-->

Mestika Golok Naga Jilid 07

Jilid VII

Setelah semua gejolak cinta itu mereda. Siang Hwi bertanya, "Sekarang kita hendak pergi ke mana, koko?"

Tiong Li lalu menceritakan tentang lenyapnya puteri Sung Hia ng Bwee.

"Puteri itu menurut keterangan yang kudapatkan dari percakapan Perdana Menteri Jin Kui, telah dibawa, ke utara dan diserahkan kepada Panglima Wu Chu, panglima besar Bangsa Kin. Akan tetapi Perdana Menteri melakukan fitnah sehingga Kaisar mengumumkan penangkapan atas diriku dengan tuduhan menculik puteri itu."

"Ihh, betapa jahatnya Perdana Menteri itu!" kata Siang Hwi.

"Jahat dan licik sekali, Hwi-moi Karena itu, aku harus menyusul ke utara untuk menemukan kembali sang puteri dan mengembalikan kepada Kaisar. Barulah dengan demikian namaku akan bersih dan kedok Perdana Menteri Jin Kui akan terbuka. Dan engkau ikut menemanik u mencari sang puteri."

"Ke daerah kekuasaan Kin?" "Ya benar, ke utara."

"Baiklah, koko, ke manapun engkau pergi, aku ikut."

Demikianlah, sepasang kekasi h ini lalu melanjutkan perjalanan menuju ke utara, melewati perbatasan atau daerah tak bertuan dan memasuki wilayah Kerajaan Kin.

0o-dw-o0

Pada suatu pagi Tio ng Li dan Siang Hwi memasuki kota Lok-yang. Kota ini menjadi ibu kota ke dua sesudah Kai Feng yang tetap dijadikan kota raja oleh Bangsa Kin. Bangsa Kin memerintah dengan tangan besi sehi ngga rakyat Bangsa Han merasa tertindas akan tetapi mereka tidak berani berbuat sesuatu.

Pasukan Bangsa Kin adalah pasukan yang kuat dan kejam, terutama sekali terhadap rakyat jelata Bangsa Han. Betapapun juga, Kerajaan Kin membiarkan rakyat berdagang seperti biasa sehingga keadaan kota-kota cukup ramai dengan perdagangan. Yang memberatkan rakyat adalah pajak yang dipungut secara liar dan sembarangan. Para pejabatnya mempunyai wewenang sehingga siара yang dapat memberi suapan besar, merekalah yang lolos dari himpitan pajak.

Di antara para orang Han yang pandai banyak pula yang mengabdi kepada Kerajaan Kin dan mereka yang benar-benar setia mendapat penghargaan dan menduduki pangkat tinggi. Akan tetapi banyak pula orang pandai yang bahkan menyembunyikan diri. tidak mau membantu pemerintah Kin walaupun mereka juga tidak melakukan pemberontakan biarpun diam-diam mereka masih mengharapkan kembalinya pemerintah Kerajaan Sung.

Tiong Li dan Siang Hwi memasuki kota Lok-yang karena mereka mendengar bahwa PangIima Besar Wu Chu berkedudukan di Lok-yang walaupun perbentengan besarnya berada di luar kota Lok-yang. Di sini mereka tidak dikenal maka merka merasa aman untuk melakukan penyelidikan. Di Kerajaan Sung, Tio ng LI sudah merupakan buronan pemerintah yang gambarnya terpampang di mana-mana sehi ngga tentu saja dia tidak dapat melakukan perjalanan dengan aman.

Setelah mendapatkan dua kamar di Sebuah rumah penginapan, Tiong Li mengajak kekasihnya untuk keluar dan mereka memasuki sebuah rumah makan yang tidak jauh letaknya dari gedung tempat tinggal Panglima Wu Chu. Mereka tadi sudah berjalan-jalan di sekitar gedung itu dan meli hat betapa gedung itu terjaga ketat oleh para perajurit.

Sambil memesan makan, mereka menanti datangnya masakan sambil bicara berbisik-bisik. "Mungkinkah sang puteri berada di gedung tadi?" tanya Siang Hwi berbisik. "Dan apa yang akan kau lakukan selanjutnya, koko?"

"Kita harus menyelidiki hal itu. Hwi-moi. Penjagaan amat ketat, maka biarlah aku sendiri yang malam nanti me-akukan penyelidikan ke dalam gedung tu untuk melihat apakah sang puteri berada di dalam ataukah tidak. Engkau menanti saja di rumah pengi napan, Hwi- moi." Siang Hwi mengangguk, maklum bahwa ilmu kepandaiannya masih jauh untuk dapat menyelinap masuk kedalam gedung itu tanpa diketahui penjaga dan kalau ia ikut, ia hanya akan mengganggu dan merepotkan saja. Mungki n ia masih dapat menggunakan ginkangnya untuk menyelinap masuk, akan tetapi andaikata ketahuan, maka sukarlah baginya untuk meloloskan diri tanpa ketahuan mengi ngat bahwa di gedung panglima besar itu tentu terdapat banyak jagoan yang lihai.

Hidangan datang dan keduanya makan minum tanpa bercakap-cakap. Pada saat itu masuk tiga orang berpakaian perwira Kin dan dengan lagak sombong dan suara keras mereka minta disediakan arak baik dan bebek panggang.

"Cepat sediakan dan araknya yang terbaik! Panggang bebeknya yang kering sehi ngga kulitnya renyah dan sedap!" teriak mereka. Mereka berusia antara tigapuluh sampai empatpuluh tahun.

Tiong Li melirik ke arah kiri. Di sana duduk seorang kakek berusia enam puluhan tahun dan kakek ini duduk seorang diri, capingnya yang lebar diletakkan di atas meja dan rambutnya panjang digelung ke atas. Dia melihat betapa kakek itu memandang kepada tiga orang perwira dengan alis berkerut tanda tidak senang hatinya.

Seorang perwira yang termuda kebetulan melihat Slang Hwi dan dia menyeringai. "Wah, ada bidadari di sini!" katanya kepada dua orang kawannya. Mereka semua menengok dan memandang kepada Siang Hwi.

"Hebat! Kalau engkau berhasil mengajak ia minum bersama kita,, barulah engkau patut disebut jagoan jantan!" kata seorang di antara mereka kepada perwira termuda.

"Hem, mengapa tidak? Kalian lihat saja!" kata perwira itu sambil bangkit dari tempat duduknya, kemudian dengan langkah agak terhuyung karena dia sudah minum setengah mabok sebelum masuk rumah makan itu, dia menghampiri meja Siang Hwi dan Tio ng Li.

."Nona yang jelita, kami mengundang nona untuk minum-minum bersama kami sambil menikmati bebek panggang. Harap nona tidak menolak, dan kami akan memberi hadiah yang besar."

Siang Hwi mengerutkan alisnya dan menurutkan hatinya, ingin ia menghajar perwira itu. Akan tetapi pandang mata Tiong Li melarangnya dan iapun menjawab ketus.

"Aku sudah makan dan minum," katanya sambil menunjuk ke atas meja.

"Aih, makan sayur begini mana enaknya? Kami mengundangmu dengan hormat, nona kami perwira- perwira dari panglima besar. Marilah!" Perwira itu memegang lengan kiri Siang Hwi. dan ber usaha menariknya. De ngan gemas sekali Siang Hwi lalu menggunakan telunjuk tangan kanannya, menggunakan kuku telunjuk itu menggurat lengan yang memegangi nya sambil berkata.

"Aku tidak mau. Lepaskan tanganku!"

Tiong Li bangkit berdiri dan memberi hormat kepada perwira itu.

"Ciangkun, isteriku sudah makan minum bersama aku suaminya, dan tidak menghendaki makan minum bersama ciangkun, harap tidak memaksa." Perwira itu melepaskan tangan Siang Hwi dan memandang kepada Tiong Li dengan mata melotot. "Isterimu? Apa salahnya kalau hanya menemani kami makan minum?"

Pada saat itu, tiba-tiba kakek di meja sebelah kiri itu berkata. "Hemmm, agaknya Panglima Besar Wu Chu tidak dapat mendidik para perwira pembantunya.Hendak kuli hat apa yang akan dilakukan kalau aku melaporkan Hal ini kepadanya!"

