-->

Lembah Selaksa Bunga Jilid 10

Jilid 10

Siauw Kim merasa terharu bukan main. Sambil mengusap air matanya, ia berkata. “Ah, engkau sungguh seorang yang berbudi mulia dan isterimu juga seorang yang baik sekali, Suheng. Ternyata benar seperti yang diceritakan mendiang Suhu, bahwa Suheng seorang bangsawan tinggi akan tetapi berwatak seorang pendekar sejati.”

“Pangeran...... terimalah hormat dan terima kasih kami!” kata Kakek Lim Bun sambil menjura dengan hormat.

“Cukup, Kakek Lim Bun, tidak perlu memakai banyak peradatan,” kata Sim Tek Kun. “Akan tetapi, Sumoi, aku masih merasa heran dan tidak mengerti, apa maksud mendiang Susiok Kim-gan-liong menyuruh engkau dan kakekmu datang kepadaku. Apa yang dapat kami lakukan untukmu?”

Mendengar pertanyaan ini, Siauw Kim tampak bingung dan ia saling berpandangan dengan kakeknya, lalu dengan suara lirih ia berkata. “Suheng...... Suhu hanya berpesan agar kami menghadap suheng dan......

dan mohon petunjuk dan menolong kami...... ah, saya...... saya tidak tahu harus bilang apa    ”

Kakek Lim Bun segera membantu cucunya. “Pangeran, saya mohon dapat diberi pekerjaan. Pekerjaan apa saja, yang penting kami berdua mendapatkan tempat tinggal dan dapat makan setiap hari ”

Siauw Kim memotong ucapan kakeknya. “Suheng, kami berdua tidak membutuhkan yang berlebihan. Kami hanya butuh pekerjaan yang tetap agar kami berdua tidak perlu lagi merantau tanpa tempat tinggal yang tetap dan minta-minta sumbangan untuk biaya hidup kami sehari-hari. Saya siap untuk membantu keluarga dan rumah tangga Suheng, menjadi pelayan misalnya dan kakek saya juga dapat membantu, menjadi

tukang kebun atau apa saja. Kami tidak takut bekerja keras ”

Semua orang terharu mendengar ucapan gadis yang lugu dan bersemangat itu. Chang Hong Bu yang sejak tadi mendengarkan dengan penuh perhatian merasa kasihan akan tetapi juga kagum.

Baru sekali ini dia bertemu seorang gadis dusun sederhana yang demikian gagah berani, jujur dan bersemangat tinggi menjaga nama dan kehormatannya, juga tidak segan untuk bekerja keras agar dapat menghidupi dirinya sendiri dan kakeknya. Benar-benar seorang gadis yang walaupun belum terlalu tinggi ilmunya, namun sudah memiliki jiwa pendekar!

“Aih, kebetulan sekali!” tiba-tiba Siang Lan berseru. “Hong-moi, sebentar lagi engkau akan membutuhkan bantuan orang yang dapat kaupercaya sepenuhnya. Tiga-empat bulan lagi saja engkau sudah harus menjaga dirimu baik-baik. Bagaimana kalau kalian menerima Siauw Kim membantumu di sini? Adapun kakek Lim Bun tentu saja dapat membantu mengawasi para pelayan di gedung ini!”

Lian Hong tersenyum dan memandang suaminya. “Bagaimana pendapatmu dengan usul Enci Siang Lan, Kun-ko?”

Sim Tek Kun tersenyum. “Terserah kepadamu, aku sih setuju saja dan kurasa Ayah dan Ibu akan menyetujuinya pula.”

Mendengar ini, Siauw Kim dengan girang menjatuhkan diri berlutut lagi di depan Tek Kun dan isterinya. “Terima kasih, Suheng berdua sungguh telah membangkitkan gairah hidup baru kepada kami!”

Kakek Lim Bun juga berlutut, akan tetapi Tek Kun cepat membangunkannya dan Lian Hong juga mengangkat bangun Siauw Kim yang berlutut di depannya.

“Sumoi, kami menerima bantuanmu untuk mengatur rumah tangga di sini dan membantu pekerjaan isteriku, akan tetapi kami tidak suka kalau engkau bersikap sebagai seorang pelayan. Engkau kuterima sebagai Sumoiku, maka kalau engkau bersikap merendahkan diri sebagai seorang pelayan, hal itu berarti merendahkan kehormatanku sebagai Suhengmu. Mengertikah engkau?” kata Sim Tek Kun dengan suara tegas.

“Baik Suheng dan maafkan sikap kami tadi,” kata Siauw Kim.

“Bagus, urusan ini sudah dapat diselesaikan dengan baik. Engkau bekerjalah dengan baik, Siauw Kim, dan kakek Lim Bun, kalian berdua menerima budi kebaikan adikku Ong Lian Hong dan suaminya, maka kuharap kalian berdua mampu membalas budi kebaikan mereka itu dengan menjadi orang-orang yang dapat dipercaya dan setia. Seandainya kelak engkau tidak ingin bekerja di sini, engkau boleh ikut denganku ke Lembah Selaksa Bunga dan membantu aku di sana. Akan tetapi karena lembah Selaksa Bunga merupakan tempat tinggal khusus untuk wanita, maka tentu saja Kakekmu tidak mungkin dapat ikut tinggal di sana.”

Tiba-tiba Siang Lan teringat akan sesuatu dan ia berkata kepada Siauw Kim.

“Siauw Kim, tahukah engkau siapa penolongmu ini?” Ia menuding kepada Chang Hong Bu. Siauw Kim memandang wajah Hong Bu dan menggelengkan kepalanya.

“Saya tidak berani menanyakan nama In-kong,” katanya lirih.

“Ketahuilah bahwa dia ini bernama Chang Hong Bu, pendekar muda murid Siauw-lim-pai yang amat lihai dan dia adalah keponakan dari Jenderal Chang Ku Cing yang terkenal.”

Mendengar ini, Siauw Kim terkejut sekali dan cepat ia memberi hormat sambil menjura kepada pemuda yang amat dikaguminya itu.

“Maaf kalau saya bersikap kurang hormat kepadamu, Chang In-kong!”

Disebut Chang In-kong (Tuan Penolong Chang) Hong Bu menjadi merah mukanya dan dia cepat berkata.

“Nona, jangan sebut aku In-kong karena bukan aku saja yang tadi mengusir tiga orang jahat itu, akan tetapi terutama sekali Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan dan Adik Ong Lian Hong. Pula tentu sebagai murid Kun-lun- pai engkau juga mengetahui bahwa menentang orang-orang jahat merupakan kewajiban bagi seorang murid perguruan silat yang baik. Jadi, dalam peristiwa tadi tidak ada hutang budi maupun tuan penolong.”

“Terima kasih dan maafkan saya, Chang Tai-hiap,” kata Siauw Kim. Dengan hati merasa bahagia sekali Siauw Kim lalu dengan rajin mulai membantu pekerjaan rumah tangga di gedung Pangeran Sim Liok Ong. Pangeran itu dan isterinya menerima Siauw Kim dan kakeknya dengan senang hati karena dua orang itu sungguh merupakan orang-orang yang tahu diri dan rajin bekerja.

Malam itu, Nyo Siang Lan tak dapat tidur. Ia gelisah rebah di atas pembaringan dalam kamarnya, memikirkan tentang dirinya. Ia sungguh merasa bingung dan gelisah. Keadaan dirinya sendiri sudah ternoda dan ia merasa dirinya tidak berharga dan membawa aib.

Ia merasa benar bahwa Chang Hong Bu jatuh cinta kepadanya. Rasanya tidak akan sukar untuk jatuh cinta kepada seorang pendekar muda seperti Chang Hong Bu. Masih muda, gagah dan tampan, keponakan seorang jenderal besar yang terkenal bijaksana dan pandai, memiliki ilmu silat yang cukup tinggi. Ah, tidak banyak pemuda sehebat Hong Bu.

Ia merasa kagum dan suka kepada pemuda yang sopan itu. Akan tetapi cinta? Ia meragukan dirinya sendiri. Rasanya sulit ia dapat jatuh cinta kepada seorang laki-laki setelah ia menjadi korban kebuasan dan kekejian laki-laki, yaitu Thian-te Mo-ong!

Tiba-tiba wajah Bu-beng-cu terbayang depan matanya. Wajah seorang laki-laki yang matang dan sudah dewasa benar. Usia Bu-beng-cu tentu sudah sekitar empatpuluh empat tahun. Wajah yang lembut penuh pengertian, sinar mata yang mengandung kebijaksanaan dan senyumnya yang penuh kesabaran.

Kepada Bu-beng-cu ia menaruh kepercayaan besar sekali, bahkan Bu-beng-cu merupakan satu-satunya orang di samping Kui Li Ai yang telah ia ceritakan tentang dirinya yang sudah dinodai orang. Dan apa kata Bu-beng-cu? Bahwa kalau dapat ia harus memaafkan pemerkosanya atau kalau tidak dapat mengampuninya, bunuh saja!

Siang Lan terkenang akan pengalamannya yang aneh. Ketika dia ditangkap Hoat Hwa Cin-jin dan nyaris diperkosa orang lagi, muncul Bu-beng-cu menyelamatkannya bahkan ia berhasil membunuh Hoat Hwa Cin- jin. Pada saat itu, rasa haru dan juga lega karena terhindar dari nasib diperkosa orang lagi, ia merangkul gurunya dan pada saat itulah ia merasa betapa perasaan hatinya dekat sekali dengan Bu-beng-cu.

Baru ia menyadari bahwa tanpa ia ketahui ia telah jatuh cinta kepada Bu-beng-cu. Sungguh aneh dan mengherankan hatinya. Mengapa bertemu dengan pemuda-pemuda yang tampan dan gagah perkasa ia tidak jatuh cinta? Bahkan cintanya kepada Sim Tek Kun dahulu tidaklah sedalam apa yang ia rasakan terhadap Bu-beng-cu! Apakah karena laki-laki itu teramat baik kepadanya, berkali-kali membela dan menolongnya, melindunginya bahkan dengan sungguh-sungguh menurunkan ilmu-ilmunya kepadanya agar kelak dapat membalas dendam sakit hatinya kepada Thian-te Mo-ong?

