--> -->

Lembah Selaksa Bunga Jilid 03

Jilid 03

Ia masih teringat akan pertolongan tadi dan dapat menduga bahwa inilah orang yang tadi telah menolongnya. Akan tetapi kepalanya semakin pening, pandang matanya kabur dan ia pun tidak ingat apa- apa lagi. Ia tidak tahu bahwa sebelum tubuhnya terjatuh, sepasang lengan yang kuat menangkapnya lalu merebahkannya di atas rumput, tak jauh dari tempat di mana ia tadi berkelahi dan di mana terdapat dua mayat tosu yang telah terpenggal kepala mereka.

Tak lama kemudian Siang Lan sadar dari pingsannya. Ia teringat akan perkelahiannya tadi dan cepat ia melompat bangkit berdiri. Pundak kirinya terasa perih dan ketika ia merabanya, ternyata jarum itu telah tercabut dan lukanya telah ditempel ko-yo (obat tempel). Rasa nyerinya hilang tinggal sedikit rasa perih dan lengan kirinya dapat ia gerakkan kembali seperti biasa! Juga pedang yang tadi terlepas kini telah berada kembali dalam sarung pedang yang tergantung di pinggangnya! Akan tetapi mayat dua orang tosu tadi tidak tampak pula di situ, hanya tinggal bekas darah mereka yang membasahi rumput dan tanah. Siang Lan dapat menduga bahwa agaknya laki-laki yang dilihatnya sebelum ia tidak sadar tadi, laki-laki yang menolongnya mengalahkan dua orang pengeroyoknya, telah mengobatinya, menyimpankan kembali pedangnya, dan pergi dari situ sambil membawa dua mayat tosu Pek-lian-kauw! Ia merasa heran sekali. Laki-laki itu tentu lihai bukan main karena mampu membuat dua orang tosu melepaskan pedang mereka sehingga ia dapat membunuh mereka.

Melihat laki-laki itu membantunya, jelas bahwa dia bukanlah orang Pek-lian-kauw. Akan tetapi mengapa ia membawa pergi dua mayat tosu Pek-lian-kauw? Ia sama sekali tidak mengerti dan merasa penasaran. Orang dengan kepandaian sehebat itu dapat ia jadikan gurunya agar ilmu silatnya meningkat sehingga kelak ia dapat membalas dendam kepada Thian-te Mo-ong!

Tiba-tiba ia teringat akan Kui Li Ai, puteri Kui Ciang-kun yang ia tinggalkan di tempat ia menemukannya, yaitu di tengah hutan. Cepat Siang Lan berlari menuju ke tempat itu. Gadis itu ternyata masih berada di situ, duduk menangis di bawah pohon.

Dapat dibayangkan betapa hancur hati Kui Li Ai. Ia seorang gadis bangsawan dan baru saja ia mengalami musibah yang amat hebat bagi seorang gadis. Ia diperkosa dua orang biadab dan kini ia ditinggalkan seorang diri di tengah hutan. Tentu saja ia tidak berani pergi karena ia tidak mengenal jalan.

Begitu mendengar Siang Lan yang menghampirinya, Kui Li Ai mengangkat mukanya yang pucat dan basah air mata.

“Li Ai, tenangkanlah hatimu. Dua orang manusia iblis itu telah mampus di tanganku!” kata Siang Lan sambil mendekati gadis yang malang itu.

Mendengar ini Li Ai terisak dan merangkul Siang Lan. Hwe-thian Mo-li tak dapat menahan keharuan hatinya dan kedua matanya menjadi basah. Ia teringat akan keadaan dirinya sendiri yang mengalami musibah seperti yang dialami Li Ai. Ia mengelus rambut gadis itu dan membiarkan Li Ai menangis sepuasnya. Setelah tangis itu agak mereda karena Li Ai kelelahan, ia berkata dengan nada menghibur.

“Sudahlah, Li Ai, mari kuantar engkau pulang ke rumah orang tuamu,” katanya dan hatinya terasa seperti diremas kalau ia ingat betapa ayah gadis ini telah tewas membunuh diri.

Ia tidak tega untuk memberitahuan hal ini kepada Li Ai. Gadis yang menderita pukulan batin yang luar biasa hebatnya itu, bagaimana mungkin akan dapat menahan kalau diberi pukulan kedua yaitu berita tentang kematian ayahnya?

Seperti orang kehilangan semangat, Li Ai hanya mengangguk. Siang Lan membantunya bangkit berdiri, membetulkan letak pakaiannya, menyanggul rambutnya, kemudian karena Li Ai merasa lemah dan lemas hampir tidak mampu melangkahkan kakinya, Siang Lan lalu memondongnya dan membawanya lari cepat.

Dalam kedukaannya, Li Ai terkejut dan terheran juga melihat betapa kuatnya gadis penolongnya ini sehingga mampu nemondongnya dan membawanya berlari secepat larinya kuda! Teringat ia akan cerita ayahnya tentang para pendekar wanita, maka sejenak ia melupakan kedukaannya dan bertanya.

“Enci...... apakah engkau     seorang pendekar wanita?”

Siang Lan tersenyum. Bagus, pikirnya, gadis yang hancur hatinya itu mulai mau bicara, tanda bahwa ia mulai dapat menguasai perasaannya yang tertekan hebat.

“Entahlah, Adik Li Ai, aku ini pendekar wanita ataukah iblis wanita karena orang menyebut aku Hwe-thian Mo-li.”

“Hwe-thian Mo-li? Aih, Enci, Ayah pernah menyebut namamu sebagai seorang di antara para pendekar yang membantu pemerintah membasmi Pek-lian-kauw!”

Setelah memasuki kota raja, hari telah menjelang senja. Karena merasa sudah kuat berjalan dan merasa tidak enak kalau memasuki kota raja dilihat orang bahwa ia dipondong, Li Ai minta diturunkan dan mereka berdua lalu menuju ke gedung tempat tinggal Panglima Kui. Setelah memasuki pekarangan, lima orang perajurit pengawal yang berjaga di situ memberi hormat kepada Li Ai, akan tetapi wajah mereka tampak muram.

Li Ai agaknya dapat melihat dan merasakan hal yang tidak wajar ini. Biasanya para perajurit itu selain amat hormat, juga amat ramah kepadanya.

“Apa yang terjadi?” Ia seolah bertanya kepada diri sendiri dan matanya memandang ke arah serambi depan rumahnya di mana terdapat banyak orang. “Apa yang terjadi di sana?” kembali ia bertanya.

Siang Lan merangkulnya. “Adik Li Ai, bersikaplah tenang dan kuatkan hatimu......” Suara pendekar yang gagah perkasa ini tersendat karena ia harus menahan keharuan hatinya.

“Apa......? Mengapa......?” Li Ai seolah mendapatkan tenaga baru dan ia berlari ke arah serambi depan rumahnya. Siang Lan cepat mengikutinya.

Setelah berada di ruangan terbuka di serambi itu, di mana terdapat banyak orang duduk diam, Li Ai melihat dengan mata terbelalak ke sebuah peti mati yang dipasang di tengah. Wajahnya yang sudah pucat itu menjadi semakin pucat seperti kapur dan ia lari terhuyung-huyung menghampiri peti mati. Ketika ia melihat nama ayahnya tertulis di depan peti mati, ia menjerit dan menubruk ke depan.

“Ayaaaaahhh......!” Tubuh Li Ai terguling roboh dan tentu kepalanya akan terbentur pada peti mati kalau Siang Lan tidak cepat menyambar tubuhnya dan memeluk gadis yang sudah jatuh pingsan itu.

Siang Lan menoleh kepada beberapa orang wanita yang berkumpul dekat peti mati sambil menangis. Melihat pakaian mereka, ia dapat menduga bahwa mereka adalah pelayan-pelayan di gedung panglima itu.

“Di mana kamar Nona Kui? Tolong antarkan aku ke sana,” kata Siang Lan dan pelayan tua itu lalu menunjukkan Siang Lan yang memondong tubuh Li Ai ke sebuah kamar.

Dalam kamar itu, Siang Lan merebahkan tubuh Li Ai ke atas pembaringan. Dua orang pelayan yang agaknya menjadi pelayan pribadi Li Ai ikut masuk dan mereka menangisi nona majikan mereka.

“Siocia...... ahh, Siocia...... ia mengapa ?” tangis mereka.

“Harap kalian diam, biarkan aku menanganinya,” kata Siang Lan yang mengurut beberapa jalan darah di pusat-pusat jalan darah seperti di telapak tangan dekat ibu jari, di dekat siku dan di pangkal lengan. Li Ai mengeluh lirih dan begitu membua matanya, ia menjerit.

“Ayaaah...... Ayahhh, kenapa Ayahku......? Kenapa ia, Enci? Kenapa Ayahku mati ?” tangisnya.

“Tenanglah, Adikku, tenanglah. Sudah kupesan tadi, kuatkan hatimu, Adik Li Ai ” Siang Lan menghibur

dengan hati terharu.

“...... Enci...... engkau sudah tahu......?” Ketika Siang Lan mengangguk, ia melanjutkan, “. mengapa

engkau tidak memberitahu padaku tadi ?”

“Hatimu sedang sedih, aku tidak menambahkan kesedihanmu lagi. Biar engkau melihat sendiri......” kata Siang Lan terharu.

“Ayaaahhh......!” Li Ai bangkit, turun dari pembaringan dan berlari lagi. Dua orang pembantunya sambil menangis mencoba untuk menghalanginya.

“Siocia...... Siocia sebaiknya beristirahat di sini saja ”

Akan tetapi Siang Lan mencegah mereka. “Biarlah ia menumpahkan kedukaannya.” Dan ia sendiri lalu mengikuti Li Ai untuk menjaga hal-hal yang tidak baik.

