-->

Lima Jagoan Jaman Cun Ciu Bab 21

Bab 21

Sementara itu Tio Swi yang berjalan belakangan baru sampai di tempat itu. Semua bertanya mengapa Tio Swi berjalan demikian lambat.

”Aku terlambat sampai, karena kakiku tertusuk duri, aku tidak bisa berjalan cepat,” sahut Tio Swi.

Kemudian dia keluarkan bekalnya dari dalam bungbung bambu, dia suguhkan kepada

Pangeran Tiong Ji.

”Apakah kau tidak merasa kepayahan karena lapar? Mengapa kau tidak mau makan sendiri

bekal itu?” tanya Tiong Ji dengan terharu. ”Meskipun hamba sangat lapar, mana hamba berani melupakan Tuanku yang juga pasti lapar seperti hamba,” sahut Tio Swi.

Ho Mo sengaja bergurau pada Gui Cun.

”Coba jika bekal ini ada di tangan Gui Cun, barangkali sudah jadi hancur di dalam perutnya.” kata Ho Mo sambil tertawa. Gui Cun jadi malu segera dia membuang muka.

Pangeran Tiong Ji membagi bubur encer itu pada Tio Swi, tetapi Tio Swi tidak tega memakannya sendiri, segera dia tambahi air dan dimasak lagi, kemudian dia bagi rata dengan semua orang.

Melihat hal itu, Tiong Ji jadi menghela napas dan merasa kagum pada Tio Swi yang demikian baik hati itu. Sesudah masing-masing selesai makan, barulah mereka meneruskan perjalanan. Di sepanjang jalan mereka mencari makanan, begitulah dengan menanggung lapar dan kelelahan akhirnya mereka sampai di negeri Cee. Raja Cee Hoan-kong memang sudah mendengar Kong-cu Tiong Ji adalah seorang bangsawan yang budiman, setelah mengetahui Tiong Ji telah sampai di perbatasan negaranya, Raja Cee segera mengirim utusan pergi keluar

kota, untuk menyambut tamu itu untuk diajak masuk ke dalam kota dan diberi sebuah gedung tempat tamu-tamu itu istirahat.

Kemudian Raja Cee Hoan-kong segera mengatur pesta untuk menghormati Pangeran Tiong Ji dan menteri-menterinya itu. Di tengah pesta sedang berlangsung, sesudah membicarakan berbagai masalah, akhirnya Raja Hoan-kong bertanya pada Tiong Ji:

”Apakah Kong-cu membawa famili dan keluargamu?” tanya Raja Cee.

”Untuk membawa diri sendiri saja rasanya susah bukan main, bagaimana hamba bisa membawa keluarga hamba?” sahut Tiong Ji.

”Jika aku tidur sendiri saja dalam satu malam, rasanya sama lamanya seperti setahun,” kata Cee Hoan-kong sambil tersenyum, ”Kong-cu dalam pengembaraan, dan tidak ada orang mengurus, sungguh kasihan sekali.”

Segera Cee Hoan-kong memilih di antara kaum keluarga perempuannya yang berparas cantik, lalu dia serahkan kepada Pangeran Tiong Ji, serta dia hadiahkan kuda dua puluh pasang.

Tiong Ji menghaturkan terima kasih untuk kebaikan Raja Cee ini. Sejak saat itu, jika Tiong Ji berpergian keluar, semua pengikutnya naik kuda. Kebaikan Raja Cee Hoan-kong kepada Pangeran Tiong Ji luar biasa, dia selalu mengirim makanan dan kebutuhannnya setiap saat. Mengetahui Raja Cee Hoan-kong begitu baik budi, Tiong Ji jadi sangat terharu dan girang,

dengan menghela napas dia berkata, ”Dulu aku cuma mendengar saja tentang kebaikannnya. Sekarang aku membuktikan sendiri.”

Pada tahun Ciu Siang-ong ke-8, saat itu Raja Cee Hoan-kong sudah bertahta yang ke-42-nya. Setelah Koan Tiong dan Sek Peng meninggal dunia, Raja Cee Hoan-kong menyerahkan urusan pemerintahan kepada Pauw Siok Gee. Tetapi Raja Cee selalu ingat pada pesanan Koan Tiong almarhum. Sejak dia mengangkat Pauw Siok Gee menjadi Perdana Menteri, dia usir Si Tiauw, Ek Ge dan Kong-cu Kay Hong. Akan tetapi sejak saat itu, ketiga orang Raja Cee

selalu bimbang dan berduka. Segalanya seolah jadi serba salah dan dia jarang tertawa atau gembira.

Tiang-we-ke, salah satu di antara permaisuri Raja Cee Hoan-kong, karena melihat sikap suaminya begitu, lalu menyarankan agar Raja Cee memanggil kembali ketiga orang itu. Diberi saran oleh isterinya, Raja Cee Hoan-kong senang. Karena dia selalu memikirkan ketiga orang yang dia sayang itu. Lalu mereka diberi pekerjaan kembali seperti dulu.

Setelah Pauw Siok Gee mengetahui hal ini, segera dia temui Raja Cee Hoan-kong. Dia coba mencegah agar ketiga orang itu jangan dipakai lagi. Tetapi Raja Cee tidak menghiraukannya. Dengan kesal dan penasaran Pauw Siok Gee pulang. Karena kesal Pauw Siok Gee sakit, tidak berapa lama meninggal dunia.

Sejak Pauw Siok Gee meninggal dunia, Si Tiauw, Ek Gee dan Kong-cu Kay Hong jadi berpengaruh sangat besar, sekarang tidak seorang pun yang mereka takutkan lagi. Waktu itu Raja Cee Hoan-kong sudah tua dan mulai malas mengurus pemerintahan, sehingga ketiga dorna itu bisa mengatur semua urusan di dalam dan luar negeri sesuka mereka. Siapa yang mau menurut kemauan mereka, maka hidupnya akan sejahtera. Jika bukan berpangkat tinggi

pasti dia menjadi seorang hartawan.Orang yang menentang kalau tidak dihukum mati, dia

diusir atau dipenjarakan.

Raja Cee Hoan-kong mempunya tiga orang nyonya, yaitu yang disebut Ong-ki, Ci-ki dan Coa-ki, tetapi semuanya tidak punya anak. Sedang Ong-ki dan Ci-ki sudah meninggal dunia.

Sekarang tinggal Coa-ki, tetapi karena kurangajar dia dikembalikan ke negeri Coa. Di samping itu Raja Cee punya enam orang selir yang sangat disayang. Mereka diperlakukan tak beda dengan permaisuri saja.

Dari keenam selirnya itu masing-masing melahirkan seorang putra. Pertama Tiang-we-ki melahirkan Pangeran Bu Kui, yang ke dua, Siauw-we-ki melahirkan Pangeran Goan, yang ke tiga, The-ki melahirkan Pangeran Ciauw, yang ke empat, Kat-eng melahirkan Pangeran Poan, yang ke lima, Bit-ki melahirkan Pangeran Siang Jin, dan yang ke enam, Song-hoa-cu melahirkan Pangeran Yong.

Di antara ke-enam selirnya, hanya Tiang-we-ki yang paling lama mengurus Raja Cee Hoan- kong. Di antara ke-enam pangeran, juga cuma Bu Kui yang usianya paling tua.

Pembesar paling di sayang oleh Raja Cee Hoan-kong, yaitu Si Tiauw dan Ek Ge, semuanya baik pada Tiang-we-ki.

Karena Raja Cee Hoan-kong selalu mendengarkan kedua dorna ini, maka dia menyatakan

setuju hendak mengangkat Pangeran Bu Kui menjadi ahli warisnya. Tetapi kemudian karena merasa sayang oleh kepandaian Pangeran Ciauw, ditambah lagi Raja Cee pun sudah pernah minta saran dari Koan Tiong almarhum. Bahkan Koan Tiong setuju Pangeran Ciauw yang akan menjadi ahli warisnya. Hal itu pun sudah disampaikan pada Raja Xong Siang-kong,

kakek Pangeran Ciauw.

Pangeran Kay Hong sangat baik pada Kong-cu Poan, maka dia hendak berikhtiar supaya Poan yang menjadi pengganti Raja Cee. Sedangkan Pangeran Siang Jin senang mempelajari ilmu perang dan menarik perhatian rakyat, karena sikapnya yang ramah. Sedang ibunya disayang oleh Raja Cee. Maka tidak heran dia juga ingin menggantikan ayahnya. Hanya Pangeran Yong yang pasrah dan tidak terlalu berharap, dia sadar ibunya hanya seorang anak menteri negeri Song, sebaliknya ibu lima saudaranya semua anak raja.

Ketika ibu mereka mengajukan usul pada Raja Cee agar putra mereka menjadi ahli waris

kerajaan, Raja Cee yang tidak mau pusing mengiakan semua permintaan keenam selirnya itu.

Ketika Cee Hoan-kong jatuh sakit dan sakitnya parah, Si Tiauw dan Ek Ge segera mengatur siasat. Mereka memasang papan larangan, siapapun dilarang masuk menemui Raja Cee yang sedang sakit.

