-->

Mestika Golok Naga Jilid 08

JILID VIII

Puteri dan Siang Hwi tidur sekamar ketika berada di kuil dan dalam kesempatan ini, sang puteri yang tadinya merasa cemburu kepada Siang Hwi, mendengar pengakuan Siang Hwi bahwa gadis itu saling mencinta dengan Tiong Li.Setelah mendengarkan pengakuan ini, Hiang Bwee dapat menerima kenyataan, ia adalah seorang puteri, tidak mungkin begitu saja menjatuhkan cintanya kepada setiap orang pria. Baginya, per jodohannya berada di tangan Kaisar dan ia tidak mungki n dapat memili h jodohnya sendiri.

Perjalanan itu melalui padang luas dan pada suatu hari mereka sudah tiba di daerah Kerajaan Sung. Ketika mereka menjalankan kudanya perlahan-lahan karena sudah lelah dan mencari tempat yang baik untuk mengaso, tiba-tiba muncul seorang wanita di tempat sunyi itu yang menghadang perjalanan mereka.

"Subo......!!" Siang Hwi berseru dan cepat ia melompat turun dari kudanya untuk menghampiri Ban-tok Sian-li yang berdiri tegak memandang mereka dengan sinar mata tajam, terutama pandang matanya kepada Tio ng Li ia bahkan acuh saja terhadap muridnya yang menghampirinya .

"Subo, kami telah berhasil membebaska n tuan puteri Sung Hiang Bwee dan merampas kembali Mestika Golok Naga!" kata Siang Hwi yang hendak mengabarkan berita menggembirakan itu kepada subonya, juga hendak memamerkan jasa besar yang telah dibuat oleh Tio ng Li.

Akan tetapi gurunya tidak menjawab, melai nkan maju menghampiri Tiong Li dan juga sang puteri yang sudah melompat turun dari atas kuda mereka Tiong Li memberi hormat.

"Sian-li, apakah selama ini engkau baik-baik saja?" tegurnya ramah. Bagaimanapun juga, wanita ini adalah guru dari kekasihnya yang selayaknya dihormati nya.

Akan tetapi Ban-tok Sian-li memandang ke arah pinggangnya di mana tergantung Mestika Golok Naga dalam sarungnya . "Tan Tio ng Li, engkau sudah berhsi l merampas kembali Mestika Golok Naga?"

"Benar, Sian-li. Inilah dia!" kata Tiong Li. "Kami akan mengembalikan kepada Sri baginda Kaisar, bersama sang puteri."

"Berikan kepadaku! Golok Pusaka itu tidak sepatutnya berada di tangan Kaisar yang lemah. Berikan kepadaku untuk kupakai membasmi Bangsa Kin dan mengusirnya dari tanah air."

"Subo.   !" seru Siang Hwi.

"Maafkan, Sian-li. Akan tetapi golok pusaka ini memang milik istana, maka harus kembali ke istana juga."

Tiba-tiba Ban-tok Sian-li  melompat kedekat puteri Hiang Bwee dan sekali mencengkeram pundak puteri itu, ia membuat puteri itu terkulai roboh. Sambil tersenyum mengejek Ban-tok Sian li melompat ke belakang.

"Subo, apa yang kau lakukan ini?" teriak Siang Hwi terkejut.

"Nona Hiang Bwe.....!" Tiong Li juga berseru, sama sekali tidak mengira bahwa Ban tok Sian-li akan melakukan hal itu sehi ngga dia tidak keburu mencegahnya. Wajah puteri itu menyeringai kesakitan dan pucat sekali. Baju di pundaknya robek dan nampak pundaknya merah menghitam! Meli hat ini, terkejutlah Tiong Li karena dia maklum bahwa pundak itu telah terluka beracun yang amat hebat.

"Subo, kenapa engkau melakukan ini?" tanya Siang Hwi dengan bi ngung, dan kepada Tiong Li ia berkata, "Koko, inilah luka Ban-tok-ciam (Jarum Selaksa Racun), tidak ada obatnya, Kecuali subo, tidak ada seorangpun yang akan mampu menyembuhkannya dan dalam waktu sehari semalam, yang terluka akan tewas!"

Tiong Li marah sekali. Kiranya ketika mencengkeram tadi, tangan Ban-tok Sian-li menggunakan jarum beracun yang dimasukkan ke dalam pundak puteri itu.

"Ban-tok Sian-li, apa maksudmu dengan perbuatan ini? Engkau telah meracuni puteri Kaisar? Kenapa engkau hendak membunuhnya?" Tiong Li sudah siap untuk menyerang wanita itu. Akan tetapi Ban-tok Sian-li bertolak pi nggang dan tersenyum.

"Siapa mau membunuhnya? Ingat, aku mempunyai obat pemunahnya seperti yang dikatakan Siang Hwi. Biar Siang Hwi sendiri tidak kuberi obat pemunahnya maka kalau engkau menghendaki puteri itu sembuh, serahkan Mestika Golok Naga kepadaku!"

"Subo.    !" Siang Hwi kembali berseru penasaran.

"Diam! Engkau tidak boleh mencampuri urusan ini!" bentak gurunya, "Bagaimana. Tio ng Li? Maukah engkau menukar nyawa puteri itu dengan Mestika Golok Naga ?"

Tiong Li berdiri dengan kedua tangan terkepal da n dia ragu ragu. Dia dapat mengalahkan wanita itu. akan tetapi dia meragu apakah dia dapat memaksanya menyerahkan obat pemunah. Wanita seperti itu memiliki kekerasan hati yang aneh, mungki n sampai mati dia tidak akan dapat memaksanya.

"Tiong Li, jangan mencoba-coba untuk menyerangku. Selain belum tentu engkau akan dapat mengalahkan aku dengan mudah, juga andaikata engkau menang dan aku mati, apa gunanya? Puteri itu akan mati pula bersamaku Nah, serahkan Mestika Golok Naga kepadaku!"

"Sian-li, jangan menggertak aku. Aku masih mempunyai sinkang cukup kuat untuk mengusir hawa beracun dari tubuh sang puteri!" Tiong Li balas menggertak.

"Hi-hik, boleh kau coba kalau engkau ingin melihat puteri itu cepat mati. Bukan hawa beracun yang mematikannya, melainkan darahnya sudah keracunan. Betapapun kuatnya sinkangmu, tidak akan dapat membersihkan darahnya."

Tiong Li memandang kepada Siang Hwi untuk bertanya pendapat gadis itu yang tentu saja lebih mengerti dan gadis itu mengangguk dengan muka sedih, "la tidak berbohong, koko. Racun Ban-tok ciam langsung membuat darah keracunan dan tidak dapat diusir dengan sin-kang, hanya dapat disembuhkan dengan racun pemunah lain yang hanya dimiliki subo."

Tiong Li menghela napas panjang. Tidak percuma kiranya wanita itu berjuluk Ban-tok Sian-li! Ternyata penggunaan racunnya amat jahat. Hanya lawan, yang amat tangguh saja. yang akan mampu mengalahkan seorang wanita berbahaya seperti ini. Entah bagaimana nanti kalau ia sudah memiliki Mestika Golok Naga! Akan tetapi, bagaimanapun juga ia tidak mungkin mengorbankan nyawa sang puteri. "Tan-taihiap, bawalah pulang pusaka itu dan serahkan kepada ayah. Katakan bahwa aku tewas di tangan wanita ini. Ayah tentu akan mengerahkan seluruh pasukan untuk menangkapnya dan biarpun ia akan terbang ke langit, tentu akhirnya ayahanda kaisar akan dapat menangkapnya !"kata Hiang Bwee dan mendengar ucapan puteri ini, diam-diam Ban-tok Sian-li menjadi ketakutan sekali. Kalau ucapan gadis itu dituruti Tiong Li, ia tidak akan mendapatkan Mestika Golok Naga malah, akan menjadi buronan pemerintah. Ucapan gadis bangsawan itu bukan gertak kosong belaka. Kalau Kaisar marah dan mengerahkan pasukan mencarinya, ke mana ia akan dapat melarikan diri?

Akan tetapi Tiong Li berpendapat lain. Dia tidak mau mengorbankan nyawa puteri itu. Dia akan menyerahkan golok dan setelah puteri terbebas dari ancaman maut dan kembali ke istana, dia akan mulai lagi dan berusaha merampasnya dari tangan Ban-tok Sian-li kelak. Dia melepaskan ikatan sarung golok dari pinggangnya.

