-->

Dendam Membara Jilid 1

Jilid 1

Anak perempuan itu berusia kurang lebih enam tahun, lucu dan canlik sekali dengan baju merah berkembang, rambut panjang dikuncir dua, la berlari-lari mengejar kupu-kupu yang beterbangan di antara bunga-bunga yang sedang mekar semerbak mengharum di taman itu

Sampai basah leher dan mukanya oleh peluh, dan kedua pipinya menjadi segar kemerahan, namun tak pernah ia berhasil menangkap seekorpun kupu-kupu

Akhirnya ia berhenti mengejar, berdiri di bawah pohon jeruk memandangi buah-buah jeruk yang sudah tua menguning, la mencoba untuk menanjat ke atas melalui batang pohon, namun batang itu masih basah oleh air hujan semalam sehingga licin dan ia tidak berhasil

Diambilnya beberapa buah batu dan dilemparinya jeruk-jeruk itu, akan tetapi juga tidak pernah berhasil

Anak laki-laki berusia kurang lebih delapan tahun yang sejak tadi mengintai gerak gerik anak perempuan itu, memasuki taman

Anak ini cukup tampan dan sehat walaupun pakaiannya sederhana saja, bahkan sepatunya sudah agak lusuh

Tanpa berkata sesuatu dia menghampiri pohon jeruk dan dengan mudah dia memanjat ke atas dan memetik dua buah jeruk yang sudah masak, kemudian turun kembali dan menyerahkan buah-buah itu kepada si gadis kecil tanpa bicara

Anak perempuan itu menerima dua buah jeruk sambil tersenyum girang

Dikantunginya sebuah dan dikupasnya yang sebuah lagi

"Engkau putera bibi Bu itu, bukan ?" tanyanya sambil menatap wajah anak laki-laki yang berdiri di depannya

Anak laki-laki itu mengangguk tanpa mengeluarkan suara, kemudian dia membalikkan tubuhnya hendak pergi

"Nanti dulu !" Anak perempuan itu mencegah dan anak laki-laki itu menahan langkahnya, kembali menghadapinya

"Siapa namamu?" "Nama saya Bu Cin Han, nona

" "Sudah berbulan-bulan engkau berada di sini dengan ibumu, dan baru sekarang kita bercakap-cakap

Namaku Lui Kim Eng, sudah tahukah engkau?" Kembali Cin Han, anak itu, mengangguk

Tentu saja dia sudah tahu

Lui Kim Eng ini merupakan puteri dan anak tunggal dari majikan mereka, majikan ibunya dan mendiang ayahnya

Ayah anak ini, atau majikan mereka, Lui Tai-jin (Pembesar Lui) adalah seorang jaksa yang berkuasa dan berharta di kota Wan-sian di Propinsi Se-cuan

Mendiang ayahnya, sudah bertahun-tahun menjadi perajurit pengawal Lui Tai-jin, dan semenjak dia diangkat menjadi kepala pengawal beberapa bulan yang lalu, dia diharuskan tinggal di dalam perumahan di belakang gedung tempat tinggal Lui Tai-jin dan dia memboyong isterinya dan anak tunggalnya ke tempat kediaman baru itu

Akan tetapi, baru sebulan dia dan ibunya diboyong ke perumahan itu, pada suatu malam ayahnya meninggal dunia secara mendadak, oleh suatu penyakit berat yang membuat ayahnya muntah-muntah

Dan sejak ayahnya meninggal, dia dan ibunya tetap tinggal di situ karena ibunya juga bekerja di situ sebagai seorang pelayan

Pada pagi hari itu, dia meninggalkan ibunya yang sudah tiga hari jatuh sakit dan hanya rebah di dalam kamar mereka memasuki taman untuk sekedar menghibur hatinya yang berduka karena selama beberap hari ini kurang tidur menjaga ibunya yang sakit

Dan yang membuat dia bersedih adalah melihat ibunya yang sakit itu seringkali menangis

Karena ibunya tidak menceritakan sebab kesedihannya, dia menduga bahwa tentu ibunya teringat kepada ayahnya yang meninggal dunia

"Aih, kenapa engkau melamun saja? Cin Hin, dapatkah engkau menangkapkan seekor kupu-kupu untukku? Sejak tadi aku mengejar kupu-kupu yang bersayap biru itu tanpa hasil

Tangkapkan seekor untukku, Cin Han

" Cin Han memandang ke arah beberapa ekor kupu-kupu yang beterbangan di sekitar bunga-bunga dan memang terdapat beberapa ekor yang bersayap biru, indah sekali

"Sio-cia (nona), untuk apa kupu-kupu ditangkap?" "Untuk apa ? Tentu saja untuk main-main, akan kumasukkan dalam botol besar

" "Ah, kasihan, hal itu akan menyiksanya dan akhirnya ia akan mati

Tidak baik menyiksa binatang yang indah dan tidak berdosa itu, sio cia

" Sepasang mata yang jeli dan indah itu menatap wajah Cin Han penuh keheranan

"Akan tetapi ia hanya seekor kupu-kupu, seekor binatang!" "Apa bedanya dengan kita, sio-cia? Iapun dapat menderita, ketakutan dan mungkin ia dapat menangis tanpa terdengar oleh kita

Kita juga tidak akan mau kalau ditangkap raksasa lalu dimasukkan ke dalam botol untuk main-main, bukan?" Kini Eng mengangguk-angguk, agaknya ia dapat membayangkan betapa akan tersiksanya kalau ia sampai ditangkap dan dimasukkan dalam botol! Ia lalu mengeluarkan jeruk yang dimasukkan kantung tadi dan menyerahkannya kepada Cin Han

Akan tetapi sebelum Cin Han menerimanya, tiba tiba terdengar suara ribut-ribut

Keduanya menengok dan betapa terkejut hati Cin Han melihat ibunya menjerit-jerit ketika tangannya dipegang oleh tukang kebun dan ditariknya, diseretnya dengan kekerasan menuju kerumah kecil tukang kebun itu yang terletak di sudut belakang taman yang luas itu

"Lepaskan aku

ohh, lepaskan aku

" ibunya menangis dan menjerit-jerit

"Hayolah

tidak usah rewel lagi! Tai-jin sudah memberikan engkau padaku, engkau sudah sah menjadi milikku, menjadi isteriku

!" Tukang kebun itu berkata sambil menyeringai dan menyeret wanita itu

Tukang kebun itu bernama Phang Lok, seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih, tubuhnya tinggi besar, mukanya buruk bekas menderita cacar dan sikapnya kasar

