--> -->

4 Ways to Get a Wife Bab 02 : Wawancara Terbaik

Bab 02 : Wawancara Terbaik

Terik matahari menyinari kantin mahasiswa yang terletak di sebelah timur kampus itu, yang saat jam makan siang benar-benar mirip seperti arena perang. Di tengah arena perang itu tampak Kang Jung Won, seorang ahli nutrisi yang sedang tersenyum ramah. Tugasnya adalah mengatur porsi dan menu makanan agar nutrisinya seimbang untuk mahasiswa dan membuat laporan membosankan yang diminta oleh kantor administrasi. Namun, ia juga tidak menolak jika diminta untuk membantu menyendokkan nasi atau mengatur barisan antrean saat kantin benar-benar sedang penuh.

“Ibu Kim, tahunya sudah hampir habis.”

Sebelah tangan Jung Won memegang sendok nasi, sementara tangan lainnya memegang penjepit untuk mengambil paha ayam. Sambil tetap memasang senyum di wajahnya, ia kembali mengisi piring- piring lauk yang hampir kosong. Seorang ajummas berbadan tegap yang tadi ia panggil Tbu Kim' itu segera datang membawa nampan baru penuh dengan piring-piring kecil berisi tahu. Sementara ajumma itu mengganti nampan yang kosong, Jung Won menghentikan sejenak antrean mahasiswa yang membawa nampan mereka. Lalu, selama beberapa detik ta menatap wajah kelaparan mahasiswa-mahasiswa yang sebaya dengan adiknya itu dengan kagum.

Cantik-cantik sekali. Para mahasiswa baru ini terlihat seperti anak- anak kecil yang akan pergi piknik untuk menikmati cahaya matahari musim semi. Anak kecil yang ceria dan tidak sabar menantikan perjalanan mereka.

“Eonni, tambahkan sedikit lagi, dong.”

“Bibi, minta paha ayam yang besar ya.” --Note 6 Ajumma- panggilan untuk wanita setengah baya atau yang sudah menikah (setara dengan bibi)--

“Aku Yoon Seok Jun dari fakultas ckonomi. Aku mencintaimu. Mau tidak menjadi pacarku?”

Mahasiswa kelas atas yang sedang diet, mahasiswa yang baru kembali masuk kampus dengan selera makan yang tinggi, lalu mahasiswa baru yang masih terlihat polos. Tetapi, tunggu, apa katanya barusan?

Jung Won bisa saja menambahkan nasi sedikit lebih banyak atau memberikan satu paha ayam ekstra. Tetapi... apa? Kenapa anak itu tiba-tiba berkata xgwwo seperti itu?

Jung Won yang hendak menyendok nasi lantas menatap mahasiswa yang berdiri di hadapannya.

Melihat wajahnya yang masih sangat muda, sepertinya ia bukan mahasiswa lama. Atau jangan-jangan, mahasiswa baru?

Mendengar pengakuan cinta yang lantang di tengah-tengah kantin itu, semua mahasiswa yang sedang menunggu antrean langsung memperhatikan Jung Won yang mengenakan celemek putih dengan membawa sendok nasi dan penjepit paha ayam di tiap-tiap tangannya. Sementara, ajumma-ajumma lain yang sedang menyendokkan sup berusaha menahan tawa. Wajah wanita ahli nutrisi yang sejak tahun lalu mula bekerja di kantin ini memang terlihat relatif muda dibandingkan dengan pegawai yang lain. Ia sering membantu menyendokkan nasi dan biasanya tidak ada yang memperhatikannya secara khusus, namun kadang-kadang ia mengalami hal yang tidak terduga seperti ini. Saat hari Valentine, ia pernah mendapat cokelat yang diberikan oleh seorang mahasiswa dengan malu-malu. Tetapi kalau terang-terangan seperti ini, ia cukup panik juga menghadapinya. Namun, seolah tidak peduli dengan dirinya yang panik, kejadian ini malah menjadi tontonan bagi para mahasiswa yang mengantre sambil kelelahan dan kelaparan.

“Lebih baik katakan saja terus terang kalau kau mau paha ayam ekstra.”

“Aku bisa membeli ayam sendiri. Aku akan lebih berterima kasih kalau kau memberikan hatimu.” “Kalau kau seperti itu terus, tidak akan kuberi paha ayam atau apa pun untukmu. Orang-orang di belakang semakin lama menunggu gara- gara kau.”

Tangan kanan Jung Won menyendokkan nasi dan tangan kirinya meletakkan satu paha ayam di nampan makanan putih itu lalu ia berkata dengan tegas “berikutnya”. Mahasiswa lain yang berdiri di belakang anak laki-laki yang baru saja menyatakan cintanya itu memegangi perut mereka yang kelaparan sambil mengamati suasana saat itu. Terdengar juga suara mahasiswa yang terkikik geli.

Ada-ada saja kejadian aneh saat sedang bekerja seperti ini. Tetapi, setelah dipikir-pikir... Kang Jung Won, ternyata masih banyak juga penggemarnya. Jung Won berusaha menyembunyikan hatinya yang berbunga-bunga karena senang sambil memasang wajah scolah tidak ada kejadian apa-apa.

“Hei. Aku ini paling tidak suka orang yang suka mengganggu kepentingan orang banyak.”

“Baiklah, lain kali aku akan berhati-hati. Tapi, aku tetap mencintaimu.”

Satu hal lagi di dunia ini yang tidak tertahankan selain rasa cinta adalah rasa lapar anak-anak muda ini. Mereka yang sedang dalam masa pertumbuhan itu sepertinya menyadari bahwa drama percintaan antara mahasiswa baru dan conni petugas kantin itu sudah selesai. Kini, perhatian mereka kembali tertuju pada nasi beras merah yang masih mengepul panas dan paha ayam dengan daging yang besar.

Aigu?, anak-anak ini memang manis sekali. Sayang sekali, nuna tidak tertarik dengan laki-laki yang lebih muda.

Baru saja Jung Won merasa kalau situasi kembali normal ketika ia mendengar suara teriakan lain.

“Sepertinya anak tadi sungguh-sungguh. Kenapa kau tidak menerimanya?”

Oh. My. God. Itu adalah suara pangerannya. Pangerannya itu sedang membawa nampan putih dan ikut antre dalam barisan. Bisa-bisanya aku --Note 7 Aigu— seruan untuk menunjukkan ungkapan terkejut--

tidak menyadarinya. Pasti tadi ia juga melihat adegan memalukan tadi. Hah, ini semua gara-gara ulah mahasiswa baru itu.

Suasana hatinya yang tadi sempat senang karena mendapat pernyataan cinta itu mendadak lenyap seketika. Merasa malu dan panik, tangannya yang memegang sendok nasi bergetar.

“Maaf, Sonsaengnin?.”

“Kau tidak berbuat salah padaku, kok. Kau tidak akan memberikan nasi padaku?”

“Ah, tidak, bukan begitu. Tadi anak itu sepertinya belum tahu apa- apa. Mahasiswa baru.”