Li Ai berlari terhuyung menuju ke serambi depan dan sambil menjerit-jerit dan menangis mengguguk ia berlutut di depan peti mati ayahnya. Semua orang yang berada di situ menjadi terharu dan semua wanita yang melayat, juga para pembantu rumah tangga, ikut pula menangis. Para tamu laki-laki hanya menggeleng-gelengkan kepala dan menghela napas panjang dengan wajah muram.

Tiba-tiba dari dalam keluar seorang wanita berusia tigapuluh tahun lebih yang mengenakan pakaian berkabung namun rambutnya tersisir rapi dan mukanya yang cukup cantik itu masih dipulas bedak dan gincu, suatu hal yang sebetulnya tidak lajim bagi keluarga yang berkabung.

Agaknya wanita itu keluar karena tertarik oleh suara tangis dan jeritan Li Ai. Ia menghampiri dan sambil berdiri, memandang kepada Li Ai yang berlutut sambil menangis itu, alisnya berkerut tanda tak senang dan begitu tangis Li Ai mereda, ia berkata dengan suara lantang.

“Li Ai, engkau baru pulang?”

Li Ai mengangkat muka memandang kepada wanita itu lalu ia berseru. “Ibuuu !”

Akan tetapi tiba-tiba wanita yang ternyata adalah isteri Pangeran Kui itu berkata dengan sikap dingin dan galak. “Hemm, untuk apa kautangisi Ayahmu? Kau tahu, Ayahmu mati karena engkau! Engkau anak put-hauw (tidak berbakti), anak durhaka, belum dapat membalas budi orang tua, malah menjadi penyebab kematian Ayahmu!!”

Li Ai terbelalak mendengar ini, lalu ia menjerit panjang dan terkulai lemas dalam rangkulan Siang Lan yang cepat menangkap tubuhnya. Ia pingsan lagi!

Siang Lan menjadi marah bukan main.

Setelah merebahkan tubuh yang lemas pingsan itu di lantai, ia bangkit berdiri dan sekali tangannya bergerak, ia telah menotok pundak kiri Nyonya Kui. Nyonya itu menjerit-jerit karena tiba-tiba merasa tubuhnya nyeri semua, panas seperti terbakar dari dalam.

“Auuuuww...... aduuuhhh...... aduuhhhh...... ia...... ia memukulku......! Pengawal, tangkap perempuan jahat ini !!”

Lima orang pengawal maju, akan tetapi cepat Siang Lan menggunakan tangan kiri menjambak rambut Nyonya Kui dan mencabut pedang yang ia tempelkan ke leher nyonya itu.

“Siapa yang maju akan kubunuh semua setelah lebih dulu kusembelih leher perempuan ini!” Ia mengancam dan lima orang perajurit itu mundur ketakutan.

Siang Lan menotok pundak itu dan membebaskan totokannya, lalu membentak. “Perempuan bermulut lancang dan jahat, siapa engkau berani bicara seperti tadi kepada Nona Kui Li Ai?”

“Aku...... aku isteri Panglima Kui    !” Nyonya Kui mencoba untuk bersikap galak berwibawa setelah tidak

merasa kesakitan lagi.

Tangan kiri Siang Lan memperkuat jambakannya sehingga nyonya itu meringis. “Tak mungkin engkau ibu Adik Ai!”

“Aku...... aku Ibu tirinya    ”

“Pantas! Engkau Ibu tiri keparat!” Siang Lan memaki dan memperkuat lagi jambakannya sehingga wanita itu semakin kesakitan.

Para tamu itu ada yang berpangkat panglima, rekan mendiang Panglima Kui. Seorang dari mereka maju dan berkata kepada Siang Lan dengan sikap hormat.

“Kalau kami tidak salah sangka, tentu Nona Hwe-thian Mo-li, bukan? Kami dulu membantu Kui Ciang-kun ketika menangkap para tokoh Pek-lian-kauw dan kami mengenal Nona.”

Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan mengangguk. “Benar, aku Hwe-thian Mo-li dan aku mengantarkan Adik Li Ai pulang setelah kubunuh dua orang di antara tiga orang tahanan yang dibebaskan. Adik Li Ai menderita setelah ditawan penjahat dan kini kematian Ayah kandungnya. Kenapa perempuan cerewet jahat ini malah memaki dan memarahinya? He, perempuan busuk, apa engkau sudah bosan hidup? Aku akan membunuhmu agar rohmu menghadap dan mohon ampun kepada Kui Ciang-kun atas kejahatan mulutmu terhadap Adik Li Ai!”

Setelah berkata demikian, Siang Lan menempelkan pedangnya semakin ketat di leher Nyonya Kui. Wanita itu menjadi pucat sekali, tubuhnya menggigil dan ia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Siang Lan, membentur-benturkan dahinya di lantai dan berkata dengan suara terputus-putus.

“Ampunkan saya...... ampunkan saya...... karena terlalu sedih saya memarahi Li Ai...... ampuni saya, Li- hiap........” Ia meratap dengan tubuh menggigil dan tanpa ia sadari saking takutnya, lantai di bawah tubuhnya menjadi basah karena ia terkencing-kencing saking ngerinya!

Siang Lan membalikkan tubuhnya, mengangkat tubuh Li Ai yang masih pingsan dan membawanya kembali ke dalam kamar gadis itu. Ia merawat Li Ai sehingga gadis itu siuman kembali, lalu menghiburnya. Dua orang pembantu pribadi Li Ai membantunya dan mereka segera mempersiapkan pakaian pengganti untuk Li Ai.

Setelah Li Ai tenang kembali, Siang Lan membujuknya agar mandi dan berganti pakaian bersih. Lalu mengajaknya makan yang telah dihidangkan oleh dua orang pelayan itu.

“Makanlah, Adik Li Ai, mari kutemani. Ingat kesehatanmu dan sadarlah bahwa semua yang telah terjadi tidak cukup untuk ditangisi saja. Kalau engkau merasa sakit hati, engkau harus tetap hidup sehat agar dapat melampiaskan dendam sakit hatimu kepada mereka yang telah membuat engkau menderita.” “Enci aku seorang gadis lemah bagaimana mungkin dapat membalas dendam kepada tokoh Pek-lian-kauw yang menculikku? Sedangkan Ayahku saja tidak berdaya ketika aku diculik. Orang-orang Pek-lian-kauw amat lihai. Kalau aku memiliki kepandaian seperti engkau ”

“Jangan khawatir, aku akan mengajarimu ilmu silat.”

“Benarkah, Enci?” terhibur juga perasaan hati Li Ai mendengar ini dan ia mau diajak makan.

Setelah Li Ai tenang kembali dan dihibur oleh Siang Lan yang merasa dekat dengan gadis itu karena senasib, gadis itu lalu keluar bersama Siang Lan untuk melakukan upacara sembahyang di depan peti jenazah ayahnya. Ia tidak menangis dengan suara lagi, hanya air matanya saja menetes-netes ketika bersembahyang. Nyonya Kui tidak tampak karena setelah peristiwa tadi ia bersembunyi di dalam kamarnya.

Setelah melakukan upacara sembahyang, Siang Lan mengajak Li Ai kembali ke dalam kamarnya.

“Adik Li Ai, sekarang engkau telah kembali ke rumahmu dengan selamat. Aku pamit hendak melanjutkan perjalanan,” kata Siang Lan.

Li Ai terkejut, bangkit berdiri dan menjatuhkan diri berlutut di depan Hwe-thian Mo-li. “Enci, jangan tinggalkan aku !” katanya sambil merangkul kedua kaki Siang Lan. “Aku tidak mau tinggal di rumah ini,

tidak mau hidup bersama ibu tiri yang membenciku.”

Siang Lan mengangkat bangun gadis itu dan menyuruhnya duduk kembali. “Jangan begini, Adik Li Ai. Mari kita bicara baik-baik. Kalau engkau tidak mau tinggal di sini, lalu bagaimana? Jangan khawatir kepada ibu tirimu, aku sebelum pergi akan mengancamnya bahwa kalau ia berani mengganggumu, aku akan datang memenggal kepalanya!”

“Tidak, Enci, biarpun begitu tetap saja aku akan hidup menderita di sini. Bahkan keadaanku sudah

begini kalau sampai diketahui orang, aku akan semakin dihina dan dicemooh orang. Jangan tinggalkan

aku, Enci. Kalau kautinggalkan, kukira...... lebih baik aku bunuh diri daripada hidup menanggung aib dan malu. Aku ingin ikut denganmu, Enci, biar aku menjadi saudaramu, atau sahabatmu, atau pembantumu.

Aku mau mengerjakan apapun juga untukmu asal boleh ikut denganmu. Ingat, engkau hendak mengajarkan ilmu silat padaku seperti janjimu!”

Siang Lan tersenyum. “Ikut dengan aku? Li Ai, engkau seorang gadis bangsawan, puteri seorang panglima. Bagaimana hendak ikut aku, seorang petualang yang memiliki jalan hidup penuh kekerasan? Apakah tidak lebih baik, kalau engkau tidak mau tinggal bersama Ibu engkau ikut dengan keluarga ayahmu? Engkau tentu mempunyai Paman atau Bibi, saudara Ayahmu.”

“Tidak, Enci. Aku tidak mau tinggal bersama mereka. Aku seorang gadis yatim piatu, sudah kotor ternoda pula, tercemar, aku malu, Enci, aku merasa rendah dan tidak sanggup menghadapi mereka. Kalau engkau kelak mengetahui ah, betapa akan malunya aku! Enci, biarlah aku ikut denganmu!” Air mata menetes-

netes dari sepasang mata yang sudah merah dan membengkak itu karena terlalu banyak menangis.

