-->

Lembah Selaksa Bunga Jilid 04

Jilid 04

“Aku akan pergi dulu mengunjungi di Lembah Selaksa Bunga untuk merundingkan hal ini dengannya, Ayah. Setelah itu baru kita mengajukan pinangan.”

“Kin-ji (Anak Kin), engkau hati-hatilah kalau pergi ke sana!” kata Nyonya Bong khawatir.

“Ibumu benar, Bong Kin!” kata Bong Wan-gwe. “Tempat itu asing bagimu dan aku mendengar bahwa pendekar wanita yang melindungi Nona Kui itu liar dan ganas. Melihat julukannya Si Iblis Betina Terbang, mungkin saja ia itu memiliki watak jahat. Maka engkau harus membawa rombongan pengawal untuk melindungimu.”

Demikianlah, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali dengan menunggang kuda, Bong Kin dikawal selosin orang laki-laki yang biasa mengawal kiriman barang-barang berangkat meninggalkan kota raja menuju ke bukit yang telah ditunjukkan Siang Lan. Dua belas orang pengawal itu adalah orang-orang yang memiliki ilmu silat dan memang pekerjaan mereka menggunakan kekuatan dan ilmu silat untuk mengawal dan melindungi barang atau orang dalam perjalanan.

Pada tengah hari mereka tiba di kaki bukit yang dimaksudkan dan berhenti. Pimpinan rombongan pengawal, seorang laki-laki tinggi besar bermuka berewok yang usianya sekitar empatpuluh tahun bernama Gu Sam, berkata kepada Bong Kin.

“Bong Kongcu, di bukit yang disebut Ban-hwa-san (Bukit Selaksa Bunga) dulu terdapat sebuah perkumpulan bernama Ban-hwa-pang yang sering melakukan perampasan barang yang dibawa lewat di daerah ini. Akan tetapi sudah beberapa bulan ini tidak ada lagi orang Ban-hwa-san melakukan perampasan dan kabarnya, Ban-hwa-pang telah dibasmi seorang pendekar wanita.”

“Hemm, bukankah yang membasmi itu pendekar wanita berjuluk Hwe-thian Mo-li?” tanya Bong Kin. Gu Sam tampak terkejut. “Benar sekali, Kongcu! Bagaimana Kongcu dapat mengetahuinya?”

Bong Kin tersenyum bangga. “Hwe-thian Mo-li itu sahabatku! Kemarin ia datang berkunjung ke rumahku.” Dia tidak bicara lebih lanjut, membiarkan Gu Sam dan orang-orangnya terheran-heran.

Dengan kagum Bong Kin dan para pengawalnya kini mendaki bukit dan tiba di Lembah Selaksa Bunga. Daerah perkampungan Ban-hwa-pang yang baru, termasuk lembah yang indah itu kini dikelilingi pagar bambu runcing yang diatur rapi dan dicat warna-warni sehingga tampak nyeni dan indah.

Di pintu gerbang, yang berada di bawah lereng, sudah berjaga belasan orang anggauta Ban-hwa-pang yang semua terdiri dari wanita. Mereka berpakaian gagah dan terdiri dari tiga regu. Regu pertama memegang tombak, regu kedua memegang golok dan regu ketiga memegang pedang, masing-masing terdiri dari lima orang. Sikap mereka gagah dan wajah mereka rata-rata manis.

Melihat sikap para wanita ini, Bong Kin memerintahkan para pengawal untuk turun dari atas kuda masing- masing. Kemudian Gu Sam melangkah maju memberi hormat kepada seorang wanita berpedang yang agaknya memimpin tiga regu itu karena ia berdiri paling depan dan sikapnya berwibawa.

“Nona, Kongcu kami Bong Kin datang memenuhi undangan Hwe-thian Mo-li,” katanya menirukan perintah majikannya tadi.

“Ban-hwa-pang kami pantang menerima tamu laki-laki. Akan tetapi karena Pang-cu kami sudah memesan dan kini menunggu Bong Kongcu datang menghadap, kami persilakan Bong Kongcu masuk. Yang lain tidak boleh masuk!”

“Akan tetapi !” Gu Sam hendak membantah.

“Tidak ada tapi! Kaum lelaki, tanpa ijin Pang-cu, dilarang masuk perkampungan Ban-hwa-pang!” bentak wanita itu dan limabelas orang rekannya siap meraba gagang senjata mereka.

Bong Kongcu memberi isyarat kepada para pengawalnya untuk menunggu di luar dan dia lalu memasuki pintu gapura yang segera tertutup kembali oleh para penjaga wanita.

“Sialan !” para pengawal itu mengomel. “Entah apa yang terjadi dengan Ban-hwa-pang,” kata pula Gu Sam dan dia mengajak para rekannya untuk menunggu dan mengaso di bawah pohon-pohon tidak jauh dari gapura perkampungan Ban-hwa-pang itu.

Sementara itu, Bong Kin diantar dua orang pengawal wanita memasuki ruangan tamu di mana Hwe-thian Mo-li dan Kui Li Ai sudah duduk menanti. Hwe-thian Mo-li berwajah cerah gembira, akan tetapi Li Ai nampak menundukkan mukanya karena jantungnya berdebar penuh ketegangan dan juga merasa rikuh dan tidak enak hati. Ia harus mengakui dalam hatinya bahwa ia memang mengharapkan untuk dapat menjadi isteri pemuda yang biasanya bersikap lembut dan sopan itu.

Begitu Bong Kin memasuki ruangan dan melihat Li Ai sudah duduk di situ, dia segera berseru gembira. “Nona Kui......! Ah, betapa girang hatiku dapat bertemu denganmu di sini !”

Hwe-thian Mo-li dan Li Ai bangkit berdiri dan membalas penghormatan Bong Kin yang sudah menjura sambil merangkap kedua tangan depan dada.

“Bong Kongcu, silakan duduk,” kata Hwe-thian Mo-li.

Pemuda itu mengucapkan terima kasih dan mengambil tempat duduk berhadapan dengan dua orang gadis itu, dengan jarak cukup jauh dan sopan.

“Aku merasa senang bahwa Bong Kongcu benar-benar datang berkunjung, hal ini bagiku merupakan bukti akan kesungguhan hati Kongcu. Sekarang, aku memberi kesempatan kepada Adik Kui Li Ai dan Bong Kongcu untuk membicarakan urusan kalian berdua.” Setelah berkata demikian, Hwe-thian Mo-li bangkit berdiri dan hendak meninggalkan ruangan tamu itu menuju ke dalam.

“Enci......!” Li Ai berseru menahan karena gadis ini merasa malu dan juga takut untuk menceritakan apa yang telah menimpa dirinya seperti yang telah ia sepakati dengan Hwe-thian Mo-li bahwa ia akan berterus terang kepada pemuda itu untuk menguji ketulusan cintanya.

“Li Ai, inilah kesempatan baik bagimu. Jangan sungkan dan malu, di tanganmu sendirilah terletak nasibmu di kemudian hari.”

Setelah berkata demikian dengan cepat Hwe-thian Mo-li meninggalkan ruangan itu, menuju ke ruangan dalam di mana ia termenung dan duduk seorang diri. Gambaran topeng kayu yang menyeramkan itu selalu terbayang di depan matanya dan terkadang tampak bayangan wajah laki-laki setengah tua sederhana dan gagah yang juga penuh rahasia itu, yang telah menolongnya dan yang ingin dia temukan kembali karena ia mempunyai keinginan untuk berguru kepada penolong yang amat lihai itu.

Setelah Hwe-thian Mo-li meninggalkan ruangan tamu, suasana di situ menjadi hening sekali. Li Ai masih menundukkan mukanya, tidak berani ia bertemu pandang dengan pemuda yang duduk di depannya, padahal pemuda ini dulu pernah menjadi kenalan baiknya dan mereka sudah sering beramah tamah dan bercakap-cakap.

Bong Kongcu yang tidak dapat menahan hatinya lagi untuk berdiam diri. “Kui Siocia (Nona Kui), benarkah apa yang kudengar dari Hwe-thian Mo-li?”

Terpaksa Li Ai mengangkat mukanya dan baru pertama kali ini sejak pemuda itu datang ia bertemu pandang yang membuat kedua pipinya berubah merah. Ia melihat betapa sinar mata pemuda itu masih seperti dulu, masih jelas membayangkan rasa kagum dan cinta kepadanya! Hanya sebentar saja sinar mata gadis itu bertemu pandang. Ia segera menundukkan pandang matanya dan bertanya lirih.

“Mendengar apakah Bong Kongcu maksudkan?”

Tentu saja ia sudah mendengar dari Siang Lan tentang pertemuan Hwe-thian Mo-li dengan pemuda itu. Akan tetapi ia tidak ingin mendahului percakapan tentang urusan perjodohan itu.

“Siocia, aku mendengar keterangan dari Hwe-thian Mo-li bahwa engkau sekarang berada di sini, tinggal bersamanya. Aku merasa amat terharu dan iba melihat nasibmu kehilangan Ayahmu dan aku mendengar dari Hwe-thian Mo-li bahwa...... bahwa sekarang engkau...... bersedia menerima...... cintaku, dan engkau akan setuju kalau aku meminangmu untuk menjadi isteriku. Bagaimana, Kui Siocia benarkah apa yang kudengar dari Hwe-thian Mo-li itu?”

Setelah mendengar ucapan Bong kongcu itu, rasa sungkan dan malu mulai meninggalkan perasaan Li Ai dan kini ia mengangkat mukanya, memandang wajah pemuda itu penuh selidik karena ia ingin sekali mendapat kepastian apakah benar-benar pemuda hartawan ini mencintanya. 04.12. Penghinaan Terhadap Gadis Muda

“Kongcu, apakah benar dan dapat kupercaya ucapanmu bahwa engkau mencintaku?”