Perwira itu terkejut dan memandang kepada kakek itu. Dia tidak mengenal kakek itu, akan tetapi kata-kata kakek itu agaknya membuatnya jerih. Dia menghampiri meja kawan-kawannya, berbisik-bisik kemudian mereka bertiga meninggalkan rumah makan tanpa menanti pesanan mereka.

Tiong Li dan Siang Hwi mengerli ng ke arah kakek itu, akan tetapi kakek itu minum arak dari cawannya dan tidak memperdulikan mereka. Karena peristiwa itu keduanya merasa tidak enak, takut menjadi perhatian orang maka keduanya segera menghabiskan makanan dan membayar lalu meninggalkan rumah makan itu.

Mereka berdua lalu mengunjungi taman rakyat yang terkenal indah di Lok yang, akan tetapi baru saja mereka memasuki taman itu, mereka melihat kakek yang tadi sudah berada di depan, duduk di atas sebuah bangku! Melihat mereka kakek itu mengangkat capingnya sambil tersenyum.

Diam-diam Tiong Li terkejut. Begitu cepatnya kakek itu mendahului mereka ke tempat ini, sungguh mengejutkan dan betapa cepatnya. Dia lalu mengambil Keputusan untuk berkenalan karena dia merasa dibayangi oleh kakek itu. Di ajaknya Siang Hwi menghampiri kakek yang duduk di atas bangku itu. Untung di tempat itu tidak ada orang lain sehingga dia dapat bicara dengan leluasa.

"Maafkan kami, paman. Kami ingin menghaturkan terima kasih atas pertolongan paman di rumah makan tadi, mengusir tiga orang perwira yang hendak kurang ajar," kata Tio ng Li sambil mengangkat tangan memberi hormat, di turut oleh Siang Hwi.

"Hemm, kalian bukan suami isteri, mengapa mengaku suami isteri?" tanya kakek itu dengan suara mengejek.

Kedua orang muda itu terkejut.

"Bagaimana engkau dapat mengetahui bahwa     "

kata Siang Hwi .

"Sikap kalian menunjukkan bahwa kalian bukan atau belum menjadi suami isteri !" kata kakek itu .

"Alasan itu hanya untuk menolak ajakan perwira tadi, paman," kata Tiong Li cepat.

"Kalian tidak perlu berterima kasih kepadaku. Kalian dapat menjaga diri dengan baik, tanpa bantuanku mereka bertiga tidak akan dapat berbuat sesuatu terhadap kailan. Akan tetapi kenapa nona begitu kejam? Perwira itu memang kurang ajar, akan tetapi perlukah membuat dia terluka beracun yang amat berbahaya? "

Tiong Li terkejut. Dia sendiri tidak meli hat kekasi hnya menyerang orang tadi, bagaimana dapat dikatakan melukai beracun yang berbahaya? Dia menoleh kepada Siang Hwi dan meli hat kekasi hnya merasa terkejut dan heran pula. "Engkau melihat apakah, paman?".

"Hemm, engkau menggurat lengannya dengan kuku jarimu dan aku melihat guratan itu sudah menimbulkan warna merah kebiruan yang membengkak!" "Hwi-moi......!!" Tiong Li kini memandang kekasihnya dengan mata terbelalak.

Siang Hwi tersenyum. "Hebat sekali ketajaman pandanganmu, paman. Akan tetapi engkau jangan khawatir, koko. Aku hanya menggurat kulit lengannya dan dia hanya akan menderita sakit bengkak pada lengannya itu tanpa membahayakan nyawanya. Apa kaukira aku begitu mudah membunuh orang? Biarlah sekedar memberi hajaran agar lain kali dia tidak akan memandang rendah kaum wanita, dan diapun tidak akan tahu bahwa aku yang membuat lengannya membengkak."

Tiong Li ki ni menghadapi kakek itu .dan memberi hormat pula. "Kiranya paman seorang yang amat lihai, harap maafkan kami yang tidak mengenal paman."

"Sudahlah, akan tetapi pesanku agar kalian berhati- hati di sini. Ba nyak terdapat jagoan yang amat lihai dan tinggi ilmu kepandaiannya. Kalau perbuatan nona tadi diketahui oleh seorang di antara para jagoan, tentu kalian dicurigai sebagai mata-mata Kerajaan Sung dan keadaan bisa berbahaya.Selamat tinggal!"

Setelah berkata demikian, kakek bercaping itu lalu bangkit dan berjalan pergi dengan cepat. Karena di taman itu terdapat banyak orang yang mulai berdatangan, Tiong Li dan Siang Hwi tidak berani melakukan pengejaran.

"Wah, belum apa-apa sudah bertemu dengan perwira kurang ajar dan seorang kakek yang lihai ," kata Tiong Li. "Mulai sekarang kita harus berhati-hati dan waspada, jangan mencari keributan." "Akan tetapi bagaimana kalau ada orang berbuat atau berkata kurang ajar terhadap diriku, koko? Apakah harus di diamkan saja?"

"Tentu saja tidak,.akan tetapi dari pada menanggapi mereka, lebih baik kita tinggal pergi."

"Kalau mereka mengejar dan memaksa?"

"Wah, kalau begitu, aku sendiri akan turun tangan menghajar mereka. Aku tidak ingin siapa saja mengganggumu, Hwi-moi !"

Mendengar jawaban ini barulah puas hati Siang Hwi. "Aku menaati semua pesanmu, koko."

"Nah, malam ini aku jadi melakukan penyelidikan ke rumah Panglima Besar Wu Chu dan engkau menanti aku di kamar penginapan."

"Baik, koko."

0o0-d-w-o0o

Bayangan Tio ng Li berkelebat seperti burung malam ketika dia berlompatan di luar tembok pagar rumah gedung Panglima Besar Wu Chu. De ngan mudah dia dapat melompati pagar tembok yang tidak ada penjaganya dan melompat masuk ke bagian dalam pagar tembok itu. Setelah mendekam agak lama di taman dan melihat keadaan sudah aman, para petugas jaga sudah meronda lewat, dia lalu menyelinap di antara pohon- pohon dan rumpun bunga, menuju ke bagian belakang gedung itu. Dia pikir kalau benar sang puteri berada disitu, tentu berada di bagian belakang gedung, di bagian puteri. Setelah meli hat sekeliling tidak nampak penjaga, dia lalu melompat ke atas genteng. Akan tetapi baru saja dia berjalan beberapa meter, kakinya menyangkut tali yang agaknya banyak di pasang di situ. Segera terdengar suara hiruk pikuk disusul suara kentungan dan terompet dibunyika n orang..

Celaka kiranya kakinya tadi menyangkut alat yang sengaja dipasang orang sehingga menimbulkan suara hiruk pikuk. Kedatangannya telah ketahuan! Tentu saja dia tidak berani mengambil resiko. Dilihatnya dari atas genteng betapa para penjaga sudah banyak berlarian, bahkan ada yang dengan gesitnya melompat Keatas genteng.

Di antara para penjaga itu terdapat banyak orang lihai

...... pikirnya dan diapun cepat melompat turun dan lari ke dalam taman. Ada penjaga yang melihat bayangannya lalu berteriak mengejar. Banyak penjaga melakukan pengejaran. Akan tetapi dengan cepat sekail tubuh Tio ng Li sudah melayang naik ke pagar tembok, lalu melompat keluar dan menghilang dalam kegelapan malam. Dia berhasil lolos, akan tetapi nyaris saja dia terkepung!

Karena tidak mungki n malam itu mengadakan, penyelidikan, dia lalu berlari cepat menuju ke rumah penginapan. Akan tetapi ternyata dua kamar mereka telah kosong. Tidak nampak Siang Hwi di dalamnya dan sebagai gantinya dia melihat sebatang pisau belati tertancap di atas meja menusuk sehelai surat. Dengan jantung berdebar tegang dia membaca surat itu.

"Kalau hendak bertemu dengan gadis itu, pergilah kelereng bukit Fu-niu-san di selatan."

