Terima Kasih buat yang sudah donasi, semoga rezeki cianpwee sekalian dilipatgandakanšŸ™

Tangan Geledek Jilid 27 (Tamat)

Jilid 27 (Tamat)

Dengan suara gemetar Lee Tai menjawab, "Wan-bengcu. Baru sekarang mata teecu terbuka dan teecu sungguh bodoh sekali kena tipu orang. Akan tetapi, teecu sudah bersumpah takkan membuka rahasia persembunyianya dan mana bisa teecu melanggar sumpah sendiri! Lebih baik teecu mati dari pada melanggar janji.”

Wan Sin Hong, Huang-ho Sian-jin, Bu Kek siansu, Pang Soan Tojin dan yang lain-lain tertegun dan tak dapat bilang apa-apa lagi mendeogar kata-kata Lee Tai ini. Sin Hong maklum betul akan watak Lee Tai yang amat jujur dan setia. Pemuda berwatak seperti ini akan memegang kata-katanya dan andaikata ia dibujuk maupun diancam sampai dibunuh sekalipun, takkan mungkin mengaku dan melanggar

sumpah dan janji yang sudah dikeluarkan di depan Liok Kong Ji tanpa disadarinya itu!

Tiba-tiba dalam kesunyian yang tidak enak itu, terdengar suara Tiang Bu,

"Wan-pek pek, memang tidak bisa kita me nyalahkan Ciu- twako. Dia berjanji kepada orang yang tidak ia duga Liok Kong Ji adanya. Tentu saja seorang laki-laki gagah takkan melanggar janjinya. Akan tetapi sebagai laki-laki gagah pula, kiranya Ciu twako takkan mau sudah begitu saja diingusi (ditipu) mentah-mentah oleh Liok Kong Ji dan tentu Ciu twako akan membalas dendam. Ataukah, barangkali Cui twako jerih menghadapinya? Hal ini terserah kepada Ciu- twako karena dialah yang dipermainkan. Bagi kita yang lain, lebih baik kita mencari lebih giat kare na sudah nyata bahwa Liok Kong Ji masih tetap berada pulau ini."

Ketika Wan Sin Hong memandang kepadanya, Tiang Bu diam-diam memberi  isyarat  dengan matanya. Sin Hong dapat menangkap maksud Tiang Bu, maka ia menarik napas panjang dan berkata kepada Lee Tai,

"Sudahlah, kalau kau tidak mau mengaku kamipun tidak dapat memaksa. Aku hanya merasa  menyesal sekali mengapa kau sampai dapat diperemainkan demikian mudahnya oleh musuh kita itu."

Huang-ho Sian-jin, tokoh yang sudah berpengalaman luas di dunia kang-ouw, tentu saja dapat menangkap maksud hati Tiang Bu dan Sin Hong. Iapun berkata dengan keras,

"Seorang laki-laki tertipu ole h manusia iblis penuh muslihat seperti Liok Kong Ji, masih tidak aneh dan dapat dimaafkan. Akan tetapi seorang yang tertipu dan dipermainkan seperti itu diam saja tidak membalas benar- benar dia tidak patut menjadi laki-laki, lebih pantas disebut banci !"

Panas perut Lee Tai mendengar ini semua, telinganya merah. Kalau calon mertuanya berkata demikian, benar- benar terlalu sekali kalau dia diam saja.

"Liok Kong Ji jahanam keparat, awas kau!" sambil

be rkata demikian, ia lalu lari pergi dari situ tanpa pamit lagi. Bayangan ke  dua berkelebat cepat  sekali  dan Tiang Bu sudah lenyap dari situ mengikuti Lee Tai dengan diam-diam. Sin Hong cepat berkata kepada kawan-kawannya, “Siasat

Tiang Bu termakan olehnya.  Di  luar pengertiannya dan tanpa sengaja, Lee Tai akan membawa kita ke tempat persembunyian Liok Kong Ji. Hayo kita kejar dan ikuti dia. Akan tetapi, hanya Tiang Bu, aku sendiri, Huang-ho Sian-jin dan kedua locianpwe saja  yang boleh  me ndekat,  yang lain- lain mengikuti dari jauh. Lee Tai tentu tidak tahu dirinya diikuti orang, akan tetapi Liok Kong Ji lihai sekali. Kalau dia tahu Lee Tai diikuti orang lain, tentu dia tidak mau muncul.”

Demikianlah, ramai ramai mereka lari mengejar. Sin Hong, Huang-ho Sian-jin, Bu Kek Siansu dan Pang Soan Tojin di depan, yang lain-lain mengikuti dari belakang.

Bayangan rombongan ini bergerak-gerak di bawah sinar bulan purnama, seperti setan-setan penghuni pulau itn karena gerakan mereka cepat dan ringan.

Siasat yang dijalankan oleh Tiang Bu dan Sin Hong memang tepat sekali. Ucapan-ucapan Tiang Bu, Sin Hong, dan yang dibumbui oleh Huang-ho Sian-jin itu berhasil membakar hati Lee Tai yang memang berdarah panas.

Dengan hati mengandung dendam  he bat Lee  Tai  melarikan diri di sepanjang pantai, mencari tempat pertemuannya dengan Liok Kong Ji kemarin. Akan tetapi karena ia sedang marah dan bingung, terutama  sekali oleh  karena  bulan sudah mulai bersembunyi di ujung barat, ia kehilangan jalan dan semalam suntuk ia berputar putar saja keluar masuk hutan tanpa berhasil menemukan kembali tempat itu. Tentu saja Tiang Bu yang membayangi di belakangaya menjadi bingung dan mendongkol sekali. Ada sebuah hutan yang sudah dimasuki sampai dua kali oleh pemuda dogol itu.

Juga Sin Hong dan kawan-kawannya yang mengikuti dari jarak agak jauh menjadi bingung.

"Jangan-jangan  ia  tidak berani  menjumpai  kembali  iblis itu," gerutu Huang-ho Sian-jin. "Lee Tai tak mengenal takut," Sin Hong berkata menghibur, "agaknya ia sudah lupa lagi tempat itu dan kini sedang mencari-cari.”

"Liok Kong Ji amat keji dan penuh muslihat. Kalau Ciu sicu bertemu dengan dia, pinto khawatir Ciu-sicu akan terancam bahaya," kata Pang Soan Tojin yang sudah mengenal baik kekejaman hati Liok Kong Ji.

"Belum tentu,” jawab Sin Hong. " Liok Kong Ji tidak akan membunuh sembarang orang yang ia anggap tidak penting. Juga Lee Tai sudah sepatutnya menghadapi resiko itu untuk menebus kesalahan dan kebodohannya. Pula, bukankah kita dapat menolongnya dan terutama sekali Tiang Bu berada tidak jauh darinya. Kalau Tiang Bu melindungi,  Kong Ji takkan mampu menggang gu Lee Tai.”

Bu Kek Siansu menarik napas panjang. "Orang muda itu patut dikagumi, berbeda jauh dengan ayahnya. Hanya masib diragukan, setelah ia dif itnah sede mikian keji ole h Ciu-sicu, apakah ia mau memperduli kan kaselamatan Ciu-sicu."

"Biarpun putera Liok Kong Ji, aku yakin Tiang Bu sedikitpun tidak mewarisi kekejian hati ayahnya se baliknya anak itu seperti mendiang ibunya,” kata Sin Hong dengan suara sungguh-sungguh. “Biarlah kesempatan ini kupergunakan untuk menguji pribadinya, kuharap saja dugaanku tidak meleset."

Sementara itu, Tiang Bu menjadi mendongkol ketika menjelang pagi, Lee Tai menghentikan lari-larinya yang tidak ke ruan tujuannya itu dan pemuda dogol itu malah duduk mengaso di bawah pohon ! Tiang Bu memang sedang marah dan gemas terhadap Lee Tai yang mendatangkan semua keributan dan prasangka buruk terhadap dirinya. Kalau saja ia tidak ingat bahwa Lee  Tai adalah seorang pemuda anggauta rombongan Wan Sin Hong, tentu ia akan turun tangan memberi hajaran. Ia tahu bahwa Wan  Sin Hong adalah seorang pendekar besar yang selain sakti, juga memiliki kewaspadaan. Tak mungkIn Wan Sin Hong mau membawa-bawa seorang dogol seperti Ciu Lee Tai kalau pemuda itu tidak memiliki apa-apa yang baik.

Sambil berlari cepat mempergunakan ginkangnya

sehingga gerakannya menjadi amat ringan dan sama sekali tidak kelihatan atau terdengar oleh orang yang diikutinya, Tiang Bu memikirkan tentang diri Ciu Lee Tai. Diam-diam ia harus mengatakan bahwa pemuda dogol itu memiliki kepribadian dan kesetiaan yang patut dipuji. Biarpun terhadap seorang jahat seperti Liok Kong Ji, Lee Tai tetap tidak mau melanggar janji sendiri dan rela mengorbankan nama dan nyawanya.

Dan sekarang, pemuda yang sudah tahu bahwa ia takkan mungkin mampu mengalahkan Liok Kong Ji, dengan nekat hendak mencari Liok Kong Ji dan diajak bertanding. Benar- benar seorang pemuda yang bernyali besar, biarpun dogol dan bodoh.

Melihat Lee Tai beristirahat sambil menyus uti peluh, terpaksa Tiang Bu juga berhenti, bersembunyi di balik pohon dan memperhatikan gerak-gerik Lee Tai. Pemuda dogol ini bersungut-sungut dan terdengar ia berkata seorang diri.

"Liok Kong Ji jahanam keparat! Kalau kali ini aku tidak dapat menghancurkan kepalamu, lebih biik aku Ciu Lee Tai pulang tak be ryawa lagi !"

Tiang Bu tersenyum geli. Baru kata-katanya saja sudah dogol dan menggelikan. Kalau sudah tak bernyawa, bagaimana bisa pulang? Ketika Tiang Bu menggerakkan kepala ke belakang, ia tersenyum. ia melihat bayangan empat orang tua dan ia bisa menduga siapa adanya mereka itu. Memang, Sin Hong dan tiga orang kawannya terpaksa berherti karena Lee Tai dan Tiang Bu berhenti pula. Dan jauh di belakang mereka, rombongan kedua juga berhenti. Hal ini memang kebetulan sekali bagi rombongan ke dua yang terdiri dari Ang Lian dan Siok Li Hwa yang

menggendong Leng Leng. Mereka mendapat kesempatan beristirahat karena Leng Leng yang digendong dan dibawa berlari-lari itu merasa lelah dan ingin menangis. Khawatir kalau-kalau Leng Leng menangis, maka Li Hwa mengajak Ang Lian mengikuti dari jauh saja. Hal ini sebetulnya mengecewakan hati Ang Lian.