"Baik, aku akan menyerahkan golok pusaka, akan tetapi bagaimana aku dapat yaki n bahwa engkau akan memberikan obat pemunahnya yang benar? "

"Hemm, ada Siang Hwi di sampingmu, ia tentu akan dapat mengetahui mana obat pemunah aseli mana yang palsu," kata Ban-tok Sian-li. "Akan tetapi siapa berani tanggung bahwa setelah menerima obat pemunah, engkau tidak akan menyerangku dan tidak memberikan golok itu?"

"Aku adalah seorang laki-laki sejati. Aku berjanji bahwa setelah menukar golok dengan obat pemunah di sini, aku tidak akan menyerangmu. Akan tetapi kalau lain kali kita bertemu jangan salahkan aku kalau aku memberi hajaran kepadamu dan merampas kembali golok pusaka!"

"Baik, berikan golok itu dan akan kuberikan obat pemunah," katanya.

"Perlahan dulu!" kata Tiong Li. "Berikan dulu obat pemunah dan. setelah dipastikan tidak palsu, baru akan kuserahkan golok ini kepadamu. Nama dan kehormatanku menjadi jaminan janjiku!"

Ban-tok Sian-li lalu melemparkan sebungkus obat bubuk kepada Tiong Li dan pemuda Itu lalu menyerahkan kepada Siang Hwi. Gadis ini membuka buntalan, menci um obat bubuk itu dan ia lalu menghampiri sang puteri yang masih menyeringai kesakitan. "Tuan puteri, minumlah semua obat bubuk ini." Dikeluarkannya sebotol arak ringan dan obat itu lalu diminumkan dengan arak ringan. Setelah minum obat itu, perlahan-lahan rasa nyeri itu menghilang dan warna biru kehitaman pada pundak juga mulai berkurang. Siang Hwi lalu menyedot keluar jarum itu dengan isapan mulutnya dan menggigit jarum itu lalu membuangnya. Kemudian ia minum sisa obat yang memang disediakan untuk dirinya agar ia tidak terpengaruh sisa racun yang berada di jarum. Setelah itu ia memandang kepada Tiong Li dan mengangguk.

"Sekarang tuan puteri sudah aman," katanya lirih.

Tiong Li menyerahkan Mestika Golok Naga kepada Ban-tok Sian-li yang menerimanya sambil tersenyum dan wajahnya cerah gembira sekali. Dicabutnya golok itu untuk memeriksanya.Nampak si nar berkilat ketika golok dicabut dan wanita itu mengangguk senang, lalu disimpannya kembali golok ke dalam sarungnya, di ikatkan sarung itu di punggungnya dan iapun melompat pergi tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

"Subo, tunggu dulu...!" teriak Siang Hwi dan gurunya berhenti berlari, lalu membalikkan tubuh memandang kepada muridnya.

"Mau bicara apa lagi?" bentaknya. "Bukan aku yang bicara, akan tetapi koko Tiong Li mempunyai sesuatu yang ingin ia sampaikan kepadamu!" kata Siang Hwi sambil memandang kepada kekasihnya. Pemuda ini maklum apa yang berada dalam pikiran gadis itu, maka diapun melangkah maju dan memberi hormat kepada Dewi Selaksa Racun itu.

"Sian-li, aku dan Hwi-moi sudah saling menci nta dan saling berjanji untuk menjadi suami isteri. Mengingat bahwa Hwi-moi sudah tidak mempunyai keluarga lagi, maka aku mengajukan pinangan kepadamu sebagai gurunya untuk meminang Hwi-moi menjadi jodohku!"

Puteri Sung Hiang Bwee memandang semua ini dengan mata terbelalak penuh keheranan dan kengerian. Bagaimana orang-orang kang-ouw itu bersikap ketika mengajukan pi nangan. Pinangan diajukan di antara mereka, secara terus terang tanpa perantara lagi. Seolah bukan gadis yang diminta untuk diperisteri, seperti minta, sebuah benda saja! .

Ban-tok Sian-li memandang kepada muridnya. "Siang Hwi sudah dewasa, ia boleh memutuskannya sendiri. Andaikata aku ik ut campur sekalipun ia tidak akan taat kepadaku. Terserah kepada kalian!" Setelah berkata demikian wanita itu berkelebat dan lenyap dari situ.

Siang Hwi saling pandang dengan Tiong Li dan tiba- tiba terdengar orang bertepuk tangan. Mereka berpaling dan ternyata yang bertepuk tangan itu adalah puteri Sung Hia ng Bwee. ini berarti bahwa sang puteri telah Sembuh, atau setidaknya pundaknya sudah tidak terasa nyeri lagi dipakai bertepuk tangan.

"Kiong-hi, kiong-hi (selamat)! Wah, aku harus mengucapkan selamat atas pertunangan kalian," katanya sambil menghampiri Siang Hwi. Di lolosnya sehelai kalung emas permata hiasan batu kemala, dan dikalungkan kalung itu ke leher Siang Hwi. "Ini hadiah dariku untukmu, enci Siang Hwi."

"Terima kasih, tuan puteri. Paduka baik sekali."

"Ih, apanya yang baik. Kalau tidak ada kalian berdua, entah sudah menjadi apa aku ini? Menjadi makanan burung gagak berangkali," kata puteri itu tertawa. Di dalam waktu yang amat singkat ternyata puteri itu telah telah bebas dari ancaman racun Ban-tok-ciam.

Mereka lalu melanjutkan perjalanan setelah mengumpulkan kuda mereka. Di tengah perjalanan Tio ng LI bertanya, "Hwi-moi, apakah engkau juga pandai mempergunakan Ban-tok-ciam?"

"Subo pernah mengajarkan kepadaku. Jarum halus itu dapat disembunyika n dalam kepalan tangan dan sambil memukul jarum itu dapat dilepaskan. Akan tetapi subo tidak pernah memberikan obat pemunahnya atau cara membuatnya sehi ngga aku tidak pernah mau menggunakan jarum selaksa racun itu. Terlalu keji kalau aku tidak mengetahui pemunahnya."

"Kau benar, Hwi-moi. Kalau engkau tidak dapat memunahkan racunnya, memang tidak perlu menggunakan senjata rahasia macam itu. Kurasa kalau yang diserang itu memiliki sin-kang yang kuat, dia akan mampu mencegah menjalarnya racun ke dalam darah dan hanya meracuni setempat saja yang mudah disembuhkan dengan pembedahan di tempat dan mengeluarkan racunnya."

"Engkau benar, koko”

Karena kini mereka sudah tiba di daerah Sung, maka perjalanan dapat mereka lakukan dengan lancar tanpa halangan. Tidak lama kemudian mereka bertemu dengan sepasukan Sung yang dipimpin oleh seorang perwira kerajaan. Melihat Tiong LI yang dianggap buronan dan penculik sang puteri, perwira Itu tentu saja terkejut bukan main. Apa lagi melihat sang puteri menunggang kuda bersama orang buruan itu.

"Kepung! Tangkap pemberontak!" "Tangkap pencuiik!"

"Selamatkan sang puteri!"

Mereka itu berteriak teriak sambil mengepung dan mengacung-acungkan senjata. Meli hat ancaman kepungan ini, Sung Hiang Bwee mengajukan kudanya dan membentak, "Apa yang hendak kalian lakukan ini? Tan-tai hiap dan nona The ini adalah penolong penolongku dari tangan penculik. Jangan menuduh sembarangan! Hayo sediakan sebuah kereta untukku, agar dapat kupakai pulang ke istana!"

Perwira itu terkejut dan heran, lalu memerintahkan pasukannya untuk mundur dan menyediakan sebuah kereta itu mengawal sang puteri yang duduk di dalam kereta bersama Siang Hwi, dan Tiong Li juga mengawal naik kuda di dekat kereta.

Ketika mereka dihadapkan Kaisar, Kaisar girang bukan main melihat puteri nya pulang dalam keadaan sehat dan dia mendengarkan laporan puterinya, betapa ia diculik oleh penjahat dan diberikan kepada Panglima Bangsa Kin, kemudian diselamatkan oleh Tiong Li dan Siang Hwi. Mendengar ini, Kaisar merasa girang dan berterima kasih kepada, Tiong Li .

Biarpun Tiong Li menduga keras bahwa penculika n sang puteri itu adalah perbuatan yang didalangi oleh Perdana Menteri Jin Kui, akan tetapi karena tidak ada bukti, diapun tidak berani sembarangan menuduh.