Hanya Pangeran Bu Kui dan ibunya, Tiang-we-ki yang boleh ada di istana. Siapa pun dilarang

menemui Raja Cee. Ketika penyakit Raja Cee semakin parah dan sudah tidak ada harapan

akan sembuh, maka Si Tiauw dan Ek Ge menganggap sudah tiba saatnya yang baik. Segera Si Tiauw dan Ek Ge mengusuir semua pelayan istana, dan pintu istana ditutup rapat. Bahkan Ek Ge dan Si Tiauw memerintahkan membuat tembok, agar orang tidak bisa masuk. Di tembok itu dibuat sebuah lubang untuk anak kecil masuk ke dalam melihat keadaan Raja Cee, yang lainnya tak boleh masuk. Penjagaan di sekitar istana pun diperketat. Juga mereka mengerahkan pasukan untuk memantau, siapa tahu ada pangeran yang menggerakan pasukannnya untuk membuat ulah. Mereka akan dihajar habis-habisan.

Selang tiga hari, penyakit Hoan-kong semakin berat, hingga tidak ada harapan bisa hidup lama lagi. Dua dorna itu merasa sudah hampir sampai waktu yang baik, mereka lalu usir semua budak lelaki atau perempuan yang jaga Hoan-kong dan tutup rapat pintu keraton. Sedang kamar tidur Hoan-kong dan sekitarnya didirikan tembok kira-kira tiga tumbak tinginya, memutus perhubungan di dalam dan di luar. Cuma di bawah tembok ada dibikin satu lubang anjing, perlunya setiap pagi dan sore dorna itu memerintah budak kecil menerobos ke dalam untuk memeriksa apa Hoan-kong sudah mati atau belum. Juga dorna mengatur balatentara keraton, menjaga apabila Kong-cu menggerakkan pemberontakan. Demikian keadaan di istana Raja Cee yang semula menjadi Raja Jagoan, sekarang nasibnya demikian buruknya.

***

Sesudah demikian lama Raja Cee Hoan-kong rebah saja di atas pembaringannya,

pada suatu hari karena perutnya merasa lapar dia hendak bangun, tetapi tidak kuat, lalu ia berteriak memanggil pelayan, tetapi tidak ada yang datang. Saat Raja Cee membuka matanya dia jadi keheranan, tiba-tiba dia mendengar ada orang yang jatuh dari atas, ketika dia perhatikan, orang itu adalah An Ngo Ji, perempuan yang kurang disukainya.

”Aku lapar, aku ingin makan bubur, coba kau pergi ambilkan,” kata Raja Cee Hoan-kong pada gundiknya itu.

”Tuanku tidak akan memperoleh bubur, ” sahut Ngo Ji. ”Kalau tidak ada bubur, ambilkan saja aku air hangat.” ”Air hangat juga tidak ada.”

”Eh, mengapa begitu?” tanya Raja Cee Hoan-kong dengan heran.

”Ek Ge dan Si Tiauw telah membuat huru-hara, mereka telah menjaga keras pintu keraton, dan mendirikan tembok yang tingginya tiga tombak untuk memutuskan bagian dalam dan luar istana. Maka dari manakah kita bisa mendapatkan makanan?”

”Tetapi mengapa kau bisa datang ke sini?” tanya Raja Cee dengan lebih heran.

”Aku tahu Cu-kong tidak begitu cinta kepadaku,” kata gundik yang baik hati itu dengan

melelehkan air matanya, ”Meskipun cuma sekali saja Cu-kong membuat aku beruntung, tetapi aku tidak bisa melupakan Cu-kong. Maka dengan tidak menghiraukan bahaya dan keselamatan jiwaku, aku telah naik ke tembok dan datang ke sini, karena aku ingin menunggui Cu-kong hingga sampai ajal.”

”Pangeran Ciauw ada di mana?”

”Karena penjagaan oleh dua dorna itu sangat ketat, dia tidak bisa masuk istana!” kata gundiknya. Raja Cee Hoan-kong menghela napas dan berkata, ”Ya Allah, ternyata omongan Tiong-hu benar-benar omongan seorang Nabi. Apa yang dikatakan, tidak meleset sedikit pun! Lantaran aku bodoh, patut hari ini aku harus menerima nasib seperti ini.”

Sesudah itu dari mata Raja Cee mengucur air matanya deras sekali, dan sesaat kemudian dia berteriak pula.

”Oh Allah! Apakah memang ini sudah takdir Siauw Pek hari ini harus menemui ajalnya!” kata Raja Cee yang dulu bernama Siauw Pek ini.

Sesudah beberapa kali berteriak, akhirnya dia muntah darah. Gundik yang baik hati itu lalu memeluk Raja Cee Hoan-kong dan mengusap-ngusap punggung Raja Cee, sedang air matanya berlinang-linang, karena dia merasa terharu sekali atas nasib raja jago ini.

”Aku ada punya enam Ji-hu-jin (nyonya kedua) yang aku cintai dan enam Kong-cu

(Pangeran) yang aku paling sayang,” kata Raja Cee sambil menangis. ”Tetapi sekarang tidak seorang pun yang ada di depan mataku, melainkan kau . . .ya kau seorang saja yang mengantar kematianku! Ya, nona, sesungguhnya aku merasa menyesal sekali, dulu aku tidak memperhatikanmu!”

”Sudah! Harap Cu-kong jaga baik-baik dirimui,” ratap An Ngo Ji. ”Seandainya sampai tidak beruntung, aku pun ikhlas untuk ikut mati bersama-sama denganmu.” Raja Cee Hoan-kong menggelengkan kepala, kemudian dia tutup mukanya dengan tangan bajunya, sesudah itu dia menghela napas beberapa kali, akhirnya meninggal. Ketika meninggal usia Raja Cee sudah 73 tahun.

Melihat junjungannya sudah meninggal, An Ngo Ji menangis sedih sekali. Dia hendak berteriak memanggil orang, tetapi dia ingat, tembok begitu tinggi dan kuat, teriakannya tidak akan terdengar. Ketika dia ingin memanjat akan keluar, tidak ada tangga maupun alat untuk dipakai memanjat. Tiba-tiba dia ingat ucapannya tadi, bahwa dia ingin mati bersama junjungannya. Sesudah menutupi tubuh Raja Cee dengan bajunya, dia menghampiri tiang, lalu membenturkan kepalanya hingga binasa.

Malam harinya....

Budak kecil yang ditugaskan masuk lewat lubang untuk melihat keadaan Raja Cee, kaget saat mengetahui Raja Cee telah meninggal dan otaknya sudah berhamburan. Buru-buru dia menerobos dan melapor pada Ek Ge dan Si Tiauw tentang kejadian itu. Mendengar kabar itu mereka yakin saja, lalu menyuruh orang-orangnnya membobol tembok. Kedua dorna pun masuk untuk melihat sendiri. Mereka kaget karena di sana ada dua mayat yang kepalanya hancur, sedang Raja Cee tetap menggeletak di atas pembaringan meninggal dunia.

Dua dorna itu keheranan, tetapi budak istana ada yang mengenali mayat perempuan itu. Dia memberitahu dua dorna yang mengangguk dan terheran-heran. Sesudah melakukan pemeriksaan, kedua dorna jadi sangat girang, lalu mereka berunding mengenai pengangkatan raja pengganti.

Mereka kemudian mengambil putusan sebelum mengurus jenazah Cee Hoan-kong, lebih dulu mereka akan membinasakan Kong-cu Ciauw, supaya Pangeran Bu Kui dengan mudah bisa naik tahta. Mereka segera memimpin pasukan pergi menyerang Tang-kiong (Istana Tengah) kediaman Pangeran Ciauw. Untung di antara budak istana ada yang merasa kasihan pada Kong-cu itu, sebelum Ek Ge

alias Yong Bu dan Si Tiauw mengerahkan tentaranya, budak itu buru-buru memberi tahu

kabar jelek itu kepada Pangeran Ciauw.

Pangeran Ciauw kaget mendapat kabar itu, malam itu juga dia pergi ke rumah Kho Houw

untuk minta nasihat bagaimana sebaiknya dia bertindak. Perdana Mentri itu memberi saran.

”Lebih baik Cu-kong menyingkirkan diri ke negeri Song, sebab dulu Raja Cee Hoan-kong

sudah pernah berpesan pada Raja Song Siang-kong untuk membantu Tuanku, jika ada bahaya.” kata KHo Kho Houw.

Dengan menyamar Pangeran Ciauw pergi lewat pintu kota Timur, di situ, Cui Yauw yang menjaga, famili dari KHo Houw. Maka dengan mudah Pangeran Ciauw bisa keluar, malah Cui Yauw juga ikut dengan Pangeran Ciauw melarikan diri ke negeri Song.

Ketika Yong Bu dan Si Tiauw datang, mereka langsung mengepung gedung Pangeran Ciauw,

tetapi gedung itu sudah kosong. Mereka mencarinya dan tidak ada hasilnya.

Menjelang fajar, dua dorna yang sudah putus harapan itu, kembali bersama pasukannya. Sebelum sampai di istana, mereka melihat pintu istana sudah terbuka dan di sana banyak menteri yang sudah berkumpul. Mereka mendengar dua dorna mengerahkan pasukan, maka menteri-menteri itu mengira ada kekacauan di istana, itu sebabnya mereka datang.

Di istana mereka akhirnya tahu bahwa Raja Cee Hoan-kong telah meninggal dunia. Tidak heran mereka jadi tidak puas, apalagi mendengar Istana Tengah dikepung. Hingga mereka segera menduga kedua dorna itu telah membuat huru-hara.