Gadis ini diam-diam amat mengkhawatirkan keadaan Lee Tai dan ingin ia mengejar sampai dekat agar dapat melihat apa yang sedang dilakukan oleh pemuda dogol yang memikat hatinya itu.

Ia sekarang dapat mengerti mengapa Lee Tai

merahasiakan orang yang menjadi sumber berita yang memfitnah Tiang Bu. Kiranya orang itu, yang bukan lain adalah Liok Kong Ji sendiri, menggunakan kebodohan Lee Tai untuk menjalankan siasat buruk memecah belah fihak musuh. Tentu Lee Tai dibujuk didiberi kitab pelajaran ilmu silat untuk dapat melawan Liok Kong Ji, dan di dalam hatinya Ang Lian tahu mengapa Lee Tai mati-matian berusaha mengalahkan Liok Kong Ji. Sebabnya hanya satu, dia sendiri ! Ucapannnya dahulu yang mengajukan syarat supaya pemuda itu mengalahkan Liok Kong Ji, rupanya

termakan betul oleh Lee Tai dan menjadi cta-cita pemuda itu

! Semua itu hanya mencerminkan betapa besar kasib sayang Lee Tai kepadanya, betapa besar hasrat hati Lee Tai untuk dapat memperisterikannya ! Ang Lian me njadi terharu sekali kalau memikirkan hal ini.

Kalau orang-orang yang diam-diam mengikuti jejaknya melamun dalam alam pikiran masing-masing, adalah Lee Tai yang duduk mengaso itu mengorok dalam tidurnya.

Memang, orang seperti Lee Tai ini berjiwa babas.

Betapapun duka dan masgul hatinya, kalau mata sudah mengantuk iapun tidurlah!

Orang yang melihat dia tidur hanya Tiang Bu saja, karena yang lain-lain berada di tempat jauh. Dapat dibayangkan betapa mendongkolnya hati Tiang Bu. Dia sendiri merasa tegang dan gemas, ingin lekas- lekas dapat berte mu dengan Liok Kong Ji. Eh, orang yang diharapkan membawanya ke tempat persembunyian Liok Kong Ji, enak- enak tidur! Ketika matahari sudah naik tinggi tetap Lee Tai belum juga bangun. Tiang Bu tidak sabar lagi, Diambilnya tanah lempung dan se kali lontar, tanah lempung itu mengenai hidung Lee Tai.

“Plak !”

Lee Tai melompat bangun, tersentak kaget. Cepat mencabut goloknya yang sudah ia ambil ke mbali  ketika ia mulai pergi me ncari Liok Kong Ji tadi, membolang-balingkan goloknya dan berseru.

"Liok Kong Ji, kalau be rani jangan menyerang di waktu aku tidur ! Keluarlah dan mari kita bertanding selaksa jurus!"

Seruannya keras, sampai terdengar dari te mpat di mana Ang Lian dan Li Hwa beristirahat, Siok Li Hwa menggeleng- geleng kepalanya.

"Bocah itu be rnyali besar, sayang dogol amat." Ang Lian diam saja, mukanya kemerahan.

Kalau tanah lempung itu disambitkan oleh orang belum tentu akan dapat terasa oleh Lee Tai. Akan tetapi sambitan Tiang Bu membuat hidungnya menjadi  merah dan terasa pe das sekali. Seperti kebiasaan ahli silat yang sudah agak "matang" biarpun dalam keadaan tidur, namun urat

syarafnya selalu bersia siap begitu merasa ada sesuatu yang menggangu, seluruh urat syarafnya bekerja. Inilah sebabnya maka begitu hidungnya tercium oleh senjata lempung itu Lee Tai terus saja melompat dan mencabut golok siap me nyerang

!

Sin Hong yang berada di tempat agak jauh dan tidak melihat perbuatan jahil Tiang Bu tadi hanya saling pandang dengan kawan-kawannya. Akan tetapi mereka segera bangkit dan mulai bergerak maju karena mereka melihat Tiang Bu sudah bergerak pula mengikuti Lee Tai yang sudah berlari - lari ke depan.

Setelah matahari naik makin tinggi, baru Lee Tai mendapatkan kembali tempat di mana ia bertemu dengan Liok Kong Ji. Seperti juga ke marin, pemuda  ini  berdiri  di dekat batu karang. Betapapun dogolnya ia masih mampu menggunakan pikiran bahwa kalau ia bersikap kasar, Liok Kong Ji tentu takkan mau keluar. Ole h karena itu, ia lalu duduk di atas sebuah batu karang kecil dan berkata dengan suara keras.

"Locianpwe yang sakti ! Teecu mohon locianpwe suka ke luar lagi untuk memberi penjelasan!"

Lee Tai memang tidak pernah membobong, juga tidak bisa membohong. Maka ia se ngaja menggunakan kata kata "untuk memberi penjelasan" karena memang ia hendak meminta penjelasan dari orang tua itu. Kata-katanya yang jujur ini ternyata malah kebetulan sekali. Tentu saja Liok Kong Ji yang sedang bersembunyi di dalam gua rahasia. mendengar suaranya. Liok Kong Ji tadinya menjadi curiga dan me ngintai ke luar dari sebuah lubang rahasia. Akan

te tapi ia tidak melihat orang lain kecuali Ciu Lee Tai yang duduk di atas batu sambil mengebut ngebut leher dengan ujung lengan baju mengusir panas. Pemuda itu tidak memegang kitab tanda bahwa pemuda itu memperhatikan pesannya, tidak sembarangan mengeluarkan kitab itu. Juga pemuda itu minta ia ke luar memberi penjelasan. Tak salah lagi, tentu ia mengalami kesulitan dengan pelajaran Soat- lian kiam hoat, pikir Kong Ji. Ahh dogolnya orang ini !

Kalau aku tidak keluar, tentu ia akan membuka mulut menimbulkan gaduh, jangan jangan malah  menarik perhatian Wan Sin Hong atau Tiang Bu. Lebih baik aku ke luar dan mencari akal supaya ia jangan datang lagi, pikir Lio Kong Ji. Setelah sekali  lagi  mengintai dan meli hat keadaan di luar betul-betul aman, ia menekan  alat rahasia  dan sebuah pintu terbuka. Untuk ke dua kalinya Lee Tai tersentak kaget ketika melihat Liok Kong Ji tahu-tahu sudah berdiri di de pannya, entah dari mana seperti baru muncul dari muka bumi di depannya saja. I ni adalah karena gerakan Kong Ji amat ringan dan cepatnya. ia tidak memberi kesempatan kepada Lee Tai untuk melihat pintu rahasia dari gua

pe rsembunyiannya. Akan tetapi, alangkah heran hati Liok Kong Ji ketika melihat Lee Tai tidak segera menjatuhkan diri berlutut, malahan pemuda itu mencabut golok, berdiri tegak dil depannyat lalu mangeluarkan suara bentakan.

“Kau sebenarnya siapakah? Apakah kau Liok Kong Ji?” Kalau tidak sudah luas pengalaman dan tinggi ilmunya,

te ntu Liok Kong Ji akan menjadi pucat mukanya “ditodong” seperti ini oleh Lee Tai. Akan tetapi Kong Ji malah menarik muka terheran-heran, lalu tersenyum.

"Orang muda, apa  kau sudah  mabok? Kan  tahu aku bukan Liok Kong Ji. Bagaimana kau bisa berkata demikian?”

Sikap yang sewajarnya dari Liok Kong Ji kembali te lah menipu pandangan Lee Tai yang me mang betul-betul bodoh dalam hal ini. Dia terlalu jujur dan iapun menganggap bahwa orang lain juga tentu jujur seperti dia, karena menurut anggapannya, mengapa orang harus membohong?

Mendengar kata kata Liok Kong Ji ini, Lee Tai menjadi bingung. Memang amat sukar, bagaimana bisa me nentukan apakah orang ini Liok Kong Ji atau bukan? Dia selama hidupnya belum pernah bertemu dengan Liok Kong Ji dan orang ini begitu bertemu sudah memberi hadiah kitab pelajaran ilmu pedang, bagaimana ia bisa bersikap tak tahu terima kasih ?

Akan tatapi, teringat akan kitab, ia mendapat pikiran.

Segera ia bertanya.

"Kitab itu milik Liok Kong Ji, bagaimana kau bisa memberikannya kepadaku kalau kau bukan Liok Kong Ji ?" Kembali di dalam hatinya Liok Kong Ji terkejut sekali.

Kalau pemuda ini tahu bahwa kitab Soat-tian-kiam-coan-si itu milik Liok Kong Ji, berarti bahwa kitab itu tentu terlihat oleh Tiang Bu atau Wan Sin Hong!

"Orang muda, apa kau melanggar janji dan memberi tahu tentang kitab kepada mereka ?"

"Tidak, sama sekali tidak! Hanya ......... ketika aku mempelajarinya, Tiang Bu melihatnya dan .......... dan..........

oh,  kalau begitu kau  betul Liok Kong Ji?"

“Babi hutan ! Dasar kau berotak udang bodoh, goblok dan tolol ! Aku memang Liok Kong Ji dan kau boleh bawa nama ini ke mereka! Hayo katakan, sekarang mereka baru apa?” bentak Liok Kong Ji yang sudah tidak mau main sandiwara lagi.

Akan tetapi Lee Tai tidak takut. Ia menggerakkan goloknya dan me mbe ntak, "Bagus! Kalau kau Liok Kong Ji, itulah yang kucari-cari dan kutunggu tunggu! Mari kita berte mpur selaksa jurus, kalau bukan kau yang kupengal lehermu, tentu aku yang menggeletak di sini tak bernyawa. Goloknya menyambar cepat se kali ke  arah leher  Liok  Kong Ji.