Ia sendiri tidak tahu. Akan tetapi awan gelap menyelubungi hati gadis itu ketika ia teringat betapa sikap Bu- beng-cu seolah tidak menyambut cintanya! Hal ini memang juga dapat diterimanya karena bagaimana mungkin seorang gadis yang sudah ternoda seperti dirinya pantas menjadi pasangan hidup seorang pendekar besar yang bijaksana seperti Bu-beng-cu?

Siang Lan teringat lagi kepada Chang Hong Bu. Tidak, ia tidak akan membiarkan dirinya terjerat cinta dengan pemuda itu! Tidak mungkin! Kalau ia menerima dan membalas cinta pemuda itu, ia harus bersikap jujur, harus berani mengaku kepadanya bahwa dirinya bukan perawan lagi, bahwa ia telah diperkosa seorang penjahat.

Dan ia sudah dapat membayangkan. Bibir pemuda yang murah senyum itu akan berjebi mengejeknya, sedangkan matanya yang bersinar tajam berwibawa itu tentu akan memandang rendah! Ah, kalau sampai demikian, ia tentu akan berubah amat membenci pemuda itu! Ah, tidak! Lebih baik ia tidak melibatkan diri dalam cinta dengan seorang laki-laki. Ia sudah tidak layak untuk menjadi isteri orang karena tidak akan tahan melihat suaminya kelak memandang rendah dan hina kepadanya!

Ia lalu teringat akan Siauw Kim! Gadis itu jauh lebih layak menjadi jodoh Chang Hong Bu. Biarpun gadis itu seorang gadis dusun namun ia memiliki watak gagah seorang pendekar tabah dan berani menjaga kehormatannya yang lebih dihargainya daripada nyawa. Dan ia melihat sinar mata penuh kagum dari sepasang mata gadis itu kepada Chang Hong Bu!

Lebih baik ia segera kembali ke Lembah Selaksa Bunga. Mendadak saja hatinya merasa rindu kepada gurunya? Bu-beng-cu, gurunya pernah mengatakan bahwa setahun lagi belajar dengan tekun, ia pasti akan mampu menandingi Thian-te Mo-ong!

Baru sekarang ia merasa betapa setelah berada di kota raja, jauh dari Bu-beng-cu, ia merasa kehilangan dan hidupnya terasa tidak lengkap! Dengan pikiran mengambil keputusan ini akhirnya Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan dapat tidur pulas. Malam hari itu terjadi peristiwa yang penting di istana Pangeran Bouw Ji Kong. Pangeran itu telah menyuruh para datuk yang membantunya, yaitu Hongbacu tokoh Mancu, Tarmalan tokoh suku bangsa Hui, dan Hwa Hwa Hoat-su datuk Pek-lian-kauw, untuk sementara keluar dari kota raja dan bersembunyi.

Sejak malam itu, Pangeran Bouw Ji Kong lebih banyak termenung dalam kamarnya dalam keadaan murung. Dia melihat betapa perkembangan usahanya untuk merebut tahta kerajaan tidak berjalan mulus. Pihak pemerintah terlampau kuat, bukan saja di sana ada Jenderal Chang Ku Cing yang gagah perkasa dan pandai, juga masih ada Menteri Yang Ting Ho yang bijaksana dan yang merupakan pembantu terpercaya dari kaisar Wan Li selain itu juga dihormati dan disegani para pejabat tinggi.

Bukan kenyataan ini saja yang membuat hati pangeran Bouw Ji Kong menjadi risau, akan tetapi juga melihat betapa para sekutunya dari Mancu dan Pek-lian-kauw, terutama sekali para pendukungnya, merupakan orang-orang yang memerasnya. Banyak sekali permintaan mereka berupa uang dan harta benda lain sehingga dia sudah mengeluarkan banyak harta simpanannya untuk menyenangkan hati mereka agar mereka tetap mendukungnya.

Adapun hal yang paling menyakitkan hatinya adalah lenyapnya putera tunggalnya, Bouw Cu An! Puteranya hanya seorang itu, anak-anaknya yang lain adalah perempuan. Tentu saja dia merasa amat sayang kepada puteranya itu yang sejak kecil sudah dia panggilkan ahli-ahli sastra dan tata negara, dia persiapkan agar kelak puteranya itu pantas menjadi seorang pangeran mahkota calon kaisar! Bahkan juga puteranya telah dilatih ilmu silat yang cukup memadai.

Biarpun akhirnya Bouw Cu An memperlihatkan sikap menentangnya dalam urusan melaksanakan rencananya merebut tahta kerajaan, namun kemarahannya kepada puteranya hanyalah di luarnya saja agar terlihat oleh para pendukungnya. Di dalam hatinya, tetap saja ayah ini amat sayang kepada puteranya. Maka, mendengar laporan Hongbacu bahwa puteranya telah diculik Ouw-yang Sianjin dan sampai sekarang belum juga dapat ditemukan, hati pangeran Bouw Ji Kong menjadi gelisah sekali. Dia melihat rencana pemberontakannya, selain kurang maju perkembangannya, juga amat merugikannya.

Tentu saja selama ini, tindakan dan rencana pemberontakan Pangeran Bouw Ji Kong dia anggap sebagai “perjuangan”, demi rakyat demi mengubah pemerintah sang korup menjadi pemerintah yang bersih, dan sebagainya yang muluk-muluk lagi. Akan tetapi sesungguhnya, Pangeran Bouw Ji Kong mempunyai jiwa dan watak pedagang! Watak pedagang membuat dia dalam segala tindakannya mendasari dengan untung rugi.

Kalau tindakannya itu menguntungkan, hal ini memperkuat semangatnya untuk melanjutkan apa yang dia perjuangkan, akan tetapi kalau kenyataannya merugikan, dia kehilangan semangat dan mulai memikirkan tindakan apa yang harus dia lakukan untuk menghindarkan dirinya dari kerugian. Pemimpin seperti ini, dan sebagian terbesar seperti yang tercatat dalam sejarah memang demikian, selalu akan mabok kemenangan dan menyelam ke dalam lautan kesenangan kalau usahanya berhasil, melupakan rakyat yang tadinya dijadikan tulang punggung untuk mendukung “perjuangannya”.

Malam yang dingin itu Pangeran Bouw Ji Kong duduk termenung seorang diri di dalam kamarnya, tidak dapat tidur memikirkan kegagalannya, terutama sekali dengan hati rindu dan sedih memikirkan puteranya yang hilang. Semua penghiburan yang diberikan isteri dan para selir ditolaknya dan dia malam itu tidak mau diganggu, duduk termenung seorang diri dalam kamarnya yang besar. Angin malam yang berhembus memasuki kamar melalui celah-celah dinding bagian atas membawa hawa dingin menyusup tulang.

Tiba-tiba daun jendela kamar itu terkuak dari luar, menimbulkan suara berderit. Pangeran Bouw Ji Kong terkejut dari lamunannya, menoleh ke arah jendela dan cepat dia melompat berdiri sambil menyambar pedang yang diletakkan di atas mejanya. Pangeran ini memang memiliki ilmu silat yang cukup tangguh dan ilmu silatnya itulah yang pernah dia ajarkan pula kepada Bouw Cu An, putera tunggalnya. Jendela itu terbuka dan sesosok tubuh melayang memasuki kamar.

Pangeran Bouw Ji Kong siap untuk menyerang, akan tetapi pemuda yang telah berada di depannya itu tiba- tiba menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Sang Pangeran.

“Ayah !”

Pedang yang sudah diangkatnya itu turun kembali dan bahkan dilemparnya di atas meja. Dalam suaranya terkandung kemarahan dan kerinduan serta kegembiraan sekaligus.

“Cu An ! Ke mana saja selama ini engkau pergi?”

“Maafkan saya, Ayah. Selama ini saya memperdalam ilmu silat saya. Maafkan saya yang pergi tanpa pamit kepada Ayah.” “Tidak perlu minta maaf, Anakku. Bangkit dan duduklah, dan ceritakan apa yang terjadi! Apakah pendeta jahanam itu yang telah menculikmu, tidak mengganggumu?”

Bouw Cu An bangkit, duduk di depan ayahnya dan memandang dengan mata terbelalak heran. “Pendeta jahanam yang menculik saya, Ayah? Apa dan siapa yang Ayah maksudkan?”

“Siapa lagi kalau bukan pendeta jahat Ouw-yang Sianjin yang telah menculikmu!”

Cu An menjadi semakin heran. “Ayah, darimana Ayah mendengar bahwa saya diculik oleh Ouw-yang Sianjin?”

“Ketika malam itu engkau pergi, Hongbacu datuk Mancu itu mengejarmu dan dialah yang melaporkan bahwa engkau diculik Ouw-yang Sianjin dan dia tidak berhasil menolongmu.”

“Aduh! Makin ketahuan sekarang betapa Ayah telah bekerja sama dengan orang-orang jahat. Hongbacu menolong saya? Ayah telah dibohongi dan ditipu. Hongbacu bukan menolong saya melainkan mencoba untuk membunuh saya!”

“Hahh......?” Pangeran Bouw Ji Kong terbelalak. “Benarkah? Apa...... apa yang terjadi, Cu An    ?”

“Ayah agaknya telah mendengarkan fakta yang diputarbalikkan. Begini kejadiannya, Ayah. Malam itu saya merasa kesal dan terus terang saya tidak dapat menyetujui rencana Ayah hendak merebut tahta kerajaan, apalagi Ayah bersekutu dengan orang-orang Mancu dan perkumpulan-perkumpulan pemberontak jahat seperti Pek-lian-kauw, Ngo-lian-kauw dan lain-lain. Karena hati saya kesal dan tidak setuju, maka malam itu saya meninggalkan rumah ini dengan hati sedih.

“Tiba-tiba muncul Hongbacu yang hendak membunuh saya karena saya dianggap merintangi niat Mancu untuk memanfaatkan Ayah dan merebut tahta kerajaan. Saya tentu sudah mati karena tidak mampu melawan Hongbacu, kalau saja pada saat itu tidak muncul Suhu Ouw-yang Sianjin. Dialah yang telah menyelamatkan saya, mengalahkan dan membuat Hongbacu melarikan diri. Sungguh saya tidak mengerti, mengapa Ayah begitu tega untuk menyuruh Hongbacu membunuh saya, Ayah......” Suara pemuda itu mengandung isak kesedihan.

