Tangan Geledek Jilid 25

Jilid 25

MULA MULA Tiang Bu bingung  melihat  gua yang gelap itu dan ia tidak melihat sesuatu. Lambat laun matanya biasa de ngan kegelapan namun tetapsaja ia hanya melihat batu- batu karang menonjol dan gua itu teruyata menembus ke

pinggir laut, merupakan jurang yang amat curam. “Bi Li !” teriaknya.

Hanya gema suaranya sendiri yang menjawab.

“Bi Li ......... di mana kau.......... ?!" ia berseru lagi, kini mengerahkan tenaga khikang sehingga suaranya dapat

te rde ngar sampai jauh di luar gua. Ia menanti sampai gema suaranya sendiri yang panjang itu le nyap, namun tetap saja tidak ada suara jawaban Bi Li. Marahlah hati Tiang Bu. Ia merasa tertipu oleh Cui Kong. Setan, pikirnya, mengapa aku begini bodoh?

Akan tetapi ketika ia hendak keluar dari gua yang  ge lap itu, kembali ia mendengar suara rintihan perlahan se perti yang ia dangar tadi. Ia memperhatikan  dan  me masuki gua lagi sampai di pinggir jurang. Ternyata suara itu keluar dari bawah! Dengan hati-hati Tiang Bu merebahkan diri telungkup ke pinggir jurang dan melihat ke bawah. Gelap sekali. Tiba-tiba tangannya meraba sesuatu yang bergoyang- goyang. Ternyata sehelai tambang yang diikatkan pada batu karang dan tambang itu menggantung ke luar, masuk jurang

! Dari ujung tambang itulah datangnya suara rintihan.

Tiang Bu mengeretak giginya. Tahulah kini ia bahwa tubuh Bi Li diikat pada ujung tambang yang digantungkan ke dalam jurang yang amat curam itu! Cepat ia hendak menarik tambang, akan tetapi kecerdikannya melarangnya dan lebih cepat lagi ia menarik kembali tangannya dan berpikir keras. Tak mungkin orang selicik Cui Kong akan menggantungkan tubuh Bi Li begitu saja dan mudah ditolong. Tentu ada apa-apa di balik ini semua.

Tiba-tiba ia melompat dengan gerakan cepat ke luar dari gua, menduga bahwa  tentu Cui  Kong dan  Kong Ji  megintai di luar gua dan  akan  melakukan  sesuatu untuk menjebaknya. Akan tetapi di luar kosong saja dan kembali ia

mendengar suara rintihan perlahan dari dalam guha. Ia memasuki guha kembali dan berpikir-pikir.

“Bi Li, apa kau berada di bawah situ ?" tanyanya sambil melihat ke bawah.

Matanyn yang tajam dapat  melihat samar-samar bayangan tubuh Bi Li tergantung di bawah, akan tetapi gadis itu tidak dapat me njawab, hanya menge luarkan suara perlahan seperti rintihan. Tiang Bu be rlari ke luar lagi,

menggunakan tenaganya untuk membeset kulit pohon yang ulet. Ia menyambung nyambung kulit ini menjadi sehelai tambang yang panjang, kemudian berlari masuk lagi ke guha itu. Ia lupa sudah akan Cui Kong dan Kong Ji.

Seluruh perhatiannya tercurah kepada Bi Li yang hendak ditolongnya lebih dulu. Dengan cepat dan hati-hati ia mengikatkan tambang kulit kayu ini pada sebuah batu karang, kemudiann ia merosot  turun ke dalam jurang melalui tambang sederhana itu. Ia teringat bahwa kalau musuh musuhnya datang dan memutuskan tambang itu, tentu ia akan menemui bencana besar.  Akan  tetapi re siko  ini ia harus berani hadapi demi menolong nyawa Bi Li yang terancam bahaya maut.

Ketika ia sudah merosot sampai di tempat Bi Li tergantung dan ia dapat melihat keadaan gadis kekasihnya itu, ia menjali pucat. Tambang yang dipergurakan untuk mengikat Bi Li dan digantung dari gua itu, dilibatkan pada sebuab batu karang yang tajam sekali, Tambang itu sudah tergosok-gosok dan tinggal setengahnya saja. Kalau tadi ia menarik ke atas, sudah pasti tambang itu akan putus dan tubuh Bi Li akan jatuh ke bawah menemui kematian yang mengerikan !

"Cui Kong jahanam keji !" Tiang Bu mengutuk. Cepat ia meraba-raba tubuh Bi Li dan mendapat kenyataan bahwa totokan pada tubuh itu sudah dibebaskan, akan tetapi kaki tangan gadis itu terikat dan mulutnya te rtutup saputangan. Inilah sebab mengapa Bi Li tidak dapat menjawab panggilannya. Cepat ia merenggut saputangan yang menutupi mulut gadis itu sambil berbisik.

"Bi Li, jangan bergerak. Tambang yang mengikatmu hampir putus."

Peringatan ini penting sekali karena kalau tadi Bi Li meronta-ronta. tentu tambang itu sudah putus. Mendengar peringatan ini, Bi Li tidak bergerak, hanya terdengar ia berkata lemah, "Tiang Bu tanganku sakit sekali “

Tiang Bu menggigit bibir melihat betapa lengan kekasihnya yang tinggal sebelah itu ditekuk ke belakang dan digantung. Dapat dibayangkan betapa hebat penderitaan kekasihnya. Cepat Tiang Bu memutus tali itu dan menarik tubuh Bi Li sehingga gadis itu dapat manangkap tali kulit pohon, kemudian tambang yang mangikat kakinya diputuskan pula.

Dengan hati-hati se kali Bi Li lalu merayap naik dengan satu tangannya, dibantu oleh Tiang Bu dari bawah. Dengan susah payah mereka naik, akhirnya dapat juga mereka tiba di atas, selamat di dalam guha yang gelap itu.

Begitu lepas dari bahaya. Bi Li terisak dan menjatuhkan diri di atas dada Tiang Bu. Tiang Bu mangelus -elus rambut kekasihnya, membiarkan kekasihnya yang baru saja terbebas dari bahaya maut mengerikan itu menangis sepuasnya.

"Bi Li.......... kau .......... kau tidak diganggu oleh Cui Kong?" bisiknya dengan hati panas terbakar, penuh kebencian dan dendam kepada Cui Kong.

Tanpa mengangkat mukanya dari dada Tiang Bu, Bi Li menggeleng kepalanya. Kemudian, setelah agak reda tangisnya, dengan singkat ia menceritakan pengalamannya,

"Setelah kautinggalkan, guruku datang dan dia yang mengajak aku menyusulmu. Malang bagi dia, di tengah jalan bertemu dengan dua orang iblis jahat itu. Terjadi pertempuran, akhirnya guruku tewas dan aku tertawan.

Tadi iblis Cui Kong itu mengikatku dan menggantungkan ke luar gua sambil tertawa-tawa mengejek, bilang bahwa aku akan mati dalam tanganmu sendiri. Aku tidak tahu apa yang ia maksudkan, akan te tapi.......... hanya Thian yang tahu betapa gelisah dan takutnya hatiku,Tiang Bu ”

Tiang Bu memeluk lebih e rat lagi. "Hanya sedikit selisih

...... Bi Li, sedikit saja selisihnya. Kalau aku tadi terburu nafsu dan menarik tambang di mana kau digantung ah,

ngeri aku membayangkan ! Cui Kong manusia keparat harus kuhancurkan kepalanya!”

Bi Li nampak kecewa. “Jadi kau belum berhasil menewaskan mereka ?"

"Sayang sekali belum. Aku mendengar rintihanmu dan terpaksa kutinggalkan mereka untuk menolongmu."

Bi Li melepaskan diri dari pelukan Tiang Bu. “Tiang Bu, kau memang benar. Kau lebih benar ketika melarangku datang ke pulau ini. Sekarang ternyata aku hanya menjadi penghalang, malah guruku tewas di tangan mereka.

"Tidak, Bi Li. Mati hidup berada di tangan Thian.

Memang agaknya sudah menjadi suratan nasib Ang jiu- toanio untuk tewas oleh mereka. Akan tetapi kita masih mempunyai banyak harapan untuk mengejar dan mencari mereka. Hayo ke luar dari tempat terkutuk ini.”

Sambil menggandeng tangan Bi  Li, Tiang Bu mengajaknya ke luar. Sesampainya di luar, ia dapat melihat keadaan kekasihnya. Memang tidak apa-apa, hanya agak pucat karena mengalami ancaman maut yang menge rikan tadi. Ia menjadi lega.

Akan tetapi sekarang sudah tidak kelihatan lagi bayangan Liok Kong Ji maupun Cui Kong. Namun Tiang Bu tidak putus-asa dan ia mengajak Bi Li terus mencari dan memeriksa di sebelah dalam atau di tengah pulau.

-oo(mch)oo-

Sementara itu, di pantai Palau Pek-houw to juga terjadi hal yang menarik. Serombongan orang gagah dipimpin oleh Wan Sin Hong mendatangi dengan dua buah perahu ke pulau itu. Inilah rombongan yang dilihat oleh kaki tangan Liok Kong Ji dan dilaporkan, membuat Kong Ji menjadi gelisah sekali. Apalagi ketika Kong Ji dan Cui Kong berhasil melepaskan diri dari desakan Tiang Bu dan hendak melarikan diri dengan perahu, mereka melihat dua perahu ini mendatangi, Kong Ji terpaksa kembali lagi ke pulau dan keadaannya sepetti terjepit.

Wan Sin Hong kali ini tidak datang sendiri dan tidak mau kepalang usahanya membalas de ndam kepada musuh besarnya. Ia maklum akan kelihaian Kong Ji yang dibantu oleh Cui Kong, Cun Gi Tosu, dan banyak lagi orang-orang gagah yang berhasil dibujuk menjadi kaki tangan Liok Kong Ji. Karena tidak berbasil bertemu dengan Tiang Bu yang akan menjadi pembantu kuat baginya, Wan Sin Hong datang membawa beberapa orang tokoh yang berkepandaian cukup tinggi.

Di antara kawan kawannya itu kelihatan muridnya sendiri, Coa Lee  Goat  dan suaminya,  Wan  Sun. Juga isterinya tidak ketinggalan, yaitu Hui-eng Niocu Siok Li Hwa yang sudah sembuh dari luka-lukanya ketika bertempur melawan Liok Cui Kong di Pulau Kim-bun-to. Li Hwa mempunyai sakit hati besar sekali terhadap Liok Kong Ji dan kaki tangannya, bukan  saja  karena  anaknya  diculik oleh Cun Gi Tosu, juga karena peristiwa di Kim-bun-to, di  mana Cui Kong mengamuk dan menyebar maut itu.