Serangan Lee Tai ini boleh jadi akan membahayakan lawan lain, akan tetapi sekarang berhadapan dengan Liok Kong Ji. Sekali menggerakkan tubuh ke samping, golok itu menyambar tempat kosong. Golok Lee Tai menyambar lagi dengan kecepatan kilat, kenekatan dan kemarahan Lee Tai membuat gerakan-gerakannya cepat sekali dan serangannya susul-me nyusul bagaikan air hujan. Juga ia melakukan serangan sekuat tenaga sampai goloknya mengeluarkan suara berdesing.

Betapapun ia mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya, selalu goloknya menyambar tempat kosong dan pada jurus ke delapan, ketika tangan kiri Kong Ji melakukan gerakan menyentil dari samping, terdengar suara nyaring golok itu terlepas dari pegangan Lee Tai, terlempar jauh. Sebelum Lee Tai sempat memperbaiki kedudukannya, kaki kanannya kena dicium ujung sepatu Kong Ji, membuat ia roboh terguling dengan sambungan lutut terlepas !

Namun pemuda ini amat bandel dan nekat. Ia melompat bangun lagi, dan biarpun sudah terpincang-pincang, ia menyerang lagi tanpa mengeluarkan keluhan sedikitpun !

“Iblis keji !” terdengar bentakan nyaring dan sebatang pedang menyambar ke arah punggung Liok Kong Ji, akan tetapi dapat dielakkan dengan mudah oleh Kong Ji.

"Ang Lian.........” seru Le e Tai,  girang dan  kaget. "Jangan dekat-dekat, dia berbahaya!"

"Ciu-twako, aku membantumu!" jawab Ang Lian sambil menyerang lagi.

Kejadian ini amat mengejutkan hati Tiang Bu, juga Sin Hong dan yang lain-lain. Tanpa diduga-duga, ketika menyaksikan betapa Lee Tai tidak berdaya menghadapi Liok Kong Ji timbul kekhawatiran hati Ang Lian dan gadis ini segera melompat dan mati-matian membantu pemuda dogol itu. Dengan ilmu pedang warisan ayahnya, penyerangan gadis ini hebat juga. Akan tetapi tentu saja semua penyerangan ini bukan apu apa bagi Liok Kong Ji yang jauh le bih tinggi tingkat kepandaiannya. Me lihat munculnya gadis ini. Kong Ji makin gelisah. Take salah lagi, tentu yang lain akan segera muncul.

"Bagus kau datang," serunya dan cepat tubuh Liok Kong Ji bergerak. Sebelum Ang Lian dan Lee Tai tahu apa yang terjadi, karena tiba-tiba bayangan Liok Kong Ji lenyap dari depan mereka, tahu tahu mereka telah roboh tak berdaya, te rkena totokan lihai dari manusia iblis itu.

Liok Kong Ji mempunyai siasat bagus untuk menyelamatkan diri. Meli hat dua orang muda itu, ia segera merobohkan mereka dan hendak mempergunakan mereka sebegai pe risai, atau sebagai tebusan bagi keselamatan dan kebebasannya.

Akan tetapi, sama sekali di luar persangkaannya bahwa Tiang Bu sudah dekat tempat itu, karena tiba-tiba hawa pukulan keras menyambar hebat ketika ia hendak menghampiri Ang Lian dan Lee Tai yang sudah menggeletak di atas tanah dan hendak menawan mereka. Hawa pukulan ini biarpun datang dari jarak jauh,  hebatnya bukan main dan hawanya panas seperti api menyambar.

Link Kong Ji sendiri adalah seorang abli lwee-keh dan ia memiliki dua macam pukukan lweakang istimewa, yaitu Hek-tok-ciang dan Tin-san-kang, yang dapat merobohkan lawan dari jarak jauh. Oleh karena itu, tentu saja ia maklum bahwa ia sedang diserang oleh se orang lawan yang berilmu tinggi ia tidak berani berlaku ge gabah, terpaksa ia mengurungkan niatnya me nawan Lee Tai dan Ang Lian.

Sebaliknya ia cepat membalikkan tubuh, menggerakkan kedua tangan untuk menyampok pukulan lawan ini.

Tubuhnya terhuyung ketika dua tenaga raksasa bertemu

membuat Liok Kong Ji makin terkejut terpaksa ia melo mpat jauh ke belakang.

Ketika ia memandang, ternyata bahwa yang menyerangnya dan yang menolong Lee Tai dan Ang Lian tadi bukan lain adalah Tiang Bu!  Kemudian  bermunculanlah Wan  Sin Hong,  Huang-ho  Sian-jin,  Bu Kek Siansu, Pang Soan Tojin, dan nampak juga Siok Li Hwa yang memondong Leng Leng. Mereka sudah berdiri di hadapannya, sikap mereka rata-rata garang dan penuh kemarahan !

Muka Liok Kong Ji menjadi pucat, lalu kehijauan, akan tetapi ia dapat menekan perasaannya, meringis dalam senyum buatan. Ia hanya dapat memandang saja ketika Tiang Bu membebaskan totokan yang membuat Ang Lian dan Lee Tai tak berdaya. Dua orang muda in segera mengundurkan diri di belakang orang orang tua, karena mereka maklum bahwa mereka sama sekali bukanlah lawan Liok Kong Ji yang jagoan itu.

"Ha-ha-ha." Kong Ji tertawa mengejek “Wan Sin Hong sudah menjadi pengecut, tidak berani datang sendiri dan membawa seregu pembantu. Apakah kalian ini tua-tua bangka hendak mengeroyok aku ?"

Sebelum orang lain menjawab, Tiang Bu sudah membentak marah,

"Perlu apa mengeroyok? Aku sendiri dengan dua tanganku cukup untuk mengakhir riwayatmu yang busuk !” Pemuda ini dengan muka merah sudah bersiap saaga menerkam musuhnya ini. Ia makin membenci Liok Kong Ji kalau teringat akan Bi Li kekasihnya yang tedinya menjadi buntung lengannya oleh Liok Kong Ji, kemudian te was di laut oleh Liok Cui Kong.

Liok Kong Ji meneogok ke arah pemuda ini, nampaknya gentar, akan tetapi ia memperlebar senyumnya ketika ia menoleh kembali kepada Wan Sin Hong.

"Hemmm, bagus sekali, Sin Hong. Kau tahu bahwa bocah ini adalah keturunanku, anak Soan Li. Dan kau sengaja menyuruh dia melawanku? Tentu saja aku tidak bisa bersungguh-sungguh  dan  tidak leluasa  kalau harus melawan puteraku sendiri, petera tunggal dan……."

"Tutup mulutmu yang busuk !" Tiang Bu membentak lagi dan tubuhnya berkelebat, di lain saat ia telah mengirim pukulan ke arah dada Liok Kong Ji!

Kong Ji menangkis, keduanya terhuyung ke belakang, akan tetapi kalau Tiang Bu tidak merasa sesuatu, adalah diam-diam Liok Kong Ji mengeluh karena lengannya terasa panas dan linu.

"Tiang Bu !" Sin Hong mencegah ketika melihat Tiang Bu hendak menyerang lagi. "Tunggu sampai dia habis bicara !" Tiang Bu mentaati perintah ini dan ia  melangkah mundur, berdiri tegak dengan mata mencorong, mata yang serupa benar dengan  mata  Kong Ji, tajam dan  bersinar aneh. Kong Ji maklum bahwa kali ini tidak ada jalan lari lagi bagiaya, maka dengan sikap keren berkata,

"Sekarang aku sudah terkepurg, akan tetapi aku menuntut hak seorang kangouw, aku ingin menghadapi kalian seorang demi seorang. Ini kalau kalian berani.

Pertama-tama aku menantang musuh besarku sejak kecil. Wan Sin Hong. Majulah kalau kau masih memiliki sifat jantan !" Sambil berkata demikian, Liok Kong Ji melangkah maju setindak ke depan Sin Hong.

Wan Sin Hong menjadi merah mukanya dan iapun melangkah tiga tindak ke depan Liok Kong Ji. Dua orang musuh besar sejak kecil ini akhirnya berhadapan  muka, satu lawan satu! Teringat mereka akan riwayat dahulu ketika mereka masih sama-sama kecil, lalu ketika mere ka sama-sama muda menjadi musuh, juga berhadapan seperti ini. Teringat akan ini, tak tertahan lagi Wan Sin Hong berkata, suaranya tenang namun mengandung kebencian besar,

"Kong Ji, teringatkah akan riwayat hidupmu yang penuh dosa? Hidupmu penuh noda darah orang-orang tak berdosa. Kekejianmu melebihi iblis dan akhir akhir ini dalam usia tua kau bukan me njadi kapok dan menebus dosa-dosa di waktu muda. malah menambah lagi dosa dosamu dengan dosa- dosa baru, kau benar-benar manusia berhati iblis ! Sekarang

tibalah saatmu untuk menebus dosa dosamu itu, tidak hanya di dunia akan tetapi juga di depan Giam-kun."

Mendengar kata-kata ini, Liok Kong Ji malah tertawa bergelak.

"Wan Sin Hong, di dunia ini mana ada dosa? Dosa hanya pandangan orang yang merasa dirugikan. Aku membunuh untuk mendahului jangan sampai aku yang dibunuh. Kalau aku tidak pandai menjaga diri, apakah aku tidak kaubunuh dari dulu? Ha-ha, Sin Hong. Aku membunuh orang kauanggap berdosa, apakah kulau kau berhasil membunuh aku, kau tidak berdosa? Aku melakukan perbuatan demi ketenangan hatiku dan orang hidup harus be rsenang- senang, apa itu kauanggap dosa? Ha-ha-ha !”

Semua orang tertegun mendengar omongan itu, dan Sin Hong marah sekali.

“Liok Kong Ji, manusia macam kau ini sama dengan iblis.