“Ah, tidak......! Sama sekali tidak, Cu An! Aku sama sekali tidak menyuruh untuk membunuhmu, hanya menyuruh dia memanggilmu kembali. Dia kembali dan mengatakan bahwa engkau diculik Ouw-yang Sianjin ”

“Karena saya mengira bahwa Ayah benar-benar tega untuk menyuruh membunuh saya, maka saya tidak berani pulang dan saya lalu ikut Suhu Ouw-yang Sianjin, memperdalam ilmu silat saya.”

Pangeran Bouw Ji Kong mengepal tangan kanannya. “Keparat busuk Hongbacu! Dia membohongiku! Berani dia hendak membunuh puteraku!” Sang Pangeran yang marah itu merasa tidak terdaya karena pada saat itu Hongbacu tidak berada di situ, sudah menyembunyikan diri keluar kota raja menanti berita darinya. “Sekarang engkau pulang, lalu apa kehendakmu, Cu An?”

“Ayah, setelah saya menjadi murid Ouw-yang Sianjin, saya semakin menyadari bahwa Ayah telah mengambil jalan yang keliru sama sekali. Saya pulang ini untuk menyadarkan Ayah. Orang-orang yang mendukung niat Ayah memberontak itu semua bukan orang baik-baik dan mereka itu hanya ingin membonceng dan memanfaatkan Ayah demi keuntungan mereka sendiri. Harap Ayah menyadari benar hal ini.”

Tiba-tiba terdengar suara lembut dari luar kamar itu, suara lembut namun beribawa dan terdengar jelas seolah pembicaranya berada di dalam kamar itu. “Semua yang diucapkan Bouw Cu An itu benar dan bijaksana. Masih belum terlambat bagi orang yang bertindak salah untuk memperbaiki tindakannya! Mengubah langkah dan bertaubat sebelum terlambat, itulah tindakan yang bijaksana.”

“Suhu     ” kata Bouw Cu An lirih.

Pangeran Bouw Ji Kong menoleh ke arah jendela yang masih terbuka. Wajahnya agak pucat ketika mendengar bahwa Ouw-yang Sianjin berada di luar kamarnya. Tentu saja anggapan bahwa Ouw-yang Sianjin merupakan seorang musuh yang berbahaya masih menguasai perasaannya. Akan tetapi dia percaya kepada puteranya, maka dia berseru ke arah jendela.

“Ouw-yang Sianjin, kalau engkau sudah berada di sini, masuklah dan beri penjelasan kepada kami!” 12.34. Pencerahan Bagi Pangeran Bouw

Sesosok bayangan yang ringan dan cepat berkelebat. Ouw-yang Sianjin sudah berada dalam kamar itu, berdiri menghadap Pangeran Bouw Ji Kong dan mengangkat kedua tangan depan dada sebagai penghormatan.

Pangeran Bouw melihat seorang berpakaian sebagai tosu, pakaian sederhana serba kuning, usianya sekitar empatpuluh delapan tahun, bertubuh tinggi kurus dan punggungnya tergantung sebatang pedang terbuat dari bambu! Tosu sederhana namun sikapnya lembut dan berwibawa. Dia segera bangkit berdiri dan membalas penghormatan tosu itu.

“Pangeran, maafkan kalau pinto datang tanpa diundang karena pinto memenuhi permintaan puteramu, Bouw Cu An.” kata Ouw-yang Sianjin.

“Duduklah, Totiang. Kami senang Totiang suka datang ke sini karena pada saat ini kami membutuhkan penjelasan. Semua orang sudah mengetahui bahwa jalan yang kita ambil masing-masing tidak sama bahkan berlawanan, akan tetapi mengapa Totiang menolong putera kami dan suka datang ke sini malam ini?”

Ouw-yang Sianjin duduk berhadapan dengan Pangeran Bouw dan Bouw Cu An. “Pangeran, pinto menjadi saksi akan kebenaran apa yang diceritakan puteramu Bouw Cu An tadi. Secara kebetulan dan agaknya Yang Maha Kuasa sudah menentukan demikian. Pada malam itu pinto (saya) melihat puteramu sedang diserang dan akan dibunuh oleh Hongbacu tokoh Mancu itu. Pinto segera turun tangan membelanya dan berhasil menggagalkan usaha Hongbacu yang jahat itu dan mengusirnya.

“Pada waktu itu juga, pinto minta kepada Bouw Cu An untuk kembali ke rumah orang tuanya, akan tetapi dia tidak mau pulang dan ingin memperdalam ilmu silatnya, juga menceritakan tentang cita-cita Pangeran yang ditentangnya. Nah, hari ini, dia pulang dan minta kepada pinto untuk membantu dia menyadarkan Pangeran agar kembali ke jalan benar.”

Pangeran Bouw Ji Kong yang tadinya mengalami kekecewaan, bahkan kemerosotan semangat itu kini menatap wajah tosu itu dengan penuh selidik.

“Totiang, engkau mengatakan hendak menyadarkan kami agar kami kembali ke ja1an benar? Hemm, dalam hal apakah totiang menganggap kami melalui jalan yang salah? Anak kami mungkin belum mengetahui benar akan keadaan pemerintah dan bangsa, maka dia bisa menyalahkan kami. Akan tetapi Totiang adalah seorang yang berpengalaman. Bagaimana totiang dapat menganggap bahwa kami salah jalan?”

“Siancai, agaknya Pangeran mendasarkan sikap dan perbuatan Pangeran kepada apa yang dianggap benar! Pangeran, dipandang dari sudut mana pun, perbuatan kekerasan dengan maksud untuk mengadakan pemberontakan jelas perbuatan yang salah sama sekali. Yang sudah jelas Pangeran adalah anggauta keluarga dekat Sribaginda Kaisar, bahkan telah diberi kedudukan tinggi dan terhormat sebagai penasihat Kaisar di bidang hubungan dengan luar negeri. Maka, pemberontakan yang Paduka lakukan itu merupakan suatu pengkhianatan terhadap pemerintah dan keluarga sendiri. Pinto yakin Paduka tidak mau disebut sebagai seorang pengkhianat, bukan?”

Wajah Pangeran Bouw berubah merah dan alisnya yang tebal dikerutkan. “Ouw-yang Sianjin, tahu apa engkau tentang perjuangan? Siapa orang-orang yang telah berkhianat terhadap nusa dan bangsa? Mereka itulah, para penguasa, para pembesar dan pejabat tinggi, yang melakukan kecurangan, korupsi, mencuri uang negara, menindas rakyat untuk memperkaya diri sendiri, mereka adalah pengkhianat-pengkhianat bangsa dan negara.

“Kalau sekarang ada orang yang berusaha untuk menghancurkan mereka dan mengubah keadaan, mendirikan pemerintahan yang sehat dan bersih, yang dikelola para pejabat yang benar-benar berjiwa patriot yang lebih mementingkan kesejahteraan bangsa daripada kemakmuran diri sendiri dan keluarganya, bukankah hal itu merupakan perbuatan yang gagah perkasa dan mulia? Orang-orang yang memegang kekuasaan boleh menamakannya pemberontak dan pengkhianat, namun sesungguhnya mereka itu pejuang sejati demi kesejahteraan rakyat dan menentang kelaliman para penguasa!”

Ouw-yang Sianjin tersenyum tenang dan sabar, membiarkan Pangeran itu menumpahkan segala kemarahan hatinya. Setelah Pangeran Bouw Ji Kong berhenti bicara, dia bertanya.

“Sudah cukupkah Pangeran bicara? Pinto akan menjawab semua pernyataan Paduka tadi. Agaknya Paduka hanya memandang dari segi baiknya dan untungnya, akan tetapi lengah bahkan mengabaikan segi buruknya dan kerugiannya bagi rakyat. “Mari kita telaah bersama. Kita mulai dari segi baik dan untungnya sebuah pemberontakan. Kebaikan dan keuntungannya itu hanya baru bayangan dan harapan belaka, yaitu akan terjadi kesejahteraan bagi rakyat kalau: Satu, kalau pemberontakan itu berhasil seperti yang diidamkan, dan dua, kalau kelak para pejabat dari pemerintahan baru benar-benar terdiri dari orang-orang bijaksana yang patriotik dan tidak suka korupsi atau menyeleweng atau lalim mengandalkan kekuasaan mereka! Hanya dua itu keuntungannya, itupun kalau keduanya berhasil seperti yang diharapkan.

“Padahal untuk dapat berhasil bukanlah hal semudah dibicarakan. Pertama, amat sukar untuk mengalahkan pemerintah yang memiliki balatentara kuat, memiliki panglima-panglima lihai seperti Jenderal Chang Ku Cing dan lain-lain, masih dukung para pendekar pula. Harapan menang dalam perebutan tahta kerajaan amatlah tipis.

“Kemudian yang kedua, andaikata pemberontakan berhasil dan dibentuk pemerintahan baru, apakah Paduka kira sudah pasti akan menemukan orang-orang bijaksana yang akan menduduki kursi jabatan? Bagaimana kalau mereka malah lebih berengsek daripada pejabat yang sekarang? Nah, dua segi baik dan untungnya itu masih amat diragukan.

“Sekarang segi buruk dan ruginya yang tidak dapat diraguan lagi pasti timbul. Pertama, kelak nama Paduka akan tercatat dalam sejarah sebagai seorang pemberontak dan anggauta keluarga yang mengkhianati keluarga sendiri. Kedua, dalam perang pemberontakan sudah pasti akan jatuh banyak sekali korban orang- orang yang sama sekali tidak berdosa, perajurit-perajurit biasa yang kalau kalah mereka tewas kalau menangpun mungkin hanya mendapat sekadar pujian kosong belaka.

“Ketiga, kalau terjadi perang maka kehidupan rakyat akan menjadi kacau, para penjahat akan bermunculan untuk mengail di air keruh, melakukan kejahatan tanpa ada yang merintangi karena semua petugas pemerintah sibuk dengan perang. Keempat, Paduka akan menanam bibit permusuhan, dendam- mendendam dan balas-membalas yang tiada hentinya.

