-->

Iblis dan Bidadari (Hwee Thian Mo Li) Jilid 6

Jilid 6

Leng Kok Hosiang memberi tanda kepada tiga orang kawannya yang segera berdiri dan siap sedia. Adapun Kim- gan-liong masih duduk saja dengan terheran-heran dan hatinya berdebar-debar tegang menyaksikan keadaan yang sudah tidak enak ini.

Akan tetapi, ketika ia bangkit berdiri, Ong Han Cu tiba-tiba merasa pening kepalanya makin menghebat dan pandangan matanya berputar-putar. Ia maklum dengan hati terkejut bahwa tentu ia telah menjadi kurban kekejaman hwesio dihadapannya itu.

“Aha, kau roboh, Pat-jiu kiam-ong .....! Kau roboh    ! Ha,

ha, ha   !” Leng Kok Hosiang tertawa bergelak.

“Jahanam berhati binatang!” Pat-jiu kiam-ong marah sekali dan mengerahkan tenaga untuk menubruk maju. Akan tetapi karena pandangan matanya telah gelap dan kepalanya pening, ia menubruk tempat kosong dan jatuh terguling di atas tanah tanpa dapat berdiri lagi. Ia telah menjadi pingsan.

Sambil tertawa bergelak Leng Kok Hosiang mencabut sebatang golok. Semenjak dikalahkan oleh Ouwyang Sianjin, hwes io ini telah me latih diri dengan semacam ilmu golok yang cukup lihai. Ia lalu maju ke arah Ong Han Cu yang rebah tak berdaya itu sambil mengangkat goloknya membacok.

“Traaang!” tiba-tiba goloknya itu tertangkis oleh sebatang pedang dan ternyata bahwa yang menangkisnya adalah Cin Lu Ek.

“Leng Kok Hosiang, tidak malukah kau untuk berlaku sekeji ini? Bukan perbuatan gagah untuk menewaskan musuh dengan cara demikian curang!”

Marahlah Leng Kok Hosiang. Matanya berputar mengerikan ketika ia menghadapi Kim-gan-liong dan dengan goloknya ia menuding sambil membentak, “Kim-gan-liong, Apakah maksudmu dengan perbuatan ini? Apakah kau hendak membela musuh besar kami?” “Aku tidak membela siapa-siapa, hanya aku tak dapat membiarkan kalian membunuh Pat-jiu kiam-ong dengan cara yang curang!”

“Kami berurusan dengan musuh kami sendiri, kau perduli apakah?” bentak hwesio itu sambil menggerakkan goloknya kembali. Kim-gan-liong hendak menangis pula, akan tetapi Liok Kong Si Golok Sakti Pencabut Nyawa, Yap Cin Si Lutung Sakti, dan Pendekar Besar dari Santung Siong Tat mencabut senjata mereka dan menghadang di depan Kim-gan-liong dengan sikap mengancam.

“Kim-gan-liong, benar-benarkah kau hendak mengorbankan nyawamu untuk musuh besar kami?”

Akan tetapi Cin Lu Ek yang tidak tega melihat Ong Han Cu hendak dibunuh begitu saja, tetap menangkiskan pedangnya ketika golok Leng Kok Hosiang membacok ke arah tubuh Raja Pedang itu, akan tetapi pada saat itu juga, senjata-senjata empat orang itu menghantam pedangnya sehingga terpental dari tangannya.

“Ha, ha, ha! Dengan kepandaianmu yang rendah ini kau masih hendak berlagak?” Leng Kok Hosiang mengejek dan sebuah tendangan kakinya membuat tubuh Kim-gan-liong terpental tiga tombak jauhnya dan jatuh bergulingan.

Terpaksa Kim-gan-liong meramkan mata ketika melihat betapa Leng Kok Hosiang menggunakan goloknya menyabet putus kedua kaki dan tangan Pat-jiu kiam-ong Ong Han Cu.

“Kejam.... kejam....!” ia berseru sambil menutup mukanya dengan kedua tangan. Hati nuraninya memberontak, akan tetapi apakah dayanya? Menghadapi hwes io itu saja ia takkan menang, apalagi di situ masih ada tiga orang lain yang kepandaiannya tinggi.

Leng Kok Hosiang dan tiga orang kawannya lalu menyerbu ke dalam gua dan dapat menemukan peti yang terisi harta pusaka itu. Mereka lalu membagi-bagi harta itu antara berempat dan dengan senyum mengejek Leng Kok Hosiang menghampiri Kim-gan-liong Cin Lu Ek.

“Kenapa kau sudah ikut kami datang ke sini, sudah hakmu untuk menerima sedikit bagian harta ini. Pulanglah dan bawalah bagianmu dan hiduplah dengan tentram dan aman!”

Akan tetapi Kim-gan-liong menggeleng kepalanya dan berkata dengan tegas, “Tidak, aku tidak sudi menjamah harta kotor ini!”

“Ha, ha, ha! Kim-gan-liong, kau berpura-pura suci. Dapatkah kau membebaskan dirimu dari pembunuhan hari ini? Kau datang bersama kami dan Ong Han Cu telah melihat dengan matanya sendiri bahwa kau termasuk rombongan kami. Kita berlima yang bertanggung jawab atas pembunuhan ini. Apakah kau kira akan dapat membebaskan diri begitu saja? Atau, agaknya kau yang berhati kecil ini takut akan datangnya pembalasan dari pihak Pat-jiu kiam-ong?”

“Tidak, aku tidak takut!” jawab Cin Lu Ek marah. “Sudah sepantasnya aku dibalas dan dibunuh, karena aku yang mengaku sebagai orang kang-ouw tidak berdaya melihat kekejaman ini terjadi, tanpa dapat mencegah sedikitpun. Aku memang patut dibunuh .... patut dibalas .... aku ikut berdosa terhadap Pat-jiu kiam-ong!”

Sambil tertawa-tawa empat orang yang lain mengejeknya sehingga Kim-gan-liong Cin Lu Ek lalu membalikkan tubuh dan lari pergi dari tempat itu.

Mendengar penuturan Kim-gan-liong Cin Lu Ek yang nampak berwajah amat sedihnya itu, Hwe-thian Moli menjadi bingung tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

“Demikianlah nona, keadaanku yang sesungguhnya sehingga aku terlibat dalam urusan kematian suhumu itu. Akan tetapi, jangan kau kira bahwa aku menceritakan hal ini untuk membela diri karena aku takut akan pembalasanmu. Tidak! Betapapun juga, aku merasa bahwa akupun ikut berdosa dengan tewasnya suhumu itu. Kalau aku memiliki sedikit saja kegagahan, tentu pada waktu itu aku dapat menolong suhumu. Aku terkena bujukan mereka dan ikut dengan rombongan jahat itu, maka kalau kau menganggap aku sebagai seorang musuh besar suhumu, silahkan kau melakukan pembalasan. Aku takkan mundur setapak menghadapi hukuman yang memang sudah patut kuterima. Aku menceritakan semua ini untuk mencegah jangan sampai kau bertempur dengan Tek Kun!”

Hwe-thian Moli mengerutkan alisnya dan berpikir keras. Haruskah ia mengundurkan diri setelah ia mencari musuh ini dengan susah payah dan setelah kini dapat bertemu? Tidak, sedikitnya ia harus memberi hajaran juga kepada orang ini, bukan karena kejahatannya, akan tetapi oleh karena kelemahan dan kesombongannya telah berani mengadu kepandaian dengan mendiang suhunya dan datang bersama rombongan jahat itu.

“Kau keluarlah dan cabut pedangmu!” ia menantang sambil melompat keluar.