Tiong Li membuang pisau itu dan mengantungi suratnya, lalu tubuhnya melesat lagi keluar dari jendela. Jantungnya berdebar penuh kegelisahan.. Mencari puteri Sung Hia ng Bwee yang di culik orang belum berhasil, kini Siang Hwi telah diculik orang pula! Atau demikian mudahkah Slang Hwi diculik orang? Dia tidak percaya. Gadis itu memiliki kepandaian tinggi dan cukup lihai untuk membela diri, bahkan memiliki banyak macam pukulan beracun yang ampuh. Hanya orang yang amat tinggi ke pandaiannya saja yang akan mampu menun dukkan dan menculik Siang Hwi. Akan tetapi mengapa penculik meni nggalkan surat? Jelas, penculik itu sengaja memanci ngnya untuk datang ke Fu-niu-san. Dia tidak takut. Biar harus ke neraka sekalipun, untuk menolong Siang Hwi, akan didatanginya juga!.

Fu-niu-san terletak di sebelah selatan kota Lok-yang, maka dia lalu keluar dari kota itu melalui pintu gerbang selatan, dan terus berlari cepat menuju ke bukit itu. Akan tetapi malam terlalu gelap baginya. Terpaksa dia berjalan perlahan melanjutkan tujuannya ke bukit itu.

Baru pada keesokan harinya, ketika matahari, mulai bersinar, dia tiba di kaki bukit Fu-niu-san. Ke mana dia harus pergi? Perbukitan itu terlalu luas dan tentu saja mempunyai lereng yang tak terhitung banyaknya! Akan tetapi tiba-tiba, dalam keremangan fajar itu; dia melihat api berkelap-kelip di atas sebuah lereng di depannya. Di seluruh tempat itu hanya ada api itu yang nampak, tidak ada di tempat lai n lagi dan ini tentu bukan hal yang kebetulan saja. Agaknya orang telah memberi tanda kepadanya! Diapun tanpa ragu lagi terus mendaki lereng di depan itu.

Api itu ternyata sebuah api unggun yang sengaja dibuat orang di depan sebuah pondok besar yang terpenci l! Dan di sekitar pondok itu berdiri belasan orang yang semua memegang sebatang golok. Dari sinar api unggun itu Tio ng Li melihat bahwa golok yang mereka pegang itu merupakan sebatang golok besar yang berukir naga. Mestika Goloki Naga! Kenapa begitu banyak? Tiong Li teringat akan golok yang dahulu dirampasnya dari Si Golok Naga. Mestika Golok Naga yang dipegang oleh Hak Bu Cu itu ternyata palsu, dan kini begitu banyak orang memegang golok yang persis seperti Mestika Golok Naga. Tentu saja semuanya palsu!.

Dia menjadi khawatir sekali akan nasib Siang Hwi. Maka, diapun dengan berani meloncat ke depan belasan orang itu yang segera mengepungnya.

Pintu pondok itu terbuka dan dengan heran sekali Tiong Li meli hat seorang laki-laki tinggi besar yang berusia kurang lebih empatpuluh tahun berdiri tegak dengan golok semacam pula di tangan. Dan di sebelahnya berdiri Siang Hwi! Akan tetapi gadis ini bebas, dan bahkan tersenyum kepadanya!

"Hwi-moi. !"

"Koko, akhirnya engkau datang juga."

Siang Hwi lari menghampiri Tio ng Li dan pemuda itu memegang kedua tangannya. "Hwi-moi, apa yang terjadi? Kenapa engkau berada di sini?"

"Perkenalkan, koko. ini adalah Ciu-ciangkun. Dialah yang mengajak aku ke sini karena katanya kalau aku berada di rumah penginapan, akan berbahaya sekali. Katanya engkau belum tentu berhasil dan diketahui rumah pengi napan di mana-kita bermalam, kita tentu akan dikejar dan ditangkap. Maka dia mengajakku ke sini dan sengaja mengundangmu datang ke si ni. Mereka memperlakukan aku dengan hormat dan baik, koko. Dan Ciu-ciangkun ini telah mengenal subo." Ciu Bhok Hi, perwira itu,.memberi hormat kepada Tiong Li. "Kami telah mendengar tentang.namamu, saudara Tiong Li. Bukankah engkau yang menjadi orang buronan Kerajaan Sung? Dan nona ini adalah murid Ban- tok Sian-li yang kebetulan telah kukenal. Namaku. Ciu Bhok Hi dan aku menjadi komandan dari pasukan Golok Naga yang membantu Panglima Besar Wu Chu. Kami semua sudah mengetahui bahwa engkau hendak mendatangi gedung panglima besar.".

"Akan tetapi kalau sudah mengetahui, mengapa memanci ng aku ke sini, dan tidak mengepung dan menyerangku di sana saja? Apa artinya semua ini?"

"Ha-ha-ha engkau begitu tidak sabar. Marilah masuk kedalam pondok, saudara Tan Tio ng Li. Kita bicara di dalam!"

Dengan berani Tiong Li menghampiri dan mereka bertiga, Tiong Li Siang Hwi dan komandan itu memasuki pondok. Sementara itu, cuaca sudah mulai terang, akan tetapi api lampu penerangan dalam pondok masih dinyalakan.

Tiong Li dan Siang Hwi duduk di atas kursi menghadapi meja bundar yang besar, berhadapan dengan Ciu Bhok Hi. Setelah memandang tamunya dengan penuh perhatian, Ciu Bhok Hi menghela napas panjang.

"Tidak kusangka bahwa orang yang menggegerkan Kerajaan Sung masih begi ni muda. Bahkan engkau telah dapat menandi ngi jagoan-jagoan seperti mendiang Hak Bu Cu dan juga Tang Boa Lu, sungguh mengagumkan sekali!" "Ciangkun terlalu memuji. Sebaiknya ciangkun cepat menceritakan apa maksud ciangkun memancing kami berdua datang ke tempat ini."

"Semua ini menunjukkan bahwa Panglima Besar Wu Chu adalah seorang yang dapat menghargai dan menghormati orang orang pandai seperti taihiap. Panglima kami tidak menghendaki menyambut tai-hiap sebagai musuh, melainkan ingin sekali jika taihiap sudi membantu pemerintah Kin. Di Kerajaan Sung taihiap sudah dimusuhi, dijadikan orang buronan, karena itu alangkah baiknya kalau taihiap mulai sekarang hidup di sini. Panglima Besar Wu Chu sudah menyediakan pangkat yang tinggi untuk tai hiap dan siocia."

Tiong Li mengerutkan alisnya. Agaknya kedatangan di Kerajaan Kin disalah tafsirkan oleh mereka, disangka dia melarikan diri karena menjadi orang buruan pemerintah Sung.

"Hemm, aku menjadi orang buruan karena di fitnah, disangka menculik seorang puteri Istana. Karena itu, aku harus membuktikan bahwa bukan aku penculik nya, dan aku mendengar bahwa sang puteri itu telah berada di rumah gedung Panglima Wu Chu."

"Memang benar, akan tetapi Panglima Wu Chu bukan seorang yang suka menculik wanita. Beliau menerima puteri itu sebagai hadiah dari seseorang "

"Aku tahu! Tentu dari Perdana Menteri Jin Kui, bukan?

Sungguh laknat Perdana Menteri i tu!"

"Sudahlah, taihiap. Tugasku hanya untuk membujukmu agar suka bekerja dengan panglima besar kami. Bagaimana jawabanmu?"

"Kalau aku menolak?" "Taihiap, kepandaianmu boleh jadi tinggi, akan tetapi ketahuilah bahwa pasukan golok naga kami adalah pasukan yang amat tangguh dan kami kira taihiap berdua tidak akan dapat lolos dari sini dengan selamat. Akan tetapi kami. tidak menghendaki hal ini terjadi, maka harap taihiap suka mempertimbangkan dengan baik."

"Hemm, kalau aku menerima, apa tugasku?" "Kerajaan Kin dan Kerajaan Sung telah bersahabat

baik. Antara raja dan Kaisar Sung telah ada kesepakatan untuk tidak saling menyerang. Akan tetapi, masih banyak bekas pengikut Panglima Gak Hui yang tidak mau menerima perdamaian itu dan mereka masih suka membuat kacau dan menyerang pasukan kami. Tugas taihiap adalah membasmi pengacau itu yang berada di perbatasan, demi berlangsungnya hubungan baik antara ke dua negara."

