang yang menyangka bahwa dia adalah Naga Sakti Sungai Huang-ho yang namanya pernah menggemparkan dunia kangouw, te rutama di sepanjang sungai besar itu

Si Han Beng masih muda, baru dua puluh tujuh tahun usianya, namun dia sudah membuat nama besar dengan sepak te rjangnya yang gagah perkasa

Tubuhnya tinggi besar dan gagah, wajahnya tampan dan sikapnya pendiam

Pakaiannya sederhana seperti petani biasa

Satu-satunya yang menunjukkan bahwa dia seorang pendekar sakti barangkali adalah matanya

Mata itu mencorong seperti mata seekor seekor naga! Dia telah mewarisi ilmu-ilmu dari Si Rajawali Sakti Liu Bhok Ki, dari Raja Pengemis Sinciang Kai-ong, dan terakhir sekali dari pertapa sakti Pek I Tojin

Tidak mengherankan kalau Si Han Beng memiliki ilmu kepandaian yang bebat

Isterinya juga seorang pendekar wanita yang tingkat kepandaiannya hampir menandingi suaminya

Isterinya bernama Bu Giok Cu, baru berusia duapuluh lima tahun

Wanita ini cantik jelita, lincah jenaka dan cerdik

I a pernah mewaris i ilmu-ilmu yang dahsyat dan ganas dari Ban-tok Mo-li (Iblis Betina Selaksa Racun), kemudian digemble ng oleh Hek Bin Hwesio, seorang pendeta Siauw-Lim-pai yang suka mengembara dan yang memiliki ilmu kepandaian hebat

Tiga tahun mereka menikah dan mereka mempunyai seorang anak perempuan yang mereka beri nama Si Hong Lan dengan panggilan seharihari Lan Lan

Anak itu kini sudah dua tahun usianya

Seorang anak yang sehat dan mungil

De ngan jantung berdebar karena te gang, harapharap cemas, Siong Ki berdiri di pekarangan rumah keluarga Si

Dia mengharapkan akan melihat Kam Cin di situ

Kalau saja Cin Cin yang lebih dahulu keluar dan melihatnya, tentu anak perempuan itu akan mengenalnya

Karena mereka adalah kawan bermain sejak kecil

Dan perjumpaan itu tentu akan memudahkan dia untuk menghadap pendekar sakti Si Han Beng, untuk mohon agar dite rima sebagai murid, seperti halnya Cin Cin

Akan te tapi yang keluar adalah seorang laki-laki setengah tua yang berpakaian seperti pelayan

Melihat seorang anak laki-laki berpakaian je mbel berdiri di pekarangan, laki-laki itu menghampiri dan mene gurnya

Mau apa engkau berdiri di s ini

Ayo cepat pergi, anak malas!

Siong Ki mengamati orang itu

Pasti bukan pendekar sakti Si Han Beng pikirnya

Menurut cerita yang didenngarnya, pendekar besar itu belum ada tiga puluh tahun usianya, sedangkan pria ini sedikitnya tentu empatpuluh tahun.Dan te guran itu demikian kakunya, begitu berte mu, tanpa alasan dia dimaki sebagai anak malas

Paman, aku bukan anak pemalas,

ia membantah

Orang itu mendekat dan matanya memancarkan kemarahan

Apa

Engkau bukan anak pemalas

  Lihat pakaianmu

Engkau seorang pengemis, bukan

Semua pengemis yang bertubuh sehat dan tidak cacat adalah pemalas! Tidak mau bekerja

Engkau te ntu bukan anak dusun ini, karena di sini tidak ada pengemis

Hayo cepat pergi, jangan berdiri saja di pekarangan ini

Lebih baik engkau segera keluar dari dusun ini karena takkan ada seorangpun suka memberi derma kepada seorang pemalas!

Wajah Siong Ki berubah kemerahan

Dia marah sekali, akan tetapi dia masih dapat menahan kesabarannya, karena tengingat bahwa dia telah berada di pekarangan rumah pendekar yang dia harapkan suka menerimanya sebagai murid

Paman, kuharap paman jangan menilai seseorang dari pakaiannya

Aku melakukan perjalanan jauh dan demi keamanan di dalam perjalanan, aku sengaja mengenakan pakaian yang butut agar disangka pengemis dan tidak diganggu orang

Aku bukan pemalas, dan tidak pernah minta-minta, paman

Kalau paman tidak percaya, ini masih ada sisa bekalku untuk biaya perjalananku.

Dia mengeluarkan kantung kecil di mana masih ada dua potong emas dan beberapa potong perak

Ketika dia membuka kantong kecil itu dan memperlihatkan isinya orang itu te rcengang, akan tetapi pandang matanya terhadap Siong Ki berubah

Kini penuh perhatian dan te rtarik

Hemm, anak yang aneh, siapakah kau dan mengapa pula engkau datang ke sini?