Dengan sikap amat tenang, Kim-gan-liong Cin Lu Ek lalu berjalan keluar dan mencabut pedangnya, siap menanti datangnya serangan.

“Susiok, jangan ......!” Sim Tek Kun berseru, akan tetapi susioknya tidak meladeninya.

“Hwe-thian Moli, jangan kau mendesak orang tua ini!” serunya pula kepada gadis itu, akan tetapi Siang Lan hanya mengeluarkan senyum mengejek dan secepat kilat pedangnya meluncur dan melakukan serangan pertama kepada Kim-gan- liong.

Orang tua ini lalu menangkis dan dari benturan pedang ini tahulah ia bahwa gadis muda ini benar-benar telah mewarisi kepandaian Pat-jiu kiam-ong sehingga diam-diam ia menjadi kagum sekali. Iapun lalu mengerahkan kepandaiannya dan bertempurlah kedua orang itu dengan hebatnya.

Akan tetapi, baru saja bertempur tiga puluh jurus, sudah terlihat nyata sekali betapa Kim-gan-liong terdesak hebat sehingga tak dapat membalas, hanya mempertahankan diri saja.

“Tahan, nona, jangan kau membunuh orang tidak berdosa!” seru Sim Tek Kun sambil maju menerjang dengan pedangnya. Akan tetapi terlambat, karena pada saat itu pedang di tangan Hwe-thian Moli telah bergerak dengan tipu Burung Gagak Menyambar Cacing. Kim-gan-liong berseru keras, pedangnya terlepas dari tangan dan pundak kanannya berlumuran darah karena tertusuk oleh ujung pedang Hwe- thian Moli.

Siang Lan menahan pedangnya dan berkata dengan keren. “Oleh karena kau tidak ikut membunuh suhu dan hanya menjadi kawan gerombolan jahat itu, maka biarlah kuampunkan jiwamu!” Kemudian, ia menatap wajah Tek Kun dan berkata sambil tersenyum menyindir, “Dan kau! Kalau kau merasa penasaran bahwa aku sudah melukai susiokmu, setiap waktu kau boleh mencariku untuk membalas dendam!”

Setelah berkata demikian, sekali berkelebat tubuh gadis itu lenyap ditelan kegelapan malam. Tek Kun berdiri melengak dan menggeleng-geleng kepalanya, lalu menolong susioknya yang terluka pundaknya. Ternyata luka itu hanya merupakan luka di kulit dan daging saja dan sama sekali tidak berbahaya sungguhpun banyak mengeluarkan darah.

“Alangkah ganasnya gadis itu!” Tek Kun menggerutu. “Akan tetapi ia gagah perkasa dan cukup adil. Ilmu

pedangnya lihai seperti suhunya!” kata Kim-gan-liong dan suaranya kini berobah seakan-akan batu besar yang tadinya menindih hatinya telah terangkat. “Kesalahanku dulu telah terbalas, puaslah hatiku!” Setelah membalut dan merawat susioknya, pada keesokan harinya, Tek Kun lalu berpamit dan berkata pada orang tua itu,

“Teecu melihat Ngo-lian-hengte dan Bong Te Sianjin berada di kota ini, maka tentu akan terjadi sesuatu yang buruk. Teecu perlu menyelidiki keadaan mereka,” katanya dan Kim-gan- liong tak dapat menahan murid keponakannya ini karena iapun maklum akan ganasnya sepak terjang Ngo-lian-hengte, lima ketua dari Ngo-lian-kauw itu. Apalagi Bong Te Sianjin yang menjadi supek (uwak guru) dari mereka, karena pertapa tua ini terkenal sebagai seorang tua yang selalu membela dan membantu perkembangan Ngo-lian-kauw.

Adapun Hwe-thian Moli sete lah pergi dari rumah Kim-gan- liong dan kembali ke kamar di hotel, lalu merebahkan diri di atas pembaringan dan ia mengenang semua peristiwa tadi dengan hati puas. Ia telah memberi peringatan dan hajaran kepada Kim-gan-liong sehingga dengan perbuatan itu, ia

.menghilangkan rasa penasaran dari suhunya dan juga mengangkat nama suhunya. Akan tetapi anehnya, kenangan ini se lalu terganggu oleh bayangan wajah pemuda yang tampan itu. Sim Tek Kun ! Nama ini selalu dibisikkan oleh bibirnya.

“Kurang ajar!” kata Hwe-thian Moli karena gangguan ini dan ia berusaha sekuat mungkin untuk mengusir bayangan ini dari ingatannya, Akan tetapi, makin diusir, makin jelas lah bayangan wajah pemuda itu dan makin tak dapat dilupakan. Pandangan mata yang jenaka itu, senyum yang berseri itu, ah....... Hmoli mengeluh dan menganggap diri sendiri sudah menjadi gila.

Gadis perkasa yang berhati baja dan tidak takut menghadapi lawan yang bagaimanapun juga ini, secara tak sadar telah dipermainkan oleh pengaruh yang besar sekali kekuasaannya, yang kuasa mempermainkan manusia yang bagaimanapun juga. Tak perduli ia orang biasa, petani m iskin, hartawan, bangsawan, bahkan panglima-panglima perang yang gagah perkasa, tetap saja dapat dipermainkannya seperti halnya Hwe-thian Moli sekarang ini. Dan pengaruh ini bukan lain adalah Asmara.

Hatinya yang keras merasa tidak puas dan gemas terhadap kelemahannya sendiri dan ia juga merasa heran sekali mengapa bayangan pemuda yang belum dikenalnya itu dapat membuat ia hampir tak dapat meramkan matanya semalam penuh.

Dengan hati masih mendongkol, pagi-pagi benar ia sudah bangkit dari tidurnya, duduk bersamadhi untuk mengumpulkan tenaga dan menentramkan semangat, kemudian ia lalu berdandan dan pagi-pagi sekali ia sudah membereskan pembayaran kamar hotelnya dan pergi menggendong buntalannya menuju ke sebelah barat kota. Ia hendak mencari kuil di sebelah barat kota untuk memenuhi janjinya dengan Ngo-lian-hengte yang menantangnya.

Ketika ia tiba di depan kuil, di situ amat sunyi karena kuil itu berada agak jauh di luar kota, di luar sebuah hutan. Hwe- thian Moli berdiri di luar kuil, merasa ragu-ragu untuk masuk. Agaknya kuil ini adalah sebuah kuil kosong dan ia merasa sangsi untuk masuk, kalau-kalau di s itu terdapat perangkap.

“Ngo-lian-hengte!” ia berseru keras. “Aku sudah datang memenuhi janji!”

Suaranya bergema sampai di hutan itu dan tak lama kemudian terdengar seruan dari dalam kuil,

“Bagus, Hwe-thian Moli, ternyata kau benar-benar mengantarkan nyawamu kepada kami!” Berbareng dengan ucapan itu, muncullah lima orang saudara she Kui itu dari pintu kuil, dan melihat keadaan mereka yang sudah siap sedia dengan pedang ditangan, dapat diduga bahwa mereka memang telah menanti sejak tadi. Ketika Siang Lan melihat seorang kakek yang berpakaian seperti pertapa ikut keluar di belakang lima orang itu, ia berlaku waspada. Lima orang ketua Ngo-lian-kauw itu sama sekali tidak ditakutinya karena ia sudah tahu sampai di mana kepandaian mereka, akan tetapi kakek ini agaknya memiliki kepandaian tinggi, melihat dari sikapnya yang tenang dan pandangan matanya yang tajam berpengaruh.