"Ibuuuu

!" Cin Han melepaskan jeruk yang diterimanya dari Kim Eng tadi dan berlari menghampiri tukang kebun yang menyeret ibunya

Kim Eng sendiri terkejut dan ketakutan, lalu lari masuk ke dalam gedung

"Cin Han

!" Nyonya Bu juga berteriak melihat puteranya berlari menghampirinya

Ia seorang wanita berusia hampir tiga puluh tahun, berwajah mirip puteranya, cantik dan tubuhnya menarik

Karena ia meronta dan berusaha melepaskan diri, pakaiannya menjadi kusut, ikatan gelung rambutnya terlepas dan wajahnya pucat sekali

Namun, Phang Lok tidak memperdulikan semua itu, dengan mulut menyeringai dia menarik-narik terus

"Lepaskan ibuku! Lepaskan!" Cin Han kini menarik-narik lengan tukang kebun itu agar melepaskan ibunya

"Pergilah engkau!" bentak Phang Lok dan kakinya menendang

"Bukkkk !" Pinggul Cin Han tertendang keras sekali sampai tubuhnya terlempar dan dia terbanting keras, jatuh bergulingan

"Cin Han

!!" Ibunya berteriak, akan tetapi Phang lok yang sudah kehilangan kesabarannya, menyeretnya cepat memasuki gubuknya, rumah kecil di sudut kebun itu yang terbuat dari pada tembok bercat kuning

Wanita itu meronta dan menjerit, akan tetapi Phang Lok mengempitnya dan mendekap mulutnya sehingga jeritannya tertahan

Biarpun tubuhnya terata nyeri, terutama sekali bagian pinggul yang tertendang tadi, dan kepalanya terasa pening karena terbanting, Cin Han memaksa dirinya bangkit dan diapun lari mengejar ke dalam gubuk sambil berteriak memanggil ibunya

"Ibuuuu

!" Dia memasuki, rumah kecil itu, mendengar jeritan tertahan dari dalam satu-satunya kamar yang berada di situ

Daun pintu kamar itu tidak terkunci, dan Cin Han segera mendorongnya terbuka

Dengan mata terbelalak marah dia menyerbu ke dalam ketika melihat ibunya sedang bergumul dengan tukang kebun Phang Lok

Ibunya meronta-ronta dan menangis, berusaha menjerit namun mulutnya didekap dan pakaian ibunya sudah robek-robek

"Lepaskan ibuku, jahanam!"

Bentak Cih Han dan diapun menyerang Phang Lok dari belakang, memukul dan menjambak penuh kemarahan

Merasa terganggu kesenangannya, Phang Lok menjadi marah sekali

Dia melepaskan wanita itu, membalik dan menjambak rambut Cin Han

"Setan kecil, apakah engkau sudah bosan hidup?" bentaknya dan sekali kepalan kanannya menyambar, Cin Han merasa seperti disambar petir

Tubuhnya terjungkal dan matanya berkunang karena mukanya sudah terkena tonjokan tukang kebun itu, keras sekali! Phang Lok menyusulkan tendangan

"Desss!" Dada anak itu tertendang dan dia-pun terjengkang, tak mampu bergerak lagi

"Cin Han

!" Nyonya Bu menjerit dan menubruk puteranya, akan tetapi Phang Lok sudah menyambar lengannya dan menyeretnya kembali ke atas pembaringan

Kembali terjadi pergumulan, akan tetapi nyonya Bu sudah kehabisan tenaga dan ia cemas sekali melihat puteranya

Akhirnya ia hanya mampu menangis dan tidak mampu melawan atau mempertahankan kehormatannya lagi yang diperkosa secara buas oleh Phang Lok

Sementara itu, Cin Han dalam keadaan setengah pingsan melihat apa yang terjadi atas diri ibunya

Ibunya diperkosa orang, di depan matanya tanpa dia mampu bergerak untuk menolong ibunya! Hubungan kelamin antara pria dan wanita merupakan suatu peristiwa yang indah dan suci, kalau saja dilakukan dengan perasaan cinta kasih antara kedua pihak

Perbuatan antara sepasang manusia pria dan wanita ini, selain indah dan suci, juga teramat penting karena merupakan sarana utama perkembang-biakan manusia

Namun, apabila dilakukan tanpa cinta kasih kedua pihak dan hanya terdorong oleh nafsu berahi belaka, perbuatan itu menjadi teramat buruk

Kenikmatan dalam hubungan ini merupakan anugerah, seperti semua kenikmatan yang dapat dirasakan oleh panca indra kita, namun kalau kita melakukan pengejaran terhadap kenikmatan hubungan kelamin, maka terjadilah segala macam kemaksiatan seperti perkosaan dan pelacuran

Setelah nafsu kejalangannya tersalur, setelah sejemput kenikmatan diperoleh secara paksa, Phang Lok mengenakan lagi pakaiannya dan keluar dari dalam rumahnya

Seperti sudah lazim terjadi, semua perbuatan yang dilakukan atas dasar nafsu, selalu menimbulkan penyesalan dan rasa takut, dan Phang Lok ingin menyembunyikan perasaan ini dengan bekerja membersihkan taman seperti biasa

Nyonya Bu menangis dan setelah membereskan kembali pakaiannya, ia lalu turun dari pembaringan, menubruk Cin Han, merangkul puteranya sambil menangis tersedu-sedu

Cin Han diam saja

Rasa nyeri di kepala dan dadanya, tidaklah sehebat rasa pedih yang menusuk hatinya

Penglihatan tadi membuat dia nanar dan seperti kehilangan semangat

"Cin Han

!" ibu itu merintih dan merasa gelisah sekali, mengkhawatirkan keselamatan puteranya

"Ibu

" Anak itu berbisik dan ibunya mendekapnya, mencium mukanya dan membasahi muka anaknya itu dengan air matanya

"Cin Han, kau dengar baik-baik, anakku

Semua ini adalah akibat perbuatan Lui Tai-jin

Semenjak aku dan engkau diboyong ke sini oleh mendiang ayahmu, Lui Taijin selalu hendak menggodaku, akan tetapi aku menolak

Kemudian, tiba-tiba ayahmu meninggal karena penyakit aneh

Dia muntah-muntah dan meninggal dunia

Aku kini yakin bahwa tentu ayahmu diracun oleh Lui Tai-jin, hanya karena dia ingin mendapatkan diriku