”Cu-kong sebenarnya mengangkat Pangeran Ciauw menjadi penggantinya. Sekarang Pangeran Ciauw tidak ada, bagiamana ini?” kata seorang menteri.

Mereka jadi kebingungan bukan main. Saat mereka kebingungan datanglah dua dorna bersama pasukannya. Begitu dua dorna itu sampai, mereka bertanya.

”Mana Pangeran Ciauw?” kata mereka.

”Kami tidak tahu, sedang yang pantas menjadi pengganti Cu-kong adalah Bu Kui,” begitu mereka menjawab. ”Tidak, yang pantas adalah Pangeran Ciauw!” kata para menteri.

Akhirnya mereka bertengkar dan terjadilah perkelahian hebat. Sayang para menteri tidak membawa senjata, dalam pertempuran yang kacau banyak menteri yang setia kepada Pangeran Ciauw binasa. Terpaksa mereka kabur dari istana. Dua dorna segera mengajak Bu Kui ke istana dan langsung dia diangkat menjadi raja. Saat pengangkatan tidak ada menteri yang hadir, hanya Yong Bu dan Si Tiauw saja yang ada di situ. Pangeran Bu Kui jadi kurang senang dan malu, karena itu berarti dia tidak disetujui menjadi raja.

Tahu bahwa Bu Kui tak mendapat dukungan dari para menteri negeri Cee yang lain, Si Tiauw dan Yong Bu menyarankan agara Bu Kui mengundang Kok I Tiong dan Kho Houw, dua menteri senior untuk mohon dukungan. Bu Kui menurut saja, lalu memerintahkan seorang budak istana memanggil kedua menteri itu.

Mendapat panggilan itu, dua menteri itu segera mengetahui, bahwa Raja Cee sudah meninggal. Mereka segera mengenakan pakaian berkabung dan langsung ke istana. Yong Bu dan Si Tiauw buru-buru keluar menyambut kedatangan menteri senior itu. ”Sekarang Pangeran Bu Kui sudah menjadi Raja Cee, kami minta Tuan-tuan menetapkan kedudukannya.” kata Si Tiauw.

Kok I Tiong dan Kho Houw jadi mendongkol, mereka menyahut.

”Jika jenazah Cu-kong belum dikuburkan dan sudah mengangkat raja baru, maka kami tidak setuju!” kata dua menteri senior itu.

Sambil menangis kedua menteri senior itu langsung meninggalkan istana. Bu Kui kebingungan sekali.

”Karena urusan penguburan Ayahanda belum dilaksanakan, semua menteri tak mendukung padaku, sekarang bagaimana?” kata Bu Kui.

”Masalah hari ini mirip dengan orang yang sedang menangkap harimau, siapa yang kuat

dialah yang akan menang,” kata Si Tiauw. ”Tuan tenang saja, semua ini akan kami bereskan.”

Bu Kui yang memang ingin menjadi raja jadi tidak menghiraukan pengurusan jenazah ayahnya. Dia menuruti saja keinginan dua menteri jahat itu. Si Tiauw dan Ek Gee lalu mengatur pasukan dan menjaga istana dengan ketat.

Pangeran Kay Hong berpihak dan membela anak Kat-eng yaitu Pangeram Poan. Kay Hong mengumpulkan tentara dan mendirikan benteng di sebelah kanan istana. Sedang Pangeran Siang Jin berserikat dengan Pangeran Goan. Mereka membangun kubu di sebelah kiri istana. Pangeran Yong tidak mau terlibat perselisihan, dia pergi ke negeri Cin dan minta perlindungan pada Cin Bok-kong. Yong Bu alias Ek Gee dan Si Tiauw yang merasa jerih pada tiga pangeran itu, mereka hanya berjaga-jaga saja di pintu istana tidak berani keluar 

untuk bertempur. Tiga pangeran pun tidak berani maju dulu. Keadaan seperti itu berlangsung berbulan-bulan, tidak pasti. Kho Houw dan Kok I Tiong akhirnya mengambil putusan, apa boleh buat mengangkat Pangeran Bu Kui menjadi raja, asalkan jenazah Raja Cee Hoan-kong diurus.

Mereka berdua datang ke istana, tetapi kedatangannya dihadang oleh Si Tiauw dan Ek Gee. Sesudah dijelaskan maksud kedatangan dua menteri senior itu, baru Ek Gee dan Si Tiauw girang. Dua menteri ini menemui Bu Kui, si raja Cee yang baru. Mereka menasihati Bu Kui agar mengurus jenazah ayahnya dengan baik.

Bu Kui setuju, upacara segera diadakan. Semua menteri jadi terharu sekali. Bu Kui juga jadi menangis, dia turun dari kursi kebesaran memberi hormat. Jenazah Raja Cee almarhum ada di atas pembaringannya, tetapi selama itu tak ada yang mengurus, tubuhnya sudah mulai rusak dan bau dan penuh belatung. Semua menteri merasa ngeri dan jijik. Mereka jadi sedih dan menangis. Peti mati segera disediakan, mayat segera dibungkus dan dimasukkan ke dalam peti mati. Mereka juga menemukan mayat An Ngo Ji, selir Raja Cee yang setia, banyak menteri yang memuji kesetiaannya itu.

Pangeran Poan, Pangeran Goan dan Pangeran Siang Jin ketika melihat menteri Kho dan Kok mengajak semua menteri melaksanakan upacara berkabung, mereka jadi curiga. Tetapi tidak mengetahui ada masalah apa. Kemudian setelah mereka mendengar kabar jenazah Raja Cee Hoan-kong sudah diurus, semua menteri telah mengangkat Bu Kui menjadi Raja Cee, maka musnahlah harapan mereka. Mereka segera berunding. ”Jika Menteri Kho dan Kok yang memimpin upacara, kita tidak bisa berebut lagi!” kata salah seorang pangeran itu. Segera mereka membongkar kubu-kubu mereka, mereka berdatangan ke istana untuk menyatakan berduka-cita.

Dikisahkan Pangeran Ciauw yang lari ke negri Song. Setelah itu putra mahkota dari negri Cee sampai di negeri Song, dia menemui Raja Song Siang-kong, di hadapan raja itu dia berlutut dan menangis, dia ceritakan bagaimana Yong Bu dan Si Tiauw telah membuat huru-hara.

Raja Song membujuk dan bersedia membantu. Kemudian Raja Song mengumpulkan menterinya diajak berunding.

”Dulu Raja Cee Hoan-kong menitipkan Pangeran Ciauw kepadaku agar dibantu supaya menggantikannnya,” kata Raja Song. ”Sekarang Ek Gee dan Si Tiauw mengacau di negeri Cee. Aku berniat mengumpulkan Raja-muda untuk menghukum mereka berdua. Lalu membawa Ciauw ke Cee untuk menjadi raja. Aku sendiri akan menduduki posisi Raja Cee almarhum mengepalai semua Raja-muda. Bagaimana menurut kalian?”

”Aku rasa negeri Song tidak bisa menjadi jago, sebab ada beberapa hal yang tidak sama dengan Raja Cee,” kata salah satu menterinya.

Raja Song Siang-kong melirik dan mengawasi pada menteri itu, orang itu adalah putra sulung Raja Song Hoan-kong bernama Pangeran Bak I. Ketika Song Hoan-kong wafat Pangeran Bak I mengalah tidak mau menjadi raja, maka Song Siang-kong yang menjadi raja, dan mengangkat dia menjadi menteri.

”Apa maksudmu?” tanya Raja Song Siang-kong.

”Negeri Cee kuat bagaikan gunung Tay, luas bagai laut Put-hay. Mereka punya tanah Long-ya dan Cek-bek yang subur. Mereka juga punya menteri senior Kok dan Kho. Dulu mereka punya Koan Tiong, Leng Cek, Sek Peng dan Pauw Siok Gee yang telah membangun negaranya. Sedang negeri Song kecil dan tanahnya kurang bagus. Tentara dan ransumnya sedikit, menteri militer dan sipilnya juga sedikit. Itu alasanku.” kata Bak I.

”Maksudku aku ingin menegakkan kebijaksanaan,” kata Raja Song dengan kurang senang. ”Maka jika aku tidak membantu Ciauw, maka aku jadi kurang bijaksana.”

Segera Raja Song Siang-kong mengeluarkan surat selebaran, mengajak para Raja-muda di lain tahun pergi mengantarkan Pangeran Ciauw ke negeri Cee. Waktu berjalan dengan cepat sekali, selang tidak berapa lama sudah sampai saat mereka bergabung.

Song Siang-kong segera menggabungkan pasukan perangnya pada pasukan perang negri We, Co dan Cu, mengiringkan Kong-cu Ciauw pergi menyerang ke negri Cee.

Waktu itu Yong Bu alias Ek Gee sudah naik pangkat menjadi Su-ma dan memegang kekuasaan dalam masalah ketentaraan. Pangeran Bu Kui begitu mendapat kabar angkatan perang Song hendak datang menyerang, segera dia perintahkan Yong Bu memimpin tentara untuk menangkis serangan dari Raja Song itu. Si Tiauw tetap tinggal di dalam kota untuk mengurus segala keperluan, sedang Kho dan Kok, dua menteri besar itu diperintahkan untuk menjaga kota.