Mana kau tahu tentang dosa.? Kau melakukan perbuatan- perbuatan keji, berlawanan dengan kebajikan, berlawanan kehendak Thian. Kau tentu tidak mengenal Tuhan kau menurutkan hawa nafsu iblis belaka. Perlukah kau kuingatkan akan kedosaanmu yang dulu-dulu? Kau diperlakukan baik-baik oleh gihu (ayah angkat) Lie Bu Tek, akan tetapi kau membalas dengan menabas buntung lengannya. Ini kaulakukan ketika kau masih kecil. Kau

menipu orang orang yang menolongmu, mendidiknya bahkan manipu guru-gurumu. Kau melakukan perbuatan

keji terhadap orang baik-baik, termasuk Gak Soan Li, perbuatanmu ini saja sudah terkutuk oleh Thian. Lupakah kau akan semua itu? Berkali-kali kau lolos dari tanganku karena siasat-siasat burukmu, kau tidak berani menghadapi segala tantangan seperti orang laki-laki, melainkan mempergunakan tipu muslihat. Akhir-akhir ini kau membunuh Pek thouw-tiauw-ong Lie Kong suami isteri dan puteri mereka, kau menyuruh anakmu yang menjadi iblis cilik itu menyebar maut di Kim bun-to, membunuh sutitku dan suaminya, kau membuntungi lengan tangan Wan Bi Li. Pendeknya, terlalu banyak kau membikin sengsara orang dan terlalu lama kau mengotorkan dunia. Bersiaplah untuk menghadap Giam-kun dan menebus dosa-dosamu di neraka

!”

Wan Sin Hong sudah memasang kuda-kuda dan bersiap untuk melakukan sarangan. Akan tetapi Liok Kong Ji masih bersikap biasa saja, malah ia tersenyum mengejek.

"Wan Sin Hong, kau pandai mencatat dan membacakan daftar kesalahan orang lain, akan tetapi kau menutupi kekejianmu sendiri. Lupakah kau akan perbuatan kejimu membuat aku bercacad seumur hidupku ?”

Sin Hong terheran-heran mendengar ini. Sepanjang ingatannya, belum pernah ia melakukan perbuatan itu. Memang betul ia sering kali merobohkan Liok Kong Ji dan melukainya, akan tetapi bukan luka yang mendatangkan derita dan cacad.

“Omongan bohong apa yang kau keluarkan ini ?" bentaknya.

“Ha-ha-ha, se orang laki-laki tidak berani mengakui perbuatannya, apakah layak disebut gagah? Kau telah membuat lengan kiriku bercacad selama hidup, apa masih tidak mau mengaku ? Kau lupa ini ? Lihatlah baik-baik, macam apa lenganku sekarang setelah dahulu kau bikin remuk !”

Liok Kong Ji maju mengulurkan lengan kiri sambil menyingsingkan lengan bajunya yang kiri, memperlihatkan lengannya yang barkulit putih, lengan yang kurus dan nampak kehitataman totol-totol di dekat sambungan siku.

Sikap wajar Liok Kong Ji ini membuat Sin Hong kurang waspada. Ia dahulu memang pernah mematahkan tulang lengan Kong Ji ketika ia merampas pedang Pak-kek-sin-kiam dari musuh ini, akan tetapi tidak mengira bahwa perbuatannya itu membuat lengan Kong Ji bercacad selamanya. Karena ingin tahu melangkah makin mandekat dan melihat lengan itu.

"Wan-pek-pek, awas !! " Tiang Bu berseru keras.

Akan tetapi terlambat ! Langan kiri Liok Kong Ji yang disingsingkan lengan bajunya dan sedang dilihat oleh Sin Hong itu, tiba-tiba meluncur ke depan. menghantam dada Wan Sin Hong dengan pukulan Tin-san-kang yang luar biasa lihainya !

"Buukk!!" Tubuh Wan Sin Hong terpental sampai dua tombak lebih terkena pukulan itu dan terdengar Siok Li Hwa menjerit melihat suaminya terlempar dalam keadaan berdiri akan tetapi memuntahkan darah segar! Siok Li Hwa melompat mendekati suaminya, akan tetapi Sin Hong memberi tanda supaya isterinya mundur, kemudian ia berjalan tegap menghampiri Liok Kong Ji lagi sambil menyusut darah dari bibirnya ! Tiang Bu yang sudah hendak menerjang Liok Kong Ji. terpaksa mundur ketika dengan tangannya Sin Hong memberi isyarat supaya ia juga

mundur.

“Pengecut jahanam!” maki Siok Li Hwa dengan muka pucat, gelisah memandang suaminya.

"Iblis tak tahu malu” Ang Lian juga memaki marah.

"Wan-bengcu, mundurlah. Biar aku yang melabraknya!” Lee Tai terteriak-teriak, akan tetapi segera menutup mulut

ketika Ang Lian mendelik kepadanya.

Wan Sin Hong tersenyum memandang Kong Ji yang terheran-heran. Kong Ji tadinya me mang mengharapkan dapat memukul mati kepada lawannya ini, akan tetapi Sin Hong tidak roboh, hanya muntah darah. Hal ini benar-benar tidak diduga-duganya. Ia tidak tahu bahwa memang Sin Hong selamanya tidak percaya kepadanya dan tadipun pendekar ini sudah mengerahkan tenaga sinkangnya menjaga diri. Sayangnya, Sin Hong tertarik untuk memeriksa

lengannya, maka terlambat mengelak atau menangkis sehingga terkena pukulan yang biarpun tidak membabayakan nyawanya, namun telah mendatangkan luka dalam yang cukup hebat.

"Kong Ji, apa perbuatanmu tadi patut di banggakan ?” sindir Sin Hong. "Kau berlaku curang.” “Apa yang curang ? Kau sudah memasang kuda-kuda, sudah siap kita mengadakan pertandingan. Perbuatanku tadi termasuk takt ik pertandingan, apanya yang salah?

Hanya kau yang terlalu goblok, berotak kerbau." Setelah berkata demikian, Liok Kong Ji te rus menyerang bertubi-tubi

dengan pukulan pukulan Hek-tok-ciang dan Tin-san-kang.

Penyerangannya hebat sekali, gerakan-gerakannya jauh

le bih sempurna dari pada beberapa tahun, bahkan beberapa bulan yang lalu. Hal ini adalah karena semenjak ia mampelajari kitab Delapan Jalan Utama ilmu silatnya bertambah lihai dan mendapat kemajuan pesat sekali.

Diam-diam Sin Hong terke jut dan kagum. Harus ia akui bahwa ilmu kepandaian Liok Kong Ji telah memperoleh kemajuan yang jauh di  luar sangkaannya.  Biarpun  dia sendiri juga selalu berlatih dan memperdalam ilmunya, akan tetapi ia harus mengakui bahwa ia kaLah maju.  Karena dahulu memang tingkatnya sudah lebih tinggi, maka kemajuan yang luar biasa dari kepandaian Kong Ji, hanya membuat lawan ini sekarang memiliki tingkat yang seimbang dengan dia.

Sin Hong berlaku hati-hati, mengerahkan se mua kepandaian untuk melawan musuh yang tqngguh ini. Betapa pun juga Pak-ke k Sin-ciang ternyata masih tahan uji dan dapat dibanggakan, dapat menangkis semua terjangan Liok Kong Ji. Sayangnya Sin Hong sudah menderita luka dalam akibat penyerangan gelap tadi, maka di dalam pertandingan mati-matian ini  kadang-kadang ia  merasa dadanya  sesak dan terpaksa ia sering kali mengalah dalam hal adu tenaga, mengalah untuk menghindarinya dan me ngelak.

Tentu saja hal ini diketahui baik oleh Liok Kong Ji. Dia malah berusaha mengadu lwee-kang agar luka di dalam dada Sin Hong makin menghebat dan parah. Biarpun ia akhirnya akan roboh di tangan Tiang Bu dan kawan- kawannya, kalau ia sudah dapat menewaskan Sin Hong, ia sudah puas. "Ha ha, Sin Hong. Kau dulu bukan kau sekarang dan Liok Kong Ji dulu berbeda dengan Liok Kong Ji sekarang !" ejeknya untuk memanaskan hati lawan.

"Tentu saja kau  berbeda  dengan  dulu. Kau  sekarang lebih pengecut dan le bih keji." balas Sin Hong yang mengelak dari  sebuah pukulan lalu membalas  dengan totokan kilat dari ilmu silatnya Pak-kek Sinciang yang lihai. Akan tetapi Liok Kong Ji sempat juga menangkis sambil mengerahkan tenaga dan sekali lagi dua lengan saling bentur dengan

hebat.

Baiknya Sin Hong adalah ahli tenaga dalam lm yang Sin- kang. Ia dapat menyalurkan tenaga kasar atau lemas menurut kehendak hatinya dan dapat mengatur harus mempergunakan tenaga apa untuk menyambut serangan Kong Ji agar lukanya di dalam dada tidak bertambah parah.

Akan tetapi, setelah lima puluh jurus lewat dan keadaan Liok Kong Ji be rtambah kuat dan ganas, Sin Hong yang sudah menderita luka itu terpaksa mengakui bahwa ia takkan dapat bertahan lebih lama lagi. Peluh telah memenuhi dahinya dan ia maklum kalau pertempuran

tangan kosong ini dilanjutkan, ia akan menderita kekalahan. Liok Kong Ji terlalu cerdik sehingga tidak mau mengadu kecepatan ilmu silat, melainkan selalu mempergunakan Tin- san-kang atau Hek-tok-ciang untuk mengadu tenaga dalam, maklum bahwa lawannya sudah terluka parah.

"Kong Ji, hadapilah Pak-kek-sin-kiam yang akan mengantar nyawamu ke dalam neraka !" Be rkelebat sinar menyilaukan dan di lain saat pedang Pak-kek-sin-kiam sudah berada di tangan Wan Sin Hong !

Liok Kong Ji tertawa berkelak. "Belum apa apa sudah mengeluarkan pedang!” Iapun mencabut padangnya dan di dalam otaknya terbayang sesuatu yang menyenangkan hati. Kalau saja aku dapat merampas Pak-kek-sin-kiam, pikirnya. Di antara mereka semua, yang paling harus dikhawatirkan hanya Tiang Bu seorang. Yang lain-lain tak masuk hitungan, kecuali Wan Sin Hong. Akan tetapi kalau aku berhasil menewaskan Sin Hong dan me rampas Pak kek-sin-kiam, aku sanggup menghadapi Tiang Bu dan terbukalah jalan keluar ke arah pembebasan !

Dengan pikiran ini, Liok Kong Ji menggerakkan pedangnya dan memegang pedang itu melintang di depan dada. Ia memasang kuda-kuda miring dan matanya memandang tajam ke arah lawan. Juga Wan Sin Hong sudah memasang kuda-kuda, tangan kanan memegang pedang melintang di depan, tangan kiri dimiringkan melintang dada pula, seperti orang bersidekap. Sikapnya tenang, matanya tajam waspada, akan tetapi peluh di keningnya menandakan bahwa ia telah lelah.