"Tiong Li, engkau sudah berjasa besar sebanyak dua kali. Sekarang kami hendak menganugerahkan pangkat pengawal istana untuk menjaga keselamatan keluarga kerajaan."

"Ampun beribu ampun. Yang Mulia. Bukan sekali-kali hamba menolak anugerah paduka yang berlimpah, melainkan hamba masih memiliki tugas yang penting, yaitu merampas kembali Mestika Golok Naga yang lenyap diambil pencuri dari gedung pusaka."

"Ah, pusaka itu sudah lama dicuri orang dan sampai sekarang para pengawal belum juga mampu menemukannya."

"Hamba sudah tahu siapa yang mengambilnya, Yang Mulia. Dan hamba berjanji untuk mendapatkannya kembali untuk paduka."

"Ayahanda, sebetulnya Mestika Golok Naga itupun diambil oleh Panglima! Wu Chu dan sudah berhasil dirampas kembali oleh Tan-taihiap. Akan tetapi di tengah perjalanan, saya dilukai orang dan orang itu memaksa Tan-tai hiap menyerahkan golok pusaka itu untuk ditukar dengan obat yang akan menyelamatkan nyawa saya. Tan-tai hiap terpaksa menukarkan golok itu dengan obat pemunah racun yang melukai saya."

"Jahanam betul! Siapa orang itu?" "Seorang wanita kang-ouw, Yang Mulia," kata Tiong Li tanpa menyebutkan nama karena merasa tidak enak kepada Siang Hwi sebagai murid perampas golok pusaka itu.

"Baiklah, kalau begitu engkau pergilah untuk merampas kembali golok itu. Tio ng Li," katanya kemudian.

"Akan tetapi Yang Mulia, gambar hamba terpampang di mana-mana sebagai pemberontak dan penculik sang puteri. Hal ini akan menghambat perjalanan hamba dan bahkan menghalangi hamba. Hamba mohon paduka memberi perintah penghapusan dakwaan terhadap hamba itu. Dengan surat perintah paduka, hamba tentu akan dapat membersihkan nama hamba dari noda dan dapat bergerak dengan leluasa."

Kaisar menghela napas panjang. "Kami menyesal telah memerintahkan pengumuman yang agak tergesa- gesa itu, Tiong Li, sehi ngga engkau menjadi orang buronan. Siapa tahu engkau justru malah dua kali menyelamatkan puteri kami dari tangan penculik. Baik, akan kami buatkan surat perintah dan pengumuman itu untuk membersihkan namamu."

Kaisar lalu memerintahkan pembantunya untuk menuliskan surat perintah itu, kemudian menandatanganinya dan membubuhi cap kerajaan. Tiong LI menerima dengan hati lega.

"Ada sebuah lagi permohonan hamba, Yang Mulia. Sepanjang yang hamba ketahui, para pemberontak itu sebenarnya bukanlah pemberontak. Mereka itu pejuang- pejuang, para patriot yang hendak memperjuangkan kebebasan tanah air dari penjajah Bangsa Ki n. Mereka bahkan setia kepada Kerajaan Sung dan hendak mengembalikan kejayaan Kerajaar Sung untuk menguasai kembali daerah utara. Maka, tidak semestinya mereka itu dikejar-kejar seperti pemberontak, Yang Mulia."

Kaisar mengerutkan alisnya. ''Kami mengadaka n persahabatan dengan Bangsa Kin agar mencegah mereka menyerang keselatan dan menimbulkan korban di antara rakyat. Kami mencegah perang demi rakyat. Kalau mereka itu menyerang Kerajaan Kin, dan kalau kami mendiamkannya saja, tentu Kerajaan Kin akan memusuhi Kerajaan Sung. Akan tetapi, baiklah kami melihat perkembangannya dulu Kalau mereka itu tidak mengganggu pemerintah Kerajaan Sung, mereka tidak akan dianggap pemberontak."

"Tan-taihiap, engkau sudah berulang kali berjasa dan ayahanda Kaisar hendak menganugerahkan pangkat kepadamu, kenapa engkau menolaknya? Sudah sepatutnya kalau engkau menerima imbalan jasa- jasamu," kata sang puteri kepada Tio ng Li.

"Terima kasih, tuan puteri. Akan tetapi apa yang hamba lakukan Ini adalah merupakan kewajiban hamba yang selalu hendak menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan dan menentang yang jahat. Kalau hamba mengharapkan Imbalan jasa, maka perbuatan itu sama sekali bukan perbuatan gagah. Pula, hamba masih mempunyai kewajiban untuk merampas kembali Mestika Golok Naga, harap tuan puteri dapat memakluminya."

Bagi kebanyakan orang, tentu alasan yang dikemukakan Tio ng Li itu tidak dapat diterima. Orang yang berjasa mendapat imbalan, hal itu sudah semestinya dan sepatutnya, demikian anggapan kita pada umumnya. Justeru karena pendapat inilah, maka kita semua terjerumus ke dalam perbuatan yang selalu berpamrih untuk mendapatkan imbalan. Semua perbuatan kita itu kita perhitungkan untung rugi nya seperti berdagang. Apa artinya sebuah pertolongan kalau, pertolongan itu dilakukan dengan harapan memperoleh imbalan ? Apakah artinya sebuah kebaikan kalau dibaliknya terkandung harapan memperoleh balasan?! Perbuatan itu bukan lagi baik, bukan lagi pertolongan, melainkan suatu alasan untuk mendapatkan sesuatu. Kalau tidak akan ada imbalan, mungkin pelakunya akan mundur. Perbuatan yang seutuhnya adalah perbuatan yang dilakukan tanpa pamrih bagi dirinya sendiri, tanpa pamrih memperoleh sesuatu sebagai buah dari perbuatannya itulah. Bahkan mengharapkan imbalan dari Tuhan atas perbuatannya yang "baik" pun merupakan pamrih dan karenanya menodai perbuatan itu sendiri. Perbuatan baik muncul dari hati sanubari, digerakkan oleh perasaan iba melihat orang lain sengsara, merasa penasaran melihat perlakuan yang tidak adil dan sebagainya lagi. Bukan oleh pamrih untuk kesenangan diri sendiri yang akan memperoleh buah dari hasil perbuatannya. Imbalan ini justeru melahirkan munafik-munafik dipermukaan bumi. Orang-orang "baik" yang sesungguhnya hanyalah pengejar-pengejar keuntungan bagi dirinya sendiri.

Tiong Li dan Siang Hwi meni nggalkan istana dengan diberi bekal sekantung emas oleh Kaisar. Hia ng Bwee mengantarkan mereka sampai ke pintu depan di mana Hiang Bwee merangkul Siang Hwi sambil berbisik, "Enc! Hwi, jagalah Tan-taihiap baik-baiki"

Siang Hwi terharu sekali, la merasa betapa puteri itu sesungguhnya mencinta Tio ng Li! Akan tetapi ia hanya mengangguk sambil tersenyum. Tentu saja Tiong Li yang berpendengaran tajam itu dapat mendengar bisikan ini namun dia pura-pura tidak mendengar dan memberi hormat kepada gadis yang ketika berada di depan Kaisar disebutnya tuan puteri itu.

"Sung-siocia (Nona Sung), selamat tinggal." katanya hormat.

"Tan-taihiap, selamat jalan dan selamat berpisah. Mudah-mudahan kita akan dapat saling bertemu kembali dan Enci Siang Hwi, selamat jalan dan jagalah diri kalian baik-baik." kata puteri itu yang merasa sedih juga ditinggalkan dua orang yang begitu baik kepadanya. Rasanya ingin ia meninggalkan! keputria nnya untuk ikut mereka berpetualang di dunia bebas! .

0o—dw—o0

Nasihat Tiong Li kepada Kaisar agar tidak memusuhi para pejuang membuat Kaisar berpikir-pikir dan dia segera memanggil seorang puteranya. Putera ini adalah Pangeran Kian Cu, seorang yang merasa kagum kepada kesetiaan Gak Hui.

"Pergilah menghubungi para pejuang dan selidiki apakah benar para pejuang itu sama sekali tidak mempunya keinginan untuk memberontak, melai nkan hanya membenci bangsa Kin." demikian perintah kaisar.