“Sepertinya begitu. Melihat semangatnya yang meluap-luap. Nah, cukup. Terima kasih.”

Jac Hyun menghentikan Jung Won yang menyendokkan nasi sampai penuh ke piringnya sambil sibuk beralasan. Ia kemudian tersenyum kecil pada Jung Won dan kepada umma yang mengambilkan salad.

Entah mengapa, Jung Won rasanya scolah mendapat pernyataan cinta dan patah hati di saat yang bersamaan. Meskipun begitu, ia harus tetap menyendokkan nasi ke piring para mahasiswa itu.

Sambil mendengarkan permintaan mahasiswa berbadan besar yang meminta nasi lebih atau mahasiswi yang sclalu minta nasinya dikurangi barang satu sendok makan, serta sembari bergurau dengan mahasiswa yang sudah ia kenal, tanpa sadar jam makan siang yang sibuk pun telah berlalu.

Begitu para mahasiswa itu pergi meninggalkan kantin, suasana menjadi jauh lebih sepi sehingga ta bisa mulai melakukan pekerjaan yang lain. Akibat antusiasme berlebihan para mahasiswa itu terhadap paha ayam yang sctelah sekian lama tidak muncul, jangankan untuk makan malam, persediaan bahan makanan yang ada sudah habis hanya untuk makan siang saja. Sepertinya, ayam adalah makanan yang paling lezat bagi mereka. --Note 8 Sonsaengnim- guru--

“Beruntung sekali kau, mendapat pernyataan cinta seperti itu.”

“Pernyataan cinta apanya. Mereka kan masih anak-anak. Apalagi umurku sudah tua.”

Setelah ada sedikit waktu luang, para gjumma yang bekerja di kantin dan Jung Won akhirnya makan siang bersama. Mereka tentu saja tidak lupa meledek Jung Won mengenai kejadian saat makan siang tadi. Kejadian seperti ini sepertinya cukup menarik bagi mereka di tengah kesibukan setiap hari yang monoton.

“Tapi perbedaan umur kalian kan tidak terlalu jauh.”

“Anak itu kan masih mahasiswa baru. Bibi, aku ini sudah 26 tahun.”

“Oh ya? Ternyata kau cukup tua juga ya.”

Jung Won cuek saja, meskipun para gjumma itu mentertawat Jung Won yang sudah seperti anak mereka sendiri. Hee Won sekarang 20 tahun. Ia sama sekali tidak pernah membayangkan akan berpacaran dengan laki-laki yang usianya lebih muda dari Hee Won.

“Apa cincin yang digantung di kalungmu itu artinya kau sedang menunggu seseorang? Apa dia sedang ikut wajib militer?”

“Ya? Oh, ini...”

Mata semua gjumma itu kimi tertuju pada liontin berbentuk ancin yang tergantung di leher Jung Won. Cincin itu tampak seperti terbuat dari cmas sungguhan.

“Ini lambang keberuntungan. Ibuku dulu memberikan cincin ini padaku. Tapi karena pekerjaanku, aku tidak bisa memakai cincin ini. Lagi pula, cincin ini juga terlalu besar di jariku.”

“Oh, begitu rupanya.”

Suara mereka terdengar kecewa mendengar penjelasan Jung Won. Sepertinya mereka sudah berpikir macam-macam tentang kalung cincin yang tidak pernah lepas sedetik pun dari Jung Won yang sebenarnya tidak terlalu senang mengenakan aksesori itu. Jung Won hanya tersenyum melihat reaksi mereka yang telah ia duga dan mengeluarkan pakaian ganti dari loker kecilnya.

“Kau mau pergi menangkap serangga lagi?” “Tidak. Mau membantu menanam padi. Semoga saja masih belum selesai.”

Ketika Jung Won melepas bandana dan celemek putihnya, lalu menggantungkan kembali ke dalam lokernya, tiba-tiba ajumma paling tua yang menjadi kepala dapur itu berkata padanya.

“Seharusnya kau mendapat penghargaan dari fakultas holtikultura.”

“Kau bekerja lebih rajin di sana daripada mahasiswa fakultas itu kan?”

“Hobimu ini aneh sekali. Kenapa kau suka sekali bermain di ladang dan sawah seperti itu?”

“Iya juga ya. Hehe.”

Jung Won hanya terkekeh pelan menanggapi satu per satu ucapan para umma itu sambil mengambil sepatu boots hujannya. Benar juga. Jung Won memang rajin sekai mendengarkan kuliah di fakultas holtikultura dan ia juga bekerja di sana. Tidak hanya para profesor di sana, para mahasiswa S3 yang sedang belajar di fakultas itu pun mengaku semangat dan pengetahuan Jung Won lebih dari jumor mereka sendiri. Jung Won juga sering dititipi kunci rumah kaca saat masa liburan atau musim ujian, ketika mahasiswa sedang sibuk. Tidak jarang orang-orang mencarinya di rumah kaca atau kebun fakultas holtikultura itu saat kantin tutup di akhir pekan atau saat ia pulang lebih awal dani kantin seperti sekarang ini.

“Terus terang saja. Kau ke sana untuk menemui Kim Jae Hyun sonsaengnim, kan?”

“Tidak. Mana mungkin aku berani berbuat seperti itu...”

Jung Won terkejut dan menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar pertanyaan salah seorang agjumma yang paling muda. Pertanyaannya sangat tepat sasaran. Namun, tanpa sadar kedua pipinya memerah scolah menunjukkan perasaannya yang sebenarnya.

“Tapi, sonsaengnim itu cukup tampan juga.”

“Cukup tampan bagaimana? Dia itu kan sangat sangat tampan sekali.” Para gjumma itu tertawa mendengar jawaban Jung Won yang sangat bersemangat, namun Jung Won tidak peduli. Ketika ia pertama kali bertemu Jae Hyun yang sedang mengikuti program doktor di rumah kaca, napasnya seolah terhenti. Ia tidak pernah melihat pria setampan itu sejak lahir. Namun, pangerannya yang dulu jarang muncul di rumah kaca itu kini seolah pindah tempat tinggal ke tempat itu. Kelihatannya, ia sedang menulis sebuah karya tulis penting mengenai bunga mawar yang menjalar.

“Aku akan segera kembah.”

Kalau ia berada di sana lebih lama lagi, sepertinya para ajumma itu akan semakin meledeknya. Jung Won pun segera memakai topinya dan keluar dari ruang istirahat di kantin itu. Jarak dari kantin sampai ke rumah kaca itu sekitar 10 menit dengan scpcda, sementara sampai ke tempat menanam padi sekitar 20 menit. Apa sebaiknya aku mampir ke rumah kaca untuk sekadar menyapa pangeranku itu? Sekalian melihat bunga mawar yang mungkin sudah berbunga. Jung Won yang sudah mulai mengayuh sepedanya tiba-tiba terhenti mendengar suara sescorang yang memanggilnya. Ketika ia menoleh, ia melihat Myong Hun sedang berlari dari kejauhan dengan keringat bercucuran. Suara teman bermain Hee Won terdengar cukup panik.

“Nana, tolong. Cepat selamatkan...”

