--> -->

Iblis dan Bidadari (Hwee Thian Mo Li) Jilid 5

Jilid 5

Bukan main hebatnya gerakan ini yang sekaligus dapat merobah kedudukan. Kalau tadi gadis pendekar itu terserang oleh kedua pedang lawan, kini sekali menangkis ia ma lah dapat melakukan dua serangan sekali gus. Kaki kirinya menyerang pergelangan tangan kanan lawan dan pedangnya menusuk dengan cepatnya ke arah tenggorokan Siong Tat.

Santung taihiap berseru kaget dan cepat ia miringkan kepalanya. Ia lebih mengutamakan penjagaan diri terhadap serangan pedang ke arah lehernya dari pada tendangan itu, maka tiada ampun lagi kaki kiri Siang Lan berhasil mendupak pergelangan tangan kanannya.

“Duk ..... traaanng ...!” pedangnya yang sebelah kanan terlepas dari pegangan dan ia merasa betapa lengan kanannya menjadi kejang. Siang Lan tidak mau berhenti sampai sekian saja dan menyusul dengan serangan maut yang disebut Giam- ong-toat-beng (Raja Maut Mengambil Nyawa), pedangnya menusuk ke arah ulu hati lawannya.

Siong Tat masih terhuyung mundur ketika lawannya melancarkan serangan hebat ini, akan tetapi jago Santung ini masih dapat melihat keadaannya yang amat berbahaya. Ia menggerakkan pedang kirinya menangkis dari kiri, disabetkan ke arah pedang lawan yang meluncur bagaikan anak panah ke arah dadanya itu. Sama sekali ia tidak mengira bahwa di dalam penyerangan ini, Siang Lan telah siap dengan tangan kirinya yang dikepal. Melihat betapa lawannya masih sempat menangkis, ia lalu membarengi dengan pukulan tangan kiri yang menuju ke arah leher lawan.

Berbareng terjadinya pertemuan pedang dengan pukulan yang mengenai leher itu. “Traang ....! Buk!” Leher Santung taihiap telah kena terpukul oleh tangan Siang Lan yang dilakukan dengan tenaga sepenuhnya.

“Mati aku ....!” Siong Tat menjerit ngeri dan tubuhnya terpental membentur meja rumah gadai yang menjadi roboh pula. Siang Lan melompat cepat dan sekali pedangnya berkelebat, kepala musuh besarnya telah terpisah dari tubuh.

Keadaan menjadi kalut, para kaki tangan hartawan itu berteriak-teriak sambil melarikan diri, bahkan para penonton juga merasa ngeri dan me larikan diri pula. Siang Lang yang telah berhasil membalas dendam, tidak lekas pergi dari situ.

Sebaliknya, ia lalu menggunakan pedangnya untuk membuka pintu, mengeluarkan barang-barang yang digadai di rumah itu dan melempar-lemparkan semua barang itu ke jalan raya. Kemudian ia lalu mengumpulkan semua uang perak di dalam rumah gadai, memasukkannya di dalam kantong besar dan sambil menggendong kantong besar penuh uang itu ia lalu menyerbu terus ke belakang.

Ternyata bahwa antara rumah gadai dan rumah gedung Siang-wangwe terdapat sebuah pintu tembusan, Siang Lan terus memasuki pintu ini dan menyerbu ke dalam gedung hartawan itu. Beberapa orang penjaga yang berani menghalanginya dirobohkannya dengan mudah, bahkan ia lalu menangkap seorang penjaga yang bergemetaran saking takutnya.

(Oo-dwkz-oO) 07 Penyesalan Jago Tua Kim-gan-liong Cin Lu Ek

“HAYO lekas antar aku ke tempat penahanan gadis Siauw Kim yang digadaikan!” bentak nona pendekar ini.

Penjaga itu dengan tubuh menggigil lalu mengantarnya ke dalam gedung, di mana terdapat banyak sekali permpuan- perempuan muda yang cantik-cantik. Memang, gedung ini merupakan semacam “Harem” (keputren atau tempat di mana selir-selir berkumpul) yang penuh dengan perempuan- perempuan cantik. Banyak di antara mereka ini yang dulunya juga menjadi “barang tanggungan” atau gadis-gadis yang digadaikan oleh orang tuanya yang miskin.

Siauw Kim masih merupakan barang tanggungan yang belum menjadi hak milik hartawan itu, maka ia masih dikurung di dalam sebuah kamar beserta tiga orang gadis lain. Ketika Siang Lan membuka kamar kurungan itu, ia mendapatkan empat orang gadis itu sedang menangis sedih.

“Yang mana di antara kamu yang bernama Siauw Kim?” tanya Siang Lan.

Seorang gadis yang manis dan agak kurus maju ke muka dan Siang Lan segera memegang lengannya. “Jangan takut adik yang baik, mari kuantar kau pulang! Semua orang yang berada di sini bukan atas kehendak sendiri, boleh pulang sekarang juga!”

Sambil berkata demikian, Siang Lan membagikan beberapa potong uang kepada mereka yang mau pulang dan mengantar mereka itu keluar dari gedung. Tak seorangpun penjaga berani menghalangi mereka ini. Tujuh orang permpuan muda ikut keluar untuk pulang ke rumah masing-masing.

Setelah berada di luar, Siang Lan berkata kepada orang- orang yang berdiri di pinggir jalan, “Yang merasa punya barang digadaikan di s ini, boleh ambil saja. Barang-barang itu sudah kukeluarkan di pinggir jalan!” Demi mendengar ucapan ini, orang-orang itu lalu menyerbu rumah gadai itu, yang jujur mengambil barang-barangnya sendiri, yang curang lalu mempergunakan kesempatan itu untuk mengambil barang apa saja yang berharga, tidak perduli barang-barang itu bukan miliknya.

Siang Lan lalu mengantarkan Siauw K im pulang. Kakek Lim Bun dan keluarganya menerima kedatangan Siauw Kim dengan tangis riuh dan penuh keharuan. Ketika mereka mengangkat muka, ternyata gadis itu telah pergi dari situ dan di dekat mereka terdapat setumpuk uang perak. Mereka hanya dapat berlutut ke arah pintu rumah dan mengucapkan terima kasih di dalam hati mereka.

Uang perak sekantong penuh yang diambilnya dari dalam rumah gadai itu oleh Siang Lan habis disebar-sebarkan di rumah-rumah kecil dalam kota Kang-leng. Malam harinya, ketika tikoan sedang tidur, bagaikan bayangan iblis, Siang Lan melayang turun dari genteng dan langsung memasuki kamar tikoan itu.

Tikoan ini lelah sekali karena siang hari tadi ia telah mengerahkan para penjaga kota untuk menangkap-nangkapi orang-orang yang mengambil barang-barang dari rumah gadai yang telah terbuka oleh Siang Lan dan kini di tempat tahanan penuh orang-orang yang sampai empat puluh orang lebih jumlahnya.

Ketika tikoan itu melihat bayangan berkelebat di dalam kamarnya, ia cepat bangun dan membuka kelambunya. Alangkah terkejutnya ketika ia melihat seorang gadis yang cantik jelita dan memegang pedang berkilau, telah berdiri di depan tempat tidurnya dengan mata tajam mengancam.

“Jangan berteriak kalau tidak ingin mampus!” kata Siang Lan. “Sungguhpun kau ini seorang pembesar yang sudah patut dipenggal lehernya! Kau tahu bahwa Siong Tat berlaku sewenang-wenang terhadap rakyat kecil. Dan apakah yang kau lakukan sebagai pembesar yang seharusnya melindungi rakyat? Kau bahkan bersekutu dengan jahanam Siong Tat, menerima uang sogokannya dan selalu membelanya dalam semua perkara. Sekarang kau berani lancang menangkapi orang-orang yang mengambil barang-barang mereka sendiri dari rumah gadai. Apakah kau ingin mati?”