Siang Lan merasa terharu sekali. Ia dapat mengerti bahwa kalau ia memaksakan pendiriannya meninggalkan gadis ini, besar sekali kemungkinannya, Li Ai akan bunuh diri!

“Baiklah, Li Ai. Akan tetapi sebagai puteri Ayahmu, engkau tidak boleh pergi sebelum jenazah Ayahmu dimakamkan dengan baik. Aku akan pergi dulu mengunjungi seorang sahabat baikku dan kau tinggal di sini sampai jenazah Ayah dimakamkan.”

“Enci, malam-malam begini engkau hendak pergi? Apakah tidak lebih baik besok pagi saja?”

Siang Lan mengangguk. Benar juga tidak baik rasanya mengunjungi Ong Lian Hong di rumah Jaksa Ciok Gun malam-malam begini. Malam itu ia tidur bersama Li Ai dan kesempatan itu mereka pergunakan untuk saling mengenal lebih akrab.

“Enci, bolehkah aku mengetahui siapa namamu yang sebenarnya? Sungguh aku merasa tidak enak kalau harus menyebutmu Enci Hwe-thian Mo-li, terutama sebutan Mo-li (Iblis Betina) itu! Bagiku engkau seorang dewi penolong, Enci, sama sekali bukan Mo-li!” Dalam percakapan mereka itu Li Ai berkata hati-hati agar tidak menyinggung penolongnya yang terkadang bersikap amat ganas.

Siang Lan menghela napas panjang. “Li Ai, yang menyebut aku Iblis Betina adalah golongan sesat karena aku selalu bersikap keras terhadap mereka. Terhadap orang-orang jahat seperti dua orang tosu yang menghinamu itu aku tak pernah memberi ampun. Karena itu mungkin aku dijuluki Hwe-thian Mo-li. Akan tetapi aku tidak peduli. Lebih baik disebut Mo-li akan tetapi membela orang tertindas dan menentang kejahatan daripada disebut Dewi akan tetapi hidupnya bergelimang perbuatan jahat, bukan?” “Engkau benar, Enci. Akan tetapi aku ingin mengetahui namamu yang sebenarnya. Engkau tentu memiliki she (marga) dan nama bukan? Siapa pula Gurumu? Maukah engkau menceritakan tentang riwayatmu, orang tuamu, sanak keluargamu dan sahabat baikmu yang akan kau kunjungi besok?”

“Baiklah, Li Ai. Karena engkau sudah mengambil keputusan untuk ikut denganku, engkau berhak mengetahuinya. Akan tetapi sebelumnya, engkau harus berjanji tidak akan memperkenalkan atau menyebut namaku di depan orang lain. Bagi orang lain aku ingin dikenal sebagai Hwe-thian Mo-li saja.”

03.09. Hadangan Keluarga Ibu Tiri

“Baik, Enci. Aku berjanji.”

“Aku adalah seorang yatim piatu. Ayah Ibuku meninggal dunia ketika aku masih kecil. Namaku adalah Nyo Siang Lan.”

“Sejak berusia sepuluh tahun aku di rawat dan dididik oleh mendiang Guruku yaitu Pat-jiu Kiam-ong Ong Han Cu. Guruku mempunyai seorang puteri bernama Ong Lian Hong yang selain menjadi adik seperguruan, juga menjadi sahabat baikku. Suhu tewas dibunuh lima orang. Aku dan Adik Ong Lian Hong berhasil membalas dendam kematian Suhu. Sekarang Su-moi Ong Lian Hong tinggal di kota raja, ia bertunangan, mungkin sekarang sudah menikah, dengan Sim Tek Kun, putera Pangeran Sim Liok Ong ”

“Ah, aku sudah mendengar, Enci Siang Lan !”

“Huss!” Siang Lan memotong. “Di sini jangan sebut namaku, aku tidak ingin terdengar orang lain. Engkau telah mendengar apa, Li Ai?”

“Aku sudah mendengar bahwa Sim Kongcu, putera Pangeran Sim yang terkenal itu menikah dengan seorang gadis yang lihai ilmu silatnya! Kalau tidak salah dengar, ia itu cucu Jaksa Ciok Gun, bukan?”

“Benar sekali! Sumoi Ong Lian Hong adalah cucu Jaksa Ciok. Ibunya puteri Jaksa Ciok dan ayahnya adalah mendiang Suhu Ong Han Cu. Ah, jadi mereka sudah menikah?” Siang Lan termenung, merasa betapa hatinya hampa dan kering. “Hemm, tahukah engkau di mana sekarang Sumoi tinggal?”

“Yang kudengar, sebagai mantu Pangeran Sim tentu saja ia tinggal bersama suaminya di rumah mertuanya itu. Pernikahan mereka menjadi buah bibir masyarakat yang mengagumi mereka, Enci, karena pengantin pria yang tampan, pengantin wanita cantik jelita dan keduanya merupakan pendekar-pendekar yang amat lihai. Begitu yang kudengar dibicarakan orang. Ayah juga bercerita banyak tentang mereka setelah pulang dari menghadiri perayaan pernikahan mereka.”

Siang Lan semakin tenggelam ke dalam lamunannya. Berbagai macam perasaan mengaduk hatinya. Ada rasa girang dan bahagia membayangkan kebahagiaan Ong Lian Hong, sumoi yang dikasihinya itu, akan tetapi ada pula perasaan haru dan sedih mengingat akan keadaan dirinya sendiri yang sudah ternoda tanpa ia mampu membalas dendamnya kepada musuh besar itu. Awas kamu, hatinya berteriak, akan tiba saatnya aku menghancurkan kepalamu dan membelah dadamu, Thian-te Mo-ong.

“Engkau kenapa, Enci?” Li Ai bertanya melihat perubahan muka pendekar wanita itu.

“Ah, tidak apa-apa, Li Ai. Aku hanya berpikir bahwa sebaiknya aku tidak mengunjungi mereka dulu karena aku tidak sempat hadir dalam perayaan pernikahan mereka. Aku merasa malu dan bersalah bertemu mereka. Setelah Ayahmu diurus pemakamannya, kita pergi meninggalkan kota raja, kalau benar-benar sudah bulat tekadmu untuk ikut dengan aku.”

“Tentu saja aku ikut denganmu, Enci, kemana pun engkau pergi. Akan tetapi kalau boleh aku bertanya, kenapa engkau tidak menghadiri pesta pernikahan Sumoimu itu?”

“Mereka tidak tahu aku berada di mana sehingga tidak dapat mengundangku dan aku pun tidak tahu kapan mereka menikah. Berbulan-bulan ini aku sibuk membenahi tempat tinggalku yang baru saja kudapatkan.”

“Di mana itu, Enci?”

“Di Lembah Selaksa Bunga.” “Ah, alangkah indah nama itu.” “Tempatnya pun indah, terletak di bukit kecil. Lembah itu penuh dengan beraneka macam bunga, maka disebut Ban-hwa-san-kok (Lembah Bukit Selaksa Bunga) dan di sana aku memimpin perkumpulan wanita Ban-hwa-pang (Perkumpulan Selaksa Bunga).”

“Perkumpulan wanita, Enci? Anggautanya semua wanita?”

“Benar, semua wanita yang tidak berkeluarga, jumlah mereka ada tigapuluh lima orang. Baru beberapa bulan aku merampas Lembah Selaksa Bunga dari tangan orang-orang jahat.”

“Ah, aku akan senang tinggal di sana dan belajar ilmu silat darimu, Enci!”

Siang Lan tinggal di gedung keluarga Kui itu sampai tiga hari lamanya. Setelah jenazah Kui Seng dimakamkan, ia mengajak Li Ai bercakap-cakap dalam kamarnya.

“Li Ai, engkau merupakan ahli waris tunggal dari mendiang Ayahmu. Biarpun ada Ibu tirimu, akan tetapi yang lebih berhak adalah engkau karena engkau puterinya dan Nyonya Kui itu hanya ibu tirimu. Maka engkaulah ahli-waris Ayahmu dan berhak menguasai semua harta ayahmu. Engkau di sini tinggal di rumah gedung dan memiliki harta yang banyak, sedangkan kalau engkau ikut denganku, engkau akan tinggal di sebuah bukit sunyi dan aku bukanlah orang kaya.”

“Enci, apa maksudmu dengan kata-kata ini? Apakah engkau hendak mengatakan bahwa engkau tidak jadi dan tidak ingin mengajakku?” tanya Li Ai dengan mata terbelalak penuh kegelisahan.

“Bukan begitu, Li Ai. Aku hanya sangsi apakah engkau akan betah tinggal di tempatku, meninggalkan semua kemewahan ini.”

“Kenapa engkau masih merasa sangsi, enci? Bagaimanapun juga, aku tidak mau tinggal di sini bersama Ibu tiriku. Kalau andaikata engkau tidak mau mengajakku, aku pun pasti akan pergi meninggalkan rumah ini.”

“Aku sama sekali tidak keberatan kalau engkau ikut aku, bahkan aku merasa senang. Baiklah, kalau engkau merelakan semua harta warisanmu terjatuh ke tangan Ibu tirimu yang sikapnya terhadapmu amat buruk itu. Kalau begitu, kemasi barangmu dan mari kita berangkat.”

“Nanti dulu, Enci!” “Ada apalagi, Li Ai?”

“Mendengar ucapanmu tadi, seperti dibangkitkan semangatku. Ibu tiriku memang selalu membenciku, biarpun hal itu ia sembunyikan dari mendiang Ayahku. Engkau benar, harta warisan Ayahku, tidak boleh semuanya jatuh ke tangannya. Biarlah gedung ini karena gedung ini merupakan pemberian pemerintah yang tentu akan diambil kembali. Akan tetapi uang Ayah, perhiasan peninggalan Ibu kandungku, semua itu harus kubawa. Tentu kita dapat mempergunakannya di Lembah Selaksa Bunga!”