"Hemm, bagaimana, Hwi-moi, pendapatmu?"

"Aku hanya menyerah kepadamu, koko," kata gadis itu sejujurnya karena memang ia bingung memikirkan hal itu.

"Yang aku sama sekali tidak mengerti, bagaimana engkau dapat mengetahu gerak-gerik kami, ciangkun?" tanya Tiong Li kepada Ciu Bhok Hi. Orang yang ditanya tertawa.

"Ha-ha-ha, ini menunjukkan ketelitian kami, taihiap. Semenjak taihiap memasuki wilayah kami, kami telah menerima kabar bahwa taihiap berdua mungki n masuk daerah kami dan kami telah menyebar mata-mata untuk menyelidiki. Dan ketika taihiap berdua berada di rumah penginapan, di rumah makan, peristiwa dengan para perwira yang kurang ajar, semua peristiwa itu telah kami ketahui belaka." "Ahhhh!" Tiong Li terbelalak. "Mengerti aku sekarang!

Kakek yang bercaping itu!".

"Ha-ha-ha, dia hanya seorang di antara mata-mata kami, taihiap. Nah, ketahuilah bahwa kami semua telah siap siaga dengan baik sekali. Kalau semua kekuatan kami ini ditambah lagi dengan kekuatan taihiap yang lihai, pasti Panglima Besar Wu Chu akan menjadi girang sekali dan dengan bantuan taihiap, semua perusuh di perbatasan itu akan dapat dibasmi habis."

"Tidak, aku terpaksa tidak dapat menerima penawaran kedudukan oleh panglima kalian. Selain aku sendiri masih mempunyai banyak urusan pribadi, juga aku tidak ingin terikat oleh kedudukan di manapun. Sampaikan maafku kepada panglimamu."

"Taihiap, apa lagi yang menjadi penghalang bagi taihiap untuk membantu Kerajaan Kin? Banyak pendekar yang membantunya, bahkan tokoh-tokoh kang-ouw juga membantu. Kalau ada urusan pribadi, taihiap dapat mengandalkan kami untuk membereskannya."

"Ciu-ciangkun, Li-koko sudah jelas menyatakan tidak setuju, apakah masih belum jelas bagimu? Ketahuilah, sekali Li-koko mengeluarkan pernyataan tidak akan ditarik kembali dan kami berdua tidak akan menuruti permintaanmu!" kata Siang Hwi yang agaknya gembira dengan penolakan Tiong L i itu.

"Bagus! Kalau begitu jangan harap dapat keluar dari tempat ini dengan selamat! Hanya ada dua pilihan, menjadi kawan atau menjadi lawan!" kata Ci Bhok Hi sambil melompat keluar.

"Bagaimana, koko?" "Kita lawan mereka dan melarikan diri!" kata Tio ng Li dengan tenang "Siapkan pedangmu, karena mungkin pasukan Golok Naga ini berbahaya."

Siang Hwi mencabut pedangnya dan mereka berdua keluar pula dari pondoik itu. Dan mereka meli hat bahwa mereka telah terkepung oleh delapanbelas orang yang semua memegang golok, dipimpin oleh Ciu Bhok Hi.

Melihat sikap dan kedudukan mereka, barisan golok itu nampaknya memang teratur rapi sekali .

"Ciu-ciangkun, kami tidak menghendaki permusuhan.

Maka, biarkan kami pergi !" Tiong Li masih membujuk.

"Menyerah atau mati!" bentak Ciu Bhok H i dan diapun sudah memerintahkan anak buahnya untuk menyerang. Tiga orang menerjang maju dan menyerang dengan golok mereka terhadap diri Tiong Li sedangkan tiga orang lagi menyerang Siang Hwi.

Gadis itu memutar pedangnya dan menangkis tiga batang golok itu lalu balas menyerang, akan tetapi pedangnya bertemu dengan golok-golok lai n yang menangkis.

Tiong Li menggunakan gerakan Jauw sang-hui, dengan cepat tubuhnya berkelebat di antara gulungan sinar golok dan semua bacokan golok. Akan tetapi tiga batang golok lain sudah menyusui! dan segera kedua orang itu dikepung dan dikeroyok dengan hebatnya. Meman hebat sekali barisan golok itu.

Akan tetapi tidak terilalu hebat bagi Tiong Li, bahkan Siang Hwi juga dapat membela diri dengan pedangnya. Memang rapi sekali susunan penyerangan golok itu, akan tetapi karena kepandaian pribadi masing-masi ng tidaklah terlalu tinggi, tenaga sinkang mereka tidak terlalu kuat, maka mudah bagi Tiong Li untuk mulai membalas beberapa orang sudah bergelimpangan jatuh bangun.

Setelah merobohkan delapan orang dengan tendangan dan tamparan tangannya, Tiong Li mengajak Siang Hwi untuk melarikan diri, Dia bahkan menyambar tangan gadis itu dan diajaknya berlari cepat menggunakan ilmu Jouw-sang-hui.Biarpun para anggauta barisan golok itu melakukan pengejaran, namun sebentar saja kedua orang itu lenyap di balik pohon-pohon .

Selagi Tiong Li dan Siang Hwi berlari cepat tiba-tiba muncul seorang hweshio tua di depan mereka yang mengangkat tangan ke atas menahan mereka. Tiong Li dan Siang Hwi berhenti akan tetapi mereka curiga. Jangan-jangan hwe-shio inipun kaki tangan Panglima Besar Wu Chu, seorang mata-mata! .

"Siapakah lo-suhu dan ada keperluan apakah menghadang perjalanan kami?" tanya Tiong Li dengan suara tegas.

"Omitohud, pinceng meli hat kailan dikejar-kejar pasukan Golok Naga, sebaiknya kalau pi nceng membantu kalian bersembunyi, Bukankah kalian ini warga Sung yang setia?"

"Dan lo-cianpwe, bukankah seorang mata-mata dari Panglima Wu C hu?" tanya Siang Hwi yang juga curiga, dan pedangnya sudah siap-untuk menyerangnya.

"Omitohud, kalau benar pi nceng mata-mata, engkau lalu mau apa nona?"

"Engkau layak mampus!" Bentak Siang Hwi yang segera membacokkan pedangnya. Akan tetapi dengan lincah sekali hwe-shio tua gemuk itu mengelak. Siang Hwi menyerang terus sampai tujuh kali beruntun, akan tetapi semua serangannya mengenai tempat kosong dan hwe-shio itu ki ni meloncat ke atas sebuah dahan pohon yang tinggi.

Tiong Li melihat gerakan ginkang yang hebat itu dan mencegah Siang Hwi mengejar terus.

"Lo-suhu, benarkah lo-suhu mata-mata dari Wu Chu yang ditugaskan menangkap kami?" tanyanya karena kalau benar demikian, dia sendiri hendak melawannya.

Hwe-shio itu melayang turun. "Omitohud, ilmu pedang yang hebat sekali. Nona, harap jangan terburu nafsu. Aku juga seorang yang setia kepada Kerajaan Sung. Bagaimana engkau tega menyangka pin-ceng itu pengkhianat yang mengabdi kepada Kin ? Percayalah, pinceng bermaksud untuk menyembunyikan kalian dan kalau keadaan sudah mereda, baru kalian boleh melanjutkan perjalanan. Sekarang ini setelah kalian dikejar Barisan Golok Naga, keadaan kalian berbahaya dan kemanapun kalian pergi ke wilayah ini, tentu akan menjadi orang buruan. Pinceng Ceng Ho Hwe-shio, seorang murid Siauw-lim-pai, apakah kalian masih juga tidak percaya?"

Tiong Li cepat memberi hormat. "Kalau begitu, kami percaya dan sebelumnya kami menghaturkan terima kasih atas kebaikan lo-suhu."

"Marilah, jangan bicara saja, ikuti pin-ceng," kata hwe- shio Itu yang lalu mendaki sebuah lereng menuju ke kuil yang berada di puncak bukit. Tio ng Li dan Siang Hwi mengikutinya dan ternyata hweshio itu dapat berlari cepat sekali sehingga Siang Hwi terpaksa harus mengerahkan tenaga agar jangan sampai tertinggal. Tentu saja tidak demikian dengan Tiong Li yang dapat mengikuti hwe-shio itu tanpa, banyak mengerahkan tenaga.