“Aku telah datang dan kalau kalian merasa penasaran atas kekalahan tempo hari, nah, mau tunggu kapan lagi?” kata gadis yang tabah ini sambil melemparkan bungkusan pakaiannya ke bawah pohon dan mencabut pedangnya.

Jerih juga hati lima orang ketua Ngo-lian-kauw itu menyaksikan ketenangan dan ketabahan pendekar wanita itu, akan tetapi Kui Jin yang tertua lalu melangkah maju dan berkata,

“Hwe-thian Moli, urusan penasaran di Kan-cou dulu hanya urusan kecil, karena sudah lazimnya dalam pertempuran ada yang menderita kekalahan. Akan tetapi, kami telah mendengar tentang sepak terjangmu yang ganas dan kejam. Kau telah membunuh Santung-taihiap dan telah mengacau pesta Toat- beng Moli dan kemudian bersama gadis penari itu kau telah membunuhnya pula. Kau benar-benar tidak mengindahkan orang-orang kang-ouw dan mengandalkan keganasanmu berlaku sewenang-wenang!”

Hati Siang Lan merasa sebal sekali mendengar ucapan ini dan dengan gerakan tak sabar ia mengibaskan tangannya.

“Sudahlah, aku datang ke sini untuk memenuhi tantanganmu, bukan untuk mendengarkan ocehanmu. Kita tidak mempunyai permusuhan, akan tetapi kalau kau berlima berani menantang, jangan kira bahwa Hwe-thian Moli akan mundur setapak pun”.

“Perempuan sombong!” seru Kui Sin yang termuda dengan marah dan ia segera mulai menyerang gadis itu. Keempat saudaranya juga maju berbareng dan sebentar saja Hwe-thian Moli, terkurung oleh lima orang itu.

Siang Lan mendapat kenyataan bahwa kini ilmu pedang ke lima orang itu agak lebih maju, akan tetapi masih belum cukup berbahaya baginya. Ia hendak menyelesaikan pertempuran ini secepat mungkin, maka sambil berseru keras gadis pendekar ini lalu memutar pedangnya dan mainkan ilmu pedang Liong-cu kiam-hwat.

Bagaikan seekor naga sakti, gulungan pedang di tangan Siang Lan menyambar-nyambar dan bermain-main di antara gulungan lima pedang lawannya, dan saking cepatnya gerakan gadis ini, tubuhnya sampai lenyap dari pandangan mata.

Seperti juga dulu ketika mengeroyoknya di dalam rumah Toat-beng-sin-to Liok Kong, ke lima orang ketua Ngo-lian- kauw ini menjadi terkejut sekali. Mereka telah menciptakan ilmu silat pedang yang dima inkan oleh mereka berlima dan yang berbentuk bunga teratai dengan lima daun bunga yang mereka namakan Ngo-lian-tin atau Barisan Lima Teratai. Akan tetapi menghadapi keges itan Siang Lan, Ngo-lian-tin mereka ternyata tiada gunanya sama sekali.

Gadis ini tak dapat dikurung ditengah-tengah, baru saja mereka berhasil mengurung, gadis itu telah sanggup memecahkan dengan serangannya yang ganas ke satu jurusan. Kini, sete lah gadis itu mengeluarkan kepandaiannya, bukan gadis itu yang terkurung, bahkan mereka berlima yang seakan-akan terkurung oleh gulungan sinar pedang yang berkelebatan tak tentu perkembangan dan perubahannya itu.

Baru saja pertempuran berlangsung dua puluh jurus, pedang di tangan Kui Le telah terlempar karena gempuran pedang Siang Lan. Dan Kui Gi terpaksa harus melepaskan pedangnya pula karena lengannya tercium oleh ujung sepatu Siang Lan sehingga ia merasa seakan-akan tulang lengannya menjadi patah. Kederlah hati tiga orang pengeroyok yang lain dan pada saat itu, terdengar bentakan halus. “Kalian mundurlah dan biarkan lohu (aku yang tua) menangkap gadis liar ini!”

Siang Lan merasa ada angin menyambar dari kiri dan cepat ia mengelak. Ia terkejut juga ketika melihat bahwa sambaran angin ini dikeluarkan dari tangan kakek itu yang dipukulkan kepadanya dari jauh. Kui Jin, Kui T i, dan Kui Sin lalu melompat mundur dengan hati lega karena supek mereka sekarang mau turun tangan.

Sementara itu, Siang Lan sambil menunda pedangnya di depan dada, lalu bertanya kepada kakek itu.

“Ngo-ciangbun menantang aku yang muda untuk mengadu kepandaian, dan siapakah kau orang tua yang ikut mencampuri urusan kami?”

Kakek itu tersenyum menyeringai dan terlihatlah bahwa di dalam mulutnya sudah tidak ada gigi sepotongpun.

“Hwe-thian Moli, Sudah lama lohu mendengar namamu yang menggemparkan. Murid-murid keponakanku tak dapat melawanmu, maka biarlah aku Bong Te Sianjin yang menjadi supek mereka main-main sebentar denganmu!” Sambil berkata demikian, kakek itu lalu mengambil senjatanya, yakni sepotong tongkat yang gagangnya berbentuk ular.

“Bong Te Sianjin, kau orang tua yang sudah disebut s ianjin (manusia dewa, orang suci) sungguh mengherankan sekali masih suka mencari urusan. Kalian terlalu mendesak maka terpaksa aku yang muda memberi hajaran sedikit. Jangan kira bahwa aku takut. Nah, majulah semua!” tantang Hwe-thian Moli dengan garang sekali.

Bong Te Sianjin terkekeh, lalu menyerang sambil berkata, “Bocah cilik yang besar kepala!”

Biarpun tongkat itu kecil saja, namun daya serangannya jauh lebih bertenaga dan lebih berbahaya dari pada lima batang pedang dari Ngo-lian-hengte tadi. Siang Lan maklum bahwa kini ia menghadapi seorang lawan yang tangguh, maka ia berlaku hati-hati. Ia cepat menangkis dengan pedangnya dan baiknya ia berlaku hati-hati, karena begitu pedang menempel pada tongkat lawan.

Tiba-tiba dengan getaran tenaga lweekang, tongkat itu diputar sedemikian cepatnya sehingga kalau Siang Lan tidak cepat menarik kembali pedangnya, banyak kemungkinan pedangnya akan terlepas dari pegangan. Maklumlah ia bahwa kakek ini dapat menyalurkan tenaga lweekangnya yang tinggi melalui tongkatnyasehingga tongkat pendek itu dapat bergerak mengandung tenaga cam (melibat, mengikat), tenaga Coan (memutar), membetot , dan lain-lain menurut kehendak kakek itu.

Gadis yang berilmu tinggi ini teringat akan nasehat mendiang suhunya bahwa untuk menghadapi seorang yang ilmu lweekangnya lebih tinggi darinya, ia tidak boleh menggunakan tenaga kasar, tidak boleh menggunakan tenaga dan harus mengandalkan kecepatan untuk mendahului lawan. Maka Siang Lan lalu mengerahkan ginkangnya (ilmu meringankan tubuh) yang memang sudah sempurna itu, dan ketika ia mainkan ilmu pedangnya, maka kini gulungan sinar pedangnya lebih lebar dan lebih cepat dari pada tadi ketika dikeroyok lima. Semua serangannya ia tujukan ke arah jalan darah yang berbahaya dari kakek itu, merupakan serangan maut yang benar-benar ganas dan berbahaya.

Bong Te Sianjin benar-benar terkejut Tak pernah disangkanya bahwa gadis muda ini sedemikian lihainya. Tadinya ia hendak mendesak, mempermainkan gadis itu untuk memamerkan kepandaiannya di depan ke lima murid keponakannya.