Siang Lan menggerak-gerakkan pedangnya di depan muka pembesar itu sehingga pedangnya mengeluarkan cahaya berkilauan.

“Ti........dak.....lihiap...... ampunkan aku ........jangan kau bunuh ........aku akan melepaskan semua tawanan itu, sekarang juga!” kata pembesar itu yang sudah tak bersemangat lagi karena semangatnya telah berlari pergi meninggalkan tubuhnya saking takutnya.

“Seharusnya bangsat macam kau ini dibunuh!” seru Siang Lan lagi dan pedang ditangannya bergerak cepat ke arah kepala pembesar itu.

“Ayaa........mati aku.   !” teriak pembesar itu sambil meraba

kepalanya dan alangkah kagetnya ketika ia merasa betapa kepalanya telah licin karena rambutnya yang dikuncir telah lenyap.

“Dengar, anjing busuk!” kata Siang Lan gemas. “Besok kau harus lepaskan semua tawanan, lalu mengatur agar supaya semua barang di rumah gadai itu kembali kepada pemiliknya. Kemudian, orang-orang perempuan yang telah dipermainkan oleh Siong Tat, supaya dikembalikan ke tempat masing- masing dengan diberi uang dari rumah gedung jahanam she Siong itu. Kalau keluarganya tidak rela memberi uang kepada korban-korban itu, aku akan datang dan membasmi mereka.”

“Baik ........baik, lihiap     !”

Melihat sikap pembesar itu yang matanya masih bergerak liar, Siang Lan dapat menduga bahwa pembesar ini adalah seorang yang berhati curang dan juga cerdik, maka ia pikir ada baiknya untuk menakut-nakutinya. “Jangan kau kira aku hanya menggertak saja. Aku mengampunimu hanya agar kau dapat mengatur semua yang telah kupesankan itu dan untuk sementara ini aku menitipkan kepalamu kepada tubuhmu. Kalau kau tidak merobah watakmu, aku akan datang kembali dan menebus kepala yang kutitipkan. Untuk memberi tanda kepada kepala yang kutitipkan itu ” Secepat kilat pedangnya bergerak lagi ke

arah kepala tikoan itu.

“Aduh..... aduh ....mati aku .........!” Kali ini telinga kiri tikoan itulah yang lenyap dari kepalanya.”

“Nah, lain kali lehermu yang akan putus!” kata Siang Lan yang segera melompat melalui jendela dan lenyap dari situ.

Setelah me lakukan perbuatan yang menggemparkan dan yang membuat nama Hwe-thian Moli makin terkenal, gadis pendekat ini lalu mencari jejak musuh-musuh lainnya. Akhirnya ia mendengar tentang Toat-beng-sin-to Liok Kong, yang hendak mengadakan pesta perayaan ulang tahunnya di kota Kan-cou, maka cepat ia lalu menuju ke kota itu. Dan sebagaimana telah dituturkan di bagian depan ia telah “didahului” oleh Ong Lian Hong yang mengaku sebagai puteri suhunya.

Ia baru berhasil membalas dendam suhunya kepada Siong Tat, sedangkan Liang Hong telah berhasil menewaskan Yap Cin dan Liok Kong. Dengan demikian, apabila dapat dianggap mereka sedang berlumba, maka keadaan adalah dua satu untuk kemenangan Lian Hong.

Siang Lan menjadi penasaran sekali. Tidak, biarpun Lian Hong benar-benar puteri dari suhunya, ia harus dapat membalas dendam lebih dulu dan harus lebih banyak menewaskan musuh-musuh suhunya. Kini masih tinggal dua orang musuh, yakni Leng Kok Hosiang dan Kim-gan-liong Cin Lu Ek. Mencari Leng Kok Hosiang bukanlah merupakan hal yang mudah, oleh karena biarpun hwes io itu bertempat tinggal di Sin-tok-san, akan tetapi ia mendengar bahwa hwesio itu adalah seorang perantau yang tidak tentu tempat tinggalnya. Hanya beberapa bulan sekali saja hwes io itu kembali ke gunung Sin-tok-san, oleh karena itu, maka Hwe-thian Moli lalu berusaha mencari jejak Kim-gan-liong Cin Lu Ek Si Naga Bermata Emas.

Berita yang diperolehnya dari kalangan kang-ouw tentang Kim-gan-liong ini, sungguh membuat ia merasa heran dan ragu-ragu. Ia mendengar bahwa Kim-gan-liong Cin Lu Ek adalah seorang pendekar atau hiapkek yang gagah perkasa dan budiman, seorang yang mempunyai nama harum karena selalu bertindak sebagai seorang pendekar berbudi mulia. Kim- gan-liong seringkali menolong orang dan membasmi kejahatan.

Sungguh aneh, mengapa seorang yang memiliki nama besar ini dapat terlibat dalam pembunuhan secara curang dan pengecut terhadap suhunya? Betapapun baik nama Kim-gan- liong, akan tetapi Hwe-thian Moli tidak perduli. Kim-gan-liong adalah seorang di antara lima orang musuh besar suhunya, maka ia harus dicari dan dibinasakan.

Ketika ia t iba di propinsi Hopak, ia mendengar kabar bahwa pendekar tua Kim-gan-liong kini telah “cuci tangan” tidak mencampuri urusan dunia lagi. Pendekar tua ini kabarnya sekarang tinggal di kota Lun-cong sebelah selatan kota raja. Dengan hati girang Hwe-thian Moli lalu menyusul ke kota itu.

Ia menyewa sebuah kamar dalam hotel terbesar dan mudah saja baginya untuk mencari tempat tinggal pendekar tua itu. Akan tetapi kenyataan bahwa rumah yang dijadikan tempat tinggal Kim-gan-liong amat buruk dan kecil, membuatnya terheran-heran. Bukankah lima orang yang te lah membunuh suhunya itu mendapatkan harta pusaka yang membuat mereka menjadi kaya raya? Mengapa Kim-gan-liong Cin Lu Ek bertempat tinggal di rumah yang buruk ini?

Teringatlah ia akan kata-kata terakhir dari suhunya yang juga merasa heran mengapa Cin Lu Ek ikut dalam persekutuan jahat itu. “sepanjang pengetahuanku, Cin Lu Ek bukanlah seorang yang berwatak jahat,” demikian kata suhunya sebelum meninggal dunia.

Hwe-thian Moli menjadi ragu-ragu dan ia pikir untuk datang pada malam hari nanti, karena kalau ia turun tangan di waktu siang hari, hanya akan menimbulkan keributan saja. Maka pulanglah ia ke kamar di hotel yang disewanya dan ia beristirahat mengumpulkan tenaga untuk malam nanti.

Setelah senja terganti malam, Hwe-thian Moli bersiap mengenakan pakaian ringkas dan membawa pedangnya, lalu keluar dari hotel dan menuju ke rumah Cin Lu Ek yang berada di sebelah utara kota. Ketika ia sedang berjalan perlahan, tiba- tiba terdengar suara orang berseru, “Hwe-thian Moli !”

Siang Lan cepat mengangkat kepala memandang dan ternyata ia telah berhadapan dengan lima orang yang dikenalnya baik. Mereka ini bukan lain adalah Ngo-lian-hengte, kelima orang saudara she Kui yang menjadi ciangbun atau ketua dari Ngo-lian-kauw (Agama Lima Teratai). Teringatlah ia bahwa memang mereka ini tinggal di propinsi Hopak, di kota Po-teng.