“Hemm, terserah, bukan aku yang menyuruhmu, akan tetapi aku mendukungmu, Li Ai.”

“Sebaiknya begitu, Enci, karena aku yakin Ibu tiriku tidak rela kalau aku membawa harta benda Ayah.”

Li Ai lalu pergi ke kamar pribadi ayahnya, akan tetapi ternyata kamar itu terkunci, “Hemm, kamar ini tentu dikunci oleh Ibu tiriku. Enci, kita dobrak saja pintunya.”

“Jangan, Li Ai, lebih baik kita minta kunci itu dari Ibu tirimu. Engkau berhak memegang kunci itu.”

Mereka lalu mencari Nyonya Kui yang berada di kamarnya sendiri. Mereka melihat Nyonya Kui sedang bicara dengan seorang laki-laki setengah tua berpakaian perwira dan ketika dua orang gadis itu memasuki ruangan dalam, perwira itu buru-buru pergi meninggalkan ruangan. Nyonya Kui bangkit berdiri dengan alis berkerut akan tetapi tampak jerih melihat Li Ai muncul bersama Hwe-thian Mo-li yang ia takuti.

“Ibu, aku ingin minta kunci kamar pribadi mendiang Ayahku,” kata Li Ai. “Aku...... tidak tahu ” jawab Nyonya Kui dengan alis berkerut.

“Ibu, jangan berbohong. Hanya mendiang Ayah, engkau dan aku yang boleh membuka kamar itu, dan aku berhak untuk memasuki kamar Ayahku.”

“Nyonya, harap engkau tidak membuat ulah, Kui Li Ai berhak atas rumah dan semua harta benda Ayahnya. Sebaiknya engkau serahkan kunci itu kepadanya agar aku tidak perlu menggunakan kekerasan untuk membela Adik Kui Li Ai!” kata Hwe-thian Mo-li. Dengan jari-jari tangan gemetar wanita itu mengambil sebuah kunci dari balik ikat pinggangnya dan menyerahkannya kepada Li Ai dengan cemberut tanpa bicara apa pun.

Li Ai menerima kunci dan bersama Hwe-thian Mo-li lalu membuka pintu kamar mendiang Panglima Kui yang cukup luas itu. Karena sudah mengetahui di mana ayahnya menyimpan harta benda berupa uang emas dan juga perhiasan yang dulu menjadi milik ibu kandungnya, maka langsung saja Li Ai menuju ke sebuah almari besar dan karena ia tidak menemukan kuncinya, ia minta kepada Siang Lan untuk membukanya dengan paksa.

Dengan mudah Siang Lan membuka pintu almari itu dan Li Ai lalu mengambil harta benda yang banyak dari almari, membungkusnya dengan kain. Karena harta benda itu cukup banyak dan berat, maka Siang Lan membantu membawanya dengan menggantung bungkusan kain itu punggungnya. Li Ai sendiri menggendong buntalan berisi pakaiannya.

Setelah itu mereka berdua keluar dari gedung tanpa pamit lagi kepada ibu tiri Li Ai. Beberapa orang wanita pelayan yang setia dan sayang kepada gadis itu, sambil menangis mengikuti Li Ai sampai di luar gedung. Li Ai memberi beberapa potong uang emas kepada mereka karena mereka menyatakan bahwa setelah Li Ai pergi, mereka pun akan meninggalkan gedung itu. Nyonya Kui adalah seorang wanita yang galak dan membenci Li Ai sehingga para pelayan yang sayang kepada Li Ai juga ikut pula dibencinya.

Tadinya Siang Lan menduga bahwa mereka berdua akan menghadapi gangguan dan halangan keluar dari gedung itu. Akan tetapi ternyata tidak terjadi sesuatu. Mereka keluar dari gedung dan terus menuntun dua ekor kuda yang diambil oleh Li Ai dari dalam kandang kuda sampai ke jalan raya di depan gedung.

Mereka berdua menunggang kuda dan menjalankan kuda mereka perlahan-lahan keluar dari kota raja. Ternyata bahwa biarpun Li Ai tidak pernah belajar ilmu silat secara mendalam, sebagai seorang puteri panglima ia cukup pandai dan sudah biasa menunggang kuda.

Akan tetapi, belum terlalu jauh mereka meninggalkan pintu gerbang kota raja dan tiba di jalan yang sepi, mereka melihat segerombolan orang berdiri menghadang di jalan. Li Ai segera berkata kepada Siang Lan dengan lirih dan tampak gelisah.

“Enci, yang di depan itu adalah Perwira Can yang masih ada hubungan keluarga dengan Ibu tiriku. Mau apa mereka ?”

“Biar aku yang menghadapi mereka!” kata Siang Lan tenang saja.

Ia juga mengenal perwira yang kini berpakaian preman itu karena dia adalah perwira yang tadi ia lihat sedang bercakap-cakap dengan Nyonya Kui dan segera pergi setelah ia dan Li Ai memasuki ruangan itu. Perwira setengah tua itu bertubuh tinggi dan tampak kokoh kuat, juga sinar matanya yang tajam menunjukkan bahwa dia tentu memiliki ilmu silat yang cukup tinggi. Yang berada di belakang Perwira Can adalah orang-orang yang dari sikapnya yang tegak dapat diduga bahwa merekapun tentu para perajurit yang berpakaian preman. Biarpun mereka tidak mengenakan pakaian seragam perajurit, namun limabelas orang itu mempunyai golok yang sama dan sikap mereka adalah sikap orang-orang yang biasa berbaris dalam pasukan.

Setelah memberi isyarat kepada Li Ai untuk berhenti dan memegangi kendali kudanya sendiri, Siang Lan melompat turun dari atas punggung kuda dan melangkah menghampiri rombongan orang itu. Dengan tenang ia berhadapan dengan Perwira Can dan berkata dengan suara tenang dan mengejek.

“Apakah kehendak kalian, belasan orang laki-laki menghadang perjalanan dua orang wanita?”

Perwira Can yang mempunyai sebatang pedang yang tergantung di pinggangnya, menjawab dengan suara galak. “Kami tidak ingin mengganggu kalian berdua, hanya minta agar kalian menyerahkan harta benda yang kalian rampas dari dalam gedung Panglima Kui agar dapat kami serahkan kembali kepada keluarganya!”

Siang Lan tersenyum. “Maksudmu diserahkan kepada keluargamu, yang menjadi isteri mendiang Panglima itu? Ketahuilah, harta itu menjadi hak milik Nona Kui Li Ai, maka ia membawanya pergi. Kami bukan merampas, akan tetapi kulihat kalian ini perajurit-perajurit yang agaknya ingin menjadi perampok! Perwira Can, kalau engkau masih ingin hidup, bawa pasukanmu pergi dan jangan ganggu kami!”

“Heh, Hwe-thian Mo-li, siapa tidak tahu bahwa engkau adalah seorang Iblis Betina yang jahat? Nona Kui Li Ai adalah seorang gadis bangsawan yang lembut, pasti engkau yang membujuknya untuk melarikan diri dan merampas harta benda keluarga Kui!” bentak perwira itu. Siang Lan marah sekali. Tanpa banyak cakap lagi ia sudah mencabut pedangnya dan menyerang perwira itu dengan gerakan cepat.

“Sing-tranggg......!” Perwira Can juga sudah mencabut pedangnya dan menangkis. Ternyata perwira itu cukup tangguh dan Siang Lan segera dikepung dan dikeroyok belasan orang!

“Kalian sudah bosan hidup!” bentaknya dan begitu ia mempercepat gerakan pedangnya, dua orang pengeroyok telah roboh mandi darah! Akan tetapi tiba-tiba ia mendengar dua ekor kuda itu meringkik dan begitu ia menoleh, ia terkejut sekali melihat Li Ai sudah ditangkap! Dua orang anak buah Perwira Can memegangi kedua lengannya dan seorang lagi menempelkan golok di leher gadis bangsawan yang meronta-ronta itu.

“Lepaskan, kalian orang-orang jahat! Lepaskan aku!” Li Ai meronta-ronta namun apa dayanya seorang gadis lembut seperti ia menghadapi dua orang laki-laki yang kuat itu. Kedua lengannya telah ditekuk ke belakang oleh dua orang itu.

“Ha-ha, Hwe-thian Mo-li, menyerahlah kalau tidak ingin melihat Nona Kui kami bunuh lebih dulu!” bentak Perwira Can sambil menahan serangan, diikuti oleh para anak buahnya.

Sejenak Siang Lan tertegun dan merasa tak berdaya. Jelas bahwa kalau ia bergerak hendak menyerang tiga orang yang menawan Li Ai itu, gadis itu pasti akan tewas karena sekali golok yang menempel di leher itu digerakkan, kematian Li Ai tak dapat dihindarkan lagi!

“Enci, jangan pedulikan mereka! Mereka hanya menggertak! Mereka tidak berani membunuhku karena keluarga Ayah tentu akan menuntut. Perwira Can, manusia busuk, hayo bunuh aku kalau kau berani! Enci, teruskan hajar mereka, aku tidak takut mati!” teriak Li Ai.

Mendengar ini, Siang Lan tersenyum dan kembali sinar kilat pedangnya berkelebat menyambar dan dua orang lagi pengeroyok roboh dibabat pedangnya.

Tiba-tiba tampak bayangan dua orang berkelebat dan di depan Siang Lan telah muncul dua orang yang berpakaian seperti tosu. Yang seorang bertubuh tinggi besar bermuka hitam, kedua tangannya memegang siang-to (sepasang golok) sedangkan orang kedua yang berusia sekitar enampuluh lima, beberapa tahun lebih tua daripada tosu pertama, berwajah pucat bermata sipit, rambutnya sudah putih semua dan tubuhnya tinggi kurus, memegang pedang di tangan kanan dan sebuah kebutan di tangan kiri.