Sebenarnya Menteri Kho Houw dan Menteri Kok I Tiong sangat benci kepada Ek Gee alias Tong Bu dan Si Tiauw ini. Mereka ingin sekali mengangkat Pangeran Ciauw menjadi raja. Diam-diam mereka mengadakan perserikatan rahasia. Ketika Ek Gee sedang mengatur tentaranya untuk menangkis serangan musuh, Kho Houw cs di dalam kota mengadakan pemberontakan. Pertama-tama Si Tiauw dibujuk kemudian dibunuh. Sesudah itu Pangeran Bu Kui pun dibinasakan juga. Baru sesudah itu mereka keluar kota untuk mengepung dan membunuh Ek Gee.

Tetapi sayang Ek Gee mengetahui rencana ini, dia ajak beberapa orangnya yang paling dipercaya, melarikan diri ke negeri Louw. Kho Houw dan pembesar lain pergi menyambut Pangeran Ciauw. Kemudian berserikat dengan negeri Song, We, Co dan Cu, empat negara. Sesudah keadaan aman ke empat negara itu segera mengundurkan tentaranya, sedang Menteri Kho Houw lalu mengiringkan Pangeran Ciauw masuk ke dalam kota. Tetapi tidak diduga

pintu kota telah ditutup rapat dan tidak mau dibuka. Pangeran Siang Jin, Pangeran Goan dan Pangeran Poan, tidak bersedia menerima Pangeran Ciauw diangkat menjadi raja, malah mereka hendak mengadakan pembalasan kematian Pangeran Bu Kui. Karena Kho Houw merasa tidak mampu menyerang kota, maka dia ajak Pangeran Ciauw kembali ke negeri Song.

Ketika itu Raja Song Siang-kong baru mundur dan tentaranya sudah dekat negrinya. Melihat Pangeran Ciauw dengan tergopoh-gopoh datang menyusul, dia jadi terkejut.

”Ada apa kau menyusulku?” kata Raja Song. Kho Hoauw menceritakan apa yang terjadi.

”Ini salahku karena aku menarik tentaraku terlalu cepat,” kata Raja Song. ”Sudah jangan cemas selama masih ada aku!”

Kemudian Raja Song memerintahkan panglima Kong-cu Tong menjadi Sian-hong, Hoa Gi Su jadi pengiring di belakang, sedang Raja Song sendiri memimpin pasukan tengah, kembali ke negeri Cee bersama Pangeran Ciauw.

Di depan pasukan itu ada Houw maju, ketika mereka sampai di negeri Cee, panglima Cee yang menjaga perbatasan menyambutnya. Dengan demikian pasukan Song bisa maju sampai ke kota Lan-cu.

Begitu sampai Raja Song memaklumkan perang. Dalam suatu perang besar, Pangeran Goan dikalahkan, dia kabur ke negeri We, sedang Pangeran Pan dan Siang Jin yang kalah perang, masuk ke dalam kota. Tetapi tentara Song berhasil masuk ke dalam kota, karena tidak mampu dibendung.

Semua pembesar negeri Cee menyilahkan Pangeran Ciauw masuk istana. Kemudian dia diangkat menjadi Raja Cee dengan gelar Cee Hauw-kong. Sesudah menjadi Raja Cee, Pangeran Ciauw membagi-bagi hadiah pada menterinya yang setia.

Selama lima hari lamanya Raja Song Siang-kong tinggal di negeri Cee. Sesudah menganggap tidak ada bahaya lagi, dia kembali ke negerinya. Pangeran Poan dan Siang Jin mengaku yang bersalah adalah Pangeran Goan. Tetapi Kho Houw dan Kok I Tiong tahu dua pangeran ini pun ikut bersalah. Dua menteri senior ini ingin mengakhiri perselisihan di antara mereka, maka kesalahan ditimpakan pada Ek Gee dan Si Tiauw saja. Maka sanak keluarga Ek Gee dan Si Tiauw akhirnya dihukum mati semuanya.

Pada musim Ciu bulan delapan jenazah Raja Cee baru dikubur di atas gunung Gu-siu-kong, dan di sampingnya dikuburkan jenazah An Ngo Ji. Dikisahkan, sesudah Raja Song mengangkat Pangeran Ciauw menjadi Raja Cee, dia merasa bangga dan menganggap sudah pantas menjadi jago di antara para Raja-muda seperti Raja Cee dulu. Maka itu, ia berniat mengangkat dirinya menjadi Beng-cu (Pemimpin) di antara Raja-muda. Tetapi karena masih khawatir raja-raja yang negerinya besar dan kuat tidak setuju, maka dia segera mengadakan perserikatan dengan raja-raja dari negeri Teng, Kwee, Co, Chu.

Raja negeri Teng, bernama Teng Eng Cee, datang ke pertemuan paling terlambat dari semua raja muda. Raja Song marah, lalu menahan Raja Teng ini di sebuah rumah. Karena takut Raja Kwee yang negerinya lebih kecil dari negeri Song, dia juga datang terlambat dua hari.

Raja Song Siang-kong menganggap Raja Kwe berani menentang padanya.

”Negeri Kwee yang kecil saja berani menantangku, jika tidak dihukum bagaimana aku bisa berwibawa?” kata Raja Song.

”Ketika Raja Cee menjadi jago, beliau telah mengalahkan bangsa Tong-i di sebelah Utara.

Jika Tuanku ingin mengalahkan mereka, kita perlu menggunakan Raja Kwee.” kata Kong-sun Tong.

”Bagaimana caranya aku memakai dia?” kata Raja Song.

”Bangsa Tong-i sangat menghormati malaikat di sungai Ci-sui, sehingga mereka mendirikan rumah pemujaan di sana. Mereka menyembahyanginya setiap musim. Jika Tuanku membunuh Raja Kwee dan gunakan kepalanya untuk bersembahyang, pasti bangsa Tong-i akan ketakutan, sebab mereka pikir dengan gampang Tuanku membunuh Raja Kwee. Aku yakin bangsa Tong-i akan tunduk kepada Tuanku. Dengan demikian Tuanku bisa minta bantuan pada mereka untuk menaklukkan semua raja muda yang membangkang pada

Tuanku.”

”Oh jangan, kita tidak boleh berbuat begitu,” kata Pangeran Bak I coba mencegah. ”Jika Tuanku juga ikut sembahyang pada siluman sungai Ci-sui, berarti Tuanku ikut tradisi bangsa Tong-i. Jadi bagaimana mereka akan takut kepada Tuanku? Sedangkan Raja Cee Hoan-kong memimpin perserikatan empat puluh tahun lamanya, dan selama itu beliau melakukan kebijaksanaan, sehingga semua raja-muda takluk dan hormat kepadanya. Sebaliknya Tuanku, baru mau menghimpun raja-muda, sudah berlaku kejam main bunuh, bukan mereka takut malah berbalik mereka akan menyerang kita!”

”Pendapat Anda salah,” kata Pangeran Tong. ”Sekarang Cu-kong akan menjagoi dan caranya tentu saja berbeda dengan Raja Cee Hoan-kong. Raja Cee baru termasyur sesudah membangunnya selama 20 tahun lebih, baru menjadi jago. Apa kita juga harus menunggu selama itu? Dengan berbuat bijaksana, hasilnya lambat, sebaliknya jika mau cepat harus dengan kekerasan. Hal ini harus dipikirkan baik-baik. Jika kita bunuh Raja Kwee dan mana mungkin bangsa Tong-i tidak takluk karena takut. Zaman dulu Bu Ong membunuh Kaisar Tiu Ong, kepalanya dia pancang di ujung tiang bendera. Akhirnya Bu Ong berkuasa. Lalu apa manfaatnya membiarkan Raja Kwee yang membangkang itu?”

Raja Song Siang-kong yang memang ingin segera menjadi raja jagoan, dia menyetujui saran Pangeran Tong. Maka segera dikeluarkan perintah agar Cu Bun-kong menangkap Raja Kwee, dan segera dibunuh, dagingnnya dimasak dipakai menyembahyangi siluman sungai Ci-sui.

Karena bangsa Tong-i tidak pernah berhubungan, maka mereka tidak ada yang datang melihat sembahyang besar itu. Mendengar kejadian itu Raja Teng terkejut bukan main, segera dia minta pada orangnnya agar menyuap Raja Song, sehingga dia dibebaskan. Raja Co Kiang-

kong kurang senang pada tindakan Raja Song Siang-kong yang kejam iti. Diam-diam dia

kembali ke negerinya.

Raja Song Siang-kong menjadi murka, dia anggap Raja Co kurang ajar. Maka Raja Song memerintahkan menyerang negeri Co tersebut.

Pangeran Bak I coba mencegah niat ini.

”Dulu Raja Cee Hoan-kong tidak pernah bertindak kejam pada raja-raja muda. Harap Tuanku jangan menyerang negeri Co!” kata Pangeran Bak I.

Tetapi Raja Song Siang-kong tidak menuruti nasihat itu, dia perintahkan Pangeran Tong memimpin angkatan perang menyerang ke negeri Co. Berangkatlah tentara Song ke negeri Co. Kedatangan mereka disambut oleh tentara Co, hingga terjadi pertempuran yang sengit. Tiga bulan lamanya tentara Song telah mengepung kota negeri Co, tetapi orang Co bisa bertahan dengan sempurna. Sulit bagi Song untuk merebut negeri Co.

Ketika itu Raja The yang kurang puas pada Raja Song mengajak Raja Louw, Cee, Tan dan Raja Coa, empat negara, untuk mengadakan perserikatan dengan Raja Couw, mereka berjanji akan berkumpul di daerah Cee.