Aku

aku diperkosanya dan sejak ayahmu meninggal dunia, aku dipaksa menjadi kekasihnya

" Cin Han membelalakkan matanya

Selama ini dia menganggap majikan mereka sebagai orang yang amat baik, yang telah melepas budi kebaikan kepada ayah dan ibunya

Kiranya orang yang dianggapnya mulia itu telah membunuh ayahnya dan mencemar-kan ibunya! "Perbuatannya itu membuat aku mengandung, anakku

Akan tetapi dia Lui Tai-jin, memaksaku minum obat untuk menggugurkan kandunganku

Kandungan itu gugur dan aku rebah sakit

Akan tetapi hari ini

tahu-tahu dia menyerahkan aku kepada Phang Lok, untuk menjadi isterinya secara paksa

" Wanita itu menangis lagi sesenggukan

"Ibu

jahanam yang jahat sekali Lui Tai-jin itu

!" Karena marahnya mendengar keterangan ibunya, bangkit semangat Cin Han dan lenyaplah segala perasaan nyeri di tubuhnya

"Sssttt

jangan katakan itu

simpan saja dalam hatimu, anakku dan kelak

kalau engkau sudah dewasa, engkau ingatlah semua peristiwa ini

Sekarang, keluarlah dari sini, Cin Han, aku

aku ingin tidur

aku sakit dan lelah sekali

"

Wanita itu merangkul dan menciumi kembali muka anaknya, lalu melepaskan rangkulannya, mengajak Cin Han bangkit berdiri dan mendorong pundak anaknya untuk keluar dari dalam kamar itu

Cin Han melangkah keluar dan daun pintu kamar ditutup dari dalam oleh ibunya

Dia lalu keluar dari dalam rumah, duduk termenung di atas bangku yang berada di luar rumah

Rasa nyeri-nyeri di tubuhnya terasa lagi, berdenyut-denyut, dan kedua telinganya mengiang-ngiang

Namun dia tidak memperdulikan ini semua karena kenangannya penuh dengan cerita ibunya tadi

Yakinlah hatinya akan kebenaran semua cerita ibunya

Ayahnya diracun sampai mati oleh Lui Tai-jin, kemudian ibunya diperkosa sampai hamil dan kandungan itu digugurkan, Kemudian lagi, keparat itu memaksa ibunya menjadi isteri Phang Lok, tukang kebun yang buruk rupa dan buruk tingkah itu sehingga ibunya diperkosanya, di depan matanya! Dia mengepal tinju

Tak mungkin dia membiarkan saja mereka melakukan semua kejahatan itu terhadap keluarganya

Ayah dibunuh, ibunya diperkosa, dan dia sendiri dipukuli! Dia harus membalas semua itu

Akan tetapi, dia harus menjadi seorang yang kuat untuk mampu melakukan pembalasan

Tiba-tiba dia mendengar suara keras dari dalam rumah

Dia terkejut, meloncat dan lari memasuki rumah, mendorong daun pintu kamar

Begitu dia masuk, dia berdiri seperti terpukau, wajahnya pucat, matanya terbelalak, kedua kakinya menggigil

"Ibuuuuuu

!" Dia menjerit sekuat tenaga dan terguling menubruk tubuh ibunya dalam keadaan pingsan

Darah bercampur otak yang keluar dari kepala wanita itu membasahi dada Cin Han yang pingsan

Teriakan melengking dari Cin Han tadi menarik datangnya orang-orang dari dalam gedung, terutama sekali para pelayan, juga Phang Lok

Mereka semua terkejut

Nyonya Bu menggeletak dengan kepala pecah, agaknya telah membenturkan kepala pada dinding, membunuh diri! Puteranya pingsan di sebelahnya! Ketika Cin Han siuman dari pingsannya, dia melihat kamar itu telah penuh orang, di antara-nya dia melihat tukang kebun Phang Lok, juga Lui Tai-jin

Seketika bangkitlah kemarahannya dan diapun bangkit berdiri

Baju di dadanya penuh darah dan mukanya pucat sekali, matanya melotot ketika dia memandang kepada Phang Lok dan Lui Tai-jin

Tiba-tiba dia lari menghampiri Lui Tai-jin, memukul-mukul sambit berteriak-teriak

"Engkau membunuh ibuku

! Engkau membunuh ibuku

!" Tentu saja beberapa orang pelayan segera menghadangnya dan mereka melindungi Lui Tai-jin, bahkan seorang di antsra mereka mendorong anak itu sehingga terhuyung

Kini Cin Han membalik dan menyerang Phang Lok

"Engkau membunuh ibuku

!" Phang Lok menyambutnya dengan tamparan yang membuat Cin Han terpelanting roboh di dekat mayat ibunya yang menjadi tontonan

Melihat ini, hati Lui Tai-jin merasa tidak enak

"Cin Han, ibumu membunuh diri karena berduka ditinggal mati ayahmu," katanya dan diapun memerintahkan pengawal untuk menyeret keluar Cin Han yang masih hendak mengamuk itu

Melihat betapa anak itu meronta-ronta dan masih berteriak-teriak, Lui Tai jin menjadi marah

"Lui Tai-jin dan Phang Lok yang membunuh ibuku!" demikian anak itu berutang kali memaki

"Seret dia keluar dan dia tidak boleh masuk lagi ke sini!" bentak Lui Tai-jin

Cin Han dipegang dan diseret oleh dua orang pengawal, dibawa keluar

Akan tetapi di serambi depan, mereka dipanggil oleh Lui Toa-nio (Nyonya Lui) yaitu isteri pertama dari Lui Tai-jin

Mendengar panggilan nyonya majikan ini, dua orang pengawal lain membawa Cin Han menghadap

Nyonya Lui yang usianya sudah hampir lima puluh tahun itu memiliki watak yang ramah dan budi pekerti yang halus

Banyak sudah ia makan hati melihat watak suaminya yang berlaku sewenang-wenang mengandalkan kedudukannya dan suka mempermainkan wanita

Ia merasa kasihan sekali kepada Cin Han ketika mendengar betapa ibu anak itu membunuh diri

Ia tahu bahwa ibu anak itu mengandung oleh suaminya, kemudian kandungan digugurkan dengan paksa dan wanita itu diserahkan kepada tukang kebun untuk dipaksa menjadi isterinya

Tanpa banyak cakap lagi, ia menyerahkan sebuah kantung kain terisi sepuluh tail perak kepada Cin Han