Panjang ceritanya, paman

Aku datang ke sini untuk menghadap tai-hiap (Pendekar bes ar) Si Han Beng

Kalau paman seorang di antara para penghuni rumah ini, kuharap paman suka memberitahukan kepada Si-taihiap bahwa aku mohon menghadap.

 

Nanti dulu, tidak begitu mudah untuk berte mu dengan Si-taihiap, apalagi seorang anak kecil seperti engkau

Katakan dulu siapa namamu, dan dari mana engkau datang sehingga aku akan mempertimbangkan apakah sudah pantas kulaporkan kepadanya tentang kunjunganmu.

Kini tahulah Siong Ki bahwa orang ini adalah seorang pelayan, atau setidaknya seorang pembantu dari keluarga Si, maka giranglah hatinya dan diapun bersikap lebih ramah dan sopan

Paman yang baik, te rima kasih sebelumnya atas kebaikanmu

Namaku adalah The Siong Ki

Harap paman laporkan kepada Si Tai-hiap bahwa ayahku adalah murid He k-houw-pang, suheng dari ketua He k-houw-pang dan bahwa kedatanganku membawa berita yang amat penting te ntang He khouw-pang

Kukira Si tai-hiap nanti sudi untuk menerimaku menghadap, paman.

Pembantu itu mengangguk-angguk, 

Aku pernah mendengar tentang Hek-houw-pang

Baik, akan kulaporkan kepada Taihiap

Kau tunggulah di sini, Siong Ki.

Terima kasih, paman.

Pembantu itu masuk ke dalam melalui pintu samping dari mana tadi dia keluar dan Siong Ki menanti dengan jantung berdebar te gang

Kalau Cin Cin sudah berada di situ, te ntu keluarga Si sudah mendengar te ntang malapetaka yang menimpa He k-houw-pang, dan namanya te ntu akan dikenal Cin Cin dan mereka te ntu akan menerimanya dengan baik

Andaikata Cin Cin belum tiba di situ, hal yang tidak mungkin karena te ntu anak perempuan yang diantar oleh s usioknya Lai Kun, te ntu dapat melakukan perjalanan lebih cepat darinya, maka dengan mendengar nama Hek houw-pang, pendekar itu tentu akan tertarik pula dan suka menerimanya

Dugaan Siong Ki memang benar

Begitu Si Han Beng dan is terinya, Bu Giok Cu, mendengar laporan pembantu mereka bahwa di luar ada seorang anak laki-laki berusia enam tujuh tahun bernama The Siong Ki yang mengaku sebagai murid keponakan ketua He k-houw-pang, suami isteri pendekar itu segera keluar menyambut

Bu Giok Cu menggendong putrinya, Lan Lan yang berusia dua tahun lebih

Akan tetapi, suami isteri itu merasa heran ketika melihat bahwa yang berada di luar hanya seorang anak laki-laki yang melihat keadaan diri dan pakaiannya, je las seorang jembel atau pengemis kotor! Pembantu mereka tadi tidak atau belum menceritakan keadaan anak itu

Melihat munculnya seorang pria muda tinggi besar dan gagah yang pakaiannya sederhana seperti petani, bersama seorang wanita menggendong anak perempuan berusia dua tahun, dan wanita itu cantik dan bermata tajam, Siong Ki tidak merasa ragu lagi

Tentu ini yang bernama Si Han Beng dan berjuluk Naga Sakti Sungai Huangho itu! Tanpa ragu lagi ia lalu menghampiri dan menjatuhkan diri berlutut di depan suami isteri itu

Saya The Siong Ki menghaturkan hormat saya kepada Tai-hiap Si Han Beng berdua, dan mohon maaf kalau kedatangan saya ini mengganggu taihiap.

Si Han Beng dan Bu Giok Cu saling pandang

Sikap anak ini je las menunjukkan bahwa dia bukan seorang jembel biasa

''Anak baik, kami tidak mengenalmu

Benarkah engkau dari He k-houw-pang

Kalau benar demikian, mengapa engkau datang ke sini minta berjumpa dengan kami?

Siong Ki masih berlutut

Taihiap ayah saya bernama The Ci Kok dan dia adalah suheng dari He k-houw-pang Pangcu Kam Seng Hin

Hek-houwpang te rtimpa malapetaka, tentu taihiap berdua sudah mendengar akan hal itu dari adik Cin Cin.

Suami isteri itu saling pandang, kemudian Bu Giok Cu yang berkata, 

Apa maksudmu, Siong Ki

Siapa itu Cin Cin

Kami belum mendengar apa-apa te ntang Hek-houw-pang.

Suaminya cepat menambahkan

Siong mari kita masuk ke dalam dan kau ceritakan apa yang telah terjadi.