“Aih, Siocia     perlukah engkau tanya lagi hal ini? Sejak dulu aku mencintamu, sudah kunyatakan berulang

kali. Sampai saat ini aku tetap mencintamu, dinda Li Ai...... aku berani bersumpah bahwa hanya engkau yang kuinginkan menjadi isteriku. Dinda Li Ai, engkau sih belum menjawab. Benarkah keterangan Hwe-thian Mo-li bahwa engkau bersedia menerima cintaku dan akan menyetujui kalau keluargaku datang meminangmu untuk menjadi isteriku?”

Li Ai mengangguk. “Benar, akan tetapi sebelum engkau mengambil keputusan, lebih dulu aku ingin melihat apakah cintamu itu murni, Bong Kongcu.”

“Eh? Apa maksudmu?”

Kini dengan sinar mata tajam penuh selidik Li Ai menatap wajah pemuda dan tanpa dihantui rasa malu dan khawatir lagi ia lalu berkata, “Ketahuilah, Bong Kongcu, bahwa ketika aku diculik oleh orang-orang Pek-lian- kauw, aku telah dinodai oleh dua orang pendeta Pek-lian-kauw.”

Sepasang mata pemuda itu terbelalak, seolah tidak percaya atau tidak mengerti apa yang dimaksudkan Li Ai.

“Kau...... di...... dinodai    ?” tanyanya gagap.

“Benar, Kongcu. Dua orang tosu Pek-lian-kauw telah memperkosa aku    ”

“Keparat jahanam.   !!” Wajah pemuda itu menjadi pucat sekali lalu berubah merah dan dia bangkit berdiri

sambil mengepal tinju dengan marah sekali.

“Tenanglah, Kongcu. Dua orang keparat jahanam itu telah dibunuh oleh Enci     Hwe-thian Mo-li.”

“Tenang......? Bagaimana aku bisa tenang? Keperawananmu direnggut orang-orang jahat, engkau diperkosa....., engkau bukan perawan lagi. Ahhh !” Pemuda itu menjatuhkan diri di atas kursi dan tampak

lemas, menundukkan muka dan menopang kepalanya dengan kedua tangan.

Li Ai hanya memandang dan keduanya berdiam diri, tenggelam ke dalam suasana yang amat tidak mengenakkan hati. Berulang-ulang pemuda itu menghela napas panjang dan dari kerongkonganya terdengar suara gerengan lirih seperti mengerang atau merintih.

Li Ai mulai tidak sabar melihat pemuda itu hanya berdiam diri saja sambil mengerang dengan wajah muram. Lenyaplah semua sinar kegembiraan yang tadi tampak pada sikap dan wajah Bong kongcu. Maka ia lalu bertanya.

“Bagaimana sekarang, Bong Kongcu? Apakah engkau masih mencintaku dan ingin meminangku sebagai isterimu?”

Sampai beberapa saat lamanya Bong kongcu tidak dapat menjawab, hanya mengangkat muka menatap wajah Li Ai dengan muka pucat dan sinar mata muram. Akhirnya dia berkata.

“Tentu, aku tetap mencintamu, Li Ai, marilah engkau ikut denganku ke kota raja dan menjadi selirku yang tersayang ”

“Apa......? Selir    ?”

Bong Kongcu menghela napas panjang. “Benar, Li Ai, menjadi selirku. Aku tetap mencintamu, akan tetapi untuk meminangmu menjadi isteriku...... bagaimana mungkin setelah...... setelah engkau ”

“Tidak sudi!” Li Ai berseru lalu berlari keluar dari ruangan itu meninggalkan Bong Kongcu sambil menutupi muka dengan tangan dan menahan suara tangisnya.

Bong Kongcu bangkit mengejar, “Li Ai    !”

Akan tetapi tiba-tiba Hwe-thian Mo-li muncul di pintu sehingga pemuda itu mundur kembali.

“Orang she Bong! Engkau telah menghina adikku Kui Li Ai! Engkau memandang rendah Adikku! Engkau bilang hendak datang meminang ia sebagai isterimu, ternyata engkau menghinanya dengan mengatakan hendak mengambilnya menjadi selirmu! Engkau pemuda berengsek, sombong dan cintamu palsu! Engkau bilang mencinta akan tetapi merendahkan dan menghinanya!”

“Nona, aku tidak berbohong, aku memang mencintanya. Akan tetapi bagaimana mungkin ia menjadi isteriku? Ia sudah bukan perawan lagi, hal ini tentu akan mencemarkan nama dan kehormatanku!”

“Omong kosong! Engkau tidak mencinta Li Ai, tidak mencinta orangnya! Yang kaucinta hanya keperawanannya! Engkau munafik, berlagak terhormat akan tetapi sebetulnya engkau rendah dan hina. Engkau kotor berlagak bersih! Engkau menganggap Li Ai yang kehilangan keperawanannya karena dipaksa dan diperkosa orang sebagai hal yang kotor! Dan engkau sendiri bagaimana? Apakah engkau berani mengatakan bahwa engkau tidak kehilangan keperjakaanmu? Engkau menggauli wanita-wanita dengan sadar dan kausengaja, dan engkau masih menganggap dirimu bersih dan terhormat! Munafik berengsek!”

“Nona, engkau sungguh tidak adil! Aku sama sekali tidak menyalahkan Li Ai karena ia diperkosa dan tidak berdaya. Akan tetapi jelas aku tidak mungkin mengambilnya sebagai isteriku. Ah, kalau saja ia tidak menceritakan tentang perkosaan itu kepadaku, tentu ia akan kupinang sebagai isteriku ”

“Bohong! Aku mengenal laki-laki macam kamu ini! Kalau ia tidak menceritakan dan kemudian engkau mengetahui hal itu, pasti engkau akan menceraikannya karena ia tidak berterus terang, engkau tentu akan mengatakan ia berbohong dan menipumu. Engkau akan makin menghinanya! Jahanam busuk macam engkau ini patut dihajar!”

“Hwe-thian Mo-li, engkau sungguh keterlaluan!” teriak Bong Kongcu dengan marah.

“Keterlaluan? Huh, kau manusia kotor bersembunyi di balik hartamu. Kaukira harta dan keadaanmu yang terhormat itu dapat menutupi kekotoranmu? Harta, kedudukan, kepandaian, hanya pakaian saja. Kalau dikenakan orang yang memang kotor, tetap saja tampak kekotorannya yang menjijikkan! Pergi kau, sebelum aku kehilangan kesabaran dan kuajar engkau!”

“Hwe-thian Mo-li, aku akan mengerahkan orang-orangku untuk menghukummu karena engkau berani menghinaku!” teriak Bong Kongcu.

“Wuut...... plak-plak !”

“Aduhh !! Bong Kin terhuyung ke belakang. Ke dua tangannya menutupi ke dua pipinya yang bengkak-

bengkak dan darah mengalir dari ke dua ujung bibirnya yang pecah-pecah. Dia lalu berlari keluar, diikuti Hwe-thian Mo-li yang marah-marah.

“Pergi, kau anjing Bong!” bentaknya sambil mendorong-dorong punggung Bong Kin sehingga terhuyung- huyung menuju ke pintu gerbang perkampungan Ban-hwa-pang.

Setelah keluar dari pintu gerbang, duabelas orang pengawal segera menyambut dan mereka merasa kaget dan heran melihat Bong Kongcu keluar terhuyung-huyung, mukanya bengkak-bengkak dan kedua ujung mulutnya berlepotan darah. Mereka juga melihat betapa seorang gadis cantik dengan mata mencorong muncul dan memaki Bong Kongcu, mengusirnya.

“Pergi kamu, jahanam busuk!”

Melihat selosin orang pengawalnya, bangkit semangat Bong Kongcu. Dia bukan seorang pemuda hartawan yang biasa bertindak sewenang-wenang. Akan tetapi baru saja dia dihina dan ditampar Hwe-thian Mo-li padahal dia tidak merasa bersalah. Maka tentu saja hatinya menjadi panas dan sakit. Kini dia berkata kepada para pengawalnya.

“Perempuan itu telah menghina dan memukulku. Kalian balaskan sakit hatiku ini!”

Mendengar perintah Bong Kongcu, selosin orang pengawal tukang pukul itu serentak maju mengepung Siang Lan. Mereka tadi memang sudah mendongkol karena tidak diperbolehkan memasuki perkampungan itu. Kini melihat majikan mereka disakiti dan mereka menerima perintah untuk membalaskan, kemarahan mereka ditumpahkan kepada gadis yang memaki dan mengusir Bong Kongcu. Akan tetapi karena yang mereka hadapi itu seorang gadis cantik, mereka kini berlumba untuk meringkusnya agar dapat mereka serahkan kepada Bong Kongcu, biar majikan mereka itu sendiri yang menghukumnya.

Melihat betapa selosin orang itu mengepungnya lalu menjulurkan tangan seolah hendak berlumba menangkapnya, Siang Lan menjadi marah sekali. Tubuhnya berkelebat, kedua tangannya menampar- nampar dan kedua kakinya menendang-nendang. Akibatnya, selosin orang itu mengaduh dan tubuh mereka berpelantingan disambar tamparan atau tendangan. Dua belas orang tukang pukul itu terkejut bukan main, akan tetapi juga marah dan penasaran sekali. Sambil meringis kesakitan mereka bangkit dan mencabut senjata golok mereka. Pada saat itu, belasan orang wanita anggauta Ban-hwa-pang keluar dari pintu gerbang dengan senjata di tangan. Mereka adalah tiga regu yang bersenjata tombak, golok, dan pedang masing-masing lima orang.

Agaknya mereka hendak maju menghadapi selosin tukang pukul yang sudah mencabut golok mereka itu. Akan tetapi Siang Lan yang tahu benar bahwa para anggautanya belum pandai dan kuat benar, tidak ingin melihat mereka terluka. Maka ia dengan nyaring berseru.

“Kalian diam dan    lihat saja betapa aku menghajar anjing-anjing jantan ini!”

Mendengar seruan ini, tentu saja limabelas orang anggauta Ban-hwa-pang itu tidak berani membantah dan mereka lalu berdiri di luar pintu gerbang dengan tertib.