Pangeran Kian Cu, seorang Pangeran berusia duapuluh lima tahun adalah putera dari selir dan dia seorang pangeran yang sejak lama mengagumi sepak terjang para pejuang yang menjadi pengikut Gak Hui. Mendengar perintah ayahnya itu, Pangeran Kian Cu merasa gembira dan dia segera berangkat meninggalkan istana dan menghubungi para pejuang. De ngan mudah saja dia dapat mengadakan hubungan dengan pimpinan pejuang, bahkan para pejuang dapat membawanya menemui Gak Li u. yaitu pejuang putera mendiang Panglima Gak Hui yang terkenal.

Gak Liu menerima pangeran itu dengan baik dan mengadaka n pertemuan dengan para pimpinan pejuang lainnya. "Sebetulnya aku datang mengadakan hubungan dengan kalian ini atas perintah ayahanda Kaisar," kata sang pangeran. "Selama ini beliau berpendapat bahwa kalian adalah pemberontak pemberontak yang ingin merebut kedudukan Ayahanda Kaisar. Akan tetapi menurut laporan dari seorang pendekar muda bernama Tan Tiong Li, kalian adalah patriot-patriot, pejuang yang hanya memusuhi penjajah Kin dan sama sekali tidak memusuhi pemerintah Sung. Benarkah keterangan itu?"

Gak Liu memberi hormat kepada sang pangeran dan berkata dengan suaranya yang lantang. "Sebetulnya hal ini seharusnya sudah diketahui oleh Sribaginda sejak dahulu. Mendiang ayah saya, seorang patriot sejati yang setia kepada Sri baginda, bahkan dituduh pemberontak dan dihukum mati! Sebetulnya kami sama sekali tidak berniat memberontak, bahkan ingin mengembalikan kejayaan kerajaan Sung dan merebut kembali wilayah utara yang dikuasai bangsa Kin. Akan tetapi kalau kami dianggap pemberontak dan diserang, tentu saja kami membalas."

"Kalau begitu, selama ini hanya terdapat kesalah pahaman belaka dan aku akan melaporkan kepada Ayahanda Kaisar." kata Pangeran Kian Cu dan setelah selesai pertemuan itu, dia menyumbangkan sejumlah besar uang untuk keperluan perjuangan, dan mengharapkan agar seluruh kekuatan pejuang digalang persatuannya.

Usaha Pangeran Kian Cu menghubungi para pejuang atas perintah Kaisar ini telah diketahui oleh Ji n Kui melalui mata-mata yang disebarnya diantara para thai- kam di istana. Dia merasa khawatir sekali. Kalau Kaisar sudah menaruh kepercayaan kepada para pejuang, ini berbahaya sekali. Berarti hubungan antara Sung dan Kin dapat menjadi renggang, dan dia sendiri tentu akan mendapat kemarahan dari Raja Kin. Juga mungkin Kaisar lambat laun akan terpengaruh dan bahkan memusuhi nya, yang sejak semula memang memusuhi para pejuang. Cepat dia memanggil Si Muka Tengkorak Tang Boa Lu, Ciang Sun Hok, Ma Kiu It, Kui To Cinjin dan kedua orang sutenya yang baru saja dipanggil membantu mereka, yaitu Ouw Yang Kian dan Ouw Yang Sian. Mereka lalu mengadaka n perundingan dan akhirnya Perdana Menteri Jin Kui berkata dengan marah.

"Hal ini tidak dapat didiamkannya saja! Kaisar melalui Pangeran Kian Cu mengadakan pertemuan dengan para pemberontak! Ini berbahaya sekali dan aku tahu jalan apa yang harus ditempuh untuk menggagalkan itu!"

"Jalan apakah yang taijin maksudkan? Harap memberi tahu kami agar dapat segera kami laksanakan." kata Kui To Cinjin sambil mengelus jenggotnya yang tipis panjang.

"Pangeran itu harus dibunuh dan kita fitnah para pemberontak itu sebagai pembunuhnya. De ngan begini selain pertemuan itu akan gagal, juga Kaisar akan marah dan sakit hati kepada para pemberontak!"

Para kaki tangan Perdana Menteri Jin Kui mengangguk-angguk setuju dan menganggap akal itu baik sekali.

"Akan tetapi bagaimana pembunuhan itu dapat dilaksanakan tanpa menimbulkan kecurigaan?" tanya pula Kui To Cin jin. "Sekarang juga harus dilaksanakan. Kalau pangeran kembali dari tempat para pemberontak, itulah kesempatan yang baik sekali. Karena itu aku perintahkan Ouw Yang Kian dan Ouw Yang Sian dibantu oleh Tang Boa Lu untuk melaksanakan pembunuhan itu."

Tiga orang itu menyatakan kesanggupan mereka dan segera mereka berangkat setelah mengetahui jalan mana yang ditempuh pangeran untuk menemui para pemberontak.

Bagi orang yang lemah dan menjadi budak nafsunya seperti Jin Kui. memang selalu berlaku pegangan bahwa yang terpenting adalah tujuan, dan tujuan menghalalkan segala cara. Kita sendiri memang seringkali lupa akan hal ini. Kita mengagungkan tujuan dengan sebutan cita- cita yang muluk-muluk, yang kita kejar-kejar. Padahal, dalam pengejaran tujuan inilah letak bahayanya, yaitu dalam caranya. Cara atau jalan untuk mengejar cita-cita ini kadang berbahaya sekali. Kita terbius oleh gemer lapnya tujuan sehingga untuk mendapatkannya, kita lupa bahwa cara yang kita pergunakan tidak benar. Padahal, bukan tujuannya yang menjadi ciri baik buruknya perbuatan, melainkan cara itu sendiri. Kalau cara yang dipergunakan itu buruk, bagaimana mungkin dapat mencapai tujuan yang baik ? Gemerlapnya tujuan memang condong untuk membuat kita lupa akan cara kita yang kita pergunakan. Misalnya, demi untuk tujuan memberi kehidupan mewah kepada anak isteri, kita melakukan korupsi atau mencuri. Demi untuk tercapai nya tujuan menjadi, sarjana kita melakukan sogokan dan suapan atau membeli ijazah. Tujuan itu tentu sifatnya menyenangkan dan menyenangkan itu mendorong nafsu untuk mendapatkannya. Segala nafsu itu wajar saja, akan tetapi kalau kita sudah diperbudaknya, celakalah kita, Nafsu mencari keuntungan i tu wajar saja, akan tetapi kalau kita diperbudak, kita bisa saja menipu atau mencuri. Nafsu sex itu wajar saja, akan tetapi kalau kita diperbudak, kita bisa saja melacur memperkosa dan sebagainya lagi. Demikian dengan mengejar kedudukan, harta benda, nama dan pengejaran apa saja yang menjadi cita-cfta dapat menyelewengkan kita. Betapa baik dan muliapun tujuan yang hendak kita capai, bisa saja melahirkan cara pengejaran yang menyeleweng.

Demikian pula dengan Jin Kui. Demi tercapainya segala cita-citanya, demi terlaksananya tujuannya, maka dia pun menghalalkan segala cara. Cara yang curang dianggapnya cerdik dan benar. Cara yang kejam dianggapnya gagah! .

Setelah selesai mengadakan pertemuan dan perundingan dengan Gak Liu dan para pejuang lainnya, sang pangeran lalu berangkat pulang naik kuda di antar oleh lima orang anggauta pejuang. Enam orang penunggang kuda itu melarikan kuda mereka menuju ke Hang-couw. Akan tetapi ketika mereka menuruni sebuah lereng bukit dan tiba di daerah yang sunyi, nampak tiga orang menghadang perjalanan mereka. Sang pangeran menahan kudanya, demikian pula lima orang pengawalnya. Dan pada saat mereka menahan kuda mereka itulah Tang Boa Lu Si Muka Tengkorak, Toat- beng-jia uw (Cakar Pencabut Nyawa) Ouw Yang Kian dan Hek-bin-kui (Setan Muka Hitam) Ouw Yang Sian bergerak menyerang!! Si Muka Tengkorak sendiri yang menyerang Pangeran Kian Cu tanpa peringatan lagi. Pangeran itu meloncat turun dari kudanya, akan tetapi bagaimana mungki n dia dapat menghi ndarkan serangan Si Muka Tengkorak yang amat lihai itu? Hanya dua kali dia dapat mengelak, akan tetapi pukulan yang ke tiga kalinya mengenai kepalanya. Pangeran Kian Cu tidak sempat mengaduh lagi, langsung terpelanting dengan kepala retak dan tewas seketika. Lima orang pengawalnya tidak mampu meli ndunginya karena mereka berlima juga sudah diserang kalang kabut oleh dua orang kakak beradik yang amat lihai itu. Para pejuang yang mengawal itu hanya memi liki Ilmu silat biasa saja, mana mungki n mereka mampu menandingi kedua saudara Ouw Yang Ini . Dalam belasan jurus saja mereka berlima juga sudah roboh semua dan tewas!