Akan tetapi setelah bertempur mati-matian, jangankan hendak mendesak mempermainkan, bahkan untuk mengimbangi gerakan gadis yang luar biasa cepatnya itu saja telah membuat napasnya menjadi megap-megap. Namun ilmu tongkatnya memang kuat sekali sehingga bagi Siang Lan juga tidak mudah untuk merobohkan kakek ini.

Agaknya hanya soal napas saja yang akan dapat memberi kemenangan kepada gadis itu, maka Siang Lan juga berlaku cerdik dan bergerak makin cepat agar kakek itu mengerahkan tenaga dan kehabisan napas. Kalau tidak dapat menang dalam seratus jurus, biarlah aku ladeni dia sampai dua ratus jurus pikirnya.

Adapun ke lima orang ketua Ngo-lian-kauw itu, ketika melihat betapa supek mereka tidak dapat menang setelah bertempur puluhan jurus, dan malah terdengar napas supek mereka megap-megap seperti kerbau disembelih, mereka serentak maju mengeroyok lagi. Kui Le dan Kui Gi sudah mengambil pedang mereka kembali dan Bong Te Sianjin kini tidak malu-malu lagi untuk membiarkan ke lima orang itu membantunya.

“Bagus, majulah semua!” Siang Lan menantang tanpa takut sedikitpun. Akan tetapi harus diakuinya bahwa keroyokan enam orang ini benar-benar merupakan lawan yang amat berat. Dengan masuknya lima saudara she Kui itu, ia harus memecah perhatiannya dan ini merupakan hal yang berbahaya karena serangan tongkat di tangan Bong Te Sianjin masih tetap kuat dan berbahaya sekali. Ia lalu bersilat dengan hati-hati dan tenang, tidak mau menghamburkan tenaga seperti tadi ketika berhadapan dengan Bong Te Sianjin seorang.

Tanpa terasa, Siang Lan telah bertempur seratus jurus lebih dan masih saja ia dalam keadaan terkurung. Tiba-tiba terdengar suara ketawa bergelak-gelak, disusul dengan suara yang parau.

“Ha, ha, ha, ha...! Enam orang laki-laki mengeroyok seorang gadis muda jelita. Sungguh lucu. Eh, Bong Te Sianjin, apakah kau sekarang sudah menjadi pikun dan loyo?” Mendengar suara itu, Bong Te Sianjin berseru girang dan menjawab. “Leng Kok Hosiang ! Kau tidak tahu bahwa gadis muda ini adalah Hwe Thian Moli yang lihai dan ganas!”

Ucapan dari Bong Te Sianjin ini mendatangkan rasa kaget kepada Siang Lan dan juga kepada hwes io yang baru muncul itu. Siang Lan terkejut berbareng girang karena dapat bertemu dengan musuh besarnya, sebaliknya Leng Kok Hosiang terkejut karena ia sudah mendengar betapa dara perkasa ini sedang mencari-carinya untuk membalas dendam. Ia juga sudah mendengar betapa Hwe Thian Moli telah berhasil membunuh tiga orang kawannya yang dulu ikut naik ke Liong- cu-san.

(Oo-dwkz-oO)

09 Pilihan di Antara Dua Wanita Perkasa

“AH, dia memang gadis jahat dan kejam!” serunya sambil meloloskan goloknya. “Kita harus membunuhnya. Marilah kubantu kalian!” Dengan gerakan cepat sekali Leng Kok Hosiang lalu maju menyerbu dan mengeroyok Siang Lan.

“Keparat jahanam Leng Kok Hosiang! Kebetulan sekali kau mengantar kepalamu yang gundul untuk kuhancurkan!” seru Siang Lan dengan gemas sekali dan ia menyambut kedatangan hwes io itu dengan serangan kilat yang dilakukan dengan sepenuh tenaga. Akan tetapi karena selain Leng Kok Hosiang sendiri memiliki kepandaian tinggi, juga di situ terdapat Bong Te Sianjin dan Ngo-lian-hengte, tentu saja ia tak dapat bergerak dengan leluasa, bahkan sebentar saja ia telah terdesak mundur karena datangnya senjata lawan bagaikan hujan lebatnya.

Sambil menggertak gigi, Siang Lan me lakukan perlawanan dan ia telah mengambil keputusan nekad untuk membunuh musuh besarnya atau terbunuh oleh keroyokan itu! Ia mengamuk dengan nekat sekali sehingga ketujuh orang pengeroyoknya menjadi kagum dan juga terheran-heran. Mereka mendesak terus dibarengi dengan suara Leng Kok Hosiang yang menertawakannya dan mengejeknya untuk membuat gadis itu menjadi makin gemas.

“Ha ha ha! Hwe-thian Mo-li, kau hendak lari ke mana? Kau seperti seekor tikus kecil dalam perangkap. Ha ha!”

Pada saat kedudukan Hwe-thian Mo-li benar-benar berada dalam bahaya besar, tiba-tiba terdengar suara dari luar kuil.

“Hm, sungguh tak tahu malu tokoh-tokoh kang-ouw seperti tujuh orang ini mengeroyok seorang gadis muda! Benar-benar dunia ini penuh dengan manusia-manusia curang!” Berbareng dengan habisnya ucapan itu, muncullah seorang pemuda tampan dari pintu kuil. Ia berpakaian seperti seorang pemuda pelajar yang lemah lembut dan sederhana, akan tetapi begitu tangannya bergerak, ia telah mencabut sebatang pedang yang berkilauan dari bawah jubahnya yang panjang.

“Betapapun juga, Kun-lun Siauwhiap (Pendekar muda dari Kun-lun) tidak dapat membiarkan keganjilan ini berlangsung terus!” seru pemuda itu yang segera maju menyerbu dan membantu Siang Lan.

Semenjak mendengar suara itu, dada Siang Lan sudah berdebar aneh karena ia mengenal suara itu. Apalagi sete lah pemuda itu muncul, tak terasa lagi muka gadis ini menjadi merah sekali dan gerakan pedangnya kacau sehingga hampir saja tongkat Bong Te Sianjin mampir di pundaknya. Ia cepat membuang jauh-jauh pikirannya yang kacau itu dan bersilat dengan mengerahkan seluruh tenaga.

Sementara itu, Bong Te Sianjin dan Leng Kok Hosiang yang sudah mendengar kemashuran nama Kun-lun Siauhiap, pendekar muda dari Kun-lun-pai yang menurut kabarnya amat tangkas dan gagah perkasa itu, merasa tidak enak hati. Apalagi setelah pedang di tangan Tek Kun bekerja amat cepat dan kuatnya, menghalau beberapa pedang pengeroyok, hati mereka menjadi cemas.

Leng Kok Hosiang mencoba untuk mendesak Siang Lan, namun gadis itu yang memang selalu mengarahkan serangan pedangnya kepada hwesio ini, ternyata masih kuat dan dan tidak mudah dirobohkan begitu saja. Pertempuran menjadi makin hebat. Ngo-lian-hengte mengeroyok Tek Kun, sedangkan kedua orang pertapa itu menghadapi Siang Lan.

Kalau gadis perkasa itu masih merasa kewalahan menghadapi Leng Kok Hosiang dan Bong Te Sianjin yang benar-benar tangguh, adalah Tek Kun yang dikeroyok oleh lima orang ketua Ngo-lian-kauw itu menghadapi makanan empuk. Baru beberapa gebrakan saja terdengar teriakan- teriakan kesakitan, disusul oleh robohnya Kui Sin dan Kui T i.