Cin Han meninggalkan rumah keluarga Jaksa Lui, akan tetapi dia tidak pergi jauh

Dia bersembunyi tidak jauh dari situ dan ketika ada orang mengusung jenazah ibunya ke tanah kuburan, diapun mengikutinya dari jauh

Setelah jenazah dalam peti sederhana itu, dikubur, disamping makam ayahnya dan para petugas penguburan meninggalkan tempat itu, barulah Cin Han datang berlutut ke depan makam ibunya dan menangis sepuasnya

Malam itu dia tidak meninggalkan makam ibunya dan dengan tubuh masih terasa nyeri semua dan perasaan yang lebih pedih lagi, diapun tertidur di depan makam ayah ibunya

Baru pada keesokan harinya, pagi-pagi dia meninggalkan tanah kuburan, keluar dari kota Wan-sian

Dia sendiri tidak tahu ke mana dia akan pergi

Yang jelas, dia harus meninggalkan kota itu, pergi ke mana saja membawa bekal uang sepuluh tail pemberian Nyonya Lui

Sang Waktu memiliki kekuasaan yang amat mutlak

Segala sesuatu yang ada di dunia ini, akhirnya akan ditelan Sang Waktu dan akan lenyap

Lambat namun pasti Sang Waktu akan menjadi pemenang terakhir, membasmi segalanya

Kalau tidak diperhatikan, Sang Waktu melesat secepat kilat, melebihi kecepatan anak panah yang terlepas dari busurnya, sehingga orang tua kalau mengenang masa kanak-kanaknya yang telah lewat puluhan tahun lamanya, seolah-olah masa itu baru terjadi beberapa hari yang lalu saja

Sebaliknya, kalau diperhatikan, seperti orang menantikan sesuatu

Sang Waktu merayap demikian perlahan, lebih lambat dari pada jalannya seekor siput

Dua tahun telah lewat sejak Cin Han meninggalkan kota Wan-sian

Uang bekal sepuluh tail pemberian Nyonya Lui sudah lama habis untuk-makan setiap hari

Dia sudah berusaha mencari pekerjaan, namun tak seorangpun membutuhkan tenaga seorang anak berusia sepuluh tahun

Karena terpaksa, Cin Han berkeliaran dari kota ke kota sambil mengemis

Dia terpaksa minta-minta untuk dapat mempertahankan hidupnya

Waktu yang dua tahun lamanya itu telah menghapus kesedihannya

Pada hari-hari pertama dia meninggalkan Wan-sian, hampir setiap malam dia menangis dan teringat kepada ibunya

Kalau dia membayangkan semua peristiwa yang terjadi, betapa ibunya diperkosa orang di depan matanya dan dia sendiri dihajar oleh tukang kebun Phang Lok, hatinya terasa sakit sekali

Namun, lambat laun kesedihannya menipis dan yang tinggal hanyalah dendam! Dendam kepada Lui Tai-jin, dendam kepada Phang Lok

Perasaan dendim ini yang mengusir keputus-asaan yang kadang-kadang mengganggu hatinya!

Perasaan ini mendorongnya untuk hidup dan untuk memperkuat dirinya untuk kelak membalas dendam

Dia harus belajar ilmu silat, harus menjadi orang yang cukup kuat

Akan tetapi dia tidak tahu kepada siapa dia harus mempelajari ilmu silat

Dari perantauannya dia mendengar bahwa orang belajar ilmu silat haruslah membayar mahal kepada seorang guru silat di rumah perguruan silat

Hanya anak-anak dari keluarga mampu saja yang akan dapat belajar ilmu silat di perguruan silat dengan membayar mahal

Bagi dia tidak mungkin

Untuk makan saja dia harus minta-minta

Mana ada uang untuk membiayai pelajaran silat? Pada suatu hari, perantauannya tanpa tujuan tertentu itu, membawanya naik ke lereng sebuah bukit di Pegunungan Heng tuan

Seorang anak laki-laki yang berusia sepuluh tahun, bertubuh kurus tak terawat, pakaiannya, kotor compang camping, namun sinar matanya penuh semangat

Cin Han memang tak pernah kehilangan semangatnya, karena dibakar dendam

Dendam selalu membara di hatinya, di benaknya dan ini memberinya semangat untuk hidup, betapapun sulitnya kehidupan itu dirasakannya

Hari telah menjelang senja

Matahari sudah condong ke barat dan panas tidak begitu menyengat lagi

Hawa pegunungan mulai terasa sejuk dengan angin semilir nyaman, pemandanganpun mulai nampak indah dari ketinggian lereng bukit itu

Akan tetapi Cin Han tidak melihat semua keindahan itu, tidak merasakan kenyamanan udara itu, karena perutnya lapar! Juga tubuhnya lelah sekali

Kelelahan membuat perut lapar semakin terasa menggigit-gigit di dalam perut

Sumber seeala keindahan memang bukan terletak di luar diri, melainkan di dalam diri kita

Kalau kita sehat lahir batin, maka segalapun akan nampak indah

Akan tetapi kalau ada sesuatu yang mengganggu diri kita, baik gangguan lahir dan terutama sekali gangguan batin, maka segala keindahan takkan nampak

Seekor kelinci putih menyelinap di antara semak-semak belukar

Cin Han melihat ini dan diapun cepat meloncat untuk mengejar dan menangkap kelinci itu

Seekor kelinci putih yang gemuk

Alangkah akan lezatnya kalau dia dapat memanggang daging kelinci itu

Lezat dan mengenyangkan

Cin Han mengambil sebatang ranting pohon kering dan menggunakan batu-batu untuk menyambit semak-semak ke mana kelinci tadi menyusup masuk

Kelinci yang ketakutan itu meloncat keluar dari semak semak dan berlari, dikejar Cin Han dengan kayu ranting diangkat tinggi, siap untuk memukul

Namun kelinci itu terlampau cepat bagi Cin Han, sudah menyelinap dan menyusup lagi ke dalam semak-semak yang lain

Cin Han tidak patah semangat, terus dikejarnya kelinci itu, kalau berada dalam semak-semak dia sambiti dengan batu, kalau sudah berlari keluar dikejarnya lapi

Akhirnya, kelinci itu lenyap dan Cin Han berdiri terengah-engah, mandi peluh dan merasa kecewa sekali

Perutnya menjadi semakin lapar karena tubuhnya semakin lelah oleh pengejaran tadi

Dengan penyesalan terhadap ketidakmampuannya sendiri, diapun menjatuhkan diri di atas rumput tebal, di bawah pohon, untuk beristirahat