Siang Lan yang sudah menjadi marah sekali mengingat akan nasib Li Ai yang ditolak dan dipermalukan Bong Kin, melihat betapa duabelas orang anak buah pemuda hartawan itu mengepungnya dengan golok di tangan, ia cepat mencabut Lui-kong-kiam yang mengeluarkan sinar kilat mengerikan. Akan tetapi sebelum ia bergerak, pada saat itu ia mendengar suara berbisik.

“Hwe-thian Mo-li, tidak baik membunuhi mereka yang hanya melakukan perintah majikan mereka!”

Siang Lan terkejut. Suara itu berbisik dekat sekali dengan telinga kirinya. Ia cepat menengok ke kiri namun tidak tampak ada orang yang berbisik itu!

Melihat gadis yang sudah mgncabut pedang itu kini tampak seperti bimbang atau bingung, duabelas orang tukang pukul mengira bahwa ia merasa jerih menghadapi mereka. Hal ini membesarkan hati mereka dan sambil berteriak-teriak mereka pun langsung menyerang dari sekeliling Siang Lan. Belasan golok itu menyambar-nyambar ke arah seluruh tubuh Siang Lan sehingga limabelas orang anak buah Ban-hwa-pang yang menonton merasa ngeri karena bagaimana mungkin ketua mereka dapat lobos dari serangan duabelas batang golok itu?

Akan tetapi, tentu saja bagi Siang Lan, serangan selosin batang golok itu bukan merupakan bahaya karena ia melihat betapa golok-golok itu digerakkan oleh tenaga kasar yang hanya mengandalkan otot. Ia segera memutar pedangnya dengan putaran yang luar biasa cepatnya sehingga yang tampak hanya sinar kilat bergulung-gulung menyelimuti tubuh Siang Lan.

Segera terdengar bunyi berdencingan ketika golok-golok yang menyerang itu, bertemu dengan sinar kilat, disusul teriakan mereka yang tiba-tiba kehilangan golok mereka yang patah-patah dan terpental lepas dari tangan mereka. Hwe-thian Mo-li sudah menggerakkan pedang dan kalau saja pada saat itu tidak terdengar lagi bisikan. “Jangan bunuh!?' tentu pedangnya sudah membuat buntung leher selosin orang pengeroyok itu.

Entah mengapa, suara bisikan itu amat berwibawa baginya dan Siang Lan menahan serangan pedangnya, kemudian hanya menggerakkan tangan kiri dan kaki berulang-ulang. Untuk kedua kalinya, kini lebih kuat lagi, mereka terpelanting roboh disambar tamparan atau tendangan!

Duabelas orang itu kini kehilangan nyali mereka. Selain tamparan atau tendangan yang mereka terima untuk kedua kalinya ini membuat mereka patah tulang atau bengkak-bengkak, juga mereka kini baru menyadari benar bahwa mereka berhadapan dengan seorang wanita yang amat lihai. Mereka lalu teringat akan kabar bahwa Ban-hwa-pang telah terbasmi dan dikuasai oleh seorang wanita lihai yang berjuluk Hwe- thian Mo-li. Tentu inilah orangnya!

Kini Siang Lan dengan pedang di tangan menghampiri Bong Kongcu yang berdiri dengan wajah pucat. Pemuda ini maklum bahwa nyawanya terancam maut, akan tetapi dia tidak takut.

“Hwe-thian Mo-li, engkau mengandalkan kepandaian silatmu untuk menghina kami yang datang sebagai tamu!”

“]ahanam Bong! Engkau masih berani mengeluarkan ucapan menyalahkan aku? Engkau yang telah menghina Li Ai dan engkau yang harus minta ampun, atau aku akan memenggal batang lehermu!”

“Aku tidak bersalah apa-apa!”

“Tidak mengaku salah? Engkau telah menghina Li Ai!” “Siapa menghina? Aku tetap mencintanya dan mau membawanya ke rumahku sebagai selir tersayang. Aku tidak dapat memperisterinya karena keadaannya. Aku tidak menghinanya, akan tetapi engkau yang telah menghinaku, memukul aku dan orang-orangku. Engkau sewenang-wenang hwe-thian Mo-li!”

“Jahanam busuk!” Siang Lan marah sekali dan ia mengangkat pedangnya untuk membacokkan ke leher pemuda hartawan itu.

Akan tetapi tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu seorang laki-laki telah berdiri di dekat Siang Lan dan dia menahan lengan Siang Lan yang memegang pedang sehingga gadis itu tidak dapat membacokkan pedangnya ke arah leher Bong Kongcu. Siang Lan terkejut sekali dan diam-diam ada perasaan girang dan juga penasaran ketika mengenal bahwa laki-laki itu adalah orang yang telah menolong ia dan Li Ai ketika dikeroyok orang-orang Pek-lian-kauw!

Ia merasa girang karena memang ia ingin berguru kepada orang ini, dan ia merasa penasaran karena orang itu kini menahan lengannya yang hendak membunuh Bong Kongcu. Ia mengerahkan tenaga saktinya dan menggerakkan lagi lengan kanannya, akan tetapi tetap saja ia tidak mampu membacokkan pedangnya karena tangan kiri orang yang menahan lengannya itu kuat bukan main!

Siang Lan adalah seorang gadis yang tidak pernah takut menghadapi siapapun juga. Kini ia merasa amat penasaran dan marah. Tangan kirinya lalu bergerak mendorong ke arah dada laki-laki yang menghalangi niatnya membunuh Bong Kin.

“Wuut      plakk!” Telapak tangannya bertemu dada orang itu dan menempel, akan tetapi yang didorongnya

itu sama sekali tidak terdorong dan ia bahkan merasakan betapa telapak tangan kirinya menjadi panas seperti dibakar!

“Tidak perlu membunuh, dia tidak cukup pantas untuk dibunuh!” kata laki-laki itu dan kini dia melepaskan tangannya dari lengan Siang Lan, lalu membalikkan tubuhnya menghadapi Bong Kin.

“Engkau pemuda yang tidak menghargai wanita, memandang rendah wanita yang tidak berdaya. Pergilah dan bawa semua anak buahmu dari sini!”

Orang itu mendorong dari jarak jauh dan tubuh Bong Kin melayang bagaikan sehelai daun kering tertiup angin, lalu terbanting jatuh terguling-guling. Beberapa orang anak buahnya yang tidak begitu parah segera menolong dan memapahnya, lalu mereka semua meninggalkan tempat itu dengan terpincang-pincang dan saling menolong untuk naik menunggangi kuda mereka.

Kini Siang Lan berhadapan dengan laki-laki itu yang bukan lain adalah Sie Bun Liong. Semenjak terjadi peristiwa di Ban-hwa-pang, yaitu setelah di luar kesadarannya dia memperkosa Hwe-thian Mo-li, Sie Bun Liong yang merasa berdosa dan amat menyesal itu tidak pernah meninggalkan Hwe-thian Mo-li. Mula-mula dia menggunakan topeng, mengaku bernama Thian-te Mo-ong, memberi semangat hidup kepada gadis itu agar tetap hidup dan memperdalam ilmunya sehingga kelak dapat membalas dendam dan membunuh Thian-te Mo-ong yang mengaku sebagai pelaku pemerkosaan itu.

Kemudian, Sie Bun Liong tidak pernah meninggalkan Hwe-thian Mo-li, selalu membayanginya dan dia selalu menolong kalau gadis itu terancam bahaya. Sekarang pun dia muncul, bukan untuk melindunginya, melainkan untuk mencegah gadis itu melakukan pembunuhan dengan kejam.

“Kenapa engkau dulu menolong aku dari pengeroyokan orang-orang Pek-lian-kauw? Bukankah engkau pula yang dulu mengobatiku ketika aku pingsan?”

Sie Bun Liong menjawab tenang. “Sudah menjadi kewajiban setiap orang untuk menolong sesamanya yang terancam bahaya dan menderita kesusahan.”

“Akan tetapi mengapa engkau sekarang menentangku dan menghalangi aku membunuh pemuda Bong yang berengsek bersama anak buahnya itu?” “Yang kutentang adalah kekejamanmu akan membunuh orang-orang yang sudah tidak berdaya, dan sudah menjadi kewajiban setiap orang untuk mengingatkan sesamanya yang tersesat.”

Siang Lan merasa heran terhadap dirinya sendiri mengapa ia tidak menjadi marah dan tidak merasa benci terhadap orang yang telah menghalangi niatnya membunuh Bong Kongcu dan anak buahnya tadi. Mungkin karena aku mengharapkan dia akan membantunya memperdalam ilmu silatku, pikirnya menghibur diri sendiri.

“Aku telah berhutang budi kepadamu, Paman. Bolehkah aku mengetahui namamu?” tanya Siang Lan. Sie Bun Liong tersenyum mendengar gadis itu menyebutnya paman. Memang sudah sepatutnya kalau dia menjadi paman gadis itu. Usianya sudah empatpuluh dua tahun sedangkan Hwee-thian Mo-li yang liar dan ganas itu paling banyak berusia duapuluh dua atau duapuluh satu tahun!

“Tentu saja boleh, Nona. Namaku sendiri aku sudah lupa karena tidak kupergunakan lagi. Maka engkau boleh mengenalku sebagai Bu-beng-cu (Si Tanpa Nama).”

“Paman Bu-beng-cu, aku adalah Hwe-thian Mo-li, ketua dari Ban-hwa-pang. Karena Paman sudah berkali- kali menolongku, maka kupersilakan Paman memasuki perkampungan kami karena aku ingin membicarakan sesuatu denganmu. Silakan, Paman.”

Bu-beng-cu menggelengkan kepalanya. “Tidak, Nona. Ban-hwa-pang kini merupakan perkumpulan wanita, bagaimana aku boleh memasukinya? Kalau engkau mempunyai kepentingan untuk dibicarakan denganku, kita dapat bicara di sini saja.”