“Dan bukan hanya itu, sekarang orang-orang yang mendukung Paduka itu sudah bertindak keji, diam-diam hendak membunuh putera Paduka tanpa setahu Paduka. Nah, pikirkanlah baik-baik, Pangeran, sebelum mengambil keputusan apakah Paduka hendak melanjutkan langkah yang keliru atau tidak.”

“Ouw-yang Sianjin, ingin sekali kami mengetahui, bagaimana sikap para pendeta, pendekar atau tokoh kang-ouw yang mengutamakan keadilan dan kebenaran, bersikap kalau melihat para pimpinan pemerintahan, dari kaisar sampai pejabat tinggi dan rendah, bertindak sewenang-wenang, curang dan korup, tidak adil dan hanya mementingkan kekayaan diri dan keluarganya sendiri? Bagaimana kalian akan bersikap?

“Memberontak tidak baik katamu, lalu apakah kita rakyat ini harus tinggal diam saja, menerima keadaan dengan segala penderitaannya, hanya mengeluh kepada Tuhan dan sama sekali tidak berusaha untuk memperbaiki keadaan? Coba jawab pertanyaanku itu dengan jelas. Totiang!” Suara Pangeran Bouw Ji Kong penuh teguran dan sekaligus tantangan.

Ouw-yang Sianjing tersenyum dan memandang kepada Bouw Cu An. “Cu An. kita sudah membicarakan urusan yang ditanyakan Ayahmu itu secara panjang lebar. Harap engkau saja yang menjawab pertanyaan Ayahmu itu.”

Pangeran Bouw Ji Kong kini menatap wajah puteranya dengan alis berkerut. Dia merasa penasaran akan tetapi juga ingin sekali mengetahui pendapat puteranya yang dianggapnya masih kanak-kanak dan kurang pengalaman.

“Ayah, harap Ayah memaafkan saya kalau jawaban saya dianggap tidak benar dan lancang, akan tetapi sesungguhnya pengertian akan hal ini telah saya bicarakan dengan semasak-masaknya dengan suhu Ouw- yang Sianjin dan saya merasa yakin bahwa semua pendapatnya itu benar. Begini, Ayah, Suhu dan saya, tentu tidak dapat membenarkan kalau para pejabat dari kaisar sampai bawahannya melakukan penindasan, bertindak sewenang-wenang, korup dan bersaing memperkaya diri dan keluarganya sendiri. Juga adalah tidak benar kalau kami sebagai warganegara, terutama para pejabat yang menyadari akan ketidakbenaran itu tinggal diam dan tidak ada usaha untuk mengubahnya.

“Tidak, kita memang harus bertindak! Akan tetapi bukan dengar cara memberontak!

“Kita dapat saja melakukan kritik dan protes, sebagai wakil rakyat yang tidak berani bicara sendiri, dan kita himpun kekuatan suara kita melalui persatuan para pejabat pemerintah yang setia kepada bangsa dan negara. Kalau kita dapat memperlihatkan dengan bukti-bukti bahwa tindakan para pejabat tinggi, terutama Kaisar itu tidak benar, akhirnya Kaisar dan para pembantunya pasti lambat laun akan merasa malu dan sadar. “Kita patut mencontoh sikap Menteri Yang Ting Ho dan Panglima Chang Ku Cing yang bijaksana, adil dan jujur, yang tangannya bersih dari kotoran korupsi dan menyalah-gunakan kekuasaan. Siapakah yang meraguan kesetiaan dan kebijaksanaan mereka?

“Nama mereka kelak pasti akan tercatat dalam sejarah dengan tinta emas, akan menjadi pujaan bangsa sebagai patriot-patriot sejati yang berjuang benar-benar demi kesejahteraan rakyat, bukan untuk menumpuk harta bagi keluarga sendiri atau untuk mengangkat nama dan kekuasaan mereka sendiri. Kalau saja Ayah mau bertindak mencontoh kedua orang pejabat tinggi yang bijaksana itu, saya siap membantu ayah dan rela berkorban nyawa sekalipun.”

Pangeran Bouw Ji Kong termenung, diam-diam dia terharu karena jalan pikiran puteranya itu ternyata membayangkan budi pekerti yang luhur.

“Hemm, kau kira begitu mudahnya? Kurang bagaimana pemerintah mengadakan peraturan dan hukum untuk menjadikan para pembesar itu setia kepada negara dan bangsa, akan tetapi apa buktinya? Mereka bukan berlumba membuat jasa yang baik untuk negara dan bangsa, melainkan berlumba menumpuk kekayaan pribadi!”

“Suhu dan saya mengerti, Ayah. Akan tetapi apa artinya diadakan seribu satu macam peraturan dan hukum kalau semua itu tidak dilaksanakan dengan tertib, bahkan dilanggar sendiri oleh si pembuat hukum? Seolah hukum itu dibuat demi kepentingan mereka yang berkuasa dan diberlakukan kepada rakyat kecil.

“Suhu mengingatkan saya akan apa yang diajarkan Guru Besar Khong Cu dalam Kitab Tiong-yong Pasal 21 ayat 12:

Ada sembilan syarat untuk dapat memimpin negara dan bangsa, yaitu: 1. Memperbaiki diri sendiri lahir batin. 2. Menghargai orang-orang bijaksana dan pandai. 3. Mencinta sanak saudara dan keluarga. 4. Menghargai pejabat-pejabat tinggi. 5. Tenggang rasa terhadap para pejabat biasa. 6. Mencinta rakyat seperti anak sendiri. 7. Mengkaryakan sebanyak mungkin ahli pembangunan. 8. Ramah tamah terhadap para tamu negara. 9. Mengikat hubungan baik dengan negara lain.”

“Hemm, apakah semua itu akan menjamin para pejabat dari yang tinggi sampai yang rendah akan dapat mentaati apa yang dikehendaki pemimpin besar mereka, yaitu Kaisar? Bicara memang mudah, akan tetapi pelaksanaannya tidaklah semudah itu!”

“Suhu dan saya menyadari akan hal itu, Ayah. Memang semua teori itu mudah dan sama sekali tidak ada gunanya kalau tidak dipraktekkan. Akan tetapi kita benar-benar jujur dan ingin menjadi hamba Tuhan, menjadi manusia yang utama, dan kita laksanakan semua teori itu, sudah pasti akan berhasil.

“Sekarang bukan jamannya lagi untuk menjejali rakyat dengan slogan-slogan, dengan pelajaran-pelajaran, dengan hukum-hukum kalau semua itu hanya omongan kosong belaka dan tidak dilaksanakan dengan tertib dari yang paling atas sampai yang paling bawah. Rakyat tidak butuh nasihat tentang kebaikan lagi, melainkan membutuhkan TAULADAN, membutuhkan CONTOH dari mereka yang mengeluarkan slogan, pelajaran, dan nasihat itu.

“Para pimpinan negara merupakan Bapak bagi rakyat dan menjadi suri tauladan. Apa artinya Sang Bapak menasihatkan anak-anaknya untuk hidup sederhana dan hemat kalau Si Bapak sendiri hidupnya serba mewah, royal dan menghamburkan uang? Akan tetapi rakyat sebagai anak melihat Pemimpinnya sebagai bapaknya hidup sederhana, tidak usah disuruh lagi mereka tentu akan hidup sederhana pula! Jadilah tauladan, jangan hanya penasihat tanpa tanggung jawab.

“Kalau seorang pejabat tinggi bertangan bersih, para bawahannya otomatis tidak berani bertangan kotor karena atasannya yang bertangan bersih tentu akan menindaknya. Sang bawahan ini setelah dia sendiri mencontoh atasan bertangan bersih, tentu akan menjaga agar bawahannya sendiri juga bertangan bersih. Demikian pula seterusnya, terus dari atas memberi contoh dan menindak bawahan sehingga petugas yang paling bawah pun disegani rakyat karena bertangan bersih.

“Otomatis rakyat pun akan patuh dan taat karena semua yang dikerjakan pemerintah demi kesejahteraan rakyat, termasuk diri dan keluarga mereka sendiri yang juga sebagian dari rakyat. Akan tetapi kalau atasannya bertangan kotor, bagaimana mungkin dia dapat mencegah bawahannya bermain kotor pula? Bahkan dia akan dijadikan tauladan, tauladan berbuat buruk dan korupsi, oleh bawahannya tanpa dia berani menegur karena dia sendiri bertangan kotor, kemudian bawahannya juga “bertoleransi” kepada bawahannya lagi, demikian terus menurun menjadi budaya korupsi yang turun menurun sampai rakyat menjadi terbiasa dengan keadaan semacam itu. “Maafkan saya, Ayah, pandangan ini bukan sekadar teori, akan tetapi dapat dibuktikan dan dipraktekkan dalam kelompok yang paling kecil seperti sebuah keluarga dalam sebuah rumah tangga. Kalau Sang Ayah menghendaki anak-anaknya tidak menjadi penjudi, apa artinya kalau dia hanya menegur dan marah akan tetapi dia sendiri menjadi penjudi? Bukan teguran atau nasihat yang dibutuhkan sang Anak dari orang tuanya, atau rakyat dan bawahan dari atasannya, melainkan tauladan yang baik!

“Rakyat sudah kenyang bahkan muak dengan slogan-slogan dan petuah-petuah, akan tetapi rakyat rindu akan para pemimpin rakyat yang bersih dan patut dijadikan panutan. Kalau para pemimpin kerajaan bersih dan bijaksana, maka kekayaan negara tidak akan bocor dan digerogoti tikus-tikus berpakaian pembesar sehingga negara menjadi kaya dan kekayaan ini dapat dimanfaatkan demi kemakmuran dan kesejahteraan hidup rakyatnya, di mana dicukupkan sandang pangan papan dari SETIAP warga negara kerajaan ini.

“Alat-alat negara yang bersih dapat bertindak tertib dan melaksanakan semua hukum tanpa pandang bulu, tidak dapat dipengaruhi suap dan hubungan sahabat atau keluarga. Kalau sudah begini, kami kira para pejabat akan kehilangan keberaniannya, apalagi karena mencari sandang pangan papan menjadi mudah. Rakyat akan menjadi senang dan taat kepada pemerintah, dan tidak mungkin lagi ada rakyat yang mau diajak memberontak terhadap pemerintah yang dicinta rakyat karena keadilan dan kebijaksanaannya.”