Akan tetapi, suara ribut-ribut itu membuat dia terlonjak kaget dan bangkit berdiri menuju ke arah suara orang berteriak-teriak itu

Ketika tiba di tempat itu, di tepi sebuah hutan di bawah puncak, dia tertegun

Yang berteriak-teriak itu adalah lima orang laki-laki yang berusia antara tiga puluh sampai empat-puluh tahun, bersikap kasar dan sambil berteriak-teriak, mereka memukuli seorang hwesio (pendeta Buddha) yang duduk bersila di bawah pohon besar

Lima orang itu memaki-maki dan memukuli, menendangi tubuh hwesio itu

"Hwesio keparat!! Engkau menggagalkan usaha kami!" "Buruan kami lolos karena ulahmu!" "Apakah engkau sengaja hendak menantang kami?" Dari bentakan mereka, juga melihat pakaian mereka, Cin Han dapat menduga bahwa mereka adalah para pemburu binatang hutan

Akan tetapi yang menarik perhatiannya adalah hwesio itu

Seorang kakek yang usianya tentu ada enam puluh tahun, bertubuh tinggi kurus dan mukanya hitam, kepalanya gundul, pakaiannya hanya jubah pendeta berwarna kuning yang agak kumal dan kusut

Hwesio itu menerima makian, pukulan dan tendangan tanpa mengelak, menangkis apa lagi membalas, hanya tetap duduk bersila merangkapkan kedua tangan di depan dada seperti orang berdoa

Pukulan dan tendangan yang mengenai tubuhnya mengeluarkan suara bak-buk bak-buk seperti memukuli kasur

Melihat tingkah laku lima orang itu, yang memukuli dan menendangi seorang hwesio yang sama sekali tidak melawan, timbul perasaan iba di hati Cin Han

Selama ini dia menganggap hwesio sebagai rekannya, karena para hwesio yang dijumpainya dalam perantauannya juga suka minta-minta seperti yang dilakukannya

Biaranya, hwesio-hwesio itu mudah menerima dana dari orang-orang, karena mereka itu mengharapkan berkah dan doa dari si hwesio, sedangkan tiada sedikitpun imbalan dapat diharapkan dari pengemis lain, apa lagi pengemis kecil macam dia

Akan tetapi, kerap kali Cin Han menerima makanan dari para hwesio yang selalu rela membagi hasil mereka kepada para pengemis lain

Oleh karena itu, melihat seorang hwesio tua dipukuli oleh lima orang itu, hatinya menjadi marah sekali

"Jangan pukuli dia !" teriaknya sambil lari menghampiri hwesio itu dan menghadang di depan hwesio dengan mata terbelalak marah

"Jangan kalian memukuli dia!!" Bagaikan seekor anak harimau dia menghadapi lima orang pemburu itu, sedikitpun tidak merasa takut

Lima orang pemburu itu saling pandang, merasa heran melihat munculnya seorang anak laki-laki mencegah mereka menghajar hwesio itu

"Siapa engkau ? Apamukah hwesio keparat ini?" tanya seorang di antara mereka

"Bukan apa-apaku, akan tetapi kalian tidak boleh memukuli dia yang tidak bersalah!" Cin Han menjawab

"Tidak bersalah ? Engkau anak kecil tahu apa ? Hayo pergi !" bentak seorang di antara mereka

Melihat betapa lima orang itu sudah mendekat dengan sikap mengancam, Cin Han merangkul hwesio itu dengan sikap melindu--ngi

"Tidak, kalian tidak boleh memukuli dia lagi!" Kemarahan lima orang itu kini ditumpahkan kepada Cin Han

Mereka menampar dan menendang sehingga tubuh Cin Han jatuh bangun, dijadikan bola oleh mereka

"Omitohud

kalian sungguh kejam!!" Hwesio yang tadi hanya duduk bersila dan sama sekali tidak melawan ketika dimaki, dipukuli dan ditendangi, kini melihat Cin Han dipukuli mereka, lalu bangkit berdiri

Dengan langkah lebar dia menghampiri

Ketika lima orang itu menyambutnya dengan serangan, dia hanya menggerakkan tangan kirinya yang hampir tertutup lengan baju yang lebar dan panjang

Beberapa kali dia menggerakkan tangan kirinya itu dan lima orang itupun terjungkal seperti tertiup angin keras

Hwesio itu lalu membangunkan Cin Han yang babak belur dan benjol-benjol

"Anak baik, engkau berdiri sajalah di belakangku,"

kata hwesio tua bermuka hitam itu

Kini lima orang pemburu sudah berloncatan bangun dan mereka sudah mencabut senjata mereka berupa golok yang tajam berkilauan

Tentu saja Cin Han merasa ngeti, akan tetapi hwesio itu bersikap tenang saja

Kemarahan lima orang itu kini ditumpahkan kepada Cin Han

Mereka menampar dan menendang sehingga tubuh Cin Han jatuh bangun, dijadikan bola oleh mereka

"Omitohud, pinceng (saya) tidak ingin berkelahi, harap kalian suka mundur dan jangan melanjutkan perbuatan sewenang-wenang ini," katanya, suaranya tetap ramah dan pandang matanya lembut

Akan tetapi lima orang itu agaknya sudah marah bukan main dan tanpa banyak cakap lagi mereka lalu menerjang dan menggerakkan golok mereka menyerang hwesio bermuka hitam itu

Cin Han hampir memejamkan mata saking ngerinya karena dia tidak tega melihat betapa tubuh hwesio itu dijadikan cacahan daging dan darah akan muncrat-muncrat dari luka-lukanya

Mungkin tubuhnya akan terobek-robek dan terpotong-potong

Akan tetapi dia menabahkan hatinya dan membelalakkan matanya untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh kakek itu

Sinar golok berkelebatan menyambar dan terdengar kain robek berulang kali

Cin Han memandang dengan mata terbelalak dan mulut ternganga

Hwesio tua itu tidak apa-apa! Sama sekali tidak terluka walaupun pakaiannya robek-robek tersayat golok ! Namun, tidak nampak setetespun darah keluar

Bukan hanya dia yang terkejut dan heran, juga lima orang itu terbelalak

Tadi, ketika mereka memukuli dan menendangi hwesio ini tidak roboh atau mengeluh, mereka hanya mengira bahwa hwesio itu memang tahan derita

Akan tetapi kini bacokan gotok mereka ternyata sama sekali tidak dapat melukai tubuhnya