Bukan main girangnya hati Siong Ki

Seperti telah digambarkannya, te rnyata suami isteri pendekar itu ramah

Dia mengikuti mereka masuk ke dalam rumah yang cukup besar itu dan diamdiam dia merasa heran mengapa tidak nampak Cin Cin keluar menyambutnya

Apa lagi tadi isteri pendekar itu mengatakan tidak mengenal Cin Cin

Sungguh aneh! Ini berarti bahwa Cin Cin belum tiba di tempat itu

Mereka memasuki ruangan dalam dan Giok Cu menyuruh Siong Ki duduk lalu berkata, 

Engkau lapar dan ingin makan dulu sebelum bercerita?

Suaminya mengangguk membenarkan karena diapun merasa kasihan kepada anak yang keadaannya seperti seorang anak jembel itu

Wajah Siong Ki berubah merah dan diam-diam dia merasa mendongkol juga

Akan tetapi dia dapat memaklumi

Suami isteri ini te ntu menganggap dia telah menjadi pengemis yang te rlantar dan kelaparan

Terima kasih, tadi saya sudah membeli sarapan pagi sebelum berkunjung ke sini.

Mendengar ini, suami isteri itu kembali saling pandang

Seorang anak jembel membeli sarapan pagi

Ganjil sekali.! 

Hemm, engkau mempunyai uang untuk membeli sarapan?

tanya Han Beng yang merasa heran

De ngan tenang Siong Ki mengeluarkan lagi kantung kain dan membuka kantung itu memperlihatkan isinya

Suami isteri itu terbelalak

Emas dan perak dalam kantung itu memang cukup untuk membeli makanan selama berbulan-bulan.! 

Hemm, engkau mempunyai uang akan te tapi mengenakan pakaian jembel

Siong Ki, apa artinya ini dan mengapa pula engkau meninggalkan He khouw-pang dan melakukan perjalanan jauh sampai ke sini?

Taihiap, sebelum saya menjawab, harap beri tahukan lebih dulu kepada saya, apakah a dik Kam Cin, puteri susiok, yaitu ketua Hek-houw-pang, belum tiba di sini?

Suami isteri itu menggeleng kepala, Si Han Beng memang tidak mempunyai hubungan dengan He khouw-pang, akan te tapi karena dia merupakan adik angkat dari Coa Siang Lee, dan Siang Lee adalah keturunan keluarga Coa yang menjadi pimpinan He k-houw-pang, maka dia mengenal He k-houw-pang

Tidak ada dari He k-houw-pang yang datang ke sini sebelum engkau

Siong Ki duduklah yang baik dan ceritakan segala apa yang terjadi di Hek-houwpang

Kaubilang tadi Hek-houw-pang te rtimpa malapetaka?

Slong Ki lalu menceritakan semua peristiwa yang te rjadi, betapa Hek-houw-pang diserbu gerombolan pemberontak, anak buah pemberontak Cian Bu Ong, karena He k-houw-pang membantu pemerintahan kerajaan baru untuk mengamankan daerah

Dalam penyerbuan yang dilakukan  oleh penjahat-penjahat yang berkepandaian tinggi itu, hampir semua anggota He k-houw-pang te rbasmi dan te was

Pangcu Kam Seng Hin sendiri tewas

Juga ayah saya, The Ci Kok, suheng dari pangcu, te was oleh gerombolan sehingga saya menjadi yatim-piatu karena ibu sudah meninggal beberapa tahun yang lalu

Di antara puluhan orang anggota He k-houw-pang yang te was, juga terdapat susiok (paman guru) Coa Siang Lee yang kebetulan datang bertamu bersama isteri dan pute ranya.....

Ahhh.....!!

Si Han Beng berseru kaget bukan main mendengar bahwa kakak angkatnya juga te was dalam perte mpuran ketika He k-houw-pang diserbu para pemberontak

Kanda Coa Siang Lee te was......

Bagaimana dengan isterinya, enci Sim Lan Ci dan pute ra mereka

Coa Thian Ki?

Me nurut kete rangan yang melihatnya, ibu dan anak itu diculik dan dilarikan penjahat.

Ahhhh........!

Si Han Beng semakin terkejut dan juga khawatir mendengar ini

Dan bagaimana dengan kakek Coa Song.......?

Kakek meninggal dunia karena duka dan sakit setelah terjadi peristiwa yang mendatangkan malapetaka bagi He k-houw-pang itu

Sebelum meninggal, kakek Coa Song berpesan agar cucunya, yaitu adik Kam Cin yang selamat dari pembasmian itu, diantar ke sini untuk berguru kepada ji-wi

Yang mengantarkan adik Cin Cin adalah susiok Lai Kun

Sungguh aneh sekali mengapa mereka belum juga tiba di sini, sedangkan saya yang berangkat beberapa hari kemudian dan melakukan perjalanan sukar dan lambat, bisa sampai di sini lebih dulu.