Kuil itu cukup besar dan di huni oleh duapuluh orang hwe-shio. Dan ternyata mereka ini, walaupun tidak menentang pemerintah Kin secara terang-terangan, semua adalah orang-orang yang masih setia kepada Kerajaan Sung.

Tiong Li dan Siang Hwi mendapatkan dua buah kamar di sebelah dalam, dan mereka mendengar pula ketika diluar ba nyak orang berdatangan. Rombongan itu adalah Barisan Golok Naga yang mengejar sampai ke kuil, akan tetapi ketika Ceng Ho Hwe-shio mengatakan bahwa dua orang yang dicari tidak kelihatan datang ke kuil, rombongan itu tanpa memeriksa percaya saja lalu pergi.

Hal ini menunjukkan bahwa para hwe-shio itu dipercaya oleh pemerintah Kin. Dan memang hal ini adalah karena Siauw-lim pai tidak pernah memberontak atau memperlihatkan sikap melawan. Dan di antara para pejabat Bangsa Kin yang menganut agama Buddha, maka mereka itu menghormati para hwe-shio dari kuil itu.

Setelah percaya benar kepada Ceng Ho Hwe-shio, Tiong Li dan Siang Hwi dengan terus terang menceritakan pengalaman mereka dan maksud mereka memasuki wilayah Kin.

"Lo-suhu, saya adalah orang yang difitnah oleh Perdana Menteri Jin Kui, di tuduh menculik puteri Sung Hiang Bwee sehi ngga di Kerajaan Sung saya menjadi buruan pemerintah yang hendak menangkap saya sebagai seorang pemberontak. Kemudian saya mendengar bahwa sebetulnya yang menculik sang puteri adalah kaki tangan Perdana Menteri Jin Kui sendiri, dan sang puteri diserahkan kepada Panglima Wu Chu sebagai hadiah. Oleh karena itulah maka kami datang ke sini untuk membuktikan apakah benar sang puteri berada di sini dan kalau mungkin saya akan menolongnya untuk dikembalikan ke kota raja sehingga nama saya dapat menjadi bersih, dan ke kejaman dan pengkhianatan Perdana Menteri Jin Kui dapat terbongkar."

"Omitohud! Perdana Menteri Jin Kuj adalah seorang yang amat jahat dan licik. Jenderal Gak Hui yang gagah perkasa dan setia itu sampai tewas secara sia-sia hanya karena kelicikan Perdana Menteri Jin Kui itu. Andai kata engkau dapat menolong sang puteri keluar dari sini dan kembali ke kota raja Hang-couw, bagaimana engkau dapat menuduhnya? Tidak ada bukti bahwa yang menculik adalah orangnya. Engkau harus berhati-hati sekali berhadapan dengan orang macam Ji n Kui itu, orang muda."

"Biarpun begitu, saya harus menolong sang puteri. dengan kesaksian sang puteri bahwa saya bukan penculik nya, nama saya akan dapat dibikin bersih, tidak lagi dicap sebagai pemberontak. Akan tetapi saya tidak tahu dengan pasti, apakah berita yang saya terima itu benar bahwa sang puteri berada di tempat tinggal Panglima Wu Chu?"

"Pin-ceng juga mendengar bahwa Panglima Besar Wu Chu menerima hadiah seorang puteri kaisar. Dan dari keluarga wanita panglima itu yang bersembahyang di sini, pinceng mendengar bahwa sang puteri menolak dijadikan selir panglima itu, dan karenanya sekarang masih menjadi orang tahanan."

"Di rumah panglima itu?" "Tentu saja, karena tahanan itu merupakan tahanan istimewa, agaknya untuk membujuk agar sang puteri mau menjadi selirnya."

Tiong Li mengangguk-angguk. Bagaimanapun juga, dia harus menyelidiki sendiri ke tempat tinggal panglima itu. "Lo-suhu, saya melihat Barisan Golok Naga itu amat tangguh. Dan senjata golok mereka hebat sekali. Apakah lo-suhu mengetahui asal usul barisan golok itu?"

"Barisan Golok Naga itu merupakan pasukan khusus yang dibentuk oleh Panglima Besar Wu Chu, dan memang terdiri dari orang-orang yang lihai. Dibentuknya juga belum begitu lama, mungki n mendapat latihan khusus di benteng panglima itu. Engkau harus berhati- hati menghadapi mereka, orang-muda. Mereka itu selain lihai, juga kabarnya kejam dan dengan mudah membunuh orang yang dimusuhi."

Kini Tiong Li merasa yakin. Agaknya Mestika Golok Naga ada pula pada panglima besar Bangsa Kin itu.Ini berarti bahwa pencuri Mestika Golok Naga, yaitu Hak Bu Cu yang tewas ditangan Ban-tok Sian-li telah menyerahkan pusaka itu kepada panglima besar itu. Dia percaya bahwa Hak Bu C hu, seperti juga Tang Boa Lu, adalah kaki tangan Kin yang sengaja dikirim untuk membantu usaha Perdana Menteri Jin Kui untuk menghadapi golongan yang membenci pemerintah Kin. Orang-orang seperti Hak Bu Cu dan Tang Boa Lu itu cukup lihai untuk melakukan penculika n itu, di samping beberapa orang jagoan yang menjadi kaki tangan perdana menteri itu. Menurut dugaannya, baik Mestika Golok Naga maupun puteri Sung Hiang Bwee berada di rumah Panglima Besar Wu Chu ! .

Sehari itu Tiong Li memeras otaknya untuk mencari jalan bagaimana dia akan dapat merampas kembali Mestika Golok Naga dan sekaligus membebaskan sang puteri. Dia harus menggunakan akal. Kalau hanya mempergunakan kepandaian silatnya saja, mungkin dia akan dapat keluar masuk dari tempat itu mengandalkan kepandaian, akan tetapi untuk membawa keluar sang puteri? Sungguh merupakan pekerjaan yang amat sukar, bahkan tidak mungki n dilaksanakan! .

"Lo-suhu," dia ninta keterangan kepada Ce ng Ho Hweshio. "Apakah lo-suhu mengetahui, siapa yang menjadi orang kesayangan Panglima Besar Wu Chu.? Barangkali seorang di antara puteranya, atau selirnya?"

"Dia hanya mempunyai seorang putera biarpun ada beberapa orang puterinya, karena itu dia amat menyayang puteranya itu lebih dari segalanya."

"Berapa usia puteranya itu?"

"Masih kecil, paling   banyak   lima   tahun   usianya.

Kenapa engkau menanyakan hal itu?"

"Tidak apa-apa, lo-suhu. Saya hanya sedang berpikir dan mencari akal bagaimana saya dapat membebaskan sang puteri dan sekaligus mencari kembali pusaka Kerajaan Sung yang dicuri orang."

Tiong Li kini mendapat akal. Dia harus menggunakan akal itu, kalau dia ingin berhasil. Malam itu dia menemui Siang Hwi di kuil itu, dan mengajaknya bercakap-cakap.

"Hwi-moi, aku Sudah mendapatkan, akal. Kuharap saja akal ini berhasil baik, karena kalau tidak, akan sia- sia perjalanan kita, bahkan mungkin berbalik akan membahayakan kita."

"Bagaimana akalmu itu, koko?"

Dengan berbisik-bisik Tiong LI berkata kepadanya. "Kita sekarang, malam ini juga, pergi ke gedung Pangiima Besar Wu C hu. Engkau tidak perlu ikut masuk, melainkan menanti di luar sambil bersembunyi. Aku akan memaksa panglima itu untuk menyerahkan pusaka itu dan membebaska n sang puteri. Setelah berhasil, engkau membawa sang puteri ke sini dan menyembunyikan di sini."

"Bagaimana engkau akan dapat memaksanya, koko?" tanya Siang Hwi khawatir.

"Jangan khawatir, aku telah mengetahui kelemahannya. Aku tentu akan dapat memaksanya melakukan itu. Tugasmu hanya mengantar sang puteri ketempat ini dan bersembunyi di sini menanti sampai aku datang."

"Baik, koko. Akan tetapi berhati hatilah. Ciu Bhok Hi itu dengan Pasukan Golok Naganya amat berbahaya."