Makin cemaslah hati Leng Kok Hosiang. Ia maklum bahwa kalau kawan-kawannya ini roboh dan ia harus menghadapi Hwe-thian Mo-li seorang diri, pendekar wanita itu tentu takkan mau berhenti sebelum mengadu jiwa! Dia melihat kepandaian pendekar wanita ini, ia masih merasa ragu-ragu apakah ia akan dapat menang apabila bertempur satu lawan satu.

Tiba-tiba Leng Kok Hos iang melompat mundur dua tombak lebih dan ketika Siang Lan mengejar, hwes io ini dengan tubuh merendah lalu menyerangnya dengan pukulan Hek-coa-jiu yang lihai itu!

Siang Lan pernah mendengar tentang kelihaian pukulan Hek-coa-jiu ini, maka cepat ia mempergunakan ginkangnya dan tubuhnya mencelat ke udara dan langsung ia menyerang ke arah hwesio itu dengan pedangnya. Akan tetapi Bong Te Sianjin telah datang dan menyambut pedangnya yang menyerang hwesio itu, sedangkan Leng Kok Hosiang yang menyaksikan betapa gadis itu dengan mudah dapat menggagalkan serangannya, cepat mempergunakan kesempatan itu untuk melompat keluar dari kuil dan melarikan diri. Dengan marah Siang Lan hendak mengejar, akan tetapi Bong Te Sianjin tidak mau melepaskannya, bahkan lalu menyerang hebat sekali dengan tongkatnya.

“Bong Te Sianjin, kau benar-benar menjemukan!” seru Siang Lan dengan gemas sekali dan pedangnya lalu bekerja lebih cepat lagi. Kini ia tidak mau main-ma in lagi dan kedua tangannya bergerak, yang kanan menyerang dengan pedang, yang kiri melancarkan pukulan-pukulan dengan pengerahan tenaga lweekang sepenuhnya. Ia kini dikuasa i oleh nafsu untuk merobohkan dan membunuh kakek yang menghalanginya mengejar hwesio musuh besarnya.

Bong Te Sianjin sudah kehabisan tenaga, maka mana ia mampu mempertahankan diri lebih lama lagi? Biarpun tongkatnya masih berhasil menangkis pedang di tangan lawannya, akan tetapi pukulan tangan kiri Siang Lan telah beberapa kali mengenai dadanya, dan biarpun yang mengenai hanya angin pukulan saja, akan tetapi karena napasnya memang sudah tersengal-sengal sehingga ia tidak dapat mengerahkan tenaga pertahanan dengan baik. Akhirnya ia terhuyung-huyung dan roboh sambil muntahkan darah segar dari mulutnya.

Siang Lan tidak memperdulikan keadaan kakek itu lagi dan melompat keluar mengejar musuh besarnya sambil berseru.

“Bangsat gundul, kau hendak lari ke mana?”

Akan tetapi karena waktu antara kepergian hwes io itu sudah agak lama, ketika ia tiba di luar kuil, Leng Kok Hosiang sudah lenyap tak nampak bayangannya lagi.

Sementara itu, Tek Kun dengan mudah juga sudah merobohkan ketiga orang pengeroyoknya dan melihat gadis itu me lompat keluar mengejar hwesio tadi, iapun melompat pula mengejarnya.

Tek Kun melihat gadis itu berdiri di pinggir hutan sambil matanya memandang ke sana ke mari mencari jejak orang yang dikejarnya, dan ketika pemuda itu datang menghampirinya, gadis itu menyambutnya dengan teguran ketus,

“Mengapa kau mencampuri urusanku?”

Tek Kun melengak dan untuk beberapa lama tak dapat segera menjawab. Tak disangkanya bahwa gadis gagah perkasa ini demikian galaknya. Akan tetapi ia tersenyum dan berkata,

“Siapa yang mencampuri urusanmu? Aku hanya melihat ketidakadilan dalam pengeroyokan itu, maka aku membantu tanpa kusadari lagi. Apakah kau marah karena aku membantumu?”

Nada suara yang halus ini menikam hati Siang Lan. Memang semenjak suhunya meninggal dunia, ia merasa hidup sebatangkara dan tak seorang pun di dunia ini yang dapat ia andalkan. Kini setelah ada pemuda yang amat menarik hatinya ini membantu tanpa dim inta, mengapa ia harus marah-marah? Ia merasa betapa ia telah bersikap terlalu sekali, maka ia lalu menjawab,

“Tidak ada alasan bagiku untuk menjadi marah. Akan tetapi jangan kaukira bahwa aku harus berlutut kepadamu dan menghaturkan terima kasih atas bantuanmu tadi. Karena kau membantu tanpa kuminta dan akupun belum tentu kalah dikeroyok oleh tujuh orang tadi!”

Tek Kun tersenyum lagi, senyum yang membuat wajahnya yang tampan itu nampak berseri dan senyum yang membuat jantung Siang Lan berdebar aneh.

“Nama Hwe-thian Mo-li memang amat menggemparkan dan sudah lama aku mengagumi namamu. Benar-benar kau gagah perkasa dan maafkan kalau tadi aku telah berlaku lancang.” Kembali Siang Lan merasa terpukul hatinya. Orang telah membantunya, merobohkan, Ngo-lian hengte, kini orang ini tidak mengharapkan terma kasihnya, bahkan datang-datang secara jujur meminta maaf. Sungguh pihaknyalah yang amat keterlaluan dalam hal ini.

“Sudahlah, aku tidak perlu dengan segala permintaan maaf!” katanya.

“Kau galak sekali!” kata Tek Kun sambil tersenyum dan sepasang matanya memandang dengan jenaka.

“Habis, apakah kau menyuruh aku tersenyum-senyum kepadamu, bersikap manis dan genit? Aku tidak bisa bersikap seperti itu!” Siang Lan menantang.

“Maaf nona, bukan maksudku menyinggung hatimu. Sebetulnya mengapakah kau mengejar hwesio itu? Siapakah dia tadi? Kulihat ilmu silatnya tinggi juga.”

“Dia adalah Leng Kok Hosiang, musuh besarku. Sayang ia dapat melarikan diri dan aku tidak tahu ke jurusan mana ia pergi!”

Pemuda itu nampak terkejut. “Diakah yang bernama Leng Kok Hosiang yang berjuluk Jai-hwa-sian? Ah, sayang, kalau tadi aku tahu, tentu tak sudi aku melayani segala cacing seperti Ngo-lian hengte dan membantumu merobohkannya.”

“Aku tidak m inta bantuanmu dan sekarangpun aku hendak mengejarnya seorang diri.” Siang Lan hendak pergi, akan tetapi pemuda itu berkata.

“Nona, kau tidak tahu ke mana perginya hwesio itu?” “Apakah kau tahu?”

“Tentu saja aku tahu ke mana ia pergi! Ia tentu pergi ke kota raja, karena sesungguhnya menjadi tugasku pula untuk menyelidikinya. Ia menjadi utusan kaum pemberontak di selatan. Mungkin sekali dia hendak menghadap kaisar sebagai seorang utusan.”

“Begitukah? Nah, aku pergi!” jawab Siang Lan tanpa mengucapkan terima kasihnya.

Akan tetapi belum lama Siang Lan pergi menuju ke kota raja di sebelah utara, tiba-tiba telinga gadis itu mendengar sesuatu dari tempat di mana tadi ia bertemu dengan Tek Kun. Ia segera berlari ke tempat itu kembali dan terheranlah ia ketika ia melihat pemuda itu berlutut di depan seorang tosu (pendeta To) tua yang bersikap bengis dan sedang marah besar,

“Mengapa kau mengabaikan tugasmu dan membuang waktumu dengan membantu segala gadis kang-ouw? Mengapa kau tidak menjatuhkan hukuman kepada susiokmu sebagaimana yang telah menjadi tugasmu?”