Dasar mereka adalah orang-orang yang keras dan kejam, kenyataan ini tidak membuat mereka mundur

Sebaliknya mereka malah menyerang lagi dengan ganas, kini menujukan golok mereka ke arah bagian tubuh yang paling lemah dan berbahaya

"Omitohud

bermain api hangus, bermain air basah, bermain senjata terluka

hal itu sudah sepatutnya!" Dan dia menggerakkan kedua tangannya

Gerakan kedua tangan menyambut ini ternyata hebat akibatnya

Lima orang itu berteriak kesakitan dan mereka terpental lalu terjengkang dan terbanting ke atas tanah, golok mereka terlepas dari tangan, sedangkan lengan mereka terluka berdarah, terkena golok mereka sendiri yang tadi mereka rasakan terpental dah membalik melukai lengan mereka sendiri! Kini barulah mereka maklum bahwa ternyata mereka berhadapan dengan seorang hwesio yang lihai sekali, maka tanpa dikomando lagi, lima orang itu berlompatan bangun kemudian melarikan diri tunggang langgang ke dalam hutan

Cin Han melihat semua peristiwa yang terjadi itu dan merasa seperti dalam mimpi saja

Kakek itu seorang yang sakti

Dan dia sedang mencari seorang guru yang pandai, Kalau saja dia dapat menjadi murid hwesio ini, tanpa bayar tentunya karena dia tidak mempunyai uang

Tiba-tiba dia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki hwesio bermuka hitam itu

Kakek itu tertawa melihat kelakuan Cin Han

"Ha ha-ha, anak baik

Engkau ,tidak perlu berterima kasih kepada pinceng karena kalau mau bicara tentang tolong menolong, engkaulah yang pertama kali berniat menolong pinceng!!" Cin Han adalah seorang anak yang cerdik

Dia segera dapat mengerti akan sikap hwesio itu, maka diapun menjawab lantang sambil tetap berlutut

"Lo-suhu, saya bukan bermaksud menyatakan terima kasih, melainkan ingin mengajukan suatu permohonan kepada lo-suhu (guru tua)

" Hwesio itu kini memandang penuh perhatian dan mengusap dagunya yang tak berjenggot

"Hemmm, mengajukan permohonan kepada pin-ceng?

Pin-ceng tidak memiliki sesuatu yang dapat kau minta, anak baik

" "Saya tidak minta barang, lo-suhu, melainkan mohon untuk menjadi murid lo-suhu

" "Omitohud

! Menjadi murid untuk belajar agama dan menjadi calon hwesio?" "Bukan, lo-suhu

Saya ingin belajar ilmu silat dari lo-suhu" "Belajar ilmu silat? Wah, gawat! Apakah engkau ingin mempergunakan ilmu silat untuk memukul orang?" "Sama sekali tidak, lo-suhu

Saya tidak ingin memukul orang !" "Omitohud

I" Hwesio tua itu semakin tertarik dan wajahnya membayangkan senyum

Semenjak bertemu anak ini, dia memang sudah merasa suka dan pandang mata batinnya melihat seorang anak yang berwatak baik dan berbakat sekali untuk menjadi seorang pendekar budiman

"Kalau tidak ingin memukul orang, lalu apa gunanya engkau mempelajari ilmu silat? Hayo jelaskan alasan-alasanmu

" Sambil tetap berlutut dan membenturkan dahinya ke atas tanah, Cin Han menjawab cepat, "Pertama, agar saya dapat menjadi sehat lahir batin, kedua agar saya dapat melindungi dan membela diri sendiri kalau diserang orang jahat seperti yang terjadi kepada lo-suhu tadi, ketiga agar saya dapat menolong orang lain yang diperlakukan sewenang-wenang oleh orang jahat, dan keempat

" Sampai di sini, macetlah karena Cin Han sudah kehabisan bahan untuk dijadikan alasan

"Herani, ke empat apa lagi?" "Agar

agar teecu dapat mencari uang untuk makan, dengan menjadi guru silat

" Kakek itu tertawa dan wajahnya yang berkulit hitam itu nampak jauh lebih muda kalau dia sedang tertawa

"Omitohud

Tiga alasan pertama memang benar dan baik, akan tetapi alasan keempat itu sama sekali tidak boleh dilakukan!" "Kenapa, lo-suhu? Bukankah mencari uang untuk makan dengan menjadi guru silat dan menerima bayaran, bukan perbuatan jahat?"

"Memang bukan kejahatan, akan tetapi perbuatan berbahaya

Ilmu silat merupakan ilmu yang amat berbahaya kalau dikuasai oleh orang yang wataknya sesat

Mengajarkan silat dengan bayaran tentu tidak memilih murid, asal mampu membayar bereslah, dan mereka yang mampu membayar belum tentu orang baik-baik

Kalau engkau kelak hendak mengajarkan ilmu silat kepada seorang murid, bukan uang pembayaran ukurannya, melainkan keadaan jiwa dan raga anak itu

Dia harus memiliki raga yang baik dan berbakat, dan memiliki jiwa yang bersih

" "Baik, suhu (guru), teecu (murid) akan mentaati perintah suhu

" "Ha-ha-ha-ha! Belum juga pin-ceng menerima permohonanmu, engkau sudah begitu yakin dan menganggap dirimu sebagai murid pin-ceng

" Kembali Cin Han membentur-benturkan dahinya di atas tanah

"Teecu mohon agar suhu sudi menerima teecu sebagai murid, atau sebagai kacungpun teecu mau asal diberi pelajaran ilmu silat

" "Omitohud, engkau mempunyai kemauan keras

Akan tetapi ketahuilah bahwa pinceng sendiri juga bekerja di dalam sebuah kuil di puncak bukit ini sebagai seorang kepala dapur!" "Kalau begitu teecu akan membantu pekerjaan suhu di sana!" kata Cin Han penuh semangat

"Anak baik, siapakah namamu?" "Nama teecu Bu Cin Han, teecu hidup sebatang kara di dunia ini karena ayah dan ibu teecu sudah meninggal dunia

Teecu tidak mempunyai keluarga, tidak mempu-nyai tempat tinggal

" "Omitohud

, hidup adalah duka, sekecil ini sidah kehilangan segalanya dan menderita sengsara

Cin Han, ketahuilah bahwa pinceng dipanggil Hek-bin Lo-han (Orang Tua Muka Hitam ) dan pinceng bekerja sebagai kepala dapur di kuil para hwesio di puncak bukit ini