Melihat dua orang musuh besar berdiri barhadapan dengan pedang di tangan, diam tak bergerak laksana patung itu, bagaikan dua ekor jago yang sedang menanti saat baik untuk menerkam, benar-benar menegangkan hati. Semua orang maklum bahwa keduanya siap untuk mengadu nyawa, untuk menentukan siapa menang siapa kalah dengan aliran darah.

Siok Li Hwa memberikan Leng Leng kepada Ang Lian dan nyonya ini berdiri dengan kaki gemetar siap dengan senjata rahasia Cheng-jouw-ciam ( Jarum Rumput Hijau ) di tangan untuk melindungi suaminya apabila terancam bahaya maut. Tiang Bu berdiri paling dekat, tegak dengan kedua kaki terpentang  dan  kedua  tangan  tergantung  di  kanan  kiri, setiap  urat  syarafnya  pun  siap  untuk  menolong  Sin Hong bila mana perlu. Adapun tiga orang kakek Huang-ho Sian-

jin, Bu Kek Siansu dan Pang Soan Tojin berdiri menonton dengan penuh ketegangan hati. Mereka bertiga maklum bahwa dua orang yang berilmu tinggi dan sakti sedang berhadapan untuk mengadu nyawa dan mereka sendiri tak kuasa berbuat sesuatu karena tingkat mereka lebih rendah.

Kalau dulu, tentu Kong Ji merasa gentar menghadapi Sin Hong dengan Pak-kek-sin-kiam di tangan. Pedang itu se ndiri sudah merupakan pedang pusaka yang ampuh apa lagi di tangan Sin Hong yang menjadi ahli waris Pak-kek-sin-kiam- hoat, benar-benar merupakan lawan berat. Akan tetapi sekarang Liok Kong Ji sudah mempelajari banyak ilmu pedang yang ampuh-ampuh, di antaranya Soat-lian Kiam- hoat dan Soan-bong Kiam hoat, keduanya dari kitab-kitab Omei-s an yang tentu saja mengandung ilmu pedang kelas satu. Di samping itu ilmunya sudah dipermasak oleh pelajaran dalam kitab Delapan Jalan Utama.

Sampai lama dua orang lawan ini saling berhadapan tanpa bergerak. Kemudian Kong Ji berkata mengejek, "Kau memegang Pak kek sin-kiam, tentu saja kau dapat menang dengan mudah mengandalkan ketajaman pe dangmu. Anak kecilpun bisa menang seperti itu.”

Watak Sin Hong adalah menjunjung tinggi kegagahan. Biarpun ia maklum bahwa ucapan Kong Ji ini merupakan siasat, akan tetapi mengandung kebenaran juga. Maka ia menjawab.

"Jangan khawatir,  aku takkan  mematahkan  pedangmu.

Kalau patah aku takkan menyerangmu, dan kau boleh berganti pedang. Seorang di antara kita akan mati dengan pedang di tangan !”

Tentu saja ucapan ini amat menggembirakan hati Kong Ji. Sekarang ia tidak takut lagi menghadapi Pak-kek-sin- kiam dan begitu Sin Hong menghentikan ucapannya, ia mengeluarkan seruan seperti binatang menjerit dan menerkam ke depan dengan tusukan kilat. Tusukan ini ia susul dengan ujung pedang diguratkan ke atas menyerang leher sehingga dalam segebrakan saja pedangnya telah melakukan dua macam tusukan maut.

Sin Hong berlaku tenang. Ia mengelak dari tusukan pertama dan tusukan ke dua ia tangkis dengan pe dangnya dimiringkan sehingga bagian yang tajam tidak merusak pedang lawan. Biarpun demikian Kong Ji merasa padangnya terge tar dan diam-diam ia mengaku bahwa ilmu pedang lawannya ini benar-benar kuat. Ia lalu berseru keras dan mulai mainkan Ilmu Pedang Soat-lian Kiam-hoat dari Omei- san.

“Huh, tak tahu malu. Ilmu curian dipakai bertempur !” Tiang Bu mencela gamas. Tent u saja ia mengenal gerakan- gerakan dari ilmu silat Omei-san dan dapat menduga bahwa tentulah ilmu yang dipelajari dari kitab curian.

Adapun Sin Hong ketika menghadapi pedang ini, merasa ada hawa dingin sekali menyusup tulang. Hawa ini  timbul dari sambaran pedang Kong Ji. Maklumlah ia bahwa inti dari ilmu pedang ini berdasarkan tenaga Im-kang yang dalam, sehingga hawa pukulan pedang mengandung hawa dingin yang cukup dahsyat untuk merobohkan lawan yang lweekangnya kurang kuat.

Menghadapi Soan-lian Kiam-hoat ini, terpaksa Sin Hong juga mengerahkan Im-kangnya untuk menahan hawa dingin. Dari  Pak-kek  sin-kiam juga menyambar hawa yang dinginnya tidak kalah oleh hawa pedang Liok Kong Ji. Bukan main hebatnya Im-kang dari dua orang jago tua ini sampai- sampai mereka yang me nyaksikan pertempuran itu merasa dingin sekali. Lee Tai dan Ang Lian yang ilmu kepandaiannya paling rendah di antara mereka semua, sampai menggigil kedinginan.

Setelah lewat tiga puluh jurus, Kong Ji merobah permainan pedangnya dan sekarang pedangnya bergerak bagaikan angin taufan lenyap menjadi  gulungan  sinar pedang yang mendatangkan hawa panas sedangkan tangan kirinya mulai melakukan pukulan Tin san-kang dan Hek- tok-ciang secara gencar dan bertubi-tubi. Inilah Ilmu Pedang Soan-hong Kiam- hoat, juga ilmu pedang yang ia curi dari Omei-san, yang ia pelajari dari kitab yang dibawa oleh Lo Chian-tung Cun Gi Tosu.

Kembali Wan Sin Hong terpaksa harus mengubah saluran lweekangnya, dan ia sekarang mengerahkan tenaga Yang kang untuk melawan musuhnya. Ia dipaksa main adu tenaga dalam oleh Liok Kong Ji yang cerdik dan diam-diam Sin Hong mengeluh. Dalam ilmu pedang ia tidak mungkin kalah oleh lawannya, akan tetapi kalau lawannya main adu ilmu lweekang, ia payah oleh lukanya di dalam dada tadi Ia sudah mulai merasa mual dan  ingin muntah lagi,  karena luka di dalam dadanya yang terdesak oleh pergantian tenaga itu kini menjadi makin parah.

Celakanya, ia tadi sudah berjanji takkan mematahkan pedang Liok Kong Ji, maka ini berarti ia sudah kalah selangkah. Percuma saja ia memegang pedang pusaka, malah lebih baik memegang pedang biasa saja, tidak usah menjaga agar pedangnya tidak menabas putus pedang lawan.

Kong Ji makin bersemangat, menyerang mati-matian.

Terpaksa Sin Hong mengeluarkan ilmunya, pukulan Tin-san- kang yang menyambar datang ia tangkis dengan tenaga lweekang sedangkan pedangnya  membacok pundak Li Kong Ji dengan gerakan miring, Kong Ji terkejut sekali dan menangkis.

"Traang.......... .!” Pedang di tangan Liok Kong Ji putus menjadi dua! Dia melompat mundur dan kesempatan yang amat baik ini tak dapat dipergunakan oleh Sin Hong yang sudah berjanji takkan mau mengambil kemenangan dengan ketajaman pedangnya.

"Aku sudah tak berpedang lagi. Mari lanjutkan dengan tangan kosong!” Kong Ji menantang, tahu bahwa dengan tangan kosong akan ia akan lebih mudah memancing adu tenaga untuk memperoleh ke menangan terakhir.

Dengan sikap tenang Sin Hong manyarungkan pedangnya, agaknya siap untuk melayani Kong Ji selanjutnya. Siok Li Hwa melompat ke dekatnya dan berkata perlahan penuh khawatiran.

"Kau sudah terluka, lebih baik mengaso dulu, biar yang lain melayani jahanam ini.” Yang dimaksudkan dengan "yang lain” tentu saja Tiang Bu, karena Li Hwa juga  maklum bahwa selain Tiang Bu atau suaminya, tidak ada yang akan sanggup melawan Liok Kong Ji.

Kong Ji tertawa keras, "Ha-ha-ha! Wan Sin Hong, nyonyamu khawatir kau akan mampus dalam pertandingan. Lekas kau turut dia pulang dan sembunyi di kamar bersama dia!”

Inilah hinaan hebat sekali. Tidak ada hinaan yang lebih menyakitkan hati bagi seorang gagah dari pada dikatakan takut mati dalam pertandingan. Memang sengaja Kong Ji menghina demikian supaya Sin Hong merasa malu untuk mengundurkan diri. Dan ia berhasil.

Sin Hong menyuruh iasterinya mundur, lalu mju menghadapinya. "Kong Ji, jangan sombong. Aku bukan orang yang takut mati, apa lagi takut padamu. Majulah !”

Sambil berseru ke ras Kong Ji menubruk, mengirimkan pukulan dahsyat. Sin Hong mengelak dan membalas dengan pukulan yang tak kalah hebat nya.  Dua orang musuh  lama ini kembali bertempur hebat dengan tangan kosong. Daun- daun pohon rontok dan batu-batu kecil berhamburan

terke na sambaran hawa pukulan mereka.

Tiang Bu menonton penuh perhatian. Dari wajah  Sin Hong ia maklum bahwa pendekar itu benar-benar sudah berkurang tenaganya, akan tetapi tadi ia melihat Sin Hong mene lan tiga butir pil,  maka  ia  mengerti  bahwa  luka  di dalam dada pendekar itu biarpun me lemahkan tubuh, tidak berbahaya lagi. Ia percaya penuh akan kepandaian Sin Hong mengobati luka sendiri.

Kong Ji juga tahu bahwa biarpun ia akhirnya dapat menewaskan Sin Hong, namun ia harus lebih dulu menghabiskan tenaga sendiri dan kalau terjadi pertempuran terlalu lama, ia akan menjadi terlalu lemah untuk menghadapi yang lain. Oleh karena itu ia segera mengambil jalan nekat dan cepat. Soalnya bagi dia hanya dua, hidup atau mati.