“Ampun, Sucouw (kakek guru), teecu tidak sampai hati menjatuhkan hukuman itu karena menurut pendapat teecu susiok tidak bersalah.”

Marahlah tosu itu. Ia membanting-banting kaki dan berkata. “Anak lancang! Betapapun tinggi kedudukanmu, siapapun juga adanya kau, kau telah menjadi murid Kun-lun- pai dan harus tunduk kepada semua peraturan. Cin Lu Ek telah melakukan pelanggaran, bersekutu dengan orang-orang jahat dan membunuh Ong Han Cu secara pengecut, curang, dan merendahkan nama Kun-lun-pai yang besar. Kau sudah kuberi tugas untuk menjatuhkan hukuman kepadanya, akan tetapi ternyata kau te lah mengabaikan tugasmu. Tahukah kau hukuman apa yang dijatuhkan kepada seorang anak murid Kun-lun-pai yang mengabaikan tugasnya?”

“Teecu tahu, sucouw. Akan dicabut kembali semua kepandaian yang teecu pelajari dari Kun-lun-pai.”

Tosu itu melangkah maju. “Nah, kau sudah tahu, itu baik sekali. Bersiaplah kau!” Sambil berkata demikian, tosu ini bergerak hendak menotok kedua pundak Sim Tek Kun. Kalau totokan itu mengenai sasaran, maka kedua lengan tangan pemuda itu akan menjadi lumpuh dan se lama hidup kedua lengannya takkan dapat dipergunakan untuk bersilat lagi.

Tiba-tiba menyambar bayangan yang cepat sekali dan tosu itu dengan terkejut merasa betapa ada sambaran angin yang kuat dari belakangnya. Ia membalikkan tubuh dan menunda gerakannya menotok anak muridnya, dan secepat kilat ia mengibaskan ujung lengan bajunya ke belakang. Siang Lan yang ternyata turun tangan menolong Tek Kun, terhuyung mundur sampai lima langkah karena kebutan ujung lengan baju ini.

“Hm, gadis lancang, kau siapakah sebenarnya maka berani sekali turun tangan terhadap pinto?”

Sebagai jawaban, Siang Lan mencabut pedangnya dan berkata tajam. “Totiang, mengapa seorang pendeta seperti totiang masih mengandung hati yang amat kejamnya? Aku sendiri yang menjadi murid dari Pat-jiu kiam-ong, karena otak dan pikiran sehat tidak membalas dendam kepada Kim-gan- liong, mengapa totiang tidak mau mendengar alasan dan secara membuta hendak menjatuhkan tangan ganas terhadap anak murid sendiri?”

Tosu itu tertarik sekali mendengar ucapan ini dan ia lalu berkata. “Hm, jadi kau ini adalah murid dari Pat-jiu kiam-ong? Tentu kau yang disebut Hwe-thian Mo-li?”

“Benar, totiang.”

“Pinto berurusan dengan anak murid sendiri, mengapa kau ikut campur? Ada hubungan apakah kau dengan Tek Kun?”

Merahlah seluruh wajah gadis itu. “Tidak ada hubungan apa-apa, hanya aku tidak bisa melihat orang berlaku kejam tanpa alasan. Perbuatan itu tentu akan kuhalangi, tidak perduli siapa yang melakukannya terhadap, siapa pula diperbuatnya!” “Ha, ha, ha! Kau pintar bicara, anak muda! Hendak kulihat apakah kau benar-benar berani menghalangi perbuatanku menghukum anak murid sendiri!” Sambil berkata demikian, kembali tosu itu melangkah maju ke arah Tek Kun yang masih berlutut. Akan tetapi sekali menggerakkan tubuh, Siang Lan telah me lompat dan berdiri menghadang di depan pemuda itu sambil memegang pedangnya.

“Hwe-thian Mo-li, kau anak kecil benar-benar berani mati. Tahukah bahwa kau sedang berhadapan dengan ketua dari Kun-lun-pai? Gurumu sendiri belum tentu berani bersikap sekurang ajar ini.”

“Maaf, locianpwe, sudah kukatakan tadi bahwa aku tidak perduli siapa saja yang melakukan perbuatan sewenang- wenang, pasti kulawan. Dari kebutan lengan baju locianpwe tadi saja aku sudah tahu bahwa aku bukanlah tandingan, akan tetapi apa boleh buat, terpaksa kulawan juga.”

“Untuk melindungi Tek Kun, kau bersedia mengorbankan nyawamu?”

“Untuk membela kebenaran dan melindungi orang yang tertindas, aku bersedia menghadapi kematian, totiang!”

Tiba-tiba tosu itu tertawa bergelak dan suara ketawanya nyaring sekali sampai menggema di empat penjuru. “Tek Kun, kau untung sekali. Kau telah dicinta oleh seorang gadis yang benar-benar setia dan gagah perkasa!” Setelah berkata demikian, kakek itu mengebutkan lengan bajunya dan tahu- tahu tubuhnya telah lenyap dari situ.

Tek Kun bangun berdiri dan menjura kepada Siang Lan. “Nona, aku telah berhutang budi kepadamu.”

Merahlah wajah Siang Lan mendengar ini, apalagi karena ucapan kakek tadi masih mendengung di telinganya. “Siapa yang berhutang budi? Kau mempunyai sucouw yang amat kasar!” Berkerutlah dahi pemuda itu mendengar ucapan ini. “Hwe- thian Mo-li, kau pandai mencela orang. Tidak tahukah kau bahwa kau sendiri adalah seorang gadis yang amat kasar? Aku ingin bersahabat denganmu karena kau adalah seorang gadis gagah perkasa yang mempunyai pribadi tinggi dan menjunjung keadilan. Akan tetapi berkali-kali kau bersikap kasar kepadaku dan sekarang bahkan kau berani melawan sucouwku dan mengatakan dia seorang kasar!”

“Aku tidak butuh menjadi sahabatmu!” sahut Siang Lan dengan cemberut.

“Hm, sikapmu ini mengingatkan aku akan ucapan sucouw tadi!” Mendengar ini, Siang Lan memandang dengan mata bersinar marah akan tetapi ia tidak dapat membuka mulutnya, bahkan bibirnya bergemetar menahan gelora hatinya. Akhirnya ia membalikkan tubuh dan melompat pergi menuju ke kota raja.

Tek Kun berdiri termenung. Ia tertarik kepada gadis ini akan tetapi tidak dapat mencinta seorang gadis yang menurut pandangannya terlalu kasar dan galak itu. Namun diam-diam ia kagum sekali melihat keberanian Hwe-thian Mo-li. Betapa gagahnya gadis ini ketika tadi menentang sucouwnya. Dan ia kini maklum juga bahwa sucouwnya tadi hanya mempermainkannya saja. Maklum bahwa sucouwnya yang sakti itu telah tahu akan kedatangan Hwe-thian Mo-li dan hendak mencoba watak gadis itu.

Kemudian ia menghela napas dan menyesalkan nasibnya mengapa ia ditunangkan dengan seorang gadis penari. Ia telah mendengar akan hal ini dari seorang sahabatnya, dan ia sedang bingung memikirkannya. Telah berkali-kali ia membantah kehendak orang tuanya yang hendak menikahkannya. Akan tetapi, kali ini orang tuanya telah mengambil keputusan tanpa bertanya dulu kepadanya.