“Ah kiranya ngo-ciangbun yang berada di sini!” kata gadis itu dengan suara dingin dan tidak mengacuhkan sama sekali.

“Bagus, Hwe-thian Moli, memang pertemuan inilah yang kami harapkan dan tunggu-tunggu. Bersiaplah kau membayar hutangmu kepada kami di rumah Liok Kong dulu itu!” kata Kui Sin saudara termuda dari Ngo-lian-hengte sambil mencabut pedangnya. Memang saudara termuda dari Ngo-lian-hengte ini memiliki watak yang paling keras, apalagi karena mengingat bahwa dulu ia pernah terluka oleh pedang Hwe-thian Moli ketika mereka mengeroyok dara ini di rumah Toat-beng sin-to Liok Kong.

“Jangan banyak lagak, kawan” Hwe-thian Moli mengejek tanpa mencabut pedangnya, “aku sedang menghadapi urusan penting dan tidak mempunyai waktu untuk melayani kalian bertempur!”

Memang Siang Lan tidak mempunyai nafsu untuk bertempur dengan mereka, karena selain hal ini memperlambat usahanya membalas dendam kepada Kim-gan- liong Cin Lu Ek, juga kalau sampai terjadi pertempuran di tempat itu, tentu terlihat oleh banyak orang. Hal ini kalau sampai terdengar oleh Kim-gan-liong akan memberi kesempatan kepada musuh besar itu untuk melarikan diri.

Mendengar ucapan gadis ini, Kui Sin tertawa bergelak dengan nada mengejek.

“Ha, ha, ha! Hwe-thian Moli menjadi penakut. Kau takut menghadapi Ngo-lian-hengte?”

“Tutup mulutmu!” Siang Lan membentak marah dan hampir saja ia mencabut pedangnya. “Hwe-thian Moli tidak tahu akan artinya takut. Apalagi terhadap seekor tikus kecil macam kau!”

“Ngo-te (adik kelima), sudahlah jangan memaksa!” kata Kui Jin saudara tertua, lalu ia berkata kepada Siang Lan dengan suara halus, “Hwe-thian Moli, sungguhpun di antara kita tidak terdapat permusuhan besar, namun ada sedikit penasaran dalam hati kami terhadapmu. Kau tentu maklum bahwa kami yang pernah kau lukai, takkan merasa puas sebelum mencoba kepandaianmu sekali lagi untuk menentukan mana yang lebih kuat. Oleh karena itu, karena sekarang kau tidak ada waktu, beranikah kau datang ke kuil yang terletak di luar kota ini di sebelah barat pada besok pagi-pagi? Kami akan menanti di sana!” Kui Jin yang cerdik sengaja menggunakan kata-kata “beranikah” yang bersifat menantang dan menghina, maka muka Hwe-thian Moli menjadi merah karena gemas!”

“Ngo-lian-hengte, jangan kau membuka mulut besar. Kalau aku tidak sedang menghadapi urusan penting, sekarang juga akan kuperlihatkan kepada kalian bahwa Hwe-thian Moli bukanlah orang yang boleh dibuat permainan oleh lima orang macam kalian. Baik, kalian tunggu saja sampai besok pagi- pagi di kuil sebelah barat kota ini. Aku pasti akan datang.”

Setelah berkata demikian, Hwe-thian Moli lalu melompat pergi meninggalkan mereka. Kui Sin yang merasa penasaran hendak mengayun tangannya menyambit dengan senjata rahasia piauw, akan tetapi Kui Jin memegang lengan adiknya dan berbisik. “Bodoh! Tidak tahukah kau bahwa ilmu kepandaiannya amat tinggi? Kita belum tentu akan dapat menang terhadap dia maka aku sengaja menantangnya besok pagi-pagi agar kita mendapat kesempatan mengundang supek turun tangan.”

Saudara-saudaranya menyatakan setuju dan menjadi girang. Akan tetapi tentu saja percakapan mereka ini tidak terdengar oleh Hwe-thian Moli yang sudah pergi jauh menuju ke rumah Kim-gan-liong Cin Lu Ek.

Dengan hati-hati sekali Siang Lan menghampiri rumah kecil terpencil itu. Ia melihat di dalam rumah masih terang dan bahkan ia mendengar suara orang bercakap-cakap. Hatinya tertarik mendengar suara yang nyaring sekali, maka dengan hati-hati ia lalu menghampiri jendela rumah itu. Karena ia mempergunakan kepandaian ginkangnya, maka langkah kakinya tidak mengeluarkan suara bagaikan langkah kaki seekor kucing. Jendela itu tertutup rapat maka ia hanya dapat mendengar suara dua orang laki-laki sedang bercakap-cakap yang membuat hatinya berdebar keras. “Susiok, benarkah berita yang kudengar tentang Pat-jiu kiam-ong itu?” suara yang nyaring itu terdengar lagi mendesak.

Terdengar suara elahan napas panjang tanda kekesalan hati yang diusul oleh jawaban suara yang dalam dan tenang akan tetapi mengandung nada sedih. “Memang benar, tak dapat kusangkal lagi. Aku memang terjerumus ke dalam komplotan jahat itu.”

“Memalukan sekali!” tiba-tiba suara yang nyaring itu berseru keras. “Memalukan sekali dan mencemarkan nama susiok yang besar, terutama mengotorkan nama perguruan kita!”

Kembali orang yang disebut susiok (paman guru) itu menghela napas menyatakan kekesalan hatinya, lalu suaranya terdengar menggetar penuh keharuan.

“Tek Kun, memang tuduhanmu ini benar. Kau sudah mewarisi kepandaian cabang persilatan kita dan telah memiliki kepandaian tinggi. Kalau kau hendak mewakili sucouw kita, cabutlah pedangmu dan tabaslah leherku. Aku menerima salah, sungguhpun kejahatan itu tidak kulakukan dengan sengaja. Mataku telah buta dapat dibujuk oleh Leng Kok Hosiang!”

Hening sejenak dan Siang Lan tidak ragu-ragu lagi bahwa orang yang disebut susiok itu tentulah Cin Lu Ek Si Naga Bermata Emas dan agaknya orang yang suaranya nyaring itu adalah murid keponakannya. Namun ia merasa agak tertarik mendengar percakapan ini dan ia tidak mau menerjang masuk, bahkan ingin sekali melihat wajah kedua orang yang bercakap-cakap itu.

Ia lalu mengumpulkan tenaganya dan bagaikan seekor burung gesitnya, ia menggunakan gerak lompat Burung Walet Menerjang Mega dan melompat ke atas genteng. Ia telah mengerahkan seluruh kepandaiannya dan ginkangnya untuk menjaga agar kedua kakinya tidak sampai mengeluarkan suara.

Akan tetapi, baru saja kakinya menginjak genteng, terkejutlah ia ketika mendengar suara yang nyaring tadi berkata,

“Susiok, di atas genteng ada orang!”

“Biarlah”, jawab suara yang tenang itu, “pintuku tidak terkunci, gentengku juga tipis mudah dibuka, sahabat yang berada di luar dengan mudah dapat masuk kalau mempunyai keperluan dengan aku.”