Siong Ki, engkau yang sudah yatim piatu, mengapa engkau meninggalkan rumah orang tuamu di Ta-bun-cung dan bersusah payah datang ke te mpat ini yang sangat jauh?

Si Han Beng bertanya sambil memandang tajam

Mendengar pertanyaan ini, Siong Ki tampak sedih sekali

Taihiap, tadinya saya ingin membunuh diri saja di depan makam ayah

Saya sudah putus asa, tidak mempunyai keluarga lagi, dan untuk membalas kematian ayah dan semua saudara He k-houw-pang, saya tidak memiliki kemampuan

Ketika saya berada di makam, tibatiba muncul bibi Poa Liu Hoa, yaitu isteri mendiang susiok Kam Seng Hin

Ia membujuk saya dan saya mau diangkat menjadi muridnya

Lalu kami pergi, hendak menyusul adik Cin Cin ke sini

Akan tetapi di te ngah perjalanan kami berte mu dengan perampok dan melihat bibi Poa Liu Hwa tidak mampu melawan para penjahat, saya pikir tidak ada gunanya menjadi muridnya

Maka, saya lalu melarikan diri dan seorang diri melakukan perjalanan ke sini

Agar aman dalam perjalanan, saya menyamar sebagai seorang pengemis, dan menggunakan uang peninggalan ayah, saya akhirnya dapat menghadap taihiap di sini.

Kembali suami isteri itu saling pandang

Diamdiam mereka merasa kagum

Seorang anak berusia enam tujuh tahun berani menempuh perjalanan sejauh itu seorang diri saja dan berhasil mencapai tujuan

Ini membutuhkan keberanian dan keteguhan hati, besarnya semangat dan tahan uji

Seorang anak yang baik

Dan apa maksudmu datang menghadap kami di sini?

tanya pula Han Beng

Mendengar pertanyaan ini, Siong Ki tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Han Beng dan menangis

Akan tetapi hanya sebentar dia menangis karena dia sudah dapat menguatkan hatinya lalu berkata, 

Saya mohon taihiap sudi menerima saya sebagai murid

Tujuan hidup saya hanya satu, yaitu kelak kalau sudah memiliki kepandaian, saya akan mencari para pembunuh ayah dan pembasmi He k-houw-pang untuk membalas dendam

Saya mau bekerja apa saja, menjadi pelayan, pembantu atau apa saja, asal taihiap sudi menerima saya menjadi murid.

Kembali suami isteri itu saling pandang

Sebetulnya, mereka tidak mempunyai niat untuk menerima murid

Mereka mengambil keputusan untuk mewariskan semua kepandaian mereka kelak kepada Lan Lan, puteri dan anak mereka satu-satunya, kecuali kalau kelak mereka mendapatkan anak lagi

Mereka hanya akan menurunkan ilmu-ilmu mereka kepada anak-anak mereka

Akan tetapi, melihat kesungguhan hati Siong Ki, dan mengingat akan nasib anak itu, hati Han Beng merasa tidak te ga untuk menolaknya

Apa lagi, anak itu baik dan te guh hati, tabah dan kelak dapat menjadi pengasuh dan kawan bermain Lan Lan yang membutuhkan contoh anak lain yang le bih tua dan yang berwatak baik

Maka diapun memberi isyarat dengan mata pada isterinya, kemudian berkata dengan suara yang tegas

The Siong Ki, melihat keadaanmu aku dapat menerimamu sebagai murid, hanya dengan beberapa syarat

Sanggupkah engkau memenuhi syarat-syarat itu, mentaatinya dan sanggup menerima hukumannya kalau melanggar?

Dapat dibayangkan betapa besar rasa girang dalam hati anak itu

Dia lalu memberi hormat dengan membentur-benturkan dahinya di lantai

Teecu (murid) The Siong Ki bersumpah bahwa teecu akan mentaati semua perintah suhu akan memenuhi semua syarat yang suhu ajukan dan sanggup pula menerima hukumannya kalau kelak teecu melanggar.

Si Han Beng tersenyum

Wajahnya cerah

Anak ini tanpa diminta bahkan telah bersumpah

Hal ini membuktikan kesungguhan hatinya

Dengar baik-baik syaratku

Pertama semua ceritamu tentang keadaan dirimu tadi tidak bohong dan benar

Kedua, engkau harus belajar dengan rajin dan mentaati semua perintahku

Ke tiga, engkau tidak boleh mempergunakan ilmu silat yang kuajarkan kepadamu untuk berbuat jahat dan sewenang-wenang

Ke empat, engkau harus dapat menjadi teladan anak kami Si Hong Lan ini, menyayang dan mengasuhnya, dan kelak membantu dan melindunginya seperti adikmu sendiri

Nah, kalau engkau melanggar satu di antara empat syarat itu, kelak aku akan menghukummu dan mencabut semua ilmu darimu dengan membuatmu cacat seumur hidup!