Pada hari itu juga Kaisar menerima laporan bahwa Pangeran Kian Cu telah tewas terbunuh lima orang pemberontak yang sebaliknya terbunuh pula oleh kedua adik seperguruan Kui To Cin-jin.

Kaisar terkejut dan sedih Sekail mendengar ini dan dia segera memanggil kedua orang saudara Ouw Yang untuk menceritakan apa yang telah terjadi.

"Hamba berdua sedang melakukan perjalanan ke luar kota ketika dari jauh hamba melihat kuda sang pangeran di kepung lima orang dan mereka itu mengeroyok Pangeran Kian Cu. Hamba berdua segera lari menghampiri akan tetapi hamba terlambat dan melihat sang pangeran sudah terguling dan roboh ,terkena hantaman ruyung. Meli hat Ini, hamba berdua lalu mengamuk, menyerang lima orang itu dan akhirnya hamba berdua dapat membunuh mereka. Hanya itulah yang hamba ketahui, Yang Mulia," kata Ouw Yang Kian.

"Mereka itu adalah pimpinan para pemberontak, Yang Mulia!" sambung Ouw Yang Sian yang bermuka hitam.

"Keparat jahanam!" Kaisar memaki, sambil mengepal tinju. "Dibaiki bahkan membunuh. Ciang Sun Hok, kerahkan pasukan dan basmi para pemberontak yang berada di daerah itu!" perintahnya ke pada Ciang Sun Hok. Panglima jagoan ini menyatakan kesanggupannya dan pertemuan itu dibubarkan karena kaisar sedang berduka atas kematian puteranya.

Perdana Menteri Jin Kui di rumahnya mengadaka n pesta menjamu para pembantunya. Mereka berpesta karena kegirangan. Mereka telah menang. Kaisar kembali membenci dan tidak percaya kepada kaum pejuang! Inilah tujuan mereka dan berhasil.

"Kui To Cin Jin, sekarang kita tinggal menghadapi Tan Tiong Li, Pemuda itu berbahaya sekali. Kita harus dapat segera membunuhnya karena dia dapat menjadi bahaya besar bagi kita. Akan tetapi ilmu kepandaiannya tinggi sekali. Siapa yang akan dapat melawan dan membunuhnya?"

"Harap tai-jin jangan khawatir, Pinto mempunyai tiga orang kenalan di utara. Mereka itu pertapa-pertapa di Lulia ng-san, Thai-hang-san, dan di lembah Sungai Fen- ho. Mereka adalah datuk datuk dunia kang-ouw yang berilmu tinggi. Dan pi nto mengetahui benar bahwa biarpun mereka tidak berbuat sesuatu di daerah Kerajaan Kin itu, akan tetapi mereka itu adalah orang-orang yang setia kepada Kerajaan Sung. Kalau pi nto minta bantuan mereka untuk menghadapi orang yang memberontak terhadap Kerajaan Sung, kiranya mereka akan sanggup membantu."

"Bagus sekali! Undang mereka ke sini, Kui To Gin-jin. Sukur kalau mereka suka menjadi pembantu tetap kita, kalau tidak, cukup baik kalau mereka mau menghadapi dan mengalahkan Tan Tiong Li!"

"Baik, tai-jin. Akan pi nto usahakan agar mereka mau membantu kita."

Pesta dilanjutkan sampai jauh malam dan sampai mereka Semua menjadi mabok, mabok arak dan mabok kemenangan Pikiran yang sudah bergelimang nafsu selalu menjadi pembela dari semua perbuatan yang dilakukan manusia. Biarpun hati akal pikiran mengerti dan tahu bahwa perbuatan itu tidak benar, akan tetapi nafsu dalam pikiran membuat pikiran menjadi pembela dan berusaha membenarkan perbuatan itu, melawan hati nuraninya sendiri. Setiap orang manusia tahu mana yang benar dan mana yang tidak benar.

Adakah di dunia ini pencuri yang tidak tahu bahwa perbuatan mencuri adalah tidak benar ? Semua pencuri tentu telah mengetahui nya. Akan tetapi tetap saja dia mencuri dan pikirannya yang sudah bergelimang nafsu membenarkan perbuatannya mencuri Itu dengan segala macam dalih. Pengertia n dan pengetahuan tidak dapat melawan nafsu, kalau nafsu sudah mencengkeram hati akal pikiran. Nafsu merupakan hamba yang amat penting dan amat baik, akan tetapi menjadi majikan yang amat jahat.

Akan tetapi siapa yang dapat menjadikan nafsu sebagai hamba yang baik dan mengekangnya agar tidak menjadi majikan? Hanya kekuasaan Tuhan sajalah yang akan mampu. Kita dengan hati akal pikiran kita tidak akan mampu menguasai nafsu. Jalan satu-satunya hanya menyerah dan pasrah kepada Tuhan dengan segenap ketawakalan dan kepercayaan. Hanya itu yang dapat kita lakukan dan jika Tuhan menghendaki, maka kitalah yang akan menjadi majikan atas nafsu kita sendiri, menjadikannya hamba yang baik. pembantu datam kehidupan yang amat berguna.

Bukan menjadi majika n yang merajalela dan yang mendorong kita melakukan segala macam perbuatan yang tersesat.

0o—dw—o0 Dengan susah payah Tiong Li bersama Siang Hwi mencoba untuk mencari jejak Ban-tok Sian-li. Akan tetapi kemana mereka harus mencarinya. Sudah pasti wanita Itu tidak lagi berada di Lembah Maut Sungai Yang-ce yang sudah diobrak-abrik dan dibakar oleh pasukan pemerintah. Dan wanita itu pandai menghilangkan jejak, gerakannya bagaikan! tidak meni nggalkan jejak. Maka Tiong Li dan Siang Hwi hanya berkeliaran saja sampai ke daerah perbatasan utara. Akhirnya Siang Hwi berkata kepada kekasihnya.

"Koko, kurasa percuma saja mencari jejak subo. Agaknya ia tidak pergi jauh. Subo tentu merasa sakit hati sekali kepada pemerintah karena dibasminya Lembah Maut. Da n watak subo tidak akan mendiamkan saja hal itu terjadi tanpa dibalas. Kalau menurut dugaanku, subo tidak akan pergi jauh dari kota raja, mencari kesempatan untuk membalas dendam."

"Kepada siapa ia hendak membalas dendam?" "Mungkin subo sedang menyelidi siapa biangkeladi

penyerangan ke Lembah Maut itu."

"Jelas biangkeladinya adalah Perdana Menteri Ji n Kui."

"Kalau begitu, subo tentu akan mengetahui dan akan membalas kepada Pei dana Menteri Itu. Maka sebaiknya kita kembali saja ke kota raja. Siapa tahu kita dapat menemukan ia di sana."

Demikianlah, keduanya lalu melakukan perjalanan kembali ke Hang-couw. Begitu mendekati Hang-couw, segera mereka ketahuan oleh para penyelidik anak buah Perdana Menteri Jin Kui, dan mereka cepat melaporkan kepada Perdana menteri itu.

Pada waktu itu, di kediaman Perdana Menteri Jin Kui, baru dua hari kedatangan tiga orang tamu. Mereka adalah tiga orang pertapa yang baru saja didatangkan oleh sahabat mereka, Kui To Cin-jin yang berhasil membujuk mereka untuk menghadapi Tan Tio ng L i yang dikatakannya sebagai seorang pimpinan pemberontak di samping Gak Liu.

Tiga orang itu adalah Im Seng Cu, to-su pertapa di Lulia ng-san, Ban Hok Seng-jin, pertapa di Lembah Sungai Fen ho, dan Sin Gi To-su, pertapa dari Thai- hang-san. Tiga orang pertapa ini memang merupakan sahabat-sahabat dari Kui To Cin-jin, ketika Kui To Cin-jin belum menjadi jagoan yang menghambakan diri kepada Jin Kui. Bagi tiga orang tokoh itu, Kui To Cin-jin menghambakan diri kepada Kerajaan Sung dan hal ini mereka setujui sekali. Memang mereka bertiga adalah tokoh-tokoh yang sangat mengagumi mendiang Panglima Gak Hui yang dianggapnya amat setia kepada Kerajaan Sung sampai akhir hayatnya. Biarpun di sepanjang Sungai Huang-ho sampai ke utara sudah diduduki oleh Bangsa Kin, mereka bertiga dalam hati tetap setia kepada Kerajaan Sung. Kalau saja Kerajaan Sung menyerang ke utara, mereka biarpun merupakan pertapa-pertapa tentu akan membantunya.