Pada saat Sin Hong menggunakan kepalan kanan memukul dadanya, Kong Ji sengaja bar-laku lamban, mengerahkan lweekang untuk menahan hawa pukulan dahsyat itu, kemudian bagaikan ular menyambar, lengan kirinya bergerak menangkap pergelangan lengan Sin Hong dan membarengi saat itu memukulkan kepalan kanannya ke arah kepala lawan.

Sin Hong terkejut sekali, tidak mengira bahwa lawannya akan mengambil jalan nekat. Kalau ia menggunakan pukulan kirinya, tentu Kong Ji akan tewas, akan tetapi dia sendiri terancam oleh pukulan kanan lawannya yang menyambar bagaikan  geledek.  Ce pat ia mengambil  jalan yang sama karena untuk menyingkir tidak ada waktu lagi, untuk menangkis masih berbahaya. Dengan gerakan tepat tangan kirinya mencengkeram dan di lain saat pergelangan lengan Kong Ji yang kanan juga dapat ia tangkap !

Dua orang jago tua yang lihai ini berdiri memasang kuda- kuda teguh, berhadapan muka dan saling memegang pergelangan tangan kanan  lawan, saling mengerahkan tenaga yang disalurkan melalui lengan tangan masing- masing! Keadaan menjadi tegang sekali. Dua orang itu diam tak bergerak seperti patung, akan tetapi urat-urat tangan mereka menggeliat-geliat, dan tenaga dalam mereka sedang saling dorong. Tak seorangpun di antara mereka berani sembarangan melepaskan pegangan pada lengan lawan

karena siapa yang melepaskan pegangan lebih dulu berarti mendapatkan pukulan lebih dulu pula.

Seperempat jam mereka berkutetan dan saling dorong dengan tenaga dalam untuk merobohkan lawan. Baik pergelangan tangan Sin Hong yang menjadi menghitam, maupun pergelangan tangan Kong Ji yang menjadi biru, terasa sakit sekali, namun tak seorangpun di antara mereka yang mau mengalah. Kalau saja Sin Hong belum terluka di dalam dadanya, tak mungkin Kong Ji dapat menang, karena kalau Sin Hong selalu menyimpan dan memurnikan hawa dalam tubuhnya,  adalah  Kong Ji  yang menghamburkan tidak karuan dengan jalan hidup menurutkan hawa nafsu belaka. Akan tetapi Sin Hong sudah terluka berat dan dalam usaha terakhir ini kembali ia muntahkan darah dari mulutnya. Kong Ji mengerahkan seluruh te naga, maklum bahwa kemenangan sudah mendekat.

Siok Li Hwa yang melihat suaminya kembali muntahkan darah, melompat dekat dan memukul Kong Ji dari be lakang. Akan tetapi, pukulan yang mengenai punggung Kong Ji ini seperti mengerai daging lunak dan akibatnya kuda-kuda Sin Hong menjadi tergempur dan hampir saja ia melepaskan pegangannya. Ternyata bahwa pukulan Li Hwa itu dapat direrima dan disalurkan oleh Kong Ji, dipakai untuk menambah tenaganya mendorong Sin Hong!

Melihat ini, Tiang Bu melompat dan menarik tangan Li Hwa mundur. Kemudian ia sendiri maju di tengah- tengah dan sekali kedua tangannya memukul, satu ke arah pundak Sin Hong dan yang kedua ke arah pundak Liok Kong Ji. dua orang jago tua ini tersentak ke belakang dan pegungan mereka terlepas !

Sin Hong cepat menjatuhkan diri, duduk bersila untuk mengatur pernapasannya, memul ihkan kembali hawa di dalam tubuhnya yang sudah tidak karuan, membuat luka di dadanya makin parah. Ia perlu beristirahat dan mengatur pernapasannya untuk mengobati lukanya. Adapun  Liok Kong Ji yang tidak terluka, menjadi marah sekali melihat Tiang Bu turun tangan,

“Kau curang..........” bentaknya sambil  menyerang. Akan tetapi Tiang Bu yang sudah menjadi gemas sekali,

tidak mau banyak cakap lagi. Serangan pukulan dahsyat itu

ia tangkis dengan pengerahan tenaga secukupnya dan akibatnya tubuh Kong Ji terpental ke samping. Sebelum Kong Ji sempat menyerang lagi, Tiang Bu sudah me loncat dekat dan sekali tangannya menyambar ke arah pundak, terdengar suara "kraak !” dan tulang pundak Kong Ji patah- patah!

Kong Ji mengeluarkan jeritan menyayat hati. “Aduuhh ....

kau.......... kau.......... anakku semdiri !”

Jeritan ini entah bagaimana membuat Tiang Bu terpukau dan diam saja tak bergerak untuk sesaat. Saat Ini dipergunakan oleh Kong Ji untuk menyebar jarum-jarum Hek-tok-ciam dengan tangan kanan karena lengan kirinya sudah lumpuh akibat remuknya tulang pundak kirinya.

Kemudian, selagi semua orang sibuk meluputkan diri dari penyeraagan Hek-tok ciam, ia melarikan diri !

"Kejar,.. ..... !” Li Hwa be rseru.

Tanpa menunggu komando lagi Tiang Bu sudah dapat menguasai dirinya dan cepat lari mengejar. Di tengah jalan Kong Ji yang tak sanggup melepaskan diri dari kejaran Tiang Bu yang jauh lebih gesit itu,  membalikkan  tubuh  dan kembali jarum-jarum hitam ia lepaskan ke arah Tiang Bu.

De ngan mudah Tiang Bu menyampok semua jarum dan membentak,

"Iblis jahat. kau hendak lari ke mana ?”

"Tiang Bu, kau anakku betul-betulkah kau hendak

membunuhku…...... ?” Kong Ji me rayu sambll mendekat, "Tutop mulnt “

Mempergunakan kerempatan selagi Tiang Bu menjawab.

Kong Ji sudah memukul lagi dengan tangan kanannya, memukul dengan Hek tok-ciang sekuat-kuatnya ! Ini membuktikan sekali lagi betapa curang dan liciknya hati Liok Kong Ji.

Tiang Bu terpaksa menangkis karena untuk menge lak tidak ada waktu lagi.  Saking marahnya  ia  mengerahkan te naga dalam tangkisannya dan ...... untuk kedua kalinya

tubuh Kong Ji terlempar. Kali ini ia terlalu keras terlempar, sampai tubuhnya bergulingan dan kepalanya terbentur batu hatu karang. Baiknya ia sudah bertubuh kebal sehingga hanya mukanya saja babak belur dan berdarah, kalau tidak tentu kepalanya akan pecah. Akan te tapi ia dapat bangun lagi dengan cepat dan melarikan diri.

“Iblis, jangan lari!” Tiang Bu mengejar lagi.

Akan tetapi Kong Ji yang sudah tak dapat  melihat jalan ke luar, mulai merasa takut kepada puteranya sendiri. Rasa takut membuat ia dapat lari cepat bukan main. Terpaksa Tiang Bu mengerahkan ginkangnya untuk mengejar lebih cepat lagi sampai Kong Ji tiba di tepi pantai yang amat curam, penuh batu-batu karang.

Tiang Bu takut  kalau Kong Ji dapat  melarikan diri  ke laut, maka ia cepat memungut batu karang kecil dan menyambit. Mendengar suara angin sambaran batu, Kong Ji mengelak, akan tetapi ia tidak mengira bahwa batu ke dua yang amat kecil sehingga tak menerbitkan suara datang menghantam belakang lututnya, me mbuat ia terjungkal roboh, tak kuasa mengelak lagi. Sebelum ia dapat bangkit berdiri, Tiang Bu sudah berada di dekatnya dan pemuda itu menginjak punggung Kong Ji dengan kakinya.

“Kau hendak pergi ke mana sekarang ?“

“Tiang Bu ......" Kong Ji tere ngah-engah, “Tiang Bu .....

kau anak kandungku ..... kau lepaskanlah ayahmu ini dan aku bersumpah ..... ..mulai se karang takkan berlaku jahat lagi……. aku bersumpah akan menjadi pertapa me nsucikan diri “

"Iblis, siapa pe rcaya mulutmu ? Bersiaplah untuk mampus !"

"Tiang Bu ...... ingatlah, kalau tidak ada aku, kaupun tidak berada di dunia ini aku betul-betul sudah

bertobat " Bujuk rayu dan permintaan ampun ini sama se kali tidak mempengaruhi hati Tiang Bu yang sudah te rlampau sakit oleh perbuatan-perbuatan "ayahnya” yang seperti iblis ini. ia membentak keras.

"Kau masih bisa bilang tentang tobat ? Mengapa kau tidak ingat ketika kau mencemarkan ibuku? Ketika kau membunuh-bunuhi orang-orang tidak bordosa, ketika kau membuntungi lengan Bi Li? Kau harus membikin perhitungan dengan mereka itu di alam baka! Liok Kong Ji, bersiaplah kau untuk meninggalkan dunia ini!" Tiang Bu mengerahkan tenaga dan injakannya makin kuat.

"Aahh.......... aaaup.......... ampun.......... Tiang Bu ’

Tiang Bu tidak memperdulikan jeritan ini, akan tetapi tiba-tiba terdengar be ntakan keren berpengaruh dari sebe lah be lakangnya.

“Tiang Bu, lepaskan dia !!”

Tiang Bu menengok dengan kaget dan alangkah herannya melihat Wan Sin Hong dengan muka pasti berdirl di belakangnya. sikapnya berpengaruh dan tegang. Di

be lakangnya datang anggauta-anggauta rombongan lainnya. Saking herannya mengapa Sin Hong melarang dia membunuh penjahat itu.  Tiang Bu menurunkan  kakinya dari pung gung Kong Ji membuat penjahat itu dapat bernapas lagi. Tere ngah-engah dan mengerang-erang seperti babi dise mbelih.

"Wan pek-pek, mengapa kau melarangku membunuh lblis ini?"