“Kau ini kenapa? Ada apa? Kau sakit?”

“Bukan aku, tapi Hee Won. Tingkahnya aneh sekali.”

“Aneh? Aneh apanya?”

Melihat wajah Myong Hun yang terlihat pucat, bisa dipastikan memang sesuatu yang gawat telah terjadi pada Hee Won. Meskipun kedua kakinya seketika itu juga terasa lemas, Yung Won berusaha untuk menguatkan dirinya sendiri.

“Bukan begitu. Kelihatannya sih :a baik-baik saja, tapi tindakannya aneh.”

“Aneh bagaimana maksudmu?”

Jung Won menenangkan Myong Hun yang panik dan bertanya kembali dengan sabar. Kalau katanya Hee Won baik-baik saja, berarti bukan kejadian yang mengerikan seperti kecelakaan atau sejenisnya. Lalu, kira-kira kejadian apa yang mungkin menimpa Hce Won? Apa dia diculik oleh teman laki-lakinya? Tidak. Kalau hal itu terjadi, pasti Myong Hun sudah sibuk mencari Hee Won, bukan mencari dirinya seperti saat ini. Jung Won menyingkirkan berbagai pikiran aneh yang memenuhi otaknya dan mendesak jawaban dari Myong Hun.

“Katanya ia akan menikah dengan seseorang.”

“Apa?”

Karena sibuk membayangkan hal yang anch-anch, Jung Won mengira dirinya salah dengar dan kembali bertanya pada Myong Hun. Kata “menikah' sama sekali tidak terlintas dalam benaknya tadi.

“Menikah.”

Myong Hun menyahut scolah hampir menangis sementara Jung Won merasa dirinya hampir gila. Ya Tuhan. Adikku yang baru berumur 20 tahun itu sudah ingin menikah?

“Kau, jangan-jangan kau berbuat yang macam-macam dengan Hee Won ya?”

“Sudah kubilang, bukan aku.”

“Lalu dengan siapa?”

Ternyata Jung Won tidak salah dengar. Kabar ini sama buruknya dengan “diculik oleh laki-lak?. Meskipun ia tahu kalau Hce Won memang sering menimbulkan masalah, tetapi kali ini cukup keterlaluan. Berani-beraninya ia mengatakan akan menikah dengan laki-laki yang bahkan belum kukenal.

“Aku juga tidak tahu. Katanya dengan orang yang ada di koran.”

Koran? Sepertinya Hee Won tidak mungkin kenal dengan orang yang sebegitu terkenalnya sampai muncul di koran. Lalu, kira-kira siapa? Orang terkenal yang muncul di koran?

Jung Won menutup matanya scjcnak mengingat scsuatu yang berkelebat di pikirannya.

Iklan istri kontrak itu. Pantas saja kemarin Hee Won menurut saja ketika ia memarahinya.

Dasar anak perempuan itu. Seketika itu juga Jung Won mengernyitkan dahinya dan tatapan matanya menyala geram.

Kau belum kapok rupanya, Kang Hee Won. Bisa-bisanya ia termakan iklan seperti itu, padahal belum tahu seperti apa pasangannya. Menurut cerita Myong Hun, hari ini adalah hari wawancara tahap pertama iklan itu. Ternyata Hee Won nekat untuk mengikuti wawancara itu. Anak itu, entah apa yang harus kulakukan supaya ia jera. Saat itu, barulah Jung Won menyadari kalau mahasiswa baru yang tadi menyatakan cinta padanya di kantin itu masih lebih baik dibandingkan adiknya yang tiba-tiba ingin menikah seperti ini.

Begitu Geon Hyeong tiba di pusat pelatihan elektronik Goryo Grup, para karyawan yang menunggu kedatangannya langsung membungkuk hormat. Setiap orang di sana langsung menyingkir memberinya jalan dan pintu lift pun langsung terbuka seolah sudah menunggunya sejak tadi. Seperti biasa, orang-orang masih merasa segan dan takut padanya.

Kalau seperti ini caranya, aku jadi merasa mempunyai tanduk setan di kepalaku, pikir Geon Hyeong. Meskipun ia sudah terbiasa dengan hal ini, hari im ia merasa terlalu diperlakukan seperti monster atau sejenisnya. Ia hanya mengangguk singkat menanggapi salam hormat yang diberikan oleh para karyawan yang tidak berani menatap matanya dan membuka pintu ruang rapat tempat Jason sudah menunggunya.

Di atas meja rapat yang lebar itu terletak beberapa folder penuh berisi kertas putih yang disusun dengan rapi. Rasanya ta tidak pernah meminta dokumen itu dan ia bahkan tidak tahu dokumen apa itu. Kunjungannya ke tempat itu pun hanya karena panggilan Jason semata dan tidak ada di dalam agendanya.

“Apa im?”

“CV dari para wanita yang ingin menjadi istrimu. Wawancaranya hari ini. Jadi, bagaimana?”

Jason bertanya sambil melirik ke tumpukan dokumen itu dengan wajah semangat. Hebat juga minat orang-orang terhadap iklan istri kontrak itu. Padahal iklan itu hanya dipasang satu hari, tapi yang mendaftar sudah puluhan ribu orang seperti in. Di antara puluhan ribu itu, yang berhasil lulus persyaratan saja hampir 1.000 orang.”

“Bagaimana apanya?”

“Kan kau yang mulai menyebarkan iklan ini. Jadi, kau juga yang harus bertanggung jawab. Aku pun jelas tidak bisa tidak terlibat dalam pemilihan pacar, atau calon istrimu ini.”

Jason menyodorkan dokumen-dokumen itu dengan tidak sabar kepada Geon Hyeong yang mengerutkan dahinya.

“Terserah kau saja. Toh di antara orang-orang ini pasti tidak ada juga orang yang waras. Aku tidak peduli.”

“Jadi, standar utamamu apa? Penampilan? Pendidikan? Atau random saja?”

“Sudahlah, aku pusing. Apa gunanya penampilan atau pendidikan dari perempuan yang mau mengirim CV dari iklan seperti itu?”

Geon Hyeong mendorong kotak berisi dokumen yang telah disusun rapi di atas meja hingga terjatuh ke lantai. Terdengar suara berdebam yang cukup keras dan seketika kertas-kcrtas itu berserakan berantakan di lantai.

“Singkirkan saja yang di bawah itu. Pilih saja salah satu dari yang tersisa.”

Tadinya ia ingin menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin, namun rupanya terlalu banyak wanita yang sudah gila di dunia ini.

Padahal tadinya 1a hanya perlu menunjukkan kalau ia sudah memiliki kekasih dan akan menikah. Sebenarnya bukan hal yang sulit. Namun rupanya, hal ini juga bukan hal yang mudah. Mencari wanita yang bisa dijadikan istri sementara, yang bisa diajak berkompromi untuk berpura-pura saling jatuh cinta, dan mudah untuk diajak berpisah nantinya ternyata tidak mudah. Yang pasti, ia paling tidak suka dengan wanita yang hanya mengincar status nyonya dari Goryo Grup.