Maka, ketika Kui To Cin-ji n yang mereka anggap seorang hamba yang setia dari Kerajaan Sung itu berkunjung kepada mereka dan minta bantuan mereka agar menghadapi dan menangkap seorang pemberontak yang lihai, mereka tidak merasa keberatan dan berangkatlah mereka ke selatan untuk menunjukkan baktinya kepada Kerajaan Sung Selatan. Maka, ketika para penyelidik melaporkan tentang munculnya Tiong Li, dan Siang Hwi lalu perdana menteri itu minta kepada mereka bertiga untuk menghadapi "pemberontak", tiga orang datuk itu segera berangkat. Mereka juga merasa penasaran sekali mendengar bahwa Pangeran Kian Cu telah dibunuh oleh para pemberontak.

Tiong LI dan Siang Hwi yang melakukan perjalanan ke kota raja, bertemu dengan para pejuang dan merekapun mendengar tentang terbunuhnya Pangeran Kian Cu, dan bahwa Ji n Kui menuduh para pejuang yang membunuhnya. Mendengar ini, mereka merasa terkejut sekali. Para pejuang mengatakan bahwa pahlawan Gak Liu yakin bahwa anak buahnya yang lima orang dan yang mengawal sang pangeran itu tidak mungkin membunuhnya. Mereka sendiri juga terbunuh dan walau pun para pejuang menduga bahwa ada pihak ke tiga yang membunuh pangeran dan melakukan fitnah kepada para pejuang, akan tetapi mereka tidak mempunyai bukti dan saksi.

"Ini tentu perbuatan si laknat Ji n Kui!" kata Tan Tio ng Li, akan tetapi tanpa saksi dan bukti, bagaimana dia akan dapat melapor kepada Kaisar ? Dia merasa sedih sekali mendengar bahwa kaisar marah sekali dan semakin memusuhi para pejuang yang dianggap pemberontak. Dia melakukan perjalanan cepat menuju ke kota raja untuk dapat mendengar sendiri apa yang telah terjadi.

Tiba-tiba, perjalanan mereka dihadang oleh tiga orang yang berjubah seperti pertapa. Seorang di antara mereka memegang sebatang tongkat hitam dan ke tiganya memandang kepadanya seperti orang yang tidak senang, dengan alis berkerut. Meli hat tiga orang menghadang di depannya, Tiong Li segera memberi hormat kepada tiga orang tosu itu dan berkata dengan hormat dan ramah.

"Selamat siang, sam-wi to-tiang (tiga orang pendeta To)."

"Orang muda," kata Im Seng Cu yang memegang tongkat. "Engkaukah yang bernama Tan Tio ng Li?"

Tiong L i memandang heran. "Benar sekali, to-tiang. Saya bernama Tan Tio ng Li dan samwi to-tiang ini siapa kah? Dan ada keperluan apakah dengan saya?"

"Tiong Li, engkau pemberontak! Menyerahlah untuk kami tangkap!"

"Aih, to-tiang! Kenapa to-tiang berkata demikian? Saya sama sekali bukan pemberontak, bahkan saya melaksanakan perintah Yang Mulia Kaisar untuk menemukan kembali Mestika Golok Naga!" bantah Tio ng Li. "Siapakah sam-wi?"

"Pinto adalah Im Seng Cu dari Lu-liang-san," kata yang memegang tongkat, dan bertubuh kurus tinggi,

"Pinto Ban Hok Seng jin pertapa Lembah Fen-ho!" kata tosu pendek gendut yang membawa sebatang pedang di punggungnya.

"Dan pinto Sin G i Tosu, pertapa dari Thai-hang-san!" kata yang tinggi besar dan memegang sebuah kebutan berbulu putih .

Kembali Tiong Li memberi hormat. "Seperti saya katakan tadi, nama saya Tan Tiong Li dan ini adalah sahabat saya bernama The Siang Hwi. Kami berdua tidak pernah memberontak dan ...... "Tidak perlu mengganjal lagi! Pinto bertiga sudah mendengar bahwa engkau bergabung dengan para pemberontak, yang dipimpin oleh pemberontak Gak Liu!"

"Memang benar saya bersahabat dengan pendekar Gak Liu dan saudara-saudaranya. Akan tetapi Gak Liu adalah putera mendiang Panglima Gak Hui dan sama sekali bukan pemberontak, melainkan pejuang!"

"Hemm, kami mengenal Gak Hui sebagai seorang pahlawan yang setia sampai mati kepada Kaisar. Kami semua menghormatinya. Akan tetapi Gak Liu puteranya itu sama sekali tidak mengikuti jejak ayahnya. Dia menggerakkan orang-orang untuk menjadi pemberontak

!" kata Sin Gi Tosu yang tinggi besar sambil menggerak- gerakkan kebutannya.

"Sam-wi to-tiang salah sangka Gak Liu sama sekali bukan pemberontak! Dia berjuang mati-matia n untuk menentang pemerintah Ki n, berusaha keras untuk mengusir penjajah Kin dari tanah air."

"Akan tetapi dia menentang dan seringkali bentrok dengan pasukan Sung, bahkan sudah banyak membunuh anggauta pasukan Sung. Apakah itu tidak memberontak namanya?" kata Im Seng Cu.

"To-tiang salah sangka. Perdana Menteri Jin Kui amat membenci para pejuang yang gagah perkasa. Perdana Menteri Jin Kui seringkali mengirim pasukan untuk membasmi para pejuang, maka tentu saja para pejuang membela diri. Perdana Menteri Jin Kui itulah yang menghasut Yang Mulia Kaisar dan menyebut para pejuang itu pemberontak. Kalau para pejuang yang bersatu padu berniat untuk memusuhi Kerajaan Sung yang lemah, tentu sudah lama berhasil. Tidak to-tiang. Para pejuang bukan, pemberontak, melainkan patriot sejati yang hendak mengusir penjajah dari tanah air! Sayang sekali Yang Mulia Kaisar tidak mendengarkan pendapat mendiang Panglima Gak Hui untuk menyerang Bangsa Kin. Dia bahkan mendengarkan Perdana Menteri Jin Kui yang menghendaki perdamaian dan persekutuan dengan penjajah."

"Sian-cai, engkau pandai bicara orang muda!" kata Ban Hok Seng-ji n yang pendek gemuk.

"Lalu apa katamu tentang Mestika Golok Naga yang dicuri dari gudang pusaka istana? bukankah itu perbuatan para pejuang pula? Bukankah itu berarti memberontak?"

"Berita bohong itupun di tiup-tiupkan oleh Perdana Menteri Jin Kui sebagai fitnah. Sesungguhnya yang mencuri golok pusaka, itu adalah kaki tangani Panglima Kin yang bernama Wu Chu. Saya sendiri yang merampas kembali golok pusaka itu dari tangan Panglima Wu Chu, akan tetapi sayang golok itu terampas oleh seorang tokoh kang-ouw yang hendak mempergunakannya untuk menentang pasukan Kin. Dan sekarang saya sedang berusaha untuk merampasnya kembali," jawab Tiong Li dengan suara tegas.

"Ho-ho, engkau sudah siap untuk menjawab semua, pertanyaan. Bagus sekali! Dan bagaimana engkau akan menjawab kalau pinto bertanya tentang kematian Pangeran Kian Cu yang terbunuh oleh lima orang pemberontak itu, orang muda ? "

"Sam-wi To-tiang, ketahuilah bahwa Pangeran Kian Cu pergi berundi ng dengan para pejuang atas perintah Yang Mulia Kaisar, bahkan pangeran itu telah memberi sumbangan yang cukup banyak kepada para pejuang. Kemudian ketika pangeran meninggalkan para pejuang, pendekar Gak Liu sendiri yang menyuruh lima orang rekannya untuk mengawal pangeran itu. Kemudian diketahui bahwa mereka berlima itu tewas, demikian pula sang pangeran. Bagaimana mungkin mereka berlima itu membunuh sang pangeran yang telah menjadi sahabat baik ? Ini sungguh tidak masuk akal. Tentu ada pihak lain yang membunuh pangeran, kemudian membunuh pula lima orang pengawal itu, kemudian melemparkan fitnah bahwa lima orang pejuang itu yang membunuh sang pangeran. Harap sam-wi to-tiang dapat mempertimbangkannya dengan adil dan tidak hanya mendengarkan keterangan satu pihak sana."