Karena orang di dalam rumah sudah mengetahui kedatangannya yang menandakan bahwa ilmu kepandaian orang yang bersuara nyaring itu cukup tinggi, Siang Lan lalu berseru keras,

“Kim-gan-liong, kalau kau benar gagah, keluarlah untuk membayar hutangnya kepada Pat-jiu kiam-ong! Aku, Hwe- thian Moli telah menanti di luar. Aku tidak sudi bertindak seperti maling memasuki rumah orang, baik melalui pintu maupun genteng tanpa diundang!” Setelah berkata demikian, Siang Lan lalu melompat turun lagi dan berdiri dengan gagahnya didepan pintu rumah itu.

Tak lama kemudian, pintu itu terbuka dari dalam dan keluarlah dua orang laki-laki. Yang berada di depan adalah seorang laki-laki yang tinggi kurus, berusia kurang lebih lima puluh tahun, berjenggot panjang dan berpakaian serba putih yang amat sederhana. Orang ini keadaannya biasa saja, hanya sepasang matanya yang benar-benar amat berpengaruh, mengeluarkan sinar yang berapi-api. Kalau dia diberi julukan naga Bermata Emas, memang tepatlah karena sepasang matanya memang luar biasa sekali.

Orang kedua adalah seorang pemuda yang secara aneh telah memaksa sepasang mata Siang Lan memandang, kemudian me lemparkan pandangannya dengan muka merasa jengah. Belum pernah selama hidupnya Siang Lan merasa tertarik untuk menatap wajah seorang pemuda dan belum pernah ada seorang pemuda yang dapat membuat hatinya berdebar lebih lebih cepat dari pada biasanya. Akan tetapi pemuda ini benar-benar membuatnya bingung dan untuk sesaat tak dapat berkata-kata.

Pemuda ini mengenakan pakaian seperti seorang pelajar, pakaiannya rapi sekali sungguhpun tidak mewah. Tubuhnya tegap dan dadanya bidang, menunjukkan bahwa tubuh itu mengandung tenaga yang kuat sekali. Kepalanya tertutup oleh kain kepala yang dililitkan sembarangan saja akan tetapi membuat wajahnya makin menarik. Sepasang alisnya hitam tebal dan berbentuk golok, sesuai benar dengan sepasang mata yang lebar dan berseri itu.

Hidungnya mancung dan lurus, cocok dengan bibirnya yang baik bentuknya dan membayangkan kekerasan dan kegagahan. Dagunya berlekuk sedikit pada tengahnya, membuat ia yang usianya paling banyak dua puluh dua tahun itu nampak lebih masak. Kulit mukanya putih bersih dengan pipi kemerahan karena sehatnya.

Pendeknya, jarang Siang Lan melihat seorang pemuda yang demikian tampan dan gagahnya. Berapapun sungguh-sungguh ia mencoba untuk menghindarkan pandangan matanya menuju kepada pemuda tampan itu, namun beberapa kali sinar matanya menyeleweng dan menatap wajah yang menembus ke ulu hatinya itu.

Karena kelambatannya membuka mulut, ia didahului oleh Cin Lu Ek yang mengangkat kedua lengan dan menegur.

“Nona, apakah nona yang memperkenalkan diri sebagai Hwe-thian Moli tadi?”

“Benar!” jawab Siang Lan dengan dingin dan singkat tanpa membalas penghormatan orang. “Kau kah yang bernama Cin Lu Ek dan yang secara pengecut membunuh suhu?” Kim-gan-liong Cin Lu Ek memandang tajam dan berkatalah dia dengan wajah duka. “Jadi kau adalah murid dari Pat-jiu kiam-ong? Setelah kau datang, bukankah maksudmu hendak membalas dendam atas kematian suhumu?”

Siang Lan mencabut pedangnya dan berkata keras, “Tentu saja! Anjing-anjing jahat Yap Cin, Siong Tat, dan Liok Kong telah mampus, tinggal kau dan Leng Kok Hosiang. Kalau kedatanganku bukan untuk membunuhmu dan membalas denda, apakah kau kira aku datang untuk beramah tamah dengan engkau?”

Akan tetapi aneh, tidak seperti musuh-musuhnya yang lain, Kim-gan-liong Cin Lu Ek ini tidak menjadi takut, juga tidak menjadi marah, bahkan tersenyum dengan tenang,

“Kau mau membalas dendam? Mau membunuhku? Nah, majulah dan lekas kau lakukan hal itu. Aku memang sudah bosan hidup!”

Untuk sejenak Siang Lan merasa ragu-ragu, Bagaimana ia dapat membunuh orang yang bersikap seperti itu? Orang yang tidak mau melawan sedikitpun juga? Akan tetapi, dia musuh besarnya. Dia seorang di antara lima orang yang telah membunuh suhunya secara curang dan pengecut. T idak lekas dibunuh, mau menanti, sampai kapan lagi?

“Kalau begitu, bersedialah untuk menyusul suhu dan membuat perhitungan di akhirat!” serunya dan dengan gerakan Kwan-im hoan-hwa (Dewi Kan-im Mencari Bunga) pedangnya menusuk ke arah dada kiri Cin Lu Ek. Orang tua itu memandang tanpa berkejap sambil tersenyum sedih.

“Traaang     !” Pedang Siang Lan terpental ke belakang dan

nona ini dengan terkejut melompat pula ke belakang lalu bersiap dengan pandang mata marah. Ternyata bahwa pedangnya telah ditangkis oleh pemuda itu yang kini sudah memegang sebatang pedang pula. “Kurang ajar!” seru Siang Lan dengan muka merah. “Siapakah kau? Apa maksudmu menghalangi seranganku?”

Pemuda itu hanya tersenyum saja dan Cin Lu Ek yang menjawab. “Hwe-thian Moli, dia ini adalah murid keponakanku yang bernama Sim Tek Kun.”

“Perduli apa aku akan namanya? Aku tak ingin mengetahui nama orang!” kata Siang Lan marah akan tetapi nama Sim Tek Kun ini tanpa disadarinya telah terukir di dalam lubuk hatinya. “Ku ulangi pertanyaanku tadi, mengapa kau menghalangi seranganku kepada musuh besar suhuku ini ?”

“Tidak baik bagi seorang gadis untuk berwatak seganas itu,” akhirnya pemuda itu menjawab dengan suara tenang dan senyumnya masih belum meninggalkan mulutnya. “Aku ingin mencegah kau tersesat dan membunuh orang yang tidak melawanmu.”

“Orang sombong! Lancang dan sombong! Apa perdulim u akan urusanku? Apa hubungannya dengan segala sepak terjangku dengan kau?” Ia melangkah maju lagi hendak menyerang Cin Lu Ek, akan tetapi kembali pemuda itu menghadang dengan pedang di tangan.

“Jangan, sayang seorang gadis gagah perkasa seperti kau sampai tersesat dan membunuh seorang tua yang tidak mau melawan.”

Siang Lan marah sekali dan hampir saja ia menyerang pemuda itu. Akan tetapi ia masih dapat menahan tangannya dan hanya sepasang matanya saja yang memandang marah seakan-akan hendak membakar pemuda itu.

“Eh, kau ini orang macam apakah? Mengapa kau mencampuri urusanku? Aku tersesat atau tidak, kau peduli apakah?” bentaknya. “Aku melakukan ini untuk membalas budi suhumu,” jawab Sim Tek Kun tenang dan jawaban ini membuat mata Siang Lan yang indah bening itu terbelalak.

“Apa maksudmu?”

“Susiokku telah berdosa terhadap suhumu dan perbuatan dosa hanya dapat ditebus dengan perbuatan baik. Aku mencegah kau sebagai murid suhumu berbuat sesat dan hal ini kulakukan untuk membalas budi suhumu yang telah tewas karena susiok dan kawan-kawannya. Inilah yang kumaksud dengan pembalasan budi suhumu.”