Tosu pertama yang bermuka hitam membentak, “Hwe-thian Mo-li, iblis betina, engkau harus menebus kematian dua orang suteku dengan nyawamu!” Sepasang golok di tangannya menyambar dengan gerakan menggunting dari kanan kiri. Siang Lan cepat menggerakkan pedangnya menangkis ke kanan kiri.

“Trang-trangg     !” Gadis itu merasa betapa tenaga tosu muka hitam ini jauh lebih kuat dari tenaga Perwira

Can sehingga akan merupakan seorang lawan yang cukup tangguh.

“Awas, Enci. Pendeta siluman muka hitam itulah yang menculikku!” teriak Li Ai yang masih dipegangi kedua lengannya oleh dua orang anak buah Perwira Can.

Memang Li Ai benar. Perwira Can tidak berani membunuhnya karena Li Ai mempunyai dua orang paman, adik-adik ayahnya, yang menjadi pembesar di kota raja dan kedudukan mereka lebih tinggi daripada kedudukan Perwira Can, maka kini ia hanya dipegangi dua orang anak buah tanpa diancam golok lagi.

Melihat betapa tangkisan pedang Siang Lan dapat membuat sepasang golok di tangan tosu muka hitam itu terpental, tosu kedua yang bermuka pucat berseru.

“Siancai! Tenaga saktimu boleh juga, Hwe-thian Mo-li!” Dan dia pun menyerang dengan pedang di tangan kanan yang menyambar ke arah leher Siang Lan disusul ujung bulu kebutan yang tiba-tiba menjadi kaku itu menotok ke arah ulu hati!

Sungguh berbahaya sekali serangan tosu bermua pucat itu. Cepat ia menggerakkan pedangnya untuk menangkis pedang lawan dan tangan kirinya dengan tenaga sin-kang menangkis bulu kebutan berwarna putih itu.

“Cringg     plakk!” Siang Lan berhasil menangkis pedang dan kebutan, akan tetapi ia terdorong ke belakang

oleh tenaga yang amat kuat!

Tahulah ia bahwa tosu berwajah pucat ini memiliki tenaga sakti yang kuat bukan main dan merupakan lawan yang amat tangguh. Menghadapi dua orang lawan seperti itu dapat membahayakan dirinya. Akan tetapi gadis perkasa yang tidak pernah mengenal takut ini sama sekali tidak merasa gentar, bahkan ia lalu mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua jurus-jurus simpanannya untuk mengamuk melawan dua orang tosu yang lihai itu.

Sementara itu, Perwira Can dan anak buahnya yang merasa agak gentar terhadap Siang Lan, hanya mengepung dari jarak aman seolah hendak menutup jalan keluar gadis itu agar tidak mampu melarikan diri!

Siang Lan mengamuk mati-matian, namun ia segera terdesak karena kedua orang lawannya, terutama tosu muka pucat, memang memiliki tingkat kepandaian yang tinggi. Melawan tosu muka pucat itu saja belum tentu ia dapat menang, apalagi kini dikeroyok dua, padahal kepandaian tosu muka hitam itu juga hebat sekali.

Biarpun terdesak hebat, Siang Lan tidak mempunyai niat sedikit pun juga untuk melarikan diri. Tak mungkin ia melarikan diri dan meninggalkan Li Ai. Ia akan melindungi Li Ai sampai tidak mampu melawan lagi! Tekadnya yang besar ini membuat ia masih mampu bertahan, walaupun lebih banyak mengelak dan menangkis daripada balas menyerang.

Tiba-tiba terdengar suara berdebukan dan dua orang anak buah perajurit yang tadinya memegangi kedua lengan Li Ai, berteriak dan roboh tak dapat bergerak lagi!

Ternyata yang merobohkan mereka adalah seorang laki-laki setengah tua, berusia empatpuluh dua tahun, bertubuh sedang dan wajahnya tampan dan lembut, pakaiannya sederhana. Dia merobohkan dua orang yang tadi meringkus Li Ai hanya dengan tamparan dari jarak jauh dan kini dia melompat dengan ringannya ke sebelah Siang Lan.

“Hwe-thian Mo-li, lindungi dan larikan gadis itu dari sini, biar aku yang akan menghadapi dua orang sesat Pek-lian-kauw ini!” katanya lembut namun berwibawa.

Setelah berkata demikian, dia bergerak maju dan dengan hanya menggunakan ujung lengan bajunya yang panjang, dia menyambut serangan dua orang pendeta Pek-lian-kauw itu! Namun, tangkisan kain ujung lengan baju itu membuat senjata dua orang tosu itu terpental dan mereka merasa betapa tangan mereka tergetar hebat!

04.10. Mengapa Engkau Menangis?

Siang Lan yang telah melompat mundur, memandang penuh perhatian dan ia merasa heran sekali bagaimana orang itu dapat mengenal julukannya. Ia belum pernah melihat orang ini dan dari beberapa gebrakan saja tahulah ia bahwa orang itu memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi! Baru tiga jurus saja dua orang tosu itu sudah terdorong mundur! Ia menoleh dan melihat bahwa Li Ai sudah terbebas dari pegangan dua orang anak buah Perwira Can yang kini sudah menggeletak tak bergerak. Perwira Can yang memang sudah gentar terhadap Siang Lan, kini mengerahkan sisa anak buahnya untuk membantu dua orang tosu mengeroyok laki-laki yang menolong Siang Lan itu.

“Mari, Li Ai!” Ia berseru dan menyambar tubuh gadis itu, dibawanya lari ke arah dua ekor kuda mereka. Tak lama kemudian mereka berdua sudah melarikan kuda dengan cepat melanjutkan perjalanan menuju Lembah Selaksa Bunga.

Laki-laki yang menolong Siang Lan itu bukan lain adalah Sie Bun Liong! Peristiwa di malam jahanam di mana dalam keadaan setengah mabok dan terpengaruh racun perangsang, secara hampir tidak sadar dia telah melakukan perkosaan terhadap Hwe-thian Mo-li. Dia merasa amat menyesal dan duka, dan dia mengambil keputusan untuk menebus dosanya dengan melindungi Siang Lan dan menurunkan ilmunya kepada gadis itu agar kelak gadis itu dapat membalas dendam dan membunuh musuh besar yang telah menodainya, yaitu Thian-te Mo-ong atau dia sendiri!

Untuk dapat mencapai keputusannya ini dengan baik, dia harus menyamar menjadi dua orang, yaitu pertama menyamar sebagai Thian-te Mo-ong yang memakai topeng kayu dan kedua menyamar sebagai pelindung dengan nama Bu-beng-cu (Si Tanpa Nama)! Nama aselinya, Sie Bun Liong, tidak dipakainya lagi!

Melihat kehebatan lawan yang membela Hwe-thian Mo-li, dua orang tosu Pek-lian-kauw menjadi penasaran. “Tahan!” seru tosu berwajah pucat.

Mendengar ini, semua orang menghentikan perkelahian dan tosu itu memandang tajam penuh selidik kepada lawannya. “Siapakah engkau dan mengapa engkau mencampuri urusan kami? Kami sedang membantu pasukan yang hendak menangkap dua orang gadis yang mencuri harta milik keluarga Kui!”

Sie Bun Liong yang kini menggunakan nama julukan Bu-beng-cu, tersenyum menjawab terang. “Hwa Hwa, engkau seorang datuk masih suka memutar-balikkan fakta.”

“Engkau mengenal kami?” bentak tosu berwajah pucat yang bernama Hwa Hwa Hoat-su, datuk sesat yang jarang turun tangan sendiri karena sudah banyak saudara dan murid yang lebih muda mengurus semua masalah di Pek-lian-kauw.

“Tentu saja aku mengenal kalian, Hwa Hwa Hoat-su dan Hoat Hwa Cin-jin. Seperti kuatakan tadi, kalian memutar-balikkan kenyataan. Nona Kui Li Ai membawa hartanya sendiri, peninggalan Ayahnya, yang hendak merampok harta keluarga Kui adalah kalian orang-orang Pek-lian-kauw yang agaknya bekerja sama dengan pasukan yang menyamar ini!”

“Keparat, siapa engkau?” bentak Hoat Hwa Cin-jin, marah dan terkejut karena kerja sama Pek-lian-kauw dengan Perwira Can telah diketahui.

“Namaku tidak ada, sebut saja aku Bu-beng-cu!”

“Manusia sombong!” Tiba-tiba Hwa Hwa Hoat-su melemparkan kebutannya ke atas dan      kebutan berbulu

putih itu terbang melayang ke arah Bu-beng-cu dan seperti hidup kebutan itu menyerang ke arah mukanya.

“Hemm, permainan kanak-kanak ini kau pamerkan?” bentak Bu-beng-cu dan, sekali tangannya didorongkan ke arah kebutan itu, senjata itu terpental dan terbang kembali ke tangan kiri Hwa Hwa Hoat-su!

Hwa Hwa Hoat-su marah dan sambil mengeluarkan gerengan, seperti seekor biruang dia sudah menerjang maju, menggerakkan pedang di tangan kanan dan kebutan tangan kiri. Hoat Hwa Cin-jin tidak tinggal diam. Dia sudah menerjang pula dengan siang-to (sepasang golok) di tangannya.

Bu-beng-cu menggerakkan tubuhnya yang seolah berubah menjadi bayang-bayang yang cepat sekali gerakannya. Bayangan tubuhnya berkelebatan di antara gulungan sinar senjata kedua orang pengeroyoknya yang amat lihai itu.