Tanpa ragu Siong Ki mengangguk.

Teecu sanggup memenuhi semua syarat itu dan menanggung hukumannya kalau melanggar.!

Bagus! Mulai saat ini, aku adalah suhumu

Akan tetapi ingat, hanya aku yang menjadi gurumu

Isteriku tidak akan mengajarmu, dan engkau panggil bibi kepadanya, bukan subo (ibu guru)!

Baik, suhu.

Han Beng sengaja mengeluarkan janji itu, karena dia berhati-hati

Kelak bagaimanapun juga, tingkat kepandaian anak-anaknya harus lebih tinggi daripada tingkat kepandaian muridnya

Sehingga kalau dia dan is terinya sudah tidak ada, anak-anaknya akan mampu mengendalikan muridnya kalau-kalau dia menyeleweng

Kalau dia seorang diri yang mengajarkan ilmu kepada Siong Ki sedangkan anak-anak mereka kelak menerima gemblengan dari dia dan isterinya maka tentu Siong Ki tidak akan mampu menandingi anak mereka yang menguasai ilmu gabungan mereka, biarpun andaikata Siong Ki memiliki bakat yang le bih baik

Ilmu kepandaiannya dan ilmu kepandaian isterinya jauh berbeda, dari dua aliran yang sama sekali berbeda dan memiliki kehebatan masingmasing

De mikianlah, mulai hari itu, Siong Ki menjadi murid Si Han Beng dan tinggal di rumah pendekar itu

Dan dia memang merupakan seorang anak yang amat menyenangkan hati Si Han Beng dan Bu Giok Cu karena dia rajin bukan main

Dia mau mengerjakan apa saja, membereskan rumah dan pekarangan, bekerja di sawah ladang, bahkan mengajak Lan Lan bermain

Maka, Han Beng juga dengan sungguh hati mulai mengajarkan dasardasar ilmu silat kepada Siong Ki

Tentang malapetaka yang menimpa He k-houwpang Han Beng dan Giok Cu tidak dapat berbuat apa-apa

Mereka ikut prihatin dan malam itu juga, Han Beng membuat sembahyang untuk arwah kakak angkatnya, Coa Siang Lee, dan mengundang pendeta dari kuil untuk mengatur upacaranya

Hanya itu yang dapat dia lakukan

-ooo0dw0ooo- Ketika Kerajaan Sui jatuh oleh pemberontakan Li Sie Bin dalam tahun 614 dan kaisar te rakhir Kerajaan Sui yang bernama Yang Ti melarikan diri ke daerah Yang-couw dan kemudian dibunuh oleh kaum pemberontak, maka Li Si Bin lalu mendirikan wangsa baru, yaitu kerajaan Tang

Li Si Bin pula yang membujuk ayahn ya yang bernama Li Goan, untuk naik tahta menjadi kaisar pertama dari kerajaan baru Tang, dan berjuluk Kaisar Tang Kao Cu

Ada dua hal yang menjadi tujuan dari siasat Li Si Bin mengangkat ayahnya sebagai kaisar ini

Pertama, untuk darma-bakti kepada ayahnya dan hal seperti ini amat dihargai oleh rakyat dan kedua, dia akan dapat le bih memusatkan tenaga, waktu dan  perhatiann untuk memimpin pasukannya menaklukkan seluruh daerah

Kalau dia yang menjadi kaisar, te ntu dia tidak begitu leluasa melakukan perang terhadap para pemberontak yang mula-mula tidak mau mengakui kerajaan baru Tang sebagai yang dipertuan

Akan tetapi, dengan ayahnya menjadi kaisar yang mengatur roda pemerintahan, sedangkan dia sendiri menjadi panglima besar yang menggerakkan aksi-aksi pembersihan, maka dia dapat bekerja sepenuh hati

Siasat ini berhasil baik

Dalam waktu beberapa tahun saja, seluruh wilayah kekuasaan yang tadinya dimiliki Kerajaan Sui, telah dapat direbutnya dan semua pemberontak atau sisa-sisa kekuatan yang masih setia te rhadap Kerajaan Sui yang sudah runtuh, atau kekuatan-kekuatan yang ingin berdiri sendiri dan tidak mau tunduk kepada kerajaan baru Tang, dapat dihancurkan dan ditundukkan

Bahkan semua perlawanan yang dilakukan oleh Cian Bu Ong, bekas pangeran kerajaan Sui, dapat pula dilumpuhkan, Pangeran Cian Bu Ong kekurangan pendukung, maka tidak mungkin dia dapat melawan kekuatan pasukan besar Kerajaan Tang