“Hah. Sepertinya aku ini sudah sama gilanya denganmu.”

“Sudahlah, jangan banyak mengeluh. Aku tahu kau senang mengerjakan hal ini.” Gcon Hyeong yang tahu pasti ada nada senang dalam gcrutuan Jason itu menyahut dengan ketus.

“Yah, lumayan. Rasanya seperti menyaksikan pemilihan supermodel secara langsung. Reality show.”

Jason yang mengangguk-angguk menyetujui ucapan Geon Hyeong itu terkikik pelan sambil merapikan kembali kertas-kertas yang berserakan di lantai. Toh masalahnya sudah terlanjur seperti ini, ia benar-benar ingin mencarikan wanita yang baik untuk Geon Hyeong.


“Mcreka pikir kau ini siapa ya, sampai berani mengirim lamaran tanpa tujuan seperti ini.”

“Pasti mereka tidak tahu kalau aku ini anak yang lahir di luar nikah dan sombong.”

Skandal terheboh dengan seorang aktris ceroboh, lalu anak di luar nikah. Karena tidak ada yang memberitahunya, ia sendiri yang harus mencaritahu apa arti istilah “anak di Juar nikah? bahkan sebelum :a cukup dewasa. Kemudian, ia menyadari bahwa dirinya tidak bisa lepas dari sebutan itu.

“Mungkin mereka tidak peduli. Kalau mereka keberatan dengan hal itu, akan langsung kudiskualifikasi.”

“Terima kasih banyak. Sebagai gantinya, biar nanti aku yang bertanggung jawab dan membereskan kalau ada orang yang berkata macam-macam padamu.”

“Kalau aku dikata anak hasil kawin silang?”

“Apa pun itu.”

“Wah, terima kasih. Untung saja aku ini anak berdarah campuran yang luar biasa.”

Jason tertawa kecil menanggapi jawaban Geon Hyeong yang ketus. Jason yang diadopsi ketika berumur 6 tahun memang sempat dikucilkan karena tidak mengerti bahasa Inggris. Namun, Jason yang mendapat warisan gen positif dari barat dan timur itu memiliki penampilan yang sempurna sehingga ia tidak pernah mendapat ejekan anak hasil kawin silang. Postur badannya tinggi, garis lipatan matanya jelas, kulitnya putih, rambutnya hitam, dan dagunya sedikit terbelah yang sering dianggap seksi oleh para warta. Ia mcmang lahir dengan gen spesial yang diwariskan olch ayahnya yang berasal dari Amcrika dan ibunya yang berasal dari Korea.

“Kalau begitu, langsung saja kau bereskan mereka.”

“Tentu saja. Makanya sekarang kau tidak usah memusingkan masalahku, kita selesaikan saja dulu masalahmu. Memangnya kau harus memilih wanita dengan cara seperti ini? Tidak ada cara yang lebih baik?”

“Cara yang lebih baik, apa?”

Jason menatap tumpukan kertas itu dan mengernyitkan dahinya. Meskipun ini juga menyangkut masalah perusahaan, cara ini benar- benar sangat mekanis dan kaku. Bisa saja ini menjadi cara paling buruk untuk mencari wanita dari sekian banyak cara yang ada.

“Cinta.”

Mendengar jawaban Jason yang sederhana, Geon Hyeong mengangkat sebelah alisnya. Geon Hyeong memandang Jason dengan tatapan “apa kau gila, membuat Jason menjadi merasa harus menjelaskan jawabannya itu.

Kalau tidak bisa sampai jatuh cinta, setidaknya ia ingin sahabatnya itu bisa berpacaran sungguhan seperti pasangan lainnya. Namun, pintu ruang rapat itu tiba-tiba terbuka sebelum Jason sempat mengatakan sesuatu. Sepertinya ada sescorang yang datang. Jason yang sedang duduk di atas meja segera berdiri.

“Maaf sekali, tapi wawancaranya baru dimulai pukul lima.”

Ia melirik sekilas ke arah jam tangannya yang baru menunjukkan pukul tiga lewat.

Geon Hyeong hanya berdecak mendengar suara Jason yang berkata dengan sopan. Bahkan ternyata ada juga wanita yang saking semangatnya mengikuti wawancara ini sampai datang dua jam sebelummnya. Lalu ia menyuruhku untuk jatuh cinta? Benar-benar konyol.

Geon Hyeong sama sekali tidak menoleh kepada wanita yang menerobos masuk ke ruang rapat itu.

“Kata siapa aku mau ikut wawancara? Nah, siapa orang gila yang memasang iklan ini?” “Apa?”

Orang gila? Gcon Hycong perlahan memutar kursinya karena mendengar suara wanita yang kedengarannya sangat marah itu.

Di hadapannya tampak seorang wanita yang memang terlihat sangat marah.

Wanita itu mengepalkan tangannya dan seolah tampak api kecil yang bersinar di matanya. Tatapan mata yang seolah akan menerkamnya detik itu juga kini memandang ke arahnya. Sudah lama ia tidak melihat hal seperti ini. Tatapan mata yang penuh amarah.

“Kau siapa?”

“Aku yang bertanya lebih dulu. Kau yang memasang iklan ini?”

Jung Won menatap tajam seorang lelaki di hadapannya yang menatap dirinya dengan remeh.

Rupanya orang ini yang menghasut adikku dengan iklan bodoh ini? Jung Won yang tadinya ingin menjelaskan situasinya dengan tenang segera melupakan niatnya dan amarah yang luar biasa seolah meluap dari dalam dirinya. Melihat lelaki yang bibirnya terkatup rapat dan tatapannya yang dingin, Jung Won langsung tahu kalau lelaki itu bukan lelaki baik-baik. Ia tidak sanggup membayangkan adiknya menikah dengan lelaki itu.

Rasa marahnya terhadap lelaki yang menimbulkan masalah ini dan Hee Won yang sampai termakan iklan itu bergemuruh di dada Jung Won.

“Astaga.”

Jung Won menghela napas sambil bergumam lemas melihat tumpukan dokumen di atas meja yang diduganya adalah tampukan CV dari iklan itu. Kemudian, ketika ia melihat foto Hee Won sedang tersenyum lebar di tumpukan paling atas kertas-kertas itu, matanya semakin bersinar geram.

“Kau gila ya sampai memasang iklan seperti ini?”

Ucapan yang sama persis dengan yang ingin ia katakan. Tadinya ia pikir semua orang juga sudah gila. Ternyata masih ada seseorang yang waras juga rupanya. Wanita yang masih waras itu menggenggam CV dari tumpukan kertas di atas meja dengan tangan bergetar.

Geon Hyeong dan Jason berpandangan sejenak. Mereka tidak tahu siapa wanita di dalam foto CV yang dipegang oleh wanita itu. Mereka sebenarnya tidak peduli dan merasa tidak perlu juga untuk mengetahui satu per satu siapa yang mendaftar untuk iklan itu. Namun, wanita yang tiba-tiba datang dan marah-marah itu sepertinya mengenali wanita dalam foto itu.

“Iklan apa?”