Kabar ini membuat Raja Song Siang-kong jadi sangat gusar, karena dia juga khawatir Raja Cee atau Raja Louw yang akan menjadi pemimpin perserikatan. Selain itu dia juga cemas, karena Pangeran Tong yang menyerang Co belum berhasil merebut Co. Dengan demikian pamor negeri Song akan turun. Maka dia minta agar Pangeran Tong mundur dari negeri Co.

Raja Co juga takut tentara Song datang kembali, mereka mengirim utusan minta berdamai dengan Song. Dengan demikian mereka menjadi akur kembali. Semula Raja Song ingin menjadi jago. Sekarang malah banyak Raja-muda yang bergabung dengan Raja Couw menentangnya. Hal ini membuat dia berduka sekali.

”Sekarang ini tak ada negara yang sekuat negeri Cee dan Couw,” kata Pangeran Tong.

”Hanya negeri Cee, sekalipun rajanya turunan jago, negaranya baru bangkit, itu pun atas bantuan kita. Jadi pengaruhnya belum besar, tetapi Raja Couw yang menggunakan gelar Kaisar sangat ditakuti. Kita harus menggunakan pengaruh Couw, maka Tuanku harus menyuap dan merendah padanya. Mohon pada Raja Couw agar Raja-muda yang berada di bawah pengaruhnya diserahkan kepada Tuanku. Sesudah mereka menjadi bawahan Tuanku, maka diam-diam kita ajak semua Raja-muda itu menghantam Raja Couw!”

”Itu tidak masuk akal, itu bukan cara yang benar!” kata Pangeran Bak I. ”Raja Couw sudah menalukkan semua Raja-muda, mana mungkin dia begitu bodoh mau menyerahkannya kepada kita? Malah jika usaha tipu itu dilasannakan, malah kita akan berselisih dengan

Couw.”

Raja Song Siang-kong tidak sepakat dengan pendapat Bak I. Dia perintahkan Pangeran Tong membawa bingkisan menemui Raja Couw. Kedatangan Pangeran Tong diterima baik oleh Raja Couw Seng-ong. Malah keinginan Raja Song pun dikabulkan dan ditetapkan pada musim Cun tahun depan boleh berhimpun di tanah Lok-siang (tanahnya Cee).

Pangeran Tong pulang dan mengabarkan hal itu pada Raja Song yang girang bukan main. Karena pertemuan di tanah Raja Cee, maka Raja Song memberi kabar pada Raja Cee, Pangeran Tong sambil membawa bingkisan menemui Raja Cee. Sesudah menerima bingkisan Raja Cee setuju dengan pertemuan itu.

Ketika sudah tiba musim Cun, Raja Song Siang-kong sudah tiba di Lok-siang, di sana dia mendirikan panggung untuk tempat berkumpul dan menunggu kedatangan Raja Cee dan Raja Couw. Tidak lama Raja Cee datang disusul oleh Raja Couw. Mereka menjalankan

kehormatan sebagai mana layaknya para raja.

Baru bertemu saja Raja Song yang bernafsu ingin menjadi jago, sudah mengatur tempat duduk. Dia menempatkan Raja Couw di bawah pengaruhnya. Tentu saja hal ini membuat Raja Couw jadi kurang senang.

Dalam pertemuan itu Raja Song minta dukungan Raja Cee dan Raja Couw. Jika disetujui

maka pada musim Ciu akan mengadakan pertemuan besar dengan para Raja-muda. Keinginan Raja Song ini membuat Raja Couw kurang senang. Raja Couw menganggap dirinya

dipandang rendah. Dia sangat kesal dan geram sekali.

Ketika Raja Song menyerahkan rencana undangan utuk musim Ciu, Raja Couw Seng-ong menyambutnya dan memeriksa surat itu, di sana ada dijelaskan mengenai maksud Raja Song hendak menggabung seluruh Raja-muda seperti dulu Raja Cee melakukannya. Diminta agar semua raja datang dengan pakaian biasa, tanpa membawa senjata. Surat itu ditandatangani oleh Raja Song.

Melihat surat itu Raja Couw jadi geli sendiri.

”Jika Anda sendiri bisa memanggil semua Raja-muda, mengapa harus memakai namaku juga?” kata Raja Couw.

”Raja The dan Raja Khouw sudah lama berada di bawah perintah Tuanku,” sahut Siang-kong dengan paras muka merah, karena dia mengerti dirinya dia disindir, ”sedang Raja Coa dan Raja Tan belum lama ikut berserikat dengan Raja Cee, manakala tidak nama kalian tidak disertakan, aku khawatir Raja-raja muda itu tidak mau mengindahkannya.”

”O, kalau begitu sebaiknya Cee-kun (Raja Cee) lebih dahulu yang membubuhkan tanda tangannya, sesudah itu baru aku!” kata Couw Seng-ong sambil tertawa.

”Bagi Raja-raja muda yang bersahabat denganku pasti mereka akan datang, sebab mereka tahu Raja Cee di bawah pengaruh Kerajaan Song,” kata Cee Hauw-kong perasaan kurang senang. ”Melainkan raja-raja muda yang di bawah pengaruh Raja Couw yang belum tentu mau menurut, maka tidak boleh tidak harus Raja Couw yang membubuhkan tanda tangan lebih dulu.”

Sekali lagi Raja Couw tertawa, dan segera dia membubuhkan tanda tangannya, kemudian ipit itu dia serahkan kepada Raja Cee.

”Sudah ada Couw tidak perlu ada tanda tangan dari Raja Cee,” kata Cee Hauw-kong menolak membubuhkan tanda tangannya. ”Aku cuma seorang rendah, negriku tidak sampai hancur lebur pun sudah merasa sangat bersyukur, masa aku berani sembarangan tanda tangan, hanya akan mengotori surat yang mulia itu?”

Sudah berulang-ulang Raja Cee dipaksa, tetapi Raja Cee Hauw-kong tetep menolak. Padahal Raja Song Siang-kong begitu baik, bahkan pernah membantu Raja Cee, sedikit pun tidak menyangka Raja Cee akan berbuat begitu kepadanya. Maka dia ambil surat itu yang dia simpan dengan rapih. Sesudah itu Raja Song pun pulang ke negaranya.

Tatkala Raja Couw Seng-ong sudah pulang, dia ceritakan kejadian itu pada Leng-i Chu Bun.

”Permintaan Raja Song sangat keterlaluan dan gila,” kata Chu Bun, ”mengapa Tuanku terima saja untuk tanda tangan?”

”Lantaran kegilaannya itu, maka aku hendak mengambil keuntungan dari kegilaannya itu,” jawab Raja Couw sambil tertawa. ”Aku sudah lama berniat menjadi pemimpin perserikatan raja-raja muda di Tiongkok, tetapi niat itu belum terkabul. Sekarang Raja Song ingin menghimpun Raja-muda dengan berpakaian biasa. Inilah kesempatan yang baik.”

”Betul,” kata menteri Seng Tek Sin. ”Raja Song menganggap dirinya hebat, tetapi tidak punya akal. Dengan mudah bisa kita akali dia!”

”Ya, maksudku juga begitu!” sahut Raja Couw girang.

”Aku kurang sepakat,” kata Chu Bun. ”Mengapa Tuanku setuju tanda-tangan, kalau kita akan merampas haknya. Apa ini tidak akan menjadi tertawaan orang?”

”Karena Raja Song menganggap dirinya bakal jadi pemimpin perserikatan, pasti dia bersikap angkuh pada semua raja muda,” sahut Seng Tek Sin, ”hal ini pasti akan membuat semua raja- muda itu marah. Lalu kita rebut posisi pemimpin perserikatan dari Raja Song. Ini untuk menunjukan pada semua raja bahwa kita mampu. Kemudian kita serahkan lagi pada Raja Song. Ini untuk menunjukkan bahwa kita bijaksana. Manakala semua raja muda telah menyaksikan Raja Song tidak mempunyai kepandaian, jika tidak bukan tunduk pada Couw, pada siapakah mereka akan tunduk? Maka menurut pendapatku, ini adalah tipu-muslihat yang paling bagus!”

”Kau hebat, aku kagum padamu,” memuji Chu Bun merasa malu.

Raja Couw Seng-ong memerintahkan Seng Tek Sin dan Touw Put memilih seribu tentara yang gagah berani, untuk bersedia merebut kekuasaan pemimpin perserikatan. Sesudah Raja Song pulang dia merasa sangat girang, parasnya riang. Dia berkata pada Pangeran Bak I: ”Raja Couw sudah meluluskan permintaanku akan menyerahkan semua raja muda di bawah kekuasaanku.”

”Orang Couw mirip bangsa Ban-ie, hatinya sulit diduga,” kata Pangeran Bak I., ”Jika Tuanku

percaya saja ucapannya, dan tidak curigai, hamba khawatir Tuanku akan dihina oleh mereka.”

”Ah, kau terlalu curiga,” kata Raja Song Siang-kong. ”Aku berpegang pada kejujuran dan kepercayaan pada orang lain, mustahil orang begitu tega hendak menghina padaku?” Kembali dia tidak memperhatikan nasihat Pangeran Bak I, dia mengeluarkan surat selebaran untuk mengundang semua Raja-raja muda, dia perintahkan orangnya mendirikan panggung

tempat tamu, pembuatan panggung diatur rapi dan indah, serta lebih jauh dia suruh orangnya menyediakan rumput di gudang, juga bahan makanan untuk para tamu.