Niat Bu-beng-cu hanya untuk menyelamatkan Hwe-thian Mo-li dan Kui Li Ai. Dia tidak ingin bermusuhan dengan Pek-lian-kauw atau dengan siapapun juga. Selama bertahun-tahun dia hanya memperdalam ilmu dan bersembunyi di Pegunungan Himalaya. Sungguh tak disangka-sangkanya bahwa rasa rindunya kepada adik tirinya, yaitu Siangkoan Leng yang menjadi Ban-hwa-pang-cu (Ketua Ban-hwa-pang) akan mendatangkan malapetaka baginya.

Pertama-tama, dalam keadaan tak sadar dikuasai pengaruh racun perangsang dia telah memperkosa Hwe- thian Mo-li yang disusul dengan dendam sakit hati gadis itu kepadanya dan sekarang, karena dia harus melindungi Hwe-thian Mo-li, dia harus bermusuhan dengan orang-orang kang-ouw, hal yang sama sekali tidak dikehendakinya. Dia menyadari bahwa peristiwa malam jahanam itu akan membawa akibat panjang yang akan merusak ketenteraman hidupnya.

Setelah dia merasa bahwa tentu Hwe-thian Mo-li dan Li Ai telah pergi jauh dan bebas dari ancaman orang- orang ini, maka setelah melawan dan selalu menghindarkan diri dari serangan dua orang tosu Pek-lian- kauw itu. Bu-beng-cu menggunakan gin-kangnya untuk melompat jauh ke belakang dan dengan beberapa lompatan saja dia sudah meninggalkan tempat itu dan menghilang di balik pohon-pohon!

Dua orang tosu itu tidak mengejar karena keduanya maklum betapa tingginya gin-kang dari orang berjuluk Bu-beng-cu yang tidak mereka kenal itu. Bahkan nama Bu-beng-cu juga tak pernah terdengar di dunia kang-ouw.

Perwira Can yang gagal merampas harta benda keluarga Kui yang dibawa Li Ai walaupun sudah dibantu dua orang tokoh Pek-lian-kauw, terpaksa mengajak anak buahnya kembali ke kota raja dengan tangan hampa. Bahkan beberapa orang anak buahnya tewas dan terluka!

Kui Li Ai merasa kagum ketika ia mengikuti Siang Lan tiba di Lembah Selaksa Bunga. Sebagai seorang gadis bangsawan yang sejak kecil hidup mewah, tentu saja ia sudah banyak melihat taman-taman yang indah milik para bangsawan di kota raja, bahkan pernah satu kali ayahnya mengajak ia melihat taman istana kaisar yang megah. Namun, dibandingkan lembah ini, taman bunga itu bukan apa-apa.

Lembah ini demikian luas dan alami, penuh dengan beraneka bunga, terbuka dan bebas, tidak seperti taman-taman bunga yang terkurung pagar tembok tinggi, membuat orang merasa seperti dalam tahanan atau penjara. Sedangkan di Lembah Selaksa Bunga ini, ia merasa demikian bebas merdeka, dapat melihat jauh ke bawah bukit dan merasa seperti burung yang terbang bebas lepas melayang di udara!

Segala bentuk kesenangan yang dapat kita rasakan melalui indera kita, merupakan anugerah Tuhan kepada kita. Dengan adanya nafsu dalam diri kita yang telah disertakan kita sejak lahir, mendatangkan kenikmatan bagi kita. Demikian besar kasih Tuhan kepada kita. Nafsu yang terkandung dalam penglihatan mata membuat kita dapat menikmati pemandangan yang indah-indah, bentuk dan warna yang menyenangkan hati kita.

Melalui pendengaran telinga, nafsu mendatangkan kenikmatan kepada kita kalau kita mendengar suara- suara merdu yang sesuai dengan selera kita. Demikian pula, melalui penciuman hidung, kita dapat menikmati keharuman. Melalui mulut, kita dapat menikmati makanan dan selanjutnya.

Namun, justeru kenikmatan-kenikmatan yang kita rasakan melalui anggauta-anggauta badan kita ini yang sering kali menjerumuskan kita. Nafsu yang menimbulkan kenikmatan dalam kehidupan, yang semestinya menjadi peserta dan pelayan kita, kalau terlalu dibiarkan dan dimanja, dapat merajalela dan berbalik akan memperbudak kita. Kalau sudah demikian, akan celakalah kita.

Keinginan memperoleh kenikmatan-kenikmatan itu membuat kita selalu mengejar dan dalam pengejaran itu, seringkali terjadilah pelanggaran-pelanggaran, menghalalkan segala cara untuk mencapai apa yang amat diinginkan. Padahal, kalau sesuatu yang kita kejar, yang kita anggap akan mendatangkan kesenangan itu, telah terdapat, maka biasanya hanya akan mendatangkan kebosanan, cepat atau lambat. Nafsu mendorong kita untuk mencari yang lain lagi, yang kita anggap akan lebih menyenangkan daripada apa yang telah kita dapatkan. Demikianlah, kita menjadi budak pengejar kesenangan yang tak pernah mengenal puas sampai akhirnya kita terjatuh sendiri karena pelanggaran yang kita lakuan dalam pengejaran itu.

Berbahagialah orang yang selalu merasa puas dengan apa yang diperoleh dari hasil usahanya dan mensyukuri perolehan itu sebagai berkat dari Tuhan, kemudian dapat menyalurkan berkat dari Tuhan itu untuk sebagian diberikan kepada orang-orang lain yang membutuhkan. Penyalur berkat Tuhan berupa kepandaian, kekuatan, ataupun kelebihan materi, adalah orang-orang yang mengagungkan namanya sehingga orang-orang yang menerima penyaluran berkat itu juga akan memuja dan mengagungkan nama Tuhan.

Kesenangan yang dirasakan Li Ai ketika ia tiba di Lembah Selaksa Bunga dan melihat keindahan lembah itu, juga tidak bertahan lama. Beberapa waktu kemudian, sudah timbul perasaan bosan melihat taman bunga alami itu. Karena sering melihat, maka lembah itu pun tampak “biasa” saja, tidak ada keanehannya, tidak ada keunikannya, tidak ada daya tariknya lagi.

Tidak heran kalau kita mendengar betapa orang-orang gunung merindukan pantai laut dan orang-orang pantai laut merindukan pegunungan. Orang-orang kota menyukai dusun yang hening menyejukkan, dan orang-orang dusun menyukai kota yang ramai menggembirakan! Orang selalu menghendaki yang belum dia miliki dan merasa bosan dengan apa yang telah mereka punyai.

Demikian pula dengan Li Ai. Kalau mula-mula ia merasa senang dan kagum melihat Lembah Selaksa Bunga dan senang tinggal bersama Hwe-thian Mo-li di lembah itu, beberapa pekan kemudian ia sudah merasa bosan. Apalagi kalau ia teringat akan penghidupannya yang lalu di kota raja ketika ayahnya masih hidup.

Ia kini merasa kehilangan segala-galanya. Kehilangan kehormatan diri karena peristiwa perkosaan itu selalu menghantuinya, terutama di waktu malam. Mimpi-mimpi menakutkan tentang peristiwa itu seringkali membuat ia menjerit-jerit dan terbangun. Dahulu ia menjadi seorang gadis bangsawan yang selalu riang, dihormati, disayang banyak orang, dan terutama sekali digandrungi banyak pemuda!

Pada sore hari itu pemandangan di Lembah Selaksa Bunga sungguh indah sekali. Matahari senja dengan sinarnya yang lembut kemerahan memandikan lembah itu sehingga tampak kemerah-merahan dan matahari sendiri sudah mulai turun bagaikan wajah seorang dara yang malu-malu dan hendak menyembunyikan diri di balik tirai awan sutera putih.

Namun Kui Li Ai yang sedang termenung dan tenggelam dalam lamunannya itu, tidak lagi dapat menyadari akan semua keindahan itu. Bahkan suasana senja seperti itu mengingatkan ia akan pertemuannya dengan seorang pemuda yang baginya merupakan seorang laki-laki yang amat menarik, tampan dan gagah. Pemuda itu bernama Bong Kin, putera dari hartawan Bong yang selain kaya raya, juga dekat hubungannya dengan para pejabat.

Beberapa bulan yang lalu sebelum Panglima Kui wafat, hartawan Bong datang berkunjung, ditemani puteranya, yaitu Bong Kin yang biasa disebut Bong Kongcu (Tuan Muda Bong). Karena tidak ingin mengganggu percakapan antara ayahnya dan Panglima Kui, Bong Kongcu pamit untuk berjalan-jalan dalam taman bunga yang terdapat di samping gedung Panglima Kui.

Pada sore hari yang hawanya panas itu, kebetulan Kui Li Ai sedang mencari angin dalam taman. Tanpa disengaja, dara dan pemuda itu saling jumpa dan Bong Kin yang pandai bergaul itu segera memperkenalkan diri. Karena sikapnya yang sopan dan ramah, Li Ai menyambut perkenalan itu. Perkenalan itu disambut baik dan berlanjut menjadi persahabatan di antara mereka.

Ketika Bong Kin menyatakan cinta, Li Ai belum berani menerimanya. Ia sudah banyak menolak pernyataan cinta dan pinangan pemuda-pemuda yang menggandrunginya. Biarpun ia belum menerima Bong Kin yang menyatakan cinta itu sebagai pria pilihannya, namun ia sungguh tertarik kepada Bong Kin. Pemuda itu selain sopan dan ramah, juga kata-katanya penuh madu penuh rayuan yang menggetarkan hatinya.

Li Ai menghela napas panjang. Ketika teringat kepada Bong Kin yang menjadi sahabatnya, ia semakin terpukul dan merasa kehilangan. Ingatan akan pemuda yang telah menyatakan cinta kepadanya itu membuat ia teringat akan keadaan dirinya yang telah ternoda. Maka tak dapat ditahannya lagi Li Ai menangis tersedu-sedu tanpa suara karena ia menahan agar tangisnya tidak terdengar oleh orang lain.