Biarlah engkau ikut bersama pinceng ke kuil dan akan pinceng usahakan agar engkau diterima oleh kepala kuil sebagai seorang kacung yang membantu pekerjaan pinceng di dapur

Mari kita berangkat

"

"Terima kasih, suhu," kata Cin Han dengan girang sekali dan melihat kakek itu melangkah pergi mendaki bukit, diapun cepat mengikutinya

Akan tetapi, kedua kakinya gemetar dan dia hampir tidak kuat melangkah, namun ditahannya semua rasa nyeri dan lelah dan dia memaksa diri mengikuti kakek itu dengan langkah gontai

Kakek itu maklum akan keadaan Cin Han, akan tetapi dia pura-pura tidak tahu dan agaknya memang hendak mengujinya

Tiba tiba Cin Han melihat seekor kelinci lagi, tak jauh darinya, tersembul keluar dari semak-semak

Dia menubruk cepat, akan tetapi bukan kelinci yang didapatnya, melainkan tusukan duri semak-semik membuat kedua lengannya berdarah

Melihat ini, Hek bin lo-han tertawa

"Ha-ha…

sudah lapar sekalikah perutmu?" "Maaf, suhu

Sejak sarapan pagi tadi sampai sekarang, teecu belum makan

" "Kalau begitu, usahakan agar kelinci itu keluar dari semak-semak, biar pinceng yang akan menangkapnya

" Bukan main girangnya rasa hati Cin Han

Diapun mempergunakan batu-batu disambitkan ke dalam semak-semak dan tak lama kemudian, kelinci itu meloncst keluar diri semak-semak dan sebelum dia menghilang ke dalam semak-semak lain, tiba-tiba kakek itu menggerak-kan tangan kirinya ke arah binatang itu dan kelinci itupun terdiam, tak mampu berlari lagi seolah-olah menjadi lumpuh seketika, "Nah, tangkaplah

" Hek-bin Lo-han berkata kepada Cin Han

Cin Han menangkap kelinci itu dengan mudah

Setelah Cin Han menangkapnya, kelinci itu meronta-ronta hendak melepaskan diri, namun Cin Han memegangnya dengan kuat

"Nah, sekarang setelah kau tangkap, apa yang akan kau lakukan? Membunuhnya?

Menyembelihnya lalu memanggang dan makan dagingnya ?" Cin Han menjadi bingung dan dia memandang kelinci yang berada di tangannya itu

Harus diakuinya bahwa selama hidupnya, belum pernah dia menyembelih kelinci

Apa lagi kelinci, seekor ayampun belum pernah dia menyembelihnya

"Omitohud

lihat baik baik kedua matanya itu, Cin Han

Apakah engkau tidak melihat betapa ia ketakutan dan mata itu menjadi basah oleh air mata? Dan suaranya itu, bukankah ia sedang menangis dan minta dilepaskan? Tegakah engkau menyembelihnya, melihat darah merah muncrat membasahi bulunya yang lembut bersih itu?" Cin Han bergidik dan diapun melepaskan kelinci itu yang segera berlari lenyap ke dalam lemak-lemak belukar

Cin Han tadi merasa betapa jantung kelinci itu berdenyut keras dan betapa napasnya memburu, tanda dari ketakutan

"Tidak, Suhu

Teecu tidak dapat membunuhnya! Teecu belum pernah membunuhnya walaupun pernah makan daging kelinci

" Kakek itu tertawa dan merasa lega

Bagaimanapun juga, anak ini masih memiliki kepekaan dan hatinya tidak kejam

Diapun lalu duduk di atas akar pohon yang menonjol, mengeluarkan bungkusan dari balik jubahnya yang lebar dan robek-robek oleh serangan lima orang pemburu tadi

"Engkau lapar? Pincengpun lapar

Nah, mari kita makan seadanya

" Dibukanya bungkusan itu dan ternyata berisi roti basah dan sayur asin

Tanpa sungkan lagi Cin Han ikut makan dan bukan main lezatnya roti sederhana dan sayur asin itu bagi perut yang lapar

Dia makan dengan lahap, tidak malu dilihat suhunya yang tersenyum-senyum

Setelah mereka selesai makan dan melanjutkan perjalanan, Cin Han bertanya, "Suhu, siapakah lima orang tadi dan mengapa mereka menyerang suhu ?" "Pinceng tidak mengenal mereka

Mereka memburu binatang dan ketika mereka mengintai sekelompok kijang, siap untuk membunuh, pinceng merasa tidak tega dan pinceng berteriak mengejutkan kijang-kijang itu yang melarikan diri

Para pemburu itu marah dan menyerang pinceng

" "Mereka itu jahat sekali, suhu

Akan tetapi suhu memiliki ilmu kepandaian tinggi, kenapa suhu tidak melawan ketika dipukuli dan ditendangi ? Kenapa suhu demikian sabar?" tanya Cin Han yang masih merasa penasaran

"Bersabar adalah suatu penekanan amarah, Cin Han

Pinceng tidak bersabar, karena pinceng tidak marah

Engkau tidak perlu belajar untuk bersabar, karena kesabaran itu baru dibutuhkan kalau ada kemarahan dalam batin

Yang penting adalah melenyapkan amarah seluruhnya dari dalam batin

Kalau sudah tidak ada kemarahan lagi, siapa yang membutuhkan kesabaran?" Dalam usia sepuluh tahun, sukarlah bagi Cin Han untuk dapat menyalami kebenaran yang diucapkan oleh Hek-bin Lo-han itu, kelak barulah dia mengerti bahwa yang dimaksud-kan oleh gurunya adalah bahwa kebajikan dalam kehidupan tidak mungkin dilatih, tidak mungkin dipupuk, tidak mungkin dicari

Yang mungkin kita lakukan adalah mengenal semua keburukan yang ada pada kita, dalam batin kita

Yang dapat kita lakukan adalah meniadakan semua keburukan itu, melenyapkan semua kotoran yang mengeruhkan batin, antari lain kemarahan, kebencian, iri hati, pementingan diri pribadi, pengejaran kesenangan karena semua itu mendatangkan duka

Kalau sudah tidak ada marah dalam hati, tak perlu belajar sabar lagi, karena keadaan tidak marah itulah kesabaran

Kalau sudah tidak ada duka dalam batin tidak perlu lagi mencari kebahagiaan karena keadaan tanpa duka itulah kebahagiaan

Malam telah tiba, ketika akhirnya mereka tiba di kuil yang terletak di puncak bukit itu