Bagaimana ia dapat membantah? Namun ia merasa penasaran sekali. Ia tidak suka menikah dengan seorang gadis yang lemah, seorang gadis penari. Ah, ia kecewa sekali. Kalau saja Hwe-thian Mo-li tidak seganas dan segalak itu. Dan gadis itu menyinta padanya! Dengan pikiran melamun, pemuda inipun lalu berlari cepat menuju ke kota raja

(Oo-dwkz-oO)

Lian Hong merasa tidak puas akan usaha kakeknya membantunya mencari keterangan tentang musuh-musuh ayahnya. Sebetulnya ia ingin sekali keluar dari gedung Ciok- taijin untuk mencari sendiri musuh-musuh besarnya itu, akan tetapi ia se lalu dicegah oleh ibunya dan ia merasa tidak tega kepada ibunya.

Pada hari itu, kakeknya datang ke kamarnya dengan wajah muram.

“Lian Hong, terus terang saja kubertahukan kepadamu bahwa para penyelidik kita telah mendapat tahu tentang Leng Kok Hosiang musuh besar ayahmu itu. Dia adalah hwes io yang dulu pernah datang melukai aku dan kemudian dikalahkan oleh suhumu.”

Berserilah wajah Lian Hong yang cantik mendengar keterangan ini. “Dimana dia, kong-kong ? Di mana si jahanam itu?”

Kakeknya menghela napas. “Lian Hong, ketahuilah bahwa bukan hanya engkau yang ingin melihat kepala gundul itu mampus. Aku sendiri pernah terkena pukulannya yang keji dan kalau tidak ada suhumu, tentu aku telah tewas pula. Akan tetapi, sekarang dia mempunyai kedudukan yang amat penting sehingga sukar bagi kita untuk melanjutkan usaha balas dendam ini. Dia berada di kota raja sini, nak.”

Lian Hong melompat dari kursinya. “Biar aku mencari dia, kong-kong !” Cepat-cepat gadis ini lalu bersiap, membelitkan pedangnya pada pinggang dan mengambil selendang merahnya. “Nanti dulu, Lian Hong. Selain hwes io itu amat berbahay dan berkepandaian tinggi, juga kau harus tahu bahwa dia sekarang merupakan orang yang amat penting dan kalau kita mengganggunya, kita dapat berurusan dengan kaisar.”

Nona itu menjadi bengong dan heran. “apa maksudmu, kong-kong?”

“Dia datang sebagai utusan pemberontak di selatan, dan dia membawa pesanan dari pimpinan pemberontak kepada kaisar. Dengan demikian, kedudukannya penting sekali dan tentu saja tak boleh diganggu.”

“Bagaimanapun juga, aku harus menyelidiki keadaannya kong-kong. Kalau perlu, akan kuserang dia di luar kota.”

“Baiklah, akan tetapi hati-hatilah jangan kau turun tangan di dalam kota. Akan celaka kita semua kalau hal ini terjadi.”

Mereka lalu berunding dan karena mereka mendengar bahwa hwesio itu bermalam di rumah Gan-siupi, seorang pembesar she Gan dan bahwa hwes io itu diterima sebagai seorang tamu agung, maka Lian Hong lalu berkemas untuk mengunjungi gedung Gan-siupi. Ia telah kenal baik dengan Gan-hujin (nyonya Gan) dan Gan Siocia (nona Gan), maka mudahlah baginya untuk mengunjungi gedung itu. Tak lama kemudian, Lian Hong telah naik kendaraan tertutup menuju ke rumah gedung Gan-siupi.

Ketika kendaraannya tiba di jalan yang ramai, ia mendengar pengendara yang duduk di depan berkata perlahan.

“Aduh, alangkah cantik dan gagahnya!”

Lian Hong menjadi tertarik hatinya dan dia lalu menyingkap kain sutera yang menutup kendaraan itu. Dan terkejutlah ia ketika melihat siapa orangnya yang dipuji oleh kusirnya tadi. Ternyata bahwa di pinggir jalan itu seorang nona yang cantik dan gagah sekali sedang berjalan dan memandang ke arah kereta. Nona itu adalah Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan.

Lian Hong hendak cepat-cepat menutupkan “muili” kereta itu, akan tetapi mata Siang Lan yang tajam telah melihatnya. Juga Hwe-thian Mo-li menjadi terkejut, akan tetapi berbareng nona ini merasa heran dan ragu-ragu. Tak salah lagi, nona di dalam kereta itu pasti Lian Hong, gadis penari yang mengaku menjadi puteri suhunya. Akan tetapi mengapa ia berpakaian demikian mewah dan naik sebuah kendaraan yang jelas adalah kendaraan seorang bangsawan agung? Aku harus mengetahui baik-baik apakah dia benar Lian Hong atau orang lain yang sama mukanya.

Dengan hati amat penasaran, Siang Lan lalu mengikuti kereta itu. Sementara itu, Lian Hong yang berada di dalam kereta juga mengintai dari cela-cela muili dan tersenyum gelilah dia ketika melihat betapa Siang Lan mengikuti keretanya.

Ia memuji ketajaman mata Hwe-thian Mo-li, akan tetapi ia tidak boleh mengetahui keadaan siapa dirinya sebetulnya. Kalau ia melompat keluar dari kereta dan menjumpai gadis gagah itu sebagaimana yang amat diinginkannya, tentu semua orang akan menjadi terheran-heran bagaimana cucu Ciok- taijin mempunyai sahabat seorang gadis kang-ouw.

Biarpun hatinya penasaran dan menurut pandangan matanya ia hampir merasa yakin bahwa gadis puteri bangsawan yang berada di dalam kereta itu adalah Ong Lian Hong puteri suhunya, namun jalan pikirannya tidak membetulkan dugaan ini. Bagaimana bisa jadi puteri suhunya menjadi seorang gadis bangsawan tinggi? Bukankah dulu Lian Hong hanya seorang gadis penari? Demikianlah, sambil mengikuti kereta itu, Siang Lan tiada hentinya berpikir.

Ketika kereta berhenti di depan gedung besar, puteri bangsawan itu turun dan para penjaga di depan gedung itu memberi hormat. Siang Lan merasa makin penasaran dan ia mengambil sebuah batu kerikil kecil sekali. Tanpa diketahui oleh siapapun juga, ia lalu menyambitkan batu kecil itu ke arah leher puteri bangsawan itu.

Ia melakukan percobaan ini karena kalau gadis itu bukan Lian Hong, tentu lehernya akan terkena sambitan ini dan menjerit kesakitan. Akan tetapi, dengan gerakan seperti kebetulan dan tanpa disengaja, gadis bangsawan itu miringkan kepalanya dan sambitan itu mengenai tempat kosong.

Siang Lan menjadi girang. Tentu gadis itu Lian Hong adanya. Akan tetapi melihat betapa Lian Hong sama sekali tidak memperdulikannya, ia masih penasaran dan segera menghampiri puteri itu sebelum masuk ke dalam gedung. Ia menjura kepada Lian Hong sambil mengerahkan tenaga pada kedua tangannya dan dengan jalan itu ia menyerang Lian Hong dengan angin pukulannya sambil berkata, “Siocia, maafkan kalau aku mengganggumu. Bukankah kita pernah bertemu dan berkenalan?”

Para penjaga tentu saja merasa terkejut sekali melihat cucu Ciok-taijin ditegur oleh seorang gadis gagah perkasa yang membawa pedang pada pinggangnya. Juga Lian Hong merasa bingung juga, maka cepat ia membalas pengormatan Siang Lan sambil mengerahkan tenaga menolak angin pukulan itu, lalu berkata,

“Mungkin kita hanya saling bertemu dalam a lam mimpi dan dalam keadaan lain. Tak mungkin kita telah berkenalan. Harap kau jangan menggangguku.” Setelah berkata demikian, ia lalu pergi masuk ke dalam gedung tanpa menoleh lagi kepada Siang Lan.