Siang Lan menoleh kepada belasan orang anak buah Ban-hwa-pang yang masih berdiri di depan pintu gerbang dan memberi isyarat kepada mereka agar masuk kembali ke dalam perkampungan Ban-hwa-pang. Setelah mereka semua masuk, ia menghadapi lagi Bu-beng-cu dan berkata sambil menatap wajah laki-laki itu.

“Begini, Paman Bu-beng-cu. Aku telah melihat ilmu kepandaian silat Paman yang amat tinggi. Karena itu, sejak Paman membantuku, telah timbul niat dalam hatiku untuk dapat belajar ilmu silat darimu. Demikianlah, Paman, aku ingin berguru padamu jika Paman tidak berkeberatan.”

Bu-beng-cu mengangguk-angguk. “Hwe-thian Mo-li, engkau adalah seorang wanita yang telah memiliki ilmu kepandaian silat yang amat tinggi dan kukira jarang ada musuh yang dapat mengalahkanmu. Kenapa engkau masih hendak belajar silat lagi?”

“Paman Bu-beng-cu, aku harus memperdalam ilmu silatku karena aku mempunyai seorang musuh besar yang tinggi sekali ilmu silatnya. Tanpa memperdalam ilmuku, tak mungkin aku dapat membalas dendam terhadap musuh besarku itu. Karena itu, Paman, janganlah kepalang menolongku. Terimalah aku sebagai muridmu dan aku selamanya akan merasa berterima kasih sekali kepadamu!”

“Hemm, Hwe-thian Mo-li, melihat kesungguhan hatimu, aku tidak keberatan untuk mengajarkan ilmu silat untuk memperdalam ilmumu. Akan tetapi aku baru mau mengajarmu kalau engkau dapat memenuhi syarat- syaratnya.”

“Aku akan melakukan apa pun yang menjadi syaratnya, Paman Bu-beng-cu!” kata Hwe-thian Mo-li dengan sungguh-sungguh karena baginya, tujuan utama sisa hidupnya hanya untuk membalas dendam dan membunuh Thian-te Mo-ong!

“Syarat pertama adalah bahwa aku tidak mau kausebut guru karena aku sejak dulu tidak berkeinginan mengambil murid. Sebut saja aku Bu-beng-cu, tanpa embel-embel Suhu, dan engkau tidak boleh memberitahukan siapa pun bahwa engkau muridku.”

05.13. Persyaratan Belajar Ilmu Silat

“AKAN kulaksanakan syarat itu, Paman, sungguhpun syaratmu ini aneh. Baik, aku akan selalu menyebutmu Paman Bu-beng-cu.”

“Syarat kedua, aku tidak mau tinggal di dalam perkampungan Ban-hwa-pang karena sebagai seorang laki- laki, tidak pantas tinggal di perkampungan wanita. Aku tinggal di dalam guha di lereng sebelah utara sana. Kalau engkau belajar ilmu, engkaulah yang harus datang ke sana setiap hari di waktu matahari mulai bersinar. Engkau akan kuberi pelajaran dan latihan sampai siang hari.”

“Baik, Paman. Syarat kedua ini pun akan kutaati dan kulaksanakan dengan baik.”

“Sekarang syarat ketiga dan terakhir, namun aku merasa sangsi apakah engkau akan dapat memenuhi syarat ini ataukah tidak.”

“Apakah syarat itu, Paman. Kedua syarat pertama amat mudah kulaksanakan dan betapa pun berat syarat yang terakhir, pasti akan kutaati dan kulaksankan!” kata Siang Lan penuh semangat karena hatinya merasa girang sekali bahwa laki-laki yang amat lihai ini sudah mau mengajarinya ilmu silat tinggi.

“Syarat terakhir ini harus kaujanjikan dengan sumpah.” “Baik, Paman! Aku akan bersumpah. Katakan apa syarat itu!”

“Syaratnya adalah, setelah engkau mempelajari ilmu-ilmu dariku, engkau harus bersumpah kelak tidak akan melakukan pembunuhan lagi. Selama hidupmu engkau tidak boleh lagi bersikap ganas dan kejam, mudah membunuh orang!”

Wajah Siang Lan berubah agak pucat alisnya berkerut dan mukanya muram. Ia segera teringat kepada Thian-te Mo-ong. Justeru ia ingin memperdalam ilmu silatnya agar kelak dapat membunuh musuh besar yang telah merusak kebahagiaan hidupnya! Biarlah ia selamanya tidak boleh membunuh orang, asalkan ia mencapatkan ilmu-ilmu untuk membunuh Thian-te Mo-ong!

“Paman, bagaimana kalau aku diserang orang dan terancam bahaya maut di tangan musuh itu?”

“Kalau terpaksa sekali untuk membela diri, tentu saja itu bukan merupakan kekejaman membunuh. Maksudku kalau masih ada jalan lain engkau sama sekali tidak boleh membunuh orang. Cukup dengan mengalahkan, merobohkan dan melukai ringan saja. Bagaimana, apakah engkau sanggup? Kalau sanggup, bersumpahlah sekarang juga!”

Karena merasa tersudut, Siang Lan lalu nekat. Ia berlutut dan mengucapkan sumpahnya. “Aku bersumpah untuk tidak membunuh orang lagi kecuali membela diri karena terancam bahaya. Sumpah ini berlaku untuk semua orang di dunia, kecuali satu orang, yaitu Thian-te Mo-ong. Aku bersumpah untuk membunuhnya karena membalas sakit hati dan membunuhnya merupakan satu-satunya keinginanku dalam hidup ini!”

Mendengar sumpah itu, Bu-beng-cu memandang dengan wajah pucat, alisnya berkerut, matanya tampak gelisah dan dia menghela napas panjang. “Hwe-thian Mo-li, agaknya engkau tidak dapat mengampuni musuhmu yang satu itu ”

“Mengampuninya? Hemm, mau rasanya aku membunuhnya sampai seribu kali untuk menebus dosanya terhadap diriku! Aku menggunakan sisa hidupku ini hanya untuk membalas dendam kepadanya, Paman. Apa pun akan kujalani untuk dapat berhasil membunuhnya!”

“Baiklah, Hwe-thian Mo-li. Harap engkau memegang sumpahmu, yaitu tidak akan membunuh siapa-siapa lagi kecuali musuh besarmu yang satu itu.” Dia menghela napas lagi.

Memang sejak terjadi peristiwa jahanam di malam itu, dia sudah mengambil keputusan. Untuk menebus dosanya, dia harus mati di tangan gadis ini. Akan tetapi sebagai seorang gagah, baik dia sendiri maupun Hwe-thian Mo-li, kematiannya harus terjadi sewajarnya, yaitu dalam perkelahian. Dan dia sendiri yang akan melatih gadis ini agar tingkat kepandaiannya cukup kuat untuk mengalahkan dan membunuhnya!

Dengan cara ini, bukan saja dia dapat menebus dosanya, juga dia dapat membuat Hwe-thian Mo-li tidak putus asa dan memiliki semangat untuk terus hidup dan berjuang. Selain itu, dia juga dapat mengubah sifat gadis yang tadinya liar dan ganas, mudah membunuh orang itu dengan ikatan sumpahnya. Dengan mengorbankan dirinya kelak, dia dapat membuat banyak kebaikan, bagi dirinya sendiri, bagi Hwe-thian Mo- li, juga bagi rakyat karena mereka kini terbebas dari ancaman maut di tangan Si Iblis Betina Terbang ini.

“Sekarang aku hendak kembali ke guhaku. Mulai besok pagi, setelah matahari tampak bersinar, datanglah ke sana dan kita mulai latihan.”

Setelah berkata demikian, tanpa menanti jawaban Siang Lan, sekali berkelebat Bu-beng-cu telah lenyap dari situ. Melihat gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang demikian hebatnya, Siang Lan merasa kagum dan juga girang sekali. Ia tahu bahwa dalam hal gin-kang ia masih kalah jauh.

Siang Lan kembali ke dalam perkampungan, terus memasuki rumahnya dan ia mendapatkan Li Ai tengah menangis tanpa suara sambil membenamkan muka pada bantal...... Melihat kedua pundaknya yang tergoyang-goyang itu Siang Lan tahu bahwa gadis itu sedang menangis.

Ia duduk di tepi pembaringan dan menyentuh pundak Li Ai. “Li Ai, hentikan tangismu. Tiada gunanya menangis. Engkau masih beruntung tidak jadi berjodoh dengan pemuda macam itu.”

Li Ai bangkit dan merangkul Siang Lan, kini tangisnya mengguguk. “Enci Lan     ahh, kenapa aku tidak mati

saja    ??” rintihnya memelas.

Siang Lan dapat merasakan kepedihan di hati Li Ai, maka teringat akan keadaan dirinya sendiri, tak terasa lagi ia pun balas merangkul dan sepasang matanya basah.

“Tenang, dan sabarlah, Li Ai, jangan putus asa. Engkau tidak menderita seorang diri. Aku pun pernah ingin mati saja seperti engkau sekarang ini, aku pun pernah menjadi korban kebiadaban laki-laki.” Li Ai tiba-tiba menghentikan tangisnya saking terkejut dan heran mendengar ucapan Siang Lan itu. “Kau......? Maksudmu engkau juga pernah diperkosa orang, Enci?”

Siang Lan mengangguk dan menghela napas panjang. “Benar, Li Ai. Dalam keadaan tertotok dan tidak mampu bergerak, aku telah diperkosa seorang manusia iblis yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali.”

“Akan tetapi, engkau begini lihai, bagaimana sampai dapat terjadi hal itu?”

“Aku tertotok, dan orang itu memiliki ilmu kepandaian jauh lebih tinggi dariku. Tadinya aku pun sudah putus asa dan ingin bunuh diri saja. Akan tetapi aku teringat bahwa aku tidak boleh mati sebelum membalas dendam, sebelum membunuh musuh besarku itu! Bangkit kembali semangatku dan aku harus memperdalam ilmuku sehingga dapat mengalahkan musuh besarku.”

“Aih, Enci, sungguh tidak pernah kusangka bahwa engkau pun pernah mengalami malapetaka seperti aku. Siapakah musuh besarmu itu, Enci?”