Bingunglah Siang Lan mendengar ucapan ini.

“Kalau aku terus menyerang dan membunuhnya?” tantangnya.

“Akan kuhalangi dengan pedangku!” jawab pemuda itu.

Siang Lan tersenyum menghina, “Hm, bagus sekali tipu busukmu yang berpura-pura membalas budi. Kalau seandainya kau terbunuh olehku, bukankah kau tidak berhasil membalas budi bahkan aku kau anggap makin tersesat.”

“Tidak!” jawab pemuda itu dengan sungguh-sungguh. ”Kalau aku mati olehmu, matiku adalah mati yang sudah sewajarnya, mati dalam pertempuran. Berbeda kalau kau membunuh susiok yang tidak mau melawan, itu adalah perbuatan yang yang amat rendah dan tidak selayaknya dilakukan oleh seorang gadis yang gagah perkasa.”

Siang Lan tertegun. Ia ingin marah, akan tetapi tidak dapat. Entah mengapa, sikap pemuda yang berani dan lancang ini amat menarik hatinya dan sama sekali tidak dapat menimbulkan kebenciannya, bahkan diam-diam ia merasa

heran mengapa ia dapat merasa kagum kepada pemuda ini.

“Jadi kau rela mati untuk membela paman gurumu? Kau hendak membela orang yang sudah berbuat curang dan pengecut?” bentaknya pula. Pemuda itu menggelengkan kepalanya dengan sedih. “Tidak, kalau yang datang bukan kau, aku tentu akan membela susiok dengan mati-matian. Akan tetapi, kalau seandainya susiok telah berdosa terhadap suhumu, aku melarang kau membunuh susiok yang tidak mau melawan hanya untuk mencegah kau berlaku sesat.”

Siang Lan menjadi serba salah. Haruskah ia mengalah dan mundur, tidak jadi membalas dendam hanya karena adanya pemuda kurang ajar ini? Tidak, tidak! Ia tidak harus bersikap selemah ini.

“Kalau begitu, biarlah aku bunuh kau lebih dulu!” katanya sambil menyerang dengan pedangnya.

“Kalau kau dapat,” pemuda itu membalas dengan suara mengejek lalu menangkis dengan pedangnya. Benturan kedua pedang ini membuat keduanya terpental mundur tiga tindak dan masing-masing merasa terkejut karena maklum bahwa kepandaian lawan tak boleh dibuat main-ma in.

Siang Lan menyerang lagi dan Tek Kun melayaninya dengan hebat sehingga mereka bertempur amat ramainya. Pedang mereka bergulung-gulung dengan cepat, mengeluarkan angin dan terdengar suara pedang bersuitan, kadang-kadang terdengar bunyi nyaring ketika pedang beradu, diikuti oleh bunga api yang berpijar menyilaukan mata.

Siang Lan diam-diam merasa kagum akan kehebatan ilmu pedang Kun-lun-pai yang dimainkan oleh pemuda ini. Ternyata bahwa ilmu pedang pemuda ini benar-benar lihai sekali. Sebaliknya, Tek Kun juga kaget karena tidak disangkanya bahwa Hwe-thian Moli benar-benar amat ganas dan sukar dilawan ilmu pedangnya.

Sementara itu, Kim-gan-liong Cin Lu Ek menjadi bingung sekali. Ia lalu melompat maju dan dengan nekat berdiri ditangah-tengah, di antara kedua orang itu sambil berkata, “Tahan! Berhentilah bertempur atau aku akan membiarkan tubuhku hancur oleh kedua pedangmu!”

Karena tidak ingin membunuh orang tua yang tidak mau melawan ini, kedua orang muda itu me lompat mundur. Sambil mengeluarkan dua titik air mata dari sepasang matanya, Cin Lu Ek lalu berkata kepada Siang Lan.

“Nona, aku mengundang kau untuk masuk ke rumahku dan dengarlah penuturanku. Boleh kau anggap ini sebagai pengakuan dosaku terhadap mendiang suhumu dan kalau kemudian kau masih berkukuh hendak membunuhku, baiklah, aku akan melawanmu dengan senjata.”

“Susiok!” bentak Tek Kun marah. “Apakah susiok masih ada muka untuk melawan murid dari Pat-jiu kiam-ong?”

“Biarlah, memang aku harus mati. Mengapa aku takut menambah sedikit dosa kalau aku tahu bahwa aku takkan dapat melawan nona yang lihai ini? Masuklah nona dan dengarlah ceritaku.”

Karena ingin sekali mendengar penuturan orang ini dan untuk memperlihatkan keberaniannya dihadapan pemuda ini, Siang Lan lalu menyarungkan pedangnya kembali dan berkata kepadanya. “Pertempuran boleh kita tunda dulu untuk mendengarkan penuturannya. Tiada salahnya nanti dilanjutkan lagi kalau kau masih berani!”

Ketiganya lalu masuk ke dalam rumah itu dn menduduki bangku-bangku yang tua dan sederhana sekali. Setelah mereka duduk, Kim-gan-liong Cin Lu Ek menghela napas berkali-kali, barulah ia menuturkan riwayatnya.

Tadinya Cin Lu Ek adalah seorang hartawan yang suka menolong orang. Tidak saja ia kaya raya, akan tetapi juga ia terkenal sebagai anak murid Kun-lun-pai yang berkepandaian tinggi. Akan tetapi hidupnya penuh derita, yakni derita batin. Dengan isterinya yang tercinta, ia tidak mempunyai seorang keturunanpun dan ketika terjangkit penyakit menular, isterinya diserang penyakit itu sehingga mendahuluinya pulang ke a lam baka.

Hal ini amat menyakitkan hati Cin Lu Ek sehingga hampir- hampir membuatnya gila. Ia tidak dapat merasakan kebahagiaan dalam kekayaannya, maka ia lalu mengambil keputusan yang membuat banyak orang merasa heran. Ia menjual semua rumah dan sawahnya, lalu membawa semua uangnya itu pergi merantau. Mungkin ada ribuan orang m iskin yang terancam bahaya kelaparan yang telah ditolongnya, diberi uang sehingga lambat laun uangnya habis sama sekali. Akan tetapi Si Naga Mata Emas ini tidak berhenti merantau dan mengulurkan tangan kepada rakyat jelata. Namanya menjadi terkenal di kalangan kang-ouw, akan tetapi sekarang ia telah jatuh miskin. Harta satu-satunya yang dimilikinya hanyalah sebatang pedang dan sepotong pakaian yang dipakainya.

Disamping kegagahan dan kedermawanannya, Cin Lu Ek mempunyai cacad, yakni watak yang tidak mau kalah dalam hal ilmu silat. Di mana saja ia mendengar ada seorang ahli silat, maka didatangilah orang itu dan diajaknya pibu (mengadu kepandaian) secara persahabatan.

Selama merantau bertahun-tahun lamanya, baru dua kali ia kena dikalahkan orang dalam pibu. Pertama kali oleh Ouwyang Sianjin dan kedua oleh Leng Kok Hosiang maka ia menjunjung tinggi kedua orang tua ini, terutama sekali Ouwyang Sianjin yang berkepandaian jauh lebih tinggi dari pada ilmu kepandaiannya sendiri.