Hwe-thian Mo-li ketika merasa betapa gadis bangsawan itu dapat menolak pukulannya, makin merasa yakin bahwa gadis ini tentulah penari yang dulu berhasil membunuh Liok Kong, ia teringat betapa gadis itu tidak mau mengaku tentang keadaan dirinya dan seakan-akan merahasiakan, dan teringat pula akan suhunya yang juga merahasiakan keadaan keluarganya.

Teringat akan hal ini ia tidak mau mendesak dan segera pergi dari situ, melanjutkan penyelidikannya tentang musuh besarnya, yakni Leng Kok Hosiang. Sama sekali ia tidak pernah menduga bahwa hwes io itu berada di dalam gedung di mana ia melihat Lian Hong masuk.

Lian Hong disambut oleh para pelayan yang mengantarnya masuk ke dalam gedung. Di ruang tengah, gadis ini melihat Gan-siupi sedang bercakap-cakap dengan seorang hwesio dan berdebarlah hatinya ketika ia mengenal hwes io ini sebagai hwes io yang dulu pernah menyerang kong-kongnya, yakni Leng Kok Hosiang.

Ketika Gan-siupi melihat kedatangannya, pembesar itu lalu berdiri dan tersenyum kepadanya, sedangkan Lian Hong buru- buru memberi hormat. Sepasang mata Leng Kok Hosiang bercahaya ketika ia melihat gadis yang luar biasa cantiknya itu. Ia merasa seakan-akan melihat seorang bidadari turun dari kahyangan.

Ia sudah lupa lagi kepada Lian Hong karena dulu ketika ia menyerbu rumah Ciok-taijin, gadis ini masih belum sebesar sekarang. Betapapun juga, Leng Kok Hosiang masih mengenal kesopanan dan tidak mau bertanya sesuatu, hanya diam-diam ia menyimpan kecantikan wajah gadis itu di dalam hatinya yang busuk.

Sementara itu, sambil menahan gelora hatinya ketika melihat musuh besarnya ini, Lian Hong buru-buru masuk ke ruang belakang untuk menemui Gan-hujin dan Gan-Siocia. Gan-siocia yang sudah kenal baik dengan Lian Hong, lalu memeluknya dan membujuk-bujuknya untuk bermalam di situ.

Lian Hong pura-pura tidak mau, akan tetapi akhirnya ia menerima undangan ini dan seorang pelayan lalu disuruh pergi ke gedung Ciok-taijin untuk mengabarkan bahwa Ciok- siocia bermalam di gedung siupi. Memang untuk orang luar, Lian Hong selalu disebut Ciok-siocia (nona Ciok) karena kakeknya tidak mau ia menggunakan nama keturunan Ong.

Malam hari itu, ketika semua orang di dalam gedung Gan- siupi sudah tidur nyenyak, dua orang di dalam gedung itu masih belum tidur. Mereka ini adalah Lian Hong dan Leng Kok Hosiang.

Gadis ini sungguhpun sudah mendapat pesan kakeknya jangan turun tangan di dalam kota, namun melihat hwesio yang amat dibencinya itu, ia tidak dapat menahan sabarnya lagi. Ia mengganti pakaiannya yang mewah sebagai puteri bangsawan itu dengan pakaian yang ringkas, membawa kedua senjatanya yang tadinya disembunyikan dibalik pakaiannya, dan bersiap untuk menyelidiki keadaan musuh besarnya dan kalau ada kesempatan, turun tangan.

Adapun Leng Kok Hosiang, semenjak menyaksikan kecantikan wajah gadis bangsawan yang siang tadi memasuki gedung itu, hatinya selalu berdebar. Timbul nafsu jahatnya dan hwesio yang jahat dan cabul inipun mempunyai maksud untuk menyerbu ke dalam kamar gadis bangsawan itu dan mengganggunya. Memang Leng Kok Hosiang adalah seorang yang amat berani.

Menjelang tengah malam, ketika keadaan sudah sunyi betul, dua bayangan yang amat gesit gerakannya dengan hampir berbareng telah melompat ke atas genteng rumah gedung Gan-siupi. Kedua bayangan orang ini bertemu di bubungan rumah dan keduanya menjadi terkejut. Lebih-lebih Leng Kok Hosiang ketika melihat bahwa bayangan yang dapat bergerak dengan amat gesitnya itu bukan lain adalah gadis bangsawan yang tadinya hendak dijadikan korban. Ia hanya memandang dengan mata terbelalak kepada Lian Hong yang sudah mengeluarkan pedang dan selendang merahnya.

“Leng Kok Hosiang, jahanam gundul keparat. Sekaranglah saatnya kau harus melepaskan kepala gundulmu !” seru Lian Hong yang segera menyerang dengan pedangnya, menggunakan tipu gerakan Dewa Bumi Memetik Buah, menusukkan pedangnya ke arah kepala musuhnya.

Leng Kok Hosiang terkejut sekali melihat cara menyerang yang amat cepat dan lihai ini, maka iapun tidak berani main- main dan cepat mengelak sambil melangkah mundur.

“Nanti dulu, nona. Bukankah kau ini Ciok-siocia yang siang tadi datang di gedung ini? Mengapa tanpa sebab kau memusuhi aku? Apakah kesalahanku kepadamu?”

“Jahanam gundul, kau masih bertanya tentang dosamu? Ingatkah kau akan perbuatanmu yang pengecut dan curang terhadap Pat-jiu kiam-ong?”

Terkejut dan terheranlah hati hwes io ini mendengar disebutnya nama ini. “Apakah Pat-jiu kiam-ong juga mempunyai murid seorang gadis bangsawan?” tanyanya seperti kepada diri sendiri. Akan tetapi, Lian Hong tidak memberi kesempatan kepadanya untuk banyak berpikir. Gadis ini sudah maju lagi menyerang sambil membentak.

“Tak perlu kau tahu akan hal itu!” Lian Hong masih berlaku hati-hati dan tidak mau mengaku puteri Pat-jiu kiam-ong, bahkan kini ia menyerang dengan hebat, mempergunakan pedang dan selendangnya.

Leng Kok Hosiang menjadi marah sekali. Ia maklum bahwa gadis muda ini memiliki ilmu silat yang tak boleh dipandang ringan, apalagi setelah melihat gerakan selendang merah yang mengandung tenaga lweekang dan yang merupakan senjata penotok jalan darah yang cukup lihai. Lenyaplah niatnya untuk mengganggu gadis ini dan ia kini berniat hendak membunuh gadis yang berbahaya ini.

Baru menghadapi Hwe-thian Mo-li saja ia sudah merasa berat, apalagi kalau pihak anak murid Pat-jiu kiam-ong ditambah dengan gadis yang aneh ilmu silatnya ini. Leng Kok Hosiang lalu mencabut goloknya dan ia membalas menyerang dengan hebatnya. Goloknya berkelebat bagaikan seekor naga buas menyambar mangsanya. Serangan golok yang berbahaya ini masih ia seling dengan pukulan-pukulan Hek-coa-jiu yang dilakukan dengan tangan kirinya. Baiknya Lian Hong sudah maklum atas kelihaian ilmu pukulan yang pernah hampir merampas nyawa kakeknya ini, maka ia selalu berlaku hati-hati dan dapat mengelak dari pukulan lawan.

(Oo-dwkz-oO)