"Aku tahu dan aku akan selalu berhati-hati. Kita harus mengenakan pakaian serba hitam, Hwi-moi dan setelah berganti pakaian, kita berangkat."

Demikianlah, diantar oleh Ceng Ho Hwe-shio sampai keluar dari kuil, dua orang muda itu meni nggalkan kuil melalui tembok belakang kuil agar tidak kelihatan oleh orang lain. Kemudian, keduanya mempergunakan ilmu lari cepat menuruni lereng bukit itu dan menuju ke Lok- yang. dengan mudah mereka melompati pagar tembok tinggi yang mengelilingi kota Lok-yang, kemudian memasuki kota itu, menyelinap di antara rumah-rumah penduduk. Karena gerakan mereka memang ringan dan cepat, maka mereka hanya nampak seperti dua bayangan hitam saja.

Akhirnya mereka dapat mendekati rumah gedung Panglima Besar Wu C hu. "Engkau menanti di sini. Baru keluar dari sini kalau engkau melihat aku keluar dari pintu gerbang itu membawa sang puteri. Sebelum aku muncul, jangan sekali-kali memperlihatkan diri, Hwi-moi."

"Baik, koko."

"Nah, aku pergi, Hwi-moi!" "Nanti dulu, koko."

Tiong LI menahan langkahnya dan membalik. "Ada apa lagi, Hwi-moi?"

Gadis itu menghampiri dan merangkul leher Tiong Li. "Engkau...... yang hati-hati menjaga dirimu, koko."

Tiong Li menunduk dan mencium dahi gadis itu. "Aku tahu, aku masih belum ingin berpisa h darimu, Hwi-moi. Rngkau juga berhati-hatilah. Menyingkirlah kalau ada orang mendekat tempat ini ."

Kemudian Tio ng Li berkelebat dan lenyap ditelan kegelapan malam.

Untung bagi mereka. Malam itu gelap sekali karena udara mendung dan angin bertiup mendatangkan hawa dingin. Karena udara buruk, maka jarang ada orang keluar dari rumahnya dan suasana di sekeliling tempat itu sunyi sekali. Akan tetapi penjagaan di rumah gedung Panglima Besar Wu Chu tetap ketat. Di depan pintu gerbang berkumpul belasan orang perajurit yang berjaga. Dan Tio ng Li sudah tahu bahwa di atas ge nteng terdapat alat-alat rahasia yang dapat memberi tahu kalau ada orang datang melalui atap.

Dia sudah melompati pagar tembok dan tiba di taman. Agaknya taman ini yang paling aman karena banyak pohon-pohon. Dia mengintai dari balik rumpun bunga yang tebal dan melihat dua orang peronda membawa lampu teng berjalan datang sambil bercakap-cakap. Tiong Li berpikir sejenak dan mengambil keputusan yang amat berani. Dia menanti sampai dua orang itu datang dekat. lalu tiba-tiba dia meloncat dan sekali kedua tangannya bergerak, dua orang itu sudah menjadi lumpuh tertotok dan lampu teng sudah berpindah ke tangannya! .

Dia memandangi kedua orang itu dengan lampu teng menyi nari wajah mereka. Orang yang tinggi besar Itu memandang dengan wajah ketakutan sedangkan yang kurus bahkan mendelik dengan marah. Dia lalu menotok lagi yang kurus sehingga roboh pi ngsan, mengikat kaki tangannya dengan sabuk orang itu sendiri, juga mulutnya ditutup kain, lalu menyeretnya ke balik semak belukar. Sedangkan yang tinggi besar itu dia to-tok urat gagunya sehingga tidak dapat bicara. dan dalam keadaan masih tertotok lemas itu, diancamnya orang itu sambil menodongkan golok di batang lehernya.

"Engkau ingin hidup?" gertaknya.

Orang tinggi besar itu mengangguk-angguk lemah. Hanya kaki tangannya saja yang tidak mampu digerakkan.

"Engkau tidak ingi n mampus?" kembali dia bertanya.

Orang itu menggeleng-gelengkan kepala dengan mata terbelalak penuh ketakutan.

"Baik, kalau begitu, aku minta engkau mengantarkan aku ketempat di mana Panglima Wu Chu berada. Sanggup?"

Orang itu memandang liar ke kanan kiri, nampak ketakutan dan agaknya sulit untuk mengambil keputusan.

"Hayo jawab, atau engkau ingin aku menyembelihmu sekarang juga!" Goloknya ditempelkan ke kulit leher. Orang itu cepat mengangguk-angguk, menyatakan sanggup.

Tiong Li lalu melucuti pakaian si kurus dan dipakainya pakaian itu. Dia menyamar sebagai seorang petugas ronda. Kemudian, dengan golok telanjang di tangan, dia membebaskan si tinggi besar yang ketakutan, akan tetapi orang tinggi besar itu biarpun sudah dapat menggerakkan kaki tangan, tetap saja dia tidak dapat mengeluarkan suara :

"Nah, sekarang bawa aku ke sana. Awas, sekali saja engkau melakukan gerakan yang tidak kukehendaki, golok ini akan memenggal lehermu!"

Kembali dia menempelkan golok di leher orang itu yang nampak menggigil saking takutnya. Tio ng Li merasa senang. Pilihannya tepat. Orang tinggi besar ini berhati kecil dan penakut sehi ngga dapat di harapkan akan menaati semua perintah nya.

"Bawa lampu teng ini dan berjalanlah di depan," bisiknya. "Bersikap biasa saja kalau bertemu penjaga lain se olah tidak terjadi sesuatu. Dan cepat bawa aku ke tempat di mana Wu Chu berada!" Dari belakang dia menodongkan goloknya ke punggung orang itu dan bergeraklah mereka meninggalkan taman.

Orang itu benar-benar ketakutan, mereka memasuki gedung itu dari pintu belakang dan empat orang penjaga yang meli hat dua orang peronda ini tidak menaruh perhatian. Apa lagi wajah Tio ng Li terhalang bayangan si tinggi besar yang membawa lampu di depannya, sehingga wajah Tio ng Li terlip uti kegelapan.

Setelah melalui jalan berlika liku, dari jauh orang itu menunjuk ke sebuah ruangan. Tio ng Li meli hat seorang laki-laki berusia limapuluhan tahun, tinggi besar dan mukanya brewok, seda ng bermain-main dengan seorang anak laki - laki.

"Itukah Wu Chu?" bisik Tiong Li dan 'tawanannya mengangguk.

"Antarkan aku ke  kamar puteranya  !" kata pula Tio ng

Li.

Orang Itu menunjuk ke depan, ke arah-anak yang

sedang bermai n-mai n dengan orang tinggi besar itu. "Kaumaksudkan anak itu puteranya?"

Orang itu mengangguk. "Engkau tindak berbohong?" tanya Tio ng Li yang merasa gembira.bukan main.

Sungguh baik sekali peruntungannya, sekaligus dapat menemukan Panglima Besar Wu Chu dan puteranya. Sebetulnya dia ingin menculik putera itu yang masih kecil dan yang di sayang untuk ditukar de ngan sang puteri dan Mestika Golok Naga. Akan tetapi sekarang keduanya berada di situ. Sungguh kebetulan yang menguntungkan sekali.

Orang itu menggeleng kepalanya. "Awas. engkau kutinggal dulu di sini dalam keadaa n tertotok, kalau engkau berbohong, aku akan kembali di sini untuk memenggal lehermu. Benar engkau tidak membohong?"

Orang itu kembali menggeleng kepala keras-keras dan Tiong Li segera merampas lampu teng sambil menotok orang itu sehi ngga roboh pi ngsan tanpa mengeluarkan suara karena dia sudah menahan tubuhnya.

Kemudian, sambil membawa lampu teng dia menghampiri ruangan yang terbuka itu. Orang tinggi besar yang sedang main-mai n dengan anak itu. ketika melihat seorang peronda menghampiri, segera memondong anak itu dan menghardik, "Mau apa engkau ke sini!"

"Maafkan saja, ciangkun. Ada seorang yang menanyakan di mana adanya Panglima Besar Wu Chu."

"Siapa orang yang bertanya tentang aku itu?" bentak sang panglima marah karena dia merasa terganggu dengan kemunculan peronda itu.