Selain keluarga gagah parkasa ini, ikut juga Bu Kek Siansu ketua Bu-tong-pai, tosu tinggi kurus jenggot panjang itu, dan Pang Soan Tojin ketua Tang-san pai, tosu gemuk berjenggot pendek. Selain dua  orang tokoh tua  ini,  masih ada lagi Huang-ho Sian-jin si datuk bajak dari Sungai Huang

ho bersama dua  orang  pute rinya,  Ang  Lian  yang  lincah jenaka dan Pek Lian yang cantik pendiam dan berpakaian pria. Juga masih ada dua orang lagi, yaitu Hok Tek Hwesio dari Siauw lim pai dan Ciu Lee Tai, seorang laki-laki muda berusia tiga puluh tahun, berwajah tampan dan gagah.  Ciu Lee Tai ini se orang yang bersemangat sekali, pengagum Wan- bengcu dan biarpun ia agak bodoh, namun ia jujur dan berkepandaian lumayan.

Sebetulnya, Wan Sin Hong maklum bahwa tingkat kepandaian Ciu Lee Tai dan Hok Tek Hwesio  masih terlampau rendah kalau dibandingkan dengan kelihaian Liok Kong Ji dengan kawan kawannya,  akan  tetapi  karena mereka ini orang segolongan dan mereka ikut dengan suka rela, ia pikir lumayan untuk melayani penjaga-penjaga kaki tangan Liok Kong Ji.

Demikianlah, rombongan yang terdiri dari sebelas orang ini mendarat dengan hati-hail dan dengan senjata di tangan. Mereka semua sudah maklum bahwa mereka menghadapi orang-orang jahat yang amat lihai kepandaiannya. Di sepanjang perjalanan. Ciu Lee Tai yang biarpun sudah berusia tiga puluh tahun tapi masih tetap single (membujang) itu, agaknya amat tertarik kepada Ang Lian, dara jelita yang bersikap lincah jenaka dan agak genit itu. Sedemikian jauh, si jaka tua ini selalu "tahan hinaan" dan mencemoohkan setiap orang gadis yang memandang kepadanya dengan kagum melihat ketampanan dan kegagahannya.

Akan tetapi begitu ia bertemu dengan Ang Lian dan melihat senyum dan kerling mata gadis ini, jatuhlah keangkuhannya. Senyum dan kerling itu langsung menembus jantungnya dan membuat dia tergila-gila !

Si bujang ini beberapa kali  melirik-lirik, mengajak senyum dan pendeknya mempergunakan segala macam siasat untuk memikat si dara jetita, akan tetapi kali ini ia "bertemu batunya.” Semua aksinya tidak digubris oleh Ang Lian, bahkan Ang Lian bersikap jinak-jinak merpati, kadang- kadang nampak mudah didekati akan tetapi kalau orang bersungguh-sungguh ia terbang menjauh Sikap beginilah yang membuat hati sang jaka jatuh bangun.

Tentu saja, se dogol-dogolnya, Ciu Lee Tai tidak berani be rterus terang dengan kata kata menyatakan perasaan

hatinya, apa lagi ia sering melihat wajah datuk bajak Huang- ho Sian-jin yang keren galak dan matanya melotot.

Habislah nyalinya kalau ia melihat bapak dara pujaannya itu. Namun, saking dalamnya asmara menggerogoti jantungnya, si dogol ini sampai  menghadap Wan Sin Hong dan dengan muka mere ngek ia mohon bantuan pendekar ini.

"Wan-bengcu." katanya dengan mukanya yang tampan menjadi merah seperti kepiting dipanggang. Siauwte hendak mengajukan permohonan kepada  bengcu dan  mengharap ke murahan hati bengcu." Wan Sin Hong sudah lama kenal pemuda tua ini dan ia memang suka kepada Cui Lee Tai yang jujur dan dogol namun berjiwa ksatria. Bahkan dahulu ia berkenan menurunkan dua tiga macam ilmu pukulan kepada si dogol

ini. Mendengar permohonan disertai wajah yang bersungguh-sungguh itu, ia tersenyum.

"Kita berada di te ngah perjalanan, di atas laut. Kau hendak minta aku membantumu dalam hal apakah, Lee Tai

?" Wan Sin Hong memang memanggil namanya begitu saja, inipun kemauan Lee Tai sendiri yang ingin diaku sebagai anak buah atau murid. Demikian besar kagumnya terhadap Wan Sin Hong.

"Sebetulnya bukan sekarang. Siauwte hanya minta kesediaan bengcu untuk membantuku dalam urusan ini, kelak kalau urusan penyerbuan ke Pulau Pek-houw-to selesai. Apakah bengcu bersedia ?”

"Ha, kau ini aneh sekali. Tentu saja aku bersedia membantumu. Akan tetapi, bagaimana kalau dalam penyerbuan yang amat be rbahaya ini kau atau aku tewas ?”

“Kalau begitu …… kalau begitu. ...... tentu saja tidak jadi aku …… kawin……”

"Eh kawin ?”

Muka pemuda itu menjadi makin merah. "Begini, bengcu.

Sebetulnya siauwte hendak minta tolong agar bengcu suka........... suka me njadi........... me njadi perantara. Siauwte telah berusia tiga puluh tahun, dahulu ayah ibu minta siauwte menikah akan tetapi siauwte belum sanggup menjalani karena memang belum ada yang cocok. Sekarang ayah ibu sudah tidak ada dan siauwte kerap kali merasa

be rdosa dan berse dih tak dapat memuaskan hati orang tua. Sekarang siauwte bertemu dengan gadis yang mencocoki hati. Kiranya kalau siauwte bisa me nikah dengan dia. arwah ayah-bunda siauwte akan menjadi puas.” Sin Hong tidak ketawa lagi. Malah ia menjadi amat terharu, teringat akan keadaannya sendiri. Diapun menikah setelah us ianya tiga puluhan lebih, dan tentang orang tuanya........... juga tidak melihat pernikahannya. Dengan suara sungguh-s ungguh ia menjawab.

"Baik. Lee Tai. Te nangkanlah hatimu. Tentu aku suka menjadi wakil orang tuamu untuk mengawinkan kau. Tidak tahu gadis manakah yang kaupenujui ?”

"Puteri ...... pute ri Huang-ho Sian-jin ”

"Aahhh, dia........... ? Yang mana ?”

“Yang kedua, bengcu. Itu yang namanya Ang Lian yang senyumnya manis kerlingnya tajam ”

Sin Hong tak dapat menahan senyumnya dan ia mengangguk-angguk. “Itu soal mudah. Huang-ho Sian-jin adalah sahabat karibku, kalau aku yang mintakan kiranya tak akan sukar. Hanya aku khawatir anaknya sendiri yang akan rewel. Kalau dia tidak setuju, anak seperti Ang Lian itu tentu akan menolak keras. Bagaimana pendapatmu, apakah dia juga........... ada hati kepadamu ?”

"Entahlah, bengcu. Akan tetapi dia sering kali tersenyum dan melirik. Akan kuselidiki hal itu. Asal Wan-bengcu sudah bersedia membantu, hatiku sudah lega dan banyak banyak terimakasih." Tanpa dapat dicegah lagi si dogol lalu menjatuhkan diri berlutut dan pai-kui sampai tujuh kali.

“Sudah, sudah, hasilnya masih  belum tentu kau sudah je ngkang-jengking seperti ayam makan padi.”

Dengan hati gembira dan besar sekali Ciu Le e Tai mengundurkan diri dan semenjak saat itu lebih berani melirik-lirik ke arah Ang Lian. Bahkan pada suatu ketika, ia mendapat kesempatan mendekati Ang Lian di atas perahu dan berbisik.

"Nona, kalau kelak urus an ini beres, aku akan mengirim wali me ngajukan lamaran kepadamu." Tentu saja Ang Lian melengak. Selama hidupnya belum pernah ia bertmu dengan orang yang begini terus terang dan tidak kenal malu. Gadis ini dengan lagak mangejek meludah ke dalam laut dan melihat di situ tidak ada orang memperhatikan mereka, berkata perlahan.

“Enak saja kau mengomong. Kau bisa apa sih mau melamarku?"

Lee Tai mengangkat dadanya yang memang bidang dan tegap. "Aku Ciu Lee Tai, di barat terkenal dengan julukan Kang-thouw ciang (Si Kepalan Baja) dan siapa yang tidak tunduk terhadap golokku ?" ia menepuk-nepuk golok di pinggangnya, golok besar yang memang amat lihai kalau ia mainkan.

Ang Lian menjebikan bibirnya yang merah membuat hati Lee Tai menjadi gemas terpincut. Biarpun orang ini dogol, namun Ang Lian diam-diam suka juga melihat ketegapan tubuh dan ketampanan wajah Ciu Lee Tai.

"Dengar baik-baik, dogol. Tidak sembarang orang bisa mendapatkan diriku. kecuali kalau ia berkepandaian tinggi." Bicura begini, Ang Lian teringat akan Tiang Bu yang membuat cicinya, Pek Lian, tergila-gila dan teringat selalu. "Be gini syaratnya. Kalau kau bisa mengalahkan  manusia iblis Liok Kong Ji, aku bersedia menerima lamaranmu. Nah, pergilah.”

Ciu Lee Tai bers eri wajahnya. Ingin ia menari-nari kegirangan dan saking girangnya ia sampai lupa diri dan.......... melompat ke dalam air! Tentu saja semua orang di dalam dua perahu itu menjadi panik melihat tidak karu- keruan sebabnya, si dogol itu melompat ke dalam laut dan be renang ke sana ke mari sambil bernyanyi nyanyi.

"Lee Tai, kau sedang apa-apaan?" tegur Wan Sin Hong terheran-heran. Baru Lee Tai sadar akan keadaannya yang memang tidak sewajarnya itu, maka cepat-cepat ia memut ar otaknya yang puntul untuk mencari jawaban. Akhirnya ia menjawab,

"Wan-bengcu. aku meras a kepanasan dan ingin mandi sebentar menyegarkan tubuh." Cui Lee Tai meras a bangga akan jawabannya yang langsung ini, tanda bahwa ia cerdik !

Akan tetapi jawabannya membuat se mua orang tertawa sehingga ia menjadi kebingungan. Apa lagi ketika ia melihat Ang Lian cekikikan mentertawakannya, ia makin bingung dan penasaran.

"Apa tidak boleh mandi?" tanyanya mendongkol sambil menyambar pinggiran perahu dan merayap naik dengan pakaian basah kuyup.

"Mana ada orang mandi dengan pakaian lengkap? Dan membawa-bawa golok pula, apekah kau hendak me nyerang istana Hai-liong-ong di dasar laut?" kata Wan Sun sambil menahan kegelian hatinya.

Cin Lee Tai menunduk, memandang pakaiannya yang basah kuyup. Ia tak dapat menjawab, hanya buru-buru memasuki kamar perahu untuk bertukar pakaian kering. Akan tapi kege mbiraannya tidak lenyap, tidak perduli ia ditertawakan orang, hatinya sebesar gunung. Liok Kong Ji? Itu syaratnya? Jangankan harus mengalahkan Liok Kong Ji biar harus melawan seribu orang Liok Kong Ji ia takkan gentar asal hadiahnya Ang Lian. Akan kutabas batang leher Liok Kong Ji dengan golokku, pikirnya.

Pikiran hal membuat ia datang lagi menghadap Sin Hong.

