-->

Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan Jilid 03

 
Jilid 03

“Kalau begitu, engkau menunggu apalagi? Silakan maju dan mulailah dengan seranganmu!” gadis itu menantang dan sama sekali tidak memasang kuda-kuda, melainkan berdiri santai saja walaupun tanpa ada yang mengetahui, seluruh urat syarafnya sudah siap siaga dengan waspada.

Berbeda dengan sikap Bwee Hwa yang santai, Lui Thong mulai bergaya. Dia menggulung tinggi kedua lengan bajunya sehingga tampak kedua lengannya yang dipenuhi otot yang melingkar-lingkar. Dia menggerak-gerakkan kedua tangannya sehingga terdengar bunyi berkerotokan dalam buku-buku jarinya! Setelah membuat gerakan pembukaan atau kuda-kuda yang kokoh kuat, dia membentak nyaring.

“Sambut seranganku ini! Haaaiiitt      !”

Lui Thong menerjang maju dengan kedua lengan dikembangkan ke atas dan kedua tangannya membuat serangan seperti menerkam dari kanan kiri, mengarah kedua pundak gadis itu. Dia menggunakan jurus yang disebut Hek-houw-pok-yang (Macan Hitam Menerkam Kambing) yang walaupun merupakan serangan keras namun karena didukung tenaga raksasa maka dapat membahayakan lawan yang diserang.

Namun Bwee Hwa yang memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) tingkat tinggi, dengan lincah dapat mengelak. Serangan susulan dilakukan bertubi-tubi oleh Lui Thong, sampai lima jurus namun semua dapat dihindarkan Bwee Hwa dengan elakan.

“Sekarang sambutlah seranganku!” kata Bwee Hwa dan baru saja ucapannya ini keluar, Lui Thong terkejut sekali karena dia sudah kehilangan lawannya! Dia cepat memutar tubuhnya dan benar saja, gadis itu telah berada di belakangnya. Akan tetapi begitu dia membalik, dia hanya melihat bayangan merah berkelebatan dan gadis itu sudah bergerak cepat sekali seperti seekor tawon merah terbang mengelilingi setangkai bunga! Sebentar saja Lui Thong merasa bingung dan pening karena serangan itu datang dari mana-mana, dari sekeliling dirinya. Dia harus menangkis dan mengelak dari serangan yang seolah dilakukan oleh empat- lima orang! Beberapa kali dia kena ditampar dan ditendang oleh Bwee Hwa yang biarpun hanya menggunakan sebagian kecil tenaganya saja, namun cukup mendatangkan rasa nyeri, pedas dan panas!

Riuh rendah sambutan para anggauta gerombolan itu saking heran dan kagum menyaksikan betapa Bwee Hwa merupakan bayangan merah yang berkelebatan di sekeliling tubuh Lui Thong. Pembantu Gak Sun Thai itu seolah menjadi seekor monyet besar yang diserang seekor kumbang dan tidak berdaya sama sekali menghadapi serangan si kecil yang amat gesit itu. Hal inipun terasa sekali oleh Lui Thong dan dia tahu bahwa kalau dilanjutkan, dia akan mendapat malu besar, maka cepat dia berseru.

“Tahan, nona!”

Bwee Hwa menghentikan serangannya dan berdiri di depan lawannya sambil tersenyum.

“Nona, ciang-hwat (silat tangan kosong) nona sungguh lihai, biarpun kuakui bahwa pukulan tanganmu hampir tidak terasa olehku. Sekarang marilah kita mencoba permainan senjata kita!”

Bwee Hwa tersenyum saja dan dalam hatinya ia berkata, “Hemm, manusia tolol! Kau dikasih hati tidak tahu diri. Kalau aku benar-benar menurunkan tangan dengan pengerahan tenagaku, apa kaukira engkau masih dapat bemapas lagi?” Akan tetapi ini hanya suara hatinya, sedangkan mulutnya berkata, “Memang, tenagaku tidak kuat sedangkan tubuhmu terlalu kuat. Kalau engkau masih belum puas dan menggunakan senjata, silakan!”

Lui Thong segera mencabut senjatanya, sebatang golok yang besar dan berat sekali sehingga dua orang anak buah yang dia suruh ambil menggotong golok itu dengan susah payah. Lui Thong menerima golok itu dengan tangan kanan dan dia mendemonstrasikan kekuatannya, memutar golok besar itu disekeliling tubuhnya sehingga terdengar suara berdesingan dan angin menyambar-nyambar!

Diam-dian Bwee Hwa merasa khawatir kalau-kalau Sin-hong-kiam, pedang pusakanya akan rusak jika dipakai melawan senjata berat itu, maka ia lalu ber-kata dengan tenang, “Nah, setelah senjatamu berada di tanganmu, engkau menunggu apalagi? Mulailah dengan seranganmu!”

“Mana senjatamu, nona? Keluarkanlah dan cabut pedangmu itu.”

Bwee Hwa tertawa dengan bebas, tanpa menutupi mulut seperti kebiasaan gadis-gadis yang selalu menutupi mulut bila tertawa agar tampak sopan. “Heh-he-he, untuk apa aku harus mencabut pedangku? Biar kuhadapi golok pemotong babi di tanganmu itu dengan tangan kosong saja!”

Lui Thong menjadi marah sekali, merasa dipandang rendah dan dihina. Akan tetapi karena gadis itu menjadi tamu ketuanya, dia menoleh kepada Gak Sun Thai dengan mata bertanya.

Gak Sun Thai bertanya kepada Bwee Hwa. “Sungguhkah bahwa engkau akan menghadapi golok Lui Thong dengan tangan kosong saja, nona?”

“Kenapa tidak? Empat batang golok seperti itu masih sanggup aku melawannya dengan tangan kosong, apalagi hanya sebatang.” Gak Sun Thai mendongkol juga dan diapun mengangguk kepada Lui Thong. Orang tinggi besar bermuka hitam ini lalu membentak marah.

“Ang-hong-cu, engkau sendiri yang mencari mati!” Dia lalu membuka serangan dengan jurus Hong-cui- pai-hio (Angin Meniup Daun). Golok itu menyambar dengan cepat dan kuat sekali dari kanan mengeluarkan suara berdesing. Jangankan tubuh Bwee Hwa yang ramping itu, biar sebatang pohon siong yang besar pun agaknya akan terbabat putus dengan mudah oleh sambaran golok ini!

Akan tetapi Bwee Hwa dengan gerakan lemas merendahkan tubuhnya hampir berjongkok sehingga golok itu lewat di atas kepalanya dan ketika golok itu menyambar kembali dari arah lain, kini membabat ke arah bawah, dengan lincahnya ia melompat ke atas sehingga kini golok itu berdesing lewat di bawah kakinya. Demikianlah, dengan menggunakan keringanan dan kecepatan gerak tubuhnya, Bwee Hwa dengan mudah menghindarkan diri dari serangan-serangan golok Lui Thong.

Orang tinggi besar itu menjadi semakin penasaran dan marah. Duapuluh jurus telah lewat tanpa dia dapat melukai lawannya. Jangankan melukai, bahkan goloknya itu sama sekali tidak mampu menyentuh ujung baju gadis itu. Rasa penasaran dan marah membuat Lui Thong seolah lupa bahwa pertandingan itu sebetulnya hanya merupakan “pertandingan persahabatan” untuk menguji ilmu silat masing-masing.

Kemarahan membuat dia bernafsu sekali untuk merobohkan lawan, kalau perlu membunuhnya! Dia lalu membentak nyaring dan segera memainkan ilmu andalannya, yaitu Go-bi To-hoat (Ilmu Golok Go-bi- pai). Goloknya diputar cepat bagaikan kitiran angin sehingga merupakan gulungan sinar putih yang menyambar-nyambar ke arah tubuh Bwee Hwa.

Akan tetapi Bwee Hwa mengeluarkan suara tawa lirih dan iapun mengerahkan gin-kangnya sehingga tubuhnya menjadi bayangan merah yang berkelebat di antara sinar golok yang putih bergulung-gulung itu. Karena bayangan merah itu bergerak lebih cepat dan gulungan sinar putih mengejarnya, maka seolah gulungan sinar putih itu dituntun oleh bayangan merah.

Pemandangan yang indah dan aneh ini amat menarik perhatian, membuat semua orang yang menonton merasa kagum. Terutama para anggauta gerombolan itu merasa gembira karena mereka mengira bahwa sekali ini Lui Thong berhasil mendesak gadis itu.

“Aughh……!” Tiba-tiba terdengar suara Lui Thong mengeluh dan semua penonton terbelalak. Semua terjadi begitu cepat dan di luar dugaan mereka.

Tiba-tiba saja, setelah terdengar Lui Thong mengeluh itu, golok besar itu terlepas dari tangan Lui Thong, jatuh berkerontangan di atas tanah dan tubuh tinggi besar itu kini berdiri kaku bagaikan telah berubah menjadi arca! Ternyata dia telah terkena totokan jari tangan Bwee Hwa pada jalan darah ta-tui-hiat-to sehingga tubuhnya menjadi kaku tidak mampu bergerak.

Setelah merasa yakin bahwa semua orang melihat jelas keadaan Lui Thong yang kaku tertotok, Bwee Hwa lalu melangkah maju, memungut golok yang besar dan berat sekali itu. Akan tetapi dengan amat mudahnya seolah golok itu seringan ranting kering, Bwee Hwa melontarkan senjata itu ke atas.

Semua orang memandang ke atas dan melihat betapa golok itu melayang tinggi sekali! Kemudian mereka melihat golok itu meluncur turun dengan cepat dan dengan ujungnya yang tajam runcing di bawah, golok itu meluncur ke arah kepala Bwee Hwa. Para wanita dan kanak-kanak merasa ngeri bahkan ada yang menjerit ketika melihat betapa golok itu seolah akan menimpa dan menembus kepala gadis itu. Akan tetapi dengan cepat tangan kanan Bwee Hwa bergerak dan tahu-tahu ia telah menangkap golok itu pada ujungnya yang runcing dan tajam. Tanpa banyak cakap ia lalu menggunakan gagang golok itu untuk membuka totokan pada tubuh Lui Thong sehingga tubuh itu dapat bergerak lagi.

Lui Thong yang dapat bergerak lagi meringis kesakitan karena kekakuan tu-buhnya tadi membuat urat- uratnya terasa nyeri. Ketika Bwee Hwa menjulurkan golok itu kepadanya, dia menerimanya lalu menjura dalam sambil berkata lirih.

“Sungguh aku yang bodoh telah mendapat banyak pelajaran darimu, nona.” Setelah berkata demikian, dengan menundukkan mukanya dia menyeret goloknya dan mengundurkan diri.