"Kurena kau anaknya ! Kau boleh melawan

ke jahatannya, akan tetapi kau tidak boleh membunuh dia begitu saja! Tak boleh kau mewarisi kekej ian hatinya. Ingat, kau putera Gak Soan Li, seorang pendekar winita berpribudi tinggi. Kalau kau membunuh dia dalam ke adaan begitu, aku.......... aku akan membencimu selama hidupku!” Kata- kata Wan Sin Hong ini terdengar penuh perasaan dan be rpengaruh sekali, membuat Tiang Bu mundur dan terkejut.

"Biarkan aku sendiri yang menamatkan hidupnya, karena sesungguhnya hal itu adalah kewajibanku seme njak aku masih muda dulu."

Akan tetapi pada waktu Wan Sin Hong berbicara dengan Tiang Bu dan semua orang memperhatikan dua orang tokoh ini, Liok Kong Ji sudah dapat me lompat bangun lagi. Me lihat ia tak dapat mengharapkan keampunan lagi Kong Ji melarikan diri ke pinggir batu karang yang curam.

“Kong Ji, kau hendak lari ke mana?” Sin Hong mengejar sambil mencabut pedangnya. “Pak-kek-sin-kiam yang akan menamatkan hidupmu !"

Akan tetapi Kong Ji tidak rela mati di tangan Sin Hong.

Dengan nekat ia lalu malompat ke depan dan terdengar

air muncrat ke atas disusul oleh jerit mengerikan dari Liok Kong Ji, Wan Sin Hong dan kawan-kawannya lari ke pinggir batu karang, menjenguk ke bawah dan pemandangan

di bawah amat mengerikan hati.

Jauh di bawah, kurang lebih dua ratus meter, kelihatan Liok Kong Ji berkutetan dan bergumul mati-matian melawan puluhan ekor ikan hiu yang mengeroyoknya. Baju dan kulitnya sudah habis dikoyak-koyak ikan-ikan buas itu dan salahnya dia melakukan perlawanan sehingga nyawanya agak lama me layang. Saking bingung, takut dan sakitnya, tiba-tiba Liok Kong Ji tertawa bergelak-gelak. Suara ketawanya mengandung tenaga khikang yang luar biasa, bergema di seluruh pe rmukaan air laut seperti suara ketawa seorang iblis. Akan tetapi suara ini adalah suaranya yang terakhir karena ia lalu lenyap disere t oleh ikan-ikan itu  ke dasar laut untuk dijadikan rebutan sampai habis seluruh tubuh berikut tulang-tulangnya !

Sin Hong menarik napas panjang dan ketika ia menengok, ia meiihat Tiang Bu menutupi mukanya, berdiri bagaikan patung dengan muka pucat sekali. Ia tahu bahwa pemuda ini pada saat terakhir masih insyaf bahwa manusia yang dikejar-kejar dan kemudian mendapatkan kematian secara begitu mengenaskan, betapapun jahatnya, adalah ayahnya sendiri. Hal ini menyenangkan hati Sin  Hong karena pemuda ini masih mempunyai watak membakti kepada orang tua. Di samping rasa senang ini juga amat

te rharu sampai ia berdiri dan memeluk pundak Tiang Bu.

“Tiang Bu, pandanglah aku se bagai  ayahmu.  Terus terang saja, dahulu pernah aku suka kepada  ibumu,  rasa suka yang jauh berlainan dengan rasa suka dalam hati Kong Ji yang kotor.”

Mendengar ini, Tiang Bu memeluk Wan Sin Hong dan menangis. Sekali ini Tiang Bu menangis sedih, mencurahkan seluruh kesedihan hatinya karena ditinggal mati Bi Li dan karena mempunyai ayah yang demikian jahat.

"Tiang Bu, kepandaianmu tinggi dan kau masih muda. Masih luas dunia ini terbentang di bawah kakimu dan kau masih akan dapat melanjutkan riwayat hidupmu yang gemilang. Masih banyak kebabagiaan dapat kaucapai. Mari kau ikut kami ke Kim-bun-to ”

"Tidak, pek-pek. Terima kasih banyak atas kebaikan hati pe k-pek dan yang lain lain. Akan tetapi aku hendak kembali ke Omei-san ”

“Sesukamulah. Akupun dengan bibi dan adikmu akan kembali ke Luliang-san, dan kuharap saja kelak kau suka memberi bimbingan kepada Leng-ji.”

“Tentu, pek-pek. Kalau sudah tiba masanya, biarlah siauwtit menurunkan apa yang telah siauwtit pelajari kepada adik Le ng Leng."

Dengan terharu mereka lalu berpisah Tiang Bu lebih dulu meninggalkan pulau  itu  untuk kembali ke  Omei-san,  di mana ia akan bertapa menjadi orang alim, sesuai dengan janjinya kepada Bi Li. Adapun Wan Sin Hong lebih dulu menghadiri pernikahan antara Ang Lian  dan Ciu Lee  Tai yang dilakukan dengan amat meriah. Melihat Pe k Lian yang sudah memotong pende k rambutnya, diam-diam  Wan  Sin Hong dan isterinya memuji kekerasan hati gadis ini. Mereka adalah orang-orang be rpengalaman, maka mereka dapat menduga apa yang telah terjadi antara Pek Lian den Tiang Bu, karena Ang Lian adalah seorang gadis yang tidak dapat menyimpan rahasia dan sudah menceritakan tentang cicinya itu.

“Cinta se lalu memhawa korban,” kata Sin Hong menarik napas panjang. "Biarpun ia diam saja, aku tahu bahwa Tiang Bu patah hati karena kehilangan Bi Li sehingga ia ingin kembali ke Omei-san untuk bertapa. Juga Pek Lian yang mencinta Tiang Bu, tentu telah patah hati karena penolakan pe muda itu sehingga be rsumpah takkan menikah selama hidupnya dan hidup sebagai seorang laki laki. Mereka itu patut  dikasihani, anak anak yang baik sekali  mengalami nasib seburuk itu "

Li Hwa tersenyum. "Pek Lian memang patut dikasihani. Akan tetapi nasib orang siapa yang tahu? Kau juga dulunya sama sekali tidak pernah mengimpi akan berjodoh dengan aku, bukan ? Nah, siapa tahu kalau-kalau Pek Lian kelak menemui jodohnya. Adapun tentang Tiang Bu belum

tentu dia menjadi pendeta ”

"Hee? Apa maksudmu kau bilang begitu ? Mengapa kau begitu yakin nampaknya?” tanya Sin Hong sambil memandang wajah isterinya yang cantik.

"Kau mendekatlah agar aku dapat berbisik. Orang lain tak boleh tahu ”

Tersenyum karena sifat berahasia is terinya ini, Sin Hong mendekat. Li Hwa  menempe lkan bibirnya  di  de kat telinga Sin Hong berbisik-bisik. Wajah Sin Hong berobah. Nampak gembira bukan main sampai ia meme luk isterinya, dipondongnya dan dibawa putar putar di dalam kamar.

"Bagus.......... ! Bagus.......... Ah, aku girang se kali !”

"Hush ...... turunkan aku.......... ribut-ribut kalau membikin kaget sepasang pengantin bagaimana?" tegur Li Hwa.

-oo(mch)oo-

Apa yang dibisikkan oleh Li Hwa kepada suaminya? Marilah kita mengikuti perjalanan Tiang Bu yang tanpa menunda-nunda lagi berangkat me nuju ke Omei-san, tempat pertapaan mendiang guru-gurunya. Ia sudah putus harapan, sudah hampa hatinya karena ditinggal pergi Bi Li untuk selamanya. Apa artinya hidup lagi baginya? Dia bukan seorang pengecut untuk

menghabiskan hidupnya

begitu saja akan te tapi iapun tidak ada nafsu lagi untuk hidup di dunia ramai. Ia akan bertapa, memperdalam ilmunya, menanti ajal mencabut nyawanya dan membawanya bersatu kembali dengan Bi Li kekasihnya.

Sesampainya di puncak Omei-san, ia membersihkan gua tempat suhunya bertapa lalu mengatur sembahyangan secara sederhana.

Pertama-tama ia menyembahyangi arwah kedua orang gurunya, lalu arwah ibunya. Tak lupa ia menyembahyangi arwah ayahnya, Liok Kong Ji, dan mendoakan supaya ayahnya itu mendapat pengampunan di alam baka. Akhirnya ia bersembahyang untuk arwah Bi Li dan ia tak dapat menahan kesedihannya lagi, menangis di depan meja sembahyang seperti anak kecil.

“Bi Li, kalau kau ada kekuasaan, lekaslah ajak nyawaku bersamamu. Aku tidak kuat lagi hidup seorang drri di dunia yang penuh dengan kepalsuan ini," tangisnya sambil mengeluh panjang pendek. Saking lelah dan duka, Tiang Bu jatuh pulas di depan meja, mendekam di atas tanah yang hangat dalam gua itu.

Dan Tiang Bu bermimpi. Ia melihat Bi Li dengan pakaian serba putih sederhana numun bahkan membayangkan keindahan wajah dan bentuk tubuhnya, berjalan menghampirinya, de ngan senyum manis dan mata berkaca- kaca Bi Li dengan lengan sebelah masih buntung dengan wajah yang agak kurus dan pucat, namun sepasang mata yang jernih dan indah masih menyinarkan cinta kasih yang amat mendalam.

"Tiang Bu, jangan berduka, aku sudah datang di sampingmu,” demikian Bi Li berkata dengan suara merdu.

Di dalam mimpinya. Tiang Bu merangkul gadis kekasihnya itu erat-erat.

“Bi Li, jangan kautinggalkan aku lagi"

"Tidak. Tiang Bu. aku takkan meninggalkanmu lagi,” jawab Bi Li mesra.

Akan tetapi di dalam mimpinya, Tiang Bu melihat tubuh Bi Li terlepas dari pelukannya dan terbawa angin taufan lalu terjatuh ke dalam air laut yang bergelombang. Datang ikan- ikan hiu mengeroyok Bi Li, persis seperti ketika tubuh Kong Ji digerogoti ikan-ikan hiu buas itu. Ia mendengar Bi Li menjerit-jerit seperti Liok Kong Ji pula, akan tetapi enehnya jerit Bi Li ini bukan minta tolong seperti Liok Kong Ji melolong kemudian tertawa mengerikan, melainkan Bi Li memanggil-manggil namanya.