"Ada apa lagi, Lee Tai? Harap kau jangan sekali-kali lagi terjun dan mandi di laut, banyak ikan hiu di sini, kalau kau dikeroyok hiu, biar aku sendiri takkan dapat menolong nyawamu."

"Wan-bengcu, apakah Liok Kong Ji itu sudah pasti berada di pulau itu?" "Tentu saja, memang kita sedang mencari dia. Me ngapa?”

"Harap bengcu memberi kesempatan kepadaku untuk menghadapi iblis itu. Siauwte ingin sekali menabas batang lehernya dengan golokku ini, jangan sampai didahului orang lain !”

Wan Sin Hong maklum akan keberanian orang she Ciu ini yang luar biasa, juga maklum akan kedogolannya. Akan tetapi mendengar ini, benar-benar perutnya menjadi sakit karena menahan tawa. Dia sendiri belum tentu dapat menahan Liok Kong Ji, dan si dogol ini bersumbar hendak menebas batang leher Liok Kong Ji ! Benar-benar seperti see kor katak hendak membunuh kerbau. Akan tetapi Sin Hong berperasaan halus, tidak mau mengecewakan atau

menyinggung perasaan hati orang lain, maka ia mengangguk dan menjawab,

`Baiklah, Lee Tai. Asalkan dapat berlaku hati-hati, dia lihai sekali.”

"Jangan khawatir,  bengcu.  Golokku biasanya  ampuh sekali menghadapi orang jahat."

Ciu Lee Tai menjadi makin gembira. Semenjak saat itu, ia kelihatan berseri dan gembira dan bernyanyi-nyanyi.

Memang suaranya merdu, sehingga kege mbiraan si dogol ini menghibur orang-orang lain dan membuat orang lain

ge mbira pula. Akan tetapi kecuali Ang Lian, tidak ada orang lain yang dapat menduga mengapa si dogol itu demikian gembira. Hanya Ang Lian, yang tahu dan diam diam gadis jenaka ini terharu juga. Ia dapat me njajaki hati Lee Tai dan

tahu bahwa pemuda dogol itu sudah membayangkan akan dapat menewaskan Liok Kong Ji dengan mudah.

"Sayang.........” Ang Lian be rkali-kali menarik napas panjang dan berbisik-bisik kepada diri sendiri. "Sayang ia tidak selihai Tiang Bu ”

Sin Hong membawa rombongannya mendarat di pantai yang datar dan sunyi. Mere ka berlompatan ke darat dengan hati-hati sekali. Mereka merasa heoran dan curiga melihat pantai itu tidak terjaga dan sunyi sekali. Sin Hong lalu membagi tugas. Huang-ho Sian jin dan dua orang puterinya diberi tugas menjaga perahu-perahu di pantai agar perahu perahu itu tidak sampai diganggu musuh. Kemudian dengan delapan orang kawan lainnya Sin Hong memasuki hutan di pulau itu me nuju ke tengah pulau.

Mereka menjadi makin heran melihat beberapa orang penjaga menggeletak, terluka atau tewas. Bahkan mere ka mene mukan lima orang yang berpakaian berwarna menggeletak menjadi mayat.

"Eh. bukankah ini Lam-thian-chit-ong,” kata Hok Tek Hwesio yang mengenal tokoh-tokoh selatan ini. "Mana lagi yang dua? Masih ada dua orang yang berpakaian hitam dan putih, kemana mereka dan siapa yang bisa me mbunuh mereka ini? Mereka terkenal lihai dengan Chit-seng-tin mereka."

Wan Sin Hong juga merasa heran. Ia sudah mendengar bahwa tujuh orang perampok ini menjadi kaki tangan Liok Kong Ji. Kiranya hanya satu orang yang dapat mengalahkan mereka dan orang itu tentu Tiang Bu. Benarkah pemuda itu sudah menyerbu ke sini?

Ia mengajak kawan-kawannya maju terus. Di rumah gedung tempat tinggal Liok Kong Ji sunyi sekali. Di sana sini be rgeletakan para penjaga. Sin Hong mendesak seorang penjaga yang luka tertotok. Ia membebaskan totokannya dan bertanya.

"Siapa yang menyerbu ke sini dan melukai kalian ?”

"Hamba tidak tahu. Seorang manusia berkepandaian seperti setan. Pe rgi datang tidak meninggallan bekas dan

tahu-tahu kami roboh ……” orang itu menerangkan karena ia memang tidak mengenal Tiang Bu yang merobohkannya.

"Di mana Liok Kong Ji ?" "Tidak tahu, mungkin keluar menghadapi musuh."

Sin Hong tidak mau perdulikan lagi orang itu dan mengajak kawan-kawannya maju terus. Akan tetapi Ciu Lee Tai yang merasa kecewa karena Ang Lian tidak diajak menyerbu dan tetpisah dari sampingnya, melampiaskan kemarahannya dengan menendang orang itu yang seketika putus nyawanya.

“Lee Tai, jangan lancang membunuh orang!" te gur Sin Hong.

"Bengcu, orang seperti ini adalah setengah iblis, kalau tidak dibunuh kelak tentu menjadi penjahat pula mengacau rakyat." bantah Lee Tai.

Sin Hong menganggap pendapat ini betul juga sungguhpun hatinya tidak mengijinkan orang berlaku

kejam. Memang Sin Hong terkenal sebagai seorang pendekar yang halus budinya, tidak mau memburuh kalau tidak penting dan terpaksa sekali.

Ketika mereka memasuki rumah gedung itu, di dalamnya hanya terdapat para  selir dan  para  pelayan  wanita.  Mereka ini semua biarpun sudah  mempelajari  ilmu  silat, sekarang tidak berani berkutik dan berlutut minta diampuni jiwanya.

Juga dari mereka ini Sin Hong tidak bisa mendapat

ke terangan di mana adanya Liok Kong Ji, Liok Cui Kong dan Cun Gi Tosu. Akan tetapi, ia mendapat petunjuk di mana adanya pondok Cun Gi Tosu, dan mendengar pula banwa Leng Leng dibawa pergi oleh tosu itu ke pondoknya.

Wan Sin Hong mengajak rombongannya me nyus ul ke pondok itu! Alangkah kage tnya ketika tiba  di  depan pondok, ia melihat tosu buntung itu sudah menggeletak tak bernyawa di atas tanah.

"Ada yang mendahulul kita!” Teriaknya dan ia berlari-lari, diikuti oleh isterinya, memasuki pondok Cun Gi Tosu untuk mencari anak mereka, Leng Leng. Akan tetapi di dalam pondok hanya terdapat seorang pelayan wanita yang menangis ketakutan.

"Hayo lekas bilang, di mana adanya Leng-ji ?" Li Hwa membentak sambil menempelkan pedangnya di batang leher pelayan itu yang me njadi makin ketakutan.

"Tadi .......... tadi di sini .......... hamba yang bertugas mengasuhnya.......... lalu datang Liok-loya dan Liok- kongcu.......... nona Leng Leng dibawa pergi !"

"Ke mana ?” tanya Sin Hong yang berobah air mukanya mendengar bahwa anaknya dibawa Liok Kong Ji.

"Mana hamba tahu? Ampun, hamba tidak bersalah apa- apa ”

Sin Hong tidak perdulikan lagi pelayan itu, bersama isterinya dan yang lain lain ia menggeledah ke dalam, akan tetapi betul saja, tak dapat ia menemukan anaknya di dalam pondok.

“Tentu ia membawa Leng-ji lari ke luar. Hayo cari,” kata Sin Hong dan keluarlah mereka. Sesampainya di luar, Sin Hong lalu membagi rombongannya. Dia sendiri bersama isterinya, Wan Sun dan Coa Lee Goat menuju ke kiri dan dia minta supaya rombongan lain  yaitu Bu Kek Siansu, Pang Soan Tojin, Ho Tek Hwesio, dan Ciu Lee Tai mencari di sebelah kanan. Dengan cara begini Sin Hong hendak mengepung dan memotong jalan Liok Kong Ji dan Cui Kong.

-oo(mch)oo-

Sementara itu, Tiang Bu dan Bi Li juga mencari terus, keluar masuk gua-gua yang banyak terdapat di pesisir batu karang itu. Akan tetapi belum juga mereka dapat

mene mukan musuh-musuh mereka.

Tiang Bu mendapat akal. Ia naik ke sebatang pohon besar dan tinggi, lalu mengintai puncak pohon itu sampai beberapa lama. Usahanya ini terhasil karena tak lama kemudian ia melihat bayangan dua orang yang dikejar- kejarnya itu bersembunyi di antara batu karang yang bentuknya seperti menara-menara kecil. Yang membuat ia terheran adalah ketika melihat Kong Ji memondong seorang anak perempuan kecil.

la cepat melompat turun dan bersama Bi Li lari ke arah tempat itu. Setelah dekat menyelinap di antara batu karang dengan hati-hati. Akhirnya ia muncul di depan Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong yang tentu saja menjadi kaget setengah mati.

"Liok Kong Ji, kau sekarang hendak lari ke manakah ?" Tiang Bu mengejek dan siap untuk menye rang.

Liok Kong Ji menjadi bingung. Untuk lari memang mudah, akan tetapi ia tahu bahwa Tiang Bu dapat mengejarnya. Untuk mempe rgunakan bocah yang dipondongnya juga tidak mungkin karena Tiang Bu mana mau mempe rdulikan bocah itu? Adanya ia membawa Leng Leng adalah untuk dipergunakan sebagai perisai terhadap Wan Sin Hong. Kalau Wan Sin Hong dan kawan kawannya yang mengurungnya, dengan mudah ia dapat menyelamatkan diri dengan mengancam nyawa bocah itu.

Cui Kong juga tidak melihat jalan keluar lagi kecuali menyerang mati-matian. Maka ia lalu menggerakkan huncwenya, langsung menyerang Tiang Bu dengan sengit. Liok Kong Ji terpaksa menotok Leng Le ng agar anak itu jangan dapat lari, menaruh bocah itu di atas tanah dan iapun membantu Cui Kong. Dengan maju berdua mereka masih dapat bertahan menghadapi amukan Tiang Bu yang luar biasa lihainya itu.

Bi Li tahu diri. Biarpun ia merasa gemas dan benci sekali melihat dua orang musuh besarnya itu, akan tetapi ia cukup maklum bahwa kalau ia melawan atau membantu Tiang Bu, bantuannya itu tidak banyak artinya, bahkan dapat mengacaukan permainan silat Tiang Bu. Maka ia berdiri saja menonton. Ia percaya penuh akan kesaktian kekasihnya, namun tidak urung ia berdebar gelisah juga melihat pedang di tangan Kong Ji menyambar-nyamhar seperti kilat dan huncwe di tangan Cui Kong bergerak ganas diselingi semburan asap hitam yang ia sudah merasai sendiri keganasannya.

Seperti juga tadi, Tiang Bu melayani ayah dan anak itu dengan tenang, namun setiap gerakannya mengandung tenaga dalam sehingga tanpa ia kelit, asap hitam itu sudah buyar sendiri terpukul hawa sinkang yang keluar dari sepasang tangannya. Pe rtempuran berjalan seru, sengit dan mati-matian.