Bwee Hwa kini memandang kepada Gak Sun Thai dan bertanya, “Paman Gak, apakah ada lagi yang ingin menguji kepandaianku? Marilah kalau ada, selagi aku ada semangat. Kalau aku sedang malas, dipaksapun aku tidak mau bertanding secara main-main begini.”

Seorang pembantu lain segera melangkah maju menghadapi Bwee Hwa. “Gak-twako, biarkan aku mencoba kepandaian nona ini.” Gak Sun Thai juga menganggukkan kepala tanda setuju.

Orang itu bertubuh pendek kurus, berusia kurang lebih empatpuluh tahun. Hidungnya mancung dan mukanya meruncing seperti muka burung, matanya yang juling itu bersinar tajam. Dengan sikap digagah-gagahkan dia menjura kepada Bwee Hwa dan berkata, “Ang-hong-cu, aku adalah pembantu Gak-twako. Namaku Lie Hoat dan julukanku Kang-jiauw-eng (Garuda Kuku Baja).” Berkata demikian, Lie Hoat sengaja membentuk kedua tangannya seperti cakar garuda dan dia memang seorang yang mengandalkan ketangguhannya dengan ilmu pukulan Tiat-see-ciang (Tangan Pasir Besi).

Dalam melatih ilmu ini, dia menggunakan pasir besi dari yang dingin sampai yang panas dengan meremas-remas pasir besi itu. Latihan ini membuat kedua tangannya berwarna hitam dan karena dia seorang lwe-keh (ahli tenaga dalam), maka dapat dibayangkan betapa dahsyatnya kedua tangan itu. Pukulan Tiat-see-ciang itu dapat meremukkan tulang menghanguskan kulit daging. Cengkeramannya cukup kuat untuk menghancurkan batu karang yang keras!

“Hemm, apakah engkau juga hendak bertanding menggunakan senjata?” tanya Bwee Hwa.

“Nona, sungguh gagah perkasa. Aku tidak memiliki kepandaian atau senjata apapun, kecuali hanya mengandalkan sepasang tangan yang lemah ini.”

“Kedua tanganmu yang mengandung ilmu Tiat-see-ciang itu mana bisa dibilang lemah?” kata Bwee Hwa dan Lie Hoat terkejut bukan main. Dia merasa heran bagaimana gadis muda ini sekali pandang sudah dapat mengenal ilmu simpanannya.

Dia tidak tahu bahwa guru gadis itu, Sin-kiam Lojin, pernah menerangkan dengan jelas kepada muridnya itu tentang banyak macam ilmu yang aneh dan berbahaya dari orang-orang di dunia kang-ouw, termasuk Tiat-see-ciang ini. Bwee Hwa sudah hafal akan ilmu-ilmu itu dengan segala cirinya. “Ah, sungguh nona memiliki pandangan yang tajam sekali, dapat mengenal ilmuku sebelum kupergunakan! Sebetulnya siapakah nona ini dan siapakah guru nona yang mulia?”

Melihat sikap si katai yang sopan ini, Bwee Hwa menjawab sejujurnya. “Tadi aku sudah memperkenalkan namaku. Namaku Bwee Hwa dan orang menjuluki aku Ang-hong-cu. Adapun siapa guruku tidak perlu kuperkenalkan namanya.” Gadis itu memang tidak ingin menyebut nama suhunya karena ia menganggap bahwa tidak perlu nama suhunya diketahui oleh golongan perampok seperti ini.

Mendengar jawaban dan melihat sikap Bwee Hwa, Lie Hoat maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang gadis kangouw yang masih muda dan yang bersikap polos dan jujur. Dia lalu berkata, “Nona, sudilah engkau memberi pelajaran untuk menambah pengalaman dan memperluas pengetahuanku yang dangkal.”

“Silakan, dan jangan sungkan-sungkan,” jawab Bwee Hwa.

Karena maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang lawan tangguh, begitu bergerak, langsung saja Lie Hoat mengerahkan tenaga dalamnya dan mengeluarkan ilmu andalannya, yaitu Tiat-see-ciang! Kedua tangannya berubah menghitam dan setiap tamparan, pukulan atau cengkeramannya merupakan serangan maut yang berbahaya!

Akan tetapi sekali ini Lie Hoat yang berjuluk Kang-jiuw-eng (Garuda Kuku Baja) itu seolah membentur batu karang! Gadis muda itu berani menangkis dan beradu tangan dengannya dan ternyata gadis itu memiliki kedua tangan yang kini menjadi sekeras baja dan tidak kalah kuat dibandingkan kedua tangan yang mengandung ilmu Tiat-see-ciang itu!

Bwee Hwa mempergunakan ilmu mengeraskan tangan yang disebut Liap-kang Pek-ko-jiu (Membuat Tangan Keras Seperti Baja) sehingga kalau tangannya menangkis atau bertemu tangan Lie Hoat, terdengar suara berdenting seolah bukan lengan tangan dari kulit daging dan tulang yang saling bertemu, melainkan dua potong besi baja yang amat kuat!

Kemudian Bwee Hwa membalas serangan lawan dan ia memainkan ilmu silat Bi-ciong-kun (Kepalan Menyesatkan), ilmu silat yang indah namun memiliki kembangan-kembangan yang aneh sehingga membingungkan lawan.

Menghadapi gerakan-gerakan yang cepat dan juga aneh itu, Lie Hoat menjadi bingung dan pusing. Gerakan kedua tangan Bwee Hwa tak terduga dan aneh-aneh dan akhirnya gadis itu dapat mendorong pundak Lie Hoat yang membuat dia terpental jatuh bergulingan di atas tanah sehingga pakaiannya menjadi kotor semua. Biarpun dia tidak terluka sama sekali, Lie Hoat maklum bahwa kalau gadis itu berniat buruk, tentu dia akan tewas atau sedikitnya terluka berat. Maka dia lalu melompat berdiri dan memberi hormat.

“Ang-hong-cu sungguh hebat, aku mengaku kalah!” kata Lie Hoat dan dia lalu mengundurkan diri.

“Bukan main! Benar-benar luar biasa! Seumur hidupku belum pernah aku melihat seorang gadis semuda ini memiliki ilmu silat sehebat itu. Mari, mari Ang-hong-cu. Cobalah engkau memberi petunjuk untuk menambah kemampuanku yang tak seberapa ini.” Bwee Hwa mengangkat muka dan melihat seorang laki-laki yang usianya sudah sekitar enampuluh tahun, bertubuh tinggi kurus dan berjenggot panjang. Orang ini pakaiannya bersih, wajahnya kekuning- kuningan dan sikapnya halus dan sopan.

“Siapakah nama paman? Apakah paman juga pembantu Paman Gak Sun Thai?”

Kakek itu mengangguk dan menggunakan tangan kiri mengelus jenggotnya yang panjang. “Benar, Ang- hong-cu. Namaku Souw Ban Lip dan aku juga pembantu Gak-toako.”

Bwee Hwa merasa heran bagaimana kakek yang tampaknya lebih tua dari Gak Sun Thai inipun menyebut toako (kakak tertua) kepada Gak Sun Thai. Ia tidak tahu bahwa sebutan itu untuk menghormat orang yang kedudukannya lebih tinggi, walaupun usianya lebih muda. Ia memperhatikan dan melihat sebuah kantung merah yang biasanya untuk menyimpan senjata rahasia tergantung di pinggang kakek itu.

“Paman Souw, engkau hendak menggunakan senjata apakah untuk menguji kepandaianku?”

Souw Ban Lip tersenyum juga dan menepuk-nepuk kantung piauw (senjata rahasia) dan berkata. “Orang menjuluki aku Lian-hoan-piauw (Si Piauw Beruntun) dan dalam kantungku ini tersimpan duapuluh lima batang piauw. Sanggupkah engkau menghadapi semua senjata rahasiaku ini, Ang-hong-cu?”

Bwee Hwa tersenyum, dalam hati menertawakan kakek itu. Ia sendiri mendapat julukan Ang-hong-cu karena keahliannya melepaskan senjata rahasia hong-cu-ciam yang kecil dan sukar disambitkan, bagaimana mungkin ia takut menghadapi segala macam piauw yang merupakan senjata rahasia yang kasar?

“Silakan engkau melepaskan semua piauw itu. Aku tidak akan meninggalkan lingkaran ini.” Sambil berkata demikian Bwee Hwa mempergunakan ujung sepatu kirinya menggariskan lingkaran di luar tempat ia berdiri!

Ucapan Bwee Hwa ini bukan saja membuat semua orang merasa terkejut dan heran, bahkan membuat Gak Sun Thai merasa bahwa sekali ini Bwee Hwa betul-betul agak keterlaluan dalam kesombongannya. Maka dia lalu berkata, “Ini sama sekali tidak adil! Akan tetapi karena nona sendiri yang memutuskan untuk menghindarkan diri dari semua piauw yang dilepas saudara Souw Ban Lip tanpa keluar dari garis lingkaran yang nona buat sendiri, sudahlah. Akan tetapi aku harus mengambil keputusan yang adil. Engkau boleh membalas dengan senjata rahasia juga, yaitu, kalau engkau dapat mempergunakan senjata rahasia, Ang-hong-cu.”

Bwee Hwa tersenyum dan berkata kepada Souw Ban Lip, “Paman Souw, silakan mulai dengan serangan piauw-mu!” Ia berdiri dengan tenang saja seakan-akan tidak menghadapi lawan yang siap menyambitkan senjata rahasianya yang berbahaya.

Souw Ban Lip merogoh kantung piauwnya dan mengeluarkan tiga batang piauw dengan tangan kanannya. Kemudian dia berseru, “Ang-hong-cu, awas piauw-ku!”

Begitu tangannya bergerak, sinar hitam meluncur cepat sekali ke arah Bwee Hwa. Gadis itu tidak menggerakkan tubuh untuk mengelak, hanya tangan kiri-nya bergerak cepat, dan tahu-tahu piauw itu telah disambar dan ditangkap tangan kirinya. Piauw kedua dan ke tiga menyambar susul menyusul. Bwee Hwa menyambitkan piauw di tangannya, memapaki piauw kedua sehingga dua batang piauw itu bertumbukan di udara dan jatuh ke atas tanah, sedangkan piauw ketiga yang mengarah lambungnya dapat ia tangkis dengan tendangan ujung sepatunya.