Ketika musim Ciu telah tiba, saat Raja Song Siang-kong hendak berangkat, Pangeran Bak I memberi saran.

”Couw sangat kuat, jangan percaya mereka memegang janji!” kata Pangeran Bak I. ”Bawa kereta perang untuk menjaga keselamatan Tuanku.” ”Jangan, tidak boleh begitu!” cegah Raja Song Siang-kong. ”Aku sudah berjanji pada semua

raja muda untuk berhimpun dengan berpakaian biasa, jika aku melanggar dan membawa

kereta perang, itu berarti aku melanggar janjiku sendiri!”

”Kalau begitu, Tuanku naik kereta memakai pakaian biasa, untuk menunjukkan bahwa

Tuanku memegang janji. Sedang aku akan menyembunyikan angkatan perangku, aku akan siap-siaga kalau-kalau dibutuhkan!” kata Pangeran Bak I.

”O! Jangan, jangan lakukan! Kau yang berpakaian perang dan membawa tentara, lalu itu tak bedanya dengan aku sendiri yang membawanya!” kata Raja Song.

Bak I jadi tak berdaya, karena Raja Song tak setuju pada gagasannnya. Dia juga sangat

menyayangkan atas kebodohan junjungannya itu. Ketika saatnya telah tiba akan berangkat,

karena takut Pangeran Bak I membawa pasukannnya, Raja Song sengaja mengajak Bak I ikut bersamanya. Pangeran Bak I memang mau ikut, sebab dia merasa tidak enak hati, jika dia tak mendampingi junjungannya itu.

Di tempat pertemuan semua raja sudah hadir, di antaranya Raja Couw, Tan, Coa, Khouw, Co, enam raja negeri sudah hadir. Hanya Cee Hauw-kong karena sakit hati, dan Raja Louw Hi- kong tidak tunduk pada Raja Couw, kedua raja itu tidak hadir. Raja Song Siang-kong memerintahkan orangnya menyambut para raja muda itu dengan manis sekali. Raja Song pun mendapat laporan bahwa semua raja berpakaian biasa.

”Aku pun yakin, Raja Couw tidak akan menghinaku...” kata Raja Song girang.

Dalam persidangan Raja Tan Bok-kong, Coa Cong-kong, The Bun-kong, Khouw Hi-kong dan Co Kiong-kong, lima raja muda, sudah datang. Lama mereka menunggu, sampai sudah siang baru Raja Couw datang. Mereka saling memberi hormat, tetapi pada umumnya mereka sangat menghargai Raja Couw Seng-ong.

Tak lama upacara dilangsungkan, seperti minum arak bercampur darah, dan berbagai acara lain. Mereka lalu mencatat nama mereka pada sebuah buku, sebagai ikrar bahwa mereka akan tunduk pada semua aturan yang berlaku.

Sesudah upacara selesai Raja Song Siang-kong mengawasi Raja Couw Seng-ong untuk meminta agar Raja Couw mengangkat dia jadi Pemimpin Perserikatan. Tetapi Couw diam saja, dia pura-pura lupa. Raja muda yang lain pun jadi saling pandang saja. Raja Song Siang- kong tidak sabar lagi, dia berkata.

”Hari ini aku ingin melanjutkan tradisi Raja Cee yaitu mendukung Kerajaan Ciu, dan memakmurkan negara, agar rakyat hidup bahagia. Terutama mengamankan keadaan. Bagaimana pendapat Tuan-tuan sekalian?” kata Raja Song.

Tiba-tiba Raja Couw bangkit dari kursinya dengan marah sekali.

”Usul itu baik sekali, hanya aku tidak tahu siapa yang pantas jadi pemimpin kita semua?” kata Raja Couw.

”Tuan-tuan sudah tahu, siapa yang berjasa besar, tidak perlu bertanya lagi!” kata Raja Song. ”Sudah lama aku memakai gelar Ong!” kata Couw Seng-ong. ”Sekalipun Raja Song bergelar

Kong yang mulia, tetapi mana bisa dibanding dengan gelar Ong! Ini sudah diakui oleh Kaisar

Ciu!”

Sikap Raja Couw angkuh sekali. Melihat situasi kurang baik, Pangeran Bak I menarik tangan

junjungannya. Dia minta agar Raja Song bersabar.

Tetapi Raja Song Siang-kong yang yakin bisa jadi pemimpin, tidak menghiraukan nasihat Bak I. Seperti kalap dia malah menantang. Dia tak sadar bahaya mengancam dirinya.

”Gelar Kong yang kusandang telah mendapat pengesahan dari Kaisar Ciu! Maka bagaimana gelar Ong Anda bisa mengalahkan gelarku?” kata Raja Song.

”Jika kau anggap gelarku kosong, mengapa kau mengundangku kemari?” kata Raja Couw makin sengit.

”Kau datang ke sini, sesuai dengan perundingan kita di Lok-siang,” kata Raja Song.

”Sudah, jangan ribut, lebih baik begini saja!” kata Seng Tek Sin ikut bicara. ”Sekarang coba tanya pada semua raja muda, apakah kedatangan mereka karena Raja Couw atau Raja Song?”

Raja Tan, Coa dan yang lain-lain memang takut pada pengaruh Raja Couw, setelah

mendengar pertanyaan itu, semua menyahut mereka datang karena taat pada Raja Couw. Raja Couw Seng-ong tertawa terbahak-bahak.

”Sekarang Anda mau bilang apa lagi?” kata Raja Couw.

Saat itu Raja Song Siang-kong murka bukan main. Dia mau mengadu bicara, tetapi tidak ada yang meladeninya. Dia mau memakai kekarasan, tetapi tidak ada tentara yang ikut bersamanya. Dia jadi serba salah.

Saat Raja Song sedang kebingungan, justru dia melihat Seng Tek Sin dan Touw Put membuka baju luarnya, sehingga kelihatan pakaian perangnya. Hal ini membuat Raja Song jadi sangat ketakutan. Kedua panglima Couw itu segera memberi tanda, dan semua pengikutnya segera mengepung panggung. Semua raja muda jadi sangat kaget dan ketakutan.

Seng Tek Sin menangkap Raja Song Siang-kong yang dia ikat kencang. Kemudian bersama

Touw Put ia ajak tentaranya merampas semua perabotan yang terbuat dari batu giok, kain

sutera dan lain-lainnya milik Raja Song. Orang-orang negeri Song yang mengurus tempat itu, mereka ketakutan lalu kabur.

Waktu itu Raja Song Siang-kong melihat Pangeran Bak I telah bergeser ke sampingnya, dan berbisik.

”Aku menyesal aku tidak mau mendengar nasihatmu, sehingga hari ini aku celaka. Lekas kau pulang untuk menjaga negeri, dan jangan pikirankan tentang diriku.”

Pangeran Bak I berpikir memang tidak ada gunanya jika dia tetap di samping Raja Song. Maka dengan menggunakan saat sedang kacau, dia kabur pulang ke negeri Song.

Raja Couw mengajak Seng Tek Sin, Touw Put dan Kui Lu Sin dan Touw Poan (anak Chu Bun) membawa pasukan besar. Sesudah Raja Song ditangkap, Raja Tan, Coa, The, Khouw dan Co, sangat ketakutan tidak ada yang berani berbuat apa-apa. Raja Couw Seng-ong mengajak semua Raja-muda pergi ke gedung tamu, di sini dia mengejek dan menyindir Raja Song Siang-kong.

”Aku akan menyerang kota Ci-yang, untuk menghancurkan Ibukota Song.” kata Raja Couw.

Sesudah pesta sampai sepuluh hari sepuluh malam lamanya, baru semua raja-raja diizinkan

pulang ke negrinya. Semua Raja-muda tidak ada yang berani membantah. Raja Song Siang- kong diam saja sambil berdiri seperti patung. Dari matanya meleleh air mata, tanda dia sangat menyesal dan pilu hatinya.

Tidak lama angkatan perang negeri Couw yang berjumlah 500 kereta perang sudah siap. Raja Couw membagi-bagikan hadiah pada tentaranya, mereka maju menyerang ke kota Ci- yang.

Dikisahkan Pangeran Bak I yang sudah lolos sudah sampai di negeri Song.

Dia segera menghadap Kong-sun Kouw, lalu menceritakan bahwa Raja Song Siang-kong telah ditawan oleh Raja Couw.

”Tidak lama lagi tentara Couw pasti akan datang menyerang ke negeri Song. Kita harus segera menyiapkan tentara dan mengatur penjagaan,” kata Bak I.

”Karena di dalam negeri harus ada yang memimpin,” kata Kong-sun Kouw. ”sebaiknya untuk sementara kau menggantikan Song Siang-kong, supaya negeri ada pemimpinnya.”

”Orang Couw menawan raja kita dan menyerang negeri kita, karena ada yang mereka

inginkan ” Bak I membisiki kuping Kong-sun Kouw menyampaikan apa yang dimaui

Raja Couw.

”Pasti Raja kita akan dibebaskan,” kata Bak I akhirnya. ”Ya,” kata Kong-sun Kouw girang.

Sesudah itu Kong-sun Kouw berkata kepada semua menterinya.