Sebuah tangan dengan lembut memegang pundaknya. Li Ai terkejut dan mengangkat muka memandang. Kiranya Siang Lan sudah berdiri di belakangnya.

“Li Ai, mengapa engkau menangis? Apakah engkau masih berduka karena nasibmu dahulu itu?” Li Ai menggelengkan kepala.

“Hemm, apakah engkau merasa menyesal meninggalkan rumahmu dan tinggal di tempat sunyi ini?”

Li Ai cepat menggelengkan kepala dan menjawab. “Tidak, Enci, aku senang sekali tinggal di sini bersamamu. Aku hanya...... sedih teringat kepada...... seorang sahabat baikku ”

“Sahabat baikmu? Siapakah itu, Li Ai?”

“Dia dia putera Bong Wan-gwe (Hartawan Bong) sahabat mendiang Ayahku yang tinggal di kota raja.”

“Hemm, seorang pemuda?”

Wajah ayu itu menjadi kemerahan. “Dia bernama Bong Kin dan sebelum terjadi malapetaka menimpa keluargaku, Bong Kongcu itu telah menyatakan bahwa dia...... cinta padaku dan akan meminangku ”

“Ah, dan engkau juga cinta padanya?”

Li Ai hanya mengangguk perlahan dan menundukkan mukanya.

“Kalau begitu, biar aku mencarinya dan kuberitahuan bahwa engkau berada di sini. Kalau memang dia mencintamu, tentu dia akan datang dan meminang ke sini.”

“Tapi...... tapi, Enci, keadaanku sekarang...... aku sudah ternoda...... bagaimana mungkin aku menjadi isterinya?” Li Ai terisak sedih.

“Mengapa tidak mungkin? Kalau memang Bong Kongcu itu mencintamu, Li Ai, hal itu pasti bukan merupakan halangan. Kau tunggu saja di sini, aku akan ke kota raja mencarinya dan memberitahu padanya bahwa engkau sekarang tinggal di sini. Kalau dia mencintamu tentu dia akan datang menjemputmu di sini.”

“Akan tetapi kalau dia datang, apa yang harus kuperbuat? Apa yang harus kukatakan padanya? Apakah

aku harus berterus terang mengatakan bahwa aku telah...... telah...... dinodai dua orang tokoh Pek-lian- kauw jahanam keji itu? Enci aku takut ”

“Li Ai, kalau engkau memang mencintanya, engkau tidak perlu takut dan kalau dia memang mencintamu, dia akan memaklumi keadaanmu yang tidak berdaya dan menaruh kasihan kepadamu. Memang sebaiknya berterus terang, karena kalau engkau sembunyikan dan kemudian dia mengetahui, hal itu sungguh tidak baik jadinya. Nah, kautunggu saja di sini!”

Siang Lan lalu pergi meninggalkan Lembah Selaksa Bunga menuju ke kota raja. Dalam perjalanan yang dilakukannya dengan cepat ini, Siang Lan banyak melamun. Ia tidak dapat melupakan pria yang telah menolongnya ketika ia dikeroyok tokoh-tokoh Pek-lian-kauw yang lihai. Bagaimana mungkin ia dapat melupakan orang itu? Tanpa pertolongannya, tentu ia dan Li Ai telah tewas atau terjatuh ke tangan orang- orang Pek-lian-kauw. Ia merasa menyesal sekali tidak sempat berkenalan dengan penolongnya itu. Sudah dua kali ia ditolong orang tanpa mengenal penolongnya. Yang pertama ketika ia dikeroyok oleh Cin Kok Tosu dan Cia Kun Tosu, dua orang tokoh Pek-lian-kauw yang memperkosa Li Ai, ia dibantu orang yang tidak memperlihatkan diri dengan sambitan batu ke arah dua orang lawannya itu, kemudian ketika ia roboh pingsan, ada yang mengobatinya sehingga ia terbebas dari racun. Ia tidak sempat melihat siapa penolongnya yang pertama itu.

Kemudian, untuk kedua kalinya ia ditolong, bahkan diselamatkan orang dan ia masih sempat melihat penolongnya walaupun ia tidak sempat mengetahui siapa nama penolongnya itu. Apakah dia juga yang dulu pernah menolongnya tanpa ia lihat orangnya? Ia tidak dapat melupakan wajah laki-laki penolongnya itu dan ingin sekali ia bertemu untuk sekadar mengucapkan terima kasihnya.

Bahkan ada harapan yang lebih dari sekadar mengucapkan terima kasih, yaitu ia ingin sekali memperdalam ilmu silatnya, berguru kepada laki-laki itu. Dari gerakan orang itu, ia tahu benar bahwa dia memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi dan kalau ia dapat berguru kepadanya, mungkin ia akan mampu kelak membalas dendamnya kepada Thian-te Mo-ong, jahanam berkedok setan yang telah memperkosanya dan menghancurkan kebahagiaan hidupnya. Akan tetapi, ke mana ia harus mencari penolongnya itu? Ia hanya pernah melihatnya, mengenal wajahnya akan tetapi tidak tahu siapa namanya dan di mana tempat tinggalnya.

Teringat akan kenyataan ini, hatinya merasa kecewa dan murung. Ia lalu mengerahkan gin-kangnya dan berlari cepat sekali menuju ke kota raja. Kalau ia sendiri tidak mungkin membangun penghidupannya yang sudah runtuh dan mustahil dapat hidup berbahagia, setidaknya ia dapat membantu Li Ai untuk mulai hidup baru, berbahagia bersama pria yang dicintanya!

Bong Kin atau yang biasa dipanggil Bong Kongcu (Tuan Muda Bong) adalah putera tunggal Bong Wan-gwe (Hartawan Bong), seorang pedagang rempah-rempah yang kaya raya di kota raja. Seperti sudah lajim terjadi, baik di kota-kota daerah atau di ibu kota (kota raja), para hartawan selalu berhubungan dekat dan akrab dengan para pembesar atau pejabat tinggi. Dua golongan masyarakat ini memang saling membutuhkan dan saling bantu.

Si Pembesar membantu dengan kekuasaan jabatan yang dipegangnya, sebaliknya Si Hartawan membantu dengan harta yang dimilikinya. Kerja sama ini mendatangkan keuntungan kedua pihak. Yang kaya menjadi semakin kaya dan Sang Pembesar pun memperoleh hasil yang ribuan kali lipat besarnya daripada gajinya yang dia dapatkan dari pemerintah.

Demikian pula dengan Hartawan Bong. Perusahaannya, yaitu berdagang rempah-rempah menjadi semakin besar karena dengan perlindungan pembesar yang berwenang, dia memiliki monopoli atas bermacam- macam rempah-rempah terpenting sehingga dia dapat mengendalikan harga hasil bumi itu dan memperoleh keuntungan yang berlipat ganda. Tentu saja sebagian keuntungan itu lari ke dalam kantung pembesar yang melindunginya.

Siapa yang menderita rugi? Tentu saja pertama adalah rakyat kecil, terutama para petani yang menanam rempah-rempah itu karena harganya ditekan serendah-rendahnya oleh Hartawan Bong sebagai pembeli tunggalnya.

04.11. Motivasi Cinta Seorang Pemuda

Hubungan Hartawan Bong dengan para pembesar di kota raja amat dekat. Dia tidak sayang menghamburkan uang untuk dapat mengikat persahabatan dengan para pembesar. Maka, Hartawan Bong mengenal hampir seluruh pejabat sipil maupun militer yang berkuasa waktu itu di kota raja, termasuk mendiang Panglima Kui Seng.

Biarpun dia tidak membutuhkan bantuan dari panglima ini, juga sebaliknya Panglima Kui tidak pernah menerima semacam “upeti” darinya, namun tetap saja Hartawan Bong mendekatinya dengan cara mengirimkan hadiah barang atau makanan pada waktu-waktu tertentu, seperti hari raya dan sebagainya. Bahkan dia sering pula datang berkunjung sekadar untuk bercakap-cakap. Dalam kesempatan ini, Bong Kongcu bertemu dan berkenalan dengan Kui Li Ai dan pemuda hartawan itu jatuh cinta kepada Li Ai.

Bong Kongcu bukan seorang pemuda alim. Pemuda berusia duapuluh lima tahun yang tampan gagah, pesolek dan perayu ini terkenal di rumah-rumah pelesir termahal di kota raja. Dia sudah banyak pengalaman dan bergaul dengan banyak wanita cantik. Akan tetapi baru sekali ini dia benar-benar jatuh cinta kepada Kui Li Ai. Dia memang belum menikah dengan resmi walaupun sejak berusia duapuluh tahun dia telah mempunyai beberapa orang gadis simpanan sebagai selirnya. Dia melihat keuntungan besar kalau dapat menikahi Kui Li Ai sebagai isterinya. Pertama, Kui Li Ai memiliki kecantikan yang memang menggairahkan di samping memiliki pendidikan tinggi dan juga sebagai puteri panglima tentu saja namanya terhormat. Kedua, kalau dia menjadi mantu Panglima Kui, tentu saja diapun memiliki perlindungan yang kuat dan martabatnya akan naik di mata penduduk kota raja. Bahkan ayahnya juga sudah merasa setuju sekali dan mendukungnya kalau dia ingin berjodoh dengan puteri Panglima Kui.

Akan tetapi walaupun dia sudah menyatakan cintanya kepada Li Ai, gadis itu belum menjawab, maka dia belum berani mengajukan pinangan. Kemudian, datang malapetaka menimpa keluarga Kui dengan diculiknya Li Ai dan berakibat kematian Panglima Kui Seng. Kemudian, Bong Kongcu mendengar bahwa Kui Li Ai pergi bersama seorang pendekar wanita yang terkenal liar dan ganas bernama Hwe-thian Mo-li.