Melihat betapa gadis itu dengan mudah saja dapat mematahkan serangan tiga batang piauwnya, Souw Ban Lip merasa kagum sekali akan tetapi juga penasaran. Dia cepat mengeluarkan enam batang piauw, masing-masing tangan memegang tiga batang. Begitu dia menggerakkan kedua tangannya, secara beruntun enam batang piauw itu meluncur ke arah tubuh Bwee Hwa dan yang dijadikan sasaran adalah bagian tubuh yang berbahaya.

Namun, ternyata gadis itu memiliki gerakan kaki tangan yang cepat bukan main. Bagaikan mengubah kedua tangannya menjadi empat, dibantu kedua kakinya dia dapat menangkis dengan kebutan tangan dan tertendang kaki sehingga enam batang piauw itu semua runtuh tanpa dapat melukainya sedikitpun.

Kembali enam batang piauw melayang, kini bukan lagi beruntun melainkan berbareng! Sungguh berbahaya sekali serangan enam batang piauw yang meluncur berbareng ini. Akan tetapi, dengan gerakan cepat Bwee Hwa telah melepaskan pengikat rambutnya yang terbuat dari sutera halus berwarna merah dan ketika ia mengebut-ngebutkan sutera merah itu, enam batang piauw itu semua terpukul runtuh! Padahal yang dipergunakan untuk menangkis itu hanya sehelai sutera merah tipis, namun di tangan yang disaluri tenaga sakti itu, sutera merah tadi menjadi kaku dan kuat bagaikan sebatang pedang saja.

Setelah mengukur sampai di mana kekuatan dan keampuhan daya serang senjata rahasia lawan, Bwee Hwa sengaja berdiri membelakangi lawannya! Enam batang piauw yang menyambar dari belakang itu dapat ditangkis semua dengan cara memutar kain suteranya ke belakang tubuh. Ia hanya mengandalkan pendengarannya yang sangat tajam terlatih untuk menyelamatkan dirinya. Jangankan hanya diserang piauw dari belakang, biarpun diserang dari manapun juga dan di tempat gelap gulita sekalipun, ia akan sanggup menghindarkan diri karena ketajaman pendengarannya dapat menggantikan penglihatannya.

Ketika Souw Ban Lip yang sudah putus asa itu menyambitkan piauw terakhir ke arah leher Bwee Hwa, gadis itu miringkan kepalanya dan tahu-tahu ia berhasil menggigit paiuw itu dari samping! Lalu ia meniup dan piauw itu meluncur dan menancap pada cabang pohon yang tubuh di pekarangan itu.

“Paman Souw, kepandaianmu menyerang dengan piauw sungguh tidak rendah.” Souw Ban Lip bersungut-sungut dengan wajah berubah kemerahan.

“Hemm, jangan engkau menyindir, Ang-hong-cu. Buktinya tak sebuahpun piauwku dapat menyentuh ujung bajumu. Sayang engkau tadi tidak membalasku dengan senjata rahasia sehingga tak dapat kuketahui sampai di mana kelihaianmu mempergunakan senjata rahasia.”

“Ah, jangan tergesa-gesa berkata begitu, saudara Souw. Tadi aku melihat sekelebatan tangan Ang-hong- cu bergerak dan kulihat sinar-sinar lembut berkelebat ke arahmu dengan mengeluarkan bunyi mengaung. Coba engkau periksa yang betul, jangan-jangan engkau telah terluka oleh senjata rahasia Ang-hong-cu,” kata Gak Sun Thai yang memang memiliki tingkat kepandaian lebih tinggi daripada tingkat Souw Ban Lip dan memiliki penglihatan yang lebih tajam. Souw Ban Lip terkejut mendengar ucapan itu. Tadi diapun mendengar suara mengaung lembut akan tetapi tidak merasakan sesuatu yang mencurigakan. Kini dia melihat dan memeriksa ke seluruh bagian tubuhnya untuk melihat apakah ada yang terluka, akan tetapi dia tidak menemukan sesuatu.

“Engkau mencari apakah, Paman Souw? Coba engkau periksa kantung piauwmu dan lihat dengan teliti!” kata Bwee Hwa yang tersenyum manis.

Souw Ban Lip cepat mengambil kantung piauwnya yang sudah kosong dan memeriksa dalamnya. Tiba- tiba dia berseru, “Hayaaaa!!” Setelah betseru kaget dengan mata terbelalak dan wajah pucat, dia segera menjura kepada Bwee Hwa dan berkata, “Kemampuanku menggunakan senjata rahasia tidak ada sepersepuluh bagian dari kelihaianmu menggunakan hong-cu-ciam, nona.”

Ternyata di sebelah dalam kantung piauw itu telah menancap tiga batang jarum tawon yang berjajar rapi. Kalau gadis itu menghendaki, tentu saja jarum-jarum itu akan bersarang di tubuhnya! Dia memperlihatkan jarum-jarum itu kepada Gak Sun Thai yang merasa kagum sekali.

“Ang-hong-cu ternyata bukan julukan kosong belaka. Engkau sungguh lihai, nona. Biarpun aku sudah menyaksikan dengan mata sendiri akan kelihaianmu, akan tetapi biarlah aku merasakannya sendiri. Tidak setiap hari kami dapat berjumpa dengan seorang iihai sepertimu. Karena itu aku sendiri, ingin minta petunjuk darimu.”

Gak Sun Thai lalu mencabut sepasang pedangnya.

Melihat cara Gak Sun Thai memegang dan menggerakkan siang-kiam (sepasang pedang) itu, Bwee Hwa maklum bahwa kepala gerombolan ini memiliki ilmu silat yang lumayan juga, maka iapun tidak bersikap sungkan lagi. Ia menggerakkan tangan kanannya dan tampak sinar berkelebatan ketika Sin-hong-kiam sudah tercabut dan berada di tangannya. Pedang itu berkilauan tertimpa sinar matahari sore yang mulai redup.

Melihat gadis itu sudah siap dengan pedangnya, Gak Sun Thai lalu memasang kuda-kuda, kemudian dia menyilangkan siang-kiam di kedua tangannya lalu membentak nyaring, “Ang-hong-cu, lihat sepasang pedangku!”

Dia menyerang dengan gerakan Siang-liong-jiu-cu (Sepasang Naga Memperebutkan Mustika). Sepasang pedang itu menyerang dari kanan kiri, menyilaukan dan merupakan serangan yang berbahaya sekali karena menutup jalan dari kanan kiri.

“Bagus!” Bwee Hwa memuji dan iapun bergerak cepat sekali. Tampak pedangnya berubah menjadi gulungan sinar ketika ia memainkan jurus Seng-siok-hut-si (Musim Panas Mengebutkan Kipas).

“Trangg…… cringgg……!” Sinar pedangnya sudah menangkis dan menggagalkan serangan lawan.

Gak Sun Thai terkejut ketika merasa betapa kedua tangannya tergetar hebat akibat benturan sepasang pedangnya dengan pedang gadis itu. Dia sudah tahu bahwa gadis itu memiliki tenaga sinkang (tenaga sakti) yang amat kuat, akan tetapi setelah merasakannya sendiri, dia menjadi kaget. Bagaimana mungkin tangan yang kecil mungil dari tubuh gadis yang belum matang itu dapat mengandung tenaga yang demikian kuatnya. Gak Sun Thai lalu memainkan pedangnya, mengeluarkan semua ilmu simpanannya dan mengerahkan seluruh tenaganya. Terjadilah pertandingan pedang yang amat seru. Tubuh mereka berubah menjadi dua bayangan yang berkelebat di antara gulungan sinar pedang. Akan tetapi permainan pedang membutuhkan gerakan yang cepat dan lincah, dan ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang dikuasai Bwee Hwa sudah mencapai tingkat tinggi sekali.

Gak Sun Thai memang lihai permainan silat sepasang pedangnya dan diapun memiliki tenaga yang cukup kuat, akan tetapi dia harus mengakui bahwa dalam hal kelincahan dan kecepatan, dia masih kalah jauh dibandingkan gadis itu. Maka, perlahan-lahan dia mulai terdesak dan terkurung gulungan sinar pedang Bwee Hwa.

Hal ini sebetulnya tidak mengherankan. Perlu diingat bahwa Bwee Hwa adalah murid tersayang dari Sin- kiam Lojin (Orang Tua Pedang Sakti). Maka sudah barang tentu ilmu pedang yang dikuasai gadis itu mencapai tingkat tinggi dan lihai sekali.

Gak Sun Thai memang seorang tokoh kang-ouw yang sudah lama berkecimpung di dunia persilatan, namun belum pernah dia bertemu tanding yang memiliki ilmu pedang sehebat ini. Apalagi ketika Bwee Hwa melakukan tekanan dan dari mulutnya keluar suara berdengung dan mengaung seperti banyak tawon mengamuk dan mengeroyok kepala gerombolan itu. Gak Sun Thai menjadi bingung dan pening, gulungan sinar pedang Sin-hong-kiam menyilaukan dan mengaburkan matanya sehingga dia hanya mampu bertahan dengan memutar kedua pedangnya untuk melindungi tubuhnya.

“Sing-sing....... trang!” Gak Sun Thai berseru kaget, demikian pula para penon-ton melihat betapa sepasang pedang kepala gerombolan itu terlepas dari kedua tangannya dan terlempar lalu berjatuhan di atas tanah. Seorang anak buah gerombolan cepat mengambil sepasang pedang itu dan menyerahkannya kembali kepada Gak Sun Thai.

Kepala gerombolan ini cepat memberi hormat kepada Bwee Hwa, merangkap kedua tangan depan dada dan membungkuk sampai dalam lalu berkata, “Nona, mulai saat ini, kami semua menyatakan kalah dan takluk kepadamu dan kami mengangkat nona menjadi pemimpin kami!”

Hampir saja Bwee Hwa tidak dapat menahan geli hatinya dan tertawa. Ia menjadi seorang kepala perampok? Ah, kalau saja ia tidak melihat betapa semua orang mengangkatnya dengan bersungguh hati, tentu ia akan marah dan merasa terhina. Para anak buah gerombolan itu setelah mendengar ucapan Gak Sun Thai, lalu memberi hormat kepada Bwee Hwa dan semua orang menyatakan ingin mengangkat gadis itu menjadi pimpinan.

“Saudara-saudara, janganlah sembarangan mengangkat orang. Biarpun ini merupakan suatu penghormatan besar sekali, akan tetapi bagaimana mungkin aku dapat menerima pengangkatan ini dan menjadi seorang kepala perampok? Sudahlah jangan diulangi lagi permintaan gila ini agar aku tidak menjadi marah. Sekarang harap kalian bubaran dan melakukan pekerjaan kalian masing-masing. Aku hendak melanjutkan perjalananku!”