Kuil itu cukup besar dengan halaman luas dan di belakang kuil terdapat perkebunan sayur yang terawat dengan baik

Kuil kuno ini dihuni oleh tiga puluh lebih orang hwesio, dipimpin oleh Thian Cu Hwesio, seorang hwesio berusia enam puluh tahun, tokoh Siauw-lim-pai

Thian Cu Hwesio inilah yang puluhan tahun lalu menemukan kuil tua yang tidak terpakai lagi itu, sebuah bangunan yang sebagian sudah rusak

Dia lalu mengajak beberapa orang hwesio lain untuk membangun kembali kuil ini karena letaknya baik, tanah di sekitarnya juga subur

Kemudian dia memimpin beberapa orang hwesio mendiami kuil itu dan makin lama, makin banyak saja murid yang menjadi hwesio di situ, melaksanakan kehidupan yang penuh damai dan sejahtera

Pekerjaan mereka setiap hari adalah bercocok tanam, memperdalam pengetahuan agama, berdoa, juga kadang-kadang mereka turun bukit untuk menyebarkan pelajaran agama, juga untuk menolong rakyat dengan segala kemampuan mereka yang ada

Akhirnya kuil itupun terkenal di antara para penghuni perdusunan di sekeliling bukit itu, menjadi tempat bagi mereka untuk berobat, berdoa dan pelarian dari duka

Hek-bin Lo-han baru lima tahun bekerja di kuil itu sebagai kepala dapur

Dia adalah seorang bekas kepala perampok yang telah bertaubat

Dia diterima oleh Thian Cu Hwesio dan setelah bekerja di situ selama tiga tahun, tekun mempelajari kitab agama dan berdoa, Thian Cu Hwesio lalu menerimanya menjadi hwesio dan memberinya julukan Hek-bin Lo-han

Karena dia rajin dan kuat maka dia diangkat menjadi kepala bagian dapur, mengepalai beberapa orang hwesio muda yang bekerja di dapur

Ketika Hek-bin Lo-han dan Cin Han tiba di halaman kuit, hwesio itu berkata, "Hwesio kepala kuil dalam waktu seperti ini tentu sedang samadhi, Biar pinceng yang menghadap dan melapor

Engkau menanti dulu di sini

" Cin Han yang ditinggal masuk oleh gurunya, melihat betapa halaman itu agak kotor oleh daun kering yang rontok tertiup angin

Di situ terdapat pula sebatang sapu, maka sebagai seorang anak yang tahu diri, diapun mengambil sapu dan disapunyalah halaman itu

"Sumoi, ini ada kacung baru

Bagus sekali untuk melatih tiam-hiat-hoat (ilmu menotok jalan darah) yang baru saja kita pelajari !" "Tapi, suheng (kakak seperguruan)

Kita disuruh belajar mempergunakan patung manusia di ruangan latihan itu!!" "Jauh lebih baik menggunakan manusia sungguh dari pada sebuah patung yang kebal terhadap totokan, sumoi (adik perempuan seperguruan)!" Cin Han yang masih menyapu melihat seorang anak laki-laki berusia sebelas tahun dan seorang anak perempuan berusia sembilan tahun sedang berjalan menghampirinya

Dia tidak mengerti apa yang mereka bicarakan itu

Akan tetapi mereka kini telah berada di dekatnya dan anak laki-laki yang memiliki sepasang alis tebal itu memegang pundaknya

"Heii, siapa engkau ? Apakah engkau kacung baru di kuil ini?" Cin Han mengangguk

"Benar, nama saya Bu Cin Han, kacung baru

" "Bagus!! Cin Han, kami adalah murid-murid suhu Thian Cu Hwesio, dan kami sedang latihan

Maukah engkau membantu kami latihan dengan menjadi pengganti patung agar kami dapat mempraktekkan ilmu totokan kami?"

Cin Han memandang kepadanya, lalu kepada anak perempuan itu

Seorang anak perempuan yang mungil dan cantik, sepasang pipinya merah dan matanya indah dan jeli

Dia-pun mengangguk

Dengan girang anak laki-laki itu minta agar dia membuka baju atasnya

Biarpun merasa heran, Cin Han membuka bajunya

Mereka mengajak Cin Han berdiri di bawah lampu gantung di serambi depan

Dan tiba-tiba saja anak laki-laki itu menotok pundak kirinya dekat leher

Tukk ! Cin Han menahan pekiknya dan terguling! Cin Han bangkit kembali sambil mengelus-elus pundaknya dengan muka menyeringai kesakitan

Totokan itu mendatangkan rasa nyeri yang hebat

Dan jari tangan yang menotoknya tadi amat keras seperti besi dan totokan yang mengenai otot itu membuat kepalanya terasa pening dan dari leher sampai ke pinggang kiri berdenyut-denyut amat nyerinya! Anak laki-laki yang menotoknya itu, tadinya tersenyum lebar dengan puas melihat hasil totokannya, akan tetapi melihat betapa Cin Han dapat bangkit kembali, senyumnya menghilang

"Suheng, totokanmu gagal, dia dapat bergerak," kata anak perempuan itu sambil tersenyum, setengah menertawakan, kemudian memandang kepada Cin Han sambil bertanya, "Cin Han, sakitkah?" Entah mengupa dia sendiri tidak tahu

Ditanya demikian, Cin Han merasa malu untuk mengaku sakit dan dia menggeleng kepalanya

"Engkau dapat bergerak dan berdiri kembali ? Ah, seharusnya engkau menjadi kaku dan tidak mampu menggerakkan kaki tanganmu!" kata anak laki-laki yang kecewa itu

"Tentu totokanku tadi kurang tepat

Biar kuulangi sekali lagi!" Dan diapun melangkah maju, tangan kanannya bergerak cepat dan kembali dia menotok dengan dua jari tangannya ke tempat yang tadi

"Tukkk!" Lebih keras datangnya totokan itu dan Cin Han merasa nyeri bukan main

Akan tetapi, teringat akan anak perempuan yang berada di situ, ketika tubuhnya terpelanting, dia menggigit bibir menahan nyeri agar mulutnya tidak mengeluarkan keluhan

Ketika totokan tadi mengenai pundaknya dekat leher, memang kaki dan tangannya terasa kaku, akan tetapi hanya sebentar dan begitu terbanting jatuh, dia sudah dapat bangkit kembali

Rasa nyeri membuat dia ingin menangis, namun ditahannya