Akhirnya, Pangeran Cian Bu Ong te rpaksa melarikan diri dan menghentikan usahanya untuk menegakkan kembali kerajaan Sui

Sim Lan Ci yang sudah kematian suaminya, ketika melihat bahwa Pangeran Cian Bu Ong benar-benar seorang pangeran yang setia kepada Kerajaan Sui dan berusaha menegakkan kembali kerajaan itu, membantu sekuat tenaga

Sim Lan Ci merasa berhutang budi kepada pangeran ini, dan karena Pangeran Cian Bu Ong bersikap sopan dan baik kepadanya, bahkan bersikap menyayang kepada pute ranya, Coa Thian Ki yang diangkat menjadi murid pangeran itu, ikut pula melarikan diri mengungsi bersama sang Pangeran ke barat, ke daerah perbatasan Tibet di mana kekuasaan Kerajaan Tang tidaklah begitu kuat

Pangeran Cian Bu Ong tinggal di sebuah lereng bukit dimana dia membangun sebuah rumah besaa dan hidup dengan aman

Biarpun pangeran ini dapat hidup serba kecukupan karena dia membawa harta yang cukup banyak, namun setelah pindah ke daerah barat itu bersama Sim Lan Ci dan Thian Ki, setiap hari dia hanya te rmenung di dalam taman bunga yang dibuatnya sendiri

Pangeran yang berusia limapuluh dua tahun ini setiap hari hanya membaca sajak sambil minum arak di taman, atau duduk melamun di ruangan belakang

Tubuhnya yang tinggi besar itu mulai kurus, mukanya yang biasanya kemerahan menjadi agak pucat dan sinar matanya selalu redup

Kekalahan yang dideritanya, dan mengingat akan runtuhnya Kerajaan Sui dan te rbasminya keluarga kaisar, juga terbunuhnya keluarganya sehingga kini hanya tinggal Cian Kui Eng seorang, anak perempuannya yang baru berusia empat tahun dan yang amat dekat dengan Sim Lan Ci

Dia hidup kesepian dan patah semangat

Sim Lan Ci merasa suka dan juga kasihan sekali kepada pangeran itu

Kalau dibiarkan, ia khawatir pangeran itu akan jatuh sakit

Padahal, waktu itu, ia sendiri seperti kapal kehilangan kemudi, dan hanya pangeran itu yang dipandangnya sebagai juru mudi dan pene ntu arah hidupnya

Kini, melihat pangeran itu dalam keadaan seperti itu, te nggelam setiap hari dalam kedukaan, tentu saja ia merasa khawatir dan ikut berduka

Pada suatu senja, ia tidak dapat menahan lagi hatinya ketika melihat Pangeran Cian Bu Ong kembali termenung dan duduk seperti arca di bangku dalam taman

Bukan sedang menulis sajak, tidak pula bersamadhi atau membaca kitab, melainkan termenung seperti patung

Bahkan pangeran yang memiliki kesaktian itu demikian te nggelam dalam renungannya sehingga tidak tahu bahwa Sim Lan Ci memasuki taman dan menghampirinya dengan langkah ringan

Dalam usianya yang tigapuluh tahun le bih, Sim Lan Ci masih cantik, bahkan lebih cantik karena ia telah menjadi seorang wanita yang masak, digemble ng pengalaman manis dan pahit silih berganti

Kalau dulu, sejak gadis ia suka mengenakan pakaian sutera hitam, kini kebiasaan itu diubahnya sejak suaminya tewas

Ia kini selalu mengenakan pakaian dari sutera putih, seolah hendak berkabung selama hidupnya untuk kematian suaminya tercinta! Ketika ia menghampiri Pangeran Cian Bu Ong dari samping, melihat wajah pangeran itu, ia merasa terharu

Jarang ia dapat mengamati wajah pangeran itu, dan sekarang ia mendapatkan kesempatan, karena Pangeran itu seperti patung, tidak menengok sehingga ia berani mengamati wajah itu

Wajah yang jantan, penuh daya tarik karena membayangkan kekuatan dan kewibawaan sekaligus kelembutan yang diperlunak lagi oleh garis -garis kedukaan

Sudah lama dia membiarkan rambut dan kumis je nggotnya tidak te rpelihara awut-awutan, namun tidak mengurangi kejantanannya

Seorang pria yang kuat, yang bersemangat, dan aneh, di samping ilmu kepandaian yang tinggi

''Pangeran....

Sim Lan Ci memanggil lirih, sambil berhenti dan berdiri dalam jarak tiga meter dari pangeran itu

Pangeran Cian Bu Ong menoleh perlahan dan mencoba untuk tersenyum ketika melihat siapa yang memanggilnya

Ah, kiranya engkau, nyonya Sim,

katanya le mbut

Ada keperluan apakah engkau mencariku

Aku tidak ingin makan malam sekarang, engkau ajaklah Thian Ki dan Kui Eng untuk makan malam lebih dulu

Nanti kalau sudah lapar, aku akan makan sendiri.