Perantauannya yang membuatnya menjelajah di se luruh propinsi itu membuat ia terkenal sekali. Banyak orang kang- ouw yang telah dikenalnya, dan di antara mereka, ia telah mengikat tali persahabatan dengan Toat-beng Sin-to Liok Kong, Sin Wan Yap Cin, Santung taihiap Siong Tat dan yang lain-lain. Pada suatu hari ia bertemu dengan empat orang kang-ouw ini, yakni Liok Kong, Yap Cin, Siong Tat, dan dikepalai oleh Leng Kok Hosiang.

“Eh, eh, naga-naga turun dari gunung, keluar dari guanya, ada apakah yang terjadi dipermukaan bumi ini?” tanya Cin Lu Ek kepada mereka.

“Kebetulan sekali Kim-gan-liong berada disini!” Leng Kok Hosiang berseru. Hwesio ini pernah mengalahkan Kim-gan- liong dalam pibu, akan tetapi setelah bertempurhampir dua ratus jurus, maka ia merasa girang sekali karena tahu akan kelihaian Kim-gan-liong.

Sebagaimana pernah dituturkan di bagian depan, hwes io cabul yang berjuluk Jai-hwa-sian (Dewa Pemetik Bunga) ini pernah diberi hajaran keras oleh Pat-jiu kiam-ong Ong Han Cu. Setelah melatih diri, se lama lima tahun dipuncak Sin-tok- san dan melatih ilmu pukulan Coa-tok-jin yang lihai, ia turun gunung mencari Ong Han Cu, akan tetapi kembali ia mendapat kekecewaan karena ia telah dirobohkan oleh adik seperguruan Pat-jiu kiam-ong, yakni Ouwyang Sianjin.

Dengan hati mengandung penuh dendam hwes io ini lalu merantau dan mencari kawan-kawan untuk melakukan pembalasan. Kebetulan sekali ia bertemu dengan Yap Cin Si Lutung Sakti yang juga menaruh dendam sakit hati besar sekali terhadap Pat-jiu kiam-ong karena Ong Han Cu pernah merobohkannya.

Biarpun sudah mendapat kawan, namun Leng Kok Hosiang masih merasa jerih untuk mengganggu Ong Han Cu karena ia mendengar betapa pendekar ini telah menemukan ilmu pedang yang luar biasa. Ia mempunyai telinga yang amat tajam dan biarpun Ong Han Cu menyembunyikannya, namun hwes io itu mendengar bahwa pendekar itu selain ilmu pedang, juga telah menemukan harta pusaka yang besar jumlahnya di puncak bukit Liong-cu-san. Berita inilah yang membuat ia berhasil menarik Toat-beng Sin-to Liok Kong dan Santung-taihiap Siong Tat, karena kedua orang gagah ini walaupun tidak mempunyai permusuhan apa- apa terhadap Ong Han Cu, namun mereka tertarik oleh harta pusaka itu. Maka berangkatlah empat orang kang-ouw ini dengan maksud buruk terhadap Pat-jiu kiam-ong, menuju ke gunung Liong-cu-san untuk mencari Ong Han Cu.

Leng Kok Hosiang maklum bahwa Cin Lu Ek Si Naga Bermata Emas adalah seorang yang jujur dan tidak tertarik akan harta pusaka.

Ia telah mendengar pula betapa Kim-gan-liong yang tadinya adalah seorang hartawan, telah menghamburkan hartanya guna menolong orang sehingga kini menjadi m iskin, maka tentu saja pendekar ini takkan tertarik akan berita tentang harta pusaka itu. Maka ia lalu mempergunakan lain siasat.

“Kim-gan-liong,” katanya, “Aku dan kawan-kawan ini hendak mencari Pat-jiu kiam-ong di bukit Liong-cu san. Kuharap saja kau suka pergi bersama kami untuk menambah semangat.”

“Dengan maksud apakah cuwi sekalian hendak mencari Pat-jiu kiam-ong?” tanya Kim-gan-liong.

Hwesio itu tertawa. “Kau tentu sudah mendengar bahwa Pat-jiu kiam-ong adalah seorang yang usilan dan suka mencampuri urusan orang lain. Antara dia dan kami te lah ada sengketa yang harus diselesa ikan sekarang. Maka harap kau suka mengawani kami pergi mencarinya.”

Kim-gan-liong Cin Lu Ek mengerutkan alisnya. “Akan tetapi antara dia dan aku sama sekali tidak ada permusuhan sesuatu, bahkan bertemu mukapun belum. Untuk apa aku ikut pergi ke sana? Kalau cuwi hendak mencarinya dan membalas perhitungan lama, silakanlah, tapi jangan bawa-bawa aku yang tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan urusan ini!”

“Ha,ha,ha! Kim-gan-liong yang gagah perkasa agaknya takut kepada Pat-jiu kiam-ong dan baru mendengar namanya saja sudah menjadi gentar!” Yap Cin Si Lutung Sakti mengejek.

Memang kelemahan Kim-gan-liong terletak di dalam kesombongannya dan sifatnya yang tidak mau kalah. Mendengar ejekan ini, ia mencabut pedangnya dan berkata angkuh.

“Aku Kim-gan-liong tidak pernah takut kepada siapapun juga!” serunya dengan matanya yang tajam itu bersinar ganas. “Sudah lama aku mendengar nama Pat-jiu kiam-ong dan ingin sekali aku mengajaknya pibu. Akan tetapi, maksudku hanyalah menguji kepandaian belaka, tidak bermaksud mencelakakannya karena memang antara dia dan aku tidak ada permusuhan apa-apa. Siapa bilang aku takut kepadanya?”

Leng Kok Hosiang lalu me langkah maju dan menyabarkannya. “Sudahlah, antara kawan sendiri tak perlu ada pertikaian. Sabarlah, Kim-gan-liong taihiap, ketahuilah bahwa Sin-wan Yap enghiong hanya berkelakar. Siapa yang tidak mengetahui bahwa kau adalah seorang gagah? Kau tadi menyatakan ingin berpibu dengan Pat-jiu kiam-ong, mengapa tidak mempergunakan kesempatan baik ini? Marilah kau ikut dengan kami dan nanti sesampainya dihadapan Pat-jiu kiam- ong, kau boleh mengajak ia mengadu ilmu pedang. Bukankah ini baik sekali?”

(Oo-dwkz-oO)

08 Kun-lun Siauwhiap KARENA dibujuk-bujuk, akhirnya Kim-gan-liong Cin Lu Ek menurut juga dan pergilah mereka berlima mendaki bukit Liong-cu-san.

Kedatangan mereka disambut oleh Pat-jiu kiam-ong yang berada di bukit itu seorang diri, oleh karena muridnya, Nyo Siang Lan, baru turun gunung sebagaimana telah dituturkan di bagian depan. Melihat tokoh-tokoh kang-ouw yang datang, Ong Han Cu segera berdiri menyambut mereka sambil tersenyum.

“Ah, Ngo-wi (tuan berlima) enghiong jauh-jauh datang mengunjungi tempatku yang buruk, tidak tahu ada keperluan apakah?” tanyanya.

Leng Kok Hosiang memberi hormat dan sambil tertawa ia berkata. “Pat-jiu kiam-ong, kami telah mendengar nama besarmu dan mendengar pula bahwa kau telah menemukan semacam ilmu pedang yang hebat. Maka kami sengaja datang menghaturkan selamat!”

“Ilmu pedang manakah yang hebat!” Pat-jiu kiam-ong merendah. “Tidak lain hanya beberapa gerakan yang buruk.”

“Sesungguhnya kami datang sengaja hendak mengantar Kim-gan-liong Cin Lu Ek yang merasa amat tertarik oleh nama besarmu dan hendak minta sedikit pengajaran!” kata hwesio itu dan Kim-gan-liong merasa terheran sekali mendengar ucapan yang jauh berlainan dengan maksud kedatangan empat orang itu. Terpaksa ia maju dan memberi hormat kepada Hong Han Cu lalu berkata.