“Tiang Bu.......... ! Tiang Bu....! Sadarlah ”

Dan Tiang Bu sadar dari mimpinya. Ataukah ia masih bermimpi? merasa tubuhnya dipeluk, kepalanya di atas pangkuan dan pundaknya digoyang-goyang. Terdengar suara Bi Li seperti dalam impian tadi.

"Tiang Bu .......... sadarlah.......... ahh. Tiang Bu, sudah lama aku menanti di sini, jangan kau tinggalkan aku ......

Tiang Bu ”

Tiang Bu membuka matanya dan di bawah sinar lampu yang entah dari mana datangnya ia tak tahu, ia

melihat.......... Bi Li duduk di atas tanah, me mangku kepalanya dan gadis itu meneteskan air mata di atas mukanya.

Tiang Bu menggigit bibirnya sendiri. Ia tidak berani bergerak atau mengeluarkan kata-kata karena khawatir kalau-kalau mimpi indah ini akan lenyap dan ia akan sadar mendapatkan dirinya seorang diri dalam gua. Ia ingin menikmati mimpi bertemu dengan Bi Li ini selama mungkin.

Melihat Tiang Bu sudah membuka mata akan tetapi diam saja, Bi Li berkata,

“Tiang Bu, kenapa kau diam saja? Ini aku, Bi Li. Tidak senangkah kau melihat aku di sini ?”

Tiang Bu kaget sekali ketika merasa betapa air mata yang menitik turun dari mata Bi Li itu membasahi pipinya, benar- benar, karena ketika ia meraba, pipinya sudah basah.

Serentak ia bangkit duduk dan memegang lengan Bi Li. "Bi Li.......... tidak mimpikah aku ?"

Bi Li menatap wajah kekasihnya dengan air mata berlinang, lalu menggeleng kepala. "Tidak, Tiang Bu. Kita dalam keadaan sadar. Aku berada di sampingmu, di puncak Omei-s an." "Bi Li.... " dada Tiang Bu berombak keras, wajahnya pucat seperti kertas saking tegangnya perasaan hatinya. "Bukankah.......... bukankah kau mati dimakan ikan di laut Pe k houw-to ?"

Bi Li mengambil tangan Tiang Bu dan diciumnya tangan itu. "Tidak, Tiang Bu. Aku tidak mati, aku masih hidup dan langsung ke sini untuk menantimu datang ”

"Bi Li.......... ya Tuhan.......... kau betul -betul masih

hidup.......... ?" Tiang Bu tiba-tiba menjadi lemas dan.......

jatuh pingsan di atas pangkuan Bi Li.

Kegirangan yang tiba-tiba, yang amat keras berlawanan dengan keputusasaan dan kedukaannya, merupakan pukulan hebat bagi Tiang Bu, membuatnya roboh pingsan untuk kedua kalinya. Tadipun ketika ia tertidur, ia sebetulnya roboh pingsan sampai Bi Li datang dan menyadarkannya.

Tentu saja Bi Li menjadi bingung, hanya dapat memanggil-manggil nama Tiang Bu, me mijit-mijit kepalanya dan menyiram mukanya dengan air mata. Akhirnya Tiang Bu siuman kembali. Begitu ia siuman, ia hanya dapat mame luk Bi Li dan mendekap kepala gadis itu di dadanya sambil meramkan mata dan memuji syukur kepada Thian Maha Pengasih. Sampai lama keduanya berdiam seperti patung dalam keadaan bagitu, hanya terdengar Bi Li te risak

pe rlahan de ngan hati bahagia.

Setelah detak jantungnya normal kembali dan tenaganya putih pula, baru Tiang Bu me lepaskan dekapannya, memandangi wajah kekasihnya, membelai rambutnya penuh kasih sayang, lalu bertanya.

"Aduh, Bi  Li,  kau benar-benar bisa  membikin aku mati ke girangan. Bagaimana kau bisa berada di sini? Aku melihat kau jatuh ke dalam laut dan lenyap. Apakah ada jalan dari dasar laut menembus ke sini?" “Panjang ceritanya, Tiang Bu. Dan yang tahu akan hal ini kiranya Pek Lian dan bibi Siok Li Hwa. Kemudian, sambil menyandarkan kepalanya di dada Tiang Bu. Bi Li

mence ritakan pengalamannya seperti yang dice ritakan dalam bisik-bisik oleh Siok Li Hwa  kepada  suaminya,  Wan Sin Hong.

Ternyata bahwa ketika Bi Li terseret oleh Liok Cui Kong jatuh ke dalam laut, kebetulan sekali lewat perahu yang ditumpangi ole h Pek Lian dan Siok Li  Hwa. Dua  orang wanita ini sedang melepaskan kekesalan hati menunggu di pantai sambil sekalian meronda, kalau-kalau Liok Kong Ji akan melarikan diri dari pulau itu.

Melihat Bi Li terseret jatuh oleh Liok Cui Kong. dua orang Wanita itu segera menolongnya dan membiarkan Liok Cui Kong habis dimakan ikan hiu. Bahkan mereka ce pat-ce pat mendayung perahu itu ke daerah lain agar jangan melihat kengerian itu.

Melihat bahwa yang menolongnya Pek Lian, Bi Li lalu teringat akan sikap Pek Lian kepada Tiang Bu. Ia berpikir bahwa Pek Lian memang jauh lebih cocok untuk menjadi jadoh Tiang Bu. Gadis ini tidak hanya cantik jelila dan juga gagah perkasa, malah kedua tengannva masih lengkap, tidak buntung seperti dia. Di depan Siok Li Hwa, se cara terus terang ia berkata,

"Aku mohon kepada adik Pek Lian dan bibi Li Hwa, agar supaya hal diriku ini dirahasiakan dari siapapun juga. Aku ingin dianggap sudah lenyap dan mati."

"Eh. mengapa begitu, enci Bi Li?" tanya Pek Lian terheran.

Bi Li memandang ke arah lengannya yang buntung. "Sebetulnya aku malu masih harus hidup di dunia ini. Aku hidup hanya karena ingin membalas dendam. Sekarang Cui Kong si keparat sudah mampus, dan Kong Ji tinggal menanti saatnya saja. Aku minta bibi dan adik suka berjanji, rahasiakan bahwa aku masih hidup. Sanggupkah menolong aku orang malang ini?”

Pek Lian benar-benar tidak mengerti. Akan tetapi Li Hwa yang sudah banyak pengalamannya, dapat me nduga bahwa Bi Li tentu me ngalami hal yang amat menyedihkan dan ingin dianggap mat i oleh seorang tertentu.

Mungkin Tiang Bu orang itu. Me ngapa? Ia belum tahu ke tika itu. Maka ia lalu memberi isyarat kepada Pek Lian dan menyanggupi permintaan Bi Li.

"Selanjutnya kau hendak ke manakah? Atau hal ini juga dirahasiakan dari kami ?"

Bi Li menjadi merah mukanya. "Memang aku orang sengsara ji-wi sudah menolong nyawaku masih saja aku memberi beban kepada ji-wi. Biarlah ji-wi ketahui bahwa aku hendak pergi ke Omei-san dan bertapa di sana sampai aku mati." Setelah berkata de mikian, Bi Li lalu menggunakan sebuah perahu pergi dari situ.

Ia benar-benar langsung menuju ke Omei-san dan menanti Tiang Bu di sana. Ia hanya mempunyai dua pilihan. Tiang Bu datang dan betul-betul pemuda itu tidak mau menerima Pek Lain dan memilih menjadi pertapa itu berarti pemuda itu betul-betul mencintanya sepenuh hati. Kalau Tiang Bu tidak  datang dan hidup  bahagia dengan wanita lain, ia rela menjadi pertapa di bukit itu.

Dan ternyata Tiang Bu datang, bahkan menyembahyangi arwahnya ! Dapat dibayangkan betapa bahagia hatinya.

Demikianlah penuturan Bi Li kepada Tiang Bu, juga penuturan Li Hwa kepada Sin Hong tentu saja dengan cara lain dan pandangan lain.

"Bi Li," kata Tiang Bu. "Mengapa kaulakukan semua itu ?

Mengapa kau ingin pergi meninggalkan aku dan membiarkan aku me rana dan berduka, mengira kau sudah tewas ?” Sambil menyembunyikan mukanya di dada kekasihnya, Bi Li berkata,

“Aku memberi kesempatan kepadamu memilih Pek Lian, biar aku menjadi pertapa yang selalu mendoakan untuk kebabagiaanmu di sini "

Tiang Bu mencium kepala kekasihnya. "Bi Li, jadi kau

...... kau waktu itu cemburu ?"

Tanpa mengangkat muka, Bi Li berkata lirih, "Cemburu sih ada sedikit, akan tetapi terutama untuk menguji sampai di mana besarnya cinta kasihmu, apakah sebesar cinta kasihku kepadamu "

Tiang Bu hanya dapat mendekap kepala kekasihnya dalam kebahagiaan yang hanya dia sendirilah yang tahu. Sementara itu, bulan muncul dari balik awan, berseri menyaksikan pertemuan kembali antara dua orang kekasih yang penuh kasih mesra itu. Angin gunungpun bersilir, menerjang memasuki gua untuk membe lai dua orang muda remaja yang sedang dibuai asmara itu.

Sampai di sini tamatlah cerita Pek lui-eng ini dan berakhirlah pula kejahatan-kejahatan dan kekejian dari Liok Kong Ji dan kaki tangannya. Thian Maha Adil, betapa pun pandai orang seperti Liok Kong Ji itu bermuslihat, akhirnya orang jahat akan menemui hukumnya. baik di dunia maupun di akhirat.

Inilah kodrat Tuhan, inilah keadilan Thian, pasti dan tak dapat dibantah pula, seperti pastinya siang dan malam. Oleh karena itu, setiap orang manusia harus selalu mengemudi nafsunya, harus selalu menguasai dirinya, menjauhkan kejahatan sedapat mungkin, dan memupuk kebajikan sebanyak mungkin,  kalau  dia  hendak  mendapat kebahagiaan dinia akhirat !

TAMAT

Mau donasi lewat mana?

BRI - Nur Ichan (4898-01022-888538)

BCA - Nur Ichan (7891-767-327)
Bagi para Cianpwee yang ingin berdonasi untuk pembiayaan operasional web ini dipersilahkan Klik tombol merah.

Posting Komentar

© Cerita silat IndoMandarin. All rights reserved. Developed by Jago Desain