Mendengar ucapan yang panjang lebar penuh semangat dari puteranya itu, Pangeran Bouw Ji Kong terkagum-kagum dan terheran-heran, akan tetapi dia mulai dapat menangkap intinya yang berlandaskan kepada kebenaran. Ucapan puteranya itu sama sekali bukan didasari perasaan iri, dengki ataupun benci, melainkan membuka kenyataan bukan sekedar teori yang muluk-muluk. Melihat pangeran itu termenung, dengan harapan bahwa pangeran itu akan dapat menyadari kesalahannya, Ouw-yang Sianjin segera berkata dengan suaranya yang lembut penuh kesabaran.

“Pangeran, maafkan puteramu kalau bicaranya terlampau tegas, akan tetapi di jaman seperti ini kita seluruh rakyat hanya menggantungkan harapan kepada kaum mudanya. Hanya para mudanya yang memiliki semangat dan keberanian, memiliki pandangan yang kritis, untuk membawa kita semua keluar dari kemelut keadaan yang tidak sehat ini. Kalau kita orang-orang tua masih berpegang kepada peraturan lama, menjadi lemah dan tidak berdaya, lalu para mudanya juga kehilangan semangat dan hanya mengejar kesenangan dan foya-foya belaka, apa akan jadinya dengan tanah air dan bangsa kita tercinta ini!

“Para arif bijaksana di jaman dahulu berkata bahwa pembangunan di atas segala bidang tidak akan berhasil kecuali kalau pembangunan dasar manusia, yaitu pembangunan jiwanya dilaksanakan lebih dulu sampai berhasil. Manusia yang sudah terbangun jiwanya berarti manusia yang mengenal jati dirinya sebagai mahluk hamba Tuhan yang memiliki tugas di dunia ini, yaitu menyejahterakan dunia dan semua isinya. Jiwanya terbangun kalau seorang manusia selalu dekat dengan Tuhannya, taat dan cinta akan perbuatan bajik dan takut serta pantang akan perbuatan jahat.

“Hanya manusia-manusia yang sudah terbangun jiwanya sajalah yang akan mampu menjadi pemimpin- pemimpin rakyat karena kebajikannya akan menjadi tauladan bagi rakyat. Kalau sudah begitu, kemakmuran bagi suatu bangsa bukan hal yang langka lagi karena bangsa yang sudah terbangun jiwanya pasti dikasihi Tuhan dan apa yang dinamakan kemakmuran adalah suatu keadaan dan perasaan yang merupakan karunia dari Tuhan, tidak mungkin dibuat manusia.”

Mendengar semua ini, tanpa disadarinya kedua mata Pangeran Bouw Ji Kong menjadi kemerahan dan basah air mata. Teringat dia akan semua nafsu keinginan dan perbuatannya, betapa dia sudah bersekutu dengan para golongan sesat pemberontak seperti Pek-lian-kauw dan Ngo-lian-kauw, dengan suku ibunya, yaitu suku Hui, dan bahkan dengan bangsa Mancu yang jelas merupakan musuh dan ancaman bagi kerajaan Beng.

Dia teringat pula betapa dia telah menyuruh bunuh enam orang pejabat tinggi yang sama sekali tidak bersalah, hanya karena mereka adalah orang-orang atau pejabat-pejabat yang setia kepada Kaisar! Dan yang lebih lagi, dia tidak tahu bahwa puteranya sendiri, nyaris dibunuh seorang sekutunya, yaitu Hongbacu datuk Mancu.

Belum tercapai keinginannya, dalam keadaan masih berjuang saja sekutunya dari Mancu sudah tega untuk membohonginya dan hampir membunuh puteranya! Apalagi kalau mereka sudah berhasil, dapat dia bayangkan betapa para sekutunya itu tak dapat diragukan lagi akan saling berebut, memperebutkan hasil pemberontakan mereka! Teringat pula dia bahwa sekarang, kedudukannya sudah terhormat sebagai penasihat Kaisar. Kalau perjuangannya memberontak yang penuh resiko itu gagal, bukan hanya dia yang celaka, melainkan seluruh keluarganya!

Makin dikenang dan dipikir, makin jelas Pangeran Bouw Ji Kong dapat melihat segala isi hati, pikiran, dan semua yang mendorong perbuatannya. Kini dia mulai melihat bahwa semua apa yang dia anggap sebagai “perjuangan” untuk menyejahterakan rakyat dengan mengambil alih tahta kerajaan itu sesungguhnya hanyalah merupakan ambisi pribadi belaka. Nafsu keinginan untuk mendapatkan yang lebih daripada apa yang dimilikinya sekarang, ya kekuasaan, ya kemuliaan, ya harta kekayaan.

Semua ambisi pribadi itu tertutup oleh apa yang dianggapnya sebagai perjuangan suci demi kemakmuran rakyat! Kini dia merasa dirinya seperti ditelanjangi oleh ucapan puteranya sendiri dan Ouw-yang Sianjin. Maka dia teringat akan seorang hwesio yang pernah mengajarkan ilmu silat dan juga tentang budi pekerti kepada dia dan para murid lain.

“Pinceng (aku) tidak ingin melihat murid-muridku menjadi orang-orang pintar, berkuasa, atau kaya raya kalau kalian tidak memiliki kebenaran! Orang pintar yang jiwanya tersesat dan jahat hanya akan menggunakan kepintarannya untuk menipu orang-orang yang bodoh. Orang kuat berkuasa yang tidak benar hanya akan menggunakan kekuatan dam kekuasaannya untuk menindas orang-orang yang lemah. Orang kaya raya yang jahat dan tidak benar hanya akan menggunakan kekayaannya untuk memuaskan nafsu-nafsunya mengejar kesenangan dan menghina orang yang miskin.

“Pinceng hanya menginginkan murid-murid yang menjadi orang-orang benar! Orang-orang yang benar, berjiwa bersih, baik budi, hatinya penuh dengan rasa cinta sesama dan berbelas kasihan, baik dia itu miskin atau kaya, bodoh atau pintar, kuat kuasa atau lemah, orang yang begini adalah kekasih Yang Maha Kuasa. Semua prilaku dan tindakannya mendatangkan berkat bagi sesama dan dialah yang pantas menjadi pembantu dan penyalur berkat Tuhan, dan hanya orang-orang begini yang berhasil sebagai manusia dan selalu disinari kebahagiaan.”

12.35. Siapa Penculik Kaisar Beng?

Demikianlah antara lain hwesio yang menjadi gurunya itu berkata. Dan dia telah membuktikan bahwa dia sama sekali tidak termasuk orang-orang yang seperti dikehendaki gurunya itu! Dia penuh keinginan, penuh ambisi dan untuk mencapai keinginan itu, dia tidak pantang menggunakan cara apa pun, bahkan cara yang jahat!

Bouw Cu An diam saja dan hanya memandang ayahnya yang menutupi muka dengan kedua tangan itu. Ayahnya menangis! Dia merasa terharu akan tetapi juga lega. Tangis ayahnya itu mungkin sekali timbul dari penyesalan dan mudah-mudahan ayahnya akan sadar bahwa pemberontakan itu adalah salah!

Ouw-yang Sianjin tersenyum dan dia duduk bersila di atas kursi sambil memejamkan kedua mata. Tosu ini melakukan samadhi sambil menanti tuan rumah memulihkan gejolak hatinya.

Baru setelah menjelang pagi, Pangeran Bouw Ji Kong menurunkan kedua tangannya. Dia menggunakan ujung lengan baju mengusap sisa air mata yang membasahi kedua pipinya, lalu dia menoleh dan memandang Bouw Cu An yang masih duduk menunggui ayahnya.

“Ayah!” Pemuda itu memanggil dengan lirih. Mendengar ini, Ouw-yang Sianjin juga membuka matanya dan memandang kepada pangeran itu.

Pangeran Bouw Ji Kong kini berkata kepada mereka dengan suara serak dan lirih.

“Ouw-yang Sianjin dan Cu An, sekarang aku menyadari akan semua kekeliruanku dan aku merasa menyesal sekali telah menuruti hati yang dipenuhi iri dan nafsu kemurkaan. Sekarang, beritahu aku, apa yang seharusnya kulakukan?”

“Ayah, saya tidak berani memberi nasihat kepada Ayah. Sebaiknya Suhu Ouw-yang Sianjin yang menjawab pertanyaan Ayah itu ” kata pemuda itu dengan suara terharu karena dia merasa lega dan girang bahwa

akhirnya ayahnya dapat menyadari kesalahannya.

“Siancai! Apa yang sepatutnya dilakukan oleh seorang yang telah menyadari akan kekeliruannya? Pinto kira hanya dua, yaitu pertama menghentikan perbuatan yang keliru itu dan bertaubat.”

“Bertaubat dengan cara bagaimana?” tanya Pangeran Bouw Ji Kong.

“Pangeran, Paduka bersalah terhadap Sribaginda Kaisar, maka sewajarnyalah kalau Paduka bertaubat dengan pengakuan kesalahan di depan Sribaginda dan mohon pengampunan,” kata pula pendeta itu.

Pangeran Bouw Ji Kong mengerutkan alisnya lalu menggelengkan kepalanya. “Tidak, Totiang, itu terlalu mudah bagiku, terlalu ringan bagi kesalahanku yang besar. Kalau aku hanya mohon pengampunan, andaikata Kaisar mengampuniku, juga namaku akan tercoreng dalam sejarah dan rakyat akan mengutuk namaku. Aku harus melakukan aksi balik yang tepat untuk menebus kesalahanku dan aku hanya dapat mengharapkan Totiang untuk membantu rencanaku sehingga akan berhasil baik.”

“Apa yang Paduka maksudkan, Pangeran?”

“Begini, Totiang. Kesesatanku telah mengakibatkan jatuhnya korban. Aku harus membalas semua kejahatan yang dilakukan para sekutuku itu atas rencanaku yang jahat. Maka, aku ingin menjebak mereka, mengundang mereka berkumpul kemudian engkau dan Cu An mengatur dan mengumpulkan para pendekar, juga para panglima dan pasukannya dan tentu saja engkau dapat minta bantuan Panglima Chang Ku Cing untuk keperluan itu.