Dengan kecewa semua anak buah gerombolan itu bubaran dan melanjutkan kesibukan masing-masing yang tadi tertunda untuk menonton pertunjukan pertandingan silat yang menarik itu. “Sayang sekali engkau menolak permohonan kami, nona. Sekarang engkau hendak pergi ke manakah?” tanya Gak Sun Thai dengan wajah kecewa karena kalau gadis perkasa ini mau menjadi pemimpin mereka tentu kedudukan mereka menjadi lebih kuat lagi.

Tiba-tiba teringatlah Bwee Hwa bahwa ia tadi berniat untuk mencari keterangan perihal ayahnya, maka mendengar pertanyaan Gak Sun Thai itu ia cepat menjawab.

“Paman Gak, sebenarnya aku sedang mencari seorang yang barangkali saja kalian mengenal namanya. Dia adalah serang tokoh kang-ouw terkenal dengan julukan Kauw-jiu Pek-wan.”

Gak Sun Thai tampak terkejut sekali dan matanya terbelalak memandang kepada Bwee Hwa.

“Si Lutung Putih Tangan Sembilan? Engkau maksudkan hendak mencari Kwee-locianpwe (Orang Tua Gagah Kwee)?”

Jantung dalam dada Bwee Hwa berdebar tegang. Agaknya kepala gerombolan ini mengenal ayahnya! “Benarkah Kauw-jiu Pek-wan itu seorang bermarga Kwee?”

“Tentu saja benar, nona. Siapakah yang tidak mengenal Kwee-locianpwe yang berjuluk Kauw-jiu Pek- wan, tokoh besar dunia liok-lim (rimba hijau, dunia hitam) yang amat tersohor itu. Nona mencarinya? Ada hubungan apakah antara nona dengan dia?”

“Aku adalah puterinya!” kata Bwee Hwa terus terang karena ingin sekali mendapatkan keterangan yang jelas tentang ayahnya.

Gak Sun Thai menjadi pucat wajahnya dan dia terbelalak sambil mundur tiga langkah sehingga Bwee Hwa merasa heran sekali dan menegur. “Paman Gak, kenapa engkau agaknya begitu kaget mendengar bahwa aku adalah anak Kauw-jiu Pek-wan?”

“Ah, aku. eh, siapa yang tidak akan merasa heran mendengar bahwa engkau anaknya, nona. Engkau

mengaku anaknya akan tetapi engkau tidak mengenalnya, bahkan tidak mengetahui namanya. Mana mungkin ada anak tidak mengenal orang tuanya sendiri?”

Bwee Hwa maklum bahwa agaknya memang tidak mungkin ada seorang anak tidak mengenal ayahnya sendiri. Karena ingin mendapat keterangan tentang ayahnya, terpaksa ia mengaku dengan singkat.

“Paman Gak, ketahuilah bahwa sejak kecil aku diculik orang dari orang tuaku dan baru sekarang aku hendak mencari mereka. Agaknya paman mengenal ayahku, maka katakanlah, di mana aku dapat menemukan ayahku dan siapakah nama lengkapnya?”

“Ah, begitukah? Kalau begitu, memang sebagai seorang anak berbakti engkau harus mencari ayahmu, nona. Ayahmu itu bernama Kwee Ciang Hok dan berjuluk Kauw-jiu Pek-wan. Tetapi telah beberapa tahun ini ayahmu mencuci tangan karena dia telah mengumpulkan harta kekayaan yang besar dan dia kini hidup sebagai seorang hartawan besar di sebuah dusun di atas bukit Twi-bok-san dan menjadi raja kecil di sana.” Mendengar keterangan yang sangat berharga ini Bwee Hwa cepat memberi hormat dan mengucapkan terima kasih atas kebaikan kepala gerombolan itu. Kemudian ia bertanya dengan ramah.

“Paman Gak Sun Thai yang baik, melalui manakah jalan terdekat menuju ke Bukit Twi-bok-san itu? Tolong paman beri petunjuk kepadaku.”

Gak Sun Thai memandang ke atas dan mengerutkan alis lalu berkata, “Ang-hong cu, sekarang hari telah menjelang senja, sebentar malam tiba dan kalau malam daerah ini menjadi gelap sekali. Amat sukar untuk keluar dari daerah hutan ini kalau tidak mengenal jalan, apalagi bagi orang yang asing di daerah ini. Perjalanan ke Bukit Twi-bok-san tidaklah dekat. Oleh karena itu, sebaiknya kalau nona melewatkan malam ini di sini. Besok pagi-pagi engkau akan kuantar sendiri keluar dari hutan ini dan kutunjukkan jalan terdekat menuju Twi-bok-san.”

Bwee Hwa merasa tidak enak untuk mengganggu dan ia hendak menolak. Akan tetapi Gak Sun Thai cepat berkata, “Jika nona memaksa hendak berangkat sekarang juga, tetap saja engkau terpaksa harus bermalam di hutan ini, padahal hutan-hutan di sini penuh binatang buas, bahkan banyak pula ular berbisa. Bukan maksudku meremehkan nona yang tentu saja dapat menjaga dan membela diri terhadap serangan binatang buas. Akan tetapi setidaknya hal itu akan membuat nona tidak dapat beristirahat dengan santai. Karena itu, sekali lagi kami benar-benar mengharap agar nona suka bermalam di sini untuk semalam ini saja.”

Akhirnya Bwee Hwa melihat kebenaran ucapan kepala gerombolan itu. “Sesungguhnya aku merasa tidak enak sekali menerima semua kebaikan paman, akan tetapi apa boleh buat, terpaksa aku mengganggu paman dan kawan-kawan semua untuk satu malam lagi.”

Gak Sun Thai merasa gembira sekali. “Ah, nona tidak perlu banyak sungkan. Kami merasa terhormat sekali!” Dia lalu memerintahkan orang-orangnya untuk mempersiapkan sebuah kamar untuk Bwee Hwa, menyediakan air untuk mandi dan mempersiapkan pula hidangan untuk makan malam sebagai penghormatan terhadap tamu yang mereka kagumi dan hormati itu.

Setelah mandi air yang cukup banyak, Bwee Hwa merasa tubuhnya segar. Hidangan malam itu lebih meriah lagi dan diramaikan dengan tarian dan nyanyian yang dilakukan keluarga para anggauta gerombolan. Suasana menjadi meriah dan riang gembira.

Bwee Hwa terbawa ke gembiraan itu. Diam-diam gadis ini merasa heran karena dalam keadaan seperti itu, sama sekali tidak membayangkan bahwa ia berada di tengah perkampungan yang menjadi sarang perampok-perampok ganas! Arak harum berulang kali disuguhkan oleh Gak Sun Thai yang bergantian dengan para pembantunya menyulangi gadis itu. Dalam kegembiraannya, gadis yang masih kurang pengalaman ini merasa tidak enak untuk menolak dan iapun minum banyak arak wangi sampai kepalanya mulai merasa pening.

Akhirnya Bwee Hwa tidak kuat lagi. Ia menjadi mabok dan dengan terhuyung-huyung ia diantar oleh dua orang pelayan wanita memasuki kamarnya. Tanpa membuka pakaian lagi ia langsung menjatuhkan diri di atas pembaringan di kamar itu dan langsung tertidur pulas.

Bwee Hwa mendengar kicau burung. Banyak burung berkicau dan suara mereka indah sekali, mendatangkan suasana riang gembira. Ia membuka kedua matanya dan melihat jendela kamar itu sudah terbuka. Angin pagi semilir masuk mendatangkan hawa sejuk. Kepalanya masih berdenyut aneh dan teringatlah ia bahwa semalam ia terlalu banyak minum arak. Ia hendak mengangkat tangan untuk memijat pelipisnya yang terasa agak pening. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika kedua tangannya tidak dapat ia angkat.

Ia cepat menggerakkan kedua kaki untuk melompat turun dari atas pembaringan, namun juga kedua kakinya tidak dapat di gerakkan. Cepat ia mengerling dengan sudut matanya dan ia menjadi heran, kaget dan marah bukan main ketika mendapat kenyataan bahwa kedua kaki dan tangannya telah terbelenggu kuat-kuat!

Bwee Hwa mengerahkan tenaga untuk memutuskan belenggu kaki tangannya itu, akan tetapi agaknya orang yang membelenggunya sudah siap menghadapi kemungkinan ini. Karena mengetahui betapa kuat tenaga sin-kang gadis itu, maka mereka menggunakan tali yang amat kuat, ulet dan lentur sehingga semua upayanya untuk mematahkan belenggu itu hanya menghasilkan rasa nyeri dan pedas pada pergelangan kaki dan tangannya.

“Jahanam Gak, manusia keparat rendah, pengecut besar!” Bwee Hwa berteriak-teriak nyaring, memaki- maki penuh kemarahan. Ia hanya dapat menggulingkan tubuhnya sehingga akhirnya ia terguling dan jatuh dari atas pembaringan dalam keadaan rebah dan tidak mampu bangkit duduk.

Tiba-tiba terdengar suara orang tertawa dan Gak Sun Thai muncul dari pintu kamar.

“Ha-ha-ha, perempuan muda yang sombong! Coba ingin kulihat apakah engkau dapat membebaskan dirimu sekarang, ha-ha-ha!”

Bwee Hwa menggulingkan tubuhnya sehingga ia dapat memandang wajah kepala gerombolan itu. “Huh, orang she Gak! Apakah engkau tidak tahu malu? Pantaskah kecurangan ini dilakukan seorang laki-laki jantan? Sungguh engkau manusia hina, rendah dan curang! Mengapa engkau melakukan kecurangan seperti ini kepadaku yang tadinya kauanggap sebagai seorang sahabat?”

“Bwee Hwa, jangan engkau sombong! Biarpun kepandaianmu tinggi, akan tetapi engkau masih hijau dan tolol. Ketahuilah, kalau saja engkau bukan puteri Kauw-jiu Pek-wan, tentu sekarang engkau masih kuanggap sebagai seorang tamu agung yang kami hormati. Akan tetapi engkau adalah puteri Si Lutung Gila itu! Dia telah memukul, memaki, menghina dan mengusir aku. Pada hal aku telah bertahun-tahun menjadi pembantunya yang setia. Telah lama sekali aku mendendam kepadanya, dan sekarang engkau anaknya dengan suka rela datang menyerahkan diri. Maka, jangan engkau mati penasaran, biarlah engkau mewakili ayahmu atas kelakuannya yang jahat kepadaku dahulu dan biarlah engkau yang menebus dosanya.”

“Pengecut hina! Beginikah caramu membalas dendam? Kalau engkau memang laki-laki, lepaskan ikatan ini dan mari kita bertanding seribu jurus sampai seorang di antara kita mati!”