Ketika mendapat kesempatan baik, huncwo maut di tangan Cui  Kong menyambar ke  arah kepala Tiang Bu dengan pukulan yang te ntu akan meremukkan kepala  itu apa bila mengenai sasaran, sedang pedang di tangan Kong Ji menusuk ulu hati, dengan gerakan memutar yang sudah diperhitungkan masak-masak dan amat sukar dielakkan.

Tiang Bu sengaja berlaku lambut sampai Bi Li mengeluarkan jeritan tertahan. Ketika huncwe itu sudah menyentuh rambut kepalanya, tiba.tiba Tiang Bu menggerakkan jari tangannya ke atas, menyentil huncwe itu dari atas sehingea huncwe menyelonong ke bawah dan tepat menangkis pedang Kong Ji yang menusuk ulu hatinya.

"Traangg.......... !" Sepasang senjata bertemu keras. Api berpijar dan di lain saat pedang di tangan Kong Ji sudah terampas oleh Tiang Bu sedangkan huncwe maut itu sudah terlepas dari tangan Cui Kong! Tentu saja dalam pertemuan senjata itu, Cui Kong kalah kuat oleh ayah angkatnya dan huncwenya sampai terlempar, sedangkan Tiang Bu mempergunakan kesempatan baik itu untuk merampas pedang Kong Ji.

Dapat dibayangkan betapa kaget dan gentarnya Liok Kong Ji dan Cui Kong yang sudah kehilangan senjata.

Hampir berbare ng mereka menghujankan Hek-tok-ciam ke arah Tiring Bu. Akan tetapi sambil tertawa menyeramkan, Tiang Bu memutar pedang rampasan nya dan se mua jarum runtuh ke bawah, bahkan ada yang membalik dan menyambar dua orang pele pas jarum itu sendiri!

Memang Kong Ji dan Cui Kong orang-orang licik sekali. Dalam keadaan te rdesak dan senjata dilucuti dan Tiang Bu yang parkasa malah kini berpedang, mereka masih mampu mempergunakan siasat cerdik. secepat kilat Kong Ji menyambar tubuh Leng Le ng di atas tanah dan mempergunakan bocah ini sebagai se njata ! Ia memegang kedua kaki Leng Leng dan memutar tubuh itu untuk menghadapi serangan Tiang Bu.

"Tiang Bu, jangan lukai bocah itu……!” Bi Li menjerit. Gadis ini tidak ingin melihat Tiang Bu membunuh bocah yang mungil itu. Akan te tapi, tanpi cegahannya, Tiang Bu sendiri tidak sudi membunuh bocah yang tidak diketahui siapa itu. Hatinya tidak sekejam dan ia terpaksa mengalah mundur, menyelipkan pedang rampasan di pinggang dan maju lagi dengan kedua tangan kosong untuk mencoba merampas bocah itu dari tangan manusia iblis Liok Kong Ji.

Pada saat itu, Cui Kong yang licik juga menyerang lagi dengan Hek- tok ciam, akan tetapi tidak ditujukan kepada Tiang Bu, melainkan ke arah .......... Bi Li !

Namun, kalau hanya diserang senjata rahasia saja, kepandaian Bi Li cukup tinggi untuk menghindarkan dengan elakan manis dan kebutan tangan kanannya ia dapat menyelamatkan diri. Akan tetapi Cui Kong telah dapat melompat jauh meninggalkan tempat itu Kong Ji me nyusul. Ketiks Tiang Bu he ndak mengejarnya, ia membentak,

"Terimalah popwe (jimat) ini !” Sambil membentak begitu, tubuh Leng Leng ia lontarkan sekuat tenaga ke arah Tiang Bu! Sungguh kejam manusia ini, untuk menyelamatkan  diri ia tak segan-segan untuk membunuh siapapun juga.

Tiang Bi kaget sekali. Kalau tubuh bocah itu tidak ia terima, tentu bocah itu akan mati terbanting pada batu-batu karang. Ia lalu bersiap dan dengan kedua tangannya ia menangkap tubuh bocah itu di udara. Ternyata Leng Le ng sudah lemas dan pingsan. Ketika diputar-putar tadi saja Leng Leng sudah merasa pening dan sukar bernapas, membuatnya pingsan.

Tiang Bu menyerahkan bocah ini kepada Bi Li dan ia hendak menge jar, akan tetapi dua orang mushnnya sudah lenyap, tidak ketahuan ke mana perginya. Ia membanting- banting kaki. Lagi-lagi dua orang musuh itu terlepas dari tangannya be rkat kelicikan me reka.

"Aku harus dapatkan mereka, aku harus basmi mereka !” gerutunya.

Bersama Bi Li ia mencari terus, akan tetapi sementara itu siang telah berganti senja dan udara mulai gelap. Leng Leng siuman dari pingsannya dan menangis.

"Diam, nak, diam.......... siapa namamu ?” tanya Bi Li menimang nimang bocah itu.

"Leng Leng ...... mana Sam-ma?" tanya anak itu menanyakan inang pengasuhnya.

Bi Li merasa sayang kepada bocah yang m ungil ini, sambil mengelus kepalanya ia bertanya tentang ayah ibu bocah itu, akan tetapi Le ng Leng yang baru saja mengalami banyak penderitaan semenjak  "bibi Ce ng  Ceng”  terbunuh, tak dapat banyak memberi keterangan. Ia hanya menangis dan berkali-kali berkata,

“Paman Kong Ji jahat sekali. ......, jahat sekali “

Akhirnya setelah dihibur dan dibuai oleh Bi Li, ia te rtidur dalam pang kuan Bi Li.

“Heran, bocah ini siapakah dan anak siapakah. Kecil- kecil ia sudah tahu bahwa Kong Ji jahat.” kata Bi Li kepada Tiang Bu.

Akan tetapi Tiang Bu memberi isyarat supaya jangan berisik sambil menuding ke depan. Ketika Bi Li memperhatikan, benar saja dari arah itu terdengar suara orang bicara, makin lama makin keras, tanda bahwa dua orang yang bicara itu sedang berjalan mendekati tempat mereka.

“Dengan bocah itu di tanganmu, kau tak dapat menjaga diri dengan sempurna, lebih baik kau menanti di balik batu karang.” Tiang Bu berbicara kepada kekasihnya. Bi Li mengangguk. Memang, kalau fihak musuh muncul dan terjadi pertempuran. tentu saja dengan adanya bocah itu ia takkan dapat melakukan pembelaan dari dengan baik, apa lagi kalau harus melindungi Leng Leng. Tanpa banyak membantah ia lalu pergi membawa Leng Leng yang sedang tidur itu, menyelinap di balik batu karang. bersembunyi sambil mengintai ke arah Tiang Bu.

Keadaan sudah mulai remang-remang, Tiang Bu tidak mengenal muka dua orang yang datang memasuki hutan itu, hanya  tahu bahwa  dua  orang itu adalah seorang pemuda dan seorang gadis. Ia mengira bahwa mereka ini tentulah kawan-kawan Liok Kong Ji maka tiba-tiba ia melompat ke luar dan membentak,

"Kalian siapa dan di mana Liok Kong Ji?” Ia sudah siap untuk menyerang tokoh dua orang itu.

Dua orang itu kage t bukan kepalang, akan tetapi pemuda itu segera berseru girang. “Tiang Bu “

Gadis itupun berseru kaget  dengan sikap  jenaka. “Ya De wa Maha Agung! Kiranya saudara Tiang Bu ini ??

Ah, bertahun-tahun enci Pek Lian merindukan dan menanti-

nanti, tidak tahunya dapat bertemu di tempat se perti ini. Kalau ini bukan jodoh namanya, entah disebut apa !”

"Ang Lian, jangan main-main !" pemuda itu me mbentak si gadis baju merah yang jenaka.

Tiang Bu melengak. Tidak tahunya " pemuda?” itu adalah Pek Lian, gadis yang dulu pernah ia kagumi, gadis cantik yang bijaksana dan lihai bersama Ang Lian adiknya. Dua orang gadis puteri Huang-ho Sian-jin.

"Adik Pek Lian dan Ang Lian....... ! Kiranya kalian ini? Bagaimana kalian bisa berada di sini dan dengan siapa kalian datang,"

Saking girangnya Ang Lian melangkah maju dan memegang kedua tangan Tiang Bu. "Saudara Tiang Bu, benar-benar girang hatiku dapat bertemu dengan kau di tempat setan ini. Kalau ada kau di sini, aku tidak takut lagi biar ada lima orang Liok Kong Ji muncul. Dan enci Pek Lian tentu se ratus kali lebih girang dari pada aku. Kau tahu, ayah juga ikut datang bersama Wan-bengcu dan yang lain-lain.

Mereka juga tentu girang dapat berte mu dengan kau. Baik sekali pertemuan ini, lengkap selengkap-lengkapnya. Biar aku nanti bicarakan urusan perjodohanmu dengan enci Pek Lian."

"Hush, Ang Lian....... " Pe k Lian mencegah dengan muka berubah me rah sekali.

“Hush apa lagi ? Bukankah kau selalu merindukan dia ini? Sekarang sudah berhadapan muka, pakai malu-malu apa lagi? Aku akan bicarakan dengan ayah dan  Wan bengcu ”

“Se tan, jangan sembarang bicara ! Kalau ..........

kuceritakan kepada Ciu twako ......’ Pek  Lian  balas menggoda. Menelengar ini, Ang Lian menjadi kewalahan dan tak berani banyak bicara lagi.

Sementara itu, mendengar kata-kata dari Ang Lian ini, Tiang Bu menjadi bingung sekali. Percuma saja mencegah seorang gadis se perti Ang Lian berhenti mengoce h.

“Aku sedang mengejar-ngejar Liok Kong Ji,” katanya ke mudian. Ia melirik beberapa kali ke arah tempat

persembunyian Bi Li dan sebelum ia memanggil Bi Li, gadis ini sudah mucul sambil memondong Leng Le ng. Pek Lian dan Ang Lian kaget lagi, me mandang kepada Bi Li dengan penuh curiga.

“Apakah dia ini seorang selir Liok Kong Ji ?” tanya Ang Lian yang lancang mulut dan salah duga.

“Nona Ang Lian, jangan salah duga. Dia ini adalah nona Wan Bi Li dan, ”

"Astaganaga .......... !” Ang Lian meloncat dan meme luk Bi Li dengan mesra. " Maafkan aku, enci Bi Li. Kau boleh tampar mulutku yang lancangg. Aduh jadi kau ini

adik Wan Sun twako? Pantas …. pantas akan tetapi ” ia

melihat lengan kiri yang buntung itu dan tak dapat melanjutkan kata-katanya, akan tetapi dari sepasang matanya mengucur air mata. Biarpun ia kasar dan jujur, namun hati Ang Lian baik sekali ia terharu melihat lengan tangan Bi Li buntung dan ia tak pernah mendengar tentang hal ini.

Sebaliknya, Bi Li mempunyai hati yang keras. Ia maklum apa yang menyebabkan Ang Lian mengucurkan air mata. Ini saja sudah melenyapkan kemendongkolan hatinya ketika Ang Lian mengira dia ”selir" Liok Kong Ji.