”Raja kita belum tentu bisa pulang, karena itu kita harus mengangkat Pangeran Bak I untuk mengatur negeri ini.” kata Kong-sun Kouw.

Karena semua menteri sudah mengetahui kepandaian Bak I, mereka girang mendengar kabar itu. Pangeran Bak I lalu diangkat menjadi pengganti Raja Song. Dia segera mengatur tentaranya dengan keras tetapi adil untuk menghadapi tentara Couw. Tidak lama, benar saja tentara Couw datang menyerang. Mereka telah membangun perkemahan di luar kota.

”Raja kalian sudah kami tangkap, sekarang dia sudah dibawa ke sini! Sekarang kalian serahkan kota ini dan takluk pada kami. Dengan demikian jiwa rajamu bisa tertolong!” kata panglima Couw.

Kong-sun Kouw segera menjawab dari atas loteng kota.

”Kami sudah mengangkat Raja yang baru! Maka itu Raja lama, jika hendak kalian bunuh atau tidak, terserah kalian saja! Tetapi jika kami disuruh takluk, jangan harap!” ”Tetapi raja kalian masih hidup, jadi mana boleh kalian mengangkat raja lagi?”

”Raja kami harus ada di dalam negeri, karena dia tidak ada, maka kami mengangkat raja yang baru!” kata Kong-sun Kouw.

”Seandainya kami kembalikan rajamu, bagaimana kau membalas budi kami?” tanya panglima

Couw.

”Bila raja lama sudah tertangkap, berarti dia telah membuat malu negeri kami, sekalipun dia kembali, dia tak bisa jadi raja lagi.” kata Kong-sun Kouw. ”Pulang atau tidak pulang baginya sama saja. Jika kalian mau berperang pun, akan kami ladeni. Terserah apa maumu?”

Touw Put mendongkol, lalu pulang ke pesanggrahannya untuk memberitahu Raja Couw. Bukan main marahnya Raja Couw Seng-ong, dia perintahkan agar tentaranya melabrak kota secara hebat.

Tetapi bagaimanapun hebatnya serangan tentara Couw, mereka tidak bisa mendekati tembok kota. Bahkan tentara Couw rusak berat, karena terkena anak panah dan batu yang dilemparkan dari atas kota oleh tentara Song.

Sudah tiga hari tiga malam lamanya tentara Couw menyerang, tetapi tetap sia-sia saja. Melihat keadaan itu, Raja Couw Seng-ong berkata pada meneteri-menterinya.

”Karena sekarang Raja Song Siang-kong tidak dihargai lagi oleh rakyatnya, apa kita bunuh saja?” kata Raja Couw.

”Jangan, kita tidak boleh berbuat begitu,” Seng Tek Sin mencegah. ”Bukankah Tuanku menuduh Raja Song berdosa karena dia membunuh Raja Kwee? Jika sekarang Tuanku membunuh Raja Song, itu sama saja Tuanku meniru perbuatannya. Jika kita bunuh Raja Song, artinya kita hanya membunuh seorang, itu tidak ada artinya. Bukan mendapat daerah Song, malah membuat orang jadi gusar. Menurut pendapat hamba, lebih baik lepaskan saja dia.”

”Menyerang Song saja tidak berhasil, malah kita melepaskan rajanya. Apa itu tidak memalukan sekali?” kata Raja Couw Seng-ong sangsi. ”Jika mau membebaskannya, kita harus mencari alasan yang tepat?”

”Soal itu sudah hamba pikirkan,” kata Seng Tek Sin. ”Negeri Cee sahabat kita, tidak perlu kita pikirkan lagi. Sedang Louw sahabat Cee dan jika dia membantu Cee menjadi jago, maka Couw tidak akan mereka hiraukan lagi. Sekarang kita kirim barang hasil rampasan dari negeri

Song ke negeri Louw, hadiahkan kepadanya. Jika mereka mau menerimanya, Song pasti ngeri dan mau berserikat dengan kita. Louw dan Song bersahabat baik. Ingat Raja Louw sangat budiman, pasti dia akan meminta agar Raja Song kita bebaskan. Lalu kita kabulkan

permintaannya. Maka dengan demikian bukan saja kita bisa memiliki daerah Louw, tetapi juga daerah Song.”

Raja Couw girang dia sepakat pada usul itu. Tak lama Raja Couw Seng-ong menarik mundur tentaranya pergi ke Pok-touw, sebagai utusan dia mengirim Gi Seng. Dengan membawa iringan kereta barang rampasan dari negeri Song mereka pergi ke negeri Louw.

Setiba di negeri Louw, utusan negeri Couw diterima baik oleh Louw Hi-kong. Dalam surat Raja Louw meminta pertimbangan mengenai masalah Raja Song yang dia telah tawan. Membaca surat itu Raja Louw kaget. Dia tak sadar kalau itu cuma gertakan Raja Couw kepadanya. Namun, jika Louw mau melawan, Raja Louw sadar negaranya lemah.

Raja Louw itu berkata pada Gi Seng.

”Baiklah, aku menerima dengan baik undangan itu.” kata Raja Louw.

Raja Louw Hi-kong dengan mengajak Tay-hu Tiong Sui datang ke Pok-touw.

Saat itu Raja-muda Tan, Coa, The, Khouw, Louw dan Co, sudah datang semua. Sebelum pertemuan dimulai, para raja muda itu sepakat mengangkat Raja Couw menjadi pemimpin perserikatan raja-raja. Hanya syaratnya Raja Song harus dibebaskan oleh Raja Couw.

Rencana itu bocor ke tangan Seng Tek Sin yang menyampaikannnya kepada Raja Couw.

”Ternyata dugaanmu itu benar!” kata Raja Couw pada Seng Tek Sin. Raja Couw setuju sekali. Sehari sebelum diadakan persidangan, Raja Song Siang-kong dibebaskan.

Esok harinya, The Bun-kong mengajak semua raja muda mengundang Couw Seng-ong naik ke panggung mengepalai persidangan. Semua raja-raja minum darah mengangkat sumpah, Raja Couw Seng-ong diangkat menjadi kepala perserikatan.

Raja Song Siang-kong sangat mendongkol, tetapi tidak berani berkata apa-apa. Setelah semua selesai, raja-raja itu bubar dan pulang ke negerinya masing-masing.

Sedang Raja Song Siang-kong yang mendengar kabar Bak I sudah jadi raja, dia mengungsi ke negeri We untuk menumpang di sana. Tetapi sebelum berangkat, datang utusan dari Bak I menyerahkan surat.

”Hamba menduduki takhta kerajaan, menggantikan Tuanku buat menjaga negeri. Sekarang silahkan Tuanku pulang, sebab negeri Song milik Tuanku.”

Raja Song Siang-kong merasa kagum sekali atas kesetiaan Bak I ini. Tidak lama kereta yang indah sudah tersedia, untuk membawa pulang Raja Song Siang-kong ke negeri Song.

Tatkala Raja Song Siang-kong sampai di negrinya, Bak I segera turun dari tahta kerajaan lalu berbaris di tempat menteri-menteri.

Sementara itu Raja Song yang sudah pulang ke negrinya, senantiasa merasa sakit hati kepada Raja Couw. Karena sudah dengan susah payah dia berikhtiar hendak menjagoi di antara para raja, tetapi ternyata dia ditawan oleh Raja Couw. Dia merasa malu dan gemas kepada Raja The yang mengajak semua raja muda mengangkat Raja Couw menjadi kepala perserikatan.

***

Pada tahun Raja Ciu Siang-ong memerintah yang ke-14, di musim Cun bulan tiga, Raja The Bun-kong pergi ke negeri Couw untuk memberi hormat pada Raja Couw seolah kepada Kaisar.

Kabar ini membuat Raja Song Siang-kong sangat marah, dia ingin mengerahkan tentara Song untuk melabrak negeri The yang dianggap merendahkan diri itu.

Tetapi Bak I segera mencegah niat Raja Song ini, karena dia tak setuju.

”Ingat Tuanku, Raja Couw dan Raja The sedang rukun!” kata Bak I. ”Jika Song menyerang Raja The, pasti Raja Couw akan menolongnya. Bila hal ini terjadi, hamba khawatir kita akan kalah. Lebih baik Tuanku renungkan kembali dengan bijaksana sambil menunggu datangnya kesempatan yang tepat.”

Kong-sun Kouw juga mencegah dan menasehati seperti Bak I. Song Siang-kong yang sudah sering membuktikan kepandaian Bak I, dan Kong-sun Kouw, tetapi dia tidak mau mendengarkan nasehat mereka.

”Jika kalian tidak setuju, biar aku yang memimpin sendiri berperang!” kata Raja Song.

Melihat kemarahan Song Siang-kong, tanpa banyak bicara Kong-sun Kouw mengeluarkan tentara untuk menyerang negeri The. Song Siang-kong memimpin pasukan perang bagian tengah, dibantu oleh Kong-sun Kouw. Sedangkan Gak Pok I, Hoa Siu Lo, Pangeran Tong memimpin pasukan depan dan belakang.

Tetapi gerakan tentara Song ini segera dilaporkan oleh mata-mata dari negeri The pada Raja The Bun-kong.

Raja The terkejut mendengar tentara Song menyerang negaranya. Dengan terburu-buru dia

menyuruh orang untuk minta pertolongan kepada Raja Couw. Raja Couw Seng-ong

mengumpulkan menteri-menterinya.