“Ha-ha-ha, kaukira aku begitu bodoh? Terus terang kuakui bahwa aku tidak mampu menandingimu. Kepandaianmu tinggi, aku tidak begitu bodoh untuk membebaskanmu. Engkau sudah tertawan dan dendamku akan terbalas terhadap Kauw-jiu Pek-wan melalui engkau, anaknya!”

Bwee Hwa merasa gemas sekali. “Bangsat rendah tak tahu malu. Aku sudah terjatuh dalam akal dan tipu muslihatmu yang curang dan rendah. Hayo engkau cepat ambil senjata dan bunuh mati aku agar nyawaku dapat bebas untuk mencekik batang lehermu!” “Enak saja kau bicara! Bukan semudah itu engkau mati.”

“Apa yang hendak kaulakukan, jahanam busuk?” Bwee Hwa membentak dengan marah, akan tetapi diam-diam ia merasa khawatir. Mati bukan apa-apa baginya dan ia tidak takut. Akan tetapi ia merasa khawatir kalau-kalau manusia rendah itu akan menggunakan akal busuk lain lagi untuk menyiksanya.

“Nona manis, kaulihat sajalah nanti. Aku akan menghibur anak buahku dengan pertunjukan yang menarik hati.”

Setelah berkata demikian, Gak Sun Thai berteriak memanggil empat orang anak buahnya yang menanti di luar kamar. Atas perintah Gak Sun Thai, empat orang itu lalu mengangkat dan memanggul tubuh Bwee Hwa keluar dari rumah itu. Gadis itu lalu dinaikkan ke atas punggung dua ekor kuda yang di tengah-tengah antara mereka telah dipasangi usungan.

Bwee Hwa dipaksa duduk di dalam usungan itu dengan kaki tangan tetap terbelenggu. Ia meneliti dengan sudut matanya dan melihat betapa orang-orang yang kemarin mengaguminya itu kini tampak bermuka beringas, buas dan kejam, tanda bahwa mereka semua telah ikut membenci dan memusuhinya.

Tak lama kemudian, Gak Sun Thai bersama tiga orang pembantu utamanya yang kemarin menguji kepandaian Bwee Hwa, memimpin para anak buah gerombolan membawa Bwee Hwa ke dalam hutan yang tampaknya lebih lebat dan liar lagi. Mereka melalui sepanjang lorong kecil yang agaknya merupakan jalan rahasia mereka dan jalannya mendaki, menuju puncak bukit. Kurang lebih lima li mereka berjalan, mereka tiba di puncak bukit di mana terdapat tempat terbuka karena pohon-pohon yang tumbuh di situ tidak berdempetan, akan tetapi semua pohon itu sangat tinggi.

Bwee Hwa lalu diturunkan dan diikat pada sebatang pohon besar yang berdiri agak terpencil. Ia dihadapkan ke arah timur, disinari matahari yang mulai cerah sinarnya.

“Nah, malam tadi engkau kami jamu dengan pesta makan besar, sekarang biarlah engkau yang menjadi hidangan lezat!” kata Gak Sun Thai sambil menyeringai. Wajahnya tampak bengis penuh dengan kekejaman hati yang mendendam.

Bwee Hwa diam saja, hanya tetap waspada memperhatikan keadaan sekelilingnya walaupun ia sama sekali tidak berdaya. Ia tahu bahwa dirinya berada dalam ancaman bahaya maut, akan tetapi tidak dapat menduga apa macam bahaya itu.

Gak Sun Thai lalu mengeluarkan sebuah terompet dari tanduk kerbau dan diapun meniup terompet itu. Terdengar suara mengaum yang menyeramkan, seperti bunyi seekor kerbau menguak, akan tetapi suara itu memanjang dan mengandung getaran yang dapat membuat suara itu terdengar sampai jauh, bergaung.

Ketika kepala gerombolan itu meniup terompetnya, semua anak buahnya yang berdiri mengelilinginya berdongak memandang ke atas sehingga Bwee Hwa juga memandang ke atas. Akan tetapi langit yang kelabu itu tampak bersih tidak ada sesuatu yang aneh sehingga Bwee Hwa merasa heran sekali. Apakah yang sedang dilakukan orang-orang yang wajahnya beringas ini? Berulang-ulang Gak Sun Thai meniup terompetnya sehingga mukanya mulai berkeringat dan urat lehernya menggembung.

Tiba-tiba terdengar seorang di antara mereka berseru, “Nah itu mereka datang!”

Semua orang memandang ke atas. Juga Bwee Hwa melihat ke arah yang ditunjuk itu. Tiba-tiba hatinya berdebar dan tahulah ia kini apa yang dikehendaki Gak Sun Thai yang sudah seperti gila oleh dendam sakit hatinya.

Di atas udara tampak dua titik hitam melayang-layang dan berputar-putar mengelilingi sekitar tempat itu. Jelas bahwa dua titik hitam itu merupakan burung terbang. Setelah dua titik hitam itu melayang turun semakin dekat, tampaklah bahwa mereka adalah dua ekor burung rajawali yang amat besar, seperti dua ekor rajawali yang dibunuhnya kemarin!

Gak Sun Thai dan semua anak buahnya lalu berloncatan menyelinap di antara semak-semak dan mereka semua bersembunyi. Akan tetapi Gak Sun Thai yang bersembunyi di dalam semak belukar masih terus meniup terompetnya.

Dua ekor burung rajawali itu kini telah tiba di atas pohon di mana Bwee Hwa terikat. Mereka terbang mengelilingi pohon itu dan Gak Sun Thai sudah meng-hentikan tiupan sulingnya.

Kini mengertilah Bwee Hwa. Tiupan terompet tanduk kerbau itu adalah untuk menarik perhatian dan memanggil dua ekor burung itu dan dirinya dipasang di situ sebagai umpan. Pantas saja kepala gerombolan itu tadi berkata bahwa ia hendak dijadikan sebagai hidangan lezat. Ia hendak dijadikan mangsa dua ekor burung itu!

Tentu saja Bwee Hwa merasa ngeri membayangkan betapa tubuhnya akan dicabik-cabik. Akan tetapi ia menggigit bibirnya. Tak sudi ia mengeluh atau menjerit memperlihatkan rasa takutnya kepada Gak Sun Thai dan anak buahnya. Ia akan menghadapi kematiannya dengan tabah dan gagah, sesuai dengan nasihat gurunya dahulu. “Lebih baik mati seperti harimau daripada hidup seperti babi!” kata gurunya yang menganjurkan agar ia selalu menjaga nama dan kehormatan, bersikap gagah biar diancam kematian sekalipun dan tidak boleh berbuat rendah dan bersikap pengecut.

Melihat semua orang bersembunyi, tahulah Bwee Hwa bahwa mereka takut menjadi korban dua ekor burung ganas itu dan mereka kini tentu sedang mengintai dengan hati tegang dan gembira! Kini ia tahu mengapa ia diikat di pohon itu dengan menghadap ke timur. Dengan demikian tubuhnya akan disinari matahari dan dapat dengan mudah tampak oleh sepasang burung rajawali itu.

Benar saja dugaannya. Agaknya dua ekor rajawali itu kini dapat melihat tubuh gadis yang terikat di batang pohon. Mereka mengeluarkan bunyi nyaring seperti kegirangan dan keduanya meluncur turun sampai dekat sekali dengan pohon. Mereka mengelilingi pohon dan kepakan sayap mereka yang besar dan kuat itu mendatangkan angin membuat daun-daun pohon bergoyang-goyang. Kini keduanya mengeluarkan bunyi cecowetan seolah berunding siapa yang akan lebih dulu menyerang calon mangsa yang berada di bawah pohon itu.

Bwee Hwa merasa ngeri, akan tetapi tetap saja ia tidak mau mengeluh, bahkan tidak memejamkan mata. Bahkan dengan sinar mata tajam ia menatap ke arah dua ekor rajawali itu dengan penuh keberanian. Tiba-tiba seekor di antara dua ekor rajawali itu, agaknya yang jantan, menukik ke bawah menyambar ke arah tubuh Bwee Hwa.

Pada saat yang teramat gawat bagi keselamatan nyawa Bwee Hwa itu, tiba-tiba terdengar seruan nyaring. “Binatang jahat, pergilah!” Dan dari belakang seba-tang pohon besar berkelebat sesosok bayangan orang yang melebihi kecepatan rajawali itu sehingga sebelum burung itu dapat mencengkeram tubuh Bwee Hwa, tahu-tahu seorang pemuda telah berdiri di depan Bwee Hwa dan menggunakan pedangnya menyambut rajawali itu dengan sabetan pedangnya!

Rajawali raksasa itu sama sekali tidak menyangka akan disambut serangan. Gerakan pedang di tangan pemuda itu luar biasa cepatnya sehingga rajawali itu tidak mampu menghindarkan dirinya dan kaki kirinya, di bagian paha terluka sabetan pedang dan mengeluarkan darah! Burung itu mengeluarkan pekik nyaring, tubuhnya melayang lagi ke atas sambil berteriak-teriak.

Alangkah gembira hati Bwee Hwa ketika melihat bahwa yang menolongnya itu bukan lain adalah Ong Siong Li, pemuda yang dulu bersamanya telah mengobrak-abrik perkumpulan agama sesat Hwe-coa- kauw! Siong Li tidak membuang waktu lagi, pedangnya berkelebat dua kali dan belenggu di kaki tangan Bwee Hwa terputus. Gadis itu kini bebas.

“Li-ko, terima kasih!” kata Bwee Hwa dengan terharu, karena tadinya ia sudah hampir putus asa untuk dapat terlepas dari ancaman maut.

“Hwa-moi, jangan sungkan untuk urusan kecil ini. Mari kita basmi penjahat-penjahat itu.”

Bwee Hwa seperti diingatkan. Ia melihat ke kanan kiri dan matanya yang tajam dapat melihat bayangan orang-orang bersembunyi di balik pohon-pohon dan semak-semak. Sementara itu, dua ekor burung rajawali tadi tampaknya menjadi ketakutan dan mereka terbang pergi meninggalkan tempat itu. Mungkin kedua ekor rajawali itu tidak sedang kelaparan. Kalau mereka kelaparan, tentu mereka akan nekat untuk menyerang lagi.

“Bangsat rendah she Gak, keluarlah untuk menerima kematianmu!” bentak Bwee Hwa dengan marah.