"Aku yang

menanyakannya!" kata Tiong Ll dan tiba-tiba dia meloncat ke depan, tangan kirinya menyambar tahu-tahu anak itu telah berada dalam cengkeraman tangan kirinya.

"Keparat! Kembalikan anakku!" teriak Wu Chu sambil menubruk untuk merampas anaknya. Akan tetapi, biarpun dia seorang panglima besar dan ahli dalam urusan peperangan, namun dalam hal ilmu silat, dia masih jauh kalau dibandingkan Tiong LI. Sambarannya luput dan sebaliknya, tiba-tiba golok di tangan Tiong Li sudah menodong dadanya.

"Sedikit saja bergerak, golok ini akan menembus jantungmu, ciangkun!" bentak Tio ng Li sementara itu anak kecil yang berada dalam po ndongan tangan kiri nya sudah menjerit-jerit menangis.

PangTima Besar Wu C hu tidak berani bergerak lagi akan tetapi dia sempat berteriak memanggil pengawal. Tak lama kemudian sedikitnya tigapuluh orang pengawal memenuhi tempat itu, akan tetapi mereka tidak berani bergerak ketika melihat panglima mereka di todong dan putera panglima mereka dipondong seorang pemuda yang berpakaian peronda. Di antara para pengawal itu terdapat lima orang anggauta Golok Naga, dan mereka segera mengenal pemuda itu yang mereka sudah rasakan kelihaiannya ketika mengepung dan mengeroyoknya.

"Semua mundur! Siapa berani bergerak berarti matinya panglima dan puteranya!" bentak Tiong Li dan para pengepung itu dengan sendirinya melangkah mundur. Ada pula yang berlari keluar memanggil bala bantuan sehingga sebentar saja tempat itu penuh dengan pasukan.

"Orang muda, apa sebenaknya yang kaukehendaki?" Panglima Wu C hu yang masih tenang itu bertanya.. Dia adalah seorang panglima besar, tidak mudah panik walaupun ditawannya puteranya membuat dia khawatir sekali.

"Tidak banyak," kata Tiong LI, "Nyawamu dan nyawa anakmu ini hendak kutukar dengan kebebasan puteri Sung Hia ng Bwee dan Mestika Golok Naga!"

"Akan tetapi        "

"Jangan banyak cakap lagi. Kalau tidak setuju, aku akan membunuh puteramu dulu baru engkau!"

Para pasukan itu hendak menerjang maju, akan tetapi Panglima Wu C hu membentak mereka agar tidak bergerak. "Kalian jangan bergerak! Perwira Tong, cepat ambilkan sebuah golok naga!"

Yang disebut perwira Tong itu seorang yang pendek gendut segera maju dan menyerahkan sebatang golok yang berukir naga kepada Tio ng Li. "Apakah ini Mestika Golok Naga7" tanyanya kepada Wu Chu.

"Benar!"

Tiong Li mengambil golok itu, menekuk dengan kedua tangan sambil memodong anak itu dan golok itu patah menjadi dua potong!

"Kau bohong!" dia menghardik dan menodongkan senjatanya sehi ngga sedikit melukai kulit dada panglima itu. "Serahkan yang aselinya atau anakmu akan kusembelih!" Kini dia menempelkan goloknya ke leher anak itu yang menjerit-jerit ketakutan.

Panglima Wu Chu memandang dengan khawatir sekali. "Cepat ambilkan Mestika Golok Naga di kamarku, tergantung di dinding!" perintahnya dan perwira Tong itu segera berlari pergi. Tak lama kemudian dia telah kembali membawa sebatang golok dalam sarung.

"Cabut golok itu dan serahkan kepadaku!" bentak Tiong Li.

Perwira itu memandang atasannya dan Panglima Wu Chu mengangguk-anggukkan kepalanya.Tio ng Li menerima golok itu dan baru memegangnya saja dia sudah yaki n bahwa inilah golok aselinya. Dia mengadukan golok yang dipegangnya dengan golok itu dan goloknya patah menjadi dua dengan mudah! Kini dia memegang Mestika Golok Naga itu dan mengikatkan sarungnya di pi nggang. Karena anak itu masih dipondongnya, Panglima Wu Chu tidak berani bergerak.

"Sekarang bawa keluar sang puteri. Cepat!" "Bawa ia keluar!" kata Panglima Wu Chu.

Kembali perwira Tong yang berlari lari dan tidak terlalu lama kemudian dia sudah datang lagi mengikuti seorang wanita yang bukan lai n adalah Sung Hiang Bwee. Puteri itu masih menjadi orang tahanan karena ia selalu menolak keinginan Wu Chu dan begitu melihat Tio ng Li, sang puteri menangis menghampiri.

"Akhirnya engkau datang juga menolongku.....!" Sang puteri saki ng girangnya hendak merangkul Tio ng Li akan tetap! pemuda itu berkata.

"Nona, bersiaplah untuk keluar dari tempat ini. Harap engkau berjalan di belakangku," kata Tiong Li dengan singkat. Melihat kesungguhan sikap pemuda ini yang menodong Panglima Wu Chu dengan goloknya, puteri itupun maklum akan gawatnya keadaan.

"Baik, taihiap. Sungguh aku girang sekali melihat engkau," katanya lalu iapun berdiri di belakang pemuda itu.

Tiba-tiba dua orang pengawal dengan nekat menubruk dan menyerang Tio ng Li. Tiong Li menggerakkan goloknya dan nampak sinar terang berkelebat di susul robohnya kedua orang itu, mandi darah.

"Sekali lagi ada yang bergerak, yang akan kubunuh adalah panglima dan puteranya!" bentak Tiong Li dengan hati khawatir juga karena kalau sekian banyaknya pasukan mengeroyoknya, biarpun dia akan dapat membunuh panglima itu, dia tentu tidak tega membunuh puteranya dan dia tidak akan mampu meli ndungi sang puteri!

"Tolol ! Jangan ada yang menyerang!" teriak sang panglima yang tentu saja mengkhawatirkan dirinya sendiri dan puteranya. "Ciangkun, sekarang engkau berjalan di depanku dan mengantarku keluar dari rumah ini. Hayo cepat dan jangan ada yang mendekat!"

Panglima itu terpaksa menurut dan semua pengawal hanya dapat mengikuti saja tidak berani terlalu mendekat.

Tiong Li sambil memondong anak yang kini sudah agak mereda tangisnya, menodongkan goloknya ke punggung sang panglima dan Sung Hiang Bwee melangkah di belakangnya.

Setelah tiba. di luar pi ntu gerbang Sehingga tentu akan kelihatan oleh Siang Hwi, Tio ng Li berteriak, "Hwi- moi, cepat kau ke sini!"

Gadis itu meloncat dekat dan semua pasukan tidak sempat menghadangnya. "Bawa sang puteri pergi dari sini. Awas, kalau ada yang menghalangi atau mengejar, aku akan membunuh panglima dan puteranya!" Tiong Li berseru dengan suara berwibawa.

"Mari, sang puteri!" kata Siang Hwi sambil menggandeng tangan Sung Hia ng Bwee, diajak pergi dari situ dengan cepat. Tidak ada seorangpun berani menghalangi dan tidak ada pula yang berani melakukan pengejaran. Sebentar saja bayangan kedua orang gadis itu lenyap ditelan kegelapan malam. Siang Hwi membawa puteri itu keluar dari kota melalui pagar tembok yang dilompatinya sambil menggendong puteri itu. dani ia segera mengajak puteri itu berlari menuju ke perbukitan Fu-niu-san.

Sementara itu, Tiong Li yang masih memondong anak itu, minta diantar keluar dari pi ntu gerbang timur untul mengalihkan perhatian. Sedikitnya seratus orang perajurit tetap saja mengikutinya dari jarak yang tidak terlaui dekat dan panglima itu masih terus di todong di depannya. Setelah agak jauh dari pintu gerbang, barulah Tiong Li menurunkan anak itu dari pondongannya dan anak itu segera dipondong ayahnya!.