“Sesungguhnya, Pat-jiu kiam-ong, aku Cin Lu Ek yang bodoh amat tertarik dan ingin sekali memohon sedikit petunjuk dari kau yang gagah perkasa.”

Ong Han Cu tertawa dan menggelengkan kepalanya. “Tak kusangka bahwa Kim-gan-liong yang bernama besar masih suka main-main seperti anak kecil. Kalau kita berpibu dan ada yang kalah, apakah ruginya dan kalau menang, apakah untungnya?”

Memang Kim-gan-liong Cin Lu Ek mempunyai watak yang tidak mau kalah. Mendengar ucapan Pat-jiu kiam-ong, ia merasa diejek dan dianggap ringan, maka merahlah mukanya.

“Pat-jiu kiam-ong, mungkin karena kau telah berjuluk Raja Pedang, kau tidak perlu lagi dengan penambahan ilmu kepandaian. Akan tetapi aku sebagaimana orang-orang kang- ouw yang lain, aku hanya memiliki semacam kesenangan, yakni ilmu silat. Di mana saja aku berada, apabila aku mendapat kesempatan, aku ingin sekali menambah pengetahuanku tentang ilmu silat. Kini aku berhadapan dengan kau yang berjuluk Raja Pedang, tentu saja aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mempelajari beberapa gerakan.”

“Bagus, bagus!” seru Leng Kok Hosiang dengan girang dan ia lalu berkata kepada Toat-beng sin-to Liok Kong yang selalu membawa guci arak.

“Liok-enghiong, keluarkanlah guci arakmu! Marilah kita berjanji, siapa yang menang mendapat tiga cawan arak dan yang kalah menerima lima cawan sebagai hiburan! Kim-gan- liong terkenal sebagai jago pedang dari Kun-lun-pai sedangkan Pat-jiu kiam-ong baru saja mendapatkan ilmu pedang yang luar biasa. Sungguh pibu yang amat menarik dan akan membuka mata kita sekalian.”

Setelah berkata demikian, empat orang ini lalu duduk dan guci arakpun ditaruh di atas tanah. Terpaksa Pat-jiu kiam-ong lalu mencabut pedangnya karena Kim-gan-liong juga sudah berdiri dan siap dengan pedangnya pula. Jago dari gunung Liong-cu-san ini tentu saja bukan seorang bodoh dan ia dapat menduga bahwa kedatangan Leng Kok Hosiang dan kawan- kawannya ini tentu mengandung maksud tertentu. Ia maklum bahwa mereka tidak mengandung maksud baik dan mungkin sekali lima orang ini sengaja datang hendak mengeroyoknya. Akan tetapi ia t idak merasa gentar sama sekali.

“Kim-gan-liong, kau perlihatkanlah ilmu pedang Kun-lun-pai yang tersohor itu!” katanya sambil memasang kuda-kuda, menaruh kaki kiri ke depan, menekuk kaki kanan dan pedangnya ditempelkan ujungnya pada tanah, sedangkan tangan kirinya ditaruh di dada selaku pemberian hormat. Inilah yang disebut sikap Dewa Muda Menanti Titah.

“Pat-jiu kiam-ong, maafkan keburukan ilmu pedangku,” kata Kim-gan-liong yang segera menggerakkan pedangnya menyerang dengan gerak tipu Sian-jin-tit-louw (Dewa menunjukkan Jalan). Akan tetapi tanpa merobah kedudukan kakinya, dengan mudah Ong Han Cu mengangkat pedangnya menangkis.

Getaran pedangnya benar-benar membuat Cin Lu Ek terkejut sekali karena dari getaran pedang yang menangkis itu keluar tenaga yang membuat telapak tangannya yang memegang pedang menjadi kesemutan. Cepat ia menarik kembali pedangnya dan melanjutkan dengan serangan Pek-in- kian-jit (Menyapu Awan Melihat matahari). Pedangnya berkelebat cepat dan menyapu ke arah leher lawannya, sedangkan tangan kirinya di dorong ke depan menyerang dada dengan tenaga lweekang sepenuhnya.

Bahaya yang terdapat dalam serangan ini sesungguhnya terletak dalam pukulan tangan kiri itu dan jarang sekali Kim- gan-liong gagal apabila ia menyerang lawan dengan tipu ini. Ia maklum akan kelihaian Pat-jiu kiam-ong, maka dalam jurus kedua saja, ia telah mengeluarkan gerak tipu yang berbahaya ini.

Ong Han Cu tentu saja maklum akan bahaya serangan ini, maka tiba-tiba ia berseru keras dan kagetlah Kim-gan-liong karena tiba-tiba ia t idak melihat lagi bayangan lawannya. Tiba- tiba dari belakang ia mendengar angin menyambar dan cepat ia merendahkan diri sambil melangkah maju terus membalikkan tubuhnya.

Ternyata bahwa lawannya telah berada dibelakangnya, maka tahulah ia bahwa Pat-jiu kiam-ong dengan ginkangnya yang luar biasa telah melakukan lompatan luar biasa melalui atas kepalanya dan dengan cara demikian menghindar diri sekali gus dari pada serangannya. Akan tetapi ia merasa malu sekali karena ternyata setibanya dibelakangnya, raja pedang itu hanya mengebutkan ujung lengan baju kirinya untuk memberitahu bahwa ia berada dibelakangnya.

Saking malunya, Kim-gan-liong menjadi penasaran sekali dan sambil berseru keras ia lalu bersilat pedang. Ia mengerahkan seluruh ilmu pedangnya dari cabang Kun-lun-pai dan mengeluarkan tipu-tipu yang paling berbahaya dan sukar ditangkis.

Akan tetapi benar-benar Pat-jiu kiam-ong lihai sekali. Dengan tenang dan lambat ia menggerakkan pedangnya, namun pedang itu telah merupakan benteng baja yang membuat pedang di tangan Kim-gan-liong se lalu terpental kembali dengan telapak tangan merasa perih. Tiga puluh jurus lebih Kim-gan-liong mengeluarkan kepandaiannya namun sedikit juga ia tidak dapat mendesak lawannya. Jangankan mendesak, bahkan selama iru Pat-jiu kiam-ong tak pernah merobah kedudukan kakinya dan sambil berdiri biasa saja ia telah dapat menangkis semua serangan.

Tiba-tiba Pat-jiu kiam-ong berkata perlahan, “Kim-gan- liong, sekarang kau jagalah seranganku!”

Kim-gan-liong terkejut sekali dan buru-buru ia mainkan ilmu pedang Wanita Cantik Membuka Payung. Pedangnya diputar sedemikian rupa merupakan payung yang memayungi seluruh tubuhnya. Akan tetapi pandangan matanya segera menjadi kabur ketika pedang Pat-jiu kiam-ong berkelebatan bagaikan halilintar menyambar-nyambar. Silau matanya melihat cahaya pedang ini dan tanpa diketahui bagaimana caranya, tahu-tahu pedang ditangannya telah terlepas dari pegangan dan ketika ia membuka matanya, ternyata bahwa pedangnya itu telah berada di tangan kiri Pat- jiu kiam-ong. Raja pedang itu tersenyum ramah dan mengembalikan pedangnya sambil berkata.

“Ilmu pedangmu cukup lihai, Kim-gan-liong!”

Cin Lu Ek berdiri bengong dan setelah menerima pedangnya cepat ia maju memberi hormat sambil membongkokkan tubuhnya.