Tiba-tiba dari tempat persembunyian para gerombolan itu meluncur anak panah dan senjata rahasia piauw yang beterbangan menyerang Bwee Hwa dan Siong Li. Siong Li cepat memutar pedangnya untuk memukul runtuh senjata-senjata rahasia itu. Adapun Bwee Hwa yang tidak memegang senjata, melompat ke atas menghindarkan diri. Tubuh gadis itu bagaikan seekor burung terbang saja kini melayang ke arah para anak buah gerombolan yang sudah berlompatan keluar dari tempat persembunyian mereka. Begitu tubuhnya tiba di antara para anak buah gerombolan, kaki tangannya bergerak cepat dan terdengar teriakan-teriakan kesakitan dan tiga orang anggauta gerombolan telah terpelanting roboh.

Seorang diri saja Gak Sun Thai tidak mampu mengalahkan Bwee Hwa. Hal ini bukan membuat dia jerih. Karena sekarang dia diikuti tiga orang pembantu utamanya dan empatpuluh lebih orang anak buahnya, tentu saja Gak Sun Thai tidak menjadi takut dan dia menjadi marah sekali melihat gadis itu dapat dibebaskan oleh seorang pemuda. Dia lalu memberi aba-aba dan semua anak buahnya kini maju mengeroyok Bwee Hwa dan Siong Li. Seorang anak buah menyerang Bwee Hwa dengan tusukan pedangnya dari belakang. Pedangnya meluncur, menusuk ke arah punggung gadis itu. Akan tetapi dengan pendengarannya yang tajam terlatih, Bwee Hwa dapat mendengar gerakan ini. Dengan cepat sekali ia miringkan tubuhnya, terus membalik. Pedang itu meluncur lewat dekat tubuhnya. Tangan kiri Bwee Hwa menyambar, merampas pedang dan kakinya mencuat. Penyerang itu berteriak, pedangnya terampas dan tubuhnya terlempar ke belakang diterjang tendangan kaki mungil itu.

Kini, dengan pedang rampasannya, Bwee Hwa mengamuk. Pedangnya berubah menjadi gulungan sinar menyambar-nyambar, dari mulutnya keluar suara berdengung-dengung seperti banyak tawon beterbangan dan banyak anak buah gerombolan berpelantingan disambar gulungan sinar pedang.

Siong Li juga mengamuk dengan pedangnya. Gerakan pedangnya tidak kalah hebat walaupun tidak seganas amukan Bwee Hwa yang marah sekali. Melihat amukan dua orang muda itu, Gak Sun Thai cepat memberi isyarat kepada tiga orang pembantunya. Dia sendiri sudah menyerang Bwee Hwa dengan pedangnya dibantu Souw Ban Lip, kakek tinggi kurus berjenggot panjang yang bersenjatakan sebatang golok tipis.

“Cringgg      !” Golok tipis di tangan Souw Ban Lip terpental ketika Bwee Hwa menangkis menggunakan

pedang rampasannya. Pada saat itu, Gak Sun Thai membacok ke arah lehernya dengan pedang di tangan. Melihat serangan kilat yang tak dapat dielakkan lagi, Bwee Hwa mengerahkan tenaga dan memapaki bacokan itu dengan tangkisan pedangnya.

“Trakkk!” Bwee Hwa terkejut sekali dan melompat ke belakang. Ia melihat bahwa pedang rampasannya patah menjadi dua potong dan ternyata kepala gerombolan itu mempergunakan pedang Sin-hong-kiam pedang miliknya yang telah dirampas Gak Sun Thai.

“Keparat! Kembalikan pedangku!” bentak Bwee Hwa sambil menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka orang

“Ha-ha-ha, nih, terima pedangmu!” Dia berkata dan menusukkan pedang pusaka itu ke arah dada Bwee Hwa.

Gadis itu cepat melompat ke kiri. Akan tetapi golok Souw Ban Lip telah menyambutnya dengan bacokan. Terpaksa ia melompat ke belakang dan hanya dengan sepotong pedang buntung Bwee Hwa melayani pengeroyokan Gak Sun Thai dan Souw Ban Lip, juga masih harus menghadapi pengeroyokan banyak sekali anak buah gerombolan.

Bwee Hwa berlaku cerdik sekali. Ia berlompatan meninggalkan dua orang pemimpin itu dan mengamuk di antara para anak buah gerombolan. Dengan demikian, dua orang pemimpin itu tidak mampu mendesaknya, terhalang oleh pengeroyokan banyak anak buah mereka terhadap Bwee Hwa.

Sementara itu, Lui Thong yang tinggi besar juga sudah mengeroyok Siong Li bersama Lie Hoat yang pendek kurus. Lui Thong menggunakan goloknya yang besar dan berat, sedangkan Lie Hoat mempergunakan sebatang tombak. Dua orang pimpinan gerombolan ini masih dibantu banyak anak buah mereka sehingga gerakan mereka bahkan terhalang dan tidak leluasa. Seperti juga Bwee Hwa, Siong Li maklum bahwa yang lihai di antara para pengeroyoknya adalah dua orang pimpinan ini, maka diapun menjauhi mereka dan mengamuk, merobohkan banyak anak buah gerombolan. Diamuk dua orang muda yang amat lihai itu, anak buah gerombolan menjadi panik. Banyak sekali kawan mereka sudah roboh. Sisanya menjadi panik dan hanya mengepung sambil berteriak-teriak, tidak berani mendekat. Akhirnya, hanya tinggal Gak Sun Thai dan Souw Ban Lip yang mengeroyok Bwee Hwa, sedangkan Lui Thong dan Lie Hoat mengeroyok Siong Li. Para anak buah ada yang merawat kawan- kawan yang terluka, dan ada pula yang menonton dari jarak jauh yang aman.

Sementara itu, ketika mengamuk di antara para anak buah gerombolan tadi, Bwee Hwa sudah berhasil merampas sebatang pedang lain untuk menggantikan pedangnya yang buntung. Kini ia mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk menghadapi dua orang pengeroyoknya. Tiba-tiba Souw Ban Lip menggerakkan tangan kirinya dan tiga batang piauw dilepaskannya, menyambar ke arah Bwee Hwa.

Gadis itu sengaja melempar diri ke bawah, bergulingan dan tangan kirinya bergerak. Sinar lembut menyambar ke arah Souw Ban Lip dan orang tinggi ku-rus itu menjerit dan terpelanting roboh sambil memegangi lehernya di mana tertancap tiga batang jarum Hong-cu-ciam!

Gak Sun Thai terkejut sekali melihat kawannya roboh. Dia menjadi panik dan biarpun dia menggunakan pedang pusaka Sin-hong-kiam milik Bwee Hwa, akan tetapi karena dia sudah terbiasa memainkan siang- kiam (sepasang pedang), maka gerakannya menjadi kacau. Akhirnya, ketika ujung pedang di tangan Bwee Hwa menyentuh lengannya, terpaksa dia melepaskan Sin-hong-kiam dan gadis itu cepat menangkap pedangnya, lalu membuang pedang rampasan tadi, kini menggunakan pedang sendiri! Gak Sun Thai menjadi semakin panik, akan tetapi karena tidak ada kesempatan melarikan diri, dengan nekat dia mencabut sepasang pedangnya yang tergantung di punggung, lalu melawan mati-matian menggunakan siang-kiam.

Siong Li juga tidak mau kalah. Setelah dikeroyok dua, dia mengeluarkan jurus simpanannya pada saat Lie Hoat menahan tombaknya dan menyerangnya dengan tangan kiri menggunakan ilmu pukulan Tiat-see- ciang yang ampuh. Siong Li membuang diri ke kiri dan ketika tangan Lie Hoat yang pendek itu memukul lewat, dia mengayun pedangnya dari kiri.

“Crakkk!” Lengan kiri Lie Hoat itu buntung sebatas siku. Lie Hoat menjerit lalu melompat ke belakang, dengan tangan kanan memegangi siku yang buntung, akhirnya dia terkulai dan roboh pingsan. Beberapa orang anak buah segera mengangkatnya, seperti juga mereka mengangkat dan merawat Souw Ban Lip yang terkena jarum tawon Bwee Hwa.

Kini Bwee Hwa dan Siong Li masing-masing hanya melawan seorang saja. Keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuh Gak Sun Thai. Dia melawan mati-matian dengan sepasang pedangnya. Akan tetapi sekarang Bwee Hwa menggunakan Sin-hong-kiam. Sedangkan tadipun, mengeroyok gadis itu dengan banyak orang dia tidak mampu menang, apalagi harus melawan seorang diri!

Di lain pihak, Bwee Hwa marah sekali kepada kepala gerombolan yang curang dan kejam itu, maka ia mengeluarkan jurus-jurus simpanannya. Akhirnya, Bwee Hwa berhasil merobohkan Gak Sun Thai dengan tusukan pedangnya. Gak Sun Thai terjungkal roboh dan tewas seketika. Pada saat berikutnya, Siong Li juga berhasil merobohkan Lui Thong.

Bwee Hwa masih hendak mengamuk dan mengejar anak buah gerombolan yang melarikan diri sambil mengangkat kawan-kawan yang tewas dan terluka. Akan tetapi Siong Li mencegahnya. “Sudahlah, Hwa-moi. Ampunkan mereka. Mereka itu hanya anak buah. Setelah para pimpinan mereka tewas, tentu mereka tidak akan berani merajalela melakukan kejahatan lagi. Apalagi mengingat bahwa mereka mempunyai keluarga.”

Bwee Hwa menghela napas panjang. Bagaimanapun juga, orang yang paling dibencinya, Gak Sun Thai, telah tewas. Ia membersihkan pedangnya pada batang pohon dan daun-daun, lalu menyarungkan lagi pedangnya. Sarung pedang itu masih menempel di pinggangnya. Agaknya karena tergesa Gak Sun Thai tadi hanya merampas pedangnya tanpa menanggalkan sarung pedangnya. Ia lalu menatap wajah Siong Li dan berkata sambil tersenyum manis.

“Li-ko, sungguh aku berhutang budi besar sekali kepadamu. Kalau saja tidak ada engkau, maka pada saat ini tentu sudah tidak ada lagi yang namanya Ang-hong-cu. Aku tentu sudah lenyap ke dalam perut dua ekor rajawali raksasa tadi. Bagaimana aku dapat membalas budimu ini, Li-ko?”

“Hwa-moi, jangan engkau mengeluarkan kata-kata seperti itu, membuat aku merasa malu dan tidak enak saja. Bukankah sudah menjadi kewajiban kita untuk menolong siapa yang patut ditolong? Janganlah bicara tentang budi, karena perbuatan yang dilakukan dengan pamrih apapun juga demi keuntungan diri sendiri bukanlah kebajikan.”