Meskipun Geon Hyeong tahu pasti iklan apa yang dimaksud oleh wanita itu, ia bukanlah tipe orang baik hati yang langsung menjawab pertanyaannya dengan mudah. Melihat gelagatnya, sepertinya wanita ini bukan salah satu pelamar, tetapi scpcrtinya juga bukan sescorang yang tidak ada hubungannya sama sekali. Lalu siapa dia?

“Iklan gila untuk mencari istri itu.”

“Oh, lalu? Apa jangan-jangan kau orang yang tidak lulus seleksi dokumen ya?”

“Kau pikir aku gila? Mau-maunya mendaftar ke hal-hal memalukan seperti itu?”

“Jadi, menurutmu orang-orang ini juga gila dan memalukan?”

Gcon Hyeong sama sekali tidak melirik ke arah tumpukan kertas di atas meja itu, namun Jung Won mengerti maksud pembicaraannya. Ternyata banyak juga orang yang masih kekanakan seperti Hee Won, pikir Jung Won. Ia menghela napas prihatin.

“Orang-orang ini, mungkin saja mereka merasa depresi atau punya alasan tertentu. Tapi, orang yang memasang iklan ini sudah bisa dipastikan ia gila. Aku tidak tahu apakah kau saking bosan dan tidak ada kerjaannya sampai melakukan hal seperti ini, tapi kuperingatkan, jangan ganggu adikku.”

“Siapa?”

“Kang Hee Won. Anak im. Wanita yang kau hubungi untuk wawancara.” Jung Won membelalakkan matanya sambil menyodorkan kertas yang ia pegang ke depan laki-laki itu.

Napasnya menderu karena marah, rambutnya acak-acakan, dan pipinya merah. Wajahnya memang tampak seperti seseorang yang baru saja berkelahi, tetapi anehnya, Geon Hyeong malah merasa senang melihat wanita ini. Sepertinya ia memang sudah gila karena mau melihat wanita muda yang kelihatannya masih remaja ini.

“Oh, Kang Hee Won.”

Gcon Hyeong berusaha untuk tetap tenang sambil mengambil kertas dari tangan wanita itu dan mengangguk-angguk. Sebenarnya ia pun tidak tahu siapa Kang Hee Won itu. Tidak. Sebenarnya ia sama sekali tidak tertarik terhadap salah satu orang pun dari sekian banyak pengirim CV ini. Setidaknya sampai beberapa saat yang lalu.

“Aku tidak mengerti apa yang terjadi padamu. Tapi, kalau kau memang tidak bisa menarik perempuan, lebih baik tidak usah menikah saja sekalian. Adikku ini baru berumur 20 tahun, tahu tidak!”

Suara wanita itu terdengar sangat marah dan kecewa. Namun, yang penting bagi Jason dan Geon Hyeong bukan itu. Dua puluh tahun. Keduanya lalu berpandangan. Kalau umurnya 20 tahun, Jason yang superteliti itu pasti sudah menyingkirkannya sejak seleksi dokumen tahap pertama. Berarti, Kang Hec Won yang ada di dalam CV ini adalah orang lain.

“Hei.”

“Tunggu sebentar.”

Jason yang masih tersenyum ramah itu berusaha menjelaskan situasinya kepada wanita yang tiba-tiba datang dan marah-marah itu, namun Geon Hyeong menggeleng sejenak dan menyuruhnya diam. Di CV yang susah payah ia rebut dari tangan wanita itu ternyata tidak tertulis nama Kang Hee Won. Di tengah situasi yang kacau dan membingungkan ini, sepertinya satu per satu potongan puzzle itu mulai terpasang dengan benar.

“Siapa namamu?”

“Apa?” “Bukankah kau harus setidaknya memperkenalkan nama dulu, sebelum teriak-teriak di kantor orang lain seperti ini?”

“Sepertinya kau juga tidak mengatakan namamu, padahal kau berinteraksi dengan ribuan orang melalui iklan itu.”

Nama Geon Hyeong memang tidak tertulis di dalam iklan itu dan wanita itu mengkritik hal tersebut.

Hm, dia berani juga melawanku? Boleh juga. Geon Hyeong tidak terlalu suka orang yang terlalu penurut dan penakut.

“Ehem, baiklah. Namaku Kim Geon Hycong. Lelaki yang membutuhkan istri sesuai syarat di iklan ini.”

“Ehem, begitu rupanya. Namaku Kang Jung Won. Seorang kakak yang akan menjaga adiknya dari laki-laki kurang ajar seperti kau.”

Gcon Hyeong senang melihat semangat wanita itu yang tetap gigih dan tidak mau kalah. Ia juga mendapat berbagai keterangan mengenai wanita itu. Entah apakah wanita itu hanya melihat foto dalam CV itu saja, tetapi sepertinya ia tidak tahu kalau namanya yang tertera dalam CV itu.

Kang Jung Won. Kakak gadis yang ada di dalam foto ini. Adiknya yang terlihat manis ini menggunakan nama dan umur kakaknya untuk membuat CV palsu im. Sepertinya adiknya in berbeda dengan kakaknya yang galak ini.

“Sekali lagi kuperingatkan, jangan berani-berani kau melirik adikku. Aku tahu kau tidak punya perasaan apa-apa pada adikku.”

“Memangnya apa hubungannya perasaanku dengan umur adikmu itu?”

Dari awal, dirinya pun memang tidak punya perasaan apa-apa. Hebat juga wanita ini. Bisa langsung mengenali dirinya yang seperti itu. Toh pada dasarnya Geon Hyeong memang tidak punya perasaan apa- apa.

“Berapa umurmu?”

Meskipun hatinya geram, Jung Won berusaha untuk tetap bertanya dengan sopan, seperti nasihat orangtuanya yang menyuruhnya untuk tetap ramah terhadap orang yang tidak dikenal. Sebenarnya tidak terlalu penting mengetahui umur lelaki yang telah melakukan perbuatan gila seperti ini. Namun, ia benar-benar tidak habis pikir bagaimana lelaki ini bisa melakukan hal seperti ini.

“Tiga puluh tiga.”

Begitu rupanya, 33 tahun. Bahkan umurnya 13 tahun lebih tua dari adiknya. Jung Won semakin emosi mengingat lelaki ini menginginkan adiknya bukan karena cinta, tetapi karena adiknya itu masih muda dan cantik.

“Benar-benar. Bahkan beda umurnya saja 13 tahun. Meskipun wanitanya cantik, masa iya kau sampai berbuat seperti ini? Sampai berbuat memalukan seperti ini. Kau ini cabul ya?”

“Cabul? Aku tidak pernah dipanggil seperti itu sebelumnya. Lagi pula, adikmu itu lulus sampai tahap terakhir. Benar-benar sesuai dengan seleraku.”

“Apa?”

Jason sempat berdeham pelan mendengar jawaban Geon Hyeong, namun Jung Won yang emosi dan amarahnya semakin memuncak sepertinya tidak mendengarnya. Jung Won memandang lelaki yang kelihatannya gila itu dengan tatapan mengerikan. Jung Won rasanya hampir gila saat menyadari bahwa lelaki yang memasang iklan konyol ini ternyata masih bisa mengenali mana perempuan yang cantik dan tidak.