"Adik yang manis kau mau tahu? Lenganku ini buntung oleh  pedang Liok Kong Ji."

Ang Lian membanting-banting kakinya. "Bangsat besar Liok Kong Ji. Kali ini ia takkan mampu lolos dari hukuman! Enci Bi Li, tahukah kau, kakakmu juga berada dengan kami

?”

Ang Lian mengira bahwa BI Li tentu akan girang sekali mendengar ini, akan tetapi Bi Li malah mengerutkan kening, agaknya berita itu tidak menggembirakan hatinya benar.

Memang, dalam keadaannya seperti sekarang, buntung lengannya. Ia sudah tawar hatinya untuk bertemu dengan siapa juga. Memilukan saja, pikirnya. "Anak ini……. anak siapakah?” tanya Pek Lian, sikapnya hati-hati dan sejak munculnya Bi  Li, ia  mendapat  firasat yang tidak menyedapkan hatinya. Berkali-kali ia memandang dari Tiang Bu kepada Bi Li dan hatinya menduga-duga.

“Dia itu kami rampas dari tangan Liok Kong Ji. Tiang Bu menerangkan. "Kami sendiri tidak tahu dia anak anak siapa, hanya namanya Le ng Leng."

"Ahh, dia ini anak Wan bengcu!" Ang Lian berkata girang sambil meraih Leng Leng dari pondongan Bi Li sampai bocah itu sadar dari tidurnya dan memandang bingung. "Benar, dia anak Wan-bengcu. Bukankan namamu Wan Leng, anak manis?"

Leng Leng mengangguk-angguk kepada gadis yang tak dikenalnya ini. Ang Lian menciuminya, "Syuknr, syukur, syukur ...... alangkah akan girangnya hati Wan bengcu dan isterinya !"

Karena percakapan itu tidak karuan juntrungnya, Tiang Bu lalu minta dua orang gadis itu menceritakan

keadaannya. Ang Lian menyerahltan Leng Leng yang diminta oleh Pek Lian, kemudian ia bercerita.

"Kami sebelas orang  datang  untuk  menyerbu  Pek-houw- to, akan tetapi tak menjumpal siapa-siapa ke cuali para selir dan pe layan wanita yang tidak berarti. Ayah, aku dan enci Pek Lian ini sebetulnya bertugas me njaga perahu. Akan tetapi karena sudah hampir sore mereka belum kembali, ayah lalu memperkenankan aku dan enci Pek Lian untuk menyusul mereka. Sebelum kami bertemu dengan seseoraug di antaea mereka, tahu-tahu malah bertemu dengan kau dan

ternyata Leng-ji sudah tertolong. Menurut keterangan Wan- bengcu, Leng-ji ini dibawa ke sini oleh Cun Gi Tosu."

Tiang Bu mengangguk-angguk. Ia merasa girang sekali bahwa bocah yang ditolongnya itu ternyata puteri Wan Sin Hong. Ngeri ia memikirkan kalau sampai bocah itu tewas dalam pertempuran tadi. `Keadaan di sini masih amat berbahaya," katanya kemudian kepada dua orang gadis enci adik itu. "Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong masih berkeliaran dan sedang kami kejar-kejar. Lebih baik kalian kembali kepada ayah kalian dan bawalah Leng-ji ini agar aman dan terlindung di sana, sambil menanti kembalinya Wan-siok-siok."

Ang Ltan meugangguk-angguk, akan tetapi Pek Lian berkata. “Apakah ...... apakah tidak baik kalau aku membantumu menghadapi Liok Kong Ji ?”

Sebelum Tiang Bu menjawab, Bi Li be rkata, “Tiang Bu, tentu baik sekali kalau….. enci Pek Lian ini membantumu. Tentu dia memiliki kepandaian tinggi dan karenanya kau akan lebih kuat kedudukanmu."

Tiang Bu seorang yang perasa sekali. Dalam ucapan ini ia menangkap nada yang membayangkan hati sakit, maka ia bingung dan cepat ia berkata kepada Pek Lian.

“Nona Pek Lian, bukan aku tidak mengharap bantuanmu.

Akan tetapi harus kauketahui bahwa ilmu kepandaian Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong lihai sekali. Kau bukan lawan mereka."

Ketika meli hat pandang mata  Pek Lian  be ralih  kepada Bi Li seakan-akan bertanya mengapa kalau Bi Li boleh bersama dia, Tiang Bu cepat berkata, "Ketahuilah, nona Wan Bi Li adalah sebagai  murid terkasih dari  Ang jiu Mo-li dan memiliki kepandaian yang le bih tinggi tingkatnya diri pada kalian, masih tidak mampu membantuku mengalahkan Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong."

Mendengar ini, dua orang e nci adik itu merasa kagum kepada Bi Li. Kiranya nona butung ini lebih lihai malah dari pada mereka ! Akhirnya mereka lalu menurut, membawa pergi Leng Leng untuk kembali kepada ayah mereka yang masih menanti di pantai me njaga perahu.

Tiang Bu dan Bi Li terus mencari jejak Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong. Akan tetapi malam tiba dan sepasang muda- mudi ini terpaksa melewatkan malam gelap di dalam sebuah gua untuk berlindung dari serangan hawa dingin.

Tiang Bu yang amat memperhatikan Bi Li melihat pe rubahan pada sikap gadis itu. Setiap kali bertemu pandang, dari sepasang mata dia itu memancar sinar

ke marahan yang aneh. Semua ini ia dapat me lihat di bawah penerangan api unggun  yang  ia  buat untuk mengusir nyamuk yang banyak terdapat di  dalam gua di  tepi  pantai itu. Ia menduga-duga dan ke cerdikannya me mbuat ia dapat mengetahui bahwa gadis ini tentu merasa cemburu dan penasaran karena kata-kata yang keluar dari mulut Ang Lian yang amat lancang tadi tentang Pak Lian yang rindu kepadanya ! Dugaannya memang tepat  dan hal  ini dinyatakan oleh Bi Li yang kini mulai membuka mulut

bicara setelah sejak tadi diam cemberut saja.

“Tiang Bu, kau tentu sudah kenal baik sekali dengan Huang ho Sian-jin, bukan?”

Diam-diam Tiang Bu geli hatinya. Ia tahu bahwa gadis ini sebetulnya hendak bertanya bahwa ia mengenal baik dua orang gadis puteri Huang-ho Sian-jin tadi, akan tetapi Bi Li sengaja bicara me mutar.

“Tidak,” jawabnya sungguh-sungguh dan  jujur.  "Baru satu kali aku bertemu dengan orang yang gagah itu." Ia menceritakan bahwa dahulu ia menolong piauwsu yang dirampas barang-barang berharganya oleh Ang-Lian dan Pek Lian, kemudian ternyata bahwa barang-barang berharga itu dirampas oleh anak Huang-ho Sian jin untuk dibagi-bagikan kepada rakyat yang menjadi korban banjir.

“Pantas saja kalau be gitu. Ayahnya seorang tokoh besar yang gagah budiman, dua orang gadis itupun gagah dan cantik-cantik sekali, apalagi yang bernama Pek Lian tadi.

Tiang Bu, kau patut menjadi mantu Huang-ho Sian-jin !”

Nah, ini dia maksud hatinya yang penuh cemburu, pikir Tiang Bu. “Bi Li mengapa kau bicara begitu ? Jangan kauperhatikan ucapan Ang Lian yang sejak dulu memang tukang menggoda orang dan bicaranya sangat sembrono. Ang Lian masih seperti anak-anak, kalau bicara tidak tahu kira-kira dan mudah saja menjodoh-jodohkan orang.”

"Tiang Bu, apakah kau tidak be rani me ngaaku bahwa Pek Lian seorang gadis cantik dan gagah ?” Bi Li memandang tajam.

"Memang," jawab Tiang Bu jujur, "tak dapat disangkal lagi, Pek Lian seorang gadis yang cantik. Akan tetapi hatiku telah  tertawan  oleh seorang gadis  lain  bernama  Wan  Bi Li “

“Siapa ketahui hati laki-laki ? Tiang Bu, kan lebih cocok dan setimpal kalau berdampingano dengan Pe k Lian."

“Bi Li, harap kau sudahi percakapan ini…!” Tiang Bu memegang tangan Bi Li dengan mesra. “Kau sudah mengetahui isi  hatiku. Selain enkau, tak mungkin di  dunia ini ada wanita yang dapat kucinta seperti aku mencintaimu."

Akan tetapi Bi Li tak dapat melupakan sinar mata yang memancar keluar dari mata Pek Lian ketika gadis

berpakaian pria itu memandang Tiang Bu, penuh kasih sayang dan ke kaguman. Mendengar ucapan Tiang Bu ini, ia menunduk dan pikirannya melayang-layang.

"Tiang Bu, kalau urusan di  pulau ini  sudah selesai,  apa ke hendakmu selanjutnya ?" akhirnya dia bertanya perlahan.

"Pertama tama, minta Wan-siok-s iok mengurus pernikahan kita !” jawabnya tegas.

Cahaya keme rahan dari api unggun menyembunyikan warna merah yang menjalari muka Bi Li. Ia masih menunduk dan menarik tangannya yang dipegang Tiang Bu, lalu jari-jari  tangan  itu  bermain-main  dengan se helai rumput.

“Setelah itu..........?” desaknya. "Setelah itu? Ah. Bi Li. Alangkah bahagianya kalau kita sudah menjadi suami isteri. Cita-citaku hanya untuk membahagiakan hidupmu. Sisa hidupku akan

kupergunakan untuk menyenangkan hatimu. Aku ingin merantau ke seluruh permukaan bumi ini bersamamu akan kuajak kau menjelajah di empat penjuru duni a! Bukankah senang sekali ?” Kembali ia meme gang tangan Bi Li yang berkulit halus.

Ucapan ini membuat hati Bi Li terasa perih sekali. Tak dapat disangkal lagi, ia mencinta pemuda ini, mencinta dengan sepenuh hati karena segala gerak-gerik dan tindak- tanduk pemuda ini benar-benar memikat hatinya. Akan tetapi ucapan tadi, pergi merantau be rdua di empat penjuru dunia, benar-benar mendatangkan bayangan dan renungan yang membuat hatinya perih. Ia dapat membayangkan betapa dia dengan lengan buntungnya mengawani Tiang Bu di mana-mana.

Tiang Bu, seorang pemuda yang gagah perkasa, yang kelak pasti akan dipuji-puji oleh dunia kangouw karena selain memiliki kepandaian tinggi juga mempunyai pribudi luhur, dengan seorang isteri berlengan buntung dan yang hanya akan menjadi tontonan yang menggelikan orang !

Tiang Bu dikagumi dan dipuji puja. sedangkan dia sebagai isterinya akan selalu menerima pandang mata orang yang memandang dengan sinar mata  mengandung kasihan bahkan ejekan! Akan kuatkah hati Tiang Bu manghadapi ini semua? Kelak akan tiba saatnya Tiang Bu bertemu dengan seorang seorang gadis cantik jelita yang lebih gagah dari padanya, gadis yang utuh badannya, tidak buntung lengannya. Dan Tiang Bu akan jatuh hati betul-betul, dia akan.... ..akan dilupakan !