Tentu saja dia merasa kecewa sekali karena keinginannya untuk menikah dengan Li Ai dan menjadi mantu Panglima Kui telah gagal! Dia tidak tahu ke mana harus mencari gadis yang dicintanya itu dan biarpun dia telah menghamburkan uang untuk membiayai pencariannya terhadap Li Ai dengan mengerahkan orang- orangnya, tetap saja tidak berhasil menemukan gadis itu.

Bong Kongcu mencoba untuk menghibur hatinya dengan bersenang-senang dengan banyak gadis penghibur yang cantik, namun tetap saja dia setiap hari murung teringat kepada Li Ai yang membuatnya tergila-gila. Bagi seorang pemuda yang sedang kasmaran, tergila-gila seperti dia, tidak ada wanita lain yang lebih cantik menarik dan menggairahkan selain gadis yang telah menjatuhkan hatinya itu.

Pada suatu pagi, ketika Bong Kin sedang duduk termenung dan teringat kepada Kui Li Ai, wajahnya muram dan hidangan makanan kecil yang sejak tadi ditaruh oleh pelayan di depannya, di atas meja, tak disentuhnya, muncullah seorang pelayan wanita.

“Kongcu, di luar ada seorang gadis ingin bertemu dengan Kongcu.”

Bong Kongcu memandang pelayannya itu dengan mata bersinar. “Seorang gadis? Ia...... Nona Kui Li Ai ?”

“Bukan, Kongcu. Ia seorang gadis yang cantik dan di punggungnya tergantung sebatang pedang. Ia tidak memperkenalkan nama, hanya bilang bahwa ia mempunyai urusan yang amat penting dan katanya Kongcu tentu akan senang mendengarnya.”

Mendengar ini, Bong Kin lalu bangkit dan melangkah keluar dengan heran dan ingin sekali melihat siapa gadis itu. Setelah tiba di luar dia merasa heran sekali melihat seorang gadis yang cantik jelita dan belum pernah dilihatnya. Yang menarik hatinya, gadis ini bukan seperti gadis cantik lainnya yang pernah dikenalnya. Gadis ini selain cantik jelita juga memiliki sikap gagah, dengan sinar mata tajam dan terutama yang membuat ia gagah berwibawa adalah sikapnya ketika berdiri tegak memandangnya.

Sebatang pedang yang tergantung di belakang punggungnya menambah kegagahannya. Harus dia akui bahwa selama dia bertualang di antara para gadis cantik, belum pernah dia bergaul dengan gadis cantik yang begini gagah sehingga memiliki daya tarik yang lain daripada gadis lain yang pernah dikenalnya.

“Nona, siapakah dan ada keperluan apa mencariku?” tanya Bong Kin dengan senyum ramah dan sikapnya yang sopan. Dia memang pandai membawa diri, pandai pula bersikap untuk mendatangkan kesan baik dalam hati para wanita.

“Apakah engkau yang bernama Bong Kin, putera Bong Wan-gwe?” tanya gadis itu yang bukan lain adalah Hwe-thian Mo-li.

Pertanyaannya yang dijawab dengan pertanyaan pula itu tidak membuat Bong Kongcu menjadi marah. Dia tetap tersenyum.

“Benar sekali, Nona. Aku bernama Bong Kin dan kalau Nona memiliki keperluan denganku, silakan masuk dan duduk di kamar tamu di mana kita dapat bicara dengan baik, tidak berdiri saja di sini. Silakan, Nona.”

Senang juga hati Siang Lan melihat sikap dan penyambutan yang ramah dan sopan ini. Ia mengangguk dan mengikuti pemuda itu memasuki sebuah ruangan tamu. Setelah duduk berhadapan terhalang meja besar Siang Lan berkata.

“Bong Kongcu, aku datang sebagai utusan Nona Kui Li Ai     ” Siang Lan menghentikan ucapannya ketika

melihat betapa wajah pemuda itu tampak berseri, sepasang matanya terbelalak dan dia tampak girang sekali.

“Aih, berita ini sungguh membahagiakan sekali, Nona! Tolong katakan di mana kini Nona Kui Li Ai dan berita apa yang engkau bawa darinya?” Hati Siang Lan senang melihat sikap pemuda ini yang ternyata tampak girang sekali mendengar tentang Li Ai, menandakan bahwa dia memang mencinta puteri mendiang Panglima Kui itu.

“Nona Kui Li Ai sekarang tinggal bersamaku di Lembah Selaksa Bunga, Bong Kongcu, dalam keadaan sehat dan selamat.”

Dengan singkat Siang Lan lalu menceritakan tentang Li Ai yang meninggalkan rumah keluarga Kui karena tidak suka tinggal bersama ibu tirinya yang galak. Bagaimana Li Ai kini berada di Lembah Selaksa Bunga bersamanya.

Setelah menceritakan keadaan Li Ai, Siang Lan menatap tajam wajah pemuda yang tampan itu dan bertanya. “Kedatanganku ini untuk bertanya kepadamu, Bong Kongcu, apakah benar seperti yang kudengar dari Adik Kui Li Ai bahwa engkau cinta padanya?”

Wajah Bong Kin berubah kemerahan, akan tetapi dengan sungguh-sungguh dia berkata, “Sesungguhnya, Nona. Aku amat mencinta Nona Kui Li Ai dan aku merasa sedih sekali akan kematian Ayahnya dan semakin sedih ketika mendengar ia pergi meninggalkan rumahnya. Aku telah bersusah payah berusaha untuk mencarinya selama ini, namun tidak berhasil. Maka, sungguh girang sekali hatiku mendengar bahwa ia berada di tempat tinggalmu dalam keadaan sehat dan selamat.”

“Kedatanganku ini hendak menegaskan, apakah sampai sekarang engkau masih tetap mencintanya, Kongcu?”

“Tentu saja, bahkan semakin mencintanya karena aku merasa iba kepadanya.” “Dan engkau menginginkan agar ia menjadi isterimu, Kongcu?”

“Benar, Nona.”

“Kalau begitu, sekarang engkau boleh meminangnya, Kongcu, karena Adik Li Ai yang merasa hidup sebatang kara telah menyatakan kepadaku bahwa kalau engkau meminangnya, ia akan menerimanya dan kini siap untuk menjadi isterimu.”

Pemuda itu tampak semakin girang. “Aih, kedatanganmu membawa berkat bagiku, Nona! Kalau boleh aku mengetahui, siapakah engkau, Nona? Aku pernah mendengar bahwa Adik Kui Li Ai pergi bersama seorang pendekar berjuluk Hwe-thian Mo-li. Apakah apakah engkau pendekar itu, Nona?”

“Tidak salah, Kongcu. Akulah Hwe-thian Mo-li yang melindungi Nona Kui Li Ai dan ia sekarang tinggal bersamaku di Lembah Selaksa Bunga. Setelah berunding dengannya, maka hari ini aku datang untuk minta ketegasan darimu. Setelah kini engkau menyatakan masih mencintanya dan ingin meminangnya, maka kuharap engkau suka berkunjung ke tempat kami agar dapat bertemu dan bicara sendiri dengannya.”

“Wah, aku senang sekali, Li-hiap (Pendekar Wanita)! Aku akan segera mengunjunginya di Lembah Selaksa Bunga. Di manakah lembah itu?”

Siang Lan menerangkan di bukit mana lembah itu terletak. Kemudian ia berpamit. “Nah, tugasku telah selesai, aku hendak kembali ke Lembah Selaksa Bunga, menceritakan hal ini kepada adik Kui Li Ai. Kami akan siap menyambut kunjunganmu, Bong Kongcu.”

Bong Kin mengucapkan terima kasih dan mengantar kepergian Siang Lan sampai ke depan gedungnya. Setelah gadis itu pergi, dengan girang dia mengabarkan hal itu kepada ayah ibunya.

Bong Wan-gwe, seorang laki-laki setengah tua berusia sekitar limapuluh tahun yang bertubuh gendut berwajah ramah mendengar pemberitahuan puteranya dan dia mengerutkan alisnya. Dulu, hartawan ini tentu saja merasa senang dan bangga ketika puteranya menyatakan bahwa puteranya jatuh cinta dan memilih Kui Li Ai untuk menjadi calon isterinya. Pada waktu itu, Bong Wan-gwe merasa bangga kalau memiliki mantu puteri Panglima Kui itu. Akan tetapi sekarang keadaannya sudah lain.

Panglima Kui telah tiada, bahkan dia mati dalam keadaan cemar, yaitu dikabarkan bunuh diri setelah mengkhianati negara dengan membebaskan tiga orang tawanan pemberontak Pek-lian-kauw! Tidak ada lagi yang patut dibanggakan kalau dia mempunyai mantu gadis she Kui itu, bahkan akan menurunkan dan merendahkan derajat dan martabatnya!

“Bong Kin, apakah sudah engkau pikir masak-masak sebelum engkau meminang Kui Li Ai? Ingat, keadaan gadis itu tidak seperti dulu lagi. Ayahnya sudah mati dan Panglima Kui yang sudah almarhum itu bukan seorang panglima terhormat lagi, bahkan dianggap pengkhianat. Masih banyak gadis yang ayahnya memiliki kedudukan tinggi dan lebih terhormat untuk menjadi isterimu. Aku sanggup melamarkan!” “Tidak, Ayah! Hatiku sudah bulat mengambil keputusan untuk menikah dengan Kui Li Ai. Aku amat mencintanya, Ayah. Ia gadis yang paling cantik di dunia ini!”

Hartawan Bong menghela napas panjang. “Jadi sekarang kita akan mengajukan pinangan? Akan tetapi kepada siapa? Siapa yang menjadi pengganti orang tuanya? Siapa yang menjadi walinya?”