"Ciangkun, maafkan aku. Terpaksa aku mengambil cara ini untuk membebaskan sang puteri dan untuk mengambil kembali Mestika Golok Naga. Engkau tidak berhak atas keduanya. Kalau aku menjadi engkau, aku tidak akan mengerahkan orang mencariku. Selain percuma, juga kalau aku menjadi marah mungkin peristiwa seperti ini akan terulang lagi. Aka n tetapi belum tentu aku akan membebaska nmu! Nah, selamat tinggal!" Tiba-tiba Tiong Li meloncat dan berkelebat menghilang di dalam kegelap an malam.

"Kejar dan Tangkap dia!" Kini panglima itu berteriak- teriak dan dia sendiri mendekap dan menci umi puteranya dengan hati lega karena putera yang disayangnya itu selamat.

Saking marahnya hati Panglima Wu Chu, dia memerintahkan pada malam hari itu juga untuk membunuh So uw C un Ki, pemuda Kun-lun-pai yang dulu pernah hendak menolong sang puteri. Tanpa banyak alasan lagi malam hari itu juga Souw C un Ki dibunuh oleh para pengawal di dalam kamar tahanannya!

-o0o-d.w-o0o-

Siang Hwi mengajak Hiang Bwee ke puncak bukit di mana kuil Siauw-lim-si itu berada dan cepat mereka diterima oleh Ceng Ho Hwe-shio dan diajak ke sebelah dalam. "Enci, siapakah engkau?" tanya puteri itu kepada Siang Hwi.

"Saya bernama The Siang Hwi, nona," jawab Siang Hwi dengan hormat. "Dan ini adalah Ceng Ho Hwe-shio, ketua kuil ini yang meli ndungi dan menyembunyikan kita. Di sini, engkau tidak usah khawatir karena tidak ada yang akan berani mencari ke dalam."

"Aku tidak khawatir selama Tan-taihiap berada bersamaku," jawab puteri Itu. "Bukan main gagah dan lihainya Tan-taihiap. Berani menawan Panglima, Wu Chu dan memaksanya membebaskan aku Akan tetapi, bagaimana dia akan dapat membebaska n diri dari kepungan pasukan sebanyak itu?"

"Harap jangan khawatir, aku yaki n, bahwa Li-koko akan mampu membebaskan diri."

"Hemm, apa hubunganmu dengan Tan-taihiap, enci?"

Wajah Siang Hwi berubah kemerahan ditanya seperti itu. "Kami... kami adalah sahabat baik yang bekerja sama untuk membebaska nmu dari tempat tinggal Panglima Wu Chu. Sudahlah, nona. Engkau telah melakukan perjalanan melelahkan dan mengalami banyak hal yang menggelisahkan, harap beristirahat dan tidur."

"Bagaimana aku dapat tidur sebelum Tan-taihiap datang? Aku harus melihat dia selamat dulu dan tiba di sini," kata puteri itu dan Siang Hwi merasa hatinya tidak enak sekali. Dari sikapnya, jelas baginya bahwa sang puteri ini rupanya amat tertarik dan memperhatikan Tio ng Li. Dan ia sudah mendengar dari Tiong Li betapa pemuda itu pernah membebaska n puteri ini dari tangan seorang penculik dahulu. Mereka sudah saling mengenal. Baru menjelang pagi Tiong LI yang melarikan diri dari pintu gerbang timur itu tiba di situ. Bayangannya berkelebat dan tahu-tahu dia sudah berada di depan dua orang gadis itu.

"Tan-taihiap.....!" Sang puteri berseru gembira, bangkit berdiri dan menyongsong pemuda itu, lalu tanpa ragu dan sungkan lagi ia memegang kedua tangan Tio ng Li.

"Engkau membuatku tidak dapat tidur, khawatir kalau engkau tidak dapat lolos dari kepungan mereka! Bagaimana, taihiap? Apakah engkau sudah membunuh jahanam Wu C hu itu?"

"Tidak, nona. Aku sudah berjanji menukarkan nyawanya dan nyawa puteranya dengan dirimu dan Mestika Golok Naga!"

"Ah, sayang. Orang macam itu sebaiknya dibunuh saja!" kata sang puteri dengan kecewa. "Dan kapan engkau akan mengantar aku pulang ke istana? Sekali ini ayah tentu akan girang sekali dan engkau tidak boleh lagi menolak anugerah pemberian ayahanda Kaisar'"

"Kita tidak boleh tergesa meni nggalkan tempat ini, nona. Panglima Wu Chu tentu sedang mengerahkan pasukannya untuk melakukan pengejaran sampai di perbatasan. Bahkan mungkin dia sudah menghubungi Perdana Menteri Jin Kui untuk membantunya melakukan penangkapan terhadap diriku kalau aku berhasil melewati perbatasan. Sebaiknya untuk selama beberapa hari ini kita tinggal dulu di sini."

"Omitohud! Selamat, selamat, Tan-sicu. Engkau telah berhasil! Benar sekali, tuan puteri. Sebaiknya cu-wl tinggal di sini dulu sampai pengejaran itu mereda. Pin- ceng akan menyuruh para murid menyelidiki. Kalau sudah mereda, barulah kalian pergi meni nggalkan kuil dan kembali ke selatan," kata Ceng Ho Hweshio yang muncul dan tersenyum lebar kepada Tio ng Li.

Tiong Li memberi hormat kepada hwe-shio tua Itu. "Kalau tidak ada pertolongan dari lo-suhu, semua usaha kami akan sia-sia belaka. Juga jasa Hwi-moi tidak boleh dilupakan, ia yang telah mengawal sang puteri sampai kesini tanpa diketahui orang. Engkau memang hebat, Hwi-moi!"

Slang Hwi tersenyum dengan hati senang, la tahu bahwa kekasihnya iti sengaja memujinya untuk menyenangkan hatinya. "Ahh, aku hanya membantumu, koko. Tidak usah terlalu memujik u! Engkaulah yang hebat. Tak kusangka engkau akan dapat menawan mereka semudah itu. Dan engkau telah berganti pakaian seorang di antara penjaga. Lucu sekali. Ceritakan, koko, bagaimana engkau melakukannya?"

Sang puteri mengerutkan alisnya. Dilihatnya betapa akrab kedua orang muda itu dan dari pandang mata mereka saja ia sudah dapat tahu bahwa ada apa-apa di antara mereka!

"Ya, ceritakanlah, Tan-taihiap. Akupun ingin mendengarnya, " akhirnya ia berkata agar jangan merasa terlalu tersisih.

Tiong Li lalu menceritakan pengalamannya ketika menyandera Wu Chu dan puteranya sambil menyamar sebagai seorang peronda. Semua yang mendengarnya memuji, bahkan Ce ng Ho Hwe-shio menarik napas panjang sambil berkata. "Omitohud, engkau memang luar biasa sekali, Tantaihiap! Biarpun aku belum melihatnya sendiri, aku yaki n bahwa engkau memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi. Kalau boleh pin-ceng mengetahui, siapakah gurumu, sic u?" Terhadap hwe-shio yang sudah menolongnya itu, Tiong Li tidak ingin menyembunyika n keadaa n dirinya. "Saya mempunyai tiga orang guru, lo-suhu. Guru saya yang pertama adalah mendiang Pek Hong San-jin, yang kedua adalah suhu Thian Kui Lo-ji n dan ke tiga Tee Kui Lo-jin."

Ceng Ho Hwe-shio terbelalak. "Omitohud....! Pin-ceng mengenal siapa mereka! Kiranya sic u murid orang-orang sakti itu. Pantas saja kalau begitu dan pinceng merasa girang sekait dapat membantu murid mereka."

Demikianlah, setelah tinggal disitu selama sepekan dan dari para hwe-shio yang melakukan penyelidikan di peroleh keterangan bahwa ki ni tidak ada lagi pasukan yang mencari-cari mereka, Tiong Li lalu mengajak Siang Hwi dan puteri itu untuk meninggalkan kuil.

Mereka membeli tiga ekor kuda atas bantuan para hwe-shio dan mereka meni nggalkan kuil itu dengan menunggang kuda. Untung bahwa puteri Hiang Bwee biarpun tidak pandai silat akan tetapi mempunyai kegemaran ik ut ayahanda kaisar pergi berburu binatang buas sehingga ia pandai menunggang kuda.

-0oodwoo0-