“Ah, luar biasa sekali   ! serunya. “Biar matipun aku Cin Lu

Ek tidak merasa penasaran setelah menyaksikan ilmu pedang dari K iam-Ong (Raja Pedang)!”

Melihat sikap Kim-gan-liong, senanglah hati Ong Han Cu karena ia dapat merasa betapa ucapan dan pandangan mata orang ini memang sejujurnya, tidak mengandung pujian yang menjilat.

Sementara itu, ketika kedua orang itu mengukur kepandaian, dengan perlahan Leng Kok Hosiang berbisik kepada tiga orang kawannya. “Aku sengaja mengadu mereka untuk melihat sampai di mana kepandaian Pat-jiu kiam-ong. Kalau kiranya tidak berapa tinggi dan kita sanggup menghadapinya, baik kita mengeroyoknya, akan tetapi kalau terlampau kuat, kita menggunakan jalan lain yang lebih halus.” Ia lalu menunjuk ke arah cawan-cawan arak di depannya.

Memang Leng Kok Hosiang, terkenal sebagai ahli racun yang lihai sekali. Bahkan ilmu pukulannya yang disebut Hek- coa-jiu (Tangan Ular Hitam) amat berbahay dan dapat mendatangkan kematian seperti tergigit ular beracun apabila mengenai lawannya.

Melihat kehebatan ilmu pedang Raja Pedang itu, tercenganglah Leng Kok Hosiang dan kawan-kawannya, dan dengan cekatan sekali tanpa diketahui oleh siapapun juga hwes io itu memasukkan jari tangannya ke dalam baju. Ketika dikeluarkannya, ternyata jari tangannya telah berlumur benda putih yang cepat dioles-oleskan ke dalam cawan tuan rumah. Kalau dilihat dem ikian saja, maka cawan itu tetap bersih tidak terlihat sesuatu, akan tetapi sebetulnya telah mengandung racun yang amat jahat.

“Bagus, bagus!” kata Leng Kok Hosiang sambil berdiri menghampiri kedua orang yang sudah selesai berpibu tadi. “Kepandaian ilmu pedang dari Pat-jiu kiam-ong benar-benar mengagumkan sekali. Terus terang saja, tadinya akupun ingin mencoba-coba, akan tetapi melihat ilm u pedang selihai itu, belum apa-apa aku sudah merasa leherku dingin dan lebih baik niatku itu kubatalkan sajaI’

Bagi Ong Han Cu, pujian ini berbeda jauh sekali dengan pujian yang keluar dari mulutnya Kim-gan-liong. Pujian hwesio inilah yang berbahaya dan perlu dijaga, karena dibelakangnya tersembunyi maksud-maksud tertentu dan jahat.

“Jiwi (tuan berdua) perlu diberi penghormatan dengan tiga cawan arak !” Ia lalu mempersilahkan keduanya duduk di dekat meja. “Marilah, silahkan minum arak untuk penghormatan. T idak setiap hari kita dapat berkumpul seperti ini dan minum arak bersama-sama!”

Ong Han Cu cukup waspada akan kecurangan dan kejahatan pendeta gundul yang terkenal sebagai penjahat pemetik bunga yang amat cabul. Itu, maka ketika melihat cawan kosong di depannya, ia lalu mengambil cawan itu dan melemparkannya ke atas sehingga cawan itu berjungkir balik beberapa kali di tengah udara lalu turun kembali diterima dengan tangan kanannya. Ia melakukan ini dengan senyum simpul sambil memandang kepada hwesio itu dengan tajam. Akan tetapi Leng Kok Hosiang hanya tertawa saja dan berkata kepada kawan-kawannya. “Lihatlah, demikian cara seorang kang-ouw yang kosen menjaga diri. Kalau di dalam cawan itu terdapat barang kotor, maka tentu barang kotor itu akan tertiup keluar oleh tenaga khikang yang dipergunakan untuk melontarkan cawan itu. Hebat, ... hebat?”

Ong Han Cu kagum juga akan kelihaian mata hwesio itu, maka ia hanya tersenyum dan berkata. “Kebiasaan orang kang-ouw harus berlaku hati-hati, biarpun menghadapi kawan- kawan sendiri. Tingginya gunung dapat didaki, dalamnya sungai dapat diselam i, akan tetapi siapa dapat meraba hati dan pikiran orang?”

“Betul, betul!” kata Hwesio itu sambil menuangkan arak ke dalam cawan kedua orang yang baru saja berpibu tadi. “Nah, marilah kalian m inum arak untuk penghormatan yang kami rasa di dalam hati kami terhadap ilmu pedang yang lihai itu!”

Sebelum minum, Ong Han Cu mempergunakan ketajaman hidungnya untuk mencium arak di guci, akan tetapi tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Karena ia melihat Kim-gan-liong minum araknya tanpa ragu-ragu lagi, iapun lalu m inum araknya sekali teguk.

Harus diketahui bahwa apabila racun yang dioleskan di dalam cawan oleh Leng Kok Hosiang tadi merupakan obat bubuk, tentu obat bubuk ini te lah terbang keluar karena ketika melontarkan cawan kosongnya ke udara tadi, Ong Han Cu telah menggunakan tenaga khikangnya.

Akan tetapi racun itu merupakan racun yang telah dicairkan dan ketika dioleskan ke cawan, tentu saja menjadi menempel dan tidak dapat terbang keluar. Pula, racun ini merupakan racun kembang putih yang tidak terasa apa-apa, akan tetapi khasiatnyapun tidak terlalu keras.

Kembali Leng Kok Hosiang menuangkan arak ke dalam cawan itu dan kini Liok Kong mengeluarkan cawan-cawan lain untuk ia sendiri dan kawan-kawannya. Berkali-kali mereka minum arak sampai arak diguci menjadi kering sama sekali.

“Pat-jiu kiam-ong,” kata Leng Kok Hosiang kemudian, “Kedatangan kami ini se lain mengantar Kim-gan-liong yang hendak menyaksikan kelihaian ilmu pedang, juga oleh karena kami tertarik oleh berita mengenai gua di gunungmu ini. Kami mendengar kabar bahwa di sini terpendam harta pusaka yang tak ternilai harganya. Maka pandanglah muka kami sebagai sahabat-sahabat di dunia kang-ouw dan biarkanlah kami mencari harta pusaka itu yang bagimu tidak ada gunanya lagi.”

Ucapan hwesio ini sebenarnya hanya pancingan belaka dan usahanya ternyata berhasil baik. Ong Han Cu terkejut dan memandang dengan tajam, “Dari siapakah kau mendengar tentang harta pusaka itu?” tanyanya.

“Ha, jadi benar-benar adalah harta pusaka itu? Bagus, kau harus memberi kesempatan kepada kami untuk mencarinya, Pat-jiu kiam-ong.”

“Tak perlu dicari!” jawab Pat-jiu kiam-ong yang entah mengapa tiba-tiba merasa agak pening. Ia menganggap bahwa hal ini tentu karena ia terlampau banyak minum arak. “Harta pusaka itu telah menjadi hak milikku!”

“Ah, ah, begitukah?” kata Leng Kok Hosiang dengan girang sekali. “Kalau begitu, janganlah berlaku kikir, sahabat. Berilah bagian kepada kami!”

Tiba-tiba Ong Han Cu bangun berdiri dengan marah. “Hm, untuk itukah kalian datang ? Sungguh tak tahu ma lu! Harta dunia saja yang kalian pikirkan dan karena harta dunia pula maka kalian menjadi jahat!”

(Oo-dwkz-oO)