“Nah, setelah aku berhasil membasmi mereka yang tadinya bersekutu denganku, para pengkhianat yang sama dengan aku, orang-orang Pek-lian-kauw, wakil Mancu, dan suku Hui, barulah aku akan menyerah dan akan menerima hukuman apa pun yang dijatuhkan kaisar kepadaku. Dengan demikian, setidaknya aku telah melakukan sesuatu untuk menghancurkan mereka yang memusuhi kerajaan. Aku tidak takut namaku sendiri kotor karena memang apa yang kulakukan itu salah, akan tetapi aku merasa sedih kalau sampai nama keturunanku menjadi ternoda karenanya.”

Ouw-yang Sianjin mengangguk-angguk dan dapat menerima usul itu. Demikianlah, Pangeran Bouw Ji Kong mengajak Ouw-yang Sianjin berunding dan mengatur rencana untuk menjebak mereka yang tadinya mendukungnya untuk memberontak. Baru setelah pagi, Ouw-yang Sianjin meninggalkan istana Pangeran Bouw Ji Kong, Cu An sendiri tetap berada di rumah orang tuanya karena dia akan membantu ayahnya dalam rencana menjebak dan membasmi para pemberontak.

Sepekan kemudian, di sebuah bukit kecil yang penuh hutan, berdatanganlah banyak orang. Karena bukit di sebelah timur kota raja itu berada di daerah yang tandus dan sunyi dan di daerah itu tidak terdapat dusun, maka mereka yang berdatangan di situ tidak diketahui umum.

Sejak pagi, tokoh-tokoh besar yang berilmu tinggi, berdatangan di tempat tersembunyi itu, di mana telah dibangun tenda-tenda besar yang disediakan oleh Pangeran Bouw Ji Kong. Di antara mereka yang datang berkumpul di situ terdapat Hwa Hwa Hoat-su, datuk Pek-lian-kauw, Hongbacu, tokoh Mancu utusan istimewa Nurhacu pemimpin besar Mancu, Tarmalan datuk suku Hui yang dukun ahli sihir.

Selain tiga orang sakti yang dulu melakukan pembunuhan terhadap enam orang pejabat tinggi, juga tampak beberapa orang panglima yang sudah dipengaruhi pangeran Bouw Ji Kong dan mendukung rencana pemberontakan dengan janji imbalan kedudukan yang lebih tinggi apabila pemberontakan itu berhasil. Pangeran Bouw Ji Kong memang hanya mengundang para komandannya saja dan mereka diminta agar tidak mengerahkan pasukan.

Setelah semua undangan berkumpul di tempat itu, muncul Pangeran Bouw Ji Kong. Sekitar tigapuluh orang, para pendukung pemberontakan yang lengkap, telah berkumpul dan setelah Pangeran Bouw Ji Kong datang, semua berkumpul di tenda besar di mana telah dipersiapkan meja yang disambung-sambung memanjang dan kursi-kursi berhadapan terhalang meja. Pangeran Bouw Ji Kong menempati kursi kehormatan yang berada di ujung deretan meja sehingga semua orang duduk di depannya di kanan kiri meja dan memandang kepadanya.

Wajah Pangeran Bouw Ji Kong tidak cerah seperti biasa, melainkan tampak seperti orang marah. Semua orang yang hadir memandang heran, apalagi ketika pangeran Bouw Ji Kong bangkit berdiri dan berkata nyaring, tangannya menuding ke arah Hongbacu, tokoh Mancu yang duduk di deretan terdepan bersama Tarmalan dukun suku Hui dan Hwa Hwa Hoat-su tokoh Pek-lian-kauw.

“Saudara-saudara para panglima dan pejabat, kita telah dikhianati oleh orang-orang yang datang dari luar dan mengaku sebagai pendukung kita! Hongbacu orang Mancu ini telah berusaha hendak membunuh puteraku! Kita telah disesatkan oleh golongan Mancu, suku Hui, dan golongan Pek-lian-kauw. Mereka itu masing-masing hendak menguasai kita dan kalau gerakan berhasil, mereka tentu akan berusaha menyingkirkan kita dan menguasai negara!”

Hongbacu terkejut dan marah, demikian pula Tarmalan dan Hwa Hwa Hoat-su. “Pangeran!!” bentak mereka bertiga.

“Pangeran, bukan aku yang berkhianat, melainkan puteramu sendiri! Dia menentang gerakan dan perjuangan kita, tentu saja seorang pengkhianat yang berada di antara kita amat berbahaya. Akan tetapi dia melarikan diri dan diculik Ouw-yang Sianjin  ” “Bohong!” tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan muncul Bouw Cu An. “Hongbacu berusaha membunuhku, dan suhu Ouw-yang Sianjin bahkan yang menyelamatkan aku dari tangan keji Hongbacu!”

“Nah, Saudara-saudara para panglima dan pejabat, kita selama ini telah bertindak keliru. Kita dipengaruhi oleh gerombolan bangsa Mancu, gerombolan Hui, dan gerombolan pemberontak Pek-lian-kauw. Padahal mereka itu hanya akan memanfaatkan kita dan kalau pemberontakan berhasil, pasti mereka itu akan saling memperebutkan kekuasaan seperti tiga anjing kelaparan memperebutkan tulang. Dan kita yang menjadi korban berikutnya.

“Cita-cita kita adalah untuk mendirikan pemerintahan yang sehat dan adil, kesejahteraan rakyat. Untuk itu, kalau ada pejabat tinggi yang bertindak sewenang-wenang, kita dapat mengajukan protes keras. Bukan dengan cara memberontak, karena kalau begitu kita tidak ada bedanya dengan tiga gerombolan itu!”

Tempat itu menjadi gaduh karena semua orang, terutama para panglima dan pejabat, terkejut bukan main mendengar ucapan Pangeran Bouw Ji Kong.

“Pangeran Bouw Ji Kong sudah menjadi gila!” teriak Hwa Hwa Hoat-su. “Saudara-saudara, kita maju terus! Tanpa Pangeran Bouw Ji Kong kita masih dapat merebut tahta kerajaan ini. Pangeran pengkhianat ini dan puteranya sudah sepatutnya dihukum mati!” Setelah berkata demikian, Hwa Hwa Hoat-su maju menyerang Pangeran Bouw Ji Kong dengan pedang di tangan kanan dan kebutan di tangan kiri.

Hongbacu tokoh Mancu juga sudah menggunakan golok gergajinya untuk menyerang Bouw Cu An.

“Tranggg......!” Pangeran Bouw Ji Kong menangkis serangan pedang Hwa Hwa Hoat-su dan cepat mengelak dari sambaran kebutan. Akan tetapi Hwa Hwa Hoat-su terus mendesaknya dengan serangan yang gencar dan dahsyat. Sebentar saja pangeran itu terdesak karena memang tingkat kepandaian dan tenaganya masih kalah jauh dibandingkan lawannya.

“Cringg    !” Bouw Cu An juga menangkis golok gergaji dengan pedangnya.

Hongbacu tokoh Mancu ini memang lihai sekali sehingga sekali menangkis saja Bouw Cu An sudah terhuyung ke belakang. Ketika Hongbacu melompat dan menerjangnya kembali, tiba-tiba berkelebat bayangan kuning.

“Trakk!” Golok gergaji di tangan Hongbacu terpental ketika bertemu dengan pedang bambu di tangan Ouw- yang Sianjin yang melindungi muridnya.

Sementara itu, ketika Pangeran Bouw Ji Kong terdesak, tiba-tiba tampak sinar kilat menyambar dan menangkis pedang tokoh Pek-lian-kauw itu.

“Cringg......!” Hwa Hwa Hoat-su terkejut sekali dan melihat bahwa yang membuat pedangnya terpental adalah tangkisan Lui-kong-kiam (Pedang halilintar) di tangan Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan! Dia terkejut dan melangkah ke belakang untuk siap siaga menghadapi lawan tangguh.

Pada saat itu terdengar bentakan nyaring. “Tahan senjata!” dan kini muncullah seorang panglima yang berusia sekitar limapuluh dua tahun, tinggi tetap dengan kumis jenggot pendek rapi dan pakaiannya menunjukkan bahwa dia seorang panglima besar. Semua panglima dan pejabat yang berada di situ terkejut mengenal bahwa dia adalah Panglima Besar Chang Ku Cing dan bersama panglima ini tampak pula Sim Tek Kun, Ong Lian Hong, Chang Hong Bu dan di belakang mereka tampak ratusan orang perajurit dengan belasan orang perwira tinggi.

“Para pemberontak, kalian sudah terkepung rapat! Menyerahlah atau terpaksa kami akan membasmi kalian semua!”

Para panglima dan pejabat tinggi yang tadinya mendukung pemberontakan, segera melepaskan senjata mereka dan membuangnya sebagai tanda menaluk karena mereka tahu akan percuma saja melakukan perlawanan. Apalagi tadi mereka sudah mendengar ucapan Pangeran Bouw Ji Kong yang jelas menghentikan pemberontakannya, bahkan menentang para wakil dari Mancu, Hui, dan Pek-lian-kauw.

Sementara itu, Hwa Hwa Hoat-su, Hongbacu, dan Tarmalan yang melihat betapa tempat itu sudah dikepung ratusan orang perajurit dan di situ terdapat pula pendekar-pendekar muda yang mereka tahu memiliki ilmu kepandaian yang hebat, terutama sekali Hwe-thian Mo-li, mereka merasa bahwa melawan sama saja dengan membunuh diri.

Hwa Hwa Hoat-su yang tampak tenang, tidak seperti wakil suku Hui dan Mancu yang agak pucat, segera membuang senjata tanda takluk. Dia bahkan tersenyum karena dia merasa yakin bahwa Pek-lian-kauw tidak akan membiarkan dia dihukum mati. Melihat Hwa Hwa Hoat-su menyerah, Tarmalan dan Hongbacu juga merasa percuma saja kalau melawan, maka mereka juga menyerah.