Akan te tapi, Sim Lan Ci tidak pergi, masih berdiri di situ dan memandang kepada Pangeran Cian Bu Ong dengan hati te rharu dan merasa kasihan sekali

Pangeran ini selalu bersikap sopan dan halus budi, bahkan selalu menyebutnya nyonya

Pangeran......

Senyum itu getir sekali dan Cian Bu Ong mengangkat tangan kirinya ke atas seperti hendak menangkis 

Nyonya yang baik, hentikanlah sebutan itu! Setiap kali aku mendengar sebutan pangeran hatiku seperti ditusuk rasanya

Tidak, aku bukan pangeran lagi

Sudah lama aku bukan pangeran, melainkan pemberontak bagi Kerajaan Tang yang baru, pemberontak yang gagal dan sekarang bahkan hanya menjadi seorang buruan, seorang pelarian......

Sim Lan Ci merasa ikut pedih hatinya mendengar ucapan itu

Baiklah, kalau begitu saya akan menyebut Lo-cian-pwe......

Aih, jangan nyonya

Aku bukanlah seorang datuk atau tokoh bes ar di dunia persilatan.

Kalau begitu, akan saya sebut Cian taihiap (pendekar besar Cian)........

Hemm, orang seperti aku ini mana pantas menjadi pendekar besar

Lebih senang hatiku kalau kausebut aku toako (kakak bes ar) saja.

Baiklah, toako

Cian-toako, terimalah hormat adikmu.

Lan Ci memberi hormat dengan sikap hormat dan sungguh-sungguh

Karena memberi hormat sambil menunduk, Lan Ci tidak melihat betapa wajah pria itu yang selama beberapa lama ini selalu suram tiba-tiba menjadi cerah berseri

Terima kasih, aku senang sekali mendengar sebutan toa-ko itu, nyonya Sim.......

Aih, toako! Mana ada seorang toako menyebut nyonya kepada adiknya?

Lan Ci cepat menegur sambil tersenyum

Sepasang mata bekas pangeran itu terbelalak dan senyumnya berkembang menjadi tawa yang bergelak-gelak

Dia bagaikan seorang yang te lah menemukan kembali semangatnya dan wanita muda itu memandang dengan hati te rharu dan penuh rasa senang

Sim Lan Ci, adikku yang baik

Sungguh aku berte rima kasih kepadamu, kau te lah mendatangkan kebahagiaan bes ar di dalam hatiku, Ci-moi (adik Ci) dan kuharap engkau tidak akan mencabut kembali harapan dan kebahagiaanku.

Toako, akupun merasa berbahagia melihat toako dapat te rtawa gembira

Selama ini, aku ikut prihatin melihat keadaanmu yang selalu tenggelam dalam duka

Karena itu pula maka aku ingin menemuimu dan bicara denganmu ketika melihat engkau melamun di sini seperti setiap hari kaulakukan, toako

Aku nya ingin mengingatkan bahwa peris tiwa buruk yang menimpa diri kita, tidak perlu dan tidak ada gunanya kalau kita sedihkan setiap hari! Hidup memang merupakan permainan suka dan duka, kita harus menerima kedua hal itu dengan tabah dan lapang dada

Tentu engkau ingat pula akan keadaan diriku, pangeran......eh toako! Akupun kehilangan keluargaku, dan hidupku bersama Thian Ki sekarang hanya bersandar kepada kemuliaan hatimu belaka

Kalau engkau yang menjadi sandaran kami te nggelam dalam duka, bagaimana pula dengan hati kami

Kami akan kehilangan pegangan.

 Bekas pangeran itu menatap wajah Lan Ci

Dua pasang mata berte mu pandang, melekat dan seperti hendak saling menjenguk is i hati masingmasing

Sim Lan Ci melihat sinar kagum dan kelembutan yang mengharukan berpencar keluar dari mata yang tajam itu

Baru sekarang ia melihat bekas pangeran itu memandang kepadanya seperti itu, seperti mata pria memandang wanita, dan sepasang pipinya berubah kemerahan yang membuat ia menundukkan mukanya

Moi-moi Sim Lan Ci, terima kasih......ah, terima kasih

Engkau te lah mengembalikan harapan dan semangatku untuk hidup

Engkau membuka mata hatiku bahwa hidupku masih berguna, karena masih ada orang-orang yang membutuhkan aku

Engkau dan anakmu........

Juga Kui Eng, toako.

Lan Ci melanjutkan

Juga manusia-manusia lain di dunia ini karena toako adalah seorang yang budiman dan dermawan

Tenaga dan kemampuanmu masih dibutuhkan banyak orang.