“Dia seorang pengecut benar, tidak berani memperlihatkan wajahnya yang selalu mengenakan sebuah topeng kayu dan dia mengaku berjuluk Thian-te Mo-ong. Belum pernah aku mendengar nama julukan itu di dunia kang-ouw. Aku tidak dapat mencarinya karena dia tidak mau memberitahukan di mana tempat tinggalnya. Akan tetapi dia berjanji dengan penuh kesombongan bahwa setiap tahun dia akan datang mencariku untuk mengadu ilmu.

“Aku akan memperdalam ilmuku dan aku sudah menemukan seorang guru, Li Ai, yaitu laki-laki setengah tua yang dulu menolong kita melarikan diri ketika dikepung orang-orang Pek-lian-kauw. Dia itu lihai sekali dan kuharap setelah mendapat gemblengannya, aku akan berhasil membunuh si keparat jahanam pengecut Thian-te Mo-ong!” Siang Lan bicara penuh semangat sambil mengepal tinju.

Li Ai yang sudah menghentikan tangisnya karena tertarik oleh keterangan Siang Lan tadi, menghela napas panjang. “Enci, bagaimana pun engkau masih mempunyai semangat hidup karena masih memiliki tujuan, yaitu membalas sakit hatimu terhadap orang-orang yang telah memperkosamu. Akan tetapi aku, apa artinya hidup ini? Dua orang yang menghinaku itu telah kaubunuh, dan namaku juga tentu akan tercemar karena Bong Kin itu tentu akan menyiarkan tentang keadaanku yang sudah ternoda. Semua orang di kota raja akan mendengarnya. Ah, apa gunanya aku hidup lebih lama?”

“Dia tidak akan berani, Li Ai. Aku sudah menghajarnya habis-habisan, bahkan nyaris membunuhnya. Juga selosin orang anak buahnya telah kuberi pelajaran keras. Seandainya dia belum jera dan masih menyiarkan berita tentang dirimu, kelak engkau masih mempunyai banyak kesempatan untuk membalas penghinaannya!”

“Akan tetapi, apa yang dapat kulakukan terhadap orang she Bong itu, Enci? Aku seorang gadis lemah dan tak berdaya ”

“Hemm, bukankah aku sudah berjanji untuk mengajarkan ilmu silat kepadamu? Jangan putus asa dan buang jauh-jauh keinginanmu untuk mati itu. Hidupmu masih kau butuhkan dan dibutuhkan banyak orang. Kelak, kalau engkau sudah memiliki ilmu silat yang tinggi, engkau dapat membantuku untuk memberi hajaran keras kepada para pria yang jahat dan yang menghina kaum wanita. Kita berdua akan malang melintang di dunia kang-ouw, menjadi pembela kaum wanita dan penentang pria yang suka menghina wanita.

“Bagaimana pendapatmu? Bukankah itu merupakan tujuan sisa hidup kita yang amat baik? Kita perangi para pria yang jahat dan kita bangun Ban-hwa-pang menjadi perkumpulan wanita gagah yang melindungi kaum wanita dari kejahatan laki-laki berengsek seperti Thian-te Mo-ong, dua orang tokoh Pek-lian-kauw yang sudah mati di tanganku, juga orang-orang macam Bong Kin itu!”

Mendengar ini, bangkit semangat hidup Li Ai. Ia harus dapat melupakan apa yang telah terjadi kepadanya. Dua orang jahanam yang memperkosanya itu sudah dibunuh Siang Lan, sakit hatinya telah terbalas impas dan ia tidak perlu memikirkan dua orang musuh besar itu lagi. Adapun tentang kegagalannya berjodoh dengan Bong Kongcu, hal itu sama sekali tidak membuat ia berduka atau kecewa karena kenyataannya, ia belum mempunyai perasaan cinta kepada pemuda itu. Hanya sikap dan kata-kata pemuda itu yang membuat ia merasa terhina.

“Biarpun Bong Kongcu telah dihajar oleh Siang Lan, namun pemuda yang menghinanya itu masih hidup. Siang Lan benar, harus mempelajari ilmu silat. Kalau ia sudah kuat dan tangguh ia akan menghajar semua laki-laki macam dua orang tosu Pek-lian-kauw, Bong Kin, dan semua hidung belang mata keranjang yang menjadi jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga atau pemerkosa)! Sisa hidupnya kini mempunyai tujuan! Demikianlah, mulai hari itu, setiap pagi sekali Siang Lan keluar dari perkampungan Ban-hwa-pang untuk menerima gemblengan ilmu dari Bu-beng-cu. Pertama-tama, Bu-beng-cu mengajarkan ilmu untuk memperkuat gin-kangnya hingga gerakannya menjadi semakin ringan dan makin cepat.

Setelah pada siang harinya ia kembali ke perkampungan, Siang Lan melatih ilmu silat kepada Li Ai yang belajar dengan tekun sekali. Juga para anak buah Ban-hwa-pang menerima latihan agar mereka menjadi lebih kuat. Pekerjaan semua wanita di Ban-hwa-pang mulai dari ketuanya sampai kepada anak buahnya yang tingkatnya paling rendah, setiap hari hanya berlatih ilmu silat.

Harta yang dibawa Li Ai dari rumah ayahnya amat bermanfaat bagi Ban-hwa-pang. Perkampungan itu dibangun, dan atas petunjuk Siang Lan dan Li Ai lembah itu ditata dan diperbaiki, tumbuh-tumbuhan bunga beraneka macam itu diatur rapi sehingga lembah itu tampak semakin asri dan pantaslah kalau dinamakan Lembah Selaksa Bunga.

Lembah yang luas itu dibentuk seperti sebuah taman bunga yang indah, dengan bangunan kecil-kecil mungil, beranda-beranda yang dicat beraneka warna di dekat empang-empang ikan dan bunga teratai. Di beranda-beranda itu digantungi lampu-lampu sehingga kalau malam tiba, lampu-lampu dengan selubung beraneka warna itu menambah indah taman atau lembah itu. Di bagian lain dari lembah itu ditanami tumbuh-tumbuhan obat dan ada pula bagian taman yang-liu (semacam cemara) yang mendatangkan suasana sejuk.

Karena setiap hari hanya berlatih ilmu silat dan juga melatih Li Ai dan para anak buah Ban-hwa-pang, maka Siang Lan lupa akan waktu. Apalagi karena Bu-beng-cu setiap hari melatih gin-kang sehingga setelah lewat kurang lebih setengah tahun, gin-kangnya sudah maju pesat dan kini ia bahkan mampu mengimbangi kecepatan gerakan Bu-beng-cu.

Pada pagi itu, seperti biasa Siang Lan datang ke depan guha yang menjadi tempat tinggal Bu-beng-cu. Laki-laki itu menyambutnya dengan senyum cerah. Begitu berhadapan, Siang Lan seperti terpesona.

Laki-laki yang melatihnya akan tetapi tidak mau disebut guru itu tampak segar karena rambutnya yang hitam panjang itu masih basah dan digelung ke atas, diikat pita kuning. Mukanya yang dicukur bersih itu tampak lebih muda dari usianya yang sudah empatpuluh dua tahun. Pakaiannya yang sederhana namun bersih tidak menyembunyikan tubuhnya yang sedang namun tegap. Sepasang matanya bersinar lembut mulutnya tersenyum.

Dalam penglihatan Siang Lan pada saat itu, Bu-beng-cu tampak amat gagah dan menarik hati. Apalagi mengingat betapa laki-laki ini selain menyelamatkannya dari bahaya juga telah menggemblengnya dengan sungguh-sungguh walaupun tidak mau disebut sebagai guru. Sikapnya selalu lembut, pandang matanya mendatangkan ketenangan dalam hatinya dan senyum serta sikapnya terkadang jelas menunjukkan bahwa Bu-beng-cu menghormati dan menyayangnya.

Dan anehnya, selama setengah tahun lebih ini Bu-beng-cu sama sekali tidak pernah mengajak ia bicara tentang keadaan diri masing-masing, seolah dia tidak suka menceritakan riwayat hidupnya dan tidak pula ingin tahu riwayat hidup Hwe-thian Mo-li. Kalau dia bicara, yang dibicarakan tentu soal ilmu mempertinggi gin-kang yang sedang dilatih Siang Lan!

Pagi ini, Siang Lan sengaja datang lebih pagi daripada biasanya karena ia mengambil keputusan untuk mengajak Bu-beng-cu bicara tentang riwayat mereka masing-masing agar mereka dapat saling mengenal lebih baik. Ia merasa berhutang budi kepada Bu-beng-cu dan ingin mempererat persahabatan karena laki- laki itu tidak mau dianggap guru. Biarlah hubungan guru dan murid ini menjadi hubungan persahabatan yang lebih akrab, demikian pikirnya.

Akan tetapi begitu mereka berhadapan, sebelum ia dapat mengeluarkan kata-kata, Bu-beng-cu sudah mendahului menegurnya dengan suara ramah dan senyum tenang dan sabar. “Hwe-thian Mo-li, engkau datang pagi benar, lebih pagi dari biasanya.”

Siang Lan tersenyum. Ia sering merasa heran sendiri mengapa ia yang biasanya mempunyai perasaan tidak senang kepada laki-laki, apalagi semenjak cinta pertama terhadap Sim Tek Kun gagal, ia merasa tidak enak hati dan tidak suka. Rasa suka ini hampir berubah menjadi benci terhadap pria setelah ia mengalami peristiwa terkutuk menjadi korban perkosaan itu. Akan tetapi mengapa kalau ia bertemu dengan Bu-beng- cu, ia merasa gembira sekali? Hal ini karena ia merasa berhutang budi dan pria yang satu ini memang lain daripada yang lain.

Biasanya setiap ia bertemu laki-laki, mata mereka itu pasti memandangnya bagaikan seekor anjing kelaparan melihat daging seolah sinar mata itu menggerayangi seluruh tubuhnya. Akan tetapi sinar mata Bu-beng-cu ini lain. Selalu lembut tidak pernah terlalu lama mengamati wajahnya, bahkan jarang dapat bertemu pandang karena laki-laki ini selalu mengelak kalau pandang matanya bertemu dengan pandang mata Siang Lan.