“Tidak.......... tidak.......... !" Bi Li menutupi jari-jari tangannya ke depan mukanya yang menjadi pucat.

“Bi Li ? kau kenapa ?” Bi Li dapat menguasai hatinya yang terkacau oleh bayangan tadi. Ia menggeleng kepalanya dan berkata. "Aku tidak mau merantau, hal itu hanya akan memalukan saja, Tiang Bu. Dengan lengan seperti ini “

"Aku tidak malu, Bi Li ! Bahkan kebuntungan lenganmu itulah yang menambah besarnya cintaku kepadamu. Akan kuperlihatka kepada dunia bahwa aku bangga mempunya kau di sampingku, bahwa aku sama  sekali tidak malu karena kau cacad. Coba, siapa berani mengejek atau menghinamu karena cacadmu tentu akan kuhajar habis- habisan !”

Bi Li terharu sekali. Ia percaya akan cinta kasih pemuda saperti Tiang Bu ini, dan tidak terasa lagi tangannya memegang lengan pemuda itu dengan penuh terima kasih. Kemudian ia menarik kembali tangannya dan bertanya,

"Tiang Bu, andaikata.......... ini andaikata saja ......

perjodoban kita tidak dapat berlangsung, apa yang hendak kaukerjakan?" Dengan pertanyaan ini Bi Li bendak memancing dan menjenguk isi hati kekasihnya, sampai di mana besarnya cinta kasih pemuda ini.

Wajah Tiang Bu berubah. "Tidak akan ada yang menghalangi perjodohan kita, Bi Li. Iblis sekalipun tidak! Kecuali ...... kecuali kalau kau yang t idak mau menerima persembahan cintaku.......... apa boleh buat, kalau demikian halnya, aku bersumpah takkan mau menikah dengan lain orang, aku....... aku akan mengundurkan diri dan menjadi seorang pertapa di Omei-san.

Suara yang keluar dari bibir Tiang Bu ini adalah suara hatinya, maka terdengar menggetar mengharukan, membuat Bi Li tak dapat menahan isak tangisnya. Hati gadis ini tidak karuan, girang, bahagia,  tercampur duka,  haru,  dan khawatir. Dia diam saja ketika Tiang Bu meme luk dan menghiburnya. Akhirnya ia pulas dengan kepala di atas pangkuan Tiang Bu yang menjaganya semalam penuh agar tubuh kakasihnya tidak diganggu nyamuk yang masih saja berseliweran biarpun api unggun masih bernyala terus.

-oo(mch)oo-

Pada keesokan harinya, pagi-pagi Tiang Bu bersama Bi Li sudah mulai lagi me ncari jejak Liok Kong Ji dan Cui Kong yang masih belum juga dapat ditemukan di mana sembunyinya.

“Mereka tak mungkin ke luar  dari  pulau  ini," kata  Tiang Bu. Setelah Wan siok-siok dan kawan-kawannya datang dengan perahu, tentu Wan-siok-siok tidak begitu bodoh untuk meninggalkan penjagaan di pantai. Menurut Ang Lian dan Pe k Lian. Huang-ho Sian-ji ditinggalkan di pantai, tentu kakek itu me lakukan perondaan dan akan melihat apabila Liok Kong Ji meninggalkan pulau dan tentu akan memberi isyarat kepada Wan-siok-siok. Aku yakin mereka itu masih bersembunyi dalam gua-gua yang banyak terdapat di pesisir ini.”

Bi Li juga berpendapat demikian dan dua orang muda ini mulai me ncari terus tanpa mengenal lelah. Juga rombongan Wan Sin Hong mencari cari, akan tetapi mereka itu berada di lain jurusan dan  tidak mencari  dalam gua-gua  di  pesisir batu karang. Tempat ini memang agak tersembunyi dan hanya Tiang Bu yang sudah sampai di situ lebih dulu.

Memang dugaan Tiang Bu tepat sekali. Liok Kong Ji tidak berani meninggalkan pulau, bahkan tidak berani keluar dari tempat persembunyiannya karena maklum bahwa musuh- musuhnya yang banyak jumlahnya berkeliaran di atas pulau itu. Sekali saja ia terlihat, ia akan mengalami pengepungan dan sukar menyelamatkan diri lagi. Ia tahu bahwa sekali ini yang mengejarnya orang-orang pandai dari pelbagai kalangan dan andaikata ia dapat melawan Wan Sin Hong,

belum tentu ia akan dapat melepaskan diri dari tangan Tiang Bu. Berdua dengan putera angkatnya. Liok Kong Ji bersembunyi di dalam sebuah gua besar yang menjadi tempat rahasia di mana ia menyimpan kitab-kitabnya, dan gua itu tertutup oleh sebuah batu besar yang amat berat. Setelah ia memasuki gua itu bersama Liok Cui Kong lalu mengangkat batu itu dari dalam, menyeretnya ke depan gua dan menurunkannya di depan gua sehingga sepintas pandang saja orang takkan tahu bahwa di batu besar itu terdapat sebuah gua yang mulutnya kecil saja, akan tetapi sebetulnya kalau dimasuki mulut gua yang hanya tiga kaki tinggi dan dua kaki lebarnya itu, membawa orang ke dalam sebuah gua yang besar dan luas penuh dengan perabot- perabot rumah seperti meja kursi, tempat tidur dan yang semuanya terbuat dari pada kayu-kayu yang baik dan mahal. Juga di dalam gua itu dihias amat mewahnya, diterangi lampu minyak dan dinding-dindingrya yang tertutup papan itu digantungi gambar gambar indah.

Pendeknya, di sebelah dalam merupakan ruangan atau kamar tidur besar yang mewah dan enak ditinggali.

Maklum akan kelahaian  ayah  dan  anak yan  dikejar . ke jarnya, Tiang Bu tidak membuang pedang yang dapat ia rampas dari tangan Liok Kong Ji. Bahkan sekarang ia mencari-cari dengan pedang di tangan. sedangkan Bi Li

be rjalan di belakangnya Akhirnya Tiang Bu dan  Bi  Li  berdiri di depan batu karang yang me nutup mulut gua kecil. Tiang Bu menaruh curiga karena di dekat situ ia  melihat tapak kaki yang tidak begitu jelas, tanda bahwa orang yang lewat di situ memiliki ginkang tinggi dan sengaja berlaku hati-hati supaya tidak kelihatan tapak kakinya.

Tapak-tapak kaki itu lenyap di situ dan tidak terdapat sebuahpun gua di dekat situ, maka hal itu amat mencurigakan hatinya.

“Tiang Bu, batu ini baru saja dipindahkan ke sini. Lihat, rumput-rumput di bawahnya tertindih dan rusak. Kalau sudah lama di sini, tentu tidak ada rumput tertindih. Rumput-rumput ini masih hidup dan segar,” kata Bi Li menuding ke bawah.

Benar saja, memang ada rumput yang te rtindih batu besar itu. Tiang Bu menjadi girang dan kagum akan

ke awasan mata Bi Li ia mengerahkan tenaga di tangan kiri dan sekali mendorong, batu karang yang me nutupi mulut gua itu roboh, kelihatanlah sebuah mulut gua kecil itu.

Tiang Bu tercengang melihat bahwa di balik batu karang itu hanya terdapat gua yang lobangnya sekecil itu. Ia merasa ragu- ragu dan mulai memandang ke sana ke mari mencari- cari jejak. Ketika ia hendak pergi dari situ, kembali Bi Li berkata,

`Nanti dulu, Tiang Bu. Aku merasa curiga  melihat gua kecil ini. Kauperhatikan baik-baik, gua ini begini gelap, ini hanya menandakan bahwa dalamnya besar. Siapa tahu kalau-kalau mereka bersembunyi di sini. Memang tempat ini

merupakan persembunyian yang baik dan tidak mencurigakan, maka harus diselidiki baik. baik.”

Tiang Bu sadar dan cepat berkata, “Kau be tul, Bi Li.

Kautunggu saja di sini, biar aku menyerbu masuk !”

Bi Li memegang lengan Tiang Bu yang sudah hendak melompat ke dalam gua kecil itu.

“Nanti dulu jangan terburu-buru Tiang Bu. Gua ini mulutnya amat kecil. Kalau betul-betul mereka berada di dalam dan me nyerang selagi kau melompat masuk, apakah tidak berbahaya se kali? Aku teringat ketika dahulu bersama ayah Pangerau Wanyen Ci Lun memburu binatang hutan.

Ayah me nyuruh orang-orangnya mengasapi gua untuk memancing ke luar macan dan binatang buas lain. Apakah tidak lebih baik kita sekarang membakari daun dan ranting kering di depan gua dan meniup asapnya ke dalam untuk memaksa mereka keluar. Kalau sudah berada  di  luar gua, te rserah kepadamu karena aku percaya kau akan dapat melawan mereka.” Tiang Bu tersenyum. Sebetulnya ia tidak takut sama sekali, akan tetapi karena melihat sikap Bi Li demikian bersungguh-sungguh dan gadis itu amat mengkhawatirkan keselamatannya, ia tak tega membantah.

“Sesukamulah “ jawabnya tertawa. "Akupun ingin sekali membuat Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong terserang asap dan tak dapat be rnapas. Alangkah akan lucunya kalau mereka terpaksa ke luar sambil batuk-batuk tak dapat bernapas.”

Ucapan ini dikeluarkan dengan keras oleh Tiang Bu agar terde ngar dari dalam gua. Ucapan ini saja sudah merupakan pancing dan ancaman. Maksudnya berhasil baik karena

tiba- tiba terdengar suara mendesis dan dari dalam gua yang kecil mulutnya itu ke luarlah asap hitam bergulung-gulung. Tiang Bu melompat ke belakang dan meneorong Bi Li untuk mundur. Ia mengenal asap dari huncwe maut Cui Kong dan tahu bahwa dua orang musuhnya betul-betul be rada di dalam gua itu.

Ting Bu memutar pedangnya ketika melihat sinar-sinar hitam me nyambar pula dari dalam gua. Itulah senjata- senjata rahasia hek-tok-ciam yang dilepas oleh Liok Kong Ji untuk menyusul senjata rahasia asap biasa yang disemburkan oleh Cui Kong.

Memang kali ini Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong yang biasanya amat licin dan cerdik itu kena diakali oleh Tiang Bu dan Bi Li. Mendengar usul Bi Li untuk me ngasapi gua itu, mereka menjadi terkejut setengah mati. Tentu saja mereka tidak sudi dijadikan seperti dua ekor tikus yang terpaksa keluar lemas karena lubangnya diasapi. Menghadapi serangan, mereka masih dapat mempergunakan ilmu kepandaian untuk melindungi diri, akan tetapi kalau gua itu dipe nuhi asap. berapa lamakah mereka dapat bertahan ?

Maka dengan hati kecut mereka terpaksa membuka jalan keluar dan menghujankan se njata rahasia mereka.