”Raja The sangat hormat kepada kita, maka itu kita harus menolongnya.” kata Raja Couw.

”Daripada kita menolong Raja The, lebih baik kita sendiri menyerang ke negeri Song,” kata Seng Tek Sin mengajukan usul.

”Kenapa?”

”Sebab Raja Song tanpa menyadari kekuatannya, telah mengerahkan pasukan besar untuk menyerang negeri The. Dengan demikian negrinya pasti kosong. Apabila kita serang negrinya yang kosong itu, pasti orang-orang yang ada di dalam negeri jadi ketakutan. Jadi tanpa harus berperang lagi kita akan menang. Bila Raja Song yang pulang hendak menolong negerinya, tentaranya pasti sudah lelah dalam perjalanan. Dengan demikian tentara kita yang masih segar, akan mampu mengalahkan tentara Song yang sudah lelah itu dengan gampang. Dan

pasti kita akan mendapatkan kemenangan!”

Raja Couw Seng-ong setuju pada usul Seng Tek Sin, dia segera mengangkat Seng Tek Sin menjadi komandan perang. Touw Put menjadi pembantunya. Angkatan perang Couw segera berangkat akan menyerang ke negeri Song.

Saat itu Raja Song Siang-kong belum memaklumkan perang pada Raja The, dia mendapat laporan bahwa Raja Couw menyerang ke negeri Song. Mendengar laporan itu Raja Song kaget. Dia segera memimpin tentaranya pulang untuk menolong negaranya. Setiba di sana dia mendirikan pesanggrahan di tepi Selatan sungai Hong-sui untuk menangkis serangan tentara Couw.

Seng Tek Sin memerintahkan orang untuk membawa surat tantangan. Kong-sun Kouw mengajukan saran pada Raja Song.

”Kedatangan tentara Couw kemari, maksudnya hendak membantu Raja The. Jika The tidak jadi kita serang, lalu Tuanku minta maaf pada Raja Couw, pasti Raja Couw akan menarik mundur pasukannya dan tidak terjadi berperang.” kata Kong-sun Kouw. ”Dulu Raja Cee Hoan-kong mengerahkan angkatan perangnya menyerang ke negeri Couw,”

kata Raja Song Siang-kong dengan tidak senang, ”Sekarang orang Couw malah menyerang kita. Kalau aku tidak melayaninya, bagaimana mungkin aku bisa meneruskan pekerjaan Raja Cee Hoan-kong?”

”Tapi pasukan perang kita tidak seperti tentara Couw yang masih gagah,” kata Kong-sun

Kouw. ”Bisa dikatakan tentara Song takut kepada tentara Couw. Mereka takut seperti takut pada harimau, jadi bagaimana mungkin kita berharap akan memenangkan peperangan ini?”

”Walau pun Raja Couw dan tentaranya sangat kuat, tapi Raja Couw tidak bijaksana. ” kata Raja Song. ”Sebaliknya aku, sekalipun tentaraku sedikit, tetapi aku bijaksana.”

Sesudah itu Raja Song membalas surat tantangan perang. Dalam surat itu dia menantang

perang di Hong-yang. Ketika itu dua pasukan perang sudah saling berhadapan. Kong-sun Kouw mengusulkan pada Raja Song agar segera menyiapkan pasukan. Tetapi Raja Song santai saja. Ketika tentara Couw sudah menyeberangi sungai, Kong-sun Kouw kembali mengajukan usul supaya menyerang musuh.

”Tunggu sampai mereka menyerang semua!” kata Raja Song.

”Seharusnya dalam ilmu perang, tentara Couw harus menyeberang pada malam hari.

Maksudnya supaya kita tidak mengetahui gerakannya,” kata Kong-sun Kouw. ”Kali ini

ternyata mereka menyeberang sesudah fajar menyingsing, itu berarti mereka sangat menghina kita. Saat mereka sedang menyeberangi sungai dan tentara nereka baru separuhnya yang menyeberang, mereka harus kita serang! Ini saat yang sangat baik! Dengan demikian kita pasti akan mendapat kemenangan. Apabila kita menunggu sampai tentara mereka sudah menyeberangi sungai semua, maka karena jumlah tentara Couw lebih banyak dari tentara kita yang sedikit, aku khawatir kita tidak akan sanggup melawan mereka.”

Raja Song Siang-kong segera menunjuk ke bendera besarnya sambil berkata, ”Coba kau lihat dua huruf ”Jin Gi” itu! Sudah berkali-kali aku jelaskan kepadamu, bahwa aku hendak berpegang teguh pada kebajikan dan budi! Apakah kau masih belum juga mengerti? Apalagi

pasukanku yang gagah dan banyak. Lagipula di mana ada peraturan musuh baru menyeberang separuh sudah diserang!”

Mengetahui rajanya tidak bisa dinasehati, Kong-sun Kouw jadi kesal hatinya.

Tidak berapa lama tentara Couw pun sudah menyeberang semuanya. Terlihat Seng Tek Sin sedang mengatur tentaranya. Melihat hal itu Kong-sun Kouw kembali menasehati Raja Song Siang-kong.

”Panglima Couw sedang mengatur pasukannya dan belum rapi benar, segera bunyikan tambur tanda berperang. Dengan demikian musuh akan kacau.”

Raja Song Siang-kong meludahi muka Kong-sun Kouw. Dengan marah dia berkata, ”Kau sungguh licik! Apa kau akan menang dengan kelicikanmu, tetapi kau lupa, perbuatanmu itu akan merusak nama kita!”

Mendengar jawaban itu bukan main mendongkolnya Kong-sun Kouw. Sekarang tentara Couw sudah ada di seberang, sehingga membuat tentara Song merasa jerih.

Baru Raja Song Siang-kong memerintahkan membunyikan tambur tanda berperang. Tetapi hal ini disambut oleh pasukan Couw dengan hebat. Raja Song maju sambil memegang tombak panjang, mengajak Pangeran Tong, Hiang Cu Siu, kedua panglima perangnya itu, maju menyerang pasukan Couw.

Melihat kedatangan musuh begitu buas, diam-diam Seng Tek Sin mengeluarkan perintah agar membiarkan musuh maju terus ke dalam pasukannya. Tetapi yang diincar untuk masuk cuma Raja Song Siang-kong dan satu pasukan perangnya saja. Sedangkan Kong-sun Kouw yang mengikuti Raja Song Siang-kong berada di belakang.

Setelah Raja Song Siang-kong menyerang masuk ke tengah pasukan musuh, mereka bertemu

dengan Touw Put, Kong-sun Kouw maju ke depan rajanya menghadapi musuh. Touw Put dan Kong-sun Touw pun bertarung hebat.

Tidak lama Gak Pok I dari pihak Song datang, tetapi dia dihadapi oleh Kui Lu Si.

Ketika Kong-sun Kouw sudah agak terdesak segera dia kabur ke tengah pasukan Couw. Touw Put mengangkat goloknya dan mengejar Kong-sun Kouw. Tetapi panglima Song yang bernama Hoa Siu Lo datang ke tempat itu, mereka jadi bertempur hebat.

Kong-sun Kouw tidak melihat Raja Song di sekitarnya, dia mencoba mencarinya. Tetapi sia- sia. Dia maju terus tetapi dihadang oleh tentara Couw yang menyemut banyak sekali. Dia segera maju terus, dan bertemu dengan panglima Song bernama Hiang Cu Siu yang mukanya berlumuran darah.

”Su-ma lekas tolongi Cu-kong kita!” teriak panglima Song itu.

Kong-sun Kouw dan Hiang Cu Siu menyerang masuk ke dalam kepungan musuh yang berlapis-lapis itu. Di sana dia melihat tentara Song banyak yang terluka berat, tetapi mereka tidak mau mundur.Melihat Kong-sun Kouw yang gagah perkasa mengamuk, tentara Couw mundur sedikit tidak berani merapat.

Ketika Kong-sun Kouw menoleh ke dalam kereta perang Raja Song, dia melihat Pangeran Tong yang terluka berat, telah rebah di dalam kereta perangnya, sedangkan bendera besar yang terlukis huruf ”Jin Gi”, sudah dirampas oleh musuh. Raja Song Siang-kong juga terluka parah. Paha kanannya terkena panah sehingga urat lututnya putus. Dengan demikian dia tidak bisa bangun untuk berdiri.

Ketika melihat Kong-sun Kouw Pangeran Tong girang sekali.

”Su-ma! Jaga Cu-kong kita baik-baik, aku rasa aku sudah tidak tahan lagi!” kata Pangeran Tong.

Benar saja Pangeran Tong menghembuskan napasnya yang penghabisan. Hati Kong-sun Kouw sangat pilu, buru-buru dia angkat Raja Song Siang-kong ke dalam kereta perangnya. Dengan tubuh sengaja menghalangi Raja Song, dan dengan seluruh kekuatannya Kong-sun Kouw menerjang keluar dari kepungan musuh. Sedang Hiang Cu Siu menjaga di belakang mereka, dibantu oleh tentara Song. Tetapi karena orang Song banyak yang melarikan diri sambil berperang, akhirnya setelah keluar dari kepungan tentara Couw, tentara istana Song itu sudah hampir binasa semuanya. Tepatnya pasukan Song sembilan puluh persen telah binasa oleh musuh.

Ketika Gak Pok I dan Hoa Siu Lo melihat raja mereka sudah terhindar dari bahaya maut mereka pulang.