“Kau gila ya. Sudahlah. Awas saja kalau kau berani menghubungi adikku lagi. Akan kulaporkan ke polisi.”

“Dengan tuduhan apa?”

“Cabul dan penguntit.”

Mendengar tuduhan yang tidak masuk akal itu, Jason kembali terbatuk pelan namun Geon Hyeong mengabaikannya dan fokus pada wanita di hadapannya itu.

“Kalau aku merayu adikmu, sepertinya ia akan menurut padaku.”

Geon Hyeong tentu saja tahu pasti mengenai wanita-wanita seperti itu. Namun, Jung Won yang membuat Hee Won semakin terekspos itu terpaksa menahan kata makian yang hampir keluar dari mulutnya. Lelaki ini benar-benar kurang ajar. Hee Won, kau sadar tidak dengan apa Jang kau perbuat?

“Kau mengancamku?”

“Tidak, hanya mengatakan yang sebenarnya saja. Dua puluh tahun itu bukan anak-anak lagi.”

Dua belas tahun. Saat itu seorang pengacara membawanya ke Korea dan setelah melakukan pemeriksaan gen berkali-kali, barulah ia diakui sebagai anak. Lalu, 20 tahun. Untuk menjadi calon penerus Goryo Grup, ia harus melalui serangkaian tes yang sangat ketat. Dan saat itu, ia sudah menjadi orang dewasa. Namun, ia tidak punya alasan untuk menceritakan masa lalunya pada wanita yang sangat ingin menjaga adiknya ini. Toh hubungan mereka juga tidak dekat.

“Tentu saja termasuk anak-anak bagi pria berumur 33 tahun.”

Lelaki itu sama sekali tidak terlihat gentar meskipun Jung Won menatapnya tajam. Tidak heran juga. Kalau ia masih memiliki perasaan atau rasa malu, ia tidak mungkin memasang iklan seperti itu.

“Berarti lebih mudah bagiku untuk merayunya.”

“Tidak akan. Adikku itu bukan gadis bodoh.”

“Berani bertaruh?”

Wajahnya terlihat penuh percaya diri, sementara Jung Won terlihat semakin tegang. Kini masalahnya bertambah serius dari sebelumnya.

Taruhan? Apa dia pikir aku mau bertaruh mengenai adikku sendiri, batin Jung Won. Sebenarnya pikiran-pikiran aneh apa lagi yang memenuhi otak lelaki itu?

“Seandainya aku bertaruh denganmu, pasti aku yang menang. Tapi, sayang sekali, peraturan di keluarga kami melarang kami untuk berjudi. Kau beruntung karena tidak perlu memohon-mohon ampun saat kau kalah nanti.”

“Sepertinya kau yakin sckali akan menang.”

“Tentu saja. Pasti aku yang menang.”

Wanita itu menyahut dengan yakin. Matanya berkilat penuh percaya diri seolah ucapannya itu tidak mungkin meleset. Berdasarkan perhitungannya yang akurat dan pengalamannya selama ini, dari sinar matanya itu, Geon Hyeong tahu bahwa wanita itu sungguh-sungguh yakin dengan ucapannya.

“Bagaimana kau bisa seyakin itu?”

“Karena aku adalah keluarganya dan kau adalah orang lain.”

Jawaban yang di luar dugaannya. Menurutnya, ada alasan yang lebih masuk akal daripada jawaban itu. Percaya hanya karena sama-sama keluarga? Geon Hyeong merasa dirinya salah menilai wanita ini. Wanita ini ternyata benar-benar polos. Namun, bisa saja kalau adiknya yang mengirim CV im jauh lebih baik daripada kakaknya. Untuk pertama kalinya Geon Hyeong tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya pada wanita di hadapannya itu.

“Polos sekali.”

“Entahlah. Kelihatannya selama ini hidupmu keras sekali dan penuh masalah. Tapi, di dunia ini ada juga sesuatu yang bisa dipastikan dengan sempurna. Adikku itu tidak akan mengkhianati kepercayaanku.

Kepercayaan. Geon Hyeong mengangkat sebelah ujung bibirnya meremehkan ucapan wanita itu.

Selama hidupnya, Geon Hyeong-lah yang paling banyak menyaksikan betapa mudahnya kepercayaan antarmanusia hancur. Berani-beraninya wanita ini mengajariku tentang kepercayaan. Kali ini mereka seri. Wamita ini sama sekali tidak mau mengalah dan ia sudah mengusik dirinya yang sama sekali tidak suka mengakui kekalahan.

“Oh ya, sekadar ingin memperingatkan saja. Meskipun kau yakin bahwa tidak ada orang yang bisa dipercaya di dunia, jangan coba-coba menguji pendapatmu itu pada adikku.”

Wanita itu memperingatkannya kembali dengan nada tegas dan tatapan yakin.

Wanita ini, ternyata pikirannya lebih tajam dari yang ia duga. Wanita ini bisa membaca isi hatinya dengan tepat, padahal biasanya tidak ada seorang pun dapat melakukannya. Jason yang sejak tadi mengawasi mereka pun semakin tersenyum lebar. Rasanya menyenangkan juga melihat temannya itu sekali-sekali mengaku kalah. Geon Hyeong mengalihkan pandangan matanya dari Jason kepada wanita yang kimi semakin tenang itu.

“Yang diuji adalah kepercayaanmu, bukan pendapatku.”

“Terserah apa katamu.”

Wanita itu mendengus tidak peduli kepada Geon Hyeong. Sampai saat ini, belum pernah ada orang yang merasa yakin akan menang melawan Geon Hyeong. Ketika Geon Hyeong berusia 12 tahun, masa itu merupakan masa ketika rasa takutnya berubah menjadi sikap memberontak. Ia sama sekali tidak takut terhadap teman-temannya yang selalu membicarakannya di belakang, atau terhadap orang-orang di sekitarnya yang yakin sekali bahwa dirinya bukanlah anggota Keluarga Kim.

“Oh ya, meskipun ini bukan urusanku, apa kau sudah makan?”

“Apa?”

“Karena kadang-kadang ada orang yang jika perutnya kosong, otaknya juga ikut kosong. Kalau bukan karena itu, aku tidak mengerti lagi mengapa orang yang kelihatannya baik-baik saja seperti kau ini bisa melakukan hal memalukan seperti ini.”

Wanita yang dalam sekejap membuat Geon Hyeong menjadi seseorang yang berotak kosong dan tidak tahu malu itu berjalan keluar dengan yakin dan membanting pintu ruangan itu.

Ruang rapat itu sunyi selama beberapa saat. Di situasi yang tidak masuk akal ini, situasi ketika ia seharusnya marah, Geon Hyeong malah menyunggingkan senyumnya yang jarang sekali ia perlihatkan. Sementara itu, wajah Jason pun tampak lebih gembira daripada sebelumnya.

“Wow, bravo. Hebat sekali. Sepertinya sayang sekali kalau dilepaskan begitu saja.”