“Paman Bu-beng-cu, aku memang sengaja datang lebih pagi karena aku ingin lebih dulu membicarakan sesuatu denganmu sebelum aku mulai terlatih.”

“Hendak membicarakan apakah, Hwe-thian Mo-li? Katakan saja karena hari ini engkau tidak perlu latihan lagi. Hari ini aku akan menguji sampai di mana kemajuan gin-kangmu selama engkau memperdalamnya lebih dari setengah tahun.”

“Setengah tahun lebih?” Siang Lan berseru kaget karena selama ini ia seolah telah melupakan waktu. Setelah ia mengingat-ingat, hari ini tentu sudah setahun lewat sejak musuh besarnya berjanji untuk menemuinya dan mengadu ilmu! “Kalau begitu, sewaktu-waktu tentu musuh besarku akan muncul mencariku untuk membuat perhitungan dan mengadu ilmu!”

“Apakah yang ingin kaubicarakan dengaanku?” Bu-beng-cu menunju ke arah batu-batu sebesar perut kerbau yang terdapat banyak di depan guha besar tempat tinggalnya. Mereka lalu duduk di atas batu, berhadapan dalam jarak dua tombak.

“Begini, Paman. Te1ah lebih dari setengah tahun kita berhubungan, biarpun bukan sebagai guru dan murid karena engkau tidak mau kusebut guru, setidaknya sebagai sahabat baik. Aku berhutang banyak budi kebaikan darimu, akan tetapi kita tidak saling mengenal riwayat masing-masing. Oleh karena itu, aku harap engkau suka mendengarkan riwayatku kemudian engkau menceritakan riwayatmu kepadaku sehingga perkenalan ini menjadi semakin akrab. Kalau engkau setuju, aku akan menceritakan riwayatku lebih dulu. Bagaimana pendapatmu, Paman?”

Bu-beng-cu menghela napas panjang, akan tetapi wajahnya tetap tenang. “Terserah kepadamu, Nona.”

Siang Lan girang sekali mendengar pria itu tidak merasa keberatan. Maka ia lalu menceritakan riwayatnya dengan singkat tanpa ragu, akan tetapi tentu saja tidak mau bercerita tentang kegagalan cintanya dengan Sim Tek Kun, putera pangeran yang menjadi tokoh Kun-lun-pai itu.

“Sejak kecil aku kehilangan Ayah Ibuku. Aku menjadi yatim piatu dan hidup sebatang kara. Dalam usia sepuluh tahun, aku ditolong dan diambil murid oleh Pat-jiu Kiam-ong Ong Han Cu dan dibawa ke Liong-cu- san.”

“Hemm, pantas ilmu silatmu tinggi. Aku pernah mendengar nama besar pahlawan bangsa Pat-jiu Kiam-ong Ong Han Cu,” kata Bu-beng-cu kagum. Pat-jiu Kiam-ong (Raja Pedang Tangan Delapan) memang terkenal sekali sebagai seorang pendekar patriot yang amat lihai ilmu pedangnya, gagah perkasa dan berjiwa pahlawan.

“Suhu Pat-jiu Kiam-ong yang memelihara, membesarkan dan mendidikku, maka engkau dapat membayangkan kedukaan dan kemarahanku ketika Suhu dibunuh secara curang oleh lima orang kang-ouw golongan sesat.”

“Hemm, siapakah mereka?”

“Mereka adalah Leng Kok Hosiang berjuluk Jai-hwa-sian (Dewa Pemetik Bunga), Toat-beng Sin-to (Golok Sakti Pencabut Nyawa) Liok Kong, Hek-wan (Lutung hitam) Yap Cin, Shan-tung Tai-hiap (Pendekar Shan- tung) Siong Tat, dan Kim-gan-liong (Naga Mata Emas) Cin Liu Ek. Aku dan Sumoi Ong Lian Hong mencari lima orang pembunuh Suhu itu dan akhirnya kami berdua dapat membunuh mereka. Sumoi Ong Lian Hong adalah puteri mendiang Suhu.”

“Kim-gan-liong Cin Liu Ek? Bukankah dia yang tinggal di kota Lun-cong. Akan tetapi sebelum aku tinggal di sini, aku pernah bertemu dengan pendekar itu dan dia ternyata seorang pendekar bijaksana dan tidak terbunuh ”

“Benar, Paman. Aku tidak membunuhnya karena ternyata di antara lima orang yang kami sangka mengeroyok dan membunuh Suhu, ternyata Kim-gan-liong Cin Lu Ek tidak ikut membunuhnya dan dia tidak bersalah.”

05.14. Agama, Obor Di Lorong Gelap!

Bu-beng-cu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bagus sekali, kebijaksanaanmu itu sebaiknya ditingkatkan dengan tidak melakukan pembunuhan, Hwe-thian Mo-li. Biarpun ada yang bersalah kepadamu, sebaiknya engkau hanya memberi pelajaran kepadanya agar orang itu menyadari kesalahannya dan bertobat. Orang yang melakukan perbuatan jahat ada seorang yang sedang sakit, bukan jasmaninya melainkan sakit rohaninya. Penyakit itu dapat sembuh dan orang yang sehat pun sewaktu-waktu dapat saja jatuh sakit. Orang sesat mungkin saja bertobat dan menjadi baik, seperti kemungkinan orang baik-baik tergoda dan melakukan perbuatan jahat. Kita sama sekali tidak berhak membunuh orang.”

“Akan tetapi, seperti sumpahku, Paman, aku tidak akan membunuh orang lagi kecuali yang seorang itu, musuh besarku Thian-te Mo-ong.”

Kembali Bu-beng-cu menghela napas panjang. “Terserah kepadamu, engkau tentu memiliki alasan kuat untuk berkeras membunuhnya. Lanjutkan ceritamu.”

“Aku selalu menentang kejahatan dan terhadap para penjahat itu aku tidak pernah memberi ampun dan bertindak tegas dan keras sehingga para kaum sesat di dunia kang-ouw memberi julukan Hwe-thian Mo-li kepadaku. Aku tidak peduli akan julukan Iblis Betina, karena aku memang ganas seperti iblis terhadap kaum sesat.

Pada suatu hari, aku jatuh pingsan di lereng Ban-hwa-san ini, aku ditangkap oleh Ketua Ban-hwa-pang dan dikeram dalam sebuah kamar dalam keadaan tertotok. Aku tidak berdaya dan pada malam harinya......

muncul...... Thian-te Mo-ong itu...... dia...... menghina aku yang sedang tak berdaya! Karena itulah aku mendendam kepadanya dan aku bersumpah untuk membalas membunuhnya!

“Setelah jahanam itu pergi dan aku terbebas dari totokan, aku lalu mengamuk. Kubunuh Ketua Ban-hwa- pang berikut semua anak buahnya dan aku menguasai Ban-hwa-pang. Kini akulah Ketua Ban-hwa-pang dan para anggautanya terdiri dari para wanita bekas anak buah Ban-hwa-pang lama. Aku bertemu dengan engkau yang berkali-kali telah menolongku dan melihat kelihaianmu, aku ingin belajar ilmu silat, memperdalam ilmuku agar kelak dapat kupergunakan untuk membalas dendam kepada musuh besarku, dan juga untuk menghadapi Pek-lian-kauw yang jahat dan yang memiliki banyak orang pandai.”

Siang Lan menghentikan ceritanya dan menatap wajah Bu-beng-cu. Ia merasa heran melihat wajah yang biasanya cerah itu kini tampak agak muram.

Melihat Bu-beng-cu kini diam saja sambil mengerutkan alis dan menundukkan mukanya, Siang Lan bertanya. “Paman, bagaimana dengan riwayatmu? Sekarang giliranmu untuk menceritakan riwayatmu kepadaku.”

Bu-beng-cu menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya. “Apakah yang dapat kuceritakan? Tidak ada suatu yang menarik tentang diriku. Apa yang ingin kauketahui?”

Siang Lan maklum bahwa orang tentu hendak menyembunyikan keadaan dirinya, maka namanya pun sudah menunjukkan bahwa dia tidak ingin dikenal orang. Hal ini membuatnya penasaran.

“Paman, dengan menggunakan nama Bu-beng-cu (Si Tanpa Nama) engkau seperti menyangkal dirimu sendiri. Aku ingin mengetahui apakah Paman mempunyai keluarga, isteri atau anak-anak?”

Bu-beng-cu menggelengkan kepalanya. “Tidak, Hwe-thian Mo-li, aku tidak mempunyai keluarga, aku hidup sebatang kara, hanya hidup berdua dengan bayanganku yang sering kali menggangguku.”

Jawaban yang aneh itu membuat Siang Lan menjadi semakin penasaran. “Apakah Paman tidak pernah beristeri?”

“Tidak, sejak kecil aku merantau jauh ke barat dan selama ini aku hanya mempelajari ilmu silat.” “Akan tetapi sikap Paman lembut dan kata-kata Paman teratur seperti seorang sastrawan.”

Senyum yang biasanya menghias mulut orang itu kini muncul sehingga hati Siang Lan merasa tenang. “Aku suka mempelajari sastra dan aku sudah membaca kitab-kitab suci dari tiga agama, yaitu Hud-kauw (Buddhism), To-kauw (Taosim), dan Khong-kauw (Confucianism).”

Diam-diam ada perasaan lega dan girang dalam hati Siang Lan mendengar bahwa Bu-beng-cu tidak mempunyai keluarga seperti juga dirinya sendiri, dan ia pun heran akan dirinya sendiri mengapa merasa girang mendengar akan kesendirian laki-laki itu. Kini mendengar bahwa Bu-beng-cu agaknya ahli akan kitab-kitab tiga agama yang waktu itu memiliki pengaruh besar dalam kebudayaan dan kehidupan rakyat, dengan penasaran ia bertanya. “Paman, aku melihat betapa semua orang agaknya beragama. Akan tetapi mengapa kejahatan merajalela dan bahkan mereka yang sudah mengenakan jubah pendeta, mengaku sebagai ahli agama, masih suka melakukan perbuatan jahat?”