Demikianlah, para gembong pemberontak itu menyerah tanpa perlawanan. Mereka semua digiring sebagai tawanan dan dijebloskan penjara. Kalau para panglima dan pejabat tinggi menjadi tawanan biasa, adalah tiga orang pimpinan itu, ialah Hwa Hwa Hoat-su, Hongbacu, dan Tarmalan, dimasukan dalam tempat tahanan istimewa.

Pangeran Bouw Ji Kong yang sebelumnya sudah melepaskan pemberontakannya, atas jaminan puteranya, Bouw Cu An dan Ouw-yang Sianjin, oleh Panglima Besar Chang Ku Cing diperbolehkan pulang. Akan tetapi bukan berarti dia bebas dari tuntutan. Panglima besar yang tegas dan adil itu tetap saja akan menuntutnya di depan pengadilan kelak, dan dia harus mempertanggung jawabkan kesalahannya.

Malam itu gelap dan sunyi. Seminggu sudah lewat sejak pemberontak-pemberontak itu ditangkapi dan ditahan oleh Panglima besar Chang Ku Cing dengan bantuan yang diatur oleh Pangeran Bouw Ji Kong yang tadinya menjadi pimpinan pemberontak namun kemudian dapat disadarkan oleh puteranya sendiri, Bouw Cu An.

Penduduk kota raja, terutama sekali para pejabat pemerintah dapat bernapas lega setelah tadinya mereka dicekam ketakutan karena adanya banyak pembunuhan terhadap para pejabat tinggi. Para pejabat, juga para penduduk, seolah berpesta atas dibasminya pemberontak. Selama seminggu mereka berpesta dan bergembira ria, dapat tidur nyenyak kalau malam.

Malam ini, semua orang tidur setelah seminggu lamanya berpesta dan bersenang-senang. Bahkan para perajurit yang bertugas jaga di istana malam itu lengah karena mereka semua yakin bahwa setelah semua pimpinan pemberontak ditangkap, tidak ada lagi bahaya yang mengancam. “Siapa berani mengganggu istana?”

Malam yang gelap dan sunyi. Setelah lewat tengah malam, tidak ada lagi suara orang di istana. Para petugas jaga juga duduk mengantuk di tempat penjagaan, malas meronda.

Apalagi malam itu mendung tebal menutupi langit. Sebuah pun bintang tidak tampak dan udara teramat dingin. Setelah lewat tengah malam, tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan di lingkungan istana.

“Kebakaran! Kebakaran!”

Teriakan itu berulang-ulang dan segera disambut teriakan banyak orang. “Kebakaran! Kebakaran!”

Anehnya, api yang berkobar dengan asap tebal yang mengepul ke angkasa bukan terjadi di satu tempat saja, melainkan di empat penjuru sekeliling bangunan induk istana! Berkobarnya api susul-menyusul dan seisi istana menjadi gempar. Semua orang terbangun dan segera berlari-larian, ada yang karena panik berlari-lari kebingungan, akan tetapi sebagian besar lari ke arah kebakaran untuk membantu memadamkan api. Ada yang menggunakan air, ada pula yang menggunakan tongkat panjang. Teriakan mereka semakin menggegerkan seluruh istana.

Sesungguhnya empat tempat kebakaran itu tidaklah seberapa besar, akan tetapi karena kegaduhan dan teriakan-teriakan panik itu menimbulkan kegemparan. Semua perajurit pengawal membantu untuk memadamkan api. Tiga tempat yang terbakar tidak begitu sukar dipadamkan, akan tetapi gudang dekat istal di mana terdapat banyak jerami kering dan tumpukan kayu berkobar besar dan agak lama baru dapat dipadamkan.

Sebelum semua kebakaran dapat dipadamkan, Panglima Chang Ku Cing yang menerima laporan, malam itu juga sudah tiba di istana. Juga Sim Tek Kun, Ong Lian Hong, Nyo Siang Lan, dan Chang Hong Bu bermunculan di istana setelah mendengar berita bahwa istana kebakaran. Ouw-yang Cin-jin tidak tampak karena setelah pemberontakan diatasi, dia segera meninggalkan kota raja.

Melihat bahwa empat tempat kebakaran itu sudah hampir dapat dipadamkan, tinggal bagian gudang yang masih berkobar, Panglima besar Chang Ku Cing lalu memerintahkan para pendekar muda dan para perwira yang berada di situ untuk tenang.

“Hati-hati, mungkin ini siasat orang jahat. Mari kita cepat memeriksa ke dalam istana!”

Ketika mereka semua memasuki istana, mereka terkejut bukan main. Tidak kurang dari duapuluh orang perajurit pengawal yang bertugas di dalam istana, juga para Thai-kam (sida-sida) menggeletak malang- melintang dalam keadaan tewas! Ada yang tewas tanpa luka, dan ternyata mereka itu ada yang mengisap hawa beracun semacam gas, ada yang terluka dalam karena pukulan sakti, ada yang retak kepalanya. Pendeknya mereka semua tewas oleh orang atau orang-orang yang memiliki kesaktian tinggi.

Didahului oleh Hwe-thian Mo-li, para pendekar muda cepat berlari ke bagian paling dalam, ke tempat di mana terdapat kamar-kamar pribadi kaisar dan keluarganya. Panglima Chang Ku Cing yang berlari di samping Siang Lan, menemukan lagi beberapa orang Thai-kam penjaga di bagian itu sudah menggeletak tewas. Padahal, para Thai-kam ini adalah orang-orang yang memiliki ilmu silat yang lumayan. Jelas bahwa pembunuhan dilakukan orang-orang yang lihai sekali.

Mereka memasuki kamar tidur Kaisar dan melihat beberapa dayang dan pelayan wanita yang menggeletak malang-melintang, akan tetapi mereka itu ternyata hanya tertotok, tidak dibunuh seperti para penjaga. Mungkin karena mereka tidak melakukan perlawanan. Ketika Siang Lan membebaskan totokan mereka, mereka menangis dan mengatakan bahwa Kaisar telah diculik orang!

“Cepat katakan, apa yang telah terjadi!” bentak Panglima Chang Ku Cing, terkejut dan marah sekali mendengar bahwa Kaisar diculik orang.

Dengan tubuh dan suara gemetar, seorang pelayan wanita setengah tua sambil berlutut memberi laporan.

“Tadi hamba para dayang dan pelayan terkejut dan terbangun dari tidur ketika mendengar ribut-ribut orang berteriak kebakaran dan sebagian dari para perajurit pengawal berlari keluar. Tiba-tiba hamba melihat beberapa orang Thai-kam penjaga berkelahi melawan seorang bertubuh kurus yang berpakaian serba hitam dan mukanya ditutupi kain. Akan tetapi para Thai-kam itu roboh satu demi satu.

“Orang bertopeng itu lalu memasuki kamar tidur Sri Baginda Kaisar dan keluar lagi sambil memondong Sribaginda. Kami berteriak akan tetapi penjahat itu lalu menepuk kami satu demi satu dan kami tak mampu bergerak lagi. Dia lalu melompat keluar dengan amat cepat seperti terbang. Demikianlah apa yang hamba ketahui, Thai-ciangkun!”

Panglima besar Chang Ku Cing cepat memerintahkan para komandan pasukan untuk mengerahkan pasukan masing-masing, melakukan penjagaan di empat penjuru kota raja, memeriksa semua orang-orang keluar masuk melalui pintu-pintu gerbang kota raja dan melakukan penggeledahan ke dalam setiap rumah di kota raja! Juga dia minta bantuan para pendekar muda, yaitu Nyo Siang Lan, Ong Lian Hong, Sim Kun Tek, dan Chang Hong Bu untuk bantu mencari jejak penculik yang melarikan kaisar.

Putera Bouw Ji Kong, pangeran yang memberontak kemudian sadar itu, tidak ikut karena pemuda itu yang merasa terpukul dan malu atas perbuatan ayahnya, setelah pemberontakan gagal dan dia berhasil menyadarkan ayahnya, lalu nekat meninggalkan kota raja dan ikut dengan gurunya, Ouw-yang Sianjin.

12.36. Lukisan Perempuan Misterius

Bagi Bouw Cu An memang serba salah. Kalau dia tidak membela ayahnya di pengadilan tidaklah pantas karena dia putera tunggal Pangeran Bouw Ji Kong. Kalau membelanya, apanya yang harus dibela karena jelas ayahnya telah melakukan kesalahan besar, yaitu pemberontakan. Maka dia memilih lebih baik pergi dan dia hanya mengharapkan kebijaksanaan Panglima Chang Ku Cing untuk meringankan hukuman terhadap ayahnya yang pada akhirnya menyadari akan kesalahannya dan membantu pemerintah menjebak para pemberontak.

Penjagaan yang dilakukan para komandan dengan pasukan mereka amat ketat. Bukan hanya di pintu gerbang saja diadakan penjagaan dan penggeledahan pada setiap orang yang keluar masuk, akan tetapi juga di sekeliling tembok kota raja diadakan perondaan yang ketat sehingga agaknya tidak mungkin ada orang dapat membawa Kaisar yang terculik keluar dari kota raja!

Juga para pendekar muda mencari dengan teliti, akan tetapi sampai beberapa hari lamanya tidak ada jejak ditinggalkan penculik itu. Penculik dan kaisar yang diculiknya bagaikan lenyap ditelan bumi!

Ketika Panglima Chang Ku Cing sendiri, ditemani Nyo Siang Lan, mengunjungi gedung tempat tinggal Pangeran Bouw Ji Kong untuk bertanya kepada pangeran bekas pemberontak itu, mereka disambut wajah duka dari Nyonya Bouw.

“Thai-ciangkun, kami sekeluarga di sini sama sekali tidak tahu apa yang terjadi dengan Sribaginda Kaisar karena suami saya sendiri juga menghilang dan kami tidak tahu ke mana perginya.”

Panglima Chang Ku Cing mengerutkan alisnya. “Pangeran Bouw Ji Kong menghilang? Sejak kapan dia menghilang?” “Sudah tiga hari.”

“Tiga hari? Kalau begitu bersamaan waktunya dengan diculiknya Sribaginda Kaisar?” “Begitulah, Thai-ciangkun. Kami khawatir sekali ”

“Hemmm......!” Panglima Chang Ku Cing tentu saja menjadi curiga dan menduga bahwa tentu terculiknya Kaisar itu merupakan perbuatan pangeran itu pula.