Tidak, aku hanya mengutamakan engkau, anakmu dan anakku

Aku masih kalian butuhkan?

Tentu aaja, toako!

Jawab Lan Ci cepat

Akupun membutuhkan kalian, te rutama engkau

Aku butuh perhatianmu, butuh sentuhan kasih sayang........ah moi-moi Sim Lan Ci, te rus te rang saja aku sayang kepada anakmu, dan kini tumbuh perasaan cinta di hatiku terhadapmu

Engkau te lah memulihkan semangatku, nah, sekarang aku meminangmu, Lan Ci

Maukah engkau menjadi iste riku?

Sepasang mata Lan Ci te rbelalak, mukanya berubah pucat, lalu merah kembali

Lamaran itu datangnya sekonyong-konyong, tak diduganya sama sekali seperti serangan yang amat dahsyat, mengerikan dan membuatnya sejenak bengong te rlongong, hanya menatap wajah bekas Pangeran itu tanpa mampu mengeluarkan suara jawaban! Cian Bu Ong mengangguk-angguk dan te rsenyum

Aku dapat mengerti akan keheranan dan kekagetanmu, Ci-moi

N ampaknya tidak sopan dan tidak pada te mpatnya aku melamar seorang wanita yang baru saja ditinggal mati suaminya

Bahkan aku sendiri yang melamar juga baru sajaa ditinggal mati isteriku

Akan te tapi, kalau kita saling membutuhkan, apalagi halangannya

Anakmu kusayang seperti anakku sendiri, dan aku tahu bahwa engkau menyayang Kui Eng seperti anakmu sendiri

Adakah cara yang le bih baik daripada kita bergabung menjadi sebuah keluarga yang berbahagia?

Tapi......tapi pangeran.......eh, Cian- toako.......aku masih berkabung, bahkan toako juga........

Aku mengerti, moi-moi

Berkabung hanya merupakan tata-cara untuk memperlihatkan kepada umum bahwa kita berduka ditinggal mati orang te rcinta

Akan tetapi, berkabung yang sesungguhnya ada di dalam perasaan hati, bukan pakaian

Betapapun juga, aku memberi waktu kepadamu sampai setahun sejak ditinggal mati suamimu

Sekarang telah le wat beberapa bulan, tinggal dua bulan lagi

Nah, biarlah dua bulan kemudian, setelah setahun berkabung engkau memberi jawaban kepadaku

Sekarang, untuk sementara kita lupakan saja lamaranku itu! Aih, perutku te rasa lapar sekali sekarang, moi-moi, mari kita makan

Kaucari anak-anak kita, aku akan mandi dulu.

Bukan main girangnya hati Lan Ci

Girang dan berte rima kasih

Girang melihat pangeran itu kini mempunyai semangat dan gairah lagi, mengajak makan dan mau mandi, dan berte rima kasih bahwa pangeran itu memberi waktu dua bulan lagi kepadanya untuk berpikir-pikir dan mempertimbangkan te ntang lamaran itu

Betapa bijaksananya! Ia lalu lari meninggalkan taman dan pergi mencari Thian Ki dan Kui Eng

Ia melihat mereka bermain-main di kebun belakang rumah

Dilihatnya Thian Ki sedang turun dari sebatang pohon sedangkan Kui Eng berdiri di bawah pohon itu

Karena ingin melihat bagaimana kedua orang anak itu bergaul, Lan Ci menyelinap ke balik semak dan mengintai

Thian Ki turun dan membawa sebuah sarang burung yang kosong

Nah, kaulihat sendiri, Kui Eng

Seperti kukatakan tadi, sarang burung ini sudah kosong

Telurnya telah menetas dan anak burung itu sudah pandai te rbang,

kata Thian Ki kepada Kui Eng sambil memperlihatkan sarang burung kosong yang dibawanya turun dari pohon

Kui Eng membanting-banting kakinya dan merengek manja

Anak berusia empat tahun lebih itu memang manja sekali

Thian Ki yang baru berusia enam tahun itu sudah pandai mengasuh Kui Eng, bahkan amat sayang kepada anak perempuan itu

Aih, jangan marah, adikku yang manis,

katanya sambil merangkul dan menuntunnya duduk di atas akar pohon

Lihat, biarpun sarang burung itu kosong, akan tetapi aku membawakan batu-batu sungai yang indah untukmu.

Ia mengeluarkan beberapa buah batu kecil yang berbentuk bulat dan warnanya mengkilap indah

Kui Eng yang tadinya merengek, menerima mainan itu dengan wajah cerah dan iapun merangkul Thian Ki

Suheng (kakak seperguruan), engkau baik sekali

Aku sayang padamu!

-ooo0dw0ooo-