Mendengar ucapan ini Bwee Hwa menghela napas panjang. “Li-ko, kata-katamu itu mengingatkan aku akan guruku. Engkau sungguh berhati mulia dan aku merasa seakan-akan berhadapan dengan saudaraku sendiri. Maukah engkau kuanggap sebagai seorang kakakku?”

“Terima kasih atas kebaikanmu, Hwa-moi.”

“Twako (kakak), bagaimana engkau tiba-tiba saja dapat datang ke sini menolongku?”

Wajah Siong Li menjadi kemerahan. Sebenarnya, ketika dia berpisah dari gadis itu, hatinya merasa tidak senang. Entah mengapa, dia merasa suka sekali berada di dekat gadis itu sehingga ketika mereka saling berpisah, dia merasa kehilangan dan kesepian. Terutama kalau dia teringat akan keterangan gadis itu bahwa ia hendak mencari Kauw-jiu Pek-wan.

Hatinya menjadi cemas karena dia telah mendengar kabar bahwa Kauw-jiu Pek-wan adalah seorang yang berkepandaian tinggi dan juga jahat sekali. Dia khawatir kalau-kalau gadis itu akan menemui bencana. Karena itu, akhirnya dia mengalihkan tujuan perjalanannya dan melakukan pengejaran, lalu membayangi secara diam-diam. Dia melihat Bwee Hwa dijamu kepala gerombolan, akan tetapi dia hanya mengintai dari jauh dan tidak mau memperlihatkan diri. Dia melewathan malam di atas pohon besar dan tidur di sana, seperti yang sudah biasa dia lakukan.

Akan tetapi, pada keesokan harinya, dia terkejut bukan main melihat betapa Bwee Hwa ditawan, dibelenggu kaki tangannya dan dibawa ke dalam hutan. Dia membayangi dan berjaga-jaga untuk turun tangan menolong kalau gadis itu terancam. Demikianlah, ketika dua ekor burung itu datang menyerang, dia lalu turun tangan menolongnya.

Akan tetapi kini dia menghadapi pertanyaan Bwee Hwa dan dia merasa bingung, tidak tahu harus menjawab bagaimana. Untuk berterus terang dia merasa malu karena hal itu akan membuka rahasia perasaan hatinya. Untuk berbohong dia juga tidak sanggup karena hal itu bukan kebiasaannya. Akhirnya setelah berpikir-pikir, dia menjawab. “Hwa-moi, sebetulnya ketika aku mendengar bahwa engkau hendak mencari Kauw-jiu Pek-wan, hatiku merasa sangat tertarik. Telah lama aku mendengar akan nama besar dan kehebatan Kauw-jiu Pek-wan, akan tetapi aku belum pernah bertemu dengannya. Kini aku ingin sekali untuk bersamamu mencari orang tua yang lihai itu dan untuk membuktikan sampai di mana kelihaiannya. Karena pikiran dan keinginan itulah maka aku lalu menyusulmu dan mengikuti jejakmu sampai di sini dan kebetulan melihat engkau terancam bahaya tadi.”

Bwee Hwa menghela napas panjang. “Li-ko, karena engkau telah menolongku dan sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri, maka biarlah aku mengaku terus terang kepadamu. Sebenarnya Kauw-jiu Pek- wan itu adalah ayahku sendiri. Aku telah dibawa oleh suhu ketika aku berusia delapan tahun dan aku tidak ingat lagi siapa nama ayah ibuku dan di mana tempat tinggal mereka. Karena itulah, maka aku hendak mencari Kauw-jiu Pek-wan karena hanya julukannya itulah yang kutahu dari suhuku.”

Siong Li dapat menahan perasaan hatinya yang kaget bukan main mendengar bahwa Bwee Hwa adalah puteri Kauw-jiu Pek-wan. Akan tetapi hal ini tidak tampak pada mukanya. Dia hanya mengangguk lalu berkata.

“Lalu ke manakah engkau hendak mencarinya, Hwa-moi?”

“Aku sudah mendengar dari jahanam Gak Sun Thai itu bahwa ayahku sekarang bertempat tinggal di sebuah kampung kecil di atas Bukit Twi-bok-san. Dia bernama Kwee Ciang Hok dan memang tadinya ayah adalah seorang perampok besar. Akan tetapi kata kepala gerombolan itu, ayah kini telah mengundurkan diri dan mencuci tangan.”

Siong Li menarik napas panjang. “Hwa-moi, terus terang saja, akupun telah mendengar bahwa nama ayahmu itu disohorkan orang dan tidak begitu baik terdengarnya. Akan tetapi semua itu hanya kabar angin, aku sendiri belum menyaksikannya dan engkau juga telah berpisah dari ayahmu sejak kecil. Kuharap saja kabar-kabar itu hanya bohong belaka. Maka sebaiknya kita pergi sendiri ke Twi-bok-san untuk membuktikan kebenaran kabar-kabar angin itu.”

Bwee Hwa memandang wajah pemuda itu dan di dalam hatinya ia menilai. Pemuda ini benar-benar baik hati terhadapnya dan memiliki pandangan yang bijaksana. Dan harus ia akui bahwa wajah pemuda itu cukup tampan dan gagah. Memang bentuk tubuhnya agak pendek, akan tetapi ketika diam-diam Bwee Hwa mengukur dengan sudut matanya, ia mendapat kenyataan bahwa sependek-pendeknya, pemuda itu masih lebih tinggi sedikit daripada ia.

“Li-ko, tahukan engkau jalan menuju Twi-bok-san?” Siong Li mengangguk.

“Kalau begitu, kita tidak segera berangkat ke sana, mau tunggu sampai kapan lagi?”

Siong Li mengangkat muka memandangnya. Sepasang matanya berseri gem-bira. “Hwa-moi , jadi.......

engkau tidak keberatan kalau aku pergi bersamamu?”

Bwee Hwa tersenyum manis. “Tentu saja tidak, bahkan aku senang sekali mendapat kawan yang baik hati dan banyak pengalaman seperti engkau, Li-ko. Kuharap engkau tidak bersikap demikian sungkan lagi. Bukankah kita sudah menjadi sahabat baik? Bahkan aku merasa seolah engkau ini pantas menjadi seorang kakakku.”

Dalam hatinya Siong Li membantah. Tentu saja dia tidak bergembira kalau hanya dianggap sebagai kakak. Akan lebih berbahagialah hatinya kalau gadis itu menganggap dia sebagai seorang…… kekasih atau tunangan! Akan tetapi tentu saja dia tidak berani menyatakan suara hatinya itu dengan kata-kata.

Mereka lalu meninggalkan hutan itu dan mempergunakan ilmu berlari cepat. Tubuh sepasang orang muda ini berkelebatan di antara pohon-pohon dengan cepat sekali. Mereka seolah berlumba dan mendapat kenyataan dengan perasaan kagum bahwa kecepatan lari mereka seimbang. Karena kini Bwee Hwa melakukan perjalanan bersama Siong Li yang telah mengenal jalan, maka perjalanan mereka cepat dan lancar. Menurut keterangan pemuda itu, Bukit Twi-bok-san dapat dicapai selama perjalanan kurang lebih satu minggu, melalui kota Tung-kwang yang besar dan ramai.

Di sepanjang perjalanan, Siong Li bersikap sopan terhadap Bwee Hwa. Kalau mereka terpaksa bermalam di tengah perjalanan Siong Li mencarikan tempat di gubuk-gubuk ladang atau di kuil tua. Kalau terpaksa kemalaman di hutan, Siong Li membuat api unggun dan melakukan penjagaan. Tentu saja Bwee Hwa tidak mau tidur semalam suntuk dan membiarkan pemuda itu berjaga, ia memaksa pemuda itu untuk bergiliran menjaga. Kalau mereka bermalam di losmen sebuah kota, Siong Li minta dua buah kamar. Sikap Siong Li yang amat sopan dan ramah ini membuat Bwee Hwa semakin tertarik dan kagum.

Pada suatu sore mereka memasuki kota Tung-kwang. Kota ini cukup besar dan ramai. Melihat banyaknya rumah makan dan rumah penginapan dapat diketahui bahwa kota ini banyak dikunjungi orang dari luar kota dan merupakan kota dagang yang cukup ramai.

Siong Li dan Bwee Hwa mencari sebuah rumah penginapan yang besar dan menyewa dua kamar yang berhadapan. Setelah mandi dan bertukar pakaian, mereka lalu keluar dari rumah penginapan untuk berjalan-jalan dan melihat-lihat. Karena siang tadi mereka tidak bertemu dusun atau kota, maka sejak pagi tadi mereka belum makan. Perut mereka terasa lapar dan Bwee Hwa mengajak Siong Li memasuki sebuah rumah makan besar dari mana melayang uap yang menyegarkan aroma sedap membangkitkan selera.

Di dalam rumah makan itu terdapat banyak tamu sedang makan dan bercakap-cakap dengan ramai, akan tetapi ketika mereka melihat Siong Li dan Bwee Hwa memasuki ruangan rumah makan, mereka menghentikan percakapan mereka, bahkan banyak yang menunda makan mereka. Agaknya mereka tertarik sekali melihat sepasang orang muda yang berpakaian serba ringkas dan membawa pedang di punggung. Mata mereka memandang penuh curiga.

Siong Li dan Bwee Hwa merasakan perubahan ini dan tahu bahwa semua orang memperhatikan mereka. Akan tetapi mereka tidak perduli. Mereka memesan makanan dan minuman, lalu setelah yang dipesan dihidangkan, merek lalu makan dan minum dengan tenang. Betapapun juga, mereka berdua diam-diam memperhatikan orang-orang di sekitar mereka. Semua orang melanjutkan makan mereka akan tetapi kini mereka bicara perlahan, tidak berani langsung memandang ke arah Siong Li dan Bwee Hwa, kelihatan takut-takut.

Malam hari itu terlewat tanpa terjadi sesuatu. Akan tetapi pada keesokan hari-nya, pagi-pagi benar ketika Bwee Hwa telah bangun dan membersihkan diri lalu keluar dari kamar hendak mengetuk pintu kamar Siong Li, tiba-tiba dari luar menyerbu masuk tujuh orang yang berpakaian seperti polisi. Mereka memasuki rumah penginapan itu dengan pedang terhunus di tangan dan langsung menghampiri Bwee Hwa. Kawanan polisi ini dipimpin seorang yang berkumis panjang.