Betapapun lihainya ilmu silat Tiang Bu pemuda ini tidak berani berlaku gegabah menye rbu ke dalam gua. Senjata rahasia dua orang itu cukup berbahaya, apa lagi hek-tok- ciam itu dilepas di antara asap hitam, tidak ke tihatan dan amat berbahaya kalau ia terkena Hek-tok-ciam, sungguhpun ia dapat mengobatinya, namun tentu akan banyak mengurangi daya serang dan daya tempur menghadapi ayah dan anak angkat yang be rkepandaian tinggi itu.

“Liok Kong Ji dan Liok Cui Kong manusia-manusia iblis.

Keluarlah untuk menebus dosa-dosamu !” kata Tiang Bu, siap menanti mereka.

Sambil terus melepaskan jarum-jarumnya, Liok Kong Ji akhirnya melompat keluar, di ikuti oleh Cui Kong yang memegang huncwe mautnya. Kini Liok Kong Ji juga sudah memegang pedang lagi, karena dalam gua itu memong

te rsedia beberapa batang pedangnya yang baik baik.

"Bocah durhaka, kali ini aku tidak ampunkan kau lagi !” kata Liok Kong Ji sambil memutar pedangnya melakukan serangan kilat dituruti pula oleh Cui Kong.

Tiang Bu tahu bahwa ucapan itu hanya gertakan belaka, namun ia tidak berlaku sembrono dan  tidak mau memandang rendah kepada dua orang musuhnya yang sudah berkali-kali mengakali dan lolos dari desakannya itu. Cepat ia memutar pedang rampasannya dan menangkis serangan lawan lalu membalas dengan  hebat  dan  tidak kalah sengitnya. Serangan tangan kosong saja  Tiang Bu sudah mampu mendesak dua orang lawannya itu, apa lagi ia menggunakan pedang.

Sebentar saja Kong Ji dan Cui Kong hanya bisa main mundur dan ke mana saja me reka meloncat, selalu mereka dibayangi dan dikurung oleh sinar pedang Tiang Bu.

Memang pemuda ini sudah mewarisi ilmu kepandaian yang luar biasa dan berkali kali Li ok Kong Ji sampai merasa kagum bukan main. Ilmu pedang yang dimainkan oleh Liok Kong Ji adalah ilmu pedang sakti yang jarang bisa dilawan orang, lihai dan selain cepat dan kuat, juga membingungkan lawan. Kiranya sukar mencari orang yang akan kuat menandingi ilmu pedang Liok Kong Ji pada masa itu. Juga Liok Cui Kong memiliki kepandaian gabungan, sebagian ia pelajari dari Kong Ji dan se bagian pula ia dapatkan dari gurunya, Cun Gi Tosu. Pemuda inipun amat lihai ilmu silatnya, apa  lagi huncwe mautnya merupakan senjata ganjil yang amat sukar diduga gerakan gerakannya.

Namun dua orang ini tidak berdaya menghadapi Tiang Bu. Di dalam permainan Tiang Bu terdapat segala dasar pertahanan yang maha kuat, yang sukar sekali dite mnbus oleh serangan-serangan dua orang itu. Desakan-desakan Tiang Bu sebaliknya amat berat mereka rasakan, sungguhpun untuk merobohkan mereka juga bukan merupakan hal mudah ba gi Tiang Bu.

Ayah dan anak angkat itu  dapat  bekerja sama baik sekali. Mereka telah maklum akan kelihaian Tiang Bu den ketika mereka bersembunyi di dalam gua. Liok Kong Ji sudah me ngatur siasat bertanding menghadapi Tiang Bu. Ia telah memberi petunjuk kepada Cui Kong dan sekarang

petunjuk itu dipraktekkan. Keduanya tidak bergerak sendiri- sendiri terpisah, melainkan bergabung menjadi satu, saling melindungi dan saling  membantu. Inilah yang membuat Tiang Bu menghadapi kesukaran untuk segera mengalahkan mereka. Kedudukan mereka memang kuat, bagai tembok baja !

Bi Li  menonton pertempuran itu dengan gemas. Ia merasa penasaran tak dapat membantu kekasihnya dan beberapa kali ia mengepal-ngepal tangannya yang tinggal satu dan memandang marah penuh kebencian kepada orang itu, terutama kepada Liok Kong Ji yang sudah membuntungi lengannya. Ingin ia se gera melihat musuh besar yang sudah membuat hidupnya hampa dan tubuhnya bercacad ini segera roboh binasa di bawah pedang Tiang Bu. Akan tetapi tiba-tiba ia melihat perubahan dan kini Tiang Bu hanya mendesak Cui Kong seorang, seakan-akan tidak bermaksud merobohkan Kong Ji.

Bi Li mengerutkan keningnya. Apa Tiang Bu tiba-tiba merasa kasihan dan tidak tega membunuh orang yang sebetulnya masih ayahnya sendiri itu ? Timbul keraguan dan “perang” dalam pikiran Bi  Li  ia teringat akan ayahnya sendiri. Ayahnya yang sejati, Kwan Kok Sun, juga bukan seorang manusia baikt-baik, bahkan  dahulunya  amat terkenal jahat. Demikian pula Tiang Bu. Sudah sepatutnya kalau Tiang Bu ragu-ragu untuk membunuh ayab sendiri.

Akan tetapi ayah Tiang Bu itu telah membikin buntung

lengannya, dosa yang tak dapat ia ampunkan lagi !

Kekhawatiran Bi Li ini sebetul nya  kosong belaka.  Tiang Bu sama sekali tidak merasa kasihan kepada Liok Kong Ji. Ia amat banci kepada orang yang mengaku sebagai ayahnya ini dan ia akan tega membunuhnya. Dia bukatnya berkasihan kepada Kong Ji, akan tetapi dia sedang menjalankan siasatnya. Menghadapi ayah dan anak angkat yang dapat bekerja sama dengan baik betul-betul Tiang Bu menemukan kesukaran untuk mencari ke menangan secepatnya.

Pertahanan dua orang itu kuat bukan main. Oleh karena itu Tiang Bu lali mengambil  keputusan untuk menyerang dan mendesak seorang di antara dua pengeroyoknya. Dan di antara dua oraug itu, Cui Kong paling lemah, maka ia lalu memusatkan perhatiannya kepada Cui Kong dan menghujankan serangan-serangan hebat kepada pemuda itu.

Tentu saja Cui Kong menjadi gelagapan. Biasanya kalau ada lawan menyerangnya, tangkisan huncwenya dapat membuat serangan lawannya buyar dan gagal, akan tetapi kali ini, makin ditangkis pedang di tangan Tiang Bu menjadi makin ganas, se olah-olah tangkisan huncwe itu menambah daya serangnya ! Biarpun Liok Kong Ji sudah cepat-cepat membantu untuk menangkisnya dan bahkan menyerang Tiang Bu dengan dahsyat. Tetapsaja Cui Kong tak dapat menghindarkan lagi sebuah tusukan pedang yang amat cepat mengarah perutnya.

Ia mempergunakan segala kelincahannya untuk mengelak dari tusukan yang sudah tak mungkin ditangkis lagi itu, akan tetapi ia hanya berhasil menyelamatkan perutnya, tidak dapat lagi menolong pahanya yang te rtusuk pedang sampai tembus.

Ketika pedang dicabut, darah mengalir deras dari paha itu. Tiang Bu hendak menyusulkan tusukan maut ke dua. namun Cui Kong yang berteriak kesakitan itu sudah membuang diri ke atas tanah dan menangkis tusukan ini dengan huncwenya. Terdengar suara keras dan huncwe itu terlepas dari tangannya, namun ia selamat dan segera menggerakkan tubuh bergulingan sampai jauh dan baru berhenti kare na di belakangnya adalah tebing batu karang yang amat curam. Di sini ia merintih-rintih sambil berusaha membebat luka di pahanya dengan baju yang dirobeknya.

Darah amat banyak mengucur, membuat kepalanya pe ning. Kemudian Cui Kong terguling pingsan !

Melihat ini, Bi Li yang sudah menjadi kegirangan segera berlari me nyambar huncwe Cui Kong yang me nggeletak di atas tanah, kemudian ia berlari menghampiri Cui Kong yang sudah pingsan itu untuk memberi pukulan terakhir.

“Bi Li, jangan dekati dia.......... ..!" Tiang Bu yang masih bertanding dengan Kong Ji itu melarang. Pemuda ini biarpun melihat Cui Kong sudah terguling dan tidak bergerak seperti mati, masih saja curiga dan takut kalau-kalau kekasihnya menjadi korban kelicikan Cui Kong. Akan tetapi Bi Li yang sudah sakit hati itu, mana mau dilarang ? Ia  makin  gemas dan sekali melompat ia sudah tiba di dekat Cui Kong, lalu mengayun huncwe itu ke arab kepala Cui Kong !

Tepat dugaan Tiang Bu. Sebe tulnya Cui Kong tidak pingsan, hanya  pura-pura pingsan,  untuk menyelamatkan diri dan mencegah Tiang Bu me nyerang terus. Sama sekali ia tidak mengira bahwa Bi Li akan mengejar dan menyerangnya. Biarpun matanya tertutup, ia dapat mendengar sambaran angin pukulan huncwenya. Cepat ia menggulingkan tubuh dan kepala sehingsa huncwe di tangan Bi Li itu menghantam batu, menimbulkan suara keras dan bunga api berpijar membarengi muncratnya batu yang remuk terkena pukulan huncwe !

Bi Li penasaran dan mengejar lagi, mengirim serangan hebat. Terpaksa Cui Kong melompat berdiri, akan tetapi terguling roboh lagi karena pahanya terasa sakit se kali.

Namun dalam mengelak, ia terkena huncwe pada pundaknya, membuat ia mengerang kesakitan Bi Li memukul terus, ditangkis oleh lengan kiri Cui Kong.

“Krak !" Tulang lengan itu patah. Tenaga lweekang Cui Kong sudah banyak berkurang karena lukanya yang hebat, maka tidak kuat menerima pukulan huncwe. Sebelum Cui Ko berhasil mengembalikan kese imbangan tubuhnya, Bi Li sudah menyerang lagi !

"Mampuslah kau jahanam !" se ru Bi Li dengan gemas, huncwenya kini mendorong dada Cui Kong untuk membuat pemuda terjengkang ke belakang di mana tebing batu karang siap menerima tubuh pemuda itu untuk dilempar ke bawah di mana gelombang laut mengganas kelaparan !

Tidak ada jalan mengelak atau menangkis lagi. Cui Kong berlaku nekat, tidak melindungi tubuhnya melainkan menubruk ke depan dengan kedua  tangan me ncengkeram atau memeluk.

"Awas, Bi Li.......... !” Tiang Bu berseru dan meninggalkan Kong Ji karena melihat bahaya me ngancam Bi Li. Namun terlambat! Cui Kong yang sudah nekat dan ingin mati mengajak lawan itu, berhasil mencengkeram lengan tangan Bi Li yang memegang huncwe dan mendorong dada sedemikian hebatnya sehingga tubuh Cui Kong mencelat ke belakang membawa tubuh Bi Li bersama. Dua orang itu te rgelincir masuk ke tepi batu karang dan melayang ke bawah diiringi pekik mengerikan dari Cui Kong.