Tiga orang tosu itu menjadi bingung dan saling pandang penuh kebimbangan dan keraguan. Semua keterangan yang diucapkan pemuda itu dengan lancar dan tegas membuat mereka merasa bimbang. Semua jawaban itu mengandung kemungki nan besar akan kebenarannya! Tiga orang ini adalah para datuk yang terbujuk oleh Kui To Cin-jin dan mereka hendak berjuang tanpa pamrih membela Kerajaan Sung. Mereka tidak mengharapkan imbalan jasa. juga tidak mengingat akan kepentingan diri pribadi. Semua hanya dilakukan dengan tujuan satu, yalah membela Kerajaan Sung dan membersihkan pemberontak yang mengacau Kerajaan Sung. .Akan tetapi kini mereka mendapat jawaban yang berlainan sama sekali dengan yang didengarnya dari Kui To Cin-jin dan Perdana Menteri Jin Kui .

"Bagaimana pendapatmu, Im Seng Cu ?" tanya Ban Hok Seng-jln kepada rekannya.

"Sian-cai...... ! Keterangan pemuda ini memang masuk diakal. Pinto menjadi bingung memikirkan persoalan ini," jawab.yang ditanya. Sin Gi Tosu juga berkata sambil menghela napas panjang. "Pinto juga menjadi ragu karena pinto sudah mendengar bahwa Perdana Menteri Jin Kui amat licik dan tidak disuka oleh para menteri lain yang setia. Akan tetapi kekuasaannya besar sehi ngga para menteri tidak ada yang berani berkutik."

"Sian-cai, apakah benar kita yang dibohongi?" tanya Ban Hok Seng-jin. "Kui To Cin-jin ternyata juga tidak menghambakan diri kepada Kaisar, melainkan kepada Perdana Menteri Ji n Kui, Hal itu saja tadinya sudah menimbulkan kekecewaanku. Pinto kira dia menghambakan diri kepada Kaisar."

"Sam-wi To-tia ng yang bijaksana," kata Tiong LI. "Harap sam-wi berpikir dengan pertimbangan seadilnya. Jin Kui itu adalah seorang penjilat yang telah mampu menguasai Yang Mulia Kaisar, akan tetapi dia bukanlah seorang pejabat yang baik. Dialah yang bersekutu dengan orang-orang Kin. Bahkan saya merasa yakin dia yang menyuruh orang menculik sang puteri Sung Hia ng Bwee untuk di hadiahkan kepada Panglima Kin yang bernama Wu C hu itu. Masih untung saya dapat membebaskan sang puteri yang telah dua kali diculik orang. Dan mengapa Perdana Menteri Jin Kui membenci para pejuang? Pertama karena para pejuang itu menentang Bangsa Kin yang menjadi sekutunya, dan kedua kalinya belum lama ini puteranya yang bernama Jin Kiat, yang terkenal mata keranjang dan amat jahat, terbunuh oleh pendekar Gak Liu. Itulah yang membuat Jin Kui selalu mengejar-ngejar para pejuang dan mengatakannya bahwa mereka pemberontak yang harus dibasmi."

Tiga orang tosu itu mengangguk-angguk. Mereka adalah orang-orang bijaksana yang mudah disadarkan dan begitu menyadari kekeliruan mereka, seketika dapat mengubah sikap. Tidak seperti kebanyakan dari kita yang kalau menyadari kekeliruan diri sendiri, pikiran lalu mencari akal untuk membela kekeliruan itu, untuk mencari alasan dan menyalahkan orang lain untuk menutupi ke salahan sendiri.

"Sian-cai.....! Ban Hok Seng-ji n dan Sin Gi Tosu, kita bertiga ini orang-orang tua yang berpikiran seperti anak kecil, mudah dibujuk dan mudah di kelabuhi. Kita telah tertipu oleh Kui To Cin-jin yang agaknya telah ketularan penyakit Jin Kui dan menjadi seorang penji lat. Tan Tio ng Li,. terima kasih. Kami menyadari kekeliruan kami. Akan tetapi dari tempat jauh sekali kami datang dan kami telah mendengar tentang kelihaianmu. Rasanya akan sia-sia perjalanan kami kalau kami belum mencoba kelihaianmu. Nah, mari kita main main sebentar, hendak kubuktikan apa yang telah kudengar tentang dirimu!"

Tiong Li mengerutkan alisnya. "Totiang, perlukah itu? Kita bukan musuh dan tidak ada urusan apapun di antara kita. Kita belajar ilmu untuk dipergunakan membela kebenaran dan keadilan, bukan untuk saling serang di antara orang-orang sehaluan. Bukankah totiang juga membela kebenaran dan keadilan?"

"Ha-ha-ha, lupakah engkau akan kebiasaan orang kang-ouw, belum berarti berkenalan dengan baik kalau belum mengenal kepandaian masing-masi ng? Ini bukan perkelahia n, hanya sali ng menguji kepandaian saja."

Tiong Li menghela napas panjang dia mengerti akan kebiasaan orang-orang kang-ouw yang sangat suka untuk mengenal orang lai n melalui ilmu silatnya.

"Baiklah, to-tiang. Kalau totia ng menghendaki demikian." To-su yang tinggi kurus itu menggerakkan tongkatnya. Im Seng Cu memang seorang ahli dengan senjata tongkatnya yang telah mengangkat namanya sebagai seorang datuk persilatan yang lihai "Orang muda, pergunakanlah senjatamu untuk menandingi tongkatku Ini!"

"Maaf, to-tiang. Saya tidak memiliki senjata apapun selain kaki dan tangan ini. Biarlah saya menghadapi tongkat to-tiang dengan kaki dan tanganku. Nah, saya sudah bersiap, to-tiang!" kata Tiong Li sambil memasang kuda-kuda di depan tosu itu .

Im Seng Cu  mengerutkan alisnya. Bagaimana mungki n dia melawan seorang pemuda yang bertangan kosong dengan tongkatnya? Akan tetapi karena dia sudah mendengar akan kelihaian Tio ng Li, diapun ingin sekali mengujinya.

"Baik, engkau yang menghendaki demikian, bukan pinto. Nah, sambutlah seranganku ini!"

Tongkatnya menyambar dengan dahsyat dan cepat sekali, mengirim totokan bertubi-tubi ke arah tiga jalan darah di pundak dan dada Tiong Li. Pemuda ini tidak memandang rendah dan sudah menduga bahwa tosu itu tentu lihai sekali, maka sejak tadi dia sudah bersikap waspada dan begitu lawan menyerang, dia mengerahkan Ilmu meri ngankan tubuh Jauw-sang-hui dan memain kan ilmu silat Ngo-heng-lian-hoan-kun yang amat lihai. Tubuhnya berkelebatan dan tidak dapat tersentuh ujung tongkat. Im Seng Cu terkejut sekait melihat tubuh pemuda itu berubah seperti bayangan yang berkelebatan dan tahu-tahu tangan pemuda itu menampar ke arah pergelangan tangannya sedangkan kakinya menyusul dengan sapuan yang cepat, dan kuat sekali! Cepat sekali dia menarik lengannya dan meloncat tinggi ke atas, lalu memutar tongkatnya dan menyerang lebih hebat lagi karena dia maklum bahwa pemuda itu benar-benar amat tangguh.Tiong Li sendiri juga terkejut. Tongkat itu memang hebat. Ujungnya seolah berubah menjadi puluhan batang dan semua ujung itu mengancam jalan darahnya. Totokan yang bertubi-tubi membuat dia terpaksa harus menggunakan kecepatan gerakannya, mengelak dan kadang menangkis tongkat itu dengan lengannya.

"Dukkk. !"

Ketika tingkat bertemu dengan lengan kiri Tiong Li yang menangkisnya, kembali tosu itu terkejut karena dia merasa betapa kedua lengannya yang memegang tongkat tergetar hebat. Hal ini tidaklah mengherankan karena ketika menangkis Tiong Li telah mengerahkan tenaga Jian-kin-lat. Akan tetapi kakek Itu menggerakkan tongkatnya secara istimewa sekali dan tahu-tahu sudah menotok pundaknya! Tidak ada kesempatan lagi bagi Tiong Li untuk mengelak atau menangkis, maka cepat dia mengerahkan ilmu I-kiong-hoan-hiat.