Kini wajah Bu-beng-cu bersinar dan tampak bersemangat setelah Siang Lan bicara tentang agama.

“Hwe-thian Mo-li, jangan heran melihat gejala seperti itu. Yang jahat itu bukanlah agamanya, melainkan manusianya. Kalau ada seorang manusia mengaku beragama dan dia melakukan perbuatan jahat, maka dia itu bukanlah seorang beragama, melainkan seorang penjahat yang mengaku-aku beragama. Agamanya hanya dipergunakan sebagai kedok untuk menutupi perbuatannya. Kalau dia benar seorang beragama, pasti dia tidak mau dan tidak berani melakukan kejahatan karena hal itu dilarang oleh semua agama.

“Demikian pula kalau ada seorang pendeta agama melakukan perbuatan jahat, dia hanya seorang manusia yang palsu dan menggunakan pakaian pendeta dan agamanya sebagai kedok belaka. Agama merupakan pelajaran agar manusia menjadi baik dan benar, namun pelajaran itu tidak ada artinya sama sekali kalau tidak dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Api atau inti semua agama itu terbukti dalam sikap dan perbuatan sehari-hari, adapun semua upacaranya itu kalau tidak terbukti apinya, hanya menjadi asap dan abu yang menggelapkan mata dan mengotori keadaan belaka.”

Siang Lan adalah seorang wanita yang cerdas. Biarpun hanya sedikit saja pengetahuannya tentang filsafat dan agama, namun ucapan Bu-beng-cu itu berkesan dalam hatinya dan ia dapat mengerti maksudnya. Akan tetapi, juga mendatangkan rasa penasaran dalam hatinya yang mendorongnya ingin mengetahui lebih banyak lagi.

“Paman, karena demikian banyaknya terdapat orang yang beragama akan tetapi melakukan perbuatan jahat yang dilarang agamanya, apakah tidak lebih baik kalau manusia tidak beragama saja?”

Bu-beng-cu tertawa.

“Bukan begitu, Nona. Agama merupakan obor bagi manusia yang hidup di dunia ini, dunia yang bagaikan sebuah lorong yang gelap. Obor itu akan menerangi lorong sehingga kita dapat melihat ke arah mana kita melangkah, karena ada jalan menuju kepada Thian (Tuhan) yang menjadi Sumber kita, akan tetapi juga ada jalan yang membawa kita ke jurang dosa dan kehancuran.

“Agama sebagai obor itu memang amat penting dan setiap orang seyogianya memegang obor masing- masing agar jangan salah jalan. Akan tetapi, apakah artinya obor bernyala di tangan kalau kita tidak mau melangkah ke arah jalan kebenaran. Apa artinya semua pelajaran keagamaan kita pelajari dan kita hafalkan kalau tidak kita laksanakan dalam hidup ini? Jadi, agama baru bermanfaat kalau kita amalkan sesuai dengan ajarannya.

“Sebaliknya, kalau orang tidak beragama, bagaikan berjalan dalam lorong gelap tanpa mempunyai obor penerangan, dia sudah tersesat atau jatuh tersandung. Memiliki obor tanpa melangkah atau tidak memegang obor penerangan sama sekali, sama buruknya. Yang benar adalah membawa obor yang menerangi jalan hidup sambil melangkah atau memiliki agama sambil mengamalkan pelajaran agamanya.”

“Ah, kalau aku tidak keliru berpendapat, seorang penjahat yang beragama itu lebih sesat dibandingkan seorang penjahat yang tidak beragama. Betulkah itu, Paman?”

“Dua-duanya jelas tidak betul karena melakukan kejahatan. Akan tetapi dosa orang yang beragama namun jahat lebih buruk lagi karena dia mencemarkan kebersihan agama itu sendiri. Ah, sudahlah, Hwe-thian Mo-li, sekarang tiba saatnya aku menguji gin-kangmu. Mari kita berlumba lari sampai ke puncak bukit itu mengambil sebuah batu kapur yang hanya terdapat di puncak lalu cepat kembali ke sini.”

Dengan gembira Siang Lan mengangguk dan setelah Bu-beng-cu memberi isyarat, mereka berdua lalu berkelebat sedemikian cepatnya sehingga yang tampak hanya dua sosok bayangan melejit ke arah puncak bukit. Siang Lan mengerahkan gin-kang yang sudah maju pesat dan kini larinya jauh lebih cepat dibandingkan setengah tahun yang lalu. Kalau ada orang melihat mereka, tentu akan terkejut dan mungkin ketakutan, mengira bahwa dua sosok bayangan yang berkelebat itu adalah setan-setan penjaga bukit!

Siang Lan mempergunakan ilmu berlari cepat yang selama ini ia pelajari dan latih atas bimbingan dan petunjuk Bu-beng-cu, yaitu Yan-cu-coan-in (Walet Menembus Awan). Ia mengerahkan seluruh tenaganya karena ia melihat betapa bayangan Bu-beng-cu juga berlari cepat di sampingnya. Setelah tiba di puncak bukit, ia menyambar sepotong batu kapur lalu lari seperti terbang lagi, menuruni puncak menuju ke lereng di mana tadi mereka mulai berlumba lari. Begitu ia menghentikan gerakannya, ia melihat bahwa Bu-beng-cu juga sudah berhenti dan ternyata mereka berdua tiba di situ dengan berbareng! Masing-masing memegang sepotong batu kapur. Melihat betapa kecepatan mereka berimbang, Siang Lan berkata.

“Ah, engkau sengaja mengalah sehingga tidak mendahului aku, Paman Bu-beng-cu!”

Bu-beng-cu tertawa dan tampak wajahnya cerah gembira. “Sama sekali tidak, Hwe-thian Mo-li. Aku tadi juga sudah mengerahkan seluruh kemampuan, akan tetapi ternyata tidak dapat mendahuluimu, bahkan agak sukar bagiku untuk menjaga agar tidak ketinggalan. Aku girang sekali karena setelah sekian lama engkau berlatih dengan tekun, hari ini tampak hasilnya. Kiraku sekarang jarang ada orang yang dapat menandingimu dalam hal kecepatan sehingga julukanmu tepat sekali yaitu Hwe-thian (Terbang ke Langit), walaupun julukan Mo-li (Iblis Betina) itu kini tidak cocok lagi bagimu. Engkau bukan iblis betina lagi karena engkau sudah bersumpah untuk tidak sembarangan membunuh orang lagi.”

“Akan tetapi ada kecualinya, Paman, yaitu aku harus membunuh musuh besarku yang satu itu! Paman, setelah sekarang aku mendapat kemajuan dalam gin-kang, tentu aku akan berhasil membunuhnya. Kalau tidak salah perhitunganku sekarang sudah lewat setahun dan jahanam itu tentu akan datang menemuiku sebagaimana yang dia janjikan untuk membuat perhitungan.”

Bu-beng-cu menghela napas panjang. “Aku tidak tahu sampai di mana kelihaian musuhmu itu, Nona. Akan tetapi jangan engkau terlalu yakin dulu. Memang gin-kangmu sudah maju pesat dan kiranya akan sulit bagi musuhmu itu untuk mengalahkan kecepatan gerakanmu. Akan tetapi, dalam sebuah pi-bu (pertandingan silat) bukan hanya kecepatan gerakan yang menentukan walaupun kecepatan itu tentu saja merupakan bagian penting. Selain gin-kang, engkau harus lebih unggul dalam ilmu silat dan tenaga sakti. Berhati- hatilah kalau engkau bertemu dengan musuh besarmu.”

“Akan kuperhatikan nasihat Paman.”

“Nah, hari ini kunyatakan bahwa engkau telah lulus dalam pelajaran memperkuat gin-kangmu, Hwe-thian Mo-li. Mudah-mudahan engkau akan mendapatkan manfaat dari pelajaran ini dan aku akan merasa berbahagia sekali kalau engkau dapat memegang sumpahmu untuk tidak membunuh orang, juga kalau mungkin menghilangkan dendammu dan keinginanmu untuk membunuh orang yang kau anggap sebagai musuh besar itu. Aku sekarang hendak melanjutkan pertapaanku sini dan tidak ingin diganggu. Kecuali kalau ada urusan penting sekali, harap jangan ganggu aku lagi.”

Siang Lan memberi hormat dan berkata dengan nada terharu. “Paman telah mengorbankan waktu pertapaan Paman, sudah berulang kali menolongku, aku mengucapkan banyak terima kasih dan selama hidupku aku tidak akan melupakan kebaikan Paman Bu-beng-cu.”

“Pulanglah, Nona, dan jaga dirimu baik-baik,” kata Bu-beng-cu, suaranya juga tergetar karena dia merasa terharu pula mendengar suara gadis itu begitu menyentuh perasaannya.

“Engkau juga, jaga dirimu baik-baik, Paman. Selamat tinggal.” Setelah berkata demikian, Siang Lan berkelebat dan lenyap dari depan guha tempat pertapaan Bu-beng-cu itu.

Setelah Siang Lan pergi jauh, Bu-beng-cu kini menghela napas panjang dan pandang matanya ditujukan ke langit yang mulai cerah dengan sinar matahari pagi.

“Thian, alangkah pahitnya akibat dari kebodohan dan kelemahanku saat itu. Puji syukur kepadamu, Ya Tuhan, bahwa Engkau telah memberi kesempatan kepadaku untuk menebus dosaku itu ”

Setelah mengeluarkan ucapan lirih dan sepasang matanya menjadi basah air mata, Bu-beng-cu atau Thian- te Mo-ong atau nama aselinya Sie Bun Liong melangkah perlahan-lahan memasuki guhanya.