"Bi Li ......!!” Tiang Bu menjerit dan berlari ke tempat itu, tidak perduli lagi pada Kong Ji yang terus saja mempergunakan kesempatan baik itu untuk lari menyelamalkan diri.

Setibanya di pinggir tebing, Tiang Bu melonguk ke bawah dan pucatlah wajahnya. Jauh sekali di bawah, puluhan tombak jauhnya, hanya kelihatan arus ombak menggelora kepulih putihan. berbuih-buih seperti mulut iblis yang haus akan darah. Ia hendak meloncat, akan tetapi se gera kesadarannya melarangnya. Kalau ia meloncat turun, tipis harapan akan selamat. Apa gunanya membuang jiwa secara sia-sia belaka? Kong Ji masih belum terbunuh dan pula, menolong Bi Li harus dilakukan dengan jalan sewajarnya, bukan dengan jalan membunuh diri. Mengingat akan ini, TiangBu segera berlari lari ke kanan kiri untuk mencari tebing yang tidak curam, dari mana ia akan mencari perahu dan me nuju ke tempat di mana Bi Li tadi jutuh bersama Cui Kong.

Sukar sekali me ncari perahu di situ karena perahu- perahu bajak sudah ia tenggelamkan semua. Akhirnya ia menggunakan pedangnya menebang sebatang pohon dan menggunakan batang pohon itu untuk perahu istimewa Dengan batang pohon ini ia mendayung menuju ke tempat di mana tadi Bi Li terjatuh.

Akan tetapi ia sudah membuang terlalu banyak waktu, Ketika mencari-cari tebing kemudian mencari perahu lalu menebang pohon untuk perahu, ia telah membuang waktu satu jam lebih. Biarpun begitu, ke tika ia tiba di bawah tebing curam itu, ia masih sempat melihat tubuh Cui Kong yang sudah me njadi  mayat  itu bergerak-gerak di  permukaan  air laut yang kini sudah menjadi terang, agaknya sudah kekenyangan karena mendapatkan dua mangsa manusia itu. Ketika Tiang Bu mendekat, ia me rasa ngeri juga melihat bahwa mayat Cui Kong itu bergerak-gerak karena dibuat berebutan oleh beberapa ekor ikan hiu yang ganas dan buas! Tubuh Bi Li tidak kelihatan sama sekali.

Dengan perahu istimewanya itu Tiang Bu mendayung ke sana ke mari mencari-cari sambit memanggil nama kekasihnya,

"Bi Li …….! Bi Li !”

Tiupan angin laut membuat  suaranya hilang tak berbekas. Sia-sia ia mencari-cari tidak kelihatan tubuh yang ia cari-cari. Tiba-tiba ia melihat sesuatu yang membuat kerongkongannya serasa tersumbat. Matanya terbelalak memandang ke arah benda itu, mukanya pucat dan bibirnya be rgerak-gerak menyebut “Bi Li.........” tanpa mengeluarkan suara.

Benda itu adalah robekan baju Bi Li di bagian lenhan dan pundak, robek sama sekali seperli ditarik dengan paksa dari tubuh kekasihnya itu. Ia menoleh ke arah mayat Cui Kong yang masih diseret-seret oleh ikan-ikan ganas itu. Tak te rasa lagi air mata bercucuran dari sepasang mata Tiang Bu.

“Bi Li…….” Ia dapat membayangkan betapa kekasi hnya itu sudah lebih dulu menjadi mangsa ikan, mayatnya

diseret-seret dan ditarik-tarik oleh ikan-ikan hiu itu sehingga bajunya robek-robek dan  terapung di  sini. Dengan  isak tertahan Tiang Bu membawa  pedangnya  me loncat ke  dalam air dan menyambar robekan baju itu.

"Bi Li.......... !" Ia mendekap robekan baju itu ke dadanya sambil mendongak ke angkasa, air matanya bercucuran.

Tiba-tiba batang pohon itu bergerak miring dan hal ini menyadarkan Tiang Bu dari pada kesedihan yang membuat ia lupa diri itu. Dilihatnya seekor ikan hiu me raba-raba perahu aneh itu dengan moncongnya. Melihat ikan ini, bangkit kemarahan Tiang Bu. "Bedebah, kau yang membunuh Bi Li !” Pedangnya berkelebat dan kepala ikan itu terbelah dua. Air menjadi merah dan tubuh ikan itu terapung dengan perut di atas.

Darah ikan itu se bentar saja mendatangkan banyak ikan hiu yang serta merta menyerbu dan menyerang bangkai hiu tadi. Melihat betapa lahapnya ikan-ikan itu memperebutkan daging ikan hiu, Tiang Bu menjadi marah. Dalam pandang matanya, seakan-akan yang diperebutkan itu bukan bangkai hiu, melainkan mayat kekasihnya Bi Li !

“Binatang iblis, kalian jahat dan keji !” makinya dan pe dangnya berkelebat. Sebentar saja laut di bagian itu

pe nuh dengan bangkai ikan hiu. Sampai lelah sekali tubuh Tiang Bu mengamuk dan membunuhi ikan hiu. Akhirnya ia teringat bahwa perbuatannya ini seperti perbuatan orang gila. Ia lelah lahir batin, dan dalam keadaan setengah pingsan Tiang Bu menjatuhkan diri di atas batang pohon yang ia jadikan perahu. Laut mulai mengombnak lagi dan batang pe hon itu dipermainkan, didorong-dorong sampai ke tepi.

Dengan hati hancur Tiang Bu mendarat sambil mendekap robekan kain baju Bi Li. Air matanya kembali jatuh berderai kalau ia teringat be tapa kekasihnya itu tewas dalam keadaan menyedihkan, bahkan tidak dimakamkan.

Teringat ini, Tiang Bu lalu menggunakan pedang rampasan itu untuk menggali tanah, cukup dalam seperti kalau orang hendak mengubur jenazah manusia.

Setelah itu ia berlari ke dalam gua di mana tadi Kong Ji bersembunyi dan dia me ndapatkan apa yang dicarinva, yaitu lilin dan hio. Sekembalinya di tanah galian, dengan penuh khidmat Tiang Bo "mengubur" robekan baju Bi Li yarg ia anggap sebagai pengganti jenazah kekasihnya. Ia melakukan upacara pemakaman ini sambil menangis dan menyebut - nyebut nama Bi Li berulang-ulang.

Ia lalu menguruk kembali lubang itu. Dengan pedangnya Tiang Bu membuat bongpai sederhana dari batu karang. Ia tidak perduli pedang itu menjadi rusak karenanya, malah setelah rampung membuat bongpai, ia membuang pedang rampasan itu. Setelah itu ia lalu menyalakan lilin dan hio, bersembahyang dengan penuh khidmat dan sedih. Ia berlutut di depan bongpai (baru nisan) itu dan berkata keras-keras,

“Bi Li, kau mengasolah dengan tenang. Aku bersumpah bahwa sebelum membunuh Liok Kong Ji untuk membalaskan sakit hatimu aku takkan berhenti.

Kautunggulah aku di alam baka. karena setelah tugasku aku akan hidup sebagai pert apa di Omei-san sampai datang saatku menyusulmu.”

Ucapan ini diulangi berkali-kali dan sampai lama ia berlutut di depan "makam." Demikian khidmatnya ia bersembahyang sampai telinganya yang biasanya amat tajam itu tidak mendengar datangnya beberapa orang yang berdiri di belakangnya dan memandang dengan terheran-heran dan penuh keharuan. Akhirnya seorang di antara mereka yang bertubuh gagah dan masih muda, mendengar nama Bi Li disebut-sebut Tiang Bu, nampak kaget sekali dan bertanya,

“Kau bilang.......... Bi Li ..... Bi Li mati? Apakah itu kuburan Bi Li adikku....?” menudingkan telunjuknya ke arah makam itu.

Tiang Bu menoleh dan melihat Wan Sin Hong berdiri sambil bersedakap di situ, me mandangnya dengan mata mengandung kasih sayang besar. Yang bertanya tadi adalah Wan Sun, kakak angkat Bi  Li,  putera dari mendiang Pangaran Wanyen Ci  Lun dan Gak Soan Li, atau saudaranya sendiri, saudara sekandung berlainan ayah! Orang ketiga adalah seorang tosu tua yang ia tidak kenal.

"Tiang Bu koko, saudara tuaku yang gagah parkasa, betulkah itu makam Wan Bi Li adikku.. ..... ,?" Kembali Wan Sun bertanya sambil menghampiri Tiang Bu. Tiang Bu menjadi makin terharu. Inilah adiknya seibu berlainan ayah. Inilah anak kandung lbunya. Ia melompat berdiri dan memeluk Wan Sun, tak tertahan lagi ia menangis terisak.

"Dia .......... dia sudah mati ...... " hanya itu yang dapat ia katakan, kemudian ia manjatuhkan diri berlutut di de pan Wan Sin Hong.

Wan Sun cepat berlutut di depan makam sambil menyalakan lilin kemudian ia berdiri dan bersembahyang, mulutnva berkemak-kemik, air matanya menitik turun.

Terbayang semua pengalamannya ketika kecil dan menjelang dewasa. Bi Li wanita yang sebetulnya merupakan cinta pertamanya sebelum ia bertemu dengan Coa Lee Goat.

Wan Sin Hong menyuruh Tiang Bu berdiri dan ia memandang kepada pemuda ini penuh perhatian. Alangkah bedanya dengan ayahnya, pikir Sin Hong. Bocah tidak bardosa yang kini menanggung akibat dari dosa ayahnya yang jahat se kali.

“Tiang Bu, coba kaucoritakan bagaimana Bi Li  sampai te was dan bagaimana hasilnya usahamu mencari musuh kita? Kau tentu datang untuk mencari ayah dan anak iblis itu bukan?”

(Bersambung jilid ke XXVI)
Mengapa udah nggak bisa download cersil di cerita silat indomandarin?

Untuk yang tanya mengenai download cersil memang udah nggak bisa hu🙏, admin ngehost filenya menggunakan google drive dan kena suspend oleh google, mungkin karena admin juga membagikan beberapa link novel barat yang berlisensi soalnya selain web cerita silat indomandarin ini admin juga dulu punya web download novel barat terjemahan yang di takedown oleh google dan akhirnya merembes ke google drive admin yang dimana itu ngehost file novel maupun cersil yang admin simpan.

Lihat update cersil yang baru diupload 3 Bulan Terakhir

27 Oktober 2022] Kaki Tiga Menjangan

05 November 2022] Seruling Samber Nyawa (Bu Lim Su Cun)

Mau donasi lewat mana?

BCA - Nur Ichsan (7891-767-327)
Bagi para Cianpwee yang ingin berdonasi untuk pembiayaan operasional web ini dipersilahkan Klik tombol merah.

Posting Komentar

© Cerita silat IndoMandarin. All rights reserved. Developed by Jago Desain
]