“Benar. Wanita itu sepertinya bisa cukup berguna.”

Geon Hyeong yang biasanya sangat pilih-pilih, anehnya malah menganggukkan kepalanya, membuat Jason bingung. Setelah selama ini ia berada dalam rutinitas pekerjaannya yang membosankan, hari ini sepertinya benar-benar hari yang penuh kejutan baginya. “Jadi? Sepertinya kau tertarik padanya?”

“Lumayan. Kalau begitu, wanita itu yang lulus. Tadi itu benar-benar wawancara paling hebat.”

“Bukan adiknya wanita itu?”

“Kan dia akan melaporkanku karena cabul dan penguntit. Namanya juga nama wanita itu, yang mengikuti wawancara juga dia.”

Meskipun fotonya berbeda dengan yang ada di CV, itu tidak masalah karena ia sudah bertemu dengan orang aslinya. Ia pun tidak tertarik dengan wanita yang membuat CV palsu menggunakan nama orang lain. Saat ini, Geon Hyeong membutuhkan seseorang yang berani, seperti wanita yang tadi berani menerobos masuk ke kantor orang lain demi melindungi adiknya. Lagi pula dalam masalah ini, ia sangat membutuhkan scscorang yang bisa dipercaya dan menjaga rahasia. Wanita itu, mungkin saja ia memiliki dua syarat utama ini.

“Sepertinya ia tidak akan terlalu suka kalau pemeran utamanya berubah dari adiknya menjadi dirinya sendiri.”

“Terserah. Toh aku tidak peduli apakah wanita itu suka padaku atau tidak.”

Bagi Geon Hyeong, perasaan orang lain bukanlah urusannya. Ia cukup menggunakan wanita itu untuk mendapatkan tujuannya. Itu saja. Mungkin saja wanita itu adalah orang yang paling tepat untuk pekerjaan ini.

“Kau serius?”

“Cari tahu segala hal tentang wanita itu. Lalu, adik perempuannya...”

Geon Hyeong menjawab pertanyaan Jason sambil melihat-lihat CV yang dikirim oleh adik wanita itu.

“Atur juga waktu pertemuan dengan adiknya ini.”

“Hm, sepertinya tidak perlu sampai seperti itu. Seperti kata wanita itu tadi, sepertinya tidak sopan kalau kita ikut menguj masalah kepercayaan keluarga mereka.”

“Aku bukannya mau mengetes kepercayaan mereka.”

Jason menggelengkan kepalanya mengetahui apa yang kira-kira akan dilakukan oleh temannya itu, sementara Geon Hyeong yang keras kepala sama sekali tidak mengubah keputusannya. Toh anak ini memang tidak akan mendengarkan pendapat orang lain jika sudah memutuskan sesuatu.

Jason hanya tersenyum penuh harap sambil menghela napas pasrah melihat sinar mata temannya yang bersinar tajam, seperti elang yang sedang mengincar mangsanya. Jelas kalau Geon Hyeong tidak akan menyerah kali ini. Dan seperti sebelumnya, kali ini pun ia senang melihat pilihan dan sifat keras kepala Geon Hyeong. Karena jarang ada orang yang berani melindungi keluarganya, mengutamakan kepercayaan, dan berani melawan Geon Hyeong sampai seperti itu.

&

Di perjalanan pulang, Jung Won benar-benar merasa badannya letih.

Adrenalinnya meningkat drastis dan level kemarahannya rasanya sudah melebihi batas normal. Sial Kurang ajar. Berani-beraninya ia menggoda adikku yang polos. Gara-gara adiknya yang melakukan tindakan bodoh ini, Jung Won benar-benar merasa kesal dan kecewa. Perbuatan Hee Won kali ini benar-benar keterlaluan.

“Tidak, tidak.”

Jung Won mengabaikan seruan burung kakatua dan Goliath yang mengelus-eluskan bulu hitamnya untuk menyambutnya di rumah. Saat ini, ia tidak ada waktu untuk melayani peliharaannya itu dulu.

“Eonni, tumben pulang cepat.”

“Kang Hee Won, jam malammu untuk minggu ini adalah jam enam sore.”

Jung Won berkacak pinggang dan berkata dengan tegas menanggapi ucapan salam Hee Won. Meskipun ia rasanya ingin melarang Hee Won untuk keluar rumah selama 10 hari, sebulan, atau selama mungkin, ia berusaha untuk bersabar karena Hee Won masih harus pergi kec sekolah. Hee Won seharusnya berterima kasih pada kesabaran dan gaya didik kakaknya itu. Namun sepertinya ia masih belum menyadari perbuatannya. “Bonai?

Hce Won seketika itu juga melotot marah memandang kakaknya yang tiba-tiba memerintahkannya seperti itu. Wajahnya berpikir keras berusaha mengetahui alasan dari sikap kakaknya itu. Sepertinya aku tidak melakukan kesalahan apa-apa belakangan ini, pikir Hee Won. Mungkin ia hanya bercanda sedikit karena penasaran. Astaga! Jangan-jangan... Ekspresi Hee Won yang baru menyadari maksud ucapan kakaknya perlahan berubah.

“Pasti Myong Hun yang mengadu ya.”

“Bukan itu yang penting. Kau ini punya otak atau tidak, sih? Tidak, tidak. Jadi, sebenarnya standar dirimu hanya sebatas ini?”

“Eonni, aku tidak bermaksud seperti itu. Dengar dulu penjelasanku.

Masa Honni tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan masalah ini.” Hee Won yang menyadari bahwa kakaknya sungguh-sungguh marah akhirnya mengalah dan mulai merayu kakaknya. Sementara itu, Jung Won tidak bisa membiarkan hal ini begitu saja. Kali ini adiknya harus benar-benar menyadari kalau perbuatannya itu salah.

“Peraturan nomor 33, berilah kesempatan kepada orang lain. Kesalahan itu bukanlah kejahatan fatal.”

Sung Won yang kali im tidak bisa lepas dari buku komik, menyeletuk memberi bantuan pada Hee Won yang dimarahi habis- habisan. Melihat bantuan adik bungsunya itu, Jung Won berusaha bersabar dan menahan amarahnya yang hampir meluap. Hatinya benar- benar kesal dan sakit seperti ditusuk-tusuk pisau.

“Oke. Kuberi waktu 10 menit. Sebagai gantinya, kau juga harus ingat peraturan nomor 46.”

“Tubuh, hati, dan harga diri bukanlah sesuatu yang bisa diperjualbelikan.”

Kali ini So Hee sudah menghapal isi peraturan itu. Hee Won segera menundukkan kepalanya dan memasang wajah menyesal, namun Jung Won tetap memasang wajah galak padanya. Hee Won sudah bertekad akan menghabisi Myong Hun kalau ia bisa selamat hari ini. Tingkah Myong Hun kali ini benar-benar seperti pemicu ledakan nuklir. Hee Won tidak pernah melihat kakaknya semarah ini sebelumnya.

“Aku tidak menjual tubuhku. Dan juga tidak menjual harga diriku.”