Hati Siang Lan yang merasa girang sekali karena kini ia telah memperoleh kemajuan pesat dalam ilmu meringankan tubuh sehingga ia mampu bergerak jauh lebih cepat daripada dahulu sebelum digembleng oleh Bu-beng-cu. Masih teringat ia betapa dulu ia amat mengagumi kecepatan gerakan Bu-beng-cu. Akan tetapi sekarang ketika berlumba lari, ia dapat mengimbangi gurunya itu! Ia merasa yakin bahwa kini ia pasti akan mampu mengalahkan Thian-te Mo-ong dan membunuhnya untuk membalas dendam atas perbuatan keji yang dilakukan atas dirinya.

Ia merasa lebih gembira lagi karena kini anak buahnya, semua wanita, yang berjumlah kurang lebih limapuluh orang telah memperoleh kemajuan dalam ilmu silat sehingga mereka merupakan anggauta Ban- hwa-pang yang tangguh. Lebih lagi, ia melihat betapa Li Ai ternyata memiliki bakat yang amat baik. Gadis ini memang cerdik sekali dan didorong oleh sakit hatinya, ia berlatih dengan tekun sehingga setelah lewat hampir setahun di Lembah Selaksa Bunga, tingkat kepandaian silatnya bahkan telah melampaui tingkat semua wanita anggauta Ban-hwa-pang.

Melihat gadis yang dahulunya lemah-lembut itu menyukai senjata sepasang pedang, maka Siang Lan memberi sepasang pedang yang mungil dan indah kepada Li Ai dan mengajarkan Siang-kiam-sut (Ilmu Sepasang Pedang) di samping ilmu silat tangan kosong. Juga Li Ai sudah mulai diberi pelajaran dasar untuk menghimpun tenaga sakti.

Belasan hari kemudian, pada suatu pagi Siang Lan sudah bangun dari tidurnya. Kini ia mempunyai kebiasaan bangun pagi sekali karena biasanya, begitu bangun dan mandi, ia langsung pergi ke lereng di mana terdapat guha tempat bertapa Bu-beng-cu. Maka, biarpun sekarang ia tidak lagi harus pergi ke sana seperti yang dilakukan tiap hari selama setengah tahun, ia sudah terbiasa dan pagi hari itu ia sudah mandi dan duduk di dalam kamarnya.

Tadi ia melamun dengan hati penasaran karena sejak berhenti latihan di depan guha Bu-beng-cu, ia menunggu-nunggu munculnya Thian-te Mo-ong, musuh besarnya yang dulu pernah berjanji akan mengunjunginya setiap tahun untuk membuat perhitungan. Ia ingat-ingat dan merasa yakin bahwa sekaranglah saatnya, setahun telah lewat sejak ia bertanding melawan Thian-te Mo-ong dan kalah. Karena kesal dan penasaran, Siang Lan kini duduk bersamadhi untuk menenangkan hati dan pikirannya. Jahanam sombong itu pasti akan muncul, demikian ia menghibur diri sendiri. Segera ia tenggelam ke dalam samadhinya.

Pada waktu itu seperti kebiasaan mereka setiap pagi sebelum melakukan pekerjaan sehari-hari membersihkan rumah, taman dan bekerja di kebun sayur dan buah-buahan, limapuluh orang anggauta Ban- hwa-pang asyik berlatih ilmu silat di pekarangan depan yang luas dari perkampungan mereka. Li Ai tidak ketinggalan. Gadis ini yang dahulunya seorang gadis yang lembut, ahli seni tari, musik, nyanyi, juga mengenal sastra, kini berpakaian ringkas dan ia berlatih silat pedang. Sepasang pedangnya menyambar- nyambar dan karena gerakannya halus indah saking terbiasa menari, maka gerakan silatnya seperti orang menari.

Para anggauta Ban-hwa-pang juga sibuk latihan sendiri, ada yang berlatih silat tangan kosong, atau dengan berbagai macam senjata. Mereka latihan dengan sungguh-sungguh dan ternyata tidak percuma Hwe-thian Mo-li menggembleng anggauta Ban-hwa-pang karena mereka itu rata-rata cukup gesit.

Tiba-tiba terdengar suara tawa parau dan aneh. Ketika Li Ai dan limapuluh orang lebih anggauta Ban-hwa- pang itu menghentikan gerakan mereka dan memandang, ternyata di situ telah berdiri seorang laki-laki yang mukanya ditutupi sebuah topeng kayu. Yang tampak hanya empat buah lubang, dua lubang hidung dan dua lagi di atas untuk mata. Di balik dua lubang di atas itu tampak sinar mata yang mencorong. Karena kedok atau topeng itulah maka suara tawanya terdengar parau dan aneh.

“Ha-ha-ha! Ban-hwa-pang yang tersohor itu hanya memiliki para anggauta yang begini lemah dan ilmu silatnya rendah? Sungguh Hwe-thian Mo-li seorang ketua yang tidak becus mendidik, anak buahnya, ha-ha- ha!”

Tentu saja semua anak buah Ban-hwa-pang menjadi marah mendengar suara parau yang mengejek itu. Didahului oleh Li Ai mereka lalu berlari menghampiri dan mengepung orang bertopeng itu.

Li Ai menudingkan pedang kirinya ke arah muka bertopeng itu dan membentak, akan tetapi tetap saja suaranya terdengar lembut halus. “Orang asing yang tidak mengenal aturan! Siapakah engkau yang begini lancang memasuki perkampungan kami yang terlarang bagi kaum pria dan datang-datang menghina ketua kami?”

“Ha-ha-ha, kalian panggil Hwe-thian Mo-li ke sini menemui aku, ia akan mengenal siapa aku!” kata Si Topeng Kayu dengan nada suara sombong.

Akan tetapi Li Ai sudah dapat menduga bahwa orang ini pasti bukan seorang sahabat dan bukan orang baik-baik, maka ia berkata, suaranya lebih tegas. “Engkau sudah melakukan tiga pelanggaran. Pertama, engkau seorang pria berani masuk ke sini tanpa ijin. Kedua, engkau bersikap pengecut dengan menyembunyikan mukamu di balik topeng, dan ketiga, engkau telah bersikap dan bicara dengan kasar menghina ketua kami. Karena itu, kami minta engkau segera pergi meninggalkan perkampungan kami!”

“Hemm, Nona, kalian mau berbuat apa kalau aku tidak mau pergi sebelum bertemu dengan Hwe-thian Mo- li?”

Hati Li Ai menjadi semakin panas karena nada suara orang bertopeng itu jelas mengandung ejekan dan tantangan! “Kalau engkau tidak mau pergi, terpaksa kami akan menggunakan kekerasan untuk mengusirmu!”

“Ha-ha-ha, begitukah? Ingin aku melihat bagaimana kalian dapat mengusirku!” tantang Si Topeng Kayu.

Karena marah mendengar Siang Lan diejek, Li Ai lalu menggerakkan sepasang pedangnya, menyerang laki-laki bertopeng itu. Laki-laki itu adalah Thian-te Mo-ong dan melihat serangan gadis yang masih dangkal dan mentah ilmu silatnya ini, dia tertawa mengejek dan dengan mudah dia mengelak sehingga serangan sepasang pedang di tangan Li Ai tidak mengenai sasaran. Akan tetapi kini semua anak buah Ban-hwa-pang maju mengeroyoknya!

Thian-te Mo-ong masih tertawa-tawa dan tubuhnya berkelebatan ke sana-sini seperti bayangan iblis. Limapuluh orang anggauta Ban-hwa-pang itu terus mengejarnya sambil berteriak-teriak, seperti sekumpulan anak-anak hendak menangkap seekor burung yang amat gesit. Kalau saja laki-laki bertopeng itu menghendaki, dengan mudah dia tentu akan dapat merobohkan limapuluh orang lebih anggauta Ban-hwa- pang itu karena kepandaian mereka masih terlalu rendah untuk dapat mengalahkan Thian-te Mo-ong. Akan tetapi agaknya orang bertopeng itu tidak mau mencelakakan mereka.

05.15. Belajar Lagi Sepuluh Tahun!

Bagaimanapun juga dia merasa kerepotan dikeroyok puluhan wanita muda. Dia merasa ngeri sendiri dan tiba-tiba bayangan tubuhnya melayang ke atas dan tahu-tahu dia telah berada di atas wuwungan rumah! Para anggauta Ban-hwa-pang hanya dapat mengacung-acungkan senjata ke arahnya tanpa dapat melakukan pengejaran.

“Ha-ha-ha-ha! Hayo siapa berani mengejar ke sini?” Thian-te Mo-ong tertawa menantang dengan suara mengejek.

Tiba-tiba terdengar teriakan melengking nyaring disusul berkelebatnya bayangan Hwe-thian Mo-li yang melayang keluar dari dalam rumah. Ia terkejut dan sadar dari samadhinya ketika terdengar teriakan-teriakan anak buahnya di luar.

Ketika ia mendengar tawa dan ejekan Thian-te Mo-ong, segera ia mengenal siapa yang bersuara parau dan aneh itu. Musuh besarnya telah datang! Maka sambil mengeluarkan teriakan melengking ia melompat keluar lalu memandang ke atas wuwungan rumah dengan wajah berubah merah dan sinar matanya mencorong penuh kemarahan dan kebencian.

“Keparat jahanam Thian-te Mo-ong! Bagus kamu datang mengantarkan nyawamu ke sini!” Siang Lan mencabut Lui-kong-kiam yang ditudingkannya ke arah muka bertopeng itu.

“Ha-ha-ha, Hwe-thian Mo-li, apakah engkau hendak mengeroyok aku bersama puluhan orang anak buahmu itu?”

Siang Lan merasa dalam dadanya seperti dibakar. “Iblis busuk! Aku bukan pengecut macam kau!” Lalu ia menoleh dan membentak para anggauta Ban-hwa-pang. “Hayo kalian mundur dan jangan sekali-kali mencampuri pertandingan antara aku dan jahanam busuk bertopeng itu!”

Li Ai memberi isyarat kepada semua orang untuk menjauhkan diri dan menyimpan senjata masing-masing.