"Tukkk!"

Jalan darah di pundak itu tertotok dengan cepat sekali oleh ujung tongkat. Im Seng Cu memang seorang ahli totok yang hebat, akan tetapi sekali ini dia terkejut, setengah mati melihat totokannya itu tidak merobohkan si pemuda, sebaliknya dengan Tai-lek-kim-kong-jiu Tiong Li menyerangnya dan menangkap tongkatnya. Demikian hebatnya pukulan kilat itu sehingga Im Seng Cu terpaksa melompat ke belakang dan melepaskan tongkatnya yang terampas oleh Tiong Li !. Kiranya ilmu I-kiong-hoan-hiat yang dapat memindahkan jalan darah dan menahan aliran darah itu membuat dia kebal terhadap totokan yang tepat mengenai jalan darah di pundaknya itu tidak mengenai jalan darah yang sudah dipindahkan, maka dia pun tidak terpengaruh.

"Siancai.....! Engkau memang hebat sekali, orang muda!" kata Im Seng Cu memuji dan dia menyambut ketika Tiong Li mengembalikan tongkatnya, lalu melangkah kebelakang dengan wajah agak basah oleh keringat. Meli hat ini, dua orang Tosu yang lain menjadi gembira bukan main. Pemuda itu dapat menandingi bahkan mengugguli Im Seng Cu, ini hebat!

Ban Hok Seng-jin lalu maju dan mencabut pedangnya. "Tan-sicu, pinto juga ingin sekali merasakan kelihaianmu. Akan tetapi karena pinto biasa menggunakan pedang, maka sekarangpun terpaksa pinto mempergunakan pedang. Harap kau orang muda suka menggunakan senjata pula, karena kalau bertangan kosong sungguh membuat pi nto merasa tidak enak."

"Koko, kau pergunakanlah pedangku ini!" Tiba-tiba Siang Hwi berkata sambil memberikan pedangnya kepada Tiong Li. Pemuda itu meragu. Kekasihnya adalah murid Ban-tok Sian-li maka pedangnya tentu pedang beracun dan dia tidak mau mempergunakan pedang beracun, akan tetapi untuk menolaknyapun dia merasa tidak enak terhadap kekasih nya. Agaknya Siang Hwi memaklumi keraguan kekasihnya, maka ia tersenyum manis dan berkata :

"Koko, jangan khawatir. Pedangku ini bersih!"

Tiong Li menjadi girang sekali dan tanpa ragu lagi dia menerima pedang itu, sebatang pedang yang terbuat dari baja yang baik sehingga mengkilat bersih. Tidak ada tanda-tanda bahwa pedang itu mengandung racun. Dia memegang pedang menghadapi Ban Hok Seng-ji n. "Kalau to-tiang memaksa hendak menguji ilmu pedang, silakan, to-tiang. Saya sudah bersiap!" katanya sambil melintangkan pedangnya di depan dada. Biarpun kelihatannya dia hanya melintang kan pedangnya depan dada bertemu dengan ujung jari tangan kiri nya yang juga berada di depan dada dengan lengan terlipat, namun sesungguhnya itu adalah sebuah pasangan dari ilmu pedang Hui-eng-kiam-hoat (ilmu Pedang Garuda Terbang), yaitu pasangan Garuda Melipat sayapnya.

"Bagus, kalau begitu sambutlah seranganku ini, orang muda!" bentak Ban Hok Seng-ji n yang sudah menyerang dengan sabetan pedangnya dari kiri ke kanan. Sepasang lengan yang membentuk sayap dilipat itu terbuka dan pedang di tangan Tiong Li menangkis. Pedang beradu beruntun sampai tiga kali dan mereka masing-masi ng menarik pedangnya untuk diperiksa.

Ternyata pedang tidak menjadi rusak hanya Ban Hok Sen-ji n merasa betapa tangannya tergetar keras. Maka dia lalu menyerang lebih hebat lagi. Pedangnya lenyap, bentuknya berubah menjadi sinar bergulung-gulung menyilaukan mata. Tosu ini memang seorang ahli pedang yang pandai sekali, Akan tetapi Tiong Li mengimbanginya dengan ilmu meri ngankan tubuh Jauw- sang-hui.

Tubuh pemuda yang memainkan ilmu pedang Hui- eng-kiam-hoat ini seperti berubah menjadi seekor burung walet yang amat lincah. Beterbangan ke sana sini di antara sambaran pedang lawan dan pedangnya sendiri pun digerakkan membalas dengan serangan yang tidak kalah hebatnya.

Terjadi saling serang dengan hebatnya, ditonton dua orang tosu dan juga Siang Hwi yang merasa semakin kagum kepada kekasihnya, ia melihat tubuh kekasihnya itu seperti berubah. menjadi bayangan yang berkelebatan di antara dua gulungan sinar pedang.

Tentu saja Tiong Li tidak ingin merobohkan atau melukai lawan maka dia mencari akal bagaimana untuk mencapai kemenangan tanpa harus melukai lawan. Akhirnya dia mendapatkan akal. Pada saat pedang lawan menusuk ke arah lehernya, dia memapak! dengan pedangnya dan mengerahkan si n-kang menyedot pedang itu sehi ngga pedang tosu itu melekat pada pedangnya. Diputarnya pedang itu dengan pengerahan sin-kang sehingga mau tidak mau pedang tosu itu ikut berputar. Pada saat kedua pedang berputar itulah, Tio ng LI menyerongku pedangnya dan menusuk ke depan, mengancam pergelangan tangan lawan!

Ban Hok Seng-jin terkejut bukan main ketika tahu-tahu pergelangan tangannya sudah terancam ujung pedang laan. Untuk meli ndungi pergelangan tangannya. terpaksa dia melepaskan pedang yang menempel pada pedang lawan itu dan melompat ke belakang!. Pedangnya masih menempel pada pedang Tiong Li yang kemudian mengambilnya dan menyodorkan kepada pemiliknya, mengembalikannya sambil berkata, "Terima kasih bahwa to-tiang telah mengalah kepada saya."

"Siancai ....... !" Ban Hok Seng-jin menerima kembali pedangnya dan memandang penuh kagum. "Belum pernah pinto bertemu tanding seperti engkau, orang muda. Kalau boleh pinto bertanya, ilmu pedang apakah yang kaumainkan itu?"

"Itu adalah Hui-eng-kiam-hwat, to-tiang."

"Hui-eng-kiam-hwat? Bukankah ilmu pedang itu menjadi ilmu Pek Hong Sa jin, pertapa di Pek-hong-san?" "Beliau adalah seorang di anta guru-guru saya, to- tiang."

"Siancai. ... ! Pantas engkau begitu lihai!" kata Ban Hok Seng-ji n kagum,"Dan siapakah guru-gurumu yang lain, orang muda?" ki ni Sin Gi Tosu yang bertubuh tinggi besar.

"Saya masih mempunyai dua orang guru lagi, to-tiang, yaitu Thian Kui lo-jin dan Tee Kui Lo-ji n."

"Wah, sepasang pendekar sakti dari puncak Ki lin- san? Bukan main!" seru Sin Gi Tosu sambil menyelipkan kebutannya di pinggangnya. "Kalau begitu pi nto tidak ingin mencoba ilmu silatmu, orang muda, karena Ilmu silatmu yang diajarkan oleh tiga orang sakti itu pasti hebat. Pinto ingin menguji ketangguhan tenagamu."

"Silakan, to-tiang," kata Tiong Li sambil mengembalikan pedang kepada Siang Hwi.

"Nah, sambutlah ini, orang muda!" kata Sin Gi Tosu sambil mendorong dengan kedua tangan terbuka ke depan, kearah dada Tiong Li. Pemuda itu melihat dorongan itu mengandung kekuatan yang hebat dan angin dahsyat menyambar, segera memasang kuda- kuda dan diapun menggerak kan kedua tangan terbuka ke depan dengan ilmu Thai-lek-kim-kong-ji u. Dua tenaga sin-kang amat kuat bertemu di udara dan keduanya seolah bertemu dengan di nding baja yang kuat. Keduanya saling dorong dan mengerahkan tenaga.

0o—dw—o0