Agaknya Nyonya Bouw memaklumi isi hati panglima itu karena ia sambil menangis berkata, “Thai-ciangkun, mohon jangan curigai suami saya. Sungguh, saya berani bersumpah bahwa suami saya pasti tidak terlibat dalam penculikan Sribaginda Kaisar itu! Suami saya sudah benar-benar menyadari kesalahannya. Ahh, saya bingung sekali, Thai-ciangkun. Kalau saja Cu An berada di sini ” Nyonya itu menangis sedih.

Tiga orang wanita pelayan yang berada di situ ikut menangis walaupun tanpa suara melihat nyonya majikan mereka menangis sedih. Terdengar suara batuk-batuk dan ketika Panglima Chang Ku Cing dan Siang Lan menengok, mereka melihat di sudut ruangan itu seorang kakek sedang membersihkan perabot dalam ruangan itu dengan sehelai kain. Melihat panglima itu menoleh kepadanya, kakek yang usianya sudah sekitar tujuhpuluh tahun itu segera membungkuk.

“Mohon maaf, Thai-ciangkun, hamba sekalian para pelayan merasa ikut berduka dengan Hu-jin ugh-

ugh ” Dia kembali terbatuk-batuk kecil.

Panglima Chang Ku Cing memandang kakek itu pernuh perhatian, demikian pula Siang Lan. Kakek yang sudah tua itu bertubuh kurus dan lemah, akan tetapi bekerja dengan teliti, dan sikapnya menghormat.

“Bouw Hujin, siapakah dia?” tanya Panglima Chang kepada Nyonya rumah sambil menunjuk ke arah kakek itu.

“Dia itu Kakek A-kui, pelayan kami yang setia,” jawab Nyonya Bouw lirih namun suaranya jelas mendukung sehingga kecurigaan panglima itu dan Siang Lan lenyap.

“Apakah tidak ada tanda-tanda akan hilangnya Pangeran Bouw? Apakah sebelumnya dia mengatakan sesuatu kepadamu?”

“Tidak ada yang aneh, Chang Thai-ciangkun. Semua biasa-biasa saja dan tiba-tiba, ketika saya bangun pagi, dia sudah lenyap dan tidak ada yang tahu ke mana dia pergi, sampai sekarang tidak ada beritanya. Akan tetapi sekali lagi, mohon jangan menyangka bahwa dia terlibat dengan terculiknya Sribaginda Kaisar, Thai-ciangkun. Saya yakin bahwa dia tidak bersalah ”

Panglima Chang yang tadinya mencurigai pangeran Bouw Ji Kong, percaya kepada nyonya itu. Pula, apa perlunya Pangeran Bouw melakukan penculikan terhadap kaisar setelah dia sadar akan kesalahannya, bahkan telah membantu pemerintah membasmi para pemberontak? Kalau dia melakukannya, sama sekali tidak ada untungnya baginya, yang ada hanya kerugian besar karena selain dia menjadi buronan dan kalau tertangkap akan dihukum berat, juga keluarganya akan ikut menderita karena dihukum. Bukan, pasti bukan Pangeran Bouw Ji Kong yang melakukannya atau yang mendalangi diculiknya kaisar.

Panglima Chang dan Siang Lan pamit dan pergi. Setelah mereka pergi, Nyonya Bouw Ji Kong menjatuhkan diri di atas kursinya dan menangis. Tiga orang pelayan wanita itu mencoba menghiburnya. Kakek A-kui, pelayan tua itu, berkata lirih.

“Bagus, Hujin. Sikap dan tindakan Hujin tepat dan bagus sekali.”

Setelah berkata demikian, karena semua perabot di situ sudah dibersihkannya, dia meninggalkan ruangan tamu untuk bekerja di ruangan lain.

Biarpun Panglima Chang Ku Cing sudah melarang mereka yang berada dalam istana agar jangan menceritakan tentang terculiknya kaisar, tetap saja berita itu bocor dan membuat rakyat menjadi gempar, khawatir dan ketakutan.

Hal ini dapat dirasakan ketika Panglima Chang dan Siang Lan berjalan keluar dari gedung Pangeran Bouw. Di jalan raya dia melihat sikap rakyat yang rata-rata berwajah muram dan gelisah. Dia tidak dapat menyalahkan siapa-siapa karena berita seperti itu tentu segera tersiar, bahkan mungkin sampai jauh di luar kota raja. Kaisar diculik orang! Berita ini tentu amat mengguncangkan hati rakyat.

Mengingat belum diperolehnya hasil dari semua penjagaan ketat dan pencarian yang amat teliti, wajah Panglima Chang Ku Cing menjadi murung. Biarpun pencarian terhadap kaisar yang hilang itu menjadi tanggung jawab semua pejabat, namun dia merupakan pucuk pimpinan sehingga di tangannyalah terletak pertanggungan jawab itu.

“Paman Bu-beng-cu      !”

Tiba-tiba Siang Lan berseru girang ketika seorang laki-laki berusia sekitar empatpuluh dua tahun, bertubuh sedang, wajahnya bersih dan tampan, sepasang matanya mencorong namun senyumnya penuh kelembutan, berada di depannya. Laki-laki itu adalah Bu-beng-cu, yang menggembleng Siang Lan dengan ilmu-ilmu yang lihai.

Panglima Chang Ku Cing memandang penuh perhatian dan Siang Lan segera memperkenalkan. “Paman, ini adalah Panglima Chang Ku Cing! Paman Chang ini adalah Paman Bu-beng-cu yang membimbing saya untuk memperdalam ilmu silat.”

Bu-beng-cu (Si Tanpa Nama) segera memberi hormat kepada panglima yang sudah lama dia kenal namanya dan amat dikaguminya itu. Panglima Chang membalas penghormatan itu.

“Paman Panglima, kebetulan sekali paman Bu-beng-cu berada di sini. Kalau dia membantu kita, tentu lebih besar harapan kita untuk dapat menemukan Sribaginda Kaisar!”

Panglima Chang menatap wajah Bu-beng-cu penuh perhatian. “Saudara Bu-beng-cu, apakah engkau sudah mendengar peristiwa itu?”

“Tentang hilangnya Sribaginda Kaisar? Saya sudah mendengarnya, Thai-ciangkun. Justeru karena itulah saya berada di sini karena saya tahu bahwa Nona Nyo Siang Lan ini pasti sedang sibuk untuk ikut mencari. Saya ingin membantunya sedapat mungkin.”

“Bagus! Marilah ikut dengan kami dan di sana kita bicarakan bersama apa yang harus kita lakukan.”

“Maaf, Thai-ciangkun. Saya lebih suka bekerja sendiri karena dengan cara diam-diam si penculik tidak akan mengenal saya dan tidak akan tahu bahwa saya juga ikut mencari Sribaginda. Saya akan minta penjelasan dari Hwe-thian Mo-li saja.”

Panglima Chang mengangguk-angguk setelah dia memandang Siang Lan dan melihat gadis itu mengangguk kepadanya.

“Hemm, kami kira gagasan itu baik sekali. Selama ini kami mencari beramai-ramai dan tentu saja si penculik, kalau memang dia masih berada di dalam kota raja, akan mudah melihat gerak gerik kami. Baiklah, kalau begitu, engkau yang memberi keterangan kepadanya, Siang Lan. Aku akan mengadakan rapat dengan para perwira pembantuku.” Panglima itu lalu meninggalkan mereka berdua.

Siang Lan merasa gembira bukan main melihat Bu-beng-cu muncul di kota raja. Semua kekecewaan dan kemurungannya karena tidak berhasil menemukan kaisar yang diculik orang, lenyap terganti harapan dan kegembiraan. Diam-diam ia merasakan perubahan pada perasaannya ini dan kembali hampir merasa yakin bahwa sesungguhnya ia telah jatuh cinta kepada orang yang selama ini bersikap demikian baik, membelanya dan bahkan mau menggemblengnya dengan sungguh-sungguh agar ia kelak dapat membalas dendamnya kepada musuh besarnya yaitu Thian-te Mo-ong!

“Paman, mari kucarikan tempat menginap untukmu.”

“Tadi begitu memasuki kota saja aku langsung mencari rumah penginapan dan sudah menyewa sebuah kamar di rumah penginapan Hok An di ujung selatan kota, Siang Lan,” kata Bu-beng-cu.

“Kalau begitu, mari kita ke sana dan kita bicara di sana agar lebih leluasa, Paman.”

Mereka berdua lalu pergi ke rumah penginapan yang tidak berapa besar itu. Bu-beng-cu membuka pintu kamarnya dan membiarkan pintu itu terbuka lebar sehingga tidak akan tampak janggal atau tidak sopan kalau seorang gadis seperti Siang Lan memasuki kamarnya. Melihat daun pintu dibuka lebar sehingga tampak dari luar, Siang Lan juga tidak ragu ragu lagi memasuki kamar itu bersama Bu-beng-cu.

Di atas meja terdapat buntalan pakaian dan juga segulung kain seperti sebuah lukisan. Karena ingin tahu, Siang Lan menghampiri meja.

“Ini lukisan apakah, Paman?”

Ia merasa heran sekali karena tiba-tiba laki-laki itu menyambar gulungan lukisan itu dan melemparkannya ke atas pembaringannya. “Jangan, Siang Lan. Gambar itu tidak kuperlihatkan kepada orang lain!”

Siang Lan menjadi penasaran. Aneh, sebuah lukisan saja mengapa dirahasiakan? “Aih, lukisan apakah itu maka aku tidak boleh melihatnya, Paman?”

“Lukisan seorang wanita!”

Siang Lan merasa seolah-olah ada batu besar menghimpit hatinya dan ia merasa betapa mukanya menjadi panas. Hatinya merasa tidak enak sekali.

“Seorang perempuan, Paman?” tanya Siang Lan sambil mengerling ke arah gulungan kain bergambar itu. “Akan tetapi paman pernah bilang bahwa Paman tidak mempunyai isteri, tidak mempunyai keluarga. Apakah itu gambar isteri paman?”