“Tapi perbuatanmu jauh berbeda dengan apa yang kau ucapkan barusan.”

“Aku hanya tertarik dengan iklan itu saja. Sungguh.”

“Kenapa kau bisa tertarik dengan iklan gila seperti ini? Padahal masih banyak iklan atau artikel yang lain.”

“Pasti karena ada kesempatan belajar di luar negeri, kan?”

Celetuk Sung Won sambil membetulkan kacamatanya ketika Hee Won hanya terdiam. Sung Won yang sekilas mengetahui kesalahan apa yang dilakukan Hee Won dari percakapan kedua #yna-nya itu menghela napas layaknya orang dewasa. Hari itu, sebenarnya ia cukup khawatir melihat mata Hee Won yang bersinar penuh semangat ketika melihat iklan itu. Sebagai anak laki-laki tertua di rumah itu, seharusnya ia bisa mengira kalau hal ini akan terjadi. Namun karena berbagai kesibukannya, 1a tidak sempat mengurusi masalah im.

“Belajar ke luar negeri?”

“Ada kesempatan khusus seperti di baris terakhir iklan itu. Mulai dari gaji sampat belajar ke luar negeri. Lumayan juga kan.”

Hee Won yang bercita-cita ingin menjadi Miss Korca memang bukan wanita dengan wajah yang cantik saja. Berkat nilai sekolahnya yang baik dan otaknya yang pandai, ia langsung diterima oleh sebuah universitas yang cukup baik dalam sekali ujian saja. Sebenarnya, Hee Won termasuk wanita yang berbakat. Mungkin itulah sebabnya ia bisa sampai lulus ke tahap wawancara iklan gila itu.

“Kang Hee Won, kau tahu tidak betapa berbahayanya laki-laki itu? Kau sadar tidak kejadian apa saja yang bisa menimpamu?”

“Aku mana tahu hal-hal scperti itu. Toh umurku juga tidak mencukupi, jadi aku hanya iseng saja mengirim surat lamaran itu. Eonri, sudahlah, jangan marah terus.”

“Masalahnya adalah orang itu tidak hanya sekadar iseng.” Jung Won yang tidak sabar terhadap adiknya yang tidak tahu apa- apa tentang situasi sebenarnya di luar sana, berteriak sambil menaikkan poninya dengan tangannya. Adiknya itu benar-benar masih seperti anak kecil.

“Eonni, apa maksudmu? Eonmi sudah bertemu dengan orang itu?”

“Tentu saja. Menurutnya, kau ini adalah kandidat kuat.”

“Aneh sekali.”

Hee Won memiringkan kepalanya dengan wajah bingung. Jung Won kembali berteriak padanya.

“Apanya yang aneh? Yang aneh itu kau, mau-maunya mendaftar ke iklan istri kontrak seperti itu.”

Tentu saja laki-laki cabul itu tertarik pada adiknya yang masih muda dan cantik itu. Namun, dari sekian banyak kejadian yang ia alami hari ini, ia paling menyayangkan sifat adiknya yang masih kekanakan sampai bisa terbujuk iklan seperti itu.

“Bukan itu maksudku. Umurku kan tidak mencukupi persyaratan iklan itu.”

“Oh ya? Kau pikir orang itu menganggap hal itu penting?”

“Buatku itu penting.”

“Apa maksudmu?”

Jung Won bertanya pelan melihat wajah Hcc Won yang mendadak serius. Entah kenapa, ia merasa tidak tenang menanti jawaban yang akan keluar dan mulut Hee Won. Jalan pikiran dan tingkah adiknya ita memang sering tidak terduga. Makanya bisa sampai timbul kejadian hari ini.

“Maksudku, aku mengirim CV Eonni dan menempel fotoku sendiri.”

Nuna?”

“Eonni?”

“Kang Hcc Won!”

Jung Won, Sung Won, dan bahkan So Hee yang masih kecil berteriak bersamaan, sementara Hee Won memasang wajah tidak peduli. “Karena awalnya kupikir toh aku tidak akan lulus. Yapi, anch sckali. Bagaimana orang itu bisa mengetahuiku? Kalau Eonri sih mungkin saja.”

“Bukan itu yang penting saat ini. Awas saja kalau kau berani sekali lagi berbuat aneh-aneh seperti ini.”

Jung Won berkata dengan tegas dan galak pada Hee Won sambil memasang wajah seseram mungkin. Ia tidak peduli bagaimana orang itu bisa mengetahui Hee Won.

Entah apa pekerjaan laki-laki itu, namun ia terlihat seperti orang kaya yang sepertinya bisa berbuat jahat sewaktu-waktu. Seperti puma yang berbahaya, yang bisa tiba-tiba menyerang kapan saja. Mengingat bahwa yang menjadi target laki-laki itu adalah adiknya sendiri, Jung Won bergidik ngeri.

“Baiklah, aku mengerti. Sekarang Horni tidak perlu khawatir lagi.”

“Aku tidak mengkhawatirkanmu, tapi laki-laki itu.”

“Kenapa?”

Jung Won menghela napas melihat Hee Won yang bertanya dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. Seperti kata laki-laki itu tadi, adiknya ini memang mudah dirayu. Jung Won benar-benar harus menjelaskan satu per satu dan memperingatkan Hee Won mengenai betapa berbahayanya orang itu. Adiknya itu harus tahu lelaki seperti apa dia.

“Lelaki itu bukan orang sembarangan yang bisa kau hadapi scorang diri. Jadi, kau harus berhati-hati.”

“Iya, aku mengerti. Sebenarnya sekarang aku lebih khawatir pada Bonai”

Melihat amarah kakaknya mulai reda, Hee Won kembali menyahut dengan berani.

“Aku juga.”

“Iya, aku juga.”

“Kalian semua mau kelaparan malam ini?”

Sung Won menyahut ucapan Hee Won, yang kemudian diikuti pula oleh si kecil So Hee. Jung Won akhirnya terpaksa setengah mengancam adik-adiknya yang pintar dan susah diatur itu. Namun, rasa khawatir itu tetap mengintai dari dalam hati kecilnya. Lelaki itu bukanlah orang yang akan menyerah begitu saja. Jung Won kembali merasa cemas dan bergidik ngeri mengingat tatapan matanya yang tajam dan tidak mau kalah itu.

Tenang. Segala sesuatunya akan baik-baik saja. Lelaki itu pasti orang yang sangat sibuk. Dan sepertinya kaya raya. Ia pasti tidak memiliki waktu memusingkan keluarga miskin seperti keluarganya ini. Namun, sekeras apa pun Jung Won berusaha menenangkan dirinya, kecantikan adiknya itu membuatnya semakin khawatir. Jung Won kembali menghela napas sambil mengawasi adik-adiknya masuk kc kamar mereka masing-masing. Angin musim semi yang dingin menerobos masuk ke ruang tamu melalui celah tipis jendela. Angin itu seolah menerobos dan terus bertiup di dalam hatinya. Ia adalah kepala keluarga dari keluarga yang sebclumnya tidak pernah terkena angin badai seperti ini.