Pada saat itu, Siong Li keluar dari dalam kamarnya. Ternyata diapun sudah bangun dan sudah mandi sehingga tampak segar. Pemuda ini merasa heran melihat tujuh orang petugas keamanan itu yang agaknya langsung menghampiri dia dan Bwee Hwa. Kepala regu itu berkata kepada mereka berdua. “Harap ji-wi (kalian berdua) menyerah dan tidak melawan. Kami harus membawa ji-wi ke kantor polisi untuk diperiksa.”

Tentu saja Bwee Hwa dan Siong Li terkejut mendengar ini dan Bwee Hwa yang berwatak keras itu segera bertolak pinggang dan membentak marah.

“Kau anggap kami ini orang apakah? Jangan sembarangan menuduh dan berlaku sewenang-wenang mengandalkan kekuasaanmu! Dengan alasan apakah kalian hendak menangkap kami?”

Mendengar ucapan dan melihat sikap Bwee Hwa yang keras dan melawan, kawanan polisi itu segera memberi isyarat ke belakang mereka dan muncullah tiga belas orang polisi lain sehingga jumlah mereka kini menjadi duapuluh orang yang semuanya mencabut pedang masing-masing!

“Nona, harap jangan mencoba untuk melawan dengan kekerasan. Kami hanya menjalankan tugas. Kami diperintah atasan kami untuk menangkap kalian berdua. Soal urusannya boleh kalian bicarakan sendiri dengan jaksa yang akan memeriksa kalian nanti di kantor.”

Bwee Hwa hendak mencabut pedangnya, akan tetapi Siong Li memberi isyarat dengan matanya untuk mencegah gadis itu mengamuk. Melihat ini Bwee Hwa menahan kemarahannya dan Siong Li lalu menghampiri kepala regu polisi itu dan berkata dengan sikap halus.

“Baiklah, kami akan menurut. Akan tetapi engkau harus menerangkan dulu kepada kami, tuduhan apakah yang dijatuhkan kepada kami? Kami minta penjelasan agar tidak menjadi penasaran.”

Kepala rombongan petugas keamanan itu tersenyum mengejek.

“Ah, kalian masih pura-pura bertanya lagi? Seluruh kota telah gempar karena perbuatan-perbuatan kalian pada malam hari, sekarang masih berpura-pura tanya mengapa kalian hendak ditangkap? Jangan main-main kalian!”

“Siapa yang main-main? Kalian telah salah sangka dan salah tangkap. Kami bukanlah orang-orang yang melakukan pelanggaran dan perbuatan jahat, kami bukan orang-orang yang kalian maksudkan. Kami baru saja datang di kota ini sore tadi. Nah, marilah antar kami ke kantor jaksa agar ada penjelasan tentang hal ini semua.

Dengan sikap tenang Siong Li dan Bwee Hwa keluar dari rumah penginapan itu, dikawal oleh duapuluh orang penjaga keamanan. Tentu saja hal ini menarik perhatian orang banyak dan dua orang muda itu menjadi tontonan. Para petugas keamanan membentak orang-orang yang saling berdesakan hendak melihat wajah Siong Li dan Bwee Hwa yang dikabarkan sebagai sepasang pencuri yang telah sebulan lebih menggemparkan kota itu. Tadinya pemimpin regu polisi itu hendak memasang borgol pada kedua tangan Siong Li dan Bwee Hwa, akan tetapi Bwee Hwa membentak, “Kalau engkau berani menyentuh tanganku, kepalamu akan kubikin pecah lebih dulu!”

Siong Li cepat berkata kepada kepala regu itu, “Sobat, percayalah kepada kami. Kami tidak akan lari, kecuali kalau kalian bertindak kasar dan sewenang-wenang tentu kami akan bertindak keras pula. Bawalah saja kami kepada jaksa dan kami akan menghadap secara baik-baik.”

Kepala regu itu agaknya dapat menduga bahwa kedua orang muda ini tentu lihai sekali dan diapun melarang anak buahnya bersikap kasar. Maka Siong Li dan Bwee Hwa tidak diborgol, juga diperlakukan dengan sopan sehingga mereka yang menonton menjadi heran. Di sepanjang perjalanan menuju ke kantor jaksa, banyak orang nonton seregu petugas keamanan yang mengawal dua orang muda itu.

Berita bahwa sepasang maling yang selama ini meresahkan penduduk kota Tung-kwang telah tersebar luas dan semua orang ingin melihat bagaimana wajah para maling itu. Mereka yang sempat melihat Siong Li dan Bwee Hwa merasa heran bukan main. Sepasang maling itu sama sekali tidak berwajah menyeramkan sebagaimana yang mereka bayangkan, seperti wajah para penjahat pada umumnya. Sama sekali sebaliknya, wajah kedua orang maling ini tampan dan cantik, sepasang orang muda yang elok!

Tak lama kemudian tibalah pasukan itu di kantor jaksa dan ternyata Jaksa Kwee telah diberi laporan tentang tertangkapnya dua orang muda yang dicurigai sebagai maling, maka diapun sudah siap untuk memeriksanya. Jaksa Kwee adalah seorang laki-laki berusia kurang lebih empatpuluh lima tahun, bertubuh gemuk dengan wajah kekanak-kanakan dengan sepasang mata yang tajam dan cerdik. Dia sudah duduk di atas kursi kebesarannya, berpakaian jaksa lengkap. Lima orang perajurit pengawal berdiri di belakangnya, dengan golok mengkilap di tangan.

Lima orang anggauta polisi termasuk pemimpinannya yang berkumis panjang mengawal dua orang muda itu memasuki ruangan sidang. Mereka berlima menjatuhkan diri berlutut memberi hormat kepada Jaksa Kwee, akan tetapi Siong Li dan Bwee Hwa tetap berdiri. Si kumis panjang yang melihat ini segera membentak.

“He, kalian sungguh tidak tahu aturan. Lekas berlutut!”

Bwee Hwa menjawab ketus. “Mengapa berlutut? Kami bukan pesakitan!”

Pemimpin polisi itu hendak marah, akan tetapi Jaksa Kwee memberi isyarat dengan tangannya untuk mencegah, kemudian berkata kepada dua orang muda itu.

“Ji-wi bernama siapa dan datang dari manakah?”

Siong Li mengangkat kedua tangan depan dada untuk memberi hormat, diturut oleh Bwee Hwa lalu berkata lantang. “Saya bernama Ong Siong Li dan nona ini adalah seorang pendekar wanita bernama Bwee Hwa berjuluk Ang-hong-cu. Kami berdua adalah pengembara dan sama sekali tidak mengerti mengapa tanpa sebab kami dipaksa menghadap ke sini. Harap taijin (pembesar) suka memberi penjelasan mengapa kami ditangkap?”

Jaksa Kwee mengangguk-angguk dan menghela napas panjang. “Aku sendiri tidak dapat percaya bahwa orang-orang berdosa dapat bersikap seperti kalian. Tentu ada salah sangka dalam hal ini. Ketahuilah, telah sebulan lebih kota ini terganggu oleh sepasang maling yang sangat. berani dan yang tiap malam mendatangi rumah-rumah penduduk lalu mencuri barang-barang berharga. Ji-wi adalah orang-orang asing dan merupakan muka-muka baru, juga merupakan sepasang, lebih-lebih jiwi membawa pedang dan pasti memiliki kepandaian silat karena mengenakan pakaian perantauan yang ringkas itu, maka mudah dimengerti mengapa para petugasku menjadi curiga kepada ji-wi.”

Siong Li dan Bwee Hwa saling pandang dan mengangguk-angguk. Di dalam hati mereka memuji sikap Jaksa Kwee ini sebagai seorang pembesar yang tegas, jujur, dan bijaksana. Untung tadi mereka tidak mempergunakan kekerasan. Kalau sampai terjadi demikian, tentu mereka berdua akan merasa malu sekali menghadapi pembesar yang bijaksana dan bersikap terbuka ini.

“Sekarang kami mengerti mengapa kami berdua ditangkap, taijin,” kata Siong Li. “Kami tidak menyalahkan para perajurit ini.”

Jaksa Kwee menghela napas panjang lalu berkata, “Ji-wi adalah orang-orang gagah. Melihat sikap ji-wi yang gagah dan tenang, aku dapat menduga bahwa ji-wi tentulah dua orang pendekar budiman yang gagah perkasa. Akan tetapi sayang sekali nama baik ji-wi telah dicemarkan oleh sepasang penjahat yang mengacau kota Tung-kwang ini.”

Siong Li hanya tersenyum dan dia merasa semakin kagum kepada pembesar ini. Ucapan pembesar itu mengandung maksud tertentu dan membuktikan kelihaian pembesar itu mempergunakan akalnya. Akan tetapi Bwee Hwa mengerutkan alis dan rrterasa tidak senang.

“Hemm, mengapa nama kami tercemar oleh mereka? Kami tidak mempunyai hubungan apapun dengan mereka. Apa yang mereka lakukan tidak ada sangkut pautnya dengan kami!”

Kwee-taijin menjawab dengan suara yang mengandung penyesalan besar. “Bukankah ji-wi tadi telah terlihat oleh semua penduduk kota ini ketika digiring oleh para petugas keamanan ke kantor ini? Tentu saja orang-orang itu mengambil kesimpulan termudah, yaitu bahwa jiwi tentulah sepasang penjahat yang telah mengacau di kote ini. Bukankah itu berarti bahwa kedua penjahat itu makan dan menikmati buahnya, akan tetapi ji-wi yang terkena getahnya?”

Tahulah kini Bwee Hwa akan maksud kata-kata Kwee-taijin tadi dan ia menjadi marah sekali kepada kedua orang penjahat itu.

“Baiklah, taijin. Kalau demikian halnya, aku berjanji akan menangkap kedua orang penjahat itu dan menyeretnya ke hadapanmu agar semua penduduk mengetahui bahwa kami berdua bukanlah penjahat- penjahat keparat itu, melainkan pendekar-pendekar yang membela kebenaran dan keadilan!” kata gadis itu marah.

Wajah Jaksa Kwee kini tampak cerah berseri-seri. Senyum lega dan penuh harapan mengembang di wajahnya yang gemuk, berkali-kali dia berkata, “Bagus, bagus!” dan dengan ramahnya dia mengundang Bwee Hwa dan Siong Li untuk tinggal di gedungnya dan mengajak mereka makan bersama! Malam bulan purnama! Langit bersih, tak tampak ada mendung sehingga cahaya bulan bersinar tanpa halangan, menerangi permukaan bumi mendatangkan suasana yang indah gemilang menggembirakan. Namun, penduduk kota Tung-kwang yang dihantui rasa takut dan ngeri dengan adanya dua orang penjahat yang hampir setiap malam berkeliaran di kota itu, lebih merasa aman untuk mengeram diri di dalam kamar rumah mereka.